Posted by: Habib Ahmad | 6 April 2010

1 Demi 1 Meninggalkan KITA

1 Demi 1 Meninggalkan KITA

Allah ta’ala berfirman:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya) dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang dia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari akhirat).

~ Surah Al-Hasyr:18

Bismillah al-Rahman al-Rahim

As-salamu alaykum wa rahmatullah

To Allah belong and to Him we return.

This is to inform everyone that to the great loss of this Umma,The Gnostic and Guide to Allah, the Successor of the Salaf, the Erudite Scholar, al-Habib AbdulQadir bin Ahmad al-Saggaf (Amy Allah have mercy on him) passed to Allah’s mercy on the morning of April 4 (19th of Rabi’ul Thani, 1431H) prior to Fajr in Jeddah, KSA.

May Allah sanctify his secrets, shower him with mercy and raise him to the highest of ranks in Paradise, and may He allow us to continue to benefit by this great Imam in this life and the next, Amin.

The funeral prayer is scheduled for tonight after Isha at the Masjid al-Haram in Mecca. Those who are able should pray the salat al-Janaza (or salat al-Gha’ib for the one absent) for him following the Janaza prayer in Mecca.

We request that everyone reads what they are able of the Qur’an and adhkar and donate the reward to the soul of this great scholar.

BarakAllahufikum wa ‘afwan minkum
Was-salam

Wayfarers Coordinators

Ya Allah,Kami hanya ingin bersama dengan para kekasihMU…

Habib Ali Al-Jufri, Ulama Habaib Kini Yang Memiliki Kredibiliti Tersendiri

 

Habib Ali Al-Jufri dilahirkan di kota Jeddah, Arab Saudi tepat sebelum fajar pada hari Jumaat, 16 April 1971 bersamaan 20 Safar 1391 H, dari orang tua yang sampai pada keturunan Imam Hussein bin Ali ra.

Nasab

Habib Ali Zainal Abidin bin Abdul Rahman bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Ali bin Alawi bin Ahmad bin Abdul Rahman al-Maulah anak Arsha putera Muhammad Abdullah al-Tarisi bin Alawi al-Khawas putera Abu Bakar anak Jufri putra Muhammad putera Ali putera Muhammad putera Ahmad al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Sahab Mirbat Muhammad bin Ali Khalil Alawi Qassam anak putera Muhammad putera Alwi putera Ubaidullah Ahmad al-Muhajir ila Allah Isa putera Muhammad al-Naqib bin Ali al -Uraidhi bin Jaafar as-Sidiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin putera dari Hussein (cucu Rasulullah saw) anak dari Ali bin Abu Thalib, suami dari Fatimah al-Zahra puteri Rasulullah saw.

Ibunya yang mulia puteri Marumah putera Hassan bin Alawi bin Alawi Hassan bin Ali al-Jufri.

Pendidikan

Habib Ali Al-Jufri mulai mempelajari ilmu sejak kanak-kanak lagi melalui gurunya yang pertama iaitu ibunya sendiri. Ibunya mempunyai pengaruh yang besar atas diri beliau dan dalam pelajaran dan rohani.

Antara guru-guru beliau ialah:

- Habib Abdul Qadir bin Ahmad Al-Saqqaf, Jeddah
- Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad
- Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Makkah
- Habib Attas Al-Habsyi
- Habib Abu Bakar Al-Masyhur Al-Adani
- Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar
- Habib Umar bin Hafiz, Yaman, menjadi sahabatnya juga dari 1993 hingga 2003

Aktiviti dan Pengembaraan

Habib Ali Al-Jufri telah memberikan kelas untuk mengajar, bimbingan, nasihat, untuk membangunkan orang untuk tanggungjawab mereka dan untuk mengajak orang-orang kembali pada Allah dalam banyak negara, dimulai pada 1412 H/1991 di kota-kota dan desa-desa Yaman. Beliau memulai perjalanan di luar negeri 1414 H/1993 yang masih terus hari ini dan antaranya termasuk negara-negara berikut:

- Arab: UAE, Jordan, Bahrain, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Oman, Qatar, Kuwait, Lubnan, Libya, Mesir, Maroko, Mauritania, Kepulauan Komoro dan Djibouti.
- Asia: Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Bangladesh dan Sri Lanka.
- Afrika: Kenya dan Tanzania.
- Eropah: Britania Raya, Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, Irlandia, Denmark, Bosnia & Herzegovina dan Turki.
- Amerika: 3 perjalanan yang pertama adalah pada tahun 1419 H/1998, yang kedua adalah pada 1422 H/2001 dan yang ketiga yang pada 2002/1423, di samping juga mengunjungi Kanada.

Posted by: Habib Ahmad | 6 April 2010

Mengenal Lebih Dekat al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

Mengenal Lebih Dekat al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

Kisah hidup, tutur kata dan tarekatnya

H. Yunus Ali al-Muhdhor

Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, nama beliau sudah tidak asing lagi bagi kita, telah banyak kitab-kitab karya beliau seperti an-Nasaihud ad-Diniyah, ar-Risalah al-Muawanah, ad-Da’watu at-Tammah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Beliau juga masyhur dengan gelar Shahiburratib, karena beliaulah yang menyusun kitab wirid atau dzikir Ratib al-Haddad yang lazim diamalkan hampir di seluruh belahan dunia.

Namun, apakah kita telah benar-benar mengenal sosok kepribadian beliau yang teramat mulia itu? Atau mendengar untaian mutiara tutur kata beliau yang penuh dengan hikmah itu? Atau membaca tentang thariqah yang beliau jalani?

Buku ini akan menjawab semua pertanyaan itu dan mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat bahkan sangat dekat dengan sosok beliau, al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad.

Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad, Penulis Hebat, Sejarawan dan Mufti Johor

Jika berbicara tentang sesuatu persoalan, beliau memaparkan segala seginya dan menguatkannya dengan dalil-dalil aqli dan naqli. Beliau seorang yang memiliki ghirah (kecemburuan) terhadap Islam dan menjadi pembelanya. Di samping itu, beliau juga pembela keluarga Rasulullah SAW. aktif berhubungan dengan para ahli ilmu di berbagai tempat di seluruh dunia Islam, dan selalu menghindari pertentangan-pertentangan mazhab.

Nama lengkapnya ialah Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad bin Abdullah bin Thaha Abdullah bin Umar bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Abi Bakar Abu Thahir Al-Alawi asy-Syarif al-Huseini. Sampai nasabnya kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib yang kahwin dengan Sayidatina Fatimah binti Nabi Muhammad SAW. Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad lahir di Bandar Qaidun, Hadhramaut, Yaman pada 14 Syawal 1301 H/ 7 Ogos 1884 M.

Pendidikannya

Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad sedari kecil telah bercita-cita menjadi ulama. Ini didukung oleh kecerdasan dan keteguhannya dalam menuntut ilmu, dan selalu menyertai ulama-ulama besar sehingga dapat mencapai puncak keilmuannya dan menghimpunkan berbagai ilmu naqli dan aqli yang membuatnya melebihi rekan-rekan seangkatannya. Bahkan, Sayid Alwi mampu melakukan istinbat dan ijtihad yang cermat dan tidak dapat dicapai oleh sebagian orang.

Guru-gurunya di Hadhramaut ialah Habib Ahmad bin al-Hasan al-Attas al-Alawi, Habib Thahir bin Umar al-Haddad, dan Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad. Banyak bidang ilmu tradisi yang beliau peroleh daripada keluarganya sendiri yang berketurunan Nabi Muhammad SAW.

Sayid Alwi sangat menggemari pelajaran Hadits. Berkali-kali Sayid Alwi al-Haddad menamatkan kitab As-Sittah, Riyadh ash-Shalihin, Bulugh al-Maram, Jami’ ash-Shaghir. Untuk memperdalam ilmu hadits Sayid Alwi al-Haddad mempelajari kitab-kitab mengenai sanad hadits seperti ad-Dhawabidh al-Jaliyah fi al-Asanid al-‘Aliyah karya Syeikh al-Allamah al-Musnid Syamsuddin Abdullah bin Fathi al-Farghali al-Hamisyi. Demikian juga kitab ats-tsabat yang berjudul as-Samth al-Majid karya Syeikh al-Allamah al-Musnid Shafiyuddin Ahmad bin Muhammad al-Qasyasy al-Madani. Sayid Alwi al-Haddad telah berhasil memperoleh ilmu dan ijazah daripada para gurunya serta dengan sanad-sanad yang bersambung sampai Rasulullah SAW.

Selain guru tersebut, Sayid Alwi al-Haddad juga memperoleh ilmu daripada ayah saudaranya Imam Habib Abdullah bin Thaha al-Haddad, juga dengan Habib Thahir bin Abi Bakri al-Haddad. Guru-guru beliau yang lain adalah al-Mu’ammar Sirajuddin Umar bin Utsman bin Muhammad Ba Utsman al-Amudi ash-Shiddiqi al-Bakari. Sayid Alwi al-Haddad juga sempat mendengar riwayat hadits dari Sayid ‘Abdur Rahman bin Sulaiman al-Ahdal yang wafat tahun 1250 H/1834 M.

Diriwayatkan bahawa Sayid Alwi al-Haddad ialah seorang yang sangat cergas. Sedikit saja belajar namun penguasaan akan ilmu pengetahuannya langsung meningkat. Pada umur 12 tahun, Sayid Alwi al-Haddad menghatamkan Ihya ‘Ulumidin karya Imam al-Ghazali. Dalam usia 17 tahun ia telah mengajar dan mengajar kitab yang besar-besar dan ilmu yang berat-berat seperti ilmu tafsir, hadits, fiqh, usul fiqh, tarikh, falak, nahwu, shorof, balaghah, filsafat dan tasawuf.

Beliau juga memiliki karangan-karangan yang banyak dan kajian-kajian di berbagai surat kabar dalam bermacam-macam persoalan kemasyarakatan, politik, aqidah, sejarah dan fatwa yang mencapai 13000 masalah.

Sebagai ulama dan mufti, ia kerap diminta untuk berpidato dan memberikan ceramah pada pertemuan-pertemuan umum. Ceramah yang disampaikannya di depan Jong Islamieten Bond (Perkumpulan Pemuda Muslimin) telah diterbitkan dalam dua bahasa: Indonesia dan Arab. Pemimpin Sarekat Islam yang terkenal, Haji Oemar Said Cokroaminoto sering berhubungan dengannya. Ketika dia sedang mengarang buku tentang sejarah Nabi dalam bahasa Indonesia, dia menunjukkan kepada Sayid Alwi yang kemudian memeriksanya dan memberikan kata pengantar untuk buku itu. Pertama kali buku itu dapat diterbitkan atas biaya seorang dermawan dan kemudian buku itu dapat diterbitkan untuk yang kedua kalinya.

Karya-Karyanya

Sayid Alwi memiliki karangan-karangan yang banyak yang akan kami sebutkan berikut ini agar dapat diketahui betapa luas pengetahuannya. Beberapa diantara karangannya adalah:

1. Anwar al-Quran al- Mahiyah li Talamat Mutanabi’ Qadyani (dua jilid).
2. Al-Qaul al-Fashl fi ma li al-Arab wa Bani Hasyim min al-Fadhal. Kitab ini terdiri daripada dua jilid. Kandungannya merupakan sanggahan terhadap fahaman pembaharuan Islam yang dibawa oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad as-Surkati as-Sudani.
3. Al-Khulashah al-Wafiyah fi al-Asanid al-’Aliyah. Kitab ini menggunakan nama keseluruhan guru Saiyid Alwi al-Haddad tentang qiraat dan ijazah.
4. ‘Iqd al-Yaqut fi Tarikh Hadhramaut.
5. Kitab as-Sirah an-Nabawiyah asy-Syarifah.
6. Dalil Khaidh fi ‘Ilm al-Faraidh.
7. Thabaqat al-’Alawiyin (sepuluh jilid).
8. Mu’jam asy-Syuyukh.
9. ‘Uqud al-Almas bi Manaqib al-Habib Ahmad bin Hasan al-’Athas.
10. Kumpulan Fatwa (berisi sekitar 12000 fatwa)
11. Kitab tentang hukum-hukum nikah dan qadha dalam bahasa Melayu (diterbitkan dalam dua jilid)
Sekiranya kita sempat membaca keseluruhan karya Saiyid Alwi al-Haddad yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahawa sangat luas pengetahuan yang beliau bahaskan. Saiyid Alwi al-Haddad diakui sebagai seorang tokoh besar dalam bidang sejarah, ahli dalam bidang ilmu rijal al-hadis.

Lebih khusus lagi sangat mahir tentang cabang-cabang keturunan ‘al-’Alawiyin’ atau keturunan Nabi Muhammad s.a.w.. Setahu saya memang tidak ramai ulama yang berkemampuan membicarakan perkara ini selain Saiyid Alwi al-Haddad. Boleh dikatakan tidak ada ulama dunia Melayu menulisnya secara lengkap. Sekiranya ada juga ia dilakukan oleh orang Arab keturunan Nabi Muhammad s.a.w. seperti yang pernah dilakukan Saiyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi, Mufti Betawi.

Saiyid Alwi al-Haddad ialah seorang ulama yang berpendirian keras dan tegas mempertahankan hukum syarak. Gaya berhujah dan penulisan banyak persamaan dengan yang pernah dilakukan oleh Saiyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi, Mufti Betawi. Saiyid Alwi al-Haddad selain menyanggah pendapat dan pegangan Syeikh Ahmad bin Muhammad as-Surkati yang lebih keras dibantahnya ialah A. Hassan bin Ahmad Bandung.

Bukan Saiyid Alwi al-Haddad saja yang menolak pegangan A. Hassan bin Ahmad Bandung tetapi perkara yang sama juga pernah dilakukan oleh Haji Abu Bakar bin Haji Hasan Muar. Sanggahan Haji Abu Bakar Muar terhadap A. Hassan Bandung berjudul Majlis Uraian Muar-Johor. Di bawahnya dijelaskan judul, “Pada menjawab dan membatalkan Al-Fatwa pengarang Persatuan Islam Bandung yang mengatakan babi itu najis dimakan bukan najis disentuh dan mulut anjing pun belum tentu najisnya.” Sebenarnya apabila kita meninjau sejarah pergolakan Kaum Tua dan Kaum Muda dalam tahun 1930-an itu dapat disimpulkan bahawa semua golongan ‘Kaum Tua’ menolak pemikiran A. Hassan Bandung itu khususnya Kerajaan Johor yang muftinya ketika itu Saiyid Alwi al-Haddad yang mengharamkan karya-karya A. Hassan Bandung di Johor.

Mengembara

Sayid Alwi al-Haddad mengembara ke pelbagai negara untuk berdakwah dan mengajar, di antaranya Somalia, Kenya, Mekah, Indonesia, Malaysia dan lain-lain. Di Jakarta, Sayid Alwi al-Haddad pernah mengajar di Madrasah Jam’iyah al-Khair yang didirikan oleh keturunan Sayid di Indonesia. Madrasah Jam’iyah al-Khair ialah sekolah Islam yang mengikut sistem pendidikan moden yang pertama di Indonesia, Sayid Alwi al-Haddad pula termasuk salah seorang guru yang pertama sekolah. Jabatan pertama Sayid Alwi adalah Wakil Mudir sekolah. Sementara itu, Mudirnya ialah Sayid Umar bin Saqaf as-Saqaf.

Para guru didatangkan dari pelbagai negara. Antara mereka ialah Ustadz Hasyimi yang berasal dari Tunis, Syeikh Ahmad bin Muhammad as-Surkati yang berasal dari Sudan (mengajar di Madrasah Jam’iyah al-Khair tahun 1911 – 1914), Syeikh Muhammad Thaiyib al-Maghribi yang berasal dari Maghribi, Syeikh Muhammad Abdul Hamid yang berasal dari Mekah.

Sayid Alwi bin Thahir termasuk salah seorang pendiri ar-Rabithah al-Alawiyyah di Indonesia. Selain mengajar di Jakarta beliau juga pernah mengajar di Bogor dan tempat-tempat lain di Jawa.

Murid-Muridnya
Muridnya sangat ramai. Antara tokoh dan ulama besar yang pernah menjadi murid Saiyid Alwi al-Haddad ialah:

1. Saiyid Alwi bin Syaikh Bilfaqih al-Alawi.
2. Saiyid Alwi bin Abbas al-Maliki.
3. Saiyid Salim Aali Jindan.
4. Saiyid Abu Bakar al-Habsyi
5. Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Haddad.
7. Saiyid Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih.
8. Saiyid Husein bin Abdullah bin Husein al-Attas.
9. Syeikh Hasan Muhammad al-Masyath al-Makki.
10. Kiyai Haji Abdullah bin Nuh.

Menjadi Mufti Johor

Akhirnya Kesultanan Johor di Malaysia memilihnya untuk menjabat sebagai mufti di sana. Beliau menjabat sebagai mufti Kerajaan Johor dari tahun 1934 hingga tahun 1961. Sayid Alwi menjadi mufti Johor menggantikan Allahyarham Dato’ Sayid Abdul Qader bin Mohsen Al-Attas.

Wafatnya

Beliau wafat pada 14 November 1962 (1382 H) dan dikebumikan di Tanah Perkuburan Mahmoodiah Johor Bahru. Beliau mempunyai keturunan yang kemudian pindah ke Jazirah Arab bahagian selatan, di antaranya adalah puteranya Sayid Thahir dan Sayid Hamid 

  TELAH BERPULANG KE RAHMAT ALLAH SWT GURU DAN KHALIFAH PARA HABAIB

ImageDinihari ahad 19 Rabiutsani 1431 H, 4 april 2010 telah berpulang ke Rahmat Allah swt Guru dan Khalifah para habaib sedunia, Al Allamah Al Musnid Al Arif billah Alhabib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah, Saudi Arabia.

Dishalatkan di Masjidil Haram Makkah selepas shalat Isya, Ahad 4 April 2010.

Beliau adalah Seorang Imam Besar dan Khalifah para habaib saat ini, seorang yg sangat santun, lemah lembut, dan airmata selalu bercucuran jika mendengar tausiyah beliau yg membuka Rahasia rahasia kelembutan Allah swt, menggetarkan jiwa, membuat sanubari bagai hancur karena terharu akan kelembutan dan kasih sayang Allah pada kita, beliau kelahiran Seiyun Hadramaut, Yaman, lalu hijrah ke Jeddah, dan berkunjung acapkali ke pelbagai negeri, dan Indonesia sangat sering dikunjungi beliau, dimasa Alhabib Shaleh bin Muhsin Alhamid (Tanggul) Rahimahullah, Alhabib Alwi bin Ali Al Habsyi rahimahullah (ayah Almarhum Alhabib Anis Solo), Alhabib Umar bin hud Alattas rahimahullah, dan masa para habaib sepuh di Indonesia, beliau selalu berkunjung ke Indonesia.

Sekitar 12 tahun yg lalu, tepatnya tahun 1998 ketika saya lulus bersama alumni pertama Murid Guru Mulia Al Allamah Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh, beliau mengantar kami sebelum pulang ke Indonesia untuk haji dan berkunjung pd Guru beliau tsb di Jeddah,

Kupandang wajah sepuh bercahaya yg rebah diatas kasur, airmata beliau terus mengalir memandangi wajah wajah para alumni yg akan berpulang ke Indonesia, airmata kami terus mengalir, mata bagai terpaku tak ingin melirik ke arah lain selain memandangi wajah bercahaya itu, mata yg bercahaya kelembutan itu terus menangis dalam doa, kedua tangan beliau gemetar terangkat mendoakan kami..

Maka perjumpaan diakhiri dg nasyidah lembut seorang hadirin, membuat beliau menangis hingga terguncang guncang tubuh beliau karena dahsyatnya tangisan, membuat kami hampir bergelimpangan tak tahan menyaksikan kehadiran agung dihadapan beliau.

Kamipun pamit, satu persatu mencium tangan beliau, Guru Mulia disamping beliau mengenalkan satu persatu nama kami saat kami menyalami beliau..

Itulah terakhir kali saya berjumpa beliau.., kondisi beliau terus menurun dan tidak lagi bangkit dari tempat tidur, namun dikatakan oleh Guru Mulia, bahwa tubuh beliau sudah tak berdaya, namun ruh beliau terus dalam cahaya keluhuran dan tidak lemah tak berdaya, terus berdoa dan berdoa.. terus mendoakan para da’I di barat dan timur, terus berkhidmat pada Rasulullah saw..

Ahad dinihari 19 Rabiutsani 1431 H sebelum subuh beliau wafat, seakan menandakan bahwa kemangkatan beliau menunjukkan dekatnya waktu kebangkitan islam di dunia..

Selamat Jalan Imam dan Khalifah para habaib di dunia..

Khalifah para habaib terus silih berganti dari generasi ke generasi mengemban beban luhur..

Wahai Allah.., anugerahkan kepada kami Khalifah luhur pengganti Beliau yg memimpin dakwah diseluruh dunia dalam kebangkitan islam dan dakwah kedamaian sayyidina Muhammad saw, yg terus dibawa dari zaman ke zaman dari Sang Nabi Mulia saw, sampai ke negeri kami dimasa para Wali Songo, terus berlanjut hingga kini..

Wahai Allah muliakan para penyeru ke jalan Allah swt dibarat dan timur, limpahkan bantuan dan kemudahan dan bimbingan Mulia..,

Wahai Allah limpahkan kemuliaan dan keluhuran dan kemudahan pada segenap pecinta Sang Nabi saw..

Wahai Allah limpahkan kemuliaan, kemudahan pada seluruh muslimin di barat dan timur..

Wahai Allah limpahkan hidayah pada penduduk bumi yg masih menyembah selain Mu..

Wahai Allah jangan kau jadikan wafatnya beliau adalah Musibah besar yg akan menimpa kami, namun hiburlah kesedihan kami dg Kau jadikan wafat beliau adalah tanda terbitnya Matahari Kebangkitan Islam di Dunia, Kemakmuran di barat dan Timur.. Amiin.

Tabahkan hati Guru Mulia kami.., beri beliau kekuatan dan keluhuran dan ketenangan.., muliakan derajat beliau dan permudah perjuangan beliau.. beliau telah ditinggal pergi oleh sang guru, maka kuatkan hati beliau dalam menanggung beban yg semakin berat dg kemangkatan guru beliau..

Yaa Allah.. Yaa Allah.. Yaa Allah..

Amiin..

Jadual Penuh Tafaqquh Fiddin Bersama Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki. – Rabi’ulakhir 1431/April 2010

عليكم بمجالسة العلماء واستماع كلام الحكماء فإن الله تعالى يحيى القلب الميت بنور الحكمة كما يحيى الارض الميتة بماء المطر
Jadual Program Tafaqquh Fiddin Bersama Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki – April 2010M/Rabi’ulakhir 1431H

Tarikh: 24 Rabi’ulakhir 1431/9 April 2010 (Jum’at)
Masa: Pagi – Malam
Lokasi: Segamat, Johor (tempat akan diberitahu apabila al-Fagir mendapat kepastian)

Tarikh: 25 Rabi’ulakhir 1431/10 April 2010 (Sabtu)
Masa: 9.00 pagi – Asar
Lokasi: Surau ash-Shobirin, Taman Tunku Jaafar, N9
Kitab: Minhaj ath-Tholibin

Masa: Maghrib
Lokasi: Surau al-Amin, Taman Cempaka, Senawang, N9

Tarikh: 26 Rabi’ulakhir 1431/11 April 2010 (Ahad)
Masa:9.30 pagi
Lokasi: Pondok Baitul Qurra, Sungai Udang, Melaka

Masa: Maghrib
Lokasi: Masjid Sendeng, Ampangan

Tarikh: 27 Rabi’ulakhir 1431/12 April 2010 (Isnin) – 29 Rabi’ulakhir 1431/14 April 2010 (Rabu)
Lokasi: Kuantan, Pahang

Pada 28 Rabi’ulakhir 1431/13 April (Selasa) dan 29 Rabi’ulakhir 1431/14 April 2010 (Rabu) – sila program sepertimana disini

Tarikh: 29 Rabi’ulakhir 1431/14 April 2010 (Rabu)
Masa:Maghrib
Lokasi: Surau Taman Hussin Onn, Kuala Lumpur

Menuntut ilmu

Ditulis oleh Admin di/pada 1 Nopember 2008

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad

Saya berpesan hendaknya kamu selalu berusaha dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu yang berguna, dengan cara membaca, menelaah buku-buku ataupun berdiskusi untuk mencapai hasil. Jangan sekali-kali meninggalkan upaya itu karena malas atau bosan, ataupun karena perasaan takut sekiranya kamu nanti tidak mampu mengamalkan ilmumu.

Dan hendaklah kamu dalam hal ini selalu memperbaiki niatmu dan bermawas diri. Jangan segera puas hati dengan merasa telah cukup berhasil, sampai kamu benar-benar menguji dirimu sendiri. Selanjutnya berupayalah sungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang telah kamu ketahui, serta mengajarkannya kepada siapa yang belum mengetahuinya, baik diminta ataupun tidak.

Apabila setan membisikkan kepada kamu, “Janganlah mengajar sebelum kamu benar-benar menjadi alim yang luas ilmunya”, maka katakanlah kepadanya, “Kini aku apabila ditinjau dari apa yang telah kuketahui adalah alim dan karenanya wajib untuk mengajarkannya kepada orang lain. Sedangkan apabila ditinjau dari apa yang belum kuketahui, maka aku ini seorang pelajar yang wajib belajar dan menuntut ilmu”. Ini tentunya berkenaan dengan ilmu yang wajib dipelajari. Adapun selebihnya, tak apalah jika kamu pelajari juga.

Mengajarkan ilmu merupakan amal ibadah yang besar pahalanya, sepanjang diiringi dengan niat yang baik yang dasarnya karena Alloh semata-mata, bukan karena sesuatu lainnya, tanpa sedikit pun niat untuk meraih harta ataupun kedudukan.

Hendaklah kamu secara konsisten menelaah buku-buku para ulama terdahulu, terutama para tokoh sufi, dan memperhatikan apa yang ada didalamnya. Karena disitu terhimpun banyak petunjuk khusus tentang bagaimana mengenal Alloh, serta berbagai bimbingan tentang cara-cara perbaikan niat, keikhlasan dalam beramal, pendidikan jiwa dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat, yang tentunya akan menuntun kearah keberuntungan dan keselamatan.

Dan tiada yang enggan memperhatikan dan membaca buku-buku seperti itu kecuali orang-orang yang sudah buta mata hatinya atau gelap jiwanya. Walaupun demikian sekiranya waktumu sangat terbatas sehingga tidak cukup untuk mengkaji buku-buku itu secara keseluruhan, maka khususkanlah pengkajianmu pada buku-buku karangan Al-Imam Al-Ghozali. Karena itulah yang paling banyak manfaatnya, paling lengkap isinya dan paling menarik susunan kata-katanya.

[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Ratib al-Haddad

Ratib al-Haddad

 

Amalan peninggalan Imam al-Haddad rhm. yang terkenal dan banyak diamal orang kita di rantau sini, bahkan di seluruh pelusuk dunia Islam. Amalan yang berkat ini ialah ratib beliau yang terkenal dengan panggilan “Ratibusy Syahiir” atau “Ratibul Haddad“. Ratib ini telah banyak diamal oleh para ulama kita terdahulu dan posting aku kali ini hanya untuk mengkhabarkan beberapa nukilan ulama kita di Nusantara ini berhubung Ratibul Haddad. Aku mulakan dengan tulisan ulama terbilang yang paling produktif menulis iaitu Tok Syaikh Daud bin ‘Abdullah al-Fathani. Di mana dalam “Kaifiyyah Khatm al-Quran” pada halaman 256 – 260, beliau memuatkan Ratibul Haddad sepenuhnya dan memberi pengenalan ratib ini dalam bahasa ‘Arab (maaflah aku masih tak dapat nak tulis dalam font Arabic, masih tak tahu apa penyakitnya) yang bererti: “Inilah ratib Tuanku Wali yang ‘arif billah, Imam ahlillah, asy-Syaikh al-Kabiir pada jalan Allah, Quthub rahaa-ddin, ‘Ayn a’yaanish Shiddiiqiin as-Sayyid ‘Abdillah bin ‘Alawi bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdullah yang dikenali sebagai al-Haddad Ba ‘Alawi al-Husaini…..” Dan pada halaman 261, Tok Syaikh Daud menukilkan satu faedah bahawa Sayyidina al-Imam Ahmad bin Zain mendengar daripada sebahagian orang sholeh dan ahli ilmu menyatakan yang Imam al-Haddad berkata:-

Bahawasanya sesiapa yang membaca ratib ini teristimewa lafaz tahlilnya dengan adab, hudhur hati, yakin dan niat (ikhlas bertaqarrub kepada Allah) dan menyempurnakan tahlilnya 1,000 kali, nescaya akan terzahir baginya sesuatu daripada segala nur milik Allah ta`ala.

Syaikh Ahmad bin Muhammad Kasim ulama kelahiran Jelebu, Negeri Sembilan pada tahun 1901M dan kembali ke rahmatullah pada tahun 1943. Menuntut ilmu ke Makkah al-Musyarrafah dan akhirnya membuka madrasah “al-Mubtadi` li Syari`ah al-Musthofa al-Hadi” atau madrasah “Nur ad-Diniyyah” di Melaka. Di madrasahnya Ratibul Haddad dijadikan wirid tetap dibaca setiap malam.

Tuan Guru Haji Muhammad Sulum @ Sulung al-Fathani (1895M – 1954M) pula menukilkan Ratibul Haddad dalam khatimahnya bagi karangannya “Gugusan Cahaya Keselamatan” di mana sebagai pengenalannya beliau menulis:-

“Kenyataan wirid yang sangat berkat dunia dan akhirat bagi waliyullah yang besar Habib ‘Abdullah al-Haddad dan ratib baginya.”

Bahkan ramai lagi ulama kita yang menjadikan Ratibul Haddad ini sebagai pakaian mereka seperti al-’Alim al-’Allaamah asy-Syaikh Muhammad Husein bin Abdul Lathif al-Fathani yang dikenali sebagai Tok Kelaba al-Fathani dan juga ulama terbilang Acheh Darus Salam, asy-Syaikh Teungku Hasan Krueng Kalee yang empunya kitab berjodol “Risalah Lathifah fi adabi adz-dzikri wa at-tahlil wa kaifiyyati tilaawati ash-Shomadiyyah ‘ala thoriqati Quthubil Irsyad al-Habib ‘Abdullah al-Haddad“.

Sebagai penutup, aku nukilkan di sini artikel berjodol “Syarh Ratib al-Haddad – Dari Yaman ke Dunia Melayu” karangan Fadhilatul Ustaz Wan Mohd. Shoghir bin Wan Abdullah al-Fathani (mudah-mudahan Allah memanjangkan usia beliau serta memanfaatkannya bagi agama dan umat).

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Hati yang keras dan lalai

Hati yang keras dan lalai

Ditulis oleh Admin di/pada 23 Nopember 2008

Diasuh oleh : Ustadzah Bintu Agil Al-Khirid

Waspadalah dari hati yang keras (qoswah)!. Yakni kerasnya hati dan membeku sehingga nasihat pun tidak berpengaruh. Jika kematian disebut, ia tak merasa takut atau ngeri, begitu pula jika mendengar janji-janji Allah dan ancaman tentang keadaan akhirat.

Rasulullah SAW bersabda,

“Sesuatu yang paling jauh dari Allah Ta’ala adalah hati yang keras.”

Rasulullah SAW juga bersabda,

“Termasuk dari sesuatu yang celaka adalah 4 perkara : hati yang keras, mata yang beku, cinta dunia dan panjang angan-angan.”

Beliau menambahkan,

“Ketahuilah, Allah tidak akan menerima doa dari hati orang yang lalai.”

Hati yang lalai adalah hati yang tidak sabar dan tidak mau tahu ketika diperingatkan karena keasyikannya bekerja dan bermain dengan keindahan dunia dan hawa nafsu.

Firman Allah SWT,

“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri, penuh rasa takut, tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”  (QS. 205:7)

Allah melarang Rasul-Nya untuk tidak menjadi orang yang lalai, sebagaimana Dia melarang untuk tidak mentaati orang-orang yang lalai atau pun mengikuti jejak mereka.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya lalai dari mengingat Kami serta memperturutkan hawa nafsunya, dan keadaannya itu melampaui batas.”  (QS. 18:2 8)

Orang-orang yang dianggap lalai jika :

  • Membaca Al-Qur’an atau mendengarnya tetapi tidak merenungkan maknanya, tidak mengikuti perintah dan larangannya. Begitu pula hadits Rasulullah SAW dan ucapan para Salafus Sholih ra.
  • Tidak mengingat mati dan hal-hal sesudah mati apakah ia tergolong ahlus sa’adah (orang yang bahagia) atau ahlus syaqowah (orang yang celaka), dan tidak memikirkannya.
  • Tidak sering bergaul dengan ulama-ulama yang mengingatkannya tentang agamanya, menyadarkannya tentang kehidupan yang abadi, nikmat-nikmat Allah, janji dan ancaman-Nya.

Jika ia tidak mendapatkan alim ulama, seharusnyalah buku-buku para alim ulama tersebut bisa sebagai pengantinya. Insya Allah tidak akan pernah dunia ini kosong dari dari para alim ulama, meskipun kerusakan jaman telah merata.

“Senantiasa segolongan dari umatku yang berdiri teguh diatas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menentangnya, hingga tiba ketentuan dari Allah SWT.”

[Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

Akhlak kepada sesama muslim

Ditulis oleh Admin di/pada 29 Nopember 2008

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad

Saya berpesan hendaklah kamu selalu meniatkan yang baik-baik saja bagi seluruh kaum muslimin. Cintailah mereka apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri, dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, dan tidak menyukai sesuatu yang menimpa mereka sebagaimana kamu tidak menyukai hal itu menimpa dirimu sendiri. Berdialoglah dengan mereka dengan ucapan-ucapan yang baik yang tidak mengandung pelanggaran (atas hak mereka). Ucapkan salam kepada mereka kapan saja kamu bertemu mereka. Bersikaplah selalu rendah hati, lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap mereka. Tunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada siapa-siapa yang berperilaku baik, dan upayakanlah agar memaafkan siapa-siapa yang berperilaku buruk. Berdoalah bagi mereka yang berbuat dosa agar Alloh SWT memberikan kemudahan kepada meraka untuk segera bertaubat. Dan berdoalah bagi mereka yang telah berbuat kebaikan agar Alloh SWT menganugerahkan sifat istiqomah atau konsisten dalam melakukan kebaikan-kebaikan sampai akhir hayat.

Peliharalah hatimu masing-masing dari niatan atau bisikan-bisikan hati yang tercela, dan bersihkanlah dari noda-noda akhlak yang buruk. Berupayalah mencegah keterlibatan setiap anggota tubuhmu dalam kegiatan bermaksiat atau berdosa. Lebih-lebih lagi dalam hal menjaga dan memelihara lidah dari pembicaraan-pembicaraan yang terlarang atau sia-sia, terutama yang bersifat umpatan atau gunjingan terhadap sesama muslim. Begitu besar dosa ghibah (pergunjingan) sehingga dinyatakan bahwa dosanya lebih besar daripada dosa perzinaan.

Dan jika sampai ke pendengaranmu tentang suatu perbuatan buruk dari seseorang di antara mereka (kaum muslimin), sedangkan kamu mampu untuk menasehatinya, maka lakukanlah. Atau jika tidak, jangan sekali-kali menyebutkan tentang keburukannya itu di hadapan orang lain, sehingga dengan demikian kamu telah melakukan dua keburukan sekaligus, yaitu pertama dengan tidak memberikannya nasehat, dan kedua mengucapkan sesuatu yang buruk berkenaan dengan pribadi seorang muslim.

Saya berpesan hendaknya kamu tidak merasa dirimu lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hatimu, sadarilah segera betapa kamu sudah seringkali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga seorang yang berakal sehat pasti mengetahui bahwa dirinya sendiri penuh dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaknya ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikitpun.

Tidak sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu ada padanya. Sebab dari apa yang kamu ketahui dari saudara-saudaramu adalah berdasarkan prasangka dan dugaan semata-mata. Sedangkan prasangka adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan. Disamping itu mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-nyiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembah syahwat hawa nafsu.

[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Bersahabat dengan orang baik
Ditulis oleh Admin di/pada 20 Februari 2008

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad

Usahakanlah kalian selalu bersahabat dengan orang-orang yang berakhlak mulia agar dapat meneladani perilaku baik mereka dan sekaligus bisa mendapatkan keuntungan dari perbuatan dan ucapan mereka. Biasakanlah pula untuk berkunjung kepada mereka yang masih hidup dan berziarah kepada mereka yang telah tiada disertai dengan rasa penuh keikhlasan, penghormatan dan penghargaan. Dengan demikian kalian akan mendapatkan manfaat dan limpahan barokah dari Allah melalui keberadaan mereka.

Pada jaman ini memang sedikit sekali manfaat yang dapat diperoleh melalui orang-orang yang sholeh. Hal ini dikarenakan kurangnya penghormatan dan lemahnya husnudz dzon terhadap mereka. Itulah sebabnya kebanyakan orang di jaman sekarang tidak memperoleh barokah dari mereka itu. Orang jaman sekarang tidak bisa lagi menyaksikan berbagai peristiwa menakjubkan yang muncul karena kedudukan mereka yang telah memperoleh karomah dari Allah SWT. Merekapun mengira bahwa pada jaman ini sudah tidak ada lagi orang-orang yang disebut sebagai wali. Dugaan yang demikian itu tidaklah benar sama sekali.

Alhamdulillah para wali itu masih cukup banyak, yang tampak maupun yang tersembunyi. Namun tak ada yang bisa mengenali identitas mereka itu kecuali orang-orang yang telah mendapatkan anugerah cahaya kebenaran dan kebesaran Allah dalam hatinya dan mereka selalu berhusnudz dzon kepada mereka.

Hindarilah bergaul dengan orang-orang yang berakhlak buruk dan bermoral rendah. Jauhilah pergaulan dengan mereka, karena dengan menjadikan mereka itu sahabat kalian, maka hanya kerugian dan malapetakalah yang akan kalian alami di dunia maupun di akherat. Pergaulan seperti itulah yang membengkokkan sesuatu yang lurus, dan yang lebih parah lagi mengakibatkan rusaknya hati dan agama. Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh seorang penyair,

Orang yang berkudis takkan menjadi sehat kembali akibat bergaul dengan orang yang sehat,
namun orang yang sehat gampang tertular penyakit akibat bergaul dengan orang yang berkudis.

[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Seni berdakwah

Seni berdakwah

Ditulis oleh Admin di/pada 30 Januari 2008

Kalam Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz

Seorang dai yang menyeru ke jalan Allah Ta’âla hendaknya menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat dengan cara yang mudah dan sederhana. Hendaknya ia memilih tema yang sesuai bagi mereka, memilih kalimat yang tidak membangkitkan nafsu, tapi yang mendekatkan mereka kepada Allah. Hendaknya ia memilih kalimat yang dapat menyucikan nafs dengan cepat, bukannya ucapan yang memberatkan mereka, yang mereka anggap berat dan sulit. Seorang dai seharusnya mendahulukan yang lebih penting menurut waktu, zaman dan keadaan masyarakat saat itu. Ia harus memperhatikan masalah yang lebih besar dan penting, memperhatikan semua yang fardhu dan kewajiban-kewajiban utama lainnya.

Dakwah dengan tema di atas akan sukses jika metode yang digunakan tidak menyebabkan orang lari dan tidak mempersulit. Dakwah sebaiknya dilakukan dengan memberikan himbauan (targhib) dan juga ancaman (tarhib), sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis.

Jika berdakwah kepada para pemula, bila mengajak mereka untuk mengerjakan kebaikan, jangan sekali-kali memaksa, jangan menyampaikan permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipahami dan dianggap berat oleh mereka. Sebab, sesuai tabiatnya, nafs akan lari jika merasa keberatan. Dan jika nafs lari, ia akan menentang dan memusuhi kebaikan, kemudian mencari pembenaran (justifikasi) bahwa perbuatannya sesungguhnya baik. Jika pemula memandang ucapan dai tersebut keras, terlalu berat dan tidak mampu ia laksanakan, maka nafs-nya akan memberontak.

Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkatan pemikiran (pendidikan) mereka. Jika berbicara dalam suatu majelis yang dihadiri oleh orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, jangan berkata, “Celakalah orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, nerakalah tempat mereka.” Ucapan semacam ini akan membangkitkan hawa orang yang durhaka tadi sehingga ia akan menentangnya. Akan tetapi hendaknya kita berkata, “Allah Ta’âla berfirman :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al-Isra, 17:23)

“Perhatikanlah, bagaimana Allah yang Maha Mulia memberikan wasiat kepada kita, bagaimana Ia menunjukkan kedudukan kedua orang tua. Orang tua memiliki hak dan kedudukan yang agung. Orang yang berbakti kepada keduanya akan memperoleh berbagai kebaikan. Nabi telah memperingatkan kita agar tidak durhaka kepada kedua orang tua. Beliau bersabda begini dan begini.” Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka akal dan nafs akan mendengarkan dan nafs tidak akan memberontak.

Dalam ucapan kaum sholihin dan guru-guru kita, banyak kita temukan ucapan-ucapan yang keras, tapi masyarakat menerimanya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang agung. Jika ucapan itu muncul dari orang lain, masyarakat tidak akan menerimanya dan akan menganggap terlalu berat untuk dilaksanakan. Namun, karena mereka yang mengucapkannya, maka masyarakat mau menerimanya.

Sebagai dai yang masih awam, kita jangan menempatkan diri kita di kedudukan kaum khowwâsh, seperti Habib Alwi bin Syihab, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri, ayahku Sayid Muhammad bin Salim atau kaum sholihin terkemuka lainnya. Mereka kadang kala menyampaikan ceramah-ceramahnya dengan keras. Meskipun demikian, ucapan mereka meninggalkan kesan dalam hati pendengarnya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang mendukung dan masyarakat yang mau menerimanya. Adapun orang-orang seperti kita ini, sebelum berbicara kita wajib memperhatikan dan menyederhanakan pesan yang akan kita sampaikan. Jika ada kata-kata yang sulit, hendaknya kita ganti dengan kata-kata yang mudah dipahami. Sebagai contoh, jika hendak mencegah seseorang dari memutuskan hubungan kekerabatan, jangan berkata, “Di majelis ini ada seseorang yang memutuskan hubungan kekerabatan.” Atau berkata, “Dewasa ini tidak seorang pun yang tidak memutuskan hubungan kekerabatan. Maka mereka semua terkena laknat.”

Meskipun ucapan ini mengandung kebenaran, tapi masyarakat tidak akan menerimanya. Kita tidak boleh berkata demikian, tetapi sebaiknya kita berkata, “Marilah kita perhatikan kerabat kita, marilah kita raih pahala lewat mereka, marilah kita usahakan agar hubungan kekerabatan menjadi sebuah nikmat. Jika kalian mau menundukkan nafs lalu menyambung tali silaturahmi dan berbuat baik kepada mereka, maka kabar gembira bagi kalian, kalian akan memperoleh umur yang panjang dan rezeki melimpah. Sebab, Nabi saw bersabda :

“Silaturahmi memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kalian hendaknya menggunakan kalimat-kalimat seperti ini. Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka semua orang akan menerimanya. Ucapan kalian menjadi baik dan mudah diterima oleh nafs. Sebenarnya tujuan orang menyampaikan dakwah dengan keras adalah juga untuk menyeru manusia ke jalan Allah, tapi caranya tidak benar. Karena itulah Allah berfirman kepada Nabi kita Muhammad saw :

“Karena rahmat Allah-lah kamu dapat berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS Ali Imran, 3:159)

[Diambil dari Manhaj Dakwah, cetakan I, 2001, penerbit Putera Riyadi Solo]

Tidak berbangga diri

Ditulis oleh Admin di/pada 6 Agustus 2008

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad

Saya berpesan hendaknya kamu tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hatimu, sadarilah segera betapa kamu sudah seringkali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga seorang yang berakal sehat pasti mengetahui bahwa dirinya sendiri penuh dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaknya ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikitpun.

Tidak sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu ada padanya. Sebab dari apa yang kamu ketahui dari saudara-saudaramu adalah berdasarkan prasangka dan dugaan semata-mata. Sedangkan prasangka adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan. Disamping itu mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-nyiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembah syahwat hawa nafsu.

Sungguh betapa perlunya bagi setiap individu pada jaman ini untuk memberikan dalih-dalih pemaafan serta alasan-alasan pembenaran bagi orang lain, mengingat langkanya orang-orang yang benar-benar jujur dan istiqomah, disamping banyaknya berita-berita bohong yang disebarluaskan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab.

Saya juga berpesan agar kamu selalu bersikap tawadhu’ (rendah diri). Sikap tawadhu adalah sikap yang terpuji pada segala kondisi, kecuali dalam satu hal saja, yaitu ber-tawadhu di hadapan para ahli dunia (penghamba dunia) dengan tujuan ingin mendapatkan sesuatu dari dunia mereka atau harta benda mereka. Sedangkan sikap takabur (angkuh dan tinggi hati) adalah sikap yang sangat tercela pada segala kondisi, kecuali dalam hal menghadapi orang-orang zalim yang terus-menerus berbuat kezaliman. Sikap yang demikian itu demi menunjukkan teguran atau protes keras terhadap mereka, asalkan keangkuhan seperti itu hanya tampak secara lahiriah saja, sementara hati kita kosong dari sifat seperti itu.

[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Mengapa harus ke Yaman -Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

Mengapa harus ke YamanHabib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalatul Muawanah mengatakan, ‘Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negerinya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat. Mengapa Imam al-Muhajir memilih Hadramaut yang terletak di Negara Yaman sebagai tempat hijrah ? Imam al-Muhajir memilih Hadramaut sebagai tempat hijrahnya, dikarena beberapa faktor, pertama peristiwa hijrahnya al-Husein dari Madinah ke Kufah, dimana Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika hendak berangkat ke Kufah. Ibnu Abbas menasehati agar beliau pergi ke Yaman karena di negeri itu para penduduknya menyatakan siap untuk mendukung Imam Husein. Sejarah membuktikan bahwa keturunan Imam Husein sampai saat ini mendapat dukungan di sana. Kedua, keistimewaan penduduk Yaman yang banyak disebut dalam alquran dan hadits. Allah swt berfirman : Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas (pemeberian-Nya) lagi maha mengetahui.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Dari Jabir, Rasulullah saw ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah saw, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Ketika Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 27 yang berbunyi : Dan serukanlah kepada umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang berbagai jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan yang jauh. Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim as, setelah menerima wahyu tersebut beliau pergi menuju Jabal Qubays dan menyeru untuk menunaikan haji. Dan orang pertama yang menjawab dan datang atas seruan Nabi Ibrahim as adalah orang-orang’. Allah swt berfirman dalam surah al-Nashr ayat 2 : ‘Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan beramai-ramai‘. Berkata Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya dari Ikrimah dan Muqatil, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia pada ayat itu adalah orang-orang Yaman, mereka berdatangan kepada Rasulullah untuk menjadi kaum mu’minin dengan jumlah tujuh ratus orang’.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Dari Ibnu Abbas berkata : Nabi kita ketika berada di Madinah berkata, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang bantuan Allah swt dan kemenangannya dan telah datang ahlu Yaman. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah ahlu Yaman itu ? Rasulullah saw menjawab : Suatu kaum yang suci hatinya dan lembut perangainya. Iman pada ahlu Yaman, kepahaman pada ahlu Yaman dan hikmah pada ahli Yaman’.<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari Rasulullah saw berkata, ‘Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi’.<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, ‘Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini’. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah saw, ‘Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman‘.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Faktor lain yang menjadi pertimbangan Imam al-Muhajir hijrah ke Yaman dikarenakan masyarakat Yaman mempunyai hati yang suci dan tabiat yang lembut serta bumi yang penuh dengan keberkahan, sehingga Rasulullah saw memerintahkan hijrah ke negeri Yaman jika telah terjadi fitnah. Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi saw bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi saw bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–> Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah saw, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi saw : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencitaiku, sispa yang membenci mereka berarti telah membenciku’

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

~Rahsia Tarbiyah Habib Umar Ibn Hafidz~

)

~Rahsia Tarbiyah Habib Umar Ibn Hafidz~

Bismillah
Allhumma Solli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi…

Sebelum dimulakan,ingin panjatkan penuh kesyukuran kepadaNYA kerana memberi peluang pada hamba2NYA yang Dhoif ini merasakan cebisan tarbiyah habib.

Dari apa yang dapat kami rasai…

Pertama sekali,sebelum beliau sibukkan kami dengan amalan2 zahir,beliau tanamkan terdahulu benih2 cinta terhadap Rasulullah s.a.w ke setiap jiwa anak didiknya.Kalamnya itu takkan terlepas menyebut tentang Rasulullah s.a.w.Kalau akhir majlis ilmunya(rowhah),Doa yg dibacakan juga pasti ada kaitan antara hubungan kami dan Rasulullah s.a.w .Ini supaya,beliau hendak kami rasakan that we only belong to Allah n Rasulullah s.a.w.Tiada lain selain itu.

Bila sudah tumbuh benih2 cinta tersebut,Habib tidak perlu banyak kalam dalam menyuruh kami melakukan amalan sekian sekian.Cukup beliau katakan…‘Rasulullah buat sekian sekian’,’Rasulullah tidak pernah tinggalkan perkara tersebut’
Hanya dengan kekata-kata tersebut…dapat menggerakkan hati yang mendengar untuk mengamalkan apa yang ditunjukkan.Subhanallah!

Tarbiyahnya Rasulullah s.a.w terhadap para sahabatnya…

Bagaimanakah terungkap kekata ini dari mulut para sahabat?
bi abi anta wa ummi ‘~Sayidina Abi Bakar As-Siddiq

nafsi fida aka Ya Rasulallah

Ya Rasulallah,Engkau lebih ku cintai dari diriku sendiri‘~maksud dari kalam Sayyidina Umar AlkHattab

Keluarnya kalimah2 Cinta ini,tidak lain kecuali setelah mereka mengenali dan bersama dengan Rasulullah s.a.w.Cuba lihat Sayyidina Umar…pada zaman jahiliyahnya,Beliau terkenal sbg seorang yang paling keras menentang Islam.Tetapi bagaimana Setelah beliau bersama Rasulullah s.a.w???Sekeras-keras hatinya dan nafsunya…bagaimana beliau tundukkan dan serahkan penuh buat Rasulullah s.a.w??Ini tiada lain kecuali sbb CINTA bukan???
ada kekata ini ‘lau arafuhu lahabbuhu’(jika kamu mengenalinya,kamu pasti akan mencintainya)Sollu alaihi!

Dan begitulah Tarbiyahnya Rasulullah…Rasulullah tanamkan CINTA itu dihati para sahabatnya dgn akhlaqnya terdahulu tanpa perlu banyak berkata dan kesannya…para sahabatnya sangat berlumba-lumba untuk mengikuti setiap apa yang Rasulullah lakukan.Seperti kisah sayyidina Abdullah Ibn Umar AlkKhattab,beliau itu tidak jalan ke sebuah jalan itu kecuali jalan tersebut telah dilalui oleh Rasulullah s.a.w.Allah…

Dan kita,sbg pendaie,Kita jangan sibukkan orang2 yang ingin kita seru itu dgn amalan2 zahir terdahulu.Malah,pupukkan kecintaan kepada Rasulullah di setiap hati yang kita temui.

Panduan buat Seorang yang bergelar IBU

Kalau sbg ibu,sejak kecil lagi,tarbiyah anak dgn cara sedemikian.Jangan memaksa anak melakukan sesuatu dengan mengancamnya,memarahinya atau memukulnya dan sbgnya.Ceritakan padanya dahulu kisah2 Rasulullah s.a.w,tunjukkan padanya betapa sayangnya Rasulullah kepadanya dan ummahnya.Bile rasa anak kita itu sudah ke tahap peringkat ‘kenal Rasulullah’,Baru mulakan MISI dalam memperlengkapkan anak dgn amalan2 zahir.Bile menyuruh sesuatu…kaitkan kalam kita itu dgn Rasulullah.Ia lebih mudah untuk bergerak dgn sendirinya tanpa perlu dipaksa.

Misalannya…’Rasulullah tak buat begitu tau‘.Jangan terus kata…’nanti masuk neraka!’…’nanti Allah potong lidah tau‘(hehe..lagi2 kaalu anak kecil itu cakap bohong).Rasulullah kan diutuskan sbg Rahmat buat sekalian alam???kenapa kita perlu takut2kan anak kita dengan ancaman2 sedemikian?Malah,tunjukkan pada anak kita tentang Rahmatnya Islam dgn kehadiran Rasulullah s.a.w(sollu ‘alaihi!)

And it applies to ALL yang bergelar Pendaie.
Kalau dengan masyarakat,Jangan terus kata…’Itu haram!!‘…’Perbuatan itu dilaknat Allah s.w.t!!‘Malah dekati jiwa2 yg kita temui itu pada Rasulullah terdahulu…barulah sampai ke jalan NYA.Setiap ceramah atau apa2 yg diperbualkan,selitkan kalam itu dgn kisah Rasulullah.Sbb manusia itu secara tabiinya suka pada cerita.Dan tiada cerita yang paling hebat dan istimewa kecuali kisah2 Rasulullah s.a.w.

Dan begitulah Sunnatullah…Untuk sampai jalan ke Allah itu,perlu melalui RasulNYA.Itulah Adab yg diajarkanNYA melalui Rasulullah s.a.w yang telah disebutkan dalam surah Alkahfi antara Nabi Allah Musa dan sayidina khidhir Alaihimassalam.

WAllahu Wa Rasuluhu ‘alam…

Habib..
Tarbiyahmu,
Mengingatkan kami pada Rasulullah,
Yang,
Senikmat-nikmat tarbiyah itu,
Adalah Tarbiyahnya Rasulullah..

Tarbiyahmu itu,
Membuatkan kami dapat merasai,
Bagaimana para sahabat itu,
Begitu mencintai Rasulullah…
Sehinggakan jika sehari tidak melihat,
Berlinangan air mata mereka,
Kerana mendambakan melihat wajahnya yang begitu bercahaya.

Habib,
Apabila engkau menyifatkan Rasulullah,
Hati yg mendengar ini,
Membuat kami tak sabar lagi,
Ingin bertemu dengan Rasulullah,
Sehinggakan hati ini berkata,
Ya Allah,
Cukuplah Engkau Kurniakan Rasulullah buat kami,

Habib,
Nasihat mu sentiasa terdengar di telinga ini,
Seolah-olah dikau itu disamping kami,
Yang Walau jauh beribu batu,
Dan Kini,
Ku fahami erti kekata mu ini,
‘Berapa ramai yang hadir tapi ghaib,
Dan berapa ramai yang ghaib tapi hadir’.

JazaAllahu ‘anna khairal jazak murabbina AlHabib Umar Ibn Hafiz….

Ya Allah,
Temukan kami pada mereka yang menunjukkan ke JalanMU,
Yang tarbiyahnya menurut tarbiyah KekasihMU….

http://almaarif87

« Kiriman-Kiriman Berikutnya - Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 686 other followers