Posted by: Habib Ahmad | 6 Januari 2010

Do’a Malaikat Kepada Hamba Hamba Allah – Habib Munzir

Do’a Malaikat Kepada Hamba Hamba Allah
Senin, 28 Desember 2009

قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ماَ مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ اْلعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا اَللّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ اَللّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا .

( صحيح البخاري )

” Tiada suatu hari pada hamba-hamba Allah kecuali dua malaikat turun , seraya berdoa : Wahai Allah berilah para penderma keberhasilan , dan malaikat yang kedua berkata : Wahai Allah , berilah orang yang menahan hartanya ( kikir ) kehancuran ” . ( Shahih Al Bukhari )

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ الحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ واَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجمَعِ اْلكَرِيْمِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْجَلْسَةِ اْلعَظِيْمَةِ…

Limpahan puji ke hadirat Allah subhanahu wata’ala yang Maha Luhur , Yang Maha Agung , Yang Maha Mengungguli segenap keagungan yang berawal dan bersumber dari-Nya segala keagungan serta berakhir kepada-Nya segala kewibawaan dan keagungan , karena Yang Maha Agung adalah Tunggal milik Allah dan yang lain adalah bias , yang lain adalah pantulan baik itu berupa keindahan atau kewibawaan , kedudukan , kekayaan atau apapun maka kesemuanya itu hanyalah bias dan bayangan saja , sedangkan yang asli hanyalah satu yaitu Allah subhanahu wata’ala .

Alam semesta ini hanyalah bayangan kewibawaan Ilahi , bayangan keindahan Allah , hakikatnya bukan alam semesta tapi hakikatnya adalah Al Wujud Jalla wa ‘Alaa subhanahu wata’ala Yang Maha Ada . Bagaimana kita mengetahui antara bayangan dan yang asli , kita butuh cahaya yang terang , apa cahaya yang terang ? maka carilah cahaya yang paling terang di alam semesta yaitu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , inilah cahaya yang paling terang benderang hingga kau bisa melihat Zat Al Wujud , Zat Yang kau bersujud kepada-Nya , Yang selalu melihat kita , apakah mungkin manusia melihat Allah sebelum wafat ? tentunya sangat mungkin . Karena Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di riwayatkan dalam dalam Shahih Al Bukhari :

اَلإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

” Ihsan yaitu engkau mengabdi kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Al Ihsan derajat tertinggi dalam keimanan , yaitu beribadah kepada Allah seakan ia melihat Allah tapi jika ia tidak mampu melihat Allah maka ia sungguh meyakini bahwa ia dilihat oleh Allah . Itulah derajat yang paling sempurna .

Hadirin hadirat , barangkali dalam setiap detik-detik puluhan tahun penuh kegelapan dan dosa , kita ingin detik-detik saat ini jiwa kita merasa dilihat oleh Yang Maha Melihat , dilihat dosa-dosa kita untuk dihapuskan , dilihat musibah kita untuk diganti dengan anugerah , dilihat kesedihan kita untuk diganti dengan kenikmatan , dilihat segala musibah kita untuk diganti dengan kebahagiaan dunia dan akhirah itulah harapan kami wahai yang melihat jiwa kami . Kami sadari ataupun tidak , Engkau tetap melihat kami , kami sadari ataupun tidak Engkau tetap mengatur kami , maka aturlah kami dengan sebaik-baik pengaturan . Allah memberi satu lorong kehidupan besar bagi mereka yang mau mencapai kesempurnaan hidup , dan Allah bukakan satu pintu besar bagi mereka yang memilih kesulitan hidup , seraya berfirman :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى ، وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

( الليل :5-7 )

” Maka barangsiapa ( memberikan hartanya di jalan Allah ) dan bertakwa , dan membenarkan adanya pahala yang terbaik ( surga ), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan ( kebahagiaan )” . ( QS. Al Lail : 5-7 )

Maka barangsiapa yang banyak mengeluarkan hartanya dalam bershadaqah , bukan hanya bershadaqah saja , tetapi juga bertakwa dan memperbanyak ibadah dan juga membenarkan hal-hal yang baik , terkadang ada juga yang banyak bershadaqah , banyak beribadah tetapi tidak membenarkan hal yang baik , ketika datang waktunya maulid hal ini dikatakan bid’ah dan syirik , maka yang seperti itu bukanlah yang termasuk dalam firman Allah : ” Washaddaqa bil Husnaa ” .

Maka jika tiga syarat ini dilengkapi ; ia banyak bershadaqah , ia perbanyak ibadah semampunya , dan ia membenarkan hal-hal yang baik , tidak ia pungkiri . Misalnya ada orang yang memakai siwak , ( mungkin ) ada yang berkata : ” Waduh siwak itu ketinggalan zaman , itu zaman Nabi sekarang sudah ada sikat gigi jadi tidak perlu lagi memakai siwak “, pakai siwak dan sikat gigi dipakai juga . ( Mungkin ) ada yang kalau memakai siwak ia merasa giginya tidak bersih , berbeda karena di masa lalu makanannya tidak bermacam-macam seperti sekarang , oleh karena itu zaman sekarang gigi tidak bersih jika dengan siwak , maka harus dengan sikat gigi . Maka gunakan sikat gigi untuk membersihkan gigi dan menggunakan siwak untuk mendapatkan pahala sunnah karena Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلسِّوَاكُ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ مغْضَبَةٌ لِلشَّيْطَانِ

” Siwak keridhoan bagi Allah dan kebersihan bagi mulut serta kebencian bagi syaitan ” Siwak membawa keridhaan Allah , serta kebersihan bagi mulut dan kebencian syaitan , karena muncul pengampunan dari Allah atas dosa-dosa dari bibir dan lidahnya . Hadirin hadirat , maka jika seseorang membenarkan hal-hal yang baik seperti itu , dan banyak bertakwa , banyak bershadaqah , maka apa yang akan dilakukan oleh Allah terhadap orang-orang yang berbuat seperti itu ? firman-Nya :

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

( الليل : 7 )

” maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan ( kebahagiaan ) . ( QS. Al Lail : 7 )

Allah mudahkan jalan hidupnya , jika Allah telah berjanji ” Akan Aku mudahkan jalan menuju kemudahan ” , maka apa saja yang ada di hadapannya baik itu rumah tangga , pekerjaan , sekolahnya , usahanya dan apa pun yang ada di hadapannya maka Allah akan menjadikannya mudah , ditumpah ruahkan anugerah tanpa ia sadari , sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

( الطلاق : 2-3 )

” Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia ( Allah ) akan membukakan jalan keluar baginya , dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka ” . ( QS. At Thalaq : 2-3 )

Limpahan anugerah Ilahi tercurah seluas-luasnya , dengan kita memperbanyak shadaqah , memperbanyak ibadah dan membenarkan hal- hal yang baik , dan sebaliknya firman Allah subhanahu wata’ala :

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى ، وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

( اليل : 8-10 )

” Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup , serta mendustakan ( pahala ) yang terbaik , maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran ( kesengsaraan ) ” . ( QS. Al Lail : 8-10 )

Sudah termasuk orang yang kikir , juga malas beribadah dan mendustakan pula hal-hal yang baik . Berkumpul untuk berzikir atau kalau ngaji malam hari dikritik ( ngapain ngaji malam-malam , lebih baik di rumah saja ) , tetapi siang juga tidak ngaji , maka tentunya orang seperti ini adalah orang yang tidak baik yang hanya berbicara dengan hawa nafsunya .

Maka jika tiga hal ini ada pada seseorang ; sudah kikir , malas juga beribadah , ketika disampaikan hadits tentang keutamaan shalat lima waktu , maka ( mungkin ) ia berkata : ” nanti saja shalatnya kalau lewat 40 ” , ketika disampaikan hadits tentang larangan hubungan buruk antara pria dan wanita , mungkin ia berkata ” Itu kan kalangan santri “, terus saja merasa malas untuk beribadah , serta mendustakan hal-hal yang baik , dalam tafsir juga ada yang menafsirkan bahwa maksudnya adalah tidak menerima kalimatullah al ‘ulya ( tidak menerima Islam ) , maksudnya ” kufur ” . Jika tiga hal ini berpadu , maka firman Allah subhanahu wata’ala :

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

( اليل: 10 )

” Maka akan Kami ( Allah ) mudahkan baginya jalan menuju kesukaran ( kesengsaraan ) ” . ( QS. Al Lail : 10 )

Rumah tangganya dipersulit , pekerjaannya sulit , kehidupan dunianya sulit , akhiratnya juga sulit dan ia akan menemui kesulitan yang abadi . Hadirin hadirat , Takdir Allah diserahkan kepada mu , mau memilih jalan yang mana . Kita tidak bisa kemana-mana , kita harus memilih salah satu diantara dua jalan . Yaitu jalan yang baik , jika kita memilih jalan yang ini maka kita akan menemui sedikit hambatan dan kemudian kemudahan dan kemudahan hingga kemudahan yang abadi , atau memilih jalan yang satunya , yang tidak kelihatan kesulitannya , tampaknya mudah , tetapi ujungnya adalah jurang . Masih beruntung jika ujungnya hanya sekedar jurang , tapi jika itu adalah jurang neraka , yang tidak mati tetapi digantikan kulitnya yang telah hangus , digantikan lagi terus seperti itu ( na’uzubillah ) dari banyaknya dosa yang diperbuat . Dan kita memohon kepada Allah semoga semua wajah yang hadir pada malam hari ini diberi kemudahan dunia dan akhirat , semua yang ada ini dibimbing oleh Allah menuju jalan kemudahan , Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalaali wal Ikram .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Sampailah kita pada hadits agung ini , dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan : ” Bahwa setiap hari kedua malaikat diturunkan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya , seraya berdoa :

اَللّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

” Wahai Allah para penderma keberhasilan ( pengganti dari yang telah diinfakkan ) ” . Dan malaikat yang lainnya berkata :

اَللّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

” Wahai Allah , berilah pada orang yang menahan hartanya (kikir ) kehancuran ”

Malaikat yang pertama berdoa agar orang-orang yang berderma itu diberi kemenangan , kesuksesan dan digantikan dengan yang lebih baik dari harta yang ia dermakan . Sedangkan malaikat yang kedua berdoa agar Allah memberikan kesulitan dan kehancuran hidup kepada orang yang kikir , dan Allah mencabut keberkahan rizkinya . Bayangkan kalau seandainya kita berderma , ketahuilah di saat itu malaikat sedang mendoakan kita sebelum orang lain mendoakan kita , tapi di saat kita menahan harta kita maka di saat itu malaikat juga mendoakan kehancuran bagi kita , inilah sabda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan di sinilah Allah membuka lagi gerbang-gerbang keluhuran , keberhasilan dan kesuksesan bagi orang-orang yang beriman .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari , ketika seorang wanita bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : ” Ya Rasulallah ibuku telah wafat , jika aku mengirimkan amal untuk dia apakah pahalanya akan sampai ? ” , maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ” betul, sampai ” , demikian riwayat Shahih Al Bukhari . Ini adalah salah satu dalil dari belasan dalil shahih dari Shahih Al Bukhari dan Muslim tentang sampainya amal pahala kepada orang yang telah wafat , dan seluruh mazhab telah bersepakat tentang sampainya kiriman amal kepada yang wafat . Bahkan sebagian Ulama’ mengatakan bahwa mengirim amal dari yang hidup kepada yang masih hidup juga sampai . Sebagian berkata hanya khusus seperti ibadah haji saja , misalnya ada yang sudah tua renta tidak mampu untuk pergi haji , maka yang lain yang pergi maka juga sampai pahalanya kepada yang tua renta tadi, padahal orang nya masih hidup .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Di riwayatkan juga dalam Shahih Al Bukhari , disampaikan oleh sayyidina Abdallah bin Umar bahwa ketika Rasulullah melihat sayyidina Utsman tidak hadir dalam perang Badr , maka sayyidina Utsman berkata kepada Rasulullah seraya menangis : ” Wahai Rasulullah , aku menjaga putrimu yang sedang sakit , sehingga aku tidak bisa hadir dalam perang Badr ” , maka Rasulullah berkata : ” Bagimu pahala Badr dan bagimu pula kemuliaan Ahlul Badr ” , padahal sayyidina Utsman tidak hadir dalam perang Badr tapi pahalanya dikirim oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam , jadi mengirimkan pahala itu sampai baik kepada yang hidup atau yang sudah wafat . Dan pengiriman amal itu banyak , jadi kalau kita mau berbakti kepada orang tua yang sudah wafat maka kirimkan amal ibadah kita , kalau kita mengirimkan amal ibadah kita , maka amal ibadah kita tidak akan berkurang , terkadang orang berfikir jika amalnya dikirimkan maka amal ibadahnya akan habis , tidak demikian karena Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

( الكهف : 49 )

” Dan mereka dapati ( semua ) apa yang telah mereka kerjakan , dan Tuhanmu tidak menzhalimi seorang pun ” . ( QS. Al Kahfi : 49 )

Maka hari kiamat kelak semua yang kita perbuat akan hadir . Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata : ” Wahai Rasulullah ku jadikan semua amal pahala ku untukmu ” , maka Rasulullah berkata : ” Kalau begitu cukuplah cintamu kepadaku ” ( ) dan saat Abu Hurairah dipanggil Allah di hari kiamat maka yang hadir bukan amalnya melainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Demikian pula Abu Al Abbas bin Ishaq As Tsaqafi yang mana ia memberi 12 ekor kambing di hari Idul Adha dan pahalnya diberikan khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , Ada yang mengkhatamkan Al qur’an 12000 kali dan pahalanya untuk Rasullullah sahallallahu ‘alaihi wasallam , dan orang ini adalah murid Al Imam Ahmad bin Hanbal Ar , demikian indahnya . Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersbada diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ; ” Hendaklah diantara kalian bershadaqah ” , maka seorang sahabat berkata : ” Ya Rasulallah , kalau ia tidak punya ?” , maka Rasul berkata : ” kalau ia tidak punya maka bekerja lalu bershadaqahlah ” , lalu sahabat bertanya lagi : ” kalau sudah mencari pekerjaan tetapi tidak mendapatkan ? ” , maka Rasulullah berkata : ” maka membantu orang yang susah ” , misalnya ada seorang penjual buah sedang mendorong gerobaknya , maka bantu ia mendorong karena hal itu juga shadaqah , meskipun bukan harta yang dikeluarkan . Maka ada sahabat yang bertanya lagi : ” Ya Rasulullah jika yang seperti juga tidak ada ? “, maka Rasul berkata : ” meperbanyak amal baik dan menjauhi larangan Allah ” .

Jadi jika tidak ada yang bisa dishadaqahkan , harta tidak ada , pekerjaan juga tidak ada , membantu orang tidak bisa , maka hendaklah ia memperbanyak amal baik dan menjauhi larangan Allah , karena hal itu merupakan shadaqah baginya .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ada satu hal yang perlu saya nukil dalam masalah shadaqah ini , ketika para sahabat bertanya maka Allah yang mewahyukan kepada sang Nabi Yang berfirman :

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

( البقرة : 219 )

” Dan mereka bertanya kepada mu ( Muhammad ) tentang apa yang ( harus ) mereka infakkan , katakanlah kelebihan dari apa yang diperlukan ” . ( QS. Al Baqarah : 219 )

Para shahabat sudah banyak berinfaq , kaum Anshar sudah berinfaq dari setengah hartanya , kaum Muhajirin bahkan telah meninggalkan seluruh hartanya di Makkah tapi mereka masih ingin berinfaq , maka Allah subhanahu wata’ala berfirman :

قُلِ اْلعَفْوَ

” Katakanlah ( Muhammad ), berinfaklah dengan maaf “. Kalau mau berinfak , berinfaklah dengan maaf dan itu adalah infak yang termahal . Jika seseorang memiliki sepuluh mobil dan menginfakkan 5 mobilnya , maka hal itu masih lebih kecil di banding ia harus memberi maaf kepada orang yang paling ia benci , ( mungkin ) lebih baik jika ia mempunyai dua rumah maka ia berikan rumah itu satu untuk orang fakir , baginya lebih ringan daripada memaafkan orang yang ia benci . Jadi infak yang paling berat adalah memaafkan orang-orang yang bersalah kepada kita . Jadi maafkan orang yang pernah salah terhadap kita , kenapa kita harus memaafkan orang yang salah kepada kita ? karena kita juga banyak berbuat jahat kepada Allah , tidak malukah kita yang banyak berbuat jahat kepada Allah jika tidak mau memaafkan orang yang berbuat jahat kepada kita ?! .

Kita berharap Allah memaafkan kejahatan kita kepada Allah , bagaimana kita tidak mau memaafkan orang yang berbuat jahat kepada kita , bagaimana jika kelak kita ditanya di hadapan Allah : ” Engkau yang meminta maaf dariKu sedangkan kau tidak mau memaafkan hambaKu yang lainnya , bukankah ia juga ciptaanKu ” ? , orang yang jahat terhadap kita siapa yang telah menciptakannya , Allah juga yang menciptakannya sebagai ujian bagi kita , untuk apa ? mengapa Allah menciptakan keindahan , mengapa Allah menciptakan dia bersifat buruk , bengis , licik dan penuh kejahatan ? yaitu supaya menjadi alat bagi kita untuk mendekat kepada Allah , yang dengan itu kita akan mencapai derajat orang yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala .

Hadirin hadirat , saya tidak berpanjang lebar disini telah hadir guru kita Al Habib Alwi bin Yahya yang akan meneruskan majelis hingga doa penutup , karena saya akan meninggalkan majelis dan saya mohon para jamaah untuk tetap tertib, Majelis Rasulullah tetap berlanjut , kepada Al Habib Alwi falyatafaddal masykura .

Advertisements
Posted by: Habib Ahmad | 6 Januari 2010

Ratib Al Attas & Asmaul Husna

Ratib Al Attas & Asmaul Husna
Jumaat mlm Sabtu Minggu ke 2
Masjid Al Mukarramah, Bandar Sri Damansara
Website: http://www.masjidalmukarramah.org/
Habib Hussein Al Attas

Ratib Al Attas & Asmaul Husna
28/01/2010
Surau Al Syakirin, Bandar Utama
Habib Ali Al Sagoff
Website: http://www.suraualsyakirin.com/

Posted by: Habib Ahmad | 5 Januari 2010

Himpunan Pelajar Bersama Habib Umar di Masjid UIA Gombak

http://al-fanshuri.blogspot.com/

Majlis Ilmu dan Qiyamullail Bersama Ustaz Sufian Nur al-Banjari al-Makki di Masjid al-Falah, USJ9 Subang Jaya

Majlis Ilmu dan Qiyamullail Bersama Ustaz Sufian Nur al-Banjari al-Makki

Tarikh: 21 Muharram 1431/7 Januari 2010 (Khamis)
Masa: Selepas sholat Maghrib
Program: Kuliah Maghrib

Tarikh : 22 Muharram 1431/8 Januari 2010 (Jum’at)
Masa: 10.30 pagi
Program: Kuliah Dhuha bersama muslimat

Tarikh: 24 Muharram 1431/10 Januari 2010 (Hari Sabtu malam [pagi] Ahad)
Masa: 3.30 pagi
Program: Qiamullail dan Kuliah Shubuh

MUSLIMIN DAN MUSLIMAT DIJEMPUT HADIR

Biografi Ringkas Ustaz Sufian Nur: Beliau adalah Sufian Nur bin Marbu bin Abdullah al-Banjari al-Makki. Adik kepada al-Fadhil Tuan Guru Syaikh Muhammad Nuruddin al-Banjari al-Makki. Dibawa keluarga beliau berhijrah ke Mekah ketika beliau berusia 5 tahun. Mendapat mendidikan awal di Mekah. Ketika berusia 14 tahun beliau telah menghafaz al-Quran. Dalam usia 16 tahun beliau sudah mula mengajar dan menjadi imam di beberapa buah masjid di sekitar Mekah. Pernah berkhidmat kepada Musnid ad-Dunya al-‘Allamah Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki selama 2 tahun.

Selain mendapat pendidikan di Mekah, beliau juga mendapat pendidikan di Mesir dan juga di Hadramaut, Yaman. Kini beliau masih lagi berguru kepada al-‘Allamah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ibn Syaikh Abu Bakar bin Salim.

Beliau juga adalah seorang yang mahir di dalam pembacaan qiraat yang 7. Seorang ahli ‘ibadah yang tawaddhu. Kini beliau mengendali sebanyak 15 buah pesantren di Indonesia yang jumlah pelajarnya hampir seribu orang. Beliau juga adalah seorang yang memiliki sanad ilmu dan juga sanad al-Quran. Selain dari berdakwah dan mendidik, beliau juga ada menulis, antaranya kitab bertajuk Fath al-Haadi al-Raqiib fi Adillah Fath al-Qoriib al-Mujiib

Posted by: Habib Ahmad | 5 Januari 2010

Kufur Jika Sokong Guna Kalimah Allah – Haron Din

Kufur Jika Sokong Guna Kalimah Allah – Haron Din
Oleh ARIFFUDDIN ISHAK

BANGI: Mana-mana umat Islam yang menyokong keputusan Mahkamah Tinggi membenarkan penggunaan kalimah ‘Allah’ dalam akhbar mingguan Herald-The Catholic Weekly dalam penerbitannya boleh membawa kepada kekufuran.

Timbalan Mursyidul Am PAS, Datuk Dr Haron Din berkata, menyokong kepada sesuatu perkara yang salah di sisi Islam juga secara tidak langsung boleh menyebabkan berlakunya kekufuran dan syirik.

“Saya menyeru kepada sahabat-sahabat saya supaya mempertimbangkan semula pendirian mereka.

“Kalau kita sokong perkara yang kufur, kita pun secara tak langsung akan kufur sama,” katanya dalam sidang media di kediamannya di sini hari ini.

Tokoh agama itu turut melahirkan kekesalannya terhadap beberapa penulis blog termasuk di kalangan beberapa pemimpin parti-parti politik yang menyatakan sokongan mereka kepada keputusan berkenaan.

“Saya harapkan orang-orang ini boleh bersatu pandangan, memanglah setiap orang itu ada kebebasan bersuara.

“Kalau hal politik memanglah ada banyak pandangan, tapi kalau hal agama, kita perlu balik kepada kaedah agama.

“Kalau kita berpuas hati dengan perkara yang syirik ia akan membawa kepada kekufuran,” katanya tanpa menyebut secara khusus blog-blog berkenaan.

Baru-baru ini Yang Dipertua PAS Shah Alam, Khalid Samad dalam blognya menyatakan sokongan terhadap keputusan membenarkan penggunaan kalimah Allah dalam penerbitan sebuah akhbar mingguan katolik.

Pandangan beliau itu menimbulkan reaksi negatif daripada banyak pihak termasuk Ahli Parlimen Kulim-Bandar Baharu, Zulkifli Nordin yang menggesa Ahli Parlimen Shah Alam itu supaya keluar PAS.

Khamis lalu, Mahkamah Tinggi membenarkan Herald-The Catholic Weekly menggunakan kalimah Allah dalam penerbitannya atas alasan ia mempunyai hak dalam Perlembagaan.

Hakim Datuk Lau Bee Lan menegaskan, KDN telah bertindak secara salah ketika mengenakan larangan penggunaan kalimah Allah dalam penerbitan akhbar mingguan itu.

Pada 16 Februari lalu, Ketua Paderi Roman Katolik Kuala Lumpur, Tan Sri Murphy Pakiam, sebagai penerbit akhbar itu memfailkan permohonan semakan kehakiman bagi menuntut deklarasi bahawa keputusan Menteri Dalam Negeri melarangnya menggunakan perkataan Allah adalah haram dan perkataan itu bukan eksklusif bagi agama Islam.

Dalam pada itu, Haron din turut meragui niat akhbar berkenaan yang bertegas mahu mendapatkan kebenaran menggunakan kalimah Allah dalam penerbitan mereka.

“Kenapa sekarang nak gunakan nama Allah? Saya yakin mesti ada niat yang tersurat dan tersirat.

“Kalau niat mereka baik, saya nasihatkan supaya jangan gunakan kalimah itu kerana ia tidak baik untuk kita umat Islam… sesuatu yang mendatangkan keburukan mestilah dicegah,” katanya.

Selain itu Haron Din berkata, pada masa akan datang perkara yang melibatkan hal agama sepatutnya dibicarakan di Mahkamah Syariah.

“Hal Allah ini adalah hal agama, jadi tempat penyelesaiannya adalah di Mahkamah Syariah.

“Kenapa nak bawa kes ini ke Mahkamah Sivil? Saya menyeru kes ini supaya kes ini diselesaikan di Mahkamah Syariah,” katanya.

Beliau juga meminta semua pihak termasuk kerajaan dan Majlis Raja-Raja supaya segera menyelesaikan isu berkenaan.

“Saya merayu Raja-Raja Melayu supaya jangan memandang ringan perkara ini, selesaikan dengan cara setiakawan dan faham memahami perasaan masing-masing,” katanya.MSTAR
http://dupahang.wordpress.com

Posted by: Habib Ahmad | 5 Januari 2010

Penghakiman hakis keistimewaan Islam

Penghakiman hakis keistimewaan Islam
DIkirim oleh epondok di Januari 4, 2010

Oleh Zainul Rijal Abu Bakar

Keputusan mahkamah benar gereja guna kalimah cetus kegusaran, kekeliruan masyarakat

KEPUTUSAN Hakim Datuk Lau Bee Lan pada 31 Disember lalu yang membenarkan Titular Roman Catholic Archbishop of Kuala Lumpur menggunakan kalimah Allah dalam penerbitan mingguannya, Herald-The Catholic Weekly adalah suatu tamparan hebat kepada usaha memartabatkan agama Islam sebagai ‘agama rasmi.’ Masyarakat Islam arus perdana melihat penghakiman ini sebagai suatu perkara yang akan menimbulkan kekeliruan dan kegusaran di kalangan umat Islam.

Penghakiman ini juga dilihat menghakis keistimewaan agama Islam sebagai agama rasmi Persekutuan. Saya sendiri mendapat banyak panggilan telefon, e-mel dan surat bertanyakan kesan penghakiman itu terhadap kedudukan agama Islam di Malaysia khususnya. Dalam beberapa hari saja penghakiman berkenaan dikeluarkan, keluhan dan ketidakpuasan hati umat Islam ini dizahirkan di dalam media arus perdana dan media alternatif.

Sebenarnya pendirian umat Islam bukanlah hendak memadam kalimah Allah di dalam kitab suci agama lain tetapi hanyalah berkisar di sebalik undang-undang yang berkuatkuasa di dalam negara dan keluhuran Perlembagaan Persekutuan. Perkara ini jelas kerana agama Sikh umpamanya yang menggunakan kalimah Allah di dalam bahasa asal kitab suci mereka tidak pernah dihalang daripada membaca atau mengamalkan ajaran di dalam kitab asal mereka.

Malah pendirian diambil oleh umat Islam bukanlah ‘peperangan antara kitab suci’ tetapi lebih kepada memberi makna dan tafsiran jelas kepada peruntukan yang ada di dalam Perlembagaan Persekutuan yang disanjung oleh segenap warga negara Malaysia. Permasalahan yang timbul ialah penerbitan majalah Herald-The Catholic Weekly ini boleh digapai oleh orang ramai termasuk orang Islam. Ia sudah tentu diedarkan dan tiada jaminan ia tidak akan sampai kepada orang Islam.

Walaupun usaha beberapa majlis Islam negeri seperti Selangor, Wilayah Persekutuan, Terengganu, Johor, Melaka, Pulau Pinang, Perak dan Kedah serta Persatuan Cina Muslim Malaysia (MACMA), gagal mencelah di dalam kes ini, usaha itu haruslah diberi penghargaan tinggi kerana khususnya majlis agama sudah menjalankan tanggungjawab statutori mereka di dalam mempertahankan agama Islam dan MACMA adalah NGO tunggal berbuat demikian.

Namun persoalan lain pula, di manakah Majlis-Majlis Agama Islam negeri lain? Adakah mereka juga bersekongkol dan bersetuju kalimah Allah ini boleh digunakan oleh pihak gereja di dalam penerbitan mereka? Majlis agama mempunyai tanggungjawab statutori menasihati Sultan di dalam hal ehwal agama malah menjaga agama juga diletakkan di bawah tanggungjawab majlis agama. Hanya Islam satu-satunya agama yang disebut di dalam Perlembagaan Persekutuan.

Tiada agama lain disebut secara khusus di dalam Perlembagaan Persekutuan melainkan hanya disebut sebagai boleh diamalkan dalam keadaan aman dan harmoni dalam negara. Ini adalah jaminan perlembagaan bahawa pengamalan agama lain oleh orang bukan Islam dibenarkan tertakluk kepada Perkara 11(4), iaitu berkaitan sekatan penyebaran agama bukan Islam kepada orang Islam.

Umat Islam adalah penduduk majoriti di Malaysia. Perkara 3 (1) Perlembagaan Persekutuan menyatakan agama Islam ialah agama rasmi bagi Persekutuan tetapi agama lain boleh diamalkan dengan aman dan damai di mana-mana bahagian Malaysia. Makna ‘boleh diamalkan dengan aman dan damai’ ialah agama lain selain agama Islam boleh diamalkan di mana-mana bahagian Persekutuan selagi ia tidak menghakis kedamaian dan keamanan agama rasmi Persekutuan, iaitu Islam. Inilah kedudukan istimewa Islam.

Kedudukan istimewa Islam ini bolehlah difahami kerana wujud peruntukan lain yang memberi kelebihan kepada Islam sebagai agama rasmi Persekutuan seperti termaktub di dalam Perkara 3(1) Perlembagaan Persekutuan, antaranya:

a) Perkara 11(4) Perlembagaan Persekutuan memperuntukkan bahawa negeri-negeri boleh mewartakan undang-undang menghalang orang bukan Islam menyebarkan dakyah agama mereka kepada orang Islam. Undang-undang Negeri dan mengenai Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur dan Labuan, undang-undang Persekutuan boleh mengawal atau menyekat pengembangan apa-apa iktikad atau kepercayaan agama antara orang yang menganuti agama Islam;

b) Perkara 12(2) Perlembagaan Persekutuan memperuntukkan kerajaan Persekutuan diberi kuasa untuk mengurus dan menghulur bantuan kepada institusi Islam seperti masjid, sekolah agama dan juga bagi tujuan pembangunan syiar Islam;

c) Perkara 74(2) Perlembagaan Persekutuan pula memperuntukkan kerajaan negeri berkuasa membuat undang-undang bagi mentadbir urusan agama Islam;

d) Perkara 121 (1A) Perlembagaan Persekutuan juga memberi pengiktirafan kepada Mahkamah Syariah untuk mendengar kes dan persoalan mengenai agama Islam dan Mahkamah Sivil tidak boleh campur tangan, membatalkan atau tidak menghiraukan keputusan Mahkamah Syariah.

Penghakiman Lau itu memberi kesan ketara terhadap orang Islam. Ini bermakna orang bukan Islam bebas menggunakan kalimah Allah di dalam penerbitan mereka selagi ia diedarkan di kalangan orang bukan Islam. Persoalan yang timbul pula apakah jaminan ia tidak akan diedarkan kepada orang Islam?

Penerbitan itu bukan hanya diedarkan di gereja. Kenapakah pihak gereja begitu terdesak mahu menggunakan kalimah Allah ini? Tidakkah dengan menggunakan kalimah Allah ini akan menggugat kedamaian dan keamanan agama bagi Persekutuan? Malah kewujudan Enakmen Kawalan Pengembangan Agama Bukan Islam Di Kalangan Orang Islam yang digubal berdasarkan Perkara 11(4) juga tidak mempunyai signifikan secara realitinya.

Enakmen yang wujud di beberapa negeri sejak berpuluh-puluh tahun masih tidak dilaksanakan. Malah ada negeri yang meluluskan enakmen ini masih tidak mewartakan dan memberi tarikh pelaksanaannya. Empat negeri pula, iaitu Wilayah Persekutuan, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak belum menggubal undang-undang sama walaupun Tun Abdullah Ahmad Badawi sendiri ketika menjadi Perdana Menteri, berjanji dan mengarahkan negeri terbabit menggubal undang-undang berkenaan.

Sememangnya kepentingan agama Islam sering kali dipinggirkan ketika membuat sebarang tindakan oleh pelbagai pihak. Kenapa kita terlalu mengabaikan perkara ini? Dalam keadaan yang agak tegang ini, saya meminta kerajaan segera memfailkan rayuan terhadap keputusan hakim itu, serta memohon menggantung perintah dikeluarkan.

Saya juga menyeru kerajaan melaksanakan segera Enakmen Kawalan Pengembangan Agama Bukan Islam di Kalangan Orang Islam dan bagi negeri yang belum menggubal undang-undang terbabit, hendaklah segera berbuat demikian.

Majlis Raja-Raja Melayu sebagai ketua agama negeri juga perlu membuat ketetapan tegas berkaitan dengan perkara ini selaras dengan sumpah jawatan baginda mempertahankan Islam pada setiap masa. Malah Yang di-Pertuan Agong menurut Perkara 130 Perlembagaan Persekutuan juga boleh merujuk ke Mahkamah Persekutuan bagi pentafsiran Perkara 3 itu.

Perkara 13 berkenaan menyebut Yang di-Pertuan Agong boleh merujuk kepada Mahkamah Persekutuan untuk pendapatnya apa-apa soal mengenai kesan mana-mana peruntukan perlembagaan ini yang sudah berbangkit atau yang tampak padanya mungkin berbangkit, dan Mahkamah Persekutuan hendaklah mengumumkan pendapatnya mengenai apa-apa soal yang dirujukkan sedemikian kepadanya itu di dalam mahkamah terbuka.

Oleh yang demikian, jika Yang di-Pertuan Agong merujuk kepada Mahkamah Persekutuan berkaitan isu ini, mungkin akan meredakan ketegangan dihadapi umat Islam sekarang. Tindakan Kementerian Dalam Negeri (KDN) melarang gereja menggunakan kalimah Allah kerana KDN sebagai sebuah badan kerajaan perlu mempertahankan ikrar Yang di-Pertuan Agong ketika menaiki takhta, iaitu mempertahankan Islam pada setiap masa.

Oleh itu segala tindakan dibuat kerajaan perlu sejajar dengan ikrar mempertahankan Islam. Secara mudahnya, setiap urusan kerajaan adalah disifatkan sebagai Urusan Seri Paduka Baginda (seperti tertera di dalam sampul surat jabatan kerajaan). Oleh yang demikian adalah tidak masuk akal, urusan itu mencabul ikrar yang dibuat oleh Yang di-Pertuan Agong.

KDN perlu segera merayu keputusan kes ini kerana ia membabitkan kedudukan agama Islam di Malaysia apatah lagi keputusan mahkamah tertinggi dalam

negara perlu bagi menyelesaikan kedudukan ini secara muktamad.

http://epondok.wordpress.com

Posted by: Habib Ahmad | 5 Januari 2010

Sebuah peringatan tentang neraka

Sebuah peringatan tentang neraka
Posted on Januari 4, 2010 by sulaiman
Al-Lail [14] Maka (serentak dengan memberi hidayat petunjuk) Aku juga telah memberi amaran mengingatkan kamu akan api Neraka yang marak menjulang.

Mursalat [32] Sesungguhnya Neraka itu melemparkan bunga api, (yang besarnya) seperti bangunan besar,

Sepertimana bunga api di dunia ini yang akhirnya jatuh ke bawah, bunga api neraka yang dilemparkan ke atas itu akan jatuh ke bawah membakar para ahli neraka.

70 tahun perjalanan ke bawah

Daripada setiap 1000 manusia yang meniti Sirat di Hari Kiamat hanya 1 sahaja yang akan terus berada di titian sirat (iaitu mereka yang beriman dan beramal soleh) untuk meneruskan perjalanan ke syurga (sepantas kilat bagi mereka yang beriman). 999 manusia akan jatuh ke bawah dari sirat dan akan tiba di dasar neraka setelah 70 tahun.

Kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, maksudnya:Kami bersama-sama Rasulullah Saw, maka kami mendengar suara yang sangat hebat lagi dahsyat. Beliau bersabda: “Tahukah kamu sekalian suara apakah ini”.Kami menjawab: “Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui”.Beliau bersabda: “Ini adalah suara batu yang dilontarkan ke dalam neraka Jahannam sejak 70 tahun dan sekarang baru sampai ke dasarnya.

Terdapat juga golongan pelawak yang terjunam sehingga 70 tahun ke dalam neraka. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud: “Tidaklah hasil tuaian lidah manusia itulah yang telah menghumbankan muka mereka ke dalam neraka?” (Hadis Riwayat At-Tarmizi, An-Nasai, Ibn Majah dan Ahmad)

Nereka itu umpama lubang perigi yang panas, ada 70 gunung berapi dan asapnya pula hitam.

40 tahun perjalanan lebarnya.

Dari Abu Said Al-Khudri r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda, pembatas neraka itu terdiri dari empat dinding yang tebal. Setiap dinding jaraknya sejauh empat puluh tahun perjalanan (Riwayat Tirmidzi)

Neraka itu juga makhluk Allah.

Neraka hidup dan diceritakan dalam hadith dan al-quran.. Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Di bawa Neraka jahanam pada hari itu dengan tujuh puluh ribu tali penarik, pada tiap-tiap satu tali penarik ada tujuh puluh ribu Malaikat menariknya. (Bukhari)

Dari Abu Hurairah, r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Akan keluar satu batang leher dari Neraka pada hari qiamat dengan dua mata yang melihat dan dua telinga yang mendengar serta lidah yang bercakap lalu berkata: “

Aku diberi kuasa menyeksa tiap-tiap seorang dari tiga jenis manusia: Tiap-tiap orang yang kejam dan keras hati, lagi degil tidak menerima kebenaran yang diketahuinya; tiap-tiap orang yang mempersekutukan sesuatu – yang lain dengan Allah dan orang-orang yang membuat gambar. (Tirmidzi)

Juga diceritakan dalam al-quran:

Furqan [12] Apabila Neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, kedengaranlah mereka suara marahnya yang menggelegak dan mengeluh

Kepanasan neraka

Neraka mempunyai 7 pintu yang ditutup rapat supaya suhu panasnya kekal pada tahap yang maksimum. Api neraka itu 69 kali kepanasan api di dunia. Para sahabat pernah mengatakan bahawa cukuplah kalau api neraka itu sepanas api dunia. Jawab Rasulullah “Kalau api neraka itu sepanas api dunia, ahli neraka masih boleh tidur di dalamnya“..

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:“Kepanasan api kamu yang digunakan oleh anak Adam di dunia ini hanyalah sepertujuh puluh kepanasan api Neraka Jahanam.” Sahabat-sahabat Baginda berkata: “Demi Allah! Sesungguhnya sekadar itu pun cukuplah untuk menyeksa. ”Baginda s.a.w., bersabda: “Meskipun demikian, kepanasan Neraka jahanam ditambah melebihi kepanasan api dunia sebanyak enam puluh sembilan bahagian yang tiap-tiap satunya seperti kepanasan api dunia ini. “

Neraka sendiri tidak tahan dengan kepanasnya, ia meminta izin dari Allah untuk menghembuskan nafasnya ke dunia, lalu diizinkan. Satu nafas neraka yang dihembuskan cukup untuk kegunaan dunia selama satu tahun.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Neraka mengadu kepada Tuhannya. Kata neraka: Ya Tuhanku, sebahagianku memakan sebahagian yang lain. Allah lalu mengizinkan neraka untuk menghembuskan dua nafas, nafas pada musim dingin dan nafas pada musim panas. Nafas yang kedua adalah hawa paling panas yang biasa yang engkau rasakan. Nafas yang pertama adalah hawa paling dingin yang engkau rasakan.

Matahari itu sangat juga panas kerana cahayanya berasal dari api neraka.

Rasulullah s.a.w. bersabda “Telah diwakilkan kepada sembilan malaikat khas untuk melontar salji tiap-tiap hari kepada matahari. Kalau tidak dibuat demikian, terbakarlah alam ini”. (Riwayat Tabrani dari Abu Umamah).
http://nasbunnuraini.wordpress.com/

Posted by: Habib Ahmad | 5 Januari 2010

PENGGUNAAN NAMA ALLAH OLEH AGAMA-AGAMA LAIN

PENGGUNAAN NAMA ALLAH OLEH AGAMA-AGAMA LAIN
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Artikel Pilihan Jom Faham, Soal Jawab Aqidah

Sehingga Mac 2009 polimik penggunaan nama Allah berterusan di Malaysia apabila Gereja Kristian di Malaysia mahu menggunakan nama tersebut dalam penerbitan mereka di atas dakwaan kebebasan beragama yang dijamin oleh perlembagaan. Dalam konteks Malaysia, Islam sebagai agama rasmi di negara ini, telah mempunyai beberapa peraturan untuk menjaga kesucian agama Islam dan ia dijamin juga oleh perlembagaan. Bahkan di negeri-negeri, Raja-Raja Melayu memiliki kekuasaan untuk menjaga isu-isu agama termasuklah hak esklusif penggunaan nama Allah untuk agama Islam.

Perdebatan berkenaan dengan penggunaan nama Allah oleh agama lain mengundang dua pandangan berbeza di kalangan umat Islam samada di kalangan ahli agama, mahupun masyarakat awam.

Terdapat golongan memandang nama ‘Allah’ sememangnya digunakan oleh al-Quran untuk menceritakan bagaimana kepercayaan umat-umat terdahulu. Sebagai contoh, dalam surah Luqman, ayat 25. Allah SWT bermaksud:

Sekiranya kamu bertanya mereka (orang-orang kafir), siapakah yang menjadikan langit-langit dan bumi, nescaya mereka mengatakan Allah. Katakan (wahai Muhammad): Segala puji bagi Allah. Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Demikian juga dalam surah al-Ankabut, ayat 61, Allah SWT berfirman bermaksud:

Dan sekiranya kamu bertanya mereka siapakah yang menjadikan langit-langit dan bumi dan yang mengaturkan matahari dan bulan, nescaya mereka mengatakan Allah. Justeru kenapakan mereka berpaling (dari) mentauhidkan Allah?

Golongan ini mengatakan bahawa al-Quran sendiri menyebut bahawa masyarakat bukan Islam menggunakan istilah ‘Allah’ untuk tuhan.

Pada saya, ada beberapa perkara yang perlu diteliti dalam memperbahaskan isu penggunaan nama Allah.

Pertamanya,

kitab-kitab agama-agama langit terdahulu tidak diturunkan dalam bahasa Arab, justeru tidak timbul langsung penggunaan istilah ‘Allah’ untuk agama-agama langit seperti ‘Yahudi’ dan ‘Kristian’. Al-Quran kemudiannya menjelaskan bahawa konsep tauhid agama tersebut yang asal ialah kepercayaan kepada Allah SWT walaupun telah diselewengkan oleh para pendeta dan paderi. Hakikat bahawa kitab-kitab Yahudi dan Kristian bukan berbahasa Arab iaitu taurat dan injil (bible), keduanya tidak menggunakan nama ‘Allah’ untuk merujuk tuhan mereka. Sebaliknya Islam tidak pernah menggunakan istilah yang mereka gunakan terhadap Allah sebagai nama kepada tuhan di dalam ajaran Islam.

Keduanya,

ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Contohnya, ayat 23 dan 24 Surah Luqman menceritakan orang-orang yang kufur terhadap Allah SWT dan mereka ditimpakan dengan azab yang pedih. Justeru, di kalangan mereka yang kufur (menyembah selain dari Allah SWT), jauh di sudut hati mereka mengakui adanya tuhan yang esa yang menjadikan langit dan bumi. Ini tidak menandakan orang-orang kafir menggunakan lafaz Allah dan menyembah Allah sebagai tuhan mereka.

Demikian juga dalam surah al-Ankabut, ayat sebelumnya menceritakan rahmat Allah.
Sekiranya ditanya kepada orang-orang kafir siapakah tuhan mereka, nescaya mereka akan mengatakan Allah. Namun mereka tetap berpaling. Iaitu mereka masih berpaling dengan tidak meyembah Allah SWT
. Justeru, ayat ini tidak boleh digunakan untuk menunjukkan tuhan mereka ialah Allah SWT.

Ketiganya,

kemungkinan ada pandangan mengatakan ‘orang-orang Arab Jahiliyah’ menggunakan perkataan ‘Allah’ untuk merujuk kepada ‘tuhan’. Benarkah begitu? Sebaliknya orang-orang Arab sebelumnya banyak menggunakan perkataan ‘ilah’ untuk merujuk kepada tuhan, contohnya ilah latta dan ilah al-uzza.

Sebaliknya, al-Quran datang menggunakan perkataan ‘Allah’ dan bukan perkataan ‘ilah’ bersama penafian Allah itu mempunyai anak, dan penafian Dia mempunya pembantu yang terdiri dari ilah-ilah yang lain sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Mukminun, ayat 91 yang bermaksud:

Dan tidaklah Allah mempunyai anak, dan tidaklah bersamanya tuhan yang lain (sebagai pembantu). Oleh itu, sekiranya setiap tuhan memutuskan keputusannya sendiri, nescaya sesetengahnya di atas sesetengah yang lain (menguasai yang lain), mahasuci Allah daripada apa yang mereka sifatkan.

Keempatnya, umat Islam perlu mempertahankan penggunaan nama ‘Allah’ hanya untuk orang-orang Islam kerana beberapa sebab, antaranya:

i. Antaranya penggunaan perkataan ‘Allah’ telah melalui proses penyucian dari segala kesyirikan yang muncul dari zaman selepas nabi-nabi sebelumnya sehingga hari ini sehingga diiktiraf sebagai tuhan orang-orang Islam. Sila lihat kamus-kamus moden bagi membuktikan perkara ini. Justeru itu, membenarkan penggunaan istilah itu kepada bukan Islam adalah satu tindakan ke belakang untuk kembali ke zaman penggunaan nama Allah yang dipenuhi kesyirikan. Sekaligus, ia mengenepikan usaha al-Quran yang berulang kali menafikan sifat-sifat kesyirikan (mempunyai anak dan pembantu-pembantu) yang ada pada zat Allah SWT.

ii. Berpegang pada pandangan bahawa dalam al-Quran menyebut orang-orang kafir menggunakan penggunaan nama Allah, adalah pandangan yang cetek. Tidakkah mereka membaca bersama bahawa al-Quran berulang-kali mensucikan nama ‘Allah’ dari bersifat dengan sifat kelemahan.

iii. Kalau benarpun, ada penggunaan ‘Allah’ sebelum Islam, ia adalah nama umum, yang kemudiannya menjadi nama khusus untuk tuhan orang-orang Islam setelah melalui proses mensucikan nama Allah SWT dari segala sekutu yang tidak layak untuknya.

Semoga membantu kita memahami kepentingan isu ini. Untuk tidak mengulang perbahasan lanjut, saya suka juga merujuk kepada artikel di bawah yang boleh dijadikan rujukan dalam isu ini.

Sekian, wallahu a’lam.

Dr Asmadi
4 Mac 2009

Posted by: Habib Ahmad | 5 Januari 2010

Profil Rubat Tarim

Profil Rubat Tarim

Pendahuluan

Kota Tarim sejak dulu merupakan pusat ilmu dan penyebaran agama Islam, pakar sejarah mengatakan demikian. Kerena, melalui perantau yang berasal dari kota ini pada khususnya dan Hadramaut pada umumnya Islam menyebar hingga ke Timur Asia, India, Indonesia, Malaysia, Berunei Darussalam, Fhilipina, Singapura, juga belahan Afrika, Kongo, Somalia, dan Sudan.

Mereka para muhajirin tersebut pergi untuk berda’wah dan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka dicukupi dengan berdagang, hingga negeri-negeri yang dulunya kafir berubah menjadi negeri-negeri Islam.

Sayyidina Imam Ahmad bin Hasan Al-Attash menyebutkan bahwa sebagian ulama Tarim telah hijrah sejak lebih dari 1000 tahun lalu, diantara mereka ada yang menjadi qadhi (hakim) di Mesir, padahal negeri ini dan Al-Azharnya sudah terkenal sejak dulu sebagai pusat cendikiawan-cendikiawan muslim.

Pada abad-abad selanjutnya fenomena ini mulai berubah, jika sebelumnya para ulama hijrah dari kota Tarim Al-Ghanna ini, kini orang mulai berdatangan ke Tarim untuk menuntut ilmu. Itu terjadi baik dimasa hidup Habib Syekh Abu Bakar bin Salim, masa putra beliau Hamid dan Husin juga dimasa Imam Abdullah Al-Haddad. Hal ini terjadi terus menerus hingga pada paruh pertama abad ke-13 H. Kota Tarim kian dipenuhi pendatang asing, diantara mereka Sayyid Imam Al-Habib Sholeh Al-Bahrain, Salim bin Sa’id bin Syumaeil, Syekh Abdullah Basaudan, Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Attash, dan sebagainya. Pendatang-pendatang ini tinggal dimesjid-mesjid dan juga di zawiyah zawiyah yang ada di Tarim.

Kota yang besarnya tidak lebih dari luas kota kecamatan di Indonesia ini memang sangat istimewa. Walaupun kecil namun jumlah mesjidnya saja sangat banyak lebih dari 365 buah dan zawiyah-zawiyah yang makna asalnya pojok-pojok yang berfungsi sebagai tempat ibadah para ubbad (ahli ibadah). Disitu para pelajar belajar ilmu nahwu, Fiqh, dan ilmu-ilmu lainnya dengan para guru-guru yang ada di tiap-tiap zawiyah atau mesjid tersebut. Seperti zawiyah Syekh Ali bin Abu Bakar As-Syakron bin Abdurrahman As-Segaf yang diasuh oleh Al-Allamah Mufti Diyar Hadramiyah Al-Allamah Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, kemudian zawiyah mesjid Sirjis dan Al-Awwabin dengan Syekh Al-Allamah Muhammad bin Ahmad Al-Khatib, zawiyah mesjid Nafi’ diasuh Al-Allamah Syekh Ahmad bin Abdullah Al-Bakri Al-Khatib (setelah wafat guru beliau yang juga pendiri zawiyah tersebut, Al-Allamah Ahmad bin Abdullah Balfaqih pada tahun 1299 H, dan setelah wafat Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Bakar Al-kherred), kemudian mesjid Suwayyah pengajarnya juga Syekh Ahmad, mesjid bani Hatim (sekarang dikenal dengan mesjid ‘Asyiq) mudarrisnya Al-Allamah Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Masyhur, zawiyah Syekh Salim bin fadhal Bafadhal dengan pengasuh Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-kherred (meninggal tahun 1312 H) dan lain sebagainya.

Demikinlah kegiatan-kegiatan ilmiah yang ada dikota ini begitu ramai dan tatkala pelajar dari luar Tarim kian banyak dan dirasa kian sulit mendapatkan tempat tinggal, berkumpullah para pemuka kota ini guna memecahkan masalah itu, diantara mereka dari keluarga Al-Haddad, As-Sirri, Al-Junaid dan Al-Arfan.

Nama Perguruan

Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah rubath (ma’had) yang kemudian dinamakan “RUBATH TARIM”. Persyaratan bagi calon pelajar juga dibahas pada kala itu, kriteria utama antara lain: calon santri adalah penganut salah satu mazhab dari empat mazhab fiqh (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali) dan dalam aqidah bermazhab Asy’ariyah (mazhab Imam Abi Hasan Al-Asy’ari)

Tahun Diresmikan

Setelah membuat kesepakatan diatas dimulailah pembangunan Rubath Tarim. Untuk keperluan ini, Habib Ahmad bin Umar As-Syatiri (wafat di Tarim tahun 1306 H) mewakafkam rumah beliau (dar muhsin) dan pekarangannya yang berada disebelah pasar di halaman mesjid Jami’ Tarim dan mesjid Babthoinah (sekarang mesjid Rubath Tarim). Wakaf juga datang dari Al-Allamah Al-Muhdisth Muhammad bin Salim As-Sirri (lahir di Singapura 1264 H, dan wafat di Tarim 1346 H)

Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri (pengasuh Rubath Tarim sekarang) menambahkan bahwa pedagang-pedagang dari keluarga Al-Arfan juga mewakafkan tanah yang mereka beli di bagian timur, mereka kemudian dijuluki tujjaru ad-dunya wa al-akhirah (pedagang dunia dan akhirat). Datang juga sumbangan melalui wakaf rumah, kebun, dan tanah milik keluarga-keluarga habaib di luar Yaman, seperti Indonesia, Singapura, dan Bombosa Afrika.

Akhirnya selesailah pembangunan Rubath Tarim di bulan dzulhijjah tahun 1304 H dan secara resmi dibuka pada 14 muharram 1305 H, keluarga Al-Attash tercatat sebagai santri pertama yang belajar di Rubath Tarim kemudian datang keluarga Al-Habsyi begitu selanjutnya berdatangan para pelajar, baik dari Hadramaut sendiri maupun dari luar Hadramaut bahkan dari luar negeri Yaman. Habib Ahmad bin Hasan Al-Attash berkata: “perealisasian pembangunan Rubath Tarim ini tidak lain adalah niat semua salafusshalihin alawiyiin, hal ini terbukti dengan mamfaatnya yang besar serta meluas mulai dari bagian Timur bumi dan Barat”.

Pengasuh

 Pengasuh I

Mufti Diyar Hadramiyah Sayyidina Al-Imam Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (pengarang kitab Bugyatul Mustarsidin), beliau lahir di Tarim tahun 1250 H. Beliau mengasuh Rubath Tarim hingga tahun 1320 H, dengan di bantu ulama-ulama lain yang ada pada masa itu, seperti Al-Allamah Syekh Ahmad bin Abdullah Al-Bakri Al-Khatib (1257-1331 H), Al-Allamah An-Nahrir Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur (1263-1341), Al-faqih Al-Qadhi Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-kaff (pejabat qadhi di Tarim selama dua kali, wafat 1333 H), Al-Allamah As-Sayyid Hasan bin Alwi bin Sihab, Al-Allamah Syekh Abu Bakar bin Ahmad Al-Bakri Al-Khatib (1286-1356). Para mudarris inilah yang mengajar di Rubath Tarim sejak pertama kali dibuka pada tahun 1305 hingga tahun 1314 H.

 Pengasuh II

Al-Allamah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur (lahir di Tarim tahun 1274 H), mudarris di zawiyah Syekh Ali bin Abu Bakar bin Abdurrahman As-Segaf. Beliau mengasuh Rubath Tarim sejak wafatnya sang ayah (Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur) pada tahun 1320 H dan terus berlangsung hingga tahun 1344 H ketika beliau berpulang kerahmatullah pada tahun itu pada tanggal 9 syawal.

 Pengasuh III

Al-Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri ra (lahir di Tarim bulan Ramadhan tahun 1290 H), yang kemudian diberi mandat oleh pemuka kota Tarim untuk menjadi pengasuh ketiga yang semula menjadi wakil Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur sejak tahun 1341 H jika beliau berhalangan mengajar dan telah menjadi mudarris di Rubath Tarim sejak datang dari Mekkah pada tahun 1314 H. Pada mulanya beliau belajar di kota kelahiran kepada para masyayikh di sana terutama kepada Habib Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur dan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Kaff. Kemudian beliau pindah ke Seiwun (25 KM sebelah barat laut kota Tarim) dan belajar di Rubath Habib Ali bin Muhammad bin Husien Al-Habsyi selama kurang lebih empat bulan, juga kepada Habib Muhammad bin Hamid As-Segaff, dan saudara beliau Umar bin Hamid As-Segaf, serta Habib Abdullah bin Muhsin As-Segaf.

Pada waktu berumur 20 tahun (tahun 1310 H), beliau pergi ke Mekkah bersama orang tua beliau Habib Umar As-Syatiri, untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah kepada Rasulullah SAW. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, beliau meminta izin kepada ayah beliau untuk tinggal di Mekkah guna menuntut ilmu. Dan tercatat sejak tanggal 15 muharram 1211 H hingga 15 dzulhijjah 1313 H beliau belajar pada ulama-ulama di kota suci itu diantaranya kepada Syekh Al-Allamah Umar bin Abu Bakar Ba Junaid, Syekh Al-Allamah Muhammad bin Said Babsheil, Habib Husien bin Muhammad bin Husien Al-Habsyi (saudara Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun), Habib Ahmad bin Hasan Al-Attash, dan Al-Faqih Al-Abid Abu Bakar bin Muhammad Syatho (pengarang kitab hasyiyah I’anatu at-Thalibin ‘ala fathi al-mu’in).

Konon ilmu nahwu sangat sulit bagi beliau, sampai beliau berujar (sebagaimana yang dituturkan putera beliau Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri):”…..dulu saya punya kitab kafrawi syarah al-jurumiah yang penuh dengan air mata….. “ kerena sulitnya ilmu itu bagi beliau. Namun kemudian Allah SWT menganugerahi beliau ke-futuh-an.”….tatkala saya berada di Mekkah, semua risalah yang datang, saya taruh dibawah tempat tidur, saya berdo’a di Multazam agar Allah SWT membukakan bagi saya ilmu yang bermamfaat, dan agar ilmu saya menyebar di bumi barat dan timur, maka acap kali saya berdo’a dengan do’a ini, terlintas dalam benak, bahwa saya akan menjadi musafir yang pindah dari dari negeri satu kenegeri yang lain untuk mengajar umat akan tetapi berapa lama umur manusia untuk semua itu ?…”. Maka Allah SWT mengabulkan do’a beliau, Allah SWT memudahkan perjalan Rubath ini, sehingga datang kesana para penuntut ilmu dari penjuru dunia, mereka menjadi ulama, dan menyebarkan ilmu mereka masing-masing maka menyebarlah ilmu beliau (Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri) di timur dan barat.

Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafizd (salah seorang murid beliau) berujar:”……..Habib Abdullah bercerita kepada kami bahwa lama tidur beliau kala itu (selama balajar di Mekkah) tidak lebih dari 2 jam saja setiap harinya, beliau belajar kepada guru-gurunya sebanyak 13 mata pelajaran pada siang dan malam, serta menelaah kembali semua pelajaran itu (tiap hari)……”.

Selama kurang lebih lima puluh tahun beliau mengajar di Rubath Tarim (1314-1361 H) selama itu hanya enam jam beliau berada dirumah, sedang delapan belas jam dari dua puluh empat jam tiap hari, beliau berada di Rubath Tarim untuk mengajar dan memimpin halaqah-halaqah ilmiah, jumlah murid yang telah belajar di Rubath Tarim tak dapat diketahui secara pasti jumlahnya. Dalam biografi Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar (salah seorang murid di Rubath Tarim) menyebutkan bahwa lebih dari 13.000 alim telah keluar dari Rubath Tarim Dibawah asuhan Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri.

 Pengasuh IV

Al-Habib Hasan bin Abdullah bin Umar As-Syatiri.

 Pengasuh V

Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar As-Syatiri (pengasuh sekarang).

Luas Bangunan

Saat ini, bangunan Rubath Tarim yang luasnya sekitar 500 m persegi ini menampung pelajar dari berbagai belahan dunia terutama pelajar Indonesia yang hampir mendominasi warga Rubath Tarim.

Sistem Belajar

Sejak berdiri hingga sekarang (kurang lebih 121 tahun) pengajian di Rubath Tarim dilaksanakan dengan sistem halaqah yang dibimbing oleh para masyayikh. Klasifikasi ini disesuaikan dengan tingkatan masing-masing pelajar. Tiap halaqah mengkaji berbagai fan keilmuan tak kurang dari sepuluh halaqah sejak pagi hingga malam mengkaji ilmu-ilmu agama dan di ikuti oleh para pelajar dengan disiplin dan khidmat.

Kitab-Kitab Yang Dipelajari

Adapun kitab-kitab yang dikaji pada tiap halaqah disesuaikan dengan kemampuan (semacam tingkatan kelas), antara lain:
 Umdah
 Fathul mu’in
 Minhajut thalibin dan sarahnya
 Nahwu
 Fawaid sugra dan kabir
 Matan al-jurumiah
 Al-fushul alfikriah Fiqh
 Ar risalatul al jamiah
 Safinatun najah
 Mukhtasar shagir
 Mukhtasar kabir
 Abi suja’
 Fathul qarib
 Zubad

 Mutammimah
 Qatrun nada
 Syaddzu adzhab
 Alfiah Ibnu Malik
 Zawaid (tambahan) alfiah Ibnu Malik
Setelah menamatkan kitab-kitab diatas para pelajar melanjutkan pada materi-materi lain, seperti Hadist, Tafsir, Usul fiqh.

Waktu Belajar

Para pengurus Rubath Tarim memperhatikan semua aktifitas pelajar dengan secara cermat. Jadual rutinitas keseharian para pelajar dimulai sejak sebelum shalat subuh dengan melaksanakan shalat tahajud, dilanjutkan shalat subuh berjamaah dimesjid Babthoin, disertai pembacaan aurad.

Baru kira-kira pukul 05.00 s.d 07.00 pagi, digelar pengajian nahwu atau lebih akrab disebut dars nahwu. Setelah itu para pelajar dipersilahkan makan pagi. Pada jam 07.30 dilaksanakan mudzakarah tiap halaqah selama sekitar setengah jam untuk persiapan pengajian yang akan di pelajari bersama masyayikh yaitu hafalan matan sampai pukul 09.00.

Selam tiga jam berikutnya adalah waktu istirahat hingga dzuhur, setelah menunaikan shalat dzuhur diadakan hizb (tadarus) Al-Qur’an selama setengah jam. Setelah itu para pelajar dianjurkan tidur siang untuk persiapan mengaji pada sore hari.

Pada pukul 15.00 setelah shalat ashar berjamaah, semua pelajar mengaji tiap halaqah sampai pukul 17.00, setelah shalat magrib dilanjutkan dengan hizb (tadarus) Al-Qur’an dan pengajian halaqah sampai pukul 20.15. Setelah makan malam para pelajar diharuskan mengikuti halaqah selama setengah jam untuk persiapan pelajaran pagi.

Staf Pengajar

1. Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar As-Syatiri
2. Syekh Abu Bakar Muhammad Balfaqih
3. Syekh Umar Abdurrahman Al-Atthas
4. Syekh Abdullah Abdurrahman Al-Muhdhar
5. Syekh Muhammad Ali Al-Khatib
6. Syekh Muhammad Ali Baudhan
7. Syekh Abdullah Umar bin Smith
8. Syekh Abdurrahman Muhammad Al-Muhdhar
9. Syekh Hasan Muhsin Al-Hamid
10. Syekh Abdullah Shaleh Ba’bud
11. Syekh Muhammad Al-Haddad
12. Syekh Abdullah Umar Bal Faqih
Selain para masyayikh diatas, para senior juga diwajibkan membimbing halaqah tingkat bawahnya.

Fasilitas-Fasilitas

 50 kamar
 Wartel
 Toserba
 Perpustakaan

Biaya-Biaya yang diperlukan dalam pendaftaran

a. bulanan selama satu tahun sebesar USD $ 240,-
b. Jaminan tiket pulang sebesar USD $ 500,-
c. Iqamah pertahun sebesar Ry 4000,-

 Untuk keterangan lebih lanjut bisa menghubungi :
 Al-Habib Abdurrahman bin Syekh Al-Atthas
d.a. P.T. Barfo Mahdi
Jl. Asem Baris Raya, No: 3 – Kebun Baru – Tebet – Jakarta
Telp: – Kantor: (0062)(21)8303762
830244
– Rumah: (0062)(21)8354445
 Alhabib Ali Hasan Al-Kaff, beralamatkan:JL.HasanuddinHM/
P.Samudera. No:12/4, Rt15, Banjarmasin P.O.Box:70111
Tel/Fax : (0062)(511)58472
Hp : (0062)8152119158

Penutup

Sebagian ulama Yaman yang telah belajar di Rubath Tarim, juga yang berasal dari luar negeri, antara lain:
 Al-Imam Syaikhul Islam Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar (1340-1418 H), mufti muhafazd propinsi Baidha, Yaman dan pendiri Rubath Al-Haddar lil ulumus Syariat.
 Al-Allamah Habib Hasan bin Ismail bin Syekh, pendiri Rubath Inat Hadramaut.
 Al-Allamah Al-Habr, pejabat qadhi as-syar’i Baidha, Habib Muhammad bin Husien Al-Baidhawi.
 Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman Ibn Syekh Abu Bakar bin Salim, pendiri Rubath Syihir.
 Al-Habib Husien Al-Haddar, ulama besar kelahiran Indonesia dan meninggal di Mukalla Hadramaut.
 Al-Habib Muhammad bin Salim Bin Hafizd Ibn Syekh Abu Bakar bin Salim, pengarang dari berbagai kitab figh dan faraid ayah dari Al-Habib Ali Masyhur bin Hafizd dan Al-Habib Umar bin Hafizd pendiri ma’had Dar Al-Musthafa Tarim Hadramaut.
 Al-Habib Al-Wara’ As-Shufi Ahmad bin Umar As-Syatiri, pengarang kitab Yakutun nafis, Nailurraja’ syarah Safinatun naja’ dan sebagainya.
 Al-Habib Muhammad bin Ahmad As-Syatiri, pengarang kitab Syarah yakutun nafis, Mandzuma Al-Yawaqit fifanni Al-Mawaqit (ilmu falaq), kitab Al-Fhatawa Al-Muassyirah dan sebagainya.
 Al-Allamah Syekh Muhammad bin Salim Al-Baihani, pendiri ma’had Al’ilmi, Aden.
 Al-Allamah Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Jakarta, Indonesia.
 Al-Wajih An-Nabil Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Balfaqih (wafat tahun 1381 H), pengasuh ma’had Darul Hadist Al-Faqihiyyah, Malang, Indonesia.
 Al-Faqih An-Nabil pejabat qadhi as-syar’i Banjarmasin Syekh Ahmad Said Ba Abdah.
 Habib Abdullah Al-Kaff, Tegal, Indonesia.
 Habib Ahmad bin Ali Al-Attash, pekalongan.
 Habib Abdurrahman bin Syekh Al-Attash, Jakarata.
 Habib Abdullah Syami Al-Attash, Jakarta.
 Syekh Al-Allamah Umar Khatib, Singapura.
 Habib ‘Awad Ba ’Alawi, sesepuh ulama singapura.
 Syekh Abdurrahman bin Yahya, qadhi Kelantan, Malaysia.
 Sayyid Al-Muhafizd Al-Majid Al-Adib Hamid bin Muhammad bin Salim bin Alwi As-Sirri, pengajar di Rubath Tarim dan Jam’iyatul Al-Haq di kota yang sama, kemudian pindah dan mengajar di Malang, Indonesia.
 Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad, Mufti Johor, Malaysia.

Dan banyak lagi para ulama yang telah belajar di Rubath Tarim ini, yang tak mungkin disebutkan nama nama mereka yang mencapai ribuan. Habib Alwi bin Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar di Indonesia, berujar:”…tak kutemukan satu daerah atau pulau di Indonesia yang saya masuki, kecuali saya dapati orang orang yang menyebarkan ilmu disana adalah alumni Rubath Tarim ini atau orang yang belajar kepada orang yang telah belajar disini…”.

Habib Musthafa bin Ahmad Al-Muhdar menulis pada sebagian surat beliau kepada ahli Tarim:”….Ilmu As-Syatiri (Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri) teruji dengan penyebarannya menyebar kesegala penjuru, dari daerah yang satu kedaerah yang lain, menyebar ke Hindia, China, negara-negara Arab, Somalia, Malabar, dan sebagainya….”.

Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafizd menambahkan:”…..(Habib Abdullah As-Syatiri) berhak mengatakan jika beliau mau sebagaimana yang dikatakan Imam Abi Ishaq As-Syairozi tatkala memasuki Khurasan,”tak aku dapati disatu kota pun dari kota-kota disana, Qadhi atau Alim kecuali dia adalah muridku atau murid dari muridku……..”

Demikian lah sekelumit sejarah Rubath Tarim yang panjang dan agung, yang telah belajar disana beribu-ribu ulama, al-allamah, faqih, mufti, qadhi, syair bahkan para aulia Allah SWT. Dan saat ini Rubath Tarim telah memasuki usia yang ke-121 tahun, ratusan pelajar dari Yaman, Indonesia, Malaysia, Singapura, Tanzania, Afrika, dan sebagainya tengah menimba ilmu di sana, di bawah asuhan Al-Allamah Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri.

Allahumma ya Man waffaqa ahla khoir li khoiri wa a’annahum ‘alaihi, waffiqna lil khoiri wa a’innaa ‘alaihi, Amin.

(berbagai sumber)
http://www.habibhasanalattas.blogspot.com/

Siaran Langsung Multaqa Ulama Bersama Habib Umar Bin Hafiz حفظه الله تعالى di Bogor, Indonesia

Ikuti secara langsung, Live Multaqa Bersama Guru Mulia Habib Umar Bin Hafiz حفظه الله تعالى bertempat di Puncak, Bogor, Indonesia menerusi al-Muttaqin TV – Sumber Media Ilmiah. Program bermula 5hb sehingga 7hb Jan 2010. Jadual terperinci akan dimaklumkan kemudian – alMuttaqin.tv

Posted by: Habib Ahmad | 4 Januari 2010

Benarkah musyrikin boleh bertauhid rububiyyah?

Benarkah musyrikin boleh bertauhid rububiyyah?

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

sujud hamba-hamba-Nya yang soleh semata-mata kerana Allah SWT.

——————————————————————————–

BERTEMU kembali di ruangan Relung Cahaya pada tahun baru 1431 Hijrah. Semoga penghijrahan kita kali ini lebih bermakna dan turut melonjakkan kita dalam perjalanan kita menuju kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kembali kepada tajuk tauhid yang sedang kita bicarakan. Setelah kita meneliti beberapa dalil dan jawapan yang menunjukkan kepincangan dan kebatilan tauhid tiga serangkai, ada baiknya kita juga memerhatikan sebahagian dalil yang digunapakai oleh pengikut tauhid ini bagi menegakkan pendapat mereka yang kabur.

Kami telah menerima maklum balas daripada mereka yang berpegang dengan tauhid ini dan mereka telah menyatakan dalil-dalil mereka. Namun, di sini kami hanya akan mengutarakan sebahagiannya sahaja dan jawapan bagi hujah mereka tersebut. Manakala sebahagiannya lagi, kami akan susuli pada ruangan dan kesempatan yang lain, insya-Allah.

Sebelum memanjangkan kalam, kami ingin menyuarakan biarlah perbicaraan kita ini difokuskan kepada tajuk yang dibincangkan, bukannya mencemuh pihak yang tidak sependapat dengan kita. Andai kita merasa kita lebih bijak dan lebih mengetahui, sepatutnya kitalah juga yang lebih bijak dan mengetahui tentang adab-adab berbicara dan berdebat. Bukanlah tujuan kami mengetengahkan tajuk ini untuk menyentuh sensitiviti sesiapa, mencari ruang permusuhan atau mengkafir dan menyesatkan sesiapa. Tetapi tujuan kami hanya untuk melihat kebenaran itu tertegak dan kebatilan itu terpadam.

Berbalik kepada tajuk yang kita bicarakan, kami ingin menegaskan bahawa antara perkara utama yang menyebabkan kami menolak pembahagian tauhid ini ialah pembahagian tauhid ini telah mengkategorikan orang musyrik termasuk di dalam golongan ahli tauhid dengan tauhid rububiyyah, bukannya sifat rububiyyah atau uluhiyyah bagi Allah.

Mereka yang berpegang dengan tauhid ini berpegang dengan firman Allah SWT dalam surah al Zumar ayat 38: Dan demi sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu, “Siapakah yang mencipta langit dan bumi?” Sudah tentu mereka akan menjawab, “Allah.”

Mereka juga berpegang dengan firman Allah SWT: Tanyakanlah lagi, “Siapakah tuhan yang memiliki dan mentadbirkan langit yang tujuh dan tuhan yang mempunyai Arasy yang besar?” Mereka akan menjawab, “(Semuanya) kepunyaan Allah.” Katakanlah, “Mengapakah kamu tidak mahu bertaqwa? (al-Mukminun: 86 dan 87)

Ayat-ayat lain yang serupa dengan ayat ini banyak terdapat di dalam al-Quran.

Kami menyatakan bahawa hujah ini terlalu lemah. Ini kerana orang-orang musyrik hanya mengaku dengan lidah mereka kewujudan Allah ketika mana mereka berada dalam keadaan terdesak setelah dikemukakan hujah-hujah kepada mereka. Sedangkan hati-hati mereka menolak dengan apa yang mereka ungkapkan dan mengingkarinya. Allah SWT telah menjelaskan hakikat mereka melalui firman-Nya: Mereka menjadikan kamu senang hati dengan mulut mereka, sedangkan hati mereka menolaknya. (al-Taubah: 8)

Berikrar

Berikrar dengan lidah semata-mata tanpa ditasdiqkan (dibenarkan) dengan hati, tidak ada nilainya dan tidak dikira pengakuannya itu di sisi syariat Allah.

Untuk lebih jelas lagi, perhatikanlah sambungan ayat daripada surah al-Zumar di atas yang bermaksud: Katakanlah (kepada mereka wahai Muhammad): “Kalau demikian, bagaimana fikiran kamu tentang yang kamu sembah selain dari Allah itu? Jika Allah hendak menimpakan daku dengan sesuatu bahaya, dapatkah mereka mengelakkan atau menghapuskan bahayanya itu; atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, dapatkah mereka menahan rahmatNya itu?” Katakanlah lagi: “Cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku); kepadaNyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu berserah diri. (al-Zumar: 38)

Ayat ini jelas menunjukkan pembohongan dan kepura-puraan perkataan mereka. Mereka ini tetap juga menyandarkan kemudharatan dan manfaat kepada selain Allah. Mereka sebenarnya jahil tentang Allah dan mendahulukan tuhan-tuhan mereka daripada Allah, hatta dalam sekecil-kecil perkara.

Sekiranya jawapan ini belum cukup untuk memuaskan hati pengikut tauhid tiga ini, marilah kita perhatikanlah semula perkataan orang musyrik kepada Nabi Hud AS: Kami hanya boleh berkata bahawa setengah dari tuhan-tuhan kami telah mengenakanmu sesuatu penyakit gila (disebabkan engkau selalu mencaci penyembahan kami itu). (Hud: 54)

Bagaimanakah pengikut tauhid tiga boleh mengatakan orang musyrik mempercayai bahawa hanya Allah yang berkuasa dalam urusan mentadbir, memberikan manfaat dan mudharat sehingga mereka layak dikatakan mempunyai tauhid rububiyyah? Padahal mereka mempercayai bahawa berhala-berhala mereka mampu mendatangkan mudharat dan manfaat?

Seterusnya, perhatikanlah pula ayat 136 dari surah al-An’aam ini: Dan mereka (orang-orang musyrik) memperuntukkan dari hasil tanaman dan binatang-binatang ternak yang diciptakan oleh Allah itu, sebahagian bagi Allah (dan sebahagian lagi untuk berhala-berhala mereka), lalu mereka berkata: “Ini untuk Allah – menurut anggapan mereka – dan ini untuk berhala-berhala kami.” Kemudian apa yang telah ditentukan untuk berhala-berhala mereka, maka ia tidak sampai kepada Allah (kerana mereka tidak membelanjakannya pada jalan Allah), dan apa yang telah ditentukan untuk Allah, sampai pula kepada berhala-berhala mereka (kerana mereka membelanjakannya pada jalan itu). Amatlah jahatnya apa yang mereka hukumkan itu.

Jika orang musyrikin mentauhidkan Allah dari sudut rububiyyah kenapakah mereka telah mendahulukan berhala-berhala mereka daripada Allah daripada sekecil-kecil dan serendah-rendah perkara.

Allah telah berfirman dalam menjelaskan kepercayaaan mereka terhadap berhala-berhala mereka: Dan Kami tidak melihat berserta kamu penolong-penolong yang kamu anggap dan sifatkan bahawa mereka ialah sekutu-sekutu Allah dalam kalangan kamu. Demi sesungguhnya, telah putuslah perhubungan antara kamu (dengan mereka), dan hilang lenyaplah daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap dan sifatkan (memberi faedah dan manfaat itu). (al-An’aam : 94)

Perhatikanlah betul-betul ayat-ayat ini, kemudian apakah pendapat kalian terhadap kebenaran tauhid uluhiyyah dan rububiyyah ini yang mengatakan bahawa orang musyrikin dan Muslimin adalah sama dan hanya berbeza pada tauhid uluhiyyah?

Dalil yang lebih menjelaskan lagi perkara ini ialah firman Allah: Dan janganlah kamu cerca benda-benda yang mereka sembah yang lain dari Allah, kerana mereka kelak, akan mencerca Allah secara melampaui batas dengan ketiadaan pengetahuan. (al-An’aam: 108)

Adakah selepas memerhatikan ayat-ayat Allah ini, kita masih melihat bahawa pengakuan orang musyrikin sebagaimana dalam surah al Zumar ayat 38 di atas dan ayat yang seumpama dengannya diungkapkan dengan jujur dan ikhlas? Adakah kita masih mahu mengatakan bahawa mereka bertauhid dengan tauhid rububiyyah?

Sesungguhnya kami dan ulama Ahli Sunnah sememangnya tidak pernah menolak penyusunan dan pembahagian ilmu yang banyak dilakukan dalam ilmu-ilmu Islam kerana kebaikannya kepada umat Islam. Tetapi kami tidak boleh menerima pembahagian tauhid ini yang implikasinya sangat memudharatkan umat Islam iaitu membuka pintu kepada mengkafirkan ahli Kiblat. Terlajak sampan boleh berundur, terlajak kata binasa.

utusan.com.my

Posted by: Habib Ahmad | 4 Januari 2010

PENYELEWENGAN TAUHID DAN KALIMAH ALLAH

PENYELEWENGAN TAUHID DAN KALIMAH ALLAH

Kamus Dewan Bahasa, kamus paling autoritatif mengenai bahasa Melayu menyatakan dengan jelas bahawa perkataan ALLAH bermaksud Tuhan Yang Satu dalam Bahasa Melayu. Manakala The Hutchinson Encyclopedia hlm 27 menjelaskan perkataan ALLAH ditafsirkan sebagai, “ALLAH: Islamic name for God”. Penjelasan yang sama boleh didapati jika kita merujuk kepada Encycopedia Brittanica, Wikipedia dan lain-lain sumber. Kesimpulannya, jelas bagi kita bahawa nama ALLAH dikaitkan dengan Tuhan Yang Satu, Tuhan umat Islam. Ia nyata amat berbeza dengan maksud ‘Eli atau Yehowah’ dalam konsep ketuhanan Kristian dan Yahudi.

Dari sudut bahasa apa sekalipun, kalimah ALLAH adalah kata nama khas. Ia merujuk kepada Tuhan Sebenar yang diseru oleh Nabi kita Muhammad SAW untuk beriman denganNya. Tanpa menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu pun. Ajaran ini selaras dengan seruan para Rasul terdahulu. Pendek kata, semua Para Anbiya AS menyeru kepada akidah mentauhidkan Allah SWT. Iaitu mengesakan Allah pada Dzat, Sifat, Af”al dan Asma’nya. Oleh kerana prinsip ini dibawa Nabi kita Muhammad SAW, maka kalimah ini menggambarkan intipati Ketuhanan yang jelas secara eksklusif milik Islam itu sendiri. Ia bukan milik sesiapa pun, samada Muslim atau kafir, baik manusia atau mana-mana makhluk di alam ini.

Hakikat ini dijelaskan sendiri oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an bermaksud : “Katakan Muhammad bahawa ALLAH itu Esa, Ia tempat tumpuan segalaNya (berdiri sendiri, tidak bergantung dengan sesiapa). Dia tidak beranak. Dan tidak pula diperanakkan. Dan ALLAH itu tidak sekufu/setara/serupa dengan segala sesuatu” (Al Ikhlas: 1-4).

Berasaskan ayat ini, golongan bukan Islam, terutamanya kristian tidak berhak mempergunakan kalimah Allah SWT sama sekali. Baik di dalam pertuturan, perbuatan mahupun terbitan mereka. Ini kerana kepenggunaan kalimah berkenaan tidak bertepatan dengan konsep tauhid yang sebenar yang melambangkan Allah SWT sebagai Dzat yang wajib ada dengan KeEsaanNya dalam Islam. Berbanding prinsip tiga Tuhan dalam tradisi kristian.

Jika golongan bukan Islam ingin mempergunakan kalimah Allah SWT, mereka perlu mengiktiraf kandungan kitab Suci al-Qur’an sebagai satu-satunya petunjuk kepada jalan ketaqwaan (Al Baqarah:2). Buangkan kepercayaan mereka kepada kitab Injil yang telah diubah atas nama pendustaan kepada Nabi Isa AS. Solanya, berbaloikah kristian katholik mengorbankan kepercayaan mereka berbanding tuntutan penggunaan kalimah Allah ini?

Bukan itu sahaja, golongan kristian juga perlu beriman dengan Kenabian Nabi kita Muhammad SAW sebagai Nabi Yang Terakhir. Dialah Allah yang mengutuskan Muhammad SAW dengan petunjuk dan agama yang benar yang menjuarai semua agama dan kepercayaan yang ada. Dan cukuplah Allah SWT yang menjadi saksi atas semua itu (Al Fath: 28). Jika kristian ‘pelahap’ sangat ingin menggunakan nama Allah SWT, eloklah mereka memeluk Islam dengan melafazkan syahadah. Mereka boleh menggunakan kalimah Allah SWT setiap masa dan ketika. Saya kira, ini boleh menyelesaikan kemelut kepenggunaan ini. Soalnya, sanggupkah mereka?Adapun hujjah sesetengah cendiakawan yang membenarkan penggunaan kalimah Allah menerusi surah Az Zukhruf : 86-87 dan Al Ankabut: 63 adalah TIDAK BENAR sama sekali. Mereka tidak memahami kandungan ayat berkenaan dalam kerangka ketuhanan yang benar.

Pertama : Ayat – ayat di atas adalah uslub mujadalah. Iaitu gaya bahasa perbantahan yang berlaku antara Nabi SAW dengan golongan musyrikin tentang akidah tauhid. Buktinya Allah SWT memerintahkan Nabi SAW supaya berbahas dengan mereka dengan cara yang lebih baik.(al-Ankabut 46) Jadi, uslub mujadalah tak sah dipetik sebagai hujjah kerana lafaz ini dirakam oleh Allah SWT sebagai pengajaran kepada kita bahawa golongan kafir hanya mahu berbantah-bantah, berdolak-dalik dengan ucapan. Tetapi hakikatnya, pertuturan mereka dipenuhi dengan kalimah dusta terhadap Baginda SAW. Maka benarlah kesimpulan feqhiyyah : Hakikat Lafaz yang digunakan menunjukkan maksudnya bukan menunjukkan sendi frasanya.

Kedua : Golongan musyrikin yang tidak mahu beriman dengan syariat Nabi SAW dicabar dengan hujjah logik : Siapakah yang mencipta langit bumi? Mereka mengatakan : Allah!. kalimah Allah yang digunakan disini hanya dari sudut bahasa sahaja. Ia bukan bermaksud mengiktiraf Allah Yang Esa yang diserukan oleh Nabi SAW. Atau dengan kata lain, jawapan Allah yang diberikan musyrikin disini hanya berdasarkan apa yang ada dalam zihn (kotak pemikiran) mereka sahaja. Iaitu berdasarkan kepercayaan yang diwarisi datuk nenek moyang mereka yang menyembah berhala. Bukannya satu pengiktirafan konsep ketuhanan yang sebenar yang dibawa Nabi SAW. Lantaran itu, mereka terus menyembah berhala dan menolak konsep ketuhanan (akidah tauhid) yang di bawa Nabi SAW dan meneruskan kekufuran. Ternyata, pengucapan ‘Allah’ dalam ayat ini adalah dibuat dengan nada pembohongan semata-mata. Allah SWT sendiri menyifatkan pembohongan mereka (al-Ankabut ayat 61) dengan lafaz : فأنى يؤفكون

Lafaz ini dihurai oleh Imam al-Qurtubi dengan katanya : Iaitu mengapa mereka kufur untuk mentauhidkanKu dan berpaling dari mengabdikan diri kepadaKu.” Penjelasan ini membuktikan bahawa golongan musyrikin sebenarnya tidak beriman dengan Allah SWT. Sebaliknya hanya mengungkapkan kalimah Allah untuk melepaskan diri dari kebenaran berhujjah.

Ketiga : Kita Umat Islam tidak boleh sesekali mengiktiraf golongan bukan Islam sebagai ahli tauhid rububiyyah disebabkan mereka mengucapkan kalimah Allah. Ini kerana ucapan kalimah Allah pada mereka bukan merujuk kepada Tuhan Yang Esa dengan segala sifat kesempurnaan. Sebaliknya mereka menggambarkan Allah dengan kepelbagaian prinsip KeTuhanan. Buktinya, Golongan yahudi dan kristian saling mempercayai bahawa Allah itu mempunyai anak. (al-taubah 30). Golongan yang lain pula terus mengambil berhala sebagai sembahan. Sedangkan Allah SWT membantah kenyataan mereka dalam ayat yang sama : “Demikianlah perkataan mereka Dengan mulut mereka sendiri, (Iaitu) mereka menyamai perkataan orang-orang kafir dahulu; semoga Allah binasakan mereka. Bagaimanakah mereka boleh berpaling dari kebenaran?

Melalui ayat ini terbukti kepada kita bahawa konsep syirik yahudi dan kristian jauh berbeza dengan pengertian akidah tauhid. Justeru mereka tidak berhak menggunakan kalimah Allah SWT dalam keadaan mensyirikkannya.

Keempat : Allah menjelaskan bahawa golongan yang mempersekutukan Allah sebenarnya berada diterminal kenistaan dan kekufuran. Buktinya Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang Yang tetap berdusta (mengatakan Yang bukan-bukan), lagi sentiasa kufur (dengan melakukan syirik) kepadaNya.” (al-Zumar ayat 3)

Jika Allah SWT menjenamakan mereka dengan golongan yang berdusta dan sentiasa kufur kepadaNya, mengapa kita ingin memandai-mandai untuk mendakwa mereka bertauhid dan ingin mengizinkan mereka mempergunakan kalimah Allah SWT. Apakah kita ingin memandai-mandai melebihi ketentuanNya.

Kelima : Allah SWT sendiri menjelaskan pendirian ketuhanan musyrikin di dalam surah Yasiin ayat 78 : “Serta ia mengemukakan satu misal Perbandingan kepada Kami (tentang kekuasaan itu), dan ia pula lupakan keadaan Kami menciptakannya sambil ia bertanya: “Siapakah Yang dapat menghidupkan tulang-tulang Yang telah hancur seperti debu?”Katakanlah: “Tulang-tulang Yang hancur itu akan dihidupkan oleh Tuhan Allah Yang telah menciptakannya pada awal mula wujudnya; dan Dia Maha mengetahui akan Segala keadaan makhluk-makhluk (yang diciptakanNya)”

Ayat ini menjelaskan bahawa penanya soalan di atas tidak mengetahui hakikat ketuhanan dan enggan mempercayai adanya kehidupan selepas kematian. Sebaliknya mereka mengejek Nabi SAW. Lalu Allah SWT menjawab ejekan mereka pada ayat 79 surah yang sama. Adakah patut bagi orang yang berakal mendakwa bahawa penanya di atas beriman dengan tauhid rububiyyah? Ternyata ia tidak sesekali.

Keenam : Di dalam surah al-Jatsiyah ayat 24 Allah berfirman : “Dan mereka berkata: “Tiadalah hidup Yang lain selain daripada hidup kita di dunia ini. kita mati dan kita hidup (silih berganti); dan tiadalah Yang membinasakan kita melainkan edaran zaman”. pada hal mereka tidak mempunyai sebarang pengetahuan tentang hal itu; mereka hanyalah menurut sangkaan semata-mata.

Ayat ini jelas membuktikan bahawa golongan yang tidak menerima seruan Nabi SAW adalah golongan bukan Islam. Mereka menyangka bahawa tiada suatu kuasa pun yang boleh membinasakan mereka kecuali peredaran masa. Ertinya mereka tidak yakin dengan kekuasaan Allah SWT. Dan Allah menempelak kenyataan mereka bahawa kepercayaan itu adalah sangkaan yang tidak berdasarkan fakta yang benar. Adakah orang yang tidak meyakini Kebesaran dan Keagungan Allah dikira bertauhid rububiyyah? dan kita pula ingin membenarkan mereka memperkotak-katikan nama Allah yang maha suci? Nau’zubillah.

Ketujuh : Jika golongan bukan Islam mengiktiraf tauhid rububiyyah, mengapa Allah SWT mencabar mereka dalam surah al-Ghasiyyah ayat 17 -23 bermaksud : “(Mengapa mereka Yang kafir masih mengingkari akhirat) tidakkah mereka memperhatikan keadaan unta Bagaimana ia diciptakan? Dan keadaan langit Bagaimana ia ditinggikan binaannya.? Dan keadaan gunung-ganang Bagaimana ia ditegakkan? Dan keadaan bumi Bagaimana ia dihamparkan? Oleh itu berikanlah sahaja peringatan (Wahai Muhammad, kepada manusia, dan janganlah berdukacita kiranya ada Yang menolaknya), kerana Sesungguhnya Engkau hanyalah seorang Rasul pemberi ingatan; Bukanlah Engkau seorang Yang berkuasa memaksa mereka (menerima ajaran Islam Yang Engkau sampaikan itu). Akan tetapi sesiapa Yang berpaling (dari kebenaran) serta ia kufur ingkar. Maka Allah akan menyeksanya Dengan azab seksa Yang sebesar-besarnya.”

Jika benar golongan bukan Islam mentauhidkan Allah dengan tauhid Rububiyyah mengapa Allah masih mencabar mereka supaya menekspresi akal.? Mengapa pula mereka diistilahkan Allah dengan ‘berpaling dari kebenaran ‘ serta ‘kufur lagi ingkar’. Mengapa pula mereka dijanjikan Allah dengan siksaan yang besar. Ayat ini menunjukkan bahawa mereka sepincingpun tidak beriman ayat-ayat Allah SWT.

Sebenarnya masih banyak ayat al-Qur’an dan al-hadis yang membuktikan kepada kita bahawa golongan bukan Islam sememangnya tidak memahami ketuhanan Allah yang sebenar. Malah golongan ini mempunyai doktrin ketuhanan tersendiri berdasarkan tradisi dan kepercayaan mereka. Jika mereka terus diikat dengan kepercayaan tradisi dan mempersekutukan Allah, bagaimana bisa mungin kita katakan mereka itu bertauhid? Dan bagaimana pula kita ingin membenarkan mereka menggunakan kalimah Allah dalam terbitan atau pengamalan mereka.?

Kesimpulannya, setiap nas perlu ditafsirkan mengikut metodologi yang jelas. Iaitu mengikut urutan ayat sebelum dan selepasnya, perkaitan dengan ayat yang lain samada dalam satu surah yang sama atau surah yang berbeza. Ataupun berdasarkan kepada Sunnah yang sahih lagi mutawattir dalam membicarakan isu akidah. Hal ini jelas sebagaimana yang diperakukan Ulamak Ahli Sunnah Wal Jamaah.Hasil penjelasan ini, dapatlah diketahui bahawa ayat 86-87 Az Zukhruf dan ayat 63 Al Ankabut sesekali tidak menyatakan bahawa ALLAH membenarkan penggunaan nama ALLAH bagi maksud selain daripada Tuhan Yang Esa. Malahan tiada satu nas pun yang menunjukkan Islam mengiktiraf kesyirikkan dan kekufuran itu tergabung dengan pakej tauhid rububiyyah. Bukankah tauhid hanya satu. Tidak berbilang-bilang.

Justeru, mengapa dengan mudah kita ingin membenarkan golongan bukan Islam menggunakan kalimah suci Allah dalam kekufuran. Jika kita menggunakan ayat di atas bagi menjustifikasikan keizinan penggunaan kalimah Allah untuk bukan Islam kita sebenarnya kita menggunakan dalil bukan pada tempatnya.Bahkan tindakan ini juga lebih bersifat mempromosi perkongsian ketuhanan Allah. Ini adalah prinsip yang bathil. Satu malaysia tidak boleh menghalalkan prinsip satu Tuhan. Tidak sesekali.

