Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Siapa yang tak menempuh jalan leluhurnya

Siapa yang tak menempuh jalan leluhurnya

Syair Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi

Siapa tak menempuh jalan leluhurnya, pasti ‘kan bingung dan sesat.
Wahai para cucu Nabi, tempuhlah jalan mereka.

Tempuhlah jalan lurus dan jauhilah segala bid’ah.
Pergilah bersama yang mencintai dan mentaati Allah.

Dalam beramal dan menahan diri, teladanilah mereka tapak demi tapak.
Berkat para salafmu, kau ‘kan mendapat banyak manfaat.

Luas, agung dan mulia budi pekerti mereka.
Dalam thoriqohnya, takkan kau dapati perselisihan atau sengketa.

Dengan penuh semangat, beramallah mereka dengan tulus.
Meningkatlah kedudukan mereka, tinggi dan mulia.

Tak mereka diamkan yang haus dalam kehausannya dan yang lapar dalam kelaparannya.
Dengan pekerti luhur, mereka usahakan jalan ‘tuk mengatasinya.

Dengan amal saleh, mereka muliakan masjid dan muka bumi.
Bergegas menyambut seruan manusia yang mereka cintai dan taati.

Yaitu sebaik-baiknya Nabi dan semulia-mulianya pemberi petunjuk dan dai.
Ketika beliau berdakwah kepada mereka, mereka pun mendengarkannya sepenuh hati.

Dengan semangat mereka berusaha ‘tuk segera meraih kedudukan mulia.
Tanpa angin atau layar, perahu pun berangkat berkat mereka.

Tetapi dengan inayah Allah perahu berlayar dengan taat, tak menentang.
Anugrah Allah ini dikhususkan untuk mereka yang patuh, tak membangkang.

Demikianlah ucapanku ini dan yang semisal ini selalu sedap di telinga.
Dengarkan dan pahamilah syair ini, didalamnya terhimpun segalanya.

Hiruplah keharuman ini, karena ia tersebar di antara ahlinya.
Ya Allah, aku datang ke hadirat-Mu dengan suatu maksud dan tujuan.

Aku mengakui kelemahan, ketidaksempurnaan dan ketidakkuasaanku,
maka sempurnakanlah kekuranganku karena ‘ku memang tak sempurna.

Tiada sandaran bagiku kecuali beliau yang keharuman namanya tersebar memenuhi alam semesta,
sebaik-baiknya Nabi yang cahayanya meredupkan segala cahaya.

[Diambil dari Ulama Hadramaut, Al-Habib Umar Bin Hafidz, cetakan I, penerbit Putera Riyadi Solo]

Advertisements

Kata-kata yang lahir dari hati yang ikhlas dan benar akan jatuh ke hati
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz حفظه الله تعالى menyebut di dalam Irsyadatud Da’iyat (kumpulan pelajaran Habib Umar di Darul Zahra’):

Mengenai kesan dari sikap ikhhlas ini, para ulama bercerita tentang al-Imam al-Habib ’Abdullah bin Thohir al-Haddad, yang tinggal di Qaidun. Beliau adalah salah seorang guru kita yang sempat ditemui oleh ulama-ulama besar yang hidup di zaman ini. Beliau pernah bertemu dengan Khidhr di Mekah.

Pada suatu acara maulid di Mekah, berkumpullah para ulama dari timur dan barat; Syam, Mesir, Suriah, Palestin, Hijaz, Maghribi dan lain-lain negara. Mereka semua berpidato. Setelah para ulama berpidato, mereka berkata kepada al-Habib ’Abdullah Thohir al-Haddad: Sekarang giliranmu, wahai Sayyid!

MasyaAllah, mereka yang dari Yaman, Hijaz, Mesir, Syam dan Maghribi telah berpidato, sudah memadai, jawab beliau.

Kami ingin mendengar pidatomu walaupun sedikit, desak mereka. Kata yang lain pula: Wahai Sayyid ’Abdullah, bukankah kau keluar dari rumah untuk berdakwah?

Al-Habib ’Abdullah Thohir al-Haddad bangkit lalu mengangkat kedua tangannya berdoa:

أللهم اهدنا فيمن هديت

Ya Allah, berilah kami petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Kau beri petunjuk

Mendengar doa ini, semua hadirin menangis

وعافنافيمن عافيت

Berilah kami ‘afiat sebagaimana orang yang telah Kau beri ‘afiat

Suasana majlis dipenuhi dengan suara tangisan hadirin.

وتولنا فيمن توليت

Lindungilah kami sebagaimana orang-orang yang telah Kau beri perlindungan

Seorang ulama Mesir bangun lalu berkata: Lihat Sayyid ini, ia mengucapkan kalimat yang kita semua sudah tahu. Setiap hari kita mendengar dan berdoa dengannya [doa qunut]. Namun, dek kerana ucapan itu kelaur dari hati yang shidq (benar) perhatikan kesan yang ditimbulkannya. Tadi ramai orang dari pelbagai negara telah berpidato. Mereka menceritakan keadaan umat-umat terdahulu, derita dan kesulitan yang mereka alami, tetapi tidak seorangpun menangis, dan kita tidak merasakan sedemikian khusyu’. Apa sebabnya? Perhatikanlah keikhlasan hati orang-orang sholeh. Cahaya yang terdapat di dalam hati mereka menyebabkan ucapannya meninggalkan kesan pada kita semua …

Sumber: Manhaj Dakwah terjemahan Habib Novel Muhammad al-Aydarus, terbitan Putera Riyadi, cetakan pertama Dhulhijjah 1421/Maret 2001

Kata-kata yang lahir dari hati yang ikhlas dan benar akan jatuh ke hati … sambungan
Ambo sambung lagi dari entri sebelumnya Habib Umar Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz حفظه الله تعالى menyebut di dalam Irsyadatud Da’iyat (kumpulan pelajaran Habib Umar di Darul Zahra’). Beliau seterusnya menceritakan:

Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله سره dalam menyampaikan pengajiannya menggunakan bahasa yang sangat sederhana. Anak beliau yang telah banyak menuntut ilmu dan gemar menyampaikan ilmu berbisik di dalam hatinya: Jika aku diizinkan menyampaikan ilmu, tentu akan lebih banyak orang yang menangis.

Maka suatu hari Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله سره ingin mendidik anaknya, beliau berkata kepada anaknya: Wahai anakku! Berdirilah dan sampaikan syarahanmu. Anak beliau kemudiannya bersyarah dengan isi dan gaya yang bagus sekali. Namun tiada seorang pun yang menangis dan merasa khusyu’. Para hadirin bahkan merasa bosan mendengarnya. Setelah anaknya selesai bersyarah, Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله سره naik keatas mimbar lalu berkata: Para hadirin sekelian, malam tadi isteriku ummul fuqaro’, menghidangkan ayam panggang yang sangat lazat, tiba-tiba seekor kucing datang dan memakannya.

Mendengar ucapan ini, para hadirin menangis dan menjerit. Anak beliau berkata: Aneh …. aku bacakan ayat-ayat al-Quran kepada mereka, hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم, syair dan pelbagai akhbar, tidak seorang pun yang menangis. Tetapi ketika ayahku menyampaikan ucapan yang tidak ada ertinya, mereka justru menangis. Sungguh aneh, apa sebabnya????

Habib Umar menyambung: Inti ceramah (syarahan, ilmu) bukan terletak pada susunan kalimat tetapi pada kesucian hati dan sifat shidq (benar) orang yang berceramah (bersyarah, berbicara .. etc). Sewaktu Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله سره berbicara, para hadirin menangis kerana mengertikan ’kucing’ dalam kisah beliau itu dengan syaithan yang mencuri amal anak Adam dengan cara menimbulkan rasa riya’, ujub dan kibr (sombong). Ada yang menangis kerana mengibaratkan cerita itu dengan keadaan su’ul khatimah, yakni ia membayangkan seseorang yang memiliki amal yang sangat banyak, tetapi usianya berakhir dengan su’ul khatimah. Mereka menangis dan merasa takut kepada Allah hanya kerana ucapan biasa. Sesungguhnya dari ucapan itu telah membuatkan mereka berfikir, menerbitkan cahaya di hati mereka, berkat dari cahaya yang memancar dari hati Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله سره …… Tamat petikan.

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Muhasabah Diri

Tajuk: Muhasabah Diri

Petikan dari Kalam Habib dalam Video tersebut:

‘Sebahgian manusia,apabila dipuji,dimuliakan,menzahirkan kerendahan dirinya agar orang memuliakan dia dan sebahgian pula apabila disakiti,berbuat-buat dalam menzahirkan sifat kerendahan dirinya supaya orang kata dia itu tawadhuk.Maka perlu baginya memuhasabah kembali adakah dia benar2 jujur dalam tawadhuknya???’

Ya Allah,
Bagaimana keadaan hati ini,
Jika dalam setahun itu,
Tidak berpeluang menghadiri majlis Ilmunya???
Sungguh,
Aku tidak dapat menggambarkan keadaan aku ketika itu…

Ini baru Murabbi…
Belum lagi Rasulullah sollahu ‘alaihi wa sallam…

Kalau para Sahabat Rasulullah,
Dalam sehari sahaja,
Belum melihat Rasulullah,
Membuatkan wajah mereka pucat lesu,
Tidak lalu untuk makan kecuali setelah melihatnya,
Menangis di sepertiga malam mereka,
Mengadu kerinduan terhadapnya,
Maka,
Cinta apakah yang Engkau letakkan dalam hati mereka ini,
Hingga mereka bersikap demikian???

Memang benarlah,
Kata2 seorang ukhti,
Apabila ditanya,
Kenapa kita tidak ditemukan pada Rasulullah sebelum di akhirat lagi,
Maka,
Soalan yang pertama yang perlu ditanya kembali,
‘ADAKAH KITA MAMPU UNTUK BERPISAH DENGANNYA WALAU HANYA SEKETIKA???’
Sungguh kamu tidak mampu berpisah dengannya….

Sekadar ingin mengingatkan kembali kepada kalian akan janji Rasulullah s.a.w buat KITA semua…

Sabda Rasulullah(Sollahu ‘alaihi wa sallam):

‘Aku tunggu kalian di telaga khaud…’~Riwayat oleh Imam Bukhari.

Ku rindukan Murabbi dan Penghulu segala Murabbi Rasulullah s.a.w…
Jadikan kerinduan ini sebagai satu kemanisan Iman…

Iman didapat dari Hati yang Hadir & Pembersihan Jiwa
Multaqo Ulama Jawa Tengah (3)

SEMARANG. Multaqo Ulama Jawa Tengah berlangsung dua hari di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), dimulai sehabis sholat jum’at dan berakhir sabtu sehabis maghrib. Alhabib Umar dan rombongan langsung berangkat meneruskan perjalanan dakwah ke Malang, masih sama yaitu Multaqo Ulama Jawa Timur.

Sebelumnya berakhir, Alhabib Umar sempat mengatakan bahwa sebenarnya ilmu dan iman tidak ada habisnya, setiap saat sebagaimana ayat Alqur’an yang menyuruh kita berdoa bermohon kepada Allah Swt agar kita ditambah ilmu kita. Lihatlah imam Ahmad bin Hanbal yang terus membawa alat tulis di setiap majlisnya dengan niat akan terus menambah ilmu sampai dengan akhir hayat beliau.

Tidak ada karunia yang lebih besar daripada iman. Imam Ali Kwh berkata bahwa doa kita akan dikabulkan sesuai dengan keyakinan kita. Keyakinan itu tidak sekadar mengetahui dalil-dalil dari berbagai perkara, tidak sekedar mengetahui makna-makna dari berbagai perkara…bahkan Abu Jahal pun mengetahui pasti bahwa nabi Muhammad Saw itu benar tapi dia tidak mengikuti nabi Muhammad Saw.

Demikian juga dengan Fir’aun yang ingkar terhadap Allah Swt dan nabi Musa As, padahal dia tahu bahwa Allah Swt dan nabi Musa As adalah benar. Jadi tidak sekedar yakin saja, tapi iman diletakkan oleh Allah Swt di dalam hati kita.

Cahaya iman ini didapat dengan hati yang hadir dan pembersihan jiwa. Jika ini telah ada pada kita dan kita berkumpul dengan orang-orang yang beriman, maka kita akan bersambung dengan nabi Muhammad Saw.

Setiap jaman ada orang yang berpegang teguh kepada agama, orang-orang seperti ini patut diikuti. Ulama lebih mengetahui keberadaan orang-orang seperti ini daripada masyarakat awam. Tapi pada hakikatnya sebenarnya masyarakat awam pun mengetahui akan hal ini dan mereka pun menyukai kebenaran yang datang dari orang-orang yang berpegang kepada agama yaitu orang-orang yang jelas sanad ilmu dan sanad rujukannya dsb agar ilmu yang didapatkan tidak berasal dari hawa nafsu mereka sendiri tapi benar-benar berasal dari kebenaran, salah satunya dari kalangan ahlul bayt nabi Muhammad Saw.

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Semua Berjalan di Jalannya Masing-Masing

Semua Berjalan di Jalannya Masing-Masing
Oleh : Alhabib Umar bin Hafidh

(Disampaikan dalam rangkain acara Multaqo Ulama di Masjid Agung Jawa Tengah – MAJT, Semarang dari tanggal 17 – 18 April 2009)

Kita mendapat nikmat yang besar dari Allah Swt. Dahulu orang terdahulu mendapatkan nikmat seperti yang kita rasakan dengan perjuangan yang sangat berat sehingga kita sekarang dapat merasakan nikmat tersebut.

Oleh karena itu kita yang mempunyai kemampuan (ulama) harus menyelamatkan masyarakat. Halaqoh dzikir dan ilmu harus terus hidup di masyarakat karena kita mempunyai murid-murid. Kita harus terus menyempurnakan tawasul kita, menyempurnakan silaturrahim diantara kita untuk meningkatkan dakwah kita.

Saya datang ke Indonesia sejak 17 tahun yang lalu. Di sini (Indonesia) masih terjaga madzhab Syafi’i, tapi akhir-akhir ini ada madzhab yang tidak baik yang kalau kita tidak berhati-hati maka madzhab tersebut akan menyesatkan kita.

Kita harus bekerja sama agar masalah-masalah seperti ini dapat terselesaikan dengan tidak terganggu oleh latar belakang kita masing-masing. Dengan saling bertemu kita dapat menyedikitkan kesalah-pahaman sehingga keadaan yang lebih baik akan kita dapatkan.

Ini tidak ada niat lain kecuali ingin menyatukan umat. Ilmu adalah mempunyai kedudukan yang tinggi sehingga bagi orang yang berilmu tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada orang lain untuk mengikuti keinginannya. Seperti halnya politik, partai-partai tidak bisa memaksa kyai atau ulama untuk meninggalkan pondok pesantrennya hanya untuk masuk ke partainya. Semua harus tetap berjalan di jalannya masing-masing akan tetapi tetap harus sering-sering bertemu (silaturrahim).

Silaturrahim ini tidak membahas latar belakangnya masing-masing, tidak! Tapi pertemuan-pertemuan yang membahas kebaikan umat.

Lihatlah dzikir kita, apakah membawa hasil bagi kita? Apakah membawa pengaruh bagi diri kita?

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Persiapan mental bagi para dai

Persiapan mental bagi para dai

Ditulis oleh Admin di/pada 31 Januari 2008

Kalam Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz

Setiap dai harus menyadari bahwa langkah pertama yang harus ia tempuh adalah membunuh nafsu ammârah bissû’-nya dengan cara menanggung gangguan dan celaan masyarakat.

Imam Ahmad bin Umar bin Smith, seorang dai, berkata, “Jika kalian ingin berdakwah di suatu tempat atau pertemuan, katakanlah kepada diri kalian bahwa masyarakat akan berkata, ‘Diamlah! Kami tidak menginginkan kalian, kami tidak ingin mendengarkan kalian, kami tidak menyukai ucapan kalian.’ Andaikata mereka benar-benar berkata demikian, hendaknya kalian tetap menyampaikan perintah Allah, hendaknya kalian menemui mereka dengan kasih sayang. Tapi, jika ternyata mereka menyambut kalian dengan baik, maka itu adalah tambahan nikmat dari Allah. Dengan demikian, nanti, andaikata ada orang yang mencaci dan menentang kalian, maka perbuatan mereka tidak akan berpengaruh atau melukai hati kalian.”

Pria dan wanita yang shidq tidak akan terpengaruh oleh ucapan manusia, sebab ia berbicara bukan untuk manusia. Orang yang berbicara untuk manusia akan terpengaruh oleh ucapan manusia, sedangkan orang yang berbicara karena Tuhan manusia tidak akan terpengaruh oleh ucapan manusia. Ia berbicara karena Allah Ta’âla dan orang yang berbicara karena Allah Ta’âla perlu adab, izin, kelembutan, waktu yang sesuai dan tema yang tepat. Aku lebih suka jika tema yang diangkat tidak keluar dari hukum-hukum thohâroh, salat, puasa, zakat, birrul wâlidain, berbuat baik pada tetangga, silaturahim, pendidikan anak-anak dan semacamnya.

Jika ada yang bertanya tentang suatu persoalan hendaknya kalian kembalikan kepada ahli ilmu atau ulama yang berada di kota Tarim atau Seiwun. Di negara kita ini banyak ulama, oleh karena itu, barang siapa memiliki persoalan hendaknya ia bertanya. Namun, jika pertanyaan yang diajukan jelas, misalnya masalah wudhu atau thohâroh, dan ia memiliki jawaban yang meyakinkan, maka ia boleh menjawabnya. Jika tidak, maka ia dilarang menjawabnya.

Inilah langkah pertama untuk menjual diri kita kepada Allah. Jika kita telah menjual diri kita kepada Allah, maka kita tidak akan terpengaruh oleh ucapan seseorang, bahkan kita akan merasa senang. Karena inilah, maka Habib Alwi bin Abdullah bin Syihabudin tetap tenang ketika mendengar bahwa Habib Muhammad Al-Haddar ra di tahan di kota Adn pada masa pemerintahan Inggris. Setelah dibebaskan, Habib Muhammad Al-Haddar ra segera menemui Habib Alwi bin Abdullah. Habib Alwi berkata kepadanya, “Aku mendengar kau berdakwah di jalan Allah. Masyarakat senang, terkesan dan memperoleh manfaat dari dakwahmu. Namun, ketika kulihat kau tidak memperoleh gangguan sedikit pun, aku merasa cemas. Aku berkata dalam hati, jika dia pewaris salaf, bekerja untuk salaf, tentu dia akan memperoleh gangguan. Sebab, demikianlah sunatullah berlaku bagi para nabi dan kaum sholihin. Jika tidak ada seorang pun yang mengganggunya, aku khawatir apa yang ia peroleh hanyalah istidrâj. Ketika kudengar mereka memenjara-kanmu, hatiku menjadi tenang, berarti kau berada di jalur para salaf yang saleh, semoga Allah meridhoi mereka semua.”

Lihatlah, bagaimana cara berpikir orang-orang yang berakal dan kaum ulama.

Oleh karena itu, jika kau dengar ada seseorang yang berbicara buruk tentangmu, maka berbahagialah, jika ada seseorang yang mengganggumu, maka berbahagialah dan berbuat baiklah kepadanya. Sebab, inilah tanda shidq (kebenaran), tanda kesuksesan, tanda keberuntungan dan tanda keselamatan. Kaum sholihin merasa ringan mengorbankan diri dan harta mereka untuk kepentingan dakwah. Mereka mengajak masyarakat untuk kembali ke jalan Allah dan memeluk agama Nabi Muhammad, bukan untuk mengambil sesuatu dari mereka, mereka bahkan memberi.

Kaum Muhajirin menjadi miskin karena memberikan dan meninggalkan hartanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan kaum Anshor mendermakan harta dan rumah mereka untuk Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Kaum Anshor mengasihi saudara-saudara mereka kaum Muhajirin. Beginilah orang-orang yang shôdiq bersikap. Mereka meletakkan perintah Allah di atas hubungan kekerabatan, di atas adat, di atas norma (qowâid), di atas segala sesuatu. Mereka bahkan rela menanggung siksa karenanya. Sayidina Ammar, Sayidina Yasir, Sayidatina Sumayyah, Sayidina Bilal dan yang lain, semuanya mengalami penderitaan dalam berdakwah. Namun sekarang dakwah menjadi mudah. Kita tidak mengalami kesulitan seperti yang mereka alami. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan sebaik-baik balasan.

Adapun kita sekarang, paling tidak harus memiliki kesungguhan, bersedia menanggung gangguan tanpa mengeluh. Para ulama berkata bahwa tanda keburukan akhlak adalah jika kau mengeluhkan keburukan akhlak seseorang, jika kau berkata, “Masyarakat berakhlak buruk, semua perbuatan mereka buruk.” Inilah tanda bahwa akhlakmu buruk. Sebab, jika akhlakmu baik, kau tidak akan mengeluh kepada seorang pun ketika mendapat gangguan dari masyarakat.

Wahai kaum mukminat, demikian inilah pendidikan yang benar. Sayang pendidikan semacam ini tidak ditemukan lagi di zaman ini.

Kita semua senang jika dakwah dapat ditegakkan dan masyarakat tolong-menolong dalam berdakwah. Namun, kita harus mendalami segala persoalan tentang dakwah. Jika seorang dai memiliki sifat-sifat mulia di atas, maka kabar gembira baginya. Ia akan memperoleh pertolongan salaf yang sholeh. Ia akan mendapat pertolongan dari pemimpin para rasul, pertolongan Fatimah Az-Zahra dan Khodijah Al-Kubra. Sebab itulah jalan mereka, akhlak mereka. Ia akan berhasil menundukkan nafs-nya dan mengutamakan Allah Ta’âla di atas dirinya. Berkat dia Hadhramaut akan memperoleh kebaikan, penduduk negeri ini dan seluruh kaum muslimin akan memperoleh kebaikan. Bahkan kebaikan itu akan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Namun, jika kita melupakan akhlak itu, melupakan sifat-sifat mulia tersebut, dan mengira bahwa dakwah ke jalan Allah Ta’âla hanyalah sekedar penampilan, pidato, sekedar penghormatan yang diberikan masyarakat kepada kita, sekedar keinginan masyarakat untuk mendengarkan ucapan kita, maka kita telah hilang tersesat dan menyia-nyiakan dakwah.

Hari-hari kita berlalu, tapi banyak kebaikan yang terlewatkan, dan tidak ada seorang pun membantu kita. Sebab, kita tidak menempuh jalan mereka, tidak bersikap tawadhu (merendahkan diri), ikhlas, shidq terhadap Allah, tidak beradab dan tidak membalas keburukan dengan kebaikan.

Mereka rodhiyallôhu ‘anhum sering melakukan perjalanan untuk menyebarkan dakwah di segala penjuru dunia, di daerah yang subur maupun gersang, dataran rendah maupun tinggi. Mereka melupakan berbagai kenikmatan, meninggalkan kampung halaman, mengorbankan jiwa dan harta, demi dakwah untuk menanamkan keyakinan dalam hati dan akal masyarakat, sehingga hati mereka mau menghadap kepada Allah, sehingga angin keimanan bertiup kencang dan menebarkan keberkahan. Pemerintahan tauhid, iman, ibadah dan takwa dapat diselenggarakan. Semua ini dapat kita raih jika kita mau menempuh jalan mereka, menyadari sifat-sifat mulia tersebut. Negeri ini dalam waktu singkat akan dipenuhi cahaya dan Allah mencurahkan kebaikan yang sangat banyak. Sejarah (kaum sholihin) yang telah lama hilang akan segera berulang kembali, yakni sejarah Zainab Ummul Fuqoro, isteri Al-Faqih Al-Muqoddam, sejarah anak perempuan Ahmad bin Muhammad Shohib Mirbath, sejarah perjalanan anak-anak perempuan Assegaf, Al-Muhdhor, Alaydrus, sejarah perjalanan kaum wanita yang taat, arif, ahli ibadah, bertakwa dan waraE Sesungguhnya sejarahkehidupan mereka di negeri ini sangat agung. Kita telah banyak kehilangan sejarah perjalanan hidup mereka. Semoga Allah mengembalikan akhlak mereka yang telah lama hilang kepada kita, Insya Allôh.

Jika kalian bersikap shidq kepada Allah, semua pintu pasti akan terbuka untuk kalian, dan kalian akan merasakan manisnya iman. Nafs kalian akan tunduk dan kalian akan memperoleh kedudukan tinggi di sisi Allah. Sebab, orang yang merendahkan diri, oleh Allah akan diangkat dan ditinggikan kedudukannya. Kita harus merendah dan menerima ucapan ini dengan kekuatan. Kita harus berkeinginan untuk melipatgandakan kekuatan dakwah dengan menerapkan adab, akhlak, kelembutan, kasih sayang dan rahmat. Kita harus memperbanyak kunjungan kepada sesama kita (kaum muslimin), mempererat hubungan di antara kita. Kita harus membekali diri kita dengan ilmu dan pemahaman mengenai metode dan sarana-sarana dakwah.

[Diambil dari Manhaj Dakwah, cetakan I, 2001, penerbit Putera Riyadi Solo]

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Sunnah mekar dihati~

Sunnah mekar dihati~

Sheikh Kami,Sheikh Yusri Al-Hasani berkata dalam pengajian:

‘Zaman salafussoleh,kalau bertanya ‘adakah ini Sunnah Rasulullah ?’

Bertanya mereka itu adalah kerana mereka ingin beramal dengan sunnah tersebut.

Akan tetapi pada akhir zaman ini…

Apabila bertanya ‘adakah ini sunnah atau tidak?’
Pertanyaannya itu bukan utk diamalkan tapi untuk ditinggalkan.’

Orang pada zaman sekarang ini menggunakan istilah ‘Sunnah’ itu dari sudut istilah Feqh iaitu ‘tidak wajib’.Tidak pastilah sama ada kerana pembangunan feqh yg pesat dalam masyarakat kita atau sememangnya sudah pudar ingatan kita akan Rasulullah?Tepuk dada tanya iman masing2…

Mungkin solusi untuk zaman ini adalah kita bertukar bahasa.Jika selalu kita mengatakan ‘buat ni,sunnah tau!’ maka gantikannya dengan ‘buat ni sebab Rasulullah buat’.

Kalau sudah disebutkan Rasulullah…tetap juga tidak menggerakkan seseorang itu untuk beramal dengannya,maka apa yang perlu dilihat adalah HATI kita.Adakah sememangnya Rasulullah itu sudah lenyap dari ingatan dan hati kita???

Habib Umar pernah menyebut dalam Rowhahnya pada musim Dowrah:

‘Cukuplah aku mengatakan bahawa Rasulullah buat hal tersebut

Cukuplah aku mengatakan bahawa Rasulullah buat hal tersebut

Cukuplah aku mengatakan bahawa Rasulullah buat hal tersebut

Jikalau ia tidak mencukupi juga…

Maka ketahuilah didalam hati itu ada penyakit’

Maka,sebagai Penuntut ilmu Agama,apatah lagi sebagai seorang pendaie,yang merupakan Penyambung bagi dakwah Rasulullah….

Sepatutnya sunnah2 Rasulullah itu mekar,hidup didalam diri kita terdahulu.Kalau KITA,meremehkannya dengan mengatakan ‘sunnah je’ adakah kita layak utk digelar sebagai penuntut ilmu Allah,penyambung risalahnya???Malu eh dengan Rasulullah!

Sebenarnya,Punca Masalah untuk kita tidak beramal dengan Sunnah Rasulullah adalah KURANG CINTA dan KURANG ILMU terhadap dirinya.

Lihat saja para sahabat sebagai bukti!Kerana mereka mengenali Rasulullah dan mencintainya,mereka pastikan bahawa setiap yg dilakukan itu adalah mengikut petunjuk Rasulullah sollahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh itu,

Belajar dan terus belajar untuk mencintai dan mendekatinya…
Tak kenal maka tak cinta!

Ahlaq Dhohir & Batin
Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di dalam majlis Madadun Nabawiy tanggal 19 Juni 2009 di Masjid Alhikmah – Semarang, pembahasan kitab Is’afu Tholibiy Ridol Kholiq Bibayani Makarimal Ahlaq yaitu kitab karya Alhabib Umar bin Hafidh)

Kitab ini diawali dengan basmalah dan hamdalah. Jika suatu pekerjaan tidak diawali dengan basmalah dan hamdalah maka dikhawatirkan akan terputus dari ridho Allah Swt.

Ahlaq itu salah satu sifat yang menghiasi manusia dari sisi dhohirnya dan sisi batinnya. Sebelum kita mengerjakan segala sesuatu pasti diawali dengan niat di dalam hati, setelah hati kita sudah terbersit sebuah niat maka akan berlanjut ke otak kita dan otak kita lalu memerintahkan anggota-anggota badan kita untuk melakukan apa yang sudah kita niatkan. Jika salah satu dari tiga perangkat tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka akan berpengaruh terhadap lainnya. Lihatah bahwa antara batin dan dhohir saling berhubungan!

Jika dari awal (niat) sudah dimulai dengan sesuatu yang rapi, baik dan bersih maka itu adalah wujud awal dari ahlaq yang baik. Sebaliknya, jika dari awal sudah dimulai dengan sesuatu yang berantakan, buruk dan kotor maka itu adalah wujud awal dari ahlaq buruk. Dhohir dan batin itu saling dan selalu berhubungan dan tidak mungkin keduanya akan terpisahkan.

Batin yang baik jika ditampilkan dengan dhohir yang buruk maka ini kurang lengkap dan sering kali mengakibatkan kesalah-pahaman orang lain kepada kita. Kesalah-pahaman akan menimbulkan fitnah, dan jika kita bisa meminimalkan fitnah maka itu lebih baik. Jadi batin yang baik akan lebih indah jika disertai dhohir yang baik.

Batin yang buruk jika dibungkus dengan amalan dhohir yang terlihat baik tidak disukai oleh Allah Swt. Dhohir yang baik insya Allah berasal dari batin yang baik.

Batin kita harus selalu dibersihkan dengan melakukan berbagai amalan yang baik pula. Jika batin bersih maka Allah Swt akan mencurahkan ridho-Nya kepada kita. Jika kita melakukan kesalahan dhohir maka batin akan ternoda, batin yang ternoda akan mengakibatkan murka Allah Swt jika tidak diikuti dengan taubat yang sebenar-benarnya taubat.

Nabi Muhammad Saw diutus Allah Swt kepada kita adalah untuk menyempurnakan ahlaq kita, ahlaq dhohir dan ahlaq batin kita. Jika ada orang yang berkata oh batinku bersih tapi dhohirnya kotor maka ini dusta! Kecuali terhadap orang-orang tertentu itu pengecualian, seperti orang yang jadzab. Sering kali tingkah laku orang jadzab tidak sesuai dengan syari’at, itu bukan karena apa-apa selain karena oleh Allah Swt dituangkan cinta yang sangat besar ke dalam hati mereka sehingga mereka tenggelam di dalamnya.

Tidak semua orang mengalami keadaan seperti ini (jadzab), jadi hukum bagi mereka berbeda dengan hukum bagi kita. Ada orang yang jadzab tapi dhohirnya bisa sesuai dengan syari’at, ada juga yang tidak. Orang seperti ini harus dihormati akan tetapi tidak bisa dijadikan rujukan bagi kita dalam hal syari’at. Rujukan kita adalah orang yang batinnya bersih yang mengamalkan amalan-amalan dhohir yang baik.

http://majlismajlas.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Habib Muhammad bin Salim

Habib Muhammad bin Salim

 

Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Abdullah bin Abu Bakar bin ‘Aydrus bin ‘Umar bin ‘Aydrus bin ‘Umar bin Abu Bakar bin ‘Aydrus bin al-Husain bin Syaikh Abu Bakar bin Salim adalah seorang tokoh ulama ahlil bait kelahiran Tarim, Hadhramaut. Beliau dilahirkan dalam tahun 1332H. Selain berguru dengan ayahandanya yang terkenal alim, beliau juga turut berguru dengan Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Masyhur, Habib ‘Abdullah bin ‘Umar asy-Syathiri, Habib ‘Alwi bin ‘Abdullah bin Syihab dan ramai lagi ulama Hadhramaut. Beliau juga telah mengembara ke Haramain, India, Pakistan dan lain-lain tempat dengan tujuan menuntut ilmu. Akhirnya beliau kembali ke Tarim dan mendirikan majlis-majlis ta’lim di sana selain menjalankan usaha dakwah ke daerah-daerah luar. Beliau juga telah mengarang kitab-kitab antaranya “Takmilah Zubdatul Hadits fil Faraidh” dan “al-Miftah li Babin Nikah“. Atas ketinggian ilmu dan akhlak serta kewarakannya, beliau dipilih menjadi Mufti Kota Tarim al-Ghanna.
Sekalipun dilantik menjadi Mufti, beliau tetap bersikap tawadhu dan amat menghormati para gurunya dan para ulama lainnya. Hari-harinya dihabisi dengan berbagai amal ibadah dan menyampaikan ilmu, sehingga pernah dalam satu hari beliau mengendali dan hadir 16 majlis – majlis ilmu. (Allahu … Allah … lihat diri kita, satu majlis ta’lim seminggu sekali pun payah …Allahu … Allah).

Dalam menyampaikan dakwah, Habib Muhammad terkenal lantang dalam menyeru umat kepada jalan Allah dan syariatNya. Vokalnya dalam menyampaikan kebenaran tidak dapat dihalang sehingga dengan kepala diacukan pistol beliau telah menyatakan kebenaran tanpa takut dan gentar. Hal ini membuat gusar pemerintah pemberontak komunis pada waktu itu, sehingga pada bulan Dzul Hijjah 1392H tatkala beliau dan anakandanya Habib Umar yang baru berusia 9 tahun beri’tikaf dalam Masjid Jami` Tarim menunggu masuk waktu sholat Jumaat, Habib Muhammad telah dijemput oleh 2 orang polis dan dibawa ke balai yang berdekatan. Sehingga usai sholat Jumaat, Habib Muhammad tidak kembali lagi. Sejak saat itu tidak ada khabar berita mengenai beliau dan tidak diketahui samada beliau telah wafat atau masih hidup. Ramai yang percaya bahawa beliau telah dibunuh syahid oleh pemberontak komunis tersebut kerana khuatir akan pengaruh dan kelantangan beliau. Kini perjuangan dakwahnya diteruskan oleh murid-murid dan zuriat beliau, antaranya yang masyhur ialah Habib ‘Umar Bin Hafidz. Mudah-mudahan Allah melimpahkan keredhaanNya ke atas Habib Muhammad Bin Hafidz dan memberikan kepada kita sekalian keberkatan dan manfaat ilmunya….al-Fatihah.

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Banyak Dzikir, Banyak Kebaikan Dunia Akhirat

Banyak Dzikir, Banyak Kebaikan Dunia Akhirat

Oleh : Sayyidy al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA

Sabtu, 25-02-2006, di rumah al-Habib Thohir bin Yahya – Semarang. Diterjemahkan : Sayyidy al-Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan

Sayyidy al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz memulai ceramahnya dengan mengucap syukur pd Allah Swt yg telah mengumpulkan kita di perkumpulan yang mulia ini, perkumpulan yang penuh dengan rohmat, keberkahan dari Allah Swt, Allah Jalajaluh telah menentukan perkumpulan ini sebelum menciptakan alam semesta sehingga kita sekalian di malam hari ini berkumpul di perkumpulan yg mulia ini dengan di bawah naungan keridhoan Allah Swt, dengan di bawah naungan rohmat Allah Swt, perkumpulan yang bersambung dengan Nabi Muhammad Saw, perkumpulan di bawah naungan dakwahnya Nabi Muhammad Saw, perkumpulan di bawah ajaran Nabi Muhammad Saw.

Kita berkumpul di malam hari ini, berkumpul berdzikir pada Allah Swt, mendengarkan ilmu yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, mendengarkan mempelajari apa-apa yang telah dibawa oleh Nabi kita Nabi Besar Muhammad Saw, kita berkumpul di malam hari ini mendengarkan ilmu, mendengarkan apa yang diajarkan Rosulullah tidak lain agar kita mengamalkan mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Perkumpulan kita malam hari ini tidak lain adalah karena keberkahan Nabi Muhammad Saw, kalau bukan karena Rosulullah, kalau bukan karena Nabi Besar Nabi Muhammad Saw kita tidak akan pernah mengenal satu sama lain diantara kita, kalau bukan karena baginda besar Rosulullah Saw kita tidak akan pernah hadir di majlis ini, kalau bukan karena baginda besar Rosulullah Saw kita tidak saling mewasiatkan dengan al-haq washobar satu sama lain ayyuhal ihwan, kalau bukan karena baginda besar Nabi besar Muhammad Saw kita tidak akan pernah memiliki perbedaan dengan orang-orang kafir, orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah untuk jauh dari Allah Swt, orang-orang yang dilaknat oleh Allah Swt, akan tetapi lihatlah Allah Jalajaluh menentukan kita di dalam qodlo’ dan qodar-Nya dijadikan kita sebagai orang-orang beriman di sisi Allah Swt.

Oleh karena itulah ayyuhal ihwan kita ikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, kita ikuti ilmu yang dibawa Nabi Muhammad, yang menyerukan ajaran ini adalah Nabi Muhammad, ajaran yang datang dari Allah Swt, bukan dari pemikiran manusia, bukan dari orang yang sempit pemikirannya akan tetapi ajaran ini, agama ini datang dari Allah Swt dan ketahuilah: Kemuliaan kita, keagungan kita, kehormatan kita adalah dengan mengikuti ilmu Nabi Muhammad, dengan berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad Saw, berpegang teguh pada ajaran yang dibawa Nabi Muhammad, dengan mengikuti jejak yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

Perkumpulan kita di malam hari ini tidak lain adalah suatu pertanda dari Allah Swt, pertanda bahwa Alloh menghendaki untuk kita suatu kebaikkan, ini merupakan perkumpulan kita malam hari ini, pertanda bahwa Allah Swt akan mengangkat bala’ dari kita sekalian, akan menyucikan hati kita, akan menyinari hati kita dengan cahaya-Nya yang terang benderang, perkumpulan kita di malam hari ini adalah perkumpulan yang penuh keberkahan dari Allah Swt, walaupun terkadang di malam hari ini kita berkumpul agak malam, akan tetapi walaupun kita agak capek sedikit berkumpul di ini malam, akan tetapi ingatlah nikmat yang diberikan Alloh Swt, sudah sepantasnya kita sebagai hamba untuk berjuang di jalan Allah Swt, untuk berkorban demi Allah Swt.

Demi Allah kalau bukan karena hadits, kalau bukan suatu hadits yang diucapkan oleh Rosulullah Saw, cukup hadits yang diucapkan Rosulullah Saw, di dalam hadits Rosulullah Saw bersabda:
“Di mana mereka orang-orang yang saling mencintai karena Aku (dikatakan oleh Allah)?”

Di hari kiamat kelak nanti diserukan suatu seruan yang memanggil mereka yang saling mencintai karena Allah Swt, yang saling menjenguk satu sama lain karena Allah Swt, yang saling berdzikir berkumpul berdzikir karena Allah Swt, mereka kelak akan di naungi oleh Allah Swt di bawah naungan rohmat Allah Swt. Di hari yang menakutkan, hari kiamat, dimana Allah Swt mendekatkan matahari sehingga disebutkan matahari didekatkan oleh Alloh Swt di atas kepala manusia satu mill sebagaimana disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga manusia tertimpa suatu kesusahan yang begitu dahsyat, yang begitu menakutkan, mereka di bawah terik matahari yg panas, mereka dibanjiri oleh air keringat mereka sendiri, sehingga Nabi Muhammad Saw menyebutkan tentang hari kiamat yang begitu dahsyat, orang-orang yang dikumpulkan oleh Allah Swt di hari kiamat berdesak-desakan satu sama lainnya, diceritakan telapak kaki di atas seribu telapak kaki di bawahnya.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw bahwa mereka dibanjiri oleh keringat mereka, beberapa orang yang keringatnya sampai ke mata kakinya, beberapa lagi yang sampai ke lututnya, beberapa lagi sampai menutupi hidungnya.

Disebutkan di dalam hadits bahwa Nabi Muhammad ketika membawakan hadits tersebut beliau Saw mengisyaratkan ke hidungnya, beberapa orang sampai ditutupi oleh keringat sampai ke hidungnya, beberapa lagi sampai di atasnya, sampai 70 hasta karena tenggelam oleh keringat. Na’udzubillah mindzalik. Hari yang menakutkan, hari dimana Alloh Swt mengumpulkan al-awwalin wal ahirin, dan ketahuilah di hari yg menakutkan tersebut tidak ada yang mampu memberikan pertolongan dan syafa’at melainkan Nabi Muhammad Saw, Nabi yang agung, Nabi yang mulia di sisi Allah Swt.

Di dalam hadits, baginda Nabi besar Muhammad Saw, beliau Saw bersabda:
“Aku adalah orang yang pertama kali memohon syafa’at kepada Allah Swt, dan aku adalah orang yang pertama kali yang diterima syafa’atnya oleh Allah Swt.”

Dan ini Nabi Muhammad Saw, lihatlah di dalam hadits ini NabiMuhammad Saw mengajarkan agar kita menjalin hubungan dengan Nabi Muhammad Saw, menjalin hubungan yang erat dengan Rosulullah Saw. Dahulu para shohabat Rosulillahi Saw pernah suatu kali mereka berkumpul, berbicara satu sama lain membahas para Nabi-Nabi Allah, para Anbiya’ Allah yang diutus oleh Allah, manusia-manusia yang mulia di sisi Allah Swt, dan inilah perkumpulan mereka para shohabat Rosulillahi Saw, mereka berkumpul mengingat Allah, mereka berkumpul mengingat Nabi Muhammad, mereka berkumpul mengingat orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Swt.

Lihat keadaan kaum muslimin sekarang, berbeda dengan keadaan para shohabat Rosulillah, kaum muslimin di jaman kita (mereka) berkumpul mengingat orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, menyebut nama-nama orang yang hina di sisi Allah Swt, sehingga betapa banyak kaum muslimin yang terpengaruh oleh pemikiran barat, pemikiran orang-orang yang tidak pernah sujud kepada Allah Swt. Kewajiban kita kaum muslimin, kewajiban kita sekalian ayyuhal ihwan adalah kita menyuburkan keimanan di dalam hati kita, kita tingkatkan keimanan kita pada Allah Swt, dan sungguh kemuliaan kita, keagungan kita dengan Allah Swt. Allah berfirman di dalam al-Qur’an:
“Kemuliaan, keagungan adalah milik Allah Swt, milik Rosulullah Saw, dan milik mereka yang beriman kepada Allah Swt, adapun mereka orang-orang munafiqin tidak mengetahui kalau kemuliaan adalah milik Allah Swt.”

Oleh karena itu ayyuhal ihwan, kita agungkan Allah Swt, kita agungkan mereka mereka orang-orang yang diagungkan oleh Allah Swt, muliakan orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Swt. Kewajiban kita mengagungkan Allah, mengagungkan Rosulullah, mengagungkan para shohabat Rosulillah, mengagungkan para auliya’ Allah Swt. Disebutkan ketika pada suatu hari para shohabat Rosulillah Saw berkumpul, mereka menyebutkan tentang keistimewaan para Nabi-Nabi yang terdahulu. Beberapa dari mereka
mengatakan:
‘Lihatlah Nabi Ibrohim yang dijadikan oleh Allah sebagai Kholilullah (sebagai kekasih Allah Swt, sebagai orang yang dimuliakan oleh Allah Swt)!”

Maka beberapa shohabat yang lain mengatakan:
‘Tapi lihat Nabi Musa yang lebih agung yang dijadikan oleh Allah sebagai Kalimullah, orang yang bicara langsung dengan Allah Swt!”

Beberapa lagi mengatakan:
‘Lihat Nabi Isa As yang dijadikan oleh Allah sebagai Ruhullah sebagai Kalimatullah Swt!”

Beberapa lagi mengatakan tentang Nabi Adam yang diciptakan oleh Allah Swt secara langsung. Ketika mereka sedang menyebutkan keistimewaan para Nabi yang terdahulu, datang kepada mereka Nabi Muhammad Saw, ketika Nabi Muhammad datang pada mereka dan mengucapkan salam kepada mereka, Nabi Muhammad mengatakan kepada mereka,
‘Wahai para shohabatku, kalian berkumpul pada saat ini menyebutkan tentang keistimewaan para Nabi utusan-utusan Allah Swt, kalian mengatakan bahwa Nabi Ibrohim adalah Kholilullah dan memang demikian Nabi Ibrohim adalah Kholilullah. Dan, kalian menyebutkan bahwa Nabi Musa adalah Kalimullah (orang yang berbicara langsung dengan Allah, yang bermunajat langsung dengan Allah) dan memang demikian adanya Nabi Musa sebagai Kalimullah. Dan demikian pula dengan Nabi Isa, dengan Nabi Adam As adalah orang yang mulia di sisi Allah Swt.’

Kemudian Nabi mengatakan kepada mereka,
‘Dan ketahuilah wahai para shohabatku bahwa aku adalah kekasih Allah Swt, aku adalah habibullah, aku adalah kekasih Allah Swt, dan aku orang pertama yang memberikan syafa’at di hari kiamat nanti, dan aku adalah orang yg mulia dari kalangan makhluq yang diciptakan Allah Swt (aku yang mulia diantara mereka), dan aku adalah orang yang pertama yang mengetuk pintu Surga sehingga aku adalah Nabi pertama yang akan memasuki Surga dan bersamaku orang-orang fuqoro’ dari orang-orang mukminin (orang-orang yang beriman kepada Allah Swt).’

Lihatlah Nabi Muhammad Saw, bagaimana beliau mengajarkan kita agar kita selalu menguatkan hubungan kita dengan Nabi Muhammad Saw. Allah dan Rosul-Nya lebih pantas kita agungkan, lebih pantas kita puaskan kalau memang kita beriman kepada Allah Swt.

Disebutkan oleh Sayyidina al-Habib Umar bahwa perkumpulan kita ini adalah perkumpulan yang insya Allah membawa keberkahan untuk kita sekalian, kita kelak di hari kiamat akan dibangkitkan oleh Allah Swt di hari yg menakutkan. Mengelompokan diri daripada Allah ke dalam Surga-Nya, dan kelompok akan digiring oleh Allah Swt ke dalam Neraka Na’udzubillah mindzalik. Oleh karena itulah persiapkan diri kita untuk menghadapi hari kiamat yang menakutkan dengan mensucikan hati kita, dengan menghidupkan syari’at Nabi Muhammad Saw, dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah Swt, jauhkan segala larangan Allah, jauhkan apa-apa yang diharomkan oleh Allah
Swt. Perbuatan yang diharomkan oleh Allah Swt seperti riba’, seperti ucapan-ucapan yang kotor yang tidak diridhoi Allah Swt, tinggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah, melihat hal-hal yang diharomkan oleh Allah, mata kita…jauhkan mata kita dari maksiat yang diharomkan oleh Allah Swt! Agungkan perintah Allah Swt, agungkan apa yang diperintah oleh Allah Swt.

Dan, al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz memberikan wasiat kepada kita sekalian agar menjadikan bagian dari al-Qur’an, kita membaca al-Qur’an setiap harinya, jangan kita tinggalkan al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah Swt. Setiap hari kita baca al-Qur’an, setiap hari kita berdzikir kepada Allah Swt, lihatlah Allah Jalajaluh berfirman di dalam al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah selalu kepada Allah, berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang banyak.”

Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt. Pernah sekali baginda besar Nabi Muhammad Saw ditanya oleh beberapa shohabat,
“Wahai Nabi Muhammad, mereka orang-orang yang berjihad di jalanmu, siapa diantara mereka yang mendapatkan pahala yang paling besar dari Allah Swt?”

Maka Nabi Muhammad Saw mengatakan,
“Mereka orang-orang yang berjihad yang paling besar mendapatkan pahala dari Allah Swt adalah orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt.”

Sehingga beberapa shohabat bertanya lagi kepada Nabi Muhammad,
“Wahai Nabi Muhammad, mereka orang-orang yang mendirikan sholat, siapa diantara mereka yang paling banyak mendapatkan pahala dari Allah Swt?”

Maka Nabi Muhammad menjawab sebagaimana jawabannya yang pertama, beliau mengatakan,
“Yang paling banyak mendapatkan pahala dari mereka adalah orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt.”

Beberapa shohabat lagi bertanya kepada Nabi Muhammad,
“Wahai Nabi Muhammad, orang yang berzakat, siapa dari mereka yang paling banyak mendapatkan pahala dari Allah Swt?”

Maka Nabi Muhammad Saw mengatakan,
“Adalah orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt.”

Shohabat bertanya lagi,
“Mereka ya Rosulullah, mereka yang bersedekah di jalan Alloh, siapa diantara mereka yang paling banyak mendapatkan pahala dari Allah?”

Maka Nabi Muhammad Saw mengatakan,
“Yang paling banyak mendapatkan pahala dari Allah Swt adalah mereka orang-orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah Swt.”

Ketika mendengar perkataan tersebut, Sayyidina Abubakar, Sayyidina Umar mengatakan kepada Nabi Muhamamad,
“Orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, mereka kelak memperoleh seluruh kebaikan dunia dan akhirat!”

Maka Nabi Muhammad mengatakan kepada para shohabat-nya,
“Memang demikian, mereka orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, mereka telah memperoleh seluruh kebaikan dunia dan akhirat.”

Sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir, beliau menyebutkan di dalam beberapa perkataannya beliau memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah Swt, bahwa bagi mereka keamanan dan keselamatan di dunia dan akhirat dari Allah Swt. Bahkan disebutkan di dalam hadits Nabi Muhammad Saw bahwa petir tidak akan menyambar orang-orang yang berdzikir kepada Allah Swt. Di dalam hadits yang lain, disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw bahwa seseorang hamba tidak mengerjakan suatu amalan yang mampu menyelamatkannya dari siksa api Neraka yang lebih ampuh daripada dzikir kepada Allah Swt. Ketika beberapa shohabat datang kepada Nabi Muhammad Saw, beberapa shohabat mengadu,
“Ya Rosulullah, syari’at Islam banyak amalannya, aku bingung bagian mana yang harus aku dahulukan? Maka berikan wasiat padaku suatu amalan ya Rosulullah yang aku pegang dengan teguh.”

Maka Nabi Muhammad Saw memberikan kepadanya wasiat agar dia banyak berdzikir kepada Allah Swt.

Disebutkan lagi, seorang anak dari kalangan shohabat Rosulillah ditawan oleh orang-orang kafir, maka ayah dan ibu dari anak tersebut mengadu kepada Nabi Muhammad Saw, mengadu bahwa anaknya ditawan oleh orang-orang kafir, maka Nabi Muhamamd Saw memberikan wasiat kepada ayah dan ibu dari anak tersebut agar banyak berdzikir kepada Allah Swt. Dan Nabi Muhammad memberikan suatu dzikir yang berbunyi “Lahawla walaquwata illabillah” agar kedua orang tua tersebut memperbanyak membaca dzikir “Lahawla walaquwata illabillah”, maka sang ayah dan sang ibu membaca “Lahawla walaquwata illabillah” dzikir yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad, setiap waktunya dibaca dzikir tersebut.

Dan Allah Swt, ketika anak tersebut sedang ditawan kebetulan para penjaga yang mengawasi anak tersebut sedang ketiduran, maka sang anak ini berhasil menyelamatkan dirinya berkat pertolongan dari Allah Swt, keluar dari penjara! Sehingga dia mendapati orang-orang yang menjaga penjara sedang tertidur maka anak ini kabur, dan di luar melihat onta-onta orang-orang kafir, onta yang dimiliki orang-orang kafir, maka dirampaslah onta-onta tersebut dan dibawa ke kota Madinah. Ketika sampai sang anak, setelah menyelamatkan dirinya dari tawanan orang-orang kafir dengan membawa
harta rampasan dari orang-orang kafir, langsung datang ke rumah ayah dan ibunya. Didapati ayah ibunya sedang memperbanyak dzikir membaca “Lahawla walaquwata illabillah” yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw, maka sang anak ini mengetuk pintu rumah orang tuanya. Ketika dibuka, orang tuanya sangat berbahagia melihat anaknya telah diselamatkan oleh Allah Swt dengan berkat dzikir yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Oleh karena itulah ayyuhal ihwan, kita perbanyak dzikir kepada Allah Swt, berdzikir dengan hati yang hadir, dengan kekhusyukan di dalam hati kita, sehingga disebutkan beberapa orang wanita datang kepada seorang wali min auliya’ illah di kota Baghdad, kebetulan wanita ini memohon-mohon kepada wali tersebut agar dituliskan kepadanya, kebetulan salah seorang keluarganya sedang sakit maka ini wanita datang wali min auliya’ illah itu agar dituliskan suatu dzikir yang dicelupkan ke dalam air untuk diminum oleh anaknya atau keluarganya yang sedang sakit. Maka sang wali ini meminta kepada sang wanita tersebut untuk gelas untuk dituliskan di dalam gelas tersebut dzikrullah Swt yang nanti akan dituangkan air ke dalamnya untuk diminum oleh keluarganya yang sedang sakit. Baru diambil itu gelas, dan ini syeikh ini wali baru memulai menulis nama Allah, tiba-tiba gelas tersebut pecah karena tidak kuat menanggung nama Allah Swt. Ini wali menulis dengan hati yang hadir, dengan kekhusyukan di dalam hatinya, baru menulis “La illaha illalloh” di dalam gelas, itu gelas langsung itu pecah, maka ini wali mengatakan kepada wanita itu, “Coba bawakan gelas yang lain untuk aku tulis nama Allah didalamnya!”

Dibawakan gelas yang lain, baru mulai menulis itu gelas pecah lagi, dan begitu seterusnya beberapa kali dibawakan gelas dan setiap kali ingin ditulis nama Allah itu gelas langsung pecah, maka sang wali ini mengatakan kepada wanita itu,
“Lebih baik engkau wahai wanita pergi kepada orang sholeh yang lain dan mohon do’a kepadanya, karena hatiku ini selalu hadir kepada Allah Swt, apabila aku berdzikir kepada Allah, hatiku khusyuk kepada Allah sehingga setiap kali aku menulis ini gelas akan pecah dan apabila engkau membawakan aku gelas yang ada di seluruh kota Baghdad, semuanya akan pecah tidak akan mampu menahan nama Allah yang aku akan tuliskan ke dalam gelas tersebut.”

Lihatlah bagaimana orang-orang sebelum kita, ketika mereka berdzikir pada
Allah Swt, dan beginilah sepantasnyalah kita berdzikir kepada Allah Swt.

Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, Al-Imam al-Quthb Sayyidina al-Habib Abdullah al-Haddad, beliau ketika berdzikir kepada Allah, beliau berdzikir dalam keadaan khusyuk, bahkan di tiap keadaannya beliau selalu dalam keadaan ingat kepada Alloh Swt, dalam keadaan khusyuk sehingga disebutkan ketika beliau akan sholat, beliau selalu memberikan wasiat para sahabatnya agar apabila beliau pergi sholat agar tidak seorangpun berbicara dengannya. Mengapa? Karena ketika beliau akan pergi ke Mushola untuk sholat, beliau sedang mengumpulkan hatinya untuk mengingat kepada Allah Swt, mengkonsentrasikan hati dan pikirannya untuk mengingat kepada Allah Swt. Disebutkan bahwa al-Habib Abdullah al-Haddad pernah sekali ketika ingin sholat di suatu Mushola atau di suatu Masjid, ketika beliau mengucapkan takbirotul ihrom, tembok yang ada di depannya langsung terbelah karena wibawa nama Allah Swt yang diucapkan al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Dan inilah para auliya’ Allah, orang-orang yang sebelum kita ketika mereka berdzikir kepada Allah Swt.

Dan al-Habib Umar di akhir ceramahnya, beliau memberikan do’a kepada kita sekalian, beliau berdo’a dengan do’a yang insya Allah dikabulkan oleh Allah Swt. Beliau menyebutkan ketika beliau berdo’a, beliau mengatakan apabila salah seorang dari kita, bahkan apabila seseroang dari ujung bumi dia berjalan merangkak untuk menghadiri do’a yang dibaca ini maka memang sudah sepantasnya dia berjalan merangkak walaupun dari ujung dunia karena insya Allah do’a kita dikabulkan oleh Allah Swt, dan al-Habib Umar mendo’akan kepada kita sekalian agar majlis kita ini diberikan keberkahan oleh Allah Swt, dan dijadikan majlis kita ini majlis yang bersambung dengan Nabi Muhammad Saw, do’a yang bersambung dengan do’a Nabi Muhammad, majlis yang bersambung dengan majlis Nabi Muhammad Saw.

Ini sedikit yang bisa saya (*) terjemahkan dari apa yang saya (*) fahami dari ceramahnya Sayyidina al-Habib Umar, mudah-mudahan apa yg kita dengar membawa manfaat untuk kita sekalian, wassholollohu ala sayyidina Muhammadin, wa ala alihi washohbihi wassalam, walhamdulillahirrobbil alamin.

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Berbagi Kasih Di Lereng Bromo

Berbagi Kasih Di Lereng Bromo

02. Mar, 2010 Comments Off

Anak-anak yatim perlu mendapatkan belaian kasih. Mereka adalah aset agama dan bangsa. Menyantuni mereka adalah ibadah yang bernilai pahala besar.

Senja itu langit digelayuti mendung. Sebuah sedan merayap pelan menaiki jalan berkelok di lereng Bromo. Di dalamnya lima orang lelaki duduk dengan sikap yang serius. Mereka hendak menghadiri sebuah helatan yang sarat sentuhan kemanusiaan. Kala itu bertepatan dengan malam 10 Muharram, malam yang bertabur rahmat.

“Semua sudah siap?” tanya sosok yang duduk di depan, di samping pengemudi. Beliau adalah Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf. “Insya Allah sudah Habib,” jawab seorang lelaki di jok belakang. Ia adalah Ustad Husni, salah seorang staf Al-Maunah, sebuah badan sosial yang berada di naungan Sunniyah Salafiyah. “Uang yang terkumpul mencapai tujuh juta lebih. Tadi juga ada tambahan dari Kapolres Pasuruan dan seorang donatur,” sambung Ustad Husni. “Kalau kita mau menyantuni anak-anak yatim, segalanya akan dimudahkan oleh Allah SWT,” lirih Habib Taufiq penuh keyakinan.

Mobil terus melaju menembus kepekatan kabut. Malam itu Habib Taufiq sedianya memberikan santunan kepada anak-anak yatim yang tinggal di kawasan lereng Bromo. Santunan diberikan di masjid Al-Huda, desa Puspo, kecamatan Puspo, dikemas dalam sebuah seremonial yang islami dan meriah. Acara diliput oleh kameraman Nabawiy TV, akhina Muhammad dan reporter Cahaya Nabawiy, Syamsul Hari.

Helatan dimulai dengan Khotmul Qur’an. Anak-anak TPQ masjid Al-Huda membawakannya dengan bagus. Surat Ad-Dhuha hingga An-Nas mereka lafalkan dengan lancar dan lumayan fasih. Satu demi satu, jamaah sekitar mulai memasuki masjid. Mereka duduk dan langsung larut dalam bacaan. Beberapa menit kemudian masjid sudah penuh sesak. Tua, muda, anak-anak, semuanya tumpah ruah di sana. Sebagian malah rela duduk di teras masjid, diterpa angin yang dinginnya cukup menusuk tulang. Ternyata yang datang bukan hanya warga Puspo. Ada juga yang datang dari desa-desa terpencil sekitar kecamatan Puspo. Bahkan sejumlah warga dan tokoh ulama dari Tosari yang posisinya jauh di pucuk Bromo sana menyempatkan diri juga untuk hadir.

Usai doa Khotmul Qur’an yang dibacakan Habib Taufiq, acara disambung dengan pembacaan Maulid Simtuddurrar karya Imam Ali Al-Habsyi. Lantas acara jeda sejenak. Seluruh hadirin melaksanakan salat Isyak berjamaah, diimami Habib Taufiq.

Lalu, setelah salam dan wirid-wirid, Habib Taufiq menertibkan Al-Fatihah, sebagai tanda acara inti dimulai. Camat Puspo, Bapak Sumbri, mendapat kesempatan pertama memberikan sambutan. Ia menyatakan gembira akan adanya gelaran semacam ini di wilayahnya. Disusul sambutan dari pihak Kepolisian Kabupaten Pasuruan yang kali ini dibacakan oleh Wakapolres.

Setelah sambutan-sambutan itu, yang intinya bernada sama, yakni memberikan respon positif atas kegiatan-kegiatan islami yang sarat nilai sosial semacam ini, acara dilanjutkan dengan tausiyah agama oleh Habib Taufiq Abdul Qadir Assegaf. Bergamis putih bersih dan bersurban hijau, beliau langsung menyerap perhatian hadirin. Semuanya takzim menyimak ceramah beliau.

Dalam kesempatan ini Habib Taufiq banyak mengurai fadilah-fadilah bulan Muharram. Salah satunya keutamaan berpuasa di hari ke-10 bulan Muharram yang dikenal dengan hari Asyura. “Puasa di hari Asyura bisa menghapus dosa-dosa setahun yang telah lewat,” ujar beliau.

Pada hari Asyura kaum muslimin dianjurkan memberikan belanja lebih kepada keluarga. “Yang biasa makan tahu-tempe, usahakan makan daging di hari Asyura,” kata Habib Taufiq disambut senyum segar para hadirin. “Tapi jangan memaksakan diri.” Beliau lantas menuturkan bahwa orang yang memberikan belanja lebih kepada keluarganya di hari Asyura akan diberikan tambahan rizki di tahun berikutnya.

Habib Taufiq kemudian menegaskan, “Di hari Asyura ini kita harus lebih mencurahkan perhatian kita kepada anak-anak yatim. Baginda Nabi SAW pernah bersabda bahwa barangsiapa mengusap kepala seorang anak yatim maka ia akan mendapat pahala dari setiap helai rambut anak yatim itu.”

“Tapi ini bukan berarti kita harus mengusap-usap kepala mereka saja. Maksudnya kita harus menyantuni, mengasihi dan menolong mereka semampu kita. Kalau cuma mengusap kepala, siapa yang gak bisa? Bayangkan kalau seorang anak yatim kepalanya diusap orang sekampung, bisa pusing ia.” Hadirin pun tertawa. 

“Acara serupa ini adalah sebuah gerakan yang luar biasa dari seluruh komponen masyarakat. Ulama, aparat, dermawan, dan warga, bahu-membahu demi membahagiakan anak-anak yatim. Memang beginilah seharusnya umat Islam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga kerjasama ini terus lestari. Dan terus meningkat setiap tahunnya.”

Malam kian larut. Namun tak seorang hadirin pun yang merasa mengantuk. Habib Taufiq memang pandai menghidupkan suasana. Guyonan-guyonan segar beliau selipkan dalam mauidhahnya. Kemudian beliau pun menutup ceramah dengan doa.

KESAN

Sebagai puncak acara adalah pemberian santunan kepada anak-anak yatim. Satu demi satu anak-anak yatim dipanggil panitia untuk maju ke depan. Semuanya berjumlah 113 anak. Mereka diberi santunan secara simbolik oleh beberapa tokoh masyarakat, diantaranya oleh Kepala Desa, Camat, Kapolsek, Wakapolres, sesepuh desa dan lainnya.          Ada beberapa kejadian menarik yang mengundang senyum. Ada seorang anak kecil yang langsung membuka amplop begitu mendapat bagian. Ada juga yang bergaya bak model ketika difoto oleh panitia. Namanya juga anak kecil. Begitu polos dan lugunya.

Menarik pula untuk dikaji ketika Habib Taufiq mendapati seorang anak yatim yang sedang sakit. Lehernya bengkak mungkin karena gondok. Melihat anak ini, beliau langsung memanggil Ustad Husni dan menginstruksikan agar anak yatim yang malang itu mendapat penanganan.

Sekira pukul 22.00 WIB. Perhelatan selesai. Hadirin beranjak pulang dengan membawa kesan yang mendalam. Panitia beramah tamah sejenak di rumah salah satu dermawan. Wajah mereka sumringah, menyiratkan kepuasan tak terkira. “Panitia capek ya?” celetuk Habib Taufiq kepada ketua panitia. “Tapi tadi sukses kok. Insya Allah tahun depan lebih baik.”


 Mobil pun bergerak perlahan menuruni jalan berliku di lereng Bromo. Butiran gerimis jatuh mengiringi. Semoga malam itu anak-anak yatim di atas sana akan larut dalam kegembiraan. Semoga bukan hanya malam itu saja, tapi juga malam-malam yang akan datang. CN

Ancaman dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah PDF Cetak Emel
Ditulis oleh Abu Syafiq   
Tuesday, 17 February 2009

Oleh: Ustaz Mohd Rasyiq Bin Mohd Alwi

 

Alhamdulillah, segala puji-pujian bagi Allah Tuhan sekalian alam, Dialah Yang mencipta ‘arasy, langit dan bumi, Dialah jua Pencipta tempat, wujudNya tanpa memerlukan tempat. Selawat dan salam ke atas junjungan besar kita Nabi Muhammad, ahli keluarga dan para sahabat baginda.

 

MUQADDIMAH

Dewasa kini seringkali kita mendengar banyak golongan  yang asyik melabelkan diri mereka sebagai Ahli Sunnah Wal Jamaah. Akan tetapi adakah dengan hanya mengaku sedemikian sahaja tanpa bukti yang kukuh harus bagi kita pula menamakan mereka sebagai Ahli Sunnah Wal Jamaah?

Kita jua ketahui bahawa ancaman dan penentangan terhadap Ahli Sunnah Wal Jamaah yang sebenar datang dari pelbagai sudut termasuk wujudnya ajaran-ajaran songsang, aliran-aliran baru yang menyimpang, keganasan yang terkeluar dari erti jihad, isu murtad dan sebagainya.

Apakah mauqif dan peranan kita sebagai Ahli Sunnah Wal Jamaah?

 

Ramai jua yang tahu peranan masing-masing tetapi mengabaikan tindakan segera atau menganggap ia sebagai suatu yang boleh dilakukan pada masa yang akan datang tanpa disedari semakin hari semakin pupus insan yang mengetahui erti aqidah yang sebenar, semakin hari semakin hilang mutiara ilmu aqidah yang menjadi senjata utama dalam menguatkan serta memajukan lagi taraf insan yang

bergelar Ahli Sunnah Wal Jamaah.

 

Tidak pernah tahukah insan sebegini dengan sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asakir dan Imam Abdary bahawa Baginda pernah bersabda yang bermaksud :

“ Sesungguhnya manusia itu apabila ia melihat (mengetahui) kemungkaran, tiada pula ia merubahkannya maka Allah akan mengumumkan azabNya ke atas

semua manusia ”.

 

Terlupakah insan ini akan kata-kata yang sering diungkap oleh para ulama seperti Imam Ali Ad-Daqqoq yang bermaksud :

“ Senyap dari menyatakan kebenaran merupakan syaitan bisu ”.

                               

Semoga dari tulisan dan pembentangan ini dapat menguatkan lagi semangat kita dalam memperjuangankan agama Allah. Amin.

 

1.       AQIDAH

 

1.1.           ERTI AQIDAH DAN KAITANNYA DENGAN AMALAN SOLEH                          

Aqidah membawa erti pegangan dan  kepercayaan seseorang. Pegangan dan kepercayaan ini pula terbahagi kepada dua iaitu benar atau salah. Aqidah yang benar merupakan kunci kepada segala penerimaan ibadah. Tanpa akidah yang benar Allah tidak akan menerima segala amalan soleh. Sekiranya aqidah seseorang itu salah maka yang akan dicatit hanyalah amalan keburukan maka akan hanya dibalas dengan kebururkan. Jesteru itu perkara yang berkaitan dengan aqidah tidak harus dijadikan gurauan-senda atau diremeh-remehkan. Hubungan aqidah dan amalan soleh ini berdalilkan firman Allah yang bermaksud :           

“ Dan barangsiapa  melakukan amalan soleh dari kalangan lelaki ataupun wanita dalam ia beriman (beraqidah dengan aqidah yang betul) maka merekalah yang akan dimasukkan kedalam syurga dan tidak akan dizalimi walaupun sedikit ”.

An-Nisa Ayat 124.

Ayat tersebut jelas menerangkan bahawa apa sahaja amalan soleh yang dilakukan orang lelaki mahupun perempuan, imanlah syarat utama penerimaannya dari Allah. Begitu juga kenyataan dari hadith Nabi yang bermaksud :

“ Semulia-mulia amalan adalan beriman kepada Allah dan RasulNya

( beraqidah dengan aqidah yang betul) ”.H.R. Sohih Bukhari.

 Ini menandakan bahawa aqidah merupakan sesuatu yang teramat penting dan perlu diutamakan dari masalah-masalah yang lain.

 

1.2.           PARA ULAMA MENGUTAMAKAN ILMU AQIDAH

 

Oleh kerana pentingnya ilmu aqidah maka kita dapati seluruh para ilmuan islam akan mengutamakan ilmu aqidah. Perkara ini dapat dipetik dari kenyataan Imam tertua diantara mazhab empat iaitu Imam Abu Hanifah menyatakan dalam kitab beliau Fiqhul Absot yang bermaksud :

“ Ketahuilah bahawa mendalami ilmu usuluddin (aqidah) itu lebih mulia dari mendalami ilmu feqh ”.

Kenyataan ini tidak bermakna kita tidak harus mempelajari ilmu feqah langsung akan tetapi Imam Abu Hanifah menerangkan kemulian mempelajari dan mengutamakan ilmu aqidah. Begitu juga para ulama yang lain mengutamakan ilmu ini seperti Imam yang menjadi pegangan mazhabnya di tanah air kita iaitu Imam Syafie menyatakan yang bermaksud : “ Kami telah mendalami ilmu tersebut (aqidah) sebelum ilmu ini (feqh) ”.

 

 

1.3.           AQIDAH AHL SUNNAH WAL JAMAAH

 

Kesemua aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah berlandaskan Al-Quran, Al-Hadith serta ijmak ulama. Ahli Sunnah menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang telah dinyatakan oleh Allah ta’ala sendiri di dalam Al-Quran dan apa yang telah dinyatakan leh Rasulullah di dalam Hadith baginda tanpa mereka meyandarkan sifat tasbih atau tajsim bagi Allah, mereka juga menafikan sifat duduk, bertempat, berkaki, berbetis, zat yang turun naik dari langit ke bumi, berada di atas langit, berada di atas ‘arasy, dan sebagainya dari sifat yang tidak layak bagi Tuhan yang mencipta segala makhlukNya.

Ini semua berdasarkan firman Allah di dalam surah As-syura ayat 11 yang bermaksud :

“ Tiada sesuatupun yang menyerupaiNya ”.

Wujudnya Allah tanpa diliputi tempat berdalilkan juga dari sabda Nabi Muhammad yang bermaksud :

“ Allah telah sedia wujud (azali) dan tiada sesuatupun selain Allah itu azali ”. Riwayat Bukhari dalam Sohih Bukhari.

Ini menunjukkan bahawa Dia sahaja yang wujudnya azali manakala tempat, ‘arasy, langit, dan selainnya bukan azali.

Ijmak para ulama yang telah dinukilkan oleh Imam Abdul Qohir Bin Tohir Al-Baghdadi dalam kitab Al-Farqu Bainal Firaq halaman 333 cetakan Darul Ma’rifah jelas menunjukkan kewujudan Allah bukanlah berada diatas ‘arasy akan tetapi Allah wujud tanpa diliputi oleh tempat :

 “ Dan telah disepakati dan diijmakkan bahawa Allah tidak diliputi tempat ”. Demikian ijmak para ulama yang tidak boleh ditolak lagi oleh golongan mujassimah dan musyabbihah.

 

1.4.           AQIDAH ULAMA SALAF

 

Ulama Salaf (bukan Wahhabi) adalah ulama yang pernah melalui kehidupannya pada era 300Hijriah pertama.  Kesemua ulama Salaf berpegang dengan akidah bahawa:

Allah adalah Tuhan sekelian alam yang mencipta setiap sesuatu, wujudNya tanpa permulaan dan tanpa pengakhiran, Maha Suci Allah dari dilingkungi dan diliputi oleh tempat, bahkan wujudNya tanpa berada di sesuatu tempat, bukan di langit wujudNya bukan di bumi pula tempatNya.  Allah lah Pencipta ‘arasy, diciptakannya untuk menunjukkan kekuasaanNya, bukan pula ianya dijadikan tempat bagi Zat Allah.  Kerana Dia Pencipta tempat maka Dia tidak memerlukan tempat.

Pegangan ulama Salaf pada ayat mutasyabihat mengenai sifat Allah ta’ala pula kebanyakan ulama Salaf memilih jalan tidak mentakwilkan secara tafsily (teperinci) ayat tersebut akan tetapi ditakwil secara ijmaly (menafikan makna zohirnya) dan diserahkan makna sebenar kepada Yang Maha Mengetahui tanpa berpegang dengan zohirnya, tanpa menyandarkan sifat tasybih, tajsim dan bertempat bagi zat Allah.

Akan tetapi wujud dikalangan ulama Salaf yang mentakwilkan secara tafsily ayat mutasyabihat seperti Imam Bukhari di dalam kitab beliau Sohih Bukhari mentakwilkan firman Allah di dalam surah Al-Qosos ayat 88 :

“ wajahNya ” bererti kerajaanNya ”.

Di sini akan dibawa sebahagian sebahagian sahaja kenyataan dari para ulama Salaf termasuk para sahabat Nabi yang menunjukkan bahawa aqidah ulama Salaf antaranya adalah

Allah wujud tanpa memerlukan tempat :-

 

1 – Seorang sahabat Nabi yang terkenal dengan keilmuan beliau pernah dipuji oleh Rasulullah iaitu Imam Saidina Ali Karramallahu Wajhah wafat pada 40Hijriah pernah berkata yang bermakna :

“ Sesungguhnya Allah telah wujud tanpa tempat, maka Dia sekarang tetap sedia wujud tanpa tempat ”. Kenyataan ini dinyatakan dalam kitab karangan Imam Abu Mansur Al-Baghdadi dalam kitab beliau yang masyhur Al-Farqu Bainal Firaq pada halaman 256 cetakan Dar Kutub Ilmiah .

 

Ini memberi erti bahawa diantara aqidah para sahabat serta ulama Salaf adalah

Allah wujud tanpa bertempat iaitu tidak dilingkungi oleh sesuatu tempat mahupun semua tempat. Dalam halaman kitab yang sama juga dinukilkan kenyataan Imam Ali yang bermaksud : “ Sesungguhnya Allah mencipta ‘arasy adalah untuk menzahirkan kekuasaanNya dan bukanlah untuk dijadikan tempat bagi zatNya.

 

2- Imam Syafie Rahimahullah yang wafat pada 204Hijriah pernah berkata:

“ Dalil bahawa Allah wujud tanpa tempat adalah Allah ta’ala telah wujud dan tempat pula belum wujud, kemudian Allah mencipta tempat dan Allah tetap pada sifatNya yang azali sebelum terciptanya tempat, maka tidak harus berlaku perubahan pada zatNya dan begitu juga tiada pertukaran pada sifatNya ”.

Kenyataan Imam Syafie ini dinyatakan oleh Imam Al-Hafiz Murtadho Zabidi didalam kitab beliau berjudul Ithaf Sadatul Muttaqin, juzuk kedua, mukasurat 36, cetakan Dar Kutub Ilmiah.

 

 

3- Imam yang terkenal dengan karangan kitab aqidah beliau berjudul Aqidah At-Tohawiyah bernama Imam Al-Hafiz Abu Ja’far At-Tohawy  wafat pada 321Hijriah (merupakan ulama Salaf) telah menyatakan dalam kitab beliau tersebut pada halaman 15 cetakan Dar Yaqin yang bermaksud : “ Allah tidak berada (tidak diliputi) pada enam penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang) seperti sekalian makhluk ”.

 

1.5.           AQIDAH ULAMA KHALAF

 

Ulama Khalaf adalah mereka yang hidup selepas 300Hijriah pertama. Aqidah ulama Khalaf juga tidak terkeluar dari landasan Al-Quran dan Al-Hadith serta Ijmak ulama. Aqidah ulama Khalaf tidak sama sekali berlawanan dengan aqidah ulama Salaf bahkan akidah ulama Salaf itu adalah aqidah ulama Khalaf begitu jua sebaliknya. Cuma pada segi penerangan mengenai perkara yang berkaitan dengan sifat Allah yang tertentu ulama Khalaf memilih cara penerangan yang lebih terperinci bagi mengelakkan anggapan yang bersifat tasybih atau tajsim pada sifat Allah. Contohnya ramai dikalangan ulama Khalaf mentakwilkan secara tafsily (terperinci) sifat-sifat Allah yang tertentu kepada makna yang selari dengan bahasa arab dan layak bagi Allah serta mudah difahami oleh orang awam dan penuntu ilmu bertujuan menjauhkan anggapan yang tidak benar pada sifat Allah. Namun ada juga dikalangan ulama Khalaf yang tidak mentakwilkan secara terperinci.

 

Disini akan disebut sebahagian sahaja kenyataan para ulama Khalaf bahawa Allah wujud tanpa memerlukan tempat :-

 

1-     Al-Hafiz Ibnu Jauzy Al-Hambaly Rahimahullah wafat pada 597Hijriah telah menyatakan di dalam kitab karangan beliau berjudul Daf’u As-Subah Wa At-Tasybih mukasurat 189 cetakan Dar Imam Nawawi :

“ Sesungguhnya telah sahih di sisi ulama islam bahawa Allah ta’ala tidak diliputi oleh langit, bumi dan tidak berada di setiap tempat ”.

 

2-     Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali yang wafat pada 505Hijriah menyatakan dalam kitab beliau yag masyhur berjudul

Ihya Ulumuddin : “ Dan Allah juga tidak diliputi oleh tempat dan Allah tidak diliputi arah enam dan Allah tidak pula dilingkungi oleh langit dan bumi ”. Rujuk kitab Ifhaf Sadatul Muttaqin Fi Syarh Ihya Ulumuddin, juzuk 2 mukasurat 36 cetakan Dar Kutub Ilmiah, Beirut.

Maka ini bermakna antara aqidah ulama Khalaf adalah Allah wujud tanpa tempat.

 

1.6.           KESEMUA ULAMA SALAF & KHALAF MENTAKWIL AYAT MUTASYABIHAT DARIPADA ZOHIRNYA

 

Ramai dikalangan para penceramah aqidah menyalah ertikan perkara ini dengan mengatakan ulama Salaf tidak langsung mentakwilkan ayat mutasyabihat mengenai sifat Allah hanya ulama Khalaf sahaja yang mentakwilkan ayat tersebut. Ini adalah tanggapan yang tidak langsung berunsurkan pengkajian yang sebenar kerana dari pentakwilan Imam Bukhari yang dinukilkan diatas serta takwilan beliau dalam Sohih Bukhari juga pada ayat 56 Surah Hud jelas menunjukkan beliau sebagai ulama Salaf telah mentakwilkan ayat mustasyabihat mengenai sifat Allah.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany di dalam Fathul Bary Syarh Sohih Bukhary pada menyatakan Hadith Ad-Dohiku (ketawa) berkata:

“ Bukhary telah mentakwilkan hadith Ad-Dohiku (ketawa) dengan erti rahmat dan redho ”.

Begitu juga Imam Ahmad Bin Hambal yang merupakan ulama Salaf telah mentakwilkan ayat 22 Surah Al-Fajr seperti yang diriwayatkan secara bersanad yang sohih oleh Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Ahmad dari Imam Ahmad:

 “ Firman Allah : “Dan telah datang Tuhanmu” ditakwilkan oleh Imam Ahmad dengan : Telah datang kekuasaan Tuhanmu ”.

 

Antara ulama Salaf yang mentakwilkan secara tafsily iaitu terperinci pada ayat 5 dalam Surah At-Toha adalah Imam Salaf Abu Abdul Rahman Abdullah Bin Yahya Bin Al-Mubarak wafat 237Hijriah dalam kitab Ghoribul Quran Wa Tafsiruhu halaman 113 cetakan Muassasah Ar-Risalah, Beirut :

 “ Firman Allah : “ Ar-Rahman di atas ‘arasy beristawa” istawa disini ertinya Menguasai ”.

 

Diantara ulama Khalaf pula yang mentakwilkan ayat tersebut secara tafsily adalah Imam Abdul Rahim Bin Abdul Karim Bin Hawazan atau lebih dikenali sebagai Imam Al-Qusyairy telah mentakwilkannya dalam kitab beliua Tazkirah As-Syarqiyah  : “ Ar-Rahman di atas ‘arasy beristawa” istawa disini ertinya Menguasai, Menjaga dan menetapkan ‘arasy ”.

 

Maka natijahnya bahawa kedua-dua jalan pilihan ulama Salaf dan Khalaf adalah benar dan tidak menyimpang kerana kedua-duanya mentakwilkan cuma bezanya kebanyakan Salaf mentakwil secara ijmaly dan kebanyakan Khalaf mentakwil secara tafsily.

2.  ANCAMAN TERHADA  AHLI SUNNAH WAL JAMAAH

 

Ancaman terhadap Ahli Sunnah datang dari perbagai sudut, samada dari golongan yang mengizharkan mereka bukan Islam seperti Yahudi dan Kristian mahupun golongan yang mendakwa sebagai Islam seperti puak Syiah, Wahhabiyah, Hizbu Tahrir, Ikhwanjiyyah (Khawarij), Islam liberal, Sister in Islam dan banyak lagi.  Ini merupakan ujian Allah terhadap mereka yang berpegang dengan aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah di zaman kini supaya memperjuangkan sunnah (aqidah dan syariat) bagi mendapat ganjaran syahid dalam peperangan.  Ini berdasarkan dari Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang bermaksud: “Barangsiapa yang  menghidupkan sunnah ku (aqidah dan syariat ku) ketika rosaknya ummat ku, maka baginya pahala syahid”. 

2.1             FAHAMAN SYI‘AH. 

Fahaman Syi’ah jelas terkeluar dari aqidah Ahlus Sunnah Wa al-Jama‘ah, kerana percanggahan dari pelbagai sudut dan yang paling asas dalam soal-soal aqidah.

Sebahagian contoh kesesatan Syi’ah dalam aqidah:

1.   Imam adalah ma‘sum.

2.   Para sahabat menjadi kafir kerana tidak melantik Ali sebagai khalifah selepas    kewafatan Nabi s.a.w.

3.   Hanya berpandukan Quran dan Hadith versi mereka.

Sebahagian contoh percanggahan dalam furu‘:

1.   Nikah Mut‘ah dihukumkan halal dan bercanggah sama sekali dengan ijma‘ Ulama‘.

2.   Tidak menerima Qias.

3.   Tidak menerima Ijma‘.

4.   Hukum agama hanya untuk orang awam dan bukan Imam.

5.   Dan lain-lain.

 

2.2     FAHAMAN WAHHABIYYAH.

Sejarah Ringkas Ajaran Wahhabi

Ajaran Wahhabi diasaskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab 1206H yang mendorong pengikutnya mengkafirkan umat islam dan menghalalkan darah mereka. Sudah pasti  manusia yang lebih mengenali perihal Muhammad bin Abdul Wahhab adalah saudara kandungnya dan bapanya sendiri.

 

Saudara kandungnya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab sering memberi peringatan kepada umat islam dizamannya agar tidak mengikut ajaran baru Muhammad bin Abdul Wahhab kerana ajaran itu menghina ulama islam serta mengkafirkan umat islam. (Sebagai bukti sila rujuk 2 kitab karangan Syeikh Sulaiman tersebut: “Fashlul Khitob Fir Roddi ‘Ala Muhammad bin Abdul Wahhab” dan “ Sawaiqul Ilahiyah Fi Roddi ‘Ala Wahhabiyah”).

Bapanya juga iaitu Abdul Wahhab turut memarahi anaknya iaitu Muhammad kerana enggan mempelajari ilmu islam dan beliau menyatakan kepada para ulama: “Kamu semua akan melihat keburukan yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahhab ini”. ( Sebagai bukti sila rujuk kitab “As-Suhubul Wabilah ‘Ala Dhoroihil Hanabilah” cetakan Maktabah Imam Ahmad m/s 275). Demikianlah saudara kandungnya sendiri mengingatkan umat islam agar berwaspada dengan ajaran TAKFIR yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.

 

Kenyataan Para Mufti Perihal Wahhabi

Mufti Mazhab Hambali Muhammad bin Abdullah bin Hamid An-Najdy 1225H menyatakan dalam kitabnya “As-Suhubul Wabilah ‘Ala Dhoroihil Hanabilah” m/s 276 : “Apabila ulama menjelaskan hujah kepada Muhammad bin Abdullah Wahhab dan dia tidak mampu menjawabnya serta tidak mampu membunuhnya maka dia akan menghantar seseorang untuk membunuh ulama tersebut kerana dianggap sesiapa yang tidak sependapat dengannnya adalah kafir dan halal darahnya untuk dibunuh”.

 

Mufti Mazhab Syafi’e Ahmad bin Zaini Dahlan 1304H yang merupakan tokoh ulama Mekah pada zaman Sultan Abdul Hamid menyatakan dalam kitabnya “ Ad-Durarus Saniyyah Fir Roddi ‘Alal Wahhabiyah m/s 42: “ Wahhabiyah merupakan golongan pertama yang mengkafirkan umat islam 600 tahun sebelum mereka dan Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: Aku membawa kepada kamu semua agama yang baru dan manusia selain pengikutku adalah kafir musyrik ”.

 

 

Sejarah membuktikan Wahhabi telah membunuh  keturunan Rasulullah serta menyembelih kanak-kanak kecil di pangkuan ibunya ketikamana mereka mula-mula memasuki Kota Taif. (Sila rujuk Kitab Umaro’ Al-bilaadul Haram m/s 297 – 298 cetakan Ad-Dar Al-Muttahidah Lin-Nasyr).

 

Tokoh Wahhabi Abdur Rahman bin Hasan Aal-As-Syeikh mengkafirkan golongan Al-Asya’iroh yang merupakan pegangan umat islam di Malaysia dan di negara-negara lain. Rujuk kitabnya Fathul Majid Syarh Kitab Al-Tauhid m/s 353 cetakan Maktabah Darus Salam Riyadh.  Seorang lagi tokoh Wahhabi iaitu Soleh bin Fauzan Al-Fauzan turut menghukum golongan Al-Asya’iroh sebagai sesat akidah dan  bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Rujuk kitabnya Min Masyahir Al-Mujaddidin Fil Islam m/s 32 cetakan Riasah ‘Ammah Lil Ifta’ Riyadh.

 

Wahhabi bukan sahaja menghukum sesat terhadap ulama’ Islam bahkan umat islam yang mengikut mazhab pun turut dikafirkan dan dihukum sebagai musyrik dengan kenyataannya :

“ Mengikut mana-mana mazhab adalah syirik ”.  Dan Wahhabi ini berani juga mengkafirkan Ibu bani adam iaitu Saidatuna Hawwa dengan kenyataannya:

“ Sesungguhnya syirik itu berlaku kepada Hawwa ”.

Tokoh Wahhabi tersebut Muhammad Al-Qanuji antara yang hampir dengan Muhammad bin Abdul Wahhab.  Rujuk kenyataannya dalam kitabnya Ad-Din Al-Kholis juzuk 1 m/s 140 dan 160 cetakan Darul Kutub Ilmiah.

 

Maka fahaman ini menjadi kewajiban kepada Ulama‘ membongkar untuk diperjelaskan memandangkan ramai orang Islam yang terkeliru dengan propaganda aliran ini.

Aliran ini turut bertunjang kepada pemikiran Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim al-Khariji (al-Jauzi) antaranya:

Membawa konsep Bid‘ah yang bercanggah dengan Jumhur Ulama‘.

Mempromosi Bid‘ah dalam Usul (Aqidah) dan Furu‘.

Percangahan dalam masalah Aqidah:

1.   Membawa kaedah tauhid “Tiga T” Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma’ Was Sifat, penyelewengan mereka dalam hal tersebut adalah kerana membeza-bezakan antara Tauhid Uluhiyyah dengan Tauhid Rububiyyah sehingga menghukum kesemua orang kafir juga beriman kepada Allah serta menetapkan Tauhid Asma’ Wa Sifat dengan erti yang bercanggah dengan Ahli Sunnah Wal Jama’ah sejati bahkan lebih menjerumus kepada akidah Tajsim yang ditolak oleh ulama Islam, pembahagian tauhid mereka tersebut tidak pernah wujud di dalam sejarah  ilmu tauhid Ahli Sunnah Wa al-Jama‘ah tulen.

2.   Membawa fahaman “Tajsim dan Tasybih” iaitu menjerumus kepada menjisimkan Allah dengan mengatakan Allah itu adalah jisim dan menyamakan Allah dengan makhluk seperti menyifatkan Allah dengan sifat mulut, telinga, baying-bayang dan selainnya dari sifat yang tidak pernah Allah nyatakan dalam Al-Quran mahupun Al-Hadith.

3.   Menolak Pengajian Sifat Dua Puluh.

4.  Menghukum Syirik amalan tawassul, tabarruq, ziarah qubur dan isthtighathah.

5.  Mengkafirkan dan membid’ahkan ramai Ulama’-Ulama’ yang diperakui kebenarannya di antaranya Imam Abu Hassan al-Asy‘ari, perumus aliran Ahlus Sunnah Wa al-Jama‘ah, Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany turut dihina oleh kelompok Wahhabi.

6.   Mengelirukan pengertian Takwil , Ta‘til dan Tafwid.

7.   Mendakwa dari golongan salaf.

8.   Mendakwa sesiapa yang menta‘zimkan Nabi Muhammad membawa kepada syirik.

 Percanggahan dalam Furu’ iaitu cabangan agama:

1.   Menganggap talqin sebagai bid‘ah sesat.

2.   Mengganggap amalan tahlil, yasin, kenduri arwah sebagai bid‘ah sesat.

3.   Menganggap qunut Subuh sebagai bid‘ah.

4.   Tidak ada qada’ bagi solat yang sengaja ditinggalkan.

5.   Menggangap lafaz sayyiduna (taswid) dalam solat sebagai bid’ah sesat.

6.   Menggerak-gerakkan jari sewaktu tahiyyat awal dan akhir.

7.   Menggangap doa beramai-ramai selepas solat sebagai bid’ah sesat.

8.  Menyatakan bahawa doa, zikir dan selawat yang tidak ada dalam al-Quran dan Hadis sebagai bid’ah sesat. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jumaat sebagai bid’ah yang haram.

9.   Mengatakan bahawa sedekah pahala tidak sampai.

10. Menolak sambutan mawlid nabi, bahkan menolak cuti sempena hari Maulid Nabi Muhammad bahkan yang lebih teruk lagi menyamakan sambutan mawlud nabi dengan perayaan Kristian.

11. Menolak amalan barzanji/marhaban/berdiri sewaktu selawat. Sufiyyah dianggap sebagai terkesan dengan ajaran Budha dan Nasrani. Sebahagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik.

12. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan solihin sebagai bid‘ah sesat lagi syirik. Sering mengkritik aliran Sufi dan kitab-kitab Sufi yang mu‘tabar.

 2.3   GERAKAN AL-ARQAM.

Gerakkan yang muncul pada awal 70an dengan membawa mesej dakwah kononnya ala Sufi. Diasaskan oleh Ustaz Asy’ari Muhammad yang berasal dari Pilin N. Sembilan.

Sehingga diharamkan pada 5 ogos 1994 setelah ketua gerakan ini dapat ditahan di sempadan Thailand.

Fahaman yang bercanggah, di antaranya:

 1.   Penambahan pada Syahadah di awal Aurad dengan ayat yang berbunyi “Muhammadinil Imam al-Mahdi khulafa’ Rasullillah”.

2.   Menghubungkan Aurad dengan pencak (silat) seru atau juga disebut sebagai silat sunda. Setelah diseru, seseorang itu dapat bergerak untuk bersilat dengan sendiri.

3.   Pengikut gerakan ini mempercayai Abuya dapat berbincang dengan Malaikat Maut untuk merunding cara ketentuan ajal ahli jemaahnya .

4.   Gerakan al-Arqam secara terang-terangan menyakini Sheikh Suhaimi yang dilahirkan pada 1259 di Bandar Sudagaran Daerah Wonosobo yang telah meninggal dunia dan di makamkan di jalan Banting akan kembali semula sebagai Imam al-Mahdi yang ditunggu-tunggu.

5.   Mereka juga berkeyakinan bahawa Abuya Ashaari Muhammad adalah pemuda Bani Tamim yang akan membawa panji-panji Imam al-Mahdi.

Al-Arqam dan Minda.

Minda mengikut pendapat orang-orang Arqam ialah pemikiran Ashaari yang dianggap sebagai ilham atau wahyu. Salah seorang pemimpin mereka berkata minda Abuya adalah pemikiran yang relevan dengan masa kini sementara kitab-kitab para ‘Ulama’ adalah sudah basi (ketinggalan zaman).

Maryam Abbas ada berkata bahawa minda Abuya berfungsi sebagai pentafsir kepada Al-Quran dan Al-Sunnah.

Dakwaan terkini.

 1.   Tongkat power. Mereka meyakini bahawa Asyaari dikurniakan karamah oleh Allah yang ingin dikongsi dengan para pengikutnya. Maka beliau memasukkan barakahnya (power) ke dalam tongkat.

2.   Budi bicara Abuya dalam hal kematian. Orang-orang Arqam mempercayai Abuya mereka boleh menjadi penimbang cara bila Malaikat ‘Izrail ingin mencabut nyawa pengikutnya.

3. Orang-orang Arqam dikehendakki sentiasa berzikir dengan nama Abuya…Ustaz Ashaari pemuda Bani Tamim… di dalam aktiviti harian.

4.   Mengadakan majlis pengampunan dosa.

2.4   HIZBU TAHRIR. 

1.      Pengasas – Taqiuddin al-Nabhani. Berasal dari Palestin dan telah berhijrah ke Lubnan.

2.      Di Lubnan tinggal di Ra’su al-Naba’ pada ahkir tahun 50an.

3.      Dia merasakan dirinya sebagai Amir al-Mu’minin dan menamakan isterinya Lami’ah Um al-Mu’minin.

4.      Mempunyai 3 orang anak: Taj, Usamah dan Ibrahim.

5.      Mendakwa anak yang pertama sebagai pemerintah Syam, yang ke dua pemerintah Iraq dan yang ke tiga pemerintah Mesir.

6.      Pergerakan ini banyak di United Kingdom.

7.      Mengkafirkan pemerintah Muslim di mana-mana juga dunia Islam.

8.      Ber‘aqidah seperti orang Mu‘tazilah, dengan menyakini segala perbuatan hamba adalah hasil ihtiyar hamba dan tiada kaitan dengan Allah. Dengan kata lain Af‘al hamba bukan ciptaan Allah. Tiada kaitannya dengan Qada’ dan Qadar. (Kitab al-Shahsiyah Islamiah).

9.      Hidayah dan kesesatan adalah dari hamba dan tiada kaitannya dengan Allah. (al-Shahsiyah Islamiyah/kitab Nizom al-Islam).

10.    Ma‘sum bagi para Ambiya’ adalah setelah di lantik, mereka sebelum di lantik adalah tiadak ma‘sum, dengan kata lain mereka terdedah dengan segala dosa. (Kitab al-Syahsiyah Islamiyah).

11.    Majlis Syura mereka berhak memutuskan untuk keluar dari mematuhi pemerintah berdasarkan pemerintah yang ada, Fasiq yang nyata. (Kitab al-Shahsiyah Islamiyah/Dustur Hizbu Tahrir).

12.    Sekiranya pemerintah yang ada bercanggah dengan Syara‘ dan tidak berkemampuan untuk menegakkan pemerintahan yang Islam berkewajiban keluar dari mematuhi pemerintah. (Nizom al-Islam). Di dalam Aqidah Ahlus Sunnah, wajib mematuhi pemerintah sekalipun zalim dan fasiq amal.

13.    Barangsiapa tidak membai‘ah khalifah, mati dalam jahiliyah. Di dasari dengan katanya Nabi mewajibkan setiap orang Islam membai‘ah khalifah. (al-Syahsiyah Islamiyah).

14.    Orang-orang Islam semuanya berdosa besar kerana gagal untuk melantik khalifah. Dan masa yang dimaafkan 2 malam, dan kalau malam yang ke 3 gagal maka berdosa. (al-Daulah al-Islamiyah).

15. Sebenarnya mereka mengajak kepada oramg ramai untuk membai‘ah peminpin mereka Taqiuddin al-Nabhani.

16.    Perjalanan (safar) untuk melakukan maksiat adalah tidak berdosa, melainkan setelah melakukan perbuatan itu.

17.    Mengharuskan salam dan bercium pipi bersama perempuan yang ajnabiyyah (bukan mahram).

Pelbagai lagi golongan yang tidak mengikut bahkan terkeluar dari aliran sebenar Islam Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

Semoga Allah menyelamatkan dan menetapkan iman sebenar di dalam hati kita.

PENUTUP

Ketahuilah bahawa illmu agama Islam lah menjadi asas kepada segala penyelesaian. Dalam keperitan umat Islam dan ulamanya  menghadapi tentangan dan ancaman yang datang dari agama luar umat Islam turut memikul tanggung-jawab menyelesaikan permasaalahan yang terbit dari dalam, maka ilmu agama lah merupakan satu-satunya langkah terawal yang perlu ada dalam diri setiap insan yang bergelar muslim dan ilmu tersebut adalah ilmu aqidah bertepatan dengan kenyataan Nabi kepada umat ini Nabi kita Nabi yang tercinta: telah bersabda: 

“ Tuntutlah ilmu, sesungguhnya ilmu diambil dengan belajar ,” dan Rasulullah turut bersabda: Janganlah kamu menuntut ilmu untuk menghina ulama Islam, janganlah kamu menuntut ilmu untuk mengutuk orang-orang jahil dan janganlah kamu menuntut ilmu bertujuan agar manusia memuji kamu, barangsiapa yang melakukan sedemikian maka dia dalam api neraka”.

Riwayat Ibnu Hibban.

 

Dengan ilmu dan amal serta mencegah dari kemungkaran juga beristiqomah dalam amalan ma’ruf kebaikan maka yakinlah bahawa kita telah hampir berada dalam kejayaan. Semoga kita dianugerahkan syurga oleh Allah ta’ala. Amin

Ya Robbal ‘alamin.

 

Disediakan dan disusun oleh hamba Allah yang mengharap keredhoaaNya:

 

Mohd Rasyiq Bin Mohd Alwi.

Tel: 012-2850578

Email: m_shiq@yahoo.com Alamat emel ini telah dilindungi dari spam bots, anda perlukan benarkan Javascript untuk melihatnya m_shiq@yahoo.com Alamat emel ini telah dilindungi dari spam bots, anda perlukan benarkan Javascript untuk melihatnya

Website:

–         www.ustaz-rasyiq.blogspot.com

–         www.abu-syafiq.blogspot.com

–         www.darulfatwa.org.au

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Kedudukan nabi di sisi Islam

Kedudukan nabi di sisi Islam

 

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

 

SESUNGGUHNYA Allah SWT telah memuliakan Islam dan menjadikan umatnya sebagai sebaik-baik umat. Nabinya adalah sebaik-baik nabi dan risalah dakwah yang disampaikan oleh baginda adalah sebaik-baik risalah.

Di antara ciri-ciri keistimewaan Islam adalah ia merupakan agama yang memelihara dan sentiasa sensitif terhadap perkara-perkara yang suci di sisi agama.

Barangkali pada kaca mata musuh Islam ia merupakan suatu ketaksuban terhadap sebuah pegangan atau anutan. Namun, di sisi Islam itu merupakan intipati keutuhan agama yang kekal diamalkan sejak lebih 1,400 tahun lalu.

Al-Quran merakamkan fakta sejarah umat-umat terdahulu yang begitu mudah menyelewengkan agama dan kitab yang diturunkan ke atas nabi-nabi mereka.

Kalam-kalam para paderi dan rahib mereka dicampuradukkan dengan wahyu hingga hilang ketulenan dan lenyap kecantikan agama yang mereka anuti.

Semua ini berlaku kerana masyarakat dahulu terutama kaum Yahudi tidak mengiktikad bahawa nabi dan rasul yang diutuskan kepada mereka adalah golongan maksum yang terpelihara daripada kesalahan dan dosa baik kecil mahupun besar.

Maka tidak hairan sekiranya mereka tanpa segan silu memfitnah Maryam a.s sebagai perempuan jalang dan anaknya Nabi Isa sebagai anak luar nikah.

Mereka mempersenda, memperlekeh dan merendah-rendahkan kedudukan nabi mereka sendiri. Lebih dahsyat lagi mereka mencaci, menghina, mendustai dan membunuh nabi-nabi yang diutuskan ke atas mereka.

Begitulah rosak dan binasanya akidah umat-umat terdahulu kerana mereka tidak mengakui kedudukan nabi-nabi mereka serta kitab yang diturunkan. Mereka juga tidak menganggap nabi dan wahyu sebagai suatu amanat suci.

Maka Allah SWT membinasakan kaum Yahudi dengan pelbagai azab seksaan kerana keingkaran mereka mengakui kedudukan Nabi di sisi agama.

Masyarakat Barat dan nabi

Meneliti kehidupan dan pegangan masyarakat barat, kita akan mendapati bahawa unsur-unsur ini masih kuat melekat dalam tradisi kehidupan mereka. Apatah lagi setelah mereka melakukan pemisahan antara agama dan kehidupan (sekularisme).

Masyarakat Barat mengakui mereka penganut Kristian dan pengikut Nabi Isa a.s yang dianggap sebagai tuhan. Pengakuan itu hanya di bibir semata-semata kerana apabila kita bertanya apakah itu Kristian, siapakah yang Jesus , apakah risalah yang dibawa olehnya dan siapakah yang menurunkan wahyu ke atasnya, mereka akan menggelengkan kepala.

Mungkin mereka mengakui beriman dan percaya dengan tuhan. Tetapi mereka sedikitpun tidak memahami erti iman dan percaya kepada tuhan itu. Keadaan itu sama dengan dakwaan kaum musyrikin yang dirakamkan di dalam al-Quran bermaksud: Apabila engkau bertanya kepada mereka siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi? Mereka menjawab: Allah. (al-Ankabut: 61)

Sedangkan kaum musyrikin tidak mengetahui siapakah Allah dan menyebut nama-Nya tanpa mengenali dan mengiktikadkan kewujudan-Nya. Jika mereka mengiktikadkan kewujudan Allah dan mengakui kekuasaan-Nya, nescaya mereka akan meninggalkan amalan penyembahan berhala.

Pemikiran masyarakat Barat ini diwarisi zaman berzaman semenjak ia dicetuskan oleh Yahudi Bani Israel.

Doktrin ini telah melahirkan ramai golongan yang tidak mempercayai kewujudan Allah serta kemaksuman para nabi dan rasul.

Ia turut meresap dalam pemikiran masyarakat Islam yang lemah asas dan pegangan akidahnya sehingga tidak lagi memandang dengan pandangan yang tinggi perkara-perkara suci di sisi Islam seperti Allah, rasul, kitab-kitab dan para malaikat.

Mengutamakan akal

Para orientalis bersama misi mereka sedaya upaya mengajak manusia menyanjung kehebatan akal dalam menyelesaikan semua perkara.

Ini termasuk permasalahan akidah, syariah dan perkara-perkara yang suci di sisi Islam. Semua ini turut dibahas dan diolah dengan kebijaksanaan akal.

Hasilnya lahirlah golongan manusia yang mengukur perkara-perkara bersangkut paut dengan akidah umat Islam berdasarkan kupasan akal.

Semua ini mendedahkan mereka kepada gejala memperlekehkan al-Quran dan mencalarkan keperibadian nabi, sahabat, ahli keluarga dan isteri-isteri baginda.

Larangan menghina nabi

Islam adalah agama yang sempurna. Hampir semua permasalahan yang berlaku di dunia ini ada jawapan dan penyelesaian daripada al-Quran dan hadis.

Memandangkan keimanan kepada nabi dan rasul adalah rukun iman, maka Islam memperuntukkan bab berkaitan hukum khusus bagi mereka yang menghina dan mencerca nabi.

Ini kerana menghina para nabi dan rasul menjurus kepada usaha menghancurkan Islam dari asas atau akar umbinya.

Apabila nabi dan rasul sewenang-wenangnya dihina tanpa ada sebarang hukuman yang tegas, maka kesinambungannya ialah manusia terjerumus ke dalam jurang menghina Islam, syariat dan hukum-hakamnya.

Firman Allah SWT yang maksud-Nya: Sesungguhnya orang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat dan menyediakan untuk mereka azab seksa hina. (al-Ahzab: 57)

Firman Allah SWT yang maksud-Nya: Tidakkah mereka mengetahui bahawa sesiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka Sesungguhnya adalah baginya neraka jahanam serta ia kekal di dalamnya? Balasan yang demikian adalah kehinaan yang dahsyat. (al-Taubah: 63)

Ayat ini menyatakan ancaman bagi sesiapa yang menentang Allah dan rasul. Menghina dan mencerca nabi adalah penentangan terhadap rasul kerana merendah-rendahkan keperibadian insan maksum yang diamanahkan menyampaikan risalah Ilahi.

Para salafussoleh mengambil pendirian yang tegas dalam permasalahan ini. Diriwayatkan oleh Ibnu Munzir di dalam kitab al Awsot bahawa dikatakan kepada Ibnu Umar r.a: “Sesungguhnya seorang lelaki telah mencaci Nabi SAW, maka Ibnu Umar berkata: Jikalau aku dengari, nescaya aku bunuh dia. Tidaklah kami mahu berbaik-baik dengan orang yang mencaci nabi.”

Diriwayatkan bahawa Gabenor Kufah pada zaman Khilafah Umar ibn Abdul Aziz r.a ingin menjatuhi hukuman bunuh kepada seorang yang menghina beliau (khalifah). Maka dia menulis surat kepada Umar ibn Abdul Aziz r.a meminta pendapat mengenai hukuman itu sama ada ia wajar dijalankan atau tidak.

Maka Khalifah Umar ibn Abdul Aziz r.a membalas suratnya di antara kandungan surat tersebut berbunyi: “Sesungguhnya tidak halal perbuatan membunuh seorang muslim yang mencaci orang lain melainkan bagi seorang lelaki yang mencaci Nabi SAW.”

Diriwayatkan oleh Abu Daud daripada al Sya’bi daripada Ali r.a berkata: “Sesungguhnya seorang wanita Yahudi mencaci Nabi SAW dan menghinanya, lalu seorang lelaki mencekik wanita itu sehingga mati. Maka Rasulullah SAW menghalalkan darah wanita itu.”

Hukum menghina nabi

l Al Qadhi Iyadh al Maliki menyatakan di dalam al Syifa: “Ijmak ulama menyatakan bahawa dihukum bunuh orang-orang Islam yang mengurangkan dan merendah-rendahkan kedudukan Nabi SAW dan mencacinya”.

l Abu Bakar ibn Munzir al Syafii berkata: “Telah bersepakat keseluruhan ahli ilmu bahawa sesiapa yang menghina Nabi SAW akan dibunuh. Di antara mereka menyatakan sedemikian ialah Malik ibn Anas, Imam Laith, Imam Ahmad dan Ishaq; dan ini adalah pendapat mazhab Syafii”.

l Berkata Muhammad Ibnu Suhnun: “Ulama telah berijmak bahawa orang yang mencaci Nabi SAW dan mengurangkan kedudukan baginda SAW adalah kafir, akan dibalas dengan azab Allah dan hukumannya di sisi Islam ialah bunuh.”

l Berkata Abu Sulaiman al Khattabi: “Tidak saya ketahui seorang pun dari kaum muslimin yang berselisih pendapat tentang hukum wajib dibunuh orang yang mencaci Nabi SAW apabila dia adalah seorang muslim”.

l Ishaq ibn Rohuyah berkata: “Kaum muslimin telah berijmak bahawa sesiapa yang mencaci Allah atau mencaci rasul-Nya, atau menolak sesuatu daripada ayat-ayat Allah, atau membunuh seorang dari Nabi Allah adalah kafir dengan perbuatannya itu sekalipun dia memperakui setiap ayat yang diturunkan oleh Allah.”

Nabi dan masyarakat Melayu Islam

Betapa besarnya kurniaan dan rahmat Allah ke atas umat Melayu di nusantara ini tatkala mereka dipilih untuk menyahut risalah Penghulu Segala Rasul SAW.

Malaysia amat bernasib baik kerana menikmati keamanan, kemakmuran dan masyarakat yang bersatu padu. Allah SWT memelihara umat Melayu Islam ini kerana mereka sentiasa meletakkan nabi SAW pada kedudukan yang tinggi dan martabat yang selayaknya sebagai seorang kekasih Allah.

Nabi SAW dipuji, disebut-sebut, diketengahkan keistimewaannya dan diulang-ulang sirah kehidupannya saban waktu.

Inilah sebenarnya rahsia keamanan negara kita di mana dalam pada kita mengamalkan perintah Allah dan rasul, kita tidak meminggirkan perasaan kasih dan cinta kepada Baginda SAW kerana ia adalah sebesar-besar tanda keimanan kepada Allah SWT.

Umat Islam di Malaysia akan bersama dalam satu usaha mempertahankan nabi SAW, memelihara maruah dan kedudukannya dari ditohmah oleh musuh-musuh agama.

Moga-moga golongan inilah yang sentiasa kekal pada setiap zaman berdasarkan sabda Nabi SAW yang bermaksud: “Sentiasalah ada sekelompok manusia dari kalangan umatku yang zahir di atas jalan kebenaran sehingga datangnya perintah Allah (hari kiamat).”

Sumber : utusan.

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Sekitar majlis muwasolah antara ulama 2010

Posted by almawlid at 2:54 AM 0 comments
Tujuan:
  1. Menguatkan ikatan ta’aruf dan komunikasi antara ulama. Saling membantu dalam menghuraikan persoalan intipati agama yang dapat memberikan kemaslahatan pada masyarakat dan menjaga kepentingan umum yang mendasar bagi umat Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam.
  2. Meningkatkan taraf kemampuan ilmiah di halaqah, madrasah, pondok, dan pusat pendidikan Islam dengan merangkumi pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), pendidikan akhlak serta kecekapan dan kebijaksanaan dalam dakwah fisabilillah.
  3. Memberikan penjelasan yang benar atas isu-isu atau perubahan semasa dan terkini agar pandangan para ulama atas masalah tersebut menjadi lebih mendalam dan lebih bersesuaian dengan keadaan dan kesatuan umat.
Saranan:
  1. Saling berkunjung
  2. Saling berdiskusi
  3. Menyampaikan apa yang difahami para ulama kepada yang lain dengan kaitannya dengan isu yang penting, atau menyampaikan hasil sebuah penelitian, kemajuan, temuan atau ciptaan baru yang bermanfaat atau penerbitan dan produk lainnya.

Sumber : Muwasolah

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori