Posted by: Habib Ahmad | 7 November 2010

Kuliah Tafsir Al-Quran oleh Habib Ali Zainal Abidin Al-Hamid

Kuliah Tafsir Al-Quran oleh Habib Ali Zainal Abidin Al-Hamid
Anda Akan hadir · Kongsi · Acara Umum

Lihat Semua
Halaman Yang Disyorkan
Muslims in the World
Datu Adzman Alaydrus dan 28 rakan-rakan lain menyukai ini.
Suka
Gambar Kenangan
Kisah Habib Ali dalam majalah Caha…
Abdullah Al-habshi and 47 more friends are tagged in this photo from Oktober 2010.

Masa
07hb November · 8.00 ptg – 11.00 ptg
Lokasi Pusat Pengajian Ba’alawi Kuala Lumpur
Direka Oleh:
Ba’alawi KL

Posted by: Habib Ahmad | 6 November 2010

Wali – Wali Allah SWT

i – Wali Allah SWT

| |
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ قَالَ
: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ( صحيح البخاري )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiKu dengan sesuatu yang Aku cintai dari perbuatan yang Aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiKu dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang, Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya. Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanKu ketika hendak merenggut jiwa hambaKu yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya.” ( Shahih Al Bukhari )

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي هَذِهِ الْجَلْسَة…
Limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, Maha Penguasa tunggal dan abadi, Maha melimpahkan keluhuran dan kebahagiaan bagi hamba-hambaNya di setiap waktu dan saat, Maha melimpahkan kelembutan dan kenikmatan yang tiada henti-hentinya kepadaku dan kalian, tidak satu detik pun rahmatNya terhenti untuk kita, tidak satu detik pun kasih sayang-Nya terhenti untuk kita terkecuali terus mengalir kepada kita, kenikmatan melihat, kenikmatan mendengar, kenikmatan berbicara, kenikmatan bergerak, kenikmatan berfikir, kenikmatan merenung, kenikmatan sanubari dan kenikmatan-kenikmatan luhur lainnya, dan kenikmatan-kenikmatan itu terus berlanjut, kenikmatan bernafas, kenikmatan penggunaan jantung dan seluruh tubuh kita, kenikmatan cahaya matahari, kenikmatan gelapnya malam, kenikmatan indahnya pemandangan, kenikmatan udara dan berjuta-juta kenikmtan lainnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
( ابراهيم : 34 )

” Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghitungnya “. ( Qs. Ibrahim : 34 )
Hal ini menunjukkan betapa banyak kenikmatan yang kita ketahui dan betapa lebih banyak kenikmatan yang tidak kita ketahui, dan Allah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa menemukan jumlah kenikmatan itu. Semakin kita mempelajari maka akan semakin kita memahami baik secara ilmiah atau dengan hadits-hadits nabawiyah atau yang lainnya, secara logika atau pun dengan dalil, maka kenikmatan itu semakin kita pelajari maka akan semakin banyak dan semakin terbuka, semakin luas, semakin mulia, dan semakin indah. Demikianlah perbuatan Sang Maha Baik, demikian perbuatan Sang Maha Luhur dan Mulia, demikian perbuatan Sang Maha Indah, demikian perbuatan Sang Maha mencintai, demikian perbuatan Sang Maha Pemaaf, demikian perbuatan Sang Maha penyelamat, demikian perbuatan Sang Maha lemah lembut sehingga Dia ( Allah ) subhanahu wata’ala melipatgandakan perbuatan baik kita dan senantiasa siap mengampuni kesalahan-kesalahan kita, demikian indahnya Yang Maha indah, demikian mulia dan berkasih sayang Yang Maha berkasih sayang.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ ، وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ
( المائدة : 55- 56 )

” Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang “. ( QS. Al Maidah : 55- 56 )
Allah subhanahu wata’ala memberi pemahaman kepada kita, siapakah yang seharusnya kita jadikan sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan ?. Allah berfirman : ” Sungguh yang melindungi kalian, yang menolong kalian dan yang bisa kalian mintai pertolongan adalah Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman “, tetapi siapakah orang-orang yang beriman itu ?, maka Allah subhanahu wata’ala perjelas bahwa orang yang beriman adalah mereka yang mendirikan shalat, mereka yang menunaikan zakat, dan mereka yang memperbanyak melakukan ruku’ yaitu banyak melakukan shalat sunnah di siang hari dan malam harinya, mereka yang dimaksud adalah para shalihin. Maka firman Allah bahwa pelindung kalian ( manusia ) adalah Allah, RasulNya dan para shalihin. Maka Allah melanjutkan firmanNya : ” Barangsiapa yang mengambil perlindungan dari Allah, dari RasulNya dan dari orang-orang yang beriman, maka sungguh tentara Allah lah yang pasti akan menang “.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita fahami rahasia keluhuran, bagaimana jika kita meminta perlindungan kepada Allah. Di dalam riwayat Shahih Al Bukhari, ketika nabiyullah Ibrahim AS didekatkan dengan api Namrud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Ketika nabiyullah Ibrahim didekatkan kepada api namrud untuk dibakar, maka kalimat terakhir yang diucapkan adalah : حسبي الله ونعم الوكيل( Cukuplah Allah untukku dan Dialah sebaik-baik pelindung )”, maka Allah subhanahu wata’ala cukupkan Allah sebagai pelindungnya, kemudian Allah perintahkan api itu menjadi sejuk dan membawa keselamatan bagi nabiyullah Ibrahim As, dengan firmanNya :

ياَنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
( الأنبياء : 69 )

” Wahai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. ( QS. Al Anbiyaa: 69 ),
Namun Allah juga memberi kesempatan bagi kita untuk meminta pertolongan kepada para rasul dan nabiNya, dan pemimpin para nabi dan rasul adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
( النساء : 64(

” Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang “. ( QS. An Nisaa: 64 )
Maka ketika para sahabat merasa telah banyak berbuat dosa, maka mereka berdatangan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bertobat kepada Allah dihadapan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Rasulullah pun memohonkan pengampunan dosa untuk mereka, maka pastilah mereka akan diampuni oleh Allah karena Allah Maha penerima taubat dan Maha Penyayang. Tadi kita berbicara tentang tiga pelindung bagi kita yaitu Allah, RasulNya, dan para shalihin. Yang pertama telah saya jelaskan sekilas, yang kedua berdasarkan dalil firman Allah dimana para shahabat berdatangan kepada Rasul untuk meminta perlindungan atas dosa-dosa mereka agar diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala, dan banyak lagi riwayat Shahih Al Bukhari dimana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah Jum’at, maka datanglah seorang dusun dari kejauhan, dan ketika Rasul sedang menyampaikan khutbah maka ia menyela dan berkata : ” Wahai Rasulullah, kemarau tidak juga berakhir, hewan-hewan kami banyak yang mati, dan pohon-pohon kekeringan, tanah pecah terbelah dan kami sudah kehabisan air, maka mohonkanlah doa kepada Allah agar diturunkan hujan “. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Anas bin Malik berkata : ” Saat kami keluar dari shalat Jum’at, maka Rasul mengangkat tangan dan berdoa agar diturunkan hujan, dan belum Rasulullah menurunkan tangannya kecuali awan-awan telah berdatangan dari segala penjuru Madinah Al Munawwarah, dan belum selesai kami melakukan shalat kecuali tetesan-tetesan air hujan mulai turun membasahi jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Maka hujan pun turun sedemikian derasnya dan tidak berhenti selama satu minggu terus membasahi Madinah Al Munawwarah. Dan di hari Jum’at berikutnya, ketika Rasulullah berkhutbah maka orang dusun tadi datang dan berkata : “Wahai Rasulullah, rumah-rumah dan tumbuhan habis, air tidak tertahan dan banjir dimana-mana, maka mohonkan kepada Allah agar Allah menghentikan hujan “, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :

اَللّهُمَّ حَوَالَيْناَ لَا عَلَيْنَا
” Ya Allah (hujan) disekitar kami saja, jangan di atas kami”
Maka Rasulullah memberi isyarat kepada awan, dan awan-awan yang diisyaratkan pun tunduk atas intruksi dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga Madinah Al Munawwarah bagaikan kubah yang bolong karena di atasnya di sekitar Madinah awan gelap masih menggumpal dan hujan deras, kecuali Madinah Al Munawwarah yang terik diterangi sinar matahari dan tidak ada setetes air hujan pun. Diriwayatkan di dalam syarah Fathul Bari dan riwayat lainnya bahwa hujan di sekitar Madinah itu berlangsung hingga sebulan. Demikianlah permohonan meminta perlindungan kepada Rasulullah. Begitu juga meminta perlindungan kepada para shalihin yang mana hal ini banyak teriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah, diantaranya riwayat Shahih Al Bukhari kejadian yang sama di masa Khalifah Umar bin Khattab Ra, ketika mereka dalam keadaan kemarau yang panjang, mereka pun datang kepada sayyidina Umar bin Khattab untuk memintakan doa kepada Allah agar diturunkan hujan, maka sayyidina Umar bertawassul kepada sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib Ra dan hujan pun turun, demikian riwayat Shahih Al Bukhari. Fahamlah kita bahwa Allah membuka perlindunganNya dari Allah subhanahu wata’ala, dan dari para rasulNya dan juga dari para hambaNya yang shalih.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits mulia ini, firman Allah subhanahu wata’ala dalam hadits qudsi :

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
“Barangsiapa yang memusuhi waliKu (kekasih-Ku), orang-orang yang Kucintai maka Aku umumkan padanya perang”
Maksudnya ia adalah musuh besar Allah jika ia membenci dan memusuhi kekasih Allah, kecuali ia bertobat. Jika ia bertobat, maka tentunya dimaafkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Mengapa Allah subhanahu wata’ala murka jika mereka para kekasihNya dibenci?, karena para kekasih Allah tidak mempunyai sifat dendam dan mereka tidak marah tetapi yang marah adalah Allah subhanahu wata’ala karena Allah mencintai mereka, Allah subhanahu marah karena wali Allah yang dibenci tidak benci kepada yang membencinya, maka Allah subhanahu wata’ala yang murka kepada orang itu. Siapakah para kekasih Allah itu?, firman Allah dalam hadits qudsi :

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ
Tiadalah seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah menuju keridhaan Allah, menuju kasih sayang Allah yang beramal dengan hal-hal yang telah diwajibkan kepadanya seperti shalat wajib, puasa ramadhan, zakat, dan haji. ( Namun untuk saudari kita yang baru masuk Islam tidak dipaksakan untuk melakukan hal-hal yang fardhu di dalam syariah islamiyah kecuali semampunya saja, yang mampu dijalankan dan yang masih terasa berat jangan dilakukan, karena iman itu butuh waktu dalam mencapai kemapanan untuk mampu melaksanakan segala hal-hal yang fardhu ). Dan hamba itu tidak berhenti hanya mengamalkan hal-hal yang wajib saja, tetapi meneruskan juga dengan hal-hal yang sunnah untuk terus mendekat kepada Allah sampai Allah mencintainya, maka ia telah menjadi kekasih Allah karena ia mengamalkan hal-hal yang fardhu dan yang sunnah, amalan yang seperti apa? Tentunya yang diajarkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, baik amalan yang fardhu atau pun yang sunnah yang mana yang kita ketahui kalau bukan ajaran sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kesimpulannya, ketika seseorang mengikuti ajaran sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupannya dan semampunya maka ia akan mencapai cinta Allah subhanahu wata’ala, dan tidaklah seseorang mencapai derajat orang yang dicintai Allah ( Wali Allah ) kecuali ia telah mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliaulah masdar al awliyaa dan manba’ al awliyaa ( sumber para wali ). Dan jikalau Allah telah mencintai hamba-Nya, maka Allah menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Allah akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Allah akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk membela diri , Allah akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Tentunya maksudnya bukan secara makna kalimat, tetapi mengandung majas yaitu makna kiasan. Maksudnya adalah jika seseorang telah taat kepada Allah, selalu ingin berbuat yang luhur, selalu menghindari hal yang hina, maka apa-apa yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata’ala, seperti jika ia mendengar aib orang lain maka ia doakan orang itu, ia mendengar cacian dan umpatan dari orang lain maka ia doakan orang itu, semua yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata’ala. Semua hal yang ia lihat menjadi rahmatnya Allah subhanahu wata’ala, misalnya ia melihat orang berbuat dosa maka ia doakan agar ia diampuni dosanya oleh Allah dan diberi hidayah, matanya yang melihat membawa rahmat Allah subhanahu wata’ala, tangan dan kakinya pun demikian, hari-harinya pun demikian. Maka maksud firman Allah dalam hadits qudsi itu adalah Allah memancarkan rahmat dan cahayaNya dari hamba itu, melalui penglihatannya, pendengarannya, ucapannya, dan hari-harinya penuh rahmat Allah subhanahu wata’ala, demikianlah keadaan para wali Allah. Maka jika hamba itu meminta kepada Allah maka Allah kabulkan permintaannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada Allah maka Allah akan melindunginya. Allah melanjutkan firman-Nya dalam hadits qudsi :

وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ
“Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanKu ketika hendak merenggut jiwa hambaKu yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya”.
Yang dimaksud bukanlah Allah subhanahu wata’ala ragu dalam menentukan sesuatu untuk hambanya, karena Allah tidak memliki sifat ragu. Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, bahwa yang dimaksud adalah Allah subhanahu wata’ala merasa berat jika ingin menentukan suatu ketentuan yang bisa membuat para kekasih-Nya kecewa. Allah tidak pernah merasa berat dalam menentukan sesuatu, kecuali kepada para walinya karena Allah subhanahu wata’ala tidak ingin mengecewakan mereka. Allah tidak mau mengecewakan para kekasih-Nya, jika kekasih-Nya belum ingin wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya. Maka ketika Allah mengundang hamba-Nya untuk wafat namun hamba-Nya masih ragu untuk wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya, Allah panjangkan usianya, kenapa? karena ia telah menjadi kekasih Allah. Bukan berarti Allah mengikuti semua yang dia inginkan, tetapi Allah sangat mencintainya dan tidak mau mengecewakannya. Tetapi banyak kejadian di masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau didzalimi, disakiti, dan dianiaya ?!, ingat ucapan Allah subhanahu wata’ala :

وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
” Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya “
Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin musuhnya celaka, maka beliau diam saja atas perbuatan musuh-musuhnya, sampai jika sesuatu itu membahayakan muslimin barulah beliau bertindak membela diri, tetapi jika hanya membahayakan dirinya sendiri maka beliau hanya bersabar dan bertahan, beliau tidak ingin kecelakaan terjadi pada musuh-musuhnya dan beliau masih berharap mereka bertobat dan kembali kepada keluhuran. Sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari di saat perang Uhud ketika panah menembus tulang rahang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka di saat itu darah mengalir Rasulullah sibuk menahan darah agar tidak sampai jatuh ke tanah, para sahabat berkata: ” wahai Rasulullah biarkan saja darah itu mengalir “, diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan darah yang mengalir jangan sampai jatuh ke tanah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Kalau ada setetes darah dari wajahku yang jatuh ke tanah, maka Allah akan tumpahkan musibah yang dahsyat bagi mereka orang-orang Quraisy yang memerangiku “. Allah murka jika ada setetes darah dari wajah Rasulullah sampai tumpah ke bumi, maka Rasulullah menjaga agar jangan sampai ada setetes darah pun yang mengalir ke bumi, dan beliau tidak peduli ada panah yang menancap di rahang beliau, beliau memikirkan jangan sampai musibah turun kepada orang yang memeranginya. Inilah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikian pula perbuatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sayyidina Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa dia adalah seorang yang beriman tetapi ayahnya adalah pemimpin munafik yang paling jahat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berkelompok dengan orang-orang yang memusuhi nabi, mengabarkan berapa jumlah tentara nabi, berapa senjatanya, kapan keluar Madinah, kapan masuk Madinah, kapan perdagangan di Madinah, kapan orang-orang Madinah berdagang keluar dan lainnya, semua itu yang membocorkannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, sungguh jahat sekali tetapi anaknya adalah orang yang beriman, ia bernama Abdullah juga. Maka sayyidina Abdullah datang kepada Rasul dan berkata : ” Wahai Rasulullah, ayahku sudah sakaratul maut dan tidak ada yang mau mengurus jenazahnya “, kenapa? karena teman-temannya yang munafik tidak mau mengurus jenazahnya, mereka takut jika mereka mnegurusi jenazahnya maka orang-orang muslim mengetahui bahwa mereka adalah pengikut Abdullah bin Ubay juga, sedangkan orang-orang muslim juga tidak mau mengurusi jenazah itu karena jelas-jelas yang wafat adalah pimpinan orang munafik yang sangat jahat, dimana ketika orang muslim mengirim bahan makanan atau ke Madinah dimonopoli oleh Abdullah bin Ubay, mau mengirimkan bantuan atau perdagangan ke Madinah dirampok karena kapalnya sudah dibocorkan oleh Abdullah bin Ubay, justru mereka orang muslim senang dengan wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dan berdiri untuk mengurus jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, maka sayyidina Umar berkata : ” Wahai Rasulullah, dia pimpinan munafik jangan engkau urus jenazahnya “, maka Rasulullah berkata: ” biarkan aku wahai Umar “, maka Rasulullah lah yang memandikannya, Rasul yang mengkafaninya , Rasul yang menshalatinya, Rasul yang menurunkannya ke kuburnya, Rasul yang mendoakannya, lalu turunlah ayat :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
( التوبة : 84 )

” Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” ( QS. At Tawbah : 84 )

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
( التوبة : 80 )

” Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Meskipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” ( QS. At Tawbah : 80 )
Di dalam ayat ini ada makna yang tersembunyi, dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh menukil makna syarh ayat ini bahwa Allah subhanahu wata’ala sangat mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad tidak menentang Allah, beliau diciptakan oleh Allah penuh dengan sifat lemah lembut, maka Allah biarkan beliau mengurus jenazah Abdullah bin Ubay, dan setelah semua selesai barulah turun larangan dari Allah subhanahu wata’ala, maksudnya supaya orang munafik yang lain tau bahwa jenazah orang yang seperti itu tidak boleh dishalati sehingga mereka mau bertobat . Kalau seandainya Allah subhanahu wata’ala betul-betul tidak menginginkannya, maka sebelum Rasulullah melakukannya pastilah dilarang tetapi justru Allah melarang setelah Rasulullah melakukannya, supaya menjadi pelajaran bagi orang munafik yang lainnya untuk tidak memusuhi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Rasulullah berkata kepada sayyidina Umar : ” Wahai Umar, engkau lihat firman Allah bahwa aku tidak boleh memohonkan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul karena Allah tidak mau mengampuninya walaupun 70 kali aku memohonkan pengampunan, wahai Umar kalau aku tau bahwa Allah akan mengampuninya jika kumintakan pengampunan lebih dari 70 kali, maka akan kumintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul “, misalnya Allah menuntut harus 1000 kali nabi memintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay maka beliau akan mintakan pengampunan itu demi keselamatan Abdullah bin Ubay bin Salim dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala. Demikian mulianya sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dan hubungan Rasulullah dengan mereka yang non muslim tetap baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memusuhi orang-orang yang tidak memusuhi muslimin. Ketika dalam perang Tabuk yang terjadi pada bulan Sya’ban, dimana raja Yohana telah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun dia tidak masuk Islam, namun dia tunduk kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajukan kepadanya untuk membayar jizyah ; seperti zakat tetapi untuk non muslim, jika untuk orang muslim disebut zakat dan untuk orang non muslim disebut Jizyah. Jizyah itu jauh lebih kecil dari zakat, maka sebagian orang non muslim berkata : ” orang muslim kejam, orang non muslim kok harus bayar jizyah “, tidak demikian justru lebih ringan karena untuk orang muslim ada 7 macam zakat, diantaranya zakat fitrah, zakat tijarah, zakat tsimar, zakat ma’din, zakat rikaz, zakat hewan ternak, dan zakat emas dan perak, tetapi kalau non muslim hanya satu saja yang disebut dengan jizyah. Ketika dia ( raja Yohana ) telah membayar jizyah, maka Rasulullah menulis surat yang berisi : ” Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad Nabiyullah dan Rasulullah, dengan ini aku telah menuliskan dan mengamanatkan bahwa raja Yohana telah membuat perjanjian denganku, maka dia aman, hartanya, perahu-perahunya yang dan kendaraan-kendaraannya kesemuanya aman, dia aman di darat dan di laut dengan jaminan keselamatan Allah dan Rasul-Nya”. Rasulullah yang menjamin keselamatannya, Rasul yang menjamin ia agar terjaga dari gangguan-gangguan orang lain dan musuh-musuhnya. Dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang Yahudi memohon izin untuk tinggal di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasul izinkan, bukan melarangnya atau mengatakan : ” kamu najis, tidak boleh masuk ke rumahku “, tidak demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka pemuda Yahudi itu pun tinggal bersama Rasul, duduk bersama Rasul, makan bersama Rasul, tidur seatap dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita mengetahui yang masuk ke rumah Rasul tidak sembarang orang, tetapi pemuda Yahudi ini bahkan tinggal bersama Rasul berkhidmah kepada beliau, membawakan makanan dan pakaian nabi tetapi beliau tidak memaksakannya untuk masuk kedalam Islam sampai pemuda itu sakit, ketika sakit ia pulang ke rumahnya dan tidak lagi datang ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah menjenguknya ke rumahnya bukannya Rasul senang atau mengatakan : ” baguslah orang non muslim itu keluar dan tidak lagi datang ke rumahku “, tidak demikian bahkan Rasul menjenguknya dan sesampainya beliau di rumah pemuda itu, beliau dapati pemuda itu sudah sakaratul maut, di saat itulah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam membisikkan kepadanya : ” katakan : ” Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah “, maka pemuda itu melihat kepada ayahnya yang juga orang Yahudi apakah ayahnya mengizinkannya atau tidak untuk mengucapkan kalimat itu, maka ayahnya berkata : ” Taatilah Abu Al Qasim “, maka anaknya pun mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah kemudian wafat, maka Rasulullah pun memakamkannya kemudian pulang ke rumah dengan wajah yang bersinar dan terang benderang bagaikan sinar bulan purnama karena begitu gembiranya . Maka para sahabat bertanya : ” Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu gembira sehingga engkau terlihat begitu terang benderang “, maka Rasulullah berkata : ” Aku sangat gembira karena Allah telah memberinya hidayah “. Hadirin hadirat, orang yang paling menginginkan semua non muslim masuk Islam adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, namun beliau mengetahui adab kepada Allah bahwa Allah lah yang memilihkan hidayah, mana yang dikehendaki dan mana yang belum dikehendaki Allah subhanahu wata’ala.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Maka kita fahami rahasia keluhuran bagaimana Allah subhanahu wata’ala mencintai kekasih-kekasihNya, para nabi dan wali-Nya. Dan kita lihat dalam beberapa hari ini kita sudah kehilangan dua orang Al Arif Billah ; As Syaikh Muzhir bin Abdurrahman An Naziri Al Hasani dan Fadhilah As Sayyid Al Arif billah Al Habib Husain bin Umar bin Hud Al Atthas ‘alaihima rahmatullah wamaghfiratullah. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :

يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الأَوَّلُ فَاْلأَوَّلُ وَيَبْقَى ‏حُفَالَةٌ ‏‏كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً
( صحيح البخاري )

“Orang-orang shalih telah pergi (wafat), satu per satu, sampai tidak tersisa seorangpun kecuali manusia-manusia yang buruk, ibarat sampah gandum atau ampas kurma yang Allah tidak lagi mempedulikan mereka sedikitpun.” ( Shahih Al Bukhari )
Akan terus wafat para shalihin satu persatu meninggalkan bumi, sampai nanti tersisa orang-orang yang tidak lagi peduli dengan Allah, dan Allah pun tidak peduli dengan keadaan mereka. Maka semoga Allah menumbuhkan lagi generasi shalihin yang baru, amin.
Hadirin hadirat, dan yang perlu saya sampaikan adalah agar kita selalu menjalin hubungan baik khususnya dengan Allah subhanahu wata’ala, dengan memperbanyak ibadah, memperbanyak sujud, memperbanyak kemuliaan, ingatlah beberapa hari lagi kita akan sampai ke bulan Ramadhan yang digelari dengan syahrussujud, bulan seribu sujud , karena kalau kita shalat tarawih setiap malam 20 raka’at dan witir 3 rakaat maka jumlahnya 23 raka’at, dalam 1 rakaat 2 kali sujud berarti jika tarawihnya setiap malam 20 rakaat maka setiap malam 40 sujud dikalikan 30 hari = 1200 sujud dalam satu bulan, itu shalat tarawihnya saja , belum lagi ditambah witir dan shalat sunnah yang lainnya, maka bulan Ramadhan itu digelari bulan seribu sujud karena muslimin melakukan shalat Tarawih di bulan itu sehinnga melakukan sujud lebih dari 1000 kali sujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :

حَرَّمَ اللهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُوْدِ
” Allah mengharamkan api neraka memakan ( menyentuh ) bekas sujud ” ( Shahih Al Bukhari )
Anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud tidak boleh disentuh oleh api neraka, demikian Allah haramkan kepada api neraka untuk tidak menyentuh anggota sujud. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Muslim :

أَقْرَبُ اْلعَبْدُ إِلَى اللهِ مَنْزِلَةً وَهُوَ سَاجِدٌ
“Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT yaitu ketika dia sedang sujud”
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa sayyidina Tsauban Ra ditanya oleh para sahabat apakah amal yang paling dicintai Allah, maka ia diam sehingga para sahabat terus mendesaknya akhirnya ia pun berkata : ” pertanyaanmu sudah pernah kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah berkata : ” perbanyaklah sujud “, karena barangsiapa yang sujud satu kali sujud maka terangkatlah dosanya, dan derajatnya terangkat semakin dekat dengan Allah setiap kali ia sujud. Diriwayatkan oleh sayyidina Rabi’ah bin Ka’ab Ra dalam Shahih Muslim ia berkata : ” ketika aku berkhidmat kepada nabi selama berhari-hari, aku membawakan makanannya, minumannya, dan air wudhunya kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai ketika aku pamit maka beliau berkata : ” mintalah apa yang engkau inginkan dariku “, maka sayyidina Rabi’ah bin Ka’ab berkata : ” Wahai Rasulullah, aku meminta agar aku bisa bersamamu kelak di surga, sebagaimana aku menemanimu di dunia, aku ingin pula bisa menemanimu di surga “, maka Rasulullah menjawab : ” Bantulah aku untuk mendapatkan keinginanmu dengan memperbanyak sujud “.
Hadirin hadirat, bulan Ramadhan adalah bulan suci semoga rahasia kemuliaan sujud berlimpah kepada kita, dan semoga Allah memuliakan kita dengan keluhuran sujud, dengan cahaya sujud dan kesejukan sujud. Bukakan bagi kami kelezatan sujud, keindahan sujud sehingga kami asyik bersujud mensucikan nama-Mu wahai Yang Pada-Mu kami bersujud, sebagaimana telah Engkau tundukkan kami untuk hanya sujud kepada-Mu, maka tundukkan hati kami untuk tidak tunduk dan sujud kecuali hanya kepada-Mu wahai Allah, jadikanlah penolong kami adalah dzat-Mu , jadikanlah penolong kami adalah Rasul-Mu, jadikanlah penolong kami adalah para shalihin-Mu Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah limpahkan keberkahan kepada kami di bulan Sya’ban dan sampaikan kami pada keberkahan bulan Ramadhan. Ya Rahman Ya Rahim muliakan semua yang hadir di malam hari ini, dan jangan satu pun dari hajat kami yang tertolak, arahkan takdir kami selalu kepada keluhuran dan kebahagiaan , jangan sampai arah takdir kami menuju musibah dan kesusahan kecuali Engkau palingkan arah takdir kami, arah kehidupan kami kepada hal-hal yang Engkau ridha, kepada hal-hal yang Engkau cinta, kepada hal-hal yang Engkau muliakan, dan limpahkanlah rahmat dan kemuliaan lebih dari yang aku minta, limpahilah hajat lebih dari yang kami mohon, Engkau selalu memberi lebih dari yang kami minta, jika aku beramal dengan satu amal maka Engkau membalasnya dengan sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat, kami meminta satu doa maka berilah kami sepuluh hajat hingga tujuh ratus hajat, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram Ya Dazttawli wal In’am …

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …
Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Selanjutnya saya mohonkan kesediaannya untuk mengikuti tahlil dan doa untuk ayahanda saya Fadhilah As Sayyid Al Maghfur Al Habib Fuad bin Abdurrahman bin Ali Al Musawa, di masa kecil saya kalau membaca Al qur’an saya selalu dipanggil dan didudukkan di pangkuannya, di saat itu saya belum mengetahui maknanya tetapi saya tidak boleh bermain kecuali harus berada di dekat beliau saat beliau membaca Al Qur’an, beliau selalu menghadiahkan hafalan Al Qur’an untuk kesemua anaknya dan selalu mendoakan mereka. Ketika saya akan berangkat ke Yaman tahun 1994 , beliau sangat berat dan sedih untuk melepas keberangkatan saya, beliau hanya memberikan tangannya untuk saya menciumnya lantas saya meninggalkan beliau, terlihat beliau membuang muka menandakan tidak ridha, tetapi ketika saya hampir naik ke mobil, beliau membuka pintu rumah dari jauh beliau melihat saya dengan berlinang air mata, ternyata beliau memalingkan wajah ketika saya akan pergi bukan berarti tidak ridha tetapi beliau tidak ingin saya melihat air mata beliau mengalir karena sedih untuk berpisah karena setelah itu saya tidak berjumpa lagi dengan beliau ,itulah pemandangan terakhir saya melihat beliau, ketika saya di Yaman beliau sudah wafat. Semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan beliau, amin. Mari kita membacakan tahlil untuk beliau dan juga untuk As Syaikh Mudh-hir bin Abdurrahman An Nadhiri Al Hasani dan Sayyid Al Arif billah Al Habib Husain bin Umar bin Hud Al Atthas.

Sumber : http://www.majelisrasulullah.org

Posted by: Habib Ahmad | 6 November 2010

BERINTERAKSI DENGAN HADIS DHAIF

BERINTERAKSI DENGAN HADIS DHAIF
Posted on Oktober 31, 2010 by sulaiman
Dalam menentukan penerimaan atau penolakan sesuatu hadis, seseorang itu perlu mengetahui ilmu ‘mustolah al-hadis’ dan ia merupakan ilmu yang sangat penting dan perbahasannya agak luas.

Para ulama sepakat dalam menerima hadis yang bertaraf sahih dan hasan tetapi berbeza dalam menerima hadis yang lemah sanadnya (dhaif). Secara ringkasnya ia terbahagi kepada dua kumpulan iaitu:-

1) Golongan ulama seperti Qadi Abu Bakr Ibn Arabi, Ibn Taimiyyah, Imam Muslim dan golongan salafiyyah seperti Sheikh Al-Albani, Ibn Jauzi dan ramai lagi (rahimahullah ‘ajmain) berpendapat bahawa apa juga hadis/riwayat yang berstatus dhaif TIDAK boleh menjadi hujah dalam menentukan hukum halal, wajib dan haram. Bahkan penolakan ini melangkau kepada hadis dhaif yang berkaitan targhib wal tarhib (galakan dan larangan) atau fadhail ‘amal (kelebihan beramal). Samalah juga dalam penerimaan/penolakan riwayat tentang sirah (sejarah Islam).

2) Majoriti ulama’ termasuklah ulama dari kalangan empat imam mazhab, menerima hadis dhaif dengan syarat-syaratnya walaupun ia berkaitan dengan urusan halal, haram, sah dan batalnya sesuatu ibadah. Dinukilkan dari Imam Ahmad, Ibn Mahdi, Ibn Mubarak (rahimahullah ‘ajmain) dan ramai lagi menerima hadis dhaif yang berkaitan targhib wal tarhib atau fadhail ‘amal.

Imam Ibn Hajar Asqalani (rh) di dalam membahaskan perkara ini mengharuskan penggunaan hadis dhaif berdasarkan tiga syarat seperti berikut:-

1) Hadis dhaif tersebut tidak terlalu dhaif sanadnya (dhaif jiddan) dan jika diriwayatkan oleh seorang yang dusta ditolak sama sekali. (Komentar: Walau bagaimanapun, ia masih tidak muktamad kerana ada ketikanya ulama hadis berbeza menilai para perawi dan semasa mempertimbangkan pengajaran yang terdapat dalam hadis tersebut).

2) Hukum dalam hadis dhaif tersebut berasal dari sumber yang sahih atau dalil yang kuat. Maksudnya, matan dan maksud yang terkandung pada hadis dhaif tersebut mendapat sokongan dari hadis yang lebih kuat sanadnya iaitu hadis sahih/hasan.

3) Tidak beriktiqad bahawa hadis-hadis dhaif tersebut benar-benar datangnya dari Rasulullah SAW.

Jika kita perhatikan perbahasan dari kalangan ulama mengenai perkara ini, terdapat beberapa tambahan bagi penerimaan hadis dhaif seperti di bawah:-

1) Hadis dhaif tersebut tidak bertentangan dengan akal dan logik, tetapi ia masih bukan syarat mutlak dan memerlukan penjelasan/perbahasan.

2) Sekiranya matan (teks) atau maksud yang terdapat dalam hadis dhaif tersebut menepati maksud al-Quran.

3) Tidak terdapat hadis yang lebih kuat sanadnya (sahih/hasan) yang menafikan, menolak dan berbeza hukumnya seperti mana yang terdapat dalam hadis dhaif tersebut. Maksudnya, jika terdapat hadis dhaif yang menyebut tentang sesuatu kelebihan amalan dan kita tidak pula menemui adanya hadis sahih/hasan yang menafikan kelebihan tersebut, maka hadis dhaif itu biasanya diterima.

4) Menolak hadis dhaif yang terdapat perawi yang berfahaman Syiah, dan ini merupakan satu syarat yang perlu dipertimbangkan demi memelihara kemurnian agama terutama yang berkaitan riwayat mengenai Sirah Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat RA.

5) Apabila terdapat banyak hadis dhaif mengenai sesuatu perkara, maka hadis itu boleh ditingkatkan menjadi hasan kerana hadis dhaif boleh memperkuat di antara satu sama lain berdasarkan pandangan jumhur (majoriti) ulama. Maka hadis seperti ini boleh diamalkan bahkan boleh menjadi hujah dalam sesuatu fatwa.

6) Apabila sanad sesuatu hadis itu dinilai secara berbeza-beza di kalangan ulama hadis yang muktabar. Perkara ini berlaku ketika membahaskan ilmu al-jarah wa ta’dil (kajian tentang penerimaan dan penolakan para periwayat hadis). Maksudnya, ada ulama menilai sesuatu hadis itu dhaif tetapi ulama yang lain tidak pula menilainya dhaif bahkan ia hasan atau sahih. Jika hal ini berlaku, pada kebiasaannya hadis seperti ini boleh diterima dan diamalkan.

7) Apabila sesuatu hadis dhaif telah dijadikan dalil dan hujah oleh para imam mujtahid dalam ijtihad/fatwa mereka, maka hadis dhaif tersebut boleh diterima pakai kerana pada dasarnya ijtihad para imam mujtahid adalah sah diamalkan walaupun ia dianggap ijtihad yang lemah atau kurang.

8 ) Dalam menentukan sesuatu hukum, jika tidak terdapat hadis sahih atau hasan dan yang ada hanyalah hadis dhaif, maka menurut sebahagian ulama, hadis dhaif tersebut boleh digunakan menjadi hujah/dalil. Sebagai contoh, mazhab as-Syafi’i menerima hadis mursal (dhaif) sebagai hujah. Imam Abu Hanifah berpendapat hadis dhaif adalah lebih utama berbanding akal (qiyas/logik) kerana hadis dhaif adalah hadis Nabi SAW dan yang dipertikai hanyalah para perawinya sahaja. Bagi golongan yang menolak hadis dhaif sebagai hujah/dalil, pada dasarnya boleh dikatakan mereka lebih mengutamakan akal dan fikiran mereka.

SIKAP, PENDIRIAN & KAEDAH YANG BAIK DALAM MENERIMA HADIS DHAIF

Apabila terdapat dua hadis dalam sesuatu perkara, satu hadis dhaif dan satu lagi hadis sahih/hasan, maka pada ketika ini, hadis yang lebih kuat sanadnya hendaklah diberi keutamaan.

NASIHAT KEPADA PARA ULAMA DAN PENDAKWAH

Para ulama, pendakwah, ustaz, penulis dan sebagainya, apabila menyebut hadis dhaif perlu/wajar menyatakan kedhaifan hadis tersebut atau menjelaskan perbahasan ulama mengenainya bagi mengelakkan pertentangan dan pertembungan di antara golongan yang berbeza dalam penerimaan riwayat-riwayat yang dhaif dan juga mengelakkan salah faham di kalangan orang ramai atau audiens.

Wallahualam.

Sekian

http://nasbunnuraini.wordpress.com/

Posted by: Habib Ahmad | 6 November 2010

Jadual Kuliyah Ustaz Azhar Idrus November 2010

Jadual Kuliyah November 2010

Rating Pengguna: / 6
TerukBagus
Ditulis oleh nayoe
Saturday, 30 October 2010
1/11 Isnin Masjid Pinang Merah Paka
2/11 Selasa (Kuliyah Di Batalkan Utk Menghadiri kenduri Kahwin)
3/11 Rabu Surau Bukit Bading Ajil
4/11 Khamis (Kuliyah Di Batalkan Untuk Hadiri Pilihanraya Galas)
5/11 Jumaat Surau Pak Tuyu
6/11 Sabtu Masjid Banggul Peradung
7/11 Ahad Surau Flat Gelung Bilal
8/11 Isnin Masjid Simpang Empat Cenering
9/11 Selasa Surau Ladang
10/11 Rabu Surau Bukit Kecik
11/11 Khamis Masjid Batu Buruk
12/11 Jumaat Surau Ladang
13/11 Sabtu baluk Kuantan
14/11 Ahad Surau Flat Gelung Bilal
15/11 Isnin ( Tiada Kuliyah )
16/11 Selasa Masjid Pengadang Baru
17/11 Rabu Surau Taman Rakyat Dungun
18/11 Khamis Masjid Batu 6
19/11 Jumaat Masjid Kijing Marang
20/11 Sabtu Masjid Titian Baru Kedai Buluh
21/11 Ahad Surau Flat Gelung Bilal
22/11 Isnin Masjid Pulau Ketam
23/11 Selasa Surau Ladang
24/11 Rabu Surau Bukit Kecik
25/11 Khamis Masjid Batu Buruk
26/11 Jumaat Surau Ladang
27/11 Sabtu Masjid Ar-Ridhuan Ulu Klang KL ( kuliyah Jemputan) [ANAK KUNCI SYURGA*]
28/11 Ahad Masjid Al-‘Aziem Pandan Indah KL (kuliyah jemputan) [ANAK KUNCI SYURGA*]

*kitab Anak Kunci Syurga akan digunakan untuk setiap kuliyah di KL.
harga kitab RM3.50 ( Jawi) RM10.00 (rumi)

Posted by: Habib Ahmad | 6 November 2010

kitab 60 Hadith Kelebihan Aali Bait

Aali Bait
Sabtu lepas saya ke Taman TAR untuk menghadiri sambutan Hari Hol Sayyidah Khadijah dan kupasan kitab 60 Hadith Kelebihan Aali Bait. Majlis bermula sekitar jam 5.30 petang dengan bacaan tahlil dan Surah Yaasiin. Pengisian majlis berikutnya ialah huraian kitab 60 Hadith Kelebihan Aali Bait. Kitab ini adalah terjemahan kitab yang dikarang oleh al-Imam al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti di mana tajuk asalnya ialah Ihya’ al-Mayyit Bifadhail Aali al-Bait. Seperti yang dinyatakan didalam muqadimmah penterjemah, tuntutan mencintai ahli bait bukanlah resapan daripada ajaran syi’ah rafidhah tetapi merupakan salah satu daripada pegangan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Ramai alim-ulama terutamanya Imam Hadith yang enam (al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmizi, al-Nasa’ie dan Ibnu Majah) meletakkan bab keutamaan Ahli Nabi ini secara umum atau terperinci di dalam kitab hadith mereka. Begitu juga dengan Imam Nawawi, Syeikh Qadhi Iyadh dan Ibnu Hajar al-Haithami yang menulisnya di dalam kitab mereka. Seperti yang dinyatakan di dalam muqadimah tersebut, Ahli Sunnah wal Jama’ah menuntut pengikutnya mengasihi Ahli Bait kerana kecintaan terhadap Rasulullah saw. Selanjutnya dalam muqaddimah tersebut dinyatakan bahawa, “Sesungguhnya tidak akan sempurna kasih kepada keluarga Nabi saw sekiranya tidak disertai dengan kasih kepada para Sahabat ra. Begitu juga tidak akan sempurna kasih kepada para Sahabat ra sekiranya tidak disertai dengan perasaan kasih kepada keluarga Nabi saw”.

Masjid Darul Ehsan

Kitab ini telah dicetak sebanyak 3 kali. Cetakan pertama ialah pada tahun 2001 manakala cetakan kedua ialah pada tahun 2004. Gambar di atas adalah merupakan cetakan yang terkini

Posted by: Habib Ahmad | 6 November 2010

Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut

Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut

Utk Renungan Bersama.

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah
malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan
Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku”, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.”Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku” Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk
mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin….

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2010

Bidaah menurut syarak dan bahasa

Bidaah menurut syarak dan bahasa

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

BIDAAH tidak akan menjadi isu yang terlalu rumit dan bermasalah jika kita bersedia menerima pembahagian bidaah kepada bidaah hasanah (yang baik) dan bidaah sayyi’ah (yang buruk).

Malangnya sebahagian umat Islam mengkritik pembahagian bidaah ini. Mereka begitu keras mengingkari setiap orang yang menerima dan memperkatakan tentang pembahagian bidaah ini.

Bahkan, ada di antara mereka yang menuduh fasiq dan sesat terhadap setiap orang yang mempunyai fahaman sedemikian.

Menurut mereka, hal itu bersalahan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang bermaksud: “Setiap bidaah adalah sesat”.

Lafaz hadis ini adalah jelas merupakan lafaz yang umum maknanya dan jelas menyifatkan bidaah itu sebagai suatu perkara yang sesat. Maka daripada sini, kita melihat mereka berani mengatakan, Apakah boleh dibenarkan atau diterima selepas sabda Rasulullah SAW ini yang menegaskan, “Bahawa setiap bidaah itu sesat” tampilnya mana-mana mujtahid atau faqih yang setinggi manapun kedudukannya, lalu berpendapat, “Tidak! Tidak! Bukan semua bidaah itu sesat, tetapi, sebahagiannya ada yang sesat, sebahagiannya lagi ada yang baik, dan yang buruk.”

Dengan kata-kata dan cara seperti inilah, ramai umat Islam yang tertipu. Mereka turut berteriak bersama-sama mereka yang mengingkari adanya bidaah hasanah. Ternyata, kebanyakan mereka itu adalah orang-orang yang tidak memahami tujuan-tujuan atau maksud-maksud ajaran Islam (maqasid syariah) dan belum merasakan rohnya.

Namun, tidak beberapa lama selepas itu pula, mereka terpaksa mencari jalan keluar untuk menyelesaikan pelbagai permasalahan yang dihadapi dan juga suasana kehidupan seharian mereka (yang penuh dengan perkara bidaah pada anggapan mereka).

Mereka terpaksa mencipta suatu penemuan dan pendekatan baru terhadap isu ini dengan menampilkan suatu definisi baru tentang bidaah. Lalu muncullah kata-kata: “Sesungguhnya bidaah itu terbahagi kepada bidaah diniyyah (berkaitan dengan agama) dan bidaah dunyawiyyah (berhubungan dengan urusan-urusan duniawi)”.

Maha Suci Allah! Orang yang suka bermain-main ini berani sekali membolehkan dirinya mencipta pembahagian seumpama ini. Atau, paling tidak, mencipta penamaan atau definisi baru mengenai bidaah.

Jika kita menerima bahawa pembahagian ini (secara maknawi) sudah wujud semenjak zaman Nabi Muhammad SAW, sedangkan secara pasti penamaan ini (bidaah diniyyah dan dunyawiyyah) tidak pernah wujud langsung pada zaman tasyri’ (pensyariatan), maka daripada manakah klasifikasi seumpama ini lahir? Dan daripada manakah penamaan yang bidaah ini timbul?

Sesiapa yang mengatakan bahawa pembahagian bidaah kepada hasanah dan sayyi’ah itu bukannya datang daripada syariat, maka kami tegaskan kepada mereka: Begitu jugalah pembahagian bidaah kepada bidaah diniyyah yang tidak diterima dan bidaah dunyawiyyah yang diterima.

Ia juga merupakan satu perbuatan bidaah dan penemuan baru.

Rasulullah SAW menegaskan, “Setiap bidaah itu sesat”. Sabda Nabi Muhammad SAW ini begitu mutlak; tidak mempunyai sebarang syarat. Manakala kamu pula berkata: Tidak! Bukanlah semua bidaah itu sesat secara mutlak; tetapi bidaah itu terbahagi kepada dua bahagian; bidaah diniyyah; ia adalah sesat, dan bidaah dunyawiyyah; ia adalah bidaah yang tidak mempunyai apa-apa hukum di dalamnya.

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2010

Bila Selalu Mengingat Mati

Bila Selalu Mengingat Mati
K.H. Abdullah Gymnastiar

——————————————————————————–
Sehalus-halus kehinaan di sisi ALLOH adalah tercerabutnya kedekatan kita dari sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh dari meningkat, atau bahkan malah menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya, tidak bertambah pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada ALLOH, bahkan justru maksiat pun sudah mulai dilakukan, dan anehnya yang bersangkutan tidak merasa rugi. Inilah tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat berdekatan bersama ALLOH Azza wa Jalla.
Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah berujar, “Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tandas tidak tersisa”. Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Karenanya jangan pernah permainkan nikmat iman di hati ini.
Ada sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum ini ada hikmah yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak begitu rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang rekan tersebut.
Sayangnya begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya kehilangan shalat tahajud menangis tersedu-sedu, “Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya ALLOH?!”, ujarnya seakan menyesali diri. Tapi lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadual tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju mesjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah saja.
Begitupun untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat tahiyatul mesjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. “Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus duluan!” Pikirnya.
Saat akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta’lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang.
Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan keuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai mengeras.
Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah tercerabutnya taupiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah (jelek di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti ini.

***
Ada lagi sebuah kisah pilu ketika suatu waktu bersilaturahmi ke Batam. Kisahnya ada seorang wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam pergaulan dengan lawan jenisnya sehingga dia hamil, sedangkan laki-lakinya tidak tahu entah kemana (tidak bertanggung jawab). Hampir putus asa ketika si wanita ini minta tolong kepada seorang pemuda mesjid. Ditolonglah ia untuk bisa melakukan persalinan di suatu klinik bersalin, hingga ia bisa melahirkan dengan lancar. Walau tidak jelas siapa ayahnya, akhirnya si wanita ini pun menjadi ibu dari seorang bayi mungil.
Sayangnya, sesudah beberapa lama ditolong, sifat-sifat jahiliyahnya kambuh lagi. Mungkin karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan ketika dinasihati pun tidak mempan lagi hingga akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah si wanita ini, ia kembali hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau bertanggung jawab.
Lalu ditolonglah ia oleh seseorang yang ternyata aqidahnya beda. Si orang yang akan membantu pun menawarkan bantuan keuangan dengan catatan harus pindah agama terlebih dulu. Si wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya “Toh hanya untuk persalinan saja, setelah melahirkan aku akan masuk Islam lagi”. Tapi ternyata ALLOH menentukan lain, saat persalinan itu justru malaikat Izrail datang menjemput, meninggalah si wanita dalam keadaan murtad, naudzhubillah.

***
Cerita ini nampaknya bersesuaian pula dengan sebuah kisah klasik dari Imam Al Ghazali.
Suatu ketika ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi muazin di sebuah menara tinggi di samping mesjid. Kebetulan di samping mesjid itu adapula sebuah rumah yang ternyata dihuni oleh keluarga non-muslim, diantara anak-anak keluarga itu ada seorang anak perempuan berparas cantik yang sedang berangkat ramaja.
Tiap naik menara untuk azan, secara tidak disengaja tatapan mata sang muazin selalu tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula ketika turun dari menara. Seperti pepatah mengatakan “dari mata rurun ke hati”, begitulah saking seringnya memandang, hati sang muazin pun mulai terpaut akan paras cantik anak gadis ini. Bahkan saat azan yang diucapkan di mulut Allahuakbar-Allahuakbar, tapi hatinya malah khusyu memikirkan anak gadis itu.
Karena sudah tidak tahan lagi, maka sang muazin ini pun nekad mendatangi rumah si anak gadis tersebut dengan tujuan untuk melamarnya. Hanya sayang, orang tua si anak gadis menolak dengan mentah-mentah, apalagi jika anaknya harus pindah keyakinan karena mengikuti agama calon suaminya, sang muazin yang beragama Islam itu. “Selama engkau masih memeluk Islam sebagai agamamu, tidak akan pernah aku ijinkan anakku menjadi istrimu” ujar si Bapak, seolah-olah memberi syarat agar sang muazin ini mau masuk agama keluarganya terlebih dulu.
Berpikir keraslah sang muazin ini, hanya sayang, saking ngebetnya pada gadis ini, pikirannya seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Hingga akhirnya di hatinya terbersit suatu niat, “Ya ALLOH saya ini telah bertahun-tahun azan untuk mengingatkan dan mengajak manusia menyembah-Mu. Aku yakin Engkau telah menyaksikan itu dan telah pula memberikan balasan pahala yang setimpal. Tetapi saat ini aku mohon beberapa saat saja ya ALLOH, aku akan berpura-pura masuk agama keluarga si anak gadis ini, setelah menikahinya aku berjanji akan kembali masuk Islam”. Baru saja dalam hatinya terbersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh dari tangga menara mesjid yang cukup tinggi itu. Akhirnya sang muazin pun meninggal dalam keadaan murtad dan suul khatimah.

***
Kalau kita simak dengan seksama uraian-uraian kisah di atas, nampaklah bahwa salah satu hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah jikalau kita sedang berbuat kurang bermanfaat bahkan zhalim, maka salah satu teknik mengeremnya adalah dengan ‘mengingat mati’. Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal kita sedang berbuat maksiat, zhalim, atau aniaya? Tidak takutkah kita mati suul khatimah? Naudzhubillah. Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar kita dalam memelihara iman di relung kalbu ini. Artinya kalau ingin meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, maka selalulah ingat mati.
Dalam hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah keluar menuju mesjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yangsedang mengobrol dan tertawa. Maka beliau bersabda, “Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.”
Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh dari berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya dimana saja dan kapan saja kita akan senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat. Begitupun ketika misalnya, mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja, seperti nasyid-nasyid Islami atau bahkan bacaan Al Quran yang mengingatkan kita kepada ALLOH Azza wa Jalla. Sehingga kalaupun malaikat Izrail datang menjemput saat itu, alhamdulillah kita sedang dalam kondisi ingat kepada ALLOH. Inilah khusnul khatimah.
Bahkan kalau kita lihat para arifin dan salafus shalih senantiasa mengingat kematian, seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Dan seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah r.a. bahwa ketika kematian menjemputnya, ia berkata, “Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya ALLOH, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu.”
Akhirnya, semoga kita digolongkan ALLOH SWT menjadi orang yang beroleh karunia khusnul khatimah. Amin! ***

http://alhabaib.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2010

MAJLIS RIYADHUL JANNAH

MAJLIS RIYADHUL JANNAH

MAJLIS RIYADHUL JANNAH pimpinan Al Habib Muchsin bin Abdurahman Al Hamid telah diadakan di Masjid Datuk Pangiran Galpam Sandakan. Majlis tersebut diisi oleh bacaan RATIB ALHADDAD, MAULID HABSYI, ceramah agama dan sebagainya adalah bertujuan untuk menghidupkan suasana dakwah dalam menerapkan kecintaan kepada ALLAH SWT dan juga nabi junjungan rasulullah saw. Semoga dengan adanya majlis ini dapatlah kita sama-sama menegakkan syiar Islam dan memperkukuhkan ikatan silatulrahmi sesama kita..amin rabbal alamin.

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2010

ADAB MENUNTUT ILMU

ADAB MENUNTUT ILMU
PERTAMA: NIAT
Niat yang sepatutnya ada pada setiap penuntut ilmu ialah :-
1-Mengharapkan reda Allah Ta’la dan negeri akhirat.
2-Melenyapkan kejahilan dari dalam diri dan diri orang-orang yang bodoh.
3-Menghidupkan dan mengekalkan Agama Islam
4-untuk Zuhud dan Bertakwa kepada Allah swt.
Dengan ilmu yang dianugerahkan oleh Allah swt tadi hendaklah dijadikan alat untuk bersyukur kepada-Nya.
KEDUA: MEMILIH ILMU
Penuntut ilmu mestilah berusaha memilih ilmu yang terbaik, iaitu ilmu yang paling perlu baginya dibidang urusan agamanya. dahulukan dengan Ilmu Tauhid dan Ma’rifahtullah dengan dalil. Iman orang taklid, sah bagi kita namun ia tetap berdosa kerana berusaha meninggalkan usaha mencari dalil.
KETIGA: MEMILIH GURU
Penuntut ilmu wajib berusaha memilih guru. Guru yang patut diutamakan ialah orang paling bertakwa, berilmu, warak, beramal dengan ilmunya dan paling tua. Ini bersesuaian dengan apa yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah memilih Hammad bin Sulaiman setelah melalui proses merenung dan berfikir. Beliau berkata: “Aku dapati Hammad bin Sulaiman adalah seorang yang tenang, lambat marah dan penyabar”
al Hakim berkata: “Jika anda berangkat ke Bukhara, jangan tergesa-gesa dalam persalahan-persalahan dengan para ulamak, berdiamlah dahulu selama 2 bulan hingga engkau sempat merenung dan memilih seorang guru. Kerana jika engkau pergi kepada seorang yang alim dan mulai belajar dengannya berkemungkinan engkau tidak tertarik kepada ajarannya lalu engkau pergi kepada guru lain. Bertukar-tukar guru seperti ini dapat menghilangkan keberkatan dalam belajar.

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2010

Penutup Perdebatan Islam Alaf Kedua Dunia Melayu

Penutup Perdebatan Islam Alaf Kedua Dunia Melayu

Assalamualaikum,

Kepada semua ahli jemaah yang berminat untuk mendapatkan buku tulisan Allahyarham Ustaz Wan Saghir yang bertajuk ‘Penutup Perdebatan Islam Alaf Kedua Dunia Melayu’ boleh mendapatkannya di Ba’alawi KL atau sila hubungi saudara Azli – 0193303542. 100% dari jualan buku ini akan di masukkan ke dalam tabung pengajian Ba’alawi KL.

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2010

Tiada Penghalang Untuk Melihat Allah swt

Tiada Penghalang Untuk Melihat Allah swt
Senin, 25 Oktober 2010

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللَّهُ أَبَدًا

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
“Sungguh Aku Rasulullah, dan Allah swt tidak akan mengecewakanku selama lamanya” (shahih Bukhari)

Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Kekal dan abadi, kita bersalawat dan bersalam kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kelurga, para sahabatnya dan para pengikutnya, mulai hari ini hingga hari perjumpaan. Kita memuji dan bersyukur kepada Allah yang telah memilih kita dan memuliakan kita di malam hari ini untuk masuk ke rumah-Nya (masjid) dan menghadiri majelis nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hal ini adalah suatu kenikmatan dari Allah untuk kita semua. Allah menghadirkan kita di malam hari ini untuk memberi anugerah kepada kita, karena Allah tidaklah memberi kemudahan kepada kita dalam melakukan sesuatu kecuali Allah hendak memberikan kepada kita balasan pahala. Dan tidaklah Allah menciptakan sesuatu itu begitu saja (sia-sia), maka segala ciptaan Allah dan segala perbuatan makhluk-Nya adalah dalam lingkupan hikmah atau dalam lingkupan rahmah. Segala perbuatan yang disyariatkan oleh Allah adalah bentuk dari rahmah Allah, dan Allah membalas mereka yang melakukannya dengan balasan pahala dan surga. Adapan sesuatu yang menyalahi syariat dan perintah Allah maka hal itu terdapat hikmah dan jauh dari rahmah, dan Allah akan membalas perbuatan mereka dengan siksaan. Segala sesuatu yang ada di dunia ini dari perbuatan baik atau buruk, keimanan atau kekufuran, dan kemaksiatan atau kerugian, kesemua itu adalah ciptaan Allah yang tidaklah sia-sia (remeh) melainkan berada dalam koridor rahmah atau dalam koridor hikmah, semoga Allah menjadikan kita selalu berada dalam lingkupan rahmah.

Dan majelis-majelis dzikir dan shalawat atas nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah lingkupan rahmat Allah subhanahu wata’ala. Allah menambhakan rahmat untuk hamba-hamba-Nya yang selalu mendekat kepada tempat-tempat dan majelis yang dipenuhi rahmah. Dan setiap rahmat yang dilimpahkan oleh Allah adalah pecahan dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan penundaan siksa untuk orang kafir juga merupakan rahmah, rahmah yang disebabkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

( الأنفال:33 )

” Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” ( QS. Anfal: 33)

Istighfar merupakan syariat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan selama kita beristighfar memohon ampunan kepada Allah maka tidak akan ada siksa untuk kita, insyaallah. Dan selama ummat beristighfar maka niscaya tidak akan ada siksaan yang turun dari Allah untuk mereka. Kita memohon kepada Allah semoga kita dilimpahi rahmat di majelis malam hari ini dan senantiasa melimpahkan rhamat kepada kita tiada hentinya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “jika kita memasuki masjid berdoalah kepada Allah agar dibukakan untuk kita pintu-pintu rahmah”. Maka majelis-majelis dzikir dan maulid yang diadakan di dalam masjid merupakan rahmat diatas rahamat, dan limpahan rahmat yang turun karena dzkir, dan juga rahmat para malaikat yang hadir di majelis-majelis dzikir, maka seorang mukmin akan selalu dilimpahi rahmat hingga Allah menyatukannya dengan nabi yang penuh rahmat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika Allah telah mengikatmu dengan nabi yang penuh rahmat dalam kehidupanmu maka engkau akan mendapatkan kebahagian dan ketenangan. Diantara tanda bahwa engkau telah terikat dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ketika engkau akan masuk ke dalam rumahmu maka engkau akan teringat apa yang diucapakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memasuki rumah, dan ketika engkau memasuki pasar maka kau teringat tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tentang apa yang diucapkan beliau saat memasuki pasar, ketika engkau sedang menghadapi makanan dan engkau teringat akan tuntunan Rasulullah apa yang diucapkan ketika akan makan, maka sungguh engkau telah terikat dengan nabi yang penuh rahmah. Dan ketika engkau akan tidur kemudian engkau teringat apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana cara tidur beliau serta apa yang diucapkan ketika akan tidur,maka sungguh engkau akan selalu dalam rahmat Allah dan selalu terikat dengan nabi yang penuh rahmat, dan engkau akan melihat dampak dari rahmat ini ketika engkau wafat dimana merupakan jalan untuk menuju kenikmatan yang kekal di surga, dan kenikmatan yang paling mulia di surga adalah memandang dzat Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana hadits agung yang kita baca tadi, namun pembuka rahmat yang kekal adalah kematian. Jika engkau memperbanyak mencari rahmah di dunia maka ia akan datang sebagai penolongmu ketika engkau wafat. Darimana dan bagaimana rahmah itu datang?! Yaitu dengan mengukuti tuntunan dan sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka sebagian ulama besar mengatakan bahwa ada 2 orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bersepakat untuk saling membantu di dunia dalam mencapai ridha Allah, dan untuk menyebarkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, dan menampakkan akhlak rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama mereka dalam kehidupan dunia. Maka kedua orang shalih ini setuju untuk mengamalkan sunnah-sunnah nabi Muhammad dan menyebarkan ajaran beliau hingga mereka wafat, dan mereka berkesinambungan dalam hal itu, mereka saling membantu dalam menyebarkan dakwah nabi Muhammad, mereka mengajarkan sunnah-sunnah nabi Muhammad kepada manusia dengan kasih kelembutan dan kasih sayang dan akhlak yang mulia, dan mereka terus mengamalkan sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana hal itu adalah sunnah-sunnah yang sangat sederhana dan kita semua mengetahuinya, diantaranya sunnah ketika makan, ketika tidur, ketika keluar dan masuk rumah. Kita menganggapnya sesuatu yang kecil padahal hal itu sangat agung di sisi Allah. Dan setelah beberapa tahun kedua orang ini mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka salah seorang diantara mereka meninggal. Maka orang ini selalu mendoakan temannya yang meninggal, dan memintakan ampunan kepada Allah untuknya. Dan suatu saat ia berjumpa dengan temannya di dalam mimpi, dan ia menanyakan keadaannya setelah meninggal, dan apa yang terjadi setelah ia wafat. Kita mengetahui bahwa mimpi-mimpi baik itu adalah benar dan datangnya dari Allah,dan sebagian mimpi yang lainnya adalah dari syaitan. Lihatlah pada indahnya tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka berkatalah saudaranya yang meninggal itu: ” Ketika aku wafat dan berpindah dari kehidupan dunia ini, sungguh aku tidak merasakan kematian sama sekali, orang-orang memandikanku, mengkafaniku, dan membawaku ke dalam kubur, tetapi aku mengira diriku dalam mimpi, sehingga datang 2 malaikat ke dalam kuburku, dan berkata kepadaku : “duduklah wahai Abdullah”, dan ketika aku duduk di kuburku aku merasa bahwa diriku baru bangun dari tidur, dan dahulu ketika aku masih hidup di dunia aku selalu menjaga 2 sunnah nabi yaitu ketika akan tidur dan ketika bangun tidur, yang pertama adalah sunnah siwak, ketika aku bangun tidur aku selalu mengambil siwak dan bersiwak dengannya, dan yang kedua adalah ketika aku bangun tidur aku selalu membaca doa:

الحمدلله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور

” Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali, dan kepada-Nya lah kami akan kembali”.

Adapun balasan dari sunnah yang pertama aku tidak merasakan sakitnya kematian bahkan aku mengira bahwa aku sedang dalam mimpi, sehingga malaikat berkata kepadaku: “duduklah wahai Abdullah” mereka ingin menanyakan aku di dalam kubur, dan ketika aku bangun dari kuburku aku mengira bahwa aku bangun dari tidur, dan aku mulai mencari siwak dan aku mengulang-ulang doa bangun tidur, dan ketika itu aku memanggil anakku dan aku berkata: “wahai fulan, dimana siwakku, siapa yang yang telah mengambil siwak?”, maka malaikat yang berada di hadapanku berkata: “Wahai Abdullah, siwak apa yang engkau cari dan siapa yang orang yang engkau panggil itu?, apakah engkau mengira bahwa engkau sedang tidur di tempat tidurmu?, engkau sekarang adalah mayyit di dalam kuburmu, dan kami adalah malaikat yang akan bertanya kepadamu”, maka aku menjadi risau dan aku sadar bahwa aku telah berada di alam kubur, dan aku pun mengulang-ulang doa bangun tidur, maka malaikat itu berkata: “engkau adalah hamba yang shalih, engkau telah dikuatkan dengan ucapan yang kuat, maka tiada lagi pertanyaan untukmu di kubur dan di hari kiamat, maka tidurlah seperti tidurnya pengantin sampai tiba hari kiamat”. Maka ia berkata kepada temannya di dalam mimpi, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menyelamatkanku dari pedihnya kematian, dan dari pertanyaan 2 malaikat di alam kubur dikarenakan aku mengamlakan dua sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat mudah dan sederhana itu. Maka bagaimana jika kita mengamalkan 5 dari sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bagaimana jika kita menjaga 10 sunnah dari sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap sunnah Rasulullah yang engkau amalkan akan membawa manfaat untukmu, dan orang ini telah melewati 1 tahap yaitu selamat di alam kuburnya, ia akan selamat dari kubur kemudian mencapai ke surga, dan dari surga ia akan mencapai kepada puncak kenikmatan di surga yaitu memandang keindahan dzat Allah subhanahu wata’ala. Demikianlah Allah subhanahu wata’ala memberi balasan kepada orang-orang yang beriman di dunia, karena mereka beriman kepada Allah subhanahu wata’ala walaupun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka menyembah-Nya padahal mereka tidak melihat-Nya, dan mereka melakukan shalat karena Allah subhanahu wata’ala sedangkan mereka tidak melihat-Nya. Jika mereka telah sampai kepada ketetapan rahmat Allah, maka mereka akan melihat Allah subhanahu wata’ala, dan Allah akan menyingkirkan dari mereka tabir yang menghalangi mereka dengan Allah.

Sungguh Allah subhanahu wata’ala tidak bisa disifati dengan tempat, langit-langit dan bumi ini dahulu tiada, bintang-bintang, bulan dan matahari asal mulanya tiada, dan segala unsur oksigen dan lain-lainya dahulu tiada. Dahulu tidak ada tempat atau masa, karena perhitungan zaman diketahui dengan putaran matahari dan bumi, maka bagaimana mungkin ada zaman sebelum ada matahari. Allah ada sebelum ada atas dan bawah, dan sebelum diciptakan alam semesta, langit dan bumi ini, maka bagaimana diketahui arah atas dan bawah, oleh karena itu kelak di hari kiamat hamba akan melihat Allah tanpa terikat lagi dengan tempat, mereka melihat Allah subhanahu wata’ala sebagaimana hari mulia di hari Jum’at ketika di dunia, sebagaimana riwayat sahabat Abi Sa’id Al Khudri RA, beliau adalah seorang sahabat yang selalu mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencintainya. Beliau sering keluar ke pedesaan dengan membawa kambing-kambingnya dan menggembalanya di pedesaan itu, dia sangat mencintai kambing dan tempat penggembalaannya itu. Maka suatu saat Rasulullah berkata kepada Abu Sa’ad Al Khudri: ” wahai Aba Sa’id, aku melihat engkau sangat menyayangi kambing dan perkampunganmu”, maka ia berkata: “betul wahai Rasulullah “, kita lihat apa yang diucapkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengikat cinta dengan agama, beliau berkata kepada Aba Sa’id : “jika engkau sedang menggembala kambingmu, dan disaat itu telah masuk waktu shalat, maka janganlah kamu langsung melaksanakan shalat, tetapi adzan dan iqamahlah kemudian lakukan shalat”, kemudian beliau menyebutkan keutamaan-keutmaan adzan yang demikian luhur, Rasulullah berkata: “tiadalah sesuatu dari bebatuan, benda yang mati dan yang yang kering atau basah, dan lainnya yang mendengar suara adzan dikumandangkan kecuali akan menjadi saksi bagimu dengan keimanan” . Maka jika engkau melakukan shalat di rumah mu atau di kamarmu maka adzanlah karena segala sesuatu yang ada disekitarmu akan menjadi saksi bagimu dengan keimanan. Demikian keadaan Rasulullah saat duduk bersama para sahabat, terkadang mereka bertanya kepada beliau dan terkadang Rasulullah memulai pembicaraan dengan mereka. Dan di sebagian riwayat tentang hadits tadi, bahwa Rasulullah bersabda : ” Kalian akan melihat tuhan kalian dengan kasat mata”, maka sahabat heran dengan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “wahai Rasulullah apakah kita akan melihat Allah kelak di hari kiamat?, kita lihat apa jwaban nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak menjawab “iya”, beliau tidak menjawab : “betul”, namun beliau memberi jawaban dengan sesuatu yang betul-betul meyakinkan dan terjadi di hadapan mereka. Maka beliau bersabda: “apakah kalian tidak bisa melihat matahari dan bulan jika langit cerah?”, para sahabat berkata: “tidak wahai Rasulullah, bagaimana kita tidak dapat melihat bulan atau matahari jika langit sedang cerah”, maka Rasulullah berkata: “tidak ada keraguan dalam melihat Allah subhanahu wata’ala kelak di hari kiamat, keculi kalian ragu dalam melihat matahari atau bulan ketika langit sedang cerah”. Dan dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “sungguh kalian akan meliahat Allah dengan sangat jelas dan dalam keadaan sadar”, dan dalam riwayat Abi Sa’id, dijelasakan di dalam kitab Imam Malik Al Muwattha’ beliau berkata: “ketika kami keluar bersama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam suatu malam dan bulan purnama sangat sempurna dan terlihat jelas, maka nabi Muhammad berkata kepada para sahabat yang disaat itu bersama beliau: ” Apakah kalian masih ragu melihat bulan purnama itu di malam hari ini?”, maka para sahabat berkata : “tidak wahai rasulullah”, Rasulullah berkata: “sungguh kalian akan melihat tuhan pencipta kalian seperti jelasnya kalian melihat bulan purnama ini”, bukan berarti Allah subhanahu wata’ala seperti bulan atau matahari, tetapi maksudnya adalah selama kalian yakin dengan melihat bulan atau matahari itu, maka sungguh engkau akan melihat Allah subhanahu wata’ala di hari kiamat. Sungguh orang-orang yang beriman akan menikmati memandang dzat Allah subhanahu wata’ala di surga dan itu merupakan nikmat yang paling luhur. Waktu hari Jum’at di dunia, disaat itu pula waktu melihat Allah subhanahu wata’ala dan keindahan-Nya, dan jika engkau ketika di dunia mendatangi shalat Jum’at di akhir shaf maka ia juga akan memandang Allah dibagian paling belakang, dan siapa yang mendatanginya di awal waktu maka ia akan berada di barisan pertama bersama para nabi dan para shalihin untuk melihat Allah kelak. Salah seorang Tabi’in, sayyidina Yahya bin Mu’adz Rahimahullah berkata: “Jika Allah menyingkapkan penghalang dari jiwa orang-orang mukmin, dan mereka melihat tuhan mereka, maka pandangan mereka akan hilang selama 800 tahun dan tidak bisa melihat yang lain karena keagungan cahaya Allah, dan setelah 800 tahun mereka akan kembali sadar, karena keindahan memandang dzat Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

( القيامة : 22-23)

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat.” (QS Al Qiyamah: 22-23)

Semua kenikmatan surga tidak sebanding dengan nikmat memandang dzat Allah subhanahu wata’ala. Maka orang-orang yang beriman setelah berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala dan kembali ke istana mereka masing-masing, maka para istri mereka dari wanita-wanita mu’minat dan para bidadari surga berkata: “apa yang membuatmu sangat bercahaya?, semakin indah wajahmu”, maka mereka berkata: “hari ini Allah telah memuliakan kami dan mengangkat tabir penghalang sehingga kami melihat Allah subhanahu wata’ala”, inilah kenikmatan yang agung, kedudukan yang sangat mulia, balasan yang sangat luhur, anugerah yang sangat besar, dan keridhaan Allah yang paling agung, dan tiada kemurkaan lagi setelah itu, kenikmatan yang kekal dan abadi selama-lamanya. Ribuan tahun lewat seperti lewatnya 24 jam, berlalunya 1000 tahun seperti 2 menit, dan kelezatan makanan di surga akan terus terasa kenikmatannya sepanjang seribu tahun, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Hakim tentang hadits ini, bahwa kelezatan satu suap makanan di surga kenikmatannya akan tetap terasa hingga 1000 tahun. Karena waktu di surga berlalu begitu cepat dan kenikmatan disana kekal selamanya. Apakah yang menyebabkan semua ini? , hal yang kecil dan mudah, hanya 10 menit dalam sehari melaksanakan shalat fardhu 5 waktu, jika engkau shalat di masjid hal itu dibenarkan, shalat di padang pasir dibolehkan, shalat di rumah atau di sawah juga diperbolehkan karena bumi semua adalah masjid bagi ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang terpenting adalah engkau melaksanakan shalat, jika engkau shalat berjamaah maka hal itu lebih utama dan lebih sempurna, jika engkau shalat sendiri pun diperbolehkan, dan jika engkau shalat dengan siwak maka itu lebih utama, dan siwak dengan kayu ara:k afdhal, dan siwak dengan ujung pakaian pun dibenarkan. Hal yang sangat kecil dan mudah dilakukan akan membawa kita kepada kenikmatan yang kekal. Dan kita berpuasa setahun sekali di bulan Ramadhan, kemudian bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, atau kita bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi ketika akan tidur agar sebanyak 20 kali, agar mendapatkan syafaat dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kita saling membantu dalam meneggakkan agama ini, saling mencintai karena Allah, menyebarkan ajaran Rasulullah diantara manusia, kita keluar untuk berdakwah di jalan Allah, ajarkan orang-orang non muslim tentang ajaran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, hendaknya demikian hari-hari kita berlalu dari tahun ke tahun, dan kita gembira ingin kehidupan ini segera berlalu dengan cepat, rindu dengan kematian karena rindu ingin berjumpa dengan Allah, kita mengharapkan balasan yang agung di surga, kita ingin berjumpa dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupan ini kesemuanya adalah tambahan pahala yang sangat luhur, kehidupan bagi kita merupakan tambahan kenikmatan dan kenikmatan, jadikan kehidupan ini di setiap harinya selalu bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Jika kita telah melaksanakan shalat fardhu maka kita bersyukur kepada Allah dengan ucapan “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah”, setelah membaca Al Qur’an kita bersykur dengan ucapan “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah”.

Jika kita hadir seperti majelis di malam hari ini dan kita keluar dengan gembira dan ucapkan “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah”. Kehidupan dunia berlalu dan kita mengharap perjumapaan dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita jadikan kehidupan kita mengikuti kehidupan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang kesemuanya adalah dakwah untuk agama, dakwah untuk ajaran-ajaran nabi yang penuh rahmah, kesemua itu adalah kebahagiaan. Kebahagiaan bukanlah hanya dengan makanan dan minuman saja, akan tetapi dengan wirid dan dzikir, di pagi hari dengan bacaan shalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, di waktu dzhuhur membaca “Laa ilaaha illallah almalik alhaqq almubiin”, di waktu Asar membaca “Hasbunallaah wani’ma Al wakiil”, sesudah maghrib membaca “Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallahu allahu akbar”, dan sesudah Isya membaca “Subhanallah wabihamdihi subhanallah Al ‘azhim” , dan ketika akan tidur membaca Subhanallah 33 x, Alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 34 x , maka engkau akan merasakan kenikmatan dzikir dan engkau akan mencapai derajat dicintai Allah karena engkau banyak menyebut-Nya, dan hatimu akan dipenuhi dengan rahmah, engkau menginginkan semua manusia masuk kedalam agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menggembirakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, jika nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam gembira maka Allah akan ridha dan syaitan akan sedih, karena syaitan menginginkan manusia bersamanya di neraka, sedangkan Rasulullah menginginkan mereka baik pria dan wanita untuk bersama beliau di surga. Rasulullah tidak menginginkan mereka berada di surga yang pertama akan tetapi beliau menginginkan semua ummatnya berada di surga Firdaus, surga yang paling tinggi. Agar kita bersama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kita ikuti akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sifat-sifat beliau, keberanian beliau, kejujuran beliau, dan kita berdzikir kepada Allah sebagaimana Rasulullah berdzikir. Kita semua menginginkan keluhuran dan kebaikan maka ajaklah para kelurga, kerabat dan teman kita kepada keluhuran. Jika semakin banyak kejahatan, dan kita tidak saling membantu dalam menegakkan agama dan menyebarkan kemuliaan, maka Rasulullah akan bersedih dan Allalh akan murka, manusia akan celaka dan syaitan gembira. Jika syaitan melihat kebaikan itu sedikit maka ia akan gembira, karena dia menginginkan manusia bersamanya di neraka. Oleh karena itu kita menginginkan semua perbuatan kita membuat syaitan marah dan sedih namun membuat Rasulullah gembira. Jika engkau akan tidur dan kau teringat dan mengamalkan dzikir sebelum tidur maka Rasulullah akan gembira dan syaitan marah. Dan ketika kau bangun dari tidur bacalah doa bangun tidur maka Rasulullah akan gembira dan engkau akan dilimpahi pahala yang agung oleh Allah karena telah menggembirakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun ketika engkau bangun tidur dan tidak menyebut Allah dan tidak mengucapkan doa bangun tidur maka syaitan akan gembira, dan ketika engkau akan makan dan tidak mengucapkan “Bismillah” maka syaitan senang dan ia akan makan bersamamu, dan mengambil keberkahan makanan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat alam hakikat keseluruhannya, beliau melihat syaitan dan para malaikat, dan jika beliau melewati kubur beliau akan melihat ruh-ruh orang yang telah meninggal dan berbicara dengan mereka, beliau mendengar benda-benda, hewan dan tumbuhan yang berdzikir dan bertasbih kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka di suatu hari beliau duduk bersama para sahabat untuk makan, kemudian datang seseorang dengan bergegas dan ingin makan bersama mereka, ia tidak mengucap Bismillah dan langsung mengulurkan tangannya ke makanan itu, dan disaat itu para sahabat ada namun mereka tidak melihat sesuatu, namun nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tangan lelaki itu, maka lelaki itu berkata: “wahai Rasulullah, mengapa engkau menahan tanganku, lepaskanlah”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “sungguh tangan syaitan telah mengulurkan tangannya bersama tangan saudaramu ini, untuk mengmabil keberkahan dari makanan kita”, dan aku memegang tangan syaitan yang terulur bersama tangannya”, kemudian beliau berkata kepada lelaki itu : “ucapkanlah bismillah”, maka ia pun berkata : “bismillah”, maka Rasulullah melepas tangannya dan berkata: “sekarang makanlah”. Oleh karena itu jika kita akan makan maka ucapkanlah bismillah atau bismillahirrahmanirrahim, tidak kita lupakan hal ini selama-lamanya. Jika engkau selalu lupa mengucap bismillah, maka syaitan akan menjadi semakin besar dan sangat gemuk, dan ia akan semakin kuat menggoda dan membisikimu untuk mencelakakanmu, namun jika engkau selalu mengucapkan bismillah maka syaitan akan semakin lemah dan semakin tidak berdaya mengecohmu, dan ketika selesai makan ucapkanlah Alhamdulillah 3 x, walaupun cuma sekali cukup, namun jika engakau mengulanginya sebanyak 3 kali maka Allah akan menambah kemuliaan untukmu. Semoga Allah subhanahu wata’ala menolong kita untuk selalu berada dalam sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya, amin.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Doa “Laa ilaaha illallah” yang kita baca tadi yang telah diajarkan oleh guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafizh adalah untuk menjauhkan kita dari musibah, semoga Allah jauhkan kita dan kota Jakarta ini dari musibah, hujan yang turun tadi jika bukan karena banyaknya majelis dzkir dan majelis ta’lim, sungguh akan lebih dahsyat dari yang tadi, namun Allah subhanahu wata’ala hentikan tiba-tiba karena akan ada majelis ini. Hadirin hadirat, perbanyak doa ini untuk menjaga kita, wilayah kita dan seluruh wilayah muslimin dari musibah. Selanjutnya qasidah penutup “Muhammadun” secara ringkas, kemudian doa penutup oleh Al Habib Musa Al Kazhim bin Ja’far As Saggaf.

Terakhir Diperbaharui ( Wednesday, 03 November 2010 )

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2010

40 Mutiara Nabawi Fadhilat al-Quran al-Karim

40 Mutiara Nabawi Fadhilat al-Quran al-Karim
Kitab ini dikarang oleh al-Allamah Syeikh Yusof ibn Ismail al-Nabhani dan diterjemah ke dalam bahasa Melayu oleh Syeikh Muhammad Fuad Kamaluddin al-Maliki. Syeikh Yusuf dilahirkan di kampung Ijzim pada hari Khamis tahun 1265 H dan wafat dalam awal Ramadhan tahun 1350 Hijrah. Salah seorang anak muridnya ialah al-Muhaddith Sayyid ‘Alawi ibn ‘Abbas al-Maliki al-Hasani yang merupakan ayahanda kepada al-Muhaddith Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki al-Hasani iaitu guru kepada Syeikh Muhammad Fuad Kamaluddin al-Maliki. Seperti yang terkandung di bahagian muqaddimah, isi kandungan kitab ini adalah berkenaan tentang hadith-hadith yang berkaitan dengan kelebihan yang besar bagi orang yang membaca al-Quran, menghafaznya, memahaminya dan mengamalkan serta menjadikan al-Quran sebagai panduan hidupnya. Tuan Guru yang mulia, Syeikh Muhammad Fuad telah mengeluarkan kitab ini sempena majlis Nuzul al-Quran dan Takrim Huffaz pada tahun ini (1431 Hijrah). Kitab ini dikhatamkan di Ampang pada malam 27 Ramadhan 1431 H bersamaan 5 September 2010.

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2010

JEMPUTAN KE MAJLIS MAWLID BULANAN

——————————————————————————–

Lokasi MASJID AL BUKHARY KUALA LUMPUR

——————————————————————————–

Direka Oleh: Majlis Ilmu Baalawi

——————————————————————————–

lebih info JEMPUTAN KE MAJLIS MAWLID BULANAN

TARIKH : 4.11.2010 ( KHAMIS)
TEMPAT : MASJID AL BUKHARY, JLN HANG TUAH,KL.(berhampiran dgn Pudu Jail)
MASA : Majlis bermula selepas Maghrib.

Seluruh Muslimin dan Muslimat dijemput hadir. sila sebarkan jemputan ini.

terima kasih!

-INFO DARI ALMAWLID DAN DARUL MURTADZA-

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2010

Ungkapan Al-Qur’an

Ungkapan Al-Qur’an
Bila kita berbicara tentang kesusasteraan Islam dan Arab, kita tidak boleh lari daripada turut berbicara mengenai kesusasteraan al-Qur’an. Ini adalah kerana sastera Islam dan Arab mempunyai kaitan yang sangat rapat dengan kitab suci ini. Dalam membicarakan mengenai kesusasteraan al-Qur’an, para sasterawan sangat berminat untuk meneliti gaya bahasa dan bentuk ungkapan yang digunakan oleh al-Qur’an. Mereka telah menyenaraikan beberapa ciri istimewa yang terdapat pada bentuk ungkapan al-Qur’an.
Secara umum, ada tujuh ciri istimewa yang membezakan ungkapan al-Qur’an dengan ungkapan-ungkapan selain al-Qur’an. Ciri-ciri berkenaan adalah seperti berikut:

[1] Al-Qur’an menggunakan ungkapan yang tidak pernah terlintas dalam benak pemikiran manusia. Bentuk ungkapan al-Qur’an adalah bentuk khusus yang hanya dimiliki oleh al-Qur’an. Ia tidak boleh ditiru kerana ia diadun dan dibentuk menggunakan acuan Ketuhanan. Sedia maklum bahawa Bahasa Ketuhanan berbeza sama sekali dengan Bahasa Kemanusiaan. Walaupun al-Qur’an datang dengan menggunakan bahasa manusia iaitu Bahasa Arab, namun bentuk penggunaan dan ungkapannya berbeza dengan apa yang biasa digunakan oleh bangsa Arab. Justeru itu, al-Qur’an telah berkali-kali mencabar para penyair dan pemidato Arab agar mencipta dan mengarang satu surah atau beberapa ayat yang boleh menandingi al-Qur’an, namun ternyata cabaran tersebut tidak disahut dalam keadaan sejarah telah menceritakan bahawa mereka adalah tokoh-tokoh penyair dan pemidato. Ungkapan al-Qur’an bukan seperti syair walaupun ianya seakan-akan syair. Ia juga bukan datang dalam bentuk prosa walaupun ia seakan-akan prosa. Bukan juga berbentuk sajak mahupun qafiyah. Ia sangat berbeza dari sudut cara pengungkapannya.

[2] Ungkapan al-Qur’an ditujukan kepada jiwa manusia. Jiwa manusia memiliki kepelbagaian perasaan dan emosi. Manusia mengungkapkan emosi dan perasaannya melalui percakapan yang diiringi dengan nada suara yang melambangkan makna yang tersirat di sebalik jiwa. Bila sedih, ada nadanya. Bila gembira, ada nadanya. Bila marah, lain nadanya. Bila takut, juga ada nadanya. Dalam menimbulkan tindak balas terhadap jiwa, al-Qur’an memanfaatkan sepenuhnya peranan nada suara dalam ungkapannya. Kerana itu, kita dapati ada kalimah yang mesti dibaca dengan mad (panjang), ada yang dibaca dengan tasydid (bersabdu), ada yang disebut lin (lembut) dan pelbagai bentuk lagi. Di sinilah timbulnya peranan ilmu Tajwid dan juga makhraj huruf. Justeru, saya yakin bahawa bacaan al-Qur’an secara bertajwid memainkan peranan yang sangat besar dalam menimbulkan reaksi jiwa dan perasaan. Al-Qur’an mempunyai teknik tersendiri untuk mengungkapkan ayat-ayat yang boleh menimbulkan kegembiraan, kesedihan, ketakutan, kerisauan dan sebagainya. Al-Qur’an mampu memperlihatkan keredhaan dan kemarahan melalui ungkapan ayatnya juga. Ini memperlihatkan kepada kita betapa pentingnya membaca al-Quran secara bertajwid, bertartil serta diiringi dengan lagu yang betul. Ini membuatkan al-Qur’an menjadi hidup lalu menghidupkan jiwa yang mati.

[3] Susunan ungkapan al-Qur’an memiliki keserasian dari sudut seni. Ini adalah kerana, ungkapan al-Qur’an menghimpunkan tiga perkara dalam masa yang sama iaitu:

- Keindahan lafaz dan kalimah yang diguna pakai,
– Kehalusan makna,
– Keserasian lafaz dengan maknanya.

Dengan tiga perkara ini, al-Qur’an menggunakan imaginasi manusia untuk menghasilkan gambaran yang tepat dan benar tentang perkara yang ingin ia sampaikan. Bila kita membaca atau mendengar ayat-ayat suci al-Qur’an dibacakan, kita dapat merasai bahawa ia menghasilkan kesan yang sangat hebat. Di sebalik ayat-ayat yang diungkapkan, terdapat satu kekuatan luar biasa. Kekuatan yang mampu menyingkap apa yang tersirat di sebalik hati dan perasaan. Mengapa ya?… Kerana ia adalah firman Allah Yang Maha Mengetahui apa yang tersirat di sebalik hati dan perasaan…

[4] Ungkapan al-Qur’an juga mampu untuk menghimpunkan di antara dua perkara yang berlawanan menjadi satu. Bila ia berbicara tentang keburukan, dengan serta merta ia boleh bercerita tentang kebaikan. Bila ia berbicara tentang ketakutan, serta merta ia lampirkan dengan ketenangan. Ajaib! Dua perasaan yang saling berlawanan, namun boleh digandingkan dalam satu surah. Al-Qur’an memanfaatkan psikologi manusia dengan sebaiknya. Ia memperhalusi perasaan dengan cara yang menakjubkan. Perasaan takut dengan segera boleh bertukar menjadi tenang. Subhanallah! Wujudkah kitab lain seperti kitab ini?! Demi Allah! Tidak sama sekali. Hanya al-Qur’an..

[5] Al-Qur’an menggunakan ungkapan yang boleh difahami oleh semua orang yang memiliki latar belakang yang pelbagai. Ungkapan al-Qur’an tidak terlalu rumit sehingga sukar untuk difahami oleh golongan yang mempunyai latar belakang sederhana atau rendah. Tidak juga terlalu mudah sehingga membosankan golongan cerdik pandai. Tetapi semua orang boleh memahami al-Qur’an kerana ia berbicara dengan mereka mengikut tingkatan pemikiran masing-masing. Cerdik pandai, orang biasa, kanak-kanak, orang dewasa, semua boleh menerima apa yang diungkapkan oleh al-Qur’an. Benarlah firman Allah Ta’ala, mafhumnya:

Sesungguhnya Kami (Allah) telah menjadikan al-Quran itu mudah untuk disebut/diingat/diambil peringatan, maka siapa yang ingin mengambil peringatan?! [Surah al-Qomar: 12]

Ungkapan yang digunakan oleh al-Qur’an membuatkan ianya mudah dihafal walaupun orang yang menghafalnya tidak boleh bertutur dalam Bahasa Arab apatah lagi memahaminya.

[6] Apabila al-Qur’an berbicara tentang suatu topik, ia mampu berpindah ke topik yang lain dengan menggunakan ungkapan yang kemas tanpa wujud sebarang kepincangan. Walaupun secara zahir memperlihatkan seolah-olah tiada kaitan antara topik yang sedang dibincangkan dengan topik yang telah dibincangkan, namun jika diperhalusi akan terlihat suatu kaitan kemas dan rapi. Bila al-Qur’an berbicara tentang langit, ia mampu berpindah kepada topik bumi. Bila al-Qur’an menyebut tentang dunia, ia mampu terus berpindah kepada topik akhirat pula. Bila al-Qur’an berbicara menggunakan kata ganti diri ‘dia’, tiba-tiba ia boleh beralih menggunakan kata ganti diri ‘kamu’ dalam surah yang sama malah ayat yang sama! Kadangkala tanpa kita sedari kerana terlalu asyik dengan susunan kemas ungkapannya bak untaian mutiara yang sangat berharga..

[7] Ketika mengemukakan dalil-dalil, bukti-bukti dan fakta-fakta tentang sesuatu perkara, al-Qur’an menggunakan ungkapan yang mampu membuat pemikiran menjadi puas dalam masa yang sama hati menjadi seronok dengan dalil yang dikemukakan. Sebagai contoh, bila al-Qur’an mengajak kita berfikir tentang alam ini, kita bukan sekadar berfikir semata-mata, malah dalam masa yang sama hati turut merasa takjub dan kagum dengan kebesaran Tuhan yang mencipta alam ini. Al-Qur’an mampu berbicara dengan akal dan hati sekaligus. Ia mampu memperlihatkan kebenaran yang dihiasi dengan kecantikan. Semua ini membuktikan bahawa ungkapan al-Qur’an adalah Ungkapan Ketuhanan. Subhanallah..

Bibliografi:

- Sofahat min al-Adab al-Islami, karangan Prof. Dr. Muhammad Abdur Rahim an-Najjar dan Dr. Mahmud Razaq Hamid.

p/s: Terus mencari dan mencari rahsia al-Quran walaupun seumur hidup mencari, rahsianya tetap takkan habis…

Humair,
Hayyu Sabi’, Madinah Nasr,
KAHERAH.

http://wwwhumair-humair.blogspot.com

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 741 other followers