Posted by: Habib Ahmad | 30 November 2009

Beramal dengan amalan yang tidak di lakukan oleh Rasulullah saw

Posted by: Habib Ahmad | 30 November 2009

DZIKIR JAHAR

DZIKIR JAHAR
DZIKIR JAHAR

Menurut Nash dan Qaul Ulama

Berdzikir dengan metode jahar memiliki sandaran kuat dari Al Quran dan Hadits. Di
antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

ْمُكِبْوُنُج َىلَعّو اًدْوُعُقّو اًماَيِق َلا اوُرُكْذاَف َةَلّصلا ُمُتْيَضَق اَذِإَف

“Maka jika engkau telah menunaikan shalat, berdzikirlah kepada Allah dengan keadaan
berdiri, duduk dan berbaring”. (an-Nisaa’: 103)

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim:

َىلَع َناَك ِةَبْوُتْكَمْلا َنِم ُساّنلا ُفِرَصْنَي َنْيِح ِرْكّذلاِب ِتْوّصلا َعْفَر ّنَأ هَرَبْخََأ ٍساّبَع ِنْبا ِنَع
ُهُتْعِمـَس اَذِإ َكِلاَذِب اْوُفَرَصْنا اَذَإ ُمَلْعَأ ُتْنُك ٍساّبَع ُنْبا َلاَق َلاَق ُهّنأ م.ص ّيِبّنلا ِدْهَع

Dari Ibnu ’Abbas Ra. berkata: “bahwasanya dzikir dengan suara keras setelah selesai
shalat wajib adalah biasa pada masa Rasulullah SAW”. Kata Ibnu ’Abbas, “Aku segera
tahu bahwa mereka telah selesai shalat, kalau suara mereka membaca dzikir telah
kedengaran”.[Lihat Shahih Muslim I, Bab Shalat. Hal senada juga diungkapkan oleh al Bukhari
(lihat: Shahih al Bukhari hal: 109, Juz I)]

ْيِدْبَع ّنَظ َدْنِع انَأ :َلاَعَت ُلا ُلْوُقَي :م.ص ِلا ُلْوُسَر َلاَق :َلاَق ض.ر َةَرْيَرُه ْيِبَأ ِنْبا ْنَع
ُهُتْرَكَذ ٍإَلَم ْيِف ْيِنَرَكَذ ْنِإَو ْيِسْفَن ْيِف ُهُتْرَكَذ ِهِسْفَن ْيِف ْيِنَرَكَذ ْنِإَف ,ْيِنَرَكَذ اَذِإ ُهَعَم انَأَو ,ْيِب
{يراخبلا هاور} ْمُهْنّم ٌرْيَخ ٍإَلَم ْيِف

“Dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman: ‘Aku
bergantung kepada prasangka hambaKu kepada-Ku, dan Aku menyertainya ketika mereka
berdzikir. Apabila mereka menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku sebut dirinya di
dalam diri-Ku. Apabila mereka menyebut-Ku di tempat yang ramai, maka Aku sebut
mereka di tempat yang lebih ramai dari itu”.

As-Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani Rhm. mengatakan bahwa hadits ini
menunjukkan bahwa menyebut di tempat keramaian itu (fil-Mala-i) tidak lain adalah
berdzikir jahar (dengan suara keras), agar seluruh orang-orang yang ada di sekitarnya
mendengar apa yang mereka sebutkan (dari dzikirnya itu). [Abwabul Faraj, Pen. Al
Haramain, tth., hal. 366]

Habib Ali bin Hasan al Aththas dalam Kitabnya Al Qirthas juga mengungkapkan hadits di
atas untuk mendukung dalil dzikir dengan jahar. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa
tanda syukur adalah memperjelas sesuatu dan tanda kufur adalah menyembunyikannya.
Dan itulah yang dimaksud dengan ‘dzikrullah’ dengan mengeraskan suaranya dan
menyebarluaskannya. [Terj. Al-Qirthas, Darul Ulum Press, 2003, hal. 190]

ىِف ٍلُجَرِب ّرَمَف ًةَلْيَل م.ص ّيِبّنلا َعَم ُتْقَلَطْنِا : ِعَرْدَلْا ُنْبا َلاَق :َلاَق ض.ر َمَلْسَأ ِنْب ِدْيَز ْنَع
(ٌهاَوَأ هّنِكلَو َل) :َلاَق ؟اّيِئاَرُم اَذه َنْوُكّي ْنَأ ىسَع ِلا َلْوُسَر اَي :ُتْلُق ,هَتْوَص ُعَفْرَي ِدِجْسَمْلا {يقهيبلا هاور}

“Dari Zaid bin Aslam Ra. bahwasanya Ibnu Adra’ berkata: Saya telah berjalan bersama
Nabi SAW di suatu malam, maka Beliau melewati seorang laki-laki yang sedang berdzikir
dengan mengangkat suara (suara yang keras) di dalam masjid. Aku bertanya kepada beliau
SAW: ‘Wahai Rasulullah, barangkali orang ini (yang sedang berdzikir dengan suara keras)
itu sedang pamer?’ Beliau bersabda: ‘Tidak, akan tetapi ia sedang merintih (mengeluh)‘.
Para pendidik ruhani masa lalu menyatakan dengan berbagai landasan eksperimennya
bahwa “Orang-orang yang mubtadi (pemula) dan bagi orang-orang yang menuntut
terbukanya pintu hati adalah wajib berjahar dalam dzikirnya”. Syaikh Abdul Wahhab asy
Sya’rani Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Sesungguhnya sebagian besar Ulama Ahli
Tasawuf telah mufakat bahwasanya wajib atas murid itu berdzikir dengan jahar, yakni
dengan menyaringkan akan suaranya dan didalamkannya. Dan berdzikir dengan sirri dan
perlahan-lahan itu tidak akan memberi faidah kepadanya untuk menaikkan kepada
martabat yang tinggi” [Lihat Siyarus Salikin, Abdush Shomad Palembani, III: 191]
Habib Abdullah bin Alwi al Haddad Rhm. mengungkapkan dalam dalam suatu kitabnya:

ْيِفْكَي اَم ِقْزّرلا ُرْيَخَو ّيِفَخْلا ِرْكِّذلا ُرْيَخ ُمَلّسلاَو ُةَلّصلا ِهْيَلَع َلاَق َعَم ِرْكّذلاِب َتْرَهَج ْنِإَو ,
هُتَلَص ِهْيَلَع ْطّلَخُت ُثْيَحِب ٍئِراَق َلَو ّلَصُم ىلَع َكِلذ ِبَبَسِب ْشّوَشُت ْمَلَو ِهْيِف ِل ِصَلْخِلْا
.ٍةَعاَمَج َعَم َكِلذ َناَك ْنِإَو ٌبْوُبْحَمَو ٌبَحَتْسُم َوُه ْلَب ُهْنِم َعِنُم َلَف ِرْهَجْلاِب َسْأَب َلَف هُتَئآَرِقَو
َنْيّلَصُمْلا َىلَع ِشْيِوْسّتلا ِمَدَعَو ِصَلْخِلْا َنِم هُاَنْرَكَذ اَم ِقْفِو ىلَع لاَعَت ِلا َرْكّذ اوُعَمَتْجا
ِهْيِف ٌبَغَرُمَو ِهْيَلِإ ٌبْوُدْنَم َكِلذَف ْمِهِوْحَنَو َنْيِلاّتلاَو

“Telah bersabda Nabi SAW: “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir khofi, dan sebaik-baik rizki
adalah yang cukup”. Andaikata kamu menjalankan dzikir dengan ikhlas karena Allah di
dalam dzikirnya dan tidak mewaswaskan (mengganggu) orang lain yang sedang shalat dan
tidak membuat orang yang sedang membaca Al-Quran menjadi kacau bacaannya karena
dzikir itu, maka tidaklah apa-apa berdzikir jahar. Hal yang demikian itu tidak dilarang
bahkan disunatkan, dan dicintai walaupun keadaan dzikir itu berjama’ah. Mereka
berkumpul untuk berdzikir kepada Allah sesuai dengan apa yang telah kami terangkan
dengan ikhlas dan tidak mewaswaskan orang-orang yang sedang shalat dan membaca Al-
Quran, dan sebagainya, maka dzikir seperti itu disunatkan dan sangat dianjurkan. [An-
Nasha-ihud Diniyyah, hal 50]

ْيِف ْمُهَلَو َكِلاَذِب َعاَمِتْجِلْاَو ِرْكّذلاِب َرْهَجْلا ِفّوَصّتلا ِةَقْيِرّطلا ِلْهَأ ْنِم ٌةَعاَمَج َراَتْخا ِدَقَو
ٌةَفْوُرْعَم ُقِئاَرَط َكِلذ

“Para jama’ah dari kalangan Thariqat Shufi mengangkat suara keras ketika berdzikir, dan
mereka berjama’ah ketika berdzikir, hal yang demikian itu merupakan metode thariqat
yang sudah umum/dikenal”. [An-Nasha-ihud Diniyyah, hal 51]

Berdzikir jahar yang dimaksud adalah berdzikir dengan suara keras yang sempurna,
sehingga bagian atas kepala hingga kaki mereka itu bergerak. Dan seutama-utama dzikir
jahar adalah berdiri, dengan menghentak, bergerak teratur dari ujung rambut hingga ujung kaki, hingga seluruh jasadnya turut merasakan Keagungan dan Kebesaran Allah ‘Azza wa
Jalla. (Al-Minahus Saniyyah, Abd. Wahab as Sya’rani)
Dalam kitab Taswiful Asma’, hal. 33 diterangkan:

َمّرَك ّيِلَع ْنَع هِدَنَسِب ِمْيَعُن ْوُبَأ ُظِفاَحْلا ىَوَر اَمِل ِهْيَلِإ ٌبْوُدْنَمَف ِرْكّذلا ِةَلاَح ْيِف ُزاَزِتْهِلْا اّمَأَو
ْيِف ُرَجّشلا ّدُمَي اَمَك اْوّداَم َلا اْوُرَكَذ اَذِإ اْوُناَك َلاَقَف اًمْوَي َةَباَحّصلا َفَصَو هّنَأ ُهَهْجَو ُلا
ْمِهِباَيِث ىلَع ْمُهُعْوُمُد ْتَرَجَو ِحيّرلا ِدْيِدّشلا ِمْوَي ْيِماَطْسُبْلا نْيّدلا ُلاَمَج ُفِراَعْلا اَنُخْيَش َلاَق ,
ىِف َنْوُكّرَحَتَي اْوُناَك ْمُهْنَع لاَعَت ُلا َيِضَر َةَباَحّصلا ّنَأ ْيِف ٌحْيِرَص اَذهَو هَحْوُر لاَعَت ُلا َسّدَق
ِحْيّرلا ِدْيِدّشلا َمْوَي ِرَجّشلا ِةَكْرَحِب ْمُهُتَكْرَح َهّبُش هنَلِ ًلاَمِشَو اًنْيِمَي ًةَدْيِدَش ًةَكْرَح ِرْكّذلا

“Adapun bergoyang-goyang di kala berdzikir itu dianjurkan, karena telah meriwayatkan Al
Hafizh Abu Nu’aim dengan sanadnya dari Sayidina Ali (semoga Allah memuliakan
wajahnya) bahwa sesungguhnya beliau pada suatu hari telah mensifati keadaan sahabat
dengan katanya: ‘Adalah mereka (para sahabat) apabila berdzikir kepada Allah bergoyang-
goyang seperti bergoyangnya kayu ketika datangnya angin kencang, dan mengalir air
matanya pada pakaiannya’. Telah berkata Syekh kita yang ‘Arif, Jamaluddin al Bushthami
(semoga Allah Ta’ala menyucikan ruhnya): ‘Ini merupakan perkataan yang jelas,
sesungguhnya sahabat-sahabat (semoga Allah meridhai mereka) bergoyang-goyang ketika
berdzikir dengan gerakan yang keras ke kanan dan ke kiri. Sesungguhnya berdzikir seperti
itu menyerupai bergeraknya kayu pada waktu datangnya angin kencang”.

Keunggulan dzikir jahar itu adalah seperti yang dikatakan seorang Ulama Ahli Tasawuf:
“Apabila seorang murid berdzikir kepada Tuhannya ‘Azza wa Jalla dengan sangat kuat dan
semangat yang tinggi, niscaya dilipat baginya maqam-maqam thariqah dengan sangat
cepat tanpa halangan. Maka dalam waktu sesaat (relatif singkat) ia dapat menempuh jalan
(derajat) yang tidak bisa ditempuh oleh orang lain selama waktu sebulan atau lebih”.
Syekhul Hadits, Maulana Zakaria Khandalawi mengatakan, ‘Sebahagian orang
mengatakan bahwa dzikir jahar (dzikir dengan mengeraskkan suara) adalah termasuk
bid’ah dan perbuatan yang tiada dibolehkan). Pendapat ini adalah menunjukkan bahwa
pengetahuan mereka itu di dalam hadits adalah sangat tipis. Maulana Abdul Hayy
Rahimahullahu Ta’ala mengarang sebuah risalah yang berjudul ‘Shabahatul Fikri’. Beliau
menukil di dalam risalahnya itu sebanyak 50 hadits yang menjadi dasar bahwa dzikir jahar
itu disunnahkan’. [Fadhilat zikir, Muh Zakariya Khandalawi. Terj. HM. Yaqoob Ansari, Penang
Malaysia, hal 72]

Dan dzikir jahar itu dianjurkan dengan berjama’ah, dikarenakan dzikir dalam berjama’ah
itu lebih banyak membekas di hati dan berpengaruh dalam mengangkat hijab.
Rasulullah SAW bersabda: “Tiadalah duduk suatu kaum berdzikir (menyebut nama Allah
‘Azza wa Jalla) melainkan mereka dinaungi oleh para malaikat, dipenuhi oleh rahmat
Allah dan mereka diberikan ketenangan hati, juga Allah menyebut-nyebut nama mereka itu
dihadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya”. [At Targhib wat Tarhib, II: 404]
Imam al Ghazali Rahimahullahu Ta’ala telah mengumpamakan dzikir seorang diri dengan
dzikir berjama’ah itu bagaikan adzan orang sendiri dengan adzan berjama’ah. Maka
sebagaimana suara-suara muadzin secara kelompok lebih bergema di udara daripada suara
seorang muadzin, begitu pula dzikir berjama’ah lebih berpengaruh pada hati seseorang
dalam mengangkat hijab, karena Allah Ta’ala mengumpamakan hati dengan batu. Telah diketahui bahwa batu tidak bisa pecah kecuali dengan kekuatan sekelompok orang yang
lebih hebat daripada kekuatan satu orang”. [Al-Minahus Saniyyah, Abd. Wahab as Sya’rani]
Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar Rhm. mengatakan:

ًءاَيِر ْفَخَي ْمَل ُثْيَح هِب ُرْهَجـلاَو ِتاَياَوّرلاَو ِتاـيلْا ِحْيِرَصِب ٌبْوُلْطَم ِةَءاَرِقـْلاَك ُرْكّذلَا
هّنَلَِو ِعاَمّسلِل هُتَلْيِضَف ُنَواَعَتـتَو ُرَثْكَأ ِهْيِف َلَمَعـْلا ّنَلِ ُلَضْفَأ ّلَصُم ِوْحَن ىلَع ْشّوَشُي ْمَلَو
ىِف ُدـيِزـيَو َمْوّنلا ُدُرْطيَو ِهْيَلِإ هَعْمَس ُفّرَصُيَو ِرْكِفْلِل هّمَه ُعَمْجَي َو ِئِراَقـْلا َبْلَق ُظِقْوُي
:نيدشرتشلا ةيغب) ِطاَشّنلا ٤٨ (

“Berdzikir itu laksana orang yang membaca Al-Quran, yang diperlukan kejelasan ayat dan
riwayatnya, dan juga diperlukan keras suaranya, apabila tidak khawatir riya’ dan tidak
mengganggu kepada orang shalat. Berdzikir seperti itu lebih afdhal, karena sesungguhnya
dzikir yang banyak itu akan melimpah ruah pahalanya kepada yang mendengarnya. Dan
manfaat berdzikir jahar itu akan mengetuk hati penyebutnya, menciptakan konsentrasi
(fokus) pikirannya terhadap dzikirnya, mengalihkan pendengarannya pada dzikir,
menghilangkan rasa kantuk, serta menambah semangat (bersungguh-sungguh)”.
[Bughyatul Mustarsyidin, hal. 48]

Dalam suatu hadits disebutkan:

اًرْهَج ّلِإ َنْوُكَي َل ُحْدَمْلاَو ِلا َنِم ُحْدَمْلا ِهْيَلِإ ّبَحَأ َدَحَأ َل
“Tidak ada suatu pujian seseorang yang dicintai Allah, kecuali pujian yang diucapkan
dengan suara jelas”.

Seorang penyair mengatakan:

اًجِلْجَلَتُم َل ِهْيِف ْيِحْدَمِب ُتْرَهَج ُجَلْجَلَتَي َل َبْيِبَحْلا َحَدَم ْنَمَو

Dengan suara keras aku telah memujinya tanpa tergagap-gagap,
Barang siapa yang memuji kekasihnya tentu tidak tergagap-gagap.
[Terj. Al-Qirthas, Darul Ulum Press, 2003, hal. 191]

Diambil dari Buku: Dzikir Qurani, Mengingat Allah sesuai Fitrah Manusia, Yayasan Al-
Idrisiyyah, Indonesia.

Perbahasan Berkenaan “إذا صح الحديث فهو مذهبي “
Penulis : Ustaz Nazrul Nasir

Beberapa hari saya tidak menulis, mungkin agak sibuk dengan persediaan peperiksaan yang semakin hampir. Teringin juga jari-jari ini memetik butang key board menulis semula . Tambahan pula semenjak akhir-akhir ini, golongan “mujtahid jadi-jadian” semakin ramai menceburi bidang penulisan ini. Semakin mereka menulis, semakin saya risau melihat masyarakat yang tertipu dengan gaya bahasa yang mereka gunakan seolah-olah menampakkan bahawa mereka benar-benar orang yang berkelayakkan di dalam memperkatakan tentang permasalahan hukum-hakam. Pelbagai pendapat digunakan oleh mereka demi mempertahankan pendapat-pendapat yang boleh kita klasifikasikan sebagai “menegakkan benang yang basah”.

Kalam para ulama Mujtahid yang sering kita dengar seperti :

إذا صح الحديث فهو مذهبي
لا ينبغي لمن لم يعرف دليلي أن يُفتي بكلامي
لا تقلدني و لا تقلد مالكا و لا الأوزاعي و لا غيرهم و خذ الأحكام من حيث أخذوا

Pendapat-pendapat para Imam Mujtahid ini sering disalah gunakan oleh golongan yang gemar mendakwa-dakwi sebegini.Kalam pertama yang bermaksud (( Jika sahih sesebuah hadis maka itulah mazhabku)) digunakan oleh golongan ini dengan mengatakan bahawa, jika kita berjumpa sebuah hadis yang sahih dan mendapati hadis tersebut bertentangan dengan pendapat Imam Mujtahid ( Abu Hanifah, Malik, Syafie dan Ahmad bin Hambal radhiyallahu anhum), maka dahulukan hadis yang sahih kerana ini juga merupakan pendapat sebahagian para Imam tersebut.

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan di dalam muqaddimah Majmu’ Syarah Muhazzab:

“ Memang benar al-Imam Syafie menyebutkan :

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم و دعوا قولي

Maksudnya:
Jika kamu semua (para ulama) mendapati di dalam kitab yang aku tulis menyalahi Sunnah baginda sallallahu alaihi wasallam maka keluarkan pendapat kamu semua dengan Sunnah Baginda sallallahu alaihi wasallam dan tinggalkan pendapatku.”

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan lagi bahawa:
Kata-kata Imam Syafie tersebut bukanlah bermaksud sesiapa sahaja yang menjumpai hadis sahih maka terus mengatakan bahawa ianya merupakan mazhab Imam Syafie itu sendiri.Malah beramal dengan zahir kalam itu semata-mata. Bahkan sebenarnya kalam al-Imam Syafie tersebut ditujukan kepada para ulama yang telah sampai kepada peringkat ijtihad di dalam mazhab seperti yang telah kita sebutkan sebelum ini(rujuk Muqaddimah Majmu’ ). Syarat untuk para yang beramal dengan kalam Imam ini ialah mesti tidak meletakkan sangkaan bahawa al-Imam Syafie radhiyallahuanhu tidak berjumpa dengan hadis ini atau tidak mengetahui bahawa hadis ini tidak Sahih. Syarat ini tidak akan dapat disempurnakan melainkan setelah mengkaji dan mentelaah keseluruhan kitab-kitab karangan al-Imam Syafie , kitab-kitab para ulama Syafieyah yang lain dan yang seumpama dengannya. Inilah merupakan syarat yang agak sukar untuk dipenuhi. Hanya sedikit yang dapat menyempurnakan syarat ini.

Maksud kalam al-Imam Nawawi sangat jelas. Agak menghairankan kita, golongan yang mendakwa kalam al-Imam Syafie kadang-kadang bertentangan dengan hadis ini merupakan dakwaan yang ternyata menyimpang. Bahkan kitab-kitab al-Imam Syafie mereka tidak memahaminya dengan baik (maksudnya memerlukan penguasaan bahasa Arab yang tinggi kerana al-Imam Syafie radhiyallahu anhu merupakan seorang ahli Bahasa Arab yang hebat), apatah lagi membacanya. Ini sepatutnya yang disedari oleh mereka. Tetapi ego dan bodoh sombong yang menyebabkan mereka tidak mahu memahami pendapat ulama sebegini.

Oleh kerana itulah kita katakan, perlu membaca kitab para ulama dengan para alim-ulama yang benar ilmunya, bukan dengan pembacaan secara persendirian tanpa guru yang membimbing. Akan sesat jadinya. Ini asas pertama yang perlu diperbetulkan oleh mereka. Akhir-akhir ini kita melihat mereka juga belajar dengan guru, tetapi guru yang mengajar pula hakikatnya belajar dengan guru yang tidak belajar dengan ulama yang benar ilmunya,bersih pengambilannya serta jauh daripada pendapat-pendapat yang menyalahi jumhur para ulama.

Kata Imam Nawawi lagi menukilkan kata-kata Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahumallah:

“Kalam al-Imam Syafie tersebut bukanlah boleh diamalkan dengan zahir luarannya semata-mata,Bukanlah semua ulama yang Faqih (hebat dalam ilmu fiqhnya) beramal secara terus daripada hadis yang dirasakan hujah baginya.”

Kata Imam Abu Amru Ibn Salah lagi:
“ Jika seorang ulama bermazhab Syafie tersebut menjumpai sebuah hadis yang menurutnya bertentangan dengan mazhab yang dipegangnya, Maka perlu dilihat semula kepada keahlian orang tersebut. Jika ulama tersebut telah mencapai peringkat Ijtihad (seperti yang kita sebutkan di dalam keluaran yang lepas) maka tiadalah masalah baginya untuk beramal dengan hadis tersebut. Tetapi jika dia masih tidak mencapai tahap Ijtihad dan menyukarkan baginya menemukan sebab-sebab pertentangan hadis tersebut dengan kalam Imam Mazhab @ Mazhab itu sendiri maka bolehlah baginya beramal dengan hadis tersebut jika terdapat seorang lagi Imam Mujtahid Mutlak selain Imam Syafie(seperti Imam Abu Hanifah , Malik, Ahmad dan lain-lain).”

Kata al-Syeikh Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani hafizahullah(bukan Syeikh Nasiruddin al-Albani) di dalam risalah kecilnya berkenaan kalam tersebut:

Maksud kalam tersebut ialah:
Kata para imam , kalam tersebut ditujukan kepada para ulama yang benar-benar berkelayakkan di dalam mengeluarkan hukum.Mereka(yang dibenarkan) adalah merupakan para ulama yang hebat di dalam ilmu hadis. Ini bermakna, jika sahih sesebuah hadis sahih tersebut yang bertepatan dengan syarat-syarat pengambilan sesebuah hadis dan kaedahnya berdasarkan mazhab yang mereka gunakan , maka gunakan hadis tersebut. Bukannya kalam tersebut menyuruh setiap kali membaca hadis yang sahih maka tinggalkan beramal dengan pendapat imam mazhab.

Sebaliknya golongan yang sering mendakwa-dakwi ini, menggunakan pendapat ini dengan luarannya sahaja, bukan maksud sebenar kalam tersebut.

Al-Imam Malik Radhiyallahuanhu menyebutkan kepada para muridnya(yang merupakan para mujtahid) ketika beliau mengeluarkan pendapat di dalam sesebuah hukum,
“ Kamu perlu mengkajinya semula, ini kerana ianya merupakan pegangan agama kita.Tiada seorang pun boleh diterima pendapatnya bulat-bulat tanpa perlu dikritik, melainkan pendapat yang dikeluarkan oleh pemilik Maqam yang mulia ini( mengisyaratkan kepada Saidina Muhammad sallallahu alaihi wasallam).”

Saya ingin bertanya, adakah Imam Malik radhiyallahu anhu bercakap seorang diri ketika tersebut? Atau adakah beliau mengucapkan pendapat tersebut dihadapan orang awam yang tidak mengerti hukum-hakam? Jawapannya tentu tidak sama sekali. Golongan yang dibicarakan oleh al-Imam ialah merupakan kelompok mujtahid. Seolah-olah al-Imam ingin memberitahu kepada murid-muridnya bahawa mereka juga telah sampai kepada peringkat Ijtihad yang tinggi. Syarat-syarat untuk menjadi seorang mujtahid telah saya terangkan di dalam keluaran yang lalu. Jika syarat sebegini masih tidak jelas, maka bagaimana seseorang tersebut boleh mengaku bahawa dia juga boleh mengeluarkan hukum terus daripada al-Quran dan Sunnah?

Pendapat kedua yang sering digunakan oleh mereka ialah pendapat yang dikeluarkan oleh al-Imam Abu Hanifah radhiyallahuanhu iaitu :

لا ينبغي لمن لم يعرف دليلي أن يُفتي بكلامي

Maksudnya:
Tidak sepatutnya bagi seseorang yang tidak mengetahui dalil yang aku keluarkan untuk berfatwa dengan pendapatku.

Pendapat ini jelas menunjukkan bahawa ianya disebutkan kepada golongan ulama yang benar-benar alim di dalam bidang tersebut. Ini kerana perkataan “ berfatwa” tersebut tidak lain dan tidak bukan semata-mata ditujukan kepada para ulama ahli fatwa,bukannya mujtahid jadi-jadian . Ini perlu difahami dengan baik dan jelas. Perlu juga bagi seseorang tersebut melihat semula kepada syarat-syarat untuk berfatwa yang disusun oleh para ulama . Antara ulama yang menyusun tentang adab-adab fatwa ini ialah al-Imam Abu Qasim al-Soimuri rahimahullah(guru kepada al-Imam Mawardi rahimahullah), al-Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah, dan al-Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahullah. Ketiga-tiga kitab ini telah diringkaskan perbahasannya oleh al-Imam Nawawi rahimahullah dan beliau meletakkan perbahasan tersebut di dalam kitabnya Majmu’ Syarah Muhazzab.

Jika kamu membaca semula syarat-syarat berfatwa dan Mufti, tentulah kamu akan menyedari betapa jauhnya jurang sebenar antara kamu (yang suka mendakwa-dakwi sebegini) dengan para ulama yang benar-benar sampai kepada peringkat mengeluarkan fatwa.Malah al-Imam Nawawi sendiri menyebutkan bahawa bidang fatwa adalah merupakan bidang yang sangat merbahaya diceburi tetapi sangat tinggi kelebihannya(bagi yang layak sahaja).

Al-Imam Malik radhiyallahu anhu menyebutkan:

ما أفتيت حتى شهد لي سبعون أني أهل لذلك

Maksudnya:
Aku tidak akan berfatwa melainkan selepas disaksikan oleh tujuh puluh orang ulama bahawa aku benar-benar layak di dalam bidang fatwa ini.

Kalam-kalam sebegini tidak pula dilihat oleh golongan sebegini. Mereka hanya mengambil pendapat-pendapat yang luarannya merupakan suatu kelebihan kepada diri mereka untuk meninggalkan berpegang dengan mazhab itu sendiri. Sedangkan langsung tidak memahami maksud kalam itu sendiri.

Jika kita memahami maksud kalam-kalam yang disebutkan dengan baik maka pendapat Imam Ahmad bin Hambal radhiyallahu anhu juga akan mudah bagi kita memahaminya. Maksudnya Imam Ahmad menyebutkan pendapat tersebut bukanlah untuk orang awam melainkan untuk para ulama yang telah mencapai peringkat Ijtihad.

Al-Allamah Syeikh Muhammad Awwamah hafizahullah menukilkan kalam al-Imam Kairanawi radhiyallahu anhu:

“Maksud sebenar kalam al-Imam Syafie (Jika sahih sesebuah hadis maka itulah Mazhabku) dan kalam ulama yang lain yang menyebutkan sedemikian ialah tidak lain selain ingin menunjukkan kepada kita hakikat bahawa kalam yang menjadi hujjah adalah kalam Baginda sallallahu alaihi wasallam bukannya kalam kami(para Imam Mujtahid).Seolah-olah Imam Syafie ingin mengatakan: Jangan kamu menyangka kalam aku adalah hujjah berbanding kalam Baginda Sallallahu alaihi wasallam dan aku juga berserah kepada Allah jika pendapat yang aku sebutkan bertentangan dengan Sabda Baginda sallallahu alaihi wasallam.”

Hakikatnya, kalam al-Imam Syafie radhiyallahu anhu adalah merupakan sifat tawaddhuk yang ada pada beliau. Mustahil seseorang Imam tersebut akan mengeluarkan sesuatu hukum dengan hawa nafsunya melainkan setelah dikaji secara terperinci dengan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dan iman yang mendalam.

Oleh sebab itulah al-Imam Ibn Uyainah Radhiyallahuanhu menyebutkan:

الحديث مضلة إلا للفقهاء

Maksudnya:
Hadis adalah sesuatu yang mampu menyesatkan seseorang (yang tidak memahaminya) melainkan kepada para fuqaha(ulama).

Al-Imam Ibn Hajar al-Haitami radhiyallahu anhu menerangkan maksud sebenar kalam al-Imam Ibn Uyainah radhiyallahu anhu di dalam kitabnya Fatawa Hadisiah mukasurat 521:

“Maksud kalam tersebut ialah Hadis adalah seumpama al-Quran yang mana ianya terkadang merupakan lafaz umum tetapi maknanya khusus, ianyanya juga terdapat Nasakh dan Mansukh, terdapat juga hadis yang tidak diamalkan, dan sebahagiannya jika dipegang dengan zahir maka akan menjadi masalah seperti hadis ينزل ربنا (Allah turun ke Langit pertama disepertiga malam). Jadi maksud sebenar sesebuah hadis tidak akan difahami melainkan diterangkan oleh para ulama.Ini berbeza dengan orang yang tidak mengetahui maksud sebenar hadis tersebut melainkan zahirnya semata-mata, maka akan tersesat jadinya seperti yang berlaku kepada sebahagian ulama terdahulu dan terkemudian seperti Ibn Taimiyah dan pengikutnya”

Bagi menentukan sesebuah hadis sahih tersebut bertentangan dengan pendapat Imam Mazhab maka perlu bagi mereka-mereka yang berkata sedemikian mempunyai dua perkara:

1. Kuat sangkaannya bahawa Sang Imam tidak menemukan hadis yang dia temui.

2. Orang yang mengatakan sedemikian mestilah seorang yang benar-benar pakar di dalam ilmu rijal Hadis, Matan Hadis, cara-cara berhujah dengan hadis, dan cara mengeluarkan hukum daripada hadis tersebut berdasarkan kaedah yang diletakkan oleh mazhab.

Terdapat 4 marhalah (peringkat ) bagi menentukan adakah benar seseorang tersebut benar-benar pakar di dalam Ilmu hadis.(Marhalah ini saya petik secara ringkas daripada risalah al-Syeikh Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani hafizahullah ):

Peringkat pertama

Di dalam peringkat ini seseorang tersebut perlulah mengetahui kedudukan perawi hadis tersebut samaada ianya Thiqah, Saduq dan sebagainya. Serta perlu juga memerhatikan hafalan dan kekuatan ingatan perawi tersebut.Perlu mengetahui tentang martabat thiqah, tempat mana yang perlu didahulukan jarah dan ta’dil(nama ilmu di dalam Mustalah Hadis bagi menentukan darjat seorang perawi).Mengetahui tentang bilakah tarikh perawi tersebut meninggal duni dan dari manakah asalnya dan sebagainya. Pendek kata kesemua ilmu yang diterangkan di dalam kitab Mustalah Hadis perlu diketahui secara lumat dan mendalam oleh seseorang tersebut.

Peringkat kedua

Peringkat ini lebih sukar daripada sebelumnya.Setelah seseorang tersebut mengetahui secara mendalam tentang mustalah hadis tersebut maka perlu pula baginya untuk mengkaji secara teliti dan mendalam hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab Sihah, Sunan, Musnad, Jawami’, Mu’jam, al-Ajza’dan lain-lain kitab hadis bagi mencari sesebuah hadis tersebut adakah benar-benar bertentangan dengan pendapat sang Imam. Perlu juga baginya untuk mengetahui adakah hadis tersebut Mutawatir, Masyhur dan sebagainya. Perlu juga baginya mengetahui adakah hadis tersebut Syaz atau mungkar . Perlu juga baginya mengetahui adakah hadis tersebut marfu’, mauquf atau maqtu’.

Oleh sebab itulah al-Imam Abu Hatim al-Razi rahimahullah menyebutkan: “ Tidaklah seseorang tersebut dikatakan benar-benar pakar di dalam bidang hadis melainkan setelah kami (para ulama hadis )menulis hadis tersebut dengan 60 keadaan dan dia mampu menerangkan satu persatu hadis-hadis tersebut tentang hukumnya sama ada Syaz, Mungkar, Ma’ruf, Mutawatir, Marfu’, Mauquf, Fard dan Masyhur.”

Peringkat ketiga

Peringkat ini lebih sukar daripada kedua-dua peringkat di atas. Setelah benar-benar melalui kedua-dua peringkat tersebut, maka seseorang tersebut perlulah melihat sama ada hadis yang dikajinya terdapat illah(kecacatan) atau tidak. Illah yang tersembunyi menurut para ulama hadis adalah yang paling sukar ditemukan melainkan oleh ulama-ulama yang benar-benar pakar di dalam ilmu hadis. Ini diketahui dengan jelas oleh sesiapa yang mempelajari ilmu hadis dengan baik.

Peringkat keempat

Peringkat ini adalah yang paling sukar ditemukan melainkan para Mujtahid yang sampai ke peringkat mutlak. Ramai ulama hadis yang sukar mencapai peringkat ini walaupun mereka sudah mencapai ketiga-tiga peringkat sebelum ini. Walaupun mereka menghafal hadis tersebut dan mengetahui segalanya tentang ilmu hadis , tetapi di dalam permasalahan hukum hakam tetap mereka serahkan kepada para fuqaha.

Kerana itulah al-Imam al-A’mash radhiyallahu anhu menyebutkan kepada al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu:

يا معشر الفقهاء, أنتم الأطباء ونحن الصيادلة و أنت أيها الرجل أخذت بكلا الطرفين

Maksudnya:
Wahai para fuqaha, kamu adalah doktor yang mengetahui tentang ubat sesuatu penyakit, manakala kami para muhaddith (ulama hadis) merupakan pemilik ubat tersebut.Manakala kamu wahai lelaki( Imam Abu Hanifah ) , kedua-duanya kamu miliki (sebagai seorang doktor dan sebagai seorang pemilik farmasi).

Maksud kalam al-Imam al-A’mash tersebut ialah para fuqaha mengetahui di manakah sumber pengambilan hukum bagi menyelesaikan sesuatu permasalahan, manakala para muhaddis akan membekalkan hadis-hadis sebagai sumber pengambilan hukum tersebut. Manakala al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu mempunyai kepakaran di dalam kedua-dua bidang tersebut(iaitu hadis dan fiqh).

Kesimpulan

Setelah kita perhatikan dan baca dengan teliti perbahasan yang saya tulis ini,jelas lagi bersuluh bahawa menghukumkan sesuatu dengan zahir hadis yang kamu(golongan wahabi) rasakan bahawa ianya bertentangan dengan kalam Imam merupakan suatu tohmahan yang tidak berasas dan tidak mengikut jalur pengajian dan pengkajian yang baik. Perbahasan yang saya buat ini mungkin agak berat bagi sesiapa yang tidak mengetahui istilah-istilah yang digunakan. Jika ada masa, saya akan menerangkannya selepas ini. Tetapi jika “ para mujtahid jadi-jadian” tidak memahaminya maka jelaslah, kamu semua tidak mencapai lagi serendah-rendah martabat tersebut. Maka perlu beristghfar dan memohon keampunan di atas keterlanjuran dan keegoan yang terdapat di dalam diri kamu.

Rujukan:

1. Majmu’ Syarah Muhazzab oleh al-Imam Nawawi rahimahullah tahqiq Syeikh al-Allamah Najib Muti’ie .Cetakan Darul A’lam Kutub

2. Risalah إذا صح الحديث فهو مذهبي oleh Syeikh al-Allamah Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani al-Hanafi hafizahullah.Cetakan Darul Iqra’.Cetakan Pertama 2005.

3. Fatawa Hadisiah oleh al-Imam Ibn Hajar al-Haitami rahimahullah .Cetakan Darul Taqwa.

MOHD NAZRUL ABD NASIR,
RUMAH KEDAH,
KAHERAH,MESIR

Posted by: Habib Ahmad | 27 November 2009

Petikan Dari Kitab Pelita Penuntut

Petikan Dari Kitab Pelita Penuntut

Tersebut di dalam di dalam kitab Pelita Penuntut oleh Syaikh Muhammad Syafie bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Rangkul, Langgih, Fathani. Kitab ini adalah merupakan terjemahan kitab Ta’lim al-Muta’allim Thoriq at-Ta’lim oleh Syaikh az-Zarnuji. Kitab terjemahan ini diselesaikan pada malam Ahad, tanggal 4 Dhulqaedah 1357H, di Kampung Syi’ib ‘Ali di Mekah al-Mukarramah.

Pada halaman 11, pengarang berkata: (Demikian lagi) yang sangat-sangat karut dan sangat-sangat sesat lagi menyesatkan orang awam ialah satu puak yang banyak timbul pada zaman sekarang yang bergelar (KAUM MUDA) [ ini jenama dulu …. sekarang ni Wahabi. Kekadang dikenali sebagai Ittiba’, Tajdid, Salafi, Ansarussunnah dll …. jenama berlainan, isinya sama]

Memegang mereka itu akan dzahir hadits dan ayat Qur’an dengan ketiadaan ta’wil-mu’awwilnya, dan tiada dikerjakan pula muqayyad, muthlaqnya, khas dan am [umum]nya, nasikh dan mansukhnya. Hanya mana-mana terdapat lafadz hadits dan ayat Quran, maka ialah dalilnya dengan tiada kira banyak lagi, dan menafi mereka itu akan tiap-tiap hukum yang tiada pada dzahir ayat [al-Quran] dan hadits, maka menafi mereka itu akan ijma` ulama` dan qiyas dan mazahib yang empat dan membatalkanlah oleh mereka itu akan qawaid-qawaid imam yang empat dan membatalkan mereka itu akan hukum-hukum yang tsabit dengan ijtihad dan qiyas. Maka memfasidkan mereka itu akan sunat[nya] talqin mayyit, dan fidyah puasa dan fidyah sembahyang, dan sunat berlafadz dengan lafadz niat sembahyang dan [se]umpamanya.

Dan menghafadz mereka akan beberapa banyak daripada ayat-ayat Quran dan hadits Nabi صلى الله عليه وآله وسلم supaya buat hujjah dengan dia akan orang-orang awam kita. Dan mendakwa mereka itu bahwasanya mereka itu mujtahid [yang mengali tau mengambil terus] daripada ayat [al-Quran] dan hadits sendiri dan mendakwa akan dirinya yang betul dengan sunnah صلى الله عليه وآله وسلم pada hal kebanyakkan mereka itu tiada biasa bertemu pun dengan pengajian [ilmu-ilmu agama hingga melayakkan mereka untuk berijtihad seperti] ushulul fiqh dan mustholah hadits dan majaz isti’aarah dan lainnya daripada ilmu-ilmu alat. Bahkan nahwu, sorf pun kurang tahu dan kebanyakkan lafadz-lafadz ‘arab pun tiada mengerti akan makna-maknanya dan tidak pula di dapat mereka itu memelihara maruahnya [yang selayaknya sebagai seorang ‘alim, apatah lagi seorang digelar mujtahid], hanya memakan mereka itu diserata-rata kedai dan menjauhi mereka itu akan serban. Maka beginikah kelakuan mujtahid? Dan beginikah sunnah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم? Betapakah halnya semacam ini kelakuan hendak dikata mujtahid?

Berkata Syaikh ‘Abdurrahman [bin Muhammad bin Hussin bin Umar Ba’alawi, wafat pada 1320H], Mufti Hadramaut di dalam Bughyatul Mustarsyidin:

Masalah ك: Satu orang yang menuntuti ilmu dan membanya ia akan muthala’ah daripada kitab-kitab yang di karangkan daripada tafsir dan hadits dan fiqh, adalah ia mempunyai faham dan cerdik, maka tetaplah pada pandangannya bahwasanya kebanyakkan ini amat sesat mereka itu dan menyesatkan mereka itu daripada asal agama dan daripada jalan Sayyidul Mursalin صلى الله عليه وآله وسلم.

Maka meninggal ia akan sekelian karangan-karangan bagi ahli ilmu dan ulama-ulama dan tiada tetap ia akan mazhab, bahkan berpaling ia kepada ijtihad dan mendakwa ia istinbath daripada Quran dan hadits dengan sendirinya dengan sangkanya. Walhal tiada ia daripadanya syarat-syarat ijtihad yang mu’tabarah di sisi ahli ilmu dan serta yang demikian itu memperlazim ia akan umat-umat suruh berpegang akan perkataannnya dan memperwajib ia akan mengikutnya.

Maka ini orang yang dakwa akan dirinya mujtahid itu wajib atasnya kembali kepada yang sebenar dan meninggalkan akan perdakwaannya [dakwaannya] yang bathil itu. Dan apabila melontar ia akan karangan-karangan ulama dan ahli ilmu, maka dengan apakah ia berpegangan kerana bahwasanya ia tidak berjumpa ia akan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم sendiri, dan tidak pula berjumpa akan satu orang daripada shahabat-shahabatnya رضوان الله عليهم , maka jika ada padanya sesuku daripada ilmu maka iaitu diambil daripada karangan-karangan ahli syara’ dan ulama juga dan jikalau sekiranya mereka itu dan karangan mereka itu sesat dan tidak betul, maka daripada manakah ia bertemu hak yang betul, maka hendaklah nyatakan bagi kami katanya – kerana bahwasanya sekelian kitab-kitab aimmah-aimmah [imam-imam] yang empat itu رضوان الله عليهم dan muqallid mereka kebanyakkan, tempat ambilannya daripada Quran dan hadits, maka betapa ia ambil jadi menyalahinya? Dan bermula dakwa ijtihad pada zaman sekarang itu jauh sehabis-habis jauh ……

Sekian.

http://al-fanshuri.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 27 November 2009

Ibadat kerohanian Wahabi berbeza dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah

Ibadat kerohanian Wahabi berbeza dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah
Muhammad Uthman El-Muhammady

DALAM ajaran Ahli Sunnah dibenarkan melawat kubur dan berdoa untuk keampunan ahli kubur.

Tanpa ilmu, tasauf atau pengetahuan fardu ain amalan orang Islam tidak mantap

SELEPAS dua penulisan lalu yang menerangkan secara ringkas perbezaan Wahabi dan Ahli Sunnah Wal Jamaah, tulisan kali ini bertumpu kepada huraian konsep dan amalan ibadat dan juga hidup kerohanian fahaman Wahabiah.

Kita mulakan dengan huraian mengenai syahadah yang menjadi syarat bagi seseorang itu menjadi orang Islam kerana apabila Islam, barulah ibadatnya diterima Allah SWT.

Seperti dinyatakan sebelum ini, syahadah golongan ini mesti ada lima syarat, barulah mereka selamat menjadi orang Islam, sekali gus hukum Islam berjalan atasnya, nyawa dan hartanya selamat.

Syarat berkenaan ialah menyebut lafaz syahadah, faham ertinya, berikrar mengenai keesaan Tuhan, menyeru kepada-Nya dan kufur terhadap apa yang disembah selain Allah SWT.

Huraian seperti ini tidak pernah ada dalam mana-mana kitab Ahli Sunnah Wal Jamaah dan hanya ada pada kitab Wahabi saja. Dalam Ahli Sunnah, apabila orang mengucap syahadah, sah Islamnya, dan selamatlah nyawa dan hartanya. Jikalau dia tidak percaya tetapi disembunyikan daripada orang lain, itu adalah perkara antara dia dan Tuhan dan masyarakat Muslimin masih bergaul dengannya dan menganggapnya masih orang Islam.

Mentauhidkan Allah SWT dan beriman kepada-Nya bererti beribadat dan taat kepada-Nya. Seseorang yang beribadat kepada Tuhan jangan bersikap syirik terhadap-Nya.

Huraian mengenai konsep tauhid dibahagi tiga secara terpisah perlu disebut lagi kerana mereka menjadikannya alat atau senjata menyamakan orang Islam (kerana tawassul disebut menyembah kubur atau menyembah orang mati) dengan penyembah berhala, lalu timbul hukum syirik dan orangnya boleh dibunuh, manakala halal darah dan hartanya.

Hujahnya ialah penyembah berhala itu bertauhid dengan tauhid rububiah iaitu mengakui Tuhan menjadikan alam, memberi rezeki, berkuasa dan lainnya. Dia menyembah berhala itu sebagai perantara untuk berdampingan dengan Tuhan. Kata mereka, ini sama dengan orang yang mengucap ‘Lailahaillallah’ pergi berdoa di kubur nabi atau kubur orang soleh untuk mendapat berkat sebagai perantara dengan Tuhan bagi mendapatkan sesuatu hajat. Kata pengasas golongan Wahabi, ia seperti penyembah berhala yang menyembah berhala, yang ini menyembah kubur, lalu dipanggil kuburriyun, penyembah kubur. Istilah ini hanya ada pada golongan Wahabi saja, tidak ada pada golongan lain.

Dalam ajaran Ahli Sunnah dibenarkan melawat kubur dan berdoa di situ untuk keampunan ahli kubur atau memohon kepada Tuhan dengan berkat orang soleh supaya Tuhan menunaikan hajatnya. Ini diharuskan dan hadisnya ada diriwayatkan dalam kitab yang panjang.

Sebenarnya mereka membandingkan orang Islam yang berdoa di kubur itu dengan penyembah berhala kerana orang Islam dikatakan menyembah kubur atau menyembah orang mati. Dakwaan menyembah kubur itu tidak benar kerana orang Islam ke kubur untuk menziarahi kubur kerana Allah dan perbuatan ini digalakkan dalam hadis nabi seperti amalan berdamping dengan Tuhan. Ini bermakna orang yang melawat itu tidak menyembah kubur. Oleh itu, istilah kuburiyyun tidak benar, kecuali kalau dimaksudkan untuk kaum yang sesat yang sememangnya menyembah kubur (seperti berlaku di sesetengah negeri yang mempunyai ajaran sesat sedemikian).

Orang Islam menyembah Allah SWT, bukan menyembah kubur. Mereka berdoa kepada Allah SWT di kubur untuk mendapat berkat. Itu dibenarkan dan disebut tawassul, ataupun disebut untuk mendapat syafaat dan perbuatan itu ada dalam Ahli Sunnah.

Hakikatnya, penyembah berhala itu memang menyembah berhala dan hanya apabila dihujah, penyembah berhala mengelak daripada terkena hujah lalu ia membuat helah menyebut berhala itu sekadar perantara saja, sedangkan ditujukan kepada Tuhan Yang Esa.

Dalam hubungan ibadat, antaranya kita boleh melihat istilah ‘menyeru’ pada golongan ini; huraian ‘simplistic’ mengenai ‘menyeru’ difahami secara zahir (literal), pada mereka kita tidak boleh menyeru kepada orang mati, sebab al-Quran melarangnya dalam ayat yang bermaksud: “Jangan kamu menyeru, selain daripada Allah SWT.” (Quran, Syuara:213; Qasas:88 dan lain-lain sepertinya). Larangan oleh al-Quran ialah menyeru sebagai beribadat kepada Allah SWT dalam doa. Kalau menyeru: “Wahai ahli kubur, mudah-mudahan Allah SWT ampunkan kami dan kamu,” itu tidak mengapa.

Demikian juga tidak mengapa jika menyeru seperti Saidina Bilal menyeru Rasulullah apabila melawat kuburnya. Ketika dalam solat pun kita menyeru Rasulullah dalam tahiyyat yang bererti ‘Sejahteralah atas tuan hamba wahai Rasulullah rahmat Allah SWT dan keberkatan-Nya. Yang tidak boleh ialah menyembah orang dalam kubur itu.

Perkara yang dilarang di sini ialah menyembah kubur atau orangnya. Tetapi tidak ada pengikut Ahli Sunnah yang melakukan demikian kecuali orang yang sesat. Bagaimanapun, tuduhan berterusan dibuat golongan Wahabi kepada Ahli Sunnah. Ini boleh dilihat dalam sejarah bagaimana mereka sampai berperang dengan orang Turki Uthmaniah dan lainnya kerana konon mereka terkeluar daripada Islam. Salam yang mereka tujukan kepada mereka – seperti yang ada dalam kitab sejarah mereka sendiri, adalah salam yang diberikan oleh Musa kepada Firaun.

Dalam hubungan dengan ibadat, apabila kita berbincang mengenai solat, golongan ini (Wahabi) tidak mahu kita mengikut ibadat solat seperti yang ada dalam ajaran fiqh mengikut mazhab. Katakanlah di Malaysia, kita sembahyang mengikut Imam Syafie. Mereka mahu kita ‘sembahyang nabi’ dan maksud ‘sembahyang nabi’ itu ialah sembahyang yang dihuraikan oleh Syeikh Nasir al-Din Albani dalam bukunya Solatun-Nabi.

Kalau kita solat mengikut mazhab kata mereka, itu bukan sembahyang nabi, itu sembahyang imam mazhab; itu bidaah kata mereka. Jadi kalau kita belajar solat mengikut ajaran ibu bapa kita, maka logiknya boleh dikatakan solat ibu bapa dan demikianlah seterusnya.

Bagi Ahli Sunnah, wajib orang yang bukan mujtahid mengikut imam mujtahid kerana diperintah oleh al-Quran – bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kita tidak tahu; ahli ilmu yang tertinggi dalam syariat ialah imam mujtahid; sebenarnya orang seperti Nasir al-Din Albani pun perlu bertanya kepada imam mujtahid; dengan merujuk kepada teks mereka dan mengikut panduan mereka tetapi dia tidak mahu kerana memikirkan dia mujtahid. Wallahu alam.

Pada Ahli Sunnah, semua imam mujtahid berada di jalan yang betul (sirat al-mustaqim). Dalam hubungan dengan ibadat juga, mereka membidaahkan azan dua kali pada hari Jumaat, (kalau begitu sahabat nabi seperti Saidina Othman pun buat bidaah). Qunut Subuh, berdoa dan mengaminkannya beramai-ramai di masjid, zikir beramai-ramai, tahlil beramai-ramai, membaca Yasin malam Jumaat semua dikatakan bidaah.

Dalam hubungan dengan hidup rohaniah juga mereka menentang tasauf padahal diijmakkan dalam Ahli Sunnah ia sebahagian daripada ilmu syarak yang sah. Imam Ahmad bin Hanbal turut terbabit dalam tasauf. Hakikatnya, tanpa ilmu dan amalan tasauf atau sekurang-kurangnya sekadar tahap fardu ain, hidup ibadat dan kerohanian orang Islam tidak mantap. Wallahualam.

Posted by: Habib Ahmad | 26 November 2009

Setakat Mana Orang Kaya ‘Memiliki’ Daging Korban?

Setakat Mana Orang Kaya ‘Memiliki’ Daging Korban?
( Bilangan 303 )
بسم الله ، والحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ، وعلى آله وصحبه ومن والاه
(Dengan na`ma Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)
Pada Hari Raya ‘Idil Adha dan hari-hari Tasyrieq, iaitu pada 11, 12
dan 13 Zulhijjah, amalan menyembelih korban giat dilaksanakan di
sana sini. Kebiasaannya pada waktu tersebut juga dilakukan
pembahagian daging-daging korban untuk diagih-agihkan kepada
mereka yang berhak menerimanya.
Seperti yang diketahui, pembahagian daging korban adalah
berpandukan sepertimana yang disyariatkan oleh syara‘. Hasilnya,
pembahagian daging korban dilakukan dengan penuh cermat dan
berhati-hati, serta menjaga segala aspek yang dituntut oleh syara‘.
Jika proses ibadah korban bermula dari pemilikan binatang
sehinggalah kepada pembahagian daging korban diberi perhatian
agar selari dengan kehendak syara‘, maka adalah wajar jika usaha
yang sama ditumpukan juga kepada aspek si penerimanya pula.
Apa yang dimaksudkan di sini ialah bagaimana daging tersebut
diperlakukan setelah berada di tangan orang yang menerimanya,
sama ada melalui sedekah ataupun hadiah.
Oleh yang demikian, perbincangan pada kali ini adalah khusus
mengenai golongan orang kaya yang dihadiahkan daging korban,
serta perkara yang diharuskan dan dilarang oleh syara‘ kepada
mereka.
Pembahagian Daging Korban Sunat
Secara ringkas, seorang yang menyembelih korban sunat untuk
dirinya, adalah disunatkan membahagi daging binatang korban
tersebut kepada tiga bahagian seperti berikut:
1. Sepertiga (1/3) untuk dirinya.
Disunatkan bagi orang yang berkorban itu memakan
sebahagian daripada sepertiga sembelihan korbannya
sebagai mengambil berkat. Afdhal baginya memakan hati
binatang tersebut kerana mengikut sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam.
2. Sepertiga (1/3) untuk disedekahkan kepada fakir miskin.
Sepertiga yang disedekahkan kepada golongan fakir miskin
itu wajib dalam keadaan mentah, iaitu tidak dimasak.
Menurut Imam ar-Ramli Rahimahullah Ta‘ala, maksud fakir
miskin di sini adalah sesiapa yang dihalalkan baginya
(menerima) zakat.
Maka hak orang fakir miskin pada daging tersebut adalah
untuk dimiliki. Adapun maksud ‘milik’ di sini ialah
diharuskan baginya:
i) Memakan daging tersebut;
ii) Menjual dan seumpamanya.
Dapat difahami di sini bahawa golongan fakir miskin juga
boleh memberikan daging korban tersebut kepada orang
Islam yang lain, sama ada dalam keadaan mentah ataupun
sudah dimasak, sama ada kepada orang miskin atau orang
kaya.
3. Sepertiga (1/3) untuk dihadiahkan kepada orang kaya.
Sepertiga yang terakhir pula dihadiahkan kepada golongan
kaya, sama ada masih dalam keadan mentah, ataupun daging
tersebut dimasak kemudian dijemput golongan kaya tadi dan
dijamu makanan tersebut kepada mereka. Menurut Imam ar-
Ramli Rahimahullah Ta‘ala, maksud orang kaya di sini
adalah mereka yang diharamkan (menerima) zakat. Mereka
boleh jadi terdiri daripada ahli-keluarga, saudara-mara, jirantetangga,
sahabat-handai, para pekerja dan yang
seumpamanya (yang bukan daripada golongan fakir miskin).
Selain daripada orang kaya itu sendiri, diharuskan juga bagi
ahli keluarganya seperti isteri dan anak-anaknya dan
seumpamanya untuk menikmati daging korban tersebut.
Sekiranya golongan kaya ini dijemput ke rumah orang yang
berkorban (mudhahhi) dan dijamu dengan daging korban
yang sudah dimasak, maka haknya pada makanan itu adalah
setakat untuk dimakannya sahaja. Kerana itu, adab-adab
sebagai tetamu hendaklah juga dijaga dan dipelihara,
khususnya semasa dalam majlis tersebut, antaranya dia tidak
boleh dengan sewenang-wenangnya memberi makanan
tersebut kepada kucing dan seumpamanya atau
menyedekahkannya atau memberikannya kepada orang lain.
Jika sekiranya makanan tersebut dibawa balik, maka ahli
keluarga orang kaya yang dijamu tadi juga termasuk orang
yang diharuskan memakannya.
Daging Korban Pada Orang Kaya Melebihi Dari Mencukupi
Seperti yang sudah dijelaskan, dalam perkara korban sunat,
golongan kaya juga menerima pembahagian daging korban.
Namun kadang-kala apa yang berlaku ialah daging mentah yang
dihadiahkan itu, sama ada yang masih segar atau yang sudah
dibekukan, iaitu yang disimpan dalam peti sejuk beku (freezer),
dirasakan terlalu banyak atau melebihi daripada mencukupi. Jika
golongan orang kaya yang dihadiahkan daging tadi bercadang
hendak memberikan pula daging tersebut kepada saudara mara,
jiran, rakan-rakan atau seumpamanya, bagaimanakah cara yang
dibenarkan untuknya memberi atau menghadiahkan daging korban
tersebut kepada orang lain? Maka penjelasan ringkas mengenai
perkara ini adalah seperti berikut.
Perkara Yang Diharuskan Dan Dilarang
Seringkali timbul kekeliruan yang mengatakan bahawa apabila
orang kaya dihadiahkan daging korban, ini bererti dia
‘memilikinya’ dan boleh melakukan sebagaimana yang
dikehendakinya terhadap daging tersebut sepertimana orang fakir
miskin ‘memiliki’ daging korban.
Hukum golongan kaya yang dihadiahkan daging korban berbeza
dengan golongan fakir miskin. Ini kerana menurut syara‘, pada
asalnya bahagian daging yang dihadiahkan kepada orang kaya itu
hanyalah setakat untuk dimakannya sahaja dan bukan untuk
‘dimiliki’ seperti untuk dijual atau untuk tujuan lain seumpamanya.
Hukum mengenai orang kaya tidak ‘memiliki’ daging korban
adalah muktamad, sekalipun orang yang berkorban itu berkata
kepada penerima yang kaya, umpamanya:
“Aku hadiahkan kepada kamu daging (korban) ini (untuk) menjadi
milik kamu, dan lakukanlah sepertimana yang kamu kehendaki”.
Menurut beberapa ulama, hukumnya adalah tidak harus, malahan
haram bagi golongan kaya untuk ‘memiliki’ daging tersebut,
dengan erti kata untuk menjual atau seumpamanya, melainkan
terhad kepada beberapa perkara yang diharuskan oleh syara‘.
Oleh yang demikian, menurut syara‘ apabila orang kaya
dihadiahkan daging korban yang mentah, maka dia, dan termasuk
warisnya, hanya diharuskan setakat:
1. Memakannya.
Dilarang menjual dan yang seumpamanya daging korban
tersebut.
2. Menyedekahkannya dalam keadaan mentah kepada fakir miskin
yang Islam.
Dilarang menghadiahkan daging korban yang mentah kepada
golongan kaya.
3. Menjamu orang Islam.
Iaitu dengan memasak daging korban tersebut kemudian
menjamu makanan tersebut kepada orang-orang Islam sama ada
mereka itu terdiri daripada golongan fakir miskin ataupun
golongan kaya.
Dilarang:
i. Menjual dan yang seumpamanya daging korban yang sudah
dimasak.
ii. Secara mutlak menjamu orang bukan Islam (kafir), sama ada
miskin atau kaya. Larangan ini bukan sahaja terhad kepada
orang yang berkorban itu sendiri (mudhahhi), bahkan juga
dilarang dilakukan oleh fakir miskin yang disedekahkan dan
orang kaya yang dihadiahkan daging korban.
Antara perkara yang utama yang perlu diingat bahawa daging
korban itu, sama ada yang masih mentah ataupun yang sudah
dimasak, dilarang secara mutlak untuk diberikan, disedekahkan
atau dihadiahkan kepada orang bukan Islam. Oleh itu, tidak
boleh malahan dilarang ke atas orang yang berkorban ataupun fakir
miskin dan juga orang kaya yang menerima daging korban itu
memberikan, menghadiahkan atau menyedekahkannya kepada
orang bukan Islam.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka sewajarnya bagi mereka
yang diberikan atau menerima daging korban, lebih-lebih lagi yang
sudah dimasak, supaya berhati-hati agar daging korban itu tidak
dijamu atau dihidangkan kepada ahli keluarga, saudara-mara, jiran,
sahabat atau pekerja yang bukan beragama Islam.
Selain daripada itu, menurut ulama, sekiranya seorang kaya yang
dihadiahkan daging korban itu meninggal dunia sebelum sempat
memakannya atau menghadiahkannya, maka ahli waris si mati tadi
tetap juga dituntut untuk memelihara perkara yang dilarang dan
diharuskan oleh syara‘ terhadap daging korban tersebut
sepertimana yang dikenakan ke atas orang kaya yang pada asalnya
dihadiahkan daging tersebut. Ini bermakna hak pewaris orang kaya
terhadap daging korban tersebut hanya setakat untuk dimakan atau
disedekahkan atau untuk dijamu kepada fakir miskin dan orang
kaya di kalangan orang Islam.
Sebagai kesimpulan, golongan orang kaya yang menerima daging
korban hendaklah berwaspada dan berhati-hati terhadap daging
yang telah dihadiahkan kepada mereka agar terhindar dari
melakukan sebarang perkara yang menyalahi hukum syara‘. Ini
kerana sekalipun dihadiahkan daging korban bukan bererti
‘memilikinya’. Terdapat syarat-syarat yang wajib dipatuhi seperti
tidak memberikannya kepada orang bukan Islam sama ada yang
mentah ataupun yang sudah dimasak. Dia juga tidak mempunyai
hak untuk menjual atau seumpamanya, melainkan hanyalah untuk
dimakannya serta keluarganya, atau menyedekahkannya kepada
fakir miskin dalam keadaan mentah ataupun memasaknya
kemudian menjamu tetamunya di kalangan orang Islam, sama ada
golongan fakir miskin dan juga orang kaya.

http://www.brunet.bn/

Posted by: Habib Ahmad | 26 November 2009

Majlis Tazkirah malam Jumaat Bersama Sayyidi Al-Habib Umar~

Majlis Tazkirah malam Jumaat Bersama Sayyidi Al-Habib Umar~

Sudah menjadi kebiasaan bagi setiap malam ini @ Dar Al-Mustafa,akan diberi giliran bagi para pelajar/tetamu undangan untuk memberi tazkirah atau ikut istilah sana sebagai ‘kilmah’.

Kemudian Seorang lelaki Britain menceritakan tentang kisah beliau memeluk agama islam dan bagaimana beliau datang ke Tarim Hadramaut…

Beliau telah memeluk islam selama 9 tahun.Diceritakan secara ringkas:beliau apabila membuat keputusan utk memeluk agama islam,isterinya minta memilih antara dirinya,anak2 atau Islam,diminta untuk keluar dari rumah serta ditahan dari mengambil wangnya jika memeluk agama islam .Dan berbagai lagi kesukaran yang dihadapinya.

Ketika giliran habib (giliran terakhir) utk memberi kilmah…

Habib mengeraskan suaranya:

Wahai saudara2ku,
Orang yang memeluk agama Islam selama 9 tahun,
Memilih Allah dan mengorbankan selainNYa,
Dan engkau yang Allah anugerahkan Islam sejak lahir lagi…
Segalanya melalaikan engkau daripadaNYA?!

Wahai orang Mukmin,
Dimanakah pengorbanan yang dilakukan buat NYA?
Engkau tidak beriman dengan Tuhan ini?
Adakah engkau tahu makna Tuhan?

Agungkan TuhanMU,
Katakanlah ‘Allahu Akbar’ dari hatimu,
Tinggalkan selainNYA kerana DIA,
Dan apa itu selainNYA???
Segala apa yang ada pada dirimu…

Datang padaNYA..
Minta padaNYA..
Dia membahagiakan engkau dengan sesuatu yang tidak terfikir dalam benak fikiranmu…

*Please click LINK ini for watching the KILMAH!!!

P/s:Boleh ikuti majlis ini setiap malam Jumaat secara LIVE ONLINE!. Siaran akan diadakan dengan kewujudan Al-Habib Umar.Jika habib tiada,maka tiada siaran LIVE.Jadual ada dipaparkan disana.

Story (2):Majlis Malam Jumaat …

Seorang wanita Britain membuat persaksian mengucap kalimah syahadah di depan khalayak ramai iaitu dikalangan sesama kami jemaah wanita.Isteri Habib Umar (dipanggil dengan gelaran Hubabah) meminta beliau untuk ikut membaca kalimah syahadah .

Hubabah memulakan terdahulu ‘ashadu…’,Wanita itu pun mengikut ‘ashadu’,Hubabah meneruskan lagi ‘an lailaha illa Allah’,dia pun membaca ‘an lailaha illa Allah hingga keakhirnya…

Ketika ucapan syahadah itu dilafazakan dari mulut wanita itu…

Semua yang menyaksikan penyaksian itu mengalirkan air mata…terasa ‘Ya Allah…beratnya kalimah syahadah yang selama ini aku ucapkan…’.

Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam wa kafa biha ni’mah…

Kesimpulan:

-Ucapan dari hati yang bersih akan sampai ke hati orang lain walau perkataannya itu biasa.

-Perlu fahami betul2 makna ‘HAMBA’ dan tanami ia didalam diri KITA.

-Siapa yang memperbanyakkan ucapan tauhid dengan kehadiran hatinya,lama-kelamaan,setiap gerak-gerinya akan bergerak mengikut kalimah tauhid iaitu mengEsakanNYA dalam gerak-gerinya.

Ya Allah,kurniakan rasa hakikat kehambaan dalam diri kami sepertimana Engkau berikan ia kepada KekasihMU yang teragung Rasulullah sollahu ‘alaihi wasallam…

Posted by: Habib Ahmad | 26 November 2009

Allah bimbang manusia jadi 1 umat yang kafir

Allah bimbang manusia jadi 1 umat yang kafir
Posted on November 22, 2009 by sulaiman
Az-Zukhruf [33] Dan kalaulah tidak kerana manusia akan menjadi umat yang satu (dalam kekufuran), nescaya Kami jadikan bagi orang-orang yang kufur ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, bumbung rumah-rumah mereka dari perak dan tangga-tangga yang mereka naik turun di atasnya (dari perak juga),

[34] Dan juga pintu-pintu rumah mereka (dari perak juga) dan kerusi-kerusi panjang yang mereka berbaring di atasnya (dari perak juga),

[35] Serta berbagai barang perhiasan (keemasan) dan (ingatlah), segala yang tersebut itu tidak lain hanyalah merupakan kesenangan hidup di dunia dan (sebaliknya) kesenangan hari akhirat di sisi hukum Tuhanmu adalah khas bagi orang-orang yang bertakwa.

Allah bersifat Rahman (Pemurah) dan Rahim (Pengasihani). Allah bersifat pemurah walaupun kepada orang-orang yang kufur (kafir) dan derhaka kepadanya. Di dunia ini mereka tetap diberikan kesenangan dan kemewahan walaupun tidak beriman dan percaya kepada Allah. Di akhirat kemewahan hanya diberikan kepada orang Islam di dalam syurga. Harta dunia hanya menjadi milik kita semasa hidup di dunia sahaja. Harta akhirat pula kekal selamanya. Di akhirat, orang-orang kafir tidak akan merasa walau setitik air sejuk.

Emas dan perak semuanya berasal dari syurga.

Al-Insan [21] Mereka di dalam Syurga memakai pakaian hijau yang diperbuat dari sutera halus dan sutera tebal (yang bertekat), serta mereka dihiasi dengan gelang-gelang tangan dari perak.

Al-Kahfi [31] Mereka itu, disediakan baginya Syurga yang kekal, yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; mereka dihiaskan di dalamnya dengan gelang-gelang tangan emas….

Emas dan perak diturunkan ke dunia untuk mencantikkan dunia kerana dunia adalah tempat ujian untuk manusia, samada mereka kaya atau miskin. Dalam ayat di atas Allah menyelamatkan manusia yang beriman dari menjadi kafir, walaupun diberikan kemewahan kepada kafir semasa di dunia namun ia tidak menyamai tahap kemewahan di akhirat. Kemewahan di akhirat adalah untuk muttaqin (orang-orang bertakwa), yang taat dan patuh perintah Allah dan Rasul.

Sembahyang Sunat Rawatib ialah solah sunat yang mengiringi solah fardhu samaada sebelum atau selepas solat fardhu. Sunat Rawatib terbahagi kepada 2 kategori iaitu Qabliah (sebelum Solah Fardhu) dan Ba’diah (selepas Solah Fardhu).

Sunat Rawatib yang “Muakkad” (sangat dituntut) adalah 10 rakaat mengikut mazhab Syafie dan 12 rakaat mengikut mazhab Hanafi.

Sabda Rasulullah s.a.w : Maksudnya : Dari Abdullah bin Umar, katanya, “Saya mengingati (lafaz) dari Rasulullah s.a.w dua (2) rakaat sebelum Zohor, dua (2) rakaat sesudah Maghrib, dua (2) rakaat sesudah Isyak, dan dua (2) rakaat sebelum Subuh.”

Salah satu dari perkara yang terkandung dalam 40 pesanan Rasulullah s.a.w ialah “Engkau hendaklah mengerjakan dua belas rakaat solah Muakkad setiap hari. ( dua (2) rakaat sebelum subuh, empat (4) rakaat sebelum dan dua(2) rakaat sesudah zohor, dua(2) rakaat selepas magrib dan dua(2) rakaat selepas isyak),”

Sunat Rawatib yang “Muakkad” adalah 10 atau 12 rakaat seperti berikut :

2 Rakaat sebelum Solah Subuh,

2 atau 4 Rakaat sebelum Solat Zohor.

2 Rakaat selepas Solat Zohor.

2 Rakaat selepas Solat Maghrib.

2 Rakaat selepas Isyak.

http://nasbunnuraini.wordpress.com

Posted by: Habib Ahmad | 26 November 2009

Kepergian Sang Rasul

Akhlaq Rasulullah adalah Al-Quran. Begitu Sayyidah Aisyah RA menjelaskan sifat Baginda Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat yang bertanya kepadanya. Pribadi yang agung itu dalam detik-detik wafatnya menyampaikan risalah kebenaran dengan sempurna, yang disaksikan para sahabat, generasi terbaik umat, yang terlahir dari hasil didikan langsung Rasulullah SAW.

Lalu, peristiwa apa yang terjadi dalam detik-detik menjelang wafatnya sang Rasul? Apa wasiat yang beliau sampaikan? Bagaimana perasaan para sahabat setelah wafatnya Baginda Nabi SAW? Bagaimana asal muasal Sayyidina Abu Bakar RA menjadi khalifah Rasulullah?

Buku ini menjadi unik dan makin menarik karena dilengkapi foto-foto peninggalan Rasulullah SAW serta bonus DVD ceramah Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri, muballigh yang alim dari Hadhramaut, tentang detik-detik menjelang wafatnya Rasulullah SAW.

Penyusun: Abdul Qadir Umar Mauladdawilah dan Ernaz Siswanto
Penerbit: Pustaka Basma, Malang, Jawa Timur
Harga: Rp. 30.000,-

Pesan Segera!
Hubungi bagian Sirkulasi Majalah alKisah
Jalan Pramuka Raya No. 410, Jakarta 13120
Telp. 021-856. 2257/ 8590. 0947
Fax: 021-8590.0947
e-mail: alkisah_online@yahoo.com This e-mail address is being protected from spambots.

HURAIAN BERKENAAN DENGAN IBADAH KORBAN DAN HUKUM-HUKUM BERKAITAN DENGANNYA – BHG.3

7. CARA MENYEMBELIH BINATANG KORBAN

Cara menyembelih binatang korban itu ialah dengan memotong kesemua halqum dan mari’ sehingga putus dengan alat yang tajam seperti pisau (bukan tulang atau kuku). Halqum itu ialah tempat keluar masuk nafas dan urat mari’ itu pula ialah tempat laluan makanan dan minuman yang terletak di bawah halqum.

Adalah wajib bagi orang yang menyembelih itu memotong halqum dan mari’ itu. Jika ditinggalkan sebahagian daripada halqum atau mari’ itu (belum putus) dan mati binatang tersebut dalam keadaan yang demikian, maka tiada sempurna sembelihan itu dan ia adalah dikira bangkai. Begitu juga jika telah berhenti gerak binatang yang disembelih itu padahal halqum atau mari’ belum putus, kemudian dipotong semula halqum atau mari’ yang tertinggal itu, maka yang demikian itu pun adalah menjadi bangkai (tidak boleh dimakan).

Disyaratkan binatang yang disembelih itu ada hayat mustaqirrah ketika mula-mula disembelih iaitu ia akan hidup jika tidak disembelih ketika itu. Di antara tanda adanya hayat mustaqirrah itu ialah kuat geraknya ketika dipotong halqum dan mari’nya, dan menyembur darahnya. Mengikut Imam An-Nawawi memadai dengan kuat geraknya ketika disembelih.

Ketika hendak menyembelih binatang korban, sunat dibaca seperti berikut:

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد، بسم الله، اللهم صل على سيدنا محمد وآله وسلم، اللهم هذه منك وإليك فتقبل مني / فتقبل من

Maksudnya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan kepada Allah lah kembali segala pujian. Dengan Nama Allah. Ya Allah Ya Tuhanku kurniakan selawat dan rahmat keatas Sayyidina Muhammad dan sekelian keluarga Baginda. Ya Allah ya Tuhanku, Ini korban daripadaMu dan kembali kepadaMu, maka terimalah korban daripadaku (atau terimalah ia daripada ……)

Binatang yang panjang lehernya seperti unta, sunat disembelih di pangkal leher yang bawah (berhampiran dada) dengan memotong halqum dan mari’, kerana mengikut sunnah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Yang demikian itu juga akan memudahkan roh binatang itu keluar. Sementara binatang yang pendek lehernya seperti lembu, kerbau dan kambing disembelih di hujung leher (yang atas).

Sunat disembelih lembu, kerbau atau kambing dengan dibaringkan binatang itu di atas tanah sebelah rusuk kirinya dan diikat kakinya, sementara kaki kanannya bebas lepas tanpa diikat supaya binatang itu dapat berehat dengan menggerakkan kaki kanannya itu. Sementara unta pula, sunat disembelih dengan didirikan binatang itu. Jika tidak mampu untuk disembelih dalam keadaan unta tersebut berdiri, maka sembelihlah dalam keadaan unta itu duduk. (Mughni al-Muhtaj: 4/341)

Sunat ditajamkan mata pisau bagi sembelih dan disembelih dengan kuat bersungguh-sungguh dan mengadap kiblat oleh yang menyembelih dan dihalakan ke kiblat akan binatang yang akan disembelih itu kerana kiblat itu semulia-mulia pihak.

Sunat diberi binatang itu minum sebelum ia disembelih. Kemudian sunat dibaringkan binatang itu dengan keadaan lemah lembut. Jangan diasah pisau sembelih dan jangan disembelih binatang yang lain di hadapan binatang yang akan disembelih itu.

Sunat dibiarkan binatang itu setelah disembelih sehingga ia mati.

Untuk kupasan lebih terperinci mengenai sembelihan, sila rujuk pada kitab-kitab feqah mengenai bab sembelihan.

7. PENAGIHAN DAGING KORBAN

Daging korban wajib: Bagi korban wajib (korban nazar), maka yang demikian itu wajib disedekahkan semua daging sembelihan itu termasuk kulit dan tanduknya.

Dan haram atas orang yang berkorban wajib itu memakan daging tersebut walaupun sedikit. Jika dimakannya daging tersebut, maka wajib diganti kadar yang telah dimakannya itu, tetapi tidak wajib dia menyembelih binatang lain sebagai ganti.

Jika orang yang berkorban itu melambat-lambatkan pembahagian daging korban wajib tersebut sehingga rosak, maka wajib ke atas orang yang berkorban itu bersedekah dengan harga daging itu dan tidaklah wajib dia membeli yang baharu sebagai gantinya kerana telah dikira memadai dengan sembelihan tersebut.

Jika daging korban itu ialah korban disebabkan wasiat daripada seseorang yang telah meninggal dunia, maka tidak boleh dimakan dagingnya oleh orang yang membuat korban untuknya dan tidak boleh dihadiahkan kepada orang kaya kecuali ada izinnya.

Daging Korban Sunat: Sebagaimana yang kita ketahui berkorban itu hukumnya sunat mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Jumhur ulama juga mengatakan ia adalah sunat bagi orang yang mampu. Makruh bagi orang yang mampu itu jika dia tidak melakukan korban. Walau bagaimanapun jika ditinggalkannya tanpa sebarang keuzuran, tidaklah dia berdosa dan tidak wajib dia mengqadhanya.

Sunat bagi orang yang empunya korban itu memakan sebahagian daripadanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala

فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ

yang bermaksud : “Maka makanlah daripadanya dan beri makanlah kepada orang-orang yang sangat fakir”. (Surah Al-Hajj: 28)

Afdhalnya yang dimakan itu ialah hatinya, kerana telah diriwayatkan bahawa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah makan sebahagian daripada hati binatang korbannya, tetapi makan di sini bukanlah bererti dia wajib memakannya.

Berdasarkan kepada ayat di atas, para ulama berpendapat bahawa selain daripada sunat dimakan, wajib pula disedekahkan sebahagian daripada daging korban sunat itu dalam keadaan mentah lagi basah kepada orang-orang fakir atau miskin yang Islam.

Ini bererti setiap orang yang berkorban sunat itu wajib menyediakan sebahagian daripada daging korbannya itu untuk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Tidak memadai jika daging-daging korban itu dihadiahkan keseluruhannya kepada orang-orang kaya misalnya. Hal inilah yang wajib diketahui oleh setiap orang yang berkorban.

Harus bagi orang yang berkorban itu membahagikan daging korbannya kepada tiga bahagian; satu pertiga (1/3) untuk dimakan, satu pertiga (1/3) untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin dan satu pertiga (1/3) lagi untuk dihadiahkan kepada orang kaya.

Namun yang afdhalnya adalah disedekahkan semuanya, melainkan dimakannya sedikit sahaja iaitu kadar beberapa suap untuk mengambil berkat daripadanya, kerana yang demikian itu lebih mendekatkan diri kepada taqwa dan jauh daripada sifat mementingkan diri sendiri.

Sekalipun sah korban sunat seseorang itu, jika dimakan kesemua daging korbannya dan tiada sedikit pun disedekahkan kepada orang fakir atau miskin, tetapi wajib didapatkan atau dibeli daging-daging yang lain kadar yang wajib disedekahkan sebagai ganti.

Memberikan daging korban sunat sebagai hadiah kepada orang kaya Islam adalah harus. Walau bagaimanapun hadiah itu setakat untuk dimakan sahaja, bukan untuk tujuan memilikinya. Ini bererti dia tidak boleh menjualnya, menghibahkannya atau sebagainya kecuali menyedekahkannya kepada fakir atau miskin. Berlainan halnya dengan orang fakir dan miskin, di mana daging yang disedekahkan kepadanya itu adalah menjadi milik mereka. Mereka diharuskan menjual daging tersebut atau menghibahkan (memberikan) kepada orang lain.

Satu perkara lagi yang wajib kita ketahui ialah hukum haram menyedekah dan menghadiahkan daging korban kepada orang kafir sekalipun dia kaum kerabat, sama ada ia korban wajib atau sunat sekalipun sedikit kerana ia adalah perkara yang berhubung dengan ibadat. Didalam kitab Matla’ al-Badrain: 81 “… haram hukumnya memberi, menghadiahkan atau menjual daging qurban tersebut kepada orang bukan Islam, sekalipun fakir miskin itu terdiri daripada kafir zimmi”. Oleh sebab itu, sekiranya ada bahagian daging tersebut yang diberikan, dihadiahkan atau dijual kepada orang bukan Islam, maka wajib diganti dengan daging yang lain sekira-kira menyamai kadar berkenaan.

Kulit atau daging binatang korban itu haram dijadikan upah kepada penyembelih, tetapi harus diberikan kepadanya dengan jalan sedekah jika penyembelih itu orang miskin atau hadiah jika dia bukan orang miskin.

Sepertimana yang dijelaskan di atas, bahagian yang wajib disedekahkan itu hendaklah ia daging yang masih basah dan mentah. Ini bererti tidak memadai jika bahagian yang disedekahkan itu bukan daging seperti kulit, hati, tanduk dan sebagainya. Begitu juga tidak memadai jika daging tersebut dimasak kemudian dipanggil orang-orang fakir dan miskin untuk memakannya kerana hak fakir dan miskin itu bukan pada makan daging tersebut, tetapi adalah memiliki daging berkenaan dan bukan memilikinya dalam keadaan yang telah dimasak.

8. MENYEMBELIH BINATANG KORBAN DI LUAR NEGERI DAN DAGINGNYA DIAGIHKAN KE NEGERI YANG LAIN

Apa yang dimaksudkan dengan memindahkan daging korban itu ialah memindahkan daging korban dari negeri tempat penyembelihannya ke negeri lain, supaya daging korban itu dibahagi-bahagikan kepada mereka yang berhak di negeri berkenaan itu.

Adakah harus bagi orang-orang tempatan berwakil untuk berkorban di luar negeri dan daging korban itu dipindahkan daripada tempat korban ke negeri atau daerah lain?

As-Sayyid Al-Bakri Ad-Dumyathi, Pengarang Hasyiah I‘anah At-Thalibin menjelaskan bahawa telah dijazamkan dalam An-Nihayah bahawa haram memindahkan daging korban daripada tempat berkorban itu seperti mana juga zakat, sama ada korban sunat atau wajib. Adapun yang dimaksudkan daripada korban sunat itu ialah bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin.

Manakala memindahkan wang daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli binatang korban adalah di haruskan seperti mana katanya yang ertinya : “Adapun memindah wang dirham daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli dengannya binatang korban di negeri tersebut maka ia adalah harus.” (I‘anat At-Thalibin: 2/380)

As-Syeikh Mohammad bin Sulaiman Al-Kurdi pernah ditanya : “Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Jawi (kepulauan Melayu) berwakil kepada seseorang untuk membeli na‘am (seperti lembu dan kambing) di Mekkah untuk dijadikan aqiqah dan korban sedangkan orang yang hendak beraqiqah atau berkorban itu berada di negeri Jawi. Adakah sah perbuatan sedemikian atau tidak, mohon fatwakan kepada kami.

Jawapan: Ya! Sah yang demikian itu dan harus berwakil membeli binatang korban dan aqiqah dan begitu juga untuk menyembelihnya sekalipun di negeri yang bukan negeri orang yang berkorban dan beraqiqah itu.” (I‘anah At-Thalibin: 2/381)

Dalam perkara ini pengarang Kitab Sabil al-Muhtadin pula menyebutkan: “Kata Syeikhi Muhammad bin Sulaiman: Harus berwakil pada membeli na‘am akan korban pada negeri yang lain dan pada menyembelih dia dan pada membahagikan dagingnya bagi segala miskin negeri itu intaha. Maka iaitu zahir sama ada negeri Mekkah atau lainnya tetapi jangan dipindahkan dagingnya daripada negeri tempat berkorban kepada negeri yang lain maka iaitu haram lagi akan datang kenyataannya dan sayuginya hendaklah yang berwakil menyerahkan niat korban kepada wakil pada masalah ini wallahu ‘alam. (Sabil Al-Muhtadin: 214)

Katanya lagi jikalau berwakil seorang akan seorang pada berkorban di negeri lain kerana menghasilkan murah umpamanya hendaklah disedekahkan oleh wakil akan dagingnya bagi fakir miskin negeri itu dan janganlah dipindahkannya akan sesuatu daripada dagingnya daripada negeri itu kepada negeri yang berwakil melainkan sekadar yang sunat ia memakan dia itupun jika ada korban itu sunat (adapun) jika ada korban itu wajib maka wajiblah atas wakil mensedekahkan sekeliannya kepada fakir di dalam negeri tempat berkorban itu (dan haram) atasnya memindahkan suatu daripadanya ke negeri yang lain. (Sabil Al-Muhtadin: 216)

Berdasarkan perkataan para ulama seperti yang dinukilkan di atas, adalah jelas bahawa hukumnya harus berwakil untuk membeli binatang korban di negeri yang lain dan menyembelihnya serta membahagikan daging tersebut kepada fakir miskin di negeri berkenaan.

Adapun memindahkan daging korban daripada tempat sembelihan ke negeri yang lain itu adalah berhubungkait dengan hukum menyedekahkan daging korban itu:

Jika korban itu adalah korban wajib yang mana kesemua dagingnya wajib disedekahkan kepada fakir miskin dalam keadaan mentah, maka haram hukumnya memindahkan daging korban berkenaan daripada tempat sembelihan. Inilah pendapat jumhur ulama Syafi‘eyah.
Jika korban itu korban sunat di mana sebahagian daripada daging korban itu harus dihadiahkan atau dimakan oleh orang yang berkorban, maka bahagiannya (hak orang yang berkorban) itu sahaja yang harus dipindahkan ke negeri lain. Manakala bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin itu wajib disedekahkan di tempat berkorban itu juga dan haram dipindahkan ke negeri lain. (I‘anah At-Thalibin: 2:380)

Maka sebagi jalan keluar, adalah lebih munasabah menjalankan sembelihan korban bagi pihak yang berwakil terus sahaja ditempat-tempat atau negeri-negeri yang akan diagihkan daging korban itu. Dengan ini dapat dielakkan hukum pemindahan daging korban daripada tempat sembelihan ke negeri lain. Kalau diperhatikan sekarang terdapat egen-egen yang mengelolakan ibadah korban diluar Malaysia seperti di Kampuchea, Vietnam, Ambon, Darfur dll, dimana urusan penyembelihan dan pengagihan daging korban dilakukan ditempat-tempat tersebut.

http://al-fanshuri.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 25 November 2009

Bahaya Taklid Dalam Tauhid

Bahaya Taklid Dalam Tauhid

Oleh DR. ASMADI MOHAMED NAIM

APABILA ditanya dari mana nas al-Quran dan sunnah yang menyebut pembahagian yang jelas bagi tauhid tiga serangkai iaitu tauhid uluhiah, tauhid rububiah dan tauhid asma’ wa sifat, pendokongnya yang mengaku berpegang dengan al-Quran dan sunnah pun, teragak-agak mendatangkan hujah.

Lantas mendatangkan hujah-hujah berbentuk taklid iaitu WAMY, ulama-ulama lain dan silibus-silibus beberapa buah universiti yang menyokong. Itu sebenarnya taklid.

Kadang-kadang didatangkan nukilan al-Baghdadi dalam al-Farq Baina al-Firaq berkaitan dengan tafsiran perkataan ‘ahlussunnah’ sebab mahu bergantung dengan ulama silam Ahlussunnah, namun ditiadakan syarahan bahawa Imam al-Baghdadi sebenarnya mensyarahkan tauhid Sifat di dalam kitab tersebut apabila beliau mensyarahkan firqah najiah (firqah yang selamat). Bahkan perkataan ‘tauhid-tauhid sifat’ dalam definisi tersebut diabaikan. Walhal itulah antara sifat-sifat 20.

Lihat bagaimana Imam al-Baghdadi mensyarahkan pandangan Ahlussunnah dalam mentauhidkan sifat Allah SWT: “Mereka ijmak bahawa tempat tidak meliputiNya (Allah SWT tidak bertempat) dan masa tidak mengikatnya, berbeza dengan firqah al-Hasyamiah dan al-Karamiah, yang mengatakan Allah memegang arasynya”. (Lihat Al-Baghdadi, al-Farq Baina al-Firaq, hal.256).

Dalam isu tauhid, amat merbahaya kita bertaklid. Sepatutnya didatangkan nas-nas yang jelas berkaitan pembahagian tiga serangkai tersebut bersesuaian sekiranya kita bersarjanakan al-Quran dan sunnah.

Kalau berdoa selepas solat secara berjemaah yang tidak ditunjuk oleh hadis secara jelas pun dituduh bidaah dan sesat oleh sesetengah orang (walau berdoa disuruh dalam al-Quran dan sunnah), apatah lagi isu pokok dan besar seperti tauhid.

Apabila ditanya, mana dalil al-Quran dan sunnah apabila anda mengatakan penyembah berhala bertauhid dengan tauhid rububiah (tanpa tauhid uluhiyah)? Lantas akan dinyatakan kata-kata si polan dan polan mengatakan perkara ini dan di sokong pula dengan ulama-ulama ini dan ini.

Persoalan saya: Kenapa tidak ada sepatah pun ayat al-Quran dan hadis atau kata-kata ulama-ulama Salafussoleh (tiga kurun pertama) mengenai perkara ini?

Memang benar ada ayat yang bermaksud: Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, nescaya mereka menjawab: Allah; jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah SWT). (al-Zukhruf: 87).

Dalil ini digunakan untuk menunjukkan orang-orang Musyrik (penyembah berhala) beriman dengan iman rububiah. (Mohd. Naim Yasin, hal.11).

Namun kenapa tidak dicantumkan dengan ayat selepasnya? Dan (Allah mengetahui) ucapannya (Muhammad): Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman. (al-Zukhruf: 88).

Tidak pula al-Quran mahupun sunnah menyebut orang-orang Musyrik beriman dengan tauhid rububiah sahaja! Ini persoalan akidah, sepatutnya ada nasnya secara jelas.

Sebaliknya al-Quran mengatakan dengan jelas bahawa mereka bukan orang yang beriman. Bagaimana kita boleh mengubahnya mengatakan mereka beriman dengan tauhid rububiah? Mana dalilnya sebab ini persoalan akidah?

Ini adalah taklid. Kenapa kita membenarkan taklid dalam soalan akidah sebegini? Kita amat tidak adil apabila membenarkan taklid pada persoalan akidah sebegini.

Lantas kemungkinan saya pula ditanya: Apa dalil kamu dari al-Quran dan sunnah yang menyebabkan kamu mengkhususkan Sifat 20 untuk Allah SWT?

Maka saya berkata: “Bahawasanya Allah SWT bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, dan maha suci dari segala kekurangan. Sesungguhnya ketuhanannya melazimkan kesempurnaan mutlak secara khusus untuk ZatNya.

“Kemudian, kami memilih sifat-sifat terpenting daripada sifat-sifatNya yang maha sempurna dan kami menjelaskannya secara terperinci perkara-perkara dan keyakinan-keyakinan yang berkaitan dengannya (Lihat al-Buti, 1992, Kubra al-Yaqiniyat al-Kauniyyah, h108).

Adalah satu fitnah sekiranya kami dikatakan menghadkan sifat Allah SWT kepada 20 sahaja!

Saya mungkin ditanya lagi: Mana dalilnya dari al-Quran dan sunnah? Saya akan mengatakan bahawa semua sifat dua puluh itu ada dalilnya di dalam al-Quran dan sunnah. Kalau mahu diperincikan, boleh dilihat dalam semua buku yang mensyarahkan Sifat 20.

Saya ditanya lagi: Bukankan Sifat 20 itu susunan Muktazilah? Saya berkata: Sekiranya saudara membaca sejarah Islam silam, saudara akan memahami bahawa pada zaman Khalifah Abbasiah iaitu Ma’mun bin Harun ar Rasyid (198H-218H), al-M’tashim (218H-227H) dan al-Watsiq (227H-232H) adalah khalifah-khalifah penganut fahaman Muktazilah atau sekurang-kurangnya penyokong-penyokong yang utama dari golongan Muktazilah.

Dalam sejarah Islam, dinyatakan terjadinya apa yang dinamakan ‘fitnah al-Quran itu makhluk’ yang mengorbankan beribu-ribu ulama yang tidak sefaham dengan kaum Muktazilah.

Pada masa itu, Imam Abu Hassan al-Asy’ari muda remaja, dan belajar kepada seorang Sheikh Muktazilah, iaitu Muhammad Abdul Wahab al-Jabai (wafat 303H).

Imam Abu Hassan al-Asy’ari (wafat 324H) melihat terdapat kesalahan besar kaum Muktazilah yang bertentangan dengan iktiqad (keyakinan) Nabi SAW dan sahabat-sahabat baginda, dan banyak bertentangan dengan al-Quran dan sunnah. Lantas beliau tampil meninggalkan fahaman Muktazilah dan menongkah hujah-hujah kaum Muktazilah.

Kefahaman Masyarakat

Bermula dari itulah, Imam Abu Hassan al-Asy’ari melawan kaum Muktazilah dengan lidah dan tulisannya. Justeru, susunan tauhidnya bermula setelah dia berjuang menentang Muktazilah dan mengembalikan kefahaman masyarakat kepada al-Quran dan sunnah.

Di atas jalannya, ulama silam menelusuri, antaranya ialah Imam Abu Bakar al-Qaffal (wafat 365H), Imam Abu Ishaq al-Asfaraini (wafat 411H)., Imam al-Hafiz al-Baihaqi (wafat 458), Imam Haramain al-Juwaini (wafat 460H), Imam al-Qasim al-Qusyairi (wafat 465H), Imam al-Baqilani (wafat 403H), Imam al-Ghazali (wafat 505H), Imam Fakhrurazi (wafat 606H) dan Imam Izzuddin bin Abd Salam (wafat 660H). (Lihat Kiyai Sirajuddin Abbas (2008). Aqidah ahlussunnah wal Jamaah, h21-23).

Tidak pernah wujud pertelingkahan antara penghuraian Imam Abu Hassan al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi dengan pengikut-pengikut mazhab fiqh yang empat.

Kemudian saya mungkin diperlekeh kerana pengajian sifat 20 ini bentuknya kaku, lantas contoh sindirannya ialah: “Wujud maksud ada, lawannya tiada…. akhirnya semuanya tiada”.

Saya katakan sememangnya cara perbahasan Sifat 20 kena diperbaharui dan diringkaskan.

Dalil-dalil al-Quran berkaitan sifat tersebut perlu lebih dipertekankan berbanding dengan dalil-dalil akal yang rumit-rumit yang mungkin zaman kita tidak memerlukannya.

Pada saya, mungkin penulisan seorang ulama Indonesia Kiai Sirajuddin Abbas bertajuk: Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, boleh digunakan untuk memudahkan kefahaman pembaca. Buku ini masih banyak dijual di toko-toko buku di Wisma Yakin, Kuala Lumpur.

Saya kemudian ditanya berkaitan dengan sahabat-sahabat saya yang mungkin belajar dan mengajar tauhid tiga serangkai ini?

Saya katakan pengalaman saya mendengar pensyarah-pensyarah dan sahabat-sahabat saya yang mengajar tauhid pecah tiga ini, ada di kalangan mereka tidak ekstrem, tidak sampai mengkafirkan/mensyirikkan golongan yang tidak sependapat.

Contohnya bila memperkatakan tawassul dan menziarahi kubur, ada di kalangan mereka menerimanya tanpa mengkafirkannya atau menyesatkannya.

Demikian juga persoalan penafsiran ayat-ayat sifat, ada yang tidak menerima/ tidak taklid bulat-bulat kenyataan Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab, dan lebih kepada menyerahkan kepada Allah SWT. Mereka lebih suka merujuk terus ke Ibn Taymiyyah berbanding Sheikh Muhammad Abd Wahhab.

Di kalangan mereka (mengikut cerita adik saya ketika dia belajar di Universiti Yarmuk, Jordan), pensyarah Aqidahnya mengatakan: Kamu orang-orang Malaysia, ramai mengikut Ahlu sunnah aliran Asyairah.

Namun, tauhid yang diajarkan ini mengikut susunan Ibn Taymiyah kerana menjadi silibus Universiti ini (pada masa itu). Terserah kepada kamu mengikut keyakinan Asyairah itu (tanpa beliau menyesatkannya).

Mereka menyedari ramai ulama silam (sama ada muhadithin, fuqaha’ atau mufassirin) dari kurun ke tiga Hijrah berpegang kepada huraian Imam Abu Hassan al-Asy’ari (wafat 324H) dan Imam Abu Mansur al-Maturidi (wafat 333H).

Walaupun begitu, ada yang amat ekstrem dalam pegangannya sehinggakan menyesatkan imam-imam terdahulu yang berada dalam lingkungan ratusan tahun.

Semoga pembaca membuat pertimbangan dan terbuka berkaitan isu ini. Pada saya berpegang pada tauhid susunan dan huraian orang yang dekat dengan Rasulullah SAW (al-‘ali) lebih selamat dari berpegang kepada tauhid orang terkemudian dan sekarang yang kelihatan cacar marba metodenya dan bertaklid dengan orang-orang baru (al-nazil).

Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari kesesatan dan menganugerahkan kita jalan yang lurus.

- Utusan Malaysia

HURAIAN BERKENAAN DENGAN IBADAH KORBAN DAN HUKUM-HUKUM BERKAITAN DENGANNYA – BHG.3

7. CARA MENYEMBELIH BINATANG KORBAN

Cara menyembelih binatang korban itu ialah dengan memotong kesemua halqum dan mari’ sehingga putus dengan alat yang tajam seperti pisau (bukan tulang atau kuku). Halqum itu ialah tempat keluar masuk nafas dan urat mari’ itu pula ialah tempat laluan makanan dan minuman yang terletak di bawah halqum.

Adalah wajib bagi orang yang menyembelih itu memotong halqum dan mari’ itu. Jika ditinggalkan sebahagian daripada halqum atau mari’ itu (belum putus) dan mati binatang tersebut dalam keadaan yang demikian, maka tiada sempurna sembelihan itu dan ia adalah dikira bangkai. Begitu juga jika telah berhenti gerak binatang yang disembelih itu padahal halqum atau mari’ belum putus, kemudian dipotong semula halqum atau mari’ yang tertinggal itu, maka yang demikian itu pun adalah menjadi bangkai (tidak boleh dimakan).

Disyaratkan binatang yang disembelih itu ada hayat mustaqirrah ketika mula-mula disembelih iaitu ia akan hidup jika tidak disembelih ketika itu. Di antara tanda adanya hayat mustaqirrah itu ialah kuat geraknya ketika dipotong halqum dan mari’nya, dan menyembur darahnya. Mengikut Imam An-Nawawi memadai dengan kuat geraknya ketika disembelih.

Ketika hendak menyembelih binatang korban, sunat dibaca seperti berikut:

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد، بسم الله، اللهم صل على سيدنا محمد وآله وسلم، اللهم هذه منك وإليك فتقبل مني / فتقبل من

Maksudnya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan kepada Allah lah kembali segala pujian. Dengan Nama Allah. Ya Allah Ya Tuhanku kurniakan selawat dan rahmat keatas Sayyidina Muhammad dan sekelian keluarga Baginda. Ya Allah ya Tuhanku, Ini korban daripadaMu dan kembali kepadaMu, maka terimalah korban daripadaku (atau terimalah ia daripada ……)

Binatang yang panjang lehernya seperti unta, sunat disembelih di pangkal leher yang bawah (berhampiran dada) dengan memotong halqum dan mari’, kerana mengikut sunnah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Yang demikian itu juga akan memudahkan roh binatang itu keluar. Sementara binatang yang pendek lehernya seperti lembu, kerbau dan kambing disembelih di hujung leher (yang atas).

Sunat disembelih lembu, kerbau atau kambing dengan dibaringkan binatang itu di atas tanah sebelah rusuk kirinya dan diikat kakinya, sementara kaki kanannya bebas lepas tanpa diikat supaya binatang itu dapat berehat dengan menggerakkan kaki kanannya itu. Sementara unta pula, sunat disembelih dengan didirikan binatang itu. Jika tidak mampu untuk disembelih dalam keadaan unta tersebut berdiri, maka sembelihlah dalam keadaan unta itu duduk. (Mughni al-Muhtaj: 4/341)

Sunat ditajamkan mata pisau bagi sembelih dan disembelih dengan kuat bersungguh-sungguh dan mengadap kiblat oleh yang menyembelih dan dihalakan ke kiblat akan binatang yang akan disembelih itu kerana kiblat itu semulia-mulia pihak.

Sunat diberi binatang itu minum sebelum ia disembelih. Kemudian sunat dibaringkan binatang itu dengan keadaan lemah lembut. Jangan diasah pisau sembelih dan jangan disembelih binatang yang lain di hadapan binatang yang akan disembelih itu.

Sunat dibiarkan binatang itu setelah disembelih sehingga ia mati.

Untuk kupasan lebih terperinci mengenai sembelihan, sila rujuk pada kitab-kitab feqah mengenai bab sembelihan.

7. PENAGIHAN DAGING KORBAN

Daging korban wajib: Bagi korban wajib (korban nazar), maka yang demikian itu wajib disedekahkan semua daging sembelihan itu termasuk kulit dan tanduknya.

Dan haram atas orang yang berkorban wajib itu memakan daging tersebut walaupun sedikit. Jika dimakannya daging tersebut, maka wajib diganti kadar yang telah dimakannya itu, tetapi tidak wajib dia menyembelih binatang lain sebagai ganti.

Jika orang yang berkorban itu melambat-lambatkan pembahagian daging korban wajib tersebut sehingga rosak, maka wajib ke atas orang yang berkorban itu bersedekah dengan harga daging itu dan tidaklah wajib dia membeli yang baharu sebagai gantinya kerana telah dikira memadai dengan sembelihan tersebut.

Jika daging korban itu ialah korban disebabkan wasiat daripada seseorang yang telah meninggal dunia, maka tidak boleh dimakan dagingnya oleh orang yang membuat korban untuknya dan tidak boleh dihadiahkan kepada orang kaya kecuali ada izinnya.

Daging Korban Sunat: Sebagaimana yang kita ketahui berkorban itu hukumnya sunat mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Jumhur ulama juga mengatakan ia adalah sunat bagi orang yang mampu. Makruh bagi orang yang mampu itu jika dia tidak melakukan korban. Walau bagaimanapun jika ditinggalkannya tanpa sebarang keuzuran, tidaklah dia berdosa dan tidak wajib dia mengqadhanya.

Sunat bagi orang yang empunya korban itu memakan sebahagian daripadanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala

فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ

yang bermaksud : “Maka makanlah daripadanya dan beri makanlah kepada orang-orang yang sangat fakir”. (Surah Al-Hajj: 28)

Afdhalnya yang dimakan itu ialah hatinya, kerana telah diriwayatkan bahawa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah makan sebahagian daripada hati binatang korbannya, tetapi makan di sini bukanlah bererti dia wajib memakannya.

Berdasarkan kepada ayat di atas, para ulama berpendapat bahawa selain daripada sunat dimakan, wajib pula disedekahkan sebahagian daripada daging korban sunat itu dalam keadaan mentah lagi basah kepada orang-orang fakir atau miskin yang Islam.

Ini bererti setiap orang yang berkorban sunat itu wajib menyediakan sebahagian daripada daging korbannya itu untuk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Tidak memadai jika daging-daging korban itu dihadiahkan keseluruhannya kepada orang-orang kaya misalnya. Hal inilah yang wajib diketahui oleh setiap orang yang berkorban.

Harus bagi orang yang berkorban itu membahagikan daging korbannya kepada tiga bahagian; satu pertiga (1/3) untuk dimakan, satu pertiga (1/3) untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin dan satu pertiga (1/3) lagi untuk dihadiahkan kepada orang kaya.

Namun yang afdhalnya adalah disedekahkan semuanya, melainkan dimakannya sedikit sahaja iaitu kadar beberapa suap untuk mengambil berkat daripadanya, kerana yang demikian itu lebih mendekatkan diri kepada taqwa dan jauh daripada sifat mementingkan diri sendiri.

Sekalipun sah korban sunat seseorang itu, jika dimakan kesemua daging korbannya dan tiada sedikit pun disedekahkan kepada orang fakir atau miskin, tetapi wajib didapatkan atau dibeli daging-daging yang lain kadar yang wajib disedekahkan sebagai ganti.

Memberikan daging korban sunat sebagai hadiah kepada orang kaya Islam adalah harus. Walau bagaimanapun hadiah itu setakat untuk dimakan sahaja, bukan untuk tujuan memilikinya. Ini bererti dia tidak boleh menjualnya, menghibahkannya atau sebagainya kecuali menyedekahkannya kepada fakir atau miskin. Berlainan halnya dengan orang fakir dan miskin, di mana daging yang disedekahkan kepadanya itu adalah menjadi milik mereka. Mereka diharuskan menjual daging tersebut atau menghibahkan (memberikan) kepada orang lain.

Satu perkara lagi yang wajib kita ketahui ialah hukum haram menyedekah dan menghadiahkan daging korban kepada orang kafir sekalipun dia kaum kerabat, sama ada ia korban wajib atau sunat sekalipun sedikit kerana ia adalah perkara yang berhubung dengan ibadat. Didalam kitab Matla’ al-Badrain: 81 “… haram hukumnya memberi, menghadiahkan atau menjual daging qurban tersebut kepada orang bukan Islam, sekalipun fakir miskin itu terdiri daripada kafir zimmi”. Oleh sebab itu, sekiranya ada bahagian daging tersebut yang diberikan, dihadiahkan atau dijual kepada orang bukan Islam, maka wajib diganti dengan daging yang lain sekira-kira menyamai kadar berkenaan.

Kulit atau daging binatang korban itu haram dijadikan upah kepada penyembelih, tetapi harus diberikan kepadanya dengan jalan sedekah jika penyembelih itu orang miskin atau hadiah jika dia bukan orang miskin.

Sepertimana yang dijelaskan di atas, bahagian yang wajib disedekahkan itu hendaklah ia daging yang masih basah dan mentah. Ini bererti tidak memadai jika bahagian yang disedekahkan itu bukan daging seperti kulit, hati, tanduk dan sebagainya. Begitu juga tidak memadai jika daging tersebut dimasak kemudian dipanggil orang-orang fakir dan miskin untuk memakannya kerana hak fakir dan miskin itu bukan pada makan daging tersebut, tetapi adalah memiliki daging berkenaan dan bukan memilikinya dalam keadaan yang telah dimasak.

8. MENYEMBELIH BINATANG KORBAN DI LUAR NEGERI DAN DAGINGNYA DIAGIHKAN KE NEGERI YANG LAIN

Apa yang dimaksudkan dengan memindahkan daging korban itu ialah memindahkan daging korban dari negeri tempat penyembelihannya ke negeri lain, supaya daging korban itu dibahagi-bahagikan kepada mereka yang berhak di negeri berkenaan itu.

Adakah harus bagi orang-orang tempatan berwakil untuk berkorban di luar negeri dan daging korban itu dipindahkan daripada tempat korban ke negeri atau daerah lain?

As-Sayyid Al-Bakri Ad-Dumyathi, Pengarang Hasyiah I‘anah At-Thalibin menjelaskan bahawa telah dijazamkan dalam An-Nihayah bahawa haram memindahkan daging korban daripada tempat berkorban itu seperti mana juga zakat, sama ada korban sunat atau wajib. Adapun yang dimaksudkan daripada korban sunat itu ialah bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin.

Manakala memindahkan wang daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli binatang korban adalah di haruskan seperti mana katanya yang ertinya : “Adapun memindah wang dirham daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli dengannya binatang korban di negeri tersebut maka ia adalah harus.” (I‘anat At-Thalibin: 2/380)

As-Syeikh Mohammad bin Sulaiman Al-Kurdi pernah ditanya : “Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Jawi (kepulauan Melayu) berwakil kepada seseorang untuk membeli na‘am (seperti lembu dan kambing) di Mekkah untuk dijadikan aqiqah dan korban sedangkan orang yang hendak beraqiqah atau berkorban itu berada di negeri Jawi. Adakah sah perbuatan sedemikian atau tidak, mohon fatwakan kepada kami.

Jawapan: Ya! Sah yang demikian itu dan harus berwakil membeli binatang korban dan aqiqah dan begitu juga untuk menyembelihnya sekalipun di negeri yang bukan negeri orang yang berkorban dan beraqiqah itu.” (I‘anah At-Thalibin: 2/381)

Dalam perkara ini pengarang Kitab Sabil al-Muhtadin pula menyebutkan: “Kata Syeikhi Muhammad bin Sulaiman: Harus berwakil pada membeli na‘am akan korban pada negeri yang lain dan pada menyembelih dia dan pada membahagikan dagingnya bagi segala miskin negeri itu intaha. Maka iaitu zahir sama ada negeri Mekkah atau lainnya tetapi jangan dipindahkan dagingnya daripada negeri tempat berkorban kepada negeri yang lain maka iaitu haram lagi akan datang kenyataannya dan sayuginya hendaklah yang berwakil menyerahkan niat korban kepada wakil pada masalah ini wallahu ‘alam. (Sabil Al-Muhtadin: 214)

Katanya lagi jikalau berwakil seorang akan seorang pada berkorban di negeri lain kerana menghasilkan murah umpamanya hendaklah disedekahkan oleh wakil akan dagingnya bagi fakir miskin negeri itu dan janganlah dipindahkannya akan sesuatu daripada dagingnya daripada negeri itu kepada negeri yang berwakil melainkan sekadar yang sunat ia memakan dia itupun jika ada korban itu sunat (adapun) jika ada korban itu wajib maka wajiblah atas wakil mensedekahkan sekeliannya kepada fakir di dalam negeri tempat berkorban itu (dan haram) atasnya memindahkan suatu daripadanya ke negeri yang lain. (Sabil Al-Muhtadin: 216)

Berdasarkan perkataan para ulama seperti yang dinukilkan di atas, adalah jelas bahawa hukumnya harus berwakil untuk membeli binatang korban di negeri yang lain dan menyembelihnya serta membahagikan daging tersebut kepada fakir miskin di negeri berkenaan.

Adapun memindahkan daging korban daripada tempat sembelihan ke negeri yang lain itu adalah berhubungkait dengan hukum menyedekahkan daging korban itu:

Jika korban itu adalah korban wajib yang mana kesemua dagingnya wajib disedekahkan kepada fakir miskin dalam keadaan mentah, maka haram hukumnya memindahkan daging korban berkenaan daripada tempat sembelihan. Inilah pendapat jumhur ulama Syafi‘eyah.
Jika korban itu korban sunat di mana sebahagian daripada daging korban itu harus dihadiahkan atau dimakan oleh orang yang berkorban, maka bahagiannya (hak orang yang berkorban) itu sahaja yang harus dipindahkan ke negeri lain. Manakala bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin itu wajib disedekahkan di tempat berkorban itu juga dan haram dipindahkan ke negeri lain. (I‘anah At-Thalibin: 2:380)

Maka sebagi jalan keluar, adalah lebih munasabah menjalankan sembelihan korban bagi pihak yang berwakil terus sahaja ditempat-tempat atau negeri-negeri yang akan diagihkan daging korban itu. Dengan ini dapat dielakkan hukum pemindahan daging korban daripada tempat sembelihan ke negeri lain. Kalau diperhatikan sekarang terdapat egen-egen yang mengelolakan ibadah korban diluar Malaysia seperti di Kampuchea, Vietnam, Ambon, Darfur dll, dimana urusan penyembelihan dan pengagihan daging korban dilakukan ditempat-tempat tersebut.

Posted by: Habib Ahmad | 24 November 2009

Syeikh Abu Bakar Awang meninggal

Syeikh Abu Bakar Awang meninggal

إنا لله وإنا إليه راجعون

ALOR SETAR, 23 Nov: Penasihat Persatuan Ulamak Kedah (PUK), Syeikh Abu Bakar Awang Al-Baghdadi menghembuskan nafas terakhir pada jam 11 pagi tadi di Hospital Sutanah Bahiyah, dekat sini lantaran sakit tua.

Al-Marhum Syeikh Abu Bakar,84, semasa hayatnya bersama Al-Marhum Syeikh Niamat Yusoff mengasaskan Maahad Tarbiyah Islamiah Derang (MTID) seawal 1980. Beliau menjadi Syeikhul Perkampungan Maahad Derang sehingga akhir hayatnya.

Sebelum itu, kedua tokoh terkenal ini berkhidmat di Maahad Mahmud, bersama-sama dengan bekas Presiden PAS, Al-Marhum Dato’ Haji Fadzil Mohd Nor. Ustaz Abu Bakar adalah pelajar awal Pondok Tuan Guru Haji Yahya Joned di Batu 16, Padang Lumat, Kedah.

Beliau menyambung pengajian agama di sebuah universiti di Baghdad, Iraq. Empat tahun kemudian datang pula bekas Naib Presiden PAS, Ustaz Hassan Shukri dan Ahli Majlis Syura Ulama PAS, Ustaz Hashim Jasin belajar di tempat sama.

Sebaik kembali dari Iraq, beliau yang berasal dari Perlis telah diamanahkan menjadi calon PAS dan bertanding dua kali di Dun Kayang, Perlis.

Ketika dihubungi di hospital, Mudir MTID, Syeikh Abdul Majid Abu Bakar An-Nadwi berkata, jenazah akan disolat dan dikebumikan di perkuburan Masjid Raudhatus-Solehin, Derang bersebelahan sahabat karibnya, Ustaz Niamat.

Ustaz Abu Bakar yang mempunyai hubungan darah dengan tokoh ulamak negara, Dato’ Dr Haron Din sangat mahir dalam bidang Feqah Muamalah dan menulis beberapa buku ilmiah mengenainya. Beliau meninggalkan empat cahayamata terdiri daripada dua lelaki dan dua perempuan.

Ketika dihubungi Ustaz Hashim yang juga Pesuruhjaya PAS Perlis mengucapkan takziah mewakili PAS negeri itu dan menyifatkan pemergian Ustaz Abu Bakar sebagai satu kehilangan besar kepada agama dan negara.

Sementara itu, Setiausaha Kerja Dewan Ulamak PAS Kedah, Ustaz Azri Ahmad mengesahkan, Ustaz Abu Bakar menjadi Timbalan Ketua dewan itu dari 1995 hingga 2000 di bawah Al-Marhum Ustaz Azahari Abdul Razak.

“Dewan Ulamak PAS Kedah juga merakamkan ucapan takziah atas pemergian tokoh ulamak ini yang berkorban jiwa raga di atas jalan perjuangan kebenaran, semoga Allah SWT mencucuri Rahmat-Nya ke atas rohnya,” ujar Azri

Posted by: Habib Ahmad | 24 November 2009

MAJLIS BERSAMA QARI MASYHUR as-syeikh MUHAMMAD JIBREL

MAJLIS BERSAMA QARI MASYHUR
AL-MUKARRAM AL-QARI
as-syeikh MUHAMMAD JIBREL
(QARI TERKENAL DARI MESIR)
.
di MAF
.
pada:

HARI AHAD ,
12 ZULHIJJAH 1430 ,
29 NOV 2009
.
program :

mengimamkan solat maghrib
bacaan al-quran & tazkirah
mengimamkan solat isyak
bersalaman
jamuan
anda sekeluarga adalah tetamu jemputan kami …

rebutlah peluang keemasan ini untuk bersama ahli al-Quran , mereka adalah ahli Allah dan keistimewaanNya.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 727 other followers