Posted by: Habib Ahmad | 23 Mac 2010

Kelebihan Al-Quran

Kelebihan Al-Quran

Posted on Mac 22, 2010 by sulaiman

Setiap Huruf Diberi 10 Pahala

Abdullah bin Mas’ud R.A meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda,“Sesiapa yang membaca satu huruf daripada kitab ALLAH TAALA maka untuknya diberi satu ‘hasanah’ (kebaikan) sebagai ganjaran bagi huruf itu dan satu hasanah adalah sama dengan sepuluh pahala. Aku tidak berkata (’Alif, lam, mim) sebagai satu huruf tetapi (alif) adalah satu huruf, (lam) adalah satu huruf dan (mim) adalah satu huruf.”

Sama sahaja pahala orang yang membaca itu samada dia faham makna atau tidak, cuma orang yang faham makna akan lebih tersentuh hatinya dan lebih merasai keinsafan.

Tengok Saja Pun Dapat Pahala

Tengok (melihat atau memandang) ayat-ayat Quran yang mulia.  Apalagi kalau dibaca dan diamalkan dalam kehidupan.

Bacalah Al-Quran

Jadikan amalan membaca quran sebagai satu rutin harian samada 1 helai, 1 muka atau sekurang-kurangnya 3 ayat sehari. Membacanya dengan mulut dan memandang al-Quran dengan mata lebih banyak markahnya dari orang yang sekadar mendengarnya sahaja.

Ajarlah Anak-Anak Al-Quran

Daripada Usman bin Affan r.a., Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda; “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang belajar Al-quran dan mengajarkannya kepada orang lain”. (Riwayat Bukhari ).

Sekurang-kurangnya ajarlah asas seperti huruf-huruf al-Quran supaya anak-anak mengenalnya daripada ibubapa mereka sendiri. Tambahan pula, ia menjadi ilmu yang mengalir pahalanya apabila anak itu menjadi ibubapa dan mengajarkannya kepada anak-anak mereka pula.

Syafaat

Quran adalah pemberi syafaat yang paling besar kerana ia adalah kalam Allah. Syafaatnya lebih tinggi dari syafaat Nabi Muhammad s.a.w. kerana ia adalah Kalam Allah sendiri. Ia umpama ahli kabinet yang memberi sokongan kepada Perdana Menteri. Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya: “Bacalah al- Quran kerana ia akan datang pada Hari Akhirat kelak sebagai pemberi syafaat kepada tuannya.”

Dalam hadith yang lain pula “Pada hari Kiamat nanti, di hadapan Allah swt , bukan Nabi,bukan malaikat dan sebagainya“.tidak akan ada syafaat yang mempunyai taraf yang lebih tinggi daripada Al-Quran.

Para Hafiz iaitu orang yang menghafal al-quran dan yang beramal dengan ilmunya boleh memberi syafaat kepada 10 orang ahli keluarganya. Disebut dalam hadith daripada Anas r.a. :

“Sesiapa yang membaca al-Quran dan menghafalnya, dia menghalalkan apa yang dihalalkan di dalam al-Quran dan mengharamkan apa yang diharamkan di dalam al-Quran, Allah akan memasukkan ke dalam syurga dan dia akan dapat memberi syafaat 10 orang ahli keluarganya yang semuanya adalah ahli neraka.

Posted by: Habib Ahmad | 23 Mac 2010

PERINGATAN MAULID NABI SAW

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERINGATAN MAULID NABI SAW

Ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa

kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya

akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).

Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yang membuat mereka gembira, apakah

keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan

pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan

kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia.

Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.

Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya



 

 

Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari

kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)



 

 

Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya,

dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)



 

 

Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits

no.4177)



 

 

Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantunya

Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia

(ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas

kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw

hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur

juz 6 hal 583)



 

 

Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)



 

 

Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat

melahirkan Nabi saw melihat cahaya yang terang benderang hingga pandangannya

menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)



 

 

Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14

buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yang

1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini

muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran

Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat

salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.

Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw

Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu

adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162).

PERINGATAN

 

 

 

MAULID NABI SAW

http://www.majelisrasulullah.org

Kenalilah Akidahmu

 

 

 

15

dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw

asal dengan puasa.

Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan

beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw.

Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh

boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi

beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya.

Contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat

umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah..

bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yang

berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1

januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yang perhatian

pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dengan hari kelahirannya maka pastilah ia

tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya, dan Nabi saw tak

memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat

ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yang lebih luas dari sekedar

pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1

januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yang berpendapat bahwa

boleh merayakan maulid hanya dengan puasa saja maka tentunya dari dangkalnya

pemahaman terhadap ilmu bahasa.

Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw

menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai

tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu. Maka

jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yang perhatian pada hari kelahiran beliau

saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.

Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw

Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka

Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka

Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi

saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang,

dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan

dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala

shahihain hadits no.5417)

Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas kelahiran

Nabi saw

Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan

Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di

neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku

Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits

no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul

PERINGATAN

 

 

 

MAULID NABI SAW

http://www.majelisrasulullah.org

Kenalilah Akidahmu

 

 

 

16

baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh,

namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut

kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira

dengan kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.

Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun

mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi

orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas

kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yang meriwayatkan hal itu tentunya

menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam

dan mereka tak mengingkarinya.

Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid

Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yang lalu ditegur oleh Umar

ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yang

lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu

Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dengan

doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata :

“betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram,

sebagaimana beberapa hadits shahih yang menjelaskan larangan syair di masjid,

namun jelaslah bahwa yang dilarang adalah syair syair yang membawa pada Ghaflah,

pada keduniawian, namun syair syair yang memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu

diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw

sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan

bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia

berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058,

sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat

yang mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci

hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz

8 hal 337).

Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid

1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :

Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw

datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10

Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari

ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa

sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak

atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah

yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa

didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca

Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman

Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG

PERINGATAN

 

 

 

MAULID NABI SAW

http://www.majelisrasulullah.org

Kenalilah Akidahmu

 

 

 

17

ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al

Imran 164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :

Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah

untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832

dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah

diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau

saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah

beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada

Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan

membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan

tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan

saudara saudara, menjamu dengan makanan makanan dan yang serupa itu untuk

mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang

sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii

‘amalilmaulid”.

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :

Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang

diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan

kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw

dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan

kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam

kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :

Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa

keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam

senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku

atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih

Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka

mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana

dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka

demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia

akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam

kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :

Serupa dengan ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil

hadits Abu Lahab

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah

Berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan

setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan

bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan

pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.

PERINGATAN

 

 

 

MAULID NABI SAW

http://www.majelisrasulullah.org

Kenalilah Akidahmu

 

 

 

18

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah

Dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah

adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah

Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang

pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita

gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya

serta merayakannya”.

9

 

 

.

Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah

Dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami

berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yang menjadikan hari

kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang

terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi

Dengan karangan maulidnya yang bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri

Dengan maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir

Yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : ”maulid ibn katsir”

13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy

Dengan maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy

Telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al

lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy

Dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi

Dengan maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy

yang terkenal dengan ibn diba’

Dengan maulidnya addiba’i

18. Imam ibn hajar al haitsami

Dengan maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

19. Imam Ibrahim Baajuri

Mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn

hajar

PERINGATAN

 

 

 

MAULID NABI SAW

http://www.majelisrasulullah.org

Kenalilah Akidahmu

 

 

 

19

20. Al Allamah Ali Al Qari’

Dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji

Dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani

Dengan maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy

Dengan maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

25. Imam Ibrahim Assyaibaniy

Dengan maulid al maulid mustofa adnaani

26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy

Dengan maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

27. Syihabuddin Al Halwani

Dengan maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

28

 

 

.

Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati

Dengan maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

29. Asyeikh Ali Attanthowiy

Dengan maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

30. As syeikh Muhammad Al maghribi

Dengan maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yang menentang dan melarang hal ini,

mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yang menentang maulid

sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya

menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yang jelas jelas

meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.

Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid

Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari menyambut kedatangan Islam

dan Syariah Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa

risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yang

dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin

Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk

tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian

pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

PERINGATAN

 

 

 

MAULID NABI SAW

http://www.majelisrasulullah.org

Kenalilah Akidahmu

 

 

 

20

Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yang

dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk

majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk

kedatangan Imam yang adil dan yang semacamnya merupakan hal yang baik, dan

berkata Imam Bukhari bahwa yang dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yang duduk,

dan Imam Nawawi yang berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa,

sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang,

namun adapula pendapat lain yang melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk

Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal

93)

Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca

maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul

saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw

hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah

masalah ghaib yang tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas

adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yang Rasul saw pernah

melarang agar sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw.

Jauh berbeda bila kita yang berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak

terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk semangat kita

menyambut risalah Nabi saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan

kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita

shalat pun kita tak melihat beliau saw.

Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam

Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan

Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yang padanya dibacakan puji

pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk

Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yang hadir bersamanya, dan didapatkan

kesejukan yang luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan, dan

berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah

menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yang sunnah,

(berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yang terncantum pada Bab Bid’ah) yaitu

bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan

mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah,

Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah

mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh

dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yang mengadakannya. (Sirah Al

Halabiyah Juz 1 hal 137)

Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk

Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yang

diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul

saw yang sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan

mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan

risalah pada ummat yang dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan

PERINGATAN

 

 

 

MAULID NABI SAW

http://www.majelisrasulullah.org

Kenalilah Akidahmu

 

 

 

21

ada yang mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara

membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap

muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini

merupakan hal yang mustahab (yang dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa

“Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yang menjadi penyebab

kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.

Contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat

hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita

akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus

membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu

dipakai untuk melaksanakan shalat yang wajib .

Contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju

hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju

kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh

siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena

diperlukan untuk menaruh siwak yang hukumnya sunnah.

Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan

dakwah merupakan hal yang wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan

ummat sudah tak perduli dengan Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang

Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah

dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena

menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta

silaturahmi.

Sebagaimana penulisan Alqur’an yang merupakan hal yang tak perlu dizaman nabi

saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai

banyak yang membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah

banyaknya para sahabat yang wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat,

walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.

Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat

radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang

muslimin yang awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yang

masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati

dan kejernihan, amiin.

Walillahittaufiq

Posted by: Habib Ahmad | 23 Mac 2010

Magnet cinta Allah

Magnet cinta Allah

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA NEGERI SEMBILAN

ISLAM adalah agama yang hakiki dan realiti, bukannya agama khayalan atau melawan arus fitrah insan. Oleh yang demikian, Islam tidak menafikan terdapat di sana perkara-perkara yang dikasihi, disukai dan dicintai oleh manusia kerana ia sememangnya merupakan kecenderungan dan fitrah setiap insan.

Maka seorang manusia itu akan mengasihi keluarga, harta dan tempat kediamannya. Namun, tidak sepatutnya terdapat sesuatu di dunia dan akhirat lebih dikasihi daripada kecintaan terhadap Allah dan Rasul. Jika berlaku sedemikian, maka dia adalah orang yang kurang imannya dan wajib dia berusaha untuk menyempurnakan keimanannya. Allah SWT telah berfirman yang bermaksud: Orang-orang yang beriman itu sangat kuat kecintaannya kepada Allah. (al- Baqarah: 165)

Dunia hari ini menyaksikan umat Islam tidak lagi menjulang cinta kepada Allah sebagai cinta yang utama, tidak lagi mahu bermujahadah mengejar cinta Khaliqnya. Sebaliknya, sentiasa bersemangat dan memperjuangkan cinta kepada dunia dan hamba-hamba dunia.

Saban waktu sang kekasih berusaha mengenali hati kekasihnya tetapi tidak pernah sesaat sang hamba berusaha mengenali Khaliq dan kekasihnya yang sepatutnya menjadi cinta awal dan akhirnya.

Menyebut cinta kepada Allah atau menyebut nama Allah terasa tawar dan hambar, tetapi menyebut cinta kepada manusia terasa sungguh bahagia dan menyeronokkan. Kenapa tragedi ini boleh berlaku, sedangkan Allah itu bersifat Maha Sempurna, manakala manusia bersifat dengan segala kekurangan.

Mencintai Allah tidak akan pernah ada erti kecewa atau dikhianati. Allah memiliki kemuncak segala kecantikan, keagungan dan kebaikan. Cinta kepada-Nya pasti dibalas dengan pelbagai curahan nikmat dan rahsia yang seni.

Pendek kata, akal yang singkat turut mengatakan, Allah paling layak dicintai kerana Dia memiliki segala ciri-ciri yang diingini oleh seorang kekasih.

Perkara paling pantas untuk menarik seseorang mencintai Allah ialah dengan merenung kemuliaan dan kemurahan Allah yang sentiasa mencurahkan segala nikmat-Nya pada setiap masa dan ketika, pada setiap hembusan nafas dan degupan jantung.

Allah berfirman sebagai mengingatkan hamba-hambaNya dengan nikmat-nikmat ini: Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (yang dilimpahkanNya kepada kamu), tiadalah kamu akan dapat menghitungnya satu persatu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (al-Nahl: 18).

Hanya dengan merenung sejenak, kita akan mendapati bahawa Allah adalah paling layak bagi setiap cinta dan pujian. Dia lebih utama untuk bertakhta di jiwa setiap insan daripada kecintaan kepada kedua ibu bapa, anak-anak dan diri sendiri yang berada di antara dua rongga.

Saban hari, kita memerlukan Allah untuk hidup dan menikmati segala kejadian-Nya; cahaya yang terang, nikmat siang dan malam dan sebagainya. Namun, kenapa masih tidak terkesan di hati kita menyaksikan limpahan nikmat dan ihsan-Nya, kekuasaan-Nya yang menghairankan orang-orang yang melihatnya, keagungan-Nya yang tidak mampu diungkapkan oleh orang-orang yang cuba mengungkapkannya, dan segala sifat keindahan dan kesempurnaan-Nya?

Punca bagi segala permasalahan ini ialah butanya mata hati, ceteknya tauhid dan pengetahuan manusia tentang Allah. Tidak mungkin seseorang itu mengasihi sesuatu jika dia tidak mengenalinya. Cinta hanya akan datang setelah didahului dengan pengenalan.

Pada hari ini, manusia lebih mengenali dunia daripada Pencipta dunia. Oleh kerana itu, hati mereka gersang dari cinta ilahi, cinta yang hakiki. Kejadian Tuhan terlalu dicintai tetapi Pemiliknya yang mutlak dilupai sehingga segala suruhan dan larangan-Nya tidak dipeduli.

Agama Tuhan hendak ditegakkan tetapi Tuhan Pemilik agama itu tidak dipasak di dalam hati. Tauhid tidak dihayati, maka bagaimana tuhan hendak dikenali, apatah lagi dicintai.

Kecintaan kepada Allah adalah suatu kedudukan yang istimewa. Allah mengangkat kedudukan hamba yang mencintai-Nya kepada setinggi-tinggi darjat. Bagi manusia yang mengutamakan kecintaan kepada selain Allah, Allah meletakkannya di kedudukan yang hina; menjadi hamba kepada dunia sepanjang hayatnya.

Tanda cinta kepada Allah

Ramai manusia yang mengaku mencintai Allah tetapi kebanyakan kata-kata mereka tidak melepasi kerongkong-kerongkong mereka. Cinta itu ada tandanya untuk dikenal pasti yang manakah cinta palsu dan yang manakah cinta yang hakiki.

Ketahuilah cinta itu seperti magnet yang akan menarik kekasih kepada kekasihnya. Orang yang mencintai seseorang akan suka bertemu dengan kekasihnya. Orang yang kasihkan Allah tidak merasa berat untuk bermusafir dari tanah airnya untuk tinggal bersama Kekasihnya menikmati nikmat pertemuan denganNya.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang suka bertemu Allah, maka Allah suka bertemu dengannya.” Sebahagian salaf berkata: “Tidak ada suatu perkara yang lebih disukai Allah pada seseorang hamba selepas hamba tersebut suka untuk bertemu dengan-Nya daripada banyak sujud kepada-Nya, maka dia mendahulukan kesukaannya bertemu Allah dengan memperbanyakkan sujud kepada-Nya.”

Sufyan al Thauri dan Bisyr al Hafi berkata: “Tidak membenci kematian melainkan orang yang ragu dengan tuhannya kerana kekasih itu pada setiap masa dan keadaan tidak membenci untuk bertemu dengan kekasihnya.

Allah SWT berfirman: Maka cita-citakanlah mati (supaya kamu dimatikan sekarang juga), jika betul kamu orang-orang yang benar. (al-Baqarah: 94)

Seseorang itu tidak suka kepada kematian kadang kala disebabkan kecintaannya kepada dunia, sedih untuk berpisah dari keluarga, harta dan anak-anaknya. Ini menafikan kesempurnaan kasihnya kepada Allah kerana kecintaan yang sempurna akan menenggelamkan seluruh hatinya.

Namun, ada kalanya seseorang itu tidak suka kepada kematian ketika berada pada permulaan makam Mahabbatullah. Dia bukan membenci kematian tetapi tidak mahu saat itu dipercepatkan sebelum dia benar-benar bersedia untuk bertemu dengan Kekasihnya. Maka dia akan berusaha keras bagi menyiapkan segala kelengkapan dan bekalan sebelum menjelangnya saat tersebut. Keadaan ini tidak menunjukkan kekurangan kecintaannya.

Orang yang mencintai Allah sentiasa mengutamakan apa yang disukai Allah daripada kesukaannya zahir dan batin. Maka dia akan sentiasa merindui amal yang akan mendekatkannya kepada Kekasihnya dan menjauhkan diri daripada mengikut nafsunya.

Orang yang mengikut nafsunya adalah orang yang menjadikan nafsu sebagai tawanan dan kekasihnya, sedangkan orang yang mencintai Allah meninggalkan kehendak diri dan nafsunya kerana kehendak Kekasihnya.

Bahkan, apabila kecintaan kepada Allah telah dominan dalam diri seseorang, dia tidak akan lagi merasa seronok dengan selain Kekasihnya. Sebagaimana diceritakan, bahawa setelah Zulaikha beriman dan menikahi Nabi Yusuf a.s, maka dia sering bersendirian dan bersunyi-sunyian beribadat serta tidak begitu tertarik dengan Yusuf a.s sebagaimana sebelumnya.

Apabila Yusuf AS bertanya, maka dia berkata: “Wahai Yusuf! Aku mencintai kamu sebelum aku mengenali-Nya. Tetapi setelah aku mengenali-Nya, tidak ada lagi kecintaan kepada selainNya, dan aku tidak mahu sebarang gantian”. (Ihya’ Ulumiddin, Imam al Ghazali Jilid 5 H: 225)

Kecintaan kepada Allah merupakan sebab Allah mencintainya. Apabila Allah telah mengasihinya, maka Allah akan melindunginya dan membantunya menghadapi musuh-musuhnya. Musuh manusia itu ialah nafsunya sendiri.

Maka Allah tidak akan mengecewakannya dan menyerahkannya kepada nafsu dan syahwatnya. Oleh yang demikian Allah berfirman: Dan Allah lebih mengetahui berkenaan musuh-musuh kamu, (oleh itu awasilah angkara musuh kamu itu). Dan cukuplah Allah sebagai pengawal yang melindungi, dan cukuplah Allah sebagai Penolong (yang menyelamatkan kamu dari angkara mereka). (al-Nisa': 45)

Orang yang mencintai Allah, lidahnya tidak pernah terlepas dari menyebut nama Kekasih-Nya dan Allah tidak pernah hilang dari hatinya. Tanda cinta kepada Allah, dia suka menyebut-Nya, suka membaca al Quran yang merupakan kalam-Nya, suka kepada Rasulullah SAW dan suka kepada apa yang dinisbahkan kepada-Nya.

Orang yang mencintai Allah kegembiraan dan keseronokannya bermunajat kepada Allah dan membaca Kitab-Nya. Dia melazimi solat tahajjud dan bersungguh-sungguh beribadah pada waktu malam yang sunyi dan tenang. Sesiapa yang merasakan tidur dan berbual-bual lebih lazat daripada bermunajat dengan Allah, bagaimanakah hendak dikatakan kecintaannya itu benar? Orang yang mencintai Allah tidak merasa tenang melainkan dengan Kekasihnya. Firman Allah: (Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah. Ketahuilah, dengan zikrullah itu, tenang tenteramlah hati manusia. (al Ra’d: 28)

Orang yang mencintai Allah tidak merasa sedih jika kehilangan sesuatu dari dunia ini tetapi amat sedih jika hatinya tidak lagi memiliki cinta kepada Allah. Besar kesalahan baginya jika ada saat-saat yang berlalu tidak diisi dengan zikrullah dan ketaatan kepadaNya, apatah lagi jika melakukan larangan Allah.

Orang yang mencintai Allah juga, merasa nikmat dan tidak berasa berat melakukan ketaatan. Dia tidak merasa ketaatan yang dilakukan semata-mata kerana tunduk dengan perintah-Nya tetapi dilakukan kerana kecintaan terhadap Kekasihnya. Imam al Junaid r.a berkata: “Tanda orang yang cintakan Allah, sentiasa bersemangat dan cergas melakukan amal ibadah dan hatinya tidak pernah lalai dan letih daripada mengingatiNya.”

Dia tidak pernah merasa sakit menghadapi cercaan orang-orang yang mencercanya kerana melaksanakan perintah Allah. Semua yang datang dari Kekasihnya sama ada suka atau duka diterima dengan hati yang gembira dan reda.

Orang yang telah mengenal dan mengecapi cinta Allah tidak akan tertarik dengan cinta yang lain. Itulah magnet cinta Allah. Alangkah ruginya orang yang hatinya tidak ingin mengenal cinta Allah, cinta yang hakiki dan sejati.

Posted by: Habib Ahmad | 23 Mac 2010

Habib Umar prihatin thd ulama indonesia

Habib Umar prihatin thd ulama indonesia

Ditulis oleh Arul – 2007/02/14 11:47

_____________________________________

Kediri, NU Online

Para habib dari Hadramaut (Habaib Al Hadramy), Yaman, menyatakan keprihatinannya terhadap sikap para ulama di

Indonesia yang cenderung berorientasi politis ketimbang sebagai pengayom umat.

 

“Kami prihatin dengan sikap ulama sekarang ini. Seharusnya mereka berada di tengah-tengah, bukan berpihak pada

kepentingan kelompok tertentu,” kata sesepuh Habaib Hadramy, Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar, usai

bertemu dengan ratusan ulama di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu sore.

 

Ia mengingatkan, para ulama agar kembali berperan sebagai pemberi nasihat dan menyebarkan rasa kasih sayang

kepada semua golongan umat, bukan mencerai-beraikannya.

 

“Boleh saja ulama melakukan siyasah (berpolitik), tapi jangan berorientasi pada kekuasaan. Ulama harus mampu

menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat,” ujar pengasuh Al Ma?had Darul Musthofa, Tarim, Hadramaut,

Yaman itu memberikan nasihat.

 

Demikian pula dia juga merasa prihatin dengan sikap beberapa tokoh Islam di Indonesia yang radikal dan ekstrim dalam

menyampaikan syiar Islam.

 

Kendati sebagian dari mereka ada yang pernah menimba ilmu di Hadramaut, bahkan juga keturunan dari Habaib

Hadramy, namun masih belum bisa menegakkan konsep Islam di Indonesia secara damai.

 

“Sebenarnya dari negara manapun ajaran Islam itu tetap sama. Kalau hendak berdakwah, sampaikan dengan cara yang

damai dan penuh persaudaraan. Kami sangat menyayangkan ada beberapa tokoh Islam di Indonesia yang memiliki

keturunan Hadramaut tetapi tidak pernah memahami cara-cara berdakwah seperti kami,” ujarnya.

 

Menurut dia, para habaib di Hadramaut selalu menekankan untuk mentauladani sikap Rasulullah SAW dan pengikutpengikutnya

dalam menegakkan syariat Islam.

 

Ia menegaskan, ajaran Islam tidak kenal kekerasan dan intimidasi dalam menyampaikan persoalan “haq” dan “bathil”,

halal dan haram, serta nasihat-nasihat kepada umat.

 

Demikian halnya dengan persoalan yang terjadi di Palestina, tidak perlu disikapi secara reaksioner, tapi tempuhlah

dengan cara-cara damai sesuai dengan syariat Islam.

 

“Sejak dari dulu Al Quran telah menyatakan, seperti itulah sikap Israel, sehingga kita tidak perlu kaget meskipun disana

ada rencana penggalian situs di sekitar Masjid Al Aqsha,” ujarnya.

 

Kalaupun ternyata yang dilakukan Israel merugikan atau bahkan merusak simbol-simbol Islam, Habib Umar mengajak

umat Islam di seluruh dunia bersatu-padu memberikan peringatan kepada mereka sesuai dengan ajaran Islam.

 

Dalam kesempatan itu, Habib Umar menjelaskan kedatangannya bersama 11 habib dari Hadramaut untuk

bersilaturrahim sambil menyampaikan pokok-pokok ajaran Islam secara damai sesuai perintah Allah dan tauladan

Rasulullah SAW.

 

Hadramaut dikenal luas oleh masyarakat karena hampir seluruh nenek moyang warga keturunan Arab di Indonesia

berasal dari sebuah daerah di Provinsi Yaman Bagian Selatan itu.

 

Beberapa ulama, terutama dari kalangan habaib di Indonesia, pernah belajar ilmu agama Islam di Hadramaut selain di

Kairo, Mesir. Oleh sebab itu tidaklah heran jika kedatangan Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar dan rombongan

di Kediri, disambut antusias ratusan ulama khususnya dari kalangan pondok pesantren salafiyah.

 

Selain para pengasuh Ponpes Lirboyo, diantaranya KH Idris Marzuqi dan KH Anwar Manshur, tampak pula beberapa

ulama khosh NU, seperti KH Zainuddin Djazuli, KH Nurul Huda Djazuli, KH Abdul Aziz Manzhur, KH Muhammad

Subadar, dan KH Aziz Masyhuri.

 

Setelah berpidato dalam Bahasa Arab di depan para ulama di Masjid Al Hasan, Lirboyo, Habib Umar juga melakukan

tabligh akbar di depan ribuan santri Ponpes Lirboyo di Aula Al Muktamar.

 

Rombongan dari Hadramaut itu juga disuguhi peragaan pencaksilat Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasni) yang

didirikan salah seorang pengasuh Ponpes Lirboyo Almarhum KH Makshum Jauhari pada saat Gestapu tahun 1960-an.

(ant/mad)

Posted by: Habib Ahmad | 22 Mac 2010

Al-Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih

Al-Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih
Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih @ BilFagih al-’Alawi adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di Kota Malang, Jawa Timur. Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pesantren ini telah melahirkan ramai ulama yang kemudiannya bertebaran di segenap pelusuk Nusantara. Sebahagiannya telah menurut jejak langkah guru mereka dengan membuka pesantren-pesantren demi menyiarkan dakwah dan ilmu, antaranya ialah Habib Ahmad al-Habsyi (PP ar-Riyadh, Palembang), Habib Muhammad Ba’Abud (PP Darun Nasyi-in, Lawang), Kiyai Haji ‘Alawi Muhammad (PP at-Taroqy, Sampang, Madura) dan ramai lagi.

Posted by: Habib Ahmad | 22 Mac 2010

Habib Muhammad bin ‘Abdullah bin Syeikh Alaydrus

Habib Muhammad bin ‘Abdullah bin Syeikh Alaydrus
Sedekah

Salah satu rahasia yang telah dicoba oleh kaum arifin untuk menghadapi datangnya bencana, berbagai peristiwa menakutkan dan penyakit adalah dengan memperbanyak sedekah kepada kaum dhu’afaa`.

Begitu pula ketika mereka jatuh ke tangan orang-orang yang zalim. Namun sebelum mengeluarkan sedekah, mereka mempertimbangkannya lebih dahulu. Setiap sedekah yang mereka keluarkan disesuaikan dengan besar kecilnya bencana yang terjadi.

Amal yang mereka kerjakan untuk persoalan ringan tidak sama dengan amal yang mereka kerjakan untuk mengatasi persoalan yang berat. Untuk suatu tujuan yang besar, mereka mencurahkan sesuatu yang besar pula. Seseorang yang mengetahui rahasia-rahasia ini berarti telah memperoleh salah satu dari ilmu-ilmu kaum khusus.

(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

Posted by: Habib Ahmad | 22 Mac 2010

Pendapat Habib Munzir Al Musawwa tentang rokok

Pendapat Habib Munzir Al Musawwa tentang rokokPublished on March 17, 2010 in Artikel Islam and Fiqih. 1 Comment

mengenai rokok memang belum pernah ada di zaman nabi saw, oleh sbb itu belum ada hukum yg Qath’iy (pasti) dalam haram atau halalnya, maka ulama ber Istinbath melihat dari faidah dan efeknya, mudharrat dan manfaatnya, maka termuncullah bahwa rokok ini ada manfaatnya, memberikan ketenangan pada syaraf otak dan membantu mudahnya berkonsentrasi, maka sebagian orang menjadikannya sejajar dg kopi, namun adapula pendapat yg menjelaskan bahwa bau rokok itu disejajarkan dengan bau bau yg busuk dan mengganggu orang sekitar, maka terputuslah bahwa hukumnya makruh.

namun kini setelah kita sadari bahwa rokok ini membawa penyakit dan sangat besar mudharratnya dibanding faidahnya, maka kini rokok lebih dekat kepada haram, sebagaimana firman Allah : “MEREKA BERTANYA (padamu wahai Muhammad), KATAKANLAH BAHWA YG DIHALALKAN ATAS MEREKA ADALAH YG BAIK BAIK” (QS Al Maidah-4)., maka Allah swt sdh menjelaskan pd kita bahwa yg dihalalkannya adalah yg biak, maka yg buruklah yg diharamkan oleh Allah, maka segala hal yg membawa Mudharrat bagi kita tentunya haram.

namun sebagian ulama di indonesia masih mempertahankan kemakruhan rokok dan tidak haram, dg alasan bahwa mereka yg telah ketergantungan maka akan mengalami goncangan dalam stabilitas akalnya, dan mengganggu aktifitas mereka hingga berhari hari atu banhkan berbulan bulan, maka memaksakan hal itu tentunya akan membawa mudharrat pula atas diri mereka.

namun secara ringkas, sebaiknya kita meninggalkan kebiasaan merokok ini, karena banyak mengganggu orang dg baunya dan merusak diri sendiri.

Sumber Habib Munzir

Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur 2010: Promosi Buku Karya Ustaz Raja Mukhlis


Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur 2010 telah pun bermula yakni pada 19 Mac (Jum’at) dan akan berlangsung sehingga 28 Mac 2010 (Ahad). Seperti biasalah ramailah peminat buku, ulat-ulat buku akan berpesta menghabiskan masa disana untuk membelek-belek buku yang berkenan dihati ……. ada yang sekadar belek, ada yang borong sakan …….. :)
Jomlah pakat pi beramai-ramai …. tang sana, pakat boleh beli buku-buku yang bermutu dan harga diskaun yang istimewa. Jimat la sikit. Namun kena berpada-padalah tatkala berbelanja. Jangan rambang mata sangat dengan pelbagai buku yang ada. al-Fagir pun dulu ni teruja juga dengan pesta buku ni, habih masa berjam-jam belek buku, kemudian borong sakanlah mana yang berkenan tu, bila bawak balik rumah baca pun gitu-gitu saja …. Namun nafsu memborong kitab/buku tu mula kendoq setelah membaca pesanan al-Imam al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad di dalam kitab Tatsbit al-Fuad bi Dhikr Kalam Majalis al-Quthub al-Imam ‘Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad (kitab ini adalah himpunan kalam Imam Abdullah oleh murid beliau, Syeikh Ahmad bin ‘Abdul Karim al-Hasawi asy-Syajjar). Kata al-Imam al-Habib ‘Abdullah al-Haddad menegur keinginan Syaikh ‘Abdul Karim ketika beliau ingin memiliki kitab tertentu: Tidak ada gunanya engkau mengumpulkan kitab-kitab. Curahkanlah perhatianmu kepada ilmu dan amal, tidak usah mengumpulkan kitab-kitab … fahamilah, bahawa kata-kata yang sedikit tidak memerlukan perbicaraan yang panjang lebar. Apa guna mempunyai timbunan kitab kalau hanya seperti keldai yang membawa muatan kitab-kitab tebal? Biarlah engkau mempunyai satu tekad sahaja ……

 

Tambah beliau رضي الله عنه lagi: Yang dituntut dari ilmu adalah adalah pengamalannya. Jika tidak demikian, apa guna tompokan (timbunan) kitab? Berapa banyak orang yang mempunyai tompokan (timbunan) kitab, tetapi tidak mendatangkan manfaat apapun baginya ……..

 

Allahu Allah ….. :'( . Walaubagaimanapun, bukan kata tak boleh beli langsung tapi kalau nak beli buku, biaqlah yang berguna, yang bermanfaat pada kita. Dan lepaih beli tu bacalah, ngaji lah dan amalkanlah isikandungnya. Allahu Allah …. peringatan buat al-Fagir sendiri niiii …… :'( Sempena pesta buku ni, insyaAllah, al-Fagir nak tolong mempromosikan beberapa buah buku yang ditulis oleh shahabat, juga guru kepada al-Fagir iaitu al-Fadhil Ustaz Raja Ahmad Mukhlis. Buku-buku beliau insyaAllah, baguih, bermanfaat ….. ada 3 buah karya beliau. Al-Fagir cerita sikit di bawah …..
Karya terbaru beliau bertajuk Al-Quran Berbicara Tentang Takwa – Neraca Kemuliaan Insan di Sisi Allah. Al-Fagir pun belum baca buku ni, maka tak leh lah nak komen. tapi menurut penulisnya, buku ini adalah merupakan tafsir ayat-ayat mengenai takwa. Baru keluaq ni. Kalau yang berminat boleh dapatkan di Pesta Buku Antarabangsa KL 2010, di Booth Suficube di G03, di Dewan Tun Hussien Onn, PWTC, dekat Dewan Kedah.
Buku beliau yang lain boleh baca seterusnya ……

Buku Menjiwai Tauhid, Memurnikan dan Menyingkap Tabir Bahagia Menyediakan Prasarana Jiwa Buat Mendakap Bahagia Hakiki.

Al-Fadhil Ustaz Raja Mukhlis bin Raja Jamaluddin, menulis di multiply beliau:

Suatu ketika, guru kami Al-Murobbi, Sheikh Yusuf Al-Hasani (Syaikh Thariqah Syadhuliyyah) bertanyakan kepada kami, suatu soalan yang akhirnya membuatkan saya yang penuh hina ini berfikir sejenak.

Persoalan yang beliau lontarkan adalah: “Bagaimana kita yang sudah membahaskan tentang sebahagian sifat-sifat Allah dalam ilmu Tauhid, namun masih tidak menghayati kewujudan Allah dalam kehidupan kita seharian. Sifat Wujud Allah yang menjadi sifat pertama perbahasan dalam ilmu Tauhid sendiri pun tidak dapat dihayati oleh kita, dalam segenap kehidupan kita, bagaimana pula dengan penghayatan terhadap sifat-sifatNya yang lain?”

Jadi, dalam pada sedang memikirkan jawapannya, saya mula berfikir tentang suatu perbahasan Tauhid yang dapat menggabungkan antara ilmu berbentuk teori dan praktikal. Namun, setelah saya yang faqir membaca beberapa karangan ulama’ dalam ilmu Tauhid secara meluas, saya dapati di penghujung perbahasan mereka, mereka pasti mengajak kepada mengamalkan ilmu Tasawwuf samada dengan memperbanyakkan zikir ataupun berakhlak mulia.

Maka, saya dapati, kunci sebenar yang membawa seseorang daripada memahami ilmu Tauhid secara teori kepada penghayatan makna Tauhid dalam praktikal kehidupan adalah pada ilmu Tasawwuf itu sendiri. Bahkan, menurut sebahagian ulama’ sufi, pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh para murobbi sufi adalah suatu Tauhid Amali iaitu, sebuah tauhid yang terpancar hasil dari hubungan kehambaan mereka kepada Allah Ta’ala.

Maka, Allah Ta’ala membantu saya dengan memberi kesempatan kepada saya untuk mempelajari beberapa kitab-kitab tasawwuf yang membicarakan perbahasan aqidah khususnya karangan Imam Al-Qusyairi (dalam Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah), Imam Ibn Ata’illah As-Sakandari (Al-Hikam dan At-Tanwir), Imam An-Nablusi (kitab Khamr Al-Khan), Sheikhu Sheikhna Sayyidi Muhammad Al-Hasyimi (Miftah Al-Jannah) dan sebagainya, melalui beberapa guru yang sangat dihargai jasa mereka.

Maka, Allah membantu saya dalam menyusun sebuah kitab yang serba ringkas ini untuk cuba menggabungkan perbahasan ilmu tauhid nazhori (teoritikal) berteraskan manhaj Al-Asya’irah (sifat 20) dengan perbahasan ilmu Tasawwuf yang merupakan sebuah ILMU TAUHID AMALI.

Perbahasan ilmu Tauhid dari sudut teorinya juga dipermudahkan agar merai kemampuan masyarakat awam khususnya di Malaysia yang jauh daripada tradisi warisan ulama’ silam khususnya dalam ilmu Tauhid. Mudah-mudahan Allah Ta’ala membantu urusan umat Islam dalam memperkasa dan memurnikan aqidah dan tauhid mereka agar mereka mampu menjadi Ummah yang terbaik dalam segenap aspek.

Komen al-Fagir: Buku ini sangat menarik, penting dan mudah untuk difahami. bahasannya ringkas dan padat dengan pendekatan yang bersesuaian dengan kehendak semasa. Dan ianya mengabungkan antara ilmu tauhid dan ilmu tasawwuf bagi memudahkan para pembaca untuk menghayatinya di dalam kehidupan.

Sinopsis: “Mencari Bahagia… Ungkapan ini sering berlegar-legar di benak fikiran setiap manusia. Mengapa bahagia? Kebahagiaan adalah antara nikmat Allah Ta’ala yang terbesar, yang dikurniakan kepada para hambaNya. Ia adalah antara tanda sifat pemurah Allah Ta’ala kepada manusia.

Namun, ramai manusia gagal mencarinya. Mengapa? Ini kerana, manusia cuba mencari makna kebahagiaan selain daripada makna kebahagiaan sebenar. Oleh itu, semakin manusia mendekati makna kebahagiaan ciptaannya, semakin dia menjauhi makna kebahagiaan hakiki dan abadi. Oleh kerana itu, semakin dia mencari “bahagia”, semakin dia temui duka dan sengsara.

Maka, hadirnya buku yang serba ringkas ini, untuk mengajak manusia agar mereka melalui jalan kebahagiaan hakiki, dengan meninggalkan kebahagiaan palsu yang lahir daripada angan-angan dan persepsi. Bahagia itu mulanya pada perjalanan kita menuju bahagia. Kalau seseorang menuju kebahagiaan hakiki dan abadi, maka setiap langkah dalam menuju kebahagiaan hakiki tersebut adalah kebahagiaan, begitulah sebaliknya. Oleh kerana itu, buku ini menyeru ke arah: “Marilah Menuju Kebahagiaan…”.

Ia bermula daripada kita memperbaiki makna kebahagiaan dalam diri kita dengan makna kebahagiaan hakiki, lalu kita terus melangkah menujunya dengan langkah yang teliti berdasarkan petunjuk Ilahi. Pada ketika itulah, kita akan menjalani sebuah kehidupan Rabbani yang membawa kebahagiaan abadi, di dunia ini dan di akhirat nanti”. – Raja Ahmad Mukhlis

Posted by: Habib Ahmad | 19 Mac 2010

Majlis Ilmu Dari Buku Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad

Majlis Ilmu Dari Buku Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Majlis-majlis Ilmu Bulanan bertujuan memberi kemudahan kepada masyarakat  Kuala Lumpur dan Selangor khususnya serta masyarakat Malaysia ‘amnya menimba ilmu ajaran agama Islam yang ditinggalkan dan diwasiatkan oleh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

Huraian dari buku-buku beliau akan dihuraikan dalam Bahasa Malaysia.

Kesemua Majlis Ilmu seperti jadual dibawah ini akan diadakan di Masjid Baitul Aman 102 Jalan Damai di Jalan Ampang, Kuala Lumpur:

  1. Majlis Bacaan Ratib Al-Haddad serta Syarahan dan Huraiannya setiap Selasa malam Rabu selepas Solat Maghrib
  2. Hari Sabtu 20 March 2010 mulai Solat Maghrib sehingga jam 9:30 malam huraian buku berjudul ‘Nasihat Agama dan Wasiat Iman’
  3. Hari Ahad 21 March 2010 mulai Solat Maghrib huraian buku berjudul ‘Dakwah yang Sempurna dan Peringatan yang Utama’
  • Agar kita mengambil peluang untuk menghadiri majlis diatas untuk pendoman perjalanan kita ke akhirat.

Jadual ini akan diulangi pada minggu ketiga atau keempat setiap bulan dan akan dimaklumkan pada majlis semasa.

Semua Muslimin dan Muslimat dijemput hadir.  Diminta Hadirin dan Hadirat mematuhi halal/haram, sunnah/makruh dan adab semasa didalam masjid.

Semoga kami semua dapat manfaat dan diberkati Allah dengan usaha menimba ilmu yang diwajibkan oleh Allah s.w.t. serta RasulNya Muhammad s.a.w. Amin

Posted by: Habib Ahmad | 19 Mac 2010

Majlis Silaturrahim Pondok Se-Malaysia kali Ke-4

Majlis Silaturrahim Pondok Se-Malaysia kali Ke-4

DIkirim oleh epondok di Mac 17, 2010

Rate This

 

Quantcast

Tarikh :  4 -5 Rabiul Akhir 1431H bersamaan  20 – 21 Mac 2010M ( Sabtu & Ahad )

Tempat : Madrasah Darul Muhajirin, Bukit Jong, Kuala Terengganu

Penganjur : ITMAM dan Madrasah Darul Muhajirin

Pengisian Program :

HARI PERTAMA : Sabtu 4 Rabiul Akhir 1431H / 20 Mac 2010M

Pengajian 1  :  Tuan Guru Hj Fahmi Zam Zam

                        Masa : 9.00 – 11.00 pagi

Majlis Perasmian : Masa 2.30 petang oleh YBhg Dato’ Hj Shaikh Harun b Ismail

Pengajian (sambungan) : Tuan Guru Hj Fahmi Zam Zam

                        Masa : 5.00 petang

Kuliah Maghrib

                        Masa : 7.40 malam (lepas solat Maghrib)

 Pengajian 2  :  Syeikh Rohinuddin

                        Masa : 9.15 malam

HARI KEDUA : Ahad 5 Rabiul Akhir 1431H / 21 Mac 2010M

Kuliah Subuh :  6.45 pagi

Pengajian 3 : Ustaz Husin

                        Masa : 7.30 pagi

Pengajian 4 :  Saidi Ahmad

                        Masa : 10.00 pagi

Pengajian 5 : Syeikh Fuad Kamaluddin

                        Masa : 2.30 petang

Pengajian 6 :  Habib Adnan bin Ali al-Haddad

                        Masa : 5.00 petang

Majlis Penutup

                       

–          Qasidah

–          Tausiyah oleh ulama’ jemputan

–          Doa Munajat

–          Selawat

                        Masa : 8.00 malam

Urusetia Program

Sebarang pertanyaan berkaitn majlis ini minta hubungi :

Ustaz Badrul     019-991 7771

Ustaz Rasid      019-915 1568

Ustaz Razlan     013-957 1682

Cikgu Zulkifli    013-909 4267

Sumber : epondok

Posted by: Habib Ahmad | 18 Mac 2010

Ahmad bin Abubakar As-Sakran

Ahmad bin Abubakar As-Sakran
Imam Ahmad lahir di Tarim. Beliau dibesarkan dan dididik oleh ayahnya. Beliau juga seorang yang hafal alquran yang ia pelajari dari syaikh Muhammad bin Umar Ba’alawi. Melazimkan membaca lafadz sahadat ribuan kali setiap harinya. Selain ayahnya beliau dididik oleh pamannya syaikh Umar Muhdhar. Dari pamannya beliau belajar ilmu fiqih, tasawuf dan ilmu hakikat. Di samping pamannya, Imam Ahmad belajar kepada sayid Muhammad bin Hasan Jamalullail, syaikh Said Baubaid, keluarga Baqasyir dan keluarga Baharmi dan kepada saudaranya syaikh Abdullah Alaydrus.

Beliau mahir dalam ilmu hadits, fiqih dan usuluddin, rahasia nama-nama Allah, ilmu aufaq dan huruf. Murid-murid beliau di antaranya Abu bakar al-Adeni, sehingga beliau berkata : Sesungguhnya syaikh Shahabuddin al-Faqih Ahmad bin syaikh Abubakar Sakran adalah berita gembira yang sempurna dan penghulu manusia yang bersih dan suci, cinta kepada amal kebajikan. Murid yang lainnya adalah Husin bin Abdullah Alaydrus, al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman Balahij, al-allamah Muhammad bin Abdurrahman Bilfaqih.

Imam Ahmad bin Abubakar Sakran wafat di Lisik tahun 869 hijriyah, dikuburkan di Zanbal Tarim.

Posted by: Habib Ahmad | 18 Mac 2010

Al-Imam Ali Shahibud Dark

Al-Imam Ali Shahibud Dark
Ditulis oleh Admin di/pada 12 April 2009

[Al-Imam Ali Shahibud Dark – Alwi Al-Ghuyur – Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad – Ali – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Khali’ Qasam – Alwi – Muhammad – Alwi – Ubaidillah – Ahmad Al-Muhajir – Isa Ar-Rumi – Muhammad An-Naqib – Ali Al-‘Uraidhi – Ja’far Ash-Shodiq – Muhammad Al-Baqir – Ali Zainal Abidin – Husain – Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro – Muhammad SAW]

Beliau adalah Al-Imam Ali bin Alwi Al-Ghuyur bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW. Beliau dijuluki dengan Shahibud Dark.

Beliau adalah seorang imam, guru besar dan wali yang terkenal. Beliau adalah orang yang mahbub (dicintai) di sisi Allah. Ibu beliau adalah seorang syarifah, yaitu Sayyidah Fatimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath.

Beliau, Al-Imam Ali Shahibud Dark, adalah termasuk orang-orang yang yang diberikan kekhususan. Beliau seorang ‘arif billah dan qutub. Beliau seorang yang kuat dalam ber-mujahadah dan suka menyendiri dalam ber-muwajahah kepada Allah. Diri beliau adalah merupakan sosok teladan bagi para muridin dan arifin.

Beliau dibesarkan dalam didikan ayahnya. Beliau juga sempat hidup dengan kakeknya, Al-Faqih Al-Muqaddam, ketika masih kecil. Dari keduanya, beliau mendapatkan banyak nafahat.

Suatu ketika saat berada di Mekkah, beliau berdoa kepada Allah agar diberikan seorang anak yang sholeh. Spontan setelah itu terdengar suara, “Doamu telah dikabulkan oleh Allah. Maka kembalilah engkau ke negerimu.” Beliau pun kembali ke Tarim. Namun beliau masih berlambat-lambat dalam menikah. Suatu ketika beliau berada di salah satu masjid di kota Tarim sedang berdoa. Saat beliau hanyut dalam doanya dan ruhnya naik keatas langit, beliau mendapat kabar gembira dengan akan diberikannya seorang anak yang sholeh. Beliau lalu berkata, “Saya ingin melihat tandanya.” Lalu beliau diberi 2 lembar kertas, sambil dikatakan kepada beliau, “Taruhlah salah satu kertas itu diatas mata seorang wanita yang berada di dekatmu, maka ia akan segera dapat melihat.” Dan memang di dekat beliau ada seorang wanita yang buta. Beliau pun lalu menaruh salah satu kertas tersebut diatas matanya dan spontan wanita itu dapat melihat kembali. Beliau pun kemudian menikah dengan wanita tersebut dan memperoleh seorang anak yang sholeh yang bernama Muhammad.

Beliau, Al-Imam Ali Shahibud Dark, banyak mempunyai karomah dan keajaiban. Beliau adalah orang yang suka ber-khalwah (menyendiri) dan ber-zuhud terhadap dunia. Beliau sering berziarah ke makam Nabiyallah Hud di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.

Muhammad bin Abu As-Su’ud pernah berkata,

“Suatu ketika beliau mendapatkan harta. Lalu aku mendengar beliau berkata, ‘Ali bin Alwi dan dunia. Ya Allah, jauhkan aku darinya, atau jauhkan ia dariku.’ Beliau meninggal 3 bulan setelah itu.”

As-Syeikh Ibrahim bin Abu Qusyair berkata,

“Aku bermimpi bertemu dengan Asy-Syeikh Ali bin Alwi, lalu aku bertanya, ‘Bagaimana Allah memperlakukanmu?. Beliau menjawab, ‘Sesuatu apapun tak dapat membahayakan orang yang mahbub (dicintai).’ “

Beliau meninggal pada hari Rabu, 17 Rajab 709 H. Beliau meninggalkan seorang putra yang bernama Muhammad Maulad Dawilah, dan 6 putri yang masing-masing bernama Maryam, Khadijah, Zainab, Aisyah, Bahiyah dan Maniyah. Kesemuanya berasal dari seorang ibu yang bernama Fatimah bin Sa’ad Balaits.

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy]

Posted by: Habib Ahmad | 18 Mac 2010

Al-Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf

Al-Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf

Beliau adalah Al-Habib Ja’far bin Syaikhan bin Ali bin Hasyim bin Syeikh bin Muhammad bin Hasyim Assegaf. Beliau dilahirkan di kota Ghurfah, Hadramaut pada tahun 1298 H. Sebagaimana kebanyakan para Salaf Bani Alawi, semenjak kecil beliau mendapat pendidikan langsung dari ayahnya, Al-Habib Syaikhan bin Ali Assegaf. Selain beliau menuntut ilmu kepada ayahnya, beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama besar di Hadramaut, diantaranya :

Al-Habib Idrus bin Umar Alhabsyi (pengarang ‘Iqdul Yawaaqit)

Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi

Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Hasan Alatas

Beberapa tahun kemudian, berangkatlah beliau ke kota Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Semangat beliau untuk menuntut ilmu seakan tak pernah pupus. Kesempatan beliau berada di kota Makkah tak beliau sia-siakan. Kesempatan itu beliau pergunakan untuk menuntut ilmu dari para ulama yang ada disana, diantaranya :

Al-Habib Husin bin Muhammad Alhabsyi

Al-Habib Muhammad bin Salim As-Sirry

Setelah dari kota Makkah Al-Mukarramah, kembalilah beliau ke kota kelahirannya, Ghurfah. Disana beliau kemudian diangkat menjadi imam masjid jami Ghurfah. Beliau tinggal di kota tersebut selama 8 tahun. Setelah itu beliau pindah ke kota Tarim. Disana beliau dipercaya mengajar di Rubath Tarim, sebuah sekolah yang banyak sekali mencetak ulama-ulama besar. Di kota Tarim beliau tinggal selama 2 tahun. Kemudian setelah itu, beliau berhijrah ke Indonesia dan tinggal di kota Bondowoso. Tak lama kemudian, beliau lalu pindah ke kota Pasuruan dan menetap disana.

Di kota Pasuruan, beliau berdakwah mengibarkan bendera Laa ilaaha illallah. Beliau membuka majlis taklim dan mengajak masyarakat kepada agama Allah. Pribadinya yang arif menyebabkan beliau menjadi tempat bermusyawarah, mencari perlindungan dan pengayom masyarakat. Beliau selalu memberikan nasihat-nasihat agama dan petunjuk ke arah yang benar. Akhlak beliau mencontoh para pendahulunya yang penuh dengan sifat tawadhu, sabar, dan ramah. Tidaklah itu semua kecuali mengambil daripada akhlak-akhlak Rasulullah SAW.

Jika beliau menerima tamunya, beliau sendirilah yang menuangkan minuman buat si tamu dan beliau menolak jika ada orang lain yang hendak menggantikannya. Melihat kedalaman ilmu beliau terutama dalam ilmu tafsir dan disertai dengan keagungan akhlak beliau, Al-Habib Muhammad bin Ahmad Almuhdhor pernah mengatakan bahwa beliau adalah Al-Qur’an yang berjalan. Begitulah keadaan beliau yang menjadi figur bagi keluarga dan masyarakatnya.

Kehidupan berputar terus dan beliau selalu mengisinya dengan kebaikan. Sampai pada suatu saat dimana Allah hendak memanggilnya. Berpulanglah beliau menuju mardhotillah pada hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir 1374 H. Jasad beliau lalu disemayamkan di samping masjid jami Pasuruan.

Begitulah kehidupan beliau sebagai profil manusia yang penuh dengan kebaikan dan kemuliaan. Meskipun beliau telah berpulang, ruh kehidupan beliau senantiasa menghidupkan kalbu-kalbu para pengenangnya…mengisi sisi-sisi kehidupan para pecintanya…

Radhiyallahu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Muhammad Syamsu Assegaf dan dari berbagai sumber lainnya]

Posted by: Habib Ahmad | 18 Mac 2010

Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh

Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh
( MUHAMMAD MAULA AIDID )

Yang pertama kali mendapat gelar Aidid ialah waliyyullah Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Faqih bin Abdurrahman bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholi Qasam…………Rasulullah Muhammad SAW.

Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh ini adalah generasi ke 23 dari Rasulullah SAW.

Gelar yang disandangnya karena beliau adalah orang yang pertama tinggal dilembah Aidid yang tidak berpenduduk disebut “ Wadi Aidid “, yaitu lembah yang terletak di daerah pegunungan sebelah barat daya kota Tarim, Hadramaut (Yaman) dan mendirikan sebuah Masjid untuk tempat beribadah dan beruzlah (mengasingkan diri) dari keramaian.

Penduduk disekitar lembah tersebut mengangkat Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh sebagai Penguasa Lembah Aidid dengan gelar Muhammad Maula Aidid . Maula berarti Penguasa.

Al-Imam Muhammad Maula Aidid pernah ditanya oleh beberapa orang “Wahai Imam mengapa engkau mendirikan sebuah Masjid yang juga dipakai untuk shalat Jum’at, sedangkan di lembah ini tak ada penghuninya ? “. Lalu beliau menjawab “ nanti akan datang suatu zaman dimana zaman tersebut banyak sekali Umat yang datang kelembah ini, datang dan bertabaruk.

Alhabib Umar bin Muhammad Bin Hafidz pada kesempatan ziarah di Zambal, menceritakan ucapan Al-Imam Muhammad Maula Aidid tersebut dihadapan murid-muridnya, kemudian ia berkata didepan maqam Al-Imam Muhammad Maula Aidid “ Wahai Imam kami, semua yang hadir dihadapanmu ini menjadi saksi akan ucapanmu ini “.

Al-Imam Muhammad Maula Aidid dilahirkan di kota Tarim sekitar tahun 754 Hijriyyah, istrinya bernama Syarifah binti Hasan bin Alfaqih Ahmad seorang yang sholehah dan zuhud. Dikarunia 6 orang anak lelaki, yaitu Ahmad Al-Akbar, Abdurahman, Abdullah, Ali, Alwi dan Alfaqih Ahmad. Dari keenam orang anaknya hanya tiga orang yang melanjutkan keturunannya, yaitu Abdullah, Abdurrahman dan Ali.

Abdullah dan Abdurrahman mendapat gelar Bafaqih yang kemudian menjadi leluhur “Bafaqih”. Diberi gelar Bafaqih karena Beliau alim dalam ilmu fiqih sebagaimana ayahnya dikenal masyarakat sebagai seorang ahli ilmu fiqih. Sedangkan anaknya yang lain yang bernama Ali gelarnya tetap Aidid yang kemudian menjadi leluhur “ Aidid “.

Al-Imam Muhammad Maula Aidid mempunyai enam 6 orang, yaitu :

1. Ahmad Al-Akbar, keturunannya terputus, beliau sangat mencintai ilmu pengetahuan, mendalami ilmu pengobatan dan ilmu analisis. Lahir dan wafat di Tarim. Wafat tahun 862 H. bersamaan tahun wafat dengan ayahnya.

2. Abdurrahman Bafaqih, mempunyai 5 orang anak lelaki, 3 diantaranya meneruskan keturunannya, yaitu :

Ahmad
Zein

Atthayib

Abdurrahman Bafaqih wafat di Tarim tahun 884 H.

3. Abdullah Al-A’yan An-Nassakh Bafaqih mempunyai tiga orang anak lelaki :

Alwi (tidak punya keturunan)

Husein (keturunan di Qamar), mempunyai seorang anak yang bernama Sulaiman yang lahir di Tarim dan wafat di Al-Mahoo tahun 1009 H. Sulaiman ini mempunyai anak Husin, Husin mempunyai anak Abubakar. Al-Habib Abubakar ini menjadi Sultan di kepulauan Komoro di Afrika Utara.

Ahmad, mempunyai dua orang anak lelak

a. Sulaiman

b. Ali, mempunyai dua orang anak lelaki :

– Abdurrahman

– Muhammad, lahir di Tarim Kemudian Hijrah dan menetap di Kenur (India), kemudian pindah ke Heiderabat (India)

dan wafat disana. Al-Habib Muhammad mempunyai 7 orang anak :

– Ahmad (tidak diketahui)

– Umar, wafat di India.

– Abdullah, wafat di Khuraibah.

– Husin Lahir dan wafat di tarim tahun 1040 H.

– Abubakar lahir di Tarim dan wafat di Qoidon tahun 1053 H.

– Ali wafat di Khuraibah.

Abdullah Bafaqih wafat selang beberapa tahun wafatnya Abdurrahman Bafaqih dalam perjalanan dari kota Makah Al-Mukarramah ke kota Madinah Al-Munawwarah yang dimakamkan disekitar antara kedua kota suci tersebut.

4. Ali Aidid wafat tahun 919 H, mempunyai tiga orang anak lelaki :

Muhammad Al-Mahjub, wafat tahun 973 H.

Abdullah.

Abdurrahman wafat tahun 976 H.

5. Alwi Bafaqih, keturunannya terputus pada generasi ke 7 tahun 1123 H.

6. Alfaqih Ahmad (tidak punya keturunan)

Waliyullah Muhammad Maula Aidid seorang Imam besar pada zamannya dan hafal Al-Qur’an sejak usia muda. Guru-Guru beliau :

1. Syech Muhammad bin Hakam Baqusyair, di Qasam

2. Al-Faqih Abdullah bin Fadhal Bolohaj

3. Al-Muqaddam Al-Tsani Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah. Beliau belajar kepadanya 20 tahun.

4. Al-Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail

5. Syekh Abdurrahman bin Muhammad Al-Khatib

6. Anak-anak dari Al-Imam Abdurrahman Assegaf

7. Al-Imam Muhammad Maula Dawilah (berdasarkan kitab Al-Ghurror)

Murid-muridnya :

1. Abdullah Alaydrus bin Abubakar Assakran

2. Ali bin Abubakar Assakran

3. Muhammad bin Ahmad Bafadhaj

4. Muhammad bin Ahmad Bajarash

5. Umar bin Abdurrahman Shahib Al-Hamra

6. Muhammad bin Ali bin Alwi Al-Khirid (Shahib kitab Al-Ghurror)

7. Anak-anaknya.

Dalam Kitab Al-Ghurror halaman 358 Diceritakan oleh Alfaqih Ali bin Abdurahman Al-Khatib :

Aku bermaksud mendatangi Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid dari rumahnya ke Wadi, tidak aku temukan beliau disana. Maka ketika aku tengah berada di Wadi tersebut, tiba-tiba aku mendengar suara gemericik air di selah bukit, padahal tidak ada awan mendung ataupun hujan. Maka aku berniat mendekat untuk menjawab rasa penasaranku terhadap bunyi tadi yang datangnya dari Wadi. Seketika aku melihat Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid sedang duduk dan air yang muncrat dari celah-celah bukit mendatanginya. Lalu Muhammad bin Ali Shohib Aidid menyuruh untuk aku duduk. Lalu aku mengambil tempat untuk minum air tersebut. Setelah itu aku mandi dan berwudlu . Selesai itu kami berdua meninggalkan Wadi . Setelah sampai dirumah , keluargaku bertanya : “ Siapa yang telah menggosokkan Ja’faron ditubuhmu ? “. Aku menjawab tidak ada yang menggosokkan Ja’faron ketubuhku. Keluargaku berkata : “Ja’faron itu tercium dari badan dan bajumu !”. Maka aku menjawab beberapa saat yang lalu aku mandi dan mencuci bajuku bersama Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid. Saat itu juga aku bersihkan harum ja’faron itu dengan air dan tanah, tetapi harumnya tidak bisa hilang hingga waktu yang lama.

Dalam Kisah Al-Masra Al-Rawi Jilid I hal 399 diceritakan

Bahwa Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid banyak membaca Al-Qur’an disetiap waktu terutama surat Al-Ikhlas. Beliau adalah orang yang zuhud . Beliau memandang dunia hanya sebagai bayangan yang cepat berlalu. Banyak fakir miskin dan tamu yang datang kepadanya dengan berbagai keperluan, dan beliau selalu memenuhinya. Ahklaknya lebih lembut dari tiupan angin. Beliau dikuburkan di pemakaman Jambal disisi kakeknya Muhammad bin Abdurrahman bin Alwi.

Menurut kisah Syarh al-Ainiyah hal.206

Tertulis bahwa Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid mendawamkan bacaan surat Al-ikhlas antara shalat Maghrib dan Isya sebanyak 3000 kali.

Waliyyullah Muhammad Maula Aidid wafat di kota Tarim pada tahun 862 Hijriyyah. Dimakamkan di Pemakaman Jambal disisi kakeknya Muhammad bin Abdurrahman bin Alwi.

Ayah beliau Ali Shahib Al-Hauthoh, wafat tahun 830 Hijriyyah Gelar Shahib Al-Hauthoh yang disandangnya karena beliau tinggal di Hauthoh yang terletak sebelah barat kota Tarim, Hadramaut.

Diantara silsilah yang melalui Al-Imam Abdurrahman bin Alwi (Ammil Faqih) antara lain :

1. Bin Semith
2. Baabud Magfun
3. Ba Hasyim
4. Al-Baiti
5. Al-Qoroh
6. Aidid
7. Al-Haddad
8. Bafaraj
9. Al-Hudaili
10. Basuroh
11. Bafaqih
12. BinThahir

Penyusun : Alwi Husein Aidid.

Sumber dari : Habib Idrus Alwi Almasyhur, Habib Alwi Almasyhur dan Habib Zein Alwi bin Taufik Aidid.

Posted by: Habib Ahmad | 17 Mac 2010

Pengemis Dan Saudagar Kaya

Pengemis Dan Saudagar Kaya

Thursday, June 25, 2009, 16:25
Isian ini ada pada kategori Artikel

alhabib-muhammad-syahabSeorang pengemis datang mengetuk pintu sebuah rumah salah seorang saudagar kaya. Ia meminta sepotong roti untuk dimakan.
”Ini bukan toko roti,” kata saudagar kaya itu dengan ketus.
”Jika demikian, apakah kau memiliki sedikit daging,” ujar pengemis memohon.
”Memangnya rumah ini terlihat seperti tempat jagal,” kata saudagar kaya itu lagi.
”Dapatkah kuminta sedikit tepung?”
”Memangnya kau dengar suara penggilingan di rumah ini?”
”Kalau begitu seteguk air saja…”
”Di sini tak ada sumur.”
Apapun yang diminta si pengemis selalu dijawab oleh saudagar kaya itu dengan ucapan yang menyakitkan. Pada dasarnya, saudagar kaya itu tak mau memberikan apapun untuk si pengemis itu.

Akhirnya si pengemis itu berlari masuk ke dalam rumah, mengangkat jubahnya dan berjongkok seolah-olah hendak buang hajat.
”Hai, apa yang kau lakukan,” ujar saudagar kayaitu dengan nada marah dan heran.
”Diam kau orang yang menyedihkan. Tempat kosong seperti ini hanya pantas untuk menjadi tempat buang hajat. Karena tak ada seorang pun atau apapun yang ada di sini. Jadi harus diberi pupuk biar subur.”
Pengemis itu kemudian berkata, ”Jika kau burung, jenis apakah kau ini? kau bukan elang yang dilatih untuk jadi peliharaan bangsawan, bukan pula merak yang mempesona setiap yang memandang, bukan juga kakaktua yang berkisah lucu. Kau bukan kutilang yang bernyanyi kasmaran, kau bukan Hudhud yang membawa pesan Sulaiman, atau bangau yang membangun sarang di tepi tebing. Lalu apa kau ini? Kau spesies yang tak dikenal. Kau berdalih untuk mempertahankan harta milikmu. Kau telah melupakan Dia Yang tak peduli pada harta benda, Yang tak mengambil keuntungan sedikitpun dari setiap hubungan-Nya dengan manusia….”

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 800 other followers