Penghormatan dan penghambaan

Ditulis oleh Admin di/pada 22 Februari 2009

Oleh : Ustadz Husin Nabil bin Najib Assegaf

Sebagian manusia salah dalam memahami antara hakikat penghormatan dengan hakikat penghambaan. Sebagian dari mereka mencampuradukan di antara keduanya, dan menganggap segala macam penghormatan adalah penghambaan. Mereka menganggap berdiri untuk menghormat, mencium tangan ketika bersalaman, penghormatan dan pemuliaan Sayyidina dan Tuan kami Nabi SAW beserta keluarga dan seluruh sahabatnya, dan berdiri di hadapan beliau SAW ketika berziarah dengan adab, khusyuk dan rendah hati adalah suatu kesalahan besar dan dianggap menghambakan diri kepada sesuatu selain Allah. Ini sebenarnya adalah suatu kebodohan, dan perilaku yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kita dapat mengetahui dari awal diciptakannya Adam as., Allah memerintahkan para Malaikat untuk sujud kepadanya sebagai pemuliaan dan penghormatan ketika diberikan kepadanya ilmu dari ilmu-Nya dan dipilih-Nya diantara seluruh makhluk yang ada pada saat itu. Firman Allah SWT,

“Ketika Kami perintahkan kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu sekalian kepada Adam.’ Lalu sujudlah mereka semua kecuali iblis. Dia berkata, ‘Apakah aku akan sujud kepada orang yang Kau ciptakan dari tanah.’ “ (QS. Al-Isra: 61)

Di ayat lain,

“Dia (iblis) berkata, ‘Aku lebih baik darinya. Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah.’ “ (QS. Shaad: 76)

Di ayat lain,

“Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya kecuali iblis yang menolak ikut bersama-sama mereka yang bersujud.” (QS. Al-Hijr: 30-31)

Dari ayat ini, kita dapat mengetahui bahwa para malaikat menghormati, memuliakan dan mengagungkan apa yang diagungkan oleh Allah. Sedangkan iblis sombong untuk sujud pada sesuatu yang tercipta dari tanah. Maka dia adalah makhluk yang pertama kali mengukur agama dengan akal dan pendapatnya sendiri, sehingga berkata,

“Aku lebih baik dari dia.”

Dengan alasan dirinya tercipta dari api dan Adam hanya tercipta dari tanah. Dia tidak mempercayai bahwa Adam lebih mulia darinya, dan membangkang untuk bersujud. Dialah makhluk pertama yang memiliki sifat sombong dan tidak mengagungkan sesuatu yang diagungkan oleh Allah. Maka keluar dan terlemparlah ia dari rahmat Allah karena kesombongannya atas hamba Allah yang saleh ini, dan itulah inti kesombongan terhadap Allah. Karena hakikat sujud terhadap Adam adalah pengagungan dan pemujaan terhadap Allah dan perintah-Nya. Allah hanya menjadikan sujud kepada Adam untuk menghormatinya dan memuliakannya. Begitulah iblis yang dulunya adalah ahli tauhid, tetapi tauhidnya tidak bermanfaat untuknya.

Begitu juga pengagungan saudara-saudara Yusuf as. terhadap Nabi Yusuf as ketika mengetahui kedudukan beliau yang sebenarnya. Firman Allah SWT,

“Dan diletakkan kedua orangtuanya di atas singgasana. Dan mereka semua (saudara Yusuf) menyungkurkan diri seraya bersujud kepadanya (Yusuf).” (QS. Yusuf: 100)

sebagai penghormatan, pemuliaan dan pengagungan terhadap Yusuf.

Kepada Nabi kita SAW, firman Allah,

“Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan, agar mereka beriman kepada Allah dan RasulNya, dan memuliakan-Nya serta mengagungkan-Nya…” (Qs. Al-Fath: 8-9)

Di firman yang lain,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah engkau mendahului Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Hujuraat: 1)

Di firman yang lain,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kau meninggikan suaramu di atas suara Nabi…” (QS. Al-Hujuraat: 2)

Di Firman yang lain,

“Janganlah kau jadikan pangilan terhadap Rasul seperti panggilanmu terhadap sesamamu…” (QS. An-Nuur: 63)

Diriwayatkan oleh Usamah bin Syarik berkata,

“Aku mendatangi Nabi SAW dan para sahabat mengelilinginya, mereka menunduk tak bergerak seakan-akan terdapat burung di atas kepalanya.”

Diriwayatkan oleh `Urwah bin Mas`ud, ketika diperintahkan oleh suku Quraisy menghadap Nabi SAW pada perjanjian Hudaibiyah. Dia melihat pengagungan dan pemuliaan sahabat terhadap Nabi SAW. Jika Rasulullah SAW berwudhu, mereka semua berebut untuk mengambil air wudhunya, seperti orang yang ingin saling membunuh. Ketika Beliau SAW membuang ludah atau riya, disambutlah oleh tangan-tangan mereka kemudian mengusapkan di wajah dan jasad mereka. Jika jatuh sehelai rambut darinya SAW, mereka berebut untuk mengambilnya. Jika Beliau SAW memerintah, mereka semua segera melaksanakan perintahnya. Jika Beliau SAW berbicara, mereka berdiam tidak ada yang mengangkat suara di hadapan Beliau SAW. Tidak ada diantara mereka yang menajamkan pandangannya kepada Rasulullah SAW sebagai pengagungan terhadap Beliau SAW. Ketika kembali kepada suku Quraisy, Usamah berkata,

“Wahai bangsa Quraisy! Aku telah mendatangi Kisra dan kerajaannya. Aku telah mendatangi Kaesar dan kerajaannya. Aku telah mendatangi Najasi dan kerajaannya. Dan aku bersumpah tak pernah kulihat kerajaan dalam suatu kaum seperti kerajaan Muhammad dan para sahabatnya.”

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Barra bin `Azib ra berkata,

“Aku dulu pernah ingin bertanya kepada Rasulullah SAW atas suatu perkara, namun aku tunda pertanyaanku selama dua tahun karena kewibawaan Beliau SAW.”

Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Az-Zuhri berkata,

“Berkata kepadaku seseorang dari Anshar yang tidak aku ragukan, ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW jika berwudhu, atau meludah, para sahabat berlomba-lomba menyambut ludah beliau SAW kemudian mengusapkan ke wajah dan kulit mereka.’ Kemudian bersabda beliau SAW, ‘Mengapa kamu berbuat demikian?.’ Mereka semua menjawab, ‘Untuk mendapatkan barakah.’ Kemudian bersabda SAW, ‘Barangsiapa Allah ingin mencintainya, hendaknya membenarkan perkataannya, menjalankan amanahnya, dan tidak mengganggu tetangganya.’ “

Apakah kafir perlakuan sahabat?. Mengapa Nabi tidak mengkafirkan mereka atau melarangnya?. Kesimpulan dari tulisan di atas adalah ada dua perintah yang sangat agung:

  1. Kewajiban untuk mengagungkan dan mengangkat kedudukan Nabi SAW di atas semua makhluk.
  2. Pentauhidan dan pengesaan Allah SWT.

Siapa yang mengurangi pengagungannya untuk Rasul SAW, maka dia telah bermaksiat atau kufur. Dan siapa yang berlebih-lebihan pengagungannya terhadap Rasul, keluarga dan para sahabatnya serta para shalihin dengan bermacam jenis pengagungan, dan tidak mensifati mereka yang diagungkan dengan sifat Allah, maka mereka di jalan yang benar dan menjaga keesaan Allah. Itulah pendapat yang tidak berlebih-lebihan. Dan jika ada kata-kata seseorang yang beriman kepada Allah yang mengagungkan sesuatu selain Allah, wajib bagi kita untuk memperhitungkan kata-katanya dengan majas secara akal. Tidak ada jalan dan anjuran untuk mengkafirkan mereka, karena majas secara akal digunakan pada Al-Quran dan Hadits.

http://bisyarah.wordpress.com