Kasih sayang Ilahi – 3

Ditulis oleh Admin di/pada 18 Mei 2010

Kalam Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz

Karena benar-benar mencintai seseorang, ia akan mencintai segala sesuatu yang dibawa serta oleh orang itu karena cintanya. Dia mencintai anak-anaknya, mencintai keluarganya, dan mencintai rumah dimana orang tersebut tinggal. Bahkan ia mencintai sesuatu yang dia pakai. Jika ini adalah cinta suatu makhluk kepada makhluk yang lain, bagaimana tentang kecintaan dari Sang Pencipta kepada makhlukNya dan bagaimana bisa Allah tidak memberi apapun kepada seseorang yang Dia cintai.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Hadits Qudsi,

“Aku yang berkuasa. Jika seseorang taat kepadaKu, Aku akan memberikan berkah. Dan jika Aku memberikan berkah, Aku memberkahi orang itu dan semua yang dibawa oleh orang itu dan berkahKu tiada akhir.”

Ibnu Abbas ra berkata ketika dia mengomentari suatu ayat di surat Kahfi tentang dua anak yatim yang mempunyai harta benda yang tersimpan di dalam tanah. Ketika Nabi Khidir membangun kembali dinding disitu dia berkata, “Ayah mereka adalah orang-orang yang sholeh.” Sayyidina Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa yang dimaksud ayah disitu adalah kakeknya yang ke-7 dari jalur ibu. Karena dia adalah orang sholeh dan Allah mencintainya. Lihatlah bagaimana jauhnya, berkah itu bisa menurun kepada turunannya yang ke-7.

Sayyidina Muhammad SAW berkata tentang Uwais Al-Qarni bahwa dia seorang diri akan dapat menjadi perantara menanggung orang-orang dari suku Rabi di Arab dan suku Mudhar. Mereka ini adalah dua suku yang besar di Arab. Ini adalah Uwais Al-Qarni yang tidak pernah bertemu dengan Nabi SAW, lalu bagaimana dengan para sahabat Nabi SAW yang benar-benar melihat Nabi? Dan bagaimana menurutmu dengan orang-orang yang dipilih menjadi sahabat Nabi SAW, dan sepuluh diantara mereka dijanjikan surga, dan orang-orang yang terdekat kepada Nabi SAW?

Ada suatu cerita. Di Mesir ada seseorang yang telah meninggal dan orang-orang sering melihatnya di dalam mimpi bahwa orang itu dalam keadaan disiksa dalam kuburnya. Setelah beberapa hari, seseorang melihatnya di dalam mimpi bahwa dia tidak disiksa lagi. Orang itu bertanya kepadanya apa yang terjadi. Orang itu menjawab bahwa ketika masuk waktu Ashar kuburannya terkena bayangan kubah dari makamnya Imam Syafii. “Saat bayangan dari makam Imam Syafii jatuh ke kuburanku, hukumanku ditiadakan”

bersambung