Posted by: Habib Ahmad | 25 Januari 2011

Penyakit Ghurur

Penyakit Ghurur
Ghurur adalah penyakit hati yang menimpa banyak orang di dunia ini, ghurur dalam bahasa kitanya adalah tertipu daya, penyakit ghurur ini telah di jelaskan oleh Imam Ghazali dengan panjang luas sekali di dalam kitabnya “Ihya` Ulumuddin “, penyakit ghuru ini sangat membahayakan sekali sebab kebanyakkan orang yang menderitanya tidak merasakan bahwa mereka terserang penyakit ghurur, kita tidak memebicarakan ghururnya orang-orang kafir terhadap diri mereka atau kehidupan dunia ini, tetapi kita membicarakan penyakit ghurur yang diderita oleh umat islam selama ini.

Imam Ghazali telah membagi ghurur ini kepada empat golongan :
1 – Golongan ulama.
2 – Golongan para Abid ( orang yang suka beribadah -red).
3 – Golongan orang yang mengaku sufi.
4 – Golongan orang yang memiliki harta , dan orang-orang tetipu daya dengan dunia.

1 – Golongan ulama.

Penyakit ghurur inintidak terlepas dari hati seorang ulama, bahayanya jika mereka tidak mengetahui bahwa mereka telah terkena virus ghurur yang membahayakan, sehigga tidak mencoba untuk secepatnya mengobati penyakit itu, penyakit ghurur ini menyerang dengan cepat sehingga sipenyakit mati dari rasa harapan dan kesadaran diri kepda Allah.

Seorang yang alim merasa bahwa ilmu itu adalah muliya, mengajarkannya kepada orang adalah perkara yang mulia pula, maka dia lalai dan tertipu daya dengan sibuk mengajarkan ilmu tanpa membekalkan amal ibadah dan mengamalkannya terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada orang lain, ini adalah penyakit ghurur.

Seorang yang alim merasa memiliki ilmu sehingga beliau merasa bahwa di mesti di hormati dan disegani, ingin selalu dikedepannkan dan di ketenganhkan, keinginannya agar seluruh perkatannya didengar, seluruh perkataannya benar, ingin diangkat-angkat dan dipuja-puja, setiap orang mesti mencium tangannya, ini adalah penyakit ghurur.

Seorang ulama yang alim dengan ilmu syari`at dan selalu mengamalkannya kemudian mengajarkannya kepada orang lain, tetapi beliau tidak memahami ilmu makrifat kepada Allah, dengan alasan bahwa tidak ada ilmu tersebut, maka ini juga bahagian orang yang memilki penyakit ghurur.

Seorang yang berhasil mengamalkan ilmunya , menjauhkan anggota tubuhnya dari segala maksiat, melaksanakan segala amalan ta`at, tetapi lupa membersihkan dirinya dan hatinya dari segala maksiat hati seperti hasad, riya`, takabbur, ini juga orang yang terserang penyakit ghurur.

seorang ulama yang mengamalkan segala ta`at dan menjauhkan segala maksiat, beliau merasa bahwa dirinya bersih dan dekat dengan Allah, maka ini juga penyakit ghurur, sebab Allah lebih mengtahui keadaan hati para hambanya.

Seorang ulama yang sibuk dengan berjidal, berdebat, bukan untuk mencari kebenaran tetapi untuk mencari ketenaran dan kehebatan, bila mampu mengalahkan lawan maka dia tergolong orang yang hebat dan alim, ini juga tergolong penyakit ghurur.

Seorang ulama yang selalu berdakwah dan berceramah dengan menyampaikan untaian kata-kata yang indah, dapat menarik perhatian para pendengar, sehingga mendatangkan peminat-peminat yang banyak, pengikut yang setia, lupa dengan tujuan dakwah yang sebenarnya, sibuk hanya mencari ketenaran dan nama, penyakit ini juga tergolong ghurur.

2 – Golongan Abid.

Pentas ibadah juga dapat membawa seseorang tertipu daya dengan diri sendiri sehingga bukan menjadikan diri semngkin dekat dengan Allah bahkan membuat diri menjadi jauh, diantara misal-misalnya :

Seseorang yang sibuk dengan ibadah-ibadah sunnah dan fadhilah tetapi melupakan dan meninggalkan ibadah-ibadah wajib, sibuk melaksanakan shalat malam tetapi meninggalkan shalat subuh karena ketiduran dan kelelahan ketika waktu malamnya.

Aoerang yang sibuk mengambil wudhu` dan berlebih-lebihan didalam membasuhnya disebabkan was-was yang datang didalam hati mengkhabarkan bahwa wudhu`nya tidak sah, penyakit was-was yang menimpa pada setiap ibadah merupakan bahagian ghurur juga.

Seseorang yang terlalu sibuk membaca al-Qur`an sehingga dia khatamkan hanya sehari satu malam saja, tetapi tanpa memikirkan dan memahami segala makna-maknanya, sehingga menghasilkan pemahaman dan pengertian yang benar.

Seseorang yang sibuk dengan puasa setiap harinya, tetapi lidahnya selalui menceritakan aib orang lain, tidak pernah menjauhkan hatinya dari riya` dan penyakit-penyakit hati, puasanya selalu dibuka dengan makanan-makanan yang haram.

Seseorang yang menunaikan ibadah haji hanya karena ingin digelar dengan haji, tidak mengikhlaskan diri untuk melaksankan amal ibadah haji, tidak meninggalkan segala kejahatan-kejahatan, melaksanakan ibadah haji agar dipandang orang dan dianggap orang kaya.

Seseorang yang mengamalkan Ibadah sunnah dan fadhilah merasakan ibadah tersebut nikmat dan lezat, mendapatkan ke khusukkan, tetapi jika melaksanakan ibadah yang wajib dan fardhu tidak merasakan kenikmatan dan kekhusukkan.

Seseorang yang melaksanakan zuhud dan ibadah , bertaubat dan berzikir, merasakan bahwa dia telah sampai kepda derajat kezuhudan, telah sampai kepda derajat makrifah kepada Allah, padahal hatinya masih tersimpan segudang kecintaan terhadap dunia, mengaharap pangkat dan kedudukkan, mengharap pujian dan penghormatan.

3 – Golongan orang yang mengaku sufi.

Seseorang yang mengaku sufi, menggunakan pakaian-pakaian tertentu, bergaya dengan gaya ulama-ulama sufi, berzikir dengan menari dan nyanyian-nyanyian pemenuh hawa nafsu, menganggap diri telah sampai kepada Allah, menganggap mendapat ilham dan kasyaf.

Seorang yang mengaku sufi, merasa telah berbuat zuhud dan wara`, memakai pakaian yang usang dan bau, mementingkan bersih hati, tetapi segala anggota tubuh kotor dengan maksiat dan dosa.

Seseorang yang mengaku sufi, tetapi tidak mengikuti jalan para ulama-ulama pembesar sufi seperti Imam Zunaid dan yang lainnya, mengaku telah sampai kepada fana` fillah dan baqa fi llah , tidak menjadikan al-Qur`an dan sunnah sebagai pegangan, menghina syariat dan memuja-muja hakikat.

4 – Golongan orang yang memiliki harta dan orang yang tertipu daya dengan dunia.

Seseorang yang menganggap bahwa harta dan duitnya yang mampu menyelamatkannya dan memuliakannya di permukaan dunia ini, harta merupakan pujaan dan ketinggian, memiliki harta berarti memiliki kebesaran dan kesenangan yang hakiki, sehingga lupa membayar zakat, menyantuni orang miskin, berbuat sesuka hatinya.

Seseorang yang membangun masjid, menyantun anak yatim, membantu korban bencana alam, tetapi ingin di puji dan di besar-besarkan kebaikkannya, agar orang menyanjungnya dan menggelarnya seorang yang dermawan.

Masih banyak lagi misal-misal penyakit ghurur , tetapi saya cukupkan sampai di sini saja.
http://allangkati.blogspot.com/2011/01/penyakit-ghurur.html

Posted by: Habib Ahmad | 25 Januari 2011

MAJLIS RATIB AL ATTAS ASMA UL HUSNA

RATIB AL ATTAS ASMA UL HUSNA

MUSLIMIN MUSLIMAT DIJEMPUT HADIR.
———————————————————–
RATIB AL ATTAS ASMA UL HUSNA

TARIKH: 25JAN2011(SELASA)
JAM:SELEPAS SOLAT MAGHRIB
TEMPATEWAN SOLAT
MASJID MUJAHIDEEN,damansara utama

MUSLIMIN MUSLIMAT DIJEMPUT HADIR.
———————————————————–
RATIB AL ATTAS ASMA UL HUSNA
BULAN: FEBRUARI
SETAP HARI KHAMIS MINGGU KE-4
JAM:SELEPAS SOLAT MAGHRIB
TEMPATEWAN SOLAT
MASJID MUJAHIDEEN,damansara utama

MUSLIMIN MUSLIMAT DIJEMPUT HADIR
http://forum.asyraaf.net

Posted by: Habib Ahmad | 24 Januari 2011

Kejar keberkatan rezeki halal

Kejar keberkatan rezeki halal
DIkirim oleh epondok di Januari 24, 2011

i Rate This

Oleh Ustaz Zawawi Yusoh

ALLAH menjamin rezeki makhluknya. “Dan, tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allahlah yang akan memberi rezekinya.” (Surah Hud ayat 6).
Sumber rezeki sangatlah luas dan dalam. Seluas bentangan bumi dan kedalaman samudera. Setiap jengkal hamparan bumi dan laut terdapat rezeki yang boleh dicari.
Masalahnya, kerap kali manusia lebih berorientasi menunggu rezeki daripada menjemputnya. Mereka lebih mementingkan selera peribadi dalam memilih sumber rezeki yang mana mahukan sesuatu rezeki itu datang tanpa berusaha mendapatkannya.

Islam menekankan setiap Muslim supaya bekerja keras mencari rezeki dengan menggunakan semua potensi dan kekuatan tulang empat kerat. Elakkan daripada meminta secara haram.

Ambillah iktibar daripada kisah sebuah hadis riwayat Imam Al-Bukhari yang menceritakan berkenaan Hakim bin Hizam yang sering meminta-minta kepada Rasulullah.

Setiap kali dia meminta kepada Rasulullah, Baginda akan memberikannya. Namun setelah tiga kali dia datang meminta, Baginda bersabda: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta di dunia ini memang indah dan manis, barang siapa yang mengambil harta di dunia dengan hati yang lapang yakni tidak bercampur dengan sifat ketamakan, nescaya akan dilimpahkan keberkatan dalam hartanya itu, tetapi barang siapa yang mengambil harta dunia dengan ketamakan, pasti tidak ada keberkatan dalam harta yang diperolehinya itu. Orang yang sedemikian ini adalah ibarat orang yang makan dan tidak pernah kenyang perutnya.

Tangan yang di atas adalah lebih baik daripada tangan yang di bawah iaitu orang yang menerima pemberian berkenaan.”

Setelah Hakim mendengar akan teguran dan nasihat Rasulullah berkenaan sikapnya yang suka meminta-minta, sejak dari itu dia tidak lagi meminta-minta kepada sesiapa pun meskipun dia berada dalam kekurangan.

Inilah sikap terpuji yang patut dicontohi oleh kita semua. Janganlah kita menjadikan sebab kekurangan hasil pendapatan sebagai alasan untuk meminta-minta bantuan semata-mata bagi memenuhi keperluan hidup yang tidak mencukupi.

