Posted by: Habib Ahmad | 10 November 2010

Keputusan UPSR 2010 Diumumkan ESOK

Keputusan UPSR 2010 Diumumkan Pada 11 November
PUTRAJAYA: Keputusan Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR) 2010 akan diumumkan pada 11 November ini, menurut kenyataan Lembaga Peperiksaan, Kementerian Pelajaran pada Khamis. Kenyataan itu menyebut calon-calon boleh mendapatkan keputusan mereka daripada sekolah masing-masing selepas pukul 10 pagi, pada hari berkenaan.

Pada tahun ini, seramai 494,493 calon telah menduduki UPSR di 8,192 pusat peperiksaan di seluruh negara.

Calon sekolah kebangsaan dan sekolah bantuan kerajaan adalah seramai 486,321 orang manakala bakinya sebanyak 8,172 orang adalah calon sekolah swasta. – BERNAMA

Posted by: Habib Ahmad | 10 November 2010

KEPANASAN NERAKA

KEPANASAN NERAKA
Posted on November 9, 2010 by sulaiman
(Tulisan ini adalah petikan dari kitab Nasbun Nurain Jilid 5, bermula dari muka surat 92 di Bahagian Kedua Puluh Tiga. Perbahasan mengenai neraka dan perkara yang ada hubungan dengannya agak panjang dan sungguh menarik. Sila dapatkan kitab ini)

Telah tersebut di dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (ra) bahawa Rasulullah (saw) bersabda;

“Kepanasan api kamu (di dunia ini) adalah sebahagian dari 70 bahagian dari kepanasan api neraka, berkata sahabat Baginda Mulia, wahai Rasulullah jika (kepanasan api neraka itu) sama dengan kepanasan api (di dunia) ini pun sudah cukup, jawab Baginda Mulia telah dilipat gandakan lebih kepanasannya dari api (di dunia) ini sebanyak 69 kali ganda lagi.” (HR Bukhari dan Mishkat).

Neraka dibelenggukan di hari kiamat

Dari Ibn Masud (ra) bahawa Rasulullah (saw) bersabda;

“Dibawakan kehadapan akan Neraka (Jahannam) pada hari Kiamat dengan dibelenggukan dengan 70 ribu belenggu (besi) dan ia ditarik oleh 70 ribu Malaikat (as) pada satu-satu rantai belenggu.” (HR Muslim dan Mishkat)

Ulasannya

(1) Pada satu rantai belengguan neraka akan ditarik oleh 70 ribu malaikat (as), maka jumlah malaikat yang menarik neraka dengan belengguan sebanyak 70 ribu itu ialah 4,900,000,000.

(2) Neraka kesemuanya ada 7 buah, dan tiap-tiap buah adalah lebih besar dari dunia ini.

Keadaan Neraka pada hari Kiamat

(1) Neraka adalah salah satu makhluk Allah (swt) yang besar, dan tidak ada siapa pun yang mengetahui tentang bilangan makhluknya yang akan dimasukkan ke dalamnya melainkan Allah (swt) sahaja.

(2) Makhluk Allah (swt) pula terlalu ramai, sama ada yang berada di dunia ini, atau di langit, atau di neraka, syurganya, arasynya atau di manaÄmana sahaja melainkan Allah (swt) sahaja yang mengetahuinya. Begitu juga yang tidak hidup secara kasar selain dari manusia, binatang dan lainÄlain lagi, contohnya seperti pasir, bukit, pokok kayu, batu, tanah liat, (berapa jenis), berapa banyak, tiada juga diketahui oleh sesiapa pun melainkan Allah (swt) sahaja, atau orang yang telah diberitahu olehnya.

(3) Angka bilangan yang telah dicipta oleh akal manusia yang cetek dari dulu sampai sekarang, tidak mampu membilang bilangan pasir apatah lagi dengan pasir di sebuah sungai, di tepi pantai dalam satuÄsatu lautan yang berselerak di serata dunia ini, pendek kata makhluk Allah (swt) hanya beliau sahaja mengetahui bilangannya.

(4) Kehadiran makhluknya yang dimukallaf seperti manusia dan jin, atau tidak dimukallafkan seperti binatang di padang Mahsyar, manusia dan jin yang mana sebahagian besar mereka itu adalah tidak beriman kepada agama Allah (swt) di dunia dulu, dan mereka ini adalah menjadi habuan yang telah ditetapkan baginya (neraka), dengan itu membuatkan neraka yang hidup itu dapat mengesan kehadiran mangsa-mangsanya itu di padang Mahsyar, maka ia telah naik berang, ia mengamuk, sehingga tidak terkawal oleh malaikat yang menjaganya, hanya Allah (swt) sahaja yang dapat mententeram dan mengawalnya.

Firman Allah (swt) berhubung dengan amukannya (neraka) yang mafhumnya;

تكادتميّزمن الغيظ

“Hampir Neraka itu pecah kerana kemarahannya.” ( al-Mulk ayat 8 )

Sila dapatkan kitab ini untuk baca selanjutnya
http://nasbunnuraini.wordpress.com/2010/11/09/kepanasan-neraka-2/

Posted by: Habib Ahmad | 10 November 2010

Tarikh Pengumuman Keputusan UPSR 2010

Tarikh Pengumuman Keputusan UPSR 2010
Keputusan UPSR 2010 akan diumumkan pada 11 November 2010, iaitu pada hari Khamis minggu depan. Keputusan UPSR 2010 diumumkan awal seminggu sebelum cuti sekolah bermula.

Tarikh pengumuman keputusan UPSR tahun ini diberitahu dalam satu kenyataan oleh Lembaga Peperiksaan Malaysia (LPM). Semua calon boleh mendapatkan keputusan UPSR di sekolah masing-masing selepas jam 10 pagi.

Pada tahun ini, seramai 494,493 calon telah menduduki UPSR di 8,192 pusat pemeriksaan di seluruh negara.

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Allah swt Tidak Akan Mengecewakan Rasulullah saw

Allah swt Tidak Akan Mengecewakan Rasulullah saw
Senin, 01 November 2010

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Sungguh Aku Rasulullah, dan Allah swt tidak akan mengecewakanku selama lamanya” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الطَّيِّبَةِ الطَّاهِرَةِ…

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan keluhuran sepanjang waktu dan zaman kepada hamba-hamba yang telah menyiapkan sanubari dan dirinya untuk dilimpahi keluhuran. Keluhuran yang Allah limpahkan itu datang dengan kedatangan para nabi dan rasul sampai pada akhir pembawa keluhuran terluhur, nabi yang paling luhur dan menjadi terluhurkan semua pengikut beliau, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Pemimpin hamba yang menuntun kepada keluhuran hingga terluhurkanlah jiwa dari gelapnya kehinaan menuju puncak-puncak keluhuran, dari jurang-jurang dosa menuju puncak-puncak kesucian, dari jurang-jurang kemurkaan Allah menuju puncak-puncak keridhaan Allah, dari samudera kesalahan menuju samudera pengampunan dari Maha Raja langit dan bumi Yang tiada berhenti memandang setiap hamba-Nya, dan memelihara hamba-Nya sejak mereka masih di alam rahim bahkan sebelum mereka di alam rahim hingga mereka hidup di muka bumi dan kemudian wafat, sungguh tidak ada yang selalu bersamamu kecuali Allah subhanahu wata’ala. Dia selalu bersamamu disaat engkau berada di alam ruh, kemudian engkau di alam rahim lalu di alam dunia, hingga engkau di alam barzakh. Dialah Allah Yang selalu bersama kita di setiap detik dan kejap, tidak sedetik atau sekejap pun engkau lepas dari kebersamaan Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

(الحديد: 4)

“Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hadid: 4)

Sang Maha Luhur selalu bersama kita dan bagaimana dengan diri kita, bagaimana dengan sanubari kita, berapa detik sanubari kita bersama Allah, dalam usia kita yang telah lewat berapa detik kerinduan kita kepada Allah, berapa banyak hal yang kita ingat selain Allah, berapa banyak kita mengingat Allah, berapa banyak kita tidak mengingat Allah, berapa banyak kalimat yang kita ucapkan dari nama selain Allah, manakah yang lebih banyak kita ucapkan, nama Allah ataukah nama makhluk-Nya?, ucapan yang diridhai Allah ataukah yang dimurkai-Nya?, ucapan yang mulia di sisi Allah ataukah yang tiada berarti di sisi-Nya?. Hadirin hadirta, semua ini memanggil kita untuk semakin dekat kepada Yang Maha memaafkan, memanggil kita dan mengingatkan kita untuk mendekat kepada Yang Maha mengubah segala kejadian. Ingatlah di hari esokmu, Sang Maha pengatur tetap akan mengatur. Musibah dan kenikmatan berada dalam satu genggaman tunggal, berapa ribu musibah yang masih akan datang kepadamu dan berapa ribu kenikmatan yang akan datang kepadamu di masa mendatang, Sang Maha melihat sedang melihatmu dan akan terus melihatmu, barangkali hingga detik ini ada segelintir detik dalam sanubarimu menangis ingin dekat kepada Allah, maka Allah angkat ribuan musibah sebelum engkau ketahui dan engkau dilimpahi rahmat dan beribu kenikmatan tanpa engkau sadari. Hadirin hadirat, Sang Maha mengatur akan tetap mengatur, Sang Maha mementukan akan tetap menentukan, Sang Maha memudahkan mampu melimpahkan kemudahan, Sang Maha memberi cobaan mampu memberi cobaan dan mampu menggantikannya dengan kenikmatan. Di bulan yang luhur ini kita mengingat kejadian agung, yaitu perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H. Sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah Al Munawwarah bersama 1400 kaum muslimin menuju Makkah untuk melakukan ibadah umrah dan bukan untuk maksud peperangan dan kekerasan dengan senjata, tetapi mereka membawa hewan ternak untuk disembelih sebagai hewan kurban, maka terdengar kabar oleh kaum kuffar quraisy bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuju Makkah bersama 1400 kaum muslimin untuk melakukan ibadah di Makkah. Maka kaum Quraisy mengirim seorang utusan (Urwah) untuk datang kepada Rasulullah dan menanyakan maksud kedatangan beliau ke Makkah. Maka Rasulullah menjawa : “bukankah kalian saudara kami, dan aku datang bersama kaum muslimin dengan kedamaian bukan untuk perang, lihatlah pakaian kami, lihatlah yang kami bawa adalah hewan-hewan ternak yang akan kami sembelih disana, apakah kalian melihat kami membawa senjata?”, dan setiap kali rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara maka Urwah memegang jenggot rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka marahlah sayyidina Mughirah Ra melihat hal itu kemudian ia memukulkan pedangnya yang masih tertutup dengan sarungnya ke tangan Urwah ketika akan menyentuh jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekata: “jangan kau sentuh lagi jenggot rasulullah, bersopan santunlah dihadapan rasulullah dan katakan saja apa maumu?” , namun rasulullah tetap sabar dan tenang, sedangkan Urwah masih terdiam. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Urwah berkata : “Aku telah pergi ke kerajann Romawi dan aku melihat semua rakyat memuliakan kaisar Romawi, aku melihat rakyat memuliakan kaisar Kisra, dan pengagungan rakyat kepada raja Habasyah, namun tidak pernah kumelihat pengagungan rakyat kepada pemimpinnya seperti pengagungan para sahabat kepada Muhammad, dan banyak diantara mereka tidak mengangkat kepala untuk memandang wajah nabi Muhmmad karena memuliakan beliau”. Diriwayatkan pula ketika rasulullah telah wafat ada seseorang bertanya kepada salah seorang sahabat dan dia ingin mengetahui bentuk wajah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sahabat itu berkata: “sejak aku masuk Islam dan aku mengenal Rasulullah, sungguh aku tidak pernah berani memandang wajah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, karena memuliakan beliau. Dan Urwah melihat lagi keadaan para sahabat dan berkata : ” tidaklah nabi Muhammad membuang air liurnya kecuali telah berada di tangan sahabat lalu diusapkan ke wajah para sahabat”. Air liur dan keringat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih wangi dari segala wewangian yang ada di langit dan bumi, demikian ciptaan Allah yang terindah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan pula bahwa setelah Rasulullah selesai berwudhu, maka para sahabat berebutan untuk mengambil bekas air wudhu sang nabi kemudian mengusapkan ke wajah dan tubuh mereka, dan yang tidak kebagian air itu maka ia mengambil bekas air yang telah diusapkan ke tubuh temannya, kemudian diusapkan ke wajahnya. Hal ini bukanlah sesuatu yang syirik, namun hal ini adalah cinta para sahabat kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perbuatan para sahabat rasulullah yang saat ini telah dianggap sebagai sesuatu yang syirik, sungguh hal itu sama sekali tidak dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk mengambil barakah dari orang-orang shalih khususnya orang yang tershalih, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka setelah Urwah melihat keadaan seperti itu, dia merasa kecewa dan kembali ke Makkah dia berkata: “kaum muslimin datang dengan damai dan yang mereka bawa hanyalah hewan-hewan ternak yang akan disembelih untuk kurban, tidak membawa senjata untuk berperang, namun jika kita (kaum quraisy) perangi mereka, maka kita akan dikalahkan karena aku melihat bahwa para sahabat sangat mengagungkan nabi Muhammad melebihi pengagungan rakyat kepada kaisar romawi, melebihi pengagungan rakyat kepada raja Habasyi, melebihi penggungan rakyat kepada kaisar Kisra”. Maka kuffar quraisy mengirim utusan yang lain dan dikirimlah Suhail untuk menahan Rasulullah dan kaum muslimin untuk tidak masuk ke Makkah, maka Suhail membuat perjanjian dengan Rasulullah untuk tidak masuk ke Makkah saat itu namun di tahun yang akan datang, dan sayyidina bin Abi thalib yang menulisnya. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika rasulullah memerintahakan sayyidina Ali untuk menulis “Bismillahirrahmanirrahim”, maka Suhail berkata: “jangan tulis Ar Rahman Ar Rahim, tetapi tulis Bismikallahumma, karena kami tidak mengenal Ar Rahman Ar Rahim”, maka kaum muslimin riuh dan berkata: “mengapa nama Allah dilarang untuk ditulis, tetap tulis nama Allah, jangan hirausakan perkataan kaum quraisy”, berkatalah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “jangan tulis bismillahirrahmanirrahim, tulis bismikallahumma seperti yang mereka mau”. Namun sebenarnya sama-sama menyebut nama Allah juga karena orang qurays juga menyembah Allah, namun mereka mempunyai tuhan lain selain Allah. Kemudian rasulullah rasulullah berkata kepada sayyidina Ali : “tulislah, “dari Muhammad rasulullah”, maka Suhail berkata : “jangan tulis Rasulullah, jika kami mengakui engkau rasulullah maka kami tidak akan melarang kalian untuk masuk ke Makkah”, maka orang muslimin pun kembali riuh dan tidak mau jika nama Rasulullah dihapus. Rasulullah diam kemudian berkata :

وَاللهِ إِنِّي لَرَسُولُ اللهِ وَلَوْ كَذَّبْتُمُوْنِيْ

” Demi Allah, sungguh aku adalah rasulullah meskipun kalian mendustaiku ”

Lalu beliau berkata kepada sayyidina Ali : “tulislah dari Muhammad bin Abdillah”, maka sayyidina Ali tidak mampu untuk menghapus kalimat Rasulullah dan tangannya pun gemetar, maka rasulullah yang menghapusnya sendiri. Di dalam riwayat Shahih Al Bukhari, Suhail berkata : “jika ada diantara kami yang mau masuk Islam maka harus dengan seizin kami, dan jika kami tidak mengizinkan maka harus kalian kembalikan kepada kami, namun jika ada diantara kalian yang mau masuk ke agama kami dan kembali ke Makkah maka tidak boleh kalian larang”. Rasulullah masih diam dan belum menjawab ucapan Suhail, para sahabat mulai riuh dan tidak setuju dengan ucapan Suhail. Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam, dan belum selesai rasulullah berbicara, datanglah sayyidina Jandal Bin Suhail dalam keadaan tangan yang terikat, dimana ia ingin masuk Islam namun ditangkap oleh kuffar quraiys, maka ia berkata: “wahai Rasulullah, apakah engkau setujui perjanjian itu, berarti aku harus kembali lagi kepada kaum quraisy, aku datang kesini untuk masuk Islam wahai Rasulullah”, maka Suhail berkata: ” dalam perjanjian yang pertama ini, dia adalah orang pertama yang harus dikembalikan lagi ke Makkah, dan kami akan membawanya kembali ke Makkah”, maka berkatalah Jandal bin Suhail: “wahai Rasulullah jika aku dikembalikan lagi kepada orang quraisy maka aku akan dibantai lebih dari pedihnya siksaan yang telah aku rasakan”, maka kaum muslimin pun riuh dan berkata: “wahai Rasulullah bagaimana kita menghalangi orang yang hendak masuk Islam dan menyuruhnya untuk kembali lagi kepada kuffar quraisy?”, namun rasulullah tetap menyetujui perjanjian itu kemudian beliau menandatanganinya. Maka para sahabat mundur dan bingung, ada yang kecewa dan risau, dan tidak tau harus berbuat apa. Di saat itu berdirilah sayyidina Umar bin Khattab dan berkata : “wahai Rasulullah bukankah engkau benar-benar nabiyullah dan utusan Allah?”, tentunya sayyidina Umar bukan ragu dengan kenabian beliau namun beliau hanya ingin mendapatkan jawaban yang jelas agar kaum muslimin menang, maka rasulullah berkata : ” balaa (betul) “, sayyidina Umar kembali berkata : “bukankah kita dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan?” , rasulullah berkata : “betul”, lalu sayyidina Umar berkata : “lantas mengapa kita menghinakan diri kita kepada musuh-musuh kita yang sudah jelas-jelas mereka salah?!”, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا

” Sesungguhnya aku adalah rasulullah dan Allah tidak akan mengecewakanku”

Maka sayyidina Umar terdiam tidak lagi bisa menjawab perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian sayyidina Umar datang kepada sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan menceritakan kejadian tadi dan menyampaikan kepada Abu Bakar bahwa rasulullah berkata:

إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدً

maka sayyidina Abu Bakr berkata: “betul, nabi Muhammad adalah utusan Allah dan Allah tidak akan mengecewakan beliau”, sayyidina Umar pun terdiam. Maka tidak lama kemudian turunlah firman Allah :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

( الفتح:10 )

” Sesungguhnya orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka , maka barangsiapa melanggar janji, maka seseungguhnya ia melanggar atas janjinya sendiri, dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar ” ( QS. Al Fath: 10 )

Semua kaum muslimin saat itu bersumpah bersama rasulullah di dalam perjanjian Hudaibiyah, lalu Allah subhanahu wata’ala berfirman bahwa mereka yang bersumpah setia kepada rasulullah sungguh mereka telah bersumpah setia kepada Allah. Allah subhanahu wata’ala ada dalam sumpah setia mereka. Di dalam ayat lainnya Allah berfirman :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

(الفتح : 18)

” Sungguh Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia (Allah) mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka, dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat” ( QS. Al Fath : 18 )

Allah subhanahu wata’ala telah ridha dengan orang-orang yang telah bersumpah setia kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah pohon, yaitu dalam bai’at ar ridwan (perjanjian hudaibiyah). Allah mengetahui kekecewaan hati mereka, kemudian Allah turunkan ketenangan di hati mereka dan bagi mereka akan datang kemenangan dalam waktu dekat. Sebelum ayat ini turun, Rasulullah keluar dari kemah dan mengajak para sahabat untuk menyembelih hewan kurban disana lalu mencukur rambut disana, namun para sahabat hanya diam dan tidak satu pun yang bergerak, mereka merasa kebingungan dengan keputusan rasulullah karena selalu menyetujuinya permintaan kuffar quraisy, bagaimana jika mereka akan meminta perjanjian yang lebih dahsyat lagi, mengapa Rasulullah selalu setuju dengan musuh-musuhnya, menjatuhkan muslimin dan membela musuh-musuhnya, para sahabat kebingungan dan tidak ada yang bergerak dari tempatnya, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam kemah dan menjumpai istrinya, Ummu Salamah RA, dan berkatalah Ummu Salamah RA : “wahai Rasulullah jangan bersedih, jika mereka tidak mau menyembelih hewan kurban disini dan mencukur rambut disini, engkau lakukanlah sendiri maka mereka pasti akan mengikuti apa yang engkau perbuat, serisau-risaunya mereka, mereka tetap mencintaimu wahai rasulullah”. Maka rasulullah keluar tanpa berbicara satu kalimat pun, kemudian beliau mulai mencukur rambutnya dan menyembelih hewan kurbannya, maka satu persatu para sahabat mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di sore itu telah turun ayat firman Allah subhanahu wata’ala:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

( الفَتْح: 27 )

” Sungguh Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki masjidil haram jika Allah menghendaki dalam keadaan aman , dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia (Allah) telah memberikan kemenangan yang dekat ” (QS. Al Fath: 27)

Demikianlah ayat yang turun untuk 1400 muslimin yang ada dalam perjanjian Hudaibiyah. Disaat itu kaum muslimin dalam kehausan dan kebingungan, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil wadah air kemudian beliau berwudhu, dan para sahabat telah berkerumun dihadapan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata: “Mengapa kalian berkumpul disini?”, mereka berkata: “wahai rasulullah, tidak ada lagi air kecuali ini, semua perbekalan kami sudah habis” , maka rasulullah menaruhkan tangannya di wadah itu, dan mengalirlah air dari jari-jari beliau. Maka para sahabat meminumnya dan berwudhu dengan air itu. Mereka berkata : “kami berwudhu dan minum sepuasnya dimana jumlah kami 1400, jika jumlah kami 100000 pun pastilah mencukupinya” . Maka di malam itu sayyidina Umar datang ke kemah rasulullah dan memberikan pertanyaan kepada rasulullah namun beliau tidak menjawabnya, sayyidina Umar mengulang pertanyaannya hingga 3 kali tetapi rasulullah tetap diam. Kemudian sayyidina Umar keluar dari kemah rasulullah dan berkata pada dirinya : “sungguh akan celaka diriku, berkali-kali aku bertanya kepada rasulullah namun beliau tetap diam, pastilah akan turun ayat yang akan menegur perbuatanku”, tidak beberapa lama setelah keluar dari kemah rasulullah, seorang sahabat memanggilnya : “wahai Umar, kembalilah karena telah turun ayat”. Sayyidina Umar risau dan khawatir karena mengira pastilah ayat itu turun untuk menegur perbuatannya. Maka rasulullah berkata : “malam ini telah turun ayat yang lebih kusenangi daripada terbitnya matahari”, sayyidina Umar bertanya : “ayat apa wahai Rasulullah?” , maka rasulullah membacakannya:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

(الفَتْح: 1-3 )

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)” (QS. Al Fath: 1-3 )

Maka sayyidina Umar berkata : “apakah ini adalah tanda bahwa akan ada fath Makkah wahai Rasulullah?” , Rasulullah berkata : “iya, betul” . Ayat ini turun pada tahun ke 6 H, dan 2 tahun kemudian tepatnya tahun ke 8 H di bulan ramadhan terjadi Fath Makkah tanpa ada kekerasan dan peperangan, Makkah Al Mukarramah dimasuki oleh seluruh kaum muslimin. Kejadian Hudaibiyah yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke 6 H, setelah itu terjadi Fath Makkah pada tahun ke 8 H, dan ada juga kejadian-kejadin lainnya yang terjadi pada bulan Dzulhijjah diantaranya hajjah al wada’.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiah, namun kita terus berdoa untuk niat dan hajat kita dengan selalu melanjutkan dzikir jalalah sebanyak 500 kali setiap malamnya. Dulu kita hanya lakukan setiap malam Sabtu, namun kita lihat saat ini banyak musibah terjadi, gunung-gunung berapi bisa kita bilang demo, bukan hanya manusia saja yang bisa demo, jika manusia yang demo maka polisi bisa mengamankan, namun jika gunung yang demo siapa yang mengamankan?!. Saat ini lebih dari 21 gunung berapi yang demo, demo karena apa?, demo karena dosa ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena sungguh gunung-gunung itu adalah pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semua gunung memuliakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat Rasulullah dilempari oleh penduduk thaif, maka malaikat penjaga semua gunung yang diperintah oleh Allah untuk menggengam semua gunung di bumi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “wahai Rasulullah aku angkat satu gunung saja lalu aku lemparkan ke Thaif “, maka Rasulullah menjawab : “jangan”, ingat bahwa gunung itu ada yang menjaganya dan ia berkhidmah kepada sayyidina dengan perintah Allah subhanahu wata’ala, itu yang pertama. Yang kedua adalah bagaimana cintanya gunung Uhud kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

” Ini adalah gunung yang mencintai kami, dan kami mencintainya ”

Gunung-gunung mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, memangnya gunung punya perasaan?!, jika kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan beriman kepada Alqur’an maka kalian akan beriman bahwa gunung itu punya perasaan, karena Allah telah berfirman:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

( الحشر: 21)

” Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir” (QS. Al Hasyr: 21 )

Gunung takut kepada Allah, maka berarti gunung itu mempunyai perasaan. Dan ingatlah firman Allah:

فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

( الأعراف : 143 )

” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu , dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” (QS. Al A’raf : 143 )

Hal ini menunjukkan bahwa gunung-gunung ini semua memuliakan dan mengagungkan Allah subhanahu wata’ala, bertasbih dan berdzikir kepada Allah, taat dan takut kepada Allah. Dan mereka itu akan tenang jika seandainya manusia berdzikir mengingat Allah, maka gunung dan alam semesta tidak akan mengganggu orang-orang yang berdzikir. Namun ketika manusia melupakan Allah subhanahu wata’ala, maka gunung-gunung itu juga ingin menuntun kita dan membantu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengarahkan ummatnya agar kembali bertobat. Sampai pertanyaan kepada saya : “Bib, apakah Majelis Rasulullah tidak membuat posko untuk bencana-bencana gunung berapi?”, iya kita membuat posko, dan posko-posko kita adalah di majelis kita dalam dzikir-dzikir kita kepada Allah subhanahu wata’ala untuk meredakan semua gunung, karena semua gunung ada dalam genggaman rabbul ‘alamin. Dan tidak ada yang lebih berwibawa dari nama Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى أَنْ لَاتُقَالَ فِي الأَرْضِ الله الله

” Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga tidak lagi diucapkan “Allah Allah” di dunia”

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ عَلَى رَجُلٍ يَقُوْلُ اَلله الله

” Tidak akan terjadi hari kiamat pada seseorang yang mengucapkan “Allah Allah”

Tidak akan datang hari kiamat selama masih ada yang memanggil nama Allah, dan tidak pula akan datang hari kiamat menimpa seseorang yang menyebut nama Allahu Allahu. Jangan kita melihat orangnya, namun kita lihat kewibawaan nama Allah subhanahu wata’ala, satu jiwa yang menyebut nama Allah, hal itu menahan hancurnya alam semesta, jangankan hanya 1 atau dua gunung 20 gunung pun akan reda dengan kewibawaan cahaya nama Allah. Cahaya kewibawaan Allah menghancurkan gunung di zaman nabi Musa AS, dan jika Al Qur’an diturunkan kepada gunung, maka gunung itu hancur, bukankah Al quran itu kesemuanya adalah rahasia keagungan dari pecahan dari nama Allah subhanahu wata’ala. Maka inilah nama Yang Maha Berwibawa, yang jika ada pada sanubari manusia, dilafazhkan atau diingat, maka seluruh kehancuran alam ini akan tertahan karena masih ada yang mengingat dan menyebut nama Allah. Hadirin hadirat, saya ingatkan kembali sadari makna kewibawaan nama Allah subhanahu wata’ala yang menahan kehancuran alam semesta, hanya karena seseorang yang masih menyebat nama Allahu Allahu. Maka bagaimana kehadiran kita di malam hari ini , lebih dari 40000 muslimin muslimat berkumpul di malam hari ini, dan setiap malam mejelis Rasulullah mengadakan dzikir jalalah, hingga 40 malam kita akan terus berdzikir lafazh Jalalah 500 kali setiap malamnya untuk meredam semua musibah, menenangkan gunung-gunung, menenangkan hujan dan yang lainnya, bukan kita meminta kepada gunung atau yang lainnya, namun kita memita kepada pemilik gunung, meminta kepada pemilik hujan, dan pemilik lautan, agar Allah subhanahu wata’ala tenangka karen semua ini adalah milik-Nya dan tunduk kepada pemiliknya, tunduk kepada kepada rabbul ‘alamin subhanahu wata’ala …..

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Pengumuman malam minggu yang akan datang, kita akan mengadakan takbir akbar dan ziarah kubra di majelis ta’lim Al Islah di Jl. Kramat 3 Kwitang Jakarta Pusat, setelah majelis kita akan ziarah kepada Al Habib Ali bin Abdirrahman Al Habsyi Kwitang lalu berziarah kepada ayahandanya Al Habib Abdurrahman Al Habsyi Cikini, jadi saya harapkan 2 hal dari jamaah, yang pertama untuk menggunakan helm demi menjaga nama baik Majelis Rasulullah, dan yang kedua jangan mendahului ziarah namun kita berdzikir dulu, jangan meninggalkan dzikir karena setiap malam kita melakukan dzikir lafzh Jalalah, demikian yang ingin saya sampaikan. Selanjutnya kita saling doa dan saling mendukung untuk membantu kemajuan dakawah kita dan kesuksesan acara kedatangan guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, yang Insyaallah di akhir Desember 2010. Kita akan mengadakan acara besar-besaran insyaallah sukses, mungkin kita akan pasang 40 sampai 60 baleho, hingga ke Pekalongan, Demak, Denpasar, Banjarmasin dan Jawa Timur Insyaallah. Kita berharap jamaah yang hadir melebihi 5 juta muslimin muslimat, dan kita akan mengundang ulama-ulama besar dari pulau Jawa dari para ulama sepuh dan para habaib akan berkumpul di Monas, semoga segala halangan dan rinatangan disingkirkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan membawa rahmat bagi kita semua. Selanjutnya kita bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

( النساء: 64 )

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. An Nisaa: 64 )

Ketika para sahabat telah merasa banyak berbuat salah, mereka berdatangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka beristighfar kepada Allah, lalu Rasulullah memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mengampuni dosa mereka dan berkasih sayang. Hal ini di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun Al Imam Ibn Katsir di dalam tafsirnya menukil riwayat dari Al Imam Qurthubi bahwa salah seorang Baduwi datang ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia membaca ayat itu, maka ia berkata : “Wahai Allah, aku sekarang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘aalaihi wasallam walaupun beliau telah wafat, namun telah engkau firmankan :

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

(آل عمران : 169 )

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (QS. Ali Imaran: 169)

Apalagi pimpinan orang-orang yang wafat di jalan Allah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang telah bersabda, sebagaimana yang telah dinukil oelh Al Imam Ibn Katsir : “Siapa yang bersalam kepadaku, maka Allah subhanahu wata’ala menyampaikannya kepadaku dan aku menjawab salamnya” , maka orang baduwi itu berkata : “wahai Allah aku tidak hidup di zaman Rasulullah, sekarang aku datang ke makamnya, maka aku mohon pengampunan-Mu di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan makamnya akan tetapi ruh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jika engkau ampuni dosaku akan gembiralah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan akan sedihlah syaitan, dan jika engkau tidak mengampuni dosaku maka akan bersedihlah Rasulullah dan gembiralah syaitan, dan sungguh tidak mungkin Kau akan menyedihkan nabi-Mu dan menggembirakan syaitan”, maka Al Imam Qurthubi yang duduk disana mengantuk lalu tertidur, ia bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “wahai Qurthubi bangun dan kejarlah orang baduwi itu dan katakana kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya”. Maka kita bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berdoa agar Allah subhanahu wata’ala menjauhkan musibah dari kita dan muslimin muslimat, serta mengampuni dosa-dosa kita dan menjaga kita dalam sebaik-baik keadaan, amin. Setelah itu kalimah talqin oleh guru kita fadhilah As Sayyid Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas.
http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=312&Itemid=1

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Rahasia Sholat Dhuha

Rahasia Sholat Dhuha
Wed, Mar 24, 2010
Doa dan Dzikir

Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.”
[HR. Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah]

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Kekasihku Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat kepadaku tiga perkara: [1] puasa tiga hari setiap bulan, [2] dua rakaat shalat Dhuha dan [3] melaksanakan shalat witir sebelum tidur.”
[HR. Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad dan Ad-Darami]

Dari Abud Darda, ia berkata: “Kekasihku telah berwasiat kepadaku tiga hal. Hendaklah saya tidak pernah meninggalkan ketiga hal itu selama saya masih hidup: [1] menunaikan puasa selama tiga hari pada setiap bulan, [2] mengerjakan shalat Dhuha, dan [3] tidak tidur sebelum menunaikan shalat Witir.”
[HR. Muslim, Abu Dawud, Turmuzi dan Nasa’i]

Dari Anas [bin Malik], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”.
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Dari Abu Said [Al-Khudry], ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhuha, sehingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Dan jika beliau meninggalkannya, kami mengira seakan-akan beliau tidak pernah mengerjakannya”.
[HR. Turmuzi, hadis hasan]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat Dhuha itu dapat mendatangkan rejeki dan menolak kefakiran. Dan tidak ada yang akan memelihara shalat Dhuha melainkan orang-orang yang bertaubat.”
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Anjuran Shalat Dhuha

Dari Aisyah, ia berkata: “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Dhuha, sedangkan saya sendiri mengerjakannya. Sesungguhnya Rasulullah SAW pasti akan meninggalkan sebuah perbuatan meskipun beliau menyukai untuk mengerjakannya. Beliau berbuat seperti itu karena khawatir jikalau orang-orang ikut mengerjakan amalan itu sehingga mereka menganggapnya sebagai ibadah yang hukumnya wajib (fardhu).”
[HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Malik dan Ad-Darami]

Dalam Syarah An-Nawawi disebutkan:
Aisyah berkata seperti itu karena dia tidak setiap saat bersama Rasulullah. Pada saat itu Rasulullah memiliki istri sebanyak 9 (sembilan) orang. Jadi Aisyah harus menunggu selama 8 hari sebelum gilirannya tiba. Dalam masa 8 hari itu, tidak selamanya Aisyah mengetahui apa-apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah istri beliau yang lain.

Waktu Afdol untuk Shalat Dhuha

Dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha [pada waktu yang belum begitu siang], maka ia berkata: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat Dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatnya orang-orang yang kembali kepada ALLAH adalah pada waktu anak-anak onta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari”.
[HR. Muslim]

Penjelasan:
Anak-anak onta sudah bangun karena panas matahari itu diqiyaskan dengan pagi hari jam 08:00 AM, adapun sebelum jam itu dianggap belum ada matahari yang sinarnya dapat membangunkan anak onta.

Jadi dari rincian penjelasan diatas dapat disimpulkan waktu yg paling afdol untuk melaksanakan dhuha adalah Antara jam 08:00 AM ~ 11:00 PM

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

>> 4 RAKAAT
Dari Mu’dzah, bahwa ia bertanya kepada Aisyah: “Berapa jumlah rakaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menunaikan shalat Dhuha?”
Aisyah menjawab: “Empat rakaat dan beliau menambah bilangan rakaatnya sebanyak yang beliau suka.”
[HR. Muslim dan Ibnu Majah]

>> 12 RAKAAT
Dari Anas [bin Malik], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”.
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

>> 8 RAKAAT
Dari Ummu Hani binti Abu Thalib, ia berkata: “Saya berjunjung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Fathu (Penaklukan) Makkah. Saya menemukan beliau sedang mandi dengan ditutupi sehelai busana oleh Fathimah putri beliau”.
Ummu Hani berkata: “Maka kemudian aku mengucapkan salam”. Rasulullah pun bersabda: “Siapakah itu?” Saya menjawab: “Ummu Hani binti Abu Thalib”. Rasulullah SAW bersabda: “Selamat datang wahai Ummu Hani”.
Sesudah mandi beliau menunaikan shalat sebanyak 8 (delapan) rakaat dengan berselimut satu potong baju. Sesudah shalat saya (Ummu Hani) berkata: “Wahai Rasulullah, putra ibu Ali bin Abi Thalib menyangka bahwa dia boleh membunuh seorang laki-laki yang telah aku lindungi, yakni fulan Ibnu Hubairah”.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “sesungguhnya kami juga melindungi orang yang kamu lindungi, wahai Ummu Hani”.
Ummu Hani juga berkata: “Hal itu (Rasulullah shalat) terjadi pada waktu Dhuha.”
[HR. Muslim]

Tata Cara Shalat Dhuha

1. Berniat untuk melaksanakan shalat sunat Dhuha setiap 2 rakaat 1 salam. Seperti biasa bahwa niat itu tidak harus dilafazkan, karena niat sudah dianggap cukup meski hanya di dalam hati.

2. Membaca surah Al-Fatihah

3. Membaca surah Asy-Syamsu (QS:91) pada rakaat pertama, atau cukup dengan membaca Qulya (QS:109) jika tidak hafal surah Asy-Syamsu itu.

4. Membaca surah Adh-Dhuha (QS:93) pada rakaat kedua, atau cukup dengan membaca Qulhu (QS:112) jika tidak hafal surah Adh-Dhuha.

5. Rukuk, iktidal, sujud, duduk dua sujud, tasyahud dan salam adalah sama sebagaimana tata cara pelaksanaan shalat fardhu.

6. Menutup shalat Dhuha dengan berdoa. Inipun bukan sesuatu yang wajib, hanya saja berdoa adalah kebiasaan yang sangat baik dan dianjurkan sebagai tanda penghambaan kita kepada ALLAH.

catatan :
>> Sebagaimana shalat sunat lainnya, Dhuha dikerjakan dengan 2 rakaat 2 rakaat, artinya pada setiap 2 rakaat harus diakhiri dengan 1 kali salam.

>> Adapun surah-surah yang dibaca itu tidak ada hadis yang mengaturnya melainkan sekedar ijtihad belaka, kecuali membaca Qulya dan Qulhu adalah sunnah Rasulullah, tetapi bukan untuk shalat Dhuha, melainkan shalat Fajr. Kita tidak dibatasi membaca surah yang manapun yang kita sukai, karena semua Al-Qur’an adalah kebaikan.

>> Doa pun tidak dibatasi, kita boleh berdoa apa saja asalkan bukan doa untuk keburukan.

>> Doa yang terkenal dalam mazhab Syafi’i ada pada slide selanjutnya. Selain doa itu kita boleh membaca doa yang kita sukai. Namun karena ada aturan mazhab, maka hendaklah kita jangan melupakan agar memulai doa itu dengan menyebut nama ALLAH, memuji syukur kepada-NYA dan kemudian bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Do’a Sesudah Shalat Dhuha

ALLAAHUMMA INNADH-DHUHAA ‘ADHUHAA ‘UKA – WAL BAHAA ‘ABAHAA ‘UKA – WAL JAMAALA JAMAALUKA – WAL QUWWATA QUWWATUKA – WAL QUDRATA QUDRATUKA – WAL ‘ISHMATA ‘ISHMATUKA.
ALLAAHUMMA IN KAANA RIZQII FIS-SAMAA ‘I FA ANZILHU – WA IN KAANA FIL ARDI FA AKHRIJHU – WA IN KAANA MU’ASSARAN FA YASSIRHU – WA IN KAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU – WA IN KAANA BA’IIDAN FA QARRIBHU, BIHAQQI DHUHAA ‘IKA, WA BAHAA ‘IKA, WA JAMAALIKA, WA QUWWATIKA, WA QUDRATIKA.
AATINII MAA ‘ATAITA ‘IBAADAKASH-SHAALIHIIN.

Artinya:

“Wahai ALLAH, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-MU – dan kecantikan adalah kecantikan-MU – dan keindahan adalah keindahan-MU – dan kekuatan adalah kekuatan-MU – dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU – dan perlindungan itu adalah perlindungan-MU.
Wahai ALLAH, jikalau rejekiku masih diatas langit, maka turunkanlah – Dan jikalau ada didalam bumi maka keluarkanlah – dan jikalau sukar maka mudahkanlah – dan jika haram maka sucikanlah – dan jikalau masih jauh maka dekatkanlah dengan berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-MU.
Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambamu yang shaleh.

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Sikap tasauf terhadap syariat

Sikap tasauf terhadap syariat

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

DI kesempatan yang lepas, kami telah mengemukakan sedutan daripada penjelasan oleh salah seorang tokoh besar ulama tasauf, hadis dan syariat di zaman kita, Al-Muhaddith Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki tentang isu hubungan antara tasauf dan syariat.

Dalam kitabnya Mafahim Yajib an Tusohhah (Kefahaman Yang Wajib Diperbetulkan), beliau telah memetik kata-kata para pemuka ulama tasauf yang menegaskan keselarian antara ilmu ini dengan syariat atau usul syariat, al-Quran dan al-Sunnah.

Di bawah ini diperturunkan beberapa petikan lain yang mengungkapkan dengan begitu fasih tentang persoalan ini, sekali gus memberikan kepada kita gambaran sebenar tasauf daripada lisan para tokoh-tokohnya yang hakiki.

Adalah jelas daripada kata-kata tokoh-tokoh tasauf daripada generasi awal ini bahawa jalan syariat adalah asas dan landasan bagi perjalanan seseorang sufi. Walau apa pun yang mungkin ditemui seseorang dalam perjalanannya itu semuanya harus tunduk kepada neraca al-Quran dan al-Sunnah.

Maka tasauf yang hakiki, seperti mana yang dipegang oleh para pemukanya adalah manhaj yang harmoni dan selari dengan al-Quran dan al-Sunnah, bahkan bersumberkan dan berdasarkan dua sumber asasi syariat ini.

Cuma, mungkin tetap timbul perbezaan dan perselisihan jika istilah merujuk kepada al-Quran dan al-Sunnah atau istilah syariat itu difahami secara berbeza. Sepatutnya dua sumber asasi agama ini difahami dan didekati mengikut pendekatan yang muktabar dan disepakati oleh para pakar dalam ilmu-ilmu al-Quran dan Hadis. Bukannya pendekatan yang terlalu literal dan sempit.

Syariat juga perlu difahami dalam kerangka yang telah diterima pakai oleh arus perdana Usul al-Fiqh dan Fiqh dan segala kaedah-kaedah yang berkaitan. Jika ini jadi pegangan maka nescaya Tasauf dan Syariat akan berjalan segandingan dan seiringan. Wallahua’lam.

Insya-Allah, pada minggu hadapan kita akan meneliti pula beberapa kefahaman yang perlu dimurnikan berkaitan dengan aliran Akidah al-‘Asha’irah.

Rahsia Penolakan “Muhaddith-Jadian” Terhadap Pengajian Bersanad
Dicatat oleh al-‘Abd al-Da’if: pada 3.1.10
Sanad Keistimewaan Ummah

Menghidupkan pengajian bersanad pada masa ini adalah suatu perkara yang harus diberi pujian dan galakan, dan bukannya satu perkara yang harus dibanteras dan ditentang. Meskipun ia bukan satu kefardhuan ke atas setiap orang dalam menuntut ilmu atau mengajarkannya, namun ketiadaannya langsung samasekali dalam umat Islam mampu menjadi tanda pada dekatnya kehancuran umat ini. Di mana kelak tiada lagi tinggal orang-orang berilmu yang penuh keberkatan tersebut, lalu orang mengambil ahli-ahli ilmu yang jahat, tiada keberkatan dan orang-orang jahil sebagai tempat rujuk dan pemimpin agama mereka. Justeru, mereka ini sesat lagi menyesatkan, dan akhirnya di atas merekalah dibangkitkan kiamat.

Jika tujuan sanad pada awalnya untuk memastikan kesahihan riwayat, namun ilmu sanad kemudiannya berkembang sama seperti ilmu-ilmu Islam yang lain, sehingga ia menjadi suatu seni yang tersendiri. Cuma bezanya syarat yang ketat dan penelitian yang tegas terhadap perawi-perawi pada peringkat awal telah dilonggarkan pada peringkat mutakhir, apabila kebanyakan hadith sudah direkod dan dibukukan oleh ulama hadith. Justeru kemudiannya, ramailah ulama yang membenarkan pengijazahan sanad serta meriwayatkannya berdasarkan ijazah tersebut semata-mata, tanpa perlu bertalaqqi penuh.

Periwayatan secara bersanad diteruskan kerana ia adalah satu kemuliaan dan keistimewaan yang dapat dilihat dari sudut-sudut berikut;

1. merupakan pertalian yang bersambung-sambung sampai kepada Rasulullah SAW (وكفى في الاتصال بالحبيب شرفاً) .

2. merupakan iqtida’ (tauladan) terhadap para salafus-soleh dalam tradisi belajar dan mengajar (إنّ التشبه بالكرام فلاح).

3. merupakan satu jati diri dan ikatan ilmu yang hanya dimiliki oleh umat Islam, maka ia adalah satu kebanggaan buat mereka (الإسناد من الدين).

4. merupakan satu usaha berterusan memelihara persambungan sanad hingga ke hari kiamat (إن الأسانيد أنساب الكتب).

5. merupakan satu rahmat dan barakah (عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة).

Mereka yang mengkritik pengajian bersanad juga seharusnya membezakan pengajian bersanad yang bagaimana yang dikritik, bukan menghentam secara pukul-rata. Perlu dibezakan juga antara ijazah am dan ijazah khas. Jika tidak ia hanya satu kejahilan terhadap sistem sanad dan juga seni-seninya.

Pengajian secara bersanad terbahagi kepada beberapa kategori, iaitu:

talaqqi secara bersanad bagi qiraat (bacaan) al-Quran.
talaqqi secara bersanad bagi kitab-kitab hadith muktamad, seperti Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Muwatta’ Malik dan sebagainya.
talaqqi secara bersanad bagi himpunan hadith-hadith tertentu, seperti al-Awa’il al-Sunbuliyyah, atau hadith-hadith tertentu, seperti hadith musalsal.
talaqqi secara bersanad bagi kitab-kitab karangan ulama dalam berbagai bidang ilmu, seperti fiqh, usul-fiqh, tauhid, tafsir, sirah, hadith, mustalahul-hadith, tasawuf dan sebagainya.
talaqqi secara bersanad bagi amalan tariqat-tariqat sufiyyah.

Seorang yang mempelajari secara mendalam, akan mendapati dalam ilmu ulumul-hadith dibincangkan tentang ilmu al-tahammul wal-ada’ (pembawaan dan penyampaian riwayat), serta dibincangkan tentang adab-adab muhaddith dan juga penuntut hadith. Perkara ini dapat dirujuk dalam kesemua kitab-kitab yang disusun dalam ulumul-hadith. Ini menunjukkan para ulama sejak dahulu mengambil berat mengenai periwayatan sanad. Hanya pengembaraan-pengembaraan getir ahli hadith dalam mencari sanad sahaja yang berakhir, iaitu dalam kurun ke-6 hijrah. Di mana semua riwayat telah dibukukan dalam al-Jawami’, al-Sihah, al-Sunan, al-Masanid, al-Ma’ajim, al-Ajza’, al-Fawa’id, al-Masyyakhat dan lain-lain. Setelah itu para ulama hadith berusaha memelihara sanad ini hinggakan ada sebahagian mereka yang membukukannya di dalam kitab-kitab khusus. Perhatian terhadap pengumpulan sanad ini kemudian terus bertambah di kalangan ulama hadith sehingga hampir tiada ulama hadith melainkan ia mempunyai kitab sanad yang merekodkan sanad-sanadnya dan juga biografi sebahagian syeikh-syeikhnya. Kitab-kitab ini disebut dengan berbagai istilah seperti barnamij, fihris, thabat dan mu’jam. Riwayat-riwayat mereka juga tidak sekadar pada kitab-kitab hadith, malah pada kitab-kitab tafsir, fiqh, usul, akidah dan lain-lain. (al-Fadani, h. 8-9)

Sanad Kini Sudah Tiada Nilai?

Oleh kerana kejahilan dan kesan penjajahan dalam sistem pendidikan, ada orang yang berkata: “Kesemua sanad yang wujud di atas muka bumi sekarang sudah tidak dijamin kethiqahan perawi dan persambungan sanadnya. Justeru tidak ada faedah untuk meriwayatkannya”.

Tuduhan ini adalah satu tohmahan kepada seluruh ulama dan ahli ilmu yang memiliki sanad dan meriwayatkannya. Tuduhan tersebut hanya menampakkan kejahilan pengucapnya yang tidak takut kepada Allah SWT terhadap kata-kata yang akan dipertanggungjawabkan kelak. Jika beliau berkata; banyak sanad ulama mutaakhirin yang wujud sekarang mengandungi banyak kecelaruan di dalamnya, tentu itu lebih dapat diterima dan layak untuk diperbincangkan.

Mereka juga berpegang kepada kata-kata Ibn al-Salah (m. 643H) dalam kitabnya (صيانة صحيحِ مسلمِ من الإخلالِ والغلَطِ و حمايتُه من الإسقاطِ والسَّقَط) (h. 117): “Ketahuilah, bahawa periwayatan dengan isnad-isnad yang bersambung bukanlah maksud daripadanya pada zaman kita ini dan juga zaman-zaman sebelumnya bagi mensabitkan apa yang diriwayatkan, kerana tidak sunyi satu isnad pun daripadanya dari seorang syeikh yang tidak tahu apa yang diriwayatkannya, dan juga tidak menjaga isi kitabnya secara jagaan yang layak untuk diperpegang pada kesabitannya. Akan tetapi maksudnya ialah bagi mengekalkan rantaian isnad yang dikhususkan terhadap umat ini, semoga Allah menambahkannya kemuliaan”.

Kata-kata Ibn al-Salah tersebut juga bukanlah kata-kata yang maksum yang tidak dapat dipertikaikan. Ia tetap menerima perbincangan antara pro-kontra sebagaimana setengah pendapatnya yang lain. Ini kerana realiti membuktikan sanad masih diperlukan walaupun untuk mensabitkan sesuatu riwayat, seperti contoh kes satu juzuk kitab Musannaf ‘Abd al-Razzaq yang hilang yang ditemukan dan diterbitkan oleh Dr. ‘Isa ‘Abdillah Mani‘ al-Himyari dan Dr. Mahmud Sa’id Mamduh. Namun apabila mereka menyedari kepalsuan juzuk kitab tersebut kerana tiada persambungan sanad setelah membuat perbandingan dengan sanad-sanad periwayatan yang ada, mereka menarik balik penerbitannya dan mengisytihar permohonan maaf. (جزاهما الله خيراً). Di kalangan para pentahkik dan penyelidik manuskrip pula, ramai di antara mereka yang dapat mengesan kesalahan kalimah, pertukaran huruf, penentuan titik kalimah, perubahan nama-nama dan sebagainya berdasarkan sanad-sanad periwayatan yang wujud sekarang ini.

Pendapat Ibn al-Salah bahawa tiada lagi sanad yang bersambung dengan perawi-perawi thiqah juga dapat dipertikaikan dengan wujudnya sanad-sanad yang sabit sama ada pada zaman beliau, sebelumnya, mahupun selepasnya. Contohnya, Imam al-Nawawi telah meriwayatkan Sahih Muslim dengan sanad yang bersambung dan menerangkan kedudukan setiap perawi dalam sanad berkenaan. Begitu juga al-Hafiz Ibn Hajar dan lain-lain. Usaha Syeikh al-Yunini menghimpun sanad-sanad Sahih al-Bukhari sehingga menjadikan al-Nuskhah al-Yuniniyyahnya sebagai versi Sahih al-Bukhari yang paling sahih juga merupakan bukti dalam masalah ini.

Mereka yang mendalami ilmu rijal dan ‘ilal juga (cabang-cabang daripada ilmu sanad) akan mendapati bahawa ilmu tersebut tidak terhenti pada kurun-kurun awal hijrah sahaja, bahkan ianya terus berkembang di sepanjang zaman sehinggalah ke zaman kita ini. Apakah ilmu ini harus disempitkan kerana kononnya masalah sanad sudah selesai?

Fatwa Aneh

Berikut saya bawakan fatwa al-Lajnah al-Da’imah lil-Buhuth al-’Ilmiyyah wal-Ifta’ untuk ukuran dan nilaian anda. (Saya terjemahkan soal-jawabnya sahaja):

ورد سؤال للجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء 4/371 رقم الفتوى (3816)، هذا نصه: هل بقي أحد من العلماء الذين يصلون بإسنادهم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلى كتب أئمة الإسلام؟ دلونا على أسمائهم وعناوينهم حتى نستطيع في طلب الحديث والعلم إليهم.

الجواب: يوجد عند بعض العلماء أسانيد تصلهم إلى دواوين السنة لكن ليست لها قيمة؛ لطول السند، وجهالة الكثير من الرواة عدالة وضبطا. وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله، وصحبه وسلم.

– اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء:
عضو: عبد الله بن قعود.
عضو: عبد الله بن غديان.
نائب رئيس: عبد الرزاق عفيفي.
الرئيس: عبد العزيز بن باز.

Terjemahan:

…Soalan: Adakah masih tinggal ulama yang bersambung isnad mereka sampai kepada Rasulullah SAW dan juga kepada kitab-kitab ulama besar Islam? Sebutkanlah kepada kami nama-nama dan alamat-alamat mereka agar kami dapat mempelajari hadith dan ilmu daripada mereka.

Jawapan: Terdapat pada sebahagian ulama sanad-sanad yang menyambungkan mereka kepada kitab-kitab al-sunnah, akan tetapi ianya tidak ada nilai, kerana sanad yang panjang, serta kemajhulan ramai dari kalangan perawinya dari segi sifat adil dan dhabit. Wabillah al-tawfiq… (ringkas betul!)

Punca Kempen Menjauhi Periwayatan Sanad

Tidak dinafikan, ada setengah masyayikh salafi-wahhabi yang memiliki sanad secara ijazah, namun sebahagian mereka tidak mahu menyebarkannya kerana rantaian sanad periwayatan tersebut mengandungi ramai perawi Asya’irah atau Maturidiyyah, dan juga perawi-perawi sufiyyah.

Bagi menjelaskan perkara ini, di bawah ini akan saya senaraikan antara ulama-ulama yang menghimpunkan sanad-sanad di dalam kitab-kitab khusus:

al-Hafiz Ibn al-Najjar (m. 648H): Masyyakhah.
al-Hafiz Abu Tahir al-Silafi (m. 576H): al-Wajiz fi Zikr al-Mujaz wa al-Mujiz .
Imam ‘Abdul Haq bin Ghalib ibn ‘Atiyyah al-Andalusi (m. 541H): Fihrasah.
al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahsubi (m. 544H): al-Ghunyah.
al-Hafiz Muhammad bin ’Umar ibn Khayr al-Isybili (m. 575H): Fihrist.
al-Hafiz Ibn Hajar al-’Asqalani (m. 852H): al-Majma’ al-Mu’assas dan al-Mu’jam al-Mufahras .
al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti (m. 911H): Zad al-Masir.
Syeikhul-Islam Zakariyya al-Ansari (m. 926H): Thabat.
Imam ‘Abdul Wahhab al-Sya‘rani (m. 973H): Fihris.
al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali bin Tulun (m. 953H): al-Fihrist al-Awsat.
Al-Musnid Abu Mahdi ‘Isa bin Muhammad al-Tha’alibi al-Makki (m: 1080 H): Maqalid al-Asanid, al-Minah al-Badiyyah fi al-Asanid al-‘Aliyah, Kanzul Riwayah dan Muntakhab al-Asanid .
Syeikh Muhammad bin ‘Ala’uddin al-Babili (m: 1077H): (منتخب الأسانيد).
Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Qusyasyi (m: 1070H): al-Simt al-Majid.
Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Bakr al-‘Ayyasyi (m: 1090H): (إتحاف الأخلاء).
Imam ‘Abdullah bin Salim Al-Basri al-Makki (m: 1134H): Al-Imdad bi Ma’rifati ‘Uluwi al-Isnad .
Syeikh Abu Tahir Ibrahim bin Hasan Al-Kurani (m: 1101H): Al-Umam li Iqaz Al-Himam .
Syeikh Hasan bin ‘Ali al-‘Ujaimi al-Makki (m. 1113H): Kifayah Al-Mutatalli’ .
Syeikh ‘Abdul Baqi al-Ba’li al-Dimasyqi al-Hanbali (m. 1071H): (رياض أهل الجنة بآثار أهل السنة).
Syeikh ’Abdur Rahman al-Ba’li al-Hanbali: (منار الإسعاد في طرق الإسناد).
Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al-Rudani (1094H): Sillatu Al-Khalaf bi Mausul As-Salaf.

Syeikh al-Muhaddith Isma’il bin Muhammad al-’Ajluni : (حلية أهل الفضل والكمال).
Syeikh Muhammad bin Ahmad ‘Aqilah al-Makki: (المواهب الجزيلة).
Syeikh ‘Abdul Ghani al-Nabulusi: Thabat.
Syeikh Muhammad Hasyim al-Sindi (m:1174H): Al-Muqtataf min Ittihaf Al-Akabir bi Asanid Al-Mufti Abdil Qadir .
Syeikh Muhammad ‘Abid al-Sindi (m. 1257H): Hasr al-Syarid.
Syeikh ‘Ali bin Zahir Al-Watri Al-Madani (m: 1322H): Awa’il Al-Watri wa Musalsalatihi .
Syeikh Waliyullah al-Dihlawi (m. 1176H): Al-Irsyad ila Muhimmat ‘Ilm Al-Isnad .
al-‘Allamah Abu al-Faydh Muhammad Murtadha al-Zabidi: (لقط اللآلي من الجواهر الغوالي ).
Syeikh Ahmad al-Dardir al-Maliki: Thabat.
Syeikh ‘Abdul Ghani bin ‘Abdul Haq al-Dihlawi (m. 1296H): al-Yani’ al-Jani fi Asanid al-Syaikh ‘Abdul Ghani, susunan Syeikh Muhammad Yahya.
Syeikh ‘Abdullah al-Syabrawi (m. 1171H): Thabat.
Syeikh Muhammad ibn Himmat Zadah al-Dimasyqi: al-Is’ad.
Syeikhul-Islam Syamsuddin Muhammad bin Salim al-Hifni: Thabat.
Syeikh Salih bin Muhammad Al-Fullani (1218H): Qatf al-Thamar fi Raf’i Asanid Al-Musannafat fi Al-Funun wa Al-Athar .
Syeikh Muhammad Syakir al-’Aqqad (m. 1222H): (عقود اللآلي في الأسانيد العوالي).
al-’Allamah Syeikh ’Abdul Rahman bin Muhammad al-Kuzbari: Thabat.
Syeikh Muhammad Al-Amir Al-Kabir Al-Misri (m.1232H): Sadd al-Arab min ‘Ulum al-Isnad wal Adab .
Syeikh Muhammad bin ‘Ali al-Syanawani (m. 1233H): al-Durar al-Saniyyah li ma ‘ala Min al-Asanid al-Syanawaniyyah .
Syeikh ‘Abdullah bin Hijazi Al-Syarqawi (m.1227H): al-Jami’ al-Hawi fi Marwiyyat al-Syarqawi.
Syeikh Ahmad ibn ’Ajibah al-Hasani: Fihris.
Syeikh ‘Abdul Wasi’ bin Yahya Al-Wasi’i: al-Durr al-Farid al-Jami’ li Mutafarriqat al-Asanid .
Syeikh Muhammad Amin Ibn ‘Abidin (m. 1252H): (مجموعة إجازات)
Syeikh Hasan Al-Masyat (1306 H): al-Irsyad bi Zikr Ba’dhi ma Li min al-Ijazah wa Al-Isnad .
Syeikh Tahir bin Muhammad al-Jaza’iri: (عقود اللآلي في الأسانيد العوالي).
Syeikh Abu al-Mahasin al-Qawuqji (m. 1305H): (معدن اللآلي في الأسانيد العوالي).
Mawlana Syeikh Fadhl al-Rahman al-Kanja-Murad-Abadi: (إتحاف الإخوان بأسانيد سيدنا ومولانا فضل الرحمن), susunan Syeikh Ahmad bin ‘Uthman.
Syeikh Ahmad Dhiya’uddin al-Kumusykhanawi: Thabat.
Syeikh Mahmud Muhammad Nasib al-Hamzawi, mufti Syam: (عنوان الأسانيد).
Syeikh Muhammad Sa’id Sunbul al-Makki (m. 1175H): al-Awa’il al-Sunbuliyyah.
Syeikh Abu al-Yusr Falih bin Muhammad al-Mihnawi al-Zahiri (m. 1328H): (حسن الوفاء)
Syeikh Abu al-Nasr Muhammad Nasr Allah al-Khatib: (الكنز الفريد في علم الأسانيد ).
Syeikh Muhammad ‘Abdul Baqi Al-Ansari (m.1364H): Al-Is’ad bil Isnad dan Nashr Al-Ghawali min Al-Asanid Al-‘Awali .
Syeikh Muhammad Mahfuz al-Turmasi (m. 1338H): Kifayah Al-Mustafid li ma ‘Ala min Al-Asanid .
Syeikh ‘Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali Qudus al-Makki (m. 1334H): (المفاخر السنية في الأسانيد العلية القدسية) dan (إجازة الشيخ أحمد دحلان للشيخ عبد الحميد قدس).
Syeikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani (m. 1350H): (هادي المريد إلى طرق الأسانيد).
Syeikh Muhammad Zahid al-Kawthari: (التحرير الوجيز).
Syeikh Muhammad ’Abdul Rasyid al-Nu’mani: (الكلام المفيد في تحرير الأسانيد).
Syeikh ‘Umar Hamdan, muhaddith al-Haramain (m. 1368H): (مطمح الوجدان في أسانيد الشيخ عمر حمدان) dan (إتحاف الإخوان باختصار مطمح الوجدان في أسانيد الشيخ عمر حمدان), susunan al-Fadani.
Syeikh Muhammad ‘Ali Al-Maliki: (المسلك الجلي) susunan al-Fadani.
Musnid al-Dunia Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad ’Isa Al-Fadani (m. 1410H):
– الأسانيد المكية لكتب الحديث والسير والشمائل المحمدية

– إتحاف المستفيد بغرر الأسانيد

– الفيض الرحماني بإجازة فضيلة الشيخ محمد تقي العثماني

– القول الجميل بإجازة سماحة السيد إبراهيم بن عمر باعقيل

– العجالة في الأحاديث المسلسلة

– قرة العين في أسانيد شيوخي من أعلام الحرمين

– فيض المبدي بإجازة الشيخ محمد عوض الزبيدي

– الأربعون البلدانية: أربعون حديثاً عن أربعين شيخاً من أربعين بلداً

-شرح المسلسل بالعترة الطاهرة

– بغية المريد من علوم الأسانيد – dalam lima jilid!.

Al-Habib Syeikh bin Abdillah Al-‘Aidarus (m: 990 H): al-Tiraz Al-Mu’allim .
al-Sayyid Muhammad al-Syilli: Mu’jam al-Syilli .
Al-Habib Syeikh bin Muhammad Al-Jufri: Kanz Al-Barahin Al-Jazbiyyah wa Al-Asrar Al-Ghaibiyyah li Sadah Masyayikh al-Tariqah Al-Haddadiyyah Al-‘Alawiyyah.
Al-Habib ‘Abdul Rahman bin ‘Abdullah bin Ahmad Bal Faqih: Miftah Al-Asrar fi Tanazzuli Al-Asrar wa Ijazah Al-Akhyar.
Al-Habib ‘Abdullah bin Husein Bal Faqih: Syifa’ al-Saqim bi Idhah Al-Isnad , dan Bazl Al-Nahlah .
Al-Habib Al-Musnid ‘Aidarus bin ‘Umar Al-Habsyi: ‘Uqud Al-La’ali fi Asanid Ar-Rijal , Minhah Al-Fattah Al-Fathir fi Asanid al-Saadah Al-Akabir dan ‘Aqd Al-Yawaqit Al-Jauhariyyah wa Samt Al-‘Ain al-Zahabiyyah .
Syeikh Al-Habib ‘Abdul Rahman bin Sulaiman Al-Ahdal (m:1250 H): Al-Nafas Al-Yamani war-Ruh al-Rayhani fi Ijazah al-Qudhah al-Thalathah Bani al-Syawkani.
Al-Habib Abu Bakr bin Syihab: Al-‘Uqud Al-Lu’lu’iyyah fi Asanid al-Sadah Al-‘Alawiyyah .
Al-Habib Al-Musnid Muhammad bin Salim al-Sirri: Thabat.
Al-‘Allamah Al-Habib ‘Abdullah bin Ahmad Al-Haddar: Thabat .
Al-Habib Muhammad bin Hasan ‘Aidid: Tuhfah Al-Mustafid fi man Akhaza ‘anhum Muhammad bin Hasan ‘Aidid .
Al-Habib Salim bin Hafiz, Aal Syeikh Abu Bakr bin Salim: Minhah Al-Ilah fi Al-Ittisal bi ba’dhi Awliyah .
Al-Habib ‘Alawi bin Tahir Al-Haddad (m:1382 H), bekas Mufti Negeri Johor: al-Khulasah Al-Syafiyyah fi Al-Asanid Al-‘Aliyyah .
Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan: Mu’jam Al-Khulasah Al-Kafiyyah .
Al-Habib Abu Bakr bin Ahmad bin Husain Al-Habsyi: (الدليل المشير إلى فلك أسانيد الاتصال بالحبيب البشير وعلى آله ذوي الفضل الشهير وصحبه ذوي القدر الكبير).
al-Sayyid Husain al-Habsyi: (فتح القوي في أسانيد السيد حسين الحبشي) susunan Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad Ghazi.
Al-Habib Uthman bin ‘Abdillah bin ‘Aqil bin Yahya (1333H): Thabat.
Al-Habib ‘Alawi bin Saqqaf Al-Jufri: Thabat.
Syeikh Sayyid Ahmad bin Sulaiman Al-Arwadi: Al-‘Aqd Al-Farid fi Ma’rifah ‘Uluw Al-Asanid .
al-Habib bin Semait: An-Nasj wa Al-Khait li Ba’dhi Asanid Al-Allamah bin Semait
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Budairi Al-Husaini al-Syami: Al-Jawahir Al-Ghawali fi Bayan Al-Asanid Al-‘Awali .
Imam Muhammad ‘Ali al-Sanusi (m: 1276 H): Al-Manhal Al-Rawi al-Ra’if fi Asanid Al-‘Ulum wa Usul al-Tara’if dan al-Syumus al-Syariqah.
Syeikh Ja’far bin Idris al-Kattani: (إعلام الأئمة الأعلام).
Syeikh Muhammad ‘Abdul Hayy Al-Kattani (m. 1382H): Minah Al-Minnah fi Silsilah Ba’dhi Kutubi al-Sunnah dan Fihris Al-Faharis wal-Athbat .
al-Hafiz Ahmad al-Ghumari (m. 1380H): (البحر العميق).
Syeikh ‘Abdullah al-Ghumari: (ارتشاف الرَّحيق من أسانيد عبد الله بن الصِّدِّيق).
Syeikh Salih bin Ahmad al-Arkani (m. 1418H): (فتح العلام في أسانيد الرجال وأثبات الأعلام).
al-Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas Al-Maliki: (العقود اللؤلؤية بالأسانيد العلوية ).
Syeikh al-Sayyid Muhammad bin al-Sayyid ‘Alawi Al-Maliki: al-Tali‘ As-Sa’id dan Al-‘Aqd Al-Farid .
Syeikhuna al-Muhaddith al-‘Allamah Mahmud Sa’id Mamduh: Fathul Aziz fi Asanid As-Sayyid Abdul Aziz (فتح العزيز بأسانيد السيد عبد العزيز), (إعلام القاصي والداني ببعض ماعلا من أسانيد الفاداني) dan (تشنيف الأسماع بشيوخ الإجازة والسماع).

Ini hanyalah sekelumit daripada sekian banyak kitab-kitab sanad yang disusun oleh ulama-ulama Ahlus-Sunnah. Jika diamati keseluruhan mereka adalah sama ada dari aliran Asya’irah atau Maturidiyyah, serta dari kalangan ahli-ahli sufi. Merekalah sebenarnya penjaga-penjaga sanad ummah ini. Apabila para “muhaddith jadian” atau golongan salafiyyah-wahhabiyyah melihat pemegang-pemegang sanad tersebut kesemuanya adalah berakidah Asya’irah-Maturidiyyah, ataupun ahli-ahli sufi, mereka tidak mahu berguru kepada mereka. Maka dari sini dapatlah kita fahami rahsia mengapa ramai daripada mereka tidak mahu meriwayatkan sanad-sanad yang dianggap oleh mereka penuh dengan perawi-perawi bidaah, atau dengan alasan banyak perawi-perawi daif atau majhul!.. Mereka khuatir nanti orang akan terpengaruh dengan tokoh-tokoh tersebut. Lalu ada yang menganggap sanad bukan lagi sebagai untuk tabarruk, tetapi hanyalah untuk zikra (kenangan) semata-mata! Turut mendukacitakan, ada setengah mereka yang memandang rendah dan memperlekehkan pengajian-pengajian secara bersanad. Alasan paling kuat mereka kononnya kitab-kitab sekarang sudah dicetak dan tersebar dengan luas yang merupakan satu jaminan terpelihara daripada berlaku penyelewengan terhadap kitab-kitab tersebut. Maka ramailah di kalangan mereka yang hanya bergurukan kitab-kitab sahaja, bukan lagi guru-guru yang menjadi tradisi pengajian dan periwayatan sejak sekian lamanya (لا حول ولا قوة إلا بالله).

Saya berpendapat, inilah kesan negatif paling besar dari sistem pendidikan penjajah, yang berentetan di bawahnya berbagai kesan-kesan lain seperti kebejatan intelektual, kerendahan moral, adab dan juga akhlak (فاقد الشيء لا يعطيه). Sejarah telah membuktikan banyak pemikiran-pemikiran yang batil datang daripada mereka yang hanya mengambil ilmu daripada kitab semata-mata.

Wallahu a’lam.

* Maklumat sanad atau muat-turun kitab sanad di laman forum dan blog (Arab):

1. azahera.net

2. rayaheen.net

3. blog isnaduna

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Hadrah Basaudan Termasuk Terjemah


Hadrah Basaudan Plus Terjemah
Wirid & Dzikir
Hadrah Basaudan Plus Terjemah
Harga Lama:Rp. 17.500,-
Harga:Rp. 15.000,-
Ingin bertanya? Hadrah Basaudan adalah sebuah amalan dzikir yang telah dilakukan dan dicontohkan oleh para ulama terdahulu dan orang-orang yang shaleh pada tiap-tiap hari selasa. http://www.kiosislami.com

Di dalamnya berisi puja dan puji kepada Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW, serta berbagai bait-bait doa permohonan akan kebaikan, keselamatan, perlindungan, kemuliaan, pengampunan, ketenangan, dan lain sebagainya.

Dicetak di atas kerta HVS putih, dengan tulisan bahasa arab yang jelas dan rapi. Tiap-tiap bait langsung disertai dengan terjemahan bahasa Indonesia, sehingga bagi mereka yang tidak mengerti bahasa arab, bisa memahami dan menghayati kandungan bacaannya

Jadual Program Tafaqquh Fiddin Bersama Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki – November 2010M/Dhulqaedah – Dhulhijjah1431H

Jadual Program Tafaqquh Fiddin Bersama Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki – November 2010M/-Dhulqaedah – Dhulhijjah1431H

Tarikh: 30Dhulqaedah 1431H/7 November 2010 (Ahad)
Masa: Maghrib
Lokasi: Masjid at-Taqwa, TTDI

Tarikh: 1 Dhulhijjah 1431H/8 November 2010 (Isnin)
Masa: Kuliah Dhuha
Lokasi:Masjid an-Nur, USJ 4, Subang Jaya

Masa: Maghrib
Lokasi: Masjid, Kota Damansara

Tarikh: 2 Dhulhijjah 1431H/ 9 November 2010 (Selasa)
Masa: Kuliah Dhuha
Lokasi: Masjid at-Taqwa TDDI

Masa: 2.30 petang
Lokasi: BS 24, APIUM (Tajuk “Cabaran semasa pengajian Islam”. Majlis anjuran Jabatan Fiqh dan Usul UM dan Jabatan Akidah dan Pemikiran Islam UM)

Masa: Maghrib
Lokasi: Surau ar-Rahmah, Seksyen 8, Shah Alam.
Dicatat oleh al-fagir abu zahrah di 19:43
Label: Syaikh Nuruddin

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Kisah Menarik Perbezaan Sang Alim & Sang Abid Tanpa Ilmu

Kisah Menarik Perbezaan Sang Alim & Sang Abid Tanpa Ilmu
Satu kisah menarik yang ingin saya kongsikan bersama para pembaca sekalian. Kisah ini saya nukilkan daripada apa yang disampaikan oleh Syaikhuna al-Allamah al-Hafidz Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Ba’ith al-Kittani al-Syafie hafizahullah ketika beliau menyampaikan ceramah di Dewan Besar Yayasan Khairiah , Kupang Baling Kedah. Kebetulan pada waktu itu, saya disuruh oleh Syaikhuna Muhammad Ibrahim hafizahullah untuk menterjemahkan ucapan beliau di dalam Bahasa Melayu agar mudah difahami oleh para pendengar.

Syaikhuna memilih untuk membicarakan tentang kelebihan ilmu dan amal bagi penuntut ilmu. Maka beliau menceritakan sebuah cerita yang menarik perhatian semua pendengar pada petang tersebut.

Pada suatu masa dahulu, terdapat seorang raja yang sangat bijak. Raja tersebut ingin mengajarkan kepada rakyat jelata suatu perkara yang sangat penting. Mungkin pada waktu itu masyarakat tidak dapat membezakan mana satu golongan alim dan mana satu golongan abid ( yang hanya beribadah tanpa ilmu) .

Maka raja memanggil seorang alim dan seorang abid yang tiada ilmu bagi membuktikan bahawa antara kedua-dua golongan ini pasti terdapat perbezaan yang jelas.

Raja menyuruh kedua-dua orang ini masuk ke dalam bilik yang berbeza. Setiap bilik diletakkan perkara yang sama iaitu diletakkan sebilah pisau, sebotol arak dan seorang wanita. Sang Raja juga mengarahkan kepada kedua-dua orang tersebut untuk melaksanakan salah satu daripada tiga perkara iaitu sama ada meminum arak, atau berzina dengan wanita tersebut atau mengambil pisau yang disediakan lalu membunuh wanita tersebut bagi mengelakkan daripada melakukan dosa zina.

Bilamana dimasukkan si alim dan si abid di dalam bilik masing-masing yang sudah tersedia di dalamnya ketiga-tiga perkara tersebut. Maka kedua-duanya sebaik sahaja berhadapan dengan ketiga-tiga perkara yang diarahkan oleh Sang Raja melaksanakan salah satu daripadanya, masing-masing punya pemikiran dan cara penyelesaian yang berbeza.

Bagaimana Sang Alim dan Sang Abid ini menyelesaikannya? Saya akan ceritakan satu persatu mengikut turutan. Kita lihat dahulu apa yang difikirkan oleh Sang Abid dan bagaimana dia menyelesaikan masalah tersebut.

SANG ABID DAN PENYELESAIANNYA

Sebaik sahaja masuk di dalam bilik tersebut, Sang abid melihat ketiga-tiga perkara telah berada di hadapannya. Sebilah pisau, sebotol arak dan seorang wanita cantik. Maka terlintas di dalam fikiran sang abid bahawa ketiga-tiga ini adalah dosa . Mengambil pisau dan menggunakan pisau tersebut untuk membunuh wanita cantik tersebut bagi mengelakkan zina adalah merupakan dosa yang besar. Berzina dengan wanita tersebut juga merupakan dosa yang besar. Perkara yang paling ringan sedikit berbanding membunuh dan berzina adalah minum arak. Maka , sang abid yang yakin dengan jalan penyelesaiannya terus mengambil botol arak dan meneguk isinya .

Apa yang berlaku seterusnya? Sebaik sang abid tersebut selesai minum arak, dia terus mabuk dan di dalam keadaan tersebut , dia menghampiri wanita cantik itu lalu mengajaknya bersetubuh dan akhirnya mereka berzina . Sebaik selesai berzina, sang abid sedar akan kesalahan yang dilakukannya . Bagi mengelakkan si wanita membongkarkan rahsianya, maka dia terus mengambil pisau dan membunuh wanita tersebut.

Maka , secara tidak sedar , Sang Abid telah melakukan ketiga-tiga perkara dosa tersebut secara sekaligus.

Bagaimana pula keadaan Sang Alim di bilik yang lain? Bagaimanakah dia menyelesaikannya?

Kita akan melihat pula bagaimanakah cara penyelesaian dan pemikiran Sang Alim tersebut.

SANG ALIM DAN PENYELESAIANNYA

Sebaik sahaja sang alim tersebut masuk ke dalam bilik itu, beliau tersentak dengan kewujudan ketiga-tiga perkara tersebut. Sang Raja telah mengarahkan agar melaksanakan salah satu daripada tiga perkara itu.

Sang Alim berfikir, “ Jika aku mengambil pisau dan membunuh wanita itu maka aku telah melakukan dosa membunuh. Membunuh adalah dosa yang besar di sisi Allah taala. Jika aku berzina dengan wanita tersebut juga ianya merupakan dosa yang besar di sisi Allah taala. Jika aku mengambil arak dan meminumnya maka itu juga merupakan dosa yang besar. Jadi bagaimanakah cara yang terbaik untuk aku laksanakan?”

Sang Alim terfikir lagi , “ Jika aku meminum arak, akalku akan hilang dan kemungkinan aku akan laksanakan perkara yang aku tidak fikirkan. Maka jalan yang terbaik pada waktu sekarang adalah dengan aku mengambil pandangan di dalam Mazhab al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu yang membenarkan seorang wanita tersebut mengahwinkan dirinya sendiri tanpa kewujudan dan persetujuan walinya”

Maka sang alim terus pergi kepada wanita tersebut dan mengatakan kepadanya : “ Wahai wanita, sudikah kamu berkahwin denganku?

Wanita tersebut bersetuju dengan cadangan yang diberikan oleh Sang Alim tersebut. Maka sang alim tersebut melafazkan lafaz nikah dan sang wanita bersetuju dan menerimanya. Maka secara hukumnya mereka telah berkahwin mengikut pendapat di dalam Mazhab al-Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Secara tidak langsung, sang alim telah menjauhkan dirinya daripada kesemua dosa tersebut. Beliau tidak membunuh, tidak minum arak dan berzina. Malah beliau mendapatkan perkara yang lebih besar daripada itu iaitu dengan berkahwin dengan wanita cantik tersebut.

Selesai perkara tersebut, Sang Raja tersenyum kerana akhirnya beliau dapat membuktikan tetap ilmu itu lebih mulia daripada segalanya. Tanpa ilmu seseorang itu akan tersilap melakukan penilaian yang terbaik.

Mohd Nazrul Abd Nasir,
Penuntut Ilmu Di Masjid al-Azhar al-Syariff & Masjid al-Asyraff,
Wangsa Maju, Selangor Darul Ehsan,
Malaysia

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2010

Wakaf Kitab

Alhamdulillah, dua buah lagi kitab turats telah pun diulang cetak kembali, atas tujuan terdapatnya banyak permintaan terhadap karya ulama-ulama terkenal di alam Melayu itu. Kitab yang dimaksudkan adalah kitab (i) Munyatul Mushalli : Pengetahuan Sembahyang Masyhur karya al-‘Alim Syeikh Daud al-Fathani, dan (ii) Faridatul Fara’id fi Ilmi ‘Aqaid karya Syeikh Ahmad al-Fathani.


Faridatul Faraid fi ‘Ilmi ‘Aqaid


Munyatul Mushalli : Pengetahun Sembahyang Masyhur

Adapun penerbitan kitab ini adalah berupa kitab wakaf, yang mana ianya akan diedarkan ke sekalian tempat-tempat pengajian sama ada di pondok-pondok pengajian, masjid, surau mahupun kelas-kelas pengajian yang mempelajari kitab-kitab tersebut. Alhamdulillah tahun-tahun sebelum ini sebanyak 25 ribu unit setiap kitab telah diwakafkan, sekaligus habis diedarkan ke tempat-tempat yang dikenalpasti, yang bukan sahaja meliputi Malaysia, malah turut diedarkan ke Patani, Kemboja, dan Indonesia.

Seperti yang dimaklumi di atas, disebabkan kedua-dua kitab tersebut masih banyak permintaan dari pelbagai pengajian, maka untuk tahun ini kami mengulang cetak kembali sebagai usaha untuk memenuhi keperluan tersebut. Oleh itu, sempena di bulan yang penuh keberkatan ini, kami ingin war-warkan sekiranya Tuan-tuan / Puan-puan yang dihormati sekalian berhajat mahu mewakafkan kedua-dua kitab tersebut, boleh menghubungi kami seperti berikut :

No. Tel Pejabat : 03-6189 7231/
Abdul Halim : 013-3564496/
Azrul : 016-3520094

Untuk makluman juga, sepanjang bulan Ramadhan ini, kami boleh diketemui di UIA, Gombak (dataran masjid) dan mengadakan jualan serta wakaf kitab, bermula 16 Ogos hingga 5 September ini. Potongan sebanyak 20% untuk kesemua terbitan Khazanah Fathaniyah (kecuali kitab wakaf) sepanjang tempoh tersebut.

Selain itu, terdapat juga beberapa kitab lain terbitan Khazanah Fathaniyah yang dikategorikan sebagai kitab wakaf. Untuk selanjutnya, klik di sini.

Sekali lagi, selamat menyambut dan mengimarahkan Ramadhan yang penuh keberkatan ini.

Sekian

Rujuk juga : http://kitabhabib.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 8 November 2010

Berkat Berbakti Kepada Ibu

Berkat Berbakti Kepada Ibu

Kisah-kisah pertemuan seseorang, terutamanya kaum sholihin, dengan Nabi Khidhir ‘alaihis salam banyak dikisahkan dalam karya-karya besar karangan tokoh-tokoh ulama Islam. Imam al-Qusyairi rahimahUllah tidak ketinggalan menulis kisah-kisah tersebut dalam karya-karya beliau. Antara yang dibawanya adalah sebuah kisah mengenai bagaimana pertemuan seorang lelaki saleh bernama Bilal al-Khawwash dengan Sayyidina Khidhir AS. Kisah ini tercatat pada halaman 405 dalam karya agung Imam al-Qusyairi yang berjodol “ar-Risalah al-Qusyairiyyah”.

“… Aku telah mendengar Bilal al-Khawwash berkata: ” Adalah satu waktu, ketika aku berada di padang Tih Bani Israil (yakni padang pasir tempat Bani Israil berkeliaran apabila terhalang memasuki bumi Palestin), tiba-tiba muncul seorang lelaki berjalan bersamaku. Kemunculannya secara tiba-tiba tersebut amat menghairankan aku, lalu aku diilhamkan bahawa lelaki tersebut adalah Nabi Khidhir AS. Aku pun bertanya kepadanya: “Demi Allah, siapakah engkau?” Baginda menjawab: “Saudaramu al-Khidhir.” Maka aku berkata lagi kepadanya: “Aku mohon untuk bertanya kepadamu”. Nabi Khidhir berkata: “Tanyalah”. Maka aku bertanya: ” Apa yang engkau kata mengenai Imam asy-Syafi`i rahimahUllah ta`ala?” Baginda menjawab: “Dia tergolong dalam kalangan wali awtad (yang menjadi pasaknya agama).” Aku bertanya lagi: ” Bagaimana pula dengan Imam Ahmad bin Hanbal?” Baginda menjawab: “Dia seorang lelaki yang shiddiq.” Aku bertanya lagi: ” Bagaimana pula dengan Bisyr bin al-Harits al-Haafi?” Baginda menjawab: ” Allah belum lagi mencipta seseorang seumpamanya setelah dia meninggal dunia. Kemudian aku bertanya lagi: “Apakah penyebabnya sehingga aku dapat bertemu denganmu?” Baginda menjawab: “Dengan sebab kebaktianmu kepada ibumu.”

Allahu … Allah, tidak dimungkiri lagi bahawa kedua orang tua kita, teristimewanya ibu, adalah manusia – manusia penting dalam kehidupan kita. Mereka itu adalah antara sebab bagi kebahagiaan kita dunia dan akhirat. Betapa tidak, jika Allah SWT memerintahkan kita agar sentiasa berbakti kepada mereka dan Junjungan Nabi SAW telah menggandengkan keredhaan Allah SWT dengan keredhaan mereka berdua. Sebahagian fuqaha` menghukumkan wajib bagi seseorang memutuskan sholat sunnatnya apabila ibunya memanggilnya berulang-ulang. Benarlah kata sebahagian bijakpandai bahawa ibubapa itu adalah seumpama wali-wali keramat bagi anak-anak mereka. Malang sekali jika kita mendurhakai mereka, baik sewaktu hayat mereka maupun setelah mereka berpulang ke rahmat Allah. Kita disuruh berbakti kepada mereka sewaktu mereka hidup di alam dunia, juga setelah mereka berpindah ke alam baqa. Ketaatan kepada mereka juga mempunyai andil besar dalam melancarkan perjalanan kerohanian seseorang untuk menuju keredhaan Allah dan ma’rifatUllah. Dengan berbakti kepada mereka, nescaya perjalanan yang dijalani seseorang akan dimudahkan Allah SWT dan menghasilkan kejayaan. Moga Allah menjadikan kita anak-anak yang sentiasa berbakti kepada dua ibubapa kita, ketika hayat mereka dan setelah kewafatan mereka

Posted by: Habib Ahmad | 8 November 2010

Buku Baru Metodologi Ahli Hadith .

Buku Baru Metodologi Ahli Hadith
Dicatat oleh al-‘Abd al-Da’if: pada 7.11.10
Penyusun:

Dr. Faisal bin Ahmad Shah
Mohd. Khafidz bin Soroni
Rosni binti Wazir

Harga: RM25

240 Halaman

Buku ‘Manahij al-Muhaddithin: Metode dan Pendekatan Sarjana Hadith’ membincangkan mengenai kategori dan jenis karya-karya hadith beserta metode yang diaplikasikan oleh sarjana hadith. Buku yang membahaskan 21 kategori karya hadith dengan kupasan metode kepada 40 buah karya hadith dianggap paling lengkap dan komprehensif pernah dihasilkan dalam bahasa melayu. Bab pertama buku ini membincangkan mengenai fungsi dan kedudukan hadith dalam Islam. Termasuk di bawah perbahasan bab ini juga ialah isu-isu berkaitan penolakan hadith pada masa kini.

Dalam bab kedua penulis membincangkan mengenai pengkaryaan hadith pada abad pertama dan kedua hijrah. Antara subtopik yang dibincangkan ialah keharusan penulisan hadith pada zaman Rasulullah dan kontroversi yang timbul mengenai hadith-hadith suruhan dan larangan. Turut dibincangkan ialah mengenai sahifah-sahifah yang ditulis oleh para sahabat dan dua kitab pertama yang dihasilkan pada kurun kedua iaitu Muwatta Malik dan Musnad al-Shafie. Kupasan mengenai Kutub al-Sittah pula dibincangkan melalui bab ketiga.

Manakala dalam bab keempat dan kelima pula sebanyak 20 jenis karya hadith dibincangkan antaranya al-Mustadrak, al-Mustakharjat, Gharib al-Hadith, Mustalah al-Hadith, al-Ma’ajim, Mukhtalif dan Musykil al-Hadith, Sharah al-Hadith, al-‘Ilal, al-Mawdu’at dan sebagainya. Setiap karya yang dikenalkan dalam buku ini diulas secara komprehensif merangkumi biodata penulis, kandungan dan metode penulisan kitab.

Petikan dari: Imtiyaz Group.

Posted by: Habib Ahmad | 7 November 2010

Sayyid Abdul Aziz Siddiq al-Ghumari

Sayyid Abdul Aziz Siddiq al-Ghumari

Beliau ialah al ‘Allamah al Muhaddith al Sufi al Muhaqqiq al Mudaqqiq al Imam Maulana Sayyid Abdul Aziz bin Muhammad bin Siddiq bin Ahmad bin Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Mukmin bin Ali bin al Hasan bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdullah bin Isa bin Sa’id bin Mas’ud bin al Fudhoil bin Ali bin Umar bin al ‘Arabi bin ‘Allal (Ali menurut bahasa Maghribi) bin Musa bin Ahmad bin Daud bin Maulana Idris al Asghor bin Maulana Idris al Akbar bin Abdullah al Kamil bin al Hasan al Muthanna bin Imam al Hasan al Mujtaba bin Amirul Mukminin Sayyiduna Ali dan Sayyidah Fatimah al Zahra’ binti Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.

Kelahiran

Dilahirkan pada bulan Jamadil Awal 1338 (1920) di Tonjah (Tangiers), Morocco.

Latar belakang pendidikan

Beliau memulakan pendidikan seawal usia lima tahun dengan menghafal al Quran melalui bimbingan Syeikh Muhammad Bu Durrah, murid ayahandanya. Setelah itu, beliau mula menumpukan sepenuh perhatian kepada ilmu-ilmu yang lain melalui pembelajaran, pembacaan dan kajian. Ayahandanya memberi sepenuh perhatian kepada beliau sepanjang tempoh pendidikan dengan nasihat-nasihat yang berguna dan petunjuk-petunjuk yang berfaedah. Ini disebabkan ayahandanya dapat mengesan bakat-bakat terpendam yang ada pada diri beliau. Pada tahun 1355 (1937) ketika berusia 17 tahun, beliau merantau ke Mesir bersama-sama abangnya Sayyid Abdul Hayy al Ghumari untuk melanjutkan pelajaran di al Azhar al Syarif. Di al Azhar, beliau menuntut ilmu daripada para ulama’ yang berwibawa dalam pelbagai lapangan ilmu. Dalam tempoh ini juga, beliau mula berjinak-jinak dengan ilmu Hadith di samping melakukan latihan-latihan dan kajian-kajian sekitar ilmu ini.

Bergelumang dengan ilmu Hadith

Mengenai permulaan beliau bergelumang ilmu Hadith, Sayyid Abdul Aziz menceritakan pengalamannya bahawa beliau mula terlibat secara serius dalam ilmu Hadith setelah menamatkan pengajian dalam bidang Mustolah Hadith. Untuk merealisasikan apa yang telah beliau pelajari, beliau mula menumpukan kajian terhadap kitab al Laali’ al Masnu’ah karangan al Hafiz Jalaluddin al Suyuti. Melalui kajian beliau terhadap kitab ini, Sayyid Abdul Aziz berjaya menghasilkan karya yang berjudul al Jawahir al Ghawali. Beliau turut menyebut bahawa melalui kajiannya terhadap kitab ini, beliau mempelajari methodologi kritikan terhadap para perawi hadith, rantaian sanad dan kaedah membezakan hadith yang sohih dengan yang dho’if. Setelah itu, beliau menumpukan kajiannya terhadap kitab-kitab hadith yang pula yang mana beliau membaca dan mengkaji hasil kajian hadith yang dihasilkan oleh abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari. Apabila selesai mengkaji karya-karya abangnya, beliau meneruskan usaha dengan mengkaji kitab-kitab hadith lain yang dikarang oleh al Huffaz yang berkaliber dalam bidang ini seperti al Hafiz al ‘Iraqi, al Hafiz al Zailai’e, al Hafiz Ibnu Hajar al ‘Asqolani, al Hafiz al Suyuti dan lain-lain lagi. Sepanjang kajian beliau terhadap ilmu Hadith, beliau seringkali berhubung dengan abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari untuk meminta nasihat dan petunjuk. Kemuncaknya beliau menyebut bahawa setelah beliau merasa telah mahir dalam bidang ini dan mampu menguasainya dengan baik, maka beliau mula mengarang sebuah kitab yang berjudul Bulugh al Amani min Maudhu’at al Sun’ani. Setelah selesai mengarang karya ini, beliau membentangkannya kepada abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari, lalu abangnya memberi komentar: Sepatutnya karya ini diberi judul Hazij al Aghani kerana ianya mengandungi faedah yang boleh membuatkan pembacanya menari-nari kerana riang dan kagum!

Kepulangan ke Tonjah


Setelah 12 tahun menetap di Mesir, akhirnya pada bulan Rabiul Awwal 1366 (1949) beliau pulang ke Tonjah untuk menyebarkan ilmu buat anak bangsanya. Di Tonjah, beliau aktif mengajar di Madrasah Siddiqiyyah di samping menulis dan mengadakan majlis zikir. Beliau juga turut dilantik menjadi khatib di madrasah tersebut.

Guru-guru


Antaranya:

1. Ayahandanya Sayyid Muhammad Siddiq al Ghumari.
2. Abang-abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari dan al Hafiz Sayyid Abdullah al Ghumari. 3. Al ‘Allamah Syeikh Muhammad Bu Durrah, murid ayahandanya.
4. Al ‘Allamah Syeikh Abdul Mu’ti al Syarsyimi.
5. Al ‘Allamah Syeikh Mahmud Imam.
6. Al ‘Allamah Syeikh Abdul Salam Ghanim al Dimyati al Syafie.
7. Al ‘Allamah Syeikh Muhammad ‘Izzat dan lain-lain lagi.

Karya-karya beliau

Semuanya berjumlah 73 buah. Kebanyakannya dalam bidang hadith. Antaranya:

1. Tashil al Mudarraj ila al Mudarraj.
2. Al Ta’nis bi Syarh Manzumah al Zahabi fi Ahli al Tadlis.
3. Al Bughyah fi Tartib Ahadith al Hilyah.
4. Ithaf Zawi al Himam al ‘Aaliyah bi Syarh al ‘Asymawiyyah.
5. Al Qaul al Ma’thur bi Jawaz Imamah al Mar’ah bi Rubat al Khudur.
6. Mafatih al Dahyan li Tartib Tarikh Asbahan.
7. Al Tahzir Mimma Zakarahu al Nablusi fi al Ta’bir.
8. Al Tuhfah al ‘Aziziyyah fi al Hadith al Musalsal bi al Awwaliyyah dan lain-lain lagi.

Kewafatan

Beliau menghembuskan nafas terakhir pada tahun 1418 (1998) dan disemadikan di Madrasah Siddiqiyyah berhampiran pusara keluarganya. Semoga Allah merahmati beliau dan membalas jasa-jasa beliau dengan sebaik-baik pembalasan. Amin.

Posted by: Habib Ahmad | 7 November 2010

Majalah Al Kisah terkini

http://majalah-alkisah.com

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 799 other followers