Posted by: Habib Ahmad | 1 Disember 2010

Mengukur Haji Mabrur

Mengukur Haji Mabrur
Friday, 26 November 2010 11:41

Membangun kesalehan spiritual menuju kesalehan social. “Jadi, kemabruran adalah rekontruksi manusia lahir batin yang dampaknya akan positif dalam pergaulan di dunia, sekaligus khusnul khotimah menuju akhirat…”

Tidak terasa pelaksanaan ritual haji 1431 H/2010 M telah berakhir. Sebanyak 221 ribu jiwa jama’ah haji Indonesia mulai kembali ke Tanah Air secara bertahap sejak 20 November 2010.

Bagi jama’ah haji Indonesia, ada catatan yang bisa dijadikan renungan dan diaplikasikan dalam kehidupan sosial dalam suasana keprihatinan di Tanah Air, menyangkut bencana alam tsunami, banjir, gunung meletus dan gempa bumi.

Bagi seorang muslim, yang baru selesai menunaikan ibadah haji, semua peristiwa memilukan tersebut tentu harus dimaknai dengan sikap positif karena hal itu menyangkut kemabruran haji.

KH. Hasyim Muzadi dalam khotbah wukuf di Padang Arafah pada 15 Nopember mengatakan, siapa pun yang melaksanakan ibadah haji ingin memperoleh kemabruran, sebagai tanda diterimanya ibadah mereka, oleh Allah SWT.

Mabrur itu sendiri, kata Hasyim yang juga menjadi naib amirul haj, mengandung pengertian dibebaskannya seseorang dari segala dosa masa silam. Balasan mabrur adalah surga. Tapi, di antara jema’ah lupa bahwa syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai kemabruran itu.

Syarat itu, kata mantan ketua Nahdlatul Ulama (NU) tersebut adalah menjaga niat dan bersihnya hati. Ini bukan pekerjaan ringan, karena hati itu setiap saat bisa diganggu oleh kepentingan nafsu dan pengaruh lingkungan. Syarat lainnya adalah pelaksanaan manasik (aturan hukum) haji yang benar, tidak merusak rukun. Bila melanggar wajib, harus ada tebusan. Menurut syariat, tebusan itu bias berupa puasa atau amal sosial.

Sedangkan kesunahan haji merupakan pengembangan dari yang rukun dan wajib, sekalipun tidak mengganggu keabsahan haji. “Allah SWT selalu menepati janjinya, tinggal kita apakah bisa memenuhi syarat untuk meraih janji itu,” katanya.

Syarat lainnya adalah bekal yang halal dan tidak bercampuran hal-hal yang syubhat. Jika dilihat realitasnya, tidak satu pihak pun dapat mengetahui hakikat seseorang yang menjalani ibadah haji, apakah memperoleh mabrur atau tidak. Sebab, hakikat itu hanya Allah SWT yang mengetahui, sedangkan manusia hanya berdoa dan berusaha secara optimal.

Menurut Hasyim, Allah SWT memberi tanda-tanda kemabruran melalui keadaan orang itu dalam hubungan “hablun minallah dan hablun minannas”. Pendekatan diri (taqorrub) kepada Allah SWT akan melahirkan perbaikan kondisi dan gerak batin seseorang yang berpotensi membentuk karakter lebih baik.

Dengan demikian akan memudahkan seorang muslim untuk membangun kesalehan pribadinya menuju kesalehan social. “Jadi, kemabruran adalah rekontruksi manusia lahir batin yang dampaknya akan positif dalam pergaulan di dunia, sekaligus khusnul khotimah menuju akhirat,” kata Hasyim Muzadi seperti dilansir Antara.

Indikator mabrur

Untuk menentukan kualitas haji mabrur bagi seseorang tak bisa menggunakan parameter wujud fisik, misalnya sekembalinya dari tanah suci lantas orang bersangkutan rajin pergi ke masjid, kerap berzikir atau rajin mendoakan seseorang yang tengah tertimpa musibah.

Juga tak bisa menggunakan pendekatan pandangan keseharian, karena bisa saja diam-diam orang yang baru kembali di Tanah Air kembali giat melakukan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

Para ulama menyebutkan bahwa haji mabrur itu memiliki indikator, antara lain patuh melaksanakan perintah Allah SWT, melaksanakan shalat, konsekuen membayar zakat.Juga sungguh-sungguh membangun keluarga sakinah mawaddah dan wa rahmah, selalu rukun dengan sesama umat manusia, sayang kepada sesama makhluk Allah SWT.

Selain itu juga konsekuen meninggalkan larangan Allah SWT, terutama dosa-dosa besar, seperti syirik, riba, judi, zina, khamr, korupsi, membunuh orang, bunuh diri, bertengkar, menyakiti orang lain, khurafat, serta bid’ah.

Gemar melakukan ibadah wajib, sunat dan amal shalih lainnya serta berusaha meninggalkan perbuatan yang makruh dan tidak bermanfaat. Aktif berkiprah dalam memperjuangkan, mendakwahkan Islam dan istiqamah serta sungguh-sungguh dalam melaksanakan amar maruf dengan cara yang maruf, melaksanakan nahi munkar tidak dengan cara munkar.

Memiliki sifat dan sikap terpuji seperti sabar, syukur, tawakkal, tasamuh, pemaaf, dan tawadlu. Malu kepada Allah SWT utk melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Semangat dan sungguh-sungguh dalam menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu Islam.

Haji mabrur juga bila bekerja keras dan tekun untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, keluarganya dan dalam rangka membantu orang lain serta berusaha untuk tidak membebani dan menyulitkan orang lain.

Cepat melakukan tobat apabila terlanjur melakukan kesalahan dan dosa, tidak membiasakan diri proaktif dengan perbuatan dosa, tidak mempertontonkan dosa dan tidak betah dalam setiap aktivitas berdosa.

Dan yang lebih penting lagi, sungguh-sungguh memanfaatkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menolong orang lain dan menegakkan “Izzul Islam wal Muslimin”.

Jadi, menilai haji mabrur itu sungguh sulit. Apalagi bagi orang bersangkutan untuk menjalankannya. Namun demikian, upaya memenuhi seluruh indikator tersebut mutlak diperjuangkan dan dicapai. Sama halnya seorang atlet, agar memperoleh fisik kuat dan berprestasi di ajang pertandingan tentu harus banyak berlatih. Bagi seorang yang sudah berhaji, bagi yang mau belajar dengan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, di tanah suci Madinah, Makkah, Arafah dan Mina, dia memperoleh pembelajaran dan gemblengan langsung oleh Allah SWT.

Karena itu, sekembalinya di tanah air orang yang telah berhaji diharapkan menjadi pembawa rahmat bagi semua umat di sekitarnya. Semoga….

http://majalah-alkisah.com

Posted by: Habib Ahmad | 30 November 2010

Solat berimamkan pemimpin IJ, 21 didakwa

Solat berimamkan pemimpin IJ, 21 didakwa

Nov 29, 10 7:08pmJabatan Agama Islam Selangor (JAIS) akan mendakwa 21 individu pengikut ajaran sesat Islam Jamaah (IJ) termasuk enam warganegara Indonesia dan dua rakyat Bangladesh yang ditahan di sebuah surau di Sungai Tangkas, Kajang Jumaat lalu.

Pengarah JAIS Datuk Mohamed Kushrin Munawi berkata semua mereka akan didakwa di Mahkamah Syariah Kajang esok kerana kesalahan menunaikan solat Jumaat tanpa kebenaran serta mengikut imam yang tidak mendapat tauliah dari jabatan agama Islam negeri itu.

“Semua mereka berumur antara 29 dan 50 tahun menunaikan solat Jumaat tidak cukup jemaah iaitu kurang daripada 40 orang selain membaca khutbah dalam Bahasa Arab yang dipetik daripada koleksi buku terbitan mereka sendiri bukan mengikut teks daripada Jais,” katanya dalam sidang media di Shah Alam hari ini.

Beliau berkata mereka akan didakwa mengikut Seksyen 12 (c) dan 13 (1) Enakmen Jenayah Syariah Selangor kerana melanggar fatwa Jabatan Fatwa Selangor dan bagi setiap kesalahan boleh didenda tidak lebih RM3,000 atau penjara maksimum dua tahun atau kedua-duanya, jika sabit kesalahan.

Bagi kesalahan menggunakan bangunan bagi perkara yang hanya boleh digunakan di masjid, mereka dituduh mengikut Seksyen 97 (1) Enakmen Pentadbiran Agama Islam (Selangor) di mana boleh didenda maksimum RM3,000 atau penjara maksimum setahun atau kedua-duanya sekali, jika sabit kesalahan.

Sementara itu, Kushrin berkata ketua ajaran itu Abdul Wahab Jantan, 41, masih diburu JAIS kerana beliau dipercayai berada di Solo, Indonesia bagi tujuan mendalami ajaran berkenaan semasa serbuan dilakukan.

Beliau berkata JAIS telah melakukan pemerhatian terhadap gerakan ajaran sesat itu sejak setahun lepas dan menunggu masa serta bukti yang sesuai untuk melakukan serbuan.

Katanya, beberapa barang bukti dirampas untuk tujuan pendakwaan seperti teks khutbah Jumaat yang dikeluarkan sendiri IJ, mimbar, set pembesar suara, risalah Islam Jemaah serta 15 keping surat pernyataan taubat yang dibuat dalam upacara “taubat”.

Selain itu, ajaran berkenaan turut dipercayai menjadi sindiket ejen nikah tidak sah berikutan penemuan beberapa dokumen mengenai pasangan yang mahu dinikahkan oleh pemimpin kumpulan berkenaan.

“Kita percaya terdapat kira-kira 1,000 pengikut ajaran IJ yang masih aktif di negeri ini yang dipercayai beroperasi di Sungai Tangkas, Kajang, Padang Jawa dan Sungai Udang, Klang, Bagan Hailam, Pelabuhan Klang dan Bandar Baru Hicom, Shah Alam,” katanya.

Dipercayai ajaran IJ diperkenalkan di Jawa Timur, Indonesia pada tahun 1941 oleh pengasasnya yang dikenali sebagai Haji Nurhasan al-Ubaidah atau nama sebenarnya, Mohd Madigol Ab Aziz.

Antara ciri-ciri ajaran sesat ini adalah pengikut IJ adalah orang Islam sebenar dan orang lain dianggap kafir, najis mughallazah seperti najis anjing tidak perlu disamak, binatang yang mati dalam kawasan kampung orang Islam tidak perlu disembelih dan halal dimakan dan tulang babi tidak haram.

Ajaran itu juga percaya dosa boleh diampunkan dengan mengisi borang tebus dosa yang disahkan oleh pemimpin.

- Bernama

Posted by: Habib Ahmad | 30 November 2010

Ikhlas capai kesempurnaan iman

Ikhlas capai kesempurnaan iman

Oleh Dr Aminudin Mansor
SIFAT ikhlas sangat penting untuk dipraktikkan dalam kehidupan seharian kerana orang yang ikhlas dianggap sempurna imannya. Ikhlas adalah sifat jujur yang dipraktikkan melalui perbuatan, percakapan dan amalan seharian.

Ikhlas datang daripada hati akan menjadikan sesuatu perbuatan dan amal itu diterima Allah. Nabi SAW bersabda; Siapa memberi kerana Allah, menolak kerana Allah, mencintai kerana Allah, membenci kerana Allah dan menikah kerana Allah, maka sempurnalah imannya. (Riwayat Abu Daud)

Berdasarkan hadis ini, sifat ikhlas penting dalam memberi dan menolak sesuatu yang haram serta membenci perbuatan tidak baik. Malah, tujuan berkahwin yang ikhlas kerana Allah sangat dituntut Islam kerana ia adalah cara menuju kesempurnaan iman.

Begitulah tingginya kedudukan sifat ikhlas dalam hati Muslim. Sifat ikhlas dapat dididik kepada anak melalui pemberian, percakapan dan membenci sesuatu perkara yang dilarang Allah. Pendidikan ini mesti dilakukan secara berterusan.

Ikhlas sebenarnya wujud dari hati, bukan melalui percakapan. Ada sesetengah orang mengatakan, pemberian saya ini ikhlas. Belum tentu sifat ikhlas itu wujud seratus peratus kerana pemberian yang ikhlas adalah lebih baik dilakukan secara diam-diam dan tidak perlu ia dihebahkan kepada orang ramai.

Sukar untuk menentukan keikhlasan yang datang dari hati. Hanya seseorang yang beriman dan betul-betul ikhlas yang dapat mentafsirkan pemberiannya ikhlas atau ada maksud di sebaliknya.

Nabi SAW bersabda yang bermaksud: Sesungguhnya Allah SWT tidak memandang segak tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan mahupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barang siapa memiliki hati yang salih, maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertakwa. (Riwayat Ath-Thabrani dan Muslim)

Seseorang yang sentiasa mendidik hatinya untuk ikhlas melalui perbuatan, percakapan dan pemberian akan dapat menuju ke arah ketakwaan kepada Allah.

Sabda Nabi SAW yang bermaksud: Siapa memurkakan Allah untuk meraih keredaan manusia, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang meredainya menjadi murka kepadanya. Namun, siapa yang meredakan Allah (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meredainya dan meredakan kepadanya, orang yang pernah memurkai-Nya, sehingga Allah memperindah dirinya, memperindah ucapannya dan perbuatan dalam pandangan-Nya. (Riwayat Ath-Thabrani)

Sifat ikhlas wajar dididik dan dilatih sejak kecil lagi. Bimbingan pendidikan ini mesti dilakukan secara berterusan dalam pemberian, perlakuan dan perbuatan. Oleh itu, sifat ikhlas ini tidak perlu dipamerkan tetapi dipraktikkan.

Majlis bersama ulama dunia “SHEIKH PROF. DR. MOHAMMAD SAID RAMADHAN AL BOUTI”

Liqa Mahabbah : [29/11/2010 – 11 pagi- 1230tgh Hotel Holiday Villa Subang Jaya, Selangor].
SYARAHAN PERDANA [29/11/2010 – Selepas Maghrib-10 malam di Dewan Solat Masjid Sultan Salahuddin Abd Aziz Shah, Shah Alam Selangor].

Wacana Ilmiah: Islamic and Extremism*
Penceramah : Y.Bhg. Sheikh Prof. Dr. Mohammad Said Ramadan Al-Bouti
Tarikh : 30 November 2010 (Selasa)
Masa : 3.00 petangTempat : Bilik Senat, Aras 5, Bangunan Canselori, UKM
Anjuran : Institut Kajian Rantau Asia Barat (IKRAB), FakultiPengajian Islam (FPI) &Kumpulan Kajian Rantau Asia Barat (AKRAB)(*Ceramah dalam bahasa Arab-mempunyai penterjemah)

Wacana IKRAB bil. 17: Islamofobia and Western Cultures: Conflict ofInterest of Cultures
Penceramah : Y.Bhg. Prof. Dr. Anis Ahmad Naib Canselor, RiphahInternational University, Pakistan
Tarikh : 2 Disember 2010 (Khamis)
Masa : 2.30 petang
Tempat : Bilik Mesyuarat 1, Aras 2, Fakulti PengajianIslam, UKM
Anjuran : Institut Kajian Rantau Asia Barat (IKRAB) &Kumpulan Kajian Rantau Asia Barat (AKRAB)

Majlis Syeikh Bouti di KUIS.30/11/2010 di Masjid al-Azhar KUIS. jam 9pm

Program“APLIKASI FIQH SIRAH DALAM REALITI SEMASA”
Selasa, 30 November 2010
Jam 10.00 pagi
SHEIKH PROFESSOR DR. MOHAMMAD SAID RAMADAN ALBOUTI
Universiti Damascus, Syria diDewan Besar, Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM)2, Langgak Tunku off Jalan Duta,50480 Kuala Lumpur.

Posted by: Habib Ahmad | 29 November 2010

SYARAHAN PERDANA SHEIKH PROF. DR. MOHAMMAD SAID RAMADHAN AL BOUTI

Posted by: Habib Ahmad | 29 November 2010

Perlukah Berhutang Untuk Mengerjakan Ibadah Haji ?

Perlukah Berhutang Untuk Mengerjakan Ibadah Haji ?
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Label: Soal Jawab Ibadah

Oleh : Mufti Brunei

Perlukah Berhutang Untuk Mengerjakan Ibadah Haji?

بسم الله ، والحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ، وعلى آله وصحبه ومن والاه
(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Antara tuntutan agama Islam yang wajib ditunaikan ialah ibadat haji. Ibadat haji merupakan salah satu daripada rukun Islam. Ia wajib ditunaikan oleh orang Islam yang mukallaf yang memenuhi syarat-syaratnya yang tertentu sekali dalam hidupnya.

Syarat Wajib Haji

Menurut para ulama, syarat-syarat wajib haji itu termasuk juga umrah ialah; Islam, baligh, berakal, merdeka dan istitha‘ah.

Apakah yang dimaksudkan istitha‘ah di sini? Istitha‘ah membawa maksud berkuasa atau berkemampuan untuk menunaikan haji. Ini dijelaskan dalam al-Qur’an, firman Allah Subahanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya:
“Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan haji ke Baitullah bagi sesiapa yang mampu dan berkuasa sampai kepadanya.”
(Surah ’Ali ‘Imran: 97)

Ayat di atas menjelaskan bahawa haji diwajibkan ke atas orang yang berkuasa atau berkemampuan untuk mengerjakannya.

Istitha‘ah sebagai syarat wajib menunaikan haji itu terbahagi kepada dua bahagian:

Pertama: Istitha‘ah mubasyarah binafsihi iaitu mampu mengerjakan sendiri ibadat haji dengan adanya kemampuan dari segi harta dan fizikal.

Kedua: Istitha‘ah bighairihi iaitu mampu mengerjakan ibadat haji dengan perantaraan orang lain kerana kemampuannya untuk mengerjakan ibadat haji dari segi harta sahaja, seperti orang yang wajib ke atasnya haji sebelum dia meninggal dunia, maka wajib ditunaikan haji bagi pihak dirinya dengan harta peninggalannya atau orang terlalu tua atau orang sakit yang tidak berupaya mengerjakan hajinya kecuali dengan mengupah orang lain untuk mengerjakan haji bagi pihak dirinya.

Syarat Istitha‘ah Mubasyarah Binafsihi

Orang yang mampu mengerjakan sendiri ibadat haji kerana kemampuannya dari segi harta dan fizikal terikat dengan beberapa syarat, iaitu:

(i) Mempunyai perbelanjaan atau bekalan yang mencukupi untuk dirinya ketika dalam perjalan pergi dan balik dan sewaktu dia melaksanakan ibadat haji, serta perbelanjaan sara hidup bagi orang yang diwajibkan ke atasnya menanggung nafkahnya semasa dalam pelayarannya.

(ii) Terdapat kenderaan untuk perjalanannya umpamanya kapal terbang, kapal laut, bas dan sebagainya, sama ada miliknya sendiri ataupun disewa dengan kadar sewaan biasa atau sewaan semasa menurut keadaan, tempat dan waktu.

Syarat ini adalah bagi orang-orang yang tinggal sejauh dua marhalah atau lebih dari Makkah al-Mukarramah iaitu jarak perjalanan yang membolehkan diqasharkan sembahyang.

Kedua-dua syarat di atas ada disebutkan dalam hadits Baginda Shallallahu ‘alahi wasallam daripada Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma katanya:

Maksudnya:
“Telah datang seorang lelaki kepada Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam, lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah, apakah dia syarat yang mewajibkan haji itu?” Baginda bersabda: “Bekalan dan kenderaan.”
(Hadits riwayat at-Tirmidzi)

(iii) Hendaklah aman dan selamat dalam perjalannya daripada bahaya, seperti binatang buas ataupun musuh. Perkara ini bukan sahaja ke atas dirinya tetapi juga ke atas hartanya, kehormatannya dan juga keselamatan orang-orang yang bersamanya.

(iv) Sihat tubuh badan dan tidak menghadapi kepayahan atau kesukaran yang tidak dapat ditanggung menurut kebiasaannya dalam perjalanan umpamanya kerana tua atau sakit.

(v) Mempunyai kesempatan dan masa bagi mengerjakan fardhu haji. Maksudnya ialah seseorang itu memenuhi syarat-syarat wajib haji pada ketika itu mempunyai masa yang mencukupi untuk membuat urusan dan melakukan perjalanan bagi mengerjakan fardhu haji.

(vi) Bagi perempuan, hendaklah ditemani oleh suaminya atau mahramnya atau perempuan-perempuan yang boleh dipercayai berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam:

Maksudnya:
“Janganlah seorang perempuan belayar bagi kecuali bersamanya suaminya atau mahramnya.”
(Hadits riwayat Muslim)

Maka jika salah satu daripada syarat-syarat istitha’ah tersebut tidak dipenuhi, maka tidaklah diwajibkan ke atas seseorang itu untuk mengerjakan ibadat haji.

Mengerjakan Haji Dengan Berhutang

Islam telah menetapkan bahawa ibadat haji tidak wajib ke atas orang yang tidak berharta. Islam juga telah menetapkan bahawa orang yang tidak berharta adalah tidak diwajibkan berhutang untuk mengerjakan ibadat haji.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan daripada ‘Abdullah bin Abu Awfa Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

Maksudnya:
“Aku pernah bertanya kepadanya (Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam) tentang seorang lelaki yang belum lagi menunaikan haji, “Adakah dia perlu berhutang untuk menunaikan haji itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam menjawab: Tidak.”

(Musnad asy-Syafi‘e)

Begitu juga dalam sebuah atsar yang diriwayatkan daripada Thariq Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

Maksudnya:
“Aku pernah mendengar anak Abu Awfa (salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam) ditanya berkenaan seorang lelaki yang mahu berhutang dan mengerjakan haji (dengan hutangnya itu), beliau berkata: Mohonlah rezeki kepada Allah dan jangan berhutang.”
(Hadits riwayat al-Baihaqi)

Dalam hal ini juga, Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala ada menyebutkan dalam kitab beliau al-Majmu‘:

Ertinya:
“Apabila sudah tidak wajib (haji itu) ke atas orang yang memang sedia ada hutangnya kerana hutangnya itu, maka tidak wajib berhutang (untuk pergi haji) itu adalah lebih awla (utama) lagi.”

Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta‘ala berkata lagi:

Ertinya:
“Telah berkata ulama-ulama asy-Syafi‘eyyah: Sekiranya orang yang memberi hutang itu setuju hutang itu dibayar kemudian sehingga (orang yang berhutang itu) pulang dari mengerjakan haji, ibadat haji itu masih tidak wajib ke atas orang yang berhutang itu tanpa ada percanggahan pendapat.”

Oleh itu, tidak dituntut dalam Islam menunaikan ibadat haji dengan berhutang, kerana pada dasarnya orang yang berhutang dan orang yang mempunyai hutang dianggap sebagai orang yang belum mempunyai kemampuan (istitha‘ah) untuk mengerjakan haji.

Islam Tidak Menggalakkan Berhutang Untuk Mengerjakan Ibadat Haji Islam adalah agama yang mudah dan tidak menyusahkan. Ini dijelaskan dalam al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya:
“Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan dan tidak menghendaki kamu menanggung kesusahan.”
(Surah al-Baqarah:185)

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala lagi:

Tafsirnya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya.”

(Surah al-Baqarah: 286)

Dalam konteks ini, jika sekiranya syarat-syarat wajib haji tidak dapat dipenuhi oleh seseorang, maka tidaklah wajib baginya pergi mengerjakan haji, walaupun haji itu salah satu daripada rukun Islam yang lima. Berhutang kerana tujuan tersebut adalah suatu perkara yang tidak dituntut oleh agama, kerana berhutang sangat membebankan dan boleh membawa akibat yang buruk seperti berlakumya kesusahan dan mengandungi risiko yang tinggi bukan sahaja di dunia bahkan juga di akhirat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ada menyebutkan tentang orang yang berhutang dengan sabda Baginda:

Maksudnya:
“Dan jauhkanlah diri kamu daripada hutang, kerana sesungguhnya (hutang itu) awalnya adalah dukacita dan akhirnya pula mengambil harta orang dengan tiada mengembalikannya.”
(Hadits riwayat Malik)

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lagi:

Maksudnya:
“Roh seseorang mukmin itu tergantung-gantung kerana hutangnya (yang belum dibayar) sehinggalah hutangnya itu dibayar.”
(Hadits riwayat at-Tirmidzi)

Kedudukan Haji Orang Yang Berhutang

Walau bagaimanapun, sekiranya orang yang berhutang itu mengerjakan haji juga dengan duit yang dipinjamnya, maka ibadat haji yang dikerjakannya itu sah sebagai haji fardhu dalam Islam.
Apabila suatu hari nanti, jika dia sudah berkemampuan untuk mengerjakan haji, maka dia tidak lagi diwajibkan atau dituntut untuk mengerjakannya.

Ini jelas disebut oleh Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta‘ala:

Ertinya:
“Adapun untuk dikira haji yang dikerjakan itu menjadi haji Islam (haji fardhu), maka syaratnya ada empat perkara iaitu;

Islam, berakal, merdeka dan baligh. Jika seorang fakir berusaha dengan bersusah payah (untuk mendapatkan perbelanjaan bagi tujuan) mengerjakan haji, maka haji itu menjadi haji Islam.”

Beliau berkata lagi dalam kitabnya Minhaj ath-Thalibin:

Ertinya:
“Maka memadailah (sah) haji seorang yang fakir (yang berusaha dengan bersusah payah untuk mendapatkan perbelanjaan mengerjakan haji).”

Begitu juga asy-Syeikh al-Khathib asy-Syarbini Rahimahullahu Ta‘ala ketika mensyarahkan perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta‘ala di atas dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj,
beliau berkata:

Ertinya:
“(Dan begitu juga memadai (sah) haji yang dilakukan oleh) setiap orang yang tidak berkemampuan apabila terkumpul (dua syarat) iaitu merdeka dan taklif (berakal dan baligh).”

Sebagai kesimpulan, orang yang tiada kemampuan dari segi kewangan, tidaklah perlu ia menyusahkan dirinya dengan berhutang untuk mengerjakan ibadah haji yang merupakan salah satu rukun Islam, apatah lagi bagi orang yang sudah mengerjakan haji atau umrah.

Sumber :

1. http://202.160.14.137/mufti/irsyad/pelita/2010/bil8_bhg1-2010.pdf

2. http://202.160.14.137/mufti/irsyad/pelita/2010/bil8_bhg2-2010.pdf

Posted by: Habib Ahmad | 29 November 2010

Mendapat Hidayah Allah di Majlis Habib Munzir

Limpahan puji kehadirat Allah SWT yg tiada henti mengampuni setiap hamba hamba pendosa, 4 thn lalu hamba hanyalah seorang yg berhikmat dengan dosa dan maksiat, hari demi hari dalam usia yg semakin dihitung oleh malaikat terus bermaksiat dan melupakan nama yang paling berwibawa yaitu ” Alloh”, aku jauh darinya dan terhempas kedalam lumuran dosa yg berat dan semakin lupa akan namanya…dan hingga suatu ketika aku lelah dengan semua ini tak ada yg menuntunku dan menyadarkan ku untuk berhenti berbuat dosa.. ya Alloh maafkan aku berilah aku pembimbing dunia akherat aku ingin berhenti dari semua yg kau murkai begitu doaku disaat aku termenung dalam kesendirian..
Alhamdullilah Doaku didengar olehNYA, maka kaki ini seolah olah ingin melangkah menghadiri acara khaul majelis zikir didaerah menteng atas dan akupun menghadirinya… aku melihat seorang ahlul bait yg begitu wibawa dengan karomahnya ..tutur kata, sikap dan ajakan yg begitu lembut dan penuh kedamaian seketika itu pula tak terasa air mata ini menetes terkesan dengan penyampainya..aku bertanya dalam hati siapakah dia hingga aku bertanya pd jemaah disampingku dia menjawab ..dia Habib Munzir al Musyawa pendiri majelis Rasullulah SAW…subhanalloh inikah jawaban Alloh atas permintaanku, hingga akhirnya kumencari dmn Majelisnya…

4 thn sudah berlalu hamba selalu luangkan waktu untuk datang pada setiap jadwal majelis beliau, baik yang jauh maupun dekat, beliaulah yg mengubah hidupku dan mencoba mengangkatku dari jilatan api neraka
Allahhu akbar…sungguh beliau panutan umat muslim masa kini bahkan aku menganggap beliau sebagai parameter tauhid dan aqidah umat muslim diseluruh dunia, wahai habibana cukuplah hamba yang mengenal dan melihatmu dari jauh dalam kekhusyukan doa dan munajat, karena seperti yg diucapkan habibana jika kita mencintai Rasullullah SAW maka bersambunglah ruh diantara kita….karena kita sama sama menyintainya dan satu shaf menuju keridhoannya…Habibana perkenankan hamba mengucapkan terimaksaih yg tak terkira krn habibibana menyelamatkan hamba dari panasnya api neraka.

Azila(Nama Penuh Di Rahsiakan)

Posted by: Habib Ahmad | 26 November 2010

PROGRAM INTENSIF TALAQQI KITAB 2010.

Posted by: Habib Ahmad | 26 November 2010

WACANA ILMU (26/11/2010)

Jom ngaji Ihya bersama al-Fadhil Ustaz Fuad Kamaluddin.

Tarikh : 26 November 2010
Tempat: Masjid Al-Azhar KUIS
Masa: 7.00 malam – 10.30 malam

Posted by: Habib Ahmad | 23 November 2010

Hukum Takbir Raya Berjemaah

Hukum Takbir Raya Berjemaah

Soalan:

Assalamualaikum Ustaz…soalan saya ringkas. Apa hukum kita bertakbir raya secara berjemaah beramai-ramai? Wahabi kata itu bid’ah sesat masuk neraka dan akan kekal dalam neraka jika halalkannya. Apa hukum sebenarnya? – Asrizal

_________________________________

Jawapan:

Wa’alaikumsalam. Syukran dengan soalan. Pertamanya jangan percaya apapun yang datang dari Wahabi kerana mereka adalah golongan yang telah diisyaratkan oleh Nabi kita Nabi Muhammad bahawa di Najd terbitnya tanduk syaitan dan Wahabi bermula ajaran mereka disana. Wahabi juga gemar mengebom mati umat Islam dan membunuh ulama Islam.

Manakala hukum bertakbir raya pabila waktu menjelang masanya pada raya puasa dan raya haji adalah disyariatkan, digalakkan dan juga disunatkan. Antara dalilnya adalah ;

- Imam Bukhary meriwayatkan dalam sahihnya pada Kitab Jum’ah bahawa Saidina Umar bertakbir dikubahnya ketika di Mina kemudian umat islam ahli Masjid turut bertakbir begitu juga mereka yang di pasar sehingga kawasan Mina dipenuhi laungan bersama dengan bunyi takbir.

- Imam Bukhary juga meriwayatkan dalam sahihnya pada Kitab Al-‘Idain bahawa Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah mereka berdua keluar ke pasar pada hari ke sepuluh zulhijjah (raya korban)lantas mereka berdua bertakbir dan kemudian masyarakat bertakbir bersama takbir keduannya (iaitu takbir berjemaah).

- Dalam kitab dan bab yang sama juga Imam Bukhary meriwayatkan lagi bahawa Maimunah bertakbir pada hari raya korban dan wanita-wanita bertakbir bersama belakang Aban bin Uthman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam tashriq bersama para jemaah lelaki dan masjid.

- Ummu ‘Athiyyah (sahabiah Nabi)berkata: Kami diperintah untuk keluar pada hari raya sehingga anak dara juga keluar dan juga wanita haid kemudian berada di belakang orang ramai dan wanita bertakbir beramai-ramai bersama takbir mereka (lelaki2). Dalam riwayat Muslim (hadith nom 890) menyebut mereka bertakbir beramai-ramai bersama-sama para jemaah lelaki.

Kesemua di atas merupakan dalil bahawa harus dan digalakkan bertakbir secara berjemaah bahkan disunatkan seperti mana ia zahir dari dalil2 tersebut.

Kemudian pandangan dalam mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafie&Hambali) membuktikan bahawa hukum bertakbir raya beramai-ramai berjemaah merupakan sesuatu yang diharuskan bahkan digalakkan.

1- Mazhab Hanafi: “Bertakbir pada hari Tasyriq merupakan satu kewajipan keatas lelaki dan wanita sekali dan jika melebihi sekali ia lebih afdhal dan takbir raya itu dilakukan secara BERJEMAAH atau berseorangan” Rujuk Hasyiah Ibnu ‘Abidin ‘Ala Ad-Durri Mukhtar 2 m/s 177-179.

2- Mazhab Maliki: Bertakbir raya disisi kami (mazhab malikiyyah) adalah dilakukan oleh semua orang secara berseorangan atau BERJEMAAH. Rujuk Majmu’ Syuruh Muwattho’ j 11 m/s 405.

3- Mazhab Hambali: Bertakbir secara jahr (nyaring) merupakan sunnah. Rujuk Matolib Ulil Nuha 1/802.

4- Mazhab kita Mazhab Syafie’ : Syeikh Islam Zakaria Al-Ansari, Imam Nawawi bahkan Imam Mujtahid Mutlaq Imam Asy-Syafie sendiri menyatakan bahawa bertakbir raya beramai-ramai secara berjemaah di masjid atau selainnya merupakan sesuatu yang digalakkan, di haruskan disunatkan juga pada selepas setiap kali solat 5 waktu pada hari2 raya tersebut. Rujuk Al-Um jilid 1 ms 264,275, 276, Asna Al-Matalib j 1ms 284 & Syarh An-Nawawi ‘ Ala Muslim j 6 ms 179.

Maka selepas ini Wahabi perlu menahan lidah mereka dengan mengigitnya agar tidak cepat menghukum umat Islam sebagai pelaku bid’ah sedangkan Wahabi lah ahli bid’ah yang suka mengkafirkan umat Islam dan mmbawa akidah tashbih kononnya Allah itu lemah serupa dengan makhluk. Awas! jgn ikut Wahabi!.

wassalam

http://ustaz-rasyiq.blogspot.com/2010/11/hukum-takbir-raya-berjemaah.html

Posted by: Habib Ahmad | 23 November 2010

Penyeberangan’ Dan Permastautinan Manusia Di Alam Ghaib?

Penyeberangan’ Dan Permastautinan Manusia Di Alam Ghaib?
Dicatat oleh Hamba Yang Da’if pada 9.4.10

1. Apa yang ingin saya bincangkan di sini adalah mengenai perkara ghaib yang mana kita tidak diberikan ilmu pengetahuan mengenainya oleh Allah SWT melainkan sedikit sahaja. Dalam akidah Islam secara umum, Allah SWT meminta kita agar beriman dengan perkara-perkara ghaib yang disampaikan melalui kitab-Nya dan juga rasul-Nya. Namun, persoalan yang ingin diketengahkan ini barangkali adalah satu persoalan yang jarang dikupas dan diketengahkan. Ianya mengenai satu persoalan dalam hubungan antara alam manusia dan alam ghaib, iaitu tentang ‘penyeberangan’ dan kewujudan manusia di alam ghaib, dalam ertikata kehidupan sebagaimana manusia biasa yang hidup di alam zahir ini. Perbincangannya sama sekali tidak termasuk kehidupan manusia yang telah mati di alam roh. Pada pendapat saya tidak salah ianya dibincangkan, kerana menurut hemat saya ia dapat memahamkan kita dengan banyak masalah dan persoalan yang berlaku di sekitar hidup manusia yang berkait hubungan antara dua dimensi, alam zahir dan alam ghaib, khususnya berhubung soal kerohanian. Bagaimanapun, persoalan ini tentu menjadi pertikaian di kalangan ahli ilmu. Barangkali ada yang menolaknya, di samping ada juga yang menerimanya. Banyak hujah yang mungkin dapat menyokong orang yang menolak kemungkinan tersebut. Namun tidak kurang juga hujah-hujah orang yang tidak menolak kewujudan dan kebarangkaliannya. Malah cerita-cerita yang dikisahkan juga amat banyak.

2. Tiada siapa yang menafikan mengenai ‘penyeberangan’ makhluk dari alam ghaib ke alam zahir kerana bukti-bukti mengenainya sangat banyak, seperti yang dinyatakan dalam al-Quran tentang khidmat jin terhadap Nabi Sulaiman AS, tugasan Jibril AS menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul, rombongan jin datang bertemu Nabi SAW untuk mendengar al-Quran, hadith mengenai Nabi SAW menangkap syaitan/jin ifrit yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, begitu juga kisah Abu Hurairah RA menangkap syaitan dan mengajarnya ayat al-Kursi sebagai pelindung, dan sebagainya. Namun persoalannya, bolehkah berlaku ‘penyeberangan’ manusia dari alam zahir ke alam ghaib? Sebagai jawapannya, mungkin kita boleh perhatikan fakta-fakta yang akan saya kemukakan satu persatu sepertimana berikut. Pertamanya, boleh kita katakan perpindahan pertama manusia ‘menyeberang’ dari alam ghaib ke alam zahir ialah perpindahan Nabi Adam AS dan Hawwa yang diturunkan oleh Allah SWT daripada syurga ke atas muka bumi ini. Zahir nas menunjukkan bahawa mereka ‘menyeberang’ dalam keadaan sedar dan jaga.

3. Seterusnya, kenyataan tentang Nabi ‘Isa AS diangkat ke langit oleh Allah SWT dalam usia 33 tahun, dan baginda akan turun semula ke bumi di akhir zaman kelak bagi memimpin umat Muhammad SAW menegakkan keadilan dan menghapuskan kebatilan. Baginda belum lagi diwafatkan oleh Allah SWT sehinggalah tiba masanya kelak, iaitu setelah turun semula ke bumi dan membunuh Dajjal. Riwayat mengenai perkara ini adalah mutawatir, meskipun ada golongan yang kurang berilmu di kalangan orang Islam yang mengatakan bahawa Nabi ‘Isa AS telah pun wafat, sepertimana kepercayaan orang Kristian. Pendapat mereka ini adalah tertolak sama sekali, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam al-Kasymiri dalam al-Tasrih, Syeikh al-Kawthari dalam Nazrah ‘Abirah, al-‘Arabi al-Tabbani dalam I’tiqad Ahl al-Iman dan lain-lain. Ini menunjukkan bahawa Nabi ‘Isa AS dapat ‘menyeberang’ dari alam zahir ke alam ghaib dan sebaliknya dalam keadaan sedar dan jaga.

4. Bagi mereka yang mengatakan Nabi Khidir AS masih hidup meyakini bahawa baginda adalah manusia yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT dan dapat hidup di dimensi yang lain. Majoriti ulama yang mencebur bidang kerohanian menyatakan tentang kewujudan Nabi Khidir AS dan ramai yang telah bertemu dengannya. [Lihat contohnya, kitab Tabaqat al-Khidhriyyin oleh Syeikh Muhyiddin al-Tu’mi]

5. Antaranya, Nabi Muhammad SAW telah diberikan keizinan oleh Allah SWT untuk ‘menyeberang’ secara langsung dari alam zahir ke alam ghaib dengan jasad manusiawinya dalam peristiwa Israk dan Mikraj yang masyhur hingga dapat sampai ke Sidratul Muntaha. Malah baginda diperintahkan agar mengkhabarkannya kepada orang ramai, dan tidak menyembunyikan peristiwa yang sangat ajaib itu.

6. Nabi SAW juga pernah ‘menyeberang’ masuk ke alam jin dan membacakan al-Quran kepada mereka, seperti yang diceritakan oleh Ibn Mas’ud RA: Kami bersama Rasulullah SAW pada suatu malam, lalu tiba-tiba kami kehilangan baginda, dan kami pun pergi mencarinya di merata tempat di wadi dan lerengan bukit, hinggakan kami berkata: Baginda telah diculik jin atau pun dibunuh… (hadith riwayat Muslim no. 682 dan Abu Dawud).

7. Nabi SAW pernah menceritakan mengenai seorang lelaki yang bernama Khurafat.

عن عائشة قالت: حدث رسول الله صلى الله عليه وسلم نساءه ذات ليلة حديثا. فقالت امرأة منهن: يا رسول الله كان الحديث حديث خرافة. فقال : أتدرون ما خرافة إن خرافة كان رجلا من عذرة أسرته الجن في الجاهلية فمكث فيهن دهرا طويلا ثم ردوه إلى الإنس فكان يحدث الناس بما رأى فيهم من الأعاجيب فقال الناس حديث خرافة.

(رواه أحمد في مسنده برقم 24085، والترمذي في شمائله برقم 252 وأبو يعلى في مسنده برقم 4442، وقال شعيب الأرنؤوط : إسناده ضعيف لضعف مجالد بن سعيد وللاختلاف عليه في وصله وإرساله، ولكن أخرجه الطبراني في الأوسط برقم 6068 – من وجه آخر عن أنس بن مالك عن عائشة، وفيه: فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم: إن أصدق الحديث حديث خرافة رجل من بني عذرة سبته الجن وكان يكون معهم فإذا استرقوا السمع أخبروه فيخبر به الناس فيجدونه كما قال).

Kisahnya, beliau telah diculik oleh jin dan masuk ke dimensi mereka. Lalu beliaupun melihat berbagai keajaiban yang tidak pernah dilihatnya di dunia nyata. Apabila beliau pulang semula ke alam zahir, beliau pun menceritakan kepada orang apa yang dilihatnya semasa di alam jin. Maka orang pun berkata: Cerita-cerita Khurafat. Apabila Nabi SAW tidak menafikan kebenaran kisah tersebut, jika sah hadith ini, maka jelaslah bahawa ‘penyeberangan’ manusia masuk ke alam ghaib adalah satu perkara yang mungkin dan boleh berlaku.

8. Kisah Tamim al-Dari RA dalam hadith al-Jassasah merupakan satu lagi bukti berlaku ‘penyeberangan’ ini, di mana beliau pernah menaik kapal bersama 30 orang dari kabilah Lakhm dan Juzam. Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun menaiki perahu-perahu kecil dan memasuki pulau tersebut hingga menjumpai seekor binatang yang berambut sangat lebat dan banyak bulu. Mereka tidak tahu mana depan dan mana belakangnya, karena demikian lebat bulunya. Mereka pun berkata: ‘Apakah kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah al-Jassasah.’ Mereka mengatakan: ‘Apa al-Jassasah itu?’ Ia mengatakan: ‘Wahai kaum, pergilah kalian kepada laki-laki yang ada di biara itu. Sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian…’. Dipendekkan cerita, Nabi SAW bersabda: ‘Sesungguhnya cerita Tamim menakjubkanku, di mana sesuai dengan apa yang kuceritakan kepada kalian tentangnya (Dajjal), serta tentang Makkah dan Madinah. Ketahuilah bahwa ia berada di lautan Syam atau lautan Yaman. Tidak, bahkan dari arah timur ianya. Dari arah timur ianya. Dari arah timur ianya. Dan baginda mengisyaratkan dengan tangannya ke arah timur.’ (Hadith riwayat Muslim, Abu Dawud, al-Tirmizi, al-Nasa’i dalam al-Kubra, Ibn Majah dan Ahmad). Pulau yang dinyatakan dalam hadith di atas tentunya berada di dimensi yang lain, kerana jika tidak pasti manusia sudah menemuinya dengan kecanggihan teknologi yang ada sekarang ini dan mewartakannya sebagai Pulau Dajjal misalnya.

9. Ada dibincangkan oleh para ulama mengenai kemungkinan berlaku perkahwinan antara manusia dan jin. Ada yang menafikan, dan ada yang mengharuskan kemungkinannya berdasarkan kes-kes yang berlaku. Syeikh Muhammad bin ‘Abdullah al-Syibli (m. 769H) dalam kitabnya (آكام المرجان فى احكام الجان) menyatakan pernikahan manusia lelaki dengan jin perempuan, dan sebaliknya adalah mungkin. Namun, ada diriwayatkan bahawa Nabi SAW melarang dari menikahi jin, dan di kalangan tabi’in pula ada yang mengatakan hukumnya adalah makruh, manakala para ulama fiqh mengatakan bahawa hukumnya tidak harus. Bagaimanapun, bentuk kemungkinan sedemikian merupakan bukti terhadap ‘penyeberangan’, meskipun di luar adat kebiasaan dan kenormalan alam tabii.

10. Banyak peristiwa yang berlaku berhubung ‘penyeberangan’ manusia dari alam zahir ke alam ghaib dan sebaliknya. Namun, jika berlaku ‘penyeberangan’, bolehkah manusia hidup terus di alam tersebut, dalam ertikata membesar, berkahwin, beranak pinak dan mati di sana. Seringkali kita dengar seperti peristiwa manusia yang tersesat di dimensi yang berbeza, jin menculik manusia baik dewasa mahupun kanak-kanak, menyorokkan mereka, mengambil bayi dan sebagainya. Ada yang dapat kembali semula dan ada yang tidak. Malah peristiwa sebegini kemungkinan sudah berlaku sejak sekian abad lamanya. Maka berkemungkinan besar mereka yang tidak kembali itu terus hidup di alam tersebut. Berkemungkinan juga mereka dapat bertemu dengan manusia-manusia lain yang senasib dan dapat membina kehidupan ‘masyarakat’ manusia di alam sana. Barangkali juga, sesekali berlaku perhubungan secara rohani dengan dunia nyata, sehingga mereka ini dikenali dengan panggilan ‘Rijalul Ghaib’ (orang ghaib).

11. Kewujudan ‘Rijalul Ghaib’ turut menjadi perselisihan di kalangan ahli ilmu. Sebahagian ulama menolak kewujudan mereka kerana tiada dalil yang kukuh mengenainya. Bagaimanapun, di sana wujud golongan wali Abdal, Nujaba’ dan Awtad yang termasuk dalam kategori ‘Rijalul Ghaib’, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam al-Suyuti dalam risalahnya (الخبر الدال على وجود القطب والأوتاد والنجباء والأبدال). Ini bersandarkan kepada banyak riwayat hadith dengan berbagai darjat antara sahih, hasan, daif, dan juga mawdhu’ (palsu), meskipun ada yang cuba menghukumkan kesemua riwayat ini sebagai batil. Antaranya diriwayatkan oleh Imam Ahmad daripada ‘Ubadah bin al-Samit daripada Nabi s.a.w. bahawasanya baginda s.a.w. bersabda: “Al-Abdal bagi umat ini seramai 30 orang, yang seumpama Nabi Ibrahim Khalil al-Rahman azza wa jalla, setiap kali meninggal seorang lelaki daripada mereka, Allah akan menggantikan tempatnya dengan lelaki yang lain.” (Musnad Ahmad: 5/322) [Lihat kitab (الاحتفال بثبوت حديث الأبدال) oleh ‘Allamah Muhaddith Syeikh Mahmud Sa’id Mamduh]

12. Antara yang mendorong saya menulis tentang persoalan ini ialah kekerapan seorang sahabat karib saya, seorang yang rajin beramal yang barangkali sudah bertemu dengan mereka, mengatakan bahawa mereka adalah manusia seperti kita, bukan jin, bunian, malaikat atau seumpamanya yang dijadikan dari selain unsur tanah. Beliau dengan pasti menjelaskan bahawa mereka adalah manusia, cuma mereka hidup di dimensi yang berbeza dan bukan di alam nyata sebagaimana manusia biasa yang lain.

13. Ada cerita yang baru diceritakan kepada saya oleh seorang kawan, pengamal perubatan Islam, mengenai sepasang suami isteri, di mana bayi mereka telah diambil oleh jin, namun ibunya telah memberikan syarat bahawa bayi tersebut mesti dipulangkan setiap hari untuk disusukan olehnya. Maka syarat tersebut ditepati di mana bayi tersebut dipulangkan sementara untuk disusukan dan kemudian diambil kembali sebelum terbit fajar. Apa yang menghairankan hanya si-ibu sahaja yang dapat melihat bayinya itu. Lalu ia terus dibela oleh mereka dan kini kanak-kanak tersebut sudah berusia 10 tahun dan enggan balik kepada ibunya di alam zahir.

14. Manusia adalah makhluk Allah SWT yang dijadikan oleh-Nya dengan sebaik-baik kejadian (fi Ahsani Taqwim). Maka tidak mustahillah jika pada diri manusia itu tersimpan berbagai rahsia yang tidak diketahui oleh manusia itu sendiri. Kemampuan roh manusia juga adakalanya dapat melebihi dari jangkauan akal dan ukuran logik. Ditambah lagi dengan keyakinan kita terhadap kekuasaan Allah SWT bahawa tiada suatu apa pun yang mustahil bagi-Nya. Malah amat banyak rahsia-rahsia alam yang belum kita ketahui kecuali sedikit sahaja, dan adakalanya menghairankan ahli-ahli sains untuk menghuraikannya. Maka berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, saya berpendapat ‘penyeberangan’ manusia ke alam ghaib dan kewujudan mereka di sana adalah mungkin. Jika sudah jelas fakta-fakta mengenai berlakunya ‘penyeberangan’ manusia ini, maka tidak mustahil pula berlakunya permastautinan mereka di sana. Wallahu a’lam

http://sawanih.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 23 November 2010

Hadramaut, Bumi Sejuta Wali

Hadramaut, Bumi Sejuta Wali

Hadramaut, Bumi Sejuta Wali
Penyusun: Ahmad Imron & Syamsul Hary
Penyunting: Abdurrahman Baraqbah
Cahaya Ilmu Publisher & Duta Mustafa Press, Surabaya
RM37.90 – Stock 04

RasuluLlah shallALlahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah pada penduduk Yaman, dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .”
(Shahih Al Bukhari)

Yaman sebuah negara di Jazirah Arab, terletak di Asia Barat Daya, tepatnya di bagian Timur Tengah. Negeri Yaman tak asing lagi di telinga kaum muslimin Indonesia. Terutama kota Hadramaut dan Tarimnya. Selain terkenal kentalnya dengan budaya keIslamannya, negeri tersebut memiliki banyak madrasah yang menjadi tempat tujuan bagi para pelajar dari luar negeri. Saat ini negeri muslimin terbesar di dunia adalah Indonesia, dan membawa Islam ke Indonesia adalah kebanyakan dari negeri Yaman yang terkenal dengan Negeri Seribu Walinya.

Akhir-akhir ini, silaturrahim antara Indonesia dan Yaman terutama Hadramaut terajut kian hangat dan mesra. Tingginya intesitas kedatangan ulama-ulama Hadarim -seperti Habib Umar bin Hafidz, Habib Salim as-Syathiri, Habib Zain bin Sumaith serta yang lainnya-seolah kian mendekatkan kedua negeri itu. Bahkan Habib Umar bin Hafidz dijadwalkan datang ke Indonesia setiap tahun. Beberapa ulama tanah air juga kerap mengikuti ziarah Nabi Hud AS. dan ziarah Tarim di bula Sya’ban. Gejala ini sungguh positif, Hadramaut dan Indonesia adalah dua saudara sekandung yang tak bisa terpisahkan. Beberapa tahun belakangan ini, negeri Hadramaut menjadi buah bibir di tengah masyarakat muslim.

Banyak orang bertanya-tanya, negeri macam apakah Hadramaut itu? Bagaimanakah kehidupan orang-orang di negeri yang disebut-sebut sebagai tempat persamayaman para wali itu? Mengapa Rasul SAW sampai memuji penduduk Yaman?

Posted by: Habib Ahmad | 23 November 2010

Sorotan Seminar Asha’irah di UM

Sorotan Seminar Asha’irah di UM

Dicatat oleh al-‘Abd al-Da’if: pada 22.7.10

Saya mengharap seminar tentang faham Asha’irah yang berlangsung selama 3 hari, 20-22 Julai ini dapat mencapai objektifnya dan mampu menjelaskan kepada masyarakat akademik khususnya, termasuk aliran-aliran kontra tentang hakikat sebenar aliran Asha’irah yang merupakan kelompok terbesar Ahli Sunnah wal Jamaah pada masa dahulu dan kini. Tidak dinafikan jika ada pihak yang tidak gemar seminar ini diadakan. Namun, “jika tidak dipecahkan ruyong, manakan dapat sagunya”, kerana masih ada yang tidak mengerti apakah hakikat faham Asha’irah itu sebenarnya, malah ada yang tidak mengenal secara benar siapa dia Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari r.a. yang menjadi panutan Asha’irah ini.

Kekeliruan Aliran Kontra

Saya melihat sehingga kini masih ada yang menganggap bahawa fahaman Asha’irah adalah fahaman yang disadur daripada fahaman Jahmiyyah atau Muktazilah yang menafikan sifat-sifat Allah SWT serta menetapkan takwil terhadapnya. Ada juga yang menganggap bahawa Asha’irah adalah aliran yang menyeleweng daripada mazhab imam mereka sendiri, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari r.a. Kononnya Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari melalui tiga peringkat perubahan akidah, iaitu peringkat Muktazilah, peringkat Kullabiyyah dan peringkat Salafiyyah. Di hari pertama seminar, ada juga yang cuba membangkitkan kekeliruan ini.

Padahal kesemua tanggapan dan kekeliruan tersebut adalah tidak benar. Mana mungkin orang yang di luar sesuatu mazhab lebih arif mengenainya berbanding orang yang di dalam mazhab berkenaan. Tentunya bagi menjelaskan sesuatu mazhab, pandangan-pandangan diambil daripada tokoh-tokoh dalam mazhab tersebut. Maka yang mengatakan faham Asha’irah ini adalah faham Jahamiyyah adalah tidak benar samasekali kerana Jahmiyyah menetapkan takwil mutasyabihat, sedangkan Asha’irah menetapkan tafwidh dan mengharuskan takwil menurut syarat-syaratnya yang muktamad. Lihat perbezaan ibarat saya antara “menetapkan takwil” dan antara “menetapkan tafwidh dan mengharuskan takwil dengan syarat-syaratnya”.

Begitu juga yang mengatakan Imam al-Asy’ari melalui 3 peringkat peralihan akidah adalah suatu kekeliruan. Ini tidak pernah disebut oleh mana-mana tokoh Asha’irah sendiri sehinggalah ia difatwakan oleh aliran yang berlawanan dengannya. Hakikatnya Imam al-Asy’ari hanya melalui 2 peringkat peralihan sahaja, iaitu peringkat Muktazilah dan peringkat Ahlus Sunnah.

Kitab al-Ibanah

Kitabnya yang menjadi perselisihan hangat dalam soal ini ialah al-Ibanah. Namun kitab al-Ibanah yang sampai kepada kita hari ini mempunyai berbagai versi yang agak berbeza isi kandungannya. Versi cetakan yang paling baik ialah yang ditahkik oleh Dr. Fawqiyyah Husayn kerana ketelusannya dalam membuat komparatif antara beberapa manuskrip kitab al-Ibanah dan ternyata kemudian bahawa versi-versi cetakan lain tidak dapat dipegang keabsahannya.

Tidak dinafikan ada sebahagian Asha’irah mutaakhirin yang menafikan kitab al-Ibanah sebagai karya al-Asya’ri. Namun ramai juga dari kalangan mereka yang mengatakan sebaliknya dengan mengemukakan hujah-hujah kukuh yang munasabah, antaranya ia adalah sebagai tulisan awal sesudah perpindahan al-Asy’ari dari mazhab Muktazilah kepada mazhab Ahlus Sunnah di mana pada masa itu beliau menghadapi dua kelompok kontra Ahlus-Sunnah yang amat berpengaruh iaitu Muktazilah (termasuk Jahmiyyah) dan Musyabbihah (termasuk Barbahariyyah) yang mendakwa membawa akidah Imam Ahmad bin Hanbal. Maka beliau secara sarih mengatakan mengikut pandangan Imam Ahmad bin Hanbal dengan tujuan untuk membersihkan namanya daripada palitan tasybih dan tajsim. Beliau seterusnya konsisten mendokong mazhab Ahlus Sunnah ini berdasarkan metode ahli kalam dengan menyusun berbagai kitab, dan antara pendapat-pendapatnya yang mutakhir telah dihimpunkan oleh Ibn Furak di dalam kitab “Maqalat al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari”.

Praktis tokoh-tokoh Asha’irah yang datang selepas itu dalam kurun ke-4, ke-5, ke-6 dan seterusnya terhadap metode Imam al-Asyari jelas membuktikan bahawa kekeliruan yang disebutkan di atas tadi adalah tertolak. Jelas menurut satu pepatah Arab: “Tuan rumah adalah lebih arif dengan isi dalam rumahnya sendiri”.

Konsep Tafwidh

Inilah faham Asha’irah yang cuba diketengahkan dalam seminar ini. Barangkali ada yang sudah memahami itu dari kalangan kontra-Asha’irah, namun mereka tidak sepakat pula terhadap konsep tafwidh yang digunapakai oleh Asha’irah. Mereka lebih senang dengan konsep ithbat zahir nas dengan kata-kata lampiran “tanpa kayfiyyat” dengan dakwaan ia adalah fahaman para Salaf. Ini bertentangan dengan faham golongan Salaf menurut Asha’irah kerana zahir nas meskipun dengan kata-kata lampirannya itu tidak menutup pintu tasybih dan tajsim, bahkan ia dapat membawa kepada tasybih dan tajsim itu sendiri kerana zahir kalimah menunjukkan kepada anggota badan atau juzuk suatu jisim atau penyerupaan dengan makhluk. Dan ini mustahil bagi Allah SWT.

Golongan Salaf menurut Asha’irah berpegang kepada tafwidh dengan pengertian ‘takwil ijmali’, iaitu zahir nas bukan sepertimana makna yang terbayang pada akal manusia, tetapi ia adalah suatu makna yang diketahui hakikatnya oleh Allah SWT. Manakala tidak ada nas yang jelas mengharamkan takwil yang berbetulan dengan syarak dan kaedah bahasa Arab, maka Asha’irah telah mengharuskannya dengan syarat-syarat tertentu yang dinamakan ‘takwil tafsili’. Bahkan ada dinukilkan dari sebahagian para Salaf yang menggunakan ‘takwil tafsili’ ini seperti Ibn ‘Abbas r.a., Mujahid, Ibn al-Mubarak, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari dan lain-lain. Ini menguat dan mengukuhkan lagi metode yang dipilih oleh Asha’irah.

Peranan Akal

Perbahasan yang halus ini barangkali tidak difahami oleh sebahagian orang yang hanya ber’akidah ikut-ikutan’ sahaja. Perlu diingatkan bahawa keampuhan hujah tidak sekadar bergantung pada naqal semata-mata tanpa aqal, tetapi ia memerlukan kepada gabungan naqal dan aqal sekaligus. Inilah kekuatan pegangan mereka yang disebut oleh al-Quran sebagai ‘Ulul-Albab’. Perlu disedari bahawa akal juga memainkan peranan penting dalam ilmu akidah, terutama di dalam menghadapi berbagai aliran-aliran pemikiran semasa yang bertentangan dengan akidah yang benar.

Saya amat tertarik dengan ucapan Prof. Dr. Deen Muhammad Sahib, dari Universiti Qatar dalam ucaptama seminar yang membuat komparatif antara Metode Ash’ari dan Metode Salafi-Wahhabi.

Menurutnya, Metode Ash’ari mampu menghadapi tentangan-tentangan musuh dan mempertahankan akidah Islam kerana ianya:

- menghimpunkan secara harmoni antara aqal dan naqal.
– beriltizam dengan nas dan mampu menangani realiti.
– tidak mengkafirkan ahli qiblat.
– berpegang dengan firman Allah Taala: (ليس كمثله شيئ) sebagai suatu kaedah yang muhkam.
– beriltizam dalam menafikan makna zahir yang terlintas dari segi bahasa, dan menggunakan takwil menurut neraca syarak, kaedah bahasa Arab, uslub ilmu bayan dan hukum akal yang qat’i.
– berpegang pada tanzih dan menolak tasybih dan tajsim serta semua yang dapat mendorong ke arahnya.
– mengambil kira faktor penyanggah yang qat’i lagi sabit.
– menyatupadukan antara uluhiyyah dan rububiyyah serta tidak mengasingkan kedua-duanya.
– beriltizam dengan konsep baharunya sesuatu selain Allah Taala.

Manakala Metode Salafi-Wahhabi tidak mampu untuk menghadapi cabaran-cabaran semasa dan global kerana ianya berciri :

- takfir.
– kebekuan/kejumudan akal.
– tertutup.
– menafikan sejarah.
– sempit.
– mengasingkan rububiyyah daripada uluhiyyah.
– memberi tumpuan kepada islah akidah yang telah disepakati oleh jumhur umat Islam selama 1000 tahun, dan mengabaikan pula islah pelbagai sudut sosial masyarakat.
– menentang pemikiran logik.

Beliau turut menyarankan dua buah buku yang ditulis oleh dua orang sarjanawan ulung dunia Islam agar dibaca, diteliti, diterjemahkan dan dikembangkan idenya secara lebih meluas, iaitu;

1. Mawqif al-‘Aql wal-‘Ilm wal-‘Alam min Rabb al-‘Alamin wa ‘Ibadih al-Mursalin oleh Syeikhul-Islam Mustafa Sabri.

2. Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC))(1995).

Gagasan Ahlus Sunnah Asha’irah Moden

Alhamdulillah, ada lebih dari 40 kertas kerja yang dikemukakan dalam seminar ini yang ditulis oleh ramai sarjana dan pengkaji dari berbagai bidang seperti akidah, tafsir, hadith, fiqh, sejarah, dakwah, falsafah, tasawuf dan lainnya, sama ada dari dalam mahupun luar negara. Ada nama-nama yang sudah dikenal dan ada nama-nama yang masih baru. Antara nama-nama yang biasa didengar bagi saya ialah seperti Dr. Sulaiman bin Ibrahim al-Baruhi, Ustaz Muhammad Uthman el-Muhammady, Prof. Madya Dr. Ahmad Zaki Berahim @ Ibrahim, Prof. Madya Dr. Mohd Fauzi bin Hamat, Dr. Khalif Muammar A. Harris, Prof. Madya Mohamad Kamil Hj. Ab. Majid, Prof. Madya Dr. Asmadi Mohd Naim, Prof. Madya Dr. Wan Suhaimi bin Wan Abdullah, Dr. Mohd Farid Mohd Shahran dan Prof. Madya Dr. Mudasir Rosder .

Barangkali ada yang menganggap bahawa seminar ini bertujuan untuk menghentam Ibn Taymiyyah dan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sebagai dua tokoh yang sering menjadi rujukan aliran kontra dalam masalah akidah. Tentunya tuduhan ini tidak benar, kerana Ibn Taymiyyah mahupun Ibn ‘Abdul Wahhab, serta para pengikut mereka (Taymiyyun dan Wahhabiyyun) mempunyai kebebasan untuk mengkritik lawan dan menyuarakan pandangan mereka, maka apakah pihak lawan mereka tidak punya kebebasan untuk bangkit dan mempertahankan diri? Ini adalah percaturan yang tidak waras. Jika yang dikritik oleh Ibn Taymiyyah dan Ibn ‘Abdul Wahhab itu ialah pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan lawan, begitu juga apa yang dikritik oleh pihak lawan mereka – dan maksud di sini ialah Asha’irah – adalah pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan Ibn Taymiyyah dan Ibn ‘Abdul Wahhab, mahupun para pengikut mereka yang dilihat tidak benar, bukan lain atau peribadi.

Tidak timbul soal menghentam dan memukul siapa kerana inilah kefahaman masing-masing dalam mematuhi tuntutan dan kehendak syariat. Maka yang dilihat sebagai batil – di luar lingkungan Ahlus Sunnah wal Jamaah – perlu ditegur dan diberi nasihat. Apa yang menjadikan situasi lebih serius sebenarnya adalah berpunca dari sikap melampaui batas dan masalah kedangkalan ilmu. Melampau batas dalam apa jua situasi dan dari mana jua munculnya adalah suatu yang negatif dan dicela. Soal melampau ini kadangkala begitu halus, dan ia perlu dilihat sebagai suatu barah yang perlu dirawat dengan segera sebelum ianya semakin parah.

Mudah-mudahan kita dijauhkan oleh Allah Taala daripada penyakit ini, dan semoga Allah s.w.t. memelihara kita golongan Ahlus Sunnah wal-Jamaah. Amin.

Posted by: Habib Ahmad | 23 November 2010

DVD Live DZIKIR UNTUK NEGRI

http://www.nurulmusthofa.org/index.php?option=com_content&task=view&id=16&Itemid=30

Posted by: Habib Ahmad | 22 November 2010

Wasiat Rasulullah saw di Haji Wada

Wasiat Rasulullah saw di Haji Wada
Senin, 08 November 2010

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَجَّةِ اْلوَدَاعِ: لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw didengarkan oleh para jamaah haji : “Jangan kalian berbalik setelah aku wafat kepada kekufuran dengan saling membunuh” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الطَّيِّبَةِ الطَّاهِرَةِ…

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menguasai kerajaan langit dan bumi, dan Maha Tunggal mengaturnya, memberikan kekuatan kepada hamba-Nya dengan kadar kehendak-Nya. Allah subhanahu wata’ala menguasai kekuatan dan tidak memberi kekuatan kepada hamba-hamba-Nya yang lain melebihi kekuatan yang diberikan kepada manusia. Para khalifah yang menjadi penguasa di muka bumi, menguasai segala sesuatu yang ada di bumi untuk tunduk kepadanya, sebagaimana firman-Nya:

أَنَّ الأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

(الأنبياء: 105 )

” Bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh” ( QS. Al Anbiyaa: 105 )

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Merekalah yang menjadi rahasia penguasa yang hakiki di muka bumi, walaupun mereka tidak terlihat, namun Allah memberikan kemampuan dan kekuatan kepada mereka, tentunya bukan dengan kekuatan lain selain dengan doa, kekuatan dzikir, kekuatan takwa, kekuatan munajat untuk membentengi musibah, bukan hanya membentengi musibah, bahkan menyingkirkan dan menundukkan musibah langit, lautan, gunung, sebagaimana janji Allah subhanahu wata’ala, dan tanpa mereka berdoa pun Allah telah mengamankan bumi dengan keberadaan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari :

يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الأَوَّلُ فَاْلأَوَّلُ وَيَبْقَى ‏حُفَالَةٌ ‏‏كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً

(صحيح البخاري)

“Orang-orang shalih telah pergi (wafat), satu per satu, sampai tidak tersisa seorangpun kecuali manusia-manusia yang buruk, ibarat sampah gandum atau ampas kurma yang Allah tidak lagi mempedulikan mereka sedikitpun.” ( HR. Bukhari )

Para shalihin satu persatu wafat, sehingga di lingkungan suatu masyarakat tidak tersisa lagi orang shalih kecuali sampah-sampah yang tidak berarti di mata Allah sehingga Allah tidak peduli atas apa yang akan menimpa mereka setelah kewafatan para shalihin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita bahwa dengan keberadaan para shalihin itu maka Allah peduli dengan keadaan penduduk bumi, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ

( الأنفال : 33 )

” Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu(Muhammad) berada di antara mereka” (QS. An Anfal:33)

Tiada akan datang siksa kepada mereka (yang jahat) selama Engkau (nabi Muhammad) berada diantara mereka. Tetangga nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang jahat telah aman dari siksa Allah karena masih ada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

(الأنفال : 33 )

“Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” ( QS. Anfal: 33)

Allah tidak akan menurunkan siksa kepada hamba-Nya selama mereka memohon pengampunan. Istighfar memohon pengampunan itu jangan dianggap remeh karena hal itu menampik musibah, dan sebaliknya perbuatan dosa itu seakan menciptakan musibah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

(الشورى : 30 )

” Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu” (QS. As Syuura: 30 )

Semua musibah yang menimpa kalian itu adalah sebab dari perbuatan kalian sendiri, namun dibalik itu Allah telah lebih banyak memaafkan daripada menimpakan musibah atas balasan dari perbuatan jahat mereka. Sungguh beruntung orang-orang yang diberi musibah di dunia dan dibebaskan musibahnya di akhirah dan merugilah orang yang tidak diberi musibah di dunia namun ditimpa musibah di akhirah, dan sangat beruntung orang yang diselamatkan dari musibah di dunia dan diselamatkan pula dari musibah di akhirah, siapakah mereka?, mereka adalah yang mengikuti tuntunan rahmatan lil’alamin, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk itulah Muhammad Rasulullah diturunkan ke muka bumi kepadaku dan kalian, agar mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus ke muka bumi adalah untuk membawa rahmat agar kita aman di dunia, segala seuatu apapun sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar segala musibah bisa terjauhkan dari kita. Diriwayatkan dalam sebuah riwayat selain Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah bersabda : “barangsiapa yang membaca (berdoa)”:

بِسمِ اللهِ الَّذِي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

Siapa yang membaca doa itu 3 kali di pagi hari dan sore hari maka ia tidak akan ditimpa musibah di hari itu. Dan dalam riwayat Al Imam Ibn Daud disebutkan bahwa orang yang membaca doa itu tidak akan ditimpa musibah yang datang secara tiba-tiba di hari itu. Kok gampang banget bib?, ucapannya sangat mudah namun makna kalimatnya sangat agung yang harus difahami : “Dengan nama Allah, tidak akan membawa mudharat jika bersama nama-Nya apapun yang ada di langit dan di bumi dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”, sirnalah segala bahaya di langit dan bumi terhalangi dan terbentengi dengan nama Allah subhanahu wata’ala. Siapa yang menciptakan musibah?, Allah lah yang menciptakan musibah, dan kenikmatan siapa yang menciptakan? Allah juga yang menciptakan, cuma bedanya bahwa musibah di muka bumi ini adalah penghapusan dosa bagi ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. ( Jadi kalau saya sudah baca doa tadi Bib tetapi masih mendapat musibah, berarti nabi bohong dong?!), tidak demikian, akan tetapi mungkin saja ada seribu musibah yang ada dihadapanmu telah Allah singkirkan dan hanya satu yang menimpamu. Kita tidak mengetahui misalnya tiba-tiba besok kita terkena stroke hingga wafat, puluhan tahun terbaring tidak bisa bergerak, namun Allah gantikan hanya dengan terkena flu misalnya. Tetapi semakin kuat kita menghadirkan makna dari ucapan (doa) itu, maka semakin banyak musibah yang tersingkirkan. Dan para shalihin dan para ‘arif billah tidak membaca dzikir itu hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk seluruh ummat. Mereka niatkan dzikir itu untuk gunung-gunung berapi, gempa bumi dan lainnya. Mereka dekatkan dekatkan ke dalam hatinya agar diturunkan cahaya Allah di barat dan timur untuk menenangkan semua musibah itu, maka jutaan musibah yang akan reda disebabkan niat para shalihin, jadi semakin para para shalihin maka akan semakin aman, sebaliknya semakin tidak ada para shalihin maka akan semakin banyak musibah, wal’iyadzubillah. Dan semakin banyak yang mengamalkan sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka akan semakin aman, paling tidak untuk dirinya sendiri. Namun doa para shalihin bukan lagi untuk diri mereka sendiri tetapi doa mereka untuk ummat. Hujjatul Islam wabarakatul anam Qutbulanfas Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Atthas Shahib Ar Ratib, beliau adalah seorang hujjatul islam, apakah hujjatul islam itu? Yaitu yang hafal lebih dari 30000 hadits beserta sanad dan matannya, dan derajat keshalihan dan kemakrifatannya pun memuncak di masanya, beliau adalah guru dari hujjatul islam Al Imam Abdullah bin Alwy Al Haddad, dimana beliau juga mempunyai murid seorang hujjatul islam juga yaitu Al Imam Ahmad bin Zein Al Habsyi, demikian mereka para ulama lautan-lautan ilmu dan lautan makrifah, Diriwayatkan bahwa Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Atthas ini di saat shalat tahajjud beliau selalu mengulang-ulang doa :

اَللّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ

” Wahai Allah berilah kami (orang-orang muslim) hidayah, seperti orang yang telah Engkau beri hidayah “

Hingga adzan subuh, beliau terus mendoakan seluruh penduduk bumi agar mendapatkan hidayah, yang muslim agar Allah tambah hidayahnya dan yang non muslim agar diberi hidayah, hanya itu doanya sepanjang malam, maka pahala semua orang yang mendapat hidayah maka Al Imam Abdurrahman Al Atthas mendapatkan bagian dari itu, kenapa? karena Rasulullah telah bersabada dalam riwayat Shahih Muslim: “Ketika seseorang yang mendoakan saudara muslim lainnya maka berkatalah malaikat: amin walaka mitsluh (bagimu seperti doamu)”, jika mendoakan untuk seluruh muslimin, Maka hidayah sampai kepada mereka atau tidak namun malaikat berkata : “amin, semoga engkau mendapat hidayah sebanyak jumlah muslimin”, dan hal itu tidaklah sulit bagi Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

( إبراهيم:20 / فاطر:17 )

” Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah” (QS.Ibrahim:20/ QS. Fathir:17 )

Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

( الملك:15 )

” Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS. Al Mulk: 15 )

Renungilah ayat ini, Allah telah menjadikan bumi ini dzaluul yang artinya tunduk atau patuh, seperti keledai atau hewan lainnya yang ketika ditunggangi dia hanya diam saja. Dan Allah telah menundukkan bumi untuk kita sehingga kita bisa berjalan diatasnya, jika Allah tidak tundukkan bumi ini untuk kita maka bumi ini akan gempa atau goyang dan lain sebagainya. Dan juga kita memakan rezeki yang ada di bumi ini kemudian kepada Allah kita akan kembali. Akhir dari ayat ini menjadi penentu perbuatan bumi terhadap kita, bahwa kita akan kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, jika kita telah lupa bahwa kita akan kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, maka berubahlah sifat gunung dan bumi, dia tidak lagi tunduk kepada kita, bahkan kita yang akan diinjak-injak oleh bumi, disiksa oleh gunung, debu, banjir dan bencana alam yang lainnya, kenapa ? karena kita tidak merenungkan kalimat terakhir dalam ayat ini : وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ ( Dan hanya kepada-Nya lah kalian kembali). Saya perjelas, namun jangan tersinggung dulu karena majelis ini disiarkan di streaming seluruh dunia, namun jamaah yang disini insyaallah tidak akan tersinggung, cuma yang menyaksikan di luar saya mohon jangan tersinggung dulu. Bahwa dari 21 gunung yang telah dikabarkan aktif itu hampir berada di wilayah-wilayah yang penduduknya bukan orang shalih (maaf) bahkan kebanyakan dari mereka menyembah selain Allah seperti ratu Kidul dan yang lainnya, dan bukanlah termasuk ummat nabi Muhammad yang baik (maaf), maka hal ini merupakan salah satu teguran, tapi (jangan marah dulu) hal ini juga kesalahan para da’i dan ulama’ juga, para dai tidak sampai kesana, namun jangan saling menyalahkan diantara para da’i atau menyalahkan para da’i yang di Jakarta. Sebaiknya kita berdoa saja semoga Allah memperbanyak para shalihin , amin. Jadi gunung-gunung berapi itu sebenarnya berdakwah mengambil posisi para da’i karena para da’i yang disana tidak mau bergerak, maka gunung-gunung itu berkhidmah kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika gunung-gunung berbuat demikian maka Masjid dan mushalla menjadi ramai, banyak yang berdoa kepada Allah, banyak yang menangis dan bermunajat memanggil nama Allah, banyak yang mengucapkan kalimah Allahu Akbar, Laailaaha illallah yang sebelumnya tidak mereka perbuat. Hal ini menunjukkan seakan-akan gunung-gunung itu berbicara kepada kita : ” Mampukah kalian datang kepada kami untuk berdakwah, jika kalian tidak mampu maka jangan salahkan kami jika kami ingin membantu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”. Dan walaupun kita mampu mencapai kesana, cuma kita agak sedikit tersinggung, kenapa? gunung merapinya disana mengapa debunya dikirim kesini, bisa-bisa batuk tersebar di Jakarta dalam 2 tau 3 hari ini terkena debu gunung semeru, jika engkau mengirim debu maka kami akan mengirim cahaya Allah dalam doa dan dzikir kesana, kita yang disini mengirim cahaya doa kepada Allah kesana, mungkin ada yang merasa aneh dengan ucapan saya, tetapi ingat firman Allah subhanahu wata’ala:

فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا

( الأعراف: 143 )

” Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh” (QS. Al A’raf: 143 )

Ketika Allah menampakkan cahaya kewibawaan-Nya maka membuat gunung hancur lebur. Kita brdzikir dengan nama Allah itu mneyingkap rahasia cahaya kewibawaan Allah, semoga di saat kita berdzikir Allah tunjukkan cahaya kewibawaan-Nya kepada semua gunung yang aktif agar mereda laharnya dengan cahaya kesejukan Allah. Lalu bagaimana dengan mereka yang belum beriman?, semoga Allah jadikan bagi mereka ledakan hidayah bukan ledakan gunung-gunung merapi, ledakan orang-orang yang taat dan banyak bersujud dan beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, amin allahumma amin. Kita sedikit merasa risau juga jika dengan keadaan yang seperti ini nanti justru akan semakin banyak non muslim yang berdakwah kesana, dan semakin banyak pula orang-orang yang meninggalkan ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya punya rencana untuk berangkat kesana bersama Habib Hud dan para da’i yang lainnya untuk mendatangi gunung-gunung, namun bagaimana dengan Jakarta yang merupakan ibukota negara muslimin terbesar dan paling banyak maksiat di tempat ini, jika Jakarta ditinggal maka khawatir Jakarta yang akan terkena musibah seperti banjir dan lain sebagainya. Jakarta juga perlu majelis dzikir, majelis ta’lim dan lainnya, ya sudah kita doakan saja mereka yang disana, dan jika ada diantara saudara-saudara kita yang peduli ingin berangkat kesana silahkan, Namun kita harus membina wilayah kita dahulu sebelum wilayah yang lainnya. Wilayah kita ini insyaallah akan kedatangan tamu agung Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, dan akan dilaksanakan acara besar pada malam Selasa tanggal 27 Desember 2010 di Monas, doa dan dzikir yang insyaallah akan mengamankan Jakarta dan seluruh bangsa kita, kita berharap yang hadir lebih dari 5 juta muslimin muslimat, acara selanjutnya pada tanggal 31 Desember 2010 insyaallah di Gelora Bung Karno, mudah-mudahan acara ini sukses. Seperti yang kita ketahui di malam tahun baru penuh dengan maksiat namun kita penuhi malam tahun baru dengan doa dan munajat, semoga Jakarta ini Allah percepat untuk menjadi Kota pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemudian berlanjut ke wilayah-wilayah lainnya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita mengingat hari ini adalah tanggal 1 Dzulhijjah, tanggal 1 Dzulhijjah ini mengingatkan kita kepada firman Allah subhanahu wata’ala tentang 10 malam luhur mulai tanggal 1 hingga tanggal 10 Dzulhijjah :

وَالْفَجْرِ ، وَلَيَالٍ عَشْرٍ ، وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ، وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ

(الفجر: 1-4 )

” Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu” (QS. Al Fajr: 1-4 )

Sebagian ulama’ menjelaskan bahwa waktu Fajar adalah fajar di hari idul adha, dan 10 malam itu adalah malam 1 Dzulhijjah sampai malam 10 Dzulhijjah. Dan sebagian mengatakan 10 malam terakhir bulan Ramadhan, namun pendapat yang lebih kuat adalah 10 malam Dzulhijjah karena di dalam ayat itu disebutkan “Demi yang genap dan yang ganjil”, namun di sepuluh malam terakhir ramadhan adalah malam-malam yang ganjil. Disunnahkan di hari-hari ini berpuasa, mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang tidak menunaikan ibadah haji atau umrah. Yang paling utama adalah puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, hari Arafah. Dan juga disunnnahkan untuk berkurban, dan sebelum kita berkurban Rasulullah telah lebih dahulu berkurban untuk kita, hal ini menjadi dalil dibolehkannya mengirimkan amal karena Rasulullah telah mengirimkan amal untuk semua ummatnya sebelum ummatnya lahir. Sebagaimana riwayat Shahih Muslim, saat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih kurban beliau berdoa:

اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

” Ya Allah terimalah (qurban) ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari ummat Muhammad”

Maka seluruh ummat nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wasallam telah mendapatkan bagian dari pahala kurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Al Imam Abu Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafi, salah seorang murid Al Imam Bukhari yang menyimpan lebih dari 5000 fatwa dari anad Imam Malik, bahwa ia berkurban sebanyak 12 ribu ekor kambing dan pahalanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adakah diantara kita yang bisa membeli 12000 ekor kambing?!, lalu dia menghatamkan 12000 kali khatam Al qur’an dan pahalanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kurban itu hukumnya sunnah muakkadah bukan wajib, demikian pula aqiqah hukumnya sunnah muakkadah, namun ada yang hukumnya fardhu (wajib) yaitu membantu dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya kalian faham makna ucapan saya mengarah kemana. Membantu dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib) bagi setiap ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka yang tidak peduli dengan dakwah dan perjuangan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dikhawatirkan akan wafat dalam keadaan su’ul khatimah. Karena jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di saat ini, maka beliau akan berjuang untuk memperluas dakwah beliau. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, maka cita-citanya terwariskan kepada ummat beliau, aku dan kalian. Mereka yang menerima cita-cita itulah yang benar-benar berbakti kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(التوبة: 100)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah: 100)

Semoga Allah jadikan kita diantara para pengikut muhajirin dan anshar, apa yang mereka dapatkan?, hal yang paling berharga dari segala anugerah Allah yaitu Allah ridha kepada mereka dan mereka pun juga ridha kepada Allah. Tidak ada anugerah yang lebih berharga dari hal ini karena terdapat dalam riwayat Shahih Al Bukhari, bahwa ketika manusia masuk kedalam surga kemudian Allah memanggil mereka dan berkata: “maukah kalian Aku beri anugerah yang lebih dari semua ini?”, maka mereka berkata: “wahai Allah, anugerah apa lagi yang lebih dari semua ini?”, nikmat apa lagi, surga telah Allah berikan kepada kita meskipun kita telah banyak berbuat dosa namun Allah ampuni, maka Allah subhanahu wata’ala menjawab:

أُحِلَّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِيْ، فَلاَ أَسْخُطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبدًا

“Kuhalalkan ridha-Ku untuk kalian, dan Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya”

Maka jelaslah bahwa keridhaan Allah merupakan anugerah yang terbesar, yang ditawarkan kepada kita jika kita mau membantu perjuangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana jika kita ingin bersama muhajirin dan anshar. Saudara saudariku, ibukota negara muslimin terbesar di dunia ini saat ini sedang mulai merangkak untuk bangkit, maka bantu dan dukunglah perjuangan dakwah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di pusat kekuatan basis Islam terbesar di dunia yaitu Indonesia ini. Jika di wilayah Indonesia ini bangkit, maka Allah akan percepat kebangkitan di tempat-tempat yang lain, maka kita akan terlibat dalam kebangkitan Islam di seluruh dunia. Kita ketahui belum pernah ada maulid di seluruh dunia yang di hadiri oleh jutaan orang, namun hal itu kita temukan di Jakarta, Alhamdulillah. Acara-acara dzikir akbar doa yang begitu dahsyatnya, seperti acara Nisfu Sya’ban, Isra’ Mi’raj, haul ahlu Badr dan lainnya yang dihadiri oleh jutaan kaum muslimin muslimat, sampai tidak ada tempat yang mencukupi kecuali Monas, dan nanti akan diusahakan di gelora Bung Karno karena acara bertepatan dengan malam tahun baru. Dan berhati-hatilah dengan jangan sampai meniup terompet di malam tahun baru, terompet itu mainan dan boleh anak-anak kita memainkannya, namun jangan di malam tahun baru, karena meniup terompet di malam tahun baru itu seakan-akan menampakkan kemenangan dakwah non muslim di bibir kita atau di bibir anak-anak kita, mereka menang dan kita kalah. Terompet itu adalah terompet kemenangan mereka, namun kalau ditiup selain malam tahun baru itu lain lagi, itu dianggap mainan anak-anak. Maka yang mempunyai niat utuk jual terompet di malam tahun baru gagalkan niatnya, lebih baik niat jual siomay saja di acara malam tahun baru. Terus orang yang jual terompet bib gimana hukumnya?, jangan kita ganggu kasihan, kalau kita mau jika ada orang yang jual terompet maka kita borong semuanya kita bayar kemudian kita bakar, daripada dibeli orang lain dan di malam tahun baru akan ramai dengan bunyi terompet yang mengumandangkan kemenangan non muslim, maka lebih baik kita borong kemudian kita bakar.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Haji Wada’ yang terjadi pada tahun ke 10 H, setelah perjanjian Hudaibiyah tahun ke 6 H, seperti yang dijelaskan malam selasa lalu, bahwa Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam keluar menuju Makkah untuk melakukan Ihram namun dihalangi oleh kuffar quraiys. Dalam riwayat Shahih Al Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah melakukan umrah sebanyak 3 kali, dan yang ketiga adalah di saat haji wada’, inilah haji dan umrah nabi yang terakhir sehingga disebut hajjatul wada’. Al wada’ artinya perpisahan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada tahun ke 10 H keluar bersama kaum muslimin untuk melakukan hajjatul wada’, di saat itu datang sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan sayyidina Khalid bin Walid RA dari Yaman yang ketika itu mereka diperintahkan untuk berdakwah disana oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sepulangnya mereka langsung menyusul ke Makkah Al Mukarramah dan bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah Al Munawwarah. Di dalam salah satu khutbah beliau adalah hadits yang kita baca tadi , kaum muslimin mendengarkan khutbah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam salah satu riwayat dihadiri oleh 60 ribu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dalam riwayat lainnya kurang dari jumlah itu, tapi yang mengatakan jumlah sahabat nabi yang hadir di khutbah itu maksimal 60 ribu itu adalah menukil dari kejadian haji wada’. Dan ketika itu mukjizat nabi terlihat, dimana nabi berbicara di atas ontanya, dan suara beliau terdengar sama antara orang yang terdepan dan yang paling belakang, padahal di saat itu tidak ada microphone dan yang hadir 60 ribu, majelis malam ini yang hadir sekitar 50 ribu maka lebih banyak dari jumlah malam hari ini. Diantara khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa khutbah beliau di Mina, dan dalam riwayat lain di Arafah. Khutbah beliau panjang dan diantaranya adalah :

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

” Janganlah kalian kembali kepada kekufuran setelah aku wafat, dengan saling membunuh satu sama lain “

Ada beberapa penafsiran tentang hadits ini, diantaranya ada pendapat yang mengatakan bahwa orang yang saling membunuh hukumnya kufur dengan dalil hadits tadi. Namun pendapat yang lebih kuat bahwa membunuh tidak sampai kepada kekufuran akan tetapi termasuk dosa yang sangat besar. Namun makna yang jelas tentang hadits ini adalah bahwa Rasulullah memberikan wasiat kepada kita untuk bersatu dan tidak berpecah belah, berbeda pendapat diperbolehkan namun jangan sampai saling membunuh atau memerangi satu sama lain, itulah yang dimaksud dalam khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di dalam salah satu khutbah beliau yang membuat jerit tangis para sahabat adalah :

لَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِيْ هَذَا وَمِنْ مَقَامِيْ هَذَا

“Sepertinya aku tidak bertemu kalian lagi setelah tahun ini dan di tempat ini”

Salah satu khutbah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam di saat haji wada’, diriwayatkan dalam salah satu sunan imam Tirmidzi, dan Sunan Baihaqi Al Kubraa, dan dalam Tarikh Ibn Katsir, beliau berkata di hadapan para sahabat : “wahai para sahabatku, tampaknya aku tidak akan berjumpa dengan kalian setelah tahun ini dan di tempat ini”, maksudnya tidak akan ada lagi ibadah haji beliau setelah hari itu. Maka sepulang dari haji wada’, kondisi Rasulullah mulai drop, hal itu terjadi di tahun 10 H, lalu di bulan Rabi’ul Awal wafatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, 3 bulan setelah khutbah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membangkitkan semangat muslimin di barat dan timur untuk meneruskan cita-citanya, Allah subahanahu wata’ala melihat jiwa hamba-hamba-Nya yang mau meneruskan cita-cita nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga aku dan kalian termasuk penerus cita-cita nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat khutbah beliau di Arafah atau di Mina, ketika beliau mengucapkan: “Sepertinya aku tidak akan lagi berjumpa dengan kalian setelah tahun ini dan di tempat ini”, dimana hal itu terjadi pada 14 abad yang silam, betapa gembiranya hati sayydina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam setelah 14 abad beliau wafat, ada ummatnya yang berkumpul dan berdzikir, membaca shalawat, dan meneruskan dakwah beliau. Para kaum Anshar rela mengorbankan nyawanya untuk menggembirakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Sirah ibn Hisyam bahwa kaumu Anshar kemanpun Rasulullah pergi mereka selalu ikut, beliau shallallahu ‘alaihi wasalla naik ke atas gunung maka mereka ikut, beliau masuk ke dasar lautan maka mereka pun akan ikut, dan tidak satupun dari mereka (Anshar) yang akan tersisa, barangkali dengan hal itu mereka bisa membuat gembira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, itulah kaum Anshar. Bagaimana balasan Nabi Muhammad terhadap kaum Anshar?, di saat Fath Makkah maka nabi pulang ke Makkah, dan kaum Anshar bersedih karena menganggap nabi telah pulang ke kampung halamannya, dan mereka (kaum Anshar) pulang ke Madinah, mereka merasa kehilangan nabi Muhammad yang telah 10 tahun hidup bersama mereka, maka rasulullah bersabda :

كَلاَّ إِنِّي عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ هَاجَرْتُ إِلَى اللهِ وَإِلَيْكُمْ اَلْمَحْيَا مَحْيَاكُمْ وَالْمَمَاتُ مَمَاتُكُمْ

” Sungguh tidak, aku ini hamba Allah dan RasulNya, aku hijrah kepada Allah dan kepada kalian hidupku bersama kalian, dan wafatku bersama kalian “

Rasulullah berkata, jika kaum Anshar naik ke suatu bukit maka Rasulullah akan bersama mereka, dan jika bukan karena ada takdir hijrah kata rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh aku adalah termasuk dalam kelompok Anshar, kenapa? karena Rasulullah tidak mau berpisah dengan orang yang mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Kaum Anshar mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hidup bersama mereka hingga wafat bersama mereka dan dimakamkan di Madinah Al Munawwarah. Semoga Jakarta ini menjadi kota orang yang banyak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga wilayah-wilayah yang lainnya, amin allahumma amin. Diriwayatkan disaat qurban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membawa 100 ekor onta, 63 ekor disembelih oleh Rasulullah dan sisanya diserahkan kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw untuk beliau melanjutkan penyembelihannya. 63 ekor yang disembelih oleh Rasulullah, hal itu menandakan usia beliau 63 tahun. Hanya saja ada satu hal yang aneh, sebagaimana onta dan hewan sembelihan yang lainnya tidak boleh melihat darah, oleh karena itu ketika penyembelihan pasti ditutupi, karena jika melihat darah maka hewan itu akan mengamuk, namun ketika Rasulullah memberi minum onta-onta itu kemudian mengumpulkannya untuk disembelih, maka sahabat berkata : “wahai Rasulullah, kita tutupi menggunakan tabir supaya darah tidak terlihat oleh onta yang lain”, maka Rasulullah berkata: “jangan ditutupi biarkan onta yang lain melihatnya”, sahabat berkata : “wahai Rasulullah mereka akan mengamuk jika melihat darah”, namun rasulullah kemudian memegang pedang kecilnya untuk menyembelih, maka onta-onta itupun berdesakan untuk disembelih oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak mengamuk dan lari bahkan mereka berdesakan menjulurkan lehernya untuk lebih dahulu disembelih oleh tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika onta saja seperti itu, jangan mau kalah sama onta maka bangkitlah untuk membantu dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kita berdzikir bersama, dan mengirimkan keagungan rahasia dzikir khususnya di pulau Jawa dan seluruh wilayah di Indonesia, untuk gunung-gunung yang sedang aktif agar ditenangkan oleh Allah dengan keagungan dzikir. Wahai Allah, mereka penuh dosa namun mereka adalah hamba-hamba-Mu yang tidak mengetahui, dan kami ingat doa nabi kami :

اَللّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”

Wahai Allah jika mereka tau keagungan-Mu maka mereka tidak akan menyembah selain-Mu, doa ini dipakai sebagai benteng untuk mendoakan keselamatan mereka, Ketika perang Rasulullah terkena panah baja di tulang rahangnya sehingga mengalirlah darah dari rahang beliau, Rasulullah menutupi darah yang keluar dengan rida’nya agar tidak jatuh ke tanah, maka para sahabat berkata: “wahai Rasulullah biarkan darahnya mengalir, dan kami akan mencabut panah itu dari rahangmu”, Rasulullah tidak mempedulikan sakit dan pedihnya panah yang menembus tulang rahang beliau , beliau menutupi darah dengan surbannya agar tidak jatuh ke tanah dan berkata : “aku tidak ingin jika ada darahku jatuh ke tanah, karena jika ada setetes saja darahku yang terjatuh ke tanah, maka Allah akan turunkan bala’ untuk orang yang memerangiku”, inilah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah dalil kita untuk mendoakan mereka, yang walaupun barangkali mereka telah banyak berbuat dosa, wahai Rabbi…kami hanya memanut sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kita bermunajat untuk bumi Jakarta dan sekitarnya, Bogor, Tangerang, Bekasi dan wilayah-wilayah lainnya. Ya Allah, tenangkan gunung-gunung berapi yang kesemuanya takut dengan kewibawaan nama-Mu, kami kirimkan kepada mereka rasahia keluhuran kewibawaan nama-Mu yang jauh lebih berwibawa daripada alam semesta beserta seisinya, dan kami berdoa semoga Engkau ampuni dosa-dosa kami, sebesar apapun dosa-dosa kami, sungguh bagaikan debu dibanding dengan rahasia samudera pengampunan-Mu, dan sebesar apapun hajat kami tidalah berarti dibanding dengan samudera kedermawanan-Mu, Ya Rabbi…hajat-hajat kami yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui, hajat kami di saat ini dan di waktu yang akan datang, berilah lebih dari yang kami minta, tambahkan anugerah yang besar kepada kami zhair dan bathin, kuatkan iman kami untuk selalu mampu taat kepada-Mu, sungguh kami sangat lemah dalam menjalankan perintah-Mu dan kami pun lemah dalam menjauhi larangan-Mu, maka berilah kami kekuatan. Kepada siapa kami memohon jika bukan kepada-Mu wahai Yang Maha mendengar dan Maha melihat, Allah Maha melihat semua yang hadir di tempat ini, yang menyaksikan acara ini di streaming website Majelis Rasulullah di seluruh penjuru dunia. Rabbi, Engkau melihat wajah-wajah kami dan perasaan kami semua, pastikan kami wafat dalam husnul khatimah, pastikan kami Engkau limpahi rahmat-Mu di dunia dan akhirah, pastikan kami Engkau anugerahi mahabbah-Mu. Dan semoga diantara kami yang terjebak hutang, atau dalam kesedihan, segera selesaikan dan gantikan dengan ketenangan dan kebahagiaan, tunjukkan rahasia kewibawaan nama-Mu wahai Rabbi, ya rahman ya rahim ya dzal jalali wal ikram…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat, kita teruskan dengan pembacaan qasidah Ya Arhamarraahimiin oleh Al Habib Ibrahim Aidid, kemudian doa penutup dan kalimah talqin oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Atthas, yatafaddhal masykura..

Terakhir Diperbaharui ( Sunday, 14 November 2010 )

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 761 other followers