Posted by: Habib Ahmad | 16 Januari 2012

Jangan Khilaf Memahami Salaf

Jangan Khilaf Memahami Salaf PDF Print E-mail
Written by Redaksi Online
Thursday, 12 January 2012 11:29

 

Salah besar jika menjadikan kata salaf sebagai istilah baru lalu menjadikannya sebutan khusus bagi sekelompok orang yang mengklaim pengertian tertentu darinya sehingga menjadi sekte Islam baru.

 

 

Bagaimana kalau kekuasaan politik mengklaim mempunyai hak atas keabsahan sebuah keyakinan? Sungguh sangat berbahaya. Ketika kekuasaan mengklaim sebuah keyakinan, orang-orang yang punya keyakinan selain keyakinan mereka dianggap sesat. Dan ketika mereka lebih jauh lagi bertindak dengan memaksakan kehendak menggunakan kekuasaan dan senjata, banyak korban berjatuhan.
Setelah berkembang dari negara asalnya, Arab Saudi, gerakan itu kini juga banyak ditemui di sekeliling kita. Mereka kerap mengusung nama “salafiyah” atau “salafi”. Maknanya, gerakan yang mengikuti jejak salaf.

Merunut sejarahnya, slogan salafiyah pertama kali muncul di Mesir bersamaan dengan lahirnya gerakan reformasi keagamaan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang dipelopori Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, lalu dilanjutkan oleh Rasyid Ridha, Abdurrahman Al-Kawakibi, dan lain-lain.

Di masa itu, bermunculan pelbagai bid’ah dan khurafat. Para penyeru reformasi tersebut berupaya memperbaiki dengan cara mengembalikan mereka pada kesejatian Islam. Slogan yang digunakan oleh tokoh pembaharu itu adalah salafiyah, bukan sebagai penunjuk atas lahirnya madzhab Islam yang baru, tapi sekadar identitas sebuah dakwah dan deskripsi sebuah metode.

Namun, seiring berjalannya waktu, slogan salafiyah mengalami degradasi. Slogan tersebut, yang sedianya dimaksudkan untuk merefleksikan ketundukan pada konsepsi Ahlussunnah wal Jama’ah, berubah menjadi slogan sekelompok orang yang berpegang teguh pada beberapa pendapat dan menganggap pendapat mereka sebagai pembeda antara yang mendapat petunjuk dan yang sesat.

Tidak Kaku
Kata salaf berasal dari kata salafa-yaslufu-salafan, artinya “telah lalu”. Bentuk jamaknya adalah aslaaf dan sullaaf. Sedang sebagai istilah, salaf disepakati banyak ulama dengan makna zaman 300 tahun pertama, yang dimulai dari diutusnya Rasululullah SAW. Yakni zaman kenabian, zaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Zaman ini berkarakter sebagai zaman keemasan Islam, karena mereka yang hidup di zaman ini langsung memahami ajaran Islam melalui wahyu yang diturunkan Malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga kurun ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).” – HR Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas’ud RA.

Semua orang yang beragama Islam tentu ingin mengikuti salafush shalih, tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Masa terus berputar. Kini umat Islam hidup pada zaman yang jauh sekali dari zaman sahabat Nabi. Lalu, bagaimana umat Islam kini harus meniti ajaran para salaf?

Dr. Said Ramadhan Al-Buthi, dalam kitabnya, As-Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islamiy, menerangkan, cara mengkuti salafush shalih bukan hanya mengikuti secara harfiah ucapan, perbuatan, kebijakan, serta kebiasaan yang ditetapkan dan dijalankan mereka, tanpa menambah maupun menguranginya sama sekali. Bahkan ulama salaf sendiri pun tidak berpendirian sekaku itu. Mereka menjalankan hukum-hukum itu sesuai dengan ‘illat (alasan-alasan)-nya sehingga mampu menjawab perubahan zaman.

Mereka menjawab tuntutan zaman dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan hadits dengan menggunakan penalaran ilmu hukum serta perangkat ilmu pengambilan hukum. Bukan semata-mata tekstual seperti nash sumber hukumnya.

Salah satu contoh kelenturan salafush shalih dalam menghadapi perubahan zaman, misalnya, para sahabat Nabi sebelum hijrah ke Makkah belum terbiasa dengan membaca dan menulis. Setelah hijrah, Nabi menganjurkan mereka untuk belajar membaca dan menulis.

Salafush shalih sendiri tidak kaku dalam menyikapi nash-nash Al-Qur’an dan sunnah. Jadi, bagaimana mungkin nisbah salaf digunakan untuk memahami Islam secara kaku hingga memiliki konsekuensi mayoritas umat Islam di dunia ini tak lagi layak menyandang gelar sebagai muslim, karena pandangan segelintir umat yang merasa sebagai cerminan salaf sejati dan benar sendiri dan yang selain mereka dianggap keluar dari Islam?! (Selengkapnya, baca alKisah edisi 01/2012)

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: