Posted by: Habib Ahmad | 2 Februari 2012

Majalah Al Kisah Terkini

Jawapan Prof Dr As Sayyid Muhammad Al Maliki tentang Maulidurrasul s.a.w

Sumber:http://madinatulilmi.com

Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia islam, kaum muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara dan adat yang mungkin beraneka ragam dan berbeda-beda. Tetapi tetap pada satu tujuan, yaitu memperingati kelahiran Nabi mereka dan menunjukkan rasa suka cita dan bergembira dengan kelahiran beliau Saw. Tak terkecuali di negara kita Indonesia, di kota maupun di desa masyarakat begitu antusias melakukan perayaan tersebut.
Demikian pemandangan yang kita saksikan setiap datang bulan Rabiul awwal.
Telah ratusan tahun kaum muslimin merayakan maulid Nabi Saw, Insan yang paling mereka cintai. Tetapi hingga kini masih ada saja orang yang menolaknya dengan berbagai hujjah. Diantaranya mereka mengatakan, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai ‘Id (Hari Raya) yang syar’i, seperti ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Padahal, peringatan itu, menurut mereka, bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran agama. Benarkah demikian? Apakah yang mereka katakan itu sesuai dengan prinsip-prinsip agama, ataukah justru sebaliknya?
Di antara ulama kenamaan di dunia yang banyak menjawab persoalan-persoalan seperti itu, yang banyak dituduhkan kepada kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah As Sayyid Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Alawi Al Maliki. Berikut ini kami nukilkan uraian dan ulasan beliau mengenai hal tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab beliau Dzikrayat wa Munasabat dan Haul al Ihtifal bi Dzikra Maulid An Nabawi Asy Syarif.
Hari Maulid Nabi SAW lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada ‘Id. ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi SAW, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat.
Hari kelahiran beliau lebih agung daripada ‘Id, meskipun kita tidak menamainya ‘Id. Mengapa? Karena beliaulah yang membawa ‘Id dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena beliau pula, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran beliau, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzulul Quran (turunnya AI-Quran), Isra Mi’raj, hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Fath Makkah (Penaklukan Makkah), karena semua itu berhubungan dengan beliau dan dengan kelahiran beliau, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.
Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut, di antaranya yang disebutkan oleh Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebelum mengemukakan dalil-dalil tersebut, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.
Pertama, kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan, terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran beliau, hari Senin. Tidak layak seorang yang berakal bertanya, “Mengapa kalian memperingatinya?” Karena, seolah-olah ia bertanya, “Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”.
Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban. Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin”.
Kedua, yang kita maksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orangorang yang hadir, memuliakan orangorang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.
Ketiga, kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak demikian. Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.
Keempat, berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan. Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya, di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan, dan fitnah.
Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.
Dalil-dalil Maulid
Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW .
Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?)
Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.
Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58). Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).
Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.
Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.
Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.
Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.
Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.
Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, balk fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.
Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.
Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan:” Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulla?
Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”
Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.
Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami
ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’ (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.
Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalii-dalil syara’.
Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.
Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang balk), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.
Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.
Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “
Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran, itu termasuk ajaran agama.
Keduapuluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.
Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nab! SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang.
Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatanperbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut
Posted by: Habib Ahmad | 2 Februari 2012

Rasulullah SAW Dekat Di Jiwa dan Hati

Posted by: Habib Ahmad | 2 Februari 2012

Keadaan Lapar Rasulullah SAW

Keadaan Lapar Rasulullah SAW

Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!

Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu’man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.

Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu’aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)

Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya – ataupun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)

Abu Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma’uz Zawatid 10:325)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata: Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:3

Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:14

Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air.
(Kanzul Ummal 4:3

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)

Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma’uz Zawa’id 10:312)

Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa’ad ra. dia berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung? Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan daripada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)

Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat.’

Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya!
(At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).

Posted by: Habib Ahmad | 2 Februari 2012

Natijah Ibadat dan Kelazatannya

Natijah Ibadat dan Kelazatannya

 

Sayugialah hendaknya jangan sampai seseorang itu menganggap bahawa natijah sembahyangnya tidak boleh sampai ke peringkat qurratul-‘ain (cenderamata), sebab natijah ibadat-ibadat itu adalah semacam kelazatan bagi diri, sedang adat kebiasaan pula akan mencetuskan di dalam diri berbagai-bagai keindahan yang lebih aneh dari hal-hal yang disebutkan tadi.

Misalnya kita sering melihat penjudi yang muflis (bankrap) terkadang-kadang merasa gembira dan senang hati dengan perjudiannya, di mana ia menganggap bahawa kegembiraan orang yang tiada berjudi itu tidak seindah kegembiraannya yang berjudi, padahal perjudian itu akan merampas segala harta bendanya dan menghancurkan kerukunan rumahtangganya serta menjadikannya seorang muflis.

Namun demikian ia masih gemar dan cinta kepada perjudian juga, dan merasa senang dan enak ketika berjudi. Sebabnya boleh berlaku demikian ialah kerana perjudian itu telah berdarah daging dalam dirinya, dan ia telah terlalu biasa dengan perjudian dalam masa agak yang panjang.

Demikian pulalah dengan halnya orang yang suka bermain-main dengan burung merpati, kadangkala ia sanggup berdiri sepanjang hari di bawah terik panas matahari dengan menegakkan kedua belah kakinya tanpa merasa penat atau lelah, kerana hatinya sangat gembira melihat gerak geri burung-burung itu, berterbangan dan berkeliling di udara.

Kesemua ini adalah akibat dari adat dan kebiasaannya melakukan pekerjaan yang sama terus menerus dalam masa yang panjang, atau menyaksikan perkara itu bersama kawan-kawan dan rakan-rakan yang bergaul dengannya.

Jadi sekiranya nafsu itu, dengan jalan kebiasaannya saja, dapat merasa enak berbuat kebatilan, maka mengapa pula ia tidak boleh merasa enak juga untuk berbuat yang hak, bila ia dibiasakan berbuatnya dalam masa yang panjang dan memaksanya untuk mengerjakannya terus menerus.

Malahan kemuyulan nafsu kepada perbuatan-perbuatan yang jahat itu adalah menyimpang dari tabiat yang dikira sama seperti kemuyulannya kepada memakan tanah. Barangkali juga, jika manusia itu dibiasakan memakan tanah, nescaya ia akan berterusan memakannya.

Adapun kemuyulan manusia kepada hikmat dan kebijaksanaan serta cintakan Allah Ta’ala, makrifat dan beribadat kepadaNya adalah sama seperti kemuyulannya kepada makanan dan minuman. Itu adalah suatu kehendak tabiat hati dan ketentuan Ilahi. Sedangkan kemuyulannya kepada tuntutan-tuntutan syahwat adalah asing dari zatnya, dan semacam perkara yang baru mendatang kepada tabiatnya.

 

http://bimbinganmukmin.wordpress.com/2012/02/01/natijah-ibadat-dan-kelazatannya/

Posted by: Habib Ahmad | 1 Februari 2012

Sambutan Maulidurrasul Di Masjid Bandar Baru Batang Kali

Posted by: Habib Ahmad | 31 Januari 2012

FACEBOOK MAHABBAH RASULULLAH S.A.W

Menyemarakkan kedatangan Bulan Maulidurrasul dapatkan pelbagai koleksi2 artikel berkaitan Rasulullah SA.W.,video Cinta Rasul,Koleksi Selawat Nabi,Gambar barangan peninggalan Nabi, Qasidah/burdah dll di group :http://www.facebook.com/groups/286817568044033/

Posted by: Habib Ahmad | 31 Januari 2012

Sambutan Maulidirrasul di Yayasan al-Jenderami

Posted by: Habib Ahmad | 31 Januari 2012

Sambutan Maulidurrasul di Khazanah Fathaniyyah

Sambutan Maulidurrasul di Khazanah Fathaniyyah

 

Posted by: Habib Ahmad | 30 Januari 2012

MAJLIS MAULID AKBAR 1433H

Bicara Hikmah & Senandung Zikir (Sempena Sambutan Maulidur Rasul Sallahu ‘Alayhi Wasallam 1433H)

 

Posted by: Habib Ahmad | 29 Januari 2012

Rumusan tentang tabarruk

Rumusan tentang tabarruk

 

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

 

KITA sering mendengar orang berkata: “Kami berada dalam keberkatan Rasulullah SAW” atau “Bersama kami keberkatan Rasulullah SAW”. Ketika Ibnu Taimiyyah ditanya tentang perkara ini, beliau menjawab: “Adapun, orang yang berkata ‘kami berada di bawah keberkatan si fulan’ atau ‘semenjak dia bersama kami, ada berkatnya pada kami’ perkataan seperti ini daripada satu sudut adalah benar. Tetapi daripada satu sudut yang lain, ia adalah batil dan salah.”

“Ia dikatakan benar dan sahih jika orang yang mengungkapkannya bermaksud: “Si fulan telah membimbing dan mengajar kami serta menyuruh kami melakukan kebaikan dan melarang kami melakukan kemungkaran. Maka dengan berkat mengikut dan mentaatinya, terhasillah kepada kami kebaikan sebagaimana yang telah tercapai.”

Ungkapan seperti itu adalah betul sebagaimana yang berlaku kepada penduduk Madinah. Setelah Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, penduduknya mendapat keberkatan baginda kerana mereka beriman dengannya dan mentaatinya. Dengan keberkatan ini, mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Bahkan, setiap Mukmin yang beriman dengan Rasulullah dan mentaatinya, menikmati daripada keberkatan Rasulullah disebabkan keimanan dan ketaatan mereka kepadanya kebahagiaan dunia dan akhirat yang tidak diketahui hakikatnya kecuali Allah.

Begitu juga, jika yang dimaksudkan dengan perkataan tersebut adalah dengan berkat doa dan kesolehannya, lalu Allah menolak bencana dan memberikan rezeki serta kemenangan; maka ia juga adalah benar.

Ia sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi: “Tidaklah kamu ditolong dan diberikan rezeki, kecuali dengan (keberkatan) orang-orang yang lemah di antara kamu dengan doa, solat, dan keikhlasan mereka.”

Kadangkala, suatu azab atau bala itu tidak jadi diturunkan kepada orang kafir dan pelaku kejahatan, supaya bala atau azab tersebut tidak turut mengenai atau menimpa kaum mukminin yang ada bersama mereka, kerana kaum mukminin itu tidak berhak untuk turut menerimanya. Rujuk ayat 25 surah al-Fath.

Justeru, jika bukan kerana berkat kaum Mukminin yang lemah di sekitar Mekah, yang hidup bercampur dengan kaum kafir, sudah pasti Allah menurunkan azab kepada golongan kafir.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW: “Jika bukan kerana di dalam rumah itu, adanya kaum wanita dan anak-anak, sudah pasti aku akan memerintahkan untuk melakukan solat, sehingga solat itu didirikan. Kemudian, akan pergi bersama-samaku kaum lelaki dengan membawa seberkas kayu kepada kaum yang tidak menyaksikan solat bersama kami (solat berjemaah), lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka.”

Begitu juga, Nabi SAW pernah menangguhkan hukuman rejam terhadap seorang wanita yang berzina kerana dia sedang hamil sehinggalah dia melahirkan anaknya.

Keberkatan para wali Allah dan orang soleh yang dilihat dari sudut manfaat kepada makhluk diperolehi melalui seruan dan ajakan mereka kepada ketaatan kepada Allah, doa mereka untuk makhluk-Nya, rahmat yang diturunkan oleh Allah kepada mereka dan perkenan-Nya menolak bencana dengan sebab mereka. Itulah yang mesti diakui kebenarannya.

Dengan demikian, barang siapa memahami berkat dengan pengertian seperti ini, maka dia adalah benar dan perkataannya juga adalah benar.

Ungkapan seperti itu juga boleh dinilai sebagai batil atau salah. Misalnya ia bermaksud menyekutukan Allah dengan makhluk.

Contohnya, orang yang telah dikuburkan (mati) di suatu tempat disangka bahawa Allah memberikan pertolongan kepada mereka kerana keberkatan orang yang telah mati tersebut, meskipun mereka (yang diberi berkat itu) tidak melakukan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.

Ini merupakan suatu kejahilan. Rasulullah SAW penghulu anak Adam, disemadikan di Madinah pada tahun berlakunya pertelingkahan antara penduduk Madinah dengan tentera Yazid ibn Muawiyah.

Pada masa itu, penduduk Madinah ditimpa musibah. Ramai yang terbunuh, ditawan dan berada dalam ketakutan yang tidak diketahui puncanya melainkan Allah. Ini kerana, setelah berlalunya masa pemerintahan Khulafah al-Rasyidin, penduduk Madinah banyak melakukan perkara negatif yang mewajibkan mereka ditimpa musibah seperti itu.

Sedangkan, pada zaman Khulafah al-Rasyidin, Allah menahan bencana terhadap penduduk Madinah dengan keimanan dan ketakwaan mereka kerana para khalifah tersebut mengajak dan mendorong mereka ke arah tersebut.

Dengan berkat ketaatan mereka kepada para khalifah itu dan amalan para khalifah bersama mereka, maka Allah menolong dan menguatkan mereka.

Begitu juga al-Khalil, Nabi Ibrahim a.s disemadikan di Syam. Namun, kaum Nasrani telah menguasai negeri itu hampir 100 tahun dan penduduknya pula melakukan kejahatan.

Justeru, sesiapa yang meyakini bahawa mayat dapat menolak bencana daripada mengenai orang yang hidup, sedangkan orang yang hidup tersebut melakukan maksiat dan dosa maka ini juga kesalahan besar.

Begitu juga adalah batil apabila seseorang menyangka bahawa keberkatan seseorang akan diturunkan kepada orang yang menyekutukan Allah dan terkeluar daripada mentaati Allah dan rasul-Nya.

Misalnya, seseorang menyangka bahawa berkat sujud kepada selain Allah dan mengucup tanah yang berada dekat dengan kubur tersebut dan sebagainya menghasilkan kebahagiaan baginya sekalipun dia tidak melakukan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.

Demikian juga, apabila seseorang itu beriktikad bahawa orang seperti itu layak memberi syafaat baginya dan memasukkannya ke dalam syurga, hanya kerana mencintainya dan menisbahkan diri kepadanya.

Kesemuanya ini dan yang seumpama dengannya, termasuk di antara perkara-perkara yang bertentangan dengan al-Quran dan sunnah.

Ia merupakan keadaan atau ciri-ciri orang-orang yang mensyirikkan Allah dan ahli bidaah. Ia adalah batil, tidak boleh dipercayai dan tidak boleh dijadikan pegangan. (Ibnu Taimiyyah,Fatawa, 11:113).

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 841 other followers