Posted by: Habib Ahmad | 16 April 2010

Pemindahan Makam Wali-wali

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan kesejukan semoga selalu berlimpah pada saudara saudariku muslimin muslimat, khususnya saudara saudariku Jamaah Majelis Rasulullah saw.

ImageSaudara saudariku yg kumuliakan,
Allah swt berfirman : “Telah kami cantumkan dalam kitab Zabur (jauh sebelum Alqur;an diturunkan) setelah peringatan kalamullah dilangit, bahwa Bumi akan diwariskan pd hamba hamba Allah shalih, dan ini adalah manfaat besar bagi mereka kaum yg banyak beribadah, dan tiadalah Kuutus engkau (wahai Muhammad saw) kecuali sebagai pembawa Rahmat bagi sekalian alam” (QS Al Anbiya 105.106,107).

Para shalihin berkuasa dimasa hidupnya dan tetap diberi kemuliaan oleh Allah dan dilindungi setelah wafatnya, terbukti makam makam shalihin tidak bisa disentuh tsunami di aceh, terbukti pemakaman Al Hawi tak bisa digusur dan dipindahkan, terbukti Makam hb Nuh Al habsyi di Singapura tak bisa digusur oleh pemerintah singapura,

Namun ada juga para shalihin yg makamnya dipindahkan, sebagaimana Al Arif Billah Alhabib Muhammad bin hud Alattas, (ayah dari Al arif billah Alhabib Umar bin Hud Alatttas), juga Al Arif billah Alhabib Abdullah bin Salim Alattas (kakek dari Hb Hud Alattas), pekuburan mereka dipindahkan ke pekuburan karet oleh gubernur Ali Sadikin masa itu, namun bisa dipindahkan.

Menunjukkan bahwa pemindahan pekuburan shalihin tak akan bisa dilakukan siapapun kecuali ia ridho dan dg izin Allah swt tentunya.

Penolakan ruh mereka atas pekuburan mereka dipindahkan tentunya bisa saja bukan karena mereka tak mau jasadnya dipindahkan, namun dg kehendak Allah swt yg mungkin wilayah itu sangat membutuhkan keberadaan jasad mereka tetap berada disana sebagai lambang kekuatan Allah swt dan Rahmat bagi penduduk sekitar,

Namun sebaliknya bisa saja pekuburan shalihin dipindahkan, dg kehendak Allah, karena akan membawa manfaat lebih besar bagi penduduk yg tempat makam mereka akan dipindahkan.

Sebagaimana ayat diatas terkait dg ayat berikutnya yaitu hal itu merupakan manfaat besar bagi mereka yg banyak beribadah, dan diperjelas dg ayat selanjutnya bahwa keberadaan Rasul saw adalah untuk membawa Rahmat bagi alam, dan para wali Allah dan shalihin adalah para penerus pembawa Rahmat Allah swt setelah wafatnya Rasul saw.

Kembali pada pokok masalah, yaitu rencana penggusuran makam Qubbah Haddad di priok, hal itu tak akan bisa terjadi jika tak dikehendaki ruh sohibul makam dan dg Izin Allah swt tentunya, namun bisa saja dikehendaki oleh Allah swt untuk membawa manfaat pada wilayah muslimin yg akan menjadi tempat pindahnya makam itu kelak.

Instruksi saya untuk seluruh jamaah majelis Rasulullah saw, dan himbauan saya pada seluruh muslimin muslimat, jangan mengambil tindakan kekerasan, dan jangan pula menyalahkan yg mengambil cara ketegasan.

Kita berusaha secara baik baik, tanpa perlu ada keributan.

Izinkan saya meneruskan masalah ini pd pejabat terkait, saya sudah menghubungi Sekda Gubernur DKI, dan ia pula yg sering membantu kita dan telah instruksikan pada seluruh walikota DKI untuk membuat cabang majelis Rasulullah di wilayah para masing masing walikota DKI, ia mengatasi semua walikota di Jakarta dan sangat mendukung kita, posisinya adalah sekertaris Gubernur, saya menlpon beliau untuk meminta penggusuran itu dibatalkan.

Bpk Muhayat memberi kejelasan sbgbr :
Baik Habib, kami tanggapi himbauan habib, kami akan instruksi penarikan satpol PP untuk mundur dari wilayah, dan Makam tidak digusur, tapi penghuni sekitar yg mungkin akan terkena rencana penggusuran,

Lalu saya tegaskan lagi dg meminta penjelasan : kembali ke puncak masalah pak, secara singkat saja, jadi permintaan kami telah jelas bahwa makam tidak digusur??, beliau menjawab : “jelas dan dimengerti habib, insya Allah tidak digusur, namun saya perlu klarifikasi pd Bpk Gubernur utk lebih jelasnya, namun ayahanda dari Bpk Gubernur wafat dan kami sedang sibuk dalam pemakaman, akan kami hubungi habib lagi”.

Maka saudara saudariku tenanglah, demikian himbauan saya pada seluruh saudara saudaraku tercinta kaum muslimin, namun utk saudara saudara kita yg memilih cara ketegasan kita tidak memusuhinya, mereka saudara saudara kita juga, Cuma masing masing punya cara dan strategi dalam hal ini.

namun instruksi saya khusus pada seluruh jamaah Majelis Rasulullah saw utk tidak terjun langsung, karena ini mengancam rencana agung kita utk membenahi Jakarta sebagai kota kedamaian dan kota Sayyidina Muhammad saw, dan kita berpegang pd sanad guru mulia kita dan himbauan beliau, bahwa kita menggunakan cara kelembutan, namun tidak memusuhi yg memakai cara ketegasan.

kami akan terus memperjuangkan hal ini bersama fihak Rabithal alawiyyah tanpa melibatkan massa, kami akan terus mengajukan kpd Bpk Sekda, Gubernur, dan kalau perlu sampai kepada Presiden RI, jika masih juga gagal, maka itu sudah kehendak Allah swt dan kita tidak bisa melawan takdir Nya, kita menahan diri utk 1 hal setelah berusaha, namun kita terus berjuang untuk sejuta hal lainnya dalam pembenahan ummat, mudah mudahan penggusuran digagalkan sebagaimana kabar terakhir yg sampai pada saya, bahwa Gubernur menerima untuk tidak menggusur makam dan tidak melarang jamaah berziarah.

Mengenai jatuhnya korban sebab oknum satpol PP dll, kita menyesalkan itu, namun merekapun bagian masyarakat kita pula, mereka bagian keluarga kita pula, buruknya mereka maka aib kita pula karena saudara sebangsa, dan baiknya mereka juga merupakan baiknya nama kita dan bangsa kita, dan mereka juga jelas organisasi aparat yg perlu mendapat bimbingan pula para Da;I dan ulama agar lebih mengenal akhlak dalam menjalankan tugasnya, hal inipun akan kita perjuangkan Insya Allah pada pejabat terkait.

Demikian saudara saudaraku sekalian
Salam hormat

(Munzir Almusawa)

 

Mereka yang Jahil Menipu Anda Lalu Berkata: Allah Wujud Dengan Bertempat

 

Dewasa ini, ramai dari kalangan mereka yang cetek dalam ilmu Islam dan Ilmu Bahasa Arab, cuba berbicara tentang agama Islam. Mereka menyatakan tentang Islam, tanpa ilmu yang kukuh dan tanpa dasar yang mantap. Ini menyebabkan mereka bukan sahaja sesat tetapi menyesatkan.

 

 

Bermula dari membicarakan tentang perkara-perkara furu’ (cabang), akhirnya terbawa-bawa kepada membicarakan tentang perkara-perkara usul tanpa ilmu yang lengkap. Golongan yang kurang matang dalam seluk-beluk ilmu Islam ini mula menyebarkan fahaman yang terkeluar daripada aqidah ahlus sunnah wal-jamaah, bahkan memperjuangkan fahaman tersebut di atas platform ahlus sunnah wal jamaah.

 Mereka ini tanpa segan-silu mengeluarkan golongan Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyah daripada kelompok ahlus-sunnah wal-jamaah walaupun pada hakikatnya, kedua golongan tersebutlah yang mewakili golongan ahlus sunnah wal-jamaah sejak zaman salafus soleh lagi (kurun ke-3 hijrah) sehinggalah hari ini.

 Namun, dek kejahilan tentang sejarah Islam yang sebenar, dan ketandusan ilmu asas yang mencengkam, ramai dari kalangan mereka yang menisbahkan diri mereka sebagai pengikut Sheikh Ibn Taimiyah dan Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab terus menyerang golongan Al-Asya’irah tanpa asas ilmu dan semata-mata tuduhan berteraskan kejahilan. Mereka yang menisbahkan diri mereka kepada ulama kurun ke-8 hijrah ini mula beruasaha untuk mengelirukan masyarakat awam Islam dengan pengakuan, bahawa merekalah yang mewakili kefahaman golongan salafus soleh walaupun pada hakikatnya, kefahaman mereka 180 darjah sudut tersasar daripada kefahaman sebenar salafus soleh terhadap Islam dan intipati ajarannya.

 Bermula dengan kontroversi yang disemarakkan oleh Sheikh Ibn Taimiyah, khususnya dalam masalah aqidah, seperti isu isbat ayat mutasyabihat yang diakuinya sebagai manhaj salaf, walaupun pada hakikatnya, manhaj salaf bukan isbat, tetapi tafwidh (dan ada juga ta’wil) dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat, kemudian timbul pula pemikiran beliau yang kontroversi mengenai alam ini qadim dari sudut nau’ (jenisnya), sehinggalah akhirnya menyebabkan para pendakwa salafi mengikut jejak pemikiran beliau bahkan, mereka bertindak lebih daripada itu dengan membawa semula fahaman Tajsim (menjisimkan Allah) dan Tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), gara-gara tidak memahami maksud sebenar daripada perkataan Sheikh Ibn Taimiyah.

 Pola pemikiran Ibn Taimyah mengenai ayat-ayat mutasyabihat sememangnya menimbulkan spekulasi dan kontroversi, tetapi ramai daripada ulama’ tidak sanggup untuk mengaitkan Ibn Taimiyah dengan aqidah Tasybih dan Tajsim. Namun, kebanyakkan daripada para penyokong beliau setelah itu mula mengembangkan gagasan pemikiran Ibn Taimiyah sehingga jelas membawa kepada aqidah tasybih dan tajsim, gara-gara tidak memahami kehendak sebenar maksud kebanyakakn daripada ucapan-ucapan Ibn Taimiyah.

 
 

 

Aqidah Tasybih dan Tajsim merupakan satu aqidah yang terkeluar daripada ahlus sunnah wal jamaah. Pun begitu, ramai daripada golongan Salafi Moden atau Wahhabi terpengaruh dengan sub-sub aqidah Tasybih dan Tajsim bahkan, tidak malu pula dalam menisbahkannya kepada aqidah ahlus sunnah wal jamaah yang mana, pada hakikatnya mereka (ahlus sunnah wal jamaah) menolak keras konsep Tasybih dan Tajsim tersebut.

 
 

 

Dalam masa yang sama, sebahagian daripada mereka (golongan Salafi Moden dan Wahhabi) turut mengeluarkan para ulama’ Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyah daripada entiti golongan Ahlus Sunnah Wal Jamaah walaupun pada hakikatnya kedua-dua golongan tersebutlah yang mewakili ahlus sunnah wal jamaah terutamanya sebelum kelahiran Sheikhus Salafiyah moden, Ibn Taimiyah dan terus mewakili jumhur umat Islam sehingga ke hari ini.

 
 

 

Namun, perbahasan mengenai sikap “masuk rumah orang, halau tuan rumah” ini, bukanlah skop perbahasan utama di sini kerana yang benar tetap benar walaupun dinamakan sebagai salah.

 
 

 

Skop perbahasan di sini lebih penting dari sekadar membahaskan tentang nama, walaupun ramai daripada golongan salafi moden atau wahhabi suka berdebat mengenainya. Perbahasan di sini lebih menumpukan kepada satu perkara usul iaitu masalah aqidah.

 
 

 

Aqidah Tasybih dan Tajsim

 
 

 

Aqidah atau konsep kefahaman berbentuk Tasybih dalam aqidah ialah, menyamakan sifat-sifat Allah s.w.t. dengan sifat-sifat makhluk yang baru dan serba kekurangan. Tajsim pul merupakan satu bahagian daripada cabang-cabang kefahaman Tasybih. (rujuk buku Asas Taqdis, Imam Ar-Razi, Al-Iqtisod fi Al-I’tiqod karangan Imam Al-Ghazali r.a., Naqd Qowaid At-Tasybih karangan Sheikh Dr. Umar Abdullah Kamil dan sebagainya).

Berkenaan dengan bagaimana berkembangkan konsep tasybih ini dalam umat Islam sejak zaman salaf lagi, bukanlah menjadi perbahasan di sini, kerana sudah banyak buku membincangkan mengenainya (rujuk buku-buku di atas).

 
 

 

Skop perbincangan di sini lebih menjurus kepada perkembangan fenomena konsep tasybih dalam aqidah ini, di zaman moden khususnya di Malaysia pada masa kini.

 
 

 

Kalau di Arab Saudi, dan di belahan dunia arab yang lain, sudah jelas, ramai daripada golongan Salafi Wahhabi cuba mendaulatkan konsep tasybih dalam aqidah dengan pembohongan besar seraya mengatakan bahawa, inilah kefahaman Islam yang sebenar, walhal tidak sedemikian, menurut jumhur ummah sejak zaman berzaman (ahlus sunnah wal jamaah yang sebenar).

 
 

 

Para ulama’ Islam yang muktabar dari belahan dunia arab sudahpun menjawab beberapa pertuduhan-petuduhan golongan tersebut dengan hujah ilmiah yang kukuh, dengan harapan agar mereka yang terlibat dengan konep tasybih kembali ke pangkal jalan. Namun, hidayah milik mutlak Allah s.w.t. dan semoga Allah s.w.t. memberi hidayah kepada mereka, amin…

 
 

 

Konsep Tasybih Mula Menyelinap ke Dalam Pemikiran Orang Melayu Islam

 
 

 

Tajuk ini merupakan satu tajuk yang menyedihkan kita semua yang mencintai umat Islam, khususnya di negara kita yang tercinta.

 
 

 

Penulis sering mengkaji dan meneliti perkembangan golongan yang mendakwa diri mereka sebagai salafi di Malaysia, untuk melihat sejauh mana perkembangan pola pemikiran mereka dan sejauh mana perjuangan mereka. Adakah mereka sama seperti kebanyakkan golongan Salafi Wahhabi di belahan dunia arab, ataupun mereka sekadar menjadi mangsa keadaan dan tradisi ilmu baru, iaitu baca buku ilmu agama tanpa berguru yang bersandarkan dengan sistem talaqqi.

 
 

 

Penulis tidak nafikan, pernah terjerumus kepada tradisi ilmu baru tersebut, dek kekeliruan dengan perkembangan ilmu moden, sehingga tidak dapat membezakan manhaj menggali ilmu duniawi dengan ilmu agama, yang jelas berbeza dari sudut metodologi penggalian ilmu dan kefahamannya. Sememangnya jelas, ilmu agama ini hanya dapat difahami dengan dengan kefahaman yang sebenar melalui proses talaqqi dari guru-guru yang juga bertalaqqi di bawah sistem talaqqi bersanad yang merupakan sunnah ta’lim nabawi yang kian diabaikan termasuklah dari kalangan mereka yang mengaku salafi.

 
 

 

Hasil dari keterjerumusan itulah, lahirnya pola pemikiran yang tidak seimbang dan tidak selari sehingga membawa kepada wabak “cepat membid’ahkan dalam perkara khilafiyah” seperti yang dijangkiti oleh sebahagian golongan salafi termasuklah di Malaysia.

 
 

 

Penulis memahami semangat yang ada dalam diri mereka yang mendakwa sebagai salafi,dan turut memahami cara mereka berfikir kerana pernah termasuk dari kalangan mereka. Namun, Segala Puji bagi Allah s.w.t., yang telah mengeluarkan penulis daripada kesempitan dan kejumudan pola pemikiran yang sempit itu (merujuk khusus kepada wabak “cepat membid’ahkan dalam perkara khilafiyah”).

 
 

 

Namun, pada pengamatan penulis yang serba kekurangan ini, didapati bahawa, sebahagian kelompok salafi (walaupun tidak mengaku Wahhabi) di Malaysia, hanya terlibat dengan sindrom “cepat mempersalahkan dan membid’ahkan golongan yang bercanggah dengan pendapat mereka dalam perkara-perkara khilafiyah” (semoga Allah s.w.t. memberi hidayah kepada mereka). Namun, dewasa ini, penulis bersikap cuba menjauhi perbincangan-perbincangan khilafiyah ini kerana kurang manfaatnya dan ianya telahpun dibahaskan oleh ramai ulama’ sesama.

 
 

 

Namun, penulis agak terkilan, bila melihat, ada perkembangan terbaru dalam pola pemikiran sesetengah salafi yang mewakili pemikiran salafisme di Malaysia. Mereka sudah terjerumus kepada virus yang lebih besar daripada gejala tabdi’ iaitulah tasybih dalam masalah aqidah.

 
 

 

Pada mulanya, penulis melihat bibit-bibit Salafisme dalam persoalan aqidah, bermula dengan mengetengahkan manhaj Salafiah Taimiyah (manhaj salafi menurut Ibn Taimiyah) sebagai dasar untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat.

 
 

 

Wallahu a’lam, samada mereka tidak mampu membezakan antara manhaj salafus soleh (tafwidh) dengan manhaj isbat Ibn Taimiyah dalam bermu’amalah dengan ayat-ayat mutasyabihat, atau sengaja menyamakan antara keduanya yang pada hakikatnya tidak sama.

 
 

 

Pun begitu, ianya merupakan isu yang tidak terlalu besar, walaupun kekeliruan itu boleh mengundang kepada kekeliruan yang lebih besar. Namun, setelah membaca dua buku ulama’ yang muktabar, mengenai perbahasan tersebut, penulis cuba bersikap tidak terlalu menyalahkan salafi moden walaupun pada hakikatnya salah memahami konteks sebenar manhaj tafwidh salafus soleh, yang mana sikap ini ditunjukkan oleh Sheikh Dr. Al-Qaradhawi dalam bukunya Fusulun fi Al-Aqidah.

 
 

 

Pun begitu, sikap guru kami Sheikh Dr. Umar Abdullah Kamil dalam buku beliau “Naqd qowa’id At-Tasybih” dalam menolak manhaj Isbat Ibn Taimiyah lebih bersifat ilmiah dan lebih kukuh hujahnya. Namun, sikap Dr. Al-Qaradhawi (rakan seperjuangan Dr. Umar Abdullah Kamil), lebih praktikal untuk mendamaikan dua pihak.

 
 

 

Lebih-lebih lagi, pada sangkaan penulis, golongan salafi di Malaysia tidaklah sampai tahap terlibat dengan tasybih dalam masalah aqidah, kerana perbahasan mengenai manhaj isbat ini sukar difahami oleh masyarakat Melayu yang awam. Penulis menyangka, tidak akan ada orang Melayu yang akan membuka pintu “kekeliruan manhaj Isbat” dalam masyarakat di Malaysia, kerana ianya merupakan perbahasan yang amat teliti dan bukanlah di khalayak awam, tempat perbahasannya.

 
 

 

Jangkaan Yang Meleset

 
 

 

Penulis telah diberi satu artikel untuk dikaji, dari para ahbab. Penulisan itu dinisbahkan kepada Abu Syu’aib. Tajuknya pun sudah memeranjatkan iaitu: “Allah wujud tidak bertempat: Aqidah Mu’tazilah” (sumber rujukan: http://www.al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=15493&mode=thread&order=0&thold=0 ) . Nampaknya, dari tajuk lagi, seseorang ahli ilmu boleh menangkap maksud artikel yang ditulis oleh beliau. Nampaknya, beliau cuba memperkatakan, pegangan aqidah bahawa Allah s.w.t. tidak bertempat yang manjadi aqidah ahlus sunnah wal jamaah (Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyah) sejak zaman-berzaman (khusunya sebelum kelahiran Ibn Taimiyah) merupakan Aqidah Mu’tazilah.

 
 

 

Bila penulis cuba membaca perbincangan yang dibawa dalam artikel tersebut, jelaslah beliau cuba menafikan pegangan Aqidah “Allah s.w.t. wujud tidak bertempat” daripada pegangan Imam Al-Asy’ari, seterusnya menyimpulkan bahawa, ianya daripada fahaman mu’tazilah dalam bentuk soalan. Nampaknya, dalam kesimpulan, beliau agak bijak bermain kata-kata kerana menyimpulkannya dalam bentuk soalan. Jadi, kalau ada yang mempersalahkan beliau, mudah sahaja beliau berkata: “saya sekadar bertanya, adakah ianya aqidah Al-Asy’ari atau Muktazilah?”. Namun, daripada tajuk, kita sudah mengetahui kesimpulan yang dibuat oleh beliau, iaitu, mengaitkan kefahaman “Allah tidak bertempat” dengan kefahaman muktazilah.

 
 

 

Nampaknya, ternyata jangkaan penulis meleset kerana, bibit-bibit tasybih mula disemai di dalam umat Islam Malaysia pula, yang mana, lebih parah lagi, ianya disemai atas nama ahlus sunnah wal jamaah yang mana ahlus sunnah wal jamaah tidak pernah terlibat mengenai kefahaman tersebut.

 
 

 

Sebelum dibincangkan artikel beliau secara ilmiah, wajarlah kita bincangkan mengenai kaedah-kaedah yang berlegar dalam perbahasan ini.

 
 

 

Pertama, ulama’ Ahlus Sunnah wal Jamaah (kecuali sebahagian besar daripada Wahhabi, yang barangkali merupakan ahlus sunnah wal jamaah versi kedua atau versi klon) menafikan Allah s.w.t. bertempat kerana sifat bertempat merupakan sifat baharu (hadith) yang mana Allah s.w.t. tidak bersifat dengan sifat yang baharu.

 
 

 

Sifat baharu merupakan sifat makhluk. Jadi, sesiapa yang menetapkan Allah s.w.t. bertempat, secara tidak langsung menetapkan sifat baharu yang merupakan sifat makhluk. Ini juga merupakan salah satu bentuk tasybih (menyamakan sifat Allah s.w.t. dengan makhluk).

 
 

 

Kedua: Apabila seseorang mengatakan bahawa, Allah s.w.t. itu bertempat, siapakah yang menciptakan tempat itu. Kalau Allah s.w.t.-lah yang menciptakan tempat, maka Allah s.w.t. yang bersifat qadim (tidak ada permulaan kewujudanNya) sudah tentu wujud tidak bertempat sebelum “tempat” diciptakan. Setelah Allah s.w.t. menciptakan tempat (seperti arasy dan sebagainya), mustahil Allah s.w.t. mengambil tempat yang mana ianya merupakan satu kefahaman bahawa Alah s.w.t. bergabung (hulul) dengan makhluk. Hulul dan ittihad antara Allah s.w.t. sebagai khaliq dengan makhluk (tempat) adalah mustahil dan ditolak oleh konsep Islam dan akal. Konsep hulul ini juga turut ditolak oleh Ibn Taimiyah ketika menghentam sesetengah sufi yang dikatakan terlibat dengan konsep hulul dan ittihad (wihdatul wujud).

 
 

 

Jadi, amatlah malang bagi mereka yang mendakwa mengikut Ibn Taimiyah, dalam masa yang sama terlibat dengan hulul dan ittihad (wihdatul wujud). Biarpun golongan ini (sebahagian salafi wahhabi) menentang habis-habisan konsep wihdatul wujud dalam bidang tasawuf, namun dalam masa yang sama terlibat dengan fahaman hulul dan ittihad dalam bentuk yang lain, takkala mengatakan bahawa: “Allah wujud bertempat”.

 
 

 

Sungguh malang nasib mereka, kerana mengingkari “wihdatul wujud” versi pertama, namun turut berfahaman “wihdatul wujud” versi yang berlainan. Bak kata orang, “pi mai pi mai, tang tu”. Na’uzubillahi min zalik.

 
 

 

Ketiga: Fahamilah bahawa, mereka yang cuba menafikan konsep “Allah s.w.t. wujud tidak bertempat” secara tidak langsung cuba menegaskan bahawa Allah s.w.t. itu bertempat. Ini perlulah difahami supaya mereka yang terlibat tidak berdolak-dalih, seperti kebiasaannya.

 
 

 

Menolak Fahaman Tasybih yang Mengatakan “Allah s.w.t. Wujud Bertempat”.

 
 

 

Dalil Lafzi Naqli Yang Menegaskan bahawa Allah s.w.t Wujud Tidak Bertempat:

 
 

 

Pertama: Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud: “Dialah (Allah) yang Maha Awal”

 
 

 

Dalam yang ayat ini jelas mengatakan bahawa, Allah s.w.t. wujud sebelum tempat diciptakan. Oleh yang demikian, Dia wujud tidak bertempat sebelum diciptakan tempat termasuklah sebelum diciptakan arasy. Oleh yang demikian, setelah Allah s.w.t. menciptakan tempat termasuklah arasy, mustahil Allah s.w.t. akan mengambil tempat yang merupakan makhluk, kerana ini membawa kepada fahaman ittihad (penggabungan antara Allah s.w.t. yang qadim dengan makhluk yang baharu) dan ittihad dan hulul merupakan satu kefahaman yang sesat, hatta menurut Ibn Taimiyah juga.

 
 

 

Kedua: Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah s.w.t.telahpun wujud, dan tiada yang wujud bersamaNya” (Sahih Al-Bukhari).

 
 

 

Hal ini turut menegaskan bahawa, Allah s.w.t. wujud qadim (tiada permulaan) tanpa sesuatupun berserta dengan kewujudanNya. Jadi, jelaslah dalam hadis ini bahawa, Allah s.w.t. wujud tidak bertempat.

 
 

 

Sesiapa yang ingin mendakwa bahawasanya, Allah s.w.t. wujud bertempat, secara tidak langsung akan terjebak dengan fahaman hulul dan ittihad yang dikeji oleh Islam.

 
 

 

Dalil Ma’nawi (Taqdiri) dari Naqli yang Menunjukkan Allah s.w.t. Wujud Tidak Bertempat:

 
 

 

Bentuk Istidlal (mengambil dalil) di sini ialah dengan menghimpunkan beberapa dalil dalam perbahasan yang dibahas.

 
 

 

Dalil Pertama (yang menjadi kegemaran sesetengah golongan Wahhabi):

 
 

 

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud: “Ar-Rahman, ‘ala (di atas) Arasy Dia beristiwa’ ” (Surah Toha:5).

 
 

 

Dalil Kedua: “Kami (Allah s.w.t.) lebih hampir kepadamu dari urat lehermu” (Surah Al-Waqi’ah)

 
 

 

Dalil Ketiga: “Kemana sahaja kamu menghadapkan wajahmu, maka kamu akan menghala/ mengadap kepada wajah Allah” (Al-Baqarah).

 
 

 

Seseorang yang terburu-buru ingin mendakwa bahawa Allah s.w.t. wujud dengan bertempat, perlulah terlebih dahulu menilai banyak lagi ayat-ayat yang berkaitan dengannya.

 
 

 

Kalaulah Allah s.w.t. wujud bertempat, sepertimana dakwaan orang-orang yang jahil dari kalangan mereka yang mengaku berilmu, jadi kesemua ayat di atas menceritakan secara lafzi, yang boleh membawa kepada tempat-tempat di mana Allah s.w.t. berada, menurut manhaj pemikiran mereka.

 
 

 

Oleh yang demikian, takkala orang-orang yang jahil tersebut beranggapan bahawa, Allah s.w.t. di atas arasy menurut ayat surah Toha tersebut, jadi bagaimanapula dengan ayat yang menyatakan bahawa Allah s.w.t. lebih dekat dengan urat tengkok manusia? Kalaulah Allah s.w.t. berada di arasy, sedangkan manusia berada di muka bumi ini, maka jelaslah ada pertentangan dari sudut kefahaman bahawa Allah s.w.t. itu bertempat di atas arasy menurut ayat surah Toha kerana dalam ayat Al-Waqi’ah, Allah s.w.t berada lebih hampir dengan manusia dari urat tengkok mereka, yang mana mereka berada di bumi.

 
 

 

Jadi, kalaulah ayat-ayat tersebut menetapkan kewujudan Allah s.w.t. di sesuatu tempat, maka ianya akan membawa kepada percanggahan antara ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan ini tertolak.

 
 

 

Oleh yang demikian, secara tidak langsung, ini menunjukkan bahawa, ayat-ayat sedemikian ada makna lain selain daripada membawa makna “tempat”. Janganlah ingat Bahasa Arab ini miskin dari sebarang bentuk kiasan kerana Bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an, merupakan bahasa yang paling kaya dengan bentuk kiasan.

 
 

 

Kejahilan Mereka yang Jahil dalam Memahami Nas-nas Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Perkataan Ulama’ mengenainya.

 
 

 

Kejahilan Pertama golongan yang mendakwa bahawa Allah s.w.t. wujud bertempat ialah: Tidak cukup ilmu Bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an secara tepat.

 
 

 

Dalam Bahasa Arab, ada mengandungi perkataan dalam maksud hakiki dan ada yang dikatakan sebagai majazi (kiasan). Oleh kerana Al-Qur’an juga diturunkan di dalam Bahasa Arab, maka kaedah-kaedah Bahasa Arab turut digunapakai di dalam Bahasa Al-Qur’an bahkan dengan bentuk yang paling sempurna.

 
 

 

Jadi, tidak dapat dinafikan (kecuali oleh orang-orang yang jahil), bahawa Al-Qur’an juga mengandungi perkataan-perkataan yang hakiki (membawa maksud sebenar) dan majazi (berbentuk kiasan). Inilah realiti Al-Qur’an yang diturunkan dalam Bahasa Arab dengan ketinggian sasteranya.

 
 

 

Mereka yang menggunakan dalil-dalil tadi (Surah Toha: 5) dan sebagainya untuk menunjukkan bahawa Allah s.w.t. itu bertempat, sebenarnya salah faham terhadap dalil yang mereka rujuk. Ini disebabkan kerana gagal memahami kaedah Bahasa Arab itu sendiri atau sengaja mengingkari konsep kiasan dalam Al-Qur’an.

 
 

 

Bagi mereka yang menafikan bahawa, Al-Qur’an mengandungi majazi (kiasan), penulis mencabar kepada mereka agar mendatangkan satu ayat Al-Qur’an yang menafikan majaz dalam Al-Qur’an, sedangkan dalam Al-Qur’an sendiri mengandungi pelbagai bentuk kiasan dan perbandingan.

 
 

 

Kejahilan Kedua golongan yang mendakwa Allah s.w.t. itu wujud bertempat ialah kerana kecetekan ilmu mereka dalam memahami konsep Balaghah (kesusasteraan) dalam Bahasa Arab itu sendiri.

 
 

 

Perkataan ‘Ala contohnya, dalam Bahasa Arab mengandungi dua maksud yang berbeza. Pertama, dalam bentuk hakiki, iaitu di atas sesuatu. Kedua, di atas dalam bentuk ma’nawi, iaitu ketinggian kedudukan (darjat, kekuasaan dan sebagainya) seperti kita mengatakan, “Yang DiPertuan Agong ialah yang paling atas dalam negara Malaysia”. Jadi, atas tidak semestinya membawa kepada maksud tempat seperti yang difahami oleh sebahagian kelempok yang jahil.

 
 

 

Kejahilan Ketiga golongan yang mengatakan bahawa Allah s.w.t. wujud bertempat ialah, kerana mereka menafikan dan menolak konsep ta’wil sifat-sifat mutasyabihat Allah s.w.t..

Penulis sekali lagi mencabar mereka agar dapat mendatangkan satu dalil dari nas-nas Islam yang menolak dan menafikan konsep ta’wil dalam ayat-ayat mutasyabihat seraya penulis pula akan menukilkan dalil mengenai adanya ta’wil bagi ayat-ayat mutasyabihat.

Rujuklah ayat yang sering menjadi perbincangan tentang ayat-ayat mutasyabihat, dalam Surah Ali Imran yang bermaksud: “…Dan tidak mengetahui akan ta’wilnya (ayat-ayat mutasyabihat) kecuali Allah (ulama’ salaf wakaf di sini) dan Orang-orang yang mendalam ilmunya…“.

 
 

 

Walaupun ada khilaf tentang wakaf ayat tersebut, namun jika kita rujuk balik ayat tersebut, secara jelas Allah s.w.t. menyatakan ayat-ayat mutasyabihat ada ta’wilnya dan “tidak mengetahui akan ta’wilnya (makna majazinya) melainkan Allah s.w.t…

 
 

 

Hal ini jelas menunjukkan bahawa, Allah s.w.t. sendiri mengakui ayat-ayat mutasyabihat ada ta’wilnya, kerana kalau ayat-ayat mutasyabihat tidak ada ta’wil, nescaya Allah s.w.t. tidak berfirman: “tidak mengetahui akan ta’wilnya melainkan Allah s.w.t.” Maknanya, ta’wil ada, cuma Allah s.w.t. sahaja mengetahui maknanya. Jika Ta’wil ada, jelaslah ayat-ayat tersebut bersifat majazi, bukan hakiki, kerana adanya ta’wil bererti, sesuatu itu majazi, walaupun tidak diketahui maknanya.

 
 

 

Para ulama’ salaf yang memahami perkara ini mengambil sikap tidak memberi ta’wil (makna di sebalik lafaz zahir) kerana berdasarkan ayat tersebut, hanya Allah s.w.t. yang mengetahui ta’wilnya. Namun, mereka tetap mengakui adanya ta’wil, dan ayat tersebut tidak bermaksud dengan zahirnya. Kemudian, mereka mengambil sikap, tidak mahu menta’wilkannya, dan berserah maknanya kepada Allah s.w.t., dan inilah manhaj tafwidh, bukan isbat seperti manhaj Ibn Taimiyah dan para pengikutnya. Namun, perlu diingat bahawa, tafwidh itu juga sejenis ta’wil namun tanpa menyataka ta’wilannya kerana menyerahkan ta’wilanya kepada Allah s.w.t. semata-mata, sedangkan konsep isbat Ibn Taimiyah bercanggah dengan konsep tafwidh kerana menetapkan makna ayat-ayat mutasyabihat walaupun menyerahkan “keadaan” (kaif) makna tersebut kepada Allah s.w.t.. Para salaf menyerahkan terus makna ayat-ayat mutasyabihat dan mengatakan bahawa mereka tidak mengetahui maknanya sedangkan Ibn Taimiyah (dalam manhaj isbatnya) mengatakan bahawa, maknanya diketahui tetapi hanya kaifatnya (keadaan makna tersebut) sahaja yang tidak diketahui. Jelas perbezaan antara salaf yang menyerahkan makna asal perkataan tersebut kepada Allah s.w.t. dengan Ibn Taimiyah yang mengisbatkan makna lughowi (dari sudut bahasa) perkataan tersebut, dan hanya menyerahkan kaifiat (keadaan) perkara tersebut kepada Allah s.w.t..

 

 
 

 

Adapun kebanyakkan ulama’ khalaf, menggunakan manhaj ta’wil untuk mengelak kesamaran orang-orang awam yang dikhuatiri salah faham tentang sifat-sifat tersebut, lantas terjerumus kepada aqidah tajsim. Mereka ta’wil menggunakan kaedah bahasa Arab yang sesuai dalam konteks majazi, dan sesuai dengan kaedah Bahasa Arab. Dalil mereka, juga pada ayat di atas, cuma dengan tambahan: “tidak mengetahui ta’wilnya kecuali Allah (s.w.t.) dan mereka yang mendalam ilmunya”. Ini berbalik kepada soal waw dalam ayat tersebut, samada ianya waw isti’naf (waw permulaan ayat) yang merupakan kefahaman kebanyakkan salaf ataupun waw al-athof yang merupakan kefahaman kebanyakkan khalaf (waw yang membawa maksud: “dan”).

 
 

 

Di sinilah kesalahan manhaj isbat Ibn Taimiyah yang menjadi teras bagi kesalahan yang lebih besar sehingga membawa kepada sesetengah orang-orang salafi wahhabi mendakwa Allah s.w.t. wujud bertempat, yang merupakan aqidah yang pincang.

 
 

 

Fokus Akhir untuk Penulis Risalah, Saudara Abu Syu’aib

 
 

 

Sebenarnya, daripada penulisan beliau, tidak jelas sikap beliau dalam mengatakan bahawa

Allah s.w.t. wujud bertempat, namun gaya penulisan beliau seolah-olah berpendapat sekurang-kurangnya menegaskan bahawa, mereka yang memahami bahawa Allah s.w.t. wujud tidak bertempat merupakan orang-orang yang berfahaman mu’tazilah, yang mana pada pandangan beliau, demikianlah menurut Imam Al-Asy’ari.

 
 

 

Buat munaqosyah ini, penulis tidak mengomentar perbahasan beliau secara harfiah, dalam menilai kefahaman beliau dari perkataan Sheikh Imam Al-Asy’ari. Namun, apa yang penting, aqidah ahlus sunnah wal jamaah ialah: “Allah s.w.t. wujud tidak bertempat” berdasarkan dalil naqli dan aqli.

 
 

 

Adapun kesimpulan yang dibuat oleh beliau daripada tulisan Imam Al-Asy’ari perlu dikaji, kerana penulis masih tidak berkesempatan merujuk seluruh tulisan Al-Imam dalam buku-buku tersebut buat masa ini. Pun begitu, kita tidak nafikan, ada sesetengah pihak cuba membuat kesimpulan yang tidak tepat daripada kefahaman keseluran teks ucapan seseorang ulama’ besar bagi tujuan membela kebatilan, namun penulis tidak menuduh mana-mana individu terlibat mengenainya apatah lagi saudara pengarang artikel tersebut.

 
 

 

Namun, apa yang pasti, Imam Al-Asy’ari itu sekalipun tidak mengatakan Allah s.w.t. itu bertempat secara jelas, hatta dari nukilan-nukilan yang dinukilkan oleh Abu Syu’aib tersebut. Perkataan “Allah fi As-Sama’ “, Allah ‘ala Al-Arsy” dan sebagainya merupakan bentuk majazi. Kalaupun Imam Al-Asy’ari tidak menta’wilkannya, dia tetap tidak menetapkan maknanya iaitu bertempat, tetapi sebaliknya bersikap tafwidh (menyerahkan makna sebenar kepada Allah s.w.t. tanpa memahami makna tersebut dari sudut zahir). Jadi, boleh jadi Abu Syu’aib (semoga Allah s.w.t. memberi hidayah kepada beliau) tidak memahami beza antara manhaj isbat yang tercela dan manhaj tafwidh salafus soleh yang juga merupakan satu jenis ta’wil secara ijmali (ringkas).

 
 

 

Kalau ada kesempatan, insya Allah penulis akan mengkaji semula artikel beliau secara harfi dengan merujuk buku-buku yang disertakan, insya Allah. Di kesempatan ini, Cuma sekadar menolak konsep “Allah s.w.t. wujud bertempat” yang menjadi virus dalam umat Islam yang boleh merosakkan mereka.

 
 

 

Ramai orang yang sibuk berbincang tentang golongan syi’ah, dan menentang mereka, dalam masa yang sama, ramai dari kalangan mereka turut terlibat dengan firqah yang terkeluar dari ahlus sunnah wal jamaah, iaitu, terlibat dengan konsep tasybih dan tajsim. Semoga Allah s.w.t. memelihara kita dari kesesatan samada kita ketahuinya ataupun tidak.

 
 

 

Amin…

 
 

 

Al-Faqir ila Rabbihi Al-Jalil

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin

20 Mac 2007

Shah Alam

 

Posted by: Habib Ahmad | 16 April 2010

Sedih Melihat Segelintir Sikap Ilmuwan Agama

Sedih Melihat Segelintir Sikap Ilmuwan Agama

Hari ini hati saya ‘panas sedikit’. Sebenarnya telah lama melihatkan keadaan ini berlaku. Semenjak ada golongan yang mengatakan ingin mentajdid agama, dan mengatakan diri mereka sahaja yang mengikut al Quran dan Sunnah. Sedih melihatkan sesama saudara Islam bertelagah darihal perkara khilaf antara ulamak. Yang seorang sibuk datangkan dalil mengatakan amalan itu bid’ah, dan kononnya disertakan dengan takhrij hadith seolah-olah pendapatnya sudah betul-betul benar.

Apatah lagi mempertikaikan aqidah sesama umat Islam. Saya selalu melihatkan beberapa nickname di dalam beberapa forum yang sering mengadakan perbalahan dan ‘tidak reti bahasa’ di dalam mencari keharmonian. Perkara khilaf ulamak sepatutnya kita sama-sama merghormati dan berlapang dada.

Jika tidak bersetuju dengan hujjah ulamak yang membolehkan amalan bacaan yasin 3 kali di dalam Nisfu Sya’ban terpulanglah dan tidak perlu membid’ahkan pendapat ulamak lain. Sekiranya tidak bersetuju dengan mereka yang menerima bid’ah hasanah terpulanglah, maka kerana itu tidak perlu berlagak juga dengan kalam ulamak lain untuk menghukum sesama Islam dengan gelaran sesat, duduk dalam neraka.

 

Sedangkan bila dikaji semula antara para muhaddith pun mereka ada berkhilaf tentang kekuatan darjat sesuatu hadith sebagaimana juga ahli ilmuwan hadith seperti Albani yang ada kalanya dahulu dia mendhoiefkan hadith yang sahih dan mensahihkan hadith yang dhoief (ini juga telah ditegur sendiri oleh Dr Yusof al Qardhawi di dalam Feqh Muassarohnya).

Menghukum Saudara Islam Masuk Neraka Dengan Khilaf Ulamak

Yang hanya pandai menghukum amalan orang lain sesat, masuk neraka. Adakah sudah pasti kita berada di mana? Adakah amalan kita sendiri tidak sesat apabila menyesatkan sesama umat Islam yang jelas sudah mengadakan dalil dan hujjah. Tak perlu nak bicara tentang latarbelakang ilmu orang lain. Tetapi belajar dulu AKHLAQ di dalam berbicara.

Yang rajin benar membawakan perbahasan ulamak dengan kata ini batil, ini salah. Adakah sudah faham tentang feqh waqi‘? Sedar atau tidak siapa yang membaca di dalam artikel, yang mendengar, melihat? Ada di antara mereka yang ingin belajar, mahu mengenal Islam, mahu melihat keindahan ukhuwah antara sesama Islam. Tetapi apa yang telah tunjukkan dengan perasaan emosi.

Di mana diletakkan akhlaq yang sudah ditunjukkan di dalam AL QURAN DAN HADITH SAHIH? Atau letakkan di hujung-hujung kaki sahaja kerana kononnya ilmu lebih utama? Apa dahulu tidak diajar Rasulullah bagaimana berakhlaq sesama saudara seIslam?

Memahami Perbezaan Dari Petunjuk Sirah

Apakah tidak belajar sirah bagaimana Rasulullah menanggapi khilaf antara sahabat? Tunjukkan bukti bahawa Rasulullah berwenang mengatakan sesat kepada para sahabat yang berselisih faham dalam ijtihad terutamanya ketika ada sahabat yang solat Asar sebelum bertolak dan ada yang solat asar selepas bertolak ketika hendak menghadapi kaum Yahudi yang melanggar perjanjian Piagam Madinah.

Sedangkan dalil-dalil sudah diberi, dan sibuk pula mempertikaikan ulamak lain. Tidak belajarkah ijtihad yang benar akan diberi 2 pahala, dan ijtihad yang yang silap diberikan 1 pahala. Lihat bagaimana ketika ada 2 pendapat antara Saidina Abu Bakar dan Saidina Umar mengenai tebusan Badar. Kita nak perlekehkan yang mana satu? Banyak lagi perselisihan ijtihad dan amalan baru yang tiada di zaman Rasulullah tetapi ada di zaman sahabat, tabi’ien dan tabi’ut tabi’en. Sedangkan mereka semua mengikut al Quran dan Sunnah jua!! Ada sesiapa nak pertikaikan?

Allahu Allah.

Bila mereka yang hebat-hebat ini mengatakan ulamak itu tersalah, tak betul, kemudian pada masa yang lain pula telah menggunakan kalam mereka kerana ada pendapatnya yang sama dengan pendapat sendiri. Maka adakah ini bermakna kita sedang MENGGUNAKAN HAWA NAFSU UNTUNG MENANG?

Maka pendapat saya – dari belajar feqah dan hadith yang tinggi dan mendalam tetapi akhlaq tiada. Baiklah belajar akhlaq dahulu.

Syaitan sudah ketawa lagi. Orang yang memusuhi Islam bergelak ketawa lagi. Sila rujuk link ini agar sama-sama kita dapat belajar akhlaq – bagaimana beradab dengan khilaf ulamak.

 

http://mufti.penang.gov.my/khilaf.pdf

 

 

Seolah-olah hujjah sudah menjadi qot’ie (secara pasti) bahawa hujjah yang dibawakan orang lain (disertakan dengan dalil dan hujjah) adalah tertolak. Hebat bila ada yang mengatakan ulamak tersilap, tersalah. Dengan kalam siapa katakan ia tersilap dan salah? Adakah dengan ilmu kita yang tidak sampai pun sejengkal kaki ulamak yang direndah-rendahkan tersebut.

1-Tidak wajar menuduh sesama muslim yang bersolat , berpuasa , dan berzakat dengan syirik dan kufur.

2- kamu telah mengkafirkan Ulama Sufiyyah dan Asya’irah selain kamu juga menganggap salah bertaqlid kepada Imam yang empat ,Hanafi, Maliki , Syafe’ dan Hanbali.

3- Mengulang-ulang Hadith “kullu bid’atin dhalalah” sedangkan kamu tidak menjelaskan dengan yang sebenar.Banyak yang jelas sebagai bid’ah tetapi kamu tiada mengatakan sebagai bid’ah.

4- Kamu menutup Masjid Nabawi selepas Isya’ sedangkan amalan tersebut tidak pernah dilakukan dalam amalan perintahan Islam sebelumnya.

5-Tidak membenarkan mana Ulama untuk memberikan kuliahnya di Masjid al-Haram walaupun seseorang itu dari Ulama yang tersohor seperti Sheikh al-Azhar.

6- Melarang mereka yang mati diluar Tanah haram untuk dikebumikan di Kawasan yang penuh dengan keberkatan itu.

7- Kamu melarang kaum wanita daripada menghampiri bahagian hadapan makam Nabi s.a.w sedangkan amalan itu diamalkan menjadi amalan dizaman salaf saleh.

8- Kamu juga melarang kaum wanita dari menziarahi perkuburan Baqi’ dan ma’la.

9- Kamu telah meruntuhkan kesan-kesan perkuburan para Sahabat sehingga seperti padang jarak padang terkukur.Para penziarah tidak dapat mengenali makam-makam para Sahabat.Hanya yang tinggal batu-batan yang berserakkan.

10- Kamu menegah Imam-Imam daripada membaca qunut pada solat Subuh dengan alasan amalan itu sebagai bid’ah.

MEMBACA AL-QURAN MENDATANG FAEDAH KEPADA ORANG YANG MATI DISISI SYAFI’EYYAH Posted on Friday, February 20, 2009 by Al-Haqir Mahfuz Muhammad Al-Khalil Berkata al-Hasan al-Sabah al-Za’farani , aku bertanya dengan Imam Shafei r.a tentang bacaan Quran di kubur , maka beliau telah menjawab maka tiada mengapa. Berkata Imam Nawawi r.a didalam kitab minhaj menyatakan , bagi mereka yang menziarahi kubur boleh la memberi salam dan berdoa’… Al-Khatib al-Syarbini didalam al-iqna’ menyatakan sunat bagi mereka yang berziarah kubur memberi salam , dengan berdepan arah janazah sambil mengucapkan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi s.a.w kepada para sahabatnya bila mana mereka bergegas ke perkuburan dengan ucapan : السلام على اهل الدار من المؤمنين و المسلمين و انا انشأ الله بكم لاحقون (رواهما مسلم ) Telah menambah Abu Daud : اللهم لا تحرمنا اجرهم ولا تفتنا بعدهم (Dengan sanad yang agak lemah) Dan perkataannya ان شأ الله untuk tabarruk(mengambil barakah) dibacakan di sisi janazah bacaan al-Quran , sesungguhnya rahmat akan turun ditempat dibacakan ( bacaan al-Quran). Orang yang telah mati adalah sama seperti orang yang datang kerana mengharapkan rahmat .maka dibacakan doa’ mengiringi bacaan al-Quran , kerana doa’ memberi faedah kepada simati dan doa’ yang mengiringi bacaan al-Quran adalah terlebih ijabah(diterima). Serta bagi mereka yang menziarahi kubur hendaklah menghampirkan diri dengan kubur , seperti mereka mendekatinya sewaktu hidup kerana ihtiram (hormat) bagi simati. Berkata Imam Nawawi r.a , sunat banyak menziarahi kubur dan ziarah

 kepada kubur orang-orang yang baik-baik dan mempunyai kelebihan. (dari kaum salihin.)

http://al-subki.blogspot.com/

Hukum Membaca Al Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada Orang Yang Sudah meninggal dunia

Persoalan mengenai bid’ah sebenarnya telah diselesaikan oleh ulamak lama dahulu dan sekarang ini telah ditimbulkan semula oleh golongan yang tidak memahami khilaf ijtihad ulamak yang kemudiannya mengatakan bahawa ia adalah bid’ah sesat walaupun sudah ada dalil dan hujjah dari al Quran dan hadith.

Sekiranya ada yang mengatakan bacaan al Quran dan doa ia tidak sampai kepada simayyit maka tidak perlu mengatakan ia sebagai bid’ah, kerana ijtihad yang memngatakan ia boleh adalah hasil dari penyelidikan ulamak dari al Quran dan hadith sebelum mengeluarkan hukum bahawa sampainya pahala kepada si mayyit. Ulamak terdahulu apabila berbeza pendapat mereka tidak akan membid’ahkan pendapat ulamak yang membolehkan.

Menurut Prof Dr Wahbah az Zuhaili Mazhab Imam Ahmad dan Jumhur salaf dan mazhab empat dan di antara mereka Malikiyah dan Syafi’iyah yang kemudian berpendapat sampai pahala amalan tersebut.

Imam Abu Hanifah berpendapat : “Segala pahala dari sedekah dan lainnya sampai kepada mayat. Ia juga berkata : “Bacalah ayat Kursi tiga kali’ dan “qul huwaLLahu Ahad” dan katakanlah : “Ya ALlah, Ya Tuhan kami, pahalanya untuk ahli kubur.”

Dalil dari Al Quran

Asy Sya’ani juga menyebutkan dalil pendapat kedua dari KitabuLLah, sunnah dan ijmak serta kaedah syariat. Iaitu mereka yang mengatakan bahawa mayat mendapat manfaat atas apa yang dilakukan oleh orang-orang yang masih hidup untuknya. Adapun dalil dari Al Quran adalah firman aLLah s.w.t yang bererti :

“Dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan tangan), berkata : “Wahai Tuhan kami! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kamu yang mendahului kami dalam iman………..” (Al Hasyr : 10)

Maka ALLah s.w.t memuji mereka atas istighfar mereka kepada kaum Mukminin sebelum mereka. Maka hal itu menunjukkan bahawa mayat mendapat manfaat daripada doa adalah kesepakatan umat atas doa terhadap mereka dalam solat jenazah.

Juga telah ijmak bahawa membayar hutang orang yang sudah meninggal adalah boleh sama ada oleh kerabat atau bukan. Dan juga jika orang yang masih hidup memiliki hak pada orang yang sudah meninggal, lalu ia menggugurkan haknya dan mengikhlaskannya, maka hal itu boleh dan dapat membebaskan orang yang sudah meninggal.

Dalil Dari Hadith :

Ibn Hibban dalam kitab sahihnya meriwayatkan hadith Jundab bin AbdiLLah, RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bererti :

“Surah al Baqarah adalah tulang belakang al Quran, ia diturunkan oleh lapan puluh malaikat dengan membawa satu persatu ayat. Sedangkan ayat Kursi diturunkan dengan membawa satu persatu ayat. Sedangkan ayat kursi diturunkan dari bawah Arsy’. kemudian ia dikumpulkan dengan ayat-ayat surah al Baqarah. Surah Yasin pula adalah hati al Quran, tidak ada orang yang membacanya dengan mengharap redha ALlah dan pahala akhirat melainkan dia akan mendapat ampunan dari-Nya. Bacalah surah Yasin untuk saudara-saudara kamu yang telah meninggal dunia.”

(Ditakhrij oleh Ibn Hibban di dalam Kitab Sahihnya pada bab Fadhilat Surah al Baqarah. Demikian juga al Haithami meriwayatkannya di dalam kitab Mawarid al Dzam’an, (jilid V, h 397). Imam Ahmad juga meriwayatkannya di dalam al Musnad dari Ma’qal bin Yasar (jilid v h 26). Al Haithami mengulas hadith tersebut di dalam kitab Majma’ al Zawaid, “Hadith tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di dalamnya ada salah seorang perawi yang tidak disebut namanya, bagaimanapun perawi perawi lainnya adalah sahih (jilid VI h 311)


Pendapat dari Imam An Nawawi :

Imam Nawawi berkata “Adalah sunnah hukumnya bagi para penziarah kubur untuk mengucapkan salam kepada mereka (penghuni kubur), mendoakan kepada orang yang diziarahi dan juga kepada ahli kubur semuanya. Lebih utama lagi, jika penziarah itu membaca doa-doa yang telah diterangkan dalam al hadith. Dan hukumnya sunnah pula membaca ayat-ayat al Quran dan setelah itu mendoakan para penghuni kubur. Ini semua adalah nas (pendapat) dari Imam al Syafie dan disepakati oleh murid-muridnya (para pengikutnya)

Imam al Nawawi, al majmu’ syarh al muhazzab jilid V h 286.

Pendapat Imam Ahmad :

Imam Ahmad pada mulanya pernah melarang seorang buta daripada membaca al Quran di atas kubur, kemudian beliau (imam Ahmad) mengizinkannya setelah mendengar khabar yang mengatakan Ibnu Umar pernah berwasiat supaya dibacakan permulaan dan penghujung surah al Baqarah di sisinya ketika dikebumikan. Kisah ini disebut oleh Ibnu Qudamah di dalam kitabnya ‘Al Mughni (2/567) di dalam masalah: Ziarah Kubur.

Berdoalah kepada ALLah agar pahala kita membaca ayat al Quran sampai kepada si mayyit kerana ALlah sendiri telah berfirman yang bererti :

“Dan Tuhan kamu berfirman: “Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepadaKu, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” Al-Mukmin:60

Antara ulamak terkini lain yang mengatakan sampainya pahala seperti : Profesor Dr Sayyid Muhammad ‘Alawi Almaliki Al Hasani, Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, dan ramai lagi.

Sumber Rujukan :

1. Prof Dr Sayyid Muhammad ‘Alawi Al Maliki Al Hasani, Kajian Mendalam ke Atas Manfaat Amalan Orang Hidup Terhadap Arwah, Tahqiq al amal fi ma yan fa’u al mayyitu min al a’mal, Jahabersa, 2007, Johor

2. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur

3. Prof Dr Wahbah Az Zuhaili, Fatwa-fatwa Semasa, al Fatawa al mu’asaroh, iBook Publication, 2005, Kuala Lumpur

4. Dr Mustofa al Khin, Dr Mustofa al Bugho & Ali Asy Syarbaji, Kitab Fikah Mazhab Syafie, al Fiqhu al Manhaji, Pustaka Salam, 2005. Kuala Lumpur.

WaLlahua’lam

Posted by: Habib Ahmad | 16 April 2010

Allah Di Mana? Di Atas Langit atau Di Semua Tempat?

Allah Di Mana? Di Atas Langit atau Di Semua Tempat?

Dicatat oleh al-‘Abd al-Da’if: pada 12.8.09

Soalan di atas, lazimnya ditanya oleh salah satu dari dua orang berikut, sama ada dia memang tak tahu dan inginkan jawapan, atau soalan perangkap ‘salafi’ (boleh baca salah pi) yang ingin menguji akidah ‘lawan’nya. Ini kerana mereka sudah meyakini bahawa Allah Taala itu tempatnya di atas langit. Jika orang tersebut menjawab di atas langit, dia akan berpuashati, tetapi jika orang tersebut menjawab di semua tempat atau di mana-mana sahaja (seperti fahaman Muktazilah), maka dia akan memerli dan memperbodohkan begini: “Walaupun di tandas?!”.
Sebenarnya soalan pilihan; ‘di atas langit atau di semua tempat’ seperti di atas adalah soalan bidaah. Saya katakan ianya bidaah sayyi’ah (yang keji). Ini kerana ianya telah menimbulkan terlalu banyak perbalahan dan sengketa sehingga kini. Maka eloklah ditinggalkan sahaja pertanyaan bidaah tersebut. Ini kerana jawapan yang pertama dan yang kedua adalah mustahil bagi Allah, selagi ia berhubung dengan tempat, sepertimana yang akan diterangkan nanti. Allah Taala tidak berada di tempat tertentu, sama ada atas, bawah, kiri, kanan, depan atau belakang. Ini tidak bermakna Allah Taala itu ‘ma’dum‘ (معدوم) yakni ‘yang ditiadakan’ (seperti ejekan setengah ‘ salafi’ pembidaah yang jengkel), kerana Dia telah sedia ada wujud dengan zat-Nya. Begitu juga Allah Taala tidak berada di semua tempat.

Jawapan Yang Sahih

Namun, pertanyaan; ‘di mana Allah?’ bukanlah bidaah. Ini kerana Allah Taala telah mengetahui tabiat manusia yang pasti akan bertanya soalan seperti itu. Dan Allah Taala tidak mahu umat Nabi Muhammad SAW ini menjadi sepertimana orang Yahudi dan orang Kristian yang beriktikad bahawa Allah Taala itu di atas langit dengan zat-Nya, lalu diturunkan anak-Nya ‘Uzair menurut Yahudi, dan Jesus (‘Isa) menurut Kristian, ke atas muka bumi, لا حول ولا قوة إلا بالله. Oleh kerana itu Allah Taala telah menurunkan jawapannya seperti berikut, firman-Nya dalam surah al-Baqarah:


Terjemahan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruan-Ku (dengan mematuhi perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku mudah-mudahan mereka menjadi baik serta betul”. (186)

Bagaimanapun jika mereka tidak berpuashati dengan jawapan dari kalam Allah ini, katakanlah: Allah wujud tanpa bertempat (الله موجود بلا مكان). Ini kerana Allah Taala tidak memerlukan tempat (dan langit adalah termasuk daripada tempat). Yang memerlukan tempat ialah makhluk. Dia-lah yang menciptakan tempat, maka tempat adalah termasuk daripada makhluk. Allah Taala tidak memerlukan apa-apa daripada makhluk-Nya dan tidak bergantung kepada mereka sedikitpun.

Komentar Hadith Jariyah

Adapun hadith jariyah (hamba perempuan) yang menunjukkan seolah-olah Allah Taala di langit, dijawab oleh para ulama Ahlus Sunnah wal-Jamaah seperti berikut;

1- Ianya bukan hadith mutawatir. Maksudnya hanya segelintir sahabat Nabi SAW sahaja yang meriwayatkannya, tidak ramai. Maka orang yang mati tanpa akidah ‘Allah di atas langit’ tidaklah berdosa. Justeru, usul akidah mesti disabitkan dengan hadith mutawatir.

2- Hadith tersebut tidak dimuatkan oleh ulama-ulama hadith yang meriwayatkannya di dalam bab akidah, kecuali golongan musyabbihah dan sebahagian ahli hadith yang terpengaruh dengan mereka dalam mazhab Hanbali.

3- Ini kerana cara ia difahami berhubung dengan situasi hadith itu diucapkan, di mana jariyah tersebut adalah orang biasa yang kurang berpelajaran, maka wajarlah Nabi SAW melayaninya menurut kemampuan akal fikirannya. Dalam riwayat berkenaan beliau menjawab: “Di langit”, kerana inilah kefahaman semua orang biasa, termasuk kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin yang percaya kewujudan Tuhan dan kekuasaannya. Apa yang membezakan dengan mereka di sini ialah pengakuannya terhadap kerasulan Nabi SAW, lalu baginda menghukumkannya sebagai mukminah. Manakala dalam satu riwayat lain, beliau hanya menunjuk ke arah atas, manakala yang berkata ‘ke langit’ ialah perawi hadith yang menceritakan situasi berkenaan.

4- Maka para ulama menafsirkannya menurut kaedah; ‘merujukkan nas yang mutasyabihat (mengelirukan) kepada nas yang muhkamat (meyakinkan)’. Antara nas yang muhkamat di sini ialah ayat (ليس كمثله شيء), “Tiada suatu apapun yang menyerupai-Nya”. Jika Nabi SAW pernah bersabda; ‘Allah di langit’, pasti tidak timbul masalah, dan ianya tidak menjadi nas yang mengelirukan (mutasyabihat). Justeru, ulama menyatakan bahawa jawapan/isyarat jariyah tersebut adalah menunjukkan ketinggian kedudukan Allah (علو المكانة), dan bukannya ketinggian tempat Allah berada (علو المكان). Ini ditunjukkan dengan kalimah (في السماء), “di langit” dengan lafaz mufrad (tunggal) sahaja, bukan dengan lafaz (فوق السماء السابعة), “di atas langit ketujuh”, atau dengan lafaz plural (فوق السموات), “di atas semua langit”. Maka kalimah al-sama’ dalam adat Arab mengisyaratkan kepada alam ghaib yang tidak dapat diketahui hakikat sebenarnya.

5- Tambah mereka lagi; adat umat Islam menadah tangan ke langit ketika berdoa adalah kerana langit itu adalah kiblat bagi doa (tidak kira sama ada anda di Kutub Utara atau di Kutub Selatan maka kiblat semasa berdoa ialah langit), sepertimana kita bersembahyang menghadap Allah Taala, maka kiblatnya ialah ke Kaabah. Ini bukanlah bermakna Allah Taala berada di hadapan kita dengan zat-Nya, dan tidak ada di sebelah belakang.. Jika kita mengamati kedudukan bumi dari angkasa dan mengamati seluruh alam cakerawala ini, di samping menginsafi kekerdilan diri, pasti kita akan akur dengan ayat al-Quran di atas. سبحان الله..

6- Kefahaman akidah orang awam seperti yang saya sebut di atas juga, berlaku dalam beberapa perkara akidah yang lain, seperti soal perbuatan hamba (أفعال العباد), kefahaman tentang iradah (kehendak) manusia dan qadar Allah SWT. Jika tidak diberi penjelasan atau diajarkan ilmu yang sahih, mereka akan menyangka bahawa Allah SWT menjadikan manusia dan membiarkan mereka berusaha mengurus hidup mereka masing-masing dengan sendiri tanpa campurtangan daripada-Nya. Atau pun mereka percaya hidup mereka ini telah ditentukan semuanya oleh Allah SWT, maka tidak perlu berusaha untuk mengubah apa-apa yang telah ditetapkan dan berserah sahaja bulat-bulat.

7- Sebahagian ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Muhammad Zahid al-Kawthari dan al-Hafiz ‘Abdullah al-Ghumari mengatakan bahawa hadith tersebut adalah syaz, iaitu hadith yang sahih sanadnya, tetapi matannya berlawanan dengan hadith-hadith sahih yang lain. Ini kerana kebanyakan dakwah Nabi SAW adalah dengan seruan supaya mengucap syahadah (لا إله إلا الله), bukannya bertanya ; “Di mana Allah?” (أين الله). Malah sebahagian jalan riwayat hadith berkenaan diriwayatkan dengan lafaz yang jelas : (أتشهدين أن لا إله إلا الله). Maka hadith syaz tidak dapat dijadikan hujah.

Wallahu a’lam.

Rujukan tambahan:

1- Fatwa al-Hai’ah al-‘Ammahsini.

2- Risalah al-Burhan al-Sadiq.

3- Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir – sini.

http://sawanih.blogspot.com/search/label/Akidah

Posted by: Habib Ahmad | 16 April 2010

Kalimah ‘الله’ Adalah Al-Ismu al-A‘zam

Kalimah ‘الله’ Adalah Al-Ismu al-A‘zam

Dicatat oleh al-‘Abd al-Da’if: pada 12.1.10


Dalam pada masih sibuk orang membincangkan pemakaian lafaz Allah bagi orang kafir. Ada baiknya dibawakan satu perkara yang lebih bermanfaat bagi jiwa rohani kita, iaitu mendalami nama Allah sebagai al-Ismu al-A‘zam. al-Ismu al-A‘zam secara literal bererti ‘nama yang teragung’. Diriwayatkan, barangsiapa yang berdoa dengan al-Ismu al-A‘zam, doanya pasti akan dimakbulkan oleh Allah SWT. Terdapat banyak pendapat mengenai penentuan al-Ismu al-A‘zam di kalangan ulama. Menurut al-Hafiz Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (11/224), terdapat 14 pendapat. Al-Suyuti merekodkan di dalam (الدر المنظم في اسم الله الأعظم) sehingga 20 pendapat. Dr. Hasan al-Fatih Qaribullah pula di dalam kitabnya al-Ismu al-Azam lil-Mawla merekodkan sehingga 37 pendapat. Di antara pendapat yang paling masyhur yang dipilih oleh ramai ulama; al-Ismu al-A‘zam itu ialah lafaz Allah (الله).

Imam Al-Khattabi dalam kitabnya Sya’nu al-Du‘a’ (h. 25) menyebut bahawa kenyataan tersebut bersandarkan pada sebuah riwayat, namun tidak dapat dipastikan apa riwayat hadith ataupun riwayat athar. Tokoh paling awal dikesan yang berpendapat bahawa al-Ismu al-A‘zam itu ialah ‘Allah’, adalah seorang tabi‘i bernama Jabir bin Zaid al-Azdi (m. 93 @ 103H). Imam Abu Hanifah (m. 150H) juga diberitakan berpendapat dengan pendapat yang sama, seperti yang diriwayatkan oleh al-Tahawi dalam Musykil al-Athar (1/161).

Imam Waki‘ bin al-Jarrah (m. 197H) menceritakan: Aku melihat seorang lelaki di dalam mimpi memiliki dua sayap, lalu aku bertanya: Siapa kamu? Jawabnya: Malaikat. Aku bertanya lagi: Apakah nama Allah yang teragung (al-Ismu al-A‘zam) itu? Jawabnya: Allah. Aku bertanya lagi: Apakah penjelasan yang demikian? Jawabnya: Firman Allah kepada Musa: Sesungguhnya aku adalah Allah (إنني أنا الله), dan kalaulah ada satu nama yang terlebih agung daripada itu nescaya Dia akan menyebutkannya kepada Musa. (Ibn Nasiriddin, ‘Awwamah, h. 191-192)

Pendapat ini juga dipilih oleh Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari dalam (الله القصد المجرد), al-‘Allamah ‘Abdullah bin As‘ad al-Yafi‘i dalam kitab (الدر النظيم في خواص القرآن الكريم), Syeikh Ahmad ‘Ali al-Najjar al-Dumyati dalam (فتح الكنز الأسنى شرح منظومة أسماء الله الحسنى), Syeikh Ma’ul ‘Ainain al-Syanqiti dalam (نور الغسق في بيان: هل اسم الجلالة مرتجل أو مشتق؟), Dr. Muhammad Ratib al-Nabulusi dalam sebuah ceramahnya (klik sini) dan lain-lain.

Bagaimanapun, menyebutnya tanpa hati yang penuh khusyuk, tanpa rasa tangis, fana dan tenggelam diri, ianya kurang memberi kesan kerana itu adalah antara syarat mustajab. Namun menurut kajian Prof. Vander Hoven, pakar psikologi dari Netherlands, menyebut nama Allah berulang-ulang, selain memberi ketenangan pada hati, mampu menyembuhkan penyakit jiwa, melalui getaran suara dan kuantiti udara dalam menyebut kalimah Allah tersebut. Penyembuhan ini juga berlaku walaupun pada orang bukan Islam!.. (Rujukan: klik sini)

Posted by: Habib Ahmad | 16 April 2010

Al-Imam Al-Sowi Menyatakan Bahawa Wahhabiah Adalah Khawarij,

Al-Imam Al-Sowi Menyatakan Bahawa Wahhabiah Adalah Khawarij, Golongan Yang Dilalaikan Syaitan Dari Zikrullah Dan Kelompok Syaitan Yang Rugi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh; Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, Rahmat ke seluruh alam; Juga kepada ahli keluarga baginda dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di merata alam;

1. Pendekatan menolak golongan Wahhabi dengan bukti daripada kitab-kitab karangan ulama’ didapati amat berkesan untuk membuktikan bahawa fahaman ini ditolak oleh majoriti ulama’. Maka, pendekatan seperti ini akan dikekalkan di blog ini bagi memudahkan pembaca mendapat bukti secara langsung. Penulis amat berharap agar penyelidik-penyelidik di Jabatan-jabatan agama Islam dapat mengumpulkan bukti-bukti ini dan dengan mudah dapat menjelaskan kedudukan Wahhabi dari perspektif ulama’ apabila diperlukan nanti.

2. al-Imam al-Sowi al-Maliki adalah salah seorang ulama’ ASWJ dan al-Azhar yang hidup di zaman fitnah Wahhabi ini mula muncul. Beliau dilahirkan pada tahun 1175 H (+- 1761) dan wafat pada 7 Muharram 1241 H (+- 22 Ogos 1825). Beliau merupakan seorang ulama’ yang diberikan dengan gelaran Al-‘Arif billah, al-Imam al-Faqih, Shaikh al-Shuyukh, Umdah Ahl al-Tahqiqi wa al-Rusukh, Qudwah al-Salikin, Murabbi al-Muridin, al-‘Allamah, al-Fahhamah, al-Hibr, al-Fahhamah, al-Mudaqqiq – menunjukkan keilmuan dan “kesarjanaan” beliau diiktiraf oleh para ulama’.

3. Beliau mempunyai guru-guru yang mayshur, anak-anak murid dari kalangan ulama’ besar dan karangan-karangan beliau yang menjadi rujukan. Kitab al-Tafsir beliau yang menghuraikan Tafsir al-Jalalayn (tafsir ringkas yang ditulis oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuti) yang lebih dikenali dengan “Hashiyah al-Sowi” adalah begitu masyhur dalam disiplin ilmu Tafsir.

4. Di dalam kitab tersebut, ketika menghuraikan Tafsir al-Jalalayn (Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuti) berkenaan ayat 6 dan 7 daripada Surah Fatir:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ (6) الَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ (7)

 

“Sesungguhnya Syaitan adalah musuh bagi kamu, maka jadikanlah dia musuh (yang mesti dijauhi tipu dayanya); sebenarnya dia hanyalah mengajak golongannya supaya menjadi dari penduduk neraka (6)

Orang-orang yang kafir, bagi mereka azab yang berat; dan orang-orang yang beriman serta beramal soleh, bagi mereka keampunan dan pahala yang besar (7)”

Beliau menghuraikan Tafsir al-Jalalayn yang menyatakan bahawa ayat ini diturunkan kepada Abu Jahal dan orang-orang seumpamanya daripada musyrikin Mekah seperti al-‘As Ibn Wa’il, Al-Aswad Ibn al-Mutallib, ‘Uqbah Ibn Abi Mu’it, dan lain-lain dengan dikuatkan dengan dalil-dalil yang lain. Kemudian beliau menghuraikan dengan lebih lanjut lagi bahawa (Terjemahan bagi bahagian berwarna merah dari gambar di atas):

“Dan dikatakan bahawa: ayat ini diturunkan kepada golongan al-Khawarij yang mengubah tafsiran al-Quran dan al-Sunnah dan menghalalkan dengan (tafsiran) tersebut darah dan harta umat Islam, sepertimana yang disaksikan pada waktu ini di kalangan golongan yang serupa dengan mereka (Khawarij); dan mereka adalah satu golongan di bumi Hijaz yang dipanggil “WAHHABIYYAH”; mereka menganggap diri mereka berada di atas sesuatu (kebenaran); maka ketahuilah bahawa mereka adalah golongan pendusta/penipu; Syaitan telah menguasai mereka dan melupakan mereka daripada mengingati Allah; mereka adalah kelompok Syaitan; dan ketahuilah bahawa kelompok Syaitan adalah mereka yang rugi; kita berdoa kepada Allah Yang Maha Mulia agar memutuskan keturunan mereka (orang-orang yang mengikut mereka) sehingga akhir.” [Selesai terjemahan]

5. Berdasarkan penjelasan Imam al-Sowi, maka tidak hairanlah golongan Wahhabiah ini sememangnya jauh bahkan membenci majlis-majlis zikir (seperti majlis tahlil, dll) dan ahli-ahli zikir (ahli sufi dan tarikat muktabar), dek kerana dipermainkan oleh Syaitan.

6. Ada umat Islam melihat zikir sebagai ubat, apabila terlanjur berbuat dosa, mereka kembali bertaubat dan memperbanyakkan zikrullah. Alhamdulillah.

7. Ada umat Islam yang melihat zikir sebagai makanan dan mengambilnya sebagai wirid harian, tak selesa dan tidak bermaya kalau tidak berzikir atau terlepas wirid hariannya. Alhamdulillah walhamdulillah.

8. Namun sangat sedikit daripada kalangan kita umat Islam yang dapat merasakan zikir seumpama nafas, tiada erti hidup tanpanya, waktu-waktu yang dilalui tanpa zikrullah dirasakan sia-sia seumpama mayat hidup, tidak bermakna, waktu itu akan disesali di akhirat nanti, walaupun seseorang itu masuk ke syurga. Bahkan zikir itu dirasakan lebih lazat daripada air sejuk di kala cuaca yang amat panas. Allahu akbar. Allahummaj’alna minhum.

9. NAMUN BEGITU, golongan Wahhabi sering melihat amalan zikrullah sebagai RACUN!!! BETAPA ROSAKNYA FAHAMAN DAN PEMIKIRAN MEREKA. Wal-‘iyazubillah.

10. Pernah satu ketika seorang pelajar datang berjumpa penulis dan bertanya tentang hukum berzikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 atau 3000. Ini adalah kerana ia menjadi amalan abangnya. Penulis dengan segera menjawab soalan tersebut dengan beberapa soalan:

  • · “Apakah hukum lalai daripada mengingati Allah (zikrullah)? Sebelum membincangkan hukum zikrullah, kita kene bincang hukum ghaflah atau lalai daripada mengingati Allah terlebih dahulu”
  • · “Apakah hukum lalai dari zikrullah atau tidak berzikir sebanyak 1000 nafas atau 3000 nafas? Sekurang-kurangnya abang kamu tidak lalai dalam 1000 atau 3000 nafasnya, kamu, kita bagaimana? Nikmat Allah meliputi kita dalam setiap nafas kita”
  • · “Dalam sehari kamu kamu banyak mengingati Allah atau banyak lalai daripada mengingati Allah? Dia menjawab: Banyak lalai. Penulis membalas: Jika begitu, marilah kita sama-sama bincang berkenaan hukum perkara yang lebih banyak kita lakukan dalam sehari, iaitu lalai.”

 

Selepas itu, penulis berbincang berkenaan hukum lalai dengan pelajar tersebut tanpa perlu membincangkan hukum zikrullah lagi. Ini adalah kerana perintah untuk berzikir lebih banyak terdapat di dalam al-Quran berbanding perintah solat. Maka, jelaslah kepentingannya. Adapun, hukum lalai hanya akan diperolehi apabila kita belajar dengan ulama’ yang menitikberatkan zikrullah, iaitu ulama’ sufi dan tarikat muktabar.

11. Penulis ingin berpesan kepada umat Islam di luar sana, khasnya para pembaca,

  • · Jauhilah golongan yang mengajar anda untuk membenci amalan zikrullah dan ahlinya (ahli sufi dan tarikat muktabar) walaupun dia mempunyai gelaran Professor atau Dr. atau Ustaz sekalipun;
  • · Janganlah cepat-cepat atau gopoh memusuhi amalan-amalan tarikat sufi muktabar kerana takut-takut anda memusuhi para awliya’-Nya.

 

12. Akhir kata, sekiranya seorang ulama’ besar Islam seperti Imam al-Sowi telah menerangkan keburukan Wahhabiyyah dengan begitu berat sekali: Apakah pendirian yang patut kita buat? Apakah tindakan yang patut kita ambil? Apakah kita hanya perlu bersikap sambil lewa dalam isu ini? Sama-samalah kita fikir-fikirkan. Jangan biarkan hidup anda terus dihantui misteri Wahhabi…bi…bi…pssssss..Keluar asap.

Rujukan Tambahan di internet (You Tube) – Bahasa Inggeris:

Posted by: Habib Ahmad | 16 April 2010

Kecemerlangan, Kegigihan dan Kekuatan Jiwa Ulama Bab 1

Kecemerlangan, Kegigihan dan Kekuatan Jiwa Ulama Bab 1

Dimasukkan oleh IbnuNafis Label:

Oleh : Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni

 

Dalam entri kali ini, ingin saya menyentuh sedikit gambaran tentang keasyikan terhadap ilmu di kalangan para ilmuwan Islam. Mudah-mudahan dapat kita renungkan bersama dan juga untuk dijadikan ukuran pada diri kita. Sebagaimana mereka telah berjaya membina kecemerlangan mereka, maka demikian jugalah sepatutnya kita menurut jejak mereka bagi membina kecemerlangan kita sendiri.

Imam ‘Abdul Hayy al-Laknawi (m. 1304H) dalam kitabnya yang sangat menarik berjudul: Iqamah al-Hujjah ‘ala Anna al-Ikthar fi al-Ta’abbud Laysa Bibid’ah (h. 115-118) menyebut: “…

Kemampuan manusia itu berbagai-bagai. Berapa ramai orang yang menyanggupi sesuatu sedangkan ia tidak disanggupi oleh orang lain? Berapa ramai orang yang bosan dengan sesuatu sedangkan orang lain tidak bosan dengannya? Berapa ramai orang yang diberi kepantasan dalam membaca sedangkan orang lain tidak dapat mencapainya?

Tidakkah anda pernah mendengar al-Sayyid Abu Bakr bin Ahmad bin Abu Bakr – meninggal dunia tahun 1053 H – pernah membaca kitab al-Ihya’ – oleh Imam al-Ghazali – dalam tempoh 10 hari, dan barangkali beliau hanya menelaah satu jilid kitab besar kesemuanya dalam masa sehari semalam sahaja.

Majduddin al-Syirazi – al-Fairuzabadi, pengarang kitab al-Qamus dan Sifr al-Sa’adah – pernah membaca kitab Sahih Muslim dalam tempoh 3 hari sahaja. Al-Qastallani pula pernah membaca Sahih al-Bukhari dalam 5 buah majlis serta sebahagian dari satu majlis lain. Manakala al-Hafiz Abu Bakar al-Khatib pernah membaca Sahih al-Bukhari dalam 3 buah majlis sahaja.

Al-Hafiz Ibn Hajar pernah membaca kitab Sunan Ibn Majah dalam 4 buah majlis, demikian juga kitab Sahih Muslim, manakala kitab Sunan al-Nasa’i al-Kabir dalam 10 buah majlis dan setiap satu majlis kira-kira 4 jam. Manakala kitab Mu’jam al-Tabarani al-Saghir pula dalam sebuah majlis sahaja antara zohor dan asar. Demikian yang diceritakan oleh Muhammad bin Fadhlullah al-Muhibbi dalam kitab Khulasah al-Athar fi A’yan al-Qarn al-Hadi ‘Asyar.

‘Abdul Wahhab al-Sya’rani pernah menceritakan dalam kitab al-Yawaqit wa al-Jawahir tentang dirinya sendiri bahawa beliau pernah menelaah kitab al-Futuhat – oleh Ibn al-‘Arabi al-Hatimi, yang terdiri daripada 10 jilid besar – setiap hari sebanyak 2 kali. Al-Yafi’i pernah memberitakan mengenai seorang abid bahawa beliau telah membaca keseluruhan al-Quran dalam kadar sebuah khutbah seorang khatib pada hari Jumaat.

Hal-hal sebegini dan seumpamanya adalah tidak samar lagi bagi orang yang menelaah kitab-kitab mengenai hal ehwal tokoh-tokoh besar ini, yang mana tidak disanggupi oleh kebanyakan manusia lain.

Asal bagi semuanya ini ialah; Allah Taala telah menciptakan jiwa insan itu bersifat menikmati dan menyukai, yang mempunyai kesamaan dengan jiwa-jiwa kemalaikatan yang tidak terputus seketika pun daripada ibadah. Maka sesiapa yang memperolehi bagi dirinya rasa nikmat dengan sesuatu – walau apa pun ia – ia tidak akan merasai jemu langsung dalam memperbanyakkannya. Dan sesiapa yang tidak merasai nikmat dengan sesuatu pula, ia akan merasai jemu di dalam memperbanyakkannya.

Para ulama ummah Muhammadiyyah, pengarang kitab-kitab yang masyhur seperti al-Zahabi, Ibn Hajar, al-Suyuti dan selain mereka, tidak mensia-siakan satu ketikapun daripada masa usia mereka, dan tidak meluangkannya melainkan untuk menelaah atau menulis. Mereka tidak pun merasa jemu berbuat demikian. Al-Yafi’i pernah menceritakan bahawa beliau pernah berjaga pada suatu malam bagi menelaah kitab-kitab sehingga subuh, dan beliau tidak merasa jemu pun.

Hamba yang daif, penghimpun lembaran-lembaran ini – yakni Imam al-Laknawi sendiri – juga pernah merasai kenikmatan dengan menelaah dan menulis. Lalu saya pun menelaah jilid-jilid kitab yang besar dalam masa berjam-jam lamanya. Saya juga duduk pada suatu malam menulis daripada waktu maghrib sehinggalah ke waktu tengah malam tanpa berhenti – kecuali solat isyak – dan saya tidak merasai jemu pun. Bagi Allahlah segala pujian atas yang demikian.

Secara umum, jiwa-jiwa manusia itu adalah berbeza dari segi kemampuan. Maka sesiapa yang mampu memperbanyakkan ibadah, membaca, qiamullail, dan seumpamanya tanpa merasai rasa jemu, haruslah baginya yang sedemikian itu…”.

– tamat nukilan.

Sumber : Http://Sawanih.Blogspot.Com

Posted by: Habib Ahmad | 15 April 2010

WAHHABI BUKAN SALAFI !

WAHHABI BUKAN SALAFI ! Hiasan HAKIKAT DAN REALITI MEMBUKTIKAN WAHHABI TIDAK BERMANHAJ AS-SALAF SEBENAR SAMAADA DALAM AQIDAH MAHUPUN SELAINNYA Oleh: Abu Syafiq 006 012 2850578 Saya sering terbaca beberapa tulisan yang menyokong atau yang menentang fahaman Wahhabi. Selalu didapati mereka kurang teliti dalam menjelaskan beberapa perkara khususnya bila menyandarkan nama SALAF itu kepada WAHHABI. Menamakan Wahhabi dengan nama yang seiiring dengan Salafi atau Salaf atau As-Salaf atau Al-Salaf atau Salafiyyah adalah satu kesalahan dari segi makna, istilah, dakwah dan kebenaran. Ditambah lagi tokoh-tokoh agamawan juga menamakan mereka ini (Wahhabi) sebagai Salafi atau yang seiring dengan nama tersebut. Ini semua merupakan satu kesalahan yang perlu diperbetulkan kerana dalam kajian didapati :- 1- Manhja ulama As-Salaf sebenar iaitu ulama Islam yang hidup dalam lingkungan 300Hijriah adalah Tanzih mensucikan Allah dengan persamaan makhluk. Manakala fahaman Wahhabi menyamakan Allah dengan makhluk. Maka Wahhabi tidak layak dilabelkan sebagai Salafi. 2- Aqidah ulama As-Salaf sebenar pada ayat-ayat mutasyabihat dan hadith-hadith mutasyabihat adalah tidak berpegang dengan zahir maknanya tetapi ditolak makna zahirnya dan dinafikan segala perumpaan Allah dengan makhluk. Manakala aqidah Wahhabi adalah berpegang dengan zahir makna ayat-ayat mutasyabihat dan hadith-hadith mutasyabihat yang membawa kepada persamaan Allah dengan makhluk kemudian ditambah lagi Wahhabi menyifatkan Allah dengan seluruh sandaran yang bukan sifat pada hakikatnya. Maka Wahhabi tidak harus dinamakan sebagai As-Salaf. 3- Ulama As-Salaf sebenar adalah ulama Islam yang hidup dalam 3 kurun pertama iaitu ulama yang pernah hidup pada zaman sebelum 300Hijrah. Manakala Wahhabi muncul pada lingkungan 1111Hijrah. Amat jauh perbezaan antara yang benar dan yang batil. Maka Wahhabi tidak boleh dinamakan sebagai Al-Salaf. 4- Dakwah ulama As-Salaf sebenar adalah tidak mengkafirkan umat Islam samaada individu mahupun ramai selagi seseorang itu muslim dan tidak melakukan perkara yang membatalkan keislamannya. Manakala Wahhabi mengkafirkan ulama Islam dan umat Islam tanpa hak secara umum tanpa had habis dikafirkannya. Maka Wahhabi diharamkan daripada mempergunakan nama Salaf. 5- Feqah ulama Al-Salaf adalah tidak jumud dan tidak sempit serta tidak menghukum amalan umat Islam yang mempunyai dalil sebagai bid’ah sesat. Manakala Wahhabi berfeqah secara jumud, sempit dan suka menghukum seluruh amalan umat Islam khasnya yang mempunyai dalil sebagai Bid’ah Sesat dan Syirik. Maka Wahhabi tidak sepatutnya dinamakan sebagai Salafiyyah. Ya memang terdapat beberapa tokoh yang secara tidak langsung menamakan puak Wahhabi ini sebagai Salafi atau yang seiring dengannya. Kemudian berlaku pula tindakan pada orang awam yang tidak mengkaji secara detail mengatakan Wahhabi itu bermanhaj Salafi. Hakikat dan kebenarannya adalah Wahhabi amat berbeza dengan ulama Salaf dengan perbeza yang jelas dan jauh bak langit ketujuh dengan bumi ketujuh. Maka tidak harus, tidak boleh dan haram menyandarkan nama Salafi atau Salaf atau As-Salaf atau Al-Salaf atau Salafiyyah kepada ajaran Wahhabi ini atas sebab yang telah dijelaskan oleh para ulama yang dinotakan di atas tadi. Tetapi nama yang paling sesuai bagi Wahhabi ini adalah Musyabbih, iaitu yang menyamakan Allah dengan makhluk Mukaffir, iaitu yang mengkafirkan ulama Islam dan umat Islam Mubaddi’, iaitu yang suka menghukum bid’ah ke atas amalan umat Islam yang ada dalil Mujassim, iaitu yang menjisimkan Allah. *Anda mengetahui hakikatnya jangan perdaya orang awam dengan melabelkan golongan Wahhabi ini kepada ulama yang mulia kerana kemulian dan keberkatan tidak wujud dalam kamus Wahhabi! Jika ditanya adakah Wahhabi itu Salafi jawab lah : WAHHABI BUKAN SALAFI WAHHABI ADALAH MUSYABBIH MUKAFFIR MUBADDI’ MUJASSIM. WAHHABIYAH BUKAN SALAFI TETAPI WAHHABIYAH ADALAH MUSYABBIHAH MUKAFFIRAH MUBADDI’AH MUJASSIMAH ! http://www.abu-syafiq.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 15 April 2010

KENDURI ARWAH ADALAH IBADAH YANG SUNNAH

KENDURI ARWAH ADALAH IBADAH YANG SUNNAH

 




 

Kitab yang berjodol al-Syams al-tali’ah li naskh al-kawakib al-naiyyirah adalah kitab yang telah dikarang oleh Sheikh Haji Wan Ali bin Hj Wan Ya’qub al-Jambawi al-Sulati yang berasal dari Fatani.Beliau adalah seorang lepasan dari Madrasah Sulatiyyah di Makkah al-Mukarramah.

 

 

Didalam kitab ini beliau telah menulis penjelasan tentang “ KENDURI ARWAH” sebagai menjawab tuduhan liar oleh Hj Abdullah Bendang Kebun Fatani(Kaum Muda/ Wahabi) didalam kitabnya yang berjodol “ al-kawakib al-naiyyiraat “.

 

 

Beliau terundang menulis risalah ini , bila mana Hj Abdullah Bendang Kebun(Kaum Muda /Wahabi) menyebutkan amalan kenduri arwah sebagai amalan bid’ah yang sesat.

 

 

Didalam kitab ini beliau telah memasukkan juga surat yang dikirim oleh Pak De ‘Il ( Sheikh Ismail ) Ma’la dan Sheikh Abd Qadir al-Mandili dari Makkah kepada Tuan Guru Hj Abd Wahhab Pondok Bekalan Enam Fatani yang menjelaskan tentang amalan kenduri arwah adalah amalan yang baik dan bersandarkan nas-nas yang jelas.

 

 

Golongan yang membid’ahkan amalan kenduri arwah bukanlah cerita baru , akan tetapi kalau diselidiki ternyata adalah penyakit lama yang tumbuh semula bila masyarakat mula kosong dari ilmu agama.

 

http://al-subki.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 15 April 2010

Ahlusunnah Menyikapi Hadis – Hadits Dhoif

Ahlusunnah Menyikapi Hadis – Hadits Dhoif

بسم الله الرحمن الرحيم.

الله.

وظيفة الحديث الضعيف فى الاسلام وأقوال كبار أئمة السلف والخلف فيه لفضيلة السيد محمد زكى ابراهيم.

Wazifah

Hadis-Hadis Dhoif.

Ta’lif

Fadhilah al- Sheikh al-Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim.

Mantan Sheikh al-Masyaikh Thuruq al-Shufiyyah Mesir.

Terjemahan dan olahan

Oleh

al-Ustaz Abd. Raouf Nurin Al-Bahanji al-Aliyy.

Pondok jalan padang Ragut .

Tampin N.S.D.K

Sempena Maulid Rasul s.a.w 1427 h bersamaan 2006 m.

Sekapur Sireh

Risalah yang padat dengan fakta-fakta bernas. Meluruskan salah faham terhadap hadis-hadis Dhoif yang berkait dengan amalan dan fatwa-fatwa hukum-hukum majoriti umat Islam semenjak berkurun-kurun yang lalu. Membacanya mesti disertai ketelitian tanpa taa’sub pada mana-mana fahaman.

 

Mengapa dicerca rapuhnya sesuatu jika ianya berada di atas atau di dalam sesuatu yang teguh?. Mengapa dilontar buang Aqiq disebabkan Intan Permata?. Apa salahnya Aqiq, keberadaannya di sisi Intan? . Intipati risalah di antaranya:

 

  1. Hadis Dhoif tidaklah dimasukkan sebagai hadis yang tertolak di segenap sudut. Lantaran itu, sebahagian ulama’ menganggap sunat beramal dengan hadis-hadis Dhoif pada tempat yang layak. Oleh yang demikian, para ulama’ hadis telah memasukkan hadis Dhoif termasuk dalam bahagian hadis yang Makbul (yang diterima), teristimewa pada Fadhoil Amal atau perkara yang bukan hukum-ahkam.
  2. Hadis-hadis yang Dhoif adalah hadis yang mempunyai asal, tetapi tidak sempurna padanya syarat-syarat hadis Sohih.
  3. Kemungkaran yang paling teruk ialah apabila kemelut yang dihadapi oleh saudara-saudara kita ini tidak berkurangan sampaikan mereka sanggup mempertikaikan/menuduh yang bukan-bukan kepada orang-orang Sufi hanya kerana berpegang pada hadis Dhoif, walaupun dalam hal-hal yang disepakati oleh Para Ulama Hadis dan Para Ulama Usul ditimur dan barat bahawa hadis-hadis Dhoif terbabit sunat diamalkan, juga semata-mata kerana mengetahui sebahagian besar di kalangan Ulama-ulama hadis dan Imam-imam mereka adalah Ahli Sufi yang memimpin (pengikutnya dan umat) sebagaimana yang terdaftar dalam senarai sanad-sanad dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mereka

 

Wassalam

 

Penterjemah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Puji-pujian.

 

Bahawasa segala puji hanya bagi Allah Tabaraka wa Ta’ala, selawat dan salam ke atas Penghulu kami, Rasulullah yang Terpilih, mudah-mudahan Allah Ta’ala meredhai atas Keluarga dan Para Sahabat dan Tabi’in. Kami berlindung dengan Allah dengan kejahatan nafsu-nafsu kami dan keburukan amal-amal kami dan kami mulai dengan sesuatu yang terlebih baik.

 

2. Tamhid.

 

Waba’du: Di antara perkara bida’ah yang dianggap buruk, yang berlaku di kalangan orang ramai, yang tersebar luas melalui perkataan daripada mereka yang ghairah mendakwa memperjuangkan sunnah, tauhid dan pembaharuan (tajdid) iaitu keterlaluan mengkritik hadis-hadis Dhoif sebagai Batil dan Dusta. Menganggap beramal dengan hadis-hadis Dhoif sebagai keji dan fasik atau sekurang-kurangnya sebagai kejahilan dan melampaui batas syaria’t.

 

Padahal displin keilmuan tidaklah beranggapan begitu kerana hadis-hadis Dhoif mendapat tempat di sisi syariat dan ia berperanan di dalamnya. Hadis Dhoif juga mempunyai peranan yang asas dalam agama Islam. Sebahagian daripada kezaliman terhadap ilmu dan agama iaitu menganggap dan menghukumkan hadis Dhoif dengan hukuman dusta (iaitu disamakan dengan hadis Maudhu’). Demikian itu kerana hadis-hadis yang Dhoif adalah hadis yang mempunyai asal, tetapi tidak sempurna padanya syarat-syarat hadis Sohih. Iaitu bermakna pada hadis Dhoif terdapat di sisinya keSohihan pada suatu sudut, dan sebahagian syarat-syarat Makbul hadis, tetapi sifat-sifat tersebut tidak sempurna sebagaimana yang berlakunya pada hadis-hadis Sohih . Oleh yang demikian, para ulama’ hadis telah memasukkan hadis Dhoif termasuk dalam bahagian hadis yang Makbul (yang diterima), teristimewa pada Fadhoil Amal atau perkara yang bukan hukum-ahkam.

 

Maka hadis Dhoif tidaklah dimasukkan sebagai hadis yang tertolak di segenap sudut. Lantaran itu, sebahagian ulama’ menganggap sunat beramal dengan hadis-hadis Dhoif pada tempat yang layak, dan hadis-hadis yang Dhoif adalah hadis yang mempunyai asal, tetapi tidak sempurna padanya syarat-syarat hadis Sohih..Daku tahu kenyataan ini tidak akan disenangi oleh sebahagian orang tetapi menuntut keredhoan Al-Haq adalah wajib sekalipun dibenci oleh sebahagian orang.

 

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Kitab-Kitab hadis Sohih sangat banyak.

 

Kitab-kitab yang memuatkan hadis Sohih amat banyak. Hadis-hadis Sohih bukanlah semata-mata hadis yang dikumpulkan oleh Imam al-Bukhari atau Imam Muslim sahaja. Saya tidak menemui adanya Nas dalam agama Allah ataupun Isyarat yang menunjukkan pembatasan hadis Sohih terhadap kitab-kitab ini sahaja. Membataskan penerimaan Hadis Sohih terhadap kedua-dua kitab ini sahaja merupakan satu bentuk kefanatikan dan keraguan terhadap ilmu tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan.

Dalam kitab Huda al-Abrar ‘ala Tol’ati al-Anwar dan kitab Idha’atul Halik yang ditulis oleh Imam Ibn a-Hajj al-‘Alawi, kitab al-Jami’ oleh Safiyuddin al-Hindi dan kitab al-manhal al-Latif serta kitab-kitab lainnya ada menyebutkan: Kitab-kitab yang mana kesemua hadis yang termuat di dalamnya dinisbahkan sebagai hadis Sohih menurut kesepakatan jumhur ahli hadis melainkan sedikit sahaja yang telah dikritik Ulama’ ialah:

 

  1. Sohih Al-Bukhari ( Al- Jaami’ Al- Sohih).
  2. Sohih Muslim.
  3. Al-Muntaqa oleh Ibn al-Jarud ( melainkan hadis yang beliau telah Mursalkan ).
  4. Sohih Ibn Khuzaimah.
  5. Sohih Ibn Abi ‘Awanah.
  6. Sohih Ibn al-Sakan.
  7. Sohih Ibn Hibban.
  8. Mustadrak al-Hakim (setelah dibuat pengesahan melalui hafalan semua oleh al-Dzahabi dan al-Iraqi sekalipun pengesahan al-Dzahabi lebih mendasar dan lebih keras ). Sebahagian mereka turut memasukkan Musnad Ahmad 1.
  9. Al- Muwata Imam Malik 2 yang lebih berhak .
  10. Kemudian (Al-Mustakhrajat) iaitu kitab-kitab yang mentakhrij hadis-hadis yang masyhur dikalangan para ulamak.

 

Kesemua kitab ini yang sedia dimaklumi di kalangan ulamak yang hanya memuatkan hadis-hadis Sohih samada disudut Ilmiyah dan Ilmu Hadis.

 

Selain daripada kitab-kitab ini, terdapat hadis yang Sohih, Hasan dan Dhoif.

ألا يقدم أحد على البخارى فى العزو وان كان الحديث فيه وفى مسلم ساقوا لفظ مسلم لمبالغته فى تحرى اللفظ النبوى.

Kaedah (ahli hadis): ((Bahawa tidak boleh didahulukan nama selain al-Bukhari (jika hadis terbabit juga diriwayatkan oleh al-Bukhari) dalam menisbahkan sesuatu hadis kepada perawinya . Dan pada Muslim (jika sesuatu hadis itu juga telah diriwayatkan oleh keduanya) mereka turut menyebutkan namanya (bersama-sama al-Bukhari) disebabkan ketelitian Muslim dalam menyaring lafaz yang benar-benar diucapkan oleh Nabi s.a.w.))

 

Oleh itu pandangan yang memestikan berpegang dengan hadis yang terdapat dalam kitab Sohih al-Bukhari dan Muslim semata-mata dengan anggapan hanya kedua-dua kitab ini sahaja yang memuatkan hadis yang Sohih, bukannya pandangan yang

bersandarkan kepada ilmu dan bukan pada agama.

_____________________________________________________________________

1 Kerana Dhoif dalam al-Musnad Ahmad adalah Hasan.

2 Semua Mursal yang berada didalam al-Muwata telah diwasalkan oleh Imam-imam hadis dalam karangan-karangan mereka dari thuruq yang lain.

4. Pembahagian Hadis

 

Ahli hadis bersepakat bahawa ada tiga pembahagian hadis yang paling penting iaitu:

 

1. Hadis Sohih : Berada pada kedudukan teratas.

2. Hadis Hasan : Berada di kedudukan pertengahan.

3. Hadis Dhoif : Berada di kedudukan paling bawah, kerana cedera pada satu

syarat saja dari syarat-syarat hadis Hasan.

 

Adapun Hadis Maudhu’ (palsu), maka ia terkeluar daripada skop yang kita bincangkan, kerana ia adalah satu kekejian, gugur daripada hak untuk berhukum dan hak zatnya, samada disudut matan atau sanad atau kedua-duanya sekali, menurut Ijmak.

 

5. Pembahagian Hadis Dhoif.

 

Hadis Dhoif terbahagi kepada dua:

 

Pertama.

 

KeDhoifannya boleh ditampung (diperkuatkan) :

Apabila diperkuatkan oleh :

 

1. Hadis Dhoif Masyhur ,

2. Yang sama tetapi melalui jalan-jalan periwayatan yang lain.

3. Atau apabila mengisnadkannya oleh Sawahid yang makbul, terutama apabila Dhoif perawinya hanya disebabkan:

(a) lemah hafalan. atau

(b)lemah disebabkan Mursal atau

(c) Mastur (tertutup hal rawinya) ,

 

Maka ternaiklah martabatnya kepada martabat hadis Hasan Li Ghairih (iaitu bertaraf Hasan disebabkan adanya riwayat yang lain). Oleh itu termasuk dalam senarai hadis Maqbul (diterima) dan boleh dibuat hujjah sekalipun dalam soal hukum- ahkam sebagaimana yang telah dimantapkan di sisi para ulama’ dalam bidang Ilmu ini. Tidak perlu diperdulikan kepada dakwaan mereka yang mendakwa ahli dalam Ilmu ini padahal masih di tahap kebudak-budakan, tercari-cari dan tidak pernah belajar, mereka yang tahu satu perkara kemudian hilang pula beberapa perkara. Mereka mengikuti kaedah orang-orang bodoh untuk mengelabui hakikat kebenaran, mendakwa–dakwi diri dan mencari keuntungan dengan pendapat-pendapat pelik-pelik (Syaz) mereka.

 

 

 

 

 

Kedua.

 

KeDhoifannya tidak boleh ditampung:

Walaupun terdapat banyak jalan periwayatannya. Ia dinamakan sebagai al-Wahiy (sangat lemah) hal ini berlaku sekiranya perawi itu ternyata seorang yang fasik atau dituduh berbohong.

 

Para ulamak Ilmu Ini mengatakan: Hadis yang seperti ini jika diperkukuhkan dengan riwayat-riwayat yang lain, dan mempunyai Syawahid dan Mutab’at, maka tarafnya naik, daripada taraf (hadis Munkar, al-Waahiy atau hadis yang Tidak Ada Asalnya) kepada martabat yang lebih tinggi. Pada ketika itu ia boleh diamalkan dalam soal fadhilat-fadhilat amal selain pada soal:

 

  1. Akidah
  2. Hukum – Ahkam.

 

Sebahagian ulamak menambah:

 

  1. Tafsiran al-Quran. Kerana mendahulukan Hadis dalam menafsir daripada tafsiran berdasarkan fikiran semata-mata, tetapi pada pengecualian yang ketiga ini terdapat kritikan yang perlu pengkajian semula.

 

Dengan itu menerima pakai hadis Dhoif dalam segala jenis amalan yang berbentuk menggemar dan menakutkan, dalam soal adab, sejarah, ketatasusilaan, kisah tauladan, manaqib (biodata seseorang), sejarah peperangan, dan seumpamanya adalah diHaruskan. Perkara ini telah disepakati (Ijmak) oleh para ulamak seperti yang dinukilkan oleh Imam al-Nawawi, Ibn Abdul Barr dan selain mereka. Malah Imam al-Nawawi menukilkan pandangan ulamak bahawa dalam hal-hal tersebut disunatkan beramal dengan hadis Dhoif.

 

والاستحباب من جملة أصول الدين وأحكام الشرع الشريف

 

(Perkara yang sunat termasuk dalam himpunan Usuluddin dan hukum-ahkam syarak), perhatikanlah.

 

Tetapi kami berpendapat :

 

1. Penerimaan hadis Dhoif dalam perkara-perkara terbabit bersyaratkan jangan terlalu kuat keDhoifannya. Maka tidak termasuk hadis-hadis Dhoif yang ketunggalan periwayatannya yang salah seorang perawinya pendusta atau kesalahannya sangat keji.

2. Ia adalah merupakan perkara yang termasuk di bawah asas sesuatu Kaedah Syarak yang Kuliyyah (mencakupi seluruh soal-soal cabang perkara yang dihukum). Maka hadis-hadis yang tidak langsung berada di lingkungan asas tersebut bahkan merupakan perkara baru, adalah terkeluar dari keharusan ini .

3. Jangan pula hadis tersebut bercanggah dengan hadis yang Sohih. Maka terkeluar pula hadis-hadis Dhoif yang ditolak oleh hadis-hadis Sohih dan Sabit. Ini merupakan pendapat Ibnu Hajar al- Asqolani dan as- Sakhawi 3

 

 

 

6. Penerangan lebih jelas.

 

 

Abu al-Syeikh Ibn Hibban dalam kitabnya al-Nawa’ib meriwayatkan secara Marfu’ hadis Jabir r.a yang menyebutkan:

(( من بلغه عن اللّه عز وجل شيء فيه فضيلة , فأخذ به ايمانا به , ورجاء لثوابه ,

أعطاه اللّه ذلك , وان لم يكن كذلك )).

“Barang siapa yang sampai kepadanya sesuatu daripada Allah yang memuatkan sesuatu fadhilat, lalu dia beramal dengannya kerana percaya terhadapnya dan mengharapkan ganjaran pahalanya maka Allah memberikan yang demikian itu, sekalipun sebenarnya bukan begitu”.4

 

Hadis ini merupakan punca asas yang besar dalam membincangkan hukum-hukum berkaitan hadis Dhoif, kerana tidak mungkin sabdaan ini terbit daripada fikiran semata-mata tanpa Masmu’ (didengari dari Nabi s.a.w), bahkan ia sebenarnya merupakan dalil bahwa bagi hadis-hadis Dhoif mempunyai asal dan tanda pengesahan makbul (diterima).

 

Sesungguhnya para Ulama menukilkan daripada Imam Ahmad bin Hanbal bahawa dalam soal hukum-hakam, beliau berpegang dengan hadis yang Dhoif (jika ditampung keDhoifan tersebut dengan kemasyhuran hadis terbabit). Beliau juga mengutamakan hadis Dhoif dari pandangan akal. Beliau mengambil hadis-hadis Dhoif pada perkara-perkara halus (seperti akhlak) dan fadhoil. Seperti itu juga Ibnu Mubarak, al-Anbari, Sufiyan al-Thawri dan di kalangan pemuka-pemuka umat r.ahum.

————————————————————————————————–

3 Qaulul Badi’ : 195.

4 Pengarang Kanzul Ummal – ( 43132) – telah menisbahkan hadis ini kepada Abu Sheikh, Khatib, Ibnu an-Najjar, al-Dailami dari Jabir iaitu dalam kitab al-Durar karangan Ibnu Abdi al-Barr , al-Mu’jam al-Awsath karangan al- Tabarani dari Anas dengan lafaz – (( Sesiapa yang telah sampai kepadanya sesuatu fadhilat dari Allah , maka ia tidak mengakuinya , tidaklah ia mendapatnya.)) tapi terdapat kritikan pada riwayat yang ini , al-Ajluni telah menyebut dalam Kasf al-Khafa ( 2 : 327), telah di nukil dari Imam Sayuthi pada akhirnya (( maka pada jumlah , ada baginya asal )). Satu hadis lagi telah meriwayatkan oleh Imam Ahmad (5: 425) Ibnu Sa’ad dalam Tabaqat ( 1: 387/388), Ibnu Hibban telah menSohihkannya (92) – Bahawa Nabi s.a.w telah bersabda ((Bila kamu mendengar sesuatu hadis dari ku, yang hati kamu telah mengenalinya, lembutlah bulu dan kulit kamu , kamu nampak hadis tersebut hampir (boleh kamu faham) maka daku lebih utama dengannya dari kamu. Apabila kamu mendengar pula sesuatu hadis dari ku yang hati kamu ingkar, liar darinya oleh bulu dan kulit kamu dan kamu nampak hadis tersebut jauh (untuk difahami), maka daku lebih jauh dari kamu terhadapnya (lantaran ia bukan berasal dariku)).

 

 

Begitu juga para ulamak Hanafi mendahulukan hadis Dhoif terhadap pandangan akal, sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Zarkasyi, Ibn Hazm dan selainnya.

 

Maksudnya, bahwa sesungguhnya bagi hadis-hadis Dhoif adalah zat-zat hadis yang terdapat I’tibar, dan kegiatan Ilmiyyah Syaria’t, kerana tidak mencukupi sebahagian syarat-syarat hadis Sohih padanya. Maka meletakkan title makzub (hadis dusta/ maudhu’) pada hadis Dhoif adalah kesalahan yang besar di sudut Ilmiyah.

 

Mazhab Abu Daud samalah seperti mazhab Hanafi dan Hanbali, yang mana mereka mengutamakan hadis Dhoif berbanding penggunaan akal, jika tidak ada sumber lain yang boleh dijadikan dalil dalam sesuatu bab yang dibincangkan.

 

Tidak ada yang menyanggahi Ijmak bahawa hadis Dhoif boleh diamalkan melainkan Abu Bakar Ibn al-‘Arabi seperti yang dinukilkan oleh Ibn al-Solah. Percanggahan oleh Ibn al-‘Arabi ini mempunyai beberapa alasan yang telah dijawab oleh para ulama, atau penolakannya terhadap hadis Dhoif itu hanya terbatas kepada alasan-alasan yang diberikan sahaja. Oleh itu sebenarnya tidak ada percanggahan antara beliau dengan ijmak ulama dalam hal keharusan beramal dengan hadis Dhoif jika betul pada tempatnya.

 

 

7. Hadis-hadis dalam al- Sohih (al-Bukhari dan Muslim), Dhoif dan Mudha’af.

 

Di sana terdapat satu lagi bahagian hadis yang dinamakan hadis muda’af, iaitu hadis yang mana senarai perawi dalam isnadnya dianggap Dhoif (lemah) oleh satu kumpulan ulama sementara kumpulan lain pula mengatakan mereka adalah perawi yang thiqah (dipercayai). Kedudukan hadis yang sebegini berada di tengah-tengah antara hadis Sohih dan Dhoif. Dengan kata lain, martabatnya kurang daripada hadis Sohih tetapi melebihi taraf hadis Dhoif. Ia adalah saudara kepada hadis Hasan ataupun dari jenis yang lebih tinggi daripada hadis Hasan. Oleh kerana itu para ulama mengharuskan hadis sebegini dimasukkan dalam kitab-kitab Sohih. Namun hadis-hadis ini pada kebiasaan yang berlaku , dimasukkan dalam kitab-kitab Sohih hanya berperanan sebagai syawahid dan mutaba’ah atau hanya sekadar disebut ketinggian sanadnya (sanad yang A’liyy) saja.

 

Al-Bukhari telah menyebut secara bersendirian (tanpa Muslim) sebanyak lebih empat ratus lapan puluh nama perawi yang lapan puluh daripadanya dikritik oleh ahli hadis sebagai bertaraf lemah periwayatannya.

Adapun rangkaian sanad Muslim pula ada enam ratus dua puluh orang perawi, yang mana seratus enam puluh orang daripada mereka dikritik dan dikatakan bertaraf lemah. Namun mereka ini (yang dikatakan lemah periwayatannya) diperakukan sebagai perawi yang thiqah (dipercayai) oleh ramai ahli hadis yang lain.

Maka bagaimana pula fikiran mereka yang mendakwa-dakwi dalam Ilmu Ini cuba mengulas berkenaan hal perwai-perawi tersebut??..

Ibn al-Solah mengulas:

 

(( يقع بصحة ما أسنداه ( البخارى ومسلم ) أو أحدهما , سوى أحرف يسيرة تكلم

عليها بعض أهل النقد , لا كلهم .

(( Semua perawi yang disebutkan dalam sanad al-Bukhari dan Muslim diputuskan sebagai Sohih kecuali beberapa nama yang dipertikaikan oleh sesetengah ahli al-Naqd (pengkritik sanad) bukan kesemuanya.))

 

Kami pula mengulas: Beberapa nama yang dipertikaikan sesetengah pengkritik sanad inilah yang termasuk dalam bahagian hadis muda’af, yang mana ia harus dimasukkan ke dalam kitab-kitab hadis yang Sohih, tanpa ada celaan seperti yang telah kami terangkan.

 

Kemudian seterusnya :

: ان الحكم على الحديث بالصحة , أو الحسن , أو الضعيف , انما هو لظاهر الاسناد , لا لما هو فى نفس الأمر , فنفس الأمر هو اليقين المطلق الذى لا يعلمه الا اللّه وحده

Menentukan sesuatu hadis sama ada bertaraf Sohih atau Hasan atau Dhoif adalah berdasarkan pengamatan zahir terhadap nama-nama yang terdapat dalam sanad. Sesuatu hadis dikategorikan sebagai Sohih, Hasan dan Dhoif bukan berdasarkan hakikatnya, kerana hakikatnya yang sebenar hanya Allah jua yang mengetahui. Oleh kerana itulah para ulama hadis menyebutkan:

(( كم من حديث صحيح هو فى نفس الأمر ضعيف , وكم من حديث ضعيف هو فى نفس الأمر صحيح , وانما علينا التحرى والاجتهاد ))

((Mungkin ada di antara hadis yang Sohih pada hakikatnya ia adalah Dhoif, dan berapa banyak hadis yang Dhoif sedangkan pada hakikatnya ia adalah Sohih. Yang menjadi kewajipan kita ialah membuat pemeriksaan dan berijtihad.)

Mereka mengatakan lagi:

 

: لأنه يجوز الخطأ والنسيان على العدل الصدوق , كما يجوز على غيره , فاليقين هنا اعتبارى محض.

((Ini kerana ada kemungkinan perawi yang adil/yang benar melakukan kesilapan atau terlupa sebagaimana hal tersebut harus berlaku kepada orang lain. Oleh itu keyakinan terhadap mutu hadis di sini hanya dalam bentuk iktibar (iaitu berdasarkan pengamatan yang zahir)).

 

ورواية (( العدل )) عن (( الضعيف )) تعديل له عند الأصوليين .

((Apabila seorang perawi yang bersifat adil meriwayatkan hadis yang diambilnya daripada perawi yang bertaraf Dhoif, maka bererti dia menganggap perawi itu bertaraf adil, menurut ulamak Usul.))

Pengarang kitab al-Manhal menyebutkan:

 

” وقياسه أنه تصحيح له أيضا عندهم ” .

((Qiyasnya, bererti perawi yang bertaraf adil itu telah mentashihkan hadis Dhoif tersebut, menganggap hadis tersebut sebagai Sohih disisi mereka.))

 

8. Ulama Sufi dan Hadis Dhoif.

 

Mudah-mudahan para saudara kita di kalangan penulis dan pembimbing selepas ini mengambil sikap warak (berhati-hati) daripada menghamburkan pandangan secara ithlaq (pukul rata) sehingga sampai menganggap palsu (maudhu’) terhadap hadis-hadis yang Dhoif yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Seolah-olah hadis Dhoif itu sebagai maudhu’, makzub dan muftara (( موضوع , مكذوب , مفترى ))

tidak boleh diambil manfaat, tidak perlu dihormati dan tidak boleh dinukilkan dan tidak boleh langsung berjinak-jinak dengan lafaz dan pengertiannya.

 

Kemungkaran yang paling teruk ialah apabila kemelut yang dihadapi oleh saudara-saudara kita ini tidak berkurangan sampaikan mereka sanggup mempertikaikan/ menuduh yang bukan-bukan kepada orang-orang Sufi hanya kerana berpegang pada hadis Dhoif, walaupun dalam hal-hal yang disepakati oleh Para Ulama Hadis dan Para Ulama Usul ditimur dan barat bahawa hadis-hadis Dhoif terbabit sunat diamalkan, juga semata-mata kerana mengetahui sebahagian besar di kalangan Ulama-ulama hadis dan Imam-imam mereka adalah Ahli Sufi yang memimpin (pengikutnya dan umat) sebagaimana yang terdaftar dalam senarai sanad-sanad dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mereka. Sentiasalah mereka yang redho dengan penyakit hadis Dhoif, berdalilkan dengan mereka (Ahli hadis di kalangan Ahli Sufi).

 

Ibn Abdul Barr berkata:

: (( أحاديث الفضائل لا تحتاج فيها الى من يحتج به ))

((Hadis-hadis yang berkaitan dengan fadhilat-fadhilat, maka kami tidak perlukan orang yang layak untuk dijadikan hujah.))

Ibn Mahdi menyebut dalam kitab al-Madkhal:

: (( اذا روّينا عن النبى _ صلى اللّه عليه وسلم _ فى الحلال , والحرام , والأحكام , شددنا فى الأسانيد , وانتقدنا الرجال , واذا روّينا فى الفضائل , والثواب , والعقاب , تساهلنا فى الأسانيد , وتسامحنا فى الرجال )) .

((Apabila kami meriwayatkan daripada Nabi SAW tentang halal haram dan hukum-hakam, maka kami akan memperketatkan sanad-sanadnya dan kami akan membuat kritikan (pemeriksaan) terhadap rijalnya (nama-nama perawi yang terdapat dalam sanad). Tetapi apabila kami meriwayatkan hal-hal berkaitan fadhilat, ganjaran pahala dan seksa, maka kami mempermudahkan sanad-sanadnya, dan kami bertolak ansur dengan rijalnya.))

 

Imam al-Ramli menyebutkan hadis-hadis yang terlalu Dhoif (iaitu hadis yang dinamakan al-Wahiy) apabila sebahagiannya bergabung dengan sebahagian yang lain, maka ia boleh dijadikan hujjah dalam bab ini (iaitu Bab Fadhilat, Perkara yang menambat hati, Nasihat, Ketatasusilaan, Sejarah dan seumpamanya). Berdasarkan inilah, maka al-Mundziri dan para pentahkik yang lain mengumpulkan hadis-hadis terbabit dalam kitab al-Targhib wa al-Tarhib (menggemar dan membimbangkan).

 

Pendekatan yang diambil oleh golongan terdahulu yang membuat pengkhususan dalam bidang hadis ini samalah dengan pendekatan yang diambil oleh sesetengah fuqaha’ dan ulama tasawuf. Dan dengan pendekatan inilah kami berpegang. Dalam Matan Hadis-hadis Dhoif, kita banyak menemui hikmah-hikmah, ilmu makrifah, perkara yang seni-seni/ halus, kesusateraan yang menghimpun semuanya oleh hembusan wahyu kenabian adalah merupakan barang khazanah (Ilmu ) orang mukmin yang telah hilang.

Inilah pendekatan yang diambil oleh ulama terdahulu seperti al-Thawri, Ibn ‘Uyainah, Ibn Hanbal, Ibn al-Mubarak, Ibn Mahdi, Ibn Mu’in dan al-Nawawi. Ibn ‘Adiy meletakkan satu bab berkaitan hal ini (penerimaan hadis Dhoif) dalam kitabnya yang berjudul al-Kamil. Begitu juga yang dilakukan oleh al-Khatib dalam kitab al-Kifayah.

 

 

 

*******

 

 

 

 

Pada masa kini, kita dapat melihat (amat mendukacitakan), ada golongan yang menolak hadis-hadis al-Bukhari kerana tidak sejajar dengan kefahaman yang dipeganginya, dan tidak bersesuaian dengan kecenderungannya atas nama menolong Sunnah. Malah ada orang yang menulis buku berkaitan hal ini, sedangkan dia bukan orang yang berkelayakan. Ada berpuluh-puluh musuh Islam yang membantunya untuk mencetak buku berkenaan dan mengagihkan secara percuma di merata tempat walaupun menelan kos yang besar yang didorong oleh kepentingan mendapatkan keuntungan material dan niat yang buruk.

 

Kalau tidak dengan rahmat Allah, dan langkah-langkah yang diambil oleh majalah Muslim (iaitu majalah yang diasaskan oleh penulis) dan sesetengah ulama hadis (untuk menangkis usaha tersebut), nescaya akan menyebabkan timbul keraguan terhadap semua hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan riwayat oleh Imam-imam Hadis yang lain. Tentunya (jika tidak ada usaha yang diambil oleh sesetengah Ulama dalam menangkis golongan terbabit), maka Sunnah Nabi yang telah sabit secara ilmiah terdedah kepada fitnah (semoga Allah melindunginya) yang ditimbulkan oleh golongan yang mendakwa sebagai Salafiyah, kononnya mereka yang lebih mengetahui tentang ilmu Sunnah , berbanding makhluk Allah yang lain. Mereka menghukum kufur orang dan menghukum mereka sebagai Syirik dan Fasiq kecuali sesiapa yang menurut hawa nafsu mereka yang jelek.

 

 

Fahamilah keadaan Ini :

 

Sesungguhnya Imam Al-Nasa’ie telah mentakhrijkan (iaitu memakai dan beri’timad dalam riwayat sesuatu hadis) nama-nama perawi yang tidak diijmak pada matruknya, yakni nama perawi sesuatu hadis yang hanya bersumberkan daripadanya. Asalkan jangan dia dikenalpasti sebagai seorang yang pembohong.

Apa yang berlaku kepada kami (iaitu hadis-hadis yang diamalkan oleh kami) yang diriwayatkan oleh Tokoh-tokoh besar Sufi dan Pendakwah ke jalan Allah, tidak terdapat di dalam sanadnya perawi yang pembohong atau pendusta. Cukuplah ini sebagai dalil keharusan beramal dengan hadis yang Dhoif pada tempatnya. Inilah pendirian yang diambil oleh ulama-ulama Tasawuf dan yang terdapat dalam kitab-kitab mereka. Kami memohon keampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya. Dialah jua yang memberikan taufiq dan tempat untuk meminta pertolongan.

 

 

 

 

ونستغفراللّه ونتوب اليه , وهو الموقف المستعان .

وصلى اللّه على سيدنا محمد وعلى آله وصبه وسلم .

وكتبه المفتقر اليه تعالى وحده

محمد زكى ابراهيم

رائد العشيرة المحمدية وشيخ الطريقة الشاذلي

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم.

 

 

 

 

فوائد علمية متناثرة

 

وكتبه تلميذ المؤلف :

محي الدين حسين يوسف

حول الحديث الضعيف وأحكامه

الحمدللّه , والصلاة والسلام على رسوللّه , وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداه. أما بعد .

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Bilakah naik darjat Hadis Dhoif kepada darjat Hadis Hasan?

 

Apabila diriwayatkan sesuatu hadis yang mana disegenap sudutnya adalah Dhoif, tidak semestinya hasil daripada berhimpun banyak akan dianggap sebagai Hasan. Maka Hadis Dhoif di sisi Para Muhaqiqin terbahagi dua:

 

A.Yang ditampung dengan hadis-hadis yang lain: Hadis yang sebegini dibuat hujjah pada masalah fadhoil dan sepertinya. Hadis Dhoif daripada bahagian pertama ini disebabkan beberapa sebab :

1) Dhoif disebabkan lemahnya hafalan perawi yang meriwayatkannya padahal perawi

tersebut bersifat amanah.

2) atau Dhoifnya disebabkan Mursal

3) atau bersifat Tadlis

4) atau tidak dikenal perawinya (Majhul).

 

atau yang sepertimana perkataan para ahli hadis:

: اسناده محتمل للتحسين , أو قريب من الحسن , أو فى اسناده لين , أو ضعف , ثم : اسناده َضعيف , ثم : فى اسناده مجهول , أو مستور , ثم : ليس فى اسناده متروك , أو من يترك , أو من أجمع على ضعفه.

(( Isnadnya diihtimalkan bagi Hadis Hasan atau hampir dengan martabat Hadis Hasan

atau pada isnadnya terdapat sifat Liin atau sifat Dhoif. Kemudian isnadnya lemah,

kemudian pada isnadnya Majhul atau mastur, kemudian tiada pada isnadnya itu seseorang yang bersifat Matruk, atau mereka yang matruk ( ditinggalkan) atau mereka yang telah di Ijmak kan atas Dhoif riwayatnya.

Maka Dhoif yang begini akan ditampung keDhoifannya dengan hadis Dhoif yang lain yang tidak rendah darjahnya ( sama-sama Dhoif) dan hilang keDhoifan nya dengan sebab terdapat thuruq ( jalan riwayat ) yang lain yang bersamaan atau lebih tinggi daripada darjahnya.

 

<!–[if !supportLists]–>B. <!–[endif]–>Dhoif yang tidak tertampung dengan riwayat yang lain, dan tidak boleh dibuat hujjah dengannya secara mutlak. Tidak boleh pada bab fadhoil dan tidak juga boleh pada perkara yang selain fadhoil. Diantaranya hadis Al Waahiy dan hadis Mungkar. Iaitu hadis yang keDhoifannya disebabkan fasik rawinya atau dusta. Itulah perkataan muhadissin berkenaannya:

اسناده واه أو ضعيف جدّا , أو ساقط , أو هالك , أو مظلم

Hadis-hadis yang begini tidak berfungsi sekalipun maufakat padanya hadis-hadis Dhoif yang lain, lebih-lebih lagi apabila hadis-hadis Dhoif yang lain hanyalah bersamaan dengannya pada istilah-istilah pangkat tersebut, disebabkan kuat Dhoifnya dan sama taraf kedudukan hadis yang menjadi penampung. Ya, bahkan boleh meningkat pangkat hadis-hadis Dhoif tersebut daripada keadaan pangkat-pangkatnya kepada pangkat Hadis Mungkar disebabkan berhimpun Turuqnya (banyak jalan riwayatnya), dan tidak harus (haram) meriwayatkannya melainkan hendaklah disertai penerangan berkenaan keDhoifannya yang Mungkar.

 

2) Ijmak Ulama menerima sesuatu hadis sekalipun ia tidak Sohih.

 

Sesuatu hadis yang telah diterima oleh para ulama melalui jalan periwayatan adalah makbul sekalipun tidak mencukupi syarat-syarat Sohih, kerana Umat tidak akan bersependapat di atas sesuatu yang sesat.

Berkata Ibn Abdil Barr dalam kitab al-Istizkar:

لما حكى عن الترمذى أن البخارى صحح حديث البحر (( هو الطهور ماؤه )) , وأهل الحديث لا يصححون مثل اسناده , لكن الحديث عندى صحيح , لأن العلماء تلقوه بالقبول .

((Ketika dihikayatkan daripada Imam at-Tarmizi bahawa al-Bukhari telah menSohihkan hadis berkenaan laut هو الطهور ماؤه , padahal para ahli hadis tidak menSohihkan sanad yang sepertinya, tetapi hadis tersebut disisiku adalah Sohih , kerana para ulama telah menerima hadis tersebut sebagai makbul. ))

 

Berkata Ibn Abdil Barr di dalam kitab at-Tamhid, Jabir telah meriwayatkan daripada Rasulullah SAW :(( الدينار أربعة وعشرون قيراطا)) Beliau berkata: Pada berkenaan pendapat sebahagian Ulama yang berkata :

واجماع الناس على معناه غنى عن الاسناد فيه.

((Ijmak manusia atas maknanya itu terkaya daripada isnadnya.))

 

Berkata al-Ustaz al-Isfiroyni:

, تعرف صحة الحديث اذا اشتهر عند أئمة الحديث , بغير نكير منهم .

((Dikenali keSohihan sesuatu hadis apabila masyhur ia di sisi para ulama hadis tanpa terdapat ingkar padanya.))

 

Berkata sebahagian ulama:

يحكم للحديث بالصحة اذا يلقاه الناس بالقبول , وان لم يكن اسناده صحيح .

((Dihukumkan sesuatu hadis itu dengan Hadis Sohih apabila para ramai Ulama menerimanya sekalipun isnadnya tidak Sohih.))

 

3) Beramal dengan hadis Dhoif sekalipun pada hukum-hukum.

Para ulama telah berdalil dengan hadis-hadis Dhoif, yang Dhoifnya tidaklah terlampau Dhoif. Sehingga pada masalah hukum-ahkam yang mana hadis-hadis yang Dhoif telah juga diambil iktibar. Istimewa lebih-lebih lagi bila pada bab yang bukan bab hukum-ahkam.

Contoh contoh pada masalah yang sebegitu terlalu banyak. Misalnya hadis-hadis berkenaan meletakkan tangan kanan ke atas tangan kiri ketika di dalam sembahyang. Maka hadis-hadis berkenaan dalam perkara tersebut adalah hadis-hadis yang Dhoif. Oleh yang demikian sekalipun tidak ada satu pun hadis-hadis dalam masalah ini yang sah. Ada yang paling Sohih pun ialah hadis yang diriwayatkan oleh Wail: ((Nabi SAW meletakkan kedua-dua tangan tersebut di atas dada.)) Pada hal ia bukan pula dalil untuk amalan meletakkan kanan atas kiri, al-Sawkani dan selain beliau telah menyebut tentang hadis ini.

 

Engkau akan jumpai contoh-contoh pada masalah yang sebegitu terlalu banyak misalnya di dalam (1.) Kitab Muntaqa al-Akhbar – karangan al-Mujid Ibnu Taimiyah, dan syarahanNya ( 2.) Nailul Awthar – karangan as-Syaukani, (3.) Takhrij Al-Hadith al Hidayah – karangan al-Hafiz Zailaie, (4.) Talkhis al-Habir – karangan Ibnu Hajar al-Asqolani, (5.) BBuluughu al-Muram, dan SyarahanNya (6.) Subul al-Salam– karangan as-Suna’ni. Di dalam (7.) Muwata– Imam Malik terdapat hadis-hadis bertaraf Mursal dan hadis-hadis yang di mulai dengan lafaz “Balagha”. Begitu juga di dalam kitab-kitab Sunan terdapat bab-bab hukum yang berhujahkan hadis-hadis Dhoif, dalam jumlah yang tidak sedikit.

 

Berkata al-Hafidz Abu Fadhal Abdullah bin Siddiq al-Ghumari r.h.m: Perkataan para Ulamak dalam Ilmu Ini:

الحديث الضعيف لا يعمل به فى الأحكام ليس على اطلاقه , كما يفهمه غالب الناس أو كلهم ؛ لأنك اذا نظرت فى أحاديث الأحكام التى أخذ بها الأئمة المجتمعين ومنفردين وجدت فيها من الضعيف ما لعله يبلغ نصفها أو يزيد , وجدت فيها المنكر والساقط , القريب من الموضوع.

((Hadis-hadis Dhoif tidak diamalkan dengannya pada hukum-ahkam tidaklah menurut lafaz ithlaqnya (makna yang menyeluruh) sebagaimana fahaman kebanyakkan manusia atau seluruh mereka. Kerana jikalau engkau memerhati pada hadis-hadis hukum yang telah digunakan oleh Imam-imam, samada secara sependapat ataupun sendirian pada sudut berdalil dengan hadis dhoif, nescaya engkau akan dapati terdapat hadis-hadis yang Dhoif barangkali mencapai separuh daripada dalil-dalil hukum-ahkam tersebut atau melebihi separuh. Kadang-kala engkau akan jumpai hadis-hadis Mungkar, hadis Saqith dan hadis-hadis yang hampir kepada taraf Maudhu’.))

 

Perkara ini telah diisyaratkan oleh saudara kandung kami al-Allamah al-Hafiz as Saiyid Ahmad di dalam kitab al Masnuni wal Battal, maka hendaklah dirujuk di sana. Bahkan mereka yang telah mencontohkan kaedah tersebut adalah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah di mana mereka telah berhujah dengan hadis-hadis Mursal. Sebahagian daripada usul Imam Ahmad dan muridnya Abu Daud adalah berhujah dengan hadis-hadis Dhoif. Beliau telah mendahulukan hadis Dhoif daripada Pendapat dan Qiyas. Imam Abu Hanifah seperti yang telah dinaqalkan oleh Ibnu Hazam juga telah beramal seperti mana mereka yang seangkatan dengannya. Terdapat di dalam perpustakaan kami satu naskah kitab tulisan tangan berjudul al-Mi’yar, di dalamnya disebutkan hadis Dhoif pada tiap-tiap bab, yang telah dipungut daripada ijtihad para Ulamak Mahzab Empat, sebagai dalil mereka samada sependapat atau bersendiri menggunakan hadis-hadis Dhoif pada sesuatu hukum.

 

Apabila telah mantap bagimu pada kaedah ini, maka janganlah engkau berpaling disebabkan was-was yang telah dilemparkan oleh kumpulan buat kacau-bilau bahawa hadis-hadis Dhoif tidak boleh ditegakkan hujah dengannya sama sekali, kerana engkau telah mengetahui kaedah tersebut adalah sebahagian amalan para Imam Umat ini. Tetapi alangkah menghairankan, Thoifah (kumpulan) ini telah menggunakan hadis-hadis Dhoif apabila sesuai dengan kehendak mereka dan mengutamakan hadis-hadis Dhoif daripada yang Sohih. Perkara sebegini boleh diketahui dengan memerhatikan cara mereka menggunakan dalil-dalil untuk menegakkan bida’ah dan bantahan-bantahan mereka. Ini adalah merupakan permainan-permainan yang patut mendapat murka Tuhan

4) Ijmak Para Ulamak atas beramal dengan hadis-hadis yang Dhoif:

Tidak cedera Ijmak disebabkan terdapat pertentangan dan pendapat yang pelik

( Syaz.) Tidak terdapat seorang pun dikalangan para Ulamak yang menentang Ijmak pada Keharusan beramal dengan hadis-hadis yang Dhoif pada soal Fadhoil Amal melainkan Al-Qadi Abu Bakar bin Al-Arabi. Yang demikian itu telah menyebut oleh guru kami didalam risalahnya, perkataan yang berbunyi,:

له وجوه يرد عليه منها , ويحمل كلامه عليها … ويكفى انه انفرد بهذا القول لئلا يحتج به

((Beliau (Qadhi al-Arabi) mempunyai pendapat-pendapat yang dibangkang dan (diihtimalkan) ditujukan maksud beliau kepada…. Memadalah bahawa bersendirian beliau dengan perkataan itu dan tidak boleh dipegang sebagai hujjah.))

 

Adapun perbuatan sebahagian penulis kini yang suka mengubah-ubah fakta, cuba menisbahkan pendapat tersebut (iaitu tidak boleh sekali-kali beramal dengan hadis Dhoif sekalipun pada Fadhoil Amal) kepada Imam al-Bukhari dan Imam Muslim sebenarnya adalah merupakan perkara yang sangat ajeeb (menghairankan).

Kenapa begitu, jawabnya kerana Imam Al-Bukhari telah menulis di dalam kitabnya Al-Adabul Mufrod dan di dalam kitab Tarikh yang mana beliau tidak mensyaratkan periwayatan-periwayatan hadis dengan meninggalkan hadis-hadis yang Dhoif. Maka di dalam kedua kitab tersebut, beliau telah menisbahkan riwayat-riwayat tersebut kepada diri beliau sendiri, tidak lain tidak bukan tujuannya supaya bersungguh-sungguh manusia beramal dengan hadis-hadis tersebut walaupun terdapat hadis-hadis yang Dhoif. Kemudian Imam al-Bukhari R.A telah menyebut hadis hadis yang tidak menurut syarat-syarat beliau dalam kitab Jami’ nya, iaitu kitab Jami’ Sohih dan sebahagian daripada hadis hadis tersebut sekalipun di dalam Jami’ Sohih, karangan beliau terdapat hadis-hadis yang Dhoif, Ini terdapat di dalam ta’lik atau tarjamah beliau. Berlakunya perkara yang demikian menunjukkan, bahawa beliau sebenarnya beramal juga dengan hadis-hadis yang Dhoif, Adapun sebab beliau tidak menyebut di dalam Asal Kitab Sohihnya itu kerana bertentangan dengan syarat syarat beliau, yang mana beliau hanya akan meriwayatkan hadis-hadis didalam Kitab Jami’ nya itu tidak lain melainkan hadis-hadis yang Sohih sahaja.

 

Adapun Imam Muslim, maka sesungguhnya Imam Nawawi yang telah mensyarahkan kitab beliau, telah menghikayatkan Ijmak atas Keharusan, beramal dengan hadis hadis yang Dhoif pada Fadhailul amal,

Padahal Imam Nawawi lebih mengetahui, berkenaan Imam Muslim, dan berkenaan Kitab Sohih Imam Muslim, berbeza jauh apabila dibandingkan dengan mereka yang membantah.

Adapun perkataan, sekumpulan daripada golongan orang yang menisbahkan diri mereka, sebagai golongan Salafi pada zaman kita ini, maka tidaklah akan cedera pula Ijmak lantaran kurang faham mereka itu dan lantaran disebabkan mereka membantahinya pada perkara yang telah diamalkan (iaitu beramal dengan hadis-hadis Dhoif).

 

Selain daripada itu, sebenarnya kebanyakan mereka yang mendakwa sebagai Salafi itu, bukanlah Ahli di medan Ilmu Ini .

 

5) Meriwayatkan hadis-hadis Dhoif?

Adalah wajib menerangkan keadaan sesuatu hadis itu adalah Dhoif ketika meriwayatkannya atau wajib disebutkan dengan salah satu dari lafaz yang menunjukkan Dhoif seperti lafaz :

روى untuk memelihara perbezaan di antara hadis yang Sohih, yang Thabit dengan hadis yang Dhoif, yang tidak sempurna padanya syarat-syarat Sohih.

 

6) Pemuka-pemuka hadis dahulu kala.

 

Di dalam kebanyakkan kitab-kitab para pemuka hadis yang terdahulu mereka menyebutkan setiap hadis dengan sanadnya tanpa menerangkan darjah hadis tersebut. Demikian itu kerana bersandar kepada kaedah:

(( من أسند فقد أحالك , ومن لم يسند فقد تكفل لك ))

Ertinya: ((Sesiapa yang menyebut sanad maka sesungguhnya ia memalingkannya kepadamu, dan sesiapa yang tidak menyebut sanad sesungguhnya memadai ia bagimu.)) Oleh yang demikian lazimlah berniat.

 

7) Sebahagian daripada tanda-tanda keNabian

Kepada mereka yang berpangkalkan Hadis Nabi s.a.w pada selemah-lemah sebab , dan telah menimpa mereka demam panas Ta’asub ketika mendengar perkara yang bertentangan dengan Hawa Nafsu mereka berkenaan Hadis Nabi , ditujukan kepada mereka sabdaan Rasul s.a.w :

 

(( لا ألفينّ أحدكم متكئا على أريكته يأتيه الأمر من أمرى مما أمرت به , أو نهيت عنه فيقول : لا ندرى ما وجدنا فى كتاب اللّه اتبعناه )) رواه ابو داود والترمذى وصححه

 

((Sesungguhnya tidak akan di dapati sesorang dari kamu yang bertelekan (duduk) di katilnya, yang datang padanya sesuatu perkara dari urusan dari perintahku atau laranganku, melainkan akan akan menjawab: Kami tidak tahu dan tidak menjumpainya ada dalam Kitab Allah untuk kami ikutinya.))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8) Waham dan Tadlis pada menerangkan pangkat hadis.

 

Telah beradat sebahagian mereka yang telah mewahamkan dan mentadliskan pada menerangkan darjah hadis dengan menggunakan perkataan:

(( ليس بصحيح)) يعنى (( حسن أو ضعيف ))

Ertinya: Tidak Sohih iaitu (maksud yang sebenar adalah samada) Hasan atau Dhoif, melainkan bahawa menisbahkan perkataan berikut sebenarnya bertujuan untuk memberi kesamaran kepada umat bahawa hadis tersebut adalah Maudhu’. Padahal tidak terdapat di dalam kitab-kitab hadis istilah yang begitu, sesungguhnya kebanyakkan mereka yang mengaku Salafi pada masa kita ini menulis di dalam majalah-majalah mereka perkara waham dan tadlis. Mesti diketahui apabila di dapati di dalam kitab-kitab ahli hadis yang terdahulu (al-Mutakaddimin) istilah seperti

لم يصح فى هذا الباب حديث

((Tidak sah pada bab ini suatu hadis pun)), maka yang dimaksudkan adalah terdapat hadis Hasan dan Dhoif padanya. Mereka menggunakan peristilahan sebegitu kerana mereka berbicara dihadapan:

1.Para Ulamak atau

2. Pada ketika kebanyakkan hadirin yang hadir adalah membincangkan istilah-istilah di dalam ilmu ini.

 

9)Membatalkan hadis-hadis dengan menyangka membersih dan menolongnya.

 

Sebahagian bala Allah Taala yang ditimpakan pada segolongan orang, iaitu sengaja menyeluk kitab-kitab hadis dan membahagi-bahagikannya kepada hadis Sohih dan Dhoif, bahkan cuba mengumpulkan kesemua hadis-hadis Sohih dalam satu kitab dengan hanya menurut hawa nafsunya. Mengandingkan hadis Dhoif bersama Hadis Maudhu’ dalam satu kitab pula. Maka apakah bencana dahsyat yang ditimpakan lagi?. Adakah kerana kemasyhuran dan banyak karangan yang menghasilkan banyak harta benda?. Atau di sana ada tujuan yang tersembunyi untuk mengenepikan hadis-hadis yang begitu banyak?. Lantaran menuntut redho syahwat orang-orang tertentu atau menuntut redho mereka yang di tangannya suruh dan tegah, dan menyebarkan sebahagian mazhab dan hawa nafsu yang mengikut siasah dengan memperdaya menggunakan agama?

 

 

10) Kaedah usul pada sesuatu yang pada perkara yang ditinggalkan الترك

Setengah daripada bencana yang meratai di kalangan masyarakat bahawa sesorang akan berkata: Perkara ini haram kerana Nabi meninggalkannya atau tidak melakukannya.

Firman Allah Ta’ala:

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

((Perkara yang telah mendatangnya pada kamu oleh Rasul, maka hendaklah kamu ambil, dan perkara yang Baginda tegah pada kamu maka hendaklah kamu tinggalkan.))

Tidak pula Tuhan berfirman: : وما تركهdan perkara yang ia tinggalkan. Maka Nabi meninggalkan sesuatu perkara tidak pula bermakna perkara tersebut haram kerana kaedah:

والأصل فى الأشياء الاباحة , الاّ ما ورد فيه نص أو دليل شرعى .

((Asal pada sesuatu perkara adalah harus melainkan apabila telah datang padanya nas atau dalil syarak yang mengharamkannya.))

 

11) Penyudah, ditujukan pada Para Pemuda kami, Para Pewaris.

Sesungguhnya sebaik-baik perkara yang kami bentangkan pada hari ini kepada para pewaris umat ini dan pemukannya adalah: ((Bahawa berhadaplah sepenuh inayah kamu untuk kitab-kitab hadis, mengambil dan belajar kepada para guru yang beramal dan jadilah kamu para penolong pada beramal dengannya, janganlah kamu menjadi yang memusuhinya. Sejahat-jahat musuh adalah musuh yang menyerupai rupa teman. Dan sesungguhnya kitab-kitab hadis yang sangat berhajat para pemuda padanya lebih daripada berhajat kepada air sejuk pada ketika haus/ dahaga, maka lazim olehmu kitab :

1.Riyadus Solihin—- Imam Nawawi,

2.Al-Targhib wa al-Tarhib—-al- Munziri,

3.Subulus Salam- as- Sun a’ni,

4.Nailul Awthar-al-Syaukani,

 

Jangan meluputkan kamu oleh Kitab al Syamail al Muhammadiah— al-Tirmizi dan Sifru as Sa’adah– al-Fairu Zabadi. Maka pada perkara-perkara yang telah kami sebutkan terdapat kebaikan yang banyak, dan permulaan keharuman bagi pemuda Islam yang menuju kepada peradaban kebudayaan Islam yang sihat, yang tidak bertukar-tukar dan tidak kacau bilau.

“وصلى اللّه على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم”

Posted by: Habib Ahmad | 15 April 2010

Menyanggah Wahhabi” oleh MOHD. SHAUKI ABD. MAJID

Rencana Utusan Malaysia 2/12/2005

 

“Menyanggah Wahhabi” oleh MOHD. SHAUKI ABD. MAJID
  • Islam tidak pernah menolak amalan turun-temurun yang telah menjadi `uruf (budaya yang baik dalam masyarakat) bagi sesuatu bangsa. Justeru, di atas dasar apakah fahaman Wahhabi yang cuba menggugat amalan-amalan baik yang diamalkan dalam sesebuah masyarakat itu? Sedangkan, amalan-amalan baik yang diamalkan seperti membaca Yasin (secara beramai-ramai pada malam Jumaat) dan juga menyambut Maulidur Rasul (Maulud Nabi s.a.w) itu sebenarnya menyeru ke arah perpaduan dan mengeratkan hubungan sesama umat.
  • Sekalipun amalan-amalan tersebut dianggap sebagai bidaah, harus difahami bahawa tidak semua bidaah itu sesat. Amalan-amalan yang dinyatakan itu sebenarnya adalah termasuk dalam bidaah hasanah (bidaah yang baik). Oleh yang demikian, kita harus menerima adanya bidaah yang baik dan menolak bidaah yang buruk.
  • Sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Syafie, bidaah itu ada dua, iaitu terpuji dan tercela. Apa yang sesuai dengan sunah itu, terpuji, dan apa yang tidak sesuai dengannya dianggap tercela. Demikian juga menurut Jalaluddin As-Sayuti, bahawa bidaah itu ada lima kategori iaitu, bidaah wajib, bidaah sunat, bidaah halal, bidaah haram, dan bidaah makruh.
  • Demikian juga dengan penegasan Nabi s.a.w dalam sebuah hadis yang bermaksud:
    “Sesiapa yang memberi contoh kebaikan, maka ia mendapat pahala dan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari kiamat; dan sesiapa yang memberi contoh kejahatan, maka ia mendapat dosa dan dosa orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari kiamat.” (Petikan Kitab Tanbihul Ghafilin halaman 13).
  • Dapat difahami daripada hadis tersebut, perkara-perkara bidaah ini bukan semata-mata hanya keburukan atau dhalalah (sesat). Sebagai contoh, masyarakat hari ini membina sekolah, membangunkan pelbagai prasarana untuk kebaikan umat seluruhnya, sedangkan semuanya tidak ada pada zaman Rasulullah s.a.w. Sedangkan, pembangunan yang dilakukan itu adalah satu bidaah yang baik kerana umat Islam mendapat manfaat di atas kemudahan-kemudahan yang dilaksanakan itu.
  • Adakah Saidina Umar melakukan bidaah dhalalah (solat tarawih 20 rakaat)? Tentulah tidak, kerana Umar ada mengatakan sebaik-baik bidaah adalah sembahyang tarawih 20 rakaat (bidaah hasanah). Malahan di Arab Saudi pun sembahyang sunat tersebut dikerjakan sebanyak 20 rakaat. Hadis di atas juga menggambarkan betapa luasnya agama Islam ini dan janganlah kita sendiri yang menyempitkan perkara yang terbuka luas itu. Sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud: Engkau cuba menyempitkan benda yang luas?
  • Hari lain dan malam lain, masyarakat susah untuk mendekati al-Quran apatah lagi untuk sekadar membaca Yasin kerana sibuk bekerja. Jika pada malam Jumaat dianggap bidaah untuk membaca Yaasin, apakah alternatif atau program agama yang lain yang boleh dicadangkan oleh mereka (Wahhabi) untuk merapatkan hubungan di kalangan masyarakat kita pada hari ini?
  • Apa yang kita lakukan ini semua merupakan satu alternatif mengerjakan amalan baik dan beroleh pahala (bidaah hasanah). Sikap keterbukaan Rasulullah s.a.w sendiri yang begitu berlapang dada bukan sahaja dengan orang Islam tetapi dengan musuhnya orang Yahudi ketika baginda berhijrah ke Madinah merupakan sikap paling berharga untuk kita teladani.
  • Baginda menerima amalan baik yang dilakukan oleh orang Yahudi. Baginda ikut berpuasa pada hari 10 Muharam, malah sabda Baginda yang bermaksud: “Aku lebih berhak dari kamu. Oleh itu, aku akan berpuasa bukan sahaja pada 10 Muharam malah pada hari 9 Muharam.” Oleh sebab itu ia disunatkan sampai hari ini dan banyak diamalkan oleh masyarakat kita.
  • Kesemua amalan yang dilakukan pada hari ini mempunyai asas yang kukuh sama ada secara umum atau khusus mahupun menerusi lafaz atau isyarat secara `harfi’ atau `mafhum’.
  • Kepercayaan

  • Diharuskan bertawassul dengan Nabi dan orang-orang soleh kecuali amalan tawassul itu menggunakan patung berhala, kubur atau bomoh yang sudah pasti tidak diterima oleh Allah. Sebenarnya, kepercayaan yang tidak membenarkan syafaat dan tawassul ini sesuai dengan umat yang baru menemui cahaya tauhid, takut-takut mereka kembali mensyirikkan Allah dengan sesuatu yang lain sedangkan kita tahu dan yakin bahawa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang memberi dan menegah, menyakiti dan menyembuhkan. Inilah ketetapan Allah dan tiada bagi ketetapan Allah itu berlakunya perubahan dan pertukaran. Ini adalah hukum alam, sama juga halnya dengan hubungan peraturan dalam agama. Inilah ajaran yang kita anuti sejak turun-temurun.
  • Kalau semuanya ini adalah bidaah, maka tidak perlulah kita pergi berjumpa doktor, tidak perlu berkereta dan tidak perlu ke sekolah atau ke pusat pengajian tinggi kerana semuanya adalah bidaah.
  • Apa yang kita amalkan itu bertujuan merapatkan hubungan kemesraan dan tali silaturrahim serta mewujudkan perpaduan di kalangan masyarakat. Jangan kita menyempitkan kefahaman dalam ruang yang jumud dan sempit mengenai Islam. Tidakkah kita selalu mendengar pada setiap hari Jumaat, khatib membacakan firman Allah yang bermaksud: Allah menyuruh kita berlaku adil dan cemerlang dalam semua keadaan (An-Nahl: 90).
    Dalam sebuah kisah, diceritakan seorang ulama dari Mesir telah pergi ke Eropah. Apabila ditanya oleh seorang paderi; “Adakah dalam al-Quran mengandungi ilmu membuat roti atau tidak?”, Maka, ulama itu menjawab, “Ada”. Lalu, dibacanya ayat Quran yang bermaksud: Tanyalah ahli ilmu pengetahuan sekiranya kamu tidak mengetahui. (surah An-Nahl; ayat 43)
  • Demikian halnya, Allah mengarahkan kita berlaku adil, cemerlang dalam segala keadaan. Maka, semua kebaikan sama ada dalam rumah tangga, masyarakat dan negara perlu kita pertahankan. Kalau kita mencari hadis yang menyuruh umat menyambut Maulidur Rasul, maka kita tidak akan terjumpa secara terang dan khusus tetapi dapat ditemui secara mafhum dan umum.
  • Jika pahala amalan orang lain tidak boleh diniat hadiah pahalanya kepada orang lain, maka semua amalan tidak terpakai dengan niat. Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Segala amalan dikira mengikut niat dan bagi seseorang itu apa yang diniatkannya.” Sedangkan fahaman Wahhabi menegakkan bahawa pahala doa hanya akan sampai kepada ahli keluarga sahaja.
  • Fahaman seperti ini memang tidak sesuai di Nusantara. Oleh sebab itu, kita menjemput para jemaah untuk meramaikan sembahyang jenazah tanpa mengira siapa, keluarga ataupun tidak. Itu pun semuanya dengan izin Allah jua akan kemakbulan doa dan pahala yang diperoleh si mati.
  • Oleh yang demikian, Islam menganjurkan amalan menolong keluarga yang dalam kesedihan akibat kematian. Amalan tersebut berupaya merapatkan lagi silaturahim dan kasih sayang di kalangan masyarakat selagi ia tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kita percaya semua amalan itu ada asas dan hujah agamanya, bukan sesuatu yang direka-reka sesuka hati atau mengikut hawa nafsu sahaja.
  • Kita sebenarnya tidak ada masa untuk berkelahi kerana agenda kita belum selesai, iaitu perpaduan umat Islam seluruhnya dan keamanan sejagat. Penulis percaya apabila kita bersatu, tenteram dan aman makmur, musuh-musuh kita akan merana dan berasa tidak senang hati. Allah berfirman yang bermaksud: Jangan berkelahi (berselisih), kamu akan kecewa dan hilang kehebatan kamu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama-sama mereka yang sabar. ( Surah al-Anfal, ayat 46)
  • [MOHD. SHAUKI ABD. MAJID ialah Penolong Pengarah Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim).]

Ikhwah, setelah dikeluar dalam paper oleh Tokoh Ma`al Hijrah dan beberapa tokoh lain, barulah ramai yang berani bersuara menyanggah fahaman Wahhabi, alhamdulillah. Kesian Dr. Uthman al-Muhammady, teruk dihentam oleh geng-geng Wahhabi dalam internet, sampai cerita pribadi pun diselongkar, entah benar entah tidak. Dr. Uthman bukan malaikat, bukan orang suci yang ma’sum, sebagai manusia memang ada salah silapnya, tetapi apa yang diperkatakannya mengenai Wahhabi dan bahayanya itu adalah terang nyata benar. Dr. Uthman hanya menyampaikan amanah ilmu yang sebelum ini dibawa oleh ulama-ulama terdahulu yang mengalami sendiri serta berhadapan dengan mehnah Wahhabi seperti Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, abang kandung Muhammad bin Abdul Wahhab guru utama atau mahaguru Wahhabi, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Syafi`i Makkah, Habib Alwi al-Haddad dan ramai lagi ulama kita yang telah menerangkan bahaya dan kesesatan puak Wahhabi ini. Insya-Allah, nanti kita cuba kemukakan apa yang ditulis oleh ulama-ulama ini. Aku pernah diceritakan oleh seorang Ustaz lulusan al-Azhar, kalau kusebut namanya pasti kalian kenal. Ustaz kelahiran Pulau Jawa yang sudah dalam usia 50-an ini menceritakan bahawa sewaktu Wahhabi menyerang Kota Taif, datuknya berada di sana. Datuknya menceritakan bahawa Wahhabi telah menembak orang-orang yang sedang sholat Subuh di dalam masjid termasuklah datuk ustaz tersebut. Nasib baik datuknya tidak kena tembakan dan untuk menyelamatkan dirinya dia telah menumbangkan dirinya serta mendiamkan dirinya pura-pura mati, sehinggalah puak Wahhabi tersebut meninggalkan masjid. Setelah mereka pergi, datuknya telah berjalan kaki melarikan diri ke Jeddah untuk pulang ke tanah Jawa. Aku cukup kenal dengan Ustaz tersebut dan aku yakin dia tidak berbohong. Ingat, Wahhabi dan Syiah akan menindas bahkan membunuh kita apabila mereka berkuasa. Oleh itu, jagalah keluarga kita, kampung kita, masyarakat kita daripada dakyah Wahhabi. Karang kalau anak kita jadi Wahhabi, alamat mati kita nanti dibuatnya seperti batang pisang sahaja. Tak dak tahlil dan bacaan al-Quran

KENDURI ARWAH BUKAN BID’AH DHALALAH BAHKAN SUNNAH NABI S.A.W

 



 

 

Ketahuilah kamu bahawa kenduri arwah itu bermakna sadaqah dan berdo’a kepada orang-orang yang telah mati. Maka memang sampai kepada simati itu.Dalilnya firman Allah :

 


والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم


Ertinya : dan segala orang yang datang mereka itu kemudian dari mereka itu berkata mereka itu hai tuhan kami ..ampunilah kami oleh mu bagi kami dan bagi saudara-saudara kami yang mereka itu telah mendahului akan kami dengan iman.

 

 

Hadith: ان رجلا قال للنبي صعلم ان امي أقتلتت نفسها وأراها لو تكلمت تصدقت فهل لها من اجر ان تصدقت عنها قال نعم رواه البخاري ومسلم عن عائشة رضي الله عنها

 

Ertinya:bahawa seorang lelaki berkata ia bagi Nabi s.a.w bahawa ibuku dimatikan terkejut dirinya dan dilihatkan daku akandia jikalau berkata-kata niscaya bersedekah ia.Maka adakah baginya pahala(balasan) jika aku sedakah daripadanya ? Sabda Nabi s.a.w na’am (ia).

 

 

Hadith : اذا مات الأنسان انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له رواه مسلم عن ابي هريرة

 

Ertinya: apabila mati oleh maknusia muslim nescaya terputuslah amalannya melainkan daripada tiga perkara, sedakah jariyah , ilmu yang memberi menafa’at dengan dia , atau anak yang saleh yang mendo’a baginya.

 

(Kitab ini telah ditashih oleh 3 orang tokoh ulama tanah air 1-Sheikh Abdullah Fahim 2-Sheikh Haji Ahmad Tuan Husin Pokok Sena 3-Tuan Guru Haji Abd Rahman bin Haji Abdullah Merbuk Kedah )

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 800 other followers