Posted by: Habib Ahmad | 8 Disember 2012

Penciptaan Nabi Isa (Tafsir Surah Ali ‘Imran (45-47))

Penciptaan Nabi Isa (Tafsir Surah Ali ‘Imran (45-47))
Friday, 07 December 2012 16:06
Kelahiran Nabi Isa dari rahim ibundanya, Mar-yam, adalah salah satu bukti kekuasaan Allah. Ia lahir tanpa seorang bapak. Dengan ke­tentuan Allah, Maryam hamil dengan sen­dirinya, tanpa pernah disentuh oleh seorang laki-laki. Itulah salah satu ke­kuasaan Allah yang ditunjukkan melalui diri salah seorang hamba-Nya. Bukti ke­kuasaan-Nya yang lain pada diri Nabi Isa, ia dapat berbicara di saat masih da­lam buaian. Ayat 45-47 dari surah Ali ‘Imran berikut ini berbicara tentang pen­ciptaan Nabi Isa. Marilah kita perhatikan ayat-ayat ini dan penafsirannya yang di­sebut­kan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir­nya.

Allah SWT berfirman:

(Ingatlah) ketika malaikat berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah meng­gembirakan kamu (dengan ke­lahir­an seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Dan dia ber­bicara dengan manusia dalam buaian, dan ketika sudah dewasa dan dia ter­masuk orang-orang yang shalih.”

Maryam berkata, “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.”

Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesua­tu, Allah hanya cukup berkata kepada­nya ‘Jadilah’, lalu jadilah dia.”

Ini merupakan berita gembira dari Allah untuk Maryam, yaitu Dia akan menciptakan dari diri Maryam anak yang hebat yang memiliki sesuatu yang be­sar. Allah berfirman yang artinya, “(Ingat­lah) ketika malaikat berkata, ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah meng­gembirakan kamu (dengan kelahiran se­orang putra yang diciptakan) dengan ka­limat (yang datang) dari-Nya.” Yakni, dengan seorang anak yang diwujudkan oleh kalimat Allah, yaitu dengan firman-Nya “Jadilah”, jadilah ia. Ini pun merupa­kan tafsiran atas firman Allah yang arti­nya, “Yang membenarkan kalimat Allah”, sebagaimana dikatakan oleh jumhur ulama. “Namanya Al-Masih Isa putra Maryam.” Ia dinisbahkan kepada ibunya disebabkan tidak mempunyai ayah.

“Yang terkemuka di dunia dan di akhirat serta temasuk orang-orang yang didekatkan.” Maksudnya, ia memiliki kedudukan di sisi Allah dalam kehidupan dunia dengan syari’at yang diwahyukan kepadanya, Al-Kitab yang diturunkan kepadanya, dan hal lainnya yang Allah anugerahkan kepadanya. Dan di akhirat, ia akan memberi syafa’at di sisi Allah kepada orang yang diizinkan-Nya untuk diberi syafa’at.

“Dan berbicara dengan manusia da­lam buaian dan ketika sudah dewasa”, yakni dia mengajak untuk menyembah Allah, Yang Maha Esa, tak ada sekutu bagi-Nya, ketika ia masih bayi. Hal itu merupakan mukjizat dan tanda kebesar­an Allah. Dan berbicara pula ketika telah dewasa tatkala diberi wahyu. “Serta ia temasuk orang-orang yang shalih”, yak­ni dalam perbuatan dan perkataannya. Dia memiliki pengetahuan yang shahih dan amal yang shalih.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan de­ngan sanadnya dan Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Hanya ada tiga orang yang dapat berbicara ketika dalam buaian: Isa, seorang anak pada masa Juraij, dan seorang anak lainnya.”

Setelah Maryam mendengar berita gembira itu, Maryam berkata, “Tuhanku, bagaimana mungkin aku punya anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.” Maksudnya, ba­gaimana mungkin anak itu muncul dari­ku padahal aku tak bersuami, aku pun tak ingin menikah, dan aku juga bukan seorang yang suka berbuat nista. Maka malaikat menjawab pertanyaannya, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.” Yakni, demikian­lah perkara Allah yang besar. Tak ada satu perkara pun yang dapat melemah­kan-Nya.

Dia berfirman yang artinya, “Dia men­ciptakan apa yang Dia kehendaki.” Di sini Allah tidak mengatakan yaf`alu (melakukan) seperti pada kisah Nabi Zakariya, tetapi yakhluqu (mencipta­kan), agar tak ada kesamaran (keragu­an). Hal itu dikuatkan dengan firman-Nya yang artinya, ”Apabila Allah berke­hendak menetapkan sesuatu, Allah cu­kup berkata kepadanya ‘Jadilah’, lalu jadilah dia.” Tak ada satu hal pun yang ter­tunda sekejap pun, melainkan lang­sung ada, begitu selesai perintah. Hal ini seperti firman Allah yang artinya, “Dan perintah Kami itu tidak lain kecuali seperti kedipan mata.” Yakni, Kami ha­nya memerintah satu kali, tidak ada yang dua kali, dan kejadiannya pun secepat kedipan mata. Itu gambaran saja, ka­rena Allah tak dapat dibandingkan de­ngan yang selain-Nya.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: