Anggapan Mereka Bahawa Kebenaran Itu Hanya Ada Pada Golongan Minoriti (Yang Sedikit)
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Selamat) ?
Perhatian : Artikel ini perlu dibaca keseluruhan untuk mendapatkan kefahaman yang lebih jelas di bawah label : Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Selamat)

Dengan berdasarkan pemahaman yang keliru terhadap hadith iftiroqul ummah mereka pun mengatakan bahawa kaum Muslimin yang sebenarnya itu hanyalah mereka sahaja dan populasi mereka itu lebih kurang 1.3 % dari jumlah seluruh kaum Muslimin. Mereka seolah-olah bangga dengan jumlah minoriti kerana memang hasil dari pemahaman mereka terhadap hadith iftiroqul ummah padahal pemahaman yang sebenarnya dari hadith itu tidaklah menatijahkan yang sedemikian. Terhadap pengakuan mereka sebagai kelompok minoriti dan bahawa kebenaran itu selalu bersama yang minoriti merekapun berdalil dengan firman ALlah :

1.

و قليل ما هم = “Dan mereka itu adalah minoriti (golongan yang sedikit)”
(Surah As Shad : 24)

2.
وقليل من عبادي الشكور = “Dan sedikitlah di antara hamba-hambaKu orang yang bersyukur”
(Surah As Saba’ : 13)

3. Sementara firman ALlah tentang kelompok majoriti berbunyi :
وما يؤمن أكثرهم با الله إلا وهم مشركون
= “Dan tidaklah kebanyakan (majoriti) di antara mereka itu beriman kepada ALlah kecuali mereka berbuat syirik”
(Surah Yusuf : 106)

Ketahuilah para pembaca yang budiman bahawa sesungguhnya pengertian minoriti (golongan yang sedikit) pada ayat tersebut boleh bermakna umum dan boleh pula bermakna khusus. Apabila bermakna umum maka maksudnya adalah bahawa kaum Msulimin itu memang selalu minoriti dibandingkan dengan orang-orang kafir yang banyak (majoriti).

Sedangkan apabila bermakna khusus maka maksudnya adalah bahawa kaum Muslimin yang betul-betul istiqomah memang minoriti berbanding dengan kaum Muslimin yang tidak istiqomah dan tidak teguh pendirian. Akan tetapi semua mereka adalah Muslim dan bertauhid serta termasuk penghuni syurga dengan izin ALlah subahanahu wa ta’ala. Adapun mengatakan bahawa ayat وما يؤمن أكثرهم با الله إلا وهم مشركون ditujukan kepada umat Islam maka ini jelas telah menyalahi jumhur mufassirin yang berpendapat bahawa ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan para penyembah bintang dan berhala serta orang-orang Yahudi dan Nasrani. Membawa ayat tersebut untuk Kaum Muslimin merupakan satu malapetaka yang besar dan pengkafiran terhadap ummat Islam. Benarlah kiranya Ibnu Umar radiyaLlahu ‘anhu ketika
berbicara tentang orang-orang yang merobek agama, beliau menyebut mereka sebagai berikut :

إنهم إنطلقوا إلى ايات نزلت فى الكفر فجعلوها على المؤمنين

Ertinya : “Sesungguhnya mereka suka membelokkan ayat-ayat yang sebenarnya turun pada orang-orang kafir lalu mereka menjadikannya untuk orang-orang Mukmin”

Ibnu Umar memandang mereka itu sebagai makhluk ALlah yang buruk (Lihat Sahih Bukhari hadith no 6531)

Al Ustaz Jamil zainu dalam bukunya Manhaj Firqah an Najiah menyebutkan pertanyaan (yang disampaikan kepada dirinya): “Apakah ummat ini terdapat kesyirikan?”. Lalu dia menjawab : “Ya”. Beliau berdalil dengan firman ALlah : وما يؤمن أكثرهم با الله إلا وهم مشركون . SubhanaLlah ini adalah satu kedustaan yang besar dan penggunaan dalil yang batil serta fasid.

Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah: Memelihara Jejak-jejak Salaf Ash-Shalih

Asy Syaikh Abubakar bin Salim mengatakan, “Siapa yang tidak bersungguh-sungguh di permulaannya, tidak akan sampai di penghabisannya.”

Beberapa bulan terakhir, ada sebuah buku yang banyak dicari-cari orang. Buku tersebut memuat kumpulan biografi para habib yang memiliki peranan penting dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia. Judulnya, Biografi 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia. Karena respons peminatnya yang cukup besar, hanya dalam tempo tiga bulan buku tersebut sudah tiga kali cetak ulang. Hingga diturunkannya tulisan ini, buku itu sudah dicetak hingga 12 ribu eksemplar.

Bila diperhatikan secara seksama, buku tersebut memiliki keunikan tersendiri dibanding buku-buku sejenis lainnya. Selain memuat kisah perjalanan para habib sebagai insan-insan dakwah yang memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan agama Islam di tanah air, buku tersebut juga dilengkapi banyak foto eksklusif para habib itu sendiri.

Tidak mengherankan, karena ternyata buku itu disusun seorang sayyid muda yang sudah lebih dari sepuluh tahun terakhir bersusah payah mengumpulkan dan memelihara foto-foto para habib. Dari yang antik-antik atau foto-foto habaib dan ulama tempo dulu, hingga foto-foto habaib zaman sekarang. Di samping mengoleksi foto, ia juga gemar mengumpulkan kisah-kisah perjalanan hidup mereka.

Dulu, di awal kesukaannya mengumpulkan foto-foto habaib dan manaqib para salaf, tidak terbersit sedikit pun dalam pikirannya bahwa pada suatu saat kelak ia akan menyusun buku semacam ini. Namun sekarang, terbitnya buku tersebut adalah salah satu bentuk natijah (buah) dari keringat himmah (kesungguhan)-nya selama ini, yang dengan penuh suka dan duka mengumpulkan jejak-jejak dakwah para habib.
Siapakah sayyid muda penulis buku itu? Dialah Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah.

Kenikmatan Memandang Wajah Habaib
Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah lahir pada tanggal 8 Juni 1982 di kota Solo, dari pasangan Habib Umar bin Agil bin Umar Mauladawilah (asal kota Malang) dan Syarifah Sidah binti Abdullah bin Husen Assegaf (asal kota Solo).

Dua tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 Februari 2007, ayah Habib Abdul Qadir wafat. Rencananya, sang ayah pada musim haji tahun ini akan berangkat haji. Tapi Allah SWT telah memanggilnya terlebih dahulu.

Dulu, saat orangtuanya menikah, yang menikahkan adalah Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah.

Setelah dikaruniai seorang putra, Habib Umar bin Agil Mauladawilah (ayah Habib Abdul Qadir, penulis buku ini) menemui Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dan menyampaikan kabar tentang kelahiran putra pertamanya. Saat itu, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf-lah yang memberikan nama si anak yang baru lahir tersebut. Nama yang diberikan adalah sebagaimana namanya sendiri. Yaitu, Abdul Qadir.

Masa usia sekolah Habib Abdul Qadir dijalani seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Ia masuk Sekolah Dasar Negeri 7 Sukun, Malang, dan kemudian melanjutkannya ke SMP Negeri 12 Malang. Selepas jenjang sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikannya pada Madrasah Aliyah Daaruttauhid Malang sambil mondok di Pondok Pesantren Daruttauhid, yang pada masa itu masih di bawah asuhan Ustadz Abdullah bin Awwadh Abdun. Ia menyelesaikan pendidikan aliyahnya ini pada tahun 2000.

Setelah selesai pendidikan MA, ia tidak langsung pulang ke rumah. Ia masih meneruskan pendidikan diniyah di Pondok Pesantren Daruttauhid tersebut hingga tahun 2001, yaitu setelah gurunya, Ustadz Abdullah Abdun, wafat.

Sebelum masuk pondok, ia lebih fokus pada pendidikan umum dan sama sekali belum terpikirkan akan bergerak di bidang keagamaan. Kegiatan yang merupakan kegemarannya mengumpulkan dokumentasi di seputar habaib baru dimulai sejak tahun 1997, saat ia masuk Pesantren Daruttauhid.

Saat tinggal di pesantren tersebut, ia mulai merasakan adanya kenikmatan tersendiri saat berkumpul dan duduk dalam satu majelis bersama para habib. Ia pun kemudian mulai turut hadir pada acara-acara Maulid Nabi SAW ataupun haul para habib di sekitar Jawa Timu.

Seingatnya, setelah ia tinggal di Daruttauhid, acara yang pertama kali dihadirinya adalah haul Habib Shalih bin Muhsin Al-Hamid, Tanggul, Jember, Jawa Timur.

Dalam majelis-majelis ilmu seperti itu, baik di dalam pesantren sendiri maupun di acara-acara perayaan seperti acara haul, hatinya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ia merasakan kenikmatan bathiniah yang sukar dilukiskan.

Benarlah apa yang disebutkan dalam kalam Habib Ahmad bin Zen Al-Habsyi yang termaktub pada kitab Al-Manhaj As-Sawi, karya Habib Zen bin Ibrahim Bin Smith, “Duduk satu saat bersama orang-orang shalih, lebih bermanfaat bagi seorang hamba dari seratus atau seribu kali ‘uzlah (menyendiri, menyepi, menghindarkan diri atau mengasingkan diri dari lalu-lalangnya kehidupan duniawi demi penyucian diri – Red.).” Saat itu ia juga merasakan kenikmatan tersendiri kala memandang teduhnya wajah para habib yang datang pada acara-acara yang ia hadiri. Di hatinya pun mulai tumbuh rasa suka memandang wajah mereka, meskipun hanya lewat lembaran-lembaran fotonya.

Ia ingat, pertama kali foto yang didapatkannya adalah foto-foto Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dan Habib Umar Bin Hud Al-Attas. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dapat dikatakan adalah salah satu tokoh terpenting habaib saat ini. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf ini pulalah orang yang telah menikahkan orangtuanya dan memberikan nama pada dirinya sewaktu ia lahir. Sementara Habib Umar Bin Hud Al-Attas adalah seorang wali besar dari kota Jakarta yang telah wafat beberapa tahun silam. Saat memandang kedua tokoh habaib tersebut, hatinya berdecak kagum.

Sebuah maqalah ulama dalam kitab Nashaih Al-‘Ibad, karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, menyebutkan bahwa di antara manusia ada yang jika kita memandang wajahnya kita akan merasa bahagia. Demikianlah, dari sana kemudian timbul keinginan untuk mengabadikan momen-momen yang menyentuh hatinya tersebut, dan ia pun mulai aktif mengumpulkan foto-foto para habib.

Sejak dari acara haul Habib Shalih Tanggul yang pertama kali ia hadiri kala itu, ia mulai menikmati aktivitasnya mengambil gambar saat berlangsungnya acara dengan kamera seadanya yang ia miliki.

Tanpa disadarinya, keasyikan yang kemudian dijalaninya secara serius dalam mengumpulkan foto para habib dari sejak ia masih nyantri di Daruttauhid, merupakan titik tolak penting dalam perjalanan hidupnya kelak.

Dalam salah satu kalamnya, Asy Syaikh Abubakar bin Salim mengatakan, “Siapa yang tidak bersungguh-sungguh di permulaannya, tidak akan sampai di penghabisannya.” Sekalipun kalam itu lebih ditujukan pada konteks mujahadah an-nafs (kesungguh-sungguhan dalam perjuangan melawan keinginan syahwat dan berbagai kecenderungan jiwa rendah), dari keumuman redaksi kalimat yang digunakan, konteks permasalahannya dapat diperluas. Terkait dengan kalam tersebut, perjalanan hidup Habib Abdul Qadir ini juga dapat menjadi hikmah bagi siapa pun yang menjalani segala kebaikan secara bersungguh-sungguh.

Terinspirasi dari Sang Guru
Sewaktu mondok dulu, anak pertama dari empat bersaudara ini juga menyaksikan betapa Ustadz Abdullah Abdun, gurunya, sangat ta’zhim kepada guru tempat Ustadz Abdullah Abdun menimba ilmu agama dulu. Guru yang dimaksud adalah Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, pendiri Madrasah Al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah.
Bertahun-tahun lamanya Ustadz Abdullah Abdun berguru kepada Habib Idrus Al-Jufri. Setelah wafatnya Habib Idrus Al-Jufri, beberapa tahun kemudian Ustadz Abdullah Abdun menuliskan sebuah risalah yang berisi biografi sang Guru Tua, julukan bagi Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Habib Abdul Qadir merasa, apa yang dilakukan gurunya tersebut benar-benar dapat menjadi manfaat bagi dirinya dan juga untuk orang banyak lainnya yang ingin mengetahui perjalanan hidup Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Di samping mengoleksi foto-foto, ia pun kemudian menemukan kebiasaan baru lainnya, yaitu mengoleksi manaqib para ulama dan habaib. Dengan membaca manaqib mereka, ia merasa lebih dekat dengan mereka.

Selain mengoleksi manaqib yang telah cukup banyak tertulis, ia juga mengoleksi kumpulan manaqib dari kutipan-kutipan ceramah para pembicara di acara-acara haul. Di acara-acara tersebut, biasanya pembicara mengisahkan perjalanan hidup orang yang sedang dirayakan haulnya. Merekam isi ceramah saat acara berlangsung adalah salah satu kiatnya untuk mengumpulkan kisah-kisah para habib dengan menggunakan tape recorder miliknya.

Pada akhirnya, Habib Abdul Qadir ini pun sekaligus sempat menjadi seorang kolektor kaset rekaman isi ceramah-ceramah keagamaan pula. Jumlah kaset yang dikoleksinya bertambah dari waktu ke waktu.

Dalam aktivitas merekam itu, ia selalu berusaha merekam selengkap mungkin. Sewaktu acara di tempat Habib Anis Solo misalnya, ia merekamnya dari mulai acara rauhah, haul, hingga Maulid-nya. Sehingga kalau hadir di acara haul Solo, paling sedikit ia harus membawa lima buah kaset. Apalagi kalau ia hadir dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi SAW di Jakarta, yang berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan lamanya. Sepulangnya dari Jakarta, ia bisa membawa sekurang-kurangnya 70 kaset hasil rekaman.

Kalau acara haul di Tegal dan Pekalongan, di masing-masing kota tersebut ia harus menyediakan minimal sekitar tujuh sampai delapan kaset.

Di samping koleksi foto-fotonya, koleksi kasetnya pun bertambah dari waktu ke waktu. Kendala yang dihadapi olehnya dalam mengoleksi kaset ternyata tidak sederhana. Dalam menatanya, butuh waktu yang tidak singkat. Ia perlu memutar dulu masing-masing kaset koleksinya untuk kemudian menandainya satu per satu. Maklum saja, pada saat awal ia mengoleksi kaset itu, teknologi suara digital belum terlalu akrab di kota tempat tinggalnya.

Belum lagi perawatan pada fisik kaset koleksinya. Bila tidak dirawat dengan baik, pita kaset akan menjamur. Hingga pernah suatu ketika sekitar 250 kumpulan koleksi kasetnya rusak termakan jamur.

Akhirnya ia sendiri mulai agak kewalahan menangani jumlah kaset rekamannya yang semakin banyak. Sementara dulu teknologi penyimpanan data digital tidak cukup mudah dijangkau seperti zaman sekarang. Sekarang semua orang dapat mengkonversi suara sebagai data digital dan kemudian dimasukkan pada media penyimpan data, seperti dalam hard disk, flash disk, CD, DVD, dan yang sejenisnya, dengan sebegitu mudahnya. Kalaupun dulu ada, harganya pun masih relatif sangat mahal.

Ia kemudian lebih memfokuskan diri pada koleksi foto saja. Banyak koleksi kaset rekaman yang ia miliki kemudian diserahkannya kepada sejumlah kawannya. Bukan dipinjamkan, tapi ia berikan begitu saja secara cuma-cuma. Ia berpikir, mungkin orang lain memiliki waktu dan konsentrasi yang lebih dibanding dirinya dalam memelihara kaset-kaset rekaman tersebut.

Ternyata koleksi foto-fotonya saja, yang kemudian dilengkapi dengan kumpulan manaqib para ulama, sangat bermanfaat sekarang ini. Sebuah perkataan yang terdapat dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, karya Syaikh Az-Zarnuji, kiranya dapat dengan tepat menggambarkan apa yang telah dijalani oleh Habib Abdul Qadir. “Sekadar kesusahan yang ditempuh seseorang, maka akan didapat apa yang dicita-citakan.”

Bingkai Besar di Atas Motor
Siapa yang mencari sesuatu secara bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan. Ungkapan ini juga termaktub dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Kesungguh-sungguhan Habib Abdul Qadir, yang juga ternyata seorang kolektor majalah alKisah dari sejak edisi pertama kalinya, telah teruji oleh waktu.

Banyak kisah suka duka yang dialaminya dari sejak ia menjalani aktivitasnya mengoleksi foto para habib. Pernah suatu kali ia mengetahui ada seseorang di daerah Pujon, Batu, Malang, yang memiliki foto Habib Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Menurutnya, pose Habib Muhammad Al-Maliki dalam fotonya itu unik dan menarik. Maka kemudian ia meminjam foto tersebut. Foto itu ada dalam sebuah bingkai besar yang ukurannya hampir seukuran pintu rumah.

Waktu itu ia hendak meminjam fotonya saja, tapi si empunya foto rupanya keberatan, karena khawatir akan rusak. “Kalau mau pinjam, silakan sekalian berikut bingkainya,” katanya.

Saat itu ia pun kebingungan, dengan apa ia akan membawa bingkai sebesar itu. Padahal ia hanya membawa sepeda motor. Akhirnya, ia, yang saat itu berdua dengan seorang kawan, memutuskan untuk tetap membawa foto berbingkai besar tersebut, sekalipun dengan menggunakan sepeda motor.

Di sepanjang perjalanan, ternyata membawanya cukup sulit, dan harus ekstra hati-hati, agar tidak terbentur kendaraan lain. Bebannya juga semakin berat karena tekanan angin yang mendorong bingkai foto tersebut.
Sesampainya di kota Malang, hujan deras turun secara tiba-tiba. Maka ia dan kawannya segera mencari tempat untuk berteduh. Lantaran begitu derasnya hujan, tempat berteduhnya pun terkena air hujan yang tampias. Air itu mengenai bingkai foto dan sempat merusak foto di dalamnya.

Setelah sampai di rumah, ia merepro foto tersebut dan mengganti foto yang rusak itu dengan sedikit proses di sana-sini.

Alhamdulillah, setelah dikembalikan, pemilik foto tersebut tampak senang menerimanya. Mungkin karena hasil foto repro barunya itu terlihat lebih bagus dari aslinya.

Setelah kejadian itu, bukannya kapok, Habib Abdul Qadir malah semakin merasa asyik dalam menjalani aktivitas memburu foto-foto para habib.

Nasib Baik
Suatu hari ia pernah tersasar di suatu desa di daerah Malang. Saat sedang duduk-duduk di depan sebuah rumah, ia sekilas melihat di dalam rumah tersebut terdapat foto habaib yang unik menurutnya. Namun ternyata penghuni rumah itu sedang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.

Biasanya, seusai kerja, yaitu sekitar pukul lima sore, penghuni rumah itu sudah sampai di rumah. Ia pun kemudian menunggu selama berjam-jam untuk menanti kedatangan penghuni rumah tersebut. Saat penghuni rumah itu datang, ia menyampaikan maksudnya untuk meminjam foto yang terpampang di dinding ruangan depan rumah milik orang tersebut.

Awalnya si pemilik rumah tampak sedikit curiga. Wajar saja, karena dia merasa tidak mengenalnya sama sekali. Namun setelah diterangkan secara baik-baik, akhirnya ia diperbolehkan meminjam foto itu.

“Silakan bawa, tapi segera kembalikan lagi,” demikian pesan si pemilik foto.
“Bukannya saya berpikir tidak akan mengembalikan, tapi daerah itu sama sekali saya tidak tahu. Jangankan berpikir untuk mengembalikan foto itu, untuk kembali pulang ke rumah saja saya tidak paham,” ujarnya bercerita.

Akan tetapi karena ia memang niat meminjam, ia berjanji akan mengembalikan setelah ia merepronya.
Dengan sedikit bersusah payah akhirnya sampai juga ia di rumah.

Setelah foto itu direpro, ia pun memenuhi janjinya, mengembalikan foto tersebut. Seperti saat ia hendak pulang ke rumah, untuk mencari kembali rumah si pemilik foto itu pun ternyata menempuh waktu yang tidak sebentar. Namun akhirnya ia sampai juga di sana.

Apa yang dialami oleh Habib Abdul Qadir mengingatkan orang pada apa yang dikatakan Imam Syafi’i dalam salah satu diwan-nya, “Nasib baik dapat mendekatkan setiap perkara yang jauh. Nasib baik dapat membuka setiap pintu yang tertutup.”

Tentunya, nasib baik itu akan menjadi sempurna adanya bila berdasarkan niat yang baik pula, seperti halnya niatan yang ada dalam hati Habib Abdul Qadir dalam memelihara jejak-jejak peninggalan para salaf ash-shalih. IY

Posted by: Habib Ahmad | 11 Disember 2009

Kunci Penghayatan Hidup Rabbani

Kunci Penghayatan Hidup Rabbani May 31, ’09 3:32 PM
for everyone

Ramai manusia melihat kehidupan dari segenap sudutnya. Ada yang melihat kepayahan hidup lalu memahami kehidupan ini suatu tempat kedukaan. Ada yang melihat kesenangan duniawi lalu memahami kehidupan adalah tempat menikmatinya. Ini semua adalah nilai kehidupan dengan pandangan syahwat dan kepentingan. Untuk apa melihat hidup itu pada senang atau susahnya, sedangkan setelah susah hadirnya senang, dan setelah senang hadirnya susah. Begitulah silih berganti.

Malah, senang dunia tidak selamanya, begitu jua susahnya. Akhirnya sang insan yang sibuk dengan susah dan senangnya hidup di dunia, mati meninggalkan dunia. Itu semua hanyalah persepsi kebudak-budakan semata-mata yang mengingini khayalannya menjadi mimpi yang nyata.

Hidup ini adalah untuk kita hidup menghadapi realiti, bukan membina makna realiti sendiri. Hakikat hidup sudah ditentukan. Makna hidup sudah dijelaskan. Jika terus memilih selain makna dan hakikat hidup yang telah dijelaskan oleh Tuhan, maka kita hanya mencari kebahagiaan yang palsu. Semakin kita melangkah menuju kebahagiaan palsu, semakin kita menjauhi kebahagiaan hakiki. Semakin kita menuju “realiti” ciptaan sendiri, semakin kita memalingkan diri daripada hakikat sebenar hidup ini.

Begitulah insan yang sentiasa terkesan samada dalam kesenangan mahupun dalam kesusahan. Cahaya keimanan yang sepatutnya kita warisi daripada generasi Sahabat r.a. yang sentiasa tenang dalam susah dan senang, seakan-akan suatu fantasi semata.

Memang benar. Indah bicara dari menghadapinya. Namun, inilah realitinya. Bagaimana Saidina Bilal r.a. mampu memikul batu berat di bawah terik mentari hanya dengan menyebut ahad…ahad. Kita, dengan sembilan puluh sembilan nama Allah telah dihafal, namun belum tentu sanggup memikul dukaan kerana Tuhan. Jauh benar penghayatan aqidah kita berbanding penghayatan aqidah mereka yang dididik oleh Saidina Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-.

Nilai aqidah itu pada penghayatannya, bukan pada perbahasannya. Semua orang berbicara dalam manhaj yang berbeza-beza, tetapi tetap berkongsi kemanisan yang sama, jika benar tauhid mereka. Bukti berharga paling utama yang menunjukkan aqidah kita benar pada manhaj mereka yang terdahulu (as-salaf as-sholeh) khususnya para sahabat r.a., adalah kita berkongsi penghayatan mereka terhadap aqidah Islam itu sendiri.

Iman itu harganya pada kelazatannya dalam berinteraksi dengan Allah s.w.t. melalui kehidupan. Bagaimana generasi sahabat r.a. khususnya, tidak pernah kenal erti susah dalam menghadapi rintangan kehidupan mereka? Ramai orang kata, kekuatan mereka adalah pada kefahaman mereka tentang dakwah Islam. Ada orang juga kata, kekuatan mereka pada ilmu dan amal mereka. Benar bagai dikata oleh mereka yang berkata-kata. Tetapi bukan sekadar itu wahai saudara-saudara. Kunci utama kekuatan mereka adalah pada penghayatan mereka terhadap aqidah mereka. Kuncinya adalah pada kelazatan tauhid yang mereka kecapi saban hari.

Kelazatan iman mereka membawa mereka kepada mengenal makna hidup yang lebih besar. Ianya adalah cahaya yang terbit dari kerohanian yang bersih dan suci daripada maksiat dan kelalaian. Ianya lahir daripada jiwa yang sentiasa menginsafi diri dan memperbanyakkan taubat bukan sekadar kerana rasa diri berdosa, tetapi kerana takut rasa diri tidak berdosa yang mana itu juga sifat ujub yang tercela. Qudwah mereka adalah Saidina Al-Mustafa wa Habibina Al-Mujtaba Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-. Mereka melihat bagaimana Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- beristighfar seratus kali setiap hari sedangkan sudah terpelihara daripada dosa. Apa penghayatan Baginda Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- dalam memperbanyakkan taubat? Nah, kelazatan dan penghayatan itu diwarisi oleh para sahabat r.a. secara halus meresap dalam tarbiah Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-.

Kunci utama bagi seseorang mewarisi hal hati (ahwal) dan kebersihan rohani adalah pada kecintaan dalam keimanan. Oleh sebab itulah, Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- menyuruh para sahabat r.a. mencintai Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- lebih daripada diri mereka sendiri dan segala-galanya. Ini kerana, kunci berlakunya proses pewarisan ahwal (hubungan hati seseorang dengan Allah) daripada Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- adalah dengan cinta kepada Rasulullah – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-.

Jalan untuk mencintai Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- adalah dengan mencintai para pewaris Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- iaitulah para sahabat r.a. dan keluarga Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-, para ulama’ (yang mewarisi ilmu Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-), para solihin (yang mewarisi amalan Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam-), para murobbi (yang mewarisi manhaj tarbiah Rasulullah – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-) dan sebagainya. Ini adalah kecintaan kerana Allah s.w.t. yang berteraskan kecintaan kepada Rasulullah – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-. Inilah antara sebab untuk mendapatkan kelazatan iman.

Penghayatan ini juga dikuatkan dengan mujahadah melawan hawa nafsu dengan meninggalkan terus maksiat dan dosa kita tanpa menoleh kepadanya semula. Antara kuncinya adalah dengan membenci untuk kembali kepada dosa sebagaimana takut untuk dicampak ke dalam neraka. Perasaan takut itu apabila terus meningkat, maka ia akan membawa takut kepada murka Allah s.w.t..

Kemuncak proses mengecapi penghayatan aqidah tauhid dan kelazatan iman adalah dengan menjadikan setinggi-tinggi cinta teragung seseorang adalah ALLAH s.w.t.. Kecintaan kepada Allah s.w.t. ini bukan suatu proses yang mudah semudah mengungkapkannya dengan lisan semata-mata. Betapa ramai manusia yang mudah mengungkap cinta tetapi debu cinta pun tiada di hatinya (Astaghfirullah min ad-dakwa).

Prosesnya adalah dengan mencintai jalan-jalan untuk mencintai Allah s.w.t. iaitulah mencintai para solihin, para murobbi, para ahlul-bait, para sahabat r.a. dan kemuncaknya adalah cinta kepada Rasulullah s.a.w.. Dengan kecintaan kepada Rasulullah shollaLlahu ‘alaihi wasallammelebihi cinta kita kepada segalanya, akan membawa kepada kecintaan kepada Allah s.w.t. dengan bantuanNya.

Cinta kepada Allah s.w.t., memang benar ianya suatu anugerah. Tidak semudah sehingga semua yang mendakwanya, memilikinya. Tidak serendah semua yang membicarakannya, merasainya. Ianya pilihan dalam pilihan. Ianya anugerah dalam hadiah. Ianya kurniaan dalam pemberian. Maka, mintalah cinta kepadaNya hanya daripadaNya.

Dengan mencintai Allah s.w.t., seseorang akan menghadapkan fokusnya hanya kepada Allah s.w.t.. Seluruh jalan cerita dalam kehidupannya adalah ungkapan untuk mendapatkan redha dan cintaNya. Itulah sebenarnya hakikat apabila sudah mulai mencinta. Apa sahaja diredahi demi redha dan cinta. Pandangan redha yang dicinta adalah idaman setiap sang pencinta.

Andai benar kamu mencari redha Allah, mengapa mengeluh ketika diberi ruang untuk mendapatkannya? Bukankah ujian dan dugaan hidup itu ruang untuk mendapatkan redhaNya? Mengapa ketika diberi ruang untuk mendapat redhaNya dalam dugaan yang melanda, dengan sabar dan redha dalam setiap ketentuanNya, namun kamu memilih untuk mengeluh dan mula merasa duka?

Bukankah seseorang yang Allah s.w.t. cinta, makin kuat diuji? Bukankah ujian itu sebenarnya nilai cinta? Mengapa mengelukh ketika dikurniakan simbol cinta? Adakah kerana kita tidak memahami hakikat cinta? Atau kerana memang dalam diri kita tiada cinta kepadaNya? Oleh kerana itulah, hidup kita tidak sunyi dari keluhan terhadap Tuhan dan memberontak bila diberi ujian.

Para pencinta dari kalangan salaf dan khalaf mengenali dan menghayati hakikat cinta. Lalu, setiap hidup mereka dilalui dengan penuh redha sebagai sang hamba. Mereka melihat agungnya “nilai” di sebalik ujian berbanding beratnya ujian. Mereka melihat besarnya “tujuan” mereka dalam redha kepadaNya, iaitulah demi meraih redhaNya, berbanding melihat ketentuanNya dalam kehidupan mereka.

Seseorang yang sentiasa fokus terhadap kebesaran tujuan dan keagungan nilai di sebalik ketentuan, tidak pernah letih untuk menghadapi ketentuan demi ketentuan kerana tahu apa yang dicari di sebalik kesabaran dalam menempuh ketentuan. Bagaimana terungkap di mulut para pencinta: “sedang lautan api sanggup ku redahi demi cinta…”, kalau memang itu bukanlah hakikat sebenar cinta. Itulah hakikat cinta wahai sang pencari cinta.

Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- sangat kagum dengan sikap orang yang beriman yang sentiasa mendapati kebaikan dalam hidup, samada dalam kesenangan mahupun kesusahan. Malah, Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- sendiri sebagai simbol teragung dalam menterjemahkan makna kelapangan hidup, dalam hidup Baginda – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-.

Teringat kisah di mana linangan air mata mulia Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- menitis keluar dari kedua mata Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- yang mulia, ketika pemergian anaknda Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- bernama Ibrahim (r.a.). Lalu para sahabat r.a. bertanya tentang titisan air mata tersebut, adakah ianya tanda sedih atau bagaimana. Lalu Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “ini adalah rahmat (kasih sayang)”. Apa makna disebalik itu? Maknanya, hatta menangis itu sendiri dalam penghayatan Baginda -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- adalah rahmat daripada Allah s.w.t., bukan suatu kesempitan, apatah lagi segala ketentuan dalam kehidupan Baginda – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-. Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- mengecapi rahmat dan kelembutan Allah s.w.t. dalam setiap ketentuanNya sehingga air mata itu juga dirasakan nikmat daripada rahmat Allah s.w.t.. Ini hakikat penghayatan iman dan taqwa yang mendalam.

Inilah penghayatan aqidah yang murni, yang perlu dirasai oleh setiap orang beriman. Maka, carilah para pembimbing yang dapat membantu kita mewarisi penghayatan ini daripada generasi terdahulu melalui tarbiah dan qudwah. Indahnya hidup dengan melaluinya berbekalkan kelazatan iman dan penghayatan tauhid yang murni. Fokuslah kepada keagungan nilai tujuan, nescaya lapang bagimu setiap jalan menujunya.

Wallahu a’lam

Al-Faqir ila Rabbihi Al-Qawiy Al-Jalil

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Al-Razi Al-Azhari

‘AmalahuLlahu bi AlthofiHi Al-Khafiyyah

Posted by: Habib Ahmad | 11 Disember 2009

Menghayati Kekuasaan Allah dalam Melihat Kekurangan Diri

Menghayati Kekuasaan Allah dalam Melihat Kekurangan Diri Feb 18, ’09 2:41 AM
for everyone

Seseorang hamba Allah s.w.t. yang menghayati bahawasanya, tiada yang berkuasa dalam kewujudan ini dengan kuasa yang mutlak melainkan Allah s.w.t., pasti akan merasakan kekurangan dan kelemahan diri di hadapan Allah s.w.t.. Pada ketika itu, penyaksian hatinya terhadap kekuasaan Allah s.w.t. membuatkan dirinya sentiasa merasakan dirinya memerlukan Allah s.w.t. dalam setiap saat kerana pada hakikatnya, tiada daya dan upaya bagi seseorang melainkan dengan bantuan Allah s.w.t..

Allah s.w.t. yang menganugerahkan nikmat keupayaan dan kuasa dalam diri seseorang manusia dalam rangka untuk berusaha dan melakukan perbuatannya, namun kuasa dan keupayaan yang terkandung dalam diri seseorang tidak terlepas daripada kekuasaan Allah s.w.t. kerana sifat keupayaan yang dimiliki oleh manusia adalah daripada sifat kuasa Allah s.w.t. itu sendiri.

Seseorang yang menghayati perasaan ini adalah orang yang telahpun teralisasinya makna La Haula wa La Quwwata illa biLlah (Tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah) dalam dirinya. Ungkapan tauhid ini mengandungi rahsia keagungan ketuhanan Allah s.w.t. dan rahsia ketinggian kehambaan seseorang hamba itu sendiri jika dia menghayatinya lalu menterjemahkannya ke dalam kehidupan.

Seseorang yang tenggelam dalam lautan penyaksian wahdah (kesatuan sifat-sifat Allah) pasti menghayati bahawasanya manusia dan seluruh alam ini tidak pernah terlepas daripada kekuasaan Allah s.w.t.. Oleh yang demikian, seseorang itu tidak mampu untuk keluar daripada kehambaan diri mereka kepada Allah s.w.t. lalu memilih untuk tidak mentaatiNya kerana penghayatan terhadap rasa kelemahan diri di hadapan kekuasaan Allah s.w.t..

Adapun orang yang lalai daripada penghayatan ini adalah orang yang terkeliru dalam memahami erti dirinya sendiri dan erti kehidupan di sekelilingnya sehingga terhijab daripada hakikat bahawasanya dia tidak terlepas daripada kekuasaan Allah s.w.t.. Hijab orang yang lalai tersebut adalah dirinya sendiri di samping makhluk-makhluk di sekelilingnya sehingga dia menyangka bahawasanya yang berperanan dalam memberi manfaat dan menolak kemudaratan daripada dirinya adalah dirinya sendiri dan makhluk-makhluk di sekitarnya, sedangkan pada hakikatnya, hanya Allah s.w.t. -lah yang Maha Pemberi Manfaat dan Maha Menolak Kemudaratan.

Namun, kerana seseorang yang lalai itu terhijab dengan perbuatan-perbuatan Allah s.w.t. (af’aal) melalui makhluk-makhlukNya (infi’al), maka dia gagal menghayati makna sebenar kewujudan seluruh makhluk tersebut iaitulah untuk menjadi tanda kepada kewujudan dan keesaan Allah s.w.t. yang Maha Zahir melalui perbuatan-perbuatanNya. Mereka yang terus terhijab dalam kepompong hukum sebab musabbab, kepompong adat tabi’e dan sebagainya sebenarnya tidak dapat menghayati konsep qudrah (kekuasaan), iradah dan ilmu Allah s.w.t. dalam kehidupannya.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan kepada Saidina Ibn Abbas r.a. bahawasanya, jika seluruh makhluk berhimpun untuk menegah apa yang dikehendaki oleh Allah s.w.t. ke atas seseorang itu, nescaya makhluk-makhluk tersebut tidak mampu untuk menegah ketentuan Allah s.w.t. kepada orang tersebut. Begitulah juga sebaliknya. (hadith sahih. Sila rujuk Al-Ar’biin oleh Imam An-Nawawi).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengajar konsep sebenar kekuasaan Allah s.w.t. dan betapa lemahnya makhluk di hadapan kekuasaan Allah s.w.t.. Aqidah ini jika diterjemahkan dalam diri seseorang muslim, maka dia akan menghadapi kehidupan ini dengan penuh ketergantungan hati kepada Allah s.w.t. tanpa rasa kebimbangan terhadap masa hadapan dan sebagainya.

Apa yang dikerjakan adalah apa yang dituntut oleh Allah s.w.t. dan tidak perlu risau apa yang dijamin oleh Allah Y ke atas dirinya. (rujuk Hikam Ibn ‘Atho’illah As-Sakandari). Allah s.w.t. -lah yang Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana.

[Waspada] Janganlah seseorang itu, tatkala mengetahui bahawasanya hanya Allah s.w.t. yang Maha Berkuasa dalam kehidupan ini, maka dia pun meninggalkan “berusaha” dan beramal dalam kehidupan ini, kerana mendakwa bahawa apa yang ditentukan oleh Allah s.w.t. pasti datang walaupun tidak berusaha.

Ini suatu angan-angan yang dusta. Ia juga merupakan bahasa orang-orang yang leka dan tertipu dengan kemalasan diri semata-mata. Sesungguhnya Allah s.w.t. sentiasa menyuruh para hambaNya berusaha dalam rangka menunaikan tugas kehambaan diri kepada Allah s.w.t.. Oleh yang demikian, usaha yang kita lakukan, kita lakukan kerana ianya adalah perintah Allah dan ianya dilakukan sebagai ibadah, bukan kerana kita bergantung kepada usaha kita.

Kita tidak boleh mengabaikan sifat upaya dalam diri kita yang dianugerahkan oleh Allah s.w.t. untuk menjadi pemalas dengan tidak melakukan apa-apa dalam kehidupan ini, kerana selaku hamba, kita perlulah mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. kepada kita samada ibadah tersebut adalah ibadah khusus seperti solat, puasa dan sebagainya mahupun ibadah umum seperti mencari rezeki dan sebagainya.

Dalam pegangan ahlus-sunnah, merepa menetapkan konsep Al-Kasb iaitu usaha bagi hamba-hamba Allah yang faham akan hakikat kehambaan diri. Usaha adalah sesuatu yang dituntut oleh Allah s.w.t. ke atas kita kerana Dia telahpun menganungerahkan akal dan keupayaan dalam diri kita untuk melakukan tugas-tugas kehambaan dalam kehidupan seharian.

Imam Abdullah As-Syarqowi r.h.l. berkata:

“Adapun mazhab ahlus-sunnah bahawasanya perbuatan-perbuatan semuanya terbit dengan qudrah Allah semata-mata, namun dalam masa yang sama masih menetapkan wujudnya qudrah bagi hamba walaupun mereka menafikan qudrah hamba memberi kesan, namun bagi hamba itu masih ada bahagian untuk memilih (kurniaan Allah) yang daripada itulah dihitung untuk diberi pahala atau disiksa”. (syarah Hikam Al-Kurdi m/s 165)

Imam Junaid Al-Baghdadi r.a. ketika diberitahu tentang golongan yang meninggalkan amal lalu menjawab: “Sesungguhnya golongan arifin itu mengambil amal daripada Allah (maksudnya: tidak meninggalkan amalan), dan kepadaNya jua mereka kembalikan amalan tersebut (dengan melakukan amalan keranaNya dan denganNya)…”

Wallahu a’lam…

Al-Faqir ila Rabbihi Al-Jalil

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Al-Razi

Posted by: Habib Ahmad | 11 Disember 2009

Memahami Keutamaan (Bah 1)

Memahami Keutamaan (Bah 1)
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Memahami Keutamaan

Terjemahan : Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. ALlah melebihkan orang -orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya melebihi orang-orang yang duduk, satu darjat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (syurga) dan ALlah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (Iaitu) beberapa darjat daripadaNya, keampunan serta rahmat. Dan adalah ALlah s.w.t Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surah An Nisa’ 4 : 95-96)

Ada umat Islam yang melebih2kan pergi haji ke Mekah, sehinggakan setiap tahu pergi ke Mekah tanpa keperluan. Sedangkan yang wajib hanya sekali seumur hidup (untuk yang berkemampuan). Sedangkan sepatutnya dapat digunakan untuk membangunkan ekonomi Umat Islam, dalam membantu perjalanan dakwah. Membantu para pelajar yang memerlukan bantuan pengajian. Lihatlah berapa ramai pelajar yang miskin tetapi tidak dapat melanjutkan pelajarannya, ada juga yang terpaksa meminjam.

Begitu juga dalam membangunkan kerja dakwah yang selama ini dipandang sepi – lihat sahaja peningkatan masalah sosial setiap tahun, jumlah yang murtad.

Ada umat Islam yang melakukan pembaziran setiap duitnya dengan menggunakan sms bagi mengundi artis tertentu berbanding menggunakan duitnya bagi tujuan bersedekah, membeli buku pelajaran dan yang bermanfaat.

ilmu adalah cahaya yang menjelaskan yang mana satu perlu diikuti, perbuatan yang baik dan mana yang perlu ditolak, perbuatan yang benar dan mana perbuatan yang salah.

Gunakanlah wang yang berlebihan di jalan yang sepatutnya demi pembangunan insan, untuk menerbitkan dan penterjemahan buku. Kedapatan hari ini kebanyakan kitab yang ada diterjemahkan kebanyakannya hanya dari ulamak saudi. Di manakah penterjemahan yang dilakukan dari pendapat ulamak -ulamak syria, jordan, maghribi dan sebagainya? Tiadakah usaha untuk mempelbagaikan lagi ilmu dari dunia Islam?

Imam al Ghazali tidak setuju dengan orang-orang yang hidup sezaman dengannya, di mana mereka hanya belajar fiqh dan perkara-perkara yang sejenis dengannya sahaja, padahal pada masa yang sama di negeri mereka tidak ada seorang doktor Yahudi atau Nasrani.

Begitulah yang kedapatan sekarang ini, apabila mereka yang sepatutnya mempunyai kepakaran di dalam bidang kritikal, menyibukkan diri dalam bidang feqah yang sepatutnya diserahkan kepada mereka yang pakar. Bukan bermakna tidak penting perkara hukum hakam. Tetapi sekiranya sehingga mengabaikan profesion yang sebenar. Maka siapakah yang akan mengisi kedudukan tersebut? Seringkali kita lupa mengenai tuntutan fardhu kifayah yang sekiranya diabaikan umat Islam akan menderita apabila tiada seorang pun yang ahli di dalam bidang tersebut.

Siapakah yang menguasai bidang ekonomi ketika ini? Yang berjaya mencipta fesyen membuka aurat yang dipakai oleh wanita Muslimah? Menguasai bidang telekomunikasi? Darihal pembuatan? Industri Halal dan Haram?

Posted by: Habib Ahmad | 10 Disember 2009

Mencari kebenaran beragama

Mencari kebenaran beragama

Oleh YUSRI MOHAMAD

DARI neraca agama, hidup ini adalah satu ujian besar daripada Tuhan ke atas hamba-hamba-Nya. Ujiannya datang dari berbagai sudut. Salah satu sudutnya adalah tuntutan untuk kita menyesuaikan hidup kita mengikut kehendak agama.

Lebih daripada itu, kita juga dituntut untuk memperjuangkan agama dalam hidup kita. Tetapi turut perlu diinsafi, terutama bagi kita yang hidup diakhir zaman ini, antara ujian terbesar kita dalam kehidupan beragama adalah untuk mencari dan memilih fahaman dan ikutan yang benar dan murni dalam beragama.

Antara Yang Zahir dan Yang Benar

Ada beberapa faktor yang tambah menyukarkan kita dalam membezakan yang benar dan yang tidak dalam beragama. Masyarakat awam misalnya mudah terpengaruh pada sesuatu yang menonjol, aggresif, lantang dan dilihat yakin. Oleh itu, sering berlaku pihak yang zahirnya lebih berani, lantang, fasih dan mendapat liputan meluas itulah yang lebih didengari dan dianggap betul. Selain daripada faktor itu, aliran yang batil atau keliru dalam agama pula sering turut bercampur dengan kebenaran. Jadi perlulah diingat bahawa kebatilan yang bercampur kebenaran itu lebih berbahaya berbanding dengan kebatilan tulen yang tidak bercampur kebenaran. Samalah seperti bahayanya hidangan menarik yang mengandungi racun berbisa.

Di samping itu, dalam konteks masyarakat Malaysia khususnya, saya dapati, ramai juga yang mudah terkeliru dan tidak dapat membebaskan diri daripada kerangka persaingan politik kepartian dalam menilai isu-isu agama. Sedangkan sering juga isu agama yang timbul adalah pertembungan fahaman dan prinsip yang lebih mendasar dan melangkaui batas politik kepartian.

Petua-petua Utama

Mencari yang benar dan salah dalam hal agama bukannya mudah dan merupakan ibu segala pencarian dalam hidup manusia. Tiada yang akan berjaya tanpa usaha yang disertai rahmat dan hidayah Allah SWT. Dalam mencari yang kebenaran dalam agama, sangat bertepatan kita merujuk petua masyhur yang diungkapkan dengan fasih oleh Imam Ibnu Sirin dari kalangan Tabiin dalam pesannya, “Ilmu ini (ilmu-ilmu agama) adalah agama kamu, maka hendaklah seseorang itu benar-benar kenal (memilih) daripada siapa dia mengambil agamanya”.

Inilah petua dan prinsip inspirasi al-Quran dan al-Sunnah yang sangat asasi dan menyelamatkan. Menariknya, petua ini kurang ditekankan di kalangan mereka yang cenderung membawa fahaman yang Syaaz dikalangan umat ini. Mungkin kerana petua ini tidak menguntungkan mereka. Sebenarnya, jika petua yang satu ini benar-benar dihayati oleh anggota masyarakat, insya-Allah, mereka akan lebih mudah mengenal yang mana intan dan yang mana kaca.

Cabaran mengenal pasti sumber ikutan dan ambilan ilmu agama yang benar disukarkan lagi dengan munculnya, dari awal sejarah Islam, individu dan aliran sesat yang berwajah agama, siap dengan kelayakan zahiriyah dan retorik yang memukau. Contoh yang sangat jelas adalah episod Saidina Ali RA yang ditakdirkan terpaksa menghadapi fitnah kemunculan kelompok Khawarij. Mereka ini yang gagal betul-betul ‘mengenali’ Saidina Ali RA telah keluar dari mentaatinya atas niat dan asas keagamaan.

Mungkin mereka pun merasa perlu membawa perubahan dan tajdid terhadap arus perdana Umat ketika itu. Seperti yang masyhur dalam sejarah Islam, kelompok Khawarij ini zahirnya sangat kuat berpegang dengan agama. Sangat kuat ibadahnya dan tinggi semangat agamanya tetapi terpesong daripada fahaman agama yang benar.

Pembunuh Saidina Ali RA, Ibnu Maljam yang muncul daripada kalangan mereka diriwayatkan sedia menghadapi apa sahaja hukuman kecuali dipotong lidahnya kerana mahu lidahnya sentiasa basah dengan zikr. Saidina Ali yang berpengalaman dengan sepak-terajang kelompok sebegini ada berpesan, “Akan ada zamannya, dimana yang batil itulah yang paling zahir dan yang Haq itulah yang paling tersembunyi.”

Menginsafi pengajaran sejarah dan pesan Saidina Ali ini, janganlah kita mudah terpukau dengan semboyan-semboyan perubahan dan tajdid (pembaharuan). Tidak semua yang melaungkan tajdid itu mujaddid sebenar. Tidak semua orang berimej agama yang ditangkap, dipenjarakan atau diperangi itu pejuang agama yang hakiki! Janganlah kita mudah terkeliru dengan gelar, sijil dan pangkat. Sangat bahaya jika kita terlalu taksub kepada seseorang kerana satu-dua pandangannya yang kita minati atau kebetulan menghentam pihak yang kita tidak sukai. Kenalilah dan kajilah betul-betul seseorang tokoh agama sebelum mengikutnya atau mendokongnya habis-habisan. Janganlah terlalu mudah mempertaruhkan agama kita yang menjadi penentu untung-nasib kita di dunia ini dan di akhirat yang kekal abadi.

Tolak Yang Syaaz, Ikutilah Arus Perdana

Selain daripada mengenali latar belakang dan kecenderungan seseorang yang ingin diikuti, satu lagi panduan yang sangat utama dalam memilih kebenaran dalam agama adalah dengan kesetiaan dengan aliran arus perdana dan mengelakkan aliran-aliran yang Syaaz (ganjil, asing dan kontroversi).

Dalam menilai aliran atau tokoh agama sering kali berlaku kekeliruan antara perjuangan yang Syaaz dan memperjuangkan pembaharuan (Tajdid) dalam agama. Islam bukannya anti-perubahan dan Tajdid adalah unsur dinamika yang penting dalam tradisi Islam. Tapi sebagai risalah terakhir yang terpelihara dan dijamin Tuhan Rabbul Jalil, ruang untuk perubahan dan Tajdid dalam Islam adalah jelas dan lebih terbatas berbanding dengan agama dan ideologi lain.

Dalam agama Islam, kita boleh isytiharkan dengan yakin bahawa kita tidak perlukan seorang Martin Luther dengan gerakan reformasi Protestantnya seperti yang berlaku dalam sejarah Kristian. Dalam neraca Islam tuntutan perubahan diluar batas-batasnya bukanlah Tajdid yang hakiki tetapi adalah pandangan dan gerakan yang Syaaz. Yang meruntuh dan bukannya membina. Yang melemahkan bukannya menguatkan. Yang memecah-belahkan dan bukannya menyatukan.

Mengenali dan menolak yang Syaaz adalah prinsip pokok dalam Islam seperti yang dinyatakan nas-nas termasuk ayat 115, Surah al-Nisa’ dan hadis yang bermaksud, “Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menghimpunkan Umat ini diatas suatu kesesatan, dan sesungguhnya Tangan Allah itu bersama al-Jamaah, maka ikutlah as-Sawaad al-A’zam (majority ulama) dan sesiapa yang mengasingkan diri maka dia mengasingkan dirinya ke Neraka” (Riwayat Abu Nu’aim, Hakim dan al-Tirmizi seperti disebut oleh al-‘Ajluni dalam Kasyful al-Khafa’).

Persoalan ini boleh didapati huraiannya dalam perbahasan berkaitan prinsip-prinsip Ijma’, Jumhur, Mu’tamad dan as-Sawaad al-A’zam dalam bab-bab ilmu yang berkaitan.

Untuk mengenali dan menilai seseorang adalah tidaklah memadai sekadar membaca kolumnya dan mendengar ucapan-ucapannya tanpa kemampuan menilainya secara kritikal daripada kerangka fahaman agama yang mendalam. Seperti yang kita sebutkan, dalam sejarah Islam, memang sering muncul orang agama bijak berdalih dengan hujah dan dalil agama untuk mendokong fahamannya sehingga menyukarkan orang awam yang tidak kuat latar belakang agamanya serta tidak cukup maklumat untuk menilainya dengan saksama.

Tetapi berpandukan petua-petua utama yang baru kita himbau, kita sepatutnya sudah boleh membuat penilaian yang lebih tepat dalam isu beberapa aliran dan tokoh agama semasa yang timbul dalam masyarakat kita. Antara sikap dan pendirian yang Syaaz yang timbul dalam masyarakat kita ialah tidak boleh menerima perbezaan pandangan dalam isu-isu khilafiyyah. Ini merujuk kepada isu-isu yang mana terdapat perbezaan pandangan di kalangan mazhab dan ulama muktabar dalam dunia Islam. Sikap arus perdana dalam soal-soal sebegini adalah tidak menolak, memperlekehkan atau membid’ahkan amalan-amalan tersebut.

Malangnya, kita dapati ada tokoh-tokoh tertentu yang banyak mempertikaikan (baca menyesatkan) amalan-amalan yang sudah diterima umum dalam masyarakat kita yang ada asasnya di dalam Islam seperti tahlil arwah, bacaan Yaasin di waktu tertentu dan berubat dengan air yang dijampi. Malah ada yang dengan sinis meminta mereka yang percaya dengan air jampi ini untuk terus menjampi sahaja air di empangan agar semua orang boleh jadi baik!

Ada juga percubaan memakaikan imej yang buruk terhadap pendekatan tarekat dalam dunia tasawuf dan keruhanian Islam sedangkan pendekatan tarekat diterima oleh majoriti umat ulama termasuk Ibnu Taymiyyah. Menolak dan mempermasalahkan tasawuf dan tarekat adalah sikap yang bertentangan dengan arus perdana ulama dan umat Islam. Ia juga bererti menolak dan mempertikaikan tokoh-tokoh ulama tanah air yang disepakati jasa dan sumbangan mereka dalam menegakkan agama Islam seperti Tok Kenali, Tuan Tabal, Tokku Paloh, Tok Selehor, Sheikh Abdullah Fahim dan Sheikh Ahmad Mohd. Said dan lain-lain yang kesemuanya mesra dengan dunia tasawuf dan tarekat. Sebenarnya kelompok sesat dan batil dalam tarekat adalah kelompok minoriti tetapi ada yang cuba memberi gambaran yang sebaliknya kepada masyarakat.

Akhir-akhir ini ada juga yang cenderung mempermasalahkan kedudukan mazhab Syafie sebagai mazhab utama dan rasmi di negara kita. Sebenarnya pilihan ini adalah pilihan semulajadi berdasarkan sejarah sampainya dan tersebarnya Islam di Nusantara.

Kita umumnya memahami sistem bermazhab yang menyebabkan kita tidak terlalu taasub mazhab Syafie. Cuma kita mungkin akan curiga jika ada amalan-amalan kita yang berdasarkan mazhab Syafie hendak dipertikaikan dan ditukar tanpa ada asas dan alasan yang kukuh serta dibuat di luar kerangka fatwa rasmi.

Anehnya ada yang membayangkan kita terlalu taasub dengan Mazhab Syafie sehingga ke tahap menganggap Imam-imam lain seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad terkeluar daripada kalangan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Adakah ada di kalangan kita yang ada menganggap begitu?

Apa pun nama dan gelarannya, tidaklah terlalu sukar mengenali yang tokoh atau aliran yang Syaaz dalam Islam. Jika pandangan dan kecenderungan seumpama ini diberi kebebasan untuk disebarkan dalam masyarakat kita, pelbagai kesan negatif akan timbul. Selain kekeliruan fahaman agama sehingga ke tahap melanggar hak dan adab terhadap para ulama muktabar silam dan semasa, ia juga boleh menimbulkan ketegangan dan perpecahan dalam masyarakat awam.

Penulis ialah Pensyarah Universiti Islam Antarabangsa Malaysia yang juga bekas Presiden Angkatan Belia Islam Malaysia.

Adab Menuliskan Nama Nabi SAW (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)
Published by Syafii on December 1, 2009 08:39 pm under Artikel Islam

Asslamualaikum Wr. Wb.

Habib Luthfi yang saya muliakan, saya sering membaca tulisan, baik di koran, di majalah, maupun di buku, tentang Nabi Muhammad Saw, yang namanya ditulis tidak lengkap, kadang malah disebut Muhammad saja. Begitu juga dengan penyebutan sahabat nabi Saw, seperti Sayyidina Abu Bakar Ra, Sayyidina Umar Ra, Sayyidina Ustman Ra, dan Sayyidina Ali Ra. Mereka hanya menuliskan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Saya merasa tulisan itu kurang menghormati dan termasuk su’ul adan (adab yang buruk).

Waalaikumsalam Wr.Wb.

Abdul Haq
Bogor

Waalaikumsalam Wr.Wb

Memang begitulah seharusnya menuliskan nama Rasul atau Nabi dengan gelarnya. Begitu juga dengan para sahabat nabi Muhammad Saw, yang telah mendapatkan ridha Allah Swt, sehingga mendapatkan sebutan “Radiyyallahu ‘anhum/anhuma”.

Khusus untuk Nabi Muhammad Saw, perintah untuk membacakan shalawat apabila namanya disebutkan, bukan sekedar perintah manusia, tetapi perintah dari Allah SAwt. Dalam Al Quran disebutkan, “ sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikt-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. “ (QS: Al Ahzab: 56).

Jika Allah Swt dan malaikat saja bershalawat kepada Nabi Saw, junjungan kita, kitapun harus demikian.

Dalam menulis nama Allah dalam suatu tulisan, pertama kita tulis dengan lengkap, yaitu Allah subhanahu wataala (SWT) atau Allah taala saja. Selanjutnya boleh kita tulis Allah saja, tetapi dengan niat dan harapan agar para pembacanya menambahkan sendiri bacaan Subhanahu wa Taala (SWT) atau Taala dalam hati.

Begitu juga untuk menulis nama Nabi Muhammad Saw, kita tulis dengan lengkap, dengan tambahan shalallahu alaihi wasalam (SAW), atau didepannya bisa ditambahkan sayyidina atau baginda, atau sebutan penghormatan lain. Nah, baru dipenulisan berikutnya, bisa ditulis Nabi Saw, Rasulullah Saw, atau Nabi atau Rasulullah saja. Tidak sopan untuk menyebut nama Nabi, junjungan kita hanya dengan Muhammad saja, meski pada awal tulisan sudah kita sebut namanya secara lengkap dengan gelarnya.

Bagi pembaca, bila dituliskan nama Allah, sebaiknya mengucapkan Subhanahu wa Taala, atau Taala. Dan jika dituliskan nama Nabi atau Rasulullah saja, ada baiknya mengucapakan shalallahu alaihi wasalam di dalam hati.

Untuk para sahabat, berlaku begitu juga. Untuk awal tulisan, kita tulis Sayyidina Abu bakar Radiallahu anhu (RA). Untuk penulisan selanjutnya, cukup ditulis Sayyidina Abu Bakar atau Abu bakar saja.

Mengapa para sahabat mendapat gelar Radiallahu ‘anhu, sebab Allah sendiri telah mengucapkan keridhaanNya kepada mereka, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha pada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir, sunga–sungai didalamnya selamanya. Mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS: At-TAubah (9): 100). (SM*AP)

(Al Kisah no 11/tahun VII/1-14 Juni 2009)

Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Posted by: Habib Ahmad | 10 Disember 2009

Pengamalan Tasawuf -Habib Luthfi

Pengamalan Tasawuf Ala Al Habib Luthfi
Published by Syafii on December 8, 2009 under Artikel Islam

Berikut ini petikan wawancara crew Habibluthfiyahya.net dengan Al Habib Luthfi bin Yahya. Dalam wawancara kali ini Al Habib menjelaskan bagaimana tasuf dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa pandangan-pandangan Al-Habib tentang tasawuf?

Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri.

Bagaimana kita masuk masjid dengan kaki kanan dahulu. Dan bagaimana membiasakan masuk kamar mandi dengan kaki kiri dulu dan keluar dengan kaki kanan. Artinya bagaimana kita mengikuti sunah-sunah Nabi. Itu sudah merupakan bagian dari tasawuf.

Bukankah hal semacam itu sudah diajarkan orang tua kita sejak kecil?
Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi SAW.

Tapi mereka mengajarkan untuk langsung diterapkannya. Kini kita tahu kalau yang diajarkannya itu adalah merupakan tuntunan Nabi. Itu adalah tasawuf. Sebab tasawuf itu tak pernah terlepas dari nilai-nilai akhlaqul karimah. Sumber tasawuf itu adalah adab. Bagaimana adab kita terhadap kedua orang tua, bagaimana adab pergaulan kita dengan teman sebaya, bagaimana adab kita dengan adik-adik atau anak-anak kita. Bagaimana adab kita terhadap lingkungan kita.

Termasuk ucapan kita dalam mendidik orang-orang yang ada di bawah kita. Kepada anak-anak kita yang aqil baligh, kita harus bener-bener menjaganya agar jangan sampai mengeluarkan ucapan yang kurang tepat kepada mereka. Sebab ucapan itu yang diterima dan akan hidup di jawa anak-anak kita.

Bagaimana sikap kita berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang sudah carut maut?
Mampukah ketika kita berhadapan dengan lingkungan yang demikian itu? Ketika kita asik-asiknya bergurau, maka berhentilah sejenak. Kita koreksi apakah ada sesuatu yang kurang pantas? Agar hal yang demikian itu tak dicontoh atau ditiru oleh anak-anak kita. Itu sudah merupakan tasawuf. Jadi dalam rangka pembersihan hati, bisa dimulai dari hal-hal kecil semacam itu.

Lalu kita tingkatkan dengan tutur sikap kita terhadap orang tua. Ketika kita makan bersama orang tua. Janganlah kita menyantap lebih dahulu sebelum bapak-ibu kita memulai dulu. Janganlah kita mencuci tangan dahulu sebelum kedua orang tua kita mencuci tangannya. Makanlah dengan memakai tangan kanan. Dan jangan sampai tangan kiri turut campur kecuali itu dalam kondisi darurat. Sebab Rasulullah tak pernah makan dengan kedua tangannya sekaligus. Ini sudah tasawuf.

Apa yang sebenarnya menarik dari Al-Habib, sehingga begitu getol menekuni dunia tasawuf?
Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karna setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah SWT.

Sehingga kita tidak lagi mempunyai prasangka-prasangka yang buruk, apalagi berpikiran jelek dalam pola pikir dan lebih-lebih lagi di hati. Sebab tasawuf itu tazkiyatul qulub, yakni untuk membersihkan hati. Jika hati kita ini bersih, maka hal-hal yang selalu menghalangi-halangi hubungan kita kepada Allah itu akan sirna dengan sendirinya. Sehingga kita senantiasa mengingat Allah.

Ibarat besi, hati kita itu sebenarnya putih bersih. Hanya karena karatan yang bertumpuk-tumpuk lantaran tak pernah kita bersihkan, sehingga cahaya hati itu tertutup oleh tebalnya karat tadi. Na’udzubillah kalau sampai hati kita seperti itu.

Lantas dari mana kita mesti memulai untuk pembersihan hati tersebut?
Ikutlah dahulu ajaran fiqih yang tertera dalam kitab-kitab fiqh. Seperti arkanus shalat (rukun-syarat sholat), lalu adabut shalat, adabut thaharah dan seterusnya. Marilah itu semua kita pelajari dan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Ketika kita diundang untuk menghadiri acara walimah di sebuah gedung misalnya, maka kenakanlah pakaian yang bagus-bagus.

Sebab itu demi menghormat dan untuk menyaksikan kehalalan kedua mempelai di pelaminan. Untuk menghormati acara tersebut, kita menggunakan pakaian yang rapi. Sebab pada hakikatnya, kita telah menghormati Allah SWT yang telah menghalalkan hal tersebut.

Kita juga menghormati yang telah mengundang kita, serta menghormati sesama kita dalam gedung atau dalam jamuan tersebut. Kalau kita bisa menyaksikan aqdun nikah (akad nikah) secara demikian, mengapa kalau kita menghadap langsung kepada Allah SWT, tidak pernah melakukan penghormatan yang demikian itu?

A-Habib dikenal sebagai mursyid thariqah, tetapi kelihatan gemar memainkan alat musik?
Di sana kita akan menemukan kekaguman. Ilmullah yang ada dalam music itu sendiri. Diantaranya notnya itu hanya ada 7; do re mi fa sol la si do, do si la sol fa mi re do. Sedangkan oktafnya ada 7, suara miringnya 5, jadi ada 12. Yang memakai adalah di seliruh dunia, dan mengeluarkan lagu yang beragam. Itu merupakan satu hal yang sangat menarik.

Ketika orang mendengarkan musik, mereka bisa menangis dan tertawa, bersedih dan bersuka ria. Nah, yang berupa benda saja bisa menghasilkan efek semacam itu. Lantas bagaimana kalau kita tengah mendengar lantunan ayat Al-Qur’an sedang dibacakan? Mesti akan jauh lebih dari itu. (Ts/hly.net)

Sumber Website Habib Lutfi bin Yahya

Posted by: Habib Ahmad | 10 Disember 2009

Jakarta Menyambut Guru Mulia

Jakarta Menyambut Guru Mulia

Dengan segenap Puji bagi Maha Raja Tunggal Sekalian Alam Semesta, dan Limpahan Shalawat atas Imam Tunggal yg terpilih memimpin di dunia dan di Akhirat, Sayyidina Muhammad beserta keluarga dan Sahabat beliau, dan para penerusnya hingga akhir zaman.

Betapa tak tergambarkan kegembiraan ratusan ribu sanubari muslimin di wilayah Indonesia, khususnya Jakarta, ketika mendengar bahwa semakin dekatnya kunjungan berkala tahunan sang Imam, Alhabib Al Allamah Assayyid Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh, Guru yang selalu membimbing dengan kelembutan, dan mencirikan Kelembutan ajaran Sang Nabi SAW,siang dan malamnya adalah membimbing ratusan santri dari mancanegara, dan di akhir malamnya adalah tegak dengan kesendirian, hanya berduaan dengan Maha Raja Tunggal di Alam, dan mengakhiri malamnya dengan kedua tangan terangkat tinggi bermunajat dan mengemis curahan Rahmat bagi para muridnya dan seluruh muslimin.

Tahun 1994 adalah kunjungan pertama Beliau ke Indonesia, Da’i muda yang telah mendunia ini pun mengadakan kesepakatan dengan para Ulama dan habaib di Indonesia untuk mengabulkan permintaan mereka dalam menerima siswa-siswa dari Indonesia untuk berada dibawah bimbingan Beliau di Yaman, tepatnya di kota Tarim, Hadramaut. Dan terus berkelanjutan hingga saat ini, setiap tahunnya Beliau menyempatkan diri untuk melakukan kunjungan ke Indonesia sebagai wujud kepedulian Beliau terhadap kelangsungan dakwah Sang Nabi SAW di bumi muslimin terbanyak di dunia ini.

Kedatangan Da’i besar ini bagai Pelangi warna-warni yang muncul dengan indah setelah guyuran hujan di Negara ini, datang untuk menuntaskan kerinduan antara beliau dan para pecintanya.

Tahun 1998 angkatan pertama kembali ke Indonesia, dan setiap tahunnya alumni Ma’had Darulmustafa bimbingan beliau yg baru berdiri pada tahun 1997 ini terus menghujani Nusantara, termasuk Malaysia dan kini Singapura, demikian pula Srilangka, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan masih banyak murid murid beliau yang berduyun duyun dari pelbagai Negara menimba ilmu dari Guru Kelembutan ini.

Beliau mendapat penghargaan dari Presiden Republik Yaman Ali Abdullah Shaleh, yg sangat mengagumi beliau, dengan bimbingan Kelembutan dan kasih sayang, dan memang ribuan WNA berdatangan ke negeri itu untuk mengunjungi Sang Guru, lain dengan beberapa Ma’had di beberapa wilayah Yaman lainnya yg banyak mengajarkan kekerasan dan terorisme, dan adapula santri santri dari WNI yg menuntut ilmu di tempat mereka. Ma’had Darulmustafa kini telah meresmikan bimbingan pelajaran dengan 4 bahasa, yaitu Arab, English, Afrika dan Indonesia, dan santri terbanyak adalah berasal dari Indonesia.

Kunjungan Guru Mulia ini ke Indonesia berlangsung setiap tahunnya, untuk menjenguk murid murid beliau yang telah berjumlah ratusan memenuhi Bumi Nusantara ini, puluhan pesantren telah berdiri, ratusan majelis taklim telah dibuka, media televisi, radio, surat kabar, acapkali menampilkan liputan mengenai aktifitas mereka yg selalu berjuang menegakkan dakwah di wilayahnya masing masing dengan kasih sayang, Rahmat dan kelembutan.

Insya Allah Bumi Jakarta akan disentuh langkah mulia beliau dalam beberapa hari mendatang, pada tanggal 31 Desember 2009 yang bertepatan dengan malam pergantian tahun masehi akan berlangsung Acara Tabligh Akbar bersama Guru Mulia yang diadakan di Pintu Utama Gelora Bung Karno. Pada pagi hari minggu (03 Januari 2010) adalah acara Haul Al Imam Abubakar bin Salim Fakhrul wujud rahimahullah. Dan senin malam (04 Januari 2010) beliau akan berkunjung dan menghadiri Majelis salah seorang muridnya, yaitu guru kita, Hb Munzir bin Fuad Almusawa, yaitu di Lapangan Monas, hadirin diperkirakan akan mencapai ratusan ribu orang.

Acara-acara besar tersebut sepenuhnya membutuhkan biaya yang tidaklah kecil, Maka kami mengajak Saudara sekalian untuk bergabung dalam Kemuliaan, dengan turut berpartisipasi mensukseskan acara mulia bersama Guru Mulia. Banyak kritik bermunculan setelah munculnya ajakan untuk berinfak dalam acara ini. Sungguh Demi Allah, kemajuan dakwah tidak terhenti dengan tidak ada yang berinfak, Nnamun puluhan ayat dan hadits memerintahkan kita menabung di Bank Allah SWT dengan bunga ribuan persen, maka bersegeralah.

Kita tidak kaget jika mendengar seruan: “peduli gempa, peduli tsunami, peduli kemiskinan, dll.”, sungguh peduli pada majelis ratusan ribu muslimin berdoa tidak kalah pentingnya, karena majelis do’a akan meredam gempa, meredam gunung berapi, meredam alam dari musibah, musibah pribadi dan musibah umum.. Maka bergabunglah dalam infak terluhur, yaitu tegaknya syiar dakwah Sayyidina Muhammad SAW dengan mengagungkan nama Allah SWT dan meredakan alam dari musibahnya.

Mari tuliskan namamu dalam kelompok pembela Rasulullah SAW. Dengan menginfakan harta melalui Bank Syariah Mandiri , No Rek 061-7121-494 atas nama Munzir Al Musawa. Selamat Datang Wahai Guru Mulia pembawa semilir kelembutan.. Betapa cahaya kelembutan telah kau tebarkan di sanubari ratusan muridmu di Mancanegara, dan muridmu pun telah pula membina dan memimpin ribuan bahkan puluhan ribu muslimin di belahan bumi barat dan timur, kedatanganmu adalah pelipur lara dan penghibur kesedihan bagi perjuangan murid-muridmu yang siang malam jatuh bangun memperjuangkan dakwah Sang Nabi SAW.

Maka Wahai Yang Maha Membangkitkan Kemuliaan bangkitkanlah semangat keluhuran di sanubari kami khususnya dan di sanubari penduduk nusantara ini, dengan kedatangan Hamba Mu yang kau muliakan sebagai pewaris perjuangan Sang Nabi SAW yang telah dibawa dan diemban oleh para Da’I terpilih Mu dari zaman ke zaman. Jadikan kedatangan beliau sebagai hembusan Rahmat Mu pada Jutaan sanubari penduduk negeri ini, maka terangkatlah musibah dan bencana, terampunilah dosa dosa, dan sejuklah sanubari hamba hamba Mu di negeri ini, Amiin.

Posted by: Habib Ahmad | 9 Disember 2009

Menyingkap Makrifat di Balik Syariat

Menyingkap Makrifat di Balik Syariat
Minggu, 04 Oktober 2009 16:36 Sebagai orang islam, kita mesti menyakini bahwa kita harus melalui tahap iman, islam dan ihsan. Setelah kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kita juga harus mengetahui serta mengerjakan syari’at, seperti shalat, puasa, zakat, haji, juga mengikuti apa yang diperintahkan Allah SWT serta menghindari apa yang dilarang-Nya.
Kalau semua kewajiban tersebut sudah dikerjakan, apakah urusannya sudah selesai? Belum. Karena kemudian akan muncul pertanyaan: Untuk apa beribadah, seperti shalat?

Nah, jawabannya ada dalam thariqah. Sebab thariqah itu menyingkap ma’rifat di balik ibadah syari’at. Contohnya, pengetahuan di balik ibadah shalat, atau lebih luas lagi pengetahuan di balik syari’at islam.

Abdullah Shaghir
Cileungsi, Bogor,
Jawa Barat

Al Habib M. Luthfi Bin Yahya Menjawab :

Seharusnya, orang yang ingin berthariqah sudah mafhum dalam hal syari’at. Karena itulah, majelis pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali, di Majelis kanzus Shalawat Pekalongan, misalnya, tidak membuka acara tanya jawab tentang syari’at. Misalnya, mengapa shalat Maghrib tiga rakaat, isya’ empat rakaat, dan Shubuh dua rakaat? Mengapa puasa dimulai dari waktu shalat Subuh hingga masuk waktu maghrib? Itu adalah syari’at, yang perlu dimengerti lebih dulu dasar dan ketentuannya.

Kalau jama’ah sudah mengetahui syari’at dengan baik, jalan selanjutnya baru thariqah.

Dalam perjalanan waktu mempelajari syari’at, bisa saja muncul pertanyaan : Mengapa kita harus shalat, puasa, dan lainnya? Mereka ingin mengetahui apa yang ada di balik ibadah yang mereka lakukan.

Saat seseorang sudah perlu kepada kepada kepada ma’rifat, yaitu pengetahuan di balik syari’at islam, saat itulah ia masuk thariqah. Dan kalau ia menganggap wajib memperoleh pengetahuan itu, ia wajib memasuki thariqah.

Jadi, thariqah sebenarnya bukan sekadar orang membaca wirid. Yang lebih penting adalah mendapatkan pengetahuan terhadap ibadah-ibadah yang kita lakukan. Wirid dan lainnya sekedar latihan dan ketekunan, supaya kita lebihdekat kepada Allah, Dzat Yang Memberikan pengetahuan ma’rifat kepada manusia.

Manusia harus menyadari atau mengetahui secara mendasar bahwa ia adalah makhluk (yang diciptakan) Khaliq (Pencipta, Allah). Hubungannya dengan pertanyaan “Mengapa kita melakukan shalat?”, karena, selain itu sebagai perintah Allah, dalam shalat kita juga mengetahui (ma’rifat) bahwa diri kita makhluk. Sudah menjadi kewajiban makhluk untuk menyembah, mengabdi, dan tunduk kepada penciptaan-nya.

Inti shalat adalah do’a. Jadi, orang yang berdo’a kepada Allah menyadari bahwa dirinya makhluk, yang lemah dan butuh pertolongan serta lindungan dari Allah, sebagai Dzat Yang Maha Memberi pertolongan dan perlindungan.

Hanya saja, manusia memiliki sifat lalai (ghafiah). Maka shalat dan ibadah lainnya, seperti wirid dan dzikir, serta latihan lainnya, bertujuan untuk terus mengingatkan manusia akan hakikat dirinya, sebagai makhluk, yang diciptakan oleh Khaliq. Dengan begitu, semua ibadah yang dilakukan akan dilaksanakan dengan ikhlas. Lillahi ta’ala, hanya karena Allah Ta’ala. Bukan karena alasan untuk harta benda, kekuasaan, atau kepentingan duniawi lainnya.

Sumber : habib lutfi

Posted by: Habib Ahmad | 9 Disember 2009

Kearifan Ulama Tanah Jawa

Kearifan Ulama Tanaha Jawa
Kamis, 13 Agustus 2009 00:00 Di Jawa ada Kiyahi namanya Kiyai Hasan, daerah Kraksan. Beliau itu termasuk wali Allah yang luar biasa. Kalau beliau mau kedatangan Ahli Bait, keturunan nabi, Habib, beliau lari menjemput sambil berkata ada raihatul musthafa, ada bau harum badan Rasulullah Saw. Padahal kuturunan nabi itu entah baru sampai dimana.

Diantara Karamahnya. Suatu ketika, saat ada seorang haji menyewa mobil, kebetulan yang jadi sopirnya Ahli Bait (Habib/Syarif). Cuma haji ini tidak tahu kalau itu adalah Ahli Bait. Kiayi Hasan bilang sama anak-anaknya: tolong kamar tidur dirapikan kita mau kedatangan Habib. Habibnya siapa? Tanya putra kiyahi Hasan. Nanti saya tunjukan kalau sudah datang, jawab kiyahi itu.

Setelah haji itu tiba dirumah kiyahi Hasan, kiyahi Hasan bertanya pada haji itu, Haji supirmu dimana? Sopir kula asaren kiyai, Sopir saya tidur Kiyai, Jawab Haji. Kiyahi balik bertanya, e’ka’emmah (dimana)? Di Mobil Kiyahi, jawab Haji. Saya mau dekati dia boleh ya, kiyahi meminta ijin.

Yi tangi Yi’ (Habib bangun Bib). Sopir itu kaget, karena seumur-umur tidak ada yang manggil Ayi’, atau Habib. Akhirnya dikenal dengan bangsa al Jufri. Kiyahi Hasan ditanya: darimana tahu sopir itu Habib? Dari bau keringatnya, bau keringat kangjeng Nabi, kata kiyai Hasan.

Itu hebatnya ulama-ulama kita dahulu, sejauh itu pandangannya, dari hormatnya pada Ahli Bait Nabi. Dan tokoh-tokoh itu bukan satu dua, Imam Subki, Qadhi Iyadh tahu bagaimana kedudukan Ahli Bait an Nabi dan juga ulama-ulama lain, ujar Al Habib M. Lutfi bin Ali Yahya

Posted by: Habib Ahmad | 9 Disember 2009

Al Allamah Al-Sheikh Yusuf al-Dijwi al Azhari.

Al Allamah Al-Sheikh Yusuf al-Dijwi al Azhari.
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah
Penulis : Ustaz Haji Abdul Raof Pondok Tampin

{Sesungguhnya daku tidak akan mengikut pendapat Ibnu Taimiah sama sekali, (kerana) Sesunggguhnya jika aku sampai kedarjah Mujtahid, maka Aku tidak akan mengikut pendapat sesiapa pun. Sebaliknya jika daku tidak sampai kepangkat mujtahid, maka daku akan bersama-sama mengikuti pendapat majoriti ulamak , aku tidak akan bersama (menyokong mereka yang bertelingkah ) dengan mereka.

(Cara) yang begitu adalah yang lebih cermat dalam beragama. Dan lebih hampir pada sisi Aqli dan Naqli ( pada sudut pandangan ilmu-ilmu akliah dan ilmu-ilmu Syara).} – al allamah al-sheikh Yusuf al-Dijwi al Azhari.
Begitulah bunyi (Kalimah fi salafiah al haadhirah- كلمة فى سلفية الحاضرة) -surat yang dikirim beliau kepada al allamah Muhammad Zahid al Kawthari.

Al Allamah al-Syeikh Yusof al-Dijwi merupakan seorang yang cerdik dan berfikiran tangkas. Beliau mampu menerangkan sesuatu perkara dengan bahasa yang indah dan baik, daya ingatannya kuat dan ilmunya amat luas. Halaqah pengajian yang diadakannya di al Azhar Syarif, dihadiri oleh hampir seribu orang ulama’ dan penuntut ilmu. Beliau menyampaikan ucapannya dengan keterangan dan penjelasan yang amat memukau dan menarik perhatian pendengar sehingga mengalir ke dalam diri mereka curahan ilmu yang berkesan. Beliau adalah seorang ahli tafsir, ahli hadith dan ahli falsafah al Azhar. Selain itu, beliau juga seorang pengarang dan khatib al Azhar yang benar-benar hebat di antara ulama’ lain yang sezaman dengannya.

Beliau menjadi orang kepercayaan masyarakat Islam di seluruh dunia, menunjukkan pengiktirafan mereka terhadap keluasan ilmunya, ketulusannya dan ketinggian wara’nya. Banyak pertanyaan yang datang dari segenap tempat dan pelusuk dunia yang diajukan kepadanya untuk meminta fatwa.

Beliau juga adalah seorang yang bersifat pemurah dan mulia. Wajahnya akan ceria ketika dapat menyelesaikan hajat-hajat yang dikemukakan kepadanya walau dalam apa jua perkara. Layanan yang diberikannya kepada orang-orang asing tidak ada tolak bandingannya.

Kitab-kitab karangannya menarik perhatian umat Islam dan telah berada di serata pelusuk dunia. Banyak hasil makalahnya yang begitu bermanfaat telah tersebar ke segenap tempat dan masih lagi dimuatkan di dada-dada akhbar dan majalah Bahasa Arab sehingga ke akhir hayatnya. Ini adalah kurniaan Allah yang dianugerahkanNya kepada sesiapa yang dikehendakinya.

Telah berkata Imam Besar Syeikhul Azhar Dr. Abdul Halim Mahmud:

Sesungguhnya kami telah menghadiri majlis pengajian al Marhum al Alim al Kabir al arif billah Fadhilah Syeikh Yusof al Dijwi di Ruwaq Abbasiy di dalam Masjid al Azhar selepas sembahyang Subuh. Pengajian ilmu tafsirnya benar-benar menarik perhatian. Beliau telah menghimpunkan di antara ilmu yang ditimbanya semenjak sekian lama dengan ilmu yang diperolehinya melalui sumber ilham-ilham robbaniyyah. Tetapi sayang, tidak seorang pun yang membukukan pengajian-pengajiannya ini. Sekiranya ilmu yang dicurahkan dalam pengajian itu dibukukan, sudah tentu dapat dimanfaatkan ilmunya dan mutiara-mutiara ilhamnya.

Secubit biodata al- Dijwi

Dilahirkan di Dajwah yang terletak dalam daerah Qalyub Mesir pada tahun 1287 H. Ayahandanya berasal dari Bani Habib, manakala bondanya berketurunan Sayyidina Hasan r.a.
Setelah menghafaz al Quran di kampungnya, beliau dihantar oleh ayahandanya belajar dial Azhar. Beliau menerima ilmu ilmu Islam daripada ulama’ al Azhar semenjak tahun 1301H hingga 1317H. Kemudian beliau memasuki peperiksaan darajah al Alimiyyah (sama taraf dengan Phd) pada zaman ini). Beliau telah berjaya dalam peperiksaan tersebut ddengan cemerlang sehingga salah seorang gurunya yang terkenal ‘alim di kalangan ulama’ Azhar iaitu Syeikh Radhi al Hanafi, datang menziarahi ke rumahnya untuk mengucapkan tahniah di atas kejayaannya.

Di antara guru-gurunya:

1. Syeikh Harun ibn Abdur Raziq al Banjawi (wafat 1335H dalam usia 87 tahun).
2. Syeikh Ahamad al Rifaii al Fayyumi (wafat pada tahun 1326H).
3. Syeikh Muhammad ibn Salim al Tomum (wafat pada tahun 1336H).
4. Syeikh Ahmad Faid al Zurqoni
5. Syeikh Daud al Maliki.
6. Syeikh al Azhar Syeikh Salim al Bisyri.
7. Syeikh Razzaq ibn Saqar al Barqami.
8. Syeikh Muhammad al Buhairi al Syafie
9. Syeikh Atiah al Adawi al Syafie
10. Syeikh Hasan al Jarisi (seorang guru beliau dalam ilmu Qiraat).

Murid-muridnya:

Ramai di kalangan murid-murindnya yang menjadi ulama’ besar dalam semua bidang ilmu Islam dengan berkat didikannya.

