Menuntut ilmu

Ditulis oleh Admin di/pada 1 Nopember 2008

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad

Saya berpesan hendaknya kamu selalu berusaha dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu yang berguna, dengan cara membaca, menelaah buku-buku ataupun berdiskusi untuk mencapai hasil. Jangan sekali-kali meninggalkan upaya itu karena malas atau bosan, ataupun karena perasaan takut sekiranya kamu nanti tidak mampu mengamalkan ilmumu.

Dan hendaklah kamu dalam hal ini selalu memperbaiki niatmu dan bermawas diri. Jangan segera puas hati dengan merasa telah cukup berhasil, sampai kamu benar-benar menguji dirimu sendiri. Selanjutnya berupayalah sungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang telah kamu ketahui, serta mengajarkannya kepada siapa yang belum mengetahuinya, baik diminta ataupun tidak.

Apabila setan membisikkan kepada kamu, “Janganlah mengajar sebelum kamu benar-benar menjadi alim yang luas ilmunya”, maka katakanlah kepadanya, “Kini aku apabila ditinjau dari apa yang telah kuketahui adalah alim dan karenanya wajib untuk mengajarkannya kepada orang lain. Sedangkan apabila ditinjau dari apa yang belum kuketahui, maka aku ini seorang pelajar yang wajib belajar dan menuntut ilmu”. Ini tentunya berkenaan dengan ilmu yang wajib dipelajari. Adapun selebihnya, tak apalah jika kamu pelajari juga.

Mengajarkan ilmu merupakan amal ibadah yang besar pahalanya, sepanjang diiringi dengan niat yang baik yang dasarnya karena Alloh semata-mata, bukan karena sesuatu lainnya, tanpa sedikit pun niat untuk meraih harta ataupun kedudukan.

Hendaklah kamu secara konsisten menelaah buku-buku para ulama terdahulu, terutama para tokoh sufi, dan memperhatikan apa yang ada didalamnya. Karena disitu terhimpun banyak petunjuk khusus tentang bagaimana mengenal Alloh, serta berbagai bimbingan tentang cara-cara perbaikan niat, keikhlasan dalam beramal, pendidikan jiwa dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat, yang tentunya akan menuntun kearah keberuntungan dan keselamatan.

Dan tiada yang enggan memperhatikan dan membaca buku-buku seperti itu kecuali orang-orang yang sudah buta mata hatinya atau gelap jiwanya. Walaupun demikian sekiranya waktumu sangat terbatas sehingga tidak cukup untuk mengkaji buku-buku itu secara keseluruhan, maka khususkanlah pengkajianmu pada buku-buku karangan Al-Imam Al-Ghozali. Karena itulah yang paling banyak manfaatnya, paling lengkap isinya dan paling menarik susunan kata-katanya.

[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Ratib al-Haddad

Ratib al-Haddad

 

Amalan peninggalan Imam al-Haddad rhm. yang terkenal dan banyak diamal orang kita di rantau sini, bahkan di seluruh pelusuk dunia Islam. Amalan yang berkat ini ialah ratib beliau yang terkenal dengan panggilan “Ratibusy Syahiir” atau “Ratibul Haddad“. Ratib ini telah banyak diamal oleh para ulama kita terdahulu dan posting aku kali ini hanya untuk mengkhabarkan beberapa nukilan ulama kita di Nusantara ini berhubung Ratibul Haddad. Aku mulakan dengan tulisan ulama terbilang yang paling produktif menulis iaitu Tok Syaikh Daud bin ‘Abdullah al-Fathani. Di mana dalam “Kaifiyyah Khatm al-Quran” pada halaman 256 – 260, beliau memuatkan Ratibul Haddad sepenuhnya dan memberi pengenalan ratib ini dalam bahasa ‘Arab (maaflah aku masih tak dapat nak tulis dalam font Arabic, masih tak tahu apa penyakitnya) yang bererti: “Inilah ratib Tuanku Wali yang ‘arif billah, Imam ahlillah, asy-Syaikh al-Kabiir pada jalan Allah, Quthub rahaa-ddin, ‘Ayn a’yaanish Shiddiiqiin as-Sayyid ‘Abdillah bin ‘Alawi bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdullah yang dikenali sebagai al-Haddad Ba ‘Alawi al-Husaini…..” Dan pada halaman 261, Tok Syaikh Daud menukilkan satu faedah bahawa Sayyidina al-Imam Ahmad bin Zain mendengar daripada sebahagian orang sholeh dan ahli ilmu menyatakan yang Imam al-Haddad berkata:-

Bahawasanya sesiapa yang membaca ratib ini teristimewa lafaz tahlilnya dengan adab, hudhur hati, yakin dan niat (ikhlas bertaqarrub kepada Allah) dan menyempurnakan tahlilnya 1,000 kali, nescaya akan terzahir baginya sesuatu daripada segala nur milik Allah ta`ala.

Syaikh Ahmad bin Muhammad Kasim ulama kelahiran Jelebu, Negeri Sembilan pada tahun 1901M dan kembali ke rahmatullah pada tahun 1943. Menuntut ilmu ke Makkah al-Musyarrafah dan akhirnya membuka madrasah “al-Mubtadi` li Syari`ah al-Musthofa al-Hadi” atau madrasah “Nur ad-Diniyyah” di Melaka. Di madrasahnya Ratibul Haddad dijadikan wirid tetap dibaca setiap malam.

Tuan Guru Haji Muhammad Sulum @ Sulung al-Fathani (1895M – 1954M) pula menukilkan Ratibul Haddad dalam khatimahnya bagi karangannya “Gugusan Cahaya Keselamatan” di mana sebagai pengenalannya beliau menulis:-

“Kenyataan wirid yang sangat berkat dunia dan akhirat bagi waliyullah yang besar Habib ‘Abdullah al-Haddad dan ratib baginya.”

Bahkan ramai lagi ulama kita yang menjadikan Ratibul Haddad ini sebagai pakaian mereka seperti al-’Alim al-’Allaamah asy-Syaikh Muhammad Husein bin Abdul Lathif al-Fathani yang dikenali sebagai Tok Kelaba al-Fathani dan juga ulama terbilang Acheh Darus Salam, asy-Syaikh Teungku Hasan Krueng Kalee yang empunya kitab berjodol “Risalah Lathifah fi adabi adz-dzikri wa at-tahlil wa kaifiyyati tilaawati ash-Shomadiyyah ‘ala thoriqati Quthubil Irsyad al-Habib ‘Abdullah al-Haddad“.

Sebagai penutup, aku nukilkan di sini artikel berjodol “Syarh Ratib al-Haddad – Dari Yaman ke Dunia Melayu” karangan Fadhilatul Ustaz Wan Mohd. Shoghir bin Wan Abdullah al-Fathani (mudah-mudahan Allah memanjangkan usia beliau serta memanfaatkannya bagi agama dan umat).

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Hati yang keras dan lalai

Hati yang keras dan lalai

Ditulis oleh Admin di/pada 23 Nopember 2008

Diasuh oleh : Ustadzah Bintu Agil Al-Khirid

Waspadalah dari hati yang keras (qoswah)!. Yakni kerasnya hati dan membeku sehingga nasihat pun tidak berpengaruh. Jika kematian disebut, ia tak merasa takut atau ngeri, begitu pula jika mendengar janji-janji Allah dan ancaman tentang keadaan akhirat.

Rasulullah SAW bersabda,

“Sesuatu yang paling jauh dari Allah Ta’ala adalah hati yang keras.”

Rasulullah SAW juga bersabda,

“Termasuk dari sesuatu yang celaka adalah 4 perkara : hati yang keras, mata yang beku, cinta dunia dan panjang angan-angan.”

Beliau menambahkan,

“Ketahuilah, Allah tidak akan menerima doa dari hati orang yang lalai.”

Hati yang lalai adalah hati yang tidak sabar dan tidak mau tahu ketika diperingatkan karena keasyikannya bekerja dan bermain dengan keindahan dunia dan hawa nafsu.

Firman Allah SWT,

“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri, penuh rasa takut, tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”  (QS. 205:7)

Allah melarang Rasul-Nya untuk tidak menjadi orang yang lalai, sebagaimana Dia melarang untuk tidak mentaati orang-orang yang lalai atau pun mengikuti jejak mereka.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya lalai dari mengingat Kami serta memperturutkan hawa nafsunya, dan keadaannya itu melampaui batas.”  (QS. 18:2 8)

Orang-orang yang dianggap lalai jika :

  • Membaca Al-Qur’an atau mendengarnya tetapi tidak merenungkan maknanya, tidak mengikuti perintah dan larangannya. Begitu pula hadits Rasulullah SAW dan ucapan para Salafus Sholih ra.
  • Tidak mengingat mati dan hal-hal sesudah mati apakah ia tergolong ahlus sa’adah (orang yang bahagia) atau ahlus syaqowah (orang yang celaka), dan tidak memikirkannya.
  • Tidak sering bergaul dengan ulama-ulama yang mengingatkannya tentang agamanya, menyadarkannya tentang kehidupan yang abadi, nikmat-nikmat Allah, janji dan ancaman-Nya.

Jika ia tidak mendapatkan alim ulama, seharusnyalah buku-buku para alim ulama tersebut bisa sebagai pengantinya. Insya Allah tidak akan pernah dunia ini kosong dari dari para alim ulama, meskipun kerusakan jaman telah merata.

“Senantiasa segolongan dari umatku yang berdiri teguh diatas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menentangnya, hingga tiba ketentuan dari Allah SWT.”

[Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

Akhlak kepada sesama muslim

Ditulis oleh Admin di/pada 29 Nopember 2008

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad

Saya berpesan hendaklah kamu selalu meniatkan yang baik-baik saja bagi seluruh kaum muslimin. Cintailah mereka apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri, dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, dan tidak menyukai sesuatu yang menimpa mereka sebagaimana kamu tidak menyukai hal itu menimpa dirimu sendiri. Berdialoglah dengan mereka dengan ucapan-ucapan yang baik yang tidak mengandung pelanggaran (atas hak mereka). Ucapkan salam kepada mereka kapan saja kamu bertemu mereka. Bersikaplah selalu rendah hati, lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap mereka. Tunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada siapa-siapa yang berperilaku baik, dan upayakanlah agar memaafkan siapa-siapa yang berperilaku buruk. Berdoalah bagi mereka yang berbuat dosa agar Alloh SWT memberikan kemudahan kepada meraka untuk segera bertaubat. Dan berdoalah bagi mereka yang telah berbuat kebaikan agar Alloh SWT menganugerahkan sifat istiqomah atau konsisten dalam melakukan kebaikan-kebaikan sampai akhir hayat.

Peliharalah hatimu masing-masing dari niatan atau bisikan-bisikan hati yang tercela, dan bersihkanlah dari noda-noda akhlak yang buruk. Berupayalah mencegah keterlibatan setiap anggota tubuhmu dalam kegiatan bermaksiat atau berdosa. Lebih-lebih lagi dalam hal menjaga dan memelihara lidah dari pembicaraan-pembicaraan yang terlarang atau sia-sia, terutama yang bersifat umpatan atau gunjingan terhadap sesama muslim. Begitu besar dosa ghibah (pergunjingan) sehingga dinyatakan bahwa dosanya lebih besar daripada dosa perzinaan.

Dan jika sampai ke pendengaranmu tentang suatu perbuatan buruk dari seseorang di antara mereka (kaum muslimin), sedangkan kamu mampu untuk menasehatinya, maka lakukanlah. Atau jika tidak, jangan sekali-kali menyebutkan tentang keburukannya itu di hadapan orang lain, sehingga dengan demikian kamu telah melakukan dua keburukan sekaligus, yaitu pertama dengan tidak memberikannya nasehat, dan kedua mengucapkan sesuatu yang buruk berkenaan dengan pribadi seorang muslim.

Saya berpesan hendaknya kamu tidak merasa dirimu lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hatimu, sadarilah segera betapa kamu sudah seringkali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga seorang yang berakal sehat pasti mengetahui bahwa dirinya sendiri penuh dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaknya ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikitpun.

Tidak sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu ada padanya. Sebab dari apa yang kamu ketahui dari saudara-saudaramu adalah berdasarkan prasangka dan dugaan semata-mata. Sedangkan prasangka adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan. Disamping itu mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-nyiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembah syahwat hawa nafsu.

[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Bersahabat dengan orang baik
Ditulis oleh Admin di/pada 20 Februari 2008

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad

Usahakanlah kalian selalu bersahabat dengan orang-orang yang berakhlak mulia agar dapat meneladani perilaku baik mereka dan sekaligus bisa mendapatkan keuntungan dari perbuatan dan ucapan mereka. Biasakanlah pula untuk berkunjung kepada mereka yang masih hidup dan berziarah kepada mereka yang telah tiada disertai dengan rasa penuh keikhlasan, penghormatan dan penghargaan. Dengan demikian kalian akan mendapatkan manfaat dan limpahan barokah dari Allah melalui keberadaan mereka.

Pada jaman ini memang sedikit sekali manfaat yang dapat diperoleh melalui orang-orang yang sholeh. Hal ini dikarenakan kurangnya penghormatan dan lemahnya husnudz dzon terhadap mereka. Itulah sebabnya kebanyakan orang di jaman sekarang tidak memperoleh barokah dari mereka itu. Orang jaman sekarang tidak bisa lagi menyaksikan berbagai peristiwa menakjubkan yang muncul karena kedudukan mereka yang telah memperoleh karomah dari Allah SWT. Merekapun mengira bahwa pada jaman ini sudah tidak ada lagi orang-orang yang disebut sebagai wali. Dugaan yang demikian itu tidaklah benar sama sekali.

Alhamdulillah para wali itu masih cukup banyak, yang tampak maupun yang tersembunyi. Namun tak ada yang bisa mengenali identitas mereka itu kecuali orang-orang yang telah mendapatkan anugerah cahaya kebenaran dan kebesaran Allah dalam hatinya dan mereka selalu berhusnudz dzon kepada mereka.

Hindarilah bergaul dengan orang-orang yang berakhlak buruk dan bermoral rendah. Jauhilah pergaulan dengan mereka, karena dengan menjadikan mereka itu sahabat kalian, maka hanya kerugian dan malapetakalah yang akan kalian alami di dunia maupun di akherat. Pergaulan seperti itulah yang membengkokkan sesuatu yang lurus, dan yang lebih parah lagi mengakibatkan rusaknya hati dan agama. Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh seorang penyair,

Orang yang berkudis takkan menjadi sehat kembali akibat bergaul dengan orang yang sehat,
namun orang yang sehat gampang tertular penyakit akibat bergaul dengan orang yang berkudis.

[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Seni berdakwah

Seni berdakwah

Ditulis oleh Admin di/pada 30 Januari 2008

Kalam Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz

Seorang dai yang menyeru ke jalan Allah Ta’âla hendaknya menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat dengan cara yang mudah dan sederhana. Hendaknya ia memilih tema yang sesuai bagi mereka, memilih kalimat yang tidak membangkitkan nafsu, tapi yang mendekatkan mereka kepada Allah. Hendaknya ia memilih kalimat yang dapat menyucikan nafs dengan cepat, bukannya ucapan yang memberatkan mereka, yang mereka anggap berat dan sulit. Seorang dai seharusnya mendahulukan yang lebih penting menurut waktu, zaman dan keadaan masyarakat saat itu. Ia harus memperhatikan masalah yang lebih besar dan penting, memperhatikan semua yang fardhu dan kewajiban-kewajiban utama lainnya.

Dakwah dengan tema di atas akan sukses jika metode yang digunakan tidak menyebabkan orang lari dan tidak mempersulit. Dakwah sebaiknya dilakukan dengan memberikan himbauan (targhib) dan juga ancaman (tarhib), sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis.

Jika berdakwah kepada para pemula, bila mengajak mereka untuk mengerjakan kebaikan, jangan sekali-kali memaksa, jangan menyampaikan permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipahami dan dianggap berat oleh mereka. Sebab, sesuai tabiatnya, nafs akan lari jika merasa keberatan. Dan jika nafs lari, ia akan menentang dan memusuhi kebaikan, kemudian mencari pembenaran (justifikasi) bahwa perbuatannya sesungguhnya baik. Jika pemula memandang ucapan dai tersebut keras, terlalu berat dan tidak mampu ia laksanakan, maka nafs-nya akan memberontak.

Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkatan pemikiran (pendidikan) mereka. Jika berbicara dalam suatu majelis yang dihadiri oleh orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, jangan berkata, “Celakalah orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, nerakalah tempat mereka.” Ucapan semacam ini akan membangkitkan hawa orang yang durhaka tadi sehingga ia akan menentangnya. Akan tetapi hendaknya kita berkata, “Allah Ta’âla berfirman :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al-Isra, 17:23)

“Perhatikanlah, bagaimana Allah yang Maha Mulia memberikan wasiat kepada kita, bagaimana Ia menunjukkan kedudukan kedua orang tua. Orang tua memiliki hak dan kedudukan yang agung. Orang yang berbakti kepada keduanya akan memperoleh berbagai kebaikan. Nabi telah memperingatkan kita agar tidak durhaka kepada kedua orang tua. Beliau bersabda begini dan begini.” Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka akal dan nafs akan mendengarkan dan nafs tidak akan memberontak.

Dalam ucapan kaum sholihin dan guru-guru kita, banyak kita temukan ucapan-ucapan yang keras, tapi masyarakat menerimanya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang agung. Jika ucapan itu muncul dari orang lain, masyarakat tidak akan menerimanya dan akan menganggap terlalu berat untuk dilaksanakan. Namun, karena mereka yang mengucapkannya, maka masyarakat mau menerimanya.

Sebagai dai yang masih awam, kita jangan menempatkan diri kita di kedudukan kaum khowwâsh, seperti Habib Alwi bin Syihab, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri, ayahku Sayid Muhammad bin Salim atau kaum sholihin terkemuka lainnya. Mereka kadang kala menyampaikan ceramah-ceramahnya dengan keras. Meskipun demikian, ucapan mereka meninggalkan kesan dalam hati pendengarnya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang mendukung dan masyarakat yang mau menerimanya. Adapun orang-orang seperti kita ini, sebelum berbicara kita wajib memperhatikan dan menyederhanakan pesan yang akan kita sampaikan. Jika ada kata-kata yang sulit, hendaknya kita ganti dengan kata-kata yang mudah dipahami. Sebagai contoh, jika hendak mencegah seseorang dari memutuskan hubungan kekerabatan, jangan berkata, “Di majelis ini ada seseorang yang memutuskan hubungan kekerabatan.” Atau berkata, “Dewasa ini tidak seorang pun yang tidak memutuskan hubungan kekerabatan. Maka mereka semua terkena laknat.”

Meskipun ucapan ini mengandung kebenaran, tapi masyarakat tidak akan menerimanya. Kita tidak boleh berkata demikian, tetapi sebaiknya kita berkata, “Marilah kita perhatikan kerabat kita, marilah kita raih pahala lewat mereka, marilah kita usahakan agar hubungan kekerabatan menjadi sebuah nikmat. Jika kalian mau menundukkan nafs lalu menyambung tali silaturahmi dan berbuat baik kepada mereka, maka kabar gembira bagi kalian, kalian akan memperoleh umur yang panjang dan rezeki melimpah. Sebab, Nabi saw bersabda :

“Silaturahmi memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kalian hendaknya menggunakan kalimat-kalimat seperti ini. Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka semua orang akan menerimanya. Ucapan kalian menjadi baik dan mudah diterima oleh nafs. Sebenarnya tujuan orang menyampaikan dakwah dengan keras adalah juga untuk menyeru manusia ke jalan Allah, tapi caranya tidak benar. Karena itulah Allah berfirman kepada Nabi kita Muhammad saw :

“Karena rahmat Allah-lah kamu dapat berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS Ali Imran, 3:159)

[Diambil dari Manhaj Dakwah, cetakan I, 2001, penerbit Putera Riyadi Solo]

Tidak berbangga diri

Ditulis oleh Admin di/pada 6 Agustus 2008

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad

Saya berpesan hendaknya kamu tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hatimu, sadarilah segera betapa kamu sudah seringkali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga seorang yang berakal sehat pasti mengetahui bahwa dirinya sendiri penuh dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaknya ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikitpun.

Tidak sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu ada padanya. Sebab dari apa yang kamu ketahui dari saudara-saudaramu adalah berdasarkan prasangka dan dugaan semata-mata. Sedangkan prasangka adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan. Disamping itu mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-nyiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembah syahwat hawa nafsu.

Sungguh betapa perlunya bagi setiap individu pada jaman ini untuk memberikan dalih-dalih pemaafan serta alasan-alasan pembenaran bagi orang lain, mengingat langkanya orang-orang yang benar-benar jujur dan istiqomah, disamping banyaknya berita-berita bohong yang disebarluaskan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab.

Saya juga berpesan agar kamu selalu bersikap tawadhu’ (rendah diri). Sikap tawadhu adalah sikap yang terpuji pada segala kondisi, kecuali dalam satu hal saja, yaitu ber-tawadhu di hadapan para ahli dunia (penghamba dunia) dengan tujuan ingin mendapatkan sesuatu dari dunia mereka atau harta benda mereka. Sedangkan sikap takabur (angkuh dan tinggi hati) adalah sikap yang sangat tercela pada segala kondisi, kecuali dalam hal menghadapi orang-orang zalim yang terus-menerus berbuat kezaliman. Sikap yang demikian itu demi menunjukkan teguran atau protes keras terhadap mereka, asalkan keangkuhan seperti itu hanya tampak secara lahiriah saja, sementara hati kita kosong dari sifat seperti itu.

[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Mengapa harus ke Yaman -Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

Mengapa harus ke YamanHabib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalatul Muawanah mengatakan, ‘Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negerinya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat. Mengapa Imam al-Muhajir memilih Hadramaut yang terletak di Negara Yaman sebagai tempat hijrah ? Imam al-Muhajir memilih Hadramaut sebagai tempat hijrahnya, dikarena beberapa faktor, pertama peristiwa hijrahnya al-Husein dari Madinah ke Kufah, dimana Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika hendak berangkat ke Kufah. Ibnu Abbas menasehati agar beliau pergi ke Yaman karena di negeri itu para penduduknya menyatakan siap untuk mendukung Imam Husein. Sejarah membuktikan bahwa keturunan Imam Husein sampai saat ini mendapat dukungan di sana. Kedua, keistimewaan penduduk Yaman yang banyak disebut dalam alquran dan hadits. Allah swt berfirman : Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas (pemeberian-Nya) lagi maha mengetahui.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Dari Jabir, Rasulullah saw ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah saw, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Ketika Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 27 yang berbunyi : Dan serukanlah kepada umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang berbagai jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan yang jauh. Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim as, setelah menerima wahyu tersebut beliau pergi menuju Jabal Qubays dan menyeru untuk menunaikan haji. Dan orang pertama yang menjawab dan datang atas seruan Nabi Ibrahim as adalah orang-orang’. Allah swt berfirman dalam surah al-Nashr ayat 2 : ‘Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan beramai-ramai‘. Berkata Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya dari Ikrimah dan Muqatil, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia pada ayat itu adalah orang-orang Yaman, mereka berdatangan kepada Rasulullah untuk menjadi kaum mu’minin dengan jumlah tujuh ratus orang’.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Dari Ibnu Abbas berkata : Nabi kita ketika berada di Madinah berkata, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang bantuan Allah swt dan kemenangannya dan telah datang ahlu Yaman. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah ahlu Yaman itu ? Rasulullah saw menjawab : Suatu kaum yang suci hatinya dan lembut perangainya. Iman pada ahlu Yaman, kepahaman pada ahlu Yaman dan hikmah pada ahli Yaman’.<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari Rasulullah saw berkata, ‘Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi’.<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, ‘Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini’. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah saw, ‘Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman‘.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Faktor lain yang menjadi pertimbangan Imam al-Muhajir hijrah ke Yaman dikarenakan masyarakat Yaman mempunyai hati yang suci dan tabiat yang lembut serta bumi yang penuh dengan keberkahan, sehingga Rasulullah saw memerintahkan hijrah ke negeri Yaman jika telah terjadi fitnah. Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi saw bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi saw bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–> Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah saw, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi saw : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencitaiku, sispa yang membenci mereka berarti telah membenciku’

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

~Rahsia Tarbiyah Habib Umar Ibn Hafidz~

)

~Rahsia Tarbiyah Habib Umar Ibn Hafidz~

Bismillah
Allhumma Solli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi…

Sebelum dimulakan,ingin panjatkan penuh kesyukuran kepadaNYA kerana memberi peluang pada hamba2NYA yang Dhoif ini merasakan cebisan tarbiyah habib.

Dari apa yang dapat kami rasai…

Pertama sekali,sebelum beliau sibukkan kami dengan amalan2 zahir,beliau tanamkan terdahulu benih2 cinta terhadap Rasulullah s.a.w ke setiap jiwa anak didiknya.Kalamnya itu takkan terlepas menyebut tentang Rasulullah s.a.w.Kalau akhir majlis ilmunya(rowhah),Doa yg dibacakan juga pasti ada kaitan antara hubungan kami dan Rasulullah s.a.w .Ini supaya,beliau hendak kami rasakan that we only belong to Allah n Rasulullah s.a.w.Tiada lain selain itu.

Bila sudah tumbuh benih2 cinta tersebut,Habib tidak perlu banyak kalam dalam menyuruh kami melakukan amalan sekian sekian.Cukup beliau katakan…‘Rasulullah buat sekian sekian’,’Rasulullah tidak pernah tinggalkan perkara tersebut’
Hanya dengan kekata-kata tersebut…dapat menggerakkan hati yang mendengar untuk mengamalkan apa yang ditunjukkan.Subhanallah!

Tarbiyahnya Rasulullah s.a.w terhadap para sahabatnya…

Bagaimanakah terungkap kekata ini dari mulut para sahabat?
bi abi anta wa ummi ‘~Sayidina Abi Bakar As-Siddiq

nafsi fida aka Ya Rasulallah

Ya Rasulallah,Engkau lebih ku cintai dari diriku sendiri‘~maksud dari kalam Sayyidina Umar AlkHattab

Keluarnya kalimah2 Cinta ini,tidak lain kecuali setelah mereka mengenali dan bersama dengan Rasulullah s.a.w.Cuba lihat Sayyidina Umar…pada zaman jahiliyahnya,Beliau terkenal sbg seorang yang paling keras menentang Islam.Tetapi bagaimana Setelah beliau bersama Rasulullah s.a.w???Sekeras-keras hatinya dan nafsunya…bagaimana beliau tundukkan dan serahkan penuh buat Rasulullah s.a.w??Ini tiada lain kecuali sbb CINTA bukan???
ada kekata ini ‘lau arafuhu lahabbuhu’(jika kamu mengenalinya,kamu pasti akan mencintainya)Sollu alaihi!

Dan begitulah Tarbiyahnya Rasulullah…Rasulullah tanamkan CINTA itu dihati para sahabatnya dgn akhlaqnya terdahulu tanpa perlu banyak berkata dan kesannya…para sahabatnya sangat berlumba-lumba untuk mengikuti setiap apa yang Rasulullah lakukan.Seperti kisah sayyidina Abdullah Ibn Umar AlkKhattab,beliau itu tidak jalan ke sebuah jalan itu kecuali jalan tersebut telah dilalui oleh Rasulullah s.a.w.Allah…

Dan kita,sbg pendaie,Kita jangan sibukkan orang2 yang ingin kita seru itu dgn amalan2 zahir terdahulu.Malah,pupukkan kecintaan kepada Rasulullah di setiap hati yang kita temui.

Panduan buat Seorang yang bergelar IBU

Kalau sbg ibu,sejak kecil lagi,tarbiyah anak dgn cara sedemikian.Jangan memaksa anak melakukan sesuatu dengan mengancamnya,memarahinya atau memukulnya dan sbgnya.Ceritakan padanya dahulu kisah2 Rasulullah s.a.w,tunjukkan padanya betapa sayangnya Rasulullah kepadanya dan ummahnya.Bile rasa anak kita itu sudah ke tahap peringkat ‘kenal Rasulullah’,Baru mulakan MISI dalam memperlengkapkan anak dgn amalan2 zahir.Bile menyuruh sesuatu…kaitkan kalam kita itu dgn Rasulullah.Ia lebih mudah untuk bergerak dgn sendirinya tanpa perlu dipaksa.

Misalannya…’Rasulullah tak buat begitu tau‘.Jangan terus kata…’nanti masuk neraka!’…’nanti Allah potong lidah tau‘(hehe..lagi2 kaalu anak kecil itu cakap bohong).Rasulullah kan diutuskan sbg Rahmat buat sekalian alam???kenapa kita perlu takut2kan anak kita dengan ancaman2 sedemikian?Malah,tunjukkan pada anak kita tentang Rahmatnya Islam dgn kehadiran Rasulullah s.a.w(sollu ‘alaihi!)

And it applies to ALL yang bergelar Pendaie.
Kalau dengan masyarakat,Jangan terus kata…’Itu haram!!‘…’Perbuatan itu dilaknat Allah s.w.t!!‘Malah dekati jiwa2 yg kita temui itu pada Rasulullah terdahulu…barulah sampai ke jalan NYA.Setiap ceramah atau apa2 yg diperbualkan,selitkan kalam itu dgn kisah Rasulullah.Sbb manusia itu secara tabiinya suka pada cerita.Dan tiada cerita yang paling hebat dan istimewa kecuali kisah2 Rasulullah s.a.w.

Dan begitulah Sunnatullah…Untuk sampai jalan ke Allah itu,perlu melalui RasulNYA.Itulah Adab yg diajarkanNYA melalui Rasulullah s.a.w yang telah disebutkan dalam surah Alkahfi antara Nabi Allah Musa dan sayidina khidhir Alaihimassalam.

WAllahu Wa Rasuluhu ‘alam…

Habib..
Tarbiyahmu,
Mengingatkan kami pada Rasulullah,
Yang,
Senikmat-nikmat tarbiyah itu,
Adalah Tarbiyahnya Rasulullah..

Tarbiyahmu itu,
Membuatkan kami dapat merasai,
Bagaimana para sahabat itu,
Begitu mencintai Rasulullah…
Sehinggakan jika sehari tidak melihat,
Berlinangan air mata mereka,
Kerana mendambakan melihat wajahnya yang begitu bercahaya.

Habib,
Apabila engkau menyifatkan Rasulullah,
Hati yg mendengar ini,
Membuat kami tak sabar lagi,
Ingin bertemu dengan Rasulullah,
Sehinggakan hati ini berkata,
Ya Allah,
Cukuplah Engkau Kurniakan Rasulullah buat kami,

Habib,
Nasihat mu sentiasa terdengar di telinga ini,
Seolah-olah dikau itu disamping kami,
Yang Walau jauh beribu batu,
Dan Kini,
Ku fahami erti kekata mu ini,
‘Berapa ramai yang hadir tapi ghaib,
Dan berapa ramai yang ghaib tapi hadir’.

JazaAllahu ‘anna khairal jazak murabbina AlHabib Umar Ibn Hafiz….

Ya Allah,
Temukan kami pada mereka yang menunjukkan ke JalanMU,
Yang tarbiyahnya menurut tarbiyah KekasihMU….

http://almaarif87
Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Mawlid adh-Dhiyaa-ul Laami`

Mawlid adh-Dhiyaa-ul Laami`

Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim BinHafidz Bin Syaikh Abu Bakar bin Salim, ulama kontemporari yang sudah tidak asing lagi di rantau kita. Karya mawlid beliau mula mendapat tempat dalam masyarakat berkat kegigihan anak – anak murid beliau menyebarkannya di sini. Tambahan pula, karya beliau yang diberi nama “adh-Dhiyaa-ul Laami’” disusun dengan gaya nazam yang indah. Walaupun ringkas tetapi kandungan sarat dan padat dengan sirah serta pujian kepada Junjungan Nabi SAW. Karya ini menambahkan lagi kemeriahan kutubkhanah karya-karya mawlid yang disusun oleh para pencinta Junjungan Nabi SAW. Mawlid ini amat mudah dan ringkas untuk diamalkan, tak sampai pun 1 jam jika dibaca. Mudah-mudahan ianya dapat dijadikan amalan bagi menyuburkan lagi kecintaan serta kerinduan kita kepada Junjungan Nabi SAW dan moga ianya juga menghilangkan karat di hati-hati kita. Ingatlah akan pesanan yang mulia Habib ‘Umar dalam mawlidnya tersebut:-

dhiya

Demi Allah, berulang-ulanglah menyebut sifat Nabi Muhammad;
Agar hilang daripada segala hati akan kekaratannya

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Habib Umar bin Hafidz Singa Podium

Habib Umar bin Hafidz Singa Podium
Tuesday, 24 February 2009 12:39
Adda’i ilallah Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syaikh Abubakar bin Salim dikenal memiliki kelebihan dalam menyampaikan nasihat-nasihatnya, sehingga menyentuh hati orang yang mendengarkannya. Dalam setiap ceramahnya ia selalu mengingatkan jama’ah agar selalu memegang teguh dan meneladani ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW dan para salafush shalih.

Sosoknya tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Pondok Pesantren Darul Musthafa, yang didirikannya di Tarim, Hadhramaut. Pesantren ini telah melahirkan dai-dai muda yang menyebar di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Buku ini dilengkapi 118 foto eksklusif. Mutiara nasihat yang terkandung dalam buku ini, insya Allah, akan menyejukkan hati siapa pun yang membacanya

Oleh Abdul Qadir Umar Mauladdawilah dan Abdul Qadir Ahmad

Mauladdawilah

Penerbit: Karisma Publishing

Harga: Rp 25.000

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2010

Mutiara kata – Kalam Al-Habib Umar Ibn Hafidz

Mutiara Al-Habib Umar Ibn Hafidz @ Majlis penutup Dowroh 2008:

‘Tujuan Para Ahli Kheir(orang yang membuat kebaikan) adalah untuk mendekatkan dirinya kepada Allah s.w.t.Dan Orang yang paling dekat dengan Allah adalah orang yang paling dekat dengan (Sayyidina) Muhammad di akhirat nanti.Sesungguhnya (Sayyidina) Muhammad telah memberi kita berita ini(Hadis):’Sesungguhnya orang yang paling LAYAK bersama ku adalah mereka yang paling banyak berselawat keatas ku ‘.

Dan bersama berita ini,ia memberi khabar kepada kita bahawa orang yang banyak berselawat ke atasnya,hatinya bersih,sirnya bersinar,batinnya berkelipan hingga dia(orang yang banyak berselawat) itu menjadi diantara orang yg paling mulia peribadinya.

‘Sesungguhnya Orang yang paling DEKAT kedudukannya bersama ku adalah mereka yang paling mulia akhlaknya(Hadis).Dan tidak yang paling DEKAT itu kecuali yang paling LAYAK.Ianya adalah sama.Orang2 yang banyak berselawat keatasnya adalah mereka yang memiliki peribadi yang mulia,hidup dalam dirinya itu akhlak2 Rasulullah (sollahu ‘alaihi wa sallam)…

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Sebahagian Dari Nasihat dan Kata-kata Hikmah Habib Umar

Sebahagian Dari Nasihat dan Kata-kata Hikmah Habib Umar
قَالَ فِى شَأنِ دَعْوَةٍ : اَلْوَاجِبُ أنْ نَكُوْنَ كُلُّنَا دَعَاةً وَ لَيْسَ بِوَاجِبٍ اَنْ نَكُوْنَ قُضَاةً اَوْ مُفْتِيَيْنِ (قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِيْ أدْعُوْ اِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أنَا وَ مَنِ اتَّبَعَنِيْ) فَهَلْ نَحْنُ تَبِعْنَاهُ أوْ مَا تَبِعْنَاهُ ؟ فَالدَّعْوَةُ مَعْنَاهَا : نَقْلُ النَّاسَ مِنَ الشَّرِّ اِلَى اْلخَيْرِ وَ مِنَ الْغَفْلَةِ اِلَى الذِّكْرِ وَ مِنَ اْلأدْبَارِ اِلَى اْلإقْبَالِ وَ مِنَ الصِّفَاتِ الذَّمِيْمَةِ اِلَى الصِّفَاتِ الصَّالِحَةِ

Beliau حفظه الله تعالى berkata tentang dakwah: “Yang wajib bagi kita iaitu harus menjadi da’ie dan tidak harus menjadi qadhi atau mufti. (Katakanlah Wahai Muhammad صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku), apakah kita mengikuti Baginda atau tidak? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.

إذَا صَحَّ الْخُرُوْج حَصَلَ بِهِ الْعُرُوْج

Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke darjat yang tinggi.

كُلّ وَاحِدٍ قُرْبُهُ فِى الْقِيَامَةِ مِنَ اْلأنْبِيَاءِ عَلَى قَدْرِ إهْتِمَامِهِ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ

Kedekatan seseorang dengan para anbiya` di hari qiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.

املأ قَلْبَكَ بِمَحَبَّةِ إخْوَانِكَ يَنْجَبِرْ نُقْصَانُكَ وَ يَرْتَفِعْ عِنْدَ اللهِ شَأنَكَ

Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu nescaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah.

مَنْ كَانَ سَيَلْقَي فِي الْمَوْتِ الْحَبِيْبَ فَالْمَوْتُ عِيْدًا لَهُ

Barang siapa menjadikan kematiannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.

مَنْ لَمْ يُجَالِسْ مُفْلِحُ كَيْفَ يُفْلِحُ وَ مَنْ جَالَسَ مُفْلِحَ كَيْفَ لاَ يُفْلِحُ

Barangsiapa yang tidak mahu duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barangsiapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.

الإنْطِوَاءُ فِى الشَّيْخِ مُقَدِّمَةٌ لِلْلإنْطِوَاءِ فِى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ اْلإنْطِوَاءُ فِى الرَّسُوْلِ مُقَدِّمَةٌ لِلْفَنَاءِ فِى اللهِ

Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم merupakan permulaan untuk fana pada Allah

لَمْ يَزَلِ النَّاسُ فِى كُلِّ وَقْتٍ مَا بَيْنَ صِنْفَيْنِ : صِنْفُ سِيْمَاهُمْ فِي وُجُوْهِهِمْ مِنْ أثَرِ السُّجُوْدِ وَ صِنْفُ سِيْمَاهُمْ فِى وُجُوْهِهِمْ مِنْ أثَرِ الْجُحُوْدِ

Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan:

Golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud; dan
Golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.

إنَّ لِلسُّجُوْدِ حَقِيْقَةً إذَا نَازَلَتْ اَنْوَارُهَا قَلْبَ الْعَبْدِ ظَلَّ الْقَلْبِ سَاجِدًا أبَدًا فَلاَ يَرْفَعُ عَنِ السُّجُوْدِ

Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahayanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.

أخْرِجْ خَوْفَ الْخَلْقِ مِنْ قَلْبِكَ تَسْتَرِحْ بِخَوْفِ الْخَلْقِ وَ أخْرِجْ رَجَاءَ الْخَلْقِ مِنْ قَلْبِكَ تَسْتَلِذَّ بِرَجَاءِ الْخَلْقِ

Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada Kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Kholiq.

كَثْرَةُ الصَّفَاطِ وَ كَثْرَةُ الْمِزَاحِ عَلاَمَةٌ خُلُوِّ الْقَلْبِ عَنْ تَعْظِيْمِ اللهِ تَعَالَى وَ عَلاَمَةٌ عَنْ ضَعْفِ اْلإيْمَانِ

Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari dhoifnya iman.

سَبَبٌ مِنْ أسْبَابِ نُزُوْلِ الْبَلاَءِ وَ الْمَصَائِبِ قِلَّةُ الْبُكَائِيْنَ فِى جَوْفِ اللَّيِلِ

Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.

أهْلُ اْلإتِّصَالِ مَعَ اللهِ اَمَْلَئَ اللهُ قُلُوْبَهُمْ بِالرَّحْمَةِ فِى كُلِّ لَحْظَةٍ

Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.

مَا ارْتَقَى اِلَى اْلقِمَّةِ اِلاَّ بْالْهِمَّةِ

Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).

مَا أعْجَبَ اْلأرْضُ كُلُّهَا عِبْرَةٌ أظُنُّ لاَ يُوْجَدُ عَلَى ظَهْرِ اْلأرْضِ شِبْرًا اِلاَّ وَ لِلْعَاقِلِ فِيْهِ عِبْرَةٌ اِذَا اعْتُبَرَ

Alangkah anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mahu mempelajarinya.

خَيْرُ النَّفْسِ مُخَالَفَتُهَا وَ شَرُّ النَّفْسِ طَاعَتُهَا

Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.

مِنْ دُوْنِ قَهْرِ النُّفُوْسِ مَا يَصِلُ الإنْسَانُ اِلَى رَبِّهِ قَطٌّ قَطٌّ قَطٌّ وَ اْلقُرْبُ مِنَ اللهِ عَلَى قَدْرِ تَصْفِيَةِ النُّفُوْسِ

Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.

إذَا انْفَتَحَتِ الْقُلُوْبُ حَصَلَ الْمَطْلُوْبَ

Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.

مَنْ كَانَ لَهُ بِحَارٌ مِنَ الْعِلْمِ ثُمَّ وَقَعَتْ قِطْرَةٌ مِنَ الْهَوَى لَفَسَدَتْ

Barangsiapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawanafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.

Posted by: Habib Ahmad | 4 April 2010

Siapa yang tak menempuh jalan leluhurnya

Siapa yang tak menempuh jalan leluhurnya

Syair Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi

Siapa tak menempuh jalan leluhurnya, pasti ‘kan bingung dan sesat.
Wahai para cucu Nabi, tempuhlah jalan mereka.

Tempuhlah jalan lurus dan jauhilah segala bid’ah.
Pergilah bersama yang mencintai dan mentaati Allah.

Dalam beramal dan menahan diri, teladanilah mereka tapak demi tapak.
Berkat para salafmu, kau ‘kan mendapat banyak manfaat.

Luas, agung dan mulia budi pekerti mereka.
Dalam thoriqohnya, takkan kau dapati perselisihan atau sengketa.

Dengan penuh semangat, beramallah mereka dengan tulus.
Meningkatlah kedudukan mereka, tinggi dan mulia.

Tak mereka diamkan yang haus dalam kehausannya dan yang lapar dalam kelaparannya.
Dengan pekerti luhur, mereka usahakan jalan ‘tuk mengatasinya.

Dengan amal saleh, mereka muliakan masjid dan muka bumi.
Bergegas menyambut seruan manusia yang mereka cintai dan taati.

Yaitu sebaik-baiknya Nabi dan semulia-mulianya pemberi petunjuk dan dai.
Ketika beliau berdakwah kepada mereka, mereka pun mendengarkannya sepenuh hati.

Dengan semangat mereka berusaha ‘tuk segera meraih kedudukan mulia.
Tanpa angin atau layar, perahu pun berangkat berkat mereka.

Tetapi dengan inayah Allah perahu berlayar dengan taat, tak menentang.
Anugrah Allah ini dikhususkan untuk mereka yang patuh, tak membangkang.

Demikianlah ucapanku ini dan yang semisal ini selalu sedap di telinga.
Dengarkan dan pahamilah syair ini, didalamnya terhimpun segalanya.

Hiruplah keharuman ini, karena ia tersebar di antara ahlinya.
Ya Allah, aku datang ke hadirat-Mu dengan suatu maksud dan tujuan.

Aku mengakui kelemahan, ketidaksempurnaan dan ketidakkuasaanku,
maka sempurnakanlah kekuranganku karena ‘ku memang tak sempurna.

Tiada sandaran bagiku kecuali beliau yang keharuman namanya tersebar memenuhi alam semesta,
sebaik-baiknya Nabi yang cahayanya meredupkan segala cahaya.

[Diambil dari Ulama Hadramaut, Al-Habib Umar Bin Hafidz, cetakan I, penerbit Putera Riyadi Solo]

Kata-kata yang lahir dari hati yang ikhlas dan benar akan jatuh ke hati
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz حفظه الله تعالى menyebut di dalam Irsyadatud Da’iyat (kumpulan pelajaran Habib Umar di Darul Zahra’):

Mengenai kesan dari sikap ikhhlas ini, para ulama bercerita tentang al-Imam al-Habib ’Abdullah bin Thohir al-Haddad, yang tinggal di Qaidun. Beliau adalah salah seorang guru kita yang sempat ditemui oleh ulama-ulama besar yang hidup di zaman ini. Beliau pernah bertemu dengan Khidhr di Mekah.

Pada suatu acara maulid di Mekah, berkumpullah para ulama dari timur dan barat; Syam, Mesir, Suriah, Palestin, Hijaz, Maghribi dan lain-lain negara. Mereka semua berpidato. Setelah para ulama berpidato, mereka berkata kepada al-Habib ’Abdullah Thohir al-Haddad: Sekarang giliranmu, wahai Sayyid!

MasyaAllah, mereka yang dari Yaman, Hijaz, Mesir, Syam dan Maghribi telah berpidato, sudah memadai, jawab beliau.

Kami ingin mendengar pidatomu walaupun sedikit, desak mereka. Kata yang lain pula: Wahai Sayyid ’Abdullah, bukankah kau keluar dari rumah untuk berdakwah?

Al-Habib ’Abdullah Thohir al-Haddad bangkit lalu mengangkat kedua tangannya berdoa:

أللهم اهدنا فيمن هديت

Ya Allah, berilah kami petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Kau beri petunjuk

Mendengar doa ini, semua hadirin menangis

وعافنافيمن عافيت

Berilah kami ‘afiat sebagaimana orang yang telah Kau beri ‘afiat

Suasana majlis dipenuhi dengan suara tangisan hadirin.

وتولنا فيمن توليت

Lindungilah kami sebagaimana orang-orang yang telah Kau beri perlindungan

Seorang ulama Mesir bangun lalu berkata: Lihat Sayyid ini, ia mengucapkan kalimat yang kita semua sudah tahu. Setiap hari kita mendengar dan berdoa dengannya [doa qunut]. Namun, dek kerana ucapan itu kelaur dari hati yang shidq (benar) perhatikan kesan yang ditimbulkannya. Tadi ramai orang dari pelbagai negara telah berpidato. Mereka menceritakan keadaan umat-umat terdahulu, derita dan kesulitan yang mereka alami, tetapi tidak seorangpun menangis, dan kita tidak merasakan sedemikian khusyu’. Apa sebabnya? Perhatikanlah keikhlasan hati orang-orang sholeh. Cahaya yang terdapat di dalam hati mereka menyebabkan ucapannya meninggalkan kesan pada kita semua …

Sumber: Manhaj Dakwah terjemahan Habib Novel Muhammad al-Aydarus, terbitan Putera Riyadi, cetakan pertama Dhulhijjah 1421/Maret 2001

« Kiriman-Kiriman Berikutnya - Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 685 other followers