Terbitlah purnama

Ditulis oleh Admin di/pada 10 Maret 2009

Kalam Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji

Terbitlah purnama kepada kita
Dengan terbitnya tenggelam seluruh bulan lainnya
Rupawan seindah wajahmu tak pernah kami menyaksikannya
Wajah ceria penuh sukacita

Engkau mentari, engkaulah punama
Engkau cahaya di atas segala cahaya
Engkau pembangkit semangat dan daya
Engkau lentera hati kita

Wahai kekasihku wahai Muhammad junjunganku
Wahai bintang dari Timur dan Barat
Wahai engkau sang pendukung wahai yang terpuji
Wahai imam dua kiblat

Siapa yang sempat melihat wajahmu betapa untungnya
Wahai engkau yang berbudi mulia pada orangtua
Mata airmu yang sejuk dan suci
adalah tempatku mereguk minum di hari kebangkitan nanti

Kami tak pernah melihat unta-unta
dari mana pun asalnya berjalan gembira
kecuali saat mereka menujumu semata
Awan-awan melindungimu
Dan tuan rumah mulia melimpahkan segala
Hadiah kehormatan bagimu saja

Pepohonan mendatangimu menitikkan airmata
merundukkan diri antara dua tanganmu
Dan kijang-kijang yang melesat itu wahai kekasihku
Mereka pun datang untuk perlindunganmu

Bila semua karavan telah siap sedia
saat keberangkatan telah diumumkan bagi semua
‘Kudekati mereka dengan basah airmata
sembari berkata, “tunggu sejenak, wahai tuan kepala,
dan kirimkan untukku beberapa surat ini saja”
Wahai rasa rindu yang tak tertanggungkan

Di tengah tujuan nampak rumah-rumah hunian
Waktunya malam hari dan saat awal subuh sekali
Di puncak gembira semua makhluk di alamraya ini
Untukmu wahai pria berdahi rupawan berseri
Cinta mereka bagimu sungguh tak ada yang memadai
Penuh tunggu penuh rindu
dalam kehadiran aura jiwamu
Umat manusia yang ada dimana-mana laksana terpana

Engkaulah penutup seluruh nabi
Dan pada Dia Tuhanmu bersyukur engkau tiada henti
Hamba-hambamu ini wahai Tuhan amat mengharapkan
seluruh rahmatmu berlimpah baginya tanpa henti

Pikiran kami tentang dirimu junjunganku Muhammad
senantiasa luhur dan suci
Wahai pembawa berita gembira wahai pemberi peringatan
bagi umat manusia
Bantu aku ya Allah dan lindungi aku
Wahai yang mampu melindungi siksa api neraka
Wahai yang mampu menolong dan tempat kami berlindung
di saat-saat malapetaka harus ditanggung

Sukacitalah sang budak yang telah merasakan arti
bahagianya merdeka
dari segala pedih dan cemas atasmu Muhammad kekasih hati
yang cahayanya begitu terang layaknya purnama
bagimu seluruh kebaikan sempurna

Dibanding dirimu tak ada lagi yang lebih suci
Wahai kakek baginda Husain
Bagimu seluruh rahmat Allah semata
terus menerus melimpah sepanjang masa

Wahai engkau yang derajatnya tinggi diangkat
Maafkan segala dosa yang kami buat
dan maafkan segala kesalahan kami
Engkau murah maaf bagi segala salah
dan segala laku tercela

Engkau yang memaafkan semua dosa
Engkau yang meluruskan jalan kami yang menyimpang
yang mengetahui semua rahasia
Bahkan yang paling dalam dari semua rahasia
Engkau yang menjawab semua doaku

Tuhanku, kasihi semua hambamu ini
melalui jalan kebajikan dan kebaikan
Semoga rahmatMu tercurah bagi Ahmad
rahmat melebihi seluruh baris
yang pernah ditulis

Aku berdoa bagi Muhammad yang selalu dalam bimbinganNya
Pemilik wajah cahaya wajah yang berkilau laksana sang surya
Malam hari kelahirannya bagi Islam adalah saat sukacita
saat semua berbangga

Hari itu anak perempuan Wahab
Memperoleh berkah kebesaran tak wanita lain pun
pernah mendapatkan
Dia pun mendatangi kaumnya
lebih anggun
bahkan dari Maryam wanita yang perawan selamanya

Masa kelahirannya adalah masa kedurhakaan pada puncaknya
dan kelahirannya adalah puncak bencana bagi para pendurhaka

Namun dalam suasana kebahagian penuh sukacita
Yang berjalan tanpa henti-hentinya
Kabar baik itu datang juga
Telah lahir seorang Muhammad
Pribadi yang selalu berada dalam bimbinganNya
dan masa bahagia
Serta yang di atasnya semua bahagia
datanglah pada akhirnya

[Petikan syair pada buku maulud Barzanji, karya Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji]

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Kemuliaan Sholawat

Kemuliaan Sholawat

Oleh : Alhabib Hasan bin Abdurrahman bin Zain Aljufri

(Disampaikan dalam majlis pembacaan kitab maulid Simthud Durrar di Sendang Indah – Semarang tanggal 11 Maret 2009)

Mari kita bersyukur kepada Allah Swt karena sudah dikumpulkan oleh Allah Swt di sini. Di tempat ini kita mengingat Allah Swt, mengingat Nabi Muhammad Saw dan mengingat orang-orang yang mencintai Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Semoga di akhirat nanti kita juga dikumpulkan bersama-sama Rasulullah Muhammad Saw. Amin.

Kita bermodalkan mencintai Rasulullah Muhammad Saw. Dikisahkan ketika pada suatu hari rombongan Rasulullah Muhammad Saw sedang berjalan menuju ke suatu tempat dihentikan oleh seseorang sahabat dan beliau bertanya kapan hari kiamat akan tiba. Rasulullah Muhammad Saw balik bertanya kepadanya apakah yang sudah dia siapkan sehingga dia tanya kapan hari kiamat akan tiba? Sahabat tersebut menjawab dia tidak mempersiapkan apa-apa karena dia sadar bahwa ibadahnya hanya sedikit, dia hanya yakin bahwa dia mencintai Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Rasulullah Muhammad Saw menjawab bahwa sahabat itu akan bersama yang dicintainya nanti di hari kiamat.

Sahabat-sahabat yang lain yang bersama Rasulullah Muhammad Saw bahagia sekali mendengar kabar tersebut seakan-akan tidak ada kabar bahagia selain ini, sebab mereka tahu bahwa ibadah mereka tidak mungkin sekhusyuk Rasulullah Muhammad Saw, tidak mungkin seikhlas Rasulullah Muhammad Saw, tidak mungkin sesempurna Rasulullah Muhammad Saw…mereka hanya mencintai Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Mereka bahagia bahwa dikatakan mereka akan bersama yang mereka cintai.

Dikatakan bahwa barang siapa mendatangi suatu tempat dimana tempat itu dibacakan maulid (sejarah Rasulullah Muhammad Saw), maka dia sebenarnya sedang mendatangi ridho Allah Swt. Kenapa? Karena kita datang dengan berniatkan mencintai Rasulullah Muhammad Saw yang mana niat ini akan membawa kita melakukan hal-hal yang cintai oleh Rasulullah Muhammad Saw. Bukankah orang yang mencintai sesuatu akan melakukan hal-hal yang disukai oleh yang kita cintai?

Barang siapa dengan tulus mencintai Rasulullah Muhammad Saw maka Rasulullah Muhammad Saw akan mencintainya. Salah satu bukti kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad Saw adalah dengan bersholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Nabi Adam As dahulu kesepian ketika berada di surga, oleh Allah Swt diciptakanlah ibu Hawa. Sudah sifat kita tertarik kepada sesuatu yang indah-indah, begitu juga Nabi Adam As yang tertarik kepada ibu Hawa. Ketika Nabi Adam As bertanya kepada Allah Swt bahwa Nabi Adam As menginginkan ibu Hawa, maka Allah Swt melarang Nabi Adam As mendekati ibu Hawa sebelum memberikan mahar. Lihatlah di surga yang semua keinginan kita tinggal meminta pada Allah Swt langsung dikabulkan saja Nabi Adam As masih disuruh memberikan mahar untuk ibu Hawa! Nabi Adam As bertanya apa maharnya ya Allah? Dijawab oleh Allah Swt bahwa mahar yang harus diberikan adalah sholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw. Kemudian Allah Swt menjelaskan kepada Nabi Adam As siapa Rasulullah Muhammad Saw yang di akhirat dikenal dengan nama Ahmad sebenarnya.

Lihat ini bukti bahwa betapa mulianya sholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw itu! Sholawat bermanfaat untuk banyak hal dunia dan akhirat. Alhabib Ali bin Muhammad bin Husein Alhabsyi (penulis kitab Simthud Durrar) berkata bahwa ketika beliau sumpek maka beliau membaca sholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Bagaimana untuk menjadikan Rasulullah itu di depan mata KITA?


Dijawab oleh Sheikh Usamah As-Sayyid Al-Azhari:

1)Sentiasa membaca kalam Rasulullah sollahu ‘alahi wasallam iaitu Hadis2nya dan Sirah Baginda.Jadikan ia rutin harian
.

Tambahan sheikh lagi:

Sheikh ‘Ali Jumaah(Mufti Mesir) membaca 40 kitab mengenai Rasulullah hingga beliau dapat mimpi Rasulullah s.a.w.

Rasulullah s.a.w bersabda:

من رآني في المنام فقد رآني فإن الشيطان لا يتمثل بي
~Riwayat Imam Muslim

(Maksud)Siapa melihat aku dalam mimpi,maka dia telah melihatku,kerana sesungguhnya syaitan tidak menyerupaiku.

2)Sentiasa membersihkan hati agar apa yang dibaca tentang Rasulullah itu memberi kesan.

3)Hati dipenuhi dengan penuh rasa keagungan dan hormat terhadap Rasulullah.

4)Menghilangkan hijab yang ada dalam hati iaitu Kibr(Sombong) sehingga kita ini menyerahkan diri kita kepadanya dengan mengikut segala suruhannya secara total.

Belajar tentang Rasulullah!!!

Bagi mereka yang berada di Mesir…

Khaskan setiap Rabu selepas Asar untuk baca Al-Mawahib Al-ladunnia syarah Syamail Muhammadiyah @ Masjid Al-Azhar dibimbing oleh sheikh Ahmad Hajin.Khaskan masa itu buat Rasulullah.

P/s:Kalau duduk bersama ulama,jangan diambil ilmunya saja,tapi perhatikan akhlak dan tingkah lakunya.Insafi akan diri sendiri yang terlalu jauh dari adab2 Rasulullah s.a.w.

http://almaarif87.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Jauhi Syirik !

January 06, 2009
Jauhi Syirik !
Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di majlis Madadun Nabawiy di masjid Alhikmah, Gemah – Semarang, tanggal 3 januari 2009)

Ingatlah, awal yang maka akhir akan baik pula dan yang tengah akan mengikuti! Semua yang kita lakukan akan dima’afkan oleh Allah Swt kecuali syirik. Syirik yaitu semua yang menduakan Allah Swt baik dhohir ataupun batin.

Syirik secara dhohir sebagaimana diketahui adalah menyembah dan mengakui Tuhan selain Allah Swt dengan diikuti oleh gerak badan kita, misal menyembah patung, menyembah pohon, mengakui lewat lesan bahwa dia yakin kepada selain Allah Swt dsb. Syirik secara dhohir seperti ini maka jika dilakukan oleh orang yang semula islam maka dia diharuskan mengucapkan lagi kalimat syahadat, mengakui lagi lewat lesannya bahwa dia hanya ber-Tuhan kepada Allah Swt saja dan hanya nabi Muhammad Saw sebagai nabi terakhir.

Syirik batin terlihat kecil tapi lebih berbahaya daripada syirik dhohir karena orang yang seperti ini mungkin secara dhohir tidak terlihat menyembah Tuhan selain Allah Swt tapi keyakinannya sudah berpindah kepada selain Allah Swt. Orang yang seperti ini lesan mengakui Allah Swt tapi hatinya tidak, hatinya meragukan Allah Swt! Inilah letak bahayanya!

Sebagian contoh dari syirik batin adalah sebagaimana diketahui bahwa Allah Swt menjamin rizqi semua makhluq, tapi sering kali kita masih saja khawatir akan rizqi kita manakala kita mempunyai sedikit uang, manakala kita tidak bekerja dsb. Kita sering berkata, “Mau makan apa kalau tidak bekerja?” Perkataan semacam ini menimbulkan keraguannya kepada Allah Swt. Betul kerja memang salah satu washilah untuk menjemput rizqi dari Allah Swt, tapi tidak boleh kita meyakini bahwa kalau tidak bekerja maka tidak mendapat rizqi. Kita tidak boleh meyakini rizqi itu dari pabrik ini, kalau tidak tidak lewat pabrik itu maka kita tidak mendapatkan rizqi…yang seperti ini yang tidak boleh. Rizqi itu datangnya dari Allah Swt, Allah Swt menyampaikan rizqi kepada kita lewat berbagai jalan yang tidak kita duga. Yakin saja maka Allah Swt akan memenuhi rizqi kita! Tentu harus disertai usaha.

Begitu juga dengan berobat, obat memang bisa membuat sembuh penyakit kita tapi kita harus meyakini bahwa yang menyembuhkan kita bukanlah obat, Allah Swt-lah yang menyembuhkan kita.

Jika kita melakukan syirik batin maka oleh Allah Swt kita dikasih berbagai kejadian yang semakin membuat kita jauh dari Allah Swt, makin kuat syirik batinnya, durhaka kepada orang tua kita (red. Semua perbuatan kita yang membuat sakit orang tua kita itu tercela, penuhi perintah mereka selama sesuai dengan syari’at. Jika melanggar syari’at maka bantahlah dengan cara yang baik), memutuskan tali silaturrohim sebab akan dilaknat di alam barzah, mahsyar dan di siroth (red. Balaslah keburukan dengan kebaikan sebab keburukan yang dibalas dengan kebaikan akan bermanfaat bagi kita dan keturunan kita hingga kiamat nanti).

Allah Swt sesuai dengan keyakinan kita, meskipun kita membaca wirid yang mulia tapi kalau kita meyakini bahwa wirid itu yang menyelematkan kita maka ini termasuk syirik batin. Keselamatan hanya dari Allah Swt, hanya saja lewat wirid dsb. Perantara atau washilah itu boleh sebab tidak ada yang tidak butuh perantara. Dengan ijin Allah Swt maka wirid bisa membantu menyampaikan kita sampai di surga, setelah kita sampai di surga maka wirid pergi meninggalkan kita. Inilah manfaat amal baik yang membantu kita di dunia dan akhirat.

Semua tergantung kita, oleh karena itu manfaatkan semua yang ada untuk berbuat baik! Semua benda akan menyerap apapun yang dibacakan kepadanya, maka bacakan kalimat-kalimat yang baik yaitu kalimat yang mengingat Allah Swt dan nabi Muhammad Saw agar benda-benda tersebut menjadi baik dan bermanfaat bagi kita.

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Yang Selamat)

Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Yang Selamat) ? Bab 1
Dicatat oleh IbnuNafis
Label: Siapakah Firqatun Najiah (Golongan Selamat) ?
Doktor Azizah al Kayali melalui bukunya ini sangat mengharapkan adanya muhasabah diri dalam hal metodologi dakwah dari mereka yang mengaku diri sebagai satu-satunya kelompok yang termasuk dalam Firqah an Najiah kerana setidak-tidaknya metodologi yang dibawa oleh mereka ini telah mengakibatkan 2 kesan buruk iaitu :

1. Menyakiti kaum Muslimin lain yang tidak termasuk dalam kelompok mreka kerana seringkali dituduh sebagai Ahlu An Nar (penghuni neraka) . Dan akibatnya sesama kaum Muslimin sering terjebak di dalam pelbagai konflik dan permusuhan – perkara ini sudah terjadi di Malaysia. Lihat sahaja di dalam internet dan juga perpecahan yang berlaku di Malaysia akhir-akhir ini yang menggoncang persaudaraan dan perpaduan umat Islam.

2. Menggembirakan orang-orang kafir kerana mereka yang memang menginginkan retaknya hubungan di antara umat Islam, merasa tidak perlu bersusah payah menimbulkan provokasi, cukup hanya menjadi penonton kerana umat Islam sendiri sudah bermusuhan antara satu dengan yang lain.

Dari segi nas-nas agama, pengakuan mereka sebagai satu-satunya Firqah Najiah akan mengakibatkan majoriti umat Muhammad ini dari agama Islam (kerana telah dijatuhkan hukuman kafir atau syirik). Padahal dalam hadith-hadith sahih disebutkan bahawa umat Muhammad atau umat Islam akan menjadi majoriti penghuni di Syurga. Mari ktia perhatikan hadith sahih yang direkodkan oleh Bukhari dan Muslim sebagai berikut yang bererti :

Dari Ibnu Mas’ud radiyaLlahu anhu dia berkata :

Pernah kami sekitar 40 orang lebih bersama RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam di dalam sebuah rumah kecil yang bundar. Lalu beliau bersabda : Mahukah kamu menjadi 1/4 penghuni syurga? Kami menjawab : Ya. Beliau bersabda lagi : “Mahukah kamu menjadi 1/3 penghuni syurga? . Kami menjawab : Ya. Beliau lalu bersabda : “Demi zat yang jiwa Muhammad ada dalam kekuasaanNya, sesungguhnya saya benar-benar mengharapkan agar kalian semua (iaitu umat Islam) menjadi 1/2 penghuni syurga. Yang demikian itu kerana tidak ada yang akan masuk ke syurga kecuali orang Muslim dan tidaklah kamu semua akan berada dalam golongan orang-orang yang berbuat kesyirikan kecuali seperti rambut putih yang ada pada kulit lembu yang htiam atau seperti rambut hitam yang ada pada kulit lembu yang merah.
Hadith sahih di atas dengan jelas menunjukkan bahawa umat Islam ini adalah majoriti penghuni syurga di mana Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam mengharapkan agar umat Islam ini menjadi 1/2 ahli syurga. Para ulama berkata bahawa semua harapan (roja’) yang berasal dari ALlah subahanahu wa ta’ala atau dari Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam maka ia pasti akan terbukti.

Menurut imam al Qurthubi petunjuk harapan Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam itu dapat dilihat pada firman ALlah ta’ala :

وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ (٥)

Ertinya : Dan sesungguhnya Tuhanmu akan memberikanmu (kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat) sehingga engkau reda (berpuas hati).
(Surah ad Dhuha : ayat 5)

Menurut as Suddi ayat ini menunjukkan adanya syafa’at bagi seluruh kaum Mukminin. (Lihat Tafsir al Qurthubi XX/68). Begitu juga dengan firman ALlah dalam sebuah hadith qudsi riwayat Imam Muslim yang bererti :
Sesungguhnya Kami benar-benar akan memuaskanmu berkaitan umatmu dan Kami tidak akan membuatmu sedih
(Dalilul Falihin II/267)

Pada hadith tersebut Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam menggambarkan umat Islam ini adalah 1/4nya adalah penduduk syurga lalu naik jumlahnya menjadi 1/3 lalu naik lagi menjadi 1/2 penduduk syurga. Teknik penyampaian ini lebih menyentuh hati dan menggugah perasaan serta menunjukkan adanya pemuliaan (ikram) terhadap umat ini kerana memberikan sesuatu kepada seseorang secara berulang-ulang menunjukkan adanya perhatian terus menerus kepada orang tersebut. Dan juga teknik penyampaian seperti ini mengandungi adanya pengulangan terhadap penyampaian khabar gembira (bisyarah) dan ini akan mendorong seseorang untuk juga memperbaharui atau mengulang-ulang rasa syukurnya kepada ALlah subahanahu wa ta’ala. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan :

Sesungguhnya penduduk syurga itu terdiri dari 120 saf, 80 safnya terdiri dari umat ini (iaitu umat Islam).

Hadith ini menunjukkan bahawa penghuni syurga nanti 2/3 nya terdiri dari umat Islam.Bererti umat Islam ini lebih dari 1/2nya adalah penghuni syurga iaitu melebihi jumlah yang disebutkan dalam hadith pertama di atas. Hal ini tidaklah menunjukkan adanya percanggahan antara dua hadith tersebut melainkan Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini telah memberitahu lagi dengan jumlah yang lebih banyak. (lihat Dalilul Falihin II/271 terbitan Darul Kutub al Ilmiyyah pada bab ar Roja’).

Selanjutnya penegasan Nabi SallaLlahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Bukhari dan Muslim di atas :
Dan tidaklah kamu semua akan berada dalam golongan orang-orang yang berbuat kesyirikan kecuali seperti rambut putih yang ada pada kulit lembu yang hitam atau seperti rambut hitam yang ada pada kulit lembu yang merah.

Bukankah ini menunjukkan bahawa umat Islam yang jatuh ke dalam perbuatan syirik hanyalah minoriti seperti sedikitnya rambut putih di atas kulit lembu yang hitam. Cubalah perhatikan lembu yang kulitnya berbelang-belang, bukankah yang majoritinya itu adalah rambut yang berwarna hitam dan rambut putihnya sangat sedikit. Sementara terang dan jelas dinyatakan dalam hadith itu bahawa umat Islam yang jatuh dalam kesyirikan hanyalah laksana rambut putih yang ada pada kulit lembu berwarna hitam.

Dengan nas ini terbuktilah bahawa sikap mereka yang terlalu mudah menuduh orang lain dengan syirik dan kafir hingga menghukum kepada kafir atau musyriknya majoriti umat ii adalah nyata bertentangan dengan penjelasan Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam.

Sebagai penambahan sebelum menela’ah kitab tulisan Doktor Azizah al Kayali mari kita renungkan 2 hadith Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam berikut :

Dari Ubadah bin Shamit radiyaLlahu ‘anhu dia berkata: bersabda RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam : Barangsiapa bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain ALlah yang Esa serta tidak ada sekutu bagiNya dan bahawa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya, bahawa Nabi Isa adalah hamba ALlah dan utusanNya (ke Bani Israel) juga kalimatNya yang disampaikan keapda Maryam serta ruh dariNya. Dia juga bersaksi bahawa syurga itu haq, dan neraka juga haq, maka ALlah apsti akan memasukkannya ke dalam syurga walau bagaimanapun amal perbuatannya
(Hadith muttafaqun ‘alaih).

Hadith yang direkodkan oleh Muslim dari Ubadah bin Shamit juga RasuluLLah sallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Barangsiapa bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain ALlah dan bahawa Muhammad adalah utusan ALlah maka ALlah akan mengharamkan atasnya api neraka.

Dengan demikian maka semua kaum Muslimin itu, sepanjang dia masih beriman, pasti akan masuk syurga. Mengenai apakah secara langsung tanpa hisab atau masuk neraka terlebih dahulu baru kemudian masuk syurga, semua itu hanya ALlah yang tahu dan kita wajib menyerahkan keputusannya kepada kehendak ALlah subahanahu wata’ala.

Penterjemah Abu Al Fayadi

Maha Suci Allah Dari Berjisim & Beranggota Tubuh – JAKIM

Datuk Wan Mohamad Sheikh Abdul Aziz
Ketua Pengarah JAKIM

JAKIM :

‘‘Tetapi kalau dimaksudkan Allah itu adalah Tuhan yang mempunyai anak dan diperanakkan, yang mempunyai tangan dan kaki dengan sifat-sifat tertentu, maka itu bukan Allah, inilah jawapan Jakim,”

____________________

Jakim pertahan perkataan Allah hanya untuk Islam

PUTRAJAYA 2 Mac – Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) tetap berpendirian bahawa perkataan Allah tidak boleh digunakan untuk agama lain selain Islam, kata Ketua Pengarahnya, Datuk Wan Mohamad Sheikh Abdul Aziz.

Beliau menegaskan, langkah itu selaras dengan keputusan jemaah menteri sejak sekian lama dan larangan penggunaan nama Allah serta beberapa istilah Islam lain turut diwartakan oleh 10 buah negeri. ‘‘Kita perlu menghormati keputusan jemaah menteri dan undang-undang sedia ada yang telah diperkenankan oleh Sultan dan Raja-Raja Melayu. ‘‘Jadi, keputusan Kementerian Dalam Negeri (KDN) menarik balik perintah membenarkan penggunaan nama Allah dalam penerbitan agama lain adalah satu langkah profesional yang menghormati undang-undang sedia ada,” katanya.

Wan Mohamad berkata demikian pada sidang akhbar mengenai sambutan Maulidur Rasul Peringkat Kebangsaan 1430 Hijrah di sini hari ini. Beliau mengulas pandangan Mursyidul Am Pas, Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat semalam yang menganggap tidak salah bagi orang bukan Islam menggunakan perkataan Allah bagi merujuk kepada Tuhan. Bagaimanapun Menteri Besar Kelantan itu menyerahkan kepada pihak berkenaan untuk menyelesaikan isu penggunaan kalimah Allah dalam penerbitan agama Kristian.

Setakat ini hanya Wilayah Persekutuan, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak tidak mempunyai undang-undang yang memaktubkan tentang pengharaman penggunaan perkataan Allah kepada agama lain.

Wan Mohamad berkata, sekiranya penganut agama lain mengiktiraf dan berikrar bahawa tuhan mereka adalah Allah yang Maha Esa seperti yang diakui oleh orang Islam, maka beliau orang pertama yang paling gembira. ‘‘Allah adalah Tuhan yang tidak mempunyai anak atau diperanakkan, jika ini yang diterima, maka ia adalah satu kejayaan dalam dakwah kita. ‘‘Tetapi kalau dimaksudkan Allah itu adalah Tuhan yang mempunyai anak dan diperanakkan, yang mempunyai tangan dan kaki dengan sifat-sifat tertentu, maka itu bukan Allah, inilah jawapan Jakim,” jelas beliau.

Beliau menyatakan, pada peringkat awal jika perkataan Allah dibenarkan untuk digunakan oleh agama lain, ia akan mengelirukan banyak pihak. ‘‘Lazimnya kekeliruan akan membawa kepada ketegangan dan ini patut dielakkan kerana Malaysia kaya dengan sejarah ketegangan agama dan kaum. ‘‘Jadi, bagi pihak pemerintah, kita bertanggungjawab memastikan keamanan dan persefahaman antara agama dan adalah lebih baik kita ambil langkah awal untuk mengelakkan ketegangan,” katanya.

Justeru Wan Mohamad berkata, Jakim bersedia mengadakan dialog antara agama bagi mencari persefahaman mengenai pelbagai isu yang berbangkit. ‘‘Jakim dan Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) sentiasa menganjurkan dialog antara agama tetapi kebiasaannya ia tidak menjadi satu forum bersifat ilmiah sebaliknya lebih kepada perbincangan mengenai isu perkauman.

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2009&dt=0303&pub=Utusan_Malaysia&sec=Dalam_Negeri&pg=dn_19.htm

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Kenapa salaf dan siapa salaf sebenarnya?

Kenapa salaf dan siapa salaf sebenarnya?
Kenapa salaf dan siapa salaf sebenarnya?
Setiap orang tidak memadai dengan pengakuannya sebagai muslim saja, kerana ungkafan itu terlalu umum dan luas, merangkumi semua umat Islam, termasuk Islam yang mendapat jaminan atau tidak termasuk golongan yang menganut fahaman Muhammad Abdul Wahab, termasuk Islam khwarij, Qadyani, muktazilah dan lainnya .
Jadi lebih tepat sekiranya pengakuannya hanya sebagai muslim salafi sahaja kerana fahaman salaf dan golongan salafi ini telah diakui sebagai umat yang diakui oleh rasulullah sallallahu ‘alai wa sallam sebagai jenerasi terbaik dan selamat iaitu jenerasi dalam tiga atau lima abad selepas kewafatan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam .Ini berdasarkan hadisnya yang memperakui “bahawa sebaik-baik qurun itu qurunku kemudian qurun yang selepas itu kemudian qurun sesudah itu”Dari sinilah di fahami bahawa tiga qurun atau lima qurun sesudah itu dinamakan qurun salaf dan jenerasi terbaik yang di jamin selamat oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam .Selaras dengan firman Allah bermaksud “dan mereka yang awal (beriman) dari kalangan Muhajrin dan Ansor dan pengikut merekadengan baik Allah telah meredhai mereka mereka juga meredhai Allahdan (Allah ) sediakan untuk mereka (ganjaran ) syurga yang (penuh ni’amat ) dan kekal didalamnya “ al Taubah ayat 100 .
1
Oleh yang demikian jenerasi sahabat dan jenerasi tabi’in , juga jenerasi tabi’in tabi’in sesudahnya dikenali sebagai jenerasi salaf (orang yang terdahulu)yang diakui selamat dan masuk syurga, begitu juga mereka yang mengikuti jijak langkah mereka dengan baik sahingga hari kamudian . Justeru itu golongan ulama yang lahir dalam qurun tersebut seperti Hasan Basri ,Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafie , Imam Ahmad, radia llahu ‘anhum dipanggil mereka sebagai ulama salafusalih dan mereka yang mengikutinya di kira kompolan yang selamat dan Berjaya . Adapun ulama yang timbul pada abad ketujuh dan sesudahnya seperti Ibnu Taimiah ,Ibnul Qayyim Ibnu Abdil Wahab dan selepasnya bukan dari golongan salaf , tentulah pengikut mereka itu bukan dari pengikut salaf . Sesuai dengan hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur itu bermaksud “ akan berpecah umatku kepada 73 kumpulan semuanya keneraka melainkan satu kumpulan saja ia itu kumpulan yang berpegang dengan sunahku dan sunah para sahabatku HR Abu Daud Tarmizi dan lainnya . Dalam riwayat lain diperintahnya kita berpegang kuat dengan sunahnya dan sunnah penggantinya(khulafaa) yang rasyidin “ .
Jelaslah bahawa golongan salaf dan pengikutnya yang baik itulah ,yang akan selamat dan berjaya Pengikutnya dengan baik itulah yang diakui sebagai muslim ahlusunah yang merupakan majority umat Islam di dunia hari ini .Dalam hadis sahih yang lain diakui sebagai kompolan umat yang sentiasa berada atas jalan kebenaran yang tidak akan menggugatkan mereka oleh arus penyelewengan (kesesatan)mereka (kompolan) serpihan yang menyalahi mereka hingga hari kiamat, hadis sahih Bukhari&Muslim .Di akhir-akhir ini ramai yang mengakui mereka adalah pengikut ulama salaf ,tetapi adakah pengakuan mereka itu benar atau palsu belaka, atau bertujuan untuk menyesatkan orang ramai sahaja ,kerana mereka (orang awam ini ) mudah terpeperangkap dengan kepalsuan yang dibawa mereka itu .

Disini marilah kita pastikan satu-satu ajaran yang dibawa kompolan tadi , adakah ianya benar-benar atau cuma kepelsuan belaka , nama sahaja menarik dan mempesunakan , untuk mempengaruhi siapa yang mendengarnya ,tetapi ajaran dan isinya adalah penipuan belaka .Dinagara kita ini terdapat banyak ajaran yang cuba diserapkan Tetapi bila dibandingkan dengan ajaran aswj yang merupakan jalan perdana (siratal mustaqim) amatlah jauh berbeza dan pelik lagi aneh , contohnya dalam isu akidah bayak kesamaran yang mereka perkenalkan Seperti Allah itu bertempat berangguta dan sebagainya , mereka terikut-ikut dengan ayat-ayat mutasyabih, sedangkan dengan tegas Allah mengingatkan kita “bahawa mereka yang cuba mengikuti apa –apa yang kesamaran dari ayat tersebut , itulah tandanya mereka yang ada penyakit (zaigh) dalam hatinya kerana mencari fitnah” Ali Imran 7 .Begitu juga apa yang dijelaskan oleh Rasulullah sallallahu ‘alahi wa sallam sabdanya bermaksud “kiranya ada mereka yang terikut-ikut dengan apa yang kesamara dari ayat mutasyabih, itulah orangnya yang dimaksudkan dalam ayat tadi(mereka yang berpenyakit hatinya) , sebab ayat mutasyabih tadi mengandungngi banyak makna dan artinya, ada yang kesamaran dan memberi wahamkan persamaan Allah yang qadim itu, dengan makhluk yang baru sedangkan Allah itu Tuhan yang tidak menyerupai dengan suatu apa pun “ maksud firmanNya pada ayat 11dari surah al Syura .
Jadi para salaf mensucikan Allah dari makna kesamaran tadi dan menyerahkan maksud sebenar kepada Allah atau mentakwelkan maksudnya sesuai dengan apa yang di jelaskanNya dalam ayatnya yang lain yang labih sesuai dengan kebesaranNya seperti istawa dikatakan berkuasa atas segala hamba (dan makhluNya seperti maksud firmanNya pada surah al An’aam ayat 61.Dalam hadis kudsi riwayat Bukhari muslim ada mengatakan “Aku sakit tetapi kamu tidak sudi menziarahiKu,lalu bertanya hamba itu, bagaiman dapat aku menziarahiMu sedangkan Kmu itu Tuhan semasta alam ?firman Allah tidakkah kamu ketahui disana terdapat hambaKu yang sakit dan lapar kamu tidak pergi menziarahinya , sekiranya kamu pergi menziarahinya pasti kamu dapati aku (rahmatKu) ada bersamanya- al hadis.

Oleh itu fahamlah kita bahawa dalam ungkapan perkataan hadis tadi terdapat perkataan majaz (kiasan) atau pinjaman sahaja (kinayah ) kerana mustahil Allah bersipat dengan kekurangan (sakit atau menyerupai makhlukNya bertempat berangguta berjisim dan sebagainya), mereka (kaum musyabbihah tadi akan bertanya bagaimana pula dengan pengakuan kita bahawa Allah Maha mendengar lagi Maha melihat bukankah itu juga penyerupaan Allah dengan makhluk?. kita tahu bahawa sipat mendengar dan melihat Allah itu merupakan sipat kesempurnaan (kamalat)bagi Allah dan kita yakin bahawa Allah wajib bersipat dengan segala sipat kemalat, dan itu bukan berarti penyerupaan Allah dengan makhlukNya kerana mendengar dan melihat Allah itu bukan melalui alat(mata dan telinga ) seperti makhlukNya malah melihat dan mendengar dengan sipat samak dan basarNya , bukan dengan mata dan telinga yang terbatas ini , bahkan Allah mendengar dan melihat dengan sipat samak dan basarNya akan segala yang maujudat ini, dan mustahil dariNya segala kekurangan seperti buta dan tuli atau melihat dan mendengar dengan mata dan telinga dan sebagainya, seperti apa yang difahami oleh kaum musyabbihah tadi yang mana Allah melihat dengan mata dan mendengar melalui telinga, seperti hal yang dimiliki manusia ini .
Disinilah titik perpisahan kita dengan golongan sesat tadi ,kerana mereka tidak mahu menerima perkataan majaz dalam dalil ( (nas Quran hadis ) lalu di terimanya segala perkataan itu adalah hakiki(benar) belaka , kalau macamtulah fahaman mereka, tentulah Allah itu bersipat dengan sipat makhluk yang baru dan lemah ini, berangguta, sakit, berjisim bertempat dan sebagainya dan segala macam kesamaran yang terdapat pada perkataan ayat mutasyabihat .Sedangkah Allah sendiri telah membahagikan ayat –ayat itu ada dua , ada yang muhkamnya dan selainnya ada ayat yang mutasyabihat seperti apa yang dapat difahami dari ayat7 dari surah ali Imran tadi .
Bagi kita tentulah antara dua kadaan ayat yang berlainan itu penerimaan kita juga berlainan dan tidak boleh disamakan , kiranya ada makna dan maksud yang lebih sesuai dengan kebesaran Allah atau mensucikanNya dari sebarang penyerupaan yang telah di nafikanNya pada ayat muhkam tadi pada surah al Sura ayat 11 atau ayat 4 pada surah al Ikhlas dan lainnya

Dari hadis kudsi tadi pun sudah diselitkan jawapannya iatu Allah tidak munkin dapat dilawati atau diziarhi kerana Maha suci Allah dari ruang dan tempat berjisim dan sebagainya, sahingga dapat di ziarahi atau sebagainya seperti akidah yang diyakini firaun laknatullah itu .Sebenarnya maksud dari perkataan itu semua hanyalah mengenai kasih sayang dan rahmatNya kepada hambaNya yang menerima ujian dariNya dengan sabar dan redha dengan ujian Tuhannya .Sebab itu siapa yang menziarahi mereka yang sakit lapar dan sebagainya tadi, akan beroleh sama rahmat kasih sayang, dan keampunanNya .
Untuk panduan kita orang awam ini bagi mengenali siapa salaf yang sebenar , iaitu mereka yang dapat mengikuti ajaran Quran hadis dengan baik dan berpandukan ajaran aswj yang merupakan ajaran perdana dan diterima oleh majority umat Islam diseluruh dunia hari ini, mereka tidak membid’ahkan amal kebajikan yang di terima pada satu-satu masyarakat jauh sekali dari menyesatkan umat islam dalam perkara khilafiah dan adat resam mereka yang tidak bertentangan dengan ajaran agama ,mereka amat bencikan perpecahan dan permusuhan .
Ajaran yang mereka anuti adalah saksama saimbang dan masra serta penuh berhikmat . Akidah mereka adalah suci dan bersih dari sebarang penyelewengan atau pelik dan sayz sesuai dengan pertunjuk al Quran hadis dan jejak salafussaleh ridwanullai ‘alaihim ijma’in . Ayat muhkam itu difahami secara jelas maknanya , tidak perlu sebarang takwelan lagi , maka fahaman mereka terhadap ayat yang mutasyabih itu, yang mengandungi banyak makna lagi kesamaran pula ada yang sesuai dan ada yang kesamaran ,sikap kaum aswj tentulah memilih makna yang sesuai dan layak dengan kebesaranNya dan menulak makna kesamaran (penyerupaan Allah dengan yang baru) . Wabillahi taufiq wal hidayah wassalam

AQIDAH ‘ ALLAH ADA TANPA BERTEMPAT ‘ – AQIDAH PARA NABI


ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT

Assalamu’alaikum semua.
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Alhamdulillah Tuhan Sekalian alam. Alhamdulillah telah memberi hidayah kepada kita semua, jika bukan dengan pemberian hidayah Allah kepada kita, kita semua tidak akan mendapat hidayah kecuali Allah menetapkan hidayah kepada kita.
Selawat dan salam ke atas junjungan besar Muhammad Rasulullah,ahli keluarga baginda, para sahabat dan pengikut baginda.
Maka disini Kami katakan:

Wahai seluruh umat Islam!
Ketahuilah sesungguhnya kepercayaan bahawa “Allah Ta’ala Wujud Tanpa Bertempat” merupakan akidah Junjungan Besar kita Nabi Muhammad, para sahabat, Ahlil Bayt baginda dan semua yang mengikut mereka dengan kebaikan.

Ini kerana Allah Ta’ala tidak memerlukan kepada makhluk-makhlukNya, Azali dan Abadinya Allah tidak memerlukan kepada selainNya. Maka Allah tidak memerlukan kepada tempat untuk diduduki dan tidak pula memerlukan kepada benda untuk diliputiNya dan Dia tidak memerlukan kepada arah. Cukup sebagai dalil pada mensucikan Allah dari bertempat atau berarah itu dengan firman Allah Ta’ala :

yang bermaksud:
” Tiada sesuatupun yang menyerupai Allah”.
Sekiranya Allah bertempat maka sudah pasti bagiNya persamaan dan berukuran tinggi lebar, dalam, dan sesuatu yang sedimikian pastinya adalah makhluk dan memerlukan kepada yang lain menetapkan ukuran panjangnya, lebarnya, dalamnya. Demikian tadi dalil ‘Allah Wujud Tanpa Bertempat’ dari Al-Quran.

Manakala dalil dari hadith Nabi pula adalah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan selainnya dengan sanad yang sohih bahawa Rasulullah (Selawat dan Salam ke atas Baginda) bersabda :

yang bermaksud :
“Allah telah sedia wujud (azali) dan selain Allah tiada sesuatupun yang sedia wujud (Azali)”.
Makna hadith Nabi tadi adalah Allah telah sedia ada pada azal lagi, tidak ada bersama Allah selainNya, air belum ada lagi, udara belum ada lagi, bumi belum wujud lagi, langit belum wujud lagi, kursi belum ada lagi, arasy belum ada lagi, manusia belum wujud lagi, jin belum wujud lagi, malaikat belum ada lagi, masa belum ada lagi, tempat belum wujud lagi dan arah juga belum wujud lagi.
Manakala Allah telah sedia wujud tanpa tempat sebelum tempat dicipta dan Allah tidak sama sekali memerlukan kepada tempat. Inilah yang dinyatakan dari Hadith Nabi tadi. Saidina Ali (semoga Allah meredhoinya) berkata:

” Allah telah sedia ada tidak bertempat dan Allah sekarang juga atas sediakalaNya tanpa bertempat”.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Mansour Al-Baghdady dalam kitabnya Al-farqu Bainal Firaq.
Dari segi akal, sebagaimana diterima akan kewujudan Allah ta’ala itu tanpa tempat dan tanpa arah sebelum adanya tempat dan arah maka benarlah kewujudan Allah itu setelah mencipta tempat Dia tidak bertempat dan tidak memerlukan arah.
Semua dalil ini, bukanlah menafikan kewujudanNya sepertimana yang dituduh oleh ajaran yang menjisimkan dan menyamakan Allah dengan makhluk pada zaman ini iaitu ajaran Wahhabiyah.

Kita mengangkat tangan ke langit ketika berdoa bukanlah kerana Allah berada dilangit akan tetapi kita mengangkat tangan ke langit kerana langit merupakan kiblat bagi doa, tempat terkumpulnya banyak rahmat dan berkat. Sepertimana kita menghadap ke arah ka’bah ketika solat tidaklah bererti Allah itu berada di ka’bah akan tetapi kerana ka’bah itu kiblat bagi solat. Inilah yang telah dinyatakan oleh para ulama Islam.
Saidina Ali (semoga Allah meredhoinya) turut menjelaskan:
” Akan kembali satu kaum dari umat ini ketika hampir hari kiamat kelak mereka menjadi kafir, lantas sesorang lelaki bertanya: ‘ Wahai amirul mu’minin! Kekufuran mereka itu disebabkan apa? kerana mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama atau mengingkari sesuatu dalam agama?’ Saidina Ali menjawab: Kekufuran mereka kerana mengingkari sesuatu dalam agama iaitu mereka mengingkari Pencipta mereka dengan menyifatkan Pencipta itu berjisim dan beranggota”. Diriwakan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya berjudul Najmul Muhtady Wa Rojmul Mu’tady.

Berkata Imam Zainul Abidin (semoga Allah meredhoinya) :

” Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”. Diriwayat oleh Al-Hafiz Az-Zabidy.
Imam Abu Hanifah menyatakan dalam kitabnya Fiqhul Absat:

” Allah ta’ala telah sedia ada tanpa tempat, Allah telah sedia wujud sebelum mencipta makhluk, dimana sesuatu tempat itu pun belum wujud lagi, makhluk belum ada lagi sesuatu benda pun belum ada lagi, dan Allah lah yang mencipta setiap sesuatu.

Dinyatakan dengan sanad yang sohih oleh Imam Baihaqi dari Abdullah bin Wahb berkata:

” Ketika kami bersama dengan Imam Malik, datang seseorang lelaki lantas bertanya: ‘Wahai Abu Abdillah Imam Malik! ‘Ar-Rahman ‘Alal Arasyi Istawa’ bagaimana bentuk istiwa Allah? maka Imam Malik kelihatan merah mukanya kemudian beliau mengangkat wajahnya lantas berkata: ‘Ar-Rahman ‘Alal Arasyi Istawa’ ianya sepertimana yang telah disifatkanNya dan tidak boleh ditanya bentukNya kerana bentuk itu bagi Allah adalah tertolak dan aku tidak dapati engkau melainkan seorang pembuat bid’ah! maka keluarkan dia dari sini”.

Manakala riwayat yang berbunyi ‘dan bentuk bagi Allah itu adalah dijahili’ ianya riwayat yang tidak sohih.

Imam kita Imam Syafie (semoga Allah meredhoinya) telah berkata:

” Barangsiapa mempercayai Allah itu duduk di atas Arasy maka dia telah kafir”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya Najmul Muhtady Wa Rojmul Mu’tadi.

Berkata juga Imam Ahmad bin Hambal (semoga Allah meredhoinya) :

” Barangsipa yang mengatakan Allah itu jisim tidak seperti jisim-jisim maka dia juga jatuh kafir”.
Diriwayat oleh Al-Hafiz Badruddin Az-Zarkasyi dalam kitabnya Tasynif Al-Masami’.
Berkata Imam Ahli Sunnah Wal jamaah Imam Abu Hasan Al-Asy’ary dalam kitabnya berjudul An-Nawadir:
” Barangsiapa yang mempercayai Allah itu jisim maka dia tidak mengenali Tuhannya dan sesungguhnya dia mengkufuri Allah”.
Maka jelaslah dari kenyataan Imam Al-Asy’ary tadi bahawa kitabnya yang berjudul Al-Ibanah pada hari ini telah ditokok tambah.

Berkata Imam Abu Ja’far At-Tohawi yang mana beliau ini merupakan ulama As-Salaf As-Soleh :

” Maha suci Allah dari mempunyai ukuran, penghujung, sendi, anggota dan benda-benda kecil dan Allah tidak diliputi dengan mana-amana arah enam sepertimana makhlukNya”.

Beliau berkata lagi:

” Barangsiapa yang menyifatkan Allah dengan sifat-sifat makhluk maka dia jatuh kafir”.
Antara sifat makhluk adalah bergerak,duduk diam, turun, naik, bersemayam, duduk, berukuran, bercantum,berpisah, berubah, berada di tempat,berarah, berkata-kata dengan huruf, suara, bahasa dan lain-lain.
Telah dinukilkan oleh Imam Al-Qorofy dan Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitamy dan selainya menukilkan kenyataan bahawa:
” Imam Syafie, Imam Malik Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah (semoga Allah meredhoi mereka) berkata bahawa jatuh hukum kufur bagi sesiapa yang berkata Allah itu ber-arah dan berjisim dan benarlah penghukuman Imam-imam tadi”.
Wahai seluruh orang-orang muslim.
Kami mengakhiri penjelasan ini dengan ungkapan kaedah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad Bin Hambal (semoga Allah meredhoinya) :
” Segala yang terbayang dibenak fikiranmu maka ketahuilah bahawa Allah tidak sedemikian” . Dan ini merupaka kaedah yang telah disepakati disisi seluruh ulama Islam.
Berkata Imam kita Abu Bakar (semoga Allah meredhoinya) :
“Merasai diri itu lemah dari membayangi zat Tuhan maka itulah tauhid mengenal Tuhan dan memcari-cari serta membayangkan zat Tuhan itu pula adalah kufur dan syirik”.
Alhamdulillah kita berada dalam akidah yang benar ini, memohon kepada Allah ta’ala agar mematikan kita diatas pegangan ini. Amin ya Arhamar Rohimin Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi robbil ‘alamin.

Disediakan Oleh Tuan Blog :
www.al-hanief.blogspot.com
( 012 9879948 )

SENARAI ULAMA ISLAM YANG MENJELASKAN PEMBAHAGIAN MURTAD DAN KUFUR ITU TERBAHAGI KEPADA TIGA: KUFUR AQIDAH, KUFUR PERBUATAN DAN KUFUR LISAN. Bagi memudahkan para pengkaji, dibawah ini disenaraikan sebahagian (sebenarnya banyak lagi) ulama Islam yang telah menjelaskan hukum murtad dan kufur itu mungkin berlaku dengan antara tiga perkara iaitu akidah yang kufur, perbuatan yang kufur dan tutur bicara lidah yang kufur. Kesemua syirik besar itu adalah kufur dan kesemua murtad juga adalah kufur terkeluar dari Islam. Senarai sebahagian ulama yang membahagikan kufur kepada tiga: – Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitamy dalam kitab Fathul Jawad Bi Syarhil Irsyad jilid 2 m/s 298 cetakan Mustofa Al-Baabiy Al-Halaby Kaherah. – Imam Nawawi Asy-Syafi’e dalam Raudahtul Tolibin pada Kitab Ar-Riddah juzuk 10 m/s91 Cetakan Zuhair Syawisy Beirut. – Syeikh Al-Hatthob Al-Maliky dalam kitab Mawahibul Jalil Bi Syarh Mukhtasor Kholil cetakan Darul Fikr Beirut. – Syeikh Muhammad ‘Illaisy Al-Maliky dalam kitab Manhul Jalil Syarh Muktasor Kholil juzuk 9 m/s 205 cetakan Darul Fikr Beirut. – Al-Faqif Ibnu ‘Abidin Al-Hanafy dalam kitab Raddul Muhtar ‘Ala Ad-Durril Mukhtar pada Bab Riddah jilid 3 m/s 283 cetakan Dar Ihyaul Turath Al-‘Araby Beirut. – Syeikh Tajuddin As-Subki dalam kitab Tobaqoot Asy-Syafi’eyyah jilid 1 m/s 91 cetakan ‘Isa Al-Baabiy Al-Halaby Kaherah. – Imam Al-Buhuty Al-Hambaly dalam kitab Syarh Muhtaha Al-Iradaat pada Bab Hukmul Murtad jilid 3 m/s 386 cetakan Darul Fikr Beirut. – Gabungan Ulama Yaman melalui Maktab At-Tauhid Wal Irsyad Yaman dan diiktiraf oleh ulama-ulama Al-Azhar dan seluruh dunia. – Dan selain mereka. Seluruh ulama di atas dan selainnya menjelaskan murtad itu berlaku disebabkan antara tiga perkara iaitu akidah yang kufur, perbuatan yang kufur, dan bicara lidah yang kufur. Maka sesiapa yag mengatakan: “Aku bukan muslim” maka dalam islam dia dianggap melakukan Riddatul Qauly iaitu dia telah murtad disebabkan tutur bicara lidahnya menyebut perkataan yang menyebabkan dia murtad. Wajib ke atasnya kembali kepada Islam dengan mengucap dua kalimah Syahadah dengan niat memeluk Islam semula. PENJELASAN Dalam kesempatan kali ini saya ingin menegur, menasihat dan menolak secara ilmiah beberapa fahaman yang silap pada perkara yang amat bahaya ini. Tujuannya bukan kerana menolak para pengkaji ilmu secara semborono tetapi menilai secara benar dan jujur sesuatu pandangan yang mengunakan nama Islam agar umat tidak bercelaru. Difokuskan untuk lebih ringkas bagi kali ini pada kes yang ketiga iaitu ‘Riddatul Qauly’: murtad dan kufur yang disebabkan dari perkataan atau lidah. Dalam islam sekiranya seseorang muslim itu menutur perkataan yang bahaya seperti perkataan yang mempunyai unsur menghina Allah, para Nabi dan para Rasul, menghina Al-Quran, memperlekeh dan mempersenda perkara yang berkaitan dengan tanda-tanda Islam, maka dia telah pun murtad. Sebagai contoh seseorang itu berkata: “Aku musuh Allah”, “Aku tidak takut kepada Allah”, “Al-Quran itu tidak berfaedah”, “Aku bukan orang Islam”, “Allah itu sama dan serupa dengan makhluk” dan selainnya dari perkataan-perkataan kufur maka orang yang menuturkan perkataan tersebut terkeluar dari Islam serta merta dan dihukum sebagai murtad walaupun dia sedang marah atau bergurau atau bermain-main ketika-mana dia menyebut perkataan seumpama tadi. Inilah yang telah dinaskan oleh ulama Islam. Begitu juga dalam keadaan biasa (tidak mukrah bil qotl) sekiranya seseorang muslim itu menyebut atau menutur dengan lidahnya perkataan yang kufur maka dia jatuh ke dalam hukum murtad sudah tidak muslim lagi walaupun dia tidak mahu keluar dari agama Islam. Sebagai contoh jika itu menyebut perkataan: “Aku bukan orang Islam” maka dia telah jatuh kafir terkeluar dari Islam walaupun dirinya sendiri tidak memilih selain dari Islam itu sebagai agamanya. Samalah hukumnya jika ketika dia menuturkan perkataan kufur tadi dia berkeadaan marah, bergurau-senda, bermain-main atau sengaja dan bukan tersalah cakap. PENCERAHAN PENJELASAN Hukum berbeza jika orang itu berkeadaan (mukrah bil qotl) iaitu dipaksa bunuh. Ini dikira dia berada dalam keadaan yang khusus berbeda dengan keadaan biasa.Mukrah Bil Qotl adalah seperti: jika seseorang muslim itu ditangkap oleh orang kafir dalam peperangan kemudian dia dipaksa oleh orang kafir tadi untuk menyebut perkataan “Aku bukan orang Islam” dan jika tidak menyebutnya orang kafir itu memberitahu akan membunuh orang islam tadi. Dalam keadaan ini jika orang islam tadi menyebut perkataan “Aku bukan orang Islam” dan hatinya tidak meredhoi dan tidak setuju dengan perkataan itu maka dia tidak jatuh hukum murtad. Ia berbeza dengan seseorang menyebut perkataan tadi dalam keadaan tidak dipaksa bunuh atau dalam keadaan biasa seperti dalam keadaan bergurau, marah dan selainnya. Ini kerana jika dia menutur perkataan tersebut dalam keadaan selain (mukrah bil qotl) dipaksa bunuh maka dia jatuh murtad. KENYATAAN YANG SILAP Terdapat beberapa kenyataan yang silap pada menerangkan isu murtad ini. Antara kenyataan yang salah dan bercanggah dengan syarak adalah: “Seorang muslim itu tidak dikira murtad terkeluar dari Islam dan tidak boleh dihukum ke atasnya sebagai murtad kecuali dia rela untuk menjadi kafir dan diikuti dengan perbuatan yang kufur”. Penting! Kenyataan di atas adalah salah dan bercanggah dengan hukum Islam kerana seolah-olah tidak menghukum murtad kepada seorang yang telah menghina Allah melalui ucapan lidahnya kecuali dia rela hati untuk keluar Islam sedangkan dalam Islam seorang yang menghina Allah dengan lidahnya walaupun dia tidak berniat dan tidak rela untuk keluar dari Islam (murtad) dia tetap dihukum sebagai murtad. Penting! Hukum Islam sebenar seperti mana yang telah dijelaskan oleh ulama Islam adalah: Sekiranya seseorang muslim itu menyebut atau menutur dengan lidahnya perkataan yang kufur maka dia tetap jatuh ke dalam hukum murtad sudah tidak muslim lagi walaupun dia tidak mahu keluar dari agama Islam, walaupun dia tidak rela dirinya menjadi kafir maka dia tetap murtad dan kafir. Sebagai contoh jika itu menyebut perkataan: “Aku bukan orang Islam” maka dia telah jatuh kafir terkeluar dari Islam walaupun dirinya sendiri tidak memilih selain dari Islam itu sebagai agamanya. Rujuk penjelasan seperti di atas oleh ulama Islam: – Muhammad Al-‘Abbas Al-Hanafy dalam kitab Al-Fatawa Al-Mahdiyyah Fil Waqoi’il Masyriyyah pada Bab At-Ta’zir War Riddah dan pada Bab Hadul Qozaf Wal Bughot jilid 2 m/s 27. – Syeikh Mulla ‘Aly AL-Qory dalam kitab Syarh Fiqhul Akbar m/s 165 – Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam Fathul Bary Syarh Sohih Al-Bukhary jilid 12 m/s 300, 301 dan 302. – Imam An-Nawawi dalam kitab Raudhatul Tolibin jilid 10 m/s 68. – Syeikh Abu Al-Muzhoffar ‘Aalamakir dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyyah jilid 2 m/s 261. – Dan selain mereka. Awasi murtad yang disebabkan dari lidah dek ucapan yang terkeluar dari Islam. Semoga Allah merahmati dan memelihara akidah kita. P/S: Masaalah berkaitan Murtad ini perlulah ditanya kepada yang mahir dalam permasaalahan murtad dan gejalanya. Jangan tanya sebarangan ustaz bimbang jawapan yang kurang tepat menghambat jiwa. Disediakan oleh: http://www.ustaz-rasyiq.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

PERBINCANGAN KALIMAH كل

PERBINCANGAN KALIMAH كل

 



Ramai orang memahami pengertian hadith berkaitan bid’ah adalah memberi pengertian semua bentuk amalan yang baru berdasarkan pendekatan mereka mentafsirkan lafaz “kullu “.Adakah benar pentafsiran ini..?

 


Kalimah كل terdapat pada hadith berkaitan bid’ah seperti berikut:

وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ


Terdapat setengah golongan menjelaskan kalimah كل dengan membawa pengertian kepada semua atau menyeluruh , لللأستغراق dalam istilah bahasa arab yang membawa makna semua amalan baru sebagai bid’ah dan segala yang amalan bid’ah adalah sesat dan membawa pelakunya ke Neraka Jahannam.

 

 

Adakah kalimah ini membawa hanya satu pengertian sahaja?Ini kerana kalau diertikan sedemikian rupa akan membawa kepada seluruh umat islam terlibat dengan amalan bid’ah dan juga termasuk mereka yang membawa pengertian sedemikian rupa.

 

 

Mengapa dikatakan demikian?ini kerana semua perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah membawa kepada kesesatan , sedangkan umat islam di seluruh dunia sentiasa melakukan perkara-perkara yang baru , samaada dalam soal-soal berkaitan ibadah atau lainnya.Hatta mereka yang menta’rifkan segala yang baru itu bid’ah juga turut melakukan amalan-amalan yang baru yang tidak dilakukan oleh Nabi s.a.w.Walaupun begitu golongan cuba mempertahankan hujjah mereka dengan mengatakan bid’ah itu hanya dalam soal-soal ibadah semata-mata dan tiada kaitannya dengan soal-soal duniawi.Kita katakan dengan mudah kepada mereka , adakah tidak bid’ah membahagikan bid’ah kepada ibadah dan duniawi?

 

 

Kalau dilihat didalam qamus al-misbah al-munir karangan al-Faiyyumi terpapar disana tujuan-tujuan pengertian kalimah diantaranya, lilistighraq (menghabisi/menyeluruh) , al-kathir(kebanyakkan/banyak) , al-tikrar (berulang) , li al-taukid (mengukuhkan), li al-tajziah (sebahagian) .Begitulah sebagaimana yang tersebut di dalam al-misbah al-munir jilid ke-2 muka surat 200 cetakkan Mustafa al-Bab al-Halabi Mesir.

 

 

Jadi kalau digunakan makna lilistighraq pastinya terbid’ahlah seluruh umat islam termasuk mereka selaku pembid’ah-pembid’ah.Oleh kerana itu , hadith ini disifatkan sebagai umum ( ‘amun makhsusun) oleh Imam Nawawi dan terdapat disana hadith-hadith yang mengkhususkan keumuman hadith ini.Disebut juga oleh para ulama sebagai:

تطلق على العموم ويراد بها الخصوص

Di itlaqkan kepada umum dan yang dikehendakki adalah khusus.

 


Ayat-ayat berikut terdapat padanya kalimah كل , bagaimanakah pengertiannya?

 

<!–[if !supportLists]–>1- <!–[endif]–>أما السفينة فكانت لمساكين يعملون في البحر فأردت أن أعيبها و كان وراءهم ملك يأخذ كل سفينة غصبا

 

Ayat tidak memberi makna kepada semua kapal akan dirampas sekalipun digunakan kalimah kul disini.

2- تدمر كل شيء بأمر ربها فأصبحوا لا يرى إلا مساكنهم كذلك نجزي القوم المجرمين

Ayat ini juga menunjukkan tidak semua yang hancur walaupun digunakan lafaz kul disini.Ternyata bumu , langit dan gunung- ganang masih wujud.


3-

إني وجدت امرأة تملكهم وأوتيت من كل شيء ولها عرش عظيم

Ayat ini pula menggambarkan ia memili

http://al-subki.blogspot.com/

kki seglanya namun apa yang dimiliki oleh nabi Sulaiman tidak dapat dimilikkinya.


Kalau melihat apa yang telah diperjelaskan ulama’ كل di sini dilihat dari sudut ilmu al-Balaghah dengan makna تفزيع الأمر (untuk menzahirkan kedahsyatan perkara tersebut) bukanlah bermakna semua.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>


Kalau begitu jelas pengertian kalimah كل disini bukan li al-istighraq bahkan li al tajziah, yang membawa makna sebahagian atau li al-takthir yang membawa makna kebanyakkan.

 

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Sang Ilmuwan itu pun Akhirnya Masuk Islam

Sang Ilmuwan itu pun Akhirnya Masuk Islam PDF Print E-mail
Monday, 16 November 2009 14:20

Darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak manusia secara sempurna kecuali seseorang melakukan sujud dalam shalat.
Keterbatasan otak manusia tidak mampu menyelami semua rahasiaTuhan. Seperti yang dirasakan oleh Dr. Fidelma, seorang doktor di Amerika yang beragama Kristen.
Kesadaran itulah yang pada akhirnya menjadi hidayah bagi doktor ahli neurologi ini sewaktu melakukan kajian terhadap saraf di otak manusia.
Alkisah, ketika melakukan penelitian itu ia menemukan, beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah yang cukup agar dapat berfungsi secara normal.
Penasaran dengan penemuannya, ia mencoba mengkaji lebih serius.
Setelah memakan waktu lama, penelitiannya pun tidak sia-sia. Akhirnya dia menemukan bahwa ternyata darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak manusia secara sempurna kecuali ketika seseorang tersebut melakukan sujud dalam shalat. Subhanallah…. Artinya, kalau manusia tidak menunaikan ibadah shalat, otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal.
Setelah penelitian mengejutkan tersebut, dr. Fidelma mencari tahu tentang Islam melalui buku-buku Islam dan diskusi dengan rekan-rekan muslimnya.
Setelah mempelajari dan mendiskusikannya, ia malah merasa bahwa ajaran Islam sangat logis. Hatinya begitu tenang ketika mengkaji dan menyelami agama samawi ini.
“Tuhan, apa arti semua ini? Mungkinkan semua ini hidayah dari-Mu?” bisikan hatinya saat itu.
Tanpa ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi, akhirnya ia memutuskan untuk masuk Islam.
Begitulah keagungan Allah SWT, yang menjalankan semuanya sesuai fitrahnya. Semua yang dialaminya telah dikaitkan oleh Allah SWT dengan agama yang indah ini.
Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Dapatkan Majalah Al Kisah Keluaran Terbaru

Alk-Edisi-05-2010
   
 
Alk-Edisi-04-2010
 
 
Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Dalil / Dasar hukum tentang Mas Kawin -Habib Munzir

Dalil / Dasar hukum tentang Mas KawinPublished on March 14, 2010 in Artikel Islam and Fiqih. 1 Comment

Mas Kawin yg sunnah adalah Perak, atau emas, atau alat tukar berupa uang. Dan Sabbda Rasul saw : ?Sebaik baik mas kawin adalah yg terkecil (termurah)? maka fahamlah kita bahwa keberkahan pernikahan adalah dari kecilnya nilai mas kawin, namun boleh boleh saja diluar mas kawin kita memberi hadiah mobil misalnya, atau rumah atau uang ratusan milyar misalnya, namun sunnah pada mas kawinnya adalah yg terkecil nilainya, sebagaimana sabda Rasul saw : ?seburuk buruk wanita adalah yg menuntut mahar yg tinggi?.

Bila anda bertanya mengenai mas kawin yg paling baik dan bermanfaat, maka saya menjawabnya bahwa mas kawin yg paling baik dan bermanfaat adalah yg bisa menjamin keberkahan dan kelangsungan pernikahan kita sepanjang hidup dalam kebahagiaan bahkan menjamin kelangsungan hubungan bahagia hingga hari kiamat, hingga pernikahan kita langgeng dalam keberkahan, bagaimana caranya..?, yaitu yg sesuai dengan sunnah, yaitu sebagaimana hadits diatas.

Memang sulit menjalankannya, dan banyak orang merasa terhina, namun jauh lebih sulit mengarungi kelangsungan pernikahan, apalagi hingga tak terputus dihari kiamat.., ah.. itu semua dibeli dengan beberapa kejap saja, bagaimana?, dengan mahar yg terkecil nilainya dan sesuai dengan sunnah..

Posted by: Habib Ahmad | 16 Mac 2010

Manakib Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri

Rubath Tarim terletak di jantung kota Tarim. Didirikan pada tahun 1304 H oleh para tokoh habaib dari keluarga Al-Haddad, Al-Junaid, Al-Siri. Di samping masyaikh dari keluarga Arfan. Sedangkan yang pertama kali mewakafkan sebagian besar tanahnya adalah Al-Habib Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, saudara Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri dan ayah Al-Habib Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri. Rubath Tarim didirikan karena para santri yang datang dari tempat yang jauh ternyata sulit untuk mendapatkan tempat tinggal, maka para tokoh habaib saat itu sepakat untuk mendirikan Rubath Tarim sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan Islam, bahasa arab dan sebagainya, disamping sebagai tempat tinggal para santri yang datang dari tempat yang jauh. Maka datanglah para penuntut ilmu dari dalam dan luar Tarim, dari dalam dan luar Hadramaut diantaranya dari Indonesia, Malaysia, negeri-negeri Afrika, Negara-negara Teluk dan lain-lain.

 

Sejak didirikan pada tahun 1304 H (1886 M), Rubath Tarim dipimpin oleh Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur hingga tahun 1314 H (1896 M). Kemudiam kepemimpinan berpindah kepada Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Di tempat inilah beliau menghabiskan usianya demi menyebarkan ilmu-ilmu ke-Islaman dan melayani kaum muslimin. Sejak menjadi pengasuh Rubath Tarim beliau telah mewakafkan seluruh kehidupannya untuk berjihad, berdakwah, mengajar, dan menjelaskan berbagai persoalan agama.

 

Perjalanan panjang Rubath Tarim memang tidak dapat di pisahkan dari kehidupan Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Beliau dilahirkan di kota ilmu , Tarim pada bulan Ramadhan 1290 H (1873 M), beliau tumbuh dengan baik dalam lingkungan yang penuh dengan didikan agama. Di masa kanak-kanak beliau belajar Al-Qur’an kepada dua orang guru Syaikh Muhammad bin Sulaiman Bahami dan anaknya, Syaikh Abdurrahman Baharmi, kemudian beliau mengikuti pelajaran di Madrasah Al-Habib Abdullah bin Syaikh Al-Idrus pada saat itu yang mengajar di tempat tersebut adalah Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Kaff dan Al-Habib Syaikh bin Idrus Al-Idrus. Kepada merekalah beliau belajar kitab-kitab dasar dalam ilmu fiqih dan tasawwuf selain menghafal beberapa juz Al-Qur’an.

 

Ada beberapa faktor baik intenal maupun eksternal yang menyebabkan beliau memiliki banyak kelebihan, baik dalam ilmu maupun lainnya, sejak kecil hingga dewasanya, selain bakat dan potensinya dalam hal kecerdasan, kecenderungannya yang untuk menjadi ulama dan tokoh telah nampak sejak kanak-kanak, dukungan yang sepenuhnya dari orangtua juga menjadi faktor penting yang tak dapat diabaikan.

 

Ayahnya senantiasa mencukupi kebutuhannya sejak kecil hingga lanjut usia. Mengenai hal tersebut Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar mengisahkan, suatu ketika seseorang memuji beliau baik ilmunya maupun amalnya di hadapan Al-Habib Abdullah sendiri dan ayahnya Al-Habib Umar Asy-Syathiri. Maka ayahnya yang alim itu juga berkata ,”Aku mencukupi kebutuhannya. Aku hanya makan gandum yang sederhana, sedangkan ia aku beri makan gandum yang bagus,”. Al-Habib Ali Bungur dalam kitabnya mengatakan, barangkali maksud ayah Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri berbuat demikian adalah untuk meningkatkan akhlaknya atau karena ia khawatir anaknya terkena a’in (pengaruh mata, yakni yang jahat) karena di usia muda itu telah nampak kepemimpinannya dalam masalah agama, dengan mengkonsumsi makanan yang lebih baik, diharapkan daya tahannya lebih kuat.

 

Menziarahi Peninggalan Salaf

Sejak kecil beliau senang menziarahi peninggalan-peninggalan salaf, ayahnya pernah berkata kepada Al-Habib Ali Bungur, ”ketika kami (ia dan anaknya) mengunjungi Huraidhah,wadi ‘Amad dan Du’an untuk pertama kalinya, yang saya katakan kepada penduduknya adalah, “Tolong beri tahukan kami semua peninggalan salaf di sini. Karena, apabila kami telah pulang ke Tarim dan orang menyebut tentang suatu peninggalan yang ia (anaknya, Al-Habib Abdullah) belum kunjungi saya khawatir ia akan sangat menyesal, saya tahu ia sangat gemar pada sirah para salaf dan peninggalan mereka”.

 

Di waktu kecil itu pula, apabila terjadi suatu kejadian yang remeh pada diri Habib Abdullah tetapi tak di sukai ayahnya, sang ayah mengharuskannya membaca Al-Qur’an hingga khatam sebelum memulai pelajaran selanjutnya, meski pun pemikiran dan kesiapannya untuk menerima pengetahuan masih terbatas.

 

Setelah ilmu-ilmu dasar dikuasainya beliau benar-benar memfokuskan kegiatannya untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih luas lagi. Beliau selalu mengikuti Mufti Hadramaut saat itu, Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, juga gurunya yang selalu menyebarkan dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Masyhur dan para ulama Tarim lainnya. Kepada mereka beliau belajar kitab-kitab tafsir, hadits, fiqih, nahwu, tasawuf dan lain-lain, juga gurunya yang selalu menyebarkan dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Masyhur dan para ulama Tarim lainnya. Kepada mereka beliau belajar kitab-kitab tafsir, hadits, fiqih, nahwu, tasawuf dan lain sebagainya.

 

Sebagaimana kebiasaan dan kecenderungan para ulama pada umumnya Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri pun tak puas bila hanya belajar ke kotanya. Maka berangkatlah beliau ke Sewun, lalu tinggal di Rubath kota ini selama empat bulan. Di kota ini diantaranya beliau belajar kepada Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, penyusun kitab Mualid Simthud Durrar, selain menimba ilmu kepada sejumlah ulama Sewun lain dan orang-orang shalih, beliau juga mengambil ilmu dari Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas dan Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi.

 

Dengan perjalanannya ke Haramain tahun 1310 H (1892 M) jumlah gurunya semakin bertambah banyak. Setelah menunaikan haji dan menziarahi datuknya Rasulullah SAW , beliau sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Kesungguhannya sulit di cari bandingannya. Dalam sehari semalam beliau ber-talaqqi (belajar secara langsung dan pribadi dengan menghadap guru) dalam tiga belas pelajaran. Setiap sebelum menghadap masing-masing gurunya, beliau muthala’ah (kaji) dulu setiap pelajaran itu sendiri.

 

Guru-gurunya yang sangat berpengaruh di Makkah di antaranya Al-Habib Husein bin Muhammad Al-Habsyi, Syaikh Muhammad bin Said Babsheil, Syaikh Umar bin Abu bakar Bajunaid dan Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha, pengarang kitab I’anah ath-Thalibin yang merupakan syarah kitab Fath Al-Mu’in. Tetapi yang menjadi Syaikh fath (guru pembuka)-nya adalah Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur, gurunya ketika di Tarim. Tak terhitung lagi banyaknya kitab yang beliau pelajari pada gurunya ini dalam ilmu fiqih dan yang lainnya.

 

Selama tiga tahun beberapa bulan beliau berada di Makkah. Pada tahun 1314 H (1896 M) beliau kembali ke negerinya, Tarim dengan membawa bekal ilmu dan tersinari cahaya Tanah Suci, kemudian beliaupun mengajar di Rubath Tarim sampai wafatnya Al-habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur tahun 1320 H (1902 M).

 

Setelah Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur wafat beliau menjadi pengajar pengajian umum setelah wafatnya Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Masyhur pada 21 Rabiuts Tsani 1274 H (1932 M). Di Rubath Tarim beliau benar-benar memainkan perannya sebagai pengajar, pembimbing, dan penasehat terbaik dan itu berlangsung semenjak ayahnya masih hidup hingga sesudah ayahnya wafat pada bulan Dzulqa’idah tahun 1350 H (1932 M). Selama kurang lebih 50 tahun pengabdiannya murid-muridnya tak terhitung lagi banyaknya, baik dari Hadramaut maupun dari luar, peran dan jasanya tak terbatas di lingkungan Rubath Tarim saja, melainkan juga meluas keseluruh Tarim, bahkan ke kota-kota dan wilayah-wilayah lain di Hadramaut. Beliau menjadi marji’ (rujukan) dalam berbagai persoalan, tidak terhitung lagi ishlah yang dilakukannya kepada pihak-pihak yang bertentangan.

 

Seiring dengan kekokohannya yang semakin diakui beliau diserahi amanah untuk menangani pengawasan Rubath, pengurusan masalah santri dan pengarahan halaqah. Di tengah kesibukannya itu beliau menyempatkan diri memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Setiap malam Jum’at antara Magrib dan Isya beliau berdakwah kepada mereka di masjid jami’ Tarim. Itu berlangsung sejak tahun 1341 H setelah wafatnya sang guru Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur. Di masa Al-Habib Alwi masih hidup pun beliau sering menggantikannya apabila gurunya sedang tidak berada di tempat atau mempunyai halangan.

 

Hubungan beliau dengan gurunya ini sangat erat banyak kisah menarik di antara mereka, antara lain ketika sang guru hendak menghembuskan nafas terakhir, sebagaimana yang di kisahkan dalam lawami’ An-Nur, halaman 18 : Sebagaimana diketahui para wali Allah ketika menjelang wafat biasanya menyerahkan urusan atau tugas yang diembannya kepada seseorang yang memenuhi syarat. Terkadang anaknya sendiri yang menerima kepercayaan itu mungkin pula muridnya bahkan terkadang gurunya yang masih hidup yang menerimanya.

 

Pada sore hari menjelang malam wafatnya Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur, beliau sedang memberikan pelajaran sebagaimana biasanya di Rubath , ketika salah seorang murid membaca beliau terlihat mengantuk, maka murid yang membaca itu sebentar-bentar berhenti membaca, tetapi beliau malah membentaknya agar ia meneruskan membacanya

 

Karena murid itu berkali-kali diam maka beliaupun menyuruh murid yang lain untuk membaca. Hanya sebentar beliau mengantuk tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya dan berteriak dengan keras, ”Semoga Allah merahmati Al-Habib Alwi Al-Masyhur.”. Kalimat demikian mengisyaratkan bahwa Al-Habib Alwi akan atau telah wafat. Kemudian beliau meminta murid-murid untuk tidak membicarakan atau memberitahukan kepada orang lain sampai berita itu diumumkan sebagaimana kebiasaan di sana .

 

Kemudian beliau keluar ruangan seraya menyuruh murid-muridnya melanjutkan pelajarannya. Beliau menuju rumah Al-Habib Alwi Al-Masyhur, pada saat itu habib dalam keadaan menjelang wafat, didampingi putranya, Habib Abu bakar. Setiap kali sadar dari pingsannya, ia bertanya, ”Apakah Abdullah Asy-Syathiri telah datang ? Apakah ia sudah sampai ?” kalimat itu yang terus diulanginya.

Maka berkatalah putranya, ”Apakah ayah ingin kami mengirim orang untuk menjemputnya?”

Al-Habib Alwi menjawab, ’Tidak.”

 

Pada saat yang dinantikan itu tiba-tiba Al-Habib Abdullah datang, maka Al-Habib Alwi pun bergembira dan berseri-seri wajahnya. Hubungan bathin segera tersambung diantara mereka. Mereka berpelukan, berjabat tangan dan seolah ada sesuatu yang dititipkan kepada Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri. Kemudian ruh Al-Habib Alwi pun kembali kepada Tuhan-Nya. Tampaknya sebelum itu hanya menunggu kehadiran pemilik amanah yang akan ia serahi kepercayaan itu. Itulah salah satu kisahnya dangan gurunya itu.

 

Ungkapan Duka para Penyair

Al-Habub Abdullah terus menyuarakan dakwahnya dan mengajar dengan istiqomah hingga Allah memanggilnya pada malam sabtu tanggal 29 jumadil Ula tahun 1361 H (13 juni 1942). Jasadnya dikebumikan dipemakaman zanbal, Tarim. Tak terhitung banyaknya tokoh yang menghadiri pemakamannya, berbagai ratsa’ (ungkapan duka) dibuat para penyair atas wafatnya sang habib. Semuanya termuat dalam salah satu kitab manaqibnya, Nafh ath-Thib al-‘Athiri min Manaqib al-Imam al-Habib Abdullah asy-Syathiri, yang disusun dan dihimpun oleh muridnya, Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, ayahanda Al-Habib Umar bin Hafidz.

 

Sepeninggal Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri Rubath Tarim diasuh oleh putra-putranya, pertama-tama yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Al-Habib Muhammad Al-Mahdi Al-Kabir yang mampu mengemban tugas itu dengan sangat baik. Ia menjadi pengasuh sekaligus menjadi guru besar di ma’ad ini, setelah itu adiknya Al-Habib Abu bakar bin Abdullah asy-Syathiri, yang sebelumnya selalu membantu kakaknya mengajar.

 

Kemudian kepemimpinan Rubath Tarim berada di tangan Al-Habib Hasan Asy-Syathiri dan kini yang memimpin putra Al-Habib Abdullah yang lainnya, yaitu Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri yang sekarang menjadi salah seorang tokoh terkemuka di Tarim, Al-Habib Abdullah patut tersenyum bahagia karena para penerusnya terus bermunculan dari masa ke masa baik dari kalangan keluarga maupun yang lainnya.

 

Sumber : majalah Al-Kisah No.09/tahun VI/21 April-4 mei 2008

Sayyid Alwi bin Salim Al-Idrusi, Lautan Hikmah Sang Arif Yang Merakyat

Sayyid Alwi bin Salim Al-Idrusi lahir di kota Malang Jawa Timur dari pasangan Habib Salim bin Ahmad dengan Hababah Fatimah. Tak hairan jika kelak Sayyid Alwi menjadi ulama besar yang sarat dengan karisma. Disamping berkah kewara’an kedua orang tuanya, beliau sendiri, juga kerana memang ibunda beliau pernah mendapat bisyaroh (khabar gembira) di kala mengandungnya.

Sejak kecil Habib Alwi telah menunjukan kecintaan dan kepeduliannya terhadap ilmu. Menuntut ilmu beliau geluti tanpa mengenal lelah. ‘Tiada Hari Tanpa Belajar’, demikianlah mungkin motto beliau semasa muda. Kapan dan di manapun beliau senantiasa belajar. Begitu urgen ilmu di mata Habib Alwi, hingga akhir hayatpun beliau senantiasa setia merangkulnya.

Habib Alwi lebih banyak belajar kepada Al ‘Allamah Al Quthb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih. Seorang ulama terkemuka yang mendapatkan sanjungan dari salah seorang maha gurunya Al Habib Alwi bin Abdulloh bin Syihab, _”Wabilfagiihi fil fighi kal adzro’i, wa fittashowwufi wal adabi muttasi’i”. Marga bilfagih (Hb. Abdul Qodir) dalam bidang fiqih bagai Imam Adzro’i, Dan dalam ilmu tasawuf serta kesusastraan bak lautan yang tak bertepi.

Habib Alwi adalah figur yang akrab dengan akhlaqul karimah. Apabila bertemu dengan muslim, beliau senantiasa menebar salam lebih dahulu. Dengan siapapun beliau selalu berkomunikasi dengan tutur kata yang halus dan sopan, bahkan sering kali tutur katanya membuat hati yang mendengarkan menjadi tenang. Sikap yang lemah lembut dan rendah hati senantiasa menghiasi hari-harinya. Tidak berlebihan jika beliau disebut sebagai Bapak anak yatim, kasih sayang dan kepedulian kepada mereka sangat kental dengan pribadi Hb. Alwi.

Keluhuran akhlaq dan keluasan ilmunya mampu melunakkan hati semua orang, kafir sekalipun. Suatu saat ada seorang non-muslim keturunan Tionghoa bertandang di kediaman beliau guna mendiskusikan ajaran agama islam. Dengan ramah dan senang hati Hb. Alwi menemuinya dan mengajaknya berkomunikasi dengan tutur kata dan akhlaq yang luhur. Mendengarkan penjelasan dan petuah-petuahnya orang tersebut tercengang dan terkesima. Seketika ia memantapkan hati menyatakan diri memeluk agama islam.

Dalam urusan mengajar dan berdakwah Hb. Alwi senantiasa berada di barisan terdepan. Sakit, hujan ataupun sedikitnya yang hadir dalam majlis beliau, semuanya tak mengurangi sedikitpun semangat bahkan keikhlasannya dalam mengajar dan berdakwah. Suatu ketika Habib ‘Alwi mengajar di desa Gondanglegi Malang. Dalam perjalanan menuju desa tersebut hujan turun sangat lebat. Melihat kondisi demikian, salah seorang murid beliau yang menyertainya ketika itu mengusulkan agar majlis tersebut ditunda. Namun tidak demikian dengan Habib Alwi, karena beban dan tanggung jawab sebagai pengemban risalah nabawiyah, beliau tetap konsisten. Ironisnya, ketika sampai di tempat, ternyata yang hadir saat itu hanya segelintir manusia. Meskipun demikian Hb. Alwi tak patah semangat.

Bagi Hb. Alwi, apalah artinya semangat jika tanpa disertai keikhlasan. Pernah Habib Alwi diundang ceramah di wilayah Sukorejo. Beliau berangkat tidak dijemput dengan mobil mewah layaknya para muballigh lainnya. Tapi beliau hanya dijemput oleh salah seorang utusan panitia. Nanum, dengan landasan ikhlas yang tinggi dan ditopang semangat juang yang gigih, beliau berangkat ke Sukorejo hanya dengan mengendarai oplet, demi misi syiar islam.

Kesederhanaan memang tersirat dalam diri Habib Alwi. Memang untuk urusan mengajar beliau bukan tipe ulama yang perhitungan. Di mana dan kapanpun selagi tidak ada udzur syar’i. Siapapun orangnya yang meminta sampai harus naik apa, beliau bersedia hadir. Tidak jarang beliau diundang oleh orang miskin, di pelosok desa yang penuh rintangan, naik dokar sekalipun Habib Alwi menyanggupinya.

Hampir setiap sore terutama hari kamis Hb. Alwi memberikan pengajian di masjid Jami’ Malang. Takmir masjid tidak menyediakan mobil jemputan untuk Hb. Alwi. Untuk itu beliau rela pulang pergi dari rumah ke masjid dengan naik becak.

Da’wah Hb.Alwi melegenda ke segenap lapisan masyarakat. Mereka mengenal sosok Hb. Alwi sebagai ulama’ yang memiliki kepribadian yang santun dan bersahaja. Maka tak heran jika beliau memiliki pengaruh kuat yang membuahkan hasil perubahan dan peningkatan. Keberaniannya dalam menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil mampu menembus dinding baja ruang kerja para pejabat pemerintah. Ketika ada di antara mereka yang bertindak semau gue tanpa mengindahkan syariat agama islam, beliau tidak segan-segan menegurnya.

Demi misi dakwah, Habib Alwi sanggup merelakan segalanya. Dalam hidupnya beliau tidak ingin merepotkan siapapun. Lebih-lebih ketika berdakwah di pedesaan, beliau membawa makanan sendiri dan dibagi-bagikan kepada hadirin. Hampir setiap hari, dalam pengajian yang beliau gelar di kediamannya, Hb. Alwi menjamu para santrinya. Belum lagi ketika beliau mengadakan pengajian secara mendadak, maka beliau tidak segan-segan untuk merogoh koceknya sendiri demi langgengnya dakwah islamiyah. Begitu ramah dan supelnya Hb. Alwi, sehingga tukang becak atau pengemis sekalipun tidak merasa sungkan bertamu kepada beliau. Lebih heran lagi, Hb. Alwi tidak pernah membeda-bedakan tamunya, ini pejabat, ini tukang becak dan sebagainya. Beliau menghormati semua tamunya dengan pelayanan yang proporsional. Sebagai tuan rumah beliau tidak segan-segan mengeluarkan sendiri hidangan untuk tamunya.

Suatu ketika ada seorang pengemis bertamu kepada Hb. Alwi. Kala itu beliau sedang istirahat siang sementara beberapa santrinya berjaga-jaga di serambi rumah beliau. Rupanya sang pengemis tersebut bersikeras ingin bertemu sang Habib sekalipun para santri tidak mengizinkannya. Namun akhirnya pun sang pengemis angkat kaki dari rumah Hb. Alwi membawa kekecewaan yang mendalam. Rupanya Hb.Alwi mengetahuinya. “Tadi ada tamu pengemis ya?”, tanya Hb.Alwi kepada santrinya. “Iya Bib, tapi habib sedang istirahat”, jawab salah seorang santrinya. “Kenapa tidak membangunkan saya? Iya kalau yang datang tadi pengemis betulan, kalau ternyata Nabiyulloh Khidir as?”, tegas Hb. Alwi.

Habib Alwi meninggal pada tahun 1995M dan dimakamkan di pemakaman Kasin Malang di sebelah utara kubah maha gurunya Al ‘Arif billah Al Quthb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 727 other followers