Posted by: Habib Ahmad | 8 Disember 2012

Habib Ahmad bin Hasan Alatas Jatibarang: Benteng Aswaja di Pantura

Habib Ahmad bin Hasan Alatas Jatibarang: Benteng Aswaja di Pantura

Habib Ahmad bin Hasan Alatas adalah salah seorang habib muda yang menjadi benteng Ahlussunnah wal Jama’ah di daerah Tegal-Brebes dan sekitarnya, Pantura, Jawa Tengah.

Senyum. Itulah kesan pertama yang ada pada diri habib kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 18 Mei 1984, ini. Anak kedua dari pasangan Habib Hasan bin Ahmad Alatas dan Huyay binti Mu­hammad Basalamah, yang asli Jati­barang, Brebes, ini memulai dakwah ke­tika menjadi ustadz pondok dan kemu­dian mengisi berbagai ta’lim di rumahnya dan sekitarnya.

Sejak kecil ia dididik agama oleh ke­dua orangtuanya, kemudian mengaji Al-Qur’an kepada Ustadz Selamat di desanya, kemudian melanjutkan pendi­dikannya ke Taman Pendidikan Al-Qur’an di Jatibarang, Brebes, pada sore hari, se­bab pagi hari bersekolah di Madrasah Ibti­daiyah Diniyah Darussalam di Jatibarang.

Setelah lulus dari madrasah ibtida­iyah pada 1995, ia melanjutkan belajar­nya ke madrasah tsanawiyah di PP Da­russalam. Baru kemudian, atas reko­mendasi pamannya, Syaikh Soleh bin Muhammad Basalamah, pada 1999, ia melanjutkan studinya ke PP Darul Lughah wa Da’wah di Pasuruan, Jawa Timur.

“Saya tidak hanya menempuh pendi­dikan aliyah, tetapi juga perguruan tinggi, sehingga mendapatkan gelar S.Pd.I. (Sarjana Pendidikan Islam) pada tahun 2008,” ujarnya.

Usai belajar dan berkhidmat di PP Darul Lughah, pada tahun 2009 ia pulang ke Jatibarang dan membantu pamannya, Syaikh Soleh Basalamah, untuk mengajar para santri di PP Darussalam Jatibarang. Selain mengajar, ia juga mengisi beberapa pengajian di kampung dan di desa.

Karena semakin banyaknya permin­ta­an untuk memberikan ceramah dan pengajian di kampung dan desa, jadwal mengajarnya dikurangi. Dulu setiap hari mengajar, sekarang hanya beberapa hari. Semua itu atas persetujuan paman­nya, sebab umat perlu juga mendapat­kan siraman ruhani, sedang tenaga mu­balligh masih terbatas.

Pada tahun 2010, Habib Ahmad Alatas melangsungkan pernikahan de­ngan Syarifah Nafisah binti Muhammad Al-Haddar, yang berasal dari Lumajang. Istrinya alumnus pondok pesantren yang diasuh oleh Habib Taufiq Assegaf Pa­suruan. Pada 25 Agustus 2011 telah la­hir anaknya yang pertama, Hasan bin Ahmad Alatas.

Setelah pulang dari PP Darul Lughah, pada pertengahan tahun 2009, ia diajak teman, Ustadz Ghazali, dari Desa Gu­malar Tegal, untuk membuka majelis. Ada empat lima anak yang diajar mem­baca wirid, kemudian dibacakan kitab hadits Fathul Qarib dari Sayyid Muham­mad Al-Maliki.

Pertama di rumah Ustadz Ghazali, kemudian diminta pindah di madrasah, dan jama’ahnya bertambah banyak. Ke­mudian berkembang lagi, tokoh masya­rakat di sana meminta pengajian itu di­pindah ke Masjid Mujahidin, Desa Gu­malar, setiap malam Sabtu, dua minggu sekali. Pengajian itu berlangsung hingga kini dengan jama’ah sekitar 120 orang.

”Sedang malam Sabtu dua minggu yang lain, saya mengisi pengajian di Masjid Nurul Yakin, Kersana Ketang­gung­an. Saya bacakan kitab Fawaidul Muhtaram karangan Habib Zain Baha­run, isinya nasihat-nasihat dalam ke­agamaan. Kitab itu diterjemahkan dalam bahasa Arab ke bahasa Indonesia ka­dang bahasa Jawa dengan diberikan pen­jelasan seperlunya. Jama’ahnya se­kitar 400 orang.”

Kemudian ia mengisi pengajian di Desa Kedung Sukun, Kabupaten Tegal, setiap Ahad Kliwon. Di sini dimulai de­ngan membaca Maulid Simthud Durar, kemudian diakhiri dengan mau’izhah ha­sanah. Pesertanya hampir berjumlah 200 orang.

Ada juga acara pengajian malam Rebo Paing, tempatnya berpindah-pin­dah sesuai dengan permintaan para ja­ma’ah. Biasanya berlangsung di Kabu­paten Tegal, karena sudah ada panitia yang menjadwalnya. Pengajian bisa di mushalla, masjid, rumah pribadi, mau­pun madrasah. Terserah pihak yang me­minta.

Habib Ahmad Alatas juga punya acara pengajian malam Ahad Kliwon di dua tempat, di Desa Klampok di daerah Pantura Tegal. Di sana dibacakan kitab Syarah Ratib Haddad.

Jum’at Pon di rumah Ustadz Marihin membaca Ratib Al-Aththas. Kamis Kli­won di Semboja, Kabupaten Tegal, juga membaca Ratib Al-Aththas. Kemudian setiap Ahad ba’da ashar di rumah Habib Ahmad Alatas di Jatibarang, yang di­hadiri sekitar 35 orang. Pengajian diisi dengan membaca Ratib Haddad, sya­rah Ratib Haddad, dan dibacakan kitab Masha’il Diniyah dengan penjelasannya, ditutup dengan membacakan kitab Sa­finatun Najah. Di rumah Habib Ahmad Alatas, setiap malam Ahad Legi, mem­baca Maulid Habsyi, dan dilanjutkan la­tihan hadhrah bagi anak-anak yang ber­minat. “Alhamdulillah, alatnya sudah leng­kap dan mereka cepat menangkap pelajaran, sehingga sudah bisa tampil di acara-acara pengajian,” tutur Habib Ahmad Alatas.

Acara membaca Maulid dan latihan hadhrah diikuti tiga grup hadhrah dari Kabupaten Brebes. Jadi hampir lima puluh persen dari sekitar 100 jama’ah yang hadir dan memegang rebana ada­lah pemain hadhrah. Tentu saja juga di­bacakan kitab keagamaan untuk mem­berikan siraman ruhani kepada para pe­muda itu.

Habib Ahmad Alatas masih punya kewajiban rutin, yaitu mengajar di PP Darussalam Jatibarang setiap Sabtu, Senin, Rabu, dan Kamis. Juga mene­rima tamu yang ingin berkonsultasi se­kitar masalah pribadi, sosial, dan bahkan masalah ekonomi. “Ya, saya tuntun dengan amalan, bacaan dzikir, dan tentu saja doa, semoga selesai masalahnya,” katanya.

Mengabdi kepada Ibu

Setelah disibukkan dengan kegiatan mengajar dan dakwah, Habib Ahmad Alatas masih bercita-cita bisa membuka madrasah di rumahnya yang rutin meng­ajar anak santri kalong ba’da maghrib hingga selesai. Jadi nanti akan diajarkan berbagai ilmu agama dengan ustadz yang berbeda-beda sesuai dengan ke­ahliannya.

“Saya tidak ingin membuat pesan­tren, sebab di sini sudah ada Pondok Pesantren Darussalam. Jadi saya ingin mendidik orang sekitar sini dengan pel­ajaran kitab kuning, tetapi tidak ting­gal menetap di rumah saya. Setelah selesai ngaji, mereka pulang ke rumahnya ma­sing-masing dan paginya dapat melan­jutkan ke sekolah umum atau bekerja bagi yang sudah bekerja,” katanya.

Di rumah Habib Ahmad Alatas, istri­nya juga membuka pengajian setiap Senin jam 2. Yang hadir sekitar 20 orang, terdiri dari kalangan ibu-ibu dan remaja putri. Majelis ta’lim ini mengaji kitab Safinatun Najah.

Sedang acara keluar Jawa Tengah hanya sesekali dilakukan Habib Ahmad Alatas. Pernah ia diajak berdakwah ke Amuntai, kemudian ke Samarinda, juga ke Lampung. Tur keluar Jawa paling lama hanya dilakoninya seminggu. Tidak mungkin dirinya lama di luar Jatibarang, karena, selain memiliki tugas mengisi pengajian, juga menjaga ibu. “Ayah saya sudah meninggal ketika saya masih ke­cil, saya hanya dua bersaudara. Kakak saya, perempuan, tinggal di Jakarta ber­sama suaminya. Karena itulah saya ha­rus dekat Ibu untuk menjaganya. Di sam­ping menjaga Ibu, saya juga punya tugas menjaga kakek (Syaikh Muhammad bin Ali Basalamah) dan nenek yang sudah tua,” tuturnya.

Habib Ahmad Alatas sendiri berprin­sip bahwa tugas seorang muslim adalah mengajar, atau ia diajar. Karena itu, mes­ki sudah mengajar di berbagai majelis, ia masih belajar kepada beberapa teman ustadz di PP Darussalam, atau juga ke­pada pamannya, Syaikh Soleh Basa­lamah.

Menurut Habib Ahmad Alatas, bel­a­jar adalah wajib. Ada hadits yang me­nyebutkan bahwa seseorang yang me­ninggal ketika menuntut ilmu, ia mati syahid. Jadi ia ingin mengamalkan hadits itu, semoga mendapatkan husnul khati­mah dengan lantaran belajar atau meng­ajar.

Baginya, orang-orang yang pernah memberikan pelajaran kepadanya ada­lah guru. Karena itu, ia berkhidmat ke­pada para guru itu dan terus belajar ke­pada me­reka. Sedang untuk menambah wa­wasan, ia sering membaca kitab-kitab sa­laf dari Hadhramaut, seperti Silsilah Haddadiyah. Bahasanya mudah dipa­hami dan mudah pula diajarkan.

Sedang amalan yang sering dilaku­kannya adalah membaca Rattibul Haddad, Ratibul Aththas, Wirdul Lathif, dan memperbanyak shalawat sebagai pe­san gurunya, Habib Zain Baharun. Na­mun paling favorit adalah membaca shalawat Nariyah, khususnya setelah shalat fardhu sebanyak 11 kali.

“Amalan ini dilakukan para santri Darul Lughah. Setelah saya tanya me­ngapa pada membaca shalawat Nari­yah, ter­nyata ini pesan langsung Abuya (Habib Hasan Baharun). Ternyata se­telah saya lakukan kok enak, maka saya terus meng­amalkan sampai sekarang,” ujarnya.

Dalam keadaan sulit atau punya ma­salah, ia memperbanyak banyak shala­wat Nariyah. Alhamdulillah, berkat sha­lawat Nariyah, Allah memberi jalan ke­luar. Khususnya dalam persoalan eko­nomi atau penyakit. “Saya pernah sakit liver dan divonis dokter enam bulan ha­rus istirahat di rumah dan pengobatan rutin. Karena itu saya berdoa dan juga mem­baca shalawat Nariyah. Alham­dulillah, baru tiga bulan sudah dinyata­kan sembuh oleh dokter,” katanya.

Di samping itu, untuk menjaga ke­sehatan, Habib Ahmad Alatas rutin me­minum madu, habbah saudah, dan mi­nyak zaitun. Itulah pengobatan yang di­ajarkan Rasulullah SAW.


Responses

  1. Ass.Wr.wB..
    Salam kenal bib,dari ane orang krajan pakujati bumiayu yg skrng menetap di kalsel.
    Ane minta doAnya bib…
    TerIma kash
    Ass.wr.wb.
    Lima uhliQo wal khotimi lima sabaQo


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: