Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2009

Kemuliaan 10 Hari Dzulhijjah

Kemuliaan 10 Hari Dzulhijjah
Senin, 23 November 2009

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَا اْلعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوْا وَلاَ الْجِهَادُ ؟ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْئٍ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
“ Sungguh tiada amal ibadah afdhal dari hari-hari ini (10 hari Dzulhijjah,sebagian mengatakan termasuk hari Tasryik yaitu 13 Dzulhijjah), maka beberapa sahabat bertanya : Tidak juga jihad di jalan ALLAH ?, Rasul saw bersabda : tidak juga Jihad lebih afdhal darinya, kecuali yang pergi jihad dengan dirinya dan semua hartanya, dan tidak kembali jiwa dan semua hartanya “ (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ

Limpahan puji ke hadirat Allah SWT yang telah menghamparkan alam semesta , menghamparkan permukaan bumi untuk menjadi tempat sementara kita, meniti tangga-tangga keluhuran dan keabadian, meniti tangga-tangga kebahagiaan, meniti tangga-tangga cinta Allah menuju kasih sayang Allah, menuju kelembutan Allah, tangga-tangga kerinduan kepada Sang Maha Abadi, Sang Maha berjasa dan Maha menciptakan hambaNya membantu satu sama lain ,dan hakikat itu semua dariNya. Hadirin hadirat, tiada nama sebelum nama Allah dan tiada nama setelah nama Allah . Makna dari kalimat ini adalah seluruh nama adalah makhluk di dalam samudera keagungan nama Allah SWT, Maha Tunggal dan Maha Abadi, Maha menerbitkan matahari dan bulan, Maha menciptakan kehidupan dan kematian, Maha menawarkan kasih sayang dan cintaNya kepada hamba-hambaNya sepanjang siang dan malam, di saat mereka melewati hari-harinya dalam setiap kejapnya bahkan di dalam jebakan dosa yang terdalam sekalipun, Sang Maha lemah lembut tidak menutup pintuNya bagi hamba yang ingin kembali kepada kelembutanNya. Pintu rahmat Allah SWT terus terbuka menanti mereka yang ingin bertobat, maka jelanglah dan jawablah seruan Allah…

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“ Kusambut panggilan-Mu Ya Allah kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, ni’mat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”

Kami datang kepadaMu wahai Allah, datang kepada pengampunanMu, datang kepada rahmatMu, datang kepada kelembutanMu, datang kepada harapan-harapan dilimpahi anugerah olehMu, datang kepada Yang Maha melimpahi anugerah, datang kepada Yang Maha memiliki kebahagiaan dunia dan akhirah . Kami berkumpul di dalam naungan keagungan namaMu di majelis yang mulia ini, yang tiada satupun diantara mereka yang hadir terkecuali Kau melihatnya, dan Kau melihat bathin kami , Kau melihat masa lalu kami, Kau melihat masa depan kami dan Kau tau dimana kami akan wafat dan Kau mengetahui berapa jumlah nafas kami yang tersisa, berapa jumlah nafas kami yang telah lewat, berapa kenikmatan yang telah Kau berikan, berapa kenikmatan yang masih akan Kau berikan, wahai Allah Ya Rabbal ‘alamin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

Inilah malam-malam agung ‘Arafah, inilah malam-malam mulia di sepuluh malam bulan Zulhijjah yang merupakan salah satu dari sumpah Allah SWT atas kemuliaannya seraya berfirman :

وَالْفَجْرِ ¤ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ¤ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ( الفجر : 1- 3

“ Demi cahaya fajar, demi malam yang sepuluh dan demi yang genap dan yang ganjil “. ( QS. Alfajr :1-3 )

Para mufassir menjelaskan cahaya fajar yang dimaksud adalah pagi hari di saat Idul Adha, terbitnya matahari Idul Adha yang membawa hamba-hamba yang beriman menuju Shalat ‘ied dan berkurban untuk menjamu saudara saudarinya, sesama tetangga dan kerabatnya dengan Udhhiyyah ( hewan sembelihan kurban ) sebagai tanda hubungan silaturrahmi yang berpadu, rahasia keluhuran Allah terbit di hari itu, di fajar waktu Idul Adha .

وَلَيَالٍ عَشْرٍ ( الفجر : 2

“ Demi sepuluh malam “ . ( QS. Alfajr : 2 )

Al Imam Abdullah bin Abbas Ra, sepupu Rasulullah SAW yang digelari “ Bahrul ‘ilmi Ad Daafiq “ ( lautan ilmu yang dalam ) di dalam tafsirnya menafsirkan makna “ demi sepuluh malam “ adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, mulai dari malam 1 Zulhijjah hingga malam 10 Zulhijjah. Jadi sekarang kita berada di tengah-tengahnya, malam Jum’at besok kita sudah berada di malam Idul Adha, berakhirnya sepuluh malam Zulhijjah. Pendapat lain mengatakan makna “ demi sepuluh malam “ adalah sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, tetapi pendapat yang Arjah ( lebih kuat ) yang dimaksud adalah sepuluh malam pertama bulan Zulhijjah yaitu mulai malam 1 Zulhijjah hingga malam 10 Zulhijjah yang di waktu itu tamu-tamu Allah Rabbul ‘alamin berdatangan ke medan Makkah dan Madinah untuk haji dan umrah, di tanggal-tanggal luhur itulah penduduk di barat dan timur ummat sayyidina Muhammad SAW di undang oleh Allah SWT untuk berkumpul di Arafah, berkumpul di Muzdalifah, berkumpul di medan thawaf, medan sa’i dan lainnya, sepuluh malam ini adalah malam-malam doa bagi yang berangkat haji dan umrah atau yang berada di rumahnya karena kita semua ummat Nabi Muhammad SAW.

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ( الفجر :3

“ Demi yang genap dan yang ganjil “. ( QS. Alfajr : 3 )

Berkata Al Imam Ibn Abbas Ra bahwa makna ayat ini adalah hari Arafah dan hari Idul Adha, tanggal 9 Zulhijjah dan 10 Zulhijjah. Kenapa hari Arafah dikatakan genap, karena perhitungannya adalah terbenamnya hari Arafah yaitu malam 10 Zulhijjah dan ini adalah malam yang genap. Dan mengapa hari Idul Adha dikatakan yang ganjil padahal hari Idul Adha adalah tanggal 10, namun yang dimaksud ganjil disini karena mulai dari malamnya (malam arafah) sudah masuk malam Idul Adha (maksudnya genap dan ganjil adalah arafah berpadu dg idul adha.

Disunnahkan bertakbir mulai dari terbitnya fajar hari Arafah tapi muqayyad ( terikat ) dengan waktu shalat , shalat fardhu dan shalat sunnah, demikian dalam Mazhab Syafi’i. Jadi tidak setiap waktu (hanya setiap habis shalat mulai fajar hari arafah), hari Arafah tanggal 9 Zulhijjah mulai shalat subuh sudah disunnahkan untuk bertakbir, demikian pula setelah zhuhur dan asar.

Dan setelah shalat maghrib barulah mutlak sampai shalat Idul Adha esok harinya. Jadi malam lebaran itu mulai maghrib boleh bertakbir terus menerus sampai esok harinya, boleh di saat setelah shalat atau sebelum shalat , saat di rumah atau di jalan, atau sambil beraktifitas itu diperbolehkan. Disunnahkan dengan sunnah muakkadah bertakbir, mengagungkan nama Allah di malam 10 Zulhijjah itu sampai selesai waktu shalat ‘ied maka setelah itu tidak lagi sunnah Muakkadah , kecuali di waktu-waktu shalat saja (Muqayyad). Selesai shalat fardhu atau shalat sunnah disunnahkan untuk bertakbir sampai hari ke 13 Zulhijjah, berakhirnya hari tasyrik saat terbenam matahari pada tanggal 13 Zulhijjah sudah berhenti takbirannya. Jadi takbiran itu mutlaknya mulai dari waktu maghrib tanggal 9 Zulhijjah malam 10 Zulhijjah sampai selesai shalat Idul Adha . Dan setelah itu boleh bertakbir tetapi sebaiknya hanya di waktu selesai shalat fardhu atau shalat sunnah sampai terbenam matahari pada hari ke 13 Zulhijjah. Sedangkan setelah itu tidak lagi sunnah muakkadah bertakbir dengan takbir yang masyruu’ yang sering kita dengar.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ( الفجر :3

Firman Allah (yg maknanya) “ Demi hari Arafah dan hari IdulAdha “, dua hari yang bergandengan yaitu 9 dan 10 Zulhijjah tepatnya di kalender kita adalah hari Kamis dan hari Jum’at . Allah bersumpah dengan kemuliaan sepuluh malam ini, yang mana malam ini adalah salah satunya, kita di dalam naungan cahaya rahmat Ilahi yang berlimpah, yang mana Allah melimpahkan keluhuran dan kemuliaan seluas-luasnya. Dijelaskan oleh Hujjatul Islam Wabarakatul Anam Al Imam Nawawy di dalam kitabnya Syarh Nawawi ‘Alaa Shahih Muslim, mensyarahkan tentang hadits yang kita baca ini, yang di syarah oleh Al Imam Nawawi dan disyarah juga oleh Al Imam Ibn Hajar, tetapi syarah Al Imam Nawawy lebih ringkas . Syarah Al Imam An Nawawy Ar menjelaskan tentang hadits yang kita baca ini, bahwa “Tiadalah amal yang lebih afdhal diamalkan, dan pahalanya lebih besar daripada hari-hari ini” , Al Imam An Nawawi mengatakan sepuluh hari bulan Zulhijjah yaitu mulai dari tanggal 1 Zulhijjah sampai 10 Zulhijjah, dan Al Imam An Nawawi mengatakan “ dan disunnahkan berpuasa di sepuluh hari bulan Zulhijjah, dengan hadits-hadits yang teriwayatkan kuat”. Al Imam An Nawawi mengatakan, merupakan hal yang salah jika ada orang yang mengingkari puasa 9 hari di bulan Zulhijjah mulai tanggal 1 sampai 9 Zulhijjah, karena di tanggal-tanggal itu adalah hari-hari yang luhur sebagaimana hadits riwayat Al Imam Bukhari, sabda Rasulullah saw :“ Tiadalah suatu amal ibadah yang afdhal melebihi hari-hari ini “ yaitu sepuluh hari bulan Zulhijjah dari tanggal 1 sampai tanggal 10 Zulhijjah, tetapi tanggal 10 Zulhijjah tentunya diharamkan puasa karena hari lebaran. Jadi di hari lebarannya tidak puasa, tetapi hari-hari lainnya seluruh ibadah sunnah muakkadah, karena sudah ada hadits ini dan diperkuat dengan firman Allah SWT:

وَالْفَجْرِ ¤ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ¤ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ( الفجر : 1- 3

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

Kita bisa merenung, Rasul SAW bersabda : “ bahwa tiada satu amal yang lebih baik daripada amal-amal di hari-hari seperti sekarang ini “, maksudnya pahalanya sangat besar. Maka para sahabat bertanya : “ Ya Rasulallah, Walaa al jihaad? meskipun jihad tidak juga lebih besar pahalanya daripada ibadah di hari-hari ini?”, maka Rasulullah berkata : “ Walaa al jihaad “, jihad pun tidak bisa melebihi pahala orang yang beribadah di hari-hari ini, di sepuluh hari bulan Zulhijjah,

إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْئٍ

Kecuali orang yang betul-betul keluar untuk membela agama Allah dengan membawa nyawa dan seluruh hartanya dan tidak kembali baik nyawa dan hartanya, orang yang seperti itu barulah pahalanya bisa melebihi orang yang beribadah di sepuluh hari bulan Zulhijjah ini, yaitu tanggal 1 sampai 10 Zulhijjah. Kalau teriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan lainnya bahwa berlipatgandanya pahala 10 kali hingga 700 kali lipat itu, dan para Imam menjelaskan yang 700 kali lipat itu adalah di waktu-waktu tertentu diantaranya di bulan Ramadhan dan di sepuluh hari bulan Zulhijjah ini, dan diantaranya juga pada tanggal 10 Muharram yang akan datang.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

Demikian keagungan hari-hari mulia ini, bergetar jiwa kita mendengar indahnya hari-hari mulia ini, hingga sahabat berkata “ Ya Rasulallah Walaa al jihaad ( tidak juga jihad wahai Rasulullah ) “, jihad itu perang mengorbankan nyawa, dan meninggalkan keluarga dan semua sahabat. Maksudnya jihad adalah memerangi orang-orang non muslim yang memerangi muslimin. Sebagaimana firman Allah SWT :

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ( الممتحنة : 8

“ Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama, dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil “. ( QS. Almumtahanah : 8 )

Jadi Allah tidak melarang kita untuk berhubungan baik dengan mereka yang di luar Islam selama tidak memerangi kita muslimin, tidak membunuh dan mengusir orang-orang Islam dari rumahnya, kalau mereka orang non muslim tidak memusuhi maka kita harus berbuat lebih baik daripada mereka. Allah SWT melanjutkan firmanNya :

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ( الممتحنة : 9

“ Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai temanmu, orang –orang yang memerangimu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain ) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan mereka itulah orang yang zhalim “ . ( QS. Almumtahanah : 9 )

Allah memerintahkan kalian berhati-hati, dan juga untuk waspada dan siap untuk berjihad memerangi mereka yang memerangi kalian dan mengusir kalian dari rumah-rumah kalian, kalau tidak maka tidak kita perangi, ini makna jihad. Kita memahami bahwa jihad itu mengorbankan nyawa , meninggalkan anak dan istri dan semuanya, dan jikalau ia wafat maka wafat jika cacat maka cacat, hal itu begitu dahsyat perjuangannya dan ternyata amal-amal di sepuluh hari Zulhijjah ini lebih afdhal daripada jihad fisabilillah, terkecuali orang yang keluar dengan dirinya bersama semua harta yang ia miliki rumah, mobil dan motor ia jual semuanya dan dibawa harta itu bersmanya digunakan untuk berjihad maka tidak kembali apapun dari keduanya, hartanya tidak kembali dan dirinya pun tidak kembali yaitu wafat. Maka orang yang seperti itu barulah amalnya lebih afdhal dari orang yang beramal-amal di sepuluh hari ini. Hadirin hadirat, saya tidak bisa memperpanjang kalimat agung dan luhur ini, bagaimana tawaran Ilahi untuk menyampaikan kita kepada keagungan yang demikian dahsyatnya, betapa beratnya kita berjihad, dan betapa ringannya Allah beri pahala yang lebih agung dari pahala jihad. Begitu indahnya tuntunan Sang Nabi Muhammad saw, Allah berikan hal-hal yang ringan untuk diamalkan, tapi diberi ganjaran yang sangat besar, inilah rahasia kedermawanan Ilahi, seraya berfirman :

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ¤ اللَّهُ الصَّمَدُ ¤ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ¤ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ( الإخلاص : 1-4

“ Katakanlah ( Muhammad ) “ Dialah Allah Maha Tunggal”, Allah tempat meminta segala sesuatu, Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia “. ( QS. Al Ikhlash : 1-4 )

Tunggal dalam segala hal, tunggal dalam keabadian , tunggal dalam kesempurnaan , tunggal mengawali segala-galanya dari tiada , tunggal mengawali segala selainNya swt. Hadirin hadirat, jadikan Allah swt tunggal menguasai jiwa kita, jangan jadikan ada yang lebih dari nama Allah di dalam sanubari ini.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Usia kita semakin hari semakin berkurang, semakin dekat dengan kematian setiap nafas kita adalah selangkah menuju ajal, dan hari perjumpaan dengan Allah SWT semakin dekat . Jika amal kita tidak bertambah, begitu-begitu saja setiap hari tidak berubah, berarti kita semakin mundur, karena apa? Karena jarak perjumpaan kita dengan Allah SWT semakin dekat, jika jarak perjumpaan kita dengan Allah semakin dekat mestinya semakin peduli.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Kalau kita ada undangan perjumpaan dengan penguasa negeri , Presiden atau Raja misalnya. Perjumpaan ini bukan sekedar perjumpaan, perjumpaan ini bisa jadi penjamuan sambutan kasih sayang diberi hadiah, harta, rumah, mobil dan lain sebagainya, atau bisa jadi berubah menjadi sambutan kemurkaan, mendapat kehinaan yang kekal, seperti apa?, misalnya kalau kita tau kejadian itu setahun yang akan datang , maka bagaimana bingungnya kita khawatir kalau kita salah bicara, salah pakai baju atau salah melangkah dan ketahuan oleh spionasenya ( mata-mata ) dan akhirnya dilaporkan, bagaimana jika ini terjadi?!

Yang Maha Melihat, melihat. Yang Maha Mendengar, mendengar. Yang Maha Melihat lintasan pemikiran kita, melihat apa yang kita renungkan. Apakah tidak ada dalam pemikiran kita tentang hal ini?!. Siang dan malam kita memikirkan tentang makan dan minum, keluarga, rumah tangga, anak-anak, dagangan, pekerjaan, sekolah, dan lain sebagainya, siang dan malam kita memikirkan masalah ini dan itu. Maka tidakkah terfikirkan oleh kita bahwa hari perjumpaan dengan Allah semakin dekat, itu adalah hari penentuan dan detik-detik yang membuka kebahagiaan yang kekal atau kehinaan yang abadi, masuk ke dalam penjara yang sangat merisaukan dan menakutkan di dalam api neraka atau di dalam kenikmatan di sorga yang kekal dalam kasih sayangNya. Adakah hal ini kita renungkan? Beruntung mereka yang merindukan perjumpaan dengan Sang Maha Indah maka dia sudah dirindukan Allah. Jauh hari sebelum berjumpa dengan Allah , ia sudah dirindukan Allah . Allah SWT berfirman dalam hadits qudsy :

مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ

“ Barangsiapa yang rindu berjumpa denganKu, maka Aku pun rindu berjumpa dengannya “.

Maka jadilah hari-harinya, siang dan malamnya, makan dan minumnya, tidur dan bangunnya dalam cahaya kerinduan Ilahi dan Allah merindukannya. Maka tentunya berbeda , kalau seseorang tinggal di suatu kerajaan, dan raja rindu pada orang ini, apa yang susah dalam kehidupannya? kalau raja sudah menyayangi orang ini, maka semua pasukan dan pengawalnya dikerahkan untuk menjaga agar jangan sampai orang ini terganggu, bahkan sampai jalanannya pun dibuat serapi mungkin, apalagi bukannya orang ini yang mencintai raja, tapi raja yang mencintainya. Kita lihat kalau cinta manusia dengan manusia. Berbeda antara cinta manusia dengan manusia dan cinta manusia dengan Allah. Kalau cinta manusia dengan manusia itu, misalnya raja atau penguasa walaupun baik, walaupun dermawan , walaupun segala kebaikan ada, tapi tentunya jika kita mencintainya maka belum tentu ia mengenal kita apa lagi mencintai kita. Namun berbeda dengan Allah SWT, yang berfirman :

مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ

“ Barangsiapa yang rindu berjumpa denganKu, maka Aku pun rindu berjumpa dengannya “.

Pendosa yang siang dan malam penuh kehinaan namun Sang Maha merindukan menanti jika mereka mau merindukan Allah. Lalu bagaimana dengan dosa-dosaku?! jiwa yang merindukan Allah pasti akan dibenahi hari-harinya oleh Allah, pasti dibenahi kehidupannya oleh Allah, pasti dibenahi kesusahannya oleh Allah, masalah dunia dan akhiratnya sudah di genggaman Sang Maha Dermawan untuk diberi kemudahan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Allah SWT menjadikan kehidupan di dunia yang sementara ini adalah sebagai tempat untuk memperbanyak amal, dan tempat untuk perjuangan hidup kita sementara, tidak lama kehidupan kita di dunia ini hanya puluhan tahun saja mungkin tidak mencapai seratus tahun, di antara kita semua yang hadir disini mungkin ada yang akan hidup melebihi seratus tahun, dan kita tidak tau apakah kita akan hidup sampai seratus tahun, hal ini tidak kita ketahui dan semoga kita semua panjang umur. Namun tentunya secara umum tidak sampai seratus tahun lagi, tapi yang akan kita jelang adalah kebahagiaan jutaan, milyunan atau triliunan tahun bahkan tidak bisa terhitung waktu, masihkah kita menolak cinta Allah?!

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Maka jelanglah kasih sayang Nya. Rasulullah SAW menyampaikan kepada kita bagaimana amal yang sangat agung di sepuluh hari bulan Zulhijjah yang luhur ini, maka perbanyaklah amal ibadah dengan harta kita ,dengan diri kita,dengan ucapan kita,dengan perbuatan kita, dan dengan jiwa kita. Jadikan sepuluh hari ini adalah hari-hari rindu kepada Allah . Tersisa tiga malam lagi, malam selasa, malam rabu, malam kamis karena yang tujuh malam telah berakhir. Maka jadikanlah malam –malam ini malam doa, malam-malam indah dan rindu kepada Allah sehingga di malam-malam ini kita dirindukan oleh Allah .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika Rasulullah SAW hendak melakukan shalat Idul Adha, beliau keluar ke Baqii’ ke lapangan di dekat perkuburan Baqi’ dan melakukan shalat Idul Adha disana . Jadi beliau shalat Idul Adha sekaligus ziarah. Diriwayatkan oleh Sayyidina Jabir bin Abdullah Ra di dalam Shahih Al Bukhari, bahwa Rasulullah SAW kalau keluar untuk Shalat ‘ied maka pulanganya beliau melewati jalan yang lain. Jadi kalau berangkatnya melewati satu arah, maka pulangnya melewati arah yang lain. Al Imam Hujjatul Islam wabarakatul Anam Ibn Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan bahwa Rasul SAW mengambil jalan lain saat pulang adalah, dalam hal ini banyak pendapat, diantaranya adalah untuk menghindari desakan para Jamaah, yang sudah bersalaman dengan beliau dari tempat beliau datang, maka pulangnya beliau mengambil jalan lain agar jamaah yang di tempat lain juga kebagian salaman dengan beliau selepas shalat ‘ied, demikian budi pekerti Nabi Muhammad SAW.

Dalam pendapat lainnya beliau kalau keluar shalat Idul Adha melewati rumah-rumah muslimin dan melewati perkuburan untuk berziarah selepas shalat Idul Adha, jadi dari rumah beliau SAW menuju ke medan Baqi’ itu tidak begitu jauh, dari situ beliau melewati jalan lain karena berziarah dulu ke ahlul Baqi’. Jadi ziarah di hari Idul Adha teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW melakukan shalat Idul Adha di medan Baqi’ dan salah satu maknanya sebagaimana dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar adalah selesai beliau SAW melakukan shalat ‘ied beliau melakukan ziaratul Ahyaa wal Amwaat, yaitu menziarahi yang hidup dan yang telah wafat maksudnya silaturrahmi ke rumah-rumah tetangga dan menziarahi kuburan.

