Posted by: Habib Ahmad | 21 Januari 2011

Majalah Al Kisah Terkini

Posted by: Habib Ahmad | 21 Januari 2011

Kisah indah Ibnu Hajar dengan Seorang Yahudi .

Kisah indah Ibnu Hajar dengan Seorang Yahudi tafsir hadist “addunya sijnul mukmin wa jannatul kafir”. kitab “Fathul Majid” bab sifat jaiz Allah karya Imam Nawawi Al Bantani.
Published on January 11, 2011 in Artikel Islam. 0 Comments
Ibnu Hajar rahimahullah dulu adalah seorang hakim besar Mesir di masanya. Beliau jika pergi ke tempat kerjanya berangkat dengan naik kereta yang ditarik oleh kuda-kuda atau keledai-keledai dalam sebuah arak-arakan.

Pada suatu hari beliau dengan keretanya melewati seorang yahudi Mesir. Si yahudi itu adalah seorang penjual minyak. Sebagaimana kebiasaan tukang minyak, si yahudi itu pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan itu, si yahudi itu menghadang dan menghentikannya. Si yahudi itu berkata kepada Ibnu Hajar:

“Sesungguhnya Nabi kalian berkata: ” Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir. ” (HR. Muslim). Namun kenapa engkau sebagai seorang beriman menjadi seorang hakim besar di Mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam kenikmatan seperti ini.

Sedang aku –yang kafir- dalam penderitaan dan kesengsaran seperti ini.” Maka Ibnu Hajar menjawab: “Aku dengan keadaanku yang penuh dengan kemewahan dan kenimatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedang penderitaan yang kau alami di dunia ini dibandingkan dengan yang adzab neraka itu seperti sebuah surga.”

Maka si yahudi itupun kemudian langsung mengucapkan syahadat: “Asyhadu anlailaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad rasulullah,” tanpa berpikir panjang langsung masuk Islam.

Posted by: Habib Ahmad | 21 Januari 2011

Habib Ali yang digeruni Wahabi

Habib Ali yang digeruni Wahabi

Habib Ali Al-Jufri lahir di kota Jeddah, Arab Saudi, menjelang fajar, pada hari Jum’at 16 April 1971 (20 Shafar 1391 H). Ayahnya adalah Habib Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Alwi Al-Jufri, sedangkan ibundanya Syarifah Marumah binti Hasan bin Alwi binti Hasan bin Alwi bin Ali Al-Jufri.menimba ilmu dari para tokoh besar. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf adalah salah seorang guru utamanya. Kepadanya ia membaca dan mendengarkan pembacaan kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, Tajrid Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, dan kitab-kitab penting lainnya. Cukup lama Habib Ali belajar kepadanya, sejak usia 10 tahun hingga berusia 21 tahun.juga berguru kepada Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, ulama terkemuka dan penulis karya-karya terkenal. Di antara kitab yang dibacanya kepadanya adalah Idhah Asrar `Ulum Al-Muqarrabin. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki juga salah seorang gurunya. Kepadanya ia mempelajari kitab-kitab musthalah hadits, ushul, dan sirah. Sedangkan kepada Habib Hamid bin Alwi bin Thahir Al-Haddad, ia membaca Al-Mukhtashar Al-Lathif dan Bidayah Al-Hidayah.Ia pun selama lebih dari empat tahun menimba ilmu kepada Habib Abu Bakar Al-`Adni bin Ali Al-Masyhur, dengan membaca dan mendengarkan kitab Sunan Ibnu Majah, Ar-Risalah Al-Jami`ah, Bidayah Al-Hidayah, Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah, Tafsir Al-Jalalain, Tanwir Al-Aghlas, Lathaif Al-Isyarat, Tafsir Ayat Al-Ahkam, dan Tafsir Al-Baghawi.

Pada tahun 1412 H (1991 M) Habib Ali mengikuti kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Shan`a, Yaman, hingga tahun 1414 H (1993 M).
Kemudian ia menetap di Tarim, Hadhramaut. Di sini ia belajar dan juga mendampingi Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz sejak tahun 1993 hingga 2003. Kepadanya, Habib Ali membaca dan menghadiri pembacaan kitab-kitab Shahih Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, Adab Suluk Al-Murid, Risalah Al-Mu`awanah, Minhaj Al-`Abidin, Al-`Iqd An-Nabawi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Al-Hikam, dan sebagainya.

Selain kepada mereka, ia pun menimba ilmu kepada para tokoh ulama lainnya, seperti Syaikh Umar bin Husain Al-Khathib, Syaikh Sayyid Mutawalli Asy-Sya`rawi, Syaikh Ismail bin Shadiq Al-Adawi di Al-Jami` Al-Husaini dan di Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir, juga Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim. Di samping itu, Habib Ali juga mengambil ijazah dari 300-an orang syaikh dalam berbagai cabang ilmu

Posted by: Habib Ahmad | 21 Januari 2011

Allah Pemberi Rezeki, Seorangpun Tidak Dilupakan

Allah Pemberi Rezeki, Seorangpun Tidak Dilupakan
Posted on Januari 21, 2011 by sulaiman
Dalam sebuah syair disebut ” Maha Suci Allah yang memberi rezeki kepada hambanya dan seorangpun dia tidak lupa.

Di zaman Nabi Allah Sulaiman berlaku satu peristiwa, apabila Nabi Allah Sulaiman nampak seekor semut melata di atas batu, lantas Nabi Allah Sulaiman merasa hairan bagaimana semut ini hendak hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir yang tandus.

Nabi Allah Sulaiman pun bertanya kepada semut:” Wahai semut apakah engkau yakin ada makanan yang cukup untuk kamu”.

Semut pun menjawab: “Rezeki di tangan ALLAH, aku percaya rezeki di tangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di padang pasir yang tandus ini ada rezeki untuk ku“.

Lantas Nabi Allah Sulaiman pun bertanya:” Wahai semut, berapa banyakkah engkau makan? Apakah yang engkau gemar makan? Dan banyak mana engkau makan dalam sebulan?“

Jawab semut:”Aku makan hanya sekadar sebiji gandum sebulan“.

Nabi Allah Sulaiman pun mencadangkan:”Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tak payah kamu melata di atas batu, aku boleh tolong”.

Nabi Allah Sulaiman pun mengambil satu bekas, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalam bekas; kemudian Nabi ambil gandum sebiji, dibubuh dalam bekas dan tutup bekas itu. Kemudian Nabi tinggal semut di dalam bekas dengan sebiji gandum selama satu bulan.

Bila cukup satu bulan Nabi Allah Sulaiman lihat gandum sebiji tadi hanya dimakan setengah sahaja oleh semut, lantas Nabi Allah Sulaiman menemplak semut: “Kamu rupanya berbohong pada aku!. Bulan lalu kamu kata kamu makan sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan tapi kamu makan setengah“.

Jawab semut:”Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apa pun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum sebulan, kerana makanan itu aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya daripada Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku.

Tetapi bila kamu masukkan aku dalam bekas yang tertutup, rezeki aku bergantung pada kamu dan aku tak percaya kepada kamu, sebab itulah aku makan setengah sahaja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa

Posted by: Habib Ahmad | 21 Januari 2011

Perkara: Kisah Peziarah Rasulullah

Perkara: Kisah Peziarah Rasulullah
Suatu ketika seorang Habaib dari Hadramaut ingin menunaikan ibadah haji dan berziaroh ke kakeknya Rasulullah SAW. Beliau berangkat dengan diiringi rombongan yang melepas kepergiannya. Seorang Sulton di Hadramaut, kerabat Habib tersebut, menitipkan Al Qur’an buatan tangan yang terkenal keindahannya di jazirah arab pada saat itu untuk disampaikan kepada raja
Saudi.

Sesampai di Saudi, Habib tersebut disambut hangat karena statusnya sebagai tamu negara. Setelah berhaji, beliau ziarah ke makam Rasulullah. Karena tak kuasa menahan kerinduannya kepada Rasulullah, beliau memeluk turbah Rasulullah. Beberapa pejabat negara yang melihat hal tersebut mengingkari hal tersebut dan berusaha mencegahnya sambil berkata, “Ini bid’ah dan dapat membawa kita kepada syirik.” Dengan penuh adab, Habib tersebut menurut dan tak membantah satu kata pun.

Beberapa hari kemudian, Habib tersebut diundang ke jamuan makan malam raja Saudi. Pada kesempatan itu beliau menyerahkan titipan hadiah Al Quran dari Sulton Hadramaut. Saking girang dan dipenuhi rasa bangga, Raja Saudi mencium Al Qur’an tersebut!

Berkatalah sang Habib, “Jangan kau cium Qur’an tersebut… Itu dapat membawa kita kepada syirik!” Sang raja menjawab, “Bukanlah Al Qur’an ini yang kucium, akan tetapi aku menciumnya karena ini adalah KALAMULLAH!”

Habib berkata, “Begitu pula aku, ketika aku mencium turbah Rasulullah, sesungguhnya Rasululullah-lah yang kucium! Sebagaimana seorang sahabat (Ukasyah) ketika menciumi punggung Rasulullah, tak lain adalah karena rasa cinta beliau kepada Rasulullah. Apakah itu syirik?!”

Tercengang sang raja tak mampu menjawab.

Kemudian Habib tersebut membaca suatu syiir yang berbunyi,

Marortu ‘alad diyaari diyaaro lailah
Uqobbilu dzal jidaari wa dzal jidaaro
Fa ma hubbud diyaar, syaghofna qolbi
Wa lakin hubbu man sakanad diyaro

Kulalui depan rumah laila (sang kekasih)
Kuciumi dinding2 rumahnya
Tidaklah kulakukan itu karena cintaku kepada rumahnya,
Namun karena cintaku kepada si penghuni rumah

Petikan Facebook

Posted by: Habib Ahmad | 19 Januari 2011

PERJALANAN DAKWAH HB MUNZIR ALMUSAWA : SAFARI 2000KM

P ERJALANAN DAKWAH HB MUNZIR ALMUSAWA
SAFARI 2.000 KM

Senin, 10 januari 2011

Selepas majelis kita di almunawar, kami sudah siaga, Munzir almusawa, Saeful Zahri, Muhammad Ruhiy, KH Ahmad baihaqi, dan Muhammad Ainiy. Walau hati hamba masih ragu, untuk menuju kediri silaturahmi sekaligus mengundang Ayahanda KH Idris Pimp Pondok Pesantren Lirboyo untuk hadir pd acara Maulid Akbar Majelis Rasulullah saw di Monas pd 15 februari 2011 (12 rabiul awal 1432 H), dan sekaligus perjalanan untuk menghadiri undangan Haul Akbar tahunan di pesantren Langitan, Tuban, oleh ayahanda KH Abdullah Faqih, sekaligus mengundang beliau pula untuk hadir ke maulid akbar kita tersebut.

Hati hamba masih ragu, apakah perjalanan ditempuh dengan kendaraan atau dengan pesawat pada hari rabu pagi, keraguan hati berubah menjadi kemantapan setelah selesai majelis di almunawar, pk 23.00wib kami memutuskan untuk meluncur dengan kendaraan pribadi, dengan perjalanan malam menuju Semarang sekitar 500km.

Sepanjang perjalanan dalam lindungan Allah swt dan segala puji Bagi Nya swt hingga kami tidak menemui hambatan sepanjang perjalanan, namun hujan deras mengguyur kami hampir sepanjang perjalanan membuat perjalanan tidak selalu bisa dengan kecepatan tinggi, kami berhenti beberapa kali, yaitu untuk mengisi bensin di awal pemberhentian tol cikampek, lalu kami meneruskan perjalanan dan berhenti untuk makan malam di restoran sabar jaya yang tidak jauh dari selepas keluar Tol cikampek dan beristirahat sejenak, lalu meneruskan perjalanan, kami shalat subuh dan sarapan pagi dan beristirahat di restoran Pringsewu, lalu meneruskan perjalanan menuju Semarang.

Pagi selasa, 11 januari 2011 pd pk 7.30 wib kami tiba di semarang

Kami beristirahat di penginapan sampai magrib, ketika adzan magrib kami shalat Jamak Qashr magrib dan isya, lalu meneruskan perjalanan menuju Kediri, ditempuh dengan jarak sekitar 320 km, kami mengarah jalur solo, namun tersesat ke jalur alternatif karena tertipu arah panah penunjuk jalan, tanpa kami ketahui bahwa jalan itu adalah jalan alternatif melewati gunung dan jalan kecil melewati karanggede, lalu melewati Sragen, lalu Maringan, lalu Ngawi, dan dari Ngawi kami kembali salah jalan karena tertipu arah penunjuk jalan, kami masuk jalur alternatif melewati Padas, Karangjati, caruban, baru kami menemui jalur jalan besar, menuju Kartosono dan kemudian menuju Kediri, perjalanan sekitar 320 km Semarang Kediri pun kami dalam lindungan Allah swt, perjalanan lancar penuh pertolongan Allah swt dan segala Puji bagi Nya swt, dan hujan sering turun mengguyur di perjalanan, kami tiba di kediri pk 23.00 wib, kami beristirahat dan makan malam di penginapan.

Rabu, 12 januari 2011, sore pk 15.30 wib

Selepas shalat ashar dengan Jamak Ta’khir dengan dhuhur, dan waktu setempat lebih maju beberapa belas menit dari waktu shalat di Jakarta, kami menuju Lirboyo, silaturahmi pada Ayahanda Kyai Idris, yang dikenal dengan Mbah Yai Idris lirboyo, pimpinan pondok pesantren yang merupakan salah satu dari ponpes terbesar di Indonesia, dengan santri pondok sebanyak 9.000 santri putra, dan ribuan santri putri, dan santri setempat menjadikan pesantren ini memiliki santri puluhan ribu, dan terus menyebarkan ribuan alumni setiap tahunnya ke penjuru Nusantara.

Ayahanda Kyai Idris yang sudah sepuh, dengan akhlak luhur dan mulia sudah menanti didepan pintu kediaman beliau, bersama sambutan hadroh santri dengan Thala’al badru alaina, sungguh akhlak Rasul saw yang jelas terlihat dari Kyai sepuh ini, tidak selayaknya beliau yang sepuh turut keluar menyambut hamba yang masih sangat muda, namun hal itu merupakan cermin budi pekerti Rasul saw dari beliau yang memimpin ratusan ribu santri yang sudah alumni dan masih nyantri ini,

Hamba dan kawan kawan dipersilahkan masuk, dengan jamuan jamuan makanan ringan, ramah tamah dengan keponakan keponakan beliau dan guru guru, lalu dalam ramah tamah beliau menyampaikan undangan untuk kehadiran hamba pada 9 sya’ban 1432 H, tepatnya Juli 2011, untuk acara akbar tahunan pesantren Lirboyo, berupa acara penutupan, yang selepasnya adalah liburan santri.

Hambapun mengajukan undangan maulid akbar kita, insya Allah 15 februari 2011 / 12 rabiul awal 1432 H, hamba sedikit kaku berhadapan dengan Kyai sepuh dan berakhlak luhur ini, lalu kami dipersilahkan menuju jamuan makan yang sudah disiapkan, kaget pula hamba dan terpesona karena semua hidangan adalah yang sering hamba memakannya, yaitu sari buah asli, sate, dan sop, serta roti maryam, disertai lontong dan nasi, dan ramah tamah berlangsung.

Ternyata ibunda santri, yaitu istri beliau, telah menghubungi KH Ahmad Baihaqi yang alumni Lirboyo, menanyakan apa makanan dan minuman yang disukai hamba, KH Ahmad baihaqi tak bisa menjawab karena hamba tidak mempunyai makanan kesukaan, namun ia hanya menyebut yang sering hamba makan/minum saja, maka disediakanlah makanan dan minuman tersebut, subhanallah…, keluarga nabawiy, kyai sepuh dan istri yang penuh keluhuran akhlak mulia sang Nabi saw.

Dalam ramah tamah dan jamuan makan tersebut, ayahanda Kyai idris menjelaskan bahwa setiap ramadhan, beliau mengutus 1.000 santri untuk keluar ke wilayah berdakwah, sampai ke sumatera dan lain lain untuk mengajari penduduk di wilayah, hukum hukum shalat, puasa, dan lain lain yang sebagian kaum muslimin dipelosok belum memahaminya, subhanallah..

Selanjutnya jamuan terakhir berupa minuman semacam kopi susu obat, dikirim dari malaysia untuk beliau, dan dihidangkan pula untuk hamba.

Selepas beberapa menit hamba pun pamitan, sudah cukup hamba menyita waktu kyai sepuh ini, hamba menyampaikan bahwa hamba ingin mengundang beliau, namun bingung bagaimana caranya, hamba ingin mengutus utusan saja, karena tak ingin mengganggu dan menyita waktu beliau dengan kunjungan hamba, namun terasa tidak sopan, maka hamba ingin langsung datang sendiri, namun risau mengganggu istirahat dan waktu ibadah beliau, akhirnya hamba memutuskan untuk datang langsung, dengan waktu kunjungan yang hamba persempit sesempit mungkin, namun ternyata jamuan jamuan beliau sangat luar biasa.

Hamba pamitan, dengan perasaan bagaikan menemukan ayah, hamba mencium tangan beliau berkali kali, dan mohon pamit, hamba tidak menyebut bahwa hamba setelah ini akan ziarah ke makam Almarhum Gus Maksum Al jauhari yang juga Kyai sepuh lirboyo, maksud hamba tidak ingin menyita waktu beliau pula, namun ketika kendaraan hamba mengarah ke makam, rupanya ayahanda kyai sepuh bertanya : habib mau kemana?, ketika dijelaskan akan ziarah, maka beliau segera naik kendaraan pribadi beliau menyusul untuk ziarah pula, hamba semakin malu dengan budi pekerti luhur ini, beliau yang sudah sepuh memaksakan diri keluar menuju makam pula, kami berziarah bersama, dan kemudian hamba diminta KH Ahmad baihaqi kunjung pada kediaman Gus Bidin, salah seorang penerus Alm Gus Maksum Aljauhari di ponpes Lirboyo, maka hamba setuju, dan itupun ayahanda Kyai sepuh turut menemani pula,

Hamba semakin risau dan bingung dengan akhlak ayahanda kyai sepuh ini, kemudian hamba pamitan dan kembali mencium tangan beliau dengan nikmat dan kembali ke Kediri, dan beliau saat hamba sudah di kendaraan, memanggil KH Ahmad baihaqi dan menanyakan tentang rencana kehadiran beliau di Maulid Akbar kita di monas, bahwa beliau sangat berkenan hadir, bahkan melalui hubungan telepon dengan habib ahmad bahar, beliau mengatakan “insya Allah saya akan hadir di acara maulid akbar Majelis Rasulullah saw, dan insya Allah akan hadir walaupun sedang sakit”, subhanallah…

Wahai Allah, panjangkan usia beliau dan istri, limpahi kesehatan dan afiah sempurna, jadikan niat luhur hamba dan beliau agar beliau dapat hadir di maulid akbar kami, limpahi keberkahan pada beliau dan keluarga, juga atas pesantren mulia ini, agar menjadi benteng Rasulullah saw, yang terus menelurkan ribuan alumni setiap tahunnya.

Hamba kembali ke Kediri.

Kamis, 13 januari 2011, pk 10.00 kami meluncur dari kediri menuju Pesantren Langitan, wilayah babat, kabupaten Tuban Jawa timur, pimpinan ayahanda KH Abdullah Faqih, perjalanan lancar dengan jarak tempuh sekitar 160 km, pukul 11.20 kami sudah tiba di Babat, namun karena macetnya lalu lintas sebab ratusan kendaraan yang menuju lokasi acara di Pesantren langitan, kami baru tiba di lokasi haul pukul 12.30wib.

Sambutan hangat dan desakan massa yang bersalaman tak bisa dihindari, satpol pp, kepolisian, bahkan staf angkatan darat dari Kodim pun kepayahan menertibkan desakan massa yang ingin bersalaman, hamba sudah kepayahan melewati desakan itu, tiba tiba semua desakan hilang, semua mundur dan menjauh, demikian pula para aparat, hamba yang masih terhuyung huyung terkena desakan massa menjadi kaget dan bertanya tanya, mereka semua menghindar mundur dan menghilang, hamba berdiri sendiri ditemani beberapa kyai dan putra ayahanda mbah yai Abdullah Faqih, maka putra beliau berkata : silahkan habib, ayahanda yai menanti habib…

Hamba lihat sosok sederhana dengan wajah bercahaya dan penuh wibawa, dan sangat rendah hati berdiri dihadapan hamba, hamba mencium tangannya dan beliau memeluk hamba, dalam hati hamba baru bisa menjawab : “o… inilah yang membuat desakan massa kabur menghilang, kewibawaan ayahanda kyai sepuh ini membuat mereka lari menghindar… subhanallah..

Hamba digandeng akrab oleh beliau untuk masuk ke kediaman beliau, kyai sepuh mendudukkan hamba disebelah beliau, lalu setelah duduk sejenak, hamba dipersilahkan makan siang yang sudah disiapkan dirumah sebelah, Yai Sepuh Ayahanda KH Abdullah Faqih sangat tawadhu (rendah hati), namun sangat karismatik dan berwibawa, tak satupun orang yang berdesakan berani menyalaminya kecuali para kyai sepuh.

Hamba masuk kerumah sebelah untuk makan siang bersama teman teman sekendaraan dari jakarta, lalu shalat dhuhur jamak taqdim dengan ashar, lalu hamba duduk saja dirumah itu, hamba merasa tidak pantas duduk dikediaman kyai sepuh bersama para ulama sepuh, sampai acara dimulai, hamba dipersilahkan masuk, hamba duduk sengaja sangat kepinggir namun putra putra yai sepuh yaitu KH abdullah bin Abdullah Faqih, dan KH Ubaidillah bin Abdullah Faqih, dengan sangat ramah dan penuh hormat meminta hamba duduk didepan dan ditengah, hamba jadi salah tingkah, lebih lagi ketika Kyai Sepuh Ayahanda KH Abdullah Faqih memasuki pendopo, ruangan acara yang dipenuhi ratusan kyai sepuh dan habaib itu sudah berusia ratusan tahun, dan sangat sejuk penuh sakinah.

Ayahanda KH Abdullah Faqih tidak memilih duduk terlalu ditengah, tapi memilih duduk disebelah hamba, semakin tercekik hati ini dengan perasaan malu duduk disebelah beliau.

Acara demi acara berlangsung, sampai waktu untuk tausiyah tausiyah, ketika hamba belum menyampaikan tausiyah hamba bertanya pada putra yai sepuh : Berapa lama waktu saya ceramah?, dijawab dengan lembut dan penuh hormat : terserah habib…, hamba kembali bertanya : biasanya ?, maka beliau menjawab : antara 20-30 menit..

Maka ketika hamba menyampaikan tausiyah, diakhiri dengan zikir jalalah bersama, hamba selesaikan sebelum 30 menit.

Sebelum hamba memasuki pendopo, hamba bertanya pada putra beliau, yaitu Gus Abdullah, bahwa hamba minta waktu bicara empat mata dengan Kyai sepuh setelah tausiyah, maka beliau mengatakan akan menyampaikannya pada ayahanda beliau.

Selepas hamba tausiyah, maka masih menanti kedatangan penceramah terakhir, dan putra beliau mendekati beliau dan berkata bahwa habib minta waktu bicara empat mata, maka dengan serta merta kyai sepuh tak lagi berfikir panjang, beliau langsung berdiri dan meninggalkan pendopo, mempersilahkan hamba masuk kerumah untuk memenuhi permintaan hamba, maka acarapun ditutup, bagi mereka jika Kyai sepuh sudah berdiri dari duduknya maka tanda acara selesai…, para kyai tak sepuh tak berani berdiri sebelum Kyai sepuh meninggalkan pendopo, setelah itu barulah mereka sebagian mulai berdiri dan bubar, sungguh luar biasa tata krama adab penghormatan pada ulama sepuh yang hamba temukan disana.

Hamba duduk berdua dengan Kyai sepuh Ayahanda KH Abdullah Faqih, beliau mempersilahkan dengan hormat hamba duduk disebelahnya, hamba menyampaikan undangan untuk beliau, dan sangat berharap kehadiran beliau di acara maulid akbar majelis Rasulullah saw di monas, 12 Rabiul Awal 1432H / Selasa pagi, 15 Februari 2011.

Beliau langsung mengulangi ucapan dengan penuh semangat : “kapan…?, kapan…?” hamba mengulangi tanggal dan jam acara, lalu menyerahkan undangannya, beliau berkata : Insya Allah saya hadir..

Lalu para kyai sepuh mulai berdatangan, hambapun bersimpuh mencium paha beliau dan pamitan, beliau tampak gemetar dan serba salah untuk berusaha menolak perbuatan penghormatan hamba, namun karena beliau sudah sepuh maka tak mampu menolak perbuatan hamba, lalu hamba mundur untuk undur diri dan pamitan, lalu diiringi oleh kedua putra beliau dan bersatu dengan para aparat kemanan menertibkan serbuan massa yang lebih dahsyat dari kedatangan, dalam gelombang serbuan ummat itu hamba sempat melirik beberapa pemuda memakai Jaket Majelis Rasulullah saw… subhanallah… mereka disinipun sudah ada..

Hamba menuju mobil dan langsung meneruskan perjalanan menuju pulang, melewati Tuban, rembang, direncanakan hamba tiba pada waktu magrib di semarang, dan pukul 21.00 wib sudah di Pekalongan, namun apa daya, hujan deras melanda, lalu jalur Pati – Kudus ditutup karena banjir, ratusan truk besar dan lain lain parkir tak bergerak, ketika kami bertanya pada masyarakat, mereka menunjukkan jalan alternatif menuju semarang dengan lintas Purwodadi, kamipun menempuhnya, jalan kecil, berliku liku, dan rusak, pula dilalui truk truk besar dan kontainer dan lain lain hingga padat merayap, waktu tak lagi bisa diprediksi, maka dengan sangat letih kami baru tiba di semarang pukul 23.00 wib, kami tak mampu meneruskan ke pekalongan karena semua sudah kelelahan, kami beristirahat di penginapan, dan hamba pun drop, hamba baru bisa meluncur dari keesokan harinya selepas magrib.

Jumat 14 januari 2011,

Selepas shalat magrib dan isya dengan jamak, kami meluncur menuju pulang, hujan deras dan padat merayap terus menghambat kecepatan laju kendaraan, kami tiba di Jakarta pukul 3.00 dinihari Sabtu 15 Januari 2011, saya melirik hitungan kilometer di kendaraan yang sengaja di Nol kan saat meluncur dari Lirboyo, hitungan kilometer berakhir pada angka 889 km di batas kota jakarta, berkisar 2.000 km perjalanan jauh ini, untuk menjumpai dua sosok ulama besar yang shalih, luas ilmu, dan berakhlak luhur, lembut, dan cermin budi pekerti Rasul saw.

Melalui percakapan telepon dengan habib Ahmad Bahar, Ayahanda KH Abdullah Faqih sangat malu karena hamba langsung pulang, beliau mengira hamba istirahat dulu dikediaman putra beliau disebelah kediaman beliau, beliau menyusul untuk menemui hamba kembali kerumah sebelah, namun dikatakan hamba sudah langsung pulang, beliau sempat kaget dan menyesal, beliau masih ingin duduk bercengkerama dengan hamba, namun sungguh hamba mengetahui betapa lelahnya beliau menghadapi acara akbar di Ponpes beliau, dan beliau menjanjikan pada habib Ahmad Bahar untuk insya Allah konfirm hadir di acara akbar, Monas, 12 Rabiul awal 1432 H bersama Majelis Rasulullah saw.

Kabar tentang rencana kedatangan Ayahanda KH Abdullah Faqih dan Ayahanda KH Idris Lirboyo ke acara Majelis Rasulullah saw di monas cepat tersebar, puluhan telpon terus menghujani kontak person di Jakarta, mereka dari banyak wilayah, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Bali, Banjarmasin, Banten, dan banyak lagi, akan berduyun duyun menuju Ibukota pada 15 februari 2011 untuk menghadiri acara Maulid Akbar Majelis Rasulullah saw di Monas.

Wahai Allah, panjangkanlah usia ayahanda KH Abdullah Faqih dan ayahanda KH Idris Lirboyo, dalam afiah dan rahmat dan keberkahan, juga para ulama, habaib, dan semua para khalifah penerus Rasul saw dibarat dan timur, amiin..

Wahai Allah, sukseskan acara kami di Monas, tanpa panas, tanpa hujan, aman, tertib, sakinah, dan luhur 12 Rabiul Awal 1432 H, sebagai hari doa di peringatan kelahiran Rasul saw, hari hijrah Rasul saw, dan hari wafat Rasul saw, jadikan Majelis Akbar ini sebagai Maulid terbesar di dunia, yang berdzikir padanya 1000X dzikir Ya Allah, bersama jutaan muslimin muslimat, para ulama, umara, tanpa panas, tanpa hujan, sejuk, aman, tertib, sakinah, damai, luhur dan menjadi Fatah pembuka seluruh pintu rahmat Mu dihari mendatang bagi kami, bagi kota Jakarta, Bagi Bangsa Kami, dan seluruh muslimin di barat dan timur, dunia dan akhirat, amiin.

Wahai Tuhan Pemilik hamba pendosa ini, jika acara ini sukses, hamba telah ridho jika kau panggil menghadap Mu, berpindah ke alam barzakh, hamba risau tak mampu meneruskan tanggungjawab luhur ini, hamba terlalu hina untuk memimpin ummat, maka hamba ridho untuk diwafatkan, jika keberadaan hamba di dunia akan membuat hamba salah langkah dalam menjalankan tanggungjawab dan tugas.. maka wafat lebih hamba pilih…

Namun jika Engkau Yang Maha Suci belum berkenan, maka hamba ridho atas keputusan Mu, namun hamba memejamkan mata atas apa yang hamba hadapi dari tantangan dan tanggungjawab yang semakin berat, tugas yang makin berbahaya.. maka kasihanilah hamba..

Hidup dan mati hamba, jiwa dan raga hamba, adalah demi bakti pada guru mulia hamba, dan bakti hamba pada guru mulia hamba adalah demi bakti hamba pada Rasul saw, dan bakti hamba pada Rasul saw adalah demi bakti hamba kepada Mu Wahai Yang Maha Kurindukan…

Wahai yang Maha Mendengar dan Mendalami perasaan hamba, kasihanilah jeritan kerinduan hati pendosa ini pada Mu dan pada kekasih Mu Muhammad saw, hampir membuat dada hamba meledak pecah karena tak lagi mampu menahannya.. maka kasihanilah hamba wahai Tuanku Yang Maha Luhur.., kutitipkan seluruh jamaaah Majelis Rasulullah saw di genggaman kelembutan Mu Yang Maha Berkasih sayang, lalu terserah pada Mu, apakah akan mengembalikan Nya pada pundak hamba pendosa ini, atau pada hamba Mu yang lebih luhur…, layaknya Engkau memberikannya pada hamba yang lebih mulia, bertanggungjawab, lembut, bijaksana, shalih, cerdik, luas ilmu… bukan pada si bodoh pendosa ini wahai Yang Maha Kurindukan..

Kubisikkan ucapan nama Mu yang terindah, Yang Berpadu pada Nama Mu segala nama hamba Mu yang merindukan Mu, mengalir airmata mereka pada samudera kerinduan pada Mu yang menjadi saksi abadi atas kerinduan mereka pada Mu, benamkan hamba pendosa ini didalamnya, tenggelam dalam lautan rindu.. lepas dari segala selain Mu.. amiin.. Yaa Allah..

Allah swt berfirman pada Nabi Dawud as : “Wahai Dawud, kalau saja para pendosa itu tahu betapa rindu Ku pada kembalinya mereka pada keridhoan Ku, betapa Cinta Ku untuk mereka jika ingin bertobat, dan betapa Hangat sambutan kasih sayang Ku jika mereka ingin meninggalkan kemungkaran, niscaya mereka akan mati dan terbang ruh nya kepada Ku karena Rindu pada Ku, Wahai Dawud, itulah perbuatan Ku pada mereka yang berpaling dari Ku jika ingin kembali, bagaimana sambutan Ku pada mereka yang merindukan Ku?”

Sabda Rasulullah saw : “Jika penduduk sorga telah masuk sorga, maka berfirman Allah swt Yang Maha luhur kemuliaan Nya : “ingin kah kalian kutambahkan sesuatu lagi?”, maka mereka berkata : “bukankah telah Kau jernihkan wajah kami dan membuat wajah kami bercahaya indah?, bukankah telah Kau masukkan kami ke sorga?, dan telah Kau selamatkan dari neraka?”, maka Rasul saw meneruskan : “Maka Allah membuka tabir yang menghalangi mereka dengan Allah swt, maka tiadalah mereka diberi suatu kenikmatan yang lebih mereka sukai dan nikmati dari memandang pada Tuhan mereka Yang Maha Agung dan Luhur”. (Shahih Bukhari

http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=322&Itemid=1

Posted by: Habib Ahmad | 19 Januari 2011

Pemimpin amanah lahirkan negara berkat

Pemimpin amanah lahirkan negara berkat
DIkirim oleh epondok di Januari 18, 2011

i Most Popular Content
All | Today | This Week | This Month
Desak siasat klip video paderi hina Islam di SarawakRated 5/5 (6 Votes)

Doa Harian Bulan RamadhanRated 5/5 (5 Votes)

Merebut Keistimewaan Lailatul QadarRated 5/5 (4 Votes)

create your own ratingRate This

Oleh Mohd Shukri Hanapi
Pemimpin amalkan sikap terpuji mampu jamin kesejahteraan, keharmonian masyarakat

PEMIMPIN adalah teladan kepada pengikutnya. Ketokohan dan keterampilan mereka dengan akhlak mulia sedikit sebanyak mempengaruhi corak pemerintahan seperti kepemimpinan Rasulullah yang berjaya menarik golongan bukan Islam memeluk Islam serta mentaati Baginda sebagai ketua negara.

Sebagai teladan, pemimpin perlu menunjukkan sahsiah yang baik dalam kepemimpinan dan kehidupan harian. Satu sifat diperlukan untuk melaksanakan segala dipertanggungjawabkan ialah amanah.

Amanah, sifat terpuji pada diri Rasulullah yang diberi gelaran al-Amin oleh Quraisy Makkah apabila meraih kepercayaan mereka dengan melaksanakan tuntutan diamanahkan. Apabila tanggungjawab dilaksanakan dengan sempurna, perasaan tenteram, aman, selamat dan harmonis akan dirasai.

Allah berfirman maksudnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada (orang) yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.

Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah al-Nisa’: Ayat 58).

Sesungguhnya seseorang yang mempunyai sifat amanah, tidak akan timbul di hatinya melakukan sebarang pengkhianatan atau penipuan terhadap perkara diamanahkan kepadanya.

Firman Allah bermaksud: “Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mengamanahkan kepadanya harta yang banyak, dikembalikan kepadamu; dan ada antara mereka orang yang jika kamu mengamanahkan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menuntutnya.” (Surah Ali-Imran: Ayat 75).

Konsep amanah luas, bukan berkait dengan tanggungjawab diberikan malah penjagaan diri, keluarga, hubungan sesama jiran dan masyarakat juga amanah yang perlu dipenuhi. Amanah terhadap diri sendiri seperti kewajipan menjaga kesihatan tubuh badan, menyediakan keperluan pakaian, makanan termasuk juga berusaha memperbaiki masa depan.

Amanah seorang ayah pula memelihara dan memberi didikan kepada anak serta membimbing mereka ke jalan diredai Allah.

Allah menawarkan amanah kepada semua makhluk tetapi hanya manusia bersedia memikul amanah itu menjadi khalifah yang mentadbir bumi.

Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya Kami menawarkan tanggungjawab memikul amanah kepada langit dan bumi serta gunung-ganang (untuk memikulnya) maka mereka enggan memikulnya dan bimbang tidak dapat menyempurnakannya (kerana tidak ada pada mereka persediaan untuk memikulnya); dan (pada ketika itu) manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya. (Ingatlah) sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka membuat perkara yang tidak patut dikerjakan.” (Surah al-Ahzab: Ayat 72).

Umat manusia tidak boleh melepaskan diri daripada menunaikan amanah terutama dalam menjalankan urusan pentadbiran menguruskan masyarakat yang semestinya dipelihara dan dikawal tanpa dicemari unsur merosakkan.

Sebarang kerosakan kepada urusan pentadbiran masyarakat perlu diperbaiki berdasarkan amanah diserahkan. Manusia perlu amanah kepada diri, keluarga, kerjaya dan negara di samping menunaikan amanah yang diserahkan agama.

Sebenarnya, kecuaian menjalankan tugas, menyalahgunakan kuasa dan kedudukan, melakukan tugas peribadi dengan berselindung di sebalik tugas rasmi boleh meruntuhkan kesejahteraan serta keharmonian masyarakat.

Masyarakat boleh kucar-kacir, porak-peranda dan tidak puas hati disebabkan perbuatan tidak amanah.

Rasulullah bersabda bermaksud: “Apabila amanah itu disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Lalu sahabat bertanya: Bagaimana mensia-siakannya? Rasulullah menjawab: Apabila sesuatu jawatan diserahkan kepada orang yang bukan ahli, maka tunggulah saat kehancurannya.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

Amanah ialah tanggungjawab yang tidak boleh dipersoalkan seperti difahami daripada sabda Rasulullah bermaksud: “Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan bertanggungjawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seseorang pemerintah adalah pemimpin manusia dan dia akan bertanggungjawab terhadap rakyatnya.

Seorang suami adalah pemimpin bagi ahli keluarganya dan dia akan bertanggungjawab terhadap mereka. Manakala seorang isteri adalah pemimpin rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dia akan bertanggungjawab terhadap mereka.

Seorang hamba adalah penjaga harta tuannya dan dia juga akan bertanggungjawab terhadap jagaannya. Ingatlah, kamu semua adalah pemimpin dan akan bertanggungjawab terhadap apa yang kamu pimpin.” (Hadis riwayat Muslim).

Posted by: Habib Ahmad | 19 Januari 2011

Program Wacana Ilmu

Program Wacana Ilmu
Last edited by Tamingsari® at 17-1-2011 02:13 PM

PERSATUAN KELUARGA JAMALULLAIL PERAK MALAYSIA
dengan kerjasama
JABATAN HAL EHWAL KHAS PERAK (JASA)
akan menganjurkan
syarahan bertajuk

“TAMADUN ISLAM DAN ALAM MELAYU”

Oleh Penceramah Jemputan :
YM Al Habib Hasan bin Muhammad Al Attas
(Imam Masjid Ba’alawi, Singapura)

YBhg. Tan Sri Hassan Azhari
(Penceramah bebas – bekas murid Sayyid Abu Bakar As-Saggaf, Singapura)

Dirasmikan oleh :

Dato’ Seri Fuad bin Tan Sri Hassan Azahari
Pengarah JASA Malaysia

bertempat di
Dewan Konvensyen Sungai Siput Utara, Perak Darul Ridzuan

pada
Ahad, 23 Januari 2011

waktu
7:30pagi – 2:00petang

Semua adalah dijemput hadir khususnya dari kalangan sadah serta muslimin dan muslimat amnya.

Posted by: Habib Ahmad | 19 Januari 2011

MAJLIS BERSAMA ULAMA SYIRIA SYEIKH MUHAMMAD KURAYYIM RAJIH

MAJLIS BERSAMA ULAMA SYIRIA
SYEIKH MUHAMMAD KURAYYIM RAJIH
Syaikhul Qurra’ Asy-Syamiy
(Ketua Ulama al-Quran di Syiria)

DI MASJID AL-FALAH USJ 9

pada :
RABU , 19 JAN 2011
LEPAS MAGHRIB
(jadual asal pada Isnin 17 jan tetapi ditunda ke tarikh baru seperti di atas)

biodata ringkas : (dipetik dari pada : http://www.islam-dz.com/vb/t1761.html )

* Lahir pada tahun 1344 h = 1926 m di Hayyul Maidan, Damsyik, Syiria .
* Mula mempelajari dan menghafaz al-Quran semenjak kecilnya dengan Ibunya sendiri yg seorang alimah.
* Kemudian berpindah berguru kepada masyaikh , antaranya: Syeikh Yaasin az-Zarzuur, Syeikh Hasan Habannakah (Ulama terkemuka ketika itu), Syeikh Husain Khitab, Syeikh Sulaim al-Hilwaniy (Syeikh Qurra ketika itu).
* Mendalami pengajian Qiraat Sepuluh Kecil (Toriq Syathibiyyah dan ad-Durrah) dengan: Syeikh Sulaim al-Hilwaniy. kemudian dengan Syeikh Ahmad Sulaim al-Hilwaniy (setelah wafat ayahnya). kemudian dengan Syeikh Mahmud Faiz Ad-Dir ‘Atthoniy dan ramai lagi.
* Meneruskan pengajian Qiraat sepuluh Besar (Toriq Toyyibah) dengan Syeikh Abdul Qadir Quwaydir .
* Diisytiharkan sebagai Syeikhul Qurra’ pada tahun 1408 h oleh Syeikh Abdul Razzak al-Halabi (Ulama Besar ketika itu) di Masjid Bani Umaiyyah (Masjid Utama di Damsyik), setelah dipersetujui oleh para Ulama dan para Qurra ketika itu termasuk Syeikh Abul Hasan al-Kurdiy dan lainnya.
* Kekallah beliau sebagai Syeikh Qurra hingga kini .
* Beliau menjadi Pakar Rujuk di dalam bidang Qiraat di negara Syiria dan seleruh dunia amnya .
* Sehingga dengan bantuan beliau terhasilnya kitab: Qiraat Sepuluh yang Mutawatir (dijadikan rujukan utama pengajian Qiraat al-Quran) dan al-Muyassar Qiraat Empat Belas .. lihat gambar di bawah :
* Karangan beliau : Ringgkasan Tafsir Ibnu Kathir , Ringkasan Tafsir al-Qurthubi, Audhohul Bayan Fis Syarhi Wat Tafsir al-Quran dan lain-lain.
* Antara murid beliau yang terkenal adalah : Syeikh Muhammad Fahad Kharuf (juga menantu beliau), Taufiq Haddad, Yusof Farih , Muhammad as-Syafii’
* Giat menyebarkan dakwah : Mengajar di Maahad al-Fath al-Islami di Damsyik (bahagian Takhassus). Memberi fatwa di masjid-masjid sekitar Damsyik , seperti Masjid al-Hasan dan Masjid al-Mansur .
* Semoga Allah panjangkan umur beliau dan dikurniakan keberkatan dan rahmat Ilahi di dalan usaha dan khitmad beliau untuk Islam dan umatnya , khususnya untuk al-Quran .
* Diharapkan ziarah beliau buat kali pertama ini akan menghasilkan faedah yang banyak dan berjaya dimanfaatkan oleh umat Islam di negara ini.

Tuan puan adalah dijemput hadir dan tolong sebar-sebarkan maklumat ini.
wassalam

edaran : http://www.alfalahusj9.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 17 Januari 2011

Habib Sangeng al-Haddad

Habib Sangeng al-Haddad

Beliau adalah Habib ‘Abdullah bin ‘Ali bin Hasan bin Husain bin Ahmad bin Hasan bin Shohibur Ratib Habib ‘Abdullah al-Haddad.

Dilahirkan pada tanggal 2 Shafar al-Khair 1261H di Kota Hawi, Tarim, Hadhramaut. Habib ‘Abdullah bin ‘Ali al-Haddad @ Habib Sangeng lahir dalam keluarga yang kuat berpegang dengan agama, keluarga keharuman ahlul bait dan kewalian semerbak mewangi. Sejak kecil lagi beliau dididik dan diasuh sendiri oleh ayahanda beliau sehingga dalam usia kecil tersebut beliau telah hafal al-Quran.

Kemudian beliau berguru pula dengan berbilang ulama besar di Hadhramaut, antara guru beliau adalah:-

1. Habib ‘Abdur Rahman al-Masyhur, mufti Hadhramaut, pengarang kitab “Bughyatul Mustarsyidin”;
2. Habib ‘Umar bin Hasan al-Haddad;
3. Habib ‘Aidrus bin Umar al-Habsyi, pengarang “Iqdul Yawaaqit”;
4. Habib Muhsin bin ‘Alwi as-Saqqaf;
5. Habib Muhammad bin Ibrahim BilFaqih;
6. Habib Thahir bin ‘Umar al-Haddad;
7. Syaikh Muhammad bin ‘Abdullah BaSaudan;
8. Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar;

Pada tahun 1295 H, berangkatlah beliau menuju ke Haramain untuk menunaikan ibadah haji. Di kota Makkah, beliau tinggal di kediaman Al-Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi, ayahanda Shohibul Mawlid Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi, yang berada di daerah Jarwal. Di sana keduanya saling mengisi dengan membaca bersama-sama kitab-kitab agama. Pada saat di kota Madinah, beliau bertemu dengan Asy-Syaikh Muhammad Abdul Mu”thi bin Muhammad Al-‘Azab, seorang faqih dan pakar bahasa dan kesusasteraan Arab, serta pengarang kitab Mawlid al-‘Azab. Di sana juga keduanya saling mengisi dengan saling memberikan ijazah. Di Kota Madinah juga, kemuliaan dan ketinggian maqam beliau tersingkap apabila Mufti Haramain, Sayyid ‘Umar Syatha datang kepada beliau dan sangat-sangat memuliakan beliau. Diceritakan bahawa sebelumnya, Sayyid ‘Umar telah bermimpikan Junjungan Nabi SAW yang memerintahkan beliau untuk menziarahi Habib ‘Abdullah bin ‘Ali al-Haddad dan Junjungan SAW turut memaklumkannya bahawa Habib ‘Abdullah al-Haddad ini adalah cucu baginda yang sebenar.

Pada tahun 1297 H, beliau melakukan hijrah dalam rangka berdakwah ke negeri Melayu. Tempat awal yang beliau tuju adalah Singapura, kemudian beliau menuju ke Johor. Di Johor beliau tinggal selama 4 tahun. Setelah itu beliau meneruskan perjalanan dakwahnya ke pulau Jawa. Sampailah beliau di daerah Betawi. Beliau lalu meneruskan perjalanan ke kota Bogor, Solo dan Surabaya. Beliau tidak tertarik tinggal di kota-kota tersebut, walaupun diajak penduduk setempat untuk menetap di kotanya.

Sampai akhirnya pada tahun 1301 H, tepatnya akhir Syawal, beliau tiba di kota Bangil. Disanalah beliau menemukan tempat yang cocok untuk menetap dan berdakwah. Mulailah beliau membuka majlis taklim dan rauhah di kediaman beliau di kota Bangil. Beliau juga mengembangkan dakwah Islamiyyah di daerah-daerah lain di sekitar kota Bangil. Di sana juga beliau mengamalkan ilmunya dengan mengajar kepada murid-murid beliau. Keberadaan beliau di kota Bangil banyak membawa kemanfaatan bagi masyarakat di kota tersebut. Tidak jarang pula, masyarakat dari luar kota datang ke kota itu dengan tujuan untuk mengambil manfaat dari beliau. Di antara murid-murid beliau yang menjadi ulama dan kiyai besar adalah:-

1. Kiyai Kholil Bangkalan;
2. Kiyai Zayadi;
3. Kiyai Husein;
4. Kiyai Mustafa;
5. Kiyai Muhammad Thahir;
6. Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar;
7. Habib ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad;
8. Habib ‘Ali bin Abdur Rahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang);
9. Habib Ahmad bin Muhsin al-Haddar.

Beliau juga ada mengarang beberapa karya tulis, antaranya:-

1. Hujjatul Mukminin fit Tawassul bi Sayyidil Mursalin;
2. Maulidil Haddad, nazam maulid Junjungan Nabi SAW.

Habib ‘Abdullah bin Ali al-Haddad adalah seorang yang sangat pemurah dan sangat memperhatikan para fakir miskin. Bahkan setelah bermastautin di Kota Bangil, beliau bukan sahaja menyara keluarga dan murid-muridnya bahkan puluhan lagi keluarga miskin yang berada di sekitarnya dibiayai belanja mereka pada setiap bulan. Dan sering pada waktu malam, ketika orang tidur, beliau akan meronda sekitar Kota Bangil untuk mencari orang yang perlukan bantuan.

Habib ‘Abdullah adalah seorang yang tidak suka dengan kemasyhuran. Beliau tidak suka difoto atau dilukis. Beberapa kali dicoba untuk difoto tanpa sepengetahuan beliau, tetapi foto tersebut tidak jadi atau rusak. Beliau adalah seorang yang mempunyai sifat tawadhu. Beliau selalu menekankan kepada para muridnya untuk tidak takabur, sombong dan riya. Dakwah yang beliau jalankan adalah semata-mata hanya mengharapkan keridhaan Allah Azza wa Jalla. Dan inilah bendera dakwah beliau yang tidak lain itu semua mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh para pendahulunya.

Pada hari Jum’at, 15 Shafar 1331 H, sesudah melaksanakan shalat Ashar, berpulanglah Habib ‘Abdullah bin ‘Ali al-Haddad kepada Tuhan Rabbul Alamin dengan amal baik beliau yang beliau tanam semasa hidupnya. Beliau disemadikan di daerah Sangeng, Bangil. Moga-moga Allah meredhai dan merahmatinya sentiasa dan menghubungkan keberkatan beliau kepada kita sekalian…. al-Fatihah.

*********************************************
Qasidah karangan Habib Sangeng

Dikatakan bahawa bait-bait istighatsah ini adalah mujarrab sebagai wasilah untuk menarik rezeki, menyembuhkan penyakit, menolak bala`, fitnah, pancaroba, wabak dan kejahatan musuh. Boleh dibaca setiap malam selepas membaca ratib

JADUAL TAFAQQUH FIDDIN BERSAMA SYEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU AL-BANJARI AL-MAKKI حفظه الله – SHAFAR 1432H/JANUARI 2011

10 SHAFAR/15 JANUARI 2011 (SABTU)

KULIAH MAGHRIB DI MASJID KOTA DAMANSARA
11 SHAFAR/16 JANUARI 2011 (AHAD)
KULIAH SHUBUH DI MASJID KOTA DAMANSARA;
ZIKIR, MUNAJAT, TAUSIYAH, SOAL-JWB ISU SEMASA DI MASJID NEGERI SHAH ALAM SELANGOR (9.00 – 11.00 PAGI)
KULIAH MAGHRIB DI MASJID AT-TAQWA, TAMAN TUN DR. ISMAIL
12 SHAFAR/ 17 JANUARI 2011 (ISNIN)
KULIAH MAGHRIB DI MASJID AL-GHUFRAN, TAMAN TUN DR. ISMAIL
13 SHAFAR/ 18 JANUARI 2011 (SELASA)
WACANA ILMU DI JABATAN AGAMA ISLAM WILAYAH – JAWI, 9.30 PAGI – 11.30 PAGI
KULIAH MAGHRIB DI SURAU SURADA, BANDAR BARU BANGI
14 SHAFAR/ 19 JANUARI 2011 (RABU)
WACANA ILMU DI MASJID WILAYAH PERSEKUTUAN (9.30 – 11.30 PAGI)
KULIAH MAGHRIB DI MASJID PANDAN DALAM

MUSLIMIN DAN MUSLIMAT DIJEMPUT HADIR

SEBARANG PERUBAHAN INSYAALLAH AKAN DIMAKLUMKAN. OLEH ITU SILA RUJUK/SEMAK JADUAL PROGRAM

Perkara: Pengajian di Ba’alawi KL Minggu Ini (14/1 -16/1/2011)
Assalamualaikum,

Pengajian di Ba’alawi KL pada minggu ini adalah seperti berikut :-

Hari : Jumaat malam Sabtu (Lepas Isyak)
Tarikh : 14/1/2011
Guru : Tuan Guru Baba Aziz
Kitab : Qathrul Ghosiah

Hari : Sabtu (Dhuha)(10:00am)
Tarikh : 15/1/2011
Guru : Tuan Guru Baba Aziz
Kitab : Qathrul Ghosiah

Hari : Sabtu malam Ahad (8.00pm)
Tarikh : 15/1/2011
Guru : Tuan Guru Baba Aziz
Kitab : Qathrul Ghosiah

Hari : Ahad (Dhuha)(10.00am)
Tarikh : 16/1/2011
Guru : Tuan Guru Baba Aziz
Kitab : Qathrul Ghosiah

Hari : Ahad malam Isnin( Lepas Maghrib)
Tarikh : 16/1/2011
Guru : Habib Ali Zainal Abidin
Kitab : Tafsir Quran Surah Yusof

Mohon dipanjang-panjangkan kepada jemaah yang lain. Jazakallah

Posted by: Habib Ahmad | 14 Januari 2011

Program Bedah Buku 6 Perkara Asas Memahami Khilafiyyah, di UKM

Program Bedah Buku 6 Perkara Asas Memahami Khilafiyyah

Posted by: Habib Ahmad | 14 Januari 2011

Syeikh Habib Umar Ziarah Tuan Guru Hj Hashim Pasir Tumboh

Syeikh Habib Umar Ziarah Tuan Guru Hj Hashim Pasir Tumboh

12 JAN – Ulama’ terkenal Yaman dan peringkat Antarabangsa iaitu Syeikh Habib Umar al-Hafiz dalam kesibukan dan kepadatan jadual sepanjang berada di Kelantan namun dapat meluangkan masa untuk datang menziarahi Tuan Guru Hj Hashim Mudir Pondok Pasir Tumboh yang sedang uzur dan baru kematian isteri tercinta pada hari Ahad lepas. Sebelum itu beliau menziarahi Menteri Besar Kelantan di pejabat rasminya dan kemudiannya terus ke Pondok Pasir Tumboh. Kedatangan beliau disambut oleh pelajar dan warga pondok yang tidak melepaskan peluang untuk bersalaman dengan beliau

Posted by: Habib Ahmad | 13 Januari 2011

Program Tahsinussolah di Yayasan Al-Jenderami 2011

Program Tahsinussolah di Yayasan Al-Jenderami 2011
Monday, 10 January 2011 09:24
Yayasan Al Jenderami akan mengadakan TAHSINUS SOLAH (Pemurnian Sembahyang) terbuka kepada remaja lelaki berumur 17-21 tahun.

Bilangan peserta adalah terhad kepada 50 orang sahaja.

Pada : 23-27 Januari 2011 ( Isnin-Jumaat)
Bertempat : Kompleks YARA Retreat ,Yayasan Al Jenderami
Bayaran : RM 250.00 seorang
Pendaftaran : 23 Januari 2011 , Ahad jam 2.45 ptg
Tarikh tutup : 22 Januari 2011

Untuk lebih lanjut sila berhubung dengan :-

Tuan Hj. Ahmad Roee Abidin – hp 0133608185
Tuan Hj. Yusuff Omar – hp 0122106409
Saudara Azahari Abd. Aziz – hp 0193855000

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 741 other followers