Posted by: Habib Ahmad | 24 Ogos 2015

Amaliyah Maulid: Tradisi Bernilai Ibadah

Moh. Ma’ruf Khozin

Sebagai pembuka bahasan ini saya ucapkan terimakasih kepada teman kita Ust. Abd Rasyid yang telah memberi pengetahuan tentang fatwa yang melarang amaliyah Maulid (meski sudah beredar lama di internet), khususnya yang telah memberi kejutan kepada saya sehingga saya merasa berkewajiban untuk turut menulis ‘anti tesis’ dari kutipan diatas. Sebab secara kebetulan, saya di Surabaya juga berkecimpung dalam masalah ini yaitu pembelaan atas amaliyah-amaliyah NU, sekedar membantu senior-senior saya seperti KH Abdurrahman Navis, Ust. Idrus Romli dan sebagainya.

Maulid Nabi Saw Sebagai Tradisi
Maulid Nabi Muhammad Saw bukanlah ibadah, tetapi sebuah tradisi,. Sebab kalau ibadah maka sudah pasti ada tuntunan tentang waktu, tatacara dan sebagainya, baik dalam al Quran maupun Hadis. Karena Maulid bukan ibadah, maka boleh saja tidak melakukan Maulid tetapi tidak boleh mengharamkannya bagi para pecinta Maulid. Kendatipun Maulid adalah sebuah tradisi, namun di dalamnya mengandung nilai-nilai ibadah seperti membaca shalawat, sedekah, membacakan kisah Rasulullah, dan lain-lain. Oleh karenanya Imam al-Ghazali memiliki istilah yang indah:
إِذَا لَمْ يَحْرُمِ اْلآحَادُ فَمِنْ أَيْنَ يَحْرُمُ الْمَجْمُوْعُ (إحياء علوم الدين للامام الغزالي 2 / 273)
“Jika secara satu persatu (partikel) tidak ada yang haram, lalu darimana secara keseluruhan menjadi haram?” (Ihya Ulumiddin II/273)
Disisi lain, larangan meninggalkan sesuatu harus berdasarkan dalil dari Rasulullah saw, sebagaimana firman Allah:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا …. ﴿الحشر : ٧﴾
” Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Al Hasyr: 7)
Dan ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw:
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ (رواه البخاري ومسلم واللفظ له)
“Apapun yang aku larang, maka jauhilah perbuatan tersebut. Dan apapun yang aku perintahkan, maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian” (HR al Bukhari dan Muslim)
Pertanyaannya, adakah dalil yang melarang melakukan tradisi amaliyah Maulid?

Bid’ah Tidak General dan Bid’ah Bukan Hukum
Sudah lama di Surabaya dikenal istilah GAM (gerakan anti Maulid). Biasanya yang mereka suguhkan sudah pasti dalil tentang bid’ah. Namun ulama sepakat bahwa tidak semua bid’ah sesat dan dilarang. Berikut kutipan ulama ahli hadis:

Al Hafidz Ibnu Hajar
وَالْمُرَادُ بِهَا (اَيِ الْمُحْدَثَاتِ) مَا أُحْدِثَ وَلَيْسَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ وَيُسَمَّى فِي عُرْفِ الشَّرْعِ بِدْعَةً . وَمَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ يَدُلُّ عَلَيْهِ الشَّرْعُ فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ (فتح الباري على شرح البخاري 13-253)
“Yang dimaksud dengan ‘al muhdatsat’ adalah sesuatu yang baru yang tidak ada dasarnya dalam agama, hal inilah yang disebut bid’ah dalam agama. Sementara sesuatu yang baru yang memiliki dasar dalam agama tidak disebut bid’ah” (Fathul Bari Syarah Sahih al Bukhari 13/253. Berikutnya al Hafidz Ibnu Hajar mmenyampaikan dalil dari sebuah hadis yang memperbolehkan melakukan amaliyah Maulid)

Imam al-Syafi’i
Beliau berkata:
قَالَ الشَّافِعِي الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمٌ أخرجه أبو نعيم بمعناه من طريق إبراهيم بن الجنيد عن الشافعي وجاء عن الشافعي أيضا ما أخرجه البيهقي في مناقبه قال المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال وما أحدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة انتهى وقسم بعض العلماء البدعة إلى الأحكام الخمسة وهو واضح (فتح الباري على شرح البخاري 13-253)

“Bid’ah ada dua, terpuji dan tercela. Sesuatu yang sesuai dengan sunah, maka bid’ah tersebut adalah terpuji. Dan sesuatu yang bertentangan dengan sunah, maka bid’ah tersebut tercela” (Fathul Bari Syarah Sahih al Bukhari 13/253)

Imam al-Nawawi
Lebih tegas lagi Imam al Nawawi mentakhshish keumuman hadis tentang bid’ah (Kullu bid’atin dlalalah) dengan hadis yang sahih riwayat Muslim berikut ini:
(مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ) …. وَفِي هَذَا الْحَدِيث تَخْصِيصُ قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” كُلّ مُحْدَثَة بِدْعَة وَكُلّ بِدْعَة ضَلَالَة ” ، وَأَنَّ الْمُرَاد بِهِ الْمُحْدَثَات الْبَاطِلَة وَالْبِدَع الْمَذْمُومَة ، وَقَدْ سَبَقَ بَيَان هَذَا فِي كِتَاب صَلَاة الْجُمُعَة ، وَذَكَرْنَا هُنَاكَ أَنَّ الْبِدَع خَمْسَة أَقْسَام : وَاجِبَة وَمَنْدُوبَة وَمُحَرَّمَة وَمَكْرُوهَة وَمُبَاحَة . اهـ شرح النووي على مسلم (ج 3 / ص 461)

Syaikh Izzuddin bin Abdissalam
Bid’ah bukanlan sebuah hukum dalam Islam, bahkan bid’ah disesuaikan dengan konteks hukum yang ada, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Izzuddin bin Abdissalam:
الْبِدْعَةُ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى وَاجِبَةٍ وَمُحَرَّمَةٍ وَمَنْدُوْبَةٍ وَمَكْرُوْهَةٍ وَمُبَاحَةٍ. قَالَ وَالطَّرِيْقُ فِي ذَلِكَ أَنْ تُعْرَضَ الْبِدْعَةُ عَلَى قَوَاعِدِ الشَّرِيْعَةِ فَإِذَا دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ اْلإِيْجَابِ فَهِيَ وَاجِبَةٌ، أَوْ فِي قَوَاعِدِ التَّحْرِيْمِ فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ، أَوِ النَّدْبِ فَمَنْدُوْبَةٌ، أَوِ الْمَكْرُوْهِ فَمَكْرُوْهَةٌ، أَوِ الْمُبَاحِ فَمُبَاحَةٌ. اهـ قواعد الأحكام في مصالح الأنام (2 / 173)
“Bid’ah terbagi menjadi 5, wajib, haram, sunah, makruh dan mubah. Metode untuk mengetahuinya adalah dengan membandingkan bid’ah dengan kaidah dalam agama. Jika bid’ah masuk dalam kaidah wajib, maka bid’ah tersebut hukumnya wajib. Jika masuk dalam kaidah haram, maka menjadi haram. Jika masuk dalam kaidah sunah, maka menjadi sunah. Jika masuk dalam kaidah makruh, maka menjadi makruh. Jika masuk dalam kaidah boleh, maka menjadi boleh.” (Qawaid al Ahkam II/173. Pendapat ini juga diperkuat oleh al Hafidz Ibnu Hajar, Imam al Nawawi dan lainnya)

Pendapat Ulama tentang Maulid Nabi Saw

Al Hafidz Ibnu Hajar
Syaikhu al Islam Al Hafidz Ibnu Hajar telah ditanya tentang amaliyah Maulid, kemudian beliau menjawab:
أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ وَلَكِنَّهَا مَعَ ذَلِكَ قَدِ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا فَمَنْ تَحَرَّى فِي عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَ بِدْعَةً حَسَنَةً، وَإِلاَّ فَلاَ. (حسن المقصد في عمل المولد ص 17)
“Pokok utama dalam amaliyah Maulid adalah bid’ah yang tidak diriwayatkan dari ulama salaf as shalih dari tiga generasi (sahabat, tabi’in, dan atba’ at tabi’in). Akan tetapi Maulid tersebut mengandung kebaikan-kebaikan dan sebaliknya. Maka barangsiapa yang berusaha meraih kebaikan dalam Maulid dan menjauhi yang buruk, maka termasuk bid’ah yang baik. Jika tidak, maka disebut bid’ah yang buruk”
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: Telah jelas bagi saya dalam menggali dalil Maulid dari sumber dalil yang sahih. Yaitu hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ الْيَهُوْدَ يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَسَأَلَهُمْ ؟ فَقَالُوْا هُوَ يَوْمٌ أَغْرَقَ اللهُ فِيْهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَى مُوْسَى فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ شُكْرًا ِللهِ تَعَالَى
“Ketika Rasulullah Saw datang ke Madinah, beliau menjumpai kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura’ (10 Muharram), kemudian Nabi menanyakan kepada mereka? Mereka menjawab: Asyura’ adalah hari dimana Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa. Maka kami berpuasa pada hari Asyura’ sebagai bentuk syukur kepada Allah”
Dari hadis ini bisa diambil satu faidah diperbolehkannya melakukan syukur kepada Allah atas anugerah dari-Nya di hari tertentu, baik mendapatkan nikmat atau terlepas dari musibah, dan hal tersebut bisa dilakukan secara berulang kali setiap tahun. Bersyukur kepada Allah dapat diwujudkan dengan berbagai ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah dan membaca al Quran. Dan manakah nikmat yang lebih agung daripada kelahiran seorang Nabi, Nabi pembawa rahmat, di hari tersebut? Dari uraian ini dianjurkan untuk berusaha untuk menyesuaikan dengan hari kelahirannya agar sesuai dengan kisah Musa di hari Asyura’. Ulama yang tidak memperhatikan masalah ini, dia tidak mempedulikan di hari apa saja ia melakukan Maulid di bulan Rabiul Awal. Bahkan ada sekelompok ulama yang memberi kelonggaran untuk mengamalkan Maulid di hari apapun dalam satu tahun. Ini adalah terkait dalil Maulid.
Sedangkan apa sajakah yang harus diamalkan dalam Maulid? Maka dianjurkan untuk sekedar melakukan hal-hal yang difahami sebagai bentuk syukur kepada Allah sebagaimana yang telah dijelaskan. Yaitu membaca al Quran, memberi makanan, sedekah, melantunkan pujian tentang kenabian dan syair-syair zuhud yang dapat menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amal untuk akhirat. Acara lain yang mengiringinya, seperti nyanyian, hal yang tak berguna dan sebagainya, maka sebaiknya diperinci sebagai berikut: “Sesuatu yang diperbolehkan dari nyanyian tersebut yang dapat ditolerir untuk dilakukan pada hari tersebut sebagai bentuk rasa suka cita, maka tidak apa-apa untuk diqiyaskan. Sementara sesuatu yang haram atau makruh, maka harus dicegah. Begitu pula yang menyalahi hukum keutamaan”. Demikian penjelasan al Hafidz Ibnu Hajar.

Al Hafidz Jalaluddin al Suyuthi
قَدْ وَقَعَ السُّؤَالُ عَنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِي فِي شَهْرِ رَبِيْعِ اْلأَوَّلِ، مَا حُكْمُهُ مِنْ حَيْثُ الشَّرْعُ ؟ وَهَلْ هُوَ مَحْمُوْدٌ أَوْ مَذْمُوْمٌ ؟ وَهَلْ يُثَابُ فَاعِلُهُ أَوْ لاَ ؟
الْجَوَابُ : عِنْدِي أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةِ اْلأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنَ اْلآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهْمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَاْلاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ (حسن المقصد في عمل المولد ص 6)
Sungguh telah muncul pertanyaan tentang amaliyah Maulid Nabi di bulan Rabi’ul Awal, apa hukumnya dalam pandangan agama? Apakah hal itu terpuji atau tercela? Dan apakah pelakunya mendapatkan pahala atau tidak?
Jawab: Menurut saya, bahwa subtansi dari maulid yang berupa berkumpulnya banyak orang, membaca al Quran, membaca kisah-kisah Nabi Muhammad mulai beliau diutus menjadi Rasul dan hal-hal yang terjadi saat kelahirannya yang terdiri dari tanda-tanda kenabian, dilanjutkan dengan suguhan hidangan untuk makan bersama kemudian selesai tanpa ada tambahan lagi, maka hal ini tergolong bidah yang baik, yang pelakunya mendapatkan pahala karena ia mengagungkan derajat Nabi Muhammad Saw, menampakkan rasa senang dan kebahagiaan dengan kelahirannya yang mulia.

Ibnu Taimiyah
Ulama yang sangat dikagumi oleh aliran Wahhabi yang anti Maulid, Ibnu Taimiyah, justru memperbolehkan melakukan Maulid:
فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مُوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (اقتضاء الصراط المستقيم لابن تيمية 2 / 126)
“Mengagungkan Maulid dan menjadikannya perayaan musiman telah dilakukan oleh sebagian ulama, dan dia mendapatkan pahala yang agung karena memiliki tujuan yang baik dan mengagungkan kepada Rasulullah Saw” (Iqtidla’ as Shirat al Mustaqim II/126)

Al Hafidz al-Dzahabi
Orang yang pertama kali memperbarui pelaksanaan Maulid adalah penguasa Irbil, Raja al Mudzaffar Abu Said Kukburi bin Zainuddin Ali bin Biktikin (549-630 H, ipar Raja Shalahuddin al Ayyubi), salah seorang raja yang agung, besar dan mulia. Ia memiliki riwayat hidup yang baik. Dan dia telah memakmurkan masjid Jami’ al Mudzaffari di Safah Qasiyun. Bahkan al Dzahabi berkata: “Ia raja yang rendah diri, baik, Sunni (pengikut Ahlisunnah wal Jama’ah) dan mencintai ulama fikih dan ahli hadis” (Siyar A’lam an Nubala’, XXII/336)

Al Hafidz Ibnu Katsir
Ibnu Katsir berkata dalam kitab Tarikh-nya, bahwa Malik al Mudzaffar mengamalkan maulid Nabi di bulan Rabi’ul Awal dan melakukan perayaan yang besar. Dia adalah cerdas hatinya, pemberani, tangguh, cerdas akalnya, pandai dan adil. Semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya.

Imam Ahli Qira’ah al Hafidz Syamsuddin Ibnu al Jazari
Beliau berkata dalam kitabnya “Urf al Ta’rif bi al Maulid as Syarif”, dengan redaksi berikut:
قَدْ رُؤِيَ أَبُوْ لَهَبٍ بَعْدَ مَوْتِهِ فِي النَّوْمِ فَقِيْلَ لَهُ مَا حَالُكَ ؟ فَقَالَ فِي النَّارِ إِلاَّ أَنَّهُ يُخَفَّفُ عَنِّي كُلَّ لَيْلَةِ اثْنَيْنِ وَأَمُصُّ مِنْ بَيْنِ أُصْبُعِي مَاءً بِقَدْرِ هَذَا- وَأَشَارَ لِرَأْسِ أُصْبُعِهِ – وَأَنَّ ذَلِكَ بِإِعْتَاقِي لِثُوَيْبَةَ عِنْدَ مَا بَشَّرَتْنِي بِوِلاَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِإِرْضَاعِهَا لَهُ.
“Salah seorang keluarga bermimpi bertemu Abu Lahab setelah kematiannya. Ada yang bertanya kepadanya: Bagaimana keadaanmu? Abu Lahab berkata: Saya di neraka. Hanya saja (siksa) diringankan bagi saya setiap hari senin dan saya meminum air dari jari saya seukuran ini (ia menunjuk ujung jarinya). Hal itu karena saya memerdekakan budak Tsuwaibah ketika dia memberi kabar gembira pada saya tentang kelahiran Nabi Muhammad, dan karena ia menyusui Nabi Muhammad” (HR Bukhari Nomer 5101, al Baihaqi dalam as Sunan al Kubra Nomer 14297, dan dalam Dalail an Nubuwwah I/149.)
Jika Abu Lahab yang kafir dan mendapat celaan dalan al Quran diberi ‘balasan pahala’ di neraka karena kegembiraannya di malam kelahiran Nabi Muhammad Saw, lalu bagaimana dengan seorang muslim yang mengesakan Allah dari ummat Muhammad Saw yang senang dengan kelahirannya dan mengerahkan segala kemampuannya untuk kecintaannya kepada Nabi Muhammad? Saya bersumpah, balasannya dari Allah tidak lain akan memasukkannya ke dalam surga kenikmatan dengan anugerah-Nya.

Al Hafidz Syamsuddin bin Nashiruddin ad Dimasyqi
Beliau berkata dalam kitabnya yang bernama “Maurid as Shadi fi Maulid al Hadi”: Dalam hadis sahih dijelaskan bahwa Abu Lahab diringankan siksanya di neraka pada hari Senin karena telah memerdekakan Tsuwaibah dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Maka saya bersyair:
إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ * وَتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْجَحِيْمِ مُخَلَّدًا
أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ اْلاِثْنَيْنِ دَائِمًا * يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُوْرِ بِأَحْمَدَا
فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِي طُوْلَ عُمْرِهِ * بِأَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَمَاتَ مُوَحِّدًا
“Jika Abu Lahab yang kafir ini telah datang celaannya, dan binasalah kedua tangannya nan kekal di neraka. Diriwayatkan bahwa setiap hari senin ia diringankan siksanya karena bahagia dengan (kelahiran) Nabi Muhammad. Lalu bagaimana dengan seorang hamba yang sepanjang hidupnya berbahagia dengan Muhammad dan mati dalam keadaan membawa tauhid?”

Semoga bermanfaat dan tidak saling menyalahkan. Wallahu A’lam


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: