Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2012

UKM BERSELAWAT

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2012

Ikhlaskan ibadah kepada Allah

Ikhlaskan ibadah kepada Allah

 

 

Oleh DR. ZULKIFLI MOHAMAD ALBAKRI

Umat Islam hanya bersujud kepada Allah SWT, tidak kepada yang lain. – Gambar hiasan

SAYID Qutub berkata: “Penjelasan yang berikut merupakan cerita penjelasan jin dan mungkin firman Allah SWT dari awal lagi yang menerangkan sujud atau tempat sujud iaitu masjid hanya untuk-Nya sahaja.”

Di sanalah ditegakkan tauhid yang bersih dan di sanalah lenyapnya bayang (kebesaran dunia). Seluruh suasana dan perhambaan di sana hanya untuk Allah sahaja.

Firman Allah SWT: Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (al-Jin: 18)

Maksud perkataan masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah ada empat pendapat:

* Iaitu solat kerana Allah seperti pendapat Ibnu Syajarah.

* Segala anggota yang digunakan untuk sujud kerana Allah SWT seperti pendapat al-Rabi’.

* Semua masjid merupakan rumah Allah untuk didirikan solat seperti pendapat Ibnu Abbas.

* Setiap tempat yang dilakukan solat kerana ia untuk sujud. Justeru, dinamakan masjid.

Ibnu Kathir berkata: “Dahulu, jika orang Yahudi dan Nasrani memasuki gereja dan biara mereka, lalu menyekutukan Allah SWT. Lantas Dia memerintahkan nabi-Nya agar mereka mengesakan-Nya.”

Sufian meriwayatkan daripada Khusaif daripada Ikrimah: “Ayat berkenaan turun dengan seluruh masjid.”

Sa’id bin Jubair mengatakan ayat ini berkenaan dengan anggota sujud, iaitu semuanya milik Allah SWT sehingga tidak boleh menggunakannya untuk bersujud kepada selain-Nya.

Menurut Qatadah, orang Yahudi dan Nasrani apabila memasuki gereja dan kuil, mereka mempersekutukan Allah SWT dengan sembahan mereka yang lain. Menerusi ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada kita agar mengikhlaskan ibadah kepada Allah SWT semata-mata setiap kali kita memasuki masjid.

Al-Hasan berkata: “Masjid-masjid yang dimaksudkan di sini ialah setiap tempat yang menjadi tempat sujud di seluruh bumi, sama ada tempat itu disediakan untuk sujud atau tidak, sebab seluruh bumi adalah masjid bagi umat ini.”

Firman Allah SWT: Dan bahawasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. (al-Jin: 19)

Al-Hasan dan Qatadah berkata: “Sesungguhnya ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah agar menyeru manusia kepada Allah SWT (yang bertentangan dengan orang musyrik dalam bentuk peribadatan mereka kepada berhala-berhala), lalu orang kafir pun bekerjasama dan tolong-menolong untuk memusuhi Nabi Muhammad SAW secara berkumpul atau berpuak-puak.”

Muqatil berkata: “Sesungguhnya orang kafir Mekah mengatakan kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya kamu telah membawa urusan yang besar dan kamu juga telah memusuhi semua manusia, maka kembalilah kamu daripada yang demikian ini.”

Firman Allah SWT: Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. Katakanlah: Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan. (al-Jin: 20-21)

Ibnu al-Jauzi berkata: “Orang-orang kafir Mekah berkata kepada Nabi SAW sesungguhnya apa yang kamu bawa adalah amat besar kesannya yang tidak pernah didengar sebelumnya. Justeru, kembalilah kepada asal. Lantas turun ayat ini.”

Al-Mawardi dalam menafsirkan tidak memiliki mudarat dengan tiga pendapat;

* Azab yang tiada kenikmatan.

* Kematian yang tiada kehidupan.

* Kesesakan yang tiada petunjuk

Al-Maraghi berkata: “Di sini terdapat ancaman besar kepada mereka dan perintah bertawakal kepada Allah SWT kerana hanya Dia sahaja yang mampu memberi balas kebaikan dan keburukan terhadap perbuatan mereka.”

Ayat ini juga mengandungi petunjuk bahawa Baginda tidak meninggalkan tugas menyampaikan risalah (tabligh) sekalipun mereka bekerjasama untuk memusuhinya.

Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang mampu melindungi aku daripada-Nya, jika aku tidak menyampaikan risalah-Nya. Kemudian Allah SWT menjelaskan perihal orang yang menderhaka Allah SWT dan Rasul-Nya.

Firman Allah SWT: Katakanlah: Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun dapat melindungiku daripada (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) daripada Allah dan risalah-Nya. Dan barang siapa yang menderhakai Allah dan rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. (al-Jin: 22-24)

Berkenaan dengan sebagai penyampai daripada Allah dan risalah-Nya ada tiga pendapat;

* Aku tidak memiliki kemudaratan dan petunjuk kecuali menyampaikan risalah Allah. Inilah pendapat al-Kalbi.

* Tiada seseorang yang dapat menyelamatkanku daripada Allah jika aku tidak menyampaikan risalah-Nya. Inilah pendapat Muqatil.

* Tatkala jin berbai’ah kepada Rasulullah pada malam tersebut yang jumlah mereka melebihi 70,000 dan selesai bai’ah ketika hampir menyingsing fajar. Inilah pendapat Makhul.

Sayid Qutub berkata: “Ini satu amaran dan ancaman terbuka kepada orang-orang yang sampai dakwahnya kepada mereka tetapi menentang dan tidak mengikutinya walaupun diberitahu kepadanya bebanan yang akan ditanggung.”

Andainya kaum musyrikin berbangga dengan kekuatan dan bilangan yang ramai dibandingkan dengan kekuatan Nabi SAW dan yang bersama dengan Baginda, maka di akhirat mereka ini akan diseksa dan diazab bagi menjelaskan yang mereka sememangnya sangat lemah dan puak yang telah tewas.

Hamka berkata: “Oleh itu telah dijelaskan oleh Nabi SAW kewajipan dia menghukum bukan mencaci dan memaki hamun. Kewajipan padanya ada dua; Pertama, menyampaikan dan kedua, melaksanakan misi dan visi dengan menunjukkan teladan dan akhlak yang mulia.”

Ia semuanya terdapat dalam risalah yang dibawa olehnya dan sifat tersebut merangkumi sidiq, amanah, tabligh, fatanah. Apabila semuanya diaplikasikan, maka mustahil untuk Baginda menjadi pendusta.

Mereka menganggap orang yang beriman lemah dan menghinanya sehingga mereka melihat pelbagai azab yang diancam kepada mereka. Kemudian akan jelas bagi mereka siapakah sebenarnya orang yang lemah itu? Sama ada orang yang beriman mengesakan Allah SWT atau orang musyrik yang tidak mempunyai penolong dan pelindung?

Kesimpulannya, orang musyrik itu tidak mempunyai penolong. Jumlah mereka lebih sedikit jika dibandingkan dengan tentera-tentera Allah SWT.

Semoga Allah menjadikan kita di kalangan hamba-Nya yang beriman dan beramal soleh serta sentiasa mengikatkan hubungan hablun mina Allah dan hablun mina an-Nas

Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2012

Dialog Sayyid Ahmad Al-Ghumari Dengan Wahabi Tuna Netra

Dialog Sayyid Ahmad Al-Ghumari Dengan Wahabi Tuna Netra

Posted on February 24, 2012 by wahsapi
Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang ilmu hadits). Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini.
“Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama Wahhabi dari Najd. Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah subhanahu wa ta‘ala dan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi. Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka.

 

Akhirnya saya (al-Ghumari) berkata kepada mereka: “Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bagian dari al-Qur’an?”
Wahhabi menjawab: “Ya.”
Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?”
Wahhabi menjawab: “Ya.”
Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ. (الحديد : ٤).
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4).
Apakah ini termasuk al-Qur’an?”
Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”
Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
 مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُمْ. (المجادلة : ٧).
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7).
Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?”
Wahhabi itu menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”
Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit). Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit? Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa ta‘ala?” Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad mengatakan demikian.”
Saya berkata kepada mereka: “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?”
Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit tidak boleh dita’wil. Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi?
Seandainya mereka mengklaim adanya ijma’ ulama yang mengharuskan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an, bahkan yang wajib harus mengikuti pendekatan tafwidh (menyerahkan pengertiannya kepada Allah subhanahu wa ta‘ala).”
Demikian kisah al-Imam al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dengan tiga ulama terhebat kaum Wahhabi.
Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2012

Dialog Al Bani Vs Al Buthi

Dialog Al Bani Vs Al Buthi

Posted on March 11, 2012 by wahsapi

Assalamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dewasa ini perkembangan ilmu hadits di dunia akademis mencapai fase yang cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan banyaknya kajian-kajian ilmu hadits dari kalangan ulama dan para pakar yang hampir menyentuh terhadap seluruh cabang ilmu hadits seperti kritik matan, kritik sanad, takhrij al-hadits dan lain sebagainya. Kitab-kitab hadits klasik yang selama ini terkubur dalam bentuk manuskrip dan tersimpan rapi di rak-rak perpustakaan dunia kini sudah cukup banyak mewarnai dunia penerbitan.

Namun sayang sekali, dibalik perkembangan ilmu hadits ini, ada pula kelompok-kelompok tertentu yang berupaya menghancurkan ilmu hadits dari dalam. Di antara kelompok tersebut, adalah kalangan Mereka yang Meremehkan Amalan Dari Hadits Dlo,ifdalam konteks fadhail al-a’mal,  manaqib dan sejarah, yang dikomandani oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani, tokoh Wahhabi dari Yordania, dan murid-muridnya. Baik murid-murid yang bertemu langsung dengan al-Albani, maupun murid-murid yang hanya membaca buku-bukunya seperti kebanyakan Wahhabi di Indonesia. dengan kata lain mereka Bergaya Ilmiyah Menfitnah Ilmuwan.

 

Di kutip dan di ringkas dari Kitab al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid al-Syari’at al-Islamiyyah.

Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Salafi Wahabi dari Yordania.

Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”

Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”

Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?”

Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”

Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”

Al-Albani menjawab: “Ya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam Madzhab dalam Islam ? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”

al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”

Syaikh al-Buthi bertanya; “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?” al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”

Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ah-nya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”

Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”

Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”

Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara mutawatir.”

Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab al-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam al-Syafi’i.

Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”

Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.” Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.

Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan Muhaddits Abad Milenium al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid al-Syari’at al-Islamiyyah.

Dialog tersebut menggambarkan, bahwa kaum Wahhabi melarang umat Islam mengikuti madzhab tertentu dalam bidang fiqih.

Tetapi ajakan tersebut, sebenarnya upaya licik mereka agar umat Islam mengikuti madzhab yang mereka buat sendiri.

Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka.

Wallohu ‘Alam ….Smoga bermanfaat…

Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2012

Majlis Ta’lim Bulanan

Majlis bulanan seterusnya akan mengabungkan dua kitab karangan Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad.  Selepas solat Maghrib, sambungan huraian buku berjudul ‘Nasihat Agama dan Wasiat Iman’ akan disyarahkan oleh Ustaz Ali Zainal Abidin Alhamid diikuti dengan permulaan huraian buku baru ‘Penuntun Hidup Bahagia (Risalatul Mudzakarah)’ oleh Ustaz Najmuddin bin Othman Alkhered selepas solat Isya’.  Bagi mereka yang ingin memiliki senaskah buku ini, pihak kami akan mengedarkannya di majlis nanti dengan harga diskaun sebanyak RM 25.00 senaskah.
InsyAllah, majlis ini akan dilangsungkan seperti biasa pada Sabtu 17 March 2012 mulai solat maghrib di Masjid Baitul Aman, 102, Jalan Damai di Jalan Ampang, Kuala Lumpur. 
Untuk maklumat, buku Nasihat Agama dan Wasiat Iman memberi bimbingan penting untuk mengenal ilmu-ilmu yang wajib dari akidah Islamiah dan hukumhakamnya, serta ciri-ciri akhlak dan budi pekerti yang mulia. Ia juga menunjukkan cara-cara berdakwah ke jalan Allah Ta’ala, dan menunaikan hak kewajiban terhadap agama Islam dengan berdalilkan ayat-ayat suci Al-Quran dan Hadis.
Seterusnya, gabungan dua judul buku Petunjuk Thariqat dan Penuntun Hidup Bahagia membicarakan cara orang yang memilih yang bersih dari yang kotor dalam mengarahkan diri menuju ke jalan akhirat.  Bahagian kedua membincangkan perbezaan takrif ‘hidup bahagia’ antara insan umum dan ahli tasawuf iaitu mereka yang menganggap hidup bahagia bererti hidup aman sentosa sesudah mati. Maka Itu adalah kebahagiaan yang hakiki.
Agar kita diberi anugerah dari Allah s.w.t. dan mengambil peluang untuk menghadiri majlis ini selaku pedoman perjalanan kita ke akhirat.
Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2012

TALAQI KITAB BERSANAD & BERIJAZAH.

TALAQI KITAB BERSANAD & BERIJAZAH.

Insya’allah pada 1 April 2012, Hari Ahad, bertempat di Wisma Permata Desa Pandan, akan diadakan program Bertalaqi Kitab Aqidah Bersanad & Berijazah yang akan dipimpin oleh TG Ustaz Hj Zamihan Bin Hj Mat Zin al-Ghari dan TG Ustaz Hj. Rasyiq Alwi. Program ini adalah untuk memberi kefahaman kepada peserta yang berdaftar tentang betapa pentingnya memahami aqidah yang sebenar menurut kerangka Ahli Sunnah Wal Jamaah.Kitab yang akan digunakan ialah Kitab Jauharatu Tauhid dan Kitab Akidah Mursyidah.

Para peserta yang sudah berdaftar akan dibekalkan dengan kitab-kitab pengajian, kertas kerja dan beberapa lagi bahan bercetak.Adalah dimaklumkan bahawa program ini akan diadakan setiap dua minggu sekali iaitu pada minggu pertama dan minggu ketiga Hari Ahad.Ini bagi memudahkan para peserta merancang jadual mereka kerana didapati ada di antara peserta yang datang dari luar Lembah Kelang.Program ini juga mendapat tajaan daripada Permata 1 dan inilah julung-julung kalinya program berjadual seperti ini diadakan bagi memberi kemantapan fahaman berkenaan Aqidah kepada umat Islam.

Selain daripada pengajian bab Aqidah, pihak penganjur juga akan meneruskan program ini dengan pengajian Tasawwuf dan Feqah juga.Semoga program seperti ini dapat dimenafaatkan oleh setiap peserta yang hadir dan menyebarkan kepada masyarakat Islam tentang Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah yang sebenar.

Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2012

BENARKAH IMAM AL-BUKHARI BERAMAL DENGAN HADIS DHAIF?

BENARKAH IMAM AL-BUKHARI BERAMAL DENGAN HADIS DHAIF?

Oleh : Ustaz Umar Muhammad Noor

Tulisan ini dilihami oleh persoalan yang diajukan kepada saya: adakah Imam Al-Bukhari beramal dengan hadis dhaif? Soalan ini berlaku apabila sekumpulan orang menegaskan bahawa Al-Bukhari melarang (ada yang berkata: mengharamkan) beramal dengan hadis daif. Pendapat seperti ini memang bukan baru, namun dibina di atas andaian yang belum pernah diuji kesahihannya.[1] Saya berminat membahas perkara ini bukan untuk membela atau membantah mana-mana pihak, akan tetapi untuk menjelaskan salah satu metode ulama mutaqaddimin yang seringkali samar sehingga terbuka untuk kesalahfahaman.

Untuk menjawab soalan ini, saya mengajak anda untuk merujuk Sahih Al-Bukhari sendiri sambil menyadari bahawa kitab ini bukan sekedar “kumpulan hadis-hadis sahih” belaka. Jika begitu, sungguh sia-sia Al-Bukhari menghabiskan 16 tahun daripada usianya hanya untuk membuat sebuah kitab yang hanya mengumpulkan hadis-hadis sahih tanpa menjelaskan kandungan hukum dan pengajaran yang terdapat di dalamnya. Siapa yang membaca kitab ini dengan teliti akan melihat bahawa kitab ini sebuah maha karya ilmu hadis yang sangat kaya dengan pelbagai ilmu, terutama fiqh dan ijtihad. Oleh itu, untuk menjawab soalan ini, saya mengajak kita semua melihat sendiri praktik amali beliau dalam berhujah agar jelas bagi kita adakah beliau berhujah dengan hadis dhaif ataukah tidak?
Fiqh Al-Bukhari dan Hadis Muallaq
Para ulama berkata: “ فقه البخاري في تراجمه ” (Fiqah Al-Bukhari terdapat di dalam tajuk-tajuk babnya).[2] Oleh itu, jika kita hendak mengkaji praktik ijtihad Al-Bukhari, maka kita mesti fokuskan pandangan kita kepada tajuk-tajuk bab yang terdapat di dalam kitab ini.

Dan siapa yang mengkaji tajuk-tajuk ini akan mendapati bahawa hujah fiqh Al-Bukhari sedikitnya terdiri dari dua bentuk hadis: hadis-hadis muallaq yang terdapat di awal bab dan hadis-hadis sahih yang terdapat dalam kandungan bab. Hadis-hadis kategori kedua, yakni yang diletakkan dalam kandungan bab, merupakan hadis-hadis inti yang dijamin kesahihannnya oleh Imam Al-Bukhari, oleh itu terkeluar daripada kajian saya kali ini. Saya hanya akan mengkaji hadis-hadis muallaq yang, menurut Al-Hafiz Ibn Hajar, tidak semuanya sahih, malah terdapat hadis-hadis lemah padanya.[3]

Apabila mengkaji hadis-hadis muallaq ini, kita mesti sadar bahawa tidak semuanya disebutkan Al-Bukhari sebagai hujah. Sebahagiannya malah disebutkan untuk membantah hujah pihak lain dengan menyebutkan ‘illah yang terdapat di dalam hadis ini. Maka, saya akan mencoba melihat dengan hati-hati setiap hadis muallaq dhaif yang disebutkan Al-Bukhari, lalu memastikan apakah beliau berhujah dengannya ataukah tidak? Untuk mengelak subjektifiti, sekaligus meluruskan pemahaman saya yang lemah, saya selalu merujuk pendapat Ibn Hajar berkenaan setiap hadis yang saya sebutkan. Sebab beliau, menurut saya, merupakan ulama yang paling pakar dalam kajian hadis-hadis muallaq ini.[4]

Temuan

Kajian singkat saya menunjukkan bahawa Al-Bukhari sangat teliti memilih hujah-hujahnya. Sedapat mungkin beliau berhujah hanya dengan hadis-hadis yang sahih, namun begitu beliau tidak menutup pintu untuk beramal dengan hadis daif jika terdapat aspek-aspek eksternal (قرائن خارجية) tertentu yang menyokongnya. Beliau menggunakan hadis-hadis dhaif seperti ini bukan hanya dalam fadail a’mal, bahkan dalam beberapa permasalahan hukum. Namun nisbah hadis-hadis seperti ini sangat sedikit dibandingkan hadis-hadis sahih yang beliau gunakan.

Tulisan ini terlalu sempit untuk menghuraikan semua temuan saya, sebahagiannyapun mungkin terbuka untuk bantahan dan penafsiran lain daripada pihak yang tidak setuju. Oleh itu, saya hanya akan menyebutkan beberapa perkara yang menurut saya sangat jelas dalam membuktikan kesimpulan dan rumusan saya tadi.

1. Al-Bukhari beramal dengan hadis daif apabila kandungan hadis itu disokong oleh pelbagai hadis-hadis lain yang serupa dengannya.
Contohnya ucapan Al-Bukhari dalam kitab Al-Zakat:
وَقَالَ طَاوُس : قَالَ مُعَاذ لِأَهْلِ الْيَمَنِ ائْتُونِى بِعَرْضٍ ثِيَابٍ خَمِيصٍ أَوْ لَبِيسٍ فِى الصَّدَقَةِ ، مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ ، وَخَيْرٌ لأَصْحَابِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ .
Dan berkata Tawus: Berkata Muadz kepada Ahli Yaman: “Berikan kepadaku pakaian yang lebar untuk zakat, sebagai ganti daripada gandum dan jagung, perkara itu lebih ringan untukmu dan lebih baik bagi sahabat-sahabat Nabi Saw di Madinah.”

Hadis ini beliau sebutkan untuk menyokong pendapat beliau berkenaan dengan kebolehan mengambil barang-barang lain selain emas dan perak sebagai zakat. Pendapat ini selari dengan mazhab Hanafi. Berkata Ibn Rusyaid: “Al-Bukhari sepakat dengan Hanafiah dalam masalah ini meski beliau seringkali berbeza pandangan dengan mereka. Dalil yang membawa beliau kepada sikap ini.”[5]

Jika kita kaji, sanad hadis ini sebenarnya munqati (terputus), Tawus bin Kisan tidak berjumpa dengan Muadz bin Jabal.  Berkata Ibn Hajar:
هَذَا التَّعْلِيق صَحِيحُ الْإِسْنَادِ إِلَى طَاوُس ، لَكِنَّ طَاوُسًا لَمْ يَسْمَعْ مِنْ مُعَاذ فَهُوَ مُنْقَطِع ، فَلَا يُغْتَرُّ بِقَوْلِ مَنْ قَالَ ذَكَرَهُ الْبُخَارِيّ بِالتَّعْلِيقِ الْجَازِمِ فَهُوَ صَحِيحٌ عِنْدَهُ لِأَنَّ ذَلِكَ لَا يُفِيدُ إِلَّا الصِّحَّة إِلَى مَنْ عُلِّقَ عَنْهُ ، وَأَمَّا بَاقِي الْإِسْنَادِ فَلَا ، إِلَّا أَنَّ إِيرَادَهُ لَهُ فِي مَعْرِضِ الِاحْتِجَاجِ بِهِ يَقْتَضِي قُوَّتَهُ عِنْدَهُ ، وَكَأَنَّهُ عَضَّدَهُ عِنْدَهُ الْأَحَادِيثُ الَّتِي ذَكَرَهَا فِي الْبَابِ .
Ta’liq ini sahih sanadnya kepada Tawus, akan tetapi Tawus tidak mendengar daripada Muadz, jadi ia munqati. Maka janganlah tertipu dengan ucapan orang yang berkata bahawa Al-Bukhari menyebutnya dengan sighat jazm bermakna hadis ini sahih di sisinya, sebab perkara ini hanya menunjukkan kesahihan hingga kepada orang yang dita’liq (yakni Tawus), adapun baki sanadnya tidak (sahih). Akan tetapi, beliau menyebutkan hadis ini untuk hujah menunjukkan kuatnya hadis ini di sisinya.Mungkin menurut beliau (kandungan) hadis ini disokong oleh hadis-hadis yang beliau sebutkan dalam bab ini.[6]
Sebelumnya, hadis ini juga dihukumkan munqati oleh Imam Al-Syafii, namun beliau menerima kandungannya karena beliau percaya Tawus benar-benar mengetahui perkara ini. Berkata Al-Syafii: “Tawus mengetahui perkara Muadz meskipun beliau tidak berjumpa dengannya karena beliau berjumpa ramai dengan murid-murid Muadz di Yaman setahuku.”[7]
2. Al-Bukhari Beramal dengan hadis dhaif apabila kandungan hadis tersebut bersesuaian dengan amal yang disepakati seluruh ulama.
Berkata Al-Bukhari:
وَيُذْكَر أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بِالدَّيْنِ قَبْل الْوَصِيَّة

Disebutkan bahawa Nabi Saw menetapkan bahawa hutang (mesti dibayar) sebelum wasiat.

Al-Bukhari menyebutkan hadis ini untuk menyokong pendapatnya bahawa membayar hutang orang yang meninggal dunia mesti didahulukan daripada melaksanakan wasiatnya. Meski hadis ini lemah sanadnya, namun beliau berhujah dengannya karena aspek lain yang meliputi hadis ini, iaitu para ulama bersepakat mengamalkan hadis ini.

Berkata Al-Hafiz Ibn Hajar:

هَذَا طَرَف مِنْ حَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَالتِّرْمِذِيّ وَغَيْرهمَا مِنْ طَرِيق الْحَارِث وَهُوَ الْأَعْوَر عَنْ عَلِيّ بْن أَبِي طَالِب قَالَ : ” قَضَى مُحَمَّد صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدَّيْن قَبْل الْوَصِيَّة ، وَأَنْتُمْ تَقْرَءُونَ الْوَصِيَّة قَبْل الدَّيْن ” لَفْظ أَحْمَد وَهُوَ إِسْنَاد ضَعِيف ، لَكِنْ قَالَ التِّرْمِذِيّ : إِنَّ الْعَمَل عَلَيْهِ عِنْد أَهْل الْعِلْم ، وَكَأَنَّ الْبُخَارِيّ اِعْتَمَدَ عَلَيْهِ لِاعْتِضَادِهِ بِالِاتِّفَاقِ عَلَى مُقْتَضَاهُ ، وَإِلَّا فَلَمْ تَجْرِ عَادَته أَنْ يُورِد الضَّعِيف فِي مَقَام الِاحْتِجَاج بِهِ ، وَقَدْ أَوْرَدَ فِي الْبَاب مَا يُعَضِّدهُ أَيْضًا
Ini adalah sebahagian daripada hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Tirmidzi dan lain-lain, dari jalan Harith Al-A’war, dari Ali bin Abi Talib: “Muhammad Saw telah menetapkan bahawa hutang sebelum wasiat, namun kamu membacanya wasiat sebelum hutang.” Demikian lafaz Ahmad. Ia adalah sanad yang lemah, akan tetapi Al-Tirmidzi berkata bahawa amal berlaku atas hadis ini menurut para ahli ilmu.Seolah-olah Al-Bukhari berpegang dengan hadis ini karena sokongan kesepakatan (ulama) akan isinya. Jika tidak, bukan kebiasaan beliau menyebutkan hadis dhaif dengan tujuan berhujah. Beliau juga menyebutkan di dalam bab ini, perkara-perkara yang menyokongnya.[8]

Menarik ucapan Ibn Hajar bahawa bukan kebiasaan Al-Bukhari  berhujah dengan hadis dhaif, namun beliau kadangkala melakukannya jika memenuhi syarat-syarat tertentu sebagaimana kesimpulan saya di atas. Ini juga menyokong kesimpulan bahawa Al-Bukhari tidak pernah melarang beramal dengan hadis dhaif, malah kadang melakukannya sebagaimana sikap jumhur fuqaha.

3. Al-Bukhari terkadang beramal dengan hadis dhaif apabila kandungannya menjelaskan atau menafsirkan kandungan hadis lain.

Misalnya, berkata Al-Bukhari:

 وَيُذْكَر عَنْ أَبِي حَسَّان عَنْ اِبْن عَبَّاس أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُور الْبَيْت أَيَّام مِنًى
“Disebutkan daripada Abu Hassan dari Ibn Abbas bahawa Nabi Saw berziarah (maksudnya: melakukan tawaf ziarah/ifadah) pada hari-hari Mina.”
Menurut Al-Hafiz Ibn Hajar, tujuan Al-Bukhari menyebutkan hadis ini adalah untuk menghimpun dua riwayat yang saling bertentangan, yakni riwayat Ibn Umar dan Jabir yang menceritakan bahawa Nabi Saw melakukan tawaf ifadah pada siang hari, dan riwayat Abu Zubeir dari Ibn Abbas bahawa Nabi Saw melakukan tawaf itu pada malam hari. Riwayat Abu Hassan ini menghimpun kedua hadis ini dan menyimpulkan bahawa Nabi Saw melakukan kedua-duanya (tawaf pada siang dan malam hari) sebab baginda tawaf berkali-kali selama mabit di Mina.
Berkata Ibn Hajar: “Maka yang dimaksudkan dalam hadis Jabir dan Ibn Umar adalah hari pertama. Dan hadis Ibn Abbas untuk hari-hari (Mina) yang lain.”[9] Beliau juga berkata: “Terdapat hadis mursal yang menyokong riwayat Abu Hassan ini. Dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah dari Ibn Uyainah: telah memberitahuku Ibn Tawus dari bapanya: bahawa Nabi Saw bertawaf setiap malam.”[10]
Jadi, jelaslah bahawa Al-Bukhari berhujah dengan hadis ini dalam sebuah masalah hukum. Padahal, jika kita perhatikan sanad hadis ini, ianya cukup lemah. Guru-gurunya, seperti Ibn Al-Madini dan Ahmad bin Hanbal, mengingkari hadis ini karena tidak ada yang meriwayatkannya dari Qatadah melainkan Hisyam. Agaknya, pandangan Al-Bukhari tentang hadis ini pun tidak jauh beza dengan kedua gurunya. Berkata Ibn Hajar:[11]
وإنَّما مَرَّضَه البُخاريُّ لِشِدَّةِ غَرابَتِهِ
Al-Bukhari menyebutnya dengan sighat tamrid karena sangat munkarnya.

Pendapat Jumhur

Demikian sedikit temuan yang boleh saya kongsikan pada kali ini, tentu sahaja kajian ini sebenarnya lebih luas daripada ini, karena kesempitan tempat. Boleh disimpulkan bahawa Al-Bukhari tidak melarang, apalagi mengharamkan, beramal dengan hadis dhaif jika kandungannya disokong oleh pelbagai aspek eksternal yang menguatkannya.  Paling tidak, itulah yang dipahami oleh Al-Hafiz Ibn Hajar apabila mensyarahkan hadis-hadis muallaq tersebut di atas.

Pendirian Al-Bukhari ini samasekali tidak merendahkan darjat beliau sebagai ahli hadis yang paling unggul, malah menunjukkan ketinggian darjat beliau dalam hadis dan fiqh sekaligus. Sebab sikap yang beliau tunjukkan ini tidak lain adalah pendapat majoriti ulama dari kalangan ahli hadis dan ahli fiqh dari kalangan ulama tabiin, juga guru-guru Al-Bukhari, rekan-rekannya, dan murid-muridnya,  dan sebahagian besar ulama pada hari ini.

Kenyataan ini sekaligus menyadarkan kita untuk selalu melihat para ulama secara objektif dan bukan melalui mata subjektifiti yang hanya menginginkan mereka berperilaku selari dengan pemahaman dan kemahuan kita. Semoga Allah memberikan kebijaksanaan kepada kita semua dalam melihat kebenaran. Wallahu a’lam bissawab.

[1] Pendapat sedemikian pernah disebutkan oleh Syeikh Al-Qasimi dalam “Qawaíd Al-Tahdith” hal. 113. Beliau berkata: “Yang zahir, mazhab Al-Bukhari dan Muslim seperti itu (yakni tidak beramal dengan dhaif secara mutlak. Menunjukkan perkara itu adalah syarat Al-Bukhari dalam Sahih-nya …”
[2] Muqaddimah Fath Al-Bari hal.17.
[3] Sila kaji perbahasan panjang lebar tentang perkara ini yang disebutkan Ibn Hajar dalam Muqaddimah Fath Al-Bari, hal.24 dan seterusnya.
[4] Kitab beliau bertajuk Taghliq Al-Ta’liq membuktikan perkara itu. Sejauh pengetahuan saya tidak ada kitab yang membahas hadis-hadis muallaq Sahih Al-Bukhari selengkap kitab ini.
[5] Fath Al-Bari 3/392.
[6] Ibid 3/393.
[7] Al-Um 2/12.
[8] Fath Al-Bari 5/462.
[9] Fath Al-Bari 3/716.
[10] Ibid. 3/717.
[11] Taghliq Al-Ta’liq

Latarbelakang Ustaz Umar Muhammad Noor : Lahir di Bekasi, Indonesia. Lulusan B.A Usuluddin (Tafsir-Hadis) dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan M.A Usuluddin (Hadis) di Unversiti Omm Durman, Sudan. Menimba ilmu hadis di Damaskus Syria, sejak tahun 2002 hingga 2007.

Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2012

Jalan pintas wanita ke syurga

Jalan pintas wanita ke syurga

 

Oleh Muhammad bin Abdullah @ Ab Shatar

KEADILAN bagi kaum lelaki dan perempuan dipelihara dengan maha halus lagi maha teliti dari kekuasaan sifat Allah Taala. Di bawah tapak kaki masing-masing, terdapat syurga maha indah. Syurga anak lelaki atau perempuan di bawah tapak kaki ibu. Syurga isteri di bawah tapak kaki suami yang ditaati. Maha kebijaksana kekuasaan Allah Taala yang mencipta hukum dan putaran ketetapan ini. Dalam menjalani kehidupan berumahtangga, terlalu berat cabaran dan masalah yang timbul sebenarnya sangat memerlukan keperihatinan untuk memahami setiap apa berlaku dengan sabar, dan penuh reda. Isteri perlu menyedari hakikat bahawa lelaki adalah pemimpin kepada rumahtangga, dan tidaklah perlu berhasrat mengambil hak mutlak ini seandainya apa yang diperintahkan oleh suami tidak bertentangan dengan syariat Islam. Firman Allah SWT: “Lelaki adalah pemimpin bagi wanita dengan kelebihan diberikan oleh Allah SWT” ( Surah An-Nisa: ayat 34).

Suami mempunyai ruang-ruang perlu dipenuhi untuk menunaikan kewajipan lain yang diperintahkan oleh Allah Taala, seperti kewajipan menjaga orang tua, menunaikan fardu kifayah seperti menguruskan jenazah, melaksanakan hak kejiranan, hak kemasyarakatan serta ada kewajipan bersama dalam peranan dan tanggungjawab menjaga hal keselamatan dan kesejahteraan komuniti setempat. Selain, terdapat tuntutan utama iaitu berdakwah di jalan Allah mengikut kemampuan. Hakikat ini perlu difahami isteri tentang kewajipan besar suaminya bukan sekadar kepada keluarga namun kepada agama, bangsa dan tanah air.

Nusyuz atau perbuatan derhaka oleh isteri sebagaimana difahami oleh masyarakat kita hari ini hanya berlaku sekiranya isteri enggan menunaikan permintaan suami ke tempat tidur tanpa alasan munasabah. Mengikut hukum syarak, keenganan isteri boleh dikatakan derhaka. Ketidakperihatan isteri terhadap keinginan dan seks suami berupaya melahirkan bibit-bibit perselisihan faham, prasangka dan sekiranya dibiarkan berlarutan nescaya menyumbang berlaku keretakkan dalam rumahtangga. Terlalu besar dosa bagi isteri yang enggan melayan kemahuan suami sebagaimana hadis:

Daripada Abu Hurairah r.a bahawa Rasulullah SAW bersabda: Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur, dia enggan, lalu suaminya tidur dalam keadaan marah, para malaikat melaknatnya hingga ke subuh. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hadis ini secara jelas menunjukkan bahawa isteri perlu memberikan layanan yang paling baik, sopan dan manis kepada suami untuk tidur bersama-sama semoga terhindar dari apa dikatakan derhaka. Syurga dijanjikan kepada para isteri yang melayani kemahuan seks suaminya dengan baik sehinggakan suaminya tidur dengan senang. Sabda Rasulullah SAW dalam hadisnya:

“Mana-mana wanita yang tidur dalam keadaan diredai suaminya maka dia berhak mendapat syurga”. (Riwayat Tarmizi, Ibn Majah)

Sikap menolak kehendak suami secara kerap tanpa ada sebab munasabah, bakal merubah emosi lelaki tidak keharuan, tidak terkawal dan membentuk tindakan kasar serta sukar mengawal kemarahan ditambah lagi dengan kemunculan bisikan iblis yang bertambah mudah membakar kemarahan agar menjadi lebih parah.

Lihatlah betapa besarnya ganjaran kepada isteri yang mentaati perintah suaminya. Sikap merendah diri para isteri untuk menghormati dan melayani kehendak dan keperluan suami amatlah dituntut kerana kaum perempuan paling mudah untuk masuk syurga dengan hanya mentaati suami sebagaimana dijanjikan Allah Taala.

Kaum lelaki sebenarnya dipertanggungjawabkan oleh Allah Taala dengan pelbagai tugas, selain ketua dalam menguruskan rumahtangga yang merangkumi kewajipan mentarbiah isteri dan anak-anak supaya akur dengan penghidupan Islam dari segi ibadat wajib yang ditunaikan serta kewajipan lain seperti menutupi aurat.

Kegagalan suami menegur dan mengawal dengan membiarkan anak dan isterinya terbiar aurat di mata masyarakat serta tidak menghalang batas-batas pergaulan anak di bawah jagaan adalah satu dosa yang tak tertanggung.

Kaum lelaki ditaklifkan oleh Allah dengan pelbagai tanggungjawab, bukan sekadar pemimpin kepada sebuah rumahtangga namun, ada tugas lain yang dituntut dalam Islam. Antara pokok persoalan yang bakal didepani di hadapan Allah Taala untuk sampai ke pintu syurga adalah tentang tugas lain sebagai khalifah di muka bumi seperti tanggungjawab dakwah terhadap agamanya, usia muda yang digunakan. Apakah tanggungjawab terhadap saudara seagama yang lain sewaktu hayatnya, sumbangan kepada negara dan sebagai pemimpin yang punya pelbagai persoalan mesti dijawab.

Beban begitu banyak sebenarnya perlu dipikul oleh kaum lelaki di atas muka bumi ini bukan setakat beban tugas sebagai suami atau bapa kepada anak-anaknya merangkumi aspek-aspek yang lain termasuklah kemestian solat berjemaah di masjid, berbuat baik kepada jiran tetangga, keperihatinan kepada golongan miskin, serta keperluan berfungsi sebagai anggota masyarakat serta adanya kewajipan melaksanakan fardu kifayah seperti menguruskan kematian, melaksanakan amal maaruf dan nahi mungkar bahkan adanya pelbagai tuntutan lain yang harus disedari. Maka, agak sukar bagi kaum lelaki memasuki syurga Allah Taala selagi perkara-perkara ini tidak dilaksanakan.

Lantaran, saranan dan peluang kepada kaum wanita untuk memasuki syurga Allah dengan harus diberikan perhatian dan menjadi keutamaan. Tiada jalan mudah ke syurga melainkan memerlukan pengorbanan dan keimanan yang kuat selain, mentaati suami adalah jalan alternatif membolehkan sampai ke syurga dengan cepat. Namun demikian kaum wanita juga perlu menjaga hal fardu yang lain seperti solat dan mengekalkan kehormatan diri dengan akhlak sempurna bersama memastikan aurat terjaga sebagai syarat yang lain perlu dipatuhi sebagaimana hadis: Sabda Rasulullah: “Jika seorang perempuan telah sembahyang lima waktu, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya pasti dia masuk syurga dari berbagai pintu yang dikehendakinya.” (Riwayat Ibnu Hibban)

Pengajian Kitab ‘Adab Menuntut Ilmu’ Bersama Syeikh Muhammad Nurruddin di Masjid UKM

LAIN-LAIN MAJLIS ILMU TERKINI DI : [URL]http://www.facebook.com/pondokhabib[/URL]

Imam Malik ibn Anas (W 179 H) : tak pernah mentafsirkan “istawa” dengan makna tempat atau duduk / bersemayam

Posted on March 8, 2012 by admin

Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:

“Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.

Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.

Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.

Dari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”, sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi Allah. Juga sama sekali bukan untuk menetapkan makna duduk atau bersemayam yang Kayfiyyah duduk atau bersemayam-Nya tidak diketahui oleh kita. Hal ini berbeda dengan orang-orang Wahhabiyyah yang salah paham terhadap pernyataan al-Lalika’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Hanya saja, –menurut mereka–, Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. A’udzu Billah.

Untuk membantah keyakinan kaum Wahhabiyyah tersebut, kita katakan kepada mereka:

Dalam perkataan al-Lalika-i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman terdapat kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian, oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam pengertian duduk atau bersemayam. Karena duduk atau bertempat itu hanya berlaku pada sesuatu yang memiliki anggota badan, seperti pantat, lutut dan lainnya. Sementara Allah maha suci dari pada anggota-anggota badan.

Yang mengherankan, kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyyah di atas seringkali memutarbalikan perkataan dua Imam di atas. Mereka sering mengubahnya dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam Malik atau lainnya. Tujuan kaum Musyabbihah mengucapkan kata tesebut tidak lain adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali mengatakan: “Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya tidak diketahui”. Atau terkadang mereka juga berkata: “Allah duduk di atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui”. jadi, Perkataan kaum Musyabbihah “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A’udzu Billah.

Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata:

Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).

Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut:

“Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

Ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari peristiwa ini. Jika al-Imam Malik sangat marah terhadap orang tersebut hanya karena menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, hingga mengklaimnya sebagai ahli bid’ah, maka tentunya beliau akan lebih marah lagi terhadap mereka yang dengan terang-terangan mengartikan Istawa dengan duduk, bertempat atau bersemayam! Dapat kita pastikan seorang yang berpendapat kedua semacam ini akan lebih dimurkai lagi oleh al-Imam Malik. Hal itu karena mengartikan Istawa dengan duduk atau bersemayam tidak hanya menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, tapi jelas merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.

Dan sesungguhnya sangat tidak mungkin seorang alim sekaliber al-Imam Malik berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat dan arah. Al-Imam Malik adalah Imam kota Madinah (Imam Dar al-Hijrah), ahli hadits terkemuka, perintis fiqih madzhab Maliki, sudah barang tentu beliau adalah seorang ahli tauhid, berkeyakinan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya. Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta). Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit).

Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).

Dengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.

kesimpulan, Aqidah Imam Malik, Imam AbuHanifah, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad ibn Hanbal adalah bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Dalam banyak tempat dalam kitab ini “al Asma Wa as Shifat”; penulisnya, yaitu Imam Abu Bakr al Baihaqi menuliskan “ALLAH ADA TANPA TEMPAT”.

Posted by: Habib Ahmad | 9 Mac 2012

Fahami doa minta Allah tunjukkan jalan lurus

Fahami doa minta Allah tunjukkan jalan lurus

Oleh Zawawi Yusoh

DOA kadang-kadang minta lain tapi buat lain malah ada juga bertentangan dengan apa yang kita minta tapi kita sebut ‘aamiin’.

Bila imam baca doa kita di belakang main sebut saja, aamiin tapi tak tahu dan tak faham apa yang imam baca.

Doa sebenarnya permintaan, kalau kita meminta sesuatu kita mesti faham, barulah masuk ke hati dan sedar apa yang kita minta.

Bila faham semasa berdoa sangat menolong kita mencarinya selepas berdoa dalam kehidupan seharian.

Kalau main minta atau main angkat tangan saja sedangkan tak faham apa-apa boleh dianggap bermain-main dengan doa.

Sudah puluhan tahun kita meminta perkara sama tapi tak dapat-dapat. Sebenarnya bukan Allah tak perkenankan tapi kita sendiri yang hanya pandai minta tetapi tak pandai cari.

Minta tapi tak cari sama seperti berangan-angan. Antara yang kita mesti minta setiap hari sebanyak 17 kali sehari semalam ialah ‘ihdinassiratal mustaqim’ ataupun maksudnya ‘ tunjukilah kami jalan yang lurus.’

Besarnya doa ini, kita diwajibkan membacanya setiap kali di dalam sembahyang sebanyak 17 kali sehari.

Doa ini tidak didahulukan melainkan selepas kita memuji Allah dahulu bahawa segala pujian itu meliputi pada-Nya dan Dia adalah Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Besarnya juga doa ini ia tidak didahulukan melainkan kita berikrar mengaku sebenar-benarnya hanya Allah, Tuhan yang kita sembah dan tempat kita meminta pertolongan.

Setiap hari minta ‘jalan yang lurus’.

Tahukah kita apa jalan yang lurus itu? kalau tak tahu kena belajarlah sebab jalan yang lurus itu sangat penting.

Sesetengah remaja hanya tahu jalan betul, jumpa jalan betul terus merempit.

Orang Palestin mati di jalan Allah kita mati jalan raya.

Kalau kita perhatikan sebaik sahaja kita meminta jalan yang lurus, ‘ihdinassiratal mustaqim’ Allah mentafsirkan jalan lurus itu Tuhan terangkan jalan yang Allah sudah berikan nikmat-Nya kepada orang-orang yang terdahulu.

Siapakah orang-orang ini? Mereka adalah rasul, nabi, sahabat-sahabat dan aulia’. Mereka kekasih Allah, Tuhan yang menganugerahkan nikmat besar kepada mereka.

Nikmat pula ialah nikmat iman, Islam dan ihsan. Hanya dengan jalan iman, Islam dan ihsan, barulah kita dapat mengikut jalan yang lurus, jalan yang sama dilalui oleh kekasih Allah iaitu rasul, nabi dan wali Allah.

Mereka melalui jalan itu dan Allah tunjukkan jalannya. Maka yang kita minta itu adalah untuk mengikut jalan seperti mereka supaya kita benar-benar sampai kepada Allah.

Jalan yang lurus itulah yang akan sampai kepada Allah. Selain itu, ada juga jalan tetapi tidak sampai kepada Allah.

Allah terangkan lagi dalam surah Al-Fatihah, minta dijauhkan kita daripada dua jalan yang tidak sampai kepada Allah iaitu jalan orang yang Allah murkai dan jalan orang-orang yang sesat.

Jalan orang yang Allah murkai adalah jalan orang-orang yang tidak percaya Tuhan seperti Namrud dan Firaun.

Mereka menolak Allah dan mereka adalah orang yang mendapat laknat Allah.

Jalan orang yang sesat pula ialah seperti Yahudi dan Nasrani (kristian).

Walaupun mereka percaya Tuhan, tetapi jalan yang mereka lalui bertentangan

dengan kehendak Tuhan.

Justeru, mereka tidak akan sampai kepada Tuhan. Orang yang boleh sampai kepada Tuhan adalah orang yang mengikuti jalan lurus.

Jalan itu ditempuh oleh rasul, nabi, sahabat, tabiin dan wali Allah sebelum ini. Maka, kita mengharapkan belas kasihan supaya Allah tunjukkan kita jalan

yang sampai kepada-Nya.

Dinyatakan tadi jalan itu adalah iman, Islam dan ihsan. Ketiga-tiganya adalah nikmat besar Tuhan kepada kita jika kita mendapatkannya.

