Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2013

Ternyata Ada Sahabat Nabi dari Indonesia

MELIHAT NABI (shallallahu ‘alaihi wa sallam) DALAM KEADAAN TERJAGA, DALAM FENOMENA HABIB MUNZIR BIN FUAD AL-MUSAWA DAN TUAN GURU IJAI AL-BAJNARI Sejak beberapa waktu yang lalu, alfaqir diminta beberapa teman Ahlussunnah Wal-Jama’ah untuk menanggapi tulisan seorang Ustadz Salafi-Wahabi, Firanda Andirja, yang berjudul “Ternyata Ada Sahabat Nabi dari Indonesia !!! (Fenomena Guru Ijai Al-Banjari dan Habib Munzir).” Setelah saya membaca tulisan tersebut di webnya, ternyata Firanda – hadaahullah -, tidak menulisnya secara ilmiah dan sepertinya kurang mehamami terhadap pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul-Bari yang dikutipnya, dan ia memahaminya dengan terbawa keinginan pribadinya. Berikut jawaban terhadap tulisan tersebut dalam format dialog: WAHABI: “Definisi sahabat –sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqolaani (seorang ulama besar madzhab Syafi’i) adalah : Orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan beriman kepadanya pula. Karenanya barang siapa yang –setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- masih bisa bertemu dengan Nabi dalam keadaan terjaga (tidak tidur) maka ia adalah termasuk jajaran para sahabat.” SUNNI: “Dalam pernyataan di atas, Ustadz Firanda mengutip pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, lalu menyambungnya dengan komentarnya sendiri. Di sini, Firanda melakukan beberapa tindakan yang tidak ilmiah sebagai berikut. Pertama) al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam al-Ishabah: الفصل الأول في تعريف الصحابي وأصح ما وقفت عليه من ذلك (أن) الصحابي من لقي النَّبيّ صَلى الله عَلَيه وسَلم مؤمنا به، ومات على الإسلام “ Fasal pertama, tentang definisi sahabat. Definisi yang paling shahih yang aku temukan, sesungguhnya sahabat adalah orang yang bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman kepadanya, dan mati dalam keadaan Islam”. (Al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, juz 1 hal. 16). Dalam redaksi di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar mendefinisikan sahabat dengan kalimat laqiya, yang artinya bertemu. Sementara fenomena yang dikaji oleh Firanda di atas, adalah tentang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan terjaga. Ada perbedaan antara laqiya (bertemu) dengan ro’aa (melihat). Kedua) al-Bukhari meriwayatkan dalam al-Shahih: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من رآني في المنام فسيراني في اليقظة Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka akan melihatku dalam keadaan terjaga.” Hadits di atas sengaja tidak dikaji terlebih dahulu oleh Firanda, karena dalam redaksinya jelas ada kalimat, “akan melihatku dalam keadaan terjaga”, dan hal ini akan membuka penipuan Firanda dalam kalimat yang disambungnya terhadap definisi al-Hafizh Ibnu Hajar di atas, yaitu menggiring pembaca agar membahas persoalan bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketiga) Firanda melanjutkan definisi sahabat di atas dengan berkata: “Karenanya barang siapa yang –setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- masih bisa bertemu dengan Nabi dalam keadaan terjaga (tidak tidur) maka ia adalah termasuk jajaran para sahabat”. Perkataan di atas, jelas murni dari Firanda, dengan mengubah kosa kata melihat dalam fenomena yang dikaji menjadi bertemu. Sungguh ini merupakan upaya mengelabui pembaca yang awam agar tergiring kepada kutipan Firanda selanjutnya. Seandainya Firanda bermaksud baik dengan tulisannya tersebut, tentu dia akan membahas definisi sahabat secara jami’ (komprehensif) dan mani’ (protektif), sebagaimana yang ditulis oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah. Akan tetapi Firanda tidak melakukannya, sepertinya karena ada kepentingan tersembunyi dalam hatinya. WAHABI: “Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah. Beliau berkata : ونُقِلَ عن جماعة من الصالحين أنهم رأوا النبي صلى الله عليه وسلم في المنام ثم رأوه بعد ذلك في اليقظة وسألوه عن أشياء كانوا منها متخوفين فأرشدهم إلى طريق تفريجها فجاء الأمر كذلك قلت وهذا مشكل جدا ولو حمل على ظاهره لكان هؤلاء صحابة ولأمكن بقاء الصحبة إلى يوم القيامة ويعكر عليه أن جمعا جما رأوه في المنام ثم لم يذكر واحد منهم أنه رآه في اليقظة وخبر الصادق لا يتخلف ” Dinukilan dari sekelompok orang-orang sholeh bahwasanya mereka telah melihat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam mimpi lalu merekapun melihatnya setelah itu dalam kondisi terjaga. Lalu mereka bertanya kepada Nabi tentang perkara-perkara yang mereka khawatirkan, maka Nabipun memberi arahan kepada solusi, lalu datanglah solusi tersebut. Aku (Ibnu Hajar) berkata : Ini merupakan perkara yang sangat menimbulkan permasalahan. Kalau nukilan ini dibawakan kepada makna dzohirnya maka para orang-orang sholeh tersebut tentunya adalah para sahabat Nabi, dan akhirnya kemungkinan menjadi sahabat Nabi akan terus terbuka hingga hari kiamat. Dan yang merusak makna dzohir ini bahwasanya ada banyak orang yang telah melihat Nabi dalam mimpi lalu tidak seorangpun dari mereka menyebutkan bahwa ia telah melihat Nabi dalam kondisi terjaga. Dan pengkhabaran orang jujur tidak akan berbeda” (Fathul Baari 12/385). Karenanya orang-orang yang mengaku bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi terjaga (tidak tidur) maka mereka adalah para sahabat. Mereka adalah para sahabat “BARU”, yang belum sempat tertulis dalam buku-buku para ulama yang menjelaskan tentang nama-nama dan biografi para sahabat. Ternyata diantara para sahabat “baru” tersebut ada yang berasal dari tanah air Indonesia, yaitu (1) Guru Ijai dari kota Banjarmasin dan (2) Habib Munzir dari Pancoran Jakarta.” SUNNI: “Firanda kurang bisa memahami pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar di atas. Sepertinya bahasa arabnya masih kurang bagus. Mengapa demikian? Pertama, al-Hafizh Ibnu Hajar menyampaikan bahwa ada informasi dari beberapa orang shaleh, bahwasanya mereka telah melihat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam mimpi lalu merekapun melihatnya setelah itu dalam kondisi terjaga. Kedua, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: وهذا مشكل جدا ولو حمل على ظاهره لكان هؤلاء صحابة ولأمكن بقاء الصحبة إلى يوم القيامة “Aku (Ibnu Hajar) berkata : Ini merupakan perkara yang sangat menimbulkan permasalahan. Kalau nukilan ini dibawakan kepada makna dzohirnya maka para orang-orang sholeh tersebut tentunya adalah para sahabat Nabi, dan akhirnya kemungkinan menjadi sahabat Nabi akan terus terbuka hingga hari kiamat”. Dalam kutipan di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan kemusykilannya terhadap kisah-kisah nukilan tersebut. Kemudian beliau berandai-andai dengan berkata: “Kalau seandainya ini dibawakan kepada makna dzohirnya maka para orang-orang sholeh tersebut tentunya adalah para sahabat Nabi, dan akhirnya kemungkinan menjadi sahabat Nabi akan terus terbuka hingga hari kiamat”. Artinya, dalam andai-andai beliau, seandainya kisah-kisah penglihatan orang-orang shaleh tersebut, dibawakan kepada makna zhahir, niscaya mereka akan menjadi sahabat. Permasalahannya, al-Hafizh Ibnu Hajar tidak mungkin mengartikan melihat tersebut secara zhahir. Karena beliau termasuk pengikut Ahlussunnah Wal-Jama’ah, yang ahli ta’wil. Dan ta’wilan beliau tidak dikutip oleh Firanda dalam artikelnya. Berikut ini ta’wilan al-Hafizh Ibnu Hajar yang tidak dikutip oleh Firanda dalam Fathul Bari: وقد تفطن بن أبي جمرة لهذا فأحال بما قال على كرامات الأولياء فان يكن كذلك تعين العدول عن العموم في كل راء ثم ذكر أنه عام في أهل التوفيق وأما غيرهم فعلى الاحتمال فان خرق العادة قد يقع للزنديق بطريق الإملاء والإغواء كما يقع للصديق بطريق الكرامة والاكرام وانما تحصل التفرقة بينهما باتباع الكتاب والسنة انتهى Ibnu Abi Jamrah sangat cerdas menyikapi kemusykian tersebut. Ia mengalihkan pendapatnya pada karomah para wali. Apabila memang demikian, haruslah beralih dari keumuman dalam setiap orang yang melihat (dalam mimpi). Kemudian Ibnu Abi Jamrah menyebutkan bahwa melihat dalam keadaan terjaga bersifat umum bagi orang yang memperoleh taufiq. Sedangkan selain ahli taufiq, maka kemungkinan saja. Karena sesungguhnya, menyalahi kebiasaan itu kadang terjadi bagi orang zindiq dengan tujuan membiarkan dan menyesatkan. Sebagaiman terjadi bagi orang Shiddiq dengan jalan karomah dan memuliakan. Keduanya hanya dapat dibedakan dengan mengikuti al-Kitab dan Sunnah.” Dalam pernyataan di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar mengutip pendapat Ibnu Abi Jamrah dan tidak menolaknya. Menurut Ibnu Abi Jamrah, maksud melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan terjaga, memang benar-benar melihat dalam konteks karomah yang terjadi pada para wali. Hanya saja al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari, karomah seperti ini (melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan terjaga), harusnya tidak terjadi pada setiap orang yang bermimpi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi Ibnu Abi Jamrah berpendapat, melihat dalam keadaan terjaga, dapat berlaku secara umum kepada para Shiddiq dan ahli taufiq. Oleh karena itu, pernyataan Firanda selanjutnya yang berbunyi: “Karenanya orang-orang yang mengaku bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi terjaga (tidak tidur) maka mereka adalah para sahabat”, adalah tidak pada tempatnya Oleh : Ust. Idrus Ramli


Responses

  1. Bertobat lah wahai wahabi

  2. Aduuuuhh..kasihan sekali padahal..guru ijai sudah banyak karomah nya.ko masih di ingkari..bukan ngambil barokah dari beliau


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: