Sang pemegang panji Islam

Sebelum memeluk Islam, Mus’ab bin Umair adalah seorang pemuda yang hidup di dalam lingkungan keluarga yang kaya raya. Pada saat-saat mulainya penyebaran Islam, ia masuk Islam secara diam-diam. Pada mulanya, keluarganya tidak mengetahuinya. Namun demikian, pada akhirnya mereka mengetahuinya juga. Maka Mus’ab pun disiksanya, diikat kaki dan tangannya, kemudian dimasukkan ke dalam penjara. Tetapi beberapa waktu kemudian ia berhasil lolos dan ikut mengungsi ke Abesinia.

Kemudian ia kembali ke Madinah dan menyertai hidup perjuangan dan penderitaan bersama-sama saudara-saudara seagamanya. Bagi Mus’ab sendiri semua penderitaan itu tidaklah menjadi soal, meskipun segalanya jauh berbeda dengan kesenangan yang dialaminya sejak kecil. Pernah sekali waktu ia lewat di depan Nabi SAW dengan pakaian compang-camping, sekedar penutup aurat. Nabi yang mengetahui keadaan Mus’ab waktu kecil, merasa sangat terharu sehingga berlinanglah airmata beliau menyaksikan keadaan Mus’abnya sekarang.

Di dalam pertempuran dahsyat di Uhud, Mus’ab dipercaya untuk memegang panji Islam. Ketika keadaan pasukan muslimin telah sedemikian kritis, Mus’ab dengan gagahnya tetap berdiri di tengah-tengah medan pertempuran dengan bendera di tangannya. Tiba-tiba seorang musuh datang menyerangnya dan mengayunkan pedangnya ke tangan kanan Mus’ab yang memegang bendera. Dengan segera Mus’ab menangkap tiang itu dengan tangan kirinya. Tak lama kemudian, tangan kirinya pun ditebas oleh musuh. Mus’ab pun menekan tiang bendera itu ke dadanya dengan sisa lengannya, agar panji Islam tetap berkibar. Kemudian datanglah musuh yang lain memanah tubuhnya. Akhirnya gugurlah Mus’ab bermandikan darah suci kepahlawanan.

[Disarikan dari Rangkaian Tjeritera Dari Sedjarah Islam, Ahmad DM., hal. 37-38, cetakan I, penerbit Attahirijah]