Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2009

SAMBUTAN MAAL HIJRAH 1431H

SAMBUTAN MAAL HIJRAH 1431H
DI MASJID AL-FALAH USJ 9, SUBANG JAYA.

pada :
KHAMIS , 30 ZULHIJJAH 1430 H
17 DISEMBER 2009 M
.
aturcara bermula 6.30 ptg :

– BACAAN WIRDUL LATHIF
– BACAAN DOA AKHIR TAHUN *
– AZAN
– BACAAN DOA AWAL TAHUN *
– SOLAT MAGHRIB
– BACAAN MAULID AD-DAIBAIE * / QASIDAH

– CERAMAH UTAMA OLEH :
HABIB ALI ZAINAL ABIDIN AL-HAMID

anda adalah tetamu kehormat kami ….

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2009

Tiga Hal Untuk Merasakan Lezatnya Iman

Tiga Hal Untuk Merasakan Lezatnya Iman
Senin, 7 Desember 2009

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّنْ سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي اْلكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.

( صحيح البخاري )

” Tiga hal , yang barangsiapa ada padanya maka ia akan merasakan lezatnya iman , yaitu ia mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya , dan ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah , dan membenci kembali pada kekufuran sebagaimana ia sangat tidak ingin dilemparkan ke api neraka ”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ الحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجمَعِ اْلكَرِيْمِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ السَّاعَةِ وَفِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي حَضْرَةِ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَكُوْنَ قُرَّةَ عَيْنٍ لِرَسُوْلِ اللهِ لِيَسُرُّ قَلْبُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

Limpahan puji ke hadirat Allah subhanahu wata’ala , Maha Raja langit dan bumi Yang Maha melimpahkan keluhuran kepada hamba-hambaNya , tiada satu kehidupan di alam semesta terkecuali pasti menikmati kenikmatan Allah . Kenikmatan yang terbesar dan terluhur adalah kedekatan kepadaNya, kemuliaan hidup yang terindah dan tersuci adalah jiwa yang tersucikan dengan namaNya , maka semoga Allah menerangi jiwaku dan jiwa kalian dengan cahaya kesucian Allah subhanahu wata’ala .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Sampailah kita di malam yang agung ini , yang insya Allah semoga terus mengangkat kita semakin dekat kepada Allah , menghapus kita dari segala dosa , memperbaiki segala yang buruk di hari-hari kita yang telah lalu , dan memperbaiki hari-hari mendatang dengan sebaik-baik keadaan . Hadirin hadirat , titipkan hari-hari lalumu kepada Sang Maha pemilik hari , Yang Maha mengatur dosa yang diampuni dan dosa yang tidak diampuni , titipkan kepada yang memilikinya niscaya Sang Pemilik tidak akan mengecewakan hamba yang berharap kepadaNya, seraya berfirman di dalam hadits qudsy :

يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كاَنَ مِنْكَ فَلاَ أُبَالِي

” Wahai keturunan Adam , jika engkau berdoa dan berharap kepadaKu niscaya Kuampuni dosa-dosa kalian tanpa Kupertanyakan lagi “.

Berdoalah kepada Allah , berharaplah kepada Allah maka Allah akan menghapus segala yang menghambat hubungan antara hamba denganNya berupa dosa dan kesalahan , Allah singkirkan dosa itu dan Allah berjanji tidak akan mempertanyakannya lagi , tinggal engkau mau berharap kepada Allah atau tidak , Allah sudah membuka pintuNya untukmu dan tidak mempertanyakan lagi tentang dosa-dosamu , bahkan Allah mengundang engkau dan jiwamu untuk berharap ke hadiratNya , maka masihkah kita menolak dan berharap kepada selainnya ?! .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Sang Maha lembut , Sang Maha berkasih sayang telah menawarkan pengampunan dan Allah tidak akan mempertanyakan lagi dosa-dosa kalian jika kalian mau berharap kepada Allah . Apa arti dan sulitnya berharap ? Jika kita disuruh beribadah seribu tahun tahun dan bersujud di atas bara api belum ada apa-apanya untuk menghapus dosa kita kepada Allah . Namun Allah meminta kita untuk berharap kepadaNya , meminta kepadaNya maka akan Allah hapuskan dosa-dosa kita tanpa dipertanyakan lagi . Inilah indahnya Tuhanmu , inilah indahnya penciptamu , inilah indahnya Sang pemilik alam semesta , seraya berfirman :

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ¤ وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا ¤ وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا ¤ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا ¤ وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا ¤ وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا ¤ وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ¤ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

( الشمس : 1-8 )

“Demi matahari dan cahaya dhuha di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. ( QS. As Syams : 1- 8 )

Mengapa Allah bersumpah demi cahaya dhuha , karena dengan cahaya dhuha itu sudah terang benderang siang hari , tapi terang benderang cahayanya tidak menyakiti kulit kita . Terang benderang yang terindah mulai terbit matahari sampai terbenam adalah saat pagi . Membawa manfaat bagi jasad dari cahaya ultraviolet yang mengurus dan mengasuh sel-sel kulit kita , itulah di waktu cahaya dhuha . Dan di cahaya dhuha ini Allah banyak mengabulkan doa-doa hambaNya dan meluaskan rizkinya . Oleh sebab itu Rasulullah shallalhu ‘alaihi wasallam mengajarkan shalat dhuha . Dan waktu dhuha ini merupakan waktu pagi yang juga melambangkan keindahan dalam keseharian , jiwa masih tenang belum gundah , suasana masih indah , udara masih segar , demikian suasana pagi waktu dhuha . Maksudnya Allah ingin menjelaskan , mengenalkan dan menanamkan rasa keindahan zatNya pada diri kita dengan kalimat – kalimat Ilahi yang dilantunkan yang bisa kita fahami ,

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا

Kemudian Allah bersumpah “Demi bulan yang mengiringi matahari “, dan “demi siang hari ketika sedang teriknya”. Disaat manusia tidak butuh pada pepohonan untuk tempat berteduh saat teriknya matahari , maka yang paling berharga baginya tempat berteduh , yang paling berharga baginya justru terlindung dari teriknya matahari . Allah menciptakan gunung , Allah menciptakan pohon , Allah menciptakan alat-alat untuk membangun agar manusia bisa terlindung dari teriknya matahari . Kalau Allah tidak menumbuhkan pepohonan maka bagaimana kita bisa berlindung dan berteduh dari panasnya matahari , kalau misalnya Allah jadikan bumi ini hanya terbuat dari lempengan baja atau suatu benda yang tidak bisa di pecah untuk dibangun , hidup saja kita disitu , ibadah kepada Allah semampunya , panas dilewati , malam yang gelap dan dingin dilewati , hidup kita hanya sementara , namun Allah tidak demikian maka diciptakanlah pohon bisa dipotong menjadi kayu , dan Allah ciptakan air, tanah, dan biji-biji besi yang dipadu , demikian indahnya Allah subhanahu wata’ala . Dan Allah subhanahu wata’ala bersumpah demi malam ketika gelap gulita .

Sang Maha pencipta malam masih memberi kita penyelesaian daripada masalah kegelapan di malam hari , maka Allah menciptakan bulan , Allah menciptakan bintang . Masih kurang cahayanya, sebagai manusia masih membutuhkan cahaya lebih , butuh penerangan lebih maka Allah menciptakan pohon yang bisa menjadi api , ada bara api , Allah ciptakan agar manusia bisa merangkai besi , air berubah menjadi listrik, uap menjadi listrik , Allah Maha Tau karena yang menciptakan sel-sel itu adalah Allah . Allah Maha tau bahwa di akhir-akhir zaman nanti manusia lebih membutuhkan cahaya di malam hari daripada di siang hari , dan manusia di akhir zaman lebih membutuhkan cahaya daripada manusia di zaman sebelumnya . Allah siapkan itu di sel-sel pemikiran mereka bisa merangkai dari biji-biji besi menjadi rangkaian mobil, menjadi rangkaian lainnya , pembangkit listrik , tapi apakah pembangkit listrik muncul dengan sendirinya ?! tentunya tidak . Ada tenaga air, ada tenaga uap , mungkin tenaga dari solar atau lainnya dan pastilah tenaga itu diambil dari bumi . Tidak bisa manusia itu mencipta sesuatu dari tiada. Firman Allah ” Demi malam ketika gelapnya, dan demi siang ketika teriknya”. Sang Maha adil menciptakan siang dan malam , siang untuk beraktifitas dan malam untuk beristirahat dan beribadah juga bagi hamba yang cinta kepada Allah . Namun Allah juga tidak membiarkan manusia dalam kegelapan selama 12 jam itu , bisa mereka menyalakan obor , bisa pelita dan lainnya , tetap saja malam hari itu tidak Allah jadikan mutlak harus terus gelap . Boleh menyalakan cahaya, ada alat-alat dicipta dari bumi dan mereka bisa merangkai menjadi cahaya , demikian Allah izinkan ada terang benderang di malam hari . Demikian pula di siang hari , tidak selalu identik dengan panas , manusia menciptakan dingin dengan kipas angin atau air conditioner ( AC ) zaman sekarang atau cara-cara yang lainnya ,Allah perbolehkan hal itu, siang hari tidak harus selalu panas tersiksa karena terik matahari dan malam hari tidak harus gelap gulita , ada penyelesaian dari bentuk keadilan Allah subhanahu wata’ala .

Kemudian Allah berfirman “demi langit dan segala penciptaannya”, banaa adalah suatu pembangunan atau suatu konstruksi bangunan yang sempurna . Kita tau bahwa planet bumi ini hanya satu dari tigaratus milyar di galaksi bima sakti . Dan galaksi bima sakti itu hanya satu dari kumpulan jutaan galaksi lainnya . Dan setiap planet berputar pada porosnya , bulan mengitari bumi , bumi mengitari matahari , demikian semua galaksi berputar pada porosnya , dan semua jutaan galaksi itu diatur dengan pengaturan Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi . Kemudian Allah berfirman “demi bumi beserta penghamparannya “, hamparannya tanah , Allah menciptakan tanah, muncul tumbuhan yang berbeda , padahal sama – sama muncul dari tanah bukan dari besi atau lainnya , tapi tumbuh bermacam-macam ada buah-buahan , ada rerumputan ada untuk berteduh saja , dan lainnya . Beraneka ragam Allah ciptakan dari tempat yang sama , tanah juga .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Allah sudah mengatur cahaya matahari , mengatur air hujan , mengatur tempat ini agar lebih banyak kering , mengatur tempat ini agar lebih banyak suburnya , jika lebih banyak subur berarti lebih banyak hijaunya , jika banyak hijaunya maka akan semakin banyak manusia yang tinggal disana , dan di daerah kering akan sedikit manusia yang tinggal disana , kesemua pengaturan Allah sempurna . “demi bumi beserta penghamparannya ” dengan segala bentuk hewan , dengan segala bentuk sifat, dengan segala bentuk ketentuan kehidupannya , semua itu diatur oleh Allah subhanahu wata’ala .

Kita tau dalam ilmu biologi bahwa awal manusia adalah berbentuk sel , kemudian seperti cacing kemudian semakin besar seperti cicak dan semakin besar lalu berbentuk sempurna sebagai keturunan Adam , mempunyai mata, telinga, bibir , hidung dan lain sebagainya , dari kesempurnaan tuntunan Allah dan anugerah Allah . Maka dari mana manusia bisa sombong yang asal mulanya hanya seperti cacing ?! Setelah Allah mengenalkan itu semua , mulai dari matahari , siang , malam , langit dan bumi . Kemudian Allah berfirman ” Demi manusia dan penciptaannya “, maksudnya penciptaan manusia itu kalau kita renungkan sangat rumit sekali , dari bentuk satu ke bentuk lainnya, dari hal yang mustahil kepada hal yang lebih mustahil lagi . Mustahil dari butiran sel berubah menjadi bentuk cacing , mustahil dari bentuk cacing berubah lagi seperti bentuk cacing yang besar kepalanya, kemudian dari bentuk itu berubah menjadi tangan, kaki, mata, telinga, kulit , tulang , darah , jantung, lambung , otak , dan kesemuanya berfungsi menjadi melihat, mendengar , menjadi berjalan , menjadi penguasa , menjadi rakyat , menjadi orang yang baik, menjadi orang yang buruk , bisa mencaci , bisa mempunyai perasaan , dan lebih dari itu semua, bukan hanya bentuk saja , kalau bentuk saja maka tidak jauh berbeda dengan hewan , tetapi Allah juga memberi mereka ilham . Ilham itu adalah tuntunan di dalam jiwa sebelum tuntunan agama, jadi sebelum manusia itu sampai kepada agama , dan tanpa agama pun dia sudah di ilhami yang baik dan yang buruk , lantas disempurnakan dengan agama . Jadi manusia yang tidak mengenal agama pun , jika melihat saudaranya dizalimi maka ia tau bahwa itu perbuatan buruk , ia tau itu perbuatan jahat dan tidak benar , ia tidak mengatakan itu perbuatan baik . Ketika ia melihat seorang anak marah kepada ibunya , tanpa ada tuntunan agama pun ia akan berkata , tidak pantas anak ini marah dan menghardik ibunya . Ini yang dimaksud bahwa Allah telah memberi mereka ilham sebelum datang kepada mereka tuntunan Sang Nabi tentang mana yang baik dan mana yang buruk , namun ketika berfikir dengan logika yang baik , mereka selalu menemukan yang baik dalam hidupnya , dan ketika mereka menemukan tuntunan sang Nabi maka hati dan sanubarinya akan menerima bahwa inilah yang paling baik , inilah yang paling sempurna , inilah yang paling benar ,karena sudah diberi ilham oleh Allah subhanahu wata’ala .

Jadi , semua yang tidak menyembah Allah , kalau mereka mendengar ada sebutan kalimat Laa ilaaha illallah bahwa tiada Tuhan selain Allah , nuraninya berkata inilah yang benar , walaupun logikanya menolak ” kok bisa begitu, kenapa ?, aku sudah ikuti ajaran ayahku , aku sudah ikuti ajaran guruku ” , dan lain sebagainy . Penolakan muncul dari logika namun nurani sudah mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah , itulah kebenaran walaupun sebelumnya logikanya tidak tau, misalnya di luar agama Islam tidak pernah mengenal nama Allah tidak pernah menyembah Allah , tiba-tiba ada orang yang mengajarkan bahwa tiada tuhan sembahan selain Allah , maka nuraninya akan langsung mengakui hal itu , kenapa ? karena nurani itu milik Allah subhanahu wata’ala , karena ruh milik Allah , ruh sudah bersumpah ” Laa ilaaha illallah ” sebelum lahir ke muka bumi .

Namun tertutup oleh alam logika , bagaimana membukanya ? logika yang baik dan polos . Ketika seorang rahib dari pemuka agama Budha atau Hindu , ia selalu bertapa dan selalu melawan hawa nafsunya , kalau hawa nafsunya mengajak kesana , maka ia melakukan yang sebaliknya kenapa ? karena hawa nafsu itu tidak berada pada kebenaran . Kalau hawa nafsunya mengajak ia makan maka ia tidak mau makan, ketika hawa nafsunya tidak mau makan maka , ia selalu melawan hawa nafsu . Lalu datang seseorang da’i berkata kepadanya mengenalkan ” Laa ilaaha illallah ” bahwa tiada tuhan selain Allah , maka nuraninya mengakui dan hawa nafsunya menolak , maka ia pun langsung masuk Islam . Maka sang da’i kaget dan berkata : saya belum menjelaskan tentang Islam, lalu saya menjelaskan bahwa tiada tuhan selain Allah , kenapa engkau terima ? maka rahib itu menjawab : ” karena logika dna nurani saya menerima dan hawa nafsu saya menolak ” dan saya selalu melawan hawa nafsu . Maka ketika hawa nafsu saya menolak maka saya langsung memililih yang sebaliknya dan saya masuk Islam . Kenapa ? karena telah Allah ilhamkan di hati nuraninya mana yang benar dan mana yang salah , mana yang haq dan mana yang bathil , namun hawa nafsunya dan logika yang tidak tersucikan dengan tuntunan sang Nabi akan berpaling dari tuntunan Ilahi . Kemudian Allah meneruskan firmannya :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

( الشمس : 9 )

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” ( QS. As Syams : 9 )

Sungguh beruntung bagi yang mensucikan dirinya dengan cahaya Allah , mensucikan penglihatan , pendengaran , pemikirannya jiwanya , ia sucikan dengan Allah subhanahu wata’ala , maka beruntunglah mereka dan tiada yang lebih beruntung dari mereka . Siapa mereka itu ? bukan orang lain, tentunya pengikut sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , sayyidul basyar , sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :

أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

” Aku pemimpin manusia di hari kiamat ”

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , yang berpadu dalam dirinya segenap tuntunan keluhuran , yang seluruh nabi dan rasul disumpah untuk setia dan menjadi pendukung Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebgaimana firman Allah ta’ala :

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آَتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

( ال عمران : 81 )

” Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman : Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab: Kami mengakui. Allah berfirman: Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. ” ( QS. Ali Imran : 81 )

Ketika Allah mengambil janji dan sumpah setia dari para nabi , seraya berfirman ” wahai para nabi jika datang kepada kalian nabi akhir zaman yang membenarkan kalian , membenarkan ajaran nabi-nabi terdahulu bahwa tiada Tuhan selain Allah , maka kalian harus beriman kepadanya dia itu adalah Muhammad Rasulullah , dan kalian juga harus menjadi penolongnya . Cukup sampai disinikah ? belum, tapi Allah tegaskan lagi ” Wahai para Nabi , apakah kalian siap mengambil sumpah setiaKu ini agar kalian setia pada NabiKu Muhammad ? Maka para nabi itu berkata ” Kami berikrar, sumpah setia kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Kemudian Allah perkuat lagi bahwa Aku ( Allah ) menjadi saksi sumpah kalian para nabi dan rasul .

Hadirin hadirat, para nabi dan rasul sudah disumpah oleh Allah untuk setia kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, idola kita . Maka para mufassir didalam menafsirkan ayat ini menjelaskan, bahwa jika beriman kepada Allah dan rasulNya sudah jelas , tapi membantu Rasulullah bagaimana caranya , mereka itu adalah para shahabat nabi sebelum kebangkitan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihin wasallam , karena setiap nabi dan rasul pasti mengkabarkan bahwa akan datang nabi akhir zaman namanya Ahmad di langit , dan Muhammad di muka bumi . Semua nabi dan rasul sudah mengabarkan itu , sudah membawa dakwah nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam untuk mengenalkan kepada ummatnya masing-masing , bahwa akan ada nabi di akhir zaman ciri-cirinya begini ,dia bukan orang yang suka mencaci maki , bukan orang yang suka berbuat zhalim , dia itu orang yang berakhlak indah , itu semua sifat-sifat nabi Muhammad dikabarkan oleh para nabi dan rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alai wasallam, mereka itu para pendukung dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , sebelum nabi Muhammad dibangkitkan sebagai Nabi .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Sampailah kita pada hadits mulia di malam hari ini , sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّنْ سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي اْلكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.

( صحيح البخاري )

” Tiga hal , yang barangsiapa ada padanya maka ia akan merasakan lezatnya iman , yaitu ia mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya , dan ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah , dan membenci kembali pada kekufuran sebagaimana ia sangat tidak ingin dilemparkan ke api neraka ”

Jika seseorang memiliki 3 sifat luhur ini maka ia akan menemukan indah dan lezatnya iman, siapa mereka ? Yang pertama adalah seseorang yang menjadikan Allah dan Rasul lebih ia cintai dari selain keduanya . Yang kedua adalah seseorang yang tidak mencintai orang lain kecuali karena cintanya kepada Allah , dan yang ketiga adalah seseorang yang benci kembali kepada dosa-dosanya dan kemungkaran sebagaimana ia benci dan tidak mau dilempar kedalam api neraka . Tiga hal , tampaknya sulit , hadits ini mungkin sudah sering didengar , tapi tampaknya sulit sekali untuk mencapai kelezatan iman , tidak sesulit yang kita bayangkan . Tidakkah Rasul bersabda ” seseorang akan merasakan lezatnya iman jika berpadu padanya tiga hal yang pertama yaitu , agar ia jadikan Allah dan Rasul lebih ia cintai daripada selainnya ” , bagaimana bisa ? orang yang bertanya seperti ini karena dia tau kelembutan Allah , kalau ia tau kelembutan Allah maka tidak akan ada lagi orang yang lebih dicintainya melebihi Allah .

Hadirin hadirat, kenapa seseorang bisa mencintai nabi lebih daripada yang lain ? karena ia tau kelembutannya, karena tau keindahannya . Rasul tidak pernah berjumpa kita, tidak pernah kenal kita tidak pula pernah bersalaman dengan kita . Kenal dan melihat wajah kita pun tidak , namun beliau pembela utama lebih dari semua orang yang kita cintai di Yaumul Qiyamah . Disaat semua orang yang kita cintai meninggalkan kita , mana mau kekasih membela pendosa disana permasalahannya adalah kemurkaan Allah , bukan masalah penjara dunia , di dunia saja orang tidak mau dipenjara apalagi di akhirat , penjara akhirat lebih dahsyat na’uzubillah, siapa yang mau masuk kesana . Namun semua orang mundur terhadap orang yang mempunyai dosa .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Persaudaraan di akhirat banyak yang terputus sebab dosa , tapi tidak dengan persaudaraan antara sang nabi dengan ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , ini tidak akan pernah terputus selama ia tidak menyembah selain Allah , maka Nabi terus membelanya walaupun ia sudah dilempar ke neraka , walaupun ia adalah seorang yang banyak berbuat jahat , tapi Allah subhanahu wata’ala tetap mengizinkan kepada nabi Muhammad untuk memberikan syafaat kepada mereka ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam . Padahal rasul tidak mengenal mereka , tidak berteman dan bukan shahabat pula , siapa mereka yang dibela ? mereka adalah pendosa . Siapa pendosa ini , ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam . Inilah cinta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita . Rasul lebih cinta kepada kita daripada kita kepada diri kita sendiri , kalau kita cinta kepada diri kita maka kita tidak akan melakukan dosa , tapi rasul lebih cinta kepada kita daripada diri kita sendiri , beliau lebih ingin kita selamat dari neraka dan kemurkaan Allah daripada diri kita sendiri , beliau lebih ingin kita dicintai Allah daripada keinginan kita sendiri untuk dicintai Allah . Demikian indahnya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“perumpamaan aku dengan kalian bagaikan satu api yang menyala dikerubuti oleh hewan-hewan yang berkeliaran di sekitar api ” , kalau dalam bahasa kita hewan ini seperti laron yang mana kalau ada cahaya lampu kalau setelah hujan hewan ini rame berebutan , cuma ini api yang membakar bukan lampu , kalau lampu tidak membakar . Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ” Kalian seperti itu yang berebutan keduniawian , yang mana hal itu seperti api “, kemudian Rasul memegang dari belakang dan menyelamatkan serangga itu agar tidak terbakar oleh api tapi cukup terkena hangatnya saja . Karena di dalam Fathul Bari dan lainnya dijelaskan bahwa hewan-hewan yang seperti laron itu memakan nyamuk dan memakan hewan yang ada disekitar cahaya , itu boleh-boleh saja , tapi kalau mau jatuh di api Rasul yang akan menyelamatkan kalian . Di dalam salah satu penafsiran hadits riwayat Shahih Al Bukhari ini , dalam atsar shahabat dijelaskan bahwa tidak satu pun ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melintas di shirat dan terjatuh ke neraka kecuali Rasul memegangnya , karena Rasul bersabda : ” Aku memegang tengkuk kalian “, ketika ummat beliau akan jatuh ke dalam api neraka maka Rasul memegangnya agar tidak terjatuh ke dalam api neraka , namun karena dosa yang banyak di tangan orang ini maka tangan itu yang menepis dan melepas tangan Rasul dan ia pun terjatuh ke dalam api neraka .

Hadirin hadirat , ini sekilas dari keindahan yang ada pada sang Nabi , kalau kita dalami maka tidak akan kita temui orang yang lebih kita cintai dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam . Keselamatan kita dari maksiat juga sebab dari amal pahala Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Rasulullah ketika Isra’ Mi’raj beliau ditawari arak dan susu maka Rasul mengambil susu , maka berkatalah Jibril ‘alihissalam :

اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاكَ لِلْفِطْرَةِ لَوْأَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ

” Segala puji bagi Allah yang membuat engkau memilih kesucian kalau engkau memilih arak , maka ummatmu tidak akan ada yang selamat dari minuman keras “.
Maksudnya seluruh ummatnya ditawarkan dalam hidupnya , mau susu atau minuman keras, tapi insyaallah kebanyakan memilih susu dan kesucian daripada dosa dan kesalahan . Namun Jibril berkata kalau engkau ( Muhammad ) memilih arak , maka ummatmu tidak akan ada satu pun yang terhindar dari minuman keras .

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa arak yang ditawarkan kepada nabi itu berbeda dengan arak dunia yang diharamkan , karena itu adalah arak di sorga , segala sesuatu yang akan di berikan di sorga Allah tidak ada yang memabukkan dan tidak diharamkan , namun hanya sebagai lambang penyelamat bagi ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , Jibril berkata jika engkau memilih arak , maka semua ummatmu akan tenggelam dalam mabuk-mabukan dan tidak ada satu pun yang selamat , lalu Rasul menolak arak kok bisa ummatnya banyak yang selamat dari cengkraman minuman keras , walaupun masih ada yang terjebak tapi masih banyak yang selamat . Jadi Jibril berkata ” Kalau kau memilih arak , maka ummat akan terkena semuanya ” , maksudnya adalah bahwa perbuatan sang Nabi berpengaruh kepada yang lain , perbuatan beliau berpengaruh kepada ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , jangankan sang Nabi , diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلْمُسْلِمُ لِلْمُسْلِمِ كَاْلبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

” Seorang muslim dengan muslim yang lain itu bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain ”

Maka semakin banyak yang beribadah , maka semakin banyak pula keberkahan yang ditumpahkan bukan hanya pada kelompok itu , tapi pada muslim lainnya . Dan semakin banyak dosa , maka semakin banyak diturunkan musibah bukan hanya pada muslim itu tetapi pada muslim lainnya, karena mereka seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain . Bangunan sempurna , tapi kalau dicabut satu saja tiangnya tentu akan roboh bangunannya, kalau tidak roboh maka bahaya jika dilewati orang, dan lain sebagainya . Hadirin hadirat , inilah ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Kalau antara ummat satu dan lainnya saja bagaikan bangunan yang saling menguatkan , ada tiangnya , ada pintunya , ada kacanya , ada lantainya , ada atapnya , jika sesama ummat saja seperti itu maka bagaimana dengan imaamul ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi pemimpin terbesar dari terpengaruhnya ummat ini kepada kebaikan atau kepada kehinaan . Oleh karena itu doa beliau selalu memintakan ampunan untuk kita , sebagaimana perintah Allah subhanahu wata’ala :

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ

( محمد : 19 )

” Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang mukmin laki-laki dan perempuan ” . ( QS. Muhammad : 19 )
Oleh karena itu kalau kita beristighfar cepat diterima oleh Allah subhanahu wata’ala permohonan pengampunan dosa kita , kalu kita memohon pengampunan dosa , kenapa ? karena nabi Muhammad beristighfar untuk semua ummatnya yang berdosa , jadi jika ummatnya ada yang beristighfar maka berpadulah cahaya doa istighfar sang Nabi yang mendoakan ummatnya dengan istighfar ummatnya, maka terangkatlah menuju pengampunan Allah lebih cepat .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

” Shalat lima waktu, dengannya Allah Ta’ala menghapus kesalahan-kesalahan”
Ingat itu, maka jangan ada satu pun diantara kita yang masih terlintas untuk meninggalkan shalat lima waktu di hari-hari esok . Pastikan malam hari ini adalah malam dimana namaku dan nama kalian dipastikan mendapatkan keluhuran shalat lima waktu , menunaikannya dan mendapatkan segala keberkahan shalat lima waktu itu .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Tidak lama saya menyampaikan taushiah , terakhir yang kan saya sampaikan adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ سَبَّحَ لِلّهِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةً ثَلاَثاً وَ ثلَاَثِيْنَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلاَثاً وَثلاَثيْنَ وَكَبَّرَ ثَلاَثاً وَثَلاَثيْنَ تَكْبِيرَةً ، وَقَالَ تَمَام الْمِئَة ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، غُفِرَتْ لَهُ خَطَاياَهُ وَإِنْ كاَنَتْ مِثْلَ زَبَدِ اْلبَحْرِ .

” Barangsiapa yang selepas shalat membaca Subhanallah 33 x , Alhamdulillah 33 x , Allahu Akbar 33 x dan diakhiri Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah lahulmulku walahulhamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir 1 x , maka diampuni seluruh dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan ”

Demikian riwayat Shahih Al Bukhari . Kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala , semoga Allah menerangi hari-hari kita dengan seindah-indah keadaan . Rabby Ya Rahman Ya Rahiim Ya zal jalaali wal ikram terangkan jiwa-jiwa kami pada puncak-puncak keluhuran , warnai hari-hari kami agra selalu penuh dengan harapan dan doa kepadaMu , damaikan jiwa-jiwa kami , damaikan hati kami , damaikan masyarakat kami , damaikan bumi Jakarta , damaikan bangsa kami , damaikan muslimin muslimat di barat dan timur , Ya Rahman Ya Rahiim damikan bumi dari goncangannya , damaikan gunung dari gerakannya , damaikan hujan dari banjirnya , damaikan laut dari tsunaminya . Wahai Sang pemilik alam semesta inilah doa dan munajat dan getaran doa ini sampai ke hadiratMu sebagaimana janjimu bahwa tiadalah orang berkumpul dalam berzikir kepadaMu kecuali diturunkan malaikat al muqarrabin yang menyaksikan kehadiran mereka dan meng Aminkan doa mereka , dan menyaksikan pengampunan Allah turun untuk mereka .

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika berkumpul muslimin muslimat dalam majelis zikir atau majelis ta’lim maka malaikat memenuhinya sampai ke langit dan malaikat itu menyaksikan doa kita , mengaminkan doa kita dan beristighfar atas dosa kita, serta memohonkan pengabulan atas hajat kita . Rabby, jadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling kami cintai dan ketika kami mengetahui beliau begitu indah hingga beliau membela ummatnya di api neraka , Rabby kami mengetahui bahwa Engkau Yang menciptakan Rasul dan itu adalah bentuk kasih sayangMu yang terindah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Kasih sayang Allah yang abadi bahkan di neraka pun cahaya kasih sayang Allah masih mengangkat hambaNya , yaitu berupa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , selama dia tidak menyembah selain Allah dan mengakui Nabi Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wata’ala .

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا…

Katakanlah bersama-sama..

يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ…يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ…لاَإلهَ إِلاَّ الله… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita terus berdoa untuk kesuksesan acara guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh , pada acara-acara besar khususnya di malam 1 Januari serta haul Al Imam Fakhrul Wujud , dan acara malam selasa kita di Monas 4 Januari , semoga acara-acara ini sukses maka kita terus berdoa . Dan saya mohon doa untuk kesembuhan saya dan kesembuhan semua hadirin hadirat yang sakit semoga diberi kesembuhan oleh Allah subhanahu wata’ala Amin Allahumma Amin . Dan tabligh akbar malam Ahad akan diadakan di Jakarta Timur Klender dan akan diumumkan nanti di majelis, malam Sabtu demikian pula zikir Jalaalah, akan diumumkan di majelis (ini), dan tablig akbar malam Jum’at . Dan semua majelis luar kota (Bandung, cianjur, bogor dll) yang kemarin direncanakan kami batalkan karena kondisi kesehatan saya tidak mendukung . Semoga Allah menggantikannya walaupun tidak jadi majelis ini diadakan karena kondisi , semoga ini menjadi perjanjian Hudaibiyah yang muncul setelahnya Fath di wilayah-wilayah luar kota, Amin Allahumma Amin .

Mengenai hadits yang tadi kita baca, baru satu yang saya syarahkan dari tiga golongan itu, dan yang dua golongan belum saya syarahkan, malam selasa yang akan datang Insyaallah. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, kita teruskan dengan mengingat indahnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , tafaddhal masykuura.

مَوْلاَيَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kabar yang tersebar mengenai saya bahwa saya pingsan , padahal saya segar bugar cuma terjatuh saja karena kehilangan keseimbangan, dan saat akan berdiri bernafas juga susah karena terlalu banyak yg mengerubuti , tapi tidak apa-apa Alhamdulillah meskipun terkadang penyakit peradangan di otak belakang sering kambuh , namun hal seperti itu akan mengangkat derajat Insyaallah .

Hadirin hadirat, jika Demak digelari Kota Wali, dan masing –masing wilayah mempunyai gelar , kita menunggu gelar Jakarta ini bukan kota anarkis, bukan kota kriminalis atau kota yang identik dengan kejahatan , tetapi Kota Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam . Setelah itu saya selesai tugas jika akan di pindah ke alam lainnya . Hadirin hadirat, semoga Allah memanjangkan usia kita . Beberapa waktu sebelum wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau juga terkena sakit di kepalanya . Kita berdoa juga semoga niat kita , cita-cita kita dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala . Kita ini semua adalah harapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendamaikan Jakarta , mendamaikan bangsa dengan berdoa , dengan berakhlak dan bersifat luhur , menyebarkan keluhuran dan kedamaian kepada teman, keluarga dan lainnya dengan harta , dengan sms, dengan ucapan dengan email , dan lainnya . Jadilah para pembela dan penerus cita-cita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Terakhir Diperbaharui ( Sunday, 13 December 2009
http://www.majelisrasulullah.org

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2009

1000 Kali Haji

1000 Kali Haji

Alhamdulillah, bulan haji telah hampir menutup tirainya. Para jemaah kita yang menjadi tetamu ar-Rahman telah mula pulang ke tanahair membawa lembaran baru dalam kehidupan mereka. Moga segala amal ibadah mereka diterima dan dianugerahkan dengan haji mabrur, umrah mabrurah dan ziarah maqbulah. Namun di samping menunaikan haji, jangan pula lupa kepada rukun-rukun Islam yang lain, terutama sekali sholat 5 waktu. Amatlah malang jika seseorang yang dalam perjalanan menunaikan ibadah yang menjadi rukun Islam ke-5 untuk meninggalkan dengan sengaja akan rukun Islam lain yang lebih utama. Begitu juga dalam perjalanan kembalinya setelah menunaikan haji, bisakah mabrurnya haji seseorang yang meninggalkan sholat yang difardhukan dengan sengaja?

Maka al-‘Alim al-‘Allaamah al-Mufti al-Habib Utsman bin ‘Abdullah bin ‘Aqil BinYahya rahimahumUllah telah memberi ingatan dalam karya beliau “Irsyaadul Anaam” halaman 31 sebagai berikut:-

“… Istimewa pula jika tinggal sembahyang, samada laki-laki atau perempuan, maka rugi besar hingga berkata oleh setengah daripada ulama bahawa pahala 1000 kali haji tiada cukup buat menambal dosa tinggal satu fardhu sembahyang.”

Allahu …. Allah, moga Allah jadikan kita sekalian serta anak cucu kita hamba-hambaNya yang sentiasa menunaikan sholat yang difardhukanNya dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan.

http://bahrusshofa.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2009

Hijrah dari apa yang dilarang

Hijrah dari apa yang dilarang
Posted on Disember 19, 2009 by sulaiman
Muhajir (Orang yang berhijrah) ialah orang yang berpindah dari apa yang dilarang oleh Allah. (Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah). Tiada lagi hijrah setelah Nabi berhijrah dari Mekah ke Madinah kerana kedua-duanya telah menjadi negara Islam, yang tinggal cuma hijrah dari larangan kepada suruhan Allah.

Pindahlah dari tempat yang Allah tidak suka,. Dalam hadith disebut “Jauhkan (elakkan) diri kamu dari tempat yang orang boleh tuduh kamu tidak baik” (seperti berada di tempat yang boleh menimbulkan fitnah, contohnya di pub atau kelab malam).

Kita juga boleh berhijrah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk menyelamatkan agama kita dan agama anak isteri kita. Kita tidak boleh memberi alasan melakukan maksiat kerana disuruh oleh ketua atau orang atasan. Ini kerana Allah telah mengatakan “bumi ini luas”..berhijrahlah ke tempat lain sekiranya dipaksa melakukan maksiat.

Az-Zumar [10]….dan (ingatlah) bumi Allah ini luas (untuk berhijrah sekiranya kamu ditindas). Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah sahaja yang akan disempurnakan pahala mereka dengan tidak terkira.

Rasulullah s.a.w. juga bersabda “berhijrahlah kamu dari dunia dan isi kandungannya” (Riwayat Abu Naim Dari Sayyidatina Aisyah)

Hadith ini bukanlah melarang mencari harta dunia dan disuruh meninggalkan dunia bukanlah kerana ia keji, tetapi:

Disuruh meninggalkan dan menjauhkan diri dari harta yang haram.
Sebagai satu peringatan bahawa kekayaan itu boleh buat kita lupa daratan dan tidak selamat dari dosa, sebagaimana dalam hadith “Adakah orang yang berjalan di atas air tidak basah kedua kakinya, begitulah orang yang menyayangi dunia, tidak selamat ia dari beberapa dosa”.

Carilah dunia untuk ke akhirat. Islam tidak melarang kita mencari harta, cuma perlu berhati-hati. Orang Islam perlu dunia untuk sampai ke akhirat, seperti sampan perlukan air untuk bergerak. Jika air masuk ke dalam sampan, tenggelamlah sampan itu. Begitu juga dunia, jika ia sudah masuk ke dalam hati (terlalu kasihkan dunia), maka tenggelamlah manusia dalam dunia ini.

Tanamlah modal kebajikan di dunia untuk bawa pulang ke kampung akhirat sepertimana kita berhijrah ke kota misalnya ke Kuala Lumpur (KL) untuk mencari rezeki dan bawa pulang kepada ibubapa di kampung. Jangan jadi seperti penagih dadah yang lupa tujuan asalnya ke KL. Carilah pahala iaitu harta akhirat. Ramai orang lupa tujuan asalnya ke dunia seperti mana penagih dadah yang lupa tujuan asalnya berhijrah ke KL.

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2009

Wirid `Asyura – Syaikh Daud


Ini adalah antara zikir dan doa yang dijadikan amalan oleh sebahagian ulama kita pada hari ‘Asyura. Telah masyhur akan amalan ini dalam karya-karya ulama kita termasuklah dalam karya Mawlana Syaikh Daud al-Fathani rahimahUllah. Ini nukilan dari karya beliau “Kifaayatul Mubtadi wa Irsyadul Muhtadi”, halaman 35.Wirid `Asyura – Syaikh Daud .

Faedah yang `adhzimah yang nafisah disebut di dalam kitab “Jawaahirul Khamis” bagi Sayyidi Muhammad al-Ghawts RA: “Barangsiapa membaca pada hari ‘Asyura` 70 kali akan:
Dan dibaca pula kemudiannya doa ini 7 kali, nescaya tiada mati pada demikian tahun itu dan jika sudah hampir ajalnya nescaya tiada diberi tawfiq bagi membaca akan dia. Inilah doanya:-

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2009

Karbala` – Habib Ali

Karbala` – Habib Ali 10 Muharram, hari ‘Asyura kita disunnatkan berpuasa demi mencari keredhaan Allah dengan menuruti ajaran Junjungan Nabi s.a.w. Juga dengan harapan agar puasa tersebut menjadi kaffarah bagi dosa-dosa kita pada tahun lepas. ‘Asyura juga membawa kita mengenang perjuangan Imam Husain r.a. menentang pemerintahan yang zalim dan fasiq. Imam Husain telah gugur syahid dalam peristiwa Karbala’ yang masyhur yang sewajarnya diperingati untuk dijadikan teladan dalam memperjuangkan kebenaran hingga ke titisan darah yang terakhir. Jangan pulak korang kata ambo ini Syiah, INGATLAH bahawa Imam Husain adalah kekasih kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bagaimana kita tidak mencintai buah hatinya Junjungan Nabi s.a.w., hanya golongan munafik sahaja yang akan membenci dan memusuhi keluarga Junjungan Nabi s.a.w. yang mulia. Moga Allah menetapkan kemuliaan bagi segala keturunan Junjungan Nabi. Akibat pembantaian tentera Yazid, maka gugurlah sebagai syahid Imam Husain di Karbala`. Tidak cukup dengan dibunuh, penjenayah-penjenayah tersebut bertindak lebih biadap dengan memenggal kepala Imam Husain yang mulia agar jenazahnya tidak dikenali. Maka walaupun Imam Husain gugur syahid di padang Karbala`, hanya jasad baginda sahaja yang dimakamkan di sana bersama dengan pengikut-pengikut baginda, manakala kepala baginda yang mulia telah dibawa berkeliling beberapa kota sehingga kini bersemayam di Kota Kaherah. Dahulu pernah ada seorang ustaz (malas ambo nak sebut namanya) yang mengatakan bahawa tidak benar kepala Imam Husain dimakamkan di Kaherah. Sesungguhnya pendapat ini menyalahi pendapat kebanyakan ulama dan awliya’. Mufti Mesir, Dr. ‘Ali Jum’ah dalam “al-Bayan” halaman 319 – 321, menyatakan antara lain:- Ahli- ahli sejarah dan (keterangan) kitab-kitab sirah sepakat bahawa jasad Imam Husain r.a. dimakamkan di tempatnya di Karbala`. Adapun kepala baginda yang mulia, maka ianya telah dibawa berkeliling sehingga berhenti di ‘Asqalan – bandar perlabuhan Falestin – di tepi laut Mediterranean, yang hampir dengan pelabuhan – pelabuhan Mesir dan Baitul Maqdis. Keberadaan kepala baginda yang mulia di ‘Asqalan kemudian dipindahkan ke Mesir disokong oleh majoriti ahli-ahli sejarah dan tokoh-tokoh terkemuka, antaranya Ibnu Muyassar, al-Qalqasyandi, ‘Ali bin Abu Bakar yang dikenali sebagai as-Saayih al-Harawi, Ibnu Iyaas, Sibth al-Jauzi dan al-Hafiz as-Sakhaawi. ….. Dan telah menulis al-‘Allaamah asy-Syabrawi – mantan Syaikhul Azhar – sebuah kitab berjodol “al-Ittihaaf” mensabitkan dengan yakin bahawa kepala Imam Husain berada di makamnya yang terkenal di Kaherah. Beliau turut menyenaraikan ulama-ulama yang mensabitkan sedemikian, iaitu al-Imam al-Muhaddits al-Mundziri, al-Hafiz Ibnu Dihyah, al-Hafiz Najmuddin al-Ghaithi, al-Imam Majduddin bin ‘Utsman, al-Imam Muhammad bin Basyir, al-Qadhi Muhyiddin bin ‘Abdudzh Dzhahir, al-Qadhi ‘Abdur Rahim, ‘Abdullah ar-Rifaa’ie al-Makhzumi, Ibnu an-Nahwi, asy-Syaikh al-Qurasyi, asy-Syaikh asy-Syablanji, asy-Syaikh Hasan al-‘Adawi, asy-Syaikh asy-Sya’raani, asy-Syaikh al-Munaawi, asy-Syaikh al-Ajhuuri, Abul Mawahib at-Tunisi dan lain-lain lagi. Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim juga telah menulis berhubung perkara ini sebuah risalah dengan jodol ” Ra’sul Imam al-Husain bi masyhadihi bil Qahirah tahqiqan muakkidan hasiman ” yang penuh dengan dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang memuaskan hati. Berdasarkan kepada pemaparan tadi, tenanglah hati ini untuk berpegang dengan apa yang dipegang oleh kebanyakan ahli sejarah bahawa adalah kepala Imam Husain r.a. telah memuliakan Kaherah al-Mahrusah. Mari kita hayati kisah syahidnya Imam Husain sebagaimana dituturkan oleh Habib ‘Ali al-Jufri. Moga dapat diambil pengajarannya, menambahkan lagi rasa cinta kasih kepada keluarga Junjungan Nabi s.a.w., serta mengobarkan semangat jihad menentang kezaliman dan penindasan dalam jiwa kita.

http://bahrusshofa.blogspot.com/

Menyambut Muharram 1430 H

Ditulis oleh Admin di/pada 4 Januari 2009

Kalam Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiry

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Yang memiliki keagungan dan kemuliaan, Yang memiliki kekuatan dan kenikmatan, Yang memberikan karunia kepada kita dengan kenikmatan iman dan Islam, Yang menjadikan perputaran tahun sebagai sebab perpindahan manusia dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad, pemuka manusia yang terbaik dalam berhaji, bershalat dan berpuasa, dan juga kepada para keluarga dan para sahabatnya panutan umat.

Amma ba’du.

Bulan Muharram telah datang kepada kita. Dengan datangnya bulan yang penuh berkah ini, kita menyambut tahun baru 1430 H dan meninggalkan tahun sebelumnya 1429 H. Kita memohon kepada Allah untuk menjadikan datangnya tahun hijriyah ini sebagai datangnya kebaikan, keberkahan, kemenangan dan penguatan kepada Islam dan kaum muslimin, insya Allah.

Bulan Muharram adalah termasuk dari bulan-bulan haram. Disebutkan di dalam hadits Nabi SAW berkenaan dengan turunnya firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram” (QS. At-Taubah: 36)

bahwa yang dimaksud empat bulan haram tersebut adalah Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Juga disebutkan di dalam hadits yang lain bahwa paling utamanya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Muharram. Berpuasa satu hari di bulan Muharram menyamai puasa tiga puluh hari.

Oleh karena itu, seharusnya bagi kita untuk menyambut bulan yang penuh berkah ini dengan taubat nashuhah, dan berubah dari keadaan yang buruk yang pernah dilakukan sebelumnya menuju ke keadaan yang baik.

Bulan Muharram ini dijadikan patokan sebagai awal tahun untuk penanggalan hijriyah yang baru, meskipun sesungguhnya peristiwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, akan tetapi bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Hal itu terjadi pada tahun ke -17 H, pada masa khalifah Umar bin Khatthab ra. Di saat itu para sahabat bersepakat menjadikan bulan Muharram sebagai awal bulan dalam penanggalan hijriyah dikarenakan berbagai pertimbangan, di antaranya, bahwa bulan Muharram adalah bulan yang tiba sesudah kewajiban haji yang manusia dari berbagai penjuru menunaikannya. Pertimbangan yang lain yaitu bahwa bulan Muharram adalah bulan yang di dalamnya tercetus ketekadan berhijrah dimana manusia saat itu atau para sahabat Rasulullah SAW bertekad untuk berhijrah. Munculnya tekad dalam kaitannya dengan hijrah yang ke Habasyah dan juga ke Madinah ini terjadi pada bulan Muharram. Sehingga dengan pertimbangan-pertimbangan itulah bulan Muharram dijadikan sebagai bulan pertama dalam penanggalan hijriyah.

Seharusnya pada bulan Muharram ini kita mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan tekad kuat, usaha keras dan amal-amal kebajikan, serta menjadikan pada setiap tahunnya lebih baik daripada tahun yang sebelumnya. Karenanya seseorang pernah berkata,

“Wahai pemalas, betapa banyak engkau mengulur-ulur
taubatmu dari tahun ke tahun
dan engkau tidak tahu pada tahun manakah
yang mendatangimu sebagai tahun yang penuh kekurangan ataukah kesempurnaan”

Seputar bulan Muharram ini banyak manusia memperingati peristiwa besar, yaitu hijrah Nabi SAW dari kota Mekkah menuju ke kota Madinah. Dalam hal ini, istilah hijrah mengandung dua makna: yaitu hijrah hissiyah dan hijrah ma’nawiyyah.

Adapun hijrah ma’nawiyyah adalah manusia meninggalkan kemaksiatan dan bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, berubah dengan cara kehidupan yang baru dan menuju jalan kehidupan yang baru yang membawanya, dengan tekad kuat, usaha keras dan amal-amal kebajikan. Inilah yang dinamakan dengan hijrah ma’nawiyyah. Nabi SAW menunjukkan hal ini pada Hadits Shahih yang menyebutkan,

“Seorang muslim adalah yang menjadikan kaum muslimin aman dari lisan dan tangannya. Dan seorang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari apa-apa yang dilarang Allah atasnya”

Adapun hijrah hissiyah adalah berpindahnya manusia dari suatu tempat ke tempat lain, yaitu berpindahnya manusia dari tempat kekufuran dan kesyirikan menuju ke tempat yang Islami. Hijrah dengan makna ini terbagi menjadi dua bagian:

1. hijrah yang telah berlalu dan selesai, yaitu hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah dimana saat itu merupakan tempat yang penuh kekufuran dan kesyirikan, menuju ke kota Madinah Al-Munawwarah. Hijrah yang seperti ini telah berakhir dengan Fath Mekkah (peristiwa pembukaan kota Mekkah), dimana Rasulullah SAW berkata,

“Tidak ada hijrah setelah Fath (Mekkah)”

2. hijrah yang sampai sekarang selalu ada, yaitu hijrahnya manusia dari suatu tempat kekufuran dan kerusakan dimana kaum muslimin tidak sanggup untuk berdiam disana dalam rangka melaksanakan agamanya dan mendidik anak-anaknya diatas ajaran Islam. Di saat itulah wajib baginya untuk berhijrah menuju ke suatu tempat yang Islami yang memungkinkan disana untuk melaksanakan agamanya. Hjrah dengan makna ini sampai sekarang masih tetap ada. Setiap muslim yang tinggal di tempat kekufuran, jika ia masih mampu melaksanakan agamanya dan mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islam yang benar, maka tidak jadi masalah ia tetap bermukim disana. Akan tetapi, jika ia tidak mampu melaksanakan ajaran Islam di tempat tersebut, maka wajib baginya untuk berhijrah ke tempat yang Islami sehingga ia mampu melaksanakan ajaran agama Islam disitu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.’ Mereka menjawab, ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).’ Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.’ “ (QS. An-Nisa’: 97).

Inilah makna istilah hijrah. Dan hijrah yang paling agung yang tercatat dalam sejarah adalah hijrahnya Nabi SAW. Selanjutnya adalah hijrahnya para nabi dan rasul. Tercatat di dalamnya adalah hijrahnya Nabi Ibrahim dari Mesir menuju Palestina, dan hijrahnya Nabi Musa dari Mesir menuju Madyan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah,

“Dan Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ “ (QS. Ash-Shaaffaat: 99)

dan ayat-ayat lain yang membicarakan tentang hijrahnya kaum Muhajirin. Istilah kaum Muhajirin sendiri adalah suatu julukan bagi para sahabat yang ikut berhijrah dari Mekkah menuju kota Madinah. Sedangkan bagi para sahabat yang berdiam di kota Madinah disebut dengan kaum Anshar. Dan mereka semua adalah dalam kebaikan dan petunjuk.

Maka sudah seharusnya pada bulan Muharram ini kita menyebarkan kisah tentang hijrahnya Nabi SAW. Disebutkan tentang hijrahnya beliau SAW terjadi pada malam Kamis, hari pertama dari bulan Rabi’ul Awwal. Saat itu berkumpulnya (kaum musyrikin) untuk menghabisi Nabi yang mana direncanakan dengan matang pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar, yaitu pada tanggal 29 Safar. Malam harinya, yaitu malam Kamis awal dari bulan Rabi’ul Awwal, Nabi SAW berhijrah menuju kota Madinah dan sampai disana pada hari ke-12 Rabi’ul Awwal. Kisah ini banyak diceritakan di dalam kitab-kitab sejarah.

Pada bulan Muharram ini juga banyak terjadi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah yang membawa kegembiraan dan kesedihan. Terlalu panjang untuk diceritakan (disini), akan tetapi yang paling besar sepanjang sejarah, yang menghancurkan hati dan menangiskan kalbu, adalah peristiwa syahidnya sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib ra di Karbala pada hari Asyura’, yakni hari ke-10 bulan Muharram. Dan sampai sekarang pun masih terkenang bekas-bekas perbuatan keji yang dilakukan oleh Yazid bin Muawiyah dan kroni-kroninya. Semoga Allah membalas orang-orang yang berbuat hal itu dengan keadilan-Nya, bukan dengan kemurahan-Nya. Adapun hakikatnya, sesungguhnya sayyidina Husain tidaklah mendapatkan kecuali kesyahidan, kemuliaan yang agung dan derajat yang tinggi di surga. Semoga Allah meridhoinya dan juga orang-orang mati syahid bersamanya daripada keluarganya semuanya.

Dan pada hari Asyura’ disunnahkan untuk berpuasa, sebagaimana sabda Nabi SAW,

“Berpuasa pada hari Asyura’ menghilangkan dosa-dosa setahun sebelumnya.”

Puasa Asyura’ ini sebelumnya merupakan suatu puasa wajib berdasarkan sumber-sumber Islam yang paling kuat, kemudian di-naskh (diganti) dengan puasa Ramadhan.

Pada hari Asyura’ ini seharusnya juga memberikan kelapangan pada keluarga karena Nabi SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya,

“Barangsiapa memberikan kelapangan kepada keluarganya pada hari Asyura’, Allah akan memberikan kelapangan padanya sepanjang tahun.”

Setiap amal kebajikan yang dituntut pada setiap waktu, juga dituntut pada hari-hari yang suci, dan diantaranya adalah hari Asyura’ tanpa terkecuali. Akan tetapi yang paling utama untuk hal itu adalah puasa dan memberikan kelapangan kepada keluarga sebagaimana yang hadits-hadits shahih mengkhususkannya. Dan sudah seharusnya bagi seorang mukmin untuk melakukannya dengan penuh semangat. Disamping itu seharusnya seorang mukmin juga menambahkan amal-amal kebajikan, seperti menyambung silaturrahmi, bersedekah, mengusap kepala anak yatim, dan juga berziarah kepada orang-orang yang mempunyai keutamaan dan ilmu.

Kita memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala pada seputar tahun ini untuk melimpahkan kepada kita kebaikan, keberkahan, kemenangan dan penguatan kepada Islam dan kaum muslimin, insya Allah.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Dan segala puji bagi Allah penguasa alam semesta.

[Diterjemahkan dari http://rubat-tareem.net/?ID=524%5D

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2009

Meneroka makna hijrah

Meneroka makna hijrah

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

sambutan tahun baru Hijrah sepatutnya memperkukuh usaha umat Islam mencapai kejayaan yang lebih cemerlang.

——————————————————————————–

SEMPENA meraikan tibanya tahun baru Hijrah 1431, ruangan ini menangguhkan dahulu siri tulisan mengenai persoalan tauhid tiga serangkai yang sudah memasuki siri keempat sebelum ini.

Alhamdulillah, nampaknya perbincangan tajuk tersebut di ruangan ini mendapat perhatian dan turut dipanjangkan di ruang-ruang lain.

Selain ramai yang menghargai kerana jarang-jarang didapati tajuk tersebut dibahaskan secara kritikal begitu, ada juga yang keras menyanggah pandangan dan pendekatan kami.

Kami tidaklah terkejut dengan reaksi sebegini kerana sedia maklum memang ada di kalangan kita, individu dan kelompok yang sudah bertaklid kepada aliran yang penuh komited terhadap pemisahan antara tauhid rububiah dan uluhiah.

Mereka mungkin sukar menerima mana-mana pandangan yang tidak selari dengan aliran atau mazhab yang menjadi tumpuan dan dokongan mereka.

Selain daripada mereka ini mungkin di sana ada juga sebahagian anggota masyarakat yang sudah terbiasa dengan penggunaan istilah tauhid kepada uluhiah, rububiah dan asma wa sifat dalam apa yang telah mereka baca dan dengar.

Mungkin agak janggal bagi mereka mendengar kritikan dan sanggahan terhadap istilah yang sudah terbiasa bagi mereka. Pihak kami maklum dengan realiti ini dan akan cuba membuat jawapan dan penjelasan yang seadil dan secukupnya terhadap pelbagai sudut persoalan tersebut dalam kesempatan-kesempatan mendatang, insya-Allah.

Benar dan salah tidaklah ditentukan oleh yang mana lebih lantang dan agresif. Sering berlaku kegagalan kita bersabar dan bertertib dalam pencarian kebenaran akhirnya menyebabkan kita gagal menemukannya.

Memang menjadi hasrat kami agar persoalan tauhid tiga serangkai ini mendapat perhatian yang lebih dan lebih analitikal dalam masyarakat kita agar kita dapat menjauhi fahaman dan tafsiran yang tidak sesuai dengan faham tauhid yang murni dalam Islam.

Alhamdulillah, kita diizinkan Allah SWT untuk memasuki tahun hijrah yang baru. Umat Islam menyambutnya dengan cara yang berbeza. Ada yang hanya menyedari ketibaannya kerana ia ditentukan sebagai cuti umum.

Ramai juga yang menyambutnya dengan mengatur pelbagai majlis dan acara termasuk berkumpul di masjid dan surau dengan pengisian seperti bacaan doa akhir dan awal tahun, bacaan al-Quran, selawat dan tazkirah.

Semoga Allah SWT menerima niat baik dan doa-doa mereka yang tentunya merangkumi kebajikan dan kesejahteraan negara dan umat Islam seluruhnya dalam tahun baru ini.

Kepekaan terhadap peredaran masa dan zaman memang suatu tuntutan Islam. Penggantian tahun dalam kalendar Islam turut diraikan kerana ia terkait dengan suatu peristiwa besar dalam sirah junjungan kita, Nabi Muhammad SAW iaitu peristiwa Hijrah.

Hijrah memang mengandungi pelbagai makna dan erti. Sudut yang sering mendapat sorotan ramai adalah peralihan fasa risalah Islam daripada dakwah kepada fasa dawlah atau pembinaan negara.

Tanpa menafikan kepentingan dimensi luaran peristiwa ini, adalah perlu diinsafi bahawa hijrah luaran dan fizikal ini tidak akan berhasil dan bermakna tanpa disertai hijrah rohani dalam hati dan jiwa umat.

Hakikat ini ditegaskan dalam sabda Nabi SAW dalam hadis yang masyhur mengenai niat dan amalan, “Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh niat, dan bagi seseorang itu apa yang diniatkannya. Maka sesiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan sesiapa yang berhijrah kepada dunia yang ingin diperolehinya atau wanita yang ingin dikahwininya maka hijrahnya adalah kepada apa yang menjadi maksud hijrahnya”.

Sangat jelas dalam hadis ini yang merupakan antara induk segala hadis bahawa sebesar mana pun amalan agama seseorang itu, penentunya adalah niat dan maksud dalaman di sebalik amalan tersebut.

Hijrah Nabi SAW adalah episod yang begitu hebat dan sangat menentukan kerana ia adalah suatu projek keagamaan yang dijayakan oleh sekelompok insan agung yang memiliki hati paling suci dan ikhlas di bawah pimpinan penghulu para mukhlisin, Nabi Muhammad SAW.

Menyedari hakikat ini, janganlah dimensi kerohanian ini diabaikan dalam kita menyambut Maal Hijrah. Dimensi Islam, iman dan ihsan dalam agama kita sentiasa utuh dan terkait.

Tidak hairanlah, dalam salah satu karya terbesar dalam dunia kerohanian dan tasauf iaitu kitab Al-Hikam oleh Sheikh Ibnu ‘Atoillah al-Sakandari, hadis ini dan persoalan hijrah dalaman ini ada dinukilkan dan dihuraikan pula oleh para ulama tasauf yang mensyarahkan kata-kata hikmah tersebut.

Sheikh Ibnu ‘Atoillah al-Sakandari menegaskan perlunya berlaku hijrah dalam diri kita keluar daripada keterikatan dengan alam-alam (kawn/ akwan) menuju kepada Sang Pencipta alam (Al-Mukawwin).

Beliau berkata: “Janganlah kamu bergerak dari satu alam hanya ke satu alam yang lain maka jadilah kamu seperti keldai pengisar yang berjalan di sekitar pengisarnya sahaja; tempat tujuan perjalanannya sama dengan tempat asal perjalanannya.

“Tetapi hendaklah kamu bergerak (berpindah) dari semua alam kepada Sang Pencipta alam. Sesungguhnya kepada Tuhanmulah puncak segala tujuan”.

Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, “Dan sesiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya …(hingga akhir hadis)”

Inti kepada peringatan Sheikh Ibnu ‘Atoillah al-Sakandari ini adalah agar kita membulatkan keikhlasan kita kepada Allah SWT dalam segala amalan kebaikan kita.

Tumpuan hati kita dalam beribadat adalah keredaan Allah SWT semata-mata. Hendaklah dielakkan ingatan kepada yang selain Dia hatta terhadap soal perhatian dan pandangan mulia oleh makhluk, karamah, ganjaran pahala, mahligai atau bidadari syurga walaupun ini adalah sunnah Ilahi bagi mereka yang bertakwa.

Kesemua perkara ini hakikatnya masih merupakan alam dan makhluk. Kita masih belum berhijrah menuju Allah SWT dengan sebenar-benarnya jika masih terikat tumpuan kepada alam dan makhluk.

Dalam ilmu tasauf, kalimah al-aghyar yang berakarkan kata ghayr yang bermakna ‘selain’ sering digunakan kepada segala sesuatu yang selain daripada Allah SWT untuk menjelaskan maksud prinsip ini.

Harus diingat bahawa sesungguhnya Allah SWT itu amat cemburu. Dia tidak suka dan reda jika seseorang yang menuntut-Nya turut mencari sesuatu yang selain Dia di samping-Nya.

Oleh itu, tidak akan sampai kepada-Nya seseorang yang masih terdapat di hatinya keinginan hawa nafsunya.

Salah seorang ulama yang terkenal dengan syarahnya terhadap Hikam Ibnu ‘Atoillah, Sheikh Ibnu ‘Ajibah ada menyebut bahawa seseorang yang berjalan dari satu alam ke satu alam yang lain ialah orang yang berjalan dari selain Allah kepada selain Allah juga.

Seseorang yang zuhud di dunia tetapi menuntut kerehatan badan dan perhatian dunia kepadanya masih termasuk dalam golongan ini

Hijrah dalam erti kata ini juga bolehlah dirumuskan sebagai berpindah dari tiga negeri kepada tiga negeri iaitu:

lDari negeri maksiat ke negeri taat.

lDari negeri kelalaian ke negeri kesedaran.

lDari alam asybah (jasad) ke alam arwah (roh).

Sheikh Ibnu ‘Ajibah juga meriwayatkan pesanan gurunya bahawa jika kita hendak menilai sama ada kita sedang benar-benar berpindah dari alam dunia menuju alam malakut atau tidak, kita hendaklah membentangkan segala keinginan dan kecenderungan kita satu persatu.

Jika kita mendapati bahawa kita telah meninggalkannya dan perasaan kasih terhadap kesemuanya telah keluar daripada hati kita maka barulah kita boleh bergembira.

Mengeluarkan kecintaan dan keinginan terhadap selain Allah SWT bukanlah suatu yang mudah dan akan terjadi dengan sendiri. Ia menuntut keazaman, kesungguhan, perancangan, panduan dan bimbingan.

Satu perkara yang tidak harus luput daripada perhatian kita dalam merenungi hijrah adalah bagaimana peristiwa tersebut menagih perancangan, keperitan dan pengorbanan yang tinggi daripada Rasulullah SAW dan generasi awal Islam yang merupakan generasi para kekasih Allah.

Jika mereka yang paling dikasihi Allah ini pun terpaksa bersusah payah merancang dan berkorban demi mendaulatkan Islam, maka sudah tentu kita hari ini perlu bersedia untuk berkorban dan berjerit-payah jika kita benar-benar serius dengan agama kita.

l(Rujukan utama: kitab Cahaya yang Lurus: Syarah Hikam Sheikh Ibnu ‘Atoillah al-Sakandari oleh Sheikh Muhammad Fuad bin Kamaludin al-Maliki (Kuala Lumpur, Sofa Production, 2007)

Posted by: Habib Ahmad | 14 Disember 2009

Jadwal Kunjungan Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz di Indonesia

Rencana Jadwal Kunjungan Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz di Indonesia

Kamis, 31 Desember 2009
§ Tabligh Akbar di Senayan

Jumat, 1 Januari 2010
§ Khutbah di Al Hawi
§ Ashar – kunjungan di kediaman Habib Zen Umar Smith
§ Maghrib – kunjungan di kediaman Alm. Habib Umar Mulachela – Kemang

Sabtu, 2 Januari 2010
§ Pagi – Kunjungan ke Rabithah Alawiyah
§ Kunjungan ke rumah Habib Muhamad bin Husin al Hamid
§ Ashar – di Luar Batang
§ Maghrib – rauhah di Cidodol

Minggu, 3 Januari 2010
§ Pagi – Haul di Cidodol
§ Sore – kunjungan ke tempat Habib Jindan di Al Fakhriyah

Senin, 4 Januari 2010
§ Pagi – kunjungan ke tempat Habib Husin bin Ali Alatas
§ Dzuhur – kunjungan ke tempat Habib Ali Sewoon
§ Maghrib – kunjungan ke tempat Habib Mundzir al Musawa

Selasa, 5 Januari 2010
§ Pagi – Ijtima Ulama di Jakarta
§ Multaqo Ulama di Bogor

Rabu, 6 Januari 2010
§ Wisma DPR – Puncak

Kamis, 7 Januari 2010
§ Pagi – penutupan mulataqo
§ Ashar – di Empang Bogor
§ Isya – kunjungan ke tempat Habib Abdurrahman bin Syekh Alatas

Jumat dan Sabtu, 8 dan 9 Januari 2010
§ Surabaya, langsung menuju Malaysia

*) Jadwal dapat berubah sewaktu-waktu

Posted by: Habib Ahmad | 14 Disember 2009

Sambutan Maal Hijrah 1431

Sambutan Maal Hijrah 1431H
Event DetailsTime: December 17, 2009 from 6:30pm to 10pm
Location: Masjid Baitul Aman, Jalan Damai Kuala Lumpur
Street: Jalan Damai
City/Town: Kuala Lumpur
Event Type: majlis, sambutan, maal, hijrah

Event DescriptionSambutan Maal Hijrah 1431 di MAsjid Baitul Aman, Kuala Lumpur, Anjuran Shabab Al-Asyraaf

Dimulai dengan Doa Akhir Tahun
Solat Maghrib
Doa Awal Tahun
Tahlil
Solat Isya’
Bacaan Maulid Simtuddhurror
Bacaan Qasidah

Sumber : assadah.ning

Posted by: Habib Ahmad | 14 Disember 2009

Tarikat Ahlul Bait 2

Tarikat Ahlul Bait 2

Oleh:
Habib Hasan bin Mohammad Al-Attas
http://www.shiar-islam.com
NABI S.A.W. ASAS TARIKAT AHLUL BAIT.

Pernah ketika seruan Islam telah mendapat kejayaan yang cemerlang, dan kekayaan ummat Islam telah melimpah ruah. Ketika itu Umar ibnu Khattab datang berziarah kerumah Nabi s.a.w.. Umar mendapati Nabi s.a.w. sedang tidur diatas sehelai tikar dari jalinan daun kurma, sehingga berbekas bahagian tubuh baginda ketika tidur ditikar tersebut. Keadaan dirumah Rasulallah S.A.W. amat sederhana, tiada perhiasan, tiada perkakas mewah, dan yang tegantung didinding, guriba tempat air, sebagai persediaan ketika nabi s.a.w.berwudhu’.

Saidina Umar amat terharu, sehingga bercucuran air matanya, Rasulallah s.a.w. menegur Umar:” Apa yang menyebabkan air matamu bercucuran wahai Umar ? Umar menjawab ”Bagaimana saya tidak terharu ya Rasulallah, hanya begini keadaan yang kudapati dalam rumah tuan, tiada perabot rumah, tiada kekayaan, padahal seluruh kunci masyrik dan magrib telah tergenggam ditangan tuan dan kekayaan telah melimpah ruah.

Nabi s.a.w. menjawab:”Aku ini adalah Pesuruh Allah. Aku ini bukanlah seorang Kaisar dari Romawi atau seorang Kisra dari Parsi, mereka menuntut dunia, dan aku menuntut akhirat.”

Pada suatu hari Jibril datang menemui Rasulullah s.a.w. dan menyampaikan salam Allah s.w.t. kepada Nabi s.a.w. seraya bertanya:” Mana yang engkau suka ya Muhammad, menjadi seorang Nabi yang kaya raya seperti Nabi Sulaiman a.s. atau menjaadi Nabi yang menderita papa seperti Nabi Ayyub a.s.. Nabi menjawab: “Aku lebih suka kenyang sehari dan lapar sehari.” Jika kenyang aku bersyukur pada Tuhanku, Jika lapar aku bersabar atas cobaan Tuhanku.”

Pernah disatu hari ketika Nabi s.a.w. tidur keletihan diatas sehelai tikar daun kurma, sehingga berbekas pada tubuh Baginda. Ibnu Mas’ud seorang sahabat setia kepada Nabi s.a.w. mencucurkan air matanya, karena seorang yang memiliki hampir seluruh Jazirah Arab dan dimuliakan Allah s.w.t., demikian keadaan Nabi s.a.w. kehidupannya Nabi s.a.w. yang sangat sederhana, lalu Ibnu Mas’ud ingin mencarikan bantal, untuk Nabi meletakkan kepalanya. Nabi melihat kepada Ibnu Mas’ud, seraya bersabda: “Tidak ada hajatku untuk itu, aku ini seumpama seorang musafir ditengah-tengah padang pasir yang luas dalam panas terik yang bukan kepalang. Aku menemui sebuah pohon yang rindang. Oleh karena aku letih, aku rebahkan diriku sesaat untuk istirahat dengan niat kemudian aku berjalan lagi kembali menuju tujuanku menemui Tuhanku (Pengantar Ilmu Tharikat oleh:H.Abubakar Aceh).

Demikianlah kehidupan Nabi s.a.w., sebagai seorang sufi, dan menjadi contoh teladan dan menjadi amalan Ahlul Bait dan diamalkan pula oleh zuriat mereka sedaya upaya mereka. Meskipun mereka memiliki harta kekayaan yang melimpah ruah, kehidupan mereka tetap sederhana, dan kekayan mereka itu mereka gunakan dijalan Allah, menolong fakir miskin, yatim piatu, dan mereka yang memerlukan pertulungan lainnya, bukannya hanya untuk kepentingan diri peribadi sahaja.

Jika kita mengamalkan tarikat ahlul bait Rasulullah s.a.w., maka kita mestilah sanggup membuktikan bahwa, segala apa yang kita miliki, baik Imu Pengetahuan, harta kekayaan yang kita kumpulkan, dan lain-lainnya, digunakan disamping keperluan diri dan keluarga, juga digunakan untuk kepentingan Islam dan ummat seluruhnya. Semua harta kekayaan dan kemewahan hidup, disatu masa akan kita tinggalkan yang menemani kita di alam Barzah dan diakhirat nanti, hanyalah apa yang telah kita gunakan di jalan Allah.

Allah berfirman:

( يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ) [الشعراء: 88]

“(yaitu) di hari harta dan anak-anakmu tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (al-Syu’ara`: 88).

Rasulallah s.a.w. sebelum menghadapi pekerjaan besar yang menggemparkan dunia, baginda telah melatih dirinya dalam kehidupan kerohanian. Sebelum Nabi s.a.w.dilantik sebagai Pesuruh Allah, baginda suka menyisihkan diri, sendirian di gua hira’ baginda melakukan ibadah, bertafakkur, berdo’a dan berzikir semata-mata mengingat Allah dengan ikhlas dan sempurna, sehingga terputus hubungan dengan yang lainnya selain Allah s.w.t.

Ketika itu turunlah wahyu yang pertama :

( ِاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ. خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ. الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ) [العلق:1-5]

Maksudnya:

” Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang menjadikan. Menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mulia, yang mengajarkan manusia dari Qalam. Mengajarkan manusia apa yang mereka belum mengetahuinya.”

(al-Alaq: 1-5)

Sendi kekuatan Nabi s.a.w.adalah dalam hidup kerohanian dijalan Allah, sebagai kekuatan bathin. Kehidupan beliau ini menjadi contoh teladan dan dilanjutkan pula oleh Ahlul Bait (keluarga Nabi s.a.w.) dan keturunan Nabi s.a.w. lainnya, semampu mereka.

FATIMAH AZZAHRA

Beliau dijuluki Saydatun Nisa`i al-Alamin. Ayahnya Muhammad SAW, ibunya Khatidah al-Kubra. Dilahirkan di Makkah pada Jum’at Jumada Tsani. Wafat pada hari Selasa 3 Jumada Tsani tahun 11 Hijrah. Dimakamkan di Baqi, Madinah. Mempunyai 2 anak laki-laki (Hasan dan Husein) dan 2 anak perempuan (Zainab dan Ummu Kultsum).

Siti Fatimah Azzahra putri kesayangan Rasullallah s.a.w., hidup zuhud dan tekun beribadah, karena pengabdiannya kepada Allah s.w.t adalah menjadi contoh teladan bagi seluruh ummat Islam. Karena pengabdian dan penyerahan dirinya kepada Allah s.w.t. maka beliau terkenal dengan sebutan “Al-Batul” orang yang sangat tekun beribadah.

Asma binti Umais, berkata:”Pada suatu hari aku berada dirumah siti Fatimah. Ketika itu siti Fatimah memakai seuntai kalung pemberian suaminya Imam Ali bin Abi Thalib, hasil pembahagian barang ranimah yang diterimanya. Ketika itu Rasulallah s.a.w. datang kerumah Fatimah. Ketika Rasulallah s.a.w. melihat kalung yang dipakainya, baginda bersabda:” Hai anakku, apakah engkau bangga disebut orang putri Muhammad, sedangkan engkau sendiri memakai jababirah?” (perhiasan yang biasa dipakai wanita bangsawan.)” Pada waktu itu juga, siti Fatimah melepaskan kalungnya untuk dijual. Hasil penjualan kalung tersebut ia membeli seorang hamba sahaya yang kemudian hamba sahaya itu dimerdekakannya. Ketika Rasulallah s.a.w. mendengarnya, baginda sungguh gembira.

Alhasan putra siti Fatimah Azzahra mengatakan:”Tiap malam Jum’at aku melihat ibuku berada di mihrabnya. Ia terus menerus beruku’ dan bersujud hingga cahaya pagi mulai terang. Aku juga mendengar ibuku selalu berdo’a untuk seluruh mukminin dan mukminat, menyebutkan sebahagian nama-nama mereka dan banyak berdoa’ untuk mereka. Ia tidak berdoa apa-apa untuk dirinya sendiri. Aku pernah bertanya :”Apa sebab ibu tidak berdo’a bagi diri ibu sendiri ? Seperti ibu berdoa untuk orang lain? Ibu hanya menjawab:”Tetangga dulu, baru keluarga sendiri……”6

Seorang ahli sufi terkenal Hasan Al-Basri pernah mengatakan:” Dalam ummat ini, tidak ada wanita yang tekun beribadah, melebihi Siti Fatimah Azzahra, ia terus menerus solat hingga kakinya bengkak.”7

ALI BIN ABI THALIB

Kehidupan Zuhudnya

Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib dijuluki Abu al-Hasan atau Abu Thurab, ibunya Fatimah binti Asad. Dilahirkan di Makkah, hari Juma’at 13 Rajab. Wafat dalam usia 63 tahun pada malam Jum’at 21 Ramadan 40 H, ditikam oleh Abdurrahman ibnu Muljam. Dikebumikan di Najaf as-Syarif.

Saidina Ali bin Abi Thalib k.w. dibesarkan dalam asuhan Rasulallah s.a.w; beliau adalah pemuda yang pertama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad s.a.w. Ketika baginda diangkat sebagai Nabi dan Rasul pada hari Isnin, keesokan harinya Imam Ali bin Abi Thalib memeluk Islam, ketika itu usia Imam Ali 10 tahun. Siti Khadijah wanita yang pertama masuk Islam (sila rujuk buku Imamul Muhtadin Saidina Ali bin Abi Thalib k.w., karangan H.M.Al Hamid Al-Husaini, hal 37-41)

Tentang Dunia dan Kehidupan di Dalamnya.

……. Didalam surat Imam Ali k.w. yang dikirimkan kepada Utsman bin Hunaif al-Ansari belliau mengingatkan Utsman bin Hunaif antara lain :”Demi Allah tiada secuil emas atau perak dari dunia kamu, yang pernah kusimpan. Tidak ada harta apapun darinya pernah kutabung. Tiada sepotong bajupun telah kusiapkan pengganti pakaianku yang lusuh. Tiada sejengkal tanahpun yang kumiliki. Dan tiada kuambil untuk diriku lebih dari makanan seekor keledai yang renta. Sungguh dunia ini dalam pandanganku lebih rapuh dan lebih remeh daripada sebatang ‘afshah ( sejenis tumbuhan yang pahit buahnya.)

………..Wahai dunia, pergilah kemana saja kau kehendaki. Aku telah melepaskan diri dari cengkeramanmu, mehindar dari perangkapmu, dan menjauh dari jurang kehancuranmu. Dimanakah kini orang-orang yang pernah kau tipu dengan permainanmu ? Dimanakah bangsa-bangsa yang telah kau perdayakan dengan hiasan-hiasanmu ? Itulah mereka yang tergadai dalam kuburan sebagai pengisi lubang-lubang lahad !

Demi Allah seandainya kau –wahai dunia- adalah manusia yang tampak nyata, berjiwa berperasaan, niscaya akan kulaksanakan hukuman atas dirimu, sebagai balasan atas hamba-hamba yang telah kau kelabui dengan angan-angan kosong. Atau bangsa-bangsa yang kau jerumuskan kedalam jurang-jurang kehancuran. Atau raja-raja yang kau halau kedalam kebinasaan dan kau masukkan kepusat-pusat bala’ dan kesulitan, tanpa kesempatan untuk kembali lagi. Sungguh barangsiapa menjejakkan kakinya dijalanmu pasti akan tergelincir. Barangsiapa berlayar disamuderamu pasti akan tenggelam. Adapun mereka yang berkelit dari jeratan tali-talimu, pasti akan berjaya. Dan orang yang selamat darimu tak kan peduli betapun sempit kediamannya. Baginya dunia hanya sebagai hari yang hamper berlalu.

Aku bersumpah demi Allah, kecuali bila Ia menghendaki yang lain, benar-benar aku akan melatih nafsuku dengan seberat-berat latihan sehingga membuatnya sangat bersukacita, bila berhasil melihat sekerat roti untuk makanannya, dan merasa puas dengan secuil garam sebagai lauknya. Dan akan kujadikan mataku kering kehabisan airnya laksana mata air yang telah surut sumbernya.

Berbahagialah setiap jiwa yang telah menunaikan kewajiban terhadap Tuhannya, dan bersabar dalam pendritaannya. Menolak lelap matanya dimalam hari, sehingga apabila kantuk telah menguasainya, ia jadikan tanah tempat berbaring dan tangannya sendiri sebagai bantal. Merasa betah ditengah sekelompok hamba-amba Allah yang sentiasa terjaga dimalam hari karena resah memikirkan tempat mereka dikembalikan kelak. Tubuh mereka jauh dari pembaringan, bibir mereka berguman berzikir dengan nama Tuhan-Nya, sehingga dosa mereka lenyap disebabkan istirfar yang berkepanjangan……..Mereka itulah Hisbullah, dan sesungguhnya Hisbullah itulah orang-orang yang beroleh kejayaan…(QS 58:22). Bertaqwalah kepada Allah wahai ibn Hunaif, cukupkan dirimu dengan beberapa kerat roti saja agar kau diselamatkan dari jilatan api neraka ! ( Mutiara Nahjul Balagah :Muhammad al- Baqir ; hal:95-96)

Kehidupan Imam Ali adalah kehidupan Zuhud orang yang mengenal Allah, bukannya Zuhud karena terpaksa ataupun zuhudnya orang yang berputus asa. Saidina Ali k.w.,mengingatkan kita semua:”Janganlah ada seorang diantara kamu yang mengharap selain keridhaan Allah s.w.t. dan janganlah takut selain kepada perbuatan dosa…” beliau juga mengingatkan:”Barangsiapa yang baik bathinnya, Allah pasti menjadikan baik lahirnya”. “Sabar adalah keberanian……”Hindarilah soal-soal yang dapat mendatangkan kesedihan dengan kekuatan tekad bersabar dan dengan keyakinan yang baik.”Hendaklah kamu sentiasa bertakwa kepada Allah dengan ketaqwaan seorang yang berakal, dan hatinya senantiasa sibuk berfikir. Bertaqwalah seperti ketakwaan orang yang bila mendengar kebenaran ia menundukkan kepala, bila berbuat kesalahan ia mengaku, bila merasa takut karena kurang berbuat kebajikan ia segera berbuat kebajikan, dan bila telah sadar dari kesalahan, ia segera bertaubat.

Imam Ali k.w. orang yang paling tekun beribadah. Pada dahinya terdapat kulit tebal kehitam-hitaman menandakan banyaknya sujud yang dilakukan siang dan malam. Diwaktu malam, digunakannya untuk banyak-banyak menunaikan solat sunnah, mendekatkan diri kepada Allah dengan perasaan rendah, tunduk dan khusyu’. Dengan ketekunannya beribadah seperti itu imam Ali menjadi orang yang berakhlak mulia, berperangai lembut, dan berperilaku halus.8

Siap Berkorban Apa Saja Untuk Jalan Allah

Memandangkan ancaman musuh menjadi-jadi, maka Abu Thalib (ayahanda Imam Ali bin Abi Thalib) merasa kuatir atas keselamatan Nabi s.a.w., oleh itu beliau selalu berpesan supaya anandanya Ali k.w. supaya sentiasa menemani Nabi s.a.w, terutama sekali bila keadaan gawat. Oleh karena itu untuk menghindari penculikan atau pembunuhan yang mungkin dilakukan secara tiba-tiba dimalam hari, maka Abu Thalib mengarahkan anandanya Ali bin Abi Thalib, tidur ditempat tidur Rasulallah s.a.w. Sesuai dengan pesanan ayahandanya sebelum wafat, Imam Ali bin Abi Thalib, terutama pada malam Hijrah, Imam Ali secara sukarela tidur, ditempat tidur Rasulallah s.a.w.9

Banyak kata-kata nasihat yang ditinggalkan oleh saidina Ali bin Abi Thalib antaranya beliau berkata:” Barangsiapa yang memperbaiki bathinnya, Allah akan memperbaiki lahirnya. Barangsiapa berbuat demi kemaslahatan agamanya, Allah akan mempermudah baginya urusan dunianya. Barangsiapa menjaga hubungan dirinya dengan Allah, maka Allah akan memudahkan urusannya dengan orang lain.”10

3. IMAM HASAN BIN ALI

Nabi s.a.w. sering bersabda :”Hasan dan Husein adalah anak-anakku” dalam al-Quran Allah berfirman:

)فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءَك مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَ أَبْنَاءَکمْ وَ نِساءَنَا وَ نِساءَکُمْ وَ أَنفُسنَا وَ أَنفُسکُمْ ثُمَّ نَبْتهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَت اللَّهِ عَلى الْکذِبِينَ( [ آل عمران:61]

Maksudnya: “ Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkanmu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istrimu, diri kami dan dirimu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpa kepada orang-orang yang dusta. (Ali Imran:61)

Begitulah kedekatan nasab Hasan dan Husein dengan Rasulallah s.a.w., semenjak beliau dilahirkan hingga berusia 7 tahun. Hasan mendapat kasih sayang dan didikan langsung dari Rasulallah s.a.w.,sehingga beliau dikenal sebagai seorang yang ramah, cerdas, murah hati, pemberani, serta berpengetahuan luas tentang seluruh kandungan setiap wahyu yang diturunkan.

Dalam kesalehannya, beliau dikenal sebagai orang selalu bersujud dan sangat khusyuk dalam shalatnya, ketika beruduk beliau gemetar dan di saat shalat pipinya basah oleh air mata dan wajahnya pucat karena takut kepada Allah s.w.t..

Dalam belas kasih sayangnya, beliau di kenal sebagai orang yang tidak segan untuk duduk dengan pengemis dan para gelandangan yang bertanya tentang masaalah agama kepadanya.

Banyak kata-kata Hikmah yang beliau tinggalkan, antaranya saidina Hasan bin Ali pernah ditanya tentang arti dermawan. Lalu beliau menjawab: ”Kebaikan yaitu memberi sebelum diminta, dan tidak diikuti oleh ungkitan.” Kesombongan menyebabkan hancurnya agama, dan karenanya Iblis dilaknat. Rasa tamak adalah musuhnya jiwa, dan karenanya Adam dikeluarkan dari surga. Hasad dengki adalah pusat keburukan, yang karenanya Qabil membunuh Habil.”11

IMAM HUSEIN BIN ALI

Lambang Kepahlawanan

Di tengah kebahagiaan dan kerukunan keluarga Fatimah Az-Zahra lahirlah seorang bayi yang akan memperjuangkan kelanjutan misi Rasullah s.a.w., iaitu Husein bin Ali bin Abi Thalib yang diputrakan pada hari Khamis 5 Sya’ban tahun 4 H dan syahid di Padang Karbala Irak, pada 10 Muharram 61 H .

Berkata Al-Imam Al-Akbar Dr.Abdul Halim Mahmud Syekhul Azhar:

“Sesungguhnya nasab saidi,na Husein hampir saja terputus, seandainya bukan karena anugerah Allah. Anugerah Allah inilah yang mengekalkan keturunannya. Pada mereka terdapat keharuman Rasulallah s.a.w., pada mereka terdapat juga orang-orang yang akhlaknya pemurah, berani, dan hati yang penuh dengan keimanan serta ruh yang selalu memandang keatas, tidak disibukkan oleh dunia dengan segala perhisannya yang membuatnya menjadi ingin kekal di dunia dan menuruti hawa nafsunya. Tidak sekali-kali tidak, sesungguhnya jiwa mereka dihiasi teladan yang tinggi dan kekal disertai kepahlawanan dalam bentuknya yang terbaik dan bersama kebenaran dimanapun mereka berada. Sesungguhnya jiwa mereka seumpama orang yang membantu orang yang berjuang dijalan kebaikan, yaitu di jalan Allah.”12

Saidina Husein sungguh telah memasuki suatu pertempuran menentang orang yang bathil dan mendapatkan syahidnya disana. Pertempuran ini banyak mengalirkan darah orang-orang yang bersamanya dan sisanya ditawan. 13 Ramai keluarga Al –Husein yang gugur sebagai pahlawan dan serikandi dalam menegakkan kebenaran dan keadilan dan menentang kezaliman.

KATA-KATA HIKMAH SAIDINA HUSEIN BIN ALI

“Andai dunia ini masih di anggap berharga, bukankah akhirat itu jauh lebih berharga dan mulia. Andai rezeki itu sudah terbagi berdasarkan ketentuan, maka tinggalkanlah rasa rakus terhadap dunia. Andai harta yang dikumpulkan akan di tinggalkan, mengapa harus kikir terhadap barang yang akan ditinggalkan. Segolongan manusia menyembah Allah karena ingin keuntungan, maka itu ibadahnya pedagang. Segolongan menusia menyembah Allah, karena rasa takut kepadaNya, maka itu ibadahnya kaum budak. Segolongan menyembah Allah karena bersyukur atas nikmatNya, maka itulah penyembahan orang yang merdeka. Itulah sebaik-baik ibadah”.
http://habibhasanalattas.blogspot.com

Anggapan Mereka Bahawa Kebenaran Itu Hanya Ada Pada Golongan Minoriti (Yang Sedikit)
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Selamat) ?
Perhatian : Artikel ini perlu dibaca keseluruhan untuk mendapatkan kefahaman yang lebih jelas di bawah label : Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Selamat)

Dengan berdasarkan pemahaman yang keliru terhadap hadith iftiroqul ummah mereka pun mengatakan bahawa kaum Muslimin yang sebenarnya itu hanyalah mereka sahaja dan populasi mereka itu lebih kurang 1.3 % dari jumlah seluruh kaum Muslimin. Mereka seolah-olah bangga dengan jumlah minoriti kerana memang hasil dari pemahaman mereka terhadap hadith iftiroqul ummah padahal pemahaman yang sebenarnya dari hadith itu tidaklah menatijahkan yang sedemikian. Terhadap pengakuan mereka sebagai kelompok minoriti dan bahawa kebenaran itu selalu bersama yang minoriti merekapun berdalil dengan firman ALlah :

1.

و قليل ما هم = “Dan mereka itu adalah minoriti (golongan yang sedikit)”
(Surah As Shad : 24)

2.
وقليل من عبادي الشكور = “Dan sedikitlah di antara hamba-hambaKu orang yang bersyukur”
(Surah As Saba’ : 13)

3. Sementara firman ALlah tentang kelompok majoriti berbunyi :
وما يؤمن أكثرهم با الله إلا وهم مشركون
= “Dan tidaklah kebanyakan (majoriti) di antara mereka itu beriman kepada ALlah kecuali mereka berbuat syirik”
(Surah Yusuf : 106)

Ketahuilah para pembaca yang budiman bahawa sesungguhnya pengertian minoriti (golongan yang sedikit) pada ayat tersebut boleh bermakna umum dan boleh pula bermakna khusus. Apabila bermakna umum maka maksudnya adalah bahawa kaum Msulimin itu memang selalu minoriti dibandingkan dengan orang-orang kafir yang banyak (majoriti).

Sedangkan apabila bermakna khusus maka maksudnya adalah bahawa kaum Muslimin yang betul-betul istiqomah memang minoriti berbanding dengan kaum Muslimin yang tidak istiqomah dan tidak teguh pendirian. Akan tetapi semua mereka adalah Muslim dan bertauhid serta termasuk penghuni syurga dengan izin ALlah subahanahu wa ta’ala. Adapun mengatakan bahawa ayat وما يؤمن أكثرهم با الله إلا وهم مشركون ditujukan kepada umat Islam maka ini jelas telah menyalahi jumhur mufassirin yang berpendapat bahawa ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan para penyembah bintang dan berhala serta orang-orang Yahudi dan Nasrani. Membawa ayat tersebut untuk Kaum Muslimin merupakan satu malapetaka yang besar dan pengkafiran terhadap ummat Islam. Benarlah kiranya Ibnu Umar radiyaLlahu ‘anhu ketika
berbicara tentang orang-orang yang merobek agama, beliau menyebut mereka sebagai berikut :

إنهم إنطلقوا إلى ايات نزلت فى الكفر فجعلوها على المؤمنين

Ertinya : “Sesungguhnya mereka suka membelokkan ayat-ayat yang sebenarnya turun pada orang-orang kafir lalu mereka menjadikannya untuk orang-orang Mukmin”

Ibnu Umar memandang mereka itu sebagai makhluk ALlah yang buruk (Lihat Sahih Bukhari hadith no 6531)

Al Ustaz Jamil zainu dalam bukunya Manhaj Firqah an Najiah menyebutkan pertanyaan (yang disampaikan kepada dirinya): “Apakah ummat ini terdapat kesyirikan?”. Lalu dia menjawab : “Ya”. Beliau berdalil dengan firman ALlah : وما يؤمن أكثرهم با الله إلا وهم مشركون . SubhanaLlah ini adalah satu kedustaan yang besar dan penggunaan dalil yang batil serta fasid.

Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah: Memelihara Jejak-jejak Salaf Ash-Shalih

Asy Syaikh Abubakar bin Salim mengatakan, “Siapa yang tidak bersungguh-sungguh di permulaannya, tidak akan sampai di penghabisannya.”

Beberapa bulan terakhir, ada sebuah buku yang banyak dicari-cari orang. Buku tersebut memuat kumpulan biografi para habib yang memiliki peranan penting dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia. Judulnya, Biografi 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia. Karena respons peminatnya yang cukup besar, hanya dalam tempo tiga bulan buku tersebut sudah tiga kali cetak ulang. Hingga diturunkannya tulisan ini, buku itu sudah dicetak hingga 12 ribu eksemplar.

Bila diperhatikan secara seksama, buku tersebut memiliki keunikan tersendiri dibanding buku-buku sejenis lainnya. Selain memuat kisah perjalanan para habib sebagai insan-insan dakwah yang memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan agama Islam di tanah air, buku tersebut juga dilengkapi banyak foto eksklusif para habib itu sendiri.

Tidak mengherankan, karena ternyata buku itu disusun seorang sayyid muda yang sudah lebih dari sepuluh tahun terakhir bersusah payah mengumpulkan dan memelihara foto-foto para habib. Dari yang antik-antik atau foto-foto habaib dan ulama tempo dulu, hingga foto-foto habaib zaman sekarang. Di samping mengoleksi foto, ia juga gemar mengumpulkan kisah-kisah perjalanan hidup mereka.

Dulu, di awal kesukaannya mengumpulkan foto-foto habaib dan manaqib para salaf, tidak terbersit sedikit pun dalam pikirannya bahwa pada suatu saat kelak ia akan menyusun buku semacam ini. Namun sekarang, terbitnya buku tersebut adalah salah satu bentuk natijah (buah) dari keringat himmah (kesungguhan)-nya selama ini, yang dengan penuh suka dan duka mengumpulkan jejak-jejak dakwah para habib.
Siapakah sayyid muda penulis buku itu? Dialah Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah.

Kenikmatan Memandang Wajah Habaib
Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah lahir pada tanggal 8 Juni 1982 di kota Solo, dari pasangan Habib Umar bin Agil bin Umar Mauladawilah (asal kota Malang) dan Syarifah Sidah binti Abdullah bin Husen Assegaf (asal kota Solo).

Dua tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 Februari 2007, ayah Habib Abdul Qadir wafat. Rencananya, sang ayah pada musim haji tahun ini akan berangkat haji. Tapi Allah SWT telah memanggilnya terlebih dahulu.

Dulu, saat orangtuanya menikah, yang menikahkan adalah Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah.

Setelah dikaruniai seorang putra, Habib Umar bin Agil Mauladawilah (ayah Habib Abdul Qadir, penulis buku ini) menemui Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dan menyampaikan kabar tentang kelahiran putra pertamanya. Saat itu, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf-lah yang memberikan nama si anak yang baru lahir tersebut. Nama yang diberikan adalah sebagaimana namanya sendiri. Yaitu, Abdul Qadir.

Masa usia sekolah Habib Abdul Qadir dijalani seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Ia masuk Sekolah Dasar Negeri 7 Sukun, Malang, dan kemudian melanjutkannya ke SMP Negeri 12 Malang. Selepas jenjang sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikannya pada Madrasah Aliyah Daaruttauhid Malang sambil mondok di Pondok Pesantren Daruttauhid, yang pada masa itu masih di bawah asuhan Ustadz Abdullah bin Awwadh Abdun. Ia menyelesaikan pendidikan aliyahnya ini pada tahun 2000.

Setelah selesai pendidikan MA, ia tidak langsung pulang ke rumah. Ia masih meneruskan pendidikan diniyah di Pondok Pesantren Daruttauhid tersebut hingga tahun 2001, yaitu setelah gurunya, Ustadz Abdullah Abdun, wafat.

Sebelum masuk pondok, ia lebih fokus pada pendidikan umum dan sama sekali belum terpikirkan akan bergerak di bidang keagamaan. Kegiatan yang merupakan kegemarannya mengumpulkan dokumentasi di seputar habaib baru dimulai sejak tahun 1997, saat ia masuk Pesantren Daruttauhid.

Saat tinggal di pesantren tersebut, ia mulai merasakan adanya kenikmatan tersendiri saat berkumpul dan duduk dalam satu majelis bersama para habib. Ia pun kemudian mulai turut hadir pada acara-acara Maulid Nabi SAW ataupun haul para habib di sekitar Jawa Timu.

Seingatnya, setelah ia tinggal di Daruttauhid, acara yang pertama kali dihadirinya adalah haul Habib Shalih bin Muhsin Al-Hamid, Tanggul, Jember, Jawa Timur.

Dalam majelis-majelis ilmu seperti itu, baik di dalam pesantren sendiri maupun di acara-acara perayaan seperti acara haul, hatinya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ia merasakan kenikmatan bathiniah yang sukar dilukiskan.

Benarlah apa yang disebutkan dalam kalam Habib Ahmad bin Zen Al-Habsyi yang termaktub pada kitab Al-Manhaj As-Sawi, karya Habib Zen bin Ibrahim Bin Smith, “Duduk satu saat bersama orang-orang shalih, lebih bermanfaat bagi seorang hamba dari seratus atau seribu kali ‘uzlah (menyendiri, menyepi, menghindarkan diri atau mengasingkan diri dari lalu-lalangnya kehidupan duniawi demi penyucian diri – Red.).” Saat itu ia juga merasakan kenikmatan tersendiri kala memandang teduhnya wajah para habib yang datang pada acara-acara yang ia hadiri. Di hatinya pun mulai tumbuh rasa suka memandang wajah mereka, meskipun hanya lewat lembaran-lembaran fotonya.

Ia ingat, pertama kali foto yang didapatkannya adalah foto-foto Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dan Habib Umar Bin Hud Al-Attas. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dapat dikatakan adalah salah satu tokoh terpenting habaib saat ini. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf ini pulalah orang yang telah menikahkan orangtuanya dan memberikan nama pada dirinya sewaktu ia lahir. Sementara Habib Umar Bin Hud Al-Attas adalah seorang wali besar dari kota Jakarta yang telah wafat beberapa tahun silam. Saat memandang kedua tokoh habaib tersebut, hatinya berdecak kagum.

Sebuah maqalah ulama dalam kitab Nashaih Al-‘Ibad, karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, menyebutkan bahwa di antara manusia ada yang jika kita memandang wajahnya kita akan merasa bahagia. Demikianlah, dari sana kemudian timbul keinginan untuk mengabadikan momen-momen yang menyentuh hatinya tersebut, dan ia pun mulai aktif mengumpulkan foto-foto para habib.

Sejak dari acara haul Habib Shalih Tanggul yang pertama kali ia hadiri kala itu, ia mulai menikmati aktivitasnya mengambil gambar saat berlangsungnya acara dengan kamera seadanya yang ia miliki.

Tanpa disadarinya, keasyikan yang kemudian dijalaninya secara serius dalam mengumpulkan foto para habib dari sejak ia masih nyantri di Daruttauhid, merupakan titik tolak penting dalam perjalanan hidupnya kelak.

Dalam salah satu kalamnya, Asy Syaikh Abubakar bin Salim mengatakan, “Siapa yang tidak bersungguh-sungguh di permulaannya, tidak akan sampai di penghabisannya.” Sekalipun kalam itu lebih ditujukan pada konteks mujahadah an-nafs (kesungguh-sungguhan dalam perjuangan melawan keinginan syahwat dan berbagai kecenderungan jiwa rendah), dari keumuman redaksi kalimat yang digunakan, konteks permasalahannya dapat diperluas. Terkait dengan kalam tersebut, perjalanan hidup Habib Abdul Qadir ini juga dapat menjadi hikmah bagi siapa pun yang menjalani segala kebaikan secara bersungguh-sungguh.

Terinspirasi dari Sang Guru
Sewaktu mondok dulu, anak pertama dari empat bersaudara ini juga menyaksikan betapa Ustadz Abdullah Abdun, gurunya, sangat ta’zhim kepada guru tempat Ustadz Abdullah Abdun menimba ilmu agama dulu. Guru yang dimaksud adalah Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, pendiri Madrasah Al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah.
Bertahun-tahun lamanya Ustadz Abdullah Abdun berguru kepada Habib Idrus Al-Jufri. Setelah wafatnya Habib Idrus Al-Jufri, beberapa tahun kemudian Ustadz Abdullah Abdun menuliskan sebuah risalah yang berisi biografi sang Guru Tua, julukan bagi Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Habib Abdul Qadir merasa, apa yang dilakukan gurunya tersebut benar-benar dapat menjadi manfaat bagi dirinya dan juga untuk orang banyak lainnya yang ingin mengetahui perjalanan hidup Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Di samping mengoleksi foto-foto, ia pun kemudian menemukan kebiasaan baru lainnya, yaitu mengoleksi manaqib para ulama dan habaib. Dengan membaca manaqib mereka, ia merasa lebih dekat dengan mereka.

Selain mengoleksi manaqib yang telah cukup banyak tertulis, ia juga mengoleksi kumpulan manaqib dari kutipan-kutipan ceramah para pembicara di acara-acara haul. Di acara-acara tersebut, biasanya pembicara mengisahkan perjalanan hidup orang yang sedang dirayakan haulnya. Merekam isi ceramah saat acara berlangsung adalah salah satu kiatnya untuk mengumpulkan kisah-kisah para habib dengan menggunakan tape recorder miliknya.

Pada akhirnya, Habib Abdul Qadir ini pun sekaligus sempat menjadi seorang kolektor kaset rekaman isi ceramah-ceramah keagamaan pula. Jumlah kaset yang dikoleksinya bertambah dari waktu ke waktu.

Dalam aktivitas merekam itu, ia selalu berusaha merekam selengkap mungkin. Sewaktu acara di tempat Habib Anis Solo misalnya, ia merekamnya dari mulai acara rauhah, haul, hingga Maulid-nya. Sehingga kalau hadir di acara haul Solo, paling sedikit ia harus membawa lima buah kaset. Apalagi kalau ia hadir dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi SAW di Jakarta, yang berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan lamanya. Sepulangnya dari Jakarta, ia bisa membawa sekurang-kurangnya 70 kaset hasil rekaman.

Kalau acara haul di Tegal dan Pekalongan, di masing-masing kota tersebut ia harus menyediakan minimal sekitar tujuh sampai delapan kaset.

Di samping koleksi foto-fotonya, koleksi kasetnya pun bertambah dari waktu ke waktu. Kendala yang dihadapi olehnya dalam mengoleksi kaset ternyata tidak sederhana. Dalam menatanya, butuh waktu yang tidak singkat. Ia perlu memutar dulu masing-masing kaset koleksinya untuk kemudian menandainya satu per satu. Maklum saja, pada saat awal ia mengoleksi kaset itu, teknologi suara digital belum terlalu akrab di kota tempat tinggalnya.

Belum lagi perawatan pada fisik kaset koleksinya. Bila tidak dirawat dengan baik, pita kaset akan menjamur. Hingga pernah suatu ketika sekitar 250 kumpulan koleksi kasetnya rusak termakan jamur.

Akhirnya ia sendiri mulai agak kewalahan menangani jumlah kaset rekamannya yang semakin banyak. Sementara dulu teknologi penyimpanan data digital tidak cukup mudah dijangkau seperti zaman sekarang. Sekarang semua orang dapat mengkonversi suara sebagai data digital dan kemudian dimasukkan pada media penyimpan data, seperti dalam hard disk, flash disk, CD, DVD, dan yang sejenisnya, dengan sebegitu mudahnya. Kalaupun dulu ada, harganya pun masih relatif sangat mahal.

Ia kemudian lebih memfokuskan diri pada koleksi foto saja. Banyak koleksi kaset rekaman yang ia miliki kemudian diserahkannya kepada sejumlah kawannya. Bukan dipinjamkan, tapi ia berikan begitu saja secara cuma-cuma. Ia berpikir, mungkin orang lain memiliki waktu dan konsentrasi yang lebih dibanding dirinya dalam memelihara kaset-kaset rekaman tersebut.

Ternyata koleksi foto-fotonya saja, yang kemudian dilengkapi dengan kumpulan manaqib para ulama, sangat bermanfaat sekarang ini. Sebuah perkataan yang terdapat dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, karya Syaikh Az-Zarnuji, kiranya dapat dengan tepat menggambarkan apa yang telah dijalani oleh Habib Abdul Qadir. “Sekadar kesusahan yang ditempuh seseorang, maka akan didapat apa yang dicita-citakan.”

Bingkai Besar di Atas Motor
Siapa yang mencari sesuatu secara bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan. Ungkapan ini juga termaktub dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Kesungguh-sungguhan Habib Abdul Qadir, yang juga ternyata seorang kolektor majalah alKisah dari sejak edisi pertama kalinya, telah teruji oleh waktu.

Banyak kisah suka duka yang dialaminya dari sejak ia menjalani aktivitasnya mengoleksi foto para habib. Pernah suatu kali ia mengetahui ada seseorang di daerah Pujon, Batu, Malang, yang memiliki foto Habib Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Menurutnya, pose Habib Muhammad Al-Maliki dalam fotonya itu unik dan menarik. Maka kemudian ia meminjam foto tersebut. Foto itu ada dalam sebuah bingkai besar yang ukurannya hampir seukuran pintu rumah.

Waktu itu ia hendak meminjam fotonya saja, tapi si empunya foto rupanya keberatan, karena khawatir akan rusak. “Kalau mau pinjam, silakan sekalian berikut bingkainya,” katanya.

Saat itu ia pun kebingungan, dengan apa ia akan membawa bingkai sebesar itu. Padahal ia hanya membawa sepeda motor. Akhirnya, ia, yang saat itu berdua dengan seorang kawan, memutuskan untuk tetap membawa foto berbingkai besar tersebut, sekalipun dengan menggunakan sepeda motor.

Di sepanjang perjalanan, ternyata membawanya cukup sulit, dan harus ekstra hati-hati, agar tidak terbentur kendaraan lain. Bebannya juga semakin berat karena tekanan angin yang mendorong bingkai foto tersebut.
Sesampainya di kota Malang, hujan deras turun secara tiba-tiba. Maka ia dan kawannya segera mencari tempat untuk berteduh. Lantaran begitu derasnya hujan, tempat berteduhnya pun terkena air hujan yang tampias. Air itu mengenai bingkai foto dan sempat merusak foto di dalamnya.

Setelah sampai di rumah, ia merepro foto tersebut dan mengganti foto yang rusak itu dengan sedikit proses di sana-sini.

Alhamdulillah, setelah dikembalikan, pemilik foto tersebut tampak senang menerimanya. Mungkin karena hasil foto repro barunya itu terlihat lebih bagus dari aslinya.

Setelah kejadian itu, bukannya kapok, Habib Abdul Qadir malah semakin merasa asyik dalam menjalani aktivitas memburu foto-foto para habib.

Nasib Baik
Suatu hari ia pernah tersasar di suatu desa di daerah Malang. Saat sedang duduk-duduk di depan sebuah rumah, ia sekilas melihat di dalam rumah tersebut terdapat foto habaib yang unik menurutnya. Namun ternyata penghuni rumah itu sedang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.

Biasanya, seusai kerja, yaitu sekitar pukul lima sore, penghuni rumah itu sudah sampai di rumah. Ia pun kemudian menunggu selama berjam-jam untuk menanti kedatangan penghuni rumah tersebut. Saat penghuni rumah itu datang, ia menyampaikan maksudnya untuk meminjam foto yang terpampang di dinding ruangan depan rumah milik orang tersebut.

Awalnya si pemilik rumah tampak sedikit curiga. Wajar saja, karena dia merasa tidak mengenalnya sama sekali. Namun setelah diterangkan secara baik-baik, akhirnya ia diperbolehkan meminjam foto itu.

“Silakan bawa, tapi segera kembalikan lagi,” demikian pesan si pemilik foto.
“Bukannya saya berpikir tidak akan mengembalikan, tapi daerah itu sama sekali saya tidak tahu. Jangankan berpikir untuk mengembalikan foto itu, untuk kembali pulang ke rumah saja saya tidak paham,” ujarnya bercerita.

Akan tetapi karena ia memang niat meminjam, ia berjanji akan mengembalikan setelah ia merepronya.
Dengan sedikit bersusah payah akhirnya sampai juga ia di rumah.

Setelah foto itu direpro, ia pun memenuhi janjinya, mengembalikan foto tersebut. Seperti saat ia hendak pulang ke rumah, untuk mencari kembali rumah si pemilik foto itu pun ternyata menempuh waktu yang tidak sebentar. Namun akhirnya ia sampai juga di sana.

Apa yang dialami oleh Habib Abdul Qadir mengingatkan orang pada apa yang dikatakan Imam Syafi’i dalam salah satu diwan-nya, “Nasib baik dapat mendekatkan setiap perkara yang jauh. Nasib baik dapat membuka setiap pintu yang tertutup.”

Tentunya, nasib baik itu akan menjadi sempurna adanya bila berdasarkan niat yang baik pula, seperti halnya niatan yang ada dalam hati Habib Abdul Qadir dalam memelihara jejak-jejak peninggalan para salaf ash-shalih. IY

Posted by: Habib Ahmad | 11 Disember 2009

Kunci Penghayatan Hidup Rabbani

Kunci Penghayatan Hidup Rabbani May 31, ’09 3:32 PM
for everyone

Ramai manusia melihat kehidupan dari segenap sudutnya. Ada yang melihat kepayahan hidup lalu memahami kehidupan ini suatu tempat kedukaan. Ada yang melihat kesenangan duniawi lalu memahami kehidupan adalah tempat menikmatinya. Ini semua adalah nilai kehidupan dengan pandangan syahwat dan kepentingan. Untuk apa melihat hidup itu pada senang atau susahnya, sedangkan setelah susah hadirnya senang, dan setelah senang hadirnya susah. Begitulah silih berganti.

Malah, senang dunia tidak selamanya, begitu jua susahnya. Akhirnya sang insan yang sibuk dengan susah dan senangnya hidup di dunia, mati meninggalkan dunia. Itu semua hanyalah persepsi kebudak-budakan semata-mata yang mengingini khayalannya menjadi mimpi yang nyata.

Hidup ini adalah untuk kita hidup menghadapi realiti, bukan membina makna realiti sendiri. Hakikat hidup sudah ditentukan. Makna hidup sudah dijelaskan. Jika terus memilih selain makna dan hakikat hidup yang telah dijelaskan oleh Tuhan, maka kita hanya mencari kebahagiaan yang palsu. Semakin kita melangkah menuju kebahagiaan palsu, semakin kita menjauhi kebahagiaan hakiki. Semakin kita menuju “realiti” ciptaan sendiri, semakin kita memalingkan diri daripada hakikat sebenar hidup ini.

Begitulah insan yang sentiasa terkesan samada dalam kesenangan mahupun dalam kesusahan. Cahaya keimanan yang sepatutnya kita warisi daripada generasi Sahabat r.a. yang sentiasa tenang dalam susah dan senang, seakan-akan suatu fantasi semata.

Memang benar. Indah bicara dari menghadapinya. Namun, inilah realitinya. Bagaimana Saidina Bilal r.a. mampu memikul batu berat di bawah terik mentari hanya dengan menyebut ahad…ahad. Kita, dengan sembilan puluh sembilan nama Allah telah dihafal, namun belum tentu sanggup memikul dukaan kerana Tuhan. Jauh benar penghayatan aqidah kita berbanding penghayatan aqidah mereka yang dididik oleh Saidina Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-.

Nilai aqidah itu pada penghayatannya, bukan pada perbahasannya. Semua orang berbicara dalam manhaj yang berbeza-beza, tetapi tetap berkongsi kemanisan yang sama, jika benar tauhid mereka. Bukti berharga paling utama yang menunjukkan aqidah kita benar pada manhaj mereka yang terdahulu (as-salaf as-sholeh) khususnya para sahabat r.a., adalah kita berkongsi penghayatan mereka terhadap aqidah Islam itu sendiri.

