Posted by: Habib Ahmad | 24 Januari 2011

Semakan Status Permohonan Tingkatan 1 MRSM Pengambilan 2011

Kebohongan atas nama Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Radiyallahu’anhu dan pemutarbalikan terhadap perkataannya !!
Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan empunya sekalian Alam, Tiada Ia berhajat kepada selain-Nya, malah selain-Nya lah yang berhajat kepada-Nya. Selawat dan salam semoga dilimpahkan Allah SWT ke atas junjungan kita Sayyidina Nabi Muhammad SAW (Ya Allah tempatkan baginda di tempat yang terpuji sepertimana yang Kau janjikan Amin) Beserta Ahlulbayt dan Para Sahabat R.anhum yang mulia lagi mengerah keringat menyebarkan Islam yang tercinta. Dan kepada mereka yang mengikut mereka itu dari semasa ke semasa hingga ke hari kiamat…Ya Allah Ampuni kami, Rahmati Kami, Kasihani Kami …Amin

Amma Ba’du,

Kali ini faqir ingin berkongsi dengan saudara/i yang dikasihi akan pembongkaran yang dilakukan oleh Al-Muhaddith Al-Imam Sayyid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki Radiyallahu’anhu terhadap segolongan manusia yang berbohong atas nama Al-Imam Ibnu Katsir Radiyallahu’anhu semata-mata untuk mencapai matlamat mereka membida’ah menyesatkan Umat Islam yang memperingati maulid Nabi SAW. Di dalam buku beliau yang kemudiannya dirumikan dengan judul “Wajibkah memperingati Maulid Nabi SAW ?” yang diterbitkan oleh Cahaya Ilmu Publisher. Demikian kenyataannya :

Orang-orang yang menentang maulid itu mencuba dengan berbagai macam cara untuk menyebarkan kebatilan mereka – walaupun dengan cara pemalsuan, yang mana itu sudah menjadi kebiasaan mereka – kepada orang-orang muslim yang awam dan kurang pemahamannya (atas Islam). Mereka mengatakan dengan tegas : “Sesungguhnya Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah jilid 11 halaman 172 bahawa Daulah fathimiyyah yang dibangun oleh para budak itu yang bernasab kepada Abdullah bin Maymun Al-Qoddah, seorang yahudi yang mana mereka memerintah Mesir dari tahun 375 H – 567 H ; mereka itulah yang mengadakan berbagai macam hari peringatan pada beberapa hari -hari tertentu. Di antaranya adalah Peringatan Maulid Nabi SAW.” Begitulah yang mereka nukil dari Al-Hafiz Ibnu Katsir.

Menurut referensi yang kalian tunjuk itu, kami katakan kepada kalian : “Demi Allah, kalian telah berdusta !! Kami telah mendapati apa yang kalian akui sebagai perkataan Ibnu katsir. Dan sungguh apa yang engkau nukil darinya adalah betul-betul sebuah kedustaan, mengada-adakan, pemalsuan, dan pengkhianatan dalam hal penukilan pendapat dari ulamak-ulamak umat ini. Dan jika kalian tetap melakukan hal yang demikian, maka kami katakan kepada kalian: “Keluarkanlah (tunjukkanlah) itu pada kami , jika kalian memang benar.”

Dan bagaimana dengan pernyataan kalian bahawa kalian akan mendiskusikan masalah ini secara adil dan objektif serta lepas dari hawa nafsu. tetapi yang kalian lakukan itu adalah betul-betul sebuah kebohongan yang hina dan dipenuhi hawa nafsu yang tercela. lalu bagaimanakah – wahai saudaraku sesama muslimin – kita akan percaya atau merasa aman akan penukilan-penukilan mereka dari para ulamak umat ini ? Dan inilah wahai saudara muslimku pendapat yang sebenarnya dari Al-Hafiz Ibnu Katsir tentang peringatan Maulid dan awal mulanya, yang mana hal ini disembunyikan oleh mereka yang mengaku akan mendiskusikan masalah ini secara adil dan objektif. Al-Hafiz Ibnu katsir Radiyallahu’anhu berkata di dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid 13, halaman 136 cetakan Maktabah Al-Ma’arif yang mana redaksinya adalah seperti berikut :

“…Raja Muzhoffar Abu Sa’id Al-Kawkabariy, salah seorang dermawan , pemimpin yang besar, serta raja yang mulia, yang memiliki peninggalan yang baik (perhatikanlah perkataannya ‘peninggalan yang baik’). Dan dia menyelenggarakan Maulid Yang Mulia di bulan Rabi’ul Awwal yang mana ia merayakannyasecara besar-besaran. Ia juga seorang raja yang berakal cemerlang, pemberani, kesatria, pandai, dan adil – semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya di tempat yang paling baik.”

Kemudian beliau melanjutkan : “Ia (Raja Muzhoffar) membelanjakan wang sebanyak 3000 dinar (emas) untuk perayaan Maulid”.

Lihatlah -semoga Allah mengasihimu – pujian dan sanjungan dari Ibnu katsir kepada Raja Muzhoffar tersebut. Yang mana beliau mensifatinya dengan ‘seorang yang pandai, adil, cerdas, pemberani’, lalu ia berkata :”…semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya di tempat yang paling baik”. Dan beliau tidak mengatakan : seorang yang zindiq, bejat, fasik, sering berbuat keji dan dosa-dosa besar sebagaimana dikatakan oleh para penentang maulid itu terhadap orang yang melaksanakan Maulid Yang Mulia !! Dan disarankan agar pembaca melihat atau membaca secara langsung , niscaya kalian akan mendapati perkataan yang lebih hebat dari yang saya sebutkan di atas tentang sifat Raja Muzhoffar tersebut yang mana saya tidak menukilkan semuanya itu kerana takut akan memperpanjang pembahasan ini.

Perhatikanlah perkataan Al-Imam Al-Hafizh Az-Zahabi Radiyallahu’anhu dalam kitabnya Siyaru A’lamin Nubala’ jilid 22 halaman 336 ketika menyebutkan tentang biografi Raja Muzhoffar, redaksinya sebagai berikut : “Ia adalah seorang (raja) yang rendah hati, baik hati, sunniy (mengikut sunnah), dan mencintai ulama’ dan ahli hadith.” Tamat.

Semoga Allah SWT memelihara kita dari mengambil ilmu agama daripada manusia yang berbohong atas nama ulamak Radiyallahu’anhum. Amin.

Wallahu Yahdi ila sawaissabil…

Selawat dan salam sebanyaknya semoga dilimpahkan Allah SWT ke atas junjungan besar kita Sayyidina Nabi Muhammad SAW. (Ya Allah Tempatkanlah Junjungan kami di tempat yang terpuji sepertimana yang Kau janjikan..Amin) Beserta para sahabat dan Ahlulbayt r.anhum yang sangat kasih mereka itu kepada umat ini.Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tiada Daya Upaya melainkan Allah SWT.,

Dan Allah jua yang memberi petunjuk dan Allah SWT Maha Mengetahui..

Jazakallah Khairan Kathira…(^_^)

Al-Faqir wal Haqir indallah,

Salim Azham (MSA)

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Kutipan Ceramah Habib Hassan Ja’far Assegaf

Orang-orang yang bertaqwa akan diberikan bermacam-macam kemulian didunia dan diakhirat berupa kebaikan-kebaikan dan keuntungan yang banyak dan derajat-derajat yang tinggi dan lain sebagainya yang mana semua itu akan didapatkan dengan bertaqwa kepada Allah SWT bukan sebab harta,nasab atau hal yang lainnya.

Dengan bertaqwa maka kita akan mendapatkan derajat ihsan yaitu kita beribadah kepada Allah SWT seakan-akan kita melihat kepada Allah SWT dan kalau kita tidak mampu melihat kepadaNya maka kita merasa sesungguhnya Allah SWT itu selalu melihat kepada kita. Taqwa juga merupakan sebaik-baiknya bekal kita untuk mengarungi kehidupan ini terutama disaat berbagai musibah yang menimpa bangsa indonesia ini.

Majlis yang disebutkan didalamnya nama Nabi Muhammad SAW maka asror dari majlis tersebut akan naik menembus langit pertama sampai ketujuh dengan mengeluarkan wangi-wangian yang sangat luar biasa, ini disebabkan kemuliaan dari pada nama tersebut, bahkan Nabi Adam AS diberikan ilham oleh Allah SWT ketika melihat nama tersebut berdampingan dengan nama Allah SWT bahwa tidaklah Allah SWT menggandengkan namaNya dengan suatu nama kecuali nama tersebut adalah nama yang paling dicintai oleh Allah SWT, bahkan banjir terbesar sepanjang masa yang menimpa umat Nabi Nuh AS tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang ikut serta dengan Nabi Nuh AS ini tidak lain disebabkan adanya cahaya Nabi Muhammad SAW yang Allah SWT letakan didahi Nabi Nuh AS, begitu juga api tidak mampu membakar tubuh Nabi ibrahim AS dikarenakan adanya cahaya tersebut yang berada pada diri Nabi Ibrahim AS, begitu pula setiap musibah atau petaka apapun bila disebutkan nama tersebut maka akan hilang segala macam kesusahan dan kesulitan tersebut, apalagi umatnya Nabi Muhammad SAW mempunyai keistimewaan yang tidak diberikan kepada umat Nabi-nabi terdahulu yaitu bisa bermimpi melihat Nabi Muhammad SAW didalam mimpi karena barangsiapa yang berhasil melihat Nabi Muhammad SAW didalam mimpinya maka dia akan dapat bertemu dengan Nabi Muhanmmad SAW dalam keadaan sadar terjaga yang ditafsirkan oleh para ulama dalam keadaan ketika sedang sakaratulmaut yang mana diwaktu itu telah hadir sebanyak 70000 syetan yang menggoda agar dia mati dalam keadaan tidak membawa iman kepada Allah SWT maka apabila Nabi Muhammad SAW telah hadir dihadapannya niscaya dia akan wafat dalam keadaan husnulkhotimah, dan syarat-syarat agar bisa bertemu dengan Nabi Muhammad SAW adalah:
1) Tidak melakukan dosa besar.
2) Tidak terus-terusan melakukan dosa-dosa kecil.
3) Selalu memperbanyak membaca sholawat apa saja atas Nabi Muhammad SAW .

Keutamaan orang yang menuntut ilmu itu bisa didapatkan oleh orang tuanya seperti kejadian yang ada pada zaman Nabi Isa AS sewaktu itu Beliau sedang melewati suatu kuburan dan mendengar bahwa mayit yang dikubur didalamnya itu sedang disiksa oleh Allah SWT akhirnya setelah beberapa waktu Nabi Isa AS melewati kembali kuburan tersebut dan ternyata mayit yang dulu disiksa telah Allah SWT merubah kuburannya menjadi kebun syurga yang mana penghuninya sedang mendapatkan nikmat didalamnya akhirnya Allah SWT memberi kabar kepada Nabi Isa AS bahwa penghuni kuburan ini dulunya adalah orang yang bermaksiat ketika mati dia mendapatkan siksa didalam kubur akan tetapi dia telah meninggalkan seorang anak yang kemudian diserahkan kepada seorang guru ngaji ketika anaknya diajarkan membaca basmalah maka Allah SWT mengangkat siksa dikarenakan malu untuk mengazab seseorang yang mana anaknya sedang mengucapkan namaNya dan memujiNya dengan bacaan Arrohman dan Arrohim.

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Mengenali Pengarang Kitab-kitab Maulid Secara Ringkas – 1

Mengenali Pengarang Kitab-kitab Maulid Secara Ringkas – 1

Terdapat beberapa buah kitab Maulid yang terkenal dan mula dikenali dirantau ini, antaranya Barzanji, Daiba’ie, Burdah, Simtud Durar dan adh-Dhiya al-Laami’. Antaranya lagi Maulid Azab, Syaraful Anam dll. Mungkin kita sekadar membaca kitab-kitab maulid tersebut tanpa mengenali siapakah pengarangnya. Oleh kerana itu Al-Fanshuri ingin mengajak para pengunjung blog ini untuk mengenali kitab dan pengarangnya. Sebahagian dari maklumat al-Fanshuri petik dari tulisan al-Fadhil Ust Abu Muhammad di blog Bahrus Shofa. Bukannya apa, kekadang terdengar suara-suara sumbang dari mereka yang melontarkan pelbagai kata terhadap kitab-kitab maulid yang dibaca. Seolah-olah pengarang kitab maulid atau qasidah burdah tuuu jahil, tak tau ilmu hadits, tak tau ilmu tauhid dan sebagainya. Tetapi hakikatnya yang menuduh itulah jahil, jahil murakkab. Inilah orang zaman sekarang … baru ada sehelai dua phD dah nak sombong. Betoilah orang kata … bukan phD ilmu yang di dapatnya tapi Penyakit Hasad Dengki rupanya. Makin banyak sijil makin sombong, makin hasad. Bukan semua laaaa … segelintiaq saja. Sedangkan ulama yang ditohmah …. ratusan kali mengajar shohih al-Bukhari …. Puluhan kitab yang dikarang, ribuan hadits yang dihafal. Terkenal dengan ke’aliman, ketaqwaan kewara’an mereka. Okay lah mai kita kenali mereka ….. ambo buat dalam dua tiga siri supaya tidak terlalu panjang.

Kitab Maulid Barzanji – Merupakan yang paling terkenal, bahkan mungkin yang paling awal berkembang di Tanah Melayu. Sehingga kini Maulid Barzanji masih dikumandangkan terutamanya ketika Maulidurrasul. Selian itu ia juga dibaca didalam majlis-majlis kenduri seperti kenduri aqiqah, kenduri kahwin, berkhatan dan sebagainya. Dibaca sebagai melahirkan rasa sukacita dan kegembiraan. Belajar membaca Maulid Barzanji ini juga dijadikan silibus sampingan oleh guru-guru al-Quran. Guru al-Quran al-Faqir pernah berkata, kalau tak pandai ngaji Quran, Barzanji dan Marhaban tak boleh kahwin. Hehehe ….. Al-Faqir masih ingat, ketika era 70an, sering diadakan pertandingan membaca Maulid Barzanji.

Antara nama lain bagi Maulid Barzanji adalah ‘Iqdul Jawhar fi Mawlidin Nabiyyil Azhar atau atau Jawahir ‘Iqd atau ‘Iqd al-Jawahir dan nama yang lain ialah al-Burud yubaiyinul Murad, tetapi gelaran yang paling masyhur ialah “Mawlid al-Barzanji.

Maulid Barzanji ini telah disyarahkan oleh ramai ulama besar, antaranya:

  • Al-‘Allamah asy-Syaikh Nawawi al-Bantani yang diberi judul Madarijus Shu`ud ila Iktisa` al-Burud.
  • Asy-Syaikh ‘Abdul Hamid bin Syaikh Muhammad ‘Ali Kudus yang diberi judul Maulidin Nabiyi صلى الله عليه وآله وسلم ‘ala nasijil Barzanji
  • Al-‘Allaamah al-Faqih asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad ‘Ilyisy al-Maaliki al-‘Asy’ari asy-Syadzili al-Azhari yang terkenal dengan panggilan Ba`ilisy (1217H/1802M – 1299H/1882M) yang diberi judul al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al-Barzanji
  • Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad al-Hadi bin Sayyid Zain (pernah menjawat sebagai Mufti Syafi’iyyah) yang diberi judul “al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Mawlidin Nabiyil Azhar”.

Maulid Barzanji di gubah oleh Mufti asy-Syafi’iyyah di Kota Madinah al-Munawwarah iaitu al-‘Allamah al-Muhaddits al-Musnid Sayyid Ja’far bin Sayyid Hasan bin Sayyid ‘Abdul Karim bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Rasul al-Barzanji. Beliau adalah seorang ulama besar keturunan Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dari keluarga Saadah al-Barzanji yang masyhur berasal dari Barzanj di Iraq. Beliau dilahirkan di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1126H. Segala usul Sayyid Ja’far semuanya merupakan ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amal, keutamaan dan kesholehan. Selain menjawat sebagai Mufti beliau, Sayyid Ja’far al-Barzanji juga adalah merupakan khatib dan mengajar di masjid Nabawi.

Beliau terkenal bukan sahaja kerana ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk hujan pada musim-musim kemarau. Diceritakan bahawa satu ketika di musim kemarau, sedang beliau sedang menyampaikan khutbah Jum’atnya, seseorang telah meminta beliau beristisqa` memohon hujan. Maka dalam khutbahnya itu beliau pun berdoa memohon hujan, dengan serta merta doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya sehingga seminggu, persis sebagaimana yang pernah berlaku pada zaman Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dahulu. Menyaksikan peristiwa tersebut, maka sebahagian ulama pada zaman itu telah memuji beliau dengan bait-bait syair yang berbunyi:-

سقى الفروق بالعباس قدما * و نحن بجعفر غيثا سقينا
فذاك و سيلة لهم و هذا * وسيلتنا إمام العارفينا
Dahulu al-Faruuq dengan al-‘Abbas beristisqa` memohon hujan
Dan kami dengan Ja’far pula beristisqa` memohon hujan
Maka yang demikian itu wasilah mereka kepada Tuhan
Dan ini wasilah kami seorang Imam yang ‘aarifin

Sayyid Ja’far al-Barzanji wafat di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi`, sebelah bawah maqam nenda-nenda beliau dari kalangan anak-anak perempuan Junjungan Nabi s.a.w. Allahu … Allah. Mengenai tarikah kewafatan beliau, telah berlaku perselisihan, di mana sebahagiannya menyebut yang beliau meninggal pada tahun 1177H. Imam az-Zubaidi dalam “al-Mu’jam al-Mukhtash” menulis bahawa beliau wafat tahun1184H, di mana Imam az-Zubaidi pernah berjumpa dengan beliau dan menghadiri majlis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia.

Bertuah sungguh Sayyid Ja’far. Karangannya membawa umat ingatkan Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, membawa umat kasihkan Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, membawa umat rindukan Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Setiap kali karangannya dibaca, pasti sholawat dan salam dilantunkan buat Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Juga umat tidak lupa mendoakan Sayyid Ja’far yang telah berjasa menyebarkan keharuman peribadi dan sirah kehidupan makhluk termulia keturunan Adnan. Allahu … Allah.

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Isu bidaah yang tidak pernah selesai

Isu bidaah yang tidak pernah selesai
Isu bidaah dalam masyarakat Islam

Oleh: DR. ABDUL HAYEI BIN ABDUL SUKOR

SOALAN: Saya seorang pelajar sedang menuntut di sebuah institusi pengajian tinggi di Kuala Lumpur. Untuk makluman tuan, baru-baru ini saya berpeluang mendengar ceramah seorang ustaz. Dia menyatakan banyak amalan bidaah berlaku dalam masyarakat Islam di Malaysia, sambil memberi contoh-contoh seperti membaca usalli ketika niat solat, membaca nawaitu ketika bersuci, membaca sayyidina dalam tasyahud, membaca doa qunut dalam solat subuh dan banyak lagi. Semua amalan ini menurutnya bidaah. Setiap bidaah itu sesat dan setiap kesesatan membawa ke neraka.

Ceramah ini menimbulkan salah faham kepada masyarakat sekitar, kerana ada pula penceramah lain berpendapat sebaliknya. Amalan itu menurutnya sunat dan tidak bertentangan dengan sunah nabi, jauh sekali daripada bidaah, apalagi membawa ke neraka.

Soalan saya, mengapa perbezaan pendapat ini berlaku, bagaimana kedudukan sebenarnya dari segi dalil, hujah dan alasan. Siapa yang benar antara dua kumpulan tersebut? –
TALIB ABU, Johor Bahru, Johor.

JAWAPAN: Masalah yang dikemukakan di atas termasuk antara masalah khilafiah yang usang dan dibaharui semula dalam negara kita sejak beberapa dekad yang lalu. Sepatutnya masalah ini tidak dibangkit lagi di tempat-tempat awam secara terbuka, biarlah ia tersimpan dalam fail-fail lama sebagai dokumen dan bahan sejarah. Jika perlu, biarlah dibuka oleh orang-orang tertentu jua, yang berkelayakan, beramanah dan tahu menilai harga pemikiran ulama dan perbezaan pendapat mereka dalam masalah-masalah tertentu.

Perbezaan pendapat antara ilmuwan dan bijak pandai Islam bukan perkara baru bagi masyarakat Islam di rantau ini. Pengalaman yang lalu memperlihatkan kerugiannya lebih besar daripada keuntungan, kerana masalah itu dibincangkan secara terbuka di hadapan orang awam, tanpa memelihara adab al-ikhtilaf (adab berbeza pendapat). Akibatnya lahir puak-puak kecil dalam masyarakat yang dipecah-belahkan oleh orang-orang yang embawa fahaman yang berbeza tanpa memelihara adab dan etikanya.

Beberapa dekad yang lalu, di negeri Kelantan dan Pattani sebagai contoh, pernah diperselisihkan pendapat tentang najis anjing, kenduri kematian, talkin selepas pengkebumian mayat, usalli dan banyak lagi. Akhirnya lahir dua kumpulan yang digelarkan kaum muda dan kaum tua. Masing-masing mempunyai pendapat dan pengikut setia yang seolah-olah diri dan puaknya sahaja yang betul dan tidak berkemungkinan salah, sedangkan kumpulan lawan pula salah dan tidak berkemungkinan betul sama sekali.

Anggapan sebagai pengamal bidaah, sesat dan membawa ke neraka terhadap kumpulan lawan yang berbeza pendapat tentang usalli, nawaitu dan sayyidina tidak boleh diterima sama sekali, malah boleh dianggap sebagai kurang sopan kerana secara tidak langsung pula menuduh pengamalnya sebagai ahli neraka. Memang ada hadis riwayat Muslim yang membawa erti: Setiap bidaah itu sesat, dan setiap kesesatan itu ditempatkan dalam neraka.
Tetapi, bagaimana bidaah yang dikatakan sesat dalam sabda itu? Apa takrifnya dan adakah hadis itu boleh dipakai pada semua perkara sama ada akidah atau bukan akidah. Penulis lebih cenderung kepada pendapat yang menyatakan bidaah kufur sahaja yang membawa pengamalnya ke neraka, supaya semua keterangan antara al-Quran dan hadis dapat diserasikan dan supaya tiada percanggahan berlaku antara al-Quran dan hadis-hadis sahih yang lain.

Penulis berpendapat isu-isu usalli, qunut solat subuh, sayyidina dan sebagainya adalah masalah kecil dan tidak perlu disebar kepada orang awam yang rendah pengetahuan agamanya. Cerdik pandai agama boleh membincangkan secara jujur dan ikhlas sesama ulama dan tokoh-tokoh yang berkeahlian sahaja. Dalam ruangan yang terbatas ini penulis tidak berpeluang mengemukakan hujah masing-masing, memadailah jika dikatakan kedua-duanya ada hujah dan dalil tetapi semuanya zanni dan wajar menerima perselisihan.

Perbezaan pendapat dalam isu-isu yang membabitkan hukum dan kaedah istinbat (mengeluarkan hukum), sepatutnya membawa rahmat serta menjana pemikiran ijtihad yang lebih matang, bukannya menambahkan kesengsaraan dan kekusutan fikiran yang tidak berkesudahan. Malang sekali, jika keuntungan sepatutnya diraih daripada perbezaan pendapat itu, tiba-tiba kerugian pula dihasilkan.

Negara-negara yang lebih awal menikmati tamadun Islam seperti Mesir, Iraq dan lain-lain sangat menyedari hakikat ini. Pemikir-pemikir Islam mereka telah menulis banyak buku yang berkaitan adab berbeza pendapat seperti Dr. Taha Jabir al-Alwani dengan bukunya berjudul Adab al-Ikhtilaf, Dr. al-Qaradawi dengan bukunya al-Sahwah al-Islamiyah dan lain-lain. Buku-buku ini sangat baik dibaca oleh tokoh-tokoh ilmuwan kita kerana ia ditulis oleh ulama yang berwibawa dan berpengalaman dalam bidang itu.
Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya membahagikan perbezaan pendapat kepada dua, perbezaan terpuji dan terkeji. Perbezaan terkeji menurutnya ialah apabila berlaku disebabkan faktor-faktor berikut:
1. Menunjuk kebolehan sendiri. Seseorang yang memasuki bidang fiqh perbandingan tidak akan berjaya dalam hidupnya sebagai ilmuwan jika disertai dengan nafsu dan rasa besar diri yang tidak terkawal atau taksub kepada mazhab, kumpulan atau jemaah yang dianutinya.

Orang yang taksub kepada diri sendiri, mazhab dan kumpulan tertentu bagaikan orang yang terkurung dalam sebuah bilik yang dikelilingi cermin, ia tidak nampak selain dirinya, kumpulan dan mazhabnya sahaja. Fikirannya terkunci, tidak mampu berbincang lebih luas daripada cermin kurungannya sahaja.

Orang yang taksub kepada mazhab tertentu tidak menerima wujudnya banyak mazhab dalam masyarakat. Dia tidak berpuas hati jika mazhab-mazhab lain juga sama mengambil tempat.

Penulis tertarik dengan tulisan Dr. Sulaiman al-Asyqar dalam kitabnya Tarikh al-Fiqh yang dipetiknya daripada Syeikh Rashid dalam mukadimah al-Mughni karya Ibn Qudamah, katanya:

“Sejarah mencatatkan permusuhan berlaku di Syam pada akhir abad ke-13 Hijrah antara kumpulan-kumpulan yang fanatik kepada mazhab. Mereka mendesak pemerintah supaya membahagikan masjid kepada pengikut-pengikut Syafie dan Hanafi, kerana ada fatwa dikeluarkan oleh ulama Syafie bahawa pengikut mazhab Hanafi disamakan tarafnya dengan kafir ahl al-Zimmah (kafir yang tinggal di dalam negara Islam).

Desakan itu pula berpunca daripada fatwa-fatwa liar dikeluarkan oleh ulama-ulama Syafie tentang masalah sama ada harus atau tidak bagi seorang pengikut mazhab Hanafi untuk berkahwin dengan wanita pengikut mazhab Syafie. Sesetengah ulama dari mazhab Hanafi berpendapat tidak sah perkahwinan itu kerana wanita itu diragui keimanannya, disebabkan Syafie memfatwakan harus seseorang berkata “saya seorang muslim insya-Allah.”

Ada lagi fatwa yang pernah dikeluarkan oleh mufti bermazhab Hanafi menyatakan seorang pengikut mazhab Hanafi tidak sah solat di belakang imam yang menganut mazhab Syafie kerana dia mengangkat tangannya ketika ruku’ dan sujud, sedangkan perbuatan itu merupakan gerak-geri yang membatalkan solat.
Penulis juga pernah melihat jemaah di beberapa masjid sekitar Kuala Lumpur. Ada jemaah yang dengan sengaja keluar atau tidak bersedia mendengar ceramah agama yang disampaikan oleh penceramah-penceramah yang bukan daripada kumpulannya. Mereka lebih suka membuang masa di luar kawasan masjid untuk berbual daripada mendengar ceramah, walaupun kumpulan itu lebih minat berzikir dan beribadat sembahyang daripada berpuasa sunat.

Al-Quran al-Karim mengecam golongan yang taksub kepada sesuatu pihak semata-mata kerana pihak itu kumpulannya, bukan kerana kebenaran, iaitu dalam firman-Nya yang bermaksud: Dan apabila dikatakan kepada mereka, ikutlah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab: Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati daripada perbuatan nenek moyang kami. Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk.

2. Kurang pengetahuan, tetapi cita-citanya besar. Kumpulan ini pernah ditunjuk oleh nabi s.a.w. dalam sabdanya yang diriwayat Bukhari yang bermaksud: Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu daripada manusia secara terang-terangan, tetapi mencabutnya dengan menarik pulang ulama. Apabila ulama semuanya meninggal, seorang mencari si jahil untuk dilantik pemimpin, apabila ditanya hal-hal agama, mereka dengan tidak segan-segan menjawabnya, sesat dan menyesatkan. – (Fath al-bari 1/194).

Aneh sekali, orang jahil merasa terhina jika tidak dapat menjawab soalan agama yang dikemukakan kepadanya, sedangkan orang alim pula mencari seberapa banyak jalan untuk tidak menjawab kerana bimbang kesilapan berlaku.Ada beberapa contoh.

Al-Sya’bi, salah seorang imam hadis dari kalangan tabi’in berkata: Aku hairan, ada orang sambil berehat di atas kerusi mewah berani menjawab seberapa banyak soalan yang dikemukakan sedangkan soalan seumpama itu jika ditanya kepada Umar ibn al-Khattab, nescaya beliau mengumpul semua ahli badar (sahabat-sahabat kanan) untuk ditanya masalah itu kepada mereka. (Sifat al-Fatwa, halaman 8).

Imam Malik pernah ditanya kepadanya 38 soalan oleh penduduk Maghrib, beliau hanya menjawab enam soalan sahaja, 36 soalan lagi dijawabnya la adri (aku tidak tahu).

Ditakdirkan imam-imam ini lahir semula pada zaman ini, mereka akan terkejut besar melihat semua orang dari semua peringkat tanpa silu malu berani bercakap tentang Islam. Mereka sanggup memberi fatwa dalam apa jua masalah yang berkaitan atau tidak berkaitan.

Penulis pernah membaca sebuah majalah yang menemu ramah seorang pelakon. Beliau sering mencemuh belia Islam yang memandang serong terhadap profesion lakonan. Pelakon itu menyatakan pendapatnya: “Apa yang anda tahu tentang lakonan itu. Lakonan adalah amalan, amalan adalah ibadat. Saya beribadat kepada Allah menerusi lakonan saya.”

Penulis merasakan penting sesuatu masalah dirujuk kepada pakar dalam sesuatu bidang. Tetapi sayang, dalam soal-soal agama, semua orang berani bercakap, berani menjawab dengan terus terang atas namanya. Apakah bidang agama boleh diserah kepada siapa sahaja. (UM 01/07/2001)

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

CATATAN PERJALANAN KE TARIM, HADRAMAUT, YAMAN – SIRI 3

CATATAN PERJALANAN ABU ZAHRAH KE TARIM, HADRAMAUT, YAMAN – SIRI 3

Kota Tarim

Sudah agak lama al-Fagir tidak update catatan ini. Bukannya apa, cuma malas nak menaip. Tapi semalam sewaktu mengemaskini buku-buku, terjumpa pulak sebuah risalah kecil yang bertajuk Tarim dan Kaum Sholihin – Kisah Perjalanan Seorang Moroko ke Tarim. Sebuah catatan yang menarik. Maka timbul pula rasa bersemangat untuk terus berkongsi catatan perjalanan al-fagir. Tapi untuk entri kali ini, ingin al-Fagir berkongsi sedikit kandungan buku atau risalah yang al-fagir sebut di atas.

Adapun kisah perjalanan lelaki dari Moroko (Maghribi) ini berlaku pada tahun 865H. (iaitu 567 tahun dahulu). Pada tahun inilah wafatnya Sayyidina al-Imam ‘Abdullah al-Aidarus al-Akbar bin al-Imam Abu Bakar as-Sakran. (Managib beliau boleh mai baca tang ni…)

Lelaki dari Maghribi ini melakukan perjalanannya setelah menunaikan ibadat haji dan menziarahi Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم. Beliau berangkat dari Jeddah ke Hadramaut bersama-sama dengan al-Habib Muhammad bin Ahmad dan seorang lelaki dari marga BaFadhal yang menjadi khadam kepada al-Habib Muhammad bin Ahmad.

Lelaki Maghribi ini memulakan catatannya …..
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah catatan ringkas tenntang perjalananku ke kota Tarim. Jauh sebelum kunjunganku ke Tarim, ayahku (semoga Allah merahmatinya) telah melakukan perjalanan ke kota yang penuh barokah ini. Waktu itu aku masih kecil. Setelah dewasa, aku mendengar ayah berulangkali menceritakan perjalanannya ke Hadhramaut dalam majlisnya. Pernah suatu hari, ketika bercerita tentang Tarim, beliau seakan-akan hanyut dalam menyifatkan ilmu dan amal para asyraf (yakni ahlulbait Nabi صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم) yang mendiami Tarim. Sehinggakan dia mengakhiri kisahnya dengan ucapan:
إنهم بالملآئكة أشبه
Ertinya: Sesungguhnya mereka (ahlulbait di Tarim) lebih menyerupai malaikat
Kalimat ayahku ini begitu memberi bekas dihatiku sehingga bilapun aku beroleh kesempatan, aku selalu meminta beliau untuk mengulangi kembali ceritanya.
Satu hari aku berkata kepada ayahku: “Andaikata, ayah mencatatkan kisah perjalanan tersebut”.
Jawab ayahku: “Aku telah mencatatnya”.
Tidak lama kemudian ayahku meninggal dunia, (semoga Allah merahmatinya). Sepeninggalan ayah, aku berusaha mencari cacatan perjalannya ke Tarim, namun aku tidak berhasil menemukannya. Sementara ini kisah-kisah yang ayahku ceritakan mengenai kemuliaan sifat para ashraf yang suci dan disucikan itu sering terngiang-ngiang di telingaku. Seringkali terlintas dihatiku keinginan untuk mengunjungi kota Tarim untuk menziarahi para ulama dan wali dari ahlulbait yang tinggal disana.
Menjelang musim haji, timbullah tekadku untuk menunaikan ibadah haji dan seterusnya mengunjungi kota Tarim …… bersambung di entri-entri seterusnya …. insyaAllah.

http://al-fanshuri.blogspot.com/2011/01/catatan-perjalanan-abu-zahrah-ke-tarim.html

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Ikut Nabi Sedaya Upaya, Jangan Banyak Soal

Ikut Nabi Sedaya Upaya, Jangan Banyak Soal
Posted on Januari 17, 2011 by sulaiman

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda “Biarkan aku apa yang aku biarkan kepada kamu. Sesungguhnya kebinasaan umat sebelum kamu adalah kerana pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jadi, jika aku melarang sesuatu atas kamu maka tingggalkanlah dan jika aku memerintahkan sesuatu maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kamu” (Riwayat Bukhari & Muslim)

1) Jangan terlalu banyak bertanya

Al-Maidah [101] Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanyakan (kepada Nabi) perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu bertanya mengenainya ketika diturunkan Al-Quran, tentulah akan diterangkan kepada kamu. Allah maafkan (kamu) dari (kesalahan bertanyakan) perkara-perkara itu (yang tidak dinyatakan di dalam Al-Quran); kerana Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyabar.

Jangan terlalu banyak menyoal seperti umat terdahulu, seperti yang diceritakan dalam surah Al-Baqarah. Kisah penduduk dua buah kampung yang bertemu Nabi Musa untuk menyelesaikan satu kes pembunuhan.

Dan (ingatlah), ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh supaya kamu menyembelih seekor lembu betina”.

Mereka berkata: “Adakah engkau hendak menjadikan kami ini permainan?”

Nabi Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah daripada menjadi salah seorang dari golongan yang jahil (yang melakukan sesuatu yang tidak patut)”. (67)

Mereka berkata pula: “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami, supaya diterangkanNya kepada kami bagaimana (sifat-sifat) lembu itu?”.

Nabi Musa menjawab: “Bahawasanya Allah berfirman: Bahawa (lembu betina) itu ialah seekor lembu yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, pertengahan (umurnya) di antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kamu melakukannya”. (68)

Mereka berkata lagi: “Pohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, supaya diterangkanNya kepada kami apa warnanya?”.

Nabi Musa menjawab: “Bahawasanya Allah berfirman: Bahawa (lembu betina) itu ialah seekor lembu kuning, kuning tua warnanya, lagi menyukakan orang-orang yang melihatnya”. (69)

Mereka berkata lagi: “Pohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, supaya diterangkanNya kepada kami lembu betina yang mana satu? Kerana sesungguhnya lembu yang dikehendaki itu kesamaran kepada kami (susah kami memilihnya) dan kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk mencari dan menyembelih lembu itu)”. (70)

Nabi Musa menjawab: “Bahawasanya Allah berfirman: Sebenarnya (lembu yang dikehendaki itu) ialah lembu betina yang tidak pernah digunakan untuk membajak tanah (sawah bendang) dan tidak pula (digunakan untuk mengangkut air) untuk menyiram tanaman; ia juga tidak cacat dan tidak ada belang pada warnanya”.

Mereka berkata: “Sekarang barulah engkau dapat menerangkan sifat-sifatnya yang sebenar”.

Maka mereka pun menyembelih lembu yang tersebut dan hampir-hampir mereka tidak dapat menunaikan (perintah Allah) itu. (71)

Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia, kemudian kamu tuduh-menuduh sesama sendiri tentang pembunuhan itu, padahal Allah tetap melahirkan apa yang kamu sembunyikan. (72)

Maka Kami (Allah) berfirman: “Pukullah si mati dengan sebahagian anggota lembu yang kamu sembelih itu”. (Mereka pun memukulnya dan ia kembali hidup). Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda kekuasaanNya, supaya kamu memahaminya. (73)

2) Tinggal apa yang dilarang dan ikut apa yang disuruh mengikut kemampuan

Misalnya jika tidak mampu sembahyang berdiri kerana uzur, boleh sembahyang secara duduk, jika tidak mampu juga boleh sembahyang sambil baring atau tidur.

Taghabun [16] Oleh itu bertakwalah kamu kepada Allah sedaya supaya kamu dan dengarlah (akan pengajaran-pengajaranNya) serta taatlah (akan perintah-perintahNya) dan belanjakanlah harta kamu (serta buatlah) kebajikan untuk diri kamu dan (ingatlah), sesiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya.

Ikutlah Nabi untuk masuk ke dalam syurga milik Allah.

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda : “Sekelian umatku akan masuk syurga kecuali orang yang enggan.”…Sahabat-sahabat baginda bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?”…Baginda menjawab, “Sesiapa yang taat kepada ku akan masuk syurga, dan sesiapa yang derhaka kepadaku maka sesungguhnya dia telah enggan.”

Posted by: Habib Ahmad | 23 Januari 2011

Solat tepati syarak bentuk peribadi cemerlang

Solat tepati syarak bentuk peribadi cemerlang

Oleh Zamanuddin Jusoh

MEMETIK Khutbah Syekh Ali Abdul Rahman Al-Huzaify bertajuk ‘Kebahagiaan Dalam Muhasabah Diri’ menunaikan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya berpaksikan prinsip keredaan daripada Allah dan Rasul-Nya.

Ketahuilah kejayaan seorang Muslim dan kebahagiaan di dunia serta akhirat bergantung sejauh mana ketaatan dan muhasabah diri terhadap perkara yang diredai Allah.

Firman Allah bermaksud: “Wahai orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang akan dilakukan untuk hari esok serta bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat mengetahui dengan apa yang kamu lakukan.” (Surah Al-Hashr: Ayat 18).

Kita semua melihat, mengetahui, merasai dengan kesusahan dan kehinaan yang menimpa umat Islam hari ini berpunca daripada kesalahan kita sendiri yang banyak melakukan pelanggaran hukum serta mengabaikan kewajipan sebagai seorang Muslim.

Firman Allah bermaksud: “Dan apa-apa musibah yang menimpa kamu adalah perbuatan tangan mu sendiri dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan kamu.” (Surah Syura: Ayat 30).

Sesungguhnya keadilan Allah terlaksana dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya terhadap semua makhluk tanpa seorang pun yang terlepas darinya. Inilah sunnah Allah yang akan berlaku tanpa syak dan ragu lagi.

Firman Allah bermaksud: “Maka kamu tidak akan mendapat perubahan dari Allah dan tiada penyimpang bagi segala ketentuan Nya.” (Surah Fatir: Ayat 43).

Ulama tafsir menyebut, Allah tidak akan menganiaya kamu di dunia dan akhirat jika kamu bersyukur serta tahu menilai dengan ukuran perbuatan baik tetapi Allah akan menimpakan azab-Nya kepada yang ingkar dan berpaling tadah. Kunci utama pembentukan peribadi masyarakat cemerlang ialah menjaga solat serta mengukuhkan pegangan dengan Allah dan menyeru manusia ke jalan yang benar.

Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya berjaya mereka yang mendirikan solat dengan penuh khusyuk.” (Surah Al-Mukminun: Ayat 1-2).

Disiplin dan keikhlasan dalam solat disifatkan oleh Rasulullah dalam sabdanya bermaksud: “Sesiapa yang bersolat tepat pada waktunya dengan penuh khusyuk serta menyempurnakan wuduk, rukuk serta sujudnya, akan didatangi solatnya pada hari kiamat seraya berkata: Semoga Allah memelihara kamu seperti kamu memelihara aku dulu dan sesiapa yang bersolat di luar waktunya serta tidak menyempurnakan wuduk, rukuk serta sujudnya dan tidak khusyuk, akan dikatakan padanya: Kamu akan diabaikan pada hari ini seperti kamu mengabaikan aku dulu.” (Hadis riwayat Tabrani).

Sahabat Nabi serta tabi’in sentiasa bermuhasabah solat yang dilakukan sehingga darjat dan kedudukan mereka sentiasa diangkat oleh Allah.

Sahabat Nabi, Zuhri bertemu Anas Bin Malik di Syria dalam keadaan Anas menangis lalu Zuhri berkata: “Kenapa kamu menangis wahai Anas? Lalu Anas menjawab: “Aku tidak dapat pastikan solat manakah yang diterima oleh Allah.” (Hadis riwayat Bukhari).

Bersempena semangat dan keazaman baru ini, marilah bersama kita renungkan ibadat solat kita lakukan, apakah ia menepati kehendak syarak (dengan ilmu) atau sekadar melepaskan batuk di tangga.

Sejauh mana ilmu yang dipelajari mengenai solat kerana gejala dan perpecahan sedang melanda umat Islam kini adalah hasil daripada pengabaian mereka terhadap kewajipan solat.

Firman Allah bermaksud: “Mohonlah bantuan kepada Allah dengan sabar dan solat. Sesungguhnya solat itu amat berat kecuali bagi orang yang khusyuk.” (Surah Al-Baqarah: Ayat 45).

Sebenarnya, segala kebaikan dan keberkatan adalah buat umat Nabi Muhammad sehingga hari kiamat. Namun, ia memerlukan muhasabah tinggi terhadap ibadat solat mereka lakukan.

Posted by: Habib Ahmad | 22 Januari 2011

Hayatul Anbiya` – Fatwa al-Baarizi

Hayatul Anbiya` – Fatwa al-Baarizi

Imamul Fuqaha`, Syaikhul Islam, Syarafuddin, HibatUllah bin ‘Abdur Rahim bin Ibrahim al-Baarizi adalah seorang ulama terkemuka bermazhab Syafi`i. Beliau dilahirkan di Hamah pada 27 Ramadhan 645H dan dibesarkan dalam keluarga ilmuwan. Ayahanda beliau, Abdur Rahim digelar sebagai Najmuddin, adalah seorang qadhi. Begitulah juga dengan datuk beliau, Ibrahim yang diberi gelaran Syamsuddin. Pendidikan awalnya diperolehi daripada ayah dan datuknya tersebut. Kemudian, beliau turut belajar dengan ramai ulama terkemuka, antaranya Syaikhul ‘Iraq Abil ‘Abbas Ahmad bin Ibrahim al-Faarutsi, al-Muhaddits Ibrahim bin ‘Abdullah al-Armuni, al-Muhaddits Muhammad bin ‘Abdul Mun`im, Syaikhul Qurra` Muhammad bin Ayyub al-Tadzafi dan Hujjatul ‘Arab Muhammad bin ‘Abdullah bin Malik ath-Tho-ie.

Imam al-Baarizi menekuni jalan ilmu dan menyebarkannya. Kealiman beliau diakui umat sezaman dengannya dan ramai pelajar datang untuk belajar dengan beliau. Di antara murid beliau ialah Qadhi Qudhah Ismail bin Muhammad al-Lakhmi an-Andalusi al-Maliki, al-Faqih Muhammad bin Muhammad al-Maushili, Syaikh ‘Umar bin Ibrahim al-‘Ajmi al-Halabi, al-Hafiz al-Barzali, al-Hafiz adz-Dzahabi, al-Mu`arrikh Ibnul Wardi, Imam Taqiyuddin as-Subki dan ramai lagi. Bahkan menurut Imam Ibnu Hajal al-`Asqalani, Imam as-Sakhawi pernah mengutus beberapa pertanyaan kepada Imam al-Baarizi dan beliau telah memberikan jawapannya yang kemudiannya dicatat oleh Imam as-Sakhawi dalam karya-karya beliau.

Pada tahun 675H, Imam al-Baarizi telah dilantik menjadi qadhi Hamah., jawatan yang dipegangnya selama 40 tahun. Tugas sebagai qadhi dilaksanakannya dengan menuruti sunnah Junjungan Nabi SAW dengan penuh amanah dan adil. Beliau menolak upah atau gaji yang diberikan kepadanya sebagai seorang qadhi dan memilih untuk hidup zuhud dengan menjauhi segala perhiasan duniawi. Beliau mempunyai kegemaran membaca dan mengumpul berbagai jenis kitab, bahkan dikatakan bahawa tiada siapa yang memiliki koleksi kitab sepertinya. Setelah beliau wafat, kitab-kitabnya diwakafkan bagi penuntut ilmu dan dianggarkan nilainya berjumlah 100,000 dirham.

Imam al-Baarizi meninggalkan banyak karya tulis dalam bidang fiqh, tauhid, hadits, qiraah dan sebagainya. Qadhi Safadi Syamsuddin Muhammad bin ‘Abdur Rahman al-‘Uthmani dalam tabaqatnya menyebut bahawa Imam al-Baarizi menulis lebih dari 70 buah kitab. Di antara karya beliau adalah:-

al-Asas fi Ma’rifah Ilahin Naas;
Badi`ul Qur`an;
Asrarut Tanzil;
an-Nasikh wal Mansukh;
al-Bustan fi Tafsiril Qur`an;
al-Faaridah al-Baariziyyah fi Syarhi asy-Syathibiyyah;
Tautsiqu ‘Ural Imaan fi Tafdhil Habibir Rahman;
al-Wafa` fi Ahaditsil Musthofa;
al-Mujarrad minal Musnad;
at-Tamyiz;
Nadzam al-Hawi ash-Shoghir;
Syarah al-Hawi ash-Shoghir.
Imam al-Baarizi dikurniakan umur yang panjang lagi berkat. Beliau wafat pada malam Rabu tanggal 20 haribulan Dzul Qa`idah, 738H dalam usia 93 tahun. Semoga Allah mencucuri rahmat ke atasnya sepanjang masa dan ketika. …. al-Fatihah.

Imam al-Baarazi rahimahUllah telah ditanyai berhubung Junjungan Nabi SAW, samada baginda hidup (yakni dengan kehidupan barzakhiyyah) selepas kewafatan baginda. Beliau menjawab soalan tersebut dengan katanya:-

Sesungguhnya baginda SAW itu hidup (yakni dengan kehidupan barzakhiyyah yang sempurna). Telah berkata al-Ustaz Abu Manshur ‘Abdul Qaahir bin Thohir al-Baghdaadi, seorang yang faqih lagi ahli ushul, syaikhnya para pengikut mazhab asy-Syafi`iyyah: “Ulama ahli kalam yang benar daripada kalangan sahabat kami (yakni daripada kalangan ulama asy-Syafi`iyyah) berpendapat bahawa Junjungan Nabi kita SAW hidup selepas kewafatan baginda, baginda bergembira dengan ketaatan umatnya dan bersedih dengan maksiat yang dilakukan oleh para penderhaka daripada kalangan umatnya. Bahawasanya disampaikan kepada baginda akan sholawat yang diucapkan kepada baginda oleh umatnya. Sesungguhnya para nabi itu (yakni jasad mereka) tidak punah binasa dan tidak sedikit pun dimakan tanah. Nabi Musa AS telah wafat pada zamannya dan Junjungan Nabi SAW telah mengkhabarkan yang baginda sesungguhnya telah melihatnya di dalam kuburnya menunaikan sholat. Disebut dalam hadits mi’raj bahawa Junjungan Nabi SAW melihat Nabi Musa AS di langit ke-4, baginda juga melihat Nabi Adam AS di langit dunia dan melihat Nabi Ibrahim yang mengucapkan “Selamat datang, wahai anak dan nabi yang sholeh” kepada baginda. Maka bersandarkan kepada asas yang shohih kami menyatakan bahawa Junjungan Nabi kita Muhammad SAW adalah hidup setelah kewafatan baginda dan tetaplah baginda atas maqam kenabiannya. ” – tamat perkataan al-Ustaz. Telah berkata al-Hafiz, Syaikhus Sunnah Abu Bakar al-Baihaqi dalam kitab “al-I’tiqad”:- “Para nabi ‘alaihimus sholatu was salam setelah diwafatkan, dikembalikan roh mereka dan adalah mereka di sisi Tuhan seperti orang-orang yang mati syahid. Junjungan Nabi SAW telah melihat sebahagian daripada mereka dan baginda telah mengimamkan mereka dalam sembahyang. Telah diberitakan daripada riwayat yang benar bahawasanya sholawat kita dibentangkan kepada baginda dan salam kita disampaikan kepadanya. Sesungguhnya Allah ta`ala telah mengharamkan bumi dari memakan jasad para nabi. Kami telah menulis satu kitab yang khusus bagi mentsabitkan kehidupan mereka (setelah wafat)……”

Oleh itu, janganlah pula kita yang mematikan hubungan kita dengan Junjungan Nabi SAW. Berusahalah agar baginda sentiasa hidup dalam diri, hati dan jiwa kita sentiasa. Biarlah berderai air mata kita tatkala mengucapkan salam dan sholawat atas baginda, kerana pasti ianya diketahui dan disampaikan kepada baginda dan percayalah baginda pasti akan membalas kebaikan dengan kebaikan. Baginda terlalu mulia dan tinggi untuk melupai kebaikan seseorang walaupun kebaikan itu sebenarnya tiada nilai sekupang pun. Syafaat … Syafaat Ya RasulAllah.

http://bahrusshofa.blogspot.com/2011/01/hayatul-anbiya-fatwa-al-baarizi.html

Posted by: Habib Ahmad | 22 Januari 2011

Kadar Suara Dalam Ibadah

Kadar Suara Dalam Ibadah
Dicatat oleh al-Faqir Ila ALLAH Ta’ala pada 19.1.11

Respon terhadap artikel: Benarkan hanya azan di pembesar suara, dalam malaysiakini.com, 15 Jan. 2011.

Isu Pembesar Suara
http://sawanih.blogspot.com/

Isunya adalah tentang bacaan-bacaan – selain azan – yang menggunakan pembesar suara sehingga mengganggu orang ramai, yang kononnya telah mengelirukan orang bukan Islam sehingga mereka menyangka ia azan. Objektif penulisnya barangkali ialah untuk menjaga hati orang bukan Islam dan agar agama Islam tidak dipandang serong oleh mereka. Namun huraian, penghujahan dan konklusi yang diketengahkan olehnya memerlukan kepada sedikit penilaian semula. Alat pembesar suara sudah tentu tidak wujud pada zaman Nabi SAW, namun apa yang ditinggalkan oleh baginda kepada kita ialah hukum mengangkat dan merendahkan suara, yang akan dibincangkan dalam artikel ini.

Antara ‘penyakit’ sesetengah ahli ilmu ialah terburu-buru dalam mengeluarkan hukum atau fatwa tanpa melihat terlebih dahulu dengan teliti dan mendalam terhadap masalah yang dibahaskan. Hanya mengguna pakai sebuah dalil sahaja tanpa melihat dalil-dalil yang lain atau meninggalkan dalil-dalil yang lain, maka terus diputuskan hukum atau fatwa darinya. Kebelakangan, perkara sebegini semakin kerap berlaku baik di kaca tv, radio, akhbar, internet, masjid, dan lain-lain.

Dalil-Dalil Larangan dan Ulasannya

Saya tidak akan mengupas atau mengulas satu persatu isi kandungan artikel tersebut kerana ia akan mengambil ruang yang panjang. Apa yang akan kita bincangkan di sini ialah dari sudut pendalilan yang diguna pakai iaitu tentang kadar suara dalam melaksanakan ibadah, seumpama solat, membaca al-Quran, zikir, doa, azan dan sebagainya.

Antara hujah yang dibangkitkan oleh mereka yang melarang dari mengangkat suara dalam beribadah ialah hadis sahih riwayat Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1135):

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخدري قَالَ: اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ: أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ: فِي الصَّلَاةِ. وفي مسند أحمد (رقم 11461) ومصنف عبد الرزاق (رقم 4216): وَهُوَ فِي قُبَّةٍ لَهُ فَكَشَفَ السُّتُورَ.

Terjemahan:

Dari Abu Sa’id al-Khudri katanya: “Pernah Nabi Muhammad SAW beriktikaf dalam masjid, lalu baginda mendengar mereka mengangkat suara bacaan (al-Quran atau solat) lalu baginda mengangkat tirai dan bersabda: “Ketahui sesungguhnya setiap kamu bermunajat kepada Tuhannya, jangan sebahagian kamu menyakiti sebahagian yang lain. Jangan sebahagian kamu mengangkat suara melebihi sebahagian yang lain dalam bacaan, atau sabdanya: dalam solat”. Dalam riwayat Musnad Ahmad dan Musannaf ’Abd al-Razzaq ditambah: ”Sedangkan ketika itu baginda berada di qubbah (tempat ibadah) baginda, lalu baginda pun menyingkap tirai-tirai…”.

Hadis ini perlu diteliti dari pelbagai aspek. Selain tekstual hadis perlu juga dilihat dari sudut kontekstual hadis. Perlu juga ditinjau dengan membuat komparatif dengan nas-nas lain, serta situasi ‘urf. Demikian kaedah yang perlu dipraktikkan bagi mengeluarkan sebuah hukum atau fatwa, tidak semata-mata berpegang kepada sebuah teks yang terhad. Adakalanya teks yang terhad hanya mampu menghasilkan pedoman dan panduan semata-mata, tetapi belum dapat membentuk sebuah hukum yang releven dan fatwa yang autentik.

Tanda-tanda pada zahir hadis tersebut seperti sedang beriktikaf, bermunajat, dan kadar suara yang mengganggu menunjukkan bahawa situasi pada masa itu ialah waktu malam yang bersuasana sunyi dan hening. Penulis berpendapat, agak jauh untuk dikatakan hadis tersebut diucapkan pada waktu siang kerana suasananya agak berlainan dan kadar suara biasanya tidak begitu mengganggu. Siang adalah masa berkerja dan malam adalah masa beristirehat, maka amat sesuailah pada masa itu dielakkan sebarang gangguan dan amat tepatlah teguran Nabi SAW kepada para sahabatnya itu. Justeru menggunakan hadis ini bagi mengeluarkan hukum umum tanpa ada sebarang pengecualian atau perbezaan perlulah diteliti semula.

Realiti yang berlaku pasa masa kini, penggunaan pembesar suara biasanya selesai pada atau selepas waktu isyak, atau lebih sedikit jika ada penceramah yang melanjutkan celotehnya, dan bermula semula pada waktu pagi sebelum atau pada waktu fajar. Justeru, tidak berlaku sebarang gangguan pembesar suara antara waktu isyak sehingga subuh. Bagaimana situasi sedemikian dapat dikiaskan dengan hadis di atas yang barangkali ditujukan pada waktu dua pertiga malam, atau separuh malam ataupun sepertiga malam.

Manakala hadis yang berbunyi:

عن أَبِي مُوسى الأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه، قَالَ: لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم خَيْبَرَ، أَوْ قَالَ: لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، أَشْرَفَ النَّاسُ عَلَى وَادٍ فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِله إِلاَّ اللهُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا، وَهُوَ مَعَكُمْ… (أخرجه البخاري ومسلم)

Terjemahan:
Dari Abu Musa al-Asy’ari RA katanya: Ketika Rasulullah SAW memerangi Khaybar, atau katanya: Ketika Rasulullah SAW menuju kepadanya, orang-orang telah melihat sebuah wadi, lalu mereka mengangkat suara mereka bertakbir; Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha illa Allah… Maka sabda Rasulullah SAW: Kasihanilah diri kamu sekalian, sesungguhnya kamu tidak menyeru yang tuli mahupun yang ghaib, sesungguhnya kamu menyeru Yang Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersama kamu sekalian…”.

Zahir hadis ini menunjukkan bahawa teguran tersebut adalah disebabkan kadar suara yang berlebih-lebihan dan melampaui had dalam mengeras dan meninggikannya. Nabi SAW sentiasa membimbing umatnya kepada sikap bersederhana, maka amat wajar baginda memberi teguran tersebut.

Kata Imam al-Nawawi: Maknanya ialah kasihanilah diri kamu dan rendahkanlah suara kamu. Perbuatan mengangkat suara biasanya dilakukan orang kerana jauhnya orang yang diajak bicara agar ia mendengarnya, sedangkan kamu menyeru Allah Taala dan Dia bukanlah pekak mahupun ghaib, bahkan Dia Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersama kamu dengan ilmu dan liputan pengetahuan-Nya. Maka pada hadis ini terdapat galakan agar merendahkan suara ketika berzikir jika keperluan tidak mendesak untuk mengangkatnya. Sekiranya suara direndahkan, itu lebih beradab dalam memuliakan dan mengagungkan-Nya. Manakala jika keperluan perlu untuk mengangkatnya, barulah diangkat sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis (seperti talbiah dan sebagainya).

Dalam hadis yang lain:

عن عقبة بن عامر، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة. والمسر بالقرآن كالمسر بالصدقة)). رواه الترمذي، وأبوداود، والنسائي. وقال الترمذي: هذا حديث حسن غريب.

Terjemahan:

Dari ’Uqbah bin ’Amir katanya: Sabda Rasulullah SAW: “Orang yang membaca kuat dengan al-Quran seperti orang yang berterang-terangan dalam bersedekah. Dan orang yang membaca perlahan dengan al-Quran pula seperti orang yang bersembunyi-sembunyi dalam bersedekah”.

Makna hadis ini menunjukkan kepada keutamaan (keafdalan) dalam membaca al-Quran dan bukannya menunjukkan kepada larangan meninggikan suara. Sedangkan Nabi SAW pernah memerintahkan Abu Bakar al-Siddiq RA agar meninggikan suara:

عن أبي قتادة – رضي الله عنه – أن النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- قال لأبي بكر : «مررتُ بك وأنت تقرأُ، وأنت تخفض من صوتك؟» فقال : إني أسمعتُ من ناجيتُ ، قال : ارْفعْ قليلا ، وقال لعمر : مررت بك وأنت تقرأُ ، وأنت ترفع من صوتك؟ قال : «إني أُوقِظُ الوَسنان ، وأطردُ الشيطان، قال : اخفِض قليلا». وفي رواية: «يا أبا بكر ، ارْفع من صوتك شيئا ، وقال لعمر : اخفِضْ من صوتك شيئا». رواه الترمذي وأبو داود بإسناد صحيح.

Terjemahan:

Dari Abu Qatadah RA bahawa Nabi SAW bersabda kepada Abu Bakar RA: Aku telah melintasi kamu ketika kamu sedang membaca, dan kamu merendahkan suara. Jawab beliau: Sesungguhnya aku hanya memperdengarkan kepada Siapa yang aku bermunajat kepada-Nya. Balas baginda: Angkatlah sedikit (suaramu). Dan baginda juga bersabda kepada ’Umar RA: Aku telah melintasi kamu ketika kamu sedang membaca, dan kamu mengangkatkan suara. Jawab beliau: Sesungguhnya aku ingin membangkitkan orang yang mengantuk dan mengusir syaitan. Balas baginda: Rendahkan sedikit (suaramu). Dalam riwayat lain: ”Wahai Abu Bakar, angkatlah suaramu sedikit, dan baginda bersabda kepada ’Umar: Rendahkanlah suaramu sedikit”.

Di sini, Nabi SAW menyuruh mengangkat suara jika ianya terlalu perlahan atau tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain, dan melarang mengangkatkan suara jika ianya melebihi had, atau kerana ia dapat menimbulkan sifat riyak dan ujub yang ditegah oleh syarak. Secara mafhumnya, baginda mengajarkan bahawa bersederhana itulah yang lebih utama.

Selain hadis Abu Bakar RA tersebut terdapat beberapa hadis lain yang membenarkan mengangkat suara seperti;

حديث أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لَمْ يَأْذَنِ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرَآنِ يَجْهَرُ بِهِ. (رواه البخاري ومسلم وغيرهما)

Terjemahan:

Dari Abu Hurairah RA katanya: Sabda Rasulullah SAW: Allah tidak mengizinkan (meredhai) bagi sesuatu, apa yang telah diizinkan kepada Nabi agar berlagu dengan al-Quran, serta mengangkat suara dengannya”.

Kata Imam al-Nawawi dalam kitab al-Azkar berkenaan dalil-dalil yang zahirnya saling bercanggahan ini: Pengharmonian antara kedua-duanya ialah bahawa suara perlahan itu lebih jauh dari sifat riyak, dan ianya adalah afdal bagi orang yang takutkan demikian. Jika tidak takut riyak pula, maka suara kuat itu lebih afdal dengan syarat tidak menyakiti orang lain seperti orang yang bersolat, tidur dan sebagainya. Maksudnya suara perlahan itu lebih afdal jika takutkan riyak atau menyakiti orang yang bersolat atau tidur dengan suara kuatnya. Suara kuat pula afdal dalam hal yang selain itu kerana amalan tersebut lebih besar, dan manfaatnya dapat dikongsi oleh orang lain sama ada dengan mendengar (dan banyak dalil menunjukkan ianya sebagai ibadah), belajar, mengikut, insaf atau ianya sebagai syiar agama. Ia juga dapat mengetuk hati si-pembaca, menumpukan perhatiannya untuk berfikir dan memfokuskan pendengarannya sendiri. Ia juga dapat menghalang rasa mengantuk, menambah rasa cergas, membangunkan orang lain yang tidur dan lalai serta menyegarkannya. Maka bila hadir salah satu niat-niat ini, maka suara kuat itu adalah lebih afdal.

Ada diriwayatkan oleh al-Daylami dalam Musnad al-Firdaus dari Ibn ’Umar secara marfu’:

السر أفضل من العلانية والعلانية أفضل لمن أراد الإقتداء به

Terjemahan: “Cara sembunyi itu lebih afdal dari cara terang-terangan, dan cara terang-terangan pula lebih afdal bagi orang yang mahu agar dicontohi”.

Maka kesimpulannya, tinggi atau rendah suara itu semua adalah bergantung kepada situasi, suasana, tuntutan dan juga keadaan. Selain perlu menitikberatkan kesederhanaan dalam semua aspek.

Sila rujuk dengan lebih lanjut tentang mengangkat suara dalam ibadah kepada kitab Sibahah al-Fikr fi al-Jahr bi al-Zikr oleh Imam ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1304H), tahkik Syeikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah, dan kitab Natijah al-Fikr fi al-Jahr bi al-Zikr oleh Imam al-Suyuti (w. 911H). Namun menurut Syeikh Abu Ghuddah, kitab Imam al-Laknawi lebih detail dan lengkap perbahasannya.

Menangani Isu Sebenar

Isu sebenarnya bukan masalah penyalahgunaan pembesar suara, atau benarkan hanya azan sahaja di pembesar suara, tetapi adalah masalah kefahaman orang (terutama AJK masjid/surau) terhadap situasi yang mereka duduki. Kita ada pelbagai situasi, ada masjid yang jauh dari kawasan perumahan dan ada yang dekat, malah sebahagiannya berhimpit-himpit dengan rumah orang atau kedai. Ada masjid yang berdekatan dengan pusat maksiat. Ada masjid yang berdekatan dengan hospital. Ada masjid yang berada di kawasan yang majoritinya bukan Islam. Ada masjid bandar, dan ada masjid kampung. Ada masjid yang penduduk sekitarnya bersatu hati, dan ada masjid yang penduduk sekitarnya berbalah sesama sendiri. Suasana bandar yang sibuk pastinya berbeza dengan suasana kampung yang lebih tenang.

Peralatan pembesar suara juga perlu diambil kira. Ada pembesar suara yang mahal dan mengeluarkan suara yang enak dan merdu. Ada pembesar suara yang murah dan mengeluarkan suara yang ’serak’ dan berdesing sekali-sekala. Begitu juga hal dengan tugas bilal, ada bilal yang bersuara merdu dan sedap didengar, dan ada bilal yang bersuara kurang lemak merdu. Ada bilal yang melaungkan (atau memasang kaset) bacaan al-Quran atau zikir setiap lima waktu sebelum azan, dan ada bilal yang melaungkan (atau memasang kaset) bacaan al-Quran atau zikir pada waktu tertentu sahaja sebelum azan seperti waktu subuh dan maghrib misalnya. Dan sebagainya lagi.

Bayangkan sekiranya masjid tersebut terletak di kawasan yang majoritinya bukan Islam, atau sangat berhampiran dengan hospital, dan alat pembesar suaranya pula sering ’terbatuk-batuk’, dipasang pula alunan bacaan al-Quran atau zikir setiap lima waktu sebelum azan dan bilalnya pula bersuara ’serak-serak basah’. Apakah agaknya reaksi dan pendapat anda, jika dibandingkan dengan masjid yang terletak di kampung yang penduduknya sekitarnya bersatu hati dan sudah biasa dengan alunan bacaan al-Quran atau zikir pada waktu sebelum subuh dan maghrib, manakala bilalnya pula bersuara lemak merdu. Apakah sama situasinya?

Bagaimana pula sekiranya masjid tersebut berhampiran dengan pusat maksiat yang pengunjungnya tidak pernah menjejakkan kaki ke masjid. Apakah tidak rugi jika semua ceramah-ceramah yang dijalankan di masjid itu hanya untuk orang di dalam masjid sahaja dan suara tidak keluar melebihi pintunya? Semuanya ini perlu diambil kira, bukannya mengeluarkan hukum secara pukul rata.

Iktibar Dengan Situasi

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya dari Ghudhaif bin al-Harith, beliau pernah bertanya kepada ’A’isyah RA antaranya:

أَرَأَيْتِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْهَرُ بِالْقُرْآنِ أَمْ يَخْفُتُ بِهِ؟ قَالَتْ: رُبَّمَا جَهَرَ بِهِ وَرُبَّمَا خَفَتَ. قُلْتُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً. رواه أبو داود بإسناد صحيح.

Terjemahan:

Adakah puan pernah melihat Rasulullah SAW mengangkat suara dengan al-Quran ataupun memperlahankannya? Jawab beliau: Adakalanya baginda mengangkat suara dengannya dan adakalanya baginda memperlahankannya. Aku berkata: Allahu akbar, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam urusan (agama) ini keluasan.

Kata al-‘Allamah Badr al-Din al-‘Aini (w. 855H) mengulas hadis di atas: Sabit pilihan bagi si-pembaca (al-Quran atau zikir) sama ada antara mengangkat suara dengannya dan juga memperlahankannya. Diperkatakan, mengangkat suara lebih afdal. Juga diperkatakan, memperlahankan suara lebih afdal. Namun yang benar ialah; ianya terikat menurut iktibar dari segi masa si-pembaca, kedudukannya dan juga situasinya. Maka hendaklah dipelihara mengangkat suara dan memperlahankan suara berdasarkan iktibar tersebut.

Kata-kata Ghudhaif bin al-Harith RA: ”Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam urusan (agama) ini keluasan”, wajar direnung dan diambil iktibar. Perbezaan ‘urf dan situasi kerana peredaran zaman perlu juga diambil kira. Apa yang penting, bukan hukum menggunakan pembesar suara yang sudah menjadi ‘urf pada masa kini, tetapi adalah kefahaman orang (terutama AJK masjid/surau serta para pengunjung masjid/surau juga) terhadap situasi yang mereka duduki. Dan perbincangan ini secara umum meliputi situasi dalam dan juga luar masjid. Persoalannya, bagaimanakah harus mereka mengendalikannya? Jika penulis artikel tersebut menyemak semula masalah ini dan memikirkan semua faktor-faktor yang dijelaskan, pasti dia akan memperbetulkan semula kenyataannya atau menambah apa-apa kenyataan yang wajar dan lebih diterima. Mengeluarkan sesuatu kenyataan atau hukum secara terburu-buru bukanlah suatu tindakan yang bijak.

Posted by: Habib Ahmad | 22 Januari 2011

Setiap Manusia adalah Pemelihara

Setiap Manusia adalah Pemelihara
Senin, 03 Januari 2011

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

(صحيح البخاري)

“Semua Kalian adalah pemelihara (bagi anaknya, hartanya, dirinya), dan semua pemelihara akan ditanyai akan yang diasuhnya” ( Shahih Al Bukhari )

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan kebahagiaan sepanjang zaman, Yang Maha menciptakan segenap hamba dari tiada, sesuatu yang selain Allah adalah makhluk, selain Dia Yang Maha Tunggal, Maha Sempurna dan Maha Abadi, kesemuanya adalah fana dan terikat kepada Yang Maha memiliki segala yang ada di langit dan bumi. Langit dan bumi ini adalah kerajaan milik Allah subhanahu wata’ala, Allah pemilik Tunggal Yang Maha berwibawa, Allah Yang Maha memberikan keluhuran, Yang Maha memberikan cahaya dan kegelapan, Yang Maha memulikan hamba-hamba-Nya dan menghinakan, Yang Maha menghidupkan dan Maha mematikan , Yang Maha melimpahkan keluhuran dan kesucian, Yang Maha memperbaiki keadaan hamba yang dikehendaki Nya, terlebih lagi jika hamba-Nya meminta dan terus berharap kepada-Nya, sungguh Dialah (swt) Yang paling tidak mengecewakan dari semua yang tidak mengecewakan, Dialah Yang Maha berhak dipercaya melebihi semua yang dipercaya, Dialah (swt) Yang Maha mendengarkan semua keluhan dan seruan hati kita melebihi semua yang mendengarkan keluhan dan seruan hati, Dialah (swt) Yang Maha mengerti perasaan kita melebihi semua yang baik kepada kita karena Dia (swt) Maha Baik. Allah subhanahu wata’ala telah memberikan kita keluhuran dengan menghadirkan kita di malam hari ini untuk berkumpul di dalam perkumpulan hamba-hamba yang dicintai-Nya, perkumpulan hamba-hamba yang dimuliakan-Nya, yang diikat Nya dengan rantai keluhuran kepada hamba-hamba terdahulu yang telah dimuliakan-Nya yang tersambung kepada Pemimipin para pembawa keluhuran, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah lah (swt) Yang menyambungkan kita kepada sang nabi (saw) melalui guru-guru kita hingga sampai kepada pemimpin semua guru, pemimpin semua makhluk Allah (swt) di dunia dan di akhirat, Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling luhur budi pekertinya, manusia yang paling indah akhlaknya, manusia yang paling sempurna dari seluruh ciptaan Allah subhanahu wata’ala. Tiada satu makhluk pun yang Allah (swt) ciptakan yang memiliki keringat wangi, dan tiada satu makhluk pun Allah (swt) ciptakan yang wajahnya lebih terang dari matahari dan lebih indah dari bulan, sehingga ketika beliau berjalan tidak terlihat bayangannya (saw), karena cahaya wajah beliau (saw) lebih bercahaya dari matahari, namun cahaya kemuliaan yang Allah (swt) berikan kepada sang nabi (saw) tidak Allah (swt) tampakkan kepada makhluk-makhluk-Nya Allah (swt), kecuali sedikit saja yang diperlihatkan, karena jika semuanya diperlihatkan maka manusia tidak akan mampu memandang sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari keindahan Allah (swt) yang berpijar di wajah beliau, namun kemuliaan itu akan terasa ketika hamba mulai mencintai Allah (swt) dan nabi-Nya (saw), keindahan Sang Maha indah (swt) dan makhluk ciptaan-Nya (saw) yang terindah akan mulai tersingkap dari tabir yang tertutup sebab gelapnya dosa, semoga Allah (swt) membukakan tabir keindahan itu sehingga sanubari kita menyaksikan keindahan Allah (swt), keindahan makhluk yang paling indah dan paling dicintai-Nya, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Saudara saudariku yang kumuliakan

Sungguh Allah subhanahu wata’ala telah memuliakan hamba-hamba-Nya dan menciptakannya dengan kehendak-Nya. Dan segala kehidupan, seperti hewan, tumbuhan dan lainnya, Allah ciptakan dari air, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

( النور : 45 )

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( QS. An Nuur : 45 )

Dijelaskan di dalam kitab-kitab tafsir bahwa tidaklah satu makhluk hidup pun diciptakan kecuali salah satu kandungannya adalah air, sehingga menjadikan makhluk itu butuh pada air . Sebagian ahli tafsir mensyarahkan makna air adalah sebagai rahmat Allah subhanahu wata’ala yang tiada berhenti mengalir, karena makhluk Allah subhanahu wata’ala ada yang diciptakan dari api, ada yang diciptakan dari cahaya, namun Allah subhanahu wata’ala menciptakan segala makhluk hidup yang ada di bumi, yaitu makhluk yang memiliki jasad tentunya salah satu unsurnya adalah air. Sedangkan makhluk-makhluk lain seperti jin dan syaitan diciptakan dari api, serta malaikat diciptakan dari cahaya, maka tidak termasuk dalam kalimat دابة (daabbah) karena tidak memiliki jasad tertentu, namun sebagian pendapat mengatakan bahwa mereka juga termasuk dalam kalimat دابة namun kalimat “air” dalam ayat ini adalah sesuatu yang ma’nawi yaitu rahmat Allah subhanahu wata’ala yang terus mengalir . Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

( الأعراف : 156 )

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” ( QS. Al A’raf : 156 )

Maka Allah (swt) mengatur makhluk-makhluk hidup, manusia dan hewan, ada yang berjalan dengan perutnya seperti ular, ada yang berjalan dengan kedua kaki dan ada yang berjalan dengan empat kaki, karena Allah menciptakan segala sesuatu dengan kehendak-Nya. Kehendak Allah tidak bisa dipastikan, hewan yang seharusnya berkaki empat, bisa Allah ciptakan dengan berkaki tiga atau lima, hewan yang selayaknya berkaki dua maka bisa Allah ciptakan dengan berkaki satu atau tiga, demikian Allah subhanahu wata’ala jika menghendaki sesuatu pastilah terjadi. Dari sini terbukalah rahasia-rahasia kemuliaan doa dengan firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

( النحل : 77 )

“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” ( QS. An Nahl : 77 )

Kalimat ini membuka rahasia harapan bagi mereka yang mau berharap kepada Yang Maha menentukan segala sesuatu (swt), Yang Maha memutuskan segala ketentuan (swt), jika mereka berdoa kepada Yang Maha berkuasa atas segala sesuatu (swt), sungguh hanya Dialah (swt) yang paling mampu merubah segala keadaan yang kita kehendaki, namun jangan terjebak dengan hawa nafsu apabila kita telah berdoa, yakinlah bahwa Allah pasti memilihkan yang terbaik untuk kita jika kita telah memohon kepadaNya. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

( البقرة : 185 )

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” ( QS. Al Baqarah : 185 )

Dan Allah berfirman dalam ayat yang lain :

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

( البقرة : 216 )

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” ( QS. Al Baqarah : 216 )

Rahasia keluhuran dari kelembutan ketentuan Ilahi ditunjukkan disini Agar kita memahami apa-apa yang telah kita mohonkan kepada Allah (swt), namun belum Allah (swt) kabulkan maka barangkali hal itu belum baik untuk kita saat ini, dan pastilah Allah akan memberikan yang lebih baik dari yang kita minta, Allah tidak pernah memberi sesuatu yang sama seperti yang diminta oleh hamba-Nya, Allah pasti akan member hajatnya dan ditambah lagi pahalanya atau diberi penghapusan dosa sebab dia berdoa, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi:

يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كاَنَ مِنْكَ فَلاَ أُبَالِي

” Wahai keturunan Adam , jika engkau berdoa dan berharap kepadaKu niscaya Kuampuni dosa-dosa kalian tanpa Kupertanyakan lagi. ” (HR Musnad Ahmad)

Besarnya harapan dan munajat menghapus dosa-dosa kita, maka ketahuilah bahwa mengampuni dosa adalah sesuatu yang mudah dan remeh bagi Allah subhanahu wata’ala, namun jangan kita meremehkannya, karena jika hal itu terjadi bisa saja Allah (swt) tidak mau mengampuni dosa-dosanya. Jika kita meremehkan dengan berfikir bahwa Allah (swt) pasti mengampuni dosa sehingga timbul dalam fikiran kita untuk tidak perlu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka hal yang seperti itu bukanlah merupakan harapan atau prasangka baik terhadap Allah (swt), akan tetapi merupakan penghinaan makhluk terhadap Allah subhanahu wata’ala. Tentunya kita tidak dituntut oleh Allah melebihi dari kemampuan kita, kita tidak pula dipaksa lebih dari batas kemampuan, sebagaimana firman-Nya:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

( البقرة : 286 )

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” ( QS. Al Baqarah : 286 )

Dari ayat ini kita memahami makna kelembutan Ilahi bahwa Allah (swt) tidak akan memaksa lebih dari kemampuan hamba-Nya, namun Rasulullah shaallallahu ‘alaihi wasallam memperjelas makna ayat ini dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ

“Bebankan (lakukanlah) amal sesuai kemampuan kalian” (Shahih Bukhari)

Maksudnya bukan berarti memaksakan diri lebih dari kemampuan, tetapi jangan sampai jika kita masih mampu melakukan suatu ibadah namun hanya karena terjebak malas atau yang lainnya sehingga kita tidak mau melakukannya. Tetapi jika sampai pada batas kemampuan maka Allah tidak memaksakan untuk lebih lagi dari itu. Maka lakukan amal ibadah hingga batas kemampuan kita dengan berusaha dan berdoa selanjutnya kita pasrahkan kepada Allah subhanahu wata’ala atas ketentuannya. Tidak cukup dengan kita berdoa saja dan tidak mau berusaha, karena hal yang seperti itu seakan-akan kita memerintah Allah untuk menjadi budak kita dan memberikan segala yang kita inginkan. Dan tidak pula sebaliknya, hanya dengan berusaha saja tanpa berdoa kepada Allah, karena kita tidak memiliki nafas kita sendiri bagaimana kita merasa tidak butuh lagi berdoa kepada Allah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ

“Manusia yang paling lemah adalah orang yang paling lemah dalam berdo’a” (HR alma’jamul kabiir littabrani, syi’bul Imaan lilbaihaqi dll)

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rasulullah menjelaskan bahwa yang dimaksud orang yang berani bukanlah orang yang mampu memukul yang lain atau menyerang, namun justru orang yang berani adalah orang yang mampu menahan amarahnya. Sebatas apa seseorang mampu menahan amarahnya maka sekadar itu juga keberaniannya.
Maka berhati-hatilah terhadap orang yang selalu sabar karena jika amarahnya memuncak, Allah akan memunculkan kekuatan kemurkaan Allah pula, karena Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

( البقرة : 153 )

“ Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar ” ( QS. Al Baqarah : 153 )

Allah senantiasa bersama orang yang bersabar, jika hamba yang bersabar sudah memaksakan diri dengan segenap kemampuan untuk bersabar sehingga ia tidak mampu lagi menahan kesabarannya, maka Allah subhanahu wata’ala akan turut bertindak untuk membantu hamba-Nya yang bersabar.

Demikianlah yang telah terjadi pada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dimana beliau selalu bersabar atas musuh-musuhnya namun mereka terus-menerus menyakiti, menyerang, menganiaya dan lainnya sehingga beliau pun terpaksa membela diri karena memikirkan keadaan ummat beliau yang terus dibantai. Sehingga berapa banyak dari sahabat beliau yang dibantai namun beliau membiarkannya sampai beliau tidak lagi dapat menahannya, sehingga terjadilah perang Badr Al Kubra maka turunlah 5000 malaikat pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala. Ketika itu Rasulullah telah terusir dan hijrah meninggalkan kampung halamannya namun masih saja terus dikejar dan diganggu juga, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membela diri bersama para sahabat dari kaum muhajirin dan anshar, demikian keadaan para hamba dari zaman ke zaman hingga malam hari ini, kekuatan Allah ada pada hamba yang bersabar. Maka bersabarlah karena kekuatan Allah akan bersamamu.

Saudara saudariku yang dimuliakan Allah
Rahasia keindahan Allah subhanahu wata’ala terus diulurkan kepada kita dengan munculnya hadits kepada kita, sehingga sampailah ucapan mulia ini dari lisan manusia yang paling suci dan indah :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”

Hadits ini teriwayatkan lebih dari 5 hadits dengan lafazh yang sama dan makna yang sama pula bahwa “Setiap kalian adalah pemimpin, pengasuh, atau pemelihara yang akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, diasuhnya atau yang dipeliharanya”. Kalimat رَاعٍ mempunyai arti pengembala namun yang dimaksud adalah pengasuh, atau pemelihara sesuatu yang bersamanya, seperti seorang suami memelihara istrinya, seorang ibu menjaga anaknya, seorang anak menjaga hak-hak orang tuanya, atau seseorang yang mempunyai harta maka ia berkewajiban menjaga hartanya yang Allah berikan kepadanya. Seluruh kenikmatan akan dimintai pertanggungjawaban kepada manusia kelak di hari kiamat. Semua manusia akan dimintai pertanggungjawaban, jika ia pemimpin maka ia bertanggung jawab atas rakyatnya, jika ia rakyat maka ia bertanggungjawab untuk taat kepada pemimpin, demikian pula imam terhadap makmum dan sebaliknya, seorang imam harus menjaga agar makmum mengikuti imam, dan bagaimana seorang makmum harus mengikuti imam dan tidak mendahuluinya. Bahkan seseorang bertanggung jawab atas sel-sel di tubuhnya, manusia akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala tentang kehidupannya, dan setiap nafas dan detik yang lewat pun ia bertanggung jawab atasnya. Namun rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kejelasan bahwa orang yang baik dan selalu berusaha semampunya untuk berada dalam keluhuran dengan banyak bershadaqah dan senantiasa berbuat kemuliaan maka Allah akan membantunya dengan kemudahan di dunia dan akhirah, sebaliknya orang yang selalu berpaling dari kebenaran maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju kesulitan, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى ، وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

( الليل : 5- 7 )

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al Lail : 5-7 )

Sebaliknya orang yang kikir dan selalu berpaling dari kebenaran, maka Allah mudahkan baginya jalan kesulitan, dan kikir bukan hanya dalam harta saja, namun termasuk pula kikir terhadap usia dan malas dalam beribadah, sebagaimana firman-Nya:

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى ، وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

( الليل : 8-10 )

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sulit.” ( QS. Al Lail : 8-10 )

Semoga Allah menjaga kita dan selalu menuntun kita pada kemudahan, amin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Berkaitan dengan ayat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

“ Barangsiapa yang dihisab, maka ia disiksa”. Aisyah ra bertanya,”Bukankah Allah telah berfirman : “maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah” ( QS. Al Insyiqaaq: 8), maka Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab: “Hal itu hanyalah pembentangan, tetapi barangsiapa yang dipertanyakan dan diteliti hisabnya, maka ia akan celaka (mendapat azab)”.

Seseorang jika dipertanyakan satu saja tentang dosa seseorang maka hal itu sudah cukup untuk melemparkannya ke dalam api neraka. Jangankan sesuatu yang dosa, hal yang makruh saja jika dipertanyakan oleh Allah mengapa seseorang melakukan hal yang tidak disukai oleh Allah walaupun tidak dosa, maka satu pertanyaan itu akan membuat manusia lebur menjadi debu, betapa takut dan amlunya dihadapan Allah ketika Allah subhnahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ ، الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ ، فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ ، كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ ، وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ، كِرَامًا كَاتِبِينَ ، يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ ، إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ، وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ ، يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ ، وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ، ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ، يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

( الإنفطار : 6-19 )

“Wahai manusia, apakah yang telah membuatmu kamu berpaling dari Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu, Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan, Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan, Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh keni’matan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka, Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan, Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu, Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?, dan, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?, (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah .” ( QS. Al Al Infithar : 6-19 )

Apa yang bisa kita jawab dengan partanyaan ini : “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?”. Sungguh indah firman Allah subhanahu wata’ala, seduatu yang akan terjadi kelak Allah ceritakan saat ini, hal itu adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya. Allah memberitahukan ucapan yang akan ditanyakan kelak di hari kiamat agar manusia faham dan mengetahui apa yang akan dipertanyakan kelak. Misalkan murid yang akan menghadapi ujian, tidak akan mungkin guru memberitahukan soal-soal ujiannya dari jauh hari sebelumnya, tiada yang lebih baik melebihi Allah subhanahu wata’ala yang memberitahukan sesuatu yang akan ditanyakannya kelak. Semua guru akan berusaha menjaga agar semua pertanyaan tidak diketahui oleh muridnya, karena jika diberitahu kepada muridnya maka akan dikatakan khianat. Namun justru Allah memberitahu semua pertanyaan yang akan ditanyakan kelak, Allah bertanya dalm firman-Nya :

“Wahai manusia, apakah yang telah membuatmu kamu berpaling dari Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu, Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan, Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan, Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh keni’matan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka, Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan, Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu”.

Hadirin hadirat, mengapa Allah mengucapkan hal ini ? yaitu agar kita menghindari kejahatan. Jika tidak karena kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, maka Allah akan diam saja tanpa memberitau hal ini kepada hamba-Nya, Allah akan biarkan saja jika seseorang berbuat baik maka dia akan menerima balasannya, dan jika seseorang berbuat jahat maka ia pun akan menerima balasannya. Namun Allah mengabrakannya kepada kita bahwa orang yang berbuat jahat atau zhalim kepada yang lain dia akan menempati tempat di neraka dan sebaliknya orang yang senantiasa mengerjakan keluhuran dia akan ditempatkan di tempat yang mulia, yaitu surge Allah. Hal itu Allah sampaikan kepada kita agar kita senantiasa mengerjakan kebaikan dan meninggalkan perbuatan jahat. Maka tidak seharusnya kita sangat membenci orang-orang yang berbuat jahat atau zhalim kepada kita karena Allah telah menentukan tempatnya kelak di neraka. Semoga orang-orang yang berbuat jahat dan berbaut zhalim diberi hidayah oleh Allah untuk bertobat, amin.

Firman Allah subhanahu wata’ala :

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ، ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ، يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

) الإنفطار : 17 – 19 )

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?, dan, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?, (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah .” ( QS. Al Al Infithar : 17-19 )

Saat kita berkuasa atas diri kita sendiri walaupun tidak sepenuhnya, misalnya kita ingin bergerak maka dengan mengangkat tangan maka tangan bergerak, namun bisa juga kita ingin bergerak namun tidak bisa bergerak, dengan kehendak kita pula kapan kita ingin berkedip maka kita bisa berkedip, dan dengan kehendak Allah meskipun kita punya mata tapi tidak bisa melihat. Namun sebagian besar kita menguasai atas jasad kita yang telah diberikan Allah kepada kita kekuasaannya, maka di saat itu (hari kiamat) seseorang tidak bisa berkuasa atas dirinya, kemana dirinya akan pergi hal itu ditentukan oleh Allah subhanahu wata’ala, dan saat itu keputusan berada pada Allah subahanahu wata’ala. Allah telah putuskan jika orang yang cinta kepada orang yang selalu berbuat luhur maka ia kan bersamanya, dan orang yang cinta kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah termasuk orang yang paling beruntung di saat itu. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan mereka, amin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dan janganlah menghinakan orang yang terhina di dunia, barangkali orang itu termasuk orang yang mulia di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

رُبَّ أَشْعَثٍ مَدْفُوْعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ

“Bisa jadi orang yang rambutnya kusut, berdebu, dan terusir dari pintu-pintu rumah, namun jika ia berdoa kepada Allah, Dia (Allah) pasti mengabulkannya”

Maka bisa jadi seorang pengemis yang berbaju lusuh yang terusir dari rumah-rumah, jika ia bersumpah atas nama Allah maka Allah akan mengabulkannya doanya, jika ia marah atau tersinggung maka Allah akan mengabulkan doanya, maka berhati-hatilah terhadap kaum lemah dan orang susah yang terhina atau teraniaya jika berakhir kesabarannya maka Allah akan mengikuti kehendaknya karena perbuatan buruk kita kepadanya . Maka para sahabat medengarkan tuntunan sang nabi dengan seindah-indah keadaan, oleh karena itu orang-orang yang berkuasa tidak akan berani untuk berbuat zhalim kepada yang lemah, dan yang lemah pun menjadi tertolong dan terhibur oleh orang-orang yang diberi kekuatan oleh Allah dengan jabatan, harta atau yang lainnya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rasulullah telah menjelaskan kepada kita secara gambling bahwa walaupun masa atau generasi kehidupan kita jauh dari masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, 14 abad yang silam, namun Allah subhanahu wata’ala tidak melupakan kita, jauhnya jarak dan masa tidak bisa membuat Allah jauhSebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari ketika seorang sahabat bertanya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mohon izin ikut hijrah namun beliau tidak mengizinkan karena dia dalam keadaan lemah dan sangat tidak memungkinkan, maka rasulullah berkata :

فَاعْمَلْ مِنْ وَرَاءِ الْبِحَارِ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَتِرَكَ مِنْ عَمَلِكَ شَيْئًا

“Maka beramallah dari belakang lautan, sesungguhnya Allah tidak akan menyia nyiakan amalmu sedikitpun.”

Beramallah walaupun di seberang lautan, maksudnya adalah meskipun kita berada di tempat yang paling jauh sekalipun namun Allah melihat perbuatan kita dan tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan kita sedikitpun bahkan Allah akan memberi balasan lebih atas sesuatu yang kita perbuat. Allah tidak hanya memberi apa yang kita minta saja, namun Allah akan memberikan kepada kita tambahan pahala atau penghapusan dosa, walaupun doa ita bersifat duniawi, selama kita memanggil nama-Nya, maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan pahala selama doa itu bukan permohonan atas hal-hal yang munkar.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah memuliakan kita dengan rahasia keindahan-Nya, memuliakan kita dengan tuntunan terluhur dari makhluk yang paling luhur nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling suci, makhluk yang paling indah, budi pekertinya yang paling sempurna, yang teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mau menjawab salam kecuali dalam keadaan berwudhu atau dalam keadaan bersuci, demikian indahnya budi pekerti dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah memperbaiki akhlak dan budi pekerti kita untuk semakin indah dan semakin luhur dan mulia, untuk kita dan semua yang menyaksikan di streaming http://www.majelisrasulullah.org , dan juga untuk semua yang mendengarkan di radio-radio yang menyiarkan acara ini. Semoga Allah memperindah hari-hari kita semakin indah setelah detik ini, di harei esok dan lusa pun semakin indah dan semakin suci dan mulia di dunia dan akhirah, kesemua itu mustahil kita dapatkan kecuali dari-Nya, Allah rabbul ‘alamin. Kembali kepada-Nya segala ketentuan dan kejadian, datang dari-Nya segala kehidupan dan kembali kepada-Nya segala kehidupan. Kematian adalah awal perpisahan hamba menuju Allah dan berpisah dari semua yang bersamanya, berpisah dari keluarga, teman, jabatan, harta, kekasih, musuh, dan disaat itu hanya amal-amal yang menemani, atau kiriman amal teman dan kerabat yang mengingatnya. Semoga Allah memuliakan kita dan menjadikan kita senantiasa di dalam gelombang rahmat-Nya yang terus berlimpah tiada berhenti tercurah kepada kita semua, kerabat kita, keluarga kita, keturunan kita hingga hari kiamat. Yang masih hidup, yang telah wafat dan yang akan hidup kelak semoga dilimpahi kemuliaan oleh Allah subhanahu wata’ala, doa ini mustahil kami dapatkan kecuali dari-Mu Ya Allah…

http://www.majelisrasulullah.org/

Posted by: Habib Ahmad | 22 Januari 2011

Doa yang Mantap

Doa yang Mantap
Posted on Januari 19, 2011 by sulaiman
Wahai Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka”.

Ini adalah salah satu doa yang diajar oleh Rasulullah s.a.w.

Baginda suka doa yang ringkas tetapi padat. Misalnya cukuplah sekadar meminta syurga, tidak perlulah diperincikan bentuk mahligai syurga itu seperti yang diminta oleh seorang sahabat:

Diriwayatkan daripada Abi Nu’amah, bahawa Abdullah bin Mughaffal mendengar anaknya berdoa, dengan katanya : Ya Allah, aku memohon agar dikurniakan mahligai putih di sebelah kanan syurga apabila aku masuk ke dalamnya (syurga) nanti. Sabda Nabi saw: Diriwayatkan daripada Aisyah ra katanya : Nabi saw sukakan doa yang menyeluruh dan baginda tinggalkan selain dari itu.

Banyak lagi doa-doa yang diajar dan disebut dalam hadith-hadith Baginda misalnya:

“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku (kasihani) dan masukkanlah aku (ke dalam syurga) bersama orang-orang yang dikurniakan nikmat”.

Wahai tuhan kami, tidak ada kehidupan yang sebenar melainkan di akhirat.

AKIDAH MENURUT AJARAN NABI: Pembahasan Kitab Durus Al-`Aqaid Ad-Diniyyah

Penulis: Habib Abdurrahman bin Saggaf Assegaf
Penerjemah: Hasan Husein Assegaf
Penerbit: Tama Publisher
Harga: Rp. 50.000

Perkara dasar yang wajib dipercayai dalam ilmu tauhid ialah perkara yang dalilnya atau buktinya cukup terang dan kuat yang terdapat dalam Al-Quran atau hadits yang shahih. Perkara ini tidak boleh dita’wil atau ditukar maknanya yang asli dengan makna yang lain.

Tujuan mempelajari ilmu tauhid adalah mengenal Allah dan rasul-Nya dengan dalil-dalil yang pasti dan menetapkan sesuatu yang wajib bagi Allah dari sifat-sifat yang sempurna dan mensucikan Allah dari segala sifat kekurangan dan membenarkan semua rasul-rasul Allah.

Sebelum mempelajari ilmu tauhid, seseorang harus mengetahui terlebih dahulu pengertian hukum. Karena dari pemahaman inilah seseorang akan benar dalam memahami pembahasan-pembahasan dalam ilmu ini.

Dengan memahami hukum, dengan tiga pembagiannya, yaitu hukum syari’at, hukum adat, dan hukum akal, Anda akan mengetahui secara pasti bahwa alam itu adalah makhluk, karena alam pasti baru. Bukti bahwa alam itu baru adalah alam selalu berubah.

Rumusannya, setiap yang berubah pastilah baru. Alam selalu berubah, maka alam adalah baru. Selanjutnya setiap yang baru pastilah membutuhkan kepada yang mengadakannya, karena mustahil ada dengan sendirinya, sebagaimana mustahil ia dapat berubah sendiri tanpa ada yang mengubahnya. Jika demikian halnya, alam adalah makhluk (ciptaan) dan yang menciptakannya itulah Khaliq (Pencipta). Dalam aqidah Islam, Yang Maha Pencipta itu adalah Allah SWT.

Untuk meyakini adanya Pencipta, yaitu Allah SWT, minimal kita harus memahami 20 sifat-Nya yang wajib, demikian pula 20 sifat-Nya yang mustahil, agar kita tidak tersesat dan keyakinan kita tidak tergoyahkan oleh pemahaman dan ajaran apa pun.

Selanjutnya Anda pun pada akhirnya akan meyakini sepenuhnya bahwa Allah mengutus rasul-rasulnya yang wajib bersifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Posted by: Habib Ahmad | 22 Januari 2011

Hak Suami Dan Isteri Dalam Islam”

Hak Suami Dan Isteri Dalam Islam”

Kesempatan kali ini, ingin saya kongsikan isi perbincangan di dalam Tanyalah Ustaz bertajuk “Hak Suami Dan Isteri Dalam Islam”

Di dalam al-Quran Allah menyebutkan (Surah ar-Rum ayat 21):-

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untuk mu pasangan suami isteri dari antara kamu, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram antara satu sama lain dan dijadikanka di antara mu kasih sayang dan belas kasihan; sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

ENAM KELEBIHAN ORANG YANG BERKAHWIN

1. Telah menyempurnakan sebahagian dari agamanya[1]

Dari Sahl bin Muaz al-Juhaini dari ayahnya dia telah berkata, telah bersabda Rasullullah Saw, sesiapa yang memberi kerana Allah dan menegah kerana Allah dan mencintai kerana Allah dan membenci kerana Allah dan bernikah kerana Allah maka sempurnalah imannya

2. Mengikuti sunnah Nabi-Nabi yang terdahulu.[2]

Dari Abu Ayyub dia telah berkata, telah bersabda Rasulullah Saw “Empat perkara daripada perlakuan (sunnah) para Rasul: bersifat malu, berwangi, bersugi dan bernikah.”

3. Menghindari larangan agama[3]

Bahawasanya Nabi S.A.W. melarang hidup membujang.

4. Menjadi umat yang dibanggai oleh Rasullullah SAW[4]

Dan berkahwinlah, kerana aku akan berbangga dengan kamu sebagai umat yang ramai bilangannya.

5. Melaksanakan sunnah Rasullullah SAW[5]

Dari Aisyah dia telah berkata, telah bersabda Rasullullah Saw “Nikah itu adalah daripada sunnah (perlakuan) ku, maka barangsiapa tidak beramal dengan sunnah ku dia bukanlah daripada ku.

6. Mengelakkan maksiat [6]

“Hai golongan pemuda! Barangsiapa di antara kamu mampu bernikah, hendaklah ia bernikah, kerana yang demikian itu amat menundukkan pemandangan dan amat memelihara kehormatan, barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, kerana puasa itu menahan nafsunya.”

Hak Isteri Yang Perlu Di Tunaikan Suami
TANGGGUNG JAWAB PERTAMA : BERGAUL DENGAN CARA YANG BAIK
Allah S.W.T berfirman: (Surah an-Nisa ayat 19)

“Pergaulilah isteri mu dengan cara yang baik; kemudian bila tidak menyukai mereka (maka bersabarlah), kerana mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, pada hal Allah menjadikan padanya kebaikan yang sangat banyak.”

Selain itu Rasullullah SAW bersabda: [7]:-

“Orang yang baik di antara kamu ialah orang yang baik perangainya kepada ahli rumahnya (isterinya). Dan aku (sendiri) orang yang paling baik di kalangan kamu terhadap isteriku.”

TANGGUNGJAWAB KEDUA : BERLAKU ADIL

Selain itu, suami hendaklah berlaku adil terhadap apa sahaja yang berkaitan dengan hak isteri. Allah S.W.T berfirman: [8]:-

“Berlaku adillah, kerana adil itu lebih dekat kepada taqwa.”

Perintah ini memerlukan suami bersikap adil, menghormati perasaan, berbaik hati dan bertimbang rasa terhadap isteri. Suami tidak boleh menunjuk sebarang kebencian atau menzahirkan perbuatan yang boleh menyinggung perasaan isteri.

TANGGUNGJAWAB KETIGA: MENASIHATI DAN MENDIDIK ISTERI

Sudah menjadi tugas suami agar sentiasa memberi nasihat dan panduan terhadap isteri dan anak. Oleh yang demikian, suami hendaklah mendidik dirinya dan mendidik keluarganya dengan ajaran agama. Di dalam al-Quran Allah S.W.T berfirman: (Surah at-Tahrim ayat 6)

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya manusia dan batu

SISIPAN SATU : TEGAHAN MEMUKUL ISTERI

Rasullullah S.A.W bersabda: [9]:-

“Kamu tidak jumpai mereka itu (orang yang memukul isteri) sebagai orang yang baik antara kamu.”

Rasullullah S.A.W bersabda lagi [10]:-

“Dari Aisyah dia telah berkata, Rasulullah S.A.W. tidak pernah memukul isteri mahu pun khadamnya sama sekali; dan beliau sama sekali tidak pernah memukul dengan tangannya sendiri, melainkan dalam peperangan (sabilillah)
SISIAPAN DUA : HUKUM MENGABAIKAN TANGGUNGJAWAB DI DALAM ISLAM

Rasullullah S.A.W bersabda [11]:-

” Dari Abdullah bin Amru, dia telah berkata, sabda Rasullullah S.A.W, Cukup berdosalah seseorang yang mengabaikan orang yang di bawah tanggungannya.”

TANGGUNGJAWAB KEEMPAT : MEMBERI NAFKAH

Di dalam ajaran Islam ada menyatakan bahawa seorang suami berasaskan daya kekuatan mental dan fizikalnya dipertanggungjawabkan memberi nafkah zahir dan batin demi untuk kelangsungan hayat keluarga.[12]

Allah S.W.T berfirman :- (surah at-Talaq ayat 7)

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya

Inilah tanggung jawab suami yang perlu ditunaikan pada isterinya. Semoga perbahasan ini memberi manafaat pada kita semua.

“Ilmu Pelita Hati”

al-Faqir Ila Rabbihi

Muhamad bin Abdullah

Shah Alam

9 Safar 1432/14 Januari 2010 jam 1.00 tengah hari

[1] Hadith riwayat Ahmad

[2] Hadith riwayat at-Tarmizi

[3] Hadith riwayat at-Tarmizi

[4] Hadith riwayat Ibn Majah

[5] Hadith riwayat Ibn Majah

[6] Hadith riwayat al-Bukhari

[7] Hadith riwayat Ibn Majah

[8] Surah al-Maidah ayat 8

[9] Hadtih riwayat Ibn Majah

[10] Hadith riwayat Muslim

[11] Hadith riwayat Abu Daud

[12] Raja Rohana Raja Mamat, The role and status, hlm 60.
http://www.ustazamin.com/2011/01/bicara-ilmu-24-tanyalah-ustaz-hak-suami.html

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 811 other followers