Namun, ketiga-tiganya mestilah difahami dan dihayati seterusnya menjadi amalan dan perjuangan hidup kita.

Barulah kita mendapat jalan yang lurus.

Kalau sekadar slogan atau cakap-cakap saja, itu dikira belum dapat lagi.

Cubalah muhasabah diri kita sejauh mana kita bersungguh-sungguh ketika berkomunikasi dengan Allah. Paling kurang ayat al-Fatihah yang kita baca seharian, antara faham, kehendak dan realiti biarlah selari seiring dan sejalan.

Fahamilah, hayatilah, amalkanlah serta perjuangkanlah!

Posted by: Habib Ahmad | 9 Mac 2012

Kecewa keputusan SPM dorong Nur’ Ain cemerlang STPM

Kecewa keputusan SPM dorong Nur’ Ain cemerlang STPM

Nur’ Ain Yusseri (kanan) menunjukkan keputusan 4A dalam peperiksaan STPM kepada gurunya, Rafiza Ghazali di SMK Raja Chulan, Ipoh, semalam.

IPOH 7 Mac – Kecewa hanya memperoleh 1A pada peperiksaan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) mendorong anak seorang pembantu perubatan di sini berusaha keras sehingga muncul salah seorang pelajar cemerlang Sijil Tinggi Persekolahan Malaysia (STPM) 2011 di negeri ini.

Malah, wajah sugul ayahnya, Yusseri Ibrahim, 47, dan air mata ibu, Khatijah Ahmad, 41, yang mengalir semasa keputusan SPM itu disampaikan dianggap sebagai satu ‘tamparan’ paling hebat buat Nur’ Ain, 20, sekali gus menguatkan azam untuk berusaha bersungguh- sungguh sehingga mendapat 4A pada STPM.

Pelajar Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Raja Chulan di sini itu mendapat Purata Nilai Gred Keseluruhan (PNGK) 4.0 dengan memperoleh A bagi keempat-empat subjek yang diambil iaitu Pengajian Am, Bahasa Melayu, Kesusasteraan Melayu dan Sejarah.

Anak sulung daripada empat beradik itu menyifatkan kejayaannya adalah berkat usaha gigih untuk menebus kekecewaan dalam SPM lalu.

”Saya amat kecewa dengan keputusan itu (SPM). Tapi saya sedar pada masa itu saya banyak main, tidak belajar betul-betul dan hanya sibuk memikirkan tentang dunia percintaan. Kehidupan di asrama juga menyebabkan ‘aktiviti’ saya itu sukar dilihat keluarga.

”Mak menangis bila tahu saya gagal. Bekas teman lelaki saya pula masuk ke universiti dan meninggalkan saya. Ketika itulah saya nekad untuk berubah, sementelah saya anak sulung. Saya perlu menunjukkan contoh terbaik untuk dua lagi adik saya yang masih bersekolah,” kata Nur’ Ain bersemangat.

Dia merupakan antara empat pelajar sekolah tersebut yang memperolehi keputusan cemerlang 4A.

Selain Nur’ Ain, tiga lagi pelajar sekolah berkenaan yang cemerlang mendapat keputusan 4A ialah Cassandra Amrita Kaur Soba Singh 20; Lim Wah Yi, 20, dan Poon Wai Loon, 20.

Ditanya rahsia kejayaannya, Nur’ Ain yang merancang untuk melanjutkan pengajian dalam bidang pendidikan di Universiti Putra Malaysia (UPM) memberitahu, dia tidak mempunyai sebarang rahsia kejayaan, sebaliknya hanya memberi tumpuan penuh semasa di kelas sebelum berbincang dengan rakan-rakan.

”Saya juga memilih untuk tidur dan merehatkan diri sebaik pulang dari sekolah sebelum memulakan sesi mengulangkaji sekitar pukul 9 malam sehingga awal pagi. Jadual yang sebegini membuatkan saya lebih segar dan dapat memahami apa yang dibaca dengan mudah,” katanya yang bercita-cita menjadi seorang guru.

Sementara itu, Cassandra Amrita memberitahu, fokus terhadap setiap mata pelajaran merupakan satu-satunya kunci untuk berjaya.

”Jangan terlalu stres semasa belajar, saya juga tidak menetapkan berapa jam perlu belajar selama sehari. Saya lebih selesa belajar pada waktu malam,” katanya.

TAJUK-TAJUK BERITA LAIN:

Tuan Guru Al-Sheikh Professor Doktor Haji Muhibuddin al-Waliyy al-Khalidi, Ulama Aceh telah kembali kerahmatullah

Innalillahi wainna ilaihi roojiunn…

Tuan Guru Al-Sheikh Professor Doktor Haji Muhibuddin al-Waliyy al-Khalidi, Ulama Aceh telah kembali menemui Illahi semalam (07 Mac 2012) pukul 10.50 malam waktu Malaysia.

Beliau merupakan anak lelaki kepada ulama terkenal iaitu Sheikh Muda Waliy al-Khalidi (Ulama besar Minangkabau). Beliau menuntut ilmu dengan al Marhum Ayahanda beliau (Sheikh Muda Waliy al-Khalidi) yang sangat mahir dalam pelbagai cabang ilmu,khasnya ilmu alat.

Beliau mendapat pendidikan awal di Pesantren Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan. Kemudian, pada tahun 1964 beliau melanjutkan pengajian di Universiti Al-Azhar,Mesir lalu meraih Doktorah (PhD) dalam bidang Usul Fiqah. Dari pengakuan, beliau mempelajari kitab al Hikam (karangan Ibnu Ataillah as-Sakandari) dari al Marhum Ayahanda beliau.

Beliau merupakan pemimpin kepada Zawiyah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan.

Beliau juga masyhur dengan Karya Ilmiah beliau iaitu buku Mutiara Hikmah Tauhid, komentar Matan Al Hikam – Cetakan Pustaka Nasional yang telah tersebar seluruh Nusantara.


Beliau merupakan Ulamak Ahli Sunnah Wal Jama’ah, bermazhab Shaafie yang mantap displin ilmunya lagi Ahli Tarekat Shufi.

Jasa-jasa beliau menaburkan ilmu dan mendidik anak-anak bangsa sangat bermakna. Pemergian beliau merupakan satu kehilangan permata mutiara yang tiada tukar gantinya . Semuga murid-murid beliau menyambung perjuangan beliau dan jariyah ilmu-ilmu beliau.Semuga Allah maafkan dan ampunkan dan rahmati beliau. Semuga di Masukkan beliau kedalam syurga yang tertinggi bersama Para Nabi , Syuhada dan awliya dan soolihin.

Semasa hayat beliau masih sihat, al Ustaz sangat senang hati dan bahagia dengan al Marhum disebabkan sikap keterbukaan al Marhum terhadap Ilmu Tarekat Shufi, sedangkan beliau pada kedudukan Ulamaknya, adalah rujukan masyarakat khasnya di Aceh, juga amnya di Nusantara.

Ketika dan saat ini, al Ustaz Tuan Guru Haji Abd. Raof bin Nurin berdoa dihadapan Ka’bah, mudah-mudahan ALLAH SWT menganugerahkan lagi kepada anak bangsa nusantara ini, ulamak terbaik yg semacam al marhum. Sebab dimasa kini, mereka yang sifatnya begitu sedikit sangat bilangannya.

Amin Ya Robbal Ka’bah, Wa Ya Robbal Izzah. Al – Fatihah

Posted by: Habib Ahmad | 8 Mac 2012

Rahsia langit dikawal ketat

Rahsia langit dikawal ketat

 

 

DR. ZULKIFLI MOHAMAD ALBAKRI

FIRMAN Allah SWT: Dan sesungguhnya kami telah mencuba mengetahui (rahsia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencuba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (al-Jin: 8-9)

Kumpulan jin meneruskan cerita mereka tentang pengalaman dan pengetahuan mereka mengenai kedudukan dan kerasulan di alam ini, seluruh pelosok langit dan bumi.

Ia bagi membersihkan diri mereka dan segala yang tidak sesuai dengan kehendak Allah SWT yang menurunkan risalah dan menolak segala dakwaan yang mengaku mengetahui segala urusan ghaib.

Berkenaan dengan mukadimah ayat ini yang bermaksud kami telah mencuba mengetahui rahsia langit dengan maksud:

n Menuntut dan mendapatkannya seperti ibarat orang Arab.

n Kami menghampiri langit.

Ibn Kathir berkata: Allah SWT mengkhabarkan tentang jin ketika Dia mengutus Rasul-Nya, Muhammad SAW dan menurunkan al-Quran kepadanya.

Antara bentuk pemeliharaan Allah terhadap al-Quran adalah di langit dipenuhi penjaga yang bengis yang akan mengusir semua syaitan sebelum mereka dapat mengintip dan disampaikan melalui dukun sehingga terjadi campur aduk yang tidak diketahui kebenarannya.

Hal tersebut adalah salah satu kelembutan Allah terhadap makhluk-Nya, rahmat bagi hamba-Nya serta penjagaan terhadap kitab-Nya yang mulia.

Al-Maraghi berkata: “Maknanya adalah al-Quran al-Karim yang mengandungi dalil-dalil aqli dan dalil alamiahnya itu merupakan para penjaga terhadap sesuatu keraguan yang dibisikkan oleh syaitan-syaitan ke dalam hati orang yang ragu.”

Kemudian keraguan itu dihembuskan ke dalam hati orang yang sesat untuk menghalang mereka daripada menerima agama dan petunjuknya. Apabila timbulnya keraguan dan waham dalam jiwa manusia, lalu mereka akan mendapatkan bukti yang akan membasmi keraguan tersebut.

Firman Allah SWT: Dan Sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. (al-Jin: 10)

Al-Maraghi berkata: “Langit itu dijaga rapi kerana dua sebab.”

Sebab-sebab tersebut ialah:

n Azab yang akan diturunkan Allah SWT kepada penghuni bumi dengan segera.

n Atau disebabkan seorang Nabi yang mursyid (memberi petunjuk) dan muslih (memperbaiki keadaan orang lain).

Firman Allah SWT: Dan Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang soleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeza-beza.

Al-Mawardi berkata: “Orang soleh adalah orang yang beriman dan selain daripada itu adalah orang musyrikin. Boleh jadi dengan maksud mereka ahli kebaikan bagi orang soleh dan sepihak lagi ahli kejahatan.”

Seterusnya tafsiran jalan yang berbeza-beza dengan maksud:

n Banyaknya puak seperti pendapat as-Suddi.

n Pelbagai agama seperti pendapat ad-Dahak.

n Hawa nafsu yang pelbagai.

Al-Maraghi berkata: “Sesungguhnya Allah SWT berkuasa ke atas kami di mana sahaja kami berada, sehingga kami tidak akan terlepas daripada kekuasaan-Nya itu dengan cara melarikan diri.”

Firman Allah SWT: Dan sesungguhnya kami mengetahui bahawa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)-Nya dengan lari. Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (al-Quran), kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. (al-Jin: 11-14)

Ini adalah perkhabaran daripada jin berkenaan dengan hal mereka ada yang beriman dan ada yang fasiq. Begitu juga yang zalim, menyimpang daripada kebenaran.

Perkataan qasitin memberi maksud:

n Golongan yang rugi seperti kata Qatadah.

n Golongan yang derhaka seperti pendapat Ibn Zaid.

n Golongan yang amat lemah seperti kata ad-Dahak.

Firman Allah SWT: Barang siapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahanam. (al-Jin: 15)

Istiqamah dalam ayat ini ada dua tafsiran:

n Mereka memilih jalan kufur dan sesat seperti kata Muhammad bin Zaid, Abu Mujliz dan lainnya.

n Istiqamah atau petunjuk dan ketaatan seperti pendapat Ibn Abbas, as-Suddi, Qatadah dan Mujahid.

Al-Maraghi berkata: “Kesuburan dan kelapangan rezeki itu akan terwujud, jika wujudnya ketenteraman, keadilan dan tidak berlakunya kezaliman.”

Hamka berkata: “Inilah keinsafan dari jin Islam yang mengakui nubuwwah Rasulullah SAW. Mereka mengakui bahawa setelah mendapat petunjuk yang terdapat dalam surah Fatihah yang dibacakan oleh Nabi SAW ketika solat Subuh.”

Firman Allah SWT: Dan bahawasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (al-Jin: 16)

Al-Mawardi menyebut dua pendapat berkenaan dengan tafsiran ayat kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar:

n Dengan kami kurniakan banyaknya air sehingga membinasakan mereka seperti dibinasakan kaum Nuh dengan lemas dalam air. Inilah pendapat Muhammad bin Ka’ab.

n Kami kurniakan kepada mereka banyak air yang menyebabkan tanaman mereka subur dan harta mereka banyak.

Al-Maraghi berkata: “Rahsia perkara ini telah kita kemukakan lebih dari sekali. Sesungguhnya kemajuan dan kesenangan hanya akan wujud jika adanya ketenteraman dan keadilan serta tiada kezaliman.”

Dengan demikian manusia akan menerima keadilan yang sama tanpa sebarang kezaliman pilih bulu atau melakukan rasuah dalam membuat sesuatu keputusan.

Firman Allah SWT: Untuk kami beri cubaan kepada mereka padanya. Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, nescaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. (al-Jin: 17)

Sayid Qutub berkata: ” Allah SWT mengesahkan pandangan jin terhadap manusia iaitu andainya manusia beriman nescaya Kami kurniakan kepada mereka bekalan yang mencukupi untuk menguji mereka sama ada bersyukur atau tidak.”

Peralihan daripada menceritakan perkataan jin kepada menyebut isi cerita untuk menambah kekuatan pengertian dan janji kepada Allah SWT.

Tarikan seperti ini banyak dalam uslub Quran untuk menghidup dan menguatkan pengertian serta pandangan ini mengandungi beberapa hakikat dan unsur penting dalam pembentukan akidah dan kefahaman seseorang mukmin.

Hakikat yang pertama wujudnya hubungan kelurusan iman umat dan sekelompok manusia mengikuti jalan Allah dengan kemewahan rezeki. Faktor yang pertama adalah kemewahan bekalan air yang cukup. Ia selama-lamanya penting untuk pembangunan dan kelangsungan hidup.

Hubungan antara keduanya sangat kukuh. Contohnya orang Arab di Padang Sahara. Mereka hidup dengan segala kepayahan dan kesulitan tetapi mereka beriman maka dikurniakan segala kemewahan dan rezeki yang melimpah ruah.

Kemudian mereka kufur maka segalanya ditarik kembali sehingga kembali pada keadaan asal dan itulah tanda kekuasaan Allah SWT yang menentukan segalanya.

Al-Maraghi berkata: “Barang siapa yang berpaling dari al-Quran dan menolak nasihatnya, tidak menunaikan segala perintahnya serta tidak meninggalkan larangan-larangannya, maka Kami akan masukkan dia ke dalam seksaan yang berat akan menguasainya sehingga dia tidak sanggup lagi untuk memikulnya.”

Andainya di sana terdapat umat yang tidak berjalan di atas jalan Allah SWT kemudian mereka mendapat kemewahan dan kekayaan, maka mereka akan diseksa dengan pelbagai penyakit dan mala petaka yang merosakkan sifat insaniah mereka atau mengugat keamanan dan kehormatan hidup sebagai manusia.

Semuanya itu menjadikan kemewahan dan kekayaan mereka tiada ertinya (sebagaimana yang diterangkan dalam surah Nuh).

Semoga Allah menjadikan kita dari kalangan hamba-Nya yang mentaati perintah-Nya.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 811 other followers