Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Manakib Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri

Rubath Tarim terletak di jantung kota Tarim. Didirikan pada tahun 1304 H oleh para tokoh habaib dari keluarga Al-Haddad, Al-Junaid, Al-Siri. Di samping masyaikh dari keluarga Arfan. Sedangkan yang pertama kali mewakafkan sebagian besar tanahnya adalah Al-Habib Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, saudara Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri dan ayah Al-Habib Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri. Rubath Tarim didirikan karena para santri yang datang dari tempat yang jauh ternyata sulit untuk mendapatkan tempat tinggal, maka para tokoh habaib saat itu sepakat untuk mendirikan Rubath Tarim sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan Islam, bahasa arab dan sebagainya, disamping sebagai tempat tinggal para santri yang datang dari tempat yang jauh. Maka datanglah para penuntut ilmu dari dalam dan luar Tarim, dari dalam dan luar Hadramaut diantaranya dari Indonesia, Malaysia, negeri-negeri Afrika, Negara-negara Teluk dan lain-lain.

 

Sejak didirikan pada tahun 1304 H (1886 M), Rubath Tarim dipimpin oleh Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur hingga tahun 1314 H (1896 M). Kemudiam kepemimpinan berpindah kepada Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Di tempat inilah beliau menghabiskan usianya demi menyebarkan ilmu-ilmu ke-Islaman dan melayani kaum muslimin. Sejak menjadi pengasuh Rubath Tarim beliau telah mewakafkan seluruh kehidupannya untuk berjihad, berdakwah, mengajar, dan menjelaskan berbagai persoalan agama.

 

Perjalanan panjang Rubath Tarim memang tidak dapat di pisahkan dari kehidupan Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Beliau dilahirkan di kota ilmu , Tarim pada bulan Ramadhan 1290 H (1873 M), beliau tumbuh dengan baik dalam lingkungan yang penuh dengan didikan agama. Di masa kanak-kanak beliau belajar Al-Qur’an kepada dua orang guru Syaikh Muhammad bin Sulaiman Bahami dan anaknya, Syaikh Abdurrahman Baharmi, kemudian beliau mengikuti pelajaran di Madrasah Al-Habib Abdullah bin Syaikh Al-Idrus pada saat itu yang mengajar di tempat tersebut adalah Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Kaff dan Al-Habib Syaikh bin Idrus Al-Idrus. Kepada merekalah beliau belajar kitab-kitab dasar dalam ilmu fiqih dan tasawwuf selain menghafal beberapa juz Al-Qur’an.

 

Ada beberapa faktor baik intenal maupun eksternal yang menyebabkan beliau memiliki banyak kelebihan, baik dalam ilmu maupun lainnya, sejak kecil hingga dewasanya, selain bakat dan potensinya dalam hal kecerdasan, kecenderungannya yang untuk menjadi ulama dan tokoh telah nampak sejak kanak-kanak, dukungan yang sepenuhnya dari orangtua juga menjadi faktor penting yang tak dapat diabaikan.

 

Ayahnya senantiasa mencukupi kebutuhannya sejak kecil hingga lanjut usia. Mengenai hal tersebut Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar mengisahkan, suatu ketika seseorang memuji beliau baik ilmunya maupun amalnya di hadapan Al-Habib Abdullah sendiri dan ayahnya Al-Habib Umar Asy-Syathiri. Maka ayahnya yang alim itu juga berkata ,”Aku mencukupi kebutuhannya. Aku hanya makan gandum yang sederhana, sedangkan ia aku beri makan gandum yang bagus,”. Al-Habib Ali Bungur dalam kitabnya mengatakan, barangkali maksud ayah Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri berbuat demikian adalah untuk meningkatkan akhlaknya atau karena ia khawatir anaknya terkena a’in (pengaruh mata, yakni yang jahat) karena di usia muda itu telah nampak kepemimpinannya dalam masalah agama, dengan mengkonsumsi makanan yang lebih baik, diharapkan daya tahannya lebih kuat.

 

Menziarahi Peninggalan Salaf

Sejak kecil beliau senang menziarahi peninggalan-peninggalan salaf, ayahnya pernah berkata kepada Al-Habib Ali Bungur, ”ketika kami (ia dan anaknya) mengunjungi Huraidhah,wadi ‘Amad dan Du’an untuk pertama kalinya, yang saya katakan kepada penduduknya adalah, “Tolong beri tahukan kami semua peninggalan salaf di sini. Karena, apabila kami telah pulang ke Tarim dan orang menyebut tentang suatu peninggalan yang ia (anaknya, Al-Habib Abdullah) belum kunjungi saya khawatir ia akan sangat menyesal, saya tahu ia sangat gemar pada sirah para salaf dan peninggalan mereka”.

 

Di waktu kecil itu pula, apabila terjadi suatu kejadian yang remeh pada diri Habib Abdullah tetapi tak di sukai ayahnya, sang ayah mengharuskannya membaca Al-Qur’an hingga khatam sebelum memulai pelajaran selanjutnya, meski pun pemikiran dan kesiapannya untuk menerima pengetahuan masih terbatas.

 

Setelah ilmu-ilmu dasar dikuasainya beliau benar-benar memfokuskan kegiatannya untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih luas lagi. Beliau selalu mengikuti Mufti Hadramaut saat itu, Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, juga gurunya yang selalu menyebarkan dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Masyhur dan para ulama Tarim lainnya. Kepada mereka beliau belajar kitab-kitab tafsir, hadits, fiqih, nahwu, tasawuf dan lain-lain, juga gurunya yang selalu menyebarkan dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Masyhur dan para ulama Tarim lainnya. Kepada mereka beliau belajar kitab-kitab tafsir, hadits, fiqih, nahwu, tasawuf dan lain sebagainya.

 

Sebagaimana kebiasaan dan kecenderungan para ulama pada umumnya Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri pun tak puas bila hanya belajar ke kotanya. Maka berangkatlah beliau ke Sewun, lalu tinggal di Rubath kota ini selama empat bulan. Di kota ini diantaranya beliau belajar kepada Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, penyusun kitab Mualid Simthud Durrar, selain menimba ilmu kepada sejumlah ulama Sewun lain dan orang-orang shalih, beliau juga mengambil ilmu dari Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas dan Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi.

 

Dengan perjalanannya ke Haramain tahun 1310 H (1892 M) jumlah gurunya semakin bertambah banyak. Setelah menunaikan haji dan menziarahi datuknya Rasulullah SAW , beliau sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Kesungguhannya sulit di cari bandingannya. Dalam sehari semalam beliau ber-talaqqi (belajar secara langsung dan pribadi dengan menghadap guru) dalam tiga belas pelajaran. Setiap sebelum menghadap masing-masing gurunya, beliau muthala’ah (kaji) dulu setiap pelajaran itu sendiri.

 

Guru-gurunya yang sangat berpengaruh di Makkah di antaranya Al-Habib Husein bin Muhammad Al-Habsyi, Syaikh Muhammad bin Said Babsheil, Syaikh Umar bin Abu bakar Bajunaid dan Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha, pengarang kitab I’anah ath-Thalibin yang merupakan syarah kitab Fath Al-Mu’in. Tetapi yang menjadi Syaikh fath (guru pembuka)-nya adalah Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur, gurunya ketika di Tarim. Tak terhitung lagi banyaknya kitab yang beliau pelajari pada gurunya ini dalam ilmu fiqih dan yang lainnya.

 

Selama tiga tahun beberapa bulan beliau berada di Makkah. Pada tahun 1314 H (1896 M) beliau kembali ke negerinya, Tarim dengan membawa bekal ilmu dan tersinari cahaya Tanah Suci, kemudian beliaupun mengajar di Rubath Tarim sampai wafatnya Al-habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur tahun 1320 H (1902 M).

 

Setelah Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur wafat beliau menjadi pengajar pengajian umum setelah wafatnya Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Masyhur pada 21 Rabiuts Tsani 1274 H (1932 M). Di Rubath Tarim beliau benar-benar memainkan perannya sebagai pengajar, pembimbing, dan penasehat terbaik dan itu berlangsung semenjak ayahnya masih hidup hingga sesudah ayahnya wafat pada bulan Dzulqa’idah tahun 1350 H (1932 M). Selama kurang lebih 50 tahun pengabdiannya murid-muridnya tak terhitung lagi banyaknya, baik dari Hadramaut maupun dari luar, peran dan jasanya tak terbatas di lingkungan Rubath Tarim saja, melainkan juga meluas keseluruh Tarim, bahkan ke kota-kota dan wilayah-wilayah lain di Hadramaut. Beliau menjadi marji’ (rujukan) dalam berbagai persoalan, tidak terhitung lagi ishlah yang dilakukannya kepada pihak-pihak yang bertentangan.

 

Seiring dengan kekokohannya yang semakin diakui beliau diserahi amanah untuk menangani pengawasan Rubath, pengurusan masalah santri dan pengarahan halaqah. Di tengah kesibukannya itu beliau menyempatkan diri memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Setiap malam Jum’at antara Magrib dan Isya beliau berdakwah kepada mereka di masjid jami’ Tarim. Itu berlangsung sejak tahun 1341 H setelah wafatnya sang guru Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur. Di masa Al-Habib Alwi masih hidup pun beliau sering menggantikannya apabila gurunya sedang tidak berada di tempat atau mempunyai halangan.

 

Hubungan beliau dengan gurunya ini sangat erat banyak kisah menarik di antara mereka, antara lain ketika sang guru hendak menghembuskan nafas terakhir, sebagaimana yang di kisahkan dalam lawami’ An-Nur, halaman 18 : Sebagaimana diketahui para wali Allah ketika menjelang wafat biasanya menyerahkan urusan atau tugas yang diembannya kepada seseorang yang memenuhi syarat. Terkadang anaknya sendiri yang menerima kepercayaan itu mungkin pula muridnya bahkan terkadang gurunya yang masih hidup yang menerimanya.

 

Pada sore hari menjelang malam wafatnya Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur, beliau sedang memberikan pelajaran sebagaimana biasanya di Rubath , ketika salah seorang murid membaca beliau terlihat mengantuk, maka murid yang membaca itu sebentar-bentar berhenti membaca, tetapi beliau malah membentaknya agar ia meneruskan membacanya

 

Karena murid itu berkali-kali diam maka beliaupun menyuruh murid yang lain untuk membaca. Hanya sebentar beliau mengantuk tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya dan berteriak dengan keras, ”Semoga Allah merahmati Al-Habib Alwi Al-Masyhur.”. Kalimat demikian mengisyaratkan bahwa Al-Habib Alwi akan atau telah wafat. Kemudian beliau meminta murid-murid untuk tidak membicarakan atau memberitahukan kepada orang lain sampai berita itu diumumkan sebagaimana kebiasaan di sana .

 

Kemudian beliau keluar ruangan seraya menyuruh murid-muridnya melanjutkan pelajarannya. Beliau menuju rumah Al-Habib Alwi Al-Masyhur, pada saat itu habib dalam keadaan menjelang wafat, didampingi putranya, Habib Abu bakar. Setiap kali sadar dari pingsannya, ia bertanya, ”Apakah Abdullah Asy-Syathiri telah datang ? Apakah ia sudah sampai ?” kalimat itu yang terus diulanginya.

Maka berkatalah putranya, ”Apakah ayah ingin kami mengirim orang untuk menjemputnya?”

Al-Habib Alwi menjawab, ’Tidak.”

 

Pada saat yang dinantikan itu tiba-tiba Al-Habib Abdullah datang, maka Al-Habib Alwi pun bergembira dan berseri-seri wajahnya. Hubungan bathin segera tersambung diantara mereka. Mereka berpelukan, berjabat tangan dan seolah ada sesuatu yang dititipkan kepada Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri. Kemudian ruh Al-Habib Alwi pun kembali kepada Tuhan-Nya. Tampaknya sebelum itu hanya menunggu kehadiran pemilik amanah yang akan ia serahi kepercayaan itu. Itulah salah satu kisahnya dangan gurunya itu.

 

Ungkapan Duka para Penyair

Al-Habub Abdullah terus menyuarakan dakwahnya dan mengajar dengan istiqomah hingga Allah memanggilnya pada malam sabtu tanggal 29 jumadil Ula tahun 1361 H (13 juni 1942). Jasadnya dikebumikan dipemakaman zanbal, Tarim. Tak terhitung banyaknya tokoh yang menghadiri pemakamannya, berbagai ratsa’ (ungkapan duka) dibuat para penyair atas wafatnya sang habib. Semuanya termuat dalam salah satu kitab manaqibnya, Nafh ath-Thib al-‘Athiri min Manaqib al-Imam al-Habib Abdullah asy-Syathiri, yang disusun dan dihimpun oleh muridnya, Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, ayahanda Al-Habib Umar bin Hafidz.

 

Sepeninggal Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri Rubath Tarim diasuh oleh putra-putranya, pertama-tama yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Al-Habib Muhammad Al-Mahdi Al-Kabir yang mampu mengemban tugas itu dengan sangat baik. Ia menjadi pengasuh sekaligus menjadi guru besar di ma’ad ini, setelah itu adiknya Al-Habib Abu bakar bin Abdullah asy-Syathiri, yang sebelumnya selalu membantu kakaknya mengajar.

 

Kemudian kepemimpinan Rubath Tarim berada di tangan Al-Habib Hasan Asy-Syathiri dan kini yang memimpin putra Al-Habib Abdullah yang lainnya, yaitu Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri yang sekarang menjadi salah seorang tokoh terkemuka di Tarim, Al-Habib Abdullah patut tersenyum bahagia karena para penerusnya terus bermunculan dari masa ke masa baik dari kalangan keluarga maupun yang lainnya.

 

Sumber : majalah Al-Kisah No.09/tahun VI/21 April-4 mei 2008

Sayyid Alwi bin Salim Al-Idrusi, Lautan Hikmah Sang Arif Yang Merakyat

Sayyid Alwi bin Salim Al-Idrusi lahir di kota Malang Jawa Timur dari pasangan Habib Salim bin Ahmad dengan Hababah Fatimah. Tak hairan jika kelak Sayyid Alwi menjadi ulama besar yang sarat dengan karisma. Disamping berkah kewara’an kedua orang tuanya, beliau sendiri, juga kerana memang ibunda beliau pernah mendapat bisyaroh (khabar gembira) di kala mengandungnya.

Sejak kecil Habib Alwi telah menunjukan kecintaan dan kepeduliannya terhadap ilmu. Menuntut ilmu beliau geluti tanpa mengenal lelah. ‘Tiada Hari Tanpa Belajar’, demikianlah mungkin motto beliau semasa muda. Kapan dan di manapun beliau senantiasa belajar. Begitu urgen ilmu di mata Habib Alwi, hingga akhir hayatpun beliau senantiasa setia merangkulnya.

Habib Alwi lebih banyak belajar kepada Al ‘Allamah Al Quthb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih. Seorang ulama terkemuka yang mendapatkan sanjungan dari salah seorang maha gurunya Al Habib Alwi bin Abdulloh bin Syihab, _”Wabilfagiihi fil fighi kal adzro’i, wa fittashowwufi wal adabi muttasi’i”. Marga bilfagih (Hb. Abdul Qodir) dalam bidang fiqih bagai Imam Adzro’i, Dan dalam ilmu tasawuf serta kesusastraan bak lautan yang tak bertepi.

Habib Alwi adalah figur yang akrab dengan akhlaqul karimah. Apabila bertemu dengan muslim, beliau senantiasa menebar salam lebih dahulu. Dengan siapapun beliau selalu berkomunikasi dengan tutur kata yang halus dan sopan, bahkan sering kali tutur katanya membuat hati yang mendengarkan menjadi tenang. Sikap yang lemah lembut dan rendah hati senantiasa menghiasi hari-harinya. Tidak berlebihan jika beliau disebut sebagai Bapak anak yatim, kasih sayang dan kepedulian kepada mereka sangat kental dengan pribadi Hb. Alwi.

Keluhuran akhlaq dan keluasan ilmunya mampu melunakkan hati semua orang, kafir sekalipun. Suatu saat ada seorang non-muslim keturunan Tionghoa bertandang di kediaman beliau guna mendiskusikan ajaran agama islam. Dengan ramah dan senang hati Hb. Alwi menemuinya dan mengajaknya berkomunikasi dengan tutur kata dan akhlaq yang luhur. Mendengarkan penjelasan dan petuah-petuahnya orang tersebut tercengang dan terkesima. Seketika ia memantapkan hati menyatakan diri memeluk agama islam.

Dalam urusan mengajar dan berdakwah Hb. Alwi senantiasa berada di barisan terdepan. Sakit, hujan ataupun sedikitnya yang hadir dalam majlis beliau, semuanya tak mengurangi sedikitpun semangat bahkan keikhlasannya dalam mengajar dan berdakwah. Suatu ketika Habib ‘Alwi mengajar di desa Gondanglegi Malang. Dalam perjalanan menuju desa tersebut hujan turun sangat lebat. Melihat kondisi demikian, salah seorang murid beliau yang menyertainya ketika itu mengusulkan agar majlis tersebut ditunda. Namun tidak demikian dengan Habib Alwi, karena beban dan tanggung jawab sebagai pengemban risalah nabawiyah, beliau tetap konsisten. Ironisnya, ketika sampai di tempat, ternyata yang hadir saat itu hanya segelintir manusia. Meskipun demikian Hb. Alwi tak patah semangat.

Bagi Hb. Alwi, apalah artinya semangat jika tanpa disertai keikhlasan. Pernah Habib Alwi diundang ceramah di wilayah Sukorejo. Beliau berangkat tidak dijemput dengan mobil mewah layaknya para muballigh lainnya. Tapi beliau hanya dijemput oleh salah seorang utusan panitia. Nanum, dengan landasan ikhlas yang tinggi dan ditopang semangat juang yang gigih, beliau berangkat ke Sukorejo hanya dengan mengendarai oplet, demi misi syiar islam.

Kesederhanaan memang tersirat dalam diri Habib Alwi. Memang untuk urusan mengajar beliau bukan tipe ulama yang perhitungan. Di mana dan kapanpun selagi tidak ada udzur syar’i. Siapapun orangnya yang meminta sampai harus naik apa, beliau bersedia hadir. Tidak jarang beliau diundang oleh orang miskin, di pelosok desa yang penuh rintangan, naik dokar sekalipun Habib Alwi menyanggupinya.

Hampir setiap sore terutama hari kamis Hb. Alwi memberikan pengajian di masjid Jami’ Malang. Takmir masjid tidak menyediakan mobil jemputan untuk Hb. Alwi. Untuk itu beliau rela pulang pergi dari rumah ke masjid dengan naik becak.

Da’wah Hb.Alwi melegenda ke segenap lapisan masyarakat. Mereka mengenal sosok Hb. Alwi sebagai ulama’ yang memiliki kepribadian yang santun dan bersahaja. Maka tak heran jika beliau memiliki pengaruh kuat yang membuahkan hasil perubahan dan peningkatan. Keberaniannya dalam menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil mampu menembus dinding baja ruang kerja para pejabat pemerintah. Ketika ada di antara mereka yang bertindak semau gue tanpa mengindahkan syariat agama islam, beliau tidak segan-segan menegurnya.

Demi misi dakwah, Habib Alwi sanggup merelakan segalanya. Dalam hidupnya beliau tidak ingin merepotkan siapapun. Lebih-lebih ketika berdakwah di pedesaan, beliau membawa makanan sendiri dan dibagi-bagikan kepada hadirin. Hampir setiap hari, dalam pengajian yang beliau gelar di kediamannya, Hb. Alwi menjamu para santrinya. Belum lagi ketika beliau mengadakan pengajian secara mendadak, maka beliau tidak segan-segan untuk merogoh koceknya sendiri demi langgengnya dakwah islamiyah. Begitu ramah dan supelnya Hb. Alwi, sehingga tukang becak atau pengemis sekalipun tidak merasa sungkan bertamu kepada beliau. Lebih heran lagi, Hb. Alwi tidak pernah membeda-bedakan tamunya, ini pejabat, ini tukang becak dan sebagainya. Beliau menghormati semua tamunya dengan pelayanan yang proporsional. Sebagai tuan rumah beliau tidak segan-segan mengeluarkan sendiri hidangan untuk tamunya.

Suatu ketika ada seorang pengemis bertamu kepada Hb. Alwi. Kala itu beliau sedang istirahat siang sementara beberapa santrinya berjaga-jaga di serambi rumah beliau. Rupanya sang pengemis tersebut bersikeras ingin bertemu sang Habib sekalipun para santri tidak mengizinkannya. Namun akhirnya pun sang pengemis angkat kaki dari rumah Hb. Alwi membawa kekecewaan yang mendalam. Rupanya Hb.Alwi mengetahuinya. “Tadi ada tamu pengemis ya?”, tanya Hb.Alwi kepada santrinya. “Iya Bib, tapi habib sedang istirahat”, jawab salah seorang santrinya. “Kenapa tidak membangunkan saya? Iya kalau yang datang tadi pengemis betulan, kalau ternyata Nabiyulloh Khidir as?”, tegas Hb. Alwi.

Habib Alwi meninggal pada tahun 1995M dan dimakamkan di pemakaman Kasin Malang di sebelah utara kubah maha gurunya Al ‘Arif billah Al Quthb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih.

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Belahan Jiwa Rasulullah SAW

Belahan Jiwa Rasulullah SAW
Senin,30 Maret 2009

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw :
“Fathimah (Putri Rasul saw) Belahan jiwaku, membuatku marah apa apa yg membuatnya marah” (Shahih Bukhari)

Alhamdulillahirabbil’alamin washolatu wassalaamu ala sayyidil mursalin wa ala alihi washhbihi ajmain. Sebagaimana biasa kita membaca hadits Rasulullah Saw dan kita ucapkan selamat datang kepada tamu – tamu kita, penasehat kita Bapak KH.Ashraf Ali dan juga para habaib akramin, juga fadhilatul sayyid Al Habib Muhammad bin Hasan Baharun matta’anallahu bihi, Al Habib Musthofa dan para habaib lainnya.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt Yang Maha Agung, Maha Mengagungkan dan Memuliakan hamba – hambaNya dengan kemuliaan yang abadi. Ketika sang hamba terpanggil untuk mendekat kehadirat ilahi maka Allah mendekatkannya dengan kedekatan yang lebih dekat dan baginya anugerah yang abadi yang tiada dimiliki hamba satu sama lain terkecuali Al Khaliq Rabbul Alamin Yang Maha Memecah mecah (membagi-bagi) anugerah dan kenikmatan pada setiap hamba hambaNya sepanjang waktu dan zaman.

Fulan bin fulan kenikmatannya, fulan bin fulan dan kenikmatannya, fulan bin fulan dan panca inderanya, fulan bin fulan dan sekian juta huruf yang diizinkan keluar dari bibirnya, fulan bin fulan yang diizinkan berkedip sekian lama, fulan bin fulan yang diizinkan melihat berjuta warna. Demikian Allah Rabbul Alamin menganugerahkan kenikmatan, yang tiada kenikmatan melebihi limpahan kenikmatan-Nya dan jarang diingat oleh hamba-Nya bahwa Dialah Anugerah kenikmatan dan samudera kabahagiaan. Inilah samudera kebahagiaan, inilah cahaya Yang Maha Abadi menuntun kepada kemewahan dan kemegahan yang kekal. Setelah jasad manusia yang indah berubah menjadi bangkai sebagai umpan hewan di tanah, Allah masih memuliakan ruhnya mencapai kemuliaan yang lebih agung daripada kehidupan dunia. Mereka di dalam kemuliaan karena mereka termasuk dalam kelompok yang memuliakan Allah, jalan Allah “ja’alanallahu wa iyyakum ninhum”(semoga Allah menjadikan aku dan kalian bersama mereka) Kau jadikan (wahai Allah) aku dan kalian setiap nafasku dan nafas kalian yang selalu memuliakan dan dimuliakan Allah.

Jika kita terjebak didalam dosa dan kesalahan maka pengaduan adalah hanya kepada-Nya. Pengampunan dosa hanya Milik-Nya, penghapusan dosa adalah dari-Nya. Diriwayatkan didalam riwayat Annasai “yabna aadam innaka maa da’autanii wa rojautanii ghofartu laka ‘ala maa kaana minka falaa ubaaliiy” wahai keturunan Adam, jika kau berharap kepada-Ku dan kau berdoa kepada-Ku. Apa manfaatnya aku berdoa kepada-Mu wahai Rabb..? sebelum kita bertanya dan diijabah atau tidak oleh Allah doa itu, Allah telahmemberi janji “yabna aadam innaka maa da’autanii wa rojautanii ghofartulaka ‘ala maa kaana minka falaa ubaaliiy” kau yang rajin berdoa dan berharap kepada-Ku, Ku-hapus dosa kalian tanpa Ku-pertanyakan lagi. Riwayat Musnad ahmad ini tentunya diperkuat oleh belasan ayat riwayat Shahih Bukhari bahwa Allah Swt menghapuskan dosa – dosa hamba-Nya dengan amal perbuatan baik bahkan dari firman Allah.

Ketika seorang pria datang kepada Sang Nabi saw aku sudah banyak berbuat dosa – dosa, dosa, dosa dan dosa, bagaimana caraku menghapus dosa ini? Sang Nabi saw diam, Allah yang jawab. Menunjukkan keinginan untuk menghapus dosa, keinginan untuk dekat kepada Allah, keinginan untuk jauh dari hal yang hina kepada Allah, bukan dijawab oleh Sang Nabi saw namun dijawab oleh Allah. Allah menjawab “innal hasanaat yudzhibnassayyi’at.. ”. Alangkah indahnya jawaban-Mu Rabbiy. Allah menjawab “sungguh perbuatan pahala menghapus dosa – dosa”, indah sekali. Kalian ingin dosa kalian terhapus pada-Ku? Perbanyak berbuat baik pada-Ku, Ku-hapus dosa – dosa kalian. Indah sekali Yang Maha Indah dan memang tidak ada yang lebih indah daripada Allah. Kalau kita renungkan, ayat ini tidak memerintahkan untuk taubat tapi lebih dari taubat. Menunjukkan Allah itu sangat ingin dekat kepada si pendosa yang ingin menghapus dosanya. Allah sangat ingin dekat kepadanya.

Kenapa tidak Allah katakan ia bertaubat, selesai, hapus dosanya, tidak begitu. Allah katakan “innal hasanaat yudzhibnassayyi’at” perbuatan baik itu menghapus dosa – dosa. Maksudnya apa? Allah ingin ia banyak beramal baik. Kenapa ia harus beramal baik? Sedangkan Allah bersabda : hamba- hamba-Ku jika berkumpul kalian jin dan manusia yang pertama dan terakhir semuanya bertaqwa dengan ketaqwaan kepada-Ku, Kerajaan-Ku tidak bertambah sedikit pun, hamba-Ku jika kalian ini semua jahat, jin dan manusia yang pertama dan terakhir semuanya jahat, tidak berkurang Kerajaan-Ku sedikit pun (Shahih Muslim). Lalu apa gunanya kebaikan dan kejahatan bagi Allah? Cintanya Allah, Indahnya Allah, Mulianya Allah sampai Allah jawab “hai para pendosa, kalian perbanyak perbuat pahala maka dosa – dosa kalian Ku-hapus”. Panggilan yang sangat indah, “sini dekat pada – Ku maka dosa – dosa itu Ku-singkirkan”. Demikian indahnya Rabbul Alamin.

Hadirin – hadirat, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari : ketika Allah melihat salah satu bentuk, dimana Allah Swt memperlihatkan kepada hamba – hambaNya bahwa Allah melihat semua perbuatan yang terkecil sekalipun. Maka disaat itu datanglah tamu kepada Sang Nabi saw dan Sang Nabi saw tidak bisa menjamunya karena tidak ada makanan. Rasul tanya pada istrinya “punya makanan apa kita untuk menjamu tamu ini?”, istri Nabi saw menjawab “tidak ada, yang ada cuma air”. Maka Rasul berkata siapa yang mau menjamu tamuku ini? Satu orang anshar langsung mengacungkan tangan aku yang menjamu tamumu ya Rasulullah. Bawa ke rumahnya, sampai dirumah mengetuk pintu dengan keras hingga istrinya bangun. Kenapa suamiku? kau tampak terburu – buru. “akrimiy dhaifa Rasulillah” kita dapat kemuliaan tamunya Rasulullah. Ayoo.. muliakan, keluarkan semua yang kita miliki daripada pangan dan makanan, semua keluarkan. Ini tamu Rasulullah bukan tamu kita, datang kepada Rasul, Rasul saw tidak bisa menyambutya. Rasul tanya “siapa yang bisa menyambutnya?”, aku buru – buru tunjuk tangan, ini kemuliaan besar bagi kita. Istrinya berkata “suamiku, makanannya hanya untuk 1orang. Tidak ada makanan lagi, itu pun untuk anak – anak kita. 2 orang anak – anak kita hanya akan makan makanan untuk 1 orang, kau ini bagaimana menyanggupi undangan tamu Rasul? kau tidak bertanya lebih dulu? apakah kita punya kambing, punya ayam, punya beras, punya roti, jangan main terima sembarangan!” Maka suaminya sudah terlanjur menyanggupi “sudah kalau begitu anak kita tidurkan cepat – cepat, matikan lampu agar anaknya tidur”. “belum makan, suruh tidur jangan suruh makan malam, biar saja”. Ditidurkan anaknya tanpa makan. Lalu tinggal makanan yang 1 piring untuk 1 orang, “ini bagaimana? tamunya tidak mau makan kalau hanya ditaruh 1 piring kalau shohibul bait (tuan rumah) tidak ikut makan karena cuma 1 piring makanannya”. Suaminya berkata “nanti sebelum kau keluarkan piringnya, lampu ini kau betulkan lalu saat makan tiup agar mati pelitanya, jadi pura – pura lampu mati. Taruh piring, silahkan makan dan kita taruh piring kosong di depan kita, tamu makan kita tidak usah makan tapi seakan – akan makan dan tidak kelihatan lampunya gelap”. Maka tamunya tidak tahu cerita lampunya mati, pelitanya rusak, tamunya makan dengan tenangnya, nyenyak dalam tidurnya, pagi – pagi shalat subuh kembali kepada Rasul saw “Alhamdulillah ya Rasulullah aku dijamu dengan makanan dan tidur dengan tenang”. Rasul berkata “Allah semalam sangat ridho kepada shohibul bait (tuan rumah) yang menjamumu itu” (shahih Bukhari). Allah tersenyum, bukan Allah itu seperti manusia bisa tersenyum tapi maksudnya Allah sangat sayang dan sangat gembira. Dengan perbuatan itu Allah sangat terharu, bukan terharu karena tamunya saja tapi juga karena shohibul bait berucap. “akrimiy dhaifa Rasulillah” muliakan tamu Rasulullah. Ini yang membuat Allah terharu, untuk tamunya Rasulullah rela anaknya tidak makan, tidur semalaman dalam keadaan lapar untuk memuliakan tamunya Rasulullah saw.

Kita mengenal satu sosok manusia yang sangat dicintai oleh Rasulullah saw, manusia yang paling disayang Rasulullah. Siapa? Sayyidatuna Fatimah Azzahra radiyallahu anha. Ini haditsnya baru kita baca. “Fatimah badh’atun minniy..” Putriku Fatimah itu belahan dari tubuhku. Tapi Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari lebih menekankan kepada belahan jiwaku. Maksudnya yang paling kucintai. “..aghdhabaniy man aghdhabaha” siapapun yang membuatnya marah akan membuatku marah. Kalimatnya sangat singkat, tapi kalau kita perdalam maknanya Rasulullah itu tidak pernah marah untuk dirinya. Rasulullah itu marah hanya karena Allah saja semata. Kalau sudah urusan haknya Allah, baru Rasul saw marah. Berarti orang yang menyinggung perasaan Sayyidatuna Fatimah Azzahra berurusan dengan kemurkaan Allah. “..faman aghdhabaha aghdhabaniy” yang membuatnya marah akan membuatku marah. Ini adalah satu isyarat daripada hadits Nabi saw, betapa cinta Allah kepada Sayyidatuna Fatimah Azzahra, sehingga Rasul murka dengan orang yang membuat Sayyidatuna Fatimah Azzahra marah.

Putri Rasulillah. Ketika Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw mengirimkan istrinya yaitu Sayyidatuna Fatimah Azzahra, karena tidak tega melihat Sayyidatuna Fatimah tangannya ini luka – luka karena menumbuk padi sendiri, menumbuk gandum sendiri untuk makanan anak – anaknya Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Tangan yang demikian lembut mulai tergores – gores dan berdarah. Sayyidina Ali bin Abi Tholib tidak tega, kalau begitu coba minta pada Rasulullah khadim. “Banyak koq yang mau berkhadim kepada kita”, kata Sayyidina Ali bin Abi Tholib. Sayyidatuna Fatimah datang kepada Rasul saw. Rasulullah berdiri, disini dalil. Diriwayatkan didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari oleh Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa Rasul itu berdiri untuk menyambut Sayyidatuna Fatimah Azzahra, teriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Ini dalil berdirinya kita untuk orang yang kita cintai. Rasulullah datang, Sayyidatuna Fatimah berdiri.

Zaman sekarang orang bilang kalau berdiri maulid Nabi adalah syirik. Kita berdiri untuk orang yang paling dicintai Allah yaitu Sayyidina Muhammad Saw. Terlihat tidak terlihat, datang tidak datang, aku berdiri untuk menghormati Nabi Muhammad Rasulullah saw.

Kita stop dulu cerita Sayyidatuna Fatimah. Kita bicara lagi dalil berdiri saat mahallul qiyam. Dari para Imatunal Akramin berikhtilaf tentang bolehnya berdiri, tetapi Hujjatul Islam Al Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang paling shahih dan paling tsigah adalah layaknya berdiri untuk menghormati ulama atau orang yang dicintai. Tapi ulama mengatakan makruh, sebagian mengatakan haram berdiri untuk penguasa yang jahat. Penguasa yang dhalim, jangan berdiri menghormatinya, itu kata Al Imam Nawawi. Sebagian mengatakan makruh, sebagian mengatakan haram. Tapi berdiri untuk para ulama adalah amrun mustahab (hal yang baik/disukai), berdiri untuk tamu adalah amrun mustahab (hal yang baik/disukai). Menghargai tamu, Rasulullah juga berdiri menghargai tamu. Keluar dari semua ikhtilaf ini, kita berdiri bukan untuk apa – apa, tapi saat mahallul qiyam karena gembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw, tidak terikat Rasulullahnya ada atau tidak ada. Demikian hadirin – hadirat.

Yang mengawalinya siapa? Imam Taajusubkiy alaihi rahmatullah, seorang muhaddits dan seorang Hujjatul Islam. Hujjatul Islam itu adalah orang hafal lebih dari 300.000 hadits. Murid – muridnya adalah para huffadh dan beliau seorang muhaddits besar, dan dikenal di banyak wilayah. Satu – waktu beliau mengumpulkan murid – muridnya, para Al Hafidz. Murid – muridnya hafal lebih dari 100.000 hadits, murid – muridnya kumpul. Para ulama lain yang sejajar dengan beliau juga hadir. Satu orang baca qasidah (pujian kepada Rasul saw), tiba – tiba Imam Tajusubkiy memegang tongkatnya dan berdiri. Beliau berdiri, berdiri seluruh hadirin, maka mereka merasakan 1 sakinah, 1 ketenangan dan 1 kekhusyu’an yang sangat dahsyat. Airmata mereka mengalir merindukan Nabi Muhammad Saw. Jadi saat sedang baca qasidah, tiba – tiba Imam Tajusuki memegang tongkatnya dan berdiri tanpa sebab, yang lain ikut berdiri, maka disaat itu mereka merasakan 1 keanehan dan 1 ketenangan dan 1 rindu yang sangat dahsyat kepada Nabi Muhammad Saw. Jadi yang pertama kali berbuat mahallul qiyam disaat shalawat adalah Imam Tajusubki. Yang mana beliau itu diakui sebagai muhaddits dan sebagai Hujjatul Islam yang sederajat dengan Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar dan Imam – Imam lainnya.

Kita lanjutkan, Sayyidatuna Fatimah meminta khadim (pembantu) kepada Ayahnya. Ayahnya berkata “ya Fatimah, kuajarkan kau bacaan dan itu lebih baik daripada pembantu”, Sayyidatuna Fatimah berkata “koq bacaan wahai Ayah?”, Rasul berkata “sebelum kau tidur baca Subhanallah 33X, Alhamdulillah 33X, Allahu Akbar 33X dan akhiri dengan Lailahailallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiitu wa huwa a’laa kulli syaiin qadir, lalu tidurlah. Kau bangun pasti akan lebih segar tubuhmu” (Shahih Bukhari), Sekilas kita mengatakan bahwa ini adalah perbuatan yang sedikit kejam. Orang minta pembantu malah diberi dzikir, tetapi hadirin ini mujarab. Kalian pulang dari sini boleh coba, tubuh yang sedang lelah dan lesu, coba sebelum tidur membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, masing – masing 33X dan akhiri dengan Lailahailallah wahdahu laa syarikalah.., lalu tidur dan lihat bangunmu tidak sama dengan bangun yang tanpa dzikir. Ada 1 kenasaban, ada rahasia kekuatan Illahiyah masuk kedalam sel – sel tubuhmu. Demikian Sang Nabi saw mengajari untuk Sayyidatuna Fatimah Azzahra. Wasiat beliau saw kepada putrinya dan Rasul saw tidak memberikan khadim (pembantu). Kejam sekali Rasul yang mempunyai banyak khadim. Sahabat diberi khadim 5, yang ini dikasih khadim 10. Sementara putrinya tidak diberi khadim. Kenapa? karena makanan yang dibuat dengan tangan ibunya sendiri lebih berkah daripada makanan yang dibuat tangan pembantu. Kalau anak makanannya dari tangan ibunya jauh lebih berhak dan lebih berkah daripada anak yang diberi makan dari tangan pembantunya. Dari kasih sayangnya, dari dzikirnya, apalagi Sang Ibu ini Sayyidatuna Fatimah Azzahra radiyallahu anha. Rasul tidak mau makanan Sayyidina Hasan wal Husein dicampuri tangan pembantu. Cukup tangan ibunya Sayyidatuna Fatimah Azzahra karena Rasulullah tahu dari keturunan Sayyidina Hasan wal Husein akan muncul puluhan ribu wali Allah yang akan mengislamkan Barat dan Timur. Ibunda dari semua Habaib yang ada di permukaan bumi. Maka Rasul tidak mau ada tangan pembantu ikut makan daripada makanan Sayyidina Hasan wal Husein radiyallahu anhum. Demikian hadirin – hadirat, indahnya tarbiyah Sang Nabi saw.

Sebisa mungkin ini kaum wanita dari hal ini, kalau anak masih bayi, masih 2, 3, 4 tahun, masih disuapi maka semampunya berikan makanan dari tanganmu. Jangan dari tangan pembantu. Kalau sudah mulai diatas 5 – 6 tahun, sudah tumbuh tulangnya silahkan saja barangkali. Kalau masih kecil, jangan, selalu dari tanganmu sambil dzikir, sambil baca yassin, sambil baca shalawat Allahumma Sholli Ala Muhammad Sholli Wa Sallim Alaihi, terus latih anakmu itu dengan cahaya dan cahaya dzikir. Akan kau lihat bagaimana dahsyatnya nanti.

Dibuktikan oleh para ilmuwan kita, ketika wanita itu hamil baik diperdengakan itu dirahimnya (diperutnya) itu musik – musik klasik, musik yang tenang karena itu membantu daripada proses pertumbuhan otak bayi didalam rahim. Musik atau suara yang tenang itu membuat perkembangan otaknya lebih baik. Pantaslah kalau para salaf kita mengajarkan agar membaca surat maryam bagi yang perempuan dan bagi laki – laki membaca surat yusuf. Tentunya 1000X musik klasik, tidak akan menyamai Kalamullah Swt. Perdengarkan pada rahim ibunya, wanita – wanita yang hamil, suami – suami yang istrinya sedang hamil, ingat! Istrinya agar mengamalkan surat – surat dalam Alqur’anulkarim, tidak mesti surat maryam dan tidak mesti surat yusuf. Saran saya adalah surat Muhammad Saw saja, itu yang paling sempurna kalau anaknya laki – laki. Kalau perempuan ya kalau sudah kena cahaya kemuliaan dari Rahmatan lil Alamin, berkah dunia dan akhirat. Insya Allah.

Hadirin – hadirat, Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw adalah orang yang barangkali jarang disebut didalam riwayat hadits Shahih. Padahal didalam Shahih Bukhari riwayat tentang Sayyidina Ali bin Abi Tholib lebih banyak daripada riwayat tentang Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhum. Yang diriwayatkan oleh Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq jauh lebih sedikit dibanding dengan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Tholib. Diriwayatkan Rasul saw bersabda wahai Ali apakah kau ini ridho, gembira karena posisimu itu posisinya Nabi Harun disisi Nabi Musa” (Shahih Bukhari) Maksudnya sangat dekat dengan Rasul saw bukan sama – sama Nabi, tapi sangat dekat dengan Rasulullah saw. Hadits seperti ini pernah diucapkan kepada Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq dengan kalimat yang berbeda. Rasul berkata kalau aku ini boleh mengambil seorang kekasih, maka aku akan mengambil Abu Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhum sebagai kekasih.(Shahih Bukhari) Tapi karena aku tidak diizinkan punya kekasih kecuali Allah Jalla Wa Alla.

Jadi banyaknya hadits tentang kemuliaan Sayyidina Ali bn Abi Tholib, Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq, Sayyidina Umar bin Khattab dan Sayyidina Utsman bin Affan maka dikelompoklah yang disebut dengan Khulafaurrasyidin dalam 1 kelompok dan tidak tahu mana yang paling mulia. Yang 1 lebih cinta pada yang ini, yang lebih lebih cinta pada yang ini, silahkan saja. Tapi keempatnya memiliki kemuliaan yang agung. Dan Sayyidina Ali bin Abi Tholib yang paling tidak menyukai ikhtilaf. Beliau paling benci ikhtilaf. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika terjadi ikhtilaf didalam khalifahnya bersama Muawiyah, berkata Sayyidina Ali bin Abi Tholib “silahkan putuskan saja oleh kalian bagaimana maunya, kalian silahkan musyawarahkan bagaimanapun caranya sungguh aku benci perpecahan, aku akan perjuangkan Islam dalam 1 kelompok atau aku akan mati demi membela persatuan dan wafat seperti sahabatku yang terdahulu yaitu Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman radiyallahu anhu ajmain”. Demikian wasiat Sayyidina Ali bin ABi Tholib kw.

Dan tentunya Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhum yang muncul di masa sekarang dipertentangkan bahwa Sayyidina Abu Bakar ini berbuat hal yang menyakiti Sayyidatuna Fatimah Azzahra lantas dikaitkan dengan hadits ini “..man aghdabaha aghdhabaniy” bahwa Sayyidina Abu Bakar pernah menyakiti hati Sayyidatuna Fatimah Azzahra, putri Rasulullah sedang Rasulullah telah bersabda “barangsiapa yang membuat Fatimah marah maka akan membuatku marah”. Sungguh ketika hadits ini diperdengarkan kepada Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq, maka Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq datang kepada Sayyidatuna Fatimah Azzahra meminta ridho dan restu. Demikian didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari. Datanglah Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq kerumah Sayyidina Ali bin Abi Tholib “aku ini menjalankan apa – apa yang diperintahkan Rasul saw bahwa Ahlul Bait tidak menerima shadaqah. Namun Sayyidatuna Fatimah Azzahra tidak menerima warisan bahwa Ahlul Bait Rasul tidak mewarisi, aku hanya pegang ucapan Rasul, tapi kalau itu sampai menyakiti hati putri Rasul, aku mau minta maaf”. Maka diizinkanlah masuk berjumpa Sayyidatuna Fatimah. Berkata Imam Ibn Hajar “tidak keluar Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq dari rumah itu sebelum diridhai dan dimaafkan oleh Sayyidatuna Fatimah Azzahra”.

Imam Ibn Hajar Al Asqalani dan Hujjatul Islam Al Imam Nawawi alaihi rahmatullah mengatakan kalau seandainya tanah waris itu ada untuk ahlulbait Rasul saw, niscaya Saayidina Ali bin Abi Tholib akan mengeluarkannya. Zaman Sayyidina Abu Bakar tidak diberi, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman, sudah 3 khalifah. Dan disaat Sayyidina Ali bin Abi Tholib tidak dikeluarkan juga!! Itu tanah fadak. Kalau itu seandainya alhaq, Sayyidina Ali bin Abi Tholib akan mengeluarkannya. Berarti Sayyidina Ali bin Abi Tholib salah, berarti semua Khulafaurrasyidin salah. Ini hadirin, barangkali dari sebagian hadirin tidak memahami pembahasan ini dan pembahasan ini penting. Karena mulai semakin marak orang – orang yang mencaci para sahabat Rasul saw. Mencaci Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman yang mengatakan mereka itu musuh – musuh ahlulbait. Salah besar, kenapa? karena mereka berempat ini adalah keluarga Rasul. Sayyidina Abu Bakar ini adalah mertuanya Rasulullah saw, Sayyidina Umar mertua Rasulullah saw, Sayyidina Utsman menantu Rasulullah saw, Sayyidina Ali menantu Rasulullah saw, mereka ini semua keluarganya Rasulullah saw. Mereka yang mencaci dan mengatakan ada kesalahan pada hal ini berarti mengatakan rumah tangga Rasulullah saw kacau balau. Mustahil!!

Hadirin, ini yang perlu saya perjelas tentunya kita lanjutkan lagi betapa indahnya Sayyidina Hasan bin Ali kw ketika akan wafat Sayyidina Hasan berkata dalam sakaratul maut, lihat jiwa yang ditarbiyah dengan tarbiyah akhlak Nabi Muhammad saw. Sayyidina Hasan bin Ali berkata “laqad aroftu man sammaniy wa laqad samahtuh” aku tahu siapa yang meracuni aku tapi aku sudah maafkan. Subhanallah!! Sayyidina Hasan bin Ali radiyallahu anhum. Mereka orang yang khusyu’, mereka orang – orang yang banyak bermunajat. Putra Sayyidina Husein bin Ali, dialah Sayyidina Ali Zainal Abidin yang dikenal sebagai Assajjad (orang yang paling banyak bersujud). Gelar yang tidak pernah ada orang lain selain beliau. Kenapa? karena sujudnya sebanyak 1000X setiap malamnya. Beliau itu shalat malamnya 500 rakaat tiap malam, shalatnya 500 rakaat berarti 1000X kali sujud. Sujud kepada Allah. Kita tidak mampu, namun paling tidak kita renungkan saja. Indahnya seperti apa orang yang sujudnya 1000X kepada Allah. Betapa cintanya Allah kepada orang itu, betap ia menikmati asyiknya gerak – gerik sujudnya 1000X setiap malamnya kehadirat Allah, betapa indahnya kelak istananya di yaumal qiyamah. Hadirin – hadirat, Imam Ali Zainal Abidin Assajjad ketika wafat terlihat bekas kuli di kedua pundaknya keras, bagian tubuhnya ini kasar seperti kuli. Kalau kuli itu kan sering mengangkat berat, terlihat kulitnya itu kasar. Itu kejadian orang bertanya – Tanya, kenapa ini? sering membawa berat tidak pernah terlihat? beberapa hari kemudian baru diketahui bahwa banyak orang – orang miskin datang. Darimana? kami biasanya tiap malam ada yang mengirimi makanan, ada yang mengirimi sekarung beras, ada yang mengirimi sekarung gandum, tapi sekarang tidak lagi setelah wafatnya Sayyidina Ali Zainal Abidin Assajjad. Orang tidur, beliau selesai dari ibadahnya, mulai bagi – bagi kepada fuqara tanpa ada yang tahu, diletakkan didepan rumahnya fulan sampai berbekas dikedua pundaknya akrena mengangkat beban yang berat. Indahnya orang – orang seperti ini.

Hadirin – hadirat, beliau bermunajat ketika akhir malam “abduka bi finaa’ik, miskiinuka bi finaaik, faqiiruka bi finaaik, saailuka bi finaaik” wahai Allah hamba-Mu dihadapan-Mu, wahai Allah orang yang miskin, hamba-Mu yang miskin dihadapan-Mu, hamba-Mu yang fakir dihadapan-Mu, si pengemis dihadapan-Mu. Siapa yang berdoa? yang sujud tiap malam sebanyak 1000X, yang bershadaqah kepada fuqara tanpa diketahui orang lain. Ia berkata “abduka bi finaa’ik, miskiinuka bi finaaik, faqiiruka bi finaaik, saailuka bi finaaik”.

Inilah malam – malam munajat, inilah malam – malam doa, ini malam – malam harapan kepada Allah. Bagaimana keadaan putranya Sayyidina Ali Zainal Abidin yaitu Imam Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin Assajjad yang ketika ia adalah orang ynag paling taat dan sangat taat kepada Allah, wajahnya bercahaya terang – benderang seakan – akan orang melihat kembali cahayanya Rasul saw terbit di wajahnya Al Imam Muhammad Al Bagir. Dan beliau di malam harinya selalu berdoa “amartaniy falam a’tamir, wa nahaytaniy falam anzajir, haa ana abduka bayna yadayk, mudznibun mukhthi’un, falaa a’tadzir” inilah aku Muhammad Al Bagir, Kau banyak beri aku perintah padaku tapi banyak yang tidak mampu kulakukan, banyak Kau melarang hal – hal yang Kau larang wahai Allah, tapi ada juga yang tidak mampu aku lakukan, masih juga kulakukan larangan-Mu, masih ada perintah-Mu kepadaku yang masih belum kulakukan, masih banyak larangan-Mu yang Kau beri larangan tapi aku masih aku lakukan. Ia berkata “haa ana abduka mudznibun mukhti’un falaa a’tadzir” inilah aku hamba-Mu penuh dosa, penuh salah dan aku tidak membela diri atas dosa – dosaku. Maksudnya membela diri apa? maksudnya aku berdosa karena sedang sakit, aku berdosa karena sedang tidak sengaja..tidak..tidak, memang aku pendosa. Demikian juga hadirin dengan jiwa Imam Ja’far Ashshodiq bin Muhammad Al Bagir (putra Imam Muhammad Al Bagir).

“Haa ana abduka mudznibun mukhti’un falaa a’tadzir”. Inilah Imam Muhammad Al Bagir, hamba penuh dosa, hamba penuh kesalahan, hamba yang ketika diberi perintah masih juga banyakyang tidak dilakukan, yang jika diberi larangan masih juga ada yang dilanggar. Padahal beliau orang yang hampir tidak pernah berbuat hal yang mubah, perbuatannya selalu didalam hal yang sunnah dan didalam hal yang fardhu, tidak pernah berbuat hal yang makruh apalagi yang haram. Demikian jiwa yang sangat rendah diri dihadapan Yang Maha Luhur. Demikian dengan putranya Al Imam Ja’far Ashshodiq bin Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husein binty Rasulillah saw. Bagaimana dengan Imam Ja’far? Imam Ja’far kalau berdoa memanggil Nama Allah tidakmau berhenti. Ia kalau berkata “ya Rabb..ya Rabb..ya Rabb” terus beliau lampiaskan doanya, rindunya, tangisnya, isi perasaannya di setiap memanggil Nama Allah. Beliau berkata “ya Allah..ya Allah..ya Allah” terus sampai habisb nafasnya. Kalau sudah habis nafasnya kemudian ganti dengan Asma Allah yang lainnya. Demikian keadaan Imam Ja’far, demikian keadaan Imam Muhammad Al Bagir, demikian keadaan Imam Ali Zainal Abidin, demikian dalam kitab Al Ghurar yang ditulis oleh Al Hafidz Al Imam Muhammad bin Alwi Al..

Hadirin, kita akhiri majelis ini dengan doa dan munajat. Rabbiy permukaan bumi telah dipenuhi jiwa – jiwa yang dipenuhi dengan doa dan munajat. Sejuk jiwa mereka siang malam dengan dzikir, sejuk hari – hari mereka dengan Rahmat-Mu maka limpahkan pada kami pula Ya Rahman Ya Rahim. Setetes dua tetes daripada kerinduan kepada-Mu, setetes dua tetes dari indahnya sujud kepada-Mu di malam hari, undang kami untuk berduaan dengan-Mu dalam ruku’ dan sujud di malam hari, Ya Rahman Ya Rahim jangan Kau jadikan kami orang yang masih meninggalkan shalat, barangkali diantara hadiirn masih ada yang belum melakukan shalat 5 waktu, taubatlah malam ini, janjikan kepada Allah bahwa kau tidak mengulanginya lagi untuk meninggalkan shalat 5 waktu. Jika masih ada dosa – dosa yang kau lakukan, berdoalah kepada Allah, minta..minta..minta..agar Allah beri kekuatan agar kau terhindar dari semua dosa. Yang dengan itu akan datang segala anugerah. Sungguh Nabi saw telah bersabda “banyaknya manusia terhalang dari rizki karena dosa –dosanya,kalau saja ia bertaubat dalam sekejap limpahan Rahmat Allahi tu tumpah kepadanya. Pernah terjadi seorang yang selalu berdoa untuk terangkatnya musibah, tidak terangkat – angkat musibahnya sampai 15 tahun ia berdoa tidak pernah dikabulkan 1 doanya itu, lantas ia diajari oleh salah seorang guru berkata “coba kau taubat, habis taubat kau berdoa”. “Aku taubat ya Rabb, tapi aku tahu mungkin besok aku akan berbuat dosa lagi. Dan saat ini aku taubat, hari esok aku serahkan kepada-Mu, mungkin aku berbuat lagi mungkin tidak, beri aku kekuatan supaya tidak lagi berbuat dosa”. Dengan doanya ini dalam sekejap Allah kabulkan doanya yang 15 tahun tidak pernah dikabulkan oleh Allah. Dengan kemuliaan taubat“innahu kaana tawwabaa” sungguh Allah itu mencintai orang yang bertaubat. QS. An Nashr : 3. Masihkah kau tolak lamaran cinta Allah, masihkan kau tolak cinta Allah yang abadi yang akan membuatmu mulia di dunia dan akhirat. Hadirin – hadirat, terimalah istana – istana mewah dan abadi di surga, terimalah kebahagiaan dan ketenangan di dunia. Telah diajarkan oleh Allah “aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar” kebahaagiaan dunia, kebahagiaan akhirat, jauh dari neraka. Siapa yang bisa memberinya? Allah..Allah..Allah..Serulah Nama Allah..

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah..

fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar..Ya Allah Ya Allah Ya Allah bebas dari segala hutang, bebas dari segala musibah, bebas dari segala kesedihan. Ya Allah Ya Allah Ya Allah.. Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, kalau seandainya ada ajakan demo, telah tegas perintah dari Guru Mulia kita untuk tidak terjun dan demonstrasi. Kita cukup berjuang dengan doa dan dengan usaha dan kita sudah berusaha untuk mengajukan pada calon – calon presiden yang akan naik untuk membubarkan Ahmadiyah dan sudah diterima. Jadi kita tidak berjuang dengan cara kekerasan dan demo. Kita berjuang dengan cara yang baik, menyarankan dan mengajukan para calon wapres dan capres yang akan naik untuk lebih Islami. Bukan Ahmadiyah saja, tapi menutup aurat dan jangan ada foto – foto porno di jalanan. Itu yang sedang kita perjuangkan, doakan ini semua sukses. Dan kita sudah sampaikan kepada mereka bahwa Majelis Rasulullah Saw akan mendukung pemimpin yang mendukung Jakarta sebagai kota Sayyidina Muhammad Saw. Diatur nanti masing – masing Gubernur di wilayahnya membuka cabang – cabang majelis maulid Nabi, membuka cabang – cabang majelis shalawat. Karena ini shalawat dan dzikir membawa kedamaian bangsa, bukan untuk satu agama tapi untuk seluruh agama. Damai kalau sudah Islamnya damai. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah.

Dan pengumuman yang selanjutnya, sering barangkali saya mohon maaf hadirin berkali – kali saya absen dari hadir dalam undangan – undangan. Ini menyangkut penyakit (cobaan dari Allah Swt). Ini hanya untuk mengangkat derajat saya tapi kesembuhannya adalah semangat kalian. Semakin kalian bersemangat, saya semakin sembuh. Demikian Insya Allah. Pengobatan saya sudah dilanjutkan ke Singapura karena disini dokternya sudah minta satu syarat “Habib kalau mau ditangani oleh saya, harus istirahat 1 bulan penuh”. Saya katakan “tidak, kalau saya harus libur 1 bulan penuh”. Saya berangkat ke Singapura, disana diberi pengobatan yang cukup memberatkan kita pendanaannya, akan tetapi tidak harus sampai 1 bulan. Bisa bolak – balik, tapi ada beberapa majelis yang terkorbankan, untuk majelis yang tidak saya hadiri, saya mohon maaf dan mohon ridho, mohon restu dan mohon sampaikan pada panitia demi Allah saya benar – benar mohon maaf. Dan untuk majelis –majelis di waktu mendatang, seandainya ada yang tidak saya hadiri, saya akan hadir dengan kursi roda kalau mampu, tapi kalau lebih dari itu tolong jangan paksakan saya. Itu yang saya mohon dari hadirin – hadirat.

Saya dan para habaib yang lain sama saja, kalau seandainya habaib lain diundang, kiai lain diundang tidak hadir, koq kecewanya tenang – tenang saja. Tapi kalau saya tidak, bahkan sampai mau demo segala kalau saya tidak hadir karena amarahnya kalau saya tidak hadir. Tapi insya Allah saya kan berusaha penuh, tidak mengecewakan setiap undangan kalian. Insya Allah dan yang hadir dengan doa – doa kalian. Jamaah duren sawit besok malam maaf sudah ditunda 2X, malam Rabu yang lalu ditunda, malam Rabu ditunda lagi, besok malam saya akan hadir, saya janji, tidak perlu risau lagi, saya akan hadir. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, semoga Allah melimpahkan Rahmat bagi kita dan kita akhiri majelis ini dengan doa bersama meminta kepada Allah pemimpin yang baik, pemimpin yang membawa kedamaian. Dan ingatlah kalian Majelis Rasulullah Saw memperjuangkan kedamaian dari mulai rakyat terbawah sampai rakyat tertinggi. Demikian hadirin – hadirat. Tafadhol Masykura..

Dua pengumuman lagi, yang pertama kegembiraan kita, kepastian kunjungan Guru Mulia kita Al Hafidz Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz pada tanggal 13 April 2009. Beliau akan tiba di Jakarta untuk multaqa (pertemuan) ulama selama hampir 2 minggu. Dan beliau datang ke Jakarta 1 hari saja langsung ke wilayah ada 6 propinsi. Jadi tidak ada acara di Jakarta kecuali acara penutupan tanggal 26 April 2009,beliau akan majelis bersama kita di Masjid Istiqlal. Insya Allah kunjungan beliau tidak ada halangan. Kita kembali dalam Tabligh Akbar bersama Guru Mulia kita Al Hafidz Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz. Amin Allahumma Amin semoga Allah singkirkan segala hambatan dan Allah berikan kemudahan. Semoga Allah Swt jadikan acara ini sukses dengan doa bagi bangsa kita mengawali kemakmuran bagi bangsa kita. Amin Allahumma Amin semoga Guru Mulia kita juga diberi kesehatan wal afiah dan diberi kemuliaan untuk bisa selalu hadir. Ini menunjukkan isyarat bahwa Indonesia sudah berada di gerbang kemakmuran, gerbang daripada pembenahan bagi muslimin – muslimat terbesar di muka bumi. Beliau sampai tahun ini datang 3X ke Indonesia. Bulan kemarin bulan Februari,bulan ini dan bulan Desember untuk membenahi bumi Indonesia ini. Semoga semakin terbenahi dengan kedamaian..

Yang kedua, saya mohon maaf hadirin. Malam ini keluar saya dari majelis ini kalau bisa jangan ada yang bersalaman bukan karena saya tidak suka di salami. Sungguh hati saya hancur kalau ada tangan yang terulur pada saya tidak sempat saya sentuh, hati saya terenyuh dan tercabik. Saya tidak mau mengecewakan satu tangan pun yang terulur kepada saya, tapi kondisi saya di malam in tampaknya drop sekali dan saya harus buru – buru tiba sampai dirumah. Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, saya sangat mencintai kalian. Seandainya kalian berkata “Habib saya tidak mau hadir kecuali saya menginjak kepada Habib dulu” maka saya berikan kepala saya ini untuk kalian injak demi kalian mau hadir ke majelis malam ini. Tapi malam hari ini saya mohon diberikan keringanan hadirin kepada saya, kita bersatu di dunia dan akhirat dan berkumpul bersama Nabiyyuna Muhammad Saw. Karena tangan saya penuh tusukan jarum jadi agak sedikit terganggu seandainya disalami oleh hadirin. .

Washollallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam..

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Kashful Qulub

Kashful Qulub

Posted on Jun 2, 2008 by sulaiman

Nabi Muhammad s.a.w mempunyai satu kelebihan “Kashful Qulub”. Nabi boleh melihat orang yang sembahyang dibelakangnya (tanpa berpaling) Kata baginda ” Wallah, Aku melihat kamu di belakangku seperti mana aku melihat dari hadapan”. Baginda juga mengatakan “ada orang yang wuduknya tidak betul dan sembahyang bersama kita”. Batin (hati) Nabi begitu suci sehingga boleh mengesan dan membaca hati makmumnya.

Satu Kisah

Kelebihan ini juga terdapat pada umat baginda. Dalam satu kisah ada seorang wali yang berjalan mengembara ke sebuah kampung. Tiba waktu Zohor, beliau berhenti sembahyang berjemaah bersama-sama penduduk kampung itu. Namun beliau hanya mengikut imam separuh dari sembahyang sahaja, kemudian berpisah dari imam itu dan sembahyang seorang diri.

Perbuatan ini menimbulkan tanda tanya kepada penduduk kampung itu. Selesai sembahyang, para makmum bertanya kepada wali itu mengapa dia berpisah dari imam. Kata wali itu “Tiada apa-apa’. Namun mereka tidak puas hati dengan jawapannya lalu mendesak agar diberikan jawapan sebenar. ” Kata wali itu “Aku hanya boleh ikut imam sampai sebelah sini sungai sahaja”.

Kata imam “Betul apa yang dikatakan” Sebenarnya semasa sembahyang tadi, imam itu sedang memikirkan tentang lembunya yang hilang. Beliau berhajat untuk mencari lembunya yang hilang di tepi sungai. Sekiranya tidak bertemu juga, beliau berhajat untuk menyeberangi sungai itu. Wali itu hanya mampu mengikutnya hingga ke tepi sungai sahaja. Selepas itu wali itu berpisah sembahyang darinya.

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Al-Imam Ja’far bin Muhammad Al-Baqir ra

Al-Imam Ja’far bin Muhammad Al-Baqir ra

 

Beliau adalah Al-Imam Ja’far bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau terkenal dengan julukan Ash-Shodiq (orang yang jujur). Beliau biasa dipanggil dengan panggilan Abu Abdullah dan juga dengan panggilan Abu Ismail. Ibu beliau adalah Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq. Sedangkan ibu dari Farwah adalah Asma bintu Abdurrahman bin Abubakar Ash-Shiddiq. Oleh karena itu, beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) pernah berkata, “Abubakar (Ash-Shiddiq) telah melahirkanku dua kali.” Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan di kota Madinah pada hari Senin, malam ke 13 dari Rabi’ul Awal, tahun 80 H (ada yang menyebutkan tahun 83 H). Banyak para imam besar (semoga Allah meridhoi mereka) yang mengambil ilmu dari beliau, diantaranya Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraid, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Hanifah, Su’bah dan Ayyub.

Banyak ilmu dan pengetahuan yang diturunkan dari beliau, sehingga nama beliau tersohor luas seantero negeri. Umar bin Miqdam berkata, “Jika aku melihat kepada Ja’far bin Muhammad, aku yakin bahwa beliau adalah keturunan nabi.” Sebagian dari mutiara kalam beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) adalah: “Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa. Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong.” “Jika engkau mendengar suatu kalimat dari seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut, maka celalah dirimu sendiri.” “Jika engkau berbuat dosa, maka memohon ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus.”

“Barangsiapa yang rizkinya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Barangsiapa yang dibuat kagum oleh sesuatu dan menginginkannya demikian terus, maka perbanyaklah ucapan maa syaa-allah laa quwwata illa billah.” “Allah telah memerintahkan kepada dunia, ‘Berkhidmatlah kepada orang yang berkhidmat kepadaku, dan buatlah payah orang yang berkhidmat kepadamu.’ ” “Fugaha itu orang yang memegang amanah para rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa.” “Jika engkau menjumpai sesuatu yang tidak engkau sukai dari perbuatan saudaramu, maka carilah satu, atau bahkan sampai tujuh puluh alasan, untuk membenarkan perbuatan saudaramu itu. Jika engkau masih belum mendapatkannya, maka katakanlah, ‘Semoga ia mempunyai alasan tertentu (kenapa berbuat demikian) yang aku tidak mengetahuinya.’ ” “Empat hal yang tidak seharusnya bagi seorang yang mulia untuk memandang rendah: bangunnya dia dari tempat duduknya untuk menemui ayahnya, berkhidmatnya dia kepada tamunya, bangunnya dia dari atas binatang tunggangannya, dan berkhidmatnya dia kepada seorang yang menuntut ilmu kepadanya.” “Tidaklah kebaikan itu sempurna kecuali dengan tiga hal : menganggapnya rendah (tidak berarti apa-apa), menutupinya dan mempercepatnya. Sesungguhnya jika engkau merendahkannya, ia akan menjadi agung. Jika engkau menutupinya, engkau telah menyempurnakannya. Jika engkau mempercepatnya, engkau akan dibahagiakannya.”

Dari sebagian wasiat-wasiat beliau kepada putranya, Musa: “Wahai putraku, barangsiapa yang menerima dengan ikhlas apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka ia akan merasa berkecukupan. Barangsiapa yang membentangkan matanya untuk melihat apa-apa yang ada di tangannya selainnya, maka ia akan mati miskin. Barangsiapa yang tidak rela dengan apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka berarti ia telah menuduh Allah di dalam qadha’-Nya.” “Barangsiapa yang memandang rendah kesalahannya sendiri, maka ia akan membesar-besarkan kesalahan orang lain. Barangsiapa yang memandang kecil kesalahan orang lain, maka ia akan memandang besar kesalahannya sendiri.” “Wahai anakku, barangsiapa yang membuka kesalahan orang lain, maka akan dibukakanlah kesalahan-kesalahan keturunannya. Barangsiapa yang menghunuskan pedang kezaliman, maka ia akan terbunuh dengannya. Barangsiapa yang menggali sumur agar saudaranya masuk ke dalamnya, maka ia sendirilah yang nanti akan jatuh ke dalamnya.” “Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat orang-orang bodoh, maka ia akan dipandang rendah. Barangsiapa yang bergaul dengan ulama, ia akan dipandang mulia. Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat kejelekan, maka ia akan dituduh melakukan kejelekan itu.” “Wahai putraku, janganlah engkau masuk di dalam sesuatu yang tidak membawa manfaat apa-apa kepadamu, supaya engkau tidak menjadi hina.” “Wahai putraku, katakanlah yang benar, walaupun berdampak baik kepadamu ataupun berdampak buruk.” “Wahai putraku, jadikan dirimu memerintahkan kebaikan, melarang kemungkaran, menyambung tali silaturrahmi kepada seorang yang memutuskan hubungan denganmu, menyapa kepada seorang yang bersikap diam kepadamu, dan memberi kepada seorang yang meminta darimu. Jauhilah daripada perbuatan mengadu domba, karena hal itu akan menanamkan kedengkian di hati manusia. Jauhilah daripada perbuatan membuka aib-aib manusia.” “Wahai putraku, jika engkau berkunjung, maka kunjungilah orang-orang yang baik, dan janganlah mengunjungi orang-orang pendusta.” Beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) meninggal di kota Madinah pada malam Senin, pertengahan bulan Rajab, tahun 148 H dan disemayamkan di pekuburan Baqi’ di dalam qubah Al-Abbas, dekat dengan makam ayahnya, kakeknya dan paman kakeknya Hasan bin Ali. Beliau meninggalkan lima orang putra, yaitu Muhammad, Ismail, Abdullah, Musa dan Ali Al-’Uraidhi (kakek daripada keluarga Ba’alawy).

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Wali tawaf Baitullah

Wali tawaf Baitullah

Salah satu kelebihan Baitullah ialah:

Tiap-tiap hari ada seorang wali Abdal tawaf Baitullah.

Wali ialah orang yang betul (taat dan patuh) dengan syariat Allah dan Nabi s.a.w, juga orang yang dekat dengan Allah. Wali maknanya sahabat Allah (orang yang sayang Allah lebih dari segala-galanya), amal sunnah Nabi atas dirinya (contohnya menyimpan janggut seperti mana panjangnya janggut Nabi, melakukan ibadah sunat seperti puasa dan sembahyang sunat selain yang wajib).

Wali diberi keramat (benda atau kebolehan luarbiasa yang diberikan Allah sebagai menghormatinya). Ada juga wali yang tiada keramat. Ada wali yang zahir (nampak) keramatnya, ada yang tidak nampak keramatnya.

Ada tujuh peringkat wali, salah satunya wali Abdal. Tiap-tiap masa ada 40 wali Abdal. Bila seorang mati, akan diganti dengan yang lain. Mereka “meeting” di Syria dan Iraq setiap tahun untuk memikirkan tentang pentadbiran dunia, siapa yang patut diberi kuasa pemerintahan.

Wali – orang yang menyayangi Allah

Dalam hadith, orang yang menyayangi Allah, dia memberi kerana Allah. Dalam satu hadith yang lain, kalau orang meminta kerana Allah, berilah kerana Allah. Orang yang diberi harta yang banyak akan ditanya Allah diakhirat nanti. Allah suruh cari rezeki, bukan rezeki yang banyak. Oleh itu jika diberi harta yang banyak, niatlah untuk memberi kerana Allah dan gunalah harta untuk sedekah, derma, zakat.

Adh-Dhariyat [19] Dan pada harta-harta mereka, (ada pula bahagian yang mereka tentukan menjadi) hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menahan diri (daripada meminta)

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Al-Imam Ali bin Ja’far Ash-Shodiq ra

Al-Imam Ali bin Ja’far Ash-Shodiq ra

 

Beliau adalah Al-Imam Ali bin Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau terkenal dengan julukan Al-’Uraidhi, karena beliau tinggal di suatu daerah yang bernama ‘Uraidh (sekitar 4 mil dari kota Madinah). Beliau juga dipanggil dengan Abu Hasan.

Beliau dilahirkan di kota Madinah dan dibesarkan disana. Kemudian beliau memilih untuk tinggal di daerah ‘Uraidh. Beliau adalah seorang tekun dalam beribadah, dermawan dan seorang ulama besar. Beliau, diantara saudara-saudaranya, adalah anak yang paling bungsu, yang paling panjang umurnya dan paling menonjol keutamaan. Ayah beliau (yaitu Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) meninggal ketika beliau masih kecil.

Beliau mengambil ilmu dari ayah dan teman ayahnya. Beliau juga mengambil ilmu dari saudaranya, yaitu Musa Al-Kadzim. Beliau juga mengambil ilmu dari Hasan bin Zeid bin Ali Zainal Abidin. Banyak orang yang meriwayatkan hadits melalui jalur beliau, diantaranya 2 putranya (yaitu Ahmad dan Muhammad), cucunya (yaitu Abdullah bin Hasan bin Ali Al-’Uraidhi), putra keponakannya (yaitu Ismail bin Muhammad bin Ishaq bin Ja’far Ash-Shodiq1), dan juga Al-Imam Al-Buzzi.

Berkata Al-Imam Adz-Dzahabi di dalam kitabnya Al-Miizaan, “Ali bin Ja’far Ash-Shodiq meriwayatkan hadits dari ayahnya, juga dari saudaranya (yaitu Musa Al-Kadzim), dan juga dari Ats-Tsauri. Adapun yang meriwayatkan hadits dari beliau di antaranya Al-Jahdhami, Al-Buzzi, Al-Ausi, dan ada beberapa lagi. At-Turmudzi juga meriwayatkan hadits dari beliau di dalam kitabnya.” Adz-Dzahabi juga berkata di dalam kitabnya Al-Kaasyif, “Ali bin Ja’far bin Muhammad meriwayatkan hadits dari ayahnya, dan juga dari saudaranya (yaitu Musa Al-Kadzim). Adapun yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah dua putranya (yaitu Muhammad dan Ahmad) dan juga ada beberapa orang. Beliau meninggal pada tahun 112 H…” Adz-Dzahabi juga meriwayatkan suatu hadits dengan mengambil sanad dari beliau, dari ayahnya terus sampai kepada Al-Imam Ali bin Abi Thalib, “Sesungguhnya Nabi SAW memegang tangan Hasan dan Husain, sambil berkata, ‘Barangsiapa yang mencintaiku dan mencintai kedua orang ini dan ayah dari keduanya, maka ia akan bersamaku di dalam kedudukanku (surga) ada hari kiamat.’ ” Asy-Syeikh Ibnu Hajar juga berkata di dalam kitabnya At-Taqrib, “Ali bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain adalah salah seorang tokoh besar pada abad ke-10 H…” Al-Imam Al-Yaafi’i memujinya di dalam kitab Tarikh-nya. Demikian juga Al-Imam Al-Qadhi menyebutkannya di dalam kitabnya Asy-Syifa’, dan juga mensanadkan hadits dari beliau, serta meriwayatkan hadits yang panjang tentang sifat-sifat Nabi SAW. Al-Imam Ahmad di dalam Musnad-nya juga meriwayatkan hadits dari jalur beliau. Demikian juga beberapa orang menyebutkan nama beliau, di antaranya As-Sayyid Ibnu ‘Unbah, Al-’Amri, dan As-Sayyid As-Samhudi.

Beliau, Al-Imam Ali Al-’Uraidhi, lebih mengutamakan menghindari ketenaran dan takut dari hal-hal yang dapat menyebabkan dikenal. Beliau dikaruniai umur panjang, sampai dapat menjumpai cucu dari cucunya. Beliau meninggal pada tahun 112H di kota ‘Uraidh dan disemayamkan di kota tersebut. Makam beliau sempat tak diketahui, lalu As-Sayyid Zain bin Abdullah Bahasan menampakkannya, sehingga terkenal hingga sekarang. Beliau meninggalkan beberapa putra, yang hidup diantaranya 4 orang, yaitu Ahmad Asy-Sya’rani, Hasan, Ja’far Al-Asghar dan Muhammad (datuk Bani Alawy).

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

NB : Dalam sumber lain dikatakan bahwa Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq mempunyai 8 orang putra dan 2 orang putri (Nafaais Al-’Uquud fii Syajarah Aal Ba’abud, Ustadz Muhammad bin Husin bin Ali Ba’abud, hal. 10, manuskrip). Kemungkinan Ishaq disitu adalah salah seorang dari 8 orang putra beliau yang belum disebutkan dalam manaqib Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq kemarin.

http://www.asyraaf.net

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Al-Imam Ja’far Asshodiq bin Muhammad Albaqir

Al-Imam Ja’far Asshodiq bin Muhammad Albaqir

Nasab :
Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq bin sayid Muhammad Albaqir bin sayid Ali Zainal Abidin bin sayid Husain putra sayidah Fatimah Az-Zahro binti Rosulillah Muhammad SAW

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Beliau adalah Al-Imam Ja’far bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau terkenal dengan julukan Ash-Shodiq (orang yang jujur). Beliau biasa dipanggil dengan panggilan Abu Abdullah dan juga dengan panggilan Abu Ismail. Ibu beliau adalah Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq. Sedangkan ibu dari Farwah adalah Asma bintu Abdurrahman bin Abubakar Ash-Shiddiq. Oleh karena itu, beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) pernah berkata, “Abubakar (Ash-Shiddiq) telah melahirkanku dua kali.”

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan di kota Madinah pada hari Senin, malam ke 13 dari Rabi’ul Awal, tahun 80 H (ada yang menyebutkan tahun 83 H). Banyak para imam besar (semoga Allah meridhoi mereka) yang mengambil ilmu dari beliau, diantaranya Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraid, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Hanifah, Su’bah dan Ayyub. Banyak ilmu dan pengetahuan yang diturunkan dari beliau, sehingga nama beliau tersohor luas seantero negeri. Umar bin Miqdam berkata, “Jika aku melihat kepada Ja’far bin Muhammad, aku yakin bahwa beliau adalah keturunan nabi.”

Sebagian dari mutiara kalam beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) adalah :

“Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa. Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong.”

“Jika engkau mendengar suatu kalimat dari seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut, maka celalah dirimu sendiri.”

“Jika engkau berbuat dosa, maka memohon ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus.”

“Barangsiapa yang rizkinya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Barangsiapa yang dibuat kagum oleh sesuatu dan menginginkannya demikian terus, maka perbanyaklah ucapan maa syaa-allah laa quwwata illa billah.”

“Allah telah memerintahkan kepada dunia, ‘Berkhidmatlah kepada orang yang berkhidmat kepadaku, dan buatlah payah orang yang berkhidmat kepadamu.’ “

“Fugaha itu orang yang memegang amanah para rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa.”

“Jika engkau menjumpai sesuatu yang tidak engkau sukai dari perbuatan saudaramu, maka carilah satu, atau bahkan sampai tujuh puluh alasan, untuk membenarkan perbuatan saudaramu itu. Jika engkau masih belum mendapatkannya, maka katakanlah, ‘Semoga ia mempunyai alasan tertentu (kenapa berbuat demikian) yang aku tidak mengetahuinya.‘ “

“Empat hal yang tidak seharusnya bagi seorang yang mulia untuk memandang rendah : bangunnya dia dari tempat duduknya untuk menemui ayahnya, berkhidmatnya dia kepada tamunya, bangunnya dia dari atas binatang tunggangannya, dan berkhidmatnya dia kepada seorang yang menuntut ilmu kepadanya.”

“Tidaklah kebaikan itu sempurna kecuali dengan tiga hal : menganggapnya rendah (tidak berarti apa-apa), menutupinya dan mempercepatnya. Sesungguhnya jika engkau merendahkannya, ia akan menjadi agung. Jika engkau menutupinya, engkau telah menyempurnakannya. Jika engkau mempercepatnya, engkau akan dibahagiakannya.”

Dari sebagian wasiat-wasiat beliau kepada putranya, Musa :

“Wahai putraku, barangsiapa yang menerima dengan ikhlas apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka ia akan merasa berkecukupan. Barangsiapa yang membentangkan matanya untuk melihat apa-apa yang ada di tangannya selainnya, maka ia akan mati miskin. Barangsiapa yang tidak rela dengan apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka berarti ia telah menuduh Allah di dalam qadha’-Nya.”

“Barangsiapa yang memandang rendah kesalahannya sendiri, maka ia akan membesar-besarkan kesalahan orang lain. Barangsiapa yang memandang kecil kesalahan orang lain, maka ia akan memandang besar kesalahannya sendiri.”

“Wahai anakku, barangsiapa yang membuka kesalahan orang lain, maka akan dibukakanlah kesalahan-kesalahan keturunannya. Barangsiapa yang menghunuskan pedang kezaliman, maka ia akan terbunuh dengannya. Barangsiapa yang menggali sumur agar saudaranya masuk ke dalamnya, maka ia sendirilah yang nanti akan jatuh ke dalamnya.”

“Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat orang-orang bodoh, maka ia akan dipandang rendah. Barangsiapa yang bergaul dengan ulama, ia akan dipandang mulia. Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat kejelekan, maka ia akan dituduh melakukan kejelekan itu.”

“Wahai putraku, janganlah engkau masuk di dalam sesuatu yang tidak membawa manfaat apa-apa kepadamu, supaya engkau tidak menjadi hina.”

“Wahai putraku, katakanlah yang benar, walaupun berdampak baik kepadamu ataupun berdampak buruk.”

“Wahai putraku, jadikan dirimu memerintahkan kebaikan, melarang kemungkaran, menyambung tali silaturrahmi kepada seorang yang memutuskan hubungan denganmu, menyapa kepada seorang yang bersikap diam kepadamu, dan memberi kepada seorang yang meminta darimu. Jauhilah daripada perbuatan mengadu domba, karena hal itu akan menanamkan kedengkian di hati manusia. Jauhilah daripada perbuatan membuka aib-aib manusia.”

“Wahai putraku, jika engkau berkunjung, maka kunjungilah orang-orang yang baik, dan janganlah mengunjungi orang-orang pendusta.”

Beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) meninggal di kota Madinah pada malam Senin, pertengahan bulan Rajab, tahun 148 H dan disemayamkan di pekuburan Baqi’ di dalam qubah Al-Abbas, dekat dengan makam ayahnya, kakeknya dan paman kakeknya Hasan bin Ali. Beliau meninggalkan lima orang putra, yaitu Muhammad, Ismail, Abdullah, Musa dan Ali Al-’Uraidhi (kakek daripada keluarga Ba’alawy).

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

HABIB MUHAMMAD BIN AHMAD AL MUHDHOR

HABIB MUHAMMAD BIN AHMAD AL MUHDHOR

Ulama Bondowoso kelahiran Hadro maut merupakan sosok ulama karismatik yang menjadi panutan masyarakat serta rujukan ilmu dari para ulama. Putra dari seorang ulama besar lahir di desa Quwairoh Hadro maut sekitar tahun 1280 H atau 1859 M. Ayah beliau bernama Habib Ahmad bin Muhammad al muhdhar seorang ulama besar di hadro maut. sejak kecil habib Muhammad bin Ahmad Al muhdhor menuntut ilmu dari ayahnya, kecerdasan dan penguasaan materi yang di berikan Ayahnya membuat Ayahnya merasa bangga terhadap putranya. Menginjak Remaja Habib Muhammad Muhdhor belajar kepada seorang Ulama dan Waliyulloh bernama Habib Ahmad bin Hasan Al athos. Gurunya walaupun buta namun mampu melihat dengan pandangan Batiniyyah yang telah dikaruniakan Alloh SWt.

Sewaktu Gurunya Habib Ahmad bin Hasan Al athos pergi ke suatu daerah untuk berdakwah , beliau mengajak Muridnya Habib Muhammad Al muhdhor untuk menemaninya. Mereka menunggang kuda bersebelahan, dalam perjalanan Habib Muhammad minta izin gurunya untuk membacakan Kitab Al Muhadzdzab karya Imam Abu Ishak. Dan sepanjang Perjalanan Habib Muhammad Al Muhdhor membaca Kitab Muhadzdzab sedangkan gurunya menyimak bacaan Muridnya sampai khatam. Selesai menghatamkan Kitab Muhadzadzab gurunyapun mendo’akan habib Muhammad al muhdhor .

Tahun 1886 M Habib Ahmad Al muhdhor ayah Habib Muhmmad al muhdhor meninggal dunia , Orang yang selama ini menjadi sugesti dan tempat mengadu telah dipanggil Alloh SWt. Setelah itu pula habib Muhammad al muhdhor mulai melakukan ritual Dakwahnya ke berbagai daerah. Gaya bahasa dan tutur kata yang lembut mampu meluluhkan hati setiap orang. Setiap kali daerah yang dikunjungi nya selalu ramai orang berbondong -bondong mengelilinginya untuk belajar kepadanya.
Setelah sekian lama melakukan ritual dakwahnya kebebagai daerah hingga akhirnya Beliau menetap di Bondowoso Jawa timur. Keharuman namanya serta kedalaman ilmu yang dimiliki mampu membuat simpatik masyarakat serta para ulama dari berbagai daerah Ditanah air. Salah seorang ulama Surabaya Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi sangat mengagumi habib Muhammad Al Muhdor hingga Menikahkan dengan salah seorang putrinya. Mertua dan Menantu yang memang seorang ulama bahu membahu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar kepada masyarakat, pendirian Madrasah Al Khaeiriyyah Surabaya dan darul Aitam Jakarta adalah juga merupakan usaha dari Habib Muhammad Muhdhor untuk mengajak para Donatur menyisihkan hartanya membangun tempat tersebut.

Majlisnya tak pernah sepi dari para Muhiibin yang menghadirinya , kepedulian Habib Muhammad al muhdhor terhadap ilmu sangat besar maka tak heran bila beliau mendapat tempat tersendiri di hati para ulama . tak jarang beliau menghabiskan waktunya untuk menelaah kitab -kitab dan mengajarkannya kepada umat. Perhatian beliau terhadap umatpun sangat besar, tak segan segan Habib Muhammad membantu kesulitan umat baik berupa materi mapun imateril. Begitupun terhadap tamu yang berkunjung ke rumahnya, beliau akan sambut tamu tersebut di depan pintu dengan senyumnya yang bersahaja, maka tak jarang para tamu yang berkunjung kerumahnya untuk datang kembali karena keramah tamahan yang dimilki Habib Muhammad Al muhdhor.

Tanggal 4 may 1926 Habib Muhammad al muhdhor Wafat setelah beberapa hari di rawat di Rumah sakit di surabaya, beliau meninggalkan 5 orang putra dan 3 anak perempuan. Masyarakat dan para ulama baik dari Ahli bait maupun ahwal merasa sangat kehilangan sosok ulama yang sangat perduli dengan umat. Beliau dimaqomkan disamping maqom mertuanya Habib muhammad al habsy

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Syed Muhyiddeen – wali yang sangat cintakan Allah

Syed Muhyiddeen – wali yang sangat cintakan Allah

Posted on Ogos 7, 2007 by sulaiman

Kisah Syed Muhyiddeen – “yang menghidupkan agama”.

Beliau ialah seorang wali yang tidak berkahwin dan tidak pernah menyatakan hasrat untuk berkahwin. Beliau sangat cintakan Allah, bimbang sekiranya beliau kahwin, beliau akan lupakan Allah kerana banyak mengingati anak dan isteri. Hatinya hanya boleh menyayangi satu sahaja, samada Allah atau yang lain.

Akhirnya keluarga beliau mengahwinkannya secara “kahwin fuduli” (dibolehkan mengikut mazhab Hanafi, tetapi tidak boleh pada mazhab Syafie. Keluarganya tolong jawab nikah bagi pihaknya, tanpa pengetahuannya. Setelah lelaki itu tahu dan sekiranya dia diam, maka sahlah nikah itu. Tetapi sekiranya dia membantah, batallah nikah itu.)

Setelah dikahwinkan, perempuan yang merupakan isterinya itu dihantarlah ke rumahnya. Pada malam itu bila pulang ke rumahnya, beliau melihat cahaya pelita terang dalam rumahnya. Siapa pula yang datang ke rumahku. Lalu beliau masuk dan melihat perempuan yang berkelubung duduk dekat pelita itu serta bertanya ” Siapakah kamu?”. Maka jawab perempuan it, “sayalah urus kamu” (isteri). Kata wali itu “Allah tidak berurus, tidak berkahwin, bagaimana aku hendak berkahwin”. Lalu keluar api yang membakar perempuan itu dan mati hanguslah perempuan itu.

Wali itu berada dalam sifat “Jalal” (sifat hebat dan garang). Sepertimana Syeikh Mui’nuddin Chisti setelah berzikir dan berada dalam sifat jalal, beliau melihat batu di luar biliknya sehingga hangus batu itu kerana “contact” peribadinya dengan Allah sangat kuat pada masa itu.

Wali itu banyak mengamalkan Qulhuwallah (surah Al-Ikhlas) dan dikatakan telah mencapai 100 tempat makam Qulhuwallah. Dia mengajar ilmu tarekat. Anak muridnya hanya seorang. Setelah anak muridnya mencapai taraf khalifah, dihantarnya jauh dari tempatnya. Maka anak muridnya bertanya ” Bila saya sudah berada jauh dan bila tuan guru sakit atau meninggal, bagaimana saya hendak berkhidmat pada tuan guru?”

Jawab wali itu “Bila keramatmu diketahui orang, itulah hari kematianku”.Anak muridnya itu juga adalah seorang wali yang kemudiannya menyertai askar. Raja Islam pada masa itu telah pergi memburu dan melihat seorang perempuan dan jatuh hati kepada perempuan itu (seorang anak raja kafir yang cantik). Raja itu telah menghantar orang meminang tetapi pinangannya ditolak. Kemudiannya dihantar askar untuk berperang tetapi tewas juga tentera Islam. Akhirnya dicadangkan kepada raja supaya meminta pertolongan wali supaya berdoa untuk kemenangan dalam perang. Setelah dicuba beberapa wali, semuanya tidak dapat mendoakannya kecuali seorang sahaja (wali yang masuk askar tadi). Lalu raja bertanya bagaimana hendak mengecam wali yang makbul doanya. Bila berlaku ribut disatu malam, raja dan menterinya keluar ke khemah-khemah askar, melihat hanya khemah wali tadi yang tidak dilanda ribut dan wali itu sedang membaca quran. Lalu raja meminta wali tadi berdoa. Pada mulanya beliau tidak sanggup sehinggalah raja itu meletakkan tangannya di atas kaki wali itu tanda rendah diri. Raja itu juga memberi wang gajinya untuk bulan itu. Kemudian raja itu menghantar tenteranya dan mendapat kemenangan.

Maka teringatlah wali tadi akan pesan gurunya.

“Bila keramatmu diketahui orang, itulah hari kematianku”.

Lalu beliau pulang dan membeli kain kapan untuk tuan gurunya. Tiada siapa yang boleh menyentuh mayat gurunya kerana keluar api dari mayatnya. Hanya dia sahaja yang boleh menyentuh mayat gurunya. Tok gurunya juga pernah berpesan supaya jangan sesiapa mengimamkan sembahyangkan jenazahnya sehingga “orang luar” datang. Lalu datang seorang berkuda dan memakai burqa@purdah (kain yang menutup mukanya) dan mengimamkan sembahyang jenazah. Selesai sembahyang,lelaki berkuda itu meninggalkan jemaah. Lalu anak muridnya itu memegang tali kuda itu dan mengikut lelaki berkuda itu hinggalah ke satu tempat jauh dari orang ramai. Lalu murid itu bertanya siapakah kamu. Lelaki berkuda itu bertanya ‘betulkah kamu ingin mengetahui siapa aku’ Setelah dibuka kainnya, dilihatnya tuan gurunya yang mati itu adalah lelaki berkuda tadi. Tuan gurunya menyembahyangkan jenazahnya sendiri. Seperti kata Nabi, wali-wali tidak mati, hanya jasadnya mati.

Kuburnya pula tidak boleh dilalui burung. Sekiranya burung melalui kawasan kuburnya, terbakarlah burung itu. Setelah itu wali yang lain pula berdoa kepada Allah minta ditutupkan keramatnya.

Berbalik pada kisah raja dan tentera Islam yang mencapai kemenangan tadi. Perempuan kafir itu pula menyuruh dayangnya menyediakan kayu api. Bila tentera Islam masuk ke istana, dinyalakan api. Bila raja itu hendak menyentuhnya, perempuan itu membunuh diri dan terjun ke dalam api itu.

Wali-wali semenangnya fana’ dalam cinta dan kasih sayang kepada Allah sehingga lupa diri sendiri. Bukan seperti kita cinta kepada harta, pangkat dan dunia. Mereka tidak cinta dunia, tinggal sahaja dalam dunia untuk melaksanakan perintah Allah.

Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2010

Al-Imam Muhammad Bin Ali Al-Fagih Al-Muqaddam

Al-Imam Muhammad Bin Ali Al-Fagih Al-Muqaddam

                                            Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali Thalib, Ibnu Al-Batul Fathimah binti Rasulullah SAW, dikenal dengan Al-Ustadz Al-A’Zham Al-Faqih Al-Muqaddam.

             Beliau adalah bapak dari semua keluarga Alawiyyin, keindahan kaum Muslimin dan agama Islam, batinnya selalu dalam kejernihan yang ma’qul dan penghimpun kebenaran yang manqul, mustanbituhl furu’ minal ushul, perumus cabang-cabang hukum Syara’, yang digali dari pokok-pokok ilmu fiqh, Syaikh syuyukhis syari’ah ( maha guru ilmu syari’ah), imamul ahlil hakikat (pemimpin para ahli hakikat), sayidul thoifah ashashufiyah (penguhulu kaum sufi), murakidz dairatul wilayah ar-rabbaniyah, Qudwatul ulama al-Muhaqqiqin (panutan para ulama ahli ilmu hakikat), tajul a’imah al-arifin (mahkota para imam ahli ma’rifat), jamiul kamalat (yang terhimpun padanya semua kesempurnaan)

             Imam Muhammad bin Ali adalah penutup para wali yang mewarisi maqom Rasulullah SAW, yaitu maqom qutbiyah Al-Kubro (wali quthub besar). Beliau lahir tahun 574 hijriyah di kota Tarim, hafal Al-Qur’an, menguasai makna yang tersurat maupun yang tersirat dari Al-Qur’an.

             Imam Muhammad bin Ali belajar Fiqh Syafii kepada Syaikh Abdullah bin Abdurahman Ba’abid dan Syaikh Ahmad bin Muhammad Ba’Isa, belajar Ilmu Ushul dan Ilmu Logika kepada Imam Ali bin Ahmad Bamarwan dan Imam Muhammad bin Ahmad bin Abilhib, belajar ilmu tafsir dan hadits kepada seorang mujtahid bernama Sayyid Ali bin Muhammad Bajadid, belajar ilmu Tasawuf dan Hakikat kepada Imam Salim bin Basri, Syaikh Muhammad bin Ali Al-Khatib dan pamannya Syaikh Alwi bin Muhammad Shahib Marbath serta Syaikh Sufyan Al-Yamani yang berkunjung ke Hadramaut dan tinggal di kota Tarim.

             Para Ulama Hadramaut mengakui bahwa Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali adalah seorang mujtahid mutlaq. Di antara keramatnya adalah : ketika anak beliau Ahmad mengikuti Al-Faqih Al-Muqaddam ke suatu wadi di pertengahan malam, maka sesampainya di wadi tersebut beliau berdzikir dengan mengeluarkan suara, maka batu dan pohon serta mahluk yang ada di sekeliling tempat itu semuanya ikut berdzikir. Beliau dapat melihat negeri akhirat dan segala kenikmatannya hanya dengan melihat di antara kedua tangannya, dan melihat dunia dengan segala tipu dayanya  melalui kedua matanya.

             Di antara sikap tawadhu’nya, ia tidak mengarang kitab yang besar akan tetapi ia hanya mengarang dua buah kitab yang berisi uraian yang berisi uraian yang ringkas. Kitab tersebut berjudul : Bada’ia Ulum Al-Mukasysyafah dan ghoroib Al-Musyahadat Wal Al-Tajalliyat. Kedua kita tersebut dikirimkan kepada salah seorang gurunya Syaikh Sa’adudin bin Ali Al-Zhufari yang wafat di Sihir tahun 607 Hijriyah. Setelah melihat dan membacanya ia merasa takjub atas pemikiran dan kefasihan kalam Imam Muhammad bin Ali. Kemudian surat tersebut dibalas dengan menyebutkan di Akhir tulisan suratnya : “ Engkau wahai Imam, adalah pemberi petunjuk bagi yang membutuhkan “. Imam Muhammad bin Ali pernah ditanya tentang 300 macam masalah dari berbagai macam ilmu, maka beliau menjawab semua masalah tersebut dengan sebaik-baiknya jawaban dan terurai.

            Rumah beliau merupakan tempat berlindung bagi para anak yatim, kaum fakir dan para janda. Jika rumah beliau kedatangan tamu, maka ia menyambut dan menyediakan makanan yang banyak, dimana makanan tersebut tersedia hanya dengan mengangkat tangan beliau dan para tamu untuk berdo’a dan meminta kepada Allah SWT. 

            Imam Muhammad bin Ali Al-Faqih Al-Muqaddam berdoa untuk para keturunannya agar selalu menempuh perjalanan yang baik, jiwanya tidak dikuasai oleh kezaliman yang akan menghinakannya serta tidak ada satupun dari anak cucunya yang meninggal kecuali dalam keadaan mastur (kewalian yang tersembunyi). 

            Beliau seorang yang gemar bersedekah, setiap hari beliau memberi sedekah sebanyak dua ribu ratl kurma kepada yang membutuhkannya, memberdayakan tanah pertaniannya untuk kemaslahatan umum. Beliau juga menjadikan istrinya Zainab Ummul Fuqoro sebagai khalifah beliau. Imam Muhammad bin Ali Wafat tahun 653 hijriyah dan dimakamkan di Zanbal, Tarim pada malam Jum’at akhir bulan Dzulhijjah.

Sumber dari Buku Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi – Idrus Alwi Al-Masyhur.

Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2010

Kenalilah Qabilah Kita

SHAHIB MARBAD

Yang pertama digelar “Shahib Marbad” adalah al-Imam Waliyyullah Muhammad bin
Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Alawiyyin bin Ubaydillah bin Ahmad
al-Muhajir dan seterusnya.
Sebab digelar “Shahib Marbad” adalah kerana beliau berukim di suatu tempat
yang disebut “Marbad” di Dhafar setelah berpindah dari Tarim. Sedangkan kata
“Shahib” atau sinonimnya “Maula” bererti seorang yang bermukim atau berkuasa
di suatu tempat.
Waliyyullah asy-Sheikh al-Imam Muhammad Shahib Marbad dilahirkan di kota
Tarim. Dikurniai 4 orang anak lelaki,masing-masing bernama; Abdullah, Ahmad,
Alwi dan Ali. Abdullah dan Ahmad tidak menurunkan keturunan. Sedangkan
Sheikhul Imam Alwi dan Sheikhul Imam Ali yang menurunkan keturunan beliau,
yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam Biografi Sheikhul Imam Alwi dan Ali.
Waliyyullah Sheikhul Imam Muhammad Shahib Marbad pulang ke rahmatullah di
Marbad pada tahun 556 Hijriah.
Semoga Allah SWT memasukkan mereka semua ke dalam syurga dan
menghimpunkannya bersama-sama para Nabi, para Syuhada’, para Awliya’ dan
para solihin. Amin!

ALWI AMMIL FAQIH

Waliyyullah asy-Sheikh al-Imam Alwi bin Muhammad Shahib Marbad digelar
“Ammil Faqih” kerana beliau adalah ammi (paman) dari Waliyyullah al-Ustaz
al-Muqaddam Muhammad al-Faqih al-Muqaddam (satu-satunya anak lelaki
asy-Sheikhul Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbad.
Asy-Sheikhul Imam Alwi Ammil Faqih dilahirkan di kota Tarim (Hadhramaut).
Dikurniai 3 orang anak lelaki, masing-masing bernama; Abdullah, yang
keturunannya hanya berada di India (di sana disebut dengan al-Adhamah Khan).
Abdul Malik, yang menurunkan Leluhur Wali Songo di Indonesia dan
Abdurrahman, yang menurunkan keturunan Leluhur Alawiyyin.
Waliyyullah asy-Sheikhul Imam Alwi bin Muhammad Shahib Marbad pulang ke
rahmatullah pada tahun 613 Hijriah.

ALI BIN MUHAMMAD SHAHIB MARBAD

Waliyullah asy-Sheikh Ali bin Muhammad Shahib Marbad dilahirkan di Tarim,
Hadhramaut. Beliau hanya dikurniai seorang anak lelaki iaitu al-Ustaz
al-Muqaddam al-Imam Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Dari satu-satunya anak
lelaki beliau itu, beliau dapat menurunkan lebih kurang 75 Leluhur
Alawiyyin.
Waliyyullah asy-Sheikh Ali bin Muhammad Shahib Marbad pulang ke rahmatullah
di kota Tarim pada tahun 593 Hijriah.

AL-FAQIH AL-MUQADDAM

Yang pertama digelar “al-Faqih al-Muqaddam” adalah Waliyyullah Muhammad bin
Ali bin Muhammad Shahib Marbad.
Sebab digelar “al-Faqih al-Muqaddam” adalah kerana Waliyyullah Muhammad
al-Faqih al-Muqaddam seorang guru besar yang menguasai banyak sekali
ilmu-ilmu agama, di antaranya ilmu Fiqh iaitu ilmu syariat agama Islam yang
luas sekali; bagaikan air di lautan; kerana itu beliau digelar “al-Faqih”.
Salah seorang guru besar beliau iaitu Ali Bamarwan mengatakan bahawa beliau
menguasai ilmu Fiqh sebagaimana yang dikuasai seorang ulama’ besar iaitu
al-Allamah Muhammad bin Hassan bin Furak asy-Syafie, wafat tahun 406 H.
manakala gelaran “al-Muqaddam” di depan gelaran “al-Faqih” yang berasal dari
perkataan “Qadam” yang bererti “lebih diutamakan”, dalam hal ini Waliyyullah
Muhammad al-Faqih al-Muqaddam sewaktu hidupnya selalu diutamakan sampai
kewafatannya. Makamnya yang berada di Zanbal, Tarim lebih sering diziarahi
kaum muslimin sebelum menziarahi makam waliyyullah yang lain.
Waliyyullah guru besar Muhammad al-Faqih al-Muqaddam dilahirkan di kota
Tarim, Hadhramaut. Beliau satu-satunya anak lelaki dari asy-Sheikhul Imam
Ali bin Muhammad Shahib Marbad yang menurunkan keturunan Leluhur Alawiyyin
terbanyak; lebih kurang 75 leluhur, melalui ketiga anak lelakinya dari 5
orang anak lelakinya, yang masing-masing bernama Alwi, Ahmad dan Ali, di
samping Leluhur Alawiyyin yang lainnya sebanyak lebih kurang 16 leluhur
keturunan al-Imam Alwi Ammil Faqih al-Muqaddam bin Muhammad Shahib Marbad.
Waliyyullah al-Ustaz al-Muqaddam Muhammad al-Faqih al-Muqaddam pulang ke
rahmatullah di kota Tarim tahun 653 H.

AL-ADANI

Yang pertama kali digelar “al-Adani” ialah Waliyyullah al-Qutub Abu Bakr bin
Abdullah al-Aydarus bin Abu Bakr as-Sakran bin al-Imam Abdurrahman
as-Seggaf.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana beliau meninggalkan tempat
kelahirannya, Tarim untuk berhijrah ke kota Aden di Yaman Selatan, dan
sampai akhir hayatnya beliau bermukim di Aden sehingga digelar “al-Adani”.
Dengan kekeramatannya dan walayahnya, pertama kali beliau melangkahkan kaki
ke kota itu, turun hujan susu di kota Aden tersebut. Dan sewaktu beliau
dalam kandungan ibunya terjadi sesuatu perselisihan antara ibunya dan
ayahnya. Si ibu mengatakan bahawa jika anak yang lahir kelak lelaki akan
diberi nama Umar al-Muhdhar sedangkan si ayah ingin menamakan anaknya dengan
Abdurrahman, maka dengan kudrat Allah SWT, si anak yang dalam kandungan
ibunya itu bersuara dan mengatakan bahawa dirinya telah membaca namanya di
Lauh Mahfuz; Abu Bakr bin Abdullah al-Adani. Akhirnya kedua orang tuanya
bersetuju menamakan anaknya Abu Bakr.
Waliyyullah Abu Bakr al-Adani dilahirkan di kota Tarim. Dikurniai seorang
anak lelaki yang bernama Ahmad tetapi sayangnya Ahmad dan kedua anaknya
iaitu ‘Aqil dan Muhammad tidak menurunkan keturunannya.
Waliyyullah Abu Bakr bi Abdullah al-Aydarus al-Adani pulang ke rahmatullah
di kota Aden pada tahun 914 H.

AL-BEN AQIL

Yang pertama digelar Ben ‘Aqil ialah Waliyyullah Muhammad bin ‘Aqil bin
Salim dan Zain bin ‘Aqil bin Salim.
Muhammad bin ‘Aqil bin Salim dilahirkan di kota Inat. Dikurniai 3 orang anak
lelaki; ‘Aqil, Alwi dan ‘Afif. Masing-masing menurunkan keturunan al-Ben
‘Aqil.
Zain bin ‘Aqil bin Salim dilahirkan di Silik. Dikurniai 2 orang anak lelaki;
Hussien dan ‘Aqil.
Waliyyullah Muhammad bin ‘Aqil pulang ke rahmatullah di kota Inat pada tahun
1032 H.
Waliyyullah Zain bin ‘Aqil pulang ke rahmatullah di kota Silik.

AL-BA’AQIL

Yang pertama kali digelar “Ba’Aqil” ialah Waliyyullah ‘Aqil bin al-Imam
Abdurrahman as-Seggaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin
Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.
Waliyyullah ‘Aqil bin Abdurrahman as-Seggaf dilahirkan di kota Tarim.
Dikurniai 1 orang anak lelaki yang bernama; Abdurrahman bin ‘Aqil ,dikurniai
3 orang anak lelaki masing-masing, Hassan, Muhammad al-Hadi, yang menurunkan
“al-Ba’Aqil as-Seggaf”, Umar, yang menurunkan keturunan al-Ba’Aqil.
Waliyyullah ‘Aqil bin Abdurrahman as-Seggaf pulang ke rahmatullah di kota
Tarim pada tahun 871 H.

AL-ATTAS

Yang pertama kali digelar “al-Attas” ialah Waliyyullah Abdurrahman bin ‘Aqil
bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman
as-Seggaf.
Soal gelaran yang disandangnya kerana atas rahmat yang diberikan oleh Allah
SWT kepada beliau, yang berlaku semasa beliau masih di dalam kandungan
ibunya. Beliau terbersin seraya mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dan kemudiannya
didengar oleh ibunya. Bersin di dalam bahasa Arab ialah ” ‘athasa” dan orang
yang bersin disebut “al-Attas”.
Waliyyullah Abdurrahman bin ‘Aqil bin Salim al-Attas dilahirkan di kota
Silik, Hadhramaut. Beliau dikurniai 5 orang anak lelaki, 3 di antara 5 anak
lelakinya itu yang melanjutkan keturunannya. Masing-masing ialah:
v Abdullah, keturunannya hanya berada di Yafi’, Hadhramaut.

v ‘Aqil, keturunannya al-Attas al-’Aqil.

v Umar, yang tersohor dengan Ratib al-Attasnya, keturunannya kebanyakan
berada di Indonesia. Dikurniai 4 orang anak,masing-masing bernama:

Ø Hussien, menurunkan keturunan al-Attas yang disebut; al-Mukhsin,
al-Ahmad, at-Thalib, al-Umar, al-Hamzah, al-Hasan, al-Musanna, al-Ba’raqi,
al-Ali, al-Ham Ath’thuyur, al-Ben Ya’far, al-Muwar, al-Bat-thah.

Ø Salim, menurunkan keturunan al-Attas yang disebut, as-Salim bin Umar,
al-Yabis, al-Habhab, al-Bu’un, asy-Syami.

Ø Abdullah, menurunkan keturunan al-Attas yang disebut, al-Maut,
al-Mahlus, al-Ben Hasan, al-Ben Hud, al-Ben Hadun.

Ø Abdurrahman, menurunkan keturunan al-Attas yang disebut, al-Faqih,
al-Baqadir.

Waliyyullah Abdurrahman bin ‘Aqil bin Salim al-Attas pulang ke rahmatullah
di kota Huraidhah, Hadhramaut pada permulaan abad ke 11 sekitar tahun 1200
H.

AL-AIDID

Yang pertama digelar “Aidid” ialah Waliyyullah Muhammad Maula Aidid bin Ali
Huthah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi Ammil
Faqih.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana beliau telah bermukim di
suatu dusun yang disebut “Dusun-Aidid” iaitu dusun yang terletak di daerah
pergunungan yang tidak jauh dari kota Tarim. Berdasarkan sebuah kisah yang
diriwayatkan oleh beberapa LeluhurAlawiyyin generasi ke 34 yang berada di
Indonesia menceritakan bahawa pada mulanya dusun itu merupakan tempat sangat
ditakuto oleh penduduk sekitarnya, kerana dihuni banyak makhluk halus yang
jahat, sehingga setiap orang yang ke sana pasti tidak akan kembali lagi.
Pada suatu ketika, di malam hari yang gelap-gelita, penduduk di sekitar
tempat tersebut dikejutkan dengan munculnya suatu cahaya yang terang
benderang di atas dusun tersebut. Di mana kemudiannya, cahaya itu turun ke
kawasan sekitar penduduk-penduduk itu, ternyata cahaya itu datangnya dari
seorang waliyyullah yang bernama Muhammad bin Ali al-Huthah. Akhirnya, dusun
yang tadinya sangat ditakuti kemudian menjadi dusun yang sangat aman dan
makmur sekali. Dan akhirnya, penduduk di dusun itu mengangkat Waliyyullah
Muhammad bin Ali al-Huthah sebagai Penguasa Dusun Aidid dengan gelaran
“Muhammad Maula Aidid”. Maula bererti penguasa.
Waliyyullah Muhammad Maula Aidid dilahirkan di kota Tarim. Dikurniai 6 orang
anak lelaki, hanya 3 orang yang melanjutkan keturunannya iaitu yang bernama
Abdullah dan Abdurrahman yang digelar Bafaqih yang kemudiannya menjadi
leluhur al-Bafaqih. Sedangkan anaknya yang seorang lagi, Ali, tetap digelar
Aidid yang kemudiannya menjadi leluhur al-Aidid.
Waliyyullah Muhammad Maula Aidid pulang ke rahmatullah di kota Tarim pada
tahun 862 H.

AL-’AUHAJ

Yang pertama digelar “al-’Auhaj” adalah Waliyyullah Abdullah bin Alwi bin
Ali bin Abu Bakr al-Fakher bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi
Ammil Faqih.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana beliau bermukim di dusun yang
disebut Auhaj di Yaman.
Waliyyullah Abdullah bin Alwi al-Auhaj dilahirkan di kota Tarim.dikurniakan
3 orang anak lelaki yang masing-masing bernama Ahmad, Ali dan Abdullah yang
melanjutkan keturunan beliau terutama yang berada di Indonesia.
Waliyyullah Abdullah al-Auhaj pulang ke rahmatullah di Goroh, Hadhramaut
pada tahun 868 H.

AL-BA’DUD

Dari perkataan bahasa Arab “‘Abud” iaitu banyak melakukan ibadah. Ada 4
golongan Leluhur Alawiyyin yang bergelar a’-Ba’bud.

Ba’bud Maqfun keturunan Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Marbad.
Disandang oleh Waliyyullah al-Mu’allim Muhammad Abud bin Abdullah bin
Muhammad Maqfun bin Abdurrahman al-Babathinah.
v Sebab digelar “Maqfun” kerana suka beruzlah ertinya suka menyendiri
dengan maksud untuk lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

v Waliyyullah al-Muallim Muhammad Abud dilahirkan di kota Tarim,
keturunannnya berada di Bur, Hadhramaut, di Madinah, Mesir dan Indonesia.

v Waliyyullah al-Muallim Muhammad Abud pulang ke rahmatullah di kota
Tarim pada bulan Zulhijjah tahun 975 H.

“al-Ba’bud Dijan” keturunan Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Disandang oleh
Waliyyullah Abdullah bin Ali Dijan bin Ahmad. Maksud “Dijan” membawa kepada
2 pengertian:
v Pertama: Diertikan dengan sebuah dusun di Hadhramaut di mana ayah
Waliyyullah Abdullah Abud iaitu Ali bin Ahmad bermukim di dusun Dijan itu.

v Kedua: Diertikan dengan keindahan atau keperkasaan. Mungkin keluarga
Waliyyullah Abdullah Abud adalah orang-orang yang gagah perkasa dan berani.

v Waliyyullah Abdullah Abud dilahirkan di Gasam, Hadhramaut.
Keturunannya berada di Ghaiydhah, di Difar, di India, dan di Indonesia.
Pulang ke rahmatullah pada sekitar tahun 816 H.

“al-Ba’bud Charbasyan” keturunan Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin
Muhammad Shahib Marbad. Disandang oleh Waliyyullah Ahmad bin Abi Bakr
Charbasyan bin Abdurrahman bin Abdullah Abud bin Ali bin Muhammad
Mauladdawilah. Tentang gelaran Charbasyan diertikan dengan sebuah dusun yang
letaknya tidak jauh dari kota Makkah di mana Leluhur Waliyyullah Ahmad bin
Abi Bakr telah bermukim di dusun Charbasyan tersebut. Dilahirkan di kota
Makkah. Keturunannya berada di Khuruf al-Zaidan di Tarim, Hadhramaut, di
Oman dan Indonesia. Pulang ke rahmatullah di kota Tarim sekitar tahun 947 H.
“al-Ba’bud Ben Shaykhan” keturunan Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin
Muhammad Shahib Marbad. Disandang oleh Waliyyullah Ahmad bin Shaykhan bin
Ali bin Abi Bakr bin Abdurrahman bin Abdullah Abud bin Ali bin Muhammad
Mauladdawilah. Beliau dilahirkan di Mikha’. Keturunannya hanya berada di
Hijaz dan Oman (Timur Tengah), di Habsyah (Afrika) dan India. Pulang ke
rahmatullah di kota Makkah sekitar tahun 1044 H.

AL-BAR

Yang pertama digelar “al-Bar” ialah Waliyyullah Ali bin Ali bin Alwi bin
Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih
al-Muqaddam.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana Waliyyullah Ali bin Ali
al-Bar adalah seorang anak yang sangat taat berbakti kepada kedua ibu
bapanya dengan sebenar-benar taat yang jarang sekali boleh dilakukan oleh
setiap orang. Apa pun perintah yang dating dari kedua ibu bapanya, sekalipun
yang sukar (kecuali perintah menyekutukan Allah SWT) pasti akan
dilaksanakan. Maka dengan itu, beliau digelar al-Bar yang bererti ketaatan
yang sangat luarbiasa terhadap ibu bapa.
Waliyyullah Ali bin Ali al-Bar dilahirkan di kota Dau’an, Hadhramaut.
Dikurniai 3 orang anak lelaki; Abdullah, Abi Bakr dan Hussien. Dari
ketiga-tiga anak lelakinya itu, hanya Hussienlah yang banyak melanjutkan
keturunannya, dan di antara anak cucu Waliyyullah Hussien adalah al-Imam
Umar bin Abdurrahman bin Muhammad bin Hussien bin Ali al-Bar, seorang
Waliyyullah yang tersohor, yang wafat di Gerin, Hadhramaut pada 1158 H.
keturunannya al-Al Bar kebanyakannya berada di Indonesia. Waliyyullah Ali
bin Ali al-Bar wafat di Dau’an, Hadhramaut.

AL-BAYTI

Gelaran al-Bayti disandang oleh:
Ø Waliyyullah Ali bin Alwi bin Ali bin Abu Bakr al-Fakher. Dilahirkan di
Baytul Maslamah. Dikurniai seorang anak lelaki yang bernama Muhammad yang
menurunkan keturunannya. Waliyyullah Ali al-Bayti wafat pada tahun 915 H.

Ø Waliyyullah Abi Bakr bin Ibrahim bin al-Imam Abdurrahman as-Seggaf.
Dilahirkan di kota Tarim. Dikurniai 3 orang anak lelaki; Ibrahim, Ahmad dan
Ismail. Waliyyullah Abu Bakr al-Bayti wafat di kota tarim pada tahun 905 H.

AL-BAHAR

Yang pertama kali digelar “al-Bahar” adalah Waliyyullah al-Qutubul Aqtab
Hassan bin Saleh bin Idrus bin Abu Bakr bin Hadi bin Said bin Syaikhan bin
Alwi bin Abdullah at-Tarisi bin Alwi al-Khawas bin Abi Bakr al-Jufri.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana menurut asy-Sheikh Abdullah
bin Semir di dalam kitabnya yang berjudul Qiladatul Nahri yang mengandungi
Manaqib al-Habib Hassan bin Saleh al-Bahar, menyatakan bahawa ayah
Waliyyullah al-Habib Hassan iaitu al-Habib Saleh, beliaulah yang sebenarnya
digelar dengan gelaran al-Bahar tersebut. Alasannya kerana kemungkinan
sering di lautan (sering belayar).
Waliyyullah al-Habib Hassan al-Bahar dilahirkan di duatu dsun dekat kota
Syiban pada tahun 1191 H. dikurniai 5 orang anak lelaki, hanya dua di antara
mereka yang menurunkan keturunannya iaitu Saleh dan Abdul Qadir. Beliau
pulang ke rahmatullah pada tahun 1273 H.

AL-BARRUM

Yang pertama kali digelar “Barrum” adalah Waliyyullah Hassan bin Muhammad
bin Alwi bin Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih
Muqaddam.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana beliau bermukim di dusun
“Barrum” yang jaraknya kira-kira 20km dari kota Mukalla, Hadhramaut (pada
waktu itu merupakan ibu kota bekas Kesultanan al-Qathiiyah).
Waliyyullah Hassan al-Barrum dilahirkan di kota Tarim, dikurniakan 4 orang
anak lelaki, Abdurrahman, Umar, Ali dan Ahmad. Dan Ahmad merupakan
satu-satunya anak yang banyak keturunannya yang kebanyakannya berada di
Indonesia. Beliau pulang ke rahmatullah di kota Tarim pada tahun 927 H.

AL-BA BIRIK

Yang pertama kali digelar “al-Ba Birik” ialah Waliyyullah Umar bin Ahmad bin
Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih
Muqaddam.
Waliyyullah Umar Ba Birik dilahirkan di kota Tarim, dikurniai 2 orang anak
lelaki, seorang daripadanya yang bernama Ahmad yang menurunkan keturunannya
yang berada di Indonesia. Beliau pulang ke rahmatullah di kota Tarim pada
tahun 889 H.

AL-KHAIRED

Yang pertama digelar “Khaired” ialah Waliyyullah Alwi bin Muhammad Hamidan
bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih
Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbad.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana beliau berkali-kali beribadah
di suatu gua yang di sebut Gua Herrid di pergunungan Aqrun di Tarim. Beliau
selalu beribadah di sana sampai seminggu bahkan sampai sebulan lamanya. Di
dalam gua Herrid yang sepi yang jauh dari keramaian duniawi tersebut, di
samping melakukan ibadah-ibadah jasmani (seperti melaksanakan solat) juga
melakukan ibadah Tafakkur dengan kalbu dan fikirannya, yang semuanya itu
dilakukan kerana mencontohi sunnah Rasulullah saw yang pernah melakukan
ibadah di gua Hira’.
Waliyyullah Alwi al-Khaired dilahirkan di kota Tarim dan dikurnia 6 orang
anak lelaki. Di antara keenam-enam anak lelakinya, hanya seorang yang
bernama Ali yang kemudiannya menurunkan keturunan al-Khaired. Beliau pulang
ke rahmatullah di Tarim pada tahun 808 H.

AL-KHUMUR

Yang pertama kali digelar dengan “al-Khumur” adalah Waliyyullah Abdullah
bin Saleh bin Hassan bin Hussien bin Sheikh Abi Bakr bin Salim.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana beliau bermukim di Khamur
iaitu suatu tempat yang tersohor di sebelah barat kota Syibam, Hadhramaut.
Beliau dilahirkan di Khamur. Dikurniakan 7 orang anak lelaki; Ahmad, Ali,
Abu Bakr, Umar, Abdurrahman, Muhammad dan Idrus yang kesemuanya menurunkan
keturunannya.
Waliyyullah Abdullah bin Saleh al-Khumur pulang ke rahmatullah di Khamur
sekitar tahun 1211 H.

AL-MAULAKHAILAH

Yang pertama kali diberi gelaran “al-Maulakhailah” ialah Waliyyullah
Abdurrahman bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah dan seterusnya.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana beliau bermukim di daerah
pergunungan “Khailah” yang tersohor di sebelah barat kota Tarim, Hadhramaut.
Waliyyullah Abdurrahman Maulakhailah dilahirkan di kota Tarim, dikurniai 4
orang anak lelaki , yang mana dari empat orang anaknya itu, hanya 1 orang
yang melanjutkan keturunan beliau yang dinamai; Sahil, yang dikurniai anak
bernama Muhammad, dan Muhammad bin Sahil dikurniai 2 orang anak lelaki yang
masing-masing bernama; Umar, keturunannya disebut Sahil Khailah yang hanya
berada di Tarim sahaja. Manakala seorang lagi bernama Salim, menurunkan
keturunan al-Maulakhailah yang kebanyakannya yang berada di Indonesia (di
Palembang, di Pulau Jawa, di Madura dan di Ampenan, Bali)
Beliau pulang ke rahmatullah di kota Tarim pada tahun 914 H.

AL-MAULAD DAWILAH

Yang pertama kali diberi gelaran al-Mauladdawilah ialah Waliyyullah Ahmad
bin Muhammad bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin
Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana beliau bermukim di dusun
“Yabhar” di bahagian barat Hadhramaut, di mana dusun itu biasa disebut
dengan “Dawilah” yang ertinya dusun kuno. Maka Waliyyullah Ahmad bin
Muhammad digelari “Maulad Dawilah” ertinya penguasa atau pemimpin dusun
Yabhar yang kuno tersebut.
Beliau dilahirkan di Yabhar, dikurniakan 2 orang anak-anak masing-masing;
Sahil, yang keturunannya kebanyakan berada di Yabhar, Fuqmeh Madrah, Sytair
dan di Jiddah, Hadhramaut, Yaman Selatan dan sebahagian di Indonesia.
Manakala seorang lagi bernama Abdurrahman, keturunannya berada di Indonesia,
kebanyakannya di Jawa Timur. Beliau pulang ke rahmatullah di Yabhar pada
tahun 873 H.

AL-BEN DJINDAN

Yang pertama kali digelar al-Ben Djindan ialah Waliyyullah Djindan bin
Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Syaikhan bin Syaikh Abi Bakr dan
seterusnya.
Beliau dilahirkan di kota Inat, Hadhramaut, dikurniakan seorang anak lelaki
yang bernama Abdullah, yang menurunkan keturunan al-Ben Djindan, yang
kebanyakan berada di Indonesia. Beliau pulang ke rahmatullah di Inat sekitar
tahun 1140 H.

AL-JUNAYD AKHDOR

Yang pertama kali dijuluki dengan gelaran “al-Junayd Akhdor” ialah
Waliyyullah Junayd Akhdor bin Ahmad bin Muhammad bin Abdurrahman bin
Muhammad Akhdor bin Ahmad Gasam bin Alwi Asyibah bin Abdullah bin Ali bin
Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam dan seterusnya.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana ayah beliau memberi nama
Junayd dengan harapan supaya kelak menjadi Waliyyullah yang bernama Junayd
bin Muhammad Sayyid Atha’ifah as-Sufiyyah yang besar dan tersohor.
Beliau dilahirkan di Gasam, Hadhramaut. Dikurniai 5 orang anak lelaki, 3 di
antaranya yang melanjutkan keturunannya; masing-masing bernama; Syaikh,
Ahmad dan Muthahhar. Waliyyullah pulang ke rahmatullah pada tahun 1032 H.

AL-JUNAYD

Yang pertama kali digelar dengan al-Junayd ialah Waliyyullah Abu Bakr bin
Umar bin Abdullah bin Harun bin Hassab bin Ali bin Hassan bin Ahmad bin
Muhammad Asadillah bin Hassan at-Turabi dan seterusnya.
Beliau dilahirkan di kota Tarim pada tahun 1053 H, dikurniakan 5 orang anak
lelaki, hanya 1 orang yang menurunkan keturunannya iaitu Ali bin Abi Bakr
al-Junayd, di mana keturunannya hanya berada di kota Tarim, Hadhramaut dan
di Singapura. Beliau pulang ke rahmatullah di kota Tarim.

AL-FAD’AQ

Fad’aq erti dari nama sejenis harimau. Leluhur Alawiyyin yang mendapat
gelaran Fad’aq mempunyai sifat kuat dan berani seperti Harimau (macan)
sewaktu berdakwah dan berjuang fi sabilillah.
Ada 2 golongan Alawiyyin yang bergelar al-Fad’aq. Masing-masing disandang
oleh:
v Pertama, Waliyullah Umar Fad’aq bin Abdul Wathab bin Muhammad
al-Manfar dan seterusnya. Dilahirkan di Jami Gasam, Hadhramaut dan
dikurniakan 6 orang anak lelaki. Empat di antaranya yang menurunkan
keturunannya;

Ø Muhammad, menurunkan al-Fad’aq yang disebut al-Bait Mahrus,
keturunannya hanya berada di Misygoroh, Hadhramaut.

Ø Ali, yang menurunkan al-Fad’aq yang disebut asy-Syatiri Bunami,
keturunannya hanya berada di Magad dan di Dhifar, Hadhramaut.

Ø Alwi, keturunannya hanya berada di India

Ø Ibrahim, keturunannya hanya berada di Gasam, di Dhifar, di Magad,
Hadhramaut dan Yaman Utara.

v Waliyyullah Umar Fad’aq bin Abdullah Wathab pulang ke ramatullah di
Jami’ Gasam pada tahun 910 H.

v Kedua, disandang oleh Waliyyullah Fad’aq bin Muhammad bin Abdullah bin
Mubarak bin Abdullah Wathab bin Muhammad al-Manfar.

v Sebab digelar dengan gelaran itu kemungkinan ayah beliau menamakan
anaknya dengan Fad’aq dengan harapan semoga anaknya mendapat keberkatan dan
meneladani Waliyyullah Umar Fad’aq pendahulunya.

v Beliau dilahirkan di Baydlo’, Hadhramaut. Dikurniakan 5 orang anak
lelaki, 3 diantaranya melanjutkan keturunannya; Hassan, Agil dan Abdullah.
Keturunannya semuanya hanya digelar al-Fad’aq sahaja yang kebanyakannya
berada di Indonesia. Beliau pulang ke rahmatullah di Baydlo’ pada tahun 1000
H.

AL-BAFAQIH

Al-Bafaqih disandang oleh 2 orang iaitu: 1). Waliyyullah Abdurrahman bin
Muhammad bin Maula Aydid dan 2). Waliyyullah Abdullah bin Muhamad Maula
Aydid dan seterusnya.
Sebab digelar dengan Bafaqih adalah kerana ayah mereka iaitu kedua-dua orang
Waliyyullah tadi iaitu Waliyyullah Muhammad Maula Aydid terkenal di kalangan
masyarakat sebagai seorang ahli ilmu Fiqh (ilmu hukum syariat Islam).
Waliyyullah Abdurrahman Bafaqih dilahirkan di kota Tarim dan dikurniakan 5
orang anak lelaki, 3 di antaranya menurunkan keturunannya iaitu; Ahmad, Zain
dan Atthayib. Beliau pulang ke rahmatullah di Tarim pada tahun 884 H.
Waliyyullah Abdullah Bafaqih dilahirkan di kota Tarim. Dikurniakan 3 orang
anak lelaki dan 2 di antaranya melanjutkan keturunannya; Hussien dan dan
Ahmad. Waliyyullah Abdullah Bafaqih pulang ke rahmatullah selang beberapa
tahun selepas wafatnya saudaranya Waliyyullah Abdurrahman Bafaqih dalam
perjalanan dari kota Makkah al-Mukarramah ke Madinah al-Munawwarah dan
dimakamkan di sekitar antara dua kota suci tersebut.

BILFAQIH

Yang pertama kali digelar dengan gelaran itu adalah Waliyyullah Abdurrahman
bin Muhammad bin Abdurrahman al-Asgok bin Abdullah bin Ahmad bin Ali bin
bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih
al-Muqaddam dan seterusnya.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana ayah beliau seorang ulama
besar yang menguasai ilmu-ilmu agama Islam dan di antaranya ialah ilmu Fiqh,
yang paling dikuasainya iaitu ilmu syariat Islam. Dengan sendirinya beliau
menjadi seorang ulama besar dan Waliyyullah pula mengikuti jejak
ayahandanya.
Waliyyullah Abdurrahman bin Muhammad Bilfaqih dilahirkan di kota Tarim.
Dikurniai 2 orang anak masing-masing bernama Hussien dan Ahmad yang keduanya
menurunkan keturunannya. Beliau pulang ke rahmatullah di kota Tarim pada
tahun 966 H.

AL-BAFARAJ

Yang pertama kali digelar dengan al-Bafaraj ialah Waliyyullah Faraj bin
Ahmad al-Masfarah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin
Alwi Ammil Faqih dan seterusnya.
Sebab digelar dengan gelaran itu ialah kerana ayah beliau memberi nama Faraj
yang bererti senang dan berkat pada beliau, dengan pengharapan semoga Allah
SWT akan menjadikan anaknya kelak seorang yang soleh mendapat penuh
kesenangan dan keberkatan. Dan kenyataannya, Waliyyullah Faraj bin Ahmad
Masrafah menjadi seorang waliyyullah, yang selalu berjuang fi sabilillah.
Waliyyullah Faraj bin Ahmad al-Masrafah dilahirkan di kota Tarim.
Dikurniakan 4 orang anak lelaki; masing-masing bernama Abu Bakar, Umar,
Abdullah dan Alwi. Mereka semua ini melanjutkan keturunan al-Bafaraj
terutama yang kebanyakannya berada di Indonesia.
Waliyyullah Faraj bin Ahmad al-Masrafah pulang ke rahmatullah di kota tarim
pada tahun 876 H.

ABU-FUTHAIM

Yang pertama kali digelar dengan “Abu Futhaim” adalah Waliyyullah Muhammad
bin Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Hassan bin Syeikh Abu Bakar bin Salim
dan seterusnya.
Sebab digelar dengan gelaran itu adalah kerana beliau mempunyai seorang anak
gadis yang bernama Fatimah. Fatimah yang berasal dari kata fatama atau
Futhaim, maka orang-orang menggelar beliau dengan gelaran Abu Futhaim, yang
ertinya ayah fatimah. Seperti misalnya seorang yang bernama Hassan mempunyai
anak yang bernama Umar, maka adakalanya si Hassan dipanggil dengan Abu Umar
yang bermaksud bapa Umar.
Waliyyullah Muhammad Abu Futhaim dilahirkan di kota Tarim. Dikurniakan 5
orang anak lelaki, 4 di antara mereka melanjutkan keturunannya,
masing-masing bernama; Abdurrahman, Hussien, Umar dan Alwi.
Waliyyullah Muhammad Abu Futhaim pulang ke rahmatullah di kota San’a, utara
Yaman.

AL-AL QADRI

Yang pertama kali digelar dengan gelaran “al-Qadri” adalah Waliyyullah
Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Muhammad bin Salim bin Ahmad bin
Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Hassan al-Muallim bin Muhammad bin
Hassan at-Turabi dan seterusnya.
Sebab beliau digelar dengan gelaran itu adalah kerana dalam semua aspek
kehidupan beliau, beliau adalah seorang yang bgitu pasrah dan menyerahkan
dirinya pada taqdir Allah SWT, terutama sewaktu ditimpa sesuati musibah hal
tersebut menunjukkan bahawa beliau mempunyai tahap iman yang begitu kuat
sekali. Kata taqdir berasal dari bahasa Arab yang sinonimnya adalah
‘al-Qadr’.
Waliyyullah Muhammad al-Qadri dilahirkan di Tarim, Hadhramaut dan
dikurniakan 2 orang anak lelaki yang melanjutkan keturunannya, masing-masing
bernama:
v Abdullah, keturunannya hanya berada di Macha, Hadhramaut.

v Hussien, keturunannya kebanyakannya berada di Indonesia, termasuk di
antaranya Sultan Abdurrahman bin Waliyyullah al-Habib Hussien bin Ahmad
al-Qadri, pendiri Kota Pontianak (Kalimantan). Beliau dikurniai 66 orang
anak. Wafat pada tahun 1231 H di Batu Layang, Pontianak.

Waliyyullah Muhammad bin Salim al-Qadri pulang ke rahmatullah di kota Tarim
pada tahun 1079 H.

http://www.ba-alawi.com

Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2010

Al-Habib Alwi bin Ali Alhabsyi

Al-Habib Alwi bin Ali Alhabsyi

Habib Alwi bin Ali al-Habsyi

Ulama dan daie yang masyhur. Anak bongsu kepada Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi pengarang mawlid “Simthud Durar” yang masyhur. Pendiri masjid ar-Riyadh di Kota Solo (Surakarta). Beliau dikenali sebagai pribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan – santun serta ramah tamah terhadap sesiapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tetamu daripada berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian. Beliau meninggal dunia pada 20 Rabi`ul Awwal 1373H dan dimakamkan di Kota Surakarta. Tempat beliau digantikan anakandanya Habib Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad al-Habsyi, mudah-mudahan Allah panjangkan usianya demi kebaikan Islam dan muslimin. Mudah-mudahan Allah beri kesempatan kita menziarahinya di Kota Solo. Mari hadiahkan al-Fatihah buat Habib Alwi bin Ali bin Muhammad al-Habsyi dan para leluhurnya dan keturunan mereka…. al-Fatihah

Al-Habib Al-Walid Isa bin Muhammad bin Syech Al Qatmyr Al-Kaff

Al habib Isa merupakan sosok individu yang sangat sederhana sekali dengan pakaian ketawaddu’an ini sedikit sekali orang yang dapat mengenal siapa beliau sebenarnya. Kehidupan ekonomi al habib begitu memprihatinkan dan membuat hati kita sedih, untuk menunjang kehidupan hari-hari, al habib menerima upah menjahit pakaian. Juga terkadang beliau berdagang dengan bermodal kepercayaan dari orang yang memiliki barang-barang dagangan yang polanya serabutan.

Tempat tinggal beliau sangat sederhana sekali dimana bila kita masuk kerumahnya maka langit-langit rumahnya dapat kita sentuh dengan mengangkat tangan kita. Rumah yang Al Habib diami adalah rumah panggung kayu dua tingkat dimana Al Habib tinggal dibagian bawah rumah, dapat kita bayangkan kondisi udara yang cukup lembab.Rumah tersebut hingga saat ini masih dapat kita lihat yakni di Jl. Ali Qatmyr lrg. Kedipan 13 Ilir Palembang. Para Habaib yang ada saat itu hanya datang dan memperhatikan Al Habib saat mereka mencari nasab, mau nikah ataupun masalah warisan lebih dari itu kehidupan Al Habib nyaris terabaikan dan tidak ada perhatian sama sekali mengenai kehidupannya, sementara beliau berupaya menjaga benteng kemurnian nasab yang mulia sementara untuk yang lain kita berani berkorban mati-matian, inikah kondisi gambaran golongan Alawiyin yang sudah sakit sangat kronis sekali. Kalau Alawiyin sudah begini bagaimana masyarakat umum ?????.

Setiap ada acara-acara Al Habib selalu berada di baris bagian belakang dan sambil bertanya kepada anak-anak muda siapa namanya, nama orang tuanya, nama kakek dan neneknya. Sepulang kerumah AlHabib membuat catatan tersendiri. Pada catatannya Al Habib dengan rapi mencantumkan nama fulan bin fulan nikah dengan fulana binti fulan pada tanggal, bulan dan tahun. Kita akan kagum dan terheran-heran karena kita merasa belum mencatatkan nama kita tetapi beliau mengetahuinya. Inilah gambaran orang-orang yang ikhlas tetapi kehidupannya sangat memprihatinkan.

Bersamaan dengan masa itu juga al faqier sempat bertemu dengan Al Walid Al Habib Muhammad bin Alwi Al bin Hood Al Athas (yang menjadi ketua / Ahli nasab saat itu di Maktab Adda’imi – Rabithah Alawiyah Jakarta), Al Habib Muhammad dengan kejujuran yang ada mengatakan bahwa untuk wilayah Sumatera dan Semenanjung serta sebagian Kalimantan Al Habib Isa jauh lebih mengetahui dibanding beliau. Disini dapat kita lihat kita punya orang-orang tua jauh lebih terbuka fikirannya dibandingkan dengan kita, alfaqier sempat ceritakan mengenai kehidupan al habib Isa kepada Al Walid Muhammad bin Alwi AlAthas. Mendenger cerita alfaqier Al habib Muhammad sangat kaget dan tersentak kemudian beliau mencoba menghubungi salah seorang sahabatnya ditanah Melayu dan secara bersama-sama Al habib Muhammad dengan seorang habib dari tanah Melayu berkunjung ke kediaman Al Walid Alhabib Isa dan sedikit memberikan tanda cinta kasih sesama Alawiyin, satu tindakan yang sangat indah sekali yang belum pernah kita lakukan untuk menghargai seseorang ahli nasab.

Setelah kunjungan tersebut al Faqier sempat kembali bertemu dengan Al walid Muhammad bin Alwi Al Athas dan beliau bercerita panjang lebar. Yaa….Waladi (wahai anakku) begitukah orang-orang ditempat asal ente yang tidak menghargai orang yang memiliki ilmu yang begitu berjasa dan mempunyai kedudukan khusus disisi ALLAH dan RASULNYA ?????.

Ada satu jasa beliau lagi yang sempat luput dari pengamatam kita yaitu dalam dasa warsa tahun 1980 an Al habib Isa dengan gigih mengurus Maqam Keramat Kembang Koci Di Pelabuhan Boom Baru Palembang (alfaqier punya surat edaran yang beliau buat untuk mengumpulkan dana guna merawat maqam tersebut). Dimasa itu beliau seorang diri begitu gigih mempertahankan keberadaan maqam tersebut bahkan beliau pernah tidur di maqam tersebut kira-kira tahun 1994 awal. Pada waktu itu maqam tersebut akan di buldozzer /diratakan dengan tanah guna perluasan pelabuhan Boom Baru sehingga beliau beberapa malam menjaga kuburan tersebut jangan sampai dirusak. al faqier bertemu al habib Isa terakhir tahun 1994 dimana waktu itu beliau dalam keadaan sakit parah, kedua kaki beliau bengkak juga muka beliau nampaknya al habib terkenah gagal ginjal. Al faqier tidak melihat saat itu adanya upaya untuk membantu al habib untuk berobat ke dokter, akhirnya setelah lebih kurang satu minggu alfaqier bertemu beliau, alfaqier mendapat khabar bahwa beliau telah wafat di Palembang. Kesedihan yang sangat menyelimuti kita karena kehilangan orang besar sementara kita belum bisa menghargai jasa-jasanya.

Alhabib banyak meninggalkan catatan-catatan dalam bentuk pohon nasab dari berbagai macam qabilah. Al habib menulisnya dari almanak/tanggalan bekas karena ketidak mampuan membeli kertas dan sangat sayang sekali semua dokumentasi / hasil karya alhabib Isa banyak yang hilang, Alhabib sempat berpesan bila beliau telah tiada tolong buku yang 15 jilid di kembalikan ke Maktab Adda’imi Pusat Jakarta. Sewaktu Al Habib Zainal Abidin Assegaf menjabat sebagai ketua Maktab Adda’imi – Rabithah AlAlawiyah buku tersebut belum berada di pusat hingga menjelang tahun 1999. Alhamdulillah sebagian karya tulisan pribadi al Walid Al Habib Isa ini ada pada Alfaqier / Maktab Naqobatul Asyrof Al Kubro Jakarta. Al habib dikuburkan di qubah Al-kaff (di Palembang disebut juga qubah kecik/kecil) bersebelahan dengan qubah besar di Jalan Dr.M.Isa Kenten 8 Ilir, Palembang.

Demikianlah riwayat yang sangat singkat ini dapat al faqier tuliskan disini dan ini jauh dari sempurna tetapi hanya inilah yang untuk sementara yang bisa alfaqier tunjukkan sebagai rasa terima kasih kepada :

“GURUKU SEKALIGUS KAKEKKU TERCINTA AL WALID AL HABIB ISA BIN MUHAMMAD BIN SYECH AL-QATMYR AL-KAFF”

SEMOGA ALLAH BERKENAN MENERIMAH AMAL IBADAHNYA DAN DILAPANGKAN KUBURANNYA SEPERTI DI TAMAN SYURGA .

Amiin Ya Robbal Alamiin

http://tamanhabaib.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 15 Mac 2010

Orang Soleh Ubat Hati dan Bagai Bintang

Orang Soleh Ubat Hati dan Bagai Bintang

“Berziarahlah kamu kepada orang-orang soleh! Kerana orang-orang soleh adalah ubat hati.”

(Habib Abdullah Bin Muhsin Al-Attas)

“Seindah-indahnya tempat di dunia adalah tempat orang-orang yang soleh, kerana mereka bagai bintang-bintang yang bersinar pada tempatnya di petala langit.”

(Habib Alwi Bin Muhammad Al-Haddad)

« Kiriman-Kiriman Berikutnya - Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 716 other followers