Fadhilah Keutamaan Bulan DzulHijjah / Berqurban : Majlis Ta’lim Wad Da’wah Lil Ustadz Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus
Published on November 12, 2010 in Bulan Dzulhijjah. 0 Comments
Sesungguhnya termasuk hikmah dan kesempurnaan Allah SWT Dia mengkhususkan sebagian makhlukNya dengan beberapa keistimewaan. Diantaranya adalah Allah mengkhususkan sebagian bulan dan hari agar menjadi ladang bagi seorang muslim yang ingin menabur benih amal ibadahnya. Menggugah semangat baru dalam beramal, sebagai bekal untuk kampung nan abadi.

Dan para ulama sangat perhatian dalam menulis masalah ini. Diantara mereka ada yang mempunyai karya khusus seperti Fadhailil Auqat oleh Imam Baihaqi, Lathaiful Ma’arif oleh al-Hafidz Ibnu Rajab dan selainnya.
Diantara bulan-bulan tersebut adalah Dzul Hijjah, lebih khusus lagi sepuluh hari pertama dan hari Tasyriqnya.

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzul Hijjah

Umur manusia seluruhnya adalah musim untuk menjalankan ketaatan dan menuai pahala. Beribadah dan menjalankan ketaatan hingga maut menjemput. Allah SWT berfirman:
“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian)”. (QS. al-Hijr 15: 99)
Makna yang diyakini pada ayat diatas adalah kematian. Demikian penafsiran Salim bin Abdillah bin Umar, Mujahid, Hassan, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid dan selain mereka. (Tafsir Ibnu Katsir 4/553)

Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim memanfaatkan umur dan waktunya sebaik mungkin. Memperbanyak dan memperbagus ibadah serta amalan hingga maut menjemput, lebih-lebih pada bulan dan hari yang penuh keutamaan. Diantara bulan yang telah Allah beri banyak keutamaan adalah bulan Dzul Hijjah. Allah SWT berfirman:
“Demi fajr dan malam yang sepuluh”. (QS al-Fajr 89: 1-2)

Imam Ibnu Rajab berkata: “Malam-malam yang sepuluh adalah sepuluh hari Dzul Hijjah. Inilah penafsiran yang benar dari mayoritas ahli tafsir dari kalangan salaf dan selain mereka. Dan penafsiran ini telah shahih pula dari Ibnu Abbas”. (Lathaiful Ma’arif hal 470)
Rasulullah SAW bersabda:

“Tiada hari-hari yang amalan shalih didalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah”. Para shahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah. Kecuali seorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali setelah itu (mati syahid)”. (HR Bukhari 969 dan lain-lain, lafadz diatas oleh Tirmidzi 757).

Dalam riwayat yang lain Nabi SAW bersadba:
“Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah dan tidak ada yang lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang dia kerjakan pada sepuluh hari al-Adha (Dzul Hijjah). (HR Darimi 1/358 dengan sanad yang hasan).
Ibnu Rajab mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa beramal pada sepuluh hari bulan Dzul Hijjah lebih dicintai di sisi Allah daripada beramal pada hari-hari yang lain tanpa pengecualian. Apabila beramal pada hari-hari itu lebih dicintai Allah maka hal itu lebih utama di sisiNya”. (Lathaiful Ma’arif 458)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Keistimewaan sepuluh hari bulan Dzul Hijjah karena pada bulan ini terkumpul ibadah-ibadah inti, seperti shalat, puasa, shadaqah, haji yang mana hal itu tidak didapati pada bulan yang lainnya”. (Fathul Bari 2/593)

Amalan Sunnah di Bulan Dzul Hijjah

Sesungguhnya mendapati sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah adalah nikmat yang besar dari nikmat-nikmat Allah. Manis dan nikmatnya hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang shalih dan bersungguh-sungguh pada hari-hari tersebut. Semestinya setiap muslim menambah kesungguhannya dalam menjalankan ketaatan pada bulan ini.

Abu Utsman al-Hindi ra. berkata: “Para salaf mengagungkan tiga waktu dari sepuluh hari yang utama. Sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama pada bulan Dzul Hijjah, dan sepuluh hari pertama bulan Muharram”. (Lathaiful Maarif 39).
Bahkan Sa’id bin Jubair apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beramal, sampai tidak ada yang dapat menandinginya.

Berikut ini amalan-amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan Dzul Hijjah:
1. Puasa
Disunnahkan puasa sembilan hari pertama pada bulan Dzul Hijjah, karena puasa termasuk amalan shalih yang dianjurkan pada bulan ini. Ummul Mu’minin Hafsah ra menuturkan:
Adalah nabi puasa Asyura (tanggal 10 Muharram), sembilan hari pertama bulan Dzul Hijjah, dan tiga hari pada setiap bulan”. (HR Nasa’i 2372, Ahmad 5/271, Baihaqi 4/284.
2. Takbir.
Termasuk amalan shalih pada hari-hari ini adalah memperbanyak takbir, tahlil, tasbih, istighfar dan do’a. Dzikir sangat dianjurkan pada seluruh waktu dan setiap keadaan, kecuali keadaan yang dilarang. Allah SWT berfirman:
“Ingatlah Allah di waktu berdiri di waktu duduk dan di waktu berbaring”. (QS an-Nisa 4: 103)
Imam Ibnu Katsir berkata: “Yaitu pada seluruh keadaan kalian”.
3. Haji
Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji menurut cara dan tuntunan yang disyariatkan, insya Allah dia termasuk dalam kandungan sabda Nabi yang berbunyi:
“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa diantara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga”. (HR Bukhari 1683, Muslim 1349).
Haji mabrur adalah haji yang sesuai dengan tuntunan syar’i, menyempurnakan hukum-hukumnya, mengerjakan dengan penuh kesempurnaan dan lepas dari dosa serta terhiasi dengan amalan shalih dan kebaikan. (Fathul Bari 3/382)
4. Memperbanyak Amal Shalih
Termasuk hikmah Allah, Dia menjadikan media beramal tidak hanya pada satu amalan saja. Bagi yang tidak mampu haji, jangan bersedih, karena disana masih banyak amalan shalih yang pahalanya tetap ranum dan siap dipetik pada bulan ini.
Diantara contohnya shalat sunnah, dzikir, shadaqah, berbakti pada orang tua, amar ma’ruf nahi mungkar, menyambung tali persaudaraan, dan berbagai macam amalan lainnya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang shalat Shubuh berjama’ah kemudian duduk berdikir hingga terbit matahari, setelah itu dia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah.” Perawi berkata: Rasulullah SAW berkata: “Sempurna, sempurna, sempurna”. (HR Tirmidzi 586. Hadits hasan).

Ini adalah keutamaan yang besar, kebaikan yang banyak, tidak bisa dikiaskan. Sesungguhnya Allah adalah pemberi nikmat, memberi keutamaan sesuai kehendakNya dan kepada siapa saja yang dikehendaki. Tidak ada yang dapat menentang hukumnya dan tidak ada yang dapat menolak keutamaanNya.
5. Berqurban
Berqurban termasuk amalan yang disunnahkan pada bulan ini. Yaitu pada hari-hari yang telah ditentukan, setelah melakukan shalat Idul Adha sampai akhir hari Tasyriq yaitu 13 Dzul Hijjah.
6. Taubat
Taubat adalah kembali kepada Allah dari perkara yang Dia benci secara lahir dan batin menuju perkara yang Dia senangi, menyesali atas dosa yang telah lalu, meninggalkan seketika itu juga dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.
Maka kewajiban bagi seorang muslim apabila terjatuh dalam dosa dan maksiat untuk segera bertaubat, tidak menunda-nundanya, karena dia tidak tahu kapan kematian akan menjemput. Dan juga perbuatan jelek biasanya akan mendorong untuk mengerjakan perbuatan jelek yang lain. Apabila berbuat maksiat pada hari dan waktu yang penuh
keutamaan, maka dosanya akan besar, sesuai dengan kutamaan waktu dan tempatnya.

Hari Raya Qurban

Hari nahr (menyembelih qurban) adalah hari yang agung, karena dia merupakan hari haji akbar. Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Hari haji akbar adalah hari Nahr”. (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).
Dan juga merupakan hari yang utama dalam setahun. Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr (menyembelih) kemudian hari qarr.” (HR Abu Daud 1765).
Imam Ibnu Atsir berkata: “Hari Qarr adalah besoknya hari nahr, yaitu sebelas Dzul Hijjah, dinamakan demikian karena manusia pada tanggal tersebut menetap di Mina (an-Nihayah 4/37).

Hari raya qurban lebih utama daripada hari raya idul fitri, karena hari raya qurban ada pelaksanaan shalat dan menyembelih (Lathaiful Maarif hal 318). Alasan yang lain bahwa hari raya qurban terkumpul padanya keutamaan waktu dan tempat serta sebelumnya hari Arafah dan setelahnya hari tasyriq.

Amalan apa saja yang dianjurkan pada hari ini? Pertama shalat hari raya (Ied), kedua
menyembelih qurban.

Hari-hari Tasyriq

Hari tasyriq adalah hari ke-11, 12, dan 13 bulan Dzul Hijjah. Dinamakan hari tasyriq karena manusia pada hari itu membagi-bagikan sembelihan dan hadiah. Hari Tasyriq merupakan hari yang mempunyai keutamaan. Allah SWT berfirman:
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang”. (QS. al-Baqarah 2: 203)

Imam al-Qurthubi mengatakan: “Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa hari yang berbilang pada ayat ini adalah hari-hari Mina yaitu hari tasyriq”. (Tafsir al-Qurthubi 3/3)
Mengenai hari tasyriq Rasulullah SAW bersabda:
“Hari tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir”. (HR Muslim 1141)

Hadits ini memberikan penjelasan kita dua perkara:

1. Hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum serta menampakkan kegembiraan. Tidak mengapa mengadakan perkumpulan yang bermanfaat, menghidangkan makanan terutama daging, selama tidak menghamburkan harta.
2. Bahwa hari ini juga merupakan hari untuk memperbanyak dzikir secara mutlak pada hari-hari tasyriq.
Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tasyriq setiap selesai shalat, ditempat tidurnya, tempat duduk dan di jalan. (Fathul Bari 2/461)

Demikian pula dzikir dan bertakbir ketika menyembelih qurban, dzikir, dan berdoa ketika makan dan minum, karena hari tasyriq adalah hari makan dan minum. Dzikir ketika melempar jumrah pada setiap kali lemparan bagi para jamah haji.
Imam Ibnu Rajab berkata: “Sabda Nabi “Sesungguhnya hari tasyriq adalah hari makan, minum dan dzikrullah” terdapat isyarat bahwa makan dan minum pada hari raya hanyalah untuk membantu berdzikir kepada Allah, dan hal itu merupakan kesempurnaan dalam mensyukuri nikmat, yaitu mensyukuri dengan ketaatan.

Barangsiapa yang memohon pertolongan dengan nikmat Allah untuk mengerjakan maksiat, maka berarti dia telah mengingkari nikmat Allah”. (Lathaiful Ma’arif hal 332).

Sumber : Madinatul Ilmi

Keutamaan Dan Hikmah Qurban : Majlis Ta’lim Wad Da’wah Lil Ustadz Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus
Published on November 12, 2010 in Artikel Islam. 1 Comment
Di dalam syariat yang dibawa oleh Rasulullah Saw, perintah dan larangan selalu ada dan terus berjalan kepada setiap hamba selama ruh masih bersama jasadnya. Dan selama itu pula manusia dapat menambah kedekatannya kepada Allah swt dengan melakukan perintah-perintah syariat yang mulia. Baik yang berupa kewajiban maupun yang sunnah.

Dan kesunnahan yang dilakukan si hamba inilah yang menjadi bukti keberhasilannya dan keuntungannya dalam kehidupan dunia. Sebab ibadah wajib ibarat modal seseorang, mau tidak mau, suka tidak suka dia harus menjalankannya, sedang amal sunnah itulah keuntungannya. Alangkah ruginya manusia jika di dunia hanya beribadah yang wajib saja atau dengan kata lain setelah bermuamalah dia kembali modal, tidak mendapat keuntungan sedikitpun. Maka ibadah sunnah ini hendaknya kita kejar, kita amalkan, sebab itulah bukti kesetiaan kita dalam mengikuti dan mencintai Rasulullah Saw, beliau saw bersabda (yang artinya):

“ Barang siapa menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku, maka kelak akan berkumpul bersamaku di surga “. (HR. As Sijizi dari Anas bin Malik, lihat Al Jami’ush Shoghir)

Bahkan dalam hadits qudsi Allah menyatakan bahwa Dia sangat cinta kepada hamba yang suka menjalankan amal-amal sunnah, sehingga manakala Dia telah mencintai hamba tersebut, Dia akan menjaga matanya, pendengarannya, tangan dan kakinya. Semua anggota tubuhnya akan terjaga dari maksiat dan pelanggaran. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori dari Abu Hurairah RA.

Dari sekian banyak sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah melakukan qurban, yaitu menyembelih binatang ternak, berupa onta, atau sapi(lembu) atau kambing dengan syarat dan waktu yang tertentu. Bahkan kesunnahan berqurban ini adalah sunnah muakkadah, artinya kesunnahan yang sangat ditekankan dan dianjurkan.

Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim dalam Shohihnya dari Anas bin Malik, beliau berkata :
“ Rasulullah saw berudhiyah (berkurban) dengan dua kambing putih dan bertanduk, beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri yang mulia, beliau mengawali (penyembelihan itu) dengan basmalah kemudian bertakbir …”
Tapi hendaknya kita mengetahui bahwa kesunnahan kurban adalah untuk umat Nabi Muhammad saw, sedang bagi beliau justru adalah sebagai kewajiban, ini termasuk sekian banyak kekhususan yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah saw.

Pengertian qurban secara terminologi syara’ tidak ada perbedaan, yaitu hewan yang khusus disembelih pada saat Hari Raya Qurban (’Idul Al-Adha 10 Dzul Hijjah) dan hari-hari tasyriq (11,12, dan 13 Dzul Hijjah) sebagai upaya untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Dalam Islam qurban disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Saat itu Rasulullah keluar menuju masjid untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha dan membaca khutbah `Id. Setelah itu beliau berqurban dua ekor kambing yang bertanduk dan berbulu putih.

Tradisi qurban sebetulnya telah menjadi kebiasaan umat-umat terdahulu, hanya saja prosesi dan ketentuannya tidak sama persis dengan yang ada dalam syariat Rasulullah. Allah SWT befirman, “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu (Muhammad) dalam urusan syariat ini. Dan serulah kepada agama Tuhanmu, sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus” (QS AI-Haj: 67).

Bahkan qurban telah menjadi salah satu ritus dalam sejarah pertama manusia. Seperti dikisahkan dengan jelas dalam AI-Quran surah Al-Maidah ayat 27 mengenai prosesi qurban yang dilakukan oleh kedua putra Nabi Adam AS, qurban diselenggarakan tiada lain sebagai refleksi syukur hamba atas segala nikmat yang dianugerahkan Tuhannya, di samping sebagai upaya taqarrub ke hadirat-Nya.

Dalil Qurban dan Keutamaan berkurban

Allah SWT berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah” (QS Al-Kautsar: 1-2). Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan shalat di sini adalah shalat hari `Idul Adha, sedangkan yang dimaksud dengan menyembelih adalah menyembelih hewan qurban.

Diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, Ibnu Majah dan al Hakim dari Zaid bin Arqam, bahwsanya Rasulullah saw bersabda (yang artinya):
“ Al Udhiyah (binatang kurban), bagi pemiliknya (yang berkurban) akan diberi pahala setiap satu rambut binatang itu satu kebaikan “.

Diriwayatkan oleh imam Abul Qasim Al Ashbahani, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah saw bersabda (yang artinya):
“ Wahai Fathimah, bangkitlah dan saksikan penyembelihan binatang kurbanmu, sungguh bagimu pada awal tetesan darah binatang itu sebagai pengampunan untuk setiap dosa, ketahuilah kelak dia akan didatangkan (di hari akhirat) dengan daging dan darahnya dan diletakkan diatas timbangan kebaikanmu 70 kali lipat “.

Rasulullah saw bersabda (yang artinya):
“ Barang siapa berkurban dengan lapang dada (senang hati) dan ikhlas hanya mengharap pahala dari Allah, maka dia akan dihijab dari neraka (berkat udhiyahnya) “. (HR. Ath Thabarani dari Al Husein bin Ali)

Dalil dari hadits, dari Siti Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), ‘Tiada amal anak-cucu Adam pada waktu Hari Raya Qurban yang lebih disukai Allah daripada mengalirkan darah (berqurban). Dan bahwasanya darah qurban itu sudah mendapat tempat yang mulia di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka laksanakan qurban itu dengan penuh ketulusan hati.” (HR. At Tirmidzi)

Dari Anas RA, ia berkata, “Nabi SAW mengurbankan dua ekor kambing yang putih-putih dan bertanduk. Keduanya disembelih dengan kedua tangan beliau yang mulia setelah dibacakan bismillah dan takbir, dan beliau meletakkan kakinya yang berbarakah di atas kedua kambing tersebut:’ (HR Muslim).

Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan qurban bahwasanya qurban itu akan menyelamatkan pemiliknya dari kejelekan dunia dan akhirat. Beliau juga bersabda (yang artinya),
“Barang siapa telah melaksanakan qurban, setelah orang itu keluar dari kubur nanti, ia akan menemukan qurbannya berdiri di atas kuburannya, rambut qurban itu terdiri dari belahan emas, matanya dari yaqut, kedua tanduknya dari emas pula. Lalu ia terheran-heran dan bertanya, ‘Siapa kamu ini? Aku belum pernah melihat sesuatu seindah kamu.’
Hewan itu menjawab, “Aku adalah qurbanmu yang engkau persembahkan di dunia sekarang. Naiklah ke alas punggungku”. Kemudian ia naik dan berangkatlah mereka sampai naungan Arasy, di langit yang ketujuh”

Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Perbesarlah qurban-qurban kalian, sebab qurban itu akan menjadi kendaraan-kendaraan dalam melewati jembatan AshShirat menuju surga” (HR Ibnu Rif’ah).

Dalam satu riwayat disebutkan, Nabi Dawud AS pernah bertanya kepada Allah SWT tentang pahala qurban yang diperoleh umat Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT menjawab, “Pahalanya adalah, Aku akan memberikan sepuluh kebajikan dari setiap satu helai rambut qurban itu, akan melebur sepuluh kejelekan, dan akan mengangkat derajat mereka sebanyak sepuluh derajat. Tahukah engkau, wahai Daud, bahwa qurban-qurban itu adalah kendaraankendaraan bagi mereka di hari kiamat nanti, dan qurban-qurban itu pula yang menjadi penebus kesalahan-kesalahan mereka.”

Sayyidina Ali RA berkata, “Apabila seorang hamba telah berqurban, setiap tetesan darah qurban itu akan menjadi penebus dosanya di dunia dan setiap rambut dari qurban itu tercatat sebagai satu kebajikan baginya”.

Hikmah yang bisa kita ambil dari qurban adalah:

Pertama, untuk mengenang nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim dengan digagalkannya penyembelihan putranya, Ismail AS, yang ditebus dengan seekor kambing dari surga.
Kedua, untuk membagi-bagikan rizqi yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat manusia saat Hari Raya ‘Idul Adha, yang memang menjadi hari membahagiakan bagi umat Islam, agar yang miskin juga merasakan kegembiraan seperti yang lainnya. Sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw (artinya): “Hari Raya Qurban adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah” (HR. Muslim)
Ketiga, untuk memperbanyak rizqi bagi orang yang berqurban, karena setiap hamba yang menafkahkan hartanya di jalan Allah akan mendapatkan balasan berlipat ganda.

Kisah Sayyiduna Abdullah bin Abdul Mutthalib

Dalam Islam, qurban tidak sekadar memiliki dimensi religius, yang menghu bungkan makhluk dengan Allah, Pencipta alam semesta. Qurban bukan sekadar ritus penyembelihan binatang dan aktivitas membagikan daging hewan kepada mereka yang tidak mampu. la pun memiliki dimensi sosial. Qurban juga memiliki akar sejarah yang demikian kuat dan memiliki posisi vital di tengah-tengah masyarakat.

Berhubungan dengan sejarah qurban seperti yang umum diketahui oleh umat Islam tentang awalnya syariat qurban diturunkan, ada satu kisah yang menarik dari Rasulullah sehingga beliau menyatakan dirinya sebagai anak dua sembelihan.

Kisahnya ketika Abdullah bin Abdul Muthalib belum dilahirkan. Ayahnya, Abdul Muthalib, pernah bernazar bahwa, jika anaknya laki-laki sudah berjumlah sepuluh orang, salah seorang di antara mereka akan dijadikan qurban.
Setelah istri Abdul Muthalib melahirkan lagi anak laki-laki, genaplah anak laki-lakinya sepuluh orang. Anak laki-laki yang kesepuluh itu tidaklah diberi nama dengan nama-nama yang biasa, tapi diberi nama dengan nama yang arti dan maksudnya berlainan sekali, yaitu dengan nama “Abdullah”, yang artinya “hamba Allah”.

Selanjutnya setelah Abdullah berumur beberapa tahun, ayahnya, Abdul Muthalib, belum juga menyempurnakan nazarnya. Pada suatu hari dia mendapat tanda-tanda yang tidak tersangkasangka datangnya yang menyuruhnya supaya menyempurnakan nazarnya. Oleh sebab itu bulatlah keinginannya agar salah seorang di antara anak laki-lakinya dijadikan qurban dengan cara disembelih.

Sebelum pengurbanan itu dilaksanakan, dia lebih dulu mengumpulkan semua anak laki-lakinya dan mengadakan undian. Pada saat itu undian jatuh pada diri Abdullah, padahal Abdullah adalah anak yang paling muda, yang paling bagus wajahnya dan yang paling disayangi dan dicintai. Tetapi apa boleh buat, kenyataannya undian jatuh padanya, dan itu harus dilaksanakan.

Seketika tersiar kabar di seluruh kota Makkah bahwa Abdul Mutthalib hendak mengurbankan anaknya yang paling muda. Maka datanglah seorang kepala agama, penjaga Ka’bah, menemui Abdul Mutthalib, untuk menghalang-halangi apa yang akan diperbuat Abdul Mutthalib.
Kepala agama itu memperingatkan untuk tidak melakukan perbuatan tersebut. Jika hal itu sampai dilaksanakan, sudah tentu kelak akan dicontoh oleh orang banyak, karena Abdul Muthalib adalah seorang wali negeri pada masa itu dan dia mempunyai pengaruh yang sangat besar di kota Makkah. Oleh sebab itu, apa yang akan dilakukannya tentu akan jadi panutan bagi warga lain. Si pemuka agama ini mengusulkan agar nazar tersebut diganti saja dengan menyembelih seratus ekor unta.

Berhubung kepala agama penjaga Masjidil Haram telah memperkenankan bahwa nazar Abdul Muthalib cukup ditebus dengan seratus ekor unta, disembelihlah oleh Abdul Muthallib seratus ekor unta di muka Ka’bah. Dengan demikian Abdullah urung jadi qurban.
Karena peristiwa itu pada waktu Nabi SAW telah beberapa tahun lamanya menjadi utusan Allah, Rasulullah pernah bersabda (yang artinya), “Aku anak laki-laki dari dua orang yang disembelih.” Maksud Rasulullah, beliau adalah keturunan dari Nabi Ismail AS, yang juga akan disembelih tapi lalu diganti Allah dengan kibas, dan anak Abdullah, yang juga akan disembelih tapi kemudian diganti dengan seratus ekor unta.

Sumber Madinatul Ilmi

Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Saya Tak Boleh Baca Quran”

Saya Tak Boleh Baca Quran”
Dicatat oleh Blog Hamba Yang Da’if: pada 27.5.09

Semester ini (2009/2010), pihak Akademi Islam (KUIS) mula mengadakan penapisan kemahiran membaca al-Quran ke atas para pelajar baru, sama ada pelajar aliran agama mahupun bukan agama. Mereka yang tak boleh baca atau teruk bacaannya akan dimasukkan ke dalam kelas tajwid. Ini kerana sebelum ini banyak kes dikesan, pelajar-pelajar tidak dapat membaca al-Quran atau membacanya dengan ‘merangkak-rangkak’.. walaupun pelajar aliran agama sekalipun.

Dalam ujian kemahiran tersebut tidak sedikit juga yang surrender mengaku ; “Saya tak boleh baca Quran”. Saya termenung dan terfikir, salah siapakah ini? Masalah sebegini berlaku di kalangan pelajar IPT. Bagaimana agaknya jika semua IPT membuat penapisan seperti ini? Melihat skop yang lebih jauh, tidak tahu membaca al-Quran atau ‘buta’ al-Quran ini sebenarnya masih banyak berlaku di kalangan masyarakat Islam negara kita. Jika pelajar IPT seperti demikian, bagaimana pula dengan orang awam, pekerja am, kaki tangan swasta, kerajaan dan sebagainya? Sibuk sangatkah urusan dunia kita hingga urusan akhirat tak perlu dititik berat?

Amat sedih juga bila dibayangkan, bahawa ini hanya segelintir kecil dari sekian ramai orang di luar sana yang tidak tahu membaca al-Quran. Antara faktornya, datang dari keluarga-keluarga yang amat sedikit didikan agama mereka dan yang sibuk semata-mata dengan urusan duniawi. Menjadi tanggungjawab saya menyeru, belajarlah al-Quran demi kebahagiaan ukhrawi. Dalami dan fahamilah isi kandungannya. Masa yang digunakan tidak akan rugi berbanding yang dihabiskan dengan kelalaian.

http://sawanih.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Gema Takbir Idul Adha 1431H

Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Syeikh ‘Abd al-Rahman Muhammad al-Jilali رحمه الله

Syeikh ‘Abd al-Rahman Muhammad al-Jilali رحمه الله
Dicatat oleh Blog Hamba Yang Da’if: pada 14.11.10
Beliau adalah seorang tokoh ulama Algeria yang diberikan oleh Allah Taala umur panjang, di mana beliau telah meninggal dunia pada malam Jumaat lalu (11/11/2010) dalam usia kira-kira 103 tahun.

Beliau adalah seorang pakar dalam bidang Fiqh Maliki dan sejarah Islam, dan pernah meraih Anugerah Besar Kesusasteraan Algeria pada tahun 1960. Dilahirkan pada tahun 1908 dan mendapat pendidikan di tangan ulama-ulama zamannya seperti ‘Abd al-Hamid bin Samaya, al-Zuraybi al-Azhari, al-Hafnawi dan lain-lain. Beliau telah menghafaz al-Quran sebelum usia 14 tahun.

Antara sumbangan-sumbangan besarnya ialah menghimpunkan sejarah Algeria secara lengkap yang diberi judul “Tarikh al-Jaza’ir”, selain mengarang kitab-kitab lain dalam bidang usuluddin dan fiqh Islam. Beliau juga menerima Anugerah Doktor Kehormatan daripada Universiti Algeria pada tahun 2003.

Rujukan:

Algeria Press Service.

Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

BERPUASA SUNAT HARI ‘ARAFAH DAN KELEBIHANNYA

BERPUASA SUNAT HARI ‘ARAFAH DAN KELEBIHANNYA
Posted on November 13, 2010 by sulaiman

Pasa ketika ini, semua jemaah haji dari seluruh pelusuk dunia sedang bersiap sedia untuk melaksanakan ibadah haji di tanah suci Makkah al-Mukarramah. Marilah kita mendoakan kesejahteraan kepada mereka semoga mereka semua dapat menyempurnakan ibadah tersebut dan pulang dengan selamat dengan beroleh haji yang mabrur. Amin!

Pada hari kelapan (8) Zulhijjah ini, para jemaah haji dikehendaki berihram bermula dari Makkah atau di sekitarnya. Mereka seterusnya akan berangkat dan bermalam di Mina. Ketika matahari terbit pada hari ke 9 Zulhijjah, mereka dikehendaki berangkat ke ‘Arafah. Di sini, mereka disunatkan memperbanyakkan doa, zikir dan istighfar sehingga terbenam matahari. Para jemaah seterusnya akan melaksanakan kewajipan-kewajipan lain sehinggalah hari-hari Tasyrik berakhir.

Bagi yang tidak menunaikan haji, kita juga boleh meningkat amal ibadah dalam bulan Zulhijjah yang mulia ini dengan melakukan ibadah sunah seperti berpuasa sunah pada awal bulan ini dan berpuasa pada hari ‘Arafah.

Terdapat beberapa hadis mengenai kelebihan sepuluh hari pertama Zulhijjah. Oleh itu, sesiapa yang berpuasa dalam sembilan hari pada awal bulan ini (hari ke-10 adalah hari Raya) hukumnya adalah sunah. Sabda Rasulullah (saw) yang maksudnya;

يصوم تسع ذي الحخّه ويوم عا شوراء وثلاثه ايّام من كل شهر اوّل اثنين من الشّهروخميسين

“Rasulullah (saw) berpuasa sembilan hari dalam bulan Zulhijjah dan pada hari Asyura dan tiga hari bagi setiap bulan, Isnin pertama setiap bulan dan dua hari Khamis.” (Status hadis ini ada sedikit pertikaian dan ada yang mengatakan sahih – HR Ahmad dan Abu Daud)

PENENTUAN HARI ARAFAH

Timbul persoalan dalam menentukan bilakah hari ‘Arafah bagi negara-negara selain Makkah/Madinah. Penentuan bilakah hari ke-9 Zulhijjah adalah penting bagi membolehkan kita berpuasa sunah ‘Arafah dan bagi menentukan jatuhnya Hari Raya ‘Adha/Haji.

Terdapat perbezaan pendapat di kalangan ulama sama ada ianya berdasarkan timbulnya anak bulan di sesuatu negara itu atau berdasarkan timbulnya anak bulan di Makkah. Pandangan yang lebih kukuh adalah mengikut masa timbulnya anak bulan bagi negara yang didiaminya. Misalnya, jika negara Malaysia melihat anak bulan sehari selepas hari ‘Arafah di Makkah iaitu 9 haribulan di Makkah ialah 8 haribulan di Malaysia, maka, maka penduduk Malaysia akan berpuasa pada hari ke 9 (iaitu hari ke 10 bagi Makkah).

Pandangan ini sejajar dengan ayat al-Quran surah al-Baqarah ayat 185 bermaksud sesiapa yang tidak mengesan anak bulan, tidak dikehendaki memulakan puasa. Dalil al-Quran ini juga disokong oleh hadis Rasulullah (saw). Perlu disedari, ibadah puasa adalah di antara ibadah yang ditentukan mengikut peredaran bulan bukannya peredaran matahari. Bagi penduduk di negara sebelah Barat atau Timur Tengah mereka akan menerima kemunculan anak bulan lebih awal dari negara sebelah Timur sebab itulah dalam hal ini mereka lebih awal dari Malaysia.

Bagi mereka yang masih mempunyai kemusykilan dalam hal ini, sebahagian ulama menyarankan kita berpuasa pada dua hari iaitu pada 8 haribulan (9 haribulan di Makkah) dan pada 9 haribulan mengikut masa Malaysia.

KELEBIHAN PUASA SUNAH ARAFAH

Berdasarkan beberapa hadis yang sahih, berpuasa pada hari ‘Arafah mempunyai kelebihan yang besar seperti di bawah: -

صيام يوم عرفه احتسب على الله ان يكفّر السّنة التي قبله والسّنة التي بعده

وصيام يوم عا شوراء احتسب على الله ان يكفّرالتي قبله

Rasulullah (saw) bersabda yang maksudnya;

“Berpuasa pada hari ‘Arafah, aku berdoa agar ALLAH menghapuskan dosa bagi tahun sebelumnya dan tahun selepasnya dan berpuasa pada hari Asyura, aku berdoa agar ALLAH menghapuskan dosa tahun sebelumnya ” (HR Muslim)

Dari Qatadah bin An-Nu’man, beliau mendengar Rasulullah (saw) bersabda maksudnya;

من صام يوم عفرالله له سنتين, سنة امامه وسنة خلفه

“Sesiapa yang berpuasa pada hari ‘Arafah, nescaya ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun, setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (Dinilai sahih – Ibn Maajah, Shahih Al-Jaami’ Ash-Shagiir”)

Kita wajar merebut peluang ini kerana sebagai insan tentunya kita banyak melakukan dosa sama ada yang kita sedari mahu pun tidak disedari.

LARANGAN BERPUASA BAGI JEMAAH HAJI DI ‘ARAFAH

نهى (رسول الله ص) عن صيام يوم عرفة بعرفة

“Rasulullah (saw) telah melarang berpuasa di hari ‘Arafah (bagi mereka yang berwukuf) di ‘Arafah ” (HR Abu Daud)

Sekian.

Wallahu’alam

Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Solat Jumaah Adalah Bid’ah SESAT MASUK NERAKA

KUALA PILAH 12 Nov. – Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sembilan (JHEAINS) menahan tiga lelaki termasuk seorang yang mendakwa solat Jumaat di Kampung Parit di sini sebagai amalan bidaah.

Penyelaras Operasi jabatan itu, Mohd. Zol Sidek berkata, ketiga-tiga mereka ditahan mengikut Seksyen 52 Enakmen Jenayah Syariah Negeri Sembilan kerana melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum syarak dalam satu serbuan di Maahad Ittiba’ Assunnah di sini hari ini.

Ketiga-tiga mereka dipercayai melakukan solat zuhur ketika waktu solat Jumaat belum dilakukan lagi tanpa uzur syarie.

Penyelaras Operasi jabatan itu, Mohd. Zol Sidek berkata, ketiga-tiga lelaki terbabit boleh didenda RM5,000 atau penjara tidak melebihi tiga tahun atau kedua-duanya sekali jika disabitkan kesalahan di bawah seksyen tersebut.

”Salah seorang daripada tiga individu yang ditahan itu juga melakukan kesalahan mengeluarkan kenyataan berlawanan dengan mana-mana fatwa yang dikeluarkan dengan sah oleh Mufti Kerajaan Negeri.

”Lelaki itu kini ditahan mengikut Seksyen 51 enakmen sama dan boleh dikenakan denda sebanyak RM1,000 atau penjara tidak melebihi setahun atau kedua-duanya sekali, jika sabit kesalahan,” katanya pada sidang akhbar di sini hari ini.

Turut ditahan adalah dua wanita yang turut berada dalam madrasah berkenaan dan mereka telah dibebaskan selepas keterangan diambil oleh anggota penguat kuasa JHEAINS di Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Kuala Pilah.

”Mereka telah menggunakan fahaman sendiri berhubung solat Jumaat. Salah seorang daripadanya mendakwa solat Jumaat yang diadakan di sebuah masjid dalam kariah Kampung Parit di sini merupakan perkara bidaah.

”Disebabkan dakwaan itu, mereka tidak mengerjakan solat Jumaat di masjid berkenaan dan dilihat berada dalam sebuah madrasah di Kilometer 1.5, Jalan Seremban Lama,” katanya.

Operasi yang disertai 60 anggota terdiri daripada penguat kuasa JHEAINS, polis dan Majlis Keselamatan Negara cawangan negeri itu diketuai oleh Ketua Unit Operasi, Ahmad Zaki Hamzah.

Katanya, semua yang ditahan itu telah dibawa ke IPD untuk disoal siasat.

”Hasil siasatan berkenaan akan dirujuk kepada Pejabat Pendakwaraya sebelum pertuduhan dapat dibuat di mahkamah kelak,” katanya

http://abu-syafiq.blogspot.com/2010/11/solat-jumaah-adalah-bidah-sesat-masuk.html

Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Majlis Ta’lim Bulanan

Majlis Ta’lim Bulanan
posted Oct 16, 2009 4:21 AM by Site Admin [ updated Nov 2, 2010 11:55 AM by Abdul Rahman AlHaddad ] Bertujuan memberi kemudahan kepada masyarakat Kuala Lumpur dan Selangor khususnya serta masyarakat Malaysia ‘amnya menimba ilmu ajaran agama Islam yang ditinggalkan dan diwasiatkan oleh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

Huraian dari buku-buku beliau akan disyarahkan dalam Bahasa Malaysia.

Kesemua Majlis Ilmu seperti jadual dibawah ini akan diadakan di Masjid Baitul Aman 102 Jalan Damai di Jalan Ampang, Kuala Lumpur:

Hari Sabtu 20 November 2010 mulai Solat Maghrib sehingga jam 9:30 malam huraian buku berjudul ‘Nasihat Agama dan Wasiat Iman’
Hari Ahad 21 November 2010 mulai Solat Maghrib sehingga jam 9:30 malam huraian buku berjudul ‘Dakwah yang Sempurna dan Peringatan yang Utama’
Agar kita mengambil peluang untuk menghadiri majlis-majlis diatas untuk pedoman perjalanan kita ke akhirat.

Jadual ini akan diulangi pada minggu ketiga atau keempat setiap bulan yang juga akan dimaklumkan pada majlis semasa.

Semua Muslimin dan Muslimat dijemput hadir. Diminta Hadirin dan Hadirat mematuhi halal/haram, sunnah/makruh dan adab semasa didalam masjid.

Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Sebuah Pesan Dari Arafah

Sebuah Pesan Dari Arafah
Posted on admin on December 25, 2009 // Leave Your Comment Arafah. Setiap tahun tempat ini selalu menjadi oase putih nan luas di tengah padang sahara bergunung-gunung yang gersang. Seperti baru saja terjadi.

Arafah memang luar biasa, dan bukan gurun biasa. Pada suatu hari malaikat Jibril a.s. membimbing Nabi Ibrahim a.s. menjalankan manasik ibadah haji. Ditunjukkannya tempat-tempat mulia, satu per satu. Ketika sampai di Arafah, Jibril bertanya, “’Arafta, adakah kamu sudah tahu?” Nabi Ibrahim a.s. menjawab, “Ya.” Dari situ, tempat tersebut dinamai Arafah.

Tetapi versi yang lebih masyhur mengatakan, penamaan Arafah itu terkait dengan sejarah yang lebih kuno. Sejarah Nabi Adam a.s. dan istrinya, Hawa. Kala itu mereka diturunkan dari sorga ke bumi di tempat yang berjauhan. Nabi Adam a.s. di India, dan Hawa di Jeddah.

Setelah melewati masa-masa sepi sendiri selama bertahun-tahun, mereka dipertemukan kembali oleh Allah. Mereka bersua di padang Arafah. Itulah sebabnya, tempat tersebut dinamai Arafah, yang berarti pengenalan.

Kelak, Arafah menjadi tempat berkumpulnya anak turun mereka dari berbagai penjuru dunia. Yaitu setiap tanggal 9 Dzil Hijjah. Pada tanggal 9 Dzil Hijjah lalu, jutaan anak manusia dari berbagai penjuru dunia berhimpun di situ. Mereka berdiam di situ, semua mengenakan baju putih bersih, sembari beribadah, salat, membaca Al-Quran dan melafalkan zikir pada Allah. Mereka berkumpul guna melakukan wuquf, sebagai salah satu rukun ibadah haji.

Ini adalah puncak haji. Wuquf bahkan menjadi rukun haji yang paling penting. Itu bisa dilihat dari sabda Nabi s.a.w.:

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu Arafah.”

Seolah-olah ibadah haji itu hanya wuquf di Arafah. Padahal, rukun haji tidak hanya wuquf. Ada thawaf, sa’i dan lain-lain. Pernyataan Nabi tersebut, tidak lain dan tidak bukan, dikarenakan pentingnya wuquf.

Beruntunglah kita karena Allah mensyariatkan ibadah haji pada kita. Haji adalah satu-satunya ibadah dan kesempatan di mana umat Islam dari berbagai penjuru dunia dan dari berbagai latar budaya berkumpul jadi satu, setiap tahunnya. Dan puncak dari semuanya itu ialah wuquf di Arafah.

Bandingkan, misalnya, dengan ibadah salat. Ibadah ini hanya mempertemukan komunitas umat Islam sedusun. Atau, paling jauh, kaum muslim sekota. Yaitu melalui ibadah salat Jumat.

Dalam ibadah thawaf pun tidak seluruh jamaah haji berkumpul di satu tempat pada saat yang sama. Begitu pula dalam ibadah sa’i dan melempar jumrah. Namun, pada saat wuquf, semua jamaah haji yang berjumlah jutaan itu berdiam dan berkumpul di satu titik.

Ini luar biasa. Momen seperti itu seharusnya bisa menerbitkan perasaan bahwa umat Islam tidak hanya terdiri atas satu suku atau satu bangsa, tetapi berbagai-bagai suku, bangsa dan latar budaya. Bahwa kita sebagai muslim adalah satu bagian dari masyarakat muslim dunia yang beraneka ragam. Setiap tahun kita seperti diingatkan mengenai hal itu.

Haji dan, pada khususnya, wuquf adalah kesempatan yang baik untuk mengamalkan firman Allah:

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9

“Wahai manusia, sungguh telah Kuciptakan kalian terdiri atas laki-laki dan perempuan, serta Kuciptakan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal.”

Di Mekah dan Arafah kita melihat manusia dari berbagai suku, ras dan kebangsaan. Betapa indahnya. Seperti pelangi. Warna kulit mereka berbeda. Wajah mereka berbeda. Postur tubuh mereka berbeda. Perilaku mereka berbeda. Gerak tubuh mereka berbeda. Ekspresi wajah mereka berbeda. Bahasa mereka pun beragam.

Di situ kita belajar berdiri di tengah kebinekaan, dan ayat di atas mengajari kita untuk belajar bersikap toleran menghadapi perbedaan. Manusia dijadikan berbeda-beda jenis kelamin dan berbeda suku serta bangsa bukan untuk membanggakan diri. Bukan pula untuk mengolok-olok orang lain, yang mungkin berbeda warna kulit atau berperilaku aneh serta berbahasa tak lumrah dalam pandangan kita. Allah SWT berfirman:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw öy‚ó¡o„ ×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3tƒ #ZŽöyz öNåk÷]ÏiB

“Wahai orang-orang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum lain, siapa tahu mereka yang diolok-olok lebih lebih baik daripada yang mengolok-olok.”

Sebaliknya, tujuan manusia dijadikan berbeda-beda ialah supaya kita saling mengenal. Baik mengenal mereka secara pribadi, maupun mengenal budaya mereka. Belajar memahami mereka dalam perbedaan.

Dan sebagaimana sabda Nabi s.a.w., “Muslim itu cermin bagi muslim lain,” mereka yang berbeda dari kita itu bisa menjadi cermin bagi kita. Cermin yang memperlihatkan kelebihan mereka sekaligus menunjukkan kekurangan diri kita.

SAUDARA

Yang lebih menakjubkan lagi ialah, mereka yang berbeda-beda warna kulit dan potongan tubuh dan berjumlah jutaan itu ternyata memiliki kesamaan dengan kita. Tuhan mereka satu (tuhan seluruh makhluk memang satu), yaitu Allah. Agama mereka satu, yaitu Islam. Cara ibadah mereka sama. Bahasa ibadah mereka sama, bahasa Arab. Kiblat mereka sama, yaitu Ka’bah. Mereka adalah saudara-saudara kita. Saudara seiman dan seagama kita. Sebagaimana dalam firman Allah:

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r’sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr&

“Sungguh kaum mukmin itu saudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kalian.” (Al-Hujurat: 10)

Melalui wuquf di Arafah kita menjadi tahu secara haqqul yaqin bahwa Islam tidak hanya dipeluk oleh orang sesuku atau sebangsa kita, tapi juga oleh bangsa-bangsa dan suku-suku lain. Amboi, indahnya.

Dan persaudaraan sesama muslim adalah persaudaraan yang hangat, seperti diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam sabda beliau:

مَثَلُ اْلمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ اْلجَسَدِ إِذَا اْشتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى َلهُ سَائِرُ اْلجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَاْلحُمَّى (رواه مسلم)

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencinta dan menyayang mereka seperti jasad. Manakala satu anggota tubuh sakit, maka seluruh jasad didera demam dan tidak bisa tidur.” (riwayat Muslim)

Jadi, jika kita melihat saudara sesama muslim yang sakit, kita juga merasa sakit. Bila ada saudara muslim kita yang tertimpa bencana, misalnya, maka kita juga merasakan sakitnya dan tergugah hati kita untuk ikut membantu meringankan penderitaan mereka. Jika kita melihat saudara kita yang kelaparan, kekurangan, muncul rasa solidaritas kita. Mungkin kita tergelitik untuk merogoh kocek sendiri. Mungkin kita menggalang solidaritas di antara orang-orang guna membantu meringankan penderitan mereka.

BEPERGIAN

Kembali ke ayat perkenalan di atas. Menurut ayat tersebut, seorang muslim sebaiknya tidak hanya diam di kampung halaman selama hidupnya. Kita umat Islam memang sebaiknya melakukan perjalanan, penjelajahan. Sebagaimana dalam firman Allah:

ö@è% (#r玍ř ’Îû ÇÚö‘F{$# (#rãÝàR$$sù y#ø‹x. tb%x. èpt7É)»tã tûïÏ%©!$# `ÏB ã@ö6s% 4

“Katakan, “Berjalanlah di atas bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kalian.” (Ar-Rum: 42)

Dengan melakukan perjalanan ke tempat lain, pikiran tidak sempit. Cakrawala berpikir menjadi terbuka. Kita dapat melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.

Melakukan pengelanaan, sembari mencicipi ketidak-nyamanan yang mungkin ditemui di dalamnya sambil bertemu dengan orang yang berbeda-beda dan melihat tempat-tempat dan benda-benda yang berbeda, bisa mengasah ketajaman mata hati, memperkaya batin, sekaligus membantu menyucikan hati. Itulah sebabnya, kita mengenal banyak sufi yang selama hidupnya berkelana, seperti sufi Ibrahim bin Adham. Kita juga mengenal beberapa nama tokoh, seperti Ibnu Bathuthah, yang telah melakukan perantauan jauh, melintasi batas-batas benua, yang hasilnya lalu dia tuangkan dalam bentuk tulisan, buku.

Dengan melakukan perjalanan kita bisa mengais ilmu yang lebih banyak dari beragam guru. Bacalah riwayat hidup para imam dan ulama dulu. Mereka umumnya melakukan perantauan ke berbagai negeri guna menghimpun ilmu. Dan hasilnya memang nyata, yakni terlahirnya ulama-ulama besar dengan penguasaan ilmu yang tinggi dan luas. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 ’Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râ‘É‹YãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u‘ öNÍköŽs9Î)

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya “ (At-Taubah: 122)

Dengan melakukan perjalanan ke tempat lain, kita mengenal macam-macam manusia, adat istiadat, budaya, bahasa yang berbeda-beda. Dari situ kita bisa belajar banyak.

Tetapi tak cuma itu. Melakukan perjalanan dan pengelanaan adalah kesempatan untuk berbagi. Kita menjadi tahu, ada orang-orang yang lapar dan dahaga serta membutuhkan uluran tangan kita. Entah dalam pengertian fisik maupun dalam pengertian spiritual. Coba bayangkan, seandainya tidak dai-dai pengelana dari Timur Tengah, India dan lain-lain, tidak datang ke sini dulu, mungkin Indonesia tidak menjadi negeri mayoritas muslim. Amboi, betapa besar jasa mereka, dan betapa besar manfaat dari pengelanaan.

Sekarang, andai para habaib dan ulama tidak keluar dari tempat peraduan mereka untuk mendatangi pelosok-pelosok dan tempat-tempat jauh, mana tahu mereka ada masyarakat yang mengalami kekosongan ilmu dan spiritual? Habib Umar dari Hadramaut bisalah disebut sebagai salah satu contoh dari banyak dai pengelana yang kita punya di zaman ini.

Karena itu, pergi dan pergilah. Tengoklah saudara-saudara sesama muslim kita. Siapa tahu, ada di antara mereka yang kekurangan, kelaparan. Galang solidaritas karena mereka adalah saudara kita juga, meski mereka berlainan suku dan kebangsaan.

Siapa tahu ada di antara mereka yang selama ini telantar, tak terperhatikan, kurang bimbingan, sehingga keberagamaan mereka mengalami erosi. Atau, jangan-jangan malah ada ancaman yang sedang mengintai iman mereka.

Siapa tahu ada di antara mereka yang tertindas, terzhalimi. Nabi s.a.w. bersabda:

اُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا َأوْ مَظْلُومًا

“Bantulah saudaramu, baik dalam keadaan zhalim (dengan melarang dia mengeruskan kezhalimannya) maupun dalam keadaan terzhalimi.”

Banyak komunitas muslim yang tertindas, sementara api solidaritas umat semakin meredup. Kita, misalnya, semakin tidak peduli terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di Irak, Afghanistan dan Palestina.

Pergi dan pergilah. Siapa tahu ada tempat-tempat mulia dan penting yang merana. Mungkin berupa masjid, mushalla, atau lembaga-lembaga pendidikan. Sebagai contoh, Masjidil Aqsha di Palestina adalah salah satu dari tiga masjid yang dengan sangat jelas disebut oleh Nabi s.a.w. sebagai tempat-tempat suci, yang baik untuk dikunjungi. Kini, keberadaan masjid tersebut sedang dalam ancaman.

Makanya, pergi dan pergilah dari tempatmu kini, temuilah saudara-saudaramu dari lain-lain tempat, dan rasakan bahwa kamu adalah bagian dari masyarakat muslim dunia yang beragam. Semangat seperti ini harus senantiasa dihidupkan. Paling tidak setahun sekali. Jangan sampai redup, apalagi padam. Begitulah pesan dari amal ibadah haji, khususnya dari pelaksanaan wuquf di Arafah. Hamid Ahmad

Adab-Adab Menulis di Blog, Laman Forum dan Facebook Menurut Perspektif Islam (3)
Dicatat oleh al-’Abd al-Da’if: pada 28.10.09
4. Menutur Bahasa yang Betul

Pemilihan bahasa menurut tatabahasa yang betul adalah suatu perkara yang harus dipraktiskan agar bahasa tersebut tidak menjadi rosak. Namun, apa yang berlaku di kalangan generasi moden kebanyakannya pada masa kini amat memeningkan ahli-ahli bahasa, maksudnya bahasa Melayu dalam konteks masyarakat kita sekarang ini. Terutama apabila menggunakan bahasa-bahasa yang bercampur dengan bahasa Inggeris, bahasa pasar, bahasa caca-merba, bahasa-kependekan yang dicipta sendiri dan sebagainya sehingga benar-benar menjadi bahasa ‘rojak’. Ini sebenarnya merupakan sejenis isu yang mungkin dianggap kecil atau enteng oleh setengah orang, yang hakikatnya memalukan ahli-ahli bahasa dan bangsa yang menggunakan bahasa itu sendiri apabila kecemerlangan bahasanya dimiliki oleh bangsa lain.

Daripada Anas bin Malik RA, sabda Rasulullah SAW:

‏مَا كَانَ ‏ ‏ الْفُحْشُ ‏ ‏فِي شَيْءٍ إِلَّا ‏ ‏شَانَهُ ‏ ‏وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
Terjemahan: “Tidaklah ada suatu pertuturan yang buruk pada sesuatu itu melainkan ia akan mengaibkannya, dan tidaklah ada sifat malu pada sesuatu itu melainkan ia akan mengindahkannya”.(Riwayat al-Tirmizi: 1897, katanya: Hadith Hasan Gharib)

Bertutur dengan bahasa yang betul, termasuk mengeja dengan ejaan standard, dapat mencerminkan peribadi seseorang itu. Lihatlah bagaimana cara Rasulullah SAW berbicara sepertimana yang diriwayatkan oleh ‘A’isyah RA, katanya:

كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏كَلَامًا ‏ ‏ فَصْلًا ‏ ‏ يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ ‏
Terjemahan: “Percakapan Rasulullah SAW adalah percakapan yang jelas-nyata, yang dapat difahami oleh semua orang yang mendengarnya”. (Riwayat Abu Dawud: 4199)

Sumber : http://sawanih.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 13 November 2010

Pengajian Kitab Bersama Syeikh Ahmad Fahmi Zamzam al-Banjari

Posted by: Habib Ahmad | 13 November 2010

PENGAJIAN KITAB SAIRUSSALIKIN

PENGAJIAN KITAB SAIRUSSALIKIN

PENGAJIAN KITAB SIYARUS SAALIKIN
.
Bersama :

SHEIKH AHMAD FAHMI ZAMZAM AL-MALIKI AN-NADWI
.
pada :
14 NOV 2010 (Ahad)
5 DIS 2010 (AHAD)

masa :
JAM 9.00 PAGI – 12.30 TGHR

.
tempat :
Dewan Solat MAF

yang telah lepas:
25 OKTOBER 2009 (ahad). 15 NOVEMBER 2009 (ahad). 13 DISEMBER 2009 (ahad). 27 DISEMBER 2009 (ahad) = 10 MUHARRAM 1431. 24 JANUARI 2010 (ahad). 25 FEBRUARI 2010 (khamis) {sempena Maulidurrasul.}. 21 mac 2010 (ahad). 18 April 2010 (ahad). 2 MEI 2010 (ahad). 13 JUN 2010 (AHAD). 11 JULAI (AHAD). 8 OGOS (AHAD). 29 OGOS (AHAD). 5 SEPT ( AHAD) – DIBATALKAN DAN DIAWALKAN PADA 29 OGOS . 10 OKT 2010 (AHAD),

.
edaran: http://www.alfalahusj9.blogspot.com/

Posted by: Habib Ahmad | 13 November 2010

Dapatkan Majalah Al Kisah terkini

Posted by: Habib Ahmad | 13 November 2010

JUALAN AMAL

Adab-Adab Menulis di Blog, Laman Forum dan Facebook Menurut Perspektif Islam (4)
Dicatat oleh al-’Abd al-Da’if: pada 29.10.09
5. Menjaga Maruah dan Harga Diri

Ada setengah penulis yang menggunakan nama sebenar, dan ada setengahnya yang hanya menggunakan nama samaran sahaja. Penulis yang menggunakan nama sebenar ini menunjukkan sifat keberanian, keyakinan dan bertanggungjawab terhadap apa yang dicoretnya. Namun, jika apa yang ditulisnya itu tidak menurut lunas-lunas yang betul atau mengandung moral yang tidak baik, ini hanya akan menyebabkan maruah dirinya jatuh dan dipandang rendah oleh orang lain, walau sebesar dan segah mana sekalipun namanya.

Manakala penulis yang menggunakan nama samaran, ada dua tafsiran yang dapat diberi, sama ada dia bersifat rendah diri atau bersifat takut diketahui orang akan dirinya yang sebenar kerana berbagai-bagai faktor. Tidak sedikit juga tulisan-tulisan yang menggunakan nama samaran ini yang agak baik, berfaedah dan memberi manfaat. Namun, jika hendak dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang berbentuk ekstrim dan melampau, berbaur fitnah, mengata dan mengumpat orang, meluas jurang pertelingkahan, mendorong nafsu syahwat, penuh dengan kata nista atau moral yang keji, menyongsang arus dan sebagainya, boleh dikatakan bahan-bahan negatif seperti demikian lebih besar lagi jumlahnya. Inilah antara faktor negatif kenapa mereka takut untuk meletakkan nama sebenar, agar mudah untuk ‘baling batu, sembunyi tangan’ seperti kata pepatah. Meskipun dia dapat menjaga maruah dan harga dirinya kerana tidak diketahui orang, namun apakah dia menyangka bahawa maruah dan harga dirinya tidak jatuh di sisi Allah SWT? Maka tulisan-tulisan yang sebegini semestinya dijauhi dan dipulaukan.

Daripada Abu Mas’ud RA, sabda Rasulullah SAW:

‏إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى ‏ ‏ إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ
Terjemahan: “Sesungguhnya antara perkataan hikmah yang diwarisi orang daripada perkataan kenabian yang pertama ialah; Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang kamu suka”. (Riwayat Abu Dawud: 4164)

Termasuk dalam masalah ini ialah pemaparan imej-imej yang bercanggah dengan syarak. Orang muslim yang berakal tidak sewajarnya memuat-turun atau menyebarkan gambar-gambar yang menyalahi syariat Islam di dalam tulisan-tulisan atau entri-entri yang dipaparkan. Keprihatinan seperti ini menunjukkan akhlak tinggi seseorang itu, dan sebaliknya sikap sambil lewa pula menunjukkan kerendahan imej diri seseorang itu sebagai seorang muslim

« Kiriman-Kiriman Berikutnya - Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 686 other followers