Pendapat selanjutnya, Al Imam Ibn Hajar menjelaskan bahwa Rasul SAW ketika keluar dari rumahnya untuk shalat ‘ied maka pulangnya beliau melewati jalan lain adalah untuk melimpahkan keberkahan di jalan yang beliau lewati dan mewangikan jalan itu, sebagaimana dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar dalam Fathul Bari bahwa ketika Rasul SAW melewati suatu jalan maka jalan itu menjadi wangi beberapa waktu. Jadi jalan yang telah dilewati beliau sudah wangi, maka beliau mewangikan jalan yang lain. Beliau tidak memakai minyak wangi, tetapi memang sudah wangi dicipta oleh Allah SWT. Kita mengetahui kotoran itu keluar dari tubuh kita , diantaranya keluar melewati keringat, demikian indahnya Allah SWT merangkai jasad sayyidina Muhammad SAW sampai keringat beliau pun lebih wangi dari semua wewangian, sehingga beliau ingin mewangikan jalan-jalan di Madinah dengan melewatinya. Al Imam Ibn Hajar juga menukil, sebagai sunnah bagi ummat ini untuk melakukan itu, kalau berangkat dari satu arah maka pulangnya dari arah yang lain supaya permukaan bumi itu menjadi saksi bahwa kita telah melewatinya dalam kemuliaan, karena bumi akan bersaksi untuk kita kelak.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Di malam-malam agung ini disunnahkan bagi kita untuk memperbanyak doa. Ketika kita melihat orang-orang yang melakukan shalat sunnah mereka pindah tempat , mengapa berpindah tempat begitu? maksudnya supaya semakin banyak pijakan bumi yang akan menyaksikan kebaikannya, karena setiap tempat yang kita pergunakan untuk berbuat pahala dan dosa akan bersaksi di hari kiamat kelak. Jadi mereka berpindah tempat ketika melakukan shalat sunnah agar semakin banyak bagian dari bumi ini yang ditempuh atau di injak dalam keluhuran dan pahala atau di pakai sujud, atau di pakai zikir . Dan tanah masjid yang kita inipun yang kita duduki akan menjadi saksi bagi kita di hari kiamat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Muncul kepada saya pertanyaan, bagaimana kalau Idul Adha itu jatuh pada hari Jum’at ?, ada pendapat mengatakan bahwa Rasul SAW membolehkan untuk tidak melakukan shalat Jum’at, kalau berkumpul Shalat ‘ied dan shalat Jumat dalam satu hari. Namun hal itu disangkal oleh Hujjatul Islam Al Imam An Nawawy di dalam Syarh Nawawy ‘alaa Shahih Muslim berdasarkan hadits riwayat Shahih Muslim, yang menjelaskan bahwa salah seorang sahabat, Nu’man bin Basyir berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ فِي اْلعِيْدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِـسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى و هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ: وَإِذَا اجْتَمَعَ اْلعِيْدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَومٍ وَاحدٍ يَقرَأُ بِهمَا أَيضًا في الصَّلاتَينِ ( رواه المسلم

“ Rasulullah SAW di dalam shalat dua hari raya dan shalat jum’at membaca surat ( Sabbih isma Rabbika al a’laa dan Hal Ataaka hadiitsu al ghasyiyah), dan berkata : jika shalat ‘ied dan shalat jumat terjadi dalam satu hari maka Rasul SAW juga membaca kedua surat ini dalam shalat ‘ied dan Idul Adha”

Hadits riwayat Shahih Muslim ini merupakan suatu dalil bahwa Rasul SAW tidak memerintahkan agar shalat Jum’at dihilangkan, berarti Rasul SAW melakukan shalat Jumat di waktu hari ‘ied juga. Lalu Al Imam Nawawy menengahi tentang hadits yang mengatakan bahwa tidak perlu shalat Jumat jika sudah shalat ‘ied itu bagi yang datang dari jauh. Di masa lalu mereka berdatangan dari jauh untuk shalat ‘ied di satu tempat, ada yang datang dari Wadi yaitu lembah-lembah, tempat-tempat yang jauh mereka datang dengan berjalan kaki mungkin butuh waktu ber jam-jam atau setengah hari, mungkin untuk hadir shalat ‘ied di tengah malam mereka sudah berangkat supaya bisa tiba di waktu subuh di Madinah Al Munawwarah, jadi kalau mereka setelah shalat ‘ied pulang ke rumah mereka dan harus kembali lagi untuk shalat Jumat, tentunya akan memberatkan bagi mereka maka Rasul berkata sudah tidak perlu kembali lagi untuk shalat Jum’at , karena akan memberatkan bagi mereka. Jadi bagi mereka yang masjidnya tidak jauh maka tetap melakukan shalat Jumat. Di zaman kita sekarang meskipun sejauh-jauhnya masjid masih mudah untuk kita tempuh. Di zaman dahulu orang butuh waktu berjam-jam untuk bisa menghadiri shalat Jum’at karena masjidnya sangat jauh. Alhamdulillah di zaman sekarang terutama kita di pulau Jawa sangat mudah menemukan masjid dan mushalla, tetapi di sebagian saudara-saudara kita di wilayah Papua butuh berjam-jam juga untuk menempuh perjalanan ke masjid. Semoga adik-adik kita yang belajar di sini di bawah asuhan KH.A hamad Baihaqi,kelak merekalah yang akan membangkitkan ribuan masjid disana agar muslimin muslimat tidak kesulitan untuk melakukan shalat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Disunnahkan berpuasa pada hari Arafah, yaitu tanggal 9 Zulhijjah sebagaimana hadits riwayat Shahih Muslim,bahwa Rasul SAW ditanya tentang puasa Arafah kemudian beliau bersabda :

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالسَّنَةَ القَابِلَةَ

“ Puasa Arafah itu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang “

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawy Ar dalam Syarh Nawawy ‘ala Shahih Muslim bahwa sebagian Ulama mengatakan bahwa akan diampuni dosa setahun yang lalu dari semua dosa-dosanya, dan setahun yang akan datang itu adalah dosa-dosa kecil saja yang diampuni. Tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud setahun yang akan datang itu adalah bahwa Allah akan memberi ia hidayah dan taufik hingga ia tidak sampai ke hari Arafah yang akan datang kecuali telah dihapus dosa-dosanya oleh Allah SWT, dihapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, demikian indahnya. Tetapi bukan berarti kita berfikir dengan berpuasa hari Arafah berarti boleh bermaksiat selama setahun, jangan-jangan tidak diterima puasanya, belum berpuasa sudah berniat seperti itu. Maka berniatlah ikhlas karena Allah, maka Allah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang, demikian indahnya sang Maha Indah. Dan tentunya di hari Arafah perbanyak doa , jadikan hari Arafah hari puasa kita. Mereka saudara saudari kita berkumpul di padang Arafah di dalam keluhuran dalam zikir dan doa, maka yang disana tidak disunnahkan berpuasa, karena diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasul SAW melaksanakan Haji Wadaa’ , maka para sahabat ragu dan saling bertanya apakah Rasulullah puasa atau tidak di hari Arafah ini, maka berkatalah salah satu istri beliau : “ berilah beliau susu, beliau tidak akan menolak susu karena beliau sangat menyukai susu, kalau beliau menolak berarti beliau berpuasa, kalau beliau tidak menolak berarti beliau tidak berpuasa “ tetapi jika diberi air, kalau beliau ingin minum maka beliau minum, jika tidak mungkin beliau akan menolak tapi jika susu yang diberikan tidak akan beliau tolak kecuali beliau berpuasa. Ketika itu Rasul SAW berada di atas ontanya kemudian diberikan susu lalu beliau minum, berarti Rasulullah tidak berpuasa di hari Arafah karena sedang menunaikan haji, maka tidak disunnahkan mereka yang sedang menunaikan ibadah haji di padang Arafah untuk berpuasa Arafah, karena tidak diajarkan oleh Rasul SAW. Tapi yang tidak berangkat haji dan umrah, maka Rasul SAW memberikan kemuliaan puasa bagi mereka dengan mendapatkan penghapusan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, bahwa Rasul SAW bersabda :

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

“ Tiada satu hari yang lebih banyak dimana Allah SWT membebaskan hamba dari api neraka melebihi hari Arafah”.

Jadi belum sampai ke neraka atau ke surga nama-nama penduduk neraka dan penduduk surga sudah tercantum. Maka setiap waktu dan saat Allah pindahkan nama-nama itu, ada yang nama ahli surga di pindah ke neraka karena perbuatan jahatnya, ada nama ahli neraka di pindah ke sorga karena telah bertobat, itu setiap detik terjadi, Allah SWT memindahkan nama-nama para pendosa ke sorgaNya. Namun kata Rasul SAW paling banyak Allah SWT membebaskan hamba-hambaNya dari api neraka adalah di hari Arafah. Semoga kita semua dipastikan oleh Allah bebas dari api neraka. Penyampaian saya yang terakhir adalah firman Allah SWT :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ( المائدة : 3

“ Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu” . ( QS. Almaidah : 3 )

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, berkata sayyidina Umar bin Khatthab bahwa kejadian itu yaitu turunnya ayat ini terjadi tepat pada hari Jum’at di hari Arafah , dan setelah itu adalah pelaksanaan haji wadaa’ ( haji perpisahan ) bagi Rasul SAW, setelah itu masih ada ayat-ayat Al qur’an yang turun. Jadi, kalau ayat ini dipakai dalil bahwa tidak boleh ada lagi penambahan dalam hal-hal yang diperbolehkan di dalam syariat , karena sudah turun ayat tadi, tentunya itu adalah pemahaman yang salah karena setelah ayat itu ada ayat lain lagi yang turun, ayat mengenai hutang, mengenai warisan dan lainnya, jadi ayat ini bukan ayat terakhir.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Namun ayat ini di dalam tafsir Al Imam Thabari dan lainnya, mempunyai makna bahwa sudah sempurnanya Makkah Al Mukarramah, bersih dari berhala yang sebelumnya masih dipenuhi berhala, dan sempurnanya agama ini dengan kesempurnaan yang abadi, tentunya semua hal yang membawa manfaat bagi muslimin muslimat boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan syari’ah, demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah. Kita bermunjat kepada Allah SWT, semoga malam-malam agung ini kita termuliakan dengan cahaya yang paling indah yang pernah Allah anugerahkan kepada hamba-hambaNya di malam-malam agung di sepuluh malam Zulhijjah Ya Rahmaan Ya Rahiim Ya Zal Jalaaly wal Ikraam Ya Zatthawli wal in’aam, inilah sepuluh malam yang mulia dan ini adalah malam yang ketujuh. Rabby, tersisa tiga malam di hadapan kami maka selesailah kami dari sepuluh malam Zulhijjah. Rabby inilah doa kami, betapa banyak maksiat yang kami lakukan di masa lalu, dan barangkali betapa banyak pula dosa yang akan menjebak kami di masa mendatang , maka kepada siapa kami akan mengadu kalau bukan kepadaMu Ya Rabby, betapa banyak musibah yang kami lewati di masa lalu, betapa banyak musibah yang mungkin akan datang di masa mendatang , betapa banyak kenikmatan yang kami lewati yang lupa kami syukuri, betapa banyak kenikmatan yang akan datang yang barangkali kami lupa mensyukurinya, kepada siapa kami menitipkan diri ini wahai Rabby kalau bukan kepadaMu Ya Allah, kalau bukan kepada Yang Maha berkasih sayang , kalau bukan kepada yang berfirman : ” Aku merindukan hamba-hambaKu jika hamba-hambaKu merindukanKu”, kepada yang berfirman : “ Aku bersama hambaKu ketika hambaKu mengingatKu dan bergetar bibirnya menyebut namaKu “. Rabby, kami memanggil namaMu, kami getarkan bibir untuk memanggil namaMu, yang getaran bibir kami menterjemahkan seluruh doa dan hajat kami , kami memanggil namaMu Ya Allah maka dalam nama itu kami pendamkan seluruh hajat kami , kami mohonkan seluruh doa kami, kami mintakan segala kemudahan di masa mendatang, kami mintakan pengampunan di masa lalu, dan kami mintakan taufik dan hidayah, dan kami mintakan agar kami jauh dari api neraka. Wahai Allah kami mendengar siksaan ynag paling ringan di dalam neraka adalah dipakaikan sandal dari api hingga bergejolak otaknya dari panasnya sandal api itu, api itu dipanaskan selama seribu tahun hingga berwarna putih, dan api itu dipanaskan selama seribu tahun hingga berwarna hitam, pernahkah terbayang kau melihat api yang berwarna hitam, api yang bergemuruh memanggil para pendosa . Rabby, disaat itu dimanakah kami, jangan kami dipanggil oleh api neraka karena dosa-dosa kami saat kami bangun di padang mahsyar Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim . Pastikan kami di dalam kelompok yang Kau firmankan :

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ ¤ لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ ¤ لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ( الأنبياء : 101-103

“ Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada ( ketetapan )yang baik dari kami ( Allah ), mereka akan dijauhkan dari api neraka, mereka tidak mendengar desis api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati semua yang mereka inginkan, kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka sedih , dan para malaikat akan menyambut mereka ( dengan ucapan ), “ inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu “. ( QS. Al Anbiyaa’ : 101-103 )

Orang-orang yang lebih dahulu Allah beri anugerah, mereka meminta di masa hidupnya husnul khatimah , maka Allah berikan kepada mereka anugerah, mereka jauh dari api neraka, jangankan mendengar gemuruh api neraka, desisnya pun mereka tidak mendengarnya, karena mereka dalam keagungan cahaya Ilahi, mereka sampai ke surga Allah dan jauh dari api neraka itu dan tidak mendengar desisnya, dan mereka tidak risau dan tidak bingung di hari dimana semua orang kebingungan, karena di hari itu mereka gembira dan berjumpa dengan yang dirindukannya yaitu Allah SWT. Di dunia mereka merindukan Allah, di hari itu di saat semua orang kebingungan, tetapi mereka dirindukan dan dipanggil oleh Allah dengan panggilan kasih sayangNya. Rabby, betapa jauh berbeda mereka yang dipanggil oleh api neraka dan yang dipanggil oleh kasih sayangMu. Jadikan kami dipanggil oleh kasih sayangMu Ya Allah. Allah berfirman :

إِنْ ذَكَرَنِيْ فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِيْ وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٌ مِنْهُمْ

“ Barangsiapa yang mengingatKu dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diriKu, jika ia mengingatKu dalam keramaian maka Aku pun menyebutnya dalam tempat yang ramai.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله… ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Semoga malam ini malam qabul kita, malam keabadian kita untuk terbuka padanya rahasia keridhaan Allah yang abadi, tiada berakhir hingga kita bertemu dengan Allah SWT kelak, seraya berfirman :

إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ ( الطور : 28

“ Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” (QS. Ath Thuur : 28)

Hingga kelak di hari kiamat ada yang berbangga-bangga dimuliakan Allah, apa yang mereka ucapkan?

إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ (الطور 28

Dulu kami menyembahNya dan berdoa kepadaNya, menyebut namaNya, Sungguh Dialah Yang Maha Baik dan Maha berkasih sayang. (QS Atthuur 28)

Mereka dalam sambutan yang kekal, semoga kita dalam kelompok mereka di hari kiamat, berabangga-bangga sering memanggil nama Allah SWT, dunia bukan tempat berbangga-bangga, akhirat tempat berbangga-bangga dari segala pengampunan Allah SWT.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Beberapa hal yang perlu saya sampaikan pada malam hari ini, malam Idul Adha malam Jumat ini kita akan mengadakan takbiran sebagaimana selebaran yang telah dibagikan . Dan juga saya memohon doa karena besok akan tabligh akbar dan zikir Jalalah di Denpasar Bali, esok pagi keberangkatan dan kembali hari Rabu Insyaallah, dan minggu ini juga ada acara di Banjarmasin dalam Tabligh Akbar dan Doa, dan malam Sabtu dan malam Ahad tetap di Jakarta, Insyaallah. Untuk minggu ini cuma ada dua acara yaitu di Denpasar dan Banjarmasin. Insyaallah menyusul bulan Desember di Masjid Raya Bogor, Bandung dan wilayah Jawa Barat untuk bulan Desember. Jadi yang bisa berangkat ke Denpasar silahkan berangkat, tapi tidak dianjurkan konvoi tapi kalau ke Cimahi Bogor tidak apa-apa konvoi, tapi kalau ke Denpasar tidak diperbolehkan konvoi, kita konvoi dengan doa kita insyaallah acara di wilayah sukses dan dakwah semakin mulia dan kita semakin indah di dalam hari-hari kita.

Saya juga memohon kepada Jamaah untuk tidak terlalu berdesakan dalam bersalaman kepada pendosa ini, saya bukan Ulama bukan pula Shalihin yang berhak untuk diambil barakah saya cuma pendosa yang berharap pengampunan dosa dari Allah karena doa kalian para Jamaah. Memang dulu para Sahabat berdesakan untuk bersalaman dengan Rasulullah dan menciumi beliau, tapi beliau Rasulullah yang memang berhak untuk dimuliakan, dan sebelum beliau mendapatkan hal itu, di awal dakwah beliau, beliau sendiri yang bercerita : “suatu waktu aku berdiri di salah satu pasar, ketika ku katakan :

قُوْلُوْا لاَإلهَ إِلاَّ الله

“ Katakanlah : Tiada tuhan selain Allah “

Mereka berdesakan padaku bukan untuk berjabat tangan atau untuk mengucapkan “ Laa ilaaha illallaah “, tetapi mereka berebutan meludahi wajahku,

kata Rasul SAW. Demikian keadaan dakwah Sang Nabi. Tentunya hamba pendosa ini malu, di zaman Rasulullah orang-orang berdesakan meludahi beliau dan di zaman sekarang orang-orang berdesakan mau menciumi saya hamba penuh dosa ini, sungguh sangat tidak pantas. Demikian sekedar himbauan penyampaian dari sanubari ini, tentunya jika akan memberatkan kalian sendiri cukuplah bersalaman dengan doa dan munajat kita bersatu dalam persaudaraan Islam dunia dan akhirah. Jika kau bertabarruk dengan tangan pendosa ini tampaknya bukan tempatnya, demikian hadirin hadirat. Selanjutnya kita teruskan acara ini dengan qasidah Muhammadun mengenang indahnya Nabi kita Muhammad SAW, falyatafaddhal masykuraa.

Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2009

Hukum Solat Jumaat Pada Hari Raya

Hukum Solat Jumaat Pada Hari Raya
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Soal Jawab Ibadah, Soal Jawab Perkara Khilafiyyah
Jawapan dari Ustaz Ghoni :

Dalam Mazhab Syafi`e solat jumuat kekal wajib apabila jatuh hariraya pada hari jumuat dan solat hariraya hukumnya adalah sunat bukan wajib

Ulamak mengatakan hadis-hadis yang dikemukakan adalahah sahih namun hadis itu ditujukan kepada bukan penduduk madiinah

Kebenaran dari RasuluLLah meninggalkan solat jumuat bagi orang yang telah menunaikan solat hariraya ditujukan khas kepada penduduk al `awaali iaitu penduduk kampung-kampung diluar madiinah yang sememangnya mereka tidak wajib solat jumuat.

Dalam Mazhab Syafi`e musafir yang tidak wajib solat jumuat tidak disyaratkan musafir jauh

Perkara ini boleh kita fahami daripada kata-kat Tabi`ien dibawah :

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ
ثُمَّ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدْ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِي فَلْيَنْتَظِرْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ

Telah berkata Abu `Ubaid (Tabi`ie ) Kemudian aku berhariraya bersama Uthmaan bin `Affaan (khalifah ke 3) adalah hari itu hari jumuat, lantas beliau solat (hariraya) sebelum khutbah kemudian beliau berkhutbah maka antara kata-katanya :

“Wahai manusia sesungguhnya hari ini telah berhimpun untuk kamu 2 hariraya maka sesiapa yang mahu menunggu (solat) jumuat dari kalangan penduduk al `awaali (kampung-kampung diluar Madinah) hendaklah ia menunggu. Sesiapa yang suka kembali (kekampung dan tidak solat jumuat) maka sesungguhnya aku izinkan untuknya.

(petikan dari Sohih Bukhori)

Ya ada hadis seperti ini, dimana ulamak mengatakan kata-kata Nabi itu untuk penduduk kampung-kampung terpencil yang mana mereka memang tidak wajib solat jumuat pun. Sebaliknya orang yang wajib solat jumuat, mereka tetap wajib solat jumuat sekalipun hari itu adalah hariraya.

Penerangan mengenai perbezaan pendapat mazhab oleh Ustaz Muhammad Fuad:

Sedikit penambahan dari saya…oleh kerana melihat pekembangan ilmu Fiqh yang begitu meluas sekarang di Malaysia, terutama pandangan-pandangan dari mazhab Hanbali sudah diketengahkan di sini, maka sudah pastinya saya perlu meraikan pandangan-pandangan tersebut. OLeh itu saya kira tiada masalah juga masyarakat awam yang ingin berpegang dengan mana-mana pandangan tersebut dengan syarat berdasarkan Ilmu yang dipelajari, samada pandangan pertama tidak menggugurkan kewajipan solat Jumaat atau pandangan kedua yang tidak mewajibkan solat Jumaat. Bagaimanapun disini ada beberapa kiteria yang saya rasa tidak boleh diabaikan :

1 ) Pertama : tidak bertujuan meremeh-remehkan hukum hakam Syariah, mengambil sesuatu pandangan kerana mengikut hawa nafsu dan menjadikan Khilaf Fiqh sebagai helah/alasan untuk memilih pandangan-pandangan yang termudah sahaja. Sebagai mana Al-Alamaah Al-Tarizi dalam bab Hukum Ruksah menyatakan
: “ maka sesuatu helah ( sebagai alasan ) dan mengambil pandangan yang termudah yang dilakukan hanyalah menyebabkan kehancuran ( Aslu Syar’ie ) dasar/paksi Syariat, ataupun juga menghapuskan Maslahah Syar’ieyah ( kemaslahatan Syariah ) ”.

Imam syatibi juga menyebut dalam Al-Muafawaqat : “
Apabila seorang mukallaf menjadikan setiap permasalahan dengan bertujuan baginya mengambil pandangan yang termudah sahaja dalam sesuatu mazhab, dan setiap pandangan termudah tersebut memenuhi hawa nafsunya, maka sesungguhnya yang demikian itu mencabut Riqbatul Taqwa ( pemeliharaan taqwa dalam dirinya )”.

Nasihat daripada Imam Ibnu Taimiyah dalam Iqamatul Hujah :
tidak harus menyandarkan helah ini kepada mana –mana imam. Dan sesiapa yang yang menyandarkan kepada salah seorang daripada mereka maka dia adalah jahil dengan dasar-dasar Imam Mujtahid tersebut, dan kedudukan mereka dalam Islam.
( Rujukan : Rukhsah Syar’ieyah, Dr Umar Abdullah Kamil )

2 ) Kedua : memilih pandangan Jumhur ( majoriti ) Fuqaha’ dalam sesuatu permasalahan, sebagaimana Syeikh Al-Qardhawi dan ramai lagi menyarankan supaya memilih Ijtihad Al-Jamaa’i ( Ijtihad majoriti ) kerana ia lebih selamat daripada Ijtihad Al-fardi ( ijtihad individu ), walupun begitu tidak boleh mengatakan ijtihad individu tadi adalah salah kerana adakala pandangan mujtahid tersebut lebih benar & tepat menurut ijtihadnya.

3) Ketiga : apabila berlaku perselisihan fiqh yang bersandarkan kepada dalil-dalilnya, maka lebih utama menggunakan qaedah Mura’atul Khilaf & keluar daripada khilaf adalah digalakkan. Caranya apabila bertembung dua pandangan dalam permasalahan Fiqh, maka digalakkan memilih pandangan yang lebih berat. Bab ini telah diperincikan oleh Imam izuddin Ibnu salam dalam Qawaid Ahkam bagaimana peraikan khilaf menurut kaedah gabungan antara mazhab maliki & syafie.

4 ) Keempat : Pengunaan dan pengamalan ilmu fiqh dalam ruang lingkup Syariah mestilah bersesuaian dengan kehendak semasa dan suasanan ( fiqh waqi’) seterusnya, bertepatan dengan Maqasid syariah ( objektif syariah ), maslahah dunia dan akhirat, dan kaedah-kaedah yang lain. Apabila membicara tentang hukum hakam dalam lapangan Syariah, maka tiga unsur ini tidak dapat dipisahkan dalam pengamalan dan perlaksanaan ilmu fiqh tersebut.

Anatara aspek terpenting yang bersangkut paut dalam perlaksanaan hukum hakam syariah ini adalah Maqasid syariah itu sendiri, iaitu tujuan sebenar pensyariatan yang berasaskan pentaklifan ( tanggungjawab ) setiap mukallaf. Ia selari dengan Konsep maqasid syariah yang tiga ini ( daruriyah, Hajjiyah dan Tahsiniah ) tujuannya untuk memelihara 5 asas penting ( iaitu agama, aqal, jiwa, keturunan, dan harta )

Manakala menurut objektif untuk agama ini,setiap individu mukallaf perlu melaksanakan tanggungjawab pensyariatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Ini Kerana objektif syariah bukannya menjadi sesorang mukallaf itu pemalas ( kerana wujudnya perselisihan fiqh yan membolehkan dia mengambil pendapat mana-mana yang mudah). Akan tetapi objektif syariah ini mengaplikasikan perselisihan dalam ilmu fiqh sebagai suatu kemudahan kepada mukalaf apabila wujudnya perselisihan pandangan tersebut menurut situasi dan keadaan.

Sebagaimana Dr Abdul Majid najjar (phd Aqidah & falsafah Universiti al-azhar ) menjelaskan dalam kitab beliau hal maqasid syariah :
“ia sebagai suatu elemen yang amat terpenting dalam asasiah ilmu-ilmu fiqhiyah. Dengan berpandukan objektif dan matlamat ini, ia menzahirkan hukum hakam syariah bertepatan dengan waqi’ ( reality ) sesuatu pemasalahan. Dan mewujudkan kemaslahatan dalam kehidupan manusia bagi mempraktikkan hukum hakam syariah”.

Beliau membawa penjelasan daripada Imam syatibi yang menyatakan perlunya seseorang faqih itu memahami situasi semasa dalam suatu permasalahan dan memerhati dengan mendalam keadaan mukallaf tersebut agar dapat membawa kepada kemaslahatan dan menolak berlakunya kefasadan.

Apabila menyentuh tentang maqasid Syariah ini, saya tertarik dengan jawapan saudara di atas…kerana Objektif Syariah ini berkait dengan Fiqh nawazil..melihat permasalahan berbeza situsasi, keadaan dan masa berubah dari zaman ke zaman .

Jika diukur dalam pemerhatian Syariah, pandangan-pandangan yang berbeza ini adalah benar kedua-duanya ( pandangan yang menggugurkan solat jumaat dan tidak menggugurkan solat Jumaat ) namum apabila dilihat pada konteks tujuan & matlamat Syariah ini, pentaklifan dalam perlaksanaan hukum hakam tersebut masih lagi terikat apabila ia bersesuaian dengan kemampuan seseorang individu mukallaf tersebut. Ia berbeza bagi mereka yang tidak berkemampuan. Malah ia selari dengan tujuan Syariah mempraktikkan hukum tersebut sebagai mempertingkatkan ketaqwaan bukan mengabaikan sesuatu pensyariatan kerana berhelahkan suatu kemudahan.

Sebagai kesimpulannya, saya meraikan pandangan-pandangan yang berbeza ini yang menyatakan solat jumaat tidak perlu dilakukan..tetapi pada masa yang sama saudara juga perlu melihat kiteria di atas agar kita tidak menjadikan permasalahan khilaf ini sebagai lesen ” cari malas ” sehingga pentaklifan Syariah ini terabai kerana kemalasan kita bukan berada di sutasi yang sebenarnya, bagaimana & cara untuk mempraktikkan & meraikan Fiqh Iktilaf di kalangan mazhab fiqh yang lain.

Bagi saya pula, bukanlah susah sangat menghadiri solat jumaat tersebut, paling kurang satu jam sahaja..tidak menyebabkan lumpuh akibat bersila terlalu lama kesan darah tidak mengalir di hujung-hujng jari.

Dan bukan terlalu susah pada zaman serba moden sekarang, start enjin kenderaan dalam masa 10minit sudah sampai ke masjid, berbanding di zaman lampau berjalan kaki berbatu-batu jauhnya sudah pasti menyukarkan berulang alik dari rumah ke masjid. Begitu juga bagi mereka yang tinggal berjauhan, dan juga bagi mereka yang sibuk menyembelih dan menguruskan haiwan korban apabila sudah menyempurnakan solat hari raya dan pelbagai lagi urusan penting unutk kemaslahatan umum. Mungkin di situ ada keperluan dan sebabnya.

Tetapi bagi mereka yang meninggalkan solat jumaat kerana hendak keinginan tidur, kerana kesibukan seharian berhari raya, kerana letih bersembang , kerana sibuk berjuadah kuih muih, kerana sibuk membawa teman wanita bersiar-siar dihari raya dan pelbagai-bagai lagi kesibukan kita adakah sama situasi di atas..? sehinggakan kita mengabaikan perkara yang lebih keutamaan daripada yang bukan utama. Maslahah dunia & akhirat lebih penting daripada kepentingan peribadi.

Walaubagaimanapun kewajipan mendirikan solat zohor bagi golongan yang kedua ini tetap tidak digugurkan hukumnya secara Ijma’.

Sekian Wallahu’lam

Posted by: Habib Ahmad | 2 Disember 2009

Ilmu hadith belum cukup tanpa fiqh

Abdul Latif Rahbar: Ilmu hadith belum cukup tanpa fiqh (Bahagaian 2/4) PDF | Print | E-mail
Abdul Latif Rahbar
Ilmuan-ilmuan Islam yang terkenal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud dan lain-lain imam muhaddithin yang mana mereka sudahpun menghafal ratusan ribu hadis masih tetap mengamalkan agama berdasarkan mazhab imam-imam mujtahid walaupun pada pandangan mata umum apalah perlunya mereka bertaqlid sedangkan mereka mempunyai ilmu agama yang jauh lebih daripada cukup?

Di sinilah bezanya antara fuqaha (ahli-ahli fiqh) dan muhaddithin (ahli-ahli hadith). Apabila seseorang itu mengetahui beribu hadis sekalipun, tetapi dia tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk membahaskannya, maka dia tidak layak untuk mengeluarkan sesuatu pendapat.

Mereka-mereka yang mempelajari Sunan Tirmizi pasti mengetahui bahawa apabila membincangkan masalah fiqh, Imam Tirmizi tidak pernah mengambil pendapat guru beliau Imam Bukhari, tetapi beliau menyebut nama-nama seperti Imam Malik, Imam Syafie, Imam Ahmad atau ulama Kufah iaitu Imam Abu Hanifah.

Imam Tirmizi hanya akan mengambil nama Imam Bukhari apabila beliau membahaskan kesahihan atau status sesuatu hadis, kerana beliau mengetahui bahawa walaupun Imam Bukhari adalah pakar dalam bidang hadis, tetapi kepakaran Imam Bukhari dalam ilmu fiqh belum dapat menandingi kepakaran yang ada pada imam-imam mujtahid.

Dapat kita fahami di sini, bahawa setinggi manapun ilmu hadith seseorang itu, belum tentu dia layak mengeluarkan fatwa sekiranya dia tidak mempunyai ilmu fiqh yang cukup. Sekiranya datang dua nas bertentangan antara satu sama lain, yang mana kedua-duanya adalah sahih dan sama kuat, yang mana satukah akan kita ambil? Ini hanya dapat dilakukan seandainya kita mampu memahami selok-belok ilmu fiqah, bukan dengan hanya bersandarkan kepada kesahihan semata-mata.

Sebagai contoh ingin penulis menceritakan di sini perbahasan antara dua imam mujtahid Abu Hanifah dan Awza’I mengenai masalah mengangkat kedua belah tangan selepas bangun dari rukuk. Imam Awza’i mengatakan: “Saya meriwayatkan dari Salim, dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahawa Rasulullah s.a.w. mengangkat tangan dalam solat Baginda s.a.w.”

Lalu Imam Abu Hanifah menjawab: “Saya meriwayatkan dari Hammad, dari Ibrahim An-Nakh’i dari ‘Alqamah dari Ibnu Mas’ud bahawa Rasulullah s.a.w tidak mengangkat tangan Baginda s.a.w.”

Imam Awza’i membalas: “Saya membawa sanad (rangkaian periwayat) yang lebih sedikit dan tuan ingin berhujah dengan sanad yang lebih perantaraannya?” (Mengikut pendapat ulama hadis, hadis yang lebih kurang perantaraannya antara perawi dengan Baginda s.a.w adalah lebih kuat dari hadis yang mempunyai lebih perawi, seperti yang tertera di atas bahawa antara Imam Awza’i dan Rasulullah s.a.w hanya tiga perawi dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah yang mempunyai empat perawi).

Jawab Imam Abu Hanifah: “Hammad lebih faqih daripada Salim, Ibrahim An-Nakh’i lebih faqih daripada Nafi’ dan ‘Alqamah lebih faqih daripada Ibnu Umar walaupun beliau adalah seorang sahabat Nabi s.a.w. Dan Ibnu Mas’ud adalah Ibnu Mas’ud (siapakah yang dapat menafikan kefaqihan Ibnu Mas’ud?).”

Di sini Imam Abu Hanifah mengambil kira faktor kefaqihan perawi dalam mengeluarkan fatwa dan bukan bersandarkan kepada kekuatan dan nilai sesebuah hadis semata-mata. Pun begitu perlu diingatkan bahawa menurut pendapat Imam Syafie mengangkat tangan selepas rukuk adalah sunnah kerana ia adalah amalan penduduk Tanah Haram dan Syam, yang mana terdapat sekurang-kurangnya 35,000 sahabat dikebumikan di Syam.

Dalam sebuah hadith riwayat Sunan, Nabi s.a.w. bersabda: “Semoga Allah ta’ala menyegarkan fikiran orang yang mendengar perkataanku, lalu dia menyampaikannya sepertimana yang dia dengar. Betapa ramai orang yang disampaikan itu lebih memahami dari si pendengar asal itu sendiri.”

Di sini Nabi s.a.w. sendiri mengkategorikan antara mereka yang menghafal hadis dan mereka yang memahami hadis. Kerana itulah Imam A’mash salah seorang perawi Bukhari telah berkata kepada anak murid beliau Imam Abu Hanifah: “Kamu wahai golongan fuqaha’ adalah doktor dan kami (golongan muhaddithin) hanyalah penjual ubat.”

Dalam I’lam al-Muwaqqi’in Imam Ibnul-Qayyim meriwayatkan bahawa satu ketika Muhammad bin Ubaidullah bin Munadi telah mendengar seorang lelaki bertanya kepada guru beliau Imam Ahmad bin Hanbal: “Apabila seseorang itu menghafal 100,000 hadith, adakah dia dikira sebagai seorang yang faqih?” Imam Ahmad menjawab: “Tidak.”

Dia ditanya lagi: “Sekiranya 200,000 hadith?” Balas beliau: “Tidak.” Orang itu bertanya lagi: “Sekiranya 300,000?” dan sekali lagi Imam Ahmad menjawab tidak.

Kemudian orang itu bertanya: “Bagaimana sekiranya dia menghafal 400,000 hadith?” Lalu Imam Ahmad mengisyaratkan dengan tangan beliau, “Lebih kurang begitulah.”

Riwayat di atas memberi gambaran jelas kepada semua, dengan hanya mempelajari beberapa ribu hadis belum tentu kita mampu untuk melayakkan diri kita dalam mengeluarkan pendapat sewenang-wenangnya. Apatah lagi bila hanya tahu beberapa kerat hadis?

Mengapakah kita perlu bermazhab?

Inilah soalan yang sering diajukan oleh ghair muqallidin (golongan tidak bermazhab). Jawapannya amat ringkas: Apabila kita tidak mempunyai ilmu yang cukup maka wajib untuk kita mendengar mereka yang paling arif, dan sekiranya kita mempunyai ilmu yang cukup maka haram untuk kita mengikut mana-mana mazhab.

Ini bersesuaian dengan mafhum firman Allah ta’ala dalam surah al-Mulk apabila Allah ta’ala menceritakan perihal penduduk neraka: “Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengar (patuh) atau kami memahami (akan agama) maka sudah tentulah kami tidak akan menjadi penduduk Sa’ir (Neraka)'”.

Walaupun ayat di atas adalah berkenaan dengan iman, tetapi memandangkan konteks ayat adalah luas maka ulama berhujah tentang betapa pentingnya patuh kepada yang mahir. Dan sekiranya kita tidak mahu patuh maka kita sendiri mestilah menjadi dari golongan yang berakal dan memahami sedalam-dalamnya.

Sekiranya kita tidak berhati-hati, maka dikhuatiri kita akan terjebak lalu tergelungsur jatuh dan jauh menyimpang dari kehendak syariah walaupun pada asalnya niat yang sebenar adalah untuk menegakkan hukum Allah di atas muka bumi bersesuaian dengan yang di bawa oleh Baginda s.a.w.

Amalan ulama yang jauh lebih mahir berbanding kita sendiri adalah hujah yang kuat betapa kita tidak sepatutnya dengan sewenang-wenang mengeluarkan pendapat sendiri. Nama-nama seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’i, Ibnu Majah, Tahawi, Ibnu Hajar, Ibnu Rushd, Sayuti, Ibnu Kathir adalah antara mereka yang bertaqlid dengan imam-imam mujtahid yang datang sebelum mereka.

Golongan yang tidak mengikut mazhab pada hari ini banyak menggunakan pendapat Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim dalam membahaskan pendapat mereka. Tidakkah mereka sedar bahawa keduanya adalah antara ulama ulung dalam mazhab Hanbali? Dan mengapa tidak sahaja mereka digelar Taimi sekiranya mereka merasakan bahawa pendapat Ibnu Taimiyyah sahaja yang berasaskan al-Quran dan Sunnah?

Adakah imam-imam mujtahid terdahulu tidak memahami sunnah sedangkan zaman mereka jauh lebih dekat dengan zaman Baginda s.a.w. dan para sahabat kalau nak dibandingkan dengan Ibnu Taimiyyah yang datang enam hingga tujuh abad selepas imam-imam mujtahid?

Hakikatnya apabila kita berpegang kepada pendapat imam mujtahid, kita sudahpun berpegang kepada dalil dan tali yang kukuh. Imam Dzahabi seorang ahli sejarah yang terkenal dan alim mengenai ilmu-ilmu perawi hadis dalam kitab-kitab beliau tidak pernah berbahas mengenai imam-imam mujtahid. Ini kerana penerimaan umum dan kehebatan imam-imam mujtahid mencapai darjah mutawatir, iaitu mustahil untuk orang ramai bersepakat untuk berbohong dalam menyatakan keunggulan imam-imam tersebut.

Ghair muqallidin hari inipun lebih banyak berpandukan pendapat ulama yang tidak mengikut mazhab seperti mereka antaranya Syeikh Nasirudin al-Albani. Persoalannya sekarang apabila mereka mengikut al-Albani maka mereka sahajalah Ahlusunnah wal-jama’ah. Dan apabila kita terikat dengan pendapat-pendapat Syafie maka kita tidak digelar sebagai Ahlussunnah. Di manakah keadilan?

Jadi, apabila kita sedia maklum bahawa ilmu yang ada pada kita hari ini belum tentu cukup untuk kita berbahas segala dalil dalam sesuatu masalah agama, apakah hak kita untuk berijtihad apatah lagi memberi keizinan umum kepada orang-orang awam untuk berijtihad sendiri? Sedangkan tahap pemahaman dalam kalangan ulama ada bezanya, apakah perlu kita menyusahkan orang ramai untuk berfatwa?

harakahdaily

Posted by: Habib Ahmad | 2 Disember 2009

Sifat 20

Sifat 20

Oleh kerana kita tidak mengenal Allah secara zahir, maka kita hanya boleh mengenalinya melalui sifat-sifatnya. Misalnya melalui belajar mengenalinya samada melalui sifat 20 atau melalui nama-namanya (Asmaul husna), kedua-duanya dari Al-Quran. Sifat-sifat Allah bukanlah terhad kepada 20 sahaja, cuma yang pokoknya sahaja dibincangkan dalam sifat 20.

1. Wujud. Allah itu ada. Allah ialah nama bagi zat Wajibul Wujud (yang ada-Nya adalah wajib). Bukti Allah ada ialah adanya alam ini. Allah itu punca kepada segala-galanya, kalau Allah tiada semua benda lain tiada.

Al-Hashr [24] Dialah Allah, Yang Menciptakan sekalian makhluk; Yang Mengadakan (dari tiada kepada ada)

Al-Ghafir [62] Yang bersifat demikian ialah Allah, tuhan kamu; yang menciptakan tiap-tiap sesuatu (dari tiada kepada ada);

Dalam sebuah hadith qudsi Allah berfirman:

Aku adalah khazanah tersembunyi dan aku ingin diketahui. Kerana itu lalu aku menciptakan makhluk agar aku diketahui.

2. Qidam (sediakala). Adanya Allah itu dari dahulu lagi.

Al-Ikhlas [3]… dan Dia pula tidak diperanakkan.

Al-Hadid [3] Dialah Yang Awal…

3 .Baqa’. Adanya Allah itu kekal selama-lamanya.

Baqarah [255] Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan (sekalian makhlukNya).

Ar-Rahman [27] Dan akan kekallah Zat Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.

Al-Hadid [3] Dialah Yang Awal dan Yang Akhir

Al-Ikhlas [3] Dia tiada beranak …

ALLAH bersifat kekal, maka DIA tidak perlukan anak. Hanya manusia yang perlukan anak untuk menyambung keturunan. Tetapi ALLAH itu AWAL dan dialah AKHIR dan tidak mati. Jadi untuk apa dia perlukan anak.

4. Mukholafatuhu lil hawadis. Adanya Allah itu tidak serupa dengan adanya makhluk .

Al-Ikhlas [4] Dan tidak ada sesiapapun yang serupa denganNya. .

Semua perkara, benda, selainnya adalah benda-benda baru yang mana pada permulaan sebelum wujudnya telah didahului oleh ketiadaannya dinamakan makhluk. Benda-benda tersebut kesemuanya dinamakan makhluk (yang telah dijadikan) kerana tidak terjadi atau tercipta dengan sendirinya, seperti langit, bumi, syurga, neraka, ‘Arasy, Kursi, Luh Mahfuz, Malaikat, manusia, jin, syaitan, binatang.

Tidak sama pelukis dengan lukisannya,demikian ALLAH dan makhluk ciptaannya, Allah adalah original, makhluknya hanya tiruan.

5. Qiyamuhu bi nafsihi. Adanya Allah itu dengan sendiri. Hidupnya juga tidak perlu kepada nyawa. Allah tidak perlu kepada apa-apa. Dia tidak perlu kepada makanan atau minuman. Berbeza dengan makhluknya yang sentiasa perlukan sesuatu darinya. Allah maha kaya kerana dia tidak perlu kepada apa-apa sedangkan kita miskin dan sentiasa perlukan sesuatu darinya.

Ali-Imran [97]..maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak berhajatkan sesuatu pun) dari sekalian makhluk.

Al-Fatir [15] (Oleh kerana Allah menguasai segala-galanya, maka) wahai umat manusia, kamulah yang sentiasa berhajat kepada Allah (dalam segala perkara), sedang Allah Dialah sahaja Yang Maha Kaya, lagi Maha Terpuji.

6. Wahdaniyah. Allah itu satu, tunggal, esa.

Al-Ikhlas [1] katakanlah (wahai Muhammad): (Tuhanku) ialah allah Yang Maha esa.

ALLAH itu ESA yang sebenar-benar ESA iaitu satu pada ZAHIR dan satu pada BATIN (pada akal kita). Tidak seperti biji sawi. Hanya esa pada zahirnya, tetapi boleh dibelah atau dipotong-potong pada akal manusia. ALLAH tetap tunggal pada zahir dan pada akal manusia, tidak mempunyai juzuk dan tidak boleh dibayangkan pada akal serta tidak boleh menjelma ke dalam sesuatu.

Sifat Maani (sifat yang abstrak)

7. Qudrat. Allah berkuasa. Allah berkuasa tanpa sebarang perlantikan. Kuasanya adalah kuasa yang asli. Segala di alam ini milik Allah, cuma diberi kuasa sementara kepada makhluk-makhluk yang akhirnya akan diambil kembali setelah mereka mati.

Ali-Imran [26] Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa pemerintahan! Engkaulah yang memberi kuasa pemerintahan kepada sesiapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang mencabut kuasa pemerintahan dari sesiapa yang Engkau kehendaki…

Al-Qasas [58]……..sesungguhnya Kamilah yang mewarisi mereka.

8. Iradah. Allah berkehendak. DIA mempunyai kehendaknya sendiri dan berpendirian. Allah tidak seperti manusia yang kadangkala bersifat bagai lalang, yang bergerak mengikut tiupan angin. Allah mencipta alam ini dengan kehendaknya dan ikhtiarnya sendiri.

Dalam al-quran disebut, Fa”aalun lima Yurid ..

Hud[107] Sesungguhnya Tuhanmu, Maha Kuasa melakukan apa yang dikehendakiNya.

Kalaulah berkumpul semua jin, manusia, malaikat dan syaitan untuk menggerakkan seekor semut kecil atau menahannya dari bergerak, tanpa iradah (kehendak) Allah semuanya tidak mampu melakukannya (Kitab Sirus Salikin).

Api tabiatnya boleh memanaskan, namun tanpa izin Allah ia tidak boleh memanaskan atau membakar. Ibu Nabi Musa pernah meletakan Nabi Musa didalam tempat periuk yang panas di atas api, ketika pasukan tentera Firaun datang untuk mencari bayi lelaki. Namun Nabi Musa tetap selamat kerana Allah tidak mengizinkan api itu memanas dan membakarnya. Begitu juga semasa Nabi Ibrahim dibakar oleh Namrud.

9. Ilmun. Allah mengetahui.

Al-Hadid [4] ….Dia mengetahui apa yang masuk ke bumi serta apa yang keluar daripadanya dan apa yang diturunkan dari langit serta apa yang naik padanya….

Ilmu pengetahuan Allah itu tidak berubah atau bertambah, ilmunya ‘qadim’ sejak azali lagi. Ilmu Allah adalah ilmu yang asli, ilmu yang diberikan kepada kita makhluknya adalah ilmu yang baru dan diberi mengikut kekuatan akal. Ilmu yang diberikan kepada manusia hanya sedikit sahaja.:

Al-Israa [85]….dan kamu tidak diberikan ilmu pengetahuan melainkan sedikit sahaja.

10. Hayat. Allah itu “Hayyat” iaitu hidup dan hidupnya adalah yang asli iaitu tidak perlu kepada nyawa dan hidupnya berasingan dari makhluk. Hidupnya juga tidak perlu kepada makanan atau minuman. Allah tidak mati kerana hidup itu haknya. Allah tidak tertakluk kepada mana-mana undang-undang. Undang-undang itu hanya untuk kita, makhluknya.

Baqarah [255] Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap hidup,

11. Sama’. Allah Mendengar. Allah bukan pekak atau tuli kata Nabi:-

Hai manusia, tenangkanlah diri kamu, sesungguhnya kalian bukanlah berdoa kepada yang tuli dan tidak pula kepada yang gaib, sesungguhnya kalian sedang berdoa kepada Tuhan Yang maha Mendengar lagi Maha Dekat; Dia selalu bersama kalian (Riwayat Bukhari dan Muslim melalui Abu Musa r.a.)

An-Nisaa [58] Sesungguhnya Allah sentiasa Mendengar, lagi sentiasa Melihat.

Allah mendengar tidak menggunakan gegendang telinga. Allah menjadikan manusia mendengar menggunakan telinga, tapi dia sendiri tidak perlukan telinga. Bunyi dan suara yang perlahan atau kuat sama saja disisi Allah. Tidak perlu meninggikan suara dalam berdoa. Rasulullah menegur sahabat yang berdoa dan meninggikan suara. Suara tak keluar pun Allah boleh dengar. Allah juga tahu apa di dalam hati kita.

12. Basar. Allah melihat. Allah melihat tidak menggunakan biji mata. Allah menjadikan manusia melihat dengan mata, tapi dia sendiri tidak perlukan mata. Dalam gelap pun Allah nampak. Kita pula hanya boleh melihat benda dalam cahaya dan hanya boleh melihat sesuatu dalam jarak yang tertentu.

Hadid [4] ……Dia tetap bersama-sama kamu di mana sahaja kamu berada dan Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.

13. Kalam. Allah berkata-kata. Al-quran itu ialah kalam Allah.

As-Shura [51] Dan tidaklah layak bagi seseorang manusia bahawa allah berkata-kata dengannya kecuali dengan jalan wahyu (dengan diberi ilham atau mimpi) atau dari sebalik dinding (dengan mendengar suara sahaja) atau dengan mengutuskan utusan (malaikat) lalu utusan itu menyampaikan wahyu kepadanya dengan izin allah akan apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya allah Maha Tinggi keadaanNya, lagi Maha Bijaksana.

Sifat Maknawi

14-20. Kaunuhu Qadiran, muridan, aliman, hayyan, samian, basiran, mutakallima… Keadaannya Maha berkuasa, maha berkehendak, maha mengetahui, maha hidup, maha mendengar, maha melihat dan maha berkata-kata.

Sifat ke 14 hingga 20 menerangkan keadaan Allah dari 7 sifatnya yang diterangkan sebelum ini.Misalnya Allah itu sifatnya berkuasa (qudrat), maka keadaannya ialah Allah memiliki kuasa (kaunuhu qadiran). 7 sifat ini juga dikenali dengan sifat Maknawiyah.

Posted by: Habib Ahmad | 2 Disember 2009

Beradab Dalam Berbeza Pendapat

Beradab Dalam Berbeza Pendapat

KITA harus menerima hakikat bahawa walaupun agama Islam itu satu, namun tafsiran terhadap Islam itu berbeza-beza. Pemahaman dan seterusnya penafsiran terhadap sumber-sumber Islam yang asal iaitu al-Quran dan al-Sunnah adalah tidak sama di kalangan para imam dan ulama mujtahid. Kerana itulah ia membawa kepada wujudnya pelbagai aliran atau disebut juga mazhab dalam dunia Islam sejak awal lagi.

Bahkan perbezaan kefahaman ini wujud sejak di zaman para sahabat Rasulullah SAW lagi. Kekalutan yang berlaku dalam masyarakat kita hari ini ialah apabila munculnya sekelompok ‘agamawan reformis’ atau digelar juga ‘progresif’ yang mendakwa bahawa pendapat mereka sahajalah yang betul lalu mereka ini ingin melakukan apa yang disebut ‘pembaikan’ (islah) atau pembaharuan (tajdid) dalam masyarakat.

Pembaharuan ini ingin dilakukan atas pelbagai nama dan platform sama ada ‘minda tajdid’, atau mengemudi ‘bahtera itu dan ini’ dengan pelbagai slogan pula seperti ‘kembali kepada al-Quran dan Sunnah’, atau ‘mengikut amalan generasi Salaf’ dan seumpamanya.

Apa yang ingin digambarkan oleh kelompok ‘mujaddid palsu’ ini ialah selama ini amalan masyarakat kita kononnya tidak mengikut al-Quran dan Sunnah; nenek moyang dan ibu bapa kita tidak mengamalkan ajaran Islam yang sebenarnya; masyarakat kita banyak melakukan amalan bidaah sesat, bahkan turut mempertikaikan mengikut mazhab kerana katanya di zaman Nabi SAW dulu tiada mazhab lalu kenapa kita harus mengikut mazhab hari ini.

Tiada salah untuk melakukan pembaharuan malah ia dituntut apabila masyarakat menjadi semakin jauh dari amalan murni Islam yang sebenar lalu mencampur-adukkan dengan amalan khurafat dan bidaah sesat. Bahkan ada hadis dari Abu Hurayrah r.a., yang menyebut bahawa Allah akan membangkitkan setiap seratus tahun untuk ummah ini orang yang memperbaharui agamanya. (Sunan Abu Dawud)

Namun apa yang mengecewakan ialah apabila golongan-golongan ini bukannya ‘memperbaharui’ agama daripada perkara-perkara khurafat dan bidaah sesat, sebaliknya membongkar perkara-perkara khilafiyyah yang telah disepakati para ulama silam sejak ratusan tahun lalu untuk bersetuju berbeza pendapat (agree to disagree).

Kesan pembongkaran itu hanyalah menimbulkan keresahan dan keraguan di kalangan masyarakat sehingga membawa kepada perpecahan sesama sendiri.

Perkara-perkara khilafiyyah yang wujud dalam amalan mazhab-mazhab Ahlul Sunnah wal Jamaah seperti membaca qunut Subuh, keadaan jari telunjuk ketika tasyahhud perlu digerakkan atau tidak, berdoa beramai-ramai selepas sembahyang, dan seumpamanya tidak mungkin dapat diselesaikan hari ini jika dahulu pun tidak mampu diselesaikan oleh alim-ulama yang ratusan kali ganda lebih hebat daripada ulama-ulama hari ini dan lebih dekat dengan Rasulullah SAW dan generasi Salaf.

Menyedari hakikat bahawa perbezaan pendapat para ulama itu tidak dapat dielakkan khususnya dalam hal-hal ranting yang terperinci dalam ibadat, maka para ulama usul telah merumuskan bahawa “kebenaran dalam perkara ranting (furuk) itu berbilang-bilang.” Ia suatu hakikat bahawa kebenaran dalam perkara bersifat ‘cabang-cabang’ Islam ini tidak mampu untuk diseragamkan menjadi satu walaupun ribuan ulama telah mencubanya sejak sekian lama.

Lalu selama kita mengikuti pandangan majoriti ulama (al-sawad al-a’zam) iaitu para imam mazhab empat dari kalangan Ahlul Sunnah wal Jamaah, maka insya-Allah kita berada di atas landasan dan jalan yang benar.

Renunglah nasihat para ulama silam dalam mengambil sikap beradab apabila menangani perbezaan pendapat dengan menekuni karya-karya mereka yang banyak berhubung dengan adabul ikhtilaf (Adab Berbeza Pendapat). Imam al-Shatibi r.a. sendiri sebagai contoh menulis: Sesungguhnya perbezaan pendapat yang terjadi pada zaman sahabat hingga ke hari ini berlaku adalah dalam masalah-masalah ijtihadiyyah. Pertama kali ia berlaku pada zaman Khulafa’ al-Rasyidin dan sahabat-sahabat yang lain, lalu berterusan sehingga zaman para tabi’en dan mereka tidak saling mencela di antara satu sama lain. (al-I’tisom 2/191)

Selain tidak beradab dalam menangani perbezaan pendapat, golongan reformis agama ini juga mendakwa bahawa Islam yang sebenar ialah dengan mengikut al-Quran dan al-Sunnah dan bukannya mengikut mazhab.

Bunyinya menarik dan benar tetapi sebenarnya penuh dengan kebatilan dan kepalsuan seperti mana yang sering diungkapkan “kalimatul haq yuridu biha al-batil”.

Mereka secara tidak langsung menyeru masyarakat menjadi ‘bebas mazhab’ (al-la madhabiyyah) suatu aliran yang dianggap ‘bidaah’ paling bahaya yang menentang syariat Islam seperti mana ungkapan Sheikh Dr. Said Ramadhan al-Buti dalam kitabnya al-la Madhhabiyya Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu al-Shari’at al-Islamiyyah (Bebas Mazhab Bid’ah Paling Bahaya Menyalahi Syariat Islam).

Bahkan Imam Ibn Rajab al-Hanbali (meninggal dunia 795H/1393M) telah lama menentang aliran ini menerusi kitabnya Radd ‘ala man Ittaba’a Ghayr al-Madhahib al-Arba’ah (Sanggahan Terhadap Mereka Yang Tidak Mengikut Mazhab Empat).

Kita perlu faham bahawa apabila disebut ‘mengikut mazhab’ bukanlah bermakna taksub kepada pandangan akali para Imam-Imam mazhab, kerana pandangan mereka itu juga sebenarnya didasarkan kepada al-Quran dan al-Sunnah. Bahkan mazhab itu sendiri bukanlah pandangan sosok tubuh seorang individu atau Imam mazhab semata-mata.

Mengikut mazhab Shafie bukan bermaksud mengikut pandangan Imam Shafie seorang diri sahaja, tetapi ia melibatkan sekumpulan para alim ulama yang mengikut kaedah mengistinbatkan hukum berdasarkan kaedah dan kriteria Imam Shafie.

Adalah tidak benar seperti apa yang cuba dimomokkan oleh kelompok agamawan reformis ini bahawa mengikut mazhab itu seolah-olahnya tidak mengikut al-Quran dan al-Sunnah. Terlalu dangkal jika kita berfikiran begitu dan terlalu hina kita meletakkan taraf keilmuan para imam-imam kita dan ulama mazhab yang menghabiskan usia menjadi penyuluh kegelapan umat dengan menelaah al-Quran, al-Hadis dan kitab-kitab saban waktu tanpa jemu.

Hidup mereka dipenuhi dengan ilmu dan pengajian sehingga ada ulama silam yang walaupun ketika sedang makan masih tetap menelaah kitab-kitab, sedangkan hidup kita penuh dengan bersenang-lenang dan berseronok-seronok.

Adalah amat mengecewakan apabila kita dapati ungkapan-ungkapan menghina para ulama silam dan dilontarkan bersahaja tanpa rasa bersalah bahkan dengan cukup biadab sekali sama ada dalam tulisan di dada-dada akhbar mahupun pada ceramah-ceramah.

Ini bukanlah bermaksud mengatakan bahawa para ulama itu maksum dan tidak melakukan kesalahan, tetapi pendekatan menghina itu tidak sewajarnya dilakukan apatah lagi oleh golongan agamawan sendiri.

Kesimpulannya, kelemahan para ulama bukanlah untuk didedahkan kepada masyarakat umum apatah lagi untuk dijadikan bahan ditertawakan kerana tiada sekelumit manfaat pun yang diperolehi dengan pendedahan sebegitu melainkan ‘mengajar’ masyarakat bersikap biadap terhadap para ulama silam.

Kita harus ingat bahawa kita juga ulama dan apabila kita ‘mengajar’ masyarakat awam biadap terhadap para alim-ulama silam dan tidak menghormati mereka, kita jangan terkejut jika masyarakat juga akan bersikap biadap terhadap kita selaku ulama suatu hari kelak’.

Tulisan Ustaz Nik Roskiman Abdul Samad,
Felo Pusat Perundingan & Latihan,
Institut Kefahaman Islam Malaysia

Antara 7 Wali Allah di Tanah Melayu :: As-Sayyid Habib Nuh Al-Habsyi Rahimahullah 1788M – 1866M ::
Nasab dan keturunan

Nama penuh beliau ialah As-Sayyid Habib Noh bin Muhammad Al-Habsyi. Beliau yang datang dari Kedah adalah merupakan seorang yang berbangsa arab berasal dari Yaman dan asal-usul keturunan beliau juga adalah daripada keturunan Rasulullah s.a.w. menerusi nasab Zainal Abidin bin Sayidina Hussein r.a. Tidak banyak maklumat yang diketahui tentang kehidupan awal beliau. Beliau yang hidup sekitar tahun 1788M – 1866 M datang dari keluarga empat adik-beradik lelaki iaitu Habib Nuh, Habib Ariffin dan Habib Zain (kedua-duanya meninggal di Pulau Pinang) dan Habib Salikin, yang meninggal di Daik, Indonesia.

Dari perkahwinan beliau dengan Anchik Hamidah yang berasal dari Province Wellesley, Pulau Pinang, mereka dikurniakan hanya seorang anak perempuan bernama Sharifah Badaniah. Sharifah Badaniah kemudiannya berkahwin dengan Syed Mohamad bin Hassan Al-Shatri di Jelutong, Pulau Pinang. Pasangan ini kemudiannya memberikan Habib Noh hanya seorang cucu perempuan bernama Sharifah Rugayah. Dia berkahwin dengan Syed Alwi bin Ali Aljunied dan mereka mempunyai lima anak, dua lelaki dan tiga perempuan bernama Syed Abdul Rahman, Syed Abdullah, Syarifah Muznah, Sharifah Zainah dan Sharifah Zubaidah.

Dari banyak sumber yang diperolehi, Habib Nuh tiba ke Singapura tidak lama setelah Sir Stamford Raffles mendarat di pulau itu. Usianya pada ketika itu mencecah tiga puluhan tahun. Walaupun beliau telah menghabiskan saki-baki usianya di Singapura dan meninggal dunia di sana, beliau banyak berjalan, terutamanya ke Johor Bahru dan negeri-negeri lain di Malaysia untuk berdakwah. Beliau adalah seorang yang amat warak. Waktu malamnya beliau gunakan untuk solat hingga terbit fajar. Dan beliau kerap berkunjung ke makam-makam (tanah perkuburan), selalu mendoakan roh-roh yang telah meninggalkan jasad. Beliau sentiasa berjalan bersama-sama kawan-kawan rapat melainkan bila dia secara spesifik meminta untuk bersaorangan diri. [5]

Karamah

Di sini, saya ingin bekongsi bersama pembaca mengenai kemuliaan yang Allah kurniakan kepada beliau. Banyak Karamah yang dibuktikan oleh mereka yang hidup sezaman dengan beliau. Tetapi, tidak ramai yang dapat menyelami peranannya sebagai orang kerohanian yang sentiasa dirinya hampir dengan Allah SWT. Kerana peranan sebagai Rijalullah atau Rijalulghaib ini amat simbolik dan sukar difahami menerusi bahasa dan pengertian yang zahir sedangkan tugas mereka juga besar. Antara kurniaan Karamah yang diberikan Allah swt adalah seperti berikut;

1. Menghadiri Sidang Wali-wali. [6]

Mengenai keistimewaan dan ketinggian kedudukan Habib Nuh, Pakcik Muhammad Abu Bakar, 102 tahun, khadam kepada Syeikh Haji Said Al Linggi r.h. menceritakan satu peristiwa yang berlaku ke atas gurunya yang ada kaitan dengan As Sayid Habib Nuh:

Pada satu hari seperti biasa Syeikh Muhammad Said masuk ke bilik suluk khas selepas sembahyang jemaah Asar. Seperti biasa juga, Pakcik Muhammad menunggu di luar bilik kalau2 beliau dipanggil masuk oleh gurunya untuk satu2 hajat. Tetapi pada petang itu beliau tidak dipanggil, dan gurunya keluar dari bilik suluk itu apabila hampir masuk waktu Maghrib dan terus sembahyang jemaah Maghrib bersama anak2 muridnya.

Malam itu Syeikh Said tidak mengajar. Selesai sembahyang sunat, beliau bercakap dengan Pakcik Muhammad secara empat mata.

“Engkau tahu aku pergi ke mana tadi?” kata Syeikh Said.

“Saya tidak tahu,” jawab Pakcik Muhammad dengan beradab.

“Aku pergi bersidang di Bukit Qhauf. Aku dan Habib Nuh sahaja yang mewakili umat sebelah sini. Rasulullah SAW juga hadir, dan engkau jangan cerita berita ini kepada sesiapa sebelum aku mati.”

Pakcik Muhammad Abu Bakar menyimpan amanat ini sehingga beliau memberitahu penulis sewaktu di temui di rumahnya di Seremban pada tahun 1991. Syeikh Said Linggi meninggal dunia pada tahun 1926. Menurut Pakcik Muhammad, Bukit Qhauf itu duduknya di luar daripada alam Syahadah. Wallahua’lam.

“Walaupun persidangan itu dihadiri oleh Rasulullah SAW tetapi ia dipengerusikan oleh orang lain, tak tahulah siapa orang istimewa itu,” tambah Pakcik Muhammad. “Bila ditanya siapa orang yang mempengerusikan majlis itu, Syeikh Said tidak memberitahu.”

Syeikh Said jua memberitahu bahawa majlis yang dihadiri oleh beliau dan Habib Nuh ialah persidangan wali2 yang membincangkan antara lain tentang satu wabak yang akan turun, yakni wabak cacar. Dan para wali yang bersidang itu mohon bala itu supaya tidak turun. Alhamdulillah, makbul. Tetapi menurut Pakcik Muhammad, “tempiasnya” masih mengenai orang ramai sehingga ramai yang mati terutamanya orang2 kafir. [Wabak cacar pada masa itu merupakan penyakit yang sangat bahaya dan belum ditemui ubatnya].

“Saya tiga hari pengsan dan bahu saya masih berparut diserang wabak cacar itu. itupun Syeikh Said yang mengubatnya,” kata Pakcik Muhammad sambil menunjuk parut cacar di atas bahunya.

Cerita ini menggambarkan peranan tersembunyi As Sayid Habib Nuh sebagai “pencatur dunia” yang mana kenyataan ini sukar diterima oleh mereka yang hanya menggunakan akal menilai sesuatu kebenaran.

2. Menunduk Gabenor Yang Angkuh. [7]

As Sayid Habib Nuh dikurniai Allah berbagai2 karamah sebagai tanda kemuliaan pada dirinya. Pelbagai cerita mengenai kewalian dan karamah beliau dibawa dari mulut ke mulut sehinggalah kepada Sayid Hassan Al Khattib, penjaga makam Habib Nuh r.h. Di antaranya adalah seperti berikut :

As Sayid Habib Nuh bersikap tidak menghormati orang2 yang angkuh dengan kekayaan atau jawatan duniawi. Begitulah, walaupun orang menghormatinya atau takut kepada Crawford, Gabenor Singapura ketika itu tetapi Habib Nuh tidak takut kepada wakil penjajah itu.

Dalam satu peristiwa, Gabenor Crawford marah dan menghina Habib Nuh kerana beliau tidak menghormatinya. Tiba2 sahaja kereta kuda yang dinaiki gabenor itu terlekat di bumi dan tidak dapat bergerak. Gabenor naik marah dan bertanyakan hal itu kepada pengiringnya. Tetapi pengiring itu bertanya kepada tuan gabenornya, “Tahukah tuan siapakah orang yang tuan marah dan hina itu?”

Gabenor menjawab, “Itu orang gila.”

“Sebenarnya dia bukan gila tetapi dia orang baik dan ada karamah. Lihat, bila tuan marah kepada dia, dia sumpah dan sekarang kereta tuan tidak dapat bergerak,” jelas pengiringnya.

Gabenor menjadi takut dan akhirnya meminta maaf dengan Habib Nuh. Setelah Habib Nuh menepuk2 kaki kuda itu, barulah kuda itu berjalan pantas seperti biasa. Sejak itu gabenor sedar betapa As Sayid Habib Nuh mempunyai kelebihan luar biasa.

Bagaimanapun, pada satu ketika gabenor terus bersikap bongkak dan sombong dan memerintahkan orang-orangnya menangkap Habib Nuh dan mengurung di dalam penjara dengan kaki dan tangannya dirantai. Tindakan keras ini diambil kerana As Sayid Habib Nuh tetap enggan menghormati wakil penjajah yang beragama Kristian itu. Anehnya, para pengawal penjara kemudian melihat Habib Nuh di luar penjara. tangan dan kakinya tidak dirantai. Walaupun ditangkap semula, dia tetap dapat keluar dan kelihatan seolah-olah tidak ada apa-apa yang berlaku padanya akhirnya beliau dibebaskan sepenuhnya.

3. Kapal Pelayaran, Terbakar Dan Karam. [8]

Dalam satu peristiwa lain, ketika sebuah kapal hendak berlayar, muncul Habib Nuh di perlabuhan. Habib Nuh menahan barang-barang yang berharga daripada dibawa bersama dalam pelayaran itu. Orang-orang yang terlibat tidak senang dengan sikap beliau itu tetapi beliau tetap bertegas;

“Tidak boleh barang-barang yang berharga itu dibawa.”

Setelah lama berbalah, akhirnya orang ramai terpaksa akur dengan kemahuan Habib Nuh itu dan pemilik barang-barang tersebut tidak jadi mengirim barangnya dengan kapal itu.

Beberapa hari kemudian, penduduk Singapura mendapat berita bahawa kapal yang berlayar itu terbakar dan tenggelam di tengah lautan. Barulah tuan punya barang-barang tersebut sedar hikmah divsebalik larangan Habib Nuh itu. Beliau bersyukur yang tidak terhingga kepada Allah SWT.

4. Habib Nuh Meminta Untuk Melaksanakan Nazar dan Niat.

Dalam satu peristiwa lain, ada seorang saudagar ingin meneruskan pelayarannya ke Singapura. Dalam pelayaran, kapalnya telah dipukul ribut kencang. Dalam suasana cemas tersebut, saudagar itu berdoa kepada Allah agar diselamatkan kapalnya dari ribut tersebut dan dia bernazar jika sekiranya dia selamat sampai ke Singapura dia akan menghadiahkan kain kepada Habib Nuh. Setelah sepuluh tahun berlalu, dia pun pulang dari pelayaran itu. Habib Nuh pergi menemuinya dan menuntut kain seperti yang diniatkannya itu. Orang itu terperanjat kerana dia tidak pernah menyatakan niatnya itu kepada sesiapa dan dia sendiri sudah lupa dengan niatnya itu kerana terlalu lama, tetapi Habib Nuh datang mengingatkannya akan niat baiknya itu. [9]

Habib Nuh juga dikenali mempunyai kelebihan untuk tahu masa depan. Beliau seolah-olah tahu jika seseorang itu sakit, memerlukan beliau atau memaksudkan beliau. Pada satu masa, seorang India Muslim balik ke India mengikut jalan laut untuk melawat keluarganya. Dia telah berniat bahawa jika dia kembali ke Singapura dengan selamat, dia akan menghadiahkan kepada Habib Nuh satu hadiah. Bila dia pulang, dia terkejut bila melihat Habib Nuh sudah sedia menunggunya di tepi laut.

Habib Nuh kata kepadanya “Saya percaya bahawa awak sudah berjanji untuk memberikan sesuatu kepada saya.” Terkejut, India Muslim itu berkata, “Katakan kepada saya wahai tuan yang bijaksana, apakah yang tuan hajati dan saya akan dengan senang hati menghadiahkan kepada tuan.”

Habib Nuh menjawab, “Saya mahukan beberapa gulung kain kuning untuk disedekahkan kepada orang miskin, yang memerlukannya dan kanak-kanak.” Sambil memeluk Habib Nuh, India Muslim itu berkata, “Demi Allah, saya amat gembira untuk menghadiahkan kepada seorang lelaki yang dirahmati Allah kerana baik budinya terhadap umat manusia. Berilah pada saya tiga hari untuk menghadiahkannya kepada tuan.”

Dia telah menunaikan janjinya dalam masa yang dijanjikan. [10]

5. Bertemu Di Kota Mekah. [11]

Beliau dikurniakan oleh Allah swt kebolehan untuk ghaib, dan dilihat kembali di tempat-tempat yang jauh. Ada yang memberitakan bahawa beliau telah dilihat sedang solat di Masjid Besar Makkah tanpa secara fizikalnya pergi ke sana. Pada satu masa, beliau pernah berkata kepada bakal haji bahawa mereka akan berjumpa di Makkah. Bila jemaah itu sampai di sana, dia telah disambut oleh Habib Nuh sendiri. Menurut orang-orang yang hidup sezaman dengan Habib Nuh, mereka pernah bertemu atau berada dengannya di beberapa tempat dalam satu masa yang sama. Kejadian seperti ini tidak pelik bagi wali-wali Allah.

6. Tabib Yang Berkat Dan Hebat. [12]

Habib Nuh juga terkenal sebagai tabib yang hebat, terutamanya ke atas kanak-kanak yang memang disukainya. Pernah beliau menyembuhkan seorang kanak-kanak yang cedera di kakinya dengan hanya meletakkan tangan-tangan beliau di atas luka itu dan membaca doa. Dalam masa yang singkat, kanak-kanak itu sudah boleh berlari semula seolah-olah tiada apa-apa yang berlaku ke atasnya. Bapa kepada kanak-kanak itu amat gembira, dia telah memberikan wang kepada Habib Nuh, tapi Habib Nuh memberikan wang itu kepada yang memerlukan.

Habib Nuh sanggup mengharungi ribut untuk pergi mengubati kanak-kanak yang sakit. Beliau pernah berjalan ke Paya Lebar dari rumah beliau di Telok Blangah ketika hujan lebat untuk mengubati seorang kanak-kanak. Bila beliau sampai di rumah kanak-kanak itu, ibubapa kanak-kanak itu terkejut melihat pakaian Habib Nuh langsung tidak basah.

7. Air Bertukar Menjadi Susu. [13]

Dalam satu insiden lain, Habib Nuh telah dikejutkan oleh tangisan berterusan anak jirannya. Bila beliau pergi ke sana, beliau dapati bahawa keluarga itu amat miskin dan tidak mampu membeli makanan untuk anak yang kelaparan itu. Beliau mengalirkan airmata bila mendengar cerita itu, lantas mengambil satu tempurung kelapa,menuangkan air ke dalamnya dan membaca doa. Dengan kehendak Allah, air itu bertukar menjadi susu untuk diminum oleh kanak-kanak tersebut.

8. Mimpi Kiyai Agung Muhammad bin ‘Abdullah As-Suhaimi BaSyaiban[14]

Dikisahkan bahawa Kiyai Agung Muhammad bin ‘Abdullah as-Suhaimi BaSyaiban memang selalu mengamalkan bacaan mawlid junjungan nabi s.a.w., tetapi kadangkala beliau meninggalkannya. Pada satu malam, beliau bermimpi dan di dalam mimpi tersebut beliau bertemu dengan junjungan nabi Muhammad s.a.w. dan Habib Nuh yang ketika itu sudah pun kembali ke rahmatullah. Dalam mimpi tersebut, Habib Nuh sedang mengiringi baginda nabi s.a.w. yang sedang berjalan di hadapan rumah Kiyai Agung, lalu Habib Nuh pun berkata kepada baginda nabi s.a.w.: “Ya RasulAllah, marilah kita ziarahi rumah kawan saya Muhammad Suhaimi.” Tetapi junjungan nabi s.a.w. enggan berbuat demikian sambil bersabda: “Saya tidak mahu menziarahinya kerana Muhammad Suhaimi ini selalu lupakan saya, kerana dia selalu meninggalkan bacaan maulid saya.” Habib Nuh merayu kepada baginda nabi s.a.w.: “Saya bermohonlah kepada tuan supaya dia diampuni.” Setelah itu baharulah junjungan nabi s.a.w. mahu masuk dan duduk di dalam rumah Kiyai Agung. Inilah kisah mimpi Kiyai Agung, selepas isyarat mimpi itu, maka Kiyai Agung tidak lagi meninggalkan bacaan mawlid, sehingga dalam pelayaran sekalipun dan walaupun hanya 2 atau 3 orang sahaja dalam majlis pembacaan tersebut.

9. Keberkatan Menyayangi Kanak-kanak[15]

Antara sifat yang menonjol pada diri As Sayid Habib Nuh ialah beliau sangat menyayangi kanak-kanak . Sering orang bertemu Habib Nuh bersama dikelilingi oleh kanak-kanak. Ini sesuatu yang ganjil. Kadang-kadang beliau singgah di kedai-kedai bersama kumpulan kanak-kanak dan kanak-kanak itu mengambil seberapa banyak makanan yang ada tanpa apa-apa bayaran.

Anehnya, ke semua tuan kedai tidak melarang perbuatan itu. Kerana mereka yakin kedai mereka akan beroleh keberkatan jika dikunjungi oleh Habib Nuh bersama kumpulan kanak-kanak tersebut. Ini terbukti, mana-mana kedai orang Islam yang didatangi oleh Habib Nuh bersama kanak-kanak, kemudiannya menjadi maju dan tidak putus-putus dikunjungi pelanggan.

Sayid Habib Nuh sayang kepada kanak-kanak kerana mereka adalah Ahlul Jannah (ahli Syurga). Kelakuan Sayid Habib Nuh itu agak ganjil bagi seorang yang sudah tua. Memang itu di antara keganjilan Habib Nuh, seorang yang mempunyai keistimewaan yang terlindung.

10. Tebuan Menghormati Jenazah Beliau[16]

Diceritakan ketika keranda jenazah beliau diusung untuk ke makam pusaranya, mereka yang mengusungnya terpaksa membawa keranda tersebut melalui ke satu lorong kecil. Di mana kiri dan kanan sepanjang perjalanan di lorong kecil tersebut kedapatan penuh dengan pokok buluh Cina serta dedaunnya yang panjang. Semasa melalui lorong itu, keranda tersebut merempuh sarang tebuan sehingga sarang itu pecah. Tetapi tebuan-tebuan itu tidak sedikit pun menganggu orang ramai yang mengiringi jenazah itu.

11. Pusara Terselamat Dari Letupan Bom dan Pemugaran.

Karamah beliau tidak habis di situ saja. Semasa Perang dunia kedua, bila Telok Blangah dibom dengan hebatnya oleh Jepun, tidak ada satu bom pun singgah di pusara Habib Nuh. Dan bila kerajaan Singapura mahu membina satu jalanraya di Tanjung Pagar, jambatan telah direka bentuk untuk membengkok melengkarinya, tingginya hampir sama dengan kedudukan

Makam Habib Nuh. [17]

Dikatakan, menurut rancangan pemerintah, makam Habib Nuh dan Masjid Haji Mohd Salleh perlu dipindahkan demi membolehkan pembinaan Highway dibina lurus. Dengan membelakangkan rayuan daripada jawatankuasa makam dan masjid, kontraktor pembangunan telah menempatkan beberapa jentolak untuk memulakan pemugaran. Dengan kuasa Allah swt, semua jentolak tidak dapat dihidupkan. Akhirnya, lebuh raya terpaksa dibina membelok di antara sekitar makam dan masjid. [18]

Banyak lagi kejadian aneh yang dihubungkan kepada karamah Habib Nuh ini. Walau apa pun khawariqul adah (perkara di luar adat) yang berlaku pada dirinya, maka itu bukanlah tuntutan kita. Yang pasti, sejarah telah menyaksikan bahawa Habib Nuh al-Habsyi adalah seorang wali Allah yang soleh taat kepada ajaran Islam. Lihat, bukan sahaja jelas karamahnya sewaktu hayat beliau masih hidup, bahkan setelah kewafatan beliau juga masih terpelihara kemuliaanya. Apa yang diharapkan adalah agar kita dapat mengikuti jejak langkah beliau dalam menuruti perjalanan usaha junjungan nabi Muhammad s.a.w. Mahabbah kepada para solihin adalah dituntut dan seseorang itu nanti akan berada bersama orang yang dikasihinya di akhirat kelak.

Nasihat dan Wasiat

Beberapa hari sebelum beliau meninggal dunia, beliau telah memberikan banyak nasihat kepada kawan-kawan setianya. Antara mutiara kata beliau ialah “Jangan jadi tamak terhadap harta dunia dan jangan punya perasaan hasad-dengki (dan sebarang perasaan
negatif) terhadap sesiapa sepanjang hidup anda.”

Sebelum meninggal, Habib Nuh telah berpesan kepada kawan-kawannya agar jenazah beliau dikebumikan di Mount Palmer sebuah (bukit kecil di jalan Palmer), yang merupakan tanah perkuburan kecil pada masa itu. Walau bagaimana pun pada hari beliau
meninggal, setiap orang telah lupa mengenai pesanan itu dan mereka semua bersedia untuk menuju ke tanah perkuburan Bidadari Muslim. Bila sampai masanya untuk mengangkat keranda, ia tidak berganjak dari atas tanah. Tidak ada seorang pun terdaya mengangkatnya. Persekitaran menjadi kelam kabut, dan hampir setiap orang menangis melihat keranda itu tidak berganjak walaupun cuba diangkat oleh lelaki-lelaki yang gagah.

Nasib baik, seorang daripada yang hadir akhirnya teringat akan pesan Habib Nuh tersebut dan lantas tampil menceritakan hal yang sebenarnya kepada setiap orang yang hadir.

Setiap orang menyedari bahawa mereka telah lupa tentang pesanan tersebut, lalu bersepakat memutuskan untuk bergerak menuju ke Mount Palmer. Dengan kehendak Allah, keranda itu boleh diangkat dengan mudah dan laungan Allahu Akbar bergema mengiringi perjalanan mereka. Dengan izin Allah swt, jenazah Habib Nuh telah selamat dikebumikan di Mount Palmer. [19]

Kewafatan

Setelah 78 tahun mengabdikan diri beliau kepada Islam, Habib Nuh telah pulang ke rahmatullah pada hari Jumaat, 27 Julai 1866 bersamaan dengan 14 Rabiul Awal 1283. Habib Nuh menghembuskan nafasnya yang terakhir di Telok Blangah, di kediaman Temenggong Abu Bakar, Johor. Apabila berita itu tersebar, ramai orang daripada pelbagai peringkat, termasuk orang-orang Inggeris yang telah memeluk Islam melalui beliau, dan mereka yang berada di kepulauan-kepulauan berhampiran telah datang untuk menziarahi pusaranya. Pada hari yang sama, semua kereta kuda yang ada di Singapura memberhentikan aktiviti harian mereka kerana ingin membawa pengunjung ke makamnya dengan tanpa bayaran. [20]

Di belakang makam Habib Nuh, terdapat sebuah makam yang dipercayai adalah makam Qadhi pertama di Singapura pada era pemerintahan British. Beliau dikatakan anak saudara kepada Habib Nuh dari kaum kerabat Alhabsyi, namanya Said Abdul Rahman Bin Salim Al-Habsyi r.a yang wafat pada tahun 1867.

Beberapa tahun selepas jenazah Habib Nuh dikebumikan pada tahun 1890, seorang hartawan bernama Sayid Muhammad bin Ahmad Al Sagof telah membuat binaan di atas makam Habib Nuh tersebut. Beberapa tahun lalu makam itu dibaik pulih kerana binaan lama sudah hampir roboh.

Pada tahun 1962, kerajaan Singapura menambak laut di sekitar makam itu sehingga menjadi dataran. Dan di situ juga didirikan bangunan-bangunan. Keadaan tempat itu sekarang jauh berbeza dengan apa yang digambarkan akan berlaku sebelum adanya makam Habib Nuh di situ. Dengan itu makam Sayid Habib Nuh terus selamat dan terjaga.

Makam Habib Nuh yang terletak di atas sebuah bukit kecil di Jalan Palmer bersebelahan dengan Masjid Haji Mohd Salleh, kini ianya telah diambil alih sepenuhnya oleh pihak Majlis Ugama Islam Singapura untuk segala urusan yang berkaitan dengan makam.

Makam beliau tetap terpelihara sehingga ke hari ini dan menjadi kebiasaan, makam Habib Nuh sering diziarahi oleh orang ramai termasuk orang-orang Arab dari Hadralmaut dan negara-negara Arab lain serta umat Islam di sekitar Asia untuk mendapat keberkatan daripada kewaliannya. Juga sebagai memenuhi seruan Rasulullah s.a.w. supaya menziarahi kubur agar dapat mengingati mati (zikrul maut). [21]

Semoga Allah merahmati roh beliau.

~Al-Fatihah~

Bibiliografi
____________________________________

[1] Riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

[2] Sahih Ibnu Hibban.

[3] Menziarahi Kekasih Allah di Hadhramaut, Yaman, Ahmad Lutfi bin Abdul Wahab Al- Linggi, M/S : 8-9.

[4] Menziarahi Kekasih Allah di Hadhramaut, Yaman, M/S : 18.

[5] www. suhaimy.org/Habib Noh Ulama yang boleh ghaib.

[6] Heliconia Weblog@Malaysia.htm/As Sayid Habib Nuh – Rahmat ke atas Singapura.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid dan http://www.bahrusshofa.blogspot.com : Habib Nuh al-Habsyi.

[10] http://www.bahrusshofa.blogspot.com : Habib Nuh al-Habsyi.

[11] www. suhaimy.org/Habib Noh Ulama yang boleh ghaib.

[12] Ibid.

[13] Iibid.

[14] http://www.bahrusshofa.blogspot.com : Habib Nuh al-Habsyi.

[15] Heliconia Weblog@Malaysia.htm/As Sayid Habib Nuh – Rahmat ke atas Singapura.

[16] Ibid.

[17] www. suhaimy.org/Habib Noh Ulama yang boleh ghaib.

[18] http://www.ForumMelayu@melayu.sg/ Topic: SEJARAH : Habib Noh: The Saint of Singapore

[19] Opcit.

[20] www. suhaimy.org/Habib Noh Ulama yang boleh ghaib

[21] Heliconia Weblog@Malaysia.htm/As Sayid Habib Nuh – Rahmat ke atas Singapura

Sertailah Facebook kami : http://facebook.com/pages/PONDOK-HABIB/295419981998

Kalau Perbuatan Itu Baik, Niscaya Rasulullah saw Mencontohkan Lebih Dulu
Kalau Perbuatan Itu Baik, Niscaya Rasulullah saw Mencontohkan Lebih Dulu

Ada sekelompok golongan yg suka membid’ah-bid’ahkan (sesat) berbagai kegiatan yang baik di masyarakat, seperti peringatan maulid, isra’ mi’raj, yasinan mingguan, tahlilan dll. Kadang mereka berdalil dengan dalih,

Agama ini telah sempurna. Jika perbuatan itu baik, niscaya Rasulullah saw telah mencontohkan lebih dulu.

Atau mengatakan,

Itu bid’ah , karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Atau,

jikalau hal tersebut dibenarkan, maka pasti Rasulullah saw memerintahkannya. Apa kamu merasa lebih pandai dari Rasulullah?

Mem-vonis bid’ah sesat suatu amal perbuatan (baru) dengan argumen di atas adalah lemah sekali.Ini kerana alasan itu sebenarnya adalah perkataan yang keluar dari perasaan ego takabbur dan sombong orang kafir, sebab kalau diperhatikan perkataan itu sebenarnya telah diucapkan oleh orang -orang kafir yang bersikap membangga diri dan merasakan kebaikan (Islam )itu adalah mikiknya sahaja seperti firmanNya bermaksud ” dan berkatalah orang kafir itu (dengan bongkaknya ) kalaulah (beriman dengan Quran itu)suatu kebaikan tentulah mereka (umat Islam )tidak akan dapat mendahului kita kepadanya” al Jathiah ayat 14 malah ada berbagai amal baik yang Baginda Rasul saw tidak mencontohkan ataupun memerintahkannya. Teriwayatkan dalam berbagai hadits dan dalam fakta sejarah.

1. Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata kepada Bilal ketika shalat fajar (shubuh),

“Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan apa yang paling engkau harap pahalanya yang pernah engkau amalkan dalam masa Islam, sebab aku mendengar suara terompamu di surga. Bilal berkata, “Aku tidak mengamalkan amalan yang paling aku harapkan lebih dari setiap kali aku berssuci, baik di malam maupun siang hari kecuali aku shalat untuk bersuciku itu”.

Dalam riwayat at Turmudzi yang ia shahihkan, Nabi saw. berkata kepada Bilal,

‘Dengan apa engkau mendahuluiku masuk surga? ” Bilal berkata, “Aku tidak mengumandangkan adzan melainkan aku shalat dua rakaat, dan aku tidak berhadats melaikan aku bersuci dan aku mewajibkan atas diriku untuk shalat (sunnah).” Maka Nabi saw. bersabda “dengan keduanya ini (engkau mendahuluiku masuk surga).

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia berkata, “Hadis shahih berdasarkan syarat keduanya (Bukhari & Muslim).” Dan adz Dzahabi mengakuinya.

Hadis di atas menerangkan secara mutlak bahwa sahabat ini (Bilal) melakukan sesuatu dengan maksud ibadah yang sebelumnya tidak pernah dilakukan atau ada perintah dari Nabi saw.

2. Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan para muhaddis lain pada kitab Shalat, bab Rabbanâ laka al Hamdu,

dari riwayat Rifa’ah ibn Râfi’, ia berkata, “Kami shalat di belakang Nabi saw., maka ketika beliau mengangkat kepala beliau dari ruku’ beliau membaca, sami’allahu liman hamidah (Allah maha mendengar orang yang memnuji-Nya), lalu ada seorang di belakang beliau membaca, “Rabbanâ laka al hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fîhi (Tuhan kami, hanya untuk-Mu segala pujian dengan pujian yang banyak yang indah serta diberkahi).

Setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah orang yang membaca kalimat-kalimat tadi?” Ia berkata, “Aku.” Nabi bersabda, “Aku menyaksikan tiga puluh lebih malaikat berebut mencatat pahala bacaaan itu.”

Ibnu Hajar berkomentar, “Hadis itu dijadikan hujjah/dalil dibolehannya berkreasi dalam dzikir dalam shalat selain apa yang diajarkan (khusus oleh Nabi saw.) jika ia tidak bertentang dengan yang diajarkan. Kedua dibolehkannya mengeraskan suara dalam berdzikir selama tidak menggangu.”

3. Imam Muslim dan Abdur Razzaq ash Shan’ani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata,

Ada seorang lali-laki datang sementara orang-orang sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaf, ia berkata:
اللهُ أكبرُ كبيرًا، و الحمدُ للهِ كثيرًا و سبحانَ اللهِ بكْرَةً و أصِيْلاً.

Setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?

Orang itu berkata, “Aku wahai Rasulullah saw., aku tidak mengucapkannya melainkan menginginkan kebaikan.”

Rasulullah saw. bersabda, “Aku benar-benar menyaksikan pintu-pintu langit terbuka untuk menyambutnya.”

Ibnu Umar berkata, “Semenjak aku mendengarnya, aku tidak pernah meninggalkannya.”

Dalam riwayat an Nasa’i dalam bab ucapan pembuka shalat, hanya saja redaksi yang ia riwayatkan: “Kalimat-kalimat itu direbut oleh dua belas malaikat.”

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Aku tidak pernah meningglakannya semenjak aku mendengar Rasulullah saw. bersabda demikian.”

Di sini diterangkan secara jelas bahwa seorang sahabat menambahkan kalimat dzikir dalam i’tidâl dan dalam pembukaan shalat yang tidak/ belum pernah dicontohkan atau diperintahkan oleh Rasulullah saw. Dan reaksi Rasul saw pun membenarkannya dengan pembenaran dan kerelaan yang luar biasa.

Al hasil, Rasulullah saw telah men-taqrîr-kan (membenarkan) sikap sahabat yang menambah bacaan dzikir dalam shalat yang tidak pernah beliau ajarkan.

4. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, pada bab menggabungkan antara dua surah dalam satu raka’at dari Anas, ia berkata,

“Ada seorang dari suku Anshar memimpin shalat di masjid Quba’, setiap kali ia shalat mengawali bacaannya dengan membaca surah Qul Huwa Allahu Ahad sampai selesai kemudian membaca surah lain bersamanya. Demikian pada setiap raka’atnya ia berbuat. Teman-temannya menegurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau pilih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.” Ia menjawab, “Aku tidak akan meninggalkan apa yang biasa aku kerjakan. Kalau kalian tidak keberatan aku mau mengimami kalian, kalau tidak carilah orang lain untuk menjadi imam.” Sementara mereka meyakini bahwa orang ini paling layak menjadi imam shalat, akan tetapi mereka keberatan dengan apa yang dilakukan.

Ketika mereka mendatangi Nabi saw. mereka melaporkannya. Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada setiap raka’at? Ia menjawab, “Aku mencintainya.”

Maka Nabi saw. bersabda, “Kecintaanmu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.”

Demikianlah sunnah dan jalan Nabi saw. dalam menyikapi kebaikan dan amal keta’atan walaupun tidak diajarkan secara khusus oleh beliau, akan tetapi selama amalan itu sejalan dengan ajaran kebaikan umum yang beliau bawa maka beliau selalu merestuinya. Jawaban orang tersebut membuktikan motifasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik kendati tidak ada perintah khusus dalam masalah itu, akan tetapi ia menyimpulkannya dari dalil umum dianjurkannya berbanyak-banyak berbuat kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan khusus dalam syari’at Islam.

Kendati demikian, tidak seorangpun dari ulama Islam yang mengatakan bahwa mengawali bacaan dalam shalat dengan surah al Ikhlash kemudian membaca surah lain adalah sunnah yang tetap! Sebab apa yang kontinyu diklakukan Nabi saw. adalah yang seharusnya dipelihara, akan tetapi ia memberikan kaidah umum dan bukti nyata bahwa praktik-prakti seperti itu dalam ragamnya yang bermacam-macam walaupun seakan secara lahiriyah berbeda dengan yang dilakukan Nabi saw. tidak berarti ia bid’ah (sesat).

5. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab at Tauhid,

dari Ummul Mukminin Aisyah ra. bahwa Nabi sa. Mengutus seorang memimpin sebuah pasukan, selama perjalanan orang itu apabila memimpin shalat membaca surah tertentu kemudian ia menutupnya dengn surah al Ikhlash (Qulhu). Ketika pulang, mereka melaporkannya kepada nabi saw., maka beliau bersabda, “Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukannya?” Ketika mereka bertanya kepadanya, ia menjawab “Sebab surah itu (memuat) sifat ar Rahman (Allah), dan aku suka membacanya.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (Hadis Muttafaqun Alaihi).

Apa yang dilakukan si sahabat itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw., namun kendati demikian beliau membolehkannya dan mendukung pelakuknya dengan mengatakan bahwa Allah mencintainya.

Setelah baginda Nabi saw wafat pun amal-amal perbuatan baik yang baru tetap dilakukan. Umat islam mengakuinya berdasar dalil-dalil yang shahih. Simak berbagai contoh berikut,

1. Pembukuan al Qur’an. Sejarah pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an. Bagaimana sejarah penulisan ayat-ayat al Qur’an. Hal ini terjadi sejak era sahabat Abubakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit ra. Kemudian oleh sahabat Ustman bin ‘Affan ra. Jauh setelah itu kemudian penomoran ayat/ surat, harakat tanda baca, dll.

2. Sholat tarawih seperti saat ini. Khalifah Umar bin Khattab ra yang mengumpulkan kaum muslimin dalam shalat tarawih berma’mum pada seorang imam. Pada perjalanan berikutnya dapat ditelusuri perkembangan sholat tarawih di masjid Nabawi dari masa ke masa.

3. Modifikasi yang dilakukan oleh sahabat Usman Bin Affan ra dalam pelaksanaan sholat Jum’at. Beliau memberi tambahan adzan sebelum khotbah Jum’at.

4. Pembukuan hadits. Bagaimana sejarah pengumpulan dari hadits satu ke hadits lainnya. Bahkan Rasul saw pernah melarang menuliskan hadits2 beliau karena takut bercampur dengan Al Qur’an. Penulisan hadits baru digalakkan sejak era Umar ibn Abdul Aziz, sekitar tahun 100 H.

5. Penulisan sirah Nabawi. Penulisan berbagai kitab nahwu saraf, tata bahasa Arab, dll. Penulisan kitab Maulid. Kitab dzikir, dll

6. Saat ini melaksanakan ibadah haji sudah tidak sama dengan zaman Rasul saw atau para sahabat dan tabi’in. Jamaah haji tidur di hotel berbintang penuh fasilitas kemewahan, tenda juga diberi fasiltas pendingin untuk yang haji plus, memakai mobil saat menuju ke Arafah, atau kembali ke Mina dari Arafah dan lainnya.

Masih banyak contoh-contoh lain.Ini kerana sahabat amat faham dengan panduan agama yang terkandung dalam firmanNya bermaksud “apa yang dibawa oleh Rasulullah itu ambil dan amalkan dan apa yang dilarangnya maka jauhi dan tinggalkanlah al Hasyr ayat 7
jadi perkara yang tidak dilarangnya dan tidak dibawanya malah didiamkan bukan kerana lupa itulah kema’afan dan kelunggaran serta rahmat Allah untuk hambaNya sesuai dengan hadis Rasulullah yang di bawa oleh Imam kita Nawawi ra. dalam kitab arba’innya
Wallahu a’lam.

Posted by: Habib Ahmad | 30 November 2009

Beramal dengan amalan yang tidak di lakukan oleh Rasulullah saw

Posted by: Habib Ahmad | 30 November 2009

DZIKIR JAHAR

DZIKIR JAHAR
DZIKIR JAHAR

Menurut Nash dan Qaul Ulama

Berdzikir dengan metode jahar memiliki sandaran kuat dari Al Quran dan Hadits. Di
antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

ْمُكِبْوُنُج َىلَعّو اًدْوُعُقّو اًماَيِق َلا اوُرُكْذاَف َةَلّصلا ُمُتْيَضَق اَذِإَف

“Maka jika engkau telah menunaikan shalat, berdzikirlah kepada Allah dengan keadaan
berdiri, duduk dan berbaring”. (an-Nisaa’: 103)

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim:

َىلَع َناَك ِةَبْوُتْكَمْلا َنِم ُساّنلا ُفِرَصْنَي َنْيِح ِرْكّذلاِب ِتْوّصلا َعْفَر ّنَأ هَرَبْخََأ ٍساّبَع ِنْبا ِنَع
ُهُتْعِمـَس اَذِإ َكِلاَذِب اْوُفَرَصْنا اَذَإ ُمَلْعَأ ُتْنُك ٍساّبَع ُنْبا َلاَق َلاَق ُهّنأ م.ص ّيِبّنلا ِدْهَع

Dari Ibnu ’Abbas Ra. berkata: “bahwasanya dzikir dengan suara keras setelah selesai
shalat wajib adalah biasa pada masa Rasulullah SAW”. Kata Ibnu ’Abbas, “Aku segera
tahu bahwa mereka telah selesai shalat, kalau suara mereka membaca dzikir telah
kedengaran”.[Lihat Shahih Muslim I, Bab Shalat. Hal senada juga diungkapkan oleh al Bukhari
(lihat: Shahih al Bukhari hal: 109, Juz I)]

ْيِدْبَع ّنَظ َدْنِع انَأ :َلاَعَت ُلا ُلْوُقَي :م.ص ِلا ُلْوُسَر َلاَق :َلاَق ض.ر َةَرْيَرُه ْيِبَأ ِنْبا ْنَع
ُهُتْرَكَذ ٍإَلَم ْيِف ْيِنَرَكَذ ْنِإَو ْيِسْفَن ْيِف ُهُتْرَكَذ ِهِسْفَن ْيِف ْيِنَرَكَذ ْنِإَف ,ْيِنَرَكَذ اَذِإ ُهَعَم انَأَو ,ْيِب
{يراخبلا هاور} ْمُهْنّم ٌرْيَخ ٍإَلَم ْيِف

“Dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman: ‘Aku
bergantung kepada prasangka hambaKu kepada-Ku, dan Aku menyertainya ketika mereka
berdzikir. Apabila mereka menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku sebut dirinya di
dalam diri-Ku. Apabila mereka menyebut-Ku di tempat yang ramai, maka Aku sebut
mereka di tempat yang lebih ramai dari itu”.

As-Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani Rhm. mengatakan bahwa hadits ini
menunjukkan bahwa menyebut di tempat keramaian itu (fil-Mala-i) tidak lain adalah
berdzikir jahar (dengan suara keras), agar seluruh orang-orang yang ada di sekitarnya
mendengar apa yang mereka sebutkan (dari dzikirnya itu). [Abwabul Faraj, Pen. Al
Haramain, tth., hal. 366]

Habib Ali bin Hasan al Aththas dalam Kitabnya Al Qirthas juga mengungkapkan hadits di
atas untuk mendukung dalil dzikir dengan jahar. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa
tanda syukur adalah memperjelas sesuatu dan tanda kufur adalah menyembunyikannya.
Dan itulah yang dimaksud dengan ‘dzikrullah’ dengan mengeraskan suaranya dan
menyebarluaskannya. [Terj. Al-Qirthas, Darul Ulum Press, 2003, hal. 190]

ىِف ٍلُجَرِب ّرَمَف ًةَلْيَل م.ص ّيِبّنلا َعَم ُتْقَلَطْنِا : ِعَرْدَلْا ُنْبا َلاَق :َلاَق ض.ر َمَلْسَأ ِنْب ِدْيَز ْنَع
(ٌهاَوَأ هّنِكلَو َل) :َلاَق ؟اّيِئاَرُم اَذه َنْوُكّي ْنَأ ىسَع ِلا َلْوُسَر اَي :ُتْلُق ,هَتْوَص ُعَفْرَي ِدِجْسَمْلا {يقهيبلا هاور}

“Dari Zaid bin Aslam Ra. bahwasanya Ibnu Adra’ berkata: Saya telah berjalan bersama
Nabi SAW di suatu malam, maka Beliau melewati seorang laki-laki yang sedang berdzikir
dengan mengangkat suara (suara yang keras) di dalam masjid. Aku bertanya kepada beliau
SAW: ‘Wahai Rasulullah, barangkali orang ini (yang sedang berdzikir dengan suara keras)
itu sedang pamer?’ Beliau bersabda: ‘Tidak, akan tetapi ia sedang merintih (mengeluh)‘.
Para pendidik ruhani masa lalu menyatakan dengan berbagai landasan eksperimennya
bahwa “Orang-orang yang mubtadi (pemula) dan bagi orang-orang yang menuntut
terbukanya pintu hati adalah wajib berjahar dalam dzikirnya”. Syaikh Abdul Wahhab asy
Sya’rani Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Sesungguhnya sebagian besar Ulama Ahli
Tasawuf telah mufakat bahwasanya wajib atas murid itu berdzikir dengan jahar, yakni
dengan menyaringkan akan suaranya dan didalamkannya. Dan berdzikir dengan sirri dan
perlahan-lahan itu tidak akan memberi faidah kepadanya untuk menaikkan kepada
martabat yang tinggi” [Lihat Siyarus Salikin, Abdush Shomad Palembani, III: 191]
Habib Abdullah bin Alwi al Haddad Rhm. mengungkapkan dalam dalam suatu kitabnya:

ْيِفْكَي اَم ِقْزّرلا ُرْيَخَو ّيِفَخْلا ِرْكِّذلا ُرْيَخ ُمَلّسلاَو ُةَلّصلا ِهْيَلَع َلاَق َعَم ِرْكّذلاِب َتْرَهَج ْنِإَو ,
هُتَلَص ِهْيَلَع ْطّلَخُت ُثْيَحِب ٍئِراَق َلَو ّلَصُم ىلَع َكِلذ ِبَبَسِب ْشّوَشُت ْمَلَو ِهْيِف ِل ِصَلْخِلْا
.ٍةَعاَمَج َعَم َكِلذ َناَك ْنِإَو ٌبْوُبْحَمَو ٌبَحَتْسُم َوُه ْلَب ُهْنِم َعِنُم َلَف ِرْهَجْلاِب َسْأَب َلَف هُتَئآَرِقَو
َنْيّلَصُمْلا َىلَع ِشْيِوْسّتلا ِمَدَعَو ِصَلْخِلْا َنِم هُاَنْرَكَذ اَم ِقْفِو ىلَع لاَعَت ِلا َرْكّذ اوُعَمَتْجا
ِهْيِف ٌبَغَرُمَو ِهْيَلِإ ٌبْوُدْنَم َكِلذَف ْمِهِوْحَنَو َنْيِلاّتلاَو

“Telah bersabda Nabi SAW: “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir khofi, dan sebaik-baik rizki
adalah yang cukup”. Andaikata kamu menjalankan dzikir dengan ikhlas karena Allah di
dalam dzikirnya dan tidak mewaswaskan (mengganggu) orang lain yang sedang shalat dan
tidak membuat orang yang sedang membaca Al-Quran menjadi kacau bacaannya karena
dzikir itu, maka tidaklah apa-apa berdzikir jahar. Hal yang demikian itu tidak dilarang
bahkan disunatkan, dan dicintai walaupun keadaan dzikir itu berjama’ah. Mereka
berkumpul untuk berdzikir kepada Allah sesuai dengan apa yang telah kami terangkan
dengan ikhlas dan tidak mewaswaskan orang-orang yang sedang shalat dan membaca Al-
Quran, dan sebagainya, maka dzikir seperti itu disunatkan dan sangat dianjurkan. [An-
Nasha-ihud Diniyyah, hal 50]

ْيِف ْمُهَلَو َكِلاَذِب َعاَمِتْجِلْاَو ِرْكّذلاِب َرْهَجْلا ِفّوَصّتلا ِةَقْيِرّطلا ِلْهَأ ْنِم ٌةَعاَمَج َراَتْخا ِدَقَو
ٌةَفْوُرْعَم ُقِئاَرَط َكِلذ

“Para jama’ah dari kalangan Thariqat Shufi mengangkat suara keras ketika berdzikir, dan
mereka berjama’ah ketika berdzikir, hal yang demikian itu merupakan metode thariqat
yang sudah umum/dikenal”. [An-Nasha-ihud Diniyyah, hal 51]

Berdzikir jahar yang dimaksud adalah berdzikir dengan suara keras yang sempurna,
sehingga bagian atas kepala hingga kaki mereka itu bergerak. Dan seutama-utama dzikir
jahar adalah berdiri, dengan menghentak, bergerak teratur dari ujung rambut hingga ujung kaki, hingga seluruh jasadnya turut merasakan Keagungan dan Kebesaran Allah ‘Azza wa
Jalla. (Al-Minahus Saniyyah, Abd. Wahab as Sya’rani)
Dalam kitab Taswiful Asma’, hal. 33 diterangkan:

َمّرَك ّيِلَع ْنَع هِدَنَسِب ِمْيَعُن ْوُبَأ ُظِفاَحْلا ىَوَر اَمِل ِهْيَلِإ ٌبْوُدْنَمَف ِرْكّذلا ِةَلاَح ْيِف ُزاَزِتْهِلْا اّمَأَو
ْيِف ُرَجّشلا ّدُمَي اَمَك اْوّداَم َلا اْوُرَكَذ اَذِإ اْوُناَك َلاَقَف اًمْوَي َةَباَحّصلا َفَصَو هّنَأ ُهَهْجَو ُلا
ْمِهِباَيِث ىلَع ْمُهُعْوُمُد ْتَرَجَو ِحيّرلا ِدْيِدّشلا ِمْوَي ْيِماَطْسُبْلا نْيّدلا ُلاَمَج ُفِراَعْلا اَنُخْيَش َلاَق ,
ىِف َنْوُكّرَحَتَي اْوُناَك ْمُهْنَع لاَعَت ُلا َيِضَر َةَباَحّصلا ّنَأ ْيِف ٌحْيِرَص اَذهَو هَحْوُر لاَعَت ُلا َسّدَق
ِحْيّرلا ِدْيِدّشلا َمْوَي ِرَجّشلا ِةَكْرَحِب ْمُهُتَكْرَح َهّبُش هنَلِ ًلاَمِشَو اًنْيِمَي ًةَدْيِدَش ًةَكْرَح ِرْكّذلا

“Adapun bergoyang-goyang di kala berdzikir itu dianjurkan, karena telah meriwayatkan Al
Hafizh Abu Nu’aim dengan sanadnya dari Sayidina Ali (semoga Allah memuliakan
wajahnya) bahwa sesungguhnya beliau pada suatu hari telah mensifati keadaan sahabat
dengan katanya: ‘Adalah mereka (para sahabat) apabila berdzikir kepada Allah bergoyang-
goyang seperti bergoyangnya kayu ketika datangnya angin kencang, dan mengalir air
matanya pada pakaiannya’. Telah berkata Syekh kita yang ‘Arif, Jamaluddin al Bushthami
(semoga Allah Ta’ala menyucikan ruhnya): ‘Ini merupakan perkataan yang jelas,
sesungguhnya sahabat-sahabat (semoga Allah meridhai mereka) bergoyang-goyang ketika
berdzikir dengan gerakan yang keras ke kanan dan ke kiri. Sesungguhnya berdzikir seperti
itu menyerupai bergeraknya kayu pada waktu datangnya angin kencang”.

Keunggulan dzikir jahar itu adalah seperti yang dikatakan seorang Ulama Ahli Tasawuf:
“Apabila seorang murid berdzikir kepada Tuhannya ‘Azza wa Jalla dengan sangat kuat dan
semangat yang tinggi, niscaya dilipat baginya maqam-maqam thariqah dengan sangat
cepat tanpa halangan. Maka dalam waktu sesaat (relatif singkat) ia dapat menempuh jalan
(derajat) yang tidak bisa ditempuh oleh orang lain selama waktu sebulan atau lebih”.
Syekhul Hadits, Maulana Zakaria Khandalawi mengatakan, ‘Sebahagian orang
mengatakan bahwa dzikir jahar (dzikir dengan mengeraskkan suara) adalah termasuk
bid’ah dan perbuatan yang tiada dibolehkan). Pendapat ini adalah menunjukkan bahwa
pengetahuan mereka itu di dalam hadits adalah sangat tipis. Maulana Abdul Hayy
Rahimahullahu Ta’ala mengarang sebuah risalah yang berjudul ‘Shabahatul Fikri’. Beliau
menukil di dalam risalahnya itu sebanyak 50 hadits yang menjadi dasar bahwa dzikir jahar
itu disunnahkan’. [Fadhilat zikir, Muh Zakariya Khandalawi. Terj. HM. Yaqoob Ansari, Penang
Malaysia, hal 72]

Dan dzikir jahar itu dianjurkan dengan berjama’ah, dikarenakan dzikir dalam berjama’ah
itu lebih banyak membekas di hati dan berpengaruh dalam mengangkat hijab.
Rasulullah SAW bersabda: “Tiadalah duduk suatu kaum berdzikir (menyebut nama Allah
‘Azza wa Jalla) melainkan mereka dinaungi oleh para malaikat, dipenuhi oleh rahmat
Allah dan mereka diberikan ketenangan hati, juga Allah menyebut-nyebut nama mereka itu
dihadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya”. [At Targhib wat Tarhib, II: 404]
Imam al Ghazali Rahimahullahu Ta’ala telah mengumpamakan dzikir seorang diri dengan
dzikir berjama’ah itu bagaikan adzan orang sendiri dengan adzan berjama’ah. Maka
sebagaimana suara-suara muadzin secara kelompok lebih bergema di udara daripada suara
seorang muadzin, begitu pula dzikir berjama’ah lebih berpengaruh pada hati seseorang
dalam mengangkat hijab, karena Allah Ta’ala mengumpamakan hati dengan batu. Telah diketahui bahwa batu tidak bisa pecah kecuali dengan kekuatan sekelompok orang yang
lebih hebat daripada kekuatan satu orang”. [Al-Minahus Saniyyah, Abd. Wahab as Sya’rani]
Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar Rhm. mengatakan:

ًءاَيِر ْفَخَي ْمَل ُثْيَح هِب ُرْهَجـلاَو ِتاَياَوّرلاَو ِتاـيلْا ِحْيِرَصِب ٌبْوُلْطَم ِةَءاَرِقـْلاَك ُرْكّذلَا
هّنَلَِو ِعاَمّسلِل هُتَلْيِضَف ُنَواَعَتـتَو ُرَثْكَأ ِهْيِف َلَمَعـْلا ّنَلِ ُلَضْفَأ ّلَصُم ِوْحَن ىلَع ْشّوَشُي ْمَلَو
ىِف ُدـيِزـيَو َمْوّنلا ُدُرْطيَو ِهْيَلِإ هَعْمَس ُفّرَصُيَو ِرْكِفْلِل هّمَه ُعَمْجَي َو ِئِراَقـْلا َبْلَق ُظِقْوُي
:نيدشرتشلا ةيغب) ِطاَشّنلا ٤٨ (

“Berdzikir itu laksana orang yang membaca Al-Quran, yang diperlukan kejelasan ayat dan
riwayatnya, dan juga diperlukan keras suaranya, apabila tidak khawatir riya’ dan tidak
mengganggu kepada orang shalat. Berdzikir seperti itu lebih afdhal, karena sesungguhnya
dzikir yang banyak itu akan melimpah ruah pahalanya kepada yang mendengarnya. Dan
manfaat berdzikir jahar itu akan mengetuk hati penyebutnya, menciptakan konsentrasi
(fokus) pikirannya terhadap dzikirnya, mengalihkan pendengarannya pada dzikir,
menghilangkan rasa kantuk, serta menambah semangat (bersungguh-sungguh)”.
[Bughyatul Mustarsyidin, hal. 48]

Dalam suatu hadits disebutkan:

اًرْهَج ّلِإ َنْوُكَي َل ُحْدَمْلاَو ِلا َنِم ُحْدَمْلا ِهْيَلِإ ّبَحَأ َدَحَأ َل
“Tidak ada suatu pujian seseorang yang dicintai Allah, kecuali pujian yang diucapkan
dengan suara jelas”.

Seorang penyair mengatakan:

اًجِلْجَلَتُم َل ِهْيِف ْيِحْدَمِب ُتْرَهَج ُجَلْجَلَتَي َل َبْيِبَحْلا َحَدَم ْنَمَو

Dengan suara keras aku telah memujinya tanpa tergagap-gagap,
Barang siapa yang memuji kekasihnya tentu tidak tergagap-gagap.
[Terj. Al-Qirthas, Darul Ulum Press, 2003, hal. 191]

Diambil dari Buku: Dzikir Qurani, Mengingat Allah sesuai Fitrah Manusia, Yayasan Al-
Idrisiyyah, Indonesia.

Perbahasan Berkenaan “إذا صح الحديث فهو مذهبي “
Penulis : Ustaz Nazrul Nasir

Beberapa hari saya tidak menulis, mungkin agak sibuk dengan persediaan peperiksaan yang semakin hampir. Teringin juga jari-jari ini memetik butang key board menulis semula . Tambahan pula semenjak akhir-akhir ini, golongan “mujtahid jadi-jadian” semakin ramai menceburi bidang penulisan ini. Semakin mereka menulis, semakin saya risau melihat masyarakat yang tertipu dengan gaya bahasa yang mereka gunakan seolah-olah menampakkan bahawa mereka benar-benar orang yang berkelayakkan di dalam memperkatakan tentang permasalahan hukum-hakam. Pelbagai pendapat digunakan oleh mereka demi mempertahankan pendapat-pendapat yang boleh kita klasifikasikan sebagai “menegakkan benang yang basah”.

Kalam para ulama Mujtahid yang sering kita dengar seperti :

إذا صح الحديث فهو مذهبي
لا ينبغي لمن لم يعرف دليلي أن يُفتي بكلامي
لا تقلدني و لا تقلد مالكا و لا الأوزاعي و لا غيرهم و خذ الأحكام من حيث أخذوا

Pendapat-pendapat para Imam Mujtahid ini sering disalah gunakan oleh golongan yang gemar mendakwa-dakwi sebegini.Kalam pertama yang bermaksud (( Jika sahih sesebuah hadis maka itulah mazhabku)) digunakan oleh golongan ini dengan mengatakan bahawa, jika kita berjumpa sebuah hadis yang sahih dan mendapati hadis tersebut bertentangan dengan pendapat Imam Mujtahid ( Abu Hanifah, Malik, Syafie dan Ahmad bin Hambal radhiyallahu anhum), maka dahulukan hadis yang sahih kerana ini juga merupakan pendapat sebahagian para Imam tersebut.

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan di dalam muqaddimah Majmu’ Syarah Muhazzab:

“ Memang benar al-Imam Syafie menyebutkan :

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم و دعوا قولي

Maksudnya:
Jika kamu semua (para ulama) mendapati di dalam kitab yang aku tulis menyalahi Sunnah baginda sallallahu alaihi wasallam maka keluarkan pendapat kamu semua dengan Sunnah Baginda sallallahu alaihi wasallam dan tinggalkan pendapatku.”

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan lagi bahawa:
Kata-kata Imam Syafie tersebut bukanlah bermaksud sesiapa sahaja yang menjumpai hadis sahih maka terus mengatakan bahawa ianya merupakan mazhab Imam Syafie itu sendiri.Malah beramal dengan zahir kalam itu semata-mata. Bahkan sebenarnya kalam al-Imam Syafie tersebut ditujukan kepada para ulama yang telah sampai kepada peringkat ijtihad di dalam mazhab seperti yang telah kita sebutkan sebelum ini(rujuk Muqaddimah Majmu’ ). Syarat untuk para yang beramal dengan kalam Imam ini ialah mesti tidak meletakkan sangkaan bahawa al-Imam Syafie radhiyallahuanhu tidak berjumpa dengan hadis ini atau tidak mengetahui bahawa hadis ini tidak Sahih. Syarat ini tidak akan dapat disempurnakan melainkan setelah mengkaji dan mentelaah keseluruhan kitab-kitab karangan al-Imam Syafie , kitab-kitab para ulama Syafieyah yang lain dan yang seumpama dengannya. Inilah merupakan syarat yang agak sukar untuk dipenuhi. Hanya sedikit yang dapat menyempurnakan syarat ini.

Maksud kalam al-Imam Nawawi sangat jelas. Agak menghairankan kita, golongan yang mendakwa kalam al-Imam Syafie kadang-kadang bertentangan dengan hadis ini merupakan dakwaan yang ternyata menyimpang. Bahkan kitab-kitab al-Imam Syafie mereka tidak memahaminya dengan baik (maksudnya memerlukan penguasaan bahasa Arab yang tinggi kerana al-Imam Syafie radhiyallahu anhu merupakan seorang ahli Bahasa Arab yang hebat), apatah lagi membacanya. Ini sepatutnya yang disedari oleh mereka. Tetapi ego dan bodoh sombong yang menyebabkan mereka tidak mahu memahami pendapat ulama sebegini.

Oleh kerana itulah kita katakan, perlu membaca kitab para ulama dengan para alim-ulama yang benar ilmunya, bukan dengan pembacaan secara persendirian tanpa guru yang membimbing. Akan sesat jadinya. Ini asas pertama yang perlu diperbetulkan oleh mereka. Akhir-akhir ini kita melihat mereka juga belajar dengan guru, tetapi guru yang mengajar pula hakikatnya belajar dengan guru yang tidak belajar dengan ulama yang benar ilmunya,bersih pengambilannya serta jauh daripada pendapat-pendapat yang menyalahi jumhur para ulama.

Kata Imam Nawawi lagi menukilkan kata-kata Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahumallah:

“Kalam al-Imam Syafie tersebut bukanlah boleh diamalkan dengan zahir luarannya semata-mata,Bukanlah semua ulama yang Faqih (hebat dalam ilmu fiqhnya) beramal secara terus daripada hadis yang dirasakan hujah baginya.”

Kata Imam Abu Amru Ibn Salah lagi:
“ Jika seorang ulama bermazhab Syafie tersebut menjumpai sebuah hadis yang menurutnya bertentangan dengan mazhab yang dipegangnya, Maka perlu dilihat semula kepada keahlian orang tersebut. Jika ulama tersebut telah mencapai peringkat Ijtihad (seperti yang kita sebutkan di dalam keluaran yang lepas) maka tiadalah masalah baginya untuk beramal dengan hadis tersebut. Tetapi jika dia masih tidak mencapai tahap Ijtihad dan menyukarkan baginya menemukan sebab-sebab pertentangan hadis tersebut dengan kalam Imam Mazhab @ Mazhab itu sendiri maka bolehlah baginya beramal dengan hadis tersebut jika terdapat seorang lagi Imam Mujtahid Mutlak selain Imam Syafie(seperti Imam Abu Hanifah , Malik, Ahmad dan lain-lain).”

Kata al-Syeikh Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani hafizahullah(bukan Syeikh Nasiruddin al-Albani) di dalam risalah kecilnya berkenaan kalam tersebut:

Maksud kalam tersebut ialah:
Kata para imam , kalam tersebut ditujukan kepada para ulama yang benar-benar berkelayakkan di dalam mengeluarkan hukum.Mereka(yang dibenarkan) adalah merupakan para ulama yang hebat di dalam ilmu hadis. Ini bermakna, jika sahih sesebuah hadis sahih tersebut yang bertepatan dengan syarat-syarat pengambilan sesebuah hadis dan kaedahnya berdasarkan mazhab yang mereka gunakan , maka gunakan hadis tersebut. Bukannya kalam tersebut menyuruh setiap kali membaca hadis yang sahih maka tinggalkan beramal dengan pendapat imam mazhab.

Sebaliknya golongan yang sering mendakwa-dakwi ini, menggunakan pendapat ini dengan luarannya sahaja, bukan maksud sebenar kalam tersebut.

Al-Imam Malik Radhiyallahuanhu menyebutkan kepada para muridnya(yang merupakan para mujtahid) ketika beliau mengeluarkan pendapat di dalam sesebuah hukum,
“ Kamu perlu mengkajinya semula, ini kerana ianya merupakan pegangan agama kita.Tiada seorang pun boleh diterima pendapatnya bulat-bulat tanpa perlu dikritik, melainkan pendapat yang dikeluarkan oleh pemilik Maqam yang mulia ini( mengisyaratkan kepada Saidina Muhammad sallallahu alaihi wasallam).”

Saya ingin bertanya, adakah Imam Malik radhiyallahu anhu bercakap seorang diri ketika tersebut? Atau adakah beliau mengucapkan pendapat tersebut dihadapan orang awam yang tidak mengerti hukum-hakam? Jawapannya tentu tidak sama sekali. Golongan yang dibicarakan oleh al-Imam ialah merupakan kelompok mujtahid. Seolah-olah al-Imam ingin memberitahu kepada murid-muridnya bahawa mereka juga telah sampai kepada peringkat Ijtihad yang tinggi. Syarat-syarat untuk menjadi seorang mujtahid telah saya terangkan di dalam keluaran yang lalu. Jika syarat sebegini masih tidak jelas, maka bagaimana seseorang tersebut boleh mengaku bahawa dia juga boleh mengeluarkan hukum terus daripada al-Quran dan Sunnah?

Pendapat kedua yang sering digunakan oleh mereka ialah pendapat yang dikeluarkan oleh al-Imam Abu Hanifah radhiyallahuanhu iaitu :

لا ينبغي لمن لم يعرف دليلي أن يُفتي بكلامي

Maksudnya:
Tidak sepatutnya bagi seseorang yang tidak mengetahui dalil yang aku keluarkan untuk berfatwa dengan pendapatku.

Pendapat ini jelas menunjukkan bahawa ianya disebutkan kepada golongan ulama yang benar-benar alim di dalam bidang tersebut. Ini kerana perkataan “ berfatwa” tersebut tidak lain dan tidak bukan semata-mata ditujukan kepada para ulama ahli fatwa,bukannya mujtahid jadi-jadian . Ini perlu difahami dengan baik dan jelas. Perlu juga bagi seseorang tersebut melihat semula kepada syarat-syarat untuk berfatwa yang disusun oleh para ulama . Antara ulama yang menyusun tentang adab-adab fatwa ini ialah al-Imam Abu Qasim al-Soimuri rahimahullah(guru kepada al-Imam Mawardi rahimahullah), al-Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah, dan al-Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahullah. Ketiga-tiga kitab ini telah diringkaskan perbahasannya oleh al-Imam Nawawi rahimahullah dan beliau meletakkan perbahasan tersebut di dalam kitabnya Majmu’ Syarah Muhazzab.

Jika kamu membaca semula syarat-syarat berfatwa dan Mufti, tentulah kamu akan menyedari betapa jauhnya jurang sebenar antara kamu (yang suka mendakwa-dakwi sebegini) dengan para ulama yang benar-benar sampai kepada peringkat mengeluarkan fatwa.Malah al-Imam Nawawi sendiri menyebutkan bahawa bidang fatwa adalah merupakan bidang yang sangat merbahaya diceburi tetapi sangat tinggi kelebihannya(bagi yang layak sahaja).

Al-Imam Malik radhiyallahu anhu menyebutkan:

ما أفتيت حتى شهد لي سبعون أني أهل لذلك

Maksudnya:
Aku tidak akan berfatwa melainkan selepas disaksikan oleh tujuh puluh orang ulama bahawa aku benar-benar layak di dalam bidang fatwa ini.

Kalam-kalam sebegini tidak pula dilihat oleh golongan sebegini. Mereka hanya mengambil pendapat-pendapat yang luarannya merupakan suatu kelebihan kepada diri mereka untuk meninggalkan berpegang dengan mazhab itu sendiri. Sedangkan langsung tidak memahami maksud kalam itu sendiri.

Jika kita memahami maksud kalam-kalam yang disebutkan dengan baik maka pendapat Imam Ahmad bin Hambal radhiyallahu anhu juga akan mudah bagi kita memahaminya. Maksudnya Imam Ahmad menyebutkan pendapat tersebut bukanlah untuk orang awam melainkan untuk para ulama yang telah mencapai peringkat Ijtihad.

Al-Allamah Syeikh Muhammad Awwamah hafizahullah menukilkan kalam al-Imam Kairanawi radhiyallahu anhu:

“Maksud sebenar kalam al-Imam Syafie (Jika sahih sesebuah hadis maka itulah Mazhabku) dan kalam ulama yang lain yang menyebutkan sedemikian ialah tidak lain selain ingin menunjukkan kepada kita hakikat bahawa kalam yang menjadi hujjah adalah kalam Baginda sallallahu alaihi wasallam bukannya kalam kami(para Imam Mujtahid).Seolah-olah Imam Syafie ingin mengatakan: Jangan kamu menyangka kalam aku adalah hujjah berbanding kalam Baginda Sallallahu alaihi wasallam dan aku juga berserah kepada Allah jika pendapat yang aku sebutkan bertentangan dengan Sabda Baginda sallallahu alaihi wasallam.”

Hakikatnya, kalam al-Imam Syafie radhiyallahu anhu adalah merupakan sifat tawaddhuk yang ada pada beliau. Mustahil seseorang Imam tersebut akan mengeluarkan sesuatu hukum dengan hawa nafsunya melainkan setelah dikaji secara terperinci dengan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dan iman yang mendalam.

Oleh sebab itulah al-Imam Ibn Uyainah Radhiyallahuanhu menyebutkan:

الحديث مضلة إلا للفقهاء

Maksudnya:
Hadis adalah sesuatu yang mampu menyesatkan seseorang (yang tidak memahaminya) melainkan kepada para fuqaha(ulama).

Al-Imam Ibn Hajar al-Haitami radhiyallahu anhu menerangkan maksud sebenar kalam al-Imam Ibn Uyainah radhiyallahu anhu di dalam kitabnya Fatawa Hadisiah mukasurat 521:

“Maksud kalam tersebut ialah Hadis adalah seumpama al-Quran yang mana ianya terkadang merupakan lafaz umum tetapi maknanya khusus, ianyanya juga terdapat Nasakh dan Mansukh, terdapat juga hadis yang tidak diamalkan, dan sebahagiannya jika dipegang dengan zahir maka akan menjadi masalah seperti hadis ينزل ربنا (Allah turun ke Langit pertama disepertiga malam). Jadi maksud sebenar sesebuah hadis tidak akan difahami melainkan diterangkan oleh para ulama.Ini berbeza dengan orang yang tidak mengetahui maksud sebenar hadis tersebut melainkan zahirnya semata-mata, maka akan tersesat jadinya seperti yang berlaku kepada sebahagian ulama terdahulu dan terkemudian seperti Ibn Taimiyah dan pengikutnya”

Bagi menentukan sesebuah hadis sahih tersebut bertentangan dengan pendapat Imam Mazhab maka perlu bagi mereka-mereka yang berkata sedemikian mempunyai dua perkara:

1. Kuat sangkaannya bahawa Sang Imam tidak menemukan hadis yang dia temui.

2. Orang yang mengatakan sedemikian mestilah seorang yang benar-benar pakar di dalam ilmu rijal Hadis, Matan Hadis, cara-cara berhujah dengan hadis, dan cara mengeluarkan hukum daripada hadis tersebut berdasarkan kaedah yang diletakkan oleh mazhab.

Terdapat 4 marhalah (peringkat ) bagi menentukan adakah benar seseorang tersebut benar-benar pakar di dalam Ilmu hadis.(Marhalah ini saya petik secara ringkas daripada risalah al-Syeikh Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani hafizahullah ):

Peringkat pertama

Di dalam peringkat ini seseorang tersebut perlulah mengetahui kedudukan perawi hadis tersebut samaada ianya Thiqah, Saduq dan sebagainya. Serta perlu juga memerhatikan hafalan dan kekuatan ingatan perawi tersebut.Perlu mengetahui tentang martabat thiqah, tempat mana yang perlu didahulukan jarah dan ta’dil(nama ilmu di dalam Mustalah Hadis bagi menentukan darjat seorang perawi).Mengetahui tentang bilakah tarikh perawi tersebut meninggal duni dan dari manakah asalnya dan sebagainya. Pendek kata kesemua ilmu yang diterangkan di dalam kitab Mustalah Hadis perlu diketahui secara lumat dan mendalam oleh seseorang tersebut.

Peringkat kedua

Peringkat ini lebih sukar daripada sebelumnya.Setelah seseorang tersebut mengetahui secara mendalam tentang mustalah hadis tersebut maka perlu pula baginya untuk mengkaji secara teliti dan mendalam hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab Sihah, Sunan, Musnad, Jawami’, Mu’jam, al-Ajza’dan lain-lain kitab hadis bagi mencari sesebuah hadis tersebut adakah benar-benar bertentangan dengan pendapat sang Imam. Perlu juga baginya untuk mengetahui adakah hadis tersebut Mutawatir, Masyhur dan sebagainya. Perlu juga baginya mengetahui adakah hadis tersebut Syaz atau mungkar . Perlu juga baginya mengetahui adakah hadis tersebut marfu’, mauquf atau maqtu’.

Oleh sebab itulah al-Imam Abu Hatim al-Razi rahimahullah menyebutkan: “ Tidaklah seseorang tersebut dikatakan benar-benar pakar di dalam bidang hadis melainkan setelah kami (para ulama hadis )menulis hadis tersebut dengan 60 keadaan dan dia mampu menerangkan satu persatu hadis-hadis tersebut tentang hukumnya sama ada Syaz, Mungkar, Ma’ruf, Mutawatir, Marfu’, Mauquf, Fard dan Masyhur.”

Peringkat ketiga

Peringkat ini lebih sukar daripada kedua-dua peringkat di atas. Setelah benar-benar melalui kedua-dua peringkat tersebut, maka seseorang tersebut perlulah melihat sama ada hadis yang dikajinya terdapat illah(kecacatan) atau tidak. Illah yang tersembunyi menurut para ulama hadis adalah yang paling sukar ditemukan melainkan oleh ulama-ulama yang benar-benar pakar di dalam ilmu hadis. Ini diketahui dengan jelas oleh sesiapa yang mempelajari ilmu hadis dengan baik.

Peringkat keempat

Peringkat ini adalah yang paling sukar ditemukan melainkan para Mujtahid yang sampai ke peringkat mutlak. Ramai ulama hadis yang sukar mencapai peringkat ini walaupun mereka sudah mencapai ketiga-tiga peringkat sebelum ini. Walaupun mereka menghafal hadis tersebut dan mengetahui segalanya tentang ilmu hadis , tetapi di dalam permasalahan hukum hakam tetap mereka serahkan kepada para fuqaha.

Kerana itulah al-Imam al-A’mash radhiyallahu anhu menyebutkan kepada al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu:

يا معشر الفقهاء, أنتم الأطباء ونحن الصيادلة و أنت أيها الرجل أخذت بكلا الطرفين

Maksudnya:
Wahai para fuqaha, kamu adalah doktor yang mengetahui tentang ubat sesuatu penyakit, manakala kami para muhaddith (ulama hadis) merupakan pemilik ubat tersebut.Manakala kamu wahai lelaki( Imam Abu Hanifah ) , kedua-duanya kamu miliki (sebagai seorang doktor dan sebagai seorang pemilik farmasi).

Maksud kalam al-Imam al-A’mash tersebut ialah para fuqaha mengetahui di manakah sumber pengambilan hukum bagi menyelesaikan sesuatu permasalahan, manakala para muhaddis akan membekalkan hadis-hadis sebagai sumber pengambilan hukum tersebut. Manakala al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu mempunyai kepakaran di dalam kedua-dua bidang tersebut(iaitu hadis dan fiqh).

Kesimpulan

Setelah kita perhatikan dan baca dengan teliti perbahasan yang saya tulis ini,jelas lagi bersuluh bahawa menghukumkan sesuatu dengan zahir hadis yang kamu(golongan wahabi) rasakan bahawa ianya bertentangan dengan kalam Imam merupakan suatu tohmahan yang tidak berasas dan tidak mengikut jalur pengajian dan pengkajian yang baik. Perbahasan yang saya buat ini mungkin agak berat bagi sesiapa yang tidak mengetahui istilah-istilah yang digunakan. Jika ada masa, saya akan menerangkannya selepas ini. Tetapi jika “ para mujtahid jadi-jadian” tidak memahaminya maka jelaslah, kamu semua tidak mencapai lagi serendah-rendah martabat tersebut. Maka perlu beristghfar dan memohon keampunan di atas keterlanjuran dan keegoan yang terdapat di dalam diri kamu.

Rujukan:

1. Majmu’ Syarah Muhazzab oleh al-Imam Nawawi rahimahullah tahqiq Syeikh al-Allamah Najib Muti’ie .Cetakan Darul A’lam Kutub

2. Risalah إذا صح الحديث فهو مذهبي oleh Syeikh al-Allamah Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani al-Hanafi hafizahullah.Cetakan Darul Iqra’.Cetakan Pertama 2005.

3. Fatawa Hadisiah oleh al-Imam Ibn Hajar al-Haitami rahimahullah .Cetakan Darul Taqwa.

MOHD NAZRUL ABD NASIR,
RUMAH KEDAH,
KAHERAH,MESIR

Posted by: Habib Ahmad | 27 November 2009

Petikan Dari Kitab Pelita Penuntut

Petikan Dari Kitab Pelita Penuntut

Tersebut di dalam di dalam kitab Pelita Penuntut oleh Syaikh Muhammad Syafie bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Rangkul, Langgih, Fathani. Kitab ini adalah merupakan terjemahan kitab Ta’lim al-Muta’allim Thoriq at-Ta’lim oleh Syaikh az-Zarnuji. Kitab terjemahan ini diselesaikan pada malam Ahad, tanggal 4 Dhulqaedah 1357H, di Kampung Syi’ib ‘Ali di Mekah al-Mukarramah.

Pada halaman 11, pengarang berkata: (Demikian lagi) yang sangat-sangat karut dan sangat-sangat sesat lagi menyesatkan orang awam ialah satu puak yang banyak timbul pada zaman sekarang yang bergelar (KAUM MUDA) [ ini jenama dulu …. sekarang ni Wahabi. Kekadang dikenali sebagai Ittiba’, Tajdid, Salafi, Ansarussunnah dll …. jenama berlainan, isinya sama]

Memegang mereka itu akan dzahir hadits dan ayat Qur’an dengan ketiadaan ta’wil-mu’awwilnya, dan tiada dikerjakan pula muqayyad, muthlaqnya, khas dan am [umum]nya, nasikh dan mansukhnya. Hanya mana-mana terdapat lafadz hadits dan ayat Quran, maka ialah dalilnya dengan tiada kira banyak lagi, dan menafi mereka itu akan tiap-tiap hukum yang tiada pada dzahir ayat [al-Quran] dan hadits, maka menafi mereka itu akan ijma` ulama` dan qiyas dan mazahib yang empat dan membatalkanlah oleh mereka itu akan qawaid-qawaid imam yang empat dan membatalkan mereka itu akan hukum-hukum yang tsabit dengan ijtihad dan qiyas. Maka memfasidkan mereka itu akan sunat[nya] talqin mayyit, dan fidyah puasa dan fidyah sembahyang, dan sunat berlafadz dengan lafadz niat sembahyang dan [se]umpamanya.

Dan menghafadz mereka akan beberapa banyak daripada ayat-ayat Quran dan hadits Nabi صلى الله عليه وآله وسلم supaya buat hujjah dengan dia akan orang-orang awam kita. Dan mendakwa mereka itu bahwasanya mereka itu mujtahid [yang mengali tau mengambil terus] daripada ayat [al-Quran] dan hadits sendiri dan mendakwa akan dirinya yang betul dengan sunnah صلى الله عليه وآله وسلم pada hal kebanyakkan mereka itu tiada biasa bertemu pun dengan pengajian [ilmu-ilmu agama hingga melayakkan mereka untuk berijtihad seperti] ushulul fiqh dan mustholah hadits dan majaz isti’aarah dan lainnya daripada ilmu-ilmu alat. Bahkan nahwu, sorf pun kurang tahu dan kebanyakkan lafadz-lafadz ‘arab pun tiada mengerti akan makna-maknanya dan tidak pula di dapat mereka itu memelihara maruahnya [yang selayaknya sebagai seorang ‘alim, apatah lagi seorang digelar mujtahid], hanya memakan mereka itu diserata-rata kedai dan menjauhi mereka itu akan serban. Maka beginikah kelakuan mujtahid? Dan beginikah sunnah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم? Betapakah halnya semacam ini kelakuan hendak dikata mujtahid?

Berkata Syaikh ‘Abdurrahman [bin Muhammad bin Hussin bin Umar Ba’alawi, wafat pada 1320H], Mufti Hadramaut di dalam Bughyatul Mustarsyidin:

Masalah ك: Satu orang yang menuntuti ilmu dan membanya ia akan muthala’ah daripada kitab-kitab yang di karangkan daripada tafsir dan hadits dan fiqh, adalah ia mempunyai faham dan cerdik, maka tetaplah pada pandangannya bahwasanya kebanyakkan ini amat sesat mereka itu dan menyesatkan mereka itu daripada asal agama dan daripada jalan Sayyidul Mursalin صلى الله عليه وآله وسلم.

Maka meninggal ia akan sekelian karangan-karangan bagi ahli ilmu dan ulama-ulama dan tiada tetap ia akan mazhab, bahkan berpaling ia kepada ijtihad dan mendakwa ia istinbath daripada Quran dan hadits dengan sendirinya dengan sangkanya. Walhal tiada ia daripadanya syarat-syarat ijtihad yang mu’tabarah di sisi ahli ilmu dan serta yang demikian itu memperlazim ia akan umat-umat suruh berpegang akan perkataannnya dan memperwajib ia akan mengikutnya.

Maka ini orang yang dakwa akan dirinya mujtahid itu wajib atasnya kembali kepada yang sebenar dan meninggalkan akan perdakwaannya [dakwaannya] yang bathil itu. Dan apabila melontar ia akan karangan-karangan ulama dan ahli ilmu, maka dengan apakah ia berpegangan kerana bahwasanya ia tidak berjumpa ia akan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم sendiri, dan tidak pula berjumpa akan satu orang daripada shahabat-shahabatnya رضوان الله عليهم , maka jika ada padanya sesuku daripada ilmu maka iaitu diambil daripada karangan-karangan ahli syara’ dan ulama juga dan jikalau sekiranya mereka itu dan karangan mereka itu sesat dan tidak betul, maka daripada manakah ia bertemu hak yang betul, maka hendaklah nyatakan bagi kami katanya – kerana bahwasanya sekelian kitab-kitab aimmah-aimmah [imam-imam] yang empat itu رضوان الله عليهم dan muqallid mereka kebanyakkan, tempat ambilannya daripada Quran dan hadits, maka betapa ia ambil jadi menyalahinya? Dan bermula dakwa ijtihad pada zaman sekarang itu jauh sehabis-habis jauh ……

Sekian.

http://al-fanshuri.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 27 November 2009

Ibadat kerohanian Wahabi berbeza dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah

Ibadat kerohanian Wahabi berbeza dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah
Muhammad Uthman El-Muhammady

DALAM ajaran Ahli Sunnah dibenarkan melawat kubur dan berdoa untuk keampunan ahli kubur.

Tanpa ilmu, tasauf atau pengetahuan fardu ain amalan orang Islam tidak mantap

SELEPAS dua penulisan lalu yang menerangkan secara ringkas perbezaan Wahabi dan Ahli Sunnah Wal Jamaah, tulisan kali ini bertumpu kepada huraian konsep dan amalan ibadat dan juga hidup kerohanian fahaman Wahabiah.

Kita mulakan dengan huraian mengenai syahadah yang menjadi syarat bagi seseorang itu menjadi orang Islam kerana apabila Islam, barulah ibadatnya diterima Allah SWT.

Seperti dinyatakan sebelum ini, syahadah golongan ini mesti ada lima syarat, barulah mereka selamat menjadi orang Islam, sekali gus hukum Islam berjalan atasnya, nyawa dan hartanya selamat.

Syarat berkenaan ialah menyebut lafaz syahadah, faham ertinya, berikrar mengenai keesaan Tuhan, menyeru kepada-Nya dan kufur terhadap apa yang disembah selain Allah SWT.

Huraian seperti ini tidak pernah ada dalam mana-mana kitab Ahli Sunnah Wal Jamaah dan hanya ada pada kitab Wahabi saja. Dalam Ahli Sunnah, apabila orang mengucap syahadah, sah Islamnya, dan selamatlah nyawa dan hartanya. Jikalau dia tidak percaya tetapi disembunyikan daripada orang lain, itu adalah perkara antara dia dan Tuhan dan masyarakat Muslimin masih bergaul dengannya dan menganggapnya masih orang Islam.

Mentauhidkan Allah SWT dan beriman kepada-Nya bererti beribadat dan taat kepada-Nya. Seseorang yang beribadat kepada Tuhan jangan bersikap syirik terhadap-Nya.

Huraian mengenai konsep tauhid dibahagi tiga secara terpisah perlu disebut lagi kerana mereka menjadikannya alat atau senjata menyamakan orang Islam (kerana tawassul disebut menyembah kubur atau menyembah orang mati) dengan penyembah berhala, lalu timbul hukum syirik dan orangnya boleh dibunuh, manakala halal darah dan hartanya.

Hujahnya ialah penyembah berhala itu bertauhid dengan tauhid rububiah iaitu mengakui Tuhan menjadikan alam, memberi rezeki, berkuasa dan lainnya. Dia menyembah berhala itu sebagai perantara untuk berdampingan dengan Tuhan. Kata mereka, ini sama dengan orang yang mengucap ‘Lailahaillallah’ pergi berdoa di kubur nabi atau kubur orang soleh untuk mendapat berkat sebagai perantara dengan Tuhan bagi mendapatkan sesuatu hajat. Kata pengasas golongan Wahabi, ia seperti penyembah berhala yang menyembah berhala, yang ini menyembah kubur, lalu dipanggil kuburriyun, penyembah kubur. Istilah ini hanya ada pada golongan Wahabi saja, tidak ada pada golongan lain.

Dalam ajaran Ahli Sunnah dibenarkan melawat kubur dan berdoa di situ untuk keampunan ahli kubur atau memohon kepada Tuhan dengan berkat orang soleh supaya Tuhan menunaikan hajatnya. Ini diharuskan dan hadisnya ada diriwayatkan dalam kitab yang panjang.

Sebenarnya mereka membandingkan orang Islam yang berdoa di kubur itu dengan penyembah berhala kerana orang Islam dikatakan menyembah kubur atau menyembah orang mati. Dakwaan menyembah kubur itu tidak benar kerana orang Islam ke kubur untuk menziarahi kubur kerana Allah dan perbuatan ini digalakkan dalam hadis nabi seperti amalan berdamping dengan Tuhan. Ini bermakna orang yang melawat itu tidak menyembah kubur. Oleh itu, istilah kuburiyyun tidak benar, kecuali kalau dimaksudkan untuk kaum yang sesat yang sememangnya menyembah kubur (seperti berlaku di sesetengah negeri yang mempunyai ajaran sesat sedemikian).

Orang Islam menyembah Allah SWT, bukan menyembah kubur. Mereka berdoa kepada Allah SWT di kubur untuk mendapat berkat. Itu dibenarkan dan disebut tawassul, ataupun disebut untuk mendapat syafaat dan perbuatan itu ada dalam Ahli Sunnah.

Hakikatnya, penyembah berhala itu memang menyembah berhala dan hanya apabila dihujah, penyembah berhala mengelak daripada terkena hujah lalu ia membuat helah menyebut berhala itu sekadar perantara saja, sedangkan ditujukan kepada Tuhan Yang Esa.

Dalam hubungan ibadat, antaranya kita boleh melihat istilah ‘menyeru’ pada golongan ini; huraian ‘simplistic’ mengenai ‘menyeru’ difahami secara zahir (literal), pada mereka kita tidak boleh menyeru kepada orang mati, sebab al-Quran melarangnya dalam ayat yang bermaksud: “Jangan kamu menyeru, selain daripada Allah SWT.” (Quran, Syuara:213; Qasas:88 dan lain-lain sepertinya). Larangan oleh al-Quran ialah menyeru sebagai beribadat kepada Allah SWT dalam doa. Kalau menyeru: “Wahai ahli kubur, mudah-mudahan Allah SWT ampunkan kami dan kamu,” itu tidak mengapa.

Demikian juga tidak mengapa jika menyeru seperti Saidina Bilal menyeru Rasulullah apabila melawat kuburnya. Ketika dalam solat pun kita menyeru Rasulullah dalam tahiyyat yang bererti ‘Sejahteralah atas tuan hamba wahai Rasulullah rahmat Allah SWT dan keberkatan-Nya. Yang tidak boleh ialah menyembah orang dalam kubur itu.

Perkara yang dilarang di sini ialah menyembah kubur atau orangnya. Tetapi tidak ada pengikut Ahli Sunnah yang melakukan demikian kecuali orang yang sesat. Bagaimanapun, tuduhan berterusan dibuat golongan Wahabi kepada Ahli Sunnah. Ini boleh dilihat dalam sejarah bagaimana mereka sampai berperang dengan orang Turki Uthmaniah dan lainnya kerana konon mereka terkeluar daripada Islam. Salam yang mereka tujukan kepada mereka – seperti yang ada dalam kitab sejarah mereka sendiri, adalah salam yang diberikan oleh Musa kepada Firaun.

Dalam hubungan dengan ibadat, apabila kita berbincang mengenai solat, golongan ini (Wahabi) tidak mahu kita mengikut ibadat solat seperti yang ada dalam ajaran fiqh mengikut mazhab. Katakanlah di Malaysia, kita sembahyang mengikut Imam Syafie. Mereka mahu kita ‘sembahyang nabi’ dan maksud ‘sembahyang nabi’ itu ialah sembahyang yang dihuraikan oleh Syeikh Nasir al-Din Albani dalam bukunya Solatun-Nabi.

Kalau kita solat mengikut mazhab kata mereka, itu bukan sembahyang nabi, itu sembahyang imam mazhab; itu bidaah kata mereka. Jadi kalau kita belajar solat mengikut ajaran ibu bapa kita, maka logiknya boleh dikatakan solat ibu bapa dan demikianlah seterusnya.

Bagi Ahli Sunnah, wajib orang yang bukan mujtahid mengikut imam mujtahid kerana diperintah oleh al-Quran – bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kita tidak tahu; ahli ilmu yang tertinggi dalam syariat ialah imam mujtahid; sebenarnya orang seperti Nasir al-Din Albani pun perlu bertanya kepada imam mujtahid; dengan merujuk kepada teks mereka dan mengikut panduan mereka tetapi dia tidak mahu kerana memikirkan dia mujtahid. Wallahu alam.

Pada Ahli Sunnah, semua imam mujtahid berada di jalan yang betul (sirat al-mustaqim). Dalam hubungan dengan ibadat juga, mereka membidaahkan azan dua kali pada hari Jumaat, (kalau begitu sahabat nabi seperti Saidina Othman pun buat bidaah). Qunut Subuh, berdoa dan mengaminkannya beramai-ramai di masjid, zikir beramai-ramai, tahlil beramai-ramai, membaca Yasin malam Jumaat semua dikatakan bidaah.

Dalam hubungan dengan hidup rohaniah juga mereka menentang tasauf padahal diijmakkan dalam Ahli Sunnah ia sebahagian daripada ilmu syarak yang sah. Imam Ahmad bin Hanbal turut terbabit dalam tasauf. Hakikatnya, tanpa ilmu dan amalan tasauf atau sekurang-kurangnya sekadar tahap fardu ain, hidup ibadat dan kerohanian orang Islam tidak mantap. Wallahualam.

Posted by: Habib Ahmad | 26 November 2009

Setakat Mana Orang Kaya ‘Memiliki’ Daging Korban?

Setakat Mana Orang Kaya ‘Memiliki’ Daging Korban?
( Bilangan 303 )
بسم الله ، والحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ، وعلى آله وصحبه ومن والاه
(Dengan na`ma Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)
Pada Hari Raya ‘Idil Adha dan hari-hari Tasyrieq, iaitu pada 11, 12
dan 13 Zulhijjah, amalan menyembelih korban giat dilaksanakan di
sana sini. Kebiasaannya pada waktu tersebut juga dilakukan
pembahagian daging-daging korban untuk diagih-agihkan kepada
mereka yang berhak menerimanya.
Seperti yang diketahui, pembahagian daging korban adalah
berpandukan sepertimana yang disyariatkan oleh syara‘. Hasilnya,
pembahagian daging korban dilakukan dengan penuh cermat dan
berhati-hati, serta menjaga segala aspek yang dituntut oleh syara‘.
Jika proses ibadah korban bermula dari pemilikan binatang
sehinggalah kepada pembahagian daging korban diberi perhatian
agar selari dengan kehendak syara‘, maka adalah wajar jika usaha
yang sama ditumpukan juga kepada aspek si penerimanya pula.
Apa yang dimaksudkan di sini ialah bagaimana daging tersebut
diperlakukan setelah berada di tangan orang yang menerimanya,
sama ada melalui sedekah ataupun hadiah.
Oleh yang demikian, perbincangan pada kali ini adalah khusus
mengenai golongan orang kaya yang dihadiahkan daging korban,
serta perkara yang diharuskan dan dilarang oleh syara‘ kepada
mereka.
Pembahagian Daging Korban Sunat
Secara ringkas, seorang yang menyembelih korban sunat untuk
dirinya, adalah disunatkan membahagi daging binatang korban
tersebut kepada tiga bahagian seperti berikut:
1. Sepertiga (1/3) untuk dirinya.
Disunatkan bagi orang yang berkorban itu memakan
sebahagian daripada sepertiga sembelihan korbannya
sebagai mengambil berkat. Afdhal baginya memakan hati
binatang tersebut kerana mengikut sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam.
2. Sepertiga (1/3) untuk disedekahkan kepada fakir miskin.
Sepertiga yang disedekahkan kepada golongan fakir miskin
itu wajib dalam keadaan mentah, iaitu tidak dimasak.
Menurut Imam ar-Ramli Rahimahullah Ta‘ala, maksud fakir
miskin di sini adalah sesiapa yang dihalalkan baginya
(menerima) zakat.
Maka hak orang fakir miskin pada daging tersebut adalah
untuk dimiliki. Adapun maksud ‘milik’ di sini ialah
diharuskan baginya:
i) Memakan daging tersebut;
ii) Menjual dan seumpamanya.
Dapat difahami di sini bahawa golongan fakir miskin juga
boleh memberikan daging korban tersebut kepada orang
Islam yang lain, sama ada dalam keadaan mentah ataupun
sudah dimasak, sama ada kepada orang miskin atau orang
kaya.
3. Sepertiga (1/3) untuk dihadiahkan kepada orang kaya.
Sepertiga yang terakhir pula dihadiahkan kepada golongan
kaya, sama ada masih dalam keadan mentah, ataupun daging
tersebut dimasak kemudian dijemput golongan kaya tadi dan
dijamu makanan tersebut kepada mereka. Menurut Imam ar-
Ramli Rahimahullah Ta‘ala, maksud orang kaya di sini
adalah mereka yang diharamkan (menerima) zakat. Mereka
boleh jadi terdiri daripada ahli-keluarga, saudara-mara, jirantetangga,
sahabat-handai, para pekerja dan yang
seumpamanya (yang bukan daripada golongan fakir miskin).
Selain daripada orang kaya itu sendiri, diharuskan juga bagi
ahli keluarganya seperti isteri dan anak-anaknya dan
seumpamanya untuk menikmati daging korban tersebut.
Sekiranya golongan kaya ini dijemput ke rumah orang yang
berkorban (mudhahhi) dan dijamu dengan daging korban
yang sudah dimasak, maka haknya pada makanan itu adalah
setakat untuk dimakannya sahaja. Kerana itu, adab-adab
sebagai tetamu hendaklah juga dijaga dan dipelihara,
khususnya semasa dalam majlis tersebut, antaranya dia tidak
boleh dengan sewenang-wenangnya memberi makanan
tersebut kepada kucing dan seumpamanya atau
menyedekahkannya atau memberikannya kepada orang lain.
Jika sekiranya makanan tersebut dibawa balik, maka ahli
keluarga orang kaya yang dijamu tadi juga termasuk orang
yang diharuskan memakannya.
Daging Korban Pada Orang Kaya Melebihi Dari Mencukupi
Seperti yang sudah dijelaskan, dalam perkara korban sunat,
golongan kaya juga menerima pembahagian daging korban.
Namun kadang-kala apa yang berlaku ialah daging mentah yang
dihadiahkan itu, sama ada yang masih segar atau yang sudah
dibekukan, iaitu yang disimpan dalam peti sejuk beku (freezer),
dirasakan terlalu banyak atau melebihi daripada mencukupi. Jika
golongan orang kaya yang dihadiahkan daging tadi bercadang
hendak memberikan pula daging tersebut kepada saudara mara,
jiran, rakan-rakan atau seumpamanya, bagaimanakah cara yang
dibenarkan untuknya memberi atau menghadiahkan daging korban
tersebut kepada orang lain? Maka penjelasan ringkas mengenai
perkara ini adalah seperti berikut.
Perkara Yang Diharuskan Dan Dilarang
Seringkali timbul kekeliruan yang mengatakan bahawa apabila
orang kaya dihadiahkan daging korban, ini bererti dia
‘memilikinya’ dan boleh melakukan sebagaimana yang
dikehendakinya terhadap daging tersebut sepertimana orang fakir
miskin ‘memiliki’ daging korban.
Hukum golongan kaya yang dihadiahkan daging korban berbeza
dengan golongan fakir miskin. Ini kerana menurut syara‘, pada
asalnya bahagian daging yang dihadiahkan kepada orang kaya itu
hanyalah setakat untuk dimakannya sahaja dan bukan untuk
‘dimiliki’ seperti untuk dijual atau untuk tujuan lain seumpamanya.
Hukum mengenai orang kaya tidak ‘memiliki’ daging korban
adalah muktamad, sekalipun orang yang berkorban itu berkata
kepada penerima yang kaya, umpamanya:
“Aku hadiahkan kepada kamu daging (korban) ini (untuk) menjadi
milik kamu, dan lakukanlah sepertimana yang kamu kehendaki”.
Menurut beberapa ulama, hukumnya adalah tidak harus, malahan
haram bagi golongan kaya untuk ‘memiliki’ daging tersebut,
dengan erti kata untuk menjual atau seumpamanya, melainkan
terhad kepada beberapa perkara yang diharuskan oleh syara‘.
Oleh yang demikian, menurut syara‘ apabila orang kaya
dihadiahkan daging korban yang mentah, maka dia, dan termasuk
warisnya, hanya diharuskan setakat:
1. Memakannya.
Dilarang menjual dan yang seumpamanya daging korban
tersebut.
2. Menyedekahkannya dalam keadaan mentah kepada fakir miskin
yang Islam.
Dilarang menghadiahkan daging korban yang mentah kepada
golongan kaya.
3. Menjamu orang Islam.
Iaitu dengan memasak daging korban tersebut kemudian
menjamu makanan tersebut kepada orang-orang Islam sama ada
mereka itu terdiri daripada golongan fakir miskin ataupun
golongan kaya.
Dilarang:
i. Menjual dan yang seumpamanya daging korban yang sudah
dimasak.
ii. Secara mutlak menjamu orang bukan Islam (kafir), sama ada
miskin atau kaya. Larangan ini bukan sahaja terhad kepada
orang yang berkorban itu sendiri (mudhahhi), bahkan juga
dilarang dilakukan oleh fakir miskin yang disedekahkan dan
orang kaya yang dihadiahkan daging korban.
Antara perkara yang utama yang perlu diingat bahawa daging
korban itu, sama ada yang masih mentah ataupun yang sudah
dimasak, dilarang secara mutlak untuk diberikan, disedekahkan
atau dihadiahkan kepada orang bukan Islam. Oleh itu, tidak
boleh malahan dilarang ke atas orang yang berkorban ataupun fakir
miskin dan juga orang kaya yang menerima daging korban itu
memberikan, menghadiahkan atau menyedekahkannya kepada
orang bukan Islam.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka sewajarnya bagi mereka
yang diberikan atau menerima daging korban, lebih-lebih lagi yang
sudah dimasak, supaya berhati-hati agar daging korban itu tidak
dijamu atau dihidangkan kepada ahli keluarga, saudara-mara, jiran,
sahabat atau pekerja yang bukan beragama Islam.
Selain daripada itu, menurut ulama, sekiranya seorang kaya yang
dihadiahkan daging korban itu meninggal dunia sebelum sempat
memakannya atau menghadiahkannya, maka ahli waris si mati tadi
tetap juga dituntut untuk memelihara perkara yang dilarang dan
diharuskan oleh syara‘ terhadap daging korban tersebut
sepertimana yang dikenakan ke atas orang kaya yang pada asalnya
dihadiahkan daging tersebut. Ini bermakna hak pewaris orang kaya
terhadap daging korban tersebut hanya setakat untuk dimakan atau
disedekahkan atau untuk dijamu kepada fakir miskin dan orang
kaya di kalangan orang Islam.
Sebagai kesimpulan, golongan orang kaya yang menerima daging
korban hendaklah berwaspada dan berhati-hati terhadap daging
yang telah dihadiahkan kepada mereka agar terhindar dari
melakukan sebarang perkara yang menyalahi hukum syara‘. Ini
kerana sekalipun dihadiahkan daging korban bukan bererti
‘memilikinya’. Terdapat syarat-syarat yang wajib dipatuhi seperti
tidak memberikannya kepada orang bukan Islam sama ada yang
mentah ataupun yang sudah dimasak. Dia juga tidak mempunyai
hak untuk menjual atau seumpamanya, melainkan hanyalah untuk
dimakannya serta keluarganya, atau menyedekahkannya kepada
fakir miskin dalam keadaan mentah ataupun memasaknya
kemudian menjamu tetamunya di kalangan orang Islam, sama ada
golongan fakir miskin dan juga orang kaya.

http://www.brunet.bn/

Posted by: Habib Ahmad | 26 November 2009

Majlis Tazkirah malam Jumaat Bersama Sayyidi Al-Habib Umar~

Majlis Tazkirah malam Jumaat Bersama Sayyidi Al-Habib Umar~

Sudah menjadi kebiasaan bagi setiap malam ini @ Dar Al-Mustafa,akan diberi giliran bagi para pelajar/tetamu undangan untuk memberi tazkirah atau ikut istilah sana sebagai ‘kilmah’.

Kemudian Seorang lelaki Britain menceritakan tentang kisah beliau memeluk agama islam dan bagaimana beliau datang ke Tarim Hadramaut…

Beliau telah memeluk islam selama 9 tahun.Diceritakan secara ringkas:beliau apabila membuat keputusan utk memeluk agama islam,isterinya minta memilih antara dirinya,anak2 atau Islam,diminta untuk keluar dari rumah serta ditahan dari mengambil wangnya jika memeluk agama islam .Dan berbagai lagi kesukaran yang dihadapinya.

Ketika giliran habib (giliran terakhir) utk memberi kilmah…

Habib mengeraskan suaranya:

Wahai saudara2ku,
Orang yang memeluk agama Islam selama 9 tahun,
Memilih Allah dan mengorbankan selainNYa,
Dan engkau yang Allah anugerahkan Islam sejak lahir lagi…
Segalanya melalaikan engkau daripadaNYA?!

Wahai orang Mukmin,
Dimanakah pengorbanan yang dilakukan buat NYA?
Engkau tidak beriman dengan Tuhan ini?
Adakah engkau tahu makna Tuhan?

Agungkan TuhanMU,
Katakanlah ‘Allahu Akbar’ dari hatimu,
Tinggalkan selainNYA kerana DIA,
Dan apa itu selainNYA???
Segala apa yang ada pada dirimu…

Datang padaNYA..
Minta padaNYA..
Dia membahagiakan engkau dengan sesuatu yang tidak terfikir dalam benak fikiranmu…

*Please click LINK ini for watching the KILMAH!!!

P/s:Boleh ikuti majlis ini setiap malam Jumaat secara LIVE ONLINE!. Siaran akan diadakan dengan kewujudan Al-Habib Umar.Jika habib tiada,maka tiada siaran LIVE.Jadual ada dipaparkan disana.

Story (2):Majlis Malam Jumaat …

Seorang wanita Britain membuat persaksian mengucap kalimah syahadah di depan khalayak ramai iaitu dikalangan sesama kami jemaah wanita.Isteri Habib Umar (dipanggil dengan gelaran Hubabah) meminta beliau untuk ikut membaca kalimah syahadah .

Hubabah memulakan terdahulu ‘ashadu…’,Wanita itu pun mengikut ‘ashadu’,Hubabah meneruskan lagi ‘an lailaha illa Allah’,dia pun membaca ‘an lailaha illa Allah hingga keakhirnya…

Ketika ucapan syahadah itu dilafazakan dari mulut wanita itu…

Semua yang menyaksikan penyaksian itu mengalirkan air mata…terasa ‘Ya Allah…beratnya kalimah syahadah yang selama ini aku ucapkan…’.

Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam wa kafa biha ni’mah…

Kesimpulan:

-Ucapan dari hati yang bersih akan sampai ke hati orang lain walau perkataannya itu biasa.

-Perlu fahami betul2 makna ‘HAMBA’ dan tanami ia didalam diri KITA.

-Siapa yang memperbanyakkan ucapan tauhid dengan kehadiran hatinya,lama-kelamaan,setiap gerak-gerinya akan bergerak mengikut kalimah tauhid iaitu mengEsakanNYA dalam gerak-gerinya.

Ya Allah,kurniakan rasa hakikat kehambaan dalam diri kami sepertimana Engkau berikan ia kepada KekasihMU yang teragung Rasulullah sollahu ‘alaihi wasallam…

Posted by: Habib Ahmad | 26 November 2009

Allah bimbang manusia jadi 1 umat yang kafir

Allah bimbang manusia jadi 1 umat yang kafir
Posted on November 22, 2009 by sulaiman
Az-Zukhruf [33] Dan kalaulah tidak kerana manusia akan menjadi umat yang satu (dalam kekufuran), nescaya Kami jadikan bagi orang-orang yang kufur ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, bumbung rumah-rumah mereka dari perak dan tangga-tangga yang mereka naik turun di atasnya (dari perak juga),

[34] Dan juga pintu-pintu rumah mereka (dari perak juga) dan kerusi-kerusi panjang yang mereka berbaring di atasnya (dari perak juga),

[35] Serta berbagai barang perhiasan (keemasan) dan (ingatlah), segala yang tersebut itu tidak lain hanyalah merupakan kesenangan hidup di dunia dan (sebaliknya) kesenangan hari akhirat di sisi hukum Tuhanmu adalah khas bagi orang-orang yang bertakwa.

Allah bersifat Rahman (Pemurah) dan Rahim (Pengasihani). Allah bersifat pemurah walaupun kepada orang-orang yang kufur (kafir) dan derhaka kepadanya. Di dunia ini mereka tetap diberikan kesenangan dan kemewahan walaupun tidak beriman dan percaya kepada Allah. Di akhirat kemewahan hanya diberikan kepada orang Islam di dalam syurga. Harta dunia hanya menjadi milik kita semasa hidup di dunia sahaja. Harta akhirat pula kekal selamanya. Di akhirat, orang-orang kafir tidak akan merasa walau setitik air sejuk.

Emas dan perak semuanya berasal dari syurga.

Al-Insan [21] Mereka di dalam Syurga memakai pakaian hijau yang diperbuat dari sutera halus dan sutera tebal (yang bertekat), serta mereka dihiasi dengan gelang-gelang tangan dari perak.

Al-Kahfi [31] Mereka itu, disediakan baginya Syurga yang kekal, yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; mereka dihiaskan di dalamnya dengan gelang-gelang tangan emas….

Emas dan perak diturunkan ke dunia untuk mencantikkan dunia kerana dunia adalah tempat ujian untuk manusia, samada mereka kaya atau miskin. Dalam ayat di atas Allah menyelamatkan manusia yang beriman dari menjadi kafir, walaupun diberikan kemewahan kepada kafir semasa di dunia namun ia tidak menyamai tahap kemewahan di akhirat. Kemewahan di akhirat adalah untuk muttaqin (orang-orang bertakwa), yang taat dan patuh perintah Allah dan Rasul.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 741 other followers