Dalil-dalil dan Cerita tentang Keutamaan Dzikir – Mengingat Allah
Published on October 19, 2010 in Artikel Islam. 2 Comments
Allah swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak banyaknya.” (Q.s. Al Ahzab: 41).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:”Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu?” Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dzikir kepada Allah swt.” (H.r. Baihaqi).

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik na, bahwa Rasulullah saw. ‘bersabda:”Hari Kiamat tidak akan datang kepada seseorang yang mengucap ‘Allah, Allah’.” (H.r. Muslim).

Anas r.a. juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda,”Kiamat tidak akan datang sampai lafazh ‘Allah, Allah’ tidak lagi disebut-sebut di muka bumi.” (H.r. Tirmidzi).

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah swt. Sungguh, ia adalah landasan bagi tharikat itu sendiri. Tidak seorang pun dapat mencapai Allah swt, kecuali dengan terus-menerus dzikir kepada-Nya.”

Ada dua macam dzikir; Dzikir lisan dan dzikir hati. Si hamba mencapai taraf dzikir hati dengan melakukan dzikir lisan. Tetapi dzikir hatilah yang membuahkan pengaruh sejati. Manakala seseorang melakukan dzikir dengan lisan dan hatinya sekaligus, maka ia mencapai kesempurnaan dalam suluknya.Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar, “Dzikir adalah tebaran kewalian. Seseorang yang dianugerahi keberhasilan dalam dzikir berarti telah dianugerahi taburan itu, dan orang yang tidak dianugerahinya berarti telah dipecat. ”

Dikatakan bahwa pada awal perjalanannya, Dulaf asy-Syibly biasa berjalan dijalan raya setiap hari dengan membawa seikat cambuk di punggungnya. Setiap kali kelalaian memasuki hatinya, ia akan melecut badannya sendiri dengan cambuk sampai cambuk itu patah. Kadang-kadang bekal cambuk itu habis sebelum malam tiba. Jika demikian, ia akan memukulkan tangan dan kakinya ke tembok manakala kelalaian mendatanginya.

Dikatakan, “Dzikir hati adalah pedang para pencari yang dengannya mereka membantai musuh dan menjaga diri dari setiap ancaman yang tertuju kepada mereka. Jika si hamba berlindung kepada Allah swt. dalam hatinya, maka manakala kegelisahan membayangi hati untuk dzikir kepada Allah swt, semua yang dibencinya akan lenyap darinya seketika itu juga.”

Ketika al-Wasithy ditanya tentang dzikir, menjelaskan, “Dzikir berarti meninggalkan bidang kealpaan dan memasuki bidang musyahadah mengalahkan rasa takut dan disertai kecintaan yang luar biasa. “Dzun Nun al-Mishry menegaskan, “Seorang yang benar-benar dzikir kepada Allah akan lupa segala sesuatu selain dzikirnya. Allah akan melindunginya dari segala sesuatu, dan ia diberi ganti dari segala sesuatu.”

Abu Utsman ditanya, “Kami melakukan dzikir lisan kepada Allah swt, tapi kami tidak merasakan kemanisan dalam hati kami?” Abu Utsman menasihatkan, “Memujilah kepada Allah swt. karena telah menghiasi anggota badanmu. dengan ketaatan.”

Sebuah hadis yang masyhur menuturkan, bahwasanya Rasulullah saw. mengajarkan: “‘Apabila engkau melihat surga, maka merumputlah kamu semua di di dalamnya.” Ditanyakan kepada bellau, “Apakah taman surga itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu kumpulan orang-orang yang sedang melakukan dzikir kepada Allah.” (H.r. Tirmidzi).

Jabir bin Abdullah menceritakan, “Rasulullah saw. mendatangi kami dan beliau bersabda:”Wahai ummat manusia, merumputlah di padang taman surga!” Kami bertanya, “Apakah taman surga itu?’ Beliau menjawab, “Majelis orang melakukan dzikir.” Beliau bersabda, “Berjalanlah dipagi dan petang hari, dengan berdzikir. Siapapun yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah swt, melihat pada derajat mana kedudukan Allah swt. pada dirinya. Derajat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya sepadan dengan derajat dimana hamba mendudukkan-Nya dalam dirinya.” (H.r. Tirmidzi, juga riwayat darl Abu Hurairah).

Asy-Syibly berkata, “Bukankah Allah swt. telah berfirman, ‘Aku bersama yang duduk berdzikir kepada-Ku’. “Manfaat apa, wahai manusia dari orang yang duduk dalam majelis Allah swt.?” Lalu ia bersyair berikut: Aku mengingat-Mu bukan karena aku lupa pada-Mu sesaat; Sedang bagian yang paling ringan adalah dzikir lisanku. Tanpa gairah rindu aku mati karena cinta, Hatiku bangkit dalam diriku, bergetar, ketika wujd memperlihatkan Engkau adalah hadirku, Kusaksikan Diri-Mu di mana saja, Lalu aku bicara kepada yang ada, tanpa ucapan, Dan aku memandang yang kulihat, tanpa mata.

Di antara karakter dzikir adalah, bahwa dzikir tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu, kecuali si hamba diperintah untuk berdzikir kepada Allah di setiap waktu, entah sebagai kewajiban ataupun sunnah saja. Akan tetapi, shalat sehari-hari, meskipun merupakan amal ibadat termulia, dilarang pada waktu-waktu tertentu. Dzikir dalam hati bersifat terus-menerus, dalam kondisi apa pun. Allah swt. berfirman:”Yaitu orang orang yang dzikir kepada Allah, baik sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring (tidur).” (Q.s. Ali Imran: 191).Imam Abu Bakr bin Furak mengatakan, “Berdiri berarti menegakkan dzikir yang sejati, dan duduk berarti menahan diri dari sikap berpura-pura dalam dzikir.”

Syeikh Abu Abdurrahman bertanya kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq, “Manakah yang lebih baik, dzikir ataukah tafakur? Bagaimana yang lebih berkenan bagimu?” Beliau berkata, “Dalam pandanganku, dzikir adalah lebih baik dari tafakur, sebab Allah swt. menyifati Diri-Nya sebagai Dzikir dan bukannya fikir. Apa pun yang menjadi sifat Allah adalah lebih baik dari sesuatu yang khusus bagi manusia.” Maka Syeikh Abu Ali setuju dengan pendapat yang bagus ini.

Muhammad al-Kattany berkata, “Seandainya bukan kewajibanku untuk berdzikir kepada-Nya, tentu aku tidak berdzikir karena mengagungkan-Nya. Orang sepertiku berdzikir kepada Allah swt.? Tanpa membersihkan mulutnya dengan seribu tobat karena berdzikir kepada-Nya!”Saya mendengar Syeikh Abu Ali menuturkan syair:Tak pernah aku berdzikir kepada-Mumelainkan hatiku, batinku serta ruhku mencela diriku.Sehingga seolah-olah si Raqib dari-Mu berbisik padaku,’Waspadalah, celakalah engkau. Waspadalah terhadap dzikir!”

Salah satu sifat khas dzikir adalah, bahwa Dia memberi imbalan dzikir yang lain. Dalam firman-Nya:”Dzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan dzikir kepadamu.” (Q.s. Al Baqarah: 152).

Sebuah hadis menyebutkan bahwa Jibril as. mengatakan kepada Rasulullah saw, bahwasanya Allah swt. telah berfirman, “Aku telah memberikan kepada ummatmu sesuatu yang tidak pernah Kuberikan kepada ummat yang lain.” Nabi saw. bertanya kepada Jibril, “Apakah pemberian itu?” Jibril menjawab, “Pemberian itu adalah firman-Nya, ‘Berdzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan akan berdzikir kepadarnu.’ Dia belum pernah memfirmankan itu kepada ummat lain yang mana pun.”

Dikatakan, “Malaikat maut minta izin dengan orang yang berdzikir sebelum mencabut nyawanya.”Tertulis dalam sebuah kitab bahwa Musa as. bertanya, “Wahai Tuhanku, di mana Engkau tinggal?” Allah swt. berfirman, “Dalam hati manusia yang beriman.” Firman ini merujuk pada dzikir kepada Allah, yang bermukim di dalam hati, sebab Allah Maha Suci dari setiap bentuk “tinggal” dan penempatan. “Tinggal” yang disebutkan di sini hanyalah dzikir yang tetap dan sekaligus menjadikan dzikir itu sendiri kuat.

Ketika Dzun-Nun ditanya tentang dzikir, ia menjelaskan, “Dzikir berarti tiadanya ingatan pelaku dzikir terhadap dzikirnya.” Lalu ia membacakan syair:Aku banyak berdzikir kepada-Mu bukan karenaaku telah melupakan-Mu;Itu hanyalah apa yang mengalir dari lisanku.

Sahl bin Abdullah mengatakan, “Tiada sehari pun berlalu, kecuali Allah swt. berseru, ‘Wahai hamba-Ku, engkau telah berlaku zalim kepada-Ku. Aku mengingatmu, tapi engkau melupakan-Ku. Aku menghilangkan penderitaanmu, tapi engkau terus melakukan dosa. Wahai anak Adam, apa yang akan engkau katakan besok jika engkau bertemu dengan Ku’?”Abu Sulaiman ad-Darany berkata, “Di surga ada lembah-lembah di mana para malaikat menanam pepohonan, ketika seseorang mulai berdzikir kepada Allah. Terkadang salah seorang malaikat itu berhenti bekerja dan teman-temannya bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau berhenti?’ Ia menjawab, ‘Sahabatku telah kendor dzikirnya’. ”

Dikatakan, “Carilah kemanisan dalam tiga hal: shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Kemanisan hanya dapat ditemukan di sana, atau jika tidak sama sekali, maka ketahuilah bahwa pintu telah tertutup.

Ahmad al-Aswad menuturkan, “Ketika aku sedang melakukan perjalanan bersama Ibrahim al-Khawwas, kami tiba di suatu tempat yang dihuni banyak ular. Ibrahim al-Khawwas meletakkan kualinya dan duduk, begitupun denganku. Ketika malam tiba dan udara menjadi dingin, ular-ular itu pun berkeliaran. Aku berteriak kepada Syeikh, lalu berkata, ‘Dzikirlah kepada Allah!’ Aku pun berdzikir, dan ular-ular itu akhirnya pergi menjauh. Kemudian mereka datang lagi. Aku berteriak lagi kepada Syeikh, dan beliau menyuruhku berdzikir lagi. Hal itu berlangsung terus sampai pagi. Ketika kami bangun, Syeikh berdiri dan meneruskan perjalanan, dan aku pun berjalan menyertainya. Tiba-tiba seekor ular besar jatuh dari kasur gulungnya. Kiranya semalam ular itu telah tidur bergulung bersama beliau. Aku bertanya kepada Syeikh, Apakah Anda tidak merasakan adanya ular itu?’ Beliau menjawab, “Tidak. Sudah lama aku tidak merasakan tidur nyenyak seperti tidurku semalam’.”

Abu Utsman berkata, “Seseorang yang tidak dapat merasakan keganasan alpa, tidak akan merasakan sukacita dzikir.”As-Sary menegaskan, “Tertulis dalam salah satu kitab suci, ‘Jika dzikir kepada-Ku menguasai hamba-Ku, maka ia telah asyik kepada-Ku dan Aku pun asyik kepadanya’.” Dikatakan pula, “Allah mewahyukan kepada Daud as, ‘Bergembiralah dengan-Ku dan bersenang-senanglah dengan dzikir kepada-Ku’!”

Ats-Tsaury mengatakan, “Ada hukuman atas tiap-tiap sesuatu, dan hukuman bagi seorang ahli ma’rifat adalah terputus dari dzikir kepada-Nya.”Tertulis dalam Injil, “Ingatlah kepada-Ku ketika engkau dipengaruhi oleh kemarahan, dan Aku akan ingat kepadamu ketika Aku marah. Bersikap ridhalah dengan pertolongan-Ku kepadamu, sebab itu lebih baik bagimu dari pertolonganmu kepada dirimu sendiri. ”

Dikatakan, ‘Apabila dzikir kepada-Nya menguasai hati manusia dan setan datang mendekat, maka ia akan menggeliat-geliat di tanah seperti halnya manusia menggeliat-geliat manakala setan-setan mendekatinya. Apabila ini terjadi, maka semua setan akan berkumpul dan bertanya, Apa yang telah terjadi atas dirinya?’ Salah seorang dari mereka akan menjawab, ‘Seorang manusia telah menyentuhnya’.”Sahl berkata, “Aku tidak mengenal dosa yang lebih buruk dari lupa kepada Allah swt.”

Dikatakan bahwa malaikat tidak membawa dzikir batin seorang manusia ke langit, sebab ia sendiri bahkan tidak mengetahuinya. Dzikir batin adalah rahasia antara si hamba dengan Allah swt.Salah seorang Sufi menuturkan, “Aku mendengar cerita tentang seorang, laki-laki yang berdzikir di sebuah hutan. Lalu aku pergi menemuinya. Ketika ia sedang duduk, seekor binatang buas menggigitnya dan mengoyak dagingnya. Kami berdua pingsan. Ketika ia siuman, aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dan ia berkata kepadaku, Binatang itu diutus oleh Allah. Apabila engkau kendor dalam berdzikir kepada-Nya, ia datang kepadaku dan menggigitku sebagaimana yang engkau saksikan’.”

Abdullah Al-jurairy mengabarkan, “Di antara murid-murid kami ada seorang laki-laki yang selalu berdzlkir dengan mengucap ‘Allah, Allah.’ Pada suatu hari sebatang cabang pohon patah dan jatuh menimpa kepalanya. Kepalanya pun pecah dan darah mengalir ke tanah membentuk kata-kata `Allah` “.

Wallahu ‘alam

Sumber http://www.facebook.com/notes/ahmad-jawahir-qolby/dzikir-hati/163080997053719

Posted by: Habib Ahmad | 21 Oktober 2010

Kecantikan jiwa

Kecantikan jiwa
Ditulis oleh Admin di/pada 18 Oktober 2010

يا ابنتي إن أردت آية حسـن # و جمالا يزين جسـما و عقـلا
فانبذي عادة التـبرج نبــذا # فجـمال النفوس أسمى و أعـلا
يصنع الصانعون وردا ولكن # وردة الروض لا تضارع شكلا
Hai putriku, jikalau kau ingin tanda-tanda keindahan
dan kecantikan yang menghiasi tubuh dan akal,

maka buanglah jauh-jauh adat berdandan,
karena kecantikan jiwa itu jauh lebih indah dan lebih tinggi.

Para tukang (bunga) itu mampu membuat bunga mawar buatan, akan tetapi
bunga mawar yang tumbuh dalam taman itu tak dapat disamai bentuknya.

[Jawaahirul Balaaghah, Sayyid Ahmad Al-Hasyimi]

Posted by: Habib Ahmad | 21 Oktober 2010

Sifat-sifat fisik Rasulullah SAW

Sifat-sifat fisik Rasulullah SAW
Posted by tamanzawiyah under Artikel
Leave a Comment
Kalam As-Sayyid Al-Allamah Muhammad bin Alawi Al-Maliki
(oleh: Arirido Barakuba)

Tubuh Rasulullah SAW tidak tinggi, juga tidak pendek. Warna kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu coklat. Juga rambutnya, tidak terlalu keriting dan tidak pula sangat lurus. Ketika wafat, pada kepala beliau hanya ada dua puluh helai uban. Tubuh beliau amat baik, berdada lebar hingga dua belah pundaknya, tampak agak berjauhan. Rambut beliau kadang-kadang dibiarkan panjang hingga menyentuh pundak, kadang dipotong pendek hingga hanya sampai pada bagian bawah telinga. Beliau berjanggut lebat. Dua tapak tangan dan jari-jarinya berkulit tebal.

Kepala dan tulang lehernya besar dan kuat. Bentuk wajahnya agak bulat. Beliau bermata lebar dengan bagian tengah berwarna hitam pekat serta bulu mata yang panjang lentik. Penghujung matanya (saluran air mata) nampak berwarna kemerah-merahan. Di bagian tengah dada, dari atas memanjang ke bawah hingga pusar banyak tumbuh rambut halus bagaikan lembaran memanjang. Beliau berjalan kuat-kuat sampai membongkok sedikit seolah-olah sedang berjalan menurun. Wajah beliau bersinar berseri-seri dan cerah bagaikan bulan purnama.

Suara beliau nyaring terdengar, dua belah pipinya rata pada permukaan wajahnya, dan bagian rahangnya tampak kokoh. Rata pada bagian dada dan perut. Dari bagian bawah bahu hingga lengan kedua tangannya tumbuh rambut halus, demikian juga pada bagian atas dada. Dua pergelangan tangan beliau tampak kuat dan agak panjang. Dua tapak tangannya besar dan lebar, tidak terlalu padat dengan daging. Pada bagian bawah bahu belakang sebelah kiri terdapat khatam an-nubuwwah (stempel kenabian) tampak seperti bulatan telur merpati.

Apabila beliau sedang berjalan agak cepat, tanah yang diinjak seolah-olah bergulung-gulung di depannya. Langkah kakinya sama sekali tidak dipaksa-paksakan. Beliau menutupi kepalamya, dan menanggalkan tutup kepalanya sewaktu-waktu membiarkan rambut terurai dan menyisir janggutnya. Beliau memakai celak yang terbuat dari itsmid setiap malam, dengan mengusapkannya pada tiap kelopak mata tiga kali sebelum tidur.

Pakaian yang beliau sukai adalah gamis berwarna putih dan habrah (jenis pakaian terbuat dari bulu berwarna agak kemerah-merahan). Lengan gamis beliau memanjang hingga pergelangan tangan. Pada saat-saat badan letih, beliau memakai pakaian longgar berwarna merah tua (agak coklat), izar (semacam sarung) dan rida (kain penutup punggung). Adakalanya beliau memakai pakaian rangkap berwarna seperti warnah tanah (afar). Kadang-kadang beliau memakai jubah agak sempit dengan lengan panjang, dan kadang-kadang juga memakai gaba (semacam gamis berlengan melebihi panjang tangan hingga ujungnya dapat di masukkan ke dalam gamis). Ada kalanya juga beliau memakai imamah (sorban) berwarna hitam dan menyampirkan kedua ujungnya di atas bahu beliau. Kadang-kadang beliau suka memakai kisa (semacam kain selimut atau kain panas) terbuat dari bulu. Beliau memakai cincin khauf (semacam sepatu terbuat dari kain tebal) dan terompah (na’l).

[Diambil dari Ringkasan Sejarah Nabi Muhammad S.A.W., Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas Al-Maliki Al-Hasani, hal. 27]

http://tamanzawiyah.wordpress.com/

Posted by: Habib Ahmad | 21 Oktober 2010

Sejarah Perkembangan Hadist

Sejarah Perkembangan Hadist Insya Allah, pada catatan kali ini akan mengambarkan perjalanan hadits dari era Rasulullah sendiri hingga pembukuan hadist oleh Imam-imam hadist. Sehingga tulisan-tulisan ini akan terus bersambung yang akan memudahkan teman-teman yang memang membutuhkannya.Membaca dan mengkaji perjalanan hadist ini sama saja seperti halnya kita membaca dan mengkaji perjalanan Al-Qur’an itu sendiri. Karena Qur’an dan Sunnah Nabi adalah sumber hukum yang tidak bisa dipisahkan.Dengan banyak membaca riwayat perkembangan hadist ini, insya Allah akan menumbuhkan rasa cinta kita pada hadist, seterusnya dimungkinkan kita akan mencintai Nabi. Proses itu terus berlanjut dengan kemungkinan mencintai Al-Qur’an pula selain sunnah Nabi. Jika hal itu terus dilakukan apakah tidak mungkin kita akan mengamalkan isi Qur’an dan hadist…Insya Allah.Mungkinkah kita mengamalkan Qur’an dan Sunnah tanpa cinta lebih dahulu pada keduanya? Mungkinkah kita mencintai keduanya tanpa mengenalnya??? Mungkinkah kita mengenalnya tanpa mempelajarinya? Minimal membaca sejarahnya?? Mungkinkah kita belajar tanpa ada rasa ingin belajar Islam atau tidak ada jerih payah???… Yah semuanya bermula dari yang kecil dan ringan.Sumber bacaan diambil dari beberapa buku, namun tulisan ini saya ambil dari beberapa catatan di Internet, agar saya pribadi tidak terlalu capek menulisnya. Namun tentu saja terlebih dahulu di edit. Banyak dalil-dalil yang tidak saya tulis karena tulisan ini hanya mengambarkan perjalanan sejarah saja. Selamat membaca Pembagian Sejarah Perkembangan Hadist Ada beberapa periode untuk mengambarkan perjalanan hadist hingga pembukuaanya yaitu: Periode pertama: Yaitu saat turunya wahyu dan pembentukan hukum dan dasar-dasarnya dari permulaan kenabian hingga beliau wafat pada tahun 11 Hijriyah. Periode kedua, Hadist di masa khulâfa ar-râsyidin yang dikenal dengan masa pembatasan riwayat. Periode ketiga, masa perkembangan riwayat, yaitu masa sahabat kecil dan tabiin besar. Periode keempat, Masa pembukuan hadis (permulaan abad kedua Hijriyah). Periode kelima Mmasa pentashhikan dan penyaringan (awal abad ketiga). Periode keenam Masa memilah kitab-kitab hadist dan menyusun kitab-kitab jami’ (nama istilah kitan hadist yang masih bercampur antara hadist sahih, hasan, dhaif ataupun maudhu) yang khusus (awal abad keenam sampai tahun 656 h.) Periode ketujuh, Masa membuat syarah, kitab-kitab takhrij, pengumpulan hadis-hadis hukum dan membuat kitab-kitab jami’ yang umum. PERIODE PERTAMA Hadis pada Masa Rasulullah Saw Para sahabat sangat memperhatikan apapun bentuknya yang berkenaan dengan Rasulullah baik berupa perkataanya, kehidupannya dan yang paling penting yang berkenaan dengan hukun-hukum Islam.Di samping sebagai Nabi, Rasulullah juga merupakan panutan dan tokoh masyarakat. Beliaupun sebagai pemimpin, bagian dari masyarakat, panglima perang, kepala rumah tangga, teman, maka, tingkah laku, ucapan dan petunjuknya dianggap ajaran untuk berdialog dengan sahabat di berbagai media, dan para sahabat juga memanfaatkan hal itu untuk lebih mendalami ajaran Islam. Penerimaan & Penghafalan Hadist Oleh Sahabat Setelah para sahabat mendengar dari Rasul, merekapun mengisahkan kembali apa yang mereka lihat atau dengar kepada keluarga, teman-teman, tetangga atau siapa saja yang mereka temui. Sebagian sahabat bahkan sengaja datang ke kediaman Nabi meskipun jauh letaknya hanya untuk bertanya. Diriwayatkan ada Kabilah di luar kota Madinah secara rutin mengutus salah seorang anggotanya pergi mendatangi Nabi untuk mempelajari hukum-hukum agama. Dan sepulang mereka kembali ke kampungnya, mereka segera mengajari kawan-kawannya.Para sahabat yang sudah menerima hadist-hadist dari Nabi, sebagian besar menghafalnya,dan hanya beberapa yang menulis hadis dalam buku. Sebab itu kebanyakan sahabat menerima hadis melalui mendengar dengan hati-hati apa yang disabdakan Nabi. Ketika menghafal terekamlah lafal dan makna itu dalam sanubari mereka. Mereka dapat melihat langsung apa yang Nabi kerjakan. atau mendengar pula dari orang yang mendengarnya sendiri dari nabi, karena tidak semua dari mereka pada setiap waktu dapat mengikuti atau menghadiri majelis Nabi. Kemudian para sahabat menghapal setiap apa yang diperoleh dari sabda-sabdanya dan berupaya mengingat apa yang pernah Nabi lakukan, untuk selanjutnya disampaikan kepada orang lain secara hapalan pula. Diantara sahabat yang mencatat hadis yang didengarnya dari Nabi Saw antara lain Abu Hurairah yang meriwayatkan hadist (dalam kitab-kitab hadist sekarang) sebanyak 5.374 buah hadis. Kemudian para sahabat yang paling banyak hapalannya sesudah Abu Hurairah ialah: 1. Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan 2.630 buah hadis. 2. Anas bin Malik meriwayatkan 2.276 buah hadis. 3. Aisyah meriwayatkan 2.210 buah hadis. 4. Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan 1.660 buah hadis. 5. Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 buah hadis. 6. Abu Said AI-Khudri meriwayatkan 1.170 buah hadis. Cara Sahabat Menerima Hadist Ada beberapa cara yang ditempuh para sahabat untuk mendapatkan hadist antara lain:• Para sahabat selalu mendatangi majelis ilmu yang diselanggarakan Rasulullah Saw. Beliaupun selalu menyediakan waktu untuk mengajar para sahabat. Jika ada seorang sahabat absen, sahabat lain yang hadir akan memberitahukan pengajaran yang di dapat. Bahkan banyak sahabat yang diam-diam memperhatikan kehidupan Nabi meskipun harus bertanya kepada istri-istri beliau• Rasulullah sendiri yang mengalami persoalan kemudian memberitakan kepada sahabat. Sahabat lain yang mendengar langsung menyampaikan lagi pada keluarganya dan sahabat lainnya. Sehingga sabda Nabi ini cepat tersebar luas. Jika yang hadir sedikit, Rasulullah memerintahkan agar yang tidak hadir diberitahu • Para sahabat sendiri yang langsung bertanya kepada Nabi tanpa malu-malu ketika ada persoalan yang menimpa mereka. Ataupun jika ada seorang sahabat yang merasa malu untuk bertanya, iapun mengutus sahabat lainnya. Semangat Para Sahabat Dalam Menerima & Menyampaikan Hadist Minat yang besar para sahabat Nabi untuk menerima dan menyampaikan hadist disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya: • Dinyatakan secara tegas oleh Allah, bahwa Nabi Muhammad adalah panutan utama (uswah hasanah) yang harus diikuti oleh orang-orang beriman dan sebagai utusan Allah yang harus ditaati oleh mereka. Allah berfirman:“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” (QS. AL-Ahzab: 21) • Allah dan Rasul-Nya memberikan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang pengetahuan (ilmu Islam khususnya). Seperti yang terdapat dalam Qur’an: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az Zumar : 9) Para sahabat berusaha memperoleh ilmu yang banyak yang pada zaman Nabi, sumber pengetahuan adalah Nabi sendiri. • Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk menyampaikan pengajaran kepada mereka yang tidak hadir. Nabi menyatakan bahwa boleh jadi orang yang tidak hadir akan lebih paham daripada mereka yang hadir mendengarkan langsung dari Nabi. Perintah ini telah mendorong para sahabat untuk menyebarkan apa yang mereka peroleh dari Nabi. Kesimpulan• Para sahabat sangat antusias mencari dan mendengarkan hadist Nabi Saw. Bahkan mereka tidak segan bertanya atau mencari tahu hadist yang tidak didengarnya dari sahabat lainnya. Meskipun jarak tempuh yang mereka lakukan untuk mendengar hadist begitu jauh.• Mencari ilmu pengetahuan Islam ketika itu adalah mencari, mendengarkan dan mendiskusikan hadist dari sumbernya langsung yaitu Nasi Saw• Pembelajaran Islam, ketaatan dalam Islam indentik dengan mencari Ilmu Islam itu sendiri. Ini dibuktikan dengan peragaan sahabat yang terus mencari ilmu, belajar dan berguru.Di tangan sahabat inilah Islam bersinar terang ke semua belahan dunia. Karena di tangan mereka adalah ilmu Islam yang akan terus digapai oleh generasi Islam berikutnya.• Islam adalah ilmu sebelum bertindak, artinya mereka..”sami’na wa Atho’na..Aku tunduk dan aku patuh. Mereka sangat khsusuk mendengarkan hadist dan ketika mengajarkannya, tanpa memikirkan lebih jauh ketika itu. Namun setelah wafatnya sang Nabi, para sahabat terkenal dengan kepiawaian mereka dalam diskusi, dalam berpidato, dalam fikih, tafsir dan lainnya. Meskipun ketika Nabi masih hidup sebagian besar para sahabat tidak bisa membaca dan menulis….pantaslah jika Allah Swt memuji para sahabat dan ridha kepada mereka “Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha (merasa puas terhadap limpahan rahmat) Allah.” (QS. Al-Mujadilah22)——————– Untuk membalas pesanan ini, sila ikuti pautan di bawah:http://www.facebook.com/n/?inbox/readmessage.php&t=1231230056866&mid=1442d7bG503184a3G70509aG0

Posted by: Habib Ahmad | 21 Oktober 2010

Majlis Ilmu di Surau Al Hidayah Malam Ini

Majlis Ilmu di Surau Al Hidayah Malam Ini
Darul Murtadz(FB) Assalammualaikum wrbt. InsyaALLAH kelas mingguan DM pimpinan AlHabib Ali Zeinal Abidin AlHamid akan bersambung spt biasa Malam ini Jumaat 29/10/10 bermula jam 915pm-1100pm d Surau AlHidayah, Keramat AU3, KL (Majlis ini terbuka kpd semua lapisan masyarakat. Semoga ALLAH SWT melapangkan masa kita & Mohon sebarkanLihat seterusnya..

Wahai Idolaku Muhammad SAW
Posted by tamanzawiyah under Artikel
Leave a Comment
Oleh : Al-Habib Munzir bin Fuad Almusawa

Dalam artikel ini Insya Allah saya akan terus meluncurkan riwayat-riwayat mengenai Sang Nabi saw, untuk menambah pengetahuan para pengunjung website ini dan menambah kecintaan kita kepada beliau saw, Perlu kita fahami bahwa wajah Sang Idola saw adalah wajah yang dipenuhi cahaya kelembutan dan kasih sayang, karena beliau adalah pembawa Rahmat bagi sekalian alam, maka wajah beliau penuh kasih sayang, demikian pula ucapan beliau saw, perangai, tingkah laku, dan bahkan bimbingan beliau saw pun penuh dengan kasih sayang Allah swt.

Seorang lelaki bertanya kepada Albarra? bin Azib ra : ?Apakah wajah Rasul saw seperti pedang ?? (bukankah beliau banyak berperang, apakah wajahnya bengis bak penguasa kejam?), maka menjawablah Albarra? bin Azib ra : ?Tidak.. tapi bahkan wajah beliau bagai Bulan Purnama..?, (kiasan tentang betapa lembutnya wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang) (Shahih Bukhari hadits no.3359, hadits serupa Shahih Ibn Hibban hadits no.6287).

Diriwayatkan oleh Jabir bin samurah ra : ?wajah beliau saw bagaikan Matahari dan Bulan? (Shahih Muslim hadits no.2344, hadits serupa pada Shahih Ibn Hibban hadits no.6297), demikian pula riwayat Sayyidina Ali.kw, yang mengatakan : ?seakan akan Matahari dan Bulan beredar di wajah beliau saw?. (Syamail Imam Tirmidzi), demikian pula diriwayatkan oleh Umar bin khattab ra bahwa ?Rasul saw adalah manusia yang bibirnya paling indah?.

Al Imam Alhafidh Syeikh Abdurrahman Addeba?I mengumpulkan ciri ciri sang Nabi saw : ?Beliau saw itu selalu dipayungi oleh awan dan diikuti oleh kabut tipis, hidung beliau saw lurus dan indah, Bibirnya bagaikan huruf Miim (kiasan bahwa bibir beliau tak terlalu lebar tak pula sempit dan sangat indah), Kedua alisnya bagaikan huruf Nuun, (kiasan bahwa alis beliau itu tebal dan sangat hitam dan bersambung antara kiri dan kanannya)?.

Dari Abi Jahiifah ra : ?Para sahabat berebutan mengambil telapak tangan beliau dan mengusapkannya di wajah mereka, ketika kutaruh telapak tangan beliau saw diwajahku ternyata telapak tangan beliau saw lebih sejuk dari es dan lebih wangi dari misik? (Shahih Bukhari hadits no.3360).

Berkata Anas ra : ?Tak kutemukan sutra atau kain apapun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tak kutemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasul saw? (Shahih Bukhari hadits no.3368). ?Kami tak melihat suatu pemandangan yg lebih menakjubkan bagi kami selain Wajah Nabi saw?. (Shahih Bukhari hadits no.649 dan Muslim hadits no.419) ?Ketika perang Uhud wajah Rasul saw terluka dan mengalirkan darah segar, maka putrinya yaitu Sayyidah Fathimah ra mengusap darah tersebut dan Sayyidina Ali kw memegangi beliau saw, namun ketika terlihat darah itu terus mengalir, maka diambillah tikar dan dibakar, maka debunya ditaburkan diluka itu, maka darahpun terhenti?. (Shahih Bukhari hadits no.2753).

Dari anas bin malik ra : ?Dan saat itu dirumah hanya aku, ibuku dan bibiku, lalu selepas shalat beliau berdoa untuk kami dengan kebaikan Dunia dan Akhirat, lalu Ibuku berkata : ?doakan pelayanmu ini wahai Rasulullah..? (maksudnya Anas ra), maka Rasul saw mendoakanku dan akhir doanya adalah : ?Wahai Allah Perbanyak Hartanya dan keturunannya dan berkahilah? (Shahih Muslim hadits no.660).

?Dan beliau saw itu adalah manusia yg terindah wajahnya, dan terindah akhlaknya? (Shahih Bukhari hadits no.3356) . ?Dan beliau saw itu adalah manusia yg termulia dan manusia yg paling dermawan, dan manusia yang paling berani? saw (Shahih Bukhari hadits no.5686).

Dari Abu Hurairah ra : ?Wahai Rasulullah.., bila kami memandang wajahmu maka terangkatlah hati kami dalam puncak kekhusyu?an, bila kami berpisah maka kami teringat keduniawan, dan mencium istri kami dan bercanda dengan anak anak kami? (Musnad Ahmad Juz 2 hal.304, hadits no.8030 dan Tafsir Ibn katsir Juz 1 hal.407 dan Juz 4 hal.50).

Dilengkapi penjelasan mengenai Tabarruk dan Istighatsah

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa : “Rasulullah saw bila selesai shalat subuh, datanglah beberapa Khadim (ajudan/pembantu) Madinah dengan Bejana-bejana mereka yang berisi air, maka setiap kali datang kepada Rasul saw setiap bejana itu, maka Rasul saw menenggelamkan tangannya pada bejana tersebut, dan sering pula hal itu terjadi di musim dingin, maka Rasul saw tetap memasukkan jarinya pada bejana-bejana itu” (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2324).

Dari Anas ra : “Kulihat Rasulullah saw dan pencukur rambut sedang mencukur rambut beliau saw, dan para sahabat mengelilingi beliau saw, maka tak ada rambut yang terjatuh terkecuali sudah didahului tangan mereka untuk mengambilnya” (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2325).

Dari Anas ra : “Ummu sulaim ra mengambil keringat Rasul saw yang mengalir dengan handuk kulit dan memerasnya hingga mengalir disebuah mangkuk ketika beliau saw sedang tidur, maka Rasul saw terbangun dan berkata : “apa yang kau perbuat wahai Ummu Sulaim?”, maka Ummu Sulaim menjawab : “Kami ingin mengambil berkah untuk anak-anak kami Wahai Rasulullah..”, maka Rasul saw menjawab : “kau sudah mendapatkannya”. (Shahih Muslim Bab : “Wanginya keringat Nabi saw dan Tabarruk dengannya”, hadits no.2331 dan 2332).

Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw, mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).

Mengenai Tabarruk ini, sudah jelas dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Rasul saw tak pernah melarangnya, apalagi mengatakan musyrik kepada yang melakukannya, bahkan para sahabat Radhiyallahu’anhum bertabarruk (mengambil berkah) dari Rasul saw, mengambil berkah ini pada dasarnya bukan menyembah, sebagaimana dituduhkan sebagian saudara kita muslimin, tapi merupakan Luapan kecintaan semata terhadap Rasul saw dan itu semua merupakan hal yang lumrah, sebagaimana kita membedakan air zam-zam dengan air lainnya, mengapa?, bukankah itu sama saja dengan Tabarruk dengan air yang muncul di perut bumi?, air zam-zam itu muncul dari sejak Bunda Nabiyallah Ismail as dikunjungi Jibril as.

Riwayat-riwayat diatas adalah dalil jelas bahwa Tabarruk tidak dilarang oleh Rasul saw bahkan sunnah.., bila ada sekelompok orang yang mengatakan Tabarruk itu hanya pada Rasul saw maka bagaimana Rasul saw mengusap Hajarul aswad..?, bagaimana dengan air zam-zam yang diperebutkan muslimin dan dianggap berkhasiat ini dan itu, Demi Allah belum pernah teriwayatkan para sahabat berebutan air zam-zam, mereka memang minum air zam-zam, tapi mereka berebutan air wudhu bekas Rasul saw.., dan rambut beliau saw, bahkan keringat beliau saw.., inilah luapan Mahabbah, pantas dan wajar saja bila seorang kekasih menyimpan baju kekasihnya misalnya, baju usang tak berarti itu sangat berarti bagi sang kekasih, maka istilah “dikeramatkan” dan lain sebagainya itu pada hakikatnya adalah luapan Mahabbah pada orang-orang shalih dan mulia, sebagaimana para sahabat bertabarruk dengan Rasul saw karena luapan Mahabbah (kecintaan) mereka pada Nabi saw, bukan karena ia Muhammad bin Abdillah, tapi karena beliau adalah Utusan Allah yang mengenalkan mereka kepada Hidayah dan kemuliaan, demikian pula hingga kini orang-orang muslim bertabarruk karena luapan cinta mereka pada gurunya yang bernama Kyai fulan misalnya, atau habib fulan, atau orang shalih misalnya, semata mata bukan memuliakan diri si Kyai atau habib atau guru atau si shalih, tapi semua itu disebabkan ia adalah orang yang membimbing mereka pada Keridhoan Allah, atau karena mereka orang yang shalih dan banyak ibadah kepada Allah, kalau mereka tak shalih (fasiq) niscaya tak akan ada yang mau bertabarruk padanya, maka puncak asal muasal Tabarruk adalah Kemuliaan Allah yang telah memilih hamba Nya fulan menjadi Guru atau Kyai atau Orang shalih, karena ini semua dengan Izin Allah, sebagaimana firman Nya : “Sungguh Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki Nya”, dan ayat Lain : “Tidaklah kalian memiliki keinginan (utk beristiqomah) kecuali telah dikehendaki Allah Rabbul ‘Alamien”. (QS Al Kuwwirat).

Nah.. dari Kehendak Allah yang menentukan hamba ini dimuliakan maka kita memuliakannya sebagaimana Allah memuliakannya, demikian para sahabat terhadap Rasul saw, ah.. ternyata para sahabat benar-benar asyik dengan idolanya, Idola termulia dari semua Idola sepanjang masa usia Bumi.., kita tercengang-cengang dengan betapa besarnya luapan cinta para sahabat pada Sang Nabi saw, dan ternyata Rasul saw pun memberi kesempatan pada para pecintanya untuk bertabarruk dengan air wudhu beliau saw, dengan keringat beliau saw, dan lainnya sesekali bukan karena beliau saw menghendakinya, namun dari keluasan hati beliau saw yang memahami luapan cinta para sahabat beliau saw, bila hal ini mungkar maka pastilah beliau melarangnya, dan bila hal ini dikhususkan pada Rasul saw maka beliau saw akan menjelaskannya bahwa ini hanya kekhususan bagi beliau saw sebagai Rasul saw dan tak boleh diikuti oleh selain beliau saw.

Mengenai Istighatsah, yaitu memanggil manusia untuk minta pertolongan, maka hal ini telah diceritakan oleh beliau saw bahwa kelak semua manusia ber Istighatsah kepada Adam as, lalu kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw.., demikian dijelaskan dalam Shahih Bukhari hadits no.1405, mengenai pendapat yang mengatakan bahwa Istighatsah harus kepada orang yang dihadapannya maka pendapat ini tidak beralasan, karena perbedaan jarak tak bisa menghalangi kemuliaan seseorang di sisi Allah swt, saya bisa saja meminta pertolongan pada teman saya diluar negeri, atau minta bantuan pada seorang berkuasa di negeri seberang yang tak saya kenali misalnya, lewat email atau surat atau lainnya, ini sudah terjadi di masa kini, yaitu hubungan antar negara, maka mustahilkah Allah menghubungkan hamba Nya yang masih hidup dengan yang sudah wafat?, bukankah diwajibkan bagi kita menyolati mayyit dan mendoakannya dengan Doa “Wahai Allah ampunilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah kewafatannya, luaskanlah kuburnya, dst didalam shalat janazah?, bukankah hadits shahih muslim dan Bukhari menjelaskan bahwa orang mati tersiksa di alam kubur karena jeritan orang yang menangisinya?, bukankah ini menunjukkan ada hubungan antara yang hidup dan yang mati?, bukankah Rasul saw mengatakan bahwa diperbolehkannya mengirim amal untuk orang yang sudah wafat? (saebagaimana diriwayatkan dalam shahih Muslim), bukankah Allah mengajari kita doa “Wahai Allah Ampunilah kami dan orang orang yang telah mendahului kami dalam beriman..?”.

Yang jelas, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Istighatsah diatas, bahwa aku dan kalian dan seluruh manusia kelak di hari kiamat akan melakukan Istighatsah.., yaitu kepada Adam as dan akhirnya kepada Muhammad saw, mau tak mau, rela tak rela, apakah menganggapnya syirik atau lainnya, namun Sayyidina Muhammad saw menjelaskan bahwa aku dan kalian dan seluruh ummatnya kelak akan ber Istighatsah kepada beliau saw.

Alangkah Indahnya sang Nabi mulia ini, dan selama kita mengakui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menjadi panutan kita, maka lihatlah kecintaan sahabat radhiyallahu’anhum pada beliau saw, bahkan ketika beliau wafat.., apa yang diperbuat oleh Khalifah kita Sayyidina Abubakar Asshiddiq ra?, beliau menyingkap kain penutup wajah Rasulullah saw lalu memeluk Jenazah beliau saw dan menciuminya seraya menangis dan berkata lirih : “Demi ayahku, Engkau dan Ibuku, tak akan terjadi dua kali kematian atasmu.. (maksudnya engkau tak akan merasakan sakitnya kematian lagi setelah ini). Demikian diriwayatkan didalam Shahih Bukhari (hadits no.4187).

Mengapa Abubakar Ashiddiq ra bersumpah dengan ayah ibunya dan Rasul saw?, dan berkata kata kepada Jenazah yang sudah wafat?, mengapa pula ia menangis dan menciumi jenazah itu?, mengapa menciumi jenazah orang yang sudah wafat sambil menangis?, adakah kita menemukan jawaban lain selain luapan kecintaannya pada Muhammad Rasulullah saw?, alangkah cintanya Abubakar Asshiddiq ra kepada Rasul saw, bahkan setelah wafat pun Abubakar Asshiddiq masih menciumi jenazah beliau saw, Alangkah cintanya Umar bin Khattab kepada Rasul saw hingga ia awalnya tak mau menerima kejadian wafatnya Rasul saw..?, tak percaya, dan mengingkari wafatnya Rasul saw?, mengapa?, bodohkah ia?, adakah jawaban lain selain besarnya kecintaan Umar bin Khattab ra pada Nabi saw?,

Wahai Allah Yang Maha Memenuhi sanubari para sahabat Nabi dengan kecintaan dan Asyik rindu pada Nabi Mu Muhammad saw.. Jadikan sanubari kami diterangi pula kecintaan pada Nabi Mu Muhammad saw, dan jadikanlah sanubari kami beridolakan Nabi Muhammad saw.. amiin..

Penjelasan Bolehnya Membawakan Syair Pujian pada Nabi SAW di Masjid &

Kemuliaan Makam Rasulullah SAW

Maha Suci Allah, Yang Membentangkan Kerajaan Alam Semesta dengan Cahaya Kemegahan Nya, maka tegaklah Angkasa Raya Langit dan Bumi sebagai Lambang Kesempurnaan Nya Yang Maha Tunggal dalam Pengaturan, Maha Tunggal dalam Keabadian Maha Tunggal dalam Kesempurnaan, Maka Gemuruhlah Kerajaan Alam Semesta sepanjang masa bertasbih Kehadirat Nya, Menggema Angkasa Raya Mensucikan Nama Nya Yang Maha Luhur dari zaman ke zaman, Dicipta Nya keturunan Adam untuk mencapai kehidupan yang Abadi, maka akan musnahlah kerajaan Alam semesta menemui kefanaan, lebur dibawah Kehendak Nya Yang Maha Menentukan, dan tersisalah Benua Kemewahan nan Abadi dan Benua Kehinaan.

Dibangkitkan Nya Pemimpin dari para Duta Nya dimuka Bumi, Sayyidina Muhammad saw, sebaik-baik makhluk dan dipenuhi Nya dengan akhlak yang sempurna, satu-satunya makhluk yang menjadi pemimpin bagi pembawa Cahaya Keridhoan Nya yang Abadi, Maha Suci Allah swt yang menjadikan kecintaan pada Sang Nabi saw merupakan kesempurnaan Iman kepada Nya, sebagaimana sabda beliau saw : ?Tiada Sempurna Iman Kalian, sebelum aku lebih dicintainya dari anak-anaknya, ayahnya dan seluruh manusia? (Shahih Muslim).

Betapa besar kecintaan para sahabat Radhiyallahu?anhum kepada Nabi saw, sebagaimana makna cinta, berarti selalu rindu pada yang dicintainya, selalu ingin bersama kekasihnya, selalu tak ingin berpisah dengan kekasihnya, mencintai segala miliknya, bahkan apa-apa yang disentuh oleh Rasul saw menjadi mulia dimata mereka, sebagaimana riwayat Sa?ib ra, : “aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw” (Shahih Muslim hadits no.2345). Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata : ?Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya? (Shahih Bukhari hadits no.168), Diriwayatkan pula bahwa Abu Talhah adalah yang pertama kali mengambil rambut Rasul saw saat beliau saw bercukur (Shahih Bukhari hadits no.169)

Tentunya seorang yang dicintai akan selalu dipuji, tentunya seorang pecinta akan selalu memuji kekasihnya, dan pujian bagi sang nabi saw boleh dimana saja, tidak terkecuali di masjid, karena kecintaan pada Utusan Allah adalah kecintaan kepada Allah, dan beliau saw sendiri yang bersabda bahwa cintailah aku karena cinta kalian kepada Allah, dan dalam hadits beliau bersabda : ?tiada sempurna iman kalian sebelum aku lebih dicintainya dari anak-anaknya, dari ayahnya dan dari seluruh manusia? (Shahih Muslim hadits no.44). bahkan Imam Muslim mengatakan bahwa ?Secara Mutlak seseorang itu tidak disebut beriman kalau ia tak mencintai Nabi saw? (Shahih Muslim Juz 1 hal 67).

Hassan bin Tsabit ra selalu memuji Rasul saw didalam masjid Nabawiy, maka ketika ia sedang asyik bernasyid (nasyid, syair, qasidah, sama saja dalam bahasa arab yaitu puji-pujian pada Allah dan Rasul saw), ia sedang melantunkan syair puji-pujian pada Rasul saw, tiba-tiba Umar ra mendelikkan matanya kepada Hassan, maka berkatalah Hassan bin tsabit ra : ?Aku sudah memuji beliau (saw) ditempat ini (masjid) dan saat itu ada yang lebih mulia dari engkau (Rasul saw melihatnya dan tidak melarang)?, lalu berkata pula Hassan kepada Abu hurairah ra yang juga ada bersama mereka : ?Demi Allah bukankah Rasul saw telah berdoa untukku : WAHAI ALLAH BANTULAH IA (hassan ketika membaca syair dihadapan Rasul saw) DENGAN JIBRIL???. Maka Abu Hurairah berkata : ?Betul?, maka Umar ra pun tak lagi berani mengganggunya. (Shahih Bukhari hadits no.3040). riwayat yang sama pada Shahih Muslim hadits no.2485.

Maka jelaslah sudah bahwa Rasul saw tidak melarang puji-pujian atas Allah dan Rasul Nya di masjid, bahkan diriwayatkan bahwa Rasul saw menaruh sebuah Mimbar khusus untuk Hassan bin Tsabit ra di Masjid, untuk ia membaca Syair memuji Allah dan Rasul saw (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6058, 6059), dan ketika ada orang yg tak menyukai Hassan, maka marahlah Ummulmukminin Aisyah ra, seraya berkata : ?Jangan kalian menghina Hassan, karena ia selalu memuji Rasulullah saw? (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6063), berkata Imam Hakim bahwa ucapan ini shahih memenuhi syarat Shahih Bukhari dan Muslim.

Fahamlah kita bahwa Puji-Pujian pada Rasul saw, yang diantaranya Qasidah, Maulid dll merupakan hal yang dimuliakan oleh Rasul saw, bahkan Sayyidatuna Aisyah ra marah ketika ada orang yang menghina orang yang memuji Rasul saw, maka ketika di akhir zaman ini muncul kelompok yang mengharamkan puji-pujian pada Rasul saw dan nasyid/qasidah di masjid, ini menunjukkan kesempitan pemahaman mereka dalam Syariah Islamiyyah, memang betul ada hadits Rasul saw yang melarang membaca syair-syair di masjid, namun itu adalah syair-syair keduniawian yang membuat ummat lupa kepada Allah swt, bukanlah syair pujian atas Allah dan Rasul saw yang memberi semangat kepada ummat untuk semakin taat kepada Allah swt.

Siang dan malam seluruh Ummat ini ruku dan sujud, bermilyar wajah menyungkur sujud kehadirat Nya hingga akhir zaman, mereka mensucikan Nama Nya yang Maha Tunggal, merekalah yang selalu dalam naungan Rahmat dan keridhoan Nya, Sebagaimana sabda beliau saw : ?Kujadikan kesenanganku adalah shalat?. Shalat merupakan Ibadah yang paling dicintai oleh beliau saw, dan ?Shalat adalah Cahaya?, demikian sabda beliau saw pula mengenalkan Indahnya shalat, suatu ibadah yang diawali dengan Takbiratul Ihram yang membuka gerbang penghadapan dengan Rabbul ?alamin, lalu lantunan kalimat-kalimat surat Alfatihah yang bila dibaca dengan khusyu maka setiap kalimat itu dijawab oleh Raja Alam Semesta, lalu lantunan kalimatullah itu menerangi seluruh alam sanubarinya, meruntuhkan dosa-dosanya, lalu ia ruku?, bertasbih kepada Nya, bertakbir, bertahmid, lalu bersujud dibawah Naungan Kelembutan dan Kasih Sayang Nya, alangkah indahnya ibadah yang satu ini, suatu ibadah yang terangkai dari hampir seluruh bentuk Ibadah, Wudhu, Niat Mulia, Doa, Alqur?an, Takbir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Istighfar, Ruku?, Sujud, khusyu, Tuma?ninah?.., itulah shalat.., Ibadah yang paling sempurna.

Demikianlah ummat ini melakukannya siang dan malam untuk sumpah baktinya kepada Allah Pencipta Alam Semesta, Namun dalam Ibadah yang Multi Sempurna ini?, tak luput?., tak luput?, tak luput?., tak seorangpun melakukan shalat terkecuali diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw?
diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw?
diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw?
diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw?
dan diwajibkan Nya bershalawat pada Muhammad saw? ?Salam Sejahtera atasmu wahai Nabi dan Rahmat Allah dan keberkahan Nya?.?, kalimat ini merupakan kalimat yang diwajibkan Allah yang harus ada dalam Ibadah termulia ini.. Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?,

Diriwayatkan bahwa Abu Sa?id bin Ma?la ra sedang shalat dan ia mendengar panggilan Rasul saw memanggilnya, maka Abu Sa?id meneruskan shalatnya lalu mendatangi Rasul saw dan berkata : Aku tadi sedang shalat Wahai Rasulullah.., maka Rasul saw bersabda : ?Apa yang menghalangimu dari mendatangi panggilanku?, bukankah Allah telah berfirman ?WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DATANGILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL NYA BILA IA MEMANGGIL KALIAN?.(Al Anfal 24). (Shahih Bukhari hadits no.4204, 4370, 4426, 4720). Dan bahwa mendatangi panggilan Rasul saw ketika sedang shalat tak membatalkan shalat, dan mendatangi panggilan beliau lebih mesti didahulukan dari meneruskan shalat, karena panggilan beliau adalah Panggilan Allah swt, perintah beliau saw adalah perintah Allah swt, dan ucapan beliau saw adalah wahyu Allah swt…

Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?, Diriwayatkan pula disaat perang Hunain selesai, Rasul saw memberi pada Sofwan 100 ekor unta, lalu 100 ekor lagi dan 100 ekor lagi, berkata Sofwan : ?Sungguh Ia (Rasul saw) adalah orang yang paling kubenci, namun ia tak henti hentinya memberiku sampai ia menjadi orang yang paling kucintai? (Shahih Muslim hadits no.2313). Alangkah penyantunnya Nabi kita ini, bukanlah kecintaan Sofwan karena pmberian harta, namun kebenciannya luntur menghadapi manusia mulia yang memberinya dan saat ia tak berterimakasih justru ia ditambah lagi.. dan lagi?, tidak pernah kita temukan seorang dermawan dimuka Bumi yang setelah ia memberi dan yang diberi tak berterimakasih malah ia menambahnya lagi dan lagi, dan sesekali bukanlah barang yang murah, karena harga seekor Unta hampir menyamai 40 ekor kambing, dan beliau memberikannya 100 ekor onta, (kalau seekor kambing seharga 500 ribu maka 100 ekor unta adalah 500.000 X 40 X 100 = 200 juta rupiah) dan Sofwan tak berterimakasih dan tetap membencinya, beliau menambahnya lagi 100 ekor unta, lalu menambah lagi 100 ekor unta, lunturlah Sofwan.. ia lebur.. tak ada lagi yang lebih dicintainya selain Muhammad saw..

Jadilah beliau saw ini idola para sahabat, dan dalam riwayat lain, Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw, Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini? (Shahih Bukhari hadits no.480). Alangkah besar penghormatan para sahabat pada tempat tempat yg disentuh Tubuh Rasulullah saw, Bahkan gunung Uhud mencintai beliau saw dan dicintai oleh beliau saw sebagaimana sabdanya saw : ?Gunung Uhud ini mencintai kita dan kita mencintainya? (Shahih Bukhari hadits no.3854).

Betapa Indahnya Alam semesta ini semua beridolakan Muhammaa saw, mencintai Muhammad saw, Memuliakan Muhammad saw, tak lain karena Allah telah mengumumkannya, sebagaimana Sabda beliau saw : ?Bila Allah mencintai seorang Hamba maka Allah berkata kepada Jibril as : WAHAI JIBRIL, AKU MENCINTAI FULAN MAKA CINTAILAH IA?, maka berkatalah Jibril as menyeru kepada Alam Semesta : ?Wahai Penduduk Langit, Sungguh Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah ia, maka diberikanlah padanya Kasih sayang dimuka Bumi, maka ia dicintai dibelahan Bumi? (Shahih Bukhari hadits no.3037, 5693, 7047). Dan kita memahami bahwa Pengumuman itu terus berkumandang mengumumkan orang-orang yang dicintai Allah, dan tentunya pengumuman itu bergema terluhur dan terdahsyat saat mengumumkan Nama Muhammad saw?.!, Maka Beliau saw dicintai Gunung, dicintai batang korma, hewan, manusia, jin, malaikat, dan orang-orang mukmin.. Beruntunglah Jiwa orang orang yg mencintai Muhammad saw.

?SUNGGUH ALLAH DAN PARA MALAIKAT MELIMPAHKAN SHALAWAT ATAS NABI (saw) WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BERSHALAWATLAH KALIAN KEPADANYA DAN BERSALAM LAH DENGAN SEMULIA MULIA SALAM? (QS Al Ahzab-56)

Posted by: Habib Ahmad | 21 Oktober 2010

Qutul Fuad: Kumpulan Dzikir, Do’a Pagi dan Malam

Qutul Fuad: Kumpulan Dzikir, Do’a Pagi dan Malam
Posted by tamanzawiyah under Terbitan Baru
Leave a Comment
Penyusunan Ibnu Ali Muhammad Al-A’idrus

kitab ini disusun secara sistematik sekali dan juga ada adab-adab berdo’anya.
Do’anya kumplit seperti: do’a dan adab : bangun tidur, berpakaian, masuk kamar mandi, berwudlu, shalat tahajjud.
Selain itu juga disertai surat-surat apa saja yang harus dibaca pada tiap rakaat dalam shalat wajib yang 5 waktu disertai dzikir-dzikir baik itu sebelum maupun sesudah shalat.
Buku ini sangat baik sekali dijadikan pegangan untuk dipakai dan diamal sebagai dzikir setiap hari dan waktu.
Ukuran buku: 8,5 cm x 11,5 cm
Jumlah Hal. : 348
Harga Rp. 30.000,-
Untuk pemesanan hubungi: Syarif Hidayat

Posted by: Habib Ahmad | 21 Oktober 2010

Majlis Ilmu di Surau Al Hidayah Malam Ini

Majlis Ilmu di Surau Al Hidayah Malam Ini
Darul Murtadz(FB) Assalammualaikum wrbt. InsyaALLAH kelas mingguan DM pimpinan AlHabib Ali Zeinal Abidin AlHamid akan bersambung spt biasa Malam ini Jumaat 29/10/10 bermula jam 915pm-1100pm d Surau AlHidayah, Keramat AU3, KL (Majlis ini terbuka kpd semua lapisan masyarakat. Semoga ALLAH SWT melapangkan masa kita & Mohon sebarkanLihat seterusnya..

Jadual Am Pengajian Bersama Habibana al-Habib ‘Ali Zainal ‘Abidin al-Hamid حفظه الله

Posted by: Habib Ahmad | 20 Oktober 2010

Nabi diiktiraf pemimpin Madinah

Nabi diiktiraf pemimpin Madinah

SUSUNAN SITI AINIZA KAMSARI

Madinah menyaksikan perlembagaan pertama Islam diiktiraf oleh penduduknya yang pelbagai suku kaum. – gambar hiasan

——————————————————————————–

TAHUKAH anda, apakah perlembagaan (negara) yang terawal ditulis di muka bumi ini? Jangan sekali-kali jawapan anda itu dikaitkan dengan kehebatan empayar atau kerajaan, baik Rom mahupun Parsi yang terlebih dahulu wujud sebelum terbentuknya kerajaan Islam di Madinah.

Ini kerana yang tepatnya sebagaimana yang dipersetujui oleh banyak pihak, adalah Piagam Madinah untuk sebuah negara bernama Madinah Al Munawarrah (Bandar Bercahaya).

Ia adalah perlembagaan bertulis pertama atau undang-undang negara yang disifatkan paling lengkap di dunia. Meliputi pelbagai aspek dan dimeterai sebaik sahaja negara Islam Madinah dibentuk.

Piagam yang juga dikenali sebagai Perjanjian Madinah, Dustar Madinah dan Sahifah Al Madinah itu mempunyai banyak sebab lain apabila disifatkan sebagai yang pertama di dunia.

Perjanjian itui tidak lahir daripada satu pihak sahaja, iaitu Rasulullah SAW selaku pemimpin negara tetapi membabitkan semua pihak sama ada dari puak Ansar, Muhajirin dan Yahudi.

Lazimnya sukar bagi sesebuah perlembagaan itu ditulis dan dipinda, tanpa mendapat tentangan mana-mana pihak. Namun, berbeza dengan Piagam Madinah yang sangat bersejarah itu.

Ia dapat diterima oleh semua pihak setelah Rasulullah berjaya menyatukan puak-puak di Madinah kerana selain mempunyai hubungan baik dengan kaum Yahudi, baginda kemudiannya berjaya menyatukan pada kedua-dua bangsa Arab, Ansar dan Muhajirin.

Ini memudahkan piagam itu dibentuk selain sifatnya yang memberikan kemenangan kepada semua pihak.

Ditulis pada tahun pertama Hijrah iaitu bersamaan 622 Masihi, piagam itu mengandungi 47 fasal, iaitu:

* 23 fasal piagam tersebut membicarakan tentang hubungan antara umat Islam sesama umat Islam iaitu antara Ansar dan Muhajirin.

* 24 fasal yang berbaki membicarakan tentang hubungan umat Islam dengan umat bukan Islam iaitu Yahudi.

Ia mengandungi peraturan-peraturan berasaskan syariat Islam untuk dilaksanakan dalam sebuah negara yang mempunyai penduduk berbilang bangsa atau kaum.

Apabila kita sorot akan segala isi kandungan piagam tersebut, maka kita dapati perkara utama yang terkandung dalam Piagam Madinah adalah:

* Nabi Muhammad SAW adalah ketua negara untuk semua penduduk Madinah dan segala pertelingkahan hendaklah merujuk kepada baginda.

* Semua penduduk Madinah ditegah bermusuhan atau menanam hasad dengki sesama sendiri. Sebaliknya hendaklah bersatu dalam satu bangsa iaitu bangsa Madinah.

* Semua penduduk Madinah bebas mengamal adat istiadat upacara keagamaan masing-masing.

* Semua penduduk Madinah hendaklah bekerjasama dalam masalah ekonomi dan mempertahankan Kota Madinah daripada serangan musuh dari luar Madinah.

* Keselamatan orang Yahudi adalah terjamin selagi mereka taat kepada perjanjian yang tercatat dalam piagam tersebut,

Justeru Piagam Madinah bertujuan;

* Menghadapi masyarakat majmuk Madinah

* Membentuk peraturan yang dipatuhi bersama semua penduduk.

* Ingin menyatukan masyarakat pelbagai kaum

* Mewujudkan perdamaian dan melenyapkan permusuhan

* Mewujudkan keamanan di Madinah

* Menentukan hak-hak dan kewajipan Nabi Muhammad dan penduduk setempat.

* Memberikan garis panduan pemulihan kehidupan kaum Muhajirin

* Membentuk kesatuan politik dalam mempertahankan Madinah

* Merangka persefahaman dengan penduduk bukan Islam, terutama Yahudi.

* Memberi peruntukan pampasan kepada kaum Muhajirin yang kehilangan harta benda dan keluarga di Mekah.

Posted by: Habib Ahmad | 20 Oktober 2010

Ikut Quran dan Sunnah Tidak Sesat

Ikut Quran dan Sunnah Tidak Sesat
Posted on Oktober 19, 2010 by sulaiman
Dari Zaid bin Arqam, r.a. katanya: Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kitab Allah Azza wa Jalla ialah tali Allah (sebab yang membawa kepada rahmat Allah), sesiapa yang menurutnya: Beradalah ia dalam hidayat pertunjuk yang sebenar-benarnya dan (sebaliknya) sesiapa yang meninggalkannya: Beradalah ia dalam kesesatan. ” (Muslim)

Ali-Imran [103] Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) …..

Dari Abu Hurairah, r.a., dari Nabi s.a.w., bahawa Baginda bersabda: “Aku tinggalkan dalam kalangan kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, iaitu kitab Allah dan sunnah Rasulullah,” (s.a.w.).(Imam Malik).

Posted by: Habib Ahmad | 20 Oktober 2010

Umar Abdul Aziz (Artikel 2)

Umar Abdul Aziz (Artikel 2)

Malik bin Dinar berkata : “Setelah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz menjadi khalifah, sesetengah daripada Gabenor telah menulis surat kepada beliau yang berbunyi: Sesungguhnya orang ramai apabila terdengar perlantikan tuan sebagai khalifah, mereka berlumba-lumba mengeluarkan zakat dan zakat fitrah. Oleh itu, harta kerajaan telah bertambah dengan banyaknya. Disini saya tidak mahu untuk bercerita panjang mengenainya sehinggalah tuan terlebih dahulu membalas surat saya ini dengan menyatakan pandangan tuan mengenai perkara ini.”

Umar lalu membalas surat tersebut dengan katanya: “Demi umurku! Mereka berbuat demikian kerana mereka tahu apakah sikapku dan juga engkau terhadap harta zakat tersebut mengikut sebagaimana yang mereka yakini. Oleh itu, mana-mana timbunan harta Baitulmal yang masih kau simpan sehingga ke hari ini, aku perintahkan agar semuanya engkau bahagikan kepada mereka yang berhak menerimanya setelah engkau menatap suratku ini.”

Malik bin Dinar berkata lagi: “Setelah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz memerintah: Berkatalah pengembala-pengembala kambing yang berada di puncak bukit: “Siapakah khalifah soleh yang sedang memerintah sekarang?” Lalu ada orang yang bertanya kepada mereka: “Bagaimanakah engkau boleh mengetahui bahawa khalifah sekarang seorang yang soleh?” Jawab mereka: “Kebiasaanya apabila seorang khalifah yang soleh memerintah sesebuah kerajaan, nescaya serigala dan singa akan menjauhkan diri dari mengganggu ternakan kami.”

Hassan Al-Qassar meriwayatkan: “Suatu ketika semasa pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz, setelah selesai memerah susu kambing, aku telah lalu dihadapan seorang pengembala. Kebetulan pada masa itu terdapat lebih kurang 30 ekor serigala sedang bercampur gaul dengan kambing-kambingnya sedangkan aku menyangka kesemuanya itu anjing kerana sebelum ini aku tidak pernah melihat serigala, oleh itu aku tidak mengenalinya,”

“Lalu aku bertanya kepada pengembala tersebut: “Apakah yang kau kau harapkan dengan anjing yang sebegini banyak?” Jawabnya: “Wahai anakku! Kesemuanya yang kau nampak itu bukannya anjing tetapi sebenarnya serigala.” Aku lantas berkata kepadanya sambil terkejut kehairanan: “Subhanallah! Bagaimana serigala yang sebegini banyak tidak mengganggu langsung kambing-kambing tersebut?” Jawabnya: ”Wahai anakku, apabila kepala (pemimpin) berfikiran waras maka tubuh badan (rakyat) tidak akan menghadapi sebarang masalah. Peristiwa tersebut berlaku di zaman pemerintahan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz.”

Musa Bin A’yan meriwayatkan: “Suatu ketika di zaman pemerintahan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, kami telah memelihara kambing di suatu tempat bernama Kirman. Demi Allah, di saat itu serigala tidak mengkhianati kambing walaupun bercampur gaul di dalam satu kawasan.”

“Tiba-tiba suatu malam, kami dapati serigala telah mengganggu kambing-kambing tersebut. Lalu aku pun berkata; “Peristiwa ini berlaku mungkin kerana Khalifah Umar Bin Abdul Aziz telah wafat.” Berkata Hammad: “Ada perawi yang telah meriwayatkan kepadaku cerita ini dan lainnya memberitahu bahawa mereka yang mengembala kambing beranggapan sesungguhnya kejadian serigala kembali mengganggu kambing mereka adalah ekoran kematian Khalifah Umar Bin Abdul Aziz dan apabila disiasat, mereka dapati bahawa pada malam tersebut Khalifah Umar memang benar-benar telah wafat.” SUBHANALLAH!!

Kubersimpuh Rindu Walau Beberapa Menit Pada Sang Guru Mulia Nan Lemah Lembut

Kubersimpuh Rindu Walau Beberapa Menit Pada Sang Guru Mulia Nan Lemah Lembut

Ditulis oleh: Yang Dikasihi Habib Munzir Fuad al-Musawa

Senin 18 oktober 2010 hamba meluncur dengan penerbangan pertama dari bandara Soekarno Hatta Jakarta pk 6.35 wib menuju Bandara Changi Singapura, tiada niat lain selain melepas rindu pada Guru mulia, manusia yang paling kucintai di bumi ini, dan telah menjadi sumpah setiaku bakti hidupku dan matiku adalah untuk berbakti pada beliau, yang beliau adalah hamba yang hidup dan mati beliau untuk berbakti pada Sang Nabi saw, yang Sang Nabi saw hidup dan mati beliau saw untuk berbakti pada Allah swt.

Hamba tiba pk 9.00 waktu Singapura (8.00 wib), dan menanti kedatangan Sang Guru Mulia yang akan tiba di Changi Airport Singapura pd pk 9.00 waktu Singapura pula, ketibaan dari Kuala Lumpur.

Ternyata pesawat beliau delay (tertunda) dan beliau baru keluar pk 11.30 waktu Singapura, hanya sekitar dua puluh orang saja yang menanti kedatangan beliau di bandara Changi, maka hamba menangis melihat wajah mulia nan penuh kedamaian itu melangkah dengan santai menuju pintu exit, tiada desak desakan dalam menyalami beliau, dan hamba mohon waktu berbincang sesaat dengan beliau di bandara, sebelum beliau meneruskan ke kota Singapura dengan acara yang padat pula. Beliau tersenyum dan menyambut karung dosa ini dengan teguran lembut.. selamat jumpa wahai sayyid munzir..”.Subhanallah… lidahmu sangat luhur hingga menyebut karung dosa ini dengan ucapan sayyid munzir, lalu beliau meneruskan ucapannya : “Dimana kita akan bicara?, kau akan terus pulang bukan?”

Subhanallah.. firasat tajam (sabda Rasul saw : berhati hatilah pada firasat orang mukmin, karena mereka melihat dengan cahaya Allah swt) beliau telah mengetahui memang hamba hanya ke singapura untuk jumpa di bandara saja, karena kepulangan pesawat hamba adalah pk 12.25 waktu singapura, maka hamba mempersilahkan beliau duduk sambil menanti mobil datang dari parkiran. Beliau duduk, hamba bersimpuh dilantai sangat dekat dengan lutut dan sandal beliau, airmata berlinang memandangi dengan asyik wajah yang paling kucintai, wajah damai, lembut nan indah itu berkata : “naiklah kekursi..” seraya mengarah pada kursi disebelah beliau, namun hamba menggeleng, mana pula karung dosa ini berani duduk disebelah beliau, hamba lebih suka bersimpuh sambil menikmati wajah yang sejuk dan penuh kasih sayang, lalu beliau mengulangi ucapannya : “naik kesini, duduk disebelahku..”, hamba tetap menggeleng dan tersenyum sambil terus menunjukkan bahwa hamba senang bersimpuh dikaki beliau, jika disuruh memilih duduk diatas tempat manapun sungguh tiada yang lebih nikmat bagi hamba selain duduk bersimpuh dikaki beliau, namun beliau berucap dg suara yang ditekan dengan nada perintah : “duduklah disampingku..!”, maka hamba tak berani menolak perintah beliau dan hamba duduk disebelah beliau, airmata terus mengalir karena ledakan gembira bisa melihat wajah beliau lagi, pemandangan terindah yang pernah kulihat didunia ini..

Lalu beliau memulai percakapan dengan akrab, tanpa menggubris puluhan orang yang berdiri jauh tak berani mendekat, mereka sangat menghargai hamba yang hanya akan jumpa beberapa menit lalu kembali ke Jakarta. Beliau mulai melontarkan pertanyaan lembut, karena jika beliau diam maka beliau tahu hamba akan rubuh pingsan dari gembira, ledakan cinta dan haru bisa berdampingan dengan beliau, seraya bertanya lembut : bagaimana kabar jamaah kita?, semoga mereka semakin banyak dan semakin mendekat pada keluhuran..? Hamba menjawab : betul tuanku, dengan bantuan Allah dan doa tuanku, mereka semakin banyak, dan selalu majelis riuh dengan airmata puluhan ribu jamaah, beliau tersenyum puas dan tampak tenggelam dengan kegembiraan hingga terpejam, lalu beliau berkata dengan pelahan: “sampaikan pada mereka salamku, kuwasiatkan pada mereka untuk semakin semangat untuk saling menasihati, masing masing mengenalkan sifat sifat keluhuran nabi saw, membenahi diri, membenahi dan membangkitkan keluhuran pada diri mereka, pada teman teman mereka, pada tempat sekolah mereka, pada tempat pekerjaan mereka, dan terus menjadi penebar kebaikan..” Hamba menjawab : baik tuanku, akan hamba sampaikan..

Lalu sang guru lemah lembut menjelaskan beberapa hal dan tuntunan yang mesti dilakukan berupa tugas tugas pada hamba, hamba hanya menjawab : labbaik tuanku, hamba akan laksanakan, hamba akan patuhi.. Lalu sang guru mulia nan lembut dan sejuk berkata : kabarkan padaku hal lain..?”. Hamba menjawab : semalam kami berkumpul sekitar 100 orang aktifis di internet, pria dan wanita untuk mulai menjalin perluasan dakwah di internet…
Sang guru lemah lembut terlonjak gembira: “nah… sungguh itu hal yang sangat menggembirakan, dunia internet penuh dengan kebutuhan para pembenah dan orang orang yang mau berkhidmat menebarkan dakwah lewat internet, karena medan dakwah kita di internet masih sangat sempit dibandingkan kekuatan kedhaliman yang terus mengelabui ummat dengan kejahilan dan kemungkaran.., sungguh usaha itu sangat menggembirakanku..”
Hamba menjawab : doakan kami wahai tuanku.., dan jamaah semua siap dan sudah sangat rindu menantikan kedatangan tuanku..

Sang Guru Lemah lembut tersenyum, sampaikan salamku, aku insya Allah akan kunjung dan menjumpai mereka…” Hamba menangis haru…, lalu beliau memberi jawaban atas beberapa instruksi dan bimbingan bimbingan untuk langkah selanjutnya dalam kelanjutan Majelis Rasulullah saw. Lalu hamba terdiam, beliau terdiam, lalu hamba tahu sudah terlalu lama hamba menahan sang Guru yang lemah lembut ini, tanpa terasa 15 menit berlalu, beliau seakan tak perduli dengan waktu demi menerima seorang karung dosa ini, dan beliau mulai melirik pada jamaah yang berdiri jauh dan menanti beliau, maka hamba memahami bahwa waktu sang guru mulia nan lembut telah cukup banyak tersita, dan hamba harus pamit, hamba berkata : tuanku, hamba penuh dosa, hamba takut tidak mendapat ridha tuanku, bagaimana Allah dan Rasul saw akan ridho jika hamba tidak mendapat ridho tuanku..? Sang Guru Mulia nan lemah lembut tersenyum, bagaikan bulan purnama indah beliau berdoa, semoga limpahan keridhoan selalu menaungimu dalam ketenangan, kegembiraan, dan semoga Allah swt menggembirakanmu dengan ridha… dan sang guru mulia melantunkan doa yang panjang.., hamba bangkit mundur, lalu sang guru mulia nan sejuk bertanya, kemana sekarang tujuanmu..? Hamba menjawab : pulang ke Jakarta wahai tuanku, malam ini majelis malam selasa di almunawar, beliau tersenyum lagi, dan terus berdoa dan melangkah sambil mengucap selamat jalan… Duhai guru agung idola barat dan timur…,sebelum beliau tiba, telah didahulu putra mulia beliau, Alhabib Salim bin Umar bin Hafidh, seraya bercerita panjang pada kami sambil menanti kedatangan Sang Guru Mulia, maka alhabib salim berkata: ayahanda mengunjungi Denmark, kota yang dikenal paling membenci dan menghina Rasulullah saw, namun baru saja beliau keluar dari bandara, sudah disambut dengan pembacaan Maulid nabi saw di bandara, maka Guru Mulia berpaling pada putranya dan berkata: “kau lihat?, pernah kau lihat orang menyambutku di bandara dengan pembacaan maulid?, sungguh diseluruh dunia belum pernah terjadi, tapi terjadi disini, di Denmark, kota yang konon sangat membenci dan Menghina Nabi saw, belum aku sampai di kotanya, baru di bandara justu Lantunan Maulid Nabi saw dikumandangkan, kau lihat bagaimana Allah swt Maha Memberi hidayah walau ditempat yang konon paling menghina Nabi saw?”

Di Jerman Guru Mulia menyampaikan tausiah di salah sebuah forum, hadir diantaranya seorang missionaris nasrani yang mencuri dengar, lalu melaporkannya pada pimpinan gereja yaitu gurunya, maka pendeta besar mengundang guru mulia untuk datang ke gereja dan menyampaikan tausiyah, seakan tantangan sekaligus pelecehan, kau yang berbicara kerukunan ummat beragama, apa berani masuk gereja?

Ternyata Guru Mulia setuju, datang, dan minta izin shalat di gereja, sudah kita fahami dari seluruh madzhab sebagian mengatakan makruh, sebagian mengatakan haram, namun sebagian mengatakan boleh jika diharapkan akan diubah menjadi masjid. Selepas beliau menyampaikan tausiah, maka pimpinan pendeta ditanya : bagaimana pendapatmu terhadap islam?, maka ia menjawab : aku benci islam, namun aku cinta pada orang ini, maka guru mulia menjawab : jika kau mencintaiku akan datang waktunya kau akan mencintai islam… Lalu guru mulia ditegur, bagaimana melakukan shalat di gereja?, beliau menjawab : aku melakukannya karena aku tahu tempat ini akan menjadi masjid kelak..

Lalu kami bertanya, apa yang membuat guru mulia masih didalam bandara?, beliau ditahan dan dipersulitkah?, lalu putra mulia menjawab : ayahanda asyik dengan mereka, mereka tidak tahu islam dan mau minta kejelasan, justru ayahanda senang dan duduk dengan mereka member tausiyah dan penjelasan pada staf imigrasi change airport tentang indahnya islam, mereka yang awalnya curiga dan ingin interogasi, justru menjadi pendengar setia dan terlalu asyik duduk mendengar penyampaian lemah lembut beliau hingga menghabiskan waktu 90 menit..!

Lambaian tangan beliau terus membuatku berdiri tercenung, dan terus hamba masuk ke airport untuk bording yang sudah terlambat, duduk di pesawat, dan kembali ke Jakarta, hamba tiba di bandara soekarno hatta pd pk 13.05 wib dengan selamat. Wahai Allah.. barat dan timur haus dengan para penyeru yang lemah lembut penyambung kasih sayang Mu, mengenalkan kami pada kasih sayang Mu, kelembutan Mu, dan keindahan Mu, juga kelembutan nabi kami, idola kami, Sayyidina Muhammad saw. Sungguh anugerah agung Mu dengan menghadiahkan kami seorang pembimbing keluhuran, penerus dakwah nabi Mu, panjangkan usia guru mulia kami, beri kemudahan atas perjuangannya, limpahi kasih sayang Mu seluas luasnya pada beliau, dan ikut sertakan kami, para pendosa yang mencintai beliau, dunia dan akhirat jangan pisahkan kami dari beliau, dan bersama beliau, berjuang bersama beliau, memanut beliau, dan mengabdi pada beliau..

Yaa Allah… Yaa Allah… Yaa Allah.. Amiiin..
Lambaian tangan beliau terus membuatku berdiri tercenung, dan terus hamba masuk ke airport untuk bording yang sudah terlambat, duduk di pesawat, dan kembali ke Jakarta, hamba tiba di bandara soekarno hatta pd pk 13.05 wib dengan selamat.

Posted by: Habib Ahmad | 20 Oktober 2010

Korban 2010 Yayasan Sofa

Korban 2010 Yayasan Sofa

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta (binatang ternak) itu sebahagian dari syiar Allah. Kamu memperolehi kebaikan yang banyakpadanya, maka sebutlah oleh mu nama Allah ketika menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan tidak terikat). Kemudian apabila telah tumbang (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”. (Surah Al-Hajj: 36)

“Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu dan berqurbanlah”.(Surah Al-Khauthar: 2)

……………………………………………………………………….

Pada tahun ini, satu bahagian Korban KEKAL pada harga RM 350.00 satu bahagian. Tuan/Puan yang ingin menyertai program Ibadah Korban YSNS ini, hendaklah segera memberi maklumat dan menghubungi pegawai Yayasan bagi mengelakkan sebarang kesulitan di saat-saat akhir kelak.
UNTUK TEMPAHAN sila hubungi
Encik NORIZAM HASIM 013 380 7755/
CIKGU SORHAIMI SAB 013 2364445
……………………………………………………………………….

“Barangsiapa yang memiliki kemampuan (untuk membeli haiwan qurban), lalu tidak melakukannya (tidak berqurban), maka janganlah mendekati tempat solatKu”. (Hadis Riwayat Ahmad).

http://ysofakl.blogspot.com/2010/10/korban-2010-yayasan-sofa.html

Posted by: Habib Ahmad | 19 Oktober 2010

Nasab dan nama-nama Nabi Muhammad SAW

Nasab dan nama-nama Nabi Muhammad SAW
Ditulis oleh Admin di/pada 14 Oktober 2010

Kalam Al-Habib Zain bin Ibrahim Bin Sumaith

Nabi Muhammad SAW adalah As-Sayyid Al-Kamil (junjungan yang sempurna), Al-Fatih (sang pembebas) dan Al-Khatim (penutup para Nabi dan Rasul). Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma’d bin Adnan. Adnan adalah salah seorang keturunan Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim.

Ibu beliau adalah Aminah binti Wahhab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah, dan seterusnya seperti yang terdapat pada jalur nasab ayah beliau.

Sedangkan Nama beliau banyak sekali, diantaranya Muhammad, Ahmad, Al-Mahi, Al-Hasyir, Nabi Ar-Rahmah, Nabi At-Taubah, Rasul Al-Malahim, Al-Khatim, Al-Fatih, Thaha, Yasin, dan Abdullah.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Namaku di dalam Al-Qur’an adalah Muhammad, dalam Injil adalah Ahmad, dan dalam Taurat adalah Ahid. Aku diberi nama Ahid karena aku menyelamatkan umatku dari neraka Jahannam.”

["Mengenal Mudah Rukun Islam, Rukun Iman, Rukun Ihsan, Secara Terpadu", Habib Zain Bin Sumaith, Penerbit Al-Bayan]

Posted by: Habib Ahmad | 19 Oktober 2010

Haul dan Mawlid Medium Dakwah

Haul dan Mawlid Medium Dakwah
Dicatat oleh al-‘Abd al-Da’if: pada 18.10.10

Hakikat dakwah yang sebenar ialah dakwah ila Allah, yakni dakwah kepada Allah SWT. Konsep, sasaran dan medium dakwah adalah amat luas. Dakwah dapat dibahagikan kepada beberapa bahagian iaitu;

Dakwah dengan hati/qalbu.
Dakwah dengan lidah/lisan.
Dakwah dengan pena/penulisan.
Dakwah dengan akhlak dan tingkah laku.
Dakwah dengan situasi/ isu dan peristiwa.
Dakwah dengan ‘mata pedang’/senjata.

Dakwah no. 4 dan 5 di atas disebut sebagai dakwah bi al-hal. Jenis dakwah inilah yang bersesuaian dikait dengan majlis-majlis sambutan haul atau mawlid yang akan dibicarakan dalam tulisan ini. Meskipun pengisian dalam program haul atau mawlid tersebut adakalanya merangkumi jenis dakwah no. 1, 2 dan 3 di atas sekaligus.

Salah Satu Medium Berkesan

Haul ialah memperingati kewafatan seseorang, manakala mawlid adalah memperingati kelahiran seseorang. Majlis sambutan haul atau mawlid biasanya diadakan bagi seseorang tokoh besar tertentu yang meninggalkan jasa dan sumbangan besar kepada umat Islam. Sambutan haul atau mawlid adalah antara medium-medium yang diadakan bagi menghimpunkan masyarakat dalam majlis-majlis islamik tertentu, ia sepertimana sambutan-sambutan Mawlidur Rasul, Ma’al Hijrah, Isra’ dan Mi’raj, dan sebagainya. Semua sambutan-sambutan ini adalah dari buah pemikiran ahli-ahli fikir Islam sendiri bagi mengajak masyarakat mengenang peristiwa-peristiwa islamik tersebut serta mengambil iktibar daripadanya. Tiada timbul soal mengadakan bidaah yang dilarang oleh agama kerana tidak ada nas yang jelas melarang dari mengadakan majlis-majlis seumpama itu. Maka secara umumnya ia merujuk kepada hukum asal, iaitu harus.

Ingin saya petikkan di sini pandangan Dr. ’Ali ’Abdul ’Aziz Suyyur dalam kitabnya al-Farq Bayn al-Bid’ah wa al-Ikhtilaf al-Fiqhi wa Atharuhuma ’ala al-Din wa al-Mujtama’ (hlm. 527), kata beliau; ”Orang yang menyambut mawlid tidak hanya semata-mata menyambut mawlid, bahkan ia juga menyambut munasabah-munasabah islamik yang lain. Kami percaya bahawa sambutan-sambutan yang diadakan bersempena munasabah-munasabah islamik yang bersifat sejarah ini seperti Mawlidur Rasul, Isra’ dan Mi’raj, Fath Makkah, Perang Badr dan sebagainya adalah semata-mata medium-medium dakwah dan pengeksploitasian terhadap suatu bentuk muktamad dalam bidang pentarbiyahan, pengajaran dan bimbingan. Ia dikenali sebagai pentarbiyahan melalui peristiwa dan realiti semasa. Mereka yang menganjurkannya pun tidak benar-benar menjaga perlaksanaan sambutannya pada hari yang jelas menurut mereka bahawa peristiwa berkenaan berlaku pada hari tersebut, bahkan adakalanya dibuat sehari atau dua hari sebelum itu, atau sehari atau dua hari sesudah itu, atau lebih lagi berdasarkan kelapangan orang ramai dan dapat mengumpulkan bilangan majoriti orang ramai yang paling besar untuk mendengar zikir dan ceramah. Malahan jika ditambah kepada sambutan-sambutan ini sebahagian ibadah seperti berselawat ke atas Nabi SAW, atau lain-lain zikir, maka yang demkkian itu tidak menjadikannya termasuk dalam bidaah yang dicela”.

Suatu ‘Trend’ dan Hakikat Istimewa

Semacam suatu ‘trend’ dari sudut kecenderungan dalam mengadakan majlis-majlis sambutan ini, di mana sesetengah tempat seperti Mesir cenderung mengadakan majlis-majlis sambutan mawlid, dan sambutan Mawlid al-Badawi di Mesir adalah antara sambutan mawlid terbesar yang dihadiri oleh jutaan orang. Manakala sesetengah tempat seperti Yaman dan Nusantara lebih cenderung mengadakan majlis-majlis sambutan haul, dan sambutan Haul al-Haddad adalah antara sambutan haul terbesar yang dihadiri oleh puluhan ribu orang.

Apa yang menarik perhatian, majlis-majlis sambutan seperti ini adalah sempena tokoh-tokoh besar dalam bidang kesufian dan kerohanian, tidak ada sambutan seumpama demikian diadakan bagi tokoh-tokoh besar dalam bidang-bidang lain seperti tafsir, hadith, fiqh, usul, akidah dan sebagainya. Ini barangkali menjadi salah satu justifikasi bagi pandangan sesetengah ahli sufi yang menyatakan tentang kewujudan dawlah @ hukumah batiniyyah atau ‘negara rohani’ yang akan terus kekal berkembang dan berterusan hingga ke hari kiamat kelak. Hal ini samasekali tidak menidakkan sumbangan tokoh-tokoh besar dalam bidang-bidang lain yang telah diakui jasa-jasa mereka dalam memelihara zahir syariat Islam. Malah sesetengah mereka adalah murid kepada tokoh sufi yang masyhur. Bahkan sesetengah tokoh sufi tersebut juga adalah tokoh dalam bidang-bidang disiplin Islam yang lain.

Oleh kerana majlis-majlis sambutan ini berteraskan tokoh islamik, maka wajar ia dihadiri oleh ramai para ulama, para ilmuwan dan orang-orang soleh. Situasi ini menarik satu hakikat yang disepakati, iaitu peri pentingnya berdamping dan bersahabat dengan orang-orang yang baik dan soleh. Amat banyak faedah rohani dan manfaat batini yang dapat diperolehi oleh mereka yang menghadiri majlis-majlis perhimpunan bersama orang-orang yang soleh ini. Ia mampu memimpin tangan seseorang mendekatkan diri kepada Allah SWT serta mengabdikan diri kepada-Nya. Atau sekurang-kurangnya mendapat rahmat dan barakah daripada majlis-majlis tersebut.

Kalimat Imam al-Haddad

Di dalam kitab al-Fusul al-‘Ilmiyyah karya Imam al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad, pada fasal 32 ada menyebut tentang bergaul dengan orang-orang agama dan orang-orang soleh ini, kata beliau:

صحبة أهل الدين وأهل الخير من العلماء ، وعباد الله الصالحين ومخالطتهم ومجالستهم محبوبة ومرغب فيها ، وفيها منافع وفوائد عاجلة وآجلة ، وردت بها وفيها الأخبار والآثار الكثيرة ، ولكن الناس في طلب ذلك والحرص عليه ، والرغبة فيه على نيات ومقاصد ومطالب شتى ، أعلاهم وأولاهم في ذلك من يصحبهم ويخالطهم ليعلم من علومهم ، ويتأدب بآدابهم ، ويشاهد من أخلاقهم الحسنة ، وصفاتهم المحمودة ، وأعمالهم الصالحة وأقوالهم الطيبة ، ما يقتدي بهم فيها، ويطالب نفسه ، بالاتصاف والتخلق به والعمل به ، وليس له هم ولا قصد إلا ذلك ، ولا سعي إلا له ، ولا حرص إلا عليه .

“Mendampingi ahli agama dan ahli kebajikan dari kalangan ulama, serta hamba-hamba Allah yang soleh, bergaul dan duduk bersama mereka adalah sesuatu yang disukai dan digalakkan. Ia mengandungi banyak manfaat dan faedah baik di dunia mahupun di akhirat. Terdapat banyak hadith dan athar mengenainya. Akan tetapi manusia dalam mencari, menunggu-nunggu dan menginginkannya itu di atas berbagai-bagai niat, qasad dan tujuan. Mereka yang paling tinggi dan utama ialah orang yang berdamping dan bergaul dengan mereka untuk belajar dari ilmu-ilmu mereka, beradab dengan adab-adab mereka, menyaksikan akhlaq mereka yang mulia dan sifat mereka yang terpuji, amalan-amalan mereka yang soleh dan juga perkataan-perkataan mereka yang baik yang dapat dicontohi. Dan ia cuba berusaha pula untuk mencontohi sifat-sifat tersebut, berakhlaq dan beramal dengannya. Tiada baginya sebarang niat dan tujuan selain dari itu. Tiada ia usaha bersungguh-sungguh selain kerananya, dan tiada ia sentiasa berharap selain terhadapnya”.

ومنهم من يصحبهم ويخالطهم محبة لهم ، ولما هم عليه من إيثار دين الله، وإقامة أمره، والإشتغال بطاعته ، والعمل بما يقرب منه ويزلف لديه ، من العلوم النافعة ، والأخلاق الحسنة، والأعمال الصالحة ، فهو يحبهم لذلك ، ويرغب في مخالطتهم ، ويتشبه بهم ، ويطالب نفسه في أن تعمل وتتخلق بما يساعده عليه الفراغ ويتيسر له من ذلك ، وما لم يتيسر له منه فهو يتأسف على فوته ، ويود أن لو وفق له وتمكن منه ، وفي مثله يقال : (المرء مع من أحب) ، (ومن تشبه بقوم فهو منهم).

”Di antara mereka, ada yang bersahabat, dan bergaul dengan mereka disebabkan rasa kecintaan terhadap mereka dan juga pendirian mereka dalam mengutamakan agama Allah, menegakkan perintah-Nya, menyibukkan diri dalam mentaati-Nya, dan beramal dengan perkara yang mendekatkan diri kepada-Nya yang berupa ilmu-ilmu yang bermanfaat, akhlaq yang baik dan amal-amal yang soleh. Ia mencintai mereka itu semata-mata kerana perkara tersebut, dan ia ingin selalu bergaul dengan mereka dan menyerupai mereka, serta menuntut dirinya untuk beramal dan berakhlaq seperti itu sekadar yang mampu dan mudah dilakukannya. Adapun yang tidak dapat dikerjakannya maka ia berasa menyesal atas kekurangannya itu dan sangat berharap jikalau diberi taufiq dan kemampuan terhadapnya. Orang seumpama ini yang disebut dalam hadis: ’Seseorang itu bersama siapa yang dicintainya’, dan ’Barangsiapa yang menyerupai dengan sesuatu kaum maka ia termasuk dari kalangan mereka”.

ومنهم من يصحبهم ويخالطهم لتناله بركتهم ، وصالح دعواتهم ، من غير أن تكون له نية ولا عزيمة في الاقتداء بهم والتشبه بسيرهم ، فذلك لا يخلو من بركة وخير ، وهو داخل تحت عموم ما ورد في الحديث القدسي : (هم القوم لا يشقى بهم جليسهم) حتى إن الذي يجالسهم ليتحصن بيمن مجالستهم وبركتها من الظالمين والمعتدين ، من شياطين الإنس والجن ، لا يخيب ولا يحرم من بركتهم ، وإنما يحرم ويخيب من تكون نيته في صحبتهم والاختلاط بهم أن يعرف بذلك بين الناس ، فيتوصل به إلى شيء من الأمور المحظورة المحرمة في الشرع على توهم منه .

”Di antara mereka lagi, ada yang bersahabat, dan bergaul dengan mereka untuk mendapatkan barakah dan doa-doa soleh mereka, tanpa mempunyai sebarang niat atau tujuan untuk mencontohi akhlaq mereka atau meniru perjalanan hidup mereka. Perbuatan sedemikian juga tidak luput dari mendapat keberkatan dan kebaikan. Ia termasuk dalam maksud umum sepotong hadis qudsi: ”Mereka itulah kaum yang tidak akan rugi seorangpun yang duduk bersama dengan mereka”. Hinggakan orang yang duduk bersama mereka itu dapat membentengi dirinya dengan keberkatan majlis mereka dari orang-orang yang zalim dan para pelampau, dari kalangan syaitan-syaitan bangsa manusia dan juga jin. Ia tidak akan rugi dan terhalang dari keberkatan mereka. Akan tetapi yang rugi dan terhalang ialah orang yang nawaitunya berdamping dan bergaul dengan mereka itu ialah agar tingkahlakunya diketahui orang. Maka dengan cara begitu ia dapat mencapai sesuatu perkara daripada perkara-perkara yang ditegah lagi haram di sisi syariat berdasarkan sangkaannya…”.

Masalah-masalah Sampingan

Pengisian majlis-majlis haul atau mawlid secara umumnya adalah berbentuk kerohanian seperti bacaan al-Quran, zikir, selawat, qasidah, dan ceramah agama, dan juga ada dilaksanakan dalam bentuk ilmiah seperti talaqqi kitab, periwayatan hadith, pembacaan sejarah, karya tokoh dan pengijazahan sanad. Adapun masalah-masalah sampingan yang dilihat bercanggah dengan syarak yang mengiringi majlis-majlis tersebut sekiranya ada, seperti percampuran lelaki dan perempuan, tarian, mendedahkan aurat atau lain-lain kemungkaran, maka ini tidak menunjukkan keharaman asal majlis-majlis berkenaan. Secara teknikal, ia adalah masalah-masalah sampingan yang dapat diatasi terutamanya oleh pihak penganjur dengan memberi peringatan, tunjuk ajar atau nasihat kepada mereka yang jahil mengenainya.

Adakalanya tema haul atau mawlid itu wajar ditukar agar orang-orang jahil tidak melihat ianya sebagai suatu ritual pemujaan dan pendewaan individu. Misalnya, tema Yaqin, atau Islah, atau Mujahadah dan sebagainya di’highlight’kan di sebalik sambutan haul atau mawlid seseorang tokoh itu. Atau ianya dianjurkan di bawah nama ijtimak atau perhimpunan agung di mana semua masyarakat dijemput hadir. Penambahbaikan memang sentiasa diperlukan agar objektif yang dirancangkan iaitu mendekatkan masyarakat kepada agama dapat dicapai dengan jaya. Kebijaksanaan sebegini perlu agar dapat memberi kesan-kesan positif serta dapat menarik hidayah, barakah dan rahmat daripada Allah SWT. Keikhlasan individu-individu yang bertanggungjawab di sebalik majlis-majlis dakwah ini wajar diberi penghormatan dan penghargaan oleh kita, walaupun Allah SWT yang sebaik-baik memberi balasan kepada mereka.

Penutup

Demikian sedikit lontaran dalam membicarakan tentang majlis sambutan haul atau mawlid ini. Secara jelasnya ia dapat menjadi salah satu cara mengeksploitasi situasi dan munasabah tertentu dalam menyeru masyarakat kembali kepada pegangan agama yang benar. Ia adalah sambutan yang wajar diteruskan sebagaimana juga perlunya kita membanyakkan majlis-majlis kerohanian seumpama demikian yang bertemakan ilmu dan zikir yang dapat mengumpulkan masyarakat dan mendekatkannya kepada Allah SWT. Ringkasnya, haul atau mawlid adalah berpotensi sebagai salah satu wadah pentarbiyahan yang wajar diberikan perhatian. Wallahu a’lam.

http://sawanih.blogspot.com/2010/10/haul-dan-mawlid-medium-dakwah.html

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 724 other followers