Posted by: Habib Ahmad | 22 Februari 2011

Zawiyah alKisah-Habib Abdul Muthalib bin Hasyim: Tak ‘kan Sebanding Jasa Ibu…

Zawiyah alKisah-Habib Abdul Muthalib bin Hasyim: Tak ‘kan Sebanding Jasa Ibu…
776
1 2 3 4 5 (0 votes, average 0 out of 5) Written by Fredi Wahyu Wasana
Monday, 03 January 2011 12:08

”Wahai sahabatku, sesungguhnya satu hentakan seorang ibu pada saat melahirkan anaknya tidaklah akan sebanding dengan apa yang dilakukan seorang anak meskipun dia menggendong ibunya itu dengan berjalan kaki bolak-balik sebanyak empat puluh kali dari negeri yang jauh menuju Makkah.”

Siang menjelang sore hari itu, Kamis (16/12), jalanan di sepanjang Jln. Pramuka Raya basah diguyur hujan yang turun membasahi pepohonan dan para pengendara yang melintas di atasnya. Sementara itu, sebagian kru alKisah terlihat tengah sibuk menata pancuran wudhu yang terbuat dari batang bambu dengan warna pluitur kecokelatan alami, yang diikat dengan gulungan tali kecil yang terbuat dari sabut pohon aren.

Permadani warna hitam dengan tekstur bulir-bulir berwarna putih tulang yang apik telah digelar di ruang utama kantor redaksi Majalah alKisah.

Sedang di ruang redaksi, para pengasuh alKisah tampak tengah sibuk mengedit dan mengoreksi naskah-naskah yang mesti turun hari itu juga ke meja produksi untuk dikirim ke percetakan.

Tak terasa waktu ashar pun tiba. Kami yang tengah sibuk dengan deadline harus break sementara untuk mengikuti Zawiyah alKisah, yang memang menjadi program bulanan kami dan dibuka untuk umum.

Menjelang pukul 16.00, para jama’ah sudah memenuhi ruang utama. Namun Habib Abdul Muthalib Alaydrus, yang akan menjadi narasumber pada sore itu, belum juga hadir di tempat, karena terjebak macet. Sambil menunggu kehadiran beliau, seperti biasa, MC membuka majelis dengan mengajak jama’ah membaca Wirdhul Lathif, yang menjadi wiridan majelis.

Ruangan, yang sebelumnya sedikit hening, bergemuruh dengan gema wiridan para jama’ah yang khusyu’ mengikuti pembacaan Wirdhul Lathif.

Menjelang akhir pembacaan wirid, Habib Abdul Muthalib, yang profilnya telah dimuat alKisah edisi 25/2010 pada rubrik Figur, yang sudah dinanti-nanti, pun tiba di majelis dengan wajah berseri menyapa jama’ah.

Setelah pembacaan Wirdhul Lathif selesai, MC pun langsung mendaulat Habib Muthalib untuk memberikan mau`izhahnya. Dengan gaya khas dan suara yang lantang, ia pun mulai menyampaikan mau`izhahnya.

Seperti Doa Nabi

“Nabi SAW pernah bersabda, ‘Tidak ada satu hari yang berganti kecuali ia berseru, ‘Wahai anak Adam, aku adalah hari yang baru, yang menjadi saksi atas amal perbuatanmu, maka berbekallah kamu (dengan bekal kebaikan), karena aku tidak akan pernah kembali lagi hingga hari Kiamat.’

Saat ini kita berada pada bulan Muharram, bulan evaluasi terhadap 360 hari lembaran kita yang telah lalu di tahun 1431 kemarin.
Allah SWT berfirman, ‘…dan mereka (orang-orang yang berdosa) itu berkata: Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar, melainkan tercatat semuanya.’ – QS Al-Kahfi (18): 49. Allah juga berfirman, ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.’ – QS Al-Isra (17): 14.

Nabi SAW bersabda, ‘Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa hari ini sama dengan hari sebelumnya, ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin, ia termasuk orang yang celaka.’

Di antara hal yang sangat penting untuk kita evaluasi adalah sejauh mana bakti kita kepada kedua orangtua, khususnya ibu. Karena, orangtua adalah pintu kita menuju Allah SWT, keramat kita untuk selalu dekat dengan rahmat Allah.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi SAW, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya aku telah menunaikan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan haji ke Baitullah, apakah yang akan aku dapatkan?’

‘Barang siapa melakukan semua itu, dia digolongkan bersama para nabi dan siddiqin, kecuali bila orang tersebut mendurhakai orangtua,’ jawab Nabi SAW.

‘Wahai Rasulullah, saya memiliki seorang ibu. Ia saya jadikan sebagai ratu, hidupnya saya bahagiakan, dan keperluannya saya layani sepenuhnya. Apakah semua itu dapat menyamai apa yang dilakukan oleh ibuku terhadap diriku?’ tanya sahabat itu lagi.
‘Wahai sahabatku, sesungguhnya satu hentakan seorang ibu pada saat melahirkan anaknya tidaklah akan sebanding dengan apa yang dilakukan seorang anak meskipun dia menggendong ibunya itu dengan berjalan kaki bolak-balik sebanyak empat puluh kali dari negeri yang jauh menuju Mekkah,’ Nabi kembali menjelaskan.

‘Wahai Nabi, berikanlah aku nasihat agar aku selamat di dunia dan akhirat.’

‘Bila engkau menunaikan hak keduanya (hak kedua orangtua), bagi setiap suapan yang engkau berikan kepada ibumu, niscaya Allah akan bangunkan bagimu sebuah istana di surga,’ jawab Nabi menegaskan.

Nabi juga bersabda, ‘Barang siapa lebih mengutamakan istrinya dibanding ibunya, dia akan mendapatkan laknat dari Allah dan tidak akan menerima darinya shalat fardu ataupun sunnahnya.’ Beliau juga bersabda, ‘Apabila seorang anak membawa makanan ke dalam rumahnya lalu kedua orangtuanya melihat makanan itu dan ia tidak memberikannya, Allah akan melaparkannya kelak pada hari Kiamat.’

Rasulullah juga mengatakan, ‘Apabila seorang anak berani mengangkat jari telunjuknya di hadapan wajah kedua orangtuannya, Allah akan melumpuhkannya pada saat berjalan di atas shirath.’ Beliau juga bersabda, ‘Doa kedua orangtua bagi anaknya seperti doa Nabi bagi umatnya.’

Selanjutnya hal lain yang juga perlu dievaluasi adalah sejauh mana kita mengingat kematian dan membekali diri untuk memasuki gerbang kematian.

Imam Syafi`i dalam syairnya berwasiat:

Bekalilah dirimu dengan taqwa
Tahukah engkau
bila malam menjelang
apakah engkau tahu
apakah akan tetap hidup
hingga datangnya fajar

Berapa banyak orang yang sehat
mati tiada penyakit menimpanya
Berapa banyak orang yang berat dalam sakitnya
berumur panjang dalam kehidupannya
Berapa banyak anak muda
pagi dan sore dalam keadaan lalai
kain kafan telah membungkusnya
namun dia tak mengetahuinya

Perhatikanlah bagaimana seorang raja yang membentengi istananya dengan benteng yang teramat kokoh dan tinggi. Setiap pintu dijaga dengan pengawalan yang ketat, bahkan tikus pun tidak dapat masuk, namun bila Izrail datang menghampiri, tidak seorang pun yang dapat melihatnya. Raja pun tewas di istananya dalam keadaan terbujur kaku.”

Manisnya Iman

Seusai Habib Muthalib mengakhiri mau`izhahnya, para jama’ah terlihat sudah tak sabar untuk segera bertanya.

“Habib, mohon jelaskan makna ‘sama’ dalam hadits Nabi SAW ’… bila hari ini sama dengan hari sebelumnya, dia termasuk orang yang merugi…’.

Bagaimana pula halnya orangtua yang egois, berlaku sewenang-wenang terhadap anaknya, apakah doanya juga tetap ampuh terhadap anaknya?” tanya Muhammad Ruslan dari Cibinong.

“Makna hadits tersebut adalah kualitas ketaatan yang kita lakukan. Seseorang pernah bertanya kepada Imam Al-Ghazali, ‘Wahai imam, setiap saya shalat, apa yang saya sudah lupa saya mengingatnya kembali. Apa yang harus saya lakukan?’

‘Sebelum shalat, hendaklah engkau memohon perlindungan kepada Allah, bacalah ta`awwudz, surah An-Nas, dan Al-Falaq,’ jawab Imam Al-Ghazali.

Keesokan harinya orang itu bertemu Imam Al-Ghazali dan ditanya bagaimana shalatnya.

Orang itu pun menjawab, ‘Wahai Imam, benar apa yang Tuan katakan. Setelah aku membacanya, rakaat pertama aku tidak mengingat apa pun. Rakaat kedua dan ketiga demikian pula, namun di rakaat terakhir aku teringat lagi semuanya. Lantas bagaimana ini?’

Imam Al-Ghazali menjawab, ‘Tahukah engkau anjing. Bila di sekitarmu banyak tulang, pastilah anjing akan mendekat kepadamu. Meskipun engkau usir anjing-anjing itu, niscaya dia akan tetap kembali selagi tulang-tulang itu masih banyak tersisa. Demikian pula dengan setan, cinta dunia adalah sesuatu yang sangat disukai oleh setan. Meskipun engkau usir setan itu dengan membaca ta`awwudz dan semisalnya, selama dunia itu masih ada di hatimu, niscaya setan akan selalu kembali mendekatimu.’
Makna dari ungkapan itu, ibadah yang kita lakukan belum memiliki atsar dalam jiwa kita.

Seorang sahabat mengadu kepada Nabi SAW tentang seorang sahabat yang selalu shalat di belakang Nabi namun tetap melakukan kemunkaran.

Nabi SAW bersabda, ‘Orang tersebut adalah orang yang shalatnya mencegah dirinya hanya pada saat ia shalat.’
Imam Ali Zainal Abidin bila berwudhu tubuhnya bergetar.

Seseorang bertanya kepadanya, ‘Wahai Imam, mengapa engkau bergetar seperti itu?’

Imam Ali menjawab, ‘Tubuhku bergetar, karena dengan berwudhu ini aku tahu siapa yang akan aku hadapi. Aku takut bilamana aku belum usai melakukannya, aku sudah dipanggil menghadap-Nya. Lalu apa yang dapat aku jadikan alasan di hadapan-Nya?’
Demikianlah yang dimaksud dalam hadits Nabi SAW itu.

Adapun anak yang telah berbakti kepada orangtua sebagaimana mestinya, menunaikan hak-haknya, tidaklah berlaku sumpah serapah orangtua kepadanya, karena Allah Maha Mengetahui apa yang dilakukan hamba-hamba-Nya.”

“Apakah sama kedudukan orangtua kandung dengan mertua? Dan mohon Habib jelaskan seperti apa manisnya iman itu?” tanya Bening dari alKisah.

“Suatu ketika, Nabi SAW bertanya kepada Malaikat Jibril, ‘Wahai kekasihku, apabila datang hari raya ‘Idul Fithri, siapakah orang yang pertama kali aku kunjungi?’

‘Wahai kekasih Allah, yang pertama kali engkau kunjungi adalah orang yang telah melahirkanmu,’ jawab Jibril.

‘Lalu siapa lagi,’ tanya Nabi lagi.

’Orang yang menikahkanmu (mertua),’ jawab Jibril.

’Lalu siapa lagi,’ Nabi kembali bertanya.

’Orang yang mengajarimu (guru),’ jawab Jibril kepada Nabi SAW.

Nah, dalam kaitannya dengan manisnya iman, Rabiah Adawiyah dalam syair sufinya mengungkapkan cintanya kepada Allah SWT:

Wahai Kekasih hatiku
tidak ada yang aku miliki selain Engkau
Maka kasihilah pendurhaka yang kini datang kepada-Mu

Wahai Harapanku, Kebahagiaanku, dan Kegembiraanku
sungguh hati ini tak pernah sudi mencinta selain diri-Mu

Bila seseorang jatuh cinta kepada kekasihnya, tentulah apa yang di hati dan angannya adalah kekasihnya itu. Apa pun yang berharga bagi kekasihnya akan berharga pula bagi dirinya. Demikianlah gambaran iman yang ada dalam hati seseorang. Bila dalam ibadah yang kita lakukan, kita merasakan adanya kesenangan, kebahagiaan, karena sedang berjumpa dengan Allah SWT, itulah manisnya iman….”

Kewajiban Orangtua

“Habib, apa kewajiban orangtua terhadap anak, dan bagaimana kiat kita untuk membentuk anak yang shalih?” tanya Adi S. dari Tangerang.

“Nabi SAW bersabda, ‘Wahai kaum laki-laki, takutlah kalian kepada Allah dalam urusan wanita. Sesungguhnya mereka adalah amanat yang Allah titipkan kepada kalian. Barang siapa tidak memerintahkan istri-istrinya untuk mendirikan shalat dan tidak pula mengajarkannya, sungguh ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.’

Allah SWT berfirman, ‘Jagalah diri kalian dan keluarga kalian.’ Para ulama menafsirkan, maksud firman Allah itu adalah mengajarkan kepada mereka syari’at Allah dan Rasul-Nya.

Dalam sebuah riwayat Nabi SAW menjelaskan, seseorang telah memenuhi segala permintaan anak dan istrinya, uang dia berikan, perhiasan, mobil mewah, dan sebagainya dia juga berikan, ibadah juga tidak pernah ia tinggalkan, namun ia lupa mengajarkan syari’at Allah, perintah-perintah agama, kepada anak dan istri. Maka, setelah ia meninggal, pada saat hendak menuju ke dalam surga, anak dan istrinya berdiri menghalanginya dan berkata, ‘Ambil hak kami dari orang ini, sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami urusan agama sehingga kami tidak melakukan ibadah.’

Nabi SAW juga bersabda, ‘Cukuplah dicatat sebagai dosa pada diri seseorang pada saat dia menyia-nyiakan orang-orang yang menjadi tanggungannya.’

Nabi SAW bersabda, ‘Barang siapa meninggalkan satu shalat dengan sengaja, namanya tertulis di pintu neraka.’ Di hadits yang lain, Nabi SAW menjelaskan bahwa, bila terdapat keluarga yang meninggalkan shalat, pada hari itu Allah turunkan 70 laknat terhadap keluarga itu.

Dalam kitab `I`anah Ath-Thalibin diceritakan, ada seorang ahli maksiat memiliki istri yang shalihah. Di antara keistimewaan yang dimiliki istri itu adalah tidak pernah meninggalkan membaca basmalah dalam urusan apa pun.

Melihat kebiasaan tersebut, suami yang ahli maksiat itu merasa tidak senang terhadapnya. Ia pun mencari cara agar sang istri meninggalkan kebiasaannya tersebut. Ia bertanya kepada teman-temannya agar menemukan cara menghilangkan kebiasaan istrinya itu.

Seorang temannya mengusulkan agar si suami mencoba sarannya. Yaitu dengan cara memberikan amanah berupa uang atau perhiasan kepada istrinya, lalu amanah itu hendaklah diambil tanpa sepengetahuan sang istri, sehingga dengan hilangnya amanah itu sang istri tidak lagi percaya kepada basmalah yang selalu dibacanya.

Saran itu pun dilaksanakannya. Sekantung uang diberikannya kepada sang istri. Setelah uang itu disimpan di lemari penyimpanan oleh istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri ia pun melaksanakan niat buruknya. Ia mengambil kantung uang tersebut dan mengunci kembali lemari seperti semula, seakan-akan tidak ada seorang pun yang mengetahuianya. Uang itu ia buang jauh-jauh di sebuah sumur yang sangat dalam.

Keesokan harinya, ia pun menanyakan uang yang diamanahkan itu kepada istrinya.

Sang istri yang shalihah itu pun segera menuju lemari tempatnya menyimpan uang untuk membukanya.

Sebelum membuka lemari, seperti biasa ia mengucapkan ’Bismillahirrahmanirrahim’. Pada saat itulah Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk mengembalikan uang yang telah dibuang si suami ke tempatnya semula. ’Wahai Jibril, kembalikanlah uang itu ke tempatnya semula, Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-hamba-Ku yang selalu menyebut nama-Ku!’

Penggalan kisah ini merupakan bagian dari suri teladan yang mesti dilakukan oleh siapa pun, terutama para orangtua, sebelum mengajak orang lain atau anak-anaknya untuk senantiasa mengerjakan perintah-perintah Allah SWT. Karena, tanpa suri teladan yang baik, sangatlah sulit memiliki putra-putri yang shalih sebagaimana yang diharapkan.”

”Habib, apakah sama kedudukannya antara orangtua angkat dan orangtua kandung?” tanya Rina dari Salemba.

“Allah SWT berfirman, ‘Dan apabila kedua orangtuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…’ – QS Luqman (31): 15.

Firman Allah ini menunjukkan tingginya kedudukan orangtua kandung. Hingga, meski mereka kafir, seorang anak tetap wajib menghormati keduanya. Bahkan dalam sebuah hadits Nabi SAW dikatakan, ‘Andaikan tubuh seorang anak dibagi menjadi tiga bagian lalu tiga perempat bagian itu diberikan kepada ibunya, niscaya tidak akan dapat menyamai jasanya.’

Adapun orangtua angkat, Nabi SAW bersabda, ‘Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak bersyukur kepada Allah.’ Artinya, kita wajib memuliakan orangtua angkat, yang sudah berbuat baik kepada kita, meskipun kedudukan mereka tidak akan pernah bisa menyamai kedudukan kedua orangtua kandung, yang telah melahirkan kita.

Foto para Habib

“Habib, apa makna hadits yang mengatakan ‘Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir’, sedangkan saya melihat bahwa banyak orang mukmin yang rizqinya juga berlimpah.

Kedua, tentang gambar. Dalam suatu penjelasan disebutkan, Rasulullah SAW tidak mau masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar, sementara di ruangan ini banyak sekali gambar (foto habaib)?” tanya Ning, jamaah dari Matraman.

”Suatu ketika seorang Yahudi yang fakir melihat Imam Hasan berada di atas kuda yang mewah, mengenakan pakaian yang mahal, dengan wajah yang berseri-seri. Yahudi itu pun menghadangnya dan bertanya, ’Wahai Hasan, aku ingin bertanya kepadamu tentang pernyataan kakekmu yang menurutku tidak benar. Kakekmu mengatakan bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Sedangkan kenyataannya, aku melihatmu senantiasa diliputi kemakmuran dan kebahagiaan, sementara aku selalu dipenuhi kemelaratan dan kesusahan. Aku merasa, ucapan kakekmu tidaklah benar.’

Imam Hasan menjawab, ’Benarlah apa yang dikatakan oleh kakekku, Rasulullah SAW. Sesungguhnya, bila engkau lihat diriku seperti yang engkau lihat dan saksikan saat ini, itu semuanya ibarat penjara bagi orang-orang mukmin bila dibandingkan dengan kenikmatan yang kelak Allah berikan di surga. Sedangkan bagi engkau, apa yang engkau alami selama ini, itu ibarat surga bagi orang-orang yang ingkar kepada Allah bila dibandingkan dengan siksa yang akan Allah berikan nanti di neraka.’

Adapun tentang gambar, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Namun kesimpulannya: yang dilarang adalah gambar yang dilukis dengan tangan. Adapun foto, para ulama membolehkannya, karena foto adalah pantulan cahaya, terlebih lagi foto itu adalah foto-foto para ulama, agar kita mengenang mereka, untuk dapat mengikuti langkah-langkah mereka.”
“Habib, bagaimana agar kita selalu ingat mati?” tanya Dede Suhana dari Radio Wadi.

“Nabi SAW bersabda, ‘Hati seseorang itu dapat berkarat sebagaimana besi berkarat.’

Sahabat bertanya, ’Lalu apa yang harus kami lakukan agar hati kami bersih, wahai Rasulullah?’

’Perbanyaklah membaca Al-Quran dan banyak mengingat mati,’ jawab Nabi SAW. Dan dalam hadits yang lain beliau bersabda, ’dan memperbanyak duduk dengan para ulama.’ Selain itu beliau juga bersabda, ’Perbaharuilah iman kalian dengan (memperbanyak mengucapkan) La ilaha illallah.’

Nabi SAW juga bersabda, ’Kerasnya hati karena banyak berbuat dosa.’

MS

http://majalah-alkisah.com

Advertisements

Responses

  1. KERAS MATA DISEBABKAN KERAS HATI
    KERAS HATI DISEBABKAN BANYAK DOSA,
    BANYAK DOSA DISEBABKAN TAK MENGINGAT MATI,
    TAK MENGINGAT MATI DISEBABKAN BANYAK ANGAN ANGAN,
    BANYAK ANGAN -ANGAN DISEBABKAN CINTA DUNIA,
    CINTA DUNIA ADALAH PANGKAL DOSA(KESALAHAN).


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: