Posted by: Habib Ahmad | 9 Februari 2012

Pengangkatan Derajat Bagi Yang Keluar-Masuk Masjid

Pengangkatan Derajat Bagi Yang Keluar-Masuk Masjid
Senin, 09 Januari 2012

قال رسول اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ، وَرَاحَ، أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ، نُزُلَهُ، مِنْ الْجَنَّةِ، كُلَّمَا، غَدَا أَوْ رَاحَ

(صحيح البخاري

(

“Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang datang menuju masuk dan keluar dari masjid (keluar masuk masjid untuk ibadah) maka Allah jadikan setiap ia keluar dan masuk itu derajat lebih tinggi baginya di surga” (Shahih Bukhari)

ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang senantiasa melimpahkan rahmat dan kebahagiaan kepada hamba-hambaNya. Rahmat dan kebahagiaan adalah hal yang jika tidak kita dapatkan, maka yang didapatkan adalah hal yang sebaliknya yaitu kemurkaan Allah subhanahu wata’ala. Dan untuk memunculkan rahmat dan kebahagiaan itu mak mengutus kepada kita sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana beliaulah pembawa rahmat dan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah milik Allah subhanahu wata’ala yang mana di dunia diberikan kepada semua hamba, baik ia adalah orang yang baik atau jahat, sedangkan kebahagiaan di akhirat hanya dikhususkan untuk hamba-hamba yang baik saja. Maka kehidupan dunia yang seakan seperti sekolah, yang mana di dalamnya terdapat ujian-ujian dan ada ujian akhir juga, adapun ujian akhir seorang manusia dalam kehidupan dunia ini adalah sakaratul maut. Pernah terjadi suatu waktu salah seorang jama’ah meminta untuk didoakan karena keesokan harinya ia akan menghadapi sidang skripsi, namun keesokan harinya telah sampai kabar bahwa anak tersebut telah menghembuskan nafas terakhir, maka ketika itu lewatlah hari-hari dimana ia disibukkan dengan penulisan skripsinya dan di hari itu yang ia dapatkan adalah batu nisan bukan ijazah, namun dengan ini jangan berputus harapan dengan berkata untuk tidak perlu belajar di sekolah atau kulih, akan tetapi teruslah berjuanglah dan jadikan apa yang ada dalam diri kita saat ini adalah modal untuk mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala, maka seorang yang belajar di sekolah atau kampus jadikanlah profesinya sebagai pelajar itu adalah hal yang mendekatkannya kepada Allah subhanahu wata’ala, mungkin dengan cara mengajak teman-teman yang di sekolah untuk hadir pada majelis-majelis ta’lim atau mejelis dzikir, dan ketika seorang pelajar melakukan hal itu maka keadaannya bukan hanya sekedar siswa atau pelajar, namun dia juga adalah pejuang atau penggembira hati sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mengajak orang lain pada keluhuran adalah hal yang paling menggembirakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik mengajak sesama muslimin atau pun orang non muslim. Oleh karena itu Allah subhanahu wata’ala memberi kita taufik untuk hadir di majelis agar berada dalam limpahan rahmatNya, semoga kita selalu dalam rahmat dan kebahagiaan dari Allah subhanahu wata’ala. Sungguh keidupan ini tiadalah artinya jika seandainya kita tidak mendapatkan rahmat Allah subhanahu wata’ala, walaupun seluruh jagad raya ini berubah menjadi berlian dan menjadi milik kita, namun Allah murka kepada kita maka kenikmatan itu hakikatnya adalah api kelam yang menggejolak di neraka. Allah subhanahu wata’ala menawarkan cintaNya kepada hamba-hambaNya, dan Allah murka jika cintaNya ditolak, karena Dialah Yang Maha Berhak dicintai, Dialah Yang Maha Mencintai dan berkasih sayang, dan Dialah Yang Maha Memiliki cinta dan menciptakannya dari tiada. Maka Allah subhanahu wata’ala akan murka jika hambaNya mencintai yang lain lebih dari kecintaannya kepada Allah sehingga terkadang Allah timpakan musibah kepada orang itu agar ia memperbaiki hubungannya dengan Allah subhanahu wata’ala, karena seorang hamba jika diberi musibah atau cobaan oleh Allah maka ia akan lebih mendekat kepada Allah dan memeperbanyak berdoa kepadaNya, namun tidak sedikit pula hamba-hamba yang diberi cobaan oleh Allah lantas ia semakin jauh dari Allah subhanahu wata’ala, dan jika demikian maka Allah subhanahu wata’ala akan menambah kesulitannya, apabila keadaan seperti itu terjadi pada seorang hamba maka kesulitan akan terus ia hadapi sampai ia mencapai sakaratul maut, hingga jenazahnya diusung dan dimasukkan ke liang kubur. Dalam sebuah riwayat yang tsiqah disebutkan bahwa ada seorang anak kecil telah wafat, beberapa hari kemudian ayah anak itu melihatnya dalam mimpi dan mendapati wajah anaknya seperti wajah orang yang telah lanjut usia, tua renta, wajah keriput dan rambut penuh uban, maka si ayah berkata : “wahai anakku, engkau meninggal dalam usia yang masih kecil, namun mengapa wajahmu berubah seperti ini?”, maka anak itu berkata : “wahai ayah, ketika aku di perkuburan dalam ketenangan, ketika itu diturunkan jenazah ke dalam tanah maka ketika itu suara neraka jahannam bergemuruh hingga membuatku merasa sangat takut dan berubahlah wajahku seperti ini”, karena jenazah itu adalah seorang pendosa ketika hidup di dunia. Neraka bergemuruh dengan diturunkannya jasad para pendosa, namun sangat berbeda ketika yang diturunkan adalah jenazah orang-orang shalih, sebagaimana yang disebutkan dalam sirah Siyar An Nubalaa’ dan kitab Tadzkirah al huffazh, dimana ketika Al Imam Ahmad bin Hanbal wafat dan yang menyalati beliau adalah 1 juta muslimin, beberapa hari setelah beliau wafat, keluarga dari seseorang yang telah wafat dan dikuburkan berdekatan dengan kuburan Al Imam Ahmad, ia melihat keluraganya yang telah wafat itu memakai mahkota yang sangat bercahaya, maka orang tersebut berkata kepadanya : “Wahai Fulan, di dunia ini engkau bukanlah orang yang sangat shalih, namun bagaimana keadaanmu di alam barzakh begitu indah?, maka ia berkata :“Ketika jasad Al Imam Ahmad bin Hanbal masuk ke dalam kuburnya, maka di saat itu turun 10.000 cahaya di pekuburan itu”. Hal seperti ini telah Allah firmankan dalam Al Qur’an :

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا

( المزمل : 17 )

“ Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.” ( QS. Al Muzammil : 17 )

Mereka yang meninggal dalam usia belum mencapai baligh wajah mereka berubah karena rasa takut yang dahsyat akan siksaan api neraka, maka bagaimana halnya orang-orang dewasa yang telah baligh. Kemudian Allah subhanahu wata’ala berfirman menjelaskan pedihnya kehidupan di neraka:

إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّوْمِ ، طَعَامُ الْأَثِيمِ ، كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ، كَغَلْيِ الْحَمِيمِ

( الدخان : 43-46 )

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa, (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.” ( QS. Ad Dukhaan: 43-46)

Naungan kasih sayang Allah subhanahu wata’ala ditawarkan kepada kita, yaitu dengan menjadikan balasan atas satu perbuatan baik adalah sepuluh balasan kebaikan, sedangkan balasan dari satu perbuatan jahat adalah satu perbuatan dosa akan tetapi Allah senantiasa siap untuk mengampuninya. Sunggun tiada yang lebih baik dan dermawan dari Allah subhanahu wata’ala, maka pilihlah Allah subhanahu wata’ala, dimana setelah kita wafat tidak ada tempat selain neraka dan surga, dan hanya Allah lah yang menentukan dimanakah kita akan berada.

Saudara saudari yang dimulikan Allah
Hadits yang telah tadi kita baca tadi, dimana jika seseorang mendatangi masjid maka setiap kali ia mendatangi masjid dan pulang dari masjid, derajatnya di surga ditambah oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mencapai ke derajat yang lebih tinggi. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa berangkat dan pulang dari masjid di pagi dan doi sore hari, namun Al Imam Ibn Hajar dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah ketika seseorang masuk dan keluar dari masjid karena ingin beribadah, maka setiap kali ia masuk ke masjid maka derajatnya di surga dinaikkan oleh Allah, begitu juga setiap kali keluar dari masjid maka derajatnya di surga pun semakin tinggi. Maka ketika dikatakan bahwa derajat seseorang di surga dinaikkan, berarti sudah pasti ia berada di surga dan bukan hanya sekedar selamat dari neraka. Maka seseorang yang menuju ke masjid dengan niat beribadah ia tidak akan masuk neraka, karena dia berada di jalan Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari:

مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

”Barangsiapa berdebu kedua kakinya di jalan Allah, maka Allah haramkan ia dari api neraka.” (HR. Al Bukhari)

Dan orang yang berada di jalan Allah bukan hanya terbatas jihad dalam peperangan saja, akan tetapi termasuk pula orang yang melangkah ke masjid kemuidian ia wafat, maka ia wafat di jalan Allah, itulah kemuliaan untuk orang-orang yang melangkah ke Baitullah (Masjid), dimana saat ini Allah juga Allah menaikkan derajat kita di surga, dan setelah selesai dari majelis dan keluar dari masjid ini maka akan dinaikkan lagi derajat kita di surga oleh Allah subhanahu wata’ala, maka janganlah kita berpaling dari kemuliaan ini dan lebih memilih kemungkaran. Manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan tidak akan mungkin terlepas dari perbuatan dosa dan Allah pun Maha Mengetahui akan hal itu, namun kita selalu berusaha untuk tidak berbuat dosa. Yang mampu menjauhi seluruh dosa dan mentaati seluruh peraturan Allah, hal itu hanya dapat dilakukan oleh para malaikat, nabi dan rasul karena mereka tidak mempunyai hawa nafsu untuk berbuat maksiat, mereka hanya memiliki keinginan untuk selalu taat kepada Allah subhanahu wata’ala. Akan tetapi kita sebagai manusia, Allah berikan kepada kita keinginan untuk berbuat baik dan keinginan berbuat buruk, dan jika kita memilih keinginan berbuat baik maka Allah akan semakin memudahkan kehidupan kita, sebaliknya jika kita memilih keinginan untuk selalu berbuat buruk maka kehidupan dan masa depan kita pun akan menjadi buruk, karena masa depan kita adalah milik Allah subhanahu wata’ala, namun janganlah kita berperasangka buruk atas keputusanNya, meskipun hal itu menyedihkan kita. Sebagaimana yang terdapat dalam hikayat di surah Al Kahfi, ketika nabiyullah Musa As berjumpa dengan nabi Khidir As dan beliau ingin ikut bersamanya untuk belajar darinya, maka nabi Khidir As berkata kepada nabi Musa, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا ، وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

( الكهف : 67-68 )

“Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku, dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” ( QS. Al Kahfi : 67-68)

Dimana masing-masing dari mereka diberi ilmu yang berbeda oleh Allah, dimana nabi Khidir diberi ilmu yang tidak diberikan kepada nabi Musa begitu juga sebaliknya, namun derajat nabi Musa As lebih mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala karena nabi Musa juga sebagai rasul, akan tetapi Allah ingin menunjukkan bahwa ada ilmu yang Allah berikan kepada selain nabi Musa As, yang mana ia lebih rendah derajatnya dari beliau. Maka nabi Musa berkata kepada nabi Khidir bahwa ia akan senantiasa bersabar untuk belajar dan ikut bersamanya, kemudian keduanya naik ke sebuah kapal dan pemilik kapal itu mengetahui bahwa nabi Khidir adalah orang yang baik dan shalih, maka ia pun mempersilahkan mereka untuk naik ke kapalnya tanpa meminta upah atau bayaran dari mereka, setelah kapal itu mulai berlayar dan keluar dari pelabuhan, maka nabi Khidir turun ke dasar kapal dan melubanginya hingga kapal itu tenggelam, namun tenggelam dalam air yang masih dangkal karena belum jauh dari dermaga, melihat hal itu nabi Musa As berkata : “ Bagaimana engkau lakukan hal itu, padahal pemilik kapal ini orang yang baik”, kemudian nabi Khidir berkata sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

(الكهف : 72 )

“Dia (Khidihr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” (QS. Al Kahf : 72)

Maka nabi Musa meminta maaf kepada nabi Khidir agar ia tidak mengindahkan ucapannya tadi agar ia tetap menempuh perjalanan bersamanya. Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan, setelah sampai di suatu tempat mereka menemui anak kecil yang kemudian nabi Khidir membunuh anak tersebut, maka nabi Musa As pun berkata kepada nabi Khidir : “Mengapa engkau membunuh anak kecil yang tidak berdosa itu, hal itu adalah perbuatan yang sangat munkar”, maka nabi Khidir pun berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

( الكهف : 75 )

“Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku”.( QS. Al Kahf : 75)

Nabi Musa AS kembali meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut, maka nabi Khidir berkata : “ Sekali lagi engkau menanyakan akan hal-hal yang kuperbuat dalam perjalanan selanjutnya, maka hal itu adalah akhir dari perjumpaan kita”. Dijelaskan oleh para ahlu tafsir, dimana karena nabi Musa As adalah seorang rasul yang juga memiliki tanggung jawab dan harus menegakkaan kebenaran, maka beliau tidak bisa hanya diam jika melihat suatu hal yang munkar, maka di ketiga kalinya ketika nabi Khidir berbuat hal yang salah, nabi Musa pun sengaja memprotes kembali nabi Khidir agar ia berpisah dengan nabi Khidir meskipun sebelumnya ia telah bersepakat untuk tidak lagi bertanya atau memperotes perbuatan nabi Khidir, karena beliau khawatir perbuatan nabi Khidir akan dipertanggungjawbakan oleh beliau kelak di akhirat. Kemudian mereka memasuki sebuah perkampungan dimana penduduk di kampung itu tidak mau menjamu mereka, maka nabi Khidir pun membangun satu tembok yang telah roboh di kampung itu, lalu nabi Musa berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

( الكهف : 77 )

“Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.( QS. Al Kahf : 77)

Dan hal ini diucapkan oleh nabi Musa As agar beliau berpisah dengan nabi Khidir, kemudian nabi Khidir pun berkata kepada nabi Musa As sebagaimana firman Allah subhnahu wata’ala:

قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا ، أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا ، وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا ، فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا ، وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

( الكهف : 78 – 82 )

“Khidihr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. ( QS. Al Kafi : 78-82)

Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh nabi Khidir menyimpan hikmah, yang pertama dimana kapal yang yang ditumpangi nabi Khidir dan nabi Musa dibocorkan agar kemudian tenggelam, karena didepan telah menunggu kapal perampok yang akan merampas barang-barang di kapal yang mereka tumpangi, yang mana kapal itu berisi harta benda berupa emas, perak dan lainnya, dan kesemua itu tidak akan rusak dengan ditenggelamkan ke air, maka nabi Khidir memilih menenggelamkan kapal itu daripada dirampas oleh para perampok. Yang kedua, Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil karena kelak ketika tumbuh besar anak kecil itu akan menjadi orang fasik yang banyak melakukan kejahatan dan akan selalu menyusahkan dan menyedihkan kedua orang tuanya kelak, sedangkan orang tuanya adalah orang yang shalih sehingga Allah ingin meneganugerhkan kepada mereka seorang anak yang shalih dan berbakti kepada kedua orang tuanya, maka dengan kematian anak itu orang tuanya merasa sangat sedih, akan tetapi kesedihan itu seakan-akan Allah jadikan sebagai penebus untuk mendapatkan anak yang shalih. Hal yang ketiga, nabi Khidir membangun kembali tembok sebuah rumah yang hampir roboh karena didalamnya terpendam harta karun seorang keluarga untuk keturunannya mendatang yang miskin, yaitu keturunannya yang ketujuh, sehingga harta benda itu terjaga dan baru akan Allah keluarkan untuk keturunannya yang ketujuh, sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab tafsir. Oleh karena itu, sangat banyak hal-hal yang tidak kita ketahui namun mengandung hikmah dan makna yang sangat besar. Maka kita harus memahami barangkali hal-hal yang tidak kita sukai sebanarnya baik untuk kita atau bahkan sebaliknya , seperti kejadian-kejadian yang telah dilakukan oleh nabi Khidir dan ketika itu nabi Musa pun mengingkarinya karena beliau tidak tau makna dibalik semua itu. Maka Hujjatul Islam Al Imam Al Haddad Rahimahullahu ta’ala berkata dalam salah satu qasidahnya:

كُلُّ فِعْلِكَ جَمِيْلٌ

“Segala perbuatanMu (Allah) indah”

Allah subhanahu wata’ala tidak ingin menyusahkan makhlukNya, sehingga dari dahulu manusia telah ditempatkan di surga, akan tetapi tertipunya nabi Adam dan sayyidah Hawa oleh syaitan membuat mereka keluar dari surga dan hal itu pun atas kehendak Allah subhanahu wata’ala, karena semua makhluk yang ada di alam semesta ini tidak akan mendapatkan kehidupan yang abadi kecuali jin dan manusia, meskipun semua makhluk-makhluk Allah seperti matahari, bulan, pepohonan, gunung-gunung, lautan dan lainnya yang selalu bertasbih dan berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala tanpa kita ketahui, dan tidak bermaksiat kepada Allah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

( الإسراء : 44 )

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” ( Qs.Al Israa: 44 )

Jika demikian bagaimana keadilan Allah kepada semua makhlukNya!?. Inilah yang harus kita fahami, dimana manusia dikeluarkan dari surga, kemudian Allah subhanahu wata’ala menciptkan neraka, sehingga manusia yang baik kelak akan dimasukkan ke surga dan yang jahat akan masuk neraka, maka inilah keadilan Allah subhanahu wata’ala kepada alam semesta dan ciptaanNya yang lain. Dan semua makhluk Allah yang ada di alam semesta ini selain manusia dan jin memahami hal itu, karena manusia yang jahat akan ditempatkan di neraka, dan manusia yang baik akan ditempatkan di surga. Mereka manusia menjalani tes terlebih dahulu untuk mencapai kenikmatan di surga, namun alam semesta tidak mampu mengemban hal itu yaitu untuk menjadi khalifah di bumi, namun manusialah yang berani mengemban hal itu.

Maka takdir kehidupan kita dalam frekuensi per detik hal itu bisa berubah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى، وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

( الليل: 5- 7 )

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. ( QS. Al Lail : 5-7)

Orang yang bertakwa dan membenarkan sesuatu yang benar, maka orang yang ingin melakukan dzikir atau shalawat bersama jangan dilarang dan disalahkan. Maka perubahan takdir bisa berubah dalam hitungan detik dengan cara bersedekah, dengan bertakwa dan membenarkan hal-hal yang baik, maka orang yang melakukan hal itu akan Allah mudahkan jalan kehidupannya. Misalnya seseorang bersedekah, maka dalam satu detik itu berapa banyak musibah yang telah Allah singkirkan darinya, atau dengan membenarkan hal-hal yang baik dan tidak mengingkari perbuatan baik, seperti menghadiri majelis ta’lim atau majelis dzikir dan shalawat, dan lainnya. Maka semakin seseorang banyak melakukan kebaikan, maka semakin dimudahkan kehidupannya baik di dunia, di barzakh dan di akhirah, amin. Kemudian Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى، وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

( الليل : 8-10 )

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami (Allah) akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” ( QS. Al Lail : 8-10)

Sedangkan orang yang kikir, dan tidak membenarkan perbuatan-perbuatan yang baik namun mengingkarinya maka Allah akan memudahkan jalannya pada kesusahan atau kesulitan dalam kehidupannya baik di dunia, di barzakh dan di akhirat. Wal’iyadzubillah

Posted by: Habib Ahmad | 9 Februari 2012

Maulidur Rasul di Ba’Alawi KL

Posted by: Habib Ahmad | 9 Februari 2012

Misteri Makhluk Bersayap

Penulis: Imam Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi
Penerjemah: Muhammad Al-Mighwar, M.Ag.
Penerbit: Pustaka Hidayah, Bandung, cetakan 1, 1429 H/2008 M
Harga:

 

 

Diciptakan dari cahaya, malaikat adalah salah satu dari sekian banyak makhluk ciptaan Allah SWT. Berbeda dengan manusia, yang sanggup mematuhi dan sekaligus membangkang segala perintah Allah, malaikat digambarkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai makhluk “yang tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” — QS At-Tahrim (66): 6.

Sesungguhnya alam malaikat penuh dengan segala berita dan rahasa. Dan orang-orang yang beriman tidaklah sah keimanannya sebelum mereka beriman kepada para malaikat-malaikat-Nya.

Walaupun demikian, banyak nash dan riwayat tentang keadaan malaikat itu yang bercampur di dalamnya antara riwayat yang benar dan israiliyyat.

Pernahkah Anda mendengar khabar tentang malaikat maut?

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap hari pasti ada malaikat maut yang menyelediki tiga kali dalam setiap rumah. Siapa yang didapatinya sudah cukup rizqinya dan habis ajalnya, dia mencabut nyawanya, sedangkan keluarganya menyambut dengan suara sedih dan tangisan. Malaikat maut memegang kedua kayu pintu, lalu dia berkata, ‘Aku tidak berdosa kepada kalian karena sesungguhnya aku diperintah oleh Allah SWT. Demi Allah, aku tidak makan rizqi kalian, tidak menghabisi umur kalian, dan tidak mengurangi ajal kalian. Sesungguhnya aku benar-benar akan kembali, kemudian kembali, dan kemudian kembali, sehingga aku tidak menyisakan seorang pun dari kalian.”

Imam Al-Hasan berkata, “Demi Allah, kalaulah mereka melihat tempatnya (malaikat maut) dan mendengar ucapannya, pastilah mereka melupakan mayat dan menangisi diri mereka sendiri.”

Posted by: Habib Ahmad | 9 Februari 2012

Menebus Dosa

Penulis: Imam Al-Ghazali
Penerjemah: Saipuddin Zuhri
Penerbit: Pustaka Hidayah, Bandung, cetakan V, Edisi Revisi dan Hard Cover, 1432 H/2011 M
Harga: Rp. 45.000

 

Sesungguhnya taubat dari semua dosa dengan kembali kepada Tuhan, Yang Maha Menutupi segala aib dan Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, adalah permulaan jalan bagi para penempuh jalan menuju Allah SWT, modal orang-orang yang meraih keuntungan awal langkah para murid, kunci keteguhan orang-orang yang teladan, titik penyeleksian dan pemilihan bagi orang-orang yang posisinya dekat kepada Tuhan.

Ketahuilah, kembali kepada kebaikan setelah tergelincir dan terjerumus dalam kejahatan adalah kebutuhan utama dan mendasar bagi anak manusia. Kita betaubat kepada-Nya dengan taubat orang yang yakin bahwa Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat.

Ketahuilah, taubat itu merupakan ungkapan dari suatu pengertian yang terpadu dan tersusun dari tiga unsur secara berurutan, yaitu ilmu, keadaan, dan perbuatan. Yang pertama mengharuskan adanya yang kedua, sedang yang kedua mengharuskan lahirnya yang ketiga, dalam suatu keharusan yang dituntut oleh keteraturan sunnatullah di kerajaan bumi dan kerajaan langit.

Orang yang mengosongkan dirinya untuk berbuat kebajikan sepenuhnya adalah malaikat, orang yang mengosongkan dirinya untuk kejahatan adalah setan, sedang orang yang memperbaiki kejahatannya dengan kembali kepada kebaikan adalah manusia sesungguhnya.

Posted by: Habib Ahmad | 9 Februari 2012

Majalah Al Kisah

Posted by: Habib Ahmad | 9 Februari 2012

Senawang Berselawat

Senawang Berselawat

Dijemput anda sekeluarga untuk menghadiri majlis yang penuh barokah ini dan ia merupakan salah satu cara untuk menanam mahabbah kecintaan kita kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, semoga segala urusan kita dipermudahkan olehNya InsyaAllah.

Posted by: Habib Ahmad | 8 Februari 2012

Kenapa pertikai Maulid Nabi?

Kenapa pertikai Maulid Nabi?

Posted on February 3, 2012 by penulis_cyber

 

Oleh SHEIKH MUHAMMAD FUAD KAMALUDIN AL-MALIKI

 

Peserta berarak beramai-ramai sempena sambutan Maulidur Rasul peringkat Kebangsaan 1431H di Masjid Putra, Putrajaya pada 26 Februari lalu.

 

ALHAMDULILLAH sambutan umat Islam di serata pelosok dunia terhadap hari dan bulan kelahiran Nabi SAW tetap segar dan bersemangat. Di negara kita sendiri, pelbagai bentuk sambutan yang diadakan di pelbagai peringkat mendapat sokongan dengan kehadiran begitu ramai anggota masyarakat.

Masih banyak majlis yang dijadualkan dalam masa terdekat sehingga mungkin melimpah keluar bulan Rabiulawal. Semua ini adalah suatu nikmat dan kurniaan istimewa daripada Allah SWT bagi umat dan negara kita.

Kita berdoa agar umat Islam di Malaysia akan sentiasa terkedepan dalam mengagungkan, menyanjung, mempertahankan dan membuktikan kecintaan kita terhadap Sayyiduna Muhammad SAW yang semuanya merupakan inti dan hakikat sambutan Maulid Nabi.

Kita berdoa agar sambutan Maulid Nabi di negara kita akan terus meriah dan lebih semarak walaupun terdapat suara-suara yang nampaknya tidak senang dan kelihatan seolah-olah alahan (alergik) dengan sambutan Maulid.

Pada tahun ini, suara-suara ini turut ‘menumpang’ isu pembatalan perarakan sambutan Maulid di sebuah negeri. Sebenarnya, saban tahun, apabila datang sahaja bulan Maulid, ada sahaja suara-suara yang nampaknya bersumber daripada orang-orang yang sama yang mempertikaikan dan tidak senang dengan Maulid.

Sikap tidak senang ini disuarakan pada pelbagai tahap dan dengan pelbagai ibarat. Ada yang menafikan adanya keistimewaan atau fadilat Maulid Nabi SAW dan membanding-bandingkannya dengan keutamaan Nuzul Quran. Ada yang mengungkit-ungkit bahawa sambutan Maulid tidak pernah dibuat oleh Nabi SAW dan para sahabatnya (maksud bidaah yang sesat).

Ada pula yang memilih musim Maulid ini untuk menulis dan menekankan tentang soal keinsanan Nabi Muhammad SAW. Dan ada juga yang mempertikaikan cara dan kaedah sambutan itu diadakan.

Mereka yang faham dan mengenali suara-suara ini tidaklah terlalu terperanjat walaupun tetap menepuk dahi dan mengurut dada kerana sedih dan kesal dengan kekeliruan yang cuba dijaja dan kedegilan sikap yang ditonjolkan.

Mereka yang kurang mengerti dan memahami pula mungkin sedikit-sebanyak akan terkeliru dan timbul kesangsian terhadap sambutan Maulid. Apatah lagi jika isu ini turut bercampur dan bertindan dengan isu dan sentimen politik kepartian.

Bukanlah terlalu besar isunya, jikalau yang dipertikaikan tentang Maulid ini adalah kaedah dan cara sambutannya. Prinsip-prinsip Islam dalam menentukan kaedah dan cara dalam sesuatu amalan sudah ada pada kita. Yang haram dan halal sudah jelas dalam Islam, manakala yang syubhah eloklah dijauhi.

Kita turut diajar berlapang dada dalam persoalan yang statusnya masih khilaf. Kita juga dilarang mempertikaikan niat orang lain serta perlu bersangka baik sesama Islam. Berbekalkan sikap ini soal-soal rinci seperti berarak atau tidak, pembaziran, percampuran dan batas aurat, lafaz dan bacaan selawat, berkompang dalam masjid dan sebagainya dapat kita singkapi tanpa menimbulkan banyak masalah.

Malangnya, sebahagian suara yang alahan Maulid ini turut mempertikaikan prinsip dan hukum Maulid serta kewajaran dan kebijaksanaan menganjurkannya dari sisi Islam. Ini adalah soal yang lebih besar dan mendasar.

Kegelinciran kaki dalam hal ini boleh melibatkan soal-soal besar termasuklah menyakiti Nabi SAW, tidak beradab dengan Baginda SAW, menentang syiar Islam, menyesatkan para ulama dan umat Islam, memecahkan kesatuan umat dan seumpamanya.

Tidak hairanlah seorang tokoh ulama Yaman, al-Allamah Abu Abdullah ‘Alawi al-Yamani turut memperuntukkan bab khusus tentang persoalan Maulid dalam kitabnya yang bertajuk Intabih Diinuka fi Khotrin (Awas, Agamu Dalam Bahaya!). Memang, jika tidak berhati-hati, kata-kata dan perbuatan kita dalam bab Maulid ini boleh membahayakan dan mengancam agama kita sebenarnya.

Kerangka Fikir Menolak Maulid

Jika diteliti, ada beberapa kerangka faham agama tertentu yang dipegangi oleh mereka yang alahan Maulid ini yang akhirnya menyebabkan mereka bersikap begitu. Kerangka faham agama yang sama juga menyebabkan mereka turut berbeza sikap dengan majoriti umat dalam soal-soal tertentu seperti fiqh bermazhab, tasawuf, dan beberapa isu-isu khilafiyyah.

Kita boleh menyimpulkan kerangka faham agama mereka ini kepada beberapa fahaman utama:

Pertamanya: Fahaman mereka yang ganjil berkenaan prinsip dan konsep bidaah. Mereka tidak mahu menerima pandangan ulama-ulama muktabar yang membahagikan bidaah kepada yang sesat dan yang terpuji. Bagi mereka semua bidaah dalam hal agama adalah sesat. Mereka keras berpegang dengan tafsiran literal dan sempit kepada hadis yang berkaitan persoalan bidaah ini.

Kedua: Mereka terlalu menekankan sikap Ittiba’ (mematuhi) dalam sikap mereka terhadap Nabi SAW dan Sunnahnya. Seterusnya, secara langsung atau tidak mereka ini sering mempertentangkan Ittiba’ dengan sikap-sikap lain kita terhadap Nabi seperti Hubb (mengasihi)Ta’dzim (mengagungkan), Tasyaffu‘ (memohon syafaat), Tabarruk (mengambil berkat), Tawassul(mengambil sebagai perantaraan) dan seumpamanya.

Ketiga: Mereka berpegang serta bertaklid kuat dengan fahaman dan tafsiran beberapa tokoh ulama khalaf tertentu yang akhirnya telah diolah dan terolah menjadi suatu aliran terasing daripada arus perdana Umat. Berbekalkan fahaman-fahaman dalam aliran ini yang telah mereka angkat ke tahap doktrin dan memang disebarkan secara indoktrinasi (secara perbincangan sebelah pihak serta tidak saksama ataupun objektif), mereka ini rata-rata bersikap lebih pesimistik dan cenderung mempertikaikan tafsiran para ulama lain selain daripada beberapa ulama yang menjadi ikutan mereka.

Jika direnungi fahaman-fahaman asas mereka ini maka tidak hairanlah mereka ini cenderung menolak Maulid. Sebaliknya, mereka yang mendokong Maulid tidak perlu mengambil kira pandangan ini kerana asas-asas fahamannya ternyata berbeza dengan arus perdana umat.

Pertamanya, di sisi majoriti umat, sambutan Maulid adalah paling kurang pun dikira sebagai biaah Hassanah. Malah ada pandangan menyatakan bahawa ia termasuk sunnah yang dimulakan oleh Nabi SAW sendiri berdasarkan hadis yang menyebut bahawa kelahirannya pada hari Isnin menjadi salah satu asas Baginda SAW berpuasa sunat pada hari-hari tersebut; “Padanya (hari Isnin) aku dilahirkan dan padanya (hari Isnin wahyu pertama) diturunkan kepadaku.” (Syarah Sohih Muslim, Imam Nawawi Jld 8 H: 235)

Majoriti umat juga tidak melihat konsep Ittiba’, Hubb, Ta’dzim, Tasyaffu’, Tabarruk dan Tawassul sebagai konsep-konsep yang bercanggahan antara satu sama lain. Malah semuanya adalah sebahagian dan selari dengan dasar mematuhi dan mentaati Nabi SAW kerana konsep-konsep ini tidaklah dilarang atau bercanggah dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW.

Merujuk kepada asas fahaman mereka yang ketiga, majoriti umat Islam telah mewarisi khazanah fahaman agama meliputi ketiga-tiga cabang utamanya Akidah/Tauhid, Syariah/Fiqh dan Akhlak/Tasawuf daripada generasi demi generasi ulama-ulama pilihan dalam suatu kerangka yang kemas dan sistematik.

Para pemuka ulama umat dalam kerangka ini rata-ratanya tidak menolak dan mendokong Maulid sehingga boleh dianggap terdapat sebentuk Ijma’ Sukuti (ijma’ senyap) tentang sambutan Maulid Nabi selepas ia mula dianjurkan secara besar-besaran.

Penulis ialah Ahli Majlis Agama Islam Negeri Sembilan dan Penasihat Yayasan Sofa Negeri Sembilan.

Posted by: Habib Ahmad | 8 Februari 2012

Kesederhanaan Tidur dan Makan Rasulullah s.a.w.

Kesederhanaan Tidur dan Makan Rasulullah s.a.w.

Februari 8, 2012 — sulaiman

Rasulullah saw tidur hanya beralaskan belulang iaitu kulit yg diisi pelepah tamar. Siti Aisyah r.a berkata bahawa alas tidur Rasulullah SAW adalah daripada kulit yang diisi dengan serabut [Riwayat Bukhari]. Apabila tidur, baginda berbaring disebelah kanan dan meletakkan tapak tangan kanannya dibawah pipinya.

Diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Mas’ud  RA bahawa Rasulullah SAW tidur di atas tikar dan bangun selepas itu dalam keadaannya badannya  berbekas. Lalu dibawa kepadanya oleh sahabat hamparan yang lembut, Rasulullah SAW bersabda: Apakah kedudukan aku di dunia ini? Tidakkah aku di dunia ini melainkan seumpama seorang pengembara yang berteduh di bawah pokok kemudian berlalu meninggalkannya.

Sunnah Nabi ialah semasa makan ialah duduk di atas lantai dan bukannya di meja. Tidaklah salah makan di meja, cuma tidak mengikut sunnah. Semasa makan, Nabi duduk seperti duduk tahiyyat pertama atau duduk ‘bertinggung’.

Baginda tidak mempunyai meja makan. Makanan diletak di atas lantai. Baginda menyuap makanan yang ada dengan 3 jari. Baginda tidak pernah mencela makanan. [Riwayat Bukhari dan Muslim].

Anas bin Malik radiallahu ‘anhu berkata: Aku melihat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam duduk bertinggung sambil makan kurma. Duduk bertinggung ialah duduk di atas kedua tapak kaki dengan kedua-dua kaki berlipat dan punggung tidak menjejak tanah.

Aisyah r.a berkata, “Kadangkala sebulan berlalu namun kami tidak menyalakan api di dapur,. Kami hanya makan kurma dan air sahaja kecuali jika ada seseorang yang menghadiahkan sedikit daging kepada kami” [Riwayat Bukhari]

Rasulullah SAW hidup dalam keadaan yang amat sederhana, walaupun bukit dan gunung-ganang yang ada di sekitarnya pernah di tawarkan agar ia dijadikan emas dan perak, akan tetapi Rasulullah SAW menolaknya dan tetap memilih cara hidup yang sederhana.

Diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah S.A.W. berkata kepadaku ” Sesungguhnya Allah menawarkan kepadaku dataran Mekkah untuk dijadikan emas dan diberikan kepadaku, maka aku menolaknya, lalu aku berkata : Aku tidak mengharapkan itu semuanya Ya Allah, akan tetapi aku lebih senang sehari lapar dan sehari kenyang. Tatkala hari yang aku merasakan lapar, aku merendah diri dan berdo’a kepada-Mu, sementara tatkala hari yang aku merasakan kenyang, aku bersyukur dan memuji-Mu “

Posted by: Habib Ahmad | 8 Februari 2012

Usah persenda sunnah nabi Muhammad s.a.w yang lengkap

Usah persenda sunnah nabi Muhammad s.a.w yang lengkap

Posted by epondok di Februari 8, 2012

Rate This

 

Tulisan Mohd Hasan Adli Yahaya

SEDAR atau tidak, kita memasuki bulan Rabiulawal, iaitu bulan kelahiran baginda Rasulullah SAW. Bulan di mana bermulanya limpahan rahmat dan cahaya untuk seluruh alam.

Pada bulan ini ramai orang akan berbicara mengenai penghayatan sunnah dan sirah baginda. Pelbagai unjuran serta nasihat akan didengar penceramah jika kita menghadiri majlis ilmu.

Mungkin sebelum ini kita mengamalkan sunnah Rasulullah. Mungkin juga kita mengamalkan sebahagian daripada prinsip amalan dianjurkan Islam, tetapi pada masa sama kurang penghayatan mengenai sunnah itu sendiri.

Tidak syak lagi al-Quran dan sunnah adalah benar serta menjadi panduan bagi umat Islam akhir zaman.

Ketika menyampaikan khutbah terakhir di padang Arafah, baginda bersabda: “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang jika kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah al-Quran dan sunnahku.” Begitu besar jaminan dijanjikan baginda kepada sesiapa yang mengikuti ajaran al-Quran dan sunnah. Mereka yang menghayati maksud hadis ini pasti meniti jalan keredaan Allah.

Namun bagi yang berpaling, mereka menempah jalan berduri membawa kepada kemurkaan Allah.

Click Here

Apa yang saya maksudkan mengenai kurang penghayatan sunnah atau prinsip Islam boleh dilihat menerusi amalan harian kita yang mungkin tidak disedari.

Contohnya, ada yang solat menepati sifat solat nabi daripada takbiratul ihram hingga ke salam, tetapi bekerja di pejabat menepati sifat orang malas dari jam lapan pagi hingga lima petang. Selalu saja mencari ruang untuk mencuri tulang dalam memikul amanah sebagai pekerja.

Ada juga yang tegas dengan hanya menerima hadis daripada perawi yang jujur lagi dipercayai, tetapi dia sendiri tidak jujur dan tidak boleh dipercayai apabila berinteraksi dengan orang lain.

Ada juga yang selalu sibuk menghadiri majlis ilmu untuk menghayati perintah agama menuntut ilmu, tetapi sayangnya tidak pandai menjaga hati dan hak jiran di sekitar kediamannya hingga sentiasa menjadi bahan umpatan komuniti setempat.

Tidak kurang juga kebanyakan umat Islam pada hari ini ‘memilih’ untuk mengamalkan sunnah serta ajaran Islam yang dirasakan sesuai untuk diamalkan.

Namun dalam masa sama, sengaja meninggalkan sebahagian sunnah serta prinsip Islam apabila terkena batang hidung sendiri.

Pengembaraan ke bumi Arab beberapa tahun lalu banyak memberi pengajaran kepada saya. Begitu juga hasil pengamatan saya sepanjang di Tanah Suci untuk mengerjakan haji, baru-baru ini.

Banyak tempat yang menyimpan sejarah peristiwa berlaku pada zaman Nabi SAW dihapuskan dengan alasan tidak mahu umat Islam yang datang ke Tanah Suci melakukan perkara bida’ah dan sesat.

Hal seperti ini sangat dititik beratkan kerana tidak mahu ada orang melakukan perkara yang menyalahi sunnah Rasulullah. Namun apabila tiba bab pernikahan, lain pula jadinya.

Jika anda lelaki tetapi tidak mempunyai harta, lupakan saja niat mendirikan rumah tangga pada usia muda. Saya pernah berbual dengan seorang Arab dan bertanyakan apakah yang perlu ada bagi seorang lelaki untuk mengahwini wanita? Dia menjawab, kebiasaannya keluarga wanita mahu lelaki menyediakan rumah, kereta, wang yang banyak serta lain-lain dan itu kebiasaan bagi masyarakat Arab.

Jadi tidak hairan lelaki Arab berkahwin pada usia lanjut setelah memenuhi syarat ini. Walhal, bukankah Islam itu mudah dan mahu perkara membabitkan perkahwinan dipermudahkan? Allah berfirman di dalam surah An-Nur ayat 32, bermaksud: “Dan kahwinkanlah orang-orang bujang (lelaki dan perempuan) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang soleh dari hamba-hamba kamu, lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka daripada limpah kurniaan-Nya kerana Allah Maha Luas (rahmat dan limpah kurnia-nya).” Masalah ini bukan saja berlaku di negara Arab tetapi juga negara kita hingga ada yang berkata, “Berzina lebih mudah daripada berkahwin.” Ini yang terjadi apabila kita tidak mengambil serta menghayati ajaran Islam secara keseluruhannya.

Tidak kurang juga golongan yang mempersendakan sunnah serta Islam kerana bagi mereka, sebahagian daripada ajaran Islam adalah kolot untuk dilaksanakan pada zaman moden ini.

Lebih sedih lagi, ada yang terang-terangan mempertikaikan tafsir al-Quran serta kitab ulama terdahulu. Bagi yang lebih berani, mereka memperjuangkan perkara terlarang yang diwahyukan Allah.

Contohnya, mereka mengamalkan perintah Allah dalam bab solat dan puasa tetapi melakukan perkara ditegah Islam seperti memakan harta anak yatim.

Perkara itu berlaku kerana mereka meragui kebenaran yang dibawa oleh Islam. Mereka melihat setiap sesuatu itu menggunakan pandangan akal dan seterusnya membuat pertimbangan menggunakan akal yang terbatas.

Bukankah setiap apa yang diwahyukan Allah, baik melalui al-Quran atau as-sunnah, dijamin kebenarannya? Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 2, bermaksud: “Kitab al-Quran ini, tidak ada sebarang keraguan padanya (mengenai datangnya daripada Allah dan kesempurnaannya); ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang yang (hendak) bertaqwa.” Marilah kita bersama mengamalkan keseluruhan sunnah dan ajaran Islam dalam kehidupan dengan tidak hanya mengamalkan sebahagiannya sahaja.

Posted by: Habib Ahmad | 5 Februari 2012

Maulidur Rasul

Posted by: Habib Ahmad | 5 Februari 2012

Setiap Sabtu di IKIM.FM

Posted by: Habib Ahmad | 3 Februari 2012

Menyubur rasa cinta pada nabi Muhammad s.a.w

Menyubur rasa cinta pada nabi Muhammad s.a.w

 

 

Oleh Mohd Fadly Samsudin

NABI Muhammad s.a.w mempunyai akhlak terpuji yang tidak ada tolok bandingnya. Malah musuh baginda daripada kalangan orang Arab Quraisy juga tidak pernah mempertikaikan budi pekertinya yang mulia itu.

Ketika hayatnya, Nabi Muhammad sentiasa membimbing sahabat dengan penuh kasih sayang dan bijaksana. Dalam pergaulannya seharian, kepemimpinan baginda membawa kesan yang amat mendalam terutama kepada empat sahabat utama iaitu Abu Bakar as-Siddiq, Umar al-Khattab, Uthman bin Affan dan Ali bin Abu Talib.

Anak keluarga miskin daripada keturunan bani Mutalib, Rasulullah s.a.w kehilangan ayah sebelum dilahirkan dan ibu ketika zaman kanak-kanak.

Kanak-kanak yang membesar dalam dunia yang serba kekurangan, dipilih Allah untuk memimpin ummah bagi membawa kebenaran dan membuang segala bentuk maksiat dan penipuan.
Baginda adalah rasul akhir zaman yang diutus bagi melengkapkan semua ajaran rasul terdahulu. Nabi Muhammad s.a.w bersabda yang bermaksud: “Perumpamaanku dengan rasul-rasul yang lain ibarat sebuah istana yang elok pembinaannya kecuali pada satu sudut yang masih kekurangan seketul bata…Akulah seketul bata itu dan akulah penutup segala nabi-nabi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Detik pagi Isnin, 12 Rabiulawal bersamaan 20 April 571 Masihi menjadi saksi apabila lahir seorang bayi yang membawa rahmat ke seluruh alam.

Ibunya, Siti Aminah tidak pernah berasa penat atau sakit ketika mengandungkannya. Walaupun kita tidak pernah menatap wajah Nabi Muhammad, tarikh ulang tahun kelahirannya itu perlu menjadi tarikh penting bagi umat Islam mengingati sejarah perjuangan baginda.

Nabi Muhammad seorang yang sentiasa mengosongkan hatinya daripada segala sesuatu selain Allah di dunia ini. Sifat zuhudnya itu dapat dilihat daripada sikapnya yang tidak terpesona dengan limpahan harta dunia, kemasyhuran serta darjat.

Sentiasa banyakkan selawat ke atas Nabi Muhammad kerana ia adalah tuntutan yang perlu kita laksanakan pada setiap masa. Sebelum berdoa, bacalah selawat kerana ia adalah kunci yang membuka kemurahan Allah kepada kita.

Maksud berselawat di sini ialah Allah akan memberi rahmat, hidayah dan keredaan-Nya kepada baginda. Bagi yang sentiasa mengucapkan selawat ke atas nabi, kehidupan seseorang itu pasti dipermudahkan, hatinya berasa tenteram, lapang rezekinya serta Allah akan memudahkan jalan ke syurga melalui syafaatnya.

Nasai Ibnu Hibban meriwayatkan, Nabi Muhammad s.a.w berpesan: “Sesungguhnya orang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berselawat kepadaku.”

Sambutan yang diraikan perlu dijadikan iktibar terhadap kesusahan baginda berjuang menegakkan kalimah Allah. Islam memandang cara terbaik menyambut Maulidur Rasul dengan menjadikan kisah sejarah baginda sebagai iktibar untuk diterjemahkan dalam kehidupan.

Mentaati sunnah baginda menggambarkan perasaan sayang kita kepada Nabi s.a.w. Ini termasuk menjaga perkataan dan perbuatan kita. Allah s.w.t memberi jaminan bahawa baginda adalah insan terbaik untuk dijadikan ikutan dan teladan bagi seluruh manusia.

Allah berfirman yang bermaksud: “Sesungguh�nya pada diri Rasulullah itu terdapat contoh ikutan yang baik bagi kamu…” (Surah al-Ahzab ayat 21).

Pensyarah Jabatan Bahasa Arab, Fakulti Bahasa dan Komunikasi, Universiti Sultan Zainal Abidin (Unisza), Mohd Shahrizal Nasir berkata, dalam kitab ‘Al-Bidayah wa al-Nihayah’ karangan Ibnu Kathir, ulama berselisih pendapat mengenai tarikh sebenar kelahiran Rasulullah.

“Perkara ini menunjukkan isu tarikh kelahiran Rasulullah adalah isu khilafiyah yang memerlukan kajian lanjut secara ilmiah. Namun, majoriti ulama dan sejarawan Islam bersepakat Rasulullah dilahirkan pada hari Isnin.

“Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah al-Ansari bahawa Rasulullah ditanya mengenai puasa sunat hari Isnin. Maka Baginda menjawab: “Hari itu (hari yang bersejarah kerana) padanya aku dilahirkan dan padanya aku diutus menjadi Rasul.” (Hadis riwayat Muslim)

“Berdasarkan hadis ini, secara jelas dapat difahami bahawa Rasulullah turut memuliakan hari kelahirannya. Baginda memuliakan hari itu dengan melakukan amalan baik yang tujuannya tidak lain untuk mendekatkan diri kepada Allah,” katanya.

Beliau berkata, mencintai dan menyayangi junjungan besar Rasulullah adalah satu hal yang amat dituntut dalam Islam.

“Perkara ini boleh difahami dengan jelas berdasarkan mafhum sabda Rasulullah yang bermaksud: “Belum sempurna iman seseorang daripada kamu, kecuali aku lebih dikasihinya berbanding dengan keluarganya, dan hartanya dan manusia keseluruhannya.” (Hadis riwayat Muslim)

“Menyayangi Rasulullah bukan perkara remeh kerana ia membabitkan iman. Cara menyayangi dan mengasihi Rasulullah bukan dengan hanya mengungkap kata-kata indah tetapi perlu dibuktikan dengan perbuatan.

“Wajar kita mengambil peluang sempena hari Maulid al-Rasul nanti untuk bermuhasabah diri. Adakah perlakuan kita selama ini sejajar dengan tindakan Rasulullah? Ini antara perso�alan yang perlu sama-sama kita jawab,” katanya.

Mohd Shahrizal berkata, sambutan Maulid al-Rasul yang disambut masyarakat Islam di Malaysia adalah amalan baik yang wajar diberi galakan.

“Pengisytiharan cuti umum oleh pihak pemerintah sempena Maulid al-Rasul adalah satu usaha baik, ditambah pula dengan aktiviti bercorak keagamaan yang menjamin kesan positif dalam masyarakat.

“Malah pihak media turut menyiarkan program siaran yang menjurus kepada usaha memperingati junjungan besar Nabi Muhammad. Ini dikira usaha baik dan wajar diberi pujian,” katanya.

Menurutnya, beberapa usaha perlu ditambah bagi menjadikan sambutan hari Maulid al-Rasul lebih bermakna dan bermanfaat kepada masyarakat.

“Umat Islam perlu didedahkan dengan sirah Rasulullah yang meliputi segenap aspek kehidupan untuk dicontohi. Seperti yang diketahui umum, Rasulullah menjadi contoh ikutan terbaik bagi umat Islam.

“Untuk memiliki akhlak terpuji, Rasulullah adalah contoh yang perlu dijadikan ikutan. Segala-galanya ditunjukkan dalam perilaku serta tutur kata baginda.

“Baginda mempamerkan contoh terbaik sebagai seorang anak, suami, peniaga, pemimpin masyarakat, perancang ekonomi, panglima angkatan perang dan ahli politik,” katanya.

Beliau berkata, masyarakat Islam khususnya di Malaysia perlu didedahkan dengan maklumat berkaitan sejarah serta perjalanan hidup baginda yang penuh dengan ranjau.

“Baginda mampu menjadi pendorong kepada umat Islam untuk terus bangkit memperjuangkan kesucian agama Allah terutama mempergiatkan usaha dakwah serta memperbanyakkan majlis ilmu.

“Hanya dengan ilmu, masyarakat akan faham betapa perlunya mencontohi keperibadian Rasulullah.

Firman Allah yang bermaksud: “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu sebaik-baik teladan bagi kamu (untuk diikuti) iaitu bagi orang yang mengharapkan (keredaan) Allah dan (kemuliaan hidup) di akhirat dan orang yang banyak mengingati Allah.” (Surah al-Ahzab, ayat 21).

“Perkara ini perlu diusahakan sekarang dan dilakukan secara berterusan. Ia tidak hanya terjadi pada satu hari (Maulid al-Rasul) sahaja.

“Barangkali sambutan memperingati hari kelahiran Rasulullah ini menjadi titik permulaan timbulnya rasa kasih kepada Rasulullah, seterusnya meletakkan baginda pada tempat yang teratas sekali iaitu sebagai ikon yang paling ideal.

Katanya, masyarakat juga perlu terus dinasihatkan supaya perkara yang baik tidak sekali-kali dicemari dengan perkara buruk dan dilarang Islam.

“Percampuran bebas antara lelaki dan perempuan, pembaziran wang dan
tenaga serta persembahan hiburan yang berlebihan antara perkara yang perlu dijauhkan,” katanya.

 

http://epondok.wordpress.com/2012/02/03/menyubur-rasa-cinta-pada-nabi-muhammad-s-a-w/

Habib Muchdor bin Muhammad Bin Syaikh Abu Bakar: Tak Gentar karena Benar PDF Print E-mail

“Yang saya harapkan adalah hebat kata Allah, bukan kata manusia. Andaikan saya tidak berhasil di dunia, yang penting berhasil di akhirat. Buat apa berhasil di dunia kalau tidak berhasil di akhirat.

 

 

“Siapa yang berada di depan rel, saya tubruk. Kalau mau selamat, naik ke gerbong.”

Ungkapan ini menjadi prinsip bagi figur kita kali ini. Untuk urusan membela kepentingan umat, tidak ada kata gentar baginya. Beliau adalah Habib Muchdor bin Muhammad bin Muchdor Bin Syaikh Abu Bakar, Tapos, Depok, Jawa Barat.

Bagi para muhibbin di wilayah Jawa Barat, nama Habib Muchdor sudah tidak asing. Bila di Jakarta masyarakat sangat mengenal nama Habib Rizieq sebagai benteng masyarakat dari kemaksiatan, di Jawa Barat Habib Muchdor adalah singa jalanan yang memporak-porandakan tempat-tempat kemaksiatan bersama aparat pemerintah dan masyarakat. Beliau adalah figur yang tidak diragukan lagi keberaniaannya dalam memerangi berbagai bentuk kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat.

Habib Muchdor, yang lahir di Tapos pada tanggal 16 April 1956, sejak kecil sudah didik oleh orangtuanya untuk menjadi anak yang taat beragama dan berbakti kepada orangtua. Dan pendidikan sungguh mengkristal di dalam hatinya.

Bagi Habib Muchdor, taat kepada orangtua adalah prinsip utama dalam hidupnya. “’Anta wa maluka li-abika (Engkau dan hartamu adalah milik orangtuamu) adalah prinsip bagi saya dalam hal apa pun,” kata Habib Muchdor meyakinkan.

Itulah sebabnya, sejak belia, Habib Muchdor sudah berprinsip bahwa apa pun yang dikatakan oleh orangtuanya, pasti akan diikuti, yang bagi Habib Muchdor, sejak kedua orangtuanya berpisah, sosok sang ibulah yang menjadi pembentuk utama kepribadiannya. Sehingga tak mengherankan ketika sang ibu menyuruhnya berhenti dari SMEA, padahal waktu itu ia baru duduk di kelas 2, tanpa pikir panjang ia langsung mematuhinya.

Ketika itu, sang ibu, Syarifah Khadijah Al-Haddad, berharap agar Habib Muchdor mengkhususkan diri untuk memperdalam ilmu agama. Dan Jamiat Kheir, Tanah Abang, Jakarta, adalah tempat yang dijadikan tujuan sang ibu untuk menaruh harapan agar putranya kelak menjadi seorang penerus dakwah, yang telah diwariskan oleh kakeknya, Rasulullah SAW. Di Jamiat Kheir, Habib Muchdor menimba ilmu dari guru-guru utama, terutama para habib.

Di usia mudanya, Habib Muchdor pernah sukses menjadi seorang pengusaha. “Saya pernah punya toko elektronik di Jatinegara, tetapi, karena ibu saya tidak ridha, langsung saya tutup toko itu dan terjun ke dunia dakwah,” kenang Habib Muchdor.

Sejak tahun 1976, Habib Muchdor sudah mulai terjun ke tengah masyarakat untuk berdakwah di sela-sela kegiatan usahanya sebagai seorang pedagang. Di antaranya beliau sudah mempunyai Majelis Ratib di daerah Cipayung.

Setelah tokonya ditutup, sebagaimana harapan sang ibu, Habib Muchdor pun sepenuhnya terjun ke tengah masyarakat sebagai juru dakwah dan pengayom umat.
“Saya ini, ilmu nggak punya. Tapi soal mental, saya berani, karena berkah dari ibu,” kata Habib Muchdor merendah.

Dua Pondok Pesantren
Dalam perjalanannya, selain memimpin majelis ta`lim, ratib, dan shalawat, Habib Muchdor telah mendirikan dua pondok pesantren, Pondok Pesantren Al-Fakhriyah dan Pondok Pesantren Majelis Ratib dan Shalawat Al-Muchdor.

Pondok Pesantren Al-Fakhriyah, yang kini sudah memiliki lembaga pendidikan formal hingga tingkat menengah atas, berdiri di atas tanah wakaf seluas 5.000 meter persegi. Tanah ini pada awalnya adalah kebun melon milik Lurah Adang, Kelurahan …… (tanya Pak Tri), Tapos, Depok, Jawa Barat.

“Dulu di zaman Soeharto, saya bilang ke Pak Adang (yang waktu itu belum jadi lurah), ‘Ente kalau nanti jadi lurah, nih kebon bikin pesantren, ya…,” kata Habib Muchdor.

Dengan izin Allah, ucapan itu pun menjadi kenyataan. H. Adang terpilih menjadi lurah dan kebun melonnya pun diwakafkan untuk dibangun pesantren. Bersama Lurah Adang, tokoh pemerintah setempat, dan para aghniya muhibbin, Habib Muchdor mulai pembangunan pesantren. Hingga berdirilah pesantren putri dua lantai. Al-hamdulillah sekarang sudah tiga lantai.

“Santri yang belajar di Pesantren Al-Fakhriyah, syaratnya cuma mau pakai jilbab dan mau belajar. Semuanya gratis,” kata Habib Muchdor bersemangat.

Saat ini, pengelolaan Pesantren Al-Fakhriyah lebih banyak diserahkan kepada anak-anak Lurah Adang, yang banyak menjadi ustadzah, selain memang karena dikhususkan untuk santri putri. Dan dengan bantuan Lurah Adang sendiri, pesantren ini sudah memiliki beberapa ruko untuk dikontrakkan, yang hasilnya digunakan sebagai penopang kegiatan pesantren.

PP Al-Muchdor adalah lembaga yang cikal bakalnya adalah majelis ratib yang diadakan pada setiap malam Ahad di Cipayung. Di pondok inilah, tak kurang dari tiga sampai empat ratus jama’ah hadir dalam setiap pagelaran majelis yang diadakan pada setiap malam Ahad.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada tanah wakaf kurang lebih 8.000 meter dari Bapak Bambang, insya Allah akan digunakan untuk pengembangan Pondok Pesantren Al-Muchdor. Dan insya Allah ini pesantren putranya,” kata Habib Muchdor optimistis.

Prinsip Dakwah
Dalam berdakwah, membela rakyat adalah prinsip utama bagi Habib Muchdor. “Kalau rakyat susah, saya akan bela rakyat. Siapa pun pemimpinnya silakan, yang penting jangan  membuat susah rakyat.”

Habib Muchdor mempertaruhkan jiwa raganya untuk menjadi yang terdepan dalam membela kepentingan rakyat. Hal itu di antaranya beliau tunjukkan dengan memberikan kritik tegas terhadap aparat pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Bahkan, beliau tidak pernah takut menghadapi siapa pun, termasuk oknum kekuasaan, di saat harus turun bersama masyarakat memerangi kemaksiatan, terutama memerangi narkoba.

Ketika berada di atas podium, tidak seorang pun yang dapat mencegah Habib Muchdor untuk mengkritik siapa pun. Bahkan di zaman Orde Baru, beliau sudah sangat keras mengkritisi pemerintah.

“Kalau sudah salam, prinsip saya: Siapa yang di rel, saya tubruk. Kalau mau selamat, naik ke gerbong,” katanya.

Mengenai ceramahnya yang terkesan main-main, Habib Muchdor menegaskan, “Saya ceramah memang seolah main-main, tapi hati saya tidak. Itu sudah jadi ciri dan bakat saya. Dalam berceramah, saya harus mengikuti mustami` (pendengar). Apa maunya hadirin? Bukan hadirin yang harus ikut saya. Agar bisa diterima oleh masyarakat, orang ceramah itu kayak orang mancing. Kita harus ikuti apa yang ikan mau, jangan ikan ikut kita.”

Meskipun keras, Habib Muchdor tidak pernah hantam kromo. Dalam setiap gerakannya membasmi kemaksiatan, beliau selalu bergerak dan bertindak bersama masyarakat dan aparat yang berwenang. Karena itulah, meskipun tegas terhadap kemaksiatan, Habib Muchdor tidak pernah dipermasalahkan oleh pihak kepolisian, misalnya.

Akhir-akhir ini terlihat jelas merosotnya akhlaq generasi muda. Maka, menurut Habib Muchdor, harus muncul ulama-ulama yang tidak hanya sibuk menjual “sorban” dan mudah dibeli oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Dibutuhkan ulama yang `amilin, yang memikirkan kepentingan dan keselamatan umat, bukan ulama yang “ngambilin”.

Habib Muchdor berusaha memberikan contoh. Dalam acara-acara besar dakwah yang digelarnya, beliau tidak pernah meminta-minta. “Saya nggak pernah minta-minta sama siapa pun. Bila ada yang datang memberi bantuan, itu semua Allah yang menggerakkan.”

Bahkan untuk perhelatan Haul Akbar Akbar tahunan yang diselenggarakan pada setiap bulan Muharram sejak tahun 1992, yang diberi nama “Pesta Merah Putih”, Habib Muchdor sengaja mengeluarkan tabungannya selama setahun untuk biaya perhelatan itu. “Saya mengeluarkan dana dari usaha saya satu tahun untuk satu malam, dan pahalanya saya hadiahkan untuk Ibu,” kata Habib Muchdor.

Perhelatan akbar ini bukan hanya menunjukkan bakti beliau kepada sang ibu, tapi juga menjadi teladan bagi masyarakat agar tidak perlu takut kekurangan rizqi ketika kita berada di jalan yang diridhai Allah.

“Orang yang beriman tidak perlu takut kekurangan rizqi, karena kita punya Allah. Hanya orang yang tidak yakin kepada Allah yang takut kekurangan.”

Dipeluk Pak Harto 
Buah dari ketulusan Habib Muchdor ini, bukan hanya masyarakat yang simpatik dan kagum kepada beliau, bahkan Presiden Soeharto pun pernah memeluk beliau dan mengatakan simpati terhadap upaya beliau menyelenggarakan perhelatan akbar  “Merah Putih”.

“Alhamdulillah, para pejabat teras negara juga senang sama saya, demikian pula petinggi-petinggi parpol,” katanya.

Meski begitu, ia tidak pernah memanfaatkan kedekatannya dengan para pejabat untuk keuntungannya pribadi. Rumahnya yang sekarang ditempatinya, misalnya, tidak mewah untuk ukuran seorang ulama yang dekat dengan pejabat-pejabat ternama. Terlihat biasa saja.

Semua yang didapatnya dari kedekatannya dengan para pejabat itu diperuntukkan bukan hanya kepada jama’ah, tapi juga kepada warga pada umumnya.

Habib Muchdor berpesan kepada umat, warna boleh beda, partai boleh beda, gubernur boleh beda, tapi persatuan harus selalu dijaga, demi kejayaan bangsa dan negara. Dan dalam “Merah Putih” itu terkandung makna persatuan.

Kepada pemerintah ia berpesan, cintai rakyat, sayangi rakyat, jangan tipu rakyat.
Sedang untuk para ulama, Habib Muchdor juga berpesan agar mereka menghidupkan agama, bukan menumpang hidup pada agama.

Ketika ditanya tentang patokan kesuksesan, Habib Muchdor menegaskan, “Yang saya harapkan adalah hebat kata Allah, bukan kata manusia. Andaikan saya tidak berhasil di dunia, yang penting berhasil di akhirat. Buat apa berhasil di dunia kalau tidak berhasil di akhirat.”

TR, MS

Posted by: Habib Ahmad | 2 Februari 2012

Majalah Al Kisah Terkini

Jawapan Prof Dr As Sayyid Muhammad Al Maliki tentang Maulidurrasul s.a.w

Sumber:http://madinatulilmi.com

Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia islam, kaum muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara dan adat yang mungkin beraneka ragam dan berbeda-beda. Tetapi tetap pada satu tujuan, yaitu memperingati kelahiran Nabi mereka dan menunjukkan rasa suka cita dan bergembira dengan kelahiran beliau Saw. Tak terkecuali di negara kita Indonesia, di kota maupun di desa masyarakat begitu antusias melakukan perayaan tersebut.
Demikian pemandangan yang kita saksikan setiap datang bulan Rabiul awwal.
Telah ratusan tahun kaum muslimin merayakan maulid Nabi Saw, Insan yang paling mereka cintai. Tetapi hingga kini masih ada saja orang yang menolaknya dengan berbagai hujjah. Diantaranya mereka mengatakan, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai ‘Id (Hari Raya) yang syar’i, seperti ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Padahal, peringatan itu, menurut mereka, bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran agama. Benarkah demikian? Apakah yang mereka katakan itu sesuai dengan prinsip-prinsip agama, ataukah justru sebaliknya?
Di antara ulama kenamaan di dunia yang banyak menjawab persoalan-persoalan seperti itu, yang banyak dituduhkan kepada kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah As Sayyid Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Alawi Al Maliki. Berikut ini kami nukilkan uraian dan ulasan beliau mengenai hal tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab beliau Dzikrayat wa Munasabat dan Haul al Ihtifal bi Dzikra Maulid An Nabawi Asy Syarif.
Hari Maulid Nabi SAW lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada ‘Id. ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi SAW, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat.
Hari kelahiran beliau lebih agung daripada ‘Id, meskipun kita tidak menamainya ‘Id. Mengapa? Karena beliaulah yang membawa ‘Id dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena beliau pula, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran beliau, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzulul Quran (turunnya AI-Quran), Isra Mi’raj, hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Fath Makkah (Penaklukan Makkah), karena semua itu berhubungan dengan beliau dan dengan kelahiran beliau, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.
Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut, di antaranya yang disebutkan oleh Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebelum mengemukakan dalil-dalil tersebut, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.
Pertama, kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan, terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran beliau, hari Senin. Tidak layak seorang yang berakal bertanya, “Mengapa kalian memperingatinya?” Karena, seolah-olah ia bertanya, “Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”.
Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban. Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin”.
Kedua, yang kita maksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orangorang yang hadir, memuliakan orangorang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.
Ketiga, kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak demikian. Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.
Keempat, berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan. Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya, di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan, dan fitnah.
Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.
Dalil-dalil Maulid
Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW .
Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?)
Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.
Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58). Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).
Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.
Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.
Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.
Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.
Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.
Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, balk fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.
Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.
Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan:” Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulla?
Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”
Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.
Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami
ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’ (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.
Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalii-dalil syara’.
Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.
Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang balk), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.
Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.
Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “
Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran, itu termasuk ajaran agama.
Keduapuluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.
Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nab! SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang.
Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatanperbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut

« Kiriman-Kiriman Berikutnya - Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 685 other followers