Posted by: Habib Ahmad | 17 Disember 2010

Puasa ‘Asyura dan Keagungannya (Fadhilahnya)

Puasa ‘Asyura dan Keagungannya (Fadhilahnya)
Posted on December 30, 2009 by salafytobat
Puasa ‘Asyura dan Keagungannya

Berpuasa adalah sebuah amalan yang biasa dilakukan oleh para Nabi dan Rasul serta orang-orang shalih sepanjang masa dunia terbentang, sebagai ibadah atas diri mereka. Kadang-kadang sebagai tanda syukur atas nikmat yang mereka terima dari Allah, para Nabi dan orang-orang shalih biasa bersyukur dengan melaksanakan ibadah puasa.

Puasa ‘asyura adalah sebuah puasa yang hukumnya sunnat. Puasa ini sudah berusia sangat lama, bahkan mungkin puasa ‘asyura adalah salah satu dari puasa yang tertua yang pernah ada di muka bumi. Dalam Islam, puasa ‘asyura sudah berusia 1444 tahun lamanya, seusia dengan agama Islam, yaitu semenjak awal pertama Nabi diutuskan Allah ke muka bumi. Jadi keliru besar jika ada anggapan selama ini bahwa puasa hari ‘asyura, dan mengangungkannya hanyalah sebuah tradisi orang-orang Jawa, dan bukan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Orang-orang Quraisy dan suku Arab Jahiliyyah di Mekah pun sudah terbiasa selama ratusan tahun berpuasa pada hari ‘asyura ini. Di sisi mereka hari ‘asyura adalah satu hari yang agung, sehingga mereka mengisinya dengan ibadah puasa. Sebuah hadis dari Siti ‘Aisyah menceritakan: “Adalah hari ‘asyura itu, hari dimana kaum Quraisy berpuasa pada masa Jahiliyyah.” Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpuasa pada hari ‘asyura itu sejak zaman Jahiliyah dan Beliau juga berpuasa pada hari ‘asyura tersebut ketika beliau memasuki kota Madinah (ketika hijrah). Dan, Beliau pun mewajibkan umatnya untuk puasa pada hari ‘asyura itu. Manakala puasa Ramadhan sudah diwajibkan, maka kewajiban atas puasa ‘asyura dicabut, barangsiapa yang mau berpuasa dipersilahkan dan barangsiapa yang tidak mau berpuasa dipersilahkan juga (hukumnya menjadi sunat). (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Keterangan dan Keutamaan Tentang Puasa ‘Asyura

Hari ‘asyura adalah hari ke-10 dari bulan Muharram, dalam Islam semenjak diwajibkannya puasa Ramadhan, yakni pada tahun ke-2 Hijrah (tahun ke-15 kenabian), puasa ‘asyura ini tidak lagi menjadi wajib atas kaum Muslimin, tetapi hanya disunnatkan saja, setelah sebelumnya sempat diwajibkan atas kaum muslimin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (keterangan ini dikutip dari hadis Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ahmad, dan Baihaqi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Imam Nawawi, Jilid VII, halaman 646).

Keutamaan puasa ‘asyura ini ada diriwayatkan dalam hadis Muslim dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu: “Adalah Rasulullah SAW ditanya tentang puasa pada hari ‘asyura, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Puasa ‘asyura menggugurkan dosa setahun yang terdahulu.” (HR. Muslim)

Sedangkan hari tasu’a adalah hari kesembilan dari bulan Muharram. Kaum muslimin juga disunatkan berpuasa pada hari tasu’a berdasarkan sebuah riwayat dimana Nabi bercita-cita ingin berpuasa pada hari tasu’a ini. Walaupun Nabi tidak sempat melakukannya karena terlebih dahulu wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal di tahun itu, namun hukumnya dalam syariat Islam tetap sunnat juga melakukannya atas kaum muslimin. Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Seandainya aku masih hidup pada hari ‘asyura di tahun depan, aku pasti akan berpuasa pada hari tasu’a, (hari kesembilan bulan Muharam).” (HR. Muslim). Pada riwayat yang lain, Imam Muslim menambahkan: “Ketika hari yang dimaksud tiba di tahun depan, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah dipanggil Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Dari hadis tersebut, dapat dipetik hikmah bahwa menambahkan puasa tasu’a pada bulan Muharram adalah agar amalan kaum muslimin tidak serupa persis dengan amalan umat Yahudi yang biasa berpuasa hanya pada hari ‘asyura saja. Dalam hadis yang lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi bersabda; “Berpuasalah kamu pada hari ‘asyura itu, dan bedakan olehmu akan umat Yahudi dengan berpuasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya” ( H.R. Imam Ahmad, Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, dan Humaidi, shohih).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sunnat dalam Islam, berpuasa di bulan Muharram sedikitnya selama tiga hari berturut-turut, yaitu tanggal 9,10, dan 11 Muharram.

‘Asyura Puasanya Banyak Umat

Kaum Yahudi sudah terbiasa mengagungkan hari ‘asyura ini sebagai ‘hari raya’ di kalangan mereka selama kurang lebih 2000 tahun sebelum masa Nabi Muhammad. Ketika Nabi berhijrah, Beliau sempat tinggal beberapa hari di Quba’ dan membangun sebuah masjid di sana, serta melaksanakan sholat Jum’at untuk pertama kalinya. Kemudian Nabi memasuki kota Madinah pada hari ‘asyura sambil berpuasa pada hari itu, karena puasa ‘asyura memang sudah biasa dilakukan oleh kaum Quraisy sejak zaman Jahiliyah. Saat itu Nabi menjumpai komunitas Yahudi yang banyak di Madinah dan mereka ternyata sedang berpuasa pula pada hari ‘asyura itu. Kemudian terjadilah percakapan antara Nabi Muhammad dengan umat Yahudi Madinah itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki kota Madinah, Beliau mendapati umat Yahudi berpuasa pada hari ‘asyura, maka Nabi bertanya kepada mereka, “Hari apakah ini, sehingga kalian berpuasa atasnya?” Umat Yahudi menjawab: “Ini adalah hari yang Agung, di mana Allah telah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, sehingga Nabi Musa berpuasa pada hari ini karena bersyukur kepada Allah. Oleh karena itu kami juga berpuasa pada hari ini.” Kemudian Nabi SAW bersabda: “(sebagai ummat Nabi Musa kamu berhak mengagungkan hari ini tetapi) Kami kaum muslimin, lebih berhak dan lebih utama (mengagungkan hari ini) untuk penghormatan kepada Nabi Musa daripada kalian.” Maka Nabi berpuasa pada hari itu, serta memerintahkan pula umatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari Muslim, dengan lafazh Imam Muslim).

Dalam hadis yang lain, terjadi di tahun kesepuluh setelah Nabi hijrah, (yakni tahun terakhir Nabi hidup bersama Sahabatnya di dunia), telah diceritakan oleh para Sahabat kepada Nabi bahwa ternyata puasa pada hari ‘asyura itu sudah diamalkan oleh umat Yahudi dan Nasrani. Mendengar ini, Rasulullah berkata: ”Jika begitu, pada tahun depan kita tambahkan berpuasa pada hari tasu’a.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain, dijelaskan dari Abu Musa al Asy’ari bahwa: “Adalah umat Yahudi telah menjadikan hari ‘asyura itu sebagai hari ‘ied, yakni hari raya di kalangan mereka.” (HR. Bukhari Muslim)

Hikmah

Telah nyata bagi kita bahwa hari ‘asyura itu adalah hari agungnya umat Yahudi dan Nasrani, dan mereka telah menjadikannya sebagai ‘hari raya’ yang diperingati selama lebih dua ribu tahun lamanya sampai ke zaman Nabi Muhammad, sebagai hari yang bersejarah. Pada hari itu Nabi Musa dan kaumnya telah diselamatkan Allah (ketika menyeberangi Laut Merah), dari kejaran Fir’aun laknatullah ‘alaih dan para tentaranya. Ketika kabar ini sampai kepada Nabi, Beliau justru menguatkan bahwa memperingati hari Agungnya Nabi Musa bukan hanya merupakan haknya umat Yahudi, akan tetapi Nabi dan kaum muslimin bahkan lebih berhak memperingatinya.

Dari riwayat ini dapat diambil kesimpulan, kalau memperingati hari Agung Nabi Musa saja, umat Yahudi dan kaum muslimin diperintahkan Nabi untuk mengagungkannya, bagaimana dengan hari Agung Nabi kita sendiri…..? Dan, jika peristiwa Nabi Musa berhasil menyeberang Laut Merah dengan selamat diagungkan oleh umatnya selama lebih dua ribu tahun (dan Nabi Muhammad ikut mengagungkannya pula), lantas kenapa kita umat Nabi tidak boleh mengagungkan Isra’ Mi’raj Nabi kita….? Bukankah pada peristiwa Isra’ Mi’raj itu Nabi Muhammad berhasil ‘menyeberang’ langit dan kembali ke bumi dalam satu malam! Nah, Manakah yang lebih Agung, menyeberang laut atau ‘menyeberang’ langit….?

Inilah hikmah yang dapat dipetik dari kisah puasa ‘asyura, satu hari yang sangat diagungkan oleh banyak umat, mulai dari umat Yahudi, bersambung kepada umat Nasrani, diteruskan oleh suku Quraisy di zaman Jahiliyah, dan terus berlanjut sampai kepada kaum muslimin. Saat ini, puasa di hari ‘asyura sudah berlangsung pada generasi manusia selama kurun waktu lebih dari 3400 tahun lamanya dan masih akan terus berlanjut sampai dunia kiamat.

Wallahu a’lam bishshowab

http://tengkuzulkarnain.net

Advertisements
Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

‘Asyura`

‘Asyura`

Imam Muslim meriwayatkan daripada Sayyidina Abu Qatadah al-Anshari r.a. bahawa Junjungan Nabi s.a.w. telah ditanya mengenai puasa hari ‘Asyura` dan baginda menjawabnya: “yukaffirus sanatal maadhiyah” (dapat mengkafarahkan dosa setahun yang lalu).

Disunnatkan juga berpuasa pada hari Tasu`a kerana Junjungan s.a.w. bercita-cita untuk mempuasai hari tersebut agar tidak menyerupai kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura`. Jadi eloklah kita berpuasa hari-hari tersebut, kalau nak makan bubur ‘Asyura` tunggulah waktu berbuka. Jangan pula benda yang nyata sunnat kita tinggalkan.

Imam ath-Thabrani dan Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dari Sayyidina Abu Sa`id al-Khudri, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidina Jabir dan Sayyidina Ibnu Mas`ud r.’anhum bahawa Junjungan s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang memberi keluasan / kelapangan (yakni keluasan rezki) kepada keluarganya pada hari ‘Asyura`, maka Allah akan meluaskan rezkinya sepanjang tahun tersebut.” Berhubung hadis ini muhadditsin berbeza pendapat, ada yang mensabitkannya dan ada yang mendha`ifkan. Imam as-Sayuthi dalam “ad-Durarul-Muntatsirah” mensabitkan hadis ini sebagai sahih. Syaikh Zainuddin al-Malibari menulis dalam “Irsyadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyad” bahawa Imam Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Kami telah mengamalkan hadis ini selama 50 atau 60 tahun, dan benar-benar sedemikian (yakni terjadi seperti yang dinyatakan dalam hadis tersebut, iaitu luas rezki sepanjang tahun).

Terpulanglah kepada kalian. Tapi elok juga sesekali beri makanan istimewa kepada keluarga dengan niat menggembirakan hati mereka. Bukankah Junjungan s.a.w menyuruh kita berlaku baik dengan mereka. Lagi pula omputih ada kata “charity begins at home” betul ke idak entahlah. Puasa jangan tak puasa.

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Hayati kalimah tauhid perjuangan sebenar hijrah

Hayati kalimah tauhid perjuangan sebenar hijrah
DIkirim oleh epondok di Disember 14, 2010

i Rate This

Oleh Mohd Yaakub Mohd Yunus
Umat perlu bertekad jauhi perkara cemar akidah agar Islam subur sebagai cara hidup

KALENDAR Islam diperkenalkan pada zaman pemerintahan Khalifah Umar al-Khattab. Beliau dan sahabat memutuskan untuk meletakkan tarikh permulaan kalendar Islam pada tahun Nabi Muhammad SAW dan sahabat berpindah dari Makkah ke Madinah.

Ia dipilih kerana menjadi titik mula kejayaan dakwah Islam sehingga tersebar ke seluruh dunia itu diingati serta dirai umat Islam setiap tiba 1 Muharam. Namun, ada yang melihatnya sebagai sambutan tahun baru umat Islam. Oleh itu, ramai gagal menghayati semangat hijrah yang pada hakikatnya memberi kesan besar terhadap umat Islam.

Hijrah tidak tamat selepas berpindah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah seperti ditegaskan oleh sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Hijrah tidak akan terputus sampai taubat terputus dan taubat tidak akan terputus sehingga matahari terbit dari barat.” (Hadis riwayat Abu Dawud)

Hijrah mempunyai banyak maksud antaranya berpindah dari negeri syirik ke negeri Islam seperti dilakukan Nabi Muhammad SAW dan sahabat. Oleh itu, umat Islam yang bermastautin di negara orang kafir dan tidak berupaya mengamalkan agamanya malah ditindas, wajib berpindah ke negara Islam jika memiliki kemampuan.

Dalil mewajibkan hijrah sebegini adalah firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya orang yang diambil nyawanya oleh malaikat ketika mereka menganiaya diri sendiri (kerana enggan berhijrah untuk membela Islam dan rela ditindas kaum kafir musyrik), mereka ditanya malaikat: Apakah yang kamu lakukan mengenai agama kamu? Mereka menjawab: Kami dulu ialah orang yang tertindas di bumi. Malaikat bertanya lagi: Tidakkah bumi Allah itu luas yang membolehkan kamu berhijrah dengan bebas padanya? Maka orang yang sedemikian itu keadaannya, tempat akhir mereka ialah neraka jahanam dan neraka jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Surah al-Nisaa’, ayat 97)

Tetapi hijrah seperti tidak diwajibkan bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan fizikal mahupun ekonomi. Firman Allah bermaksud: “Kecuali orang yang lemah (lagi uzur) daripada lelaki dan perempuan serta kanak-kanak, yang tidak berdaya mencari helah (untuk melepaskan diri) dan tidak pula mengetahui sesuatu jalan (untuk berhijrah). Maka mereka, mudah-mudahan Allah maafkan mereka. Dan (ingatlah), Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun.” (Surah al-Nisaa’, ayat 98-99)

Hijrah juga bermaksud meninggalkan apa yang dilarang Allah menuju kepada perintah-Nya. Sabda Nabi SAW bermaksud: “Muslim ialah seseorang yang kaum Muslimin selamat daripada gangguan lisan dan tangannya dan seorang muhajir (orang berhijrah) ialah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

Hijrah dalam pengertian ini menuntut kita mengikhlaskan segala amal ibadat hanya kepada Allah dan membela kalimah tauhid. Hendaklah meninggalkan amalan syirik dan menyemai benih tauhid kepada seluruh umat Islam.

Kita mesti mempertingkat usaha membersihkan umat Islam daripada perkara mencemari akidah. Segala khurafat, tahyul dan syirik harus dibanteras sehingga ke akar umbi.

Bagi yang menerima dan memelihara kalimah tauhid, Allah akan memberikan keselamatan dan bagi mereka yang menentangnya, Allah akan memberi balasan yang pedih.

Setiap kali muncul Maal Hijrah, marilah kita berusaha menerapkan konsep hijrah yang sebenar supaya ia memberi manfaat besar dalam hidup setiap umat Islam. Muncul tarikh 1 Muharam menunjukkan berpisah kita dengan tahun lalu. Seharusnya kita bermuhasabah.

Jika ada kekurangan maka segeralah perbaikinya. Jika ada dosa hendaklah segera bertaubat. Jika kita sudah mengerjakan amalan soleh, maka berazam meneruskannya bahkan mempertingkatkan amalan pada tahun baru ini.

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Kelebihan Puasa hari ‘Asyura’

Kelebihan Puasa hari ‘Asyura’
Monday, 06 December 2010 07:16 | Written by ibnuatiq |
Disini dibawa beberapa hadis yang sohih mengenai kelebihan berpuasa pada 10 Muharram yang dikenali sebagai hari ‘Asyura.

Daripada Ibnu Abbas telah berkata : Apabila Rasulullah S.A.W tiba di Madinah maka baginda telah melihat orang yahudi berpuasa pada hari kesepuluh (Muharram) maka baginda bertanya yang bermaksud : Apakah ini?. Maka jawab mereka : Ini merupakan hari yang baik yang mana pada hari inilah Allah SWT menyelamatkan bani Israel daripada musuh mereka maka nabi Musa berpuasa pada hari ini. Maka sabda baginda S.A.W : Maka aku lebih layak dengan nabi Musa daripada kamu maka baginda berpuasa pada hari ini. Dan baginda menyuruh untuk berpuasa pada hari ini.

– Telah dikeluarkan oleh imam Bukhari, Muslim dan Abu Daud –

Daripada Abdullah bin Ma’bad az-Zamani daripada Abu Qatadah bahawa nabi s.A.W telah bersabda yang bermaksud : Berpuasa pada hari ‘Asyura (kesepuluh Muharram) sesungguhnya aku mengharapkan atas Allah SWT bahawa Dia akan menghapuskan dosa setahun yang sebelumnya.

– Diriwayatkan oleh imam Tarmizi –

Daripada Ibnu Shihab daripada Hamid bin Abdul Rahman bahawa dia telah mendengar Mu’awiyah bin Abu Sufian berucap pada hari ‘Asyura tahun haji di atas mimbar : Wahai penduduk Madinah! Dimanakah ulama’ kamu? Aku telah mendengar Rasulullah S.A.W telah bersabda yang bermaksud : Ini adalah hari ‘Asyura dan Allah tidak mewajibkan ke atas kamu berpuasa. Aku berpuasa (pada hari ini) maka sesiapa yang mahu berpuasa berpuasalah dan sesiapa yang mahu (berbuka) maka berbukalah.

– Dikeluarkan oleh imam Bukhari, Muslim dan Abu Daud –

Hadis ini menjelaskan kepada kita berkenaan dengan kelebihan berpuasa pada hari ‘Asyura. Ulama’ juga berpesan agar kita turut berpuasa pada hari kesembilan Muharram bagi membezakan antara puasa kita dengan yahudi yang berpuasa pada hari kesepuluh Muharram.Yahudi berpuasa pada hari tersebut kerana pada 10 Muharamlah nabi Musa dan pengikutnya diselamatkan daripada Firaun dan tenteranya yang zalim. Hukum berpuasa pada hari ini adalah disunatkan bukannya satu kewajipan. Siapa yang mahu berpuasa maka bolehlah berbuat demikian dan ganjaran yang besar dijanjikan kepada mereka yang berpuasa pada hari ini iaitu diampuni segala dosanya pada tahun-tahun yang lalu.Semoga kita dapat menggunakan segala peluang yang ada untuk menambahkan amalan sebagai bekalan di akhirat nanti.

Bibliografi

1. Al-Minhaj Syarah Sohih Muslim oleh imam Nawawi, semakan Syeikh Khalil Ma’mun Syiha, Darul Makrifah, Beirut.

2. Tuhfah al-Ahwazi bi Syarhi Jami’ at-Tarmizi, Mubarakfuri, Darul Kutub Ilmiah, Beirut.

3. Sunan Abu Daud

4. Al-Lafzu al-Mukram bi Fadhaili ‘Asyura al-Muharram, Ibnu Nasaruddin ad-Dimasyqi, Rimadi lin-Nasyr

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

PUASA BULAN MUHARRAM KHUSUSNYA HARI TASU’A & ‘ASYURA

PUASA BULAN MUHARRAM KHUSUSNYA HARI TASU’A & ‘ASYURA

iaitu pada 9 & 10 MUHARRAM (RABU 15 & KHAMIS 16 dis).
Sabda Nabi berkaitan fadhilatnya :

{1}
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم ، وأفضل الصلاة بعدالفريضة صلاة الليل…رواه مسلم
“sebaik-baik puasa setelah puasa Bulan Ramadhan adalah puasa di Bulan Muharram, dan sebaik-baik solat setelah solat fardhu adalah solat (sunat) pada malam hari” … riwayat Imam Muslim

{2}
قال ابن عباس رضي الله عنهما : مارأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضله على غيره إلا هذا اليوم : يوم عاشوراء ، وهذا الشهر ، يعني شهر رمضان … متفق عليه
Kata Ibnu Abbas ra : tidak pernah aku melihat Nabi SAW menanti-nanti puasa pada suatu hari yang diutamakan lebih daripada hari lain kecuali hari ini : iaitu HARI ‘ASYURA’ (10 Muharram) , dan bulan ini iaitu Bulan Ramadhan … (Riwayat Imam Bukhary dan Imam Muslim)

{3}
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه ، قالوا : يا رسول الله ! إنه يوم يعظمه اليهود والنصارى. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :” لئن بقيت إلى قابل ، لأصومن التاسع”…رواه مسلم
daripada Ibnu Abbas ra berkata: ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan Baginda menyuruh berpuasa pada hari tersebut. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah ! sesungguhnya hari ini (‘Asyura) adalah hari yang dibesarkan oleh Yahudi dan Nasara. maka Baginda bersabda : “sekiranya daku masih ada pada tahun hadapan , pasti daku akan berpuasa juga pada hari sembilan (9 Muharram)”… (Riwayat Imam Muslim)

{4}
عن أبي قتادة رضي الله عنه قال : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن صيام يوم عاشوراء ؟ . فقال صلى الله عليه وسلم :” يكفر السنة الماضية “…رواه مسلم
daripada Abu Qatadah ra berkata: Bahawa Rasulullah SAW pernh ditanya tentang berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) ? . Baginda menjawab : akan dapat menampun kan dosa setahun yang lalu . ” … (riwayat Imam Muslim)

SAMA-SAMA LAH KITA BERPUASA KERANA IA ADALAH SUNAT MUAKKAD (SANGAT DITUNTUT) , JUGA SEBAGAI ZAKAT BADAN DAN MENAMBAHKAN KESIHATAN

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:” لكل شيء زكاة ، وزكاة الجسد الصوم “…رواه ابن ماجه

Daripada Abu Hurairah ra berkata: Bahawa Rasulullah SAW pernh bersabda : “Setiap sesuatu itu ada zakatnya tersendiri , dan zakat badan kita ini adalah PUASA ” … (riwayat Imam Ibnu Majah )

وقال صلى الله عليه وسلم: صوموا تصحوا

Dan Rasulullah SAW pernh bersabda : “berpuasalah kamu sekelian , nescaya kamu akan beroleh kesihatan”.

sekian . wassalam

http://www.alfalahusj9.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Fahaman pluralisme wajar ditentang

Fahaman pluralisme wajar ditentang

Oleh SAIFULIZAM MOHAMAD
dan SHOLINA OSMAN
pengarang@utusan.com.my

KUALA LUMPUR 14 Dis. – Golongan yang mempertikaikan kedudukan Islam dan orang Melayu seperti mana yang diperuntukkan di dalam Perlembagaan Persekutuan merupakan mereka yang berfahaman pluralisme ala John Hick.

Justeru, tokoh cendekiawan Islam, Dr. Muhammad ‘Uthman El-Muhammady mahu golongan tersebut ditentang kerana fahaman yang mereka anuti itu jelas berlawanan dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Malah, beliau berkata, mereka yang memperjuangkan fahaman itu tidak ubah seperti membawa satu agama baru yang akhirnya boleh menyebabkan seseorang Islam itu menjadi murtad.

“Oleh itu fahaman pluralisme atau kesamarataan di dalam agama perlu ditolak dan ditentang kerana ia hanya akan membawa kehancuran serta kecelakaan kepada kehidupan manusia.

“Fahaman ini amat berbahaya dan merupakan ancaman yang perlu ditangani segera. Hakikatnya, Islam tidak boleh disamakan dengan apa jua kepercayaan dan agama kerana martabatnya terlalu tinggi. Islam agama yang terpelihara sehingga Hari Kiamat,” katanya.

Beliau berkata demikian ketika menjawab satu soalan peserta selepas membentangkan kertas kerja bertajuk ‘Beberapa Isu Dalam Pluralisme Agama – Satu Pengamatan Ringkas’ pada wacana Membanteras Gerakan Pluralisme Agama dan Pemurtadan Ummah di Masjid Wilayah Persekutuan di sini hari ini.

Mengulas lanjut Muhammad ‘Uthman berkata, fahaman pluralisme tidak akan membawa kebahagiaan walau apa hujah sekali pun sebaliknya hanya akan membuatkan manusia menuju ke neraka.

Dalam pada itu beliau berkata kewujudan teori fahaman yang boleh merosakkan umat Islam itu berlaku pada era pascamodenisme.

“Teori ini amat berbahaya terutama kesannya terhadap akidah umat Islam. Ia perlu ditangani dan ditentang oleh semua pihak,” katanya lagi.

Sementara itu beliau berkata, pemikiran pelopor fahaman pluralisme iaitu John Hick hendaklah ditolak kerana jelas kenyataan-kenyataannya bersifat mengelirukan manusia.

Di dalam kertas kerjanya Muhammad ‘Uthman turut menjelaskan jenis atau kategori golongan yang terpengaruh dengan fahaman tersebut.

“Mereka yang terpengaruh dengan pluralisme agama menyatakan baik agama Islam, Kristian, Yahudi, Sikh dan Hindu mempercayai adanya `kebenaran yang lebih tinggi’ serta mengatasi amalan lahiriah dan ibadat.

“Kalaulah pendirian yang demikian dianggap jalan kebenaran di sisi Tuhan, maka perjuangan Rasulullah SAW mendepani agama penyembah berhala, agama Yahudi dan Kristian pada zaman Baginda adalah tidak bererti,” katanya.

Jelas beliau berkata, pernyataan sedemikian tidak benar dan tidak berasas serta tidak pernah wujud di dalam ajaran Islam.

“Seperti mana saya tekankan sebentar tadi fahaman pluralisme akan membawa kerosakan, kecelakaan dan kecelaruan kepada kehidupan manusia. Fahaman ini akhirnya akan membawa manusia ke neraka ,” ujarnya.

Menyambut 10 Muharrom Hari Asyura oleh Habib Alwi ibn Salim Alaydrus
Published on November 28, 2009 in Bulan Muharram and Artikel Islam.
Artikel ini, dengan sedikit perubahan redaksi disadur dari risalah almarhum Habib Alwi ibn Ahmad Alaydrus yang dibagikan ke segenap santrinya di Majlis Ta’lim al Islamiy menjelang 10 Muharram 1413 H. Semasa hidupnya Habib Alwi menjadi ulama panutan di kota Malang, Rais Syuriah NU Kota Malang dan kemudian Mustasyar NU hingga beliau wafat. Habib Alwi termasuk ulama yang paling berjasa dalam upaya menghilangkan sekat antara ulama pribumi dan habaib di kota Malang. Secara periodik al Habib menyelenggarakan musyawarah kitab dengan para Kyai di kediamannya. Hingga tidak ada seorang Kyaipun di Kota Malang yang tidak pernah bersentuhan silaturahim dengan beliau. Bersama beliau, semua ulama guyub dalam ke-NU-an. Ketika majalah dakwah belum semarak seperti sekarang ini, pada momen-momen keislaman, beliau membuat selebaran, himbauan, anjuran, peringatan dan hadiah ijazah doa ke segenap lapisan masyarakat di kota Malang.

السلامُ عَلَيْكُمْ وَرحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الحَمْدُ للهِ الَّذِى هَدَانَا إِلَى دِيْنِهِ القَوِيْمِ. وَسَلَكَ بِنَا سَبِيْلَهُ المُسْتَقِيْمِ . وَلاَ حَولاَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ أَحْكِمُ الحَاكِمِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.المَبْعُوثُ رَحْمَةً للعَالَميْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ سَيِّدٍنَا وَمَولاَنَا وَحَبِيْبِنَا وَقُرَّةً أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Alhamdulillah dengan segala pertolongan Allah swt. serta hidayat dan taufiqnya kita saat ini berada pada bulan Muharram yang di dalamnya terdapat tanggal 10 yang terkenal dengan sebutan malam Asyura dan besok harinya hari Asyura .

Semua bulan pasti ada tanggal sepuluhnya, akan tetapi tidak disebut Asyura kecuali tanggal 10 Muharram. Tanggal 10 Muharram disebut Asyura karena memiliki sejarah khusus. Pada masa Rasul-Rasul terdahulu, banyak diantara mereka mendapat kemenangan dan keselamatan dari gangguan penentang-penentang dan musuh-musuh mereka, tepat pada tanggal 10 Muharram (hari Asyura), termasuk Nabi Nuh as. Umatnya yang ingkar, kufur dan syirik dihancurkan serta dibinasakan oleh Allah swt, dengan banjir topan selama enam bulan lamanya. Setelah banjir surut, kemudian Nabi Nuh as dan pengikut-pengikutnya berjumlah kurang lebih 80 orang turun dari kapal dengan aman serta selamat tepat pada tanggal 10 Muharram. Begitu juga Nabi Ibrahim as. keluar dengan selamat dari api unggun yang dinyalakan Raja Namrud untuk membakarnya, tepat pada tanggal 10 Muharram. Allah telah memerintahkan api unggun itu untuk menjadi dingin sehingga nabi Ibrahim tidak terluka sedikitpun. Allah berfirman

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِى بَردًا وَسَلاَمًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ.

Kami telah berfirman, “Wahai api jadilah dingin dan selamat atas Ibrahim.” (QS: Al Anbiya 69).

Nabi Musa dan ummatnya mendapat kemenangan dan keselamatan dari Allah swt. dengan hancurnya Fir’aun beserta bala tentaranya yang ditenggelamkan Allah di lautan tepat pada 10 Muharram. Karena itu setiap 10 Muharram Nabi Musa berpuasa dengan menghaturkan syukur kepada Allah swt.

Dari kisah-kisah di atas, jelaslah bagi kita bagaimana keistimewaan hari Asyura itu. Pada hari itu pula Allah menerima taubat suatu kaum pada umat terdahulu dan Allah akan tetap menerima taubat kaum-kaum setelahnya pada hari Asyura , sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al Imam at Tirmidzi dari al Imam Ali ibn Abi Tholib ra.:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ : أَيُّ شَهْرٍ تَأْمُرُنِى أَنْ تَصُومَ بَعْدَ رَمَضَانَ؟ قَالَ: إِنْ كُنْتَ صَائِمًا بَعْدَ رَمَضَان فَصُمْ المُحَرَّمَ, فَإِنَّهُ شَهْرُ اللهِ, فِيْهِ يَوْمٌ تَابَ فِيْهِ عَلَى قَومٍ وَيَتُوبُ عَلَى قَومٍ آخَرِيْنَ

Seorang pria datang kepada Nabi Muhammad saw. dan bertanya: “pada bulan apakah Rasulullah memerintahkan saya berpuasa setelah Ramadan” Beliau Menjawab: “Apabila engkau (ingin) berpuasa setelah Ramadan, berpuasalah pada bulan Muharram, sesungguhnya bulan itu bulan Allah, didalamnya ada hari dimana Allah menerima taubat suatu kaum dan akan menerima taubat kaum-kaum yang lain (yaitu hari Asyura ).

Apabila datang hari Asyura , hari yang istimewa itu, hendaklah kita gunakan kesempatan sebaik-baiknya dengan pelaksanaan tuntunan dan anjuran Nabi Muhammad saw serta ajakan para ulama ahlussunnah wal jamaah agar kita mendapatkan pahala dan keutamaan dalam kehidupan dunia yang sementara ini dan di akhirat yang kekal abadi dengan ridla dan rahmat Allah .

Nabi Muhammad saw pada hari Asyura melakukan puasa dan menganjurkan serta memerintahkannya sebagaimana riwayat al Turmudzi dari Ibn Abbas:

أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَومِ عَاشُوراءَ يَومَ العَاشِرِ

Rasulullah memerintahkan puasa Asyura pada hari kesepuluh (muharram)

Al Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Al Turmudzi meriwayatkan pula dari Sayidah Aisyah ra.:

كاَنَ يَومُ عَاشُورَاء تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ و آلِهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فِى الجَاهِلِيَّةِ. فَلَمَّ قَدِمَ المَدِيْنَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بَصِيَامِهِ, فَلَمَّ فُرِضَ رَمَضَانَ تَرَكَ يَومَ عَاشُرَاءَ, فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

Dahulu orang Quraisy pada masa jahiliyyah berpuasa pada hari Asyura . Pada masa jahiliyyah Rasulullah (juga) berpuasa Asyura . Ketika masuk Madinah, Rasullah berpuasa Asyura dan memerintahkan berpuasa Asyura . Kemudian ketika puasa Ramadan diwajibkan, Rasulullah meninggalkan puasa Asyura . Maka barangsiapa berkehendak, dia berpuasa dan baragsiapa berkehendak, dia meninggalkannya.

Al Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud meriwayatkan dari Ibn Abbas:

قَدِمَ النَّبِّيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ عَاشُرَاءَ فَقَالَ لَهُمْ : مَاهَذَا؟ قَالُوا: هَذَا يَومٌ صَالِحٌ, هَذَا يَومٌ نَجَّى اللهُ بَنِى إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى, قَالَ : فَإِنَّا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

Ketika Nabi Muhammad datang di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura , maka beliau bertanya :”Apa ini?” mereka menjawab:”Ini hari baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka berpuasalah Nabi Musa”. Nabi bersabda: “Maka akulah lebih berhak dengan Musa dari kalian, kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa Asyura .

Al Imam Bukhari, Muslim meriwayatkan dari Abu Musa ra, ia berkata:

كاَنَ أَهْلُ خَيْبَرْ يَصُومُونَ يَومَ عَاشُورَاءَ وَيَتَّخِدُونَهُ عِيْدًا وَيَلْبِسُونَ نِسَاءَهُمْ فِيْهِ حُلِّيَّهُمْ وَشَارَتَهُمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللهَِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : فَصُومُوهُ أَنْتُمْ.

Dahulu penduduk khaibar berpuasa hari Asyura dan mereka menjadikannya hari raya serta memaikan istri-istri mereka perhiasan-perhiasan mereka dan tanda-tanda keindahan mereka, lalu bersabda Rasulullah SAW : maka berpuasalah kalian.

Dari keutamaan puasa Asyura itu, Rasulullah SAW memerintahkan seorang pria untuk mengadakan pengumuman dan seruan pada hari penting itu disekitar kota Madinah, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Albukhoriy, Muslim dan Annasaiy dari Salamah bin Akwa” r.a. ia berkata:

أمر النبي صلى الله عليه واله وسلم رجلا من أسلم أن أذن في الناس أن من كان أكل فليصم بقية يومه, ومن لم يكن يأكل فليصم, فإن اليوم يوم عاشوراء.

Nabi Muhammad s.a.w. telah memerintahkan seorang pria dari suku Aslam, harap umumkanlah pada orang-orang itu bahwa siapa yang telah makan, maka hendaklah puasa (merupa orang puasa) pada sisa harinya dan siapa yang belum makan, maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya hari ini hari Asyura .

Demikian juga sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Albukhoriy dan Muslim dari Rubaiyi’ binti Mu’awwith r.a. ia berkata:

أرسل رسول الله صلى الله عليه واله وسلم غداة عاشُوراء إلى قرى الأنصار التي حول المدينة : من كان أصبح صائما فليتم صومه, ومن كان أصبح مفطرا فليتم بقية يومه. فكنّا بعد ذلك نصومه ونصوم صبياننا الصغار منهم إن شاء الله ونذهب الى المسجد فنجعل لهم اللعبة من العهن, فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناها إياه إلى الإفطار.

Rasulullah s.a.w. mengutus pada hari pagi Asyura ke desa-desa Al-ansor yang terletak di sekitar Madinah. Siapa yang berada pagi-pagi puasa maka hendaklah menyempurnakan puasanya dan siapa yang berada pagi-pagi tidak puasa, maka hendaklah menyempurnakan sisa harinya (sebagaimana orang puasa), maka kita dahulu setelah itu memuasainya dan memuasakan anak-anak mereka insya Allah dan kita pergi ke masjid lalu kita membuatkan mereka permainan dari kapas, apabila salah satu dari mereka menangis meminta makanan, kita berikan mainan itu hingga waktu berbuka tiba.

Rasulullah SAW sangat memperhatikan dan mengutamakan adanya puasa Asyura sebagaimana yang tela diriwayatkan oleh Al Bukhory dan Muslim:

وقال ابن عباس رضى الله عنه : ما رايت رسول الله صلى الله عليه واله وسلم يتحرى صيام يوم فضله على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء, وهذا الشهر شهر رمضان.

Ibnu Abbas berkata : saya tidak melihat Rasulullah memperhatikan suatu puasa yang beliau utamakan dari lainnya selain puasa pada hari ini yakni hari Asyura dan puas pada bulan ini yakni bulan Ramadan.

Disamping kita berpuasa pada tanggal sepuluh muharram (Asyura’), hendaklah kita juga berpuasa pada tanggal sembilannya (tasu’a) dan tanggal sebelasnya, karena ada beberapa hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas r.a.

صام رسول الله صلى الله عليه واله وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه , قالوا : يا رسول الله إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى, قال : فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع, فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه واله وسلم.

Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk memuasainya. Sahabat berkata : Ya Rasulullah, sesungguhnya itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani. Beliau bersabda : tahun depan jika kita masih bisa menjumpainya Insya Allah kita berpuasa pada hari tasu’a. Lalu tidak datang tahun berikutnya hingga wafat Rasulullah SAW.

Dan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abbas:

قال رسول الله صلى الله عليه واله وسلم : صوموا يوم عاشوراء وخالفوا اليهود, وصواموا قبله يوما وبعده يوما.

Rasulullah SAW bersabda : Puasalah kalian pada hari Asyura , bedakanlah dengan orang-orang yahudi, berpuasalah satu hari sebelum dan sesudahnya.

Demikian Rasulullah SAW menunjukkan keutamaannya disamping pahalanya besok di hari akhirat sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, At Turmudzi dan An Nasa’i dari Qotadah r.a bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

صيام يوم عاشوراء إنى أحتسب على الله أن يكفر السنة التى قبله.

Puasa hari Asyura , sungguh aku berharap kepada Allah untuk melebur dosa tahun yang lalu.

Telah diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari Abi Qotadah r.a bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Asyura , beliau menjawab

يكفر السنة الماضية

dosa-dosa setahun yang lalu.

Dosa-dosa yang terlebur karena amal-amal ibadah itu adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa-dosa besar, harus melalui taubat dengan mengikuti syarat-syaratnya. Termasuk apa yang hendaknya kita lakukan pada hari Asyura , ialah memperluas belanja rumah tangga, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh At Tobarony dan Al Baihaqy dari Abu Said Al Khudry r.a dari Nabi Muhammad SAW.

من وسع على عياله فى يوم عاشوراء وسع الله عليه فى سنة كلها

yang meluaskan belanja bagi keluarganya pada hari Asyura niscaya Allah meluaskan baginya dalam setahun sepenuhnya.

Pada masa Imam Syafi’i ada seorang ulama besar yang bernama Al Imam Sufyan bin Uyainah r.a

جربنا العمل بهذا الحديث خمسين أو ستين سنة فوجدنا كذالك.

telah mengalami dengan ini hadist lima puluh tahun atau enam puluh tahun maka kami mendapatkannya yang demikian itu nyata.

Menambah uang belanja dan bersodaqah kepada keluarga ialah untuk kepentingan rumah tangga dengan cara-cara yang sesuai dengan hukum syar’iy. Perluaslah shadaqah pada kaum fakir miskin serta berilah santunan pada anak-anak yatim, disamping kita memperbanyak amal-amal ibadat yang lain, gunakan pula kesempatan sebaik-baiknya untuk taqarub.

Terpenting, gerakkanlah upacara pembacaan doa Asyura yang telah dirintis oleh ulama-ulama ahlussunnah wal jamaah demi kepentingan, kemaslahatan dan keselamatan kita serta keberkahan umur dan hayat kita masing-masing di dalam dunia yang sementara ini dan terutama di dalam akhirat yang kekal abadi dengan ridlo, rahmat Allah serta syafaat Nabi Muhammad.

Sumber http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/nasihat_kyai/sayid_alwi_ibn_salim_alaydrus-asyura-19jan08.single

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Hari, Puasa & Bubur ‘Asyura

Hari, Puasa & Bubur ‘Asyura
PENGENALAN

Bulan Muharram ialah salah sebuah bulan yang dimuliakan oleh masyarakat Arab zaman dahulu. Nama “Muharram” itu bermaksud “Yang Diharamkan”. Dipercayai nama ini berkaitan dengan pengharaman berperang pada bulan ini.

Dalam bulan Muharram ini ada satu hari yang dimuliakan juga iaitu Hari ‘Asyura. Perkataan “‘Asyura” berasal daripada perkataan Arab “‘asyarah” yang bermaksud “sepuluh”, bersempena tarikhnya yang jatuh pada 10 Muharram itu.

KISAH-KISAH SEPUTAR HARI ‘ASYURA

Kisah-kisah yang berkisar dalam masyarakat mengaitkan tanggal 10 Muharram ini dengan:

1. Hari pertama Allah menciptakan alam.
2. Hari pertama Allah menurunkan rahmat.
3. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
4. Hari Allah menjadikan ‘Arasy.
5. Allah menajdikan Loh Mahfuz.
6. Allah menajdikan malaikat Jibrail.
7. Allah menciptakan Nabi Adam.
8. Allah mengampunkan kesalahan Nabi Adam.
9, Nabi Idris diangkat ke langit.
10. Allah melabuhkan bahtera Nabi Nuh di Bukit Judi (ada sandarannya – hadis riwayat Imam Bukhari).
11. Nabi Ibrahim dilahirkan.
12. Nabi Ibrahim diselamatkan daripada api.
13. Nabi Yusuf dibebaskan daripada penjara.
14. Nabi Yaaqub pulih daripada buta.
15. Penyakit Nabi Ayyub disembuhkan.
16. Nabi Musa diselamatkan daripada Firaun di Laut Merah.
17. Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa.
18. Nabi Yunus dikeluarkan daripada ikan.
19. Allah ‘mengangkat’ Nabi Isa.
20. Saiyidina Hussin syahid di medan Karbala (disahkan oleh para sejarahwan).

(*Kaitan kisah-kisah di atas dengan Hari ‘Asyura hendaklah dicari sandarannya)

ASAL-USUL SAMBUTAN HARI ‘ASYURA DALAM ISLAM

Abdullah bin ‘Umar berkata:
“Sesungguhnya orang-orang jahilliyyah biasa melakukan puasa pada hari ‘Asyura. Rasulullah saw pun melakukan puasa itu sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu juga kaum Muslimin ketika itu. ”

“Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah saw mengatakan : Sesungguhnya Hari ‘Asyura ialah hari antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.”
(Muslim)

Maksudnya Hari ‘Asyura memang sudah sedia dimuliakan oleh masyarakat Arab Jahiliyyah dan mereka berpuasa pada hari itu. Rasulullah dan para sahabat pun biasa melakukannya. Apabila puasa Ramadhan disyariatkan, puasa pada Hari ‘Asyura tetap diteruskan sekalipun tidak diwajibkan.

Ibnu Abbas berkata:
“Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, baginda dapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura. Kemudian Rasulullah bertanya (kepada mereka) : “Hari yang kamu berpuasa ini ialah hari apa?”

Orang-orang Yahudi itu menjawab : “Ini ialah hari yang sangat mulia. Ini ialah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini kerana bersyukur, maka kami pun mengikutinya berpuasa pada hari ini.”

Rasulullah saw lantar berkata (kepada para sahabat) : “Kita sepatutnya lebih berhak dan lebih utama mencontohi Musa daripada mereka.”

Lalu setelah itu Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin berpuasa.
(Muslim)

Berpandukan sumber-sumber Yahudi, Rasulullah menggalakkan para sahabat untuk melakukan ibadah puasa pada Hari ‘Asyura.

(*Hal ini menunjukkan tidak semestinya setiap cerita Israilliyyat itu terus ditolak)

KELEBIHAN BERPUASA PADA HARI ‘ASYURA

“Aku berharap dari Allah dengan berpuasa pada hari ‘Asyura, akan menghapuskan dosa dari tahun sebelumnya.”
(Muslim)

BILA HENDAK MELAKUKAN PUASA SUNAT ‘ASYURA?

Ketika Rasulullah saw berpuasa pada Hari Asyura dan memerintahkan agar para sahabat turut berpuasa, mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah ia adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani?”

Lalu baginda bersabda: “Tahun akan datang, dengan kehendak Allah, kita (akan) berpuasa pada hari kesembilan (sehari sebelum Asyura).”

Berkata Ibnu Abbas : “Belum sempat tiba tahun hadapan, Rasulullah saw telah diwafatkan.”
(Muslim)

“Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari ke-9.”
(Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, Thabrani dan lain-lain)

Hari ‘Asyura jatuh pada 10 Muharram. Nabi Muhammad dan para sahabat pernah berpuasa pada 10 Muharram itu. Namun Rasulullah juga bercadang untuk berpuasa pada 9 Muharram, cuma baginda tidak sempat melaksanakannya kerana wafat.

“Berpuasalah pada Hari ‘Asyura, tapi lakukan berlainan dengan kaum Yahudi, iaitu dengan berpuasa pada hari sebelumnya atau pun hari selepasnya.”
(Ahmad & Ibnu Khuzaimah)

Ibnu Abbas berkata:
“Selisihilah (berbezalah dengan) Yahudi, berpuasalah pada tanggal 9 dan 10.”
(Baihaqi)

Para ulama memberikan pelbagai pandangan dalam hal ini. Kita ringkaskan di sini, puasa ‘Asyura boleh dilakukan:

– pada 9,10 dan 11 haribulan (tiga hari)
– pada 9 dan 10 haribulan (dua hari)
– pada 10 dan 11 haribulan (dua hari)
– pada 10 haribulan sahaja (sehari)

ASAL-USUL BUBUR ‘ASYURA MASYARAKAT MELAYU

Disebutkan dalam kitab:
1. Nihayatuz Zain (Syeikh Nawawi Banten ms 96)
2. Nuzhatul Majalis (Syeikh Abdul Rahman Al-Usfuri ms 172)
3. Jam’ul Fawaid ( Syeikh Daud al-Fatani ms 132)

… bahawa ketika bahtera Nabi Nuh berlabuh di Bukit Judi, baginda menyuruh kaumnya mengumpullkan barang makanan yang ada. Antara bahan yang dapat dikumpulkan ialah kacang baqila’/ kacang ful, kacang adas, ba’ruz , tepung , kacang hinthoh dan lain-lain. Semuanya ada tujuh jenis bijian lalu dimasak.

Dalam syair Imam Ibnu Hajar al-Asqalani pula dinyatakan:

“Pada Hari ‘Asyura ada 7 yang dimakan iaitu gandum (tepung), beras, kemudian kacang mash (kacang kuda), dan kacang adas (kacang dal). Dan kacang himmash (kacang putih), dan kacang lubia (sejenis kacang panjang) dan kacang ful.”

Sandaran sebegini tentunya tidak kukuh, namun tidaklah jadi kesalahan kepada sesiapa yang ingin memasak, menjamu atau memakan bubur yang dinamakan bubur ‘Asyura itu. Biasanya bubur ini disediakan secara beramai-ramai. Antara manfaat yang diperolehi ialah pahala bersilaturrahim, pahala bergotong-royong, pahala memberi orang makan memberi gambaran perpaduan umat Islam kepada orang bukan Islam, dan sebagainya.

WaAllahua’lam

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Kewajipan Suami – kelahiran anak

Kewajipan Suami – kelahiran anak

Sebagai seorang suami, dia harus memelihara kesederhanaan dan kesopanan dalam adab-adab melahirkan anak.

Ada lima perkara dalam adab-adab melahirkan anak:

1. Jangan sampai terlalu gembira bila menerima anak lelaki, atau terlalu dukacita bila mendapat anak perempuan, kerana dia tidak mengetahui di mana letaknya tuah di antara keduanya.

Betapa banyaknya orang yang dianugerahi anak lelaki merasa kesal di kemudian hari, dan bercita-cita kalaulah anak itu tiada dilahirkan sama sekali. Yang lain pula mengharapkan anak itu, kalau boleh menjadi perempuan saja. Bahkan pada menerima anak perempuan itu, ada kalanya lebih besar pahalanya.

Berkata Anas meriwayatkan Hadis dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: Barangsiapa yang mempunyai dua orang anak perempuan, ataupun dua orang saudara perempuan, lalu ia membuat baik kepada keduanya selama ia berdampingan dengan mereka, nanti kelak di dalam syurga saya dan dia seperti dua jari ini.

2. Hendaklah diazankan di telinga (kanan) bayi sebaik-baik saja ia lahir dari perut ibunya (dan diiqamatkan disebelah kiri – pent.).

3. Hendaklah bayi itu dinamakan dengan nama yang baik. Sesiapa yang telah diberikan nama yang tidak baik, sunnat diubah nama itu dengan yang lain.

4. Sunnat dibuatkan aqiqah iaitu menyembelih dua ekor kambing bagi anak lelaki atau seekor bagi anak perempuan. Kemudian sunnat pula disedekahkan emas atau perak seberat rambutnya yang dipotong pada hari ketujuh.

5. Hendaklah dimamahkan ke dalam mulutnya dengan sebutir kurma atau lain-lain manisan, kerana yang demikian itu dari amalan Rasulullah s.a.w.

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun.. Haramkah membacanya?

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun.. Haramkah membacanya?

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun.. Haramkah membacanya?

Oleh : Ustaz Syed Abdul Kadir al Joofre

Terbaca di beberapa blog dan forum baru-baru ini, memandangkan hampirnya kita memasuki tahun baru Hijrah, berkemundang sekali lagi seruan bahawa bacaan Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun merupakan satu bid’ah yang jelas haram di sisi Islam. Benarkan apa yang dihebohkan ini? Kalau benar mengapa saban tahun setiap jabatan agama negeri tidak pernah menghalang sambutan ini? Adakah tok mufti dan semua ustaz yang berada di setiap jabatan agama ni bersekongkol dalam kesesatan? Sama-sama kita kaji..

Biasanya apabila kita tidak mengetahui asas bagi satu masalah, maka kita akan mudah membuat keputusan yang salah. Asas dan sebab bagi satu masalah merupakan kunci bagi kita untuk mendapatkan jawapan bagi masalah tersebut. Di sini kita perlu mengkaji dua masalah. Mengapa dibaca doa akhir dan awal tahun. Seterusnya mengapa pula satu golongan lagi cuba untuk mengharamkan perbuatan ini.

Asas pendapat pertama kita lihat dari sudut amalan para ulamak berkurun lamanya bukan sahaja di nusantara malahan di banyak lagi tempat di dunia, yang mengamalkan berdoa di akhir dan awal tahun. Apakah asas mereka? Jawapannya yang ringkas, bukankah kita semua mengetahui bahawa beredarnya bulan dan tahun ini merupakan tanda kekuasaan Allah? Maka tidak layakkah kita sebagai hamba yang lemah memuji Allah apabila kita memerhatikan kebesaranNya? Seterusnya, bukankah molek kalau kita akhiri akhir tahun kita dengan memohon ampun atas kesalahan kita sepanjang tahun lalu, dan seterusnya memulakan awal tahun baru, dengan berdoa kepada Allah agar tahun yang mendatang dipenuhi rahmah dan maghfirahNya? Doa itu senjata mukmin. Maka gunakanlah senjata ada sebaik mungkin.

Asas pendapat kedua. Bid’ah dholalah (atau kata mereka bid’ah secara mutlak) adalah mengadakan sesuatu yg baru yang tiada asasnya langsung dalam agama. Itu kata kita. Ada di kalangan mereka yang menyalah erti bahawa bid’ah adalah sesuatu urusan agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Namun sangkaan ini amat tersasar dari kebenaran berdasarkan terlalu banyak dalil menunjukkan keharusan perkara dalam agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah seperti menghimpunkan Al-Quran dan azan solat jumaat sebanyak dua kali yang dilakukan oleh Saiyidina Usman. Maka diistilahkan pula oleh Imam Syafie dan para mujtahidin yang lain perkara ini sebagai bid’ah hasanah. Malah diklasifikasikan pula oleh Imam Nawawi bid’ah kepada 5 hukum taklifi yang ada. Mereka kata klasifikasi ini klasifikasi dari sudut bahasa, namun jika kita kaji bid’ah dari segi bahasa bukanlah yang dimaksudkan oleh Imam Syafie dan yg lain, tetapi bid’ah dalam agama.

Apapun yang diistilahkan kita sepakat mengatakan bahawa perkara yang dibaharukan yang tiada asasnya langsung dalam agama hukumnya haram dan bid’ah yang dholalah. Nah, sekarang mereka membuat pula satu kaedah. Jika satu ibadat itu dilakukan pada satu waktu tertentu atau hari tertentu atau bilangan tertentu tanpa ada hadis yang warid dari Rasulullah s.a.w. maka ianya dikira sebagai bid’ah (baca bid’ah dholalah) dan haram. 2 asas inilah yang dipegang menjadikan bacaan doa akhir dan awal tahun sebagai haram.

Maka apa pula komentar bagi kedua-dua hujjah kedua-dua golongan ini ya?

Perbincangan bagi hujjah pendapat yang pertama. Dikatakan bahawa memuji Allah apabila memerhatikan kebesaran-Nya. Benar. Namun cara kita menunjukkan pujian dan bersyukur itu perlukan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya s.a.w. Bukannya mengikut fikiran kita semata-mata. Adakah berdoa tersebut cukup untuk menghapuskan segala dosa yang berlaku di sepanjang tahun. Kalau begitu mudahla, Buat dosa banyak-banyak. Akhir tahun doa jelah. Lagipun kalau doa ni pun da bid’ah dan berdosa, sebenarnya bukan hapuskan dosa tapi tambahkan dosa lagi.

Jawapan kepada perbincangan ini. Cara kita menunjukkan pujian dan bersyukur adalah diharuskan selagi mana tidak melanggar syara’. Sebanyak mana pun kita bersyukur takkan cukup dengan nikmat yang Allah beri. Lagipun kita bukan bersyukur mengikut fikiran kita semata-mata, tetapi berdasarkan kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya jugak kan. Bukankah berdoa ini satu cara yang ditunjukkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukannya kita sambut dgn konsert atau pertunjukkan bunga api.

Berkenaan doa boleh menghapuskan dosa atau tidak tersebut, urusan tersebut diserahkan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang memerintah kita supaya berdoa dan Dialah yang memakbulkan doa dan mengampunkan dosa. Ini merupakan usaha kita yg diperintah oleh-Nya. Hujjah buat dosa banyak2 kemudian berdoa adalah hujah yang dangkal, kerana tiada siapa yang mengetahui selama mana hayatnya. Juga ia seolah-olah mempermain-mainkan mereka yang berdoa setiap hari agar diampunkan oleh Allah. Mengapa tidak tunggu tua sahaja baru berdoa. waktu muda buat dosalah banyak2. Hujah yang amat cetek dan tidak perlu dihiraukan, tetapi perlu dijawab kerana banyak antara mereka yang cetek ilmu, tapi mengaku berilmu. Semua kita sepakat bahawa melakukan perkara yang dilarang oleh syarak secara pasti dan mesti adalah haram. Jadi mengapa perlu dipersoalkan perkara begini. Tetapi kita sebagai manusia yang tidak maksum pasti tidak akan lari dari kesalahan. Jadi kita perlu dari masa ke semasa meminta pengampunan dari Allah s.w.t. Niat melakukan dosa dengan harapan berdoa di waktu lain agar diampunkan adalah niat yang jelas salah dan terlarang.

Perbincangan hujjah pendapat yang kedua pula.

Perbincangan hujjah pendapat yang kedua. Apakah asas-asas yang diiktiraf dalam menentukan hukum dan adakah doa ini tiada asasnya langsung dalam agama? Para ulamak telah berselisih dalam perkara ini, namun mereka sepakat menentukan bahawa Al-Quran, Assunnah, Ijma’ dan Qias secara umumnya adalah asas dalam menentukan hukum. (kecuali beberapa ulamak zahiri dan syiah yang menolak terus qias). Mereka pula hanya menganggap Al-Quran dan Assunnah dan ijtihad para mujtahidin berdasarkan dua sumber ini merupakan asas. Walaubagaimanapun kedua-dua masalah ini tidakla jauh bezanya jika difahami dengan betul. Jadi persoalan sekarang adakah di sana asas bagi doa ini dibaca?

Secara ringkasnya asas bagi berdoa secara umumnya adalah ayat-ayat Alquran dan Assunnah yang terlalu banyak menerangkan perintah berdoa tak kira masa dan tempat. Perintah2 ini tidak boleh kita khususkan kepada doa yang warid dalam alquran dan sunnah semata-mata, kerana ia dikira sebagai mengkhususkan sesuatu yg umum tanpa pengkhususnya. Selain itu warid dari Hadis2 dan asar para solihin keharusan berdoa selain dari yg warid mengikut keperluan kita asalkan tidak bercanggah dengan syarak.

Asas seterusnya dalam berdoa ini adalah berdasarkan maslahah (yang juga sumber perundangan hukum islam). Maslahah yang rajihah (yang boleh diguna pakai) dalam perkara ini ditentukan oleh para ulamak terdahulu bukan menurut pemikiran kita semata. Maslahah ini lebih jelas di zaman kita yang mana ramai di kalangan masyarakat kita sudah jauh dari ajaran Islam dan tidak reti berdoa lagi. Malah di tahun baru ini pun mereka tanpa segan silu membuat kemaksiatan. Bukankah molek jika kita menyeru mereka berdoa di waktu begini?

Jadi apabila ada asas-asas yang disebutkan maka kita tidak boleh menyebut amalan berdoa ini sebagai satu perkara bid’ah yang sesat. Malah boleh kita masukkannya di dalam bid’ah hasanah yang disebutkan oleh Imam Syafie.

Mereka juga menyatakan bahawa sesutu ibadat seperti zikir dan doa itu perlu menyamai Rasulullah dari sudut bilangan, masa, hari dan tempat. Sesuatu yang bercanggah dengan salah satu darinya adalah haram. Kita pula menjawab, di manakah dalil kepada penyataan ini? Ulamak terdahulu tidak pernah membuat kaedah sebegini. kaedah yang ada adalah, ibadat tidak menyalahi dari apa yang Rasulullah tunjukkan. Jangan Rasulullah bersolat subuh 2 rakaat kita bersolat 3 rakaat, kerana nak pahala lebih. Itu yang salah. Adapun berdoa dan berzikir di waktu yang tidak warid Rasulullah berzikir pada waktu tersebut adalah tidak diharamkan. Kerana Rasulullah sendiri sentiasa berzikir dan berdoa. Selain itu perintah berzikir berdoa tidak pernah mengkhususkan masa dan tempat. Tiada salahnya jika kita hanya mengaji Al-Quran selepas maghrib setiap hari dan memerintahkan pula anak-anak kita berbuat sedemikian, walaupun tidak warid dalam hadis Rasulullah ada mengkhusukan begitu. Itu kita sepakat bukan. Jadi mengapa kita mengkhususkan pula sebelum maghrib akhir zulhijjah untuk berdoa dikira sebagai sesuatu perbuatan yang haram?

Hujjah mereka seterusnya adalah kebaikan sesuatu perkara adalah berdasarkan al-Quran dan As-sunnah. Maka kita katakan bahawa kebaikan berdoa ini juga adalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah yang menyuruh kita berdoa tanpa mengira waktu dan tidak pernah pula melarang kita berdoa di waktu2 tertentu. Maka kita simpulkan bahawa berdoa awal dan akhir tahun ini merupakan perkara yang baik menurut syara’. Bid’ah mustahabbah kata Imam Nawawi.

Kesimpulan:

Doa di awal dan akhir tahun merupakan sesuatu perkara yang baik dan harus dilakukan oleh setiap lapisan masyarakat, namun ia bukanlah perkara yang wajib. Anda hendak berdoa, berdoalah di setiap waktu dan ketika. Setiap waktu dan ketika itu termasuk juga padanya doa di awal dan akhir tahun. Berdoalah semoga dosa kita di tahun yg lalu diampunkan dan amalan kita diterima. Jua berdoalah moga di tahun baru ini kita dibantu melawan syaitan, nafsu yang menyeru kejahatan serta dibantu melakukan amal ibadat sebanyak mungkin.

Wallahu A’lam

Wasallallahu ‘Ala Saiyidina Muhammad Wa’ala Alihi Wasohbihi Ajma’in, Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

Sumber :

1. http://aljoofre.blogdrive.com/archive/10.html

2. http://aljoofre.blogdrive.com/archive/11.html

Biodata Penulis :

Pengkhususan : Ijazah Sarjana Muda (Kepujian) dalam bidang Syariah dari Universiti Al-Azhar, Mesir dan seterusnya meyambung Sarjana Syariah juga di Mesir (Feqh Perbandingan Mazhab) (kajian bertajuk: Hukum hakam Masjid : Kajian Perbandingan Mazhab dan Permasalahan Kontemporari).Mantan Ketua Moderator Agama Laman Iluvislam.Com. Kini bertugas sebagai pegawai di Sekretariat Himpunan Ulama’ Rantau Asia (SHURA)

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Hari Asyura Gerbang Bulan Amalan

Hari Asyura Gerbang Bulan Amalan

Oleh Wan Marzuki Wan Ramli

Banyak Peristiwa Besar Berlaku Pada 10 Muharam dan Berganda Perkara Sunat

BANYAK peristiwa penting berlaku pada 10 Muharam yang menunjukkan kebesaran Allah. Antara peristiwa itu adalah Allah menerima taubat Nabi Adam, Allah menyelamatkan Nabi Musa daripada tenggelam di laut apabila dikejar Firaun dan tenteranya serta Allah selamatkan Nabi Ibrahim daripada dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud.

Pada tarikh itu juga Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya daripada ombak besar yang melanda bumi dan Allah menyelamatkan Nabi Yunus yang tidak henti berzikir selama 40 hari dalam perut ikan nun. Justeru, hari yang dinamakan Hari Asyura itu sewajarnya dijadikan permulaan baik untuk menempuh tahun baru 1428 Hijrah dengan memperbanyakkan amalan sunat yang dianjurkan seperti berpuasa dan bersedekah. Amalan baik dianjurkan pada 10 Muharam tidak terhad kepada puasa sunat dan memasak bubur Asyura.

Apa juga amalan baik boleh dilakukan pada hari itu dan hari seterusnya pada Muharam kerana banyak amalan dianjurkan Islam untuk dilaksanakan umatnya sepanjang bulan ini. Masyarakat perlu faham keperluan atau apakah diharapkan daripada mereka apabila disarankan melaksanakan amalan sunat pada hari tertentu seperti dianjurkan Islam. Amalan sunat boleh diibarat seperti aksesori tambahan pada kereta. Ada badan, tayar, enjin dan stereng, kereta boleh jalan.

Tetapi apabila ditambah sport rim dan sarung kulit, maka kereta nampak lebih cantik dan menambah nilai kenderaan itu. Begitu juga ibadat wajib seperti solat dan puasa, jika tidak ditambah dengan amalan sunat, bukan tidak elok tetapi tidak cantik. Untuk mencantikkan, kita banyakkan amalan sunat. Walaupun peristiwa besar banyak berlaku pada 10 Muharam, umat Islam digalakkan memperbanyakkan amalan sunat sepanjang bulan pertama kalendar Islam itu yang juga termasuk dalam empat bulan diharamkan Allah berperang.

Amalan puasa sunat 10 Muharam mengambil iktibar daripada puasa dilakukan Nabi Musa sebaik terselamat daripada dikejar Firaun dan tenteranya, juga puasa Nabi Nuh yang diselamatkan daripada banjir besar. Biarpun sunat puasa pada 10 Muharam lebih elok jika berpuasa sama ada pada 9 dan 10 atau 10 dan 11 Muharam bagi mengelakkan menyamai puasa orang Yahudi. Ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah, Rasulullah melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura lalu bertanya kenapa mereka berpuasa pada hari itu? Orang Yahudi menjawab, mereka berpuasa sebagai mengenang hari Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan Firaun dengan askarnya, maka Nabi Musa berpuasa sebagai tanda bersyukur kepada Allah pada hari itu. Maka Rasulullah berkata: “Kamilah yang lebih berhak mengikut jejak Nabi Musa daripada kamu.” Lalu Baginda berpuasa dan menyuruh sahabatnya agar berpuasa juga pada hari itu.

Kebetulan 10 Muharam tahun ini jatuh pada semalam, jadi sebaiknya kita berpuasa semalam dan hari ini atau hari ini dan esok. Ia bagi mengelakkan kita meniru puasa orang Yahudi.Tetapi jika hendak buat semalam saja pun tidak mengapa kerana niat kita lain dengan mereka.

Berpuasa pada Hari Asyura sangat besar pahala seperti hadis yang diriwayatkan Al-Imam Muslim daripada Abu Qatadah bahawa Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Akan digantikan kejahatan pada tahun sebelumnya dengan kebaikan (dengan sebab puasanya itu).” Selain puasa sunat, amalan baik yang dikerjakan ulama ialah solat sunat 10 Muharam yang dilakukan selepas solat fardu kecuali selepas Subuh dan Asar. Selepas solat sunat, digalakkan membaca doa bermaksud: “Allah yang memelihara, sebaik-baik penolong, sebaik-baik penjaga dan sebaik-baik memberi pertolongan” atau dengan membaca doa dianjurkan Saidina Ali yang memohon Allah menunjukkan jalan lurus, dijauhkan bala bencana dan dikabulkan hajat.

Begitu juga dengan amalan memasak bubur Asyura untuk disedekahkan, seeloknya tradisi itu diteruskan sebagai pengerat silaturahim antara saudara dan jiran tetangga. Secara tidak langsung kegiatan seperti itu memupuk kemesraan dan menggalakkan orang kaya bersedekah kepada fakir miskin. Masyarakat hari ini perlu peka dan meraikan Hari Asyura dengan amalan meningkatkan iman mereka.

INFO

Peristiwa penting pada 10 Muharam

• Nabi Adam bertaubat kepada Allah.

• Nabi Idris diangkat Allah ke langit.

• Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari bahteranya sesudah bumi d ditenggelamkan selama enam bulan.

• Nabi Ibrahim diselamatkan Allah daripada dibakar Raja Namrud.

• Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.

• Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara

• Allah memulihkan penglihatan Nabi Yaakob.

• Nabi Isa diangkat ke langit.

• Nabi Ayub dipulihkan Allah daripada penyakit kulitnya

• Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan nun, selepas berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.

• Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya daripada tentera Firaun.

• Allah mengampunkan kesalahan Nabi Daud.

• Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar.

• Hari pertama Allah mencipta alam.

• Hari pertama Allah menurunkan rahmat.

• Hari pertama Allah menurunkan hujan.

• Allah menjadikan Arasy.

• Allah menjadikan Luh Mahfuz.

• Allah menjadikan Malaikat Jibril.

Wallahu aqlam.

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Kiat Menciptakan “Rumahku Surgaku”

Kiat Menciptakan “Rumahku Surgaku”
Posted on admin on December 28, 2009 // Comments Off Bila bicara perihal pernikahan maka kita kerap mendengar kata-kata “rumah tangga sakinah”, “mawaddah wa rahmah” dan semacamnya. Rumah tangga yang tenteram (sakinah) adalah dambaan setiap orang yang menikah. Namun apakah rumah tangga sakinah itu pasti didapatkan oleh setiap orang yang menikah? Jika melihat pada fakta-fakta yang kita temukan di sekitar kita maka jawabannya adalah “belum tentu!”. Lantas bagaimanakah kiat mewujudkan hal itu? Mudahkah menciptakan rumah kita sendiri sebagai surga kita di dunia (baiti jannati)?

Rumah tangga sakinah bukanlah sekedar rumah tangga yang tenteram dan makmur secara materi. Bukanlah rumah tangga yang bergelimang harta dan kemewahan. Rumah tangga sakinah tak lain adalah rumah tangga dengan bertujuan membina sebuah keluarga yang beriman dan taat beribadah kepada Allah SWT demi mendapatkan ridho-Nya, serta bisa menjalin interaksi sosial yang baik dengan sesama manusia (hablun minallah dan hablun minannas). Tentu saja sektor ekonomi juga penting untuk menunjang hal itu. Dan keutamaan (baca: rezeki) dari Allah harus senantiasa dicari dengan jalan halal dengan disertai berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila shalat telah dilaksanakan maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung” (QS Al-Jumu’ah [62]: 10).

Untuk menciptakan rumah tangga sakinah seseorang memerlukan sebuah proses yang cukup panjang. Sebab hal itu tidak muncul begitu saja, melainkan ada kiat-kiat untuk mewujudkannya. Proses tersebut bahkan harus dimulai sebelum seseorang memasuki ranah pernikahan. Sebelum memasuki pernikahan seseorang harus menyiapkan diri dengan bekal kematangan mental khususnya. Harus memahami bahwa bahtera rumah tangga pasti akan mengalami problematika suatu saat. Kesiapan mental jauh lebih penting daripada sekedar kesiapan materi.

Manusia adalah makhluk berbudi yang dibekali naluri cinta dan kasih sayang. Oleh sebab itu maka untuk menikah, seseorang harus memilih calon pasangan yang akan menjadi pendamping hidupnya yang benar-benar bisa dicintainya. Hal itu penting, sebab cinta merupakan modal vital untuk menciptakan keharmonisan, sehingga seseorang tidak menjalani pernikahannya dengan perasaan hambar dan monoton. Ini tidak berarti bahwa seseorang harus berpacaran terlebih dahulu dengan calon pendamping hidupnya. Islam sama sekali tidak membenarkan pacaran. Tak ada yang namanya ‘pacaran’ dalam Islam.

Yang dimaksud dengan hal di atas adalah bahwa calon pendamping seseorang merupakan orang yang benar-benar menyenangkan hati ketika dipandang, sehingga membekaskan rasa senang bahkan cinta yang tidak mudah pudar. Tentu saja idealnya seperti itu. Namun jika tidak didapati wanita ideal seperti yang diidam-idamkan maka yang penting dia relatif menarik hati kita untuk mempersuntingnya. Tentu saja seseorang harus realistis melihat dirinya sendiri. Kecantikan adalah hal nisbi. Yang jauh lebih penting adalah kecantikan hati dan budi. Rasulullah SAW bersabda :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan dinikahi karena empat hal; karena harta bendanya, karena kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya, maka perolehlah yang memiliki agama (yang kuat), (Jika tidak) maka kedua tanganmu akan penuh dengan debu” HR Al-Bukhari dari Abu Hurairah r.a.).

Pentingnya Pengetahuan Agama

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan membina keluarga sakinah mutlak diperlukan pengetahuan agama oleh pasangan suami-isteri. Moral agama harus dijadikan landasan dalam berpikir dan bertindak. Saling jujur, saling menghormati, saling mengasihi, saling menjalin komunikasi yang baik, saling tegur dan mengingatkan, saling memahami dan menyadari kelebihan dan kekurangan pasangannya, saling menjaga diri dan kehormatan pasangannya, saling menutup aib masing-masing pada orang lain, saling mendahulukan sikap mengalah ketika terjadi keributan, saling mendahulukan kewajiban masing-masing, semuanya merupakan modal penting untuk menciptakan suasana “rumahku adalah surgaku”.

Pasangan suami-isteri harus saling melengkapi kebutuhan masing-masing. Seorang suami harus mampu menjadi kepala rumah tangga yang baik dengan memberikan nafkah yang layak sesuai kemampuannya serta memberikan perlindungan dan rasa aman kepada isteri dan anak-anaknya. Sikap mentang-mentang harus dijauhkan oleh masing-masing. Berusaha semaksimal mungkin memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Menyatukan visi untuk mengabdi kepada Allah SWT dan bergaul dengan baik dengan orang lain sesuai koridor agama. Mendahulukan sikap dewasa dan kesabaran ketika tertimpa musibah atau masalah.

Menjauhkan diri dari sikap saling hina, saling ejek, saling tuding dan lempar kesalahan, membuka aib, menuntut pasangannya di atas kemampuan yang dimiliki dan pelbagai sikap egois lainnya. Egoisme adalah hal negatif yang paling banyak menjadi sebab keretakan dan bubarnya jalinan pernikahan dan rumah tangga. Masing-masing harus menjaga diri dari godaan apapun yang datang dari pihak ketiga atau pihak luar. Sebab mayoritas terjadinya perselingkuhan adalah karena faktor tergoda oleh pihak lain. Pada faktanya, perselingkuhan merupakan faktor terbanyak penyebab perceraian di pelbagai belahan dunia. Wal-’iyadzu billah.

Meskipun poligami dibolehkan oleh Islam, tetapi jika tradisi setempat tidak mendukung dan rumah tangga seseorang sudah terbina dengan tenteram dan bahagia maka hal itu jangan dirusak dengan melakukan poligami. Jika poligami hanya akan merusak keharmonisan dan ketenteraman rumah tangga yang sudah terbina baik, maka poligami jangan pernah dilakukan. Sebab tujuan pernikahan adalah terciptanya ketenteraman dan kebahagiaan sebagaimana dalam QS Ar-Ruum [30]: 21). Poligami yang tidak didukung oleh tradisi poligami hanya akan melukai banyak pihak, terutama pendidikan dan mental anak-anak bisa jadi korban.

Wanita dan Kelembutannya

Allah SWT menciptakan makhluk dengan kodrat yang berbeda-beda. Perbedaan itu merupakan bukti kesempurnaan Allah. Perbedaan yang terjadi pada makhluk memiliki hikmah kelestarian ekosistem di dunia ini. Tak terkecuali adalah perbedaan bentuk fisik, kecenderungan dan karakter kaum laki-laki dan perempuan. Perempuan diciptakan dengan segala kelembutannya dalam rangka melengkapi kaum laki-laki. Kelembutan kaum perempuan memiliki pengaruh signifikan pada kaum laki-laki.

Oleh karena hal di atas, maka kaum perempuan harus menggunakan kelembutan yang dimilikinya untuk men-support suaminya agar lebih termotivasi dalam mencari nafkah untuk keluarga. Berjuang untuk agama dan sesama. Jika kaum perempuan memiliki bekal ketakwaan yang tinggi, maka akan mampu men-support suaminya untuk tetap konsisten mencari nafkah sesuai dengan tuntunan moral agama. Jauh dari praktik menghalalkan segala cara yang amat dicela oleh agama dan sosial.

Jika demikian adanya, maka relasi suami-isteri akan mampu menciptakan rumah tangga yang sakinah sehingga rumah yang dihuni terasa bagai surga. Tak perlu seseorang tergoda oleh faktor-faktor di luar yang hanya akan merugikan kehidupan rumah tangga mereka. Betapa bahagianya sebuah rumah tangga jika senantiasa didasarkan pada nilai-nilai luhur agama dalam rangka mencari ridho Sang Pencipta yang akan menjamin keselamatan dan memberikan kebahagiaan hakiki di dunia hingga akhirat nanti. Amin. Natasha Firdaus

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Majalah Al Kisah Terkini

Kisah Hijrah Bertabur Hikmah: “Jangan Bersedih, Allah Bersama Kita…”
749
1 2 3 4 5 (0 votes, average 0 out of 5) Written by Fredi Wahyu Wasana
Thursday, 09 December 2010 07:38

Sehebat apa pun musyrikin membuat rencana untuk menggagalkan hijrahnya Rasul SAW, Allah-lah Sang Perencana terbaik.

Musim semi baru akan berlangsung. Bulan pada malam itu tampak kecil dilatari gugusan bintang yang berserak di atas langit. Udara dingin serasa menggigit kulit. Terpaan angin yang menerbangkan buliran pasir gurun membuat mata terpicing dan terkantuk-kantuk.

Ketika sebahagian besar penduduk Makkah terlelap dalam tidur, Rasulullah SAW tengah berkemas-kemas. Sementara itu beberapa kelompok musyrikin menyatroni lingkungan, mewaspadai gerak-gerik yang mereka incar dan curigai.

Keadaan yang demikian sunyi dan mencekam tidak membuat ciut nyali Rasulullah SAW untuk beranjak keluar dari kediamannya.
Ya, malam itu, permulaan Rabiul Awwal, menjadi langkah awal perubahan yang penuh persiapan masak bagi keberlangsungan Islam di muka bumi.

Nabi masih sempat membisikkan kepada Ali bin Abu Thalib RA, sepupunya yang pemberani, untuk segera menempati ranjangnya seraya berbalut selimut hijau dari Hadhramaut.

Sambil meraup pasir di pelataran rumahnya, beliau mengucap bismillah dan melontarkan pasir dalam genggamannya itu.

Sekejap kemudian, puluhan pemuda musyrikin yang semula menyatroni gerak-gerik Nabi terlelap. Dan Rasulullah pun berlalu dengan selamat. Semua itu bi idznillah, dengan izin Allah Ta’ala.

Kemudian, bersama Abu Bakar bin Abi Quhafah RA, Nabi bertolak ke arah selatan rumahnya menuju sebuah gua di Bukit Tsur.

Sebelum melangkahkan kaki, Rasulullah menatap kota Makkah dari kejauhan. Dengan berlinang air mata, beliau berucap, “Demi Allah, engkaulah bagian bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai. Andai kata tidak diusir, aku tak akan meninggalkanmu, wahai Makkah.”

Gua yang sempit dan jarang disinggahi manusia itu dipilih untuk satu tujuan yang tidak diketahui siapa pun kecuali Nabi, Abu Bakar, sahabat yang kelak menjadi mertua beliau, dan ada empat orang, yakni Ali bin Abu Thalib, Abdullah dan Asma (keduanya putra-putri Abu Bakar), serta pembantu Abu Bakar, Amir bin Fuhairah.

Keempat orang itu mendapat tugas yang sangat strategis bagi kesuksesan perjalanan yang amat bersejarah tersebut. Ali berdiam di rumah Rasul SAW untuk mengelabui kaum musyrikin. Abdullah ditugasi untuk memonitor perkembangan berita di kalangan orang-orang kafir Makkah lalu menyampaikannya kepada Rasul pada malam harinya ke tempat persembunyian. Asma saban sore membawa makanan buat Rasul dan ayahnya. Amir bin Fuhairah ditugasi menggembalakan kambing Abu Bakar, memerah susu, dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah bin Abu Bakar kembali dari tempat mereka bersembunyi di gua itu, datang Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejak.

Sementara itu pihak Quraisy berusaha keras mencari jejak Rasul SAW dan Abu Bakar. Pemuda-pemuda Quraisy dengan wajah beringas membawa senjata tajam, mondar-mandir mencari ke segenap penjuru.

Ketika bergerak menuju Gua Tsur, mereka menyambangi bibir gua itu.

Sang pemimpin hendak menerobos masuk, tapi kemudian tidak jadi.

“Kenapa tidak masuk ke dalam?” tanya anak buahnya.

“Setelah aku amati, tampaknya gua ini tak mungkin dijadikan persembunyian. Di dalamnya ada sarang laba-laba dan sarang burung liar hutan. Akal sehatku mengatakan, tidak mungkin ada orang yang masuk ke dalamnya, bahkan tak ada bukti yang menunjukkan jejak orang yang kita cari,” katanya.

Sedangkan di dalam gua, Abu Bakar merasa khawatir. Derap langkah orang-orang itu seakan hampir menemukan mereka. Ia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasul, andai salah seorang di antara mereka menemukan kita, habislah kita. Jika aku mati, apalah diriku. Tapi jika dirimu yang mati, tamatlah riwayat dakwahmu. Bagaimana jadinya?”

Beliau menjawab dengan balik bertanya, “Apa yang ada di benakmu jika berduanya kita di sini juga ada Allah, yang ketiga di antara kita?”

Maka turunlah firman Allah, “Kalau kamu tidak menolongnya, sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) tatkala orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya dan dikuatkan-Nya dengan pasukan yang tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah, sedangkan kalimah Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Mahakuasa dan Bijaksana.” (QS 9: 40).

Setelah meyakini apa yang dicari tampaknya tidak membuahkan hasil, gerombolan musyrikin ini meninggalkan gua tersebut.

Iman Meneguhkan Hati

Tiga hari tiga malam Rasulullah SAW bersama Abu Bakar di dalam gua yang senyap dan gelap itu.

Pada hari ketiga, ketika keadaan sudah tenang, unta untuk kedua insan yang saling mencintai ini didatangkan oleh Amir bin Fuhairah. Asma pun datang menyiapkan makanan.

Dikisahkan, Asma merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya digunakan untuk menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan, sehingga ia lalu diberi nama Dzat an-Nithaqain (Yang Memiliki Dua Sabuk).

Menjelang siang, Rasul SAW dan Abu Bakar berangkat meninggalkan Gua Tsur. Karena mengetahui pihak Quraisy sangat gigih mencari mereka, mereka mengambil rute jalan yang tidak biasa ditempuh orang. Dengan ditemani Amir bin Fuhairah dan mengupah seorang Badui dari Banu Du’il, Abdullah bin ‘Uraiqith, sebagai penunjuk jalan, mereka berempat menuju selatan Lembah Makkah, kemudian menuju Tihamah di dekat pantai Laut Merah. Sepanjang malam dan siang, mereka menempuh perjalanan yang amat berat.

Selama tujuh hari Rasulullah SAW bersama Abu Bakar, Amir, dan penunjuk jalannya menyusuri padang pasir nan luas dan gersang. Mereka beristirahat di siang hari di bawah panas membara dan kembali melanjutkan perjalanan sepanjang malam, mengarungi padang pasir dengan udara dingin yang menusuk tulang. Hanya iman kepada Allah-lah yang membuat Rasul dan sahabatnya berteguh hati dan perasaan damai menyelimuti.

Saat memasuki daerah kabilah Banu Sahm, Buraidah, kepala kabilah itu menyambut mereka. Perasaan lega semakin terasa. Karena jarak mereka dengan Yatsrib sudah semakin dekat.

Berita tentang hijrahnya Nabi SAW yang akan menyusul kaum muslimin Makkah yang telah tiba sebelumnya sudah tersiar di Yatsrib. Penduduk kota ini sangat mafhum, betapa penderitaan akibat kekerasan kafir Quraisy telah banyak menimpa Nabi SAW. Oleh karena itu kaum muslimin menantikan penuh harap kedatangan Rasulullah dengan hati berbunga-bunga ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya.

Banyak di antara mereka yang belum pernah melihat Nabi, meskipun sudah mendengar ihwalnya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya.

Akhirnya, Rasulullah tiba dengan selamat di kota Madinah pada hari Jum’at, 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 Kenabian/12 atau 13 September 622 M. Sambutan penuh suka cita diiringi isak tangis penuh haru dan kerinduan menyeruak di langit Madinah. Syair pun berkumandang:

Thala’al badru ‘alaina
Min Tsaniyyatil Wada’
Wajabasy syukru ‘alaina
Ma da’a lillahi da`
Ayyuhal mab’utsu fina
Ji’ta bil amril mutha’

Telah nampak bulan purnama
Dari Tsaniyyah Al-Wada’
Wajiblah kami bersyukur
Atas masih adanya penyeru kepada Allah
Wahai orang yang diutus kepada kami
Engkau membawa sesuatu yang patut kami taati

Abu Ayyub segera menyokong Nabi. Ia pun tampil menjadi penolongnya. Dengan penuh suka cita, ia telah mempersiapkan bangunan rumah bagi Nabi. “Terserah olehmu, wahai kekasih Allah… bagian mana saja ingin engkau tinggali, kami sangat bahagia bersamamu,” kata Abu Ayyub.

Di rumah pemberian Abu Ayyub-lah Nabi SAW memilih untuk tinggal bersama istrinya, Saudah binti Zam’ah, dan kedua putrinya, Fathimah dan Ummu Kultsum.

Hari itu jatuh pada hari Jum’at, sehingga beliau bersegera untuk melaksanakan ibadah Jum’at yang pertama kali diselenggarakan di Madinah.

Empat hari sebelumnya, sebelum tiba di Madinah, di Lembah Wadi Ranunah, Baqi, tempat penjemuran kurma milik dua orang anak yatim dari Banu Najjar, unta Nabi SAW menghentikan langkahnya. Nabi SAW turun dari untanya dan bertanya, “Kepunyaan siapa tempat ini?”

“Kepunyaan Sahl dan Suhail bin ‘Amr, wahai Rasulullah,” jawab Ma’adh bin ‘Afra, wali kedua anak yatim itu.
Kedua anak yatim itu berharap kepada Nabi Muhammad SAW agar di lahan milik mereka didirikan masjid.
Nabi menyetujuinya, dan itulah masjid yang pertama kali berdiri dalam perjalanan hijrah yang amat berkesan.

“Hendaklah ke Yatsrib”

Sebelum tibanya Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA, rombongan pertama Muhajirin telah lebih dulu sampai di Yatsrib beberapa hari sebelumnya.

Aisyah RA meriwayatkan, permusuhan dan penyiksaan terhadap kaum muslimin bertambah berat di Makkah. Mereka datang dan mengadu kepada Rasulullah SAW meminta izin berhijrah.

Pengaduan itu dijawab oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya, “Sesungguhnya aku telah diberi tahu bahwa tempat hijrah kalian adalah Yatsrib. Barang siapa ingin hijrah, hendaklah ia menuju Yatsrib.”

Para sahabat pun bersiap-siap, mengemas semua keperluan perjalanan. Bahkan sebahagian besar tidak mempedulikan lagi harta benda milik mereka. Mereka ingin segera melaksanakan perintah Rasul itu.

Mereka berangkat secara sembunyi-sembunyi.

Sahabat yang pertama kali sampai di Madinah ialah Abu Salamah bin Abdul Asad, kemudian Amir bin Rab’ah bersama istrinya, Laila binti Abi Hasymah.

Setelah itu para sahabat Rasulullah SAW datang secara bergelombang. Mereka tiba di rumah-rumah kaum Anshar dan mendapatkan tempat perlindungan.

Siapa Yang Ingin Istrinya Menjanda…

Tidak seorang pun di antara sahabat Rasulullah SAW yang berani hijrah secara terang-terangan kecuali Umar bin Al-Khaththab RA.

Ali bin Abi Thalib RA meriwayatkan, ketika Umar hendak berhijrah, ia membawa pedang, busur, panah, dan tongkat yang diselempangkan di bahunya yang kokoh. Saat meninggalkan rumahnya, ia menuju Ka’bah.

Sambil disaksikan beberapa orang tokoh Quraisy, Umar melakukan thawaf tujuh kali dengan tenang.

Setelah thawaf ia menuju Maqam Ibrahim dan mengerjakan shalat. Seusai shalat, ia berdiri seraya berkata, “Semoga celakalah wajah-wajah kalian! Wajah-wajah inilah yang akan dikalahkan Allah! Barang siapa ingin ibunya kehilangan anaknya, atau istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim piatu, hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini.”

Tidak seorang pun berani mengikuti Umar kecuali beberapa kaum lemah yang telah diberi tahu Umar dan dilindungi perjalanannya. Kemudian Umar berjalan dengan gagah dan santai.

Demikianlah, secara berangsur-angsur kaum muslimin melakukan hijrah ke Madinah sehingga tidak ada yang tertinggal di Makkah, kecuali Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, Ali RA, orang-orang yang ditahan, orang-orang sakit, dan orang-orang yang belum mampu keluar meninggalkan Makkah, termasuk ayah dan beberapa orang anak Abu Bakar RA.

Hijrah ke Habasyah

Sebelum munculnya peristiwa hijrah ke Madinah, umat Islam pernah melakukan hijrah ke Habasyah.

Kenapa hijrah ke Habasyah? Bukankah masih ada daerah lain yang relatif lebih dekat dari Makkah? Yaman, Syam, Hirah, misalnya.
Ahmad Syalabi, dalam bukunya At-Tarikh al-Islamiyy wa al-Hadharah al-Islamiyyah, menceritakan, tidak dipilihnya Yaman sebagai tempat hijrah, karena negeri ini pada saat itu di bawah kekuasaan Persia. Bazan, gubernur Yaman, malah diperintahkan Kisra, raja Persia, untuk menangkap Nabi SAW hidup-hidup untuk dibunuh. Sedangkan Syam dan Hirah memiliki hubungan ekonomi yang sangat erat dengan suku Quraisy, suku yang paling keras memusuhi Nabi.

Pilihan Nabi jatuh ke Habasyah (Ethiopia, kini). Meskipun jauh, raja Habasyah dikenal adil dan bijak. Apalagi Nabi memiliki hubungan baik, meski keduanya berbeda keyakinan pada saat itu. Itu terlihat dari jawaban raja Habasyah atas surat dakwah yang Nabi kirimkan.

Habasyah adalah negeri yang terletak di selatan benua Afrika. Untuk mencapainya, perjalanan berbulan-bulan. Namun jarak yang sangat jauh itu tidak menjadi hambatan bagi mereka yang beriman, yakni para sahabat sejati Rasulullah SAW. Panasnya gurun, tingginya gelombang lautan, dan para penyamun yang berkeliaran, seolah tidak lagi dipikirkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Hijrah ke Habasyah terjadi pada tahun kelima setelah kenabian. Najasyi, sang raja Habasyah, sangat menaruh perhatian dengan kaum muslimin yang berhijrah ke negerinya, meskipun ia seorang Nasrani. Nabi mengizinkan para sahabat dengan mengatakan, “Pergilah ke Habasyah. Rajanya tak pernah berbuat zhalim. Tinggallah di sana agar kalian bebas dari penderitaan seperti yang kalian alami di sini.”

Hijrah Habasyah terjadi dalam dua fase. Fase pertama berangkat sebanyak 10 orang laki-laki dan lima perempuan dengan kepala rombongannya Utsman bin Maz’un, atau Utsman bin Affan RA. Fase kedua terjadi selang tiga-empat bulan. Hijrah fase kedua ini dilakukan oleh 83 orang laki-laki dan 19 orang perempuan, di bawah pimpinan Ja’far bin Abu Thalib RA.

Dari dua fase ini, beberapa orang ada yang menetap di Habasyah, sedangkan sebahagian lainnya berpindah ke Madinah, setelah peristiwa hijrah ke Madinah.

Setelah fase pertama, intimidasi orang-orang Quraisy kian meningkatkan. Maka, Nabi SAW kembali menganjurkan hijrah ke Habasyah.

Seperti pada hijrah pertama, kaum muslimin disambut dengan baik oleh Raja Najasyi.

Hujjah Ja’far yang Memukau

Musyrikin Makkah marah. Mereka merasa kecolongan dengan hijrahnya para sahabat ke Habasyah. Mereka berkumpul, mencari cara agar kaum muslimin yang berhijrah itu bisa diekstradisi ke Makkah. Kaum musyrikin bersepakat untuk melakukan perundingan dengan Raja Najasyi dengan mengutus Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash.

Untuk memuluskan perundingan, musyrikin Makkah membawakan berbagai macam barang berharga untuk Raja dan bawahannya. Setiap panglima akan mendapatkan hadiah khusus. Pesan orang-orang kafir Quraisy kepada Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash, “Ketika bertemu Raja, serahkan hadiah yang telah disiapkan untuknya. Lalu, mintalah agar Raja mau menyerahkan kaum muslim tanpa ia harus menanyakan persetujuan kaum muslim lebih dulu.”

Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash pun berangkat.

Sesampainya di sana, kepada setiap panglima yang ditemui, mereka memberikan hadiah khusus dan mengatakan, “Orang-orang bodoh Makkah datang ke negeri kalian. Mereka meninggalkan agama kaum Makkah, tapi tak juga memeluk agama kalian. Dan, justru membawa agama yang menyimpang. Kami tidak paham agama itu. Tentu kalian juga tidak paham.

Tujuan kami ke sini adalah untuk memulangkan mereka ke Makkah. Dan, raja kalian tidak perlu meminta pendapat orang-orang bodoh itu lebih dulu. Kami lebih paham tentang mereka.”

Abdullah dan Amr kemudian bertemu dengan Raja Najasyi dan menyampaikan seperti apa yang mereka katakan kepada para panglima.

Raja tampak serius mendengarkan ucapan mereka.

“Tidak! Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian. Setiap orang yang datang ke negeri ini akan mendapatkan perlindunganku,” kata Raja kepada Abdullah dan Amr.

“Aku akan memanggil salah seorang di antara mereka untuk memastikan kebenaran ucapan kalian.

Jika mereka seperti yang kalian ceritakan, aku akan mengembalikan mereka kepada kalian. Jika ternyata tidak, aku akan tetap melindungi mereka. Aku tetap akan menjamin keamanan orang-orang yang datang ke negeriku.”

Raja lalu menyuruh salah seorang punggawa untuk memanggil para sahabat.

Mereka khawatir akan terjadi sesuatu atas pemanggilan itu. Mereka saling tanya, “Apa yang akan kita katakan kepada Raja?”
Yang lain menjawab, “Kita akan mengatakan apa yang kita tahu. Kita akan mengatakan apa yang diperintahkan Nabi, apa adanya.”

Para sahabat pun menghadap Raja.

Di samping Raja, para pendeta membuka kitab suci mereka.

“Agama apa yang kalian peluk sehingga kalian memisahkan diri? Mengapa kalian tidak memeluk agamaku saja? Atau agama yang lain?” tanya Raja kepada para sahabat.

Ja‘far bin Abu Thalib RA berdiri lalu maju ke depan Raja. Dengan mantap, ia menjawab, “Baginda Raja, dulu kami adalah kaum Jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kejahatan, memutus hubungan persaudaraan, tak menghormati tetangga, yang kuat menindas yang lemah, melakukan apa saja yang buruk yang seharusnya tidak pantas pada diri kami sebagai manusia. Begitulah keadaan kami. Sampai kemudian Allah mengutus seorang nabi yang lahir dari bangsa kami sendiri….”

Ja‘far berbicara cukup panjang, menceritakan ihwal Nabi, akhlaqnya, ajaran yang dibawanya, yang mengajarkan kebaikan. Ia ceritakan semuanya apa adanya.

“Dan oleh sebab semua itu, orang-orang Quraisy menyiksa kami agar meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala. Mereka menekan, menindas, dan menzhalimi kami. Sebab itulah kami memisahkan diri dari kaum kami dan mencari perlindungan di negerimu.

Baginda Raja, di sini kami berharap tidak akan mendapat perlakuan zhalim,” kata Ja‘far menutup pembicaraannya.

Raja Najasyi terpukau dengan penjelasan Ja‘far. Ia kemudian memandang para sahabat yang berhijrah ke negerinya. Lalu, kembali memandang Ja‘far.

“Apakah engkau bisa menunjukkan sesuatu yang Nabi terima dari Allah?”

“Ya!”

“Baiklah! Tunjukkan kepadaku dan bacakan!”

Lalu Ja‘far membacakan surah Maryam, yang mengisahkan kelahiran Nabi Isa, kesucian Maryam, dan lain-lain.

Raja Najasyi dan para pendeta menyimak dengan seksama. Ayat demi ayat yang dibacakan Ja‘far membuat mereka menangis. Linangan air mata mengalir hingga membasahi jenggot Raja. Seluruh ruangan hening.

Raja Najasyi menyeka air matanya, kemudian berkata, “Agama kalian dan agama yang dibawa Nabi Isa adalah dua pancaran cahaya yang keluar dari lentera yang sama.”

Raja Najasyi lalu menoleh kepada Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash, utusan musyrikin Makkah.

“Pulanglah kalian! Sungguh, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian. Mereka tidak boleh disakiti oleh siapa pun!”
Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash pun berlalu dari hadapan Raja Najasyi.

Malam itu mereka berpikir panjang. Apa yang akan mereka katakan soal kegagalan ini di hadapan tokoh-tokoh musyrikin? Bagaimana jika Muhammad bin Abdullah SAW mencibir mereka?

Amr bin Al-Ash berpikir keras hingga ia mendapatkan ide baru. Ia berkata kepada rekannya, Abdullah, “Besok aku akan kembali menghadap Raja! Aku akan menyiasati agar Raja mau menghukum mereka! Kita tidak boleh pulang dengan tangan hampa setelah melewati perjalanan melelahkan ini dan dengan biaya mahal pula!”

Tapi Abdullah bin Abi Rabiah tidak setuju. “Sebaiknya kau tidak melakukannya, Amr!” kata Abdullah. “Meski berselisih dengan kita, para Muhajirin itu sebagian adalah kerabat kita!”

Namun Amr tetap bersikeras dengan rencananya. Ia merasa, rencananya akan berhasil.

Esok harinya, Amr mendapatkan izin untuk menemui Raja. Dengan penuh keyakinan, Amr menghadap Raja Najasyi.

“Baginda Raja yang mulia, Ja‘far dan kawan-kawannya telah mengeluarkan kata-kata keji dan benar-benar tidak pantas untuk Isa bin Maryam!” kata Amr memulai rekayasa.

“Apa yang mereka katakan?”

“Silakan Tuan suruh salah seorang punggawa untuk memanggil mereka. Lalu, Tuan tanyakan langsung kepada mereka.”
Kemudian para sahabat dipanggil.

Mereka terkejut dengan pemanggilan itu. Tapi mereka tahu, itu adalah rekayasa Amr. Mereka khawatir jika Raja benar-benar terpengaruh oleh rekayasa itu kemudian berubah pikiran. Mereka benar-benar gentar, tidak pernah mereka segentar itu.

“Apa yang akan kita katakan kepada Raja soal Isa putra Maryam? Raja tidak akan menerima perkataan kita,” kata mereka saling tanya.

“Kita akan mengatakan apa yang diceritakan Al-Quran. Dan, apa pun yang akan terjadi nanti, kita harus siap menghadapi,” jawab Ja‘far dengan tegas.

Para sahabat Muhajirin menghadap Raja Najasyi.

Raja pun langsung melontarkan pertanyaan, “Apa yang kalian tahu tentang Isa?”

Ja‘far berdiri lalu menjawab dengan tegas, “Kami mengetahui Isa bin Maryam seperti yang kami terima dari nabi kami. Yakni bahwa Isa adalah putra Maryam, dia hamba Allah, utusan Allah, ruh Allah, dan kalimat Allah yang dititipkan kepada Maryam, Sang Perawan Suci.”

Selesai dengan jawaban singkat itu, Ja‘far kembali duduk.

Raja merundukkan badan dan memukulkan tangannya ke lantai, lalu memungut tongkat dan mengangkatnya ke atas seraya berkata, “Sungguh, Ja‘far! Jika bukan karena Isa bin Maryam, pastilah tongkat ini sudah hancur!”

Para panglima yang hadir seketika menundukkan kepala dan saling merapat. Seperti ada penyesalan dalam diri mereka, yang telah menerima sogokan dari utusan kaum Quraisy itu.

“Kalian rapuh!” kata Raja, memaki para panglimanya itu.

Raja Najasy kemudian memandangi para sahabat Muhajirin dan berkata, “Keluarlah! Kalian aman! Orang yang mencaci kalian akan menyesal!” Ia mengulang-ulang perkataannya itu sampai tiga kali.

“Aku tidak akan menyakiti kalian meski mendapat iming-iming gunung emas!”

Kemudian kepada para panglimanya, Raja berkata, “Sekarang, kembalikan hadiah-hadiah itu kepada Abdullah dan Amr!”

Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash berlalu dari hadapan Raja Najasyi dengan penuh kehinaan. Sementara, para sahabat Muhajirin tetap menikmati tinggal di negeri damai dengan seorang raja yang baik hati.

Subhanallah, begitu besar jasa Raja Najasyi bagi para sahabat. Alhamdulillah, beberapa tahun kemudian, ia masuk Islam.

Nabi SAW sendiri dan beberapa orang sahabat lainnya tidak berhijrah ke Habasyah. Pada saat itu Nabi masih memiliki sejumlah orang dekat yang selalu melindunginya, seperti pamannya, Abu Thalib, dan istrinya, Khadijah binti Khuwailid.

Hijrahnya Ulama dan Sufi

Perjalanan hijrah merupakan sunnah para nabi dan rasul, yang kemudian diikuti para ulama dan kaum sufi. Hijrah di kalangan ulama dan sufi di masa salaf adalah hijrah yang penuh warna. Ada di antara mereka yang berhijrah lantaran kekejian penguasa, jalan pertaubatan, melakukan rihlah ilmiyah, melaksanakan dakwah, ada pula untuk menyampaikan ilmu pengetahuan. Mereka menyambangi satu kota ke kota lainnya, satu negeri ke negeri lainnya, baik berkendara kuda atau unta maupun berjalan kaki.

Diceritakan dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala dari jalan periwayatan Al-Fadhl bin Musa bahwa Al-Fudhail bin Iyadh dulunya seorang penyamun yang sering menghadang orang di daerah antara Abu Wardah dan Sirjis.

Suatu ketika, ia terpikat dengan seorang perempuan. Ia ingin melampiaskan hasratnya terhadap perempuan itu. Ia lalu menaiki tembok rumah si perempuan. Tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca ayat yang berbunyi, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah turun Al-Kitab kepadanya kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Al-Hadid: 16).

Al-Fudhail langsung bergumam, “Tentu saja, wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).” Lalu ia tak jadi melaksanakan hasratnya itu.

Pada malam itu juga ketika ia bersembunyi di balik reruntuhan bangunan, ada sekelompok orang yang tengah lewat.
Sebagian mereka berkata, “Kita jalan terus?”

Yang lain menjawab, “Ya, kita jalan terus sampai pagi. Karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.”

Al-Fudhail lalu merenung dan berkata, “Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan orang-orang di situ ketakutan kepadaku. Tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti dari kemaksiatan ini. Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitullah Al-Haram.”

Ia habiskan satu masa di Kufah untuk mengaji dengan ulama di negeri itu, seperti Al-A’masyi, ‘Atha bin As-Su’aib, Shafwan bin Salim. Kemudian ia pergi menuju Makkah.

Di Makkah, ia bekerja berjualan air dipikul untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Ia tidak mau menerima pemberian dari para pemuka masyarakat, karena kehati-hatiannya untuk sesuatu yang halal.

Kisah Al-Fudhail hanya satu dari sekian contoh ulama dan kaum sufi salaf yang melakukan hijrah dalam kehidupannya untuk menuju keridhaan Allah SWT.

Kisah Al-Muhajir Ahmad bin Isa Ar-Rumi

Satu contoh lagi terdapat dalam perikehidupan dzurriyyah Rasulullah SAW yang bernama Imam Ahmad, yang bergelar “Al-Muhajir”. Gelar Al-Muhajir disematkan atas dirinya lantaran kesanggupannya mengikuti tradisi para nabi, rasul, dan sahabat.

Imam Ahmad adalah putra Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali RA dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra putri Rasulullah SAW.

Ia adalah salah seorang putra dari 30 putra Isa Ar-Rumi, yang dilahirkan pada tahun 260 H/872 M, dan melakukan hijrah yang amat jauh dari Bashrah ke Hadhramaut.

Pada tahun 317 H/928 M, ia melakukan perjalanan ke Madinah. Di Madinah ia menetap setahun. Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan juga menyempatkan diri untuk belajar kepada Syaikh Abu Thalib Al-Makki. Dari Makkah ia melanjutkan perjalanan ke Hajrain hingga berakhir di Husaisah, Hadhramaut.

Dalam rihlah yang sangat jauh ini, ia membawa 70 orang anggota keluarganya, termasuk istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin Al-Hasan bin Ali Al-Uraidhi, putranya, Ubaidillah, dan ketiga cucunya, Alwi, Jadid, dan Ismail Al-Bashri.

Kepindahan Al-Muhajir dari Bashrah tidak terlepas dari kekangan dan kebuntuan yang dialaminya akibat rezim Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Sebagai keturunan Sayyidina Ali RA, yang disebut kelompok Alawiyyin, ia sering kali menjadi korban kepentingan politik di Baghdad. Saat itu, kelompok Alawiyyin memiliki pengaruh yang sangat besar dalam bidang politik.

Ia dan segenap keluarganya memilih untuk menjauhkan diri dari kekuasaan. Sebagaimana ia tunjukkan dengan menitikberatkan aktivitas kehidupan dalam keluarganya dengan ilmu dan ketaqwaan. Ia memilih jalan hidup kaum sufi, sekalipun ia memiliki kedudukan terhormat dan disegani serta kekayaan yang banyak.

Akhir perjalanan di Husaisah telah menghantarkannya kepada posisi yang sangat penting bagi perjalanan dzurriyyah Rasulullah SAW. Ia menerangi kehidupan Hadhramaut dengan ilmu dan amal. Kesesatan menghilang akibat sinaran petunjuk kebenaran yang dibawanya. Dari Hadhramaut-lah kemudian cahaya keluarga Nabi SAW bersinar ke berbagai penjuru.

Imam Ahmad Al-Muhajir wafat pada tahun 345 H/956 M di Husaisah, Hadhramaut, dengan meninggalkan keturunan yang mewarisi datuk-datuknya yang mulia dengan ilmu dan adab.

Hijrah dalam Konteks Kekinian

Hijrah dalam artian fisik yang dinyatakan telah berakhir setelah Fathu Makkah, sebagaimana sabda Nabi, “La hijrata ba’dal fath” (Tidak ada hijrah lagi setelah Pembebasan Makkah).

Namun, semangat hijrah harus tetap ada dalam setiap sanubari muslimin, yakni hijrah dari sisi jiwa, berdasarkan hadits “…wal muhajiru man hajara ma nahallahu ‘anhu.” (orang yang hijrah ialah orang yang berpaling dari apa yang dilarang Allah). Yakni hijrah dengan meninggalkan semua perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT. Persis seperti kebencian Rasulullah dan sahabat atas kezhaliman kaum musyrikin, upaya Al-Fudhail meninggalkan kezhaliman dirinya, dan upaya Imam Al-Muhajir meninggalkan kezhaliman yang menimpa dirinya dan keluarganya.

Untuk dapat melakukan hijrah ruhaniyah ini dibutuhkan pemahaman yang sempurna akan hakikat dosa dan kemaksiatan. Kemaksiatan yang dapat mempekatkan hati seseorang, sebagaimana sabda Nabi, “Idza adznabal ‘abdu nuqitha fi qalbihi nuqthatan sauda’-a” (Apabila seorang hamba berbuat dosa, diberi sebuah titik hitam di dalam hatinya).

Nabi SAW, sahabat, ulama, waliyullah, dan dzurriyyah adalah contoh terbaik, model tercanggih, saat kita ingin memahami hijrah dalam konteks kekinian. Pemahaman yang mendalam tentang kisah hijrah ini akan mendatangkan pelajaran bagi kita untuk mengenal hakikat diri sebagai hamba Allah SWT, yang di dunia ini hanyalah pengembara. Persis seperti yang dikatakan Nabi SAW, “Kun fi dun-ya ka-annaka gharibun aw ‘abiru sabiilin” (Jadilah engkau di dunia laksana orang asing atau orang yang tengah mengembara).

AB

http://majalah-alkisah.com

Posted by: Habib Ahmad | 15 Disember 2010

Bertawassul sebelum adanya Nabi SAW

Bertawassul sebelum adanya Nabi SAW

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

Umat Islam mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah untuk beribadat mengambil berkat wafat dan disemadikan Nabi SAW di situ.

——————————————————————————–

MENYAMBUNG perbicaraan minggu lepas, di dalam hadis tawassul dengan Rasulullah SAW sebelum kewujudan baginda SAW, menunjukkan bahawa paksi kesahihan bertawassul adalah hendaklah orang yang ditawassulkan itu mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT dan tidak disyaratkan hidup di dunia.

Daripada sini dapat diketahui, bahawa pendapat yang menyatakan bahawa bertawassul dengan seseorang itu tidak sah melainkan sewaktu hidupnya di dunia merupakan pendapat orang yang hanya mengikut hawa nafsu. Bukannya berdasarkan petunjuk daripada Allah.

Kesimpulannya, hadis ini telah disahihkan dengan hadis-hadis yang mendukungnya, dan ia telah dinaqalkan oleh sekumpulan ulama besar, imam-imam ahli hadis dan para hafiznya; yang kesemuanya mempunyai kedudukan yang sememangnya telah makruf dan pangkat yang tinggi.

Mereka juga adalah orang yang bersifat amanah terhadap Sunnah Nabawiyyah. Di antara mereka adalah al Hakim, al Suyuti, al Subki dan al Balqini.

Selain mereka, al Baihaqi juga menaqalkan hadis ini di dalam kitabnya, Dalail al Nubuwwah; yang beliau syaratkan tidak meriwayatkan hadis-hadis yang mauduk (palsu atau rekaan) di dalamnya, dan seperti yang dikatakan oleh al Zahabi: “Hendaklah kamu berpegang dengannya kerana kesemua hadis yang terkandung di dalam kitabnya merupakan petunjuk dan juga cahaya”. (Syarah al Mawahib Jld 1, H: 62.)

Ibnu Kathir pula menyebutnya di dalam al Bidayah. Sementara Ibnu Taimiyyah telah mendatangkan pendukung-pendukung hadis ini di dalam kitabnya, al Fatawa. Adapun ulama yang berselisih pendapat mengenai hadis ini. Sebahagiannya menolak dan sebahagian lagi menerimanya, bukanlah perkara yang ganjil kerana kebanyakan hadis Nabi SAW tidak dapat lari daripada berlakunya khilaf ulama.

Malah terdapat lebih banyak daripada ini dan ia dikritik oleh pengkritik hadis dengan kritikan yang lebih hebat daripada hadis ini.

Disebabkan perkara tersebut, lahirlah kitab-kitab karangan yang besar ini. Di dalamnya terdapat istidlalat (tunjuk dalil), ta’aqqubat (menerangkan yang salah dan yang betul), muraja’at (munaqasyah) dan muakhazat (penerangan mengenai perselisihan dalam menentukan darjat hadis).

Namun, perselisihan pendapat dalam sudut darjat sesuatu hadis tidaklah sampai melemparkan tuduhan syirik, kufur, sesat atau terkeluar daripada iman. Hadis ini termasuk dalam kelompok hadis-hadis tersebut.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori