Posted by: Habib Ahmad | 20 April 2010

Daya tarik Rasulullah SAW

Daya tarik Rasulullah SAW

Ditulis oleh Admin di/pada 23 Maret 2009

Tufail bin Aun, kepala suku Ausith, adalah seorang penyair kenamaan dan terkenal bijaksana. Pada suatu ketika ia berkunjung ke kota Makkah. Kepala-kepala suku di kota Makkah keluar menyambutnya di pintu gerbang kota. Mereka khawatir kalau-kalau Tufail berhubungan dengan Rasulullah SAW dan kemudian terpengaruh ajaran-ajaran beliau. Mereka memperingatkannya supaya jangan dekat-dekat dengan Nabi SAW dan jangan sekali-sekali menemuinya.

“Ucapan-ucapan Muhammad telah menimbulkan kekacauan yang hebat di kota Makkah. Ia juga telah menyebarkan kejahatan di daerah-daerah luar, baik yang dekat maupun yang jauh,” demikian peringatan kepala-kepala suku Makkah kepada Tufail.

Tufail pun terpengaruh dengan hasutan-hasutan itu. Ia betul-betul menghindari setiap kemungkinan bertemu dengan Nabi SAW atau sahabat-sahabat beliau. Bilamana ia secara tidak sengaja bertemu Nabi SAW, ia palingkan mukanya sambil menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya.

Pada suatu hari Nabi SAW sedang berdoa di depan Ka’bah. Secara kebetulan Tufail lewat di tempat itu. Dengan tidak sengaja ia mendengar doa yang diucapkan Nabi SAW. Kata-kata dalam doa itu secara spontan menggetarkan hatinya. Ia pun begitu terkesan, sehingga lupa dengan hasutan kepala-kepala suku Makkah. Begitu tertariknya, setelah Nabi SAW selesai berdoa dan kembali ke rumahnya, ia pun mengikuti beliau dari belakang. Tak kuat menahan rasa ketertarikannya, ia masuk ke dalam rumah beliau dan meminta beliau untuk membaca lagi beberapa doa tadi yang tidak lain berisi ayat-ayat Al-Qur’an. Nabi SAW pun dengan senang hati mengabulkan permintaannya. Akhirnya saat itu juga, Tufail mengikrarkan dirinya masuk ke dalam Islam.

Lain halnya dengan Utbah, seorang kepala suku yang kaya. Dengan harapan untuk dapat menghentikan dakwah Rasulullah SAW, kepala-kepala suku Quraisy mengutus Utbah untuk menemui Rasulullah SAW dan membujuknya. Utbah lalu menemui Nabi SAW dan berkata,

“Keponakanku, jika engkau ingin mengumpulkan kekayaan dengan ajaran-ajaranmu ini, katakanlah, aku akan memberikan kepuasan kepadamu. Kalau engkau menginginkan martabat yang tinggi, kami bersedia mengangkatmu menjadi pemimpin. Kalau engkau menginginkan kerajaan, kami akan menjadikanmu raja. Kalau engkau menginginkan wanita-wanita yang cantik, silakan pilih gadis-gadis yang tercantik di antara suku-suku Quraisy.”

Nabi SAW pun menjawab,

“Saya tidak menginginkan apapun dari semuanya. Saya hanya mendapat wahyu dari Tuhan dan saya berkewajiban menyampaikannya kepada kalian.”

Nabi SAW lalu membacakan beberapa ayat Al-Qur’an di hadapan Utbah. Spontan ia terkesan dengan daya tarik ayat-ayat itu. Kembalilah Utbah kepada kepala-kepala suku Quraisy, lalu berkata,

“Saya telah mendengar suatu kalam, bukan syair, bukan sihir dan bukan juga nujum. Saya mengusulkan kepada tuan-tuan untuk membiarkan Muhammad menempuh jalannya sendiri.”

[Disarikan dari Rangkaian Tjeritera dari Sedjarah Islam, Ahmad DM., hal. 21-23]

Ikuti Nabi Saw
Oleh : Alhabib Ghozi bin Ahmad bin Mushthofa Shihab

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(Al ahzab : 21)

Ayat di atas adalah alasan kenapa kita rela meninggalkan segala kegiatan kita untuk sekarang berada di tempat ini. Sangat besar rahmat Allah Swt jika dibandingkan dengan apa yang kita lakukan. Jika sholawat kita, ibadah kita, niat kita, amal kita dsb diterima oleh Allah Swt, maka ini jauh lebih berharga daripada apapun juga.

Dikisahkan ada seseorang yang membiasakan diri membaca sholawat. Ketika ditanya kenapa dia membiasakan membaca sholawat sebegitu sering, orang tersebut menjelaskan bahwa ini karena dulu sewaktu ayahnya meninggal dunia dilihatnya tampak kusam wajah ayahnya. Dia sedih! Di dalam tidurnya dia didatangi seseorang yang sangat berwibawa dan sangat indah (ketika ditanya siapa dia, orang itu menjawab dia adalah Nabi Muhammad Saw) menyuruhnya untuk membuka kain penutup jenazah ayahnya. Ketika kain sudah dibuka, dia mendapati wajah ayahnya berubah dari kusam menjadi putih bersinar. Dia lalu bertanya kenapa? Orang yang dilihat dalam mimpinya (Nabi Muhammad Saw) menjelaskan bahwa itu karena ayahnya semasa hidup sering membaca sholawat pada Nabi Muhammad, ini adalah balasan atas sholawat yang dilakukannya. Ketika orang ini bangun, dibukanya kain penutup jenazah ayahnya dan benar wajah ayahnya berubah menjadi putih bersinar seperti yang dilihatnya di dalam mimpi. Sejak saat itu dia selalu membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Dikisahkan juga di sebuah wilayah ada keluarga yang faqir yang pada suatu mereka tidak bisa membeli sesuatu barang yang sangat mereka butuhkan. Mereka bermunajat kepada Allah Swt, di dalam tidurnya seseorang dari mereka bermimpi ditemui oleh Nabi Muhammad Saw dan dikatakan padanya bahwa agar dia pergi ke seorang pejabat karena apa yang dibutuhkannya harus lewat pejabat tersebut. Nabi Muhammad Saw berpesan kalau pejabat itu bertanya bagaimana bisa tahu, maka katakan bahwa yang menyuruh adalah Nabi Muhammad Saw dan katakan padanya bahwa sholawatnya diterima oleh Nabi Muhammad Saw. Setelah bangun, orang itu pergi ke ulama’ setempat dan menceritakan mimpinya. Kemudian mereka berdua pergi menghadap pejabat yang yang dimaksud oleh Nabi Muhammad Saw dan menceritakan maksud kedatangan mereka. Hati pejabat itu bahagia sekali mendengar sholawatnya diterima Nabi Muhammad Saw, dia menghadiahi si faqir dengan hadiah yang sangat banyak seraya berkata bahwa apa yang hadiahkan ini tidak sebanding dengan kebahagiaannya.

Kedua kisah itu menceritakan tentang betapa pentingnya bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Apa yang kita inginkan? Apapun itu akan dikabulkan lewat Nabi Muhammad Saw. Apa yang kita lakukan tidak sebanding dengan apa yang diberikan Nabi Muhammad Saw kepada kita.

Nabi Muhammad Saw adalah mulia dan teladan bagi kita, lalu kenapa banyak diantara kita mengikuti orang yang mengaku-aku dirinya nabi (padahal untuk disebut nabi harus dijelaskan di dalam kitab sebelumnya tentang ciri-ciri atau pun sifat-sifatnya)? Jawabannya adalah karena banyak diantara kita tidak mengenal Nabi Muhammad Saw. Kita tidak akan sampai kepada Allah Swt kecuali lewat Nabi Muhammad Saw.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.
(Ali Imran : 31 – 32).

Syafaat-Syafaat al-Habib صلى الله عليه وعلى آله وسلم

Dicatat oleh al-‘Abd al-Da’if: pada 11.2.10

Al-Hafiz al-Sakhawi (رحمه الله) mencatatkan dalam kitabnya al-Qawl al-Badi’ (h. 277-278):
Baginda SAW memiliki beberapa syafaat, iaitu:
1. Syafaat agung (al-syafa’ah al-‘uzma) pada hari kiamat kelak bagi seluruh makhluk di padang Mahsyar, untuk Allah tunjukkan kepada mereka keadaan yang sedang mereka hadapi, agar dimulakan penghakiman. Dan inilah maqam terpuji (al-maqam al-mahmud) yang seluruh golongan awal dan akhir memuji baginda kerananya.
2. Syafaat untuk orang yang masuk syurga dari kalangan umatnya tanpa hisab.
3. Syafaat untuk kaum penderhaka yang masuk ke dalam neraka kerana dosa-dosa mereka, lalu mereka dikeluarkan.
4. Syafaat untuk kaum yang layak masuk ke dalam neraka, lalu mereka tidak jadi dimasukkan ke dalamnya.
5. Syafaat bagi kaum yang dihalang oleh kesalahan-kesalahan mereka untuk memasuki syurga.
6. Syafaat untuk kaum daripada ahli syurga bagi menaikkan darjat mereka, lalu diberi kepada setiap mereka apa yang layak baginya.
7. Syafaat untuk orang yang mati di Madinah al-Munawwarah.
8. Syafaat untuk orang yang menziarahi kubur baginda SAW.
9. Syafat untuk membuka pintu syurga, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim.
10. Syafaat untuk orang yang menjawab azan.
11. Syafaat untuk kaum dari kalangan kuffar yang pernah berkhidmat terhadap baginda SAW, atau pernah terbit daripada mereka satu bentuk khidmat terhadap hak baginda SAW, maka akan diringankan azab mereka dengan syafaat baginda SAW. (seperti Abu Talib)
Dua syafaat yang awal di atas adalah termasuk khasa’is (khususiyyat) baginda SAW. Manakala syafaat yang ke-4 dan ke-6 di atas, harus dikongsi juga oleh orang lain dari kalangan anbiya’, ulama’, dan awliya’, menurut al-Nawawi dalam kitab al-Rawdhah. Syafaat pertama tadi tidak dibantah oleh seorangpun dari kalangan kumpulan-kumpulan umat Islam. Demikian juga tidak ada khilaf mengenai yang ke-6. Adapun yang ke-2, kaum Muktazilah mengkhususkannya bagi orang yang tiada tanggungan ke atasnya, dan mereka juga mengingkari yang ke-3. Akan tetapi, kedua-duanya telah disepakati oleh seluruh Ahlus Sunnah dalam menerimanya disebabkan kesabitan hadith-hadith yang banyak mengenainya. (tamat nukilan)
Wallahu a’lam.
Ya Allah, janganlah jadikan kami terhalang daripada syafaat Nabi-Mu…
Posted by: Habib Ahmad | 20 April 2010

Amalan/ Ibadah di Kuburan

kesesatan wahhaby/salafy palsu mengenai Amalan/ Ibadah di Kuburan

Posted on April 18, 2010 by salafytobat

Kesesatan dan kedustaan kembali dihembuskan oleh golongan wahhaby/ salafy palsu mengenai larangan semua bentuk amalan / ibadah dikuburan. Berikut ini adalah Hujjah ahlusunnah atas subhat yang di hembuskan oleh musuh-musuh Allah yang menamakan diri mereka Salafy (palsu/ wahhaby) dalam majalah mereka : majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IX/1426H/2005M .

Kedustaan dan fitnah yang dihembuskan oleh musuh musuh Allah ini antara lain :

– Mengharamkan ziarah, tawassul kepada makam wali, Nabi dan muslimin

– Memfitnah kaum muslimin yang ziarah kemakam wali dan nabi dengan tuduhan : menyembah kubur, thawaf kepada kuburan, menjadikan kuburan sebagai kiblat shalat dsb.

– menghalalkan membuang makam Nabi Muhammad dari masjid Nabawi (lihat fatwa ulama mereka syaikh muqbil – pimpinan darul hadis yaman)

Berikut ini sanggahan:

A. Sunnahnya Ziarah kubur

Ziarah kubur adalah mendatangi kuburan dengan tujuan untuk mendoakan ahli kubur dan sebagai pelajaran (ibrah) bagi peziarah bahwa tidak lama lagi juga akan menyusul menghuni kuburan sehingga dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.
Ketahuilah berdoa di kuburan pun adalah sunnah Rasulullah saw, beliau saw bersalam dan berdoa di Pekuburan Baqi’, dan berkali kali beliau saw melakukannya, demikian diriwayatkan dalam shahihain Bukhari dan Muslim, dan beliau saw bersabda : “Dulu aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan, maka sekarang ziarahlah”. (Shahih Muslim hadits no.977 dan 1977)

Dan Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengucapkan salam untuk ahli kubur dengan ucapan “Assalaamu alaikum Ahliddiyaar minalmu’minin walmuslimin, wa Innaa Insya Allah Lalaahiquun, As’alullah lana wa lakumul’aafiah..” (Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang Allah atas yg terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian) (Shahih Muslim hadits no 974, 975, 976). Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersalam pada Ahli Kubur dan mengajak mereka berbincang-bincang dengan ucapan “Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian”.

Rasul saw berbicara kepada yg mati sebagaimana selepas perang Badr, Rasul saw mengunjungi mayat mayat orang kafir, lalu Rasulullah saw berkata : “wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai Umayyah bin Khalf, wahai ‘Utbah bin Rabi’, wahai syaibah bin rabi’ah, bukankah kalian telah dapatkan apa yg dijanjikan Allah pada kalian…?!, sungguh aku telah menemukan janji tuhanku benar..!”, maka berkatalah Umar bin Khattab ra : “wahai rasulullah.., kau berbicara pada bangkai, dan bagaimana mereka mendengar ucapanmu?”, Rasul saw menjawab : “Demi (Allah) Yang diriku dalam genggamannya, engkau tak lebih mendengar dari mereka (engkau dan mereka sama sama mendengarku), akan tetapi mereka tak mampu menjawab” (shahih Muslim hadits no.6498).

Makna ayat : “Sungguh Engkau tak akan didengar oleh yg telah mati”.
Berkata Imam Qurtubi dalam tafsirnya makna ayat ini bahwa yg dimaksud orang yg telah mati adalah orang kafir yg telah mati hatinya dg kekufuran, dan Imam Qurtubi menukil hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasul saw berbicara dengan orang mati dari kafir Quraisy yg terbunuh di perang Badr. (Tafsir Qurtubi Juz 13 hal 232).

Berkata Imam Attabari rahimahullah dalam tafsirnya bahwa makna ayat itu : bahwa engkaua wahai Muhammad tak akan bisa memberikan kefahaman kepada orang yg telah dikunci Allah untuk tak memahami (Tafsir Imam Attabari Juz 20 hal 12, Juz 21 hal 55, )

Berkata Imam Ibn katsir rahimahullah dalam tafsirnya : “walaupun ada perbedaan pendapat tentang makna ucapan Rasul saw pada mayat mayat orang kafir pada peristiwa Badr, namun yg paling shahih diantara pendapat para ulama adalah riwayat Abdullah bin Umar ra dari riwayat riwayat shahih yg masyhur dengan berbagai riwayat, diantaranya riwayat yg paling masyhur adalah riwayat Ibn Abdilbarr yg menshahihkan riwayat ini dari Ibn Abbas ra dg riwayat Marfu’ bahwa : “tiadalah seseorang berziarah ke makam saudara uslimnya didunia, terkecuali Allah datangkan ruhnya hingga menjawab salamnya”, dan hal ini dikuatkan dengan dalil shahih (riwayat shahihain) bahwa Rasul saw memerintahkan mengucapkan salam pada ahlilkubur, dan salam hanyalaha diucapkan pada yg hidup, dan salam hanya diucapkan pada yg hidup dan berakal dan mendengar, maka kalau bukan karena riwayat ini maka mereka (ahlil kubur) adalah sama dengan batu dan benda mati lainnya. Dan para salaf bersatu dalam satu pendapat tanpa ikhtilaf akan hal ini, dan telah muncul riwayat yg mutawatir (riwayat yg sangat banyak) dari mereka, bahwa Mayyit bergembira dengan kedatangan orang yg hidup ke kuburnya”. Selesai ucapan Imam Ibn Katsir (Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 3 hal 439).

Rasul saw bertanya2 tentang seorang wanita yg biasa berkhidmat di masjid, berkata para sahabat bahwa ia telah wafat, maka rasul saw bertanya : “mengapa kalian tak mengabarkan padaku?, tunjukkan padaku kuburnya” seraya datang ke kuburnya dan menyolatkannya, lalu beliau saw bersabda : “Pemakaman ini penuh dengan kegelapan (siksaan), lalu Allah menerangi pekuburan ini dengan shalatku pada mereka” (shahih Muslim hadits no.956)

Abdullah bin Umar ra bila datang dari perjalanan dan tiba di Madinah maka ia segera masuk masjid dan mendatangi Kubur Nabi saw seraya berucap : Assalamualaika Yaa Rasulallah, Assalamualaika Yaa Ababakar, Assalamualaika Ya Abataah (wahai ayahku)”. (Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.10051)

Berkata Abdullah bin Dinar ra : Kulihat Abdullah bin Umar ra berdiri di kubur Nabi saw dan bersalam pada Nabi saw lalu berdoa, lalu bersalam pada Abubakar dan Umar ra” (Sunan Imam Baihaqiy ALkubra hadits no.10052)
l
Sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yg pergi haji, lalu menziarahi kuburku setelah aku wafat, maka sama saja dengan mengunjungiku saat aku hidup (Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10054).

Dan masih banyak lagi kejelasan dan memang tak pernah ada yg mengingkari ziarah kubur sejak Zaman Rasul saw hingga kini selama 14 abad (seribu empat ratus tahun lebih semua muslimin berziarah kubur, berdoa, bertawassul, bersalam dll tanpa ada yg mengharamkannya apalagi mengatakan musyrik kepada yg berziarah, hanya kini saja muncul dari kejahilan dan kerendahan pemahaman atas syariah, munculnya pengingkaran atas hal hal mulia ini yg hanya akan menipu orang awam, karena hujjah hujjah mereka Batil dan lemah.

Dan mengenai berdoa dikuburan sungguh hal ini adalah perbuatan sahabat radhiyallahu’anhu sebagaimana riwayat diatas bahwa Ibn Umar ra berdoa dimakam Rasul saw, dan memang seluruh permukaan Bumi adalah milik Allah swt, boleh berdoa kepada Allah dimanapun, bahkan di toilet sekalipun boleh berdoa, lalu dimanakah dalilnya yg mengharamkan doa di kuburan?, sungguh yg mengharamkan doa dikuburan adalah orang yg dangkal pemahamannya, karena doa boleh saja diseluruh muka bumi ini tanpa kecuali. [http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=8&id=8871&lang=en#8871]

B. Bolehnya shalat dimasjid yang ada Kuburan Asal tidak menjadikan kuburan sebagai Kiblat

 

Berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar : “Berkata Imam Al Baidhawiy : ketika orang yahudi dan nasrani bersujud pada kubur para nabi mereka dan berkiblat dan menghadap pada kubur mereka dan menyembahnya dan mereka membuat patung patungnya, maka Rasul saw melaknat mereka, dan melarang muslimin berbuat itu, tapi kalau menjadikan masjid di dekat kuburan orang shalih dengan niat bertabarruk dengan kedekatan pada mereka tanpa penyembahan dg merubah kiblat kepadanya maka tidak termasuk pada ucapan yg dimaksud hadits itu”(Fathul Bari Al Masyhur Juz 1 hal 525)

Kita akan lihat ucapan para Imam :
1. Berkata Guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu Imam Syafii rahimahullah : “Makruh memuliakan seseorang hingga menjadikan makamnya sebagai masjid, (*Imam syafii tidak mengharamkan memuliakan seseorang hingga membangun kuburnya menjadi masjid, namun beliau mengatakannya makruh), karena ditakutkan fitnah atas orang itu atau atas orang lain, dan hal yg tak diperbolehkan adalah membangun masjid diatas makam setelah jenazah dikuburkan, Namun bila membangun masjid lalu membuat didekatnya makam untuk pewakafnya maka tak ada larangannya”. Demikian ucapan Imam Syafii (Faidhul qadir Juz 5 hal.274).

2. Berkata Imam Al Muhaddits Ibn Hajar Al Atsqalaniy : “hadits hadits larangan ini adalah larangan shalat dg menginjak kuburan dan diatas kuburan, atau berkiblat ke kubur atau diantara dua kuburan, dan larangan itu tak mempengaruhi sah nya shalat, (*maksudnya bilapun shalat diatas makam, atau mengarah ke makam tanpa pembatas maka shalatnya tidak batal), sebagaimana lafadh dari riwayat kitab Asshalaat oleh Abu Nai’im guru Imam Bukhari, bahwa ketika Anas ra shalat dihadapan kuburan maka Umar ra berkata : kuburan..kuburan..!, maka Anas melangkahinya dan meneruskan shalat dan ini menunjukkan shalatnya sah, dan tidak batal. (Fathul Baari Almayshur juz 1 hal 524).

Darisini diambil kesimpulan bahwa shalat menghadap kuburan tidak haram dan tetap sah shalatnya, namun makruh, dan makruh adalah tidak dosa bila dikerjakan dan mendapat pahala bila ditinggalkan.

Berkata Imam Al Baidhawiy : bahwa Kuburan Nabi Ismail as adalah di Hathiim (disamping Miizab di ka’bah dan di dalam masjidilharam) dan tempat itu justru afdhal shalat padanya, dan larangan shalat di kuburan adalah kuburan yg sudah tergali (Faidhulqadiir Juz 5 hal 251)

jelaslah bahwa yg dimaksud shalat menghadap kuburan adalah yg langsung berhadapan dengan kuburan yg telah digali, bukan kuburan yg tertutup tembok atau terhalang dinding.

Rasul saw menyalatkan seorang yg telah dikuburkan, beliau shalat gaib menghadap kuburannya tanpa dinding atau penghalang, yaitu langsung menghadap kuburan

Maka telah jelas bahwa larangan adalah :
• Membangun masjid diatas kuburan untuk menyembah kuburan para nabi.
• Larangan membangun masjid yg “sengaja” menghadapkan kiblatnya ke kuburan untuk menyembahnya.

Kita memahami bahwa Masjidirrasul saw itu diperluas dan diperluas, namun bila saja perluasannya itu akan menyebabkan hal yg dibenci dan dilaknat Nabi saw karena menjadikan kubur beliau saw ditengah tengah masjid, maka pastilah ratusan Imam dan Ulama dimasa itu telah memerintahkan agar perluasan tidak perlu mencakup rumah Aisyah ra (makam Rasul saw),

Perluasan adalah di zaman khalifah Walid bin Abdulmalik sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, sedangkan Walid bin Abdulmalik dibai’at menjadi khalifah pd 4 Syawal th 86 Hijriyah, dan ia wafat pada 15 Jumadil Akhir pd th 96 Hijriyah

lalu dimana Imam Bukhari? (194 H – 256 H), Imam Muslim? (206 H – 261H), Imam Syafii? (150 H – 204 H), Imam Ahmad bin Hanbal? (164 H – 241 H), Imam Malik? (93 H – 179 H), dan ratusan imam imam lainnya?, apakah mereka diam membiarkan hal yg dibenci dan dilaknat Rasul saw terjadi di Makam Rasul saw?, anda kira orang yg beriman itu hanya sahabat kah?, lalu Imam Imam yg hafal ratusan ribu hadits itu adalah para musyrikin yg bodoh dan hanya menjulurkan kaki melihat kemungkaran terjadi di Makam Rasul saw??, munculkan satu saja dari ucapan mereka yg mengatakan bahwa perluasan Masjid nabawiy adalah makruh.
TIDAK ADA..! itu hanya muncul dari kedangkalan pemahaman anda.

Justru inilah jawabannya, mereka diam karena hal ini diperbolehkan, bahwa orang yg kelak akan bersujud menghadap Makam Rasul saw itu tidak satupun yg berniat menyembah Nabi saw, atau menyembah Abubakar ra atau Umar bin Khattab ra, mereka terbatasi dengan tembok, maka hukum makruhnya sirna dengan adanya tembok pemisah, yg membuat kubur2 itu terpisah dari masjid, maka ratusan Imam dan Muhadditsin itu tidak melarang perluasan masjid Nabawiy.[http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=1&func=view&id=14131&catid=9]

Kubur Nabi-nabi dlm Masjid? Bagaimana Sembahyang didlmnya?

1: hadis-hadis yang Sahih atau Hasan yang menyatakan terdapatnya Kubur Nabi-nabi berada dalam masjid-masjid

قبور الأنبيأ –عليهم الصلاة- التى بمسجد الخيف
أخرج البزار فى مسنده( كشف الأستار 1177) والطبرانى فى أكبر معاجمعه
( 12\316, 13525) وهو فى مشيخه ابن طهمان جميعهم من حديث ابراهيم بن طهمان عن منصور عن مجاهد عن ابن عمر رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم 

فى مسجد الخيف قبر سبعين نبيا
Didalam Masjid Khaif (Mina) terdapat 70 Kuburan Para Nabi- alaihimussholatuwassalam.
قال البزار : لا نعلمه عن ابن عمر بأحسن من هذا, تفرد به ابراهيم و عمرعن منصور
قال الحافظ ابن حجر فى (( مختصر زوائد )) رقم 713 (( وهو اسناد صحيح )) 

Berkata : AlHafiz Ibnu Hajar dalam Mukhtasar Zawaid no 713 ” Iaitu Isnadnya Sohih”.

و قال الحافظ الهيثمى فى – المجمع- (3\297) رواه البزار: ورجاله ثقات

Berkata al hafiz Al Haisthami dalam “Majma” (2\297) “Telah meriwayatkannya al Bazzar, Dan Rijalnya adalah Thiqaat (kepercayaan) “.
فهذا الاسناد رجاله ثقات , وهو غاية فى الصحة , بل هو صحيح على شرط الشيخين , فلله دَرّ هذين الحافظين الجليلين

C. sah bersembahyang dimasjid yang didalamnya terdapat kubur

.Jikalau kubur tersebut adalah sebahagian dari Masjid, maka tidak harus (Bhs Indonesia tidak boleh).
Tetapi kalau Kubur berada didalam/pinggiran/sebelah masjid,( maka tidak jadi masalah besembahyang disitu. Sah sembahyang .
Melainkan jika kubur berada diarah kiblat depan masjid , maka makruh sembahyang dimasjid begitu disisi ulamak mazhab Hanafi. wallahu a’lam.
Terlebih jelas keharusannya (Bhs Indonesia = Boleh) , jika kubur hanya berada diruangan yang dikhaskan dengan berdinding yg hanya berada disisi masjid seperti MASJID NABAWI, MASJID DISISI MAKAM IMAM SHAFIE, MASJID DISISI MAKAM KEPALA SAYYDINA HUSIN R.A. DAN SEBAGAINYA. Maka tak ada masalah langsung dan tidak ada kena mengena langsung dengan hadis-hadis yg larang jadikan kuburan tempat sembahan. Wallahu a’lam.[ http://pondoktampin.blogspot.com/search/label/FEQAH ]
D. Muslimin ahlusunnah tidak ada yang melakukan thawaf kepada kuburan dan menyembah kuburan. Ini adalah fitnah!! Tolong buktikan ucapan anda wahai musuh Allah!!

E.  Sunnahnya membaca Al-quran diatas kubur dan mengirimkan pahalanya untuk mayyit.

Telah masyhur bahwa imam-imam madzab sunni menyatakan sampainya hadiah pahala kepada mayyit muslim, bahkan ibnu qayyim dan ibnu taymiyah yang katanya imamnya para wahhaby menyatakan demikian. Ini buktinya :
bnul Qayyim (Scan Kitab Ar-ruh) : Sampainya hadiah bacaan Alqur’an dan Bolehnya membaca Al-Qur’an diatas kuburanScan Kitab bahasa Arab : 

Cover :

kitab aroh arab cover

Baca Yang berwarna Merah  (page 5 digital book):

Aroh arab page 5ok

kitab ar-rooh (ar-ruh digital) Bisa di download di :

http://www.scribd.com/doc/21496576/alrooh

Scan kitab ar-ruh tarjamah (bahasa melayu) :

cover :

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0004

Kitab ar-ruh :

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0003

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0002

Teks Arab Kitab Arruh Ibnu qayyim pada halaman 5 (kitab digital) :

وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك   وقال الخلال في الجامع كتاب القراءة عند القبور اخبرنا العباس بن محمد الدورى حدثنا يحيى بن معين حدثنا مبشر الحلبى حدثني عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال قال أبى إذا أنامت فضعنى في اللحد وقل بسم الله وعلى سنة رسول الله وسن على التراب سنا واقرأ عند رأسى بفاتحة البقرة فإنى سمعت عبد الله بن عمر يقول ذلك قال عباس الدورى سألت أحمد بن حنبل قلت تحفظ في القراءة على القبر شيئا فقال لا وسألت يحيى ابن معين فحدثنى بهذا الحديث   قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ

وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها   وذكر الخلال عن الشعبي قال كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرءون عنده القرآن قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك

Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Dan Mengadiahkan Pahalanya bagi Mayyit (Muslim)

Tarjamahannnya :

Pernah disebutkan daripada setengah para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata abdul haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah al-baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh mu’alla bin hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini kerana masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

Berkata Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ : Telah berkata kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-dauri, berbicara kepadaku Abdul Rahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah !, Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat albaqarah, kerana aku telah mendengar Abdullah bin Umar ra. Menyuruh membuat demikian. Berkata Al-Abbas Ad-Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal, kalau dia ada menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Mu’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.

Berkata Khallal, telah memberitahuku Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Muwaffa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya :Sekalai peristiwa saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !. Apa bila kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari seterusnya : Aku menghafal sesuatu daripadanya ! Sangkal Imam Ahmad bin Hanbal : Yakah, apa dia ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, daribada Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.

Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik tegahanku (Bhs Ind : penolakanku ) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.

Berkata Al- Hasan  bin As-sabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !

Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu daripada Al-Qur’an.

Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

(Tarjamah Kitab Ar-ruh  Hafidz Ibnuqayyim jauziyah, ‘Roh’ , Ustaz Syed Ahmad Semait, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 1990, halaman 17 – 19)

untuk keterangan dan bukti scan kitab yang lain silahkan lihat di :

http://salafytobat.wordpress.com/2009/10/23/ibnul-qayyim-scan-kitab-ar-ruh-sampainya-hadiah-bacaan-alqur%E2%80%99an-dan-bolehnya-membaca-al-qur%E2%80%99an-diatas-kuburan/

Syarah Hikam Ibn Atho’illah oleh Tok Pulau Manis – Siri 16

Transliterasi Kitab Syarah Hikam Ibn Athoillah al-Sakandari oleh Shaikh Abdul Malik bin Abdullah bin Abdul Qahhar bin Syarif Muhammad al-Baghdadi @ Tok Pulau Manis

(Transliterasi dari tulisan Jawi kepada tulisan Rumi beserta dengan notakaki oleh: al-Faqir al-Haqir Abu Zahrah Abdullah Thahir al-Qedahi. Segala kesalahan dan kesilapan mohon dimaafkan dan dibetulkan. Pembetulan serta tunjuk ajar daripada para asatizah dan juga dari sekelian pengunjung al-Fanshuri sangat dialu-alukan. Dan sebagai peringatan: Bagi sesiapa yang membaca tulisan ini dinasihatkan supaya bertanya kepada masyaikh, tuanguru-tuanguru dan para asatizah yang berkeahlian dalam bidang ini, seandainya anda tidak memahami isi kandung kitab tasawuf ini. Janganlah diandaikan dengan pemahaman sendiri, ditakuti tiada muwafakat dengan apa yang dimaksudkan penulis kitab ataupun dengan ilmu tasawuf itu sendiri. Ampun maaf diatas segala kelemahan pentransliterasi. Al-Faqir hanya sekadar ingin berkongsi khazanah para ulama kita. Sekian. والله أعلم

أم كيف يرجوأن يفهم دقائق الأسراروهولم يتب من هفواته

[Artinya]: Atau betapa diharap akan [dapat memahami] segala seni-seni rahsia pada hal ia tiada taubat daripada segala ketegelincirnya.

(Yakni) jangan harap paham akan segala seni-seni rahsia, orang yang tiada taubat daripada kesalahannya. Betapa faham kepada asrarul mulki wal malakut [1] – اسرارالملك والملكوت orang yang telah turun daripada syurga tempat jaga kepada bumi tempat lupa, dan betapa taubat daripada kesalahannya orang yang ditawan oleh syahwatnya.

(Dan) kata Shaikh ash-Shadhili رضي الله عنه : Bermula bersahabat serta Allah itu iaitu dengan meninggalkan segala syahwatnya dan tiada sampai hamba itu kepada Tuhannya serta syahwat daripada syahwatnya, dan tiada iradat daripada segala iradatnya.

(Maka) murad daripada faham itu iaitu nur yang ternaqash [2] نقش – dalam zihin, tatkala sudah suci tempat itu daripada hukum faraq. Dan faraq itu iaitu yang dibangsakan kepadamu, maka apabila engkau ikhlas daripada maqamul faraq kepada maqamul jama’ [baharulah kamu boleh fahamn daqoiqol asror] dan [sebaliknya, apabila] kau nadzor [tilik atau pandang] kepada wujudmu atau kepada segala halmu maka adalah yang demikian itu kesalahan yang menempati [3] daripada mu faham akan daqaiqul asrar.

(Dan) inilah suatu [hal] yang telah menyebutkan muallif akan dia [tentang] segala [yang ber]lawanan tiada dapat berhimpun kerana bahawa sanya himpunan antara dua [yang ber]lawanan itu muhaal [mustahil] seperti berhimpun gerak dan diam dan terang dan kelam. Maka adalah bercahaya hati itu dengan nur iman iaitu berlawanan bagi kelam yang diperintahkan [dikuasai] atasnya [yakni hati] daripada [sebab] cenderungnya kepada aghyar dan berjabat[4]nya [yakni hati] atasnya [yakni aghyar] dan demikian lagi yang telah tersebut itu berlawan-lawanan atasnya.

Notakaki:

1 – Rahsia-rahsia alam syahadah dan alam ghaib. Alam mullki itu ialah nama alam benda yang boleh ditangkap oleh pancaindera. Ia juga dinamakan alam syahadah atau alam nyata atau alam hissi atau alam panceindera. Manakala alam malakut adalah alam yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera dan tiada bersifat jasmani. والله أعلم

2 – Terukir, terpahat atau terlukis. Maksud ternaqash dalam zihin itu adalah terukir dalam fikiran atau ingatan hati. والله أعلم

3 – Yakni yang menghalangi atau mendindingi. والله أعلم

4 – Bergantung atau berpegang atau bersandar. والله أعلم

Posted by: Habib Ahmad | 17 April 2010

RABANA DI MASJID

 

 

 

 

RABANA

 

 

 

DI MASJID

http://www.majelisrasulullah.org

Kenalilah Akidahmu

 

 

 

42

BERMAIN RABANA DI MASJID

Saudaraku yang kumuliakan, Didalam madzhab syafii bahwa Dufuf (rebana) hukumnya

Mubah secara Mutlak (Faidhulqadir juz 1 hal 11), diriwayatkan pula bahwa para wanita

memukul rebana menyambut Rasulullah saw disuatu acara pernikahan, dan Rasul saw

mendengarkan syair mereka dan pukulan rebana mereka, hingga mereka berkata :

bersama kami seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi”, maka Rasul saw

bersabda : “Tinggalkan kalimat itu, dan ucapkan apa apa yang sebelumnya telah kau

ucapkan”. (shahih Bukhari hadits no.4852), juga diriwayatkan bahwa rebana dimainkan

saat hari asyura di Madinah dimasa para sahabat radhiyallahu ‘anhum (sunan Ibn

Majah hadits no.1897)

Dijelaskan oleh Imam Ibn Hajar bahwa Duff (rebana) dan nyanyian pada pernikahan

diperbolehkan walaupun merupakan hal lahwun (melupakan dari Allah), namun dalam

pernikahan hal ini (walau lahwun) diperbolehkan (keringanan syariah karena

kegembiraan saat nikah), selama tak keluar dari batas batas mubah, demikian

sebagian pendapat ulama (Fathul Baari Almasyhur Juz 9 hal 203).

Menunjukkan bahwa yang dipermasalahkan mengenai pelarangan rebana adalah

karena hal yang Lahwun (melupakan dari Allah), namun bukan berarti semua rebana

haram karena Rasul saw memperbolehkannya, bahkan dijelaskan dengan Nash

Shahih dari Shahih Bukhari, namun ketika mulai makna syairnya menyimpang dan

melupakan dari Allah swt maka Rasul saw melarangnya,

Demikianlah maksud pelarangannya di masjid, karena rebana yang mengarah pada

musik lahwun, sebagian ulama membolehkannya di masjid hanya untuk nikah

walaupun Lahwun, namun sebagian lainnya mengatakan yang dimaksud adalah diluar

masjid, bukan didalam masjid,

Pembahasan ini semua adalah seputar hukum rebana untuk gembira atas akad

nikah dengan lagu yang melupakan dari Dzikrullah.

Berbeda dengan rebana dalam maulid, karena isi syairnya adalah shalawat, pujian

pada Allah dan Rasul Nya saw, maka hal ini tentunya tak ada khilaf padanya, karena

khilaf adalah pada lagu yang membawa lahwun.

Sebagaimana Rasul saw tak melarangnya, maka muslim mana pula yang berani

mengharamkannya, sebab pelarangan di masjid adalah membunyikan hal yang

membuat lupa dari Allah didalam masjid,

Sebagaimana juga syair yang jelas jelas dilarang oleh Rasul saw untuk dilantunkan di

masjid, karena membuat orang lupa dari Allah dan masjid adalah tempat dzikrullah,

namun justru syair pujian atas Rasul saw diperbolehkan oleh Rasul saw di masjid,

demikian dijelaskan dalam beberapa hadits shahih dalam shahih Bukhari, bahkan

Rasul saw menyukainya dan mendoakan Hassan bin Tsabit ray g melantunkan syair di

masjid, tentunya syair yang memuji Allah dan Rasul Nya.

RABANA

 

 

 

DI MASJID

http://www.majelisrasulullah.org

Kenalilah Akidahmu

 

 

 

43

Saudaraku, rebana yang kita pakai di masjid itu bukan Lahwun dan membuat orang

lupa dari Allah, justru rebana rebana itu membawa muslimin untuk mau datang dan

tertarik hadir ke masjid, duduk berdzikir, melupakan lagu lagu kafirnya, meninggalkan

alat alat musik setannya, tenggelam dalam dzikrullah dan nama Allah swt, asyik

ma’syuk menikmati rebana yang pernah dipakai menyambut Rasulullah saw,

Mereka bertobat, mereka menangis, mereka asyik duduk di masjid, terpanggil ke

masjid, betah di masjid, perantaranya adalah rebana itu tadi dan syair syair Pujian

pada Allah dan Rasul Nya

Dan sebagaimana majelis kita telah dikunjungi banyak ulama, kita lihat bagaimana

Guru Mulia Al hafidh Al habib Umar bin hafidh, justru tersenyum gembira dengan

hadroh majelis kita, demikian pula AL Allamah Alhabib Zein bin Smeth Pimpinan

Ma’had Tahfidhul qur’an Madinah Almunawwarah, demikian pula Al Allamah Al Habib

Salim bin Abdullah Asyatiri yang Pimpinan Rubat Tarim juga menjadi Dosen di

Universitas AL Ahqaf Yaman, .demikian AL Allamah ALhabib Husein bin Muhamad

Alhaddar, Mufti wilayah Baidha, mereka hadir di majelis kita dan gembira, tentunya bila

hal ini mungkar niscaya mereka tak tinggal diam, bahkan mereka memuji majelis kita

sebagai majelis yang sangat memancarkan cahaya keteduhan melebih banyak majelis

majelis lainnya.

Mengenai pengingkaran yang muncul dari beberapa kyai kita adalah karena mereka

belum mencapai tahqiq dalam masalah ini, karena tahqiq dalam masalah ini adalah

tujuannya, sebab alatnya telah dimainkan dihadapan Rasulullah saw yang bila alat itu

merupakan hal yang haram mestilah Rasul saw telah mengharamkannya tanpa

membedakan ia membawa manfaat atau tidak, namun Rasul saw tak melarangnya,

dan larangan Rasul saw baru muncul pada saat syairnya mulai menyimpang, maka

jelaslah bahwa hakikat pelarangannya adalah pada tujuannya.

Demikian saudaraku yang kumuliakan,

Wallahu a’lam

Manaqib / Sejarah /Profil Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad ( Pelabuhan Petikemas – Tanjung Priok ) / Mbak PriokPublished on April 14, 2010 in Mencintai Rasullullah dan Ahlul Bait and Artikel Islam. 5 Comments

Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad

( Pelabuhan Petikemas – Tanjung Priok )

Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad lahir di di Ulu, Palembang, Sumatera selatan, pada tahun 1291 H / 1870 M. Semasa kecil beliau mengaji kepada kakek dan ayahnya di Palembang. Saat remaja, beliau mengembara selama babarapa tahun ke Hadramaut, Yaman, untuk belajar agama, sekaligus menelusuri jejak leluhurnya, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shohib Ratib Haddad, yang hingga kini masih dibaca sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Beliau menetap beberapa tahun lamanya, setelah itu kembali ke tempat kelahirannya, di Ulu, Palembang

Ketika petani Banten, dibantu para Ulama, memberontak kepada kompeni Belanda (tahun 1880), banyak ulama melarikan diri ke Palembang; dan disana mereka mendapat perlindungan dari Habib Hasan. Tentu saja pemerintah kolonial tidak senang. Dan sejak itu, beliau selalu diincar oleh mata-mata Belanda.

Pada tahun 1899, ketika usianya 29 tahun, beliau berkunjung ke Jawa, ditemani saudaranya, Habib Ali Al-Haddad, dan tiga orang pembantunya, untuk berziarah ke makam Habib Husein Al Aydrus di Luar Batang, Jakarta Utara, Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya. Dalam perjalanan menggunakan perahu layar itu, beliau banyak menghadapi gangguan dan rintangan. Mata-mata kompeni Belanda selalu saja mengincarnya. Sebelum sampai di Batavia, perahunya di bombardier oleh Belanda. Tapi Alhamdulillah, seluruh rombongan hingga dapat melanjutkan perjalanan sampai di Batavia.

Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua bulan itu, mereka sempat singgah di beberapa tempat. Hingga pada sebuah perjalanan, perahu mereka dihantam badai. Perahu terguncang, semua perbekalan tumpah ke laut. Untunglah masih tersisa sebagian peralatan dapur, antara lain periuk, dan beberapa liter beras. Untuk menanak nasi, mereka menggunakan beberapa potong kayu kapal sebagai bahan bakar. Beberapa hari kemudian, mereka kembali dihantam badai. Kali ini lebih besar. Perahu pecah, bahkan tenggelam, hingga tiga orang pengikutnya meninggal dunia. Dengan susah payah kedua Habib itu menyelamatkan diri dengan mengapung menggunakan beberapa batang kayu sisa perahu. Karena tidak makan selama 10 hari, akhirnya Habib Hasan jatuh sakit, dan selang beberapa lama kemudian beliaupun wafat.

Sementara Habib Ali Al-Haddad masih lemah, duduk di perahu bersama jenazah Habib Hasan, perahu terdorong oleh ombak-ombak kecil dan ikan lumba-lumba, sehingga terdampar di pantai utara Batavia. Para nelayan yang menemukannya segera menolong dan memakamkan jenazah Habib Hasan. Kayu dayung yang sudah patah digunakan sebagai nisan dibagian kepala; sementara di bagian kaki ditancapkan nisan dari sebatang kayu sebesar kaki anak-anak. Sementara periuk nasinya ditaruh disisi makam. Sebagai pertanda, di atas makamnya ditanam bunga tanjung. Masyarakat disekitar daerah itu melihat kuburan yang ada periuknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung periuk. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yairtu bunga tanjung dan periuk.

Konon, periuk tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut.
Banyak orang yang bercerita bahwa, tiga atau empat tahun sekali, periuk tersebut di laut dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah. Diantara orang yang menyaksikan kejadian itu adalah anggota TNI Angkatan Laut, sersan mayor Ismail. Tatkala bertugas di tengah malam, ia melihat langsung periuk tersebut.

Karena kejadian itulah, banyak orang menyebut daerah itu : Tanjung Periuk.
Sebenarnya tempat makam yang sekarang adalah makam pindahan dari makam asli. Awalnya ketika Belanda akan menggusur makam Habib Hasan, mereka tidak mampu, karena kuli-kuli yang diperintahkan untuk menggali menghilang secara misterius. Setiap malam mereka melihat orang berjubah putih yang sedang berdzikir dengan kemilau cahaya nan gemilang selalu duduk dekat nisan periuk itu. Akhirnya adik Habib Hasan, yaitu Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad, dipanggil dari Palembang khusus untuk memimpin doa agar jasad Habib Hasan mudah dipindahkan. Berkat izin Allah swt, jenazah Habib Hasan yang masih utuh, kain kafannya juga utuh tanpa ada kerusakan sedikitpun, dipindahkan ke makam sekarang di kawasan Dobo, tidak jauh dari seksi satu sekarang.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Salah satu karomah Habib Hasan adalah suatu saat pernah orang mengancam Habib Hasan dengan singa, beliau lalu membalasnya dengan mengirim katak. Katak ini dengan cerdik lalu menaiki kepala singa dan mengencingi matanya. Singa kelabakan dan akhirnya lari terbirit-birit.

( Al – Kisah No. 07 / Tahun III / 28 Maret – 10 April 2005 & No. 08 / Tahun IV / 10-23 April 2006 )

Sumber MT Ashalatu ‘Alan Nabi

Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A kurang lebih 23 tahun dimaqamkan, pemerintah belanda pada saat itu bermaksud membangun pelabuhan di daerah itu. Pada saat pembangunan berlangsung banyak sekali kejadian yang menimpa ratusan pekerja (kuli) dan opsir belanda sampai meninggal dunia. Pemerintah belanda menjadi bingung dan heran atas kejadian tersebut dan akhirnya menghentikan pembangunan yang sedang dilaksanakan.

Rupanya pemerintah belanda masih ingin melanjutkan pembangunan pelabuhan tersebut dengan cara pengekeran dari seberang (sekarang dok namanya), alangkah terkejutnya mereka saat itu ketika melihat ada orang berjubah putih sedang duduk dan memegang tasbih di atas maqam. Maka dipanggil beberapa orang mandor untuk membicarakan peristiwa tersebut. Setelah berembuk diputuskan mencari orang yang berilmu yang dapat berkomunikasi dengan orang yang berjubah putih yang bukan lain adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. setelah berhasil bertemu orang berilmu yang dimaksud (seorang kyai) untuk melakukan khatwal, alhasil diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1.Apabila daerah (tanah) ini dijadikan pelabuhan oleh pemerintah  belanda tolong sebelumnya pindahkanlah saya terlebih dulu dari tempat ini.
2.Untuk memindahkan saya, tolong hendaknya hubungi terlebih dulu adik saya yang bernama Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu Palembang, Sumatera Selatan.

Akhirnya pemerintah belanda menyetujui permintaan Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A (dalam khatwalnya) kemudian dengan menggunakan kapal laut mengirim utusannya termasuk orang yang berilmu tadi untuk mencari Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu, Palembang.

Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A sangat mudah ditemukan di Palembang, sehingga dibawalah langsung ke Pulau Jawa untuk membuktikan kebenarannya. Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A dalam khatwalnya membenarkan “Ini adalah maqam saudaraku Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A yang sudah lama tidak ada kabarnya.”

Selama kurang lebih 15 hari lamanya Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A menetap untuk melihat suasana dan akhirnya Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dipindahkan di jalan Dobo yang masih terbuka dan luas. Dalam proses pemindahan jasad Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A masih dalam keadaan utuh disertai aroma yang sangat wangi, sifatnya masih melekat dan kelopak matanya bergetar seperti orang hidup.

Setelah itu Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta kepada pemerintah belanda agar maqam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A itu dipagar dengan kawat yang rapih dan baik serta diurus oleh beberapa orang pekerja. Pemerintah belanda pun memenuhi permintaan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A.

Setelah permintaan dipenuhi Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta waktu 2 sampai 3 bulan lamanya untuk menjemput keluarga beliau yang berada di Ulu, Palembang. Untuk kelancaran penjemputan itu, pemerintah belanda memberikan fasilitas. Dalam kurun waktu yang dijanjikan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A kembali ke Pulau Jawa dengan membawa serta keluarga beliau.

Dalam pemindahan jenazah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A tersebut banyak orang yang menyaksikan diantaranya :
1.Al Habib Muhammad Bin Abdulloh Al Habsy R.A
2.Al Habib Ahmad Dinag Al Qodri R.A, dari gang 28
3.K.H Ibrahim dari gang 11
4.Bapak Hasan yang masih muda sekali saat itu
5.Dan banyak lagi yang menyaksikan termasuk pemerintah belanda

Kemudian Bapak Hasan menjadi penguru maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A. Saat ini semua saksi pemindahan tersebut sudah meninggal. Merekalah yang menyaksikan dan mengatakan jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A masih utuh dan kain kafannya masih mulus dan baik, selain itu wangi sekali harumnya.

Dipemakaman itulah dikebumikan kembali jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A yang sekarang ini pelabuhan PTK (terminal peti kemas) Koja Utara, Kecamatan Koja, Tanjung Priuk – Jakarta Utara.

Setelah pemindahan maqam banyak orang yang berziarah ke maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A sebagaimana yang diceritakan oleh putera Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yaitu Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A.

Pada Tahun 1841 Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A di gang 12 kelurahan Koja Utara kedatangan tamu yaitu Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad R.A (orang yang selamat dalam perjalanan dari Ulu, Palembang ke Pulau Jawa) dan beliau menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A beserta 3 orang azami. Cerita tersebut disaksikan Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A. Dari cerita itulah maka dijadikannya Maqib Maqom Kramat Situs Sejarah Tanjung Priuk (dalam pelabuhan peti kemas (TPK) Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara).

Posted by: Habib Ahmad | 17 April 2010

Manaqib Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assaggaf (3)

Manaqib Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assaggaf (3)

Ditulis oleh Admin di/pada 9 April 2010

Di madrasah An-Nahdhoh Al-’Ilmiyah ini, Al-Habib Abdul Qodir memperdalam berbagai macam ilmu, seperti ilmu Fiqih, Bahasa Arab, Nahwu, Shorof, Sastra Arab, Tarikh dan Tahfid Al-Quran. Manhaj madrasah ini adalah at-tazkiah (pensucian), at-tarbiyah (pendidikan) dan at-tarqiyah (keluhuran budi pekerti). Mudir (Kepala Sekolah) An-Nahdhoh waktu itu adalah As-Syaikh Al-Adib Ali Ahmad Baktsir. As-Syaikh Ali selalu memperhatikan kemajuan murid-muridnya, sampai-sampai murid-murid yang memiliki kecerdasan dan keunggulan di madrasah, beliau berikan kepada mereka pelajaran tambahan (privat) di rumahnya. Al-Habib Abdul Qodir juga mempelajari ilmu Qiroatus Sab’ah dengan As-Syaikh Hasan Abdullah Baraja’ setelah As-Syaikh Hasan pulang dari Makkah untuk memperdalam ilmu Qiroatul Qur’an.

Selain mendapatkan pengajaran berbagai ilmu di madrasah tersebut, peran ayah beliau, Al-Habib Ahmad, dalam menggembleng beliau cukup besar. Bahkan yang didapatkan Al-Habib Abdul Qodir dari ayahnya lebih banyak daripada yang beliau dapatkan di madrasah. Hari-hari Al-Habib Abdul Qodir penuh dengan kegiatan belajar. Beliau pernah mengatakan bahwa sehari semalam, dalam satu atau dua jalsah dengan ayahnya, beliau bisa mengkhatamkan satu kitab. Dengan demikian waktu beliau menjadi berkah. Dalam waktu yang relatif singkat beliau telah menjadi seorang yang luas pengetahuannya dan luhur budi pekertinya.

Mengajar di Madrasah An-Nahdhoh

Di antara keistimewaan madrasah An-Nahdhoh ini adalah meluluskan lebih awal murid-muridnya yang unggul untuk diperbantukan mengajar di situ. Di antara sekian banyak siswanya, terpilihlah Al-Habib Abdul Qodir untuk diluluskan dan diizinkan mengajar. Tentunya pilihan ini jatuh kepada Al-Habib Abdul Qodir bukanlah sesuatu yang mudah, tapi setelah mengalami proses yang cukup ketat. Ini semua adalah berkat kesungguhan niat beliau dalam belajar dan kegigihan ayah beliau dalam mengembleng, sehingga Al-Habib Abdul Qodir unggul dalam banyak hal di antara teman sebayanya.

Pada suatu saat Al-Habib Abdul Qodir mulai diperintahkan oleh ayahnya untuk mengisi pengajian umum yang biasa diadakan di masjid Thoha bin Umar Ash-Shofi. Dalam penyampaiannya, Al-Habib Abdul Qodir banyak menerangkan hal-hal yang sebelumnya tidak banyak diketahui orang. Dari situlah orang-orang yang hadir tahu bahwa beliau adalah penerus ayahnya dan pewaris sirr para datuknya. Dengan mengajar dan mengisi pengajian itulah, Al-Habib Abdul Qodir telah mencetak santri-santri yang berkualitas yang banyak bersyukur dan menyaksikan keunggulan beliau.

bersambung

[Diambil dari postingan Ust. Muhammad bin Ahmad Assegaf pada milis Zawiya]

Posted by: Habib Ahmad | 17 April 2010

Manaqib Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assaggaf (2)

Manaqib Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assaggaf (2)

Ditulis oleh Admin di/pada 7 April 2010

Masa kecil beliau

Sejak kecil beliau tumbuh berkembang dalam lingkungan ilmu pengetahuan, ibadah dan akhlak yang tinggi yang ditanamkan dan sekaligus dicontohkan oleh ayah beliau yang sholeh Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assaggaf. Dan memang demikianlah keadaan kebanyakan keluarga-keluarga Alawiyin di Hadramaut pada masa itu. Keadaan ini sangat mendukung para orangtua untuk mencetak kader-kader ulama dan shulaha’ (orang-orang baik) karena anak-anak disana pada masa itu selain dididik oleh orang tua, lingkungan juga ikut membentuk mereka. Keikhlasan dan kebersihan hati menjadi hiasan penduduk disana kala itu. Mereka tidak terkontaminasi dengan budaya dan berbagai macam paham dari luar . Setiap anak meneladani ayahnya dan ayah meneladani kakeknya. Demikianlah seterusnya sehingga asror mereka terwariskan kepada anak cucunya.

Ketika usia Al-Habib Abdul Qodir sudah cukup dan telah tampak kesungguhan niat beliau dalam menuntut ilmu, maka beliau mulai mengikuti pendidikan di luar rumah, karena selama ini beliau hanya belajar dengan ayahnya. Pertama kali beliau mengenyam pendidikan di `Ulmah Thoha, yaitu sebuah pendidikan yang diadakan di masjid Toha yang didirikan oleh datuknya Al-Habib Thoha bin Umar Assagaf di kota Sewun. Adapun guru yang mengajar beliau di tempat tersebut adalah As-Syaikh Thoha bin Abdullah Bahmed. ‘Ulmah Thoha adalah sebuah lembaga pendidikan sederhana yang didirikan atas dasar takwa dan keridhoan Allah, oleh karena itu tempat tersebut telah banyak mencetak orang-orang besar dan tokoh-tokoh ulama pada zaman itu. Di tempat itulah Al-Habib Abdul Qodir bersama anak-anak sebayanya tekun mendalami ilmu qowaidul kitabah, qiroah dan lain-lain, sehingga menjadi kuat dasar-dasar pengetahuannya serta fasih lisannya.

Setelah beberapa waktu kemudian beliau keluar dari ‘Ulmah Thoha dan mencurahkan waktunya untuk lebih banyak duduk dan menimbah ilmu dari ayahnya, sehingga tampak tanda-tanda kemuliaan pada diri beliau. Kemudian atas perintah ayahnya beliau melanjutkan pendidikannya di madrasah An-Nahdhoh Al-`ilmiyah di kota Sewun.

bersambung

[Diambil dari postingan Ust. Muhammad bin Ahmad Assegaf pada milis Zawiya]

Posted by: Habib Ahmad | 17 April 2010

Majalah Al Kisah baru

Edisi-08-2010 PDF Print E-mail
 
 

 Bermazhab dengan mazhab al-Salafiyyah (Salafy) adalah DILARANG

Penjelasan Imam al-Nawawi dipetik dari kitab Majmu’ Sharh al-Muhazzab

Bab Adab Berfatwa, Mufti dan Orang Yang Bertanya Fatwa

Terjemahan

Dan tidak boleh bagi si awam itu bermazhab dengan mazhab salah seorang daripada imam-imam di kalangan para sahabat r.anhum dan selain daripada mereka daripada generasi-generasi yang terawal, walaupun mereka lebih alim dan lebih tinggi darjatnya berbanding dengan (ulama’) selepas mereka;

ini adalah kerena mereka tidak meluangkan masa sepenuhnya untuk mengarang ilmu dan meletakkan prinsip-prinsip asas dan furu’nya. Maka tidak ada bagi salah seorang daripada mereka sebuah mazhab yang telah dihalusi, dianalisis dan diperakui.

Hanyasanya, (ulama’2) yang datang selepas mereka yang merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien lah yang melakukan usaha meletakkan hukum-hukum sebelum berlakunya perkara tersebut; yang bangkit menerangkan prinsip-prinsip asas dan furu’ mereka seperti (Imam) Malik dan (Imam) Abu Hanifah dan selain dari mereka berdua.”

[Kemudian Imam al-Nawawi menjelaskan kelebihan mazhab Imam al-Shafie dari pandangan beliau dan dengan secara tersiratnya menerangkan mengapa beliau bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie]

“Dan oleh kerana Imam al-Shafie adalah merupakan imam yang terkemudian dari sudut masa, maka beliau telah melihat mazhab-mazhab mereka seperti mana mereka melihat mazhab-mazhab ulama’ sebelum mereka. Maka beliau menperhalusinya, mengujinya dan mengkritiknya dan memilih yang paling rajih (kuat) dan beliau mendapat hasil daripada usaha ulama’2 sebelum beliau yang telah meletakkan gambaran dan pengasasan, maka beliau telah meluangkan masa untuk memilih dan mentarjih dan menyempurnakan dan meminda, dengan pengetahuan beliau dan kebijaksanaan beliau dalam pelbagai bidang ilmu.

Dan dengan perkara ini beliau mendapat kedudukan yang lebih kuat dan rajih, kemudian tidak ada selepas beliau, (alim) yang mencapai kedudukan seperti beliau dalam perkara ini.

Maka dengan ini, mazhab beliau adalah mazhab yang paling utama untuk diikuti dan bertaqlid dengannya – dan ini dengan jelasnya bahawa kita mestilah berlaku adil dan tidak ada meletakkan sebarang sikap memandang rendah pada salah seorang daripada para imam.

Hal ini, apabila diteliti oleh si awam akan memandunya kepada memilih mazhab Imam al-Shafie dan bermazhab dengannya.”

2. Bermazhab dengan mazhab al-Salafiyyah adalah bid’ah yang tidak pernah berlaku sebelum ini.

Alim besar Syria yang tidak perlu diperkenalkan lagi, al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Bouthi menerangkan dengan panjang lebar sebuah ajaran baru yang dinamakan “al-Salafiyyah” selepas ditukar jenama daripada “al-Wahhabiyyah” kerana pengamal ajaran ini tidak mahu ajaran ini dinisbahkan kepada Muhammad Ibn Abdul Wahhab semata-mata. [Rujuk m/s 235 & 236 daripada kitab dibawah]

Beliau menyatakan bahawa MENGIKUT GENERASI SALAF adalah satu perkara yang sangat-sangat berbeza berbanding BERMAZHAB DENGAN MAZHAB AL-SALAFIYYAH yang digembar-gemburkan oleh pengamal Wahhabi pada hari ini.[Rujuk m/s 221 sehingga 242 daripada kitab di bawah].

Beliau berkata bahawa istilah yang digunakan oleh para ulama’ untuk menamakan kedudukan para ulama’ yang benar adalah Ahli Sunnah dan Jama’ah. Istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah adalah istilah yang telah diijmak oleh para ulama’ generasi Salaf untuk menamakan golongan yang benar. Manakala istilah al-Salafiyyah yang digunakan oleh golongan Wahhabi pada hari ini untuk melambangkan dan menamakan golongan yang benar [menurut sangkaan mereka] adalah satu bid’ah yang tercela bahkan tidak pernah digunakan oleh generasi Salafus Soleh untuk menamakan golongan yang benar. Sila lihat petikan dan terjemahan kata-kata beliau di bawah [Semoga anda diberi hidayah oleh Allas SWT]. Kitab ini bertajuk:

[السلفية: مرحلة زمنية مباركة لا مذهب إسلامي]

“Al-Salafiyyah: Satu Tempoh Masa Yang Diberkati dan bukanlah Sebuah Mazhab Islam.”

Kitab ini adalah satu penerangan dan kritikan yang penuh ilmiah terhadap ajaran Wahhabi yang dikarang oleh seorang alim seperti beliau.

“Cukuplah pujian bagi kitab ini dengan disebutkan nama penulisnya.”

Terjemahan:“Dan manakala apabila seorang Muslim mentakrifkan / memperkenalkan dirinya dengan menyatakan bahawa dia disandarkan kepada sebuah mazhab yang dikenali pada hari ini dengan al-Salafiyyah, maka tanpa ragu-ragu lagi dia adalah seorang ahli bid’ah. 

Ini adalah kerana sekiranya istilah “al-Salafiyyah” boleh memberi maksud yang sama seperti “Ahli Sunnah dan Jamaah”, maka sesungguhnya dia telah melakukan bid’ah dengan mencipta nama yang berbeza dengan nama yang telah disepakati oleh generasi Salaf [Semoga keredhaan Allah dilimpahkan ke atas mereka].

Dan nama yang bid’ah lagi tidak diperlukan ini telah cukup untuk menimbulkan ketidakstabilan dan perpecahan di dalam saf-saf [perpaduan] umat Islam.

Dan manakala sekirannya nama al-Salafiyyah ini memberi maksud yang berbeza dengan dengan hakikat Ahli Sunnah dan Jama’ah – dan inilah kebenarannya – maka bid’ah ini telah berlaku dengan nama rekaan tersebut [al-Salafiyyah] serta kandungannya yang bathil, dan istilah ini cuba menegakkan benderanya dan mengangkat kedudukannya sebagai ganti kepada kebenaran yang telah disepakati oleh generasi Salaf dan [generasi Salafus Soleh pada hakikatnya] telah berijma’ menggunakan nama “Ahli Sunnah dan Jama’ah” [bagi golongan yang benar].”

Maka telah terbuktilah bid’ah [golongan Salafi Wahhabi ini] dalam menggunakan istilah “al-Salafiyyah” di samping maksudnya yang juga bid’ah untuk digunakan sebagai jenama/nama bagi sebuah kumpulan baru [Salafi Wahhabi] yang memisahkan diri mereka dari jemaah umum Umat Islam yang bersatu dalam menggunakan istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” serta berpegang dengan hakikat [Ahli Sunnah dan Jama’ah] yang benar.”

Dapat difahami daripada kata-kata di atas bahawa al-Sheikh al-Bouthi:

  1. Menerangkan bahawa istilah al-Salafiyyah adalah satu istilah yang bid’ah dan bertentangan dengan kesepakatan ulama’ generasi Salaf.
  2. Menolak istilah al-Salafiyyah untuk digunakan sebagai ganti Ahli Sunnah dan Jamaah.
  3. Berterus-terang bahawa kandungan ajaran yang dibawa oleh kelompok Salafiyyah Wahhabiyyah adalah bukan merupakan pegangan Ahli Sunnah dan Jamaah.

Semoga nasihat beliau ini mampu melembutkan hati yang keras, menghidupkan hati yang mati, menyedarkan hati yang lalai, mengubati hati yang berpenyakit dan meluruskan hati yang terpesong dengan izin Allah SWT dan berkat kasih sayang-Nya kepada Rasulullah SAW.

Wassalam.

http://al-ashairah.blogspot.com/

http://salafytobat.wordpress.com

Posted by: Habib Ahmad | 17 April 2010

Jirus kubur

Jirus kubur

 


Imam kita asy-Syafi`i meriwayatkan daripada Ibraahiim bin Muhammad daripada Ja’far bin Muhammad daripada ayahandanya bahawasanya Junjungan Nabi s.a.w. telah menyiram (air) atas kubur anakanda baginda Ibrahim dan meletakkan atasnya batu-batu kerikil. Riwayat ini terkandung dalam “Musnad al-Imam al-Mu`adzhdzham wal Mujtahid al-Muqaddam Abi ‘Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi`i r.a.“, juzuk 1, halaman 215.

Maka perbuatan baginda inilah yang dijadikan dalil oleh para ulama kita untuk menghukumkan sunnat menjirus atau menyiram air ke atas pusara si mati diiringi doa agar Allah mencucurikan rahmat dan kasih sayangNya kepada almarhum/almarhumah. Amalan ini sudah sebati dengan masyarakat kita, walaupun sesekali ada yang mempertikaikannya. Pernah aku mendengar seseorang dalam ceramahnya yang berapi-api membid`ahkan amalan ini. Maaf maaf cakap, mungkin pengajiannya belum tamat agaknya, atau mungkin waktu tok guru sedang mengajar bab ini dia tertidur atau ponteng tak turun kuliyyah agaknya.

Pihak yang melakukannya pula ada yang hanya ikut-ikutan sahaja tanpa mengetahui hukumnya dalam mazhab yang kita pegangi. Ada yang melakukannya tetapi tidak kena caranya sehingga berubah hukumnya dari sunnat menjadi makruh. Untuk manfaat bersama, amalan menjirus air ke kubur dipandang SUNNAT dalam mazhab kita Syafi`i. Tetapi yang disunnatkan hanya dengan air semata-mata dan bukannya air mawar sebagaimana kelaziman sesetengah masyarakat kita. Menjirus air dengan air mawar dihukumkan MAKRUH kerana ianya merupakan satu pembaziran. Dan mutakhir ini, timbul tradisi yang tidak sihat, di mana penziarah, terutama dari kalangan berada, membuang duit untuk membeli jambangan bunga untuk diletakkan di atas pusara, persis kelakuan dan perlakuan penganut agama lain. Kalau dahulu, orang hanya memetik bunga-bungaan yang ditanamnya sendiri di sekeliling rumah seperti daun pandan, bunga narjis dan sebagainya yang diperolehi dengan mudah dan tanpa sebarang kos. Ini tidaklah menjadi masalah kerana boleh dikiaskan perbuatan Junjungan yang meletakkan pelepah tamar atas kubur. Tetapi menghias kubur dengan jambangan bunga yang dibeli dengan harga yang mahal, maka tidaklah digalakkan bahkan tidak lepas dari serendah-rendahnya dihukumkan makruh yakni dibenci Allah dan rasulNya dan diberi pahala pada meninggalkannya, seperti juga menjirus kubur dengan air mawar. Maka hendaklah dihentikan perbuatan menghias-hias kubur secara berlebihan, membazir dan membuangkan harta. Adalah lebih baik jika wang yang digunakan untuk tujuan tersebut disedekahkan kepada faqir dan miskin atas nama si mati, dan ketahuilah bahawa sampainya pahala sedekah harta kepada si mati telah disepakati oleh sekalian ulama tanpa ada khilaf.

Dalam “I`anatuth Tholibin” karya Sidi Syatha ad-Dimyathi, jilid 2, mukasurat 135 – 136 dinyatakan:-

و يسن أيضا وضع حجر أو خشبة عند رأس الميت،
لأنه صلى الله عليه و سلم وضع عند رأس عثمان بن مظعون
صخرة،
و قال: أتعلم بها قبر أخي لأدفن فيه من مات من أهلي.
و رش القبر بالماء لئلا ينسفه الريح،
و لأنه صلى الله عليه و سلم فعل ذلك بقبر ابنه إبراهيم.
راوه الشافعي، و بقبر سعد رواه ابن ماجه،
و امر به في قبر عثمان بن مظعون راوه الترمذي.
و سعد هذا هو ابن معاذ.
و يستحب ان يكون الماء طاهر طهورا باردا،
تفاؤلا بأن الله تعالى يبرد مضجعه.
و يكره رشه بماء ورد و نحوه، لأنه إسراف و إضاعة مال

Dan disunnatkan meletakkan batu atau kayu (nisan) di sisi kepala mayyit, kerana bahawasanya Junjungan Nabi s.a.w. meletakkan sebiji batu besar (nisan) di sisi kepala (kubur) Sayyidina ‘Utsman bin Madzh`uun, dan Junjungan bersabda: “Agar diketahui dengannya kubur saudaraku supaya aku boleh mengkebumikan padanya sesiapa yang mati daripada keluargaku”. Dan (disunnatkan) menyiram (menjirus) kubur dengan air agar debu-debu tanah tidak ditiup angin dan kerana bahawasanya Junjungan Nabi s.a.w. melakukan sedemikian pada kubur anakanda baginda Sayyidina Ibrahim sebagaimana diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi`i; Dan juga pada kubur Sa`ad (yakni Sa`ad bin Mu`aadz) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, dan Junjungan s.a.w. telah memerintahkan dengannya (yakni dengan menjirus air) pada kubur Sayyidina ‘Utsman bin Madzh`uun sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi. Dan yang mustahab adalah air tersebut suci lagi mensucikan dan sejuk (air mutlak biasa, jangan pulak disalahfaham dengan air sejuk peti ais plak), sebagai tafa`ul (mengambil sempena) mudah-mudahan Allah menyejukkan kubur si mati (yakni menyamankan keadaan si mati di tempat perbaringannya dalam kubur tersebut). Dan makruh menyiram atau menjirus dengan air mawar atau seumpamanya kerana perbuatan tersebut adalah satu pembaziran dan mensia-siakan harta.

Begitulah ketentuan hukum menjirus kubur dengan air biasa dalam mazhab kita asy-Syafi`i. Diharap sesiapa yang telah beramal, tahu yang amalannya itu adalah sebagai menurut perbuatan Junjungan Nabi s.a.w. dan hendaklah diharap pahala atas amalannya tersebut dengan niat mencontohi amalan baginda. Sebagai penutup aku ingin berkongsi satu doa yang disusun oleh ulama, yang munasabah dibaca tatkala menyiram air atas pusara bermula dari kepala si mati hingga ke kakinya, iaitu:-

سَقَى اللهُ ثَرَاهُ (ثَرَاهَا)

وَ بَرَّدَ اللهُ مَضْجَعَهُ (مَضْجَعَهَا)

وَ جَعَلَ الْجَنَّةَ مَثْوَاهُ (مَثْوَاهَا)

saqaa-Allahu tsaraahu; wa barrada-Allahu madhja`ahu; wa ja`alal jannata matswaahu

Moga-moga Allah menyirami kuburnya (dengan hujan rahmat dan kasih sayang serta menghilangkan dahaganya); Dan menyamankan tempat perbaringannya; Dan menjadikan syurga tempat kediamannya.


الله اعلم
Posted by: Habib Ahmad | 17 April 2010

KHENDURI ARWAH DAN TAHLIL

KHENDURI ARWAH DAN TAHLIL

 


Persoalan Tentang Kenduri Arwah

Komen penulis tentang amalan kenduri arwah sebagai sesuatu yang bid’ah berdasarkan dakwaannya yang bersumberkan daripada Sharh al-Muhazzab oleh Imam Nawawi. Terjemahan beliau berbunyi begini: “Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai kepadanya adalah tidak diriwayatkan dari Nabi s.a.w. sedikitpun. Ia adalah bi’dah yang tidak disukai.”

Ulasan:

Mari lihat teks asal yang sepenuhnya ditulis oleh Imam Syairazi dalam al-Muhazzab dan syarahnya dalam al-Majmu’ oleh Imam Nawawi.
قال المصنف رحمه الله تعالى:
ويستحب لأقرباء الميت وجيرانه أن يصلحوا لأهل الميت طعاما لما روي أنه: ((لما قتل جعفر بن أبي طالب رضي الله عنه قال النبي صلى الله عليه وسلم: اصنعوا لآل جعفر طعاما، فإنه قد جاءه أمر يشغلهم عنه)).
Maksudnya:
“Dan disunatkan bagi kerabat si mati dan jirannya untuk melakukan kebaikan kepada ahli keluarga si mati dengan menyediakan makanan sebagaimana yang diriwayatkan: ((Bahawasanya ketika terbunuh Ja’far Bin Abi Thalib, Nabi s.a.w. bersabda: “Buatlah bagi keluarga Ja’far it makanan, maka sesungguhnya telah datang kepada mereka suatu perkara yang menyibukkan mereka)).

Dinyatakan di dalam Syarh al-Muhazzab:

واتفقت نصوص الشافعي في الأم والمختصر والأصحاب على أنه يستحب لأقرباء الميت وجيرانه أن يعملوا طعاما لأهل الميت…
Maksudnya:
Telah sepakat nas-nas Imam Syafi’e di dalam al-Umm, Mukhtasar dan Ashab bahawa sunat bagi kaum kerabat si mati dan jirannya untuk menyediakan makanan bagi ahli si mati..”

Dan di dalam al-Majmu’ juga terdapat sepertimana yang ditulis oleh mereka yang berbunyi begini:
وأما إصلاح أهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شيء، وهو بدعة غير مستحبة.
Maksudnya: Dan adapun menyediakan makanan oleh ahli si mati dan menghimpunkan orang ramai adalah tidak diriwayatkan dari Nabi s.a.w. sedikitpun, ia adalah bid’ah yang tidak mustahabbah (disunatkan).

Jawapan kami:

Dalam pernyataan di atas, bid’ah yang tidak disunatkan itu ialah amalan mengumpul orang ramai dan memberi makan kepada mereka. Sememangnya ini perkara yang menyusahkan keluarga si mati.

Adapun perkumpulan orang ramai untuk membaca tahlil, takbir, tasbih dan ayat-ayat al-Quran untuk dihadiahkan kepada si mati tidak disebut pengharamannya. Bahkan perkumpulan untuk berzikir dan membaca al-Quran adalah satu perkara yang sangat dianjurkan dan disokong oleh dalil-dalil umum yang lain.

Pemberian makanan (bukan dari harta warisan si mati) oleh keluarga si mati kepada orang ramai dengan niat bersedekah (dan pahalanya disedekahkan kepada si mati) juga disokong oleh dalil-dalil yang lain.

Maka jelaslah, maksud perkumpulan yang tidak disukai itu adalah dengan tujuan mengumpulkan orang ramai bagi menzahirkan ratapan kepada si mati. Ini dapat dilihat dengan jelas dari ayat yang seterusnya oleh Imam Nawawi di dalam Syarh al-Majmu’ yang berbunyi:

ويستدل بهذا بحديث جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال ((كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياحة)) رواه أحمد بن حنبل وابن ماجه بإسناد صحيح.

Dalam praktis hari ini, sememangnya anjuran Rasulullah s.a.w. ini dilakukan oleh pihak kerabat dan jiran-jiran dalam bentuk yang berlainan seperti sumbangan kewangan dan penyediaan makanan secara kerjasama di rumah ahli si mati.

Hakikatnya banyak perkara yang berubah dengan perkembangan cara hidup umat Islam, sebagai contoh, para ulama’ terdahulu tidak dibayar upah mereka oleh pihak kerajaan, namun pada hari ini, pendapatan para ustaz kita disediakan oleh pihak kerajaan. Adakah itu sesuatu yang salah? Bukankah di sana ada satu kaedah usuliyyah yang mengakui ‘perubahan hukum dengan perubahan masa dan tempat’ (تغير الأحكام بتغير الأزمان).

Walaubagaimanapun, bagi mereka yang mengamalkan amalan ini, ada di sana dalil-dalil yang mengharuskan amalan ini. Di antaranya:

1. Ahmad Ibn Muni’ mengeluarkan di dalam Musnadnya daripada al-Ahnaf Bin Qais, berkata: Apabila Sayyidina Umar r.a. telah ditikam beliau memerintahkan Suhaib untuk mengerjakan sembahyang dengan orang ramai selama tiga hari dan beliau meyuruh agar disediakan kepada orang ramai makanan. Isnadnya adalah baik. (Kitab al-Mathalib al-‘Aliyah oleh Ibnu Hajar al-Asqalani Juzu’:1 Ms: 199 No. Hadis: 709).

2. Imam Ahmad mengeluarkan dalam Bab Zuhud daripada Thawus, berkata: (Sesungguhnya orang yang mati itu diuji di dalam kubur selama tujuh hari dan mereka menyukai sekiranya diberikan makanan bagi pihak mereka pada hari-hari tersebut). Isnadnya adalah kuat. (Kitab al-Mathalib al-‘Aliyah oleh Ibnu Hajar al-Asqalani Juzu’:1 Ms: 199 No. Hadis: 710).

http://al-subki.blogspot.com/
Posted by: Habib Ahmad | 16 April 2010

Bila Sudah Tahu, Apa Yang Perlu Kita Buat ?

Bila Sudah Tahu, Apa Yang Perlu Kita Buat ?

Ini adalah buku yang ditulis oleh RASUL DAHRI, namanya terkenal di kalangan mereka yang mengakui sebagai salafi (wahhabi) di Malaysia. Dan beliau masih giat menyampaikan ceramahnya samada di dalam radio, kuliah agama dan melalui penulisan. Yang mana ia juga turut disebarluaskan di dalam youtube, facebook dan sebagainya.

Di dalam buku ini ditulis oleh RASUL DAHRI iaitu :


Sekiranya diklik pada scan buku di atas akan tertera perkataan :

Termasuk dalam kategori ini (bid’ah iktikad) sebagaimana yang disepakati oleh ulamak Ahli Sunnah Wal Jamaah yang berpegang dengan manhaj Salaf as Soleh ialah : Syiah, Khawarij, Jahamiyyah, Murjiah, Muktazilah, Asy’ariyyah dan semua cabang-cabang dari firqah-firqah sesat ini. Mereka adalah golongan yang bid’ah akidahnya yang mana di akhirat kelak akan dikekalkan di dalam neraka.

Ulasan penulis :

Lihat betapa beraninya penulis ini memasukkan sejumlah ulamak dan umat Islam yang bukan sahaja berada di Malaysia, Brunei, Indonesia bahkan di seluruh dunia ke neraka dan kekal di dalamnya.

Firman Allah yang bererti :

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا‌ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتۡ أَبۡوَٲبُهَا وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُہَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٌ۬ مِّنكُمۡ يَتۡلُونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَـٰتِ رَبِّكُمۡ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَـٰذَا‌ۚ قَالُواْ بَلَىٰ وَلَـٰكِنۡ حَقَّتۡ كَلِمَةُ ٱلۡعَذَابِ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِينَ (٧١) قِيلَ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٲبَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَا‌ۖ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَڪَبِّرِينَ (٧٢)

Dan orang-orang kafir akan dihalau ke Neraka Jahanam dengan berpasuk-pasukan, sehingga apabila mereka sampai ke Neraka itu dibukakan pintu-pintunya dan berkatalah penjaga-penjaganya kepada mereka: Bukankah telah datang kepada kamu Rasul-rasul dari kalangan kamu sendiri, yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Tuhan kamu dan memperingatkan kamu akan pertemuan hari kamu ini? Mereka menjawab: Ya, telah datang! Tetapi telah ditetapkan hukuman azab atas orang-orang yang kafir. (71) (Setelah itu) dikatakan kepada mereka: Masukilah pintu-pintu Neraka Jahanam itu dengan keadaan tinggal kekal kamu di dalamnya; maka seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong takbur ialah Neraka Jahanam. (72)

(surah Az Zumar ayat 71-72)

Jelaslah di dalam firman Allah di atas bahawa yang kekal di dalam neraka adalah Orang Kafir. Lalu bagaimana penulis buku ini boleh menghukum golongan asya’iroh sebagai kekal di dalam neraka sebagaimana orang-orang kafir ?

Dan golongan yang berfahaman seperti Rasul Dahri ini sedikit sebanyak telah menyebarkan fahaman mereka kepada umat Islam yang tidak tahu/kurang pengetahuan mengenai agama. Dan akhirnya berlakulah hukuman sesat, kafir, masuk di dalam neraka ke atas umat Islam tanpa hak!

Siapakah antara ulamak Islam yang mengikut aliran asya’iroh ini ?

Antara Peringkat Para Ulama’ Al-Asya’irah

Peringkat Pertama (Dari Kalangan Murid Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari)

Abu Abdullah bin Mujahid Al-Bashri

Abu Al-hasan Al-Bahili Al-Bashri

Abu Al-Hasan Bandar bin Al-Husein Al-Syirazi As-Sufi

Abu Muhammad At-Thobari Al-‘Iraqi

Abu Bakr Al-Qaffal As-Syasyi

Abu Sahl As-So’luki An-Naisaburi

Abu Yazid Al-Maruzi

Abu Abdillah bin Khafif As-Syirazi

Abu Bakr Al-Jurjani Al-Isma’ili

Abu Al-Hasan Abdul ‘Aziz At-Thobari

Abu Al-Hasan Ali At-Thobari

Abu Ja’far As-Sulami Al-Baghdadi

Abu Abdillah Al-Asfahani

Abu Muhammad Al-Qursyi Al-Zuhri

Abu Bakr Al-Bukhari Al-Audani

Abu Al-Manshur bin Hamsyad An-Naisaburi

Abu Al-Husein bin Sam’un Al-Baghdadi

Abu Abdul Rahman As-Syaruthi Al-Jurjani

Abu Ali Al-Faqih Al-Sarkhosyi

Peringkat Kedua

Abu Sa’ad bin Abi Bakr Al-Isma’ili Al-Jurjani

Abu Thayyib bin Abi Sahl As-So’luki An-Naisaburi

Abu Al-Hasan bin Daud Al-Muqri Al-Darani Ad-Dimasyqi

Al-Qodhi Abu Bakr bin At-Thoyyib bin Al-Baqillani

Abu ‘Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi (guru Imam Al-Qusyairi)

Al-Hakim Abu Abdillah bin Al-Bai’e An-Naisaburi

Abu Manshur bin Abi Bakr Al-Isma’ili

Al-Ustaz Abu Bakr Furak Al-Isfahani

Abu Sa’ad bin Uthman Al-Kharkusyi

Abu Umar Muhammad bin Al-Husein Al-Basthomi

Abu Al-Qasim bin Abi Amr Al-Bajli Al-Baghdadi

Abu Al-Hasan bin Maysazah Al-Isfahani

Abu Tholib bin Al-Muhtadi Al-Hasyimi

Abu Mu’ammar bin Abi Sa’ad Al-Jurjani

Abu Hazim Al-‘Abdawi An-Naisaburi

Al-Ustaz Abu Ishaq Al-Isfara’ini

Abu ‘Ali bin Syazan Al-Baghdadi

Abu Nu’aim Al-Hafiz Al-Isfahani

Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Al-Istawa’ie Ad-Dalwi

Peringkat Ketiga

Abu Al-Hasan As-Sukri Al-Baghdadi

Abu Manshur Al-Ayyubi An-Naisaburi

Abu Muhammad Abdul Wahab Al-Baghdadi

Abu Al-Hasan An-Na’imi Al-Bashri

Abu Thohir bin Khurasah Ad-Dimasyqi

Al-Ustaz Abu Manshur An-Naisaburi

Abu Dzar Al-Haraqi Al-Hafiz

Abu Bakr Ad-Dimsyaqi (Ibn Al-Jurmi)

Abu Muhammad Al-Juwaini (ayahnda Imam Al-Haramain Al-Juwaini)

Abu Al-Qasim bin Abi Uthman Al-Hamdani

Abu Ja’far As-Samnani

Abu Hatim At-Thobari Al-Qozwini

Abu Al-Hasan Rasya bin Nazhif Al-Muqri

Abu Muhammad Al-Isfahani (Ibn Al-Laban)

Abu Al-Fath Salim bin Ayyub Al-Razi

Abu Abdillah Al-Khobazi Al-Muqri

Abu Al-Fadhl bin ‘Amrus Al-Baghdadi Al-Maliki

Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Isfarayini

Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi (empunya Al-Asma’ wa As-Sifat)

Peringkat Keempat

Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi

Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi

Abu ‘Ali bin Abi Harishoh Al-Hamdani Ad-Dimasyqi

Abu Al-Muzhoffar Al-Isfara’ini

Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali As-Syirazi

Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini

Abu Al-Fath Nasr bin Ibrahim Ad-Dimasyqi

Abu Abdillah At-Thobari

Peringkat Kelima

Abu Al-Muzoffar Al-Khowafi

Al-Imam Abu Al-Hasan At-Thobari (Balika Al-Harrasi)

Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali r.a.

Al-Imam Abu Bakr Al-Syasyi

Abu Al-Qashim Al-Anshori An-Naisaburi

Al-Imam Abu Nasr bin Abi Al-Qasim Al-Qusyairi

Al-Imam Abu ‘Ali Al-Hasan bin Sulaiman Al-Isbahani

Abu Sa’id As-ad bin Abi Nashr bin Al-Fadhl Al-‘Umri

Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Uthmani Ad-Dibaji

Al-Qadhi Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Salamah (Ibn Al-Ratbi)

Al-Imam Abu Abdillah Al-Farawi

Imam Abu Sa’ad Isma’il bin Ahmad An-Naisaburi Al-Karmani

Imam Abu Al-Hasan Al-Sulami Ad-Dimasyqi

Imam Abu Manshur Mahmud bin Ahmad Masyazah

Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad Al-Isfara’ini

Abu Al-Fath Nasrullah bin Muhammad Al-Mashishi

Peringkat Keenam

Al-Imam Fakhruddin Al-Razi (empunya At-Tafsir Al-Kabir dan Asas At-Taqdis)

Imam Saifullah Al-Amidi (empunya Abkar Al-Afkar)

Sulton Al-Ulama’ Izzuddin bin Abdil Salam

Sheikh Abu ‘Amr bin Al-Hajib

Sheikhul Islam Izzuddin Al-Hushairi Al-Hanafi (empunya At-Tahsil wal Hashil)

Al-Khasru Syahi

Peringkat Ketujuh

Sheikh Taqiyuddin Ibn Daqiq Al-‘Idd

Sheikh ‘Ala’uddin Al-Baji

Al-Imam Al-Walid Taqiyuddin Al-Subki (murid Sheikh Abdul Ghani An-Nablusi)

Sheikh Shofiyuddin Al-Hindi

Sheikh Shadruddin bin Al-Marhal

Sheikh Zainuddin

Sheikh Shodruddin Sulaiman Abdul Hakam Al-Maliki

Sheikh Syamsuddin Al-Hariri Al-Khatib

Sheikh Jamaluddin Az-Zamlakani

Sheikh Jamaluddin bin Jumlah

Sheikh Jamaluddin bin Jamil

Qodhi Al-Quddho Syamsuddin As-Saruji Al-Hanafi

Al-Qadhi Syamsuffin bin Al-Hariri

Al-Qodhi ‘Addhuddin Al-Iji As-Syirazi (empunya kitab Al-Mawaqif fi Ilm Al-Kalam)

Dan sebagainya… Nafa’anaLlahu bi ulumihim wa barakatihim.. amin…

(antara rujukan: Tabyiin Kizb Al-Muftari oleh Imam Ibn ‘Asakir, Marham Al-Ilal oleh Imam Al-Yafi’e, Tobaqot As-Syafi’iyyah Al-Kubra oleh Imam Tajuddin As-Subki, At-Tobaqot oleh Imam Al-Badr Husein Al-Ahdal dan sebagainya)
Na’uzubillah, sekian ramai ulamak Islam bahkan umat Islam di Malaysia dan seluruh dunia telah dihukum kafir oleh penulis ini.

Sedangkan sudah jelas di dalam Al Quran, Allah telah berfirman :

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَـٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٌ۬ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡہُم مُّقۡتَصِدٌ۬ وَمِنۡہُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٲتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡڪَبِيرُ (٣٢) جَنَّـٰتُ عَدۡنٍ۬ يَدۡخُلُونَہَا يُحَلَّوۡنَ فِيہَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ۬ وَلُؤۡلُؤً۬اۖ وَلِبَاسُہُمۡ فِيہَا حَرِيرٌ۬ (٣٣)

Kemudian Kami jadikan Al-Quran itu diwarisi oleh orang-orang yang Kami pilih dari kalangan hamba-hamba Kami; maka di antara mereka ada yang berlaku zalim kepada dirinya sendiri (dengan tidak mengindahkan ajaran Al-Quran) dan di antaranya ada yang bersikap sederhana dan di antaranya pula ada yang mendahului (orang lain) dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu ialah limpah kurnia yang besar (dari Allah semata-mata). (32) (Balasan mereka ialah) Syurga-syurga “Adn”, yang mereka akan masukinya; mereka dihiaskan di dalamnya dengan gelang-gelang tangan dari emas dan mutiara; dan pakaian mereka di situ adalah dari sutera. (33)

Surah al Fathir ayat 32-33)

Dan dari hadith Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam :

Sahih Bukhari pada hadith no 44, Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يخرج من النار من قال لا إله إلا الله وفي قلبه وزن شعيرة من خير ويخرج من النار من قال لا إله إلا الله و في قلبه وزن برة من خير ويخرج من النار من قال لا إله إلا الله وفي قلبه وزن ذرة من خير

Ertinya : “Akan keluar dari dalam neraka orang-orang yang mengucapkan La ilaha illaLLah, sedangkan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat satu helai rambut dan akan keluar dari dalam neraka orang-orang yang mengucapkan La ilaha illaLLah sedangkan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum dan akan keluar dari dalam neraka orang-orang yang mengucapkan La ilaha illaLLah sedangkan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat zarrah “

Tersebut dalam Sahih Bukhari juga pada hadith no 7072 :

يقول الله تعالى : وعزتي وجلالي وكبريائي وعظمتي لأخرجن منها (أي من النار) من قال لا إله إلا الله

Ertinya : ALLah subahanahu wa ta’ala berfirman : Demi kemuliaan, ketinggian, kebesaran dan keagunganKu sesungguhnya Aku akan mengeluarkan dari dalam neraka siapa sahaja yang telah mengucapkan La ilaha illaLLah”

Tersebut dalam sahih Ibnu Khuzaimah pada hadith no 1231 bahawa Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda :

من قال لا إله إلا الله دخل الجنة

Ertinya : “Barangsiapa mengucapkan La ilaha illaLLah maka dia pasti masuk syurga”

Apa yang perlu kita lakukan ?

Di dalam internet terdapat laman web RASULDAHRI.COM dan di sinilah fikrahnya berpusat dan disebarkan oleh pengikut-pengikutnya. Bahkan terdapat juga di dalam ‘group Facebook’ yang ada menghubungkan ‘group’nya dengan RASULDAHRI.COM.

Pihak yang berkenaan silalah ambil tindakan susulan yang sepatutnya memandangkan fahaman ini sedang bergerak cergas di Malaysia. IbuBapa dan Penjaga perlulah mengambil tahu dari mana sumber-sumber artikel agama diambil, kita takut anak-anak kita pada suatu hari nanti akan menghukum pula IbuBapanya sebagai sesat, kafir dan masuk ke dalam neraka.

Jangan lupa apa yang telah diberitahu oleh Dr Yusof al Qardhawi (tokoh Ma’al Hijrah 2009) :

Disebutkan dalam islamonline.net di bawah tajuk:“القرضاوي يدعو ماليزيا للتمسك بشخصيتها الإسلامية” (Maksudnya: Al-Qaradhawi mengajak Malaysia agar Berpegang dengan Jati Diri/Peribadi Keislamannya) antaranya:

الدوحة- دعا العلامة الشيخ يوسف القرضاوي ماليزيا إلى المحافظة على شخصيتها الإسلامية المتمثلة في مذهبها الشافعي وعقيدتها الأشعرية للوقوف أمام أي تسلل فكري من الخارج.

Maksudnya:

Dhoha- Al-Allamah As-Sheikh Yusuf Al-Qaradhawi menyeru kepada negara Malaysia agar menjaga syakhsiyyah (peribadi, jati diri atau ciri-ciri) keislamannya yang terzahir daripada mazhabnya As-Syafi’e dan aqidahnya (masyarakat Islam Malaysia) yang Al-Asy’ari untuk berdiri menghadapi dan mendepani serangan pemikiran dari luar.

وخلال لقائه أمس مع رئيس الوزراء الماليزي نجيب تون رزاق، دعا الشيخ القرضاوي رئيس الوزراء والعلماء للتكاتف من أجل المحافظة على الشخصية الإسلامية الماليزية “أشعرية العقيدة شافعية المذهب” لمواجهة أي تسلل فكري ومذهبي وافد من الخارج يشتت وحدتهم ويفسد عقيدتهم.

Maksudnya:

Pada pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia semalam iaitu (Dato’ Seri) Najib Tun Razak, Sheikh Al-Qaradhawi mengajak Perdana Menteri dan para ulama’ agar bersatu padu untuk menjaga jati diri keislaman (Syahksiyyah Islamiyyah) Malaysia yang bersifat “Asy’ari dari sudut aqidah dan Syafi’e dari sudut mazhab” untuk menghadapi segala ancaman pemikiran dan mazhab dari luar yang memecah belahkan kesatuan mereka dan merosakkan aqidah mereka.

Kemudian disebutkan:

وعقب رئيس الوزراء الماليزي على كلام الشيخ القرضاوي، مؤكدا حرص حكومته على أن تبقى الشخصية الإسلامية الماليزية بعيداً عن الخلافات المذهبية التي تشتت ولا تجمع.

Maksudnya:

Perdana Menteri memberi ulasan terhadap perkataan Sheikh Al-Qaradhawi dengan menegaskan bahawasanya kerajaan akan terus mengekalkan jati diri (syakhsiyyah) keislaman negara Malaysia agar jauh daripada perselisihan mazhab yang memecah-belahkan umat dan tidak menyatukan mereka.

Rujukan:

http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=ArticleA_C&cid=1260258249444&pagename=Zone-Arabic-News/NWALayout

p/s : berhati-hati dan perhatikan nama-nama penulis sebelum membeli buku agama takut-takut fikrah suka menyesatkan umat Islam pula yang dibaca.

Posted by: Habib Ahmad | 16 April 2010

Cara Mendapatkan Ilmu Laduni Menurut Alqur’an dan Sunnah

Cara Mendapatkan Ilmu Laduni Menurut Alqur’an dan Sunnah

Abu Haidar

Alumni Madrasah Darussa’adah – Gunung Terang – Bandar Lampung

www.salafytobat.wordpress.com

link : http://www.darulfatwa.org.au

Bismillah….

Sebelum membaca artikel ini, mari luruskan dahulu yaqin kita kepada Allah….

Bahwa Makhluq ini tidak kuasa, tapi Allah yang maha kuasa!

Belajar (menuntut ilmu) diwajibkan untuk semua muslimin dan muslimat (hadits).

Tapi Hakikatnya ilmu dtang dari Allah bukan dari Belajar. Begitu pula rezeki datang bukan dari kerja kita.!

Kita Belajar karena perintah Allah dan Sunnah Nabi.

Jika Allah kehendaki, dengan belajar – Allah berikan ilmu

Jika Allah kehendaki, dengan belajar – tapi Allah tidak berikan ilmu

Jika Allah kehendaki, tanpa belajar pun – Allah berikan ilmu

Laailaha illallah

Belajar itu makhluq, Allah yang kuasa

+++++++++++++++++++++++++++++++++

Ilmu laduni /ilmu mauhub merupakan salah satu ilmu yang harus dimilki oleh orang yang ingin menjadi ahli tafsir alqur’an. Disamping harus mengusai 14 cabang ilmu lainnya seperti ilmu lughah, nahwu, saraf, balaghah, isytiqoqo, ilmu alma’ani, badi’, bayan, fiqh, aqidah, asbabunuzul, nasikh mansukh, ilmu qiraat, ilmu hadits, usul fiqah ( hukum-hukum furu’) dan ilmu mauhub ( fadhilah alqur’an, syaikh maulana zakariyya).

Ilmu ini adalah karunia khusus dari Allah swt.

A. Dalil-dalil ayat Al-qur’an tentang ilmu laduni/mauhub

 

1.       “Dan Takutlah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kalian“ (Qs. Al baqarah ayat 282)

2.        “Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami (berjihad dan mendakwahkan agama) maka akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami (jalan-jalan petunjuk). Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang ihsan (muhsinin) (QS Al’ankabut [69] ayat 69).

3.         “Katakanlah  (hai Muhammad Saw.)  Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (QS Thaha [10] ayat 113).

4.       “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. “(QS. Al-qashash [28], ayat 7).

5.        “Dan kami telah ajarkan kepadanya (Nabi khidhir) dari sisi Kami suatu ilmu”. (Al Kahfi: 65).

