Prof. Dr. Habib Said Agil Almunawar: Penguasaannya Mendalam, Ilmunya Beragam
728
1 2 3 4 5 (0 votes, average 0 out of 5)

Setelah berkeluarga, semangat belajarnya tak pernah berkurang, apalagi hilang.

Qari andal, hafizh Al-Quran, pakar fiqih dan ushul fiqh, pengajar pascasarjana di berbagai perguruan tinggi, muballigh dan pengisi berbagai acara di televisi, juri MTQ tingkat internasional di berbagai negara. Itulah sebagian di antara sederet atribut dan aktivitas yang disandang Prof. Dr. Habib Said Agil Husin Almunawar.

Ulama intelektual ini memang memiliki banyak keahlian sehingga aktivitasnya pun menjadi sangat beragam. Sosok yang dibutuhkan banyak orang, enak diajak bicara, dan bersuara merdu, ini lahir di Kampung 13 Ulu, Palembang, pada tanggal 26 Januari 1954.

Ayahnya, Habib Husin bin Agil bin Ahmad Al-Munawar (lahir 13 Desember 1932, wafat 13 November 1989, adalah salah seorang tokoh habaib yang dihormati di Palembang. Sedangkan ibunya, Syarifah Sundus binti Muhammad Al-Munawar (wafat 20 Februari 2001), adalah ibu rumah tangga yang shalihah dan bijaksana.

Saat Said Agil berusia dua tahun lebih, tepatnya tanggal 1 Juli 1956, ayahandanya mendirikan madrasah yang diberi nama “Shiratul-Jannah”. Lokasinya di Kampung 14 Ulu, kampung yang bersebelahan dengan kampung tempat tinggalnya. Kemudian setelah lokasinya dipindahkan, perguruannya berganti nama menjadi “Perguruan Islam Munawariyah”.

Dari tahun ke tahun perguruan yang dipimpinnya terus menghasilkan lulusan-lulusan dengan penguasaan ilmu-ilmu agama yang memadai, minimal untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga. Namun tak sedikit pula yang menjadi ulama dan ustadz yang melanjutkan perjuangannya.

Said Agil sendiri ketika kanak-kanak, di samping bersekolah di SD Negeri 8 Sepuluh Ulu Palembang di pagi hari, juga belajar di madrasah ayahandanya ini di siang hari. Jadi, ia pun salah seorang alumninya.

Ia lulus dari madrasah Ibtidaiyah Munawariyah tahun 1966, sedangkan di SD Negeri ia lulus tahun 1967. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah Al-Ahliyah, sebuah perguruan yang didirikan tahun 1920-an oleh para ulama terkemuka di wilayah Palembang. Said Agil dapat menyelesaikannya pada tahun 1969.

Setelah itu pendidikannya berlanjut di Sekolah Persiapan Universitas Islam (SPUI) Al-Ahliyah 17 Ilir Lorong Ketandan, Palembang. Ia termasuk angkatan pertama dan lulus tahun 1971.

Selalu Meraih Peringkat Pertama

Setiap orangtua tentu menginginkan anaknya maju, berhasil melebihi dirinya, paling tidak seperti dirinya. Demikian pula orangtuanya, yang sangat menginginkannya menjadi penerusnya. Dalam menanamkan nilai-nilai hidup, orangtuanya melakukannya melalui pendidikan formal dan nonformal.

Untuk pembinaan secara nonformal, ia “dititipkan” kepada para tokoh ulama habaib, termasuk guru ayahandanya sendiri, Habib Alwi bin Ahmad Bahsin. Berbagai kitab ia pelajari kepadanya.

Prestasinya di setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga SPUI Al-Ahliyah, sangat menonjol, selalu meraih peringkat pertama.

Ketika mengikuti pendidikan di SPUI Al-Ahliyah, pada saat yang sama ia juga belajar di Sekolah Persiapan IAIN (SPIAIN) Raden Fatah Palembang.

Saat lulus SPUI dan SPIAIN, usianya masih relatif muda, di bawah 17 tahun, karena ia pernah melompat kelas, hanya tiga bulan di satu kelas dan langsung dinaikkan ke kelas berikutnya. Kebanyakan calon mahasiswa yang mendaftar di IAIN berusia sekitar 18-19 tahun, sedangkan umur Said Agil masih di bawah itu. Tapi pihak IAIN tidak dapat menolak, karena ia mempuyai ijazah sekolah agama dan sekolah negeri. Bahkan akhirnya kedua ijazah itu menjadi modal baginya untuk masuk perguruan tinggi itu tanpa test.

Ia diterima di Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah dan kemudian meraih gelar sarjana muda tahun 1974 dengan predikat cum laude. Setelah itu, ia memiliki keinginan untuk dapat kuliah di luar negeri. “Jika orang bisa, kenapa saya tidak bisa?” katanya. Apalagi ayahnya juga membolehkannya kuliah di luar negeri. Kalau masih sekolah di dalam negeri, apabila harus berpisah dengan orangtua, ia tidak diizinkan. Ini karena ia anak pertama, yang diharapkan dapat menjadi pengganti sang ayah, sehingga harus mendampinginya, sebagai persiapan dan pengalaman baginya.

Karena itulah ia tidak pernah mondok di pesantren di Indonesia. Bagi ayahnya, belajar di mana saja sama, jadi tidak mesti belajar di pesantren. “Kamu belajar di Palembang sama saja dengan di tempat-tempat lain,” katanya. Ya, sebagai anak pertama ia memang disiapkan untuk menjadi penggantinya. Tak mengherankan bila di usia empat belas tahun ia sudah mengajar di sekolah untuk membantu ayahnya.

Karena mendapatkan lampu hijau dari sang ayah, ia pun segera mencari informasi-informasi tentang beasiswa belajar ke luar negeri.

Hasilnya sungguh menggembirakan. Tak tanggung-tanggung, ia mendapatkan lima beasiswa untuk belajar di lima negara: Kuwait, Qatar, Iran, Mesir, dan Arab Saudi. Maka melaporlah ia kepada sang ayah.

“Bagaimana ini, Abah, sudah dapat beasiswanya?”

Mendengar itu, sang ayah bukannya senang, tetapi tampak bingung. Bukan bingung untuk memilihkan salah satu dari lima pilihan itu. Yang dipikirkannya, kalau anak yang menjadi harapannya ini jadi belajar ke luar negeri, sebentar lagi ia akan ditinggalkan.

Sebenarnya bukan hanya sang ayah yang agak berat melepasnya. Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Habib Agil sendiri, karena ia juga tak pernah berpisah dengan orangtua, meskipun sangat ingin belajar di luar negeri

Tapi kemudian ia bertanya, “Mau pilih yang mana?”

“Mau pilih Saudi saja, di Madinah saja,” jawab Said Agil.

“Mengapa?”

“Agar kita bisa lebih mudah bertemu atau berkomunikasi. Lagi pula kalau Walid butuh kitab-kitab, lebih mudah mengirimkannya.”

Maka kemudian berangkatlah Said Agil ke Arab Saudi memulai lembaran baru dalam kehidupannya, belajar di negeri orang dan berpisah untuk sementara dengan kedua orangtuanya. Dua hal yang sama-sama baru baginya. Ia kuliah di Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah, universitas Islam tertua di Arab Saudi.

Selama empat tahun ia menimba ilmu di universitas itu hingga akhirnya mendapatkan gelar LML, sebuah predikat untuk lulusan jurusan hukum Islam. Ia lulus 1979 dengan cum laude dan memperoleh hadiah uang sebanyak seribu riyal dari Raja Arab Saudi.

Karena kemampuan dan prestasinya yang sangat menonjol, ia pun dicalonkan oleh universitas untuk mengikuti ujian S2 di universitas itu.

Tapi ia punya keinginan masuk ke perguruan tinggi yang lain, untuk mengubah suasana. Pilihannya jatuh pada Universitas King Abdul Azis di Makkah, cabang Universitas King Abdul Azis Jeddah. Ujian masuk ke universitas itu sangat ketat, tapi alhamdulillah ia lulus.

Tahun 1980 sambil mengurus penggantian visa sesuai perubahan tempat kuliahnya, ia pulang dan menikah dengan Syarifah Fatimah Abu Abdillah Assegaf, kelahiran Tigeneneng, Lampung Selatan, 27 Mei 1957. Setelah menikah, sang istri diboyongnya ke Makkah.

Selama di Makkah mereka dikaruniai empat dari enam anak mereka, yakni Afaf (1981), Fahd (1983), Tsuroya (1984), dan Lulu (1986). Sedangkan dua anak mereka yang terakhir lahir di Jakarta, Faisal (1988) dan Husain (1991).

Pada tahun 1982 ketika ia sedang memulai tesis, Universitas King Abdul Azis Makkah berubah menjadi Universitas Ummul-Qura Makkah, dan terpisah dari Universitas King Abdul Azis Jeddah. Master of Art dari universitas ini diraihnya tahun 1983.

Setelah itu, meskipun telah berkeluarga, semangat belajarnya tak pernah berkurang, apalagi hilang. Ia terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang S3 hingga akhirnya tahun 1987 memperoleh gelar Ph.D. dengan spesialisasi hukum Islam.

“Bertanya kepada Rasulullah?”

Selama di Arab Saudi, Habib Said Agil bukan hanya menuntut ilmu di bangku kuliah. Ia menyadari benar bahwa di luar kampus masih sangat banyak sumber ilmu. Maka ia pun tak menyia-nyiakan itu, dengan belajar kepada para tokoh ulama yang ada di sana. Tokoh-tokoh seperti Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Syaikh Yasin Al-Fadani, adalah sebagian di antara sumber-sumber ilmu yang sempat ia hirup ilmunya.

Hubungannya dengan para tokoh ulama tersebut sangat dekat dan banyak kisah dengan mereka yang selalu dikenangnya. Dengan Syaikh Yasin, misalnya, sampai setengah bulan sebelum wafatnya, ia masih sempat bertemu dengannya. Syaikh Yasin kala itu di antaranya mengatakan demikian, “Agil, kaki saya ini sudah bengkak-bengkak.” Saat itu kondisi kesehatan Syaikh Yasin memang sudah sangat lemah. Dalam kesempatan itu Syaikh Yasin memberikan wasiat macam-macam kepadanya. Di antaranya, pesannya untuk terus mengembangkan ilmu dan ijazah yang diberikannya, di mana saja ia berada. Secara khusus Syaikh Yasin menekankan untuk terus mengembangkan ilmu hadits. Di majelisnya Habib Said Agil mengikuti pengajian yang di antaranya membaca kutubus sittah. Yakni, kitab hadits yang menjadi induk atau standar buah karya enam orang imam muhaditsin: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah.

Kedekatannya dengan Syaikh Yasin membuat Habib Said Agil sempat pula mengajar di Darul Ulum, madrasah yang ia pimpin, selama empat tahun, 1983 sampai 1987. Materi yang diajarkannya adalah tafsir, tajwid, dan tahfizhul Qur’an (menghafal Al-Quran).

Di bawah bangunan madrasah ini terdapat perpustakaan Syaikh Yasin. Kitab-kitab langka banyak terdapat di situ. Mungkin ia sudah merasa bahwa kitab-kitabnya nanti akan dikuasai orang. “Agil, kitab-kitab ini dibawa pulang saja.”

Sayangnya, Habib Said Agil tak memanfaatkan tawaran itu. Bukan tak mau kitab-kitab, tapi ia bingung, bagaimana harus membawanya sedangkan kitabnya sendiri saja sudah bertumpuk-tumpuk.
Tapi kemudian ia menyesal, karena tiga hari setelah Syaikh Yasin wafat, sekolahnya ditutup pemerintah dan perpustakaannya pun dikuasai.

Syaikh Yasin adalah salah seorang guru yang sangat ia kagumi. Menurutnya, jika diberikan kitab-kitab, ia selalu membacanya sampai tuntas dan diberi koreksi bila ada kesalahan-kesalahan di dalamnya. Hafalannya luar biasa. Lebih dari itu, menurut feeling-nya, ia seorang wali yang tersembunyi, wali mastur.

Kadang-kadang dalam penelitian-penelitiannya, Habib Said Agil menemukan hadits-hadits yang ia tak ketahui siapa yang meriwayatkannya. Jika mendapatkan kesulitan seperti itu, ia segera mendatangi Syaikh Yasin. Dan baru saja duduk, Syaikh Yasin sudah tahu. “Agil, ente punya musykilah (kesulitan), ya?”

“Ya, ada hadits-hadits yang belum ditemukan siapa yang meriwayatkannya.”

Ia pun membacakan hadits-hadits yang dimaksud.

“Besok pagi ke sini. Nanti malam ana tanya dulu kepada Rasulullah.”

Habib Said Agil kaget mendengarnya. Untuk meyakinkan, ia bertanya, “Bertanya kepada siapa, Syaikh?”

“Kepada Rasulullah,” katanya menegaskan.

Keesokan harinya ketika ia datang, Syaikh Yasin sudah dapat menyebutkan siapa yang meriwayatkannya dan di kitab apa adanya.

“Di Indonesia Kamu lebih Dibutuhkan”

Setelah pendidikan S3-nya rampung, Habib Said Agil segera pulang ke tanah air. Tetapi sebelum kembali, ia mendapatkan tawaran dari duta besar di sana untuk menjadi seorang diplomat.

Setelah dipertimbangkan matang-matang dari berbagai seginya, ia tak mengambil kesempatan itu. Apalagi Munawir Sadzali, menteri agama saat itu, menyarankannya untuk kembali ke Indonesia saja. “Jangan! Cukup saya yang menjadi diplomat, karena di Indonesia kamu lebih dibutuhkan.”

Maka saat tiba di Indonesia, ia melapor ke Menteri Agama, yang kemudian memintanya tinggal di Jakarta.

Setelah itu pada bulan Desember 1987 ia mengikuti pendaftaran kepegawaian sebagai dosen IAIN Jakarta.

Bulan Maret tahun berikutnya SK kepegawaiannya sudah keluar.

Pada tahun 1989 ia dipercaya oleh IAIN Jakarta untuk memikirkan dan merintis sebuah jurusan baru, Jurusan Tafsir Hadits.

Ia pun menyusun kurikulum dan silabusnya, dan tahun 1990 ia pun diangkat sebagai ketua jurusan itu.

Jurusan Tafsir Hadits, yang berada di bawah Fakultas Ushuluddin, terus ia kembangkan hingga menjadi salah satu jurusan yang paling diminati di IAIN itu. Tak mengherankan bila rata-rata lulusan IAIN Jakarta yang terbaik berasal dari jurusan tersebut.

Setelah lama menjabatnya, pada tahun 1998 ia memutuskan untuk berhenti sebagai ketua jurusan dan berniat mengajar saja di jurusan itu. Namun, ia justru mendapat jabatan baru, sebagai direktur Pascasarjana IAIN Jakarta, setelah direktur sebelumnya, Prof. Dr. Harun Nasution, meninggal dunia di akhir tahun 1998. Ia diangkat melalui SK Menteri Agama tertanggal 25 Agustus 1999. Jabatan ini masih tetap dipegangnya sampai saat ia menjabat menteri agama pada Kabinet Gotong Royong 2001-2004.

Pada tahun 2000 ia dikukuhkan menjadi guru besar IAIN Jakarta. Pengukuhannya dilakukan 17 Maret 2001.

Selain menjadi dosen tetap di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia juga mengajar di berbagai perguruan tinggi, antara lain sebagai dosen Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Sumatera Utara, IAIN Sunan Ampel Surabaya. Jadi, kesibukan sebagai seorang dosen merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya, baik sebelum maupun sesudah menjabat menteri.

Saat menjabat menteri, setiap Jum’at dan Sabtu, ia masih menyempatkan diri mengajar program pascasarjana di berbagai perguruan tinggi di berbagai kota dengan dibantu asisten.

Salah satu kepakaran Habib Said Agil yang sangat diakui orang adalah dalam bidang tilawah Al-Quran. Di usia yang masih muda, sebelum berangkat menimba ilmu di Arab Saudi, ia telah dikenal sebagai seorang qari andal tingkat nasional.

Sesungguhnya bakat itu telah tampak jauh sebelumnya. Di usia empat tahun ia sudah khatam Al-Quran, dan setahun setelah itu telah menjadi qari cilik yang sering dibawa ke mana-mana membaca Al-Quran.

Habib Said Agil mengaku tidak pernah berpikir dan membayangkan menjadi seorang menteri. Selama ini ia hanya berpikir dan mengabdi sebagai seorang akademisi yang menekuni ilmu, di samping menjalani berbagai aktivitas lain, di antaranya sebagai muballigh dan ustadz, yang aktif menyampaikan pesan-pesan keagamaan di berbagai kesempatan, termasuk di layar kaca.

Habib Said Agil dikenal sebagai tokoh moderat yang dapat diterima berbagai kalangan. Sikap dan pendiriannya jelas tergambar dari pemikiran-pemikirannya. Ia mengatakan, agama merupakan benteng spiritual dan moral. Orang yang beragama setiap bertindak selalu berangkat dari basis hati nurani. Setiap melangkah dan melakukan sesuatu senantiasa bertanya kepada hati nurani yang didasari ajaran agama yang dianutnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya orang mendalami agama. Jika mengenal agama secara mendalam, ia akan memiliki sikap toleransi, tidak merasa benar sendiri. Karenanya selama menjabat menteri agama, di antara usaha yang giat dilakukannya adalah mengembangkan dan menyuburkan kerukunan antarumat beragama. Kemudian menumbuhkembangkan forum-forum dialog antarumat beragama.

Penulis Produktif

Meski sibuk dengan berbagai aktivitas, Habib Said Agil masih menunjukkan kelebihannya yang lain, menghasilkan karya-karya tulis yang berbobot. Bahkan ia tergolong penulis yang produktif, baik dalam bentuk buku, artikel, maupun makalah seminar. Di antara buku-buku yang pernah dihasilkannya adalah I`jaz Al-Qur’an dan Metodologi Tafsir; Ushul Fiqh, Sejarah dan Suatu Pengantar; Ilmu Takhrij Hadits, Sejarah dan Suatu Pergantar; Perkembangan Hukum Islam Madzhab Syafi`i: Studi Qaul Qadim dan Qaul Jadid; Dimensi-dimensi Kehidupan dalam Perspektif Islam.

Karya-karya ilmiah di bangku kuliahnya adalah Naql Ad-Dam wa Atsaruhu fi Asy-Syariah Al-Islamiyyah (skripsi S1, 1977), Al-Khamru wa Dhararuhu fi Al-Mujtama` Al-Insani (Skripsi S1 di Universitas Islam Madinah, 1979), An-Nadb wa Al-Karahah (Tesis S2, Universitas Ummul Qura, Makkah, 1983), dan Tahqiq Kitab Hawi Al-Kabir li Al-Mawardi (disertasi doktor, Universitas Ummul Qura, Makkah, 1987). Selain menulis buku, artikel, dan makalah seminar, ia pun telah menerjemahkan lebih dari 25 kitab berbahasa Arab.

Dalam kesehariannya, ia pun tak pernah meninggalkan tradisi yang dipelihara para habib dan ulama pada umumnya, yakni membaca wirid dan dzikir. Setiap hari ia tak lupa membaca al-wirdul-lathif, berbagai hizib, juga amalan-amalan yang terdapat dalam kitab Syawariq Al-Anwar, karya Sayyid Muhammad Al-Maliki.

Menyongsong Hari Baru

Sesukses apa pun seseorang, tak selamanya hanya mengalami hal-hal yang menyenangkan. Begitulah pula dengan dirinya. Ia menyadari, Allah-lah yang mengatur segala yang terjadi di dunia ini.

Ketika menghadapi hal-hal yang sulit, ia selalu membaca lâ ilâha illa anta, subhânaka innî kuntu minazh-zhâlimîn 41 kali setiap selesai shalat. Selain itu, membaca Ya Lathif 450 kali setelah shalat. Setiap malam ia pun tak lupa bertawasul kepada Rasulullah, orangtua, kakek, nenek, dan para gurunya. Setelah itu barulah ia tidur, mengkhiri harinya untuk menyongsong hari yang baru.

AY

http://majalah-alkisah.com

Posted by: Habib Ahmad | 5 Disember 2010

CD Qosidah Habib Syeh bin Abdul Qodir Assegaf Volume 8

CD Qosidah Habib Syeh bin Abdul Qodir Assegaf Volume 8

CD ini berisi audio lantunan qosidah nan merdu. Dilantunkan oleh sang pemilik suara emas, Al-Habib Syeh bin Abdul Qodir Assegaf – Solo, pimpinan majlis Ahbabul Musthafa.

Pada volume 8 ini terdapat tujuh lantunan qosidah:

1. Yaa Hanaan

2. Laa Ilaaha Illallah
3. Maddada
4. Nurul Musthafa
5. Anta Naskhah
6. Ya Thayyibah
7. Ya Rasulullah Ya Ahlul Wafak

Mendengarkannya serasa kita dibawa terbang menuju taman-taman cinta keatas manusia pilihan, kekasih Allah, baginda Muhammad SAW

http://www.kiosislami.com/


Pengajian Bulanan Bersama Syaikh Ahmad Fahmi Zamzam An-Nadwi Al-Maliki

Masa 05hb Disember · 7.00 ptg – 10.00 ptg

——————————————————————————–

Lokasi Pusat Pengajian Baalwi Kuala Lumpur

Posted by: Habib Ahmad | 4 Disember 2010

SAYIDINA ALI DAN HASAN BASRI

SAYIDINA ALI DAN HASAN BASRI

Hasan Al-Basri berkata – Barangsiapa yang mencintai Allah akan menganggap dunia ini sebagai musuh dan barangsiapa yang mencintai dunia secara tidak langsung akan menjadi musuh kepada Allah

Bila kita kaji sejarah bagaimana peranan masjid di zaman Rasulullah dan salafussoleh (300 tahun selepas Rasulullah), kita akan nampak betapa masjid telah mengambil peranan dan memberi jasa yang sangat besar pada pembangunan masyarakat Islam. Imam yang dipilih bukan sebarang imam. Guru yang mengajar bukan sebarang guru.

Ketika Sayidina Ali bin Abu Talib k.w.j. yang menjadi khalifah masuk ke sebuah masjid besar, waktu itu masjid masih menjadi gudang ilmu, dilihat di setiap sudut ada kelompok-kelompok pengajian. Guru-guru yang mengajar di waktu itu adalah tokoh-tokoh besar di zamannya. Sayidina Ali bertanya untuk menguji setiap ulama atau guru yang mengajar di masjid itu. Banyak yang tidak dapat menjawab pertanyaan Sayidina Ali itu. Padahal pertanyaannya mudah saja iaitu ,”Apa yang merosakkan manusia.” Maka beliau sebagai khalifah, orang yang paling bertanggung jawab dalam mendidik masyarakat berkata,” Engkau tidak layak untuk mengajar”.

Di salah satu sudut masjid dia lihat seorang anak berusia 12 tahun yang sedang mengajar. Padahal yang sanggup mengajar di masjid waktu itu bukan sebarang orang. Sebagai guru, tempat duduk dia lebih tinggi dari murid-muridnya yang duduk di lantai beralaskan karpet. Bukan sekadar untuk menghormati guru tetapi juga untuk memuliakan ilmu. Murid-murid yang mendengar kuliah anak itu sudah tua-tua.

Sayidina Ali terkejut melihat anak kecil itu lalu berkata,”Saya ingin bertanya satu pertanyaan, kalau engkau dapat menjawabnya, maka engkau boleh terus mengajar, kalau tidak engkau tidak layak untuk mengajar di masjid ini. Pertanyaan saya adalah apa yang merosakkan manusia?” Anak kecil itu menjawab, ”Yang merosakkan manusia ialah kerana cintakan dunia.” Sayidina Ali terkejut mendengarnya kerana jawapan itu betul, cinta dunia merupakan ibu kejahatan.

Rupanya anak yang berusia 12 tahun itu ialah Hassan Al Basri seorang tokoh yang menjadi besar akhirnya. Bahkan dia salah seorang imam mazhab, tetapi hari ini ajarannya sudah banyak hilang dan dilupakan orang. Kalau kita sebut Hassan Al Basri, kebanyakan orang akan kenal, umur 12 tahun sudah dikagumi orang dan sudah mengajar. Di antara orang yang mendengar kuliahnya adalah Sahabat Rasulullah.

Peristiwa ini untuk menggambarkan peranan masjid yang sebenarnya dalam Islam. Masjid merupakan sumber segala kebaikan. Untuk mengkaderkan dan melahirkan pemimpin, didikan bermula di masjid, untuk menjadi pejuang dibina di masjid. Tetapi setelah dunia Islam rosak, lebih-lebih lagi setelah kejatuhan empayar Islam, umat Islam dijajah pula, selepas itu merdeka setelah 700 tahun rosak, maka peranan masjid sudah tidak ada, sekadar tempat solat dan belajar membaca Al Quran sahaja.

Di akhir zaman ini, kalau hendak membangunkan Islam jangan bermula di masjid tetapi berperananlah di pasar, di restoran, di tengah-tengah orang ramai, rapat dengan pemuda-pemudi, kalau boleh buat di hotel-hotel, gedung-gedung besar, bangunan-bangunan besar.

Sumber : http://kisahteladan

Posted by: Habib Ahmad | 4 Disember 2010

Kisah Keluarga Suci Sayyidah Fatimah

Kisah Keluarga Suci Sayyidah Fatimah : telah tiga hari lamanya dirumah kami tidak terdapat makanan
Published on July 21, 2010 in Mencintai Rasullullah dan Ahlul Bait and Artikel Islam. 1 Comment
Pada suatu hari, Rasulullah saww datang ke rumah Fatimah. Beliau Saww melihat putrinya itu dlm keadan bersedih berlinang air mata. Rosul saw bertanya : “ Wahai permata hatiku ! mengapa engkau bersedih dan menangis?”

Fatimah menjawab,”Wahai Rasulullah ! ini hanyalah sekedar berita bukan pengaduan; telah tiga hari lamanya dirumah kami tidak terdapat makanan. Dan Al-Hasan serta Al-Husein telah berada dlm keadan lemah ; tidak bertenaga karena menahan lapar. Dan hari ini mendengar keduanya mengucapkan kata-kata yang dalam hal ini saya tak mampu mngungkapkannya kepada Anda.”

Rasulullah saww bertanya, “Apa yang telah mereka katakan?” Fatimah menjawab, “Mereka berkata , ‘Apakah didunia ini ada anak yang kelaparan seperti kita?’ dan tatkala saya mendengar kata-kata ini dari lisan mereka, maka saya merasa seakan-akan dunia ini gelap gulita.”

Kemudian , Fatimah a.s berkata , “Wahai ayah! Apakah seorang hamba, dalam bermunajat kepada ALLah, dibenarkan untuk mengeluhkan kesulitan yang tengah menimpanya?” Rasulullah saw menjawab, “Wahai putriku ! ketahuilah bahwa Allah Swt amat menyukai keluh-kesah hamba-Nya.”

Sayyidah Fatimah segera bangkit dan masuk kekamar, kemudian menunaikan shalat dua rakaat. Setelah selesai menunaikan salat dan mengungkapkan keperluannya, dia berkata, “ Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa para wanita tidak memiliki kekuatan dan ketegaran sebagaimana para Nabi; ayah saya mampu untuk menahan lapar , tetapi saya tidak mampu bertahan . Berilah kekuatan kepada saya atau bebaskanlah saya dari kesulitan dan penderitaan ini.”

Setelah mengungkapkan kalimat ini, Sayyidah Fatimah jatuh pingsan. Dalam pada itu, Jibril a.s datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, bangkitlah ! Rintihan Fatimah membuat para malaikat menjerit.”

Rasulullah saww pun menyaksikan Sayyidah Fatimah dalam keadaan pingsan. Beliau saw duduk, lalu mengangkat kepala Sayyidah Fatimah dan meletakkan(nya) ditangan beliau saww. Dan tatkala beliau Sayyidah Fatimah mencium aroma harum Rasulullah saww, diapun tersadar dan berdiri serta menundukkan kepala.

Rasulullah saw berdiri dan meletakkan tangan suci beliau saw ke dada Sayyidah Fatimah dan berkata, “Ya Allah selamatkan dia dari pedihnya rasa lapar.”
Sayyidah Fatimah berkata, “Berkat doa itu, aku sama sekali tidak pernah merasa lapar.”

Sumber Catatan Facebook

Posted by: Habib Ahmad | 4 Disember 2010

Manakib Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa

Manakib Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa

Imam Ahmad al-Muhajir adalah ahlul bait Rasulullah SAW yang pertama kali hijrah ke Hadramaut demi menyelamatkan agama dari fitnah di Bashrah / Iraq.

Jika tujuan Beliau hanya ingin memakmurkan anak-cucu dan keturunannya, tentu, bukanlah Hadramaut menjadi tujuan hijrahnya. Tapi, terbukti pilihan Beliau sangat tepat: dari tanah tandus itu, mau tidak mau, keturunannya menyebar ke seantero Nusantara membawa kebenaran Islam. Manakib ini secara ilmiah membuktikan hubungan darah Rasulullah SAW dengan keturunannya di Nusantara melalui nasab mulia al-Imam al-Muhajir

Perjalanan hidup dan perjungan Beliau sangat penting untuk diketahui, karena Beliaulah datuk para aulia dan para da’i di Indonesia pada umumnya.

Habib Ali Zainal Abidin AlKaf: Istighfar, Kiat Sukses Dunia-Akhirat
“Coba kita umpamakan istighfar ini, demikian juga wiridan yang lainnya, seperti bensin bagi kendaraan kita atau seperti pekerjaan yang kita jadikan sebagai profesi …”

Ada yang lain di kantor alKisah pada siang menjelang sore hari Kamis (18/11). Sejak pukul 14.30 WIB, di ruang utama, beberapa remaja dengan mengenakan pakaian putih-putih dan sarung, yang menjadi ciri khas anak-anak majelis ta`lim, khususnya di Jakarta, terlihat duduk-duduk sembari bercanda ringan dengan senyum yang sumringah terpancar dari wajah mereka. Di tengah-tengah mereka, seorang habib muda dengan wajah yang sejuk terlihat mengulang-ngulang syair dengan gaya khasnya. Dialah Habib Muhammad Zed Al-Habsyi, tamu alKisah yang datang untuk sesi pengambilan gambar pembacaan Maulid Simthud Durar, buah karya Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi.

Untaian shalawat yang diiringi rampak pukulan hadrah yang merdu, yang ditabuh oleh santri-santri binaan Habib Muhammad Zed Al-Habsyi, terdengar penuh semangat hingga berkumandang adzan ashar bersahutan di cakrawala Jakarta. Udara yang semula terasa panas oleh terik matahari siang menjadi sejuk disertai semilir angin sepoi-sepoi yang menggerakkan dahan-dahan dan dedaunan pohon-pohon hias yang tertata rapi di halaman kantor.

Satu per satu, jama’ah setia Zawiyah alKisah pun berdatangan memenuhi ruang utama. Senda gurau kecil dan senyum riang terlihat menghiasai wajah-wajah mereka. Kegembiraan Hari Raya Qurban masih terlihat jelas dari raut wajah mereka yang tampak antusias menyaksikan pengambilan gambar Habib Muhammad Zed Al-Habsyi.

Menjelang pukul 16.00, waktu ta`lim Zawiyah alKisah, sesi pengambilan gambar dihentikan untuk sementara. Sosok yang dinanti-nanti pun datang di tengah-tengah majelis. Dialah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdullah Al-Kaf.

Habib Ali Zaenal Abidin Al-Kaf adalah figur yang ramah, humoris, dan rendah hati. Taushiyah yang diberikannya sering membuat yang mendengarkan menjadi tergugah dan tersentuh. Suaranya yang empuk dengan pembawaan yang bersahaja membuat dia menjadi tokoh yang cepat akrab dengan siapa saja.

Komitmennya untuk anak yatim dan kaum dhu’afa tidak diragukan lagi. Putra Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaf ini membaktikan seluruh hidupnya untuk mengajar, memberdayakan, dan melayani anak yatim dan dhu’afa yang menjadi binaannya di Pesantren Riyadhul Jannah, di Gang Buluh, Condet, Jakarta Timur.

Habib Ali Al-Kaf lahir di Tegal pada 18 Oktober 1967 dari pasangan Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaf dan Umi Syarifah Amar binti Agil Al-Atas.

Habib Ali menempuh pendidikan di Al-Azhar, Mesir, dari tahun 1987 sampai 1993. Sebelum melanjutkan studi ke Mesir, ia mendapat pendidikan agama dari ayahnya dan beberapa pesantren di Pulau Jawa, di samping sekolah umum di Tegal.
Setelah dibuka dengan pembacaan Al-Fatihah dan Wirdul Lathif, yang menjadi wiridan tetap Zawiyah, pembawa acara langsung mendaulat Habib Ali untuk memberikan taushiyah:

Mengenali Diri Sendiri

Dalam setiap ayat Al-Quran terkandung rahasia. Demikian pula hadits Nabi SAW. Rahasia-rahasia tersebut, ada yang kita mengerti, tapi ada pula yang tidak kita mengerti. Ada yang kita amalkan, tapi ada pula yang tidak.

Allah SWT sudah memberikan kepada kita ilmu tentang segala sesuatu untuk kehidupan kita yang seutuhnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Hakikat kehidupan kita adalah untuk beribadah. Allah SWT berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56). Lalu untuk apa kita sibuk untuk urusan-urusan yang di luar ibadah?

Kalau ingin berhasil dalam hidup, jadilah manusia yang beribadah kepada Allah. Ibadah dalam artian yang luas, yaitu segala aktivitas yang mengandung kebaikan.

Itulah sebabnya, kita harus mengenali diri kita sendiri. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”

Mengapa hidup kita sengsara, bencana silih-berganti, negara kita tak henti-hentinya dilanda musibah? Tak lain karena kita tidak mengenal diri kita sendiri, kita tidak menempatkan diri kita pada posisi semestinya.

Andaikan masing-masing kita sadar diri untuk mematuhi peraturan yang ada, tentu semuanya akan berjalan lancar, aman, dan teratur.

Bila kita tidak sadar diri, tidak mengenali diri kita sendiri, kehidupan kita akan sama halnya seperti binatang. Segala sesuatunya harus menggunakan kekerasan.

Jika ingin hidup bahagia, sukses dunia akhirat, ikuti jalur yang Allah tunjukkan kepada kita. Yakni Al-Quran, yang juga dijelaskan oleh Nabi SAW dalam sunnahnya.

Lantas, mana di antara ayat yang simpel tetapi mengandung seluruh aspek kebutuhan kehidupan manusia.
Allah SWT berfirman:

اِسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ أَنْهَارًا.(سورة نوح:10-12

“…Mohon ampunlah kepada Tuhan kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan kebun-kebun untuk kalian dan mengadakan sungai-sungai untuk kalian.” (QS Nuh: 10 -12).

“Mohon ampunlah (beristighfarlah) kalian kepada Tuhan kalian”, yaitu kepada Allah SWT, “sesungguhnya Dia Maha Pengampun”, artinya bukan semata-mata Allah memerintahkan kita untuk beristighfar, melainkan Allah juga berjanji akan menerima istighfar kita, mengampuni kita atas semua dosa kita.

Semua ibadah pasti ada syaratnya. Kita melaksanakan ibadah haji belum tentu diterima, kita menjalankan shalat belum tentu diterima. Namun di saat kita beristighfar, Allah mengatakan, “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” Artinya, pasti dosa-dosa kita akan dihapuskan oleh Allah SWT.

Coba perhatikan, Allah tidak mengatakan “akan mengampuni”, karena, bila Allah mengatakan demikian, pastilah istighfarnya akan dinilai. Apakah benar istighfarnya, sungguh-sungguh ataukah tidak, dan sebagainya. Akan tetapi Allah mengatakan, “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” Artinya, pasti Allah akan menerima istighfar kita, bagaimanapun kondisi dan keadaan kita. Asalkan kita benar-benar pandai beristighfar, Allah pasti menerima istighfar kita, karena Dia “Ghaffar”, Maha Pengampun.

Jika kita sudah diampuni oleh Allah, lantas apa lagi yang kita inginkan? Bukankah yang paling kita takuti adalah dosa-dosa kita? Berapa banyak rizqi kita tersendat gara-gara dosa? Berapa banyak musibah, bencana, permasalahan dalam rumah tangga, pekerjaan, dan sebagainya, ujung-ujungnya adalah akibat dari dosa-dosa kita?

Bila Allah sudah menjanjikan kepada kita akan mengampuni dosa-dosa kita, pertanyaannya, apa lagi yang mau kita cari? Dosa dihapuskan, berarti masalah kita dan urusan kita kepada Tuhan selesai. Segala rintangan, masalah, musibah, dan sebagainya selesai, terbebaskan.

Karena Allah Mencintai Kita

Mungkin ada orang bertanya, bagaimana kalau kita sudah banyak-banyak istighfar tetapi masih ada saja musibah yang menimpa kita?

Jawabannya, itu bukan bencana, bukan musibah, tetapi sekadar cobaan, karena Allah mencintai kita. Karena, bila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memberi hamba itu cobaan, dan cobaan itu bukan sekadar numpang nyoba, melainkan itu adalah rahasia Ilahi.

Misalnya seseorang ingin punya anak, lalu belum Allah berikan, berarti Allah sedang mencobanya agar bila ia lulus dari cobaan itu ia akan bisa menghadapi cobaan-cobaan lainnya.

Dalam firman tersebut Allah SWT telah menjanjikan ampunan kepada kita. Ini maknanya, dalam hidup kita ini, pastilah kita tidak mungkin akan terlepas dari dosa dan kesalahan. Dan bila kita ingin kembali kepada kondisi hakikat kita diciptakan, yaitu menyembah Allah, sebagai hamba Allah yang beribadah, satu jalur yang paling utama adalah istighfar, memohon ampun kepada Allah, karena pasti Dia akan mengampuni kita atas segala dosa dan kesalahan kita.

Andaikan ayat ini hanya sampai di sini, niscaya sudah cukup bagi manusia. Namun Allah sangat memahami makhluk yang bernama manusia, keinginan-keinginannya. Bila seseorang sudah mempunyai A, tentu ia menginginkan B. Jika B sudah ia dapatkan, pasti ia menginginkan C, dan seterusnya, meskipun pada akhirnya ia akan menginginkan sesuatu yang semula itu.
Kado, misalnya, di dalamnya tentu ada isisnya. Perhatikanlah, kado tersebut diberi kardus, dibungkus dengan kertas sampul yang indah, diberi pita kanan-kirinya, dihiasi, dan seterusnya, namun pada akhirnya semua pernak-pernik tersebut dirobek dan dibuang, dan kemudian hanya diambil isinya.

Demikianl juga dalam kehidupan kita. Ampunan Allah SWT adalah inti dari segala sesuatu yang kita cari di dunia ini. Tapi Allah Maha Mengetahui keadaan kita, sifat-sifat kita, itulah sebabnya Allah memanjakan kita, manusia.

Allah menjelaskan kepada kita dengan bahasa kasih sayang dan penuh pengertian. Setelah Allah mengatakan “Dia Maha Pengampun”, Dia mengatakan, “Yursilis-sama’a midrara (Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit).” Maksud langit dalam ayat ini adalah hujan, maksud hujan adalah air, dan maksud air adalah sumber kehidupan. Maknanya, bila seseorang banyak-banyak beristighfar, menjadi ahli istighfar, Allah akan memberikan kepadanya kehidupan yang sesungguhnya. Semakin banyak istighfar, semakin hidup ia dengan kehidupan yang sesungguhnya, makin menikmati hidup, makin bahagia dalam hidupnya.

Kemudian Allah melanjutkan dengan firman-Nya, “dan Dia memperbanyak harta.” Allah menggunakan kata yumdidkum, yang artinya menyodorkan. Maknanya, siapa yang banyak-banyak beristighfar kepada Allah, pasti akan Allah limpahkan kepadanya kekayaan harta benda yang banyak.

Namun bukan berarti kita diam saja di rumah dan meninggalkan usaha. Melainkan segala jalan untuk mendapatkan harta benda akan mengalir dengan sendirinya, karena Allah akan mempermudah jalannya.

Jadikan pekerjaan dan usaha kita hanya sebatas ikhtiar. Jangan sampai meyakini bahwa pekerjaanlah yang akan menjamin rizqi kita. Bekerjalah semaksimal mungkin, namun yakini bahwa yang akan menjamin rizqi kita adalah Allah SWT.

Lalu Allah melanjutkannya dengan menjanjikan, “dan anak-anak kalian dan mengadakan kebun-kebun untuk kalian dan mengadakan sungai-sungai untuk kalian.” Allah menjanjikan akan mengaruniai anak-anak sebagai pelengkap kebahagiaan hidup kita. Mengapa Allah menyebutkan anak, bukan istri-istri, di antaranya adalah karena, bila seseorang Allah karuniai anak, pastilah telah berikan kepadanya pendamping-pendamping hidup.

Kemudian Allah menjanjikan jannat, kebun-kebun, yang maknanya adalah ketenteraman dalam hidup. Hidupnya menjadi ketenteraman, hartanya menjadi ketenteraman, anak-anaknya menjadi ketenteraman, dan demikian pula pendamping-pendamping hidupnya menjadi ketenteraman baginya.

Setelah itu Allah pun menjanjikan sungai-sungai yang mengalir, yang maknanya adalah sumber kehidupan yang berkesinambungan. Ia tidak pernah merasa khawatir akan kekurangan.

Itulah sebabnya, semua rangkaian kebutuhan dalam kehidupan ini, baik di dunia maupun di akhirat, terdapat dalam istighfar. Demikianlah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa melazimkan istighfar, niscaya Allah akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesempitan, kesenangan dari setiap kedukaan, dan memberinya rizqi dari jalan yang tidak diduga-duga.”

Dalam hadits ini Nabi SAW menjanjikan tiga hal yang juga menjadi kebutuhan manusia, yaitu jalan keluar, kesenangan, dan rizqi.
Sebelum ditutup, saya ingin menganjurkan kepada jama’ah (dan semua kaum muslimin) untuk mengamalkan dua istighfar berikut, masing-masing dibaca 100 kali pada pagi dan malam hari menjelang tidur, yaitu:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
Rabbighfir li wa liwalidayya

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan juga kedua orangtuaku.”

Adapun caranya, setiap 10 kali membaca istighfar di atas, bacalah:

وَارْحَمْهُمَا كَمَارَبَّيَانِي صَغِيْرًا
Warhamhuma kama rabbayani shaghira.

“Dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu aku kecil.”

Adapun istighfar yang kedua adalah sebagai berikut:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْني وَتُبْ عَلَيَّ
Rabbighfir li warhamni wa tub `alayya

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, dan berilah taubat kepadaku.”

Insya Allah, dengan mengamalkan istighfar ini, kita akan mendapatkan segala apa yang Allah janjikan dalam ayat tersebut.

Jangan Melampaui Dosis

Setelah Habib Ali menutup taushiyahnya, dua jama’ah pun mengajukan pertanyaan.

“Bib, bagaimana kiat untuk mengatasi rasa malas dalam menjalankan wiridan kita?” tanya Bapak Adi, jama’ah setia Zawiyah alKisah dari Tanggerang.

“Ada dua hal yang dapat membuat kita malas dalam mengamalkan suatu wiridan, demikian juga ibadah lainnya. Yaitu, pertama, kelebihan dosis, melebihi yang semestinya, atau melakukannya dengan ukuran yang di luar kemampuan kita. Kedua, belum menjadikannya sebagai kebutuhan hidup. Coba kita umpamakan istighfar ini, demikian juga wiridan yang lainnya, seperti bensin bagi kendaraan kita atau seperti pekerjaan bagi profesi kita. Dapatkah kita seenaknya mengisi atau tidak mengisikannya bagi kendaraan kita, atau semau kita tidak masuk kerja? Tentu kendaraan kita tidak akan berjalan, dan kita pun pasti akan dipecat bila seenaknya meninggalkan tugas kita.”

“Bib, puasa Senin-Kamis kami jalani, shalat-shalat sunnah kami lakukan, namun demikian rizqi kami tetap terasa seret dan biasa-biasa saja. Bagaimana ini?” tanya Gunawan, jama’ah yang lain dari Cengkareng.

“Jawabanya sama, lazimkanlah istighfar dan istiqamah. Jangan bersandar pada pekerjaan kita, tetapi dekatilah Allah, pasti Allah memudahkan segala urusan dan usaha kita.”

Sumber : Majalah Al Kisah

Posted by: Habib Ahmad | 4 Disember 2010

Apa Hukum Mengamalkan Hadist Do-if

Apa Hukum Mengamalkan Hadist Do-if
Adakah batasan tertentu untuk melaksanakan hadist yang dikatakan do-if? Jawab Para ulama memperbolehkan mengamalkan isi hadist do-if dengan syarat-syarat sebagai berikut : 1. Apabila pada selain sifat-sifat Allah SWT 2. Apabila selain tentang tafsir Quran 3. Apabila ke-do-ifannya tidak terlalu parah 4. Hendaknya sesuai dengan salah satu kaidah-kaidah umum syariah 5. Hendaknya tidak berseberangan dengan hadist sohih atau ijma’ Adapun bab-bab yang diperbolehkan untuk mengamalkan hadist do-if antara lain : 1. Keutamaan-keutamaan amal ibadah 2. Manaqib (profil tokoh) 3. Kehati-hatian dalam beramal ibadah 4. Hal-hal yang bisa diterima oleh umat islam 5. Hadist-hadist do-if yang di dukung isinya oleh hadist-hadist lain.

Posted by: Habib Ahmad | 4 Disember 2010

Maahad Darul Hadith: Mengkader generasi muhaddith!

Maahad Darul Hadith: Mengkader generasi muhaddith!

Penubuhan Maahad Darul Hadith telah diilhamkan oleh Al Marhum Ustaz Hj. Suhaimi b.Hj Ahmad Al-Aydrus, pengasas kelas pengajian hadith PAKSI sejak dari tahun 1993. Buat julung kalinya, lembaga tadbir Maahad Darul Hadith membuka peluang kepada para pencinta ilmu untuk mengikuti pengajian di Darul Hadith yang diuruskan oleh Yayasan PAKSI secara sepenuh masa dengan system talaqqi dan hafalan ilmu-ilmu asas dirasat islamiyyah wal arabiah dan seterusnya mengikuti pengajian dauratul hadith yang akan dibimbing oleh barisan guru-guru yang mursyid dan mempunyai kepakaran dalam sistem pengajian turath dan bersanad.

Almarhum Ustazuna,Ust.Hj Suhami b.Hj Ahmad Al Aydrus

Perasmian tapak kompleks Darul Hadith telah disempurnakan oleh Syeikhuna, Syeikh Nuruddin Al Banjari Al Makki pada 8 September 2006 dan majlis pelancaran Maahad Darul Hadith pula telah disempurnakan oleh Al-Allamah al Muhaddith Sayyid Muhammad Ibrahim Abdul Baith Al Husaini Al Kattani bersama Al Fadhil Syeikh Nuruddin Marbu Al Banjari Al Makki pada 15 Oktober 2010 (Jumaat) baru-baru ini.

Penasihat Kehormat Maahad Darul Hadith, Yayasan PAKSI

Objektif penubuhan Maahad Darul Hadith:

-Melahirkan pelapis ulama’ yang belajar, mengembangkan dan menyebar luaskan hadith dan ilmu hadith dan berusaha untuk melahirkan golongan Muhaddith.
– Memberi ilmu-ilmu Islam kepada masyarakat setempat dan ummah
– Berusaha memelihara system pengajian turath
– Membuka peluang dan ruang kepada orang ramai untuk sama-sama membuat kebajikan dan amal jariah.

Bidang Pengajian Maahad Darul Hadith merangkumi Dirasat Islamiah dan Ulumul hadith dengan dua kaedah pengajian:

– PROGRAM MUNTAZIM (JANGKA PANJANG)

Kelas pengajian dauratul hadith (tetap) mengambil masa selama 3-6 tahun dengan memastikan pelajar mengikuti dan menghabiskan kitab-kitab yang ditetapkan. Pelajar akan melanjutkan pengajian ke Timur tengah.

– PROGRAM MUNTASIB (JANGKA PENDEK)

– Menjalankan kuliah tetap mingguan pada setiap hari Jumaat dan cuti sekolah
Program tafaqquh bagi memahami serta menerima sanad beberapa buah kitab hadith muktabar dalam jangka masa yang ditetapkan
-Program remaja- Memberi kefahaman dan penghayatan Islam kepada remaja

Syarat Kemasukan:

Berumur 13 Tahun ke atas
Menguasai bacaan Al-Quran dan teks arab
Mempunyai asas B.Arab (Nahu/ Sorof)
Menguasai penulisan melayu dan Arab
Berminat menghafaz Al-Quran dan hadith
Mampu mengikuti sepenuhnya pengajian

Yayasan PAKSI membuka peluang kepada masyarakat untuk merebut peluang beramal jariah, menyumbang zakat untuk pembinaan, penyiapan prasarana disamping menampung perbelanjaan bulanan yang dianggarkan melebihi RM 20,000

Sementara kompleks Maahad Darul Hadith siap sepenuhnya, kelas akan dijalankan di Masjid Akar Peluru, Jalan Pegawai Alor Setar.

Sebarangan sumbangan boleh disalurkan kepada:

PUSAT PENGAJIAN DARUL HADITH
Akaun BIMB atas nama Yayasan PAKSI
No. 02011010098651 (BIMB Cawangan Alor Setar)

Sila hubungi untuk keterangan lanjut:
017-5039399 (Cikgu Sukarno)
019-5430269 (Ustaz Zainul Asri)
017-4709002 (Setiausaha)
http://hadis-centre.blogspot.com/

Rauhah al-Imam al-Habib ‘Abdullah al-Haddad: Memberi Perhatian Ketika Khatib Membaca Khutbah

Quthbul Da’wah wal Irsyad, Ghauts al-‘Ibaad wal Bilaad, al-Imam al-‘Allamah al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad رضي الله عنه, menyebut di dalam kitabnya Risalatul Mu’awanah wal Muzhaharah wal Mu’azarah:

(وعليك) بالتفرغ يوم الجمعة من جميع أشغال الدنيا، واجعل هذا اليوم الشريف خالصاً لآخرتك، فلا تشتغل فيه إلا بمحض خير ومجرد الإقبال على الله، وأحسن المراقبة لساعة الإجابة وهي ساعة تكون في كل يوم جمعة لا يوافقها مسلم يسأل الله فيها خيراً ويستعيذه من شر إلا استجاب الله له.

Dan atas engkau dengan mengosongkan pada hari Jum’at daripada sekelian pekerjaan dunia dan jadikan olehmu pada ini hari yang mulia bersih bagi akhirat.bagi kamu. Maka jangan engkau bekerja padanya melainkan semata-mata kebajikan dan semata-mata berhadap atas Allah Ta’ala. Dan elokkan olehmu akan mengintai-intai bagi sangat ijabah dan iaitu saat yang ada ia pada hari Jum’at, tiada muwafaqat akan dia [seorang] Muslim yang memohon akan Allah Ta’ala akan kebajikan dan meminta berlindung ia daripada kejahatan melainkan diperkenan Allah [hajat atau permintaannya] baginya.

(وعليك) بالبكور إلى الجمعة ولو أن تروح إليها قبل الزوال، وبالقرب من المنبر، والإنصات للخطبة، واحذر أن تشتغل عنه بذكر أو فكر، فضلاً عن اللغو وحديث النفس، واستشعر في نفسك أنك مقصود بجميع ما تسمعه من الوعظ والوصية واقرأ بعد السلام وأنت ثان رجليك وقبل أن تتكلم الفاتحة والإخلاص والمعوذتين “سبعاً سبعاً” وقل أيضاً بعد الانصراف من الصلاة سبحان الله العظيم وبحمده “مائة مرة” ففي الخبر ما يدل على فضل ذلك وبالله التوفيق.

Dan atas engkau dengan berpagi-pagi kepada Jum’at [maksudnya pergi awal menunaikan Jum’at] dan jikalau bahawa engkau pergi kepadanya sebelum [waktu] zawal dan dengan [duduk] hampir kepada mimbar dan mendengar akan khutbah. Dan takut olehmu akan bahawa berbimbang daripadanya dengan dhikir atau berfikir, lebih-lebih lagi daripada yang sia-sia dan haditsul nafsi [bicara diri yang tiada faedah]. [Maksudnya: Awas! Jangan sibukkan diri ketika khatib berkhutbah dengan berdhikir atau berfikir, berikan tumpuan kepada khutbah yang di baca]. Dan sedarkan olehmu pada hati kamu bahawa engkau maksud pada sekelian barang yang engkau dengar akan dia itu daripada wa’idz dan wasiat. [Maksudnya, hendaklah merasakan dalam diri bahawa apa yang didengari daripada segala nasihat dan pesanan oleh khatib yang berkhutbah itu di tujukan kepada dirimu]

Dan baca olehmu kemudian daripada salam padahal engkau lipat akan dua kaki engkau [yakni sebelum berubah duduk] dan sebelum daripada bahawa berkata-kata engkau akan Faatihah, dan surah al-Ikhlas, dan al-Mu’awwizatain [surah al-Falaq dan surah an-Naas] tujuh-tujuh kali. Dan baca pula olehmu pula kemudian daripada berpaling daripada sembahyang سبحان الله العظيم وبحمده 100 kali, kerana tersebut pada hadits barang yang menunjuki atas kelebihan demikian itu. وبالله التوفيق.

sekian dari
abu zahrah al-Qadahi
taman seri gombak
Jum’at, 28 Dhulqaedah 1431

Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2010

Dato Hassan Din @ Masjid Sri Damansara

Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2010

HIERARKI KEWALIAAN

HIERARKI KEWALIAAN

Syaikhul Akbar Ibnu Araby dalam kitab Futuhatul Makkiyah membuat klasifikasi tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut :

1. Wali Aqthab atau Wali Quthub
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.

2. Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bernama Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bernama Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.

3. Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kakbah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Haiyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdu Murid.

4. Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.

5. Wali Nuqoba’
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

6. Wali Nujaba’
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

7. Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair bin Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.

8. Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.

Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.

9. Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd,saw.

derajat Wali yang disandang sesorang itu adalah merupakan anugrah dari Alloh yang telah dicapai seorang hamba dalam mencari Hakekat Alloh ( Aripbillah). Bahkan ibadahnya seorang wali itu lebih utama dibandingkan dengan ibadahnya seorang Ulama yang A’lim.Kenapa demikian ? seorang Wali telah mencapai hakekat Alloh sedangkan seorang ulama baru tahap mencari jalan untuk mencapai hakekat Alloh.

Dan Dr yg kesembilan tersebut diatas dikuasi atas 1 orang wali
dan beliau adalah SULTHONU AULIYA SYAIKH ABDUL QODIR AL JILANY
Atau sering kita kenal dgn Sultannya para wali / Rajanya Para wali . . .
dan beliau masih keturunan dr Baginda Rosulullah SAW
dr pernikahan Putri beliau dgn sahabat ALi K.W

“Alaa inna auliya allah laa khoufun alaihim walaa hum yahzanun”
ketahuilah sesungguhnya wali2 allah itu tak akan pernah takut dan takkan pernah sedih

Permohonan Kemasukan Ke Sekolah Berasrama Penuh (SBP) Tingkatan 1 Tahun 2011

Para pelajar Tahun 6 atau Darjah 6 sekolah kebangsaan yang akan menduduki UPSR 2010 dan berminat untuk memasuki Tingkatan 1 di Sekolah Berasrama Penuh (SBP) pada tahun 2011 adalah dipelawa untuk membuat permohonan sekarang. Ketika ini terdapat 53 buah SBP di seluruh negara yang menyediakan tempat untuk pelajar Tingkatan 1.

Aliran

Kementerian Pelajaran Malaysia menyediakan dua aliran Sekolah Berasrama Penuh iaitu aliran sains dan aliran agama. Setiap aliran SBP ini menawarkan sedikit perbezaan pakej mata pelajaran. Ketika ini terdapat 39 buah SBP aliran Sains dan 14 buah SBP aliran Agama di seluruh negara.

Pakej Mata Pelajaran

Pakej mata pelajaran yang ditawarkan untuk setiap aliran adalah seperti berikut;

Sains
Bahasa Melayu, English, Science, Mathematics, Sejarah, Geografi, Kemahiran Hidup, Pendidikan Islam/ Moral, Bahasa Antarabangsa (Arab/ Jepun/ Jerman/ Perancis/ Mandarin)

Agama
Bahasa Melayu, English, Science, Mathematics, Sejarah, Geografi, Kemahiran Hidup, Pendidikan Islam/Moral, Bahasa Arab (Komunikasi), Bahasa Antarabangsa (Jepun/ Jerman/ Perancis/ Mandarin)

Permohonan SBP Tingkatan 1 2011

1. Permohonan Kemasukan ke Sekolah Berasrama Penuh Tingkatan 1 2011 ini perlu dibuat dengan mengisi borang secara online di portal permohonan atas talian yang disediakan oleh Kementerian Pelajaran Malaysia.

2. Pemohon dikehendaki mencetak Borang Permohonan ini sebanyak dua salinan. Salinan pertama perlu dihantar kepada guru besar sekolah asal pemohon dan salinan kedua dihantar kepada pengetua sekolah berasrama penuh (SBP) yang dipilih.

Tarikh Tutup

Permohonan untuk ke Tingkatan 1 SBP 2011 akan ditutup pada 15 Oktober 2010.
Keputusan permohonan kemasukan ke Tingkatan 1 SBP 2011 ini dijangka akan diumumkan pada penghujung bulan Disember 2010.

Maklumat

1. Sila kunjungi
Sistem Permohonan Atas Talian Ke Tingkatan 1 SBP untuk membuat permohonan dan mendapatkan maklumat lanjut.

2. Sila semak Senarai SBP untuk mengetahui SBP dan aliran yang ditawarkan.

3. Sebarang pertanyaan boleh juga diajukan kepada :
Bahagian Pengurusan Sekolah Berasrama Penuh dan Sekolah Kecemerlangan,
Aras 3, Blok 2251, Jalan Usahawan 1, 63000 Cyberjaya,
Selangor Darul Ehsan
atau telefon 03 8321 7400 atau faks 03 8321 7403/ 7402.

4. Pertanyaan boleh juga dibuat di Talian Khidmat Pelanggan KPM di 03 7723 7070 atau emel
kpkpm@moe.gov.my

5. Anda boleh juga semak komen-komen di Permohonan Kemasukan ke Sekolah Berasrama Penuh Tingkatan 1 2010.

Soalan Lazim Berkaitan Permohonan ke SBP

Berikut adalah soalan-soalan lazim mengenai permohonan ke SBP yang disediakan oleh Bahagian Pengurusan Sekolah Berasrama Penuh dan Sekolah Kecemerlangan, Kementerian Pelajaran Malaysia :

1. Apakah kriteria pemilihan murid ke SBP?
Pemilihan murid SBP adalah berasaskan kepada syarat dan kriteria yang ditetapkan oleh Kementerian Pelajaran Malaysia iaitu murid mestilah warganegara Malaysia, murid daripada Sekolah Kebangsaan sahaja, memperoleh keputusan 5A dalam Ujian Peperiksaan Sekolah Rendah (UPSR) dan aktif dalam kegiatan kokurikulum. Pemilihan juga berasaskan kepada pendapatan seisi keluarga dan diberikan keutamaan kepada murid luar bandar berbanding murid bandar dengan nisbah 70% : 30%.

2. Bila keputusan pemilihan murid tingkatan satu ke SBP akan diumumkan?
Keputusan ke SBP akan diumumkan dalam tempoh 45 hari bekerja selepas tarikh UPSR diumumkan dan keputusan akan dimaklumkan melalui laman web Kementerian Pelajaran Malaysia

http://www.moe.gov.my/

3. Bagaimana untuk membuat rayuan, sekiranya gagal atau tidak pernah memohon secara online?
Rayuan boleh dibuat secara online melalui laman web Kementerian Pelajaran Malaysia http://www.moe.gov.my dalam e-rayuan. Sekiranya murid tidak memohon secara online sebelum ini, mereka juga perlu membuat rayuan secara online.

4. Bagaimana sekiranya ibubapa/penjaga ingin menyerahkan surat/dokumen mengenai permohonan ke SBP?
Surat/ dokumen boleh diserahkan ke Bahagian Pengurusan Sekolah Berasrama Penuh dan Sekolah Kluster dan surat/dokumen itu akan dicop terima. Seterusnya surat/dokumen tersebut diserahkan kepada pengarah untuk diminitkan kepada sektor yang berkenaan.

5. Mengapa anak saya tidak dipanggil untuk proses temuduga di SBP?
Pemilihan ke SBP melibatkan dua cara iaitu 20% murid akan dipilih oleh pengetua SBP dan 80% murid akan dipilih oleh Kementerian Pelajaran Malaysia. Walau bagaimanapun semua cara pemilihan masih tertakluk kepada syarat dan kriteria yang ditetapkan.
Pemilihan oleh pengetua pula lebih kepada memilih murid yang mempunyai bakat dalam bidang tertentu yang sesuai dengan kebitaraan (niche area) sekolah tersebut. Sekiranya anak tuan tidak dipanggil untuk temuduga, murid tersebut masih berpeluang ke SBP berdasarkan pemilihan oleh Kementerian Pelajaran Malaysia iaitu sebanyak 80% tanpa temuduga.

SEMAKAN TAWARAN KE SBP 2011

Pandangan Medis tentang Hadist Larangan makan minum sambil berdiri
Published on August 17, 2010 in Bulan Mawlid / Rabiul Awal, Artikel Islam and Fiqih. 6 Comments
Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu kebih buruk lagi”. (HR.Muslim dan Turmidzi)

bersabda Nabi dari Abu Hurairah,”Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)

Rahasia Medis

Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat,lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan.

Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.

Dr. brahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum.

Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.

Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung.

Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal.

Nah. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih.

Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.

Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

http://blog.its.ac.id/syafii/category/fiqih/

Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2010

Manakib 50 Wali Agung

Manakib 50 Wali Agung

Buku ini terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama menjelaskan tentang keutamaan surat fatihah, tajwidnya, terjemahnya, tawassul dengan surat al-fatihah dan doa Dzikrul Ghofilin. Kemudian dilanjutkan dengan barokah dan cinta terhadap wali dan sholihin.

Bagian keduanya membahas tentang manakib atau biografi 50 wali-wali agung. Mulai dari para sahabat nabi SAW, para wali pada masa tabiin, tabiit tabi’in dan seterusnya.

Siapakah mereka? bagaimana peran mereka? Apa peninggalan berharga mereka? Apa yang bisa kita petik dari perjalanan hidup mereka? Sangat menarik untuk kita disimak.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 819 other followers