Kebenaran Kisah Karamah Para Wali Dengan Keistimewaannya Yang Luar Biasa
 
 
Bismillahirrahmannirrahim…..Kepada-Nya kita memohon pertolongan. Puji bagi dzat yang menyinari hati para kekasih-Nya (auliya) dengan cahaya ketuhanan (nur at-tauhid), memuliakan mereka, menganugerahkan mereka dengan kesenangan berkomunikasi (wishal) dengan-Nya, memperlihatkan kepada mereka kebaikan-Nya di tengah-tengah kegelapan, mencintai mereka, dan menyucikan hati dan akal mereka. Dan semoga cahaya tauhid itu menjadi petunjuk bagi orang yang mendapat petunjuk. Dia memuliakan mereka dengan firman-Ny “Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah tidak akan merasa takut dan bersedih. Mereka mendapat kabar gembira di kehidupan dunia dan akhirat”. Dia memberikan kedudukan yang mulia kepada keluarga Muhammad saw.

Kita panjatkan puji syukur atas apa yang kami muliakan karena kecintaan kita kepada mereka dan kepada Nabi kita Muhammad Saw, dan para sahabatnya yang mendapat petunjuk. Selanjutnya Allah ada dalam hati kami tatkala menyebut para kekeasih-Nya. Dia menurunkan rahmat dan menghapus kejelekan-kejelekan dan dikhususkan bagi orang yang membuang sum’ah (perasaan ingin didengar segala kebaikannya) demi membenarkan dan mempercayai rahmat tersebut. Kami jawab bahwa sum’ah akan menimpa orang yang hadir pada majlis ini, termasuk didalamnya para saudara (kita) dan orang-orang yang mencintai (Allah). Dan dicabut penyakit hatinya serta kesedihan. Kami uraikan kepada beberapa “keutamaan” (manaqib) yang membenarkan kemuliaan-kemuliaan (karamah) yang mendobrak kebiasaan yang dibukakan oleh Allah. Orang yang mendapatkan kemuliaan di sekelilingmu di Hadaramaut pada semua arah. Cahaya-cahaya terbit di negeri yang kaya harta dan makna bagi para pencari (rahmat-Nya) dan para pengampun (kepada orang lain). Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik yaitu memberikan pahala kebenaran atas lisan kami, karena memuliakan-Nya dan memuji-Nya. Karena Dialah yang berhak mendapat pujian sepanjang zaman.

Ya Allah semoga engaku berikan nikmat atasnya (Habib Umar bin Ali) wahai yang Maha Pengasih. Dan tolonglah kami dengan kedudukannya yang tinggi, berupa “karamah” (kemuliaan) dan “bukti-bukti” (burhan). Diantara karamah Habib Umar bin Ali ra. Ialah pada suatu hari Syeikh ‘Audh bin Said Bahsywan dan Syeikh Mubarok bin Daumam Syarin berjalan dari Indramayu Bagelen Cirebon dengan menunggangi kuda pada hari mereka. Saya (Habib Umar) memindahkan singa. Ingatlah bahwa mereka berada dihadapan orang Jawa yang tersesat. Ia berkata kepada mereka, memeperingatkan mereka saat itu: “Pulanglah, engkau akan ditemui oleh seekor singa di tengah-tengah jalan” mereka menjawab “tidak apa-apa”. Mereka tenang karena ada Habib Umar bi Ali. Lalu mereka berangkat dengan menunggangi kuda. Mereka tidak dilihat oleh seorang manusiapun di jalan, tidak juga oleh sepuluh orang. Karena berkat Habib yang terkenal itu. Sebagaimana beliau yang mulia berkata: “ Demi Allah, barang siapa yang berada di dalam perlindunganku, maka tidak akan terlihat seorangpun tidak pula puluhan orang. Dan ia akan mendapat kemenangan”.

Ya Allah semoga engkau limpahkan nikmat atasnya, wahai yang Maha Pengasih. Dan tolonglah kami dengan kedudukannya yang  tinggi berupa “karamah” (kemuliaan) dan “bukti-bukti” (burhan). Diantara karamahnya ialah pada suatu malam, yaitu malam selasa tanggal 7 Jumadil Awwal pada tahun 1267 H, di rumah Habib Umar bin Ali. Di sana telah turun karamah yang  jelas kejadian luar biasa, di mana ia dalam keadaan terjaga. Sedang  yang ada bersama dia ialah Sayid Ahmad bin Thalib al-Jufri, Syeikh Audh bin Said Bahsywan dan Syeikh ‘Audh bin Salim At-tamimi. Ketika menjelang tengah malam, mereka tidak mengetahui hal itu, kecuali kuda-kuda berdesakan meringkik.

Didalam rumah mereka terkejut dan merasa takut. Mereka tidak tahu ada apa gerangan yang  terjadi yang menakutkan itu. Habib Umar berada ditengah-tengah mereka. Kemudian ada sesuatu yang mengkilap. Mereka terlihat terkejut. Habib berkata : “jangan takut. Kamu sekalian tidak akan apa-apa. Aku ada bersamamu”. Habib berdiri keluar dari jama’ah seraya berkata : “  duduklah semuanya disini. Ini adalah urusanku”. Lalu ia masuk rumah menyertai mereka. Ia berkata kepada mereka: “masing-masing kembali ke tempat semula”. Mereka tidak mengetahui apa-apa, kecuali pada mereka ada sebuah pedang yang mengkilat dan bergerak-gerak. Ketakutan yang sangat merasuki para jama’ah. Kemudian Habib Umar mengunjunginya di dalam rumah. Pa ra jama’ah mendengar tiga kali teriakan. Kemudian Habib Umar keluar dari dalam rumah menuju jama’ah. Mereka bertanya kepada Habib: “Wahai Habib, apa gerangan yang menakutkan, yang tak pernah kami saksikan sepanjang hidup kami ini? Dan kami tidak bisa mengikuti hal ini. Lalu mereka berkata lagi kepadanya : “Wahai Tuanku, ada apa gerangan dengan kuda-kuda dan pedang-pedang ini ? Habib berkata: “ Kuda-kuda dan pedang-pedang ini telah di tempati oleh para kerabat yang sedarah (karuhun) sebagaimana mereka sebutkan dalam manakib yang utama”. Mereka berkata kepadanya: “ Wahai Habib penuhilah keinginan kami. Kami akan pulang ke tempat kami”. Ia menjawab: “ sesuatu telah memenuhinya sebagai keringanan kamu sekalian pulanglah.

Hingga kami menceritakan kepadamu keanehan-keanehan. Mereka bertanya: “ Bukankah ini karena perbuatan anda wahai Tuanku?” Kami tidak bisa memadamkan peci (lampu lentera). Tidak berselang lama Habib Umar berdiri di antara mereka. Ia kelilingkan lampu tembaga yang ia gantungkan, kepada mereka para jama’ah. Lalu ia duduk diantara mereka. Tak lama, mereka melihat peci bersinar sebentar. Jama’ah ramai dan mereka berdiri. Habib Umar mendekati peci. Adapun tempat peci itu dipaku yang ditutupi dengan penutup. Habib Umar berkata: “ Bersinarlah dengan cahaya Allah. Maka peci itu bercahaya. Ia memancarkan bermacam-macam cahaya seperti yang kita lihat di dunia itu. Kadang ia terlihat hijau, putih atau kuning. Habib Umar memasukkan cahaya pada peci itu. Tidak berselang lama, Habib Umar melangkah. Ia diliputi semacam nikmat yang turun dari langit. Para jama’ah duduk kembali. Habib Umar berdo’a sampai subuh. Lalu mereka sholat subuh berjama’ah. Setelah itu mereka duduk kembali sampai terbit matahari. Ini merupakan hal yang luar biasa, di antara karamah Habib Umar. Dengan itu, para jama’ah merasa sangat gembira. Mereka mengabarkan kejadian tersebut kepada semua orang, termasuk tokoh terkemuka dan orang-orang Arab yang ada di Cirebon. Mereka mengucapkan selamat kepada para jama’ah. Ini terjadi dalam keadaan terjaga dan karena kemuliaan Allah bagi Habib Umar.

Ya Allah semoga engkau limpahkan nikmat kepadanya, wahai Yang Maha pemurah. Dan tolonglah kami dengan kedudukannya yang tinggi, berupa karamah dan burhan. Diantara karomahnya, ialah pada malam kamis tanggal 17 Jumadil Awal tahun 1267 H, tampak karamah pada Syeikh Mubarok bin Umar Dauman, dimana ia telah tidur di rumahnya. Tidak ada seorangpun yang tahu kecuali Habib Umar bin Ali. Habib Umar membangunkan dari tidurnya. Ia melihat Habib Umar memakai pakaian hijau. Lalu Habib memberinnya uang logam beberapa dirham, seraya berkata: “ kumpulkanlah uang-uang logam itu, sebagai keberkahan bagimu”. Lalu Syeikh mengambilnya dari Habib dengan tangannya. Namun ketika itu, ketakutan yang sangat merasukinya. Ia tidak bisa berbicara apa-apa. Dan Habib Umar telah lenyap dari hadapannya. Ia tidak tahu darimana Habib masuk dan keluar. Ketikan menjelang subuh Syeikh Mubarok mendatangi Habib Umar. Ia datang dengan membawa uang-uang logam tersebut. Habib Umar menjelaskan apa yang  terjadi padanya, apa yang ia lihat, serta pa yang ia dapatkan. Habib Umar berkata: “ Tujuan kami dengan hal itu adalah sebagai keberkahan bagimu”. Ini terjadi dalam keadaan terjaga dan karena kemuliaan Allah.

Ya Allah yang maha pemurah semoga engkau limpahkan nikmat padanya dan tolonglah kami dengan kedududkannya yang tinggi, berupa karomahnya, ialah pada suatu hari yakni hari rabu tanggal 18 Jumadil awal. Syeikh Taisir Nashr mendatangi Habib Umar bin Ali. Ia berkata kepada Habib: “Wahai Tuanku, maksudku datang kemari ialah ingin meminta ingin meminta karomah. Karena saya sedang dalam kesulitan ekonomi. Saya meminta karomahmu”. Habib menjawab: “ kalau Allah mengizinkannya, tentu karomah itu akan terjadi”. Ketika malam kamis, datanglah sepuluh jenis auja. Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada Habib, sehingga terjadilah suatu karomah yang menjadikan maksud Syeikh terkabul dan keadaannya menjadi lebih baik. Syeikh berkata: “Maksud dan keinginanku telah terkabul’”. Ketika malam jum’at tanggal 20 Jumadil Awal tahun 1267, Syeikh Taisir Nashr meminta kepada Habib Umar bin Ali untuk datang ke rumahnya, menghibur orang-orang yang ada, serta membacakan manakib yang benar dan manakib yang utama. Habib Umar berkata: “Semoga karunia Allah untukmu”. Ketika itu, yaitu malam jum’at, Habib Umar berangkat ke rumah Taisir bersama sejumlah orang tokoh terkemuka, dan orang-orang Arab, yang mana berjumlah kurang lebih 35 orang, Habib membacakan manakib miliknya.

Setelah itu orang yang hadir terhibu, ketika semua hadir, mereka melihat peci tergantung di atas mereka. Ia berkilat. Setiap kilatan memancarkan sinar warna-warni. Orang- orang yang hadir pada waktu itu menjadi bingung. Setelah mereka hadir semua. Diantara mereka ada yang kembali ke tempatnyan semula. Sebagian lain duduk di dekat Habib Umar dan peci yang mengeluarkan cahaya yang warna-warni itu. Kemudian Habib Umar berkata kepada para jama’ah: “ Berdo’a-berdo’alah kepada Allah! Ini adalah waktu ijabah. Waktu itu hanya ada satu kali dalam satu malam. Setelah itu ia berkata kepada mereka: “ Lebih baik kita membaca manakib milikku seluruhnya, baik yang utama maupun yang benar”. Para jama’ah menjawab : “ Terserah engaku Tuanku, bagaimanapun kami tidak membantahnya”. Lalu Habib membacakan manakib. Ketika awal pembacaan, Syeikh Umar bin Dahim tidak tahu darimana asalnya, ia melihat sesosok yang mirip al-antan yang bercahaya, berukuran kecil seperti emas. Yang mana para jama’ah hanya bisa melihatnya seperti itu saja. Habib berkata: “ Ini adalah bagianmu dari Allah dan belahlah wahai Syeikh. Syeikh Umar bin Dahim merasa bergembira karena itu. Peci menyala-nyala, dan terus berkilauan.

Tak lama berselang, setelah pembacaan manakib utama, mereka melihat peci, ada seraut wajah manusia yang tampan serta postur tubuh yang bagus. Ia  memiliki jambang palsu berwarna putih, kepalanya memakai mahkota, Habib ketika itu tertawa dan berdo’a dengan sungguh-sungguh. Lalu ia berkata: “Enyahlah! Karena aku dan kamu memiliki kondisi yang berbeda. Beristirahatlah! “ Maka manusia itupun beristirahat. Habib melihat sesuatu yang indah. Para jama’ah melihat sesosok laki-laki yang berwajah tampan. Mereka sangat gembira. Kemudian mereka duduk sambil melihat sosok tersebut dalam jarak tiga jam. Kemudian setelah itu, sosok tersebut lenyap dari penglihatan mereka. Dan peci padam. Habib Umar berkata kepada para jama’ah: “ Barang siapa yang ingin pulang ke rumahnya, maka pulanglah”! Habib Umar kembali ke tempatnya semula. Demi Allah, ini terjadi dalam keadaan terjaga. Adapun orang-orang yang hadir pada waktu itu adalah Sayid Ahmad bin Thalib al-Jufri, Sayid Abdurahman bin Zen bin Yahya, Audh bin Salim At tamimi, Mubarok bin Dauman, Muhamad Bajeber, Mubarok Bakhomis, Abdun bin Dauman, Umar bin Dahim, Taisir Nashr, dan Marjan Bahir. Mereka ini adalah orang-orang yang hadir dan melihat dengan jelas. Ini terjadi dalam keadaan terjaga. Kemuliaan dan keagungan hanya milik Allah, sedangkan laknat Allah bagi orang-orang yang berdusta. Ini merupakan kemuliaan yang dibeikan oleh Dzat Maha Permberi Karunia.

Ya Allah yang maha pengasih, semoga engkau limpahkan nikmat padanya dan tolonglah kami dengan kedudukannya yang tinggi, berupa karamah dan burhan. Diantara karamahnya ialah ketika menjelang subuh pada hari jum’at yang telah disebutkan, Taisir Nashr memindahkan peci itu ke tempat kedua. Ia menggantungkannya di atas bambu yang panjang. Ia gantungkan di bagian ujung yang terbuat dari besi, yang pas bagi peci. Pada bambu itu terdapat bagian yang runcing yang di hubungkan dengan dua ikat tali, satu ujung diikatkan pada bambu. Sedangkan yang satu lagi pada paku yang di tancapkan pada lobang di (dinding) rumah. Ujung yang runcing serta panjang pada bambu. Taisir duduk di bawah peci sambil membaca manakib Habib Umar bin Ali, yaitu manakib yang utama dalam lagu yang awalnya “ Engkau bertameng dengan dalil, wahai pemilik zaman”. Setelah itu, ketika ia sampai pada lagu “telapak tanganmu yang terbuka dan wajahmu yang tenang”, Taisir mengikatkan peci pada bagian ujung bambu. Lalu mengaitkan ujung itu di tengah-tengah bagian yang runcing. Ia  memutuskan ikatan. Ia mengikatkan kembali di ujung yang runcing yang ujungnya diikatkan pada paku yang ditancapkan pada lobang di (dinding) rumah. Taisir jatuh tersungkur di atas tikar. Lalu ia berjalan di atas tikar dimana disana ada kotoran burung. Padahal tidak ada seekor burungpun yang keluar dari peci itu. Ia masukkan peci tersebut. Namun Taisir melihat sosok manusia yang terkurung. Para jama’ah bingung dan mereka dirasuki rasa takut dan ngeri yang luar biasa. Mereka mengabarkan kejadian tersebut kepada semua orang. Mereka menceritakan juga kepada Habib Umar, apa yang mereka saksikan, dan terjadi pada mereka, yaitu keajaiban Allah SWT terjadi karena kuasa-Nya yang maha gagah maha pengasih.

Ya Allah yang maha pengasih, semoga engkau melimpahkan nikmat padanya dan tolonglah kami dengan kedudukannya yang tinggi, berupa karomah dan burhan. Diantara karomahnya ialah pada suatu malam, tepatnya malam sabtu, tanggal 19 Jumadil Awal tahun 1267 H, Syeikh Taisir mendatangi Habib Umar bin Ali. Ia berkata kepada beliau : “ Wahai Tuanku, adapun tujuanku pada tuan, tiada lain adalah barangkali tuan berkenan untuk datang ke kediamanku. Karena apa yang telah saya ceritakan pada tuan, yaitu yang terjadi pada ujung peci”. Maka berangkatlah Habib Umar bin Ali bersama sejumlah tokoh terkemuka da orang-orang Arab, yatiu Sayid Ahmad bin Thalib bin Abdurahman Bakatsir, Muhamad Jabir, Audh bin Salim Tamimi, Sa’id Ubaid bin Jauhar, Mubarok bin Dauman, Audh bin Sa’id Bahasywan, Ubaid Ubud, Mubarok Salim Bakhomis, Abdun bin Dauman, dan Taisir Nashr. Setelah Habib Umar bin Ali dan para jama’ah duduk.

Mereka melihat kilatan dari peci. Cahayanya berkilauan. Tak berselang lama, di bawah kaki Habib, di atas tikar, ada sesuatu yang terbuat dari emas yang mirip tongkat  panjang. Kemudian Habib memotongnya, dan membagikannya kepada para jama’ah sebagai keberkahan. Mereka juga membagikannya secara mereta diantara mereka yang hadir pada saat berbahagia itu. Para jama’ah mengamatinya dan yang hadir menjadi bingung. Tak lama Habib Umar berkata kepada para jama’ah. “ Lihatlah peci itu! Dan lihatlah laki-laki tampan yang berpostur bagus tadi malam, muncul kembali pada malam ini”. Habib Umar melihatnya sambil terdiam. Tatkala bentuk tubuh laki-laki itu sempurna, para jama’ah yang ada di majlis itu menjadi gembira. Habib berkata kepada mereka: “ Lihatlah ciptaan Dzat Yang Maha Mulia dan terpuji”. Semua yang hadir melihatnya. Laki-laki itu memiliki jambang palsu yang lebat dan putih. Kepalanya memakai mahkota yang diteretes batu mulia, mirip orang yang berambut sedikit. Para jama’ah duduk kurang lebih empat jam dari laki-laki itu sambil memandanginya. Habib Umar berkata kepada mereka: “ Ini merupakan waktu ijabah (Do’a). Berdo’alah kepada Allah”! orang itu  menghilang dari hadapan mereka. Kejadian ini terjadi di depan mata dan pandangan kita. Ini adalah anugerah dari Yang Maha Mulia dan Pemberi anugerah.

Ya Allah yang Maha Pengasih, semoga engkau limpahkan nikmat kepadanya yang tinggi, berupa karomah dan burhan. Di antara karomahnya ialah ketika malam ke-21 bulan Jumadil Awal 1267, Syeikh Taisir Nashr datang ke rumah Habib Umar bin Ali, setelah shalat isya. Ia berkata kepada beliau: “ Wahai tuanku, maksudku ke sini tiada lain untuk menyampaikan berita bahwa yang terjadi pada kami berupa karomah yang luar biasa di rumahku, kalaulah benar itu seorang manusia. Jika kami duduk, saya, Adam Haqqi Amin, dan Saijan. Kami tidak tahu bagaimana mulanya, tiba-tiba saja peci yang suka memunculkan hal-hal luar biasa asalnya padam, ia tergantung dengan sendirinya. Allah menyaksikan hal itu. Taisir, Adam Haqqi Amin, dan semua penghuni rumah, menjadi bingung karena hari itu menyaksikan peci tergantung dengan sendirinya. Dan sekarang wahai tuanku, maksudku tiada lain kiranya tuan berkenan  datang ke rumahku. Habib Umar datang bersama sejumlah orang Arab. Mereka mandapati peci dalam keadaan padam. Taisir berdiri dan melemparkan peci tersebut dengan kurang sopan dan menggantungkannya. Selanjutnya Syeikh Salim bin Umar Hamid: “ Wahai Habib Umar, maksudku hendak melihat laki-laki tampan dan postur tubuh yang bagus, yang pernah dilihat oleh para jama’ah pada malam kemarin. Kita menyesal ketika melihatnya”. Habib bin Umar berkata: “ Tidak apa-apa”. Habib Umar membacakan wasilah miliknya yang dimulai dengang bait “ Tangan-tanganku dibantu oleh Tuhanku yang merupakan sandaranku. Dan dia telah memberiku kebaikan ketika waktu senangku”. Tiba-tiba muncul sesosok laki-laki berpostur bagus. Para jama’ah bergembira. Diantara mereka yang hadir ialah Sayid Ahmad bin Thalib al-Jufri, Abdurahman bin Zein bin Yahya, Salim bin Umar Hamid, Salim bin Audh Bu’aibi’, Mubarok bin Dauman, Audh bin Salim at Tamimi, Muhamad Bajeber, Muhamad Bakhamis, Sa’id Ubaid bin Jauhar, Abdun bin Dauman, Umar bin Dahim, Marjan Baharmuz, dan Taisir Nashr. Sosok inilah yang mereka saksikan. Tak lama kemudian, ia lenyap dai hadapan mereka. Hal ini terjadi secara jelas dengan mata telanjang, dalam keadaan terjaga.

Ya Allah yang Maha Pengasih, semoga Engkau limpahkan nikmat kepadanya dan tolonglah dengan kedudukannya yang tinggi, berupa karomah dan burhan. Di antara karomahnya yaitu ketika Habib Umar pulang dari rumah Taisir pada malam itu. Ia bersama sejumlah orang Arab yaitu Sayid Ahmad Thalib al-Jufri, Audh bin Salim at-Tamimi, Audh bin Salim al-Suyudi, Audh bin Sayid Bahsywan, Mubarok bin Dauman, Abdun Dauman, dan Marjan Baharmun.

Manakib Habib Umar, baik yang utama maupun yang benar, ada di tangan Abdun bin Dauman. Tidak tahu darimana asalnya, tiba-tiba saja ada seekor cacing kecil di antara dua manakib tersebut. Lalu ia memotong cacing kecil tersebut. Habib Umar dan para jama’ah yang hadir di rumah tersebut melihatnya. Lalu Habib berkata : “ Wahai Abdun potonglah, ini bagianmu dari Allah. Potonglah sebagai keberkatan bagimu. A bdun memasukkan potongan ke dalam sakunya. Tak lama kemudian, ia memasukkan lagi tangannya ke dalam sakunya, lalu mengeluarkannya. Hanya saja berbeda dengan bentuk yang pertama. Warnanya seperti emas dan bentuknya seperti batu kerikil. Habib Umar dan para jama’ah melihatnya. Mereka berkata : “ Ini sesuatu yang luar biasa dari karomah Habib”. Abdun berkata kepada Habib Umar : “ Wahai Tuanku, saya meminta darimu sebuah azimat yang engkau tulis dengan tanganmu sendiri. Maksud saya dengan membalikan cacing kecil yang saya dapatkan itu sebagai karomah. Habib Umar berkata: “ Baiklah, jika Allah mengizinkan”. Lalu Habib menuliskan azimat dengan tangannya sendiri. Dan tulisannya mengenai penarikan rizki, kebaikan, keberkahan, serta kesehatan dia dunia dan akhirat dengan kekuasaan Allah dan tanda-tanda-Nya. Abdun bin Salim at-Tamimi dan Mubarok bin Dauman menginap di rumah Habib Umar hingga subuh. Mereka shalat subuh di sana. Abdun duduk sambil membaca wasilah Habib Umar yang dimulai dengan kata: “ Tangan-tanganku dibantu oleh Tuhanku yang merupakan sandaranku”. Setelah  itu Audh bin Salim at-Tamimi berkata kepada Abdun: “ Maksud saya adalah hendak melihat cacing kecil yang engkau dapatkan tadi malam”. Lalu Abdun mengeluarkan azimat dari sakunya dan menguraikan ikatan padanya, yang mana didalamnya terdapat cacing tersebut. Cacing itu ada dua ekor. Satu sama lain berbeda warna. Orang yang hadir disana menjadi terheran-heran. Kemudian mereka mengabarkan apa yang mereka lihat kepada Habib Umar, berupa keajaiban yang istimewa dan karomah yang luar biasa. Habib Umar berkata: “ Seperti inilah yang saya maksudkan”. Mereka memberitakan kepada semua orang akan hal itu. Ini terjadi dalam keadaan semuanya terjaga. Semua orang yang hadir berkata : “ Ini yakin benar”. Maha Mulia Dzat yang mengatakan pada sesuatu: “ Jadilah, maka  sesuatu itu pun jadi”.

Ya Allah Yang  Maha Pengasih, semoga Engkau limpahkan nikmat kepadanya dan tolonglah kami dengan kedudukannya, berupa karomah dan burhan. Diantara karomahnya ialah pada suatu malam, Taisir bin Nashr meminta kepada Habib Umar bin Ali untuk membacakan manakibnya yang benar. Namun baru juga beberapa bagian yang dibaca, tanpa diketahui oleh mereka ada makhluk.

Yang merupakan keajaiban Allah yang hinggap pada manakib. Ia mirip dengan belalang. Namun bentuknya berbeda dari yang biasa dilihat, dan seseorang hanya dapat melihat bentuk demikian pada waktu itu saja. Para jama’ah yang hadir, terheran-heran. Mereka yang hadir yang berjumlah 30 orang, baik dari kalangan tokoh terkemuka maupun orang Arab. Kemudian Sayid Ahmad bin Thalib mengusir makhluk tersebut. Diantara karomahnya, pada suatu malam Syeikh Audh bin Said Bahsywan meminta kepada Umar bin Ali . Ia berkata: “  Wahai Tuanku, adapun tujuanku kepada Tuan ialah barangkali tuan berkenan datang ke rumahku untuk memuliakan rumahku dan membacakan manakib yang utama kepunyaan tuan. Habib Umar datang bersama sejumlah tokoh terkemuka dan orang-orang Arab. Namun ketika mereka baru membaca beberapa bagian saja dari manakib yang terkenal itu, tanpa diketahui mereka, makhluk Allah yang ajaib itu hinggap pada manakib. Baginya tidak ada bandingannya. Ia memiliki wajah, kaki dan tangan. Orang-orang yang hadir termenung sambil mengamati makhluk yang indah tersebut. Ubaid bin Said Munqir mengusirnya. Tak lama kemudian, muncul makhluk yang lainnya seperti wali. Kemudian Mubarol bin Umar bin Dauman mengusirnya juga. Orang-orang yang hadir menjadi bingung karena makhluk Allah tersebut, yang hanya ditemukan di sini saja di dunia ini. Ini terjadi dengan Allah sebagai saksinya. Dan juga tokoh-tokoh terkemuka dan orang Arab terkemuka. Peristiwa ini merupakan diantara karomah wali kutun zaman ini.

Ya Allah yang Maha Pengasih, semoga Engkau melimpahkan nikmat padanya dan tolonglah kami dengan kedudukannya, yang berupa karomah dan burhan. Di antara karomahnya ialah pada suatu hari, tepatnya pada hari Kamis tanggal 14 Jumadil Awal tahun 1267, terjadi karomah yang mencengangkan pada Abdun bin Mubarok bin Dauman. Ia melemparkan cacing kecil yang didapatkannya di rumah Habib Umar bin Ali, di tengah-tengah manakib. Ketika ia membolak-balik lembarannya, ia mendapatkan dua cacing yang bentuknya seperti kerikil dan warnanya mirip dengan emas seperti yang telah diceritakan. Bagian atasnya dilipatkan pada azimat dari Habib Umar yang berisi tentang penarikan rizki, kebaikan, keberkahan, pengampunan dan kesehatan di dunia dan akhirat, dengan kekuasaan Allah dan tanda-tanda-Nya. Ketika itu ia melemparkan azimat yang didalamnya terdapat dua cacing kecil yang itu. Dua cacing itu ada dalam kotak kecil. Sedangkan Abdun memiliki sepuluh cacing dari Pamannya Salim bin Umar bin Dauman ketika ia bepergian ke Cirebon ke Surabaya. Pamannya memberinya dua puluh ekor. Pamannya berkata : “ kumpulkanlah cacing-cacing kecil it, sebagai bagianmu yang merupakan belahan yang kami berikan kepada Habib Umar bin Ali. Engkau berkata kepadanya: “ Ambillah ini untukmu dan perkiraan itu”! Abdu berkata : “ Tidak apa-apa. Lemparkanlah cacing-cacing itu ke kotaknya!” ketika hari kamis tersebut, Abdun membuka kotak yang berisi dua cacing berkah yang mirip kerikil emas dan azimat dari Habib Umar bin Ali. Ia juga mendapatkan cacing tersebut dari Pamannya Salim bin Dauman. Begitu pula orang yang berada di dalam kotak disamping dua ekor cacing yang pertama. Abdun merasa bingung karena karomah yang luar biasa itu, dimana terjadi dalam keadaan terjaga. Kemuliaan dan Keagungan bagi Allah. Sedang laknat-Nya bagi orang yang berdusta. Merugilah orang yang membuat-buat kebohongan atas nama Allah yang Maha  Mulia Lagi Maha Pemberi Karunia.

Ya Allah yang Maha Pengasih, semoga Engkau melimpahkan nikmat padanya dan tolonglah kami dengan kedudukannya, berupa karomah dan burhan. Di antara karomahnya yaitu ketika malam Ahad tanggal 12 Jumadil Awal 1267 H, Audh bin Said Bahsywan meminta Habib Umar bin Ali membacakan manakib dan mengusir yang hadir padanya, di rumah Ahmad Salim Mukdas. Habib Umar datang, lalu membacakan manakib dan mengusir orang yang hadir, maka berkumpullah orang-orang yang layak.

Kurang lebih lima puluh orang Arab. Tatkala mereka hendak hadir di tempat itu, karomaha mucul pada Said bin Ali Said Salimin. Ia memutarkan asap pada orang-orang. Namun terasa olehnya di bawah kakinya ada sesuatu.lalu ia  mengangkatnya. Ia menemukan butiran-butiran yang banyak, menyerupai butiran mutiara. Tiga bulan kemudian, dua butir menggelinding menjauh, dan satu butir diam di tengah. Setelah yang hadir lengkap, Said memberikannya kepada Habib Umar. Habib berkata kepadanya :” Ini bagianmu dan orang tuamu dari Allah, sebagai keberkahan bagimu”. Said sangat bergembira karena perkataan Habib Umar tersebut. Semua orang yang hadir di Majlis yang penuh berkah ini, memandangi benda-benda tersebut. Ini terjadi dalam keadaan terjaga. Di antara karomahnya pada malam penuh berkah ini, di rumah Ahmad Salim Miqad mucul karomah pada Hamad Ubaid Shalih. Ketika ia berada di tengah-tengah mereka yang hadir di tempat itu. Tiba-tiba ia melihat sesuatu di bawah kakinya. Seperti biji pelir yang besar, di atas tikar. Lalu ia membelahnya dan ia mendapatkan sesuatu yang mirip dengan telinganya yang terbuat dari perak. Di dalamnya ada sesuatu yang bergerak sehingga mengeluarkan bunyi. Orang-orang yang hadir bersama Hamad menceritakanny kepada Habib Umar. Habib Umar berkata : “ Ini bagianmu dari Allah”. Hamad bergembira.

Segala puji bagi Allah atas pemberiannya yang banyak. Diantara karomahnya, ialah pada malam itu terjadi karomah yang mencengangkan masih di rumah yan g penuh berkah itu. Tak lama setelah orang-orang yang hadir pulang, tanpa diketahui oleh penghuni rumah Ahmad Solih, mereka melihat tansyauh yang tergantung pada tembaga di atas tempat  orang-orang yang hadir. Disana ada delapan butir tembaga. Sedang peci digantung di tempat orang yang hadir. Tak berselang lama mereka melihat empat butir termbaga beredar. Empat yang lainnya tetap diam tergantung pada peci. Penghuni rumah bingung tak habis fikir karena karomah. Dan juga orang-orang Arab merasa bingung karena hal yang mencengankan itu yang merupakan karomah Habib Ali. Habib Ali dan sejumlah tokoh terkemuka dan orang Arab merasa sangat bergembira. Di antara mereka ada Sayid Ahmad bin Alwi al-Tsaqafi, Sayid Ahmad bin Thalib al-Jufri, Salim bin Umar Hamid, Mubarak bin Dauman, Abdun bin Dauman, Audh bin Said Bahsywan, Audh bin Salim at-Tamimi dan Ahmad Abdun Baadid, Ubaid bin Said Munqir, Said bin Zali,dan Khumais Yamahuda. Ini merupakan yang pertama kali mereka saksikan, hadiri secara jelas dengan mata telanjang dengan kekuasaan Dzat yang Maha Gagah lagi Maha Pengasih.

Ya Allah yang Maha Pengasih, semoga Engkau melimpahkan nikmat padanya dan tolonglah kami dengan kedudukannya, berpuka karomah dan burhan. Diantara karomahnya ialah pada malam yang penuh berkah itu, terjadi karomah pada Hamad Abdul Gafur, di rumah Ahmad Salim Miqad. Hamad mendapatkan di atas tikar, sesuatu yang mencengangkan dari karomah Habib. Bentuknya seperti butiran mutiara yang tidak ada debu sedikit pun menempel padanya. Benda itu memancarkan cahaya warna-warni, terkadang ia hijau, putih, atau merah. Bentuknya ada yang bundar seperti biji mata disamping ada yang mirip pohon dan buah-buahan. Ada yang sangat menarik minat dan enak di pandang. Semua orang yang hadir menyaksikannya. Diantara yang menyaksikan hal-hal yang luar biasa itu adalah orang Arab, Jawa dan Hamad. Ketika Hamad mendapatkan benda-benda tersebut, ia terdiam dan menyembunyikan dari Habib Umar bin Ali. Ia mengumpulkannya pada sepotong kain. Lalu ia tidur. Ketika subuh, ia bermaksud melihatnya. Namun ia tidak menemukan satu biji pun. Ia berkata : “ Kami sembunyikan dari Habib Umar bin Aji”. Ia mendapatkan balasannya, dan ia diam tidak mengabarkannya kepada siapa pun. Ia berjalan kebingungan, sedih dan menyesal.

Ya Allah yang Maha Pengasih, semoga Engkau melimpahkan nikmat kepadanya dan tolonglah kami dengan kedudukannyam berupa karomah dan burhan. Di antara karomahnya yaitu ketika malam Ahad dan Selasa yang lalu dari bulan Jumadil Akhir, tahun 1267. Habib Umar bin Ali bin Syeikh Abu Bakar bin Salim mengumulkan orang di rumahnya. Lalu ia membacakan manakib yang benar, kemudian orang-orang banyak berkumpul, baik orang Arab maupun orang Jawa, yang berjumlah 60 orang, yang datang ke rumah Habib Umar itu di antaranya ialah Hamad bin Abdul Ghafur. Ia duduk di ujung di atas tikar. Habib Umar bin Ali berkata : “ Masuklah ke sini di atas beludru milikku dan dengarkanlah apa yang aku ucapkan padamu”. Lalu Hamad masuk dengan malu-malu rasa hormat terhadap perkataan Habib.

Ketika yang hadir duduk, Hamad mendapatkan biji itu yang disebut karomah, dimana terjadi di rumah Hamad bin Salim Miqad. Bersyukurlah kepada Allah SWT atas apa yang dia anugerahkan nikmat kepadanya. Ia menceritakan kepada Habib Umar. Habib Umar berkata kepadannya : “ Semoga itu menyenangkan dan keberkahan (bagimu). Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanmu denga karomah yang istimewa ini dari yang Maha Gagah dan Maha Pengasih.

Dia memiliki cerita selainku, ini menunjukkan pada kedudukannya yang tinggi di sisi Tuhannya. Bagaimana ia mewarisi dari kakeknya dan beberapa orang Rasul Allah dari pihak Ayah dan Ibunya. Kami di sini hanya meringkasnya yang mana telah disebutkan dalam lembaran-lembaran, sambil memohon pertolongan dengan kemasyhurannya di jagat raya ini. Semoga Engkau (ya Allah) memenuhi yang hadir di majlis ini dengan keberkahan dan meliputi mereka dengan rahmat yang menyeluruh di dunia dan akhirat. Sehingga Engkau bacakan manakibnya serta karomahnya yang luar biasa. Semoga Engkau mengampuni kedua pengarang (penyusun)  manakib ini. Dimana mereka berdua berharap pengampunan Tuhan yang Maha Pemberi anugerah. Mereka itu ialah Audh bin Said bin Salim Bahsywan dan Abdun bin Mubarak bin Dauman. Mereka sudah cukup banyak memperoleh banyak ujian dan cobaan. Engkau mengumpulkan kita dengan mereka di kampung aman dan menghapuskan dosa serta kesedihan dari mereka. Semoga engkau mengampuni orang yang membaca manakib yang mulia ini, dari para saudara dan orang-orang yang mencintainya dan mengasihani mereka dengan rahmat-Mu, wahai yang Maha Pengasih. Semoga rahmat terlimpah kepada sebaik-baiknya makhluk, Muhammad SAW, keluarga, dan semua para sahabatnya, maha suci Tuahanmu pemilik dari apa yang mereka sebutkan. Semoga keselamatan terlimpah atas para rasul. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Maha benar Allah yang Maha Agung dan menyampaikan Rasul-Nya yang mulia  (atas ajara-ajaran-Nya).

Ya Allah segala puji syukur bagi-Mu. Bagi-Mu segala karunia yang telah di karuniakan. Engkau Tuhan kami yang sebenarnya dan kami adalah hamba sahayamu. Dan Engkau atas hal itu sudah sepantasnya.

Ya Allah yang Maha Pemberi kemudahan kepada setiap orang yang ditimpa kesulitan, yang memaksa setiap orang yang sombong, yang menemani yang sendirian dan orang asing, yang memberi kekuatan kepada orang yang lemah, dan yang memberi kekayaan kepada setiap orang fakir. Wahai Dzat yang memberi keamanan bagi orang yang ketakutan., mudahkanlah setiap orang kesulitan kepada kami, karena memudahkan orang yang kesulitan bagi-Mu adalah mudah. Wahai Dzat yang tidak membutuhkan penjelasan dan penafsiran, kebutuhan kami sangat banyak, engkau pasti mengetahui hal itu. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, aku takut pada-Mu dan dari orang yang tidak takut pada-Mu. Selamatkanlah aku dari orang yang tidak takut pada-Mu, dengan Nabi-Mu yang benar Muhammad SAW. Tiada daya dan kekuatan, kecuali pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Agung.

Ya Allah yang Maha Mulia, Maha Pemberi, Dzat yang tidak memiliki penjaga atas pintu-pintu kedermawan-Nya. Wahai yang Maha Pengasih atas orang-orang yang dipaksa. Wahai penerima do’a orang-orang yang meminta. Engkau mengabulkan orang-orang yang kau pilih dari pada kekasihmu. Engkau mengabulkan do’nya, jika ia berdo’a kepada-Mu.dimana ia merupakan di antara beberapa orang Nabi-Mu, yaitu Muhammad SAW yang engkau istimewakan dengan keagungan.

Di antara do’a tuan kita Habib Umar bin Ali bin Syeikh Abu Bakar bin Salim : Ya Allah semoga engkau menjadikan kami golongan yang berada di sisi-Mu dan menjadi orang-orang yang terjaga dari yang diharamkan-Mu, yang selamat dari dosa-dosa, yang menikmati syurga, yang dapat melihat Dzat-Mu di hari kiamat, dan yang datang ke kolam Nabi-Mu. Semoga Engkau mengumpulkan kami bersama para kekasih dan orang-orang soleh, kabulkanlah wahai pemilik semesta alam! Semoga Engkau menjadikan semua yang hadir pada majlis ini, menjadi orang-orang yang selamat dari kegetiran hari kiamat dan (hari pembagian) buku (catatan amal).

Ya Allah semoga keselamatan tercurah kepada orang yang menjadi sebab terwujudnya kumpulan yang mulia ini, begitu pula hambamu kaum muslimin yang berhaji, berziarah, berperang, bepergian, baik di darat-Mu maupun di laut-Mu. Maha Suci Tuhanmu pemilik keagungan, dari apa yang mereka katakan. Semoga keselamatan terlimpah atas para rasul. Segala puji bagi Allah pemilik semesta alam.

Segala Puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam

Wahai pemilik zaman, engkau bertameng dengan dalil (burhan). Engkau mendapat limpahan anugerah dari Allah.

Telah jelas nilai-nilai dalil, ketika datang kepadamu pertolongan yang ternilai dari Dzat yang Maha Mulia.

Tidak ada dalil yang paling baik dari padamu, bagi setiap orang yang bersih hatinya, dari kegelapan, dusta, dan kotor.

Setiap sudut bergembira, dan mentari-mentarimu bersinar, wahai penghidup sunah-sunah.

Engkau dapat melihat khazanah rahasia ( ghaib) namun apa yang engkau timbun (harta) telah menghalangimu.

Hatimu merupakan harta simpananmu, sedang sifat dermawan merupakan penjaganya. Ia dapat menghapuskan kesedihan dan derita hatimu.

Telapak tanganmu terbuka, wajahmu bersinar-sinar, perangaimu dikenal sebagai orang yang rendah hati dan luwes.

Engkau mengucapkan selamat tinggal pada rahasia yang ada di dirimu walaupun engkau tidak meninggalkannya.

Ia membasuh jasadmu dengan basuhan keengganan. Dan ia mensucikanmu lahir batin milikmu.

Engkau mengikuti jejak nenek moyangmu dalam petunjuk. Engkau menjadi orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia mereka.

Engkau telah diliputi cahaya dari segala arah. Dengan itu engkau cukup terlindung dari keburukan zaman ini serta fitnah-fitnahnya.

Malam-malammu adalah takdir. Cahayanya menyinari jagad raya. Hari-harimu adalah masamu yang melewati setiap perhiasan.

Engkau tidak bisa memberikan ruang kebingungan dalam hati. Engkau tidak bisa melihat kebodohan dan kedengkian dalam dirimu

Akan tetapi kelembutan, kemurahan hati, zuhud, ketakwaan, bersama kesabaran, keyakinan, dan ucapan yang baik.

Engkau  menempati pedang-pedang dengan cahaya dan petunjuk. Telah cukup kemuliaan seseorang yang cerdas.

Maka hatimu tidak akan mendapatkan dari karamahmu selain kau berdua. Ia hanya mendapatkan percikan air daari air laut dan hujan rintik dari awan yang berair.

Jika Basrah mendapatkan kerajaan dengan pedangnya. Syam, Roma dan Yaman menjadi tunduk padanya.

Engkau dengan pedang kebenaran bisa menyerang permusuhan. Berbagai kebatilan dan fitnah menjadi beku.

Bala tentaramu ditolong, partaimu menang, keadilanmu terkenal di kota-kota dan tempat-tempat buang kotoran.

Kalau dikatakan kepadaku: “ Kalaulah engkau memuji Nabi, Rasul pembawa petunjuk yang diutus di akhir Zaman”.

Aku jawab: ““Ajaklah aku bersama orang yang aku puji, karena busa timbul dari susu”.

Musuhku mengajakku dan orang yang aku puji. Karena cintaku padanya telah bersemayam dalam hatiku.

Musuhku mengajakku dan orang yang aku puji. Karena cintaku padanya telah bersemayam dalam hatiku.

Berbahagialah kebenarannya, setiap datang kemudahan. Dan menangislah ketika ia mendengkur di atas dahan.

Samir bermalam dengan kerinduan di malam yang gelap gulita. Dan bersore harilah bersama kerinduan dan tidak pernah memejamkan mata karena mengantuk.

Ketika hari-hariku antara aku dan dia terkumpul. Lihatlah olehmu cahaya yang terpancar dari sosok yang baik.

Kesombongan tidak cukup untuk disamakan dengan keutamaannya. Ia seorang ahli kimia, pedagang yang sangat kaya.

Wahai engkau memahami yang terpilih, marilah (kita) menyerang! Menyingkirlah dariku. Karena dalam hatiau tidak ada kesedihan.

Wahai engkau memahami yang terpilih, marilah (kita) menolong (orang) yang dapat menghancurkan bala tentara yang dianiaya. Bagi mereka tidak kesedihan maupun fitnah.

Sesunggunya masa yang suram belakangku, mereka menceritakan tentangku yang takut pada tali yang dipintal.

Api Zaman menghembuskan angin panas. Aku berangkat menuju kemenangan yang nyata dalam kehangatan.

Pahamilah kesedihan yang menangis keras karena ketidak mampuannya. Tidak ada baginya kecuali perlindunganmu dari tempat.

Adapun engkau yang sangat mulia berkata kepadaku: “Karena engkau mendorong orang yang menolak bagi orang yang mendorong”.

Diantara pelindungmu ialah tidak bisa dilihat oleh seorang manusia maupun sepuluh orang. Karena engkau memiliki niat yang benar dan baik sangka.

Maka aku tidak bisa berbuat apa-apa, jika rangkulan telah rapat. Umar bin Ali penghilang segala kebingungan dan kesedihan, telah memperlakukanku dengan lemah lembut.

Aku berlindung padanya dari hal yang membingungkan. Dan aku meminta kepadanya dalam do’a yang sembunyi-sembnyi dan terang-terangan.

Tuhanku memberi rahmat setiap kami kerinduan. Tidak ada orang-orang yang dapat berbicara dengan bersaja’ dengan suara yang jauh.

Atas orang terpilih, Thaha pemberi syafa’at, yaitu Muhammad yang mengalahkan jejak penyembah berhala,

Rahmat yang meliputi seluruh keluarga dan sahabat semuanya setelah berziarah ke kuburnya.

Wahai Tuanku aku meminta pengampunan, rahmat dan baik penghabisan darimu.

Wahai yang Maha Mendengar do’a kami maka ijabahlah! Segala puji bagi Allah pemilik semesta alam.

Engkau mendapatkan ketinggian, komunikasi, dan keluhuran. Aku menyebut-nyebut  Umar pada setiap perkumpulan.

Engkau mendapatkan pengetahuan atas rahasia-rahasia yang tersembunyi dengan memahami dalil-dalil dari Tuhan yang Maha Mengawasi.

Engaku minum dari gelas hakikat. Dan engkau memberi minum satu sama lain dengan para sahabat dari sana.

Yang mulia Tuan telah menolongmu dengan segala karomah. Ia telah memakai pakaian keagungan padamu setiap perkumpulan.

Serulah kepada Allah dengan seluruh keluarga, ketauladanan para sahabat, sebagai perantara.

Bisri Umar mengaku telah menjadi pendorong dan sebutan. Warna telah memenuhi cakrawala yang membuat jelek kampungku.

Karena nisbat kepada Syeikh di timur. Dan nisbat telah memenuhi bahar (syi’ir) mereka.

Engkau tidak mendapat keutamaan dari Allah. Kecuali pemberian kekuatan yang tidak beralih.

Dengan kemuliaan itu, mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi. Mereka tidak mencintai dunia dan mengagungkan kedudukan.

Mereka melihat dengan mata telanjang setiap saat. Mereka dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang berhubungan.

Dengan kesungguhan, usaha keras, niat, amal, ilmu, Beruzlah (mengasingkan diri), dan berkholwat (berdua).

Tatapan yang tajam dan argumen yang menunjukkan pada kenyataan yang sebenarnya. Dan mereka juga mendapatkan keutamaan.

Aku meminta kepada-Mu wahai yang Maha Pengasih, hilangkanlah kebingungan! Aku bertawasul kepada-Mu dengan tuan sebaik-baiknya rasul.

Yaitu Muhammad yang terpuji. Dia mempunyai taman. Aku memohon keselaman kepadanya pada hari tergelincir.

Pada hari makhluk bangkit kembali berkelompok-kelompok dengan sifat-sifatnya. Setiap orang yang di zhalimi menuntut balas kepada yang berbuat batil (zalim).

Telah diputuskan dan dilaksanakan antara pengawas dengan yang menyempurnakan. Celakalah orang yang berdosa dan orang yang bodoh.

Wahai orang yang menuju Allah karena cinta. Engkau harus taqwa kepada Allah pada setiap perbuatan.

Jauhilah hawa nafsu yang tercela dan syahwat. Dan jangalah meretui sesuatu yang berada di luar agama.

Janganlah engkau menyangka dunia akan lama bertahan. Segeralah berbekal dengan sebaik-baiknya bekal dari dunia ini.

Tiada sesuatu dari dunia ini kecuali umpatan, fitnah, kesia-siaan umur dan berkurangnya keutamaan.

Wahai yang menjauhi setiap fitnah yang menghalangi amal dalam setiap keadaan.

Wahai penyerang tuan, bersermawanlah dengan memberi anugerah! Tentu ia dapat membalikkan angin utara untuk menyerang.

Semoga rahmat atas Muhamad, keluarga dan para sahabat dalam setiap saat.

Nyanyian dari Syeikh Husein bin Ali telah selesai. Semoga Allah memaafkannya. Amin.

Tuhanku, akau meminta kepadamu, wahai yang Maha Mengawasi, tunjukkanlah aku pada kebaikan, ketaatan dan perbuatan yang benar.

Dan jadikanlah Muhammad sebagai pemimpin bagiku, kedua orang tuaku, dan anak-anakku. Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku meminta taubat pada-Mu.

Bacalah Shalawat kepada Muhammad setiap hari dan malam, sebanyak sajak dan rembulanku menjelang kegelapan.

Berkatalah Dzat yang bebas berbuat apa saja Maha Memaksa, hamba raja mengikuti setiap yang dicintainya.

Semoga keselamatan meneriakkan anugerah dan kedudukan tinggi. Ia meneriakkan usianya wahai yang menolak setiap orang yang melarikan diri.

Kau memiliki bekal kerinduan dan jalan-jalan air mata. Begitlah Allah menyaksikan perkataan orang-orang yang hadir dan yang ghaib.

Sesungguhnya seorang pengikut, seorang hamba sahaya, memiliki keadaanku  dan jiwaku, berupa kerinduan, berhijrah, dan jasad yang mencair.

Aku bertanya kepada Tuhanku agar dia tidak mengecewakan maksudku. Dan menjadikan kamu sekalian mencintai hatiku dengan penuh pengharapan.

Dan orang alim yang mempunyai kemuliaan dan kemuliaan dari orang terdekat. Yang memiliki keelokan purnama gelap dalam kegelapan.

Bentengku dari bencana, penolongku dan perantaraku adalah lautan mutiara merupakan fenomena keajaiban.

Umar bin Ali bin Syeikh Ahmad bin Ali, keturunan mulia dan dermawan di Lekaso Syarib.

Abu ‘Alamah telah mendapatkan kutub hakiki. Sebagai penghormatan bagi orang yang berada di tingkat teratas.

Begitu pula rahasia-rahasia bersambung disana ada yang menginginkannya. Ia mendapatkan anugerah dari yang Maha Pemberi dan Agung.

Yang memiliki timur dan barat dan mengatakan sekehendak-Nya. Penghuni langit, aku dan bintang-bintang bersaksi.

Dia adalah seorang pemimpin walaupun dibatasi oleh jalinan sesuatu. Raja selalu memerintahkan laut-Nya.

Barang siapa yang memiliki Tuhan, maka kesusuhannya akan teratasi. Dan kepada-Nya kita berlindung, kecuali laut khusalim yang tidak meliputi kebingungan.

Dia adalah seorang pemimpin walaupun di batasai oleh jalinan sesuatu. Memerintahkannya raja selalu menggunakan bahar mutadharib.

Ia merupaka putera seorang wali. Abu Ali pemilik kemuliaan yang memiliki manakib telah mendapatkan keagungan.

Katakanlah wahai para penyiksa kuda tatakala engkau bertemu dengan jawasyi. Ia memerintahkan, wahai pemilik waktu datangnya bencana.

Maka orang-orang yang memiliki keanehan-keanehan dan karomah yang sejenisnya, lalu orang yang mengaku bahwa dari laut ada kegaiban.

Dan yang pintar ialah pemilik waktu dan orang yang agung. Barang siapa yang mengaku bahwa “Saya sepertinya”, maka ia telah berbohong.

Barang siapa yang populer setelah Musa seperti ini secara total, yang mana dapat membelah laut.

Bercahayalah dengan cahaya Allah sekaran bahkan bercahaya dengan cahaya yang bermacam-macam. Dan berbanggalah dengan keajaiban-keajaiban.

Orang Arab dan yang bukan yang mencoba memahaminya menjadi bingung. Akhirnya mereka menerima apa yang terjadi. Ia berdiri dan melompat.

Bulan purnama meninggi seperti matahari dan kemudian berakhir. Apakah (bahar) mutadarik dan kuda dari setiap penjuru.

Aku berdiri tak terhiting jumlah orang yang terlihat. Namun disana tidak ada yang bertobat. Maka kami berkata : “Bertobatlah!”

Aku mengunci gedung. Seperti itulah ia masuk. Penghuninya ketakutan seperti orang ateis yang ketakutan.

Wahai serangan Allah hampir orang yang melihat terpecah. Begitu pula pemud, orang yang berakal, dan orang tua.

Katakanlah wahai Umar dalam setiap keadaannya. Ia bergetar karenamu. Wahai pembela yang hadir dan yang ghaib takut.

Bait pembuka dan penggerak dari seseorang yang akan mengungkapkan perempat akhir seperti engkau bercakap-cakap.

Dengan lemah lembut berkata Abdun bin Abu Ali aku bersibuk diri berguru  kepada seorang guru yang sangat dermawan.

Barang siapa yang mempunyai shalat (sedang shalat) sedang dia dalam tekanan atau kekerasan maka dihapus dosanya dan ditetapkan pahala karena berperang di jalan Allah.

Dia memerangi yang keliru dan yang menyimpang yang hampir musnah, tenggelamlah tujuan yang penuh warna.

Dengan sang arwah memilih tempat untuk berkelana di padang gembala memetik beribu-ribu ranting rumput.

Tetapi lautan yang tiada bertepi menyaksikan setiap siapa yang meminum ari darinya dan menjadi peminum airnya.

Bahagia pagimu sepertimu yang masih mentah dan muda kembali menuju untukmu yang mempunyai hukum dan percobaan (pengalaman).

Wahai yang di sekeliling kemabukan dan juga yang buta engkau akan melihat dan sehat (badan).

Dengan begitu akan terlihat jelas yang baik dan buruk serta yang tersembunyi dan urusan yang berjalan dengan baik dan cepat.

Demi Allah dan kebenaran Allah adalah bagian-bagian dari apa-apa yang tersaji dari setiap berkumpulnya para mazahib.

Tiada satupun yang sampai pada yang telah engkau capai yang terdahulu dan tidak ada yang berhasil sampai ke tempatmu dalam (meriwayatkan) dari ahli riwayah.

Kecuali engkau punya pengetahuan dengan itu semua (hukum) dimana engkau mengikuti jejak saling memecahkan masalah dengan kata kebenaran, sesungguhnya kebenaran adalah benar.

Wahai yang mencari keridhoan Allah yang Maha Pengasih wahai Abu Ali engkau harta karun yang dicari setiap orang.

Dimanakah engkau wahai tuanku dimanapun engkau kuharap engkau bersamaku dan dekatlah denganku di hari yang panas yang menakut-nakuti.

Wahai pemimpin yang terpilih, wahai harapan dan tujuan kilatan cahaya memandang hambamu walaupun bagai di lubang jarum.

Sebentar lagi engkau akan mendapat kebenaran wahai Abu Ali jika engkau akulah bahtera yang tulus ikhlas sepenuh hati.

Engkau tiang yang hitam legam yang kokoh yang mana barang siapa yang mengetahuimu, telaga kautsar dan terbanjiri oleh awan.

Kepadamu seluruh perkara dan pernyataan minum dan memberi minum kepada seluruh umat sehingga hilah kelelahan.

Kilat dan halilintar memarahi setiap  waktuku mengetuk malam dan siang hari serta  sore hari.

Pada saru perkara di bawah perkara Abu Ali, dengan tulisan kau bersaksi dan kerelaan sang penulis.

Bertanyalah sesukamu niscaya engkau akan diberi nasehat (pengetahuan) sebagaimana diriwayatkan, maka jadikanlah apa yang engkau tahu sesuatu yang engkau cinta.

Katakan apa-apa yang kau lihati akan terlihat (tersinari) apa-apa yang tersembunyi dan bersungguh-sungguh niscaya akan kau dapati siapa yang pengkhianat, menyembunyikan dan pembohong.

Kejujura menyelamatkan yaitu mengatakan apa-apa yang telah diriwayatkan dan bersahabat dengan orang  jujur adalah sebai-baik sahabat.

Mutiara, permata, mulut (bibir) yang ridho dan lemon bagaikan binary mata indah adalah cinta kasih yang mengharumkan.

Mengasihani selain dirinya adalah cahaya-cahaya yang kau melihat sesuatu dari langit turun ke bumi mengejek kerentaan.

Debu dan tanah itu datang dari surga bagaikan gigi-gigi yang kokoh.

Dan kerajaan wahai orang yang jujur ceritakan padaku dan fikirlah apa bedanya antara wali dan wakil.

Tidakkah Qasam Sam yang mempunyai mahkota Abu Ali dialah Shohibul maktab (yang punya kedudukan) yang selalu mencari kesibukan.

Sementara telor putih selalu memberi waktu kehadiranku dan susunan yang tiada habis menggantung pada ketinggian.

Dan singgasana dan kursi yang ada di laukh yang telah ditetapkan dibelakang batu menjadi saksi dan pengantar dan memberi.

Begitulah kabar yang besar atau semisalnya datang bagaikan suara ringkikan dan paksaan.

Tujuh sudutnya dan si perumputnya yang memanggil untuk menetapkan kesediaan pemimpin atas setiap penghormatan.

Untuk menguasai kegentingan, mengasihi penuh perhatian Abu Ali bahagialah sepanjang umur menghadapi musibah.

Dan dengannya kita mengharap kebahagiaan yang bebas dan terpisah dengan binar-binar mata menemukan keagungan.

Wahai tujuan maksudku, Abu Ali penolongku kau tundukkan hamba yang sewenang-wenang dan penindas.

Begitupun kemegahan melahirkan kemegahan bekalku dan air minumku, dialah kemegahan lawan minuman yang menyelamatkan setiap makhluk.

Dan akhirnya shalawatullah untuk junjunganku yang mulia tidak tergerakkan oleh kenikmatan hidup ( arus kehidupan)

Dan keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya tidak terkecuali pemimpin para kafilah-kafilah.

Segala Puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam

Kau pakai baju besi dengan gembira wahai shohibu zaman yang kau terima dari agama-agama sebagai keagungan nasib.

Dan di haribaan yang maha Pengasih engkau sebagai Syahid dan kau melihat malaikat-malaikat Allah dari timur sampai barat.

Kau selubungi para malaikat di setiap tempat, dengan banyak kedermawanan semoga kemurahan Allah untukmu.

Di belakang hijab (penghalang) engkau kepada Allah telah dekat (sekejap), kekerasan hati dipenuhi dengan cahaya-cahaya kebaikan.

Dan perintahmu ibarat perintah Allah bila kamu katakan jadi maka jadi dan kau adalah raja dari para tentara, kau katakan padanya “kuatlah”

Dan engkau adalah kepercayaan Allah disetiap saat (keperluan) kasih-Nya bagi semesta alam, kasih yang tiada bandingnya.

Di surga firdaus tempatmu yang abadi, dimuliakan dengan harta yang melimpah dan keutamaannya untukmu.

Allah telah memberimu segala kemuliaan dan bagi kehomatan Allah disetiap waktu kepada kamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah dan mendepak pengkhianatan.

Demi Allah yang menciptakanku, kau baginya adalah seorang syahid cahayamu memenuhi ufuk (ujung) negeri Roma dan Yaman.

Tiada seorangpun (dari negeri manapun) yang bisa mencapai tempatmu itu, dan tiada yang berhasil mencapai tempatmu wahai penghidup sunah.

Tidakkah engkau seorang yang tahu dan juga penuh kebaikan kau mempunyai urusan dan langkah yang memaksamu untuk taat dan tunduk.

Demi Allah dan demi kebenaran Allah sesungguhnya kau terjaga, kau punya petunjuk dan tanda-tanda wahai penyirna kesedihan.

Wahai keridhoan yang maha pengasiha mari berdo’a kami tenang miliki do’amu di tengah-tengah ketidakramahan.

Wahai kemuliaan tanda-tanda mari tenggelam dalam kecemburuan yang menghilangkan jatuhnya air mata dan menghapus sesuatu yang jauh.

Wahai permata kebaikan, kebaikan dan wewangian dengannya berkumpul dan menyatu yang fardu dan sunnah.

Wahai yang secepat beribu buih dengan satu penglihatan bagi agama, dunia dan kubur.

Dan ketika dikumpulkannya makhluk pada satu ditiup seruling selamat dari bencana ketakutan dan ujian.

Dengan keterusteranganmu mengenai Allah menyelamatkan dari fitnah, menajamakan pandangan-pandangan mata inilah nikmat paling utama.

Engkau raja putera raja-raja yang mempunyai kecerdasan bait pembuka dan penggerak yang telah tersiar.

Bapak penerang dan Bapak negeri kau dilahirkan dengan kesucian dan kebersihan hati, selamat hati dari segala kebencian.

Kau curi kebanggaan sang dermawan, sebangga-bangga cela Umar Syeikh kita yang masyhur perhiasan dan kedudukan.

Kami bahagian dan terkejut wahai saku keutamaan, kebahagiaannya dan perhiasan yang terpercaya.

Dialah yang terbenam diri dengan yang ghaib masuk dengan izin Allah dari lautan dengan cepat.

Dialah pemukul lautan dengan sebuah batu api disaksikan hal itu oleh anak buahnya yang jujur.

Sebagian kita lihat, sebagian kita mendengar berkata aku bingung dalam perjalanan disebuah kota.

Aku bersumpah demi kebenaran Allah bahwasannya perkataanku benar tidak seorangpun di dunia ini membantah jika mendengar.

Kecuali yang mempunyai aturan mengatur semua yang masuk dan yang menghidupkan dan yang menetapkan memupuk kesempurnaan.

Dan kerajaan wahai penyeru adakah kau dengar, tiada seorangpun menginginkan pemimpin dari zaman dahulu.

Berangsur-angsur mengikuti dan mengelilingi dari setiap sisi seseorang yang tertinggi derajatnya dilubuk hati setiap umat.

Muhammad yang masyhur di syurga dia tinggal kebahagiaan adalah kegembiraan padamu, engkau adalah orang kepercayaan.

Dihadiahkan untukmu langkah kebahagiaan, disanalah kau ditempatkan yaitu tempat kebanggaan kemuliaan yang sangat tinggi.

Wahai wali segala urusan hadiahkan kepadaku anugerah yang indah, tiada sesuatupun yang aku punya selain engkau didalam hatiku yang kekal.

Engkaulah penolong setiap makhluk yang mengharap keutamaan kebaikanmu yang taat pada yang diinginkan.

Wahai pemimpin yang terpilih oleh setiap pemberani, sesungguhnya engkau tiangku tempat sandaranku.

Disaksikan oleh keagungan keadaan sesungguhnya kau ikhlas karena kerinduan kepadamu dalam memimpinku dalam ketenangan.

Dan beribu-ribu shalawatullah untuk kakeknya Hasan Muhamad yang terpilih yang selalu jadi penolong untukku

Dan keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya begitulah kecemburuan bulan dengan suara sajaknya.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam

Allah, Allah, ya Allah , Allah, Allah, ya Allah.

Ya Rabbi jadikan semua do’aku engkau terima

Zaman berlalu dan benang-benang penyambung tersambung, dan setiap pengharap telah menerima harapannya

Musnahlah segala kegelapan dan keraguan diterangi diantara bulan-bulan yang membawa kabar maksud dan pemintaan.

Dan terbitlah mataharinya dalam waktunya kemudian bercerita sesungguhnya dia mempunyai kebesaran bentangan tahun dan kepanjangan.

Keridhoan tumbuh berseri-seri selalu diatas taman-taman dan menyingkap segala yang mengerikan.

Berkembanglah isarat keridhoan sehingga tidaklah berarti lautan dan isinya serta mutiara.

Kegemerlapan mengelilingi keindahannya, maka mulai terbukalah serambi kebaikan yang nyata.

Berlalulah kapal-kapalnya, berbeloklah haluan-haluannya, turunlah hujan deras disana-sini dari setiap langit.

Tunduk ketiak lepas nafas-nafas panjang yang belumpernah berhenti sepanjang hari menimpanya.

Mata penolong menjaganya dan menggembalakannya dari malapetaka perubahan dan kebinasaan.

Bagaikan serasinya cabang dan pohon (asal) yang saling menyambung, maka setiap cabang sesuai dengan asal muasal.

Maka bagaimana tanggungan utusan Allah atas jaminan-jaminan, maka persetujuan adalah bagian dari yang dijaminkan.

Hilangkanlah kotoran dan sucikanlah segalanya untuk mereka yang kuat dialah yang didalam al-Qur’an diturunkan.

Dan sang pencuri cinta dalam genggaman sang pemberi kehidupan dialah penguasa seluruh manusia.

Ataukah mereka itu bintang-bintang maka katakan pada orang yang bisa (kuasa) dengannya kalian jatuh cinta dan bertujuan maka tenunlah dengan petunjuk sebuah kain (tenunan)

Ataukah mereka adalah perahu Nuh, barang siapa yang mengendarainya selamat dan setiap yang terbawa menjadi terjaga.

Ataukah mereka adalah tingkatan-tingkatan seruan utusan (rasul) seperti apa-apa yang ada di hadist-hadist dan khobar-khobar yang telah terukilkan.

Ketika pesta keguguran menyapa mereka, maka jadilah orang yang cerdas, sementara cabang tidak terpisahkan dengan asalnya

Ataukah mereka orang-orang yang ruku dan yang sujud marahlah sang kegelapan karena tertutup olehnya.

Rencana peperangan mereka temui, bersinarlah cahaya, bunga-bunga yang merampat

Para pegawai dalam ketaatan dan mereka sambil bekerja bertilawah dan bertartil.

Kerinduan merisaukan mereka dan keindahan membakarnya dengan kobaran cinta yang tak terpadamkan oleh serpihan-serpihan sutera

Sehingga luluhlah bangunan kokoh dan di mandikan didalam lautan keutamaan dan kebaikan.

Mereka bersemangat dalam meriwayatkan dan bersaksi dengan rasa fuji dan kesucian hati.

Maka diantara mereka menjadi bulan purnama didalam madrasah-madrasah mereka memafaatkan ilmu dan berjibaku dalam pengajaran,

Dan diantara mereka berkejaran dalam sistem-sistem, mendakwahkan kebenaran dalam ketekunan dan khotbah-khotbah

Dan diantara mereka yang berkelana dalam kemenangan mereka untuk mengetahui sang penyusun kebenaran dan badut-badut

Mereka meninggalkan urusan dunia maka tidaklah bagi mereka bencana untuk menambah atau mengurangi

Maka kekalutan terhapuskan siraman ketaatan mereka, pikatlah dengan pemikiran-pemikiran  mereka dalam zuhudnya, pikatlah

Dan diantara mereka menulis sejarah dan memperluas pengetahuan dan keadaannya, maka hiruplah keutamaan dan yang terutama

Dan jadilah lautan yang dalam dimana dunia tidak bisa membuatnya keruh hingga datang kebencian dan berubahlah keutamaan

Yang wujud membawa jarak yang melindungi kita bagai mata penolong letih dan keletihan

Abu Bakar bin Salim Al-Qatab az-Zadi yang untuknya telah berkumpul kemuliaan, keutamaan dan keindahan

Dialah sang pengumpul dua rumah sehingga terangkatlah (derajat) tatanan yang sempurna, maka menggemalah kesempurnaan

Kebahagiaannya kebahagiaan yang dalam dada anak cucunya walau berlalu seperti perjalanan dari masa ke masa

Disampaikanlah ke tangan penguasa-penguasa di zamanku hingga yang menodainya bagai noda malam

Anak Ali Umar yang masyhur penebus kita, menjernihkan rahasia-rahasia dari kebatilan

Ketika cahayanya menawan didalam suasana mak menyebarlah kehormatan, kebebasan, yang masuk akal.

Sesungguhnya orang yang berbahagia, jika kebahagiaannya muncul, maka semakin bertambah baginya kehormatan dan kebaikan karena kebahagiaan tersebut.

Kemuliaan tampak ketika disebut di hadapannya. Karena setiap sang pecinta akan mendapatkan bagiannya.

Itulah kebajikan yang agung, walau aku pun akan mendaptkannya. Tentu dikatakan padaku : “Engkau yang datang tanpa diundang. Sangat memalukan”.

Tetapi aku menyembunyikan urusanku dengan mengambil muka. Dan aku berharap pengampunan (untukku) cepat terkabul.

Jika aku mempercayai Allah sebagai pencipta kami, maka cita-citaku tidak akan berubah.

Aku memohon pada-Nya agar aku mendapat ampunan dan kewarasan. Dan dia menggantikan kesulitan dengan dua kemudahan.

Dan dia tidak akan menghukumku atas apa yang  aku perbuat. Walau dia menghinakan orang yang menghinakau.

Jika aku memiliki keteladanan pada keluarga Thaha (Muhamad) maka mereka mengkhususkan Muhamad sebagai panutan,

Wahai keluarga Thaha (Muhamad), sesungguhnya aku meminta perlindungan padamu. Karena sesungguhnya zaman telah mencelaku dan menelantarkanku.

Sebuaha anak memburuku dari busur cekung kekuasaan berwarna hijau yang loncat-loncat.

Tidak ada penolong bagiku kecuali pertolonganmu. Bangunlah dan pindahkanlah orang yang dekat padamu.

Wahai penghuni rumah Nabi, kami memohon do’a kalian. Karena sesungguhnya orang yang berdo’a diantara kalian itu akan di ijabah.

Bersegeralah memenuhi janji. Wahai tuan-tuan terhormat. Kecuali jika janji itu betul-betul anda tangguhkan. Kamu sekalian adalah orang-orang yang selau menepati janji.

Kedermawananmu merupakan tanda (kepribadianmu). Berdermawanlah kamu sekalian dengan bantuan- bantuanmu tanpa ditunda-tunda.

Mudah-mudahan Tuhan menghapuskan dosa-dosamu karena berbuat dermawan dan membebaskan kaki-kaki manusia yang terpasung.

Kemudahan sholawat dan salam menyertai Rasulullah anugerah segaik-baik utusan, da para keluarga serta sahabatnya.

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Arab

Universitas Padjadjaran Bandung

Posted by: Habib Ahmad | 14 April 2010

Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahr Al-Jufri

Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahr Al-Jufri
Memandang Sisi Yang Baik

Seorang hamba dituntut untuk meminta kepada Tuhannya agar dapat melihat kebaikan-kebaikan para makhluk-Nya, juga agar dapat menutupi aib-aib mereka.

Jika ia telah menyaksikan kebaikan-kebaikan mereka, maka ia akan berprasangka baik (husnuddhon) kepada mereka. Jika ternyata ia belum melaksanakan kebajikan yang telah mereka lakukan , maka hendaknya ia berusaha dengan sungguh-sungguh, dan bertawajjuh kepada Allah agar Ia menganugerahkan kebaikan-kebaikan itu kepadanya, karena ia tidak akan memperoleh apa pun kecuali dengan pertolongan Tuhannya. Dengan berbuat demikian, Allah akan memudahkan dan menyampaikannya pada kebaikan tersebut. Karena barang siapa memohon pertolongan kepada Allah,niscaya ia akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

“Kalian semua sesat kecuali yang telah Kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, nanti Aku akan memberi petunjuk kepada.” (HR Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, baihaqi dan Darimi)

Jika kebaikan yang ia miliki ternyata lebih baik dan lebih sempurna, maka hendaknya ia meminta agar Allah menambah kebaikannya, bersyukur atas taufik yang diberikan Allah kepadanya, dan bersyukur karena Allah telah mengkhususkannya untuk memperoleh kebaikan itu. Jika ia berbuat demikian, ia akan memperoleh kebaikan tambahan.

Jangan sampai kebaikan itu membuatnya merasa ujub (berbangga diri). Jangan sampai ia memandang dirinya lebih baik dari yang lain, jangan sampai karunia yang diberikan Allah kepadanya menimbulkan perasaan sombong. Karena, sesungguhnya dirinya dan juga orang lain berada dalam tawanan kekuasaan dan kehendak Allah. Ia seharusnya merasa takut jika suatu waktu Allah mencabut kebaikan-kebaikannya kemudian memberikannya kepada orang-orang lain, dan sebagai gantinya, ia melaksanakan keburukan-keburukan
mereka.

Jika Allah menunjukkan keburukan seseorang, maka ia dituntut untuk berakhlak dengan akhlak Tuhannya Yang Maha Pengasih, yakni mengasihi mereka dan menutupi aib-aibnya. Karena sesungguhnya keburukan yang Allah tampakkan adalah rahasia yang dipercayakan Allah kepadanya dengan tujuan agar ia dapat menyimpan rahasia itu, kemudian dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut memberikan nasihat kepada orang itu, atau melalui sindiran, atau dengan cara lain yang baik sebagaimana teguran Rasulullah SAW kepada para sahabatnya:

“Mengapa sekelompok orang berbuat demikian, hendaknya mereka menghentikan perbuatannya.” (C:13)

(Salatnya Para Wali, Nûrun Lil Qulûb Yudhî`, Putera Riyadi)

Posted by: Habib Ahmad | 14 April 2010

Majlis Rasulullah sollahu ‘alaihi wa sallam

Majlis Rasulullah sollahu ‘alaihi wa sallam

Dari Ibn Umar berkata:

‘Kami mengira di majlis Rasulullah(Sollahu ‘alaihi wasallam) bahawa Rasulullah membaca
رب اغفرلي و تب علي إنك أنت التواب الرحيم sebanyak 100 kali.’

*Rujukan : Kitab Al-Adab Al-Mufrad oleh Imam Al-Bukhari.

Subhanallah…

Bila baca hadis itu @ Dowrah Sheikh Nuruddin bulan March lalu,teringatkan apa yang hubabah Nur (zaujah Sayyidi al-Habib Umar ibn Hafidz) hidupkan sunnah Rasulullah itu didalam majlisnya.Sunnah yang mungkin dianggap orang ‘remeh’…tapi sangat terkesan dan terasa keterikatanya dengan Pembawa Risalah agung itu.

Kenangan Ramadhan @ Tarim Hadramaut:

Selepas terawih,kami akan bergegas ke rumah para auliya dan solihin yang telah ditetapkan untuk kami hadiri pengajian yang dipimpin oleh hubabah Nur.
Biasanya sebelum memulakan pengajian,hubabah akan memimpin kami membaca istighfar beramai-ramai sebanyak 100 kali.

Astaghfirullah…

Astaghfirullah…

Astaghfirullah…(100x)

Maseh terdengar alunan istighfar yang dibacakan di telinga ini.

Allah…

Allah itu Maha ADIL.

Walau kita tidak berpeluang duduk di majlis Rasulullah,bertemu Rasulullah di dunia ini,tapi DIA kekalkan kesan2 peninggalan Rasulullah buat kita.
Kesan majlisnya…
Kesan tarbiyahnya…
Kesan cintanya…
Dan segala-galanya yang mengingatkan kita seolah-olah kita pernah bersamanya yang walaupun kita terpisah dengannya secara jasad.

Ya Allah…
Bagaimanalah diri ini tidak merindui majlis itu,
Sedang majlis itu mengingatkanku kepada Majlisnya Rasulullah sollahu ‘alaihi wasallam…

Jadi,bagi sesiapa yang berpeluang memegang halaqah atau majlis,maka mari sama2 kita cuba hidupkan sunnah Rasulullah itu.

Ya Allah…
Jadikan majlis kami,
Majlis yang mengingatkan kami kepada Kekasih Agung Mu….

Posted by: Habib Ahmad | 14 April 2010

Proses Pengislahan Prof Dr Burhanuddin al- Helmi

Mempelajari Metafizik oleh Prof. Dr. Burhanudin al-Helmi

Bagi memudahkan mendekati ilmu tasawwuf dan tariqat-tariqatnya bagi mencari ilmu di zaman kebendaan dan ilmiah ini, eloklah lebih dahulu mempelajari ilmu fizik kemudian pelajari ilmu metafizik atau mâ warâ’a al-tabâ‘ah, ilmu falsafah dan ilmu perbezaan antara agama-agama.

Dalam hal ini rasanya eloklah saya ceritakan sedikit hal-hal saya dengan tasawwuf ini. Ayahanda saya adalah seorang tasawwuf dan bertariqah Naqshabandi serta dengan lurus dan wara‘nya. Maka saya dari kecilnya dilatih secara wara‘nya dan mesti kuat beribadat mengikut-ngikut dia sembahyang berjamaah, membaca Quran dan [Maulid karya] al-Barzanji, ahzab dan zikir. Sebagai orang muda tiadalah saya tahu apa-apa. Saya ikut-ikut itu kerana malu dan segan jua. Saya lakukan dengan berat kerana kawan-kawan lain dapat lepas dan bermain-main saya tidak.

Bila saya lepas belajar ke luar, di Indonesia, dapat saya belajar bahasa Belanda dan guru-guru agama saya pula ‘ulama’-‘ulama’ kaum muda dan berfaham progresif dalam Islam, maka fikiran saya terbentuk dengan membaca keterangan-keterangan moden dan majalah-majalah moden seperti al-Manar dan al-Fath. Saya pelajari ilmu-ilmu usul fiqh, usul al-ahkam, mazahib al-arba‘ah (mazhab empat) dan membaca kitab-kitab Bidayah al-Mujtahid, Subul al-Salam, kitab-kitab [Syeikh al-Islam] Ibn Taimiyyah, Ibnu al-Qayyim, al-Shaukani, [Syeikh] ‘Abdul Wahhab al-Wahhabi (yakni [Syeikh] Muhammad Abdul Wahhab), al-Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rashid Rida dan akhirnya Tantawi. Saya pun terbalik bertentang dengan ayah saya dalam pendirian. Saya memusuhi jumud kolot. Pada saya, tasawwuf dan tariqatnya itu suatu ajaran mematikan semangat dan campur-aduk dengan bid‘ah. Pada saya kitab tasawwuf seperti karangan Imam Ghazali (w.505H/1111M) itu saya pandang seperti madu bercampur racun, kerana saya pandang dari segi bahas fiqh, tafsir dan hadith tidak kuat menurut kaedah rawi dan sebagainya. Ini berlaku di antara 1927 hingga tahun 1940. Pendeknya ilmu tasawwuf saya ketepikan. Nafsu saya tidak mahu langsung kepadanya, apa lagi sebagai seorang wartawan muda pada tahun 1937 saya keluarkan majalah Taman Bahagia lalu tertangkap kerana saya didapati oleh penjajah berpolitik tegas dan berbahaya kepada penjajah dan akan membangkitkan kesedaran rakyat, hinggalah sekarang ‘Malaya jadi Palestin kedua’ masih kedengaran diperkatakan orang.

Maka saya di India saya dapat mempelajari bahasa Inggeris dan Perancis, dan dalam mempelajari ilmu-ilmu kedoktoran homeopati asas Belanda memudahkan saya mempelajari bahasa Jerman. Kemudian masuklah saya ke dalam perguruan psikologi-metafizik, ilmu al-ruhani juga falsafah dan perbezaan-perbezaan agama besar di dunia ini. Apabila menyusun-nyusun tesis untuk kedoktoran failasuf (Ph.D) maka terpaksalah saya berfikir mendalam mengambil di mana titik berat, inti sari dan pati punca perbezaan dan perbalahan. Maka termasuklah membahaskan berkenaan dengan sufi itu termasuk dalam falsafah. Saya pelajari sufi dari bahasa-bahasa Eropah. Terpaksalah balik saya mengenal al-Ghazali, al-Badawi, al-Rifa‘i, al-Rumi, al-Qushairi, Ibnu ‘Ata’illah dan lain-lain serta rujuk kitab-kitab Eropah itu kepada kitab Arab maka barulah saya mencari kitab-kitab Arabnya pula.

Kemudian setelah saya siasati kedatangan Islam ke Nusantara kita ini dan datuk nenek kita memeluk agama Islam yang hanif (yang lurus-peny.) ini terutamanya kesan-kesannya ialah daripada ‘ulama’-‘ulama’ Syi‘i dan ‘ulama’-‘ulama’ tasawwuf, sama ada ‘ulama’-‘ulama’ itu datang secara saudagar atau secara muballigh; bukan masuk melalui ‘ulama-‘ulama’ fiqh, Islam masuk di Nusantara kita ini berkembang tidak dengan kekerasan atau paksa tetapi dengan kemahuan hati dan pilihan jua yang dapat mengatasi agama Hindu dan Buddha [se]bagaimana yang diperjuangkan oleh wali songo di Jawa dan lain-lain kepulauan maka beransur-ansur nampaklah saya kesenian ilmu tasawwuf.

Hebatlah sungguh perlawanan di dalam diri saya sendiri pertentangan-pertentangan yang saya katakan dahulu itu tasawwuf kolot dan jumud dengan Islam progresif dan saintifik.

Bila kita halusi intisari alam metafizik dan pengertian alam mithal yang diterangkan ‘ulama’-‘ulama’ tasawwuf dipandang dari bahas ilmiah hari ini nampaklah kita di mana ilmu tasawwuf dan tariqat-tariqatnya.

Dipetik daripada buku Simposium Tasawwuf dan Tariqah oleh Prof. Dr. Burhanuddin, hlm. 35-38.

Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas roh al-Marhum Prof. Dr. Burhanuddin al-Helmi.

Sumber : Http://Malakian.Blogsome.Com

Kitab Kasyfu Syubahat yang menghilangkan syubahat. melegakan dahaga.

Kitab yang mengandungi fatwa-fatwa didalam agama Islam, risalah berkenaan ahwal mayyit, hukum menghadiahkan pahala bacaan dan seluruh kebajikan orang hidup kepada mayyat yang Islam. Adakah sampai pahalanya kepada yang dihadiahkan atau tidak?. Penerangan perkara yang dibuat dan dikatakan ketika muhtadar sebelum maut , selepasnya dan disisi kubur. Perkara-perkara yang diqodokan untuk mayyat samada wajib atau sunat dari wasiat-wasiat oleh mayat atau tidak diwasiatkannya. yang terdiri dari hutang, kafarat, zakat, haji, puasa, sembahyang iktikaf dan sebagainya. Perkara-perkara yang bermanfaat untuk mayat ,doa atau sedekah dan lainnya. Hadis-hadis yang warid berkenaan “قل هو الله احد” dan “لا اله الا الله” . Hukum memerdekakan yang kubra dan yang sughro. Hukum mengugurkan sembahyang (fidyah sembahyang) yang jelas penerangannya. Kesemuanya sangat sempurna keterangannya serta disebut, Mazhab-mazhab dan huraiannya , Hadis-hadis dan takhrijnya. Dalil-dalil dan taqrirnya . Daripada himpunan yang dikau tak akan berjumpa sepertinya dimana-mana kitab pun. Wallahu al mufawwfiq lishowab
Posted by: Habib Ahmad | 13 April 2010

Al Fatihah al-Quthub al-Habib ‘Abdul Qadir as-Saggaf

al-Quthub al-Habib ‘Abdul Qadir as-Saggaf

إنا لله وإنا إليه راجعون

Tengahari tadi hamba mendapat sms yang membawa khabar sedih dari al-Fadhil Ustaz Azian, Imam Masjid al-Falah USJ. Kabar sedih yang mengugah hati. Bukan sahaja makhluk di bumi menangisinya, bahkah penduduk langit. Allahu Allah ….. Khabar sedih tersebut adalah kembalinya ke rahmatUllah al-Imam al-Quthub, Baqiyatus Salaf wa Sayyidul Khalaf, al-Allamah al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin ‘Abdurrahman as-Saqqaf (1331/1911 – 1431/2010) pagi tadi. Allahu Allah ….. Tiada musibah yang lebih besar daripada perginya seorang ulama yang arifbillah, faqih, murabbi, mursyid …… Allahu Allah ….

Sayyiduna Abu Darda رضي الله عنه berkata: Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda (maksudnya): Sesiapa yang pergi di pagi hari kerana inginkan ilmu dan untuk mempelajarinya semata-mata kerana Allah Ta’ala, nescaya Allah Ta’ala akan membukakan baginya satu pintu menuju syurgaNya, para malaikat membentangkan sayapnya untuknya dan demikian juga ikan-ikan dilaut. Kelebihan orang yang alim itu ke atas orang yang abid apalah seumpama kelebihan bulan purnama ke atas sekecil-kecil bintang dilangit. Para ulama itu adalah pewaris Nabi. Sesungguhnya Nabi tidak mewariskan wang dinar dan tidak juga wang dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Sesiapa yang mengambil ilmu maka dia telah mengambil habuannya yang amat bernilai. Oleh itu matinya seorang yang alim adalah satu musibah yang sukar digantikan dan satu kepincangan yang susah ditutupi. Ini adalah umpama bintang yang hilang sirna (diantara bintang-bintang). Sesungguhnya matinya satu kabilah adalah lebih ringan musibahnya berbanding matinya seorang yang alim. [Hadits riwayat Abu Daud, at-Tirmidhi, Ibn Majah dan al-Baihaqi]

Perginya seorang ulama, bererti hilanglah sebahagian ilmu, Abdullah bin ‘Amr bin Ash رضي الله عنهما meriwayatkan sebuah hadits:

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) hamba-hambaNya. Tetapi Allah Ta’ala menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim-ulama sehingga apabila tidak tertinggal satu orang alimpun, manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka ditanya (tentang masalah agama), lalu mereka akan berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. (Hadits riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi dan Ibn Majah)

Wafatnya ulama, bererti hilanglah satu bintang yang menjadi petunjuk kepada umat, terlebih lagilah ulama dari kalangan ahlulbait. Mereka seumpama bintang dilangit yang menjadi petunjuk kepada para pengembara, maka apabila mereka tiada, pengembara kan hilang pedoman dan langit menjadi suram tiada tidak berseri.

Daripada Anas bin Malik رضي الله عنه katanya: Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda (maksudnya): Sesungguhnya perumpamaan ulama di bumi ini adalah seperti bintang-bintang yang dijadikan petunjuk di dalam kegelapan-kegelapan darat dan lautan, apabila bintang-bintang ini sirna di antara kegelapan-kegelapan tadi, maka sudah tentu para penunjuk jalan akan berhadapan dengan kesesatan jalan [Hadits riwayat Imam Ahmad]

الله يغفرله ويرحمه ويتجاوز عن سيئاته ويضاعف حسناته ويجعل مستقر روحه الفردوس الأعلى مع النبيين والصديقين و الشهداء والصالحين ويخلفه فينا وفي المسلمين أجمعين بالخلف الصالح. آمين
Semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, memaafkan semua kesalahannya, melipatgandakan kebaikannya, menempatkan ruhnya di Syurga Firdaus yang tertinggi bersama para Nabi, siddiqin, syuhada’ dan sholihin dan semoga Allah memberi ganti yang baik bagi kami dan kaum muslimin. Ameen.

Marilah kita sama-sama menghadiahkan bacaan surah al-Faatihah dan surah Yaasin kepada beliau.

Oleh : Mufti Perak – Tan Sri Harussani Zakaria

Kerajaan pada 31 Mac yang lalu memutuskan lokasi sambutan Hari Pahlawan yang sering diadakan di Tugu Negara pada setiap 31 Julai akan dipindahkan ke Putrajaya, kata Menteri Pertahanan Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi.

Pemindahan lokasi itu adalah sebagai mematuhi garis panduan oleh Majlis Fatwa Kebangsaan dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) sebelum ini yang menyatakan sambutan itu tidak boleh diadakan di kawasan yang mempunyai patung menyerupai manusia.

Saya gembira apabila mendengar keputusan kerajaan itu. Ini merupakan satu kemenangan pihak institusi agama dalam menegakkan kebenaran syarak, walaupun tradisi sambutan Hari Pahlawan di tugu negara seolah-oleh terlalu suci untuk diubah. Namun pengumuman terbaru itu menunjukkan bahawa tradisi boleh diubah jika kita serius dan mahu menjunjung perintah Allah SWT dan Rasulullah melebihi tradisi dan peraturan yang kita adakan sendiri. Sekalung tahniah saya ucapkan kepada Ahmad Zahid Hamidi yang kebetulan dulunya adalah Menteri di Jabatan Perdana Menteri ketika itu yang bertanggungjawab dalam hal ehwal agama. Begitu juga dengan Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Jamil Khir Baharom yang dulunya orang kuat Angkatan Tentera Malaysia.

Sebenarnya fatwa ini bukannya baharu, tapi telah diputuskan oleh AJK Fatwa Kebangsaan pada 6 Oktober 1987 dalam Muzakarah Kali Ke-19 yang telah menetapkan bahawa :

(a) Amalan-amalan seperti tiupan Last Post bertafakur dengan menundukkan kepala selama 20 saat, meletakkan kalungan bunga, bacaan sajak, nyanyian dan tiupan Rouse yang dilakukan di hadapan Tugu Negara dalam upacara menyambut Hari Kenangan Rakan Seperjuangan olah Angkatan Tentera Malaysia bercanggah dengan Islam dan boleh membawa kepada syirik.

(b) Bacaan sajak yang boleh menimbulkan semangat kepahlawanan adalah diharuskan dengan syarat tidak dilakukan di hadapan tugu atau di tempat-tempat atau dalam suasana yang dilarang oleh syarak

.

Kemudian pada 21 September 1995, Muzakarah Kali Ke-39 pula memutuskan bahawa :

” Meletakkan kalungan bunga di Tugu Peringatan Negara sempena sambutan Hari
Pahlawan adalah sama dengan keputusan yang telah diambil dalam Muzakarah
Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan yang bersidang pada 7 Oktober 1987 iaitu
bercanggah dengan Islam dan boleh membawa kepada syirik.”

Apa yang saya ingin nyatakan di sini bagaimana pendekatan dakwah pada hari ini perlu diteruskan bersama dengan kekuatan kekuasaan. Fatwa berkaitan dengan Hari Pahlawan bukannya baru, malah sudah 13 tahun diputuskan, namun hanya pada 31 Mac 2010 fatwa itu diterima untuk dipatuhi.

AJK Fatwa Kebangsaan dan para mufti seluruh negeri umumnya bertindak sebagai penasihat dalam hukum syarak. Namun sejauh mana nasihat ini boleh diterima dan dipatuhi, semuanya bergantung kepada pemegang kuasa, pemerintah atau Umara. Saya melihat inilah cabaran utama para ulama hari ini.

Pengalaman

Golongan ulama banyak bertugas sebagai penasihat, ada yang menjadi Mufti, ada yang menjadi Panel Syariah di perbankan atau di syarikat-syarikat. Sedikit pengalaman saya sebagai Kadi Besar dan hari ini sebagai Mufti menunjukkan bagaimana para ulama perlu bijak mendekati para Umara. Di tangan merekalah kuasa untuk merubah polisi dan undang-undang.

Bukan saya kata mendekati di sini dengan maksud membodek atau sanggup menjadi pak turut, seperti tuan penasihat Sadiq Segaraga dalam cerita tiga Abdul. Asal saja dapat 25 peratus semuanya boleh. Maksud saya bagaimana hari ini kita berperanan menunjukkan ‘permata’ itu adalah permata dan bukan dipandang orang ia ‘kaca’. Cuma mungkin gaya pendekatan, penghujahan dan metod dakwah yang perlu kita titik berat hari ini. Dengan itulah nanti setiap nasihat ulama akan berupaya membentuk dan dijadikan panduan oleh para umara dan masyarakat. Ulama perlu tegas namun berhikmah dalam menyampaikan dakwah mereka.

Perkembangan terbaru ini sudah nampak baiknya. Namun saya akan terus berjuang moga segala fatwa dan nasihat yang telah diputuskan akan terus dipatuhi oleh pemerintah dan masyarakat. Masih banyak keputusan atau fatwa tinggal terlipat dalam fail-fail muzakarah.

Saya juga mengharapkan institusi fatwa nanti akan kebal daripada tekanan politik serta mempunyai kekuatan untuk ditaati oleh semua pihak sama ada rakyat mahupun pemerintah. Keimanan kita terhadap Islam yang tinggi (Islamuya’lu wala yu’la alaih) dan sokongan Perlembagaan Persekutuan dalam perkara 3 perlu diterjemahkan dalam realiti negara pada hari, jika kita terus mahu melihat Islam dihormati. Saya mengharapkan ia menjadi realiti sebelum saya dipanggil Allah SWT satu hari nanti.

Sumber : Utusan Malaysia Online

Posted by: Habib Ahmad | 12 April 2010

Zikir Mengingati Allah

Zikir Mengingati Allah

Posted on April 11, 2010 by sulaiman

Abu Musa r. a memberitakan bahawa Rasulullah s. a. w bersabda: “Perbandingan orang yang berzikir dengan orang yang tidak berzikir adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati. Orang yang tidak berzikir itu adalah seperti orang mati.”

Rasulullah s.a.w bersabda, siapa yang banyak mengingati Allah (zikir), Allah menyayanginya. (Riwayat Dailami dari Aisyah r.a).

Berzikir iaitu mengingati Allah ialah tanda kita menyayangi Allah. Seseorang yang menyayangi dan merindui seseorang banyak menyebut namanya atau mengingatinya di dalam hatinya.

Mengingati Allah dalam bentuk zikir ada 3 cara iaitu zikir mulut, zikir hati dan zikir nafas. Siapa yang menyayangi sesuatu, dia akan sentiasa menyebutnya (mulut) atau mengingatinya (hati). Ada zikir yang malaikat tidak dapat kesan, iaitu zikir nafas. Ulama membahaskan tentang yang mana lebih afdal diantara zikir mulut dan zikir hati, masing-masing membawa hujah dan hadis berkaitan. Contohnya hadis qudsi yang lebih kurang berbunyi ” siapa yang mengingatiku bila bibir mulutnya bergerak, aku bersamanya.

Sayangilah Allah, “sebut-sebutlah Allah ” dan ingatlah Allah samada melalui zikir lidah, zikir hati atau zikir nafas. Siapa yang menyayangi Allah, Allah menyayanginya. Siapa yang disayangi Allah diampunkan dosanya dan dimasukkan ke dalam Syurga.

Dalam sembahyang kita wajib mengingati Allah, kalau terlalai cepat-cepat kembalikan ingatan kepada Allah:-

Ta-Ha [14] Sesungguhnya Akulah Allah; tiada Tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Daku.

Rasulullah s.a.w. berkata “Aku ada masa aku untuk tuhanku”. Oleh itu peruntukkanlah masa yang khusus untuk berhubungan dengan Allah secara peribadi. Buatlah amalan atau wirid harian yang tetap walaupun sedikit, misalnya 10 minit setiap hari untuk berzikir atau istigfar kepada Allah. atau zikir “Laila ha illallah” 100 kali setiap sehari. Isilah masa dengan jadual atau program zikir supaya masa tidak terbuang begitu saja walaupun sedikit. Allah suka amalan yang berterusan walaupun sedikit.

Berzikir boleh dilakukan sambil berjalan kaki, memandu kereta, bahkan sambil berbaring di atas tilam yang empuk pun boleh berzikir. Ramai juga yang masuk syurga VIP kerana berzikir di atas tilam yang empuk.

Abu Said Al-K hudri r. a memberitakan bahawa baginda Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Berapa banyak orang yang di dunia ini mengingati ALLAH s.w.t di atas tilam yang empuk, yang kerananya Tuhan membawa mereka ke peringkat tertinggi di dalam syurga.”

AL-FATIHAH …. BERITA KESEDIHAN & TAKZIAH

AL-QUTUB AL-HABIB ABDUL QADER AHMAD AS-SAGGAF
KEMBALI KE RAHMATULLAH TAALA .

PEMERIAN WALIY AL-QUTUB INI
PADA SEBELUM WAKTU FAJAR PAGI TADI
(AWAL PAGI AHAD – 4 APRIL 2010 = 19 RABIUL AKHIR 1431) ..

BERITA INI DIPEROLEHI MELALUI SUMBER YANG DISAHKAN OLEH :
HABIB HASAN AL-ATTHAS (IMAM MASJID BA ALAWI , SINGAPURA) ,
HABIB ALI AS-SAGGAF (PIMPINAN MAJLIS ASMAUL HUSNA, MASJID AL-BUKHARY, KL) &
HABIB ALI ZAINAL ABIDIN Al-HAMID

SEBAGAI RUJUKAN SILA LIHAT LAMAN WEB HABIB UMAR BEN HAFIDZ.


SAMA-SAMA LAH KITA SOLAT JENAZAH AL-GHAIB UNTUK AL-HABIB

&

MAJLIS TAHLIL KHAS UNTUK ROH AL-HABIB AKAN DIADAKAN
DI MASJID AL-BUKARY , JALAN HANG TUAH , KL .

PADA : HARI SABTU INI
25 RABIUL AKHIR = 10 APRIL 2010
SELEPAS SOLAT MAGHRIB

AKAN DIPIMPIN OLEH AL-HABIB ALI AS-SAGGAF
(PMPINAN ASMAUL HUSNA MASJID ALBUKHARY)

ANDA SEMUA DIJEMPUT HADIR

Posted by: Habib Ahmad | 9 April 2010

Zikir serta doa qunut bukan satu perbuatan bidaah

KUALA LUMPUR 24 Jan. – Berzikir secara berjemaah selepas solat di masjid bukan satu perbuatan bidaah dan begitu juga membaca doa qunut ketika solat Subuh.

Pensyarah Kolej Perniagaan, Universiti Utara Malaysia (UUM), Prof. Madya Dr. Asmadi Muhammad Na’im berkata, menziarah makam Rasulullah di masjid Nabawi di Madinah pun bukan tergolong dalam amalan bidaah.

Selain itu beliau berkata, umat Islam turut dibenarkan bertawassul dengan Rasulullah secara umum sama ada ketika hidup atau selepas kewafatan baginda.

”Semuanya ini terkandung di dalam kitab al-Bida’ al-Munkarah atau bidaah dilarang yang dihasilkan oleh ulama terkemuka, Prof. Dr. Whabah Zuhaily.

“Whabah di dalam kitabnya itu turut menyatakan jenazah mendapat faedah daripada bacaan orang lain,” katanya.

Beliau berkata demikian ketika membentangkan kertas kerja yang bertajuk Wacana Religio-Intelektual Najdiyyin: Pro & Kontra Terhadap Peranannya pada Tamadun Ummah di Masjid Wilayah Persekutuan di sini hari ini.

Mengulas lanjut mengenai zikir selepas solat berjemaah di masjid, Asmadi berkata, berdasarkan pandangan Whahbah, zikir yang dibaca hendaklah dalam keadaan tidak mendatangkan kekacauan.

“Berhubung amalan menziarah makam Rasulullah, ia tidak boleh dikatakan bidaah. Jumhur ulama membenarkannya kecuali ibn. Taimiyyah,” katanya.

Dalam kertas kerjanya, beliau juga meminta semua masyarakat Islam berpegang kepada huraian Imam Abdul al-Qahir Tahir al-Baghdadi mengenai siapakah golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah.

“Mereka terdiri daripada golongan yang menguasai ilmu khusus dalam bab Tauhid iaitu yang bebas daripada fahaman tasybih (menyamakan sifat Allah dengan makhluk) serta ta’til (menafikan sifat-sifat Allah sejak azali).

”Mereka juga terdiri daripada imam-imam fiqh serta golongan yang menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan periwayatan hadis dan sunnah Rasulullah,” katanya.

http://utusan.com.my/

Posted by: Habib Ahmad | 9 April 2010

Kufur nikmat kerugian manusia

Kufur nikmat kerugian manusia

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

setiap manusia itu bertanggungjawab terhadap nikmat-nikmat yang diamanahkan kepadanya dan akan disoal di akhirat kelak. – Gambar hiasan

——————————————————————————–

BERSUA kembali dalam ruangan Relung Cahaya pada tahun baru 1431 Hijrah. Semoga cahaya kebenaran sentiasa mengiringi perjalanan kita sekalipun berbagai onak dan duri terpaksa kita tempuhi.

Rasanya baru sahaja kita melangkah masuk ke tahun 1430 Hijrah, hari ini ia telah pun berlalu meninggalkan kita dan tidak akan kembali lagi. Bagaimana kita telah memanfaatkan waktu-waktu yang telah berlalu, hanya kita yang dapat menjawabnya. Sheikh Ibnu ‘Atoillah telah mengingatkan kita tentang nilai waktu menerusi kalam hikmahnya: “Apa yang telah terluput daripada umurmu tidak ada gantiannya, dan apa yang telah terhasil daripada umurmu, tiada ukuran nilai harganya.”

Memanfaatkan masa

Mensia-siakan hak waktu bererti mensia-siakan umur yang begitu berharga kerana umur yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Apabila kita membiarkan ia berlalu tanpa melakukan sebarang amal soleh, maka kita telah terlepas daripada kebaikan yang amat banyak.

Allah berfirman yang bermaksud: Dan sesungguhnya tidak ada (balasan) bagi seseorang melainkan (balasan) apa yang diusahakannya; dan sesungguhnya usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya, pada Hari Kiamat kelak); kemudian usahanya itu akan dibalas dengan balasan yang amat sempurna. (al Najm: 39-41)

Sabda Rasulullah SAW ini wajar dijadikan renungan: “Tidak datang kepada seseorang hamba satu waktu yang tidak disebut nama Allah di dalamnya melainkan akan mendatangkan penyesalan kepadanya pada Hari Kiamat kelak.”

Apabila waktu telah pergi, ia tidak akan dikecapi kembali, dan tiada suatu pun yang lebih mulia daripada waktu. Al Hasan al Basri RA berkata: Saya pernah menemui beberapa kaum yang begitu menjaga dan mengasihi diri dan waktu mereka melebihi daripada penjagaan mereka terhadap dinar dan dirham. Sebagaimana seseorang itu tidak mengeluarkan dirham dan dinar melainkan pada perkara yang mendatangkan manfaat dan faedah kepada dirinya, dia juga tidak akan mensia-siakan diri mereka pada perkara-perkara yang tidak menjurus kepada ketaatan kepada Allah.

Para salafussoleh begitu berhati-hati dan tamak menjaga masa mereka sehinggakan Sayyiduna Ali RA pernah berpesan kepada isterinya Sayyidah Fatimah RA supaya melembutkan dan mencairkan masakan bagi mengurangkan masa mengunyah makanan yang mencuri masanya untuk bertasbih.

Menunda amal

Hari ini, kita melihat ramai manusia yang mengambil sikap menangguhkan waktu beramal atas alasan pekerjaan dan urusan dunia yang lain. Sheikh Ibnu ‘Atoillah, seorang yang sangat tinggi pengalamannya dalam menghidupkan amalan salafussoleh dan dunia tarbiah menegaskan bahawa sikap gemar menunda amal kebaikan pada waktu ada kelapangan dengan kesibukan dunia, adalah suatu kebodohan.

Ketahuilah! Menangguhkan suatu amalan disebabkan urusan duniawi kerana menantikan masa lapang adalah suatu kebodohan kerana kamu lebih mengutamakan dunia daripada akhirat sedangkan kesibukan dunia tidak akan pernah habis. Kesibukan dengan pekerjaan dan kesibukan dunia akan menghalang seseorang itu daripada melakukan amal kebaikan yang akan menyambungkan hubungannya dengan hadrat Tuhannya.

Menangguhkan amalan kebaikan kerana urusan duniawi dianggap sebagai suatu kebodohan kerana tiga perkara:

1. Mendahulukan dunia dari akhirat. Ini bukanlah sifat orang Mukmin yang berakal dan ia bercanggah dengan tuntutan Allah. Firman Allah SWT: Bahkan kamu utamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal. (Al A’la: 16-17)

2. Menunda amal kerana menanti akan ada masa lapang kadang kala tidak diperoleh. Bahkan, kadang kala maut lebih dahulu menjemput ajalnya ataupun pekerjaannya menjadi semakin banyak dan sibuk kerana kesibukan duniawi adalah satu perkara yang saling tarik menarik dan bertali arus. Sebagaimana yang disebut oleh penyair: “Maka tidak akan habis-habis kehendak seseorang dari dunia ini, dan tidak akan berkesudahan suatu keperluan melainkan berkehendak kepada keinginan yang lain pula.”

3. Berkemungkinan kesempatan waktu untuk beramal itu diperoleh ketika dia tidak lagi bersemangat untuk beramal, ataupun ketika dia telah menukar niatnya. Oleh sebab itu, wajiblah seseorang itu bersegera melakukan amal dalam apa jua keadaan sekalipun, dan dia perlu merebut segala peluang sebelum tibanya maut dan terluputnya masa atau kesempatan, di samping bertawakal kepada Allah bagi mendapat kemudahan dalam urusannya dan menjauhkan segala rintangan yang menghalangnya membina dan merapatkan hubungan dengan Allah.

Allah berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada (mengerjakan amal-amal yang baik untuk mendapat) keampunan daripada Tuhan kamu, dan (mendapat) syurga yang bidangnya seluas seluruh langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran: 133)

Di antara tanda orang yang mengenal Allah ialah sempurna akalnya dan tajam pemikirannya. Tanda orang yang berakal ialah bersegera melakukan suatu amal. Mengejar umur, tidak boleh ada padanya sebarang penangguhan kerana apa yang terluput daripadanya tidak akan berganti dan apa yang terhasil daripadanya tidak ternilai harganya. Di dalam hadis Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah! Di antara tanda orang yang berakal ialah menjauhi dari dunia yang menipu, kembali ke negara yang kekal abadi, menyiapkan bekalan untuk mendiami kubur dan bersiap sedia untuk Hari Kebangkitan.”

Sabda Rasulullah SAW lagi: “Orang yang berakal ialah orang yang menahan nafsunya dan beramal untuk selepas mati. Manakala orang yang bodoh ialah orang yang mengikut kehendak nafsu dan suka berangan-angan ke atas Allah.”

Di dalam Suhuf Nabi Ibrahim AS menyebut: “Hendaklah orang yang berakal yang tidak ditewaskan oleh akalnya mempunyai beberapa waktu; waktu bermunajat dengan Tuhannya, waktu muhasabah dirinya, waktu bertafakur tentang kejadian Allah dan waktu dikosongkan untuk menunaikan hajatnya daripada makan dan minum.”

Orang yang menangguhkan amalnya ialah orang yang bukan sahaja bodoh tetapi tertipu. Dari manakah jaminan yang kamu peroleh untuk sampai kepada waktu tersebut, sedangkan maut sentiasa menanti masa untuk menerkam kamu, ketika kamu tidak menyedarinya?

Rasulullah SAW bersabda: “Dua nikmat yang sering menjadi kerugian kebanyakan manusia ialah nikmat kesihatan dan waktu lapang.” Kebanyakan manusia tidak dapat menggunakan kesempatan ini melainkan sibuk dengan dunianya, terfitnah dengan nafsunya atau ditimpa sakit.

Kesimpulan daripada hadis ini, hanya segelintir manusia yang dikurniakan nikmat kesihatan dan kelapangan waktu. Sekiranya mereka dapat memakmurkannya dengan amalan ketaatan kepada Tuhan, maka mereka mensyukurinya dan mendapat keuntungan yang besar. Sekiranya mereka mensia-siakannya, mereka akan mendapat kerugian yang nyata dan kufur dengan kedua-dua nikmat ini. Bahkan, ia juga merupakan tanda kesedihan.

Syeikh Ibnu ‘Atoillah RA berkata: “Perkara yang paling menyedihkan, setelah dikurangkan halangan kamu, kamu pula tidak mengadap-Nya.” Semoga kita dapat mengambil iktibar. Orang yang hidup akan terasa sekiranya ditusuk dengan jarum. Tetapi orang yang mati tidak akan terasa sekalipun dipotong dengan pedang-pedang yang tajam. Renungilah!!

http://www.utusan.com.my

Posted by: Habib Ahmad | 9 April 2010

Bila Maksiat Sudah Terlalu Banyak

Bila Maksiat Sudah Terlalu Banyak

Posted on April 7, 2010 by sulaiman

Bila maksiat sudah terlalu banyak, dan tiada usaha dakwah dilakukan, Allah akan menurunkan azab untuk menyelesaikannya. Bila azab diturunkan, tiada siapa yang dapat menghalangnya. Hanya dalam kes Nabi Yunus sahaja, azab ditarik balik kerana mereka bertaubat setelah Nabi Yunus berdoa minta diturunkan azab dalam masa 2-3 hari.

Yunus [98] (Dengan kisah Firaun itu) maka ada baiknya kalau (penduduk) sesebuah negeri beriman (sebelum mereka ditimpa azab), supaya imannya itu mendatangkan manfaat menyelamatkannya. Hanya kaum Nabi Yunus sahaja yang telah berbuat demikian – ketika mereka beriman, Kami elakkan azab sengsara yang membawa kehinaan dalam kehidupan dunia dari menimpa mereka dan Kami berikan mereka menikmati kesenangan sehingga ke suatu masa (yang Kami tentukan)

Sabda Rasulullah SAW: “Demi Allah (SWT) s.w.t yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya hendaklah kalian menyeru kepada yang makruf (baik) dan mencegah daripada melakukan perkara yang mungkar (keji). Jika kalian tidak melakukannya Allah (SWT) s.w.t akan menurunkan seksa kepada kalian dan apabila kalian berdoa kepadanya nescaya tidak akan dimakbulkan.(Riwayat Tirmidzi)

Pada masa azab diturunkan itu doa tidak lagi diterima iaitu doa untuk menolak azab yang datang itu (bila maksiat sudah terlalu banyak). Adakalanya semua akan terkena azab itu termasuk orang-orang soleh. Tetapi orang-orang soleh itu selamat di hari kiamat nanti.

Posted by: Habib Ahmad | 9 April 2010

Buang amalan khurafat

Buang amalan khurafat

Abu Hassan Din



 

Mega:Bolehkah kita membuat binaan atas kubur?

ABU HASSAN: Terlebih dahulu kita perlu memahami apa yang dimaksudkan dengan membuat binaan. Setakat kita membuat dinding simen atau mar mar di sekeliling kubur itu bukan termasuk dalam binaan atau perhiasan.

Tetapi jika sampai ke tahap membuat bumbung di kubur, itu sudah termasuk dalam membuat binaan. Ini diharamkan kecuali pada kubur para rasul, sahabat dan yang setaraf dengannya.

Ada pun, amalan masyarakat yang suka menabur bunga di pusara, ini pun tidak ada nas yang mensyariatkannya. Adalah dibimbangi perbuatan sedemikian boleh membawa kepada termasuk dalam perhiasan itu tadi.

Kalau ada pun dalam syarak adalah amalan para ulama yang menyiram air atas pusara selepas jenazah disemadikan.

Perbuatan memacak sesuatu yang basah seperti pelepah tamar atau kelapa, ada nas menyebut selagi ia masih basah ia masih bertasbih pada Allah memohon keampunan pada mayat.

Barangkali berdasarkan nas tadi, agak masyhur di kalangan masyarakat kita untuk menanam pokok kemboja kerana ia basah dan akan mendoakan si mati.

Tetapi tidak pula disebut memacak payung di atas pusara. Tidak ada nas menyuruh perbuatan sebegini dan ulama menyebut ia termasuk dalam bidaah dan khurafat.

Bagaimana pula dengan tahlil arwah yang dilihat mesti dibuat apabila berlaku kematian?

ABU HASSAN: Ini satu lagi perkara yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Bagi yang tidak mengharuskannya, ia dianggap bidaah atas alasan antaranya Nabi SAW tidak pernah membuat tahlil arwah dan juga bersandarkan hadis bermaksud: Apabila mati anak Adam putuslah amalnya kecuali tiga iaitu amal jariah, doa anak soleh dan ilmu yang bermanfaat (riwayat Muslim)

Bagi ulama yang mengharuskannya, tahlil dibolehkan berdasarkan hadis yang sama. Cuma yang terputus adalah amalan orang yang mati. Sedangkan amalan orang yang masih hidup untuk di mati masih belum putus dan boleh dilaksanakan.

Keharusan tahlil juga bersandarkan kepada hadis Rasulullah SAW di mana pada suatu hari baginda didatangi oleh seorang wanita. Kata wanita itu: “Ya Rasulullah, ibu saya baru meninggal dunia dan belum mengerjakan haji. Lalu Nabi menjawab, kerjakan olehmu haji untuk ibumu itu”.

Bersandarkan peristiwa itu, ulama memutuskan bahawa orang yang hidup boleh membuat ibadat seperti haji, puasa dan sedekah untuk si mati.

Bagaimanapun, soal menetapkan tarikh tahlil pada malam pertama, ketiga, ketujuh, ke-40 dan 100, ini tidak ada nasnya. Bahkan ada pendapat ulama bahawa hal ini tergolong dalam bidaah.

Kalau nak buat tahlil, buat sahaja pada bila-bila masa jangan kaitkan dengan masa atau tarikh tertentu.

Lagi pun, bagi saya, tahlil untuk si mati itu bukan kemestian. Ia sekadar untuk membantu atau menambah sedikit pahala kepada si mati.

Itupun dengan syarat si mati itu orang yang semasa hidupnya beribadat dan bertakwa. Jika semasa hayatnya, si mati tadi dikenali sebagai orang yang tidak pernah solat malah hidupnya sentiasa bergelumang dengan maksiat, secara peribadi saya melihat tahlil tiada ada faedah baginya.

Contohnya, seorang bapa semasa anak mudanya masih hidup tidak pernah menyuruh anaknya solat malah hidup anaknya terlalu bebas sehingga tidak mengenali Tuhan.

Tiba-tiba anaknya itu mati, adakah tahlil boleh membantu atau memberi faedah kepadanya, kebanyakan ulama berpendapat, ia tidak memberi sebarang faedah.

Kalau hendak membantu anak atau kaum keluarga daripada api neraka pastikan ia dibuat semasa hayat mereka bukan setelah mereka mati.

Ingatlah firman Allah yang bermaksud: Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu daripada neraka…(al-Tahrim: 6).

Ada juga pandangan mengatakan majlis cukur jambul yang sebahagian besar kita buat sekarang adalah bidaah. Benarkah?

ABU HASSAN: Rasulullah SAW ada bersabda yang bermaksud: “Seorang anak terikat dengan akikahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dan dicukur serta diberi nama”. (riwayat Ahmad dan Tirmidzi)

Rasulullah sendiri mencukur rambut cucunya iaitu Hasan dan Husin semasa melakukan akikah. Mencukur di sini bermaksud membotakkan kepala anak.

Dari Ibnu Abbas r.a., bahawa Nabi SAW mengakikah seekor kambing untuk cucunya dan berseru: “Hai Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang-orang miskin seberat timbangan (rambutnya). Mereka berdua lalu menimbangnya, adalah timbangannya waktu itu seberat satu dirham atau sebahagian dirham”. (riwayat Tirmidzi)

Sayangnya, menjadi amalan dalam masyarakat kita dalam majlis bercukur jambul akan diadakan berzanji dan marhaban. Kemudian bayi tadi dibawa bersama sebiji kelapa dan hadirin akan menggunting sedikit rambutnya dan dimasukkan ke dalam kelapa itu.

Berdasarkan pandangan ulama, perbuatan begini adalah bidaah dan khurafat.

Kita dilarang melakukan qazak iaitu mencukur sebahagian tertentu kepala anak itu sahaja.

Daripada Abdullah bin Umar r.a., bahawasanya dia berkata: Nabi SAW melarang daripada mencukur sebahagian kepala anak kecil, dan meninggalkan yang sebahagian lain, iaitu qazak. (riwayat Bukhari dan Muslim)

Antara kelebihan mencukur kepala, rambut yang ada pada kepala bayi dibimbangi mengandungi kuman yang dibawa bersama daripada dalam rahim.

Jika tidak dibuang dibimbangi kuman atau virus itu akan meresap dalam kepala dan otak yang mungkin menjejaskan mental bayi tersebut.

Apa pula hukum melukis inai pada tangan terutama bagi gadis yang mahu berumah tangga?

ABU HASSAN: Islam melarang perbuatan melukis pada mana-mana anggota badan tidak kira apa juga bahan yang digunakan sama ada kekal atau sementara.

Ini ditegaskan dalam hadis Nabi SAW yang bermaksud: “Allah melaknat (washam) yang bekerja sebagai melukis di badan orang dan orang yang meminta supaya dilukis”.

Sepatutnya, berkahwin itu adalah perbuatan yang baik, maka jangan dicampur aduk dengan benda atau perbuatan yang kurang baik lebih-lebih yang khurafat.

Dibimbangi akan kurang keberkatan dalam perkahwinan tersebut.

Tentang pakai inai ia memang diharuskan tetapi jangan dilukis.

Demikian juga dengan upacara menepung tawar yang kini dilihat sudah jadi tradisi dan sebati dalam masyarakat. Sedangkan ia bukan budaya Islam.

Sebab itu, ulama berpendapat perbuatan merenjis dengan tepung tawar itu untuk tujuan apa sekali pun adalah termasuk dalam bidaah dan khurafat. Ia patut ditolak.

Ada juga sebahagian ulama yang membolehkan merenjis dengan syarat jangan guna tepung tawar. Gantikan dengan benda lain seperti merenjis air mawar.

Kedua, jangan ada niat tertentu tetapi seelok-eloknya jangan amalkan budaya ini.

Kebelakangan ini ada di kalangan orang Islam yang menjadikan anjing sebagai binatang peliharaan. Apakah hukum memelihara anjing sebagai kegemaran?

ABU HASSAN: Memang tidak ada nas yang melarang kita memelihara anjing. Cuma kita kena tengok apakah tujuan berbuat demikian.

Dalam kitab fiqh ada istilah kalbul mu’allim iaitu anjing yang dilatih untuk berburu. Dalam keadaan ini adalah diharuskan untuk kita menggunakan anjing. Syaratnya, tempat gigitan anjing itu tidak boleh dimakan.

Berdasarkan hukum ini, ulama berpendapat tidak jadi kesalahan jika orang Islam pelihara anjing bagi tujuan menjaga keselamatan harta benda dan rumah.

Tetapi pada masa yang sama, kita perlu tahu bahawa anjing itu adalah binatang bernajis. Jika ia menjilat atau kita terkena jilatan anjing maka ia perlu disamak.

Dalam hal memelihara anjing untuk tujuan suka-suka, dibimbangi kita terkena najisnya. Apatah lagi jika anjing itu dibiar berkeliaran dalam rumah. Dalam keadaan demikian, kita tidak boleh memastikan tentang najis anjing itu yang keluar masuk ke rumah.

Pada masa yang sama, Rasulullah ada bersabda yang bermaksud: Malaikat tidak akan masuk dalam mana-mana rumah yang ada anjing dan patung. (riwayat Bukhari dan Muslim)

Kalau demikian, bagaimana kita hendak mendapat rahmat Allah?

Utusan.

Majlis Pengajian Baba Aziz di Baalawi KL untuk bulan April 2010

Assalamualaikum,

   Tuan/Puan dijemput hadir ke majlis pengajian Baba Aziz di Baalawi KL untuk bulan April 2010.

Tarikh : Jumaat (09/04/2010) – Selepas Isya’
            Sabtu (10/04/2010)  – Kuliah Dhuha (Bermula 10 Pagi)
                                          –  Kuliah Maghrib
            Ahad (11/04/2010)   – Kuliah Dhuha (Bermula 10 pagi)
Kitab : Qatrul Ghasiah

Diharap maklumat ini dapat dipanjangkan kepada rakan-rakan yang lain. Semoga kita sama mendapat manfaatnya.

Semua dijemput hadir.

Posted by: Habib Ahmad | 9 April 2010

Doa Habib Abdul Qadir

Doa Habib Abdul Qadir

Telah menjadi kebiasaan para pencinta Junjungan Nabi SAW daripada kalangan ulama untuk mengungkapkan kecintaan mereka kepada Junjungan Nabi SAW melalui susunan indah kata-kata pujian dan sholawat atas Junjungan Nabi SAW. Perkara ini dilakukan sejak zaman para sahabat Junjungan Nabi SAW lagi, di mana kita dapati ada di antara para sahabat RA yang menyusun syair-syair dan lafaz-lafaz sholawat buat kekasih mereka Junjungan Nabi SAW. Mentelaah karya-karya silam, kita akan berjumpa dengan berbagai lafaz sholawat yang dinisbahkan kepada Sayyidina ‘Ali RA atau Sayyidina Ibnu Ma`sud RA atau Sayyidina Ibnu ‘Abbas RA dan lain-lain sahabat. Kemudian para tabi`in turut berbuat sedemikian, antara yang masyhur sighah sholawat yang dinisbahkan kepada Imam asy-Syafi`i RA. Begitu jugalah dengan wiridan dan amalan-amalan lain seperti doa-doa dan zikir mentakzimkan Allah SWT. Mereka turut menyusun berbagai rupa dan gaya doa serta munajat kepada Ilahi. Perkara ini tiadalah diingkari melainkan oleh kelompok yang memandang agama ini dengan sempit. Tertolaklah akan perkataan ahli bid`ah yang kerjanya membid`ahkan orang yang menyusun lafaz-lafaz zikir, doa, munajat dan sholawat atas Junjungan Nabi SAW.

Dalam rangka memperingati pemergian al-Quthub al-Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad as-Saqqaf rhm. dinukilkan sebuah doa susunan al-Habib. Moga-moga ada manfaatnya bagi kita dan bagi al-Habib biarlah ianya menjadi antara amalan dan ilmu yang disebardan diwariskan bagi kita sekalian. ….. al-Fatihah

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 727 other followers