Posted by: Habib Ahmad | 13 Oktober 2010

Akhlak Rasulullah saat makan dan minum

Akhlak Rasulullah saat makan dan minum
Ditulis oleh Admin di/pada 11 Oktober 2010

Petunjuk dan perilaku Rasulullah SAW saat makan dan minum tidak ada yang dipungkiri dan tidak ada yang hilang sia-sia. Apapun yang disodorkan dari makanan yang baik, maka beliau memakannya, kecuali jika makanan itu kurang berkenan di hatinya, maka beliau meninggalkannya tanpa mengharamkannya.

Beliau tidak pernah mencela suatu makanan pun. Jika berkenan, beliau memakannya. Dan jika tidak berkenan, beliau membiarkannya, seperti daging biawak yang ditinggalkannya, karena beliau tidak biasa memakannya.

Beliau biasa memakan manisan dan madu, dan beliau menyukainya. Beliau pernah makan daging sapi, domba, ayam, burung, kelinci, ikan laut, makan daging yang dipanggang, kurma basah dan kering, minum susu murni, makan adonan gandum, minum perahan kurma, makan adonan air susu dan tepung, roti campur daging dan lain-lainnya. Beliau tidak menolak makanan yang baik, dan tidak memaksakan diri untuk memakannya. Kebiasaan beliau adalah makan sekedarnya. Jika tidak mempunyai makanan, beliau bersabar, dan bahkan beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu karena rasa lapar yang menyerangnya.

Beliau tidak makan sambil terlentang, entah telentang pada lambung, duduk seperti dalam tahiyat akhir, atau menumpulkan satu tangan di lantai dan satu lagi digunakan untuk makan. Ketiga cara ini tercela. Beliau biasa makan di lantai dengan beralaskan tikar, dan sekaligus sebagai tempat makannya. Sebelum makan beliau mengucapkan tasmiyah dan seusai makan mengucapkan hamdalah.

Ketika benar-benar rampung beliau mengucapkan doa,

“Alhamdulillaahi hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi ghoiro makfiyyin walaa muwadda’in walaa mustaghnan ‘anhu Robbanaa” (“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan penuh barokah di dalamnya, tidak ditelantarkan dan dibiarkan, serta dibutuhkan, wahai Tuhan kami”)

Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sohbihi wa sallam…

http://bisyarah.wordpress.com/2010/10/11/akhlak-rasulullah-saat-makan-dan-minum/

Posted by: Habib Ahmad | 13 Oktober 2010

Taqwa

Taqwa

Taqwa itu adalah wasiat Allah SWT untuk pendahulu kita ataupun sampai saat ini. Bagaimana yang di dalam Firman Allah SWT di dalam Surat An-Nisa yang artinya adalah “Sesungguhnya telah Allah SWT wasiatkan pada ahli kitab sebelum engkau, sebelum Nabi Muhammad SAW dan juga sebelum pada Nabi-Nabi sebelumna untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT, kenapa? Karena tidak ada kebaikan yang cepat ataupun lambat yang terlihat ataupn yang tidak terlihat itu kebaikan-kebaikan terkumpul di dalam taqwa kepada Allah SWT dan taqwa ini adalah taqwa menuju jalan kebaikan dan kebaikan dari Allah SWT, dengan bertaqwa maka akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Wasillah kita mendapatkan kebaikan yaitu kita bertaqwa kepada Allah SWT, dan tidak ada kejelekan yang cepat ataupun lambat yang tampak ataupun tidak tampak, taqwalah yang dapat membentengi kejelekan-kejelekan tersebut dan taqwalah yang dapat menjauhkan kita dari kejelekan-kejelekan.dari kejelekan-kejelekan maksiat kepada Allah SWT, dengan taqwa kita di bentengi oleh Allah SWT dan selamat dari kejelekan-kejelekan tersebut ini di akibatkan kita bertaqwa dengan Allah SWT.

Hancurnya umat terdahulu seperti kaum Saba karena mereka tidak mensyukuri atas nikmat-nikmat yang Allah SWT telah berikan kepada mereka. Oleh karena itu Allah SWT mengulang-ulangi sampai 33 kali didalam surat ArRohman ayat yang berbunyi “nikmat apalagi yang kalian dustakan” karena bersyukur merupakan bukti dari ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Al imam Abdulmalik Al Qusyairi ra berkata “Bukanlah orang yang takut kepada Allah SWT itu adalah orang yang takut hingga menangis dan mengusap air matanya akan tetapi orang yang takut kepada Allah SWT adalah orang yang takut berbuat sesuatu yang mana perbuatan itu akan menyebabkan turunnya azab dari Allah SWT.”

Al Imam Ali bin Abi talib pernah berkata ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah

1.) Takut kepada Allah SWT

2.) Mengamalkan ajaran-ajaran yang ada di AlQur’an

3.) Rela Menerima apa adanya terhadap apa yang Allah SWT berikan kepada kita

4.) Bersiap-siap menghadapi kematian

http://www.nurulmusthofa.org/artikel-kutipan-ceramah-majlis-09102010.html

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Empat Kecukupan Yang Harus Dihindari

Empat Kecukupan Yang Harus Dihindari

كَفَى بِفُقْدَانِ الرَّغْبَةِ فِى الخَيْرِ مُصِيْبَةً وَكَفَى بِالذُّلِّ فِى طَلَبِ الدُّنْياَ عُقُوْبَةً

وَكَفَى بَالظُّلْمِ حَتْفاً لِصَاحِبِهِ وَكَفَى باِلذَّنْبِ عَارًا لِلْمُلِمِّ بِهِ

“Cukuplah sudah hilangnya sebuah semangat dan keinginan untuk berbuat kebaikan itu menjadi suatu musibah! Cukuplah sudah sikap merendahkan diri mencari dunia sebagai hukuman”

Al-Habib Abdullah Al-Haddad dalam pesan di atas mengatakan ada empat macam ‘kecukupan’ yang harus kita hindari. Pertama, kecukupan berupa hilangnya suatu kegemaran, selera, semangat dan keinginan untuk berbuat kebaikan sebagai sebuah musibah. Di dalam Syarah Al Hikam beliau berkata, “Tidak ada musibah yang lebih besar selain kemalasan dan hilangnya semangat dari hati seseorang untuk berbuat baik. Maka ketahuilah bahwa dia sedang tertimpa musibah yang paling besar yang tiada lagi musibah lebih besar dari itu.”

Persoalannya, apakah kita bisa mengerti bahwa apa yang diungkapkan beliau ini memang sebuah musibah, mengingat kelemahan kita dalam bernalar. Sering kali kita tidak mampu membedakan batu permata dan batu sungai. Para salafus salih beranggapan kehilangan satu kebaikan, sekalipun nampaknya remeh, adalah sebuah musibah.

Dalam manaqib Habib Abdulkadir bin Husein Assegaf disebutkan bahwa beliau memiliki semangat besar dalam berbuat kebaikan. Imam Hatim Al-Ashom pernah berkata : “Aku pernah ketinggalan shalat berjamaah sekali. Kemudian aku dita’ziahi oleh Abu Ishaq al-Bukhori.” Kunjungan ini merupakan pernyataan berduka- cita atas tertinggalnya Hatim dalam shalat berjamaah di masjid. Imam Hatim Al-Ashom melanjutkan, “Aku yakin kalau anakku meninggal dunia mungkin yang ta’ziah lebih dari sepuluh ribu orang. Tapi ketika aku ketinggalan shalat berjama’ah hanya satu orang yang berta’ziah kepadaku. Ini dikarenakan musibah agama bagi mereka lebih ringan jika dibandingkan dengan musibah dunia.” Beginilah sikap para salaf kita terdahulu.

Generasi masa sekarang sangat jauh dari tatanan ideal generasi Hatim. Kita yang bermodalkan pengajian seminggu sekali ini sering menganggap enteng dan mudah hilangnya waktu-waktu kebaikan, memandang enteng ketinggalan shalat berjamaah di masjid, membaca Al-Quran, mempelajari ilmu-ilmu Islam. Bahkan seringkali kita melindungi diri dengan mengutip Hadits “Yassiruu wa laa Tu’assiruu” (Mudahkanlah jangan mempersulit). Dalilnya sudah betul, aplikasinya yang tidak tepat.

Inilah pentingnya menumbuhkan semangat kebaikan. Bahkan orang-orang dulu bukan hanya sekedar “Roghbah” (semangat berbuat baik), tetapi menjadi pencetus kebaikan untuk umat. Mereka menciptakan beragam karya kebaikan untuk umat . Setidaknya, kalau kita tidak bisa menjadi seperti mereka, kita berusaha mendekati. Disebutkan dalam sebuah ungkapan bijak:

النَّاسُ فِى الخَيْرِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ مَنْ فَعَلَهُ اِبْتِدَاءً فهو كَرِيْمٌ وَمَنْ فَعَلَهُ اِقْتِدَاءً فَهُوَ حَكِيْمٌ وَمَنْ تَرَكَهُ حِرْمَاناً فَهُوَ شَقِيٌّ وَمَنْ تَرَكَهُ اِسْتِحْسَاناً فَهُوَ غَبِيٌّ

“Manusia dalam kaitannya dengan kebaikan ada empat macam” :

Pertama, Orang yang berbuat baik pertama kali. Orang semacam ini disebut orang yang mulia. Orang yang memulai, pencetus sebuah kebaikan. Kalau untuk menjadi yang pertama bagi kita terasa berat, mengapa tidak menjadi yang nomor dua?

Kedua, Orang yang melakukan kebaikan atas dasar iqtidaa`an (meniru). Meneladani pendahulunya, mencontoh kebaikan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Kategorinya sebagai orang yang bijaksana.

Ketiga, Orang yang meninggalkan kebaikan karena memang dia tercegah dari kebaikan itu. Ini adalah kategori orang yang celaka. Bagi orang seperti ini melakukan suatu kebaikan akan terasa sangat sulit.

Keempat, Orang yang meninggalkan kebaikan karena justru menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang baik (istihsaan). Orang semacam ini termasuk manusia terkebelakang yang seolah tidak bisa lagi membedakan mana siang dan malam, keburukan dan kebaikan.

Berbuat baik itu tidak mudah. Soalnya, elemen yang mendasarinya harus iman. Kita berangkat dari rumah misalnya, menghadiri majlis dengan membawa iman. Oleh karena itu, boleh jadi akan terasa berat meski jaraknya dekat. Berbeda mungkin kalau sedang menuju tempat hiburan meski letaknya cukup jauh.

Mari berusaha sedapat mungkin untuk menjalani hari-hari kita dengan mengisinya dengan kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Meskipun arah menuju kebaikan adakalanya terasa berat, usaha kesana tidak pernah boleh berhenti. Setan dan nafsu memang akan senantiasa menjadi musuh manusia. Namun, itu tidak berarti bahwa kita tidak mampu menaklukkan keduanya! Mari kita jadikan usaha melakukan yang terbaik dalam hidup ini sebagai yang terdepan. Dalam banyak peristiwa, manusia bahkan tampil lebih perkasa dari nafsu dan setan…! Ali Akbar.

http://cahayanabawiyonline.com/?p=202

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Bid`ah : Yang Baik dan Yang Buruk

Bid`ah : Yang Baik dan Yang Buruk
Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA NEGERI SEMBILAN
Utusan Malaysia, 12Oktober 2010

Alhamdulillah, dengin izinNya jua kita dapat menunaikan hasrat kita seperti yang dinyatakan di minggu lepas (dikeluarkan pada hari Rabu bukan Selasa kerana masalah teknikal) untuk kita memulakan perbahasan beberapa isu yang sering dimanipulasikan oleh sesetengah pihak untuk memakaikan imej negatif terhadap Tasawuf.

Berdasarkan kitab rujukan kita, Mafahim karya Dr. Sayyid Muhammad bin Sayyid `Alawi al-Maliki, isu pertama yang diberi tumpuan adalah isu bid`ah. Tasawuf atau aliran Sufi yang sebenarnya merupakan pegangan dan kecenderungan para ulama arus perdana umat termasuk para ulama hadith dan fiqh sering digambarkan sebagai penuh dengan pegangan dan amalan bid`ah.

Untuk mengelakkan kita terjerumus kepada menyalahkan sekian ramai para ulama Umat yang terpilih ini, marilah kita meneliti makna dan erti bid`ah yang sebenar.

Di akhir perbincangan nanti, kita berharap sekurang-kurangnya mereka yang tidak bersetuju tetap akan mengakui bahawa kita tetap ada asas pijakan ilmiyah bagi pendirian kita lantas bersedia untuk lebih berlapang dada dalam berbeza pendapat.

Terdapat di sana di kalangan umat Islam yang mengaku sebagai ulama’ atau pakar ajaran Islam, telah menisbahkan diri mereka kepada salafussoleh.

Malangnya, mereka mengajak umat Islam mengikut jejak langkah atau Sunnah ulama’ Salafussoleh dengan cara-cara yang primitif, penuh kejahilan, fanatik buta, akal yang senteng, pemahaman yang dangkal dan dada yang sempit.

Bahkan, mereka juga berani memerangi setiap sesuatu yang baru dan mengingkari setiap penemuan baru yang baik dan berfaedah hanya kerana menilai (dengan pemahaman mereka yang sempit) perkara tersebut sebagai bid’ah. Pada pemahaman mereka, semua bid’ah adalah sesat tanpa membezakan di antara jenis-jenis bid’ah yang ada.

Sedangkan, ruh dan semangat agama Islam menghendaki supaya kita membezakan di antara pelbagai bid’ah yang ada. Sepatutnya umat Islam perlu mengakui bahawa bid’ah itu ada yang baik dan ada yang sesat. Inilah perkara yang lebih selari dengan akal yang cerdas dan penelitian yang cemerlang.

Inilah perkara yang telah ditahqiq (diakui kebenarannya setelah dilakukan penelitian) oleh ulama’ usul dari kalangan ulama’ Salaf umat ini seperti Imam al ‘Iz Ibnu Abdul Salam, Imam Nawawi, Imam Suyuti, Imam Jalaluddin al Mahalli, dan Ibnu Hajar, semoga Allah merahmati meraka semua.

Memahami Hadith Tentang Bid`ah

Kaedah ilmu menetapkan bahawa hadith-hadith Nabi SAW perlu ditafsir di antara sebahagiannya dengan sebahagian hadith yang lain dan perlu disempurnakan sebahagiannya dengan sebahagian yang lain. Umat Islam perlu memahami sabda Nabi Muhammad SAW dengan pemahaman yang cermat, komprehensif dan sempurna. Ia juga mesti ditafsirkan dengan ruh Islam dan difahaminya bertepatan dengan pendapat dan penelitian Ahli Nazar (Pakar-pakar pengkaji Islam).

Oleh kerana itu, kita mendapati untuk memahami atau mentafsir banyak hadith, memerlukan kepada kecemerlangan akal, kecerdasan intelektual dan pemahaman yang mendalam, serta disertai hati yang sensitif; yang pemahamannya berdasarkan lautan syari’at Islam, di samping memerhatikan keadaan dan situasi umat Islam serta pelbagai keperluannya. Situasi dan keadaan umat memang harus diselaraskan dengan batasan-batasan kaedah Islam, nas-nas al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW; tanpa terkeluar daripadanya.

Contohnya termasuklah hadith ini: “Setiap bid’ah adalah sesat.” Untuk memahami hadith seperti ini dengan betul, kita mesti mengatakan bahawa yang dimaksudkan dengan bid’ah dalam hadith ini ialah bid’ah sayyi’ah, iaitu bid’ah yang salah dan menyesatkan; yang tidak didasarkan kepada ajaran pokok agama Islam.
Pendekatan seperti ini atau apa diistilahkan sebagai taqyid (membataskan yang mutlak) juga digunakan pada hadith yang lain seperti hadith: ”Tidak ada solat (yang sempurna) bagi tetangga masjid, kecuali (yang dilakukan) di dalam masjid.”
Hadith di atas, meskipun mengandungi hasr (pembatasan), iaitu menafikan solat tetangga masjid, tetapi kandungan umum daripada hadith-hadith lain mengenai solat, mengisyaratkan bahawa hadith tersebut perlu difahami dengan suatu qayyid atau pengikat. Maka pengertiannya ialah, “tidak ada solat (fardhu) yang sempurna bagi tetangga masjid, kecuali di masjid”. Namun, tetap terdapat perselisihan pendapat di antara ulama’ dalam isu ini.

Begitu juga dengan hadith Rasulullah SAW ini: “Tidak ada solat di samping makanan (yang telah terhidang).” Maksudnya adalah, “tidak sempurna solat di samping makanan yang telah terhidang”.

Pendekatan yang sama juga harus kita gunakan untuk memahami hadith berikut: “Tidak beriman seseorang kamu kecuali ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” Iaitu dengan ertikata, “tidak sempurna Iman”.

Begitu juga hadith berikut: “Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman (dengan keimanan yang sempurna).” Ada yang bertanya, “Siapakah (yang tidak sempurna keimanannya) itu, wahai Rasulullah?” Baginda SAW bersabda, “Orang yang jirannya tidak berasa aman dengan gangguannya.”
Demikian juga hadith-hadith ini: “Tidak masuk syurga pengadu domba.” “Tidak masuk syurga pemutus tali persaudaraan. Tidak masuk syurga orang yang derhaka kepada kedua orang tuanya.”

Menurut tafsiran ulama’, yang dimaksudkan dengan tidak masuk syurga itu adalah tidak masuk awal ke dalam syurga, atau tidak masuk syurga jika menghalalkan perbuatan mungkar tersebut. Justeru kita dapati, para ulama’ tidak memahami hadith tersebut menurut zahirnya, tetapi mereka memahaminya melalui dengan pendekatan takwil (melihat makna alternatif yang muktabar).

Maka hadith bid’ah tersebut juga termasuk dalam bab ini. Keumuman kandungan pelbagai hadith lain dan amalan para sahabat RA memberikan kesan bahawa yang dimaksudkan dengan bid’ah dalam hadith tersebut hanyalah bid’ah sayyi’ah; yakni bid’ah yang jelas tidak mempunyai landasan pokok dari ajaran Islam; dan bukan semua bid’ah.

Cuba pula kita perhatikan hadith berikut: “Sesiapa yang melakukan suatu Sunnah yang baik, maka ia berhak mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari Kiamat.” Juga hadith “Hendaklah kalian mengikut Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang memberikan petunjuk.” Perhatikan juga perkataan Umar al Khattab RA mengenai solat Tarawih (secara jamaah): “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini.”
Inilah perbahasan awal dalam menetapkan bahawa sebenarnya ada hujah yang kuat dan muktabar untuk menerima pembahagian bid`ah kepada yang tercela dan terpuji, baik dan buruk. InsyaAllah kita akan menyambung perbincangan ini di minggu hadapan dengan harapan agar Allah SWT sentiasa membuka hati-hati kita untuk mendengar kalam yang baik lalu mengikut yang terbaik. Hanya Dial ah yang menunjukkan seseorang ke jalan yang lurus.

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Usah cari alasan jika telah cukup syarat haji

Usah cari alasan jika telah cukup syarat haji

Bersama Engku Ahmad Zaki Engku Alwi
ALLAH SWT berfirman bermaksud: “Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadat haji dengan mengunjungi Baitullah, iaitu sesiapa yang mampu sampai kepadanya. Dan barang siapa yang kufur (ingkar kewajipan ibadat haji itu), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berhajat kepada sesuatu apapun) dari sekalian makhluk.” (Surah Ali Imran, ayat 97)

Musim haji menjelang kembali. Ketika ini, jemaah pasti sibuk membuat persediaan terakhir sebelum menjejakkan kaki ke Tanah Suci. Ibadat haji adalah satu daripada Rukun Islam yang lima, wajib dilaksanakan Muslim berkemampuan sekali seumur hidup.

Menyedari kewajipan ibadat haji yang terpikul pada bahu setiap Muslim di samping kemampuan yang melayakkannya untuk menyahut seruan Ilahi ke Tanah Suci, sewajibnya setiap Muslim berkemampuan tidak melengahkan rukun Islam kelima ini.

Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya supaya segera menunaikan haji apabila memenuhi syarat sebelum berlaku sesuatu ke atas dirinya, keluarga dan harta benda yang boleh membantut niat dan azam ke Tanah Suci.

Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Hendaklah kamu segera menunaikan ibadat haji iaitu haji fardu kerana sesungguhnya seseorang tidak mengetahui apakah rintangan yang akan menghalang kamu (pada masa akan datang jika dilewatkan).” (Hadis riwayat Ahmad)

Rasulullah SAW memberi peringatan keras berkaitan kesudahan dan akibat diterima orang yang sengaja melengahkan ibadat haji biarpun sudah memenuhi segala syaratnya.

Oleh itu, setiap Muslim berkemampuan dinasihatkan supaya tidak melengahkan masa membuat persiapan haji seperti menyimpan wang secukupnya, mendaftar dengan Lembaga Tabung Haji, menghadiri kursus bersiri haji dan menyelesaikan segala masalah berkaitan semasa ketiadaannya kelak.

Amat mendukacitakan apabila ada umat Islam sengaja melewatkan pemergian ke Tanah Suci dengan pelbagai alasan tidak munasabah, kononnya belum sampai seru, sibuk bekerja atau bimbang tiada siapa menjaga anak.

Walaupun alasan dikemukakan mendatangkan keuntungan besar di dunia, perlu diinsafi keuntungan itu kecil berbanding ganjaran pahala yang diperoleh melalui haji mabrur.

Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Haji yang mabrur itu tidak ada ganjarannya melainkan syurga penuh kenikmatan.” (Hadis riwayat Bukhari)

Selain itu, terdapat juga kebimbangan sebahagian umat Islam terhadap pelbagai kesusahan dan kesulitan yang akan mereka dihadapi sepanjang berada di Tanah Suci, terutama apabila mendengar pengalaman dan rungutan daripada jemaah yang menunaikan ibadat haji. Mereka terpengaruh dengan cerita itu sehingga membantutkan azam menjejakkan kaki ke Tanah Suci.

Perlu ditegaskan, ibadat haji menyingkap pelbagai hikmah pengajaran yang wajib difahami serta dihayati setiap Muslim. Oleh itu, setiap Muslim harus memahami dan bersedia menghadapi kemungkinan yang akan menimpa.

Kesabaran seseorang akan menjadi neraca piawaian sama ada dia memperoleh haji mabrur ataupun sebaliknya. Ibadat haji sebagai ibadat ditegakkan atas landasan kesabaran, maka wajar setiap jemaah haji membuat persediaan awal supaya tidak terjebak perangkap mudah marah, tidak sabar, perilaku maksiat dan dosa atau segala perbuatan dilarang Allah.

Kisah Nabi Musa Membelah Laut Merah Terbukti secara Ilmiah
Friday, 01 October 2010 17:15

Angin mampu menghempaskan air laut hingga mencapai dasar lautan pada satu titik sehingga seperti membentuk sungai yang membungkuk untuk menyatu dengan laguna di pesisir.

Kisah Nabi Musa AS membelah Laut Merah tiba-tiba kembali populer. Pasalnya, salah satu mukzijat yang diberikan Allah SWT saat menghindari kejaran Fir’aun dan pasukannya, sebagaimana tertulis dalam Al-Quran maupun alkitab, ini didukung secara ilmiah.

Setelah melalui riset yang cukup lama, para ilmuwan Amerika Serikat menyimpulkan, dilihat dari sisi ilmiah, kisah Laut Merah yang terbelah sangat mungkin terjadi. Angin dari timur yang berembus kencang sepanjang malam bisa mendorong air laut dan membelah Laut Merah seperti yang tertulis pada kitab suci agama samawi.

Menurut tulisan dari kitab suci Islam maupun Kristen, Nabi Musa AS memimpin umat Yahudi keluar dari Mesir karena kejaran Fira’un pada 3.000 tahun yang lalu. Laut Merah saat itu terbelah sementara untuk membantu rombongan Nabi Musa AS melintas dan langsung menutup kembali, menenggelamkan para tentara Fir’aun yang berada di belakangnya.

Simulasi komputer yang mempelajari bagaimana angin mempengaruhi air memperlihatkan, angin mampu menghempaskan air laut hingga mencapai dasar lautan pada satu titik sehingga seperti membentuk sungai yang membungkuk untuk menyatu dengan laguna di pesisir. Laguna itu memiliki panjang tiga hingga empat kilometer dan lebar sejauh lima kilometer yang terbelah selama empat jam. “Hasil simulasi sangat cocok dengan kisah itu,” kata pemimpin NCAR yang melakukan studi ini, Carl Drews, seperti dilansir Reuter.

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Jadual Kuliyah Ustaz Azhar Idrus (Oktober 2010)

Jadual Kuliyah Oktober 2010

Rating Pengguna: / 7
TerukBagus
Ditulis oleh nayoe
Sunday, 19 September 2010
1/10 Jumaat Universiti Malaysia Pahang (Jemputan)
2/10 Sabtu Surau Pulau Musang
3/10 Ahad Surau Gelung Bilal,Pasir Panjang
4/10 Isnin Masjid Pinang Merah,Paka
5/10 Selasa Madrasah Taman Islam Kemaman
6/10 Rabu Surau Bukit Bading, Ajil, Terengganu
7/10 Khamis Surau Wan Esah
8/10 Jumaat Surau Pak Tuyu
9/10 Sabtu Pondok Penur, Pekan, Pahang (Jemputan)
10/10 Ahad Universiti Islam Antarabangsa Kuantan (Jemputan)
11/10 Isnin Masjid Simpang Empat, Cendering
12/10 Selasa Surau Ladang
13/10 Rabu Surau Bukit Kecik
14/10 Khamis Masjid Batu Buruk
15/10 Jumaat Masjid Rhu Muda
16/10 Sabtu Masjid Titian Baru, Kedai Buluh
17/10 Ahad Surau gelung Bilal, Pasir Panjang
18/10 Isnin Masjid Al-Fatah, Batu 3, Kuantan
19/10 Selasa Masjid Pengadang Baru.K.Trg
20/10 Rabu Masjid Pulau Serai, Dungun
21/10 Khamis Masjid Batu Enam, K.Trg
22/10 Jumaat Surau Ladang
23/10 Sabtu Surau Belakang Stadium
24/10 Ahad Surau Gelung Bilal, Pasir Panjang
25/10 Isnin Masjid Pulau Ketam
26/10 Selasa Surau Ladang
27/10 Rabu Surau Bukit Kecik
28/10 Khamis Masjid Batu Buruk
29/10 Jumaat Masjid Kg Geting, Tumpat, Kelantan

*Surau Pak Tuyu yg sepatutnya pd 1 Oktober ditukar kpd 8 oktober
Dikemaskini pada 1st October 2010

Komen (1)
RSS komen.
Jadual Kuliah Bulanan
Dikomen oleh peminat no. 1 ustaz azhar, September 29, 2010

Assalamu’alaikum…..Sila kemaskinikan jadual kuliah di surau/masjid untuk sebulan penuh selalu. Contoh untuk bulan Oktober start dari 1 hb. hinggan 30 hb. Jadual yang ada ni dah seminggu tidak di kemaskini. Sekian, terima kasih.

Tulis komen.
Nama

eMel

Laman Web

Tajuk

Komen

Hantar komen.

Sumber : UstazAzhar.com:

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Dakwah Salaf Di Era Online

Dakwah Salaf Di Era Online
Posted on admin on February 6, 2010 // Comments Off Situs-situs berbasis dakwah Islamiyah kian bertaburan di internet. Hati-hati, jangan salah alamat!

Sekarang ini adalah era online, era dimana dunia tak lagi berjarak. Kita bisa ke mana saja, melintasi negeri atau menjelajahi benua tanpa harus beranjak dari tempat duduk. Yang diperlukan cuma seperangkat komputer dan fasilitas internet. Bagi yang tidak punya, bisa nongkrong di Warung Internet. Itupun ongkosnya murah meriah.

Bagaimanakah para ulama menyikapi gegap gempitanya era online seperti saat ini? ternyata mereka tak menutup mata. Para penerus salaf itu malah pro aktif memanfaatkan situasi ini demi memperluas kepakan dakwah mereka.

Coba telusuri http://www.alhabibomar.com. Lewat situs ini kita bisa mengenal lebih dekat Habib Umar bin Hafiz, ulama asal Tarim yang telah tersohor di dunia. Perjalanan dakwahnya yang merambah negeri-negeri muslim di seantero kolong jagad dicatat di situs ini, plus gambar-gambar eksklusifnya. Dari situs ini pula, kita bisa menggali pengetahuan dari Habib Umar. Pasalnya, ceramah ilmiah beliau dalam beragam disiplin ilmu (fikih,tafsir, sirah, tasawuf dan kewanitaan) bisa diunduh di sini. Ceramah-ceramah itu bisa diambil dalam format MP3 maupun video. Wuah, ini yang namanya ta’lim on-line, praktis dan bermanfaat. Insya Allah, hal semacam ini bukanlah bid’ah dhalalah.

Situs yang selalu ter-update ini menawarkan kesegaran ruhaniyah, cocok bagi kaum muslimin yang selalu haus akan ilmu. Untuk yang ingin memecah segala problema kesehariannya, situs ini menyediakan ruang fatwa dan curhat. Jawabannya dijamin memuaskan dan penuh tanggung-jawab. Habib Umar, sebagai seorang salaf, memang telah melangkah jauh ke depan. Beliau sangat arif, bisa membaca pergerakan zaman. Dan karena itu, pecinta-pecinta salaf yang tersebar di sudut-sudut bumi bisa menimba banyak manfaat dari beliau.

Langkah ini diteladani oleh salah satu murid terbaik beliau, Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri. Ulama karismatik yang lagi digandrungi kaum muda ini juga membuat situs pribadi, yakni http://www.alhabibali.com. Di situsnya, Habib Ali memberikan pengajian membahas beberapa bidang pengetahuan yang berkaitan erat dengan khalayak: fikih, hadis, tasawuf, dan fatwa-fatwa hukum bagi wanita. Semuanya bisa disimak dalam bentuk audio. Jadi kalau pengin menjadi santri beliau, tak usah jauh-jauh ke Timur Tengah, cukup klik alamat situs ini.

Ulama kelahiran Saudi Arabia ini ternyata sudah go internasional. Itu bisa kita ketahui dari jejak perjalanan dakwah beliau di situsnya. Habib Ali pernah singgah di Jerman, Belgia, Perancis, Kuwait, Libanon, India, Srilanka dan lainnya. Semua itu dalam rangka dakwah, bukan plesir liburan semata. Di setiap Negara yang dikunjungi, beliau bertemu muka dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam. Gambar momen-momen penting itu terdokumentasikan dan bisa dilihat di situs pribadi beliau.

Tak kalah dari keduanya, seorang ilmuwan kawakan dari negeri Syria melakukan hal serupa, membikin website. Beliau adalah Doktor Said Ramdhan al-Bouthy, alumnus al-Azhar yang kini menjadi rektor di Universitas Damaskus. Alamat situsnya adalah: http://www.bouti.com. Nuansa ilmu sangat pekat di situs ini. Terdapat ceramah-ceramah beliau di pelbagai forum yang bisa didengar pengunjung secara online. Yang terpenting barangkali fatwa-fatwanya yang senantiasa menjadi rujukan ulama di Timur Tengah sana. Kapasitas ulama yang getol menyitir wahabi ini memang tak perlu disangsikan. Beliau memegang bertumpuk jabatan strategis. Selain menjadi rektor Universitas terkemuka di Syria, beliau juga anggota dewan kehormatan di negeri Oman, serta menjadi anggota rektorat di Universitas Oxford, Inggris.

Selain situs-situs bersifat pribadi diatas, ada lagi beberapa situs yang perlu dikunjungi. Misalnya www. rubat-tareem.net/ (situs resmi Rubat Tarim, pesantren klasik yang telah mencetak ribuan ulama besar) http://www.daralmostafa.com/ (situs resmi pesantren asuhan Habib Umar bin Hafiz), atau http://www.ahgaff.edu. (Situs resmi Universitas al-Ahqaff, Hadramaut).

Para peretas jalan salaf di dalam negeri tak mau ketinggalan. Mereka turut larut dalam era yang serba online ini. Telusuri saja http://www.majelisrasulullah.org yang diasuh Habib Munzir al-Musawa. Situs ini lumayan atraktif. Memuat rekaman dakwah sang habib yang bermukim di ibukota itu. Juga menyediakan forum tanya -jawab permasalahan tauhid, fikih dan umum. Demi mengendorkan ketegangan, situs ini menyediakan forum iseng yang berisikan artikel humor yang bernilai islami.

Forsan Salaf

Kalau yang satu ini merupakan situs olahan Pesantren Sunniyah Salafiyah: http://www.forsansalaf.com. Desainnya simpel namun artistik. Website ini sarat dengan artikel-artikel menarik yang bisa mengobati kehausan kita akan pengetahuan. Kita bisa meng-klik Kalam Salaf, bila ingin mendapatkan penyejukan dari nasehat-nasehat ulama klasik yang telah mencapai puncak kearifan.

Kalau kita mempunyai persoalan yang berkaitan dengan hukum syariat, tumpahkan saja ke dalam Majelis Ifta di situs ini. Insya Allah persoalan itu bakal dipecahkan oleh tim LBM (Lajnah Buhuts Wal Muraja’ah) yang dibentuk oleh pesantren binaan Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf. Jawaban akan disertai teks-teks rujukan dari berbagai kitab yang bisa dipertanggung-jawabkan.

Yang menarik, website ini menyediakan forum konsultasi umum yang dipandu langsung oleh Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf. Nah, bagi Anda yang didera berbagai problem cukup pelik menyangkut kehidupan beragama, silakan sharing kepada beliau lewat website ini. Solusi yang diberikan pasti sesuai manhaj salaf yang istiqamah.

Tak bisa disangkal, dunia memang terus berputar. Perputaran itu mesti kita ikuti sepanjang ia tidak bergesekan dengan norma syariat. Seorang Sufi bukanlah orang yang terus berdiam diri di goa-goa nan gelap- gulita. Sufi sejati adalah muslim yang memelihara diri serta hati dari perbuatan cela. Dengan memanfaatkan internet, kita bisa tetap menjadi seorang sufi. Dan sekali lagi, ini bukanlah perbuatan bid’ah. Tim CN.

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Jom Ke Taman Syurga …..

Jom Ke Taman Syurga …..
Sabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم

Apabila kalian melalui suatu taman syurga, maka hendaklah kalian berhenti. Mereka bertanya: Apakah taman syurga itu, wahai Rasulullah? Baginda صلى الله عليه وآله وسلم menjawab: Halaqah dhikir (Hadits riwayat at-Tirmidhi)

Sabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم
لا يقعد قوم يذكوون الله تعالى إلا حفتهم الملا ئكة، وغشيتهم الرحمة، ونزلت عليهم السكينة، وذكرهم الله فيمن عنده
Ertinya: Tidaklah suatu kaum duduk berdhikir kepada Allah Ta’ala, melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat dan akan dilimpahi rahmat serta akan diturunkan ke atas mereka ketenangan dan Allah akan menyebut mereka di hadapan para malaikatNya (Hadits riwayat Muslim)

أن النبي r خرج على حلقة من أصحابه فقال: ما يجلسكم؟ قالوا: جلسنا نذكر اللهَ ونحمده. فقال: إنه أتاني جبريل، فأخبرني أنّ الله يباهي بكم الملائكة
Ertinya: “Bahawa suatu ketika Nabi صلى الله عليه وآله وسلم keluar dan melalui suatu halaqah dari para shahabatnya. Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersabda: Apakah yang menyebabkan kalian duduk beramai-ramai? Para shahabat رضي الله عنهم menjawab: Kami berdhikir serta memuji Allah. Maka Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersabda: Sesungguhnya Jibril عليه السلام telah datang kepadaku dan mengkhabarkan kepadaku bahawasanya Allah Ta’ala membanggakan kalian di hadapan para malaikatNya (Hadits riwayat Muslim)

مامن قوم اجتمعوا يذكرون الله لا يريدون بذلك إلا وجه تعالى إلا ناداهم مناد من السماء: قوموا مغفورا لكم، قد بدلت سيئاتكم حسنات
Ertinya: “Tidaklah suatu kaum yang berkumpul untuk berdhikir kepada Allah Ta’ala, (yang mana mereka) tidak menginginkan sesuatu kecuali keredhaanNya, melainkan ada suara yang menyeru mereka dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan diampunkan kesalahan kalian, sesungguhnya keburukan yang kalian lakukan telah digantikan dengan kebaikan. (Hadits riwayat Ahmad, ath-Thabarani dan Abu Ya’la)

Faedah menghadiri Majlis Haul

Ingin saham akhirat? Cetak poster ini dan sebarkan di masjid, surau dan pejabat anda. Atau emailkan poster ini kepada rakan taulan anda. Atau tagkan poster ini untuk rakan-rakan FB anda. InsyaAllah, orang yang menunjuk atau mengajak kepada kebaikan akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda dariNYA
.

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Kesungguhan Para Ulama’ Dalam Menuntut Ilmu

Kesungguhan Para Ulama’ Dalam Menuntut Ilmu
Di sini saya senaraikan kisah kesungguhan beberapa orang ulama’ dalam menuntut ilmu. Mesej yang ingin saya sampaikan menerusi kisah-kisah ini mudah: Bandingkan diri anda dengan mereka. Adakah anda layak duduk sebaris dengan mereka? Jika tidak layak, maka sila beradab dengan mereka..

[1] Syeikh Abu Ishaq asy-Syirazi (393H-476H) menyatakan bahawa beliau mengulangkaji setiap matapelajaran yang dipelajari sebanyak seratus kali. Kadangkala sebanyak seribu kali! Ketika beliau meringkaskan kitab at-Tanbih daripada ta’liq guru beliau Syeikh Abu Hamid al-Isfaroyini (344H-406H) yang berjumlah sebanyak 18 jilid, maka beliau akan bersembahyang dua rakaat sebelum menulis setiap fasal daripada kitab berkenaan dengan niat supaya Allah Ta’ala memberikan manfaat kepada orang-orang yang membaca kitab tersebut.

[2] Syeikh Ibnu Hajar al-Haitami (909H-974H) ketika menuntut di al-Azhar asy-Syarif tidak pernah menjamah daging selama empat tahun. Beliau juga sering ditimpa kelaparan dan kesusahan yang jarang-jarang mampu ditanggung oleh orang-orang yang biasa. Namun cuba lihat hasil ilmu beliau. Subhanallah, menakjubkan!

[3] Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (1232H-1304H) mengulangkaji setiap matapelajaran yang beliau pelajari sebanyak enam belas kali serta menghafalnya sebanyak empat kali.

[4] Syeikh Abdullah bin Abdur Rahman Bal Haj (850H-918H) mengulangkaji pelajaran sebanyak 20 kali kemudian menghafalnya sebanyak lima kali.

[5] Syeikh Ahmad bin Musa bin ‘Ujail al-Yamani (wafat tahun 690H) membaca kitab ar-Risalah karangan Imam asy-Syafi’i sebanyak 500 kali. Kita berapa kali baca buku kuliah? Membaca pun malas..

[6] Syeikh Fadhol bin Abdullah Ba Fadhol membaca Sohih al-Bukhori sebanyak 1000 kali. Kita yang hanya membaca Sohih al-Bukhori sekali, boleh ke nak berlagak? Itupun baca semata tapi tak faham tiba-tiba mendakwa kononnya sebagai pakar hadith?? Sanad pun tiada. Huh.. Sengal je..

[7] Sayyid al-Mujtahid al-Imam Muhammad bin ‘Alawi bin Ahmad bin al-Faqih al-Muqaddam (wafat tahun 767H) membaca kitab-kitab pengajian beliau sepanjang malam. Apabila beliau merasa mengantuk, maka beliau akan keluar ke tepi pantai untuk mengulang-ulang hafalannya.

Sumber: Dipetik daripada kitab al-Manhaj as-Sawiyy Syarh Usul Toriqoh as-Sadah Ali Ba ‘Alawi karangan al-’Allamah al-Habib Sayyid Zain bin Ibrahim bin Sumait al-Husaini berserta sedikit olahan ringkas.

p/s: Terasa sangat rendah diri di hadapan barisan para ulama’ yang hebat-hebat ini… Ya Allah! Aku mencintai mereka, maka himpunkanlah daku bersama mereka dan ajarkanlah daku supaya beradab dengan mereka

Posted by: Habib Ahmad | 12 Oktober 2010

Bas tiba-tiba melambung

Bas tiba-tiba melambung

SEREMBAN – Walaupun terselamat dalam kemala- ngan yang meragut 12 nyawa di Kilometer 223, Lebuh Raya Utara-Selatan berhampiran plaza tol Simpang Ampat, dekat Rembau petang kelmarin, kebanyakan mangsa masih dalam trauma dan terkejut.

Salah seorang penumpang bas Ekspres Delima, Shahnor Amer Ahmad, 18, berkata, ketika kejadian, dia berada di belakang pemandu bas menyedari kenderaan itu terhoyong-hayang sebelum melanggar pembahagi lebuh raya dan melambung ke laluan bertentangan.

Ketika ditemui semalam, Shahnor yang juga penuntut sebuah kolej swasta di Petaling Jaya itu ditemani kakaknya, Zurina Ahmad, 30, tidak banyak bercakap kesan kecederaan pada bahagian mukanya.

“Shahnor menaiki bas tersebut ke Kuala Lumpur. Sebelum itu dia tidak boleh tidur. Kemudian dia merasakan bas tiba-tiba melambung. Kejadian berlaku begitu pantas. Bila dia buka mata sahaja, dia tidak dapat melihat apa-apa, hanya hitam sahaja,” katanya.

Kejadian itu berlaku pada kira-kira 6.40 petang apabila sebuah bas ekspres yang menuju ke Kuala Lumpur, gagal dikawal lalu melambung dan memasuki laluan bertentangan lalu melanggar sebuah van dan menghempap tiga kereta lain sebelum melanggar bahagian tepi bas Jabatan Kebajikan Masyarakat.

Seorang lagi mangsa, Nurnajla Aqilah Mohd Ghazali, 19, yang kehilangan sebahagian kulit dan daging di pergelangan tangan kirinya berkata, dia berada dalam keadaan separuh sedar dan pening kerana bas itu berpusing dan terho-yong-hayang.

“Apabila saya sedar, saya lihat pakaian saya dibasahi dengan darah.

“Saya menangis apabila melihat darah banyak me- ngalir dari pergelangan tangan dan dimaklumkan ia terkoyak semasa kemalangan itu berlaku,” kata pelajar Universiti Malaya itu.

Dalam pada itu, bapa Nurnajla, Mohd Ghazali Anuar, 45, berkata, dia terkejut apabila mengetahui kemalangan ngeri membabitkan anaknya melalui berita, pagi semalam.

“Bila lihat nama dia ada, kami terus hubungi telefon bimbitnya dan ternyat ia benar sebelum bergegas ke Hospital Tuanku Jaafar Seremban (HTJS),” katanya.

Sementara itu, Tew Chi Ling, 18, pelajar kolej swasta di Petaling Jaya berkata, dia kini trauma kerana dapat menyaksikan keseluruhan detik cemas, ketika kemalangan itu berlaku.

“Saya tengok, ramai penumpang bergelimpangan di atas jalan raya dan ada juga yang tersepit di dalam bas. Ada yang mengeluh kesakitan, ada yang sudah tidak bersuara lagi. Ada pula yang patah, cedera di kepala. Saya cuba membantu, tetapi tidak berdaya,” katanya.

http://www.sinarharian.com.my/com/content/story8280934.asp

Posted by: Habib Ahmad | 11 Oktober 2010

Faedah Membaca Biografi Ulama’

Faedah Membaca Biografi Ulama’
Ibnu Khallikan (wafat 681 H) dalam mukaddimah kitabnya Wafayatul A’yan -yakni kitab tentang biografi para ulama’ yang mulia- berkata: “Aku ceritakan kisah sekelompok orang-orang mulia yang telah aku saksikan dan aku nukil khabar dari mereka, atau mereka yang sezaman denganku tetapi aku belum pernah bertemu dengan mereka, adalah agar orang yang datang setelahku dapat mengetahui keadaan mereka”. (Mukaddimah Wafayatul A’yan: 1/ 20).

Sesungguhnya membaca biografi ulama’ adalah pengubat jiwa. Padanya terdapat kesembuhan bagi mereka yang kehausan akan suri tauladan dan padanya terdapat cahaya sebagai petunjuk jalan kebaikan. Tak lupa, mengetahui kehidupan para ulama berfungsi sebagai cermin yang akan memperlihatkan kelemahan diri yang nantinya sebagai bahan perbaikan.

Umar bin al-Khattab radiyallahu anhu berkata: “Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, kerana hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa”. (‘Ainul Adab wa As-Siyasah: 158).

Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan dalam mukaddimah kitabnya al-Imam Ibnu Baz : Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar berkata:

“Para ahli ilmu menaruh perhatian besar terhadap biografi-biografi para ulama. Ada yang menulis kitab tentang biografi seorang imam saja, seperti Ibnu Ahmad al-Makki serta al-Kurdi ketika menulis manaqib (perilaku yang terpuji) Imam Abu Hanifah. Qadhi Isa Az-Zawawi menulis biografi Imam Malik bin Anas.

Al-Baihaqi, Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar al-Asqalani menulis secara khusus tentang biografi Imam Asy-Syafie. Sedangkan Ibnul Jauzi menulis manaqib Imam Ahmad.

Adapula sebahagian ahli ilmu yang menempuh cara lain yakni mereka menulis biografi ulama berdasarkan thabaqah (tingkatan) ulama yang masa hidup, daerah, ilmu atau mazhabnya yang sama. Seperti Ath-Thabaqatus Sunniyah fi Tarajimil Hanafiyah karya Taqiyuddin bin Abdul Qadir Ad-Darimi. Al-Jawahirul Madhiyyah fi Thabaatil Hanafiyah karya Al-Quraisy.
Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik li Ma’rifati A’lam Madzhabil Imam Malik karangan Al-Qadhi Iyadh.
Thabaqatusy Syafi’iyyatil Kubra karangan As-Subki, serta Thabaqatusy Syafi’iyyah karya Ibnu Hidayah l-Husaini.
Thabaqatul Hanabilah oleh al-Qadi Abi Ya’la, dan Adz-Dzailu ‘ala Thabaqatil Hanabilah karangan Ibnu Rajab.

Ada juga penulisan berdasarkan disiplin ilmu tertentu seperti Thabaqatul Mufassirin, yang mana Ad-Dawudi dan As-Suyuti telah menulisnya. Thabaqah para hafiz hadis, terdapat kitab Tadzkiratul Huffaz karangan Az-Zahabi. Az-Zahabi juga ada menulis thabaqah para qari (ahli pembaca al-Quran) yakni Ma’rifatul Qura-il Kibar. Sedangkan thabaqah ahli nahwu, padanya terdapat karangan As-Suyuti berjudul Bughyatul Wu’ah.

Adapula yang menulis secara khusus para ulama di daerah atau tempat tertentu, seperti Tarikh Baghdad karangan Khatib al-Baghdadi. Tarikh Dimasyqi oleh Ibnu Asakir. Akhbar Ashfahan karangan Abu Nu’aim. Bughyatuth Thalab fi Tarikh Halab oleh Ibnul ‘Adim dan Tarikh Irbil oleh Ibnul Mustaufi.”

Dan masih banyak lainnya.

Ali bin Abdurrahman bin Hudzail berkata: “Ketahuilah, bahawa membaca kisah-kisah dan sejarah-sejarah tentang orang yang memiliki keutamaan akan memberikan kesenangan dalam jiwa seseorang. Kisah-kisah tersebut akan melegakan hati serta mengisi kehampaan. Membentuk watak yang penuh semangat dilandasi kebaikan, serta menghilangkan rasa malas”. (‘Ainul Adab wa As-Siyasah: 158).

Oleh kerana itu wahai saudaraku, cubalah engkau membaca kisah-kisah para ulama’, nescaya engkau akan mendapatkan penyejuk jiwa:

و من لم يجر ب ليس يعر ف قد ر ه
فجر ب تجد تصد يق ما ذكر نا ه

“Barangsiapa belum mencuba maka belum tahu hasilnya;
Maka cubalah, niscaya engkau akan mendapatkan bukti ucapan saya”. (Manzumah ash-Shan’ani fil Hajj : 83).

Dialibahasakan dari:

http://faidah-ilmu.blogspot.com/2010/07/faidah-membaca-biografi-ulama.html

Posted by: Habib Ahmad | 11 Oktober 2010

Nasihatilah Manusia Walaupun Engkau Seorang Pendosa

Nasihatilah Manusia Walaupun Engkau Seorang Pendosa
Mungkin ada sebahagian orang yang tidak tergerak hatinya untuk menasihati manusia, kerana ia merasa banyak melakukan dosa dan tidak layak untuk mengucapkan ucapan kebaikan kepada sesama manusia.

Pandangan seperti itu adalah keliru dan bahayanya sangat besar, serta akan membuat syaitan gembira. Betapa tidak, kerana jika mesti menunggu sampai seseorang bersih dari dosa baru ia layak menasihati manusia, maka tidak ada seorangpun di muka bumi yang layak memberi nasihat setelah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tercinta.

Sebagaimana dikatakan seorang penyair:

إذا لم يعظ في الناس من هو مذنب
فمن يعظ العاصين بعد محمد

“Apabila seorang pendosa itu tidak menasihati manusia,
Maka siapakah yang akan menasihati orang-orang yang berdosa setelah Nabi Muhammad kita”.

Sa’id bin Jubair berkata: “Apabila seseorang tidak memerintahkan kepada kebaikan dan tidak pula mencegah dari yang munkar, hingga ia menunggu dirinya bebas dari kesalahan, maka tidak akan ada seorangpun yang memerintahkan kepada kebaikan dan tidak pula mencegah dari yang munkar”.

Imam Malik setelah mendengar perkataan Sa’id bin Jubair berkata: “Benar apa yang dikatakan Sa’id. Siapakah yang tidak memiliki sedikitpun dosa dalam dirinya?”.

Al-Hasan berkata kepada Mutharrif bin ‘Abdillah: “Berilah nasihat kepada sahabat-sahabatmu”. Mutharrif menjawab: “Sesungguhnya aku takut mengatakan apa yang tidak aku kerjakan”.

Al-Hasan berkata lagi: “Semoga Allah merahmati dirimu. Tidak ada seorangpun di antara kita yang melakukan semua yang diperintahkan Allah. Syaitan akan gembira apabila kita berfikir seperti itu sehingga tidak ada seorangpun yang memerintah kepada kebaikan dan tidak pula mencegah dari kemungkaran”.

Berkata Ibnu Hazm: “Apabila orang yang mencegah dari perbuatan keji mesti orang yang tidak memiliki kesalahan, dan orang yang memerintah kepada kebaikan mesti orang yang selalu mengerjakan kebajikan, maka tidak ada seorangpun yang mencegah dari yang mungkar dan tidak ada seorang pun yang mengajak kepada kebaikan setelah Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(Semua nukilan diatas dapat ditemukan dalam kitab al-Jami’ li Ahkamil Quran: 1/367, al-Qurtubi).

Imam Nawawi berkata:
“Para ulama menyatakan bahawa tidak disyaratkan pada orang yang memerintah kepada kebaikan atau orang yang mencegah dari kemungkaran untuk mencapai kesempurnaan dalam segala hal. Tapi, ia mesti tetap mengajak kepada kebaikan walaupun ia memiliki kekurangan dalam hal yang ia ajak kepadanya, dan ia tetap mencegah kemungkaran walau ia terkadang mengerjakan apa yang ia cegah. Kerana sesungguhnya wajib pada dirinya dua perkara iaitu : mengajak dirinya sendiri ke arah kebaikan dan mencegah dari kemungkaran; dan mengajak orang lain ke arah kepada kebaikan dan mencegah mereka dari yang mungkar. Tidak boleh ia melalaikan salah satu dari dua perkara tersebut”.
(Syarah Sahih Muslim: 2/23, An-Nawawi).

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu saling menasihati dalam kebaikan.

Diolah dari:

http://faidah-ilmu.blogspot.com/2010/08/nasihatilah-manusia-walaupun-engkau.html

Posted by: Habib Ahmad | 11 Oktober 2010

Peluk Islam Beberapa Minit Sebelum Meninggal

Peluk Islam Beberapa Minit Sebelum Meninggal
Posted on September 8, 2010 by sulaiman
Kisah ini diceritakan oleh Abdullah Bin Mubarak, seorang ulama hadith di zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Semasa aku menunaikan ibadah Haji di Baitullah, ketika berada di Hijir Ismail aku tertidur di tempat itu dan bermimpi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Dalam mimpiku itu Baginda bersabda,”Bila kamu pulang ke Baghdad nanti, masuklah ke daerah ini dan temuilah seorang bernama Bahram Al Majusi. Sampaikan salamku padanya dan katakan bahwa Allah telah menyayanginya!.”

Tiba-tiba aku tersedar dari tidurku, lalu membaca : LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘AZIM.Ketika itu aku berkeyakinan bahawa itu adalah impian syaitan. Maka aku segera bewudhuk dan thawaf di sekeliling ka’bah. Kemudian akupun tertidur kembali dan seperti itu lagi. Hal ini berulang sampai tiga kali berturut-turut. Selesai menunaikan rangkaian ibadah haji itu, aku pulang ke Baghdad dan masuk ke sebuah tempat sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah s.a.w dalam mimpiku itu.

Di daerah itu aku berusaha mencari rumah Bahram Al Majusi, dan ternyata dia adalah seorang lelaki yang usianya telah lanjut. Kemudian aku bertanya kepadanya: “Wahai tuan, benarkah tuan ini adalah Bahram Al Majusi?” Bahram: “Benar, silakan duduk dulu. Aku baru saja membahagi-bahagikan pinjaman berbunga kepada orang-orang yang memerlukan. Ya.. inilah pekerjaan yang baik bagiku.” Aku (Abdullah Bin Mubarak): “Tuan, bukan menurut ajaran Nabi pekerjaan macam itu haram hukumnya?!.

Adakah tuan memiliki pekerjaan yang lebih baik selain itu?” Bahram: “Tentu saja ! Aku memiliki empat orang putra dan empat orang putri. Kemudia keempat putriku itu aku kahwinkan dengan keempat putraku.” Aku: “ini juga haram hukumnya,Tuan!

Adakah tuan memiliki amal yang lebih lagi selain itu?” Bahram : “Ada! Ketika aku mengawinkan anak-anakku, aku mengadakan acara walimah dan mengundang orang-orang majusi.” Aku : “Ini juga haram tuan…

Adakah amal baik selain yang itu?” Bahram: “Ya, ada. Disamping keempat pasang anakku yang telah ku kahwinkan itu, aku masih memiliki seorang putri yang sangat cantik. Dialah wanita tercantik yang pernah kulihat di dunia ini. Kerana itu, dia kuambil sebagai isteriku sendiri. Lalu aku mengadakan walimah. Dan dalam walimah itu, aku mengundang seribu orang lebih.” Aku : “wah, Itu malah lebih haram lagi, Tuan.

Tidak ada lagikah yang lainnya?” Bahram : “Ya, ada lagi. Pada suatu malam ketika menggauli anak perempuanku, tiba-tiba datang seorang muslimah. Wanita pemeluk agamamu itu menyalakan sebuah lampu di depan rumahku, maka aku pun menyalakan lampu bilik tidurku. Bila lampu bilik tidurku menyala, tiba-tiba dia memadamkan lampu di depan itu, dan kemudian pergi dengan tiba-tiba. Lalu aku pun memadamkan lampu kamar. Selang beberapa saat, dia datang lagi dan menyalakan lampu di ruang tamu. Kemudian aku pun menyalakan lampu dalam bilikku. Aku berkata dalam hati, “Ini pasti seorang mata-mata dari komplotan pencuri.” Maka ketika dia keluar, aku terus mengikutinya dari belakang. Dia terus memasuki rumahnya sendiri. Aku mengintainya dari luar rumah, nampaknya dia telah ditunggu-tunggu oleh keempat orang anaknya yang semuanya perempuan.

Maka setelah dia masuk, anak-anaknya itu terus menyambutnya seraya berkata; “Wahai ibu, apakah ibu membawakan makanan untuk kami? Kami sudah tak tahan lagi menahan lapar dan haus.” Dan si ibu menjawab; “Anak-anakku, aku merasa malu kepada Tuhanku untuk meminta-minta kepada selain kepadaNya. Apalagi meminta-minta kepada musuh Allah seperti jiran kita yang beragama majusi itu!”

Mendengar kata-kata perempuan itu, aku merasa begitu hiba. Dan aku terus pulang mengambil sebuah bekas yang kupenuhi dengan makanan, lalu ku hantar sendiri ke rumah perempuan tersebut, dan mereka pun nampak begitu gembira.”

Aku : “Hah, inilah, Tuan, yang lebih baik bagimu! Dan ketahuilah, aku membawa khabar gembira untukmu.” Kemudian ku ceritakan semua peristiwa yang terjadi dalam mimpiku itu. Tiba-tiba, tanpa ku duga sama sekali, Bahram Al-Majusi itu mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat: ASYHADU AN LAA ILAHA ILLALLAH WA ASAYHADU ANNA MUHAMMDAN ‘ABDUHU WARRASULUH. Alangkah terkejutnya aku, karena begitu selesai mengucapkan ikrar dua kalimat kalimat syahadat itu, dia langsung tersungkur, dan ternyata telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kemudian dia ku mandikan, ku kafani, dan ku solatkan.”

Posted by: Habib Ahmad | 10 Oktober 2010

Pengajian Bersama Syeikh Fahmi Zam Zam(MALAM INI)

« Kiriman-Kiriman Berikutnya - Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 685 other followers