Posted by: Habib Ahmad | 28 April 2010

Menolong Orang Yang Zhalim Dan Yang Di Zhalimi

Menolong Orang Yang Zhalim Dan Yang Di Zhalimi
Senin, 19 April 2010

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كاَنَ مَظْلُوْمًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ، قَالَ: تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ ( صحيح البخاري

“Tolonglah saudaramu dalam keadaan ia menzhalimi atau dizhalimi. Maka seorang lelaki berkata: ‘Wahai Rasulullah, Saya menolongnya jika ia dizhalimi, bagaimana pendapatmu jika ia yang menzhalimi, bagaimana saya menolongnya?’ Beliau saw menjawab: Engkau halangi dia atau engkau mencegahnya dari berbuat zhalim, maka sesungguhnya hal itu merupakan pertolongan terhadapnya. (Shahih Al Bukhari)
ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Terang benderanglah aku dan kalian dengan cahaya Yang Maha Luhur, Allah Rabbul ‘alamin, semoga kita selalu terang benderang dengan cahaya keindahan Allah di dunia dan akhirah, semoga kita selalu damai dengan cahaya keindahan Ilahi di dunia dan akhirah, semoga kita selalu dalam kesuksesan, kemakmuran, kebahagiaan, keluhuran, pengampunan, kesucian dari Sang pemilik dunia dan akhirah, Allahumma amin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sang pemilik dunia dan akhirah memiliki kenikmatan dan menciptakan kenikmatan di dunia dan di akhirah, memiliki dan menciptakan kesulitan di dunia dan di akhirah, maka menujulah kepada Sang pemilik kebahagiaan dunia dan akhirah, yang dengan itu engkau akan dekat kepada-Nya, maka Dia (Allah) menyingkirkan kesusahan dunia dan akhirah, inilah Allah subhanahu wata’ala Yang telah memuliakan hamba-hamba-Nya sepanjang waktu dan zaman dan selalu menyambut dengan sambutan hangat dari hamba-Nya jika hamba ingin dekat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsy:

وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

” Jika seorang hamba mendekat padaKu dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan jika ia mendekat padaKu dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau ia mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas .”

Maksudnya adalah ketika seorang hamba ingin mendekat kepada kasih sayang Ilahi, ingin diampuni Allah, ingin dimaafkan Allah, ingin disayangi Allah, maka Allah menyambutnya lebih dari keinginannya, Allah menjawab, merangkul dan memeluknya dalam kasih sayang-Nya lebih dari kasih sayang yang ia inginkan. Dan jarak kasih sayang Ilahi jauh lebih dekat dari kasih sayang kita, cinta kita dan doa kita kepada Allah. Maka Allah menjawab keinginan kita, Allah memberi kita lebih, Allah mencintai kita lebih, dan Allah menyangi kita lebih dari yang kita inginkan. Dialah Yang Maha melimpahkan anugerah dan Maha memiliki kerajaan alam semesta sepanjang waktu dan zaman ini ada, sebelum waktu dan zaman ini ada, sebelum alam semesta ada, Allah telah Maha Ada, maka tidak bisa dikatakan ” Kapan Allah itu ada? “, karena “Kapan” adalah untuk pertanyaan waktu, sedangkan “waktu” itu diciptakan oleh Allah, maka “waktu” tidak bisa mengikat Allah karena waktu diciptakan oleh Allah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah aku dan kalian di malam hari ini sebagai tamu Allah, dalam undangan Allah, dengan kehendak Allah lah aku dan kalian hadir, dalam perkumpulan jamuan rahmat Ilahi yang abadi, sedemikian banyak anugerah ditumpahruahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk aku dan kalian, dan sebenarnya masa hidup kita sejak lahir hingga wafat memang untuk dilimpahi rahmat namun kita yang mengotorinya dengan dosa dan kehinaan, hidup kita sejak lahir hingga wafat sudah Allah tuntunkan kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita panut dan kita ikuti, namun kita yang merusak cinta Allah subhanahu wata’ala dan terus menjauh dari pintu kelembutan menuju pintu kemurkaan, terus menghindari kemulian, pahala dan ibadah, terus selalu ingin berbuat dosa dan maksiat, kita duduk di majelis ini 1 atau 2 jam saja terkadang kita telah merasa gerah dan kesal, tetapi kita tidak bosan jika berjam-jam duduk dalam menghadapi dosa seperti mengumpat, menceritakan aib orang lain, atau menceritakan hal-hal yang tidak berguna dan lainnya tetapi kita tidak merasa lelah, sedangkan hanya dalam 1 atau 2 jam kita duduk dalam rahmat kita merasa gundah, maka dengan kehadiran ini karena kita telah diizinkan Allah untuk hadir, dan juga mereka yang mendengarkan semoga Allah perbaiki keadaan kita dengan seindah-indah keadaan, semoga dosa-dosa kita Allah gantikan dengan pahala, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا ( الفرقان: 70

” Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS.Al Furqan: 70 )

Ya Rabb, semoga semua nama kami Engkau gantikan semua dosa kami dengan pahala, dan kami tidak berdoa kecuali Engkau pula yang telah mengizinkan kami untuk memintanya, dan kami tidak menyebutnya kecuali Engkau pula yang telah menghendakinya, semoga hal itu benar-benar terjadi padaku dan kalian, Allah gantikan dosa-dosa kita dengan pahala wahai Yang Maha berhak diharapakan ketika semuanya sudah tidak bisa lagi diharapakan, dan gerbang harapan terluas hanyalah pada-Mu Ya Rabbi. Tuhanku dan tuhan kalian, penciptaku dan pencipta kalian, pemilikku dan pemilik kalian, Dialah Allah subhanahu wata’ala dan kelak kita akan berjumpa dengan-Nya, akan datang waktu kita menghadap kepada-Nya, semoga kita berjumpa dengan Sang Maha pencipta datang dengan wajah yang cerah, dan bukan datang dalam keadaan buta. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى ( طه : 124 )

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124)

Orang yang selalu berpaling dari dzikir menyebut nama Allah, yang selalu menghina dan meremehkan dzikir dengan sebutan nama Allah, maka dia akan menemui kehidupan yang gelap dan penuh kesusahan dan kesempitan di dunia, dan di akhirat mereka dikumpulkan dalam keadaan buta, na’uzubillah. Maka orang itu bertanya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا ( طه: 125 )

“Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. ( QS. Thaha: 125 )

Mengapa?, karena mereka ketika di dunia menyia-nyiakan Allah subhanahu wata’ala dan meremehkan dzikir kepada-Nya, namun Alhamdulillah kehadiranku dan kalian disini menunjukkan bahwa aku dan kalian Insyaallah tidak akan dibutakan oleh Allah kelak di hari kiamat, dengan berkumpul dan hadir di majelis dzikir seperti ini akan menjadikan kita bukanlah orang-orang yang buta di hari kiamat, karena mereka yang dibutakan adalah mereka yang menghindar dan berpaling dari dzikir kepada Allah, sedangkan kita tidak menghindar dari dzikir yang telah disebut dalam firman Allah, justru kita mendatanginya. Maka sambutan Allah ta’ala sangatlah agung dan hangat, bahkan Allah menjelaskan kepada kita bahwa kita sedang bersama Allah saat kita mengingat-Nya, sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsy riwayat Shahih Al Bukhari:

أَنَا مَعَ عَبْدِيْ حَيْثُمَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ

“Aku bersama hamba-KU ketika ia mengingat-Ku dan bergetar bibirnya menyebut nama-KU”

Getaran bibir menyebut nama Allah dilihat oleh Allah, ditelaah oleh Allah, diingat oleh Allah, dan Allah subhanahu wata’ala memuliakan bibir dan lidah yang bergetar menyebut nama Allah, maka beruntunglah dan adakah yang lebih beruntung dari bibir dan lidah yang menyebut nama-Nya?!. Hadirin hadirat, semua huruf dan kalimat yang kau ucapkan siang dan malam, demi Allah tidak ada kalimat yang lebih agung dari kalimat yang ketika engkau ucapkan Allah melihat dan memuliakannya: ” hamba-Ku bergetar bibirnya menyebut nama-Ku”, maka bagaimana jika hanya bibir yang bergetar menyebut nama Allah telah disebut oleh Allah dalam firman-Nya dan dimuliakan, maka terlebih lagi hati yang bergetar menyebut nama-Nya, hati yang ingat kepada Allah, dan air mata yang mengalir karena rindu kepada Allah, dan salah satu kelompok yang dinaungi oleh Allah di hari kiamat dimana tiada naungan selain naungan Allah adalah seseorang yang mengingat Allah kemudian mengalir air matanya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

رَجُلٌ ذَكَرَاللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

” Seseorang yang mengingat Allah dalam kesunyian kemudian kedua matanya mengalirkan air mata”

Hari kiamat kelak matahari hanya sejengkal di atas kepala dan demikian panasnya matahari itu, namun orang-orang yang berlinang air matanya karena mengingat Allah maka tidak akan dilupakan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Hadirin hadirat, diantara mereka yang telah masuk ke dalam surga ada yang masih berwajah suram, maka Allah memerintahkan malaikat untuk memberi apa yang mereka minta , mengapa mereka belum juga gembira. Maka ketika ditanya, mereka berkata: “Kami, belum melihat keindahan Allah padahal kami sudah berada di surga”, mereka adalah orang-orang yang terakhir keluar dari neraka dan ingin melihat keindahan Allah, maka Allah subhanahu wata’ala berkata: “Wahai malaikat, singkirkan dan bukakan tabir yang menghalangi-Ku dengan hamba-hamba-Ku”, maka malaikat berkata: “Wahai Allah mata-mata mereka banyak bermaksiat ketika di dunia, maka mereka tidak pantas untuk memandang keindahan dzat-Mu walaupun mereka telah masuk ke surga”, maka Allah berkata: “Angkatlah tabir penghalang itu, biarkanlah mereka melihat keindahan-Ku, karena dulu penglihatan mereka pernah mengalirkan air mata rindu ingin berjumpa dengan-Ku, maka mereka berhak melihat keindahan-Ku”. Demikian Sang Maha Indah yang akan kau temui kelak dan tidak satupun yang pernah hidup di dunia kecuali pasti akan berjumpa dengan pemiliknya di hari kiamat, yaitu Allah subhanahu wata’ala.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Yang Maha memiliki kenikmatan dan kelembutan dan kasih sayang, kasih sayang di dunia dan akhirah,Ar Rahman Ar Rahiim Yang Maha berkasih sayang kepada seluruh makhlukNya dan Maha lebih berkasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, semoga aku dan kalian selalu dalam naungan Ar Rahman Ar Rahim, selalu dalam naungan rahmat dan kasih sayang Allah bagi hamba-hamba-Nya di dunia dan kasih sayang Allah bagi hamba-hamba-Nya di akhirah, amin ya rabbal ‘alamin. Dan telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa:

أَفْضَلُ اْلعِبَادَةِ الدُّعَاءُ

“Sebaik-baik mulia ibadah adalah doa”

Karena semua ibadah adalah hakikat doa. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Sampailah kita pada hadits agung, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كاَنَ مَظْلُوْمًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ، قَالَ: تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

“Tolonglah saudaramu dalam keadaan ia menzhalimi atau dizhalimi. Maka seorang lelaki berkata: ‘Saya menolongnya jika ia dizhalimi, bagaimana pendapatmu jika ia yang menzhalimi, bagaimana saya menolongnya?’ Beliau menjawab : ‘Engkau halangi dia atau engkau mencegahnya dari berbuat zhalim, maka sesungguhnya hal itu merupakan pertolongan terhadapnya’.

Oleh sebab itu, berdasarkan hadits ini, kita memahami bahwa sedemikian banyak saudara kita yang berbuat zhalim, dan Rasul telah memerintahkan agar kita menolong orang yang dizhalimi dan yang zhalim pun tidak dilupakan. Menolong orang yang dizhalimi itu sudah jelas dimengerti dan tidak perlu saya jelaskan, seperti orang yang ditindas, orang yang dijahati oleh orang lain maka Rasul memerintahkan untuk ditolong, tetapi Rasulullah juga memerintahkan untuk menolong orang-orang zhalim, kenapa ditolong?, maksudnya bukan ditolong dalam berbuat jahat tetapi ditolong supaya tidak berbuat jahat, ditolong supaya mundur dari perbuatan jahatnya, apa yang telah membuatnya berbuat jahat, misalnya kesusahan tidak mempunyai makanan, maka kita tolong dia dengan memberi apa yang kita miliki, atau yang membuatnya jahat karena benci atau iri dengan saudaranya maka bantulah dia dengan memberinya pemahaman dan mengenalkan padanya bahwa dendam dan kebencian itu tidak berguna jika dipendam di hati, yang berguna adalah untuk tabungan pahala, itulah yang berguna, kita punya dendam, kesal atau kebencian hal itu tidak berguna jika dipendam di hati karena hanya akan menghalangi kekhusyu’an dzikirmu, menghalangi ketenangan hari-harimu maka singkirkan kebencian itu dan jadikan sebagai tabungan di akhirah, lupakan dan pendam dengan samudera maaf di hatimu, dan hal itu akan menjadai tabunganmu yang akan kau ambil kelak di hari kiamat.

Dan semua orang-orang yang pernah kau maafkan pahalanya begitu agung, dan ingat bahwa sang Maha Pemaaf sangat malu jika tidak memaafkan hamba-Nya yang pemaaf, Dia Allah subhanahu wata’ala Maha Indah dan juga Maha mengadili. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa seseorang yang diadili dan terus diadili hingga ia kehabisan amal, lalu ia pun dibawa ke penjara neraka untuk bertanggung jawab karena kesalahannya, maka ia berkata: “Wahai Allah, dulu aku sering memaafkan orang yang zhalim kepadaku, aku sering membantu banyak orang”, maka Allah subhanahu wata’ala berkata: “Bebaskan hamba-Ku”, mengapa?, karena ia selalu memaafkan orang lain di dunia, maka Allah juga malu untuk tidak memaafkannya di akhirah atas kesalahan-kesalahannya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Jika ingin dimaafkan dari dosa-dosa, maka maafkan kesalahan orang lain kepadamu dan kau akan dibebaskan dan mendapatkan cahaya maaf dari Sang Maha Pemaaf, karena Sang Maha Pemaaf malu jika tidak memaafkan hamba-Nya yang pemaaf. Sebagaimana sebuah doa yang teriwayatkan dalam riwayat yang shahih:

اَللّهُمَّ إِنَكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا

“Wahai Allah, sesungguhya Engkau Maha pemaaf, menyukai maaf maka maafkanlah kami”

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ( الحجرات : 9 )

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. ( QS. Al Hujurat: 9 )

Allah subhanahu wata’ala memerintahkan jika ada perpecahan antara muslimin, maka damaikanlah, dan jika tidak mau berdamai maka desaklah hingga ia mau berdamai. Ayat ini turun dalam kejadian Abdullah bin Ubay, pimpinan orang-orang munafik di Madinah Al Munawwarah, ketika Rasulullah berjalan bersama para shahabat Ra maka Abdullah bin Ubay menutup hidungnya dan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Cepatlah kau berjalan kesana, bau busuk keledaimu menggangguku” , maka mendengar hal itu para sahabat marah dan berkata: ” Sungguh air seni keledai Rasulullah lebih wangi dari bau minyak wangimu wahai Abdullah bin Ubay…!!!”, maka pengikut Abdullah bin Ubay marah dan akhirnya terjadilah perkelahian diantara mereka, maka turunlah ayat diatas.

Al Imam Bukhari di dalam Shahihnya menjelaskan dan disyarahkan oleh Al Imam Ibn Hajar, bahwa Allah mengatakan: “Dua kelompok orang mu’min”, padahal kelompok yang lainnya adalah pengikut Abdullah bin Ubay, dan Abdullah bin Ubay sudah jelas-jelas dia meninggal dalam keadaan munafik , tetapi mengapa Allah katakan mereka sebagai dua kelompok orang mu’min?, karena ada diantara pengikut Abdullah bin Ubay yang munafik kemudian bertobat dan menjadi mu’min pembela sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah melihat hal itu, namun pengikut Rasulullah tidak mengetahuinya yang mereka tau hanyalah pengikut Abdullah bin Ubay.

Maka maksud ayat ini adalah ketika kedua kelompok mu’minin bertikai hendaknya kita menjadi penengah dan menjadi pendamai karena kedua-duanya adalah kelompok mu’minin, walaupun diantara salah satu kelompok itu ada orang munafik.

Demikian pula diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat , Ahnaf bin Qais Ra berkata: “Ketika aku keluar dengan pedangku, aku bertemu dengan Abu Bakrah Ra “. Abu Bakrah Ra (bukan Abubakar Ashhiddiq ra) adalah salah seorang sahabat yang diakui sebagai Al Arif billah, seseorang yang terkenal dan telah mencapai derajat yang tinggi dalam keilmuan dan keshalihannya di kalangan para sahabat, kemudian beliau bertanya kepada Ahnaf bin Qais: “wahai Ahnaf, engkau mau kemana?” , maka ia menjawab : “Aku mau menolong sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw”, yang ketika itu sedang terjadi percekcokan dengan sayyidah Aisyah ummul mu’minin Ra dalam perang Jamal. Maka Abu Bakrah Ra berkata : “Berbalik dan pulanglah!!”, maka ia berkata: “mengapa aku harus pulang, sedangkan aku ingin menolong sayyidina Ali”, sayyidina Abu Bakrah terus mendesaknya untuk pulang dan berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَوَاجَهَ الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِى النَّارِ

” Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan kedua pedangnya maka si pembunuh dan yang dibunuh sama-sama dineraka”

Maka ketika itu Abu Bakrah bertanya kepada Rasulullah: “wahai Rasulullah, sudah pasti orang yang membunuh dia di neraka, tapi yang dibunuh mengapa juga di neraka, apa kesalahannya?”.Maka Rasulullah menjawab: “yang dibunuh pun telah bermaksud untuk membunuh temannya itu “, maka keduanya sudah memiliki niat untuk membunuh.

Hadirin hadirat, padahal yang sedang bertikai adalah kelompok sayyidina Ali bin Abi Thalib dan kelompok sayyidah Aisyah Ra ummul mu’minin, tidak mungkin keduanya masuk ke dalam neraka dengan kejadian pertiakaian ini.

Di saat itu sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw sebagai Khalifah, dan ketika itu sayyidah Aisyah, sayyidina Zubair bin ‘Awwam dan ‘Amr bin Ash Radiyallahu ‘anhum ajma’in, mereka ingin menuntut pembunuh sayyidina Utsman bin Affan yang bersembunyi memohon pertolongan kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib dan jangan sampai mereka dibunuh, maka sayydina Ali berkata bahwa permasalahan sudah selesai, maka dua kelompok bertemu, kelompok sayyidina Ali bin Abi Thalib dan kelompok sayyidah Aisyah yang menuntut untuk segera mengadili orang yang membunuh sayyidina Utsman bin Affan

Maka sayyidina bin Abi Thalib meminta agar mereka tenang saja, karena kekhalifahan sudah diserahkan kepada sayyidina Ali maka dialah yang mengadili pembunuh sayyidina Utsman, maka kelompok sayyidah Aisyah pun tenang, namun orang yang membunuh sayyidina Utsman yang bersembunyi di dalam kelompok sayyidina Ali setelah melihat kejadian mereka tahu bahwa mereka akan diadili juga oleh sayyidina Ali, bukan justru dibebaskan, maka merekapun takut dan khawatir.

Akhirnya mereka menjadi profokator yang kemudian menyerang kelompok sayyidah Aisyah dan terjadilah peperangan dan kelompok sayyidah Aisyah yang kalah sehingga mereka bisa selamat, cara memprofokasi seperti ini sudah ada dari zaman Khulafa’ar rasyidin, maka pasukan orang-orang yang membunuh sayyidina Utsman bin Affan, kaum munafik itu menyerang kelompok sayyidah Aisyah dan merekapun membela diri dan terjadilah pertumpahan darah, tidak lama kemudian peperangan selesai dan sayyidina Ali bin Abi Thalib yang memenangkan peperangan itu, para sahabat enggan untuk memerangi sayyidina Ali karena dia adalah Babul ‘Ilm (pintu ilmu), tetapi para sahabat ingin melindungi ummul mu’minin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka disaat itu para sahabat yang lain bertanya: ” wahai Khalifah, bagaimana dengan mereka yang kalah, kita tangkap saja mereka”, maka sayyidina Ali marah mendengar hal itu, dan berkata: ” siapa yang mau menangkap istri Rasulullah, siapa yang mau mengambil harta Rasulullah?! “, semuanya terdiam. Akhirnya maslah pun terselesaikan dan tidak ada masalah lagi.

Hadirin hadirat, hal ini sudah terjadi di masa lalu, kalau sudah terjadi hal yang seperti ini, maka pantaslah jika Abu Bakrah berkata kepada Ahnaf bin Qais untuk kembali pulang dan tidak ikut-ikutan dalam dalam percekcokan yang terjadi antara sayyidina Ali dan sayyidah Aisyah Ra, sayyidina Abu Bakrah mengetahui jika semakin banyak yang datang kesana, maka permasalahan akan semakin rumit.

Kejadian itu terjadi dan diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari. Kejadian itu saya sampaikan berdasarkan kejadian Qubah Haddad yang lalu, dan saya sarankan kepada jamaah Majelis Rasulullah untuk mundur karena sudah ada mereka yang disana dari masyarakat setempat, jamaah muhibbin juga serta saudara-saudara kita yang lain juga ada disana, dan saya memerintahkan jamaah Majelis Rasulullah supaya mundur, karena memang kita tidak pernah mau berbuat hal yang anarkis dan kekerasan, kita berdakwah dengan kedamaian, tetapi bukan berarti kita hanya diam, dan cukup saya yang bertindak, saya menghubungi Gubernur, saya menghubungi Sekda, saya menghubungi staf khusus kepresidenan agar penggusuran makam dibatalakan, dan aparat kepolisian ditarik karena masyarakat tidak akan pergi jika aparat tidak mundur. Alhamdulillah akhirnya damai juga, dan saat itu Presiden mengutus 3 Menteri kesana dan masalah bisa diselesaikan, Insyaallah.

Hadirin hadirat, namun hati-hati dengan atributmu, saya juga mendapat telepon dari Kapolda yang meminta saya untuk menarik para jama’ah, padahal saya tidak mengirim jamaah kesana , meskipun banyak yang memakai jaket Majelis Rasulullah, dan saya tidak pernah memberi instruksi, seharusnya jangan terjun jika tidak ada instruksi, jika ada instruksi dari pusat untuk terjun maka silahkan terjun.

Majelis Rasulullah bukan majelis pengecut, kita tidak takut mati, kita cinta Allah, rindu kepada Allah dan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alihi wasallam, maka tidak ada jamaah Majelis Rasulullah yang takut mati, jangan mengira kita adalah penakut tapi kita berjalan dengan mengikuti bimbingan guru kita, jika ada instruksi maka berangkatlah, dan jika tidak ada instruksi janganlah berangkat. Intruksinya adalah jangan dengan jalan kekerasan, mereka yang memilih jalan kekerasan maka silahkan, mereka punya guru sendiri dan tanggung jawab mereka sendiri, dan mereka mengikuti guru mereka tidak salah dan kita juga mengikuti guru kita.

Hadirin hadirat, demikian yang saya perbuat seperti kejadian sayyidina Abu Bakrah Ra yang tidak ingin carut marut, sebagian dari mereka bertanya mengapa saya tidak kesana? Saya katakan kalau saya kesana, dan diliput oleh media bahwa saya ada disana, maka ratusan ribu jama’ah yang akan kesana dan keadaan akan semakin carut marut bukannya semakin aman, maka lebih baik saya tidak datang ke lokasi tetapi saya terus menerus menghubungi Kapolda, Sekda, dan staf khusus kepresidenan agar masalah ini segera ditarik dan diselesaikan, maka tidak perlu repot terjun kesana karena yang membela makam mulia sudah ada.

Namun ketahuilah bahwa makam-makam para shalihin itu ada yang bisa dipindah dan ada yang tidak bisa dipindah, seperti makam Al Habib Nouh Al Habsyi di Singapura tidak bisa dipindah dan tidak ada yang membelanya karena muslimin disana hanya sedikit, mesinnya mati tidak bisa digerakkan, mau digusur juga tidak bisa karena memang Shahibul makam dilindungi oleh Allah subhanahu wata’ala, karena Allah tidak menghendakinya, tetapi ada juga makam yang bisa dipindah seperti makam Ayah Al Habib Umar bin Hud Al Atthas dipindahken ke kuburan Karet karena dikehendaki oleh Allah, bahkan ada makam yang dipindah bukan oleh manusia tetapi dipindah oleh kehendak Allah subhanahu wata’ala dan kejadian ini benar benar terjadi dalam riwayat yang jelas dan terpercaya, dan bukan dalam Shahih Al Bukhari.

Dimana ketika seseorang di London wafat, dan diwaktu yang sama wafat juga seseorang di Madinah Al Munawwarah. Seorang yang wafat di Madinah setelah dimakamkan dan tidak lama setelah itu ibunya datang dan ingin melihat wajah anaknya, dan memaksa untuk menggali lagi kuburan itu sambil menjerit-jerit di kuburan, maka akhirnya digali kuburan itu dan setelah dilihat ternyata jenazah anaknya berubah menjadi orang bule, bukan orang Arab. Semua orang heran dan timbul banyak pertanyaan, tetapi tidak terjawab. Dan kejadian serupa pun terjadi di London setelah kuburan itu digali untuk suatu hal, ternyata jasadnya berubah menjadi orang Arab, rasa heran dan pertanyaan pun tidak terjawab, mengapa jasadnya berubah.

Akhirnya setelah beberapa lama, Allah mentakdirkan kedua wanita bertemu saat umrah, dan saling mengenalkan diri dan berkata bahwa wanita itu berasal dari London dan baru masuk Islam beberapa tahun berselang, setelah keduanya semakin akrab akhirnya wanita itu pun bercerita bahwa ketika itu ada kejadian aneh dimana salah satu saudaranya yang meninggal dan dikuburkan di London, tidak beberapa lama setelah kuburan itu digali dan ternyata jasadnya berubah menjadi orang Arab, dan ia menunjukkan foto orang arab itu, wanita yang satunya kaget dan berkata bahwa foto itu adalah saudaranya yang telah wafat dan dikuburkan di Madinah tetapi setelah kuburan itu digali jasadnya juga berubah menjadi orang bule, kemudian setelah diperlihatkan foto orang bule itu, wanita yang dari London berkata bahwa foto itu adalah keluarganya yang wafat dan dimakamkan di London.

Akhirnya setelah ditanya ternyata lelaki yang wafat yang berasal dari London itu adalah seseorang yang bukanlah dari kalangan berada tetapi dia banyak bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sangat ingin berziarah ke makam sang nabi, sehingga setiap hari yang dibicarakan adalah ziarah kesana tetapi sampai ia wafat pun ia belum sempat berziarah kesana.

Dan sebaliknya orang Arab yang wafat itu selama 50 tahun tinggal di Madinah hingga ia wafat ia tidak pernah mau berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Allah subhanahu wata’ala memindahkannya ke London, tidak pantas ia berada di perkuburan Baqi’, sedangkan jenazah yang di London yang mencintai dan rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah pindahkan ia ke perkuburan Baqi’ di Madinah Al Munawwarah, dan hal ini tidak ada manusia yang memindahkannya tetapi Allah yang memindahkannya karena bumi ini adalah milik-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (فاطر: 17 )

“Dan yang demikian itu tidaklah sulit bagi Allah”. ( QS. Fathir: 17 )

Maka hal yang seperti itu bukanlah hal yang sulit bagi Allah subhanahu wata’ala. Demikian hadirin sekalian, masalah yang sudah terjadi biarlah terjadi namun saya mohon janganlah kita lepas dari tuntunan guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad Al Hafizh, supaya kita jangan mengambil tindakan yang anarkis, kita tetap dengan cara kita, tetapi tidak hanya tinggal diam, kita bergerak tetapi diam-diam saja, biarkan mereka tidak mengetahuinya. Tetapi jika diantara kalian ada yang merasa bahwa langkah Habib Munzir salah, yang benar adalah ikut membela, maka silahkan saja karena saya bukan nabi dan Habib Umar bin Hafizh juga bukan nabi, maka silahkan jika ada diantara kalian yang mau melangkah mengambil tindakan kekerasan tetapi jangan memakai atribut Majelis Rasulullah, karena jika kalian memakai atribut Majelis Rasulullah maka yang bertanggung jawab adalah pimpinannya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dalam riwayat Shahih Al Bukhari, ketika sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib Kw berada di pangkuan Rasulullah, maka Rasulullah berkata:

اِبْنِيْ هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللهَ يُصْلِحُ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Sesungguhnya anakku ini adalah Sayyid (pemimpin). Semoga melalui perantaraannya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin”

Dan ternyata benar, setelah sayyidina Ali bin Abi Thalib wafat maka sayyidina Hasan dikenal sebagai ulama’ besar, maka sayyidina Mu’awiyah dihasud oleh kaum munafikin untuk merebut kekhalifahan dari sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib Kw, karena sayyidina Hasan adalah salah seorang ulama’ dan sayyidina Muawiyah adalah seorang yang ahli strategi dalam kenegaraan maka dialah yang sepantasnya memegang kepemimpinan dan bukan sayyidina Hasan, akhirnya sayyidina Hasan tetap bertahan karena itu adalah mandatnya.

Akhirnya mulailah terjadi pertumpahan darah antara kaum muslimin dan mundurlah sayyidina Hasan bin Ali dan berkata: “Ambillah kepemimpinan ini, bagiku satu tetasan darah muslim yang wafat jauh lebih utama untuk diselamatkan daripada seribu kepemimpinan”, akhirnya ia pun mundur dan ia merelakan hal itu demi tidak terjadinya pertumpahan darah anatara muslimin , itulah perbuatan sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib Kw.

Begitu pula perbuatan sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib Kw yang dibunuh oleh pasukan yang menyerangnya karena ia dijebak untuk diperangi, dimana ketika itu sayyidina Husain diundang supaya datang ke wilayah Karbala, dan ia pun datang bersama anak-anak dan istrinya dan bukan untuk perang, karena jika untuk perang beliau tidak akan membawa istri dan anaknya, mereka datang untuk berdamai, namun disampaikan kepada Yazid bahwa Husain putra Ali bin Abi Thalib datang dengan pasukannya untuk merebut kekuasaan, maka Yazid bin Mu’awiyah pun mengerahkan pasukannya dan memerintah untuk membantai sayyidina Husain hingga wafat.

Merekalah dua pemimpin syuhada’ di surga, sayyidina Hasan dan Husain Radiyallahu ‘anhuma, tidak ada maksud untuk merebut kepemimpinan dan tidak pula untuk pertumpahan darah. Oleh sebab itu Al Imam Ahmad Al Muhajir bin Ahmad bin Isa ‘alaihi rahmatullah meninggalkan Baghdad karena takut pertikaian, karena saat itu para Habaib terus dimusuhi dan dicurigai ingin merebut kepemimpinan, maka akhirnya ia pindah ke Hadramaut sebuah tempat yang tandus yang jauh dari perebutan kepemimpinan, padahal beliau adalah imam besar, Ahmad bin Isa adalah seorang ulama’ yang sangat luar biasa tetapi mengapa pindah ke lembah yang tandus?, karena ia ingin menyelamatkan keturunannya agar tidak menjadi orang-orang yang dibantai dan terkena fitnah dalam masalah kepemimpinan, dan ternyata pindahnya Al Imam Ahmad Al Muhajir ke Hadramaut tidak membuat dakwahnya padam, justru keturunannya lah yang berpencar dan diantaranya adalah Wali Songo yang sampai ke pulau Jawa, diantaranya juga ada yang sampai ke Papua, Makassar dan ke seluruh dunia dan kebanyakan dari mereka adalah keturunan Al Imam Ahmad Al Muhajir bin Ahmad bin Isa.

Hadirin hadirat, demikianlah kembang dan bunga dari kedamaian, dan buah dari lari dari pertikaian dan perpecahan adalah kesuksesan saat ia hidup dan setelah ia wafat, kesuksesan perjuangannya abadi hingga hari kiamat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu, sayyid Al Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawy pimpinan thariqah ‘alawiyah mematahkan pedangnya dan berkata: “Mulai saat ini keturunanku tidak akan lagi turun ke dalam kancah peperangan, pertempuran atau perebutan kepemimpinan”, demikian perbuatan sayyidina Al Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawy, dan tentunya kita mengikuti khalifah kita, dari guru ke guru sampai kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak menghendaki terjadi pertikaian, sebagaimana sabda beliau, “bahwa setelah beliau wafat, maka janganlah terjadi saling hantam antara satu ummat dan yang sama lainnya”.

Mari kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala supaya Allah satukan kita dalam satu shaf tanpa ada perpecahan dan saudara-saudara kita yang bertindak dengan ketegasan tentunya tidak ada permusuhan dengan kita, karena masing-masing memiliki strategi dakwah, dan strategi kita adalah kedamaian mengikuti guru mulia kita, dan mereka pun mengikuti guru mereka.

Hadirin hadirat, satu hal lagi yang ingin saya sampaikan adalah mohon doa dari jamaah sekalian dengan dekatnya acara bersama guru mulia Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad Al Hafizh yang akan tiba di Indonesia pada pertengahan bulan Juni, dan Alhamdulillah telah disepakati untuk malam Jum’at insyaallah kita adakan acara dzikir dan tabligh akbar bersama beliau di Gelora Bung Karno, kemudian tabligh akbar juga bersama beliau malam Selasa di Monas, dan sepuluh hari setelahnya adalah acara akbar Isra’ Mi’raj.

Tiga acara akbar, dua acara dihadiri oleh guru mulia insyaallah, dan yang ketiga kita akan berkumpul setelah kepulangan beliau ke Tarim Hadramaut, semoga acara-acara ini sukses, amin. Kita sukseskan acara ini, kemarin ketika 12 Rabiul Awal telah berkumpul 1 juta muslimin muslimat untuk berdzikir “Ya Allah” 1000 kali bersama-sama, semoga acara-acara kita yang akan datang bersama guru mulia lebih banyak lagi yang hadir.

Hadirin hadirat, kita tidak pernah berhenti berjuang untuk terus membenahi seluruh bangsa kita, bumi Jakarta dan seluruh wilayah di barat dan timur semoga semakin makmur dengan panji dan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal ikram, kami bermunajat kehadirat-Mu agar Engkau tumpahkan kepada kami kebahagiaan dunia dan akhirah, kami telah memahami bahwa semua kami yang hadir disini dan yang mendengar telah Engkau izinkan untuk sampai kepada rahmat ini, entah dengan jasad kami atau dengan telinga kami, maka sampaikan kami pada samudera rahmat-Mu dunia dan akhirah dan terbitkan matahari kebahagiaan dunia dan akhirah, matahari kemuliaan dunia dan akhirah, percepatlah terbitnya kemakmuran bagi muslimin muslimat Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal Ikram.

Semoga semua yang hadir di tempat ini dan yang mendengarkan di tempat yang jauh semoga selalu dalam kebahagiaan, selalu dalam keluhuran, selalu dalam pengampunan, selalu dalam kesucian, selalu dalam pengabulan doa dan munajat, selalu dalam kemakmuran dunia dan akhirah, Rabbi…tanda-tanda munculnya kemakmuran telah kami lihat, perpecahan semakin banyak, pembunuhan semakin banyak, gempa bumi semakin banyak, yang mengaku nabi semakin banyak, maka kami menanti janji nabi-Mu yang terakhir yaitu terbitnya kemakmuran, maka terbitkanlah Ya Allah…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita terus berdoa semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga bumi Jakarta dan bangsa kita dari perpecahan, fitnah dan permasalahan, semoga acara-acara kita bersama guru mulia sukses dan yang hadir lebih dari 1 juta insyaallah, dan lebih banyak lagi yang hadir di acara-acara selanjutnya, amin allahumma amin.

Jadilah pejuang-pejuang Rasulullah, yaitu yang selalu memperjuangkan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka berjuanglah dengan kedamaian, dengan ketenangan, dengan kebaikan dan serta memperbanyak ibadah dan doa maka hal itu telah mengkelompokkan kita dalam kelompok para pendukung sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga Allah memuliakan kita, tidak lupa juga permohonan doa bagi saudara-saudara kita yang akan menerima kabar kelulusan ujian semoga diberi kelulusan, dan diberi kesuksesan oleh Allah.

Ada yang diberi kelulusan dan gembira tetapi setelah lulus tidak sukses hidupnya, ada juga yang diberi tidak lulus tetapi setelah itu ia sukses dalam hidupnya, ada yang lulus dan sukses tetapi di akhirat terhinakan, wal’iyadzubillah. Kita meminta kelulusan dan kesuksesan di dunia dan akhirah, amin. Kita lanjutkan dengan qasidah mengingat kembali keindahan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tafaddhal.

Terakhir Diperbaharui ( Friday, 23 April 2010 )
Posted by: Habib Ahmad | 28 April 2010

Apabila Perkara Yang Tidak Utama Lebih Dipentingkan

pabila Perkara Yang Tidak Utama Lebih Dipentingkan Dari Perkara Yang Lebih Utama Dimasukkan oleh IbnuNafis Label:

Pada minggu lepas, saya berkesempatan menyampaikan ucaptama sempena Seminar Fiqh Awlawiyyat anjuran bersama Jabatan Agama Islam Perak dan Persatuan Ulama Malaysia Cawangan Perak. Seminar tersebut memberi ruang kepada saya untuk menampilkan beberapa idea dan pendekatan yang telah lama saya uar-uarkan kepada masyarakat sebagai rujukan umat Islam seluruhnya.

Dalam hal ini, ulama tersohor Dr. Yusuf al-Qaradawi memberikan takrif Fiqh Awlawiyat sebagai “menetapkan sesuatu pada martabatnya, tidak mengkemudiankan apa yang perlu didahulukan atau mendahulukan apa yang berhak dikemudiankan, tidak mengecilkan perkara yang besar atau membesarkan perkara yang kecil.”

Firman Allah S.WT. di dalam surah Al-Taubah ayat 19 mafhumnya:

Adakah kamu sifatkan hanya perbuatan memberi minum kepada orang-orang yang mengerjakan Haji, dan (hanya perbuatan) memakmurkan Masjid Al-Haram itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat serta berjihad pada jalan Allah? Mereka (yang bersifat demikian) tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan hidayah petunjuk kepada kaum yang zalim.

Ketika ini umat Islam telah hilang punca asas pertimbangan dalam menilai keutamaan daripada sekecil-kecil perkara hingga sebesar-besarnya. Kehilangan punca bukan sahaja meliputi masyarakat umum, bahkan para cendiakawan dan cerdik pandai serta para pemimpin sendiri pun adakalanya menghadapi permasalahan dalam menentukan keutamaan sesuatu perkara.

Bagi para remaja contohnya lebih menekankan hal-hal berkaitan dengan sukan dan hiburan sebagai matlamat hidup mereka daripada mendahulukan diri dengan mengejar ilmu pengetahuan. Yang sepatutnya disanjung bukan lagi golongan ilmuwan atau intelek. Tetapi ahli sukan dan artis-artis diangkat dan dicontohi sebagai idola. Hari ini hiburan diutamakan daripada pendidikan. Lebih banyak majalah hiburan berbanding majalah yang mendidik masyarakat di pasaran. Begitu dengan program televisyen didominasi oleh rancangan hiburan yang menjadi sajian dan “makanan harian” yang dipertonton dan diprogramkan kepada masyarakat. Jika ada rancangan yang mendidik masyarakat ia tidak disiarkan pada waktu perdana, tetapi larut malam mahupun awal pagi. Islam tidak melarang hiburan, namun keutamaan hiburan tidak boleh dilebihkan daripada pendidikan sehingga masyarakat lalai dengan hiburan. Fenomena tersebut jelas membuktikan kejahilan masyarakat terhadap dimensi prioriti yang sedia ada dalam Islam.

Dalam amalan ibadat pula masyarakat kita masih sibuk membahaskan aspek khilafiah yang tidak akan berkesudahan. Dalam rancangan soal-jawab di radio yang dihadiri oleh saya, soalan-soalannya masih berkisar tentang masalah meninggalkan qunut, bidaah mengadakan tahlil, talqin yang merupakan masalah furu’ dan khilafiah. Sedangkan kita berdepan dengan masalah riba yang terang-terang haram dalam kewangan dan insurans kita. Termasuk juga masalah perpecahan umat yang pada pengamatan saya perlu kepada usaha yang gigih terutamanya para umara dan ulama bagi menyatupadukan masyarakat Islam terutamanya umat Melayu.

Bijak pandai

Di kalangan bijak pandai tidak kurang juga berhadapan dengan kecelaruan pemikiran dalam memahami keutamaan sesuatu perkara.

Bila saya menekuni isu-isu mutakhir ini termasuk kelulusan Kabinet terhadap penubuhan jawatankuasa antara agama, saya mengharapkan agar para ulama bersama-sama menyumbang idea dan pemikiran membantah penubuhan jawatankuasa tersebut. Akan tetapi pada masa yang sama kita disibukkan dengan boleh atau tidak meminum atau menyapu air ludah ustaz yang tidak pasti sama ada ia berlaku atau tidak. Secara prinsipnya, saya tidak menghalang aduan tersebut, namun ketika masyarakat Islam menghadapi tuntutan yang pelbagai yang dikhuatiri merendahkan martabat Islam, kita disibukkan dengan isu-isu yang bukannya tidak penting, akan tetapi ada lagi perkara yang lebih penting dari itu.

Begitu juga kita masih tertinggal di belakang terutama dalam menguasai segala jenis ilmu pengetahuan sains dan teknologi. Akhirnya disebabkan kejahilan kita dan kelemahan para ulama dan umara, maka Islam terus menerus lemah dan ketinggalan sehinggakan ruang yang diberikan Allah Taala dalam bidang fiqh seperti ijtihad dan hukum, terus beku serta hilangnya kedinamikan syariat Islam yang sebenarnya boleh melumpuhkan penyebaran Islam itu sendiri, seperti yang berlaku pada dunia Islam hari ini.

Dilihat dalam soal beribadah, masyarakat lebih menumpukan kepada ibadat sunat dari ibadat fardu. Manakala jka dilihat dari sudut berhubung dengan nilai-nilai kemasyarakatan pula, aspek fiqh keutamaan ini tidak mendapat tempat di hati masyarakat. Masyarakat kita lebih mementingkan ibadat fardu yang bersifat nafsi-nafsi semata-mata lantas meminggirkan konsep ibadat yang lebih global di luar ruang lingkup diri. Ibadat fardu yang berasaskan prinsip jemaah seperti hak-hak jiran, kemanusiaan dan kenegaraan yang masih terabai. Kumpulan diutamakan dari ummah, furu’ diutamakan dari usul.

Melakukan perbandingan kepelbagaian konsep Masalih atau Manafi’ di mana hakikat Masalih itu ada tingkatannya tersendiri yang meliputi konsep daruriyyat, hajiat dan tahsiniyyat. Melakukan perbandingan kepelbagaian konsep Mafasid atau Darar di mana hakikat Mafasid itu juga menyentuh tingkatannya yang meliputi konsep daruriyyat, hajiat dan tahsiniyyat. Melakukan perbandingan antara kepelbagaian Masalih dan Mafasid di mana keputusan yang diambil mengikut kadar yang lebih banyak dan majoriti kerana kadar majoriti boleh menentukan hukum bagi keseluruhan bahagian.

Justeru itu, suatu yang kurang penting tidak wajib dipentingkan. Apa yang wajar didahulukan hendaklah diketengahkan, suatu yang wajar dikemudiankan hendaklah dikemudiankan, perkara yang kecil tidak patut dibesar-besarkan, sementara perkara yang penting tidak wajar dipermudah-mudahkan. Dengan lain perkataan tiap-tiap suatu hendaklah diletakkan pada tempatnya secara berimbangan. Allah SWT. berfirman yang bermaksud:

Dan Allah telah meninggikan langit dan meletakkan neraca keadilan, supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu, dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

(Surah al-Rahman: 7-9)

Sumber : Utusan Malaysia

Oleh : Mufti Perak

Posted by: Habib Ahmad | 28 April 2010

Sumbangan Ikhlas untuk Ma’ahad as-Syatirie

Assalamualaikum wbt.

Tn/Pn yang dermawan, berikut ana panjangkan surat permintaan dari sahabat kita, Ust Muhammad Huzaif, berkaitan dengan Sumbangan Ikhlas untuk Ma’ahad as-Syatirie.

Pengenalan Ma’ahad as-Syatirie.

Ma’had As-Syatirie ditubuhkan pada awal tahun 2009 dan diasaskan serta dipimpin oleh Al-Fadhilatul Syeikh Zulkiflie bin Hj. Muhammad Suhaimi al-Yamani al-Hadromi at-Tarimi setelah mendapat keizinan daripada Tuan Guru beliau di Rubat Tareem di Tareem, Hadramaut, Yaman iaitu Al-‘Alim al-‘Allamah “Sultona ‘Ulama” Habib Salim bin Habib Abdullah as-Syatirie supaya membuka cawangan Rubat Tareem di Malaysia. Rubat Tareem adalah merupakan sebuah institusi pengajian Islam tradisional yang terpenting di Tareem. Rekod menunjukkan bahawa lebih daripada 13,000 pelajar lepasan Rubat Tareem telah berjaya menjadi ulama’ yang memegang jawatan imam, mufti, qodhi dan ramai juga yang kembali menjadi syeikh, tuan guru, kiai’ dengan membuka pusat pengajian persendirian (pondok/madrasah/pesantren) di Yaman, Indonesia, Malaysia, Singapura, Pattani, Eropah, Afrika dan kebanyakan negara-negara Timur Tengah.

Ma’had As-Syatirie terletak di Kampung Sungai Dedap, Kota Sarang Semut, Jalan Yan, 06800, Alor Setar, Kedah. Antara objektif penubuhan Ma’had ini adalah untuk menyediakan kursus intensif Bahasa Arab juga ilmu-ilmu pengajian islam yang lain seperti tauhid, feqah, tasauf, tafsir al-quran & tajwid, hadis & mustolah hadis, nahu, sorof, balaghoh, mantiq, faroid, siroh, marhaban/berzanji/burdah dan ilmu-ilmu yang berkaitan bagi melengkapkan syarat untuk para pelajar yang ingin menyambung pengajian di Rubat Tareem, Yaman. Juga memberi gambaran tentang sistem pengajian bertalaqqi di Rubat Tareem dan yang teristimewanya pengajian di sini adalah ilmunya bersanad kepada pengarang kitab-kitab turath, ulama’-ulama’ tersohor yang sanad ilmunya tali-menali / rantai-merantai sehinggalah kepada baginda Nabi Muhammad S.A.W.

Sistem pengajian pondok sejak dahulukala sememangnya tidak mengambil yuran dari para pelajar. Oleh itu sumbangan ikhlas daripada orang ramai amat diperlukan untuk meneruskan kelangsungan pondok yang menjadi benteng terakhir sistem pengajian ilmu-ilmu agama yang paling sohih sanadnya hingga ke Rasullullah S.A.W. Sumbangan ikhlas tuan-tuan & puan-puan yang dirahmati Allah bolehlah dibuat kepada Akaun Bank Ma’had As-Syatirie iaitu Bank Islam 0-011-02-081001-1 juga boleh membuat sumbangan persendirian untuk pelajar cemerlang (Mumtaz Jiddan) di sana yang juga ahli jemaah pengajian Ba’alawi Kuala Lumpur iaitu Ustaz Muhammad Huzaif bin Noslan di akaun Maybank Islamic 162450089397 yang akan melanjutkan pengajiannya di Rubat Tareem, Yaman. Apa jua sedekah, zakat, hadiah & juga sumbangan bulanan misalnya amatlah dialu-alukan. Sumbangan ikhlas tuan- tuan & puan-puan mudah-mudahan diterima oleh Allah S.W.T sebagai amal jariah yang berkekalan hingga ke akhirat, amin, insyaAllah.

Sebarang pertanyaan/maklumat bolehlah menghubungi nombor-nombor telefon ini iaitu Syeikh Zulkilfie bin Hj.Muhammad Suhaimi al-Yamani (Mudir/Pengetua Ma’had) 013-4377786/ 013-5107557 atau Ustaz Muhammad Huzaif bin Noslan (Pelajar/Tenaga Pengajar) 013-5339786/ 013-5111980.

Jazakallahukhoironkassiron.Wassalam.
Ustaz Muhammad Huzaif

Posted by: Habib Ahmad | 28 April 2010

Masuk Syurga Tanpa Hisab.

Masuk Syurga Tanpa Hisab.

Posted on April 23, 2010 by sulaiman

Dari Abu Bakar r.a. bahawa Rasulullah saw bersabda ” Aku dianugerahi Allah 70,000 orang dari umatku masuk syurga tanpa hisab. Wajah mereka seperti bulan purnama di waktu malam, Hati mereka semuanya sama. Lalu aku memohon tambahan kepada Allah dan Allah menambahkan untukku setiap seorang menjadi 70,000 orang (Hadith Riwayat Ahmad)

Setiap seorang dari 70,000 itu membawa 70,000 orang lagi, maka jumlahnya adalah 70,000 x 70,000 iaitu 4.9 billion.

Dalam satu hadis Nabi s.a.w menyatakan di hari Kiamat semasa manusia sedang berlutut, apabila disuruh bangun orang yang bertahajjud, bilangan manusia yang bangun malam untuk bertahajjud adalah sedikit sangat berbanding manusia yang ramai pada waktu itu.

Sabda Rasullah SAW: “Semua manusia akan dikumpulkan di hari Kiamat di satu tempat. Mereka akan mendengar satu seruan yang berbunyi: `Di manakah mereka yang meninggalkan tempat tidurnya dan menghabiskan malamnya dengan beribadah. Akan ada satu golongan yang bangkit dan masuk Syurga tanpa hisab.

Ada 3 golongan yang sembahyang berjemaah di masjid yang dimasukkan ke dalam syurga tanpa hisab: Golongan pertama ialah orang yang ketika azan berbunyi dia sudah berada di dalam masjid (menunggu azan di masjid). Golongan kedua ialah orang yang berada dalam perjalanan ke masjid ketika azan dikumandangkan. Golongan ketiga pula ialah orang yang bergegas keluar dari rumahnya setelah mendengar azan menuju ke masjid tempat azan dikumandangkan.

Dalam hadith yang lain pula, dari Abu Hurairah r.a:”Rasulullah SAW bersabda:”Golongan yang pertama sekali masuk syurga wajahnya adalah seperti bulan purnama. Dan orang yang masuk sesudah itu seperti bintang yang sangat terang cahayanya. Hati mereka sebagai hati satu orang (bersatu) tidak pernah berselisih dan benci-membenci antara sesama mereka. Tiap-tiap seorang di antara mereka mempunyai dua orang isteri. Masing-masing di antara kedua isteri itu tampak sumsum betisnya dari belakang dagingnya kerana sangat indahnya.”(Bukhari)

Posted by: Habib Ahmad | 28 April 2010

Siapa mereka para Wali Allah

Siapa mereka para Wali Allah

 

اَلاَ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللهُ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَ نُوْنِ

“Sesungguhnya para wali Allah itdak merasa takut dan bersedih”
 

Ayat diatas telah menerangkan bahwa mereka adalah kekasih – kekasih Allah. Yang taat dan setia pada ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW dalam keadaan diam maupun gerak. Mereka adalah penerus, pewaris Rasulullah SAW. Mereka menghabiskan umur mereka mengabdi kepada Allah & Rasulnya. Siang maupun malam, hidup mereka belajar dan mengajar, beramal dan mengamalkan apa – apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

            Mereka tak mengenal lelah mencari ridho Allah SWT berperang pada diri mereka sendiri dari ganguan nafsu dunia didalam kesenangan – kesenangannya, lezat – kelezatannya karena seorang penyair mengucapkan: 

 

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبُّهُ

“Barang siapa mengenal dirinya mengenal Tuhannya”

 
 

Mereka membawa diri – diri mereka, hari demi hari untuk mengenal Allah SWT. Ada diantara mereka yang menangis sampai mengeluarkan darah. Ada pula yang bengkak kaki – kaki mereka, beribadah kepada Allah SWT. Ada pula sebagian dari mereka tak sempat tidur dan menikmati lezatnya makanan, karena asiknya bercumbu kasih dengan Allah SWT. Kadang diantara mereka berjalan berkilo – kilo dari kota ke kota, Negara ke Negara mensyiarkan agama Allah AWT. Mereka tak mengenal waktu hati mereka sibuk mengingat Allah SWT. Menjaga amanat Rasulullah SAW dan mengenalkan kepada umat Rasullah tentang Allah dan Rasullnya.

 

            Para Wali – Wali Allah tak takut ancaman yang terjadi padanya, kecuali yang telah digariskan didalam ajaran Al – Qur’an.

 

Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad:

 

وَهُمْ نُوْرُالْدُنْيَا وَاْلاَخِرَهْ

“Mereka cahaya dunia dan akhirat”

 
 

Maksudnya mereka adalah penerang hati – hati manusia yang gelap dan jauh dari Allah SWT. Oleh karena itu Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi mengatakan:

 

مَنْ دَخَلَ فِنَا هُمْ لاَ يَخَافْ لاَبَخَافْ

“Barang siapa yang memasuki rombongan mereka tak akan merasakan takut”

 
 

Maksudnya:

 

            Mengikuti jejak – jejak mereka dan membaca apa yang mereka baca, mencintai apa yang mereka cintai, mengikuti apa yang mereka kerjakan.

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

وَلاَ تَحْسَـَبنَّ الَّذِيْنَ قُـتِلُوْا فِيْ سَـبِيْلِ اللهِ اَمْوَتًا  بَلْ اَحْيَآءٌ عِنْدَ رَ بِّـهِمْ يُرْزَقُوْنَ 

{ ال عمران .۱٦۹  }

Janganlah kamu mengira para wali Allah itu mat, bahka merka itu hidup  disisi-Nya dengan mendapat rezeki..”

 
 

Firman diatas menyerukan mereka karena mereka beristiqomah (prinsif) dengan ajaran Allah dan Rasulnya, tidak mudah berubah hati mereka dengan bisikan syeiton yang datangnya dari jin maupun dari manusia.

 

Keimanan mereka tak mudah dilunturkan dengan harta dan tahta. Kehidupan mereka penuh dengan kelembutan, kasih sayang, menyebarkan senyum dan merendah diri kepada sesama mahluk Allah SWT. Hati mereka tidak sombong, bangga diri, riya’, saling menghasut (mencaci maki). Kehidupan mereka memilih mengasingkan diri dari keramaian didalam beramal soleh.

 

Hidup mereaka gembira, senang bila melihat saudaranya gembira yang mambantu ajaran Rasulullah SAW.

 

Maka Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad mengucapkan dalam syairnya:

 

رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرَكَتِهِمْ وَاهْدِنَاالْحُسْنَى بِحُرْمَتِهِمْ

وَاَمِتْنَافِي طَرِيْقَتِهِمْ وَمُعَافَاةٍمِنَ الْفِتَنِ

“Ya Allah berilah kami keberkahan mereka dan berilah hidayah seperti hidayah mereka”, matikan dijalan mereka dan maafkanlah kami dari setiap ujian – ujian yang kurang ikhlas kami terima”.

http://nurulmusthofa.org

Posted by: Habib Ahmad | 28 April 2010

Pengajian Di Ba’alawi KL Minggu Ini

Pengajian Di Ba’alawi KL Minggu Ini

Assalamualaikum,Di maklumkan pengajian di Ba’alawi pada minggu ini adalah seperti berikut :-

1. Dr. Habib Ahmad Al-Kaff
    Kuliah Dhuha – 10 Pagi
    Sabtu 1 Mei 2010

2. Syeikh Fahmi Zam Zam
    Kuliah Maghrib – 7 malam
    Ahad 2 Mei 2010
    Kitab Al-Targhib wa Tarhib

Mohon dipanjangkan kepada rakan-rakan yang lain. Semoga usaha kita yang sedikit ini dapat mengumpulkan kita bersama ulamak-ulamak yang dicintai di akhirat nanti.

Wasalam..

 
LAIN-LAIN MAJLIS ILMU :

Berikut saya sertakan pandangan tentant tasawwuf sebagai panduan kita semua yang diberikan oleh Syeikh Ali Jumaah seorang ulamak besar dari Mesir yang sangat warak dan luas pandangan :

 

 

Saya sertakan disini perkataan Syeikh Ali Jumaah Ulamak Mesir yang terkenal mengenai pengertian tasawwuf dan tareqat sebagai panduan buat kita semua  :

 

Tasauf adalah manhaj tarbiyah ruhiyah dan sulukiyah yang mengangkat manusia kepada martabat ihsan yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW yang bermaksud : “Hendaklah kamu menyembah Allah seolah-olahnya kamu melihatnya, maka jika kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya dia (Allah SWT) melihatmu”.

Maka tasauf itu merupakan program pendidikan (tarbiyah) yang menitik beratkan penyucian jiwa daripada pelbagai penyakit yang mendindingi manusia daripada Allah SWT. Ia juga membetulkan penyelewengan jiwa dan sulukiyah manusia dalam hubungan bersama Allah SWT, bersama yang lain dan juga dengan diri sendiri.

Tarekat sufiah pula ialah sebuah madrasah yang menyempurnakan melaluinya penyucian jiwa dan pembentukan peribadi. Syeikh pula sebagai pembimbing atau guru yang bersama-sama dengan muridnya.

Jiwa manusia secara tabiatnya terangkum di dalamnya pelbagai himpunan penyakit seperti takabbur, ujub, angkuh, keakuan, bakhil, marah, riya’, sukakan maksiat, berkelakuan tak senonoh, gemar membalas dendam, kebencian, dengki, khianat, tamak dan rakus.

Firman Allah SWT yang mendedahkan kisah isteri Al-Aziz:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Yang bermaksud : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Surah Yusuf: 53]

Kerana itulah, golongan terdahulu menginsafi hal ini dan menyedari betapa perlunya pentarbiyahan jiwa dan membersihkannya dari segala penyakit-penyakitnya agar (penyucian tersebut) bersekali dengan masyarakat serta mencapai kejayaan dalam perjalanan menuju tuhan mereka.

Tarekat sufiah hendaklah melengkapi dengan beberapa perkara.

Pertamanya ialah pegangan kukuh dengan kitab Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Ini kerana tarekat sufiah itu ialah manhaj kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap perkara yang bercanggah dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka ia bukan daripada tarekat. Bahkan tarekat itu sendiri menolaknya dan melarang daripadanya.

Kedua ialah tidak meletakkan tarekat itu sebagai pengajaran yang terpisah daripada pengajaran syariah, bahkan ia merupakan intisari kepada syariah.

Bagi tasauf terdapat tiga elemen utama yang digesa oleh Al-Quran akan ketiga-tiganya iaitu :

1-Menitikberatkan jiwa, sentiasa mengawasi jiwa (muraqabah) dan menyucikannya daripada sebarang kekotoran.

Firman Allah SWT:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ، فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ، قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ، وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Yang bermaksud: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya”. [Asy-Syams : 7-10]

2-Memperbanyakkan zikrullah.

Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Yang bermaksud : “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya”. [Al-Ahzab: 41]

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Sentiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah mengingati Allah SWT”.

3-Zuhud di dunia, tidak terikat dengan dunia dan gemarkan akhirat.

Firman Allah SWT:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Yang bermaksud : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”. (Al-Anaam : 32)

Adapun syeikh yang memperdengarkan kepada murid-muridnya akan zikir-zikir dan yang membantu usaha menyucikan jiwa dari sebarang kekotoran serta menyembuhkan hati mereka daripada penyakit-penyakit maka dia adalah penyelia (qayyim) atau seorang guru (ustaz) yang menunjukkan cara yang tertentu yang paling sesuai dengan penyakit yang ada atau keadaan murid itu sendiri.

Petunjuk Nabi SAW juga menasihatkan setiap manusia dengan perkara yang mendekatkan diri kepada Allah SWT berdasarkan kepada keadaan setiap jiwa yang berbeza. Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW, lalu dia berkata : Wahai Rasulullah ! Beritahu kepadaku tentang sesuatu yang menjauhkan diriku daripada kemurkaan Allah SWT. Maka sabda Rasulullah SAW : Jangan kamu marah !. Dalam kes yang lain, Rasulullah SAW didatangi seorang lelaki yang berkata kepada Rasulullah SAW : Beritahu kepadaku tentang sesuatu yang aku boleh berpegang dengannya ! Jawab Rasulullah SAW : Sentiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah mengingati Allah SWT.

Di kalangan para sahabat terdapat golongan yang membanyakkan qiamullail, antara mereka juga yang memperbanyakkan bacaan Al-Quran, ada yang banyak terlibat dengan jihad, ada yang banyak berzikir dan ada yang membanyakkan bersedekah.

Perkara ini tidak membawa erti meninggalkan terus keduniaan. Tetapi di sana terdapat suatu ibadat tertentu yang memperbanyakkannya oleh orang yang melalui jalan menuju Allah SWT. Secara asasnya berbilang-bilangnya pintu-pintu syurga. Tetapi pada akhirnya walaupun ada kepelbagaian pintu masuk tetapi syurga tetap satu.

Sabda Nabi SAW yang bermaksud : “Setiap golongan yang melakukan amalan (baik dan soleh-ketaatan) ada satu pintu daripada pintu-pintu syurga yang memanggilnya oleh amalan, dan bagi puasa itu ada satu pintu yang memanggil golongan yang berpuasa, digelarkannya ar-rayyan”.

Demikian juga tarekat-tarekat, ia mempunyai berbilang-bilang jenis berdasarkan syeikh masing-masing dan murid masing-masing. Antara mereka ada yang mengutamakan puasa, ada yang mengutamakan al-Quran lebih banyak dan tidak mengabaikan puasa dan demikianlah seterusnya.

Apa yang dijelaskan di atas adalah tasauf yang sebenarnya, tarekat yang sahih dan syeikh-syeikh yang komitmen dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Kita juga telah mengetahui kenapakah berbilang-bilangnya jenis tarekat, iaitu kerana kepelbagaian cara pentarbiyahan dan rawatan serta perbezaan cara untuk mencapai maksud yang dicita-citakan. Akan tetapi keseluruhannya satu sahaja pada maksud dan tujuan iaitulah keredhaan Allah SWT sebagai tujuan utama.

Kami juga ingin mengingatkan bahawa apa yang dinyatakan di atas tidak dilaksanakan oleh sebilangan besar golongan yang mendakwa sebagai ahli tasauf iaitu golongan yang merosakkan bentuknya. Mereka di kalangan orang yang tidak mempunyai agama dan kebaikan. Mereka yang melakukan tarian pada hari-hari perayaan dan melakukan amalan keghairahan yang khurafat. Ini semua bukan daripada tasauf dan bukan dari jenis tarekat sufiah. Sesungguhnya tasauf yang kami nyatakan tentangnya tiada hubungan langsung dengan pandangan kebanyakan manusia berhubung fenomena negatif yang memburukkan. Tidak harus juga bagi kita untuk mengenali tasauf dan menghukumkan ke atasnya dari kalangan sebahagian pendakwa-pendakwa tasauf yang jahil (yang mendakwa tarekat sebagai ajaran yang salah). Sepatutnya kita bertanyakan ulama’ yang memilih tasauf sehingga kita memahami punca sanjungan mereka terhadap tasauf.

Untuk akhirnya, kami mengambil kesempatan ini untuk membantah pendapat golongan yang menyatakan : “Kenapakah tidak dipelajari adab-adab sulukiyah dan penyucian jiwa dari Al-Quran dan As-Sunnah secara langsung?”.

Pendapat ini pada zahirnya terkandung rahmat. Tetapi pada hakikatnya terkandung azab. Ini kerana kita tidak mempelajari rukun sembahyang, sunat-sunat sembahyang dan perkara-perkara makruh dalam sembahyang dengan semata-mata melalui bacaan Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi kita mempelajarinya melalui suatu ilmu yang dikenali sebagai ilmu feqah.

Fuqaha’ telah menyusunnya dan mengistinbatkan semua hukum-hakam tersebut daripada Al-Quran dan As-Sunnah. Bagaimana pula lahirnya kepada kita mereka yang mendakwa bahawa kami mempelajari fiqh dan hukum agama daripada kitab dan sunnah secara langsung? Kami tidak pernah mendapati seorang ilmuan/ulama’ yang mempelajari fiqh daripada kitab dan sunnah secara terus.

Demikian juga, di sana terdapat perkara yang tidak disebut oleh Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi tidak dapat tidak daripada mempelajarinya dengan guru secara musyafahah (secara berdepan atau mengadap guru).

Tidak boleh sekadar melalui kitab, sebagai contohnya ilmu tajwid. Bahkan mestilah beriltizam dengan mustalah-mustalah yang khusus dengannya. Maka ulama’ menyatakan sebagai suatu contoh : “Mad Lazim enam harakat” ! Siapakah yang menjadikannya sebagai mad lazim? Apa dalilnya dan siapakah yang mewajibkannya ke atas ummat Islam? Tentunya mereka adalah ulama’ dalam bidang tersebut.

Begitu juga dengan ilmu tasauf. Ilmu yang diasaskan oleh ulama’-ulama’ tasauf sebermula zaman Junaid rahimahullah dari kurun yang keempat sehingga hari ini. Ketika rosaknya zaman tersebut dan rosaknya akhlak, rosaklah juga sebahagian tarekat-tarekat kesufian. Mereka mula bergantung dengan fenomena-fenomena yang bercanggah dengan agama Allah SWT. Lantas manusia menganggap ianya merupakan tasauf. Sedangkan Allah SWT akan mempertahankan tasauf, ahlinya dan melindungi mereka dengan kekuasaannya.

Firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

Yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat”. [Al-Hajj: 38]

Mudah-mudahan apa yang dinyatakan itu dapat memberikan pendedahan kepada erti tasauf, tarekat, syeikh, sebab berbilang-bilangnya tarekat, kenapa kita mempelajari suluk, penyucian hati dari ilmu yang dikenali sebagai tasauf ini, kenapa kita ambil dari syeikh dan tidak terus kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Kita memohon kepada Allah untuk memperlihatkan secara jelas terhadap urusan-urusan agama kita.

(Tamat terjemahan teks asal berbahasa Arab)

Demikianlah terjemahan bebas daripada teks asal jawapan Sahibul Samahah Prof. Dr. Ali Jumuah, Mufti Kerajaan Negara Mesir yang dinaqalkan daripada Al-Bayan Lima Yashqholu Al-Azhan, cet. Al-Muqattam, Kaherah, hlm. 328-331.

Posted by: Habib Ahmad | 28 April 2010

Habib Munzir : Konsep sabar dalam islam

Habib Munzir : Konsep sabar dalam islam

Kesabaran dalam konsep islam bukanlah diam berpangku tangan dalam kebatilan, tapi meruntuhkan kekuatan batil dengan ketenangan, tentunya bukan dg emosi, tapi dengan perhitungan matang yg manfaatnya jauh lebih dahsyat dari sekedar marah dan mengamuk dengan senjata, tapi berdoa, dan doa adalah senjata para Nabi dan shiddiqien,

berbicara dengan nasihat lembut dan nasehat lembut adalah wasiat Allah pada para Rasul Nya swt,

dan dengan tangan, yaitu dengan harta, jabatan, siasat matang, surat, dan segala hal yg berupa perbuatan yg bermanfaat untuk melebur musuh tanpa peperangan,

demikianlah perjuangan Rasulullah saw, demikian hidup mereka tanpa menyerah selama hidupnya memerangi kebatilan, dan mereka adalah ksatria dan tidak pengecut,

bila musuh memerangi dengan harta maka mereka memeranginya dengan harta pula, bila mereka memeranginya dengan ucapan mereka memeranginya dengan ucapan pula, bila mereka memeranginya dengan senjata barulah mereka mengangkat senjata,

mereka tetap menang walau mati dalam peperangan, rumah rumah mereka adalah pengkaderan tentara sunnah, anak anak mereka adalah calon Jundullah dimasa mendatang, demikian keadaan mereka dari generasi ke generasi.

Sebagaimana firman Nya swt : “Dan Hamba hamba Arrahman, yg berjalan dimuka bumi dengan pelahan lahan (penuh rendah diri namun penuh ketenangan), bila mereka diajak bicara oleh orang orang bodoh maka mereka menjawab dengan sejahtera dan lemah lembut, merekalah yg melewati malam malamnya dengan bermalam bersama Allah dengan sujud dan qiyamullail” (QS Alfurqan 63)

Sumber Habib Munzir

Nama ’siti’ hanya ada di Indonesia, singapura dan malaysia,Published on April 24, 2010 in Artikel Islam.

Pertanyaan :

Sebagaimana kita tahu ,bahwa isteri2x Rasulullah SAW bernama Aisyah,Shofiyyah,dan KHadijah.Tapi kita sering mendengar dari sebagian ulama menyebut nama mereka dengan kata “siti” diawal nama Mereka(isteri2x rasulullah SAW).jadi sebetulnya apa arti kata “siti” itu sendiri ?

Jawaban Habib Munzir

kata : ’siti’ hanyalah dikenal di Indonesia, singapura dan malaysia, kalimat itu adalah singkatan dari kalimat ‘Sayyidatiy’ yg berarti tuanku (untuk wanita), kalau tuanku (utk lelaki) maka sayyidy. Namun saya tak mengetahui siapa yg memulai ini dan sejak kapan, wallahu a?lam

Sumber Habib Munzir

Posted by: Habib Ahmad | 27 April 2010

Sayyid Muhammad ibn Alawi Al Maliki (1365-1425 H / 2004 M)

Sayyid Muhammad ibn Alawi Al Maliki (1365-1425 H / 2004 M)

 


Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam

Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah”. Begitu pula ayah beliau adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan pernikahan.Selama menjalankan tugas da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah setelah wafat beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.

Sebagaimana adat para Sadah dan Asyraf ahli Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu menggunakan pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.

Setelah wafat Sayyid Alwi Almaiki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan karena ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah ia melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau.

Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah beliau tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu beliau selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.

Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid beliau, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 beliau yang masuk ke dalam pemerintahan.

Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula beliau telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.

Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah.thariqahnya.

Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengannya

Tulisan Beliau

Di samping tugas beliau sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2 beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Beliau telah menulis dalam pelbagai topik agama, undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia. Kita sebutkan sebahagian hasilnya dalam pelbagai bidang:

Aqidah:

1. Mafahim Yajib an Tusahhah
2. Manhaj As-salaf fi Fahm An-Nusus
3. At-Tahzir min at-Takfir
4. Huwa Allah
5. Qul Hazihi Sabeeli
6. Sharh ‘Aqidat al-‘Awam

Tafsir:

1. Zubdat al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an
2. Wa Huwa bi al-Ufuq al-‘A’la
3. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ulum al-Quran
4. Hawl Khasa’is al-Quran

Hadith:

1. Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif
2. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ilm Mustalah al-Hadith
3. Fadl al-Muwatta wa Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi
4. Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik

Sirah:

1. Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil
2. Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah
3. ‘Urf al-Ta’rif bi al-Mawlid al-Sharif
4. Al-Anwar al-Bahiyyah fi Isra wa M’iraj Khayr al-Bariyyah
5. Al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah
6. Zikriyat wa Munasabat
7. Al-Bushra fi Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra

Usul:

1. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh
2. Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh
3. Mafhum al-Tatawwur wa al-Tajdid fi al-Shari‘ah al-Islamiyyah

Fiqh:

1. Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa ‘Alamiyyatuha
2. Shawariq al-Anwar min Ad‘iyat al-Sadah al-Akhyar
3. Abwab al-Faraj
4. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar
5. Al-Husun al-Mani‘ah
6. Mukhtasar Shawariq al-Anwar

Lain-lain:

1. Fi Rihab al-Bayt al-Haram (Sejarah Makkah)
2. Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-‘Asabiyyah (Kajian Berkaitan Orientalis)
3. Nazrat al-Islam ila al-Riyadah (Sukan dalam Islam)
4. Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da‘wah ila Allah (Teknik Dawah)
5. Ma La ‘Aynun Ra’at (Butiran Syurga)
6. Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam)
7. Al-Muslimun Bayn al-Waqi‘ wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan Pengalaman)
8. Kashf al-Ghumma (Ganjaran Membantu Muslimin)
9. Al-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan)
10. Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi Ucapan)
11. Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah)
12. Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi)
13. Nur al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk beliau, As-Sayyid Abbas)
14. Al-‘Uqud al-Lu’luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa beliau, As-Sayyid Alawi)
15. Al-Tali‘ al-Sa‘id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)
16. Al-‘Iqd al-Farid al-Mukhtasar min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)

Senarai di atas merupakan antara kitab As-Sayyid Muhammad yang telah dihasilkan dan diterbitkan. Terdapat banyak lagi kitab yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak.Kita juga tidak menyebutkan banyak penghasilan turath yang telah dikaji, dan diterbitkan buat pertama kali, dengan nota kaki dan komentar dari As-Sayyid Muhammad. Secara keseluruhannya, sumbangan As-Sayyid Muhammad amat agung.Banyak hasil kerja As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa.

Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka.

Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan tasawwuf.

Pada akhir hayatnya yang berkenaan dengan adanya kejadian teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul Q’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist. Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas.

Pada tg 11/11/1424, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah.

Beliau wafat meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alwi, Ali, al- Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu disini .

Beliau wafat hari jumat tg 15 ramadhan 1425 dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping kuburan istri Rasulallah Khadijah binti Khuailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan beliau seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negri. Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah beliau setelah disembahyangkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat.

Semoga kita bisa meneladani beliau. Amien.

Posted by: Habib Ahmad | 26 April 2010

Gandaan Pahala Sedekah

Gandaan Pahala Sedekah

Allah asy-Syakur yang dengan kemurahanNya sentiasa memberi balasan yang berganda-ganda bagi setiap amalan hambaNya. Allah SWT juga telah menjadikan berbagai cara dan jalan agar hamba-hambaNya boleh menggandakan saham akhirat mereka. Oleh itu, kita selaku hamba yang dhoif lagi banyak dosa dan taqsir hendaklah sentiasa mencari-cari jalan agar amalan kebajikan kita dapat digandakan ganjarannya di akhirat nanti. Jangan hanya tahu mencari-cari jalan menggandakan saham – saham duniawi tetapi mengabaikan bekalan untuk kehidupan yang kekal abadi di akhirat. Imam as-Sayuthi RHM menjelaskan bahawa sedekah seseorang boleh digandakan ganjarannya seperti berikut:-

  1. Sedekah yang diberi balasan 10 kali ganda – pemberian yang diberikan kepada orang yang sihat tubuh badannya serta tidak berhajat kepada sedekah.
  2. Sedekah yang diberi balasan 90 kali ganda – pemberian yang diberikan kepada orang buta dan orang yang terkena musibah (yakni yang perlukan bantuan).
  3. Sedekah yang diberi balasan 900 kali ganda – pemberian yang diberikan kepada kerabat yang berhajat.
  4. Sedekah yang diberi balasan 100,000 kali ganda – pemberian yang diberikan kepada ibubapa.
  5. Sedekah yang diberi balasan 900,000 kali ganda – pemberian yang diberikan kepada orang alim atau faqih.

Inilah formula untuk menggandakan pahala setiap pemberian kita. Moga dimanfaatkan, jangan hanya pemurah dengan rakan – rakan tetapi kedekut dengan ibubapa sendiri. Hari-hari belanja kawan makan, tetapi ibubapa sendiri seposen haram pun tak merasa titik peluh kita …. Allahu … Allah.

Posted by: Habib Ahmad | 24 April 2010

Senarai Nilai-Nilai Murni/ Sifat-Sifat Mahmudah

Senarai Nilai-Nilai Murni/ Sifat-Sifat Mahmudah

1.0 HIKMAH

Berpengetahuan luas dan bijaksana bertindak berlandaskan Al-Quran, Al-Sunnah dan alam Syahadah’ serta dapat memberi alasan yang munasabah dan bukti yang sesuai.

1.1 Rasional

Boleh berfikir berdasarkan alasan dan bukti yang nyata, mampu membuat pertimbangan, keputusan dan tindakan dengan cepat dan tepat berlandaskan ilmu naqli dan aqli.

1.2 Celik akal

Pintar, cerdas dan berkemampuan memahami serta manaakul sesuatu dengan cepat dan tepat.

1.3 Maarifah

Pengetahuan yakin dan pengalaman yang membolehkan sesaorang menjelas dan mengamalkan prinsip dan asas-asas Islam.

1.4 Bercakap benar

Melahirkan kata-kata yang bernas, betul, dan jitu serta bertepatan dengan prinsip-prinsip Islam secara berhikmah untuk faedah semua.

1.5 Menegakkan kebenaran

Yakin dan berpegang teguh kepada kebenaran serta sentiasa menegakkan kebenaran dengan hikmah.

1.6 Kesyukuran

Perasaan, ucapan dan perlakuan yang dilahirkan dengan ikhlas terhadap segala nikmat kurniaan Allah S.W.T, sabar dan redha menerima ketentuan dan dugaanNya’ serta

berterima kasih terhadap sumbangan dan khidmat bakti yang diperolehi.

1.7 Takutkan Allah S.W.T.

Perasaan takut dan kagum akan kehebatan Allah S.W.T. yang mendorong sesaorang melakukan ketaatan dan meninggalkan larangannya.

1.8 Kerajinan

Usaha berterusan dengan penuh semangat ketekunan, kecekalan, kegigihan, dedikasi dan daya usaha dalam melakukan sesuatu perkara untuk mencapai kecemerlangan.

1.9 Prihatin

Peka terhadap isu-isu sosial dalam masyarakat, menyedari masalah masyarakatk dan sedia berusaha menyelesaikannya.

1.10 Berketerampilan

Mempunyai kemahiran yang menyeluruh dalam berbagai-bagai bidang khasnya kebolehan berfikir, kemahiran belajar dan merekacipta.

2.0 ‘ADAALAH

Keadaan di mana sesuatu perkara itu diletakkan di tempatnya yang sebenar mengikut syariah Islamiah.

2.1 Kasih sayang

Perasaan cinta, kasih dan sayang yang mendalam serta berkekalan, lahir daripada hati yang rela terhadap sesuatu berteraskan prinsip Islam.

2.2 Silaturrahim

Jalinan persaudaraan menghubungkan kaksih sayang berdasarkan pertalian nasab, musaharah, keagamaan, kejiranan dan kemanusiaan.

2.3 Berterima kasih

Pengiktirafan, penghargaan dan ganjaran yang diberikan sebagai mengenang dan membalas sesuatu sumbangan dan jasa.

2.4 Baik pertimbangan

Membuat pertimbangan yang wajar untuk menghasilkan keputusan saksama serta tidak menimbulkan sebarang penyesalan dan ungkitan.

2.5 Toleransi

Sanggup bertolak ansur, sabar dan dapat mengawal diri bagi mengelakkan berlakunya perselisehan dan pertelingkahan.

2.6 Saling bermaafan

Sanggup meminta dan memberi maaf bahkan membalas keburukan dengan kebaikan.

2.7 Bermarwah

Menghiasi diri dengan budipekerti yang mulia melalui tuturkata’ tingkah laku, pakaian   dan pergaulan.

2.8 Ibadah

Mengabdikan diri kepada Allah S.W.T dengan cara menjunjung segala perintah dan menjauhi laranganNya.

2.9 Sensitif kepada kezaliman

Sanggup tampil membela makhluk yang dihina, teraniaya dan dizalimi.

2.10 Kejujuran

Sikap dan perlakuan yang menunjukkan niat yang baik, amanah dan ikhlas tanpa mengharapkan sebarang balasan.

2.11 Kerjasama

Usaha yang baik dan membina yang dilakukan oleh individu pada peringkat keluarga, komuniti dan masyarakat untuk menegakkan yang maaruf dan mencegah yang mungkar.

2.12 Semangat bermasyarakat

Kesediaan melakukan sesuatu dengan semangat kekitaan untuk kepentingan bersama bagi mewujudkakn keharmonian hidup bermasyarakat.

2.13 Bermuafakat

Mengutamakan persetujuan dan kerjasama dalam sesuatu pekerjaan yang baik.

3.0 IFFAH

Mengawal nafsu daripada perkara-perkara yang haram dan syubhah, supaya ianya terdidik ke arah melaksanakan perkara-perkara yang ma’arof serta sentiasa tunduk kepada

petunjuk akal dan syarak.

3.1 Malu

Perasaan ‘aib, hina dan rendah diri kepada Allah S.W.T., manusia dan diri sendiri kerana membuat sesuatu yang keji dan dilarang Allah.

3.2 Kesopanan

Bersikap tenang, berbudi bahasa, berbudi pekerti dan bersopan santun dalam pergaulan.

3.3 Sabah

Tenang, tabah, redha dan ikhlas dalam menghadapi pelbagai cabaran dan dugaan serta sentiasa berusaha mengatasinya.

3.4 Baik hati

Sentiasa mengambil berat tentang kebajikan orang lain dan memahami perasaan mereka secara tulus ikhlas dan ihsan.

3.5 Murah hati

Sedia memberi bantuan seca ikhlas dan ihsan kepada mereka yang memerlukan sama ada dalam bentuk kebendaan dan sokongan moral.

3.6 Kebebasan

Merasa tidak terkongkong melakukan sesuatu dengan penuh tanggungjawab berdasarkan peraturan syarak, norma masyarakat dan undang-undang negara.

3.7 Qana’ah

Redha dengan ketentuan Allah S.W.T., tenang menghadapi cabaran, sentiasa berusaha, dan tidak mudah berputus asa.

3.8 Berdisplin

Mengenal diri dengan cara menerima dan mematuhi peraturan dan undang-undang yang telah ditentukan tanpa mengira di mana ia berada.

3.9 Daya usaha

Berusaha untuk menyempurnakan diri dengan penuh azam dan semangat inisiatif, keriatif dan inovatif berlandaskan petunjuk Allah S.W.T.

3.10 Sejahtera

Jiwa yang tenteram dan tenang serta tidak menyakiti orang lain hasil daripada keupayaan mengawal hawa nafsu.

3.11 Wara’

Menjauhkan diri daripada perkara-perkara syubhah, haram dan beriltizam melakukan kerja-kerja yang baik.

3.12 Wasatiyah

Sikap tidak keterlaluan dalam membuat pertimbangan dan tindakan sama ada dalam pemikirian, peraturan atau perlakuan supaya sesuai dengan agama, norma dan nilai

masyarakat.

3.13 Kebersihan

Menjaga kebersihan rohani, jasmani dan mental serta alam sekitar bagi menjamin kesejahteraan hidup.

a. Kebersihan diri

Kebersihan diri dan tubuh badan daripada hadas, kekotoran dan najis untuk menjamin kesejahteraan hidup dan amal ibadat diterima Allah S.W.T.

b. Kebersihan persekitaran

Memelihara alam sekeliling supaya rapi dan bebas daripada kekotoran dan pencemaran.

c. Kebersihan mental

Pertuturan dan perlakuan yang terpuji yang perlu diamalkan oleh seseorang dalam hubungannya dengan orang lain.

d. Kebersihan rohani

Pemikiran, pertuturan dan perlakuan serta amalan yang bersih dari sebarang kepercayaannkarut dan khurafat terhadap Allah S.W.T.

3.14 Menghargai masa

Mengisi masa secara berfaedah dengan menepati waktu dan menyegerakan sesuatu tugasan.

a. Menepati waktu

Melakukan sesuatu tepat pada waktunya atau selaras dengan jadual yang ditetapkan.

b. Bijak mengurus masa

Tahu menyusun kerja mengikut keutamaan dan keperluan serta melaksanakannya dengan

cepat dan tepat.

3.15 Dedikasi

Berminat dan rela mengorbankkan masa dan tenaga dalam melakukan sesuatu perkara yang berfaedah.

4.0 SYAJAAH

Sanggup berjuang dengan penuh kesabaran mempertahankan agama, diri, akal, keturunan, harta benda, negara, maarwah dengan kekuatan fikiran, harta benda, tenaga

dan jiwa.

4.1 Berjiwa besar

Sentiasa meningkatkan kebolehan diri, berwawasan, sanggup menghadapi risiko dan bersedia memikul tanggungjawab dengan tabah dan yakin.

4.2 Yakin diri

Kemampuan menghadapi dan menyelesaikan masalah serta boleh menjelaskan prinsip dan asas-asas dalam perkara yang berkaitan dengan syariat Islam berdasarkan dalil naqli

dan aqli.

4.3 Hemah tinggi

Sentiasa bersedia melakukan segala amalan yang baik dengan penuh iltizam dan ikhlas ke arah kecemerlangan walaupun terpaksa menghadapi rintangan.

4.4 Tetap pendirian

Meyakini kebenaran dan berpegang teguh kepadanya dalam membuat sebarang keputusan dan tindakan.

4.5 Istiqamah

Tekal, tepat, tetap dan berterusan dalam mengerjakan sesuatu yang baik.

4.6 Berani mencuba

Berani mencuba dan sanggup melakukan sesuatu yang mencabar dengan penuh kreatif dan inovatif yang tidak bertentangan dengan syarak.

4.7 Tahan lasak

Mempunyai ketahanan fizikal dan mental serta semangat juang yang tinggi hasil daripada yang latihan yang intensif dan sistematik.

4.8 Berdikari

Kesanggupan dan kebolehan melakukan sesuatu tanpa bergantung kepada orang lain selaras dengan peraturan dengan peraturan, undang-undang dan agama.

a. Berupaya bertindak sendiri

Sanggup dan boleh melakukan sesuatu tanpa mengharapkan orang lain.

b. Yakin kepada diri sendiri

Percaya kepada kebolehan diri sendiri dan sanggup bertindak.

c. Nasihat menasihati

Sedia memberi dan menerima nasihat dengan ikhlas dan sabar.

4.9 Berani berjihad

Sentiasa bersedia dan sanggup berjuang untuk mempertahankan agama, negara, keluarga dan diri serta kehormatan walaupun terpaksa mempertaruhkan nyawa daripada ancaman musuh dan godaan syaitan

http://jalansufi.com

Posted by: Habib Ahmad | 24 April 2010

Tasawuf dalam Pandangan Al Junaid

Tasawuf dalam Pandangan Al Junaid

Dasar-dasar Tasawuf

“Kitab ini yaitu Al-Qur’an adalah kitab paling mulia dan paling lengkap. Syariah kita adalah aturan hidup yang paling jelas dan paling rinci.

Tareqat kita, yakni jalan ahli tasawuf, dikuatkan dengan kitab dan sunnah.Maka barang siapa belum mendalami al-Qur’an, memelihara Sunnah

dan memahami makna-maknanya tidak boleh di ikuti.” Ia juga berkata kepada sahabat-sabahatnya :

“Seandainya kamu melihat seseorang terbang di udara maka janganlah kamu meyakininya hingga melihat perbuatannya berkaitan dengan

perintah dan larangan Allah. Jika kamu melihat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka kamu

boleh mempercayai dan mengikutinya.Tetapi jika kamu melihat ia melanggar perintah dan larangan itu maka jauhilah dia.”

Lingkungan Agung Para Sufi

“Manakala Allah menghendaki kebaikan bagi seorang murid, Dia akan membawanya ke lingkungan para Sufi dan menjauhkannya dari kaum

ulama pembaca buku.” Dikatakan kepada Abdullah bin Sa’id bin Kilab, “Anda berbicara pandangan ulama masing-masing . Lalu di sana ada

seorang tokoh yang dipanggil dengan nama al-Junayd. Lihatlah, apakah Anda sama atau tidak?”

Abdullah lalu menghadiri majlis al-Junayd.

Ia bertanya kepada al-Junayd tentang tauhid, lalu Junayd menjawabnya. Namun Abdullah kebingungan. Lantas kembali bertanya kepada

al-Junayd, “Tolong Anda ulang ucapan tadi bagiku!” Al-Junayd mengulangi, namun dengan ungkapan yang lain. Abdullah lalu berkata, “Wah, ini

lain lagi, aku tidak mampu menghafalnya. Tolonglah Anda ulangi sekali lagi!” Lantas al-Junayd pun mengulanginya, tetapi dengan ungkapan yang

lain lagi. Abdullah berkata, “Tidak mungkin bagiku memahami apa yang Anda ucapkan. Tolonglah Anda huraikan

untuk kami!” Al-Junayd menjawab, “Kalau Anda memperkenankannya, aku akan menguraikannya.”

Lalu Abdullah berdiri, dan berkata akan keutamaan al-Junayd serta keunggulan moralnya.

“Apabila prinsip-prinsip kaum Sufi merupakan prinsip paling sahih, dan para syeikhnya merupakan tokoh besar manusia, ulamanya adalah yang

paling alim di antara manusia. Bagi para murid yang tunduk kepadanya, bila sang murid itu termasuk ahli penempuh dan kepada tujuan mereka,

maka para syeikh inilah yang menjaga apa yang teristimewa, berupa terbukanya keghaiban.

Kerananya, tidak dibolehkan lagi bergaul (terkait) dengan orang yang ada di luar golongan ini. Bila ingin mengikuti jalan Sunnah, sementara

dirinya tidak bersaing untuk mahir dalam hujjah, lalu ingin mencapai peringkat bertaklid agar sampai pada kebenaran, hendaknya ia bertaklid

kepada ulama salafnya. Dan hendaknya bersama jalan generasi Sufi ini, sebab, mereka lebih utama dari yang lain.”

Tasawuf, Ilmu Paling Mulia

Al-Junayd berkata, “Jika Anda mengetahui bahawa Allah swt. memiliki ilmu di bawah atap langit ini yang lebih mulia daripada ilmu tasawuf,

dimana kita berbicara di dalamnya dengan sahabat-sahabat dan teman kita, tentu aku akan berjalan dan menuju ilmu tadi.”

Makna Hakikat Terdalam

“Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu, dan menghidupkan dirimu dengan-Nya.” Tasawuf adalah engkau berada semata-mata

bersama Allah swt. tanpa keterikatan apa pun.”

“Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.” Dia berkata pula, “Para Sufi adalah anggota dari satu keluarga yang tidak dimasuki oleh orang-orang

selain mereka.” Selanjutnya dia juga menjelaskan lagi, “Tasawuf adalah zikir bersama, penyampaian yang disertai bimbingan, dan tindakan yang

didasari Sunnah.”

Metafisik Kaum Sufi

“Kaum Sufi adalah seperti bumi, selalu semua kotoran dicampakkan kepadanya, namun tidak menumbuhkan kecuali segala tumbuhan yang

baik.” Dia juga mengatakan, “Seorang Sufi adalah bagaikan bumi, yang di injak orang saleh mahu pun munafiq; juga seperti mendung,

memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu.”

Dia melanjutkan, “jika engkau melihat seorang Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah wujud batinnya rosak.”

Posted by: Habib Ahmad | 24 April 2010

Tarekat Alawiyyah

Alawiyyah

Tarekat Alawiyyah berbeza dengan tarekat sufi lain pada umumnya. Perbezaan itu, misalnya, terletak dari praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadah (olahan rohani) dan kezuhudan, melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta zikir ringan.

Sehingga wirid dan zikir ini dapat dengan mudah dipraktikkan oleh siapa saja meskipun tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. Ada dua wirid yang diajarkannya, yakni Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. Juga dapat dikatakan, bahwa tarekat ini merupakan jalan tengah antara Tarekat Syadziliyah [yang menekankan riyadah qulub (olahan hati) dan batiniah] dan Tarekat Al-Ghazaliyah [yang menekankan riyadah al-‘abdan (olah fisik)].

Tarekat Alawiyyah merupakan salah satu tarekat mu’tabarah dari 41 tarekat yang ada di dunia. Tarekat ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Malaysia). Tarekat ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir – lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir , seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramaut pada abad ke-17 M. Namun dalam perkembangannya kemudian, Tarekat Alawiyyah dikenal juga dengan Tarekat Haddadiyah, yang dinisbatkan kepada Sayyid Abdullah al-Haddad, selaku generasi penerusnya. Sementara nama “Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir.

Tarekat Alawiyyah, secara umum, adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenali sebagai saadah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW – yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami. Kerana itu, pada masa-masa awal tarekat ini didirikan, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid (kaum Hadhrami), atau kaum Ba Alawi, dan setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari bukan Hadhrami.

Tarekat Alawiyyah juga boleh dikatakan memiliki wirid dan zikir tersendiri dalam pengamalan bagi para pengikutnya. Yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika ingin mengamalkan tarekat ini. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Demikian pula, dalam pengamalan ajaran zikir dan wiridnya, Tarekat Alawiyyah termasuk cukup ringan, kerana tarekat ini hanya menekankan segi-segi amaliah dan akhlak (tasawuf ‘amali, akhlaqi). Sementara dalam tarekat lain, biasanya cenderung melibatkan riyadah-riyadah secara fizikal dan kezuhudan ketat.

Oleh karena itu dalam perkembangan lebih lanjut, terutama semasa Syekh Abdullah al-Haddad – Tarekat Alawiyyah yang diperbaharui, tarekat ini memiliki jumlah pengikut yang cukup banyak seperti di Indonesia dan Malaysia. Bahkan dari waktu ke waktu jumlah pengikutnya terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Tarekat Alawiyyah memiliki dua cabang besar dengan jumlah pengikut yang juga sama banyak, yakni Tarekat ‘Aidarusiyyah dan Tarekat ‘Aththahisiyyah.

Biografi Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir
Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir (selanjutnya Imam Ahmad) adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui garis Husain bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW. Ia lahir di Basrah, Iraq, pada tahun 260 H. Ayahnya, Isa bin Muhammad, sudah lama dikenal sebagai orang yang memiliki disiplin tinggi dalam beribadah dan berpengetahuan luas. Mula-mula keluarga Isa bin Muhammad tinggal di Madinah, namun karena berbagai pergolakan politik, ia kemudian hijrah ke Basrah dan Hadhramaut. Sejak kecil hingga dewasanya Imam Ahmad sendiri lebih banyak ditempa oleh ayahnya dalam soal spiritual. Sehingga kelak ia terkenal sebagai tokoh sufi. Bahkan oleh kebanyakan para ulama pada masanya, Imam Ahmad dinyatakan sebagai tokoh yang tinggi hal-nya (keadaan ruhaniah seorang sufi selama melakukan proses perjalanan menuju Allah-red).

Selain itu, Imam Ahmad juga dikenal sebagai seorang saudagar kaya di Iraq. Tapi semua harta kekayaan yang dimilikinya tak pernah membuat Imam Ahmad berhenti untuk beribadah, berdakwah, dan berbuat amal shaleh. Sebaliknya, semakin ia kaya semakin banyak pula aktiviti kerohanian dan sosialnya.

Selama di Basrah, Imam Ahmad sering sekali dihadapkan pada kehidupan yang tak menentu. Misalnya oleh berbagai pertikaian politik dan munculnya badai zaliman dan khurafat. Sedar bahawa kehidupan dan gerak dakwahnya tidak selamat di Basrah, pada tahun 317 H Imam Ahmad lalu memutuskan diri untuk berhijrah ke kota Hijaz. Dalam perjalanan hijrahnya ini, Imam Ahmad ditemani oleh isterinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin Ali al-Uraidhi, dan putra terkecilnya, Abdullah. Dan setelah itu ia kemudian hijrah ke Hadhramaut dan menetap di sana sampai akhir hayatnya.

Tapi dalam sebuah riwayat lain disebutkan, sewaktu Imam Ahmad tinggal di Madinah Al-Munawarrah, ia pernah menghadapi pergolakan politik yang tak kalah hebat dengan yang terjadi di kota Basrah. Pada saat itu, tepatnya tahun 317 H, Mekah mendapat serangan sengit dari kaum Qaramithah yang mengakibatkan diambilnya Hajar Aswad dari sisi Ka’bah. Sehingga pada tahun 318 H, tatkala Imam Ahmad menunaikan ibadah haji, ia sama sekali tidak mencium Hajar Aswad kecuali hanya mengusap tempatnya saja dengan tangan. Barulah setelah itu, ia pergi menuju Hadhramaut.

Awal Perkembangan Tarekat Alawiyyah
Tonggak perkembangan Tarekat Alawiyyah dimulai pada masa Muhammad bin Ali, atau yang akrab dikenal dengan panggilan Al-Faqih al-Muqaddam (seorang ahli agama yang terpandang) pada abad ke-6 dan ke-7 H. Pada masanya, kota Hadhramaut kemudian lebih dikenal dan mengalami puncak kemasyhurannya. Muhammad bin Ali adalah seorang ulama besar yang memiliki kelebihan pengetahuan bidang agama secara terperinci, di antaranya soal fiqih dan tasawuf. Di samping itu, konon ia pun memiliki pengalaman spiritual tinggi hingga ke Maqam al-Quthbiyyah (puncak maqam kaum sufi) maupun khirqah shufiyyah (aliran kesufian).

Mengenai keadaan spiritual Muhammad bin Ali ini, al-Khatib pernah menggambarkan sebagai berikut: (“Pada suatu hari, Al-Faqih al-Muqaddam tenggelam dalam lautan Asma, Sifat dan Dzat Yang Suci”). Pada hikayat ke-24, para syekh meriwayatkan bahwa syekh syuyukh kita, Al-Faqih al-Muqaddam, pada akhirnya hidupnya tidak makan dan tidak minum. Semua yang ada di hadapannya sirr dan yang ada hanya Allah. Dalam keadaan fana’ seperti ini datang Khidir dan lainnya mengatakan kepadanya: “Segala sesuatu yang mempunyai nafs (roh) akan merasakan mati .” Dia mengatakan, “Aku tidak mempunyai nafs.” Dikatakan lagi, “Semua yang berada di atasnya (dunia) akan musnah.” Dia menjawab, “Aku tidak berada di atasnya.” Dia mengatakan lagi, “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya (Dia).” Dia menjawab, “Aku bagian dari cahaya wajah-Nya.” Setelah keadaan fana’nya berlangsung lama, lalu para putranya memintanya untuk makan walaupun sesuap. Menjelang akhir hayatnya, mereka memaksakan untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya. Dan setelah makanan tersebut masuk mereka mendengar suara (hatif). “Kalian telah bosan kepadanya, sedang kami menerimanya. Seandainya kalian biarkan dia tidak makan, maka dia akan tetap bersama kalian.”

Setelah wafatnya Muhammad bin Ali, perjalanan Tarekat Alawiyyah lalu dikembangkan oleh para syeikh. Di antaranya ada empat syekh yang cukup terkenal, yaitu Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf (739H), Syekh Umar al-Muhdhar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (833 H), Syekh Abdullah al-‘Aidarus bin Abu Bakar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (880 H), dan Syekh Abu Bakar al-Sakran (821 H).

Selama masa para syekh ini, dalam sejarah Ba Alawi, di kemudian hari ternyata telah banyak mewarnai terhadap perkembangan tarekat itu sendiri. Dan secara umum, hal ini bisa dilihat dari ciri-ciri melalui para tokoh mahupun berbagai ajarannya dari masa para imam hingga masa syekh di Hadhramaut.

Pertama, adanya suatu tradisi pemikiran yang berlangsung dengan tetap mempertahankan beberapa ajaran para salaf mereka dari kalangan tokoh Alawi, seperti Al-Quthbaniyyah, dan sebutan Imam Ali sebagai Al-Washiy, atau keterikatan jalur sejarah Alawi dan Ba Alawi. Termasuk masalah wasiat dari Rasulullah untuk Imam Ali sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW.
Kedua, adanya sikap elastik terhadap pemikiran yang berkembang yang mempermudah kelompok ini untuk membaur dengan masyarakatnya, serta mendapatkan status sosial yang terhormat hingga mudah mempengaruhi warna pemikiran masyarakat.
Ketiga, berkembangnya tradisi para sufi kalangan khawwash (elite), seperti al-jam’u, al-farq, al-fana’ bahkan al-wahdah, sebagaimana yang dialami oleh Muhammad bin Ali (Al-Faqih al-Muqaddam) dan Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf.
Keempat, dalam Tarekat Alawiyyah, berkembang suatu usaha pembaharuan dalam mengembalikan tradisi tarekat sebagai Thariqah (suatu madzhab kesufian yang dilakukan oleh seorang tokoh sufi) hingga mampu menghilangkan ramuan yang kaku dalam tradisi tokoh para sufi.
Kelima, bila pada para tokoh sufi, seperti Hasan al-Bashri dengan zuhd-nya, Rabi’ah al-Adawiyah dengan mahabbah dan al-isyq al-Ilahi-nya, Abu Yazid al-Busthami dengan fana’-nya, al-Hallaj dengan wahdah al-wujud-nya, maka para tokoh Tarekat Alawiyyah, selain memiliki kelebihan-kelebihan itu, juga dikenal dengan al-khumul dan al-faqru-nya. Al-khumul berarti membebaskan seseorang dari sikap riya’ dan ‘ujub, yang juga merupakan bahagian dari zuhud. Adapun al-faqru adalah suatu sikap yang secara lurusnya penempatan diri seseorang sebagai hamba di hadapan Khaliq (Allah) sebagai zat yang Ghani (Maha Kaya) dan makhluk sebagai hamba-hamba yang fuqara, yang selalu dahagakan nikmat-Nya. Secara datarnya, sikap tersebut dipahami dalam pengertian keseluruhan bahwa rahmat Tuhan akan diberikan bila seseorang mempunyai simpati terhadap kaum fakir miskin.

Penghayatan ajaran tauhid seperti ini menjadikan kehidupan mereka tidak boleh dilepaskan dari kaum kelas bawah maupun kaum tertindas (mustadl’afin). Syeikh Abd al-Rahman al-Saqqaf misalnya, selama itu dikenal dengan kaum fuqaranya, sedangkan isteri Muhammad bin Ali terkenal dengan dengan ummul fuqaranya.

Syekh Abdullah al-Haddad dan Tarekat Alawiyyah
Nama lengkapnya Syekh Abdullah bin Alwi al-Haddad atau Syekh Abdullah al-Haddad. Dalam sejarah Tarekat Alawiyyah, nama al-Haddad ini tidak bisa dipisahkan, karena dialah yang banyak memberikan pemikiran baru tentang pengembangan ajaran tarekat ini di masa-masa mendatang. Ia lahir di Tarim, Hadhramaut pada 5 Safar 1044 H. Ayahnya, Sayyid Alwi bin Muhammad al-Haddad, dikenal sebagai seorang yang saleh. Al-Haddad sendiri lahir dan besar di kota Tarim dan lebih banyak diasuh oleh ibunya, Syarifah Salma, seorang ahli ma’rifah dan wilayah (kewalian).

Peranan al-Haddad dalam memperkenalkan Tarekat Alawiyyah ke seluruh penjuru dunia memang tidak kecil, sehingga kelak tarekat ini dikenal juga dengan nama Tarekat Haddadiyyah. Pengertian al-Haddad itu misalnya, ia di antaranya telah memberikan dasar-dasar pengertian Tarekat Alawiyyah. Ia mengatakan, bahawa Tarekat Alawiyyah adalah Thariqah Ashhab al-Yamin, atau tarekatnya orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk ingat dan selalu taat pada Allah dan menjaganya dengan hal-hal baik yang bersifat ukhrawi. Dalam hal suluk, al-Haddad membaginya ke dalam dua bagian.

Pertama, kelompok khashshah (khusus), yaitu bagi mereka yang sudah sampai pada tingkat mujahadah, mengosongkan diri baik lahir mahupun batin dari selain Allah di samping membersihkan diri dari segala perangai tak terpuji hingga sekecil-kecilnya dan menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan terpuji. Kedua, kelompok ‘ammah (umum), yakni mereka yang baru memulai perjalanannya dengan mengamalkan serangkaian perintah-perintah as-Sunnah. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahawa Tarekat Alawiyyah adalah tarekat ‘ammah, atau sebagai jembatan awal menuju tarekat khashshah.

Karena itu, semua ajaran salaf Ba Alawi menekankan adanya hubungan seorang syeikh (musryid), perhatian seksama dengan ajarannya, dan membina batin dengan ibadah. Amal shaleh dalam ajaran tarekat ini juga sangat ditekankan, dan untuk itu diperlukan suatu tarekat yang ajarannya mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Al-Haddad juga mengajarkan bahwa hidup itu adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Safar adalah siyahah ruhaniyyah (perjalanan rekreatif yang bersifat rohani), perjalanan yang dilakukan untuk melawan hawa nafsu dan sebagai media pendidikan moral. Oleh karena itu, di dalam safar ini, para musafir setidaknya membutuhkan empat hal. Pertama, ilmu yang akan membantu untuk membuat strategik, kedua, sikap wara’ yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram. Ketiga, semangat yang menumpangnya. Keempat, moral yang baik yang menjaganya.

Sumber. jalansufi

kami di Ribaht dan Masjid Ba’Alawi kg Kuala Tekal dengan sukacita menjemput para Habaib, Asatizah, saudara serta saudari ke:

Majlis Haul Tokoh -Tokoh Ulama Kg kuala Tekal ke 14

Aturcara

23/4 : Majlis Mini Multaqa pahang ke-3
Dewan Masjid Jengka (tertutup)

24/4 : Majlis Maulid di Masjid Kuala Ma…i (terbuka kepada orang ra…mai)
11.00 pg

24/4 : Majlis Haul Kg Kuala Tekal ke14
5.00 ptg – 9.00 mlm

Tetamu Jemputan Khas

Dr Habib Ahmad Al- Kaff
Sheikh Hafiz (jenderam)
Habib Ali Zainal Abidin Al Hamed ( UIA)
Ust Sarafuddin ( Imam Besar Masjid Negeri Pahang)
Habib Zaid ( Harmamawt)

serta lebih 50 ulama tempatan serta luar

menanti setiap hadirin
Buku Manaqib Tokoh Ulama Warisan Nabi edisi ke2

semoga kehadiran semua dapat memeriahkan dan menambah lagi keberkatan majlis ini …insyaallah

http://www.facebook.com/group.php?gid=373479702889

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori