Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Solat Jumaah Adalah Bid’ah SESAT MASUK NERAKA

KUALA PILAH 12 Nov. – Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sembilan (JHEAINS) menahan tiga lelaki termasuk seorang yang mendakwa solat Jumaat di Kampung Parit di sini sebagai amalan bidaah.

Penyelaras Operasi jabatan itu, Mohd. Zol Sidek berkata, ketiga-tiga mereka ditahan mengikut Seksyen 52 Enakmen Jenayah Syariah Negeri Sembilan kerana melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum syarak dalam satu serbuan di Maahad Ittiba’ Assunnah di sini hari ini.

Ketiga-tiga mereka dipercayai melakukan solat zuhur ketika waktu solat Jumaat belum dilakukan lagi tanpa uzur syarie.

Penyelaras Operasi jabatan itu, Mohd. Zol Sidek berkata, ketiga-tiga lelaki terbabit boleh didenda RM5,000 atau penjara tidak melebihi tiga tahun atau kedua-duanya sekali jika disabitkan kesalahan di bawah seksyen tersebut.

”Salah seorang daripada tiga individu yang ditahan itu juga melakukan kesalahan mengeluarkan kenyataan berlawanan dengan mana-mana fatwa yang dikeluarkan dengan sah oleh Mufti Kerajaan Negeri.

”Lelaki itu kini ditahan mengikut Seksyen 51 enakmen sama dan boleh dikenakan denda sebanyak RM1,000 atau penjara tidak melebihi setahun atau kedua-duanya sekali, jika sabit kesalahan,” katanya pada sidang akhbar di sini hari ini.

Turut ditahan adalah dua wanita yang turut berada dalam madrasah berkenaan dan mereka telah dibebaskan selepas keterangan diambil oleh anggota penguat kuasa JHEAINS di Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Kuala Pilah.

”Mereka telah menggunakan fahaman sendiri berhubung solat Jumaat. Salah seorang daripadanya mendakwa solat Jumaat yang diadakan di sebuah masjid dalam kariah Kampung Parit di sini merupakan perkara bidaah.

”Disebabkan dakwaan itu, mereka tidak mengerjakan solat Jumaat di masjid berkenaan dan dilihat berada dalam sebuah madrasah di Kilometer 1.5, Jalan Seremban Lama,” katanya.

Operasi yang disertai 60 anggota terdiri daripada penguat kuasa JHEAINS, polis dan Majlis Keselamatan Negara cawangan negeri itu diketuai oleh Ketua Unit Operasi, Ahmad Zaki Hamzah.

Katanya, semua yang ditahan itu telah dibawa ke IPD untuk disoal siasat.

”Hasil siasatan berkenaan akan dirujuk kepada Pejabat Pendakwaraya sebelum pertuduhan dapat dibuat di mahkamah kelak,” katanya

http://abu-syafiq.blogspot.com/2010/11/solat-jumaah-adalah-bidah-sesat-masuk.html

Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Majlis Ta’lim Bulanan

Majlis Ta’lim Bulanan
posted Oct 16, 2009 4:21 AM by Site Admin [ updated Nov 2, 2010 11:55 AM by Abdul Rahman AlHaddad ] Bertujuan memberi kemudahan kepada masyarakat Kuala Lumpur dan Selangor khususnya serta masyarakat Malaysia ‘amnya menimba ilmu ajaran agama Islam yang ditinggalkan dan diwasiatkan oleh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

Huraian dari buku-buku beliau akan disyarahkan dalam Bahasa Malaysia.

Kesemua Majlis Ilmu seperti jadual dibawah ini akan diadakan di Masjid Baitul Aman 102 Jalan Damai di Jalan Ampang, Kuala Lumpur:

Hari Sabtu 20 November 2010 mulai Solat Maghrib sehingga jam 9:30 malam huraian buku berjudul ‘Nasihat Agama dan Wasiat Iman’
Hari Ahad 21 November 2010 mulai Solat Maghrib sehingga jam 9:30 malam huraian buku berjudul ‘Dakwah yang Sempurna dan Peringatan yang Utama’
Agar kita mengambil peluang untuk menghadiri majlis-majlis diatas untuk pedoman perjalanan kita ke akhirat.

Jadual ini akan diulangi pada minggu ketiga atau keempat setiap bulan yang juga akan dimaklumkan pada majlis semasa.

Semua Muslimin dan Muslimat dijemput hadir. Diminta Hadirin dan Hadirat mematuhi halal/haram, sunnah/makruh dan adab semasa didalam masjid.

Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Sebuah Pesan Dari Arafah

Sebuah Pesan Dari Arafah
Posted on admin on December 25, 2009 // Leave Your Comment Arafah. Setiap tahun tempat ini selalu menjadi oase putih nan luas di tengah padang sahara bergunung-gunung yang gersang. Seperti baru saja terjadi.

Arafah memang luar biasa, dan bukan gurun biasa. Pada suatu hari malaikat Jibril a.s. membimbing Nabi Ibrahim a.s. menjalankan manasik ibadah haji. Ditunjukkannya tempat-tempat mulia, satu per satu. Ketika sampai di Arafah, Jibril bertanya, “’Arafta, adakah kamu sudah tahu?” Nabi Ibrahim a.s. menjawab, “Ya.” Dari situ, tempat tersebut dinamai Arafah.

Tetapi versi yang lebih masyhur mengatakan, penamaan Arafah itu terkait dengan sejarah yang lebih kuno. Sejarah Nabi Adam a.s. dan istrinya, Hawa. Kala itu mereka diturunkan dari sorga ke bumi di tempat yang berjauhan. Nabi Adam a.s. di India, dan Hawa di Jeddah.

Setelah melewati masa-masa sepi sendiri selama bertahun-tahun, mereka dipertemukan kembali oleh Allah. Mereka bersua di padang Arafah. Itulah sebabnya, tempat tersebut dinamai Arafah, yang berarti pengenalan.

Kelak, Arafah menjadi tempat berkumpulnya anak turun mereka dari berbagai penjuru dunia. Yaitu setiap tanggal 9 Dzil Hijjah. Pada tanggal 9 Dzil Hijjah lalu, jutaan anak manusia dari berbagai penjuru dunia berhimpun di situ. Mereka berdiam di situ, semua mengenakan baju putih bersih, sembari beribadah, salat, membaca Al-Quran dan melafalkan zikir pada Allah. Mereka berkumpul guna melakukan wuquf, sebagai salah satu rukun ibadah haji.

Ini adalah puncak haji. Wuquf bahkan menjadi rukun haji yang paling penting. Itu bisa dilihat dari sabda Nabi s.a.w.:

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu Arafah.”

Seolah-olah ibadah haji itu hanya wuquf di Arafah. Padahal, rukun haji tidak hanya wuquf. Ada thawaf, sa’i dan lain-lain. Pernyataan Nabi tersebut, tidak lain dan tidak bukan, dikarenakan pentingnya wuquf.

Beruntunglah kita karena Allah mensyariatkan ibadah haji pada kita. Haji adalah satu-satunya ibadah dan kesempatan di mana umat Islam dari berbagai penjuru dunia dan dari berbagai latar budaya berkumpul jadi satu, setiap tahunnya. Dan puncak dari semuanya itu ialah wuquf di Arafah.

Bandingkan, misalnya, dengan ibadah salat. Ibadah ini hanya mempertemukan komunitas umat Islam sedusun. Atau, paling jauh, kaum muslim sekota. Yaitu melalui ibadah salat Jumat.

Dalam ibadah thawaf pun tidak seluruh jamaah haji berkumpul di satu tempat pada saat yang sama. Begitu pula dalam ibadah sa’i dan melempar jumrah. Namun, pada saat wuquf, semua jamaah haji yang berjumlah jutaan itu berdiam dan berkumpul di satu titik.

Ini luar biasa. Momen seperti itu seharusnya bisa menerbitkan perasaan bahwa umat Islam tidak hanya terdiri atas satu suku atau satu bangsa, tetapi berbagai-bagai suku, bangsa dan latar budaya. Bahwa kita sebagai muslim adalah satu bagian dari masyarakat muslim dunia yang beraneka ragam. Setiap tahun kita seperti diingatkan mengenai hal itu.

Haji dan, pada khususnya, wuquf adalah kesempatan yang baik untuk mengamalkan firman Allah:

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9

“Wahai manusia, sungguh telah Kuciptakan kalian terdiri atas laki-laki dan perempuan, serta Kuciptakan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal.”

Di Mekah dan Arafah kita melihat manusia dari berbagai suku, ras dan kebangsaan. Betapa indahnya. Seperti pelangi. Warna kulit mereka berbeda. Wajah mereka berbeda. Postur tubuh mereka berbeda. Perilaku mereka berbeda. Gerak tubuh mereka berbeda. Ekspresi wajah mereka berbeda. Bahasa mereka pun beragam.

Di situ kita belajar berdiri di tengah kebinekaan, dan ayat di atas mengajari kita untuk belajar bersikap toleran menghadapi perbedaan. Manusia dijadikan berbeda-beda jenis kelamin dan berbeda suku serta bangsa bukan untuk membanggakan diri. Bukan pula untuk mengolok-olok orang lain, yang mungkin berbeda warna kulit atau berperilaku aneh serta berbahasa tak lumrah dalam pandangan kita. Allah SWT berfirman:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw öy‚ó¡o„ ×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3tƒ #ZŽöyz öNåk÷]ÏiB

“Wahai orang-orang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum lain, siapa tahu mereka yang diolok-olok lebih lebih baik daripada yang mengolok-olok.”

Sebaliknya, tujuan manusia dijadikan berbeda-beda ialah supaya kita saling mengenal. Baik mengenal mereka secara pribadi, maupun mengenal budaya mereka. Belajar memahami mereka dalam perbedaan.

Dan sebagaimana sabda Nabi s.a.w., “Muslim itu cermin bagi muslim lain,” mereka yang berbeda dari kita itu bisa menjadi cermin bagi kita. Cermin yang memperlihatkan kelebihan mereka sekaligus menunjukkan kekurangan diri kita.

SAUDARA

Yang lebih menakjubkan lagi ialah, mereka yang berbeda-beda warna kulit dan potongan tubuh dan berjumlah jutaan itu ternyata memiliki kesamaan dengan kita. Tuhan mereka satu (tuhan seluruh makhluk memang satu), yaitu Allah. Agama mereka satu, yaitu Islam. Cara ibadah mereka sama. Bahasa ibadah mereka sama, bahasa Arab. Kiblat mereka sama, yaitu Ka’bah. Mereka adalah saudara-saudara kita. Saudara seiman dan seagama kita. Sebagaimana dalam firman Allah:

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r’sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr&

“Sungguh kaum mukmin itu saudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kalian.” (Al-Hujurat: 10)

Melalui wuquf di Arafah kita menjadi tahu secara haqqul yaqin bahwa Islam tidak hanya dipeluk oleh orang sesuku atau sebangsa kita, tapi juga oleh bangsa-bangsa dan suku-suku lain. Amboi, indahnya.

Dan persaudaraan sesama muslim adalah persaudaraan yang hangat, seperti diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam sabda beliau:

مَثَلُ اْلمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ اْلجَسَدِ إِذَا اْشتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى َلهُ سَائِرُ اْلجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَاْلحُمَّى (رواه مسلم)

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencinta dan menyayang mereka seperti jasad. Manakala satu anggota tubuh sakit, maka seluruh jasad didera demam dan tidak bisa tidur.” (riwayat Muslim)

Jadi, jika kita melihat saudara sesama muslim yang sakit, kita juga merasa sakit. Bila ada saudara muslim kita yang tertimpa bencana, misalnya, maka kita juga merasakan sakitnya dan tergugah hati kita untuk ikut membantu meringankan penderitaan mereka. Jika kita melihat saudara kita yang kelaparan, kekurangan, muncul rasa solidaritas kita. Mungkin kita tergelitik untuk merogoh kocek sendiri. Mungkin kita menggalang solidaritas di antara orang-orang guna membantu meringankan penderitan mereka.

BEPERGIAN

Kembali ke ayat perkenalan di atas. Menurut ayat tersebut, seorang muslim sebaiknya tidak hanya diam di kampung halaman selama hidupnya. Kita umat Islam memang sebaiknya melakukan perjalanan, penjelajahan. Sebagaimana dalam firman Allah:

ö@è% (#r玍ř ’Îû ÇÚö‘F{$# (#rãÝàR$$sù y#ø‹x. tb%x. èpt7É)»tã tûïÏ%©!$# `ÏB ã@ö6s% 4

“Katakan, “Berjalanlah di atas bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kalian.” (Ar-Rum: 42)

Dengan melakukan perjalanan ke tempat lain, pikiran tidak sempit. Cakrawala berpikir menjadi terbuka. Kita dapat melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.

Melakukan pengelanaan, sembari mencicipi ketidak-nyamanan yang mungkin ditemui di dalamnya sambil bertemu dengan orang yang berbeda-beda dan melihat tempat-tempat dan benda-benda yang berbeda, bisa mengasah ketajaman mata hati, memperkaya batin, sekaligus membantu menyucikan hati. Itulah sebabnya, kita mengenal banyak sufi yang selama hidupnya berkelana, seperti sufi Ibrahim bin Adham. Kita juga mengenal beberapa nama tokoh, seperti Ibnu Bathuthah, yang telah melakukan perantauan jauh, melintasi batas-batas benua, yang hasilnya lalu dia tuangkan dalam bentuk tulisan, buku.

Dengan melakukan perjalanan kita bisa mengais ilmu yang lebih banyak dari beragam guru. Bacalah riwayat hidup para imam dan ulama dulu. Mereka umumnya melakukan perantauan ke berbagai negeri guna menghimpun ilmu. Dan hasilnya memang nyata, yakni terlahirnya ulama-ulama besar dengan penguasaan ilmu yang tinggi dan luas. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 ’Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râ‘É‹YãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u‘ öNÍköŽs9Î)

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya “ (At-Taubah: 122)

Dengan melakukan perjalanan ke tempat lain, kita mengenal macam-macam manusia, adat istiadat, budaya, bahasa yang berbeda-beda. Dari situ kita bisa belajar banyak.

Tetapi tak cuma itu. Melakukan perjalanan dan pengelanaan adalah kesempatan untuk berbagi. Kita menjadi tahu, ada orang-orang yang lapar dan dahaga serta membutuhkan uluran tangan kita. Entah dalam pengertian fisik maupun dalam pengertian spiritual. Coba bayangkan, seandainya tidak dai-dai pengelana dari Timur Tengah, India dan lain-lain, tidak datang ke sini dulu, mungkin Indonesia tidak menjadi negeri mayoritas muslim. Amboi, betapa besar jasa mereka, dan betapa besar manfaat dari pengelanaan.

Sekarang, andai para habaib dan ulama tidak keluar dari tempat peraduan mereka untuk mendatangi pelosok-pelosok dan tempat-tempat jauh, mana tahu mereka ada masyarakat yang mengalami kekosongan ilmu dan spiritual? Habib Umar dari Hadramaut bisalah disebut sebagai salah satu contoh dari banyak dai pengelana yang kita punya di zaman ini.

Karena itu, pergi dan pergilah. Tengoklah saudara-saudara sesama muslim kita. Siapa tahu, ada di antara mereka yang kekurangan, kelaparan. Galang solidaritas karena mereka adalah saudara kita juga, meski mereka berlainan suku dan kebangsaan.

Siapa tahu ada di antara mereka yang selama ini telantar, tak terperhatikan, kurang bimbingan, sehingga keberagamaan mereka mengalami erosi. Atau, jangan-jangan malah ada ancaman yang sedang mengintai iman mereka.

Siapa tahu ada di antara mereka yang tertindas, terzhalimi. Nabi s.a.w. bersabda:

اُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا َأوْ مَظْلُومًا

“Bantulah saudaramu, baik dalam keadaan zhalim (dengan melarang dia mengeruskan kezhalimannya) maupun dalam keadaan terzhalimi.”

Banyak komunitas muslim yang tertindas, sementara api solidaritas umat semakin meredup. Kita, misalnya, semakin tidak peduli terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di Irak, Afghanistan dan Palestina.

Pergi dan pergilah. Siapa tahu ada tempat-tempat mulia dan penting yang merana. Mungkin berupa masjid, mushalla, atau lembaga-lembaga pendidikan. Sebagai contoh, Masjidil Aqsha di Palestina adalah salah satu dari tiga masjid yang dengan sangat jelas disebut oleh Nabi s.a.w. sebagai tempat-tempat suci, yang baik untuk dikunjungi. Kini, keberadaan masjid tersebut sedang dalam ancaman.

Makanya, pergi dan pergilah dari tempatmu kini, temuilah saudara-saudaramu dari lain-lain tempat, dan rasakan bahwa kamu adalah bagian dari masyarakat muslim dunia yang beragam. Semangat seperti ini harus senantiasa dihidupkan. Paling tidak setahun sekali. Jangan sampai redup, apalagi padam. Begitulah pesan dari amal ibadah haji, khususnya dari pelaksanaan wuquf di Arafah. Hamid Ahmad

Adab-Adab Menulis di Blog, Laman Forum dan Facebook Menurut Perspektif Islam (3)
Dicatat oleh al-’Abd al-Da’if: pada 28.10.09
4. Menutur Bahasa yang Betul

Pemilihan bahasa menurut tatabahasa yang betul adalah suatu perkara yang harus dipraktiskan agar bahasa tersebut tidak menjadi rosak. Namun, apa yang berlaku di kalangan generasi moden kebanyakannya pada masa kini amat memeningkan ahli-ahli bahasa, maksudnya bahasa Melayu dalam konteks masyarakat kita sekarang ini. Terutama apabila menggunakan bahasa-bahasa yang bercampur dengan bahasa Inggeris, bahasa pasar, bahasa caca-merba, bahasa-kependekan yang dicipta sendiri dan sebagainya sehingga benar-benar menjadi bahasa ‘rojak’. Ini sebenarnya merupakan sejenis isu yang mungkin dianggap kecil atau enteng oleh setengah orang, yang hakikatnya memalukan ahli-ahli bahasa dan bangsa yang menggunakan bahasa itu sendiri apabila kecemerlangan bahasanya dimiliki oleh bangsa lain.

Daripada Anas bin Malik RA, sabda Rasulullah SAW:

‏مَا كَانَ ‏ ‏ الْفُحْشُ ‏ ‏فِي شَيْءٍ إِلَّا ‏ ‏شَانَهُ ‏ ‏وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
Terjemahan: “Tidaklah ada suatu pertuturan yang buruk pada sesuatu itu melainkan ia akan mengaibkannya, dan tidaklah ada sifat malu pada sesuatu itu melainkan ia akan mengindahkannya”.(Riwayat al-Tirmizi: 1897, katanya: Hadith Hasan Gharib)

Bertutur dengan bahasa yang betul, termasuk mengeja dengan ejaan standard, dapat mencerminkan peribadi seseorang itu. Lihatlah bagaimana cara Rasulullah SAW berbicara sepertimana yang diriwayatkan oleh ‘A’isyah RA, katanya:

كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏كَلَامًا ‏ ‏ فَصْلًا ‏ ‏ يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ ‏
Terjemahan: “Percakapan Rasulullah SAW adalah percakapan yang jelas-nyata, yang dapat difahami oleh semua orang yang mendengarnya”. (Riwayat Abu Dawud: 4199)

Sumber : http://sawanih.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 13 November 2010

Pengajian Kitab Bersama Syeikh Ahmad Fahmi Zamzam al-Banjari

Posted by: Habib Ahmad | 13 November 2010

PENGAJIAN KITAB SAIRUSSALIKIN

PENGAJIAN KITAB SAIRUSSALIKIN

PENGAJIAN KITAB SIYARUS SAALIKIN
.
Bersama :

SHEIKH AHMAD FAHMI ZAMZAM AL-MALIKI AN-NADWI
.
pada :
14 NOV 2010 (Ahad)
5 DIS 2010 (AHAD)

masa :
JAM 9.00 PAGI – 12.30 TGHR

.
tempat :
Dewan Solat MAF

yang telah lepas:
25 OKTOBER 2009 (ahad). 15 NOVEMBER 2009 (ahad). 13 DISEMBER 2009 (ahad). 27 DISEMBER 2009 (ahad) = 10 MUHARRAM 1431. 24 JANUARI 2010 (ahad). 25 FEBRUARI 2010 (khamis) {sempena Maulidurrasul.}. 21 mac 2010 (ahad). 18 April 2010 (ahad). 2 MEI 2010 (ahad). 13 JUN 2010 (AHAD). 11 JULAI (AHAD). 8 OGOS (AHAD). 29 OGOS (AHAD). 5 SEPT ( AHAD) – DIBATALKAN DAN DIAWALKAN PADA 29 OGOS . 10 OKT 2010 (AHAD),

.
edaran: http://www.alfalahusj9.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 13 November 2010

Dapatkan Majalah Al Kisah terkini

Posted by: Habib Ahmad | 13 November 2010

JUALAN AMAL

Adab-Adab Menulis di Blog, Laman Forum dan Facebook Menurut Perspektif Islam (4)
Dicatat oleh al-’Abd al-Da’if: pada 29.10.09
5. Menjaga Maruah dan Harga Diri

Ada setengah penulis yang menggunakan nama sebenar, dan ada setengahnya yang hanya menggunakan nama samaran sahaja. Penulis yang menggunakan nama sebenar ini menunjukkan sifat keberanian, keyakinan dan bertanggungjawab terhadap apa yang dicoretnya. Namun, jika apa yang ditulisnya itu tidak menurut lunas-lunas yang betul atau mengandung moral yang tidak baik, ini hanya akan menyebabkan maruah dirinya jatuh dan dipandang rendah oleh orang lain, walau sebesar dan segah mana sekalipun namanya.

Manakala penulis yang menggunakan nama samaran, ada dua tafsiran yang dapat diberi, sama ada dia bersifat rendah diri atau bersifat takut diketahui orang akan dirinya yang sebenar kerana berbagai-bagai faktor. Tidak sedikit juga tulisan-tulisan yang menggunakan nama samaran ini yang agak baik, berfaedah dan memberi manfaat. Namun, jika hendak dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang berbentuk ekstrim dan melampau, berbaur fitnah, mengata dan mengumpat orang, meluas jurang pertelingkahan, mendorong nafsu syahwat, penuh dengan kata nista atau moral yang keji, menyongsang arus dan sebagainya, boleh dikatakan bahan-bahan negatif seperti demikian lebih besar lagi jumlahnya. Inilah antara faktor negatif kenapa mereka takut untuk meletakkan nama sebenar, agar mudah untuk ‘baling batu, sembunyi tangan’ seperti kata pepatah. Meskipun dia dapat menjaga maruah dan harga dirinya kerana tidak diketahui orang, namun apakah dia menyangka bahawa maruah dan harga dirinya tidak jatuh di sisi Allah SWT? Maka tulisan-tulisan yang sebegini semestinya dijauhi dan dipulaukan.

Daripada Abu Mas’ud RA, sabda Rasulullah SAW:

‏إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى ‏ ‏ إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ
Terjemahan: “Sesungguhnya antara perkataan hikmah yang diwarisi orang daripada perkataan kenabian yang pertama ialah; Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang kamu suka”. (Riwayat Abu Dawud: 4164)

Termasuk dalam masalah ini ialah pemaparan imej-imej yang bercanggah dengan syarak. Orang muslim yang berakal tidak sewajarnya memuat-turun atau menyebarkan gambar-gambar yang menyalahi syariat Islam di dalam tulisan-tulisan atau entri-entri yang dipaparkan. Keprihatinan seperti ini menunjukkan akhlak tinggi seseorang itu, dan sebaliknya sikap sambil lewa pula menunjukkan kerendahan imej diri seseorang itu sebagai seorang muslim

Posted by: Habib Ahmad | 12 November 2010

Udlhiyyah (Qurban) Dan Problematikanya

Udlhiyyah (Qurban) Dan Problematikanya
Submitted by forsan salaf on Tuesday, 9 November 20102 CommentsUdlhiyah atau Qurban adalah menyembelih hewan kurban di hari raya kurban (Idul Adha) dan hari-hari tasyriq dengan tujuan mendekatkan diri kepada allah S.W.T .

Dasar disyari’atkan udlhiyyah :

1. Surat Al-Kautsar : 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ( الكوثر 2 )
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah”

Pendapat yang paling kuat dalam mentafsiri lafadz وَانْحَرْ , adalah menyembelih hewan kurban.

2. Hadits riwayat Anas bin Malik.

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا (متفق عليه)
“Sesungguhnya Rasulullah S.A.W menyembelih dua domba putih yang bertanduk dengan tangannya sendiri, seraya mengucapkan basmalah dan bertakbir. Beliau meletakkan kakinya disamping leher domba (H.R. Bukhori-Muslim).

HIKMAH BERKURBAN : mencukupi kebutuhan fakir miskin di waktu Idul Adha sebagaimana zakat fitrah di waktu idul fitri.

HUKUM BERKURBAN :

Hukum berkurban ada 3:

a. Sunnah kifayah, artinya jika salah satu anggota keluarga telah berkurban, maka gugur tuntutan bagi anggota keluarga yang lain, namun pahala hanya untuk yang berkurban saja.

* Yang dimaksud keluarga disini adalah orang yang di nafkahi, meskipun bukan nafkah wajib.

b. Sunnah ‘ain muakkad, yaitu untuk per-individu sekalipun bagi yang sedang haji, dengan syarat :

1. Islam

2. Mukallaf (baligh dan berakal).

3. Mampu, yaitu memiliki kelebihan harta untuk menafkahi dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya (makanan, pakaian dan tempat tinggal) selama hari raya kurban hingga hari tasyriq (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah).

c. Wajib, yaitu dengan dua sebab :

1. Nadzar , misal: perkataan :”saya nadzar menyembelih kurban”.

2. Menentukan/mengisyaratkan kepada hewan kurbannya, seperti ucapan : “ini adalah kurbanku” atau “saya jadikan kambing ini sebagai kurbanku”. Namun pendapat Sayid Umar Al-Bashri, perkataan “ini adalah kurbanku” dengan tujuan memberitahukan bahwa hewan ini untuk kurban, tidak menjadi wajib (bukan ta’yin).

HEWAN YANG DAPAT DIJADIKAN KURBAN

Allah SWT berfirman :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ (الحج 34)
“Dan bagi setiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rizki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”

Kalimat “ أنعام “ dalam ayat ini adalah onta, sapi dan kambing, karena tidak ada riwayat dari Nabi atau sahabat berkurban dengan yang selainnya.

Hewan kurban, yang paling utama adalah onta , kemudian sapi lalu kambing. Onta dan sapi dapat dijadikan kurban untuk 7 orang , sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim:

عن جابر رضي الله عنه قال : نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام الحديبية البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة (رواه مسلم)
“Dari Jabir r.a :” Kita menyembelih kurban bersama Rasulullah S.A.W di tahun Hudaibiyyah, satu onta untuk 7 orang , begitu juga sapi.”.

Catatan : * Tujuh orang berkurban dengan tujuh kambing lebih utama daripada tujuh orang dengan satu ekor onta atau sapi.

* Tujuh kambing untuk satu orang lebih utama daripada seekor onta/sapi untuk satu orang.

KRITERIA HEWAN KURBAN

1. Umur : – Onta berumur 5 tahun lebih (masuk ke tahun ke-6).

- Sapi berumur 2 tahun lebih.

- Kambing kacang berumur 2 tahun lebih dan kambing gibas/domba berumur 1 tahun lebih atau berumur 6 bulan lebih tapi telah poel (gigi depanya sudah patah/jatuh).

2. Terbebas dari aib yang bisa mengurangi kuantitas daging , seperti sakit, terpotong sebagian telinganya, pincang, gila, sangat kurus, buta dan lain-lain. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadist :

أَرْبَعٌ لَا تُجْزِئُ في الْأَضَاحِيِّ الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا وَالْعَجْفَاءُ التي لَا تُنْقِي
Artinya : 4 hal tidak diperkenankan dalam hewan kurban : buta, sakit, pincang sertasangat kurus hingga tak bersumsum.” (H.R. Ibn Majah dan Nasa’i)

NIAT BERKURBAN

a. Wajib, jika berupa kurban sunnah. Waktu niat, ketika menyembelih atau sebelumnya. Boleh mewakilkan niat dan penyembelihan kepada orang muslim yang mumayyiz.

b. Tidak wajib, jika menentukan hewan kurban ketika bernadzar. Namun jika nadzar tanpa menentukan, maka tetap wajib niat ketika penyembelihan atau ta’yin (penentuan hewan kurban). Begitu juga jika dengan menentukan/mengisyaratkan kepada hewan kurban (ta’yin bil ja’li).

Lafadz niat kurban sunnah :

نَوَيْتُ التَّضْحِيَةَ بِهَذِهِ لِلَّهِ تَعَالَى
“ Aku niat berkurban dengan hewan ini karena Allah ta’ala “

WAKTU PENYEMBELIHAN

Waktu penyembelihan dimulai dari terbitnya matahari tanggal 10 Dzulhijjah ditambah seukuran waktu untuk sholat dua raka’at beserta khutbahnya dan berakhir dengan terbenamnya matahari akhir hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah). Sebagaimana hadits riwayat Ibn Hibban :

كُلُّ أَيَّامِ تَشْرِيْقٍ ذَبْحٌ (رواه بن حبان
Artinya : semua hari-hari tasyriq adalah waktu yang diperbolehkan untuk menyembelih kurban.

Namun waktu yang paling afdhal adalah setelah shalat hari raya. Sebagaimana dalam shahih Imam Bukhari:

أَوَّلُ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ هَذَا فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ نَحَرَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ .
Artinya : Pertama kali yang kita lakukan di hari raya Idul Adha adalah sholat Ied kemudian pulang dan menyembelih kurban , Maka barang siapa yang mengerjakan ini (setelah masuk waktunya) benar-benar sesuai dengan syari’atku. Dan barang siapa menyembelih sebelum masuk waktunya, maka (sembelihannya) hanyalah daging yang disajikan untuk keluarga dan sama sekali bukan termasuk kurban “ (H.R. Bukhari).

PEMBAGIAN DAGING KURBAN

1. Udhlhiyah wajib (nadzar atau ditentukan)

Seluruh daging harus disedekahkan dan tidak boleh bagi orang yang berkurban atau keluarga yang wajib dinafkahi untuk memakan sedikitpun. Jika tetap dilanggar , maka wajib mengganti seukuran yang dimakan baik berupa daging atau harganya. Keharaman ini berlaku juga bagi wakil dan keluarga yang wajib dinafkahi.

2. Udlhiyah sunnah

Ada beberapa cara pembagian daging kurban sunnah yaitu :

a. Paling utama dengan mengambil sedikit untuk dikonsumsi sendiri dengan tujuan tabarruk (keberkahan) lalu mensedekahkan sisanya kepada fakir miskin.

b. Mensedekahkan sedikit saja untuk fakir miskin dan sisanya dikonsumsi sendiri.

c. Membaginya menjadi 3 bagian, satu bagian untuk dirinya, satu bagian untuk fakir miskin dan satu bagian lagi dihadiahkan kepada tetangga atau kerabatnya walaupun kaya raya.

** Daging yang diberikan kepada fakir miskin bersifat tamlik (memindah kepemilikan) sehingga boleh digunakan apa saja seperti dijual, dan lain-lain. Sedangkan yang diberikan kepada orang kaya bersifat hadiah,sehingga hanya boleh dikonsumsi sendiri atau disedekahkan kepada orang lain dan tidak boleh dijual.

** Kulit hewan kurban boleh disedekahkan (bukan pada masjid) atau dimanfaatkan untuk diri sendiri. Tidak boleh dijual atau dijadikan upah bagi penyembelih (tukang jagal) karena bisa menghilangkan pahala kurban. Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلاَ أُضْحِيَةَ لَهُ (رواه البيهقي

Artinya : Barang siapa menjual kulit hewan kurbannya , maka tidak mendapatkan pahala kurban. (H.R. Baihaqi).

KESUNAHAN DALAM UDHIYAH

1. Membaca basmalah .

2. Mengucapkan takbir tiga kali setelah basmalah.

3. Membaca shalawat.

4. Menghadap kiblat . Adapun menghadapkan hewan kurban ke arah kiblat, maka ada perbedaan pendapat ulama’.

5. Membaringkan hewan kurban pada sisi kiri badannya dan mengikat semua kakinya kecuali yang kanan. Namun pada onta disembelih dengan berdiri.

6. Membaca do’a ketika menyembelih : اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّي

7. Tidak memotong rambut, kuku dan semua anggota badan lainnya sebelum prosesi penyembelihan hewan kurbannya (karena hukumnya makruh).

8. Menyembelih sendiri jika mampu, kecuali perempuan, maka sunah mewakilkannya. Bagi yang mewakilkan, disunnahkan untuk menyaksikan penyembelihannya.

9. Bagi imam (pemimpin daerah) sunah untuk menyembelih hewan kurban dari baitul mal (jika ada) untuk kaum muslimin.

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

1. Hendaknya tidak berkurban dengan hewan hamil untuk keluar dari khilaf ulama’, kecuali jika kehamilan menyebabkan berkurangnya kuantitas daging.

2. Daging harus disedekahkan dalam keadaan mentah. Jika dibagikan dalam keadaan matang (berupa masakan), maka tidak sah.

3. Lebih baik tidak menyembelih di akhir hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah) agar keluar dari pendapat ulama’ yang menyatakan tidak sah yaitu imam-imam di luar madzhab Syafi’i.

4. Menurut imam Romli, boleh menyembelih satu kambing dengan niat kurban sekaligus aqiqah (mendapat pahala keduanya) dengan syarat bukan kurban atau aqiqah wajib. Sedangkan menurut Ibn Hajar jika diniati keduanya, maka tidak menjadi kurban atau aqiqah (syatu lahm)

5. Kurban diganti dengan uang tidak sah. Boleh mewakilkan dalam pembelian hewan kurban sekaligus penyembelihan dan pembagiannya. Jika seseorang berkata kepada yang lain :”sembelihlah hewan kurban untukku “, menjadikannya sebagai wakil dalam penyembelihan sekaligus pembagian daging kurban, sehingga wajib baginya untuk mengganti harga hewan tersebut.

6. Boleh menyimpan daging kurban (untuk dikonsumsi selepas waktu kurban) seperti dijadikan dendeng atau dikalengkan.

7. Menyerahkan hewan kurban kepada kiyai atau tokoh masyarakat berupa hewan hidup (bukan daging) tidak menjadi miliknya tapi hanya menjadikannya sebagai wakil dalam penyembelihan dan pembagian saja karena pembagian kurban harus sudah disembelih. Sehingga tidak diperbolehkan untuk mengambil daging kurban sedikitpun kecuali seukuran yang ditentukan oleh orang yang berkurban.

8. Menyembelih hewan kurban setelah habisnya waktu kurban (setelah terbenamnya matahari tanggal 13 Dzulhijjah), jika berupa kurban sunnah, maka tidak sah. Namun jika berupa kurban nadzar, maka tetap wajib dilaksanakan sebagai qodlo’.

9. Berkurban untuk orang yang sudah meninggal menurut pendapat yang kuat tidak sah kecuali jika telah mendapatkan wasiat dari si mayit sebelum meninggalnya.

10. Boleh memberikan daging kurban kepada satu orang fakir miskin, berbeda dengan zakat.

11. Membagikan daging kurban (nadzar atau kadar wajib dari kurban sunah) kepada fakir miskin di luar daerah penyembelihan hewannya ada dua pendapat. Sebaiknya tidak membagikan di luar daerah penyembelihan untuk keluar dari khilaf ulama’

12. Dalam mengetahui umur hewan kurban bisa mendasarkan pada kabar penjual hewan kurban, dengan catatan hewan tersebut lahir dalam kepemilikannya atau dengan bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang perhewanan .

13. Menyerahkan kurban kepada masjid dapat dibenarkan jika dimaksudkan diserahkan kepada salah satu pengurus masjid sebagai wakil dalam penyembelihan dan pembagian daging kurban.

14. Penyembelihan hewan kurban tidak boleh dilaksanakan di halaman milik masjid atau wakaf untuk masjid. Demikian juga tidak boleh menggunakan alat-alat milik masjid dalam penyembelihan dan pembagian daging kurban.

15. Tidak boleh memberikan daging kurban kepada orang non muslim.

Posted by: Habib Ahmad | 12 November 2010

Berjabat Tangan Serta Berpeluk Bidaah?

Berjabat Tangan Serta Berpeluk Bidaah?
Dicatat oleh al-’Abd al-Da’if: pada 29.1.10

Oleh kerana pada masa ini masyarakat kita diuji dengan kemunculan ‘akal fiqh’ yang kurang matang dalam memberikan hukum sesuatu masalah, maka timbullah berbagai hukum yang sangat bertentangan di kalangan masyarakat sehingga mampu membawa kepada perselisihan serius dalam kes-kes masalah yang remeh. Ini kerana hukum menurut ‘akal fiqh’ tersebut hanya antara sunnah dan bidaah sahaja, bukan lagi berdasarkan lima hukum syarak yang disepakati ulama, iaitu wajib, sunat, harus, makruh dan haram. Berikut adalah salah satu daripada kes-kes tersebut, iaitu masalah berjabat tangan (musafahah) berserta berpelukan/berdakap (mu’anaqah), adakah ianya bidaah, yakni dalam ertikata haram?

Dalam soal berjabat tangan terdapat banyak hadith-hadith yang sahih, adapun dalam soal berpelukan terdapat beberapa hadith – yang sebahagiannya da’if – yang memberi makna keharusan melakukannya. Apapun, kedua-duanya warid secara berasingan. Masalah timbul apabila kedua-duanya dilakukan dalam masa yang sama, iaitu ‘berjabat tangan diikuti dengan berpelukan’. Ada juga yang ‘berjabat tangan diikuti dengan mengucup pipi’. Bentuk sebegini memang tidak terdapat dalam hadith-hadith. Namun, apakah ianya suatu bidaah?

‘Masalah berjabat tangan sambil berpelukan’, bukanlah masalah ibadat apatah lagi akidah. Ianya adalah masalah yang dapat dibincangkan dalam bab adab, iaitu adab pergaulan sesama manusia. Justeru pada pendapat saya, hukum terhadapnya tidak perlu sehingga dianggap sebagai bidaah sayyi’ah atau dhalalah. Apatah lagi tidak warid hadith yang menunjukkan tegahan sarih (nyata) atau memberi ancaman jika berbuat demikian, walaupun dengan jalan da’if sekalipun. Maka hukumnya dapat diputuskan menurut cara yang lebih fleksibel dan bersesuaian dengan situasi. Barangkali inilah gambaran fiqh yang ingin diberi oleh al-Hafiz Abu Sa’id Ahmad bin Muhammad bin Ziyad ibn al-A’rabi ketika menyusun kitabnya; al-Qubal wal-Mu’anaqah wal-Musafahah.

Memahami Masalah dan Dalilnya

Masalah ini berbeza dengan ‘masalah berdiri menyambut seseorang’ yang menjadi perselisihan di kalangan ulama disebabkan terdapat hadith yang menunjukkan tegahan sarih (nyata) dan memberi ancaman terhadap perbuatan tersebut. Maka, ulama berselisih pendapat dalam menjelaskan maksud hadith berkenaan. Adapun hadith Anas RA yang bermaksud: Bertanya seorang lelaki: Ya Rasulullah, seorang lelaki dari kalangan kami bertemu saudaranya atau temannya, adakah patut dia tunduk kepadanya? Jawab baginda: Tidak. Tanyanya lagi: Adakah dia patut mendakap dan mengucupnya? Jawab baginda: Tidak. Tanyanya lagi: Dia patut mengambil tangannya dan berjabat tangan? Jawab baginda: Ya. (Riwayat al-Tirmizi – 2729, katanya: hasan, dan Ibn Majah – 3703)

Hadith ini menunjukkan Nabi SAW membimbing para sahabatnya kepada petunjuk adab dan akhlak yang lebih baik. Larangan tunduk dan berpeluk disebut secara tidak langsung. Maka larangan yang tidak sarih (nyata) ini sebenarnya mampu disesuaikan dengan situasi semasa dan budaya sesuatu tempat. Tambahan pula tidak ada hadith yang menunjukkan tegahan sarih atau memberi ancaman keras jika berbuat demikian. Oleh sebab itu, berkaitan menunduk kepala, al-Nawawi hanya menghukumnya sebagai makruh sahaja dan tidak jatuh kepada haram.

Manakala soal berpeluk, diimbangi oleh hadith lain, meskipun dikatakan Imam Malik menyatakannya sebagai makruh. Bagaimanapun, Ibn Hajar menukilkan bahawa riwayat dari Imam Malik yang menyebut bahawa berpelukan itu makruh hukumnya adalah tidak benar, sepertimana menurut al-Zahabi dalam kitab al-Mizan, dan isnad kepadanya juga gelap (tidak jelas). Justeru, soal berpeluk ini dapat diimbangi oleh hadith lain seperti riwayat al-Tirmizi, katanya:

‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ، ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَحْيَى بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادٍ الْمَدَنِيُّ، ‏ ‏حَدَّثَنِي ‏ ‏أَبِي يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ، ‏ ‏عَنْ ‏ ‏مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ، ‏ ‏عَنْ ‏ ‏مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ الزُّهْرِيِّ، ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَائِشَةَ ‏ ‏قَالَتْ: ‏ ‏قَدِمَ ‏ ‏زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ ‏ ‏الْمَدِينَةَ ‏ ‏وَرَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏فِي بَيْتِي، فَأَتَاهُ فَقَرَعَ الْبَابَ، فَقَامَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏عُرْيَانًا يَجُرُّ ثَوْبَهُ، وَاللَّهِ مَا رَأَيْتُهُ عُرْيَانًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ، فَاعْتَنَقَهُ وَقَبَّلَهُ. ‏

‏Terjemahan matan: Daripada ’A’isyah katanya: “Zaid bin Harithah telah sampai ke Madinah sedang Rasulullah SAW berada di rumahku. Beliau datang dan terus mengetuk pintu. Lalu Rasulullah SAW pun bergegas kepadanya (kerana sangat gembira, selendangnya terjatuh), baginda dalam keadaan tidak berbaju sambil mengheret selendangnya. Demi Allah, tidak pernah aku melihat baginda tidak berbaju (dalam menyambut tetamu) sebelum itu mahupun sesudahnya. Lantas baginda memeluk dan mengucupnya”. (Riwayat al-Tirmizi, no. 2656, katanya: hadith hasan gharib, kitab – الاستئذان والآداب عن رسول الله, bab – ما جاء في المعانقة والقبلة).

Namun pada sanadnya, Ibrahim bin Yahya bin Muhammad bin ’Abbad adalah layyin al-hadith (lemah hadithnya). Bapanya Yahya bin Muhammad pula adalah seorang perawi da’if. Manakala Muhammad ibn Ishaq sahib al-maghazi adalah perawi yang diperselisihkan. Bagaimanapun, Ibn Hajar yang membawa hadith ini di dalam syarahnya Fath al-Bari, hanya menukilkan hukum al-Tirmizi tersebut dan mendiamkannya tanpa sebarang kritikan. Begitu juga al-Nawawi dalam kitabnya Riyadh al-Salihin dalam bab (باب استحباب المصافحة عند اللقاء، وبشاشة الوجه، وتقبيل يد الرجل الصالح، وتقبيل ولده شفقة، ومعانقة القادم من سفر، وكراهية الانحناء).

Syeikh al-Mubarakpuri menyatakan di dalam (تحفة الأحوذي بشرح جامع الترمذي), berdasarkan hadith al-Tirmizi ini, disyariatkan berpelukan bagi orang yang tiba daripada safar (perjalanan) semata-mata. Menurut beliau, hadith Anas RA yang seakan melarang berpelukan di atas adalah bagi orang yang bukan tiba daripada safar, manakala hadith ’A’isyah RA pula yang membenarkannya adalah bagi orang yang datang daripada safar.

Secara realiti, itulah adat budaya yang berjalan semenjak dahulu, dan tidak munasabah jika ada orang yang sentiasa berdakapan setiap masa tanpa sebab musabab tertentu. Berdakapan adalah satu tindakan tabii manusia di atas munasabah atau sebab-sebab tertentu. Menurut pendapat saya, tidak semestinya juga hukum hanya dikhususkan kepada orang yang tiba daripada safar sahaja, kerana di sana ada sebab yang lebih umum, iaitu ’tempoh lama tidak bertemu’. Justeru, tempoh lama tidak bertemu ini sebenarnya adalah sebab utama untuk berbuat demikian, manakala safar hanyalah satu sebab yang khusus. Ini dibuktikan dengan hadith al-Bukhari berikut di mana Nabi SAW memeluk al-Hasan RA;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ الدَّوْسِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَائِفَةِ النَّهَارِ لَا يُكَلِّمُنِي وَلَا أُكَلِّمُهُ حَتَّى أَتَى سُوقَ بَنِي قَيْنُقَاعَ فَجَلَسَ بِفِنَاءِ بَيْتِ فَاطِمَةَ فَقَالَ : أَثَمَّ لُكَعُ أَثَمَّ لُكَعُ ؟ فَحَبَسَتْهُ شَيْئًا فَظَنَنْتُ أَنَّهَا تُلْبِسُهُ سِخَابًا أَوْ تُغَسِّلُهُ فَجَاءَ يَشْتَدُّ حَتَّى عَانَقَهُ وَقَبَّلَهُ وَقَالَ: اللَّهُمَّ أَحْبِبْهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ.

Terjemahan: Daripada Abu Hurairah RA katanya: Nabi SAW keluar pada sebahagian hari panas, baginda tidak berbicara denganku dan akupun tidak berbicara dengannya sehinggalah sampai di pasar Bani Qainuqa’. (Sesudah itu beredar) lalu baginda duduk di laman rumah Fatimah sambil memanggil: Ada tak di sana si-kecil? Ada tak di sana si-kecil? (maksudnya al-Hasan RA). Maka Fatimah pun menahan al-Hasan seketika. Kata Abu Hurairah: Aku jangka barangkali beliau sedang memakaikannya kalung benang atau memandikannya. Kemudian al-Hasan datang dengan bergegas sehingga baginda memeluk dan mengucupnya, serta berdoa: Ya Allah, sayangilah dia, dan sayangilah orang yang menyayanginya. (Riwayat al-Bukhari, no. 1979)

Faedah: Bab Mengenai Berdakapan Dalam Sahih al-Bukhari

Imam al-Bukhari telah mengkodkan di dalam kitabnya al-Sahih dan al-Adab al-Mufrad bab tentang berpelukan ini. Judul bab yang terdapat dalam Sahih Al-Bukhari adalah seperti demikian (باب المعانقة وقول الرجل كيف أصبحت) maksudnya; ‘bab tentang berpelukan dan kata-kata seorang lelaki: bagaimana pagimu?’ (dalam kitab al-Isti’zan pada hadith no. 5795). Bagaimanapun, tidak dimuatkan sebarang hadith yang menyentuh tentang berpelukan. Menurut Ibn Hajar, berkemungkinan ianya adalah dua judul bab yang berasingan, iaitu (باب المعانقة) dan (باب قول الرجل كيف أصبحت). Bab berpelukan itu kosong kerana barangkali al-Bukhari tidak menemukan hadith sahih yang menepati syaratnya, lalu kedua-dua bab dijadikan satu kerana disangkakan sebagai satu bab oleh setengah penyalin kitab Sahih al-Bukhari.

Bolehjadi hadith yang tidak menepati syaratnya itu ialah hadith ‘A’isyah RA – di atas tadi – yang dikeluarkan oleh al-Tirmizi yang telah meriwayatkannya daripada gurunya, al-Bukhari sendiri. Menurut al-Muhallab, seperti yang dinukilkan oleh Ibn Battal al-Maliki, ialah hadith al-Hasan RA, yang juga di atas tadi. Namun menurut Ibn Hajar, hadith tersebut ialah hadith yang terdapat dalam (بَاب الْمُعَانَقَة) dalam kitab al-Adab al-Mufrad. Iaitu kisah Jabir bin ’Abdullah RA bermusafir selama sebulan ke Syam untuk bertemu dengan ’Abdullah bin Unais RA semata-mata bagi mengesahkan sebuah hadith Nabi SAW. Disebut dalam kisah berkenaan, Jabir dan ’Abdullah bin Unais bertemu dan saling berdakapan. Ianya adalah kisah yang sabit, juga diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dalam Musnad mereka.

Riwayat-riwayat Lain

Antara riwayat-riwayat lain berhubung masalah ini seperti yang dinukilkan oleh Ibn Hajar (dengan sedikit tambahan penulis) ialah:

i. Hadith riwayat Ahmad (no. 21,500) dan Abu Dawud (no. 5214) daripada seorang lelaki dari qabilah ‘Anazah yang tidak disebut namanya, beliau bertanya kepada Abu Zar RA: Adakah Rasulullah SAW berjabat tangan dengan kalian apabila kalian bertemu dengannya? Jawab beliau: Tidaklah aku bertemu dengannya sekalipun melainkan baginda akan berjabat tangan denganku, dan pernah suatu hari baginda mengutus wakilnya kepadaku sedang aku tidak berada bersama keluargaku. Apabila aku kembali, dikhabarkan kepadaku bahawa baginda mengutus wakilnya kepadaku. Lantas akupun pergi bertemu baginda sedang baginda berada di atas katilnya, lalu baginda mendakapku, dan baginda adalah orang yang paling baik dan paling baik. (Para perawi hadith ini adalah thiqah, kecuali lelaki yang tidak disebut namanya itu).

ii. Hadith Anas RA riwayat al-Tabarani dalam al-Awsat: ”Mereka (para sahabat) apabila bertemu akan berjabat tangan, dan apabila tiba daripada safar akan berpelukan”.

iii. Hadith mursal mengenai Ja’far bin Abi Talib RA:

أَخْرَجَ سُفْيَان بْن عُيَيْنَةَ فِي جَامِعه عَنْ الْأَجْلَح عَنْ الشَّعْبِيّ ” أَنَّ جَعْفَرًا لَمَّا قَدِمَ تَلَقَّاهُ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلَ جَعْفَرًا بَيْن عَيْنَيْهِ “. (قال العبد الضعيف: وأَخْرَجَه أيضاً أبو داود رقم: 5220 وعنه ابن الأعرابي في القبل والمعانقة والمصافحة رقم: 38، وفيه: فالتزمه، وقبل ما بين عينيه). وَأَخْرَجَ الْبَغْوِيُّ فِي مُعْجَم الصَّحَابَة مِنْ حَدِيث عَائِشَة وَسَنَده مَوْصُول لَكِنْ فِي سَنَده مُحَمَّد بْن عَبْد اللَّه بْن عُبَيْد بْن عُمَيْر وَهُوَ ضَعِيف.

Maksudnya secara ringkas: Ketika Ja’far tiba (di Madinah), Rasulullah SAW telah menyambutnya, lalu baginda mendakapnya, serta mengucup di antara dua kening matanya.

iv. Hadith riwayat Qasim bin Asbagh dengan sanad da’if, daripada Abu al-Haitham bin al-Taihan RA, bahawa Nabi SAW telah menemuinya, lalu mendakap dan mengucupnya.

Secara teori, kesemua riwayat-riwayat ini walaupun da’if ianya saling menguatkan dan mampu menyabitkan asal masalah, iaitu perbuatan berdakap atau berpelukan. Ini kerana taraf da’if riwayat-riwayat berkenaan tidak berat dan dianggap ringan yang membolehkannya saling mengukuhkan antara satu sama lain.

Jika berjabat tangan sabit dan berpelukan juga sabit, maka tidak ada masalah jika keduanya dilakukan dalam masa yang sama dengan mengambil kira situasi, budaya dan munasabah tertentu. Maka tidak ada bidaahnya kecuali dalam bentuk yang bersifat teknikal sahaja, dan ianya adalah harus. Sebagaimana Sayidina ’Umar RA menyaksikan para sahabat RA berjama’ah di bawah satu imam dalam solat tarawih. Keharusan masalah ini juga boleh difahami berdasarkan fitrah manusia dan adat-budaya suatu bangsa, yang dapat dihubungkan dengan keanjalan syariat Islam itu sendiri dalam mendepani pelbagai isu. Tambahan pula tidak ada objektif berbahaya di sebaliknya bagi mengharamkan perbuatan tersebut, sebagaimana dalam ‘masalah berdiri menyambut seseorang’ kerana objektif asal larangannya adalah bagi mengelakkan sifat takabbur yang sangat berbahaya dan ditegah oleh Allah SWT. Begitu juga dalam ’masalah memakai pakaian di bawah paras buku lali’.

Wallahu a’lam.

http://sawanih.blogspot.com/search/label/Akhlak

Posted by: Habib Ahmad | 12 November 2010

Peristiwa bersejarah sepanjang Zulhijjah

Peristiwa bersejarah sepanjang Zulhijjah
Posted on November 10, 2010 by albakriah
Di sebalik bulan Zulhijjah yang terkenal dengan bulan haji, ia juga mencatatkan beberapa peristiwa di dalam diari sejarah pembinaan dan perjuangan umat Islam. Ia menjadi nadi dan titik-tolak kepada pengukuhan akidah dan pemantapan sahsiah serta kekuatan ukhwah ummat di dalam meneruskan perjuangan Baginda s.a.w.
Antara peristiwa tersebut adalah:

1. Nabi Muhammad s.a.w membawa dagangan Khadijah ke negeri Syam, di sana baginda diberitahu tentang kenabiannya oleh pendita Nasthurah. Ia berlaku pada tahun kelima sebelum pelantikan baginda menjadi nabi.

2. Peristiwa Baiah Al-Aqabah (perjanjian setia Al Aqabah) pada tahun ke-13 selepas pelantikan baginda menjadi nabi. Ia disertai oleh 73 orang lelaki dan 2 orang perempuan dari kaum Aus dan Khazraj.

3. Peperangan As Sawiq pada tahun kedua Hijrah,Nabi s.a.w keluar mengekori kumpulan Abu Sya’ban yang menceroboh dan memerangi penduduk pinggir kota Madinah. Semasa melarikan diri mereka mencampakkan guni-guni gandum yang dibawa bagi mempercepatkan perjalanan supaya tidak dapat diekori oleh baginda.

4. Pada 7 Zulhijjah tahun kelima Hijrah satu kumpulan tentera Islam dihantar ke perkampungan Bani Sulaim yang diketuai oleh Ibnu Abi Al ‘Arjak.

5. Kelahiran Ibrahim putera Nabi s.a.w pada tahun kelapan Hijrah, ibunya bernama Mariyah Al Qibtiyah.

6. Pada tahun ke-10 Hijrah, Nabi s.a.w mengerjakan ibadah Haji yang dikenali dengan Hajjatul Wada’. Di sana baginda menyampaikan amanat-amanatnya yang kesemuanya adalah peraturan dan aturcara kehidupan di dalam Islam.

7. Abu Bakar As Siddiq mengerjakan ibadah Haji bersama umat Islam selepas kewafatan Nabi s.a.w pada tahun 12 Hijrah.

8. Peperangan Dathin yang dipimpin oleh Umamah Al Bahiliy menentang tentera Rom, berakhir dengan kemenangan tentera Islam.

9. Kemenangan tentera Islam yang diketuai oleh Yazid bin Abi Sya’ban menentang tentera Rom yang dikepalai oleh Sarjius di dalam pertempuran Wadi ‘Arabah di Palestin.

10. Pada tahun 23 Hijrah, Khalifah Umar Al Khattab meninggal dunia dibunuh oleh Abu Lu’luah Al Majusi.

11. Pelantikan Uthman bin ‘Affan sebagai khalifah yang dipilih sebulat suara oleh sebuah majlis Syura yang ditubuhkan oleh Umar Al Khattab sebelum kematiannya.

12. Pelantikan Ali bin Abi Talib sebagai khalifah menggantikan Uthman bin Affan pada tahun 35 Hijrah.

13. Kematian Yahya bin Aktham seorang ulama dan panglima tentera Islam pada tahun 242 Hijrah di Rabdah, sebuah kota di pinggir Madinah semasa berusia 82 tahun, pernah menjadi hakim kota Basrah, kadi besar dan penasihat kerajaan.

Posted by: Habib Ahmad | 12 November 2010

Majlis Maulid Bulanan Darul Murtadza

Masa 12hb November · 9.00 ptg – 11.00 ptg

——————————————————————————–

Lokasi Surau Al-Hidayah,
Jalan 6/56, AU3 Keramat
Kuala Lumpur, Malaysia

——————————————————————————–

Direka Oleh: Darul Murtadza

——————————————————————————–

lebih info Majlis Ta’lim Darul Murtadza pimpinan Habib Ali Zainal Abidin Alhamid akan mengadakan Maulid Bulanan pada Jumaat 12 November2010 bersamaan 7 Zulhijjah 1431, bertempat d iSurau Al-Hidayah, Jalan 6/56, AU3 Keramat, Kuala Lumpur.Acaranya adalah seperti berikut:-

8.30 – Solat Isya’
9.00 – Bacaan Maulid Addiya’ulami’
Bacaan Qasidah
Syarahan
Doa’
Jamuan

Semua Muslimin & Muslimat dijemput hadir ke majlis ini.

Terima Kasih
—————————————————————————————–

Majlis Ta’lim Darul Murtadza patronised by Habib Ali Zainal Abidin Alhamid will organize their monthly maulid recitation. The tentatives are as follows :-

9.00 – Solat Isya’
9.15 – Recitation of Maulid Addiya’ulami’
Qasidah
Preachings
Refreshment

All Muslimin & Muslimat are welcomed to this occasion

Wassalam

Posted by: Habib Ahmad | 12 November 2010

48,327 calon UPSR dapat keputusan cemerlang, semua A

48,327 calon UPSR dapat keputusan cemerlang, semua A
11/11/2010 9:59am

PUTRAJAYA 11 Nov. – Seramai 48,327 daripada 482,334 calon Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR) pada tahun ini mendapat keputusan cemerlang atau semua A.

Ketua Pengarah pelajaran, Datuk Abd. Ghafar Mahmud berkata, pencapaian keseluruhan peperiksaan itu didapati meningkat dan merupakan terbaik dalam empat tahun mengikut Gred Purata Nasional (GPN). – Utusan

TAJUK-TAJUK BERITA LAIN:

Posted by: Habib Ahmad | 12 November 2010

Amerika diserang?

Amerika diserang?

Rakaman video yang disediakan oleh stesen televisyen KCBS/KCAL merakamkan apa yang dipercayai peluru berpandu yang dilancarkan di ruang udara pantai California, kelmarin. – AP

——————————————————————————–

WASHINGTON 10 Nov. – Sebuah stesen televisyen swasta Amerika Syarikat (AS), KCBS semalam menyiarkan rakaman video dipercayai kepulan asap yang dilepaskan oleh peluru berpandu ketika melalui ruang angkasa di barat Los Angeles, sekali gus timbul laporan ia merupakan serangan peluru berpandu.

Tentera Amerika Syarikat (AS) bagaimanapun berkata, ia bukanlah satu ancaman besar kepada negara ini kerana tidak ada sebarang tentera asing dikesan melancarkan peluru berpandu ke arah kawasan pinggir laut California seperti yang dilaporkan.

“Buat masa ini, kami mengesahkan negara kita tidak menerima sebarang ancaman dan ia bukanlah satu usaha serangan daripada tentera asing,” kata Pasukan Pertahanan Angkasa Lepas Amerika Utara (NORAD) dalam satu kenyataan yang dikeluarkan, hari ini.

Pentagon berkata, pihaknya tidak mempunyai sebarang maklumat lengkap tentangnya dan ia sedang berusaha melakukan siasatan terperinci.

“Tidak ada sebarang maklumat yang membolehkan Jabatan Pertahanan (DoD) mengakui ia adalah satu serangan peluru berpandu.

“Beberapa agensi kerajaan yang mempunyai kepakaran dalam bidang penerbangan akan melakukan siasatan terhadap apa yang dilaporkan berlaku di California semalam,” kata jurucakap Pentagon, David Lapan.

Tambah Lapan, berdasarkan imbasan radar Pentadbiran Penerbangan Persekutuan dari kawasan lapang di barat Los Angeles, tidak menunjukkan sebarang pergerakan dengan kelajuan luar biasa malah mereka tidak menerima sebarang laporan pemandangan luar biasa daripada juruterbang yang melalui ruang angkasa kawasan terbabit.

Kebiasaannya, kata Lapan, sebelum ujian peluru berpandu diadakan, ruang udara perlu ditutup dan pelaut perlu dimaklumkan terlebih dahulu.

“Sebab itulah, apa yang sedang berlaku masih menjadi misteri,” kata Lapan. – AFP

« Kiriman-Kiriman Berikutnya - Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 686 other followers