B. Hadits-hadits tentang ilmu mauhub/laduni

1.        Hadits Bukhari -Muslim :

Dahulu ada beberapa orang dari umat-umat sebelum kamu yang diberi ilham. Kalaulah ada satu orang dari umatku yang diberi ilham pastilah orang itu Umar.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2.        Hadits At Tirmidzi :

“Ini bukan bisikan-bisikan syaithan, tapi ilmu laduni ini merubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar? Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Karena dengannya ia melihat cahaya Allah”. (H.R At Tirmidzi).

3.        Hadits riwayat Ali bin Abi Thalib Ra:

Ilmu batin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.

 

4.        Hadits riwayat Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam kitab Al-Hilyah :

 

Nabi Muhammad Saw. bersabda yang maksudnya : “Barangsiapa mengikhlashkan dirinya kepada Allah (dalam beribadah) selama 40 hari maka akan zhahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”. (HR. Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam alhilyah).

5.        Hadits riwayat Imam Ahmad Dalam kitab  al-hikam

 

Nabi SAW bersabda :” Barangsiapa Yang Mengamalkan Ilmu Yang Ia Ketahui Maka Allah Akan Memberikan Kepadanya Ilmu Yang Belum Ia Ketahui”.

Imam Ahmad bin Hanbal ra. Bertemu dengan Ahmad bin Abi Hawari, maka Ahmad bin Hanbal ra. “Ceritakanlah kepada kami apa-apa yang pernah kau dapati dari gurumu Abu Sulaiman ra. “. Jawab Ibnu Hawari : “Bacalah subhanallah tanpa kekaguman”.Setelah dibaca oleh Ahmad bin Hanbal ra. : “Subhanallah” Maka berkata Abil Hawari ra. : “Aku telah mendengar bahwa Abu Sulaiman berkata : “ Apabila jiwa manusia benar-benar berjanji akan meninggalkan semua dosa, nescaya akan terbang kea lam malakut (di langit), kemudian kembali membawa berbagai ilmu hikmah tanpa berhajat pada guru”. Imam Ahmad Bin Hanbal ra. Setelah mendengar keterangan itu langsung ia bangkit bangun/berdiri dan duduk ditempatnya berulang tiga kali, lalu berkata : “Belum pernah aku mendengar keterangan serupa ini sejak aku masuk islam”. Ia sungguh puas dan sangat gembira menerima keterangan itu, kemudian ia membaca hadits tadi.

(Tarjamah Kitab Alhikam Syaikh Ibnu Athoillah, H Salim Bahreisy, Victory Agencie, Kuala Lumpur, 2001, pp 33-34., Hadits ini juga tertulis di Fadhilah alqu’an penjelasan hadith ke 18, hal 25-27, Syaikh Maulana Zakariyya, era ilmu kuala lumpur)

6.       Dalam hadits majmu (Himpunan) hadist qudsy

Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm (kemurahan hati) dan ‘ilm [1].” Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?” Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilmKu dan ‘ilmKu.”

 

7.        Dalam hadits qudsy (Kitab Futuh Mishr wa Akhbaruha, Ibn ‘Abd al-Hakam  wafat 257 H).

 

Allah mewahyukan kepada Isa As. untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.” Isa As. berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.” Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.” Maka Allah membuat para murid Isa bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus

Perkara ini telah dijelaskan oleh sayyidina ‘ali ra. saat beliau menjawab pertanyaan orang ramai, “apakah beliau telah mendapatkan ilmu khusus atau wasiat khusus dari Rasulullah saw. yang hanya diberikan kepada beliau dan tidak kepada orang lain?”

Hazrat ‘ali ra. menjawab :” Demi Tuhan yang telah menciptakan surga dan jiwa-jiwa, aku tidak pernah mendapat apa-apa selain daripada ilmu yang Allah berikan kepada seseorang untuk memahami alqur’an!”

ibnu abi dunya rah. berkata bahwa pengetahuan daripada Al-quran dan apa-apa yang didapati daripada alqu’an begitu luas daripada alqur’an. Seorang pentafsir harus mengetahui 15 cabang ilmu yg disebutkan diatas. Tafsiran orang yang tidak mahir dalam ilmu-ilmu ini adalah termasuk tafsiran bil-rakyi (tafsir menurut fikiran sendiri) yang hal ini DILARANG OLEH SYARA’. Para sahabat ra. mendapat ilmu bahasa arab secara tabii dan ilmu-ilmu lain mereka dapati langsung dari ilmu kenabian (nabi SAW).

Nabi SAW bersabda :” Barang siapa yang berfatwa dalam masalah agama, tanpa ada ilmu maka baginya laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya ” (HR. Imam suyuti).

Jadi Ilmu laduni = ilmu dari Allah asbab hasil amal...karena Allah telah tunjukan cara mendapatkannya pada kita.

C. Cara mendapatkan ilmu dari Allah Swt.

ilmu laduni dan cara/jalan untuk mendapatkannya didalam ALQU’AN DAN HADITS :

1. Belajar  

Termasuk bertanya dengan para ulama. Hendaknya belajar dengan guru mursyid yang menjaga dzikir dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

2. TAKUT KEPADA ALLAH

kitab alhikam, syaikh ibnu athoillah alasykandary (kepala madrasah alazhar-asyarif abad 7 hijriah) menyebutkan nukilan ayat dari alqur’anulkarim :

“wataqullaha wayu’alimukumullah” (Qs. Al baqarah ayat 282)

artinya : “Takutlah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kalian(Qs. Al baqarah ayat 282)

Sifat takut/tunduk/patuh hanya kepada Allah, sangatlah mulia. Bukan saja ilmu laduni yang Allah beri tapi Allah akan tundukan semua makhluq padanya bahkan para malaikatpun akan berkhidmad dan senantiasa membantunya (atas izin Allah), sebagai mana maksud dari haidts nabi SAW :

Nabi saw bersbda : “man khofa minallahi khofahu kulla syai waman khofa ghoirallah khofa min kulli syai”

artinya : “Barang siapa yang takutnya hanya kpd Allah maka Smua makhuq akan takut/tunduk padanya. Barangsiapa takut/tunduknya kpd selain Allah maka semua makhluq akan (menjadi asbab) ketakutan baginya

Lihatlah kisah-kisah salafushalih kita, bagaimana pasukan dakwah sahabat berjalan diatas air melintasi sungai tigris irak, pasukan dakwah sahabat yang berjalan melintasi laut merah, mu’adz bin jabal ra shalat 2 rekaat maka gunung batu yang besar terbelah dua-membuka jalan untuknya, para sahabat terkemuka boleh mendengarkan dzikir benda-benda mati (roti dan mangkuk) .

Abu dzar alghifary ra. atas perintah khalifah umar ra., beliau ditugaskan utk memasukan kembali lahar gunung berapi yang sudah keluar dari kawahnya. maka atas izin Allah, lahar panas tsb masuk kembali ke kawah gunung tsb (hayatushabat).

Abdullah atthoyar ra. boleh terbang seprti malaikat yang punya sayap, maka ketika ditanya oleh rasulullah, apa yang menjadi asbab Allah berikan karomah tersebut, maka beliau menjawab ” saya pun tidak tahu, tapi mungkin karena aku dari sebelum saya masuk islam sampai sekarng pun saya tidak pernah minum khamr, …dst”.

3. MENGAMALKAN ILMU YANG DIKETAHUI

sebuah hadits  menyebutkan bahwa nabi muhammad saw bersabda :

“man ‘amila bimaa ‘alima waratshullahu ‘ilma maa lam ya’lam”

Artinya : Nabi SAW bersabda :” BARANGSIAPA YANG MENGAMALKAN ILMU YANG IA KETAHUI MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KEPADANYA ILMU YANG BELUM IA KETAHUI”

4. TIDAK MENCINTAI DUNIA

‘alammah suyuti rah. berkata :“kamu menganggap bahwa ilmu mauhub adalah diluar kemampuan manusia. Namun hakikatnya bukanlah demikian, bahkan cara untuk menghasilkan ilmu ini adalah dengan beberapa asbab. Melalui ini Allah swt. telah menjanjikan ilmu tersebut. Asbab-asbab itu adalah seperti : beramal dengan ilmu yang diketahui, tidak mencintai dunia dan lain-lain….”

Sebagaimana dalam sebuah hadits, bahwa Nabi SAW bersabda yang artinya : “Barang siapa yang zuhud pada dunia (tidak cinta dunia), maka akan Allah berikan kepadanya ilmu tanpa Belajar” (Fadhilatushaqat).

5. Berdoa

Semua itu datang bagi Allah, maka Rasulullah mencontohkan kepada kita agar senantiasa berdoa agar diberikan ilmu dan hidayah dari Allah swt. Sebagaimana dalam al-qur’an disebutkan :

“Wa qul rabbi zidnii ilma“

Artinya : Allah Swt. Berfirman : “Katakanlah  (hai Muhammad Saw.)  Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS Thaha [10] ayat 113)

Untuk menumbuhkan rasa takut pada Allah dengan dzikir

Untuk menumbuhkan zuhud pada Allah dengan mujahadah

Sedangkan Doa akan diterima jika kita ikhlash…..

Untuk itu kita harus belajar dan dibimbing oleh guru-guru yang mursyid.

6. Berdakwah

ika kita berdakwah (amr bil ma’ruf wa nahya ‘anil munkar) atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran maka Allah akan berikan kepada kita ‘ilm wa hilm (’ilmu dan kelembutan hati) langsung dari qudrat Allah swt. Sebagaimana Dalam surat al-‘ankabut ayat terakhir :

“Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami (berjihad dan mendakwahkan agama) maka akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang ihsan (muhsinin) (QS Al’ankabut [69] ayat 69).

Lafadz “ subulana” atau “jalan-jalan kami” bermakna juga “jalan-jalan petunjuk dari Allah” atau “jalan-jalan hidayah (ilmu-ilmu islam yang haq)”.

Sebagaimana juga dalam hadits qudsi (kurang lebih maknanya) tatkala Allah menceritakan keutamaan umat akhir zaman kepada Nabi isa as.,

Dari Abu Darda Ra. berkata : “Aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabada, “Sesungguhnya Allah Swt berfirman kepada Isa As. : “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm (kemurahan/kemurahan  hati) dan ‘ilm (ilmu) .” Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?” Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilmKu dan ‘ilmu-Ku.” [HR. Hakim. Katanya Hadits ini shahihmenurut syarat Bukhary, tetapi ia tidak meriwayatkannya, sedangkan adzahaby menyepakatinya”. I/348]

Keterangan : Hadits ini juga terdapat pada Muntakhab hadits SyaikhulHadits Maulana Yusuf, Hadits No. 27,  Bab ikhlash dan Juga terdapat pada kitab Ucapan Nabi Isa as dalam kisah-kisah literature umat islam, Tarif Khalidi.

 

Mengenai kisah dakwah kaum hawariyyin (pengikut Nabi Isa as.) :

–          Allah mewahyukan kepada Isa As. untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.” Isa berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.” Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.” Maka Allah membuat para murid Isa bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus. (Kitab Futuh Mishr wa Akhbaruha, Ibn ‘Abd al-Hakam  wafat 257 H).

ilmu laduniadalah karunia khusus/khas bagi hambanya, terlebih bagi mereka yang telah ma’rifat. Orang yang telah ma’rifat akan mendapatkan segala-galanya karena tidak ada keinginan dunia dalam hatinya.

Nabi SAW bersabda : “man wajadallah wajada kulla syai, man faqadallah faqada kulla syai”

artinya : Barang siapa kenal kepada Allah maka ia akan mendapatkan segala-galanya

Barang siapa yang kehilangan Allah (tidak kenal Allah) maka ia kehilangan segala-galanya.”

( Kumpulan Khutbah jum’at romo kyai).

Dalam kitab kimiyai saadat, bahwa ada tiga jenis manusia yang tiadak akan bisa memahami alqur’an :

– Pertama : Seorang yang tidak memahami bahasa arab

-Kedua : Orang yang berkekalan dengan dosa-dosa besar dan bid’ah. Ini karena dosa dan amalan bid’ah itu akan menghitamkan hatinya yg menyebabkan dia tidak mampu memahami alqur’an.

_ketiga : Orang yang yakin hanya terhadap makna-makna dhahir saja dalam hal-hal aqidah (mengambil makna dhohir dari ayat/hadits mutasyabihat, aqidahnya bermasalah: mu’tazillah, mujasimmah dsb). Perasaanya tidak dapat menerima apabila dia membaca ayat alqu’an yang bertentangan dengan keyakinannya itu. Orang yang demikian tidak akan bisa memahami alqur’an.

“Ya Allah Peliharalah kami daripada mereka!”

Rujukan :

Al hikam, ibnu athoillah alasykanadary

Buletin Islam Al Ilmu Edisi 31/II/I/1425. (Buletin sesat wahaby)

Fadhilah alqu’an penjelasan hadith ke 18, hal 25-27, Syaikh Maulana Zakariyya, era ilmu kuala lumpur.

Kumpulan Khutbah Jum’at romo kyai, ponpes alfatah -temboro, magetan jawa timur.

Muntakhob ahadits, syaikh sa’ad, Pustaka ramadhan , Bandung.

Lampiran Hadits-hadits Pendukung:

1. Nasihat imam syafei :

Dar al-Jil Diwan (Beirut 1974) p.34

Dar al-Kutub al-`Ilmiyya (Beirut 1986) p.48

<!–[endif]–>

Artinya :

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح

فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.

Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?

[Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

sayang bait dari diwan ini telah dihilangkan oleh wahaby laknatullah dalam kitab diwan safei yg dicetak oleh percetakan wahaby…..

2. Nashihat IMAM MALIK RA:

و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق
من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق
و من جمع بينهما فقد تخقق

“ dia yang sedang Tasawwuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawwuf rusaklah dia . hanya dia siapa memadukan keduannya terjamin benar .

Hikmah kisah Hassan basri rah. dan Rabi’atul-Adawiyyah rah.

Hassan Basri rah. berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi’atul-Adawiyyah berkata, “Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia’ Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?” Rabi’atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi’atul-Adawiyyah berkata, “Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah.”

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 819 other followers