Dzikir dengan hati dan lisan
Published on January 31, 2011 in Artikel Islam. 0 Comments
Dzikir merupakan kebutuhan manusia untuk mengingat Tuhannya. Dalam pelaksanaannya, dzikir itu boleh dilakukan dalam hati dan boleh pula dengan lisan. Dan dzikir yang lebih utama adalah yang dilaksanakan dengan lisan dan hati. Jika hendak dilakukan dengan salah satunya saja, maka dzikir di dalam hati lebih afdhal.

Tidak sepantasnya seseorang meninggalkan dzikir lisan dan dzikir hati hanya takut disangka riya, tetapi seyogyanya ia berdzikir dengan lisan dan di dalam hati karena Allah. Perlu diketahui bahwa meninggalkan beramal karena manusia adalah termasuk riya.

Seandainya dibukakan kepada mereka pintu kesempatan untuk mengamat-amati perbuatan orang lain, maka setiap orang akan menghindar dari sangkaan orang lain yang tidak benar kepada dirinya dan niscaya tertutuplah baginya kebanyakan dari pintu kebaikan dan tersia-sialah darinya sesuatu yang besar dari urusan agamanya yang lebih penting. Cara ini bukanlah jalan yang ditempuh oleh para arifin (orang-orang yang selalu dekat kepada Allah).

Diriwayatkan di dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim dari Aisyah ra., ia berkata:

نَزَلَت هذِهِ الاَيَة : وَلاَتَجهَر بِصَلاَتِكَ وَلاَتُخَافِت بِهَا …./ فِى الدُّعَاْء

Turunlah ayat ; … janganlah menyaringkan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula kamu merendahkannya ……. (QS al-Isra’ 110).
Maksudnya pada doa di dalam shalat.

Sumber : al-Adzkaarun Nawawiyyah