Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2010

Wali Songo

Wali Songo
Published on April 15, 2008 in Mencintai Rasullullah dan Ahlul Bait, Wali and Manaqib. 4 Comments
1.Sunan Bonang

Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.

Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.

Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta’(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).

2.Sunan Ampel

Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).

Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.

Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.

Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

2.Sunan Drajat

Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M.

Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.

Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

3.Sunan Giri

Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).

Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

4.Sunan Gunung Jati

Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.

Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

5.Sunan Kalijaga

Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (’kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak

6.Sunan Kudus

Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

7.Maulana Malik Ibrahim
(Wafat 1419)

Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.

Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.

Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.

Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.

8.Sunan Muria

Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

“Walisongo” berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.

Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2010

KOSMO : Generasi Celik Al-Quran

Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2010

PENGAJIAN KITAB SIYARUS SAALIKIN

PENGAJIAN KITAB SIYARUS SAALIKIN

Bersama :

SHEIKH AHMAD FAHMI ZAMZAM AL-MALIKI AN-NADWI
.
pada :

5 DIS 2010 (AHAD)

masa :
JAM 9.00 PAGI – 12.30 TGHR

.
tempat :
Dewan Solat Masjid Al Falah, USJ9 Subang Jaya

Posted by: Habib Ahmad | 2 Disember 2010

MAULID BULANAN DI MASJID AL BUKHARY


Dijemput antum sekeluarga hadir ke majlis MAULID SAW BULANAN dI Masjid AlBukhary, Jln Hang Tuah KL pd Khamis 2/12/10. InsyaALLAH bermula dgn solat maghrib berjemaah. Majlis ini terbuka buat semua lapisan masyarakat. Mohon sebarkan. Jazakumullah khairan kasiran….

Posted by: Habib Ahmad | 2 Disember 2010

Nasihat Habib Abu Bakar Gresik

Nasihat Habib Abu Bakar Gresik

” …. Keberkahan majlis bisa diharapkan bila yang hadir beradab dan duduk di tempat yang mudah mereka capai. Jadi keberkahan majlis itu pada intinya adalah adab, sedangkan adab dan pengagungan itu letaknya di hati.

Oleh kerana itu, wahai saudara-saudaraku, aku anjurkan kepada kalian, hadirilah majlis-majlis kebaikan. Ajaklah anak-anak kalian ke sana dan biasakan mereka untuk mendatanginya agar mereka menjadi anak-anak yang terdidik baik, lewat majlis-majlis yang baik pula.

Sekarang ini aku jarang melihat para pelajar yang menghargai ilmu. Banyak ku lihat mereka membawa mushhaf atau kitab-kitab ilmu lainnya dengan cara tidak menghormatinya. Lebih dari itu mereka mendatangi tempat-tempat pendidikan yang tidak mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mencintai ilmu, tapi mencintai nilai semata-mata …… Aku pun teringat pada nasihat Habib Ahmad bin Hasan al-‘Aththas: “Ilmu adalah alat. Meskipun ilmu itu baik, ia hanya alat, bukan tujuan. Oleh kerananya, ilmu harus diiringi adab, akhlak dan niat-niat yang shalih. Ilmu demikianlah yang dapat mengantarkan seseorang kepada ketinggian maqam ruhaniah.”

– [Dipetik dari Majalah al-Kisah, No. 23/Tahun VIII]

Posted by: Habib Ahmad | 2 Disember 2010

Wasiat Nasehat Sayyidina Imam Muhammad Al-Baqir

Wasiat Nasehat Sayyidina Imam Muhammad Al-Baqir
Posted on 6 Oktober 2010 by arroudloh
“Siapa yang tidak mengucapkan Ash-Shiddiq dibelakang nama Abu Bakar, Allah swt tidak akan membenarkan ucapannya. ”

“Sesungguhnya aku berlepas diri dari orang yang membenci Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab. Seandainya berkuasa, aku akan mendekatkan diri kepada Allah dengan menumpahkan darah orang-orang yang membenci mereka. Demi Allah, sesungguhnya aku mencintai mereka dan senantiasa memohonkan ampun mereka. Tidak seorangpun dari ahli baitku, kecuali ia mencintai mereka.”

“Tidaklah hati seseorang dimasuki unsur sifat sombong, kecuali akalnya akan berkurang sebanyak unsur kesombongan yang masuk atau bahkan lebih.”

“Sesungguhnya petir dapat menyambar seorang mukmin atau bukan, tetapi tak akan menyambar orang yang berzikir. ”

“Tak ada ibadah yang lebih utama daripada menjaga perut dan kemaluan. ”

“Seburuk-buruknya seorang teman ialah yang hanya menemanimu ketika kamu kaya dan meninggalkanmu ketika kamu miskin. ”

“Kenalkanlah rasa kasih sayang dalam hati saudaramu dengan cara memperkenalkannya terlebih dahulu didalam hatimu. ”

“Wahai putraku, hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya kunci keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, tidak akan banyak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, tak akan tahan dalam menunaikan kewajiban.”

“Jika engkau menginginkan suatu kenikmatan dapat terus engkau nikmati, perbanyaklah mensyukurinya. Jika engkau merasa rezeki lambat datang, perbanyaklah Istighfar. Jika engkau ditimpa kesedihan, perbanyaklah membaca LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH. Jika engkau takut, ucapkanlah HASBUNALLAH WA NI ’MAL WAKIIL. Jika engkau kagum terhadap sesuatu, ucapkanlah MASYA ALLAH, LA QUWWATA ILLA BILLAH. Jika engkau dikhianati, bacalah WA UFAWWIDU AMRII ILALLAH, INNALLAHA BASHIRUN BIL ‘IBAAD. Jika engkau ditimpa kesumpekan, ucapkanlah LA ILAAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNII KUNTU MINADZ DZAALIMIIN. ”

“Keseimbangan Tobat dan Ibadah akan menimbulkan perilaku yang baik yang mendapat Ridho dari Allah swt. Sebab dengan Tobat, kita akan menyadari akan semua kesalahan yang pernah kita lakukan, dan dengan Tobat pula dapat meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah swt. ” Sesuai sabda Rasulullah saw :
“ Apabila Allah swt menghendaki seseorang menjadi baik, maka dia membuatnya menyadari akan kesalahan-kesalahannya.” ( Imam Ja’far Shodiq )

Posted by: Habib Ahmad | 2 Disember 2010

Dua Pilar Hijaz

Dua Pilar Hijaz

Buku ini menceritakan tentang sekelumit biografi dan perjuangan dua ulama besar Hijaz dalam mensyiarkan dakwah Islam. Mereka berdua merupakan rujukan dan tokoh sentral kaum Alawiyin. Mereka adalah al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad dan al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf.

Berdua mereka saling bahu-membahu dalam berdakwah dan membina umat di kawasan Hijaz dan sekitarnya. Mereka memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dakwah Islam di berbagai belahan negeri di dunia, terutama di daerah-daerah primitif

Dalam berdakwah, beliau berdua mengedepankan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Mereka sangat menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah, persatuan dan kesatuan umat. Mereka telah mendidik umat dengan sabar dan telaten, sehingga masyarakat kala itu dengan mudah dan lapang dada menerima apa-apa yang telah mereka ajarkan.

Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto ekslusif kegiatan-kegiatan dakwah mereka

Posted by: Habib Ahmad | 1 Disember 2010

Kewajipan Suami – Pimpinan

Kewajipan Suami – Pimpinan
Sebagai seorang suami, janganlah si suami melampaui batas dalam persenda-gurauannya dengan isteri, ataupun bersikap terlampau baik sekali sehingga isteri naik muka dengan memaksa suami menurutkan segala kehendak hawa nafsunya sehingga ke batasan merosakkan akhlak dan kelakuan si isteri. Dengan itu terjatuhlah maruah suami di hadapan khalayak ramai.

Tetapi yang dianjurkan ialah bersikap sederhana pada segala keadaan.

Jika dilihat sesuatu kemungkaran yang dilakukan oleh isteri, hendaklah suami jangan berdiam diri saja, bahkan menegahnya dan membuktikan kejantanannya sebagai seorang suami ke atasa isteri. Begitu juga jangan sampai dia yang mula membuka peluang bagi isteri untuk melakukan berbagai-bagai kemungkaran, malah bila dilihat isterinya berani membuat sesuatu yang melanggar hukum syara’ atau hukum adat dan maruah, hendaklah ia menunjukkan kemarahannya dan ketidak-senangnya terhadap perkara itu.

Ingatlah bahawa segala terisi di dalam petala langit dan bumi itu diciptakan Tuhan dengan keadilan maka segala yang melampaui had atau batasan keadilan akan terlingkup dengan lawannya.

Sewajarnyalah suami mengambil jalan tengah atau ekonomi, baik dalam menuruti atau menolak kehendak isteri. Hendaklah ia menegakkan kebenaran yang hak pada segala keputusannya, sehingga ia terselamat dari bencana isterinya. Sebab pada kebanyakkan hal, kaum wanita selalu suka berkelakuan buruk, dan sifat tersebut tidak akan terhindar dari mereka, melainkan dengan secara lemah-lembut yang diiringi dengan kebijaksanaan.

Oleh itu adalah menjadi suatu tugas utama bagi si suami memerhati dan meneliti kelakuan isterinya, bermula dengan berbagai percubaan, kemudian mencuba pula meluruskan semua kelakuan yang bengkok itu, sebagaimana yang diharuskan oleh keadaan dan peri-kerukunan rumahtangga

Posted by: Habib Ahmad | 1 Disember 2010

Kefahaman tentang tawassul

Kefahaman tentang tawassul

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

Di antara isu yang banyak menimbulkan salah faham dan membuka pintu tuduhan sesat sesama Islam adalah isu tawassul. Oleh yang demikian, bermula minggu ini kami akan menjelaskan kefahaman tawassul yang sahih pada penelitian kami.

Berikut adalah premis ataupun asas pendirian kami dalam isu ini:

1. Tawassul adalah salah satu daripada cara berdoa dan pintu untuk bertawajjuh (menghadapkan sesuatu permintaan) kepada Allah SWT kerana tujuan asal tawassul yang sebenar ialah Allah SWT.

Orang yang dijadikan sebagai tempat bertawassul hanyalah sebagai wasitah (perantara) dan wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Justeru, sesiapa yang tidak beriktikad sedemikian adalah syirik.

2. Orang yang bertawassul tidak bertawassul dengan wasilah ini melainkan kerana perasaan kasihnya terhadap wasilah tersebut dan kepercayaannya bahawa Allah SWT mengasihi wasilah tersebut.

Sekiranya tidak, sudah pasti orang yang bertawassul itu akan menjadi orang yang paling berusaha menjauhi dirinya daripada wasilah tersebut dan paling membencinya.

3. Sekiranya orang yang bertawassul beriktikad bahawa orang yang dijadikan perantaraan itu boleh mendatangkan manfaat dan mudarat dengan sendiri, seumpama Allah SWT, maka dia telah mensyirikkan Allah.

4. Amalan bertawassul bukanlah perkara yang lazim atau wajib. Termakbulnya permintaan seseorang itu tidak terhenti kepada amalan ini, bahkan asalnya ialah dia berdoa kepada Allah secara mutlak.

Ia sebagaimana firman Allah SWT: Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (beritahu kepada mereka), “Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka)”. (al-Baqarah: 186)

Tawassul yang disepakati ulama

Tidak seorang pun dari kalangan kaum Muslimin yang berselisih pendapat mengenai pensyariatan tawassul kepada Allah melalui amalan-amalan soleh.

Maka orang yang berpuasa, mengerjakan solat, membaca al-Quran atau pun bersedekah, mereka bertawassul dengan amalan puasa, solat, bacaan al Quran dan sedekah yang mereka lakukan.

Bahkan, ia adalah amalan yang paling diharapkan untuk termakbulnya suatu hajat dan sebesar-besar amalan untuk tercapainya apa yang dihajati, tanpa diperselisihkan oleh mana-mana pihak.

Dalilnya, hadis mengenai tiga orang pemuda yang terperangkap di dalam gua.

Salah seorang daripada mereka bertawassul dengan kebajikan yang dilakukan kepada kedua ibu bapanya.

Pemuda yang kedua, bertawassul dengan perbuatannya menjauhi perbuatan yang keji yang mampu dilakukannya pada waktu tersebut.

Sementara itu, pemuda yang ketiga, bertawassul dengan sifat amanah dan penjagaannya terhadap harta orang lain serta kejayaannya menunaikan tanggungjawab tersebut dengan sempurna. Maka Allah melepaskan mereka daripada kesusahan yang mereka hadapi.

Jenis tawassul ini telah diperinci dan diterangkan dalil-dalilnya (keharusannya) serta ditahqiq permasalahannya oleh Sheikh Ibnu Taimiyyah di dalam kitab-kitabnya, khususnya di dalam risalahnya yang bertajuk: Qa’idah Jalilah fi al Tawassul wa al Wasilah (Kaedah yang Besar dalam Bertawassul dan Wasilah).

Posted by: Habib Ahmad | 1 Disember 2010

Mengapa Membunuh Cucunda Nabi Muhammad SAW?

Mengapa Membunuh Cucunda Nabi Muhammad SAW?

– Bahkan mereka yang mengkaji dan memanjangkan tragedi berdarah ini, saya yakini akan beroleh manfaat di akhirat kelak. Masakan Saidina Ali dan Saidatina Fatimah tidak memandang mereka yang membela peristiwa genosid dan cleansing terhadap ahlul bait Nabi ini?

Ulasan: Apa yang lebih memberi manfaat di akhirat kelak ialah beramal seperti amalan mereka, bukan sekadar bersedih dan membesarkan tragedi berkenaan. Jika demikian, ahli maksiat pun mampu berbuat demikian, malah sesiapa sahaja yang malas beramal.

– Menurut L.F Brakel, Hikayat Muhammad Hanafiyyah yang memuatkan pembunuhan ngeri dan sadis cucunda Rasulullah saw adalah ‘sebuah teks yang popular dan terkenal’ (tentu, kenyataan Brakel ini sebelum munculnya gejala gerakan salafi yang sering merujuk secara intelektual kepada Ibnu Taimiyyah yang amat memusuhi Saidina Ali dan ahlul bait Rasulullah saw).

Ulasan: Walaupun ada suara yang bukan Syiah mengatakan, “Ibnu Taimiyyah amat memusuhi Saidina Ali dan ahlul bait Rasulullah saw”, namun suara seperti itu pada masa ini tidak wajar dicanang demi menjaga perpaduan ummah. Ia adalah suatu fakta yang tidak pasti, bolehjadi bersifat benar dan bolehjadi salah pada hakikat sebenarnya. Setelah kita tahu kedudukan istimewa Ibn Taimiyyah di dalam hati golongan Salafiyyah-Wahhabiyyah, saya berpendapat hal tersebut perlu dipendamkan. Malah saya percaya peminat-peminatnya masih mampu menangkis dakwaan tersebut. Secara umum berdasarkan tulisan-tulisannya, beliau masih menghormati Saidina ’Ali dan ahlul-bait (عليهم السلام).

– Mempertahankan penjenayah perang Karbala adalah seperti mempertahankan George Bush, atau Ariel Sharon.

Ulasan: Saya tahu ada setengah orang yang mempertahankan Yazid bin Mu’awiyah. Namun, cara mereka mempertahankannya tidaklah sama seperti orang yang mempertahankan George Bush, atau Ariel Sharon. Sekurang-kurangnya Yazid bin Mu’awiyah masih muslim, manakala George Bush dan Ariel Sharon adalah kafir laknatullah dan tidak ada muslim berakal yang mempertahankan mereka kecuali zindiq sahaja. Justeru, tidak bersetuju dengan pendapat orang yang mempertahankan Yazid bin Mu’awiyah masih dapat dilakukan dalam batas-batas ilmiah.

– Mengapa ada orang Islam berani dan datang hati membunuh cucu Nabi Muhammad saw setelah kewafatan baginda? Dan mereka masih tidak segan silu mahukan syafaat baginda Rasul di hari masyhar kelak. Lebih menjengkelkan, mengapa ada agamawan sanggup berhempas pulas menutup sejarah dan mempertahankan pembunuh-pembunuh Saidina Husein dan keluarganya di medan Karbala? Tidakkah mereka tahu malu mengucapkan selawat buat Rasulullah saw dan keluarganya ketika dalam solat?

Ulasan: Saya masih lagi tertanya-tanya, ustaz mana yang suka dengan kematian cucu Rasulullah SAW dan membela pembunuh-pembunuhnya? Siapakah di Malaysia yang sedang berhempas pulas untuk menutup sejarah dan mempertahankan pembunuh-pembunuh Saidina Husein dan keluarganya di medan Karbala?? Jika ada, mari kita nasihatkan.

—————————–

http://sawanih.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 1 Disember 2010

Pembelaan Terhadap Wahbah al-Zuhayli

Pembelaan Terhadap Wahbah al-Zuhayli
Seperti yang semua kawan ana tahu, bahwa ana adalah salah satu dari orang yang sangat kagum dengan Dr. Wahbah al-Zuhayli, pengarang kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Dan semua orang juga tahu bahwa Syeikh Wahbah sangat alim dan telah berhasil mengarang berpuluh kitab yang dipakai oleh hampir semua sarjana muslim di dunia moden ini.

Akan tetapi, desas desus yang tersebar di Indonesia terutama di kepulauan Jawa, bahwa Syeikh Wahbah adalah seorang Wahabi. Sangat disedihi, tuduhan ini tidak matang dan hanya disebarkan oleh orang yang kurang faham Syeikh Wahbah dan hanya menilai dengan sebuah pendapat Wahbah tanpa melihat keseimbangan pemikiran beliau yang lain.

Ya! ana memang pengkagum Syeikh Wahbah. Tapi ana juga memiliki pegangan akidah dan konsep fiqh tersendiri yang kadang berbeza dengan Wahbah. Tapi itu bukan berarti ana akan dengan mudahnya menyatakan Dr. Wahbah adalah Wahabi. Jujur saja, walaupun tuduhan ini berasal dari Pesantren yang menjadi pusat pendidikan, tapi ana katakan, orang yang menyebarkannya bukanlah alim bahkan dia terpesong kerana kurang dalam pengalaman perkembangan pemikiran Islam dan tokoh Islam di dunia luar. Dengan ini ana nasihatkan janganlah santri-santri salaf menjadi katak di bawah tempurung. Ana berharap kita walaupun santri traditional yang duduk di gubuk-gubuk bambu dapat memiliki informasi dan juga wacana yang ilmiah lagi menginternasional.

Analisa Tuduhan dan Penolakan Terhadapnya

Tuduhan ini berawal dari sebuah rakaman Youtube yang dikeluarkan oleh Syeikh Wahbah al-Zuhayli di Malaysia terhadap sebuah golongan kecil dari Asyairoh yang sangat fanatik sehingga mudah mengkafirkan beberapa ulama hatta seperti Ramadhan al-Buti, Nazim al-Haqqani, dan lain-lain. Ketika pernyataan keras ini dilontarkan maka puak fanatik inipun membidas pernyataan Wahbah dengan membuat sebuah wacana dan imej terhadap Wahbah dengan menyatakan bahwa Dr. Wahbah al-Zuhayli adalah WAHABI. Dengan statement ini mereka berprasangka bahwa akan mudah memesong santri-santri salaf lain di dunia pesantren bahwa janganlah kita menerima pendapat Dr. Wahbah. Tapi, ana yang banyak membaca kitab-kitab Wahbah memiliki pandangan yang lain terhadap tuduhan mereka dan ana siap membela Dr. Wahbah al-Zuhayli.

Tuduhan mereka yang pernah diberikan kepada ana adalah cuma 1 sebenarnya, yaitu Dr. Wahbah percaya pada konsep Tauhid 3 yaitu Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Sifat yang menjadi tonggak akidah puak Wahabi. Tuduhan ini juga berasal dari Youtube yang diambil dari malaysia juga yang secara zahir Dr. Wahbah berkata akidah ini tidak batil kerana hanya al-tasmiyyah (hanya untuk penamaan). Sila buka Eksklusif Dr Wahbah dan Tauhid 3.

Bagi ana Syeikh Wahbah al-Zuhayli tidak salah dalam konsep akidah tauhid 3 ini kerana tauhid ini dapat dilarikan menjadi sesat dan juga bahkan tidak. Kalau demi memberi penamaan kepada seorang murid misalnya tentang konsep tauhid maka tidak menjadi masalah. ini adalah sama seperti memberi nama kepada sebuah fan atau ilmu. Akan tetapi, Tauhid 3 ini disalah-gunakan oleh puak-puak Wahabi kerana konsep Rububiyyah dan Uluhiyyah ini digunakan untuk mengharamkan atau membid’ahkan bahkan mensyirikan amalan-amalan tawassul, istighasah dan lain-lain. Maka tauhid tiga ini adalah dapat kita hukum sebagai wahabi ketika tauhid ini digunakan untuk melarang tawassul misalnya. Contoh kata-kata si Wahabi: “Tauhid Uluhiyyah adalah tauhid orang yang benar-benar mentauhidkan Allah dan bertaqwa kepadanya dengan ibadah yang murni kepadanya sehinggakan tidak meminta kecuali pada Allah atau menjadikan makhluknya sebagai lantaran”. Maka ketika ini terjadi, barulah orang yang percaya pada tauhid 3 ini adalah Wahabi sehinggakan menafikan pendapat ulama lain yang disertai dalil yang kokoh dalam memperbolehkan bertawassul.

Buktinya, Dr. Wahbah walaupun tidak menyesatkan tauhid tiga dengan alasan hanya untuk tasmiyah (penamaan), beliau tidak melarang tawassul, dan beliau berpendapat bahwa tawassul itu terjadi khilaf ulama bahkan mayoritas ulama berpendapat tawassul adalah boleh. berikut ini petikan dari fatwa beliau yang berjudul “فتاوى معاصرة” di muka surat 355:

أقرأ في بعض الفتاوى استباحة الاستغاثة والاستشفاع بالنبي والصالحين ما رأيك في هذه المسائل؟ وما رأيك في الذي لم يستغث بالنبي والصالحين احتياطا لدينه وهو يبيحه؟

أجاز جمهور أهل السنة عدا بعض المخالفين جواز التوسل بالأنبياء والصالحين أحياء وأمواتا والمراد التوسل بصالح أعمالهم وقربهم من الله وقد نصت الموسوعة الفقهية بالكويت على هذا أما من لم يتوسل فأرى أنه فوت على نفسه خيرا

Terjemahan Bebas: Aku membaca pada setengah fatwa tetang diperkenankannya beristighazah dan meminta syafaat dengan Nabi dan orang-orang Soleh, apa pandanganmu tentang masalah ini? dan apa pandangan mu tentang orang yang tidak mahu beristighazah dengan nabi dan orang2 soleh kerana berhati-hati terhadap agamanya sedangkan dia (pada dasarnya) memperkenankannya?

Jawaban Wahbah: Majority Ulama Ahli Sunnah – kecuali sebagian yang berbeza dengan majority – memperkenankan bertawassul dengan nabi-nabi dan orang soleh sama ada masih hidup maupun sudah mati. yang dimaksud di sini adalah bertawassul dengan kebaikan amalan mereka dan kedekatan mereka dengan Allah. Dan telah benar-benar menuliskan pernyataan ini oleh kitab Ensiklopedi Fiqh versi Kuwait. Sedangkan orang yang tidak mahu bertawassul maka aku berpendapat bahwa dia hanya membatasi kebaikan pada dirinya sendiri (tidak mau kebaikan datang dari orang lain).

Dari sini, jelaslah kepada kita bahwa Wahbah al-Zuhayli sendiri mengaku keabsahan tawassul. Lalu mengapa kita gatal lidah ingin menuduhnya sebagai Wahabi? sedangkan salah satu alasan mengapa Wahabi itu disesatkan adalah dikarenakan mereka mengkafirkan pengamal tawassul.

Maka dari sini, kesimpulan ana kepada puak-puak yang menuduh Syeikh Wahbah sebagai Wahabi dan menyesatkannya agar bertaubat dan janganlah kita terjerumus kedalam jurang orang-orang yang menuduh apalagi menjadi batu api di dalam aliran Asyairoh sendiri. Waallahu a’lam..
http://akitiano.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 1 Disember 2010

Berfikir Seperti Ulamak..

Berfikir Seperti Ulamak..
Oleh : Ustaz Umar Muhammad Noor

Saat ini saya tengah menikmati bacaan sebuah buku yang sangat menarik. Buku ini bertajuk five Minds for the Future, tulisan Howard Gardner. Beliau seorang penulis terkenal yang banyak menghasilkan buku-buku yang membahas tentang mekanisme pemikiran manusia. Dalam buku ini, beliau mengajukan lima mekanisme pemikiran yang wajib dikuasai oleh setiap orang yang ingin tetap bertahan di dunia yang terus berkembang dan membawa pelbagai cabaran baru. Lima pemikiran itu adalah pemikiran yang disiplin [discipline mind], pandai menghimpun [synthesizing mind], kreatif [creative mind], penuh hormat [respectful mind] dan etis [ethical mind].

Saya bukan hendak membahas tiap-tiap satu daripada lima cara pemikiran tersebut. Saya sadar itu berada di luar disiplin kajian saya. Akan tetapi, artikel saya kali ini akan mengulas sebuah ucapan Gardner yang saya temukan sangat mengena dalam hati dan kesadaran saya. Beliau menulis seperti ini:
“My formal discipline is psychology, and it took me a decade to think like psychologist.”

Saya setuju dengan kata-kata ini. Memang sering kali terdapat jurang antara disiplin formal seseorang dengan cara pemikiran yang seharusnya ia miliki dan gunakan. Dengan kata-kata lebih sederhana, anda tidak otomotik menjadi seorang pakar psikologi hanya karena anda lulus dari fakulti psikologi. Akan tetapi diperlukan masa yang cukup lama untuk melatih diri sehingga berpikir seperti seorang pakar psikologi. Fenomena ini terjadi pada semua disiplin ilmu, samada ilmu sekular ataupun ilmu agama.

Fiqh

Jika kita terapkan kata-kata ini dalam ilmu-ilmu keislaman, saya berani berkata bahawa seseorang tidak otomatik menjadi seorang faqih, atau berfikir seperti faqih, hanya dengan belajar di jurusan di jurusan Syariah, di Universiti manapun.

Kemahiran fiqh [al-malakah al-fiqhiah] hanya diraih setelah lama bersabar melatih diri dalam menerapkan kaidah-kaidah usul, mengkaji semua hukum furu’ yang terdapat di dalam kitab-kitab fiqh, menyamakan dua hukum furu’ yang berbeza [al-asybah wan naza’ir] dan membezakan yang sama [al-furuq], mengembalikan furu’ kepada ushul, memahami berbagai hujah dan dalil, mengetahui masalah-masalah yang disepakati dan diperselisihkan [mawadi’ al-ijma’ wal ikhtilaf], mengkias dan mentakhrij masalah baru dengan masalah lama, memahami maqasid syariah, selain bermujahadah dengan sifat warak dan zuhud, dan selalu meminta petunjuk daripada Allah Swt.

Melatih diri dengan “fiqh praktikal” seperti ini akan membuat otaknya terbiasa berfikir dalam kerangka fiqh, lalu sedikit demi sedikit terbentuk jiwa seorang faqih di dalam diri. Pada saat itu, fatwa dan ucapannya tentang suatu hukum tidak akan melahirkan kontroversi. Berkata Imam Al-Syafii, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih [1/59]:

لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُفْتِيَ فِي دِينِ اللَّهِ إلَّا رَجُلًا عَارِفًا بِكِتَابِ اللَّهِ بِنَاسِخِهِ وَمَنْسُوخِهِ ، وَمُحْكَمِهِ وَمُتَشَابِهِهِ ، وَتَأْوِيلِهِ وَتَنْزِيلِهِ ، وَمَكِّيِّهِ وَمَدَنِيِّهِ ، وَمَا أُرِيدَ بِهِ ، وَيَكُونُ بَعْدَ ذَلِكَ بَصِيرًا بِحَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَبِالنَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ ، وَيَعْرِفُ مِنْ الْحَدِيثِ مِثْلَ مَا عَرَفَ مِنْ الْقُرْآنِ ، وَيَكُونُ بَصِيرًا بِاللُّغَةِ ، بَصِيرًا بِالشِّعْرِ وَمَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ لِلسُّنَّةِ وَالْقُرْآنِ ، وَيَسْتَعْمِلُ هَذَا مَعَ الْإِنْصَافِ ، وَيَكُونُ بَعْدَ هَذَا مُشْرِفًا عَلَى اخْتِلَافِ أَهْلِ الْأَمْصَارِ ، وَتَكُونُ لَهُ قَرِيحَةٌ بَعْدَ هَذَا ، فَإِذَا كَانَ هَكَذَا فَلَهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ وَيُفْتِيَ فِي الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ ، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ هَكَذَا فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُفْتِيَ .

“Tidak halal bagi seseorang berfatwa di dalam agama Allah kecuali seseorang yang mengusai Kitab Allah; nasikh dan mansukhnya, muhkam dan mutasyabihnya, takwilnya dan tanzilnya, makki dan madaninya, dan apa yang dimaksudkan dengannya. Setelah itu, ia juga wajib menguasai hadis Rasulullah Saw, [hadis] nasikh dan mansukhnya, dan ia menguasai hadis sepertimana ia menguasai Al-Qurán. Ia juga mesti menguasai ilmu bahasa, menguasai syair-syair Arab yang diperlukan dalam [memahami Al-qurán dan sunnah], dan menggunakan ilmu ini dengan penuh keinsafan. Setelah itu, ia juga mesti mengetahui ikhtilaf para ulama dari berbagai negeri, ia juga harus memiliki tajam pemikiran. Apabila orang itu seperti ini, maka dipersilakan untuk berbicara dan berfatwa di dalam perkara halal dan haram. Jika tidak seperti itu, maka tidak boleh baginya berfatwa.”

Tanpa ini semua, anda mungkin boleh mendapat markah tinggi dalam mata pelajaran fiqh, bahkan meraih Doktor Falsafah dari Universiti Timur dan Barat, namun saya jamin anda tidak akan pernah menjadi seorang faqih. Dan gelaran mujtahid tentu lebih jauh lagi.

Hadis

Dalam bidang hadis pun seperti itu. Anda mungkin telah meraih gelar master atau doktor dalam bidang hadis, namun itu belum membuat anda menjadi seorang muhaddis apalagi hafiz. Untuk mencapai darjat ini, anda harus menghabiskan masa bertahun-tahun untuk menghafal nama-nama perawi, menimbang hafalan setiap daripada mereka, mengumpulkan sanad, mentakhrij hadis, menyingkap dan memahami ‘illat-‘illat yang sangat halus, mengkaji kometar ahli hadis dalam menilai status hadis, memeriksa kontradiksi matan hadis dengan nas-nas syarak yang lain [ikhtilaf dan musykil hadits], dan berbagai “ilmu hadis praktikal” lainnya.

Semua ini memerlukan ketelitian dan latihan yang panjang. Tanpa ini semua, anda mungkin boleh menguasai mustolah hadis [yakni menghafal istilah-istilah dan takrif-takrif] tapi bukan ilmu hadis. Anda mungkin menjadi sarjana dalam bidang hadis, namun bukan ahli hadis. Imam Husyaim bin Basyir berkata:

من لم يحفظ الحديث فليس هو من أصحاب الحديث

“Orang yang tidak menghafal hadis, maka bukanlah ia termasuk daripada ahli hadis.”
[Al-Kifayah fi ‘Ilm Al-Riwayah hal. 228].

Berkenaan dengan ini, Al-Hafiz al-Suyuthi menukil ucapan Tajuddin Al-Subki dalam pembukaan kitabnya “Tadrib Al-Rawi” [hal. 9] sebagai berikut:

من النَّاس فرقة ادَّعت الحديث, فكان قصارى أمرها النَّظر في «مشارق الأنوار» للصَّاغانى, فإن تَرَفَّعَت ارتقت إلى «مصابيح» البغوي, وظنَّت أنَّها بهذا القدر تصل إلى درجة المُحدِّثين, وما ذلك إلاَّ بجهلها بالحديث, فلو حفظ من ذكرناه هذين الكتابين عن ظهر قلب, وضمَّ إليهما من المُتون مثليهما لم يكن مُحدِّثًا, ولا يصير بذلك مُحدِّثًا حتَّى يَلج الجَمَلُ في سَمِّ الخياط, فإن رامت بُلوغ الغاية في الحديث على زعمها, اشتغلت «بجامع الأصول» لابن الأثير, فإن ضمت إليه «علوم الحديث» لابن الصَّلاح, أو مُختصره المُسمَّى «بالتقريب والتيسير» للنووى, ونحو ذلك, وحينئذ يُنادى من انتهى إلى هذا المقام: بمحدِّث المُحدِّثين, وبُخاري العصر, وما ناسب هذه الألفاظ الكاذبة, فإنَّ من ذكرناهُ لا يُعَدُّ مُحدثًا بهذا القدر, وإنَّما المُحدِّث من عرف الأسانيد, والعلل, وأسماء الرِّجال, والعالي والنازل, وحفظ مع ذلك جُملة مُستكثرة من المُتون, وسع الكتب السِّتة, و«مسند» أحمد بن حنبل, و«سنن» البَيْهقى, و«معجم» الطَّبراني, وضمَّ إلى هذا القدر ألف جُزء من الأجزاء الحديثية, هذا أقل درجاته, فإذا سمع ما ذكزناهُ, وكتب الطِّباق, ودار على الشِّيوخ, وتكلَّم في العلل, والوفيات, والمَسَانيد, كان في أوَّل درجات المُحدِّثين, ثمَّ يزيد الله من يشاء ما شاء.

“Sekelompok manusia mendakwa dirinya sebagai ahli hadis, padahal maksimal yang mereka lakukan hanyalah memandang kitab Masyariq Al-Anwar karangan Al-Saghani, paling tinggipun hanya sampai kepada kitab Masabih karya Al-Baghawi. Ia mengira dengan seperti ini telah mencapai darjat muhaddits.

Ini tidaklah hanyalah karena kejahilan mereka tentang hadis. Andai mereka menghafal kitab-kitab yang saya sebutkan tadi, ditambah dua kali lipat daripada itu, ia tetap belum menjadi seorang muhaddis hingga unta masuk ke lubang jarum! Jika ia ingin mencapai darjat tertinggi, ia menyibukkan diri dengan kitab Jami Al-Ushul karya Ibn Al-Atsir. Jika ia membaca bersamanya kitab Ulumul Hadits karya Ibn Al-Solah, atau ringkasannya yang bertajuk Al-Taqrib wa Al-Taysir karangan Al-Nawawi, pada saat itu ia segera digelari muhadits al-muhadditsin, atau “Bukhari zaman ini.”

Gelaran-gelaran dusta ini sangat tidak patut sama sekali. Sesungguhnya seseorang tidak dianggap sebagai muhaddits hanya dengan kadar seperti itu. Muhaddits ialah orang yang menguasai sanad, ‘ilal, nama-nama perawi, juga al-‘ali wan nazil [riwayat yang tinggi dan rendah], lalu menghafal jumlah yang banyak daripada matan-matan hadis. Ia mendengar dari gurunya enam kitab hadis [al-kutub al-sittah], Musnad Ahmad, Sunan Al-Baihaqi, Mu’jam Al-Thabarani, ditambah lagi seribu risalah daripada risalah-risalah hadis [al-ajza al-haditsiah]. Ini tingkatan terendah dalam darjat ahli hadis. Apabila bersama semua ini, ia mendengar juga kitab-kitab thibaq, lalu mendatangi berbagai ulama, dan berbicara tentang ‘ilal, wafat perawi dan berbagai sanad, maka ia telah mencapai darjat muhaddits. Lalu Allah akan menambahkan apa yang dikehendaki bagi orang yang dikehendaki-Nya.”

Dari praktek ke teori

Saya bukanlah ahli hadis, dan saya berlindung kepada Allah daripada mendakwa diri saya sebagai pakar hadis. Namun begitu, saya berminat dengan ilmu ini dan ingin berkongsi sedikit pengalaman kepada para pembaca sekalian. Mudah-mudahan memberi manfaat bagi sesiapa yang hendak mempelajari ilmu hadis dengan lebih efektif.

Apabila pertama kali menjejakkan kaki di Damsyik Syiria pada akhir tahun 2002 yang lalu, saya telah mempelajari “mustolah hadis” selama kurang lebih sepuluh tahun di Indonesia. Enam tahun di pesantren, dan empat tahun di universiti. Sebahagian besar istilah-istilah yang digunakan dalam ilmu ini beserta takrifnya telah saya hafal. Puluhan buku mustolahpun pernah saya baca. Namun di negeri baru ini, saya seolah belum tahu sedikitpun tentang ilmu hadis. Ilmu hadis yang diajarkan Syeikh Riyad Al-Khiraqi [semoga Allah memanjangkan usia beliau] benar-benar berbeza dengan ilmu hadis yang sebelumnya saya pelajari di Indonesia. Saya menjadi sadar bahawa selama ini saya hanya “menghafal istilah” hadis, bukan mempelajari “ilmu hadis”, apalagi menyelami dan menggunakan “pemikiran” ahli hadis.

Pada hari pertama pertemuan saya dengan Syeikh Riyad, saya mengungkapkan keinginan saya untuk belajar ilmu hadis daripadanya. Syeikh Riyad tidak segera menentukan satu buku mustolah yang akan kita baca bersama, akan tetapi beliau segera memerintahkan saya untuk menghafal nama-nama perawi yang terdapat di dalam Sahih Al-Bukhari dengan merujuk kepada kitab “Taqrib Al-Tahzib”. Setiap perawi harus saya hafal namanya, kuniahnya, gelarannya, status hafalannya, dan thabaqat-nya. Saya juga dilatih untuk membezakan dua perawi yang memiliki nama yang sama, agar tidak keliru antara keduanya. Saya diwajibkan menghafal minimal 500 sanad [setiap sanad terdiri dari paling kurang tiga nama perawi, paling banyak tujuh nama] sebelum memulai kajian kitab mustolah hadis yang paling asas, iaitu Matan Nukhbatul Fikar karya Ibn Hajar !

Dengan kata lain, Syeikh Riyad tidak ingin memulai pengajaran ilmu hadis dengan teori, namun dengan praktek. Sebab latihan praktikal itu yang akan membentuk kemahiran dalam jiwa seorang pelajar.

Pada hari itu juga, Syeikh Riyad mengucapkan kata-kata yang sangat berkesan ke dalam jiwa saya. Beliau berkata,
“Ilmu hadis seperti ilmu Nahwu. Andai engkau menghafal seluruh isi kitab “Alfiah Ibn Malik” sekalipun, namun jika tidak pernah mempraktikkan bahasa Arab dan I’rab, maka engkau tidak akan tahu apa-apa tentang Nahwu. Begitu juga ilmu hadis, andai engkau menghafal kitab “Muqaddimah Ibn Solah” sekalipun, namun jika tidak pernah menghafal perawi dan mengkaji sanad, maka engkau tidak tahu apa-apa tentang ilmu hadis!”

Metod pengajaran ini memang sangat berat, terbukti banyak murid beliau yang gugur di tengah jalan. Namun bagi saya, metod ini terbukti sangat efektif dalam membantu memahami cara pikir ahli hadis dengan lebih mendalam dan tepat. Siapa yang cukup kuat untuk melaksanakannya akan dapat menilai karya tulis dan takhrij tokoh kontemporari yang menulis dalam bidang hadis, siapakah yang lebih dekat dengan dengan logika ahli hadis dan siapakah yang jauh daripadanya? Wallahu a’lam.

Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=429121182895&comments

Posted by: Habib Ahmad | 1 Disember 2010

Mengukur Haji Mabrur

Mengukur Haji Mabrur
Friday, 26 November 2010 11:41

Membangun kesalehan spiritual menuju kesalehan social. “Jadi, kemabruran adalah rekontruksi manusia lahir batin yang dampaknya akan positif dalam pergaulan di dunia, sekaligus khusnul khotimah menuju akhirat…”

Tidak terasa pelaksanaan ritual haji 1431 H/2010 M telah berakhir. Sebanyak 221 ribu jiwa jama’ah haji Indonesia mulai kembali ke Tanah Air secara bertahap sejak 20 November 2010.

Bagi jama’ah haji Indonesia, ada catatan yang bisa dijadikan renungan dan diaplikasikan dalam kehidupan sosial dalam suasana keprihatinan di Tanah Air, menyangkut bencana alam tsunami, banjir, gunung meletus dan gempa bumi.

Bagi seorang muslim, yang baru selesai menunaikan ibadah haji, semua peristiwa memilukan tersebut tentu harus dimaknai dengan sikap positif karena hal itu menyangkut kemabruran haji.

KH. Hasyim Muzadi dalam khotbah wukuf di Padang Arafah pada 15 Nopember mengatakan, siapa pun yang melaksanakan ibadah haji ingin memperoleh kemabruran, sebagai tanda diterimanya ibadah mereka, oleh Allah SWT.

Mabrur itu sendiri, kata Hasyim yang juga menjadi naib amirul haj, mengandung pengertian dibebaskannya seseorang dari segala dosa masa silam. Balasan mabrur adalah surga. Tapi, di antara jema’ah lupa bahwa syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai kemabruran itu.

Syarat itu, kata mantan ketua Nahdlatul Ulama (NU) tersebut adalah menjaga niat dan bersihnya hati. Ini bukan pekerjaan ringan, karena hati itu setiap saat bisa diganggu oleh kepentingan nafsu dan pengaruh lingkungan. Syarat lainnya adalah pelaksanaan manasik (aturan hukum) haji yang benar, tidak merusak rukun. Bila melanggar wajib, harus ada tebusan. Menurut syariat, tebusan itu bias berupa puasa atau amal sosial.

Sedangkan kesunahan haji merupakan pengembangan dari yang rukun dan wajib, sekalipun tidak mengganggu keabsahan haji. “Allah SWT selalu menepati janjinya, tinggal kita apakah bisa memenuhi syarat untuk meraih janji itu,” katanya.

Syarat lainnya adalah bekal yang halal dan tidak bercampuran hal-hal yang syubhat. Jika dilihat realitasnya, tidak satu pihak pun dapat mengetahui hakikat seseorang yang menjalani ibadah haji, apakah memperoleh mabrur atau tidak. Sebab, hakikat itu hanya Allah SWT yang mengetahui, sedangkan manusia hanya berdoa dan berusaha secara optimal.

Menurut Hasyim, Allah SWT memberi tanda-tanda kemabruran melalui keadaan orang itu dalam hubungan “hablun minallah dan hablun minannas”. Pendekatan diri (taqorrub) kepada Allah SWT akan melahirkan perbaikan kondisi dan gerak batin seseorang yang berpotensi membentuk karakter lebih baik.

Dengan demikian akan memudahkan seorang muslim untuk membangun kesalehan pribadinya menuju kesalehan social. “Jadi, kemabruran adalah rekontruksi manusia lahir batin yang dampaknya akan positif dalam pergaulan di dunia, sekaligus khusnul khotimah menuju akhirat,” kata Hasyim Muzadi seperti dilansir Antara.

Indikator mabrur

Untuk menentukan kualitas haji mabrur bagi seseorang tak bisa menggunakan parameter wujud fisik, misalnya sekembalinya dari tanah suci lantas orang bersangkutan rajin pergi ke masjid, kerap berzikir atau rajin mendoakan seseorang yang tengah tertimpa musibah.

Juga tak bisa menggunakan pendekatan pandangan keseharian, karena bisa saja diam-diam orang yang baru kembali di Tanah Air kembali giat melakukan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

Para ulama menyebutkan bahwa haji mabrur itu memiliki indikator, antara lain patuh melaksanakan perintah Allah SWT, melaksanakan shalat, konsekuen membayar zakat.Juga sungguh-sungguh membangun keluarga sakinah mawaddah dan wa rahmah, selalu rukun dengan sesama umat manusia, sayang kepada sesama makhluk Allah SWT.

Selain itu juga konsekuen meninggalkan larangan Allah SWT, terutama dosa-dosa besar, seperti syirik, riba, judi, zina, khamr, korupsi, membunuh orang, bunuh diri, bertengkar, menyakiti orang lain, khurafat, serta bid’ah.

Gemar melakukan ibadah wajib, sunat dan amal shalih lainnya serta berusaha meninggalkan perbuatan yang makruh dan tidak bermanfaat. Aktif berkiprah dalam memperjuangkan, mendakwahkan Islam dan istiqamah serta sungguh-sungguh dalam melaksanakan amar maruf dengan cara yang maruf, melaksanakan nahi munkar tidak dengan cara munkar.

Memiliki sifat dan sikap terpuji seperti sabar, syukur, tawakkal, tasamuh, pemaaf, dan tawadlu. Malu kepada Allah SWT utk melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Semangat dan sungguh-sungguh dalam menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu Islam.

Haji mabrur juga bila bekerja keras dan tekun untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, keluarganya dan dalam rangka membantu orang lain serta berusaha untuk tidak membebani dan menyulitkan orang lain.

Cepat melakukan tobat apabila terlanjur melakukan kesalahan dan dosa, tidak membiasakan diri proaktif dengan perbuatan dosa, tidak mempertontonkan dosa dan tidak betah dalam setiap aktivitas berdosa.

Dan yang lebih penting lagi, sungguh-sungguh memanfaatkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menolong orang lain dan menegakkan “Izzul Islam wal Muslimin”.

Jadi, menilai haji mabrur itu sungguh sulit. Apalagi bagi orang bersangkutan untuk menjalankannya. Namun demikian, upaya memenuhi seluruh indikator tersebut mutlak diperjuangkan dan dicapai. Sama halnya seorang atlet, agar memperoleh fisik kuat dan berprestasi di ajang pertandingan tentu harus banyak berlatih. Bagi seorang yang sudah berhaji, bagi yang mau belajar dengan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, di tanah suci Madinah, Makkah, Arafah dan Mina, dia memperoleh pembelajaran dan gemblengan langsung oleh Allah SWT.

Karena itu, sekembalinya di tanah air orang yang telah berhaji diharapkan menjadi pembawa rahmat bagi semua umat di sekitarnya. Semoga….

http://majalah-alkisah.com

Posted by: Habib Ahmad | 30 November 2010

Solat berimamkan pemimpin IJ, 21 didakwa

Solat berimamkan pemimpin IJ, 21 didakwa

Nov 29, 10 7:08pmJabatan Agama Islam Selangor (JAIS) akan mendakwa 21 individu pengikut ajaran sesat Islam Jamaah (IJ) termasuk enam warganegara Indonesia dan dua rakyat Bangladesh yang ditahan di sebuah surau di Sungai Tangkas, Kajang Jumaat lalu.

Pengarah JAIS Datuk Mohamed Kushrin Munawi berkata semua mereka akan didakwa di Mahkamah Syariah Kajang esok kerana kesalahan menunaikan solat Jumaat tanpa kebenaran serta mengikut imam yang tidak mendapat tauliah dari jabatan agama Islam negeri itu.

“Semua mereka berumur antara 29 dan 50 tahun menunaikan solat Jumaat tidak cukup jemaah iaitu kurang daripada 40 orang selain membaca khutbah dalam Bahasa Arab yang dipetik daripada koleksi buku terbitan mereka sendiri bukan mengikut teks daripada Jais,” katanya dalam sidang media di Shah Alam hari ini.

Beliau berkata mereka akan didakwa mengikut Seksyen 12 (c) dan 13 (1) Enakmen Jenayah Syariah Selangor kerana melanggar fatwa Jabatan Fatwa Selangor dan bagi setiap kesalahan boleh didenda tidak lebih RM3,000 atau penjara maksimum dua tahun atau kedua-duanya, jika sabit kesalahan.

Bagi kesalahan menggunakan bangunan bagi perkara yang hanya boleh digunakan di masjid, mereka dituduh mengikut Seksyen 97 (1) Enakmen Pentadbiran Agama Islam (Selangor) di mana boleh didenda maksimum RM3,000 atau penjara maksimum setahun atau kedua-duanya sekali, jika sabit kesalahan.

Sementara itu, Kushrin berkata ketua ajaran itu Abdul Wahab Jantan, 41, masih diburu JAIS kerana beliau dipercayai berada di Solo, Indonesia bagi tujuan mendalami ajaran berkenaan semasa serbuan dilakukan.

Beliau berkata JAIS telah melakukan pemerhatian terhadap gerakan ajaran sesat itu sejak setahun lepas dan menunggu masa serta bukti yang sesuai untuk melakukan serbuan.

Katanya, beberapa barang bukti dirampas untuk tujuan pendakwaan seperti teks khutbah Jumaat yang dikeluarkan sendiri IJ, mimbar, set pembesar suara, risalah Islam Jemaah serta 15 keping surat pernyataan taubat yang dibuat dalam upacara “taubat”.

Selain itu, ajaran berkenaan turut dipercayai menjadi sindiket ejen nikah tidak sah berikutan penemuan beberapa dokumen mengenai pasangan yang mahu dinikahkan oleh pemimpin kumpulan berkenaan.

“Kita percaya terdapat kira-kira 1,000 pengikut ajaran IJ yang masih aktif di negeri ini yang dipercayai beroperasi di Sungai Tangkas, Kajang, Padang Jawa dan Sungai Udang, Klang, Bagan Hailam, Pelabuhan Klang dan Bandar Baru Hicom, Shah Alam,” katanya.

Dipercayai ajaran IJ diperkenalkan di Jawa Timur, Indonesia pada tahun 1941 oleh pengasasnya yang dikenali sebagai Haji Nurhasan al-Ubaidah atau nama sebenarnya, Mohd Madigol Ab Aziz.

Antara ciri-ciri ajaran sesat ini adalah pengikut IJ adalah orang Islam sebenar dan orang lain dianggap kafir, najis mughallazah seperti najis anjing tidak perlu disamak, binatang yang mati dalam kawasan kampung orang Islam tidak perlu disembelih dan halal dimakan dan tulang babi tidak haram.

Ajaran itu juga percaya dosa boleh diampunkan dengan mengisi borang tebus dosa yang disahkan oleh pemimpin.

– Bernama

Posted by: Habib Ahmad | 30 November 2010

Ikhlas capai kesempurnaan iman

Ikhlas capai kesempurnaan iman

Oleh Dr Aminudin Mansor
SIFAT ikhlas sangat penting untuk dipraktikkan dalam kehidupan seharian kerana orang yang ikhlas dianggap sempurna imannya. Ikhlas adalah sifat jujur yang dipraktikkan melalui perbuatan, percakapan dan amalan seharian.

Ikhlas datang daripada hati akan menjadikan sesuatu perbuatan dan amal itu diterima Allah. Nabi SAW bersabda; Siapa memberi kerana Allah, menolak kerana Allah, mencintai kerana Allah, membenci kerana Allah dan menikah kerana Allah, maka sempurnalah imannya. (Riwayat Abu Daud)

Berdasarkan hadis ini, sifat ikhlas penting dalam memberi dan menolak sesuatu yang haram serta membenci perbuatan tidak baik. Malah, tujuan berkahwin yang ikhlas kerana Allah sangat dituntut Islam kerana ia adalah cara menuju kesempurnaan iman.

Begitulah tingginya kedudukan sifat ikhlas dalam hati Muslim. Sifat ikhlas dapat dididik kepada anak melalui pemberian, percakapan dan membenci sesuatu perkara yang dilarang Allah. Pendidikan ini mesti dilakukan secara berterusan.

Ikhlas sebenarnya wujud dari hati, bukan melalui percakapan. Ada sesetengah orang mengatakan, pemberian saya ini ikhlas. Belum tentu sifat ikhlas itu wujud seratus peratus kerana pemberian yang ikhlas adalah lebih baik dilakukan secara diam-diam dan tidak perlu ia dihebahkan kepada orang ramai.

Sukar untuk menentukan keikhlasan yang datang dari hati. Hanya seseorang yang beriman dan betul-betul ikhlas yang dapat mentafsirkan pemberiannya ikhlas atau ada maksud di sebaliknya.

Nabi SAW bersabda yang bermaksud: Sesungguhnya Allah SWT tidak memandang segak tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan mahupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barang siapa memiliki hati yang salih, maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertakwa. (Riwayat Ath-Thabrani dan Muslim)

Seseorang yang sentiasa mendidik hatinya untuk ikhlas melalui perbuatan, percakapan dan pemberian akan dapat menuju ke arah ketakwaan kepada Allah.

Sabda Nabi SAW yang bermaksud: Siapa memurkakan Allah untuk meraih keredaan manusia, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang meredainya menjadi murka kepadanya. Namun, siapa yang meredakan Allah (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meredainya dan meredakan kepadanya, orang yang pernah memurkai-Nya, sehingga Allah memperindah dirinya, memperindah ucapannya dan perbuatan dalam pandangan-Nya. (Riwayat Ath-Thabrani)

Sifat ikhlas wajar dididik dan dilatih sejak kecil lagi. Bimbingan pendidikan ini mesti dilakukan secara berterusan dalam pemberian, perlakuan dan perbuatan. Oleh itu, sifat ikhlas ini tidak perlu dipamerkan tetapi dipraktikkan.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 811 other followers