Nilai bathiniah puasa – 2
Ditulis oleh Admin di/pada 31 Agustus 2009

Dari Al-Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazaly

2. Menjaga lidah dari ucapan yang sia-sia, dusta, gunjingan, fitnahan, caci-maki, menyinggung perasaan orang lain, menimbulkan pertengkaran dan melakukan pertengkaran berlarut-larut. Sebagai gantinya hendaknya ia memaksakan lidahnya agar diam serta menyibukkannya dengan dzikir kepada Allah dan tilawah Al-Quran. Demikian itulah puasanya lidah.

Bisyr bin Harits meriwayatkan ucapan Sofyan, “Gunjingan merusak puasa.” Demikian pula Laits meriwayatkan dari Mujahid, “Dua hal merusak puasa : gunjingan dan dusta.” Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya puasa adalah tabir penghalang (dari perbuatan dosa).”

Maka apabila seorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil. Dan seandainya ada orang lain yang mengajaknya berkelahi ataupun menunjukkan cercaan kepadanya, hendaknya ia berkata, “Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Pernah pula diriwayatkan bahwa di masa hidup Nabi SAW ada dua orang perempuan berpuasa lalu mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada akhir puasa itu, sedemikian sehingga hampir-hampir binasa karenanya. Kemudian mereka mengutus orang yang menghadap Rasulullah SAW untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka. Maka beliau mengirimkan sebuah mangkuk kepada mereka seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perut ke dalam mangkuk itu. Ternyata mereka memuntahkan darah dan daging yang segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga orang-orang yang menyaksikannya menjadi terheran-heran. Dan Rasulullah SAW lalu bersabda,

“Kedua perempuan ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasa dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka berdua duduk bersantai sambil menggunjingkan orang lain. Maka itulah daging-daging mereka yang di pergunjingkan.” [HR. Ahmad dari Ubaid (maula Rasulullah SAW). Diantara sanadnya terdapat seorang yang tak dikenal (majhul)].

3. Menahan pendengaran dari mendengarkan segala sesuatu yang dibenci oleh agama. Sebab segala sesuatu yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Karena itu pula Allah SWT menyamakan antara orang yang sengaja mendengarkan sesuatu yang diharamkan dan orang yang sengaja mendengarkan sesuatu yang diharamkan dan orang yang memakan harta haram, seperti dalam firman-Nya, “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan yang haram….” (QS. 5:42)

Dan firman Allah pula, “Mengapakah orang-orang alim mereka serta pemimpin-pemimpin agama mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?.” (QS. 5:63)

Demikian pula sikap membiarkan pergunjingan dan tidak melarangnya, termasuk hal yang haram, seperti dalam firman Allah, “…Dan Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Quran, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (jika tetap bersama mereka) kamu adalah bersama mereka….” (QS. 4:140)

Rasulullah SAW pernah bersabda pula, “Orang–orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan adalah serupa dalam dosa.” (H.R.Ath-Thabraniy dengan beberapa perbedaan kata-kata)

bersambung…

[Diambil dari buletin Bina Qalbu Edisi-06 Tahun ke-1]
Sumber : bisyarah