Posted by: Habib Ahmad | 2 Februari 2012

Rasulullah SAW Dekat Di Jiwa dan Hati

Posted by: Habib Ahmad | 2 Februari 2012

Keadaan Lapar Rasulullah SAW

Keadaan Lapar Rasulullah SAW

Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!

Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu’man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.

Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu’aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)

Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya – ataupun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)

Abu Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma’uz Zawatid 10:325)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata: Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:3

Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:14

Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air.
(Kanzul Ummal 4:3

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)

Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma’uz Zawa’id 10:312)

Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa’ad ra. dia berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung? Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan daripada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)

Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat.’

Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya!
(At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).

Posted by: Habib Ahmad | 2 Februari 2012

Natijah Ibadat dan Kelazatannya

Natijah Ibadat dan Kelazatannya

 

Sayugialah hendaknya jangan sampai seseorang itu menganggap bahawa natijah sembahyangnya tidak boleh sampai ke peringkat qurratul-‘ain (cenderamata), sebab natijah ibadat-ibadat itu adalah semacam kelazatan bagi diri, sedang adat kebiasaan pula akan mencetuskan di dalam diri berbagai-bagai keindahan yang lebih aneh dari hal-hal yang disebutkan tadi.

Misalnya kita sering melihat penjudi yang muflis (bankrap) terkadang-kadang merasa gembira dan senang hati dengan perjudiannya, di mana ia menganggap bahawa kegembiraan orang yang tiada berjudi itu tidak seindah kegembiraannya yang berjudi, padahal perjudian itu akan merampas segala harta bendanya dan menghancurkan kerukunan rumahtangganya serta menjadikannya seorang muflis.

Namun demikian ia masih gemar dan cinta kepada perjudian juga, dan merasa senang dan enak ketika berjudi. Sebabnya boleh berlaku demikian ialah kerana perjudian itu telah berdarah daging dalam dirinya, dan ia telah terlalu biasa dengan perjudian dalam masa agak yang panjang.

Demikian pulalah dengan halnya orang yang suka bermain-main dengan burung merpati, kadangkala ia sanggup berdiri sepanjang hari di bawah terik panas matahari dengan menegakkan kedua belah kakinya tanpa merasa penat atau lelah, kerana hatinya sangat gembira melihat gerak geri burung-burung itu, berterbangan dan berkeliling di udara.

Kesemua ini adalah akibat dari adat dan kebiasaannya melakukan pekerjaan yang sama terus menerus dalam masa yang panjang, atau menyaksikan perkara itu bersama kawan-kawan dan rakan-rakan yang bergaul dengannya.

Jadi sekiranya nafsu itu, dengan jalan kebiasaannya saja, dapat merasa enak berbuat kebatilan, maka mengapa pula ia tidak boleh merasa enak juga untuk berbuat yang hak, bila ia dibiasakan berbuatnya dalam masa yang panjang dan memaksanya untuk mengerjakannya terus menerus.

Malahan kemuyulan nafsu kepada perbuatan-perbuatan yang jahat itu adalah menyimpang dari tabiat yang dikira sama seperti kemuyulannya kepada memakan tanah. Barangkali juga, jika manusia itu dibiasakan memakan tanah, nescaya ia akan berterusan memakannya.

Adapun kemuyulan manusia kepada hikmat dan kebijaksanaan serta cintakan Allah Ta’ala, makrifat dan beribadat kepadaNya adalah sama seperti kemuyulannya kepada makanan dan minuman. Itu adalah suatu kehendak tabiat hati dan ketentuan Ilahi. Sedangkan kemuyulannya kepada tuntutan-tuntutan syahwat adalah asing dari zatnya, dan semacam perkara yang baru mendatang kepada tabiatnya.

 

http://bimbinganmukmin.wordpress.com/2012/02/01/natijah-ibadat-dan-kelazatannya/

Posted by: Habib Ahmad | 1 Februari 2012

Sambutan Maulidurrasul Di Masjid Bandar Baru Batang Kali

Posted by: Habib Ahmad | 31 Januari 2012

FACEBOOK MAHABBAH RASULULLAH S.A.W

Menyemarakkan kedatangan Bulan Maulidurrasul dapatkan pelbagai koleksi2 artikel berkaitan Rasulullah SA.W.,video Cinta Rasul,Koleksi Selawat Nabi,Gambar barangan peninggalan Nabi, Qasidah/burdah dll di group :http://www.facebook.com/groups/286817568044033/

Posted by: Habib Ahmad | 31 Januari 2012

Sambutan Maulidirrasul di Yayasan al-Jenderami

Posted by: Habib Ahmad | 31 Januari 2012

Sambutan Maulidurrasul di Khazanah Fathaniyyah

Sambutan Maulidurrasul di Khazanah Fathaniyyah

 

Posted by: Habib Ahmad | 30 Januari 2012

MAJLIS MAULID AKBAR 1433H

Bicara Hikmah & Senandung Zikir (Sempena Sambutan Maulidur Rasul Sallahu ‘Alayhi Wasallam 1433H)

 

Posted by: Habib Ahmad | 29 Januari 2012

Rumusan tentang tabarruk

Rumusan tentang tabarruk

 

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

 

KITA sering mendengar orang berkata: “Kami berada dalam keberkatan Rasulullah SAW” atau “Bersama kami keberkatan Rasulullah SAW”. Ketika Ibnu Taimiyyah ditanya tentang perkara ini, beliau menjawab: “Adapun, orang yang berkata ‘kami berada di bawah keberkatan si fulan’ atau ‘semenjak dia bersama kami, ada berkatnya pada kami’ perkataan seperti ini daripada satu sudut adalah benar. Tetapi daripada satu sudut yang lain, ia adalah batil dan salah.”

“Ia dikatakan benar dan sahih jika orang yang mengungkapkannya bermaksud: “Si fulan telah membimbing dan mengajar kami serta menyuruh kami melakukan kebaikan dan melarang kami melakukan kemungkaran. Maka dengan berkat mengikut dan mentaatinya, terhasillah kepada kami kebaikan sebagaimana yang telah tercapai.”

Ungkapan seperti itu adalah betul sebagaimana yang berlaku kepada penduduk Madinah. Setelah Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, penduduknya mendapat keberkatan baginda kerana mereka beriman dengannya dan mentaatinya. Dengan keberkatan ini, mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Bahkan, setiap Mukmin yang beriman dengan Rasulullah dan mentaatinya, menikmati daripada keberkatan Rasulullah disebabkan keimanan dan ketaatan mereka kepadanya kebahagiaan dunia dan akhirat yang tidak diketahui hakikatnya kecuali Allah.

Begitu juga, jika yang dimaksudkan dengan perkataan tersebut adalah dengan berkat doa dan kesolehannya, lalu Allah menolak bencana dan memberikan rezeki serta kemenangan; maka ia juga adalah benar.

Ia sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi: “Tidaklah kamu ditolong dan diberikan rezeki, kecuali dengan (keberkatan) orang-orang yang lemah di antara kamu dengan doa, solat, dan keikhlasan mereka.”

Kadangkala, suatu azab atau bala itu tidak jadi diturunkan kepada orang kafir dan pelaku kejahatan, supaya bala atau azab tersebut tidak turut mengenai atau menimpa kaum mukminin yang ada bersama mereka, kerana kaum mukminin itu tidak berhak untuk turut menerimanya. Rujuk ayat 25 surah al-Fath.

Justeru, jika bukan kerana berkat kaum Mukminin yang lemah di sekitar Mekah, yang hidup bercampur dengan kaum kafir, sudah pasti Allah menurunkan azab kepada golongan kafir.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW: “Jika bukan kerana di dalam rumah itu, adanya kaum wanita dan anak-anak, sudah pasti aku akan memerintahkan untuk melakukan solat, sehingga solat itu didirikan. Kemudian, akan pergi bersama-samaku kaum lelaki dengan membawa seberkas kayu kepada kaum yang tidak menyaksikan solat bersama kami (solat berjemaah), lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka.”

Begitu juga, Nabi SAW pernah menangguhkan hukuman rejam terhadap seorang wanita yang berzina kerana dia sedang hamil sehinggalah dia melahirkan anaknya.

Keberkatan para wali Allah dan orang soleh yang dilihat dari sudut manfaat kepada makhluk diperolehi melalui seruan dan ajakan mereka kepada ketaatan kepada Allah, doa mereka untuk makhluk-Nya, rahmat yang diturunkan oleh Allah kepada mereka dan perkenan-Nya menolak bencana dengan sebab mereka. Itulah yang mesti diakui kebenarannya.

Dengan demikian, barang siapa memahami berkat dengan pengertian seperti ini, maka dia adalah benar dan perkataannya juga adalah benar.

Ungkapan seperti itu juga boleh dinilai sebagai batil atau salah. Misalnya ia bermaksud menyekutukan Allah dengan makhluk.

Contohnya, orang yang telah dikuburkan (mati) di suatu tempat disangka bahawa Allah memberikan pertolongan kepada mereka kerana keberkatan orang yang telah mati tersebut, meskipun mereka (yang diberi berkat itu) tidak melakukan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.

Ini merupakan suatu kejahilan. Rasulullah SAW penghulu anak Adam, disemadikan di Madinah pada tahun berlakunya pertelingkahan antara penduduk Madinah dengan tentera Yazid ibn Muawiyah.

Pada masa itu, penduduk Madinah ditimpa musibah. Ramai yang terbunuh, ditawan dan berada dalam ketakutan yang tidak diketahui puncanya melainkan Allah. Ini kerana, setelah berlalunya masa pemerintahan Khulafah al-Rasyidin, penduduk Madinah banyak melakukan perkara negatif yang mewajibkan mereka ditimpa musibah seperti itu.

Sedangkan, pada zaman Khulafah al-Rasyidin, Allah menahan bencana terhadap penduduk Madinah dengan keimanan dan ketakwaan mereka kerana para khalifah tersebut mengajak dan mendorong mereka ke arah tersebut.

Dengan berkat ketaatan mereka kepada para khalifah itu dan amalan para khalifah bersama mereka, maka Allah menolong dan menguatkan mereka.

Begitu juga al-Khalil, Nabi Ibrahim a.s disemadikan di Syam. Namun, kaum Nasrani telah menguasai negeri itu hampir 100 tahun dan penduduknya pula melakukan kejahatan.

Justeru, sesiapa yang meyakini bahawa mayat dapat menolak bencana daripada mengenai orang yang hidup, sedangkan orang yang hidup tersebut melakukan maksiat dan dosa maka ini juga kesalahan besar.

Begitu juga adalah batil apabila seseorang menyangka bahawa keberkatan seseorang akan diturunkan kepada orang yang menyekutukan Allah dan terkeluar daripada mentaati Allah dan rasul-Nya.

Misalnya, seseorang menyangka bahawa berkat sujud kepada selain Allah dan mengucup tanah yang berada dekat dengan kubur tersebut dan sebagainya menghasilkan kebahagiaan baginya sekalipun dia tidak melakukan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.

Demikian juga, apabila seseorang itu beriktikad bahawa orang seperti itu layak memberi syafaat baginya dan memasukkannya ke dalam syurga, hanya kerana mencintainya dan menisbahkan diri kepadanya.

Kesemuanya ini dan yang seumpama dengannya, termasuk di antara perkara-perkara yang bertentangan dengan al-Quran dan sunnah.

Ia merupakan keadaan atau ciri-ciri orang-orang yang mensyirikkan Allah dan ahli bidaah. Ia adalah batil, tidak boleh dipercayai dan tidak boleh dijadikan pegangan. (Ibnu Taimiyyah,Fatawa, 11:113).

Oleh : Lutfi Latif

Dengan Nama Allah Tuhan yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.

Segala Pujian bagi Allah SWT wahai Tuhan Pentadbir Sekalian Alam. Selawat serta Salam ke atas Junjungan Mulia Nabi Muhammad SAW yang diutuskan oleh Allah kepada sebaik-baik umat yakni umat Muhammad SAW.
Ketika saya bermula hendak menulis perbahasan ini, hujan pun turun. Namun, tidak lebat dan tidak pula disertai petir atau guruh. Dan sebelum menulis perbahasan ini saya memohon kepada Allah SWT di dalam solat supaya mudah-mudahan saya diberi petunjuk dan semoga saya mampu menulis sesuatu yang benar.
Telah dinukilkan oleh Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, tentang pendapat Imam Al-Syafi’i berkenaan dengan tidak sampai pahala bacaan Al-Qur’an kepada si mati. Nukilan ini seterusnya menjadi sesuatu yang masyhur dari kalangan para ulama mazhab Syafi’i.
Kelihatan pendapat Imam Al-Syafi’i yang dinukilkan itu sempat mencetuskan kontroversi yang berpanjangan. Senario ini mengundang persoalan sama ada membaca Al-Qur’an di perkuburan lalu menyampaikan pahala bacaan tadi kepada si mati termasuk sesuatu yang bid’ah atau sunnah.
Ibnu Katsir telah berkata di dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim:
{ وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى } أي: كما لا يحمل عليه وزر غيره، كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه. ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء، فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما. وأما الحديث الذي رواه مسلم في صحيحه، عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: من ولد صالح يدعو له، أو صدقة جارية من بعده، أو علم ينتفع به”
Ertinya:
[“Dan sesungguhnya seseorang tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”] Sebagaimana dosa seseorang tidak boleh dipikulkan oleh orang lain, demikian pulalah pahala, seseorang tidak akan memperoleh pahala melainkan daripada usahanya sendiri. Dan menerusi ayat tersebut Imam Al-Syafi’i RHM berkesimpulan bahawa pahala bacaan (Al-Qur’an) tidak sampai atau diserahkan kepada orang yang telah mati, kerana itu bukan amalan atau hasil usahanya. Oleh itu, Rasulullah SAW tidak menganjurkan hal tersebut kepada umatnya dan tidak menggalakkan mereka untuk melakukannya, dan tidak pula memberikan petunjuk kepada mereka sama ada daripada nas atau isyarat. Demikian juga tidak pernah diriwayatkan bahawa para sahabat melakukan hal yang demikian. Kalau perbuatan tersebut merupakan kebaikan pasti mereka telah mendahului dalam melakukannya. Oleh kerana perbuatan mendekatkan diri kepada Allah (termasuk membaca Al-Qur’an kepada si mati) mesti didasari oleh nas-nas agama, bukan dengan analogi dan fikiran (pendapat) orang. Adapun untuk doa dan sedekah ulama sepakat bahawa keduanya boleh sampai kepada si mati, di samping ada nas syarak mendasari hal tersebut. Dan hadis tentang itu diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Sahihnya daripada Abu Hurairah RA berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah amalnya, melainkan tiga perkara iaitu anak soleh yang mendoakannya, sedekah jariah atau ilmu yang bermanfaat.”
Para ulama telah menganalisis pendapat Imam Al-Syafi’i yang telah dinukil oleh Imam Ibnu Katsir ini. Lalu, mereka memberikan pelbagai macam komentar. Dan penulis sendiri telah berusaha mengumpulkan komentar-komentar tersebut bagi menjawab tentang isu ini.
ANALISA PERTAMA: ANALISIS TERHADAP SURAH AN-NAJM AYAT 39
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
Ertinya:
Dan sesungguhnya seseorang tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Surah an-Najm: 39)
Sebenarnya ayat ini mempunyai pelbagai tafsiran oleh para ulama. Berikut antara komentar ulama tentang ayat tersebut:
  1. Ayat ini telah dimansukhkan oleh Surah At-Thur ayat 21. Demikian pendapat Ibnu Abbas yang direkodkan oleh Imam Jalaluddin Al-Suyuti di dalam kitab tafsirnya, Al-Durr Al-Mantsur.
  2. Ayat ini telah dikhususkan.
  3. Ayat ini bercerita tentang syariat umat terdahulu.
  4. Ayat ini dikhususkan kepada orang kafir, bukan orang mukmin.
  5. Ayat ini dikhususkan kepada orang yang hidup (insan), bukan yang telah mati.
Setelah Sheikh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah cuba menyebutkan pendapat para ulama lain di dalam kitabnya Al-Ruh tentang penafsiran ayat ini lalu beliau melemahkan semua pendapat yang telah disenaraikan. Ini kerana beliau mempunyai pendapat tersendiri yang amat rapat dengan pendapat Imam Al-Syafi’i dan gurunya Sheikh Ibnu Taimiyyah.
Menurut Sheikh Ibnul Qayyim, surah an-Najm ayat 39 itu menunjukkan bahawa Allah SWT tidak akan memberikan balasan pahala melainkan dengan amal dan usahanya sendiri. Sekaligus membuktikan keadilan Allah SWT.
Sungguhpun begitu, Sheikh Ibnul Qoyyim berpendapat bahawa boleh menghadiahkan pahala kepada si mati. Ini akan diberitahu nanti.
ANALISA KEDUA: ANALISIS PENDAPAT IMAM AL-SYAFI’I 

Sebagaimana dosa seseorang tidak boleh dipikulkan oleh orang lain, demikian pulalah pahala, seseorang tidak akan memperoleh pahala melainkan daripada usahanya sendiri. Dan menerusi ayat tersebut Imam Al-Syafi’i RHM berkesimpulan bahawa pahala bacaan (Al-Qur’an) tidak sampai atau diserahkan kepada orang yang telah mati, kerana itu bukan amalan atau hasil usahanya.”

Sheikh Ibnul Qoyyim telahpun memberikan jawapan tentang hal ini di dalam kitabnya Al-Ruh. Demikianlah kata-kata dan pendapatnya:
فأخبر تعالى أنه لا يملك إلا سعيه
Allah SWT memberitahu bahawa seseorang itu tiada memiliki sesuatu kecuali dari hasil usahanya sendiri.
Kemudian Sheikh Ibnul Qoyyim melanjutkan pembicaraannya:
وأما سعى غيره فهو ملك لساعيه فإن شاء أن يبذله لغيره وإن شاء أن يبقيه لنفسه وهو سبحانه لم يقل لا ينتفع إلا بما سعى وكان شيخنا يختار هذه الطريقة ويرجحها.
“Adapun usaha orang lain, maka itu hak orang yang mengerjakannya. Jika dia suka hendak memberikannya kepada orang lain terserah kepadanya sendiri, kalau tidak maka hak itu adalah kepunyaannya sendiri yang disimpannya untuk dirinya sendiri. Allah Ta’ala tiada mengatakan tidak boleh dimanfaatkan kecuali apa yang diusahakannya semata. Dan tuan guru kami yakni Ibnu Taimiyah, telah memilih cara ini dan memberatkannya (menguatkannya).”
Lihatlah jawapan Ibnul Qoyyim ini! Bukankah ianya benar? Cubalah anda memahami dengan baik akan surah an-Najm ayat 39 dengan pendapat Imam Al-Syafi’i dan disertai penjelasan Imam Ibnul Qoyyim. Anda dapat lihat bahawa kata-kata Imam Al-Syafi’i tadi “…tidak sampai atau diserahkan kepada orang yang telah mati, kerana itu bukan amalan atau hasil usahanya.” Telah dijawab oleh Ibnul Qoyyim bahawa memang itu bukan usaha orang yang telah mati, sebab itu tidak sampai. Tetapi, pahala bacaan al-Qur’an tadi kepunyaan pembuat amal yang masih hidup, dan pembuat amal berhak untuk memberikan pahala tersebut kepada orang yang telah mati.
Pernah seseorang bertanya kepada saya (Lutfi), mengapa saya berpendapat pahala bacaan al-Qur’an boleh sampai kepada orang yang telah mati padahal al-Qur’an menyebutkan bahawa seseorang tidak akan memperoleh melainkan atas usahanya sendiri? Berikut ini adalah jawapan saya:
Kita kena faham bahawa ayat Al-Qur’an merupakan sesuatu yang benar dan menunjukkan sesuatu yang PASTI. Memang merupakan sesuatu yang PASTI bahawa kita akan mendapat kebaikan atas usaha atau amalan kita sendiri. Adapun hadiah pahala daripada orang lain adalah bentuk yang TIDAK PASTI, dan kita tidak tahu sama ada orang lain akan memberikan pahalanya kepada kita ataupun tidak. Kita tidak tahu, mungkin sahaja setelah kematian kita nanti, kita menyangka ada orang ingin hadiahkan pahalanya kepada kita padahal realitinya belum tentu dan ianya merupakan BENTUK YANG TIDAK PASTI. Jadi, adakah kita perlu mengharapkan sesuatu yang BELUM PASTI? Maka, oleh sebab itu kita perlu memperbanyakkan amal sendiri dan tidak bergantung atau terlalu mengharapkan belas kasihan orang lain. Ini kerana apabila kita sendiri beramal, maka kita memperoleh sesuatu balasan amal yang PASTI. Nah, oleh sebab itu Al-Qur’an hanya menyebutkan sesuatu yang PASTI. Supaya kita memperbanyakkan amal sendiri ketika hidup di dunia ini.Sungguhpun begitu, jika memang ada orang lain menghadiahkan pahalanya kepada kita, maka kita akan memperoleh hadiah pahala itu. Wallahu a’lam bis shawab”.
ANALISA KETIGA

Oleh itu, Rasulullah SAW tidak menganjurkan hal tersebut kepada umatnya dan tidak menggalakkan mereka untuk melakukannya, dan tidak pula memberikan petunjuk kepada mereka sama ada daripada nas atau isyarat.
Maksud pernyataan di atas ialah Rasulullah SAW tidak menganjurkan membaca al-Qur’an kepada orang yang telah mati. Dan tiada dalil yang menunjukkan bahawa dianjurkan membaca Al-Qur’an kepada orang yang telah mati.
Para ulama telah berusaha menjawab tentang hal ini dengan dalil-dalil yang baik. Namun, dalil ini telah mendapat kritikan daripada sebahagian pihak, tetapi disokong oleh sebahagian pihak yang lain. Maka, dalam hal ini sikap berlapang dada patut diutamakan.
وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس ).
Ertinya:
Daripada Ma’qil bin Yasar bahawasanya Nabi SAW bersabda: Bacakanlah ke atas orang yang telah meninggal dunia surah Yasin!
(Riwayat Abu Daud dan lain-lain)
Hadis ini telah dinilai Daif oleh Imam Ad-Daruqutni. Namun, Imam Abu Daud tidak menilainya Daif. Dan ianya telah dinilai Sahih oleh Imam Ibnu Hibban. Berkata sebahagian ulama bahawa hadis ini menunjukkan bahawa disunatkan membaca Surah Yasin kepada orang yang sedang nazak, bukan kepada orang yang telah mati.
Tentang masalah itu telah dijawab oleh Dr. Abd Malik Abd Rahman As-Sa’di di dalam kitabnya, Al-Bid’ah fi al-Mafhum Al-Islami Al-Daqiq:
Lafaz mayyit disebut secara hakikat ke atas seorang yang telah keluar rohnya daripada jasad. Dan digunakan secara majaz ke atas orang yang sedang nazak. Ini bererti dia masih lagi hidup dan bukannya telah mati. Kalau dilihat di dalam Kaedah Usuliyyah, diharuskan menggunakan satu lafaz secara hakikat atau majaz, maka tidaklah menjadi tegahan sekiranya digunakan mawtakum ke atas seorang yang sedang nazak dan seorang yang telah mati dengan sebenarnya, kerana pahala bacaan tetap sampai kepadanya dan dia merasa senang sebagaimana seorang yang nazak merasa senang terhadap bacaan surah tersebut. Mereka menafsirkannya kepada makna majaz semata-mata kerana mengkiaskannya dengan hadis Rasulullah SAW yang lain:
Ajarkanlah orang-orang yang hampir mati di kalangan kamu dengan kalimah La ilaha illallah. Yang dimaksudkan dengan mawtakum di sini ialah mereka yang hampir mati, bukannya seorang yang benar-benar telah mati. Dijawab ke atas hujah di atas: Perkataan yang bererti: Ajarkanlah(لقنوا) , sudah cukup menjadi bukti yang mengubahnya daripada hakikat ke majaz, kerana apabila diminta ‘Ajarkan’ supaya seorang yang hampir mati itu dapat mengucapkannya sebelum rohnya keluar, bukan selepas keluar roh. Lebih-lebih lagi terdapat sebuah hadis lain yang menyatakan maksudnya ‘Sesiapa yang perkataannya di dunia diakhiri dengan kalimah La ilaha illallah, nescaya akan masuk syurga’. Di atas dasar ini tidak ada faedah diajarkannya selepas keluar roh atau selepas kematiannya. Manakala hadis Yasin menggunakan lafaz yang bererti: Bacakanlah ( اقْرَءُوا)ia! Perkataan ini sesuai untuk seorang yang hampir mati dan seorang yang telah mati, kerana kedua-duanya merasa senang dengan surah tersebut, di samping pahalanya tetap sampai sekiranya dia telah mati. Inilah yang diperkatakan oleh Al-Muhib At-Tabari dan lain-lain.
Sebenarnya terdapat hadis lain yang menyokong hadis tadi iaitu:
لِمَا رَوَى أَنَسٌ مَرْفُوعًا قَالَ: مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ فَقَرَأَ فِيهَا يس خُفِّفَ عَنْهُمْ يَوْمَئِذٍ وَكَانَ لَهُ بِعَدَدِهِمْ حَسَنَاتٌ
Ertinya:
Daripada Anas RA secara marfu’ bahawa Rasulullah SAW bersabda: Sesiapa yang memasuki kawasan perkuburan lalu membaca surah Yasin, nescaya diringankan azab daripada mereka (ahli kubur) pada hari tersebut dan diberikan kebaikan yang banyak mengikut bilangan ahli kubur kepada si pembaca tadi.
(Diriwayatkan oleh Sohibul Khilal dengan sanad beliau, telah disebutkan demikian itu oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughni juga disebutkan oleh pengarang kitab Tuhfatul Al-Ahwazi. Menurut Dr. Ali Jum’ah dengan hadis inilah Imam Hanbali berhujah).
Hadis lain:
عَنْ عَلِيٍّ مَرْفُوعًا { مَنْ مَرَّ عَلَى الْمَقَابِرِ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ إحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً ، ثُمَّ وَهَبَ أَجْرَهُ لِلْأَمْوَاتِ ؛ أُعْطِي مِنْ الْأَجْرِ بِعَدَدِ الْأَمْوَاتِ }
Ertinya:
Daripada Ali RA secara marfu’ bahawa Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang melalui kawasan perkuburan, kemudian ia membaca Surah al-Ikhlas 11 kali dengan niat menghadiahkan pahalanya kepada para penghuni kubur, ia sendiri akan memperoleh sebanyak yang diperoleh semua penghuni kubur itu.
(Diriwayatkan oleh Ar-Rafi’i dan As-Samarqandi. Juga disebutkan di dalam kitab Tazkirah al-Qurtubi)
Hadis lain:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ ثُمَّ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، وَأَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ ، ثُمَّ قَالَ : إنِّي جَعَلْتُ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُ مِنْ كَلَامِكَ لِأَهْلِ الْمَقَابِرِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ؛ كَانُوا شُفَعَاءَ لَهُ إلَى اللَّهِ تَعَالَى }
Ertinya:
Daripada Abu Hurairah RA berkata: Bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Sesiapa yang memasuki kawasan perkuburan kemudian ia membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas dan At-Takatsur, lalu berdoa: Ya Allah, ku hadiahkan pahala bacaan firman-Mu ini kepada ahli kubur yang terdiri dari kalangan Mukminin dan Mukminat. Maka mereka akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat.
(Mathalib Syarh Ghoyatul Muntaha)
Berkata Sheikh AlHamid AlHusaini:
“Hadis-hadis tersebut di atas dijadikan dalil yang kuat oleh para ulama”
Pertanyaannya: “Mungkinkah Imam Al-Syafi’i belum sempat bertemu dengan hadis-hadis ini?” Wallahu a’lam, Allah SWT sahaja yang Maha Mengetahui. Ayuh, kita lanjutkan kepada analisis seterusnya!
ANALISA KEMPAT 

Demikian juga tidak pernah diriwayatkan bahawa para sahabat melakukan hal yang demikian. Kalau perbuatan tersebut merupakan kebaikan pasti mereka telah mendahului dalam melakukannya.
Sebenarnya pernyataan ini telah dijawab oleh para ulama dengan bersandarkan pada kisah dan dalil. Ikuti kisah ini:
Al-Khallal berkata: Telah dikhabarkan kepadaku oleh Hasan bin Ahmad Al-Warraq: Telah diceritakan kepadaku oleh Ali bin Musa Al-Haddad dan dia seorang yang sangat jujur. Dia berkata: Pernah aku bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah al-Jauhari menghadiri pengebumian jenazah. Tatkala mayat itu telah dimakamkan, seorang lelaki yang kurus duduk di samping kubur sambil membaca Al-Qur’an. Melihat kejadian itu Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepadanya: Hai, sesungguhnya membaca Al-Qur’an di samping kubur itu bid’ah!. Maka ketika kami keluar dari kawasan perkuburan berkatalah Muhammad bin Qudamah kepada Imam Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar al-Halabi? Imam Ahmad menjawab: Beliau seorang yang Tsiqah (Dipercayai). Apakah engkau ada meriwayatkan sesuatu daripadanya? Muhammad bin Qudamah berkata: Ya, telah dikhabarkan kepadaku oleh Mubassyar dari Abdurrahman bin Ala’ bin Al-Lajlaj dari bapanya bahawa dia berwasiat apabila telah dikuburkan nanti supaya dibacakan di sisi kepalanya permulaan pada surah al-Baqarah dan pada pengakhirannya dan dia berkata: Aku telah mendengar Ibnu Umar berwasiat dengan yang demikian itu. Mendengar riwayat tersebut Imam Ahmad berkata: Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar meneruskan pembacaannya tadi.
Lihat! Imam Ahmad yang pernah berguru dengan Imam Al-Syafi’i sudah mengetahui bahawa pembacaan Al-Qur’an di perkuburan adalah Bid’ah. Lalu, beliau mengubah pendapatnya itu setelah mendengar hadis berkenaan wasiat Ibnu Umar RA tadi.
Ramai yang bertanya tentang taraf hadis wasiat Ibnu Umar RA itu sama ada Sahih atau Daif? Jawapannya ialah Sanadnya Hasan seperti yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi di dalam kitabnya Al-Adzkar.
وروينا في سنن البيهقي بإسناد حسن أن ابن عمر استحبَّ أن يقرأ على القبر بعد الدفن أوّل سورة البقرة وخاتمتها
Ertinya:
Diriwayatkan di dalam Sunan Al-Baihaqi denagn sanad Hasan bahawa Ibnu Umar menyukai agar dibaca di atas perkuburan sesudah pengebumian permulaan pada surah Al-Baqarah dan pada pengakhirannya.
ANALISA KELIMA
Oleh kerana perbuatan mendekatkan diri kepada Allah (termasuk membaca Al-Qur’an kepada si mati) mesti didasari oleh nas-nas agama, bukan dengan analogi dan fikiran (pendapat) orang.
Tentang hal ini telah dikemukakan banyak dalil yang ada di atas. Dalil-dalil itu kebanyakannya tidak dinilai Daif dan sebaliknya dijadikan hujah oleh para ulama bahawa boleh sampainya pahala bacaan al-Qur’an kepada si mati. Kenapa, tak percaya? Kalau masih tak percaya, anda boleh berusaha menyemak sendiri. Tanpa membuang masa ayuh kita lanjutkan analisis seterusnya!
ANALISIS KEENAM
Adapun untuk doa dan sedekah ulama sepakat bahawa keduanya boleh sampai kepada si mati, di samping ada nas syarak mendasari hal tersebut. Dan hadis tentang itu diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Sahihnya daripada Abu Hurairah RA berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah amalnya, melainkan tiga perkara iaitu anak soleh yang mendoakannya, sedekah jariah atau ilmu yang bermanfaat.
Para ulama telah memberikan komentar terhadap pernyataan sebegini. Dan komentar yang diberikan oleh para ulama terlalu banyak.
Sering kita mendengar bahawa setiap kali kematian ahli keluarga, teman kita di ruangan Facebook memohon belas ihsan supaya kita sudi menghadiahkan surah al-Fatihah kepada si mati. Persoalannya sekarang ialah sama ada hukumnya boleh ataupun tidak? Takkan anda masih berpendirian bahawa ianya tidak boleh? Padahal, para ulama bersetuju sampai tidak diketahui siapa yang tidak bersetuju bahawa nama lain bagi surah al-Fatihah ialah Al-Doa (Doa). Maka, sudah tentu boleh menghadiahkan bacaan surah al-Fatihah kepada si mati.
Lalu, bagaimana dengan surah atau ayat yang lainnya? Adakah tidak akan sampai kepada si mati kerana bukan Al-Doa? Hal ini memerlukan perincian yang lebih luas.
Imam An-Nawawi berkata di dalam kitabnya Al-Adzkar:
أجمع العلماء على أن الدعاء للأموات ينفعهم ويَصلُهم ( في ” ج ” : ” ويصل ثوابُه ” ) . واحتجّوا بقول اللّه تعالى : { وَالَّذِينَ جاؤوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنا اغْفِرْ لَنا ولإِخْوَانِنا الَّذين سَبَقُونا بالإِيمَانِ } [ الحشر : 10 ] وغير ذلك من الآيات المشهورة بمعناها وفي الأحاديث المشهورة كقوله صلى اللّه عليه وسلم : ” اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأهْلِ بَقِيعِ الغَرْقَدِ ” (رواه مسلم) وكقوله صلى اللّه عليه وسلم : ” اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنا وَمَيِّتِنَا ” ( أبو داود وغير ذلك). واختلف العلماء في وصول ثواب قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعي وجماعة أنه لا يَصل . وذهب أحمدُ بن حنبل وجماعةٌ من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يَصل والاختيار أن يقولَ القارىءُ بعد فراغه : ” اللهمّ أوصلْ ثوابَ ما قرأته إلى فلان واللّه أعلم . ويُستحبّ الثناء على الميت وذكر محاسنه.
Ertinya:
Telah ijmak (sepakat) ulama bahawa doa untuk orang-orang yang sudah mati bermanfaat bagi mereka dan pahalanya sampai kepada mereka ianya berdasarkan firman Allah SWT di dalam Surah Al-Hasyr ayat 10: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), berdoa: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami…” Juga ada diriwayatkan daripada hadis yang masyhur, bahawa Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, ampunilah bagi ahli Baqi’ al-Gharqad.” Hadis Sahih Riwayat Muslim. Doa Rasulullah SAW yang lain: “Ya Allah, ampunilah bagi yang hidup dan juga yang telah meninggal dunia daripada kami…” Hadis riwayat Abu Daud dan lainnya. Imam An-Nawawi melanjutkan: Tentang bacaan al-Qur;an, terdapat perbezaan pandangan. Apa yang masyhur daripada mazhab Syafi’I bahawa pahala bacaan tersebut tidak sampai kepada si mati. Akan tetapi sekumpulan sahabat Imam Al-Syafi’i sendiri sependapat dengan Imam Ahmad dan sekumpulan ulama lainnya yang mengatakan bahawa bacaan tersebut bermanfaat serta akan sampai pahalanya kepada si mati. Dan sebaiknya orang yang membaca al-Qur’an selepas selesai membacanya hendaklah berdoa: “Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaanku ini kepada Fulan…” dan juga disunatkan memuji dan menyebut kebaikannya.
Demikian ulasan Imam An-Nawawi tentang cara yang baik bagi menyampaikan pahala bacaan al-Qur’an kepada si mati adalah dengan berdoa.
Imam Al-Qurtubi pula berpendapat akan keharusan menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an kepada si mati kerana membaca Al-Qur’an termasuk dalam Sedekah. Dan sedekah memang akan sampai kepada si mati.
عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ « يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى ».
Ertinya:
Daripada Abu Dzar daripada Nabi SAW bahawa beliau telah bersabda: Setiap pagi ada kewajipan bersedekah untuk setiap ruas. Maka setiap ucapan Tasbih adalah sedekah. Setiap ucapan Tahmid adalah sedekah. Setiap ucapan Tahlil adalah sedekah. Dan setiap ucapan Takbir adalah sedekah. Menganjurkan kebaikan adalah sedekah. Mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan memadai dari itu semua solat dua rakaat sunat Dhuha.
(Riwayat Muslim)
Hadis Sahih ini telah dijadikan dalil oleh Imam Al-Qurtubi bahawa pembacaan al-Qur’an termasuk kategori sedekah. Dan sedekah memang telah disepakati tanpa ada perbezaan pendapat bahawa sampainya pahala itu kepada si mati. Namun, saya secara peribadi berpendapat bahawa hadis yang berikut ini lebih patut dijadikan dalil. Hadis berikut ini adalah Hadis Sahih Riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ ، يَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ ، فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ ، وَيُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ »
Ertinya:
Daripada Abu Hurairah RA, ia berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Setiap ruas tulang tubuh manusia berkewajipan atasnya sedekah. Setiap hari matahari terbit, lalu engkau mengadili manusia yang bertengkar adalah sedekah. Engkau membantu seseorang naik ke atas binatangnya ataupun mengangkat baginya barang-barangnya ke atasnya adalah sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang engkau hayunkan untuk pergi menunaikan solat adalah sedekah. Dan engkau menghilangkan bahaya dari jalanan adalah sedekah.
(Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
Ertinya: “Perkataan yang baik atau kalam yang baik adalah sedekah.”
Muslim manakah yang enggan mengakui bahawa kalamullah (Al-Qur’an) adalah kalimah atau kalam yang baik? Benar. Semua mengakui bahawa kalamullah merupakah kalam yang baik. Maka sekaligus ianya termasuk sedekah. Dan sedekah boleh sampai kepada si mati.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
أحسن الكلام كلام الله
Ertinya: “Sebaik-baik kalam (perkataan) ialah kalamullah.”
(Riwayat Al-Nasa’i)
Oleh yang demikian, jelas sudah kepada kita bahawa pendapat yang muktamad ialah sampainya pahala bacaan Al-Qur’an kepada si mati. Ini sepertimana yang dijelaskan di dalam kitab Al-Bujairimi Minhaj:
( قَوْلُهُ : أَنَّهُ لَا يَصِلُ ثَوَابُهَا ) ضَعِيفٌ وَقَوْلُهُ : وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَصِلُ مُعْتَمَدٌ .
“Perkataan: Sesungguhnya tidak sampai pahala bacaan adalah Daif sedang perkataan: Dan sebahagian Ashab Syafi’i mengatakan sampai adalah MUKTAMAD.”
وَيَصِلُ ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ إذَا وُجِدَ وَاحِدٌ مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ ؛ الْقِرَاءَةِ عِنْدَ قَبْرِهِ وَالدُّعَاءِ لَهُ عَقِبَهَا وَنِيَّتِهِ حُصُولَ الثَّوَابِ لَهُ
Berkata Syeikh Muhammad Ar-Ramli: “Sampai pahala bacaan jika terdapat salah satu dari tiga perkara iaitu: 1. Pembacaan dilakukan di sisi kuburnya. 2. Berdoa untuk mayat sesudah membaca Al-Qur’an yakni memohon agar pahalanya disampaikan kepadanya. 3. Meniatkan sampainya pahala bacaan itu kepadanya.”
(Hasyiatul Jamal)
Segala Pujian bagi Allah SWT dengan limpah kurnia-Nya dan petunjuk-Nya saya dapat menyempurnakan bahasan tentang masalah sampai atau tidak pahala bacaan Al-Qur’an kepada si mati. Wallahu a’lam bis shawab.
Semoga bahasan ini menjadi sesuatu yang bermanfaat buat kehidupan kita bersama di dunia ini dan di akhirat kelak. Ya Allah, masukkanlah aku bersama orang-orang yang benar. Ya Allah jadikanlah aku penghuni syurga-Mu kelak. Amin.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
_________________________________________________

Sumber Rujukan:
1. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Imam Ibnu Katsir.
2. Tafsir Ad-Durr Al-Mantsur. Imam Al-Suyuti.
3. Al-Ruh. Sheikh Ibnul Qoyyim.
4. Al-Bayanul Qowim Litashih Ba’dhil Mafahim. Dr. Ali Jum’ah.
5. Al-Bid’ah fi Al-Mafhum Al-Islami Al-Daqiq. Dr. Abd Malik Abd Rahman As-Sa’di.
6. Al-Arba’in Al-Nawawiyyah. Imam An-Nawawi.
7. Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. Imam Al-Suyuti.
8. Tazkirah Al-Qurtubi. Imam Al-Qurtubi.
9. Mu’jizatul Qur’an. Imam Mutawalli Al-Sya’rawi.
10. Riyadh Al-Solihin. Imam An-Nawawi.
11. Argumentasi Ulama Syafi’iyyah. Ustaz Hj. Mujiburrahman.
12. Al-Fiqh Al-Manhaji ‘Ala Mazhab Al-Syafi’i. Mustafa Al-Bugho, Mustafa Al-Khen, Ali Al-Syarbaji.
13. Hasyiatul Jamal.
14. Bujairimi ala al-Minhaj.
15. Al-Muktamad. Muhammad Az-Zuhaili.
16. Al-Umm. Al-Syafi’i.

17. Al-Mughni. Ibnu Qudamah al-Maqdisi.
18. Liku-liku Bid’ah dan Masalah Khilafiyyah. AlHamid AlHusaini.

Latarbelakang Pendidikan Penulis :

Kolej Pengajian Islam Johor (MARSAH), JB. [Diploma Pendidikan Islam]
Guru:
1. Ustaz Umar Muhammad Noor. [Akhlak, Fiqh, Usul al-Fiqh, Hadis]
2. Dato’ Tahrir (Mufti Johor). [Tafsir]
3. Ustaz Hakim bin Rosly. [Nahwu]
4. dan lain-lain…

Sumber : http://lutfi-latif.blogspot.com/2011/05/fiqh-tidak-sampai-pahala-bacaan-al.html

Posted by: Habib Ahmad | 29 Januari 2012

Bersedekahlah Sebelum Pintu Rezeki Ditutup

Bersedekahlah Sebelum Pintu Rezeki Ditutup

Januari 20, 2012 — sulaiman

Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada kamu sebelum seseorang dari kamu sampai ajal maut kepadanya, (kalau tidak) maka dia (pada saat itu) akan merayu dengan katanya: Wahai Tuhanku! Alangkah baiknya kalau Engkau lambatkan kedatangan ajal matiku ke suatu masa yang sedikit sahaja lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi dari orang-orang yang soleh. (Munafikun: 10)

Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali akan melambatkan kematian seseorang (atau sesuatu yang bernyawa) apabila sampai ajalnya dan Allah Amat Mendalam PengetahuanNya mengenai segala yang kamu kerjakan.  (Munafikun: 11)

Zakat ialah sedekah yang wajib bagi mereka yang mempunyai harta yang melebihi kadar yang telah ditetapkan dan melebihi keperluan, dan selain daripada itu adalah dikira sebagai sedekah yang sunat.

Baqarah [219]….dan mereka bertanya pula kepadamu: Apakah yang mereka akan belanjakan (dermakan)? Katakanlah: Dermakanlah apa-apa) yang berlebih dari keperluan (kamu). Demikianlah Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayatNya (keterangan-keterangan hukumNya) supaya kamu berfikir

Bersedekahlah sebelum sampai ajal dan pintu rezeki kita ditutup .

Az-Zariyat [22] Dan di langit pula terdapat (sebab-sebab) rezeki kamu dan juga terdapat apa yang telah (ditakdirkan dan) dijanjikan kepada kamu.

Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a., bahawa Nabi Muhammad s.a.w bersabda, “Seorang hamba memiliki dua pintu di langit. Pintu yang menjadi keluarnya rezeki dan pintu yang menjadi masuknya amal dan perkataan baiknya. Jika ia meninggal dunia, dua pintu langit itu akan merasa kehilangan dan akan menangisinya.” Kemudian Baginda s.a.w membaca ayat, “”Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka.” Disebutkan demikian, kerana mereka tidak memiliki amal soleh di atas muka bumi yang membuat bumi menangisi kematian mereka (Fir’aun dan bala tentaranya). Dan mereka juga tidak memiliki amalan dan perkataan yang baik, yang naik ke langit sehingga langit itu tidak merasa kehilangan dan tidak pula menangisi mereka.”.. (Riwayat Abu Ya’la dan At-Tirmidzi).

Rasulullah s.a.w. bersabda “Sesungguhnya rezeki itu mencari seorang hamba lebih kerap daripada apa yang dicari oleh ajalnya” (Riwayat Thabrani melalui Abu Daud).

Rasulullah s.a.w bersabda “Janganlah kamu merasa bahawa rezekimu terlambat datangnya, kerana sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, iaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” (Riwayat Ibnu Majah).

Rasulullah s.a.w. juga bersabda yang maksudnya: “ Sesungguhnya roh al-Qudus telah datang kepada aku memberitahu bahawa seseorang itu tidak akan mati selagi tidak sempurna rezeki Allah Subhanahuwata’ala…

Apabila kadar rezeki yang  ditetapkan Allah Subhanahuwata’ala kepada seseorang telah cukup dan sempurna, maka akan dihantar malaikat untuk mencabut nyawanya. Malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa ialah Malaikal Maut dan Malaikat Izrail pula adalah menteri kepada ‘mereka’ yang ditugaskan untuk mencabut nyawa.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 727 other followers