Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Rahasia Sholat Dhuha

Rahasia Sholat Dhuha
Wed, Mar 24, 2010
Doa dan Dzikir

Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.”
[HR. Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah]

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Kekasihku Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat kepadaku tiga perkara: [1] puasa tiga hari setiap bulan, [2] dua rakaat shalat Dhuha dan [3] melaksanakan shalat witir sebelum tidur.”
[HR. Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad dan Ad-Darami]

Dari Abud Darda, ia berkata: “Kekasihku telah berwasiat kepadaku tiga hal. Hendaklah saya tidak pernah meninggalkan ketiga hal itu selama saya masih hidup: [1] menunaikan puasa selama tiga hari pada setiap bulan, [2] mengerjakan shalat Dhuha, dan [3] tidak tidur sebelum menunaikan shalat Witir.”
[HR. Muslim, Abu Dawud, Turmuzi dan Nasa’i]

Dari Anas [bin Malik], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”.
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Dari Abu Said [Al-Khudry], ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhuha, sehingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Dan jika beliau meninggalkannya, kami mengira seakan-akan beliau tidak pernah mengerjakannya”.
[HR. Turmuzi, hadis hasan]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat Dhuha itu dapat mendatangkan rejeki dan menolak kefakiran. Dan tidak ada yang akan memelihara shalat Dhuha melainkan orang-orang yang bertaubat.”
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Anjuran Shalat Dhuha

Dari Aisyah, ia berkata: “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Dhuha, sedangkan saya sendiri mengerjakannya. Sesungguhnya Rasulullah SAW pasti akan meninggalkan sebuah perbuatan meskipun beliau menyukai untuk mengerjakannya. Beliau berbuat seperti itu karena khawatir jikalau orang-orang ikut mengerjakan amalan itu sehingga mereka menganggapnya sebagai ibadah yang hukumnya wajib (fardhu).”
[HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Malik dan Ad-Darami]

Dalam Syarah An-Nawawi disebutkan:
Aisyah berkata seperti itu karena dia tidak setiap saat bersama Rasulullah. Pada saat itu Rasulullah memiliki istri sebanyak 9 (sembilan) orang. Jadi Aisyah harus menunggu selama 8 hari sebelum gilirannya tiba. Dalam masa 8 hari itu, tidak selamanya Aisyah mengetahui apa-apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah istri beliau yang lain.

Waktu Afdol untuk Shalat Dhuha

Dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha [pada waktu yang belum begitu siang], maka ia berkata: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat Dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatnya orang-orang yang kembali kepada ALLAH adalah pada waktu anak-anak onta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari”.
[HR. Muslim]

Penjelasan:
Anak-anak onta sudah bangun karena panas matahari itu diqiyaskan dengan pagi hari jam 08:00 AM, adapun sebelum jam itu dianggap belum ada matahari yang sinarnya dapat membangunkan anak onta.

Jadi dari rincian penjelasan diatas dapat disimpulkan waktu yg paling afdol untuk melaksanakan dhuha adalah Antara jam 08:00 AM ~ 11:00 PM

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

>> 4 RAKAAT
Dari Mu’dzah, bahwa ia bertanya kepada Aisyah: “Berapa jumlah rakaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menunaikan shalat Dhuha?”
Aisyah menjawab: “Empat rakaat dan beliau menambah bilangan rakaatnya sebanyak yang beliau suka.”
[HR. Muslim dan Ibnu Majah]

>> 12 RAKAAT
Dari Anas [bin Malik], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”.
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

>> 8 RAKAAT
Dari Ummu Hani binti Abu Thalib, ia berkata: “Saya berjunjung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Fathu (Penaklukan) Makkah. Saya menemukan beliau sedang mandi dengan ditutupi sehelai busana oleh Fathimah putri beliau”.
Ummu Hani berkata: “Maka kemudian aku mengucapkan salam”. Rasulullah pun bersabda: “Siapakah itu?” Saya menjawab: “Ummu Hani binti Abu Thalib”. Rasulullah SAW bersabda: “Selamat datang wahai Ummu Hani”.
Sesudah mandi beliau menunaikan shalat sebanyak 8 (delapan) rakaat dengan berselimut satu potong baju. Sesudah shalat saya (Ummu Hani) berkata: “Wahai Rasulullah, putra ibu Ali bin Abi Thalib menyangka bahwa dia boleh membunuh seorang laki-laki yang telah aku lindungi, yakni fulan Ibnu Hubairah”.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “sesungguhnya kami juga melindungi orang yang kamu lindungi, wahai Ummu Hani”.
Ummu Hani juga berkata: “Hal itu (Rasulullah shalat) terjadi pada waktu Dhuha.”
[HR. Muslim]

Tata Cara Shalat Dhuha

1. Berniat untuk melaksanakan shalat sunat Dhuha setiap 2 rakaat 1 salam. Seperti biasa bahwa niat itu tidak harus dilafazkan, karena niat sudah dianggap cukup meski hanya di dalam hati.

2. Membaca surah Al-Fatihah

3. Membaca surah Asy-Syamsu (QS:91) pada rakaat pertama, atau cukup dengan membaca Qulya (QS:109) jika tidak hafal surah Asy-Syamsu itu.

4. Membaca surah Adh-Dhuha (QS:93) pada rakaat kedua, atau cukup dengan membaca Qulhu (QS:112) jika tidak hafal surah Adh-Dhuha.

5. Rukuk, iktidal, sujud, duduk dua sujud, tasyahud dan salam adalah sama sebagaimana tata cara pelaksanaan shalat fardhu.

6. Menutup shalat Dhuha dengan berdoa. Inipun bukan sesuatu yang wajib, hanya saja berdoa adalah kebiasaan yang sangat baik dan dianjurkan sebagai tanda penghambaan kita kepada ALLAH.

catatan :
>> Sebagaimana shalat sunat lainnya, Dhuha dikerjakan dengan 2 rakaat 2 rakaat, artinya pada setiap 2 rakaat harus diakhiri dengan 1 kali salam.

>> Adapun surah-surah yang dibaca itu tidak ada hadis yang mengaturnya melainkan sekedar ijtihad belaka, kecuali membaca Qulya dan Qulhu adalah sunnah Rasulullah, tetapi bukan untuk shalat Dhuha, melainkan shalat Fajr. Kita tidak dibatasi membaca surah yang manapun yang kita sukai, karena semua Al-Qur’an adalah kebaikan.

>> Doa pun tidak dibatasi, kita boleh berdoa apa saja asalkan bukan doa untuk keburukan.

>> Doa yang terkenal dalam mazhab Syafi’i ada pada slide selanjutnya. Selain doa itu kita boleh membaca doa yang kita sukai. Namun karena ada aturan mazhab, maka hendaklah kita jangan melupakan agar memulai doa itu dengan menyebut nama ALLAH, memuji syukur kepada-NYA dan kemudian bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Do’a Sesudah Shalat Dhuha

ALLAAHUMMA INNADH-DHUHAA ‘ADHUHAA ‘UKA – WAL BAHAA ‘ABAHAA ‘UKA – WAL JAMAALA JAMAALUKA – WAL QUWWATA QUWWATUKA – WAL QUDRATA QUDRATUKA – WAL ‘ISHMATA ‘ISHMATUKA.
ALLAAHUMMA IN KAANA RIZQII FIS-SAMAA ‘I FA ANZILHU – WA IN KAANA FIL ARDI FA AKHRIJHU – WA IN KAANA MU’ASSARAN FA YASSIRHU – WA IN KAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU – WA IN KAANA BA’IIDAN FA QARRIBHU, BIHAQQI DHUHAA ‘IKA, WA BAHAA ‘IKA, WA JAMAALIKA, WA QUWWATIKA, WA QUDRATIKA.
AATINII MAA ‘ATAITA ‘IBAADAKASH-SHAALIHIIN.

Artinya:

“Wahai ALLAH, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-MU – dan kecantikan adalah kecantikan-MU – dan keindahan adalah keindahan-MU – dan kekuatan adalah kekuatan-MU – dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU – dan perlindungan itu adalah perlindungan-MU.
Wahai ALLAH, jikalau rejekiku masih diatas langit, maka turunkanlah – Dan jikalau ada didalam bumi maka keluarkanlah – dan jikalau sukar maka mudahkanlah – dan jika haram maka sucikanlah – dan jikalau masih jauh maka dekatkanlah dengan berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-MU.
Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambamu yang shaleh.

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Sikap tasauf terhadap syariat

Sikap tasauf terhadap syariat

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

DI kesempatan yang lepas, kami telah mengemukakan sedutan daripada penjelasan oleh salah seorang tokoh besar ulama tasauf, hadis dan syariat di zaman kita, Al-Muhaddith Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki tentang isu hubungan antara tasauf dan syariat.

Dalam kitabnya Mafahim Yajib an Tusohhah (Kefahaman Yang Wajib Diperbetulkan), beliau telah memetik kata-kata para pemuka ulama tasauf yang menegaskan keselarian antara ilmu ini dengan syariat atau usul syariat, al-Quran dan al-Sunnah.

Di bawah ini diperturunkan beberapa petikan lain yang mengungkapkan dengan begitu fasih tentang persoalan ini, sekali gus memberikan kepada kita gambaran sebenar tasauf daripada lisan para tokoh-tokohnya yang hakiki.

Adalah jelas daripada kata-kata tokoh-tokoh tasauf daripada generasi awal ini bahawa jalan syariat adalah asas dan landasan bagi perjalanan seseorang sufi. Walau apa pun yang mungkin ditemui seseorang dalam perjalanannya itu semuanya harus tunduk kepada neraca al-Quran dan al-Sunnah.

Maka tasauf yang hakiki, seperti mana yang dipegang oleh para pemukanya adalah manhaj yang harmoni dan selari dengan al-Quran dan al-Sunnah, bahkan bersumberkan dan berdasarkan dua sumber asasi syariat ini.

Cuma, mungkin tetap timbul perbezaan dan perselisihan jika istilah merujuk kepada al-Quran dan al-Sunnah atau istilah syariat itu difahami secara berbeza. Sepatutnya dua sumber asasi agama ini difahami dan didekati mengikut pendekatan yang muktabar dan disepakati oleh para pakar dalam ilmu-ilmu al-Quran dan Hadis. Bukannya pendekatan yang terlalu literal dan sempit.

Syariat juga perlu difahami dalam kerangka yang telah diterima pakai oleh arus perdana Usul al-Fiqh dan Fiqh dan segala kaedah-kaedah yang berkaitan. Jika ini jadi pegangan maka nescaya Tasauf dan Syariat akan berjalan segandingan dan seiringan. Wallahua’lam.

Insya-Allah, pada minggu hadapan kita akan meneliti pula beberapa kefahaman yang perlu dimurnikan berkaitan dengan aliran Akidah al-‘Asha’irah.

Rahsia Penolakan “Muhaddith-Jadian” Terhadap Pengajian Bersanad
Dicatat oleh al-‘Abd al-Da’if: pada 3.1.10
Sanad Keistimewaan Ummah

Menghidupkan pengajian bersanad pada masa ini adalah suatu perkara yang harus diberi pujian dan galakan, dan bukannya satu perkara yang harus dibanteras dan ditentang. Meskipun ia bukan satu kefardhuan ke atas setiap orang dalam menuntut ilmu atau mengajarkannya, namun ketiadaannya langsung samasekali dalam umat Islam mampu menjadi tanda pada dekatnya kehancuran umat ini. Di mana kelak tiada lagi tinggal orang-orang berilmu yang penuh keberkatan tersebut, lalu orang mengambil ahli-ahli ilmu yang jahat, tiada keberkatan dan orang-orang jahil sebagai tempat rujuk dan pemimpin agama mereka. Justeru, mereka ini sesat lagi menyesatkan, dan akhirnya di atas merekalah dibangkitkan kiamat.

Jika tujuan sanad pada awalnya untuk memastikan kesahihan riwayat, namun ilmu sanad kemudiannya berkembang sama seperti ilmu-ilmu Islam yang lain, sehingga ia menjadi suatu seni yang tersendiri. Cuma bezanya syarat yang ketat dan penelitian yang tegas terhadap perawi-perawi pada peringkat awal telah dilonggarkan pada peringkat mutakhir, apabila kebanyakan hadith sudah direkod dan dibukukan oleh ulama hadith. Justeru kemudiannya, ramailah ulama yang membenarkan pengijazahan sanad serta meriwayatkannya berdasarkan ijazah tersebut semata-mata, tanpa perlu bertalaqqi penuh.

Periwayatan secara bersanad diteruskan kerana ia adalah satu kemuliaan dan keistimewaan yang dapat dilihat dari sudut-sudut berikut;

1. merupakan pertalian yang bersambung-sambung sampai kepada Rasulullah SAW (وكفى في الاتصال بالحبيب شرفاً) .

2. merupakan iqtida’ (tauladan) terhadap para salafus-soleh dalam tradisi belajar dan mengajar (إنّ التشبه بالكرام فلاح).

3. merupakan satu jati diri dan ikatan ilmu yang hanya dimiliki oleh umat Islam, maka ia adalah satu kebanggaan buat mereka (الإسناد من الدين).

4. merupakan satu usaha berterusan memelihara persambungan sanad hingga ke hari kiamat (إن الأسانيد أنساب الكتب).

5. merupakan satu rahmat dan barakah (عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة).

Mereka yang mengkritik pengajian bersanad juga seharusnya membezakan pengajian bersanad yang bagaimana yang dikritik, bukan menghentam secara pukul-rata. Perlu dibezakan juga antara ijazah am dan ijazah khas. Jika tidak ia hanya satu kejahilan terhadap sistem sanad dan juga seni-seninya.

Pengajian secara bersanad terbahagi kepada beberapa kategori, iaitu:

talaqqi secara bersanad bagi qiraat (bacaan) al-Quran.
talaqqi secara bersanad bagi kitab-kitab hadith muktamad, seperti Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Muwatta’ Malik dan sebagainya.
talaqqi secara bersanad bagi himpunan hadith-hadith tertentu, seperti al-Awa’il al-Sunbuliyyah, atau hadith-hadith tertentu, seperti hadith musalsal.
talaqqi secara bersanad bagi kitab-kitab karangan ulama dalam berbagai bidang ilmu, seperti fiqh, usul-fiqh, tauhid, tafsir, sirah, hadith, mustalahul-hadith, tasawuf dan sebagainya.
talaqqi secara bersanad bagi amalan tariqat-tariqat sufiyyah.

Seorang yang mempelajari secara mendalam, akan mendapati dalam ilmu ulumul-hadith dibincangkan tentang ilmu al-tahammul wal-ada’ (pembawaan dan penyampaian riwayat), serta dibincangkan tentang adab-adab muhaddith dan juga penuntut hadith. Perkara ini dapat dirujuk dalam kesemua kitab-kitab yang disusun dalam ulumul-hadith. Ini menunjukkan para ulama sejak dahulu mengambil berat mengenai periwayatan sanad. Hanya pengembaraan-pengembaraan getir ahli hadith dalam mencari sanad sahaja yang berakhir, iaitu dalam kurun ke-6 hijrah. Di mana semua riwayat telah dibukukan dalam al-Jawami’, al-Sihah, al-Sunan, al-Masanid, al-Ma’ajim, al-Ajza’, al-Fawa’id, al-Masyyakhat dan lain-lain. Setelah itu para ulama hadith berusaha memelihara sanad ini hinggakan ada sebahagian mereka yang membukukannya di dalam kitab-kitab khusus. Perhatian terhadap pengumpulan sanad ini kemudian terus bertambah di kalangan ulama hadith sehingga hampir tiada ulama hadith melainkan ia mempunyai kitab sanad yang merekodkan sanad-sanadnya dan juga biografi sebahagian syeikh-syeikhnya. Kitab-kitab ini disebut dengan berbagai istilah seperti barnamij, fihris, thabat dan mu’jam. Riwayat-riwayat mereka juga tidak sekadar pada kitab-kitab hadith, malah pada kitab-kitab tafsir, fiqh, usul, akidah dan lain-lain. (al-Fadani, h. 8-9)

Sanad Kini Sudah Tiada Nilai?

Oleh kerana kejahilan dan kesan penjajahan dalam sistem pendidikan, ada orang yang berkata: “Kesemua sanad yang wujud di atas muka bumi sekarang sudah tidak dijamin kethiqahan perawi dan persambungan sanadnya. Justeru tidak ada faedah untuk meriwayatkannya”.

Tuduhan ini adalah satu tohmahan kepada seluruh ulama dan ahli ilmu yang memiliki sanad dan meriwayatkannya. Tuduhan tersebut hanya menampakkan kejahilan pengucapnya yang tidak takut kepada Allah SWT terhadap kata-kata yang akan dipertanggungjawabkan kelak. Jika beliau berkata; banyak sanad ulama mutaakhirin yang wujud sekarang mengandungi banyak kecelaruan di dalamnya, tentu itu lebih dapat diterima dan layak untuk diperbincangkan.

Mereka juga berpegang kepada kata-kata Ibn al-Salah (m. 643H) dalam kitabnya (صيانة صحيحِ مسلمِ من الإخلالِ والغلَطِ و حمايتُه من الإسقاطِ والسَّقَط) (h. 117): “Ketahuilah, bahawa periwayatan dengan isnad-isnad yang bersambung bukanlah maksud daripadanya pada zaman kita ini dan juga zaman-zaman sebelumnya bagi mensabitkan apa yang diriwayatkan, kerana tidak sunyi satu isnad pun daripadanya dari seorang syeikh yang tidak tahu apa yang diriwayatkannya, dan juga tidak menjaga isi kitabnya secara jagaan yang layak untuk diperpegang pada kesabitannya. Akan tetapi maksudnya ialah bagi mengekalkan rantaian isnad yang dikhususkan terhadap umat ini, semoga Allah menambahkannya kemuliaan”.

Kata-kata Ibn al-Salah tersebut juga bukanlah kata-kata yang maksum yang tidak dapat dipertikaikan. Ia tetap menerima perbincangan antara pro-kontra sebagaimana setengah pendapatnya yang lain. Ini kerana realiti membuktikan sanad masih diperlukan walaupun untuk mensabitkan sesuatu riwayat, seperti contoh kes satu juzuk kitab Musannaf ‘Abd al-Razzaq yang hilang yang ditemukan dan diterbitkan oleh Dr. ‘Isa ‘Abdillah Mani‘ al-Himyari dan Dr. Mahmud Sa’id Mamduh. Namun apabila mereka menyedari kepalsuan juzuk kitab tersebut kerana tiada persambungan sanad setelah membuat perbandingan dengan sanad-sanad periwayatan yang ada, mereka menarik balik penerbitannya dan mengisytihar permohonan maaf. (جزاهما الله خيراً). Di kalangan para pentahkik dan penyelidik manuskrip pula, ramai di antara mereka yang dapat mengesan kesalahan kalimah, pertukaran huruf, penentuan titik kalimah, perubahan nama-nama dan sebagainya berdasarkan sanad-sanad periwayatan yang wujud sekarang ini.

Pendapat Ibn al-Salah bahawa tiada lagi sanad yang bersambung dengan perawi-perawi thiqah juga dapat dipertikaikan dengan wujudnya sanad-sanad yang sabit sama ada pada zaman beliau, sebelumnya, mahupun selepasnya. Contohnya, Imam al-Nawawi telah meriwayatkan Sahih Muslim dengan sanad yang bersambung dan menerangkan kedudukan setiap perawi dalam sanad berkenaan. Begitu juga al-Hafiz Ibn Hajar dan lain-lain. Usaha Syeikh al-Yunini menghimpun sanad-sanad Sahih al-Bukhari sehingga menjadikan al-Nuskhah al-Yuniniyyahnya sebagai versi Sahih al-Bukhari yang paling sahih juga merupakan bukti dalam masalah ini.

Mereka yang mendalami ilmu rijal dan ‘ilal juga (cabang-cabang daripada ilmu sanad) akan mendapati bahawa ilmu tersebut tidak terhenti pada kurun-kurun awal hijrah sahaja, bahkan ianya terus berkembang di sepanjang zaman sehinggalah ke zaman kita ini. Apakah ilmu ini harus disempitkan kerana kononnya masalah sanad sudah selesai?

Fatwa Aneh

Berikut saya bawakan fatwa al-Lajnah al-Da’imah lil-Buhuth al-’Ilmiyyah wal-Ifta’ untuk ukuran dan nilaian anda. (Saya terjemahkan soal-jawabnya sahaja):

ورد سؤال للجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء 4/371 رقم الفتوى (3816)، هذا نصه: هل بقي أحد من العلماء الذين يصلون بإسنادهم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلى كتب أئمة الإسلام؟ دلونا على أسمائهم وعناوينهم حتى نستطيع في طلب الحديث والعلم إليهم.

الجواب: يوجد عند بعض العلماء أسانيد تصلهم إلى دواوين السنة لكن ليست لها قيمة؛ لطول السند، وجهالة الكثير من الرواة عدالة وضبطا. وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله، وصحبه وسلم.

– اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء:
عضو: عبد الله بن قعود.
عضو: عبد الله بن غديان.
نائب رئيس: عبد الرزاق عفيفي.
الرئيس: عبد العزيز بن باز.

Terjemahan:

…Soalan: Adakah masih tinggal ulama yang bersambung isnad mereka sampai kepada Rasulullah SAW dan juga kepada kitab-kitab ulama besar Islam? Sebutkanlah kepada kami nama-nama dan alamat-alamat mereka agar kami dapat mempelajari hadith dan ilmu daripada mereka.

Jawapan: Terdapat pada sebahagian ulama sanad-sanad yang menyambungkan mereka kepada kitab-kitab al-sunnah, akan tetapi ianya tidak ada nilai, kerana sanad yang panjang, serta kemajhulan ramai dari kalangan perawinya dari segi sifat adil dan dhabit. Wabillah al-tawfiq… (ringkas betul!)

Punca Kempen Menjauhi Periwayatan Sanad

Tidak dinafikan, ada setengah masyayikh salafi-wahhabi yang memiliki sanad secara ijazah, namun sebahagian mereka tidak mahu menyebarkannya kerana rantaian sanad periwayatan tersebut mengandungi ramai perawi Asya’irah atau Maturidiyyah, dan juga perawi-perawi sufiyyah.

Bagi menjelaskan perkara ini, di bawah ini akan saya senaraikan antara ulama-ulama yang menghimpunkan sanad-sanad di dalam kitab-kitab khusus:

al-Hafiz Ibn al-Najjar (m. 648H): Masyyakhah.
al-Hafiz Abu Tahir al-Silafi (m. 576H): al-Wajiz fi Zikr al-Mujaz wa al-Mujiz .
Imam ‘Abdul Haq bin Ghalib ibn ‘Atiyyah al-Andalusi (m. 541H): Fihrasah.
al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahsubi (m. 544H): al-Ghunyah.
al-Hafiz Muhammad bin ’Umar ibn Khayr al-Isybili (m. 575H): Fihrist.
al-Hafiz Ibn Hajar al-’Asqalani (m. 852H): al-Majma’ al-Mu’assas dan al-Mu’jam al-Mufahras .
al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti (m. 911H): Zad al-Masir.
Syeikhul-Islam Zakariyya al-Ansari (m. 926H): Thabat.
Imam ‘Abdul Wahhab al-Sya‘rani (m. 973H): Fihris.
al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali bin Tulun (m. 953H): al-Fihrist al-Awsat.
Al-Musnid Abu Mahdi ‘Isa bin Muhammad al-Tha’alibi al-Makki (m: 1080 H): Maqalid al-Asanid, al-Minah al-Badiyyah fi al-Asanid al-‘Aliyah, Kanzul Riwayah dan Muntakhab al-Asanid .
Syeikh Muhammad bin ‘Ala’uddin al-Babili (m: 1077H): (منتخب الأسانيد).
Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Qusyasyi (m: 1070H): al-Simt al-Majid.
Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Bakr al-‘Ayyasyi (m: 1090H): (إتحاف الأخلاء).
Imam ‘Abdullah bin Salim Al-Basri al-Makki (m: 1134H): Al-Imdad bi Ma’rifati ‘Uluwi al-Isnad .
Syeikh Abu Tahir Ibrahim bin Hasan Al-Kurani (m: 1101H): Al-Umam li Iqaz Al-Himam .
Syeikh Hasan bin ‘Ali al-‘Ujaimi al-Makki (m. 1113H): Kifayah Al-Mutatalli’ .
Syeikh ‘Abdul Baqi al-Ba’li al-Dimasyqi al-Hanbali (m. 1071H): (رياض أهل الجنة بآثار أهل السنة).
Syeikh ’Abdur Rahman al-Ba’li al-Hanbali: (منار الإسعاد في طرق الإسناد).
Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al-Rudani (1094H): Sillatu Al-Khalaf bi Mausul As-Salaf.

Syeikh al-Muhaddith Isma’il bin Muhammad al-’Ajluni : (حلية أهل الفضل والكمال).
Syeikh Muhammad bin Ahmad ‘Aqilah al-Makki: (المواهب الجزيلة).
Syeikh ‘Abdul Ghani al-Nabulusi: Thabat.
Syeikh Muhammad Hasyim al-Sindi (m:1174H): Al-Muqtataf min Ittihaf Al-Akabir bi Asanid Al-Mufti Abdil Qadir .
Syeikh Muhammad ‘Abid al-Sindi (m. 1257H): Hasr al-Syarid.
Syeikh ‘Ali bin Zahir Al-Watri Al-Madani (m: 1322H): Awa’il Al-Watri wa Musalsalatihi .
Syeikh Waliyullah al-Dihlawi (m. 1176H): Al-Irsyad ila Muhimmat ‘Ilm Al-Isnad .
al-‘Allamah Abu al-Faydh Muhammad Murtadha al-Zabidi: (لقط اللآلي من الجواهر الغوالي ).
Syeikh Ahmad al-Dardir al-Maliki: Thabat.
Syeikh ‘Abdul Ghani bin ‘Abdul Haq al-Dihlawi (m. 1296H): al-Yani’ al-Jani fi Asanid al-Syaikh ‘Abdul Ghani, susunan Syeikh Muhammad Yahya.
Syeikh ‘Abdullah al-Syabrawi (m. 1171H): Thabat.
Syeikh Muhammad ibn Himmat Zadah al-Dimasyqi: al-Is’ad.
Syeikhul-Islam Syamsuddin Muhammad bin Salim al-Hifni: Thabat.
Syeikh Salih bin Muhammad Al-Fullani (1218H): Qatf al-Thamar fi Raf’i Asanid Al-Musannafat fi Al-Funun wa Al-Athar .
Syeikh Muhammad Syakir al-’Aqqad (m. 1222H): (عقود اللآلي في الأسانيد العوالي).
al-’Allamah Syeikh ’Abdul Rahman bin Muhammad al-Kuzbari: Thabat.
Syeikh Muhammad Al-Amir Al-Kabir Al-Misri (m.1232H): Sadd al-Arab min ‘Ulum al-Isnad wal Adab .
Syeikh Muhammad bin ‘Ali al-Syanawani (m. 1233H): al-Durar al-Saniyyah li ma ‘ala Min al-Asanid al-Syanawaniyyah .
Syeikh ‘Abdullah bin Hijazi Al-Syarqawi (m.1227H): al-Jami’ al-Hawi fi Marwiyyat al-Syarqawi.
Syeikh Ahmad ibn ’Ajibah al-Hasani: Fihris.
Syeikh ‘Abdul Wasi’ bin Yahya Al-Wasi’i: al-Durr al-Farid al-Jami’ li Mutafarriqat al-Asanid .
Syeikh Muhammad Amin Ibn ‘Abidin (m. 1252H): (مجموعة إجازات)
Syeikh Hasan Al-Masyat (1306 H): al-Irsyad bi Zikr Ba’dhi ma Li min al-Ijazah wa Al-Isnad .
Syeikh Tahir bin Muhammad al-Jaza’iri: (عقود اللآلي في الأسانيد العوالي).
Syeikh Abu al-Mahasin al-Qawuqji (m. 1305H): (معدن اللآلي في الأسانيد العوالي).
Mawlana Syeikh Fadhl al-Rahman al-Kanja-Murad-Abadi: (إتحاف الإخوان بأسانيد سيدنا ومولانا فضل الرحمن), susunan Syeikh Ahmad bin ‘Uthman.
Syeikh Ahmad Dhiya’uddin al-Kumusykhanawi: Thabat.
Syeikh Mahmud Muhammad Nasib al-Hamzawi, mufti Syam: (عنوان الأسانيد).
Syeikh Muhammad Sa’id Sunbul al-Makki (m. 1175H): al-Awa’il al-Sunbuliyyah.
Syeikh Abu al-Yusr Falih bin Muhammad al-Mihnawi al-Zahiri (m. 1328H): (حسن الوفاء)
Syeikh Abu al-Nasr Muhammad Nasr Allah al-Khatib: (الكنز الفريد في علم الأسانيد ).
Syeikh Muhammad ‘Abdul Baqi Al-Ansari (m.1364H): Al-Is’ad bil Isnad dan Nashr Al-Ghawali min Al-Asanid Al-‘Awali .
Syeikh Muhammad Mahfuz al-Turmasi (m. 1338H): Kifayah Al-Mustafid li ma ‘Ala min Al-Asanid .
Syeikh ‘Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali Qudus al-Makki (m. 1334H): (المفاخر السنية في الأسانيد العلية القدسية) dan (إجازة الشيخ أحمد دحلان للشيخ عبد الحميد قدس).
Syeikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani (m. 1350H): (هادي المريد إلى طرق الأسانيد).
Syeikh Muhammad Zahid al-Kawthari: (التحرير الوجيز).
Syeikh Muhammad ’Abdul Rasyid al-Nu’mani: (الكلام المفيد في تحرير الأسانيد).
Syeikh ‘Umar Hamdan, muhaddith al-Haramain (m. 1368H): (مطمح الوجدان في أسانيد الشيخ عمر حمدان) dan (إتحاف الإخوان باختصار مطمح الوجدان في أسانيد الشيخ عمر حمدان), susunan al-Fadani.
Syeikh Muhammad ‘Ali Al-Maliki: (المسلك الجلي) susunan al-Fadani.
Musnid al-Dunia Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad ’Isa Al-Fadani (m. 1410H):
– الأسانيد المكية لكتب الحديث والسير والشمائل المحمدية

– إتحاف المستفيد بغرر الأسانيد

– الفيض الرحماني بإجازة فضيلة الشيخ محمد تقي العثماني

– القول الجميل بإجازة سماحة السيد إبراهيم بن عمر باعقيل

– العجالة في الأحاديث المسلسلة

– قرة العين في أسانيد شيوخي من أعلام الحرمين

– فيض المبدي بإجازة الشيخ محمد عوض الزبيدي

– الأربعون البلدانية: أربعون حديثاً عن أربعين شيخاً من أربعين بلداً

-شرح المسلسل بالعترة الطاهرة

– بغية المريد من علوم الأسانيد – dalam lima jilid!.

Al-Habib Syeikh bin Abdillah Al-‘Aidarus (m: 990 H): al-Tiraz Al-Mu’allim .
al-Sayyid Muhammad al-Syilli: Mu’jam al-Syilli .
Al-Habib Syeikh bin Muhammad Al-Jufri: Kanz Al-Barahin Al-Jazbiyyah wa Al-Asrar Al-Ghaibiyyah li Sadah Masyayikh al-Tariqah Al-Haddadiyyah Al-‘Alawiyyah.
Al-Habib ‘Abdul Rahman bin ‘Abdullah bin Ahmad Bal Faqih: Miftah Al-Asrar fi Tanazzuli Al-Asrar wa Ijazah Al-Akhyar.
Al-Habib ‘Abdullah bin Husein Bal Faqih: Syifa’ al-Saqim bi Idhah Al-Isnad , dan Bazl Al-Nahlah .
Al-Habib Al-Musnid ‘Aidarus bin ‘Umar Al-Habsyi: ‘Uqud Al-La’ali fi Asanid Ar-Rijal , Minhah Al-Fattah Al-Fathir fi Asanid al-Saadah Al-Akabir dan ‘Aqd Al-Yawaqit Al-Jauhariyyah wa Samt Al-‘Ain al-Zahabiyyah .
Syeikh Al-Habib ‘Abdul Rahman bin Sulaiman Al-Ahdal (m:1250 H): Al-Nafas Al-Yamani war-Ruh al-Rayhani fi Ijazah al-Qudhah al-Thalathah Bani al-Syawkani.
Al-Habib Abu Bakr bin Syihab: Al-‘Uqud Al-Lu’lu’iyyah fi Asanid al-Sadah Al-‘Alawiyyah .
Al-Habib Al-Musnid Muhammad bin Salim al-Sirri: Thabat.
Al-‘Allamah Al-Habib ‘Abdullah bin Ahmad Al-Haddar: Thabat .
Al-Habib Muhammad bin Hasan ‘Aidid: Tuhfah Al-Mustafid fi man Akhaza ‘anhum Muhammad bin Hasan ‘Aidid .
Al-Habib Salim bin Hafiz, Aal Syeikh Abu Bakr bin Salim: Minhah Al-Ilah fi Al-Ittisal bi ba’dhi Awliyah .
Al-Habib ‘Alawi bin Tahir Al-Haddad (m:1382 H), bekas Mufti Negeri Johor: al-Khulasah Al-Syafiyyah fi Al-Asanid Al-‘Aliyyah .
Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan: Mu’jam Al-Khulasah Al-Kafiyyah .
Al-Habib Abu Bakr bin Ahmad bin Husain Al-Habsyi: (الدليل المشير إلى فلك أسانيد الاتصال بالحبيب البشير وعلى آله ذوي الفضل الشهير وصحبه ذوي القدر الكبير).
al-Sayyid Husain al-Habsyi: (فتح القوي في أسانيد السيد حسين الحبشي) susunan Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad Ghazi.
Al-Habib Uthman bin ‘Abdillah bin ‘Aqil bin Yahya (1333H): Thabat.
Al-Habib ‘Alawi bin Saqqaf Al-Jufri: Thabat.
Syeikh Sayyid Ahmad bin Sulaiman Al-Arwadi: Al-‘Aqd Al-Farid fi Ma’rifah ‘Uluw Al-Asanid .
al-Habib bin Semait: An-Nasj wa Al-Khait li Ba’dhi Asanid Al-Allamah bin Semait
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Budairi Al-Husaini al-Syami: Al-Jawahir Al-Ghawali fi Bayan Al-Asanid Al-‘Awali .
Imam Muhammad ‘Ali al-Sanusi (m: 1276 H): Al-Manhal Al-Rawi al-Ra’if fi Asanid Al-‘Ulum wa Usul al-Tara’if dan al-Syumus al-Syariqah.
Syeikh Ja’far bin Idris al-Kattani: (إعلام الأئمة الأعلام).
Syeikh Muhammad ‘Abdul Hayy Al-Kattani (m. 1382H): Minah Al-Minnah fi Silsilah Ba’dhi Kutubi al-Sunnah dan Fihris Al-Faharis wal-Athbat .
al-Hafiz Ahmad al-Ghumari (m. 1380H): (البحر العميق).
Syeikh ‘Abdullah al-Ghumari: (ارتشاف الرَّحيق من أسانيد عبد الله بن الصِّدِّيق).
Syeikh Salih bin Ahmad al-Arkani (m. 1418H): (فتح العلام في أسانيد الرجال وأثبات الأعلام).
al-Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas Al-Maliki: (العقود اللؤلؤية بالأسانيد العلوية ).
Syeikh al-Sayyid Muhammad bin al-Sayyid ‘Alawi Al-Maliki: al-Tali‘ As-Sa’id dan Al-‘Aqd Al-Farid .
Syeikhuna al-Muhaddith al-‘Allamah Mahmud Sa’id Mamduh: Fathul Aziz fi Asanid As-Sayyid Abdul Aziz (فتح العزيز بأسانيد السيد عبد العزيز), (إعلام القاصي والداني ببعض ماعلا من أسانيد الفاداني) dan (تشنيف الأسماع بشيوخ الإجازة والسماع).

Ini hanyalah sekelumit daripada sekian banyak kitab-kitab sanad yang disusun oleh ulama-ulama Ahlus-Sunnah. Jika diamati keseluruhan mereka adalah sama ada dari aliran Asya’irah atau Maturidiyyah, serta dari kalangan ahli-ahli sufi. Merekalah sebenarnya penjaga-penjaga sanad ummah ini. Apabila para “muhaddith jadian” atau golongan salafiyyah-wahhabiyyah melihat pemegang-pemegang sanad tersebut kesemuanya adalah berakidah Asya’irah-Maturidiyyah, ataupun ahli-ahli sufi, mereka tidak mahu berguru kepada mereka. Maka dari sini dapatlah kita fahami rahsia mengapa ramai daripada mereka tidak mahu meriwayatkan sanad-sanad yang dianggap oleh mereka penuh dengan perawi-perawi bidaah, atau dengan alasan banyak perawi-perawi daif atau majhul!.. Mereka khuatir nanti orang akan terpengaruh dengan tokoh-tokoh tersebut. Lalu ada yang menganggap sanad bukan lagi sebagai untuk tabarruk, tetapi hanyalah untuk zikra (kenangan) semata-mata! Turut mendukacitakan, ada setengah mereka yang memandang rendah dan memperlekehkan pengajian-pengajian secara bersanad. Alasan paling kuat mereka kononnya kitab-kitab sekarang sudah dicetak dan tersebar dengan luas yang merupakan satu jaminan terpelihara daripada berlaku penyelewengan terhadap kitab-kitab tersebut. Maka ramailah di kalangan mereka yang hanya bergurukan kitab-kitab sahaja, bukan lagi guru-guru yang menjadi tradisi pengajian dan periwayatan sejak sekian lamanya (لا حول ولا قوة إلا بالله).

Saya berpendapat, inilah kesan negatif paling besar dari sistem pendidikan penjajah, yang berentetan di bawahnya berbagai kesan-kesan lain seperti kebejatan intelektual, kerendahan moral, adab dan juga akhlak (فاقد الشيء لا يعطيه). Sejarah telah membuktikan banyak pemikiran-pemikiran yang batil datang daripada mereka yang hanya mengambil ilmu daripada kitab semata-mata.

Wallahu a’lam.

* Maklumat sanad atau muat-turun kitab sanad di laman forum dan blog (Arab):

1. azahera.net

2. rayaheen.net

3. blog isnaduna

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Hadrah Basaudan Termasuk Terjemah


Hadrah Basaudan Plus Terjemah
Wirid & Dzikir
Hadrah Basaudan Plus Terjemah
Harga Lama:Rp. 17.500,-
Harga:Rp. 15.000,-
Ingin bertanya? Hadrah Basaudan adalah sebuah amalan dzikir yang telah dilakukan dan dicontohkan oleh para ulama terdahulu dan orang-orang yang shaleh pada tiap-tiap hari selasa. http://www.kiosislami.com

Di dalamnya berisi puja dan puji kepada Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW, serta berbagai bait-bait doa permohonan akan kebaikan, keselamatan, perlindungan, kemuliaan, pengampunan, ketenangan, dan lain sebagainya.

Dicetak di atas kerta HVS putih, dengan tulisan bahasa arab yang jelas dan rapi. Tiap-tiap bait langsung disertai dengan terjemahan bahasa Indonesia, sehingga bagi mereka yang tidak mengerti bahasa arab, bisa memahami dan menghayati kandungan bacaannya

Jadual Program Tafaqquh Fiddin Bersama Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki – November 2010M/Dhulqaedah – Dhulhijjah1431H

Jadual Program Tafaqquh Fiddin Bersama Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki – November 2010M/-Dhulqaedah – Dhulhijjah1431H

Tarikh: 30Dhulqaedah 1431H/7 November 2010 (Ahad)
Masa: Maghrib
Lokasi: Masjid at-Taqwa, TTDI

Tarikh: 1 Dhulhijjah 1431H/8 November 2010 (Isnin)
Masa: Kuliah Dhuha
Lokasi:Masjid an-Nur, USJ 4, Subang Jaya

Masa: Maghrib
Lokasi: Masjid, Kota Damansara

Tarikh: 2 Dhulhijjah 1431H/ 9 November 2010 (Selasa)
Masa: Kuliah Dhuha
Lokasi: Masjid at-Taqwa TDDI

Masa: 2.30 petang
Lokasi: BS 24, APIUM (Tajuk “Cabaran semasa pengajian Islam”. Majlis anjuran Jabatan Fiqh dan Usul UM dan Jabatan Akidah dan Pemikiran Islam UM)

Masa: Maghrib
Lokasi: Surau ar-Rahmah, Seksyen 8, Shah Alam.
Dicatat oleh al-fagir abu zahrah di 19:43
Label: Syaikh Nuruddin

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Kisah Menarik Perbezaan Sang Alim & Sang Abid Tanpa Ilmu

Kisah Menarik Perbezaan Sang Alim & Sang Abid Tanpa Ilmu
Satu kisah menarik yang ingin saya kongsikan bersama para pembaca sekalian. Kisah ini saya nukilkan daripada apa yang disampaikan oleh Syaikhuna al-Allamah al-Hafidz Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Ba’ith al-Kittani al-Syafie hafizahullah ketika beliau menyampaikan ceramah di Dewan Besar Yayasan Khairiah , Kupang Baling Kedah. Kebetulan pada waktu itu, saya disuruh oleh Syaikhuna Muhammad Ibrahim hafizahullah untuk menterjemahkan ucapan beliau di dalam Bahasa Melayu agar mudah difahami oleh para pendengar.

Syaikhuna memilih untuk membicarakan tentang kelebihan ilmu dan amal bagi penuntut ilmu. Maka beliau menceritakan sebuah cerita yang menarik perhatian semua pendengar pada petang tersebut.

Pada suatu masa dahulu, terdapat seorang raja yang sangat bijak. Raja tersebut ingin mengajarkan kepada rakyat jelata suatu perkara yang sangat penting. Mungkin pada waktu itu masyarakat tidak dapat membezakan mana satu golongan alim dan mana satu golongan abid ( yang hanya beribadah tanpa ilmu) .

Maka raja memanggil seorang alim dan seorang abid yang tiada ilmu bagi membuktikan bahawa antara kedua-dua golongan ini pasti terdapat perbezaan yang jelas.

Raja menyuruh kedua-dua orang ini masuk ke dalam bilik yang berbeza. Setiap bilik diletakkan perkara yang sama iaitu diletakkan sebilah pisau, sebotol arak dan seorang wanita. Sang Raja juga mengarahkan kepada kedua-dua orang tersebut untuk melaksanakan salah satu daripada tiga perkara iaitu sama ada meminum arak, atau berzina dengan wanita tersebut atau mengambil pisau yang disediakan lalu membunuh wanita tersebut bagi mengelakkan daripada melakukan dosa zina.

Bilamana dimasukkan si alim dan si abid di dalam bilik masing-masing yang sudah tersedia di dalamnya ketiga-tiga perkara tersebut. Maka kedua-duanya sebaik sahaja berhadapan dengan ketiga-tiga perkara yang diarahkan oleh Sang Raja melaksanakan salah satu daripadanya, masing-masing punya pemikiran dan cara penyelesaian yang berbeza.

Bagaimana Sang Alim dan Sang Abid ini menyelesaikannya? Saya akan ceritakan satu persatu mengikut turutan. Kita lihat dahulu apa yang difikirkan oleh Sang Abid dan bagaimana dia menyelesaikan masalah tersebut.

SANG ABID DAN PENYELESAIANNYA

Sebaik sahaja masuk di dalam bilik tersebut, Sang abid melihat ketiga-tiga perkara telah berada di hadapannya. Sebilah pisau, sebotol arak dan seorang wanita cantik. Maka terlintas di dalam fikiran sang abid bahawa ketiga-tiga ini adalah dosa . Mengambil pisau dan menggunakan pisau tersebut untuk membunuh wanita cantik tersebut bagi mengelakkan zina adalah merupakan dosa yang besar. Berzina dengan wanita tersebut juga merupakan dosa yang besar. Perkara yang paling ringan sedikit berbanding membunuh dan berzina adalah minum arak. Maka , sang abid yang yakin dengan jalan penyelesaiannya terus mengambil botol arak dan meneguk isinya .

Apa yang berlaku seterusnya? Sebaik sang abid tersebut selesai minum arak, dia terus mabuk dan di dalam keadaan tersebut , dia menghampiri wanita cantik itu lalu mengajaknya bersetubuh dan akhirnya mereka berzina . Sebaik selesai berzina, sang abid sedar akan kesalahan yang dilakukannya . Bagi mengelakkan si wanita membongkarkan rahsianya, maka dia terus mengambil pisau dan membunuh wanita tersebut.

Maka , secara tidak sedar , Sang Abid telah melakukan ketiga-tiga perkara dosa tersebut secara sekaligus.

Bagaimana pula keadaan Sang Alim di bilik yang lain? Bagaimanakah dia menyelesaikannya?

Kita akan melihat pula bagaimanakah cara penyelesaian dan pemikiran Sang Alim tersebut.

SANG ALIM DAN PENYELESAIANNYA

Sebaik sahaja sang alim tersebut masuk ke dalam bilik itu, beliau tersentak dengan kewujudan ketiga-tiga perkara tersebut. Sang Raja telah mengarahkan agar melaksanakan salah satu daripada tiga perkara itu.

Sang Alim berfikir, “ Jika aku mengambil pisau dan membunuh wanita itu maka aku telah melakukan dosa membunuh. Membunuh adalah dosa yang besar di sisi Allah taala. Jika aku berzina dengan wanita tersebut juga ianya merupakan dosa yang besar di sisi Allah taala. Jika aku mengambil arak dan meminumnya maka itu juga merupakan dosa yang besar. Jadi bagaimanakah cara yang terbaik untuk aku laksanakan?”

Sang Alim terfikir lagi , “ Jika aku meminum arak, akalku akan hilang dan kemungkinan aku akan laksanakan perkara yang aku tidak fikirkan. Maka jalan yang terbaik pada waktu sekarang adalah dengan aku mengambil pandangan di dalam Mazhab al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu yang membenarkan seorang wanita tersebut mengahwinkan dirinya sendiri tanpa kewujudan dan persetujuan walinya”

Maka sang alim terus pergi kepada wanita tersebut dan mengatakan kepadanya : “ Wahai wanita, sudikah kamu berkahwin denganku?

Wanita tersebut bersetuju dengan cadangan yang diberikan oleh Sang Alim tersebut. Maka sang alim tersebut melafazkan lafaz nikah dan sang wanita bersetuju dan menerimanya. Maka secara hukumnya mereka telah berkahwin mengikut pendapat di dalam Mazhab al-Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Secara tidak langsung, sang alim telah menjauhkan dirinya daripada kesemua dosa tersebut. Beliau tidak membunuh, tidak minum arak dan berzina. Malah beliau mendapatkan perkara yang lebih besar daripada itu iaitu dengan berkahwin dengan wanita cantik tersebut.

Selesai perkara tersebut, Sang Raja tersenyum kerana akhirnya beliau dapat membuktikan tetap ilmu itu lebih mulia daripada segalanya. Tanpa ilmu seseorang itu akan tersilap melakukan penilaian yang terbaik.

Mohd Nazrul Abd Nasir,
Penuntut Ilmu Di Masjid al-Azhar al-Syariff & Masjid al-Asyraff,
Wangsa Maju, Selangor Darul Ehsan,
Malaysia

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Wakaf Kitab

Alhamdulillah, dua buah lagi kitab turats telah pun diulang cetak kembali, atas tujuan terdapatnya banyak permintaan terhadap karya ulama-ulama terkenal di alam Melayu itu. Kitab yang dimaksudkan adalah kitab (i) Munyatul Mushalli : Pengetahuan Sembahyang Masyhur karya al-‘Alim Syeikh Daud al-Fathani, dan (ii) Faridatul Fara’id fi Ilmi ‘Aqaid karya Syeikh Ahmad al-Fathani.


Faridatul Faraid fi ‘Ilmi ‘Aqaid


Munyatul Mushalli : Pengetahun Sembahyang Masyhur

Adapun penerbitan kitab ini adalah berupa kitab wakaf, yang mana ianya akan diedarkan ke sekalian tempat-tempat pengajian sama ada di pondok-pondok pengajian, masjid, surau mahupun kelas-kelas pengajian yang mempelajari kitab-kitab tersebut. Alhamdulillah tahun-tahun sebelum ini sebanyak 25 ribu unit setiap kitab telah diwakafkan, sekaligus habis diedarkan ke tempat-tempat yang dikenalpasti, yang bukan sahaja meliputi Malaysia, malah turut diedarkan ke Patani, Kemboja, dan Indonesia.

Seperti yang dimaklumi di atas, disebabkan kedua-dua kitab tersebut masih banyak permintaan dari pelbagai pengajian, maka untuk tahun ini kami mengulang cetak kembali sebagai usaha untuk memenuhi keperluan tersebut. Oleh itu, sempena di bulan yang penuh keberkatan ini, kami ingin war-warkan sekiranya Tuan-tuan / Puan-puan yang dihormati sekalian berhajat mahu mewakafkan kedua-dua kitab tersebut, boleh menghubungi kami seperti berikut :

No. Tel Pejabat : 03-6189 7231/
Abdul Halim : 013-3564496/
Azrul : 016-3520094

Untuk makluman juga, sepanjang bulan Ramadhan ini, kami boleh diketemui di UIA, Gombak (dataran masjid) dan mengadakan jualan serta wakaf kitab, bermula 16 Ogos hingga 5 September ini. Potongan sebanyak 20% untuk kesemua terbitan Khazanah Fathaniyah (kecuali kitab wakaf) sepanjang tempoh tersebut.

Selain itu, terdapat juga beberapa kitab lain terbitan Khazanah Fathaniyah yang dikategorikan sebagai kitab wakaf. Untuk selanjutnya, klik di sini.

Sekali lagi, selamat menyambut dan mengimarahkan Ramadhan yang penuh keberkatan ini.

Sekian

Rujuk juga : http://kitabhabib.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 8 November 2010

Berkat Berbakti Kepada Ibu

Berkat Berbakti Kepada Ibu

Kisah-kisah pertemuan seseorang, terutamanya kaum sholihin, dengan Nabi Khidhir ‘alaihis salam banyak dikisahkan dalam karya-karya besar karangan tokoh-tokoh ulama Islam. Imam al-Qusyairi rahimahUllah tidak ketinggalan menulis kisah-kisah tersebut dalam karya-karya beliau. Antara yang dibawanya adalah sebuah kisah mengenai bagaimana pertemuan seorang lelaki saleh bernama Bilal al-Khawwash dengan Sayyidina Khidhir AS. Kisah ini tercatat pada halaman 405 dalam karya agung Imam al-Qusyairi yang berjodol “ar-Risalah al-Qusyairiyyah”.

“… Aku telah mendengar Bilal al-Khawwash berkata: ” Adalah satu waktu, ketika aku berada di padang Tih Bani Israil (yakni padang pasir tempat Bani Israil berkeliaran apabila terhalang memasuki bumi Palestin), tiba-tiba muncul seorang lelaki berjalan bersamaku. Kemunculannya secara tiba-tiba tersebut amat menghairankan aku, lalu aku diilhamkan bahawa lelaki tersebut adalah Nabi Khidhir AS. Aku pun bertanya kepadanya: “Demi Allah, siapakah engkau?” Baginda menjawab: “Saudaramu al-Khidhir.” Maka aku berkata lagi kepadanya: “Aku mohon untuk bertanya kepadamu”. Nabi Khidhir berkata: “Tanyalah”. Maka aku bertanya: ” Apa yang engkau kata mengenai Imam asy-Syafi`i rahimahUllah ta`ala?” Baginda menjawab: “Dia tergolong dalam kalangan wali awtad (yang menjadi pasaknya agama).” Aku bertanya lagi: ” Bagaimana pula dengan Imam Ahmad bin Hanbal?” Baginda menjawab: “Dia seorang lelaki yang shiddiq.” Aku bertanya lagi: ” Bagaimana pula dengan Bisyr bin al-Harits al-Haafi?” Baginda menjawab: ” Allah belum lagi mencipta seseorang seumpamanya setelah dia meninggal dunia. Kemudian aku bertanya lagi: “Apakah penyebabnya sehingga aku dapat bertemu denganmu?” Baginda menjawab: “Dengan sebab kebaktianmu kepada ibumu.”

Allahu … Allah, tidak dimungkiri lagi bahawa kedua orang tua kita, teristimewanya ibu, adalah manusia – manusia penting dalam kehidupan kita. Mereka itu adalah antara sebab bagi kebahagiaan kita dunia dan akhirat. Betapa tidak, jika Allah SWT memerintahkan kita agar sentiasa berbakti kepada mereka dan Junjungan Nabi SAW telah menggandengkan keredhaan Allah SWT dengan keredhaan mereka berdua. Sebahagian fuqaha` menghukumkan wajib bagi seseorang memutuskan sholat sunnatnya apabila ibunya memanggilnya berulang-ulang. Benarlah kata sebahagian bijakpandai bahawa ibubapa itu adalah seumpama wali-wali keramat bagi anak-anak mereka. Malang sekali jika kita mendurhakai mereka, baik sewaktu hayat mereka maupun setelah mereka berpulang ke rahmat Allah. Kita disuruh berbakti kepada mereka sewaktu mereka hidup di alam dunia, juga setelah mereka berpindah ke alam baqa. Ketaatan kepada mereka juga mempunyai andil besar dalam melancarkan perjalanan kerohanian seseorang untuk menuju keredhaan Allah dan ma’rifatUllah. Dengan berbakti kepada mereka, nescaya perjalanan yang dijalani seseorang akan dimudahkan Allah SWT dan menghasilkan kejayaan. Moga Allah menjadikan kita anak-anak yang sentiasa berbakti kepada dua ibubapa kita, ketika hayat mereka dan setelah kewafatan mereka

Posted by: Habib Ahmad | 8 November 2010

Buku Baru Metodologi Ahli Hadith .

Buku Baru Metodologi Ahli Hadith
Dicatat oleh al-‘Abd al-Da’if: pada 7.11.10
Penyusun:

Dr. Faisal bin Ahmad Shah
Mohd. Khafidz bin Soroni
Rosni binti Wazir

Harga: RM25

240 Halaman

Buku ‘Manahij al-Muhaddithin: Metode dan Pendekatan Sarjana Hadith’ membincangkan mengenai kategori dan jenis karya-karya hadith beserta metode yang diaplikasikan oleh sarjana hadith. Buku yang membahaskan 21 kategori karya hadith dengan kupasan metode kepada 40 buah karya hadith dianggap paling lengkap dan komprehensif pernah dihasilkan dalam bahasa melayu. Bab pertama buku ini membincangkan mengenai fungsi dan kedudukan hadith dalam Islam. Termasuk di bawah perbahasan bab ini juga ialah isu-isu berkaitan penolakan hadith pada masa kini.

Dalam bab kedua penulis membincangkan mengenai pengkaryaan hadith pada abad pertama dan kedua hijrah. Antara subtopik yang dibincangkan ialah keharusan penulisan hadith pada zaman Rasulullah dan kontroversi yang timbul mengenai hadith-hadith suruhan dan larangan. Turut dibincangkan ialah mengenai sahifah-sahifah yang ditulis oleh para sahabat dan dua kitab pertama yang dihasilkan pada kurun kedua iaitu Muwatta Malik dan Musnad al-Shafie. Kupasan mengenai Kutub al-Sittah pula dibincangkan melalui bab ketiga.

Manakala dalam bab keempat dan kelima pula sebanyak 20 jenis karya hadith dibincangkan antaranya al-Mustadrak, al-Mustakharjat, Gharib al-Hadith, Mustalah al-Hadith, al-Ma’ajim, Mukhtalif dan Musykil al-Hadith, Sharah al-Hadith, al-‘Ilal, al-Mawdu’at dan sebagainya. Setiap karya yang dikenalkan dalam buku ini diulas secara komprehensif merangkumi biodata penulis, kandungan dan metode penulisan kitab.

Petikan dari: Imtiyaz Group.

Posted by: Habib Ahmad | 7 November 2010

Sayyid Abdul Aziz Siddiq al-Ghumari

Sayyid Abdul Aziz Siddiq al-Ghumari

Beliau ialah al ‘Allamah al Muhaddith al Sufi al Muhaqqiq al Mudaqqiq al Imam Maulana Sayyid Abdul Aziz bin Muhammad bin Siddiq bin Ahmad bin Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Mukmin bin Ali bin al Hasan bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdullah bin Isa bin Sa’id bin Mas’ud bin al Fudhoil bin Ali bin Umar bin al ‘Arabi bin ‘Allal (Ali menurut bahasa Maghribi) bin Musa bin Ahmad bin Daud bin Maulana Idris al Asghor bin Maulana Idris al Akbar bin Abdullah al Kamil bin al Hasan al Muthanna bin Imam al Hasan al Mujtaba bin Amirul Mukminin Sayyiduna Ali dan Sayyidah Fatimah al Zahra’ binti Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.

Kelahiran

Dilahirkan pada bulan Jamadil Awal 1338 (1920) di Tonjah (Tangiers), Morocco.

Latar belakang pendidikan

Beliau memulakan pendidikan seawal usia lima tahun dengan menghafal al Quran melalui bimbingan Syeikh Muhammad Bu Durrah, murid ayahandanya. Setelah itu, beliau mula menumpukan sepenuh perhatian kepada ilmu-ilmu yang lain melalui pembelajaran, pembacaan dan kajian. Ayahandanya memberi sepenuh perhatian kepada beliau sepanjang tempoh pendidikan dengan nasihat-nasihat yang berguna dan petunjuk-petunjuk yang berfaedah. Ini disebabkan ayahandanya dapat mengesan bakat-bakat terpendam yang ada pada diri beliau. Pada tahun 1355 (1937) ketika berusia 17 tahun, beliau merantau ke Mesir bersama-sama abangnya Sayyid Abdul Hayy al Ghumari untuk melanjutkan pelajaran di al Azhar al Syarif. Di al Azhar, beliau menuntut ilmu daripada para ulama’ yang berwibawa dalam pelbagai lapangan ilmu. Dalam tempoh ini juga, beliau mula berjinak-jinak dengan ilmu Hadith di samping melakukan latihan-latihan dan kajian-kajian sekitar ilmu ini.

Bergelumang dengan ilmu Hadith

Mengenai permulaan beliau bergelumang ilmu Hadith, Sayyid Abdul Aziz menceritakan pengalamannya bahawa beliau mula terlibat secara serius dalam ilmu Hadith setelah menamatkan pengajian dalam bidang Mustolah Hadith. Untuk merealisasikan apa yang telah beliau pelajari, beliau mula menumpukan kajian terhadap kitab al Laali’ al Masnu’ah karangan al Hafiz Jalaluddin al Suyuti. Melalui kajian beliau terhadap kitab ini, Sayyid Abdul Aziz berjaya menghasilkan karya yang berjudul al Jawahir al Ghawali. Beliau turut menyebut bahawa melalui kajiannya terhadap kitab ini, beliau mempelajari methodologi kritikan terhadap para perawi hadith, rantaian sanad dan kaedah membezakan hadith yang sohih dengan yang dho’if. Setelah itu, beliau menumpukan kajiannya terhadap kitab-kitab hadith yang pula yang mana beliau membaca dan mengkaji hasil kajian hadith yang dihasilkan oleh abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari. Apabila selesai mengkaji karya-karya abangnya, beliau meneruskan usaha dengan mengkaji kitab-kitab hadith lain yang dikarang oleh al Huffaz yang berkaliber dalam bidang ini seperti al Hafiz al ‘Iraqi, al Hafiz al Zailai’e, al Hafiz Ibnu Hajar al ‘Asqolani, al Hafiz al Suyuti dan lain-lain lagi. Sepanjang kajian beliau terhadap ilmu Hadith, beliau seringkali berhubung dengan abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari untuk meminta nasihat dan petunjuk. Kemuncaknya beliau menyebut bahawa setelah beliau merasa telah mahir dalam bidang ini dan mampu menguasainya dengan baik, maka beliau mula mengarang sebuah kitab yang berjudul Bulugh al Amani min Maudhu’at al Sun’ani. Setelah selesai mengarang karya ini, beliau membentangkannya kepada abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari, lalu abangnya memberi komentar: Sepatutnya karya ini diberi judul Hazij al Aghani kerana ianya mengandungi faedah yang boleh membuatkan pembacanya menari-nari kerana riang dan kagum!

Kepulangan ke Tonjah


Setelah 12 tahun menetap di Mesir, akhirnya pada bulan Rabiul Awwal 1366 (1949) beliau pulang ke Tonjah untuk menyebarkan ilmu buat anak bangsanya. Di Tonjah, beliau aktif mengajar di Madrasah Siddiqiyyah di samping menulis dan mengadakan majlis zikir. Beliau juga turut dilantik menjadi khatib di madrasah tersebut.

Guru-guru


Antaranya:

1. Ayahandanya Sayyid Muhammad Siddiq al Ghumari.
2. Abang-abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari dan al Hafiz Sayyid Abdullah al Ghumari. 3. Al ‘Allamah Syeikh Muhammad Bu Durrah, murid ayahandanya.
4. Al ‘Allamah Syeikh Abdul Mu’ti al Syarsyimi.
5. Al ‘Allamah Syeikh Mahmud Imam.
6. Al ‘Allamah Syeikh Abdul Salam Ghanim al Dimyati al Syafie.
7. Al ‘Allamah Syeikh Muhammad ‘Izzat dan lain-lain lagi.

Karya-karya beliau

Semuanya berjumlah 73 buah. Kebanyakannya dalam bidang hadith. Antaranya:

1. Tashil al Mudarraj ila al Mudarraj.
2. Al Ta’nis bi Syarh Manzumah al Zahabi fi Ahli al Tadlis.
3. Al Bughyah fi Tartib Ahadith al Hilyah.
4. Ithaf Zawi al Himam al ‘Aaliyah bi Syarh al ‘Asymawiyyah.
5. Al Qaul al Ma’thur bi Jawaz Imamah al Mar’ah bi Rubat al Khudur.
6. Mafatih al Dahyan li Tartib Tarikh Asbahan.
7. Al Tahzir Mimma Zakarahu al Nablusi fi al Ta’bir.
8. Al Tuhfah al ‘Aziziyyah fi al Hadith al Musalsal bi al Awwaliyyah dan lain-lain lagi.

Kewafatan

Beliau menghembuskan nafas terakhir pada tahun 1418 (1998) dan disemadikan di Madrasah Siddiqiyyah berhampiran pusara keluarganya. Semoga Allah merahmati beliau dan membalas jasa-jasa beliau dengan sebaik-baik pembalasan. Amin.

Posted by: Habib Ahmad | 7 November 2010

Majalah Al Kisah terkini

http://majalah-alkisah.com

Posted by: Habib Ahmad | 7 November 2010

Raja-Raja Palembang : keturunan Sunan Giri atau Sunan Ampel ?

Raja-Raja Palembang : keturunan Sunan Giri atau Sunan Ampel ?Ketika membaca beberapa artikel tentang Raja-raja Palembang di beberapa situs, saya teringat dengan buku yang dikarang oleh Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad yang berjudul ‘Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh’. Pada halaman 67 buku itu tertulis judul ‘ Silsilah Keturunan dari Palembang’ dan salah satu paragrafnya tertulis : ‘Dalam silsilah ini disebutkan bahwa Jamaluddin Agung mempunyai tujuh orang anak, tetapi yang disebut keturunannya adalah dari Zainal Akbar yang berketurunan raja-raja Palembang, pangeran-pangeran dan raden-raden di Palembang, juga sunan Giri dan Sunan Ampel’.[1]

Telah tersiar kabar yang mengatakan bahwa raja-raja Palembang adalah keturunan Sunan Giri. Ketika meneliti buku yang menceritakan ‘asal-usul raja-raja Palembang’, maka didapati beberapa data yang harus dikaji kembali. Sebagai contoh adalah hanya satu kata yang ditemukan berkaitan dengan nama Sunan Giri dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan silsilah raja-raja Palembang, padahal khalayak umum terlanjur mengetahui bahwa raja-raja Palembang adalah keturunan Sunan Giri. Sebaliknya ditemukan nama Maulana Ibrahim yang mempunyai anak Sunan Ampel. Dari nama yang terakhir disebut ini diperoleh informasi yang menunjukkan bahwa awal mula raja-raja Palembang dijabat oleh keturunan Sunan Ampel ke 10, yaitu dua bersaudara yang bernama Kiai Geding Sura dan Kiai Gedeng Ilir yang berpindah dari tanah Jawa ke Palembang.[2]

Jika memperhatikan sejarah keturunan raja-raja Palembang ini, seharusnya mereka masuk ke dalam keturunan Sunan Ampel bukan Sunan Giri. Walaupun dalam beberapa artikel disebutkan bahwa Sunan Giri mempunyai anak bernama Kiai Gedeng Karang Tengah. Kiai Gedeng Karang Tengah mempunyai anak bernama Adipati Sumedang. Adipati Sumedang mempunyai anak bernama Tumenggung Mancanegara. Tumenggung Mancanegara mempunyai anak bernama Pangeran Seding Pasarijan. Pangeran Seding Pasarijan mempunyai anak bernama Raden Arja susuhunan Abdulrahman, dan seterusnya.

Berdasarkan sumber yang tertulis pada buku di atas, Kiai Gedeng Karang Tengah/Panjang mempunyai anak bernama Panca Tanda. Kiai Panca Tanda mempunyai anak bernama Tumenggung Mancanegara. Tumenggung Mancanegara mempunyai anak bernama Pangeran Seding Pasarijan. Pangeran Seding Pasarijan mempunyai anak bernama Raden Arja susuhunan Abdulrahman, dan seterusnya.

Dalam sumber tersebut dibahas pula bahwa raja Palembang yang awal bernama Kiai Gedeng Sura, setelah beliau wafat digantikan oleh saudaranya Kiai Gedeng Ilir yang diberi julukan sama dengan nama saudaranya Kiai Gedeng Sura. Beliau mempunyai anak perempuan bernama Nyai Geding Pembayun. Nyai Geding Pembayun menikah dengan Tumenggung Manca Negara (cicit Sunan Giri), padahal jika diurut sampai ke atas Nyai Geding Pembayun adalah keturunan yang ke 11 dari Sunan Ampel (dari pihak anak perempuan Sunan Ampel yang bernama Nyai Gede Meloko). Pertanyaannya adalah : mungkinkan seorang wanita keturunan ke 11 dari Sunan Ampel menikah dengan seorang lelaki keturunan ke 3 dari Sunan Giri, padahal Sunan Ampel dan Sunan Giri keduanya hidup pada zaman yang sama, atau apakah Sunan Ampel hidup 8 generasi lebih dahulu dari Sunan Giri ???

Jika ditelusuri lebih lanjut, asal-usul raja-raja Palembang ini adalah keturunan dari Raden Patah. Sedangkan Raden Patah adalah anak dari Kertabumi (raja Majapahit)[3]. Raden patah diberi mandat oleh Sunan Ampel untuk memimpin kerajaan Demak. Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta, para wali, yang dikenal sebagai Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama[4].

Sedangkan Sunan Giri sendiri tidak pernah bersentuhan dengan Palembang. Beliau lebih mencurahkan kegiatan dakwahya di wilayah Timur Indonesia. Beliau dipelihara oleh Nyai Gede Meloko (putri Sunan Ampel) setelah besar bersama anak Sunan Ampel lainnya yang bernama Sunan Bonang belajar ke Mekkah. Sebelum ke Mekkah keduanya mampir di Pasai . Setelah itu, keduanya langsung menuju Tanah Jawa untuk mendirikan pesantren di daerah Giri (Gresik). Menurut keterangan, Sunan Giri mempunyai anak bernama Sunan Prapen, di sisi lain dikatakan Sunan Prapen adalah cucu Sunan Giri, sedangkan anak beliau bernama Sunan Ali Kusumowiro[5]. Mungkin akan timbul pertanyaan : apakah Sunan Ali Kusumowiro itu adalah Kiai Gedeng Karang Tengah/Panjang. Jawabannya adalah : Diperlukan kajian lebih mendalam ! karena di antara keduanya berbeda jarak waktu yang sangat lama sebagaimana telah dicontohkan di atas.

Perhatikan dan pahamilah tulisan sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, maka akan didapatkan jawaban dari permasalahan di atas. Coba perhatikan tulisan beliau yang jelas mengatakan “ … tetapi yang disebut keturunannya adalah dari Zainal Akbar yang berketurunan raja-raja Palembang, pangeran-pangeran dan raden-raden di Palembang, juga sunan Giri dan Sunan Ampel’. Dari kalimat tersebut, sayid Alwi bin Thahir al-Haddad tidak mengatakan bahwa raja-raja atau raden-raden Palembang itu keturunan Sunan Giri, tetapi beliau mengatakan bahwa raja-raja atau raden-raden Palembang, Sunan Giri dan Sunan Ampel, semuanya keturunan dari Zainal Akbar.

Setelah membaca dan memahami tulisan di atas, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah : Raja-raja Palembang atau Raden-Raden Palembang diduga merupakan keturunan Sunan Ampel dari pihak anak perempuan, sedangkan kakeknya dari pihak ayah adalah Raden Patah (anak raja Majapahit yang bernama Kertabumi).

Tulisan ini hanya sebagai kajian ilmiah semata, anggaplah sebagai makalah bandingan terhadap artikel/tulisan/makalah yang telah ada. Bila ada sumber-sumber yang berlainan yang lebih kuat dan sahih, maka kesimpulan ini dapat saja berubah. Mudah-mudahan hal itu dapat memperkaya dan memperluas wawasan kita tentang masalah yang sedang dibahas.

Tulisan ini hasil kajian dari manuskrip/buku yang berjudul : “Asal-Usul Raja-Raja Palembang”.

——————————————————————————–

[1] Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, (Jakarta: Lentera, 1995) h. 67.

[2] Tim Penyusun, Asal-Usul Raja-Raja Palembang, (Jakarta, 2001).

[3] Hasan Djafar, Girindrawardhana, Beberapa Masalah Majapahit Akhir (Jakarta: Depdikbud, 1978) h. 96.

[4] Olthof, Poenika Serat Babad Tanah Jawi, (Gravenhage: Martinus Nijhoff) h. 30

[5] Hamid al-Husaini, Mengenal Ahli Bait Rasulillah saw, (Pustaka Nasional, 1998).

http://benmashoor.

Posted by: Habib Ahmad | 7 November 2010

Kuliah Tafsir Al-Quran oleh Habib Ali Zainal Abidin Al-Hamid

Kuliah Tafsir Al-Quran oleh Habib Ali Zainal Abidin Al-Hamid
Anda Akan hadir · Kongsi · Acara Umum

Lihat Semua
Halaman Yang Disyorkan
Muslims in the World
Datu Adzman Alaydrus dan 28 rakan-rakan lain menyukai ini.
Suka
Gambar Kenangan
Kisah Habib Ali dalam majalah Caha…
Abdullah Al-habshi and 47 more friends are tagged in this photo from Oktober 2010.

Masa
07hb November · 8.00 ptg – 11.00 ptg
Lokasi Pusat Pengajian Ba’alawi Kuala Lumpur
Direka Oleh:
Ba’alawi KL

Posted by: Habib Ahmad | 6 November 2010

Wali – Wali Allah SWT

i – Wali Allah SWT

| |
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ قَالَ
: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ( صحيح البخاري )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiKu dengan sesuatu yang Aku cintai dari perbuatan yang Aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiKu dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang, Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya. Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanKu ketika hendak merenggut jiwa hambaKu yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya.” ( Shahih Al Bukhari )

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي هَذِهِ الْجَلْسَة…
Limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, Maha Penguasa tunggal dan abadi, Maha melimpahkan keluhuran dan kebahagiaan bagi hamba-hambaNya di setiap waktu dan saat, Maha melimpahkan kelembutan dan kenikmatan yang tiada henti-hentinya kepadaku dan kalian, tidak satu detik pun rahmatNya terhenti untuk kita, tidak satu detik pun kasih sayang-Nya terhenti untuk kita terkecuali terus mengalir kepada kita, kenikmatan melihat, kenikmatan mendengar, kenikmatan berbicara, kenikmatan bergerak, kenikmatan berfikir, kenikmatan merenung, kenikmatan sanubari dan kenikmatan-kenikmatan luhur lainnya, dan kenikmatan-kenikmatan itu terus berlanjut, kenikmatan bernafas, kenikmatan penggunaan jantung dan seluruh tubuh kita, kenikmatan cahaya matahari, kenikmatan gelapnya malam, kenikmatan indahnya pemandangan, kenikmatan udara dan berjuta-juta kenikmtan lainnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
( ابراهيم : 34 )

” Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghitungnya “. ( Qs. Ibrahim : 34 )
Hal ini menunjukkan betapa banyak kenikmatan yang kita ketahui dan betapa lebih banyak kenikmatan yang tidak kita ketahui, dan Allah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa menemukan jumlah kenikmatan itu. Semakin kita mempelajari maka akan semakin kita memahami baik secara ilmiah atau dengan hadits-hadits nabawiyah atau yang lainnya, secara logika atau pun dengan dalil, maka kenikmatan itu semakin kita pelajari maka akan semakin banyak dan semakin terbuka, semakin luas, semakin mulia, dan semakin indah. Demikianlah perbuatan Sang Maha Baik, demikian perbuatan Sang Maha Luhur dan Mulia, demikian perbuatan Sang Maha Indah, demikian perbuatan Sang Maha mencintai, demikian perbuatan Sang Maha Pemaaf, demikian perbuatan Sang Maha penyelamat, demikian perbuatan Sang Maha lemah lembut sehingga Dia ( Allah ) subhanahu wata’ala melipatgandakan perbuatan baik kita dan senantiasa siap mengampuni kesalahan-kesalahan kita, demikian indahnya Yang Maha indah, demikian mulia dan berkasih sayang Yang Maha berkasih sayang.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ ، وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ
( المائدة : 55- 56 )

” Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang “. ( QS. Al Maidah : 55- 56 )
Allah subhanahu wata’ala memberi pemahaman kepada kita, siapakah yang seharusnya kita jadikan sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan ?. Allah berfirman : ” Sungguh yang melindungi kalian, yang menolong kalian dan yang bisa kalian mintai pertolongan adalah Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman “, tetapi siapakah orang-orang yang beriman itu ?, maka Allah subhanahu wata’ala perjelas bahwa orang yang beriman adalah mereka yang mendirikan shalat, mereka yang menunaikan zakat, dan mereka yang memperbanyak melakukan ruku’ yaitu banyak melakukan shalat sunnah di siang hari dan malam harinya, mereka yang dimaksud adalah para shalihin. Maka firman Allah bahwa pelindung kalian ( manusia ) adalah Allah, RasulNya dan para shalihin. Maka Allah melanjutkan firmanNya : ” Barangsiapa yang mengambil perlindungan dari Allah, dari RasulNya dan dari orang-orang yang beriman, maka sungguh tentara Allah lah yang pasti akan menang “.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita fahami rahasia keluhuran, bagaimana jika kita meminta perlindungan kepada Allah. Di dalam riwayat Shahih Al Bukhari, ketika nabiyullah Ibrahim AS didekatkan dengan api Namrud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Ketika nabiyullah Ibrahim didekatkan kepada api namrud untuk dibakar, maka kalimat terakhir yang diucapkan adalah : حسبي الله ونعم الوكيل( Cukuplah Allah untukku dan Dialah sebaik-baik pelindung )”, maka Allah subhanahu wata’ala cukupkan Allah sebagai pelindungnya, kemudian Allah perintahkan api itu menjadi sejuk dan membawa keselamatan bagi nabiyullah Ibrahim As, dengan firmanNya :

ياَنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
( الأنبياء : 69 )

” Wahai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. ( QS. Al Anbiyaa: 69 ),
Namun Allah juga memberi kesempatan bagi kita untuk meminta pertolongan kepada para rasul dan nabiNya, dan pemimpin para nabi dan rasul adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
( النساء : 64(

” Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang “. ( QS. An Nisaa: 64 )
Maka ketika para sahabat merasa telah banyak berbuat dosa, maka mereka berdatangan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bertobat kepada Allah dihadapan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Rasulullah pun memohonkan pengampunan dosa untuk mereka, maka pastilah mereka akan diampuni oleh Allah karena Allah Maha penerima taubat dan Maha Penyayang. Tadi kita berbicara tentang tiga pelindung bagi kita yaitu Allah, RasulNya, dan para shalihin. Yang pertama telah saya jelaskan sekilas, yang kedua berdasarkan dalil firman Allah dimana para shahabat berdatangan kepada Rasul untuk meminta perlindungan atas dosa-dosa mereka agar diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala, dan banyak lagi riwayat Shahih Al Bukhari dimana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah Jum’at, maka datanglah seorang dusun dari kejauhan, dan ketika Rasul sedang menyampaikan khutbah maka ia menyela dan berkata : ” Wahai Rasulullah, kemarau tidak juga berakhir, hewan-hewan kami banyak yang mati, dan pohon-pohon kekeringan, tanah pecah terbelah dan kami sudah kehabisan air, maka mohonkanlah doa kepada Allah agar diturunkan hujan “. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Anas bin Malik berkata : ” Saat kami keluar dari shalat Jum’at, maka Rasul mengangkat tangan dan berdoa agar diturunkan hujan, dan belum Rasulullah menurunkan tangannya kecuali awan-awan telah berdatangan dari segala penjuru Madinah Al Munawwarah, dan belum selesai kami melakukan shalat kecuali tetesan-tetesan air hujan mulai turun membasahi jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Maka hujan pun turun sedemikian derasnya dan tidak berhenti selama satu minggu terus membasahi Madinah Al Munawwarah. Dan di hari Jum’at berikutnya, ketika Rasulullah berkhutbah maka orang dusun tadi datang dan berkata : “Wahai Rasulullah, rumah-rumah dan tumbuhan habis, air tidak tertahan dan banjir dimana-mana, maka mohonkan kepada Allah agar Allah menghentikan hujan “, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :

اَللّهُمَّ حَوَالَيْناَ لَا عَلَيْنَا
” Ya Allah (hujan) disekitar kami saja, jangan di atas kami”
Maka Rasulullah memberi isyarat kepada awan, dan awan-awan yang diisyaratkan pun tunduk atas intruksi dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga Madinah Al Munawwarah bagaikan kubah yang bolong karena di atasnya di sekitar Madinah awan gelap masih menggumpal dan hujan deras, kecuali Madinah Al Munawwarah yang terik diterangi sinar matahari dan tidak ada setetes air hujan pun. Diriwayatkan di dalam syarah Fathul Bari dan riwayat lainnya bahwa hujan di sekitar Madinah itu berlangsung hingga sebulan. Demikianlah permohonan meminta perlindungan kepada Rasulullah. Begitu juga meminta perlindungan kepada para shalihin yang mana hal ini banyak teriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah, diantaranya riwayat Shahih Al Bukhari kejadian yang sama di masa Khalifah Umar bin Khattab Ra, ketika mereka dalam keadaan kemarau yang panjang, mereka pun datang kepada sayyidina Umar bin Khattab untuk memintakan doa kepada Allah agar diturunkan hujan, maka sayyidina Umar bertawassul kepada sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib Ra dan hujan pun turun, demikian riwayat Shahih Al Bukhari. Fahamlah kita bahwa Allah membuka perlindunganNya dari Allah subhanahu wata’ala, dan dari para rasulNya dan juga dari para hambaNya yang shalih.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits mulia ini, firman Allah subhanahu wata’ala dalam hadits qudsi :

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
“Barangsiapa yang memusuhi waliKu (kekasih-Ku), orang-orang yang Kucintai maka Aku umumkan padanya perang”
Maksudnya ia adalah musuh besar Allah jika ia membenci dan memusuhi kekasih Allah, kecuali ia bertobat. Jika ia bertobat, maka tentunya dimaafkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Mengapa Allah subhanahu wata’ala murka jika mereka para kekasihNya dibenci?, karena para kekasih Allah tidak mempunyai sifat dendam dan mereka tidak marah tetapi yang marah adalah Allah subhanahu wata’ala karena Allah mencintai mereka, Allah subhanahu marah karena wali Allah yang dibenci tidak benci kepada yang membencinya, maka Allah subhanahu wata’ala yang murka kepada orang itu. Siapakah para kekasih Allah itu?, firman Allah dalam hadits qudsi :

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ
Tiadalah seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah menuju keridhaan Allah, menuju kasih sayang Allah yang beramal dengan hal-hal yang telah diwajibkan kepadanya seperti shalat wajib, puasa ramadhan, zakat, dan haji. ( Namun untuk saudari kita yang baru masuk Islam tidak dipaksakan untuk melakukan hal-hal yang fardhu di dalam syariah islamiyah kecuali semampunya saja, yang mampu dijalankan dan yang masih terasa berat jangan dilakukan, karena iman itu butuh waktu dalam mencapai kemapanan untuk mampu melaksanakan segala hal-hal yang fardhu ). Dan hamba itu tidak berhenti hanya mengamalkan hal-hal yang wajib saja, tetapi meneruskan juga dengan hal-hal yang sunnah untuk terus mendekat kepada Allah sampai Allah mencintainya, maka ia telah menjadi kekasih Allah karena ia mengamalkan hal-hal yang fardhu dan yang sunnah, amalan yang seperti apa? Tentunya yang diajarkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, baik amalan yang fardhu atau pun yang sunnah yang mana yang kita ketahui kalau bukan ajaran sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kesimpulannya, ketika seseorang mengikuti ajaran sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupannya dan semampunya maka ia akan mencapai cinta Allah subhanahu wata’ala, dan tidaklah seseorang mencapai derajat orang yang dicintai Allah ( Wali Allah ) kecuali ia telah mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliaulah masdar al awliyaa dan manba’ al awliyaa ( sumber para wali ). Dan jikalau Allah telah mencintai hamba-Nya, maka Allah menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Allah akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Allah akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk membela diri , Allah akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Tentunya maksudnya bukan secara makna kalimat, tetapi mengandung majas yaitu makna kiasan. Maksudnya adalah jika seseorang telah taat kepada Allah, selalu ingin berbuat yang luhur, selalu menghindari hal yang hina, maka apa-apa yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata’ala, seperti jika ia mendengar aib orang lain maka ia doakan orang itu, ia mendengar cacian dan umpatan dari orang lain maka ia doakan orang itu, semua yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata’ala. Semua hal yang ia lihat menjadi rahmatnya Allah subhanahu wata’ala, misalnya ia melihat orang berbuat dosa maka ia doakan agar ia diampuni dosanya oleh Allah dan diberi hidayah, matanya yang melihat membawa rahmat Allah subhanahu wata’ala, tangan dan kakinya pun demikian, hari-harinya pun demikian. Maka maksud firman Allah dalam hadits qudsi itu adalah Allah memancarkan rahmat dan cahayaNya dari hamba itu, melalui penglihatannya, pendengarannya, ucapannya, dan hari-harinya penuh rahmat Allah subhanahu wata’ala, demikianlah keadaan para wali Allah. Maka jika hamba itu meminta kepada Allah maka Allah kabulkan permintaannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada Allah maka Allah akan melindunginya. Allah melanjutkan firman-Nya dalam hadits qudsi :

وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ
“Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanKu ketika hendak merenggut jiwa hambaKu yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya”.
Yang dimaksud bukanlah Allah subhanahu wata’ala ragu dalam menentukan sesuatu untuk hambanya, karena Allah tidak memliki sifat ragu. Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, bahwa yang dimaksud adalah Allah subhanahu wata’ala merasa berat jika ingin menentukan suatu ketentuan yang bisa membuat para kekasih-Nya kecewa. Allah tidak pernah merasa berat dalam menentukan sesuatu, kecuali kepada para walinya karena Allah subhanahu wata’ala tidak ingin mengecewakan mereka. Allah tidak mau mengecewakan para kekasih-Nya, jika kekasih-Nya belum ingin wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya. Maka ketika Allah mengundang hamba-Nya untuk wafat namun hamba-Nya masih ragu untuk wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya, Allah panjangkan usianya, kenapa? karena ia telah menjadi kekasih Allah. Bukan berarti Allah mengikuti semua yang dia inginkan, tetapi Allah sangat mencintainya dan tidak mau mengecewakannya. Tetapi banyak kejadian di masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau didzalimi, disakiti, dan dianiaya ?!, ingat ucapan Allah subhanahu wata’ala :

وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
” Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya ”
Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin musuhnya celaka, maka beliau diam saja atas perbuatan musuh-musuhnya, sampai jika sesuatu itu membahayakan muslimin barulah beliau bertindak membela diri, tetapi jika hanya membahayakan dirinya sendiri maka beliau hanya bersabar dan bertahan, beliau tidak ingin kecelakaan terjadi pada musuh-musuhnya dan beliau masih berharap mereka bertobat dan kembali kepada keluhuran. Sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari di saat perang Uhud ketika panah menembus tulang rahang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka di saat itu darah mengalir Rasulullah sibuk menahan darah agar tidak sampai jatuh ke tanah, para sahabat berkata: ” wahai Rasulullah biarkan saja darah itu mengalir “, diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan darah yang mengalir jangan sampai jatuh ke tanah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Kalau ada setetes darah dari wajahku yang jatuh ke tanah, maka Allah akan tumpahkan musibah yang dahsyat bagi mereka orang-orang Quraisy yang memerangiku “. Allah murka jika ada setetes darah dari wajah Rasulullah sampai tumpah ke bumi, maka Rasulullah menjaga agar jangan sampai ada setetes darah pun yang mengalir ke bumi, dan beliau tidak peduli ada panah yang menancap di rahang beliau, beliau memikirkan jangan sampai musibah turun kepada orang yang memeranginya. Inilah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikian pula perbuatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sayyidina Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa dia adalah seorang yang beriman tetapi ayahnya adalah pemimpin munafik yang paling jahat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berkelompok dengan orang-orang yang memusuhi nabi, mengabarkan berapa jumlah tentara nabi, berapa senjatanya, kapan keluar Madinah, kapan masuk Madinah, kapan perdagangan di Madinah, kapan orang-orang Madinah berdagang keluar dan lainnya, semua itu yang membocorkannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, sungguh jahat sekali tetapi anaknya adalah orang yang beriman, ia bernama Abdullah juga. Maka sayyidina Abdullah datang kepada Rasul dan berkata : ” Wahai Rasulullah, ayahku sudah sakaratul maut dan tidak ada yang mau mengurus jenazahnya “, kenapa? karena teman-temannya yang munafik tidak mau mengurus jenazahnya, mereka takut jika mereka mnegurusi jenazahnya maka orang-orang muslim mengetahui bahwa mereka adalah pengikut Abdullah bin Ubay juga, sedangkan orang-orang muslim juga tidak mau mengurusi jenazah itu karena jelas-jelas yang wafat adalah pimpinan orang munafik yang sangat jahat, dimana ketika orang muslim mengirim bahan makanan atau ke Madinah dimonopoli oleh Abdullah bin Ubay, mau mengirimkan bantuan atau perdagangan ke Madinah dirampok karena kapalnya sudah dibocorkan oleh Abdullah bin Ubay, justru mereka orang muslim senang dengan wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dan berdiri untuk mengurus jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, maka sayyidina Umar berkata : ” Wahai Rasulullah, dia pimpinan munafik jangan engkau urus jenazahnya “, maka Rasulullah berkata: ” biarkan aku wahai Umar “, maka Rasulullah lah yang memandikannya, Rasul yang mengkafaninya , Rasul yang menshalatinya, Rasul yang menurunkannya ke kuburnya, Rasul yang mendoakannya, lalu turunlah ayat :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
( التوبة : 84 )

” Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” ( QS. At Tawbah : 84 )

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
( التوبة : 80 )

” Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Meskipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” ( QS. At Tawbah : 80 )
Di dalam ayat ini ada makna yang tersembunyi, dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh menukil makna syarh ayat ini bahwa Allah subhanahu wata’ala sangat mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad tidak menentang Allah, beliau diciptakan oleh Allah penuh dengan sifat lemah lembut, maka Allah biarkan beliau mengurus jenazah Abdullah bin Ubay, dan setelah semua selesai barulah turun larangan dari Allah subhanahu wata’ala, maksudnya supaya orang munafik yang lain tau bahwa jenazah orang yang seperti itu tidak boleh dishalati sehingga mereka mau bertobat . Kalau seandainya Allah subhanahu wata’ala betul-betul tidak menginginkannya, maka sebelum Rasulullah melakukannya pastilah dilarang tetapi justru Allah melarang setelah Rasulullah melakukannya, supaya menjadi pelajaran bagi orang munafik yang lainnya untuk tidak memusuhi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Rasulullah berkata kepada sayyidina Umar : ” Wahai Umar, engkau lihat firman Allah bahwa aku tidak boleh memohonkan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul karena Allah tidak mau mengampuninya walaupun 70 kali aku memohonkan pengampunan, wahai Umar kalau aku tau bahwa Allah akan mengampuninya jika kumintakan pengampunan lebih dari 70 kali, maka akan kumintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul “, misalnya Allah menuntut harus 1000 kali nabi memintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay maka beliau akan mintakan pengampunan itu demi keselamatan Abdullah bin Ubay bin Salim dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala. Demikian mulianya sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dan hubungan Rasulullah dengan mereka yang non muslim tetap baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memusuhi orang-orang yang tidak memusuhi muslimin. Ketika dalam perang Tabuk yang terjadi pada bulan Sya’ban, dimana raja Yohana telah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun dia tidak masuk Islam, namun dia tunduk kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajukan kepadanya untuk membayar jizyah ; seperti zakat tetapi untuk non muslim, jika untuk orang muslim disebut zakat dan untuk orang non muslim disebut Jizyah. Jizyah itu jauh lebih kecil dari zakat, maka sebagian orang non muslim berkata : ” orang muslim kejam, orang non muslim kok harus bayar jizyah “, tidak demikian justru lebih ringan karena untuk orang muslim ada 7 macam zakat, diantaranya zakat fitrah, zakat tijarah, zakat tsimar, zakat ma’din, zakat rikaz, zakat hewan ternak, dan zakat emas dan perak, tetapi kalau non muslim hanya satu saja yang disebut dengan jizyah. Ketika dia ( raja Yohana ) telah membayar jizyah, maka Rasulullah menulis surat yang berisi : ” Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad Nabiyullah dan Rasulullah, dengan ini aku telah menuliskan dan mengamanatkan bahwa raja Yohana telah membuat perjanjian denganku, maka dia aman, hartanya, perahu-perahunya yang dan kendaraan-kendaraannya kesemuanya aman, dia aman di darat dan di laut dengan jaminan keselamatan Allah dan Rasul-Nya”. Rasulullah yang menjamin keselamatannya, Rasul yang menjamin ia agar terjaga dari gangguan-gangguan orang lain dan musuh-musuhnya. Dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang Yahudi memohon izin untuk tinggal di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasul izinkan, bukan melarangnya atau mengatakan : ” kamu najis, tidak boleh masuk ke rumahku “, tidak demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka pemuda Yahudi itu pun tinggal bersama Rasul, duduk bersama Rasul, makan bersama Rasul, tidur seatap dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita mengetahui yang masuk ke rumah Rasul tidak sembarang orang, tetapi pemuda Yahudi ini bahkan tinggal bersama Rasul berkhidmah kepada beliau, membawakan makanan dan pakaian nabi tetapi beliau tidak memaksakannya untuk masuk kedalam Islam sampai pemuda itu sakit, ketika sakit ia pulang ke rumahnya dan tidak lagi datang ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah menjenguknya ke rumahnya bukannya Rasul senang atau mengatakan : ” baguslah orang non muslim itu keluar dan tidak lagi datang ke rumahku “, tidak demikian bahkan Rasul menjenguknya dan sesampainya beliau di rumah pemuda itu, beliau dapati pemuda itu sudah sakaratul maut, di saat itulah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam membisikkan kepadanya : ” katakan : ” Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah “, maka pemuda itu melihat kepada ayahnya yang juga orang Yahudi apakah ayahnya mengizinkannya atau tidak untuk mengucapkan kalimat itu, maka ayahnya berkata : ” Taatilah Abu Al Qasim “, maka anaknya pun mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah kemudian wafat, maka Rasulullah pun memakamkannya kemudian pulang ke rumah dengan wajah yang bersinar dan terang benderang bagaikan sinar bulan purnama karena begitu gembiranya . Maka para sahabat bertanya : ” Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu gembira sehingga engkau terlihat begitu terang benderang “, maka Rasulullah berkata : ” Aku sangat gembira karena Allah telah memberinya hidayah “. Hadirin hadirat, orang yang paling menginginkan semua non muslim masuk Islam adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, namun beliau mengetahui adab kepada Allah bahwa Allah lah yang memilihkan hidayah, mana yang dikehendaki dan mana yang belum dikehendaki Allah subhanahu wata’ala.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Maka kita fahami rahasia keluhuran bagaimana Allah subhanahu wata’ala mencintai kekasih-kekasihNya, para nabi dan wali-Nya. Dan kita lihat dalam beberapa hari ini kita sudah kehilangan dua orang Al Arif Billah ; As Syaikh Muzhir bin Abdurrahman An Naziri Al Hasani dan Fadhilah As Sayyid Al Arif billah Al Habib Husain bin Umar bin Hud Al Atthas ‘alaihima rahmatullah wamaghfiratullah. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :

يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الأَوَّلُ فَاْلأَوَّلُ وَيَبْقَى ‏حُفَالَةٌ ‏‏كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً
( صحيح البخاري )

“Orang-orang shalih telah pergi (wafat), satu per satu, sampai tidak tersisa seorangpun kecuali manusia-manusia yang buruk, ibarat sampah gandum atau ampas kurma yang Allah tidak lagi mempedulikan mereka sedikitpun.” ( Shahih Al Bukhari )
Akan terus wafat para shalihin satu persatu meninggalkan bumi, sampai nanti tersisa orang-orang yang tidak lagi peduli dengan Allah, dan Allah pun tidak peduli dengan keadaan mereka. Maka semoga Allah menumbuhkan lagi generasi shalihin yang baru, amin.
Hadirin hadirat, dan yang perlu saya sampaikan adalah agar kita selalu menjalin hubungan baik khususnya dengan Allah subhanahu wata’ala, dengan memperbanyak ibadah, memperbanyak sujud, memperbanyak kemuliaan, ingatlah beberapa hari lagi kita akan sampai ke bulan Ramadhan yang digelari dengan syahrussujud, bulan seribu sujud , karena kalau kita shalat tarawih setiap malam 20 raka’at dan witir 3 rakaat maka jumlahnya 23 raka’at, dalam 1 rakaat 2 kali sujud berarti jika tarawihnya setiap malam 20 rakaat maka setiap malam 40 sujud dikalikan 30 hari = 1200 sujud dalam satu bulan, itu shalat tarawihnya saja , belum lagi ditambah witir dan shalat sunnah yang lainnya, maka bulan Ramadhan itu digelari bulan seribu sujud karena muslimin melakukan shalat Tarawih di bulan itu sehinnga melakukan sujud lebih dari 1000 kali sujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :

حَرَّمَ اللهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُوْدِ
” Allah mengharamkan api neraka memakan ( menyentuh ) bekas sujud ” ( Shahih Al Bukhari )
Anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud tidak boleh disentuh oleh api neraka, demikian Allah haramkan kepada api neraka untuk tidak menyentuh anggota sujud. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Muslim :

أَقْرَبُ اْلعَبْدُ إِلَى اللهِ مَنْزِلَةً وَهُوَ سَاجِدٌ
“Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT yaitu ketika dia sedang sujud”
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa sayyidina Tsauban Ra ditanya oleh para sahabat apakah amal yang paling dicintai Allah, maka ia diam sehingga para sahabat terus mendesaknya akhirnya ia pun berkata : ” pertanyaanmu sudah pernah kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah berkata : ” perbanyaklah sujud “, karena barangsiapa yang sujud satu kali sujud maka terangkatlah dosanya, dan derajatnya terangkat semakin dekat dengan Allah setiap kali ia sujud. Diriwayatkan oleh sayyidina Rabi’ah bin Ka’ab Ra dalam Shahih Muslim ia berkata : ” ketika aku berkhidmat kepada nabi selama berhari-hari, aku membawakan makanannya, minumannya, dan air wudhunya kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai ketika aku pamit maka beliau berkata : ” mintalah apa yang engkau inginkan dariku “, maka sayyidina Rabi’ah bin Ka’ab berkata : ” Wahai Rasulullah, aku meminta agar aku bisa bersamamu kelak di surga, sebagaimana aku menemanimu di dunia, aku ingin pula bisa menemanimu di surga “, maka Rasulullah menjawab : ” Bantulah aku untuk mendapatkan keinginanmu dengan memperbanyak sujud “.
Hadirin hadirat, bulan Ramadhan adalah bulan suci semoga rahasia kemuliaan sujud berlimpah kepada kita, dan semoga Allah memuliakan kita dengan keluhuran sujud, dengan cahaya sujud dan kesejukan sujud. Bukakan bagi kami kelezatan sujud, keindahan sujud sehingga kami asyik bersujud mensucikan nama-Mu wahai Yang Pada-Mu kami bersujud, sebagaimana telah Engkau tundukkan kami untuk hanya sujud kepada-Mu, maka tundukkan hati kami untuk tidak tunduk dan sujud kecuali hanya kepada-Mu wahai Allah, jadikanlah penolong kami adalah dzat-Mu , jadikanlah penolong kami adalah Rasul-Mu, jadikanlah penolong kami adalah para shalihin-Mu Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah limpahkan keberkahan kepada kami di bulan Sya’ban dan sampaikan kami pada keberkahan bulan Ramadhan. Ya Rahman Ya Rahim muliakan semua yang hadir di malam hari ini, dan jangan satu pun dari hajat kami yang tertolak, arahkan takdir kami selalu kepada keluhuran dan kebahagiaan , jangan sampai arah takdir kami menuju musibah dan kesusahan kecuali Engkau palingkan arah takdir kami, arah kehidupan kami kepada hal-hal yang Engkau ridha, kepada hal-hal yang Engkau cinta, kepada hal-hal yang Engkau muliakan, dan limpahkanlah rahmat dan kemuliaan lebih dari yang aku minta, limpahilah hajat lebih dari yang kami mohon, Engkau selalu memberi lebih dari yang kami minta, jika aku beramal dengan satu amal maka Engkau membalasnya dengan sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat, kami meminta satu doa maka berilah kami sepuluh hajat hingga tujuh ratus hajat, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram Ya Dazttawli wal In’am …

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …
Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Selanjutnya saya mohonkan kesediaannya untuk mengikuti tahlil dan doa untuk ayahanda saya Fadhilah As Sayyid Al Maghfur Al Habib Fuad bin Abdurrahman bin Ali Al Musawa, di masa kecil saya kalau membaca Al qur’an saya selalu dipanggil dan didudukkan di pangkuannya, di saat itu saya belum mengetahui maknanya tetapi saya tidak boleh bermain kecuali harus berada di dekat beliau saat beliau membaca Al Qur’an, beliau selalu menghadiahkan hafalan Al Qur’an untuk kesemua anaknya dan selalu mendoakan mereka. Ketika saya akan berangkat ke Yaman tahun 1994 , beliau sangat berat dan sedih untuk melepas keberangkatan saya, beliau hanya memberikan tangannya untuk saya menciumnya lantas saya meninggalkan beliau, terlihat beliau membuang muka menandakan tidak ridha, tetapi ketika saya hampir naik ke mobil, beliau membuka pintu rumah dari jauh beliau melihat saya dengan berlinang air mata, ternyata beliau memalingkan wajah ketika saya akan pergi bukan berarti tidak ridha tetapi beliau tidak ingin saya melihat air mata beliau mengalir karena sedih untuk berpisah karena setelah itu saya tidak berjumpa lagi dengan beliau ,itulah pemandangan terakhir saya melihat beliau, ketika saya di Yaman beliau sudah wafat. Semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan beliau, amin. Mari kita membacakan tahlil untuk beliau dan juga untuk As Syaikh Mudh-hir bin Abdurrahman An Nadhiri Al Hasani dan Sayyid Al Arif billah Al Habib Husain bin Umar bin Hud Al Atthas.

Sumber : http://www.majelisrasulullah.org

Posted by: Habib Ahmad | 6 November 2010

BERINTERAKSI DENGAN HADIS DHAIF

BERINTERAKSI DENGAN HADIS DHAIF
Posted on Oktober 31, 2010 by sulaiman
Dalam menentukan penerimaan atau penolakan sesuatu hadis, seseorang itu perlu mengetahui ilmu ‘mustolah al-hadis’ dan ia merupakan ilmu yang sangat penting dan perbahasannya agak luas.

Para ulama sepakat dalam menerima hadis yang bertaraf sahih dan hasan tetapi berbeza dalam menerima hadis yang lemah sanadnya (dhaif). Secara ringkasnya ia terbahagi kepada dua kumpulan iaitu:-

1) Golongan ulama seperti Qadi Abu Bakr Ibn Arabi, Ibn Taimiyyah, Imam Muslim dan golongan salafiyyah seperti Sheikh Al-Albani, Ibn Jauzi dan ramai lagi (rahimahullah ‘ajmain) berpendapat bahawa apa juga hadis/riwayat yang berstatus dhaif TIDAK boleh menjadi hujah dalam menentukan hukum halal, wajib dan haram. Bahkan penolakan ini melangkau kepada hadis dhaif yang berkaitan targhib wal tarhib (galakan dan larangan) atau fadhail ‘amal (kelebihan beramal). Samalah juga dalam penerimaan/penolakan riwayat tentang sirah (sejarah Islam).

2) Majoriti ulama’ termasuklah ulama dari kalangan empat imam mazhab, menerima hadis dhaif dengan syarat-syaratnya walaupun ia berkaitan dengan urusan halal, haram, sah dan batalnya sesuatu ibadah. Dinukilkan dari Imam Ahmad, Ibn Mahdi, Ibn Mubarak (rahimahullah ‘ajmain) dan ramai lagi menerima hadis dhaif yang berkaitan targhib wal tarhib atau fadhail ‘amal.

Imam Ibn Hajar Asqalani (rh) di dalam membahaskan perkara ini mengharuskan penggunaan hadis dhaif berdasarkan tiga syarat seperti berikut:-

1) Hadis dhaif tersebut tidak terlalu dhaif sanadnya (dhaif jiddan) dan jika diriwayatkan oleh seorang yang dusta ditolak sama sekali. (Komentar: Walau bagaimanapun, ia masih tidak muktamad kerana ada ketikanya ulama hadis berbeza menilai para perawi dan semasa mempertimbangkan pengajaran yang terdapat dalam hadis tersebut).

2) Hukum dalam hadis dhaif tersebut berasal dari sumber yang sahih atau dalil yang kuat. Maksudnya, matan dan maksud yang terkandung pada hadis dhaif tersebut mendapat sokongan dari hadis yang lebih kuat sanadnya iaitu hadis sahih/hasan.

3) Tidak beriktiqad bahawa hadis-hadis dhaif tersebut benar-benar datangnya dari Rasulullah SAW.

Jika kita perhatikan perbahasan dari kalangan ulama mengenai perkara ini, terdapat beberapa tambahan bagi penerimaan hadis dhaif seperti di bawah:-

1) Hadis dhaif tersebut tidak bertentangan dengan akal dan logik, tetapi ia masih bukan syarat mutlak dan memerlukan penjelasan/perbahasan.

2) Sekiranya matan (teks) atau maksud yang terdapat dalam hadis dhaif tersebut menepati maksud al-Quran.

3) Tidak terdapat hadis yang lebih kuat sanadnya (sahih/hasan) yang menafikan, menolak dan berbeza hukumnya seperti mana yang terdapat dalam hadis dhaif tersebut. Maksudnya, jika terdapat hadis dhaif yang menyebut tentang sesuatu kelebihan amalan dan kita tidak pula menemui adanya hadis sahih/hasan yang menafikan kelebihan tersebut, maka hadis dhaif itu biasanya diterima.

4) Menolak hadis dhaif yang terdapat perawi yang berfahaman Syiah, dan ini merupakan satu syarat yang perlu dipertimbangkan demi memelihara kemurnian agama terutama yang berkaitan riwayat mengenai Sirah Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat RA.

5) Apabila terdapat banyak hadis dhaif mengenai sesuatu perkara, maka hadis itu boleh ditingkatkan menjadi hasan kerana hadis dhaif boleh memperkuat di antara satu sama lain berdasarkan pandangan jumhur (majoriti) ulama. Maka hadis seperti ini boleh diamalkan bahkan boleh menjadi hujah dalam sesuatu fatwa.

6) Apabila sanad sesuatu hadis itu dinilai secara berbeza-beza di kalangan ulama hadis yang muktabar. Perkara ini berlaku ketika membahaskan ilmu al-jarah wa ta’dil (kajian tentang penerimaan dan penolakan para periwayat hadis). Maksudnya, ada ulama menilai sesuatu hadis itu dhaif tetapi ulama yang lain tidak pula menilainya dhaif bahkan ia hasan atau sahih. Jika hal ini berlaku, pada kebiasaannya hadis seperti ini boleh diterima dan diamalkan.

7) Apabila sesuatu hadis dhaif telah dijadikan dalil dan hujah oleh para imam mujtahid dalam ijtihad/fatwa mereka, maka hadis dhaif tersebut boleh diterima pakai kerana pada dasarnya ijtihad para imam mujtahid adalah sah diamalkan walaupun ia dianggap ijtihad yang lemah atau kurang.

8 ) Dalam menentukan sesuatu hukum, jika tidak terdapat hadis sahih atau hasan dan yang ada hanyalah hadis dhaif, maka menurut sebahagian ulama, hadis dhaif tersebut boleh digunakan menjadi hujah/dalil. Sebagai contoh, mazhab as-Syafi’i menerima hadis mursal (dhaif) sebagai hujah. Imam Abu Hanifah berpendapat hadis dhaif adalah lebih utama berbanding akal (qiyas/logik) kerana hadis dhaif adalah hadis Nabi SAW dan yang dipertikai hanyalah para perawinya sahaja. Bagi golongan yang menolak hadis dhaif sebagai hujah/dalil, pada dasarnya boleh dikatakan mereka lebih mengutamakan akal dan fikiran mereka.

SIKAP, PENDIRIAN & KAEDAH YANG BAIK DALAM MENERIMA HADIS DHAIF

Apabila terdapat dua hadis dalam sesuatu perkara, satu hadis dhaif dan satu lagi hadis sahih/hasan, maka pada ketika ini, hadis yang lebih kuat sanadnya hendaklah diberi keutamaan.

NASIHAT KEPADA PARA ULAMA DAN PENDAKWAH

Para ulama, pendakwah, ustaz, penulis dan sebagainya, apabila menyebut hadis dhaif perlu/wajar menyatakan kedhaifan hadis tersebut atau menjelaskan perbahasan ulama mengenainya bagi mengelakkan pertentangan dan pertembungan di antara golongan yang berbeza dalam penerimaan riwayat-riwayat yang dhaif dan juga mengelakkan salah faham di kalangan orang ramai atau audiens.

Wallahualam.

Sekian

http://nasbunnuraini.wordpress.com/

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 785 other followers