Jawapan Prof Dr As Sayyid Muhammad Al Maliki tentang Maulidurrasul s.a.w

Jawapan Prof Dr As Sayyid Muhammad Al Maliki tentang Maulidurrasul s.a.w

Sumber:http://madinatulilmi.com 

Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia islam, kaum muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara dan adat yang mungkin beraneka ragam dan berbeda-beda. Tetapi tetap pada satu tujuan, yaitu memperingati kelahiran Nabi mereka dan menunjukkan rasa suka cita dan bergembira dengan kelahiran beliau Saw. Tak terkecuali di negara kita Indonesia, di kota maupun di desa masyarakat begitu antusias melakukan perayaan tersebut.
Demikian pemandangan yang kita saksikan setiap datang bulan Rabiul awwal.
Telah ratusan tahun kaum muslimin merayakan maulid Nabi Saw, Insan yang paling mereka cintai. Tetapi hingga kini masih ada saja orang yang menolaknya dengan berbagai hujjah. Diantaranya mereka mengatakan, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai ‘Id (Hari Raya) yang syar’i, seperti ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Padahal, peringatan itu, menurut mereka, bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran agama. Benarkah demikian? Apakah yang mereka katakan itu sesuai dengan prinsip-prinsip agama, ataukah justru sebaliknya?
Di antara ulama kenamaan di dunia yang banyak menjawab persoalan-persoalan seperti itu, yang banyak dituduhkan kepada kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah As Sayyid Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Alawi Al Maliki. Berikut ini kami nukilkan uraian dan ulasan beliau mengenai hal tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab beliau Dzikrayat wa Munasabat dan Haul al Ihtifal bi Dzikra Maulid An Nabawi Asy Syarif.
Hari Maulid Nabi SAW lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada ‘Id. ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi SAW, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat.
Hari kelahiran beliau lebih agung daripada ‘Id, meskipun kita tidak menamainya ‘Id. Mengapa? Karena beliaulah yang membawa ‘Id dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena beliau pula, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran beliau, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzulul Quran (turunnya AI-Quran), Isra Mi’raj, hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Fath Makkah (Penaklukan Makkah), karena semua itu berhubungan dengan beliau dan dengan kelahiran beliau, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.
Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut, di antaranya yang disebutkan oleh Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebelum mengemukakan dalil-dalil tersebut, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.
Pertama, kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan, terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran beliau, hari Senin. Tidak layak seorang yang berakal bertanya, “Mengapa kalian memperingatinya?” Karena, seolah-olah ia bertanya, “Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”.
Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban. Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin”.
Kedua, yang kita maksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orangorang yang hadir, memuliakan orangorang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.
Ketiga, kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak demikian. Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.
Keempat, berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan. Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya, di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan, dan fitnah.
Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.
Dalil-dalil Maulid
Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW .
Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?)
Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.
Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58). Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).
Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.
Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.
Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.
Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.
Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.
Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, balk fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.
Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.
Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan:” Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulla?
Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”
Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.
Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami
ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’ (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.
Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalii-dalil syara’.
Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.
Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang balk), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.
Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.
Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “
Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran, itu termasuk ajaran agama.
Keduapuluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.
Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nab! SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang.
Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatanperbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut

Responses

  1. Allahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa abiyyina wa Maulana Muhammadin wa ‘alaa aalih..

  2. Teruskan peringatan maulid.

  3. yang penting persatuan antar islam , ente yakin maulid baik ya jalanin aja , jangan membenci yang tidak mau bermaulid , dan begitu juga sebaliknya , jangan pada ribut mulu dari dulu temanya itu2 aja . ok mas bro…………… gitu aja kok repot…

    • ok

  4. wajib raikan maulud nabi dengan besar-besaran didalam majlis yang besar-besaran tanda mensyukuri kita dilahirkan menjadi umat nabi muhamad sollahualiaihuwasam,yang memberi rahmat seluruh alam

  5. maulid yes

  6. JAZAKUMULLOH KHOIRON KATSIRA ITU JAWABAN YG SANGAT MASUK AKAL

  7. dekat mana saya boleh beli buku-buku tentang AHLUL BAIYT terutamanya mengenai TAREKAT ALAWIYYAH ? kalau boleh , berikan alamatnya ya ?? ada x d malaysia terutamanya NEGERI KEDAH ??? ^_^ , terima kasih

    • Cuba Tuan hadir semasa program Habib Umar di kedah nanti dan dapatkan jualan buku di gerai2 yg berhampiran.

  8. Alhamdulillah, sungguh semakin memperkuat kebenaran yang kami lakukan tentang maulid, dan sepengatahuan kami, orang2 yang suka maulid tidak pernah menyalahkan apalagi membenci orang2 yang tidak suka maulid, justru sebaliknya orang2 yang tidak suka maulid sering menyalah2kan bahkan membenci orang2 yang suka maulid….
    ANDA YANG TIDAK SUKA MAULID, BACA ARTIKEL INI… KALAU MASIH TETAP TIDAK SUKA, KAMI HANYA MAMPU BERDO’A SEMOGA HATI ANDA DIBUKAKAN OLEH ALLAH…AMIIN

  9. [...] Sumber : Pondok Habib [...]

  10. الســـــــلام عليكم ورحمةالله

    Maulid adalah sholawat sebagai wujud cinta kita kpd Rosullullah SAW

    أللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله سيدنا محمد

  11. [...] : Pondok Habib Share this Post: Tagged with: hijrah, Islam, isra mi'raj, Maulid Nabi, Prof Dr As [...]

  12. [...] : Pondok Habib Artikel Terkait :No Related Posts Moeslim Sunni | No comments | Tags: idul fitri, Maulid Nabi [...]

  13. hanya kalangan salafi saja yg selalu menghujat maulid

  14. kita doakan saja agar orang2 yang tidak suka mawlid segera dibukakan hati oleh Allah yang sangat mengasihi mencintai dan menyayangi Rasulullah, bahkan satu2nya perintah yang Allah sendiri melakukan adalah BERSHALAWAT pada Rasulullah.. agar mereka tidak termasuk golongan AKHSARIINA A’MAALA…

  15. banyak barokah manfaat yang qt dpt ambil dari ahlul bait…

  16. Selain kita mengikuti dan mencontoh prilaku beliau, Salah satu wujud kecintaan kita kepada rosul adalah kita senang dan gembira atas kelahirannya dan tanda kalau kita senang dan gembira atas lelahirannya adalah…. ya dengan merayakannya….. dasarnya sudah jelas…. rosulpun mengistimewakan hari senin karena itu hari kelahirannya… ok…! jadi g’usah komentar miring dengan mereka yg senang mauludan…!

  17. jawaban ini memuaskan hati saya……………………..(terima kasih untuk syech muhammad, dan pemilik blog ini)

  18. Allohumma sholli ‘alaa Sayyidina Muhammad ……….

  19. sholli wasallim wabaarik ‘alaiiih….

  20. subkhanallah,

  21. segala sesuatu amal baik yang kita kerjakan TIDAK akan pernah ada buruknya apalagi hal itu dituntut oleh syara’ ,akan tetapi yang NYATA dan ADA adalah MANFAAT YANG BESAR yang dirasakan fiddunya wal akhiroh.

    amiin yaa mujibassairiin…

  22. Subhanallaah semakin mantap..lanjutkan terus…maulid & isra wal mi’raz nya…semoga kita mendapatkan keberkahan dari baginda rosulullaah saw..amiin

  23. Masyaallah bgs skali dan sangat jelas penjelasan yang diberikan oleh habib muhammad bin alwi almaliki, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan umur yang selalu barokah untuk beliau. Amiiin

    Tapi ada sedikit kekurangan dalam pemyebutan rawi dalam hadits bahwa Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada hari senin.

    Saya pernah membaca artikel yang mengatakan bahwa rosul dilahirkan di bulan robiul awwal saja dengan hadits yg shahih (maaf saya lup haditsnya), tidak ada keterangan bahwa beliau dilahirkan pada hari senin.

    Saya berharap jika menerangkan sesuatu yang ada haditsnya tolong dilengkapi dengan perawinya dan asal kitabnya. Karena saya tinggal dilingkungan yang masyarakatnya menganggap bahwa maulid itu bid’ah yang percuma kalau kita melaksanakannya tidak akan mendapat kebaikan atau pahala sedikitpun dan mereka selalu berpegang teguh pada hadits. Saya ingin meluruskan pemahaman mereka.
    Trimakasih

  24. Maaf, alamat sumbernya kok tidak bisa dibuka ya?

  25. Maulid adalah sebaik2nya bid’ah, dengannya kita bisa menwujudkan kecintaan kita terhadap junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dan didalamnya dibaca mengenai sirah manusia teragung yg pernah اللّهُ cipta, semoga kita mendapatkan manfaat dr pembacaan maulid tersebut, dan terutama bisa meneladani drpd perilaku Baginda Nabi SAW, اللهم صل على سيدنا محمد و على أل سيدنا محمد

  26. masya ALLAH ,,SUBHANALLAH ,,

    sungguh jelas tentang pnjelasan MAULIDURROSUL ,,,

    mari kita tingkatkan kecintaan kita kepada NABI TERCINTA ,,, dari kterangan
    abuya sayyid muhammad alawi al maliki tersebut
    ALLAHUMMA SHOLI ‘ALA SAYYIDINA ,WA HABIBIANA WA SAFI’INA
    MUHAMMAD ,, SHOLU ‘ALAIIH

  27. modah2an kita mendapatkan syafaat nabi muhammad saw nanti, amin

  28. barang siapa yg tidak membaca salawat brarti dia bukn umat nabi muhamd saw innallaha wamalaikatahu yusholuna alanabi ya ayuhaladjina amanu sholu,alaihi wasalim mutas limah allah & para malaikat nya bersalawat kpd rasul & allah juga printah kan qt untuk bersalawat inti nya isi dari pada maulid itu membaca salawat karna itu bukti kcinta an qt kpd rasulallah saw

  29. Belum sempurna iman seorang mu’min sampai ia lebih mencintai nabi SAW dari kecintanya pada dirinya sendiri.

  30. Assalamu ‘alaikum wr wb, trimakasih postingannya, banyak manfa’at dan baik, Arrohman Arrohiim, Allohumma Sholi ‘ala Sayyidina Muhammad Wa alihi washohbih wassallim…

  31. TERIMA KASIH MUDAH2N BISA JADI RUJUKAN YANG BAIK BUAT Z

  32. saya hanya bisa senyam senyum sambil menangis
    sulit untuk berucap walau sepatah kata

  33. Siapa yg cinta padaku (kata nabi) maka kelak bersamaku di surga…

  34. copas boz

  35. copas bos

  36. izin copas boz

  37. Subhanallah betul banget ilmu yg sangat bermanfaat…

    Allahuma sholi ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.

  38. Assalamualaikum wr.wb, pak Ustad saya mau tanya, apa hukumnya bila kami ingin merayakan Isra Mi’raj dgn mengadakan Dahwah Islam dan di akhiri dgn memberi sumbangan kepada anak2 Yatim Piatu baik Muslim maupun dari berbagai macam Agama lain, apakah sah2 saja atw tidak. Mohon kejelasannya.
    Wasallam wr.wb

  39. Mudah2 menambah keimanan kita. Dan di akui kita sebagai umat nya. Dan tidak trmasuk orang munafik

  40. Alhamdulillah


Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 739 other followers

%d bloggers like this: