Posted by: Habib Ahmad | 14 Oktober 2010

Tips Murah Rezeki

Tips Murah Rezeki
Posted on Oktober 14, 2010 by sulaiman
Rasulullah s.a.w. bersabda “Siapa yang ingin diperluaskan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menghubungkan silaturrahim”. (Riwayat Bukhari).

Dalam hadith yang lain disebut disebut “Siapa yang rezekinya lambat, banyakkan istigfar. Dosa menyekat rezekinya dari sampai. Istigfarlah supaya diampunkan. Rasulullah s.a.w bersabda,

“Siapa yang banyak istigfar, nescaya dijadikan Allah s.w.t dukacitanya itu jalan keluar(kesukaan), kesempitannya itu jalan keluar(kelapangan) dan direzekikannya dari tempat yang tidak disangka (Riwayat Ahmad)

Dalam hadith yang lain disebut disebut “…..banyakkan bersedekah secara bersembunyi atau terang-terangan, nescaya kamu diberi rezeki yang mewah,”

Kerja juga adalah satu amanah, sempurnakanlah kerja agar murah rezeki.

http://www.baalawi-kl.com/v1/

Posted by: Habib Ahmad | 13 Oktober 2010

Mimpi Berjumpa Rasulullah saw – Habib Munzir

Mimpi Berjumpa Rasulullah saw
Senin, 04 Oktober 2010

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

سَمُّوا بِاسْمِي، وَلَا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي، وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Berilah nama-nama kalian dengan namaku, dan jangan memakai gelar seperti gelarku, dan barangsiapa bermimpikan aku dalam tidurnya sungguh ia telah melihat aku, maka sungguh syaitan tidak mampu menyerupai diriku, dan barangsiapa yg berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia bersiap akan tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الْمُبَارَكَةِ…

Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan kebahagiaan sepanjang waktu dan zaman, sebelum zaman dicipta hingga zaman dicipta dan kemudian sirna, setiap generasi terlahir dan wafat kesemuanya di dalam pengaturan Sang Maha Tunggal dan Maha Abadi, samudera segenap ketentuan dan segala kejadian yang lalu dan yang akan datang berada dalam samudera kelembutan-Nya, di dalam samudera kasih sayang-Nya. Sungguh Allah subhanahu wata’ala sangat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, seandainya Dia tidak berkasih sayang dan mau menghukum hamba-Nya sebab kesalahan-kesalahan mereka, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ( النحل : 61 )

” Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya” ( QS. An Nahl: 61)

Maka jika Allah mau menghukum manusia karena kesalahan yang mereka lakukan, maka mereka tiadalah akan tersisa lagi di muka bumi ini, namun Allah menunda setiap nafas, setiap detik, dan hari demi hari (agar kita bertobat) hingga waktu yang telah Allah tentukan, yaitu sakaratul maut. Allah bersabar menanti kita, Allah bersabar untuk menunda siksa-Nya, dan tidak mau menghukum kita, Allah siap melimpahkan kemuliaan hingga sepuluh kali lebih besar dari kebaikan yang kita perbuat, bahkan hingga 70 kali lipat. Allah subhanahu wata’ala menuliskan satu perbuatan dosa hanya dengan balasan satu dosa, namun perbuatan baik Allah akan melipatgandakan balasannya dengan 10 kali pahala hingga 700 kali lebih besar, demikian dalam riwayat Shahih Al Bukhari, bahkan dalam riwayat Shahih Muslim bahwa setiap kebaikan akan dilipatgandakan balasannya 10 kali lebih besar hingga 700 kali dan lebih dengan kehendak Allah, berarti cinta kita kepada Allah dibanding dengan cinta Allah kepada kita 10 kali lebih besar cinta Allah kepada kita, bahkan 700 kali lebih besar dari cinta kita kepada Allah. Sekali kita beribadah dan berbakti kepada Allah maka sepuluh kali Allah subhanahu wata’ala berbakti kepada kita, maksudnya Allah berbakti kepada kita adalah mengganjar dan membalas dengan kebaikan, menyambut dengan kehangatan, sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab Taujih An Nabiih Limardhaati Baariih karangan guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi:

ياَدَاوُد لَوْ يَعْلَمُ الْمُدْبِرُوْنَ عَنِّيْ شَوْقِي لِعَوْدَتِهِمْ ، وَمَحَبَّتِيْ فِيْ تَوْبَتِهِمْ ، وَرَغْبَتِيْ فِي إِناَبَتِهِمْ لَطاَرُوْا شَوْقًا إِلَيَّ ، يَادَاوُد هَذِهِ رَغْبَتِيْ فِى الْمُدْبِرِيْنَ عَنِّي ، فَكَيْفَ تَكُوْنُ مَحَبَّتِيْ فِى الْمُقْبِلِيْنَ عَلَيَّ…؟

“Wahai Daud : Seandainya orang-orang yg berpaling dari-Ku mengetahui kerinduan-Ku atas kembalinya mereka, dan cinta-Ku akan taubatnya mereka, dan besarnya sambutanku atas kembalinya mereka pada keridhoan Ku, niscaya mereka akan terbang karena rindunya mereka kepada-Ku. Wahai Daud, demikianlah cinta-Ku kepada orang-orang yg berpaling dari Ku (jika mereka ingin kembali), maka bagaimanakah cinta-Ku kepada orang-orang yg datang (mencintai dan menjawab cinta Allah ) kepada-Ku?”

Apabila mereka yang terus berdosa dan berbuat salah memahami betapa rindunya Allah kepada mereka apabila mereka mau kembali kepada kasih sayang dan keridhaan Allah, mau kembali kepada jalan keluhuran dan meninggalkan kehinaan untuk mendekat kepada Allah, jika mereka mengetahui betapa besarnya rindu Allah kepada mereka, betapa besarnya cinta Allah kepada taubat mereka dan betapa hangatnya sambutan Allah untuk mereka yang mau kembali kepada-Nya, jika mereka mengetahui hal itu sungguh mereka akan wafat di saat itu juga untuk menuju kepada Allah karena tidak mampu menahan rindu kepada Allah, karena Allah telah merindukannya, karena Allah telah mencintainya, maka mereka akan meninggalkan segenap dosa dan tenggelam dalam taubat dan kerinduan kepada Allah. Kita tidak mengetahuinya, namun paling tidak ada sedikit kefahaman di dalam jiwa dan sanubari bahwa ada Sang Maha Abadi Yang menanti kita dengan kebahagiaan yang kekal, Yang menyiapkan cinta, rindu dan sambutan hangat-Nya untuk mereka yang mau membenahi dirinya, maka berusahalah dan Allah tidak memaksa lebih dari kemampuan kita.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh guru kita yang kita cintai, As Syaikh Amr Khalid tentang cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sampailah kita pada hadits agung ini:

سَمُّوا بِاسْمِى وَلاَ تَكْتَنُوْا بِكُنْيَتِي

” Berilah nama dengan namaku dan janganlah memakai kun-yahku “

Maksudnya dengan nama beliau nabi “Muhammad” shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh sebab itu jika saya dimintai untuk memberikan nama maka pasti saya beri nama “Muhammad…..”, dan ada kelanjutannya, saya tidak pernah memberi nama dengan nama yang lain, walaupun nama nabi banyak namun sungguh nama yang terbaik adalah “Muhammad” shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga banggalah kelak mereka yang ketika dipanggil kehadapan Allah membawa nama nabi “Muhammad”. Namun perintah memberikan nama dengan nama nabi bukanlah perintah wajib melainkan sunnah menggunakan nama nabi “Muhammad”, dan Rasulullah melarang untuk memakai gelar beliau. Para Ulama berbeda pendapat dalam hal kun-yah (gelar) ini, sebagian mengatakan “Abu Al Qasim” dan larangan itu hanya ketika di masa hidupnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun gelar beliau yang tidak boleh digunakan hingga akhir zaman adalah gelar “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, karena gelar ini hanya untuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para rasul, maka tidak boleh kita gunakan, namun gelar “Abu Al Qasim” atau yang lainnya boleh digunakan tetapi setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa? karena pernah terjadi dimana seseorang di zaman Rasulullah memberi nama anaknya Qasim, maka si ayah dipanggil dengan sebutan “Abu Al Qasim” dan Rasulullah pun menoleh maka ketika itu Rasulullah melarang menggunakan gelar itu di masa hidup nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun di zaman sekarang tidak ada larangan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‏مَنْ رَآنِيْ فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِيْ

“Barangsiapa melihatku di waktu tidur maka dia benar benar telah melihatku, karena syeitan tidak dapat menyerupaiku”

Sungguh syaitan tidak akan bisa menyerupai bentuk Rasulullah, betapa indahnya wajah yang tidak mampu diserupai oleh syaitan, nabi kita sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Syaitan mampu berpura-pura menjadi guru, menjadi murid dan yang lainnya namun syaitan tidak bisa menyerupai wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak pertanyaan yang muncul kepada saya tentang hal ini, “Habib, saya bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi wajahnya berupa wajah habib fulan atau kiyai fulan, apakah itu mimpi Rasulullah?”, iya itu adalah mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, selama orang yang kita lihat itu adalah wajah orang yang shalih. Namun dijelaskan oleh beberapa habaib kita di Tarim Hadramaut, bahwa tidak ada seseorang dari kaum shalihin yang diserupai wajahnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dia adalah wali Allah subhanahu wata’ala (orang yang dicintai Allah). “Habib, ada yang mimpi Rasulullah tetapi wajahnya kok gelap dan tidak bagus bentuknya, pincang atau cacat?!”, apakah itu juga mimpi Rasulullah?, hal itu adalah cermin dari diri kurang baiknya hati kita, karena hati kita adalah cermin, jika sebuah cermin terdapat banyak noda maka hasil dari cermin itu juga banyak noda, jadi apabila kita bermimpi Rasulullah dalam keadaan cacat maka yang cacat adalah hati kita, bukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan hal itu merupakan teguran dari Allah subhanahu wata’ala untuk mengingatkan kita. Diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani Ar di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa orang yang bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan melihat wajah asli beliau, namun hal ini tergantung derajat orang tersebut, para kekasih Allah dan para shalihin, mereka akan melihat wajah asli rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam mimpinya. Diriwayatkan pula oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa salah satu istri Rasulullah menyimpan sebuah cermin yang pernah ia gunakan, kemudian dipinjam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau bercermin dengan cermin itu, setelah cermin itu dipakai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka cermin itu menampakkan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam begitu jelas, cermin itu tidak mau lagi memunculkan atau mencerminkan wajah yang lain setelah digunakan bercermin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan jika istri Rasulullah ini rindu dengan Rasulullah setelah beliau wafat, maka ia melihat cermin itu dan ia lihatlah wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena cermin itu tidak mau lagi menampakkan wajah yang lain. Maka para tabi’in yang ingin melihat wajah Rasulullah mereka datang kepada istri Rasulullah dan melihat cermin itu sehingga mereka melihat wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Subhanallah, sebuah cermin pun tidak bisa lagi menjadi sebagai cermin setelah melihat wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan di dalam buku “Muhammad Insan Al Kamil” oleh Al allamah Al Musnid Al Habib Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki tentang perbedaan wajah nabiyullah Yusuf As dengan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dahulu di masa nabi Yusuf para wanita memotong jari-jarinya karena indahnya wajah nabi Yusuf As, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ ( يوسف: 31 )

“Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya , mereka terpesona kepada (keelokan rupanya) dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri, seraya berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, sungguh ini adalah malaikat yang sempurna” (QS. Yusuf : 31 )

Maka berkatalah As Syaikh Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki Ar menukil salah satu riwayat sahabat bahwa Allah tidak menampakkan keindahan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara keseluruhan di muka bumi, hanya 1 keindahan dari 10 bagian yang diperlihatkan, jika seandainya yang 9 bagian itu ditampakkan juga maka orang-orang akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan itu kelak akan diperlihatkan di telaga Haudh. Semoga aku dan kalian memandang wajah yang indah itu, amin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Anas bin Malik Ra berkata:

مَا نَظَرْناَ مَنْظَرًا كاَنَ أَعْجَبَ إِلَيْنَا مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang banyak sekali dan sangat mudah dan suka mendoakan orang lain, dan beliau adalah makhluk yang paling indah, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa salah seorang sahabat Ra berkata: “aku belum pernah mendengar suara yang lebih indah dari suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga suara beliau membuat hati luluh dan ingin mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala”. Dan Allah berfirman dalam Al qur’an menyifati indahnya bacaan sang nabi :

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا ، يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآَمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا ( الجن : 1-2 )

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Rabb kami” ( QS. Al Jin: 1-2)

Dan Allah berfirman:

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا ( الجن : 19 )

“Dan ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya” ( QS. Al Jin: 19 )

Dijelaskan di dalam Shahih Muslim, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan membaca al qur’an dan di saat itu iblis melihat pintu-pintu langit ditutup dan tidak bisa lagi ditembus oleh iblis dan syaitan, maka di saat itu iblis berkata : “apa yang telah terjadi di barat dan timur sehingga kita tidak bisa lagi menembus langit?!”, maka ketika mereka mencari di penjuru barat dan timur, mereka pun menemukan cahaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang berdoa dan membaca al quran al karim, dan cahaya itu membuat para jin berdesakan untuk mendengarkan bacaan itu kemudian mereka beriman. Dan dijelaskan di dalam Kitab-kitab Tafsir, tafsir Ibn Katsir dan lainnya bahwa di saat itu ada beberapa raja jin yang diperintahkan oleh iblis untuk melihat apa yang terjadi, justru mereka beriman kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Para jin itu pun berdesakan ingin mendengarkan suara indah yang keluar dari jiwa yang suci dan khusyu’ yang merindukan Allah subhanahu wata’ala, jiwa yang dipenuhi dengan getaran iman. Oleh sebab itu, ketika salah seorang sahabat Ra (dalam riawayat yang tsiqah) melihat aurat seorang wanita dengan sengaja, maka ia merasa telah berbuat dosa yang sangat besar dan ia pun menyendiri ke atas gunung dan tidak mau lagi melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia merasa tidaklah pantas matanya melihat wajah beliau karena mata itu telah berbuat zina. Dan setelah beberapa hari Rasulullah menanyakan orang itu karena beberapa hari Rasulullah tidak melihatnya, maka sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra mendatanginya ke gunung dan berkata kepada orang itu: “engkau dipanggil oleh Rasulullah”, orang itu menjawab: “aku tidak mau melihat wajah Rasulullah, mataku tidak lagi pantas memandang beliau karena telah berbuat dosa”, maka sayyidina Abu Bakr berkata: “ini adalah perintah Rasulullah”, maka ia pun datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketika itu Rasulullah sedang melakukan shalat maghrib, dan ketika ia mendengar bacaan Rasulullah dari kejauhan, ia pun terjatuh dan roboh karena tidak mampu mendengarkan lantunan suara indah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia diberdirikan oleh sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan dibimbing untuk terus masuk ke shaf shalat dan setelah selesai shalat, ketika orang-orang mulai berdiri dan keluar dari shaf shalat, ia hanya tertunduk saja, maka Rasulullah memanggilnya dan berkata :”kemarilah mendekat kepadaku”, ia mendekat hingga lututnya bersatu dengan lutut nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam namun ia tetap menundukkan kepalanya dan berkata: “wahai Rasulullah, aku tidak mau lagi melihat wajahmu karena mataku sudah banyak berbuat dosa”, maka Rasulullah berkata :”mohonlah ampunan kepada Allah”, maka ia berkata: “aku meyakini bahwa Allah Maha Pengampun, namun mata yang sudah banyak berbuat dosa ini tidak lagi pantas melihat wajahmu wahai Rasulullah”, ia masih terus menundukkkan kepalanya maka rsaulullah berkata : “angkatlah kepalamu!!”, maka ia pun mengangkat kepalanya perlahan lahan dan beradu pandang denga Rasulullah, lalu ia kembali menundukkan kepalanya dan menangis di pangkuan Rasulullah kemudian wafat dipangkuan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka para sahabat pun kaget dan iri dengan orang itu karena walaupun mereka berjihad siang dan malam namun mereka tidak sempat mendapatkan kesempatan untuk wafat dipangkuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika itu air mata Rasulullah mengalir dan jatuh di atas wajah orang itu. Hadirin hadirat, sungguh mata kita penuh dengan dosa dan kesalahan, namun Sang Maha Pengampun tidak berhenti mengampuni, sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ada 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah dimana ketika itu tidak ada naungan kecuali naungan Allah, diatara 7 kelompok itu adalah :

رَجُلٌ ذَكَرَ اللهُ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

” Seseorang yang ketika berdzikir (mengingat Allah) maka mengalirlah air matanya”

Maka orang itu akan mendapatkan naungan Allah kelak di hari kiamat. Dan saat di surga kelak masih ada orang-orang yang belum melihat keindahan dzat Allah subhanahu wata’ala, mereka adalah orang-orang yang ketika di dunia mata mereka banyak berbuat dosa, dan malaikat tidak mau membuka tabir yang menghalangi dzat Allah dengan mereka, maka Allah berkata kepada malaikat: “mengapa kalian masih menutupkan tabir untuk mereka, mereka adalah penduduk surga yang telah kuampuni dosa-dosa mereka”, maka malaikat berkata: “wahai Allah, dahulu ketika mereka di dunia mata mereka banyak melakukan dosa, maka mereka tidak pantas memandang keindahan dzat-Mu”, maka Allah subhanahu wata’ala berfirman: “angkatlah tabir yang menghalangi-Ku dengan mereka, karena dahulu mata mereka pernah mengalirkan air mata rindu ingin berjumpa dengan-Ku”…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Semoga Allah subhanahu wata’ala memulikanku dan kalian dengan keluhuran, dan membimbing hari-hari kita dengan seindah-indahnya, amin. Malam ini kita akan melakukan shalat ghaib untuk Al Marhum Al Maghfurlah Al Habib Syech bin Ahmad Al Musawa dalam usianya yang sangat lanjut, beliau adalah ulama’ besar yang murid beliau mencapai ribuan habaib dan kiyai, beliau tinggal di Klender selama kurang lebih 10 tahun kemudian pindah ke Surabaya dan wafat pada hari Jum’at yang lalu pukul 10.15 Wib. Dan yang tidak dalam keadaan berwudhu maka tidak perlu berdesakan untuk berwudhu, cukup berdiri saja. Shalat ghaib ini juga untuk syarifah Nur binti Abu Bakr Al Jufri dan juga untuk orang tua kita, kerabat kita, dan sahabat kita yang telah wafat. Semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan mereka di alam barzakh. Ayah bunda kita yang masih hidup semoga dimuliakan dan dipanjangkan usianya oleh Allah subhanahu wata’ala, amin allahumma amin. Dan imam dalam shalat ghaib nanti adalah guru kita fadhilah as sayyid Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, dan juga saya mohon jangan berdesakan dalam bersalaman nanti. Sebelum kita melakukan shalat ghaib, kita tutup acara kita dengan qasidah yang mengingatkan kita kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa bait, setelah itu kita melakukan shalat ghaib kemudian doa penutup, tafaddhal masykura.

Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 12 October 2010 )

Posted by: Habib Ahmad | 13 Oktober 2010

Biografi Sayyid Ahmad Al Badawi ra

Biografi Sayyid Ahmad Al Badawi ra

Biografi Sayyid Ahmad Al-Badawi ra
{Penyebar Harum Salawat Masyhur Al-Anwar}
Ustaz Ahmad Lutfi Abdul Wahab Al Linggi
Mawleed Publishing RM16.00

“Beliau adalah merupakan seorang ulama’ ahli sufi dan pejuang Islam yang terkenal. Sayyid Ahmad al Badawi ra telah berjuang dan melibatkan diri dalam perang Salib antara umat Islam dan orang-orang Krisitian pada ketika itu. Pada tahun 1248 Masihi, Sayyid Ahmad al Badawi ra bersama dengan sebahagian pengikutnya telah bergerak dengan semangat menuju ke kawasan tentera Salib yang berdekatan dengan Mansurah. Dengan kita membaca kisah-kisah beliau, akan datang semangat cintakan Islam. Ini kerana penting bagi kita untuk mengenal ulama’ dan para wali ALlah, mereka telah banyak menghabiskan usia dan waktu mereka demi kepentingan umat Islam.

Imam Sufyan ibn Uyainah pernah berkata: “Hikayat-hikayat itu adalah satu batalion daripada batalion tentera-tentera ALlah. Dengannya ALlah menguatkan hati-hati para waliNYA”>

Buku ini juga menyelitkan zikir-zikir, salawat-salawat dan qosidah ke atas RasuluLlah SAW yang diilhamkan kepada Sayyid Ahmad al Badawi ra.

Bacalah dalam keadaan kamu mencintainya, pasti kamu

Posted by: Habib Ahmad | 13 Oktober 2010

Akhlak Rasulullah saat makan dan minum

Akhlak Rasulullah saat makan dan minum
Ditulis oleh Admin di/pada 11 Oktober 2010

Petunjuk dan perilaku Rasulullah SAW saat makan dan minum tidak ada yang dipungkiri dan tidak ada yang hilang sia-sia. Apapun yang disodorkan dari makanan yang baik, maka beliau memakannya, kecuali jika makanan itu kurang berkenan di hatinya, maka beliau meninggalkannya tanpa mengharamkannya.

Beliau tidak pernah mencela suatu makanan pun. Jika berkenan, beliau memakannya. Dan jika tidak berkenan, beliau membiarkannya, seperti daging biawak yang ditinggalkannya, karena beliau tidak biasa memakannya.

Beliau biasa memakan manisan dan madu, dan beliau menyukainya. Beliau pernah makan daging sapi, domba, ayam, burung, kelinci, ikan laut, makan daging yang dipanggang, kurma basah dan kering, minum susu murni, makan adonan gandum, minum perahan kurma, makan adonan air susu dan tepung, roti campur daging dan lain-lainnya. Beliau tidak menolak makanan yang baik, dan tidak memaksakan diri untuk memakannya. Kebiasaan beliau adalah makan sekedarnya. Jika tidak mempunyai makanan, beliau bersabar, dan bahkan beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu karena rasa lapar yang menyerangnya.

Beliau tidak makan sambil terlentang, entah telentang pada lambung, duduk seperti dalam tahiyat akhir, atau menumpulkan satu tangan di lantai dan satu lagi digunakan untuk makan. Ketiga cara ini tercela. Beliau biasa makan di lantai dengan beralaskan tikar, dan sekaligus sebagai tempat makannya. Sebelum makan beliau mengucapkan tasmiyah dan seusai makan mengucapkan hamdalah.

Ketika benar-benar rampung beliau mengucapkan doa,

“Alhamdulillaahi hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi ghoiro makfiyyin walaa muwadda’in walaa mustaghnan ‘anhu Robbanaa” (“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan penuh barokah di dalamnya, tidak ditelantarkan dan dibiarkan, serta dibutuhkan, wahai Tuhan kami”)

Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sohbihi wa sallam…

http://bisyarah.wordpress.com/2010/10/11/akhlak-rasulullah-saat-makan-dan-minum/

Posted by: Habib Ahmad | 13 Oktober 2010

Taqwa

Taqwa

Taqwa itu adalah wasiat Allah SWT untuk pendahulu kita ataupun sampai saat ini. Bagaimana yang di dalam Firman Allah SWT di dalam Surat An-Nisa yang artinya adalah “Sesungguhnya telah Allah SWT wasiatkan pada ahli kitab sebelum engkau, sebelum Nabi Muhammad SAW dan juga sebelum pada Nabi-Nabi sebelumna untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT, kenapa? Karena tidak ada kebaikan yang cepat ataupun lambat yang terlihat ataupn yang tidak terlihat itu kebaikan-kebaikan terkumpul di dalam taqwa kepada Allah SWT dan taqwa ini adalah taqwa menuju jalan kebaikan dan kebaikan dari Allah SWT, dengan bertaqwa maka akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Wasillah kita mendapatkan kebaikan yaitu kita bertaqwa kepada Allah SWT, dan tidak ada kejelekan yang cepat ataupun lambat yang tampak ataupun tidak tampak, taqwalah yang dapat membentengi kejelekan-kejelekan tersebut dan taqwalah yang dapat menjauhkan kita dari kejelekan-kejelekan.dari kejelekan-kejelekan maksiat kepada Allah SWT, dengan taqwa kita di bentengi oleh Allah SWT dan selamat dari kejelekan-kejelekan tersebut ini di akibatkan kita bertaqwa dengan Allah SWT.

Hancurnya umat terdahulu seperti kaum Saba karena mereka tidak mensyukuri atas nikmat-nikmat yang Allah SWT telah berikan kepada mereka. Oleh karena itu Allah SWT mengulang-ulangi sampai 33 kali didalam surat ArRohman ayat yang berbunyi “nikmat apalagi yang kalian dustakan” karena bersyukur merupakan bukti dari ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Al imam Abdulmalik Al Qusyairi ra berkata “Bukanlah orang yang takut kepada Allah SWT itu adalah orang yang takut hingga menangis dan mengusap air matanya akan tetapi orang yang takut kepada Allah SWT adalah orang yang takut berbuat sesuatu yang mana perbuatan itu akan menyebabkan turunnya azab dari Allah SWT.”

Al Imam Ali bin Abi talib pernah berkata ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah

1.) Takut kepada Allah SWT

2.) Mengamalkan ajaran-ajaran yang ada di AlQur’an

3.) Rela Menerima apa adanya terhadap apa yang Allah SWT berikan kepada kita

4.) Bersiap-siap menghadapi kematian

http://www.nurulmusthofa.org/artikel-kutipan-ceramah-majlis-09102010.html

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Empat Kecukupan Yang Harus Dihindari

Empat Kecukupan Yang Harus Dihindari

كَفَى بِفُقْدَانِ الرَّغْبَةِ فِى الخَيْرِ مُصِيْبَةً وَكَفَى بِالذُّلِّ فِى طَلَبِ الدُّنْياَ عُقُوْبَةً

وَكَفَى بَالظُّلْمِ حَتْفاً لِصَاحِبِهِ وَكَفَى باِلذَّنْبِ عَارًا لِلْمُلِمِّ بِهِ

“Cukuplah sudah hilangnya sebuah semangat dan keinginan untuk berbuat kebaikan itu menjadi suatu musibah! Cukuplah sudah sikap merendahkan diri mencari dunia sebagai hukuman”

Al-Habib Abdullah Al-Haddad dalam pesan di atas mengatakan ada empat macam ‘kecukupan’ yang harus kita hindari. Pertama, kecukupan berupa hilangnya suatu kegemaran, selera, semangat dan keinginan untuk berbuat kebaikan sebagai sebuah musibah. Di dalam Syarah Al Hikam beliau berkata, “Tidak ada musibah yang lebih besar selain kemalasan dan hilangnya semangat dari hati seseorang untuk berbuat baik. Maka ketahuilah bahwa dia sedang tertimpa musibah yang paling besar yang tiada lagi musibah lebih besar dari itu.”

Persoalannya, apakah kita bisa mengerti bahwa apa yang diungkapkan beliau ini memang sebuah musibah, mengingat kelemahan kita dalam bernalar. Sering kali kita tidak mampu membedakan batu permata dan batu sungai. Para salafus salih beranggapan kehilangan satu kebaikan, sekalipun nampaknya remeh, adalah sebuah musibah.

Dalam manaqib Habib Abdulkadir bin Husein Assegaf disebutkan bahwa beliau memiliki semangat besar dalam berbuat kebaikan. Imam Hatim Al-Ashom pernah berkata : “Aku pernah ketinggalan shalat berjamaah sekali. Kemudian aku dita’ziahi oleh Abu Ishaq al-Bukhori.” Kunjungan ini merupakan pernyataan berduka- cita atas tertinggalnya Hatim dalam shalat berjamaah di masjid. Imam Hatim Al-Ashom melanjutkan, “Aku yakin kalau anakku meninggal dunia mungkin yang ta’ziah lebih dari sepuluh ribu orang. Tapi ketika aku ketinggalan shalat berjama’ah hanya satu orang yang berta’ziah kepadaku. Ini dikarenakan musibah agama bagi mereka lebih ringan jika dibandingkan dengan musibah dunia.” Beginilah sikap para salaf kita terdahulu.

Generasi masa sekarang sangat jauh dari tatanan ideal generasi Hatim. Kita yang bermodalkan pengajian seminggu sekali ini sering menganggap enteng dan mudah hilangnya waktu-waktu kebaikan, memandang enteng ketinggalan shalat berjamaah di masjid, membaca Al-Quran, mempelajari ilmu-ilmu Islam. Bahkan seringkali kita melindungi diri dengan mengutip Hadits “Yassiruu wa laa Tu’assiruu” (Mudahkanlah jangan mempersulit). Dalilnya sudah betul, aplikasinya yang tidak tepat.

Inilah pentingnya menumbuhkan semangat kebaikan. Bahkan orang-orang dulu bukan hanya sekedar “Roghbah” (semangat berbuat baik), tetapi menjadi pencetus kebaikan untuk umat. Mereka menciptakan beragam karya kebaikan untuk umat . Setidaknya, kalau kita tidak bisa menjadi seperti mereka, kita berusaha mendekati. Disebutkan dalam sebuah ungkapan bijak:

النَّاسُ فِى الخَيْرِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ مَنْ فَعَلَهُ اِبْتِدَاءً فهو كَرِيْمٌ وَمَنْ فَعَلَهُ اِقْتِدَاءً فَهُوَ حَكِيْمٌ وَمَنْ تَرَكَهُ حِرْمَاناً فَهُوَ شَقِيٌّ وَمَنْ تَرَكَهُ اِسْتِحْسَاناً فَهُوَ غَبِيٌّ

“Manusia dalam kaitannya dengan kebaikan ada empat macam” :

Pertama, Orang yang berbuat baik pertama kali. Orang semacam ini disebut orang yang mulia. Orang yang memulai, pencetus sebuah kebaikan. Kalau untuk menjadi yang pertama bagi kita terasa berat, mengapa tidak menjadi yang nomor dua?

Kedua, Orang yang melakukan kebaikan atas dasar iqtidaa`an (meniru). Meneladani pendahulunya, mencontoh kebaikan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Kategorinya sebagai orang yang bijaksana.

Ketiga, Orang yang meninggalkan kebaikan karena memang dia tercegah dari kebaikan itu. Ini adalah kategori orang yang celaka. Bagi orang seperti ini melakukan suatu kebaikan akan terasa sangat sulit.

Keempat, Orang yang meninggalkan kebaikan karena justru menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang baik (istihsaan). Orang semacam ini termasuk manusia terkebelakang yang seolah tidak bisa lagi membedakan mana siang dan malam, keburukan dan kebaikan.

Berbuat baik itu tidak mudah. Soalnya, elemen yang mendasarinya harus iman. Kita berangkat dari rumah misalnya, menghadiri majlis dengan membawa iman. Oleh karena itu, boleh jadi akan terasa berat meski jaraknya dekat. Berbeda mungkin kalau sedang menuju tempat hiburan meski letaknya cukup jauh.

Mari berusaha sedapat mungkin untuk menjalani hari-hari kita dengan mengisinya dengan kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Meskipun arah menuju kebaikan adakalanya terasa berat, usaha kesana tidak pernah boleh berhenti. Setan dan nafsu memang akan senantiasa menjadi musuh manusia. Namun, itu tidak berarti bahwa kita tidak mampu menaklukkan keduanya! Mari kita jadikan usaha melakukan yang terbaik dalam hidup ini sebagai yang terdepan. Dalam banyak peristiwa, manusia bahkan tampil lebih perkasa dari nafsu dan setan…! Ali Akbar.

http://cahayanabawiyonline.com/?p=202

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Bid`ah : Yang Baik dan Yang Buruk

Bid`ah : Yang Baik dan Yang Buruk
Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA NEGERI SEMBILAN
Utusan Malaysia, 12Oktober 2010

Alhamdulillah, dengin izinNya jua kita dapat menunaikan hasrat kita seperti yang dinyatakan di minggu lepas (dikeluarkan pada hari Rabu bukan Selasa kerana masalah teknikal) untuk kita memulakan perbahasan beberapa isu yang sering dimanipulasikan oleh sesetengah pihak untuk memakaikan imej negatif terhadap Tasawuf.

Berdasarkan kitab rujukan kita, Mafahim karya Dr. Sayyid Muhammad bin Sayyid `Alawi al-Maliki, isu pertama yang diberi tumpuan adalah isu bid`ah. Tasawuf atau aliran Sufi yang sebenarnya merupakan pegangan dan kecenderungan para ulama arus perdana umat termasuk para ulama hadith dan fiqh sering digambarkan sebagai penuh dengan pegangan dan amalan bid`ah.

Untuk mengelakkan kita terjerumus kepada menyalahkan sekian ramai para ulama Umat yang terpilih ini, marilah kita meneliti makna dan erti bid`ah yang sebenar.

Di akhir perbincangan nanti, kita berharap sekurang-kurangnya mereka yang tidak bersetuju tetap akan mengakui bahawa kita tetap ada asas pijakan ilmiyah bagi pendirian kita lantas bersedia untuk lebih berlapang dada dalam berbeza pendapat.

Terdapat di sana di kalangan umat Islam yang mengaku sebagai ulama’ atau pakar ajaran Islam, telah menisbahkan diri mereka kepada salafussoleh.

Malangnya, mereka mengajak umat Islam mengikut jejak langkah atau Sunnah ulama’ Salafussoleh dengan cara-cara yang primitif, penuh kejahilan, fanatik buta, akal yang senteng, pemahaman yang dangkal dan dada yang sempit.

Bahkan, mereka juga berani memerangi setiap sesuatu yang baru dan mengingkari setiap penemuan baru yang baik dan berfaedah hanya kerana menilai (dengan pemahaman mereka yang sempit) perkara tersebut sebagai bid’ah. Pada pemahaman mereka, semua bid’ah adalah sesat tanpa membezakan di antara jenis-jenis bid’ah yang ada.

Sedangkan, ruh dan semangat agama Islam menghendaki supaya kita membezakan di antara pelbagai bid’ah yang ada. Sepatutnya umat Islam perlu mengakui bahawa bid’ah itu ada yang baik dan ada yang sesat. Inilah perkara yang lebih selari dengan akal yang cerdas dan penelitian yang cemerlang.

Inilah perkara yang telah ditahqiq (diakui kebenarannya setelah dilakukan penelitian) oleh ulama’ usul dari kalangan ulama’ Salaf umat ini seperti Imam al ‘Iz Ibnu Abdul Salam, Imam Nawawi, Imam Suyuti, Imam Jalaluddin al Mahalli, dan Ibnu Hajar, semoga Allah merahmati meraka semua.

Memahami Hadith Tentang Bid`ah

Kaedah ilmu menetapkan bahawa hadith-hadith Nabi SAW perlu ditafsir di antara sebahagiannya dengan sebahagian hadith yang lain dan perlu disempurnakan sebahagiannya dengan sebahagian yang lain. Umat Islam perlu memahami sabda Nabi Muhammad SAW dengan pemahaman yang cermat, komprehensif dan sempurna. Ia juga mesti ditafsirkan dengan ruh Islam dan difahaminya bertepatan dengan pendapat dan penelitian Ahli Nazar (Pakar-pakar pengkaji Islam).

Oleh kerana itu, kita mendapati untuk memahami atau mentafsir banyak hadith, memerlukan kepada kecemerlangan akal, kecerdasan intelektual dan pemahaman yang mendalam, serta disertai hati yang sensitif; yang pemahamannya berdasarkan lautan syari’at Islam, di samping memerhatikan keadaan dan situasi umat Islam serta pelbagai keperluannya. Situasi dan keadaan umat memang harus diselaraskan dengan batasan-batasan kaedah Islam, nas-nas al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW; tanpa terkeluar daripadanya.

Contohnya termasuklah hadith ini: “Setiap bid’ah adalah sesat.” Untuk memahami hadith seperti ini dengan betul, kita mesti mengatakan bahawa yang dimaksudkan dengan bid’ah dalam hadith ini ialah bid’ah sayyi’ah, iaitu bid’ah yang salah dan menyesatkan; yang tidak didasarkan kepada ajaran pokok agama Islam.
Pendekatan seperti ini atau apa diistilahkan sebagai taqyid (membataskan yang mutlak) juga digunakan pada hadith yang lain seperti hadith: ”Tidak ada solat (yang sempurna) bagi tetangga masjid, kecuali (yang dilakukan) di dalam masjid.”
Hadith di atas, meskipun mengandungi hasr (pembatasan), iaitu menafikan solat tetangga masjid, tetapi kandungan umum daripada hadith-hadith lain mengenai solat, mengisyaratkan bahawa hadith tersebut perlu difahami dengan suatu qayyid atau pengikat. Maka pengertiannya ialah, “tidak ada solat (fardhu) yang sempurna bagi tetangga masjid, kecuali di masjid”. Namun, tetap terdapat perselisihan pendapat di antara ulama’ dalam isu ini.

Begitu juga dengan hadith Rasulullah SAW ini: “Tidak ada solat di samping makanan (yang telah terhidang).” Maksudnya adalah, “tidak sempurna solat di samping makanan yang telah terhidang”.

Pendekatan yang sama juga harus kita gunakan untuk memahami hadith berikut: “Tidak beriman seseorang kamu kecuali ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” Iaitu dengan ertikata, “tidak sempurna Iman”.

Begitu juga hadith berikut: “Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman (dengan keimanan yang sempurna).” Ada yang bertanya, “Siapakah (yang tidak sempurna keimanannya) itu, wahai Rasulullah?” Baginda SAW bersabda, “Orang yang jirannya tidak berasa aman dengan gangguannya.”
Demikian juga hadith-hadith ini: “Tidak masuk syurga pengadu domba.” “Tidak masuk syurga pemutus tali persaudaraan. Tidak masuk syurga orang yang derhaka kepada kedua orang tuanya.”

Menurut tafsiran ulama’, yang dimaksudkan dengan tidak masuk syurga itu adalah tidak masuk awal ke dalam syurga, atau tidak masuk syurga jika menghalalkan perbuatan mungkar tersebut. Justeru kita dapati, para ulama’ tidak memahami hadith tersebut menurut zahirnya, tetapi mereka memahaminya melalui dengan pendekatan takwil (melihat makna alternatif yang muktabar).

Maka hadith bid’ah tersebut juga termasuk dalam bab ini. Keumuman kandungan pelbagai hadith lain dan amalan para sahabat RA memberikan kesan bahawa yang dimaksudkan dengan bid’ah dalam hadith tersebut hanyalah bid’ah sayyi’ah; yakni bid’ah yang jelas tidak mempunyai landasan pokok dari ajaran Islam; dan bukan semua bid’ah.

Cuba pula kita perhatikan hadith berikut: “Sesiapa yang melakukan suatu Sunnah yang baik, maka ia berhak mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari Kiamat.” Juga hadith “Hendaklah kalian mengikut Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang memberikan petunjuk.” Perhatikan juga perkataan Umar al Khattab RA mengenai solat Tarawih (secara jamaah): “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini.”
Inilah perbahasan awal dalam menetapkan bahawa sebenarnya ada hujah yang kuat dan muktabar untuk menerima pembahagian bid`ah kepada yang tercela dan terpuji, baik dan buruk. InsyaAllah kita akan menyambung perbincangan ini di minggu hadapan dengan harapan agar Allah SWT sentiasa membuka hati-hati kita untuk mendengar kalam yang baik lalu mengikut yang terbaik. Hanya Dial ah yang menunjukkan seseorang ke jalan yang lurus.

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Usah cari alasan jika telah cukup syarat haji

Usah cari alasan jika telah cukup syarat haji

Bersama Engku Ahmad Zaki Engku Alwi
ALLAH SWT berfirman bermaksud: “Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadat haji dengan mengunjungi Baitullah, iaitu sesiapa yang mampu sampai kepadanya. Dan barang siapa yang kufur (ingkar kewajipan ibadat haji itu), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berhajat kepada sesuatu apapun) dari sekalian makhluk.” (Surah Ali Imran, ayat 97)

Musim haji menjelang kembali. Ketika ini, jemaah pasti sibuk membuat persediaan terakhir sebelum menjejakkan kaki ke Tanah Suci. Ibadat haji adalah satu daripada Rukun Islam yang lima, wajib dilaksanakan Muslim berkemampuan sekali seumur hidup.

Menyedari kewajipan ibadat haji yang terpikul pada bahu setiap Muslim di samping kemampuan yang melayakkannya untuk menyahut seruan Ilahi ke Tanah Suci, sewajibnya setiap Muslim berkemampuan tidak melengahkan rukun Islam kelima ini.

Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya supaya segera menunaikan haji apabila memenuhi syarat sebelum berlaku sesuatu ke atas dirinya, keluarga dan harta benda yang boleh membantut niat dan azam ke Tanah Suci.

Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Hendaklah kamu segera menunaikan ibadat haji iaitu haji fardu kerana sesungguhnya seseorang tidak mengetahui apakah rintangan yang akan menghalang kamu (pada masa akan datang jika dilewatkan).” (Hadis riwayat Ahmad)

Rasulullah SAW memberi peringatan keras berkaitan kesudahan dan akibat diterima orang yang sengaja melengahkan ibadat haji biarpun sudah memenuhi segala syaratnya.

Oleh itu, setiap Muslim berkemampuan dinasihatkan supaya tidak melengahkan masa membuat persiapan haji seperti menyimpan wang secukupnya, mendaftar dengan Lembaga Tabung Haji, menghadiri kursus bersiri haji dan menyelesaikan segala masalah berkaitan semasa ketiadaannya kelak.

Amat mendukacitakan apabila ada umat Islam sengaja melewatkan pemergian ke Tanah Suci dengan pelbagai alasan tidak munasabah, kononnya belum sampai seru, sibuk bekerja atau bimbang tiada siapa menjaga anak.

Walaupun alasan dikemukakan mendatangkan keuntungan besar di dunia, perlu diinsafi keuntungan itu kecil berbanding ganjaran pahala yang diperoleh melalui haji mabrur.

Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Haji yang mabrur itu tidak ada ganjarannya melainkan syurga penuh kenikmatan.” (Hadis riwayat Bukhari)

Selain itu, terdapat juga kebimbangan sebahagian umat Islam terhadap pelbagai kesusahan dan kesulitan yang akan mereka dihadapi sepanjang berada di Tanah Suci, terutama apabila mendengar pengalaman dan rungutan daripada jemaah yang menunaikan ibadat haji. Mereka terpengaruh dengan cerita itu sehingga membantutkan azam menjejakkan kaki ke Tanah Suci.

Perlu ditegaskan, ibadat haji menyingkap pelbagai hikmah pengajaran yang wajib difahami serta dihayati setiap Muslim. Oleh itu, setiap Muslim harus memahami dan bersedia menghadapi kemungkinan yang akan menimpa.

Kesabaran seseorang akan menjadi neraca piawaian sama ada dia memperoleh haji mabrur ataupun sebaliknya. Ibadat haji sebagai ibadat ditegakkan atas landasan kesabaran, maka wajar setiap jemaah haji membuat persediaan awal supaya tidak terjebak perangkap mudah marah, tidak sabar, perilaku maksiat dan dosa atau segala perbuatan dilarang Allah.

Kisah Nabi Musa Membelah Laut Merah Terbukti secara Ilmiah
Friday, 01 October 2010 17:15

Angin mampu menghempaskan air laut hingga mencapai dasar lautan pada satu titik sehingga seperti membentuk sungai yang membungkuk untuk menyatu dengan laguna di pesisir.

Kisah Nabi Musa AS membelah Laut Merah tiba-tiba kembali populer. Pasalnya, salah satu mukzijat yang diberikan Allah SWT saat menghindari kejaran Fir’aun dan pasukannya, sebagaimana tertulis dalam Al-Quran maupun alkitab, ini didukung secara ilmiah.

Setelah melalui riset yang cukup lama, para ilmuwan Amerika Serikat menyimpulkan, dilihat dari sisi ilmiah, kisah Laut Merah yang terbelah sangat mungkin terjadi. Angin dari timur yang berembus kencang sepanjang malam bisa mendorong air laut dan membelah Laut Merah seperti yang tertulis pada kitab suci agama samawi.

Menurut tulisan dari kitab suci Islam maupun Kristen, Nabi Musa AS memimpin umat Yahudi keluar dari Mesir karena kejaran Fira’un pada 3.000 tahun yang lalu. Laut Merah saat itu terbelah sementara untuk membantu rombongan Nabi Musa AS melintas dan langsung menutup kembali, menenggelamkan para tentara Fir’aun yang berada di belakangnya.

Simulasi komputer yang mempelajari bagaimana angin mempengaruhi air memperlihatkan, angin mampu menghempaskan air laut hingga mencapai dasar lautan pada satu titik sehingga seperti membentuk sungai yang membungkuk untuk menyatu dengan laguna di pesisir. Laguna itu memiliki panjang tiga hingga empat kilometer dan lebar sejauh lima kilometer yang terbelah selama empat jam. “Hasil simulasi sangat cocok dengan kisah itu,” kata pemimpin NCAR yang melakukan studi ini, Carl Drews, seperti dilansir Reuter.

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Jadual Kuliyah Ustaz Azhar Idrus (Oktober 2010)

Jadual Kuliyah Oktober 2010

Rating Pengguna: / 7
TerukBagus
Ditulis oleh nayoe
Sunday, 19 September 2010
1/10 Jumaat Universiti Malaysia Pahang (Jemputan)
2/10 Sabtu Surau Pulau Musang
3/10 Ahad Surau Gelung Bilal,Pasir Panjang
4/10 Isnin Masjid Pinang Merah,Paka
5/10 Selasa Madrasah Taman Islam Kemaman
6/10 Rabu Surau Bukit Bading, Ajil, Terengganu
7/10 Khamis Surau Wan Esah
8/10 Jumaat Surau Pak Tuyu
9/10 Sabtu Pondok Penur, Pekan, Pahang (Jemputan)
10/10 Ahad Universiti Islam Antarabangsa Kuantan (Jemputan)
11/10 Isnin Masjid Simpang Empat, Cendering
12/10 Selasa Surau Ladang
13/10 Rabu Surau Bukit Kecik
14/10 Khamis Masjid Batu Buruk
15/10 Jumaat Masjid Rhu Muda
16/10 Sabtu Masjid Titian Baru, Kedai Buluh
17/10 Ahad Surau gelung Bilal, Pasir Panjang
18/10 Isnin Masjid Al-Fatah, Batu 3, Kuantan
19/10 Selasa Masjid Pengadang Baru.K.Trg
20/10 Rabu Masjid Pulau Serai, Dungun
21/10 Khamis Masjid Batu Enam, K.Trg
22/10 Jumaat Surau Ladang
23/10 Sabtu Surau Belakang Stadium
24/10 Ahad Surau Gelung Bilal, Pasir Panjang
25/10 Isnin Masjid Pulau Ketam
26/10 Selasa Surau Ladang
27/10 Rabu Surau Bukit Kecik
28/10 Khamis Masjid Batu Buruk
29/10 Jumaat Masjid Kg Geting, Tumpat, Kelantan

*Surau Pak Tuyu yg sepatutnya pd 1 Oktober ditukar kpd 8 oktober
Dikemaskini pada 1st October 2010

Komen (1)
RSS komen.
Jadual Kuliah Bulanan
Dikomen oleh peminat no. 1 ustaz azhar, September 29, 2010

Assalamu’alaikum…..Sila kemaskinikan jadual kuliah di surau/masjid untuk sebulan penuh selalu. Contoh untuk bulan Oktober start dari 1 hb. hinggan 30 hb. Jadual yang ada ni dah seminggu tidak di kemaskini. Sekian, terima kasih.

Tulis komen.
Nama

eMel

Laman Web

Tajuk

Komen

Hantar komen.

Sumber : UstazAzhar.com:

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Dakwah Salaf Di Era Online

Dakwah Salaf Di Era Online
Posted on admin on February 6, 2010 // Comments Off Situs-situs berbasis dakwah Islamiyah kian bertaburan di internet. Hati-hati, jangan salah alamat!

Sekarang ini adalah era online, era dimana dunia tak lagi berjarak. Kita bisa ke mana saja, melintasi negeri atau menjelajahi benua tanpa harus beranjak dari tempat duduk. Yang diperlukan cuma seperangkat komputer dan fasilitas internet. Bagi yang tidak punya, bisa nongkrong di Warung Internet. Itupun ongkosnya murah meriah.

Bagaimanakah para ulama menyikapi gegap gempitanya era online seperti saat ini? ternyata mereka tak menutup mata. Para penerus salaf itu malah pro aktif memanfaatkan situasi ini demi memperluas kepakan dakwah mereka.

Coba telusuri http://www.alhabibomar.com. Lewat situs ini kita bisa mengenal lebih dekat Habib Umar bin Hafiz, ulama asal Tarim yang telah tersohor di dunia. Perjalanan dakwahnya yang merambah negeri-negeri muslim di seantero kolong jagad dicatat di situs ini, plus gambar-gambar eksklusifnya. Dari situs ini pula, kita bisa menggali pengetahuan dari Habib Umar. Pasalnya, ceramah ilmiah beliau dalam beragam disiplin ilmu (fikih,tafsir, sirah, tasawuf dan kewanitaan) bisa diunduh di sini. Ceramah-ceramah itu bisa diambil dalam format MP3 maupun video. Wuah, ini yang namanya ta’lim on-line, praktis dan bermanfaat. Insya Allah, hal semacam ini bukanlah bid’ah dhalalah.

Situs yang selalu ter-update ini menawarkan kesegaran ruhaniyah, cocok bagi kaum muslimin yang selalu haus akan ilmu. Untuk yang ingin memecah segala problema kesehariannya, situs ini menyediakan ruang fatwa dan curhat. Jawabannya dijamin memuaskan dan penuh tanggung-jawab. Habib Umar, sebagai seorang salaf, memang telah melangkah jauh ke depan. Beliau sangat arif, bisa membaca pergerakan zaman. Dan karena itu, pecinta-pecinta salaf yang tersebar di sudut-sudut bumi bisa menimba banyak manfaat dari beliau.

Langkah ini diteladani oleh salah satu murid terbaik beliau, Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri. Ulama karismatik yang lagi digandrungi kaum muda ini juga membuat situs pribadi, yakni http://www.alhabibali.com. Di situsnya, Habib Ali memberikan pengajian membahas beberapa bidang pengetahuan yang berkaitan erat dengan khalayak: fikih, hadis, tasawuf, dan fatwa-fatwa hukum bagi wanita. Semuanya bisa disimak dalam bentuk audio. Jadi kalau pengin menjadi santri beliau, tak usah jauh-jauh ke Timur Tengah, cukup klik alamat situs ini.

Ulama kelahiran Saudi Arabia ini ternyata sudah go internasional. Itu bisa kita ketahui dari jejak perjalanan dakwah beliau di situsnya. Habib Ali pernah singgah di Jerman, Belgia, Perancis, Kuwait, Libanon, India, Srilanka dan lainnya. Semua itu dalam rangka dakwah, bukan plesir liburan semata. Di setiap Negara yang dikunjungi, beliau bertemu muka dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam. Gambar momen-momen penting itu terdokumentasikan dan bisa dilihat di situs pribadi beliau.

Tak kalah dari keduanya, seorang ilmuwan kawakan dari negeri Syria melakukan hal serupa, membikin website. Beliau adalah Doktor Said Ramdhan al-Bouthy, alumnus al-Azhar yang kini menjadi rektor di Universitas Damaskus. Alamat situsnya adalah: http://www.bouti.com. Nuansa ilmu sangat pekat di situs ini. Terdapat ceramah-ceramah beliau di pelbagai forum yang bisa didengar pengunjung secara online. Yang terpenting barangkali fatwa-fatwanya yang senantiasa menjadi rujukan ulama di Timur Tengah sana. Kapasitas ulama yang getol menyitir wahabi ini memang tak perlu disangsikan. Beliau memegang bertumpuk jabatan strategis. Selain menjadi rektor Universitas terkemuka di Syria, beliau juga anggota dewan kehormatan di negeri Oman, serta menjadi anggota rektorat di Universitas Oxford, Inggris.

Selain situs-situs bersifat pribadi diatas, ada lagi beberapa situs yang perlu dikunjungi. Misalnya www. rubat-tareem.net/ (situs resmi Rubat Tarim, pesantren klasik yang telah mencetak ribuan ulama besar) http://www.daralmostafa.com/ (situs resmi pesantren asuhan Habib Umar bin Hafiz), atau http://www.ahgaff.edu. (Situs resmi Universitas al-Ahqaff, Hadramaut).

Para peretas jalan salaf di dalam negeri tak mau ketinggalan. Mereka turut larut dalam era yang serba online ini. Telusuri saja http://www.majelisrasulullah.org yang diasuh Habib Munzir al-Musawa. Situs ini lumayan atraktif. Memuat rekaman dakwah sang habib yang bermukim di ibukota itu. Juga menyediakan forum tanya -jawab permasalahan tauhid, fikih dan umum. Demi mengendorkan ketegangan, situs ini menyediakan forum iseng yang berisikan artikel humor yang bernilai islami.

Forsan Salaf

Kalau yang satu ini merupakan situs olahan Pesantren Sunniyah Salafiyah: http://www.forsansalaf.com. Desainnya simpel namun artistik. Website ini sarat dengan artikel-artikel menarik yang bisa mengobati kehausan kita akan pengetahuan. Kita bisa meng-klik Kalam Salaf, bila ingin mendapatkan penyejukan dari nasehat-nasehat ulama klasik yang telah mencapai puncak kearifan.

Kalau kita mempunyai persoalan yang berkaitan dengan hukum syariat, tumpahkan saja ke dalam Majelis Ifta di situs ini. Insya Allah persoalan itu bakal dipecahkan oleh tim LBM (Lajnah Buhuts Wal Muraja’ah) yang dibentuk oleh pesantren binaan Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf. Jawaban akan disertai teks-teks rujukan dari berbagai kitab yang bisa dipertanggung-jawabkan.

Yang menarik, website ini menyediakan forum konsultasi umum yang dipandu langsung oleh Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf. Nah, bagi Anda yang didera berbagai problem cukup pelik menyangkut kehidupan beragama, silakan sharing kepada beliau lewat website ini. Solusi yang diberikan pasti sesuai manhaj salaf yang istiqamah.

Tak bisa disangkal, dunia memang terus berputar. Perputaran itu mesti kita ikuti sepanjang ia tidak bergesekan dengan norma syariat. Seorang Sufi bukanlah orang yang terus berdiam diri di goa-goa nan gelap- gulita. Sufi sejati adalah muslim yang memelihara diri serta hati dari perbuatan cela. Dengan memanfaatkan internet, kita bisa tetap menjadi seorang sufi. Dan sekali lagi, ini bukanlah perbuatan bid’ah. Tim CN.

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Jom Ke Taman Syurga …..

Jom Ke Taman Syurga …..
Sabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم

Apabila kalian melalui suatu taman syurga, maka hendaklah kalian berhenti. Mereka bertanya: Apakah taman syurga itu, wahai Rasulullah? Baginda صلى الله عليه وآله وسلم menjawab: Halaqah dhikir (Hadits riwayat at-Tirmidhi)

Sabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم
لا يقعد قوم يذكوون الله تعالى إلا حفتهم الملا ئكة، وغشيتهم الرحمة، ونزلت عليهم السكينة، وذكرهم الله فيمن عنده
Ertinya: Tidaklah suatu kaum duduk berdhikir kepada Allah Ta’ala, melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat dan akan dilimpahi rahmat serta akan diturunkan ke atas mereka ketenangan dan Allah akan menyebut mereka di hadapan para malaikatNya (Hadits riwayat Muslim)

أن النبي r خرج على حلقة من أصحابه فقال: ما يجلسكم؟ قالوا: جلسنا نذكر اللهَ ونحمده. فقال: إنه أتاني جبريل، فأخبرني أنّ الله يباهي بكم الملائكة
Ertinya: “Bahawa suatu ketika Nabi صلى الله عليه وآله وسلم keluar dan melalui suatu halaqah dari para shahabatnya. Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersabda: Apakah yang menyebabkan kalian duduk beramai-ramai? Para shahabat رضي الله عنهم menjawab: Kami berdhikir serta memuji Allah. Maka Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersabda: Sesungguhnya Jibril عليه السلام telah datang kepadaku dan mengkhabarkan kepadaku bahawasanya Allah Ta’ala membanggakan kalian di hadapan para malaikatNya (Hadits riwayat Muslim)

مامن قوم اجتمعوا يذكرون الله لا يريدون بذلك إلا وجه تعالى إلا ناداهم مناد من السماء: قوموا مغفورا لكم، قد بدلت سيئاتكم حسنات
Ertinya: “Tidaklah suatu kaum yang berkumpul untuk berdhikir kepada Allah Ta’ala, (yang mana mereka) tidak menginginkan sesuatu kecuali keredhaanNya, melainkan ada suara yang menyeru mereka dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan diampunkan kesalahan kalian, sesungguhnya keburukan yang kalian lakukan telah digantikan dengan kebaikan. (Hadits riwayat Ahmad, ath-Thabarani dan Abu Ya’la)

Faedah menghadiri Majlis Haul

Ingin saham akhirat? Cetak poster ini dan sebarkan di masjid, surau dan pejabat anda. Atau emailkan poster ini kepada rakan taulan anda. Atau tagkan poster ini untuk rakan-rakan FB anda. InsyaAllah, orang yang menunjuk atau mengajak kepada kebaikan akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda dariNYA
.

« Kiriman-Kiriman Berikutnya - Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 686 other followers