Jawapan Prof Dr As Sayyid Muhammad Al Maliki tentang Maulidurrasul s.a.w
Posted on Februari 10, 2011 by albakriah
http://madinatulilmi.com

Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia islam, kaum muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara dan adat yang mungkin beraneka ragam dan berbeda-beda. Tetapi tetap pada satu tujuan, yaitu memperingati kelahiran Nabi mereka dan menunjukkan rasa suka cita dan bergembira dengan kelahiran beliau Saw. Tak terkecuali di negara kita Indonesia, di kota maupun di desa masyarakat begitu antusias melakukan perayaan tersebut.

Demikian pemandangan yang kita saksikan setiap datang bulan Rabiul awwal.
Telah ratusan tahun kaum muslimin merayakan maulid Nabi Saw, Insan yang paling mereka cintai. Tetapi hingga kini masih ada saja orang yang menolaknya dengan berbagai hujjah. Diantaranya mereka mengatakan, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai ‘Id (Hari Raya) yang syar’i, seperti ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Padahal, peringatan itu, menurut mereka, bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran agama. Benarkah demikian? Apakah yang mereka katakan itu sesuai dengan prinsip-prinsip agama, ataukah justru sebaliknya?

Di antara ulama kenamaan di dunia yang banyak menjawab persoalan-persoalan seperti itu, yang banyak dituduhkan kepada kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah As Sayyid Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Alawi Al Maliki. Berikut ini kami nukilkan uraian dan ulasan beliau mengenai hal tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab beliau Dzikrayat wa Munasabat dan Haul al Ihtifal bi Dzikra Maulid An Nabawi Asy Syarif.

Hari Maulid Nabi SAW lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada ‘Id. ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi SAW, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat.

Hari kelahiran beliau lebih agung daripada ‘Id, meskipun kita tidak menamainya ‘Id. Mengapa? Karena beliaulah yang membawa ‘Id dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena beliau pula, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran beliau, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzulul Quran (turunnya AI-Quran), Isra Mi’raj, hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Fath Makkah (Penaklukan Makkah), karena semua itu berhubungan dengan beliau dan dengan kelahiran beliau, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.

Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut, di antaranya yang disebutkan oleh Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebelum mengemukakan dalil-dalil tersebut, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.

Pertama, kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan, terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran beliau, hari Senin. Tidak layak seorang yang berakal bertanya, “Mengapa kalian memperingatinya?” Karena, seolah-olah ia bertanya, “Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”.
Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban. Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin”.

Kedua, yang kita maksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orangorang yang hadir, memuliakan orangorang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.

Ketiga, kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak demikian. Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.

Keempat, berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan. Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya, di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan, dan fitnah.

Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.

Dalil-dalil Maulid

Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW .

Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?)

Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.

Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58). Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.

Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.

Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.

Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.
Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.

Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, balk fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.

Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.

Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan:” Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulla?

Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”

Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.

Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami
ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’ (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.

Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalii-dalil syara’.

Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.

Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang balk), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.

Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.

Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “

Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran, itu termasuk ajaran agama.

Keduapuluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nab! SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang.

Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatanperbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut.

Posted by: Habib Ahmad | 10 Februari 2011

Majlis Mahabbah Rasul & Mengenang Ulama Dunia Melayu (Nusantara)

Posted by: Habib Ahmad | 8 Februari 2011

MAJLIS TALAQI

Posted by: Habib Ahmad | 8 Februari 2011

Majalah Al Kisah terkini

Posted by: Habib Ahmad | 8 Februari 2011

Dzikir dengan hati dan lisan

Dzikir dengan hati dan lisan
Published on January 31, 2011 in Artikel Islam. 0 Comments
Dzikir merupakan kebutuhan manusia untuk mengingat Tuhannya. Dalam pelaksanaannya, dzikir itu boleh dilakukan dalam hati dan boleh pula dengan lisan. Dan dzikir yang lebih utama adalah yang dilaksanakan dengan lisan dan hati. Jika hendak dilakukan dengan salah satunya saja, maka dzikir di dalam hati lebih afdhal.

Tidak sepantasnya seseorang meninggalkan dzikir lisan dan dzikir hati hanya takut disangka riya, tetapi seyogyanya ia berdzikir dengan lisan dan di dalam hati karena Allah. Perlu diketahui bahwa meninggalkan beramal karena manusia adalah termasuk riya.

Seandainya dibukakan kepada mereka pintu kesempatan untuk mengamat-amati perbuatan orang lain, maka setiap orang akan menghindar dari sangkaan orang lain yang tidak benar kepada dirinya dan niscaya tertutuplah baginya kebanyakan dari pintu kebaikan dan tersia-sialah darinya sesuatu yang besar dari urusan agamanya yang lebih penting. Cara ini bukanlah jalan yang ditempuh oleh para arifin (orang-orang yang selalu dekat kepada Allah).

Diriwayatkan di dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim dari Aisyah ra., ia berkata:

نَزَلَت هذِهِ الاَيَة : وَلاَتَجهَر بِصَلاَتِكَ وَلاَتُخَافِت بِهَا …./ فِى الدُّعَاْء

Turunlah ayat ; … janganlah menyaringkan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula kamu merendahkannya ……. (QS al-Isra’ 110).
Maksudnya pada doa di dalam shalat.

Sumber : al-Adzkaarun Nawawiyyah

Posted by: Habib Ahmad | 8 Februari 2011

Mawlid Barzanji – Kitab Sirah berwibawa

Mawlid Barzanji – Kitab Sirah berwibawa

Ikhwah, dahulu malam Jumaat biasanya di surau-surau dan masjid-masjid diadakan pembacaan Mawlid Barzanji selain membaca Yasin dan bertahlil. Cuma sekarang sahaja nampaknya makin berkurangan, bukan kerana termakan racun Wahhabi yang memfatwakan bermawlid bid`ah, tetapi lebih kepada malas dan lebih suka menonton TV dari bermawlid. Jadi kebetulan ada fatwa Wahhabi kata bid`ah, maka ramai yang bersandarkan kepadanya untuk menutup kelemahan pribadi. Kalau baca mawlid bid`ah dhalalah, duduk santai-santai sambil menonton TV tu sunnat mu`akkad ke ?

Dato Ustaz Ismail Kamus (mana dulu ? Dato Ustaz ke Ustaz Dato ?) dalam satu ceramah tafsirnya yang dirakam dalam kaset dan dijual dengan tajuk besar “Tawassul”, menyatakan bahawa pengarang Mawlid Barzanji, Sayyid Ja’faar al-Barzanji adalah bilal Masjid Nabi di Madinah. Ini satu kesilapan fakta kerana Sayyid Ja’faar al-Barzanji adalah Mufti Syafi`iyyah di Madinah al-Munawwarah. Aku nak tanya, dulu-dulu senangkah nak dii’tiraf sebagai mufti ? Kalau bukan ulama besar tak usah nak mimpilah. Dulu tukang kasut pun hafal al-Qur`an.

Dato Ustaz mempertikaikan “Nur Muhammad” (bab ini nanti lain masa aku cerita, cuma nak habaq mai Ustaz Utsman al-Muhammady pun ada tulis kertas kerja sokong konsep “Nur Muhammad”, nak cerita panjang ooooooooooooooooooooo tak larat nak tulis sekarang, lain kali kita cerita), tetapi dia tak tolak Mawlid Barzanji, cuma katanya kita terima kitab Barzanji sebagai sastera sahaja.

Tak tahu pulak apa maksudnya dengan sastera, kalau nak disamakan dengan Hikayat Hang Tuah, Hikayat Merong Mahawangsa, Ramayana, Pandawa Lima dan sebagainya hikayat dongeng dahulu kala, aku satu sen pun tak setuju. Masakan kitab yang jadi bacaan dan amalan yang dilakukan ulama dan awam sejak berzaman dan ada pula ulama siap buat syarah nak di”turun”kan martabat jadi buku sastera. Tak masuk dek akal langsung. Kitab Barzanji ditulis oleh seorang ulama besar, bukan seorang penglipur lara. Apa yang diceritakan atau diriwayatkan ada sandaran dalam agama, samada nas yang shorih terang atau yang khofi tersembunyi.

Aku teringat waktu aku mengaji dahulu, kawanku dari Bangkok, Thailand yang berfahaman salafi (baca silapi) memfatwakan bahawa kitab Barzanji tak boleh dii’timad (yakni tak boleh dibuat pegangan) kerana dalam Barzanji diceritakan bahawa sewaktu Junjungan s.a.w. dilahirkan yang turut hadir menyambut kelahiran Junjungan s.a.w. adalah Siti Maryam dan Siti Asiyah. OOOO….dongeng ni, tak dak dalam kitab-kitab hadis. Aku diam sahaja waktu tu, maklumlah masih bodo lagi, sekarang pun masih bodo jugak sebab tu aku ikut ulama yang pandai-pandai dan tak renti-renti belajar.

Setelah aku mengaji dan mentelaah kitab karangan ulama dan kudengar fatwa ulama, rupa-rupanya ada sandaran untuk cerita tersebut dalam kitab hadis dan kitab sirah Nabawiyyah. Antaranya kitab “Dala-ilun Nubuwwah” karangan Imam al-Baihaqi (rujukan penuhnya insya-Allah akan kuberikan kemudian kerana ilmuku tertinggal dalam kitab dan kitabku dipinjam orang, aduh lemahnya diri), rujuk juga kitab “al-Mawahibul Laduniyyah” yang masyhur karangan Imam al-Qasthalani, juzuk 1, mukasurat 65 dan banyak lagi kitab-kitab sirah seperti kitab “Sirah al-Halabiyyah” karangan asy-Syaikh Burhanuddin al-Halabi juzuk 1, mukasurat 86, bab kelahiran Junjungan Nabi s.a.w.

Maka kupesan kepada kalian bila dengan ulama berhati-hatilah. Jaga mulut, jangan mentang-mentang kita duduk di hadapan berceramah dan mengajar timbul s.s. (syok sendiri) sehingga rasa kita dah setaraf dengan ulama dahulu. Lantas kita kritik karangan mereka dan tuduh mereka mencarut kerana mengarang tanpa berpandukan nas. Jangan-jangan, lagi sekali jangan.

Bagiku Barzanji itu bukanlah kitab sastera, tetapi ianya adalah satu kitab Sirah Nabawiyyah penuh wibawa ditulis oleh seorang ulama besar berwibawa dan ditulis dengan bahasa sastera yang indah menawan kalbu pecinta-pecinta Junjungan s.a.w. Ianya kitab yang menceritakan kebesaran, keagungan perjalanan hidup Insan Kamil Mukammil Utusan Allah yang teragung, bukan kitab sastera, bukan kitab hikayat semata-mata. Asy-Syaikh as-Sayyid Ja’faar al-Barzanji bukannya orang jahil. Beliau adalah ulama besar yang dii’tiraf sebagai Mufti Syafi`iyyah di Madinah al-Munawwarah, waliyUllah keturunan Junjungan Nabi s.a.w. Jadi berhati-hatilah kamu dengan ulama, ingat pesan Junjungan “Luhuumul ulama` sumuum, fa man akalaha halak” (Daging para ulama itu racun, sesiapa yang memakannya akan binasa).

 

Buat Dato Ustaz Ismail Kamus, maaf berbanyak, teruskan perjuangan menegakkan Islam sebenar, Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Sedikit pesanan, dalam PAS pun ramai Wahhabi dan Syiah, yang totok dan yang simpati, aaawaaas. Jangan marah, shallu ‘alan Nabiy.

Allahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaih wa ‘ala aalih.

 

Posted by: Habib Ahmad | 7 Februari 2011

Sejuta Fadhilah Shalawat

Sejuta Fadhilah Shalawat
Submitted by forsan salaf on Wednesday, 26 January 2011No CommentKalam Habib Ahmad Bin Zein Al-Habsyi

Al-Mushtafa SAW. Sebingkai mozaik nan indah. Kontruksi cita rasa Sang Kuasa yang sempurna. Cahaya yang bertahta megah di atas cahaya-cahaya. Makhluk terindah, termulia, tersantun, yang tiada duanya.

“Dialah yang di langit dikenal sebagai Ahmad, sedang di bumi dikenal sebagai Muhammad.” begitulah Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi melukiskan sosok Rasulullah SAW dalam kata-kata. “Dialah penguasa maqam mahmud. Bendera puja dan puji tegak dalam genggamannya.”

“Tidaklah ia dikenal sebagai Muhammad sebelum diseru sebagai Ahmad. Sebab (di langit) ar-Robb SWT telah memuji sosoknya jauh sebelum seluruh makhluk mengenalnya. Ia mengagul-agulkannya jauh sebelum manusia menyanjung-nyanjungnya. Engkau bakal menjumpai nama Ahmad pada kitab-kitab suci terdahulu. Sedang dalam al-Qur’anul Karim, termaktub nama Muhammad. Dialah yang terlayak menuai pujian-pujian. Dialah yang teragung diantara insan-insan yang layak dipuji.”

“Hanya untuknya, kelak maqam mahmud disingkap diiringi pujian-pujian. Tak pernah tersingkap untuk selain dirinya. Dengan maqam mahmud itu, Sang Kuasa senantiasa memujinya. Berbekal maqam mahmud itu, ia menjelma sebagai pemberi syafaat tertinggi. Bendera puja dan puji terajut hanya untuknya, seorang. Umatnya disebut-sebut sebagai al-Hamidun (Orang-orang yang gemar memuji) dalam kitab-kitab terdahulu. Dan tatkala kakeknya, Abdul Muthalib, menyematkan nama Muhammad, ia mengunjuk doa, “Aku berharap kelak seluruh penghuni langit dan bumi akan senantiasa memujinya.”

Tidak terpungkiri, Rasulullah SAW memang sempurna. Tiada celah untuk mencela, kecuali hati yang buta oleh kabut kemusyrikan. Begitu sempurnanya sang nabi. Hingga lisan mukminin tak lelah memadahkan puja dan puji, dari dulu hingga kini.

SALAWAT

Puncak kekaguman Sang Pencipta terhadap mahakarya yang satu ini adalah salawat. Habib Ahmad mengurai, “Salawat Allah SWT kepada Nabi SAW adalah cucuran kebaikan-kebaikan, sifat-sifat luhur, karakter yang elok, nikmat-nikmat, penghargaan, penghormatan, dan anugerah-anugerah yang meruah. Sedang salam-Nya adalah penjagaan-Nya dari pelbagai aib dan mala, karunia yang berupa ketentraman, kesempurnaan, dan kemegahan. Sebentuk penghormatan yang indah dan penuh berkah dari-Nya.”

Mari kita bersalawat kepada Nabi SAW. Mari kita haturkan salam kepada Rasul SAW.

“Dalam sepenggal ayat, ar-Rahman ar-Rahim menfirmankan,

¨bÎ) ©!$# ¼çmtGx6Í´¯»n=tBur tbq=|Áム’n?tã ÄcÓÉ<¨Z9$# 4 $pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#q=|¹ Ïmø‹n=tã (#qßJÏk=y™ur $¸JŠÎ=ó¡n@

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Rasulullah SAW sendiri bersabda, “Manusia yang paling dekat denganku pada hari akhir adalah orang yang paling banyak bersalawat kepadaku.”

Sabda beliau yang lain menyebutkan, “Tidaklah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah SWT pasti mengembalikan ruhku. Hingga aku pun bisa membalas salamnya.” Kata ruh dalam hadis ini bisa bermakna bicara, atau sesuatu hal yang berkenaan dengan “aktifitas” ruh. Sebab, senyatanya, ruh Beliau SAW senantiasa hidup.”

“Masih banyak lagi hadis-hadis nabawiy yang mengulas faedah salawat. Tercatat lebih dari 40 sahabat terkemuka yang meriwayatkan hadis ragam ini.”

Habib Ahmad meneruskan, “Dalam satu salawat, terpendam 40 faedah. Diantaranya; menghapus dosa-dosa, mengusir kesumpekan, menuntaskan cita-cita, memercik kabar gembira akan surga sebelum ajal tiba, membersihkan diri, menanggung keselamatan dari kecamuk hari kiamat, mengharumkan majelis-majelis, menafikan kefakiran dan sifat kikir, mengukuhkan langkah kala di atas sirath, mengenyahkan kekeringan, menabur berkah pada raga, umur, dan amal, memantik rahmat Allah dan rasa cinta dari nabi SAW, menghidupkan nurani, dan memancing hidayah ilahi.”

“Walhasil, faedah salawat tak terbilang, duniawi maupun ukhrawi. Tak terhitung, betapa sering Allah membukakan pintu hajat, melonggarkan keruwetan, dan melipatkan anugerah dengan salawat. Salawat adalah amalan istimewa dan penuh berkah. Ia adalah penjamin rasa aman dari murka Allah dan neraka-Nya. Ia adalah pelantar kesucian amal dan ketinggian derajat. Ia adalah perniagaan yang takkan pernah merugi.”

Alangkah istimewanya salawat. Hanya dengan sebaris kalimat itu, kita bisa meraup pahala-pahala semegah gunung. Tanpa terlalu berpayah-payah, kita bisa melampaui amalan-amalan umat terdahulu. Semua berkat salawat kepada sang Nabi SAW.

Akan tetapi, perlu dicatat, ada adab yang mesti diperhatikan dalam salawat. “Salawat adalah Zikir. Karena itu disyaratkan khusuk dan hudlur, serta takzim kepada Nabi SAW saat bersalawat. Dianjurkan pula menghadirkan zat Nabi SAW kala berdoa dalam salawat, dengan harapan agar curahan anugerah kepada beliau senantiasa lestari. Dengan adab inilah, segala faedah salawat niscaya tergapai. Bahkan bisa lebih dari itu. Salawat tak hanya berarti zikir, salawat juga bermakna doa, bahkan ia adalah esensi doa itu sendiri”

Begitu gamblang paparan Habib Ahmad bin Zein mengenai fadilah salawat di atas. Tunggu apa lagi, marilah kita-sedari sekarang- menggemari salawat, demi kita, demi keluarga, demi umat, dan demi pertiwi yang telah lama dirundung sedih ini….!

Posted by: Habib Ahmad | 7 Februari 2011

Hukum Menyambut Maulidul Rasul


Maulidur Rasul S.A.W.

Assalamualaikum Warahmatullah.

PENGENALAN

Sambutan memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad S.A.W. bukanlah suatu perkara yang asing di dalam masyarakat kita. Tanggal 12 Rabiulawal setiap tahun inilah umat Islam akan memenuhi ruang masjid ataupun kawasan-kawasan terpilih untuk menyambut Maulidul Rasul dengan diadakan pelbagai acara seperti: Membaca al-Quran dan berceramah mengenai sirah baginda S.A.W. ataupun beselawat serta berzanji dan pelbagai acara lagi dan pada akhirnya kadang-kala diadakan sedikit jamuan. Mimbar-mimbar Jumaat juga tidak terlepas dari berkhutbah dengan penuh bersemangat untuk menyatakan cintanya umat ini terhadap baginda S.A.W.

Jika kita lihat sirah baginda S.A.W. maka kita dapati bahawa Rasulullah S.A.W. tidak pernah merayakan ulangtahun hari kelahirannya secara khusus sepertimana yang kita lihat pada waktu ini. Namun baginda hanya berpuasa pada hari Isnin kerana baginda dilahirkan pada hari itu. Dan perkara ini berlarutan (tidak merayakan sambutan Maulidur Rasul) sehinggalah selepas 300 tahun baginda wafat.

Pelbagai kenyataan dan kajian telah dinyatakan (berlaku sedikit khilaf) mengenai tarikh sebenar dan siapakah yang mula-mula mengadakan sambutan Maulidur Rasul ini. Di antaranya dikatakan bahawa bermula sambutan Maulidur Rasul ini secara besar-besaran pada zaman Fatimiyah di Mesir di bawah penguasa Muiz Lidinillah (memerintah sekitar tahun 341 H hingga 365 H). Dan pendapat lain ada menyatakan bahawa Sultan Atabeq Nuruddin (meninggal pada 569 H) adalah penguasa yang pertama merayakan Maulidur Rasul. Sebahagian ahli sejarah pula menyatakan bahawa Sultan Salahuddin Al-Ayubi adalah tokoh yang pertama merayakan Maulidur Rasul ini (namun pendapat ini disangsikan oleh pelbagai pihak). Pendapat lain lagi mengaitkan Abu Said Kaukabri bin Zainuddin Aly bin Baktikin sebagai orang pertama merayakan Maulidur Rasul ini.

KEPUTRAAN NABI MUHAMMAD S.A.W.

Adapun nasab keturunan baginda S.A.W. adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutalib bin Hashim bin Abdul Manaf. Dikatakan bahawa nasib baginda S.A.W. ini sampai kepada Nabi Ismail A.S.

Nabi Muhammad S.A.W. lahir pada tahun Gajah iaitu tahun tentera Abrahah melanggar masuk untuk menyerang dan menawan kota Makkah. Namun percubaan untuk menawan Kaabah ini menemuni jalan kegagalan apabila Allah Taala mengantar sekumpulan burung Ababil untuk memusnahkan angkatan tentera Abrahah itu dalam sekelip mata sahaja. Mengikut pendapat yang paling hampir bahawa baginda S.A.W. telah dilahirkan pada 12 Rabiulawal tahun itu (terdapat juga beberapa pendapat lain lagi).

Baginda S.A.W. adalah seorang yatim ketika dilahirkan. Bapanya wafat ketika usia baginda S.A.W. dua tahun dalam kandungan ibunya. Setelah dilahirkan baginda S.A.W. dipelihara oleh datuknya Abdul Mutalib kemudian disusukan oleh Halimah binti Abi Zuwaib dari puak Bani Saad Bakri.

Kampung Bani Saad pada ketika itu mengalami kemarau yang teruk. Setelah sampai Nabi Muhammad S.A.W. untuk menyusu maka kampung tersebut berubah dari sebuah kampung yang tandus kepada sebuah kampung yang subur lagi menghijau. Di kampung ini jugalah baginda S.A.W. telah dibedah perut oleh malaikat ketika usia baginda lima tahun. Ini adalah di antara keberkatan dan mukjizat baginda S.A.W. yang telah dikurniakan oleh Allah Taala.

Ibu baginda S.A.W. telah wafat ketika usia baginda enam tahun. Ini menyebabkan baginda S.A.W. menjadi yatim piatu. Kemudian baginda dipelihara dan dididik pula oleh datuknya Abdul Mutalib sehingga usia baginda lapan tahun. Setelah datuknya meninggal dunia baginda dipelihara oleh bapa saudaranya Abu Talib.

PANDANGAN ULAMA TERHADAP MAULID

Pendapat Pertama:

Merayakan Maulidul Rasul adalah haram.

Pendapat Kedua:

Perayaan sambutan Maulidur Rasul adalah boleh.

ANTARA HUJJAH PENDAPAT YANG MEMBOLEHKAN

Di sini saya tidaklah bercadang untuk menyatakan kedua-dua hujjah (yang membolehkan dan yang mengharamkan) akan tetapi saya cuma mendatangkan hujjah dari pihak yang membenarkan sahaja. Ini kerana saya berpegang dengan pendapat yang mengatakan sambutan Maulidur Rasul adalah boleh selagimana tidak terdapat perkara-perkara mungkar di dalamya. Di sini saya bawakan beberapa hujjah yang menyokong kenyataan saya ini:

Pertama:

Al-Hadis bermaksud:

Diringankan Abu Lahab pada tiap-tiap hari Isnin dengan sebab dia membebaskan hambanya Thaubiyah kerana menggembirakannya dengan kelahiran al-Mustafa S.A.W.

(Riwayat al-Bukhari). (kitab Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari karangan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani pada jilid 9 kitab al-Nikah muka surat 43 dan 48 ada menyatakan hadis seperti di atas.

Kitab Manhaj al-Salaf Fi Fahmi al-Nusus Bayan al-Nazariyyah Wa al-Tatbiq karangan al-Muhaddith Syeikh Dr. Al-Sayyid Muhammad bin al-Sayyid Alawi al-Maliki tidak ada bersama saya sekarang (kerana kawan saya pinjam) jadi saya tidak dapat menunjukkan muka surat kitab ini.

Namun kitab Mafahim Yajibu An Tusahhah karangan al-Muhaddith Syeikh Dr. Al-Sayyid Muhammad bin al-Sayyid Alawi al-Maliki juga ada menyatakan dan menerangkan perkara ini (status hadis ini) pada muka surat 255 dan 256.)

Kegembiraan seorang penentang Islam di atas kelahiran Rasulullah S.A.W. dapat meringankan siksanya di neraka pada setiap hari Isnin. Jika orang kafir yang di neraka juga diringankan siksanya kerana kegembiraan menyambut kelahiran baginda S.A.W. maka apatah lagi orang Islam yang bergembira dengan kelahiran Rasulullah S.A.W.

Kedua:

Rasulullah S.A.W. sendiri membesarkan hari kelahirannya serta mensyukuri segala nikmat pemberian Allah Taala ke atas baginda pada hari tersebut. Semua ini dilahirkan melalui ibadat puasa sunat baginda S.A.W. pada setiap hari Isnin.

Dari Abu Qatadah bermaksud:

Sesungguhnya Rasulullah S.A.W. ditanya tentang puasa hari Isnin. Baginda menjawab: Padanya aku dilahirkan dan padanya diturunkan (al-Quran) ke atasku.

(Riwayat Muslim).

Ketiga:

Bergembira dengan Rasulullah S.A.W. adalah dituntut.

Firman Allah Taala bermaksud:

Katakanlah dengan kelebihan Allah dan rahmatNya maka demikian hendaklah mereka bergembira. (Surah Yunus: Ayat 58).

Allah Taala menyuruh kita supaya bergembira dengan rahmatNya maka Rasulullah S.A.W. adalah sebesar-besar rahmat.

Firman Allah Taala bermaksud:

Dan tidaklah Kami utuskan kamu kecuali sebagai rahmat kepada sekalian alam. (Surah Al-Anbiya: Ayat 107).

Keempat:

Maulidur Rasul akan menganjurkan kita untuk sentiasa berselawat dan salam yang sangat dituntut ini kepada baginda S.A.W.

Firman Allah Taala bermaksud:

Sesungguhnya Allah dan malaikatNya berselawat (memberi segala penghormatan dan kebaikkan) kepada Nabi (Muhammad S.A.W), wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya. (Surah al-Ahzab: ayat 56).

Kelima:

Sambutan maulid adalah satu amalan baik yang diterima ulama dan umat Islam di serata tempat. Ia dilakukan di setiap penjuru dunia dan ia tentulah dituntut berdasarkan kaedah yang telah diterima pakai dari sebuah hadis Ibnu Masud:

Apa yang dilihat umat Islam baik maka ia juga baik di sisi Allah dan apa yang dilihat umat Islam buruk maka ia juga buruk di sisi Allah. (Riwayat Ahmad).

Untuk lebih memahami bolehlah juga merujuk artikel saya sebelum ini bertajuk: Bidaah Satu Erti Yang Disalahgunakan.

ANTARA PENDAPAT ULAMA MENGENAI MAULID

Imam Jalaluddin Al-Sayuti (Lihat kitab: Husnul Maqsad Fi Amal Maulid).

Beliau ditanya tentang hukum perayaan Maulid pada bulan Rabiulawal: Apakah orang yang merayakannya mendapat pahala? Beliau menjawab: Perayaan Maulid pada hakikatnya ialah mengumpulkan kebanyakkan orang untuk membaca beberapa ayat al-Quran. Kemudian menjelaskan jalan-jalan dakwah sejak mula diutuskannya Rasulullah. Acara itu diisi dengan menghidangkan makanan sebelum para hadirin kembali ke tempat masing-masing. Dengan tidak berlebihan saya katakan bahawa perayaan semacam itu tergolong dalam bidaah hasanah yang bila dilakukan akan mendapat pahala. Mereka telah mengagungkan kedudukan Nabi S.A.W. dan menyatakan kesyukuran mereka di atas kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. sebagai penghulu umat.

Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah (Lihat kitab: Iqtidha as-Shirath al-Mustaqin).

Berkata Syeikh Islam Ibnu Taimiyah: Memuliakan Maulid dan merayakannya setiap tahun seperti yang dilakukan oleh sesetengah orang akan mendapat ganjaran pahala daripada Allah Taala kerana niatnya baik dan memuliakan Rasulullah S.A.W.

Terdapat ramai lagi ulama yang turut membolehkan sambutan Maulidur Rasul ini antaranya seperti: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syeikh Muhammad al-Khazraji, al-Muhaddith Syeikh Dr. Al-Sayyid Muhammad bin al-Sayyid Alawi al-Maliki, Syeikh Atiyah Saqar, Syeikh Prof. Dr. Yusof al-Qaradhawi, Syeikh Prof. Dr. Ali Jumaah dan lain-lain lagi.

PERINGATAN PENTING

Kaedah Fiqhiyah menyatakan bermaksud:

Tidak boleh dibantah sesuatu hukum yang berlaku khilaf di kalangan fuqaha. Hanya yang boleh dibantah ialah perkara mungkar yang disepakati oleh para ulama di atas pengharamannya.

(Sila lihat kitab al-Asybah Wa al-Nazair Fi Qawaid Wa Furu Fiqh al-Syafiiyah karangan Imam Jalaluddin Al-Sayuti).

Maksud kaedah ini (di atas) secara lebih jelas ialah kita tidak boleh menafikan, membantah, atau menuduh bidaah lagi sesat dan sebagainya kepada orang lain yang memilih salah satu pendapat dalam perkara agama yang berlaku perselisihan pendapat ulama padanya. Malangnya jika dilihat fenomena hari terdapat segelintir golongan yang menceburi lapangan dakwah Islamiah menyanggah kaedah ini. Mereka dengan sewenang-wenangnya mengeluarkan perkataan yang kesat kepada orang yang berpegang dengan perkara khilafiyyah yang tidak sealiran dengan mereka dengan mengkafirkan, memfasiqkan dan membidaahkan golongan tersebut. Malah mereka hanya menyeru orang lain supaya memahami dan menerima pendapat mereka sahaja sedangkan mereka tidak melihat terlebih dahulu keadaan tempat dan suasana pada ketika itu. Inilah antara masalah terbesar yang menimbulkan banyak kesan negatif kepada umat Islam semenjak sekian lama.

PENUTUP

Suka saya mengambil kata-kata al-Muhaddith Syeikh Dr. Al-Sayyid Muhammad bin al-Sayyid Alawi al-Maliki seperti berikut:

Bahawa sesiapa yang hendak menolak perayaan ini atau perhimpunan mengingati Maulidur Rasul atau merayakan kelahirannya atau kehidupannya pada musim tertentu dengan alasan para salaf tidak pernah melakukannya maka alasan itu bukanlah satu dalil yang boleh diterima bahkan ia tidak berdalil langsung.

Di sini saya ingin menyeru kepada semua umat Islam agar sentiasa mengingati serta mendalami sirah baginda S.A.W. dan mengambil pengajaran daripadanya. Sayangilah dan hormatilah baginda S.A.W.

Boleh juga merujuk artikel saya sebelum ini bertajuk: Adab-Adab Dengan Rasulullah S.A.W.

Sekian. Wassalam.

‘Memberi dan Berbakti’

Sumber : Ustaz Rashidi a.k.a Buluh

Apakah Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw itu BID’AH DHOLALAH..???

Berikut ini jawaban dari Habib Munzir Al Musawwa perihal maulid…
Alaikum Salam warahmatullah wabarakatuh,
Keridhoan dan kelembutan Nya semoga selalu membuka jalan kemudahan pada hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,mengenai hukum maulid telah saya jawab dengan gamblang, dan saya juga telah menjawab banyak masalah masalah bid;ah, tawassul, tahlil dll pada buku karangan saya : “Kenalilah Aqidahmu” yg bisa dipesan di web ini melalui sekertariat kami,
mengenai maulid berikut saya lampirkan artikel saya yg di buku tsb :
PERINGATAN MAULID NABI SAW
ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).
Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia.
Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.
Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya• Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)• Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)• Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)• Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)• Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)• Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.
Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau sawKetika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa.
Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya,
dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.
Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu.Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.
Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi sawBerkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)
Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi sawDiriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.
Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.
Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjidHassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)
Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).
Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulidsebelumnya perlu saya jelaskan bahwa yg dimaksud Al Hafidh adalah mereka yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan yg disebut Hujjatul Islam adalah yg telah hafal 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya.
1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)
2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.
3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.
4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.
5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab
6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyahberkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.
7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullahdalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”
8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullahdengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.
9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbidg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”
11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”
12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”
13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”
14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiytelah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.
15. Imam assyakhawiy dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi
16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’ dg maulidnya addiba’i
18. Imam ibn hajar al haitsamidg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam
19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar
20. Al Allamah Ali Al Qari’ dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi
21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji
23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad
24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’
25. Imam Ibrahim Assyaibaniy dg maulid al maulid mustofa adnaani
26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”
27. Syihabuddin Al Halwanidg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif
28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar
29. Asyeikh Ali Attanthowiydg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa
30. As syeikh Muhammad Al maghribi dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.
Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan MaulidMengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari kerinduan pada Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.
Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)
Namun sehebat apapun pendapat para Imam yg melarang berdiri untuk menghormati orang lain, bisa dipastikan mereka akan berdiri bila Rasulullah saw datang pada mereka, mustahil seorang muslim beriman bila sedang duduk lalu tiba tiba Rasulullah saw datang padanya dan ia tetap duduk dg santai..
Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir,semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw.
Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.
Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan,dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah,
Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)
Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.
contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg wajib .
contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.
Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.
Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.
Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.
Walillahittaufiq
mengenai kejelasan hukum Bid’ah dll telah saya jelaskan dg rinci pada buku saya : “Kenalilah Akidahmu”.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam bishowab

Jawaban Habib Munzir bin Fuad al Musawa (Pimp.Majelis Rasulullah Saw) Mengenai Hukum Maulid Nabi Saw

Posted by: Habib Ahmad | 7 Februari 2011

Mawlid – al-Qardhawi

Mawlid – al-Qardhawi

 

Syaikh Yusuf al-Qardhawi adalah antara ulama kontemporer yang dikenali ramai. Nampaknya Syaikh Yusuf tidaklah termasuk ulama yang membid`ahsesatkan umat yang menyambut Mawlidin Nabi s.a.w. Bahkan beliau menegaskan bahawa tuduhan sesetengah pihak yang anti-mawlid bahawa orang yang mengadakan sambutan peringatan mawlid Junjungan Nabi s.a.w. berbuat bid`ah yang munkarah adalah tuduhan atau kata-kata yang kosong, yang tidak bererti, tidak bermakna dan tidak berfaedah. Maka marilah kita tinggalkanlah perkataan dan tuduhan kosong yang mencemoh umat menyambut hari gembira, hari keputeraan Rasul junjungan s.a.w
Posted by: Habib Ahmad | 7 Februari 2011

Mawlid Barzanji

Mawlid Barzanji

 

Mawlid Barzanji telah masyhur di rantau sebelah kita. Amalan membacanya telah menjadi tradisi masyarakat kita di alam Melayu ini. Ketibaan bulan kelahiran Junjungan Nabi s.a.w. memeriahkan lagi majlis-majlis pembacaan kitab Mawlid Barzanji dan alhamdulillah ianya masih berkekalan sehingga ke saat ini, walaupun dikecam dan disesatkan oleh puak kaum mudah. Sungguh mengherankan bila membaca kitab sirah yang sarat dengan mahabbatur rasul, tiba-tiba hendak diharamkan sebab kononnya bid`ah, kononnya ada unsur pengagungan yang berlebihan, kononnya ada syirik, sedangkan apa yang didakwa syirik dan berlebihan itu hanyalah kesalahan mereka dalam memahami kata-kata Imam al-Barzanji akibat kail mereka yang hanya sejengkal untuk menduga lautan dalam …Allahu … Allah. Syukurlah, amalan bermawlid, bermarhaban dan membaca Barzanji telah mendapat sokongan dan dokongan para ulama kita antaranya seperti di Sarawak ini oleh almarhum Shohibus Samahah Datuk Haji Abdul Kadir Hassan. Datuk Kadir Hassan dalam fatwanya menyatakan:-

 

Soalan:-

Apa pandangan Islam terhadap zikir marhaban seperti diamalkan masyarakat Islam pada hari ini ?

Jawapan:-

  • Pada hakikatnya adalah merupakan sebagai puji-pujian dan mengucap salawat dan salam kepada Junjungan s.a.w.
  • Berdiri ketika sampai kepada bacaan Nabi dilahirkan lalu membawa “Marhaban Jaddal Husaini”, “Ashraqal Badru ‘Alaina” dan lain-lain seterusnya sebagai menghormati Nabi Muhammad s.a.w. adalah amalan-amalan yang baik dan tiada sekali-kali terlarang di dalam syarak, asal jangan berubah kalimat-kalimatnya yang boleh merosak makna.
  • Sayyid Zaini Dahlan, Mufti Besar Imam Syafiee di Mekah (wafat 1304H) berpendapat bahawa mengadakan Maulud Nabi dengan membaca kisah-kisah baginda dan berdiri dan membesarkan Nabi s.a.w. adalah suatu hal yang baik. Dan telah mengerja seperti itu banyak dari ulama-ulama yang menjadi ikutan Ummah. (I`anatuth Tholibin, Juz III halaman 363).
  • Imam Taqiyuddin as-Subki, seorang ulama yang terbesar dalam Mazhab asy-Syafiee (wafat tahun 657H) juga berpendapat bahawa berdiri ketika mendengar kisah Nabi dilahirkan adalah suatu pekerjaan yang baik demi menghormati Nabi.
  • Pendeknya tiadalah diragu-ragukan bahawa mengadakan Zikir Marhaban seperti yang berlaku di dalam masyarakat kita tiadalah sekali-kali tertegah dalam syarak malah ianya adalah termasuk di dalam pekerjaan yang baik.

Selain almarhum Mufti Sarawak tersebut, Shohibus Samahah Datuk Haji Mohd. Yunus bin Mohd Yatim, mufti ke-3 Negeri Melaka, turut mendokong amalan Barzanji. Beliau menyatakan:-

Oleh itu, wahai ikhwah, janganlah terpedaya dengan kata-kata kaum yang suka bermudah-mudah dalam urusan agama ini. Dalam bab makan-minum tak mau pulak mereka nak bermudah-mudah, semua nak sodap, nak nyaman, bila masuk bab agama, senang je lidah tak bertulang mereka mengeluarkan – “tak pa Islam itu mudah”. Ungkapan yang benar tetapi yang dikehendaki mereka dengannya adalah kebatilan. Moga Allah memberi mereka hidayah atau memusnahkan mereka agar padam fitnah yang menimpa umat beragama. Selamat Menyambut Mawlidur Rasul s.a.w., meriahkanlah sambutannya walau karihal Wahhabiyyun.
Posted by: Habib Ahmad | 7 Februari 2011

Detik detik MENYAMBUT KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW

Detik detik MENYAMBUT KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW
Published on February 1, 2011 in Bulan Mawlid / Rabiul Awal and Artikel Islam. 0 Comments
Diriwayatkan dari Imam Shihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-syafi’i di dalam kitabnya “An-ni’matul Kubraa’alal Aalam” di halaman 61.

Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Rabiul Awwal) saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw sudah semakin mendekati, Allah swt semakin melimpahkan bermacam anugerahNya kepada keada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabiul Awwal malam kelahiran Al-Musthofa Muhammad saw.

Pada Malam Pertama (ke 1) :

Allah swt melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga beliau (ibunda Nabi Muhammad saw), Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam ke 2 :

Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad saw yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Allah swt.

Pada malam ke 3 :

Datang seruan memanggil “Wahai Aminah… sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rasulullah saw yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah swt.”

Pada malam ke 4 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan jelas.

Pada malam ke 5 :

Sayyidah Aminah bermimpi dengan Nabi Allah Ibrahim as.

Pada malam ke 6 :

Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad saw memenuhi alam semesta.

Pada malam ke 7 :

Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira sehingga kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak.

Pada malam ke 8 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan jelas mengumandangkan “Bahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat kelahiran Nabi agung, Kekasih Allah swt Pencipta Alam Semesta.”

Pada malam ke 9 :

Allah swt semakin mencurahkan rahmat belas kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah, sakit, dalam jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam ke 10 :

Sayyidah Aminah melihat tanah Tho’if dan Mina ikut bergembira menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw.

Pada malam ke 11 :

Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Sayyidina Muhammad saw.

Malam detik-detik kelahiran Rasulullah, tepat tanggal 12 Rabiul Awwal jam 2 pagi. Di malam ke 12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Saat itu Sayyid Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad saw) sedang bermunajat kepada Allah swt di sekitar Ka’bah. Sayyid Aminah sendiri di rumah tanpa ada seorangpun yang menemaninya.

Tiba-tiba beliau, Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4 wanita yang sangat anggun, cantik, dan jelita diliputi dengan cahaya yang memancar berkemilau serta semerbak harum memenuhi seluruh ruangan.

Wanita pertama datang berkata,”Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang agung, junjungan semesta alam. Beliaulah Nabi Muhammad saw. Kenalilah aku, bahwa aku adalah istri Nabi Allah Adam as, ibunda seluruh uamt manusia., aku diperintahakan Allah untuk menemanimu.”

Kemudian datanglah wanita kedua yang menyampaiakan kabar gembira, “Aku adalah istri Nabi Allah Ibrahim as diperintahkan Allah swt untuk menemanimu.”

Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga,”Aku adalah Asiyah binti Muzahim, diperintahkan Allah untuk menemanimu.”

Datanglah wanita ke empat,”Aku adalah Maryam, ibunda Isa as menyambut kehadiran putramu Muhammad Rasulullah.”

Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad saw yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya berdatangan silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puji-pujian kepada Allah swt dengan berbagai macam bahasa yang berbeda.

Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau bermacam-macam bintang di angkasa yang sangat indah berkilau saling beterbangan.

Detik berikutnya Allah bangun dari singasanaNya dan memerintahkan kepada Malaikat Ridwan agar mengomandokan seluruh bidadari syurga agar berdandan cantik dan rapih, memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutra dengan bermahkota emas, intan permata yang bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian syurga yang harum semerbak ke segala arah. lalu trilyunan bidadari itu dibawa ke alam dunia oleh Malaikat Ridwan, terlihat wajah bidadari itu gembira.

Lalu Allah swt memanggil : “Yaa Jibril… serukanlah kepada seluruh arwah para nabi, para rasul, para wali agar berkumpul, berbaris rapih, bahwa sesungguhnya Kekasihku cahaya di atas cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah mereka mnyambut kedatangan Nabi Muhammad saw.

Yaa Jibril… perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup pintu-pintu neraka dan perintahakan kepada Malaikat Ridwan untuk membuka pintu-pintu syurga dan bersoleklah engkau denagn sebaik-baiknya keindahan demi menyambut kekasihKu Nabi Muhammad saw.

Yaa Jibril… bawalah trilyunan malaikat yang ada di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah KekasihKu Muhammad saw telah siap untuk dilahirkan dan sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman.”

Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi bumi ini dengan trilyunan malaikat. Lalu ibunda Rasulullah saw di bumi, beliau melihat malaikat itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya. Pada saat itu pula mereka semua berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula datanglah burung putih berkilau cahaya mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada saat itu pula lahirlah Muhammad Rasulullah saw dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari Nabi Muhammad saw bersujud kepada Allah seraya mengucapkan, “Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walhamdulillahi katsiro, wasubhanallahibukrotan wa asiilaa.”

Semakin memuncaklah kegembiraan seluruh alam dunia dan semesta dan terucaplah “Yaa Nabi Salam Alaika… Yaa Rasul Salam Alaika… Yaa Habib Salam Alaika… Sholawatullah Alaika.. ”

Matanya bagaikan telah dipakaikan sifat mata, senyum indah terpancar dari wajahnya dan hancurlah berhala-berhala dan bergembiralah semua alam semesta menyambut kelahiran Nabi yang mulia…

http://blog.its.ac.id/syafii/

Posted by: Habib Ahmad | 7 Februari 2011

Ramai pelajar kita terperangkap dalam rusuhan

Ramai pelajar kita terperangkap dalam rusuhan

Kegembiraan terpancar di wajah 7 pelajar perubatan Universiti Alexandaria tajaan sendiri serta melaungkan ucapan terima kasih kepada Kerajaan Malaysia yang membawa mereka keluar dari Mesir dan ditempatkan di Jeddah. – utusan/Zaki Amiruddin

——————————————————————————–

SEPANG 6 Feb. – Terperangkap dalam rusuhan dan hampir dipukul semasa terkepung dalam kumpulan demonstrasi besar-besaran rakyat Mesir yang mendesak Presiden Hosni Mubarak berundur.

Ia adalah detik paling mencemaskan bagi pelajar tahun kedua jurusan perubatan Universiti Alexandria, Khairul Azhar Asaruddin, 21.

Katanya, peristiwa tersebut berlaku ketika dia bersama seorang rakan mahu meninjau keadaan sekitar pada hari kedua rusuhan berlaku.

Beliau berkata, pada mulanya dia menganggap keadaan di tempat rusuhan sudah pulih, namun sebaliknya berlaku apabila masih ramai perusuh berada di kawasan tersebut dan melakukan demonstrasi.

“Kami terperangkap dalam demonstrasi tersebut, malah lebih menakutkan apabila ada segelintir perusuh cuba memukul kami.

“Bagaimanapun kami bernasib baik kerana ada rakyat tempatan memberi pertolongan. Rakyat Mesir tersebut melindungi kami sehingga kami boleh keluar daripada kepungan kumpulan perusuh,” katanya.

Khairul Azhar ditemui pemberita sejurus tiba di Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur (KLIA) di sini hari ini.

Selain itu, katanya, ramai pelajar Malaysia terkepung dalam rusuhan kerana maklumat sebenar tahap keseriusan kucar-kacir yang berlaku di Mesir tidak diketahui kerana semua perhubungan untuk mengetahui situasi semasa disekat.

“Bagaimanapun kesemua mereka bernasib baik kerana tidak ditimpa sebarang kecederaan.

“Ia juga disebabkan oleh sikap rakyat Mesir yang menghormati warga asing lebih-lebih lagi dari Malaysia,” katanya.

Seorang lagi penuntut jurusan perubatan universiti Al-Azhar, Azzatulfatonah Salim, 19, berkata, kejadian berbalas tembakan dan pergaduhan boleh dikatakan menjadi sajian mata setiap hari ketika Mesir bergolak.

Katanya, bagi mengelakkan kejadian tidak diingini berlaku dia terpaksa berkurung di dalam rumah selama beberapa hari bersama rakan-rakan.

“Alhamdulillah, tiada kejadian tidak diingini berlaku. Namun bekalan makanan tidak mencukupi dan kami perlu berjimat cermat sehingga bantuan sampai.

“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pegawai yang bertugas di rumah Sabah yang banyak membantu dalam menjaga keselamatan kami semasa demonstrasi berlaku,” katanya.

Dalam pada itu, pelajar jurusan perubatan Universiti Zargaziq, Dayana Nali, 19, berkata, dia hanya mampu berdoa serta menunaikan solat hajat setiap hari supaya keselamatannya dilindungi dan dijauhkan dari sebarang kecelakaan berikutan keadaan huru-hara yang berlaku di Mesir.

“Setiap hari saya mendengar bunyi bising dentuman bom petrol. Ia mencetuskan perasaan takut dan menyebabkan keselamatan saya dan teman serumah tidak selamat.

“Walaupun saya tidak pernah nampak suasana sebenar tunjuk perasaan itu dan hanya mendengarnya daripada cakap-cakap orang, ia sedikit sebanyak menimbulkan rasa gerun di hati kami,” katanya.

Menurut Dayana, kejadian pecah masuk rumah oleh penunjuk perasaan dan banduan yang terlepas juga menambah lagi kebimbangan.

Difahamkan, sekurang-kurangnya 49 pelajar Malaysia masing-masing 46 dari Sabah dan tiga dari Sarawak tiba di KLIA pada pukul 8.40 pagi hari ini atas perbelanjaan yang dibiayai oleh kerajaan negeri Sabah melalui penerbangan Qatar Airway.

Ketibaan pelajar tajaan Yayasan Sabah itu disambut oleh Ketua Setiausaha Politik kepada Ketua Menteri Sabah, Nizam Abu Bakar Titingan.

Posted by: Habib Ahmad | 7 Februari 2011

Salam Mawlid

Salam Mawlid

Bulan kelahiran Junjungan Nabi SAW menjelang lagi. Marilah kita meluangkan masa untuk memperingati baginda teristimewa pula pada saat-saat kelahiran baginda yang membawa rahmat dan nikmat yang tiada tara bagi kita. Lumrah bagi kita untuk menanti-nanti, menunggu-nunggu dan memperingati hari kelahiran diri kita, isteri kita, anak-anak kita, maka di mana celanya jika kita juga memperingati hari kelahiran manusia yang paling utama dan yang paling berjasa terhadap kita melebihi jasa ibu dan ayah kita. Maka amatlah wajar jika kita memberikan perhatian untuk memperingati kelahiran Baginda SAW.

Kita peringati kelahiran baginda, antaranya; dengan muhasabah diri; sejauh mana kita mencintai baginda, sejauh mana kita mengikuti ajaran baginda, sejauh mana kita memuliakan baginda, anak cucu baginda dan segala waris baginda daripada kalangan ulama yang muktabar. Kita peringati kelahiran baginda dengan melakukan berbagai amal kebajikan seumpama bersedekah, berjamu makan, membaca al-Quran, berzikir, bersholawat, berqasidah memuji baginda dan sebagainya. Ingatlah kepada baginda setiap saat dan ketika, kerana baginda itu lebih utama daripada diri kita. Jika terdetik rasa diri yang hina mendahului baginda, itu tanda berkurangnya iman di dada. Hayati firman Allah Tuhan seru sekalian alam dalam surah al-Ahzab ayat 6:

“Nabi Muhammad SAW itu lebih utama bagi orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri”

Maka berilah perhatian sewajarnya kepada Junjungan Nabi SAW, wahai mereka-mereka yang mengaku beriman dan umatnya baginda. Telah menulis ‘Alim terkemuka, Sayyidul Ulama al-Hijaz, al-‘Alim al”Allaamah asy-Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi ‘alaihi rahmatul Baari dalam karya beliau : “Fathush Shomad al-‘Aalim ‘ala Mawlid asy-Syaikh Ahmad bin al-Qaasim” pada halaman 48 sebagai berikut:-

Tanbih: Para ulama telah menyatakan bahawa sudah sewajarnya bagi seseorang untuk menampakkan sikap memperindah dan menghias dirinya dengan memakai pakaian-pakaian bagus pada malam kelahiran baginda Nabi yang mulia,. Ini adalah kerana baginda adalah harapan kita di akhirat nanti (yakni simpanan harapan untuk mendapatkan syafaat nanti). Mudah-mudahan Allah merahmati seseorang yang menjadikan malam-malam pada bulan kelahiran Junjungan Nabi SAW yang berkat ini seumpama hari-hari perayaan (yakni saat – saat yang sentiasa ditunggu-tunggu dengan penuh kegembiraan dan kesyukuran). Telah berkata Syaikh al-Mudabighi (yakni ‘Alim Syafi`i yang tangguh, Syaikh Hasan bin ‘Ali bin Ahmad asy-Syafi`i al-Azhari al-Mudabighi alaihi rahmatul Baari): ” Memberikan perhatian dan mengambil berat terhadap waktu mawlid Baginda Nabi yang mulia adalah di antara sebesar-besar cara untuk bertaqarrub. Ianya terhasil dengan memberikan makanan (bersedekah), membaca al-Quran dan qasidah-qasidah mengenai Baginda Nabi dan seumpamanya daripada segala sesuatu yang tidak termasuk perkara haram atau makruh ataupun khilaful awla. ”

Wajar patut kita bersukacita
Atas kelahiran Nabi yang mulia
Bahkan sekalian alam dan isinya
Dengan penuh kegembiraan menyambut Baginda
Jadi kenapa harus kita berbeza

Hanya Iblis atasnya laknat Tuhan Semesta
Juga pengikutnya daripada jin dan manusia
Bermuram durja bermasam muka
Tika lahir Nabi yang mulia

Dengan siapa hendak kita serupakan diri kita ????

http://bahrusshofa.blogspot.com/2011/02/salam-mawlid.html

Renungan Mukaddimah Syaikh Prof Dr. Sa’id Ramadhan Al-Buti pada kitabnya Alla Mazhabiyyatu.
Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan empunya sekalian Alam, Tiada Ia berhajat kepada selain-Nya, malah selain-Nya lah yang berhajat kepada-Nya. Selawat dan salam semoga dilimpahkan Allah SWT ke atas junjungan kita Sayyidina Nabi Muhammad SAW (Ya Allah tempatkan baginda di tempat yang terpuji sepertimana yang Kau janjikan Amin) Beserta Ahlulbayt dan Para Sahabat R.anhum yang mulia lagi mengerah keringat menyebarkan Islam yang tercinta. Dan kepada mereka yang mengikut mereka itu dari semasa ke semasa hingga ke hari kiamat…Ya Allah Ampuni kami, Rahmati Kami, Kasihani Kami …Amin

Amma Ba’du,

Kali ini faqir mahu berkongsi dengan saudara/i yang dikasihi sekalian akan faedah yang didapati pada Mukaddimah Syaikh Prof. Dr. Sa’id Ramadhan Al-Buti HafizahUllah di dalam kitab beliau Alla Mazhabiyyatu Bid’atin Tuhaddidu Asy-Syarii’ata Al-Islamiyyah. Kitab tersebut telah diterjemahkan oleh Al-Fadhil Kiyai Haji Abdullah Zaki Al-Kaaf, terbitan Pustaka Setia dengan judul Bahaya Bebas Mazhab Dalam Keagungan Syariat Islam. Mukaddimah Syaikh yang mulia ini menjelaskan kepada kita keadaan sebenar yang berlaku pada Islam masa kini di mana telah muncul segolongan manusia yang mencampakkan keraguan kepada orang awam untuk berpegang kepada salah satu dari mazhab Islam yang muktabar. Semoga ada manfaatnya, InsyaAllah :

Segala puji dan syukur bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Salawat dan salam Allah semoga tetap terlimpah kepada junjungan kita semua, Nabi Agung Muhammad SAW yang telah diutus-Nya untuk membawa syariat yang menjamin kebahagiaan makhluk di dunia dan akhirat. Juga kepada segenap para keluarga serta para sahabatnya.

Amma Ba’du,

Sesungguhnya kami sangat berharap mendapatkan kesempatan untuk menulis buku ini. Sudah lamai kami ingin terlepas dari berbagai kesibukan apapun untuk menekuni dan mempelajari keadaan umat Islam yang dewasa ini sedang kejangkitan virus penyakit yang sangat membahayakan dan sudah meresap ke dalam jiwa mereka sehingga mereka kehilangan segala-galanya, berpecah belah, dan terhina. Apabila dalam waktu dekat , mereka tidak sanggup menolong dirinya, penyakit ini akan terus bermaharajalela dan menghancurkan mereka.

Sudah lama pula kami menginginkan untuk tidak menyibukkan diri dengan urusan kecil yang semestinya tidak perlu dipermasalahkan sehingga lalai menangani masalah yang sangat penting ini. Akan tetapi, apa yang harus Anda perbuat bila pada saat akan menangani masalah yang berat ini, tiba-tiba datang kepada Anda orang yang mempersoalkan masalah yang semestinya tidak perlu dipersoalkan dan bahkan mengganjal usaha Anda dikeranakan masalah-masalah tersebut sudah berubah menjadi masalah yang selalu diperdebatkan dan patut pula dibahas serta dipelajari ?

Apa yang akan Anda lakukan bila ketika Anda akan menuju ke poliklinik untuk menyelamatkan jiwa seseorang yang sedang berlumuran darah dan tubuhnya lemah kerana banyaknya darah yang keluar, kemudian datang orang lain yang berusaha membawanya ke pemandian untuk membersihkan darahnya lalu membawanya ke tempat perawatan kecantikan ? Apakah Anda dapat melihat jalan lain untuk menyelamatkan jiwa orang tersebut selain merebutnya dari tangan si gila tadi dan segera membawanya ke doktor ?

Sesungguhnya musibah yang dihadapi oleh umat Islam sekarang ini ialah adanya penyimpangan pola fikiran, kekurangan moral, dan penyelewengan ideologi ! Segenap penulis dan para pemikir Islam semstinya harus menengani tiga masalah ini. Akan tetapi , kita menemui kesulitan untuk menanganinya kerana dihadapkan pada masalah lain yang tidak mungkin dibiarkan berlarutan sehingga menimbulkan bencana baru yang cukup berat lagi rumit.

Kita tidak mungkin meluruskan kepincangan-kepincangan yang ada baik dari segi moral , etika, dan keimanan kalau masih terhalang oleh masalah lain yang cukup membingungkan mereka, yaitu masalah “taqlid kepada imam-imam itu adalah kufur, bermazhab kepada salah satu mazhab adalah sesat kerana menganggap imam mazhab tersebut sebagai Tuhan selain Allah.”

Bagi seorang Muslim yang baru sahaja masuk Islam, setelah memperhatikan slogan kufur, sesat, dan semacamnya ditujukan kepada Kaum Muslimin, bahkan kepada Imam-Imam mereka, padahal dia tertarik kepada Islam disebabkan mereka, maka dia akan beranggapan bahawa lembaran sejarah kaum Muslimin hanya berisi orang-orang murtad, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyeleweng dari kebenaran. Oleh kerana itu, ia akan berusaha untuk membebaskan diri dari belenggu taqlid kepada Imam-Imam Mazhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali), dan mencuba memahami syariat Islam langsung dari sua sumbernya, yaitu Al-Quran Al-Karim dan Al-Hadis Al-Syarif, tetapi ia menemui kesulitan juga dan tetap dalam kebingungan.

Sesungguhnya kejadian yang kami kemukakan di atas bukanlah lamunan kosong, tetapi benar-benar kenyataan yang terjadi, yang kami saksikan sendiri dengan mata kepala kami.

Perlu kami sampaikan bahawa seorang Mahasiswa Fakulti Sastera di Universiti Damaskus telah menghadap kepada kami. Dia bercerita bahawa ia baru masuk Islam dan sudah melakukan ibadah menurut Mazhab Syafi’i kerana Fiqih Syafi’i itulah yang baru dipelajarinya sedikit-sedikit. Kemudian dia menemukan satu risalah yang berisi penjelasan bahawa seseorang muslim tidak diperbolehkan menetapi satu mazhab tertentu dari mazhab Empat dan barang siapa yang melakukan hal yang demikian, dia menjadi Kafir dan tersesat dari garis ajaran Islam, serta dia wajib mengambil Hukum Islam langsung dari Kitab dan Sunnah. Lalu mahasiswa tersebut menyatakan bahawa dia kurang mampu membaca Al-Quran menurut ketentuan ilmu qira’ah yang tepat untuk memahami arti dan hukum-hukum Islam yang terkandung di dalamnya. Apakah yang harus dia perbuat ?

Demikian pertanyaan mahasiswa tersebut.

Jawapan apa yang harus kami berikan kepadanya atas pertanyaannya itu ? Apakah kami harus mengatakan kepadanya bahawa kami sedang sibuk menangani masalah-masalah besar yang menyangkut kepentingan Kaum Muslimin sehingga tidak patut menangani soal-soal kecil seperti yang dipertanyakan olehnya tadi ?

Kemudian, apakah hanya dia sahaja yang mengalami kesulitan ini sehingga untuk menunjukkan jalan yang benar cukup dengan menatap muka dan memberikan penjelasan langsung kepadanya tanpa menimbulkan kesulitan yang baru bagi masyarakat yang luas ?

Ternyata apa yang dialami oleh mahasiswa tadi menyangkut ratusan bahkan ribuan orang. Lantaran Kitab yang ditulis Syaikh Khajandi , mereka jadi bingung dan ragu-ragu tentang permsalahannya dan keislaman mereka. Mengingat hal tersebut , tidak ada jalan lain, kecuali membahas masalah ini secara terbuka dan juga harus menganggapnya sebagai sebahagian persoalan besar yang mesti diselesaikan. Demikian kehendak orang-orang itu, dan mereka pun mengkehendaki kami juga berbuat demikian.

Sesungguhnya pantas untuk disesalkan kalau kami terpaksa terjun langsung mambicarakan masalah masalah yang sebenarnya tidak perlu dibicarakan. Kaum Muslimin sejak dahulu hingga sekarang cukup mengetahui dengan gamblang lagi jelas bahawa manusia tebahagi dua yaitu :

1) Mujtahid, yakni orang yang melakukan Ijtihad.

2) Muqallid, yakni orang yang taqlid. Bagi seorang muqallid diperbolehkan mengikuti salah seorang mujtahid dan menetapi selama-lamanya tanpa berpindah pada Imam yang lain.

Kemudian timbullah segolongan Umat yang pada waktu sekarang ini membuat kegiatan dengan pendapat yang aneh dan ganjil, yaitu mengkafirkan orang yang bermazhab dan menyatakan abahawa menigukti Al-Kitab dan As-Sunnah adalah mengikuti yang ma’shum (yang terpelihara dari kesalahan), sedangkan mengikuti Imam-Imam Mazhab Empat beerti mengikuti yang tidak mas’shum . Dengan demikian, wajib bagi semua orang untuk mengikuti yang ma’shum dan menghindari untuk mengikuti ghoer ma’shum (tidak terpelihara dari kesalahan). Demikianlah pendapat mereka.

Padahal setiap manusia yang mempunyai akal sehat pasti mengetahui bahawa seandainya semua orang tahu bagaimana caranya mengikuti yang ma’shum, serta mengetahui cara memahami apa yang dimaksud dari ucapannya, sudah tentu manusia tidak akan terbahagi menjadi dua, yaitu Mujtahid dan Muqallid, dan Allah SWT pun tidak akan berfirman kepadfa golongan kedua :

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu, jika kami tidak mengetahui.”

Allah SWT memerintahkan mereka untuk mengikuti Ahli Ilmu, padahal ahli ilmu itu tidak ma’shum, dan tidak memerintahkan mereka kembali kepada lafaz ‘Kitab dan Sunnah’, padahal keduanya adalah ma’shum.

Memang suatu hal yang sangat memprihatinkan kalau kita terpaksa menjelaskan masalah yang sebenarnya cukup gamblang bagi orang yang berakal. Akan tetapi, golongan Anti Mazhab telah menyebarluaskan buku yang berjudul Apakah Setiap Muslim Wajib Mengikuti Mazhab Tertentu dan Mazhab Empat ? karya tulian Syaikh Muhammad Sulthan Al-Ma’shumi Al-Makki, guru pengajar di masjidil haram, Mekah.

Buku tersebut mengkafirkan orang yang mengikuti salah satu mazhab dari mazhab empat dan menyifati orang-orang yang taqlid kepada imam mujtahid sebagai orang yang tolol, bodoh, dan sesat. Juga dikatakan bahawa orang-orang taqlid itu memecah belah agama sehingga mereka terbahagi menjadi beberapa golongan, dan dikatakan pula mereka itulah yang termasuk orang-orang yang difirmankan Allah SWT :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah.”

Merekalah orang-orang yang rugi amalnya, yaitu orang-orang yang sesat jalannya dalam kehidupan dunia, dan, mereka mengira perbuatannya itu adalah baik.

Buku risalah Al-Khajandi ini disebarluaskan di kalangan umat Islam, baik golongan awam, mahasiswa, mahasiswi, pegawai, dan lain-lainya. Sebahagian besar dari mereka bertanya kepada kami , “Apa yang harus mereka perbuat ?” dan mereka pun menampakkan sikap kebingungannya kepada kami.

Seseorang di antara mereka datang kepada kami dan dengan rasa bangga menyatakan :

“Apakah Anda tidak mengetahui bahawa sesungguhnya ilmu fiqih dan syariat Islam yang Anda ajarkan selama ini dengan susah payah sebenarnya hanyalah buah fikiran dari para imam Mazhab tentang masalah-masalah hukum yang mereka rangkaikan dengan Al-Quran dan As-Sunnah ?”

Sambil berucap demikian, dia menunjukkan kepada kami dalil-dalil yang terdapat pada buku Syaikh Khajandi di atas. Selanjutnya, dia berkata :

“Sudah lama kami ingin mengatakan bahawa Islam tidak lain hanyalah melaksanakan lima rukun yang cukup dikenal. Seorang Arab Badwi pun dalam waktu sekejap sanggup menghafalnya kemudian mengamalkannya, inilah Islam. Akan tetapi, Anda mempunyai anggapan bahawasanya Al-Kitab dan As-Sunnah mengandung hukum pemerintahan, hukum pidana, hukum kenegaraan, dan Islam itu adalah agama dan negara. Semuanya adalah bohong, sebagaimana telah ditegaskan oleh guru besar Masjidil Haram (Mekah) (yakni Al-Khajandi..pent).”

Menghadapi kenyataan yang sangat menyedihkan ini, apa yang harus kami lakukan ? Apakah kami harus berdiam diri untuk memuaskan hati kelompok masyarakat yang menganggap bahawa membahas masalah ini beerti melepaskan tanggungjawab dari persoalan yang lebih penting ? Apakah ada masalah yang lebih penting daripada mengatasi kebingungan masyarakat yang keadaannya telah kami ungkapkan ?

Apakah ada persoalan yang lebih penting daripada menjelaskan bahawa ribuan orang-orang Alim pengikut Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali bukanlah orang-orang kafir dan tersesat , dan juga bukan orang-orang yang bodoh, tolol serta pikun. Akan tetapi, mereka adalah pemuka-pemuka Kaum Muslimin dan kepada merekalah dipulangkan segala keutamaan dalam membela dan mempertahankan benteng syariat islam serta menyampaikan kepada seluruh Umat Islam.

Apakaha ada yang lebih penting daripada memberikan penjelasan tentang penulis buku yang dengan engaja menyebarkan kebohongan kaum Orientalisten, yang dciptakan oleh seorang Orientalis berkebangsaan Jerman, yaitu Schacht yang terkenal sangat benci terhadap Islam bahawa Fiqh Islam adalah undang-undang ciptaan otak manusia yang disandarkan pada AL-Quran dan As-Sunnah. Bahkan, yang juga dipergunakan oleh Syaikh Khajandi dalam awal bukunya, yaitu sesungguhnya kandungan Islam sangat mudah dan sederhana sehingga dalam sekejap sahaja sifahami oleh orang Arab Badawi. kemudia ia pergi dan berkata “Demi Allah, saya tidak akan menambah lebih dari yang tersebut.” lalu dari manakah gerangan datangnya hukum Fiqh yang begitu banyak ?

Demikianlah, apakah masih ada yang lebih penting daripada menjelaskan ucapan yang khurafat dan bathil ini ?

Tidak boleh tidak bahawa kami harus menjelaskan semua persoalan ini dan mengungkapnya secara benar. Meskipun demikian, kami tidak akan menyelipkan dalam fasal-fasal risalah kami dengan apa yang telah dilakukan oleh Syaikh Khajandi dalam buku disebarluaskannya, yaitu kata-kata Kafir , sesat, tolo, bodoh, taqli buta, dan semacamnya. Bahkan, kami akan menjelaskan masalah secara proposional dan ilmiah, serta menghindari pembicaraan yang berlebihan dan tidak objektif kerana keduanya adalah pangkal bencana yang menimpa para pambahas sekarang ini mahupun sebelumnya.

Kepada Allah Azza wa Jalla sahajalah kami memohon agar kita semua dikembalikan kepada jalan yang benar dan menyucikan jiwa kita dari sifat-sifat yang buruk, yaitu fanatik dan tipu daya Syatihan.

Sesungguhnya Allah Maha lembut dan Maha waspada.

Syaikh Prof. Dr. Sa’id Ramadhan Al-Buti.

Tamat.

Wallahu Yahdi ila sawaissabil…

Selawat dan salam sebanyaknya semoga dilimpahkan Allah SWT ke atas junjungan besar kita Sayyidina Nabi Muhammad SAW. (Ya Allah Tempatkanlah Junjungan kami di tempat yang terpuji sepertimana yang Kau janjikan..Amin) Beserta para sahabat dan Ahlulbayt r.anhum yang sangat kasih mereka itu kepada umat ini.Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tiada Daya Upaya melainkan Allah SWT.,

Dan Allah jua yang memberi petunjuk dan Allah SWT Maha Mengetahui..

Jazakallah Khairan Kathira…(^_^)

Al-Faqir wal Haqir indallah,

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori