Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Terasa Mempunyai Hubungan Kerohanian Dengan Guru

Terasa Mempunyai Hubungan Kerohanian Dengan Guru

Ulama Mursyid
A. Pengertian Kedudukan mursyid atau pemimpin peramalan dalam suatu tarikat menempati posisi penting dan menentukan. Seorang mursyid bukan hanya memimpin, membimbing dan membina murid-muridnya dalam kehidupan lahiriah dan pergaulan sehari-hari supaya tidak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam dan terjerumus kedalam maksiat seperti berbuat dosa besar atau dosa kecil, tetapi juga memimpin, membimbing dan membina murid-muridnya melaksanakan kewajiban yang ditetapkan oleh syara’ dan melaksanakan amal-amal sunnah untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah SWT. Disamping memimpin yang bersifat lahiriah tersebut, seorang mursyid adalah juga pemimpin kerohanian bagi murid-muridnya, menuntun dan membawa murid-muridnya kepada tujuan tarikat guna mendapatkan ridla Allah SWT. Oleh sebab itu seorang mursyid pada hakikatnya adalah sahabat rohani yang sangat akrab sekali dengan rohani muridnya yang bersama-sama tak bercerai-cerai, beriring- iringan, berimam-imaman melaksanakan zikrullah dan ibadat lainnya menuju ke hadirat Allah SWT. Persahabatan itu tidak saja semasa hidup di dunia, tetapi persahabatan rohaniah ini tetap berlanjut sampai ke akhirat, walaupun salah seorang telah mendahului berpulang ke rahmatullah, dan telah sederetan duduknya dengan para wali Allah yang saleh.(Kadirun Yahya,1982 : 15-16).
As Syekh Muhammad Amin Al Kurdi dalam bukunya yang terkenal “Tanwirul Qulub” menjelaskan bahwa seorang murid/salik dalam usahanya menuju ke hadirat Allah SWT yang didahului dengan tobat, membersihkan diri rohani, kemudian mengisinya dengan amal-amal saleh haruslah mempunyai Syekh yang sempurna pada zamannya, yang melaksanakan ketentuan syariat berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadis, dan mengikuti peramalan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW secara berkesinambungan yang diteruskan oleh para ahli silsilah sampai pada zamannya. Seorang mursyid yang silsilahnya berkesinambungan sampai dengan Nabi Muhammad SAW, haruslah mendapatkan izin atau statuta dari mursyid sebelumnya. Dengan demikian seorang mursyid haruslah telah mendapatkan pendidikan yang sempurna, sudah arif billah, seorang wali yang mendapat izin atau statuta dari mursyid sebelumnya. Seorang murid/salik yang bertarikat tanpa Syekh maka mursyidnya adalah syetan. (Amin Al Kurdi, 1994 : 353).
Syekh Abu Yazid Al Busthami, Artinya :
“Orang yang tidak mempunyai Syekh Mursyid, maka syekh mursyidnya adalah syetan.”
Pengertian Mursyid dijelaskan oleh Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya dalam beberapa buku dan ceramahnya bahwa Mursyid itu bukan wasilah, tapi Mursyid itu adalah pembawa wasilah atau hamilul wasilahatau wasilah carrier,menggabungkan wasilah itu kepada wasilah yang telah ada pada rohaniah Rasulullah SAW. Sebagai pemimpin rohani mursyid mempunyai sifat-sifat kerohanian yang sempurna, bersih dan kehidupan batin yang murni. Mursyid adalah orang yang kuat sekali jiwanya, memiliki segala keutamaan, dan mempunyai kemampuan makrifat. Mursyid merupakan kekasih Tuhan. Secara khusus mendapat berkah daripada-Nya, dan sekaligus menjadi pembawa wasilah dari hamba kepada Tuhannya. Pada dirinya terkumpul makrifat sempurna tentang syariat Tuhan, mengetahui berbagai penyakit rohani dan tahu cara pengobatannya. Sebagai kekasih Allah, Mursyid mendapat anugerah kemampuan untuk mendatangkan maunah-maunah atau karamah-karamah. Syekh Mursyid dalam melaksanakan tugasnya mempunyai predikat-predikat sesuai dengan tingkat dan bentuk pengajaran yang diberikan kepada murid-muridnya. Predikat-predikat itu dapat saja terkumpul dalam diri satu orang atau ada pada beberapa orang. Predikat itu antara lain :
(1) Syaikh al-Iradah, yaitu tingkat tertinggi dalam tarikat yang iradahnya (kehendaknya) telah bercampur dan bergabung dengan hukum Tuhan, sehingga dari syekh itu atau atas pengaruhnya orang yang meminta petunjuk menyerahkan jiwa dan raganya secara total.
(2) Syaikh al-Iqtida’, yaitu guru yang tindak tanduknya sebaiknya ditiru oleh murid, demikian pula perkataan dan perbuatannya seyogyanya diikuti.
(3) Syaikh at-Tabarruk, yaitu guru yang selalu dikunjungi oleh orang-orang yang meminta petunjuk, sehingga berkahnya melimpah kepada mereka.
(4) Syaikh al-Intisab, ialah guru yang atas campur tangan dan sifat kebapakannya, maka orang yang meminta petunjuknya akan beruntung, lantaran bergantung kepadanya. Dalam hubungan ini orang itu akan menjadi khadamnya (pembantunya) yang setia, serta rela menerima berbagai perintahnya yang berkaitan dengan tugas-tugas keduniaan.
(5) Syaikh at- Talqin, adalah guru kerohanian yang membantu setiap individu anggota tarikat dengan berbagai do’a atau wirid yang selalu harus diulang-ulang.
(6) Syaikh at-Tarbiyah, adalah guru yang melaksanakan urusan-urusan para pemula dalam suatu lembaga tarikat. Tempat tinggal syekh biasanya disebut Zawiyah, dan di tempat itu dia dibantu oleh para khadam dalam menjalankan tugasnya(Ensiklopedi Islam 3, 1994 : 303). B.
Dalil-Dalil Banyak dalil naqli Al Qur’an maupun Al Hadis, yang menjelaskan tentang fungsi dan kedudukan Mursyid. Menjelaskan dalil naqli tersebut kita temui pula Qaulul Arifin yaitu kata-kata mutiara sufi yang telah arif billah menjelaskan fungsi dan kedudukan mursyid tersebut dalam suatu tarikatullah.

Firman Allah SWT, Artinya : Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah orang yang mendapat petunjuk dan siapa yang dibiarkan-Nya sesat, maka tidak ada seorang pemimpin (Wailyyam Mursyida) pun yang memberinya petunjuk (Q.S. Al Kahfi 18 : 17). Firman Allah SWT, Artinya : Barang siapa mentaati Allah dan Rasul, maka mereka itu bersama-sama dalam deretan orang- orang yang diberikan Allah kurnia pada mereka yaitu para Nabi, para shidiqin, orang-orang syahid dan orang-orang yang saleh. Adalah sebaik-baiknya bersahabat dengan mereka (Q.S. An Nisa’ 4 : 69). Firman Allah SWT, Hai orang-orang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama dengan orang- orang yang benar (Q.S. At Taubah 9 : 119). Dari Q.S Al Kahfi 18 : 17 tersebut dapat disimpulkan bahwa Mursyid itu adalah seorang wali yang berfungsi sebagai pembimbing rohani dari seorang yang mendapat hidayah dari Allah SWT. Dari Q.S. An Nisa’ 4 : 69 juga Q.S. At Taubah 9 : 119 Mursyid itu termasuk kelompok orang- orang yang benar dan orang-orang yang saleh. Tafsir Al Maraghi V : 128, menjelaskan tentang tafsir Q.S. Al Kahfi 18 : 17bahwa Ashabul Kahfi adalah contoh orang yang mendapat petunjuk, memperoleh jalan yang benar dan mendapat kemenangan dunia akhirat. Mereka itu adalah orang yang mendapat irsyad/petunjuk dari Allah SWT, sedangkan orang yang sesat adalah orang yang tidak mendapatkan hidayah irsyad/petunjuk itu dan tidak pula mendapatkan seseorang yang menunjukinya (mursyid) maka larutlah dia dalam keadaan sesat itu.
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Dari Usman bin Affan r.a. d ia berkata, Rasulullah bersabda, “Di hari kiamat, yang memberi syafaat ada tiga golongan yaitu para nabi, para ulama, dan para syuhada.” (H.R. Ibnu Majah).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Dari Abu Sa’id, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sebagian dari umatku ada yang memberi syafaat kepada golongan besar dari manusia, sebagian dari mereka ada yang memberi syafaat kepada satu suku, sebagian dari mereka ada yang memberi syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga semuanya.” (H.R. Tarmizi).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : “Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah, jika kamu belum bisa menjadikan dirimu beserta dengan Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta dengan Allah, maka sesungguhnya orang itulah yang menghubungkan engkau (rohanimu) kepada Allah”. (H.R. Abu Daud) Yang dimaksud dengan ulama dalam hadis riwayat Ibnu Majah dan orang yang memberi syafaat dalam hadis riwayat Tarmizi termasuk para Mursyid. Dalam sabda Rasulullah orang yang telah beserta dengan Allah itu termasuk para wali mursyid.
C. Syarat-syarat Berdasarkan pengertian tentang Mursyid dan dalil-dalilnya, maka tidak semua orang bisa menjadi mursyid. Walaupun fungsi Mursyid itu sama dengan fungsi guru yaitu memimpin, membimbing dan membina murid-muridnya, tapi bidangnya adalah rohani yang sangat halus yang berpusat pada lubuk hati sanubari. Jadi sifatnya tidak kelihatan, ghaib atau metafisika. Pelajaran yang diberikan mursyid kepada muridnya merupakan transfer of spiritual yaitu Iman dan Takwa (Imtak). Adapun fungsi guru yang kita kenal adalah transfer of knowledge. Dia mengajarkan masalah-masalah ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Menurut Al Mukarram Saidi Syekh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya ada delapan syarat utama bagi seorang mursyid itu, yaitu :
1). Pilihlah guru yang mursyid, yang dicerdikkan Allah SWT dengan izin dan ridho-Nya bukan dicerdikkan oleh yang lain-lain.
2). Kamil lagi Mukammil (sempurna dan menyempurnakan), yang diberi kurnia oleh Allah, karena Allah.
3). Memberi bekas pengajarannya (kalau ia mengajar atau mendo’a berbekas pada si murid, si murid berubah ke arah kebaikan), berbekas pengajarannya itu, dengan izin dan ridla Allah, Biiznillaahi.
4). Masyhur ke sana ke mari, kawan dan lawan mengakui, ia seorang guru besar.
5). Tidak dapat dicela pengajarannyaoleh orang yang berakal, karena tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Al Hadis dan akal/ilmu pengetahuan.
6). Tidak mengerjakan hal yang sia-sia, umpamanya membuat hal-hal yang tidak murni halalnya.
7). Tidak setengah kasih kepada dunia, karena hatinya telah bulat penuh kasih kepada Allah. Dia ada giat bergelora dalam dunia, bekerja hebat dalam dunia, tetapi tidak karena kasih kepada dunia itu, tetapi karena prestasinya itu adalah sebagai wujud pengabdiannya kepada Allah SWT.
8). Mengambil ilmu dari “Polan” yang tertentu ; Gurunya harus mempunyai tali ruhaniah yang nyata kepada Allah dan Rasul dengan silsilah yang nyata. Di kalangan sufi atau tarikat, berguru itu yang penting tidak hanya mendapatkan pelajaran atau ilmu pengajaran, tetapi yang lebih penting lagi dalam belajar dengan Syekh Mursyid itu adalah beramal intensif dan berkesinambungan, serta memelihara adab dengan Syekh Mursyid sebaik-baiknya. Dengan cara ini seseorang murid antara lain akan mendapatkan Ilmu Ladunni langsung dari Allah SWT yang berbentuk makrifah karena terbukanya hijab. Inilah yang dimaksud dengan syarat nomor satu tersebut. Syarat yang terpenting lainnya bahwa seseorang mursyid itu harus mempunyai silsilah dan statuta yang jelas dari gurunya, seperti yang tersebut pada syarat nomor delapan. As Syekh Muhammad Amin Al Kurdi dalam buku Tanwirul Qulubnya ada 24(duapuluh empat) syarat yang harus dipenuhi oleh seorang Mursyid yaitu :
1). Mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Syariah dan Akidah yang dapat menjawab, dan memberikan penjelasan bila mereka bertanya tentang itu.
2). Mengenal dan arif tentang seluk beluk kesempurnaan dan peranan hati serta mengetahui pula penyakit-penyakit, kegelisahan-kegelisahannya dan mengetahui pula cara-cara mengobatinya.
3). Bersifat kasih sayang sesama muslim terutama kepada muridnya. Apabila seorang mursyid melihat muridnya tidak sanggup meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jeleknya maka ia harus bersabar dan tidak mencemarkan nama baiknya. Dia juga harus terus menerus memberi nasehat, memberi petunjuk sampai muridnya itu kembali menjadi orang baik.
4). Mursyid harus menyembunyikan atau merahasiakan aib dari murid-muridnya.
5). Tidak tersangkut hatinya kepada harta muridnya dan tidak pula bermaksud untuk memilikinya.
6). Memerintahkan kepada murid apa yang harus dilaksanakan dan melarang apa yang harus ditinggalkan. Untuk itu Mursyid harus memberi contoh sehingga ucapannya menjadi berwibawa.
7). Tidak duduk terus menerus bersama dengan muridnya kecuali sekedar hajat yang diperlukan. Kalau dia bermuzakarah memberi pelajaran kepada murid-muridnya haruslah memakai kitab-kitab yang muktabarsupaya mereka bersih dari kotoran yang terlintas dalam hati, dan supaya mereka dapat melaksanakan ibadat yang sah dan sempurna.
8). Ucapannya hendaklah bersih dari senda gurau dan olok-olok, tidak mengucapkan sesuatu yang tidak perlu.
9). Hendaklah selalu bijaksana dan lapang dada terhadap haknya. Tidak boleh minta dihormati, dipuji atau disanjung-sanjung dan tidak membebani murid dengan sesuatu yang tidak sanggup dilaksanakannya dan tidak menyusahkan mereka.
10). Apabila dia melihat seorang murid yang kalau banyak duduk semajelis dengannya, bisa mengurangi kewibawaan dan kebesarannya, hendaklah si murid itu segera disuruh berkhalwat yang tidak begitu jauh darinya.
11). Apabila ia melihat kehormatan terhadap dirinya sudah berkurang dalam anggapan hati murid- muridnya, hendaklah ia segera mengambil langkah-langkah yang bijaksana untuk mencegahnya, sebab yang demikian ini adalah musuh yang terbesar.
12). Tidak lalai untuk memberi petunjuk kepada mereka, tentang hal-hal untuk kebaikan murid- muridnya.
13). Apabila murid menyampaikan sesuatu yang dilihatnya dalam mukasyafah maka hendaklah ia tidak memperpanjang percakapan tentang itu. Karena kalau mursyid memperpanjang pembicaraannya tentang penglihatan murid tadi, mungkin murid itu akan merasa martabatnya sudah tinggi dan ini akan merusak citranya.
14). Mursyid wajib melarang murid-muridnya membicarakan rahasia tarikat kepada orang yang bukan ikhwannya kecuali terpaksa. Mursyid juga mencegah pembicaraan tentang sesuatu yang luar biasa yang dialaminya walaupun dengan sesama ikhwan, sebab yang demikian ini akan menimbulkan rasa sombong dan takabur atau menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain.
15). Mursyid hendaklah berkhalwat pada tempat yang khusus dan tidak memperkenankan orang lain masuk kecuali orang-orang yang telah ditentukan.
16). Mursyid hendaklah menjaga agar muridnya tidak melihat segala gerak-geriknya, tidurnya, makan dan minumnya, sebab yang demikian bisa mengurangi penghormatan murid terhadap syekh yang bercerita dan mempergunjingkannya yang merusak kemaslahatan murid itu sendiri.
17). Tidak membiarkan murid terlalu banyak makan, karena banyak makan itu memperlambat tercapainya latihan yang diberikan oleh Mursyid, dan banyak makan itu menjadikan murid itu budak perut.
18). Melarang murid-muridnya semajelis dengan mursyid lain, sebab yang demikian membahayakan keadaan murid itu sendiri. Tetapi apabila dia melihat pergaulan itu tidak akan mengurangi kecintaan dan tidak pula akan menggoyahkan pendirian muridnya, maka boleh saja mursyid membiarkan muridnya semajelis dengan syekh lain.
19). Harus mencegah muridnya sering mengunjungi pejabat-pejabat atau para hakim, supaya murid jangan terpengaruh, dan bisa menghambat tujuannya untuk menuju akhirat.
20). Tutur kata dan tegur sapa hendaklah dilaksanakan dengan sopan santun dan lemah lembut dan tidak boleh berbicara kasar atau memaki-maki.
21). Apabila seorang murid mengundangnya maka hendaklah dia menerima undangan itu dengan penuh penghormatan dan penghargaan.
22). Apabila mursyid duduk bersama muridnya, hendaklah dia duduk dengan tenang, sopan, tertib dan tidak gelisah dan tidak banyak menoleh kepada mereka. Tidak tidur bersama mereka, tidak melunjurkan kaki. Para murid harus percaya bahwa mursyid itu mempunyai sifat-sifat terpuji yang menjadi ikutan dan panutan mereka.
23). Apabila mursyid menerima kedatangan murid, hendaklah dia menerimanya dengan senang hati, tidak dengan muka yang masam dan apabila murid meninggalkannya hendaklah mursyid mendo’akannya tanpa diminta. Apabila Mursyid datang kepada muridnya, hendaklah ia berpakaian rapi, bersih dan bersikap yang sebaik-baiknya.
24). Apabila seorang murid tidak hadir di majelis zikir, hendaklah ia bertanya dan meneliti apa sebabnya. Kalau dia sakit, hendaklah dia jenguk atau ada keperluan hendaklah ia bantu atau karena ada suatu halangan hendaklah dia mendo’akannya.
As Syekh Amin Al Kurdi berkesimpulan bahwa sifat mursyid harus meneladani sifat-sifat Rasulullah menghadapi sahabat-sahabatnya sesuai dengan kemam-puannya (Amin Al Kurdi, 1994 : 453-455). Imam Al Ghazali menyatakan bahwa murid tak boleh tidak harus mempunyai syekh yang memimpinnya, sebab jalan iman adalah samar, sedangkan jalan Iblis itu banyak dan terang. Barang siapa yang tak mempunyai syekh sebagai petunjuk jalan dia pasti akan dituntun oleh Iblis dalam perjalanannya itu. D. Menghadirkan Mursyid Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya dalam fatwanya pada peringatan Hari Guru dan Hari Silsilah tanggal 20 Juni 1996, menegaskan tentang menghadirkan mursyid. Dalam fatwa itu beliau mengatakan salah satu metode berzikir dan beramal dalam tarikatullah Naqsyabandiyah adalah menghadirkan Syekh Mursyid sebagai imam rohani. Dengan hal ini akan mendapatkan konsentrasi penuh dalam berzikir dan beribadat. Sesungguhnya menghadirkan (menyertakan) Syekh Mursyid dalam berzikir dan beribadat tidak hanya terdapat dalam Tarikatullah Naqsyabandiyah saja, tetapi juga terdapat pada seluruh lembaga tarikat-tarikat muktabarah.
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Menceritakan kepada kami Sofian bin Wakik, mengabarkan kepada kami Bapakku dari Sofian, dari ‘Asyim bin Ubaidillah, dari Salim, dari Ibnu Umar, dari Umar bin Khattab, bahwa sesungguhnya Umar bin Khattab pada waktu minta ijin kepada Nabi SAW untuk melaksanakan ibadat Umrah, maka Nabi bersabda, “Wahai saudaraku Umar, ikut sertakan aku/hadirkan aku, pada waktu engkau berdo’a nanti, dan jangan engkau lupakan aku”. Hadis ini adalah hadis Hasan Sahih. (H.R. Abu Daud dan Turmuzi).
Demikian pula menurut riwayat Saidina Abu Bakar r.a. dan Saidina Ali r.a. menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa mereka tidak pernah lupa, tapi selalu teringat kepada Rasulullah pada setiap melaksanakan ibadat bahkan sampai pada waktu di kamar kecil. Rasulullah membenarkan apa yang telah mereka alami itu. Para pakar Tarikat Naqsyabandiah sepakat membolehkan dan membenarkan untuk menghadirkan Syekh Mursyid karena fungsinya sebagai ulama pewaris Nabi, sebagai imam/pembimbing rohani, dengan tujuan agar orang yang berzikir dan beribadat itu terhindar dari segala was-was, rupa- rupa/pandangan-pandangan lain, bisikan-bisikan lain, perasaan-perasaan lain, yang diciptakan oleh iblis dan syetan yang selalu mengganggu orang-orang yang berzikir dan beribadat itu, padahal yang bersangkutan belum tinggi kualitas Iman dan Takwanya.
Rasulullah SAW bersabda, “Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah, jika kamu belum bisa menjadikan dirimu beserta dengan Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta dengan Allah, maka sesungguhnya orang itulah yang menghubungkan engkau (rohanimu) kepada Allah” (H.R. Abu Daud).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Dari Abdullah bin Busrin r.a. berkata, bersabda Rasulullah SAW, “Sangat beruntunglah bagi orang yang melihat aku dan beriman kepadaku, sangat beruntung pula orang yang melihat orang yang telah melihat aku, demikian juga seterusnya orang yang telah melihat orang yang telah melihat aku tadi dan beriman kepadaku, dan beruntunglah kesemuanya dan bagi mereka semua mendapatkan sebaik- baik tempat kembali kepada Allah.” (H.R. Ath-Thabrani).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Ya Ali, orang mu’min senantiasa tambah dalam agamanya selama tidak makan barang haram, dan barang siapa mencerai (menjauhi) ulama (jasmani dan rohani) maka matilah hatinya dan buta dari taat kepada Allah SWT (Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani, Washiyyatul Musthafa lil Imam Ali : 3). Sayyid Al Bakri dalam buku “Kifayatul Atqiyah”mengatakan, Artinya : Dan menyatakan pula kepada (zikir Allah, Allah) itu menghadirkan gurunya yang mursyid, agar menjadi teman dalam perjalanan menuju kepada Allah ta’ala (Sayyid Al Bakri, Kifayatul Atqiyah : 107).
Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Barangsiapa melihat aku, maka betul-betul dia telah melihat aku. Sesungguhnya aku bisa menzahir dalam tiap-tiap rupa. (Sayyid Ahmad bin Idris, kitab Ruhus Sunnah Warauqun Nufusil .Mutma’innah : 147). Sabda Rasulullah SAW : Artinya : Barangsiapa memuliakan orang alim, maka sesungguhnya dia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, sesungguhnya dia telah memuliakan Allah dan barangsiapa yang memuliakan Allah maka surgalah tempatnya (Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as Suyuti, kitab “Lubabul Hadis” : 8).
1. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Barangsiapa melihat wajah orang alim (jasmani dan rohani) satu kali, dan dia bergembira, senang, menghayati dengan penglihatan itu, maka Allah ta’ala akan menjadikan dengan melihatnya itu, malaikat-malaikat yang memintakan ampun untuknya sampai hari kiamat. (Kitab Lubabul Hadis : 8).
2. Syekh Amin Al Kurdi menjadikan kisah Yusuf dengan Siti Zulaikha yang tidak jadi melaksanakan hubungan seksual, karena terbayang atau hadirnya dalam rohani ingatan Yusuf, yaitu ayahnya sendiri dan suami Zulaikha (Al Aziz, Perdana Menteri Mesir), betapa murkanya mereka ini nanti kalau terjadi perbuatan yang tidak susila itu. Syekh Amin Al Kurdi dan tokoh-tokoh sufi lainnya menjadikan Q.S. Yusuf 12 : 23 dan 24 ini sebagai dalil boleh dan perlunya menghadirkan mursyid supaya terhindar dari was-was iblis dan syetan. Yusuf menghadirkan ayahnya yitu Nabi Ya’cubdalam ingatan, sekaligus tersambung kepada Allah SWT, sehingga tercegahlah perbuatan tidak susila itu. Firman Allah SWT , Artinya : Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, “Marilah ke sini”. Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku (Qithfir) telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf. Dan Yusuf pun tentu akan bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba- hamba Kami yang terpilih. (Q.S. Yusuf 12 : 23 – 24). Prof.Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya selanjutnya memfatwakan dan menegaskan kepada murid- murid beliau bahwa tidak boleh menjadikan foto Syekh Mursyid sebagai perantara, apalagi disembah atau disyarikatkan bersama-sama dengan Allah SWT. Jangankan fotonya, Syekh Mursyid pun bukan perantara dan bukan yang disembah atau disyarikatkan dengan Allah SWT. Syekh Mursyid tidak memberi bekas karena yang memberi bekas hanya Allah SWT saja. Yang memberi bekas adalah kudrat dan iradat Allah SWT yang merupakan power dan frekuensi tak terhingga ( ), langsung dari Allah SWT, yang tersalur melalui Arwahul Muqaddasah para Nabi dan para RasulAllah, serta para Wali Allah dan kepada orang-orang saleh yang berzikir, baik lahir maupun batin bersama-sama dengan mereka. Syekh Mursyidsebagaimana halnya wali-wali Allah yang lain, bukan juga wasilah, tetapi pembawa wasilah atau wasilah carrieratau hamilul wasilah yang menyalurkan wasilah, power dan frekuensi tak terhingga ( ) dari Allah SWT. Orang yang merabithkan rohaniahnya kepada rohaniah wali-wali yang ada padanya wasilah, maka dia akan langsung juga mendapatkan power dan frekuensi wasilah yang tak terhingga itu, sehingga faktor tak terhingga menjelma padanya yang disebut khariqul ‘adah, yang berbentuk ma’unah-ma’unah ataupun kekeramatan-kekeramatan. Prof. Dr. H. Kadirun Yahya menjelaskan selanjutnya sebagai pedoman dari Tarikat Naqsyabandiyah adalah sebagai berikut :
3. 1. Tarikat ini adalah Tarikat Naqsyabandiah berdasarkan dalil Al Qur’an, Al Hadis, Ijma’ dan Qiyas.
4. 2. Bermazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
5. 3. Bermazhab Syafi’iah dalam bidang fikih.
6. 4. Pengamal tarikat tidak boleh mengabaikan atau meninggalkan syariat, sebab antara keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Antara syariat dan tarikat adalah ibarat bawang. Kulit bawang itu sendiri sekaligus adalah isinya dari lapisan pertama sampai dengan lapisan terakhir. Kulit bawang adalah hakikat bawang itu sendiri dan sebaliknya, hakikat bawang adalah kulitnya itu sendiri. Begitu pulalah halnya antara syariat dan tarikat, antara syariat dan hakikat. Tarikat itu adalah pengamalan syariat itu sendiri.

5. Buat Usaha Dakwah

Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kamu sekalian, ahlulbaiyt, dan mensucikan kamu sekalian dengan sesuci-sucinya.” (al-Quran s.al-Ahzab:33) Nabi s.a.w.bersabda, “Yang terbaik diantara kamu sekalian ialah yang terbaik perlakuaannya terhadap ahlulbaiytku, setelah aku kembali kehazirat Allah.” (Hadis Sahih dari Abu Hurairah r.a. diriwayatkan oleh al-Hakim, Abu Ya’la, Abu Nu’aim dan Addailamiy) Imam Syafi’i r.a. dalam banyak syair beliau telah melahirkan rasa cinta dan kasih sayang beliau kepada Ahlulbaiyt Rasulallah s.a.w.antara syair beliau yang banyak itu, beliau pernah bermadah: “Wahai Ahlulbait Rasulallah ! Kecintaan kepadamu adalah kewajiban dari Allah, yang turun dalam al-Quran. Cukuplah bukti betapa tingginya kamu sekalian. Tiada sempurna sholat tanpa shalawat untuk anda sekalian.”
HADIS NABI Berkaitan Ahlulbait : 1.Hadis Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Penduduk Yaman datang, mereka lebih lembut hatinya. Iman ada pada orang Yaman. Fekah juga ada pada orang Yaman. Kemudian hikmat juga ada pada orang Yaman
2.Hadis Abi Mas’ud Uqbah bin Amru r.a katanya: Nabi s.a.w memberi isyarat dengan tangan ke arah Yaman, seraya bersabda: Ingatlah, sesungguhnya iman ada di sana sedangkan kekerasan dan kekasaran hati ada pada orang-orang yang bersuara keras berhampiran pangkal ekor unta ketika muncul sepasang tanduk syaitan, iaitu pada Bani Rabi’ah dan Bani Mudhar
3. Nabi s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang dilambatkan oleh amalannya, tidaklah dia dipercepatkan oleh nasab keturunannya.”
4. Dari Abdul Muthalib ibnu Rab’ah ibnul Khariif, katanya Rasulullah SAW telah bersabda : ” Sesungguhnya sedeqah itu berasal dari kotoran harta manusia dan ia tidak dihalalkan bagi Muhammad mahupun bagi keluarga Muhammad .” (HR Muslim)
5. At-Thabarani dan lain-lain mengketengahkan sebuah Hadeeth yang bermaksud; “Belum sempurna keimanan seorang hamba Allah sebelum kecintaannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri; sebelum kecintaannya kepada keturunanku melebihi kecintaannya kepada keturunannya sendiri; sebelum kecintaannya kepada ahli-baitku melebihi kecintaannya kepada keluarganya sendiri, dan sebelum kecintaannya kepada zatku melebihi kecintaannya kepada zatnya sendiri .”
6. Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tarmizi dari `Ali RA bahawa Rasulullah SAW bersabda :”Barangsiapa mencintai kedua orang ini, yakni Hassan,Hussein dan ayah serta ibunya, maka ia bersama aku dalam darjatku di Hari Kiamat
7. Ibnu `Abbas RA berkata bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Cintailah Allah atas kenikmatan yang diberikanNya kepadamu sekelian dan cintailah aku dengan mencintai Allah dan cintailah ahlul-baitku kerana mencintaiku”
8. Ad- Dailami meriwayatkan sebuah Hadeeth dari `Ali RA yang menyebut sabda Rasulullah SAW: “Di antara kalian yang paling mantap berjalan di atas sirath ialah yang paling besar kecintaannya kepada ahlul-baitku dan para sahabatku.”
9. Diriwayatkan oleh At-Thabarani, bahawa Jabir RA mendengar `Umar ibnu Khattab RA berkata kepada orang ramai ketika mengahwini Ummu Kalthum binti `Ali bin Abu Thalib : “Tidakkah kalian mengucapkan selamat untukku? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ` Semua sabab (kerabat) dan nasab (salasilah keturunan) akan terputus pada hari kiamat kelak kecuali kerabat dan nasabku’.
10. Hadeeth Thaqalain riwayat Zaid bin Al-Arqam RA menyebut : “Kutinggalkan di tengah kalian dua bekal. (Yang pertama): Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya terang. Hendaklah kalian ambil dan berpegang teguh padanya.dan (kedua) :Ahli Baitku. Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai Ahli-Baitku! Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai Ahli-Baitku!”
11.Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dalam Hadeeth lain: “Apabila bintang-bintang lenyap, lenyaplah penghuni langit; dan apabila ahli-baitku lenyap, lenyap pula penghuni bumi.”
12.Sebuah Hadeeth riwayat Al Hakim dan disahihkan oleh Bukhari & Muslim menyebut : “Bintang-bintang merupakan (sarana) keselamatan bagi penghuni bumi (yang sedang belayar) dari bahaya tenggelam/karam sedangkaan ahlul-baitku sarana keselamatan bagi umatku dari perselisihan (dalam agama). Bila ada satu kabilah Arab yang membelakangi ahlul-baitku, mereka akan berselisih kemudian menjadi kelompok Iblis.”
13. Hadeeth Rasulullah SAW dari Abu Dzar menyatakan :” Ahlul- baitku di tengah kalian ibarat bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang ketinggalan ia binasa.”
14. Abu Dzar Al- Ghiffari RA menuturkan bahawa ia mendengar sabdaan Rasulullah SAW :””Jadikanlah ahlul-baitku bagi kalian sebagai kepala bagi jasad dan sebagai dua belah mata bagi kepala.”
15. Hadeeth riwayat Imam At-Tarmidzi, bahawa Rasulullah SAW telah bersabda : “Dunia tidak akan berakhir sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang lelaki dari keluargaku yang namanya menyerupai namaku.

http://firdausalawiyyin.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Maridjan ditemui mati dalam keadaan sujud

Maridjan ditemui mati dalam keadaan sujud
27/10/2010 11:47am

Oleh Borhan Abu Samah

MAYAT dipercayai penjaga kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan ditemui mati di dalam rumahnya di kaki gunug berapi tersebut di Jawa Tengah, Indonesia. – UTUSAN

——————————————————————————–

YOGYAKARTA 27 Okt. – Penjaga kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan dipercayai ditemui mati di dalam rumahnya di kaki gunung berapi itu dekat sini dalam keadaan sujud.

Jenazah itu ditemui keadaan sujud dan mengadap kiblat dan kini ditempatkan di Hospital Sandjito.

Doktor hospital berkenaan, Kresno Heru Nugroho berkata, ciri-ciri fizikal mayat itu sama dengan Mbah Maridjan.

Pakaiannya juga, kata beliau adalah sama dengan yang diberi gambaran oleh keluarga warga emas itu.

Bagaimanapun jelas doktor berkenaan pengesahan hanya dapat dibuat apabila selesai ujian DNA.

Masyarakat Jawa mempercayai jurukunci merupakan orang perantaraan roh gunung berapi dengan masyarakat. – Utusan

TAJUK-TAJUK BERITA LAIN

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Korban Gunung Merapi meningkat

Korban Gunung Merapi meningkat
27/10/2010 12:14pm

Yogyakarta 27 Okt. – Sekurang-kurangnya 25 terkorban dan beribu-ribu lagi terpaksa melarikan diri apabila Gunung Merapi di pulau Jawa Indonesia mula meletus semalam.

Ahli saintis sebelum ini telah mengeluarkan amaran bahawa tekanan yang semakin meningkat di bawah kubah lahar gunung itu boleh mencetuskan letupan paling kuat dalam tempoh beberapa tahun.

Bagaimanapun, pakar gunung berapi kerajaan, Gede Swantika menyuarakan harapan letupan yang mengeluarkan batu dan lahar menuruni cerun gunung itu, mungkin akan mengeluarkan wap secara perlahan-lahan.

“Adalah terlalu awal untuk memastikannya. Letupan susulan mungkin akan berlaku, tetapi jika ia terus meletup seperti ini untuk seketika, kita akan berhadapan dengan letupan perlahan dan berpanjangan,” katanya. – AP

Posted by: Habib Ahmad | 29 Oktober 2010

Tsunami Indonesia: 154 disahkan terbunuh, 400 masih hilang

Tsunami Indonesia: 154 disahkan terbunuh, 400 masih hilang

2010/10/27
JAKARTA: Sekurang-kurangnya 154 terbunuh manakala 400 yang lain masih hilang susulan gempa bumi kuat sehingga mencetuskan tsunami di barat Indonesia.

Ketua Pengurusan Bencana Wilayah Sumater, Harmensyah, berkata gempa yang melanda lewat Isnin lalu di pesisir Barat Sumatera, menyebabkan ukuran ketinggian air mencecah tiga meter di sekitar rantaian kepulauan pedalaman negara itu, di mana beberapa kawasan p0erkampungan ranap. “Sekurang-kurangnya 154 maut, 400 yang lain masih hilang. Mangsa turut kehilangan tempat kediaman dan kini banyak bantuan yang diperlukan, ” katanya. Beliau berkata, beberapa khemah sudah tiba tetapi masih banyak yang diperlukan. – AFP

Posted by: Habib Ahmad | 28 Oktober 2010

Lelaki warga Indonesia ditahan ISA terlibat militan

Lelaki warga Indonesia ditahan ISA terlibat militan
KUALA LUMPUR 27 Okt. – Seorang lelaki warga Indonesia ditahan di bawah Akta Keselamatan Dalam Negeri (ISA) 1960 kerana disyaki terlibat dalam kegiatan militan yang boleh memudaratkan keselamatan negara.

Suspek, Taufiq Marzuki @ Sulaiman Tarmizi, 29, ditahan Polis Diraja Malaysia (PDRM) di Shah Alam, Selangor, antara pukul 2.30 dan 4 petang pada 29 September lalu.

Timbalan Ketua Polis Negara, Datuk Seri Hussin Ismail berkata, Taufiq ditahan mengikut Seksyen 73 (1) di bawah akta itu kerana dipercayai menganggotai sebuah pertubuhan militan.

Katanya, pertubuhan itu dikenali sebagai Kumpulan Mujahiddin Aceh (KMA) yang memperjuangkan penubuhan negara Islam Aceh secara kekerasan.

“Taufiq telah melarikan diri dan bersembunyi di negara ini setelah kem latihan ketenteraan di Aceh, Indonesia, diserbu polis republik itu pada 12 Mac lalu.

“Penangkapan itu dibuat bagi membolehkan siasatan rapi dijalankan kerana kehadirannya di negara ini boleh menjejaskan keselamatan negara,” katanya dalam satu kenyataan akhbar di sini hari ini.

Tambah Hussin, siasatan dilakukan ke atas Taufiq adalah bertujuan membongkar dan membendung rangkaian militan asing dari terus menjadikan Malaysia sebagai tempat perlindungan yang selamat.

Posted by: Habib Ahmad | 28 Oktober 2010

Bencana berkembar Indonesia ragut lebih 400 nyawa

Bencana berkembar Indonesia ragut lebih 400 nyawa

2010/10/28
JAKARTA: Dua bencana berkembar – tsunami dan letusan gunung berapi di Indonesia kini menyaksikan angka korban mencecah 300 orang manakala lebih 400 lagi hilang dengan lebih 10,000 penduduk kini sudah dipindahkan.

Letusan Gunung Merapi di Yongyakarta yang meledak debu dan asap hitam setakat ini sudah mengorbankan 28 orang manakala 14 lagi cedera. Gunung Merapi kali pertama meletus Selasa lalu, sehari selepas tsunami melanda kepulauan terpencil di barat Sumatera. Angka kematian akibat tsunami susulan gempa kuat 7.7 magnitud itu kini mencecah 282 orang, kata pegawai Agensi Bencana Wilayah, Ade Edward. – Reuters

Posted by: Habib Ahmad | 28 Oktober 2010

Dukun Gunung Merapi tewas

Dukun Gunung Merapi tewas

2010/10/28

GUNUNG Merapi mengeluarkan debu panas yang mengorbankan 28 penduduk kampung Kinahrejo dekat Yogyakarta termasuk Mbah Marijan (gambar kecil), kelmarin.Mayat pengamal ilmu tradisional, 27 mangsa lain tertimbus dalam debu panas

YOGYAKARTA: Lelaki tua yang didakwa dukun Gunung Merapi, Mbah Marijan akhirnya dilaporkan tewas dengan gunung berapi terbabit apabila beliau dilaporkan tertimbus dalam kepulan debu yang menyelubunginya. Mayat Mbah dan kira-kira 27 mangsa lain dibawa keluar dari debu berwarna kelabu itu semalam oleh pekerja penyelamat yang mencari mangsa dan mereka yang terselamat dalam kejadian letusan terbesar kelmarin. “Sekurang-kurangnya 28 orang terbunuh termasuk Mbah Marijan. Seorang pemberita dan dua sukarelawan turut terbunuh,” kata Banu Hermawan, seorang jurucakap bagi Hospital Sardjito berhampiran Yogyakarta.

Dari rumah beliau yang dipenuhi dengan asap, penjaga yang setia itu berusia 70-an sejak beberapa tahun mengamalkan amalan tradisional untuk menghalau semangat dari gunung berapi terbabit.

Media tempatan melaporkan bahawa mayat beliau ditemui di hadapan rumahnya dalam keadaan bersujud, menunjukkan orang tua berkenaan cuba untuk mengakhiri keganasan dari gunung berapi terbabit.

Pemberita dilaporkan turut ke kampung terbabit untuk memujuk Mbah melarikan diri selepas pihak berkuasa mengeluarkan amaran berjaga-jaga merah yang menunjukkan kemungkinan letusan besar akan berlaku bila-bila masa.
Tetapi seorang pekerja mencari dan menyelamat memberitahu AFP Mbah berkeras untuk tidak meninggalkan kawasan terbabit.

“Saya sudah biasa di rumah, lebih baik untuk saya terus berada di sini dan bersembahyang,” pekerja penyelamat terbabit, Taufiq memetik kata-kata Mbah Marijan.

Gunung Merapi setinggi 2,914 meter berkenaan yang bermaksud Gunung Api adalah paling aktif daripada sejumlah 69 gunung berapi dengan sejarah pernah meletus di Indonesia.

Berada di kawasan penanaman padi di tengah Jawa kira-kira 400 kilometer ke timur Jakarta, kali terakhir ia meletus adalah pada Jun 2006 yang mengorbankan dua orang.

Dalam kejadian itu, Mbah juga dilaporkan enggan mematuhi arahan berpindah dengan mengatakan bahawa ia adalah tugasan tradisi dan spiritual beliau untuk terus berada di situ. – AFP

Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2010

Allah Swt Memperlihatkan Semua Jawaban Atas Semua Pertanyaan

Allaah Swt Memperlihatkan Semua Jawaban Atas Semua Pertanyaan
Oleh: Alhabib Ghozi bin Ahmad Shihab

Syaikh Muhammad Sya’roni berkata bahwa tiupan sangkakala bunyinya bergemuruh tiada tara, menghancurkan semuanya. Sangkakala ditiupkan setelah kiamat terjadi dimana semua makhluq-Nya kemudian dibangkitkan.

Adapaun yang dituju dengan ditiupkannya sangkakala ini adalah telinga kita, kenapa dan ada apa dengan telinga kita? Yaitu agar telinga kita mendengar. Telinga ini sangat indah susunannya, begitu lembut tetapi mampu menangkap suara kemudian membedakan berbagai jenis suara.

Telinga adalah yang pertama kali mengenal kehidupan, bayi begitu terlahir pertama kali bukan melihat tetapi mendengar yang bayi mampu. Dan kita beribadah juga diawali salah satunya dengan mendengar dahulu, mendengar ajaran ulama kemudian mengamalkannya, mendengar adzan kemudian sholat, teman bercerita tentang kebaikan lalu kita dengarkan kemudian kita amalkan dst.

(Alhabib Muhammad bin Abdullaah Al’aydrus berkata dalam kitab beliau bahwa kita mesti menerapkan adab ketika mendengarkan pembicaraan teman bicara kita. Beliau melarang kita menghentikan atau menyangkal ucapan seseorang di hadapan khalayak ramai karena ini perbuatan yang sangat buruk. Jika ucapannya salah dan kesalahannya itu tidak membahayakan orang banyak maka maafkanlah, jangan lalu kita tunjukkan kesalahannya di hadapan orang banyak! Jika kita ingin menegurnya maka tegurlah pada saat kita sedang berdua. Tetapi jika kesalahannya membahayakan khalayak ramai (misal dalam hal tauhid dsb) maka tegurlah dengan cara yang lembut dan baik serta penuh kasih sayang, jangan kasar!).

Begitu pentingnya mendengar sehingga ketika kita dibangkitkan kelak adalah telinga yang pertama dituju yaitu oleh tiupan sangkakala yang pertama kalinya. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa tiupan sangkakala itu menghancurkan semuanya kecuali para Nabi, para Rasulullaah, para malaikat, orang-orang yang meninggal syahid dsb, mereka diselamatkan 0leh Allaah Swt.

Ulama menjelaskan bahwa antara tiupan sangkakala pertama dan kedua ada jeda waktunya, menurut Abu Hurairah Ra dari Rasulullaah Muhammad Saw bahwa jeda waktu antara dua tiupan sangkakala itu 40, tidak dijelaskan itu 40 apa sebab Abu Hurairah tidak bertanya kepada Rasulullaah Muhammad Saw.

Jika tiupan sangkakala yang pertama adalah telinga yang dituju, maka tiupan sangkakala yang kedua adalah mata yang dituju. Kenapa? Karena setelah setelah mendengar biasanya kita baru percaya setelah melihat buktinya, dijelaskan ini terjadi pada orang-orang yang tidak percaya kepada Allaah Swt sering kali menolak kebenaran jika mereka tidak melihat sendiri, padahal tidak semua kebenaran bisa terlihat dengan mata biasa ini, ada banyak kebenaran yang membutuhkan keimanan untuk kemudian dipercayai. Mereka lalu menolak kebenaran adanya Allaah Swt, maka inilah yang dituju dengan tiupan sangkakala yang kedua yaitu mata agar mereka bisa langsung menyaksikan ke-Maha-Besar-an Allaah Swt yang mampu menghancurkan semua makhluq-Nya tanpa kesulitan sama sekali, mampu memnghancurkan makhluq sejak awal penciptaan hingga akhir penciptaan, mampu membangkitkan semua yang sudah berserakan yang sudah dihancurkan dan kemudian dikumpulkan di suatu tempat dsb sehingga saat itu tidak perlu lagi dalil-dalil sebab semuanya sudah terpampang di depan mata mereka, mata kita, Allaah Swt memperlihatkan semua jawaban atas semua pertanyaan mereka yaitu mereka yang tidak percaya atas ke-Tuhan-an Allaah Swt.

Kemudian, setelah semua makhluq dibangkitkan maka dikumpulkan di padang Mahsyar di yaumul mahsyar. Kata Mahsyar ini diambil dari kata Al Asyhr yang secara bahasa maksudnya adalah suatu kegiatan untuk mengumpulkan yang berserakan sehingga menjadi satu di dalam satu tempat. Jadi yaumul mahsyar adalah hari dimana kita semua dibangkitkan dan dikumpulkan oleh Allaah Swt dalam tempat yang sempit (tidak dijelaskan sempit yang bagaimana yang dimaksudkan) yaitu di padang Mahsyar.

Sebagaimana bumi sekarang dipenuhi oleh cahaya matahari, maka di padang Mahsyar dipenuhi juga oleh cahaya Allaah Swt yang mana setelah itu diserahkan pada kita kitab catatan amal kita selama hidup di dunia sekaligus beserta saksi-saksinya

http://majlismajlas.blogspot.com/

Hukum Perempuan Menziarahi Kubur : Bagaimana Dengan Perempuan Yang Haidh ?
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Soal Jawab Ibadah
Oleh : Mufti Brunei

بسم الله ، والحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ، وعلى آله وصحبه ومن والاه

(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Salah satu amalan yang sering dilakukan oleh masyarakat kita pada bulan Ramadhan dan pada Hari Raya Fitrah ialah berziarah kubur, sama ada yang diziarahi itu adalah kubur ibu bapa atau kaum kerabat. Berziarah itu pula diisi dengan membaca al-Qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia.

Biasanya surah Yassin dan bertahlil merupakan bacaan pilihan masyarakat kita apabila berziarah kubur.

Berziarah kubur pula tidak hanya di bulan Ramadhan atau ketika Hari Raya sahaja, bahkan terdapat sesetengah keluarga yang menjadikannya rutin yang dilakukan seminggu sekali, sebulan sekali atau pada waktu-waktu yang dipersetujui oleh ahli keluarga yang difikirkan boleh berziarah beramai-ramai ke kubur.

Apa yang biasa dilihat, berbagai lapisan golongan ahli keluarga yang bukan sahaja terdiri daripada golongan lelaki dewasa, malahan kanak-kanak lelaki dan golongan perempuan juga
beramai-ramai turut sama berziarah.

Senario golongan perempuan turut serta pergi berziarah ke kubur menimbulkan reaksi sesetengah pihak yang beranggapan bahawa perempuan tidak dibenarkan berziarah kubur, lebih-lebih lagi perempuan yang dalam haidh. Adakah betul anggapan sedemikian?

Hukum Berziarah Kubur

Terdapat perbezaan hukum berziarah kubur bagi lelaki dan perempuan.

1. Hukum berziarah bagi lelaki

Para ulama sepakat mengatakan bahawa sunat bagi lelaki menziarahi kubur orang-orang Islam berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Buraidah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah
Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya:
“Dahulu aku melarang kamu menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahlah.”

(Hadits riwayat Muslim)

Menurut Imam asy-Syarwani Rahimahullah, ganti nama ” كم ” (kum) dalam larangan dan juga ” زوروا ” pada perintah dalam hadis di atas adalah ditujukan kepada kaum lelaki.

Orang-orang yang sunat diziarahi kuburnya itu pula ialah:

I. Kubur kedua ibu bapa, walaupun kubur keduanya bukan di negeri di tempatnya berada.

II. Kubur kaum keluarga terdekat atau sahabat-handai yang pada ketika hidup mereka sunat untuk diziarahi, begitu juga bila mereka meninggal dunia.

III. Kubur orang lain (yang bukan keluarga atau sahabat handai) dengan tujuan berziarah untuk mengingatkan kematian, memohon rahmat daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala untuknya atau sebagainya.

2. Hukum berziarah bagi perempuan

Keadaan perempuan berbeza dengan lelaki dari segi emosi dan perasaan. Perasaan mudah tersentuh dengan apa sahaja yang berlaku sering dikaitkan dengan mereka. Apabila seseorang yang dikenali meninggal dunia, lebih-lebih lagi jika orang tersebut adalah seseorang yang disayangi atau terlalu rapat dengannya selalunya membangkitkan perasaan emosi dan ada sesetengahnyatidak dapat membendung perasaan sehingga meraung-raung di depan mayat atau di tanah perekuburan.

Menurut pendapat jumhur ulama, hukum ziarah kubur bagi perempuan adalah makruh kerana ditakuti boleh mengundang fitnah atau ditakuti mereka menangis dengan mengeluarkan suara yang nyaring meratapi kepergian si mati.

Dalil yang menunjukkan bahawa hukum bagi perempuan menziarahi kubur adalah tidak haram berdasarkan beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti berikut:

1. Diriwayatkan daripada Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu,
katanya:

Maksudnya:
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melintasi seorang perempuan yang sedang menangis di kubur anaknya, lalu Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.”
(Hadits muttafaq ‘alaih)

Daripada hadits di atas dapat difahami bahawa menziarahi kubur bagi perempuan tidak dilarang. Ini kerana jika perbuatan tersebut dihukumkan haram, sudah tentunyalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur ataupun melarang perempuan tersebut daripada menziarahi kubur.

2. Sayyidatuna ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang doa yang boleh dibacanya apabila berziarah ke perkuburan. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya:
“Katakanlah: “Mudah-mudahan Allah limpahkan keselamatan ke atas ahli kubur daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Islam dan semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kalangan kami dan orang-orang yang terkemudian, dan sesungguhnya sekiranya kami diizinkan oleh Allah kami akan bertemu dengan kamu.”

(Hadits riwayat Muslim)

Hadits di atas adalah dalil yang menunjukkan bahawa tidak haram bagi perempuan berziarah kubur.

Namun perlu diingat, bahawa hukum berziarah kubur bagi perempuan ini bergantung pada tujuan dan keadaannya ketika berziarah. Hukum asalnya adalah makruh sekalipun tujuannya
untuk mengambil iktibar, untuk mengingatkan kepada kematian, alam barzakh dan alam akhirat. Di samping itu, perempuan tersebut dapat menjaga adab kesopanan ketika berziarah, dapat menahan diri dari kesedihan atau dukacita yang bersangatan dan aman dari segala fitnah.
Manakala apabila berlaku tujuan dan keadaan yang sebaliknya, maka hukum makruh tersebut akan bertukar kepada haram.

Menurut setengah ulama, jika tujuannya adalah untuk menimbulkan semula perasaan dukacita dan untuk meratapi si mati, maka adalah haram baginya menziarahi kubur. Begitu juga jika sekiranya perempuan tersebut tidak menjaga adab kesopanannya semasa berziarah, tidak aman dari segala fitnah atau seumpamanya, maka haram baginya menziarahi kubur.

Berbeza pula hukumnya menziarahi kubur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hukumnya adalah sunat bagi perempuan dan lelaki. Begitu juga menurut sebahagian ulama, sunat berziarah ke kubur para nabi, para ulama dan aulia.

Hukum Perempan Haidh Berziarah Kubur

Perempuan yang dalam haidh tidak ada halangan untuk berziarah kubur, kerana untuk berziarah kubur tidak disyaratkan suci daripada hadats kecil mahupun besar. Suci daripada hadats merupakan salah satu adab yang disunatkan sahaja kepada orang-orang yang ingin berziarah ke tanah perkuburan.

Oleh yang demikian, perempuan yang dalam haidh berziarah kubur dengan tujuan yang dibenarkan oleh syara‘ serta dapat menjaga adab kesopanan ketika berziarah dihukumkan makruh sebagaimana dengan hukum perempuan yang suci berziarah kubur.

Namun satu hal yang berbeza di antara perempuan yang suci dengan perempuan sedang haidh ketika di tanah perkuburan ialah dari segi keharusan membaca ayat-ayat al-Qur’an untuk si mati. Perlu diingat, perempuan yang dalam haidh haram membaca al- Qur’an walaupun hanya satu ayat daripada al-Qur’an. Maka memadailah baginya berzikir seperti bertahlil, bertasbih dan
sebagainya atau berdoa untuk si mati seperti memohon keampunan dan rahmat atau yang seumpamanya daripada Allah untuk si mati.

Secara umumnya, adab-adab yang perlu dijaga oleh perempuan yang menziarahi kubur sama ada yang dalam keadaan suci mahupun haidh ialah:

(1) Hendaklah dia ditemani oleh suaminya ataupun mahramnya.

(2) Keluar dalam keadaan menutup aurat sepenuhnya sepertimana yang telah digariskan oleh Islam.

(3) Jangan selalu pergi berziarah ke kubur.

(4) Tidak berbual dengan percakapan kosong sebagaimana yang dilarang ke atas kaum lelaki, kerana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh
Buraidah Radhiallahu ‘anhu:

Maksudnya:
“(Dahulu) aku telah melarang kamu menziarahi kubur, maka (sekarang), siapa yang ingin menziarahi kubur, berziarahlah, dan janganlah kamu bercakap-cakap dengan perkataan yang tidak baik.”
(Hadis riwayat an-Nasa’ie)

Perlu diambil perhatian juga, hukum yang membenarkan perempuan berziarah kubur ini adalah tertakluk bila adanya keizinan daripada suami atau wali. Sekiranya tiada keizinan daripada suami atau wali, tidaklah perempuan itu dibenarkan untuk berziarah kubur.

Kesimpulannya, perempuan yang dalam haidh tidak dilarang menziarahi kubur kerana secara umumnya hukum berziarah bagi perempuan itu adalah makruh dengan ada syarat-syarat yang perlu dijaganya iaitu dari segi tujuan dan adab berziarah. Di samping itu, jika dia turut sama berziarah ke perkuburan bersama ahli keluarga yang lain, dia hendaklah berhati-hati agar tidak turut sama dengan yang lainnya membaca ayat-ayat al-Qur’an seperti Yassin dan yang seumpamanya kerana haram baginya melakukan yang demikian dengan keadaannya di dalam haidh itu.

Sumber : http://www.mufti.gov.bn/irsyad/pelita/2010/bil18-2010.pdf

Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2010

Perintah Talqin Mayit

Perintah Talqin Mayit

Telah umum dalam masyarakat kita, selesai jenazah dimakamkan salah seorang dari pihak keluarga mayit duduk disamping makam lalu mulai melafadzkan bacaan talqin[i] bagi mayit. Namun dewasa ini, ada satu kelompok yang mengklaim dirinya paling mengikuti al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman para sahabat dan tabi’in menyatakan bahwa talqin mayit adalah bid’ah karena tidak memiliki landasan dalam syari’at serta tidak bermanfaat bagi si mayit. Permasalahan semacam ini telah menjadi polemik dalam masyarakat, benarkah talqin mayit tidak memiliki landasan syari’at padahal telah dilakukan oleh para ulama’ pendahulu kita ?.

Oleh karena itu, kami akan membahas tentang dalil-dalil yang menjadi landasan talqin mayit agar bisa memberikan kejelasan pada masyarakat.

Dasar hukum talqin mayit

Salah satu dasar hukum mengenai talqin adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, imam Abi Dawud, dan imam An Nasai :

لقنوا موتاكم لا إله إلا الله
“Talqinilah orang-orang mati kalian dengan لا إله إلا الله “

Memang mayoritas ulama mengatakan bahwa yang dimaksud lafadz موتاكم dalam hadits diatas orang-orang yang hampir mati bukan orang-orang yang telah mati, sehingga hadits tersebut menggunakan arti majas (arti kiasan) bukan arti aslinya.

Akan tetapi, tidak salah juga jika kita artikan lafadz tersebut dengan arti aslinya yaitu orang yang telah mati. karena menurut kaidah bahasa arab, untuk mengarahkan suatu lafadz kepada makna majasnya diperlukan adanya qorinah (indikasi) baik berupa kata atau keadaan yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan perkataan tersebut adalah makna majasnya bukan makna aslinya. Sebagai contoh jika kita katakan “talqinillah mayit kalian sebelum matinya” maka kata-kata “sebelum matinya” merupakan qorinah yang mengindikasikan bahwa yang dimaksud dengan kata mayit dalam kalimat ini bukan makna aslinya (yaitu orang yang telah mati) tapi makna majasnya (orang yang hampir mati).

Sedangkan dalam hadits tersebut tidak diketemukan Qorinah untuk mengarahkan lafadz موتاكم kepada makna majasnya, maka sah saja jika kita mengartikannya dengan makna aslinya yaitu orang-orang yang telah mati bukan makna majasnya. Pendapat inilah yang dipilih oleh sebagian ulama seperti Imam Ath Thobary, Ibnul Humam, Asy Syaukany, dan Ulama lainya.

Selain hadits di atas, masih ada hadits lain yang menunjukkan kesunahan mentalqini mayit setelah dikuburkan, yaitu :

إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ، فَسَوَّيْتُمِ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ، فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلا يُجِيبُ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْتَوِي قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَقُولُ: أَرْشِدْنَا رَحِمَكَ اللَّهُ، وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ، فَلْيَقُلْ: اذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا، فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ وَاحِدٌ مِنْهُمْا بِيَدِ صَاحِبِهِ، وَيَقُولُ: انْطَلِقْ بنا مَا نَقْعُدُ عِنْدَ مَنْ قَدْ لُقِّنَ حُجَّتَهُ، فَيَكُونُ اللَّهُ حَجِيجَهُ دُونَهُمَا”، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ؟ قَالَ:”فَيَنْسُبُهُ إِلَى حَوَّاءَ، يَا فُلانَ بن حَوَّاءَ. رواه الطبراني
“Jika salah satu diantara kalian mati, maka ratakanlah tanah pada kuburnya (kuburkanlah). Hendaklah salah satu dari kalian berdiri di pinggir kuburnya dan hendaklah berkata : “wahai fulan (sebutkan nama orang yang mati, pent) anak fulanah (sebutkan ibu orang yang mati, pent)” sebab dia bisa mendengarnya tapi tidak bisa menjawabnya. Kemudian berkata lagi : “wahai fulan (sebutkan nama orang yang mati, pent) anak fulanah (sebutkan ibu orang yang mati, pent)” sebab dia akan duduk. Kemudian berkata lagi : “wahai fulan (sebutkan nama orang yang mati, pent) anak fulanah (sebutkan ibu orang yang mati, pent)” sebab dia akan berkata : “berilah kami petunjuk –semoga Allah merahmatimu-“ dan kalian tidak akan merasakannya. Kemudian hendaklah berkata : “ sebutlah sesuatu yang kamu bawa keluar dari dunia, yaitu persaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah SWT, Muhammad hamba dan utusan Nya, dan sesungguhnya kamu ridlo Allah menjadi Tuhanmu, Muhammad menjadi Nabimu, dan Al Quran menjadi imammu”, sebab Mungkar dan Nakir saling berpegangan tangan dan berkata : “mari kita pergi. Kita tidak akan duduk (menanyakan) di sisi orang yang telah ditalqini (dituntun) hujjahnya (jawabannya), maka Allah menjadi hajiij (yang mengalahkan dengan menampakkan hujjah) baginya bukan Mungkar dan Nakir”. Kemudian seorang sahabat laki-laki bertanya : wahai Rasulullah ! Jika dia tidak tahu ibu si mayit ?Maka Rasulullah menjawab : nisbatkan kepada Hawa, wahai fulan bin Hawa” (H.R. Thabrani) (2).

Berdasarkan hadits ini ulama Syafi`iyah, sebagian besar ulama Hanbaliyah, dan sebagian ulama Hanafiyah serta Malikiyah menyatakan bahwa mentalqini mayit adalah mustahab (sunah)(3).

Hadits ini memang termasuk hadist yang dhaif (lemah), akan tetapi ulama sepakat bahwa hadits dhaif masih bisa dijadikan pegangan untuk menjelaskan mengenai fadloilul a`mal dan anjuran untuk beramal, selama tidak bertentangan dengan hadits yang lebih kuat (hadits shohih dan hadits hasan lidzatih) dan juga tidak termasuk hadits yang matruk (ditinggalkan)(4). Jadi tidak mengapa kita mengamalkannya.

Selain itu, hadist ini juga diperkuat oleh hadist-hadits shohih seperti :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ وَقَالَ : اسْتَغْفِرُوا ؛ لِأَخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ .
“Apabila Rasulullah SAW selesai menguburkan mayit, beliau berdiri di dekat kuburan dan berkata : mintalah kalian ampunan untuk saudara kalian dan mintalah untuknya keteguhan (dalam menjawab pertanyaan Mungkar dan Nakir) karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya” (H.R. Abu Daud dan dishahihkan oleh Hakim)(5).

Juga hadits yang diriwayatkan Imam Muslim r.a :

وعن عمرو بن العاص – رضي الله عنه – ، قَالَ : إِذَا دَفَنْتُمُونِي ، فَأقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ ، وَيُقَسَّمُ لَحمُهَا حَتَّى أَسْتَأنِسَ بِكُمْ ، وَأعْلَمَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي . رواه مسلم
Diriwayatkan dari `Amr bin Al `Ash, beliau berkata : Apabila kalian menguburkanku, maka hendaklah kalian menetap di sekeliling kuburanku seukuran disembelihnya unta dan dibagi dagingnya sampai aku merasa terhibur dengan kalian dan saya mengetahui apa yang akan saya jawab apabila ditanya Mungkar dan Nakir(6).

Semua hadits ini menunjukkan bahwa talqin mayit memiliki dasar yang kuat. Juga menunjukkan bahwa mayit bisa mendengar apa yang dikatakan pentalqin dan merasa terhibur dengannya.

Salah satu ayat yang mendukung hadits di atas adalah firman Allah SWT :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ [الذاريات/55]
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. “

Ayat ini memerintah kita untuk memberi peringatan secara mutlak tanpa mengkhususkan orang yang masih hidup. Karena mayit bisa mendengar perkataan pentalqin, maka talqin bisa juga dikatakan peringatan bagi mayit, sebab salah satu tujuannya adalah mengingatkan mayit kepada Allah agar bisa menjawab pertanyaan malaikat kubur dan memang mayit di dalam kuburnya sangat membutuhkan peringatan tersebut(7). Jadi ucapan pentalqin bukanlah ucapan sia-sia karena semua bentuk peringatan pasti bermanfaat bagi orang-orang mukmin.

Referensi

(1)شرح النووي على صحيح مسلم – (6 / 219(
1 ( كتاب الجنائز) 916 الجنازة مشتقة من جنز إذا ستر ذكره بن فارس وغيره والمضارع يجنز بكسر النون والجنازة بكسر الجيم وفتحها والكسر أفصح ويقال بالفتح للميت وبالكسر للنعش عليه ميت ويقال عكسه حكاه صاحب المطالع والجمع جنائز بالفتح لا غير قوله صلى الله عليه وسلم لقنوا موتاكم لا إله إلا الله معناه من حضره الموت والمراد ذكروه لا إله إلا الله لتكون آخر كلامه كما في الحديث من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة والأمر بهذا التلقين أمر ندب وأجمع العلماء على هذا التلقين وكرهوا الاكثار عليه والموالاة لئلا يضجر بضيق حاله وشدة كربه فيكره ذلك بقلبه ويتكلم بما لا يليق قالوا وإذا قاله مرة لا يكرر عليه إلا أن يتكلم بعده بكلام آخر فيعاد التعريض به ليكون آخر كلامه ويتضمن الحديث الحضور عند المحتضر لتذكيره وتأنيسه واغماض عينيه والقيام بحقوقه وهذا مجمع عليه قوله وحدثنا قتيبة حدثنا عبد العزيز الدراوردي وروح وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة أخبرنا خالد بن مخلد أخبرنا سليمان بن بلال جميعا بهذا الاسناد هكذا هو في جميع النسخ وهو صحيح قال أبو علي الغساني وغيره معناه عن عمارة بن غزية الذي سبق فيه الاسناد الأول ومعناه روى عنه الدراوردي وسليمان بن بلال وهو كما قاله
(2)المعجم الكبير للطبراني – (ج 7 / ص 286(

حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ أَنَسُ بن سَلْمٍ الْخَوْلانِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن إِبْرَاهِيمَ بن الْعَلاءِ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بن عَيَّاشٍ، حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ بن مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ، عَنْ يَحْيَى بن أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ سَعِيدِ بن عَبْدِ اللَّهِ الأَوْدِيِّ، قَالَ: شَهِدْتُ أَبَا أُمَامَةَ وَهُوَ فِي النَّزْعِ، فَقَالَ: إِذَا أَنَا مُتُّ، فَاصْنَعُوا بِي كَمَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نصْنَعَ بِمَوْتَانَا، أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:”إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ، فَسَوَّيْتُمِ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ، فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلا يُجِيبُ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْتَوِي قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَقُولُ: أَرْشِدْنَا رَحِمَكَ اللَّهُ، وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ، فَلْيَقُلْ: اذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا، فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ وَاحِدٌ مِنْهُمْا بِيَدِ صَاحِبِهِ، وَيَقُولُ: انْطَلِقْ بنا مَا نَقْعُدُ عِنْدَ مَنْ قَدْ لُقِّنَ حُجَّتَهُ، فَيَكُونُ اللَّهُ حَجِيجَهُ دُونَهُمَا”، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ؟ قَالَ:”فَيَنْسُبُهُ إِلَى حَوَّاءَ، يَا فُلانَ بن حَوَّاءَ”.
المقاصد الحسنة للسخاوي ج 1 ص 167

الطبراني في الدعاء ومعجمه الكبير من طريق محمد بن إبراهيم بن العلاء الحمصي حدثنا إسماعيل بن عياش حدثنا عبد الله بن محمد القرشي عن يحيى بن أبي كثير عن سعيد بن عبد الله الأودي وقال شهدت أبا أمامة وهو في النزع فقال إذا أنا مت فاصنعوا بي كما أمر رسول الله أن نصنع بموتانا أمرنا رسول الله فقال (إذا مات أحد من إخوانكم فسويتم على قبره فليقم أحدكم على رأس قبره ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يسمعه ولا يجيب ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يستوي قاعدا ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يقول أرشد رحمك الله ولكن لا تشعرون فليقل اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا ومحمد نبيا وبالقرآن إماما فإن منكرا ونكيرا يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه يقول انطلق ما تقعد عند من لقن حجته فيكون الله حجيجه دونهما) فقال رجل يا رسول الله فإن لم يعرف اسم أمه قال (فلينسبه إلى حواء فلان ابن حواء)
(3)الأذكار ج 1 ص 162
وأما تلقـين الـميت بعد الدفن، فقد قال جماعة كثـيرون من أصحابنا بـاستـحبـابه، ومـمن نصَّ علـى استـحبـابه: القاضي حسين فـي تعلـيقه، وصاحبه أبو سعد الـمتولـي فـي كتابه «التتـمة»، والشيخ الإمام الزاهد أبو الفتـح نصر بن إبراهيـم بن نصر الـمقدسي، والإمام أبو القاسم الرافعي وغيرهم، ونقله القاضي حسين عن الأصحاب. وأما لفظه: فقال الشيخ نصر: إذا فرغ من دفنه يقـف عند رأسه ويقول: يا فلان بن فلان، اذكر العهد الذي خرجت علـيه من الدنـيا: شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن مـحمداً عبدُه ورسوله، وأن الساعة آتـيةٌ لا ريبَ فـيها، وأن الله ببعث من فـي القبور، قل: رضيت بـالله ربـاً، وبـالإسلام ديناً، وبـمـحمد نبـياً، وبـالكعبة قبلةً، وبـالقرآن إماماً، وبـالـمسلـمين إخواناً، ربـي الله، لا إله إلا هو، وهو ربُّ العرش العظيـم، هذا لفظ الشيخ نصر الـمقدسي فـي كتابه «التهذيب»، ولفظ البـاقـين بنـحوه، وفـي لفظ بعضهم نقص عنه، ثم منهم من يقول: يا عبد الله بن أمة الله، ومنهم من يقول: يا عبد الله بن حواء، ومنهم من يقول: يا فلان ـ بـاسمه ـ ابن أمة الله، أو يا فلان بن حواء، وكله بـمعنًى. وسئل الشيخ الإمام أبو عمرو بن الصلاح ـ رحمه الله ـ عن هذا التلقـين، فقال فـي «فتاويه»: التلقـين هو الذي نـختاره ونعمل به، وذكره جماعة من أصحابنا الـخراسانـيـين، قال: وقد روينا فيه حديثا من حديث أبي أمامة ليس بالقائم إسناده ” (1) ، قال الحافظ بعد تخريجه : هذا حديث غريب ، وسند الحديث من الطريقين ضعيف جدا ولكن اعتضد بشواهد ، وبعمل أهل الشام به قديما. قال : وأما تلقين الطفل الرضيع ، فما له مستند يعتمد ، ولا نراه ، والله أعلم.
الجوهرة النيرة ص2 ج2

[مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لا إلَهَ إلا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ] وَأَمَّا تَلْقِينُ الْمَيِّتِ فِي الْقَبْرِ فَمَشْرُوعٌ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ لأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحْيِيه فِي الْقَبْرِ وَصُورَتُهُ أَنْ يُقَالَ يَا فُلانُ بْنَ فُلانٍ أَوْ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ اُذْكُرْ دِينَك الَّذِي كُنْت عَلَيْهِ وَقَدْ رَضِيت بِاَللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا. فَإِنْ قِيلَ إذَا مَاتَ مَتَى يُسْأَلُ اخْتَلَفُوا فِيهِ قَالَ بَعْضُهُمْ حَتَّى يُدْفَنَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فِي بَيْتِهِ تُقْبَضُ عَلَيْهِ الأَرْضُ وَتَنْطَبِقُ عَلَيْهِ كَالْقَبْرِ وَالْقَوْلُ الأَوَّلُ أَشْهَرُ لأَنَّ الآثَارَ وَرَدَتْ بِهِ. فَإِنْ قِيلَ هَلْ يُسْأَلُ الطِّفْلُ الرَّضِيعُ فَالْجَوَابُ أَنَّ كُلَّ ذِي رُوحٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فَإِنَّهُ يُسْأَلُ فِي الْقَبْرِ بِإِجْمَاعِ أَهْلِ السُّنَّةِ لَكِنْ يُلَقِّنُهُ الْمَلَكُ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ رَبُّك ثُمَّ يَقُولُ لَهُ قُلْ اللَّهَ رَبِّي ثُمَّ يَقُولُ لَهُ مَا دِينُك ثُمَّ يَقُولُ لَهُ قُلْ دِينِي الإِسْلامُ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ مَنْ نَبِيُّك ثُمَّ يَقُولُ لَهُ قُلْ نَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لا يُلَقِّنُهُ بَلْ يُلْهِمُهُ اللَّهُ حَتَّى يُجِيبَ كَمَا أُلْهِمَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلامُ فِي الْمَهْدِ.
فتاوى ابن حجر الهيثمي ج 5 ص 226
وَسُئِلَ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ هَلْ تَلْقِينُ الْمَيِّتِ بَعْدَ صَبِّ التُّرَابِ أَوْ قَبْلَهُ وَإِذَا مَاتَ طِفْلٌ بَعْدَ مَوْتِ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا كَيْفَ الدُّعَاءُ فِي الصَّلاةِ عَلَيْهِ ؟ (فَأَجَابَ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِقَوْلِهِ لا يُسَنُّ التَّلْقِينُ قَبْلَ إهَالَةِ التُّرَابِ بَلْ بَعْدَهُ كَمَا اعْتَمَدَهُ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ وَجَزَمْتُ بِهِ فِي شَرْحِ الإِرْشَادِ وَإِنْ اخْتَارَ ابْنُ الصَّلاحِ أَنَّهُ يَكُونُ قَبْلَ الإِهَالَةِ قَالَ الإِسْنَوِيُّ وَسَوَاءٌ فِيمَا قَالُوهُ فِي الدُّعَاءِ فِي الصَّلاةِ عَلَى الطِّفْلِ مَاتَ فِي حَيَاةِ أَبَوَيْهِ أَمْ لا لَكِنْ خَالَفَهُ الزَّرْكَشِيُّ فَقَالَ إنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَيِّتَيْنِ أَوْ أَحَدُهُمَا أَتَى بِمَا يَقْتَضِيهِ الْحَالُ وَالدَّمِيرِيُّ فَقَالَ إنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَيِّتَيْنِ لَمْ يَدْعُ لَهُمَا. وَاَلَّذِي قَالَهُ الزَّرْكَشِيُّ أَوْجَهُ كَمَا ذَكَرْتُهُ فِي شَرْحِ الْعُبَابِ فَحِينَئِذٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَهَذِهِ الأَوْصَافُ كُلُّهَا لائِقَةٌ بِالْمَيِّتِ وَالْحَيِّ فَلْيَأْتِ بِهَا سَوَاءٌ كَانَا حَيَّيْنِ أَوْ مَيِّتَيْنِ أَمَّا السَّلَفُ وَالذُّخْرُ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا الْفَرَطُ فَهُوَ السَّابِقُ الْمُهَيِّئُ لِمَصَالِحِهِمَا فِي الآخِرَةِ وَلَيْسَ الْمُرَادُ السَّبْقَ بِالْمَوْتِ بَلْ السَّبْقَ بِتَهْيِئَةِ الْمَصَالِحِ وَلا شَكَّ أَنَّ الْمَيِّتَ يَحْتَاجُ إلَى مَنْ يَسْبِقُهُ إلَى الْجَنَّةِ أَوْ الْمَوْقِفِ لِيُهَيِّئَ لَهُ الْمَصَالِحَ وَوَلَدُهُ الطِّفْلُ كَذَلِكَ. وَأَمَّا الْعِظَةُ فَتَخْتَصُّ بِالْحَيِّ فَيَقُولُ وَعِظَةً لِلْحَيِّ مِنْ أَبَوَيْهِ فَإِنْ مَاتَا حَذَفَ هَذِهِ اللَّفْظَةَ وَكَذَلِكَ الاعْتِبَارُ وَالشَّفِيعُ عَامٌّ لِلْحَيِّ وَالْمَيِّتِ فَيَأْتِي بِهِ فِيهِمَا وَتَثْقِيلُ الْمَوَازِينِ كَذَلِكَ بِخِلافِ أَفْرِغْ الصَّبْرَ وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَأْتِي بِالأَلْفَاظِ كُلِّهَا سَوَاءٌ كَانَا حَيَّيْنِ أَمْ مَيِّتَيْنِ إلا قَوْلَهُ عِظَةً وَاعْتِبَارًا وَأَفْرِغْ الصَّبْرَ فَإِنَّهُ لا يَأْتِي بِهَا إلا إذَا كَانَا حَيَّيْنِ أَوْ أَحَدُهُمَا فَإِنْ كَانَا حَيَّيْنِ فَوَاضِحٌ أَوْ أَحَدُهُمَا فَقَطْ ذَكَرَهُ فَقَالَ وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا لِلْحَيِّ مِنْهُمَا وَأَفْرِغْ الصَّبْرَ عَلَى قَلْبِ الْحَيِّ مِنْهُمَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ج 1 ص 447
(ويسنُّ أن يقف جماعة بعد دفنه عند قبره ساعة يسألون لـه التثبيت) لأنه كان إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه وقال: «اسْتَغْفِرُوا لأخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ، فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ» رواه البزّار، وقال الحاكم: إنه صحيح الإسناد. وروى مسلم عن عمرو بن العاص أنه قال: «إذا دفنتموني فأقيموا بعد ذلك حول قبري ساعة قد ما تُنْحَرُ جزور ويفرَّقُ لحمها حتى أَستأنِسَ بكم وأعلم ماذا أراجع رُسُلَ ربي». ويسنُّ تلقينُ الميت المكلف بعد الدفن، فيقال لـه: «يا عبداللـه ابن أَمَةِ اللَّهِ أَذْكُر ما خرجت عليه من دار الدنيا شهادة أن لا إلـه إلاَّ اللـه وأن محمداً رسول اللـه، وأن الجنة حقّ، وأن النار حقّ، وأن البعث حقّ، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن اللـه يبعث من في القبور، وأنك رضيت باللـه ربّاً وبالإسلام ديناً وبمحمدٍ نبيّاً وبالقرآن إماماً وبالكعبة قِبْلَةً وبالمؤمنين إخواناً». لحديث وَرَدَ فيه. قال في الروضة: والحديث إن كان ضعيفاً لكنه اعتضد بشواهد من الأحاديث الصحيحة، ولم تزل الناس على العمل به من العصر الأوّل في زمن من يُقْتَدَى به، وقد قال تعالى: {وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ المُؤْمِنِينَ} ؛ وَأَحْوَجُ ما يكون العبد إلى التذكير في هذه الحالة؛ ويقعد الملقِّنُ عند رأس القبر. أما غير المكلَّف، وهو الطفل ونحوه ممن لم يتقدم لـه تكليفٌ، فلا يسنُّ تلقينه؛ لأنه لا يفتن في قبره. (و) يسنُّ (لجيران أهلـه) ولأقاربه الأباعد وإن كان الأهل بغير بلد الميت، (تهيئة طعام يشبعهم) أي أهلـه الأقارب، (يومهم وليلتهم) لقولـه لما جاء خبر قتل جعفر: «اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَاماً فَقَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ» حسَّنه الترمذي وصحّحه الحاكم؛ ولأنه بِرٌّ ومعروف.
تتمة في التلقين بعد الدفن اعلم أن مسألة التلقين قبل الموت لم نعلم فيها خلافا وأما بعد الموت وهي التي تقدم ذكرها في الهداية وغيرها فاختلف الأئمة والعلماء فيها فالحنفية لهم فيها ثلاثة أقوال الأول أنه يلقن بعد الموت لعود الروح للسؤال والثاني لا يلقن والثالث لا يؤمر به ولا ينهى عنه وعند الشافعية يلقن كما قال ابن حجر في التحفة ويستحب تلقين بالغ عاقل أو مجنون سبق له تكليف ولو شهيدا كما اقتضاه إطلاقهم بعد تمام الدفن لخبر فيه وضعفه اعتضد بشواهد على أنه من الفضائل فاندفع قول ابن عبد السلام أنه بدعة انتهى وأما عند الإمام مالك نفسه فمكروه قال الشيخ علي المالكي في كتابه كفاية الطالب الرباني لختم رسالة ابن أبي زيد القيرواني ما لفظه وأرخص بمعنى استحب بعض العلماء هو ابن حبيب في القراءة عند رأسه أو رجليه أو غيرهما ذلك بسورة يس لما روي أنه قال ما من ميت يقرأ عند رأسه سورة يس إلا هون الله تعالى عليه ولم يكن ذلك أي ما ذكر من القراءة عند المحتضر عند مالك رحمه الله تعالى أمرا معمولا وإنما هو مكروه عنده وكذا يكره عند تلقينه بعد وضعه في قبره انتهى وأما الحنبلية فعند أكثرهم يستحب قال الشيخ عبد القادر بن عمر الشيباني الحنبلي في شرح دليل الطالب ما لفظه واستحب الأكثر تلقينه بعد الدفن انتهى واستفيد منه أن غير الأكثر من الحنابلة يقول بعدم التلقين بعد الموت
سبل السلام – (ج 3 / ص 155(
وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَحَدِ التَّابِعِينَ – قَالَ : كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ ، وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ .أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ : يَا فُلَانُ ، قُلْ : لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، يَا فُلَانُ : قُلْ رَبِّي اللَّهُ ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ، رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا – وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا .

(4)أضواء البيان ج 6 ص 225

ومما قاله ابن القيم في كلامه الطويل، قوله: وقد ترجم الحافظ أبو محمد عبد الحقّ الأشبيلي على هذا، فقال: ذكر ما جاء أن الموتى يسألون عن الأحياء، ويعرفون أقوالهم وأعمالهم، ثم قال: ذكر أبو عمر بن عبد البرّ من حديث ابن عباس، عن النبيّ صلى الله عليه وسلّم: «ما من رجل يمرّ بقبر أخيه المؤمن كان يعرفه فيسلم عليه، إلاّ عرفه وردّ عليه السّلام». ويروى من حديث أبي هريرة مرفوعًا، قال: «فإن لم يعرفه وسلّم عليه ردّ عليه السلام»، قال: ويروى من حديث عائشة رضي اللَّه عنها، أنّها قالت: قال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلّم: «ما من رجل يزور قبر أخيه فيجلس عنده، إلاّ استأنس به حتى يقوم»، واحتجّ الحافظ أبو محمد في هذا الباب بما رواه أبو داود في سننه، من حديث أبي هريرة، قال: قال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلّم: «ما من أحد يسلّم عليّ إلاّ ردّ اللَّه عليّ روحي حتى أردّ عليه السّلام». ثم ذكر ابن القيّم عن عبد الحق وغيره مرائي وآثارًا في الموضوع، ثم قال في كلامه الطويل: ويدلّ على هذا أيضًا ما جرى عليه عمل الناس قديمًا وإلى الآن، من تلقين الميت في قبره ولولا أنه يسمع ذلك وينتفع به لم يكن فيه فائدة، وكان عبثًا. وقد سئل عنه الإمام أحمد رحمه اللَّه، فاستحسنه واحتجّ عليه بالعمل. ويروى فيه حديث ضعيف: ذكر الطبراني في معجمه من حديث أبي أُمامة، قال: قال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلّم: «إذا مات أحدكم فسوّيتم عليه التراب، فليقم أحدكم على رأس قبره، فيقول: يا فلان ابن فلانة»، الحديث. وفيه: «اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة ألا إله إلا اللَّه، وأن محمّدًا رسول اللَّه، وأنك رضيت باللَّه ربًّا، وبالإسلام دينًا، وبمحمّد نبيًّا، وبالقرءان إمامًا»، الحديث. ثم قال ابن القيّم: فهذا الحديث وإن لم يثبت، فاتصال العمل به في سائر الأمصار والأعصار من غير إنكار كاف في العمل به
المجموع شرح المهذب ج 5 ص 226
الرابعة: قال جماعات من أصحابنا يستحب تلقين الميت عقب دفنه فيجلس عند رأسه إنسان ويقول: «يا فلان ابن فلان ويا عبد الله بن أمة الله اذكر العهد الذي خرجت عليه من الدنيا، شهادة أن لا إله إلاّ الله وحده لا شريك له. وأن محمداً عبده ورسوله وأن الجنة حق وأن النار حق وأن البعث حق وأن الساعة آتية لا ريب فيها وأن الله يبعث من في القبور. وإنك رضيت بالله رباً وبالإسلام ديناً وبمحمد نبياً وبالقرآن إماماً وبالكعبة قبلة وبالمؤمنين إخواناً» زاد الشيخ نصر: «ربي الله لا إله إلاّ هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم» فهذا التلقين عندهم مستحب، وممن نص على استحبابه القاضي حسين والمتولي والشيخ نصر المقدسي والرافعي وغيرهم. ونقله القاضي حسين عن أصحابنا مطلقاً، وسئل الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله عنه فقال: (التلقين هو الذي نختاره ونعمل به، قال: وروينا فيه حديثاً من حديث أبي أمامة ليس إسناده بالقائم، لكن اعتضد بشواهد، وبعمل أهل الشام قديماً) هذا كلام أبي عمرو. قلت: حديث أبي أمامة رواه أبو القاسم الطبراني في معجمه بإسناد ضعيف، ولفظه: عن سعيد بن عبد الله الأزدي قال: «شهدت أبا أمامة رضي الله عنه وهو في النزع فقال: إذا مت فاصنعوا بي كما أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلّم فقال: إذا مات أحد من إخوانكم فسويتم التراب على قبره فليقم أحدكم على رأس قبره ثم ليقل: يا فلان ابن فلانة فإنه يسمعه ولا يجيب، ثم يقول: يا فلان ابن فلانة فإنه يستوى قاعداً، ثم يقول: يا فلان ابن فلانة فإنه يقول: أرشدنا رحمك الله ولكن لا تشعرون، فليقل اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلاّ الله وأن محمداً عبده ورسوله وإنك رضيت بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمد نبياً وبالقرآن إماماً، فإن منكراً ونكيراً يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه ويقول انطلق بنا ما نقعد عند من لقن حجته فقال رجل يا رسول الله فان لم نعرف أمه قال فينسبه إلى امه حواء يا فلان ابن حواء ” قلت فهذا الحديث وان كان ضعيفا فيستأنس به وقد اتفق علماء المحدثين وغيرهم علي المسامحة في أحاديث الفضائل والترغيب والترهيب وقد أعتضد بشواهد من الاحاديث كحديث ” واسألوا له الثبيت ” ووصية عمرو بن العاص وهما صحيحان سبق بيانهما قريبا ولم يزل اهل الشام علي العمل بهذا في زمن من يقتدى به والي الآن وهذا التلقين انما ” هو في حق المكلف الميت اما الصبى فلا يلقن والله اعلم
(5)سبل السلام – (ج 3 / ص 151)

وَعَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ { : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ وَقَالَ : اسْتَغْفِرُوا ؛ لِأَخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ } رَوَاهُ أَبُو دَاوُد ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ .
(6)رياض الصالحين – (ج 1 / ص 477)

وعن عمرو بن العاص – رضي الله عنه – ، قَالَ : إِذَا دَفَنْتُمُونِي ، فَأقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ ، وَيُقَسَّمُ لَحمُهَا حَتَّى أَسْتَأنِسَ بِكُمْ ، وَأعْلَمَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي . رواه مسلم
(7)التاج والإكليل لمختصر خليل ج 3 ص 3

قال أبو حامد : ويستحب تلقين الميت بعد الدفن. وقال ابن العربي في مسالكه: إذا أدخل الميت قبره فإنه يستحب تلقينه في تلك الساعة وهو فعل أهل المدينة الصالحين من الأخيار لأنه مطايق لقوله تعالى: {وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين} وأحوج ما يكون العبد إلى التذكير بالله عند سؤال الملائكة
لسان العرب
اللَّقْنُ: مصدر لَقِنَ الشيءَ يَلْقَنُه لَقْناً ، وكذلك الكلامَ، وتَلَقَّنه : فَهِمه. ولَقَّنَه إِياه: فَهَّمه. وتَلَقَّنته: أَخذته لَقانِـيَةً. وقد لَقَّنَنـي فلانٌ كلاماً تَلْقـيناً أَي فَهَّمَنـي منه ما لـم أَفْهَم. والتَّلْقِـين: كالتَّفْهِيم.
تفسير تنوير الأذهان ص 125 ج 3
{ان} ما {انت الا نذير} منذر بالنار والعقاب واما الاسماع البتة فليس من وظائفك ولا حيلة لك اليه فى المطبوع على قلوبهم الذين هم بمنزلة الموتى وقولـه {ان اللـه يسمع} الخ وقولـه {انك لا تهدى من احببت ولكن اللـه يهدى من يشاء} وقولـه {ليس لك من الامر شئ} وغير ذلك لتمييز مقام الالوهية عن مقام النبوة كيلا يشتبها على الامة فيضلوا عن سبيل اللـه كما ضل بعض الامم السالفة فقال بعضهم عزير ابن اللـه وقال بعضهم المسيح ابن اللـه وذلك من كمال رحمته لـهذه الامة وحسن توفيقه. يقول الفقير ايقظه اللـه القدير ان قلت قد ثبت انه عليه السلام امر يوم بدر بطرح اجساد الكفار فى القليب ثم ناداهم باسمائهم وقال ” هل وجدتم ما وعد اللـه ورسولـه حقا فانى وجدت ما وعدنى اللـه حقا ” فقال عمر رضى اللـه عنه يا رسول اللـه كيف تكلم اجساد الارواح فيها فقال عليه السلام ” ما انتم با سمع لما اقول منهم غير انهم لا يستطيعون ان يردوات شيأ ” فهذا الخبر يقتضى ان النبى عليه السلام اسمع من فى القليب وهم موتى وايضا تلقين الميت بعد الدفن للاسماع والا فلا معنى لـه. قلت اما الاول فيحتمل ان اللـه تعالى احيى اهل القليب حينئذ حتى سمعوا كلام رسول اللـه توبيخالـهم وتصغيرا ونقمة وحسرة والا فالميت من حيث ميت ليس من شأنه السماع وقولـه عليه السلام ” ما انتم باسمع ” الخ يدل على ان الارواح اسمع من الاجساد مع الارواح لزوال حجاب الحس وانخراقة. واما الثانى فانما يسمعه اللـه ايضا بعد احيائه بمعنى ان يتعلق الروح بالجسد تعلقا شديدا بحيث يكون كما فى الدنيا فقد اسمع الرسول عليه السلام وكذا الملقن باسماع اللـه تعالى وخلق الحياة والا فليس من شأن احد الاسماع كما انه ليس من شأن الميت السماع واللـه اعلم

Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2010

Hukum Mengerakkan Jari Telunjuk Dalam Solat

Hukum Mengerakkan Jari Telunjuk Dalam Solat

Hukum Mengerakkan Jari Telunjuk
(Tahdzir al-Abd Awwah min Tharik al-Isbaa’fi al-Solah)
karya: Allamah Syeikh Dr.Hassan Ali al-Saqqaf al-Qurasyi al-Hasyimi
Penerbit: Zamihan Mat Zin al-Ghari
Harga: RM5.00

Beli di :
36, Jalan Bola Tampar 13/14, Seksyen 13, 40100 Shah Alam, Selangor, Malaysia
(berdepan Pintu A Stadium Bola Selangor, Shah Alam)
Tel/Fax: +603-55196300 / +60163306300
e: kedaibuku.alsunnah@gmail.com

“Buku ini amat wajar dibaca. Ia membicarakan tentang permasalahan menggerakkan jari telunjuk ketika bertahiyyat di dalam solat. Ketentuan madzhab al-Syafi’ie ialah mengerakkan jari telunjuk sekali sahaja. Iaitu pada lafaz ALlah ketika mengucapkan kalimah (لاإله إلا الله). Manakala perbuatan sesetengah pihak yang mengerakkan jari telunjuk atau memutarkannya berkali-kali adalah makruh….

Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2010

Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa al-’Aydrus

Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa al-‘Aydrus

Di Kota Kaherah, tepatnya pinggir jalan di sisi maqam Sayyidah Zainab binti Imam ‘Ali radhiyAllahu ‘anhuma, cucunda Nabi SAW, bersemadinya seorang ulama dan wali besar keturunan Ba ‘Alawi. Dalam gambar di sebelah kanan, boleh dilihat kubah kecil yang menaungi maqamnya Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa al-‘Aydrus. Ilmu dan kewalian beliau telah masyhur, jika tidak masakan setelah wafat beliau dikebumikan di sisi manusia agung dan mulia, anakanda Sayyidah Fathimah az-Zahra, RA Sayyidah Zainab RA. Banyak kisah-kisah yang menarik mengenai Habib ‘Abdur Rahman al-‘Aydrus ini, antaranya, diceritakan bahawa satu ketika tatkala berada di Kota Madinah al-Munawwarah, Habib ‘Abdul Rahman bin Musthofa al-‘Aydrus, Habib Abu Bakar bin Husain BilFaqih dan Habib Syaikh bin Muhammad al-Jufri rahimahumUllah saling berjanji sesama mereka untuk mengamalkan semua yang terkandung dalam kitab “Bidayatul Hidayah ” karya Imam
Hujjatul Islam al-Ghazali rahimahUllah. Atas istiqamah dan kesungguhan serta keikhlasan mereka mengota perjanjian mereka tersebut, maka mereka berhasil bertemu dengan Junjungan Nabi SAW. Baginda Nabi SAW telah memberi sebuah kitab putih kepada Habib Abdul Rahman dan menyuruh beliau pergi ke Mesir. Habib Abu Bakar BilFaqih diberi sebuah pinggan dan disuruh pergi ke Asia, manakala Habib Syaikh al-Jufri diberikan tongkat dan tasbih lalu disuruh pergi ke Malabar.

Dipendekkan cerita, Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa al-‘Aydrus pun segera pergi ke Mesir. Beliau sampai di negara itu pada waktu malam dan kebetulan di rumah seorang syaikh dari para ahli fiqih sedang dilangsungkan pesta perkawinan. Tatkala tiba waktu shalat, diserukan iqomah. Sang Syaikh berkata:- “Yang paling faqih di antara kalian hendaknya maju untuk menjadi imam.” “Siapa yang paling faqih di antara kami?” tanya seorang ahli fikih.”Yang paling faqih adalah orang yang dapat menyebutkan 400 sunah dalam shalat sunnah fajar. Siapa pun yang dapat menyebutkannya, maka dia layak menjadi imam kita.” Mereka semua menyerah. Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa maju, kemudian menyebutkan 400 sunah salat sunah fajar, dan menambah beberapa lagi. Sang Syaikh berkata, “Kaulah yang layak menjadi imam kami.” Beliau kemudian maju mengimami shalat. Penduduk Mesir kagum dengan kedalaman ilmu Habib ‘Abdur Rahman.

Suatu hari beberapa ulama Mesir datang menemui beliau dengan sejumlah persoalan bahasa yang telah mereka persiapkan lebih dahulu. Padahal Habib ‘Abdur Rahman kurang begitu menguasai ilmu nahwu. “Berilah kami jawaban atas persoalan- persoalan ini,” kata mereka setelah bertemu Habib ‘Abdur Rahman. Beliau membuka buku putih itu dan menemukan semua jawaban atas persoalan tersebut. Beliau lalu menukil dan menjelaskannya. Begitu seterusnya. Setiap kali ada yang bertanya, beliau selalu mendapati jawabannya telah tertulis di buku tersebut.

[Saduran dari “Jawahirul Anfas fi ma yurdhi Rabban Naas” jilid1 halaman 208 – 209 karya Habib Umar MawlaKhela.]

Posted by: Habib Ahmad | 25 Oktober 2010

HUKUM BUAT KORBAN UNTUK ORANG MUSLIM YANG TELAH MATI

HUKUM BUAT KORBAN UNTUK ORANG MUSLIM YANG TELAH MATI

SOALAN: Slm. Ustaz. Apa hukum buat ibadah korbah untuk arwah ayah saya? boleh?

JAWAPAN:

Wa’alaikumsalam.

Sebenarnya masaalah kita yang hidup ini buatkan ibadah korban untuk si mati merupakan masaalah diperbincangakn dalam mazhab 4 (Hanafi,Maliki,Syafie&Hambali) mengikut keadaan yang pelbagai dan penjelasan yang terdapat perbezaan pendapat. Maka ia masaalah khilafiah.

Tetapi saya lebih cenderung kepada menggunakan pendapat yang mengharuskannya walaupun ia tidak pernah diwasiatkan oleh si mati ini kerana Rasulullah pernah membeli dua ekor kibash yang besar dan terbaik kemudian baginda menyembelih/korbankan seekornya dengan niat untuk umat baginda yang bertauhid (merangkumi yang mati dan hidup) kemudian seekor lagi disembelih/dikorbankan untuk baginda sendiri dan ahli keluarga baginda (juga merangkumi yang hidup&yang mati)-Riwayat Ahmad.

Begitu juga terdapat dalam Sohih Muslim bahawa Nabi Muhammad buat korban dengan niat untuk diri baginda dan ahli keluarga baginda. Maka ia merangkumi yang telah mati dan masih hidup ketika itu. Bahkan disana terdapat banyak riwayat yang menunjukkan keharusan melakukan korban untuk orang lain samaada masih hidup atau telah mati seperti dalam riwayat Abu Daud seorang lelaki bertanya adakah boleh saya lakukan korban untuk ayah saya maka nabi mengakui dan mengharuskannya.

Dalam kes ini disisi Mazhab Empat pula terdapat pandangan yang terkenal (masyhur) dalam Mazhab Syafi’e adalah tidak harus kecuali si mati pernah wasiatkan sedemikian. Saya katakan jika ia diwasiatkan maka menjadi wajib untuk dilaksankan dan bukan lagi harus sahaja hukumnya. Bahkan terdapat pandangan (qaul) disisi sebahagian Syafi’iyyah bahawa harus lakukan korban untuk yang telah mati walaupun tidak pernah diwasiatkan sedemikian kerana ia seperti sedekah dan ia sampai kepada si mati disisi IJMAK (rujuk At-Tuhfah, Al-Majmuk & Mughni Muhtaj).

Manakala dalam Mazhab Hanbali dan Hanafi mengharuskan amalan tersebut (rujuk Matolob Ulil Nuha dalam fiqh Hambali dan Durru Mukhtar serta Hasyiah oleh Ibnu ‘Abidin dalam Mazhab Hanafi)

Dan juga banyak pandangan disini Mazhab Maliki yang mengharuskannya (rujuk Al-Ahwazi oleh Qodhi Ibnu Al-Arabi Al-Maliky).

Maka saya menyatakan bahawa harus kita melakukan ibadah korban untuk si mati beragama islam walaupun simati tidak pernah mewasiatkannya tetapi terbaik adalah lakukan untuk diri sendiri kemudian baru dilakukan untuk si mati atau disekalikan niatnya.

Rujukan semasa saya dalam hal ini adalah dua tokoh ulama berketurunan Rasulullah iaitu Dr Syeikh Toriq Najib Lahham Al-Husaini & Dr Syeikh Salim Alwan Al-Husaini.

Posted by: Habib Ahmad | 25 Oktober 2010

Hikmah Yamaniyyah

Hikmah Yamaniyyah The Source: indo.hadhramaut.info – 26/4/2010 Home \ Artikel
Membendung Demonology Islam dan
Menepis Stigma “Fundamentalis” Pelajar Indonesia di Yaman

Muqaddimah:

Yaman dalam Sorotan Internasional

Yaman yang notabene adalah sebuah negeri tua yang namanya sudah tersohor bahkan sejak peradaban manusia mulai tumbuh dan berkembang, beberapa dekade ini sering kali mendapat sorotan dunia internasional. Sorotan yang paling kontras adalah tuduhan yang ditudingkan untuk para “ekstrimis” dan “fundamentalis” Islam, terlebih setelah negara-negara Barat tercoreng kewibawaannya karena baru-baru ini digemparkan dengan tertangkapnya seorang pemuda Nigeria, Umar Farouk (23) yang mencoba untuk meledakkan pesawat komersial Northwest Airlines. Insiden gagalnya pemboman pesawat Northwest Airlines pada Natal 2009 begitu membekas di Amerika.

Inilah pertama kalinya Presiden Barack Obama menuding langsung keterlibatan Al-Qaeda, secara public. Sang Presiden pun menyimpulkan tersangka mendapat pelatihan di Al Qaeda Jazirah Arab yang berada di Yaman. Bersamaan dengan itu PM Inggris Gordon Brown pasca insiden tersebut turut bersuara keras: “Militan Islam terus meningkat. Kini mereka mengubah Yaman seperti incubator untuk aktivitas terorisme. Sebaiknya komunitas internasiaonal segera berkumpul bulan ini untuk membahas kemungkinan bahaya militant di wiliyah itu.”

Tidak lama setelah pernyataan itu pemerintah Inggris menutup kedutaannya di Yaman pada Ahad (03/01) karena alasan keamanan, menyusul AS yang juga menutup kedutaannya sebagai tanggapan ancaman dari Al-Qaeda. Demikian jubir Kementrian Luar Negeri Inggris merujuk pada “alasan keamanan” bagi penutupan kedubes tersebut tanpa menjelaskan lebih rinci.

Selanjutnya, adalah sikap arogansi yang tak bisa dipungkiri lagi dari negeri adidaya itu, tanpa ragu dan tedeng aling-aling AS menyerang Yaman, sebuah negeri kering – seperti pernyataan Obama – yang terjerat kemiskinan dan pemberontakan mematikan, dan satu alasannya yang terpenting adalah untuk membasmi terorisme yang bercokol di Negeri Saba’ ini. Serangan itu ditujukan terhadap posisi Al-Qaeda di Yaman, termasuk peluncuran peluru kendali. Padahal salah satu pejabat tinggi keamanan Yaman mengatakan bahwa laporan meningkatnya kekuatan kelompok Al-Qaeda di Yaman itu terlalu dibesar-besarkan. Dan Yaman bukan tempat berlindung bagi anggota Al-Qaeda.

Dari sedikit paparan di atas, sebagaimana tuduhan dari pucuk pemimpin tertinggi Amerika seolah menjadi pembenar bahwa Yaman adalah negeri yang perlu diwaspadai karena telah dijadikan para teroris sebagai basis mereka. Terlebih pemberitaan media massa Indonesia pertengahan tahun lalu yang menyebutkan salah satu gembong teroris di Indonesia merupakan alumnus Yaman, maka tak dapat dipungkiri lagi label negative negeri Saba’ ini semakin lekat yang pada gilirannya membuat masyarakat khawatir atas alumnus-alumnus Yaman yang identik dengan haluan garis kerasnya, ekstrimis dan fundamentalis.

Demonology Islam oleh Barat

Demonology secara etimologis adalah the study of demons or evil spirits atau secara terminologis merujuk kepada suatu perekayasaan sistemtais untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang menakutkan dalam ilmu komunikasi termasuk dalam teori-penjulukan (labeling theory) yang bisa direkayasa menjadi public opinion sedemikian hebat sehingga korban misinterpretasi menjadi hancur reputasinya dan tak mampu bertahan. Dalam kaitannya dengan Islam maka demonogi adalah “sebuah perekayasaan sistematis oleh dunia Barat untuk menempatkan Islam dan ummatnya (yang tidak disukai Barat-pen) agar dipandang sebagai bahaya, jahat, kejam sehingga menjadi ancaman yang sangat menakutkan.”
Dalam konteks ke-Yaman-an pada pembahasan ini, teori penjulukan untuk kasus di atas yang dengan mudahnya mengaitkan segala macam perbuatan anarkis dengan Islam adalah tidak luput dari efek demonology yang telah diracang dengan rapi oleh Barat (Amerika cs), sehingga kita dituntut untuk lebih memfilter segala bentuk tudingan negative itu dan tidak latah menelan begitu saja.

Strategi yang digunakan AS adalah melakukan serangan terminologis dengan cara mengaitkan setiap tindakan “anarkisme” dengan gerakan Islam yang memiliki ciri-ciri khusus sebagaimana ditulis oleh mantan presiden AS Ricard Nixon dalam Seize The Moment yang dikutip oleh Muhammad Imarah dalam “PerangTerminologi Islam Versus Barat”: “Mereka itulah yang digerakkan oleh kebencian mendalam terhadap Barat. Mereka bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan membangkitkan kembali masa lalu dengan tujuan menerapkan syari’ah Islam dan rnenyerukan bahwa Islam adalah agama dan negara. Meskipun mereka memandang ke belakang, ke masa lalu, akan tetapi mereka menjadikan masa lalu itu petunjuk untuk masa depan. Mereka itu bukan golongan konservatif melainkan revolusioner.”
Dari penjabaran Ricard Nixon tersebut dapat kita simpulkan bahwa maksud dari fundamentalis Islam (menurut Barat) adalah mereka yang memiliki ciri-ciri gerakan: 1) Anti peradaban Barat, 2) Ingin menerapkan syariat Islam, 3) Akan membangun peradaban Islam, 4) Tidak memisahkan antara Islam dan negara, dan 5) Menjadikan para pendahulu (salaf) sebagai panduan masa depan (khalaf). Kelima ciri inilah yang dijadikan tolak ukur untuk menilai apakah gerakan Islam itu pantas disebut fundamentalis atau tidak. Pada ujungnya adalah lahirnya stigma “Islam teroris” yang mewajibkan pemerintah di mana gerakan Islam itu berada untuk memberangusnya dengan berbagai cara.

Dari sisi pandang ini juga bisa kita simpulkan adanya islamphobia di kalangan barat, rasa takut yang berlebihan ini akhirnya memberikan gambar yang buruk akan kerahmatan Islam, mereka cenderung menjadikan Islam sebagai musuh bersama. Mirisnya di saat yang sama, kaum muslim nampaknya kehilangan ke-‘izzah-an nya di tengah arus demonology Islam sehingga mereka merasa terkucilkan padahal di seberang sana Islam begitu ditakuti.

Hikmah Yamaniyyah

Berpijak dari hadits nabi atas kemuliaan penduduk Yaman sejak tersebarnya benih iman di dada para sahabat ketika itu, saya akan mencoba meneguhkan keindahan akhlak mereka dan keteguhan iman mereka menyebarkan dakwah ini dengan penuh kedamaian sebagai risalah yang diperuntunkkan sebagai rahmat untuk semeseta alam.
Sabda Rasulullah SAW. :

أَتَاكُمْ أَهْلَ اْليَمَن هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوْبًا اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ

“ Datang kepada kalian penduduk Yaman mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah penduduk Yaman dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” ( Shahih Al Bukhari )

Penduduk Yaman hatinya sangat lembut , perasaannya sangat berkasih sayang , dan iman ada pada penduduk Yaman serta rahasia hikmah juga ada pada penduduk Yaman. Kebanyakan penduduk Yaman adalah orang yang berlemah lembut hatinya, sebagimana hadits sang nabi namun karena terlalu berlemah lembut dan ramah , sangat baik dan sopan tidak mau mengganggu orang lain. Keluhuran budi ini bahkan tak kenal pilih kasih, karena ternyata sebagian zaman sekarang banyak para teroris yang masuk ke Yaman dan sembunyi disana , karena orang-orang Yaman tidak suka bermusuhan dan tidak suka berprasangka buruk. Meskipun hal ini tidak sepi dari efek negative, sekarang nama Yaman buruk di mata dunia, Yaman dituduh sebagai sarang teroris, sungguh demi Allah tidak demikian yang sebenarnya terjadi, tingkah sekelompok kecil tadi tidak bisa melunturkan keberkahan Yaman karena ulama ahlu Yaman sejak berabad –abad tahun yang lalu, didakwahi pertama kali oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan sayyidina Mu’adz bin Jabal ra . Sayyidina Mu’adz bin Jabal ke Yaman Utara dan sayyidina Ali bin Abi Thalib ke Yaman Selatan, Hadramaut . Demikian dakwah kedua shahabat ini membuka Yaman menjadi wilayah muslimin. Keberkahan Yaman juga tidak terlepas dari Rasul yang berdoa:

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا

“ Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk wilayah Syam, Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Yaman “

Pada abad ke – 16 yang lalu mereka datang dari Hadramaut , menuju Gujarat, lalu ke Indonesia. Yang masuk ke Pulau Jawa dikenal dengan sembilan wali ( Wali Songo ) , sembilan orang ini membawa keislaman di pulau Jawa dari ujung kulon hingga ujung Banyuwangi semua mengenal kalimat tauhid mulai dari masyarakat jelata, pedagang, penguasa sampai para raja, mereka mengenal “ Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah “ , mereka datang dengan iman , mereka datang dengan damai , mereka datang dengan kelembutan.

Kerahmatan yang dibawa penduduk Yaman dalam menyebarkan risalah ilahi bukan sekedar omong kosong, sekarang kita bisa menyaksikan kegigihan para da’I Yaman yang telah berhasil “memerdekan” Indonesia dari kung-kungan syirik sebelum akhirnya merdeka dari segala bentuk penjajahan imperialis dan menjadi Negara berdaulat setelah menyatakan kemerdekaannya pada bulan Agustus 1945. Kegigihan kerja dakwah mereka itu sangatnya nyata ketika banyak peninggalan-peninggalan bersejarah tersebar hingga kepelosok daerah sekalipun. Irian Jaya misalnya, provinsi yang sekarang berganti nama menjadi Papu Barat sempat pula disambangi para juru dakwah asal Hadhramaut, dengan kesabaran tinggi mereka menepis segala rintangan alam, baik terjalnya medan, rimbunya hutan hingga kendala bahasa mereka lampaui. Catatan dakwah Habib Munzir al-Musawwa yang pernah berkunjung ke Papua juga memberikan dalil bahwa dakwah mereka sampai di pulau itu, tentunya dengan cara-cara damai tanpa ada kekerasan.

Pada dekade terakhir ini, kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menyekolahkan putranya ke Yaman semaki meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini bisa dibuktikan dengan naiknya grafik pendaftar peserta ujian dari Indonesia di beberapa madrasah dan universitas di Yaman. Bahkan, ada seruan dari beberapa tokoh agama dan kiyai untuk menjadikan Yaman khususnya Hadhramaut sebagai negara alternatif tujuan untuk study pendidikan Islam. Hal ini dikarenakan keserasian manhaj yang ditawarkan madrasah Hadhramaut dengan kehidupan masyarakat beragama di Indonesia. Seandainya Yaman merupakan negara pencetak para “teroris” sebagaimana yang ramai diberitakan, sudah barang tentu masyarakat kita akan anti-pati. Namun ternyata realita yang ada tidak demikian.

Khitam

Ketika demonology Islam telah dilancarkan dunia Barat, maka konsekwensi logis dari propaganda itu adalah mengaburnya gambaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Islam yang sedianya ditanzilkan oleh Allah melalui utusan-Nya yang mulia untuk mengentaskan segala dimensi kegelapan dalam kehidupan manusia, seolah menjadi “musuh” bersama yang harus dikucilkan dan dijauhi. Dengan demikian sudah saatnya kita memberikan bayan untuk menjawab tuduhan tanpa dasar ini.

Menutup pembahasan ini, saya kutipkan statemen Prof. Abdullah Baharun yang juga rector universitas al-Ahgaff bahwa sudah menjadi sebuah keniscayaan untuk memberikan seketsa lain yang menggambarkan keluhuran budi madrasah Hadhramaut dalam menyebarkan agama Islam hingga ke tanah air kita yang sekarang tercatat sebagai komunitas terbesar berpenduduk muslim.

Tidak ketinggalan Dr. Umar Maknun dalam sebuah symposium yang digelar atas kerjasama antara kementrian kebudayaan unit pelaksana “Tarim kota budaya Islam – 2010” dengan fakultas syariah universitas al-Ahgaff, doctor dibidang sejarah ini memaparkan bahwa salah satu keistimewaan “madrasah Hadhramaut” dalam menyebarkan ajaran agama Islam adalah dengan cara-cara yang memungkinkan untuk diterima disemua lapisan masyarakat dengan berbagai corak budaya yang berbeda di setiap negara.

Sebagaimana perang pemikiran yang juga harus kita lawan dengan pemikiran, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menyingkirkan debu-debu fitnah yang sedang melanda negeri saba’ ini, negeri yang penduduknya dipuji oleh Rasulullah sebagai penduduk yang “lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya” karena jika tidak ada usaha untuk membendung tudingan-tudingan miring itu dari berbagai media massa internasional maka sangat mungkin pemutar balikan fakta akan terjadi, cepat atau lambat.

Oleh, AM Saputra, Mahasiswa tingkat akhir fakultas syariah Universitas Al-Ahgaff

Syarah Khas Habib Soleh al-Jufri sempena Majlis Hol Imam al-Haddad
*Catatan bebas di Masjid Shah Alam pada 16 Oktober 2010

Ketahuilah bahawa yang paling berharga dan yang paling mahal yang Allah kurniakan kepada hamba-hamba-Nya ialah yaqin. Orang yang dikurniakan yaqin mempunyai darjat yang tinggi disisi Allah Ta’ala. Para Rasul diutus mempunyaikan kalimat yaqin iaitu dengan menyerah segala-galanya kepada Allah Ta’ala. Ketahuilah bahawa datangnya rasa susah dan sedih itu adalah disebabkan kurangnya yaqin. Kurangnya yaqin berlaku apabila sandaran diletakkan kepada sesuatu fana’. Ada yang bersandar kepada harta benda sedangkan harta benda itu pasti akan meninggalkannya. Apabila bersandar pada sesuatu yang fana’ maka hati akan berubah apabila sesuatu yang fana’ itu berubah. Ada juga yang bersandar pada makhluk padahal semua itu adalah sandaran secara sementara. Itulah sumber kesusahan , malapetaka dan kesedihan kepada manusia.

Ketahuilah bahawa Rasul diutus untuk menanamkan perasaan yaqin kepada diri manusia. Yaqin itu ialah dengan bersandar kepads Zat Yang Maha Kuasa. Jika manusia bersandar pada Allah Ta’ala maka hidupnya penuh ketenangan dan kebahagiaan. Sejarah menyaksikan betapa Firaun bersandar pada kekuasaannya, Qarun pada kekayaannya manakala kaum Aad dan Tsamud pada kekuatan mereka. Padahal sandaran mereka itu umpama sarang labah-labah di dalam rumah. Ketahuilah apabila kita menanam kalimah yaqin di dalam hati kita maka kita akan berjaya. Ucaplah kalimah La Ilaha Illallah dan lenyapkanlah sandaran terhadap makhluk maka Allah akan berikan ketenangan. Nabi saw pernah bersabda bahawa orang-orang yang mengucapkan bahawa Allah adalah Tuhanku dan betapa ia istiqamah terhadap ucapannya dan kehidupannya adalah berdasarkan kepada kalimah La Ilaha Illallah maka itulah tanda orang-orang yang istiqamah di jalan Allah. Maka akan datang padanya para malaikat untuk mendampingi dirinya dan melindungi dirinya. Lalu tercabutlah dari hatinya rasa takut dan khuatir. Ketahuilah bahawa Allah Ta’ala menjanjikan syurga kepada orang-orang yang hatinya yaqin kepada Allah Ta’ala.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 761 other followers