Namun apa yang menyedihkan pada masa ini terdapat sebilangan orang yang

meminta-minta wang daripada keluarga, jiran atau rakan, ataupun ke rumah orang yang tidak dikenali.

Ada juga di antara mereka meminta-minta kepada pihak tertentu untuk mendapatkan bantuan kewangan dan lebih mendukacitakan terdapat juga segelintir orang yang tanpa segan selalu meminta wang daripada orang ramai di tempat awam seperti di kompleks beli-belah atau restoran dengan alasan hasil pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi untuk menampung keperluan hidup.

Rezekinya halal tetapi caranya tidak betul. Walaupun seseorang itu ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi orang miskin atau fakir, namun mereka tetap tidak digalakkan untuk meminta-minta.

Ini berdasarkan kepada sabda, dari Imran bin Husin berkata: Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-Nya yang beriman yang miskin, yang tidak suka meminta-minta sedangkan dia mempunyai anak yang ramai.” (Riwayat Ibnu Majah).

Renunglah, betapa orang miskin lagi tidak digalakkan meminta-minta, apatah lagi orang yang berkemampuan. Sebagai hamba Allah kita hendaklah sentiasa bersyukur dan reda ke atas rezeki yang dikurniakan Allah.

Allah melarang kita daripada bersifat tamak dan haloba kepada harta benda sehingga sanggup mencari harta dengan cara meminta-minta.

Sebagaimana hadis riwayat Imam Al-Bukhari daripada Abdullah bin Umar berkata bahawa Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Seorang yang terus-menerus meminta-minta kepada orang ramai, sehingga nanti dia akan datang pada hari kiamat dengan wajahnya yang hanya tinggal tulang, tidak ada lagi daging padanya.”

Walaupun pada dasarnya perbuatan meminta-minta itu haram dan dilarang oleh agama, namun jika timbul sesuatu darurat atau keadaan terpaksa, maka ia menjadi harus.

Keadaan terpaksa atau darurat itu ialah seorang yang lapar meminta makanan untuk mengisi perutnya kerana dia bimbang jika tidak makan dengan segera, mungkin dia akan jatuh sakit atau mati.

Begitu juga orang yang tidak mempunyai sebarang pakaian, terpaksa meminta pakaian bagi menutup auratnya. Hal seperti ini mengharuskan seseorang itu meminta kepada orang lain selama mana peminta itu tidak berkuasa atau mampu membuat sebarang pekerjaan untuk menyara keperluannya.

Jika dia berupaya untuk bekerja tetapi malas maka tidaklah diharuskan ia meminta-minta daripada orang lain. Ingatlah pesan Rasulullah bahawa orang yang bekerja mencari rezeki itu walaupun hasilnya hanya sedikit, itu adalah lebih baik daripada perbuatan meminta-minta.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Az Zuba’ir bin Al Aawam dari Nabi Muhammad S.A.W bersabda yang bermaksud: “Sekiranya salah seorang daripada kamu membawa tali lalu pergi ke bukit untuk mencari kayu, kemudian dia pikul kayu tersebut ke pasar untuk menjualnya demi menjaga kehormatannya, nescaya yang demikian itu adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi mahupun ditolak.” (Riwayat Imam Bukhari).

Umat Islam hendaklah mengelakkan diri daripada perbuatan meminta-minta kerana perbuatan meminta-minta tanpa sebab itu menjatuhkan maruah serta menjejaskan imejnya.

Malah perbuatan meminta-minta mencerminkan sikap yang negatif masyarakat kerana sentiasa bergantung ihsan dan bantuan daripada orang ramai atau pihak tertentu.

Justeru, kita hendaklah berusaha bersungguh-sungguh mencari rezeki yang halal serta sentiasa bersyukur, sabar dan reda dengan pemberian Allah.

Sama-samalah berdoa mudah-mudahan Allah meluaskan rezeki-Nya ke atas kita semua.

Posted by: Habib Ahmad | 24 Januari 2011

Mazhab bantu memahami agama

Mazhab bantu memahami agama
DIkirim oleh epondok di Januari 24, 2011

i Rate This

SOALAN:
Apakah maksud sebenar mazhab dan apakah kepentingan kita mengikut sesuatu mazhab?

JAWAPAN:

MAZHAB menurut kamus dewan adalah: “Cabang ajaran Islam yang diikuti oleh umat Islam”. (Kamus Dewan Bahasa Dan Pustaka, Kuala Lumpur, hlm: 1010).

Mazhab adalah berasal daripada bahasa arab, yang bermaksud kecenderungan dalam sesuatu perkara. Soalan sebegini sudah acap kali orang bertanya.

Bila baca soalan sebegini dan sebelum ini ada juga yang bertanya soalan yang seumpama dengan ini lantas apa yang terlintas di benak saya, adakah kita lebih hebat daripada Imam Syafie, Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hanbali sehingga sudah tidak mahu berpegang kepada mazhab?

Saya tidak salahkan yang bertanya, tetapi saya yakin pertanyaan ini adalah sebagai landasan mendapat penjelasan yang betul dalam persoalan yang dimusykilkan.

Kepentingan bermazhab adalah bagi membolehkan kita mengamalkan agama dengan faham yang sebenarnya. Sebabnya, kita tidak mampu dan kebanyakan kita tidak layak kerana tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk berijtihad. Para ulama yang muktabar telah memudahkan kita memahami Islam dengan lebih mudah.

Contohnya hadis berkaitan wuduk dalam sahih al-Bukhari dalam kitab bersuci, wuduk, di bawah tajuk ini adalah 75 bab dan 105 hadis, di dalam kitab al-Ghusl (mandi) terdapat 29 bab dan 44 hadis.

Kadang-kadang dalam satu bab ada ada dua tiga mungkin lebih lagi. Mungkin juga di antara hadis-hadis itu pada zahirnya macam bertentangan tetapi hakikatnya tidak. Semua ini orang awam boleh faham ke untuk menghasilkan hukum?

Tidak semudah yang disangka. Memang Islam itu mudah, tapi tidaklah sampai dimudah-mudahkan Islam itu.

Pandangan peribadi saya adalah lebih baik orang awam di negara ini berpegang kepada satu mazhab, iaitu mazhab Syafie, yang menjadi pegangan majoriti penduduk dunia.

Saya juga mengagumi dan menghormati mazhab-mazhab yang lain. Tetapi negara ini kita sudah serasi dan menjadi pegangan untuk kian lama.

Silibus fiqh di sekolah dan universiti juga bermazhab Syafie. Oleh sebab itu, saya berani mengatakan mazhab Syafie telah menjadi mazhab rasmi masyarakat yang beragama Islam di negara ini.

Keadaan umat Islam semakin bercelaru dengan berbagai aliran dan pemikiran selepas kewafatan Rasululah SAW. Terutama pada zaman Saidina Ali yang muncul berbagai-bagai fahaman seperti aliran Khawarij, Mu’tazilah dan Syiah dan macam-macam ajaran yang membingungkan hala tuju manusia.

Oleh kerana terdapat berbagai aliran ini, tepatlah al-hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Al-Imam al-Thabarani: “Bahawa pada akhir zaman, umat ku terbahagi pada 73 golongan, hanya satu golongan sahaja yang dapat memasuki syurga manakala yang lain terjun ke dalam neraka. Maka sahabatnya pun bertanya, siapakah golongan yang satu tersebut, ya Rasulullah? Jawab baginda Ahlul Sunnah Wal Jamaah (ASWJ)”.

ASWJ adalah mereka yang mengikut sunnah Rasululah dan juga sunnah sahabat-sahabat Baginda serta sunnah umat zaman Tabiin (Zaman 300 tahun selepas Rasulullah). Keempat-empat Imam ASWJ iaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Al-Shafiei dan Imam Hambali tersebut hidup pada zaman tabiin yakni lingkungan 300 tahun selepas Rasulullah SAW.

Mendalami ilmu

Imam Hanafi lahir pada 80 hijrah dan Imam Malik lahir pada tahun 93 hijrah dalam kurun yang pertama lagi. Imam Al-Syafie lahir pada pada 150 hijrah dan Imam Hambali lahir pada 164 hijrah.

Semua mereka terkenal dengan sifat-sifat terpuji dan terkenal dengan ketokohan mereka dalam bidang ilmu. Seawal usia mereka telah menghafal al-Quran, selesai menghafal al-Quran mereka akan mendalami ilmu hadis serta ilmu tafsir, disusuli dengan ilmu fiqh dan tauhid.

Mereka sanggup berehlah ribuan batu untuk mendapatkan ilmu, sanggup mengharung perit maung dalam mencari ilmu. Sepanjang riwayat hidup mereka kita akan dengar yang baik-baik, yang indahnya mereka adalah ulama yang jujur dalam menegakkan kebenaran demi Allah SWT dan Rasul-Nya.

Perjuangan mereka jujur ijtihad mereka juga semata-mata mencari keredaan Allah SWT. Keempat-empat Imam tersebut juga boleh mengistinbatkan hukum selain dari al-Quran dan al-hadis. Selain itu, keempat-empat mereka juga mempunyai kitab rujukan pada anak murid dan umum.

Seperti Imam Hanafi yang mempunyai kitab al-hadis yang bernama Al Wasit, Imam Malik dalam kitab Al-Muwattha, Imam Al-Shafie dalam kitab Al-Uum dan Al-Imam Hambali (Ahmad bin Hambal).

(Mazhab bagi keluarga Ibn Tamiyah di mana bapanya adalah ulama bermazhab Hambali) dalam kitab al-Hadis yang terkenal yang bernama Al-Musnad yang merangkumi 35,000 hadis di dalamnya.

Keempat-empat Imam tersebut apabila memberi fatwa atau berijtihad atau mengeluarkan hukum, mereka merujuk kepada al-Quran dan hadis Rasulullah SAW.

Kalau ada mana-mana pihak yang mengikuti salah satu daripada empat mazhab tersebut, ertinya mereka juga telah mengikut al-Quran dan al-hadis.

Cuma sebagai orang awam yang tidak tahu ayat al-Quran dan al-hadis mana yang diterima pakai. Kerana itu digelar muqalidin atau pengikut.

Memang sudah menjadi sunnatullah sejak Nabi Adam sehingga pada akhir zaman, orang yang jahil tentang ilmu Islam lebih ramai daripada orang alim. Walaupun sebenarnya ramai yang ingin menjadi alim.

Begitu juga dalam ilmu pengetahuan, sedikit sahaja yang berilmu tetapi yang jahil amat ramai. Dalam pada itu patutkah diminta pendapat orang awam mengkaji dan menggali sendiri al-Quran dan hadis?

Tidak munasabah meminta mereka berijtihad sendiri kepada al-Quran dan hadis. Oleh yang demikian berpegang kepada satu mazhab yang muktabar seperti mazhab Syafie adalah lebih baik dan lebih selamat.

Ini kerana kita akan seragam dalam penghayatan dan pengamalan serta mengelakkan pertelingkahan antara satu sama lain.

Posted by: Habib Ahmad | 24 Januari 2011

PENSYARIATAN TAWASSUL MENURUT IBNU TAIMIYYAH

PENSYARIATAN TAWASSUL MENURUT IBNU TAIMIYYAH
Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA NEGERI SEMBILAN
Utusan Malaysia, 11 Januari 2011

Syeikh Ibnu Taimiyyah adalah antara tokoh yang sering menjadi rujukan dan sandaran utama oleh kelompok yang memandang serong terhadap tawassul dan beberapa isu lain seperti bida`ah hasanah dan fiqh bermazhab. Mungkin atas sebab itu, Al-Allamah Dr. Sayyid Muhammad ` bin Sayyid Alawi al-Maliki turut merujuk khusus kepada pandangan beliau dalam kitabnya “Mafahim” (Kefahaman Yang Wajib Diperbetulkan).

Berkata Syeikh Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya Qa’idah Jalilah fi al Tawassul wa al Wasilah (H: 5) ketika membicarakan tentang firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan carilah wasilah (jalan/perantara) untuk mendekatkan diri kepadaNya.” (Al-Maaidah: 35),

“Mencari wasilah kepada Allah hanya berlaku bagi orang yang bertawassul kepada Allah dengan keimanan terhadap Nabi Muhammad SAW dan ikutan terhadap Sunnahnya. Bertawassul dengan keimanan dan ketaatan kepada Baginda SAW, merupakan kefardhuan bagi setiap individu dalam setiap keadaan; zahir dan batin, tidak kira sama ada ketika Rasulullah SAW masih hidup atau selepas kewafatannya, ketika kewujudannya atau ketiadaannya. Tidak jatuh kewajipan bertawassul dengan keimanan dan ketaatan kepada Baginda SAW daripada seseorang makhluk dalam apa jua keadaan sekali pun setelah tertegaknya hujjah. Bahkan, ia tidak akan gugur dengan apa pun jua alasan. Tidak ada jalan untuk menuju kepada kemuliaan dan rahmat Allah, serta terselamat daripada kehinaan dan siksaanNya, melainkan dengan bertawassul dengan keimanan dan ketaatan kepada Baginda SAW. Rasulullah SAW adalah pemberi syafa’at kepada makhluk, pemilik maqam yang terpuji yang amat dicemburui oleh manusia yang terdahulu dan terkemudian. Baginda SAW adalah pemberi syafa’at yang paling agung kedudukannya dan paling tinggi pangkatnya di sisi Allah.

Allah telah berfirman tentang Musa AS: “Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan yang terhormat di sisi Allah.” (Al-Ahzaab: 69) Allah juga telah berfirman tentang al Masih AS: “Dia merupakan seorang yang terkemuka di dunia dan akhirat.” (Aali Imran: 45). Manakala Nabi Muhammad SAW merupakan nabi yang paling tinggi pangkat dan kedudukannya daripada nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain, tetapi syafa’at dan doa Baginda SAW hanya dapat dimanfaatkan oleh orang yang disyafa’atkannya dan didoakannya. Maka sesiapa yang didoakan dan disyafa’atkan oleh Rasulullah SAW, barulah dia boleh bertawassul kepada Allah dengan syafa’at dan doa Baginda SAW tersebut, sebagaimana para Sahabat RA bertawassul kepada Allah dengan doa dan syafa’at Baginda SAW. Begitu juga sebagaimana manusia bertawassul kepada Allah pada hari Kiamat dengan doa dan syafa’at Baginda SAW.”

Dalam al Fatawa al Kubra (1/140), Syeikh Ibnu Taimiyyah ditanya: Adakah harus bertawassul dengan Nabi SAW ataupun tidak? Maka beliau menjawab: Alhamdulillah, adapun bertawassul dengan keimanan dengan Nabi SAW, kasih dan ketaatan kepada Baginda SAW, bacaan salawat dan salam ke atas Baginda SAW, doa-doa dan syafa’atnya dan sebagainya yang merupakan perbuatan Baginda SAW dan hamba-hamba Allah yang sememangnya diperintahkan menunaikan haknya, maka ia adalah disyariatkan dengan persepakatan kaum Muslimin.

Saya (Sayyid Muhammad `Alawi) berkata: Berdasarkan pendapat Syeikh Ibnu Taimiyyah ini, dapat diambil dua faedah:

1. Orang Islam yang mentaati, mengasihi, mengikut perintah dan membenarkan syafa’at Baginda SAW, disyariatkan supaya bertawassul kepada Baginda SAW dengan ketaatan dan kasihnya terhadap Baginda SAW serta kepercayaannya tentang adanya syafa’at tersebut.

Sesungguhnya apabila kami bertawassul dengan Nabi SAW, maka Allah SWT menyaksikan bahawa kami bertawassul dengan keimanan dan kecintaan terhadap Baginda SAW, kelebihan dan kemuliaannya. Inilah maksud asal tawassul dan tidak tergambar langsung bagi seseorang yang bertawassul dengan Nabi SAW, tawassul dengan makna yang lain. Begitu juga, tidak mungkin kaum Muslimin yang bertawassul, bertawassul dengan cara yang lain, cuma orang yang bertawassul kadangkala menjelaskan makna tersebut secara terang-terangan dan kadangkala tidak kerana bersandarkan kepada maksud asal tawassul iaitu beriman dan mengasihi Nabi SAW, tidak dengan makna yang lain.

2. Di antara faedah yang boleh diambil dari perkataan Syeikh Ibnu Taimiyyah, bahawa orang yang didoakan oleh Rasulullah SAW, sah bertawassul kepada Allah dengan doa Baginda SAW baginya. Sesungguhnya telah disebut dalam hadith, bahawa Rasulullah SAW mendoakan umatnya sebagaimana yang disebut di dalam banyak hadith. Di antaranya, hadith yang diriwayatkan daripada Aisyah RA berkata:

“Tatkala aku melihat Nabi SAW dalam keadaan baik, aku berkata, “Wahai Rasulullah! Berdoalah kepada Allah untukku.” Maka Baginda SAW bersabda, “Ya Allah! Ampunilah ‘Aisyah dari dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian, yang dilakukan secara sembunyi dan terang-terangan.” Mendengarnya, ‘Aisyah ketawa hingga kepalanya jatuh ke pangkuannya akibat terlalu gembira. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Adakah doaku menggembirakanmu?” Maka jawabnya, “Kenapa tidak, doamu itu begitu menggembirakanku.” Sabda Baginda SAW, “Demi Allah! Sesungguhnya ia adalah doaku untuk umatku yang aku panjatkan dalam setiap solat.” (Hadith ini telah diriwayatkan oleh al Bazzar dan rijalnya (perawinya) adalah rijal yang sohih, melainkan Ahmad ibn Mansur al Ramadi merupakan seorang yang thiqah. (Demikian juga sebagaimana yang disebutkan di dalam Majma’ al Zawaid 9/243).

Oleh yang demikian, setiap Muslim sah bertawassul kepada Allah dengan cara sedemikian. Umpamanya, dengan menyatakan:
“Ya Allah! Sesungguhnya NabiMu, Muhammad SAW telah berdoa untuk umatnya, dan aku termasuk salah seorang daripada umat ini. Maka aku bertawassul kepadaMu dengan doa ini supaya Engkau mengampunkan dosaku dan merahmatiku”, hingga akhir yang dikehendakinya. Apabila seseorang itu mengucapkan sedemikian, maka dia tidak keluar daripada cara bertawassul yang disepakati keharusannya oleh seluruh ulama’ kaum Muslimin.

Sekiranya seseorang itu berkata: “Ya Allah! Sesungguhnya aku bertawassul kepadaMu dengan kemuliaan nabiMu, Muhammad SAW.” Maka dia telah bertawassul tidak secara terang-terangan terhadap apa yang diniatkannya dan dipahatkan di dalam hatinya yang merupakan maksud setiap Muslim. Namun, tujuannya tetap tidak terkeluar dari had ini kerana orang yang bertawassul dengan Nabi SAW tidak bermaksud sedemikian melainkan makna-makna tersebut bersangkut paut dengan keperibadian Baginda SAW yang berupa kecintaan, taqarrub Baginda SAW dengan Allah, pangkat, kedudukan, kelebihan, doa dan syafa’at Baginda SAW, terutamanya ketika Baginda SAW berada di alam barzakh.

Di alam tersebut, Baginda SAW dapat mendengar ucapan salawat dan salam umatnya dan membalas ucapan tersebut sebagaimana yang didatangkan di dalam hadith daripada Nabi SAW: “Kehidupanku adalah baik bagi kamu; kamu berbicara dan dibicarakan bagi kamu. Kewafatanku juga adalah baik bagi kamu; amalan kamu diperlihatkan kepadaku. Maka apa yang aku lihat daripada kebaikan, aku memuji Allah ke atasnya. Apa yang aku lihat daripada kejahatan, maka aku beristighar (memohon keampunan) kepada Allah untuk kamu.” (al-Bazzar dan al Haithami di dalam Majma’ al Zawaid (9/24))

Hadith ini menyatakan dengan jelas, bahawa Nabi Muhammad SAW memohon keampunan untuk umatnya di alam barzakh dan ucapan istighfar tersebut merupakan doa, dan umat Baginda SAW mendapat manfaat daripadanya maka bolehlah mereka bertawassul dengan dengan Baginda SAW.

Posted by YSofakl.blogspot.com at 4:52 PM

Posted by: Habib Ahmad | 24 Januari 2011

BACAAN KUAT SELAIN AZAN .

BACAAN KUAT SELAIN AZAN

Ana terkejut dengan artikel yang dikeluarkan oleh salah seorang mantan mufti. Selain dari itu, terus terang pendapat penulis artikel tersebut sangat dangkal dan terlihat bertaqlid pada pendapat-pendapat puak Wahabi yang memang tidak suka dengan bacaan solawat maupun bacaan lain seperti nazam-nazam pujian dan nasihat yang baik antara azan dan iqamah dengan menggunakan pengeras suara. Padahal amalan seperti ini banyak dilakukan lebih-lebih lagi di Jawa misalnya, pujian selawat dilantunkan setelah azan sebelum iqamah sambil menunggu jamaah datang ke masjid, dan tentunya bacaan selawat ini menggunakan penguat suara. Oleh sebab artikel tersebut, maka ana merasa perlu untuk menjelaskan hujjah kita Sunni mengamalkan amalan tersebut.

Perlu semua pembaca tahu, bahwa sebelum membahas tentang melantunkan zikir atau selawat dengan penguat suara, ana hanya menegaskan bahwa membaca selawat dan doa adalah disunnahkan dalam Islam. Ini berdasarkan pada hadis Sahih Muslim:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Diriwayatkan dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa beliau mendengan Nabi SAW berkata: “Ketika kamu semua mendengar orang yang melantunkan azan, maka kamu semua sebutlah (jawablah) seperti apa yang dia sebutkan lalu BERSELAWATLAH kalian semua KEPADAKU (Nabi) maka sesungguhnya barang siapa berselawat terhadapku dengan satu selawat, nescaya Allah akan selawat (memberi rahmat ta’zim) terhadapnya dengan sepuluh selawat tadi, lalu berwasilahlah kamu semua kepada Allah menggunakan aku sebagai perantaraan kerana sesungguhnya wasilah itu adalah tempat di syurga. Tidaklah patut tempat tersebut kecuali bagi hamba daripada hamba-hamba Allah dan aku mengharapkan adanya Aku adalah dia. Maka barangsiapa meminta Aku sebagai wasilah maka berhaklah dia mendapatkan Syafaat ”.

Dari sini, jelaslah bahwa berselawat setelah azan adalah disyariatkan dalam Islam dan berdasarkan hadis yang sahih! Oleh sebab itu, tidaklah salah bagi beberapa tarikat seperti Naqshabandi Haqqani atau lainnya melantunkan bacaan seperti “الصلاة والسلام عليك، يا خاتم الأنبياء” setelah azan sebelum doa. Perkara ini juga ditegaskan oleh Syeikh Fuad al-Maliki di Masjid Taman TAR semalam, yaitu 15 Januari 2011.

Ditambah lagi, keutamaan berdoa antara azan dan iqamah berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لا يرد الدعاء بين الأذان والإقامة ”

Rasulullah SAW bersabda: tidak akan ditolak doa (yang dipanjatkan) antara azan dan iqamah.

Hadis ini menunjukkan bahwa selagi ada waktu untuk berdoa antara azan dan iqamah, maka doalah! Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Nawawi di dalam kitab al-Azkar di bab doa setelah azan.

Sedangkan hukum melantunkan bacaan solawat yang bernasyid seperti selawat badar atau lainnya dengan suara indah dan nanyian merdu di MASJID adalah mubah. Ini adalah berdasar dari hadis riwayat Imam Nasa’I di bab Keringanan melantunkan Syair yang bagus di dalam masjid:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَجِبْ عَنِّي اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ

Dari Sa’id bin al-Musayyab, beliau berkata: pada suatu saat Umar berjalan bertemu Hasan bin Tsabit yang sedang melantunkan sebuah Syair indah di masjid, lalu Umar menegurnya, namun Hasan menjawab: Aku telah melantunkan Sya’ir di masjid yang di dalamnya ada seseorang yang kemuliaannya lebih mulia daripada kamu, kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah. Maka Hasan melanjutkan perkataannya bukankah kamu telah mendengar sabda Rasulullah SAW, Jawablah dariku, YA Allah semoga Engkau menguatkannya dengan ruh al-Qudus. Lalu Umar menjawab YA Allah, benar (aku sudah mendengarnya).

Hukum lantunan tersebut dengan suara yang kuat (dalam arti dapat didengar oleh orang lain bukan berarti kuat dengan suara yang nyaring lagi mengganggu) dan beramai-ramai adalah mubah. Ini berdasarkan hadis riwayat Nasa’I yang telah disebutkan di atas dan disyarahkan oleh Syeikh Ismail Utsman Zain al-Yamani di dalam kitabnya yang berjudul Irsyadu al-Mu’minin, cetakan Mekkah: Maktabah Mathabi’ al-Zamzam, Hal. 16:

ومما يستأنس به في ذلك إباحة انشاد الشعر في المساجد إذا كان مدائح صادقة أو موعظة و أدبا أو علوما نافعة وهو لا يكون إلا برفع صوت في اجتماع.

Yang biasa diambil dari hadis tersebut (Nasa’i) adalah hukum kebolehan melantunkan sebuah syair di dalam masjid yang di dalam lantunan tersebut berisi pujian-pujian, nasihat-nasihat, pelajaran adab, dan ilmu yang bermanfaat. Dan itu pasti dilakukan dengan suara keras dalam perkumpulan.

Oleh sebab itu, diperbolehkan mengkuatkan suara di masjid dengan syair-syair apatah lagi dengan zikir atau selawat!

Walau bagaimanapun, memang benar bahwa kebolehan tersebut terikat dengan ketentuan apakah sampai menganggu orang solat atau tidur (التشويش). Bahkan batasan ini telah dijelaskan di dalam kitab Bughyat al-Mustarsyidin dan lain-lain seperti berikut (Maaf ana tidak dapat menerjemah semua ibarat ini kerana kesempitan waktu):

1. بغية المشترشدين ص : 66 دار الفكر

(مسألة ك) لايكره فى المسجد الجهر بالذكر بأنواعه ومنه قراءة القران إلا إن شوش على مصل أو آذى نائما بل إن كثر التأذى حرم فيمنع منه حينئذ كما لو جلس بعد الأذان يذكر الله تعالى وكل من أتى للصلاة جلس معه وشوش على المصلين فإن لم يكن ثم تشويش أبيح بل ندب لنحو تعليم إن لم يخف رياء ويكره تعليق الأوراق المنقوش فيها صورة الحرمين وما فيها من المشاعر المسماة بالعمر فى المسجد للتشويش على المصلين وغيرهم ولكراهة الصلاة إلى ما يلهى لأنه يخل بالخشوع وقد صرحوا بكراهة نقش المسجد وهذا منه نعم إن كانت مرتفعة بحيث لا تشوش فلا بأس إلا إن تولد من إلصاقها تلويث المسجد أو فساد تجصيصه ولا يجوز الإنتفاع بها بغير رضا مالكها إلا إن بليت وسقطت ماليتها فلكل أخدها لقضاء العرف بذلك

2. حواشي الشروانى على تحفة المحتاج الجزء الثانى ص : 58

ولا يجهر مصل ولا غيره إن شوش على نحو نائم أو مصل فيكره كما في المجموع وفتاوى المصنف وبه رد على ابن العماد نقله عنهما الحرمة إن كان مستمعو القراءة أكثر من المصلين نظرا لزيادة المصلحة ثم نظر فيه وبحث المنع من الجهر بحضرة المصلي مطلقا لأن المسجد وقف على المصلين أي أصالة دون الوعاظ والقراء ونوافل الليل المطلقة يتوسط فيها بين الجهر والإسرار بأن يقرأ هكذا مرة وهكذا أخرى أو يدعي أن بينهما واسطة بأن يرفع عن إسماع نفسه إلى حد لا يسمعه غيره.

(قوله لا يجهر مصل إلخ) شامل للفرض وغيره (قوله على نحو نائم) ظاهره ولو في المسجد وقت إقامة المفروضة وفيه نظر لأنه مقصر بالنوم حينئذ سم (قوله ثم نظر فيه) أي ابن العماد أي فيما نقله عن الفتاوى (قوله وبحث إلخ) أي ابن العماد حيث قال ويحرم على كل أحد الجهر في الصلاة وخارجها إن شوش على غيره من نحو مصل أو قارئ أو نائم للضرر ويرجع لقول المتشوش ولو فاسقا لأنه لا يعرف إلا منه ا هـ وما ذكره من الحرمة ظاهر لكن ينافيه كلام المجموع وغيره فإنه كالصريح في عدمها إلا أن يجمع بحمله على ما إذا خاف التشويش اهـ شرح المختصر للشارح ا هـ بصري ويأتي عن شيخنا جمع آخر (قوله مطلقا) أي وإن كان المصلي أقل من مستمع القراءة (قوله يتوسط إلخ) إن لم يخف رياء أو تشويشا على مصل أو نائم وإلا سن له الإسرار كما في المجموع ويقاس على ما ذكر من يجهر بذكر أو قراءة بحضرة من يشتغل بمطالعة أو تدريس أو تصنيف كما أفتى به الشهاب الرملي قال ولا خفاء أن الحكم على كل من الجهر والإسرار بكونه سنة من حيث ذاته نهاية ومغني وقال ع ش قضية تخصيص ذلك التقييد بالنفل المطلق أن ما طلب فيه الجهر كالعشاء والتراويح لا يتركه فيه لما ذكر وهو ظاهر لأنه مطلوب لذاته فلا يترك لهذا العارض اهـ وهذا يخالف لإطلاق الشارح المار ولا يجهر مصل إلخ الذي كالصريح في العموم وقول السيد البصري المتقدم هناك ثم رأيت قال شيخنا في شرح والجهر في موضعه وهو الصبح وأولتا المغرب إلخ ما نصه ويحرم الجهر عند من يتأذى به واعتمد بعضهم أنه يكره فقط ولعله محمول على ما إذا لم يتحقق التأذي ويندب التوسط في نوافل الليل المطلقة بين الجهر والإسرار إن لم يشوش على نائم أو مصل أو نحوهما ا هـ وهو صريح في العموم.

3. حاشية القليوبي الجزء الثاني ص: 127

(ورفع صوته بها) نعم يندب في التلبية الأولى أن يقتصر على إسماع نفسه ولا يندب الرفع كما مر ولو حصل تشويش على مصل أو ذاكر أو قارئ أو نائم كره الرفع بل يحرم إن تأذى به أذى لا يحتمل.

4. البجيرمى على الخطيب الجزء الثانى ص : 65

(و) الخامسة (الجهر) بالقراءة (في موضعه) فيسن لغير المأموم أن يجهر بالقراءة في الصبح وأولتي العشاءين والجمعة والعيدين وخسوف القمر والاستسقاء والتراويح ووتر رمضان وركعتي الطواف ليلا أو وقت الصبح (والإسرار) بها (في موضعه) فيسر في غير ما ذكر إلا في نافلة الليل المطلقة فيتوسط فيها بين الإسرار والجهر إن لم يشوش على نائم أو مصل أو نحوه

(قوله فيتوسط إلخ) حد الجهر أن يسمع من يليه والإسرار أن يسمع نفسه قال بعضهم والتوسط بينهما يعرف بالمقايسة بهما كما أشار إليه قوله تعالى “ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا” قال الزركشي والأحسن في تفسيره ما قاله بعضهم أن يجهر تارة ويسر أخرى إذ لا تعقل الواسطة اهـ ز ي وفسر الحلبي التوسط بأن يزيد على الإسرار إلى أن لا يبلغ حد الجهر بأن يزيد على أدنى ما يسمع نفسه من غير أن تبلغ تلك الزيادة إلى سماع من يليه ا هـ ورد بأنه لا يناسب قول الشارح إن لم يشوش على نائم إلخ لأنه إذا كان كذلك فهو مقطوع بعدم التشويش تأمل فالصواب تفسير التوسط بما تقدم (قوله إن لم يشوش على نائم أو مصل) وإلا أسر ندبا إن شرعا في النوم أو الصلاة قبل تحرمه فيما يظهر ويحتمل الأخذ بإطلاقهم قاله الشيخ ابن حجر والوجه هو الأخذ بإطلاقهم اهـ شوبري أي فيندب ولو عرض ذلك بعد تحرمه قال الرحماني فإن شوش حرم عند ابن العماد وكره عند حج وقيده ابن قاسم بغير من يسن إيقاظه للصلاة وإلا فلا يكره والمعتمد أنه إن شوش كره فقط ولا يحرم الجهر لأن الإيذاء غير محقق كما قاله الشيخ عبدء البر (قوله أو نحوه) كمدرس أو متفكر في آلاء الله تعالى ومثله الخوف من الرياء وإلا سن له الإسرار كما في المجموع ويقاس على ما ذكر من يجهر بذكر أو قرآن بحضرة من يشتغل بمطالعة أو تدريس أو تصنيف كما أفتى به الوالد ا هـ ولا خفاء أن الحكم على كل من الجهر والإسرار بكونه سنة من حيث ذاته فلا ينافي أن يجهر به أو يسر يكون واجبا اهـ

Dari kesemua ibarat ini, dapat difahami hukum menganggu orang solat tersebut masih ditafsil, yaitu makruh ketika bacaan tersebut masih diragu-ragukan oleh pembaca bahwa ia akan menganggu orang lain yang solat. Hukum menjadi haram apabila ada memiliki persangkaan (dhann) atau yakin bahwa bacaan tersebut benar-benar menganggu orang lain. Walau bagaimanapun, batasan menganggu yang dimaksud adalah apabila telah melampaui batasan kewajaran menurut standard umum.

Bukti batasan yang ana maksudkan adalah berdasarkan dari ibarat “بل يحرم إن تأذى به أذى لا يحتمل” (bahkan haram apabila benar-benar membahayakan dengan bahaya yang benar yang tidak ada kemungkinan lain). Dari kata-kata ini, dapat difahami bahaya yang dimaksud adalah seperti dengan bacaan yang kuat tersebut menyebabkan orang yang solat lupa bacaan fatihahnya sehingga urutannya kucar-kacir. Ketika bacaan kuat tersebut tidak sampai pada derajat ini, maka ia bukan dari “التشويش”. Bahkan ia menjadi sunnah seperti keterangan dari kitab Bughyah: “فإن لم يكن ثم تشويش أبيح بل ندب لنحو تعليم إن لم يخف رياء”.

Selain dari masalah tasywisy, perkara yang perlu diperhatikan adalah masalah riya’ dan tidak. Ini seperti dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin hal. 48:

(مسألة: ك): الذكر كالقراءة مطلوب بصريح الآيات والروايات والجهر به حيث لم يخف رياء ولم يشوّش على نحو مصل

Berzikir seperti membaca al-Qur’an itu digalakkan (disunnatkan) dengan dalil shorihnya ayat-ayat dan hadis-hadis. Sedangkan mengeraskan suara zikir itu boleh selama tidak dikhawatirkan riya’ dan tidak menganggu seperti orang solat.

Dengan kesemua ini, ana menolak tuduhan yang dilakukan oleh mereka-mereka yang berusaha merusak tradisi Islam ini yang banyak dapat memberi manfaat seperti syi’ar dan da’wah. Sedangkan tuduhan bahwa nanti orang yang bukan Islam akan berburuk sangka dengan Islam, serta menyangka selawat atau tambahan lain adalah azan, merupakan sebuah persangkaan yang tidak memiliki dasar. Orang yang bukan Islam banyak membenci Islam adalah dikarenakan mereka memang tidak mendapat hidayah dan memiliki nafsu membeci Islam sejak awal, bukan kerana tambahan ini. Buktinya, banyak di Eropah dan Amerika orang bukan Islam masuk Islam di bawah dakwah yang di bawa oleh ulama sufi seperti Syeikh Nazim yang dalam waktu yang sama tetap melantunkan azan lalu disambung dengan selawat ke atas junjungan Nabi Besar Muhammad SAW? Bahkan Allah berfirman: “هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ”. Dalam ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah untuk membawa Islam agar menunjukkan kepada umat tentang Islam itu sendiri, walaupun orang musyrik tidak menyukainya. Kalau hanya dengan tambahan selawat ini akan menyebabkan orang bukan Islam tidak suka, lalu selawat ini diminta untuk dihilangkan, apakah gunanya Rasulullah SAW diutus untuk membawa agama – sebuah tanggung jawab yang lebih besar dari berzikir dan selawat setelah azan – dan jelas orang musyrik juga tidak suka? Apakah sebab takut salah faham dari orang bukan Islam ini kita disuruh untuk meninggalkan da’wah dan beribadah? Jawabannya tidak! semua salah sangka dapat diselesaikan dengan berdiskusi maupun berdebat secara beradab.

Setahu ana, secara adat umum, bacaan-bacaan selawat tersebut seperti di tanah Jawa, maupun lainnya yang dilakukan dengan pengeras suara tidak menganggu masyarakat di sekitar masjid bahkan yang solat di dalam masjid sekalipun. Ini dikarenakan bacaan tersebut tidak terlalu nyaring dan hanya dengan suara sederhana, bukan dengan terpekik-pekik. Bahkan masyarakat nusantara merasa amalan ini tidaklah pelik, kecuali sebagian kecil orang yang banyak terpengaruh dengan pemikiran baru ini. Kenyataan yang berlaku, tidak ada, dan bahkan sangat nadir (langka) orang mengeluh akan amalan ini, kecuali segelintir tadi. Semoga dengan hujjah ini dapat dijadikan I’tibar oleh kita semua sebagai golongan ahli al-sunnah wa al-Jama’ah.

http://akitiano.blogspot.com/2011/01/bacaan-kuat-selain-azan.html

Posted by: Habib Ahmad | 24 Januari 2011

Semakan Status Permohonan Tingkatan 1 MRSM Pengambilan 2011

Kebohongan atas nama Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Radiyallahu’anhu dan pemutarbalikan terhadap perkataannya !!
Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan empunya sekalian Alam, Tiada Ia berhajat kepada selain-Nya, malah selain-Nya lah yang berhajat kepada-Nya. Selawat dan salam semoga dilimpahkan Allah SWT ke atas junjungan kita Sayyidina Nabi Muhammad SAW (Ya Allah tempatkan baginda di tempat yang terpuji sepertimana yang Kau janjikan Amin) Beserta Ahlulbayt dan Para Sahabat R.anhum yang mulia lagi mengerah keringat menyebarkan Islam yang tercinta. Dan kepada mereka yang mengikut mereka itu dari semasa ke semasa hingga ke hari kiamat…Ya Allah Ampuni kami, Rahmati Kami, Kasihani Kami …Amin

Amma Ba’du,

Kali ini faqir ingin berkongsi dengan saudara/i yang dikasihi akan pembongkaran yang dilakukan oleh Al-Muhaddith Al-Imam Sayyid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki Radiyallahu’anhu terhadap segolongan manusia yang berbohong atas nama Al-Imam Ibnu Katsir Radiyallahu’anhu semata-mata untuk mencapai matlamat mereka membida’ah menyesatkan Umat Islam yang memperingati maulid Nabi SAW. Di dalam buku beliau yang kemudiannya dirumikan dengan judul “Wajibkah memperingati Maulid Nabi SAW ?” yang diterbitkan oleh Cahaya Ilmu Publisher. Demikian kenyataannya :

Orang-orang yang menentang maulid itu mencuba dengan berbagai macam cara untuk menyebarkan kebatilan mereka – walaupun dengan cara pemalsuan, yang mana itu sudah menjadi kebiasaan mereka – kepada orang-orang muslim yang awam dan kurang pemahamannya (atas Islam). Mereka mengatakan dengan tegas : “Sesungguhnya Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah jilid 11 halaman 172 bahawa Daulah fathimiyyah yang dibangun oleh para budak itu yang bernasab kepada Abdullah bin Maymun Al-Qoddah, seorang yahudi yang mana mereka memerintah Mesir dari tahun 375 H – 567 H ; mereka itulah yang mengadakan berbagai macam hari peringatan pada beberapa hari -hari tertentu. Di antaranya adalah Peringatan Maulid Nabi SAW.” Begitulah yang mereka nukil dari Al-Hafiz Ibnu Katsir.

Menurut referensi yang kalian tunjuk itu, kami katakan kepada kalian : “Demi Allah, kalian telah berdusta !! Kami telah mendapati apa yang kalian akui sebagai perkataan Ibnu katsir. Dan sungguh apa yang engkau nukil darinya adalah betul-betul sebuah kedustaan, mengada-adakan, pemalsuan, dan pengkhianatan dalam hal penukilan pendapat dari ulamak-ulamak umat ini. Dan jika kalian tetap melakukan hal yang demikian, maka kami katakan kepada kalian: “Keluarkanlah (tunjukkanlah) itu pada kami , jika kalian memang benar.”

Dan bagaimana dengan pernyataan kalian bahawa kalian akan mendiskusikan masalah ini secara adil dan objektif serta lepas dari hawa nafsu. tetapi yang kalian lakukan itu adalah betul-betul sebuah kebohongan yang hina dan dipenuhi hawa nafsu yang tercela. lalu bagaimanakah – wahai saudaraku sesama muslimin – kita akan percaya atau merasa aman akan penukilan-penukilan mereka dari para ulamak umat ini ? Dan inilah wahai saudara muslimku pendapat yang sebenarnya dari Al-Hafiz Ibnu Katsir tentang peringatan Maulid dan awal mulanya, yang mana hal ini disembunyikan oleh mereka yang mengaku akan mendiskusikan masalah ini secara adil dan objektif. Al-Hafiz Ibnu katsir Radiyallahu’anhu berkata di dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid 13, halaman 136 cetakan Maktabah Al-Ma’arif yang mana redaksinya adalah seperti berikut :

“…Raja Muzhoffar Abu Sa’id Al-Kawkabariy, salah seorang dermawan , pemimpin yang besar, serta raja yang mulia, yang memiliki peninggalan yang baik (perhatikanlah perkataannya ‘peninggalan yang baik’). Dan dia menyelenggarakan Maulid Yang Mulia di bulan Rabi’ul Awwal yang mana ia merayakannyasecara besar-besaran. Ia juga seorang raja yang berakal cemerlang, pemberani, kesatria, pandai, dan adil – semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya di tempat yang paling baik.”

Kemudian beliau melanjutkan : “Ia (Raja Muzhoffar) membelanjakan wang sebanyak 3000 dinar (emas) untuk perayaan Maulid”.

Lihatlah -semoga Allah mengasihimu – pujian dan sanjungan dari Ibnu katsir kepada Raja Muzhoffar tersebut. Yang mana beliau mensifatinya dengan ‘seorang yang pandai, adil, cerdas, pemberani’, lalu ia berkata :”…semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya di tempat yang paling baik”. Dan beliau tidak mengatakan : seorang yang zindiq, bejat, fasik, sering berbuat keji dan dosa-dosa besar sebagaimana dikatakan oleh para penentang maulid itu terhadap orang yang melaksanakan Maulid Yang Mulia !! Dan disarankan agar pembaca melihat atau membaca secara langsung , niscaya kalian akan mendapati perkataan yang lebih hebat dari yang saya sebutkan di atas tentang sifat Raja Muzhoffar tersebut yang mana saya tidak menukilkan semuanya itu kerana takut akan memperpanjang pembahasan ini.

Perhatikanlah perkataan Al-Imam Al-Hafizh Az-Zahabi Radiyallahu’anhu dalam kitabnya Siyaru A’lamin Nubala’ jilid 22 halaman 336 ketika menyebutkan tentang biografi Raja Muzhoffar, redaksinya sebagai berikut : “Ia adalah seorang (raja) yang rendah hati, baik hati, sunniy (mengikut sunnah), dan mencintai ulama’ dan ahli hadith.” Tamat.

Semoga Allah SWT memelihara kita dari mengambil ilmu agama daripada manusia yang berbohong atas nama ulamak Radiyallahu’anhum. Amin.

Wallahu Yahdi ila sawaissabil…

Selawat dan salam sebanyaknya semoga dilimpahkan Allah SWT ke atas junjungan besar kita Sayyidina Nabi Muhammad SAW. (Ya Allah Tempatkanlah Junjungan kami di tempat yang terpuji sepertimana yang Kau janjikan..Amin) Beserta para sahabat dan Ahlulbayt r.anhum yang sangat kasih mereka itu kepada umat ini.Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tiada Daya Upaya melainkan Allah SWT.,

Dan Allah jua yang memberi petunjuk dan Allah SWT Maha Mengetahui..

Jazakallah Khairan Kathira…(^_^)

Al-Faqir wal Haqir indallah,

Salim Azham (MSA)

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Kutipan Ceramah Habib Hassan Ja’far Assegaf

Orang-orang yang bertaqwa akan diberikan bermacam-macam kemulian didunia dan diakhirat berupa kebaikan-kebaikan dan keuntungan yang banyak dan derajat-derajat yang tinggi dan lain sebagainya yang mana semua itu akan didapatkan dengan bertaqwa kepada Allah SWT bukan sebab harta,nasab atau hal yang lainnya.

Dengan bertaqwa maka kita akan mendapatkan derajat ihsan yaitu kita beribadah kepada Allah SWT seakan-akan kita melihat kepada Allah SWT dan kalau kita tidak mampu melihat kepadaNya maka kita merasa sesungguhnya Allah SWT itu selalu melihat kepada kita. Taqwa juga merupakan sebaik-baiknya bekal kita untuk mengarungi kehidupan ini terutama disaat berbagai musibah yang menimpa bangsa indonesia ini.

Majlis yang disebutkan didalamnya nama Nabi Muhammad SAW maka asror dari majlis tersebut akan naik menembus langit pertama sampai ketujuh dengan mengeluarkan wangi-wangian yang sangat luar biasa, ini disebabkan kemuliaan dari pada nama tersebut, bahkan Nabi Adam AS diberikan ilham oleh Allah SWT ketika melihat nama tersebut berdampingan dengan nama Allah SWT bahwa tidaklah Allah SWT menggandengkan namaNya dengan suatu nama kecuali nama tersebut adalah nama yang paling dicintai oleh Allah SWT, bahkan banjir terbesar sepanjang masa yang menimpa umat Nabi Nuh AS tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang ikut serta dengan Nabi Nuh AS ini tidak lain disebabkan adanya cahaya Nabi Muhammad SAW yang Allah SWT letakan didahi Nabi Nuh AS, begitu juga api tidak mampu membakar tubuh Nabi ibrahim AS dikarenakan adanya cahaya tersebut yang berada pada diri Nabi Ibrahim AS, begitu pula setiap musibah atau petaka apapun bila disebutkan nama tersebut maka akan hilang segala macam kesusahan dan kesulitan tersebut, apalagi umatnya Nabi Muhammad SAW mempunyai keistimewaan yang tidak diberikan kepada umat Nabi-nabi terdahulu yaitu bisa bermimpi melihat Nabi Muhammad SAW didalam mimpi karena barangsiapa yang berhasil melihat Nabi Muhammad SAW didalam mimpinya maka dia akan dapat bertemu dengan Nabi Muhanmmad SAW dalam keadaan sadar terjaga yang ditafsirkan oleh para ulama dalam keadaan ketika sedang sakaratulmaut yang mana diwaktu itu telah hadir sebanyak 70000 syetan yang menggoda agar dia mati dalam keadaan tidak membawa iman kepada Allah SWT maka apabila Nabi Muhammad SAW telah hadir dihadapannya niscaya dia akan wafat dalam keadaan husnulkhotimah, dan syarat-syarat agar bisa bertemu dengan Nabi Muhammad SAW adalah:
1) Tidak melakukan dosa besar.
2) Tidak terus-terusan melakukan dosa-dosa kecil.
3) Selalu memperbanyak membaca sholawat apa saja atas Nabi Muhammad SAW .

Keutamaan orang yang menuntut ilmu itu bisa didapatkan oleh orang tuanya seperti kejadian yang ada pada zaman Nabi Isa AS sewaktu itu Beliau sedang melewati suatu kuburan dan mendengar bahwa mayit yang dikubur didalamnya itu sedang disiksa oleh Allah SWT akhirnya setelah beberapa waktu Nabi Isa AS melewati kembali kuburan tersebut dan ternyata mayit yang dulu disiksa telah Allah SWT merubah kuburannya menjadi kebun syurga yang mana penghuninya sedang mendapatkan nikmat didalamnya akhirnya Allah SWT memberi kabar kepada Nabi Isa AS bahwa penghuni kuburan ini dulunya adalah orang yang bermaksiat ketika mati dia mendapatkan siksa didalam kubur akan tetapi dia telah meninggalkan seorang anak yang kemudian diserahkan kepada seorang guru ngaji ketika anaknya diajarkan membaca basmalah maka Allah SWT mengangkat siksa dikarenakan malu untuk mengazab seseorang yang mana anaknya sedang mengucapkan namaNya dan memujiNya dengan bacaan Arrohman dan Arrohim.

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Mengenali Pengarang Kitab-kitab Maulid Secara Ringkas – 1

Mengenali Pengarang Kitab-kitab Maulid Secara Ringkas – 1

Terdapat beberapa buah kitab Maulid yang terkenal dan mula dikenali dirantau ini, antaranya Barzanji, Daiba’ie, Burdah, Simtud Durar dan adh-Dhiya al-Laami’. Antaranya lagi Maulid Azab, Syaraful Anam dll. Mungkin kita sekadar membaca kitab-kitab maulid tersebut tanpa mengenali siapakah pengarangnya. Oleh kerana itu Al-Fanshuri ingin mengajak para pengunjung blog ini untuk mengenali kitab dan pengarangnya. Sebahagian dari maklumat al-Fanshuri petik dari tulisan al-Fadhil Ust Abu Muhammad di blog Bahrus Shofa. Bukannya apa, kekadang terdengar suara-suara sumbang dari mereka yang melontarkan pelbagai kata terhadap kitab-kitab maulid yang dibaca. Seolah-olah pengarang kitab maulid atau qasidah burdah tuuu jahil, tak tau ilmu hadits, tak tau ilmu tauhid dan sebagainya. Tetapi hakikatnya yang menuduh itulah jahil, jahil murakkab. Inilah orang zaman sekarang … baru ada sehelai dua phD dah nak sombong. Betoilah orang kata … bukan phD ilmu yang di dapatnya tapi Penyakit Hasad Dengki rupanya. Makin banyak sijil makin sombong, makin hasad. Bukan semua laaaa … segelintiaq saja. Sedangkan ulama yang ditohmah …. ratusan kali mengajar shohih al-Bukhari …. Puluhan kitab yang dikarang, ribuan hadits yang dihafal. Terkenal dengan ke’aliman, ketaqwaan kewara’an mereka. Okay lah mai kita kenali mereka ….. ambo buat dalam dua tiga siri supaya tidak terlalu panjang.

Kitab Maulid Barzanji – Merupakan yang paling terkenal, bahkan mungkin yang paling awal berkembang di Tanah Melayu. Sehingga kini Maulid Barzanji masih dikumandangkan terutamanya ketika Maulidurrasul. Selian itu ia juga dibaca didalam majlis-majlis kenduri seperti kenduri aqiqah, kenduri kahwin, berkhatan dan sebagainya. Dibaca sebagai melahirkan rasa sukacita dan kegembiraan. Belajar membaca Maulid Barzanji ini juga dijadikan silibus sampingan oleh guru-guru al-Quran. Guru al-Quran al-Faqir pernah berkata, kalau tak pandai ngaji Quran, Barzanji dan Marhaban tak boleh kahwin. Hehehe ….. Al-Faqir masih ingat, ketika era 70an, sering diadakan pertandingan membaca Maulid Barzanji.

Antara nama lain bagi Maulid Barzanji adalah ‘Iqdul Jawhar fi Mawlidin Nabiyyil Azhar atau atau Jawahir ‘Iqd atau ‘Iqd al-Jawahir dan nama yang lain ialah al-Burud yubaiyinul Murad, tetapi gelaran yang paling masyhur ialah “Mawlid al-Barzanji.

Maulid Barzanji ini telah disyarahkan oleh ramai ulama besar, antaranya:

  • Al-‘Allamah asy-Syaikh Nawawi al-Bantani yang diberi judul Madarijus Shu`ud ila Iktisa` al-Burud.
  • Asy-Syaikh ‘Abdul Hamid bin Syaikh Muhammad ‘Ali Kudus yang diberi judul Maulidin Nabiyi صلى الله عليه وآله وسلم ‘ala nasijil Barzanji
  • Al-‘Allaamah al-Faqih asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad ‘Ilyisy al-Maaliki al-‘Asy’ari asy-Syadzili al-Azhari yang terkenal dengan panggilan Ba`ilisy (1217H/1802M – 1299H/1882M) yang diberi judul al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al-Barzanji
  • Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad al-Hadi bin Sayyid Zain (pernah menjawat sebagai Mufti Syafi’iyyah) yang diberi judul “al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Mawlidin Nabiyil Azhar”.

Maulid Barzanji di gubah oleh Mufti asy-Syafi’iyyah di Kota Madinah al-Munawwarah iaitu al-‘Allamah al-Muhaddits al-Musnid Sayyid Ja’far bin Sayyid Hasan bin Sayyid ‘Abdul Karim bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Rasul al-Barzanji. Beliau adalah seorang ulama besar keturunan Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dari keluarga Saadah al-Barzanji yang masyhur berasal dari Barzanj di Iraq. Beliau dilahirkan di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1126H. Segala usul Sayyid Ja’far semuanya merupakan ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amal, keutamaan dan kesholehan. Selain menjawat sebagai Mufti beliau, Sayyid Ja’far al-Barzanji juga adalah merupakan khatib dan mengajar di masjid Nabawi.

Beliau terkenal bukan sahaja kerana ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk hujan pada musim-musim kemarau. Diceritakan bahawa satu ketika di musim kemarau, sedang beliau sedang menyampaikan khutbah Jum’atnya, seseorang telah meminta beliau beristisqa` memohon hujan. Maka dalam khutbahnya itu beliau pun berdoa memohon hujan, dengan serta merta doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya sehingga seminggu, persis sebagaimana yang pernah berlaku pada zaman Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dahulu. Menyaksikan peristiwa tersebut, maka sebahagian ulama pada zaman itu telah memuji beliau dengan bait-bait syair yang berbunyi:-

سقى الفروق بالعباس قدما * و نحن بجعفر غيثا سقينا
فذاك و سيلة لهم و هذا * وسيلتنا إمام العارفينا
Dahulu al-Faruuq dengan al-‘Abbas beristisqa` memohon hujan
Dan kami dengan Ja’far pula beristisqa` memohon hujan
Maka yang demikian itu wasilah mereka kepada Tuhan
Dan ini wasilah kami seorang Imam yang ‘aarifin

Sayyid Ja’far al-Barzanji wafat di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi`, sebelah bawah maqam nenda-nenda beliau dari kalangan anak-anak perempuan Junjungan Nabi s.a.w. Allahu … Allah. Mengenai tarikah kewafatan beliau, telah berlaku perselisihan, di mana sebahagiannya menyebut yang beliau meninggal pada tahun 1177H. Imam az-Zubaidi dalam “al-Mu’jam al-Mukhtash” menulis bahawa beliau wafat tahun1184H, di mana Imam az-Zubaidi pernah berjumpa dengan beliau dan menghadiri majlis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia.

Bertuah sungguh Sayyid Ja’far. Karangannya membawa umat ingatkan Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, membawa umat kasihkan Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, membawa umat rindukan Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Setiap kali karangannya dibaca, pasti sholawat dan salam dilantunkan buat Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Juga umat tidak lupa mendoakan Sayyid Ja’far yang telah berjasa menyebarkan keharuman peribadi dan sirah kehidupan makhluk termulia keturunan Adnan. Allahu … Allah.

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Isu bidaah yang tidak pernah selesai

Isu bidaah yang tidak pernah selesai
Isu bidaah dalam masyarakat Islam

Oleh: DR. ABDUL HAYEI BIN ABDUL SUKOR

SOALAN: Saya seorang pelajar sedang menuntut di sebuah institusi pengajian tinggi di Kuala Lumpur. Untuk makluman tuan, baru-baru ini saya berpeluang mendengar ceramah seorang ustaz. Dia menyatakan banyak amalan bidaah berlaku dalam masyarakat Islam di Malaysia, sambil memberi contoh-contoh seperti membaca usalli ketika niat solat, membaca nawaitu ketika bersuci, membaca sayyidina dalam tasyahud, membaca doa qunut dalam solat subuh dan banyak lagi. Semua amalan ini menurutnya bidaah. Setiap bidaah itu sesat dan setiap kesesatan membawa ke neraka.

Ceramah ini menimbulkan salah faham kepada masyarakat sekitar, kerana ada pula penceramah lain berpendapat sebaliknya. Amalan itu menurutnya sunat dan tidak bertentangan dengan sunah nabi, jauh sekali daripada bidaah, apalagi membawa ke neraka.

Soalan saya, mengapa perbezaan pendapat ini berlaku, bagaimana kedudukan sebenarnya dari segi dalil, hujah dan alasan. Siapa yang benar antara dua kumpulan tersebut? –
TALIB ABU, Johor Bahru, Johor.

JAWAPAN: Masalah yang dikemukakan di atas termasuk antara masalah khilafiah yang usang dan dibaharui semula dalam negara kita sejak beberapa dekad yang lalu. Sepatutnya masalah ini tidak dibangkit lagi di tempat-tempat awam secara terbuka, biarlah ia tersimpan dalam fail-fail lama sebagai dokumen dan bahan sejarah. Jika perlu, biarlah dibuka oleh orang-orang tertentu jua, yang berkelayakan, beramanah dan tahu menilai harga pemikiran ulama dan perbezaan pendapat mereka dalam masalah-masalah tertentu.

Perbezaan pendapat antara ilmuwan dan bijak pandai Islam bukan perkara baru bagi masyarakat Islam di rantau ini. Pengalaman yang lalu memperlihatkan kerugiannya lebih besar daripada keuntungan, kerana masalah itu dibincangkan secara terbuka di hadapan orang awam, tanpa memelihara adab al-ikhtilaf (adab berbeza pendapat). Akibatnya lahir puak-puak kecil dalam masyarakat yang dipecah-belahkan oleh orang-orang yang embawa fahaman yang berbeza tanpa memelihara adab dan etikanya.

Beberapa dekad yang lalu, di negeri Kelantan dan Pattani sebagai contoh, pernah diperselisihkan pendapat tentang najis anjing, kenduri kematian, talkin selepas pengkebumian mayat, usalli dan banyak lagi. Akhirnya lahir dua kumpulan yang digelarkan kaum muda dan kaum tua. Masing-masing mempunyai pendapat dan pengikut setia yang seolah-olah diri dan puaknya sahaja yang betul dan tidak berkemungkinan salah, sedangkan kumpulan lawan pula salah dan tidak berkemungkinan betul sama sekali.

Anggapan sebagai pengamal bidaah, sesat dan membawa ke neraka terhadap kumpulan lawan yang berbeza pendapat tentang usalli, nawaitu dan sayyidina tidak boleh diterima sama sekali, malah boleh dianggap sebagai kurang sopan kerana secara tidak langsung pula menuduh pengamalnya sebagai ahli neraka. Memang ada hadis riwayat Muslim yang membawa erti: Setiap bidaah itu sesat, dan setiap kesesatan itu ditempatkan dalam neraka.
Tetapi, bagaimana bidaah yang dikatakan sesat dalam sabda itu? Apa takrifnya dan adakah hadis itu boleh dipakai pada semua perkara sama ada akidah atau bukan akidah. Penulis lebih cenderung kepada pendapat yang menyatakan bidaah kufur sahaja yang membawa pengamalnya ke neraka, supaya semua keterangan antara al-Quran dan hadis dapat diserasikan dan supaya tiada percanggahan berlaku antara al-Quran dan hadis-hadis sahih yang lain.

Penulis berpendapat isu-isu usalli, qunut solat subuh, sayyidina dan sebagainya adalah masalah kecil dan tidak perlu disebar kepada orang awam yang rendah pengetahuan agamanya. Cerdik pandai agama boleh membincangkan secara jujur dan ikhlas sesama ulama dan tokoh-tokoh yang berkeahlian sahaja. Dalam ruangan yang terbatas ini penulis tidak berpeluang mengemukakan hujah masing-masing, memadailah jika dikatakan kedua-duanya ada hujah dan dalil tetapi semuanya zanni dan wajar menerima perselisihan.

Perbezaan pendapat dalam isu-isu yang membabitkan hukum dan kaedah istinbat (mengeluarkan hukum), sepatutnya membawa rahmat serta menjana pemikiran ijtihad yang lebih matang, bukannya menambahkan kesengsaraan dan kekusutan fikiran yang tidak berkesudahan. Malang sekali, jika keuntungan sepatutnya diraih daripada perbezaan pendapat itu, tiba-tiba kerugian pula dihasilkan.

Negara-negara yang lebih awal menikmati tamadun Islam seperti Mesir, Iraq dan lain-lain sangat menyedari hakikat ini. Pemikir-pemikir Islam mereka telah menulis banyak buku yang berkaitan adab berbeza pendapat seperti Dr. Taha Jabir al-Alwani dengan bukunya berjudul Adab al-Ikhtilaf, Dr. al-Qaradawi dengan bukunya al-Sahwah al-Islamiyah dan lain-lain. Buku-buku ini sangat baik dibaca oleh tokoh-tokoh ilmuwan kita kerana ia ditulis oleh ulama yang berwibawa dan berpengalaman dalam bidang itu.
Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya membahagikan perbezaan pendapat kepada dua, perbezaan terpuji dan terkeji. Perbezaan terkeji menurutnya ialah apabila berlaku disebabkan faktor-faktor berikut:
1. Menunjuk kebolehan sendiri. Seseorang yang memasuki bidang fiqh perbandingan tidak akan berjaya dalam hidupnya sebagai ilmuwan jika disertai dengan nafsu dan rasa besar diri yang tidak terkawal atau taksub kepada mazhab, kumpulan atau jemaah yang dianutinya.

Orang yang taksub kepada diri sendiri, mazhab dan kumpulan tertentu bagaikan orang yang terkurung dalam sebuah bilik yang dikelilingi cermin, ia tidak nampak selain dirinya, kumpulan dan mazhabnya sahaja. Fikirannya terkunci, tidak mampu berbincang lebih luas daripada cermin kurungannya sahaja.

Orang yang taksub kepada mazhab tertentu tidak menerima wujudnya banyak mazhab dalam masyarakat. Dia tidak berpuas hati jika mazhab-mazhab lain juga sama mengambil tempat.

Penulis tertarik dengan tulisan Dr. Sulaiman al-Asyqar dalam kitabnya Tarikh al-Fiqh yang dipetiknya daripada Syeikh Rashid dalam mukadimah al-Mughni karya Ibn Qudamah, katanya:

“Sejarah mencatatkan permusuhan berlaku di Syam pada akhir abad ke-13 Hijrah antara kumpulan-kumpulan yang fanatik kepada mazhab. Mereka mendesak pemerintah supaya membahagikan masjid kepada pengikut-pengikut Syafie dan Hanafi, kerana ada fatwa dikeluarkan oleh ulama Syafie bahawa pengikut mazhab Hanafi disamakan tarafnya dengan kafir ahl al-Zimmah (kafir yang tinggal di dalam negara Islam).

Desakan itu pula berpunca daripada fatwa-fatwa liar dikeluarkan oleh ulama-ulama Syafie tentang masalah sama ada harus atau tidak bagi seorang pengikut mazhab Hanafi untuk berkahwin dengan wanita pengikut mazhab Syafie. Sesetengah ulama dari mazhab Hanafi berpendapat tidak sah perkahwinan itu kerana wanita itu diragui keimanannya, disebabkan Syafie memfatwakan harus seseorang berkata “saya seorang muslim insya-Allah.”

Ada lagi fatwa yang pernah dikeluarkan oleh mufti bermazhab Hanafi menyatakan seorang pengikut mazhab Hanafi tidak sah solat di belakang imam yang menganut mazhab Syafie kerana dia mengangkat tangannya ketika ruku’ dan sujud, sedangkan perbuatan itu merupakan gerak-geri yang membatalkan solat.
Penulis juga pernah melihat jemaah di beberapa masjid sekitar Kuala Lumpur. Ada jemaah yang dengan sengaja keluar atau tidak bersedia mendengar ceramah agama yang disampaikan oleh penceramah-penceramah yang bukan daripada kumpulannya. Mereka lebih suka membuang masa di luar kawasan masjid untuk berbual daripada mendengar ceramah, walaupun kumpulan itu lebih minat berzikir dan beribadat sembahyang daripada berpuasa sunat.

Al-Quran al-Karim mengecam golongan yang taksub kepada sesuatu pihak semata-mata kerana pihak itu kumpulannya, bukan kerana kebenaran, iaitu dalam firman-Nya yang bermaksud: Dan apabila dikatakan kepada mereka, ikutlah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab: Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati daripada perbuatan nenek moyang kami. Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk.

2. Kurang pengetahuan, tetapi cita-citanya besar. Kumpulan ini pernah ditunjuk oleh nabi s.a.w. dalam sabdanya yang diriwayat Bukhari yang bermaksud: Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu daripada manusia secara terang-terangan, tetapi mencabutnya dengan menarik pulang ulama. Apabila ulama semuanya meninggal, seorang mencari si jahil untuk dilantik pemimpin, apabila ditanya hal-hal agama, mereka dengan tidak segan-segan menjawabnya, sesat dan menyesatkan. – (Fath al-bari 1/194).

Aneh sekali, orang jahil merasa terhina jika tidak dapat menjawab soalan agama yang dikemukakan kepadanya, sedangkan orang alim pula mencari seberapa banyak jalan untuk tidak menjawab kerana bimbang kesilapan berlaku.Ada beberapa contoh.

Al-Sya’bi, salah seorang imam hadis dari kalangan tabi’in berkata: Aku hairan, ada orang sambil berehat di atas kerusi mewah berani menjawab seberapa banyak soalan yang dikemukakan sedangkan soalan seumpama itu jika ditanya kepada Umar ibn al-Khattab, nescaya beliau mengumpul semua ahli badar (sahabat-sahabat kanan) untuk ditanya masalah itu kepada mereka. (Sifat al-Fatwa, halaman 8).

Imam Malik pernah ditanya kepadanya 38 soalan oleh penduduk Maghrib, beliau hanya menjawab enam soalan sahaja, 36 soalan lagi dijawabnya la adri (aku tidak tahu).

Ditakdirkan imam-imam ini lahir semula pada zaman ini, mereka akan terkejut besar melihat semua orang dari semua peringkat tanpa silu malu berani bercakap tentang Islam. Mereka sanggup memberi fatwa dalam apa jua masalah yang berkaitan atau tidak berkaitan.

Penulis pernah membaca sebuah majalah yang menemu ramah seorang pelakon. Beliau sering mencemuh belia Islam yang memandang serong terhadap profesion lakonan. Pelakon itu menyatakan pendapatnya: “Apa yang anda tahu tentang lakonan itu. Lakonan adalah amalan, amalan adalah ibadat. Saya beribadat kepada Allah menerusi lakonan saya.”

Penulis merasakan penting sesuatu masalah dirujuk kepada pakar dalam sesuatu bidang. Tetapi sayang, dalam soal-soal agama, semua orang berani bercakap, berani menjawab dengan terus terang atas namanya. Apakah bidang agama boleh diserah kepada siapa sahaja. (UM 01/07/2001)

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

CATATAN PERJALANAN KE TARIM, HADRAMAUT, YAMAN – SIRI 3

CATATAN PERJALANAN ABU ZAHRAH KE TARIM, HADRAMAUT, YAMAN – SIRI 3

Kota Tarim

Sudah agak lama al-Fagir tidak update catatan ini. Bukannya apa, cuma malas nak menaip. Tapi semalam sewaktu mengemaskini buku-buku, terjumpa pulak sebuah risalah kecil yang bertajuk Tarim dan Kaum Sholihin – Kisah Perjalanan Seorang Moroko ke Tarim. Sebuah catatan yang menarik. Maka timbul pula rasa bersemangat untuk terus berkongsi catatan perjalanan al-fagir. Tapi untuk entri kali ini, ingin al-Fagir berkongsi sedikit kandungan buku atau risalah yang al-fagir sebut di atas.

Adapun kisah perjalanan lelaki dari Moroko (Maghribi) ini berlaku pada tahun 865H. (iaitu 567 tahun dahulu). Pada tahun inilah wafatnya Sayyidina al-Imam ‘Abdullah al-Aidarus al-Akbar bin al-Imam Abu Bakar as-Sakran. (Managib beliau boleh mai baca tang ni…)

Lelaki dari Maghribi ini melakukan perjalanannya setelah menunaikan ibadat haji dan menziarahi Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم. Beliau berangkat dari Jeddah ke Hadramaut bersama-sama dengan al-Habib Muhammad bin Ahmad dan seorang lelaki dari marga BaFadhal yang menjadi khadam kepada al-Habib Muhammad bin Ahmad.

Lelaki Maghribi ini memulakan catatannya …..
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah catatan ringkas tenntang perjalananku ke kota Tarim. Jauh sebelum kunjunganku ke Tarim, ayahku (semoga Allah merahmatinya) telah melakukan perjalanan ke kota yang penuh barokah ini. Waktu itu aku masih kecil. Setelah dewasa, aku mendengar ayah berulangkali menceritakan perjalanannya ke Hadhramaut dalam majlisnya. Pernah suatu hari, ketika bercerita tentang Tarim, beliau seakan-akan hanyut dalam menyifatkan ilmu dan amal para asyraf (yakni ahlulbait Nabi صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم) yang mendiami Tarim. Sehinggakan dia mengakhiri kisahnya dengan ucapan:
إنهم بالملآئكة أشبه
Ertinya: Sesungguhnya mereka (ahlulbait di Tarim) lebih menyerupai malaikat
Kalimat ayahku ini begitu memberi bekas dihatiku sehingga bilapun aku beroleh kesempatan, aku selalu meminta beliau untuk mengulangi kembali ceritanya.
Satu hari aku berkata kepada ayahku: “Andaikata, ayah mencatatkan kisah perjalanan tersebut”.
Jawab ayahku: “Aku telah mencatatnya”.
Tidak lama kemudian ayahku meninggal dunia, (semoga Allah merahmatinya). Sepeninggalan ayah, aku berusaha mencari cacatan perjalannya ke Tarim, namun aku tidak berhasil menemukannya. Sementara ini kisah-kisah yang ayahku ceritakan mengenai kemuliaan sifat para ashraf yang suci dan disucikan itu sering terngiang-ngiang di telingaku. Seringkali terlintas dihatiku keinginan untuk mengunjungi kota Tarim untuk menziarahi para ulama dan wali dari ahlulbait yang tinggal disana.
Menjelang musim haji, timbullah tekadku untuk menunaikan ibadah haji dan seterusnya mengunjungi kota Tarim …… bersambung di entri-entri seterusnya …. insyaAllah.

http://al-fanshuri.blogspot.com/2011/01/catatan-perjalanan-abu-zahrah-ke-tarim.html

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Ikut Nabi Sedaya Upaya, Jangan Banyak Soal

Ikut Nabi Sedaya Upaya, Jangan Banyak Soal
Posted on Januari 17, 2011 by sulaiman

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda “Biarkan aku apa yang aku biarkan kepada kamu. Sesungguhnya kebinasaan umat sebelum kamu adalah kerana pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jadi, jika aku melarang sesuatu atas kamu maka tingggalkanlah dan jika aku memerintahkan sesuatu maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kamu” (Riwayat Bukhari & Muslim)

1) Jangan terlalu banyak bertanya

Al-Maidah [101] Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanyakan (kepada Nabi) perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu bertanya mengenainya ketika diturunkan Al-Quran, tentulah akan diterangkan kepada kamu. Allah maafkan (kamu) dari (kesalahan bertanyakan) perkara-perkara itu (yang tidak dinyatakan di dalam Al-Quran); kerana Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyabar.

Jangan terlalu banyak menyoal seperti umat terdahulu, seperti yang diceritakan dalam surah Al-Baqarah. Kisah penduduk dua buah kampung yang bertemu Nabi Musa untuk menyelesaikan satu kes pembunuhan.

Dan (ingatlah), ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh supaya kamu menyembelih seekor lembu betina”.

Mereka berkata: “Adakah engkau hendak menjadikan kami ini permainan?”

Nabi Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah daripada menjadi salah seorang dari golongan yang jahil (yang melakukan sesuatu yang tidak patut)”. (67)

Mereka berkata pula: “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami, supaya diterangkanNya kepada kami bagaimana (sifat-sifat) lembu itu?”.

Nabi Musa menjawab: “Bahawasanya Allah berfirman: Bahawa (lembu betina) itu ialah seekor lembu yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, pertengahan (umurnya) di antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kamu melakukannya”. (68)

Mereka berkata lagi: “Pohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, supaya diterangkanNya kepada kami apa warnanya?”.

Nabi Musa menjawab: “Bahawasanya Allah berfirman: Bahawa (lembu betina) itu ialah seekor lembu kuning, kuning tua warnanya, lagi menyukakan orang-orang yang melihatnya”. (69)

Mereka berkata lagi: “Pohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, supaya diterangkanNya kepada kami lembu betina yang mana satu? Kerana sesungguhnya lembu yang dikehendaki itu kesamaran kepada kami (susah kami memilihnya) dan kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk mencari dan menyembelih lembu itu)”. (70)

Nabi Musa menjawab: “Bahawasanya Allah berfirman: Sebenarnya (lembu yang dikehendaki itu) ialah lembu betina yang tidak pernah digunakan untuk membajak tanah (sawah bendang) dan tidak pula (digunakan untuk mengangkut air) untuk menyiram tanaman; ia juga tidak cacat dan tidak ada belang pada warnanya”.

Mereka berkata: “Sekarang barulah engkau dapat menerangkan sifat-sifatnya yang sebenar”.

Maka mereka pun menyembelih lembu yang tersebut dan hampir-hampir mereka tidak dapat menunaikan (perintah Allah) itu. (71)

Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia, kemudian kamu tuduh-menuduh sesama sendiri tentang pembunuhan itu, padahal Allah tetap melahirkan apa yang kamu sembunyikan. (72)

Maka Kami (Allah) berfirman: “Pukullah si mati dengan sebahagian anggota lembu yang kamu sembelih itu”. (Mereka pun memukulnya dan ia kembali hidup). Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda kekuasaanNya, supaya kamu memahaminya. (73)

2) Tinggal apa yang dilarang dan ikut apa yang disuruh mengikut kemampuan

Misalnya jika tidak mampu sembahyang berdiri kerana uzur, boleh sembahyang secara duduk, jika tidak mampu juga boleh sembahyang sambil baring atau tidur.

Taghabun [16] Oleh itu bertakwalah kamu kepada Allah sedaya supaya kamu dan dengarlah (akan pengajaran-pengajaranNya) serta taatlah (akan perintah-perintahNya) dan belanjakanlah harta kamu (serta buatlah) kebajikan untuk diri kamu dan (ingatlah), sesiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya.

Ikutlah Nabi untuk masuk ke dalam syurga milik Allah.

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda : “Sekelian umatku akan masuk syurga kecuali orang yang enggan.”…Sahabat-sahabat baginda bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?”…Baginda menjawab, “Sesiapa yang taat kepada ku akan masuk syurga, dan sesiapa yang derhaka kepadaku maka sesungguhnya dia telah enggan.”

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Solat tepati syarak bentuk peribadi cemerlang

Solat tepati syarak bentuk peribadi cemerlang

Oleh Zamanuddin Jusoh

MEMETIK Khutbah Syekh Ali Abdul Rahman Al-Huzaify bertajuk ‘Kebahagiaan Dalam Muhasabah Diri’ menunaikan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya berpaksikan prinsip keredaan daripada Allah dan Rasul-Nya.

Ketahuilah kejayaan seorang Muslim dan kebahagiaan di dunia serta akhirat bergantung sejauh mana ketaatan dan muhasabah diri terhadap perkara yang diredai Allah.

Firman Allah bermaksud: “Wahai orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang akan dilakukan untuk hari esok serta bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat mengetahui dengan apa yang kamu lakukan.” (Surah Al-Hashr: Ayat 18).

Kita semua melihat, mengetahui, merasai dengan kesusahan dan kehinaan yang menimpa umat Islam hari ini berpunca daripada kesalahan kita sendiri yang banyak melakukan pelanggaran hukum serta mengabaikan kewajipan sebagai seorang Muslim.

Firman Allah bermaksud: “Dan apa-apa musibah yang menimpa kamu adalah perbuatan tangan mu sendiri dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan kamu.” (Surah Syura: Ayat 30).

Sesungguhnya keadilan Allah terlaksana dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya terhadap semua makhluk tanpa seorang pun yang terlepas darinya. Inilah sunnah Allah yang akan berlaku tanpa syak dan ragu lagi.

Firman Allah bermaksud: “Maka kamu tidak akan mendapat perubahan dari Allah dan tiada penyimpang bagi segala ketentuan Nya.” (Surah Fatir: Ayat 43).

Ulama tafsir menyebut, Allah tidak akan menganiaya kamu di dunia dan akhirat jika kamu bersyukur serta tahu menilai dengan ukuran perbuatan baik tetapi Allah akan menimpakan azab-Nya kepada yang ingkar dan berpaling tadah. Kunci utama pembentukan peribadi masyarakat cemerlang ialah menjaga solat serta mengukuhkan pegangan dengan Allah dan menyeru manusia ke jalan yang benar.

Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya berjaya mereka yang mendirikan solat dengan penuh khusyuk.” (Surah Al-Mukminun: Ayat 1-2).

Disiplin dan keikhlasan dalam solat disifatkan oleh Rasulullah dalam sabdanya bermaksud: “Sesiapa yang bersolat tepat pada waktunya dengan penuh khusyuk serta menyempurnakan wuduk, rukuk serta sujudnya, akan didatangi solatnya pada hari kiamat seraya berkata: Semoga Allah memelihara kamu seperti kamu memelihara aku dulu dan sesiapa yang bersolat di luar waktunya serta tidak menyempurnakan wuduk, rukuk serta sujudnya dan tidak khusyuk, akan dikatakan padanya: Kamu akan diabaikan pada hari ini seperti kamu mengabaikan aku dulu.” (Hadis riwayat Tabrani).

Sahabat Nabi serta tabi’in sentiasa bermuhasabah solat yang dilakukan sehingga darjat dan kedudukan mereka sentiasa diangkat oleh Allah.

Sahabat Nabi, Zuhri bertemu Anas Bin Malik di Syria dalam keadaan Anas menangis lalu Zuhri berkata: “Kenapa kamu menangis wahai Anas? Lalu Anas menjawab: “Aku tidak dapat pastikan solat manakah yang diterima oleh Allah.” (Hadis riwayat Bukhari).

Bersempena semangat dan keazaman baru ini, marilah bersama kita renungkan ibadat solat kita lakukan, apakah ia menepati kehendak syarak (dengan ilmu) atau sekadar melepaskan batuk di tangga.

Sejauh mana ilmu yang dipelajari mengenai solat kerana gejala dan perpecahan sedang melanda umat Islam kini adalah hasil daripada pengabaian mereka terhadap kewajipan solat.

Firman Allah bermaksud: “Mohonlah bantuan kepada Allah dengan sabar dan solat. Sesungguhnya solat itu amat berat kecuali bagi orang yang khusyuk.” (Surah Al-Baqarah: Ayat 45).

Sebenarnya, segala kebaikan dan keberkatan adalah buat umat Nabi Muhammad sehingga hari kiamat. Namun, ia memerlukan muhasabah tinggi terhadap ibadat solat mereka lakukan.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 816 other followers