Di antara mereka ialah:

1. Al Muhaddith Syeikh al Islam al Allamah Muhammad Zahid al Kawthari.
2. Mufti Besar Mesir al Muhaddith al Allamah al- Syeikh Hasanain Makhluf.
3. Syeikh al Azhar Imam al Akbar Dr. Abdul Halim Mahmud.
4. Imam Jami’ al Azhar al Arif Billah Syeikh Soleh ibn Muhammad al Ja’fari.
5. Al Allamah Syeikh Muhammad Zaki Ibrahim.
6. Al Allamah Syeikh Muhammad al Hafiz al Tijani.

Wafatnya:

Beliau wafat di antara waktu Maghrib dan Isya’ pada malam Rabu 5 Safar tahun 1365H, ketika berusia 78 tahun. Usianya telah dihabiskan dengan melaksanakan amal-amal soleh, menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, berdakwah dengan cara berhikmah dam memberikan pengajaran yang baik serta berjihad pada jalan Allah dengan mata pena dan lisan.

Posted by: Habib Ahmad | 9 Disember 2009

MARHABHAN bersama Sheikh Jibrel @ MAF USJ 9

MARHABHAN bersama Sheikh Jibrel @ MAF USJ 9
December 9th, 2009 | Author: admin

MAJLIS Marhaban BERSAMA QARI DARI MESIR

Program MARHABHAN bersama Sheikh Jibrel

Bertempat Masjid Al Falah USJ 9 Subang Jaya
Tarikh Khamis 10 Dis 2009/ 23 Dh-Hijja 1430 (selepas solat maghrib)

Posted by: Habib Ahmad | 9 Disember 2009

Kemewahan boleh membinasakan

Kemewahan boleh membinasakan
Posted on Disember 3, 2009 by sulaiman
Isra [16] Dan apabila sampai tempoh Kami hendak membinasakan penduduk sesebuah negeri, Kami perintahkan (lebih dahulu) orang-orang yang melampau dengan kemewahan di antara mereka (supaya taat), lalu mereka menderhaka dan melakukan maksiat padanya; maka berhaklah negeri itu dibinasakan, lalu kami menghancurkannya sehancur-hancurnya.

“Mutrofin” adalah mereka yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang lain dari segi kekuasaan (politik) dan kekayaan (harta). Kelebihan-kelebihan yang mereka miliki itu boleh digunakan untuk beribadah (taat) kepada Allah SWT atau digunakan untuk maksiat.

Harta adalah manis.

Sabda Rasulullah SAW:“Sesungguhnya harta itu manis lagi menawan. Sesiapa yang mengambilnya dengan cara yang benar, diberkati padanya,” (Sebahagian hadis Riwayat Ahmad)

Dari Hakim bin Hizam r.a katanya, dia meminta sedekah kepada Nabi s.a.w lalu diberi oleh baginda. Kemudian dimintanya lagi lalu diberi pula oleh baginda. Kemudian baginda bersabda,:”Harta itu lazat dan manis. Maka siapa yang menerimanya dengan hati yang bersih (tidak rakus atau serakah), dia akan mendapat berkat dengan harta itu. Tetapi sesiapa yang menerimanya dengan nafsu serakah dia tidak akan mendapat berkat dengan harta itu; dia seperti orang makan yang tidak pernah merasa kenyang. Dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”(Muslim)

Sahabat tidak lalai dengan kemewahan

Suatu hari telah terdengar bunyi bising dan riuh datang daripada pesisir kota Madinah yang biasanya tenang dan sepi. Bunyi itu semakin lama semakin kuat. Tambahan pula, debu-debu padang pasir berkekepul ke udara. Penduduk Madinah kemudiannya mendapati bahawa itu adalah kafilah yang besar memasuki kota Madinah. Mereka sangat kagum apabila 700 ekor unta penuh muatan memasuki Madinah dan memenuhi jalan-jalan raya. Mereka bersorak dengan penuh gembira dan setiap orang memanggil orang yang lain untuk melihat apakah barang yang dibawa oleh kafilah tersebut.

Aisyah r.a., apabila mendengar keriuhan itu, bertanya: “Kenapakah kota Madinah begitu meriah?” dan beliau diberitahu: “Itu adalah kafilah Abdul Rahman yang datang dari Syria membawa segala kepeluan.” “Satu kafilah telah menyebabkan berlaku keriuhan?” beliau bertanya tidak percaya.

“Ya, wahai Umm al-Mukminin. Kafilah itu terdiri daripada 700 ekor unta.”

Aisyah r.a. menggelengkan kepalanya dan merenung jauh seolah-olah cuba meningati sesuatu, kemudian beliau berkata:

“Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, Aku melihat Abdul Rahman bin Auf masuk syurga dengan merangkak.”

Beberapa sahabat Abdul Rahman telah memberitahunya tentang hadith yang disebut oleh Aisyah r.a. Beliau teringat bahawa beliau pernah mendengar lebih daripada sekali tentang perkara itu daripada Rasulullah, lantas beliau segera pergi ke rumah Aisyah dan berkata: “Wahai ‘ammah, adakah kamu mendengar sendiri tentang perkara itu daripada Nabi?”

“Ya,” Jawab Aisyah r.a.

“Kamu telah mengingatkan aku tentang satu hadith yang tak akan aku lupa,” beliau berkata dengan gembira, kemudian menyambung:

“Kalau boleh, aku sangat ingin memasuki syurga dengan berdiri. Aku bersumpah kepadamu, wahai ‘ammah, bahawa semua kafilah itu dengan kelengkapan yang dibawanya, aku keluarkan untuk jalan Allah.”

Dan begitulah beliau lakukan. Dalam suasana gembira beliau telah membahagikan semua yang dibawa oleh kafilah yang besar itu kepada penduduk Madinah dan sekitarnya.

Itu hanyalah satu peristiwa yang menunjukkan siapakah Abdul Rahman sebenarnya. Beliau telah mendapat kekayaan yang banyak, tetapi beliau tidak menyimpannya untuk kepentingannya sahaja dan beliau tidak membenarkan ia melalaikannya.

Setiap harta yang diterima dan dibelanjakan akan ditanya tentang halal haramnya.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud, “Tidak akan berganjak dua tapak kaki manusia pada hari kiamat sehingga dia disoal tentang empat perkara. Mengenai umurnya, ke manakah dihabiskan umurnya? Mengenai ilmunya, apakah yang sudah dilakukan dengan ilmunya? Mengenai hartanya, dari sumber manakah dia perolehi dan ke jalan manakah dia belanjakan? Dan tentang tubuh badannya, apakah yang telah dia lakukan?” (HR Tirmizi).

Rasulullah SAW pernah bersabda yang maksudnya: “Wahai orang Muhajirin yang miskin! Aku membawa berita baik iaitu cahaya yang sempurna pada hari perhitungan (Mahsyar) dan kamu akan memasuki syurga terlebih dulu daripada orang kaya dengan perbezaan setengah hari dan setengah hari ini bersamaan dengan 500 tahun (hidup di dunia).” (Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Said al-Khudri)

Kata Imam Ghazali dalam Ihya’Ulumuddin “Jika Abdul Rahman r.a. yang mencari dan menggunakan hartanya dengan cara yang betul pun dibicarakan setengah hari (500 tahun dunia), bagaimana pula orang kaya di zaman kita (zaman beliau)? Apalagi orang di zaman sekarang yang hartanya terlibat dengan penipuan, rasuah dan riba.

Posted by: Habib Ahmad | 9 Disember 2009

Tahapan Mengenal Allah Swt (Habib Lutfi bin Yahya)

Tahapan Mengenal Allah Swt (Habib Lutfi bin Yahya)
Published by Syafii on December 4, 2009 06:32 pm under Artikel Islam

Berikut ini pandangan Al Habib Luthfi tentang tahapan mengenal Allah Swt. Hasil wawancara Crew habiblutfiyahya,net dengan beliau.

Hly.net: Bagaimana cara belajar mengenal Allah?
Al Habib: Kita mengenali tentang apa yang diciptakan oleh Allah terlebih dahulu. Dari mengenali ciptaanNya itulah, lantas kita mengenali siapa yang menciptakannya. Nah, disitulah kita akan melihat kebesaran-kebesaran Allah SWT yang ditunjukkan kepada kita semua.

Setelah kita sudah mengenalnya, lalu kita tingkatkan lagi. Sadarkah kita sebagai hamba, mengertikah kita sebagai hamba, tentang apa kewajiban kita sebagai seorang hamba? Lantas bagaimana seharusnya perilaku seorang hamba yang telah mengenal kepada Tuhannya? Setelah itu kita tingkatkan lagi ke atas. Kita ini sejatinya diundang oleh waktu. Maka kita harus menghormati waktu.

Begitu tingkat kesadarannya sudah tinggi, maka kalau waktu shalat sudah datang kenapa kita mesti menunda waktu untuk bergegas melakukannya? Seharusnya kita kan justru bersiap-siap untuk menunggu datangnya waktu tersebut, menghormat panggilan Allah SWT untuk shalat.

Bukankah setiap kali berkumandang adzan, itu merupakan panggilan yang telah memperingatkan kita? Sehingga ketika terdengar suara adzan, kita merasa senang dan gembira, lantas bersiap-siap untuk hormat akan datangnya panggilan Allah tersebut.

Hly.net: Tetapi dalam kenyataannya, hal demikian terasa sulit untuk dilakukan?
Al Habib: Untuk meraih tingkat demi tingkat semacam itu, memang bukan hal yang gampang. Oleh karnanya, kita perlu sering datang ke suatu majlis dengan para ulama’, para shalihin, untuk mendengarkan fatwa-fatwanya.

Kita harus seringa pula mendengarkan petuah dan pandangan-pandangan para auliyaus-shalihin. Rasanya terlalu sulit untuk dapat meraihnya lebih jauh, jika kita jauh dari beliau-beliau itu. Sebab mereka bagaikan ruang yang memiliki lentera, mempunyai batrainya, nah, kita ini bagian yang dioborinya. Semakin kita dekat kepada orang-orang sholihin, maka akan lebih jauh lagi kita dapat mengenal Allah SWT dan RasulNya.

Hly.net: Jalan tercepat yang bagaimanakah, sehingga manusia merasa dirinya senantiasa bersama dengan Allah SWT Dzat yang selalu membimbingnya?
Al Habib: Saya sendiri masih bingung, melihat bagaimana proses orang yang makan langsung sepiring sekali telan? Padahal seharusnya kita menelan sesuap demi sesuap. Yang pentingkan sepiring bisa habis. Namun apa jadinya dipencernaan, jika mulut kita tidak pernah mengunyah untuk membantu pancernaan? Apa hasilnya atau apa yang akan terjadi dalam proses pencernaan tersebut.

Memang menarik, waktu makan yang lebih singkat dan lebih cepat. Jalan yang paling cepat dan tepat untuk mencapai proses makanan, apa nasinya yang lebih baik dibubur saja biar lebih encer, supaya menelannya lebih mudah. Tapi nyatanya semua itu sudah ada tempatnya. Yang mempercepat dan sebagainya itu, sudah ada bagiannya masing-masing. Nah, maka dari itu, tahapan untuk secepat itu tidak mungkin mudah. Contohnya ya seperti orang yang makan sepiring langsung telan tadi.

Hly.net: Lalu apa yang mesti dilakukan, agar dalam beraktivitas kita masih tetap bisa mengingat Allah?
Al Habib: Kalau tidak dilatih ya mana mungkin? Pada awalnya hati itu harus dikasih latihan untuk senantiasa mengingatNya. Itu memang tak mudah. Terkadang sering lupa. Tetapi setelah terbiasa, maka bagian tubuh yang kita latih ini punya reflex sendiri sesuai dengan tempatnya masing-masing.

Gerak tangan saja yang tak berhenti, juga mengikuti gerak ruh. Apalagi dengan hati kita yang terbiasa dengan latihan-latihan. Insya-Allah hati kita tidak akan pernah lupa dzikir kepada Allah SWT. Sebab itu sudah terjadi secara refleks. Maka latihlah senantiasa hati kita. Sebab jika hati itu biasa memandang sesuatu yang baik, berpikir baik, berprasangka yang baik, selamanya hati kita akan timbul secara refleks dengan pandangan-pandangan yang baik sehinga akan selalu jernih. (Hly.net)

Sumber Website Habib Lutfi bin Yahya

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 814 other followers