Posted by: Habib Ahmad | 30 Ogos 2013

Catitan Terhadap Buku Menjawab 17 Fitnah Terhadap Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah

Catitan-catitan seterusnya boleh didapati dalam buku kami yang akan dicetak nanti. Segala kritikan yang ilmiah kami terima dengan berlapang dada atas diskusi akademik.

Pelurusan Pertama :

العالم قديم بالنوع حادث الاحاد والافراد

Syaikh Murad Syukri menolak adanya pemahaman Ibnu Taimiyyah yang mengatakan :

( العالم قديم بالنوع حادث الاحاد والافراد) “ Alam itu bersifat qadim / azali dengan jenisnya namun satuan-satuannya (materi-materinya) bersifat baru “. Sebelum kita bantah penolakan syaikh Murad, kami akan jelaskan secara ilmiyyah apa maksud dari ucapan Ibnu Taimiyyah tersebut dan nanti akan kita buktikan kebenaran adanya ucapan Ibnu Taimiyyah tersebut dalam kitab-kitabnya.

Penjelasan :

Ucapan : “ Alam itu bersifat qadim / azali dengan jenisnya namun satuan-satuannya bersifat baru ( العالم قديم بالنوع حادث الاحاد والافراد) “, adalah kesimpulan dari pemahaman Ibnu Taimiyyah tentang kewujudan alam ini. Maksud ucapan Ibnu Taimiyyah tersebut secara Mafhum Muwafaqahnya adalah bahwa alam yang kita saksikan ini terwujud setelah ketidak adaan dzat alam tersebut. Artinya sebelum adanya alam ini, telah ada alam lain sebelumnya atau makhluk lain sebelum adanya makhluk yang sekarang ini. Dan sebelum adanya makhluk atau alam tersebut, telah ada makhluk dan alam lainnya demikian seterusnya tanpa adanya permulaan. Inilah makna : “ Alam atau makhluk itu bersifat qadim / azali dari segi jenisnya (العالم قديم بالنوع).

Adapun makna “ Satuannya (materi) bersifat baru (حادث الاحاد والافراد) “ adalah bahwa setiap makhluk alam yang wujud adalah bersifat baru, sebab sebelumnya telah ada alam atau makhluk lainnya. Maka dari segi satuannya bersifat baru namun dari segi jenisnya bersifat qadim.

Inilah pemahaman sebenarnya yang diyakini selama ini oleh syaikh Ibnu Taimiyyah, jika para pengikutnya menolak pemahaman beliau ini, justru benar-benar telah berbuat dzhalim kepada Ibnu Taimiyyah sendiri.

Jawaban :

Kaum Mujassimah dan para pengikut buta Syaikh Ibnu Taimiyyah, menolak habis-habisan ucapan Ibnu Taimiyyah ini, mereka mengatakan bahwa ini adalah fitnah yang dilontarkan kepada Syaikh Ibnu Taimiyyah. Ini adalah kedustaan atas nama syaikh Ibnu Taimiyyah. Beliau sama sekali tidak mengatakan alam ini bersifat qadim.

Kita katakan pada mereka : Wahai para pentaqlid Ibnu Taimiyyah, boleh-boleh saja kalian mengatakan seperti itu, namun fakta tidak akan pernah musnah dan kebenaran akan terus menang dan kebathilan akan tumbang. Memang Ibnu Taimiyyah tidak mengatakan secara langsung bahwa alam ini bersifat qadim, namun jika anda mengkaji penjelsan-penjelasannya secara mendalam, anda akan mengatahui penjelasan secara sisi yang lain yang menyimpulkan bahwa Alam ini bersifat qadim secara jenisnya. Kebenaran adanya ucapan syaikh anda itu memang benar ada dalam beberapa kitab-kitab karyanya sendiri bahkan di banyak tempat ia mengatakan seperti itu. Cukup jelas dan terang maksud dan maknanya, bagaikan terangnya sinar Matahari di siang hari.

Nash Pertama :

Ibnu Taimiyyah mengatakan setelah panjang lebar menjelaskan makna dan pembagian tasalsul (kesinambungan) :

وجوابه أن يقال أتعنى بالأمور المعتبرة الأمور المعتبرة في جنس كونه فاعلا أم الأمور المعتبرة في فعل شيء معين أما الأول فلا يلزم من دوامها دوام فعل شيء من العالم وأما الثاني فيجوز أن يكون كل ما يعتبر في حدوث المعين كالفلك وغيره حادثا ولا يلزم من حدوث شرط الحادث المعين هذا التسلسل بل يلزم منه التسلسل المتعاقب في الآثار وهو أن يكون قبل ذلك الحادث حادث وقبل ذلك الحادث حادث وهذا جائز عندهم وعند أئمة المسلمين وعلى هذا فيجوز أن يكون كل ما في العالم حادثا مع التزام هذا التسلسل الذي يجوزونه

“ Jawabannya bisa dikatakan : Apakah yang dimaksud dengan perkara-perkara yang diangap adalah perkara-perkara yang dianggap dalam jenis sebagai pelaku atau perkara-perkara yang dianggap di dalam melakukan sesuatu yang tertentu ? adapun yang pertama, maka kedawaman perkara itu tidak mengharuskan kedawaman melakukan sesuatu dari alam ini. Adapun yang kedua, maka setiap perkara yang dianggap di dalam mengadakan perkara tertentu seperti falaq atau lainnya, boleh bersifat baru. Dan di dalam mengadakan syarat perkara baru tertentu itu tidak harus adanya tasalsul ini (kesinambungan) akan tetapi harus adanya tasalsul (kesinambungan) yang bergantian di dalam efektifitas yaitu keharusan adanya perkara baru (makhluk) sebelum munculnya perkara baru itu, dan sebelum adanya perkara baru itu harus adanya perkara baru lainnya. Hal ini disahkan oleh mereka dan juga oleh para imam kaum muslimin. Atas dasar ini, maka sah saja setiap apa yang ada di alam ini bersifat baru dengan disertai adanya tasalsul (kesinambungan) yang mereka sahkan ini “.[1]

Cukup jelas di situ Ibnu Taimiyyah dengan terang mengatakan bahwa kesinambungan/berterusan (tasalsul) di dalam efektifitas pada masa lalu itu tidak ada permulaannya. Bahkan ia mengklaim hal itu disahkan / disepakati oleh para imam kaum muslimin.

Dari penjelasan Ibnu Taimiyyah tersebut, didapati bahwa ada perbedaan antara tasalsul fil aatsar (kesinambungan di dalam efektifitas di masa lalu) dan tasalsul fimaa laa yazaal (kesinambungan di masa mendatang). Yang kedua ini jelas boleh bukan yang pertama. Siapakah dari imam kaum muslimin yang mengatakan tasalsul fil aatsar dengan makna yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah itu??

Sudah hal yang maklum bahwa setiap efek pasti ada sebab yang mendahului atau menyertainya, maka jika Ibnu Taimiyyah mengatakan boleh adanya kesinambungan di dalam efek pada masa lalunya yakni tidak ada perkara baru kecuali sebelumnya ada perkara baru di masa lalunya (bukan : tidak ada perkara baru kecuali setelahnya ada perkara baru), maka dia telah mengadakan kesinambungan di dalam illat (sebab) yang tidak ada awalnya di masa lalunya, padahal kesinambungan di dalam illat di masa lalunya sepakat bathil adanya. Maka bagaimana Ibnu Taimiyyah bisa mengatakan di sini dengan sesuatu yang mengharuskannya?

Nash Kedua :

Ibnu Taimiyyah mengatakan :

وقد يراد بالتسلسل في حدوث الحادث المعين أو في جنس الحوادث أن يكون قد حدث مع الحادث تمام مؤثره وحدث مع حدوث تمام المؤثر المؤثر وهلم جرا ، وهذا أيضا باطل بصريح العقل واتفاق العقلاء وهو من جنس التسلسل في تمام التأثير
فقد تبين أن التسلسل إذا أريد به أن يحدث مع كل حادث حادث يقارنه يكون تمام تأثيره مع الآخر حادث وهلم جرا فهذا ممتنع وهو من جنس قول معمر في المعاني المتسلسلة وإن أريد به أن يحدث قبل كل حادث حادث وهلم جرا فهذا فيه قولان وأئمة المسلمين وأئمة الفلاسفة يجوزونه

“ Terkadang yang dimaksud dengan kesinambungan di dalam terjadinya perkara baru yang tertentu atau di dalam jenis perkara baru adalah terjadinya kesempurnaan pelakunya yang bersamaan dengan perkara baru itu dan bersamaan dengan kesempurnaan pelaku terjadi juga pelaku lainnya dan seterusnya. Ini juga bathil menurut akal sehat dan kesepakatan orang berakal, dan ini disebut kesinambungan di dalam kesempurnaan efektifitas.

Telah jelas, bahwa kesinambungan jika yang dimaksud adalah terjadinya perkara baru dengan perkara baru yang menyertainya, maka kesempurnaan efektifasinya menjadi bersifat baru dan seterusnya, maka ini terlarang dan ini termasuk jenis apa yang diucapkan Mu’ammar di dalam makna-makna tasalsul. Dan jika yang dimaksud adalah sebelum terjadinya perkara baru telah terjadi perkara baru dan seterusnya, maka ucapan ini ada dua pendapat, dan para imam muslimin dan orang-orang falsafah membolehkan hal ini “.[2]

Ini satu nash lainnya yang begitu jelas bahwa Ibnu Taimiyyah mengatakan adanya tasalsul (kesinambungan) makhluk di masa azalinya yakni tidaklah ada atau terjadi suatu makhluk terkecuali sebelumnya telah terjadi makhluk dan seterusnya sampai tak ada permulaannya.

Nash ketiga :

Ibnu Taimiyyah selanjutnya mengatakan :

فإن كل مفعول فهو محدث فكل ما سواه مفعول فهو محدث مسبوق بالعدم فإن المسبوق بغيره سبقا زمانيا لا يكون قديما والأثر المتعقب لمؤثره الذي زمانه عقب زمان تمام مؤثره ليس مقارنا له في الزمان بل زمنه متعقب لزمان تمام التأثير كتقدم بعض أجزاء الزمان على بعض وليس في أجزاء الزمان شيء قديم وإن كان جنسه قديما بل كل جزء من الزمان مسبوق بآخر فليس من التأثيرات المعينة تأثير قديم كما ليس من أجزاء الزمان جزء قديم

“ Karena setiap objek adalah bersifat baru, dan setiap selain Allah adalah objek, maka objek itu bersifat baru yang didahului dengan ketidak adaanya. Karena perkara baru yang didahului dengan selainnya secara zaman, tidaklah disebut qadim (maha dahulu). Dan atsar (efektifitas) yang berurut oleh pelakunya yang zamannya setelah zaman kesempurnaan pelakunya, tidaklah berbarengan zamannya. Akan tetapi zamannya terjadi setelah zaman kesempurnaan pelakunya, seperti terdahulunya sebagian dari bagian zaman atas sebagian zaman lainnya. Dan pada sebagian zaman tidak ada sesuatu yang bersifat qadim meskipun jenisnya bersifat qadim, bahkan setiap bagian dari zaman didahului dengan zaman lainnya. Pada efektifitas tertentu tidak ada efektifitas yang bersifat qadim sebagaimana tidak adanya bagian yang bersifat qadim pada bagian-bagian zaman “.[3]

Redaksi Ibnu Taimiyyah ini begitu jelas menyatakan adanya kesinambungan atsar (efektifitas) dalam masa lalu. Namun dalam redaksi ini ia juga mengatakan bahwa zaman itu bersifat qadim tidak ada permulaan bagi wujudnya zaman, setiap bagian dari bagian-bagian zaman bersifat baru namun jenisnya bersifat qadim. Inilah realita dari pemahaman yang diyakini Ibnu Taimiyyah yang begitu jelas dan mudah ditemukan dalam kitab-kitab karyanya sendiri.

[1] Dar-u at-Ta’aarudh al-‘Aql wa an-Naql, Ibnu Taimiyyah, juz 1/365
[2] Dar-u at-Ta’aarudh al-‘Aql wa an-Naql, Ibnu Taimiyyah, juz 1/366
[3] Dar-u at-Ta’aarudh al-‘Aql wa an-Naql, Ibnu Taimiyyah, juz 1/368.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: