Habib Noval bin Muhammad Alaydrus: Melindungi Umat dari Virus Wahabi PDF Print E-mail
(3 votes, average 5.00 out of 5)

Lama tidak terdengar, muballigh, penerjemah, sekaligus penulis produktif, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus, Solo, muncul dengan gebrakan baru. Berdakwah di komunitas bawah yang awam pemahaman agamanya.f


 

Belakangan, habib muda kelahiran Solo, 27 Juli 1975, ini mengubah haluan dakwahnya. Dari yang semula berada di zona “aman”, mengisi ta’lim di berbagai masjid dan majelis secara rutin, berkumpul dalam satu komunitas tertentu dengan habaib dan kiai, kini ia harus berpindah-pindah dan keliling dari satu tempat ke tempat lain, khusunya daerah yang sebagian besar penduduknya belum tersentuh pemahaman agama secara baik. Praktis, keberadaannya jarang terlihat di permukaan.

Ini dilakukannya bukan tanpa alasan. Dewasa ini berbagai penyimpangan dalam aliran Islam semakin marak di Indonesia, wa bil khusus di Solo. Tentu kita masih ingat kasus bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu silam, yang diklaim sementara orang sebagai aksi jihad.

Menurutnya, tragedi memilukan itu tak perlu terjadi, bukan hanya di Solo, namun juga di Indonesia, dan belahan bumi mana pun, bila tidak ada pembiaran terhadap berbagai aliran ekstrem. Inilah peran pemuka agama untuk membentengi aqidah umat.

Karena Hidayah Allah
Seolah mendapat ilham dari Allah SWT, mulai saat ini hingga beberapa waktu ke depan, ia akan lebih gencar membendung paham Wahabi, sebuah paham yang kerap menjadi embrio dalam pemahaman kelompok-kelompok umat yang ekstrem. Bukan dengan cara membumihanguskan paham tersebut, melainkan membentengi aqidah umat dari berbagai aliran yang menyimpang dari doktrin Ahlussunnah wal Jamaa’ah. Sebab, menurutnya, Wahabi itu sesungguhnya kecil, umatlah yang membesarkannya dengan menjadi pengikutnya.

Masih menurut Habib Noval, umat Islam yang berpaham Wahabi itu tidak akan bisa berubah dengan berbagai mau’izhah dan dialog. Mereka hanya akan berubah dengan hidayah Allah. Dialog, sehebat apa pun dan segencar apa pun, tidak efektif bila hidayah Allah belum bermain. Masalahnya, keduanya, baik Ahlussunnah maupun Wahabi, sama-sama menggunakan dalil dan hadits yang hampir sama, hanya pemahamannya yang berbeda. “Seribu ulama Wahabi dan seribu ulama Ahlusunnah, bila beradu ilmu, masing-masing tidak akan menemukan titik temu. Umumnya, seseorang yang keluar dari Wahabi bukan karena ilmu, namun hidayah dari Allah SWT,” kata habib berusia 36 tahun ini.

Ada salah satu kisah menarik di Jawa Timur. Seorang pemuda Wahabi meyakini bahwa pahala mengirim hadiah surah Al-Fatihah kepada orang yang telah meninggal tidak sampai kepadanya, dan dia berdebat habis-habisan dengan koleganya yang seorang Ahlusunnah wal Jama’ah.

Tiba-tiba datang salah seorang habib, dan diadukanlah perkara tersebut.

Menariknya, dengan ringan sang habib hanya menjawab, “Insya Allah sampai, buktikan saja sendiri.”

Malam harinya, pemuda Wahabi tersebut merasa penasaran dan ia pun ingin membuktikan saran sang habib, mengirim hadiah surah Al-Fatihah khusus untuk ayahnya, yang telah lama menghadap-Nya.

Ketika tidur di malam itu juga, ia bermimpi bertemu sang ayah. Bahkan dalam mimpinya itu ayahnya berkata, “Kenapa tidak dari dahulu kamu mengirimkan hadiah ini untuk ayah, Nak?”

Kontan saja ketika terbangun di pagi harinya ia merasa begitu trenyuh. Bahkan ia menjadi mempercayai mimpinya tersebut.

Tidak lama kemudian, ia mengisahkan mimpinya itu kepada teman debatnya. Sejak saat itu, ia pun menyakini dan selalu mengatakan kepada khalayak bahwa hadiah Al-Fatihah untuk orang yang telah meninggal itu sampai.

Artinya, perpindahan aqidah itu bukan karena ilmu, melainkan hidayah dari Allah SWT. Mungkin, seseorang yang baru mulai memasuki ajaran Wahabi masih bisa dipengaruhi dan diberi pemahaman untuk kembali. Tapi bagi yang sudah menjadi Wahabi sangat sulit. Menurut Habib Noval, mengutip perkataan Habib Ali Al-Habsyi, orang yang telah terkena penyakit Wahabi, susah sembuhnya.

Tegas sedari Awal 
Sepertinya, sungguh tepat bila suami Syarifah Fathimah Qonita binti Ali Al-Habsyi, yang masih terhitung cucu Habib Anis Al-Habsyi, ini memutuskan untuk terjun ke lingkungan bawah yang selama ini awam wawasan keberagamaannya. Bukankah mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati?

Sebetulnya dakwah membendung paham Wahabi telah dilakukannya sejak beberapa tahun silam, semasa Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi, guru sekaligus kakek mertuanya, masih hidup. Habib Noval merasa beruntung belajar langsung dengan habib kharismatis itu.

Sejak kecil, sepulang sekolah, mulai dari SD hingga SMA, ia, yang kini telah dianugerahi dua orang anak, selalu aktif di berbagai kegiatan di Masjid Ar-Riyadh, Solo. Yakni shalat berjama’ah, tadarus Al-Qur’an, membacaan ratib, sampai mengikuti pengajian umum secara rutin, mulai dari tema sejarah nabi atau hadits, nahwu dan fiqih, tasawuf, hingga tafsir Al-Qur’an.

Pengembaraan pencarian ilmunya pernah mengantarkannya hingga nyantri di Pondok Pesantren Darul Lughah wad Da’wah, Pasuruan, Jawa Timur, yang kala itu diasuh oleh almarhum Ustadz Hasan Baharun. Namun, sang bunda tampak berat berpisah, ia pun akhirnya hanya sempat belajar di sana selama satu semester plus masa percobaan satu bulan. Jadi kurang lebih selama tujuh bulan.

Meski begitu, waktu yang sangat singkat ini dirasakannya sangat berarti. Sebab hanya dalam kurun waktu tujuh bulan, ia telah dapat berbahasa Arab relatif baik. Ini memang menjadi motivasinya. Pasalnya, ia selalu teringat dengan pesan sang kakek, almarhum Habib Ahmad bin Abdurrahman Alaydrus, bahwa, “Jika kamu mampu menguasai bahasa Arab, kamu telah menguasai setengah ilmu.”

Setelah mendapat restu sang guru, Ustadz Hasan, di tahun 1995, Habib Noval kembali ke kampung halamannya. Sambil terus belajar kepada Habib Anis dan beberapa habib dan kiai lainnya, ia juga mulai berdakwah.

Masa-masa awal itu ia tidak terjun langsung membina umat yang rentan menjadi basis sasaran Wahabi, namun tetap menyuarakan bahayanya aliran Wahabi dan Syi’ah. “Saya sudah berani tegas sejak pertama kali berdakwah. Masa itu Habib Anis masih ada. Dalam khutbah Jum’at misalnya, saya sangat tegas menentang Syi’ah dan Wahabi, namun bahasannya tetap santun dan ilmiah. Dikenal galak, karena berani menyuarakan yang hak dan bathil,” tutur Habib Noval.

Bila dipersentasekan, keberadaan kalangan awam itu jumlahnya sangat besar. Selama ini mereka kebanyakan beragama hanya ikut-ikutan. Namun mereka amat mendambakan kebaikan, sehingga mereka pun taat mengikuti berbagai ritus ibadah. Tidak hanya yang yang wajib, namun juga yang sunnah, seperti shalawatan, tahlilan, Maulidan, dan sebagainnya. Pada gilirannya, sikap taqlid mereka itu disalahgunakan oleh sekelompok tertentu untuk menebar ajakan agar meninggalkan ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah.

Strategi para penebar ajaran itu semakin agresif. Mereka begitu keras menuduh pengamal ritus tersebut sebagai perilaku bid’ah dan sesat, dan para pelakunya kelak akan berada di neraka. Tuduhan itu dilontarkan langsung di hadapan umat. Bukan lagi hanya melalui buku-buku. Terkadang, mereka juga menyebarkannya lewat SMS. Segala cara ini mudah saja mereka lakukan, mengingat dukungan dana yang begitu besar.

Meluruskan Stigma Negatif Bid’ah

Mengenai bid’ah, kata Habib Noval, bid’ah itu sendiri terbagi menjadi dua: bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Sayangnya selama ini kata bid’ah sudah begitu melekat dengan stigma negatif, yang setiap pelakunya itu ahli neraka. Mereka berhasil menempatkan kata bid’ah sebagi sesuatu yang buruk. “Maka saya harus berjuang merebut kembali istilah bid’ah agar tidak dikonotasikan negatif,” kata Habib Noval semangat.

Menurutnya, Syaikh Alwi Al-Maliki, yang berada di Arab Saudi, sarang Wahabi, saja tidak berdiam diri. Ia melakukan perlawanan dengan berbagai cara, baik lisan ketika berdakwah maupun tulisan dalam berbagai kitab dan bukunya. Apalagi muslim Sunni Indonesia, yang mayoritas. “Saya terpanggil, mulai saat ini harus lebih fokus memberantas paham Wahabi, terutama di Solo,” katanya kembali menegaskan.

Menyusul kesuksesan buku terdahulunya, Mana Dalilnya, yang juga ditujukan untuk menolak paham Wahabi, baru-baru ini Habib Noval meluncurkan buku terbarunya berjudul Ahlul Bid’ah Hasanah.

Sekilas buku ini memiliki kemiripan dengan buku sebelumnya. Namun menurut Habib Noval, buku ini memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Sesuai namanya, isi buku yang dibandrol seharga empat puluh lima ribu rupiah ini mengupas dalil dan sumber berbagai amaliah Ahlusunnah wal Jama’ah yang selama ini diklaim sebagaibid’ah dan sesat, serta mencantumkan pendapat para ulama yang kuat. Lebih praktis dan tegas. “Pada buku Mana Dalilnya, saya menggunakan kerangka berpikir Wahabi. Sementara buku ini kerangka berpikirnya tengah-tengah: Wahabi dan kaum santri,” katanya.

Aqidah umat mesti diperkuat, agar tidak mudah goyah. Salah satunya dengan membaca buku Ahlul Bid’ah Hasanah.

Tampaknya, buku ini akan kembali mendulang sukses seperti buku-buku karya Habib Noval sebelumnya.
Saat ini, bila ada yang mempengaruhi dan menuduh dengan berbagai label negatif terkait dengan Ya-Sinan, tahlilan, shalawatan, misalnya, umat tidak hanya diam, apalagi terpengaruh, mereka mulai berani membantah, dengan mengutarakan dalil-dalil yang kerap disampaikan Habib Noval, atau minimal tidak terpengaruh.

Semangat habib muda ini dalam membentengi aqidah umat begitu tinggi. Untuk mendukung dakwahnya, kini Habib Noval juga merambah bisnis kaus oblong dengan berbagai gambar dan kata-kata ciri khas Ahlusunnah wal Jama’ah yang menggugah. Ini diproduksinya sendiri menggunakan label “Abah”, singkatan “Ahlul Bid’ahHasanah”.

“Pada produksi kaus, saya menggunakan kata-kata yang menyentuh tapi tidak provokatif, seperti ziarah kubur, Ya-Sinan, tahlilan, Maulidan, kemudian diarahkan dengan menggunakan tanda panah ke kata surga. Kemudian, kalimat Lebih baik gila dzikir daripada waras namun tidak dzikir,” kata Habib Noval.

Respons masyarakat cukup besar. Produksi pertama pada Ramadhan lalu, sebanyak 750 telah habis diserbu konsumen. Saat ini produksi kedua mencetak 1.500 kaus dengan dua varian, lengan panjang dan pendek. Warnanya beragam, mulai dari putih, biru, merah, hingga hitam.

Posted by: Habib Ahmad | 28 Disember 2011

Karnival Mahabbah

Posted by: Habib Ahmad | 28 Disember 2011

Majalah Al Kisah Terkini

Posted by: Habib Ahmad | 28 Disember 2011

Solat berjemaah tawar ganjaran pahala berlipat kali ganda

Solat berjemaah tawar ganjaran pahala berlipat kali ganda

Posted by epondok di Disember 28, 2011

Rate This

 

Oleh Wan Aminurrashid Wan Abd Hamid

RASULULLAH SAW bersabda bermaksud: “Solat berjemaah lebih afdal (utama) daripada solat bersendirian dengan 27 kali ganda.” – (Hadith riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pemurahnya Allah SWT yang menawarkan ganjaran berlipat kali ganda menerusi solat berjemaah untuk direbut hamba-Nya. Mukmin yang menginsafi betapa ganjaran bernilai itu adalah antara anugerah Allah yang terbesar, akan sentiasa menghargai dan memburu kesempatan untuk solat fardu berjemaah khususnya di masjid, malah terlepasnya peluang solat berjemaah dirasakannya sebagai satu kerugian.

Diriwayatkan bahawa Ubaidullah bin Umar al-Qawariri iaitu guru kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim berkata bahawa dia (Ubaidullah) tidak pernah ketinggalan solat Isyak berjemaah. Tetapi pada satu malam datang seorang tetamu ke rumahnya menyebabkan dia ketinggalan berjemaah Isyak disebabkan sibuk melayani tetamunya.

Sebaik tetamunya pulang, dia pun bergegas ke masjid di Basrah, didapati semua orang telah menunaikan solat Isyak dan masjid telah ditutup, lalu dia balik ke rumah dengan perasaan hampa.

Oleh kerana hadis Nabi SAW menjelaskan bahawa solat berjemaah itu ganjarannya 27 kali ganda, maka beliau pun sembahyang Isyak 27 kali.

Beliau lalu tidur dan bermimpi seolah-olah bersama satu kaum yang sedang mengembara dengan menunggang kuda tetapi dia tidak dapat mengekori orang lain. Salah seorang dari mereka menoleh ke belakang kepadanya, lalu memintanya tidak memenatkan kudanya kerana dia tidak akan mampu mengikuti kaum itu.

Ubaidullah bertanya kenapa. Lelaki itu menjawab kerana mereka solat Isyak berjemaah, sedangkan dia solat bersendirian (ternyata walaupun melakukan 27 kali solat Isyak bersendirian tidak sama nilainya dengan sekali solat Isyak berjemaah). Tidak lama kemudian Ubaidullah terjaga dalam keadaan sedih. Lalu dia memohon pertolongan dan taufik daripada Allah SWT.

Anugerah Allah SWT terhadap orang yang solat berjemaah bermula daripada terpautnya hati seseorang hamba Allah dengan masjid, disusuli dengan langkahnya menuju ke masjid kerana keinginan solat berjemaah hinggalah selesai solat dan kembali ke rumah.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyatakan bahawa ada tujuh golongan manusia yang Allah akan tempatkan mereka di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan melainkan naungan-Nya (pada hari kiamat). Salah satu dari tujuh golongan berkenaan ialah lelaki (termasuk wanita) yang hatinya (sentiasa) terikat dengan masjid.

Imam al-Nawawi ketika menafsirkan sabda Nabi SAW itu menyatakan: “Maksudnya ialah hatinya sentiasa mengingati/merindui masjid dan beristiqamah pergi ke masjid kerana solat berjemaah. Ia bukan bermaksud berterusan duduk di dalam masjid.

Kelebihan yang diperoleh oleh sesiapa yang beristiqamah ke masjid untuk solat berjemaah dikurniakan Allah kerana masjid adalah rumah Allah. Rumah bagi setiap yang bertakwa. Adalah satu kelaziman bagi orang yang diziarahi akan menghormati orang yang bertandang. Maka, cuba bayangkan bagaimana penghormatan yang akan kita peroleh daripada Pencipta alam semesta ini iaitu Allah SWT yang Maha Mulia lagi Maha Besar.

Dalam hadis lain dinyatakan bahawa Allah SWT berasa takjub dengan solat berjemaah seperti sabda Nabi SAW: “Daripada Abdullah bin Umar ra., katanya: Satu hari saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah takjub (kagum) dengan solat yang didirikan secara berjemaah”. – (Hadis riwayat Ahmad).

Beruntung dan berbahagia sungguh seorang mukmin yang melakukan amalan di mana Allah sendiri berasa kagum dan takjub terhadap amalan berkenaan.

Dengan solat berjemaah di masjid, mudah-mudahan pelbagai ganjaran dapat diraih Muslim, bukan cuma ganjaran 27 kali ganda, tetapi ditambah lagi dengan kurniaan Allah yang besar lantaran memakmurkan rumah-Nya seperti Nabi SAW bersabda: “Barang siapa pergi ke masjid pada waktu pagi atau petang (untuk beribadah/solat berjemaah), Allah akan menyediakan untuknya satu tempat tinggal di syurga setiap kali ia pergi pada waktu pagi atau petang (sentiasa tersedia hal yang sama).” – (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim.

Posted by: Habib Ahmad | 27 Disember 2011

DOA PERMULAAN BULAN SAFAR BESERTA TERJEMAHANNYA

DOA PERMULAAN BULAN SAFAR BESERTA TERJEMAHANNYA

 

 

 
 
 
 
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
 
 

DOA PERMULAAN BULAN SAFAR BESERTA TERJEMAHANNYA

 

 
 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَعُوْذُبِا اللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ. وَأَعُوذُبِجَلاَلِكَ وَجَلاَلِ وَجْهِكَ وَكَمَالِ جَلاَلِ قُدْسِكَ أَنْ تُجِيْرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلاَدِيْ وَأَهْلِي وَأَحِبَّائِي. وَمَا تُحِيْطُ شَفَقَّهُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هَذِهِ السَّنَةِ وَقِنِي شَرَّمَا قَضَيْتَ فِيْهَا. وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ. يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ وَاخْتِمْ لِيْ فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِاالسَّلاَمَةِ وَالعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلاَدِيْ وَلِلأَهْلِيْ. وَمَا تُحُوْطُهُ شَفَقَّهُ قَلْبِيْ وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ.
 

<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>

 

<!–[endif]–> 

 

“Aku berlindung dengan Allah dari kejahatan waktu ini dan penduduknya, dan aku berlindung dengan keagunganMU, Keagungan ZatMU dan Kesempurnaan Keagungan KesucianMU, agar menjauhkan diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang aku sayangi dan sesiapa yang hatiku kasih kepadanya, dari keburukan tahun ini, dan selamatkanlah aku daripada kejahatan yang telah ENGKAU tetapkan dalam tahun ini dan jauhkanlah daripadaku keburukan bulan safar, wahai Allah Yang Mulia pandangan rahmatNYA dan tutuplah pada bulan dan saat ini dengan keselamatan, afiah dan kebahagiaan kepadaku kedua orang tuaku, anak-anakku dan sesiapa yang hatiku kasih kepadanya dan seluruh orang Islam”
 

<!–[if !supportLineBreakNewLine]–> <!–[endif]–> 

Al-Fadhil ,Ustazuna Muhadir bin Haji Joll as Sanariy Hafizhahullah, Safar 1433H

Tambahan :

SAFAR AL KHEIR…
 
Merupakan salah satu dari bulan2 sunnah (diisi dengan amalan2 sunnah) dan dinamakan oleh baginda Nabi saw sebagai Safar al Khair ( Safar bulan kebaikan)…
 
Kebanyakan dari umat2 yang terdahulu dimusnahkan pada bulan ini…
 
Antara amalan sepanjang hari di dalam bulan ini; dgn niat penjagaan dari mala petaka:
 
1) Syahadatain 3 kali
 
2) Istighfar 300 kali
 
3) Sedekah harian dengan niat supaya terangkatnya bala. Nabi saw pernah bersabda… Sesiapa yang memberitakan kepadaku tentang berakhir bulan Safar, maka disunatkan pada 27 Safar untuk menyembelih haiwan (lalu disedekahkan) ikhlas kerana Allah Taala.
 
4) al Fil dibaca 7 kali
 
5) Ayatul Kursiy 7 kali setiap hari.
 
 
 
ADAB RABU TERAKHIR BULAN SAFAR:
 
1) Syahadatain 3 kali
 
2) Istighfar 300 kali
 
3) Ayatul Kursiy 7 kali
 
4) al Fil 7 kali …. lalu diamalkan secara menyeluruh olehnya diri dan anggota keluarga…
 
 
Afdhalnya:


Pada waktu siang Rabu terakhir tersebut janganlan keluar dari rumah.
 
Kerana Sh Abdullah Faiz ad Daghestani qaddasaLLAHU sirrahu pernah berkata:
 
” Pada hari Rabu terakhir Safar, akan diturunkan 70 000 bala…. Sesiapa yang menjaga (seperti yang telah disebutkan tadi) insya Allah akan dipelihara Allah Taala…
 
Allahu Haq! Hidayah Seluruh Alam:
 
 
KAIFIAT SOLAT SUNAT RABU TERAKHIR BULAN SAFAR:
 
 
Berikut dimuatkan kaifiat dan fadhilat sembahyang pada hari Rabu khir Bulan Safar sepertimana yang al-faqir petik daripada Kitab Bada’uz Zuhur karangan al-‘Allamah Syeikh Wan Ahmad Bin Muhammad Zain Al-Fathani yang dihimpunkan semula oleh al-Marhum Tuan Guru Hj.Wan Mohd.Saghir Abdullah terbitan Khazanah Fathaniyyah cetakan 1997. Inilah dia amalan tersebut : -
 
1) Niat Solat sunat (Mutlak) 4 Rakaat.

2) Tiap-tiap rakaat selepas al-Fatihah membaca :-
a. Surah al-Kauthar (17x)
b. Surah al-Ikhlas (5x)
c. Surah al-Falaq (1x)
d. Surah an-Nas (1x)

3) Selepas solat bacalah doa ini :
 
بسم الله الرحمن الرحيم.
اَللّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى. وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ.
يَا عَزِيْـــزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ
إِكْفِنِي مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ
يَا مُحْسْنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ
يَا مَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ
أَكْفِنِي هَذَ اليَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِى
فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِا اللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ
وصلّى الله على سيّدنا محمّدٍ وعلى آله وصحبه وسلِّم
 
 
 
**mulakan adab doa dengan pujian kepada Allah kemudian apitkan dipermulaan doa dengan selawat atas Nabi Muhammad s.a.w dan apitkan akhir doa dengan selawat atas Nabi Muhammad s.a.w juga.
 
 
 
RUJUKAN :



1. Kitab Bada’uz Zuhur karangan al-‘Allamah Syeikh Wan Ahmad Bin Muhammad Zain Al-Fathani yang dihimpunkan semula oleh al-Marhum Tuan Guru Hj.Wan Mohd.Saghir Abdullah terbitan Khazanah Fathaniyyah cetakan 1997, m/s: 57 dan 58.
2. Tuhfatul Authan, Hj Ahmad bin Muhammad Said al-Linggi (Mufti Negeri Sembilan)
3. al-Bahjatul Mardiyyah, as-Syeikh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani
 
SUMBER :

 

http://www.rawatanislam2u.com/2011/02/amalan-bulan-safar-mengikut-futuhat.html

Imam Syafi`i Shalat hajat 2 rekaat Tabarruk dengan Kubur Imam hanafi dalam Kitab Khatib al-Baghdadi

Posted on December 27, 2011 by salafytobat

 

Tabarruk Imam Syafi`i – Khatib al-Baghdadi

 
 

 

 Imam Abu Hanifah, an-Nu’man bin Tsabit radhiyallahu `anhu adalah salah seorang pengasas mazhab yang masyhur. Beliau wafat pada tahun kelahiran Imam asy-Syafi`i radhiyallahu `anhu, iaitu 150H. Makam beliau yang berada di Baghdad sentiasa menjadi tumpuan ziarah kaum muslimin yang kasihkan para kekasih Allah SWT. Imam kita, Sultanul A-immah Muhammad bin Idris asy-Syafi`i ketika di Baghdad, juga tidak ketinggalan untuk menziarahi Imamul A’dhzam Abu Hanifah di makam beliau tersebut. Bahkan Imam Besar keturunan Bani Muthallib ini turut menadah tangan berdoa kepada Allah SWT dengan bertawassul kepada Imam Abu Hanifah RA. Kisah mengenai perkara ini disebut oleh Imam al-Hafiz Abu Bakar Ahmad bin `Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi asy-Syafi`i rahimahullah yang masyhur dengan gelaran Imam Khatib al-Baghdadi, seorang ulama bermazhab Syafi`i yang hidup sekitar tahun 392H – 463H. 
 
Dalam karya beliau yang  masyhur “Tarikh Baghdad” pada jilid 1 halaman 123 beliau menulis kisah tersebut melalui jalan daripada al-Qadhi Abu `Abdullah al-Husain bin `Ali bin Muhammad as-Saymari daripada `Umar bin Ibrahim al-Muqri daripada Makram bin Ahmad daripada `Umar bin Ishaq bin Ibrahim daripada `Ali bin Maimun yang menyatakan bahawa beliau mendengar Imam asy-Syafi`i RA berkata: ” Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Abu Hanifah dan aku menziarahi kubur beliau setiap hari. Apabila aku mempunyai suatu hajat keperluan, aku bershalat dua rakaat, kemudian pergi ke kubur Abu Hanifah dan berdoa kepada Allah di sisinya, maka dalam masa yang singkat sahaja hajat tersebut ditunaikan.
 
Sebahagian orang mempertikaikan kesahihan kisah tersebut. Maka itu adalah hak mereka dan sebagaimana mereka, kita juga punya hak untuk tidak menerima pendapat mereka dan sebaliknya menerima pendapat ulama yang mensabitkan kebenaran pada kisah tersebut. Menurut kajian Imam Khatib al-Baghdadi, segala periwayat kisah tersebut adalah orang – orang yang shaduq dan tsiqah (yakni orang – orang yang dipercayai) dan pandangan beliau ini turut dikongsi oleh ulama-ulama lain. 

Pihak yang menolak kisah tersebut seperti al-Albani juga tidak menafikan kedudukan dan status para perawi kisah tersebut adalah orang – orang kepercayaan selain daripada ” `Umar bin Ishaq bin Ibrahim” yang dikatakan sebagai seorang yang majhul (yakni yang tidak diketahui identitinya). Atas dasar tersebut maka al-Albani menghukumkan kisah tersebut sebagai dhaif bahkan batil. Rasanya penilaian kisah tersebut sebagai batil adalah satu penilaian yang terlampau kerana beliau gagal mempertimbangkan fakta yang para periwayat lain adalah mereka-mereka yang shaduq dan tsiqah. Sewajarnya perkara ini masuk dalam pertimbangan al-Albani sebelum menyatakan yang ianya batil.

 

Menurut penjelasan sebahagian ulama lain, ada kemungkinan ‘Umar bin Ishaq tersebut adalah `Amr bin Ishaq al-Himsi yang merupakan seorang yang diketahui dan boleh dipercayai. Jika ianya benar, maka tiadalah apa lagi kecacatan pada sanad yang dikemukakan oleh Imam Khatib tersebut. Selain daripada itu, perlu diberi perhatian juga bahawa kisah ini turut disampaikan melalui jalan lain, antaranya oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam karya beliau “al-Khairat al-Hisan” yang merupakan manaqib Imam Abu Hanifah pada fasal 35 halaman 129 dengan sanad yang shahih dan Imam Ibnu Abil Wafa menyebutkan kisah ini dalam “Tabaqat al-Hanafiyyah” pada halaman 519 dengan sanad lain melalui al-Ghaznawi. Tidak ketinggalan para ulama di masa kita ini turut memuatkan kisah ini dalam karya mereka, misalnya Imam Muhammad Zahid al-Kawthari membawa kisah ini dalam “Maqalat al-Kawthariy” pada halaman 453 dan mengatakan bahawa sanad kisah ini adalah bagus (jayyid). Mufti Muhammad Taqi Uthmani memuatkannya dalam karya beliau “Jahan-e-Deedah“, jika kisah tersebut dianggap sebagai batil, pasti Mufti Muhammad Taqi yang terkenal sebagai seorang ulama bermazhab Hanafi dengan aliran Deobandi tidak akan memuatkannya dalam karya beliau. Maka hendaklah kita berlapang dada, jangan terlalu taksub dengan pegangan kita sehingga menuduh pihak yang tidak sependapat dengan berbagai tuduhan yang keji. Tiada paksaan samada untuk menerima atau menolak kisah Imam asy-Syafi`i RA bertabarruk dengan Imam Abu Hanifah RA.

Posted by: Habib Ahmad | 23 Disember 2011

KINRARA BERSELAWAT

Darul Murtadza
Click on the photo to start tagging. Done Tagging
Posted by: Habib Ahmad | 23 Disember 2011

Dzikr & Tabligh Akbar Majelis RasuluLlah

Posted by: Habib Ahmad | 23 Disember 2011

KULIAH MAGHRIB

Posted by: Habib Ahmad | 23 Disember 2011

TERENGGANU BERSELAWAT

Posted by: Habib Ahmad | 22 Disember 2011

Majlis Ta’lim Bulanan

Bertujuan memberi kemudahan kepada masyarakat Kuala Lumpur dan Selangor khususnya serta masyarakat Malaysia ‘amnya menimba ilmu ajaran agama Islam yang ditinggalkan dan diwasiatkan oleh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

Huraian dari buku-buku karangan beliau akan disyarahkan dalam Bahasa Malaysia.

Alhamdulillah pada hari Ahad 21 November 2010, Majlis Ilmu bulanan yang selama ini diselaraskan di masjid Baitul Aman, Jalan Damai, Ampang telah mengkhatamkan kitab ‘Dakwah yang Sempurna dan Peringatan yang Utama’ karangan Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad.  Setelah dipimpin oleh Tuan Guru kita yang juga Sang Penterjemah buku ini kedalam Bahasa Malaysia, Syed Ahmad bin Semait hingga beliau wafat pada 15 Julai 2006, maka disambung dan dikhatamkan pula oleh murid beliau Ustaz Najmuddin bin Othman Alkhered.  Semoga mereka dirahmati Allah s.w.t.

Majlis bulanan seterusnya akan mengabungkan dua kitab karangan Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad.  Selepas solat Maghrib, sambungan huraian buku berjudul ‘Nasihat Agama dan Wasiat Iman’ akan disyarahkan oleh Ustaz Ali Zainal Abidin Alhamid diikuti dengan permulaan huraian buku baru ‘Penuntun Hidup Bahagia (Risalatul Mudzakarah)’ oleh Ustaz Najmuddin bin Othman Alkhered selepas solat Isya’.  Bagi mereka yang ingin memiliki senaskah buku ini, pihak kami akan mengedarkannya di majlis nanti dengan harga diskaun sebanyak RM 25.00 senaskah.
InsyAllah, majlis ini akan dilangsungkan seperti biasa pada Sabtu 21 Januari 2012 mulai solat maghrib di Masjid Baitul Aman, 102, Jalan Damai di Jalan Ampang, Kuala Lumpur. 
Untuk maklumat, buku Nasihat Agama dan Wasiat Iman memberi bimbingan penting untuk mengenal ilmu-ilmu yang wajib dari akidah Islamiah dan hukumhakamnya, serta ciri-ciri akhlak dan budi pekerti yang mulia. Ia juga menunjukkan cara-cara berdakwah ke jalan Allah Ta’ala, dan menunaikan hak kewajiban terhadap agama Islam dengan berdalilkan ayat-ayat suci Al-Quran dan Hadis.
Seterusnya, gabungan dua judul buku Petunjuk Thariqat dan Penuntun Hidup Bahagia membicarakan cara orang yang memilih yang bersih dari yang kotor dalam mengarahkan diri menuju ke jalan akhirat.  Bahagian kedua membincangkan perbezaan takrif ‘hidup bahagia’ antara insan umum dan ahli tasawuf iaitu mereka yang menganggap hidup bahagia bererti hidup aman sentosa sesudah mati. Maka Itu adalah kebahagiaan yang hakiki.
Agar kita diberi anugerah dari Allah s.w.t. dan mengambil peluang untuk menghadiri majlis ini selaku pedoman perjalanan kita ke akhirat.

Jadual ini akan diulangi pada minggu ketiga atau keempat setiap bulan yang juga akan dimaklumkan pada majlis semasa.

Semua Muslimin dan Muslimat dijemput hadir. Diminta Hadirin dan Hadirat mematuhi halal/haram, sunnah/makruh dan adab semasa didalam masjid. 
Posted by: Habib Ahmad | 20 Disember 2011

Usia amat bernilai

Usia amat bernilai

Posted by epondok di Disember 20, 2011

i
Rate This

Quantcast

Oleh Wan Aminurrashid Wan Abd Hamid

Umat Islam perlu elak pembaziran, perkara mungkar

ANDAINYA setiap individu muslim memahami dan menyedari betapa cintanya Allah SWT kepada orang yang berbuat baik, sudah tentu dia akan merebut cinta Allah itu dengan mengisi setiap ruang waktu kehidupannya berbuat amal salih.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat kebajikan.” (Surah al-Baqarah, ayat 195)

Dan sesiapa mengerjakan sesuatu dosa, maka sesungguhnya dia hanya mengerjakannya untuk (menjadi bala bencana yang) menimpa dirinya sendiri dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. – Surah al-Nisa, ayat 111

Jika setiap muslim itu benar-benar menginsafi betapa Allah SWT sangat membenci perlakuan jahat dan maksiat, sudah tentu dia akan berasa takut untuk mendekati segala perbuatan jahat dan mungkar. Jika sudah terlanjur, dia akan segera meninggalkannya dan bertaubat kepada Allah SWT.

Mukmin yang menjerumuskan dirinya dalam perlakuan jahat dan amalan mungkar sebenarnya terdedah kepada dosa, kemurkaan serta balasan Allah SWT sama ada di dunia atau akhirat kelak. Inilah perlu ditakuti muslim yang masih tidak mengendahkan tegahan Allah SWT.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan sesiapa mengerjakan sesuatu dosa, maka sesungguhnya dia hanya mengerjakannya untuk (menjadi bala bencana yang) menimpa dirinya sendiri dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Nisa’, ayat 111)

Mereka yang meninggalkan larangan Allah SWT melalui fasa perubahan yang dinamakan hijrah atau transformasi diri. Tindakan ini perlu dilakukan setiap masa kerana amalan muhasabah memang digalakkan dan diterjemahkan usaha berubah kepada lebih baik dalam bentuk perlakuan.

Mukmin yang sengaja tidak menghiraukan tegahan Allah dibimbangi ajal menjemputnya lebih dulu sebelum sempat bertaubat. Dinyatakan dalam hadis, Allah SWT cemburu kepada hamba-Nya yang melakukan perkara ditegah.

Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah SWT memiliki sifat cemburu, dan kecemburuan Allah itu ialah apabila orang mukmin melakukan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya akhlak yang mulia adalah buah daripada ibadah yang sempurna. Ibadat yang difardukan Allah SWT seperti solat lima waktu, puasa, zakat fitrah dan ibadah haji, selain bukti kepatuhan kepada Allah SWT, juga membentuk pelakunya menjadi manusia berakhlak mulia.

Dengan kemuliaan akhlak itulah, manusia mampu menjauhi segala amalan mungkar yang ditegah Allah SWT.

Mukmin yang insaf bahawa hidup ini sementara dan amat singkat, sedangkan masa berlalu setiap saat adalah usianya, akan memandang umurnya masih berbaki itu sangat bernilai dan tidak wajar dibazirkan kepada perkara sia-sia.

Apalagi menjerumuskan diri ke kancah kejahatan dan maksiat. Hidup ini sebenarnya adalah kesempatan emas untuk memburu dan berlumba-lumba mengejar amal kebajikan sebagai bekalan menemui Allah SWT kelak.

Diceritakan, suatu hari seorang lelaki yang gemar berbuat maksiat datang menemui ahli sufi bernama Ibrahim bin Adham untuk meminta nasihat (dengan harapan ia dapat meninggalkan amalan maksiatnya).

Ibrahim bin Adham lalu menasihati lelaki itu dengan berkata: “Jika kamu mahu menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh kamu lakukan maksiat.”

Syaratnya ialah, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan (kamu) makan rezeki-Nya; jika kamu berbuat maksiat, jangan tinggal di bumi-Nya, jika kamu masih bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat dilihat oleh-Nya.

Jika malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakan kepadanya, ketepikan kematianku dulu kerana aku masih mahu bertaubat dan melakukan amal salih. Jika malaikat Zabaniah datang hendak mengiringimu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau ikut bersamanya.

Nasihat Ibrahim bin Adham itu amat menusuk kalbunya, membuatkan lelaki berkenaan insaf. Air matanya bercucuran kerana tidak tahan mendengar nasihat sangat mengesankan dan sedar bahawa semua syarat itu tidak mampu dilaksanakannya. Mulai saat itu dia bertaubat kepada Allah SWT.

Posted by: Habib Ahmad | 19 Disember 2011

KULIAH MAGHRIB

Posted by: Habib Ahmad | 19 Disember 2011

Majlis Ilmu bersama DR Mahmoud

Posted by: Habib Ahmad | 19 Disember 2011

Lantunan Cinta Rasulullah

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 727 other followers