Iman itu harganya pada kelazatannya dalam berinteraksi dengan Allah s.w.t. melalui kehidupan. Bagaimana generasi sahabat r.a. khususnya, tidak pernah kenal erti susah dalam menghadapi rintangan kehidupan mereka? Ramai orang kata, kekuatan mereka adalah pada kefahaman mereka tentang dakwah Islam. Ada orang juga kata, kekuatan mereka pada ilmu dan amal mereka. Benar bagai dikata oleh mereka yang berkata-kata. Tetapi bukan sekadar itu wahai saudara-saudara. Kunci utama kekuatan mereka adalah pada penghayatan mereka terhadap aqidah mereka. Kuncinya adalah pada kelazatan tauhid yang mereka kecapi saban hari.

Kelazatan iman mereka membawa mereka kepada mengenal makna hidup yang lebih besar. Ianya adalah cahaya yang terbit dari kerohanian yang bersih dan suci daripada maksiat dan kelalaian. Ianya lahir daripada jiwa yang sentiasa menginsafi diri dan memperbanyakkan taubat bukan sekadar kerana rasa diri berdosa, tetapi kerana takut rasa diri tidak berdosa yang mana itu juga sifat ujub yang tercela. Qudwah mereka adalah Saidina Al-Mustafa wa Habibina Al-Mujtaba Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-. Mereka melihat bagaimana Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- beristighfar seratus kali setiap hari sedangkan sudah terpelihara daripada dosa. Apa penghayatan Baginda Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- dalam memperbanyakkan taubat? Nah, kelazatan dan penghayatan itu diwarisi oleh para sahabat r.a. secara halus meresap dalam tarbiah Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-.

Kunci utama bagi seseorang mewarisi hal hati (ahwal) dan kebersihan rohani adalah pada kecintaan dalam keimanan. Oleh sebab itulah, Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- menyuruh para sahabat r.a. mencintai Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- lebih daripada diri mereka sendiri dan segala-galanya. Ini kerana, kunci berlakunya proses pewarisan ahwal (hubungan hati seseorang dengan Allah) daripada Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- adalah dengan cinta kepada Rasulullah – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-.

Jalan untuk mencintai Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- adalah dengan mencintai para pewaris Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- iaitulah para sahabat r.a. dan keluarga Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-, para ulama’ (yang mewarisi ilmu Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-), para solihin (yang mewarisi amalan Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-), para murobbi (yang mewarisi manhaj tarbiah Rasulullah – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-) dan sebagainya. Ini adalah kecintaan kerana Allah s.w.t. yang berteraskan kecintaan kepada Rasulullah – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-. Inilah antara sebab untuk mendapatkan kelazatan iman.

Penghayatan ini juga dikuatkan dengan mujahadah melawan hawa nafsu dengan meninggalkan terus maksiat dan dosa kita tanpa menoleh kepadanya semula. Antara kuncinya adalah dengan membenci untuk kembali kepada dosa sebagaimana takut untuk dicampak ke dalam neraka. Perasaan takut itu apabila terus meningkat, maka ia akan membawa takut kepada murka Allah s.w.t..

Kemuncak proses mengecapi penghayatan aqidah tauhid dan kelazatan iman adalah dengan menjadikan setinggi-tinggi cinta teragung seseorang adalah ALLAH s.w.t.. Kecintaan kepada Allah s.w.t. ini bukan suatu proses yang mudah semudah mengungkapkannya dengan lisan semata-mata. Betapa ramai manusia yang mudah mengungkap cinta tetapi debu cinta pun tiada di hatinya (Astaghfirullah min ad-dakwa).

Prosesnya adalah dengan mencintai jalan-jalan untuk mencintai Allah s.w.t. iaitulah mencintai para solihin, para murobbi, para ahlul-bait, para sahabat r.a. dan kemuncaknya adalah cinta kepada Rasulullah s.a.w.. Dengan kecintaan kepada Rasulullah shollaLlahu ‘alaihi wasallammelebihi cinta kita kepada segalanya, akan membawa kepada kecintaan kepada Allah s.w.t. dengan bantuanNya.

Cinta kepada Allah s.w.t., memang benar ianya suatu anugerah. Tidak semudah sehingga semua yang mendakwanya, memilikinya. Tidak serendah semua yang membicarakannya, merasainya. Ianya pilihan dalam pilihan. Ianya anugerah dalam hadiah. Ianya kurniaan dalam pemberian. Maka, mintalah cinta kepadaNya hanya daripadaNya.

Dengan mencintai Allah s.w.t., seseorang akan menghadapkan fokusnya hanya kepada Allah s.w.t.. Seluruh jalan cerita dalam kehidupannya adalah ungkapan untuk mendapatkan redha dan cintaNya. Itulah sebenarnya hakikat apabila sudah mulai mencinta. Apa sahaja diredahi demi redha dan cinta. Pandangan redha yang dicinta adalah idaman setiap sang pencinta.

Andai benar kamu mencari redha Allah, mengapa mengeluh ketika diberi ruang untuk mendapatkannya? Bukankah ujian dan dugaan hidup itu ruang untuk mendapatkan redhaNya? Mengapa ketika diberi ruang untuk mendapat redhaNya dalam dugaan yang melanda, dengan sabar dan redha dalam setiap ketentuanNya, namun kamu memilih untuk mengeluh dan mula merasa duka?

Bukankah seseorang yang Allah s.w.t. cinta, makin kuat diuji? Bukankah ujian itu sebenarnya nilai cinta? Mengapa mengelukh ketika dikurniakan simbol cinta? Adakah kerana kita tidak memahami hakikat cinta? Atau kerana memang dalam diri kita tiada cinta kepadaNya? Oleh kerana itulah, hidup kita tidak sunyi dari keluhan terhadap Tuhan dan memberontak bila diberi ujian.

Para pencinta dari kalangan salaf dan khalaf mengenali dan menghayati hakikat cinta. Lalu, setiap hidup mereka dilalui dengan penuh redha sebagai sang hamba. Mereka melihat agungnya “nilai” di sebalik ujian berbanding beratnya ujian. Mereka melihat besarnya “tujuan” mereka dalam redha kepadaNya, iaitulah demi meraih redhaNya, berbanding melihat ketentuanNya dalam kehidupan mereka.

Seseorang yang sentiasa fokus terhadap kebesaran tujuan dan keagungan nilai di sebalik ketentuan, tidak pernah letih untuk menghadapi ketentuan demi ketentuan kerana tahu apa yang dicari di sebalik kesabaran dalam menempuh ketentuan. Bagaimana terungkap di mulut para pencinta: “sedang lautan api sanggup ku redahi demi cinta…”, kalau memang itu bukanlah hakikat sebenar cinta. Itulah hakikat cinta wahai sang pencari cinta.

Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- sangat kagum dengan sikap orang yang beriman yang sentiasa mendapati kebaikan dalam hidup, samada dalam kesenangan mahupun kesusahan. Malah, Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- sendiri sebagai simbol teragung dalam menterjemahkan makna kelapangan hidup, dalam hidup Baginda – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-.

Teringat kisah di mana linangan air mata mulia Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- menitis keluar dari kedua mata Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- yang mulia, ketika pemergian anaknda Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- bernama Ibrahim (r.a.). Lalu para sahabat r.a. bertanya tentang titisan air mata tersebut, adakah ianya tanda sedih atau bagaimana. Lalu Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “ini adalah rahmat (kasih sayang)”. Apa makna disebalik itu? Maknanya, hatta menangis itu sendiri dalam penghayatan Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- adalah rahmat daripada Allah s.w.t., bukan suatu kesempitan, apatah lagi segala ketentuan dalam kehidupan Baginda – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-. Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- mengecapi rahmat dan kelembutan Allah s.w.t. dalam setiap ketentuanNya sehingga air mata itu juga dirasakan nikmat daripada rahmat Allah s.w.t.. Ini hakikat penghayatan iman dan taqwa yang mendalam.

Inilah penghayatan aqidah yang murni, yang perlu dirasai oleh setiap orang beriman. Maka, carilah para pembimbing yang dapat membantu kita mewarisi penghayatan ini daripada generasi terdahulu melalui tarbiah dan qudwah. Indahnya hidup dengan melaluinya berbekalkan kelazatan iman dan penghayatan tauhid yang murni. Fokuslah kepada keagungan nilai tujuan, nescaya lapang bagimu setiap jalan menujunya.

Wallahu a’lam

Al-Faqir ila Rabbihi Al-Qawiy Al-Jalil

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Al-Razi Al-Azhari

‘AmalahuLlahu bi AlthofiHi Al-Khafiyyah

Posted by: Habib Ahmad | 11 Disember 2009

Menghayati Kekuasaan Allah dalam Melihat Kekurangan Diri

Menghayati Kekuasaan Allah dalam Melihat Kekurangan Diri Feb 18, ’09 2:41 AM
for everyone

Seseorang hamba Allah s.w.t. yang menghayati bahawasanya, tiada yang berkuasa dalam kewujudan ini dengan kuasa yang mutlak melainkan Allah s.w.t., pasti akan merasakan kekurangan dan kelemahan diri di hadapan Allah s.w.t.. Pada ketika itu, penyaksian hatinya terhadap kekuasaan Allah s.w.t. membuatkan dirinya sentiasa merasakan dirinya memerlukan Allah s.w.t. dalam setiap saat kerana pada hakikatnya, tiada daya dan upaya bagi seseorang melainkan dengan bantuan Allah s.w.t..

Allah s.w.t. yang menganugerahkan nikmat keupayaan dan kuasa dalam diri seseorang manusia dalam rangka untuk berusaha dan melakukan perbuatannya, namun kuasa dan keupayaan yang terkandung dalam diri seseorang tidak terlepas daripada kekuasaan Allah s.w.t. kerana sifat keupayaan yang dimiliki oleh manusia adalah daripada sifat kuasa Allah s.w.t. itu sendiri.

Seseorang yang menghayati perasaan ini adalah orang yang telahpun teralisasinya makna La Haula wa La Quwwata illa biLlah (Tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah) dalam dirinya. Ungkapan tauhid ini mengandungi rahsia keagungan ketuhanan Allah s.w.t. dan rahsia ketinggian kehambaan seseorang hamba itu sendiri jika dia menghayatinya lalu menterjemahkannya ke dalam kehidupan.

Seseorang yang tenggelam dalam lautan penyaksian wahdah (kesatuan sifat-sifat Allah) pasti menghayati bahawasanya manusia dan seluruh alam ini tidak pernah terlepas daripada kekuasaan Allah s.w.t.. Oleh yang demikian, seseorang itu tidak mampu untuk keluar daripada kehambaan diri mereka kepada Allah s.w.t. lalu memilih untuk tidak mentaatiNya kerana penghayatan terhadap rasa kelemahan diri di hadapan kekuasaan Allah s.w.t..

Adapun orang yang lalai daripada penghayatan ini adalah orang yang terkeliru dalam memahami erti dirinya sendiri dan erti kehidupan di sekelilingnya sehingga terhijab daripada hakikat bahawasanya dia tidak terlepas daripada kekuasaan Allah s.w.t.. Hijab orang yang lalai tersebut adalah dirinya sendiri di samping makhluk-makhluk di sekelilingnya sehingga dia menyangka bahawasanya yang berperanan dalam memberi manfaat dan menolak kemudaratan daripada dirinya adalah dirinya sendiri dan makhluk-makhluk di sekitarnya, sedangkan pada hakikatnya, hanya Allah s.w.t. -lah yang Maha Pemberi Manfaat dan Maha Menolak Kemudaratan.

Namun, kerana seseorang yang lalai itu terhijab dengan perbuatan-perbuatan Allah s.w.t. (af’aal) melalui makhluk-makhlukNya (infi’al), maka dia gagal menghayati makna sebenar kewujudan seluruh makhluk tersebut iaitulah untuk menjadi tanda kepada kewujudan dan keesaan Allah s.w.t. yang Maha Zahir melalui perbuatan-perbuatanNya. Mereka yang terus terhijab dalam kepompong hukum sebab musabbab, kepompong adat tabi’e dan sebagainya sebenarnya tidak dapat menghayati konsep qudrah (kekuasaan), iradah dan ilmu Allah s.w.t. dalam kehidupannya.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan kepada Saidina Ibn Abbas r.a. bahawasanya, jika seluruh makhluk berhimpun untuk menegah apa yang dikehendaki oleh Allah s.w.t. ke atas seseorang itu, nescaya makhluk-makhluk tersebut tidak mampu untuk menegah ketentuan Allah s.w.t. kepada orang tersebut. Begitulah juga sebaliknya. (hadith sahih. Sila rujuk Al-Ar’biin oleh Imam An-Nawawi).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengajar konsep sebenar kekuasaan Allah s.w.t. dan betapa lemahnya makhluk di hadapan kekuasaan Allah s.w.t.. Aqidah ini jika diterjemahkan dalam diri seseorang muslim, maka dia akan menghadapi kehidupan ini dengan penuh ketergantungan hati kepada Allah s.w.t. tanpa rasa kebimbangan terhadap masa hadapan dan sebagainya.

Apa yang dikerjakan adalah apa yang dituntut oleh Allah s.w.t. dan tidak perlu risau apa yang dijamin oleh Allah Y ke atas dirinya. (rujuk Hikam Ibn ‘Atho’illah As-Sakandari). Allah s.w.t. -lah yang Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana.

[Waspada] Janganlah seseorang itu, tatkala mengetahui bahawasanya hanya Allah s.w.t. yang Maha Berkuasa dalam kehidupan ini, maka dia pun meninggalkan “berusaha” dan beramal dalam kehidupan ini, kerana mendakwa bahawa apa yang ditentukan oleh Allah s.w.t. pasti datang walaupun tidak berusaha.

Ini suatu angan-angan yang dusta. Ia juga merupakan bahasa orang-orang yang leka dan tertipu dengan kemalasan diri semata-mata. Sesungguhnya Allah s.w.t. sentiasa menyuruh para hambaNya berusaha dalam rangka menunaikan tugas kehambaan diri kepada Allah s.w.t.. Oleh yang demikian, usaha yang kita lakukan, kita lakukan kerana ianya adalah perintah Allah dan ianya dilakukan sebagai ibadah, bukan kerana kita bergantung kepada usaha kita.

Kita tidak boleh mengabaikan sifat upaya dalam diri kita yang dianugerahkan oleh Allah s.w.t. untuk menjadi pemalas dengan tidak melakukan apa-apa dalam kehidupan ini, kerana selaku hamba, kita perlulah mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. kepada kita samada ibadah tersebut adalah ibadah khusus seperti solat, puasa dan sebagainya mahupun ibadah umum seperti mencari rezeki dan sebagainya.

Dalam pegangan ahlus-sunnah, merepa menetapkan konsep Al-Kasb iaitu usaha bagi hamba-hamba Allah yang faham akan hakikat kehambaan diri. Usaha adalah sesuatu yang dituntut oleh Allah s.w.t. ke atas kita kerana Dia telahpun menganungerahkan akal dan keupayaan dalam diri kita untuk melakukan tugas-tugas kehambaan dalam kehidupan seharian.

Imam Abdullah As-Syarqowi r.h.l. berkata:

“Adapun mazhab ahlus-sunnah bahawasanya perbuatan-perbuatan semuanya terbit dengan qudrah Allah semata-mata, namun dalam masa yang sama masih menetapkan wujudnya qudrah bagi hamba walaupun mereka menafikan qudrah hamba memberi kesan, namun bagi hamba itu masih ada bahagian untuk memilih (kurniaan Allah) yang daripada itulah dihitung untuk diberi pahala atau disiksa”. (syarah Hikam Al-Kurdi m/s 165)

Imam Junaid Al-Baghdadi r.a. ketika diberitahu tentang golongan yang meninggalkan amal lalu menjawab: “Sesungguhnya golongan arifin itu mengambil amal daripada Allah (maksudnya: tidak meninggalkan amalan), dan kepadaNya jua mereka kembalikan amalan tersebut (dengan melakukan amalan keranaNya dan denganNya)…”

Wallahu a’lam…

Al-Faqir ila Rabbihi Al-Jalil

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Al-Razi

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 819 other followers