Posted by: Habib Ahmad | 28 Disember 2011

Asyura dan Ahlul Bayt Nabi

Asyura dan Ahlul Bayt Nabi PDF Print E-mail
Written by Redaksi Online
Friday, 23 December 2011 15:13

Betapapun, adalah manusiawi sekiranya Rasulullah SAW menangis tatkala mendengar kabar akan terbunuhnya sang cucunda tercinta, sebagaimana juga beliau menangis ketika meninggalnya Ibrahim, putra beliau, Khadijah, istri beliau, Abu Thalib, paman beliau, dan Ja’far Ath-Thayyar, sepupu beliau…

Al-Husain melihat musuh terus mengepungnya dan menghantam kuda yang ditungganginya dengan pedang, sesekali pada kakinya dan sesekali pada pahanya. Tidak tega melihat kudanya dipukuli, ia pun turun dari kudanya dan melepaskan kudanya.

Sang Imam lalu berdiri dengan kedua kakinya, sementara orang-orang keji telah mengepungnya. Mereka mulai menebaskan pedang ke arahnya. Tebasan itu mengenai bahu, tangan, dan kakinya.

Masing-masing mereka tidak mau menjadi orang pertama yang menebaskan pedangnya ke tubuh sang Imam. Karena mereka tahu, siksa macam apa yang akan mereka alami kelak di akhirat jika mereka membunuh Al-Husain.

Ketika luka sang Imam semakin banyak, ia terus diserang dengan serangan yang kuat. Meski telah lelah, Al-Husain terus memerangi mereka hingga barisan mereka terpecah.

Namun mereka kembali mengepungnya dan salah seorang di antara mereka memukul kakinya, hingga ia berlutut. Tapi ia tetap berperang walau dalam keadaan berlutut.

Lalu datanglah orang yang paling celaka, Syimmar bin Dzil Jausyan, sambil berkata, “Kenapa kalian tidak langsung membunuhnya? Bunuhlah dia segera!”

Syimmar terus memanas-manasi mereka hingga salah seorang di antara mereka mendatangi Al-Husain dan memukul kepala sang Imam. Dan Imam pun terjatuh ke tanah.

Demi kemuliaan Dzat Yang Mengagungkan kedudukan mereka sungguh gambaran jatuhnya sang Imam ke tanah merupakan hakikat pencapaiannya pada puncak maqam kedekatan tertinggi di sisi Allah. Dan ini merupakan gambaran rendahnya dunia di sisi Allah. Ini adalah saat kemenangan sang Imam, yang telah menunjukkan kejujuran dan janji setia keluarga dan para sahabatnya terhadap datuknya, Rasulullah SAW, dalam membantu agama ini.

Kemudian datanglah manusia paling celaka, Syimmar, memenggal kepala sang Imam.

Bersikap Moderat
Demikian sepenggal kisah detik-detik terbunuhnya Imam Husein di Padang Karbala, sebagaimana yang pernah dituturkan Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri.

Tak ayal, tragedi sepuluh Muharram 61 H/686 M itu, yang juga banyak diceritakan para ulama dari zaman ke zaman, menjadi noda hitam dalam sejarah Islam sepeninggal Baginda Nabi SAW.

Tragedi Karbala adalah peristiwa kemanusiaan teramat dahsyat yang mengakibatkan cucu Rasulullah SAW, Imam Husain, dan segenap keluarganya, dibunuh secara keji. Peristiwa yang juga merupakan ungkapan suatu pengorbanan luar biasa para syahid di jalan kebenaran dan keadilan Ilahi.

Sungguh, darah Imam Husain dan para pengikut setianya yang mengalir di Padang Karbala merupakan tetesan darah yang tak mengalir percuma. Tetes demi tetes darah itu seakan mewujud sebagai semangat kehidupan seorang hamba yang sebenarnya, bahwa seorang manusia yang hidup di atas muka bumi tak selayaknya hidup demi kepentingan duniawi semata.

Roda zaman terus berputar. Hingga sekarang, Peristiwa Karbala telah berlalu lebih dari 14 abad silam. Lalu, bagaimana selayaknya umat Islam pasca-Tragedi Karbala menyikapi peristiwa tragis tersebut?

Dalam salah satu taushiyahnya, Habib Umar Bin Hafidz menyinggung hal itu, “Kita tentu bersedih dengan peristiwa terbunuhnya Al-Husain di hari Asyura. Orang yang berbahagia karena terbunuhnya Al-Husain, jelas hal itu membuatnya menjadi seorang yang fasiq, bahkan bisa pada kekufuran. Akan tetapi, dalam beragama, sikap kita tidak didasari sifat tasya-um (pesimisme, sial, atau merasa tak berpengharapan, bersedih berkepanjangan karena peristiwa atau pandangan tertentu), tapi dengantafa-ul (optimisme, atau menanggapi secara positif segala sesuatu).

Tasya-um, apalagi dalam bentuk-bentuk seperti mencaci maki, tidak ada tuntunannya dalam agama kita dan dalam peringatan-peringatan agama kita ini. Semua peringatan agama dalam agama kita didasari semangat optimisme dan membawa ketenangan di hati, seperti halnya peringatan Maulid, hari ‘Id, bulan Ramadhan, dan sebagainya.

Kita memang tak boleh bersenang hati dengan terbunuhnya Al-Husain. Tetapi kita harus tetap wasth, moderat, sebagaimana fungsi agama yang sebenarnya. Kita tidak menyikapi Peristiwa Karbala dengan bersedih-sedih, karena hal itu bahkan bertentangan dengan apa yang dirasakan Imam Husain sendiri. Jelas, di hari itu Al-Husain sangat bahagia.

Seandainya ditanyakan kepadanya hari yang paling membahagiakan baginya, niscaya jawabnya adalah hari di saat ia mendapati kesyahidannya, yaitu hari Asyura. Sebab, di hari itu derajatnya diangkat Allah SWT dan di hari itu pula ia berjumpa dengan kakeknya, Rasulullah SAW, ayahnya, Ali KW, ibundanya, Fathimatuzzahra, dan kakaknya, Al-Hasan. Karenanya, kita pun tidak memperingatinya dengan kesedihan.

Adapun istilah lebaran anak yatim di hari Asyura itu berdasarkan hal-hal yang disunnahkan di hari itu, yaitu lewat riwayat-riwayat yang sudah termasyhur di tengah-tengah kaum muslimin. Di antaranya, melebihkan uang belanja keluarga, menyantuni dan menggembirakan anak yatim, dan sebagainya. Kesemuanya adalah hal-hal yang bersifat optimisme dan kebahagian di hati.

Namun demikian, kalau di hari itu kita berbahagia karena terbunuhnya Al-Husain atau berpesta karenanya, itu tindakan yang bertentangan dengan akal sehat. Hendaknya, kita menempatkan semua nash agama pada tempatnya dan menyikapi setiap masalah secara proporsional.”

Multi-Dimensi Historis
Asyura, atau hari kesepuluh bulan Muharram, nyatanya memang memiliki sejumlah dimensi historis. Jauh sebelum Tragedi Karbala, sepuluh Muharram telah menjadi hari yang dikenal secara khusus bagi umat-umat terdahulu.

Sebut saja, di antaranya, peristiwa diterimanya taubat Nabi Adam AS, diselamatkannya Nabi Ibrahim AS dari jilatan api yang dinyalakan Raja Namrudz, terbelahnya lautan yang menyelamatkan Nabi Musa AS dan bala tentaranya dari kejaran tentara Fir’aun, diangkatnya Nabi Isa AS ke atas langit.

Sebuah hadits dari Abi Hurairah RA menyebutkan, ketika Nabi SAW melewati sekelompok orang Yahudi yang tengah berpuasa di hari Asyura’, beliau bertanya, “Puasa apa ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam dan menenggelamkan Fir’aun. Dan hari ini juga adalah hari merapatnya bahtera Nabi Nuh di Bukit Judiy. Maka Nabi Nuh dan Nabi Musa berpuasa, sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.”

Lalu Nabi SAW berkata, “Aku lebih berhak dari Musa (dalam bersyukur) dan lebih berhak untuk berpuasa di hari ini.” Kemudian, Nabi pun memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.

Mengenai peristiwa terbunuhnya Al-Husein di Padang Karbala pada hari Asyura, sejumlah riwayat menyebutkan bahwa Nabi SAW sendiri telah mengabarkan akan terjadinya peristiwa itu jauh-jauh hari.

Ummu Salamah RA, istri Nabi SAW, bercerita, “Sewaktu Nabi tidur di rumahku, tiba-tiba Husein hendak masuk, maka aku (Ummu Salamah) duduk di depan pintu mencegahnya masuk, karena khawatir membangunkan beliau. Kemudian aku lupa akan sesuatu, sehingga Husein merangkak masuk dan duduk di atas perut beliau.

Lalu, aku mendengar rintihan Rasulullah SAW.

Aku pun mendatanginya dan bertanya, ‘Apa yang engkau ketahui sehingga engkau merintih seperti itu?’

Rasulullah menjawab, ‘Jibril datang kepadaku ketika Husein ada di atas perutku seraya berkata kepadaku: Apakah engkau mencintainya (Al-Husein)?

Aku pun menjawab: Iya, aku mencintainya.

Lalu Jibril berkata: Sesungguhnya di antara umatmu kelak ada yang akan membunuhnya. Maukah engkau aku tunjukkan tanah tempat terbunuhnya?

Maka aku pun menjawab: Iya.

Jibril mengepakkan sayapnya lalu memberikan tanah ini kepadaku’.”

Ummu Salamah RA berkata, “Maka tampak pada tangan Rasulullah tanah merah dan beliau pun menangis seraya berkata, ‘Siapakah yang akan membunuhmu (wahai Husein) sepeninggalku?’.”

Perasaan Manusiawi
Jauh sebelum peristiwa tragis itu terjadi, ternyata Rasulullah SAW telah mencium bau perpecahan yang parah, yang bahkan akan menumpahkan darah dagingnya sendiri. Namun, kesempurnaan pribadi beliau, yang melebihi manusia mana pun, membuatnya menyerahkan semua itu sepenuhnya kepada Allah, Yang Maha Berkehendak. Beliau berharap agar tetap ada di antara umatnya yang senantiasa mengukuhkan tali persaudaraan di antara kaum muslimin dan tetap menunjukkan akhlaq mulia di tengah kebobrokan zaman yang kerap merongrong iman.

Ulama salaf dari kalangan Alawiyyin pun menyerukan agar umat tetap bersikap proporsional dalam menyikapi Asyura. Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad menerangkan dalam Tatsbit al-Fu’ad, “Asyura adalah hari duka cita, tak ada kebahagiaan di dalamnya, mengingat terbunuhnya Al-Husein di hari itu. Namun tidak dibenarkan pada hari itu melakukan ritus yang lain melebihi dari berpuasa dan memberi belanja lebih pada keluarga, karena pada dasarnya hari itu sendiri adalah hari yang utama.”

Betapapun, adalah manusiawi sekiranya Rasulullah SAW menangis tatkala mendengar kabar akan terbunuhnya sang cucunda tercinta, sebagaimana juga beliau menangis ketika meninggalnya Ibrahim, putra beliau, Khadijah, istri beliau, Abu Thalib, paman beliau, dan Ja’far Ath-Thayyar, sepupu beliau, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Karenanya, para ulama tak memaknai tangisan Rasulullah SAW ketika itu sebagai hujjah agar kelak umatnya turut menangisi terbunuhnya Imam Husein, sebagaimana beliau pun tak pernah mengadakan hari berkabung untuk kematian Nabi Zakariya dan Nabi Yahya, yang juga dibunuh secara zhalim oleh kaumnya.

Sebuah riwayat hadits menyebutkan, ketika putra beliau, Ibrahim, dikebumikan, Rasulullah SAW berdiri di atas kuburnya seraya berkata, “Wahai anakku, hati bisa berduka, mata bisa meneteskan air mata, tapi tak ‘kan kulontarkan kata-kata yang membuat Tuhanku murka. Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.”

Bukan hanya itu. Bahkan Rasulullah melarang umatnya meratapi kematian sebagaimana kebiasaan kaum Jahiliyah. Beliau bersabda, “Bukan termasuk golonganku, orang yang memukul-mukul pipinya (karena kematian seseorang), dan merobek-robek pakaiannya, serta menjerit-jerit sebagaimana kebiasaan orang-orang Jahiliyah.”

Umat Islam memahami, Al-Husein adalah bagian dari ahlul bayt Rasulullah SAW, sekelompok orang yang umat dianjurkan untuk mencintai mereka. Rasulullah SAW pun bersabda, “Didiklah anak-anak kalian mengenai tiga perkara: mencintai nabi kalian, mencintai ahlul baytnya, dan membaca Al-Qur’an.”

Di sisi lain, isu ahlul bayt telah menjadi isu sepanjang zaman yang tak berkesudahan. Dan Peristiwa Karbala adalah salah satu pembahasan krusial dalam konstelasi keyakinan beragama dunia Islam, di samping beberapa isu populer di seputar ahlul bayt lainnya.

IY

Ahlul Bayt di Panggung Sejarah

Siapakah sebenarnya yang disebut ahlul bayt? Bagaimana perjalanan sejarah mereka? Dan siapa saja tokoh-tokoh dalam lingkungan mereka?

Istilah ahlul bayt berasal dari firman Allah SWT sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’anul Karim surah Al-Ahzab: 33, yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kalian, ahlul bayt, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.”

Secara harfiah, ahlul bayt bermakna “keluarga” atau “anggota rumah tangga”. Akan tetapi dalam kaitannya dengan makna ayat tersebut, para ahli tafsir berbeda pendapat.

K.H. Abdullah bin Nuh, dalam bukunya, Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW, setelah mengurai berbagai nash dan pendapat para ulama menyimpulkan, terdapat lima penafsiran terhadap makna kata ahlul bayt dalam ayat 33 surah Al-Ahzab tersebut:

Pertama, pada umumnya para ulama ahli tafsir berpendapat, makna ahlul bayt mencakup dua pihak, yaitu ahlul aba (Rasulullah SAW, Siti Fathimah, ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan dan Al-Husein) dan para istri Rasulullah SAW Radhiyallahu ‘Anhum. Itulah penafsiran yang mu’tamad dan dapat dijadikan pegangan.

Kedua, Abu Sa’id Al-Khudhri, seorang sahabat Nabi, dan sejumlah ulama tafsir dari kalangan tabi’in, termasuk Mujahid dan Qatadah, berpendapat, makna ahlul baytterbatas pada ahlul aba.

Ketiga, Ibnu ‘Abbas, seorang sahabat Nabi, dan Ikrimah, dari kaum tabi’in, berpendapat bahwa yang dimaksud ahlul bayt ialah ummahatul mu’minin, yakni para ibu suci istri-istri Rasulullah SAW (Atau: para ibu suci, istri-istri Rasulullah SAW? Maknanya berbeda).

Keempat, Ibnu Hajar dan Tsa’labi berpendapat bahwa yang dimaksud ahlul bayt ialah orang-orang Bani Hasyim, karena mereka mengartikan kata bayt dengan “keluarga”, yakni keluarga seketurunan. Dengan demikian, ‘Abbas bin Abdul Mutthalib (paman Nabi), saudara-saudaranya, dan anak-anaknya, semuanya termasuk dalam pengertian ahlul bayt. Pengertian tersebut didasarkan pada riwayat yang berasal dari Zaid bin Arqam, dan tercantum di dalam Tafsir Al-Khazin.

Kelima, Al-Khathib Asy-Syaibani, yang sependapat dengan Al-Buqai’i, berpendapat, penafsiran yang terbaik mengenai kata ahlul bayt ialah setiap orang yang hidup bersama Rasulullah SAW, lelaki maupun perempuan, istri, kerabat, maupun hamba sahaya. Mereka itulah yang sangat dekat dengan Nabi SAW, memperoleh perhatian khusus dari beliau dan selalu menyertai beliau, karena itu mereka lebih berhak dan lebih patut disebut ahlul bayt.

Betapapun, saat disebutkan istilah ahlul bayt, ada kekhususan pada empat sosok utama dalam rumah tangga Rasulullah SAW, yaitu Ali, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husein, yang, bersama Rasulullah SAW, mereka disebut ahlul kisa’.

Dalam Risalah Tafsir al-Mu’awwidzatain, Ibnu Taimiyyah menjelaskan soal kekhususan ahlul kisa’ sebagai ahlul bayt Rasulullah SAW. Ia mengatakan, “Sama halnya dengan sabda Nabi SAW yang mengatakan bahawa masjid yang didirikan atas dasar taqwa ialah ‘masjidku’. Padahal secara pasti nash Al-Qur’an yang mengenai itu menerangkan bahawa yang dimaksud adalah Masjid Quba. Demikian pula sabda Rasulullah SAW yang diucapkan kepada ahlul kisa bahwa mereka itu adalah ‘ahlul baytku’. Padahal ayat Al-Qur’an yang mengenai ahlul bayt (Al-Ahzab: 33) pengertiannya mencakup para istri Nabi SAW. Mengenai soal-soal seperti itu pengkhususan sesuatu yang perlu dikhususkan memang lebih baik daripada hanya diutarakan keumuman sifat-sifatnya.”

Hubungan nan Harmonis

Sejarah ahlul bayt memang selalu menarik perhatian banyak orang. Betapa tidak, ia adalah satu dari dua peninggalan besar Rasulullah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, “Kutinggalkan kepada kalian dua peninggalan: Kitabullah, sebagai tali yang terentang antara langit dan bumi, dan keturunanku, ahlul baytku. Sesungguhnya kedua-duanya itu tidak akan terpisah hingga kembali kepadaku di Telaga Haudh (di surga).”

Saat mengutip hadits tersebut,  K.H. Abdullah bin Nuh menyebutkan takhrijnya bahwa hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari hadits Zaid bin Tsabit dan dari Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Yang pertama pada halaman 182 dan yang kedua pada akhir halaman 189, jilid V. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Abu Syaibah, Abu Ya’la, dan Ibnu Sa’ad dalam Kanz al-Ummal I/47, hadits No. 945.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, perjalanan sejarah ahlul bayt dan jejak-jejaknya tak pelak terus memunculkan banyak wacana di tengah umat, mulai dari zaman sahabat, tabi’in, bahkan hingga hari ini.
Satu di antara sekian banyak fitnah yang beredar di tengah-tengah kaum muslimin adalah adanya hubungan yang tidak baik antara ahlul bayt dan para sahabat Nabi SAW. Padahal, sejumlah fakta membuktikan dengan jelas bahwa kasih sayang antara ahlul bayt dan para sahabat Nabi SAW tetap terjalin dengan baik, sebab mereka adalah anak didik Rasulullah SAW yang telah mereguk nilai-nilai kasih sayang langsung dari sumbernya yang sama, yaitu Rasulullah SAW, dengan segala keluhuran pekerti beliau yang dapat mereka saksikan setiap saat dengan mata kepala sendiri.

Apabila dalam diri seseorang sudah meresap keyakinan bahwa di antara para sahabat dan ahlul bayt itu terhubung jalinan kasih sayang, berarti  prinsip tersebut sudah bersemayam di lubuk hatinya. Hati pun menjadi tenteram, sirna pula rasa dengki dan benci terhadap sahabat-sahabat Nabi, terutama pada pribadi-pribadi tertentu yang kerap dituding sebagai musuh ahlul bayt.

Prinsip ini pun selaras dengan semangat yang terkandung dalam Al-Qur’an, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.”

Makna di Balik Nama
Nama seseorang mencerminkan dirinya. Nama merupakan pembeda, yang membedakan seseorang dengan orang lain. Hal ini berlaku bagi seluruh manusia. Orang yang berakal tidak pernah ragu akan pentingnya nama. Sebab, melalui nama, orang akan dikenal dan dibedakan dari saudara-saudaranya sendiri maupun orang lain. Nama itu akan menjadi tanda bagi diri yang bersangkutan dan juga bagi putra-putrinya kelak.

Nama seseorang juga melambangkan agama dan juga tingkatan akalnya. Pernahkah terdengar ada seorang Nashrani atau Yahudi yang memberi nama putra-putri mereka dengan nama “Muhammad”? Ataukah ada di kalangan muslimin yang memberi nama anaknya dengan nama “Lata” dan “Uzza”, selain orang yang kurang akalnya?

Seorang anak terikat dengan ayahnya melalui nama. Seseorang dipanggil dengan nama pilihan ayah dan keluarganya.

Jadi, umat manusia selalu menggunakan nama. Orang suka mengatakan, “Melalui nama Anda, saya dapat mengerti siapa bapak Anda.”

Maka, dengan nama apa Anda memberi nama putra Anda? Apakah Anda memilih nama yang Anda sukai, disukai ibunya, dan keluarganya, atau Anda memberi nama putra Anda dengan nama musuh Anda? Sudah pasti kita memilihkan nama dengan nama-nama yang mengarah pada sesuatu yang bermakna bagi kita.

Fakta pemberian nama yang menggambarkan hubungan ahlul bayt-sahabat jelas bukan satu kebetulan yang hanya terjadi pada seorang anak, sebab para tokoh ahlul bayt menamakan banyak anak mereka dengan nama-nama sahabat, begitu pula sebaliknya. Ini merupakan masalah yang perlu direnungkan dengan lebih tenang. Di dalamnya terkandung seruan bagi jiwa dan perasaan, serta penjelasan yang memuaskan.

Kalau bukan lantaran adanya sesuatu rasa yang istimewa di hati Imam Ali kepada tiga khalifah terdahulu, akal sulit menerima kenyataan kenapa ia sampai memberi nama putra-putranya dengan nama-nama mereka: Abu Bakar, Umar, dan Utsman Radhiyallahu ‘Anhum. Sejarah mencatat, ketiga putra Imam Ali itu kelak syahid bersama saudaranya, Al-Husein, di Padang Karbala.

Putra tertua Imam Ali, Al-Hasan, pun memberi nama putra-putranya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Thalhah. Ketiganya pun syahid di Karbala bersama paman mereka, Al-Husein.

Al-Husein sendiri menamai salah seorang putranya dengan nama Umar.

Putra Al-Husein, Ali Zainal Abidin, juga memberi nama putrinya dengan nama Aisyah dan seorang putranya dengan nama Umar.

Demikian juga dengan para ahlul bayt lainnya, yaitu dari keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, keturunan Ja’far bin Abi Thalib, Muslim bin Aqil, dan selain mereka.

Kondisi ini merupakan bukti, baik dari segi  logika, psikologis, maupun realitas, bahwa ahlul bayt ingin membuktikan besarnya rasa cinta mereka kepada Khulafa’ Ar-Rasyidin, juga kepada segenap sahabat Nabi SAW lainnya.

Ini juga sekaligus merupakan bukti kebenaran firman Allah Ta’ala, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS: Al-Fath 29).

Itulah gambaran kedudukan sahabat Nabi di hati para ahlul bayt Nabi SAW. Sebaliknya, apa yang dikatakan sahabat Nabi tentang ahlul bayt?

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pernah berkata, “Demi Allah, Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh (menyambung) kerabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam lebih aku cintai daripada aku menyambung kerabatku sendiri.” (HR Bukhari: 4241, Muslim: 1759).

Sementara itu, Sayyidina Umar ibnul Khaththab RA mengatakan kepada Abbas, paman Nabi SAW, “Demi Allah, keislamanmu lebih aku sukai daripada Islamnya Al-Khaththab (maksudnya adalah ayahnya) seandainya saja ia masuk Islam. Sesungguhnya Islam-mu lebih disukai oleh Rasulullah daripada Islam-nya Al-Khaththab.” (Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat: 4/22).

Para Penjaga Syari’at
Setelah berlalunya era kehidupan Al-Hasan dan Al-Husein, semua mata tertuju kepada Ali Zainal Abidin, putra Al-Husein, sebagai sosok yang dianggap meneruskan trah kebesaran keluarga ahlul bayt sekaligus pemangku khilafah ruhaniah umat di masa itu.

Habib Umar Bin Hafidz pernah berkisah tentang gambaran keadaan di masa Imam Ali Zainal Abidin. Berikut petikannya:

“Apa yang dilakukan Ali Zainal Abidin? Apa ia berjuang untuk mendapat kekuasaan? Apa ia mengajak orang-orang Islam untuk membai’atnya? Apa ia membuat sebuah rencana kudeta penguasa saat itu?

Semua ini tidak terjadi pada diri Ali Zainal Abidin. Apakah karena ia tidak tahu apa-apa tentang agama? Aku bersaksi, ia termasuk orang yang paling alim mengenai agama. Demi Allah, Ali Zainal Abidin bukan orang bodoh. Di masanya, ia adalah pewaris agung Muhammad SAW.

Ia menyibukkan hidupnya dengan memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, menangis, bersedekah, dan berbuat kebajikan kepada orang lain. Ia sama sekali tak pernah menyinggung urusan kekuasaan. Ia juga tidak pernah memaki-maki, melaknat, dan mengucapkan pernyataan-pernyataan buruk, bahkan kepada para pembunuh ayah dan saudara-saudaranya.

Inilah khilafah sejati. Inilah yang dilakukan oleh generasi terbaik umat ini. Mereka mengikuti jejak Rasulullah SAW, jejak ahlul bayt, sahabat, tabi’in, dan para pengikut mereka.

Perjalanan hidup Ali Zainal Abidin penuh dengan ibadah. Ia banyak melakukan shalat. Dua pipinya bergaris hitam karena aliran air mata, takut kepada Allah. Keadaannya persis seperti apa yang digambarkan oleh Farazdaq:

Beliau menundukkan kepala
karena sifat malu
dan orang-orang menundukkan kepala di hadapannya
karena kharismanya

Maka tak ada yang berbicara dengannya
kecuali saat tersenyum

Ketika melihatnya mengusap Hajar Aswad, Farazdaq menggubah sajak:

Telapak tangan Ali Zainal Abidin
seperti hendak ditahan Hajar Aswad
saat ia mengusapnya

Jadi, dalam gambaran Farazdaq, jika Ali Zainail Abidin datang ke Ka’bah, Hajar Aswad seperti mau berdiri, memegang tangannya, dan menciumnya.

Ia berasal dari golongan
yang mana mencintai mereka adalah ajaran agama
membenci mereka adalah kekafiran
kedekatan dengan mereka tempat keselamatan dan tali untuk berpegang

Bila orang-orang bertaqwa dikumpulkan
merekalah para pemimpinnya

Bila ada yang bertanya
“Siapakah yang terbaik di muka bumi ini?”
merekalah jawabannya

Setelah itu putranya, Muhammad Al-Baqir. Setelah itu putra Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq. Mereka semua meneladani ayah-ayahnya dalam kemuliaan dan jalan ini.

Di masa tabi’in itu, kekuasaan dipegang Yazid bin Muawiyah. Ia dikenal fasiq dan buruk. Saat itu, ada Hasan Al-Bashri, Sa’id bin Al-Musayyab, juga para tabi’in senior. Ada Ali bin Al-Husain, juga putra-putra Al-Hasan. Apa ada di antara mereka yang membuat kekacauan? Atau melawan penguasa, atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan teladan para pendahulu dan ajaran Rasulullah SAW?

Khilafah berlanjut. Tibalah masa para imam: Abi Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal. Apa mereka semua hidup di tengah-tengah khilafah yang lurus atau hidup di tengah-tengah kekuasaan kerajaan (yang zhalim – agar ada perlawanan sifat dengan lurus)? Apakah mereka menyusun rencana untuk menyingkirkan orang-orang yang memiliki kekuasaan itu? Tidak, mereka sibuk menjaga Islam, menjaga syari’at di tengah-tengah umat, dengan segala kesungguhan dan daya upaya. Mereka mengorbankan waktu, jiwa raga, dan harta, untuk menjelaskan hakikat syari’at kepada umat manusia serta membawa mereka untuk bisa mengamalkannya.”

Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, dalam kitabnya Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, menyebutkan, “Yang dimaksud dengan as-sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW (meliputi ucapan, perilaku, serta ketetapan beliau). Sedangkan pengertian al-jama’ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi Muhammad SAW pada masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, yang empat, yang telah mendapat hidayah.”

Dalam kitab Syarh al-Wasithiyyah, disebutkan, “Apabila disebut Al-Jama’ah bersama As-Sunnah lantas dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, yang dimaksud dengannya adalah para salaf dari umat ini, termasuk para sahabat Nabi SAW dan para tabi’in, yang sepakat dalam kebenaran yang nyata dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah SAW.”

Jadi, kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah-sunnah (ajaran-ajaran) Nabi Muhammad SAW. Ahlussunnah wal Jama’ah menerima sunnah-sunnah Nabi SAW, melalui para periwayatnya, baik dari kalangan ahlul bayt maupun dari para sahabat Nabi SAW.

Makna Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut dapatlah dipahami bila para tokoh ulama terkemuka dalam Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah seiring sejalan bahkan memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarga ahlul bayt, sebab mereka semua adalah kaum yang, sebagaimana disebutkan di atas, sepakat dalam kebenaran yang nyata dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah SAW.

Tidaklah mengherankan bila kemudian ditemukan banyak komentar yang terlontar dari kalangan keluarga ahlul bayt yang memuji dan menyanjung sahabat Nabi. Begitu pun sebaliknya, tak terhitung banyaknya perkataan para ulama tokoh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang menunjukkan kecintaan mereka kepada ahlul bayt, sebagai bentuk kepatuhan terhadap syari’at Islam, yang amat mereka pahami.

Dalah hal ini, cukuplah kiranya pernyataan Imam Ja’far Ash-Shadiq (baca Manaqib), “Saya dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali!” Siapakah ibu Imam Ja’far? Ibunya bernama Ummu Farwah binti  Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar.

Atas ucapan Imam Ja’far itu, para ulama dan sejarawan pun menilainya sebagai wujud rasa bangga sang Imam atas jalinan kekerabatan yang ia miliki dengan Sayyidina Abu Bakar. Imam Ja’far tidak menyebut nama Muhammad bin Abu Bakar, sosok yang disepakati kaum Syi’ah akan keutamaannya. Tapi ia menyebut nama Abu Bakar. Jelas bukan terhadap siapa seseorang akan berbangga?

Memuliakan Ahlul Bayt

Ketika Sayyidina Umar bin Abdul Aziz RA masih menjadi penguasa kota Madinah, buyut perempuan Rasulullah SAW yang bernama Fathimah binti ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhum datang kepadanya.

Semua orang yang berada di dalam rumah disuruh keluar oleh Umar bin Abdul Aziz, kemudian ia berkata kepadanya, “Di muka bumi ini tidak ada keluarga yang lebih kucintai daripada kalian, dan kalian lebih kucintai daripada keluargaku sendiri.”

Itulah salah satu gambaran kecintaan yang terus berlanjut antara tokoh-tokoh umat dan kalangan keluarga ahlul bayt. Contoh-contoh lainnya masih teramat banyak.

Imam Abu Hanifah RA, misalnya, sangat besar kecintaannya kepada ahlul bayt. Ia menghormati mereka dan sering membantu untuk mengatasi kesukaran mereka, baik yang sedang dikejar-kejar oleh kekuasaan Bani Umayyah maupun yang tidak. Pada suatu saat ia memberi bantuan keuangan kepada keluarga ahlul bayt yang sedang dikejar-kejar, dengan uang sebesar 12 000 dirham. Bahkan ia mendorong sahabat-sahabatnya agar membantu mengatasi kesulitan para anggota keluarga ahlul bayt Rasulullah SAW.

Begitu pula Imam Syafi’i RA. Ketika ia dituduh kaum Khawarij sebagai pengikut kaum Rawafidh dan kaum Nawashib (karena kecintaan dan penghormatannya kepada ahlul bayt dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Ibnul Khaththab Radhiyallahu Anhum), dalam beberapa bait syairnya ia menjawab tegas:

Kalau aku dituduh
oleh orang-orang bodoh
sebagai penganut kaum Rawafidh
karena aku memuliakan Ali RA…
kalau aku dituduh
sebagai penganut kaum Nawashib
karena aku memuliakan Abu Bakar RA…
biarlah aku selamanya menjadi orang Rawafidh dan Nawashib kedua-duanya
karena aku memang memuliakan ‘Ali dan Abu Bakar…
kendatipun aku akan dibenamkan dalam gundukan pasir…. 

Ia juga mengatakan, “Kalau karena mencintai keluarga Muhammad aku dituduh penganut kaum Rawafidh, biarlah Tsaqalain (Kitabullah dan ahlul bayt Rasulullah SAW) menjadi saksi bahwa aku ini seorang Rafidhi

 

http://majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/954-asyura-dan-ahlul-bayt-nabi

Habib Noval bin Muhammad Alaydrus: Melindungi Umat dari Virus Wahabi PDF Print E-mail
(3 votes, average 5.00 out of 5)

Lama tidak terdengar, muballigh, penerjemah, sekaligus penulis produktif, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus, Solo, muncul dengan gebrakan baru. Berdakwah di komunitas bawah yang awam pemahaman agamanya.f


 

Belakangan, habib muda kelahiran Solo, 27 Juli 1975, ini mengubah haluan dakwahnya. Dari yang semula berada di zona “aman”, mengisi ta’lim di berbagai masjid dan majelis secara rutin, berkumpul dalam satu komunitas tertentu dengan habaib dan kiai, kini ia harus berpindah-pindah dan keliling dari satu tempat ke tempat lain, khusunya daerah yang sebagian besar penduduknya belum tersentuh pemahaman agama secara baik. Praktis, keberadaannya jarang terlihat di permukaan.

Ini dilakukannya bukan tanpa alasan. Dewasa ini berbagai penyimpangan dalam aliran Islam semakin marak di Indonesia, wa bil khusus di Solo. Tentu kita masih ingat kasus bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu silam, yang diklaim sementara orang sebagai aksi jihad.

Menurutnya, tragedi memilukan itu tak perlu terjadi, bukan hanya di Solo, namun juga di Indonesia, dan belahan bumi mana pun, bila tidak ada pembiaran terhadap berbagai aliran ekstrem. Inilah peran pemuka agama untuk membentengi aqidah umat.

Karena Hidayah Allah
Seolah mendapat ilham dari Allah SWT, mulai saat ini hingga beberapa waktu ke depan, ia akan lebih gencar membendung paham Wahabi, sebuah paham yang kerap menjadi embrio dalam pemahaman kelompok-kelompok umat yang ekstrem. Bukan dengan cara membumihanguskan paham tersebut, melainkan membentengi aqidah umat dari berbagai aliran yang menyimpang dari doktrin Ahlussunnah wal Jamaa’ah. Sebab, menurutnya, Wahabi itu sesungguhnya kecil, umatlah yang membesarkannya dengan menjadi pengikutnya.

Masih menurut Habib Noval, umat Islam yang berpaham Wahabi itu tidak akan bisa berubah dengan berbagai mau’izhah dan dialog. Mereka hanya akan berubah dengan hidayah Allah. Dialog, sehebat apa pun dan segencar apa pun, tidak efektif bila hidayah Allah belum bermain. Masalahnya, keduanya, baik Ahlussunnah maupun Wahabi, sama-sama menggunakan dalil dan hadits yang hampir sama, hanya pemahamannya yang berbeda. “Seribu ulama Wahabi dan seribu ulama Ahlusunnah, bila beradu ilmu, masing-masing tidak akan menemukan titik temu. Umumnya, seseorang yang keluar dari Wahabi bukan karena ilmu, namun hidayah dari Allah SWT,” kata habib berusia 36 tahun ini.

Ada salah satu kisah menarik di Jawa Timur. Seorang pemuda Wahabi meyakini bahwa pahala mengirim hadiah surah Al-Fatihah kepada orang yang telah meninggal tidak sampai kepadanya, dan dia berdebat habis-habisan dengan koleganya yang seorang Ahlusunnah wal Jama’ah.

Tiba-tiba datang salah seorang habib, dan diadukanlah perkara tersebut.

Menariknya, dengan ringan sang habib hanya menjawab, “Insya Allah sampai, buktikan saja sendiri.”

Malam harinya, pemuda Wahabi tersebut merasa penasaran dan ia pun ingin membuktikan saran sang habib, mengirim hadiah surah Al-Fatihah khusus untuk ayahnya, yang telah lama menghadap-Nya.

Ketika tidur di malam itu juga, ia bermimpi bertemu sang ayah. Bahkan dalam mimpinya itu ayahnya berkata, “Kenapa tidak dari dahulu kamu mengirimkan hadiah ini untuk ayah, Nak?”

Kontan saja ketika terbangun di pagi harinya ia merasa begitu trenyuh. Bahkan ia menjadi mempercayai mimpinya tersebut.

Tidak lama kemudian, ia mengisahkan mimpinya itu kepada teman debatnya. Sejak saat itu, ia pun menyakini dan selalu mengatakan kepada khalayak bahwa hadiah Al-Fatihah untuk orang yang telah meninggal itu sampai.

Artinya, perpindahan aqidah itu bukan karena ilmu, melainkan hidayah dari Allah SWT. Mungkin, seseorang yang baru mulai memasuki ajaran Wahabi masih bisa dipengaruhi dan diberi pemahaman untuk kembali. Tapi bagi yang sudah menjadi Wahabi sangat sulit. Menurut Habib Noval, mengutip perkataan Habib Ali Al-Habsyi, orang yang telah terkena penyakit Wahabi, susah sembuhnya.

Tegas sedari Awal 
Sepertinya, sungguh tepat bila suami Syarifah Fathimah Qonita binti Ali Al-Habsyi, yang masih terhitung cucu Habib Anis Al-Habsyi, ini memutuskan untuk terjun ke lingkungan bawah yang selama ini awam wawasan keberagamaannya. Bukankah mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati?

Sebetulnya dakwah membendung paham Wahabi telah dilakukannya sejak beberapa tahun silam, semasa Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi, guru sekaligus kakek mertuanya, masih hidup. Habib Noval merasa beruntung belajar langsung dengan habib kharismatis itu.

Sejak kecil, sepulang sekolah, mulai dari SD hingga SMA, ia, yang kini telah dianugerahi dua orang anak, selalu aktif di berbagai kegiatan di Masjid Ar-Riyadh, Solo. Yakni shalat berjama’ah, tadarus Al-Qur’an, membacaan ratib, sampai mengikuti pengajian umum secara rutin, mulai dari tema sejarah nabi atau hadits, nahwu dan fiqih, tasawuf, hingga tafsir Al-Qur’an.

Pengembaraan pencarian ilmunya pernah mengantarkannya hingga nyantri di Pondok Pesantren Darul Lughah wad Da’wah, Pasuruan, Jawa Timur, yang kala itu diasuh oleh almarhum Ustadz Hasan Baharun. Namun, sang bunda tampak berat berpisah, ia pun akhirnya hanya sempat belajar di sana selama satu semester plus masa percobaan satu bulan. Jadi kurang lebih selama tujuh bulan.

Meski begitu, waktu yang sangat singkat ini dirasakannya sangat berarti. Sebab hanya dalam kurun waktu tujuh bulan, ia telah dapat berbahasa Arab relatif baik. Ini memang menjadi motivasinya. Pasalnya, ia selalu teringat dengan pesan sang kakek, almarhum Habib Ahmad bin Abdurrahman Alaydrus, bahwa, “Jika kamu mampu menguasai bahasa Arab, kamu telah menguasai setengah ilmu.”

Setelah mendapat restu sang guru, Ustadz Hasan, di tahun 1995, Habib Noval kembali ke kampung halamannya. Sambil terus belajar kepada Habib Anis dan beberapa habib dan kiai lainnya, ia juga mulai berdakwah.

Masa-masa awal itu ia tidak terjun langsung membina umat yang rentan menjadi basis sasaran Wahabi, namun tetap menyuarakan bahayanya aliran Wahabi dan Syi’ah. “Saya sudah berani tegas sejak pertama kali berdakwah. Masa itu Habib Anis masih ada. Dalam khutbah Jum’at misalnya, saya sangat tegas menentang Syi’ah dan Wahabi, namun bahasannya tetap santun dan ilmiah. Dikenal galak, karena berani menyuarakan yang hak dan bathil,” tutur Habib Noval.

Bila dipersentasekan, keberadaan kalangan awam itu jumlahnya sangat besar. Selama ini mereka kebanyakan beragama hanya ikut-ikutan. Namun mereka amat mendambakan kebaikan, sehingga mereka pun taat mengikuti berbagai ritus ibadah. Tidak hanya yang yang wajib, namun juga yang sunnah, seperti shalawatan, tahlilan, Maulidan, dan sebagainnya. Pada gilirannya, sikap taqlid mereka itu disalahgunakan oleh sekelompok tertentu untuk menebar ajakan agar meninggalkan ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah.

Strategi para penebar ajaran itu semakin agresif. Mereka begitu keras menuduh pengamal ritus tersebut sebagai perilaku bid’ah dan sesat, dan para pelakunya kelak akan berada di neraka. Tuduhan itu dilontarkan langsung di hadapan umat. Bukan lagi hanya melalui buku-buku. Terkadang, mereka juga menyebarkannya lewat SMS. Segala cara ini mudah saja mereka lakukan, mengingat dukungan dana yang begitu besar.

Meluruskan Stigma Negatif Bid’ah

Mengenai bid’ah, kata Habib Noval, bid’ah itu sendiri terbagi menjadi dua: bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Sayangnya selama ini kata bid’ah sudah begitu melekat dengan stigma negatif, yang setiap pelakunya itu ahli neraka. Mereka berhasil menempatkan kata bid’ah sebagi sesuatu yang buruk. “Maka saya harus berjuang merebut kembali istilah bid’ah agar tidak dikonotasikan negatif,” kata Habib Noval semangat.

Menurutnya, Syaikh Alwi Al-Maliki, yang berada di Arab Saudi, sarang Wahabi, saja tidak berdiam diri. Ia melakukan perlawanan dengan berbagai cara, baik lisan ketika berdakwah maupun tulisan dalam berbagai kitab dan bukunya. Apalagi muslim Sunni Indonesia, yang mayoritas. “Saya terpanggil, mulai saat ini harus lebih fokus memberantas paham Wahabi, terutama di Solo,” katanya kembali menegaskan.

Menyusul kesuksesan buku terdahulunya, Mana Dalilnya, yang juga ditujukan untuk menolak paham Wahabi, baru-baru ini Habib Noval meluncurkan buku terbarunya berjudul Ahlul Bid’ah Hasanah.

Sekilas buku ini memiliki kemiripan dengan buku sebelumnya. Namun menurut Habib Noval, buku ini memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Sesuai namanya, isi buku yang dibandrol seharga empat puluh lima ribu rupiah ini mengupas dalil dan sumber berbagai amaliah Ahlusunnah wal Jama’ah yang selama ini diklaim sebagaibid’ah dan sesat, serta mencantumkan pendapat para ulama yang kuat. Lebih praktis dan tegas. “Pada buku Mana Dalilnya, saya menggunakan kerangka berpikir Wahabi. Sementara buku ini kerangka berpikirnya tengah-tengah: Wahabi dan kaum santri,” katanya.

Aqidah umat mesti diperkuat, agar tidak mudah goyah. Salah satunya dengan membaca buku Ahlul Bid’ah Hasanah.

Tampaknya, buku ini akan kembali mendulang sukses seperti buku-buku karya Habib Noval sebelumnya.
Saat ini, bila ada yang mempengaruhi dan menuduh dengan berbagai label negatif terkait dengan Ya-Sinan, tahlilan, shalawatan, misalnya, umat tidak hanya diam, apalagi terpengaruh, mereka mulai berani membantah, dengan mengutarakan dalil-dalil yang kerap disampaikan Habib Noval, atau minimal tidak terpengaruh.

Semangat habib muda ini dalam membentengi aqidah umat begitu tinggi. Untuk mendukung dakwahnya, kini Habib Noval juga merambah bisnis kaus oblong dengan berbagai gambar dan kata-kata ciri khas Ahlusunnah wal Jama’ah yang menggugah. Ini diproduksinya sendiri menggunakan label “Abah”, singkatan “Ahlul Bid’ahHasanah”.

“Pada produksi kaus, saya menggunakan kata-kata yang menyentuh tapi tidak provokatif, seperti ziarah kubur, Ya-Sinan, tahlilan, Maulidan, kemudian diarahkan dengan menggunakan tanda panah ke kata surga. Kemudian, kalimat Lebih baik gila dzikir daripada waras namun tidak dzikir,” kata Habib Noval.

Respons masyarakat cukup besar. Produksi pertama pada Ramadhan lalu, sebanyak 750 telah habis diserbu konsumen. Saat ini produksi kedua mencetak 1.500 kaus dengan dua varian, lengan panjang dan pendek. Warnanya beragam, mulai dari putih, biru, merah, hingga hitam.

Posted by: Habib Ahmad | 28 Disember 2011

Karnival Mahabbah

Posted by: Habib Ahmad | 28 Disember 2011

Majalah Al Kisah Terkini

Posted by: Habib Ahmad | 28 Disember 2011

Solat berjemaah tawar ganjaran pahala berlipat kali ganda

Solat berjemaah tawar ganjaran pahala berlipat kali ganda

Posted by epondok di Disember 28, 2011

Rate This

 

Oleh Wan Aminurrashid Wan Abd Hamid

RASULULLAH SAW bersabda bermaksud: “Solat berjemaah lebih afdal (utama) daripada solat bersendirian dengan 27 kali ganda.” – (Hadith riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pemurahnya Allah SWT yang menawarkan ganjaran berlipat kali ganda menerusi solat berjemaah untuk direbut hamba-Nya. Mukmin yang menginsafi betapa ganjaran bernilai itu adalah antara anugerah Allah yang terbesar, akan sentiasa menghargai dan memburu kesempatan untuk solat fardu berjemaah khususnya di masjid, malah terlepasnya peluang solat berjemaah dirasakannya sebagai satu kerugian.

Diriwayatkan bahawa Ubaidullah bin Umar al-Qawariri iaitu guru kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim berkata bahawa dia (Ubaidullah) tidak pernah ketinggalan solat Isyak berjemaah. Tetapi pada satu malam datang seorang tetamu ke rumahnya menyebabkan dia ketinggalan berjemaah Isyak disebabkan sibuk melayani tetamunya.

Sebaik tetamunya pulang, dia pun bergegas ke masjid di Basrah, didapati semua orang telah menunaikan solat Isyak dan masjid telah ditutup, lalu dia balik ke rumah dengan perasaan hampa.

Oleh kerana hadis Nabi SAW menjelaskan bahawa solat berjemaah itu ganjarannya 27 kali ganda, maka beliau pun sembahyang Isyak 27 kali.

Beliau lalu tidur dan bermimpi seolah-olah bersama satu kaum yang sedang mengembara dengan menunggang kuda tetapi dia tidak dapat mengekori orang lain. Salah seorang dari mereka menoleh ke belakang kepadanya, lalu memintanya tidak memenatkan kudanya kerana dia tidak akan mampu mengikuti kaum itu.

Ubaidullah bertanya kenapa. Lelaki itu menjawab kerana mereka solat Isyak berjemaah, sedangkan dia solat bersendirian (ternyata walaupun melakukan 27 kali solat Isyak bersendirian tidak sama nilainya dengan sekali solat Isyak berjemaah). Tidak lama kemudian Ubaidullah terjaga dalam keadaan sedih. Lalu dia memohon pertolongan dan taufik daripada Allah SWT.

Anugerah Allah SWT terhadap orang yang solat berjemaah bermula daripada terpautnya hati seseorang hamba Allah dengan masjid, disusuli dengan langkahnya menuju ke masjid kerana keinginan solat berjemaah hinggalah selesai solat dan kembali ke rumah.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyatakan bahawa ada tujuh golongan manusia yang Allah akan tempatkan mereka di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan melainkan naungan-Nya (pada hari kiamat). Salah satu dari tujuh golongan berkenaan ialah lelaki (termasuk wanita) yang hatinya (sentiasa) terikat dengan masjid.

Imam al-Nawawi ketika menafsirkan sabda Nabi SAW itu menyatakan: “Maksudnya ialah hatinya sentiasa mengingati/merindui masjid dan beristiqamah pergi ke masjid kerana solat berjemaah. Ia bukan bermaksud berterusan duduk di dalam masjid.

Kelebihan yang diperoleh oleh sesiapa yang beristiqamah ke masjid untuk solat berjemaah dikurniakan Allah kerana masjid adalah rumah Allah. Rumah bagi setiap yang bertakwa. Adalah satu kelaziman bagi orang yang diziarahi akan menghormati orang yang bertandang. Maka, cuba bayangkan bagaimana penghormatan yang akan kita peroleh daripada Pencipta alam semesta ini iaitu Allah SWT yang Maha Mulia lagi Maha Besar.

Dalam hadis lain dinyatakan bahawa Allah SWT berasa takjub dengan solat berjemaah seperti sabda Nabi SAW: “Daripada Abdullah bin Umar ra., katanya: Satu hari saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah takjub (kagum) dengan solat yang didirikan secara berjemaah”. – (Hadis riwayat Ahmad).

Beruntung dan berbahagia sungguh seorang mukmin yang melakukan amalan di mana Allah sendiri berasa kagum dan takjub terhadap amalan berkenaan.

Dengan solat berjemaah di masjid, mudah-mudahan pelbagai ganjaran dapat diraih Muslim, bukan cuma ganjaran 27 kali ganda, tetapi ditambah lagi dengan kurniaan Allah yang besar lantaran memakmurkan rumah-Nya seperti Nabi SAW bersabda: “Barang siapa pergi ke masjid pada waktu pagi atau petang (untuk beribadah/solat berjemaah), Allah akan menyediakan untuknya satu tempat tinggal di syurga setiap kali ia pergi pada waktu pagi atau petang (sentiasa tersedia hal yang sama).” – (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim.

Posted by: Habib Ahmad | 27 Disember 2011

DOA PERMULAAN BULAN SAFAR BESERTA TERJEMAHANNYA

DOA PERMULAAN BULAN SAFAR BESERTA TERJEMAHANNYA

 

 

 
 
 
 
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
 
 

DOA PERMULAAN BULAN SAFAR BESERTA TERJEMAHANNYA

 

 
 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَعُوْذُبِا اللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ. وَأَعُوذُبِجَلاَلِكَ وَجَلاَلِ وَجْهِكَ وَكَمَالِ جَلاَلِ قُدْسِكَ أَنْ تُجِيْرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلاَدِيْ وَأَهْلِي وَأَحِبَّائِي. وَمَا تُحِيْطُ شَفَقَّهُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هَذِهِ السَّنَةِ وَقِنِي شَرَّمَا قَضَيْتَ فِيْهَا. وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ. يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ وَاخْتِمْ لِيْ فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِاالسَّلاَمَةِ وَالعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلاَدِيْ وَلِلأَهْلِيْ. وَمَا تُحُوْطُهُ شَفَقَّهُ قَلْبِيْ وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ.
 

<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>

 

<!–[endif]–> 

 

“Aku berlindung dengan Allah dari kejahatan waktu ini dan penduduknya, dan aku berlindung dengan keagunganMU, Keagungan ZatMU dan Kesempurnaan Keagungan KesucianMU, agar menjauhkan diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang aku sayangi dan sesiapa yang hatiku kasih kepadanya, dari keburukan tahun ini, dan selamatkanlah aku daripada kejahatan yang telah ENGKAU tetapkan dalam tahun ini dan jauhkanlah daripadaku keburukan bulan safar, wahai Allah Yang Mulia pandangan rahmatNYA dan tutuplah pada bulan dan saat ini dengan keselamatan, afiah dan kebahagiaan kepadaku kedua orang tuaku, anak-anakku dan sesiapa yang hatiku kasih kepadanya dan seluruh orang Islam”
 

<!–[if !supportLineBreakNewLine]–> <!–[endif]–> 

Al-Fadhil ,Ustazuna Muhadir bin Haji Joll as Sanariy Hafizhahullah, Safar 1433H

Tambahan :

SAFAR AL KHEIR…
 
Merupakan salah satu dari bulan2 sunnah (diisi dengan amalan2 sunnah) dan dinamakan oleh baginda Nabi saw sebagai Safar al Khair ( Safar bulan kebaikan)…
 
Kebanyakan dari umat2 yang terdahulu dimusnahkan pada bulan ini…
 
Antara amalan sepanjang hari di dalam bulan ini; dgn niat penjagaan dari mala petaka:
 
1) Syahadatain 3 kali
 
2) Istighfar 300 kali
 
3) Sedekah harian dengan niat supaya terangkatnya bala. Nabi saw pernah bersabda… Sesiapa yang memberitakan kepadaku tentang berakhir bulan Safar, maka disunatkan pada 27 Safar untuk menyembelih haiwan (lalu disedekahkan) ikhlas kerana Allah Taala.
 
4) al Fil dibaca 7 kali
 
5) Ayatul Kursiy 7 kali setiap hari.
 
 
 
ADAB RABU TERAKHIR BULAN SAFAR:
 
1) Syahadatain 3 kali
 
2) Istighfar 300 kali
 
3) Ayatul Kursiy 7 kali
 
4) al Fil 7 kali …. lalu diamalkan secara menyeluruh olehnya diri dan anggota keluarga…
 
 
Afdhalnya:


Pada waktu siang Rabu terakhir tersebut janganlan keluar dari rumah.
 
Kerana Sh Abdullah Faiz ad Daghestani qaddasaLLAHU sirrahu pernah berkata:
 
” Pada hari Rabu terakhir Safar, akan diturunkan 70 000 bala…. Sesiapa yang menjaga (seperti yang telah disebutkan tadi) insya Allah akan dipelihara Allah Taala…
 
Allahu Haq! Hidayah Seluruh Alam:
 
 
KAIFIAT SOLAT SUNAT RABU TERAKHIR BULAN SAFAR:
 
 
Berikut dimuatkan kaifiat dan fadhilat sembahyang pada hari Rabu khir Bulan Safar sepertimana yang al-faqir petik daripada Kitab Bada’uz Zuhur karangan al-‘Allamah Syeikh Wan Ahmad Bin Muhammad Zain Al-Fathani yang dihimpunkan semula oleh al-Marhum Tuan Guru Hj.Wan Mohd.Saghir Abdullah terbitan Khazanah Fathaniyyah cetakan 1997. Inilah dia amalan tersebut : -
 
1) Niat Solat sunat (Mutlak) 4 Rakaat.

2) Tiap-tiap rakaat selepas al-Fatihah membaca :-
a. Surah al-Kauthar (17x)
b. Surah al-Ikhlas (5x)
c. Surah al-Falaq (1x)
d. Surah an-Nas (1x)

3) Selepas solat bacalah doa ini :
 
بسم الله الرحمن الرحيم.
اَللّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى. وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ.
يَا عَزِيْـــزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ
إِكْفِنِي مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ
يَا مُحْسْنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ
يَا مَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ
أَكْفِنِي هَذَ اليَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِى
فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِا اللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ
وصلّى الله على سيّدنا محمّدٍ وعلى آله وصحبه وسلِّم
 
 
 
**mulakan adab doa dengan pujian kepada Allah kemudian apitkan dipermulaan doa dengan selawat atas Nabi Muhammad s.a.w dan apitkan akhir doa dengan selawat atas Nabi Muhammad s.a.w juga.
 
 
 
RUJUKAN :



1. Kitab Bada’uz Zuhur karangan al-‘Allamah Syeikh Wan Ahmad Bin Muhammad Zain Al-Fathani yang dihimpunkan semula oleh al-Marhum Tuan Guru Hj.Wan Mohd.Saghir Abdullah terbitan Khazanah Fathaniyyah cetakan 1997, m/s: 57 dan 58.
2. Tuhfatul Authan, Hj Ahmad bin Muhammad Said al-Linggi (Mufti Negeri Sembilan)
3. al-Bahjatul Mardiyyah, as-Syeikh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani
 
SUMBER :

 

http://www.rawatanislam2u.com/2011/02/amalan-bulan-safar-mengikut-futuhat.html

Imam Syafi`i Shalat hajat 2 rekaat Tabarruk dengan Kubur Imam hanafi dalam Kitab Khatib al-Baghdadi

Posted on December 27, 2011 by salafytobat

 

Tabarruk Imam Syafi`i – Khatib al-Baghdadi

 
 

 

 Imam Abu Hanifah, an-Nu’man bin Tsabit radhiyallahu `anhu adalah salah seorang pengasas mazhab yang masyhur. Beliau wafat pada tahun kelahiran Imam asy-Syafi`i radhiyallahu `anhu, iaitu 150H. Makam beliau yang berada di Baghdad sentiasa menjadi tumpuan ziarah kaum muslimin yang kasihkan para kekasih Allah SWT. Imam kita, Sultanul A-immah Muhammad bin Idris asy-Syafi`i ketika di Baghdad, juga tidak ketinggalan untuk menziarahi Imamul A’dhzam Abu Hanifah di makam beliau tersebut. Bahkan Imam Besar keturunan Bani Muthallib ini turut menadah tangan berdoa kepada Allah SWT dengan bertawassul kepada Imam Abu Hanifah RA. Kisah mengenai perkara ini disebut oleh Imam al-Hafiz Abu Bakar Ahmad bin `Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi asy-Syafi`i rahimahullah yang masyhur dengan gelaran Imam Khatib al-Baghdadi, seorang ulama bermazhab Syafi`i yang hidup sekitar tahun 392H – 463H. 
 
Dalam karya beliau yang  masyhur “Tarikh Baghdad” pada jilid 1 halaman 123 beliau menulis kisah tersebut melalui jalan daripada al-Qadhi Abu `Abdullah al-Husain bin `Ali bin Muhammad as-Saymari daripada `Umar bin Ibrahim al-Muqri daripada Makram bin Ahmad daripada `Umar bin Ishaq bin Ibrahim daripada `Ali bin Maimun yang menyatakan bahawa beliau mendengar Imam asy-Syafi`i RA berkata: ” Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Abu Hanifah dan aku menziarahi kubur beliau setiap hari. Apabila aku mempunyai suatu hajat keperluan, aku bershalat dua rakaat, kemudian pergi ke kubur Abu Hanifah dan berdoa kepada Allah di sisinya, maka dalam masa yang singkat sahaja hajat tersebut ditunaikan.
 
Sebahagian orang mempertikaikan kesahihan kisah tersebut. Maka itu adalah hak mereka dan sebagaimana mereka, kita juga punya hak untuk tidak menerima pendapat mereka dan sebaliknya menerima pendapat ulama yang mensabitkan kebenaran pada kisah tersebut. Menurut kajian Imam Khatib al-Baghdadi, segala periwayat kisah tersebut adalah orang – orang yang shaduq dan tsiqah (yakni orang – orang yang dipercayai) dan pandangan beliau ini turut dikongsi oleh ulama-ulama lain. 

Pihak yang menolak kisah tersebut seperti al-Albani juga tidak menafikan kedudukan dan status para perawi kisah tersebut adalah orang – orang kepercayaan selain daripada ” `Umar bin Ishaq bin Ibrahim” yang dikatakan sebagai seorang yang majhul (yakni yang tidak diketahui identitinya). Atas dasar tersebut maka al-Albani menghukumkan kisah tersebut sebagai dhaif bahkan batil. Rasanya penilaian kisah tersebut sebagai batil adalah satu penilaian yang terlampau kerana beliau gagal mempertimbangkan fakta yang para periwayat lain adalah mereka-mereka yang shaduq dan tsiqah. Sewajarnya perkara ini masuk dalam pertimbangan al-Albani sebelum menyatakan yang ianya batil.

 

Menurut penjelasan sebahagian ulama lain, ada kemungkinan ‘Umar bin Ishaq tersebut adalah `Amr bin Ishaq al-Himsi yang merupakan seorang yang diketahui dan boleh dipercayai. Jika ianya benar, maka tiadalah apa lagi kecacatan pada sanad yang dikemukakan oleh Imam Khatib tersebut. Selain daripada itu, perlu diberi perhatian juga bahawa kisah ini turut disampaikan melalui jalan lain, antaranya oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam karya beliau “al-Khairat al-Hisan” yang merupakan manaqib Imam Abu Hanifah pada fasal 35 halaman 129 dengan sanad yang shahih dan Imam Ibnu Abil Wafa menyebutkan kisah ini dalam “Tabaqat al-Hanafiyyah” pada halaman 519 dengan sanad lain melalui al-Ghaznawi. Tidak ketinggalan para ulama di masa kita ini turut memuatkan kisah ini dalam karya mereka, misalnya Imam Muhammad Zahid al-Kawthari membawa kisah ini dalam “Maqalat al-Kawthariy” pada halaman 453 dan mengatakan bahawa sanad kisah ini adalah bagus (jayyid). Mufti Muhammad Taqi Uthmani memuatkannya dalam karya beliau “Jahan-e-Deedah“, jika kisah tersebut dianggap sebagai batil, pasti Mufti Muhammad Taqi yang terkenal sebagai seorang ulama bermazhab Hanafi dengan aliran Deobandi tidak akan memuatkannya dalam karya beliau. Maka hendaklah kita berlapang dada, jangan terlalu taksub dengan pegangan kita sehingga menuduh pihak yang tidak sependapat dengan berbagai tuduhan yang keji. Tiada paksaan samada untuk menerima atau menolak kisah Imam asy-Syafi`i RA bertabarruk dengan Imam Abu Hanifah RA.

Posted by: Habib Ahmad | 23 Disember 2011

KINRARA BERSELAWAT

Darul Murtadza
Click on the photo to start tagging. Done Tagging
Posted by: Habib Ahmad | 23 Disember 2011

Dzikr & Tabligh Akbar Majelis RasuluLlah

Posted by: Habib Ahmad | 23 Disember 2011

KULIAH MAGHRIB

Posted by: Habib Ahmad | 23 Disember 2011

TERENGGANU BERSELAWAT

Posted by: Habib Ahmad | 22 Disember 2011

Majlis Ta’lim Bulanan

Bertujuan memberi kemudahan kepada masyarakat Kuala Lumpur dan Selangor khususnya serta masyarakat Malaysia ‘amnya menimba ilmu ajaran agama Islam yang ditinggalkan dan diwasiatkan oleh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

Huraian dari buku-buku karangan beliau akan disyarahkan dalam Bahasa Malaysia.

Alhamdulillah pada hari Ahad 21 November 2010, Majlis Ilmu bulanan yang selama ini diselaraskan di masjid Baitul Aman, Jalan Damai, Ampang telah mengkhatamkan kitab ‘Dakwah yang Sempurna dan Peringatan yang Utama’ karangan Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad.  Setelah dipimpin oleh Tuan Guru kita yang juga Sang Penterjemah buku ini kedalam Bahasa Malaysia, Syed Ahmad bin Semait hingga beliau wafat pada 15 Julai 2006, maka disambung dan dikhatamkan pula oleh murid beliau Ustaz Najmuddin bin Othman Alkhered.  Semoga mereka dirahmati Allah s.w.t.

Majlis bulanan seterusnya akan mengabungkan dua kitab karangan Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad.  Selepas solat Maghrib, sambungan huraian buku berjudul ‘Nasihat Agama dan Wasiat Iman’ akan disyarahkan oleh Ustaz Ali Zainal Abidin Alhamid diikuti dengan permulaan huraian buku baru ‘Penuntun Hidup Bahagia (Risalatul Mudzakarah)’ oleh Ustaz Najmuddin bin Othman Alkhered selepas solat Isya’.  Bagi mereka yang ingin memiliki senaskah buku ini, pihak kami akan mengedarkannya di majlis nanti dengan harga diskaun sebanyak RM 25.00 senaskah.
InsyAllah, majlis ini akan dilangsungkan seperti biasa pada Sabtu 21 Januari 2012 mulai solat maghrib di Masjid Baitul Aman, 102, Jalan Damai di Jalan Ampang, Kuala Lumpur. 
Untuk maklumat, buku Nasihat Agama dan Wasiat Iman memberi bimbingan penting untuk mengenal ilmu-ilmu yang wajib dari akidah Islamiah dan hukumhakamnya, serta ciri-ciri akhlak dan budi pekerti yang mulia. Ia juga menunjukkan cara-cara berdakwah ke jalan Allah Ta’ala, dan menunaikan hak kewajiban terhadap agama Islam dengan berdalilkan ayat-ayat suci Al-Quran dan Hadis.
Seterusnya, gabungan dua judul buku Petunjuk Thariqat dan Penuntun Hidup Bahagia membicarakan cara orang yang memilih yang bersih dari yang kotor dalam mengarahkan diri menuju ke jalan akhirat.  Bahagian kedua membincangkan perbezaan takrif ‘hidup bahagia’ antara insan umum dan ahli tasawuf iaitu mereka yang menganggap hidup bahagia bererti hidup aman sentosa sesudah mati. Maka Itu adalah kebahagiaan yang hakiki.
Agar kita diberi anugerah dari Allah s.w.t. dan mengambil peluang untuk menghadiri majlis ini selaku pedoman perjalanan kita ke akhirat.

Jadual ini akan diulangi pada minggu ketiga atau keempat setiap bulan yang juga akan dimaklumkan pada majlis semasa.

Semua Muslimin dan Muslimat dijemput hadir. Diminta Hadirin dan Hadirat mematuhi halal/haram, sunnah/makruh dan adab semasa didalam masjid. 
Posted by: Habib Ahmad | 20 Disember 2011

Usia amat bernilai

Usia amat bernilai

Posted by epondok di Disember 20, 2011

i
Rate This

Quantcast

Oleh Wan Aminurrashid Wan Abd Hamid

Umat Islam perlu elak pembaziran, perkara mungkar

ANDAINYA setiap individu muslim memahami dan menyedari betapa cintanya Allah SWT kepada orang yang berbuat baik, sudah tentu dia akan merebut cinta Allah itu dengan mengisi setiap ruang waktu kehidupannya berbuat amal salih.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat kebajikan.” (Surah al-Baqarah, ayat 195)

Dan sesiapa mengerjakan sesuatu dosa, maka sesungguhnya dia hanya mengerjakannya untuk (menjadi bala bencana yang) menimpa dirinya sendiri dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. – Surah al-Nisa, ayat 111

Jika setiap muslim itu benar-benar menginsafi betapa Allah SWT sangat membenci perlakuan jahat dan maksiat, sudah tentu dia akan berasa takut untuk mendekati segala perbuatan jahat dan mungkar. Jika sudah terlanjur, dia akan segera meninggalkannya dan bertaubat kepada Allah SWT.

Mukmin yang menjerumuskan dirinya dalam perlakuan jahat dan amalan mungkar sebenarnya terdedah kepada dosa, kemurkaan serta balasan Allah SWT sama ada di dunia atau akhirat kelak. Inilah perlu ditakuti muslim yang masih tidak mengendahkan tegahan Allah SWT.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan sesiapa mengerjakan sesuatu dosa, maka sesungguhnya dia hanya mengerjakannya untuk (menjadi bala bencana yang) menimpa dirinya sendiri dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Nisa’, ayat 111)

Mereka yang meninggalkan larangan Allah SWT melalui fasa perubahan yang dinamakan hijrah atau transformasi diri. Tindakan ini perlu dilakukan setiap masa kerana amalan muhasabah memang digalakkan dan diterjemahkan usaha berubah kepada lebih baik dalam bentuk perlakuan.

Mukmin yang sengaja tidak menghiraukan tegahan Allah dibimbangi ajal menjemputnya lebih dulu sebelum sempat bertaubat. Dinyatakan dalam hadis, Allah SWT cemburu kepada hamba-Nya yang melakukan perkara ditegah.

Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah SWT memiliki sifat cemburu, dan kecemburuan Allah itu ialah apabila orang mukmin melakukan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya akhlak yang mulia adalah buah daripada ibadah yang sempurna. Ibadat yang difardukan Allah SWT seperti solat lima waktu, puasa, zakat fitrah dan ibadah haji, selain bukti kepatuhan kepada Allah SWT, juga membentuk pelakunya menjadi manusia berakhlak mulia.

Dengan kemuliaan akhlak itulah, manusia mampu menjauhi segala amalan mungkar yang ditegah Allah SWT.

Mukmin yang insaf bahawa hidup ini sementara dan amat singkat, sedangkan masa berlalu setiap saat adalah usianya, akan memandang umurnya masih berbaki itu sangat bernilai dan tidak wajar dibazirkan kepada perkara sia-sia.

Apalagi menjerumuskan diri ke kancah kejahatan dan maksiat. Hidup ini sebenarnya adalah kesempatan emas untuk memburu dan berlumba-lumba mengejar amal kebajikan sebagai bekalan menemui Allah SWT kelak.

Diceritakan, suatu hari seorang lelaki yang gemar berbuat maksiat datang menemui ahli sufi bernama Ibrahim bin Adham untuk meminta nasihat (dengan harapan ia dapat meninggalkan amalan maksiatnya).

Ibrahim bin Adham lalu menasihati lelaki itu dengan berkata: “Jika kamu mahu menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh kamu lakukan maksiat.”

Syaratnya ialah, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan (kamu) makan rezeki-Nya; jika kamu berbuat maksiat, jangan tinggal di bumi-Nya, jika kamu masih bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat dilihat oleh-Nya.

Jika malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakan kepadanya, ketepikan kematianku dulu kerana aku masih mahu bertaubat dan melakukan amal salih. Jika malaikat Zabaniah datang hendak mengiringimu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau ikut bersamanya.

Nasihat Ibrahim bin Adham itu amat menusuk kalbunya, membuatkan lelaki berkenaan insaf. Air matanya bercucuran kerana tidak tahan mendengar nasihat sangat mengesankan dan sedar bahawa semua syarat itu tidak mampu dilaksanakannya. Mulai saat itu dia bertaubat kepada Allah SWT.

Posted by: Habib Ahmad | 19 Disember 2011

KULIAH MAGHRIB

Posted by: Habib Ahmad | 19 Disember 2011

Majlis Ilmu bersama DR Mahmoud

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 785 other followers