Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2010

Perintah Talqin Mayit

Perintah Talqin Mayit

Telah umum dalam masyarakat kita, selesai jenazah dimakamkan salah seorang dari pihak keluarga mayit duduk disamping makam lalu mulai melafadzkan bacaan talqin[i] bagi mayit. Namun dewasa ini, ada satu kelompok yang mengklaim dirinya paling mengikuti al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman para sahabat dan tabi’in menyatakan bahwa talqin mayit adalah bid’ah karena tidak memiliki landasan dalam syari’at serta tidak bermanfaat bagi si mayit. Permasalahan semacam ini telah menjadi polemik dalam masyarakat, benarkah talqin mayit tidak memiliki landasan syari’at padahal telah dilakukan oleh para ulama’ pendahulu kita ?.

Oleh karena itu, kami akan membahas tentang dalil-dalil yang menjadi landasan talqin mayit agar bisa memberikan kejelasan pada masyarakat.

Dasar hukum talqin mayit

Salah satu dasar hukum mengenai talqin adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, imam Abi Dawud, dan imam An Nasai :

لقنوا موتاكم لا إله إلا الله
“Talqinilah orang-orang mati kalian dengan لا إله إلا الله “

Memang mayoritas ulama mengatakan bahwa yang dimaksud lafadz موتاكم dalam hadits diatas orang-orang yang hampir mati bukan orang-orang yang telah mati, sehingga hadits tersebut menggunakan arti majas (arti kiasan) bukan arti aslinya.

Akan tetapi, tidak salah juga jika kita artikan lafadz tersebut dengan arti aslinya yaitu orang yang telah mati. karena menurut kaidah bahasa arab, untuk mengarahkan suatu lafadz kepada makna majasnya diperlukan adanya qorinah (indikasi) baik berupa kata atau keadaan yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan perkataan tersebut adalah makna majasnya bukan makna aslinya. Sebagai contoh jika kita katakan “talqinillah mayit kalian sebelum matinya” maka kata-kata “sebelum matinya” merupakan qorinah yang mengindikasikan bahwa yang dimaksud dengan kata mayit dalam kalimat ini bukan makna aslinya (yaitu orang yang telah mati) tapi makna majasnya (orang yang hampir mati).

Sedangkan dalam hadits tersebut tidak diketemukan Qorinah untuk mengarahkan lafadz موتاكم kepada makna majasnya, maka sah saja jika kita mengartikannya dengan makna aslinya yaitu orang-orang yang telah mati bukan makna majasnya. Pendapat inilah yang dipilih oleh sebagian ulama seperti Imam Ath Thobary, Ibnul Humam, Asy Syaukany, dan Ulama lainya.

Selain hadits di atas, masih ada hadits lain yang menunjukkan kesunahan mentalqini mayit setelah dikuburkan, yaitu :

إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ، فَسَوَّيْتُمِ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ، فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلا يُجِيبُ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْتَوِي قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَقُولُ: أَرْشِدْنَا رَحِمَكَ اللَّهُ، وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ، فَلْيَقُلْ: اذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا، فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ وَاحِدٌ مِنْهُمْا بِيَدِ صَاحِبِهِ، وَيَقُولُ: انْطَلِقْ بنا مَا نَقْعُدُ عِنْدَ مَنْ قَدْ لُقِّنَ حُجَّتَهُ، فَيَكُونُ اللَّهُ حَجِيجَهُ دُونَهُمَا”، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ؟ قَالَ:”فَيَنْسُبُهُ إِلَى حَوَّاءَ، يَا فُلانَ بن حَوَّاءَ. رواه الطبراني
“Jika salah satu diantara kalian mati, maka ratakanlah tanah pada kuburnya (kuburkanlah). Hendaklah salah satu dari kalian berdiri di pinggir kuburnya dan hendaklah berkata : “wahai fulan (sebutkan nama orang yang mati, pent) anak fulanah (sebutkan ibu orang yang mati, pent)” sebab dia bisa mendengarnya tapi tidak bisa menjawabnya. Kemudian berkata lagi : “wahai fulan (sebutkan nama orang yang mati, pent) anak fulanah (sebutkan ibu orang yang mati, pent)” sebab dia akan duduk. Kemudian berkata lagi : “wahai fulan (sebutkan nama orang yang mati, pent) anak fulanah (sebutkan ibu orang yang mati, pent)” sebab dia akan berkata : “berilah kami petunjuk –semoga Allah merahmatimu-“ dan kalian tidak akan merasakannya. Kemudian hendaklah berkata : “ sebutlah sesuatu yang kamu bawa keluar dari dunia, yaitu persaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah SWT, Muhammad hamba dan utusan Nya, dan sesungguhnya kamu ridlo Allah menjadi Tuhanmu, Muhammad menjadi Nabimu, dan Al Quran menjadi imammu”, sebab Mungkar dan Nakir saling berpegangan tangan dan berkata : “mari kita pergi. Kita tidak akan duduk (menanyakan) di sisi orang yang telah ditalqini (dituntun) hujjahnya (jawabannya), maka Allah menjadi hajiij (yang mengalahkan dengan menampakkan hujjah) baginya bukan Mungkar dan Nakir”. Kemudian seorang sahabat laki-laki bertanya : wahai Rasulullah ! Jika dia tidak tahu ibu si mayit ?Maka Rasulullah menjawab : nisbatkan kepada Hawa, wahai fulan bin Hawa” (H.R. Thabrani) (2).

Berdasarkan hadits ini ulama Syafi`iyah, sebagian besar ulama Hanbaliyah, dan sebagian ulama Hanafiyah serta Malikiyah menyatakan bahwa mentalqini mayit adalah mustahab (sunah)(3).

Hadits ini memang termasuk hadist yang dhaif (lemah), akan tetapi ulama sepakat bahwa hadits dhaif masih bisa dijadikan pegangan untuk menjelaskan mengenai fadloilul a`mal dan anjuran untuk beramal, selama tidak bertentangan dengan hadits yang lebih kuat (hadits shohih dan hadits hasan lidzatih) dan juga tidak termasuk hadits yang matruk (ditinggalkan)(4). Jadi tidak mengapa kita mengamalkannya.

Selain itu, hadist ini juga diperkuat oleh hadist-hadits shohih seperti :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ وَقَالَ : اسْتَغْفِرُوا ؛ لِأَخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ .
“Apabila Rasulullah SAW selesai menguburkan mayit, beliau berdiri di dekat kuburan dan berkata : mintalah kalian ampunan untuk saudara kalian dan mintalah untuknya keteguhan (dalam menjawab pertanyaan Mungkar dan Nakir) karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya” (H.R. Abu Daud dan dishahihkan oleh Hakim)(5).

Juga hadits yang diriwayatkan Imam Muslim r.a :

وعن عمرو بن العاص – رضي الله عنه – ، قَالَ : إِذَا دَفَنْتُمُونِي ، فَأقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ ، وَيُقَسَّمُ لَحمُهَا حَتَّى أَسْتَأنِسَ بِكُمْ ، وَأعْلَمَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي . رواه مسلم
Diriwayatkan dari `Amr bin Al `Ash, beliau berkata : Apabila kalian menguburkanku, maka hendaklah kalian menetap di sekeliling kuburanku seukuran disembelihnya unta dan dibagi dagingnya sampai aku merasa terhibur dengan kalian dan saya mengetahui apa yang akan saya jawab apabila ditanya Mungkar dan Nakir(6).

Semua hadits ini menunjukkan bahwa talqin mayit memiliki dasar yang kuat. Juga menunjukkan bahwa mayit bisa mendengar apa yang dikatakan pentalqin dan merasa terhibur dengannya.

Salah satu ayat yang mendukung hadits di atas adalah firman Allah SWT :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ [الذاريات/55]
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. “

Ayat ini memerintah kita untuk memberi peringatan secara mutlak tanpa mengkhususkan orang yang masih hidup. Karena mayit bisa mendengar perkataan pentalqin, maka talqin bisa juga dikatakan peringatan bagi mayit, sebab salah satu tujuannya adalah mengingatkan mayit kepada Allah agar bisa menjawab pertanyaan malaikat kubur dan memang mayit di dalam kuburnya sangat membutuhkan peringatan tersebut(7). Jadi ucapan pentalqin bukanlah ucapan sia-sia karena semua bentuk peringatan pasti bermanfaat bagi orang-orang mukmin.

Referensi

(1)شرح النووي على صحيح مسلم – (6 / 219(
1 ( كتاب الجنائز) 916 الجنازة مشتقة من جنز إذا ستر ذكره بن فارس وغيره والمضارع يجنز بكسر النون والجنازة بكسر الجيم وفتحها والكسر أفصح ويقال بالفتح للميت وبالكسر للنعش عليه ميت ويقال عكسه حكاه صاحب المطالع والجمع جنائز بالفتح لا غير قوله صلى الله عليه وسلم لقنوا موتاكم لا إله إلا الله معناه من حضره الموت والمراد ذكروه لا إله إلا الله لتكون آخر كلامه كما في الحديث من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة والأمر بهذا التلقين أمر ندب وأجمع العلماء على هذا التلقين وكرهوا الاكثار عليه والموالاة لئلا يضجر بضيق حاله وشدة كربه فيكره ذلك بقلبه ويتكلم بما لا يليق قالوا وإذا قاله مرة لا يكرر عليه إلا أن يتكلم بعده بكلام آخر فيعاد التعريض به ليكون آخر كلامه ويتضمن الحديث الحضور عند المحتضر لتذكيره وتأنيسه واغماض عينيه والقيام بحقوقه وهذا مجمع عليه قوله وحدثنا قتيبة حدثنا عبد العزيز الدراوردي وروح وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة أخبرنا خالد بن مخلد أخبرنا سليمان بن بلال جميعا بهذا الاسناد هكذا هو في جميع النسخ وهو صحيح قال أبو علي الغساني وغيره معناه عن عمارة بن غزية الذي سبق فيه الاسناد الأول ومعناه روى عنه الدراوردي وسليمان بن بلال وهو كما قاله
(2)المعجم الكبير للطبراني – (ج 7 / ص 286(

حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ أَنَسُ بن سَلْمٍ الْخَوْلانِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن إِبْرَاهِيمَ بن الْعَلاءِ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بن عَيَّاشٍ، حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ بن مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ، عَنْ يَحْيَى بن أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ سَعِيدِ بن عَبْدِ اللَّهِ الأَوْدِيِّ، قَالَ: شَهِدْتُ أَبَا أُمَامَةَ وَهُوَ فِي النَّزْعِ، فَقَالَ: إِذَا أَنَا مُتُّ، فَاصْنَعُوا بِي كَمَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نصْنَعَ بِمَوْتَانَا، أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:”إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ، فَسَوَّيْتُمِ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ، فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلا يُجِيبُ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْتَوِي قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَقُولُ: أَرْشِدْنَا رَحِمَكَ اللَّهُ، وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ، فَلْيَقُلْ: اذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا، فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ وَاحِدٌ مِنْهُمْا بِيَدِ صَاحِبِهِ، وَيَقُولُ: انْطَلِقْ بنا مَا نَقْعُدُ عِنْدَ مَنْ قَدْ لُقِّنَ حُجَّتَهُ، فَيَكُونُ اللَّهُ حَجِيجَهُ دُونَهُمَا”، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ؟ قَالَ:”فَيَنْسُبُهُ إِلَى حَوَّاءَ، يَا فُلانَ بن حَوَّاءَ”.
المقاصد الحسنة للسخاوي ج 1 ص 167

الطبراني في الدعاء ومعجمه الكبير من طريق محمد بن إبراهيم بن العلاء الحمصي حدثنا إسماعيل بن عياش حدثنا عبد الله بن محمد القرشي عن يحيى بن أبي كثير عن سعيد بن عبد الله الأودي وقال شهدت أبا أمامة وهو في النزع فقال إذا أنا مت فاصنعوا بي كما أمر رسول الله أن نصنع بموتانا أمرنا رسول الله فقال (إذا مات أحد من إخوانكم فسويتم على قبره فليقم أحدكم على رأس قبره ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يسمعه ولا يجيب ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يستوي قاعدا ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يقول أرشد رحمك الله ولكن لا تشعرون فليقل اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا ومحمد نبيا وبالقرآن إماما فإن منكرا ونكيرا يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه يقول انطلق ما تقعد عند من لقن حجته فيكون الله حجيجه دونهما) فقال رجل يا رسول الله فإن لم يعرف اسم أمه قال (فلينسبه إلى حواء فلان ابن حواء)
(3)الأذكار ج 1 ص 162
وأما تلقـين الـميت بعد الدفن، فقد قال جماعة كثـيرون من أصحابنا بـاستـحبـابه، ومـمن نصَّ علـى استـحبـابه: القاضي حسين فـي تعلـيقه، وصاحبه أبو سعد الـمتولـي فـي كتابه «التتـمة»، والشيخ الإمام الزاهد أبو الفتـح نصر بن إبراهيـم بن نصر الـمقدسي، والإمام أبو القاسم الرافعي وغيرهم، ونقله القاضي حسين عن الأصحاب. وأما لفظه: فقال الشيخ نصر: إذا فرغ من دفنه يقـف عند رأسه ويقول: يا فلان بن فلان، اذكر العهد الذي خرجت علـيه من الدنـيا: شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن مـحمداً عبدُه ورسوله، وأن الساعة آتـيةٌ لا ريبَ فـيها، وأن الله ببعث من فـي القبور، قل: رضيت بـالله ربـاً، وبـالإسلام ديناً، وبـمـحمد نبـياً، وبـالكعبة قبلةً، وبـالقرآن إماماً، وبـالـمسلـمين إخواناً، ربـي الله، لا إله إلا هو، وهو ربُّ العرش العظيـم، هذا لفظ الشيخ نصر الـمقدسي فـي كتابه «التهذيب»، ولفظ البـاقـين بنـحوه، وفـي لفظ بعضهم نقص عنه، ثم منهم من يقول: يا عبد الله بن أمة الله، ومنهم من يقول: يا عبد الله بن حواء، ومنهم من يقول: يا فلان ـ بـاسمه ـ ابن أمة الله، أو يا فلان بن حواء، وكله بـمعنًى. وسئل الشيخ الإمام أبو عمرو بن الصلاح ـ رحمه الله ـ عن هذا التلقـين، فقال فـي «فتاويه»: التلقـين هو الذي نـختاره ونعمل به، وذكره جماعة من أصحابنا الـخراسانـيـين، قال: وقد روينا فيه حديثا من حديث أبي أمامة ليس بالقائم إسناده ” (1) ، قال الحافظ بعد تخريجه : هذا حديث غريب ، وسند الحديث من الطريقين ضعيف جدا ولكن اعتضد بشواهد ، وبعمل أهل الشام به قديما. قال : وأما تلقين الطفل الرضيع ، فما له مستند يعتمد ، ولا نراه ، والله أعلم.
الجوهرة النيرة ص2 ج2

[مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لا إلَهَ إلا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ] وَأَمَّا تَلْقِينُ الْمَيِّتِ فِي الْقَبْرِ فَمَشْرُوعٌ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ لأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحْيِيه فِي الْقَبْرِ وَصُورَتُهُ أَنْ يُقَالَ يَا فُلانُ بْنَ فُلانٍ أَوْ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ اُذْكُرْ دِينَك الَّذِي كُنْت عَلَيْهِ وَقَدْ رَضِيت بِاَللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا. فَإِنْ قِيلَ إذَا مَاتَ مَتَى يُسْأَلُ اخْتَلَفُوا فِيهِ قَالَ بَعْضُهُمْ حَتَّى يُدْفَنَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فِي بَيْتِهِ تُقْبَضُ عَلَيْهِ الأَرْضُ وَتَنْطَبِقُ عَلَيْهِ كَالْقَبْرِ وَالْقَوْلُ الأَوَّلُ أَشْهَرُ لأَنَّ الآثَارَ وَرَدَتْ بِهِ. فَإِنْ قِيلَ هَلْ يُسْأَلُ الطِّفْلُ الرَّضِيعُ فَالْجَوَابُ أَنَّ كُلَّ ذِي رُوحٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فَإِنَّهُ يُسْأَلُ فِي الْقَبْرِ بِإِجْمَاعِ أَهْلِ السُّنَّةِ لَكِنْ يُلَقِّنُهُ الْمَلَكُ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ رَبُّك ثُمَّ يَقُولُ لَهُ قُلْ اللَّهَ رَبِّي ثُمَّ يَقُولُ لَهُ مَا دِينُك ثُمَّ يَقُولُ لَهُ قُلْ دِينِي الإِسْلامُ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ مَنْ نَبِيُّك ثُمَّ يَقُولُ لَهُ قُلْ نَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لا يُلَقِّنُهُ بَلْ يُلْهِمُهُ اللَّهُ حَتَّى يُجِيبَ كَمَا أُلْهِمَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلامُ فِي الْمَهْدِ.
فتاوى ابن حجر الهيثمي ج 5 ص 226
وَسُئِلَ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ هَلْ تَلْقِينُ الْمَيِّتِ بَعْدَ صَبِّ التُّرَابِ أَوْ قَبْلَهُ وَإِذَا مَاتَ طِفْلٌ بَعْدَ مَوْتِ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا كَيْفَ الدُّعَاءُ فِي الصَّلاةِ عَلَيْهِ ؟ (فَأَجَابَ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِقَوْلِهِ لا يُسَنُّ التَّلْقِينُ قَبْلَ إهَالَةِ التُّرَابِ بَلْ بَعْدَهُ كَمَا اعْتَمَدَهُ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ وَجَزَمْتُ بِهِ فِي شَرْحِ الإِرْشَادِ وَإِنْ اخْتَارَ ابْنُ الصَّلاحِ أَنَّهُ يَكُونُ قَبْلَ الإِهَالَةِ قَالَ الإِسْنَوِيُّ وَسَوَاءٌ فِيمَا قَالُوهُ فِي الدُّعَاءِ فِي الصَّلاةِ عَلَى الطِّفْلِ مَاتَ فِي حَيَاةِ أَبَوَيْهِ أَمْ لا لَكِنْ خَالَفَهُ الزَّرْكَشِيُّ فَقَالَ إنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَيِّتَيْنِ أَوْ أَحَدُهُمَا أَتَى بِمَا يَقْتَضِيهِ الْحَالُ وَالدَّمِيرِيُّ فَقَالَ إنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَيِّتَيْنِ لَمْ يَدْعُ لَهُمَا. وَاَلَّذِي قَالَهُ الزَّرْكَشِيُّ أَوْجَهُ كَمَا ذَكَرْتُهُ فِي شَرْحِ الْعُبَابِ فَحِينَئِذٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَهَذِهِ الأَوْصَافُ كُلُّهَا لائِقَةٌ بِالْمَيِّتِ وَالْحَيِّ فَلْيَأْتِ بِهَا سَوَاءٌ كَانَا حَيَّيْنِ أَوْ مَيِّتَيْنِ أَمَّا السَّلَفُ وَالذُّخْرُ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا الْفَرَطُ فَهُوَ السَّابِقُ الْمُهَيِّئُ لِمَصَالِحِهِمَا فِي الآخِرَةِ وَلَيْسَ الْمُرَادُ السَّبْقَ بِالْمَوْتِ بَلْ السَّبْقَ بِتَهْيِئَةِ الْمَصَالِحِ وَلا شَكَّ أَنَّ الْمَيِّتَ يَحْتَاجُ إلَى مَنْ يَسْبِقُهُ إلَى الْجَنَّةِ أَوْ الْمَوْقِفِ لِيُهَيِّئَ لَهُ الْمَصَالِحَ وَوَلَدُهُ الطِّفْلُ كَذَلِكَ. وَأَمَّا الْعِظَةُ فَتَخْتَصُّ بِالْحَيِّ فَيَقُولُ وَعِظَةً لِلْحَيِّ مِنْ أَبَوَيْهِ فَإِنْ مَاتَا حَذَفَ هَذِهِ اللَّفْظَةَ وَكَذَلِكَ الاعْتِبَارُ وَالشَّفِيعُ عَامٌّ لِلْحَيِّ وَالْمَيِّتِ فَيَأْتِي بِهِ فِيهِمَا وَتَثْقِيلُ الْمَوَازِينِ كَذَلِكَ بِخِلافِ أَفْرِغْ الصَّبْرَ وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَأْتِي بِالأَلْفَاظِ كُلِّهَا سَوَاءٌ كَانَا حَيَّيْنِ أَمْ مَيِّتَيْنِ إلا قَوْلَهُ عِظَةً وَاعْتِبَارًا وَأَفْرِغْ الصَّبْرَ فَإِنَّهُ لا يَأْتِي بِهَا إلا إذَا كَانَا حَيَّيْنِ أَوْ أَحَدُهُمَا فَإِنْ كَانَا حَيَّيْنِ فَوَاضِحٌ أَوْ أَحَدُهُمَا فَقَطْ ذَكَرَهُ فَقَالَ وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا لِلْحَيِّ مِنْهُمَا وَأَفْرِغْ الصَّبْرَ عَلَى قَلْبِ الْحَيِّ مِنْهُمَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ج 1 ص 447
(ويسنُّ أن يقف جماعة بعد دفنه عند قبره ساعة يسألون لـه التثبيت) لأنه كان إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه وقال: «اسْتَغْفِرُوا لأخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ، فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ» رواه البزّار، وقال الحاكم: إنه صحيح الإسناد. وروى مسلم عن عمرو بن العاص أنه قال: «إذا دفنتموني فأقيموا بعد ذلك حول قبري ساعة قد ما تُنْحَرُ جزور ويفرَّقُ لحمها حتى أَستأنِسَ بكم وأعلم ماذا أراجع رُسُلَ ربي». ويسنُّ تلقينُ الميت المكلف بعد الدفن، فيقال لـه: «يا عبداللـه ابن أَمَةِ اللَّهِ أَذْكُر ما خرجت عليه من دار الدنيا شهادة أن لا إلـه إلاَّ اللـه وأن محمداً رسول اللـه، وأن الجنة حقّ، وأن النار حقّ، وأن البعث حقّ، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن اللـه يبعث من في القبور، وأنك رضيت باللـه ربّاً وبالإسلام ديناً وبمحمدٍ نبيّاً وبالقرآن إماماً وبالكعبة قِبْلَةً وبالمؤمنين إخواناً». لحديث وَرَدَ فيه. قال في الروضة: والحديث إن كان ضعيفاً لكنه اعتضد بشواهد من الأحاديث الصحيحة، ولم تزل الناس على العمل به من العصر الأوّل في زمن من يُقْتَدَى به، وقد قال تعالى: {وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ المُؤْمِنِينَ} ؛ وَأَحْوَجُ ما يكون العبد إلى التذكير في هذه الحالة؛ ويقعد الملقِّنُ عند رأس القبر. أما غير المكلَّف، وهو الطفل ونحوه ممن لم يتقدم لـه تكليفٌ، فلا يسنُّ تلقينه؛ لأنه لا يفتن في قبره. (و) يسنُّ (لجيران أهلـه) ولأقاربه الأباعد وإن كان الأهل بغير بلد الميت، (تهيئة طعام يشبعهم) أي أهلـه الأقارب، (يومهم وليلتهم) لقولـه لما جاء خبر قتل جعفر: «اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَاماً فَقَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ» حسَّنه الترمذي وصحّحه الحاكم؛ ولأنه بِرٌّ ومعروف.
تتمة في التلقين بعد الدفن اعلم أن مسألة التلقين قبل الموت لم نعلم فيها خلافا وأما بعد الموت وهي التي تقدم ذكرها في الهداية وغيرها فاختلف الأئمة والعلماء فيها فالحنفية لهم فيها ثلاثة أقوال الأول أنه يلقن بعد الموت لعود الروح للسؤال والثاني لا يلقن والثالث لا يؤمر به ولا ينهى عنه وعند الشافعية يلقن كما قال ابن حجر في التحفة ويستحب تلقين بالغ عاقل أو مجنون سبق له تكليف ولو شهيدا كما اقتضاه إطلاقهم بعد تمام الدفن لخبر فيه وضعفه اعتضد بشواهد على أنه من الفضائل فاندفع قول ابن عبد السلام أنه بدعة انتهى وأما عند الإمام مالك نفسه فمكروه قال الشيخ علي المالكي في كتابه كفاية الطالب الرباني لختم رسالة ابن أبي زيد القيرواني ما لفظه وأرخص بمعنى استحب بعض العلماء هو ابن حبيب في القراءة عند رأسه أو رجليه أو غيرهما ذلك بسورة يس لما روي أنه قال ما من ميت يقرأ عند رأسه سورة يس إلا هون الله تعالى عليه ولم يكن ذلك أي ما ذكر من القراءة عند المحتضر عند مالك رحمه الله تعالى أمرا معمولا وإنما هو مكروه عنده وكذا يكره عند تلقينه بعد وضعه في قبره انتهى وأما الحنبلية فعند أكثرهم يستحب قال الشيخ عبد القادر بن عمر الشيباني الحنبلي في شرح دليل الطالب ما لفظه واستحب الأكثر تلقينه بعد الدفن انتهى واستفيد منه أن غير الأكثر من الحنابلة يقول بعدم التلقين بعد الموت
سبل السلام – (ج 3 / ص 155(
وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَحَدِ التَّابِعِينَ – قَالَ : كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ ، وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ .أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ : يَا فُلَانُ ، قُلْ : لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، يَا فُلَانُ : قُلْ رَبِّي اللَّهُ ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ، رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا – وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا .

(4)أضواء البيان ج 6 ص 225

ومما قاله ابن القيم في كلامه الطويل، قوله: وقد ترجم الحافظ أبو محمد عبد الحقّ الأشبيلي على هذا، فقال: ذكر ما جاء أن الموتى يسألون عن الأحياء، ويعرفون أقوالهم وأعمالهم، ثم قال: ذكر أبو عمر بن عبد البرّ من حديث ابن عباس، عن النبيّ صلى الله عليه وسلّم: «ما من رجل يمرّ بقبر أخيه المؤمن كان يعرفه فيسلم عليه، إلاّ عرفه وردّ عليه السّلام». ويروى من حديث أبي هريرة مرفوعًا، قال: «فإن لم يعرفه وسلّم عليه ردّ عليه السلام»، قال: ويروى من حديث عائشة رضي اللَّه عنها، أنّها قالت: قال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلّم: «ما من رجل يزور قبر أخيه فيجلس عنده، إلاّ استأنس به حتى يقوم»، واحتجّ الحافظ أبو محمد في هذا الباب بما رواه أبو داود في سننه، من حديث أبي هريرة، قال: قال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلّم: «ما من أحد يسلّم عليّ إلاّ ردّ اللَّه عليّ روحي حتى أردّ عليه السّلام». ثم ذكر ابن القيّم عن عبد الحق وغيره مرائي وآثارًا في الموضوع، ثم قال في كلامه الطويل: ويدلّ على هذا أيضًا ما جرى عليه عمل الناس قديمًا وإلى الآن، من تلقين الميت في قبره ولولا أنه يسمع ذلك وينتفع به لم يكن فيه فائدة، وكان عبثًا. وقد سئل عنه الإمام أحمد رحمه اللَّه، فاستحسنه واحتجّ عليه بالعمل. ويروى فيه حديث ضعيف: ذكر الطبراني في معجمه من حديث أبي أُمامة، قال: قال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلّم: «إذا مات أحدكم فسوّيتم عليه التراب، فليقم أحدكم على رأس قبره، فيقول: يا فلان ابن فلانة»، الحديث. وفيه: «اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة ألا إله إلا اللَّه، وأن محمّدًا رسول اللَّه، وأنك رضيت باللَّه ربًّا، وبالإسلام دينًا، وبمحمّد نبيًّا، وبالقرءان إمامًا»، الحديث. ثم قال ابن القيّم: فهذا الحديث وإن لم يثبت، فاتصال العمل به في سائر الأمصار والأعصار من غير إنكار كاف في العمل به
المجموع شرح المهذب ج 5 ص 226
الرابعة: قال جماعات من أصحابنا يستحب تلقين الميت عقب دفنه فيجلس عند رأسه إنسان ويقول: «يا فلان ابن فلان ويا عبد الله بن أمة الله اذكر العهد الذي خرجت عليه من الدنيا، شهادة أن لا إله إلاّ الله وحده لا شريك له. وأن محمداً عبده ورسوله وأن الجنة حق وأن النار حق وأن البعث حق وأن الساعة آتية لا ريب فيها وأن الله يبعث من في القبور. وإنك رضيت بالله رباً وبالإسلام ديناً وبمحمد نبياً وبالقرآن إماماً وبالكعبة قبلة وبالمؤمنين إخواناً» زاد الشيخ نصر: «ربي الله لا إله إلاّ هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم» فهذا التلقين عندهم مستحب، وممن نص على استحبابه القاضي حسين والمتولي والشيخ نصر المقدسي والرافعي وغيرهم. ونقله القاضي حسين عن أصحابنا مطلقاً، وسئل الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله عنه فقال: (التلقين هو الذي نختاره ونعمل به، قال: وروينا فيه حديثاً من حديث أبي أمامة ليس إسناده بالقائم، لكن اعتضد بشواهد، وبعمل أهل الشام قديماً) هذا كلام أبي عمرو. قلت: حديث أبي أمامة رواه أبو القاسم الطبراني في معجمه بإسناد ضعيف، ولفظه: عن سعيد بن عبد الله الأزدي قال: «شهدت أبا أمامة رضي الله عنه وهو في النزع فقال: إذا مت فاصنعوا بي كما أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلّم فقال: إذا مات أحد من إخوانكم فسويتم التراب على قبره فليقم أحدكم على رأس قبره ثم ليقل: يا فلان ابن فلانة فإنه يسمعه ولا يجيب، ثم يقول: يا فلان ابن فلانة فإنه يستوى قاعداً، ثم يقول: يا فلان ابن فلانة فإنه يقول: أرشدنا رحمك الله ولكن لا تشعرون، فليقل اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلاّ الله وأن محمداً عبده ورسوله وإنك رضيت بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمد نبياً وبالقرآن إماماً، فإن منكراً ونكيراً يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه ويقول انطلق بنا ما نقعد عند من لقن حجته فقال رجل يا رسول الله فان لم نعرف أمه قال فينسبه إلى امه حواء يا فلان ابن حواء ” قلت فهذا الحديث وان كان ضعيفا فيستأنس به وقد اتفق علماء المحدثين وغيرهم علي المسامحة في أحاديث الفضائل والترغيب والترهيب وقد أعتضد بشواهد من الاحاديث كحديث ” واسألوا له الثبيت ” ووصية عمرو بن العاص وهما صحيحان سبق بيانهما قريبا ولم يزل اهل الشام علي العمل بهذا في زمن من يقتدى به والي الآن وهذا التلقين انما ” هو في حق المكلف الميت اما الصبى فلا يلقن والله اعلم
(5)سبل السلام – (ج 3 / ص 151)

وَعَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ { : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ وَقَالَ : اسْتَغْفِرُوا ؛ لِأَخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ } رَوَاهُ أَبُو دَاوُد ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ .
(6)رياض الصالحين – (ج 1 / ص 477)

وعن عمرو بن العاص – رضي الله عنه – ، قَالَ : إِذَا دَفَنْتُمُونِي ، فَأقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ ، وَيُقَسَّمُ لَحمُهَا حَتَّى أَسْتَأنِسَ بِكُمْ ، وَأعْلَمَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي . رواه مسلم
(7)التاج والإكليل لمختصر خليل ج 3 ص 3

قال أبو حامد : ويستحب تلقين الميت بعد الدفن. وقال ابن العربي في مسالكه: إذا أدخل الميت قبره فإنه يستحب تلقينه في تلك الساعة وهو فعل أهل المدينة الصالحين من الأخيار لأنه مطايق لقوله تعالى: {وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين} وأحوج ما يكون العبد إلى التذكير بالله عند سؤال الملائكة
لسان العرب
اللَّقْنُ: مصدر لَقِنَ الشيءَ يَلْقَنُه لَقْناً ، وكذلك الكلامَ، وتَلَقَّنه : فَهِمه. ولَقَّنَه إِياه: فَهَّمه. وتَلَقَّنته: أَخذته لَقانِـيَةً. وقد لَقَّنَنـي فلانٌ كلاماً تَلْقـيناً أَي فَهَّمَنـي منه ما لـم أَفْهَم. والتَّلْقِـين: كالتَّفْهِيم.
تفسير تنوير الأذهان ص 125 ج 3
{ان} ما {انت الا نذير} منذر بالنار والعقاب واما الاسماع البتة فليس من وظائفك ولا حيلة لك اليه فى المطبوع على قلوبهم الذين هم بمنزلة الموتى وقولـه {ان اللـه يسمع} الخ وقولـه {انك لا تهدى من احببت ولكن اللـه يهدى من يشاء} وقولـه {ليس لك من الامر شئ} وغير ذلك لتمييز مقام الالوهية عن مقام النبوة كيلا يشتبها على الامة فيضلوا عن سبيل اللـه كما ضل بعض الامم السالفة فقال بعضهم عزير ابن اللـه وقال بعضهم المسيح ابن اللـه وذلك من كمال رحمته لـهذه الامة وحسن توفيقه. يقول الفقير ايقظه اللـه القدير ان قلت قد ثبت انه عليه السلام امر يوم بدر بطرح اجساد الكفار فى القليب ثم ناداهم باسمائهم وقال ” هل وجدتم ما وعد اللـه ورسولـه حقا فانى وجدت ما وعدنى اللـه حقا ” فقال عمر رضى اللـه عنه يا رسول اللـه كيف تكلم اجساد الارواح فيها فقال عليه السلام ” ما انتم با سمع لما اقول منهم غير انهم لا يستطيعون ان يردوات شيأ ” فهذا الخبر يقتضى ان النبى عليه السلام اسمع من فى القليب وهم موتى وايضا تلقين الميت بعد الدفن للاسماع والا فلا معنى لـه. قلت اما الاول فيحتمل ان اللـه تعالى احيى اهل القليب حينئذ حتى سمعوا كلام رسول اللـه توبيخالـهم وتصغيرا ونقمة وحسرة والا فالميت من حيث ميت ليس من شأنه السماع وقولـه عليه السلام ” ما انتم باسمع ” الخ يدل على ان الارواح اسمع من الاجساد مع الارواح لزوال حجاب الحس وانخراقة. واما الثانى فانما يسمعه اللـه ايضا بعد احيائه بمعنى ان يتعلق الروح بالجسد تعلقا شديدا بحيث يكون كما فى الدنيا فقد اسمع الرسول عليه السلام وكذا الملقن باسماع اللـه تعالى وخلق الحياة والا فليس من شأن احد الاسماع كما انه ليس من شأن الميت السماع واللـه اعلم

Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2010

Hukum Mengerakkan Jari Telunjuk Dalam Solat

Hukum Mengerakkan Jari Telunjuk Dalam Solat

Hukum Mengerakkan Jari Telunjuk
(Tahdzir al-Abd Awwah min Tharik al-Isbaa’fi al-Solah)
karya: Allamah Syeikh Dr.Hassan Ali al-Saqqaf al-Qurasyi al-Hasyimi
Penerbit: Zamihan Mat Zin al-Ghari
Harga: RM5.00

Beli di :
36, Jalan Bola Tampar 13/14, Seksyen 13, 40100 Shah Alam, Selangor, Malaysia
(berdepan Pintu A Stadium Bola Selangor, Shah Alam)
Tel/Fax: +603-55196300 / +60163306300
e: kedaibuku.alsunnah@gmail.com

“Buku ini amat wajar dibaca. Ia membicarakan tentang permasalahan menggerakkan jari telunjuk ketika bertahiyyat di dalam solat. Ketentuan madzhab al-Syafi’ie ialah mengerakkan jari telunjuk sekali sahaja. Iaitu pada lafaz ALlah ketika mengucapkan kalimah (لاإله إلا الله). Manakala perbuatan sesetengah pihak yang mengerakkan jari telunjuk atau memutarkannya berkali-kali adalah makruh….

Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2010

Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa al-’Aydrus

Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa al-‘Aydrus

Di Kota Kaherah, tepatnya pinggir jalan di sisi maqam Sayyidah Zainab binti Imam ‘Ali radhiyAllahu ‘anhuma, cucunda Nabi SAW, bersemadinya seorang ulama dan wali besar keturunan Ba ‘Alawi. Dalam gambar di sebelah kanan, boleh dilihat kubah kecil yang menaungi maqamnya Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa al-‘Aydrus. Ilmu dan kewalian beliau telah masyhur, jika tidak masakan setelah wafat beliau dikebumikan di sisi manusia agung dan mulia, anakanda Sayyidah Fathimah az-Zahra, RA Sayyidah Zainab RA. Banyak kisah-kisah yang menarik mengenai Habib ‘Abdur Rahman al-‘Aydrus ini, antaranya, diceritakan bahawa satu ketika tatkala berada di Kota Madinah al-Munawwarah, Habib ‘Abdul Rahman bin Musthofa al-‘Aydrus, Habib Abu Bakar bin Husain BilFaqih dan Habib Syaikh bin Muhammad al-Jufri rahimahumUllah saling berjanji sesama mereka untuk mengamalkan semua yang terkandung dalam kitab “Bidayatul Hidayah ” karya Imam
Hujjatul Islam al-Ghazali rahimahUllah. Atas istiqamah dan kesungguhan serta keikhlasan mereka mengota perjanjian mereka tersebut, maka mereka berhasil bertemu dengan Junjungan Nabi SAW. Baginda Nabi SAW telah memberi sebuah kitab putih kepada Habib Abdul Rahman dan menyuruh beliau pergi ke Mesir. Habib Abu Bakar BilFaqih diberi sebuah pinggan dan disuruh pergi ke Asia, manakala Habib Syaikh al-Jufri diberikan tongkat dan tasbih lalu disuruh pergi ke Malabar.

Dipendekkan cerita, Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa al-‘Aydrus pun segera pergi ke Mesir. Beliau sampai di negara itu pada waktu malam dan kebetulan di rumah seorang syaikh dari para ahli fiqih sedang dilangsungkan pesta perkawinan. Tatkala tiba waktu shalat, diserukan iqomah. Sang Syaikh berkata:- “Yang paling faqih di antara kalian hendaknya maju untuk menjadi imam.” “Siapa yang paling faqih di antara kami?” tanya seorang ahli fikih.”Yang paling faqih adalah orang yang dapat menyebutkan 400 sunah dalam shalat sunnah fajar. Siapa pun yang dapat menyebutkannya, maka dia layak menjadi imam kita.” Mereka semua menyerah. Habib ‘Abdur Rahman bin Musthofa maju, kemudian menyebutkan 400 sunah salat sunah fajar, dan menambah beberapa lagi. Sang Syaikh berkata, “Kaulah yang layak menjadi imam kami.” Beliau kemudian maju mengimami shalat. Penduduk Mesir kagum dengan kedalaman ilmu Habib ‘Abdur Rahman.

Suatu hari beberapa ulama Mesir datang menemui beliau dengan sejumlah persoalan bahasa yang telah mereka persiapkan lebih dahulu. Padahal Habib ‘Abdur Rahman kurang begitu menguasai ilmu nahwu. “Berilah kami jawaban atas persoalan- persoalan ini,” kata mereka setelah bertemu Habib ‘Abdur Rahman. Beliau membuka buku putih itu dan menemukan semua jawaban atas persoalan tersebut. Beliau lalu menukil dan menjelaskannya. Begitu seterusnya. Setiap kali ada yang bertanya, beliau selalu mendapati jawabannya telah tertulis di buku tersebut.

[Saduran dari "Jawahirul Anfas fi ma yurdhi Rabban Naas" jilid1 halaman 208 - 209 karya Habib Umar MawlaKhela.]

Posted by: Habib Ahmad | 25 Oktober 2010

HUKUM BUAT KORBAN UNTUK ORANG MUSLIM YANG TELAH MATI

HUKUM BUAT KORBAN UNTUK ORANG MUSLIM YANG TELAH MATI

SOALAN: Slm. Ustaz. Apa hukum buat ibadah korbah untuk arwah ayah saya? boleh?

JAWAPAN:

Wa’alaikumsalam.

Sebenarnya masaalah kita yang hidup ini buatkan ibadah korban untuk si mati merupakan masaalah diperbincangakn dalam mazhab 4 (Hanafi,Maliki,Syafie&Hambali) mengikut keadaan yang pelbagai dan penjelasan yang terdapat perbezaan pendapat. Maka ia masaalah khilafiah.

Tetapi saya lebih cenderung kepada menggunakan pendapat yang mengharuskannya walaupun ia tidak pernah diwasiatkan oleh si mati ini kerana Rasulullah pernah membeli dua ekor kibash yang besar dan terbaik kemudian baginda menyembelih/korbankan seekornya dengan niat untuk umat baginda yang bertauhid (merangkumi yang mati dan hidup) kemudian seekor lagi disembelih/dikorbankan untuk baginda sendiri dan ahli keluarga baginda (juga merangkumi yang hidup&yang mati)-Riwayat Ahmad.

Begitu juga terdapat dalam Sohih Muslim bahawa Nabi Muhammad buat korban dengan niat untuk diri baginda dan ahli keluarga baginda. Maka ia merangkumi yang telah mati dan masih hidup ketika itu. Bahkan disana terdapat banyak riwayat yang menunjukkan keharusan melakukan korban untuk orang lain samaada masih hidup atau telah mati seperti dalam riwayat Abu Daud seorang lelaki bertanya adakah boleh saya lakukan korban untuk ayah saya maka nabi mengakui dan mengharuskannya.

Dalam kes ini disisi Mazhab Empat pula terdapat pandangan yang terkenal (masyhur) dalam Mazhab Syafi’e adalah tidak harus kecuali si mati pernah wasiatkan sedemikian. Saya katakan jika ia diwasiatkan maka menjadi wajib untuk dilaksankan dan bukan lagi harus sahaja hukumnya. Bahkan terdapat pandangan (qaul) disisi sebahagian Syafi’iyyah bahawa harus lakukan korban untuk yang telah mati walaupun tidak pernah diwasiatkan sedemikian kerana ia seperti sedekah dan ia sampai kepada si mati disisi IJMAK (rujuk At-Tuhfah, Al-Majmuk & Mughni Muhtaj).

Manakala dalam Mazhab Hanbali dan Hanafi mengharuskan amalan tersebut (rujuk Matolob Ulil Nuha dalam fiqh Hambali dan Durru Mukhtar serta Hasyiah oleh Ibnu ‘Abidin dalam Mazhab Hanafi)

Dan juga banyak pandangan disini Mazhab Maliki yang mengharuskannya (rujuk Al-Ahwazi oleh Qodhi Ibnu Al-Arabi Al-Maliky).

Maka saya menyatakan bahawa harus kita melakukan ibadah korban untuk si mati beragama islam walaupun simati tidak pernah mewasiatkannya tetapi terbaik adalah lakukan untuk diri sendiri kemudian baru dilakukan untuk si mati atau disekalikan niatnya.

Rujukan semasa saya dalam hal ini adalah dua tokoh ulama berketurunan Rasulullah iaitu Dr Syeikh Toriq Najib Lahham Al-Husaini & Dr Syeikh Salim Alwan Al-Husaini.

Posted by: Habib Ahmad | 25 Oktober 2010

Hikmah Yamaniyyah

Hikmah Yamaniyyah The Source: indo.hadhramaut.info – 26/4/2010 Home \ Artikel
Membendung Demonology Islam dan
Menepis Stigma “Fundamentalis” Pelajar Indonesia di Yaman

Muqaddimah:

Yaman dalam Sorotan Internasional

Yaman yang notabene adalah sebuah negeri tua yang namanya sudah tersohor bahkan sejak peradaban manusia mulai tumbuh dan berkembang, beberapa dekade ini sering kali mendapat sorotan dunia internasional. Sorotan yang paling kontras adalah tuduhan yang ditudingkan untuk para “ekstrimis” dan “fundamentalis” Islam, terlebih setelah negara-negara Barat tercoreng kewibawaannya karena baru-baru ini digemparkan dengan tertangkapnya seorang pemuda Nigeria, Umar Farouk (23) yang mencoba untuk meledakkan pesawat komersial Northwest Airlines. Insiden gagalnya pemboman pesawat Northwest Airlines pada Natal 2009 begitu membekas di Amerika.

Inilah pertama kalinya Presiden Barack Obama menuding langsung keterlibatan Al-Qaeda, secara public. Sang Presiden pun menyimpulkan tersangka mendapat pelatihan di Al Qaeda Jazirah Arab yang berada di Yaman. Bersamaan dengan itu PM Inggris Gordon Brown pasca insiden tersebut turut bersuara keras: “Militan Islam terus meningkat. Kini mereka mengubah Yaman seperti incubator untuk aktivitas terorisme. Sebaiknya komunitas internasiaonal segera berkumpul bulan ini untuk membahas kemungkinan bahaya militant di wiliyah itu.”

Tidak lama setelah pernyataan itu pemerintah Inggris menutup kedutaannya di Yaman pada Ahad (03/01) karena alasan keamanan, menyusul AS yang juga menutup kedutaannya sebagai tanggapan ancaman dari Al-Qaeda. Demikian jubir Kementrian Luar Negeri Inggris merujuk pada “alasan keamanan” bagi penutupan kedubes tersebut tanpa menjelaskan lebih rinci.

Selanjutnya, adalah sikap arogansi yang tak bisa dipungkiri lagi dari negeri adidaya itu, tanpa ragu dan tedeng aling-aling AS menyerang Yaman, sebuah negeri kering – seperti pernyataan Obama – yang terjerat kemiskinan dan pemberontakan mematikan, dan satu alasannya yang terpenting adalah untuk membasmi terorisme yang bercokol di Negeri Saba’ ini. Serangan itu ditujukan terhadap posisi Al-Qaeda di Yaman, termasuk peluncuran peluru kendali. Padahal salah satu pejabat tinggi keamanan Yaman mengatakan bahwa laporan meningkatnya kekuatan kelompok Al-Qaeda di Yaman itu terlalu dibesar-besarkan. Dan Yaman bukan tempat berlindung bagi anggota Al-Qaeda.

Dari sedikit paparan di atas, sebagaimana tuduhan dari pucuk pemimpin tertinggi Amerika seolah menjadi pembenar bahwa Yaman adalah negeri yang perlu diwaspadai karena telah dijadikan para teroris sebagai basis mereka. Terlebih pemberitaan media massa Indonesia pertengahan tahun lalu yang menyebutkan salah satu gembong teroris di Indonesia merupakan alumnus Yaman, maka tak dapat dipungkiri lagi label negative negeri Saba’ ini semakin lekat yang pada gilirannya membuat masyarakat khawatir atas alumnus-alumnus Yaman yang identik dengan haluan garis kerasnya, ekstrimis dan fundamentalis.

Demonology Islam oleh Barat

Demonology secara etimologis adalah the study of demons or evil spirits atau secara terminologis merujuk kepada suatu perekayasaan sistemtais untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang menakutkan dalam ilmu komunikasi termasuk dalam teori-penjulukan (labeling theory) yang bisa direkayasa menjadi public opinion sedemikian hebat sehingga korban misinterpretasi menjadi hancur reputasinya dan tak mampu bertahan. Dalam kaitannya dengan Islam maka demonogi adalah “sebuah perekayasaan sistematis oleh dunia Barat untuk menempatkan Islam dan ummatnya (yang tidak disukai Barat-pen) agar dipandang sebagai bahaya, jahat, kejam sehingga menjadi ancaman yang sangat menakutkan.”
Dalam konteks ke-Yaman-an pada pembahasan ini, teori penjulukan untuk kasus di atas yang dengan mudahnya mengaitkan segala macam perbuatan anarkis dengan Islam adalah tidak luput dari efek demonology yang telah diracang dengan rapi oleh Barat (Amerika cs), sehingga kita dituntut untuk lebih memfilter segala bentuk tudingan negative itu dan tidak latah menelan begitu saja.

Strategi yang digunakan AS adalah melakukan serangan terminologis dengan cara mengaitkan setiap tindakan “anarkisme” dengan gerakan Islam yang memiliki ciri-ciri khusus sebagaimana ditulis oleh mantan presiden AS Ricard Nixon dalam Seize The Moment yang dikutip oleh Muhammad Imarah dalam “PerangTerminologi Islam Versus Barat”: “Mereka itulah yang digerakkan oleh kebencian mendalam terhadap Barat. Mereka bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan membangkitkan kembali masa lalu dengan tujuan menerapkan syari’ah Islam dan rnenyerukan bahwa Islam adalah agama dan negara. Meskipun mereka memandang ke belakang, ke masa lalu, akan tetapi mereka menjadikan masa lalu itu petunjuk untuk masa depan. Mereka itu bukan golongan konservatif melainkan revolusioner.”
Dari penjabaran Ricard Nixon tersebut dapat kita simpulkan bahwa maksud dari fundamentalis Islam (menurut Barat) adalah mereka yang memiliki ciri-ciri gerakan: 1) Anti peradaban Barat, 2) Ingin menerapkan syariat Islam, 3) Akan membangun peradaban Islam, 4) Tidak memisahkan antara Islam dan negara, dan 5) Menjadikan para pendahulu (salaf) sebagai panduan masa depan (khalaf). Kelima ciri inilah yang dijadikan tolak ukur untuk menilai apakah gerakan Islam itu pantas disebut fundamentalis atau tidak. Pada ujungnya adalah lahirnya stigma “Islam teroris” yang mewajibkan pemerintah di mana gerakan Islam itu berada untuk memberangusnya dengan berbagai cara.

Dari sisi pandang ini juga bisa kita simpulkan adanya islamphobia di kalangan barat, rasa takut yang berlebihan ini akhirnya memberikan gambar yang buruk akan kerahmatan Islam, mereka cenderung menjadikan Islam sebagai musuh bersama. Mirisnya di saat yang sama, kaum muslim nampaknya kehilangan ke-‘izzah-an nya di tengah arus demonology Islam sehingga mereka merasa terkucilkan padahal di seberang sana Islam begitu ditakuti.

Hikmah Yamaniyyah

Berpijak dari hadits nabi atas kemuliaan penduduk Yaman sejak tersebarnya benih iman di dada para sahabat ketika itu, saya akan mencoba meneguhkan keindahan akhlak mereka dan keteguhan iman mereka menyebarkan dakwah ini dengan penuh kedamaian sebagai risalah yang diperuntunkkan sebagai rahmat untuk semeseta alam.
Sabda Rasulullah SAW. :

أَتَاكُمْ أَهْلَ اْليَمَن هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوْبًا اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ

“ Datang kepada kalian penduduk Yaman mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah penduduk Yaman dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” ( Shahih Al Bukhari )

Penduduk Yaman hatinya sangat lembut , perasaannya sangat berkasih sayang , dan iman ada pada penduduk Yaman serta rahasia hikmah juga ada pada penduduk Yaman. Kebanyakan penduduk Yaman adalah orang yang berlemah lembut hatinya, sebagimana hadits sang nabi namun karena terlalu berlemah lembut dan ramah , sangat baik dan sopan tidak mau mengganggu orang lain. Keluhuran budi ini bahkan tak kenal pilih kasih, karena ternyata sebagian zaman sekarang banyak para teroris yang masuk ke Yaman dan sembunyi disana , karena orang-orang Yaman tidak suka bermusuhan dan tidak suka berprasangka buruk. Meskipun hal ini tidak sepi dari efek negative, sekarang nama Yaman buruk di mata dunia, Yaman dituduh sebagai sarang teroris, sungguh demi Allah tidak demikian yang sebenarnya terjadi, tingkah sekelompok kecil tadi tidak bisa melunturkan keberkahan Yaman karena ulama ahlu Yaman sejak berabad –abad tahun yang lalu, didakwahi pertama kali oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan sayyidina Mu’adz bin Jabal ra . Sayyidina Mu’adz bin Jabal ke Yaman Utara dan sayyidina Ali bin Abi Thalib ke Yaman Selatan, Hadramaut . Demikian dakwah kedua shahabat ini membuka Yaman menjadi wilayah muslimin. Keberkahan Yaman juga tidak terlepas dari Rasul yang berdoa:

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا

“ Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk wilayah Syam, Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Yaman “

Pada abad ke – 16 yang lalu mereka datang dari Hadramaut , menuju Gujarat, lalu ke Indonesia. Yang masuk ke Pulau Jawa dikenal dengan sembilan wali ( Wali Songo ) , sembilan orang ini membawa keislaman di pulau Jawa dari ujung kulon hingga ujung Banyuwangi semua mengenal kalimat tauhid mulai dari masyarakat jelata, pedagang, penguasa sampai para raja, mereka mengenal “ Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah “ , mereka datang dengan iman , mereka datang dengan damai , mereka datang dengan kelembutan.

Kerahmatan yang dibawa penduduk Yaman dalam menyebarkan risalah ilahi bukan sekedar omong kosong, sekarang kita bisa menyaksikan kegigihan para da’I Yaman yang telah berhasil “memerdekan” Indonesia dari kung-kungan syirik sebelum akhirnya merdeka dari segala bentuk penjajahan imperialis dan menjadi Negara berdaulat setelah menyatakan kemerdekaannya pada bulan Agustus 1945. Kegigihan kerja dakwah mereka itu sangatnya nyata ketika banyak peninggalan-peninggalan bersejarah tersebar hingga kepelosok daerah sekalipun. Irian Jaya misalnya, provinsi yang sekarang berganti nama menjadi Papu Barat sempat pula disambangi para juru dakwah asal Hadhramaut, dengan kesabaran tinggi mereka menepis segala rintangan alam, baik terjalnya medan, rimbunya hutan hingga kendala bahasa mereka lampaui. Catatan dakwah Habib Munzir al-Musawwa yang pernah berkunjung ke Papua juga memberikan dalil bahwa dakwah mereka sampai di pulau itu, tentunya dengan cara-cara damai tanpa ada kekerasan.

Pada dekade terakhir ini, kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menyekolahkan putranya ke Yaman semaki meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini bisa dibuktikan dengan naiknya grafik pendaftar peserta ujian dari Indonesia di beberapa madrasah dan universitas di Yaman. Bahkan, ada seruan dari beberapa tokoh agama dan kiyai untuk menjadikan Yaman khususnya Hadhramaut sebagai negara alternatif tujuan untuk study pendidikan Islam. Hal ini dikarenakan keserasian manhaj yang ditawarkan madrasah Hadhramaut dengan kehidupan masyarakat beragama di Indonesia. Seandainya Yaman merupakan negara pencetak para “teroris” sebagaimana yang ramai diberitakan, sudah barang tentu masyarakat kita akan anti-pati. Namun ternyata realita yang ada tidak demikian.

Khitam

Ketika demonology Islam telah dilancarkan dunia Barat, maka konsekwensi logis dari propaganda itu adalah mengaburnya gambaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Islam yang sedianya ditanzilkan oleh Allah melalui utusan-Nya yang mulia untuk mengentaskan segala dimensi kegelapan dalam kehidupan manusia, seolah menjadi “musuh” bersama yang harus dikucilkan dan dijauhi. Dengan demikian sudah saatnya kita memberikan bayan untuk menjawab tuduhan tanpa dasar ini.

Menutup pembahasan ini, saya kutipkan statemen Prof. Abdullah Baharun yang juga rector universitas al-Ahgaff bahwa sudah menjadi sebuah keniscayaan untuk memberikan seketsa lain yang menggambarkan keluhuran budi madrasah Hadhramaut dalam menyebarkan agama Islam hingga ke tanah air kita yang sekarang tercatat sebagai komunitas terbesar berpenduduk muslim.

Tidak ketinggalan Dr. Umar Maknun dalam sebuah symposium yang digelar atas kerjasama antara kementrian kebudayaan unit pelaksana “Tarim kota budaya Islam – 2010” dengan fakultas syariah universitas al-Ahgaff, doctor dibidang sejarah ini memaparkan bahwa salah satu keistimewaan “madrasah Hadhramaut” dalam menyebarkan ajaran agama Islam adalah dengan cara-cara yang memungkinkan untuk diterima disemua lapisan masyarakat dengan berbagai corak budaya yang berbeda di setiap negara.

Sebagaimana perang pemikiran yang juga harus kita lawan dengan pemikiran, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menyingkirkan debu-debu fitnah yang sedang melanda negeri saba’ ini, negeri yang penduduknya dipuji oleh Rasulullah sebagai penduduk yang “lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya” karena jika tidak ada usaha untuk membendung tudingan-tudingan miring itu dari berbagai media massa internasional maka sangat mungkin pemutar balikan fakta akan terjadi, cepat atau lambat.

Oleh, AM Saputra, Mahasiswa tingkat akhir fakultas syariah Universitas Al-Ahgaff

Syarah Khas Habib Soleh al-Jufri sempena Majlis Hol Imam al-Haddad
*Catatan bebas di Masjid Shah Alam pada 16 Oktober 2010

Ketahuilah bahawa yang paling berharga dan yang paling mahal yang Allah kurniakan kepada hamba-hamba-Nya ialah yaqin. Orang yang dikurniakan yaqin mempunyai darjat yang tinggi disisi Allah Ta’ala. Para Rasul diutus mempunyaikan kalimat yaqin iaitu dengan menyerah segala-galanya kepada Allah Ta’ala. Ketahuilah bahawa datangnya rasa susah dan sedih itu adalah disebabkan kurangnya yaqin. Kurangnya yaqin berlaku apabila sandaran diletakkan kepada sesuatu fana’. Ada yang bersandar kepada harta benda sedangkan harta benda itu pasti akan meninggalkannya. Apabila bersandar pada sesuatu yang fana’ maka hati akan berubah apabila sesuatu yang fana’ itu berubah. Ada juga yang bersandar pada makhluk padahal semua itu adalah sandaran secara sementara. Itulah sumber kesusahan , malapetaka dan kesedihan kepada manusia.

Ketahuilah bahawa Rasul diutus untuk menanamkan perasaan yaqin kepada diri manusia. Yaqin itu ialah dengan bersandar kepads Zat Yang Maha Kuasa. Jika manusia bersandar pada Allah Ta’ala maka hidupnya penuh ketenangan dan kebahagiaan. Sejarah menyaksikan betapa Firaun bersandar pada kekuasaannya, Qarun pada kekayaannya manakala kaum Aad dan Tsamud pada kekuatan mereka. Padahal sandaran mereka itu umpama sarang labah-labah di dalam rumah. Ketahuilah apabila kita menanam kalimah yaqin di dalam hati kita maka kita akan berjaya. Ucaplah kalimah La Ilaha Illallah dan lenyapkanlah sandaran terhadap makhluk maka Allah akan berikan ketenangan. Nabi saw pernah bersabda bahawa orang-orang yang mengucapkan bahawa Allah adalah Tuhanku dan betapa ia istiqamah terhadap ucapannya dan kehidupannya adalah berdasarkan kepada kalimah La Ilaha Illallah maka itulah tanda orang-orang yang istiqamah di jalan Allah. Maka akan datang padanya para malaikat untuk mendampingi dirinya dan melindungi dirinya. Lalu tercabutlah dari hatinya rasa takut dan khuatir. Ketahuilah bahawa Allah Ta’ala menjanjikan syurga kepada orang-orang yang hatinya yaqin kepada Allah Ta’ala.

Posted by: Habib Ahmad | 25 Oktober 2010

Syeikh Abdul Qadir al-Mandili Guru di Masjidil Haram

Syeikh Abdul Qadir al-Mandili Guru di Masjidil Haram
Bukan sedikit tokoh-tokoh ulama yang berketurunan Mandailing berhijrah ke Tanah Melayu. Antara tokoh terawal yang datang ke Tanah Melayu ialah Syeikh Junid Thala. Tokoh besar ini lahir pada tahun 1314 Hijriyyah bersamaan dengan 1897 Masehi. Beliau merupakan pendiri Madrasah ad-Diniyah di Padang Rengas, Kuala Kangsar Perak. Madrasah ini pernah menjadi pusat gerakan menentang penjajah satu masa dahulu. Tokoh selanjutnya ialah Syeikh Abdul Qadir Bin Abdul Mutollib Al-Indonesi Al-Mandili. Beliau pernah menimba ilmu di Kedah dan kemudiannya menjadi tenaga pengajar di Masjidil Haram. Walaupun menjadi guru di Masjidil Haram, hubungan beliau dengan alim-ulama dan para penuntut ilmu di Alam Melayu sangat akrab. Beliau sangat mengambil berat tentang perkembangan semasa samada dari segi agama mahupun politik di Alam Melayu.
Nama penuh ulama ini ialah Abdul Qadir bin Abdul Mutollib bin Hassan. Beliau dilahirkan pada tahun 1910 Masehi di Sigalangang, Tapanuli Selatan sebuah wilayah yang terletak di bahagian Sumatera Utara dalam Pulau Sumatera. Latar belakang keluarganya adalah dalam bidang asas tani. Syeikh Abdul Qadir mendapat pendidikan awal di Sekolah Belanda pada tahun 1917 dan lulus Darjah Lima pada tahun 1923. Setahun selepas itu beliau berhijrah ke Kedah untuk mendalami ilmu agama.
Di peringkat awal, beliau menimba ilmu kepada Tuan Guru Haji Bakar Tobiar di Pondok Penyarum, Pendang. Selepas itu beliau berpindah ke Pondok Air Hitam untuk menimba ilmu kepada tokoh ulama di situ iaitu Tuan Guru Haji Idris dan Lebai Dukun. Pada tahun 1926, Syeikh Abdul Qadir memasuki Madrasah Darul Saadah Al-Islamiyah (Pondok Titi Gajah ) yang pada waktu itu dipimpin oleh Syeikh Wan Ibrahim Abdul Qadir yang lebih terkenal dengan panggilan Pak Chu Him) oleh masyarakat setempat. Beliau menadah kitab kepada Pak Chu Him selama 10 tahun. Beliau sangat tekun belajar dan amat ringan tulang. Pada musim cuti, beliau akan bekerja mengambil upah memukul padi kerana pondok itu terletak di dalam kawasan padi. Diriwayatkan bahawa telah menjadi amalan beliau untuk menghafaz sambil memukul padi. Tidak hairanlah beliau menjadi anak murid kesayangan Pak Chu Him Selanjutnya beliau menjadi guru pondok membantu Pak Chu Him mengajar di situ tetapi dalam tempoh yang tidak lama. Ini adalah kerana beliau mengambil keputusan untuk berangkat ke Makkah untuk menimba ilmu kepada kakanda Pak Chu Him iaitu Syeikh Wan Ismail Abdul Qadir atau lebih dikenali sebagai Pak Da ‘Ail. Pak Da ‘Ail pada ketika itu merupakan tokoh ulama besar di Makkah. Pada tahun 1936, beliau bertolak ke Makkah dan setibanya di sana, beliau bukan sahaja berguru dengan Pak Da ‘Ail tetapi juga tokoh-tokoh ulama lain seperti Syeikh Al-Maliki, Syeikh Hassan Al-Masyat, Syeikh Muhammad Al-Arabi, Syeikh Sayyid Al-Alawi, Syeikh Muhammad Ahyad, Syeikh Hasan Yamani, Syeikh Muhammad Nur Saif, Syeikh Umar Hamdan Mahrusi, Syeikh Yasin Isa Al-Fadani dan Syeikh Abdullah Lahji. Dengan mendampingi ulama-ulama besar ini, beliau telah mendalami ilmu khususnya dalam bidang Tauhid, Tasawwuf, Fiqh dan Hadith. Ketika berada di Makkah beliau tambah tekun belajar. Diriwayatkan masanya banyak dihabiskan di Masjidil Haram dengan mengaji, menghafaz, mengerjakan tawaf dan minum air zam-zam Saking alimnya beliau yang menguasai pelbagai bidang ilmu maka beliau kemudiannya diterima menjadi guru di Masjidil Haram. Bukan calang-calang orang menjadi guru agama di Masjidil Haram kerana Masjidil Haram menjadi tempat perhimpunan alim-ulama untuk menimba ilmu. Syeikh Abdul Qadir telah mendapat pengiktirafan tokoh-tokoh ulama di Makkah sehingga beliau diberi izin untuk mengajar di kota suci itu. Disebabkan itulah beliau telah digelar oleh seorang tokoh ulama Kedah iaitu Tuan Guru Haji Husein Che Dol[1] sebagai “al-Alim al-Fadhil wa al-Abdi al-Kamil As-Syeikh Abdul Qadir bin Abdul Mutollib Al-Mandili al-Indonesi” yang menggambarkan tingginya tahap keilmuan beliau. Halaqah pengajiannya sentiasa mendapat tempat di hati para penuntut ilmu khususnya penuntut yang datang dari Alam Melayu. Halaqah beliau dikatakan sentiasa penuh, tidak pernah kurang dari 200 orang pelajar. Beliau mengajar pelbagai bidang ilmu termasuklah ilmu Nahu, Sorof, Hadith, Musthalah Hadith, Tafsir, Fiqh Syafi`i dan sebagainya.
Ketika menjadi guru di Masjidil Haram, Syeikh Abdul Qadir pernah ditawarkan dengan pelbagai jawatan termasuk sebagai guru agama di Cape Town, Afrika Selatan. Presiden Sukarno dikatakan pernah menawarkan kepada beliau jawatan Mufti Indonesia manakala Al-Malik Saud, Raja Arab Saudi menawarkan jawatan sebagai Qadhi Al-Qudat dengan gaji yang besar tetapi beliau menolaknya kerana ingin menumpukan perhatian kepada pengajarannya di Masjidil Haram. Ini bersesuaianlah dengan gelaran yang beliau sendiri pakai iaitu “Khuwaidam Talabah al-Ilmu as-Syarif bil Harami al-Makki (Khadam kecil bagi penuntut ilmu di Masjidil Haram)”.
Syeikh Abdul Qadir tidak ketinggalan menghasilkan karya dimana ada di antara kitab-kitab yang ditulisnya itu masih lagi digunakan sebagai teks pengajian di pondok dan di masjid. Tulisan beliau meliputi pelbagai bidang seperti usuluddin, tasawwuf, fiqh, politik, pendidikan dan perundangan. Diriwayatkan sewaktu berada di Makkah, beliau telah menghasilkan 24 buah kitab dalam bahasa Melayu dan Arab. Antara hasil penulisannya ialah seperti seperti
Risalah Pokok Qadyani – Risalah ini mendedahkan kesesatan dan bahaya ajaran Mirza Ghulam Ahmad Qadyani.
Sinar Matahari Buat Penyuluh Kesilapan Abu Bakar Al-Asy’ari – Kitab ini ditulis pada tahun 1958 mengkritik pemikiran Kaum Muda.
al-Mazhab atau Tiada Haram Bermazhab – Kitab ini juga ditulis pada tahun 1958 mengkritik pemikiran Kaum Muda.
Pendirian Agama Islam – Kitab ini ditulis pada tahun 1956 dan membicarakan tentang masalah ideologi ciptaan manusia seperti kapitalisme, sosialisme dan komunisme serta percanggahannya dengan aqidah dan pemikiran Islam.
Senjata Tok Haji dan Tok Lebai – Kitab ini ditulis pada tahun 1949
Pembantu Bagi Sekalian Orang Islam Dengan Harus Membaca Quran dan Sampai Pahalanya Kepada Sekalian Yang Mati – Kitab ini ditulis pada tahun 1950
Tuhfat Al-Qari Al-Muslim Al-Mukhtarah Mimma Ittifaqa Alaih Al-Bukhari wa Muslim – Kitab ini ditulis pada tahun 1952
Bekal Orang Yang Menunaikan Haji – Kitab ini ditulis pada tahun 1953
Penawar bagi Hati – Kitab ini ada diterbitkan dalam versi Rumi oleh penerbit Hidayah Publishers
Perisai bagi Sekalian Mukallaf – Kitab ini ada diterbitkan dalam versi Rumi oleh Hidayah Publishers dan Jahabersa.
Buku-buku yang ditulisnya dalam bidang politik dan perundangan antaranya ialah seperti Kebagusan Undang-undang Islam dan Kecelaan Undang-undang Ciptaan Manusia (1961), Siasah dan Loteri dan Alim Ulama (1962) dan Islam: Agama dan Kedaulatan (1959).
Syeikh Abdul Qadir sangat gigih mengajar tidak kira walaupun dalam keadaan sakit. Tidak langsung tampak kesakitan yang dideritainya sebaik sahaja beliau mula mengajar. Apabila ditanya oleh anak muridnya apakah beliau sudah sembuh, beliau menjawab, “kalau menangis pun bukan nak lega”. Begitulah hebatnya tokoh ulama yang berasal dari Alam Melayu ini yang sangat gigih berdakwah dan menabur ilmu kepada umat Islam tanpa mengira penat dan lelah. Pada tahun 1385 Hijriyyah (1965 Masehi), Syeikh Abdul Qadir bin Tholib menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah mengalami penyakit uzur di kakinya. Jenazahnya telah dimakamkan di perkuburan Ma`la Makkah Mukarramah.
Rujukan utama
http://www.niknasri.com/?p=1378. Dicapai pada 19 Oktober 2010
http://pondoktauhid.blogspot.com/2010/04/sheikh-qadir-mandili.html. Dicapai pada 19 Oktober 2010
http://allangkati.blogspot.com/2010/09/syeikh-abdul-qadir-bin-tolib.html. Dicapai pada 19 Oktober 2010

——————————————————————————–

[1] Anakanda kepada Tuan Guru Haji Ismail bin Mustafa al-Fathani atau lebih dikenali dengan Tok Ayah Doi. Tok Ayah Doi adalah merupakan bapa mertua Pak Chu Him

Syeikh Abdul Qadir al-Mandili

Kitab al Mazhab karangan Syeikh Abdul Qadir al-Mandili

Kitab Senjata Tok Haji dan Tok Lebai susunan Syeikh Abdul Qadir al-Mandili

http://ikantongkol09-tokoh.blogspot.com/2010/10/syeikh-abdul-qadir-al-mandili-guru-di.html

MAJLIS PENGIJAZAHAN HADIS OLEH MAULANA SAYYID SALMAN AL-HUSAINI AN-NADWI


Maulana Sayyid Salman Al-Hussaini An-Nadwi

Majlis pengijazahan kitab hadis yang enam (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai Dan Ibnu Majah) oleh Maulana Sayyid Salman Al-Hussaini An-Nadwi, pada 1 Zulkaedah 1431h Di Ba’alawi Kuala Lumpur.

Beliau telah mengamanahkan kepada Tuan Guru Ustaz Ahmad Fahmi Zam Zam An-Nadwi Al-Maliki untuk menghuraikan dan mengkhatamkan kitabnya, “Al-Awa’il Salmaniah”, yang mengandungi setiap satu hadis di dalam kitab hadis imam-imam di atas. Pengajian di BAKL telahpun bermula dan pengajian berikutnya adalah pada bulan November, 2010. Semua yang berminat untuk memiliki ‘MUTIARA-MUTIARA’ peninggalan RASULULLAH SAW, DIJEMPUT HADIR, INSYAALLAH!.

http://www.baalawi-kl.com/v1/

Posted by: Habib Ahmad | 25 Oktober 2010

Kursus Bahasa ‘Arab Dan Ziarah di Tarim Hadramaut

Posted by: Habib Ahmad | 24 Oktober 2010

Hol Sultan Aali Baa ‘Alawi

Hol Sultan Aali Baa ‘Alawi

7 Dzulqaedah setiap tahun diperingati sebagai hari haulnya Imam al-Haddad rahimahUllah. Adat atau tradisi “haul” atau “hol” sudah tidak asing lagi dalam masyarakat kita di Nusantara. Tradisi ini bukanlah perkara yang dibuat-buat sendiri oleh orang-orang Melayu, tetapi adat yang telah diterima daripada para ulama terdahulu. Tradisi ini juga wujud dalam masyarakat Islam di berbagai pelosok dunia termasuklah Kota Suci Makkah al-Mahmiyyah. Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani rahimahUllah menulis dalam “Nihayatuz Zain” halaman 281 sebagai berikut:- “… Dan telah menjadi adat kebiasaan orang untuk bersedekah bagi si mati pada hari ke-3 dari kematiannya, hari ke-7, pada sempurnanya hari ke-20, hari ke-40, hari ke-100, dan setelah itu dilakukan setiap tahun pada genapnya haul dari tarikh kematiannya….”

Kebiasaannya dalam majlis hol ulama, akan diperdengarkan serba sedikit mengenai biografi atau riwayat hidup almarhum Shohibul Haul. Dengan pembacaan manaqib dapatlah kita mengenali Shohibul Haul dan jasa-jasa beliau. Imam al-Haddad rahimahUllah, sedikit sebanyak, pasti ada jasanya kepada kita, umat Islam Nusantara, melalui dakwah para pendakwah yang datang dari Timur Tengah khususnya Hadhramaut. Maka sewajarnya kita mengenang jasa-jasa beliau dan juga jasa-jasa sekalian ulama yang telah menyampaikan kepada kita ajaran Junjungan Nabi SAW yang menjadi suluh dalam kehidupan kita. Membaca sejarah para pemuka Islam ini mempunyai faedah dan kelebihan tersendiri. Cukuplah faedahnya jika perjalanan hidup mereka menjadi tauladan bagi kita dalam menurut ijejak langkah Junjungan Nabi SAW.

Imam ‘Abdul Rahman al-Masyhur rahimahUllah, mufti Hadhramaut, menulis dalam karya beliau “Bughyatul Mustarsyidin” sebagai berikut:-

Dan telah warid dalam satu atsar daripada Sayyidil Basyar SAW bahawasanya baginda bersabda: ” Sesiapa yang menulis sejarah seorang mukmin (yakni seorang yang benar-benar beriman viz. wali), maka seumpama dia menghidupkannya. Sesiapa yang membaca sejarahnya seumpama dia menziarahinya. Sesiapa yang menziarahinya, maka pasti dia memperolehi keredhaan Allah ta`ala dalam kenyamanan syurga dan menjadi hak (yakni kewajipan) bagi seseorang untuk memuliakan penziarahnya.”
Habib Muhammad bin Salim al-Hafiz, Habib Hasan bin ‘Abdullah asy-Syaathiri dan al-‘Allaamah Syaikh Saalim bin Sa`id Bukair rahimahumUllah dalam ta’liq mereka atas “Bughyatul Mustarsyidin” menyatakan atsar tersebut turut disebut oleh Imam as-Sakhawi al-Hafiz rahimahUllah dalam karya beliau berjodol ” al-I’laan bi at-Tawabikh li Man Dzam at-Taarikh”.

Mudah-mudahan dengan menghadiri haul seorang waliyUllah dan ulama besar seumpama Imam al-Haddad, kita memperolehi madad dan nadzrah Shohibul Haul yang bermuarakan syafaat dan jah Baginda Rasul SAW. Sesungguhnya Shohibul Haul, al-Imam al-Habib al-Quthub al-Ghawts ‘Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad al-Husaini asy-Syafi`i at-Tarimi rahimahumUllah adalah seorang ulama yang tidak dipertikaikan kewaliannya. Mereka – mereka yang sezaman dengan beliau telah mempersaksikan hal ini. Tersebut dalam beberapa manaqib Imam al-Haddad, antaranya “Busyral Fuad bi tarjamah al-Imam al-Haddad” karya Habib ‘Alwi bin Hasan al-Haddad rahimahumAllah, “Nurul ‘Ain wal fuad fi ba’dh manaqib as-Sayyid ‘Abdillah bin as-Sayyid ‘Alawi al-Haddad” karangan Syaikh Muhammad Taqiyuddin bin ‘Umar bin ‘Abdul Qaadir az-Zur`ah rahimahUllah dan “Irsyaadul ‘Ibaad li ba’dhi manaqib Quthubil Irsyaad wa Ghawtsil ‘Ibaad wal Bilaad ‘Abdillah bin ‘Alawi al-Haddad” karya Habib ‘Aqiil bin Muhammad as-Saqqaf rahimahUllah, bahawa Quthubul Anfaas al-Habib ‘Umar bin ‘Abdul Rahman al-‘Aththas rahimahUllah sangat memuliakan Imam al-Haddad dan memujinya dengan pujian-pujian yang tinggi. Bahkan jika Imam al-Haddad hadir, maka Imam al-Haddadlah yang akan disuruh menjadi Imam, mengepalai doa dan memulakan majlis. Begitulah ketinggian Imam al-Haddad dan kekhumulan Imam al-‘Aththas. Manakala al-‘Arif billah al-Habib ‘Ali bin ‘Abdullah al-‘Aydrus rahimahUllah, Shohibu Surat, menyatakan bahawa Imam al-Haddad adalah SULTHAN KELUARGA BA ‘ALAWI pada zamannya.

Maka marilah kita datang memeriahkan majlis haul Sulthan aali Baa ‘Alawi ini. Datanglah kerana Allah ta`ala, kerana Rasulullah SAW, kerana al-Habib rahimahUllah, tanpa mengira siapa yang akan memberi tausyiah dalamnya nanti. Dambakanlah rahmat Allah yang akan diturunkan tatkala para sholihin diingati, dambakanlah syafaat Junjungan Nabi SAW tatkala para pewaris baginda dimuliakan, dambakanlah madad daripada al-Habib tatkala ratibnya dibaca. Insya-Allah, pasti keihsanan akan dibalas dengan keihsanan. Allah Maha Pemurah.

يا الله يا جوّاد ، جد لنا بالمراد
بالحبيب قطب الإرشاد
عبد الله الحداد

Posted by: Habib Ahmad | 23 Oktober 2010

HARI INI : JADUAL PENGAJIAN DI PUSAT PENGAJIAN BAALAWI-KL

Syarah Khas Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz sempena Majlis Hol Imam al-Haddad
*Catatan bebas di Masjid Shah Alam pada 16 Oktober 2010

Segala puji bagi Allah Tuhan Sekalian Alam yang telah menjadikan hubungan hakikat kita dengan Allah Ta’ala terkait dengan hati kita dan roh kita. Seperti yang dijelaskan baginda saw, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat hambanya pada jasadnya tetapi pada hatinya. Salawat dan salam kita hadiahkan kepada seorang yang menjadi pintu mengenalkan kita kepada Allah Ta’ala iaitu Junjungan Besar Rasulullah saw berserta para hali keluarga dan para sahabatnya.

Hadirkanlah hati-hati kalian agar hati kalian dipandang Allah Ta’ala ketika kita sedang mengenang seorang imam yang sangat berjasa dalam usaha membersihkan hati-hati manusia untuk mengenal kepada Allah Ta’ala. Dan renungkanlah, kalau bukan kerana kedudukannya di sisi Allah Ta’ala yang cukup tinggi itu sudah tentu kita tidak berhimpun di sini untuk meraikannya. Kalau bukan kerana keimanan dan kecintaan kepadanya sudah tentu kita tidak duduk membaca ratib dan zikir yang disusun oleh imam yang riwayat hidupnya disebut malam ini.

Ketahuilah bahawa zikir adalah lafaz dari lisan kita. Al-Imam al-Haddad yang riwayat hidupnya disebut malam adalah merupakan hamba Allah yang mempunyai keistimewaan tersendiri. Begitu juga dengan masjid seperti yang ada pada hari ini adalah merupakan binaan yang mempunyai keistimewaan tersendiri. Ketahuilah bahawa semua makhluk adalah merupakan tempat yang boleh menjadi hubungan yang menyampaikan cinta kita kepada Allah Ta’ala. Nabi saw ada bersabda bahawa Rukun Iman itu ada enam. Empat daripadanya adalah terkait dengan hubungan harta-harta Allah Ta’ala. Iman bermakna kita beriman kepada Allah Ta’ala. Walau bagaimanapun jika dia mengaku beriman kepada Allah tetapi pada masa yang sama dia mendustakan salah satu dari rukun iman yang lain maka jadilah ia orang yang kafir dan kekal di dalam neraka. Seorang Yahudi datang bertemu Rasulullah saw dan bertanya kepada baginda saw, “Siapakah yang telah menyampaikan wahyu kepadamu?” Lalu dijawab Rasulullah saw, “Jibril”. Lalu Yahudi itu berkata, “Dia itu musuh kepada kami”. Maka Allah menurunkan wahyu dengan maksudnya, “Katakanlah wahai Muhammad, barangsiapa yang memusuhi Allah dan malaikat, Rasul-Rasul Allah, Jibril dan Mikail maka mereka adalah musuh-musuh Allah dan golongan kafir”. Permusuhan mereka kepada Jibril bererti mereka juga adalah musuh kepada Allah. Allah tidak akan menerima iman orang-orang yang memusuhi para malaikat dan Rasul-Rasul Allah. Iman mereka langsung tidak membawa manfaat. Dalam satu hadith Qudsi yang diriwayat Imam Bukhari, Allah berfirman bahawa barangsiapa memusuhi wali-wali Aku maka Aku mengisytiharkan peperangan ke atasnya”. Para ulama menyatakan bahawa sesiapa yang terkena musibah kerana memusuhi wali Allah tidak mungkin akan mati dalam keadaan Islam. Mana mungkin ia akan mendapatkan keamanan dalam hidupnya apabila ia diperangi Allah Ta’ala.

Wahai sekalian kaum mukminin yang hadir, sesungguhnya hakikat keimanan kita kepada Allah Ta’ala boleh terjalin melalui hamba-hamba yang dekat dengan Allah Ta’ala. Nabi Yaakub as berkata kepada anak-anaknya ketika baginda as berhadapan dengan sakaratul maut, “Apakah yang akan kamu sembah selepas aku mati?” Kata anak-anaknya, “Kami akan menyembah Tuhan ayah kami, Tuhan Nabi Ishak dan Tuhan Nabi Ismail”. Kenapa anak-anaknya menyebut nama Nabi-Nabi ini padahal kesemua Nabi-Nabi bertuhankan kepada Tuhan yang satu iaitu Allah Ta’ala? Ini adalah kerana nama Nabi-Nabi ini memberi kesan kepada mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Tidak mungkin tauhid kita menjadi sempurna jika kita putuskan hubungan kita dengan para anbiya dan para wali Allah. Seseorang yang tidak belajar dengan betul dan tidak mempunyai sanad mungkin akan terkeliru dan tidak tahu membezakan pengagungan terhadap orang-orang yang di agungkan Allah dengan orang-orang yang diagungkan oleh orang musyrik. Orang-orang musyrik mengambil keberkatan berhala yang disembahnya sedangkan perbuatan ini adalah batil. Sedangkan para sahabat mengambil keberkatan baginda saw menerusi sisa-sisa air wuduk baginda saw sehinggakan ada sahabat mengambil pula sisa air itu dari sahabat yang lain apabila tidak berkesempatan mendapatkannya dari baginda saw. Sepertimana kisah Nabi Yusuf as yang memberikan gamisnya kepada ayahandanya Nabi Yaakub as. Ayahandanya yang buta itu dapat melihat semula sebaik sahaja meletakkan gamis milik Nabi Yusuf itu ke wajahnya. Kaum musyrikin sujud kepada berhala tanda mereka sekutukan makhluk. Sebaliknya para malaikat sujud kepada Nabi Adam manakala Nabi Yaakub as beserta ahli keluarganya sujud kepada Nabi Yusuf bukanlah bermakna tujuan mengagungkan makhluk sebaliknya ia adalah perintah Allah.Iblis tidak sujud kepada Nabi Adam namun ia tidak memberi manfaat kepada Iblis kerana ia melanggar perintah Allah. Dalam Sahih Bukhari ada diceritakan tentang peninggalan jubah milik Rasulullah saw yang disimpan oleh isterinya, Maimunah ra. Kata Maimunah ra, “Saya membersihkannya manakala airnya saya berikan kepada orang-orang sakit untuk menyembuhkannya”. Maka disini hendaklah kita menyedari dan mengetahui akan kedudukan orang-orang yang mempunyai darjat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Jangan sibukkan diri dengan mengkafirkan orang lain sebaliknya sibukkanlah diri dengan mencari ilmu yang benar. Bersyukur dan pujilah kepada Allah yang telah menyelamatkan kita dari syirik yang besar dan kecil. Ada seorang masuk dalam majlis Rasulullah saw dengan keadaan janggutnya dibasahi air wuduk. Rasulullah saw kemudiannya menegur orang itu dengan bertanya, “Adakah dalam hati kamu terdetik rasa riyak?” “Ya”, kata orang itu. “Sebab itulah aku nampak ada syaitan pada wajah kamu”, kata baginda saw.

Al-Haddad bermaksud tukang besi. Pernah satu hari seorang anak dipertintah oleh ayahnya pergi berjumpa dengan tukang besi untuk menajamkan pisaunya. Si anak yang lurus ini pergi ke rumah Imam al-Haddad dan berkata kepada Imam al-Haddad, “Ayahku memerintahkan daku berjumpa denganmu untuk menajamkan pisau ini”. Imam al-Haddad tersenyum lalu berkata, “Berikan pisau itu kepadaku. Engkau pulanglah dahulu dan ambillah esok”. Keesokannya, si anak itu datang berjumpa Imam al-Haddad dan Imam al-Haddad pun memberikan pisau yang telah ditajamkannya itu kepada si anak tadi. Si anak bertanya, “Berapa harganya tuan?” Kata Imam al-Haddad, “Usahlah kamu bayar dan pulanglah ke rumahmu”. Si anak itu pun pulang dan memberikan pisau itu kepada ayahnya. Si ayah bertanya, “ Berapa harga upah menajamkan pisau ini?” Si anak menjawab, “Tukang besi itu tidak mahu menerima upahku”. Si ayah kehairanan. “Engkau berjumpa dengan tukang besi yang mana? Bukan di pasar?” , tanya si ayah. “Bukan ayah, saya pergi ke rumah tukang besi”, jawab si anak dengan jujur. “Ke rumah tukang besi? Adakah kamu ke rumah Imam al-Haddad?”, tanya si ayah lagi. Si anak mengangguk. Langsung si ayah bergegas menuju ke rumah Imam al-Haddad. Ayahnya berasa sangat malu dengan perbuatan anaknya dan memohon maaf serta ampun dari Imam al-Haddad kerana salah faham yang berlaku. Si anak menyangkakan bahawa Imam al-Haddad adalah tukang besi yang dimaksudkan padahal si ayah menyuruh si anak berjumpa dengan tukang besi di pasar. Kata Imam al-Haddad, “Janganlah engkau memarahi anakmu jika kamu kasih padaku”. Begitulah mulianya peribadi Imam al-Haddad. Kata Imam al-Haddad, “Aku langsung tidak rasa terhina dengan peristiwa ini”. Imam al-Haddad mempunyai hati yang sangat bersih dan sanggup menajamkan pisau yang diberikan oleh si anak walaupun beliau bukanlah tukang besi yang dimaksudkan. Cubalah bayangkan jika kita berada di kedudukan Imam al-Haddad, sudah pasti kita akan marah-marah kerana membuat kerja yang tidak sepatutnya.

Imam al-Haddad sentiasa berkata, “Bila aku menuju ke tempat solat, jangan kamu ganggu perasaan takzim aku kepada Allah Ta’ala”. Diriwayatkan pernah terjadi bila Imam al-Haddad mengangkat takbir maka terbelah mihrab yang berada di hadapannya. Terbelahnya mihrab itu adalah disebabkan pengagungan yang terlalu tinggi Imam al-Haddad terhadap Allah Ta’ala. Kata habib, kesan belahan itu masih boleh dilihat sehinggalah masjid itu dibaikpulih. Ucapan Imam al-Haddad penuh keluhuran. Katanya, “Aku tidak berasa bimbang setelah aku mendengar firman Allah yang menyatakan bahawa tidak akan berlaku apa-apa melainkan rezekinya dijamin Allah Ta’ala”. Imam al-Haddad mentakzimkan sunnah-sunnah Rasulullah saw. Beliau melaksanakan semua sunnah Rasulullah saw. Beliau sering bermimpi bertemu Rasulullah saw bahkan beliau turut bertemu Rasulullah saw dalam keadaan jaga. Ketika musim haji, apabila beliau mengunjungi makam Rasulullah saw dan memberi salam kepadanya, ada ulama yang turut berada disitu mendengar Nabi saw menjawab salam Imam al-Haddad. Rasa perhambaan yang tinggi yang ada pada Imam al-Haddad telah menyebabkan beliau mempunyai kedudukan yang tinggi disisi Allah Ta’ala. Pernah satu ketika keluarga Bafadhal berhajat hendak menziarahi makam Nabi saw. Pada masa itu, Imam al-Haddad telah pun wafat. Namun disebabkan ada masalah tertentu mereka tidak dapat memenuhi hajat itu sehinggalah mereka berasa sedih yang amat sangat. Pada satu malam, mereka bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpi itu, Rasulullah saw bertanya, “Adakah kamu rasa sedih kerana tidak dapat menziarahi aku? Ketahuilah jika kamu menziarahi cucuku (Imam al-Haddad), Allah akan tunaikan 70 hajat kamu”.

Syarah Khas sempena majlis pengijazahan sanad Sunan Sittah
*Catatan bebas ana di Ba ‘Alawi pada 9 Oktober 2010

Pengajian hadith berdasarkan sanad adalah satu keperluan bagi umat Islam. Ketahuilah bahawa ciri-ciri ilmu dalam Islam adalah dengan adanya sanad. Sanad adalah ciri istimewa dalam Islam. Dengan adanya sanad kita akan dapat mengetahui dari siapa ilmu itu diambil misalnya dari seorang syeikh yang menerimanya dari gurunya dan gurunya itu menerima pula dari gurunya sehinggalah sampai kepada Imam al-Bukhari lalu sampai pula kepada para sahabat dan seterusnya Rasulullah saw. Sanad sangat penting dalam Islam kerana ia menjadi bukti bahawa ia bukanlah sesuatu yang diada-adakan. Rasulullah saw menerangkan isi kandungan al-Quran kepada para sahabat lalu disampaikan pula dari satu generasi kepada satu generasi sehinggalah sampai kepada kita. Memahami makna al-Quran mestilah selari dengan apa yang telah disampaikan dan diterangkan oleh Rasulullah saw bukannya dengan mengikut akal fikiran atau fahaman sendiri. Orientalis dan pengikut-pengikut mereka putus asa kerana usaha mereka untuk menyelewengkan al-Quran menemui jalan buntu. Ini adalah kerana isi kandungan al-Quran dipelihara Allah Ta’ala. Allah menjamin isi kandungan al-Quran agar terpelihara sehingga ke akhir zaman. Orientalis kemudiannya berpindah pula kepada Hadith memandangkan al-Quran dan Hadith adalah merupakan dua sumber utama agama Islam. Orientalis berusaha menyelewengkan isi kandungan hadith sehingga menyebabkan umat Islam sendiri menjadi ragu-ragu dengan kebenaran sesuatu hadith. Umat Islam secara ijmak menyatakan bahawa kitab yang paling sahih selepas al-Quran ialah Sahih Bukhari tetapi ada golongan tertentu membuat kacau sehingga menyebabkan ada umat Islam berasa ragu-ragu samada sahih atau tidak. Hadith adalah sumber agama Islam yang sangat penting kepada umat Islam. Tidak mungkin isi kandungan al-Quran itu dapat difahami jika seseorang itu tidak merujuk kepada hadith. Nabi saw menerangkan isi kandungan al-Quran kepada umatnya. Sebagai contoh perkara yang sangat penting seperti solat disebut dalam al-Quran. Namun perincian tentang bagaimana hendak mengerjakan solat tidak disebut didalam al-Quran. Perincian tersebut dinyatakan oleh Nabi saw. Untuk mengetahui cara-cara hendak mengerjakan solat maka seseorang perlu merujuk kepada hadith-hadith Nabi saw. Aneh sekali ada golongan yang hanya berpegang kepada al-Quran dan menolak Hadith sedangkan ada ayat di dalam al-Quran yang menyuruh umat Islam agar berpegang kepada Rasulullah saw. Inilah golongan anti-hadith yang menolak kebenaran hadith.

Seseorang mestilah sentiasa bersama dengan Al-Quran dan Hadith Nabi saw. Ilmu-ilmu agama mestilah dipelajari mengikut tradisi sebagaimana ulama terdahulu yakni cara bagaimana ulama salaf dahulu belajar. Bagaimanakah caranya kita hendak mempelajari sesuatu ilmu mengikut cara yang telah dilalui oleh ulama salaf? Imam Muslim menaqalkan kata-kata dari Imam Ibnu Sirin seperti berikut, “Ilmu adalah bicara agama maka hendaklah kita mengambil tahu dari siapa ilmu itu diambil”. Sebab itulah kita kena tengok dari mana dan dari siapa ilmu itu diperolehi. Sistem universiti membolehkan seseorang menimba ilmu dari orientalis termasuk ilmu agama sedangkan orientalis itu tidak pernah mempraktikkan atau mengamalkan ajaran Islam. Jadi, bagaimanakah seseorang itu hendak memperolehi keberkatan ilmu sekiranya ilmu yang diterimanya itu diperolehi dari guru yang tidak mengamalkan ajaran Islam. Disinilah letaknya kepentingan sanad. Sanad sangat penting kerana ia bukan sahaja mengwujudkan keberkatan ilmu tetapi juga menyambungkan rantaian ilmu itu kepada para guru sehinggalah sampai kepada Rasulullah saw. Seorang sahabat sanggup berhijrah dari Madinah ke Syam dengan perjalanan memakan masa selama sebulan semata-mata hendak mendengar sepotong hadith. Hadith ini hendaklah dipelajari dengan penuh ketakwaan. Ijazah sanad seumpama majlis ini bukanlah satu tiket keseronokan atau lambang kemegahan sebaliknya ia adalah satu amanah atau tanggungjawab yang perlu dilaksanakan. Setiap orang yang menerima ijazah sanad ini perlu bekerja untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu hadith. Ulama muhaddithin seperti Imam al-Bukhari bersungguh-sungguh menghafal hadith. Beliau menghafal 600,000 hadith (sedangkan kita (*ketika diulas oleh Syeikh Fahmi) hendak menghafal Hadith Arbai’n (Hadith 40) pun belum tentu lagi). Imam Bukhari mencintai hadith semenjak dari kecil lagi. Kata beliau, “Aku diilhamkan Allah dengan perasaan yang sangat kasih dan cinta untuk menghafal hadith semenjak usiaku masih kecil lagi (semenjak tadika)”. Imam Bukhari akan mandi dan mengerjakan solat istikharah setiap kali beliau hendak memulakan penulisan hadith. Ulama-ulama dahulu sangat teliti dalam urusan agama apatah lagi dalam ilmu yang berkaitan dengan hadith. Ketelitian ini termasuklah dalam urusan kehidupan dan makanan. Bagi mereka, perbuatan tidak menutup kepala dan makan di kedai itu boleh menghilangkan maruah. Ulama dahulu sanggup belayar jauh untuk mencari hadith khususnya hadith yang ‘ali. Salah seorang anak murid Imam Bukhari bernama Abu Yusuf al-Firubari. Beliau menghadiri majlis Imam al-Bukhari sebanyak 100,000 kali. Majlis ilmu yang dipimpin Imam al-Bukhari adalah satu majlis yang besar. Ribuan murid menghadirinya. Apabila Imam Bukhari menyampaikan sesuatu maka murid-muridnya akan menyampaikan pula kepada yang lain sehingga sampai kepada mereka yang duduk di barisan belakang dan apa yang disampaikan itu adalah sama seperti yang diucapkan oleh Imam Bukhari. Begitulah gigihnya para ulama terdahulu dalam mempelajari dan menyebarkan ilmu agama khususnya ilmu hadith. Kita juga perlu begitu. Semua umat Islam perlu buat kerja mengikut kemampuan masing.masing. Kita perlu bekerja keras untuk memastikan hadith Nabi saw ini terpelihara dan disampaikan kepada generasi berikutnya

http://ikantongkol09-mengaji.blogspot.com

SEJARAH ULAMA-ULAMA AHLI HADIS (MUHADDITSIN) DI INDIA


DOWNLOAD HERE


Sumber : http://www.baalawi-kl.com/v1/

Posted by: Habib Ahmad | 22 Oktober 2010

Syarah Sairus Salikin – Syarahan Syeikh Fahmi Zam Zam

Syarah Sairus Salikin
*Catatan bebas ana di USJ9 pada 10 Oktober 2010

Bab Kelebihan Membaca Salawat

Ganjaran mengucapkan salawat adalah sangat besar. Sebab itulah para ulama memperbanyakkan salawat. Salawat juga menyejukkan badan. Antara punca suami bergaduh dengan isteri adalah mungkin kerana terlalu sedikit amalan salawat di kalangan mereka. Salawat banyak kelebihannya. Antaranya ialah seperti meredakan pertelingkahan, mengingatkan balik memori yang lepas di kala terlupa, mengukuhkan tali persahabatan ketika berjabat dengan rakan dan sebagainya. Zikir La Ilaha Illallah perlu diseimbangkan dengan bacaan salawat. Zikir itu memanaskan badan manakala salawat menyejukkan badan. Dengan membaca salawat, ia sebenarnya membantu kita membayangkan kehadiran baginda saw di sisi kita. Salawat mendekatkan kita dengan Rasulullah saw. Bermimpi bertemu Rasulullah saw adalah benar. Jika seseorang bermimpi bertemu Rasulullah saw tetapi rupa Rasulullah saw yang dilihatnya itu berbeza dengan apa yang disifatkan oleh para ulama maka berkemungkinan besar Rasulullah saw hendak mengingatkan kepada orang yang bermimpi itu agar memperbaiki amalannya atau ada amalannya yang kurang atau tidak sempurna. Melihat Rasulullah saw dalam keadaan jaga (yaqazah) juga adalah benar tetapi ia hanya berlaku di kalangan orang-orang yang terpilih. Lazimnya orang-orang yang terpilih ini telah pun melihat Rasulullah saw di dalam mimpi mereka. Diriwayatkan ketika almarhum Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menziarahi almarhum Habib Ali di rumahnya di Batu Pahat dengan tiba-tiba Habib Ali meminta hadirin lain meninggalkan mereka berdua di dalam rumah. Tetamu yang lain pun keluar dan meninggalkan mereka di dalam rumah. Selepas 20 minit, Habib Ali meminta tetamunya masuk semula ke dalam rumah. Tetamu-tetamu itu kemudiannya mendapati bahawa wajah Habib Ali dan Abuya Sayyid Muhammad Alawi Maliki telah berubah dengan linangan air mata. Rupanya di saat mereka berdua berada di dalam rumah, mereka telah bermusyahadah secara yaqazah dengan Rasulullah saw. Rasulullah saw ada bersabda, “Barangsiapa melihat aku di waktu tidur nanti dia akan tengok aku secara nyata”.

Salah satu cara untuk melihat Nabi saw di dalam mimpi ialah dengan membaca salawat Azimiyah banyak-banyak. Andaikata masih juga tidak bermimpi bertemu Nabi saw maka periksalah dua perkara iaitu adab dengan guru dan hubungan dengan ibubapa. Jika tidak beradab dengan guru maka usahlah berharap untuk bertemu dengan Rasulullah saw di dalam mimpi kerana gurulah yang telah mengenalkan Rasulullah saw kepadanya. Pentingnya kedua-dua perkara ini adalah ibarat peti televisyen dengan wayar dan suis. Guru itu seumpama wayar manakala ibubapa itu seumpama suis. Jika wayar tidak disambung atau suis tidak dipetik maka mana mungkin peti televisyen itu dapat dihidupkan. Begitulah juga dengan mimpi bertemu dengan Rasulullah saw. Jika adab dengan guru dan hubungan dengan ibubapa tidak dijaga maka mana mungkin seseorang itu dapat bermimpi bertemu Rasulullah saw. Nabi saw pernah berpesan kepada Umar al-Khattab agar minta Uwais mendoakannya apabila bertemu kelak. Padahal Umar itu sahabat besar manakala Uwais hanyalah tabi’in. Ini adalah kerana sangat menghormati ibunya menyebabkan dirinya mendapat penghormatan dan darjat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Hari Jumaat hendaklah dikhususkan untuk memperbanyakkan salawat kepada Rasulullah saw. Sabda Nabi saw, “Barangsiapa mengucap salawat atasku di dalam kitab nescaya sentiasalah malaikat mengucap istighfar mereka itu baginya selama-lama ada namaku di dalam demikian kitab itu” (Riwayat at-Thabrani). Atas sebab itu maka lazimilah diri dengan menulis salawat setiap kali mula menulis atau menanda bahagian kitab ketika membaca atau mengaji ilmu. Dalam tahiyat, kita memberi salam secara langsung kepada Nabi (Assalamualaika) seolah-olah Nabi saw berada di hadapan kita. Sebab itulah ada di kalangan para ulama yang mendengar Nabi saw menjawab salam yang disampaikan mereka ke atas baginda saw. Nabi saw menjawab setiap salam yang disampaikan kepadanya cuma orang-orang yang terbuka hijabnya sahaja yang dapat mendengar Nabi saw menjawab salam tersebut.

Bab kelebihan mengucap istighfar

Orang yang muttaqin adalah mahfuz iaitu jarang berbuat dosa. Imam Junaid al-Baghdadi pernah ditanya, “Apakah mungkin orang yang dah jadi wali berzina?” Maka Imam Junaid pun menundukkan kepalanya dan berfikir lalu berkata, “Kalau itu telah menjadi ketetapan Allah maka wali pun tidak mustahil berzina”. Maksudnya disini hatta wali sekalipun tidak boleh duduk berdua-duaan dengan perempuan yang bukan muhrimnya kerana godaan iblis dan nafsu itu cukup kuat. Kata Imam al-Ghazali, “Kalau kita hendak menasihati diri sendiri untuk beristighfar maka tundukkanlah nafsu terlebih dahulu dengan cara menyertakan perasaan takut terhadap singkatnya usia”. Ketahuilah bahawa istighfar adalah punca kebahagiaan diri. Orang yang bertaubat dari dosa ibarat tidak pernah melakukan dosa. Periksalah hati kita. Sewaktu malam, letaklah tangan di atas dada dan tanyalah pada hati kita samada kita sudah mempunyai bekal yang cukup untuk dibawa ke akhirat andai kata maut datang menjelma pada saat itu.

http://ikantongkol09-mengaji.blogspot.com/

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 739 other followers