Apa yang jelas, rancangan Kristian Malaysia untuk menggunakan perkataan ALLAH dalam konteks triniti tidak patut dibenarkan sama sekali. Ia menodai prinsip ketuhanan yang Esa yang menjadi teras akidah Islam. Ia juga berupaya membangkitkan sensitiviti dan amarah bangsa melayu muslim. Hasilnya kemana? Fikirkanlah.

Saya menyeru kepada semua pihak terutamanya Raja-raja Melayu agar mengembalikan diri kepada konsep ketuhanan Tauhid yang sebenar. Kebenaran Tauhid memberi momentum kepada kita untuk sentiasa memacu hidup berdampingan dengan Allah SWT. Sekaligus meraih pertolonganNya. Berhati-hatilah dengan dakyah sesetengah pihak yang tidak segan silu menggunakan nama YB, Dato, Tok Guru, Prof dan Dr membenarkan nama Allah dipergunakan oleh bukan Islam atas alasan yang batil. Apakah mereka telah dijangkiti prinsip liberalisme agama. Atau hati mereka sedang diselimuti kejahilan tauhid yang halus. Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita dalam memahami akidah Tanzih dan mempertahankan kesuciannya. Wallahua’lam.
http://al-ghari.blogspot.com

Semua Rasul, Nabi dan Kitab adalah benar, beramal dengan syariat yang akhir
Posted on Januari 3, 2010 by sulaiman
Baqarah [136] Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman): Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami (Al-Quran) dan kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dan Nabi Ishak dan Nabi Yaakub serta anak-anaknya dan juga kepada apa yang diberikan kepada Nabi Musa (Taurat) dan Nabi Isa (Injil) dan kepada apa yang diberikan kepada Nabi-nabi dari Tuhan mereka; kami tidak membeza-bezakan antara seseorang dari mereka (sebagaimana yang kamu -Yahudi dan Nasrani- membeza-bezakannya) dan kami semua adalah Islam (berserah diri, tunduk taat) kepada Allah semata-mata.

Kita percaya bahawa semua Rasul, Nabi dan Kitab adalah benar, cuma beramal dengan syariat yang akhir iaitu syariat Nabi Muhammad s.a.w. Nabi Muhammad s.a.w bukan hanya diutuskan untuk orang Arab atau penduduk Mekah sahaja tetapi untuk sekelian alam sepertimana Allah juga tuhan sekelian alam.

Fatihah [2] Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang Memelihara dan Mentadbirkan sekalian alam.

Anbiya [107] Dan tiadalah Kami mengutuskan engkau (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Sepertimana kita belaja sifat 20 untuk mengenal Allah, para Nabi mempunyai 4 sifat yang penting iaitu Sidik (benar), Amanah, Tabligh (Menyampaikan) dan Fatonah (Bijaksana).

Nabi Muhammad s.a.w. bersifat Sidik iaitu hanya mengatakan apa yang Benar dan tidak memperkatakan sesuatu mengikut hawa nafsunya, melainkan apa yang telah diwahyukan oleh Allah.

An-Najm [3] Dan dia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri.[4] Segala yang diperkatakannya itu (samada Al-Quran atau hadis) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Para nabi bersifat amanah dalam menyampaikan dakwahnya iaitu mereka hanya menyampaikan apa yang disuruh sahaja tanpa ditokok tambah. Sifat para Nabi ialah Tabligh iaitu menyampaikan. Selain itu para Nabi mestilah Fatonah iaitu bijaksana dalam menyampaikan dakwah mereka, misalnya mereka hendaklah melihat keadaan atau mood sasaran dakwah mereka.

Posted by: Habib Ahmad | 4 Januari 2010

Shaykh Muhammad bin Yahya al-Ninowy

Shaykh Muhammad bin Yahya al-Ninowy

Born and raised in Syria, Shaykh Muhammad al-Ninowy is the direct descendant of the family of Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him). His studies and teachings have come directly from father to father all the way down to Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him)’s teachings to his daughter Fatima Azzahra (RA). He currently resides in Atlanta, Georgia, U.S.A., as an Imam and Khateeb at Masjid Al-Madina where he delivers the Friday Sermons and gives a weekly majlis in Hadith and Tawheed.

Birth and Family lineage: He is Muhammad son of As-Sayyed Yahya son of As-Sayyed Muhammad son of As-Sayyed Sa’id son of As-Sayyed Muhammad son of As-Sayyed Ali Al-Ninowy, who’s family descends from the southern Iraqi village of Ninowa, the place where Al-Imam Al-Husayn was martyred, a partial area of which is also known as Karbala. Shaykh Muhammad’s 33rd grandfather is The known blind pious scholar, the flag bearer of Ahlus Sunnah of his time, Al-Imam Ibrahim Al-Mujab, (the first one of the family of the Prophet, sallallahu alayhi wa aalihi wa sallam, to migrate to Ninowa and established an Islamic University system). Al-Imam Ibrahim Al Mujab is the son of Al-Imam Muhammad Al-Aabed, son of Al Imam Musa Al Kathem, son of Al Imam Ja’far As-Saadeq, son of Al Imam Muhammad Al-Baqer, son of Al-Imam Zaynul’Abideen Ali,son of the Martyred Imam sayyidina Al-Husayn As-sibt, son of Maulana Al-Imam Ameer Al-Mu’mineen Ali bin Abi Taleb and the Lady Fatima Azzahra, daughter of the Best of the creation Sayyidina Muhammad bin Abdillah bin Abdil-Muttaleb bin Hashem from the tribe of Quraysh, sallallahu alayhi wa ala aalihi wa sallam. His fourth grandfather As-Sayyed Muhammad bin Ali immigrated for business and traded in olives and olive oil from Iraq to Northern Syria and settled in the north east parts of Aleppo (Halab) where he had his first born son As-Sayyed Sa’id who married a local woman and had a son; Sidi Muhammad bin Sa’id and a female. Sidi Muhammad married an honorable Lady named Fatima, and they had two sons : As-Sayyed Sa’id and As-Sayyed Yahya and 6 daughters. As-Sayyed Yahya (may Allah shower him with his Mercy and blessings and raise his rank in paradise) had two sons: Muhammad and Isa, may Allah protect them.

Shaykh Muhammad was born in Aleppo (Halab) the northern capital of Syria in 1389 AH in a family who maintained its religious and honourable Qur’an and Sunnah traditions.

Education:Shaykh Muhammad began his study under his father, Sayyed Yahya, rahmatullahi alaih, memorising the Glorious Qur’an and acquiring knowledge in many of the Islamic disciplines, including Aqeedah, Fiqh, Hadith and Ihsaan, with ijaazas (license to teach). He particularly specialises in the fields of Hadeeth and Tawheed.

He attended Al-Azhar Sharif University, Faculty of Usool-uddeen, where he studied under many scholars. In addition, he was under the tutelage of many stars of this century who resided in Syria, Madina, Makkah, Tangiers, Fez, Rabat, Egypt, Sudan and Jordan. He sat at the feet of, and was authorized by, many scholars such as Al-Imam Al-Hafeth As-Sayyed Abdullah bin Assidiqq Ghumari, Hafeth Abul Aziz bin Assiddiqq Ghumari, Hafeth Ibrahim bin Assiddiqq Ghumari, and Hafeth Hasan bin Assiddiqq Ghumari, radiaAllah anhum, Shaykh Hasan Qaribullah of Sudan, Shaykh Abdullah Al-Husayni, Shaykh Muhammad Al-Bata’ihi, Shaykh Jamil Ar-Rifaiy, Sayyed Al-Habib Al-Attas of Hadramout and others. Among the Mashayekh he learnt from are Shaykh Abdullah Siraj-Addin Al-Husayny, the Ba’Alawi scholars, Shaykh Abdullah At-Talidi, Shaykh Qaribullah of Sudan, the late Muhaddith Al-Haramayn Sayyed Muhammad Alawi Al-Maliki and many other honorable scholars in Morocco, and Hijaz.

Some of the books Shaykh Muhammad studied under his Shuyukh partially or wholly, and received Ijaza’s of Teaching in them with continued chain of narration, are as follows: Al-Qur’an Al-karim, Tafeer Al-Imam Al-Fakher Arrazy, Tafseer Al-Imam Al-Qurtubi, Tafseer Al-Imam At-Tabari, An-Nahrul Al Madd by Imam Abu Hayyan.

Took many books in Hadeeth and the Terminology of Hadeeth such as Nukhbatul Al-Fikr with the explanation by Hafedh Ibn Hajar, Al-bayquniyyah, Irshad Tullab Al-Haqaaeq by Imam Nawawi, Tadrib Arrawi by Imam Suyuti, Sahih Muslim with the explanation of Imam Nawawi, and Sahih Bukhari with the explanation of Imam Ibn Hajar Al-Asqalani.among others.

In the Shafi’iyy Fiqh he took Al-Muqadimmah Al-Hadramiyyah with the explanation of Imam Ibn Hajar Al-Haytami, Matn Abi Shuja’, Matn Azabad, Tanweer Al-Qulub, and part of Al-Majmu’ by Imam Nawawi, etc. In the Hanafi Fiqh took Matn Al-Quduri, Al-Ikhtiar by Musili, Al-Hidayah by Al Mirgani, etc. and in Maliki Fiqh took Ibn Asher by Mayyarah, and Matn Al-Ashmawiyyah., 1st volume of Athakhira by Al-Qurafi, Qawa’ed Al-Ahkaam by Al-Izz bin Abdussalam, Al-I’tisaam by Ash-Shatibi, and Bulugh Al-Maram by Ibn Hajar.

In Aqeedah, took At-Tahawiyyieh, An-Nasafieh, As-Sanoosieh, Aqeedat Al Imam Ibn Asaaker, Al-Fiqh Al-Akbar by Al-Imam Al-Atham Abu Hanifa, rahimahuAllah with explanation of Mullah Ali Al-Qari, Usul-Addin by Al-Imam Abdul Qaher Al Bagdadi, Daf’u shubahi At-Tashbeeh by Ibn Al-Jawzi, Daf’u Shubahi man Shabbaha wa tamarrada by Imam Al-Husany, Al-Asma wassifat by imam Bayhaqi, Sharhu Al-Jawhara by Imam Allaqaani, Al-Insaaf by Imam Al-Baqillani, Asasu At-Taqdees by Al-Imam Arrazy, Ida’atu Addujna by Al-Imam Al-Maqarri, Furqanu Al-Qur’an by Al-Quda’iy, Bahru Al-Kalam by Al-Imam An-Nasafiy, At-Talweeh by Al-Imam At-Taftazani, etc..

In Tasawuff, Ihya ulum Addin, Arrisala Al-Qushayrrieh, Ithaaf Assada Al Muttaqin by As-Sayyed Azubaydi, Al-Burhan Al-Mu’ayyad by Al-Imam Arrifa’iy, Halatu Ahli Al-Haqiqa by Imam Ar-Rifa’iy, Azzuhdu Al-Kabeer by Al-Imam Al-Bayhaqi, Tabaqatu Asufiyyiah by Al-Imam As-Salami, Arisala by Al-Hareth Al-Muhasibi, Al-Hikam of Ibn Ata’Allah, and At-Tabaqat Al-Kubra by al-Imam Asha’rani.

Current News: Shaykh Muhammad along with Shaykh Ahmad Darwish have been trying to provide the first interactive Islamic University over the internet, while utilizing technology, yet preserving the Sunnah tradition of TALAQQI (mouth to mouth transmission of knowledge) through interactive video and audio, and conferencing, leading to generating knowledgeable male and female Muslims to lead the Ummah through genuine teachings and adherence to the Saheeh of the Sunnah of Rasoolillah, sallallahiu alayhi wa aalihi wa sallam.

Shaykh Muhammad and Shaykh Ahmad Darwish are launching the first of its kind: The American Islamic University, an academic Islamic teaching system, based on Talaqqi and Ijaza in teaching and knowledge.

Shaykh Muhammad is an imam and Khateeb at Masjid Al-Madina in Atlanta, Georgia, U.S.A., where he delivers the Friday Sermons and gives A Weekly Majlis in Hadith and Tawheed. He participated in many national and international conferences on Islam, world peace, and welfare of humanity.
http://bahrusshofa.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 31 Disember 2009

Pencerapan Gerhana Bulan Separa @ Masjid Negara KL

Pencerapan Gerhana Bulan Separa @ Masjid Negara KL
December 30th, 2009 | Author: admin
Program Pencerapan Gerhana Bulan Separa anjuran Agensi Angkasa Negara (ANGKASA) dengan kerjasama Masjid Negara, Kuala Lumpur akan diadakan pada ketetapan seperti berikut:

Program Pencerapan Gerhana Bulan Separa
Bertempat Perkarangan Masjid Negara
Tarikh 1 Januari 2010 bersamaan 15 Muharram 1431H (Jumaat-Malam Tahun Baru 2010)

1.00 Pagi hingga 6.00 Pagi

Aturcara Program adalah seperti berikut :

Pencerapan Gerhana Bulan Separa
Pencerapan Planet Zuhal dan Marikh
Pameran Bulan
Solat Sunat Gerhana Bulan
Khutbah Khas Gerhana Bulan
Pertandingan Kuiz
Sehubungan itu, orang ramai adalah dijemput hadir untuk menyaksikan fenomena ini menerusi beberapa buah teleskop yang disediakan dan ianya adalah PERCUMA

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori