Posted by: Habib Ahmad | 1 November 2010

Hidayah saat Mengajar di Sekolah Islam

Hidayah saat Mengajar di Sekolah Islam

“Saya tidak pernah begitu dekat dengan Tuhan sampai saya menjadi seorang muslimah. Alhamdulillah….”

Hidayah bisa datang dari mana saja. Bila Allah SWT telah berkehendak, tak ada yang bisa menghadangnya. Dan itulah yang dialami Lynette Wehner.

Wanita kelahiran Amerika ini merasa gelisah, dan terjadi pergulatan bathin ketika mendapatkan tugas mengajar di sebuah sekolah Islam. Ia, yang notabene penganut agama Kristen Katholik, saat berinteraksi dengan komunitas muslim, mesti mengenakan atribut muslimah saat mengajar, jilbab. Namun, atas nama profesionalitas, ia menjalaninya dengan senang. Meski jilbab adalah sesuatu yang sangat asing baginya.

Beruntung seorang staf di sekolah Islam itu membantunya mengenakan jilbab. “Saya sangat tertarik bahkan sambil tertawa saat mencoba berbagai trend gaya berjilbab,” kata Wehner.

Bahkan pergulatan bathin yang sesungguhnya mulai terasa. Ia merasa nyaman mengenakan busana muslimah itu. Guru, staf, dan murid-muridnya begitu baik memperlakukannya meskipun keyakinannya berbeda. Pandangan negatifnya tentang Isalm selama ini berangsur berubah. Umat Islam tidak seperti yang dibayangkannya, “jahat dan teroris”. Sebaliknya, pagi itu ia merasa sangat rileks berada di lingkungan muslim. “Mengapa seseorang bisa sedemikian mudah membuat stereotipe terhadap orang lain tanpa mengenal lebih jauh orang yang bersangkutan. Ia telah belajar banyak hal di hari pertama mengajarnya.

Di luar jam pelajaran, Wehner kerap berinteraksi dan berdiskusi dengan siswanya. Tak hanya dia yang kerap bertanya tentang Islam, muridnya pun kerap menanyakan kebenaran ajaran Kristen Katholik. Dari sinilah ia mulai meragukan keyakinannya.

Ternyata muridnya jauh lebih memahami sejarah agama Kristen. Sebenarnya, mereka tidak secara khusus belajar sejarah agama Kristen. Yang mereka pelajari adalah sejarah agama Islam. Namun, dalam pelajaran itu, dipelajari juga sejarah agama-agama terdahulu, termasuk Kristen. Itulah sebabnya, pemahaman mereka tentang sejarah agama Kristen pun sangat baik.

“Saya terkesan dengan sikap para siswa, pengetahuan mereka tentang agama saya (Kristen) lebih baik dibandingkan pengetahuan yang saya miliki. Dan saya bertanya dalam hati, dari mana mereka tahu semua itu,” kata Wehner.

Sejak itu, diam-diam ia sering membaca buku-buku yang berisi ajaran Islam, yang ditinggalkan murid-muridnya di sekolah. Saat itu Wehner mulai merasakan, apa yang ia baca mengandung banyak kebenaran. Lebih dari itu, Wehner juga sering bertanya soal Islam dengan guru-guru di sekolah itu. Ia terus membaca dan bertanya kepada banyak orang dan melakukan pencarian. Ia bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdiskusi dan memuaskan rasa ingin tahunya tentang Islam. “Perbicangan kami sangat menarik dan logis, otomatis semakin mendorong rasa ingin tahu saya. Saya merasa telah menemukan apa yang selama ini saya cari. Tiba-tiba saja, ada rasa damai yang menyebar di dalam hati saya. Inikah cahaya Islam?”

Di rumah, Wehner mulai membaca terjemahan Al-Quran. Sayangnya, ia harus main kucing-kucingan dengan suaminya, lantaran ketidaksukaannya pada Islam. Kala itu ia belum bercerai.

Awalnya, Wehner merasa takut telah melakukan pengkhiatan terhadap agamanya dan ragu untuk percaya bahwa ada kitab suci lain, selain Alkitab, yang diturunkan Tuhan. “Namun saya berusaha mendengarkan apa kata hati saya, yang menyuruh saya membaca Al-Quran. Saat membacanya, saya merasa, beberapa bagian dalam Al-Quran itu dituliskan khusus untuk saya. Sering kali saya membacanya sambil menangis. Tapi setelah itu, saya merasa tenang.”

Ia juga kerap melakukan shalat. “Saya shalat di kamar anak lelaki saya, dengan diam-diam tentunya. Tangan saya memegang sebuah buku tentang tata cara shalat. Saya melakukan shalat dengan konflik bathin dalam diri saya. Sebelum itu saya tidak biasa berdoa secara langsung kepada Tuhan. Sepanjang hidup saya, kepada saya diajarkan untuk berdoa kepada Yesus. Biarlah saya berdoa kepada Yesus dan Dialah yang akan menyampaikan doa saya kepada Tuhan,” kata Wehner.

Sementara itu, ia juga sering belajar tauhid dalam Islam. Dalam Islam, konsep keesaan Tuhan sangat jelas. Yakni, Tuhan itu satu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan ternyata, ajaran itu sangat berpengaruh dalam diri Wehner. Maka, semakin lama ia semakin yakin akan kebenaran Islam. Alhasil, beberapa bulan kemudian, Wehner memutuskan untuk memeluk Islam, “Inilah momennya untuk menjadi seorang muslimah.” Hari itu ia yakin, Tuhan sedang bicara kepadanya. Tidak ada yang perlu ditakutkan jika memang ingin berpindah ke agama Islam. “Ketika itu saya mulai menangis bahagia.”

Wehner mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan seluruh siswa sekolah Islam tempat ia mengajar, disaksikan para guru yang lain, termasuk staf. “Saya menjadi orang yang baru. Semua keraguan sirna. Saya yakin telah membuat keputusan yang benar. Saya tidak pernah begitu dekat dengan Tuhan sampai saya menjadi seorang muslimah. Alhamdulillah, saya sangat beruntung.”

SEL

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Tajuk: Muhasabah Diri

Tajuk: Muhasabah Diri

Petikan dari Kalam Habib dalam Video tersebut:

‘Sebahgian manusia,apabila dipuji,dimuliakan,menzahirkan kerendahan dirinya agar orang memuliakan dia dan sebahgian pula apabila disakiti,berbuat-buat dalam menzahirkan sifat kerendahan dirinya supaya orang kata dia itu tawadhuk.Maka perlu baginya memuhasabah kembali adakah dia benar2 jujur dalam tawadhuknya???’

Ya Allah,
Bagaimana keadaan hati ini,
Jika dalam setahun itu,
Tidak berpeluang menghadiri majlis Ilmunya???
Sungguh,
Aku tidak dapat menggambarkan keadaan aku ketika itu…

Ini baru Murabbi…
Belum lagi Rasulullah sollahu ‘alaihi wa sallam…

Kalau para Sahabat Rasulullah,
Dalam sehari sahaja,
Belum melihat Rasulullah,
Membuatkan wajah mereka pucat lesu,
Tidak lalu untuk makan kecuali setelah melihatnya,
Menangis di sepertiga malam mereka,
Mengadu kerinduan terhadapnya,
Maka,
Cinta apakah yang Engkau letakkan dalam hati mereka ini,
Hingga mereka bersikap demikian???

Memang benarlah,
Kata2 seorang ukhti,
Apabila ditanya,
Kenapa kita tidak ditemukan pada Rasulullah sebelum di akhirat lagi,
Maka,
Soalan yang pertama yang perlu ditanya kembali,
‘ADAKAH KITA MAMPU UNTUK BERPISAH DENGANNYA WALAU HANYA SEKETIKA???’
Sungguh kamu tidak mampu berpisah dengannya….

Sekadar ingin mengingatkan kembali kepada kalian akan janji Rasulullah s.a.w buat KITA semua…

Sabda Rasulullah(Sollahu ‘alaihi wa sallam):

‘Aku tunggu kalian di telaga khaud…’~Riwayat oleh Imam Bukhari.

Ku rindukan Murabbi dan Penghulu segala Murabbi Rasulullah s.a.w…
Jadikan kerinduan ini sebagai satu kemanisan Iman…

http://faizawin2070.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Kemuliaan Membaca Surat Al Ikhlas – Habib Munzir

Kemuliaan Membaca Surat Al Ikhlas
Senin, 18 Oktober 2010

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ: “قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ” وَيُرَدِّدُهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ اْلقُرْآنِ

( صحيح البخاري )

Dari Abi Sa’id Al Khudriy ra :
“Sungguh Seseorang mendengar sahabatnya membaca Qul Huwallahu Ahad (Surat Al Ikhlas), dan mengulang-ulangnya di malam hari, maka ketika pagi harinya ia datang kepada Nabi saw dan menceritakan itu, maka Rasulu saw bersabda : “Demi Diriku yang berada dalam Genggaman Allah swt (sumpah) sungguh Surat Al Ikhlas menyamai sepertiga Alqur’an.” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الْعَظِيْمَةِ

Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Suci melimpahkan keluhuran sepanjang waktu dan zaman, melimpahkan kebahagiaan dan membagikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan yang tidak taat, anugerah kenikmatan bagi hamba-Nya yang tidak taat merupakan bukti cinta dan kasih sayang Allah yang diperkenalkan bagi hamba yang taat, betapa baiknya Sang Maha Pemberi yang tetap memberi pada hamba-Nya yang tidak taat, sebagai isyarat ilahiyyah pada setiap siang dan malam kita yang melihat kenikmatan berlimpah juga Allah berikan pada hamba yang tidak taat, maka janganlah cemburu pada pemberian-Nya karena pemberian itu fana namun ingatlah pada cinta dan kelembutan-Nya walaupun kepada yang tidak taat pada-Nya. Namun Sang Maha Raja alam semesta menawarkan pengampunan, kasih sayang dan anugerah yang abadi, cahaya terindah sepanjang waktu dan zaman, yang menerangi dan memperindah kehidupan di dunia dan di akhirah kelak, terbitnya cahaya keindahan Ilahi untuk menuntun hamba kepada keindahan yang hakiki, menuntun hamba pada keindahan dunia dan akhirah, terang benderang sanubarinya dengan cahaya keindahan Allah, bergetar hatinya dengan cahaya kewibawaan Allah dan hari-harinya penuh dengan keindahan dunia dan akhirah. Ketahuilah cahaya ciptaan Allah itulah yang menjadi cahaya keindahan dunia dan akhirah. Dan menjadi cahaya keindahan dunia dan akhirah bagi yang mengikutinya pula, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

(آل عمران :26 )

“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( QS. Ali Imran: 26 )

Allah Maha mampu menjadikan orang yang berbicara menjadi tidak bisa berbicara, dan orang yang bisa berjalan Allah mampu menjadikannya tidak bisa beridiri apalagi berjalan, dan Allah Maha mampu mencabut penglihatan orang yang bisa melihat hingga ia tidak bisa lagi melihat. Allah juga Maha Mampu mencabut keimanan seorang hamba sehingga tidak pernah melihat keluhuran sebagai sesuatu yang luhur, dan Allah mampu pula mencabut musibah dari hamba yang dikehendakinya, Allah Maha Mampu mencabut segenap dosa dari hamba-hamba-Nya, Allah Maha Mampu mencabut kemurkaan pada hamba-Nya dan menggantikan dengan cinta-Nya, dan kesemua itu kembali pada satu nama ” Ya Allah “.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Yang hadir di majelis dan yang mendengarkan atau menyaksikan di streaming website Majelis Rasulullah di barat dan timur, di malam hari yang luhur ini kita diseru pula dalam keluhuran dan memang sesungguhnya setiap kehidupan kita adalah seruan keluhuran Allah, siang dan malam adalah panggilan Allah untuk kita mendekat kepada-Nya, setiap nafas kita adalah panggilan Allah agar kita mendekat, dan semua apapun dari perbedaan bentuk, sifat, dan warna yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan hakikatnya adalah panggilan kelembutan Allah kepada kita untuk mendekat kepada pencipta ini semua, Yang mencipta kita dari tiada kemudian mewafatkan kita dan membangkitkan kita untuk berjumpa dengan-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

(آل عمران: 133)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” ( QS. Ali Imran:133 )

Siapa yang menyampaikan hal ini? Yang menyampaikannya adalah yang kita selalu berbuat salah dan dosa kepada-Nya, Dialah Yang berfirman : ” bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. Dijanjikan bagi hamba-Nya yang bertakwa, semoga tidak satu pun dari kita yang disini kecuali dikumpulkan oleh Allah dalam golongan hamba yang bertakwa, wafat dalam puncak ketakwaan dan berkumpul di dunia dan akhirah bersama Ahlu takwa, amin allahumma amin.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

(آل عمران :185)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imran: 185)

Kalimat ini cukup untuk mengingatkan kita dan menyadarkan kita dari segala kebutaan, kebingungan, kerisauan dalam segala permasalahan di dunia. Dan juga ayat ini sudah cukup untuk membuat kita jauh dari kufur nikmat, maka ayat ini menjadi obat bagi orang yang dilimpahi kenikmatan atau orang yang sedang dalam kesusahan. Semua yang hidup pasti akan merasakan kematian, aku dan kalian pasti merasakannya karena itu adalah janji Allah subhanahu wata’ala. Kelak Allah akan memberikan balasan atas amal baik dan buruk, barangsiapa yang disingkirkan dan dijauhkan oleh Allah dari api neraka dan dimasukkan ke surga sungguh dia adalah orang yang beruntung, dan tiadalah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan saja. Yang mulia di dunia belum tentu mulia di akhirah, yang hina di dunia belum tentu hina di akhirah. Kehidupan dunia hanyalah sementara sedangkan kehidupan akhirat abadi.
Hadirin hadirat, jika engkau dalam kesedihan, ingatlah bahwa kesedihanmu itu tidaklah abadi. Dan jika engkau dalam kenikmatan sadarlah bahwa kenikmatanmu itu tidaklah kekal. Yang Maha Kekal menanti tuntunan dan amal-amal yang kekal, yang dibawa oleh sang pembawa tunutunan dari Sang Maha Kekal, yang diutus oleh Yang Maha kekal untuk membawa kenikmatan yang kekal, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :

وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللهُ يُعْطِيْ

” Sungguh aku yang membagi-bagikan dan Allah Yang Maha Memberi ”

Ingatlah bahwa pembagian kenikmatan telah Allah pasrahkan kuncinya kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bagi yang mendambakan kenikmatan dunia dan akhirah, Allah telah menyampaikan kepada sang nabi seraya berkata :أَنَا قَاسِمٌ وَاللهُ يُعْطِيْ وَإِنَّمَا ( Aku yang membagikan dan Allah Yang Maha memberi). Dengan mengikuti tuntunan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mencintainya dan berbakti kepadanya, maka itulah kunci kebahagiaan dan kenikmatan dunia dan akhirah, demikian janji sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw berkata bahwa segala sesuatu yang dibanggakan di dunia ini kesemunaya berasal dari hal yang hina. Pakaian termahal adalah sutera, padahal sutera hanyalah berasal dari liur ulat yang menjijikkan, minuman yang paling menyehatkan adalah susu, padahal itu hanyalah keluar dari hewan ternak, serta minuman yang paling manis adalah madu padahal ia hanyalah buatan serangga, dan perhiasan yang palin mahal adalah berlian padahal ia terbuat dari batu bara dari gunung berapi beribu-ribu tahun. Sungguh sesuatu yang berharga di muka bumi ini berasal dari kehinaan. Namun segala sesuatu yang tidak berharga di dunia bisa menjadi berharga jika mengikuti tuntunan dari yang paling berharga yaitu Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana debu adalah sesuatu yang tidak berharga namun debu itu bisa menjadi saksi ketika kita melangkah menuju jalan Allah subhanahu wata’ala, sehingga membuat kaki yang melintasinya tidak akan terbakar oleh api neraka. Hadirin hadirat, debu itu diinjak dan ditendang namun ia bisa membuat kaki kita aman dari api neraka karena mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu juga makanan dan minuman, yang setelah dimakan dan diminum ia akan terbuang, namun makanan dan minuman itu akan menjadi kekal dan abadi jika mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Sampailah kita pada hadits luhur ini, bahwa Allah subhanahu wata’ala menyampaikan surat mulia kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal ini selalu paling asyik diperbuat oleh orang-orang yang sangat cinta kepada Allah sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari bahwa seorang sahabat Rasulullah setiap malamnya membaca surah Al Ikhlas dan mengulang-ulangnya:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، اللَّهُ الصَّمَدُ ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

( الإخلاص:1-4 )

” Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” ( QS. Al Ikhlas: 1-4)

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

( الإخلاص: 1)

” Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Tunggal” (QS. Al Ikhlas:1)

Allah Maha Tunggal, Maha Tunggal menciptakanku, Maha Tunggal meminjamiku setiap nafas, Maha Tunggal mewafatkanku, Maha Tunggal mengetahui jumlah nafasku, Maha Tunggal mengetahui setiap keadaan makhluknya, Maha Tunggal menciptakan matahari, bulan, daratan dan lautan, Maha Tunggal dari semua makhluknya, Maha Tunggal menguasai segala kewibawaan, Maha Tunggal menguasai segala keluhuran, Maha Tunggal menguasai cahaya kebenaran, dan Maha Tunggal melimpahkan cahaya kebahagiaan. Firman Allah subhanahu wata’ala:

اللَّهُ الصَّمَدُ

( الإخلاص: 2)

Berbeda dalam pendapat para ahli tafsir, dijelaskan di dalam tafsir Al Imam At Thabari, tafsir Al Imam Ibn Abbas dan tafir lainnya bahwa makna kalimat الصَّمَدُ diantaranya adalah : Yang paling sempurna kelembutan-Nya melebihi segala kelembutan, Yang paling sempurna kasih sayang-Nya melebihi segala kasih sayang, Yang paling sempurna anugerah-Nya melebihi segala anugerah. Dan dalam riwayat lainnya makna kalimat الصَّمَدُ adalah Yang berpijar dengan cahaya, dan dalam riwayat lainnya maknanya adalah Yang tidak membutuhkan makan dan minum. Dan firman Allah subhanahu wata’ala :

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

( الإخلاص:3-4 )

“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” ( QS. Al Ikhlas:3-4)

Oleh sebab itu ketika sayyidina Bilal ketika disiksa ia mengelurkan rinduannya kepada sang Maha Tunggal dengan kalimat أَحَدٌ, أَحَدٌ . Diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah (kuat) bahwa sayyidina Bilal tidak merasakan sakit saat ia disiksa, bahkan ia dalam kesejukan tanpa merasakan kepedihan atas siksaan yang diperbuat oleh kuffar quraisy karena ia dalam kelezatan menyebut nama Allah subhnahu wata’ala.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Diriwayatkan pula dalam Shahih Al Bukhari bahwa Al Imam Masjid Quba’ setelah membaca Al Fatihah selalu membaca surat Al Ikhlas kemudian dilanjutkan dengan surat yang lainnya, maka ia diprotes oleh makmumnya karena hal ini, maka sang imam berkata: “jika engkau masih menginginkan aku untuk menjadi imam, maka aku akan terus melakukan hal ini, jika tidak carilah imam yang lain”, maka si makmum mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “wahai Rasulullah, tidak pernah engkau mengajarkan kepada kami untuk selalu membaca surat Al Ikhlas setelah Al Fatihah, namun imam itu melakukannya”. Zaman sekarang hal seperti ini disebut sebagai bid’ah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada sang imam: “Mengapa engkau melakukan hal itu wahai imam masjid Quba, padahal aku tidak pernah mengajarkannya?”, maka sang imam menjawab dengan singkat : إِنِّيْ أُحِبُّهَا (sungguh aku mencintai surat Al Ikhlas), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “cintamu pada surat Al Ikhlas membutamu masuk kedalam surga Allah”. Karena mencintai kalimatt هُوَ اللهُ أَحَدٌ, Dialah (Allah) Yang Maha Tunggal, maka jadikanlah Dia tunggal di dalam jiwa kita di saat kita berdzikir kepada Allah, di saat kita shalat, di saat kita berdoa dan bermunajat, hilangkan semua nama dari hati kita kecuali nama اللهُ أَحَدٌ هُوَ. Jadikan nama itu menguasai jiwa dan sanubarimu melebihi segalanya, maka akan engkau lihat Allah menundukkan seluruh makhluknya kepadamu karena jiwamu telah tunduk kepada rahasia keluhuran هُوَ اللهُ أَحَدٌ .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Janganlah sampai kita terjebak dengan kejadian-kejadian yang yang tidak kita sukai, karena Allah subhanahu wata’ala telah memberi peringatan dengan firman-Nya:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

(البقرة :216 )

“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Barangkali kita melihat suatu hal adalah baik untuk kita, padahal itu adalah bara api, seperti anak kecil yang ingin mendekati bara api itu yang dikiranya mainan belaka. Begitu pula anak kecil menjerit ketika melihat ibunya begitu jahat menusuk dan menyakitinya, padahal itu adalah obat yang disuntikkan kepadanya sebagai bentuk kasih sayang sang ibu. Oleh sebab itu di saat kita dalam kesusahan maka berhati-hatilah karena mungkin dibalik semua itu ada hikmah Ilahi yang lebih luhur jika kita syukuri kenikmatan yang ada walaupun sebagian kenikmatan hilang. Sebagaimana Allah sangat tidak tega kepada hamba-Nya terutama mereka yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang mencintai dan rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia dalam keamanan dan keselamatan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Diriwayatkan oleh hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Qadhi ‘Iyadh di dalam kitabnya “As Syifa” bahwa ketika sayyidina Anas bin Malik RA menziarahi seorang wanita yang telah wafat seorang putranya, dia adalah seorang wanita tua renta yang buta, dia hijrah dari Makkah Al Mukarramah ke Madinah Al Munawwarah bersama putranya, dan ia tidak mempunyai keluarga yang lain, karena keluarga yang lain berada di Makkah. Untuk makan saja dia harus disuapi oleh anaknya, dan segala kebutuhannya diurus oleh anaknya, kemudian anaknya wafat. Dan ketika para sahabat menjenguknya, diantaranya sayyidina Anas bin Malik, maka berkatalah wanita buta dan tua renta itu : ” Benarkah anakku telah wafat?”, sayyidina Anas bin Malik berkata: “Betul, namun engkau tenanglah karena anakmu sudah dimandikan dan dikafani, dan sebentar lagi akan dishalati kemudian dimakamkan”, maka wanita itu menangis mengangkat tanganya dan berkata :

اَللّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّيْ هَاجَرْتُ إِلَيْكَ وَإِلَى نَبِيِّكَ فَلاَ تُحَمِّلْنِيْ هَذِهِ الْمُصِيْبَةَ

” Wahai Allah jika Engkau mengetahui bahwa aku hijrah kepada-Mu dan nabi-Mu, maka janganlah Engkau bebankan musibah ini kepadaku”.

Dan belum selesai wanita itu berdoa maka anaknya bangun dan tidak lama kemudian anaknya kembali menyuapi ibunya. Demikian rahasia cinta kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Demikian indahnya ketakwaan dan indahnya Allah subhanahu wata’ala. Diriwayatkan di dalam kitab ‘Izhah Asraar Al Muqarrabin oleh As Sayyid Al Arif billah Al Imam Muhammad bin Abdullah bin Syech Al Aidarus Ba’alawy, bahwa ketika salah seorang rahib (ulama) di masa bani Israil telah menulis 860 kitab, dan karangannya sudah tersebar dimana-mana, dan ia pun gembira dengan amal baiknya, maka Allah wahyukan kepada nabi di zaman itu untuk menyampaikan pada rahib itu bahwa Allah belum ridha dengan apa yang telah dia lakukan, maka rahib itu terkejut ketika mendengar yang telah disampaikan oleh nabinya bahwa Allah belum ridha dengan amalannya. Maka ia pun melempar buku karangannya itu kemudian ia menyendiri saja di dalam goa untuk beribadah selama bertahun-tahun, lalu Allah kembali menyampaikan wahyu kepada nabi di zaman itu untuk menyampaikan kepada rahib bahwa Allah belum ridha dengan perbuatannya, maka ketika disampaikan kepada rahib itu ia berkata: “Lalu aku harus berbuat apa lagi, aku menulis ratusan kitab Allah belum meridhai, aku menyendiri untuk beribadah kepada-Nya Allah belum meridhaiku”. Maka dalam keadaan risau dan bingung ia berjalan saja hingga sampailah ia di pasar ia membantu orang tua yang keberatan membawa beban, ia menciumi kepala anak yatim dan menyantuninya, maka Allah sampiakan wahyu kepada nabi di masa itu : “Katakan kepada hamba-Ku bahwa Aku telah ridha kepadanya”. Apa yang menjadikan Allah ridha kepadanya? yaitu terjun ke masyarakat untuk membantu yang lemah dan susah, membantu para fuqara’ dan anak-anak yatim, hal itu lah yang paling masyhur dari tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukti dari rahasia keridhaan Ilahi yang terluhur. Demikian budi pekerti orang yang paling luhur dan paling diridhai Allah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiah, sekedar memberi kabar tadi pagi saya berkunjung ke Singapura, yang mana guru mulia kita Al Musnid Al Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh dari Kuala Lumpur menuju Singapura, dan saya hanya bertemu di airport saja kemudian saya kembali ke Jakarta. Dalam perjumpaan itu kebetulan saya diberi kesempatan oleh para jamaah di Singapura untuk berbicara 4 mata dengan guru mulia untuk membicarakan tentang perkembangan Majelis Rasulullah. Saya samapaikan bahwa Alhmadulillah jamaah semakin banyak dan semakin rindu berjumpa dengan beliau, dan beliau mengatakan insyaallah dalam waktu dekat saya akan berkunjung, insyaallah di bulan Muharram, mudah-mudahan acara kita sukses, amin. Lalu beliau juga menanyakan bagaimana kabar yang lainnya, maka saya sampaikan bahwa kita telah mengadakan pertemuan dengan kurang lebih 100 anggota milis di dunia maya untuk terus menyebarkan dan meneruskan dakwah di dunia maya. Maka beliau kaget dan gembira dan beliau berkata bahwa itu adalah hal yang sangat mulia dan luhur karena dunia maya penuh dengan kegelapan dan sangat sedikit para dai yang mau terjun ke dalamnya, dan sampaikan salam saya pada jamaah bahwa saya gembira dengan perkumpulan itu. Ada kejadian yang diceritakan oleh putra beliau, sebelum beliau tiba di bandara putra beliau sempat duduk dengan saya sebentar. Ketika beliau mengunjungi Denmark, wilayah yang konon sangat benci kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menghina nabi Muhammad. Dan cara beliau bukanlah dengan kekerasan, beliau datangi tempat itu untuk dikenalkan siapa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu. Namun justru tempat yang kita kenal sebgai tempat yang paling benci kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan banyak menghina nabi itu, tetapi saat guru mulia baru saja mendarat di bandara Denmark, disana sudah ada 300 orang muslimin yang menyambut beliau dengan pembacaan maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau berkata kepada putrnya: “Engkau lihat, di barat dan timur mengatakan bahwa tempat ini adalah wilayah yang paling banyak menghina nabi, namun aku belum pernah datang ke satu negara pun ketika turun di bandara disambut dengan bacaan maulid kecuali di Denmark ini”. Beliau berkata kepada putranya bahwa Allah Maha mampu memberikan hidayah kepada orang yang terjauh sekalipun jika Allah ingin memberikan hidayah. Oleh sebab itu budi pekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hal yang sangat berharga. Beliau juga pernah berkunjung ke Jerman dan menyampaikan tausiah kepada suatu organisasi disana, dan didengar oleh salah seorang murid pendeta, dan dia sampaikan kepada pendeta bahwa guru mulia berbicara tentang kerukunan umat beragama, maka ditantanglah oleh ketua pendeta di kota itu untuk datang ke gereja menjelaskan Islam, maka beliau mendatangi gereja itu dan mohon izin untuk shalat sunnah di gereja itu, padahal sebagian besar pendapat seluruh madzhab mengharamkan shalat di gereja, sebagian mengatakan makruh dan sebgaian lagi mengatakan boleh jika gereja itu diharapakan akan berubah menjadi masjid. Kemudian beliau menyampaikan tausiah di depan para non muslim, setelah beliau selesai menyampaikan tausiah, kepala pendeta itu ditanya bagaimana pendapatnya tentang Islam, maka ia menjawab : “Aku membenci Islam, tetapi aku cinta orang ini”, maka guru mulia berkata: “Jika engkau cinta padaku, sebentar lagi engkau akan cinta kepada Islam”. Lalu ketika beliau ditanya mengapa shalat sunnah di gereja, beliau berkata: “Karena aku tau tempat itu akan akan berubah menjadi masjid dalam waktu yang dekat”. Demikian agungnya tuntunan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin hadirat, kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rahmat dan anugerah kepada kita, semoga Allah melimpahkan ketenangan, kesejukan, kekhusyuan, kemakmuran dunia dan akhirah untuk kita. Kita bermunajat dan mengingat setiap nafas kita yang telah lewat dalam dosa, kemana kita akan mengadukannya kalau bukan kepada samudera pengampunan Allah, kemana kita akan memohon penghapusannya kalau bukan dari Sang Maha Pemaaf, kemana kita akan mengadukan nafas kita yang masih tersisa di hari esok kalau bukan kepada Yang Maha melimpahkan segala keluhuran dan Maha menjauhkan dari segala musibah…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Selanjutnya kita mohonkan doa bacaan maulid oleh fadhilah As Sayyid Al Walid Al Arif billah Al Habib Atthas bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, dan sebelum doa kita meminta ijazah dari Al Habib Atthas, apa saja yang ingin beliau ijazahkan kepada kita dari doa-doa atau dzikir, kita menginginkan sanad yang bersambung dari guru-guru beliau sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengijazahkan dari sanad yang beliau terima dari ayah beliau As Syahid Al Habib Muhammad bin Salim bin Hafizh, dan juga Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Al Habib Umar bin Ahmad bin Sumaith, Al Habib Masyhur Al Haddad. Al Habib Ali bin Syihabuddin dan juga para guru beliau yang lainnya, sanad yang bersambung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa takwa kepada Allah, dan ijazah untuk berdzikir, serta belajar dan mengajarkan apa-apa yang kita terima kita ajarkan kepada orang lain dan mengamalkannya hingga lebih mudah kita memahami, lebih mudah kita mengajarkan dan lebih mudah kita mengamalkan dengan ikatan batin kita dengan para guru kita sampai kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka katakan “Qabilna al ijaazah”.
http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=310&Itemid=1

Syarah Khas Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz di Radio IKIM
*Catatan bebas pada 24 Oktober 2010

Kepada seluruh kaum Muslimin, di sini ada sedikit kupasan iktibar tentang hukum-hukum ibadah haji. HIkmah yang pertama adalah berasaskan kepada makna kalimah atau lafaz haji yang bererti dari qasdu yang bermaksud niat atau tujuan. Para jemaah perlu memahami erti niat dalam melakukan ibadah haji iaitu dengan melakukan amal ibadah ikhlas kerana Allah Ta’ala. Seseorang itu hendaklah pergi ke Baitullah dengan niat untuk mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’ala dengan penuh perasaan ikhlas. Segala sesuatu yang disyariatkan Allah Ta’ala hendaklah ditunaikan dengan memaksudkan tujuan melaksanakannya kerana Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman bahawa ingatlah bahawasanya hanya milik Allah Ta’ala agama yang bersih suci dan murni. Junjungan Besar Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan manusia akan dinilai bergantung kepada niat”. Dalam satu sabda baginda saw yang lain, “Barangsiapa berjihad maka ia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan”. Ketahuilah bahawa seseorang yang berniat dengan niat yang baik dalam perkara-perkara yang dibolehkan dalam syarak maka ia akan beroleh ganjaran pahala. Andai kata seseorang berniat untuk makan, dengan tujuan makan itu adalah untuk menguatkan tubuh badannya bagi melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala maka niatnya untuk makan itu akan beroleh ganjaran pahala. Apatah lagi jika niat itu disertakan dengan adab-adab yang telah diajar oleh Rasulullah saw. Maka setiap adab yang dilakukan itu akan mendapat ganjaran pahala dari Allah Ta’ala. Demikian juga bila kita duduk bersama dengan keluarga dan para sahabat dimana setiap adab yang baik jika disertakan bersama pasti akan diberi ganjaran Allah Ta’ala. Baginda saw bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik kepada keluarganya. Aku adalah yang terbaik kepada keluargaku”.

Begitu juga dalam tujuan nafkah dimana apabila kita menjaga diri kita dari meminta kepada orang lain, menghubungkan silaturrahim dan bersedeqah maka setiap segala sesuatu kebaikan yang dikerjakan itu akan beroleh ganjaran Allah Ta’ala. Sabda Nabi saw, “Barangsiapa berada di waktu petang dengan keadaan mencukupi untuk dirinya dan keluarganya maka ia tidur dalam keadaan diampunkan dosanya”. Dalam satu hadith yang lain, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang berusaha untuk mencari harta untuk kepentingan janda, orang miskin dan anak-anak yatim maka ia berada di jalan berjihad kepada Allah Ta’ala”. Sekali lagi ditekankan disini bahawa hendaklah kita mengambil iktibar dari hikmah haji yang pertama iaitu meluruskan niat mudah-mudahan Allah Ta’ala mengabulkan doa kita dan menerima amal ibadah kita.

Hikmah haji berikutnya ialah dengan melahirkan kecintaan kepada Allah Ta’ala. Jemaah haji perlu mengorbankan harta yang dimiliki yang merupakan sesuatu yang sangat dicintainya. Dengan sebab itu, apabila ia mengorbankan hartanya maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang mencintai Allah Ta’ala. Selain itu, ia juga perlu mengorbankan aktiviti-aktiviti yang lazimnya dilakukannya. Apabila ia mengerjakan haji, maka hatinya tidak lagi pada aktiviti-aktiviti yang kebiasaannya dilakukan sebelum ini sebaliknya menumpukan sepenuh perhatian kepada amal ibadah ketika berada di Tanah Suci. Maka keberadaaanya di Tanah Suci pada waktu itu jelas menunjukkan kecintaannya sebagai hamba kepada Allah Ta’ala. Dalam amal ibadah haji terkandung erti mengingati dan menghayati peristiwa-peristiwa penting dalam Islam. Di tanah Suci, seseorang itu akan melihat kesan sejarah Islam seperti maqam Nabi Ibrahim, tempat Siti Hajar berlari-lari anak mencari air dan sebagainya dimana kesan sejarah ini apabila dihayati sepenuhnya akan menghubungkan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala. Oleh kerana itu, wajiblah bagi kaum Mukminin melahirkan niat kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan kecintaan yang sentiasa hidup dalam hatinya serta melebihi dari perkara yang lainnya. Sebagai ganjaran, Allah akan menghidupkan hatinya dengan kecintaan yang tidak berbelah bahagi kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam ibadah haji, antara pengajaran yang dapat kita ambil ialah tentang bagaimana kita mengorbankan harta yang dicintai ke jalan Allah dan tidak membelanjakan harta tersebut ke jalan yang bercanggah dengan syarak. Ketahuilah bahawa setiap sesuatu yang dibelanjakan itu akan mendapat balasan dari Allah Ta’ala. Jika harta itu dibelanjakan ke jalan Allah maka ia mendapat ganjaran pahala sebaliknya jika ia dibelanjakan ke jalan yang bertentangan iaitu ke jalan yang bercanggah dengan syarak seperti maksiat maka ia akan mendapat dosa. Sabda Nabi saw, Tidak beriman seseorang bagi mereka yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan jirannya berada dalam keadaan lapar sedangkan ia tidak membantunya”. Dalam hadith yang lain, Nabi saw bersabda, “Takutlah kamu kepada Allah walaupun dengan separuh dari sebiji buah kurma”. Diriwayatkan pada satu ketika, baginda saw masuk ke rumah isterinya, Aisyah. Didapatinya Aisyah sedang menangis lalu baginda saw bertanya, “Kenapa kamu menangis?” Jawab Aisyah, “Tadi telah datang seorang wanita bersama dua orang anaknya dan mereka meminta-minta. Sedang aku pada ketika itu hanya mempunyai 3 biji kurma. Lalu aku berikan kurma-kurma itu kepada mereka. Si ibu lalu memberikan dua biji kurma itu kepada kedua-dua orang anaknya setiap satu. Kemudian sampai giliran si ibu untuk memakan sebiji lagi. Apabila si ibu itu hendak memakannya maka kelihatan si anak seperti hendak mendapatkan bahagian ibunya. Ibunya langsung membahagikan kurma yang sebiji itu kepada dua bahagian lalu diberikan kepada kedua orang anaknya. Aku menangis bila mengenangkan sifat ibu yang sangat kasih dan belas kepada anak-anaknya”. Lalu Nabi saw bersabda, “Ketahuilah bahawa Allah Ta’ala akan mengampunkan si ibu tadi kerana sifat belas kasihannya itu”.

Antara lain hikmah haji ialah mendidik jiwa dan membersihkannya dari perkara-perkara maksiat apabila hendak menghadap Allah Ta’ala. Ketahuilah bahawa barangsiapa mengerjakan haji maka hendaklah ia berniat membersihkan diri dari perkara-perkara yang boleh membatalkan ibadah haji. Caranya ialah dengan membersihkan harta dari perkara-perkara haram dan jiwa dari perkara-perkara tercela. Dalam satu hadith ada dinyatakan bahawa barangsiapa yang pergi menunaikan haji dengan tidak melakukan perbuatan kotor (tercela) maka ia akan kembali dari ibadah hajinya seakan-akan ia seperti bayi yang baru keluar dari perut ibunya. Al-Rafats ialah segala sesuatu yang jika dilakukan akan menimbulkan rasa malu bagi seseorang yang bermaruah. Seseorang yang pergi menunaikan ibadah haji perlu membersihkan jiwanya dari al-rafats seperti mana ia membersihkan rumahnya. Ini termasuklah membersihkan diri dengan menjaga lisan, telinga dan matanya agar ia termasuk dalam golongan yang menghayati erti haji yang sebenarnya. Begitu juga dengan kefasikan dan berdebat (jidal) yang sia-sia, hendaklah kita menjauhinya agar amal ibadah kita tidak menjadi sia-sia.

Apabila kita dapat menjaga diri kita zahir dan batin maka ganjarannya ialah haji yang mabrur. Maka sempurnalah hajinya apabila beroleh haji yang mabrur. Antara sebab untuk beroleh haji yang mabrur ialah dengan berbuat baik kepada sesiapa sahaja ketika berada dalam ibadah haji. Maksud berbuat baik disini termasuklah seperti bertutur dengan baik dan memberi makan kepada orang lain. Untuk beroleh haji yang mabrur juga, hati hendaklah diisi dengan keimanan dan hendaklah berazam untuk mengunjungi Rasulullah saw yang telah mengenalkan ibadah haji kepada kita. Tiadalah ganjaran lain melainkan syurga bagi mereka yang beroleh haji yang mabrur.

Dalam kitab al-Azkar karangan Imam Nawawi dan tafsir yang dikarang oleh Ibnu Katsir, pernah dikisahkan bahawa pada satu hari, makam Rasulullah saw dikunjungi oleh orang Arab dari kampung dimana penjaga makam Rasulullah saw pada ketika itu ialah Al-Utbi. Kata orang Arab itu apabila menziarahi makam Rasulullah saw, “Aku mendengar firman Allah dengan maksudnya, Barangsiapa berdosa dan datang kepada Rasulullah saw lalu beristighfar maka dosanya akan diampun”. Orang Arab itu pun memohon ampun dan tidak lama selepas itu ia pun pergi. Tidak lama selepas itu, al-Utbi pun tertidur lalu bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu, Rasulullah saw berkata kepadanya, “Bangkitlah dan kejarlah orang Arab tadi dan beritahulah kepadanya bahawa Allah telah mengampunkan dosanya”.

http://ikantongkol09-mengaji.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Ratib al-Attas

Ratib al-Attas
Kata Habib Muhammad bin Soleh al-Attas, ratib al-Attas ini disusun oleh al-Imam Habib Umar bin Abdur Rahman al-Attas dengan susunan tertentu bertujuan untuk menghalau jin dan syaitan yang bermaharajalela di zaman itu. Apapun ratib ini amat sesuai diamalkan pada zaman ini tambahan pula pada zaman ini bukan sahaja jin dan syaitan bermaharajalela tetapi juga maksiat, sihir dan pelbagai macam perkara kejahatan dan kemungkaran. Untuk itu, kita perlu memohon kepada Allah yang Maha Melihat benda-benda yang ghaib yang kita tidak dapat melihatnya. Amalan membaca zikir dan wirid penting untuk memohon perlindungan dari Allah Ta’ala agar dijauhi dari gangguan jin dan syaitan, kemaksiatan dan perkara kejahatan yang lain. Kata Habib, ratib ini elok dibaca selepas solat Isyak kerana waktu itu adalah yang paling mujarab namun ia tetap boleh diamal pada bila-bila masa. Pada malam yang berbahagia itu, Habib mengijazahkan ratib al-Attas, Ratib al-Idrus, ratib al-Haddad dan semua zikir-zikir Ba ‘Alawi kepada semua yang hadir pada malam itu.

Habib Muhammad bin Soleh al-Attas dari Huraidhah, Hadramaut, Yaman

Susunan ratib yang diijazahkan oleh Habib Muhammad bin Soleh al-

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Program Tafaqquh Fi Al Din 2010

Program Tafaqquh Fi Al Din 2010

“Mempasak Aqidah Murni, Menerap Manhaj Nabawi”

Tarikh:
19-25 Disember 2010

Tempat:
Sekolah Tinggi Islam As-Sofa, Rembau, Negeri Sembilan

Umur:
9 – 12 tahun

Sasaran:
300 peserta

Pendaftaran:
19 Disember (3 – 5 petang)

Yuran penyertaan:
RM350.00

Objektif Program:
Melahirkan generasi Muslim yang berpegang teguh dengan Aqidah Islam yang sahih dan tidak mampu dirobek oleh senjata-senjata musuh walau apa jua dugaan yang melanda.
Melahirkan generasi Muslim yang berbangga (i’tizaz) dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam dan meyakini sepenuh hati bahawa kemuliaan hidup ini ialah bagi mereka yang berpegang kuat dengan sunnah Nabinya.
Menerapkan jiwa hamba yang mempunyai ikatan kuat dengan PenciptaNya, bertaqwa dan berdaya saing.
Mendukung cita-cita negara untuk terus maju membangun tanpa mengabaikan keseimbangan di antara pembangunan rohani dan fizikal.

Slot-slot Istimewa:

BENGKEL PRAKTIKAL SOLAT MAZHAB SYAFIE
– Melatih para peserta mempraktikkan solat yang sempurna mengikut Mazhab Syafie
KLINIK HIJA’IYYAH & AL-FATIHAH
– Untuk kali pertama, Tafaqquh kali ini memperkenalkan Klinik Hija’iyyah
– Peserta akan mempelajari sebutan 26 huruf hija’iyyah dengan sebutan yang betul daripada ustaz yang berpengalaman
– Mempelajari tahsin, tajwid dan sebutan yang mencacatkan bacaan al-Fatihah dalam solat

PINTAR AQIDAH ISLAM
– Mempasak prinsip-prinsip asas aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah dengan pendekatan yang menghiburkan, mudah dan tidak membosankan menerusi qasidah (Cinta Allah & Cinta Rasul)

ADAB-ADAB ISLAM
– Membimbing para pelajar menerapkan adab-adab Islam dan nilai-nilai murni dalam setiap aspek kehidupan

MOTIVASI ANAK SOLEH
– Menyedarkan peserta tentang tanggungjawab dan nilai seorang Muslim dan anak yang soleh

ISLAMIK EXPLORACE DI ZOO MELAKA
– Modul yang menarik berkaitan dengan penciptaan haiwan

TREASUREHUNT DI KOLAM AIR PANAS
– Memberi kefahaman kepada anak-anak tentang kehebatan penciptaan alam semulajadi

Pengisian-Pengisian:
Tauhid
Hadith
Cinta Rasul
Solat
Adab
Bahasa Arab
Kuliah Umum Beramali
Salawat dan Nasyid

Jangan lepaskan peluang ini!
Hubungi:
Cik Nor Azura: 017-6047058
En. Mohammad Fazli: 013-7137752

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Gambar Kunjungan Habib Muhammad Soleh Al Attas

Gambar Kunjungan Habib ke Baalawi KL & Madrasah Darul Faqih, Segamat Johor.

Sumber FB Habib Agil & FB Baalawi KL

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

PENGAJIAN KITAB SIYARUS SAALIKIN

PENGAJIAN KITAB SIYARUS SAALIKIN
.
Bersama :

SHEIKH AHMAD FAHMI ZAMZAM AL-MALIKI AN-NADWI
.
pada :
14 NOV 2010 (Ahad)
5 DIS 2010 (AHAD)

masa :
JAM 9.00 PAGI – 12.30 TGHR

.
tempat :
Dewan Solat MAF

yang telah lepas:
25 OKTOBER 2009 (ahad). 15 NOVEMBER 2009 (ahad). 13 DISEMBER 2009 (ahad). 27 DISEMBER 2009 (ahad) = 10 MUHARRAM 1431. 24 JANUARI 2010 (ahad). 25 FEBRUARI 2010 (khamis) {sempena Maulidurrasul.}. 21 mac 2010 (ahad). 18 April 2010 (ahad). 2 MEI 2010 (ahad). 13 JUN 2010 (AHAD). 11 JULAI (AHAD). 8 OGOS (AHAD). 29 OGOS (AHAD). 5 SEPT ( AHAD) – DIBATALKAN DAN DIAWALKAN PADA 29 OGOS . 10 OKT 2010 (AHAD),

.
edaran: http://www.alfalahusj9.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Majalah Al Kisah Terkini

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Purdah: Fatwa Mufti Mesir

Purdah: Fatwa Mufti MesiPosted by Nabiha Al-Khalidiy On 3:59 AM
Fatwa berkenaan pemakaian purdah ini telah lama dikeluarkan oleh mufti Mesir Dr. Ali Jum’ah di dalam bukunya yang bertajuk “Al-Bayaan”. Berikut adalah ringkasan fatwanya :

Purdah atau niqab bermaksud kain yang menutupi wajah perempuan. Beza antara hijab dan purdah ialah : Hijab menutup seluruh badan manakalah purdah hanya menutup muka sahaja.

Jumhur Ulama mengatakan bahawa seluruh tubuh wanita adalah aurat kepada lelaki bukan muhrim kecuali muka dan pergelangan tangan. Demikian kerana wanita juga berhajat kepada berbagai urusan harian dengan kaum lelaki seperti jual beli. Jadi hukum memakai purdah mengikut jumhur adalah sunat.

Imam Abu Hanifah : Kaki perempuan tidak termasuk aurat. Jadi ianya boleh didedahkan. Hujahnya bahawa Allah S.W.T menegah wanita dari memperlihatkan perhiasan mereka kecuali yang zahir sahaja. Kaki juga termasuk anggota yang zahir. Pada mazhab ini, perempuan boleh mendedahkan muka, pergelangan tangan dan kaki.

Mazhab Ahmad Ibnu Hanbal : Setiap inci tubuh wanita adalah aurat kepada bukan muhrim. Maka seorang wanita itu mesti menutup keseluruhan tubuhnya.

Dallil Jumhur : Firman Allah Taala yang bermaksud : “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”. (An-Nur : 31)

‘Yang nampak dari padanya’ dalam ayat di atas bermaksud tempat perhiasan dapat dilihat. Celak merupakan perhiasan wajah manakala cincin pula perhiasan tangan. Kedua-duanya tidak dapat disembunyikan.

Dalil Sunnah : Sebuah Hadis diriwayatkan oleh Aisyah r.a yang bermaksud :

“Sesungguhnya Asma’ bt Abu Bakar datang kepada Rasulullah dengan pakaian yang nipis lalu Baginda pun berpaling darinya dan berkata : Wahai Asma’, sesungguhnya seorang perempuan apabila telah baligh tidak boleh memperlihatkan tubuhnya kecuali ini dan ini” sambil Nabi menunjukkan wajah dan kedua belah pergelangan tangannya. ( Hadis riwayat Abu Daud)

Dalil Sunnah yang lain :

Sebuah Hadis berkenaan Nabi memberi peringatan kepada kaum wanita dalam sebuah majlis agar bersedekah kerana dengan sedekah itu dapat memadamkan api neraka. Lalu bertanyalah seorang wanita dari kalangan mereka yang kedua-dua pipinya bebintik : “Kenapa ya Rasulullah…”(Riwayat Muslim, Abu Daud, Nasai, Ahmad dan lain lagi). Perawi Hadis ini ialah Jaabir r.a.

Hadis di atas menunjukan bahawa perempuan yang bertanya itu wajahnya tidak memakai purdah.

Pihak yang mempertahankan purdah mengatakan bahawa hadis diatas telah dimansuhkan dengan suruhan memakai purdah. Tetapi tidak ada satu pun dalil yang memansuhkan hadis tersebut.

Mereka juga menggunakan dalil Al-Quran untuk mempertahankan hujjah mereka iaitu ayat dari surah Ahzab yang bermaksud :

Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Kerana itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

( Al-Ahzab : 59 )

Di dalam ayat ini juga tidak ada dalil yang jelas agar memakai purdah.

Al-Murghinani dari mazhab Hanafi menyatakan bahawa : Tubuh wanita keseluruhannya adlah aurat kecuali muka dan kedua pergelangan tangannya. Ini berdasarkan kepada Hadis Nabi yang berbunyi : “Wanita adalah aurat yang ditutupi”Pengecualian muka dan pergelangan tangan kerana keduanya mudah dilihat. Beliau menjelaskan lagi bahawa Hadis tersebut menjadi dalil bahawa kaki itu aurat. Tetapi menurutnya pandangan yang mengatakan kaki itu bukan aurat adalah lebih sahih.

Ibnu Khalaf al-Baaji ulama mazhab Maliki menyatakan bahawa : Seluruh tubuh wanita itu aurat melainkan wajah dan pergelangan tangannya. Katanya lagi : Kekadang seorang wanita itu akan makan bersama suami dan tetamu suaminya atau tetamu saudaranya. Demikian menjadikan hukum melihat wajah dan pergelangan wanita itu adalah harus. Ini kerana kedua-dua anggota tersebut akan kelihatan ketika makan.

Ibnu Hajar Al-Haitami menukilkan daripada Qadhi Iyadh bahawa mengikut ijmak ulama, wanita tidak diwajibkan menutup mukanya.

Cara berpakaian berkait rapat dengan adat sesuatu kaum. Dengan melihat keadaan semasa di Negara Mesir, adalah lebih sesuai berpegang kepada pandangan jumhur yang mengatakan tidak wajib memakai purdah. Wanita yang menutup wajahnya dengan purdah dipandang asing dalam masyarakat hari ini dan menjadi punca kepada perpecahan. Adapun bagi kaum wanita yang berada di dalam masyarakat yang berpegang kepada mazhab Hanbali, ianya tidak menjadi masalah. Menutup muka pada mereka adalah adat yang berbetulan dengan mazhab yang dipegang.

Oleh yang dimikian pandangan yang dipilih adalah pandangan jumhur ulama yang membolehkan wanita menampakkan wajah dan kedua pergelangan tangannya. Memakai purdah, jika boleh menyebabkan perpecahan atau untuk menunjukkan diri seorang yang warak, maka ia akan menjadikan hukum asal iaitu sunat beralih kepada bida’h

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

ROH HAMBANYA YANG BERIMAN KEPADANYA

ROH HAMBANYA YANG BERIMAN KEPADANYA
Dalam beberapa karangan para ulama kita, ada tercatat kisah berhubung tentang pergi dan datangnya arwah kaum mu’minin ke langit dunia untuk menziarahi kaum keluarga mereka yang masih hidup di alam dunia. Ada sesetengah pihak dengan mudah sahaja mengenepikan kemungkinan perkara tersebut berlaku. Sedangkan hakikatnya hanya Allah SWT sahaja yang Maha Mengetahui sebab persoalan ini merupakan urusanNya. Tidak tergambar pula yang para ulama kita seperti Sidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi rahimahUllah dan Syaikh Sulaiman al-Bujairimi rahimahUllah, ahli-ahli fiqh yang terkemuka, hendak memenuhkan karya-karya mereka dengan pendustaan dan kebohongan. Contohnya Sidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi menulis berkenaan perkara ini dalam karya agungnya ” I`aanatuth Thoolibiin” jilid 2 halaman 161, antara lain beliau menulis:-

Juga telah warid: “ Bahawasanya roh-roh orang mukmin datang pada setiap malam ke langit dunia dan mereka berhenti di hadapan rumah-rumah mereka. Setiap seorang daripada mereka menyeru dengan suara sedih 1000 kali:
“Wahai ahli keluargaku, wahai kaum kerabatku, wahai anakku, wahai orang yang mendiami rumah-rumah kami, berpakaian dengan pakaian kami, berbahagi harta kami, tidak adakah sesiapa antara kamu yang mengingati kami dan memikirkan keadaan kami yang berada dalam kejauhan, kami berada dalam tahanan yang panjang dan kawalan yang ketat? Kasihanilah kami, moga-moga Allah akan mengasihi kamu, dan janganlah kamu bakhil kepada kami sebelum kamu menjadi seperti kami. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya kelebihan yang ada pada tangan kamu sekarang, dahulunya ada pada tangan kami. Malangnya kami tidak menafkahkan sebahagian daripadanya untuk jalan Allah, maka perkiraan hisab serta penyesalan atas kami sedangkan manfaatnya bagi orang lain. Maka apabila tidak memperolehi sesuatu (yakni hadiah, sedekah, doa, istighfar dan sebagainya daripada orang hidup kepada mereka), pergilah roh-roh tersebut dengan kekecewaan dan hampa.”
Dan telah warid juga bahawasanya Junjungan Nabi s.a.w. bersabda:
“Tidaklah orang mati itu di dalam kuburnya melainkan seperti orang yang kelemasan memohon pertolongan. Dia menunggu datangnya doa-doa kepadanya daripada anaknya atau saudaranya atau temannya. Apabila diterimanya (doa-doa tersebut), maka ianya adalah sesuatu yang terlebih kasih baginya daripada dunia dan segala isinya (yakni menerima hadiah berupa doa adalah lebih disukai si mati daripada memperolehi dunia dan segala isinya).

Datang dan perginya sebahagian roh-roh orang mukmin yang tertentu ke barang mana tempat dengan kehendak dan izin Allah adalah suatu perkara yang tidak dapat dinafikan lagi. Bulan Rejab yang bakal menjelang tiba, di mana kisah Isra` dan Mi’raj biasanya akan diperingati. Dalam kisah tersebut jelas dan nyata bahawa segala arwah anbiya` yang telah wafat sekian lama sebelum lahirnya Junjungan Nabi SAW telah berhimpun pada malam 27 Rejab tersebut di Masjidil Aqsha untuk sholat berimamkan Junjungan Nabi s.a.w. Bukankah Masjidil Aqsha itu wujudnya di alam nyata di dunia yang fana ini dan bukankah arwahnya para anbiya` tersebut berada di barzakh. Mungkin ada yang berkata bahawa ianya dikhususkan untuk arwahnya para nabi, itu satu kemungkinan, tetapi mungkin juga tidak. Mungkin juga ianya berlaku kepada arwah para nabi dan para pewaris mereka yang terdiri daripada kalangan khawasnya umat. Oleh itu, pendapat yang menyatakan bahawa setiap roh yang berada di barzakh tidak boleh kembali ke alam dunia adalah pendapat yang tidak tepat. Ya, tiada roh yang sudah berpindah ke alam barzakh boleh kembali ke dunia untuk menjalani kehidupan duniawi seperti sebelum kematiannya iaitu hidup kembali dengan roh dan jasad, tetapi apa pula yang menegahkan roh kalangan khawas daripada para anbiya` dan awliya` serta sholihin untuk kembali ke alam dunia dengan kehidupan barzakhiyyah, iaitu dengan roh semata-mata. Bukankah wujud nas-nas yang menyatakan keharusan (baca: boleh) bagi roh-roh tertentu untuk berpergian ke mana-mana sahaja. Bahkan banyaknya hadits dan atsar yang berbagai-bagai menceritakan tempat dan keberadaan roh-roh, sudah cukup membuktikan kepelbagaian tempat dan keadaan roh-roh tersebut. Walau bagaimanapun, roh itu termasuk urusan Tuhan, maka, setiap pihak baik yang pro dan kontra, sewajarnya mengembalikan urusan tersebut kepadaNya, tanpa bersikap fanatik dengan pendapat sendiri semata-mata. Dan perlu juga kita ketahui bahawa datang dan perginya arwah para anbiya` dan awliya` tersebut termasuk perkara yang mumkin bagi Allah SWT. Akhirul kalam, Imam asy-Sayuthi rahimahUllah dalam “Syarhush Shudur bi syarhi haalil mawtaa wal qubuur” pada halaman 312 menulis:-

Diriwayatkan oleh al-Hakim at-Tirmidzi daripada Sayyidina Salman r.a. yang berkata: “Bahawasanya arwah kaum mu’minin di barzakh pada dunia ini bebas berpergian ke mana-mana yang dikehendaki antara langit dan bumi, sehinggalah Allah mengembalikannya kepada jasad-jasad mereka (yakni pada hari kebangkitan nanti).”Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya daripada Sayyidina Malik bin Anas r.a. yang berkata:- “Telah sampai kepadaku bahawasanya roh-roh orang mu’min itu bebas berpergian ke mana-mana sahaja yang dikehendaki.”

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Terasa Mempunyai Hubungan Kerohanian Dengan Guru

Terasa Mempunyai Hubungan Kerohanian Dengan Guru

Ulama Mursyid
A. Pengertian Kedudukan mursyid atau pemimpin peramalan dalam suatu tarikat menempati posisi penting dan menentukan. Seorang mursyid bukan hanya memimpin, membimbing dan membina murid-muridnya dalam kehidupan lahiriah dan pergaulan sehari-hari supaya tidak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam dan terjerumus kedalam maksiat seperti berbuat dosa besar atau dosa kecil, tetapi juga memimpin, membimbing dan membina murid-muridnya melaksanakan kewajiban yang ditetapkan oleh syara’ dan melaksanakan amal-amal sunnah untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah SWT. Disamping memimpin yang bersifat lahiriah tersebut, seorang mursyid adalah juga pemimpin kerohanian bagi murid-muridnya, menuntun dan membawa murid-muridnya kepada tujuan tarikat guna mendapatkan ridla Allah SWT. Oleh sebab itu seorang mursyid pada hakikatnya adalah sahabat rohani yang sangat akrab sekali dengan rohani muridnya yang bersama-sama tak bercerai-cerai, beriring- iringan, berimam-imaman melaksanakan zikrullah dan ibadat lainnya menuju ke hadirat Allah SWT. Persahabatan itu tidak saja semasa hidup di dunia, tetapi persahabatan rohaniah ini tetap berlanjut sampai ke akhirat, walaupun salah seorang telah mendahului berpulang ke rahmatullah, dan telah sederetan duduknya dengan para wali Allah yang saleh.(Kadirun Yahya,1982 : 15-16).
As Syekh Muhammad Amin Al Kurdi dalam bukunya yang terkenal “Tanwirul Qulub” menjelaskan bahwa seorang murid/salik dalam usahanya menuju ke hadirat Allah SWT yang didahului dengan tobat, membersihkan diri rohani, kemudian mengisinya dengan amal-amal saleh haruslah mempunyai Syekh yang sempurna pada zamannya, yang melaksanakan ketentuan syariat berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadis, dan mengikuti peramalan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW secara berkesinambungan yang diteruskan oleh para ahli silsilah sampai pada zamannya. Seorang mursyid yang silsilahnya berkesinambungan sampai dengan Nabi Muhammad SAW, haruslah mendapatkan izin atau statuta dari mursyid sebelumnya. Dengan demikian seorang mursyid haruslah telah mendapatkan pendidikan yang sempurna, sudah arif billah, seorang wali yang mendapat izin atau statuta dari mursyid sebelumnya. Seorang murid/salik yang bertarikat tanpa Syekh maka mursyidnya adalah syetan. (Amin Al Kurdi, 1994 : 353).
Syekh Abu Yazid Al Busthami, Artinya :
“Orang yang tidak mempunyai Syekh Mursyid, maka syekh mursyidnya adalah syetan.”
Pengertian Mursyid dijelaskan oleh Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya dalam beberapa buku dan ceramahnya bahwa Mursyid itu bukan wasilah, tapi Mursyid itu adalah pembawa wasilah atau hamilul wasilahatau wasilah carrier,menggabungkan wasilah itu kepada wasilah yang telah ada pada rohaniah Rasulullah SAW. Sebagai pemimpin rohani mursyid mempunyai sifat-sifat kerohanian yang sempurna, bersih dan kehidupan batin yang murni. Mursyid adalah orang yang kuat sekali jiwanya, memiliki segala keutamaan, dan mempunyai kemampuan makrifat. Mursyid merupakan kekasih Tuhan. Secara khusus mendapat berkah daripada-Nya, dan sekaligus menjadi pembawa wasilah dari hamba kepada Tuhannya. Pada dirinya terkumpul makrifat sempurna tentang syariat Tuhan, mengetahui berbagai penyakit rohani dan tahu cara pengobatannya. Sebagai kekasih Allah, Mursyid mendapat anugerah kemampuan untuk mendatangkan maunah-maunah atau karamah-karamah. Syekh Mursyid dalam melaksanakan tugasnya mempunyai predikat-predikat sesuai dengan tingkat dan bentuk pengajaran yang diberikan kepada murid-muridnya. Predikat-predikat itu dapat saja terkumpul dalam diri satu orang atau ada pada beberapa orang. Predikat itu antara lain :
(1) Syaikh al-Iradah, yaitu tingkat tertinggi dalam tarikat yang iradahnya (kehendaknya) telah bercampur dan bergabung dengan hukum Tuhan, sehingga dari syekh itu atau atas pengaruhnya orang yang meminta petunjuk menyerahkan jiwa dan raganya secara total.
(2) Syaikh al-Iqtida’, yaitu guru yang tindak tanduknya sebaiknya ditiru oleh murid, demikian pula perkataan dan perbuatannya seyogyanya diikuti.
(3) Syaikh at-Tabarruk, yaitu guru yang selalu dikunjungi oleh orang-orang yang meminta petunjuk, sehingga berkahnya melimpah kepada mereka.
(4) Syaikh al-Intisab, ialah guru yang atas campur tangan dan sifat kebapakannya, maka orang yang meminta petunjuknya akan beruntung, lantaran bergantung kepadanya. Dalam hubungan ini orang itu akan menjadi khadamnya (pembantunya) yang setia, serta rela menerima berbagai perintahnya yang berkaitan dengan tugas-tugas keduniaan.
(5) Syaikh at- Talqin, adalah guru kerohanian yang membantu setiap individu anggota tarikat dengan berbagai do’a atau wirid yang selalu harus diulang-ulang.
(6) Syaikh at-Tarbiyah, adalah guru yang melaksanakan urusan-urusan para pemula dalam suatu lembaga tarikat. Tempat tinggal syekh biasanya disebut Zawiyah, dan di tempat itu dia dibantu oleh para khadam dalam menjalankan tugasnya(Ensiklopedi Islam 3, 1994 : 303). B.
Dalil-Dalil Banyak dalil naqli Al Qur’an maupun Al Hadis, yang menjelaskan tentang fungsi dan kedudukan Mursyid. Menjelaskan dalil naqli tersebut kita temui pula Qaulul Arifin yaitu kata-kata mutiara sufi yang telah arif billah menjelaskan fungsi dan kedudukan mursyid tersebut dalam suatu tarikatullah.

Firman Allah SWT, Artinya : Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah orang yang mendapat petunjuk dan siapa yang dibiarkan-Nya sesat, maka tidak ada seorang pemimpin (Wailyyam Mursyida) pun yang memberinya petunjuk (Q.S. Al Kahfi 18 : 17). Firman Allah SWT, Artinya : Barang siapa mentaati Allah dan Rasul, maka mereka itu bersama-sama dalam deretan orang- orang yang diberikan Allah kurnia pada mereka yaitu para Nabi, para shidiqin, orang-orang syahid dan orang-orang yang saleh. Adalah sebaik-baiknya bersahabat dengan mereka (Q.S. An Nisa’ 4 : 69). Firman Allah SWT, Hai orang-orang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama dengan orang- orang yang benar (Q.S. At Taubah 9 : 119). Dari Q.S Al Kahfi 18 : 17 tersebut dapat disimpulkan bahwa Mursyid itu adalah seorang wali yang berfungsi sebagai pembimbing rohani dari seorang yang mendapat hidayah dari Allah SWT. Dari Q.S. An Nisa’ 4 : 69 juga Q.S. At Taubah 9 : 119 Mursyid itu termasuk kelompok orang- orang yang benar dan orang-orang yang saleh. Tafsir Al Maraghi V : 128, menjelaskan tentang tafsir Q.S. Al Kahfi 18 : 17bahwa Ashabul Kahfi adalah contoh orang yang mendapat petunjuk, memperoleh jalan yang benar dan mendapat kemenangan dunia akhirat. Mereka itu adalah orang yang mendapat irsyad/petunjuk dari Allah SWT, sedangkan orang yang sesat adalah orang yang tidak mendapatkan hidayah irsyad/petunjuk itu dan tidak pula mendapatkan seseorang yang menunjukinya (mursyid) maka larutlah dia dalam keadaan sesat itu.
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Dari Usman bin Affan r.a. d ia berkata, Rasulullah bersabda, “Di hari kiamat, yang memberi syafaat ada tiga golongan yaitu para nabi, para ulama, dan para syuhada.” (H.R. Ibnu Majah).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Dari Abu Sa’id, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sebagian dari umatku ada yang memberi syafaat kepada golongan besar dari manusia, sebagian dari mereka ada yang memberi syafaat kepada satu suku, sebagian dari mereka ada yang memberi syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga semuanya.” (H.R. Tarmizi).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : “Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah, jika kamu belum bisa menjadikan dirimu beserta dengan Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta dengan Allah, maka sesungguhnya orang itulah yang menghubungkan engkau (rohanimu) kepada Allah”. (H.R. Abu Daud) Yang dimaksud dengan ulama dalam hadis riwayat Ibnu Majah dan orang yang memberi syafaat dalam hadis riwayat Tarmizi termasuk para Mursyid. Dalam sabda Rasulullah orang yang telah beserta dengan Allah itu termasuk para wali mursyid.
C. Syarat-syarat Berdasarkan pengertian tentang Mursyid dan dalil-dalilnya, maka tidak semua orang bisa menjadi mursyid. Walaupun fungsi Mursyid itu sama dengan fungsi guru yaitu memimpin, membimbing dan membina murid-muridnya, tapi bidangnya adalah rohani yang sangat halus yang berpusat pada lubuk hati sanubari. Jadi sifatnya tidak kelihatan, ghaib atau metafisika. Pelajaran yang diberikan mursyid kepada muridnya merupakan transfer of spiritual yaitu Iman dan Takwa (Imtak). Adapun fungsi guru yang kita kenal adalah transfer of knowledge. Dia mengajarkan masalah-masalah ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Menurut Al Mukarram Saidi Syekh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya ada delapan syarat utama bagi seorang mursyid itu, yaitu :
1). Pilihlah guru yang mursyid, yang dicerdikkan Allah SWT dengan izin dan ridho-Nya bukan dicerdikkan oleh yang lain-lain.
2). Kamil lagi Mukammil (sempurna dan menyempurnakan), yang diberi kurnia oleh Allah, karena Allah.
3). Memberi bekas pengajarannya (kalau ia mengajar atau mendo’a berbekas pada si murid, si murid berubah ke arah kebaikan), berbekas pengajarannya itu, dengan izin dan ridla Allah, Biiznillaahi.
4). Masyhur ke sana ke mari, kawan dan lawan mengakui, ia seorang guru besar.
5). Tidak dapat dicela pengajarannyaoleh orang yang berakal, karena tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Al Hadis dan akal/ilmu pengetahuan.
6). Tidak mengerjakan hal yang sia-sia, umpamanya membuat hal-hal yang tidak murni halalnya.
7). Tidak setengah kasih kepada dunia, karena hatinya telah bulat penuh kasih kepada Allah. Dia ada giat bergelora dalam dunia, bekerja hebat dalam dunia, tetapi tidak karena kasih kepada dunia itu, tetapi karena prestasinya itu adalah sebagai wujud pengabdiannya kepada Allah SWT.
8). Mengambil ilmu dari “Polan” yang tertentu ; Gurunya harus mempunyai tali ruhaniah yang nyata kepada Allah dan Rasul dengan silsilah yang nyata. Di kalangan sufi atau tarikat, berguru itu yang penting tidak hanya mendapatkan pelajaran atau ilmu pengajaran, tetapi yang lebih penting lagi dalam belajar dengan Syekh Mursyid itu adalah beramal intensif dan berkesinambungan, serta memelihara adab dengan Syekh Mursyid sebaik-baiknya. Dengan cara ini seseorang murid antara lain akan mendapatkan Ilmu Ladunni langsung dari Allah SWT yang berbentuk makrifah karena terbukanya hijab. Inilah yang dimaksud dengan syarat nomor satu tersebut. Syarat yang terpenting lainnya bahwa seseorang mursyid itu harus mempunyai silsilah dan statuta yang jelas dari gurunya, seperti yang tersebut pada syarat nomor delapan. As Syekh Muhammad Amin Al Kurdi dalam buku Tanwirul Qulubnya ada 24(duapuluh empat) syarat yang harus dipenuhi oleh seorang Mursyid yaitu :
1). Mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Syariah dan Akidah yang dapat menjawab, dan memberikan penjelasan bila mereka bertanya tentang itu.
2). Mengenal dan arif tentang seluk beluk kesempurnaan dan peranan hati serta mengetahui pula penyakit-penyakit, kegelisahan-kegelisahannya dan mengetahui pula cara-cara mengobatinya.
3). Bersifat kasih sayang sesama muslim terutama kepada muridnya. Apabila seorang mursyid melihat muridnya tidak sanggup meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jeleknya maka ia harus bersabar dan tidak mencemarkan nama baiknya. Dia juga harus terus menerus memberi nasehat, memberi petunjuk sampai muridnya itu kembali menjadi orang baik.
4). Mursyid harus menyembunyikan atau merahasiakan aib dari murid-muridnya.
5). Tidak tersangkut hatinya kepada harta muridnya dan tidak pula bermaksud untuk memilikinya.
6). Memerintahkan kepada murid apa yang harus dilaksanakan dan melarang apa yang harus ditinggalkan. Untuk itu Mursyid harus memberi contoh sehingga ucapannya menjadi berwibawa.
7). Tidak duduk terus menerus bersama dengan muridnya kecuali sekedar hajat yang diperlukan. Kalau dia bermuzakarah memberi pelajaran kepada murid-muridnya haruslah memakai kitab-kitab yang muktabarsupaya mereka bersih dari kotoran yang terlintas dalam hati, dan supaya mereka dapat melaksanakan ibadat yang sah dan sempurna.
8). Ucapannya hendaklah bersih dari senda gurau dan olok-olok, tidak mengucapkan sesuatu yang tidak perlu.
9). Hendaklah selalu bijaksana dan lapang dada terhadap haknya. Tidak boleh minta dihormati, dipuji atau disanjung-sanjung dan tidak membebani murid dengan sesuatu yang tidak sanggup dilaksanakannya dan tidak menyusahkan mereka.
10). Apabila dia melihat seorang murid yang kalau banyak duduk semajelis dengannya, bisa mengurangi kewibawaan dan kebesarannya, hendaklah si murid itu segera disuruh berkhalwat yang tidak begitu jauh darinya.
11). Apabila ia melihat kehormatan terhadap dirinya sudah berkurang dalam anggapan hati murid- muridnya, hendaklah ia segera mengambil langkah-langkah yang bijaksana untuk mencegahnya, sebab yang demikian ini adalah musuh yang terbesar.
12). Tidak lalai untuk memberi petunjuk kepada mereka, tentang hal-hal untuk kebaikan murid- muridnya.
13). Apabila murid menyampaikan sesuatu yang dilihatnya dalam mukasyafah maka hendaklah ia tidak memperpanjang percakapan tentang itu. Karena kalau mursyid memperpanjang pembicaraannya tentang penglihatan murid tadi, mungkin murid itu akan merasa martabatnya sudah tinggi dan ini akan merusak citranya.
14). Mursyid wajib melarang murid-muridnya membicarakan rahasia tarikat kepada orang yang bukan ikhwannya kecuali terpaksa. Mursyid juga mencegah pembicaraan tentang sesuatu yang luar biasa yang dialaminya walaupun dengan sesama ikhwan, sebab yang demikian ini akan menimbulkan rasa sombong dan takabur atau menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain.
15). Mursyid hendaklah berkhalwat pada tempat yang khusus dan tidak memperkenankan orang lain masuk kecuali orang-orang yang telah ditentukan.
16). Mursyid hendaklah menjaga agar muridnya tidak melihat segala gerak-geriknya, tidurnya, makan dan minumnya, sebab yang demikian bisa mengurangi penghormatan murid terhadap syekh yang bercerita dan mempergunjingkannya yang merusak kemaslahatan murid itu sendiri.
17). Tidak membiarkan murid terlalu banyak makan, karena banyak makan itu memperlambat tercapainya latihan yang diberikan oleh Mursyid, dan banyak makan itu menjadikan murid itu budak perut.
18). Melarang murid-muridnya semajelis dengan mursyid lain, sebab yang demikian membahayakan keadaan murid itu sendiri. Tetapi apabila dia melihat pergaulan itu tidak akan mengurangi kecintaan dan tidak pula akan menggoyahkan pendirian muridnya, maka boleh saja mursyid membiarkan muridnya semajelis dengan syekh lain.
19). Harus mencegah muridnya sering mengunjungi pejabat-pejabat atau para hakim, supaya murid jangan terpengaruh, dan bisa menghambat tujuannya untuk menuju akhirat.
20). Tutur kata dan tegur sapa hendaklah dilaksanakan dengan sopan santun dan lemah lembut dan tidak boleh berbicara kasar atau memaki-maki.
21). Apabila seorang murid mengundangnya maka hendaklah dia menerima undangan itu dengan penuh penghormatan dan penghargaan.
22). Apabila mursyid duduk bersama muridnya, hendaklah dia duduk dengan tenang, sopan, tertib dan tidak gelisah dan tidak banyak menoleh kepada mereka. Tidak tidur bersama mereka, tidak melunjurkan kaki. Para murid harus percaya bahwa mursyid itu mempunyai sifat-sifat terpuji yang menjadi ikutan dan panutan mereka.
23). Apabila mursyid menerima kedatangan murid, hendaklah dia menerimanya dengan senang hati, tidak dengan muka yang masam dan apabila murid meninggalkannya hendaklah mursyid mendo’akannya tanpa diminta. Apabila Mursyid datang kepada muridnya, hendaklah ia berpakaian rapi, bersih dan bersikap yang sebaik-baiknya.
24). Apabila seorang murid tidak hadir di majelis zikir, hendaklah ia bertanya dan meneliti apa sebabnya. Kalau dia sakit, hendaklah dia jenguk atau ada keperluan hendaklah ia bantu atau karena ada suatu halangan hendaklah dia mendo’akannya.
As Syekh Amin Al Kurdi berkesimpulan bahwa sifat mursyid harus meneladani sifat-sifat Rasulullah menghadapi sahabat-sahabatnya sesuai dengan kemam-puannya (Amin Al Kurdi, 1994 : 453-455). Imam Al Ghazali menyatakan bahwa murid tak boleh tidak harus mempunyai syekh yang memimpinnya, sebab jalan iman adalah samar, sedangkan jalan Iblis itu banyak dan terang. Barang siapa yang tak mempunyai syekh sebagai petunjuk jalan dia pasti akan dituntun oleh Iblis dalam perjalanannya itu. D. Menghadirkan Mursyid Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya dalam fatwanya pada peringatan Hari Guru dan Hari Silsilah tanggal 20 Juni 1996, menegaskan tentang menghadirkan mursyid. Dalam fatwa itu beliau mengatakan salah satu metode berzikir dan beramal dalam tarikatullah Naqsyabandiyah adalah menghadirkan Syekh Mursyid sebagai imam rohani. Dengan hal ini akan mendapatkan konsentrasi penuh dalam berzikir dan beribadat. Sesungguhnya menghadirkan (menyertakan) Syekh Mursyid dalam berzikir dan beribadat tidak hanya terdapat dalam Tarikatullah Naqsyabandiyah saja, tetapi juga terdapat pada seluruh lembaga tarikat-tarikat muktabarah.
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Menceritakan kepada kami Sofian bin Wakik, mengabarkan kepada kami Bapakku dari Sofian, dari ‘Asyim bin Ubaidillah, dari Salim, dari Ibnu Umar, dari Umar bin Khattab, bahwa sesungguhnya Umar bin Khattab pada waktu minta ijin kepada Nabi SAW untuk melaksanakan ibadat Umrah, maka Nabi bersabda, “Wahai saudaraku Umar, ikut sertakan aku/hadirkan aku, pada waktu engkau berdo’a nanti, dan jangan engkau lupakan aku”. Hadis ini adalah hadis Hasan Sahih. (H.R. Abu Daud dan Turmuzi).
Demikian pula menurut riwayat Saidina Abu Bakar r.a. dan Saidina Ali r.a. menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa mereka tidak pernah lupa, tapi selalu teringat kepada Rasulullah pada setiap melaksanakan ibadat bahkan sampai pada waktu di kamar kecil. Rasulullah membenarkan apa yang telah mereka alami itu. Para pakar Tarikat Naqsyabandiah sepakat membolehkan dan membenarkan untuk menghadirkan Syekh Mursyid karena fungsinya sebagai ulama pewaris Nabi, sebagai imam/pembimbing rohani, dengan tujuan agar orang yang berzikir dan beribadat itu terhindar dari segala was-was, rupa- rupa/pandangan-pandangan lain, bisikan-bisikan lain, perasaan-perasaan lain, yang diciptakan oleh iblis dan syetan yang selalu mengganggu orang-orang yang berzikir dan beribadat itu, padahal yang bersangkutan belum tinggi kualitas Iman dan Takwanya.
Rasulullah SAW bersabda, “Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah, jika kamu belum bisa menjadikan dirimu beserta dengan Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta dengan Allah, maka sesungguhnya orang itulah yang menghubungkan engkau (rohanimu) kepada Allah” (H.R. Abu Daud).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Dari Abdullah bin Busrin r.a. berkata, bersabda Rasulullah SAW, “Sangat beruntunglah bagi orang yang melihat aku dan beriman kepadaku, sangat beruntung pula orang yang melihat orang yang telah melihat aku, demikian juga seterusnya orang yang telah melihat orang yang telah melihat aku tadi dan beriman kepadaku, dan beruntunglah kesemuanya dan bagi mereka semua mendapatkan sebaik- baik tempat kembali kepada Allah.” (H.R. Ath-Thabrani).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Ya Ali, orang mu’min senantiasa tambah dalam agamanya selama tidak makan barang haram, dan barang siapa mencerai (menjauhi) ulama (jasmani dan rohani) maka matilah hatinya dan buta dari taat kepada Allah SWT (Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani, Washiyyatul Musthafa lil Imam Ali : 3). Sayyid Al Bakri dalam buku “Kifayatul Atqiyah”mengatakan, Artinya : Dan menyatakan pula kepada (zikir Allah, Allah) itu menghadirkan gurunya yang mursyid, agar menjadi teman dalam perjalanan menuju kepada Allah ta’ala (Sayyid Al Bakri, Kifayatul Atqiyah : 107).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Barangsiapa melihat aku, maka betul-betul dia telah melihat aku. Sesungguhnya aku bisa menzahir dalam tiap-tiap rupa. (Sayyid Ahmad bin Idris, kitab Ruhus Sunnah Warauqun Nufusil .Mutma’innah : 147). Sabda Rasulullah SAW : Artinya : Barangsiapa memuliakan orang alim, maka sesungguhnya dia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, sesungguhnya dia telah memuliakan Allah dan barangsiapa yang memuliakan Allah maka surgalah tempatnya (Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as Suyuti, kitab “Lubabul Hadis” : 8).
1. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Barangsiapa melihat wajah orang alim (jasmani dan rohani) satu kali, dan dia bergembira, senang, menghayati dengan penglihatan itu, maka Allah ta’ala akan menjadikan dengan melihatnya itu, malaikat-malaikat yang memintakan ampun untuknya sampai hari kiamat. (Kitab Lubabul Hadis : 8).
2. Syekh Amin Al Kurdi menjadikan kisah Yusuf dengan Siti Zulaikha yang tidak jadi melaksanakan hubungan seksual, karena terbayang atau hadirnya dalam rohani ingatan Yusuf, yaitu ayahnya sendiri dan suami Zulaikha (Al Aziz, Perdana Menteri Mesir), betapa murkanya mereka ini nanti kalau terjadi perbuatan yang tidak susila itu. Syekh Amin Al Kurdi dan tokoh-tokoh sufi lainnya menjadikan Q.S. Yusuf 12 : 23 dan 24 ini sebagai dalil boleh dan perlunya menghadirkan mursyid supaya terhindar dari was-was iblis dan syetan. Yusuf menghadirkan ayahnya yitu Nabi Ya’cubdalam ingatan, sekaligus tersambung kepada Allah SWT, sehingga tercegahlah perbuatan tidak susila itu. Firman Allah SWT , Artinya : Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, “Marilah ke sini”. Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku (Qithfir) telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf. Dan Yusuf pun tentu akan bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba- hamba Kami yang terpilih. (Q.S. Yusuf 12 : 23 – 24). Prof.Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya selanjutnya memfatwakan dan menegaskan kepada murid- murid beliau bahwa tidak boleh menjadikan foto Syekh Mursyid sebagai perantara, apalagi disembah atau disyarikatkan bersama-sama dengan Allah SWT. Jangankan fotonya, Syekh Mursyid pun bukan perantara dan bukan yang disembah atau disyarikatkan dengan Allah SWT. Syekh Mursyid tidak memberi bekas karena yang memberi bekas hanya Allah SWT saja. Yang memberi bekas adalah kudrat dan iradat Allah SWT yang merupakan power dan frekuensi tak terhingga ( ), langsung dari Allah SWT, yang tersalur melalui Arwahul Muqaddasah para Nabi dan para RasulAllah, serta para Wali Allah dan kepada orang-orang saleh yang berzikir, baik lahir maupun batin bersama-sama dengan mereka. Syekh Mursyidsebagaimana halnya wali-wali Allah yang lain, bukan juga wasilah, tetapi pembawa wasilah atau wasilah carrieratau hamilul wasilah yang menyalurkan wasilah, power dan frekuensi tak terhingga ( ) dari Allah SWT. Orang yang merabithkan rohaniahnya kepada rohaniah wali-wali yang ada padanya wasilah, maka dia akan langsung juga mendapatkan power dan frekuensi wasilah yang tak terhingga itu, sehingga faktor tak terhingga menjelma padanya yang disebut khariqul ‘adah, yang berbentuk ma’unah-ma’unah ataupun kekeramatan-kekeramatan. Prof. Dr. H. Kadirun Yahya menjelaskan selanjutnya sebagai pedoman dari Tarikat Naqsyabandiyah adalah sebagai berikut :
3. 1. Tarikat ini adalah Tarikat Naqsyabandiah berdasarkan dalil Al Qur’an, Al Hadis, Ijma’ dan Qiyas.
4. 2. Bermazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
5. 3. Bermazhab Syafi’iah dalam bidang fikih.
6. 4. Pengamal tarikat tidak boleh mengabaikan atau meninggalkan syariat, sebab antara keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Antara syariat dan tarikat adalah ibarat bawang. Kulit bawang itu sendiri sekaligus adalah isinya dari lapisan pertama sampai dengan lapisan terakhir. Kulit bawang adalah hakikat bawang itu sendiri dan sebaliknya, hakikat bawang adalah kulitnya itu sendiri. Begitu pulalah halnya antara syariat dan tarikat, antara syariat dan hakikat. Tarikat itu adalah pengamalan syariat itu sendiri.

5. Buat Usaha Dakwah

Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kamu sekalian, ahlulbaiyt, dan mensucikan kamu sekalian dengan sesuci-sucinya.” (al-Quran s.al-Ahzab:33) Nabi s.a.w.bersabda, “Yang terbaik diantara kamu sekalian ialah yang terbaik perlakuaannya terhadap ahlulbaiytku, setelah aku kembali kehazirat Allah.” (Hadis Sahih dari Abu Hurairah r.a. diriwayatkan oleh al-Hakim, Abu Ya’la, Abu Nu’aim dan Addailamiy) Imam Syafi’i r.a. dalam banyak syair beliau telah melahirkan rasa cinta dan kasih sayang beliau kepada Ahlulbaiyt Rasulallah s.a.w.antara syair beliau yang banyak itu, beliau pernah bermadah: “Wahai Ahlulbait Rasulallah ! Kecintaan kepadamu adalah kewajiban dari Allah, yang turun dalam al-Quran. Cukuplah bukti betapa tingginya kamu sekalian. Tiada sempurna sholat tanpa shalawat untuk anda sekalian.”
HADIS NABI Berkaitan Ahlulbait : 1.Hadis Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Penduduk Yaman datang, mereka lebih lembut hatinya. Iman ada pada orang Yaman. Fekah juga ada pada orang Yaman. Kemudian hikmat juga ada pada orang Yaman
2.Hadis Abi Mas’ud Uqbah bin Amru r.a katanya: Nabi s.a.w memberi isyarat dengan tangan ke arah Yaman, seraya bersabda: Ingatlah, sesungguhnya iman ada di sana sedangkan kekerasan dan kekasaran hati ada pada orang-orang yang bersuara keras berhampiran pangkal ekor unta ketika muncul sepasang tanduk syaitan, iaitu pada Bani Rabi’ah dan Bani Mudhar
3. Nabi s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang dilambatkan oleh amalannya, tidaklah dia dipercepatkan oleh nasab keturunannya.”
4. Dari Abdul Muthalib ibnu Rab’ah ibnul Khariif, katanya Rasulullah SAW telah bersabda : ” Sesungguhnya sedeqah itu berasal dari kotoran harta manusia dan ia tidak dihalalkan bagi Muhammad mahupun bagi keluarga Muhammad .” (HR Muslim)
5. At-Thabarani dan lain-lain mengketengahkan sebuah Hadeeth yang bermaksud; “Belum sempurna keimanan seorang hamba Allah sebelum kecintaannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri; sebelum kecintaannya kepada keturunanku melebihi kecintaannya kepada keturunannya sendiri; sebelum kecintaannya kepada ahli-baitku melebihi kecintaannya kepada keluarganya sendiri, dan sebelum kecintaannya kepada zatku melebihi kecintaannya kepada zatnya sendiri .”
6. Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tarmizi dari `Ali RA bahawa Rasulullah SAW bersabda :”Barangsiapa mencintai kedua orang ini, yakni Hassan,Hussein dan ayah serta ibunya, maka ia bersama aku dalam darjatku di Hari Kiamat
7. Ibnu `Abbas RA berkata bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Cintailah Allah atas kenikmatan yang diberikanNya kepadamu sekelian dan cintailah aku dengan mencintai Allah dan cintailah ahlul-baitku kerana mencintaiku”
8. Ad- Dailami meriwayatkan sebuah Hadeeth dari `Ali RA yang menyebut sabda Rasulullah SAW: “Di antara kalian yang paling mantap berjalan di atas sirath ialah yang paling besar kecintaannya kepada ahlul-baitku dan para sahabatku.”
9. Diriwayatkan oleh At-Thabarani, bahawa Jabir RA mendengar `Umar ibnu Khattab RA berkata kepada orang ramai ketika mengahwini Ummu Kalthum binti `Ali bin Abu Thalib : “Tidakkah kalian mengucapkan selamat untukku? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ` Semua sabab (kerabat) dan nasab (salasilah keturunan) akan terputus pada hari kiamat kelak kecuali kerabat dan nasabku’.
10. Hadeeth Thaqalain riwayat Zaid bin Al-Arqam RA menyebut : “Kutinggalkan di tengah kalian dua bekal. (Yang pertama): Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya terang. Hendaklah kalian ambil dan berpegang teguh padanya.dan (kedua) :Ahli Baitku. Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai Ahli-Baitku! Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai Ahli-Baitku!”
11.Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dalam Hadeeth lain: “Apabila bintang-bintang lenyap, lenyaplah penghuni langit; dan apabila ahli-baitku lenyap, lenyap pula penghuni bumi.”
12.Sebuah Hadeeth riwayat Al Hakim dan disahihkan oleh Bukhari & Muslim menyebut : “Bintang-bintang merupakan (sarana) keselamatan bagi penghuni bumi (yang sedang belayar) dari bahaya tenggelam/karam sedangkaan ahlul-baitku sarana keselamatan bagi umatku dari perselisihan (dalam agama). Bila ada satu kabilah Arab yang membelakangi ahlul-baitku, mereka akan berselisih kemudian menjadi kelompok Iblis.”
13. Hadeeth Rasulullah SAW dari Abu Dzar menyatakan :” Ahlul- baitku di tengah kalian ibarat bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang ketinggalan ia binasa.”
14. Abu Dzar Al- Ghiffari RA menuturkan bahawa ia mendengar sabdaan Rasulullah SAW :””Jadikanlah ahlul-baitku bagi kalian sebagai kepala bagi jasad dan sebagai dua belah mata bagi kepala.”
15. Hadeeth riwayat Imam At-Tarmidzi, bahawa Rasulullah SAW telah bersabda : “Dunia tidak akan berakhir sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang lelaki dari keluargaku yang namanya menyerupai namaku.
http://firdausalawiyyin.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Maridjan ditemui mati dalam keadaan sujud

Maridjan ditemui mati dalam keadaan sujud
27/10/2010 11:47am

Oleh Borhan Abu Samah

MAYAT dipercayai penjaga kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan ditemui mati di dalam rumahnya di kaki gunug berapi tersebut di Jawa Tengah, Indonesia. – UTUSAN

——————————————————————————–

YOGYAKARTA 27 Okt. – Penjaga kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan dipercayai ditemui mati di dalam rumahnya di kaki gunung berapi itu dekat sini dalam keadaan sujud.

Jenazah itu ditemui keadaan sujud dan mengadap kiblat dan kini ditempatkan di Hospital Sandjito.

Doktor hospital berkenaan, Kresno Heru Nugroho berkata, ciri-ciri fizikal mayat itu sama dengan Mbah Maridjan.

Pakaiannya juga, kata beliau adalah sama dengan yang diberi gambaran oleh keluarga warga emas itu.

Bagaimanapun jelas doktor berkenaan pengesahan hanya dapat dibuat apabila selesai ujian DNA.

Masyarakat Jawa mempercayai jurukunci merupakan orang perantaraan roh gunung berapi dengan masyarakat. – Utusan

TAJUK-TAJUK BERITA LAIN

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Korban Gunung Merapi meningkat

Korban Gunung Merapi meningkat
27/10/2010 12:14pm

Yogyakarta 27 Okt. – Sekurang-kurangnya 25 terkorban dan beribu-ribu lagi terpaksa melarikan diri apabila Gunung Merapi di pulau Jawa Indonesia mula meletus semalam.

Ahli saintis sebelum ini telah mengeluarkan amaran bahawa tekanan yang semakin meningkat di bawah kubah lahar gunung itu boleh mencetuskan letupan paling kuat dalam tempoh beberapa tahun.

Bagaimanapun, pakar gunung berapi kerajaan, Gede Swantika menyuarakan harapan letupan yang mengeluarkan batu dan lahar menuruni cerun gunung itu, mungkin akan mengeluarkan wap secara perlahan-lahan.

“Adalah terlalu awal untuk memastikannya. Letupan susulan mungkin akan berlaku, tetapi jika ia terus meletup seperti ini untuk seketika, kita akan berhadapan dengan letupan perlahan dan berpanjangan,” katanya. – AP

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 811 other followers