Posted by: Habib Ahmad | 17 Mac 2010

Indahnya Umat Nabi Saw

Indahnya Umat Nabi Saw
Oleh : Alhabib Hasan bin Abdurrahman bin Zain Aljufri

(Disampaikan dalam majlis peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw di masjid Baiturrahim di Kebon Harjo – Semarang tanggal 11 Maret 2009)

Syukur alhamdulillah kita malam ini berada di tempat untuk mengingat Allah Swt yaitu masjid, masjid yang bernama Baiturrahim ini. Di tempat seperti ini turun rahmat Allah Swt 24 jam karena di masjid digunakan untuk mengingat Allah Swt sebagaimana dikatakan bahwa barang siapa datang ke rumah-Nya maka dia menjadi tamu-Nya. Maksud datang di sini tentu tidak sekedar datang saja tanpa berbuat apapun, tapi datang ke masjid dengan niat yang benar, memakai pakaian yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah Muhammad Saw, semaksimal mungkin meniru akhlaq Rasulullah Muhammad Saw dan ketika sampai di masjid melakukan kegiatan yang baik seperti sholat, tadarus, belajar mengajar, berdzikir, dsb dalam rangka mengingat Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw.

Kita butuh apapun kepada Allah Swt (kapan pun itu) maka kita bisa ketemu dengan Allah Swt 24 jam di masjid seperti ini, tidak seperti makhluq yang tidak selalu ada disaat kita membutuhkannya. Allah Swt selalu bisa kita temui kapan pun kita butuh. Rasulullah Muhammad Saw bersabda bahwa orang yang berjalan bolak-balik ke masjid dan rumahnya untuk ibadah maka dia termasuk orang dicintai Allah Swt.

Kita berkumpul untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad Saw yang bahkan binatang sekalipun menyambut bahagia lahirnya Nabi Muhammad Saw ini. Demikian juga dengan malaikat yang menyambut bahagia dan bersuka cita hingga ramailah langit karena kelahiran Nabi Muhammad Saw. Lihat, malaikat yang tidak mempunyai hawa nafsu (Kita mempunyai hawa nafsu, yang tidak mempunyai hawa nafsu maka dia tidak mau hidup. Hanya saja hawa nafsu ini sering kali mengajak kita berbuat buruk. Jika kita mampu untuk mengajak hawa nafsu kita untuk berbuat baik, untuk ibadah kepada Allah Swt maka hawa nafsu kita menjadi nafsu muthmainah) saja disaat kelahiran Nabi Muhammad Saw bisa merasakan kegembiraan seperti itu, mereka berbaris dari langit hingga ke rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Malaikat bertasbih dan bertahlil menyambut kelahiran Nabi yang mulia ini bahkan Arsy pun bergetar karena peristiwa ini!

Tidak seperti bayi-bayi yang lain, bayi Nabi Muhammad Saw begitu lahir langsung bersujud syukur kepada Allah Swt. Alhamdulillah tanpa kita mohon kita dijadikan sebagai umat Nabi Muhammad Saw.

Dikatakan oleh Imam Bushiri (penulis kitab Burdah) bahwa kita adalah kuat seperti kuatnya tiang yang tidak tergoyahkan oleh apapun juga jika kita berpegang teguh kepada Nabi Muhammad Saw. Nabi adalah orang yang terpilih (sudah dikabarkan di dalam kitab-kitab sebelumnya) dan tidak asal pilih. Di dalam kitab Taurat misalnya, di sana dijelaskan bahwa ada umat yang bekas wudlu-nya bercahaya yang cahayanya terang benderang melebihi cahaya yang lain. Nabi Musa As bermohon kepada Allah Swt agar umat itu adalah umat Nabi Musa As. Allah Swt menjawab itu adalah umat Nabi Muhammad Saw, bukan umat Nabi Musa As. Dijelaskan pula bahwa umat itu masuk ke surga lebih dahulu daripada umat sebelumnya. Ketika Nabi Musa As bermohon agar itu umat Nabi Musa As, maka dijawab oleh Allah Swt itu adalah umat Nabi Muhammad Saw. Meski umat Nabi Muhammad Saw berusia pendek jika dibandingkan dengan usia umat-umat terdahulu, tapi lebih dimuliakan daripada umat-umat sebelumnya.

Betapa mulianya menjadi umat Nabi Muhammad Saw, oleh karena itu tidak beres iman seseorang jika dia tidak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Diantara Rumah dan Mimbar Rasulullah saw adalah Taman-Taman Sorga
Senin, 10 November 2008

قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw :
“Diantara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman sorga, dan mimbarku diatas telaga Haudh” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Limpahan Puji Kehadirat Allah, Maha Raja Langit dan Bumi, Maha Menciptakan seluruh alam semesta dari ketiadaan, Maha Membentangkan angkasa raya dengan Kesempurnaan, Maha Berjasa atas setiap kehidupan dengan jasa yang tiada pernah terbayar dengan syukur dan sujud, Maha Suci Allah Swt yang telah membangkitkan kepada kita Sang Pembawa Risalah, Pembawa Kedamaian Dunia, Rahmatan Lil Alamin (Sayyidina Muhammad Saw), Pembawa Ketenangan di dalam kehidupan, Pembawa Kebahagiaan yang mengajar bimbingan terluhur dari segenap bimbingan. Sayyidina Muhammad Saw idolaku dan idola kalian, Sang Pembawa Akhlak Terluhur, manusia yang paling ramah, manusia yang paling bersopan santun, manusia yang paling banyak tersenyum, manusia yang paling indah budi pekertinya, mengajarkan bakti kepada Ayah dan Bunda, mengajarkan bakti kepada tetangga, mengajarkan bakti kepada rumah tangga, mengajarkan bakti kepada keluarga, mengajarkan bakti dan pembawa kedamaian bagi masyarakatnya…, Sayyidina Muhammad Saw.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Cahaya kesucian Allah yang berpijar di dalam jiwa Sang Nabi saw menerangi hamba hamba Nya dengan Alqur’anul karim sebagaimana firman Allah Swt “menyeru ke jalan Allah dengan kehendak Allah dan menjadi pelita yang terang benderang” (QS AL Ahzab 46). Walaupun beliau (Nabi Saw) teah wafat tetapi perjuangan dan bakti beliau dan jasa beliau tetap membekas dari zaman ke zaman di permukaan Barat dan Timur.

Hadirin hadirat,
Sang Pembawa Rahmatnya Allah Swt), kekasihku dan kekasih kalian, idolaku dan idola kalian.., Sayyidina Nabi Muhammad Saw. Allah Swt berfirman : “Demi bintang bila telah berpijar benderang” (QS Annajm 1). Najm adalah bintang yang mempunyai cahaya yang berpijar, Bintang di dalam bahasa arab ada 2 yaitu Najm dan Kawkab. Perbedaan Najm dan Kawkab, Kawkab adalah bintang yang cahayanya adalah pantulan dari cahaya bintang lain, kalau Najm adalah bintang yang bercahaya dengan cahaya sendiri.
Bulan termasuk Kawkab karena tidak bercahaya, namun mengambil cahaya dari matahari, dan matahari termasuk Najm karena berpijar dengan cahaya sendiri.

Allah Swt bersumpah demi bintang yang berpijar dengan keindahan. Sebagaian para ahli tafsir menjelaskan bahwa An Najm ini adalah Sayyidina Muhammad Saw. Ketika sedang berhadapan dengan Rabbul Alamin, sedang dalam puncak kerinduannya kepada Allah, berpijar dengan kerinduan pencipta Nya (Allah Swt). Demi sang bintang yang berpijar dengan cahaya yang indah, yang tentunya sebagian para ulama mengatakan yang dimaksud adalah Nabiyyuna Muhammad Saw karena beliaulah cahaya yang berpijar yang diberi gelar oleh Allah siraajan muniiraa (pelita yang terang benderang). Kalau bintang bintang itu kan akan sirna di hari kiamat terkecuali bintang yang berpijar yaitu kekasih Allah yang tercinta Sayyidina Muhammad Saw. “Beliau (Nabi Saw) itu bukan orang yang tidak mengerti dan bukan pula orang yang menipu”( QS Annajm 2). Dengan kejadian apa? dengan kejadian setiap ucapan dan kalimat kalimatnya yang menyampaikan Alqur’anul karim.

Allah Swt meneruskan firmannya “beliau (Nabi Saw) tidak berbicara dari hawa nafsunya kecuali wahyu yang diwahyukan Allah Swt kepada beliau” (QS Annajm 3).
Kalimat kalimat tersuci yang ada di alam, kalimat kalimat yang teragung yang muncul didalam tuntunan Sang Nabi Saw, yang dengan itu menenangkan hamba Nya, mereka yang dalam kesedihan atau di dalam permasalahan atau di dalam musibah akan tenang dan terus bersabar akan terangkat dari musibahnya dengan segera karena jiwa yang dipenuhi cahaya Sang Pembawa Al Qur’an, jiwa yang dipenuhi cahaya Allah dan Iman dan juga mereka yang dilimpahi kenikmatan dan keluasan tidak menjadi kufur dan sombong. Kenapa? karena ada cahaya iman. “Diajarkan pada beliau (saw) oleh yg dahsyat kekuatannya (jibril as)” (QS Annajm 4), Diajarkan kepadanya (saw), Jibril As yang Allah gelari Shadidul quwaa (dahsyah kekuatannya) Malaikat Jibril As. Yang diberi kemuliaan dan kekuatan oleh Allah Swt yaitu malaikat Jibril As.

Diriwayatkan oleh Imam Ibn Abbas ra di dalam tafsirnya bahwa ketika Jibril As lewat di Masjidil Aqsa melihat iblis dan saat itu iblis itu terkena angin daripada sayapnya Jibril As sehingga iblis itu terlempar sampai ke India. Demikian dahsyatnya kekuatan malaikat Jibril As.
Hadirin hadirat Allah menjelaskan bahwa Al Qur’an ini diturunkan kepada Sang Nabi saw oleh makhluk Nya yang paling kuat yaitu Jibril As diberi kekuatan oleh Allah. Tapi sekuat kuatnya Jibril As, Jibril As tidak mampu berhadapan dengan Allah, terkecuali Sayyidina Muhammad Saw. Dan berjumpa Jibril As dengan Sang Nabi Saw membawa beliau sampai kepada apa? dan disaat itu Sang Nabi Saw diangkat oleh Allah di ufuk agung yang tertinggi. Lantas Sang Nabi Saw mendekat kehadirat Allah Swt. Sedemikian dekatnya, seakan akan dekatnya 2 hasta dengan Rabbul Alamin. (Firman Allah swt : “Pemilik kekuatan sempurna, dan ia (nabi saw) di ufuk yg tinggi, lalu ia mendekat dan mendekat, hingga sangat dekat sejarak dua hasta atau lebih dekat, maka diwahyukan pada hamba Nya (Rasul saw) dari wahyu wahyu Nya, dan sungguh hatinya tak berdusta atas apa apa yg telah dilihatnya, apakah kalian meragukan apa yg dilihatnya?” QS Annajm 5-12), , Sangat dekat makhluk yang paling disucikan Allah Yang Maha Suci sehingga Allah memberikan perumpamaan “seakan akan dekatnya 2 hasta bahkan lebih dekat lagi”. Diwahyukanlah kepada hamba Nya apa apa yang ingin diwahyukannya oleh Allah. Sang kekasih, sanubari mulia itu tidak berdusta atas apa yang diucapkannya.
Imam Ibn Abbas ra di dalam tafsirnya menukil salah satu pendapat bahwa Nabi saw tidak melihat Allah dengan matanya tetapi melihat Allah dengan sanubari dan jiwanya.
karena kekuatan jiwa dan sanubari lebih tajam dari kekuatan penglihatan. Kekuatan penglihatan terbatas tetapi kekuatan jiwa dan sanubari jauh lebih tajam menangkap perjumpaan yang demikian agungnya dengan Rabbul Alamin. Penglihatan bisa berkedip dan terpejam tapi jiwa dan sanubari tidak berkedip.
Demikian pendengaran, demikian panca indera ada batasnya tetapi kemuliaan jiwa dan sanubari jauh lebih tajam. Oleh sebab itu Sang Nabi saw berhadapan dengan Allah dengan jiwanya. Kalau seandainya berhadapan dengan jiwa dan sanubarinya maka seluruh panca inderanya sudah pasti berhadapan,
demikian Al Imam Ibn Abbas menjelaskan di dalam tafsirnya. Beliau (Nabi Saw) melihat Allah dengan jiwanya dan itu telah terangkum dengan seluruh panca indera beliau. Apakah kalian masih meragukan apa apa yang dilihat Sang Nabi saw. Demikian agungnya penjumpaan Sang Nabi saw dengan Allah di malam yang suci itu dan ternyata keberkahan bukan hanya sampai disitu, justru itu adalah salah satu awal kebangkitan munculnya ajaran kedamaian di muka bumi. Kembalilah Sang Nabi saw ke muka bumi di dalam perjuangannya menegakkan Rahmat Lil Alamin. Tugas utama Sang Nabi Saw adalah Rahmatan Lil Alamin.

Sampailah kita kepada hadits mulia ini yang memberi kejelasan bahwa walaupun beliau sudah tidak berada di tengah tengah kita di dalam kehidupannya tapi mimbar beliau dan rumah beliau, apa apa yang ada diantara mimbar dan rumah beliau masih tetap taman taman surganya Allah Swt.

“Apa apa yang ada diantara mimbarku dan rumahku adalah taman taman surga”. Menunjukkan bekas perjuangan beliau (Nabi Saw) tidak pernah sirna. Oleh sebab itu Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani didalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa makna dari hadits ini adalah pendapat mereka yang mengatakan bahwa raudhah itu yang ada di Masjid Nabawiy antara mimbar dan kubur beliau itu yang disebut raudhah. Tempat itu lebih afdhal, dari Makkah Al Mukarramah ada sebagian pendapat yang mengatakan demikian tapi yang diluar itu tentunya adalah Masjid Al Haram lebih afdhal. Karena apa? karena ada haditsnya yang menjelaskan bahwa raudhah itu adalah taman taman surga.
Al Imam Ibn Hajar mengatakan sebagian ulama menjelaskan raudhah itu kelak akan dimunculkan oleh Allah dan dipindahkan di dalam surganya Allah Swt. Dan mimbarku berada diatas telaga haudh. Namun kesimpulan daripada hadits ini bahwa perjuangan Sang Nabi Saw tidak akan sirna dan keberkahan akan terus maju. Bagi mereka mereka yang ingin meneruskan perjuangan beliau (Nabi Saw) kemenangan akan selalu menjelang..

Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari, Rasul Saw bersabda “tidak akan ada habis habisnya kelompok dari umatku ada yang terus muncul diantara umatku berdakwah (pada kebenaran) mereka tidak akan sirna sampai sampai di hadapan Allah Swt”. Demikian mulianya kelompok ini, dijamin oleh Sang Nabi saw tetap ada dan membawa kedamaian.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Oleh sebab itu walaupun kerusakan yang terus terjadi diantara umat dan masyarakat kita. Munculnya narkoba yang semakin dahsyat dan segala hal yang bersifat munkar, ini semua pasti akan terbenahi jika muncul muncul kelompok kelompok yang ingin membenahi umat dengan kedamaian dan dengan rahmatan lil alamin. Ini akan terbenahi.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, semoga Allah Swt mengelompokkan majelis kita diantara mereka yang disabdakan oleh Sang Nabi Saw “tidak akan ada habis habisnya kelompok dari umatku akan terus ada, yang terus membawa tuntunanku dan bimbinganku, yang mneruskan perjuangan akhlak beliau, yang meneruskan sunnah beliau, yang meneruskan kedamaian yang dibawa oleh beliau”.

Inilah hari pahlawan kita. Hadirin hadirat,
mereka nenek moyang kita, kakek kakek kita berjuang dengans senjata apa adanya, Allah Swt berikan kemenangan karena kekuatan niatnya. Karena perjuangan merekalah kita bisa terlepas dari para penjajah dan tentunya kita tidak mau pisah dengan mereka begitu saja. Kita ingin bersatu dan bersama mereka dalam satu perjuangan thaifah ba’da thaifah. Generasi demi generasi dan sebelumnya dan sebelumnya sampai kepada generasi Sayyidina Muhammad Saw.

Ya Rahman Ya Rahim kuatkan jiwa kami untuk selalu bersatu dalam niat dengan para syuhada kami, dengan para pahlawan kami yang telah melewati dan menjadikan bumi Indonesia ini bersatu dalam kemakmuran dan kedamaian, Rabbiy Ya Rahman Ya Rahim mereka telah mengorbankan harta dan nyawanya demi mengusir para penjajah, demi mengusir para pengkhianat yang mendatangi bangsa kita, maka Rabbiy muliakan arwah mereka bersama syuhada dan muqarrabin. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram Ya Dzaththauli wal in’am
dan jadikan kami para penerus perjuangan mereka membawa kedamaian khususnya di bumi Jakarta dan juag wilayah sekitar. Ya Rahman Ya Rahim teruslah berikan bimbingan dan bantuan kepada kami untuk terus mendapatkan keberhasilan didalam membenahi masyarakat di sekitar kami, di dalam membenahi kedamaian, di dalam membenahi akhlak para pemuda kami.
Ya Dzaljalali wal ikram Ya Dzaththauli wal in’am kami telah mendengar sabdamu (Nabi Muhammd Saw) bahwa antara mimbar dan rumah beliau adalah taman taman surga karena tempat itu selalu dilewati oleh perjuangan beliau. Jadikan jiwa kami sebagai taman taman surga. Ya Rahman Ya Rahim dengan kecintaan kepada Nabi kami Muhammad Saw, dengan niat kami untuk terus meneruskan perjuangan akhlak beliau, perjuangan sunnah beliau, Ya Rahman Ya Rahim pastikan kami berada di dalam kelompok yang disabdakan oleh Sang Nabi Saw “tiada henti hentinya sekelompok dari umatku terus ada dari generasi ke generasi membawa kedamaian bagi masyarakat di muka bumi. Pastikan kami diantara mereka Ya Rabb Ya Dzaljalali wal ikram

jadikanlah Rabbiy malam ini malam terindah dalam kehidupan kami, inilah malam doa kami, demi semangat para pahlawan dan syuhada kami Rabbiy, mereka yang telah wafat dan arwah mereka telah berada di dalam kemuliaan, tambahkan kemuliaan mereka dan juga atas kami Ya Rabbiy Ya Rahman Ya Rahim jangan Kau pecah belahkan kami, jangan Kau hancur leburkan bangsa kami, satukan kami dalam satu kalimat muia, didalam kalimat tauhid, didalam keluhuran, didalam kedamaian, didalam kebahagiaan. Ya Rahman Ya Rahiim limpahkan keberkahan bagi kami, limpahkan atas kami kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadikanlah musim hujan yang akan datang membawa rahmat, jangan Kau jadikan musim hujan ini membawa musibah dan jadikan pula kemarau jika akan datang membawa rahmat dan jangan Kau jadikan pula musibah. Ya Dzaljalali wal ikram jadikan setiap nafas kami rahmat, jadikan hari hari kami limpahan anugerah, jadikan siang dan malam kami di limpahi kebahagiaan, limpahkan kemuliaan bagi Ayah Bunda kami dan bagi para pahlawan kami. Mereka Rabbiy, bagi Ayah Bunda kami yang masih hidup limpahkan keberkahan dalam hidupnya, Ayah Bunda kami yang telah wafat muliakan mereka bersama para muqarrabin dan para shidiqqin. Ya Rahman Ya Rahiim Ya Dzaljalali wal ikram Ya Dzaththauli wal in’am

Hadirin hadirat kita berdoa sambil memanggil Nama Allah Yang Maha Luhur dan jadikanlah dalam setiap kalimat itu, doa doamu dan harapanmu kepada Allah Swt dan Insya Allah tiada satupun doa yang kita panjatkan terkecuali dikabulkan oleh Allah Swt. Dengan keberkahan majelis dzikir, dengan Keagungan Nama Allah, dengan Kebesaran dan Cahaya Nama Allah Swt mintalah cahaya kedamaian dan kebahagiaan sepanjang hidup, mintalah cahaya kemegahan dunia dan akhirat, mintalah cahaya kebahagiaan terbit pada hari harimu dan tiada pernah terbenam.
Panggillah Nama Allah Swt sebagaimana firmannya “Ingatlah kalian kepada Allah maka Allah akan mengingat kalian”(QS Al Baqarah 152), dan “Dzikirlah dan sebutlah Nama Allah dengan sebutan yang banyak”(QS Al Ahzab 41). Dan “barangsiapa yang mencintai sesuatu, akan banyak menyebutnya”. Maka jadikanlah kau di kelompok orang yang mencintai Allah Swt, Rabbiy Rabbiy kami telah mendengar hadits qudsi dari NabiMu Muhammad Saw, dari firmanMu Rabbiy Yang Maha Luhur, “sudah kupastikan kasih sayang Ku bagi mereka yang saling berdzikir dan saling bersilaturahmi karena Aku dan saling menyayangi dan bersatu karena Aku, Kupastikan atas mereka kasih sayanKu” kata Allah. Pastikan atas kami kasih sayangMu Ya Rabb, pastikan atas kami cahaya kasih sayangMu Rabbiy yang dengan itu menerbitkan tuma’ninah dan kebahagiaan didalam hari hari kami.

Ya Allah…, Ya Allah…, Ya Allah…, Ya Allah …..

Ya Rahman Ya Rahiim hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, selagi engkau menyebut Nama Allah satu kali engkau lebih dekat kepada Allah Swt, semakin dekat kepada Allah dan semakin jauh dari musibah dan semakin jauh dari cobaan dan semakin jauh dari hambatan karena Dialah Yang Maha Meluaskan segala galanya, mintalah kehadiratNya Yang Maha Melimpahkan Keluasan dan Kebahagiaan, semoa dilimpahkan bagi kita keluasan dunia dan akhirat.

Faquuluuu (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah

Washallallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Seri manaqib Imam Bukhari: Apresiasi terhadap hadits-hadits Nabi SAW
Ditulis oleh Admin di/pada 11 Agustus 2008

Para sahabat Nabi SAW tergolong sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Begitu juga para ulama pengambil hadits. Mengenai hal ini diriwayatkan, bahwa Imam Bukhari pernah menempuh jarak ratusan mil untuk menemui seorang perawi hadits. Saat tiba di lokasi, ternyata si perawi sedang sibuk mengejar seekor kudanya. Orang itu mendekati kudanya sambil membawa sebuah ember seolah ingin memberi makan, padahal ember itu kosong dari makanan. Melihat pemandangan ini, Imam Bukhari membatalkan niatnya untuk mengambil hadits dari orang itu. Ia beranggapan, bila terhadap binatang saja ia berlaku tidak jujur, dia pun bisa berlaku yang sama dalam meriwayatkan hadits.

Masalah kehati-hatian dalam meriwayatkan hadits, tergambar dalam ucapan Anas bin Malik yang setiap meriwayatkan sebuah hadits, beliau berucap, “Au kamaa qaala” (yang artinya “atau sebagaimana yang disabdakan”). Hal ini karena kekhawatiran berbeda lafadz dengan apa yang disabdakan oleh Nabi SAW.

Zaid bin Arqam setelah berusia lanjut, apabila ditanya tentang suatu hadits, beliau menjawab, “Kami telah tua dan banyak lupa, sedangkan menerangkan hadits adalah tugas yang sangat berat.”

Asy-Sya’by berkata, “Saya pernah duduk setahun lamanya di majlis Ibnu Umar, namun tak satu hadits pun yang kudengar darinya.”

Sedang mengenai Abu Hurairah yang melazimi Nabi hanya 3 tahun, namun meriwayatkan terbanyak, beliau berucap, “Aku menerima banyak hadits, karena aku senantiasa berada disamping Rasulullah SAW. Aku tidak berdagang, tidak bertani dan seluruh waktuku kupergunakan untuk menghafal hadits.”

Mengenai daya ingat para Sahabat dan khususnya Abu Hurairah ini sangat makruf di dalam sejarah. Bahkan diriwayatkan, bahwa beliau mendapat doa khusus dari Rasulullah agar kuat hafalannya.

Gubernur Marwan pernah menguji hafalan Abu Hurairah. Beliau dipanggil dan disuruh menyampaikan hadits, sementara sekretaris Marwan menulis seluruh hadits yang disampaikannya. Setahun kemudian, beliau dipanggil lagi untuk menyampaikan apa yang pernah disampaikannya tentang hadits. Sekretaris Marwan bersembunyi sambil mencocokkan apa yang pernah ditulisnya setahun yang lalu. Dan ternyata tak satu pun hadits yang terlewati, atau juga yang salah.

Kekuatan hafalan ini juga dimiliki oleh Imam Bukhari. Sewaktu beliau datang ke Baghdad, para ahli hadits disana ingin mengujinya dengan memutar-balikkan perawi dari 100 hadits. Setelah mereka selesai mengacaukan perawi-perawi 100 hadits tersebut, Imam Bukhari mampu merangkai kembali dan menunjukkan kesalahan mereka satu per satu hingga selesai 100 hadits.

Imam Bukhari yang setiap malam bulan Ramadhan menyelesaikan 1/3 Al-Qur’an ini, wafat pada malam 1 Syawal 256 H (870 M), di Khartanak, Samarqand. Semoga Allah SWT meridhoi beliau, dan melimpahkan barakahnya kepada kita semua. Aaamiin.

[Diambil dari Sejarah Singkat Imam Bukhari dan Karyanya Shohih Bukhori, Habib Muhsin bin Muhammad Aljufri & Habib Abdurrahman Alhaddad, disebarkan pada acara khatam At-Tajriidu As-Shoriih, 5 Nopember 1999, di kediaman Habib Zaki bin Abdurahman Assegaf, Solo]

Terbitlah purnama

Ditulis oleh Admin di/pada 10 Maret 2009

Kalam Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji

Terbitlah purnama kepada kita
Dengan terbitnya tenggelam seluruh bulan lainnya
Rupawan seindah wajahmu tak pernah kami menyaksikannya
Wajah ceria penuh sukacita

Engkau mentari, engkaulah punama
Engkau cahaya di atas segala cahaya
Engkau pembangkit semangat dan daya
Engkau lentera hati kita

Wahai kekasihku wahai Muhammad junjunganku
Wahai bintang dari Timur dan Barat
Wahai engkau sang pendukung wahai yang terpuji
Wahai imam dua kiblat

Siapa yang sempat melihat wajahmu betapa untungnya
Wahai engkau yang berbudi mulia pada orangtua
Mata airmu yang sejuk dan suci
adalah tempatku mereguk minum di hari kebangkitan nanti

Kami tak pernah melihat unta-unta
dari mana pun asalnya berjalan gembira
kecuali saat mereka menujumu semata
Awan-awan melindungimu
Dan tuan rumah mulia melimpahkan segala
Hadiah kehormatan bagimu saja

Pepohonan mendatangimu menitikkan airmata
merundukkan diri antara dua tanganmu
Dan kijang-kijang yang melesat itu wahai kekasihku
Mereka pun datang untuk perlindunganmu

Bila semua karavan telah siap sedia
saat keberangkatan telah diumumkan bagi semua
‘Kudekati mereka dengan basah airmata
sembari berkata, “tunggu sejenak, wahai tuan kepala,
dan kirimkan untukku beberapa surat ini saja”
Wahai rasa rindu yang tak tertanggungkan

Di tengah tujuan nampak rumah-rumah hunian
Waktunya malam hari dan saat awal subuh sekali
Di puncak gembira semua makhluk di alamraya ini
Untukmu wahai pria berdahi rupawan berseri
Cinta mereka bagimu sungguh tak ada yang memadai
Penuh tunggu penuh rindu
dalam kehadiran aura jiwamu
Umat manusia yang ada dimana-mana laksana terpana

Engkaulah penutup seluruh nabi
Dan pada Dia Tuhanmu bersyukur engkau tiada henti
Hamba-hambamu ini wahai Tuhan amat mengharapkan
seluruh rahmatmu berlimpah baginya tanpa henti

Pikiran kami tentang dirimu junjunganku Muhammad
senantiasa luhur dan suci
Wahai pembawa berita gembira wahai pemberi peringatan
bagi umat manusia
Bantu aku ya Allah dan lindungi aku
Wahai yang mampu melindungi siksa api neraka
Wahai yang mampu menolong dan tempat kami berlindung
di saat-saat malapetaka harus ditanggung

Sukacitalah sang budak yang telah merasakan arti
bahagianya merdeka
dari segala pedih dan cemas atasmu Muhammad kekasih hati
yang cahayanya begitu terang layaknya purnama
bagimu seluruh kebaikan sempurna

Dibanding dirimu tak ada lagi yang lebih suci
Wahai kakek baginda Husain
Bagimu seluruh rahmat Allah semata
terus menerus melimpah sepanjang masa

Wahai engkau yang derajatnya tinggi diangkat
Maafkan segala dosa yang kami buat
dan maafkan segala kesalahan kami
Engkau murah maaf bagi segala salah
dan segala laku tercela

Engkau yang memaafkan semua dosa
Engkau yang meluruskan jalan kami yang menyimpang
yang mengetahui semua rahasia
Bahkan yang paling dalam dari semua rahasia
Engkau yang menjawab semua doaku

Tuhanku, kasihi semua hambamu ini
melalui jalan kebajikan dan kebaikan
Semoga rahmatMu tercurah bagi Ahmad
rahmat melebihi seluruh baris
yang pernah ditulis

Aku berdoa bagi Muhammad yang selalu dalam bimbinganNya
Pemilik wajah cahaya wajah yang berkilau laksana sang surya
Malam hari kelahirannya bagi Islam adalah saat sukacita
saat semua berbangga

Hari itu anak perempuan Wahab
Memperoleh berkah kebesaran tak wanita lain pun
pernah mendapatkan
Dia pun mendatangi kaumnya
lebih anggun
bahkan dari Maryam wanita yang perawan selamanya

Masa kelahirannya adalah masa kedurhakaan pada puncaknya
dan kelahirannya adalah puncak bencana bagi para pendurhaka

Namun dalam suasana kebahagian penuh sukacita
Yang berjalan tanpa henti-hentinya
Kabar baik itu datang juga
Telah lahir seorang Muhammad
Pribadi yang selalu berada dalam bimbinganNya
dan masa bahagia
Serta yang di atasnya semua bahagia
datanglah pada akhirnya

[Petikan syair pada buku maulud Barzanji, karya Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji]

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Kemuliaan Sholawat

Kemuliaan Sholawat

Oleh : Alhabib Hasan bin Abdurrahman bin Zain Aljufri

(Disampaikan dalam majlis pembacaan kitab maulid Simthud Durrar di Sendang Indah – Semarang tanggal 11 Maret 2009)

Mari kita bersyukur kepada Allah Swt karena sudah dikumpulkan oleh Allah Swt di sini. Di tempat ini kita mengingat Allah Swt, mengingat Nabi Muhammad Saw dan mengingat orang-orang yang mencintai Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Semoga di akhirat nanti kita juga dikumpulkan bersama-sama Rasulullah Muhammad Saw. Amin.

Kita bermodalkan mencintai Rasulullah Muhammad Saw. Dikisahkan ketika pada suatu hari rombongan Rasulullah Muhammad Saw sedang berjalan menuju ke suatu tempat dihentikan oleh seseorang sahabat dan beliau bertanya kapan hari kiamat akan tiba. Rasulullah Muhammad Saw balik bertanya kepadanya apakah yang sudah dia siapkan sehingga dia tanya kapan hari kiamat akan tiba? Sahabat tersebut menjawab dia tidak mempersiapkan apa-apa karena dia sadar bahwa ibadahnya hanya sedikit, dia hanya yakin bahwa dia mencintai Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Rasulullah Muhammad Saw menjawab bahwa sahabat itu akan bersama yang dicintainya nanti di hari kiamat.

Sahabat-sahabat yang lain yang bersama Rasulullah Muhammad Saw bahagia sekali mendengar kabar tersebut seakan-akan tidak ada kabar bahagia selain ini, sebab mereka tahu bahwa ibadah mereka tidak mungkin sekhusyuk Rasulullah Muhammad Saw, tidak mungkin seikhlas Rasulullah Muhammad Saw, tidak mungkin sesempurna Rasulullah Muhammad Saw…mereka hanya mencintai Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Mereka bahagia bahwa dikatakan mereka akan bersama yang mereka cintai.

Dikatakan bahwa barang siapa mendatangi suatu tempat dimana tempat itu dibacakan maulid (sejarah Rasulullah Muhammad Saw), maka dia sebenarnya sedang mendatangi ridho Allah Swt. Kenapa? Karena kita datang dengan berniatkan mencintai Rasulullah Muhammad Saw yang mana niat ini akan membawa kita melakukan hal-hal yang cintai oleh Rasulullah Muhammad Saw. Bukankah orang yang mencintai sesuatu akan melakukan hal-hal yang disukai oleh yang kita cintai?

Barang siapa dengan tulus mencintai Rasulullah Muhammad Saw maka Rasulullah Muhammad Saw akan mencintainya. Salah satu bukti kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad Saw adalah dengan bersholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Nabi Adam As dahulu kesepian ketika berada di surga, oleh Allah Swt diciptakanlah ibu Hawa. Sudah sifat kita tertarik kepada sesuatu yang indah-indah, begitu juga Nabi Adam As yang tertarik kepada ibu Hawa. Ketika Nabi Adam As bertanya kepada Allah Swt bahwa Nabi Adam As menginginkan ibu Hawa, maka Allah Swt melarang Nabi Adam As mendekati ibu Hawa sebelum memberikan mahar. Lihatlah di surga yang semua keinginan kita tinggal meminta pada Allah Swt langsung dikabulkan saja Nabi Adam As masih disuruh memberikan mahar untuk ibu Hawa! Nabi Adam As bertanya apa maharnya ya Allah? Dijawab oleh Allah Swt bahwa mahar yang harus diberikan adalah sholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw. Kemudian Allah Swt menjelaskan kepada Nabi Adam As siapa Rasulullah Muhammad Saw yang di akhirat dikenal dengan nama Ahmad sebenarnya.

Lihat ini bukti bahwa betapa mulianya sholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw itu! Sholawat bermanfaat untuk banyak hal dunia dan akhirat. Alhabib Ali bin Muhammad bin Husein Alhabsyi (penulis kitab Simthud Durrar) berkata bahwa ketika beliau sumpek maka beliau membaca sholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Bagaimana untuk menjadikan Rasulullah itu di depan mata KITA?


Dijawab oleh Sheikh Usamah As-Sayyid Al-Azhari:

1)Sentiasa membaca kalam Rasulullah sollahu ‘alahi wasallam iaitu Hadis2nya dan Sirah Baginda.Jadikan ia rutin harian
.

Tambahan sheikh lagi:

Sheikh ‘Ali Jumaah(Mufti Mesir) membaca 40 kitab mengenai Rasulullah hingga beliau dapat mimpi Rasulullah s.a.w.

Rasulullah s.a.w bersabda:

من رآني في المنام فقد رآني فإن الشيطان لا يتمثل بي
~Riwayat Imam Muslim

(Maksud)Siapa melihat aku dalam mimpi,maka dia telah melihatku,kerana sesungguhnya syaitan tidak menyerupaiku.

2)Sentiasa membersihkan hati agar apa yang dibaca tentang Rasulullah itu memberi kesan.

3)Hati dipenuhi dengan penuh rasa keagungan dan hormat terhadap Rasulullah.

4)Menghilangkan hijab yang ada dalam hati iaitu Kibr(Sombong) sehingga kita ini menyerahkan diri kita kepadanya dengan mengikut segala suruhannya secara total.

Belajar tentang Rasulullah!!!

Bagi mereka yang berada di Mesir…

Khaskan setiap Rabu selepas Asar untuk baca Al-Mawahib Al-ladunnia syarah Syamail Muhammadiyah @ Masjid Al-Azhar dibimbing oleh sheikh Ahmad Hajin.Khaskan masa itu buat Rasulullah.

P/s:Kalau duduk bersama ulama,jangan diambil ilmunya saja,tapi perhatikan akhlak dan tingkah lakunya.Insafi akan diri sendiri yang terlalu jauh dari adab2 Rasulullah s.a.w.

http://almaarif87.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Jauhi Syirik !

January 06, 2009
Jauhi Syirik !
Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di majlis Madadun Nabawiy di masjid Alhikmah, Gemah – Semarang, tanggal 3 januari 2009)

Ingatlah, awal yang maka akhir akan baik pula dan yang tengah akan mengikuti! Semua yang kita lakukan akan dima’afkan oleh Allah Swt kecuali syirik. Syirik yaitu semua yang menduakan Allah Swt baik dhohir ataupun batin.

Syirik secara dhohir sebagaimana diketahui adalah menyembah dan mengakui Tuhan selain Allah Swt dengan diikuti oleh gerak badan kita, misal menyembah patung, menyembah pohon, mengakui lewat lesan bahwa dia yakin kepada selain Allah Swt dsb. Syirik secara dhohir seperti ini maka jika dilakukan oleh orang yang semula islam maka dia diharuskan mengucapkan lagi kalimat syahadat, mengakui lagi lewat lesannya bahwa dia hanya ber-Tuhan kepada Allah Swt saja dan hanya nabi Muhammad Saw sebagai nabi terakhir.

Syirik batin terlihat kecil tapi lebih berbahaya daripada syirik dhohir karena orang yang seperti ini mungkin secara dhohir tidak terlihat menyembah Tuhan selain Allah Swt tapi keyakinannya sudah berpindah kepada selain Allah Swt. Orang yang seperti ini lesan mengakui Allah Swt tapi hatinya tidak, hatinya meragukan Allah Swt! Inilah letak bahayanya!

Sebagian contoh dari syirik batin adalah sebagaimana diketahui bahwa Allah Swt menjamin rizqi semua makhluq, tapi sering kali kita masih saja khawatir akan rizqi kita manakala kita mempunyai sedikit uang, manakala kita tidak bekerja dsb. Kita sering berkata, “Mau makan apa kalau tidak bekerja?” Perkataan semacam ini menimbulkan keraguannya kepada Allah Swt. Betul kerja memang salah satu washilah untuk menjemput rizqi dari Allah Swt, tapi tidak boleh kita meyakini bahwa kalau tidak bekerja maka tidak mendapat rizqi. Kita tidak boleh meyakini rizqi itu dari pabrik ini, kalau tidak tidak lewat pabrik itu maka kita tidak mendapatkan rizqi…yang seperti ini yang tidak boleh. Rizqi itu datangnya dari Allah Swt, Allah Swt menyampaikan rizqi kepada kita lewat berbagai jalan yang tidak kita duga. Yakin saja maka Allah Swt akan memenuhi rizqi kita! Tentu harus disertai usaha.

Begitu juga dengan berobat, obat memang bisa membuat sembuh penyakit kita tapi kita harus meyakini bahwa yang menyembuhkan kita bukanlah obat, Allah Swt-lah yang menyembuhkan kita.

Jika kita melakukan syirik batin maka oleh Allah Swt kita dikasih berbagai kejadian yang semakin membuat kita jauh dari Allah Swt, makin kuat syirik batinnya, durhaka kepada orang tua kita (red. Semua perbuatan kita yang membuat sakit orang tua kita itu tercela, penuhi perintah mereka selama sesuai dengan syari’at. Jika melanggar syari’at maka bantahlah dengan cara yang baik), memutuskan tali silaturrohim sebab akan dilaknat di alam barzah, mahsyar dan di siroth (red. Balaslah keburukan dengan kebaikan sebab keburukan yang dibalas dengan kebaikan akan bermanfaat bagi kita dan keturunan kita hingga kiamat nanti).

Allah Swt sesuai dengan keyakinan kita, meskipun kita membaca wirid yang mulia tapi kalau kita meyakini bahwa wirid itu yang menyelematkan kita maka ini termasuk syirik batin. Keselamatan hanya dari Allah Swt, hanya saja lewat wirid dsb. Perantara atau washilah itu boleh sebab tidak ada yang tidak butuh perantara. Dengan ijin Allah Swt maka wirid bisa membantu menyampaikan kita sampai di surga, setelah kita sampai di surga maka wirid pergi meninggalkan kita. Inilah manfaat amal baik yang membantu kita di dunia dan akhirat.

Semua tergantung kita, oleh karena itu manfaatkan semua yang ada untuk berbuat baik! Semua benda akan menyerap apapun yang dibacakan kepadanya, maka bacakan kalimat-kalimat yang baik yaitu kalimat yang mengingat Allah Swt dan nabi Muhammad Saw agar benda-benda tersebut menjadi baik dan bermanfaat bagi kita.

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Yang Selamat)

Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Yang Selamat) ? Bab 1
Dicatat oleh IbnuNafis
Label: Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Selamat) ?
Doktor Azizah al Kayali melalui bukunya ini sangat mengharapkan adanya muhasabah diri dalam hal metodologi dakwah dari mereka yang mengaku diri sebagai satu-satunya kelompok yang termasuk dalam Firqah an Najiah kerana setidak-tidaknya metodologi yang dibawa oleh mereka ini telah mengakibatkan 2 kesan buruk iaitu :

1. Menyakiti kaum Muslimin lain yang tidak termasuk dalam kelompok mreka kerana seringkali dituduh sebagai Ahlu An Nar (penghuni neraka) . Dan akibatnya sesama kaum Muslimin sering terjebak di dalam pelbagai konflik dan permusuhan – perkara ini sudah terjadi di Malaysia. Lihat sahaja di dalam internet dan juga perpecahan yang berlaku di Malaysia akhir-akhir ini yang menggoncang persaudaraan dan perpaduan umat Islam.

2. Menggembirakan orang-orang kafir kerana mereka yang memang menginginkan retaknya hubungan di antara umat Islam, merasa tidak perlu bersusah payah menimbulkan provokasi, cukup hanya menjadi penonton kerana umat Islam sendiri sudah bermusuhan antara satu dengan yang lain.

Dari segi nas-nas agama, pengakuan mereka sebagai satu-satunya Firqah Najiah akan mengakibatkan majoriti umat Muhammad ini dari agama Islam (kerana telah dijatuhkan hukuman kafir atau syirik). Padahal dalam hadith-hadith sahih disebutkan bahawa umat Muhammad atau umat Islam akan menjadi majoriti penghuni di Syurga. Mari ktia perhatikan hadith sahih yang direkodkan oleh Bukhari dan Muslim sebagai berikut yang bererti :

Dari Ibnu Mas’ud radiyaLlahu anhu dia berkata :

Pernah kami sekitar 40 orang lebih bersama RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam di dalam sebuah rumah kecil yang bundar. Lalu beliau bersabda : Mahukah kamu menjadi 1/4 penghuni syurga? Kami menjawab : Ya. Beliau bersabda lagi : “Mahukah kamu menjadi 1/3 penghuni syurga? . Kami menjawab : Ya. Beliau lalu bersabda : “Demi zat yang jiwa Muhammad ada dalam kekuasaanNya, sesungguhnya saya benar-benar mengharapkan agar kalian semua (iaitu umat Islam) menjadi 1/2 penghuni syurga. Yang demikian itu kerana tidak ada yang akan masuk ke syurga kecuali orang Muslim dan tidaklah kamu semua akan berada dalam golongan orang-orang yang berbuat kesyirikan kecuali seperti rambut putih yang ada pada kulit lembu yang htiam atau seperti rambut hitam yang ada pada kulit lembu yang merah.
Hadith sahih di atas dengan jelas menunjukkan bahawa umat Islam ini adalah majoriti penghuni syurga di mana Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam mengharapkan agar umat Islam ini menjadi 1/2 ahli syurga. Para ulama berkata bahawa semua harapan (roja’) yang berasal dari ALlah subahanahu wa ta’ala atau dari Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam maka ia pasti akan terbukti.

Menurut imam al Qurthubi petunjuk harapan Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam itu dapat dilihat pada firman ALlah ta’ala :

وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ (٥)

Ertinya : Dan sesungguhnya Tuhanmu akan memberikanmu (kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat) sehingga engkau reda (berpuas hati).
(Surah ad Dhuha : ayat 5)

Menurut as Suddi ayat ini menunjukkan adanya syafa’at bagi seluruh kaum Mukminin. (Lihat Tafsir al Qurthubi XX/68). Begitu juga dengan firman ALlah dalam sebuah hadith qudsi riwayat Imam Muslim yang bererti :
Sesungguhnya Kami benar-benar akan memuaskanmu berkaitan umatmu dan Kami tidak akan membuatmu sedih
(Dalilul Falihin II/267)

Pada hadith tersebut Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam menggambarkan umat Islam ini adalah 1/4nya adalah penduduk syurga lalu naik jumlahnya menjadi 1/3 lalu naik lagi menjadi 1/2 penduduk syurga. Teknik penyampaian ini lebih menyentuh hati dan menggugah perasaan serta menunjukkan adanya pemuliaan (ikram) terhadap umat ini kerana memberikan sesuatu kepada seseorang secara berulang-ulang menunjukkan adanya perhatian terus menerus kepada orang tersebut. Dan juga teknik penyampaian seperti ini mengandungi adanya pengulangan terhadap penyampaian khabar gembira (bisyarah) dan ini akan mendorong seseorang untuk juga memperbaharui atau mengulang-ulang rasa syukurnya kepada ALlah subahanahu wa ta’ala. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan :

Sesungguhnya penduduk syurga itu terdiri dari 120 saf, 80 safnya terdiri dari umat ini (iaitu umat Islam).

Hadith ini menunjukkan bahawa penghuni syurga nanti 2/3 nya terdiri dari umat Islam.Bererti umat Islam ini lebih dari 1/2nya adalah penghuni syurga iaitu melebihi jumlah yang disebutkan dalam hadith pertama di atas. Hal ini tidaklah menunjukkan adanya percanggahan antara dua hadith tersebut melainkan Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini telah memberitahu lagi dengan jumlah yang lebih banyak. (lihat Dalilul Falihin II/271 terbitan Darul Kutub al Ilmiyyah pada bab ar Roja’).

Selanjutnya penegasan Nabi SallaLlahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Bukhari dan Muslim di atas :
Dan tidaklah kamu semua akan berada dalam golongan orang-orang yang berbuat kesyirikan kecuali seperti rambut putih yang ada pada kulit lembu yang hitam atau seperti rambut hitam yang ada pada kulit lembu yang merah.

Bukankah ini menunjukkan bahawa umat Islam yang jatuh ke dalam perbuatan syirik hanyalah minoriti seperti sedikitnya rambut putih di atas kulit lembu yang hitam. Cubalah perhatikan lembu yang kulitnya berbelang-belang, bukankah yang majoritinya itu adalah rambut yang berwarna hitam dan rambut putihnya sangat sedikit. Sementara terang dan jelas dinyatakan dalam hadith itu bahawa umat Islam yang jatuh dalam kesyirikan hanyalah laksana rambut putih yang ada pada kulit lembu berwarna hitam.

Dengan nas ini terbuktilah bahawa sikap mereka yang terlalu mudah menuduh orang lain dengan syirik dan kafir hingga menghukum kepada kafir atau musyriknya majoriti umat ii adalah nyata bertentangan dengan penjelasan Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam.

Sebagai penambahan sebelum menela’ah kitab tulisan Doktor Azizah al Kayali mari kita renungkan 2 hadith Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam berikut :

Dari Ubadah bin Shamit radiyaLlahu ‘anhu dia berkata: bersabda RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam : Barangsiapa bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain ALlah yang Esa serta tidak ada sekutu bagiNya dan bahawa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya, bahawa Nabi Isa adalah hamba ALlah dan utusanNya (ke Bani Israel) juga kalimatNya yang disampaikan keapda Maryam serta ruh dariNya. Dia juga bersaksi bahawa syurga itu haq, dan neraka juga haq, maka ALlah apsti akan memasukkannya ke dalam syurga walau bagaimanapun amal perbuatannya
(Hadith muttafaqun ‘alaih).

Hadith yang direkodkan oleh Muslim dari Ubadah bin Shamit juga RasuluLLah sallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Barangsiapa bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain ALlah dan bahawa Muhammad adalah utusan ALlah maka ALlah akan mengharamkan atasnya api neraka.

Dengan demikian maka semua kaum Muslimin itu, sepanjang dia masih beriman, pasti akan masuk syurga. Mengenai apakah secara langsung tanpa hisab atau masuk neraka terlebih dahulu baru kemudian masuk syurga, semua itu hanya ALlah yang tahu dan kita wajib menyerahkan keputusannya kepada kehendak ALlah subahanahu wata’ala.

Penterjemah Abu Al Fayadi

Maha Suci Allah Dari Berjisim & Beranggota Tubuh – JAKIM

Datuk Wan Mohamad Sheikh Abdul Aziz
Ketua Pengarah JAKIM

JAKIM :

‘‘Tetapi kalau dimaksudkan Allah itu adalah Tuhan yang mempunyai anak dan diperanakkan, yang mempunyai tangan dan kaki dengan sifat-sifat tertentu, maka itu bukan Allah, inilah jawapan Jakim,”

____________________

Jakim pertahan perkataan Allah hanya untuk Islam

PUTRAJAYA 2 Mac – Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) tetap berpendirian bahawa perkataan Allah tidak boleh digunakan untuk agama lain selain Islam, kata Ketua Pengarahnya, Datuk Wan Mohamad Sheikh Abdul Aziz.

Beliau menegaskan, langkah itu selaras dengan keputusan jemaah menteri sejak sekian lama dan larangan penggunaan nama Allah serta beberapa istilah Islam lain turut diwartakan oleh 10 buah negeri. ‘‘Kita perlu menghormati keputusan jemaah menteri dan undang-undang sedia ada yang telah diperkenankan oleh Sultan dan Raja-Raja Melayu. ‘‘Jadi, keputusan Kementerian Dalam Negeri (KDN) menarik balik perintah membenarkan penggunaan nama Allah dalam penerbitan agama lain adalah satu langkah profesional yang menghormati undang-undang sedia ada,” katanya.

Wan Mohamad berkata demikian pada sidang akhbar mengenai sambutan Maulidur Rasul Peringkat Kebangsaan 1430 Hijrah di sini hari ini. Beliau mengulas pandangan Mursyidul Am Pas, Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat semalam yang menganggap tidak salah bagi orang bukan Islam menggunakan perkataan Allah bagi merujuk kepada Tuhan. Bagaimanapun Menteri Besar Kelantan itu menyerahkan kepada pihak berkenaan untuk menyelesaikan isu penggunaan kalimah Allah dalam penerbitan agama Kristian.

Setakat ini hanya Wilayah Persekutuan, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak tidak mempunyai undang-undang yang memaktubkan tentang pengharaman penggunaan perkataan Allah kepada agama lain.

Wan Mohamad berkata, sekiranya penganut agama lain mengiktiraf dan berikrar bahawa tuhan mereka adalah Allah yang Maha Esa seperti yang diakui oleh orang Islam, maka beliau orang pertama yang paling gembira. ‘‘Allah adalah Tuhan yang tidak mempunyai anak atau diperanakkan, jika ini yang diterima, maka ia adalah satu kejayaan dalam dakwah kita. ‘‘Tetapi kalau dimaksudkan Allah itu adalah Tuhan yang mempunyai anak dan diperanakkan, yang mempunyai tangan dan kaki dengan sifat-sifat tertentu, maka itu bukan Allah, inilah jawapan Jakim,” jelas beliau.

Beliau menyatakan, pada peringkat awal jika perkataan Allah dibenarkan untuk digunakan oleh agama lain, ia akan mengelirukan banyak pihak. ‘‘Lazimnya kekeliruan akan membawa kepada ketegangan dan ini patut dielakkan kerana Malaysia kaya dengan sejarah ketegangan agama dan kaum. ‘‘Jadi, bagi pihak pemerintah, kita bertanggungjawab memastikan keamanan dan persefahaman antara agama dan adalah lebih baik kita ambil langkah awal untuk mengelakkan ketegangan,” katanya.

Justeru Wan Mohamad berkata, Jakim bersedia mengadakan dialog antara agama bagi mencari persefahaman mengenai pelbagai isu yang berbangkit. ‘‘Jakim dan Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) sentiasa menganjurkan dialog antara agama tetapi kebiasaannya ia tidak menjadi satu forum bersifat ilmiah sebaliknya lebih kepada perbincangan mengenai isu perkauman.

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2009&dt=0303&pub=Utusan_Malaysia&sec=Dalam_Negeri&pg=dn_19.htm

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Kenapa salaf dan siapa salaf sebenarnya?

Kenapa salaf dan siapa salaf sebenarnya?
Kenapa salaf dan siapa salaf sebenarnya?
Setiap orang tidak memadai dengan pengakuannya sebagai muslim saja, kerana ungkafan itu terlalu umum dan luas, merangkumi semua umat Islam, termasuk Islam yang mendapat jaminan atau tidak termasuk golongan yang menganut fahaman Muhammad Abdul Wahab, termasuk Islam khwarij, Qadyani, muktazilah dan lainnya .
Jadi lebih tepat sekiranya pengakuannya hanya sebagai muslim salafi sahaja kerana fahaman salaf dan golongan salafi ini telah diakui sebagai umat yang diakui oleh rasulullah sallallahu ‘alai wa sallam sebagai jenerasi terbaik dan selamat iaitu jenerasi dalam tiga atau lima abad selepas kewafatan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam .Ini berdasarkan hadisnya yang memperakui “bahawa sebaik-baik qurun itu qurunku kemudian qurun yang selepas itu kemudian qurun sesudah itu”Dari sinilah di fahami bahawa tiga qurun atau lima qurun sesudah itu dinamakan qurun salaf dan jenerasi terbaik yang di jamin selamat oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam .Selaras dengan firman Allah bermaksud “dan mereka yang awal (beriman) dari kalangan Muhajrin dan Ansor dan pengikut merekadengan baik Allah telah meredhai mereka mereka juga meredhai Allahdan (Allah ) sediakan untuk mereka (ganjaran ) syurga yang (penuh ni’amat ) dan kekal didalamnya “ al Taubah ayat 100 .
1
Oleh yang demikian jenerasi sahabat dan jenerasi tabi’in , juga jenerasi tabi’in tabi’in sesudahnya dikenali sebagai jenerasi salaf (orang yang terdahulu)yang diakui selamat dan masuk syurga, begitu juga mereka yang mengikuti jijak langkah mereka dengan baik sahingga hari kamudian . Justeru itu golongan ulama yang lahir dalam qurun tersebut seperti Hasan Basri ,Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafie , Imam Ahmad, radia llahu ‘anhum dipanggil mereka sebagai ulama salafusalih dan mereka yang mengikutinya di kira kompolan yang selamat dan Berjaya . Adapun ulama yang timbul pada abad ketujuh dan sesudahnya seperti Ibnu Taimiah ,Ibnul Qayyim Ibnu Abdil Wahab dan selepasnya bukan dari golongan salaf , tentulah pengikut mereka itu bukan dari pengikut salaf . Sesuai dengan hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur itu bermaksud “ akan berpecah umatku kepada 73 kumpulan semuanya keneraka melainkan satu kumpulan saja ia itu kumpulan yang berpegang dengan sunahku dan sunah para sahabatku HR Abu Daud Tarmizi dan lainnya . Dalam riwayat lain diperintahnya kita berpegang kuat dengan sunahnya dan sunnah penggantinya(khulafaa) yang rasyidin “ .
Jelaslah bahawa golongan salaf dan pengikutnya yang baik itulah ,yang akan selamat dan berjaya Pengikutnya dengan baik itulah yang diakui sebagai muslim ahlusunah yang merupakan majority umat Islam di dunia hari ini .Dalam hadis sahih yang lain diakui sebagai kompolan umat yang sentiasa berada atas jalan kebenaran yang tidak akan menggugatkan mereka oleh arus penyelewengan (kesesatan)mereka (kompolan) serpihan yang menyalahi mereka hingga hari kiamat, hadis sahih Bukhari&Muslim .Di akhir-akhir ini ramai yang mengakui mereka adalah pengikut ulama salaf ,tetapi adakah pengakuan mereka itu benar atau palsu belaka, atau bertujuan untuk menyesatkan orang ramai sahaja ,kerana mereka (orang awam ini ) mudah terpeperangkap dengan kepalsuan yang dibawa mereka itu .

Disini marilah kita pastikan satu-satu ajaran yang dibawa kompolan tadi , adakah ianya benar-benar atau cuma kepelsuan belaka , nama sahaja menarik dan mempesunakan , untuk mempengaruhi siapa yang mendengarnya ,tetapi ajaran dan isinya adalah penipuan belaka .Dinagara kita ini terdapat banyak ajaran yang cuba diserapkan Tetapi bila dibandingkan dengan ajaran aswj yang merupakan jalan perdana (siratal mustaqim) amatlah jauh berbeza dan pelik lagi aneh , contohnya dalam isu akidah bayak kesamaran yang mereka perkenalkan Seperti Allah itu bertempat berangguta dan sebagainya , mereka terikut-ikut dengan ayat-ayat mutasyabih, sedangkan dengan tegas Allah mengingatkan kita “bahawa mereka yang cuba mengikuti apa –apa yang kesamaran dari ayat tersebut , itulah tandanya mereka yang ada penyakit (zaigh) dalam hatinya kerana mencari fitnah” Ali Imran 7 .Begitu juga apa yang dijelaskan oleh Rasulullah sallallahu ‘alahi wa sallam sabdanya bermaksud “kiranya ada mereka yang terikut-ikut dengan apa yang kesamara dari ayat mutasyabih, itulah orangnya yang dimaksudkan dalam ayat tadi(mereka yang berpenyakit hatinya) , sebab ayat mutasyabih tadi mengandungngi banyak makna dan artinya, ada yang kesamaran dan memberi wahamkan persamaan Allah yang qadim itu, dengan makhluk yang baru sedangkan Allah itu Tuhan yang tidak menyerupai dengan suatu apa pun “ maksud firmanNya pada ayat 11dari surah al Syura .
Jadi para salaf mensucikan Allah dari makna kesamaran tadi dan menyerahkan maksud sebenar kepada Allah atau mentakwelkan maksudnya sesuai dengan apa yang di jelaskanNya dalam ayatnya yang lain yang labih sesuai dengan kebesaranNya seperti istawa dikatakan berkuasa atas segala hamba (dan makhluNya seperti maksud firmanNya pada surah al An’aam ayat 61.Dalam hadis kudsi riwayat Bukhari muslim ada mengatakan “Aku sakit tetapi kamu tidak sudi menziarahiKu,lalu bertanya hamba itu, bagaiman dapat aku menziarahiMu sedangkan Kmu itu Tuhan semasta alam ?firman Allah tidakkah kamu ketahui disana terdapat hambaKu yang sakit dan lapar kamu tidak pergi menziarahinya , sekiranya kamu pergi menziarahinya pasti kamu dapati aku (rahmatKu) ada bersamanya- al hadis.

Oleh itu fahamlah kita bahawa dalam ungkapan perkataan hadis tadi terdapat perkataan majaz (kiasan) atau pinjaman sahaja (kinayah ) kerana mustahil Allah bersipat dengan kekurangan (sakit atau menyerupai makhlukNya bertempat berangguta berjisim dan sebagainya), mereka (kaum musyabbihah tadi akan bertanya bagaimana pula dengan pengakuan kita bahawa Allah Maha mendengar lagi Maha melihat bukankah itu juga penyerupaan Allah dengan makhluk?. kita tahu bahawa sipat mendengar dan melihat Allah itu merupakan sipat kesempurnaan (kamalat)bagi Allah dan kita yakin bahawa Allah wajib bersipat dengan segala sipat kemalat, dan itu bukan berarti penyerupaan Allah dengan makhlukNya kerana mendengar dan melihat Allah itu bukan melalui alat(mata dan telinga ) seperti makhlukNya malah melihat dan mendengar dengan sipat samak dan basarNya , bukan dengan mata dan telinga yang terbatas ini , bahkan Allah mendengar dan melihat dengan sipat samak dan basarNya akan segala yang maujudat ini, dan mustahil dariNya segala kekurangan seperti buta dan tuli atau melihat dan mendengar dengan mata dan telinga dan sebagainya, seperti apa yang difahami oleh kaum musyabbihah tadi yang mana Allah melihat dengan mata dan mendengar melalui telinga, seperti hal yang dimiliki manusia ini .
Disinilah titik perpisahan kita dengan golongan sesat tadi ,kerana mereka tidak mahu menerima perkataan majaz dalam dalil ( (nas Quran hadis ) lalu di terimanya segala perkataan itu adalah hakiki(benar) belaka , kalau macamtulah fahaman mereka, tentulah Allah itu bersipat dengan sipat makhluk yang baru dan lemah ini, berangguta, sakit, berjisim bertempat dan sebagainya dan segala macam kesamaran yang terdapat pada perkataan ayat mutasyabihat .Sedangkah Allah sendiri telah membahagikan ayat –ayat itu ada dua , ada yang muhkamnya dan selainnya ada ayat yang mutasyabihat seperti apa yang dapat difahami dari ayat7 dari surah ali Imran tadi .
Bagi kita tentulah antara dua kadaan ayat yang berlainan itu penerimaan kita juga berlainan dan tidak boleh disamakan , kiranya ada makna dan maksud yang lebih sesuai dengan kebesaran Allah atau mensucikanNya dari sebarang penyerupaan yang telah di nafikanNya pada ayat muhkam tadi pada surah al Sura ayat 11 atau ayat 4 pada surah al Ikhlas dan lainnya

Dari hadis kudsi tadi pun sudah diselitkan jawapannya iatu Allah tidak munkin dapat dilawati atau diziarhi kerana Maha suci Allah dari ruang dan tempat berjisim dan sebagainya, sahingga dapat di ziarahi atau sebagainya seperti akidah yang diyakini firaun laknatullah itu .Sebenarnya maksud dari perkataan itu semua hanyalah mengenai kasih sayang dan rahmatNya kepada hambaNya yang menerima ujian dariNya dengan sabar dan redha dengan ujian Tuhannya .Sebab itu siapa yang menziarahi mereka yang sakit lapar dan sebagainya tadi, akan beroleh sama rahmat kasih sayang, dan keampunanNya .
Untuk panduan kita orang awam ini bagi mengenali siapa salaf yang sebenar , iaitu mereka yang dapat mengikuti ajaran Quran hadis dengan baik dan berpandukan ajaran aswj yang merupakan ajaran perdana dan diterima oleh majority umat Islam diseluruh dunia hari ini, mereka tidak membid’ahkan amal kebajikan yang di terima pada satu-satu masyarakat jauh sekali dari menyesatkan umat islam dalam perkara khilafiah dan adat resam mereka yang tidak bertentangan dengan ajaran agama ,mereka amat bencikan perpecahan dan permusuhan .
Ajaran yang mereka anuti adalah saksama saimbang dan masra serta penuh berhikmat . Akidah mereka adalah suci dan bersih dari sebarang penyelewengan atau pelik dan sayz sesuai dengan pertunjuk al Quran hadis dan jejak salafussaleh ridwanullai ‘alaihim ijma’in . Ayat muhkam itu difahami secara jelas maknanya , tidak perlu sebarang takwelan lagi , maka fahaman mereka terhadap ayat yang mutasyabih itu, yang mengandungi banyak makna lagi kesamaran pula ada yang sesuai dan ada yang kesamaran ,sikap kaum aswj tentulah memilih makna yang sesuai dan layak dengan kebesaranNya dan menulak makna kesamaran (penyerupaan Allah dengan yang baru) . Wabillahi taufiq wal hidayah wassalam

AQIDAH ‘ ALLAH ADA TANPA BERTEMPAT ‘ – AQIDAH PARA NABI


ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT

Assalamu’alaikum semua.
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Alhamdulillah Tuhan Sekalian alam. Alhamdulillah telah memberi hidayah kepada kita semua, jika bukan dengan pemberian hidayah Allah kepada kita, kita semua tidak akan mendapat hidayah kecuali Allah menetapkan hidayah kepada kita.
Selawat dan salam ke atas junjungan besar Muhammad Rasulullah,ahli keluarga baginda, para sahabat dan pengikut baginda.
Maka disini Kami katakan:

Wahai seluruh umat Islam!
Ketahuilah sesungguhnya kepercayaan bahawa “Allah Ta’ala Wujud Tanpa Bertempat” merupakan akidah Junjungan Besar kita Nabi Muhammad, para sahabat, Ahlil Bayt baginda dan semua yang mengikut mereka dengan kebaikan.

Ini kerana Allah Ta’ala tidak memerlukan kepada makhluk-makhlukNya, Azali dan Abadinya Allah tidak memerlukan kepada selainNya. Maka Allah tidak memerlukan kepada tempat untuk diduduki dan tidak pula memerlukan kepada benda untuk diliputiNya dan Dia tidak memerlukan kepada arah. Cukup sebagai dalil pada mensucikan Allah dari bertempat atau berarah itu dengan firman Allah Ta’ala :

yang bermaksud:
” Tiada sesuatupun yang menyerupai Allah”.
Sekiranya Allah bertempat maka sudah pasti bagiNya persamaan dan berukuran tinggi lebar, dalam, dan sesuatu yang sedimikian pastinya adalah makhluk dan memerlukan kepada yang lain menetapkan ukuran panjangnya, lebarnya, dalamnya. Demikian tadi dalil ‘Allah Wujud Tanpa Bertempat’ dari Al-Quran.

Manakala dalil dari hadith Nabi pula adalah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan selainnya dengan sanad yang sohih bahawa Rasulullah (Selawat dan Salam ke atas Baginda) bersabda :

yang bermaksud :
“Allah telah sedia wujud (azali) dan selain Allah tiada sesuatupun yang sedia wujud (Azali)”.
Makna hadith Nabi tadi adalah Allah telah sedia ada pada azal lagi, tidak ada bersama Allah selainNya, air belum ada lagi, udara belum ada lagi, bumi belum wujud lagi, langit belum wujud lagi, kursi belum ada lagi, arasy belum ada lagi, manusia belum wujud lagi, jin belum wujud lagi, malaikat belum ada lagi, masa belum ada lagi, tempat belum wujud lagi dan arah juga belum wujud lagi.
Manakala Allah telah sedia wujud tanpa tempat sebelum tempat dicipta dan Allah tidak sama sekali memerlukan kepada tempat. Inilah yang dinyatakan dari Hadith Nabi tadi. Saidina Ali (semoga Allah meredhoinya) berkata:

” Allah telah sedia ada tidak bertempat dan Allah sekarang juga atas sediakalaNya tanpa bertempat”.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Mansour Al-Baghdady dalam kitabnya Al-farqu Bainal Firaq.
Dari segi akal, sebagaimana diterima akan kewujudan Allah ta’ala itu tanpa tempat dan tanpa arah sebelum adanya tempat dan arah maka benarlah kewujudan Allah itu setelah mencipta tempat Dia tidak bertempat dan tidak memerlukan arah.
Semua dalil ini, bukanlah menafikan kewujudanNya sepertimana yang dituduh oleh ajaran yang menjisimkan dan menyamakan Allah dengan makhluk pada zaman ini iaitu ajaran Wahhabiyah.

Kita mengangkat tangan ke langit ketika berdoa bukanlah kerana Allah berada dilangit akan tetapi kita mengangkat tangan ke langit kerana langit merupakan kiblat bagi doa, tempat terkumpulnya banyak rahmat dan berkat. Sepertimana kita menghadap ke arah ka’bah ketika solat tidaklah bererti Allah itu berada di ka’bah akan tetapi kerana ka’bah itu kiblat bagi solat. Inilah yang telah dinyatakan oleh para ulama Islam.
Saidina Ali (semoga Allah meredhoinya) turut menjelaskan:
” Akan kembali satu kaum dari umat ini ketika hampir hari kiamat kelak mereka menjadi kafir, lantas sesorang lelaki bertanya: ‘ Wahai amirul mu’minin! Kekufuran mereka itu disebabkan apa? kerana mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama atau mengingkari sesuatu dalam agama?’ Saidina Ali menjawab: Kekufuran mereka kerana mengingkari sesuatu dalam agama iaitu mereka mengingkari Pencipta mereka dengan menyifatkan Pencipta itu berjisim dan beranggota”. Diriwakan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya berjudul Najmul Muhtady Wa Rojmul Mu’tady.

Berkata Imam Zainul Abidin (semoga Allah meredhoinya) :

” Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”. Diriwayat oleh Al-Hafiz Az-Zabidy.
Imam Abu Hanifah menyatakan dalam kitabnya Fiqhul Absat:

” Allah ta’ala telah sedia ada tanpa tempat, Allah telah sedia wujud sebelum mencipta makhluk, dimana sesuatu tempat itu pun belum wujud lagi, makhluk belum ada lagi sesuatu benda pun belum ada lagi, dan Allah lah yang mencipta setiap sesuatu.

Dinyatakan dengan sanad yang sohih oleh Imam Baihaqi dari Abdullah bin Wahb berkata:

” Ketika kami bersama dengan Imam Malik, datang seseorang lelaki lantas bertanya: ‘Wahai Abu Abdillah Imam Malik! ‘Ar-Rahman ‘Alal Arasyi Istawa’ bagaimana bentuk istiwa Allah? maka Imam Malik kelihatan merah mukanya kemudian beliau mengangkat wajahnya lantas berkata: ‘Ar-Rahman ‘Alal Arasyi Istawa’ ianya sepertimana yang telah disifatkanNya dan tidak boleh ditanya bentukNya kerana bentuk itu bagi Allah adalah tertolak dan aku tidak dapati engkau melainkan seorang pembuat bid’ah! maka keluarkan dia dari sini”.

Manakala riwayat yang berbunyi ‘dan bentuk bagi Allah itu adalah dijahili’ ianya riwayat yang tidak sohih.

Imam kita Imam Syafie (semoga Allah meredhoinya) telah berkata:

” Barangsiapa mempercayai Allah itu duduk di atas Arasy maka dia telah kafir”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya Najmul Muhtady Wa Rojmul Mu’tadi.

Berkata juga Imam Ahmad bin Hambal (semoga Allah meredhoinya) :

” Barangsipa yang mengatakan Allah itu jisim tidak seperti jisim-jisim maka dia juga jatuh kafir”.
Diriwayat oleh Al-Hafiz Badruddin Az-Zarkasyi dalam kitabnya Tasynif Al-Masami’.
Berkata Imam Ahli Sunnah Wal jamaah Imam Abu Hasan Al-Asy’ary dalam kitabnya berjudul An-Nawadir:
” Barangsiapa yang mempercayai Allah itu jisim maka dia tidak mengenali Tuhannya dan sesungguhnya dia mengkufuri Allah”.
Maka jelaslah dari kenyataan Imam Al-Asy’ary tadi bahawa kitabnya yang berjudul Al-Ibanah pada hari ini telah ditokok tambah.

Berkata Imam Abu Ja’far At-Tohawi yang mana beliau ini merupakan ulama As-Salaf As-Soleh :

” Maha suci Allah dari mempunyai ukuran, penghujung, sendi, anggota dan benda-benda kecil dan Allah tidak diliputi dengan mana-amana arah enam sepertimana makhlukNya”.

Beliau berkata lagi:

” Barangsiapa yang menyifatkan Allah dengan sifat-sifat makhluk maka dia jatuh kafir”.
Antara sifat makhluk adalah bergerak,duduk diam, turun, naik, bersemayam, duduk, berukuran, bercantum,berpisah, berubah, berada di tempat,berarah, berkata-kata dengan huruf, suara, bahasa dan lain-lain.
Telah dinukilkan oleh Imam Al-Qorofy dan Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitamy dan selainya menukilkan kenyataan bahawa:
” Imam Syafie, Imam Malik Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah (semoga Allah meredhoi mereka) berkata bahawa jatuh hukum kufur bagi sesiapa yang berkata Allah itu ber-arah dan berjisim dan benarlah penghukuman Imam-imam tadi”.
Wahai seluruh orang-orang muslim.
Kami mengakhiri penjelasan ini dengan ungkapan kaedah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad Bin Hambal (semoga Allah meredhoinya) :
” Segala yang terbayang dibenak fikiranmu maka ketahuilah bahawa Allah tidak sedemikian” . Dan ini merupaka kaedah yang telah disepakati disisi seluruh ulama Islam.
Berkata Imam kita Abu Bakar (semoga Allah meredhoinya) :
“Merasai diri itu lemah dari membayangi zat Tuhan maka itulah tauhid mengenal Tuhan dan memcari-cari serta membayangkan zat Tuhan itu pula adalah kufur dan syirik”.
Alhamdulillah kita berada dalam akidah yang benar ini, memohon kepada Allah ta’ala agar mematikan kita diatas pegangan ini. Amin ya Arhamar Rohimin Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi robbil ‘alamin.

Disediakan Oleh Tuan Blog :
www.al-hanief.blogspot.com
( 012 9879948 )

SENARAI ULAMA ISLAM YANG MENJELASKAN PEMBAHAGIAN MURTAD DAN KUFUR ITU TERBAHAGI KEPADA TIGA: KUFUR AQIDAH, KUFUR PERBUATAN DAN KUFUR LISAN. Bagi memudahkan para pengkaji, dibawah ini disenaraikan sebahagian (sebenarnya banyak lagi) ulama Islam yang telah menjelaskan hukum murtad dan kufur itu mungkin berlaku dengan antara tiga perkara iaitu akidah yang kufur, perbuatan yang kufur dan tutur bicara lidah yang kufur. Kesemua syirik besar itu adalah kufur dan kesemua murtad juga adalah kufur terkeluar dari Islam. Senarai sebahagian ulama yang membahagikan kufur kepada tiga: – Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitamy dalam kitab Fathul Jawad Bi Syarhil Irsyad jilid 2 m/s 298 cetakan Mustofa Al-Baabiy Al-Halaby Kaherah. – Imam Nawawi Asy-Syafi’e dalam Raudahtul Tolibin pada Kitab Ar-Riddah juzuk 10 m/s91 Cetakan Zuhair Syawisy Beirut. – Syeikh Al-Hatthob Al-Maliky dalam kitab Mawahibul Jalil Bi Syarh Mukhtasor Kholil cetakan Darul Fikr Beirut. – Syeikh Muhammad ‘Illaisy Al-Maliky dalam kitab Manhul Jalil Syarh Muktasor Kholil juzuk 9 m/s 205 cetakan Darul Fikr Beirut. – Al-Faqif Ibnu ‘Abidin Al-Hanafy dalam kitab Raddul Muhtar ‘Ala Ad-Durril Mukhtar pada Bab Riddah jilid 3 m/s 283 cetakan Dar Ihyaul Turath Al-‘Araby Beirut. – Syeikh Tajuddin As-Subki dalam kitab Tobaqoot Asy-Syafi’eyyah jilid 1 m/s 91 cetakan ‘Isa Al-Baabiy Al-Halaby Kaherah. – Imam Al-Buhuty Al-Hambaly dalam kitab Syarh Muhtaha Al-Iradaat pada Bab Hukmul Murtad jilid 3 m/s 386 cetakan Darul Fikr Beirut. – Gabungan Ulama Yaman melalui Maktab At-Tauhid Wal Irsyad Yaman dan diiktiraf oleh ulama-ulama Al-Azhar dan seluruh dunia. – Dan selain mereka. Seluruh ulama di atas dan selainnya menjelaskan murtad itu berlaku disebabkan antara tiga perkara iaitu akidah yang kufur, perbuatan yang kufur, dan bicara lidah yang kufur. Maka sesiapa yag mengatakan: “Aku bukan muslim” maka dalam islam dia dianggap melakukan Riddatul Qauly iaitu dia telah murtad disebabkan tutur bicara lidahnya menyebut perkataan yang menyebabkan dia murtad. Wajib ke atasnya kembali kepada Islam dengan mengucap dua kalimah Syahadah dengan niat memeluk Islam semula. PENJELASAN Dalam kesempatan kali ini saya ingin menegur, menasihat dan menolak secara ilmiah beberapa fahaman yang silap pada perkara yang amat bahaya ini. Tujuannya bukan kerana menolak para pengkaji ilmu secara semborono tetapi menilai secara benar dan jujur sesuatu pandangan yang mengunakan nama Islam agar umat tidak bercelaru. Difokuskan untuk lebih ringkas bagi kali ini pada kes yang ketiga iaitu ‘Riddatul Qauly’: murtad dan kufur yang disebabkan dari perkataan atau lidah. Dalam islam sekiranya seseorang muslim itu menutur perkataan yang bahaya seperti perkataan yang mempunyai unsur menghina Allah, para Nabi dan para Rasul, menghina Al-Quran, memperlekeh dan mempersenda perkara yang berkaitan dengan tanda-tanda Islam, maka dia telah pun murtad. Sebagai contoh seseorang itu berkata: “Aku musuh Allah”, “Aku tidak takut kepada Allah”, “Al-Quran itu tidak berfaedah”, “Aku bukan orang Islam”, “Allah itu sama dan serupa dengan makhluk” dan selainnya dari perkataan-perkataan kufur maka orang yang menuturkan perkataan tersebut terkeluar dari Islam serta merta dan dihukum sebagai murtad walaupun dia sedang marah atau bergurau atau bermain-main ketika-mana dia menyebut perkataan seumpama tadi. Inilah yang telah dinaskan oleh ulama Islam. Begitu juga dalam keadaan biasa (tidak mukrah bil qotl) sekiranya seseorang muslim itu menyebut atau menutur dengan lidahnya perkataan yang kufur maka dia jatuh ke dalam hukum murtad sudah tidak muslim lagi walaupun dia tidak mahu keluar dari agama Islam. Sebagai contoh jika itu menyebut perkataan: “Aku bukan orang Islam” maka dia telah jatuh kafir terkeluar dari Islam walaupun dirinya sendiri tidak memilih selain dari Islam itu sebagai agamanya. Samalah hukumnya jika ketika dia menuturkan perkataan kufur tadi dia berkeadaan marah, bergurau-senda, bermain-main atau sengaja dan bukan tersalah cakap. PENCERAHAN PENJELASAN Hukum berbeza jika orang itu berkeadaan (mukrah bil qotl) iaitu dipaksa bunuh. Ini dikira dia berada dalam keadaan yang khusus berbeda dengan keadaan biasa.Mukrah Bil Qotl adalah seperti: jika seseorang muslim itu ditangkap oleh orang kafir dalam peperangan kemudian dia dipaksa oleh orang kafir tadi untuk menyebut perkataan “Aku bukan orang Islam” dan jika tidak menyebutnya orang kafir itu memberitahu akan membunuh orang islam tadi. Dalam keadaan ini jika orang islam tadi menyebut perkataan “Aku bukan orang Islam” dan hatinya tidak meredhoi dan tidak setuju dengan perkataan itu maka dia tidak jatuh hukum murtad. Ia berbeza dengan seseorang menyebut perkataan tadi dalam keadaan tidak dipaksa bunuh atau dalam keadaan biasa seperti dalam keadaan bergurau, marah dan selainnya. Ini kerana jika dia menutur perkataan tersebut dalam keadaan selain (mukrah bil qotl) dipaksa bunuh maka dia jatuh murtad. KENYATAAN YANG SILAP Terdapat beberapa kenyataan yang silap pada menerangkan isu murtad ini. Antara kenyataan yang salah dan bercanggah dengan syarak adalah: “Seorang muslim itu tidak dikira murtad terkeluar dari Islam dan tidak boleh dihukum ke atasnya sebagai murtad kecuali dia rela untuk menjadi kafir dan diikuti dengan perbuatan yang kufur”. Penting! Kenyataan di atas adalah salah dan bercanggah dengan hukum Islam kerana seolah-olah tidak menghukum murtad kepada seorang yang telah menghina Allah melalui ucapan lidahnya kecuali dia rela hati untuk keluar Islam sedangkan dalam Islam seorang yang menghina Allah dengan lidahnya walaupun dia tidak berniat dan tidak rela untuk keluar dari Islam (murtad) dia tetap dihukum sebagai murtad. Penting! Hukum Islam sebenar seperti mana yang telah dijelaskan oleh ulama Islam adalah: Sekiranya seseorang muslim itu menyebut atau menutur dengan lidahnya perkataan yang kufur maka dia tetap jatuh ke dalam hukum murtad sudah tidak muslim lagi walaupun dia tidak mahu keluar dari agama Islam, walaupun dia tidak rela dirinya menjadi kafir maka dia tetap murtad dan kafir. Sebagai contoh jika itu menyebut perkataan: “Aku bukan orang Islam” maka dia telah jatuh kafir terkeluar dari Islam walaupun dirinya sendiri tidak memilih selain dari Islam itu sebagai agamanya. Rujuk penjelasan seperti di atas oleh ulama Islam: – Muhammad Al-‘Abbas Al-Hanafy dalam kitab Al-Fatawa Al-Mahdiyyah Fil Waqoi’il Masyriyyah pada Bab At-Ta’zir War Riddah dan pada Bab Hadul Qozaf Wal Bughot jilid 2 m/s 27. – Syeikh Mulla ‘Aly AL-Qory dalam kitab Syarh Fiqhul Akbar m/s 165 – Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam Fathul Bary Syarh Sohih Al-Bukhary jilid 12 m/s 300, 301 dan 302. – Imam An-Nawawi dalam kitab Raudhatul Tolibin jilid 10 m/s 68. – Syeikh Abu Al-Muzhoffar ‘Aalamakir dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyyah jilid 2 m/s 261. – Dan selain mereka. Awasi murtad yang disebabkan dari lidah dek ucapan yang terkeluar dari Islam. Semoga Allah merahmati dan memelihara akidah kita. P/S: Masaalah berkaitan Murtad ini perlulah ditanya kepada yang mahir dalam permasaalahan murtad dan gejalanya. Jangan tanya sebarangan ustaz bimbang jawapan yang kurang tepat menghambat jiwa. Disediakan oleh: http://www.ustaz-rasyiq.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

PERBINCANGAN KALIMAH كل

PERBINCANGAN KALIMAH كل

 



Ramai orang memahami pengertian hadith berkaitan bid’ah adalah memberi pengertian semua bentuk amalan yang baru berdasarkan pendekatan mereka mentafsirkan lafaz “kullu “.Adakah benar pentafsiran ini..?

 


Kalimah كل terdapat pada hadith berkaitan bid’ah seperti berikut:

وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ


Terdapat setengah golongan menjelaskan kalimah كل dengan membawa pengertian kepada semua atau menyeluruh , لللأستغراق dalam istilah bahasa arab yang membawa makna semua amalan baru sebagai bid’ah dan segala yang amalan bid’ah adalah sesat dan membawa pelakunya ke Neraka Jahannam.

 

 

Adakah kalimah ini membawa hanya satu pengertian sahaja?Ini kerana kalau diertikan sedemikian rupa akan membawa kepada seluruh umat islam terlibat dengan amalan bid’ah dan juga termasuk mereka yang membawa pengertian sedemikian rupa.

 

 

Mengapa dikatakan demikian?ini kerana semua perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah membawa kepada kesesatan , sedangkan umat islam di seluruh dunia sentiasa melakukan perkara-perkara yang baru , samaada dalam soal-soal berkaitan ibadah atau lainnya.Hatta mereka yang menta’rifkan segala yang baru itu bid’ah juga turut melakukan amalan-amalan yang baru yang tidak dilakukan oleh Nabi s.a.w.Walaupun begitu golongan cuba mempertahankan hujjah mereka dengan mengatakan bid’ah itu hanya dalam soal-soal ibadah semata-mata dan tiada kaitannya dengan soal-soal duniawi.Kita katakan dengan mudah kepada mereka , adakah tidak bid’ah membahagikan bid’ah kepada ibadah dan duniawi?

 

 

Kalau dilihat didalam qamus al-misbah al-munir karangan al-Faiyyumi terpapar disana tujuan-tujuan pengertian kalimah diantaranya, lilistighraq (menghabisi/menyeluruh) , al-kathir(kebanyakkan/banyak) , al-tikrar (berulang) , li al-taukid (mengukuhkan), li al-tajziah (sebahagian) .Begitulah sebagaimana yang tersebut di dalam al-misbah al-munir jilid ke-2 muka surat 200 cetakkan Mustafa al-Bab al-Halabi Mesir.

 

 

Jadi kalau digunakan makna lilistighraq pastinya terbid’ahlah seluruh umat islam termasuk mereka selaku pembid’ah-pembid’ah.Oleh kerana itu , hadith ini disifatkan sebagai umum ( ‘amun makhsusun) oleh Imam Nawawi dan terdapat disana hadith-hadith yang mengkhususkan keumuman hadith ini.Disebut juga oleh para ulama sebagai:

تطلق على العموم ويراد بها الخصوص

Di itlaqkan kepada umum dan yang dikehendakki adalah khusus.

 


Ayat-ayat berikut terdapat padanya kalimah كل , bagaimanakah pengertiannya?

 

<!–[if !supportLists]–>1- <!–[endif]–>أما السفينة فكانت لمساكين يعملون في البحر فأردت أن أعيبها و كان وراءهم ملك يأخذ كل سفينة غصبا

 

Ayat tidak memberi makna kepada semua kapal akan dirampas sekalipun digunakan kalimah kul disini.

2- تدمر كل شيء بأمر ربها فأصبحوا لا يرى إلا مساكنهم كذلك نجزي القوم المجرمين

Ayat ini juga menunjukkan tidak semua yang hancur walaupun digunakan lafaz kul disini.Ternyata bumu , langit dan gunung- ganang masih wujud.


3-

إني وجدت امرأة تملكهم وأوتيت من كل شيء ولها عرش عظيم

Ayat ini pula menggambarkan ia memili

http://al-subki.blogspot.com/

kki seglanya namun apa yang dimiliki oleh nabi Sulaiman tidak dapat dimilikkinya.


Kalau melihat apa yang telah diperjelaskan ulama’ كل di sini dilihat dari sudut ilmu al-Balaghah dengan makna تفزيع الأمر (untuk menzahirkan kedahsyatan perkara tersebut) bukanlah bermakna semua.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>


Kalau begitu jelas pengertian kalimah كل disini bukan li al-istighraq bahkan li al tajziah, yang membawa makna sebahagian atau li al-takthir yang membawa makna kebanyakkan.

 

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Sang Ilmuwan itu pun Akhirnya Masuk Islam

Sang Ilmuwan itu pun Akhirnya Masuk Islam PDF Print E-mail
Monday, 16 November 2009 14:20

Darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak manusia secara sempurna kecuali seseorang melakukan sujud dalam shalat.
Keterbatasan otak manusia tidak mampu menyelami semua rahasiaTuhan. Seperti yang dirasakan oleh Dr. Fidelma, seorang doktor di Amerika yang beragama Kristen.
Kesadaran itulah yang pada akhirnya menjadi hidayah bagi doktor ahli neurologi ini sewaktu melakukan kajian terhadap saraf di otak manusia.
Alkisah, ketika melakukan penelitian itu ia menemukan, beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah yang cukup agar dapat berfungsi secara normal.
Penasaran dengan penemuannya, ia mencoba mengkaji lebih serius.
Setelah memakan waktu lama, penelitiannya pun tidak sia-sia. Akhirnya dia menemukan bahwa ternyata darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak manusia secara sempurna kecuali ketika seseorang tersebut melakukan sujud dalam shalat. Subhanallah…. Artinya, kalau manusia tidak menunaikan ibadah shalat, otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal.
Setelah penelitian mengejutkan tersebut, dr. Fidelma mencari tahu tentang Islam melalui buku-buku Islam dan diskusi dengan rekan-rekan muslimnya.
Setelah mempelajari dan mendiskusikannya, ia malah merasa bahwa ajaran Islam sangat logis. Hatinya begitu tenang ketika mengkaji dan menyelami agama samawi ini.
“Tuhan, apa arti semua ini? Mungkinkan semua ini hidayah dari-Mu?” bisikan hatinya saat itu.
Tanpa ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi, akhirnya ia memutuskan untuk masuk Islam.
Begitulah keagungan Allah SWT, yang menjalankan semuanya sesuai fitrahnya. Semua yang dialaminya telah dikaitkan oleh Allah SWT dengan agama yang indah ini.
Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Dapatkan Majalah Al Kisah Keluaran Terbaru

Alk-Edisi-05-2010
   
 
Alk-Edisi-04-2010
 
 

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 731 other followers