Posted by: Habib Ahmad | 31 Mac 2014

DALIL LARANGAN MENYANJUNG RASULULLAH SAW.

Satu lagi contoh dalil khusus yang sering dibawakan oleh kaum Anti Mawlid/Selawat adalah dalil yang secara harfiyah dipahami sebagai larangan untuk memuji atau menyanjung Rasulullah Saw., dan ini dijadikan dasar untuk menganggap bid’ah atau sesat sya’ir-sya’ir qashidah yang sering dibaca umat Islam di seluruh dunia dalam rangka memuji Rasulullah Saw. Hadis Rasulullah Saw. tentang hal itu bunyinya begini:
لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ (رواه البخاري)
“Janganlah kalian memuji/menyanjung aku secara berlebihan, sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah ‘hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari)
Kaum Anti Mawlid/Selawat secara mentah-mentah memahami hadis ini sebagai larangan mutlak memuji-muji atau menyanjung Rasulullah Saw. secara berlebihan, lebih dari sekedar mengakuinya sebatas hamba Allah yang diutus sebagai Rasul dan diberikan wahyu. Memuji beliau lebih dari itu dianggap sebagai upaya “pengkultusan” yang dapat dikategorikan sebagai syirik. Padahal, memuji atau menyanjung itu sangat jauh berbeda dengan “mengkultuskan”.
Habib Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki, di dalam kitab beliau, Qul Hadzihii Sabiilii, menjelaskan bahwa pada hadis tersebut ada pesan yang jelas antara larangan memuji atau menyanjung berlebihan dengan perlakuan kaum Nasrani terhadap Nabi Isa bin Maryam As. Artinya, seandainya yang dilarang secara mutlak adalah semata-mata perbuatan memuji atau menyanjung Rasulullah Saw. dalam bentuk apapun seperti yang dipahami kaum Anti Mawlid/Selawat, maka beliau tidak perlu menghubungkannya dengan perbuatan kaum Nasrani yang jelas-jelas menganggap Nabi Isa As. sebagai tuhan. Itulah kenapa Rasulullah Saw. kemudian menyuruh umatnya untuk selalu “menyadari” bahwa beliau hanyalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya. Dan orang Islam paling bodoh pun tahu batasan ini.
Jadi, yang dilarang di dalam hadis tersebut adalah “mengkultuskan” Rasulullah Saw. dalam arti mengangkat beliau sebagai tuhan atau melekatkan sifat ketuhanan kepada beliau. Sementara menyanjung atau memuji beliau, menurut Habib Muhammad al-Maliki, adalah perkara wajib, mengingat banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menyebut bahwa keingkaran umat-umat terdahulu terhadap nabi-nabi mereka adalah karena menganggap nabi-nabi itu sebatas manusia biasa seperti diri mereka yang tidak pantas dilebihkan kedudukannya sehingga patut diikuti.
Di lain sisi, terdapat dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. tidak benar-benar melarang shahabat beliau untuk memuji atau menyanjung beliau, melainkan semata-mata karena sifat tawadhu’ (rendah hati) pada diri beliau, dan karena kekuatiran terhadap kebiasaan pengkultusan jahiliyah yang baru saja ditinggalkan para shahabat beliau karena baru masuk Islam. Walhasil, para ulama telah menjelaskan bahwa memuji atau menyanjung Rasulullah Saw. itu dilakukan dalam rangka untuk memuliakan beliau, dan memuliakan beliau adalah amal shaleh yang mendapatkan pahala. Sikap “memuliakan” itu sangat berbeda dari sikap “mengkultuskan”, dan dalam rangka memuliakan Rasulullah Saw. maka tidak ada batas tertentu yang dianggap cukup untuk mencapai hakikat kemuliaan beliau. Batasannya hanyalah tidak mengangkat beliau sebagai tuhan atau tidak melekatkan sifat ketuhanan pada diri beliau.
Lagipula, Allah Swt. telah jelas-jelas mencontohkan sikap pemuliaan itu dengan memuji atau menyanjung Rasulullah Saw. di dalam al-Qur’an, sebagaimana tersebut di dalam surat al-Qalam: 4 :
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar di atas budi pekerti yang agung.”
Bahkan, bukan sekedar mencontohkan, Allah Swt. malah juga menganggap sikap memuliakan Rasulullah Saw. itu sebagai ciri orang yang beriman kepadanya yang akan mendapatkan keberuntungan, sebagaimana firman-Nya:
“… Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raaf: 157).
Jadi, ketika kaum Anti Mawlid/Selawat menganggap sya’ir-sya’ir pujian kepada Rasulullah Saw. yang ditulis oleh para ulama yang shaleh sebagai bid’ah sesat, atau bahkan dianggap sebagai amalan syirik, karena dianggap “berlebihan” dalam memuji, maka hendaknya mereka menjelaskan “batasan Pas‘nya” dan “batasan lebihnya” dengan dalil yang jelas, sambil bertanya, “kalau bukan kita (umat Islam) yang memuliakan Rasulullah Saw., maka siapakah yang lebih pantas melakukannya, Yahudi kah atau Nasrani kah?”
Bila Rasulullah Saw. sudah dianggap tidak lebih dari manusia biasa yang diutus sebagai Rasul dan mendapat wahyu, berarti di sana ada pengingkaran terhadap sosok pribadi beliau yang agung sebagai seseorang bernama “Muhammad” yang terkenal kemuliaan dan kejujurannya, yang bukan saja ditakdirkan tetapi bahkan dipersiapkan oleh Allah jauh-jauh masa sebelum alam semesta diciptakan. Beliau bahkan sudah menjadi manusia mulia dan terpuji yang diistimewakan oleh Allah sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Bagaimana mungkin kita mengingkari awan yang menaungi beliau saat berjalan; atau melimpahnya keberkahan ternak dan susu Halimatus-Sa’diyah saat mengambil beliau sebagai anak susunya; atau kejujuran dan kehalusan budi pekerti beliau yang diakui orang di seantero Mekkah; atau padamnya api abadi sesembahan kaum majusi Persia di saat kelahiran beliau; atau betapa proporsionalnya bentuk wajah dan tubuh beliau; dan lain sebagainya. Sungguh semua itu diberikan oleh Allah sebagai suatu keistimewaan yang layak disebut sebagai kemuliaan dan keagungan pribadi beliau, terlepas dari status beliau sebagai seorang Rasul semata. Belum lagi keistimewaan-keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau sejak diangkat menjadi Nabi dan Rasul, sungguh tidak terukur kadarnya. Syirik kah orang yang menyebut-nyebut keistimewaan beliau itu dalam sya’ir-sya’ir pujian?
Lihatlah betapa para shahabat Rasulullah Saw. seperti kehabisan kata dan tak mampu menemukan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan hakikat pribadi beliau. Kekaguman mereka pada diri beliau terungkap seperti berikut ini:
Al-Bara’ bin ‘Azib Ra. berkata, “Aku tidak pernah melihat ada seseorang berbalut pakaian merah yang lebih bagus dari beliau” (HR. Bukhari).
Ali bin Abi Thalib Ra. berkata, “… Aku belum pernah melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seperti beliau” (HR. Tirmidzi).
Anas bin Malik Ra. berkata, “Aku tidak pernah menyentuh kain sutra yang lebih halus dari telapak tangan Rasulullah Saw., dan aku tidak pernah mencium wangi yang lebih harum dari wanginya Rasulullah Saw.” (HR. Ahmad).
‘Aisyah Ra. ummul-Mu’miniin berkata, “Adalah akhlak beliau itu al-Qur’an” (HR. Ahmad).
Delegasi Bani ‘Amir berkata kepada Rasulullah Saw., “Engkau adalah tuan kami.” Rasulullah Saw. menjawab, “Tuan itu adalah Allah tabaraka wata’ala.” Delegasi itu malah terus berkata lagi, “Dan engkau adalah orang paling utama dan paling besar kemampuan di antara kami.” Rasulullah Saw. berkata, “Katakanlah dengan perkataan kalian atau sebagian perkataan kalian, dan jangan sampai syeitan menjadikan kalian sebagai wakilnya (untuk menyesatkan dengan kata-kata)” (HR. Abu Dawud). Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. tidak melarang orang yang menyanjung beliau, tetapi di sisi lain beliau juga memberi peringatan agar waspada dari penyusupan syeitan dalam hal tersebut yang pada akhirnya dapat mengarahkan orang untuk mengkultuskan beliau seperti Tuhan, mengingat mereka baru masuk Islam dan baru saja meninggalkan penyembahan berhala. Artinya, selama pujian atau sanjungan itu tidak melampaui batas tersebut, beliau masih mentolerirnya. Beliau memang tidak senang dipuji atau disanjung karena sifat tawadhu’ (rendah hati), bukan karena haram melakukannya.
Masih banyak lagi ungkapan pujian dan sanjungan para shahabat terhadap beliau, sebagai wujud kebanggaan, kecintaan, dan kekaguman yang mendalam terhadap diri beliau. Dan ungkapan-ungkapan apapun dalam memuji atau menyanjung Rasulullah Saw. hakikatnya adalah pembenaran dan penetapan keyakinan di dalam hati tentang ketinggian derajat dan keutamaan yang Allah berikan kepada beliau, dan ini adalah bagian dari keimanan kepada kenabian dan kerasulan beliau.
Bila yang dipermasalahkan adalah kalimat-kalimat sya’ir yang secara harfiyah memposisikan Rasulullah Saw. sebagai: Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus (al-haadii ilaa sharath mustaqiim), pembuka yang tertutup (al-faatih limaa ughliqa), penutup yang terdahulu, tuan (sayyid/maula), cahaya yang berada di atas cahaya (nuur fawqa nuur), penghapus kesesatan, pemberi pertolongan, dan lain sebagainya, yang sering dituduh sebagai sikap “menuhankan” (mengkultuskan) beliau atau menganggap beliau memiliki kemampuan seperti Allah, maka sungguh tuduhan itu sangat keliru. Sebab para ulama yang menyusun atau mengarang kalimat-kalimat tersebut tidak pernah menganggapnya demikian, mereka hanya memaksudkan makna majaz (kiasan) di mana hakikatnya sudah menjadi hal lumrah bagi orang-orang yang bertauhid dan beraqidah, bahwa yang sesungguhnya memberi petunjuk, pertolongan, keberkahan, cahaya, dan lain sebagainya adalah Allah Swt., sedang Rasulullah Saw. hanya merupakan “sebab” tercapainya hal-hal tersebut melalui dakwah, teladan, syafa’at, dan do’a-do’a beliau.
Para ulama yang menulis sya’ir-sya’ir pujian itu pasti sangat mengerti batasan tentang “porsi” Khaliq (Allah yang Maha Pencipta) dan “porsi” makhluq (hamba ciptaan Allah) dalam hal kemampuan atau perbuatan, dan tidak mungkin itu diabaikan. Setinggi apapun ungkapan pujian atau sanjungan itu kepada Rasulullah Saw. sesungguhnya maksudnya adalah masih dalam tataran status beliau sebagai makhluk. Bahkan seandainya dikatakan Rasulullah Saw. adalah sempurna, maka maksudnya adalah Rasulullah Saw. makhluk yang sempurna, yang tentunya disempurnakan oleh Allah Swt.
Al-Habib Muhammad al-Maliki menjelaskan, bahwa menisbatkan suatu perbuatan atau kemampuan kepada yang bukan ahlinya adalah sah menurut al-Qur’an dan Sunnah, dan inilah yang disebut majaz ‘aqli (kiasan logis). Sebagai contoh, Allah Swt. mencontohkan:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, maka (ayat-ayat itu) menambahkan iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfaal: 2).
“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir dari hari yang menjadikan anak-anak beruban“ (QS. Al-Muzzammil: 17).
Pada ayat pertama diatas, Allah menyebutkan seolah “ayat-ayatNya” dapat melakukan atau memberkan tambahan keimanan, dan pada ayat kedua, Allah menyebutkan seolah “hari” lah yang merubah keadaan anak-anak menjadi beruban (tua). Tentu hal itu dengan mudah dapat dipahami sebagai kiasan, karena siapapun tahu bahwa pada hakikatnya yang menambah keimanan dan merubah keadaan anak-anak menjadi beruban adalah Allah. Demikian pulalah jika suatu kemampuan atau perbuatan yang hakekatnya cuma milik Allah ketika dinisbatkan kepada Rasulullah Saw., maka maksudnya adalah majaz aqli (kiasan logis) dengan makna bahwa beliau hanyalah “sebab” tercapainya perbuatan itu, sedang pelaku sesungguhnya adalah Allah. Lihatlah bagaimana Allah sendiri menyebutkan:
“… dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Asy-Syuuraa: 52).
Adapun memuliakan Rasulullah Saw. dengan sebutan sayyid (tuan/penghulu/pemimpin), maka hal itu telah dibahas hukum kebolehannya dengan panjang lebar oleh para ulama, di antaranya adalah Imam Nawawi di dalam kitab al-Adzkaar. Ringkasnya, menyebut Rasulullah Saw. dengan Sayyidinaa Muhammad (tuan/penghulu/pemimpin kami Muhammad) hanyalah melaksanakan apa yang beliau nyatakan sendiri di dalam sabdanya:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ (رواه مسلم)
“ Aku adalah penghulu/pemimpin anak Adam pada hari kiamat, dan orang pertama terbelah (terbuka) kuburnya, orang pertama yang memberi syafa’at, serta orang pertama yang diberi syafa’at” (HR. Muslim)
Sikap kaum Salafi & Wahabi yang di satu sisi terkesan seperti sangat antusias dalam mengikuti Sunnah Rasulullah Saw. tetapi di sisi lain sangat “menghindarkan diri” dari memuliakan dan menyanjung pribadi beliau karena paranoid terhadap pengkultusan yang tidak jelas batasannya, adalah dua sisi yang boleh dikatakan bertolak belakang. Mengapa? Karena semangat atau antusiasme mengikuti seseorang biasanya muncul dari kekaguman, dan kekaguman itu berawal dari mengenal keistimewaan dan kemuliaan orang tersebut yang dapat diekspresikan dan disosialisasikan melalui sanjungan, pujian, atau pemuliaan dari orang yang mengenalnya.
Tanpa kekaguman itu mustahil rasanya seseorang tergerak untuk mengikuti atau bahkan untuk sekedar mempercayai. Bukankah banyak riwayat hadis menyebutkan para Shahabat yang mendapat hidayah dan memilih beriman serta mengikuti Rasulullah Saw. karena kekaguman mereka terhadap beliau dalam hal: Kejujurannya, akhlak dan budi pekertinya, kelembutan tutur katanya, kebijaksanaannya, dan kedahsyatan mukjizatnya? Bila semata-mata karena beliau diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul, tanpa tanda-tanda khusus atau keistimewaan yang mengagumkan pada diri pribadi beliau, besar kemungkinan bahkan para rahib (seperti Waraqah bin Naufal atau Buhaira) yang mengetahui berita kedatangan Nabi akhir zaman dari kitab-kitab mereka sekalipun, sulit untuk mempercayai beliau, apatah lagi mengikuti ajarannya.
Pertanyaannya, kenapa kaum Salafi & Wahabi ini bisa bersemangat dan sangat antusias untuk mengikuti sunnah Rasulullah Saw. padahal “bekal” kekaguman mereka terhadap beliau tidak lebih dari pengakuan bahwa beliau adalah manusia biasa yang diberi wahyu dan diangkat menjadi Nabi dan Rasul? Bukankah kekaguman sebatas itu mestinya tidak menghasilkan efek yang lebih hebat dalam mengikuti sunnah Rasulullah Saw. daripada kekaguman yang diwarnai dengan pujian dan sanjungan terhadap kemuliaan dan keistimewaan pribadi beliau? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku mencintai dan mengagumi Rasulullah Saw. dan rajin memuji atau menyanjung pribadi beliau terkesan kalah semangat dari kaum Salafi & Wahabi ini dalam membicarakan dan menjalani sunnah beliau? Anda ingin tahu jawabannya?
Jawabnya, bahwa para ulama melihat jelas adanya celah rahmat Allah yang ada pada sikap memuliakan pribadi Rasulullah Saw. selain dari kekaguman yang dapat memompa semangat mengikuti sunnah beliau. Sehingga diharapkan, meskipun jika ada umat Islam yang membaca syair pujian dan sanjungan terhadap beliau lalu belum muncul semangatnya untuk mengikuti sunnah beliau, diharapkan mereka mendapat rahmat dengan cara itu. Dengan rahmat itulah kemudian mereka akan dipermudah oleh Allah untuk mencapai kecintaan kepada Rasulullah Saw., lalu kekaguman terhadap beliau, lalu peneladanan terhadap sunnahnya. Berarti, setidaknya masih ada kebaikan yang dihasilkan dari sekedar memuji dan menyanjung Rasulullah Saw., bahkan dengan hanya menyebut nama beliau saja, seseorang bisa mendapatkan rahmat. Bagaimana tidak, sedangkan Sufyan bin ‘Uyainah berkata:
عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِيْنَ تَنْـزِلُ الرَّحْمَةُ (حلية الأولياء ج. 7 ص. 285)
“Saat menyebut orang-orang shaleh, akan turun rahmat” (Lihat Hilyatul-Awliya’, al-Ashbahani, juz 7 hal. 285).
وَعَنْ أَبِيْ عُثْمَانَ أَنَّهُ قَالَ ِلأَبِيْ جَعْفَرِ بْنِ حَمْدَانَ أَلَسْتُمْ تَرْوُوْنَ أَنَّ عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِيْنَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ قَالَ بَلَى قَالَ فَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الصَّالِحِيْنَ (، سير أعلام النبلاء ج. 14 ص. 64)
Dan dari Abi Utsman bahwasanya ia berkata kepada Abu Ja’far bin Hamdan, “Bukankah kalian meriwayatkan bahwa ketika disebut orang-orang shaleh akan turun rahmat?” Abu Ja’far menjawab, “Benar”. Abu Utsman berkata, “ Maka Rasulullah Saw. adalah pemimpin orang-orang shaleh“ (Siyar A’laam an-Nubala’, adz-Dzahabi, juz 14, hal. 64)
Sedangkan mengenai kaum Anti Mawlid/Selawat yang terkesan sangat antusias dan bersemangat mengikuti sunnah Rasulullah Saw., maka sebenarnya hal itu juga dilatar belakangi oleh kekaguman yang sangat besar. Tetapi kekaguman yang sangat besar itu bukanlah terhadap diri pribadi Rasulullah Saw., karena mereka menganggap beliau hanya sebatas manusia biasa yang diberi wahyu dan diangkat menjadi Nabi & Rasul. Semangat dan antusiasme itu lahir karena mereka sangat kagum kepada dua hal, yaitu:
1. Sangat kagum kepada para ulama Anti Mawlid/Selawat yang berhasil meyakinkan dirinya bahwa merekalah yang paling murni mengikuti sunnah Rasulullah Saw. dan para shahabat beliau. Penampilan mereka yang hafal al-Qur’an dan hadis sehingga terkesan selalu berbicara dengan dalil, menjadi poin penting dalam memunculkan kekaguman ini.
2. Sangat kagum kepada diri sendiri karena merasa beragama dan beribadah selalu berdasarkan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabat beliau. Akibatnya mereka sangat optimis bahwa ibadah yang mereka lakukan itu sangat berarti dan berharga nilainya.
Benarkah begitu? Mana buktinya? Buktinya, mereka selalu berbicara tentang ibadah yang harus dijalankan sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw., sehingga apa yang mereka anggap berbeda dari yang disebutkan sunnah tersebut dianggap sia-sia dan tidak mendapat pahala. Sedangkan para ulama pelaku Maulid seringkali berbicara tentang rahmat Allah yang hakikatnya lebih berharga dari pahala ibadah; mengarahkan umat untuk kagum kepada “rahmat bagi sekalian alam” (yaitu Rasulullah Saw.) melalui syair-syair sanjungan dan pujian kepada beliau; serta perlahan-lahan mengarahkan mereka untuk mengikuti sunnahnya agar semakin besar harapan mereka untuk mendapatkan rahmat Allah.
Apa artinya amal ibadah seseorang di hari akhirat bila ia tidak diberi rahmat oleh Allah, sedangkan Allah memberi rahmat-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki, apalagi kepada orang yang berharap rahmat kepada-Nya. Pantaskah mendapat rahmat suatu ibadah yang di dalamnya terselip kesombongan dan kebanggaan karena menganggapnya lebih utama dari ibadah orang lain? Manakah yang lebih utama, mengharap pahala atau rahmat? Rasulullah Saw. telah bersabda:
لاَ يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلاَ يُجِيْرُهُ مِنَ النَّارِ وَلاَ أَنَا إِلاَّ بِرَحْمَةٍ مِنَ الله ِ (روا مسلم)
“Tidaklah amal seseorang memasukkannya ke dalam surga, dan tidak pula menyelamatkannya dari neraka, dan aku pun demikian, melainkan dengan sebab rahmat dari Allah” (HR. Muslim).
Jika telah nyata bahwa rahmat Allah lebih berharga dari pahala atau amal ibadah, maka membuka peluang besar bagi umat untuk mendapat rahmat Allah melalui puji-pujian dan sanjungan kepada Rasulullah Saw., atau melalui acara peringatan Maulid, tahlilan, dan lain sebagainya adalah amalan yang jelas lebih pantas dianggap kebaikan ketimbang memutus harapan mereka dari rahmat Allah dengan melarang atau menuding amalan tersebut sebagai kesia-siaan, bid’ah, dan kesesatan. Perhatikanlah riwayat dari Zaid bin Aslam Ra. berikut ini:
أن رجلا كان في الأمم الماضية يجتهد في العبادة ويشدد على نفسه ويقنط الناس من رحمة الله ثم مات فقال أي رب مالي عندك قال النار قال يا رب فأين عبادتي واجتهادي فقيل له كنت تقنط الناس من رحمتي في الدنيا وأنا أقنطك اليوم من رحمتي (أخرجه معمر بن راشد الأزدي في الجامع ج. 11 ص. 288 والبيهقي في شعب الإيمان ج. 2، ص. 21)
Sesungguhnya ada seorang lelaki pada masa umat-umat terdahulu yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ia berkeras diri melakukannya, dan (di sisi lain) ia membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah ta’ala. Kemudian Ia meninggal dunia. Maka ia berkata (saat hari kiamat), “Ya Tuhanku, apa yang aku dapat (dari Engkau)?” Allah menjawab, “Neraka!” Orang itupun berkata, “Mana (pahala) ibadahku dan kesungguhanku?” Allah menjawab, “Sesungguhnya kamu dahulu di dunia telah membuat orang berputus asa dari rahmat-Ku, maka hari ini Aku buat kamu berputus asa dari mendapat rahmat-Ku!” (lihat al-Jami’, Ma’mar bin Rasyid al-Azdi w. 151, juz 11, hal. 288. Syu’abul-Iman, al-Bayhaqi w. 458 H.,juz 2, hal. 21)
Mungkin kaum Anti Mawlid/Selawat tidak menyadari, entah ke arah mana maunya keyakinan yang mereka pegang itu. Bila kaum Yahudi & Nasrani memiliki alasan jelas dalam hal tidak menyukai keutamaan diri Rasulullah Saw. sehingga mereka selalu berupaya menghina dan merendahkan martabat beliau, lalu mengapakah kaum Anti Mawlid/Selawat jadi seperti “ikut-ikutan” dalam hal itu sehingga tega melarang umat Islam untuk mencintai, memuji, menyanjung, dan membanggakan Nabinya sendiri? Apakah mereka tidak menyadari bahwa fatwa mereka dalam hal ini seperti mendukung misi kaum Yahudi yang selalu berusaha “membunuh karakter” Rasulullah Saw. dari hati para pengikutnya??!

http://laskarnahdiyin.wordpress.com/menyingkap-tipu-daya-fitnah-keji-fatwa-fatwa-kaum-salafi-wahabi/dalil-dalil-khusus-kaum-salafi-dan-wahabi/dalil-larangan-menyanjung-rasulullah-saw/

Penjelasan
Masjid bukan sahaja digunakan untuk beribadah namun ia dapat digunakan untuk kegiatan bernafaskan Islam seperti pengajian al Quran, hadith, tafsir, fiqh, aqidah diskusi dan lainnya. Adapun menyanyikan lagu islami, selawat, qasidah yang berisikan puji-pujian kepada Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam, dakwah, hikmah, akhlaq, zuhud dan lainnya dibolehkan.
Namun menyanyikan lagu-lagu yang sia-sia, yang menjauhkan dari mengingati Allah dan RasulNya adalah dilarang kerana masjid bukanlah panggung untuk kegiatan seperti ini.
Dalam kitab Al Fiqh Al Islamy Wa Adillatuhu Juz 1 Bab Ahkaamul Masaajid susunan Dr Wahbah Az Zuhaili disebutkan :
Tidak mengapa membaca syair di masjid apabila isi syair puji-pujian kepada Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam atau mengagungkan Islam, mengandungi hikmah, tentang akhlakul karimah, tentang zuhud dan sejenisnya dan hal-hal yang mengandungi kebaikan itu berdasarkan hadith yang diceritakan oleh Sa’id bin Musayyab. (Al Fiqhu al Islamy wa Adillatuhu Juz I/397 bab ahkaamu al Masaajid)
Boleh menyanyikan lagu-lagu yang bernafaskan Islam tersebut berdasarkan hadith Sa’id ibn al Musayyab radiyaLLahu ‘anhu berkata (yang bererti) :
Hadits berkenaan ialah: 
مر عمر بن الخطاب في المسجد وحسان ينشد الشعر فلحظ إليه فقال: كنت أنشد فيه وفبه من هو خير منك، ثم التفت إلى أبي هريرة فقال: أنشدك بالله أسمعت صلى الله عليه وسلم يقول : أجب عني، اللهم أيده بروح القدس ؟ قال: نعم
(رواه البخاري ومسلم)
Maksudnya: ‘Umar bin al-Khaththab melintas di dalam masjid sedang Hassan mengucapkan sebuah syair, lalu dia (Hassan) memandangnya (‘Umar) dan berkata: “Aku pernah mengucapkan di dalamnya (masjid), dan di dalmnya (syair) menyebutkan orang yang lebih baik daripada engkau (‘Umar)”, kemudian dia berpaling kepada AbuHurairah dan berkata: ‘Saya minta kepadamu dengan nama Allah, apakah kamu mendengar Rasulullah Shallallah ‘alaihi wasallam bersabda: ‘(Wahai Hassan) jawablah daripadaku, wahai Allah kuatkanlah dia dengan roh suci (Jibril)?” (Abu Hurairah) berkata: “Ya”.
Hadith riwayat Bukhari dan Muslim (Al Fiqhu al Islamy wa Adillatuhu I/397)
Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang bererti ) : “Bahawa di antara syair adalah mengandungi hikmah – Hadith Riwayat Bukhari.
Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang syair dan baginda bersabda :
“Syair adalah perkataan, maka bila perkataan itu isinya bagus, maka bagus pula perkataan itu dan bila isinya buruk, maka buruklah ia – Hadith Riwayat Bukhari
Adapun menyanyikan lagu-lagu yang bukan bernafaskan islamik seperti kriteria tersebut tidak boleh seperti dalam lagu tersebut menyebutkan tentang minuman keras, wanita dan sifatnya, percintaan, memuji orang zalim dan lainnya, sebab masjid tempat zikir, ibadah dan membaca al Quran bukan tempat menyanyi.
Dari Anas ibn Malik radiyaLLahu ‘anhu, ia berkata : Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda : Bahawa masjid -masjid ini tidak patut dipakai sesuatu seperti air kencing dan kotoran, sesungguhnya masjid adalah tempat zikir kepada Allah dan membaca al Quran – Hadith riwayat Muslim. (Al Fiqhu al Islamy wa adillatuhu Juz I/395)
Dari Amru ibn Syuaib dari ayahnya dari datuknya ia berkata : “Adalah Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam, melarang menyanyikan syair di masjid. Hadith riwayat Nasa’i dengan sanad hasan (Al Fiqhu al Islamy wa adillatuhu I/397-398)
Sumber Rujukan : Drs. KH. M. Sufyan Raji Abdullah LC. Menyikapi Masalah-masalah yang dianggap Bid’ah, Cet Pertama 2010, Pustaka Al Riyadl, Jakarta

Dari:
HAMBA ALLAH

Posted by: Habib Ahmad | 21 Mac 2014

PROGRAM MALAM INI SEMUA DI JEMPUT HADIR

1001574_730448576975332_227793550_n

Posted by: Habib Ahmad | 19 Mac 2014

Majlis-majlis Ilmu

10006524_10200817197111711_806716139_n

1932296_10201120531170348_901234743_n

1947953_836362829712614_1651472604_n

1982147_741400402546521_291705719_n

10001463_720388684659891_1102546102_n

Posted by: Habib Ahmad | 2 Mac 2014

SERTAILAH FACEBOOK PONDOK HABIB MELEBIHI 100K LIKE

LIKE

Posted by: Habib Ahmad | 24 Februari 2014

Selawat Perdana Putrajaya

image

Posted by: Habib Ahmad | 9 Februari 2014

Maulidur Rasul Masjid Tuanku Mizan

image

Posted by: Habib Ahmad | 8 Februari 2014

Maulidur Rasul Putra Jaya

image

Posted by: Habib Ahmad | 14 Januari 2014

Kesepakatan Para Ulama Atas Kebolehan Perayaan Maulid Nabi

10/01/2014Posted by aswj-rg.com
Share Button

Pin It
Para pengingkar Maulid Nabi hanyalah bagaikan setetes air dibandingkan luapan samudera. Karena praktek peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mendapat legalitas dari Syare’at dan rekomendasi dari jumhur ulama Ahlu sunnah baik mutaqaddimin atau pun mutakhkhirin, baik kalangan rajanya, penguasa adil, orang shalih maupun awamnya. Sejak dahulu hingga sekarang mereka sepakat atas kebolehannya Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejak dahulu hingga sekarang para pelaku Maulid Nabi tidak pernah bekurang malah semakin bertambah jumlahnya. Berikut nama-nama ulama besar Ahlus sunnah yang melegalkan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum wahabi yang membid’ah-bid’ahkan para pelaku maulid bahkan menyesat-nyesatkannya bahkan ada yang sampai memmusyik-musyrikkannya, maka sama saja mereka membid’ahkan, menyesatkan dan memusyrikkan para ulama berikut ini, naudzu billahi min dzaalik..

1476762_10201216862329647_2027166840_n

1. Syaikh Umar al-Mulla dari Maushul (W 570 H). Seorang syaikh yang sholih lagi zuhud, setiap tahunnya menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri para ulama, fuqaha, umara, dan shulthan Nuruddin Zanki, seorang raja yang adil dan berakidahkan Ahlus sunnah. Abu Syamah (guru imam Nawawi) berkata tentang dua tokoh besar di atas :

قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره

“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[1]

Adz-Dzahabi mengatakan :

وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضية بها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث

“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[2]

2. Al-Imam Abul Khaththab Ibnu Dihyah (W 633 H). Beliau telah mengarang sebuah kitab Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau namakan “ at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “ dan dihadiahkan kepada seorang raja adil, shalih, Ahlsus sunnah yakni al-Mudzaffar.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار

“ Dan raja konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar.”[3]

3. al-Imam Abu Syamah (W 665 H), guru al-Imam al-Hafidz an-Nawawi. Beliau mengatakan :

ومن احسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق لمولده صلى الله عليه وآله وسلم من الصدقات، والمعروف، وإظهار الزينة والسرور, فإن ذلك مشعر بمحبته صلى الله عليه وآله وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك وشكرا لله تعالى على ما من به من إيجاد رسوله الذي أرسله رحمة للعالمين

“ Di antara bid’ah hasanah yang paling baik di zaman kita sekarang ini adalah apa yang dilakukan setiap tahunnya di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan bersedekah dan berbuat baik serta menampakkan perhiasan dan kebahagiaan. Karena hal itu merupakan menysiarkan kecintaan kepada Nabi shallahu ‘alahi wa sallam dan penganggungan di hati orang yang melakukannya. Sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas anugerah-Nya berupa mewujudkannya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam “[4]

4. al-Hafidz Ibnul Jauzi (W 597 H). Beliau mengatakan tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

إنه أمان في ذلك العام، وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام

“ Sesungguhnya mauled (hari kelahiran) Nabi adalah sebuah keamanan di tahun itu dan kaar gembira yang segera dengan tercapainya cita-cita dan taujuan “[5]

5. al-Imam al-Allamah Shadruddin Mauhub bin Umar al-Jazri (W 665 H). Beliau mengatakan tentang hokum peringatan Maulid Nabi :

هذه بدعة لا بأس بها، ولا تكره البدع إلا إذا راغمت السنة، وأما إذا لم تراغمها فلا تكره، ويثاب الإنسان بحسب قصده

“ Ini adalah bid’ah yang tidak mengapa, dan bid’ah tidaklah makruh kecuali jika dibenci sunnah, adapun jika sunnah tidak membencinya maka tidaklah makruh dan manusia akan diberi pahala (atas bid’ah mauled tersebut) tergantung tujuan dan niatnya “.

6. Syaikh Abul Abbas bin Ahmad al-Maghribi (W 633 H). Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan tentangnya :

كان زاهدًا إمامًا مفنّنًا مُفْتِيًّا ألَّفَ كتاب المولد وجوّده

“ Beliau seorang yang zuhud, imam, menguasai semua fan ilmu, sorang mufti dan mengarang kitab maulid dan memperbagusnya “[6]

7. Syaikh Abul Qasim bin Abul Abbas al-Maghribi. Az-Zarkali mengatakan tentangnya :

كان فقيها فاضلا, له نظم أكمل الدر المنظم , في مولد النبي المعظّم من تأليف أبيه أبى العباس بن أحمد

“ Beliau seorang ahli fiqih yang utama, memiliki nadzham (bait) yang bernama “ Akmal ad-Durr al-Munadzdzam fi Maulid an-Nabi al-Mu’adzdzam “ dari tulisan ayahnya Abul Abbas bin Ahmad “[7]

8. al-Hafidz Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau mengarang kitab Maulid dengan berjilid-jilid sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyfu adz-Dzunun : 319. Di antaranya : Jami’ al-Aatsar fi Maulid an-Nabi al-Mukhtar dan al-Lafdz ar-Raiq fi Maulid Khairul Khalaiq dan Maurid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi.

9. al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Abbad (W 805 H).

وسئل الولي العارف بالطريقة والحقيقة أبو عبد الله بن عباد رحمه الله ونفع به عما يقع في مولد النبي صلى الله عليه وسلم من وقود الشمع وغير ذلك لأجل الفرح والسرور بمولده عليه السلام.

فأجاب: الذي يظهر أنه عيد من أعياد المسلمين، وموسمٌ من مواسمهم، وكل ما يقتضيه الفرح والسرور بذلك المولد المبارك، من إيقاد الشمع وإمتاع البصر، وتنزه السمع والنظر، والتزين بما حسن من الثياب، وركوب فاره الدواب؛ أمر مباح لا ينكر قياساً على غيره من أوقات الفرح، والحكم بأن هذه الأشياء لا تسلم من بدعة في هذا الوقت الذي ظهر فيه سر الوجود، وارتفع فيه علم العهود، وتقشع بسببه ظلام الكفر والجحود، يُنْكَر على قائله، لأنه مَقْتٌ وجحود.

“ seorang wali yang arif dengan thariqah dan haqiqah Abu Abdillah bin Abbad rahimahullah ditanya mengenai apa yang terjadi pada peringatan Maulid Nabi dari menyalakan lilin dan selainnya dengan maksud berbahagia dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau menjawab :

“ Yang tampak adalah bahwa Maulid Nabi termasuk ‘id dari hari raya muslimin dan satu musim dai musim-musimnya. Dan semua yang mengahruskan kebahagiaan dengan malid Nabi yang berkah itu semisal menyalakan lilin, mempercanti pendengaran dan penglihatan, berhias dengan pakaian indah, dan kendaraan bagus adalah perkarah mubah yang tidak boleh diingkari karena mengkiyaskan dengan lainnya dari waktu-waktu kebahagiaan. Menghukumi bahwa semua perbuatan ini tidak selamat dari bid’ah di waktu ini, yang telah tampak rahasia wujud, terangkat ilmu ‘uhud, tercerai berai dengan sebabnya segala gelapnya kekufuran dan kedzaliman, maka itu diingkari bagi pengucapnya, karena itu adalah kebencian dan pengingkaran.[8]

10. Syaikh Islam Sirajuddin al-Balqini (724 – 805 H). AL-Maqrizi mengatakan :

فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج

“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[9]

11. al-Hafidz al-Iraqi (725-808 H), guru al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani “. Beliau mengtakan :

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة

“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[10]

12. Syaikh Islam, al-Hafidz, ahli hadits dunia, imam para pensyarah hadits yaitu Ibnu Hajar al-Atsqalani. Beliau mengatakan :

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كانت بدعة حسنة

“ Asal / dasar perbuatan Maulid adalah bid’ah yang tidak dinaqal dari ulama salaf yang salih dari tiga kurun, akan tetapi demikian itu mengandung banyak kebaikan dan juga keburukannya. Barangsiapa yang menjaga dalam melakukannya semua kebaikan dan mejauhi keburukannya maka menjadi bid’ah hasanah “[11]

13. al-Imam al-Allamah, syaikh al-Qurra wal muhadditsin, Qadhil Qudhah, Syamsuddin Muhamamd Abul Khoir bin Muhammad bin al-Jazri ( W 833 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang berjudul “ ‘Arfu at-Tarif bil Maulid asy-Syarif “.

قال ابن الجزري : فإذا كان هذا أبولهب الكافر الذي زل القرآن بذمه ، جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي ( ص ) به ، فما حال المسلم الموحّد من أمته عليه السلام ، الذي يسر بمولده ، ويبذل ما تصل اليه قدرته في محبته ؟ لعمري ، إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله العميم جنات النعيم

“ Ibnul Jazri mengatakan, “ Jika Abu Lahab yang kafir ini yang al-Quran telah mencacinya, diringankan di dalam neraka sebab kebahagiaannya dengan kelahiran Nabi, maka bagaimana dengan keadaan Muslim yang mengesakan Allah dari umarnya ini ? yang berbagaia dengan kelahiran Nabi, mengerahkan dengan segenap kemampuannya di dalam mencintainya, sungguh balasan dari Allah adalah memasukannya ke dalam surge-Nya yang penuh kenikmatan “[12]

14. al-Imam al-Hafidz as-Sayuthi (849-911 H). Beliau pernah ditanya tentang hokum memperingati Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

سئل عن عمل المولد النبوى في شهر ربيع الأول ،ما حكمه من حيث الشرع

هل هو محمود أو مذموم وهل يثاب فاعله أو لا؟

والجواب : عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدإ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك

من البدع الحسنة التي عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

“Suatu ketika beliau ditanya tentang peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan pada bula Rabiul awwal. Bagaimana hukumnya dalam perspektif syara’, dan apakah termasuk kebaikan atau keburukan, serta apakah orang yang memperingatinya akan mendapatkan pahala?

Jawabannya, menurutku (as-Suyuthi) pada dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya manusia, membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an, riwayat hadis-hadis tentang permulaan perintah Nabi serta hal-hal yang terjadi dalam kelahiran Nabi, kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka pulang setelah menikmatinya tanpa ada tambahan-tambahan lain, hal tersebut termasuk bid’ah yang baik (bid’ah hasanah) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. Karena bertujuan untuk mengagungkan kedudukan Nabi dan menampakkan rasa suka cita atas kelahiran yang mulia Nabi Muhammad Saw”.[13]

15. Al-Imam al-Hafidz asy-Syakhawi (831-902 H). Beliau menulis sebuah kitab Maulid berjudul al-Fakhr al-Ulwi fi al-Maulid an-Nabawi. Beliau juga mengatakan :

عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة، وإنما حدث بعد، ثم لا زال أهل الإسلام في سائر الأقطار والمدن الكبار يحتفلون في شهر مولده صلى الله عليه وسلم بعمل الولائم البديعة، المشتملة على الأمور البهجة الرفيعة، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات، ويظهرون السرور ويزيدون في المبرات، ويعتنون بقراءة مولده الكريم، ويظهر عليهم من بركاته كل فضل عميم

“ Praktek Maulid yang mulia tidak ada nukilannya dari seorang salaf pun di kurun-kurun utama. Sesungguhnya itu terjadinya setelahnya. Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[14]

16. Al-Allamah syaikh Muhamamd bin Umar al-Hadhrami ( W 930 H). Beliau mengatakan :

فحقيقٌ بيومٍ كانَ فيه وجودُ المصطفى صلى الله عليه وسلم أَنْ يُتَّخذَ عيدًا، وخَليقٌ بوقتٍ أَسفرتْ فيه غُرَّتُهُ أن يُعقَد طالِعًا سعيدًا، فاتَّقوا اللهَ عبادَ الله، واحذروا عواقبَ الذُّنوب، وتقرَّبوا إلى الله تعالى بتعظيمِ شأن هذا النَّبيِّ المحبوب، واعرِفوا حُرمتَهُ عندَ علاّم الغيوب، “ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“ Sungguh layak satu hari dimana Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan untuk dijadikan ‘id. Dan pantas munculnya waktu keberuntungan. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, berhati-hatilah dari kesudahan dosa, bertaqarrublah kepada Allah dengan pengagungan kepada Nabi yang tercinta ini. Kenalilah kehormatannya di sisi Allah yang Maha Gaib “ Demikian itu barangsiapa yang mengagungkan kehormatan Allah maka itu termasuk tanda taqwa dalam hati “.[15]

17. al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami (W 975 H). beliau mengatakan :

والحاصل أن البدعة الحسنة متفق على ندبها وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك أي بدعة حسنة

“ Kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah sepakat atas kanjurannya, dan amalan Maulid serta berkumpulnya manusia untuknya demikiannya juga dinilai bid’ah hasanah “[16]

18. al-Imam asy-Syihab Ahmad al-Qasthalani (). Beliau mengatakan :

ولازال أهل الاسلام يحتفلون بشهر مولده عليه السلام ، ويعملون الولائم ، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات ، ويظهرون السرر ويزيدون في المبرّات ويعتنون بقراءة مولده الكريم ، ويظهر عليهم من بركاته كلّ فضل عميم

“ Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[17]

19. al-Imam az-Zarqani. Beliau menukilkan ucapan al-Hafidz al-Iraqi :

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة

“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[18]

20. al-Imam al-Hafidz Wajihuddin bin Ali bin ad-Diba’ asy-Syaibani (866-944 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang cukup tekenal yaitu Maulid ad-Diba’i

21. al-Hafidz Mulla Ali al-Qari (W 1014 H). Asy-Syaukani mengatakan tentangnya :

أحد مشاهير الأعلام ومشاهير أولي الحفظ والإفهام وقد صنف في مولد الرسول{ صلى الله عليه وآله وسلم }كتابا قال صاحب اكشف الظنون اسمه (المورد الروي في المولد النبوي

“ Salah satu ulama termasyhur, memiliki hafalan dan pemahaman kuat, beliau telah menulis sebuah karya tulis tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dikatakan oleh shahi Kasyf dz-dzunun dengan sebutan “ al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid –an-Nabawi “[19]

22. al-Imam Ibnu Abidin al-Hanafi. Seorang ulama yang ucapannya dipegang dalam Madzhab Hanafi. Beliau mengtakan ketika menysarah kitab Maulid Ibnu Hajar :

اعلم أن من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم

“ Ketahuilah, sesungguhnya termasuk bid’ah terpuji adalah praktek Maulid Nabi yang mulia di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.

23. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Beliuu mengatakan :

والاستماع إلى صوت حسن في احتفالات المولد النبوي أو أية مناسبة دينية أخرى في تاريخنا لهو مما يدخل الطمأنينة إلى القلوب ويعطي السامع نوراً من النبي – صلى الله عليه وسلم – إلى قلبه ويسقيه مزيداً من العين المحمدية

“ Mendengarkan suara indah di dalam peringatan-peringatan Maulid Nabi atau ayat yang sesuai agama yang bersifat ukhrawi di dalam sejerah kami adalah termasuk menumbuhkan ketenangan dalam hati, dan akan memberikan cahaya dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam kepada pendengarnya ke hatinya dan mencurahkan tambahan dari sumber Muhammadiyyahnya “[20]

24. al-Imam al-Hafidz al-Munawi. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ Maulid al-Munawi “, silakan lihat kitab al-Barahin al-Jaliyyah halaman 36.

25. al-Imam Muhammad ‘Alyasy al-Maliki. Beliau memiliki kitab berjudul “ al-Qaul al-Munji fi Maulid al-Barzanji “.

26. Ibnul Hajj. Beliau mengatakan :

فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر في ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وآله وسلم

“ Maka suatu hal yang wajib bagi kita di hari senin 12 Rabul Awwal lebih meningkatkan berbagai macam ibadah dan kebaikan sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menganugerahi nikmat-nikmat agung ini, dan yang paling agungnya adalah kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.[21]

27. al-Imam al-Khathib asy-Syarbini. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maulid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi “.

28. al-Imam Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ Tuhfah al-Basyar fi Maulid Ibnu Hajar “

.

29. al-Hafidz asy-Syarif al-Kattani. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ al-Yumnu wa al-Is’ad bi Maulid Khairil Ibad “.

Dan masih banyak lagi ratusan ulama lainnya yang tidak kami sebutkan di sini misalnya, syaikh Musthofa bin Muhammad al-Afifi, syiakh Ibrahim bin Jama’ah al-Hamawi, Abu Bakar bin Muhammad al-Habasyi yang wafat tahun 930 Hijriyyah, syaikh al-Barzanji, syaikh Ibnu Udzari, syaikh al-Marakisyi, syaikh Abdushsomad bin at-Tihami, syaikh Abdul Qadir bin Muhammad, syaikh Muhammad al-Hajuji, syaikh Ahmad ash-Shanhaji, al-Imam Marzuqi, al-Imam an-Nahrawi, syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan dan lainnya.

[1] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.

[2] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532

[3] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136

[4] Al-Baits ‘ala inkaril bida’ wal-Hawadits : 23

[5] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27

[6] Tabshir al-Muntabih : 1/253

[7] Al-A’lam : 5 / 223

[8] Al-Mi’yar al-Mu’rib wa al-Jami’ al-Mughrib ‘an Fatawa ahli Afriqiyyah wal Maghrib : 11/278

[9] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167

[10] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :

[11] Al-Hawi lil Fatawi : 229

[12] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27

[13] Al-Hawi lil Fatawa, as-Suyuthi : 1/189

[14] Al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, Mulla Ali al-Qari : 12, bisa juga lihat di as-Sirah al-Halabiyyah : 1/83

[15] Hadaiq al-Anwar wa Mathali’ al-Asrar fi sirati an-Nabi al-Mukhtar : 53

[16] Al-Fatawa al-Hadtisiyyah : 202

[17] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/148

[18] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :

[19] Al-Badr ath-Thali’ :

[20] Madarij as-Salikin : 498

[21] Al-Madkhal : 1/361

Posted by: Habib Ahmad | 14 Januari 2014

Video Semarak Cinta Rasul

Posted by: Habib Ahmad | 7 Januari 2014

PROGRAM2 MALAM CINTA RASUL 2014

1530447_10152079347596999_745153920_n

1604557_10152087611111999_1246180251_n

1503461_10152087616106999_1762035757_n

1601526_10152087616116999_1611384971_n

1544610_10152087616096999_1372114927_n

1519062_10152087616091999_309884621_n

1557669_677592568930765_1352697857_n

1510563_718447398167535_156090815_n

1531871_10152087323526999_684690132_n

1493139_10152087323511999_402759942_n

1558546_10152087323506999_1055601214_n

1501691_10152087620386999_490122265_n

1003052_10152087620371999_1555489542_n

1471747_10152087620381999_909782729_n

1545913_10202051425620584_919714497_n

1525136_711533185538420_81167430_n

Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2013

MALAYSIA BERSELAWAT 2013

1471776_740398505989952_61637447_n

Posted by: Habib Ahmad | 3 Disember 2013

KEMBARA DAKWAH HABIB UMAR 2013

1472864_10152005407961999_1230444965_n

Posted by: Habib Ahmad | 9 November 2013

Fatwa Sebenar Ulama Al-Azhar As-Syarif Seputar Maulid Nabi SAW

Bismillah..

Video: Bacaan Kitab Al-Mauridul Haniy Fi Maulid As-Saniy karya Imam Al-Hafiz Al-Iraqi yang saya hadhiri sempena sambutan Maulid Nabi SAW di Masjid Al-Azhar As-Syarif pada tahun lalu, 1433H yang dihadhiri oleh para ulama besar Al-Azhar dan dunia antaranya pakar hadis di bumi Syam, Syiria Al-Muhaddith Syaikh Nuruddin ‘Itr, Pakar hadis di Mesir Al-Muhaddith Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Ba’ith Al-Kattani, Al-Muhaddith Syaikh Ahmad Ma’bad Abdul Karim (digelar pakar ‘ilalul hadith dunia), pakar ilmu kalam/aqidah Dr. Syaikh Jamal Farouk Ad-Daqqaq, Al-Allamah Syaikh Taha Dasouqi Hubaisyi, Al-Allamah Dr. Yusri Rusyi Sayid Jabr( doktor pakar perubatan yang faqih, pakar hadith dan qiraat ), Syaikh Muhammad Abdul Rahim Badruddin, Al-Allamah Al-Mutafannin Dr. Usamah Sayyid Al-Azhari hafizahumullah dll.

Akhir zaman ini, kita dapat lihat pelbagai macam golongan dan karenah. Antara yang paling dahsyat adalah golongan jahil yang merasakan diri mereka alim, lalu menyalahgunakan fatwa ulama. Saya hanya bersangka baik terhadap mereka. Mungkin mereka tersilap dalam mencari kebenaran dan terhijab dari cahaya ilmu yang murni. Namun yang amat menyedihkan bagi saya adalah golongan ini membawa pencemaran terhadap nama institusi Al-Azhar As-Syarif dengan memutarbelitkan fatwa mereka hanya untuk memenangkan pendapat sesetengah pihak dan taasub buta.

Al-Azhar As-Syarif yang telah tersohor rantaian manhajnya yang adil dan terbuka dari dahulu hingga kini terhindar dari fitnah-fitnah tersebut yang mana kononnya ulama Al-Azhar As-Syarif melarang sambutan maulid Nabi SAW, sedangkan yang mereka larang adalah maksiat dan perkara yang haram yang dilakukan di dalam majlis maulid tersebut!

Mari kita kaji sejauh mana kebenaran sebuah kitab berjudul Fatawa Kibar Ulama’ al-Azhar as-Syarif Haul al-Adhrihah wa al-Qubur wa al-Mawalid wa al-Nuzur (Fatwa Para Ulama’ Besar al-Azhar as-Syarif berkenaan Perkuburan, Kubur, Maulid-maulid dan Nazar-nazar) yang diterbitkan oleh Dar al-Basya’ir sebagaimana yang dirujuk oleh tuan blog Ansarul-Hadis di atas.

Ia boleh didapati di sini: http://waqfeya.com/book.php?bid=7054 .

Saya cuba mendapatkan buku tersebut lalu melihat beberapa nama ulama’ Al-Azhar yang cuba dikaitkan dalam isu Maulid ini. Antara nama-nama yang disebutkan adalah:

Sheikhul Azhar Sheikh Mahmud Syaltut
Sheikhul Azhar Sheikh Abdul Majid Salim
Sheikh Muhammad Husain Zahabi (Wazir al-Auqaf)
Sheikh Ali Mahfuz dalam Kitab Al-Ibda’ fi Madhar al-Ibtida’
Shohib al-Samahah Sheikh Hasanain Makhluf

Saya tertanya-tanya tentang tujuan asal buku ini ditulis. Jika buku ini disusun secara adil bersesuaian dengan tajuknya iaitu “Fatwa-fatwa Para Ulama’ Besar Al-Azhar as-Syarif”, maka, masih ramai lagi para ulama’ besar al-Azhar bahkan lebih besar daripada nama-nama yang disebutkan ini, yang membahaskan dan memberi fatwa tentang hukum Maulid.

Bahkan, nama-nama yang menulis kata-kata aluan dalam buku tersebut bukanlah termasuk dalam kalangan para ulama’ besar al-azhar as-syarif walaupun tidak dinafikan ada yang mengajar di al-azhar. Jadi, mengapa nama-nama yang di atas sahaja yang diambil sebagai rujukan atau fatwa-fatwa mereka sahaja dimuatkan dalam buku ini pada bab maulid ini?

Bahkan, cara fatwa-fatwa ini disusun juga tidak menunjukkan kepada sebuah kesimpulan yang jelas tentang hukum Maulid dan topik Maulid yang dibincangkan. Kita perlu fahami terlebih dahulu, kerangka pemikiran al-Azhar tidak seperti kerangka pemikiran fahaman Salafi iaitu apa yang tidak dilakukan oleh as-Salaf bererti ianya suatu kesalahan, kesesatan ataupun bid’ah yang membawa orang-orang yang melakukannya masuk neraka.

Institusi al-Azhar secara sejarahnya, manhajnya dan pengalaman keilmuannya, selalunya akan bersifat wasathiyyah (pertengahan atau adil) terutamanya dalam isu-isu yang mempunyai perbezaaan pendapat padanya dalam kalangan para ulama’.

Ketika saya membaca kitab yang dimaksudkan, penyusun secara sengaja ataupun tidak, tidak fokus terhadap sesuatu isu. Adakah yang cuba dibincangkan adalah tentang keumuman upacara Maulid ataupun upacara Maulid An-Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam secara khusus. Ini kerana, dalam fatwa-fatwa yang dinukilkan, sebahagiannya hanya tentang membuat sambutan Maulid para wali (bukan Maulid Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam) dengan cara-cara yang tidak pernah dilakukan dalam suasana masyarakat Islam di Malaysia secara khusus sebagaimana cuba disebut oleh Sheikhul Azhar Sheikh Mahmud Syaltut dan dinukilkan dalam kitab ini.

Pendirian Asas al-Azhar dalam Maulid Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam

Secara asasnya, sepanjang saya membaca kebanyakan fatwa para ulama’ al-Azhar dalam isu Maulid, samada fatwa-fatwa mereka yang disenaraikan dalam buku ini mahupun fatwa-fatwa para ulama’ al-Azhar (atau Mesir) yang lain, maka ianya kembali kepada kesimpulan ini:-

Pertama: Upacara Maulid Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam (ataupun maulid para ulama’ dan sebagainya) tidak pernah dilakukan oleh para salaf sholeh. Namun, itu tidak menjadikan upacara ini ketika diadakan oleh generasi kemudian, ianya suatu perkara yang bid’ah yang sesat kerana sekurang-kurangnya para ulama’ Al-Azhar memahami bid’ah itu ada hasanah dan ada yang mazmumah (tercela), dan tidak memahami bid’ah secara wahabi melainkan segelintir mereka.

Kedua: Upacara Maulid Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang mengandungi pujian kepada Allah s.w.t., pujian dan selawat ke atas Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, membaca sirah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, berhimpun dalam keadaan yang bersesuaian dengan syarak, memberi makan kepada tetamu dan sebagainya, yang tidak mengandungi perkara-perkara haram, maka, hukumnya adalah dibolehkan bahkan sebahagian ulama’ menegaskan bahawa ianya adalah sunat. Tidak ada ulama’ al-Azhar yang muktabar mengharamkan apatah lagi membid’ahkan upacara Maulid Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dalam bentuk yang baik ini kerana tidak ada perkara-perkara haram di dalamnya.

Ketiga: Upacara yang dinisbahkan kepada Maulid dan sebagainya yang mengandungi perkara-perkara yang haram seperti percampuran antara lelaki dengan perempuan, hiburan-hiburan nyayian yang melampau dan sebagainya, maka ianya ditolak oleh para ulama’ al-Azhar. Bahkan, ramai ulama’ al-Azhar yang diambil fatwa mereka dalam buku Fatawa Kibar Ulama’ al-Azhar as-Syarif Haul al-Adhrihah wa al-Qubur wa al-Mawalid wa al-Nuzur ini menolak Maulid pada bentuk kedua ini, iaitu yang mengandungi perkara-perkara yang haram termasuklah dalam fatwa Sheikh Ali Mahfuz dalam kitab Al-Ibda’ dan perkataan Sheikh Husain al-Zahabi dalam Al-Ahram.

Fatwa Semasa Dar al-Ifta al-Misriyyah

Di sini, fatwa Dar al-Ifta al-Misriyyah (oleh guru kami Mufti terkini Mesir, Shohib as-Samahah Sheikh Dr. Ali Jum’ah) menjelaskan tentang hukum bolehnya menyambut hari-hari bersejarah dalam Islam termasuklah menyambut hari kelahiran Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

[Rujuk: http://www.dar-alifta.org/viewMindFatawa.aspx?ID=74&LangID=1%5D

Seorang ulama’ al-Azhar dan bekas Mufti Mesir, Sheikh Nasr Farid Washil menyebut tentang hukum Maulid Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:

“Sambutan Maulid Nabi ini tidak pernah dilakukan oleh generasi pertama dari kalangan as-salaf as-sholeh walaupun mereka sangat mengagungkan dan mencintai Baginda shollallahu ‘alaihi wasallam yang mana kita tidak mampu menghimpunkan cinta yang mampu menyamai cinta salah seorang daripada mereka mahupun sebesar zarrah dibandingkan dengan mereka. Namun, ia adalah upacara yang baik jika bertujuan untuk menghimpunkan orang-orang soleh, berselawat ke atas Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, memberi makan orang-orang fakir dan sebagainya. Maka, ia akan diberi ganjaran dengan tujuan demikian pada bila-bila masa sahaja ianya dilakukan.

[Sumber: http://www.dar-alifta.org/ViewGeneral.aspx?ID=61 ]

Al-Imam al-Akbar Sheikh Ali Jad al-Haq ( Juga bekas Mufti Mesir pada tahun 1978) sendiri menulis sebuah artikel yang sangat indah dalam memperingati dan menyambut Maulid an-Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang berjudul “Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam Al-Rasul al-Qudwah”.

[Rujuk: http://www.dar-alifta.org/ViewGeneral.aspx?ID=66 ]

Perkataan Sheikh Ali Mahfuz dalam Kitab Al-Ibda’

Ketika penulis membaca kitab Fatawa Kibar Ulama’ al-Azhar as-Syarif Haul al-Adhrihah wa al-Qubur wa al-Mawalid wa al-Nuzur ini, fatwa Sheikh Ali Mahfuz dinukilkan secara terputus-putus dan tidak sampai maksud sebenar Sheikh Ali Mahfuz sama sekali bahkan seolah-olah berlawanan dengan maksud sebenar Sheikh Ali Mahfuz. [Sila dapatkan kitab asal Sheikh Ali Mahfuz di sini: http://www.waqfeya.com/book.php?bid=1587 ]

Walaupun Sheikh Ali Mahfuz menyebut bahawasanya upacara Maulid ini diasaskan pada daulah Fathimiyyah dan sebagainya, namun itu bukanlah asas bahawa beliau menolak upacara maulid. Pendirian sebenar beliau dalam bab Maulid tidak dizahirkan dalam kitab Fatawa Kibar Ulama’ al-Azhar as-Syarif Haul al-Adhrihah wa al-Qubur wa al-Mawalid wa al-Nuzur ini namun lebih menzahirkan salah satu pendapat yang dibincangkan oleh Sheikh Ali Mahfuz.

Setelah Sheikh Ali Mahfuz menjelaskan sejarah upacara Maulid, lalu beliau menyebut dalam kitab asal beliau Al-Ibda’ (m/s: 231):

“Tidak ada perselisihan bahawasanya ia (upacara Maulid ini) adalah suatu bid’ah. Tetapi, para ulama’ berbeza pendapat adakah ianya bid’ah Hasanah (yang baik) ataupun bid’ah yang buruk?”

Perkataan seringkas ini tidak dinukilkan oleh penyusun buku Fatawa Kirab Ulama’ Al-Azhar as-Syarif ini padahal ini adalah nota yang paling penting dalam merujuk kepada fatwa Sheikh Ali Mahfuz. Beliau tahu ada perselisihan pendapat dalam masalah ini, tetapi kenapa penyusun buku ini hanya mengambil pendapat yang menolak maulid sahaja daripada perkataan Sheikh Ali Mahfuz, sedangkan itu tidak merujuk kepada pendapat beliau sama sekali.

Penyusun buku ini menyebut: “kemudian beliau (Sheikh Ali Mahfuz) menyebut beberapa bentuk perkara haram yang terangkum dalam maulid-maulid ini antaranya…”

Ini adalah Tahrif yang nyata. Sheikh Ali Mahfuz bukanlah orang yang menyebut bentuk-bentuk haram yang terkandung dalam maulid-maulid tetapi sebaliknya beliau menyebut dari awal perenggan di atas: “al-Qa’ilun bi al-man’i Banuhu…” (maksudnya: orang-orang yang berkata dengan hukum haramnya atau tertegahnya maulid membina dasar hukum mereka di atas beberapa dalil). Kemudian, beliau menyebut beberapa dalil tersebut termasuklah dalil kedua: “beberapa bentuk perkara haram yang terangkum dalam maulid-maulid ini antaranya…” Maksudnya, orang-orang yang mengharamkan maulid yang menyebut bentuk-bentuk haram dalam maulid, bukan Sheikh Ali Mahfuz menyebut daripada dirinya sendiri.

Setelah itu, beliau menyebut dalil-dalil para ulama’ yang mengatakan bahawasanya maulid-maulid ini adalah bid’ah hasanah (yang baik) tetapi mengapa perkataan dan dalil-dalil ini tidak dinukilkan dalam buku ini? Adakah ini suatu nukilan yang adil?

Bahkan, mengapa kesimpulan yang dibuat oleh Sheikh Ali Mahfuz setelah menyebut kedua-dua pendapat tentang Maulid tidak disebutkan dalam buku Fatawa Kibar Ulama’ al-Azhar as-Syarif ini?

Sheikh Ali Mahfuz setelah menyebut dalil-dalil para ulama’ yang membenarkan upacara maulid, beliau membuat catatan dari perkataan beliau sendiri dengan berkata: “dengan dalil ini telah jatuhlah (gugurlah) dalil golongan pertama yang melarang upacara maulid ini”. Ini secara tidak langsung menunjukkan beliau sendiri secara peribadi tidak bersetuju dengan dalil-dalil yang beliau sebutkan dari pihak yang menolak dan melarang maulid secara mutlak.

Kesimpulan Sheikh Ali Mahfuz sangat jelas iaitu:

“Dengan apa yang telah kami sebutkan tadi, telah terzahir bagimu bahawasanya perselisihan atara dua pihak dalam baik maulid-maulid ini ataupun buruknya maulid bukanlah perselisihan yang hakiki pada satu isu. Akan tetapi, ia adalah perselisihan dari sudut nama yang mengikuti perselisihan isu yang dibincangkan dan dihukumkan. Maka, bahagian di mana dihukum padanya golongan pertama iaitu dengan celaan, maka, ia juga sebenarnya bukanlah yang diperindahkan oleh golongan kedua (iaitu yang membenarkan) dan bahagian atau jenis yang dihukum padanya oleh golongan kedua (yang mengatakan maulid adalah bid’ah yang baik) juga bukanlah yang dicela oleh golongan pertama. Dengan Allah s.w.t.-lah petunjuk itu.” [Kitab Al-Ibda’ m/s: 237]

Ini menunjukkan bahawasanya, di sisi Sheikh Ali Mahfuz, upacara majlis maulid ini ada dua jenis, iaitu jenis yang baik lalu dinilai sebagai bid’ah hasanah oleh para ulama’ dan maulid yang dicemari perkara-perkara haram lalu dinilai sebagai bid’ah yang buruk oleh sebahagian ulama’. Namun, pandangan ketika yang asing dalam masyarakat Islam, iaitu, sambutan atau upacara maulid itu secara mutlak adalah bid’ah, tidak diterima oleh ramai ulama’ al-Azhar termasuklah Sheikh Ali Mahfuz dan tidak dibahaskan pun oleh beliau sama sekali.

Perkataan Sheikh Husain al-Zahabi

Ketika penulis membaca keseluruhan yang dinukilkan dalam buku ini tentang perkataan Sheikh Husain al-Zahabi, secara jelas bagi Sheikh Husain al-Zahabi, asal upacara maulid itu adalah baik tetapi ketika dicampuri dengan perkara-perkara haram, maka barulah ianya haram dan buruk. Lihat buku ini pada muka surah 66 (cetakan tahun 2010, Dar al-Basya’ir). Namun, penyusun buku ini tidak berpuas hati dengan ungkapan Sheikh Husain al-Zahabi ketika sheikh berkata: “memang benar, maulid-maulid ini baik, tetapi sudut yang buruk yang telah mendominasi…”. Ini menunjukkan, jika upacara maulid ini tidak dicampuri dengan bentuk-bentuk buruk sebagaimana disebutkan tadi, maka, asalnya, ia adalah baik termasuk di sisi Sheikh Husain al-Zahabi.

Ketika Sheikh Husain Az-Zahabi ditanya tentang peranan ulama’ al-Azhar dalam kepincangan yang berlaku terhadap majlis maulid, maka beliau menyebut bahawasanya, peranan para ulama’ al-Azhar adalah untuk menghalakan majlis-majlis maulid ini ke arah yang sejahtera daripada kepincangan tersebut bukan menghapuskan terus upacara mulia ini. [m/s 67]

Perkataan Bekas Mufti Mesir Al-Allamah Syaikh Hasanain Makhluf (Guru kepada Mufti Mesir kini Syaikh Ali Jum’ah):

Kemudian apabila dirujuk pula tentang fatwa Fadhilah Syaikh Hasanain Makhluf rahimahullah , anggota Kibar ‘Ulama di al-Azhar al-Syarif, yang juga merupakan Mufti al-Diyar al-Masriyah, pada muka surat 85 dan 86 kitab yang dirujuk blog Ansarul-hadis tersebut, penulis tersebut hanya mengambil fatwa yang tiada kaitan dengan hukum sambutan maulid! Tetapi soalan yang dijawab beliau adalah berkenaan perbuatan sebahagian golongan sufi yang jahil.

Sebab itu Syaikh Hasanain menjawab pada muka surat yang sama: “Tiada asal dalam agama ini untuk berzikir mengingati Allah Ta’ala dengan cara-cara seperti yang ditanyakan dalam soalan.” Yakni cara-cara seperti zikir dengan menari, berdiri 4 orang, menunjuk sesama mereka sambil menggerakkan tangan kemudian berpusing-pusing dengan dua barisan. Semua itu adalah khurafat.

Sebaliknya jika maulid terhindar dari perkara-perkara bid’ah sesat ini, maka beliau juga membolehkannya sepertimana dalam fatwa beliau tentang maulid:

إن إحياء ليلة المولد الشريف وليالي هذا الشهر الكريم الذي أشرق فيه النور المحمدي إنما يكون بذكر الله ـ تعالى ـ وشكره لِمَا أنعم به على هذه الأمة من ظهور خير الخلق في عالم الوجود، ولا يكون ذلك إلا في أدب وخشوع وبُعْد عن المحرمات والبدع والمنكرات. ومن مظاهر الشكر إطعام الطعام على حبه مسكينًا ويتيمًا،

فتاوى شرعية وبحوث إسلامية ، ج1، ص131

Maksudnya: “Sesungguhnya Menghidupkan malam maulid yang mulia dan malam-malam bulan rabi’ul awal yang mulia ini yang terpancar padanya cahaya Muhammadi, sesungguhnya diadakan dengan zikir kepada Allah dan syukur kepadanya dengan nikmat yang dikurniakan Allah kepada umat ini dengan kemunculan sebaik-baik makhluk di alam wujud ini. Dan tidaklah ianya diadakan kecuali dalam adab, khusyu’ dan terhindar dari perkara yang haram dan bid’ah yang mungkar. Dan antara ciri-ciri zahirnya syukur adalah memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin dan anak yatim..”

Rujuk fatwa beliau dan ulama-ulama Azhar lain di: Wikipedia: Fatwa Maulid

Perkataan bekas Mufti Mesir Al-Allamah Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muti’i:

Setelah beliau menyatakan sejarah maulid dan menaqalkan pendapat Imam As-Suyuti dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang membolehkan amalan maulid, beliau memberi kesimpulan tentang hukum sambutan maulid:

فكل ما كان طاعة وقربة لم يعين لها الشارع وقتا معينا ولا مكانا معينا فلكل مكلف ان يفعلها في كل زمان وكل مكان وكذا كل ما كان غير داخل تحت نهي عام او خاص من قبل الشارع فهو مباح وما عدا ذلك فهو بدعة محرمة أو مكروهة فيلزم اجتنابها والنهي عنها

Maksudnya: “Justeru setiap apa yang dijadikan ketaatan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah yang tidak ditentukan syariat(Allah) waktu tertentu dan tidak pula tempat tertentu maka boleh bagi setiap mukallaf untuk melakukannya pada setiap waktu dan tempat, dan begitu juga setiap yang tidak termasuk dalam larangan umum atau khusus daripada syariat maka hukumnya Mubah/Harus, dan apa yang selainnya(yakni ada larangan) adalah bid’ah yang haram atau makruh. Maka wajib untuk menghindarinya dan menghalangnya”

Rujuk kitab beliau ‘Ahsanul Kalam Fi Ma Yata’allaqu Bissunnah Wal Bid’ah Min Ahkam’ pada muka surat 74.
Download PDF kitab tersebut di sini: http://ia601507.us.archive.org/6/items/rodoudach3ariya6/ahsankalam.pdf

Perkataan Syaikhul Azhar yang lalu Imam Al-Akbar Syaikh Abdul Halim Mahmud:

الاحتفال بالمولد النبوي سُنَّة حسنة من السُّنن التي أشار إليها الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ بقوله: “ومَنْ سنَّ سُنَّة حسنة فله أجرُها وأجرُ مَنْ عَمِل بها، ومَنْ سنَّ سُنَّةً سيئة فعليه وِزْرُها ووِزْرُ مَنْ عَمِل بها”، وذلك لأنَّ له أصولًا ترشد إليه وأدلة صحيحة تسوق إليه ولا يعني ترك السلف لهذا العمل الصالح مخالفتَه للشرع؛ لأن السلف الصالح كان عندهم من اليقظة الدينية وحبِّ النبي الكريم ما يُغنيهم عن التذكير بيوم مولده للاحتفال.

Maksudnya: “Sambutan Maulid Nabi SAW adalah sunnah/jalan yang baik daripada sunnah-sunnah yang diisyaratkan oleh Rasul SAW dalam sabdanya: “Barangsiapa melakukan sunnah yang baik, maka dia mendapat pahalanya dan pahala orang yang beramal denganya, barangsiapa yang melakukan sunnah yang buruk, maka dia menanggung dosanya dan dosa sesiapa yang beramal dengannya” Dan ianya adalah kerana terdapat usul/asas yang membimbingnya dan dalil-dalil yang sahih yang berpandukan padanya. “Dan tidaklah bererti peninggalan salafussoleh bagi amalan yang soleh ini merupakan pertentangan kepada syariat, kerana salafussoleh masih mempunyai kebangkitan/keprihatinan agama dan cinta Nabi yang mulia yang mana menyebabkan mereka tidak memerlukan kepada peringatan hari maulid untuk disambut.(berbeza dgn zaman yang penuh kelalaian ini)”

[Rujuk: Fatawa Imam Abdul Halim Mahmud cetakan Dar Ma'arif m/s: 273. Boleh download di: http://abdel-halim.org/Fatawa%20-%20Part1.pdf

Perkataan Syaikhul Azhar Imam Al-Akbar Syaikh Mahmud Syaltut:

Di dalam kitab beliau 'Min Taujihat Al-Islam' cetakan Dar Syuruq m/s 352, di bawah tajuk 'Sambutan Memperingati Maulid Nabi SAW', beliau memberi sebab-sebab mengapa golongan salaf tidak melakukannya dan kepentingan sambutan ini di akhir zaman ini untuk mengingatkan masyarakat yang lalai. Beliau berkata:

وقد جرت سنة المسلمين بعد قروونهم الأولى ان يحتفلوا في شهر ربيع الأول من كل عام بذكرى ميلاد الرسول محمد صلى الله عليه وسلم وكان لهم في الإحتفال بهذه الذكرى أساليب تختلف باختلاف البيئات والبلدان

Maksudnya: "Dan telah berlakulah kebiasaan sunnah umat Islam selepas kurun-kurun pertama untuk menyambut pada bulan Rabi'ul Awwal pada setiap tahun untuk memperingati Maulid Rasul Muhammad SAW, dan adalah mereka dalam menyambutnya mempunyai pelbagai cara bergantung suasana dan negara"

Fatwa Ulama-Ulama Besar Al-Azhar Yang Lain

Perkataan Dr. Yusuf al-Qaradhawi( Ulama Besar Dunia lulusan Al-Azhar)

Adapun golongan yang terasing daripada memahami fiqh Islam yang luas, yang menganggap maulid ini secara mutlaknya adalah bid’ah yang sesat, fahaman ini ditolak secara khusus oleh institusi al-Azhar dan para ulama’ Al-Azhar. Bahkan, Al-Azhar berlepas tangan daripada fahaman dan pandangan ini.

Dr. Yusuf al-Qaradhawi juga pernah berkata:

هناك من المسلمين من يعتبرون أي احتفاء أو أي اهتمام أو أي حديث بالذكريات الإسلامية، أو بالهجرة النبوية، أو بالإسراء والمعراج، أو بمولد الرسول صلى الله عليه وسلم، أو بغزوة بدر الكبرى، أو بفتح مكة، أو بأي حدث من أحداث سيرة محمد صلى الله عليه وسلم، أو أي حديث عن هذه الموضوعات يعتبرونه بدعة في الدين، وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار، وهذا ليس بصحيح على إطلاقه، إنما الذي ننكره في هذه الأشياء الاحتفالات التي تخالطها المنكرات، وتخالطها مخالفات شرعية وأشياء ما أنزل الله بها من سلطان، كما يحدث في بعض البلاد في المولد النبوي وفي الموالد التي يقيمونها للأولياء والصالحين، ولكن إذا انتهزنا هذه الفرصة للتذكير بسيرة رسول الله صلى الله عليه وسلم، وبشخصية هذا النبي العظيم، وبرسالته العامة الخالدة التي جعلها الله رحمة للعالمين، فأي بدعة في هذا وأية ضلالة ؟!

Maksudnya:

“Di sana ada dalam kalangan orang-orang Islam yang mengira bahawa memuliakan, mengambil berat atau upacara mengingati peristiwa-peristiwa keislaman, hijrah nabawiyyah, isra’ mi’raj, maulid al-Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam, perang badar kubra, fath makkah atau apa sahaja peristiwa daripada persitiwa sirah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam atau apa sahaja peristiwa dalam bab-bab ini, maka mereka mengira bahawa ia adalah bid’ah dalam perkara agama, sedang semua bid’ah adalah kesesatan dan semua kesesatan adalah neraka. Ini adalah pandangan yang tidak benar sama sekali. Adapun apa yang kami ingkari pada perkara-perkara ini adalah perayaan-perayaan yang dicampuri oleh perkara-perkara mungkar, bercampur padanya perkara-perkara yang menyalahi syarak yang mana Allah s.w.t. tidak menurunkan bukti mengenainya sama sekali seperti yang berlaku di sesetengah negara pada al-Maulid al-Nabawi dan maulid yang mereka dirikan untuk para wali dan orang-orang soleh. Akan tetapi, jika kita mengambil peluang tersebut (maulid Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam) untuk memperingati sirah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, dan memperingati tentang keperibadian Nabi yang agung ini shollallahu ‘alaihi wasallam, tentang risalah umum dan kekal yang dijadikan sebagai rahmat untuk seluruh alam ini, maka apa bid’ahnya dalam perkara ini dan apa yang sesat?

Beliau juga ada berkata:

"وكانوا يحيون مع الرسول صلى الله عليه وسلم، كان الرسول صلى الله عليه وسلم حياً في ضمائرهم، لم يغب عن وعيهم فلم يكونوا إذن في حاجة إلى تذكّر هذه الأشياء.

"Dan adalah mereka(para sahabat) hidup bersama Rasulullah SAW dan adalah Rasul SAW hidup dalam jiwa-jiwa mereka, tidak hilang dari fikiran mereka.. Maka mereka tidak memerlukan peringatan dalam perkara ini...”

Beliau berkata lagi: "Semua telah sedia maklum bahawa sahabat-sahabat Rasulullah tidak merayakan hari kelahiran Rasulullah.

"Ini kerana mereka telah menyaksikan secara langsung setiap gerak-geri Rasulullah dan seterusnya ingatan terhadap Rasulullah itu kekal di dalam hati dan juga ingatan

Rujuk:

http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=5852&version=1&template_id=130&parent_id=17

dan http://qaradawi.net/component/content/article/1548.html

Perkataan Al-Allamah Prof Dr. Wahbah Az-Zuhaili (Ulama Besar Dunia Lulusan Al-Azhar):

Ketika beliau ditanya tentang hukum sambutan Maulid di rancangan As-Syari'ah Wal Hayah di channel Al Jazeera yang bertajuk "Albida'u wa majalatuha al-mu'asirah", beliau menyatakan bahawa sambutan ini walaupun tiada di zaman sahabat dan asalnya daripada Fatimiyyun, tetapi ianyan bukanlah bid'ah yang buruk kerana menghidupkan banyak kebaikan seperti membaca AL-Quran, memperingatkan tentang akhlak Nabi SAW, dan mengajak manusia untuk berpegang pada ajaran Islam, dan adab-adab, maka hukumnya menjadi harus dan tidak mengapa.

Kerana jika kita mengatakan perkara ini merupakan bid'ah yang buruk, maka seolah-olah kita mengingkari dakwah Islam.

Salafussoleh tidak menyambut maulid Nabi SAW kerana mereka masih sibuk untuk mengukuhkan kaedah-kaedah asas-asas Islam dan rukun-rukunnya, dan pembukaan-pembukaan kota, penyebaran agama dan mempertahankan Islam dari serangan musuh-musuh serta menghadapi pelbagai halangan dalam dakwah mereka, maka mereka tidak punya waktu untuk mengadakan sambutan ini..bahkan mereka tidak memerlukan sambutan ini kerana Nabi SAW masih hidup bersama mereka, dan mengambil daripada Baginda SAW nasihat-nasihat, galakan, adab-adab yang mulia dll maka ianya belum muncul pada zaman mereka.."

Rujuk Video: http://www.youtube.com/watch?v=q4Q1vHBAYRY Minit ke-28.

Perkataan Imam As-Sya'rawi (Juga salah seorang ulama lulusan Al-Azhar):

Kata Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi rahimahullah yang beliau utarakan dalam "Ma-idah al-Fikr al-Islamiyyah" halaman 295 yang bermaksud:-

“Jika setiap ciptaan yang dijadikan, hatta yang tidak bernyawa sekalipun, bergembira dengan kelahiran Baginda SAW dan semua tumbuh-tumbuhan pun bergembira malahan semua binatang pun bergembira dan semua malaikat pun bergembira dan semua jin Islam bergembira di atas kelahiran Baginda SAW, maka kenapa kamu menghalang kami daripada bergembira dengan kelahiran Baginda SAW ?.”

Begitu juga jika kita lihat dalam risalah para ulama India, ramai di kalangan mereka yang membolehkan amalan ini. Ada satu risalah berjudul 'Al-Muhannad 'Alal Mufannad' karya Imam Al-Muhaddith Khalil Ahmad As-Sahranfuri(w 1346H) pengarang kitab 'Bazlul Majhud Syarah Sunan Abi Daud'.

Risalah beliau ini telah ditunjukkan kepada Syaikhul Azhar ketika itu yang bernama Imam Al-Allamah Syaikh Salim Al-Bisyri, lalu beliau menyetujui fatwa ulama India tersebut.

Imam Khalil Ahmad berkata:

"Moga dijauhkan untuk berkata seorang muslim -apatah lagi kita-,bahawa memperingati kelahiran Nabi SAW bahkan menyebut debu sepatunya dan air kencing keldai baginda SAW merupakan bid'ah buruk yang haram!!

Keadaan-keadaan yang ada kaitan paling sedikit dengan Rasulullah SAW pun, untuk menyebutnya merupakan antara sebaik-baik perkara sunat dan setinggi-tinggi galakan(mustahabb) menurut kami, sama ada mengingati kelahiran baginda SAW, atau kencingnya, tahinya, tidur dan bangunnya, sepertimana dikemukakan di dalam risalah kami berjudul "Al-Barahin Al-Qati'ah" dalam banyak tempat di dalamnya, dan juga dalam fatwa-fatwa guru-guru kami rahimahumullah ta'ala, seperti dalam Fatwa Maulana Ahmad Ali Al-Muhaddith As-Sahranfuri, murid kepada Syah Muhammad Ishaq Ad-Dihlawi kemudian berhijrah, Al-Makki, kami naqalkannya sebagai contoh daripada semua fatwa-fatwa.

Beliau ditanya rahimahullah ta'ala berkenaan majlis sambutan maulid Nabi SAW dengan cara apakah dibolehkan, dan dengan cara apakah tidak dibolehkan?

Maka beliau menjawab, "Memperingati kelahiran mulia Sayyiduna Rasulullah SAW dengan riwayat yang sahih, dalam waktu yang bebas dari amalan ibadat fardhu, dengan tata cara yang tidak bertentangan dari jalan para sahabat dan golongan 3 kurun pertama yang disaksikan baginya kebaikan, dengan keyakinan/i'tiqad yang tidak membawa kepada syirik dan bid'ah, dengan adab yang tidak bertentangan dengan sirah para sahabat, yang mana mendapatkan pengesahan sabda Nabi SAW: "Apa yang aku berpegang dan para sahabatku", dalam majlis-majlis yang bebas dari kemungkaran syar'ie, membawa kepada kebaikan dan keberkatan, dengan syarat didampingi kebenaran niat dan ikhlas dan berkeyakinan bahawa ianya termasuk dalam kumpulan-kumpulan zikir-zikir yang baik dan sunat serta tidak terikat dengan waktu-waktu tertentu. Sekiranya begitu, maka kami tidak mengetahui siapa pun dari umat Islam yang menghukumkannya dengan tidak dibolehkan atau bid'ah, hingga hujung fatwa.."

Sekiranya bebas dari kemungkaran, maka, moga Allah melindungi kita dari berkata: Bahawa memperingati kelahiran baginda yang mulia adalah mungkar dan bid'ah.. dan bagaimana seorang muslim boleh bersangka dengan kata-kata yang hodoh ini! dan kata-kata hododh ini jika dinisbahkan kepada kami juga adalah tuduhan-tuduhan penipu-penipu besar moga Allah menghina dan melaknat mereka...."

[Rujuk: Mabahis Fi Aqaid Ahli as-Sunnah Al-Muhannad 'Alal Mufannad karya Imam Khalil Ahmad As-Sahranfuri m/s 78-80 terbitan Dar al-Fath]

Perkataan Imam Al-Hafiz As-Suyuti Dan Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani (Bekas penuntut dan tenaga pengajar di Masjid Al-Azhar As-Syarif, Kaherah):

Imam As-Suyuti menaqalkan tentang hukum menyambut Maulid Nabi SAW oleh gurunya sendiri iaitu Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika ditanya ttg hukum maulid maka beliau menjawab:

وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا

Ertinya: “Asal melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan-kebaikan(seperti zikir, selawat, dakwah, majlis ilmu, baca sirah) di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan(seperti ikhtilat, membazir, maksiat, konsert dll), maka ia telah melakukan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)(boleh buat) tetapi jika tidak menjauhi kesalahan-kesalahan, maka tak boleh dilakukan..”

( Lihat Al Hawi Lil Fatawa, As Suyuthi, 1/282, Maktabah Asy Syamilah)

Kesimpulan:

Ramai para ulama’ Al-Azhar yang besar menghukum baik majlis-majlis Maulid seperti Imam Ibn Hajar al-Asqolani, Imam al-Suyuti dalam kitab beliau Husn al-Maqsid fi ‘Amal al-maulid, Imam Ahmad al-Dardir yang mengarang sebuah kitab maulid, Imam al-Showi, Imam al-Bajuri r.a. yang turut mengarang maulid berjudul Tuhfah al-Basyar ‘ala Maulid Ibn Hajar, Sheikhul Azhar Sheikh Abdul Halim Mahmud, Sheikhul Azhar Sheikh Tantawi, Sheikhul Azhar Sheikh Dr. Ahmad at-Thayyib, Shohib al-Samahah Sheikh Dr. Ali Jum’ah dan sebagainya sudah memadai menunjukkan pendirian sebenar al-Azhar yang jelas tentang Maulid al-Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

Mengapa para ulama’ al-Azhar muktabar ini tidak dirujuk dalam permasalahan seperti Maulid al-Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam tetapi lebih merujuk kepada beberapa fatwa yang tidak jelas dan separuh-separuh sahaja oleh segelintir ulama’ al-Azhar? Ia langsung tidak mewakili kesarjanaan dan penilaian ilmiah sebenar institusi al-Azhar dan para ulama’ mereka secara umum dalam masalah ini. Mengapa perlu bersusah-susah untuk menyalahi aliran Al-azhar yang sebenar, dengan mencari sesuatu yang terpencil dalam pembendaharaan keilmuan al-Azhar yang luas lalu cuba dijadikan pengukur terhadap pendirian al-azhar dalam sesuatu masalah? sedangkan pemikiran umum keilmuan al-Azhar adalah bercanggah dengan apa yang cuba dibuktikan. Ia jelas dilakukan atas dasar yang tidak ilmiah oleh orang yang tidak menjiwai manhaj umum keilmuan al-Azhar al-Syarif. Semoga Allah s.w.t. memberi hidayah kepada mereka dan seluruh umat Islam. Amiin…

Antara Rujukan Lain:

Fatawa Ulama Al Muslimin Bistihbab Al Ihtifal Bimaulid Sayyidil Mursalin -Karya Dr. Athiyyah Mustafa
Facebook Ustaz Raja Mukhlis

http://www.onislam.net/arabic/ask-the-scholar/8308/53190-2004-08-01%2017-37-04.html

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=20&ID=7355

http://www.azahera.net/showthread.php?t=9518

Posted by: Habib Ahmad | 4 November 2013

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun.. Haramkah membacanya?

Oleh : Ustaz Syed Abdul Kadir al Joofre

Terbaca di beberapa blog dan forum baru-baru ini, memandangkan hampirnya kita memasuki tahun baru Hijrah, berkemundang sekali lagi seruan bahawa bacaan Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun merupakan satu bid’ah yang jelas haram di sisi Islam. Benarkan apa yang dihebohkan ini? Kalau benar mengapa saban tahun setiap jabatan agama negeri tidak pernah menghalang sambutan ini? Adakah tok mufti dan semua ustaz yang berada di setiap jabatan agama ni bersekongkol dalam kesesatan? Sama-sama kita kaji..

Biasanya apabila kita tidak mengetahui asas bagi satu masalah, maka kita akan mudah membuat keputusan yang salah. Asas dan sebab bagi satu masalah merupakan kunci bagi kita untuk mendapatkan jawapan bagi masalah tersebut. Di sini kita perlu mengkaji dua masalah. Mengapa dibaca doa akhir dan awal tahun. Seterusnya mengapa pula satu golongan lagi cuba untuk mengharamkan perbuatan ini.

Asas pendapat pertama

kita lihat dari sudut amalan para ulamak berkurun lamanya bukan sahaja di nusantara malahan di banyak lagi tempat di dunia, yang mengamalkan berdoa di akhir dan awal tahun. Apakah asas mereka? Jawapannya yang ringkas, bukankah kita semua mengetahui bahawa beredarnya bulan dan tahun ini merupakan tanda kekuasaan Allah? Maka tidak layakkah kita sebagai hamba yang lemah memuji Allah apabila kita memerhatikan kebesaranNya? Seterusnya, bukankah molek kalau kita akhiri akhir tahun kita dengan memohon ampun atas kesalahan kita sepanjang tahun lalu, dan seterusnya memulakan awal tahun baru, dengan berdoa kepada Allah agar tahun yang mendatang dipenuhi rahmah dan maghfirahNya? Doa itu senjata mukmin. Maka gunakanlah senjata ada sebaik mungkin.

Asas pendapat kedua.

Bid’ah dholalah (atau kata mereka bid’ah secara mutlak) adalah mengadakan sesuatu yg baru yang tiada asasnya langsung dalam agama. Itu kata kita. Ada di kalangan mereka yang menyalah erti bahawa bid’ah adalah sesuatu urusan agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Namun sangkaan ini amat tersasar dari kebenaran berdasarkan terlalu banyak dalil menunjukkan keharusan perkara dalam agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah seperti menghimpunkan Al-Quran dan azan solat jumaat sebanyak dua kali yang dilakukan oleh Saiyidina Usman. Maka diistilahkan pula oleh Imam Syafie dan para mujtahidin yang lain perkara ini sebagai bid’ah hasanah. Malah diklasifikasikan pula oleh Imam Nawawi bid’ah kepada 5 hukum taklifi yang ada. Mereka kata klasifikasi ini klasifikasi dari sudut bahasa, namun jika kita kaji bid’ah dari segi bahasa bukanlah yang dimaksudkan oleh Imam Syafie dan yg lain, tetapi bid’ah dalam agama.

Apapun yang diistilahkan kita sepakat mengatakan bahawa perkara yang dibaharukan yang tiada asasnya langsung dalam agama hukumnya haram dan bid’ah yang dholalah. Nah, sekarang mereka membuat pula satu kaedah. Jika satu ibadat itu dilakukan pada satu waktu tertentu atau hari tertentu atau bilangan tertentu tanpa ada hadis yang warid dari Rasulullah s.a.w. maka ianya dikira sebagai bid’ah (baca bid’ah dholalah) dan haram. 2 asas inilah yang dipegang menjadikan bacaan doa akhir dan awal tahun sebagai haram.

Maka apa pula komentar bagi kedua-dua hujjah kedua-dua golongan ini ya?

Perbincangan bagi hujjah pendapat yang pertama.
Dikatakan bahawa memuji Allah apabila memerhatikan kebesaran-Nya. Benar. Namun cara kita menunjukkan pujian dan bersyukur itu perlukan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya s.a.w. Bukannya mengikut fikiran kita semata-mata. Adakah berdoa tersebut cukup untuk menghapuskan segala dosa yang berlaku di sepanjang tahun. Kalau begitu mudahla, Buat dosa banyak-banyak. Akhir tahun doa jelah. Lagipun kalau doa ni pun da bid’ah dan berdosa, sebenarnya bukan hapuskan dosa tapi tambahkan dosa lagi.

Jawapan kepada perbincangan ini.

Cara kita menunjukkan pujian dan bersyukur adalah diharuskan selagi mana tidak melanggar syara’. Sebanyak mana pun kita bersyukur takkan cukup dengan nikmat yang Allah beri. Lagipun kita bukan bersyukur mengikut fikiran kita semata-mata, tetapi berdasarkan kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya jugak kan. Bukankah berdoa ini satu cara yang ditunjukkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukannya kita sambut dgn konsert atau pertunjukkan bunga api.

Berkenaan doa boleh menghapuskan dosa atau tidak tersebut, urusan tersebut diserahkan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang memerintah kita supaya berdoa dan Dialah yang memakbulkan doa dan mengampunkan dosa. Ini merupakan usaha kita yg diperintah oleh-Nya. Hujjah buat dosa banyak2 kemudian berdoa adalah hujah yang dangkal, kerana tiada siapa yang mengetahui selama mana hayatnya. Juga ia seolah-olah mempermain-mainkan mereka yang berdoa setiap hari agar diampunkan oleh Allah. Mengapa tidak tunggu tua sahaja baru berdoa. waktu muda buat dosalah banyak2. Hujah yang amat cetek dan tidak perlu dihiraukan, tetapi perlu dijawab kerana banyak antara mereka yang cetek ilmu, tapi mengaku berilmu. Semua kita sepakat bahawa melakukan perkara yang dilarang oleh syarak secara pasti dan mesti adalah haram. Jadi mengapa perlu dipersoalkan perkara begini. Tetapi kita sebagai manusia yang tidak maksum pasti tidak akan lari dari kesalahan. Jadi kita perlu dari masa ke semasa meminta pengampunan dari Allah s.w.t. Niat melakukan dosa dengan harapan berdoa di waktu lain agar diampunkan adalah niat yang jelas salah dan terlarang.

Perbincangan hujjah pendapat yang kedua pula.

Perbincangan hujjah pendapat yang kedua. Apakah asas-asas yang diiktiraf dalam menentukan hukum dan adakah doa ini tiada asasnya langsung dalam agama? Para ulamak telah berselisih dalam perkara ini, namun mereka sepakat menentukan bahawa Al-Quran, Assunnah, Ijma’ dan Qias secara umumnya adalah asas dalam menentukan hukum. (kecuali beberapa ulamak zahiri dan syiah yang menolak terus qias). Mereka pula hanya menganggap Al-Quran dan Assunnah dan ijtihad para mujtahidin berdasarkan dua sumber ini merupakan asas. Walaubagaimanapun kedua-dua masalah ini tidakla jauh bezanya jika difahami dengan betul. Jadi persoalan sekarang adakah di sana asas bagi doa ini dibaca?

Secara ringkasnya asas bagi berdoa secara umumnya adalah ayat-ayat Alquran dan Assunnah yang terlalu banyak menerangkan perintah berdoa tak kira masa dan tempat. Perintah2 ini tidak boleh kita khususkan kepada doa yang warid dalam alquran dan sunnah semata-mata, kerana ia dikira sebagai mengkhususkan sesuatu yg umum tanpa pengkhususnya. Selain itu warid dari Hadis2 dan asar para solihin keharusan berdoa selain dari yg warid mengikut keperluan kita asalkan tidak bercanggah dengan syarak.

Asas seterusnya dalam berdoa ini adalah berdasarkan maslahah (yang juga sumber perundangan hukum islam). Maslahah yang rajihah (yang boleh diguna pakai) dalam perkara ini ditentukan oleh para ulamak terdahulu bukan menurut pemikiran kita semata. Maslahah ini lebih jelas di zaman kita yang mana ramai di kalangan masyarakat kita sudah jauh dari ajaran Islam dan tidak reti berdoa lagi. Malah di tahun baru ini pun mereka tanpa segan silu membuat kemaksiatan. Bukankah molek jika kita menyeru mereka berdoa di waktu begini?

Jadi apabila ada asas-asas yang disebutkan maka kita tidak boleh menyebut amalan berdoa ini sebagai satu perkara bid’ah yang sesat. Malah boleh kita masukkannya di dalam bid’ah hasanah yang disebutkan oleh Imam Syafie.

Mereka juga menyatakan bahawa sesutu ibadat seperti zikir dan doa itu perlu menyamai Rasulullah dari sudut bilangan, masa, hari dan tempat. Sesuatu yang bercanggah dengan salah satu darinya adalah haram. Kita pula menjawab, di manakah dalil kepada penyataan ini? Ulamak terdahulu tidak pernah membuat kaedah sebegini. kaedah yang ada adalah, ibadat tidak menyalahi dari apa yang Rasulullah tunjukkan. Jangan Rasulullah bersolat subuh 2 rakaat kita bersolat 3 rakaat, kerana nak pahala lebih. Itu yang salah. Adapun berdoa dan berzikir di waktu yang tidak warid Rasulullah berzikir pada waktu tersebut adalah tidak diharamkan. Kerana Rasulullah sendiri sentiasa berzikir dan berdoa. Selain itu perintah berzikir berdoa tidak pernah mengkhususkan masa dan tempat. Tiada salahnya jika kita hanya mengaji Al-Quran selepas maghrib setiap hari dan memerintahkan pula anak-anak kita berbuat sedemikian, walaupun tidak warid dalam hadis Rasulullah ada mengkhusukan begitu. Itu kita sepakat bukan. Jadi mengapa kita mengkhususkan pula sebelum maghrib akhir zulhijjah untuk berdoa dikira sebagai sesuatu perbuatan yang haram?

Hujjah mereka seterusnya adalah kebaikan sesuatu perkara adalah berdasarkan al-Quran dan As-sunnah. Maka kita katakan bahawa kebaikan berdoa ini juga adalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah yang menyuruh kita berdoa tanpa mengira waktu dan tidak pernah pula melarang kita berdoa di waktu2 tertentu. Maka kita simpulkan bahawa berdoa awal dan akhir tahun ini merupakan perkara yang baik menurut syara’. Bid’ah mustahabbah kata Imam Nawawi.

Kesimpulan:

Doa di awal dan akhir tahun merupakan sesuatu perkara yang baik dan harus dilakukan oleh setiap lapisan masyarakat, namun ia bukanlah perkara yang wajib. Anda hendak berdoa, berdoalah di setiap waktu dan ketika. Setiap waktu dan ketika itu termasuk juga padanya doa di awal dan akhir tahun. Berdoalah semoga dosa kita di tahun yg lalu diampunkan dan amalan kita diterima. Jua berdoalah moga di tahun baru ini kita dibantu melawan syaitan, nafsu yang menyeru kejahatan serta dibantu melakukan amal ibadat sebanyak mungkin.

Wallahu A’lam

Wasallallahu ‘Ala Saiyidina Muhammad Wa’ala Alihi Wasohbihi Ajma’in, Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

Sumber :

1. http://aljoofre.blogdrive.com/archive/10.html

2. http://aljoofre.blogdrive.com/archive/11.html

Biodata Penulis :

Pengkhususan : Ijazah Sarjana Muda (Kepujian) dalam bidang Syariah dari Universiti Al-Azhar, Mesir dan seterusnya meyambung Sarjana Syariah juga di Mesir (Feqh Perbandingan Mazhab) (kajian bertajuk: Hukum hakam Masjid : Kajian Perbandingan Mazhab dan Permasalahan Kontemporari).Mantan Ketua Moderator Agama Laman Iluvislam.Com. Kini bertugas sebagai pegawai di Sekretariat Himpunan Ulama’ Rantau Asia (SHURA)

Posted by: Habib Ahmad | 30 Oktober 2013

Nantikan kehadiran Ulama Besar Dunia di bumi Malaysia !!!

1000203_507857245976236_598405316_n

Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2013

Mahabbah Night

6418_587580021278600_1383355781_n

Posted by: Habib Ahmad | 26 Oktober 2013

Ternyata Ada Sahabat Nabi dari Indonesia

MELIHAT NABI (shallallahu ‘alaihi wa sallam) DALAM KEADAAN TERJAGA, DALAM FENOMENA HABIB MUNZIR BIN FUAD AL-MUSAWA DAN TUAN GURU IJAI AL-BAJNARI Sejak beberapa waktu yang lalu, alfaqir diminta beberapa teman Ahlussunnah Wal-Jama’ah untuk menanggapi tulisan seorang Ustadz Salafi-Wahabi, Firanda Andirja, yang berjudul “Ternyata Ada Sahabat Nabi dari Indonesia !!! (Fenomena Guru Ijai Al-Banjari dan Habib Munzir).” Setelah saya membaca tulisan tersebut di webnya, ternyata Firanda – hadaahullah -, tidak menulisnya secara ilmiah dan sepertinya kurang mehamami terhadap pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul-Bari yang dikutipnya, dan ia memahaminya dengan terbawa keinginan pribadinya. Berikut jawaban terhadap tulisan tersebut dalam format dialog: WAHABI: “Definisi sahabat –sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar al-’Asqolaani (seorang ulama besar madzhab Syafi’i) adalah : Orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan beriman kepadanya pula. Karenanya barang siapa yang –setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- masih bisa bertemu dengan Nabi dalam keadaan terjaga (tidak tidur) maka ia adalah termasuk jajaran para sahabat.” SUNNI: “Dalam pernyataan di atas, Ustadz Firanda mengutip pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, lalu menyambungnya dengan komentarnya sendiri. Di sini, Firanda melakukan beberapa tindakan yang tidak ilmiah sebagai berikut. Pertama) al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam al-Ishabah: الفصل الأول في تعريف الصحابي وأصح ما وقفت عليه من ذلك (أن) الصحابي من لقي النَّبيّ صَلى الله عَلَيه وسَلم مؤمنا به، ومات على الإسلام “ Fasal pertama, tentang definisi sahabat. Definisi yang paling shahih yang aku temukan, sesungguhnya sahabat adalah orang yang bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman kepadanya, dan mati dalam keadaan Islam”. (Al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, juz 1 hal. 16). Dalam redaksi di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar mendefinisikan sahabat dengan kalimat laqiya, yang artinya bertemu. Sementara fenomena yang dikaji oleh Firanda di atas, adalah tentang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan terjaga. Ada perbedaan antara laqiya (bertemu) dengan ro’aa (melihat). Kedua) al-Bukhari meriwayatkan dalam al-Shahih: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من رآني في المنام فسيراني في اليقظة Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka akan melihatku dalam keadaan terjaga.” Hadits di atas sengaja tidak dikaji terlebih dahulu oleh Firanda, karena dalam redaksinya jelas ada kalimat, “akan melihatku dalam keadaan terjaga”, dan hal ini akan membuka penipuan Firanda dalam kalimat yang disambungnya terhadap definisi al-Hafizh Ibnu Hajar di atas, yaitu menggiring pembaca agar membahas persoalan bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketiga) Firanda melanjutkan definisi sahabat di atas dengan berkata: “Karenanya barang siapa yang –setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- masih bisa bertemu dengan Nabi dalam keadaan terjaga (tidak tidur) maka ia adalah termasuk jajaran para sahabat”. Perkataan di atas, jelas murni dari Firanda, dengan mengubah kosa kata melihat dalam fenomena yang dikaji menjadi bertemu. Sungguh ini merupakan upaya mengelabui pembaca yang awam agar tergiring kepada kutipan Firanda selanjutnya. Seandainya Firanda bermaksud baik dengan tulisannya tersebut, tentu dia akan membahas definisi sahabat secara jami’ (komprehensif) dan mani’ (protektif), sebagaimana yang ditulis oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah. Akan tetapi Firanda tidak melakukannya, sepertinya karena ada kepentingan tersembunyi dalam hatinya. WAHABI: “Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah. Beliau berkata : ونُقِلَ عن جماعة من الصالحين أنهم رأوا النبي صلى الله عليه وسلم في المنام ثم رأوه بعد ذلك في اليقظة وسألوه عن أشياء كانوا منها متخوفين فأرشدهم إلى طريق تفريجها فجاء الأمر كذلك قلت وهذا مشكل جدا ولو حمل على ظاهره لكان هؤلاء صحابة ولأمكن بقاء الصحبة إلى يوم القيامة ويعكر عليه أن جمعا جما رأوه في المنام ثم لم يذكر واحد منهم أنه رآه في اليقظة وخبر الصادق لا يتخلف ” Dinukilan dari sekelompok orang-orang sholeh bahwasanya mereka telah melihat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam mimpi lalu merekapun melihatnya setelah itu dalam kondisi terjaga. Lalu mereka bertanya kepada Nabi tentang perkara-perkara yang mereka khawatirkan, maka Nabipun memberi arahan kepada solusi, lalu datanglah solusi tersebut. Aku (Ibnu Hajar) berkata : Ini merupakan perkara yang sangat menimbulkan permasalahan. Kalau nukilan ini dibawakan kepada makna dzohirnya maka para orang-orang sholeh tersebut tentunya adalah para sahabat Nabi, dan akhirnya kemungkinan menjadi sahabat Nabi akan terus terbuka hingga hari kiamat. Dan yang merusak makna dzohir ini bahwasanya ada banyak orang yang telah melihat Nabi dalam mimpi lalu tidak seorangpun dari mereka menyebutkan bahwa ia telah melihat Nabi dalam kondisi terjaga. Dan pengkhabaran orang jujur tidak akan berbeda” (Fathul Baari 12/385). Karenanya orang-orang yang mengaku bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi terjaga (tidak tidur) maka mereka adalah para sahabat. Mereka adalah para sahabat “BARU”, yang belum sempat tertulis dalam buku-buku para ulama yang menjelaskan tentang nama-nama dan biografi para sahabat. Ternyata diantara para sahabat “baru” tersebut ada yang berasal dari tanah air Indonesia, yaitu (1) Guru Ijai dari kota Banjarmasin dan (2) Habib Munzir dari Pancoran Jakarta.” SUNNI: “Firanda kurang bisa memahami pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar di atas. Sepertinya bahasa arabnya masih kurang bagus. Mengapa demikian? Pertama, al-Hafizh Ibnu Hajar menyampaikan bahwa ada informasi dari beberapa orang shaleh, bahwasanya mereka telah melihat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam mimpi lalu merekapun melihatnya setelah itu dalam kondisi terjaga. Kedua, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: وهذا مشكل جدا ولو حمل على ظاهره لكان هؤلاء صحابة ولأمكن بقاء الصحبة إلى يوم القيامة “Aku (Ibnu Hajar) berkata : Ini merupakan perkara yang sangat menimbulkan permasalahan. Kalau nukilan ini dibawakan kepada makna dzohirnya maka para orang-orang sholeh tersebut tentunya adalah para sahabat Nabi, dan akhirnya kemungkinan menjadi sahabat Nabi akan terus terbuka hingga hari kiamat”. Dalam kutipan di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan kemusykilannya terhadap kisah-kisah nukilan tersebut. Kemudian beliau berandai-andai dengan berkata: “Kalau seandainya ini dibawakan kepada makna dzohirnya maka para orang-orang sholeh tersebut tentunya adalah para sahabat Nabi, dan akhirnya kemungkinan menjadi sahabat Nabi akan terus terbuka hingga hari kiamat”. Artinya, dalam andai-andai beliau, seandainya kisah-kisah penglihatan orang-orang shaleh tersebut, dibawakan kepada makna zhahir, niscaya mereka akan menjadi sahabat. Permasalahannya, al-Hafizh Ibnu Hajar tidak mungkin mengartikan melihat tersebut secara zhahir. Karena beliau termasuk pengikut Ahlussunnah Wal-Jama’ah, yang ahli ta’wil. Dan ta’wilan beliau tidak dikutip oleh Firanda dalam artikelnya. Berikut ini ta’wilan al-Hafizh Ibnu Hajar yang tidak dikutip oleh Firanda dalam Fathul Bari: وقد تفطن بن أبي جمرة لهذا فأحال بما قال على كرامات الأولياء فان يكن كذلك تعين العدول عن العموم في كل راء ثم ذكر أنه عام في أهل التوفيق وأما غيرهم فعلى الاحتمال فان خرق العادة قد يقع للزنديق بطريق الإملاء والإغواء كما يقع للصديق بطريق الكرامة والاكرام وانما تحصل التفرقة بينهما باتباع الكتاب والسنة انتهى Ibnu Abi Jamrah sangat cerdas menyikapi kemusykian tersebut. Ia mengalihkan pendapatnya pada karomah para wali. Apabila memang demikian, haruslah beralih dari keumuman dalam setiap orang yang melihat (dalam mimpi). Kemudian Ibnu Abi Jamrah menyebutkan bahwa melihat dalam keadaan terjaga bersifat umum bagi orang yang memperoleh taufiq. Sedangkan selain ahli taufiq, maka kemungkinan saja. Karena sesungguhnya, menyalahi kebiasaan itu kadang terjadi bagi orang zindiq dengan tujuan membiarkan dan menyesatkan. Sebagaiman terjadi bagi orang Shiddiq dengan jalan karomah dan memuliakan. Keduanya hanya dapat dibedakan dengan mengikuti al-Kitab dan Sunnah.” Dalam pernyataan di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar mengutip pendapat Ibnu Abi Jamrah dan tidak menolaknya. Menurut Ibnu Abi Jamrah, maksud melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan terjaga, memang benar-benar melihat dalam konteks karomah yang terjadi pada para wali. Hanya saja al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari, karomah seperti ini (melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan terjaga), harusnya tidak terjadi pada setiap orang yang bermimpi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi Ibnu Abi Jamrah berpendapat, melihat dalam keadaan terjaga, dapat berlaku secara umum kepada para Shiddiq dan ahli taufiq. Oleh karena itu, pernyataan Firanda selanjutnya yang berbunyi: “Karenanya orang-orang yang mengaku bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi terjaga (tidak tidur) maka mereka adalah para sahabat”, adalah tidak pada tempatnya Oleh : Ust. Idrus Ramli

Posted by: Habib Ahmad | 19 Oktober 2013

Penggunaan Nama Allah oleh Bukan Muslim

BOLEH GUNAKAN “ALLAH” ASALKAN…

Penggunaan perkataan ‘Allah’ dalam Alkitab (Bible) dan tulisan
-tulisan Kristian di Malaysiamemang MENDATANGKAN KEKELIRUAN, bukan sahaja kepada umat Islam, tetapi juga
kepada penganut agama Kristian (1) sendiri. Sepatutnya perkataan ‘Allah’ ataupun ‘TuhanAllah’ digantikan sahaja dengan Tuhan, ataupun Yahweh, ataupun Yehovah, El, Eloah,
Elohim ataupun apa saja istilah lain (umat Kristian tentu lebih tahu) yang ada kaitan denganThe Old Testament (Perjanjian Lama) dan The New Testament (Perjanjian Akhir). Apakah
agama Kristian kekurangan perkataan hingga terpaksa menggunakan perkataan ‘Allah’ yang
lebih sinonim dengan kitab suci Al-Quran (The Last Testam
ent/ Perjanjian Akhir)? Ataupun…
ada sesuatu di sebaliknya?
Sepatutnya perkataan ‘Allah’ tidak digunakan oleh penganut agama Kristian untuk
menggambarkan Tuhan mereka walau di mana saja. Walau bagaimanapun, tulisan ini lebih
menjurus dalam KONTEKS ‘MALAYSIA’.
Perlu kita fahami, Bahasa Melayu Malaysia ada banyak juga perbezaan berbanding Bahasa
Melayu Indonesia. Contohnya ‘tewas’ di Malaysia bermaksud ‘kalah’ sedangkan di Indonesiabermaksud ‘mati’. Sebab itu jangan mudah
-
mudah menyebut ‘pemain badminton
Indonesia
telah tewas di tangan pemain Malaysia’ kepada saudara
-saudara kita dari Indonesia- nanti
‘bisa bikin ribut’. : )

Di Malaysia, ‘Allah’ ialah Tuhan YANG ESA bagi orang
-orang Islam (dan Tuhan Yang Esa bagi
semua manusia). ‘Allah’ ini langsung tid
ak sama dengan makhluk. Sebelum mana-manamakhluk wujud, Dia sudah SEDIA ADA. Sebelum tempat, ruang, warna, kecerahan, gelap,bentuk, sempadan, rupa, arah dan lain-lain (yang semuanya makhluk) wujud (diciptakan-Nya), Dia sudah sedia ada. Apa sahaja yang terpengaruh dengan tempat, ruang, warna,kecerahan, gelap, bentuk, sempadan, rupa, arah dan lain-lain adalah makhluk. Apa sahaja
yang lebih muda atau ‘datang kemudian’ daripada
-Nya- bukan Allah. Begitulah hebatnyaAllah, satu-satunya Tuhan sebenar.Allah tidak dapat dibayangkan oleh makhluk. Apa saja yang tergambar dalam fikiran kitabukan Allah. Jika Tuhan boleh dibayangkan, hilanglah kehebatannya. Allah suci daripadasegala kelemahan seperti mengantuk, lapar, dahaga, lupa, tersilap, berehat, tidak tahu,sakit, tua dan sebagainya. Jauh sekali untuk Dia diseksa ataupun mati. Dia SEMPURNA.Dia tidak dapat diperintah atau diarah-arah kerana Dialah Pemerintah- Raja Segala Raja. Diatidak dapat diutus kerana Dialah Pengutus. Dialah sahaja yang tahu bila saatnya Kiamat.Siapa sahaja yang tidak tahu tarikh dan saat Kiamat, itu bukan Allah. TIDAK TAHU
menunjukkan kelemahan dan sifat makhluk. Mustahil Tuhan ‘tidak tahu’ dan lemah. Siapasaja yang ‘tidak tahu’ dan lemah tidak layak menjadi Tuhan. Allah tidak layak memohon

kerana Dialah Tempat Permohonan.Allah tidak dapat dipecah-pecahkan, dipisah-pisahkan atau dibahagi-bahagikan- Dia Esa(Satu). Sesiapa yang menyembah Tuhan yang boleh dipecah-pecahkan dipisah-pisahkanatau dibahagi-bahagikan, maksudnya orang itu tersembah selain daripada Allah iaitu
makhluk. Hal ini kerana Dia sudah ‘sedia ada’ sej
ak ruang dan pembahagian belum dicipta.Jadi, mustahil Dia boleh dibahagi-
bahagikan. Allah sentiasa ada, tidak pernah ‘tidak ada’ataupun ‘belum ada’. Dia sentiasa muncul, mustahil Dia baru muncul ataupun belum muncul
dan kemudiannya menghilang ataupun mati. Zat Diri-Nya tidak pernah berubah atupun
bertukar. Apa sahaja yang MENGALAMI PERUBAHAN (umat Islam menyebutnya ‘baharu’),
bukan Allah tetapi makhluk.Inilah sebahagian daripada ciri-
ciri ‘Allah’ yang disebut dalam Perjanjian Terakhir
- Al Quran.Dan Allah ini memiliki begitu banyak persamaan dengan Tuhan bagi umat Kristian yangberfahaman Unitary (Unitarian). (2)
Apabila penganut agama Kristian tempatan menggunakan perkataan ‘Allah’ untuk ‘Tuhan’
mereka, memang menimbulkan masalah. Hal ini kerana sifat-
sifat ‘Allah Kristian’ itu jauh
berbeza dengan Allah. Jangan kita diperbodohkan oleh sebahagian golongan Iselam Liberal
yang mendakwa Allah sebagai ‘Tuhan Sembahan’ semua agama.
Allah sebagai TUHAN SEBENAR SEMUA MANUSIA memang benar, tetapi mengatakan Allahsebagai TUHAN SEMBAHAN semua agama ternyata jauh menyimpang. Hanya Muslim yangmenyembah Allah TUHAN SEMUA MANUSIA itu, yang tertera sifat-sifatnya sebagaimanayang dijelaskan di atas tadi. Sesiapa yang menyembah Tuhan yang memiliki semua sifat-sifattersebut, maksudnya dia menyembah Allah. Jika Sembahannya itu tidak memiliki sifat-sifatitu, maksudnya dia menyembah SELAIN ALLAH. Jadi, sesiapa yang menyembah SELAIN
ALLAH, sepatutnya gunakanlah nama lain bagi ‘Tuhan Sembahan’ mereka itu. Selesai
masalah.Kita sedia maklum, Tuhan Sembahan umat Kristian itu boleh dipecah-pecah dan dibahagi-
bahagikan walaupun dikatakan ‘3 oknum dalam satu’. Jesus sebagai Tuhan menunggu
wahyu di bumi, Roh Kudus sebagai Tuhan sedang turun ke bumi membawa wahyu manakalaBapa yang juga Tuhan sedang berada di syurga (3). Hal ini memang jelas bertentangandengan ALLAH kerana Dia tidak dapat dipecah-pecahkan, dipisah-pisahkan atau dibahagi-bahagikan- Dia Esa (Satu).
Tuhan umat Kristian itu memerlukan ‘rehat’ selepas mencipta t
etapi Allah tidak pernahberehat. Berehat adalah satu kelemahan. Tuhan Kristian pernah kalah bergusti denganmanusia tetapi Allah tidak pernah kalah. Tuhan sembahan Kristian tidak tahu di mana Adammenyorok tetapi Allah Maha Mengetahui. Sembahan Kristian itu dilahirkan tetapi Allah

5
sudah sedia ada sebelum pembahagian, jasad dan ruang dicipta. Jesus yang Tuhan dan RohKudus yang juga Tuhan tidak tahu tarikh Kiamat sedangkan Allah Maha Mengetahui. TuhanSembahan itu boleh menyesal (menunjukkan Dia tidak Maha Mengetahui) sedangkan Allahmustahil menyesal kerana Dia Maha Mengetahui.Lihatlah betapa jauh bezanya antara Allah dengan Tuhan Sembahan penganut agamaKristian. Kita tidak mahu umat Islam dan umat Kristian di negara ini terkeliru lalu menyangkayang mereka sedang MENYEMBAH TUHAN YANG SAMA. Persamaan yang wujud hanyalahMuslim dan Kristian percaya kewujudan Tuhan dan semua orang mesti menyembah Tuhan.
TAPI Islam dan Kristian ada begitu BANYAK PERSAMAAN jika ‘Allah’ yang dimaksudkan oleh
Kristian itu ialah BAPA, sebagimana faham para Unitary. Sekiranya HENDAK SANGAT, Alkitab(Bible) dan tulisan-
tulisan Kristian di Malaysia boleh saja menggunakan perkataan ‘Allah’asalkan kena dengan tempatnya. Gantikan saja perkataan ‘Bapa’ dalam Bible dengan ‘Allah’.
Ja
ngan nisbahkan ‘Allah’ kepada Jesus ataupun Roh Kudus tetapi untuk Bapa sahaja.

“…
biarlah dunia percaya yang Bapa (ALLAH) telah mengutus aku (Jesus).”
(Yohanes 17:21)
“Bapa (ALLAH) yang mengutus aku (Jesus), Dialah yang bersaksi tentang aku, kamu tida
kpernah mendengar suara-Nya, rupa-
Nya pun tidak pernah kamu lihat.”

(Yohanes 5:37)
“Namun akan hari (terjadi)nya (kiamat) atau ketikanya itu tidak diketahui oleh seorang
jua pun, baik segala malaikat yang di syurga pun tidak, anak (Jesus) itu pun tidak,
HANYALAH BAPA (ALLAH) SAHAJA.”

(Markus 13: 32)
“Jika kamu mengasihi aku, kamu akan bersukacita kerana aku pergi kepada Bapa (ALLAH),
oleh sebab Bapa (ALLAH) lebih besar daripada aku.”
(Yohanes 14:28)
“Setelah berkata demikian, Jesus mengadah ke langit lalu berkata, “Ya Bapa (ALLAH),sekarang tibalah saatnya. Muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak pun boleh memuliakanBapa (Allah)””
(Yohanes 17:1)
Bagaimana? …
Kalau penganut agama Kristian berasa keberatan, maka kita kembali saja kepada Kitab Suciagama masing-
masing. Umat Islam menggunakan nama ‘Allah’ sebagaimana yang tertera

dalam Kitab Suci Al-Quran, manakala umat Kristian gunakan nama Tuhan yang ada dalamBible Ibrani ataupun Aramaic-
yang pastinya tidak ditulis sebagai ‘Allah’. Kan selesai dengan
aman? Mengapa tidak mahu menggunakan nama Tuhan dalam Kitab Suci sendiri?’BerTuhankan Allah, Bersyariatkan Syariat Muhammad saw’
Abu Zulfiqar31 DISEMBER 2007
Lokasi artikel : http://myalexanderwathern.blogspot.com/2008/11/boleh-gunakan-allah-asalkan.html *
Penganut agama lain yang ingin tahu tentang isi kandungan ajaran Islam boleh ke lamanMENGENAL ISLAM di http://mengenalislam.blogspot.com/ .Tentu anda ingin tahu apakepercayaan umat Islam, perayaan umat Islam, ibadah Haji, hiburan umat Islam, caraberibadah dan lain-lain. Tidak ada ruginya anda menambah pengetahuan.

* Kepada mereka yang berminat untuk mengetahui perbandingan agama Islam denganagama-agama lain, boleh mengembara ke laman MENGAPA ISLAMdi http://mengapaislam.wordpress.com/ .

(1) ‘Kristian’ di Malaysia membawa maksud seluruh cabang agama
Kristian manakala di
Indonesia, ‘Kristen’ dispesifikasikan sebagai aliran ‘Protestan’ dan penganut agama Kristianaliran Katholik disebut ‘Katholik’.

(2) Umat Kristian berfahaman Unitary percaya Bapa ialah Tuhan sebenar manakala Jesusdan Roh Kudus mempunyai kedudukan yang lebih rendah daripada-Nya. Penganut agamaKristian yang berfahaman Trinity (Trinitarian) pula percaya Bapa, Roh Kudus dan Jesussebagai Tuhan sebenar- tiga peribadi dalam satu peribadi. FAHAMAN ASAS Unitary memangselaras dengan pandangan agama Islam. Banyak kaum Kristian di Timur Tengah
berfahaman Unitary. Oleh itu jika mereka menggunakan perkataan ‘Allah’ untuk Tuhan
mereka (Bapa), memang ada relevannya. Namun di Malaysia, majoritinya beraliran Katholik dan selebihnya Protestan, yang kedua-duanya Trinitarian.

(3)
“Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasnya (Jesus). Dan
terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah anak-Ku yang Ku-kasihi, kepadamulah Akuberkenan

Posted by: Habib Ahmad | 18 Oktober 2013

Mengapa Saya Meninggalkan Ajaran Wahhabi ?

Murid Ustaz Muhammad Al-Fathoni

Saya mula mendekati jalan Ahlussunnah Wal Jamaah dengan bantuan Allah semata-mata. Tanpa bantuan Allah Taala, kemungkinan saya akan terus tersesat. Sepanjang melalui jalan Ahlussunnah Wal Jamaah, saya dihadapkan dengan pelbagai perkara yang meneguhkan lagi pendirian saya atas jalan ini. Antaranya;

1. mimpi bertemu para ulama yang tidak saya alami ketika menjadi Wahabi dahulu

2. mahabbah kepada Rasulullah yang tidak saya rasai semasa berada dalam fahaman Wahabi

3. hubungan yang erat antara pencinta Rasulullah. Hubungan ini tidak saya rasai semasa bersama dengan ahli wahabi

4. saya mencari salah sendiri semasa berama l. Semasa menjadi Wahabi dulu, saya cuma mencari salah orang lain.

5. rakan2 saya yang bertugas sebagai pengamal perubatan Islam dan berfahaman Wahabi tidak mampu mengubat sekalian pesakit walaupun dibaca beratus-ratus ayat. Namun, pengamal perubatan Islam berfahaman ASWJ mampu melemahkan jin dalam badan manusia walaupun dengan bacaan bismillah sahaja. (dengan izin Allah)

Sebab tu saya katakan, kalau orang nak pancung saya sekalipun, saya rasa saya sanggup, asalkan ajaran ASWJ tidak ditinggalkan. Demikian juga penganut ASWJ yang lainnya.

Posted by: Habib Ahmad | 6 Oktober 2013

Hukum Membaca Surah Yasin Dan Tahlil Berjemaah

Ibadah
Tarikh Keputusan: 9 Sep, 2002
Huraian Tajuk/Isu:
Hukum Bacaan Surah Yasin dan Bertahlil samada sampai atau tidak pahala amalan tersebut kepada simati.
Keputusan:

Mesyuarat Jawatankuasa Fatwa Negeri Johor yang bersidang pada 9 September 2002 telah membincangkan mengenai Hukum Membaca Surah Yasin Dan Tahlil Berjemaah.

Alhamdulillah fatwanya:
Segala bentuk sedekah seperti kenduri, membaca ayat-ayat Al-Quran dan segala bentuk zikir, tahlil adalah harus dan pahalanya إن شاء الله sampai kepada simati yang ditujukan dengan syarat diniatkan semua pahala amalan-amalan kebajikan tersebut untuk simati dengan penuh keikhlasan.

http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/hukum-membaca-surah-yasin-dan-tahlil-berjemaah-0

Posted by: Habib Ahmad | 6 Oktober 2013

Allah Di Mana? Di Atas Langit atau Di Semua Tempat?

Editor: Blog al-Faqir Ila Rabbih Ta’ala – Date: 12.8.09
Soalan di atas, lazimnya ditanya oleh salah satu dari dua orang berikut, sama ada dia memang tak tahu dan inginkan jawapan, atau soalan perangkap ‘salafi’ (boleh baca salah pi) yang ingin menguji akidah ‘lawan’nya. Ini kerana mereka sudah meyakini bahawa Allah Taala itu tempatnya di atas langit. Jika orang tersebut menjawab di atas langit, dia akan berpuashati, tetapi jika orang tersebut menjawab di semua tempat atau di mana-mana sahaja (seperti fahaman Muktazilah), maka dia akan memerli dan memperbodohkan begini: “Walaupun di tandas?!”.

Sebenarnya soalan pilihan; ‘di atas langit atau di semua tempat’ seperti di atas adalah soalan bidaah. Saya katakan ianya bidaah sayyi’ah (yang keji). Ini kerana ianya telah menimbulkan terlalu banyak perbalahan dan sengketa sehingga kini. Maka eloklah ditinggalkan sahaja pertanyaan bidaah tersebut. Ini kerana jawapan yang pertama dan yang kedua adalah mustahil bagi Allah, selagi ia berhubung dengan tempat, sepertimana yang akan diterangkan nanti. Allah Taala tidak berada di tempat tertentu, sama ada atas, bawah, kiri, kanan, depan atau belakang. Ini tidak bermakna Allah Taala itu ‘ma’dum’ (معدوم) yakni ‘yang ditiadakan’ (seperti ejekan setengah ‘ salafi’ pembidaah yang jengkel), kerana Dia telah sedia ada wujud dengan zat-Nya. Begitu juga Allah Taala tidak berada di semua tempat.

Jawapan Yang Sahih

Namun, pertanyaan; ‘di mana Allah?’ bukanlah bidaah. Ini kerana Allah Taala telah mengetahui tabiat manusia yang pasti akan bertanya soalan seperti itu. Dan Allah Taala tidak mahu umat Nabi Muhammad SAW ini menjadi sepertimana orang Yahudi dan orang Kristian yang beriktikad bahawa Allah Taala itu di atas langit dengan zat-Nya, lalu diturunkan anak-Nya ‘Uzair menurut Yahudi, dan Jesus (‘Isa) menurut Kristian, ke atas muka bumi, لا حول ولا قوة إلا بالله. Oleh kerana itu Allah Taala telah menurunkan jawapannya seperti berikut, firman-Nya dalam surah al-Baqarah:

Terjemahan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruan-Ku (dengan mematuhi perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku mudah-mudahan mereka menjadi baik serta betul”. (186)

Bagaimanapun jika mereka tidak berpuashati dengan jawapan dari kalam Allah ini, katakanlah: Allah wujud tanpa bertempat (الله موجود بلا مكان). Ini kerana Allah Taala tidak memerlukan tempat (dan langit adalah termasuk daripada tempat). Yang memerlukan tempat ialah makhluk. Dia-lah yang menciptakan tempat, maka tempat adalah termasuk daripada makhluk. Allah Taala tidak memerlukan apa-apa daripada makhluk-Nya dan tidak bergantung kepada mereka sedikitpun.

Komentar Hadith Jariyah

Adapun hadith jariyah (hamba perempuan) yang menunjukkan seolah-olah Allah Taala di langit, dijawab oleh para ulama Ahlus Sunnah wal-Jamaah seperti berikut;

1- Ianya bukan hadith mutawatir. Maksudnya hanya segelintir sahabat Nabi SAW sahaja yang meriwayatkannya, tidak ramai. Maka orang yang mati tanpa akidah ‘Allah di atas langit’ tidaklah berdosa. Justeru, usul akidah mesti disabitkan dengan hadith mutawatir.

2- Hadith tersebut tidak dimuatkan oleh ulama-ulama hadith yang meriwayatkannya di dalam bab akidah, kecuali golongan musyabbihah dan sebahagian ahli hadith yang terpengaruh dengan mereka dalam mazhab Hanbali.

3- Ini kerana cara ia difahami berhubung dengan situasi hadith itu diucapkan, di mana jariyah tersebut adalah orang biasa yang kurang berpelajaran, maka wajarlah Nabi SAW melayaninya menurut kemampuan akal fikirannya. Dalam riwayat berkenaan beliau menjawab: “Di langit”, kerana inilah kefahaman semua orang biasa, termasuk kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin yang percaya kewujudan Tuhan dan kekuasaannya. Apa yang membezakan dengan mereka di sini ialah pengakuannya terhadap kerasulan Nabi SAW, lalu baginda menghukumkannya sebagai mukminah. Manakala dalam satu riwayat lain, beliau hanya menunjuk ke arah atas, manakala yang berkata ‘ke langit’ ialah perawi hadith yang menceritakan situasi berkenaan.

4- Maka para ulama menafsirkannya menurut kaedah; ‘merujukkan nas yang mutasyabihat (mengelirukan) kepada nas yang muhkamat (meyakinkan)’. Antara nas yang muhkamat di sini ialah ayat (ليس كمثله شيء), “Tiada suatu apapun yang menyerupai-Nya”. Jika Nabi SAW pernah bersabda; ‘Allah di langit’, pasti tidak timbul masalah, dan ianya tidak menjadi nas yang mengelirukan (mutasyabihat). Justeru, ulama menyatakan bahawa jawapan/isyarat jariyah tersebut adalah menunjukkan ketinggian kedudukan Allah (علو المكانة), dan bukannya ketinggian tempat Allah berada (علو المكان). Ini ditunjukkan dengan kalimah (في السماء), “di langit” dengan lafaz mufrad (tunggal) sahaja, bukan dengan lafaz (فوق السماء السابعة), “di atas langit ketujuh”, atau dengan lafaz plural (فوق السموات), “di atas semua langit”. Maka kalimah al-sama’ dalam adat Arab mengisyaratkan kepada alam ghaib yang tidak dapat diketahui hakikat sebenarnya.

5- Tambah mereka lagi; adat umat Islam menadah tangan ke langit ketika berdoa adalah kerana langit itu adalah kiblat bagi doa (tidak kira sama ada anda di Kutub Utara atau di Kutub Selatan maka kiblat semasa berdoa ialah langit), sepertimana kita bersembahyang menghadap Allah Taala, maka kiblatnya ialah ke Kaabah. Ini bukanlah bermakna Allah Taala berada di hadapan kita dengan zat-Nya, dan tidak ada di sebelah belakang.. Jika kita mengamati kedudukan bumi dari angkasa dan mengamati seluruh alam cakerawala ini, di samping menginsafi kekerdilan diri, pasti kita akan akur dengan ayat al-Quran di atas. سبحان الله..

6- Kefahaman akidah orang awam seperti yang saya sebut di atas juga, berlaku dalam beberapa perkara akidah yang lain, seperti soal perbuatan hamba (أفعال العباد), kefahaman tentang iradah (kehendak) manusia dan qadar Allah SWT. Jika tidak diberi penjelasan atau diajarkan ilmu yang sahih, mereka akan menyangka bahawa Allah SWT menjadikan manusia dan membiarkan mereka berusaha mengurus hidup mereka masing-masing dengan sendiri tanpa campurtangan daripada-Nya. Atau pun mereka percaya hidup mereka ini telah ditentukan semuanya oleh Allah SWT, maka tidak perlu berusaha untuk mengubah apa-apa yang telah ditetapkan dan berserah sahaja bulat-bulat.

7- Sebahagian ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Muhammad Zahid al-Kawthari dan al-Hafiz ‘Abdullah al-Ghumari mengatakan bahawa hadith tersebut adalah syaz, iaitu hadith yang sahih sanadnya, tetapi matannya berlawanan dengan hadith-hadith sahih yang lain. Ini kerana kebanyakan dakwah Nabi SAW adalah dengan seruan supaya mengucap syahadah (لا إله إلا الله), bukannya bertanya ; “Di mana Allah?” (أين الله). Malah sebahagian jalan riwayat hadith berkenaan diriwayatkan dengan lafaz yang jelas : (أتشهدين أن لا إله إلا الله). Maka hadith syaz tidak dapat dijadikan hujah.

Wallahu a’lam.

Rujukan tambahan:

1- Fatwa al-Hai’ah al-’Ammah – sini.

2- Risalah al-Burhan al-Sadiq.

3- Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir – sini.

Posted by: Habib Ahmad | 6 Oktober 2013

Wahabi: Perkara usul atau furu’?

Dalam masa terdekat ini ada dua kali saya terbaca dalam harianSinar mengenai Wahabi: Satu mendesak Kerajaan Malaysia memutuskan bagaimana dengan kedudukan Wahabi; dan satu lagi mendesak agar dialog segera diadakan.
Dr Asmadi: Saya amat mengesyorkan dialog tertutup diadakan bagi dua golongan iaitu satu mewakili Ahlussunnah wal Jamaah (ASWJ) dan satu lagi golongan yang digelar Wahhabi atau Salafi. Satu dialog tertutup pernah diadakan oleh Jabatan Agama Islam Kelantan pada 2009 untuk menjelaskan kenapa ditolak oleh ulama ASWJ.

Musuh menggelar mereka Wahabi, tetapi mereka sendiri menamakan diri mereka Salafi bermazhab Hanbali pengikut Ahmad ibn Hanbal. Kalau Ahmad ibn Hanbal diterima, tetapi Wahabi dipertikaikan, maka “itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka”.
Dr Asmadi: Ini kali pertama Salafi mengaku bermazhab Hanbali, biasanya mereka mengaku tiada mazhab. Dalam kerangka ASWJ, sudah tidak ada masalah pemgamalan 4 mazhab (Hanafi, Maliki, Shafie dan Hanbali). Sebab itu di Mesir ada pengajian 4 mazhab. Bahkan pengajian fiqh, pelajar boleh memilih salah satu mazhab pada peringkat thanawi (menengah atas). Masalah pada fahaman Wahhabi ialah, mereka mengaku mereka pengikut salah satu mazhab yang 4, tetapi mereka tidak mengizinkan pengajian 4 mazhab di Masjidil Haram pada waktu sekarang atas keyakinan mereka bahawa mereka sahaja yang benar.

Secara teorinya, ramai pengikut Salafi menjarakkan diri dari menyebut sebagai Wahhabi sebab Muhammad Abdul Wahab muncul di kurun yang lepas, jadi dia bukan Salaf. Mereka mungkin selesa menyandarkan diri mereka kepada Salafi (mengikut Salaf berdasarkan pemahaman Shaykh Ibn Taymiyyah).

Sebelum apa-apa, saya mohon tentukan lebih dahulu adakah Wahabi itu perkara usul atau furu’?
Perkara usul : umat Islam menerima atau menolaknya dengan ijmak.
Perkara furu’ : umat Islam menerima atau menolaknya tidak ijmak.

Dr Asmadi: Pelik sikit penakrifan ‘perkara usul’ oleh pengarang ini. Sefaham saya, perkara usul ialah perkara yang berkaitan dengan simpulan iman dan perkara-perkara yang maklum dalam agama (al-umur al-ma’lumat min al-din bi al-dharurah). Cukup sepakat ulama ASWJ menolak, maka terkeluarlah seseorang itu dari ASWJ. Perkara furu’ ialah selain dari klasifikasi tadi.

Pada pandangan saya, khilaf ASWJ dengan golongan Wahhabi kebanyakannya pada perkara-perkara-perkara furu’ (cabang) kecuali pada dua perkara yang boleh merencatkan akidah:
i. Ada yang melampau dalam mengithbatkan (menetapkan) sifat-sifat Allah sehingga termasuk dalam golongan ‘mujassimah’ (menjisimkan Allah iaitu mentafsirkan Allah berbentuk dan beranggota).
ii. Gejala mengkafirkan dan membid’ahkan umat Islam pada perkara khilaf yang ada asas-asasnya dalam Syarak. Gejala ini amat merbahaya dan tidak wujud dalam kerangka ASWJ beramal dengan 4 mazhab sebelum ini dan dicetuskan oleh fahaman ini.

Pada persoalan pertama, ASWJ meyakini keseluruhan sifat-sifat Allah seperti al-wujud, al-qidam, al-baqa’, al-mukhalafatuhu lil hawadith dan lain-lain. Demikian juga nama-nama Allah yang maha baik. Mengenai sifat-sifat yang berbentuk ‘anggota’ seperti ‘yad’ dan lain-lain, ulama ASWJ berpegang kepada ‘melalukan maknanya sebagaimana ia datang’ tanpa berbincang secara mendalam, atau ‘mentakwilkan’ maknanya secara ringkas bagi memudahkan faham masyarakat awam. Mahasuci Allah SWT dari menyerupai segala sesuatu.

Manakala, bagi sesetengah aliran Salafi, mereka berani membahaskan secara lebih dalam, lantas berkata: “Allah mempunyai dua tangan tetapi tak sama dengan makhluk!”. Mereka menetapkan dulu ‘beranggota’nya Allah, kemudian menafikan persamaan dengan manusia.

Pendekatan ulama ASWJ berbeza, menafikan terus ‘anggota’ dari Allah SWT kerana anggota tu sifat bagi makhluk.

Pada persoalan kedua, saya pernah tulis artikel bagaimana pemuka-pemuka fahaman ini mengeluarkan imam-imam dari golongan ASWJ. Mereka mengatakan Imam Ibn Hajar dan Imam Nawawi bukan Ahlusunnah dari sudut aqidah! Subhanallah, dua imam tersebut, ulama-ulama ummmah mengangkatnya sebagai pembela Ahlussunnah tetapi mereka mengatakan bukan dari Ahlussunnah!.

Sebagaimana perkara lain dalam Islam, masalah Wahabi bukan ada sempadan geografi yang boleh ditentukan oleh Kerajaan Malaysia. Islam adalah satu dan sama dalam dua perkara, iaitu usul dan furu’. Dalam usul bersatu dan dalam furu’ berbeza.
Perkara usul adalah seperti perkara-perkara yang terkandung dalam Rukun Iman dan Rukun Islam, umat Islam Ahli Sunnah tidak boleh berselisih faham. Sebab itu Agama Qadiani, Baha’i dan Isma’iliyah-Batiniyah umpamanya, semuanya terkeluar dari Islam Ahli Sunnah dengan ijmak.
Perkara furu’ pula adalah seperti berkaitan dengan masalah-maslaah yang ditimbulkan dari Akidah di gelar Ilmu Kalam.
Kata Ghazali dalam kitabnya Qawa’id al-’Aqaid:
1. Ada yang mengatakan Ilmu Kalam itu bid’ah atau haram.
2. Ada yang mengatakan wajib dan fardhu.
3. Ada yang megatakan fardhu kifayah; dan
4. Ada yang mengatakan fardhu ‘ain.

Di antara yang mengatakan haram itu ialah Imam Syaf’ie, Malik, Ahmad ibn Hanbal, Sufyan dan semua golongan Salaf yang terdiri daripada Ahli Hadis.

Dr Asmadi: Ilmu Kalam pada zaman Imam Malik, Imam Shafie, Imam Ahmad adalah berbeza dengan ilmu kalam pada zaman Imam Ghazali. Imam Ghazali wafat pada kurun ke 6H. Manakala imam-imam tersebut sekitar 300 kurun yang pertama. Saykh Ibnu Taymiyyah juga memperkatakan mengenai ilmu kalam dalam fatwanya tetapi secara ringkas. Justeru, mana boleh menggunakan hukum Imam-imam tersebut untuk memperkatakan ilmu kalam selepasnya. Ilmu kalam telah digunakan oleh ulama Islam untuk mempertahan Islam dari ancaman pemikiran Kristian dan fahaman sesat seperti Muaktazilah dan sebagainya yang menggunakan hujah-hujah akal.

Dari empat pendirian ini, kalau tidak silap, ada golongan di Malaysia yang mengatakan Ilmu Kalam itu wajib dan fardhu ‘ain. Pada masa yang sama, mereka kukuh berpegang dengan Mazhab Syaf’ie yang mengatakan Ilmu Kalam itu haram. Saya tidak pernah dengar dalam zaman ini ada di antara orang Islam yang memihak kepada salah satu daripada empat pendirian tersebut dan mengajak berdebat kalau ada orang menyalahi pendiriannya. Inilah yang saya maksudkan “perkara furu’.

Sebelum apa-apa tentukan lebih dahulu dijelaskan adakah Wahabi itu perkara usul atau furu’.
• Pihak yang bersungguh sangat perkara Wahabi, adakah Wahabi itu termasuk perkara yang menyalahi Usul Islami dengan ijmak, bahwa sesiapa yang menganutnya akan terkeluar dari Islam. Jika demikian, tidak perlu didebatkan lagi.
Dr Asmadi: Pada pandangan saya, sahabat-sahabat saya dari golongan ini sebenarnya ‘cinta’ pada Al-Quran dan al-Sunnah’. Tetapi mereka menyempitkan kefahaman mereka kepada penafsiran dari Imam Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, Muhammad Abdul Wahhab, Albani dan tokoh-tokoh mereka.

Saya katakan bahawa mereka adalah sahabat-sahabat seIslam saya dan tidak sekali-kali mereka terkeluar dari ajaran Islam. Walaupun begitu beberapa perkara dalam isu mengisbatkan (menetapkan) anggota terhadap Allah SWT perlu dilakukan perbincangan dengan mereka. Kita tidak berbeza pada isu sifat-sifat Allah SWT, tetapi kita berbeza pada mengatakan Allah SWT ‘beranggota’ atau ‘tidak’. Kami mengatakan Allah SWT maha suci dari anggota. Kita juga katakan, jangan disebarluaskan aqidah yang boleh membawa kepada fahaman ‘mujassimah’ ini. Pihak berkuasa agama perlu membendung aqidah sebegini.

• Adakah di sana orang yang memandang Wahabi perkara Furu’yang khilafiyah belaka. Jika khilafiyah, maka memang ada perbezaan yang tidak dapat dielakkan.
Dr Asmadi: Memang perbezaan tidak dapat dielakkan. Kerangka ASWJ memang mengiktiraf perbezaan pandangan ini. Sebab itu pengajaran 4 mazhab dibenarkan disebar luas. Masalahnya, bila masuknya fahaman Wahhabi, lantas perbezaan pandangan dikatakan ‘sesat’ dan sebagainya. Buktinya di tempat mereka, tidak boleh disebarluas amalan 4 mazhab. Masalahnya lagi, mereka hanya melihatkan keterbukaan bila ada tindak balas dari ustaz-ustaz Ahlussunnah ‘menyerang balas’ keterlanjuran mereka.

Dalam mana-mana mazhab ada mereka yang bersikap keras, ada yang bersikap sederhana dan ada yang bersikap tak kisah.
Sikap sederhana membuahkan perpaduan dan hormat menghormati.
Sikap keras membuahkan perpecahan dan benci membenci.
Adakah sikap itu hasil kajian yang terkini lagi teliti?
Atau datang daripada apa yang diketahui selama ini?
Penulis pernah mengajar di Kolej Islam Petaling Jaya dan di Jabatan Usuluddin & Falsafah, Fakulti Islam, UKM.
Secara khususnya, kita banyak membuang masa mendebatkan soal mazhab bila masuknya aliran Wahhabi & Salafi. Mungkin benar kata-kata seorang pensyarah UIA dari Iraq kepada saya pada satu masa dahulu: “Kamu orang-orang Islam di Malaysia, jumlah kamu hanya sedikit (lebih sikit 50%). Kamu tak mampu berpecah kepada pelbagai aliran. Bila berpecah aliran, biasanya berlaku perpecahan politik. Memang benar apabila ulama kamu menekankan aliran Mazhab Shafie dan ASWJ sbg tunjang masyarakat.”

Wallahu taala a’lam. Allahu al-Musta’an.

Abu al-’Izz

Posted by: Habib Ahmad | 22 September 2013

MENJAWAB FITNAH DUDUKNYA ALLAH DI ATAS ARSY

Menjelaskan dan meluruskan persoalan yang sejak awal disalah pahamkan, memang sedikit sulit. Apalagi persoalan yang sejak kemunculannya sudah dilontarkan oleh seorang yang ucapannya selalu dianggap benar. Kesulitan bukan dari yang menjelaskan melainkan dari pihak yang dijelaskan yang hatinya sudah merasa paling benar dari kelompok lainnya yang mayoritas.

Di antara persoalan yang menjadi fitnah di antara kaum muslimin minoritas (wahabi) dan mayoritas (Asy’ariyyah) adalah persoalan “ Allah mendudukkan Nabi Muhammad bersama-Nya di Arsy “. Ucapan ini dipopulerkan kembali oleh Ibnu Taimiyyah yang mengklaim (mengaku) telah diucapkan oleh para ulama yang diridhoi dan para wali yang diterima.

Ulama Asy’ariyyah memahami benar ucapan Ibnu Taimiyyah ini, dan mengatakan bahwa ucapan ini mengandung tajsim terhadap Dzat Allah Ta’aala.

Sedangkan taimiyyun (pengikut paham Ibnu Taimiyyah) mengatakan bahwa Asy’ariyyah bodoh kerana ucapan itu juga diucapkan oleh para ulama yang diridoi dan para wali yang diterima sebagaimana dikatakan oleh Mujahid dan ath-Thobari bukan hanya Ibnu Taimiyyah sendiri.

Baiklah sekarang kita cuba jelaskan persoalan ini dengan terperinci dan mendalam :

Ibnu Taimiyyah mengatakan :

إذَا تَبَيَّنَ هَذَا فَقَدْ حَدَثَ الْعُلَمَاءُ الْمَرْضِيُّونَ وَأَوْلِيَاؤُهُ الْمَقْبُولُونَ : أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجْلِسُهُ رَبُّهُ عَلَى الْعَرْشِ مَعَهُ . رَوَى ذَلِكَ مُحَمَّدُ بْنُ فَضِيلٍ عَنْ لَيْثٍ عَنْ مُجَاهِدٍ ؛ فِي تَفْسِيرِ : { عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا } وَذَكَرَ ذَلِكَ مِنْ وُجُوهٍ أُخْرَى مَرْفُوعَةٍ وَغَيْرِ مَرْفُوعَةٍ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ : وَهَذَا لَيْسَ مُنَاقِضًا لِمَا اسْتَفَاضَتْ بِهِ الْأَحَادِيثُ مِنْ أَنَّ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ هُوَ الشَّفَاعَةُ بِاتِّفَاقِ الْأَئِمَّةِ مِنْ جَمِيعِ مَنْ يَنْتَحِلُ الْإِسْلَامَ وَيَدَّعِيه لَا يَقُولُ إنَّ إجْلَاسَهُ عَلَى الْعَرْشِ مُنْكَرًا. وَإِنَّمَا أَنْكَرَهُ بَعْضُ الْجَهْمِيَّة وَلَا ذَكَرَهُ فِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ مُنْكَرٌ

“ Jika telah jelas hal ini, maka sungguh para ulama yang diridhai dan para wali yang diterima telah menceritakan (membawakan riwayat hadits) bahwa “ Muhammad Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam akan Allah dudukkan di atas Arsy bersama-Nya “, telah meriwayatkannya Muhamamd bin Fudhail dari Laits dari Mujahid tentang tafsir “ Semoga Allah memberikan padamu kedudukan yang terpuji “, dan menyebutkan riwayat ini dari jalan lainnya yang marfu’ dan (bukan marfu’) mauquf. Ibnu Jarir berkata : “ Ini tidaklah bertentangan dengan hadits-hadits yang menjelaskan bahwa maqam Mahmud adalah syafa’at dengan kesepakatan para imam dari seluruh orang yang mengaku Islam, tidak mengatakan bahwa riwayat Allah mendudukkan nabi di atas arsy itu hadits munkar, sesungguhnya yang mengingkarinya hanyalah sebagian dari kelompk jahmiyyah, beliaupun tidak menyebutkan munkar dalam tafsir ayat itu “.[1]

Penjelasan :

Ucapan ini mengandung dua pemahaman :

Pertama : Allah duduk di atas Arsy

Kedua : Allah mendudukkan Nabi Muhammad di atas Arsy.

Ibnu Taimiyyah dengan mengatasnamakan imam ath-Thabari mengatakan bahwa nabi Muhammad akan Allah dudukkan bersama-Nya di atas Arsy. Dan Ibnu Taimiyyah juga mengatasnamakan imam Ath-Thabari bahwa ucapan ini telah disepakati oleh seluruh umat Islam dan tidak ada yang mengatakan hadits ini mungkar kecuali sebagian kaum jahmiyyah.

Benarkah apa yang dikatakan Ibnu Taimiyyah bahwa imam Ath-Thabari mengatakan seperti itu ? dan diikuti oleh para pengikut Ibnu Taimiyyah hingga saat ini ?

Benarkah maksud ucapan Ath-Thabari seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyyah ??
Mari kita selidiki dan kita kaji kembali nash-nash dari imam ath-Thabari agar kita tahu dan mengerti pokok-pokok permasalahannya sehingga kita semua akan memahami apa yang dimaksud oleh imam ath-Thabari :

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyebutkan beberapa pendapat tentang penafsiran ayat Maqam Mahmud sebagai berikut :

ثم اختلف أهل التأويـل فـي معنى ذلك الـمقام الـمـحمود، فقال أكثر أهل العلـم: ذلك هو الـمقام الذي هو يقومه صلى الله عليه وسلم يوم القـيامة للشفـاعة للناس لـيريحهم ربهم من عظيـم ما هم فـيه من شدّة ذلك الـيوم

“ kemudian ahli takwil berbeda pendapat tentang makna ayat maqam Mahmud tersebut, mayoritas ulama memaknainya bahwa maqam itu adalah yang dididirkan oleh Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan syafa’at bagi manusia agar Allah mendamaikan rasa takut mereka dari dahysatnya bahaya saat itu “.[2]

Kemudian setelah itu beliau menyebutkan pendapat kedua tentang maqam mahmud sebagai berikut :

وقال آخرون: بل ذلك الـمقام الـمـحمود الذي وعد الله نبـيه صلى الله عليه وسلم أن يبعثه إياه، هو أن يقاعده معه علـى عرشه

“ Yang lain berpendapat bahwa maqam Mahmud yang Allah janjikan kepada nabi Muhammad adalah kelak Allah akan mendudukkannya di atas arys bersama-Nya “.[3]

Dan beliau juga menyebutkan bahwa pendapat ini dikatakan oleh Mujahid.
Setelah itu beliau memberikan komentar dan kesimpulan sebagai berikut :

وأولـى القولـين فـي ذلك بـالصواب ما صحّ به الـخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم. وذلك ما:
حدثنا به أبو كريب، قال: حدثنا وكيع، عن داود بن يزيد، عن أبـيه، عن أبـي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عَسَى أنْ يَبْعَثَكَ رَبّكَ مَقاما مَـحْمودا سُئل عنها، قال: هِيَ الشّفـاعَةُ.

“ Pendapat yang paling benar adalah apa yang sahih dari hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tentang ini di antaranya : Telah menceritakan padaku Abu Kuraib, ia berkata : telah menceritakan padaku Waki’, dari Dawud bin Yazid dari ayahnya dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Semoga Tuhanmu membangkitkanmu dan memberikan tempat yang terpuji “, Rasul ditanya tentang itu, maka beliau menjawab : “ Itu adalah syafa’at “.

Penjelasan :

Imam ath-Thabari sama sekali tidak mensahihkan atsar atau pendapat Mujahid, justru sebaliknya beliau mentarjih pendapat Mujahid dengan hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan beliau mengatakan bahwa hadits yang menafsirkan Maqam Mahmud dengan Syafa’at adalah lebih utama untuk dibenarkan daripada pendapat Mujahid.

Kemudian ath-Thabari mengatakan :

وهذا وإن كان هو الصحيح من القول فـي تأويـل قوله عَسَى أنْ يَبْعَثَكَ رَبّكَ مَقاما مَـحْمُودا لـما ذكرنا من الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه والتابعين، فإن ما قاله مـجاهد من أن الله يُقعد مـحمدا صلى الله عليه وسلم علـى عرشه، قول غير مدفوع صحته، لا من جهة خبر ولا نظر

“ Dan pendapat ini (maqam Mahmud bermakna syafa’at) adalah pendapat yang sahih, dalam menafsirkan ayat “ Semoga Allah membangkitkanmu dan memberikanmu maqam yang terpuji “ dari riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in, maka apa yang dikatakan oleh Mujahid bahwa Allah mendudukkan Muhamamd Shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, asalah ucapan yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.

Penjelasan :

Yang dibicarakan di sini adalah bukan duduknya Allah berasama Nabi di atas Arsy, melainkan duduknya Nabi di atas Arsy. Ath-Thabari mengaskan bahwa tidak mustahil Allah mendudukkan Nabi di atas Arsy, cuba perhatikan kembali ucapan beliau ini :

فإن ما قاله مـجاهد من أن الله يُقعد مـحمدا صلى الله عليه وسلم علـى عرشه، قول غير مدفوع صحته، لا من جهة خبر ولا نظر

maka apa yang dikatakan oleh Mujahid bahwa Allah mendudukkan Muhamamd Shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, asalah ucapan yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.[4]

Jika dipandang dari sisi keutamaan Nabi, maka tidaklah mustahil Allah memberikan keutamaan kepada Nabi dengan mendudukkannya di atas Arsy-Nya. Dan ini tidak bisa ditolak dari segi khobar maupun pandangan, kenapa ? kita perhatikan kembali jawaban dan lanjutan ucapan ath-Thabari berikut ini :

وذلك لأنه لا خبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أحد من أصحابه ، ولا عن التابعين بإحالة ذلك

“ Yang demikian itu (tidak boleh ditolak) karena tidak ada hadits dari Rasulullah, dari seorang pun sahabat maupun tabi’in yang memustahilkan hal tersebut “.[5]

Dari penjelasan ath-Thabari ini sangat dipahami bahwa beliau sedang membicarakan kemustahilan duduknya Nabi di atas Arsy, bagi beliau hal ini tidaklah mustahil sebab tak ada satu pun hadits maupun atsar yang mengatakan mustahil. Pemahaman seperti inilah yang tidak boleh ditolak. Karena duduknya makhluk di atas makhluk tidaklah mustahil terlebih adalah Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih utama daripada Arsy.

Dari ucapan beliau ini juga dapat kita pahami bahwa tak ada satu pun hadits ataupun perkataan sahabat yang mengatakan Allah mendudukkan Nabi di atas Arsy. Apalagi duduk bersama Allah di atas Arsy.

Maka kesimpulannya adalah :

Pertama : imam ath-Thabari sama sekali tidak mensahihkan atsar Mujahid yang mengatakan Allah mendudukkan Nabi Muhammad di atas Arsy bersamanya.

Kedua : ath-Thabari lebih memilih dan mensahihkan pendapat jumhur ulama yang menafsirkan maqam Mahmud dengan syafa’at.

Ketika : ath-Thabari tidak memungkiri atau menolak terjadinya duduknya Nabi di atas Arsy, sebab itu tidak mustahil bagi Rasulullah dan juga tak ada satu pun hadits yang memustahilkan hal tersebut.

Keempat : ath-Thabari mengakui tidak ada satu pun hadits atau ucapan sahabat yang menolak mungkinnya duduknya Nabi di atas Arsy. Dan juga mengakui tidak ada satu pun hadits sahih yang mengatakan Allah mendudukkan Nabi di atas Arsyanya.

Untuk mengetahui lebih jelas maksud ucapan ath-Thabari, kita simak kelanjutan ucapan beliau berikut ini :

فأما من جهة النظر ، فإن جميع من ينتحل الإسلام إنما اختلفوا في معنى ذلك على أوجه ثلاثة : فقالت فرقة منهم : الله عز وجل بائن من خلقه كان قبل خلقه الأشياء ، ثم خلق الأشياء فلم يماسها ، وهو كما لم يزل ، غير أن الأشياء التي خلقها ، إذ لم يكن هو لها مماسا ، وجب أن يكون لها مباينا ، إذ لا فعال للأشياء إلا وهو مماس للأجسام أو مباين لها . قالوا : فإذا كان ذلك كذلك ، وكان الله عز وجل فاعل الأشياء ، ولم يجز في قولهم : إنه يوصف بأنه مماس للأشياء ، وجب بزعمهم أنه لها مباين ، فعلى مذهب هؤلاء سواء أقعد محمدا صلى الله عليه وسلم على عرشه ، أو على الأرض إذ كان من قولهم إن بينونته من عرشه ، وبينونته من أرضه بمعنى واحد في أنه بائن منهما كليهما ، غير مماس لواحد منهما

“ Adapaun dari sisi pandangan / pendapat, maka semua yang mengaku Islam sesungguhnya hanya berbeda pendapat di dalam maknanya itu atas tiga pendapat : kelompok pertama mengatakan Allah terpisah dari mahkluk-Nya dan ada sebelum mencipta segala sesuatu, kemudian menciptakan segala sesuatu dan tidak menyentuhnya. Allah ada sebagaimana waktu azali, kecuali jika segala sesuatu yang Dia ciptakan tidak disentuhnya, maka keharusan adanya Allah terpisah darinya, karena tidak ada pencipta sesuatu kecuali dia menyentuh jisim atau terpisah darinya. Mereka berkata : “ Jika seperti itu, dan Allah Dzat yang mencipta segala sesuatu dan Allah tidak boleh disifati dengan menyentuh pada sesuatu, maka sebuah keharusan Allah terpisah darinya. Maka atas dasar madzhab mereka ini, baik Allah mendudukkan Nabi Muhammad di atas Arsy-Nya atau di bumi, karena dari ucapan mereka bahwa terpisahnya Allah dari Arsy-Nya dan terpisah-Nya dari bumi bermakna satu bahwa Dia terpisah dari keduanya , tidak menyentuh salah satunya “. [6]

Kemudian ath-Thabari melanjutkan :

وقالت فرقة أخرى : كان الله تعالى ذكره قبل خلقه الأشياء ، لا شيء يماسه ، ولا شيء يباينه ، ثم خلق الأشياء فأقامها بقدرته ، وهو كما لم يزل قبل خلقه الأشياء لا شيء يماسه ولا شيء يباينه ، فعلى قول هؤلاء أيضا سواء أقعد محمدا صلى الله عليه وسلم على عرشه ، أو على أرضه ، إذ كان سواء على قولهم عرشه وأرضه في أنه لا مماس ولا مباين لهذا ، كما أنه لا مماس ولا مباين لهذه .

“ Kelompok kedua berpendapat : “ Allah telah menyebutkan bahwa Allah sebelum mencipta sesuatu, tidak ada sesuatu yang menyentuh-Nya dan juga tidak ada sesuatu yang berpisah dari-Nya. Kemudian Allah mencipta segala sesuatu dan menegakkannya dengan qudrah-Nya. Dan Allah ada sebagaimana waktu azali. Maka atas dasar madzhab mereka ini juga, baik Allah mendudukkan Nabi Muhammad di atas Arsy-Nya atau di bumi. Karena bagi mereka Arsy dan bumi tidak menyentuh Allah dan juga tidak berpisah dari-Nya, sebagaimana Dia tidak menyentuh dan tidak berpisah dari ini semua “.[7]

Penjelasan :

Madzhab yang kedua ini sangat jelas adalah madzhab Ahlus sunnah dari Asy’ariyyah dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Atas dasar ini, Asy’ariyyah tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy, sebab bagi kelompok ini, sama saja mau Nabi Muhammad duduk di atas Arsy atau di bumi, Allah tetap seperti sedia kala yang tidak menyentuh sesuatu dan tidak butuh (bain) terhadap sesuatu. Diakui oleh ath-Thabari bahwa kelompok ini tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy. Adapun yang kelompok ini tolak adalah duduknya Allah di atas Arsy.

Dua kelompok di atas menafikan mumasah (persentuhan) Allah kepada makhluk-Nya, ini jelas bertentangan dengan pendapat Mujahid yang mengatakan Allah duduk bersama Nabi Muhammad di atas Arsynya.
Kemudian ath-Thabari melanjutkan :

وقالت فرقة أخرى : كان الله عز ذكره قبل خلقه الأشياء لا شيء ولا شيء يماسه ، ولا شيء يباينه ، ثم أحدث الأشياء وخلقها ، فخلق لنفسه عرشا استوى عليه جالسا ، وصار له مماسا ، كما أنه قد كان قبل خلقه الأشياء لا شيء يرزقه رزقا ، ولا شيء يحرمه ذلك ، ثم خلق الأشياء فرزق هذا وحرم هذا ، وأعطى هذا ، ومنع هذا ، قالوا : فكذلك كان قبل خلقه الأشياءلا شيء يماسه ولا يباينه ، وخلق الأشياء فماس العرش بجلوسه عليه دون سائر خلقه ، فهو مماس ما شاء من خلقه ، ومباين ما شاء منه ، فعلى مذهب هؤلاء أيضا سواء أقعد محمدا على عرشه ، أو أقعده على منبر من نور ، إذ كان من قولهم : إن جلوس الرب على عرشه ، ليس بجلوس يشغل جميع العرش ، ولا في إقعاد محمد صلى الله عليه وسلم موجبا له صفة الربوبية ، ولا مخرجه من صفة العبودية لربه ، كما أن مباينة محمد صلى الله عليه وسلم ما كان مباينا له من الأشياء غير موجبة له صفة الربوبية ، ولا مخرجته من صفة العبودية لربه من أجل أنه موصوف بأنه له مباين ، كما أن الله عز وجل موصوف على قول قائل هذه المقالة بأنه مباين لها ، هو مباين له . قالوا : فإذا كان معنى مباين ومباين لا يوجب لمحمد صلى الله عليه وسلم الخروج من صفة العبودة والدخول في معنى الربوبية ، فكذلك لا يوجب له ذلك قعوده على عرش الرحمن ، فقد تبين إذا بما قلنا أنه غير محال في قول أحد
ممن ينتحل الإسلام ما قاله مجاهد من أن الله تبارك وتعالى يقعد محمدا على عرشه

“ kelompok ketiga : “ Mengatakan bahwa Allah ketika belum mencipta sesuatu, tidak ada sesuatu yang menyentuh atau bain dari-Nya, kemudian Allah mencipta sesuatu dan mencipta Arsy untuk diri-Nya yang Allah beritsiwa duduk di atas-Nya dan menjadikan Allah menyentuhnya. Sebagaimana ketika Allah belum mencipta, maka tidak ada sesuatu yang ia beri rezeki atau mengharamkannya, kemudian mencipta sesuatu, maka Allah memberikan rezeki kepada ini dan mengharamkan kepada ini. Mereka berkata : “ Allah sebelum mencipta sesuatu tidak ada yang menyentuhnya atau pun bain darinya, lalu mencipta sesuatu maka Allah Bersentuhan dengan Arsy dengan duduk-Nya tanpa makhluk lainnya. Dia Allah bersentuhan dengan sesuatu yang Allah kehendaki dan bain dari sesuatu yang Allah kehendaki “. Maka atas dasar madzhab mereka, baik Allah mendudukkan Nabi Muhammad di atas Arsy atau pun di atas mimbar dari cahaya, karena pendapat mereka adalah sesungguhnya duduknya Allah di atas Arsy bukan duduk yang menempati semua Arsy-Nya, dan bukan berarti dengan mendudukkannya Nabi Muhammad menjadikan Nabi Muhammad memiliki sifat rububiyyah, dan tidak mengeluarkannya dari sifat ubudiyyah, sebagaimana pisahnya Nabi Muhammad mengharuskkan memiliki sifat rububiyyah dan mengeluarkannya dari sifat ubudiyyah karena dia disifati dengan bainunah (terpisah/butuh makhluk). Sebagaimana atas dasar pendapat mereka ini bahwa Allah disifati dengan bainunah darinya maka Allah juga bainunah darinya. Jika makna bainunah seperti itu dan bainunah tidak menjadikan bagi Muhammad keluar dari sifat ubudiyyah dan masuk pada sifat rububiyyah, demikian juga tidak menjadikannya duduk di atas Arsy Allah”. Maka menjadi jelas dari apa yang kami katakan bahwasanya tidak mustahil ucapan orang yang mengaku Islam dari apa yang diucapkan Mujahid berupa ucapan bahwa Allah mendudukkan nabi Muhammad di atas Arsy-Nya. “ [8]

Penjelasan :

Ucapan kelompok ketiga ini sangat jelas adalah ucapan kaum Mujassimah. Dari penadap mereka ini jelas bahwa Allah duduk di atas Arsy dan bersentuhan dengan Arsy dan Nabi Muhammad duduk bersama Allah. Inilah yang Ibnu Taimiyyah nisbatkan kepada para ulama yang diridhaoi dan para wali yang diterima. Padahal jelas bahwa ucapan atau pendapat ini adalah pendapat kelompok tertentu dari tiga pendapat yang disebutkan oleh imam ath-Thabari di atas tadi. Maka ini jelas bertentangan dengan pengakuan Ibnu Taimiyyah yang mengatakan ini adalah ucapan seluruh kelompok Islam.

Dan dari semua penjelasan ath-Thabari semakin jelas bahwa beliau bermaksud menetapkan bahwa tidak mustahil duduknya Nabi di atas Arsy bukan membahas duduknya Allah di atas Arsy, sebagaimana kesimpulan akhir beliau ini :

، فقد تبين إذا بما قلنا أنه غير محال في قول أحد ممن ينتحل الإسلام ما قاله مجاهد من أن الله تبارك وتعالى يقعد محمدا على عرشه

“ Maka menjadi jelas dari apa yang kami katakan bahwasanya tidak mustahil ucapan orang yang mengaku Islam dari apa yang diucapkan Mujahid berupa ucapan bahwa Allah mendudukkan nabi Muhammad di atas Arsy-Nya. “

Dari semua penjelasan imam Ibnu Jarir ath-Thabari ini, ada beberapa faedah yang dipahami yaitu :

1. Pendapat bahwa Allah tidak bersentuhan dengan sesuatu adalah pendapat jumhur kelompok umat Islam.

2. Pendapat bahwa Allah tidak bersentuhan dengan sesuatu dan tidak mubaayin, baik sewaktu belum mencipta atau sesudahnya, maka ini adalah pendapat Ahlus sunnah, ahlul haq.

3. Pendapat bahwa Allah di atas Arsy-Nya dengan Dzat-Nya yakni Allah duduk di atas Arsy-Nya dan bersentuhan dengan-Nya. Dan ini adalah pendapat mujassimah.

4. Pendapat semua kelompok Islam adalah Allah sebelum mencipta sesuatu tidaklah bersentuhan dan tidak baain dari sesuatu. Ini sangat berbeda pendapat dengan Ibnu Taimiyyah yang meyakini bahwa tidaklah berlalu zaman bagi Allah kecuali ada bersamanya sebagian makhluk yang Allah mubaayin dari-Nya atau Allah duduk di atas Arsy-Nya, atau Allah senantiasa mubaayin atau bersentuhan dari makhluk-Nya, dan ini adalah persoalan tasalsul nau’il aalam.

Adapun klaim bahwa atsar Mujahid diterima oleh jumhur ulama, maka saya tampilkan sebagaimana komenyat al-Imam Abdul Barr berikut ini :

على هذا أهل العلم في تأويل قول الله عز وجل : ( عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَحْمُوداً ) أنه الشفاعة .
وقد روي عن مجاهد أن المقام المحمود أن يقعده معه يوم القيامة على العرش ، وهذا عندهم منكر في تفسير هذه الآية .
والذي عليه جماعة العلماء من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من الخالفين أن المقام المحمود هو المقام الذي يشفع فيه لأمته ، وقد روي عن مجاهد مثل ما عليه الجماعة من ذلك ، فصار إجماعا في تأويل الآية من أهل العلم بالكتاب والسنة
ذكر ابن أبي شيبة عن شبابة ، عن ورقاء ، عن ابن أبي نجيح ، عن مجاهد في قوله تعالى : ( عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ
رَبُّكَ مَقَاماً مَحْمُوداً ) قال : شفاعة محمد صلى الله عليه وسلم

“ Atas dasar inilah para ulama mentakwil firman Allah “ Semoga Tuhanmu menutusmu kepada kedudukan yang terpuji “, ditafsirkan dengan syafa’at. Dan telah diriwayatkan dari Mujahid bahwa maqam mahmud adalah Allah mendudukkan Nabi Muhammad bersama-Nya di atas Arsy, dan ini menurut mereka (para ulama) adalah mungkar di dalam menafsirkan ayat ini. Dan yang disepakati oleh kelompok ulama dari sahabat, tabi’in dan setelahnya dari orang yang berbeda pendapat dari Mujahid adalah bahwa maqam mahmud ialah Nabi Muhammad menberikan syafa’at kepada umatnya. Ini juga diriwayatkan dari Mujahid sebagaimana pendapat jumhur ulama. Maka hal ini menjadi ijma’ di dalam mentakwil ayat dari para ulama dengan Quran dan sunnah. Ibnu Abi Syaibah menyebutkan dari Syubabah dari Warqa dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid tentang firman Allah Ta’ala “ Semoga Allah mengutusmu kepada kedudukan yang terpuji “, berkata bahwa itu adalah syafa’at nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam “. [9]

[1] Majmu al-Fatawa : 4/374
[2] Tafsir ath-Thabari juz 15 halaman 97 atau jilid ke tujuh halaman 5236 cetakan Dar as-Salam.
[3] Tafsir ath-Thabari juz 15 halaman 98 atau jilid ke tujuh halaman 5238 cetakan Dar as-Salam.
[4] Tafsir ath-Thabari juz 15 halaman 100 atau jilid ke tujuh halaman 5240 cetakan Dar as-Salam.
[5] ibid
[6] Tafsir ath-Thabari juz 15 halaman 100 atau jilid ke tujuh halaman 5240 cetakan Dar as-Salam.
[7] Idem
[8] Tafsir ath-Thabari juz 15 halaman 102 atau jilid ke tujuh halaman 5242 cetakan Dar as-Salam.
[9] At-Tamhid : 19/63-64

Ditulis oleh Ustaz Ibnu Abdillah Al-Katibiy

http://asyaariresearchgroup.blogspot.com/2013/09/menjawab-fitnah-duduknya-allah-di-atas.html

Posted by: Habib Ahmad | 22 September 2013

Malam Cinta Rasul

993707_10151845422446999_813546051_n

Posted by: Habib Ahmad | 8 September 2013

PERMATA HABAIB ZAMAN INI

habibzein
Al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-Murabbi al-Habib Zein bin Ibrahim BinSumaith حفظه الله ومتعنا الله بطول حياته
==================================================================
Sempena kunjungan Al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-’Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da`ie ilaLlah as-Sayyid al-Habib Zein bin Ibrahim BinSumaith حفظه الله ومتعنا الله بطول حياته sebagai tetamu jemputan utama ke Majlis Sambutan Haul al-Imam ‘Abdullah bin ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad رضي الله عنه وأرضاه 1434H/2013M, maka inginlah al-Fagir mengambil kesempatan untuk memperkenalkan secara ringkas ulama ahlulbait yang terkenal. Al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-’Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da`ie ilaLlah as-Sayyid al-Habib Zein bin Ibrahim BinSumaith حفظه الله ومتعنا الله بطول حياته adalah antara permata habaib zaman ini. Beliau seorang yang terkenal khumul, yang tidak sukakan kemasyhuran dan tinggi sebutan. Faqihnya umat ini yang tabahhur ilmunya.
Nama dan nasab beliau: Beliau adalah al-’Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-’Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da`ie ilaLlah as-Sayyid al-Habib Zein bin Ibrahim bin Zein bin Muhammad bin Zein bin ‘Abdur Rahman bin Ahmad bin ‘Abdur Rahman bin ‘Ali bin Saalim bin `Abdillah bin Muhammad Sumaith bin ‘Ali bin ‘Abdur Rahman bin Ahmad bin ‘Alwi bin Ahmad bin ‘Abdur Rahman bin ‘Alwi (‘Ammul Faqih al-Muqaddam) bin Muhammad Shahib al-Mirbath bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir Ilallah bin ‘Isa ar-Rumi. Bin Muhammad an-Naqib bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin asy-Syahid Hussin as-Sibth, putera Sayyidina ‘Ali dan Sayyidatina Fathimah az-Zahra’ bin Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.
Kelahiran dan pendidikan: Beliau dilahirkan pada tahun 1357H (1936M) di Jakarta, Indonesia. Beliau lahir dari keluarga yang sholeh. Ayahanda beliau, al-Habib Ibrahim bin Zein pernah menjadi imam di Masjid Habib ‘Abdullah bin Muhsin di Bogor ketika di akhir umur beliau. Al-Habib Zein bin Ibrahim BinSumaith mendapat didikan awal agamanya oleh ayahandanya sendiri dan juga dengan para ulama dan pemuka habaib di Jawa. Sedari kecil beliau telah dibawa oleh ayahandanya untuk hadir ke halaqah ilmu, rohah dan mawlid yang dianjurkan oleh Habib ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad di Bogor yang merupakan naqib para saadah di Tanah Jawa. Habib ‘Alwi ini adalah seorang ulama dan waliyUllah yang terkemuka pada masanya. Beliau wafat pada tahun 1373H dan dimakamkan di Empang, Bogor di mana hingga saat ini makamnya diziarahi dan terkenal sebagai Keramat Empang Bogor. Beliau inilah di antara guru awal Habib Zein. Selain itu, Habib Zein juga sering dibawa ayahandanya untuk meneguk ilmu dan hikmah di majlis seorang lagi ulama dan waliyUllah iaitu Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi (Habib ‘Ali Kwitang).

(Foto Guru-guru Habib Zein)

Guru-guru di Tarim: Dalam tahun 1371H (1950M), ketika usianya lebih kurang 14 tahun, Habib Zein telah dibawa oleh ayahandanya ke Tarim al-Ghanna, tempat asal keturunannya. Di sana, Habib Zein tinggal di rumah ayahnya yang telah lama ditinggalkan. beliau berguru kepada sejumlah ulama setempat, berpindah dari madrasah satu ke madrasah lainnya, hingga pada akhirnya beliau belajar di rubath Tarim

(Foto Guru-guru Habib Zein)

Di antara guru-guru beliau di Tarim adalah:-

Al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Saalim Bin Hafidz – dengan guru beliau ini, al-Habib Zein bin Ibrahim BinSumaith belajar dan menghafal kitab Sofwah az-Zubad karya Imam Ibn Ruslan, kitab al-Irsyad karya Ibn Muqri (sehingga bab Jinayat) dan Nadzam Hadiyyah ash-Shaadiq karya al-Habib ‘Abdullah bin Hussin bin Thohir. Selain itu beliau belajar kitab-kitab karangan al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz dalam ilmu faraidh dan munakahat, sebahagian dari kitab Minhaj, kitab-kitab tasawwuf dan ilmu falak;
Habib ‘Umar bin ‘Alwi al-Kaaf – beliau belajar ilmu Nahwu, Ma’ani dan Bayan. Dengan guru beliau ini juga beliau mempelajari kitab Mutammimah al-Ajrumiyyah dan Alfiyyah serta syarah-syarahnya. Beliau juga menghafal matan Alfiyyah;
Habib ‘Alwi bin ‘Abdullah Bin Syihaabuddin – beliau mengikuti majlis-majlis pengajian al-Habib ‘Alwi di Rubath Tarim, juga mengikuti rohah yang diadakan di kediamannya dan majelis Syeikh ‘Ali bin Abu Bakar as-Sakran;
Habib Ja’far bin Ahmad al-’Aydrus – beliau sering berulang-alik ke tempatnya dan beliau memperolehi banyak ijazah daripadanya;
Habib Ibrahim bin ‘Umar bin ‘Aqil;
Habib Abu Bakar ‘Atthas bin ‘Abdullah al-Habsyi – beliau membaca kitab al-Arbain al-Ushul karya Imam al-Ghazali;
Habib Salim bin ‘Alwi al-Khird – beliau membaca kitab Mulhaq al-‘Irab karya Abu Muhammad al-Qaasim bin ‘Ali al-Hariri al-Bashri;
Habib ‘Abdur Rahman bin Haamid as-Sariy – beliau mempelajari ilmu ushul, mempelajari matan Waraqat;
‘Allaamah Syaikh Mahfuz bin Saalim az-Zubaidi – beliau mempelajari ilmu fiqih;
Syaikh Saalim bin Sa`id Bukayyir BaGhitsaan al-Mufti – beliau belajar fiqih;
Syaikh Fadhl bin Muhammad BaFadhl – beliau mempelajari ilmu ushul, mempelajari matan Waraqat;

Berangkat ke Baidho’: Setelah kira-kira 8 tahun menuntut di Tarim, Habib Zein telah disuruh oleh guru beliau Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz untuk pindah ke Kota Baidha` untuk mengajar dan berdakwah di samping meneruskan pengajian dengan para ulama di sana antaranya kepada mufti Baidha`, Habib Muhammad bin ‘Abdullah al-Haddar. Kedatangannya ke Baidha` disambut dengan penuh kegembiraan oleh Habib Muhammad bin ‘Abdullah al-Haddar. Habib Zein telah ditugaskan oleh Habib Muhammad al-Haddar untuk mengajar dan membantu beliau dalam berdakwah. Kagum dengan beliau, akhirnya Habib Muhammad al-Haddar telah menikahkan beliau dengan puterinya. Habib Zein juga diijazahkan pelbagai riwayat oleh Habib Muhammad bin ‘Abdullah al-Haddar.
Habib Zein terus menetap di Baidha` dan meneruskan pengabdiannya terhadap ilmu dan dakwah di mana beliau menjadi tempat rujuk dan mufti. Ketinggian ilmunya diakui oleh para ulama sehingga Habib Muhammad al-Haddar menyatakan bahawa apabila sesuatu permasalahan itu telah dijawab oleh Habib Zein, maka tidaklah perlu untuk membuat rujukan lain.

Ijazah di bidang keilmuan: Selain itu beliau juga mendapat ijazah daripada kalangan Saadah Ba’alawi dan para ulama’ dunia Islam, seperti: Al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Hadi as-Saqqaf, al-‘Allamah al-Habib Ahmad bin Musa al-Habsyi, al-’Allamah al-Muhaddits Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul Aziz al-Maliki al-Makki al-Hasani, al-‘Allamah al-Habib ‘Umar bin Ahmad Bin Sumaith, al-‘Allamah al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha al-Haddad, al-‘Allamah al-Habib ‘Abdul Qaadir bin Ahmad as-Saqqaf, al-‘Allamah al-Habib Hasan bin ‘Abdullah bin ‘Umar asy-Syathiri, asy-Syaikh Umar al-Haddad, al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Ahmad asy-Syathiri, al-‘Allamah asy-Syaikh ‘Abdullah bin Sa’id al-Lahji al-Hadhrami dan Sayyid Yusuf ar-Rifai al-Kuwaiti.

Berhijrah ke Madinah: Setelah kira-kira 21 tahun menetap di Baidho` menyumbang ilmu dan berdakwah, maka pada bulan Ramadhan 1406, Habib Zein telah berhijrah ke kota nenda beliau al-Mustafa r, Madinah al-Munawwarah, untuk menjadi pengasuh Rubath Habib ‘Abdur Rahman bin Hasan al-Jufri. Beliau berganding dengan Habib Salim bin ‘Abdullah bin Umar asy-Syaathiri untuk mengasuh Rubath al-Jufri tersebut. Setelah Habib Salim pulang ke Tarim untuk mengasuh Rubath Tarim, maka tanggungjawab di Rubath al-Jufri dipikul sepenuhnya oleh Habib Zein sehingga kini [menurut khabar yang abu zahrah dengar, rubath tersebut telah diarahkan tutup oleh pemerintah Saudi].
Walaupun beliau sudah mempunyai murid-murid di Madinah, beliau masih mengambil peluang untuk menimba ilmu dari ulama ulama Madinah seperti:-

Syaikh Muhammad Zaidan asy-Syanqiti al-Maliki – beliau mempelajari ilmu ushul, membaca kitab at-Tiryaq an-Nafi’ ‘ala Masail Jam’ul Jawami’ karya al-Imam Abu Bakar bin Syahab dan kitab Maraqi as-Su’ud karya Syarif ‘Abdullah al-‘Alawi asy-Syanqitiy;
al-‘Allamah an-Nihrir Ahmaddu bin Muhammad Hamid al-Hasani asy-Syanqiti – beliau membaca kitab Syarah al-Qathr, sebahagian daripada kitab Ibnu ‘Aqil, Idha’ah al-Dujunnah karya Imam al-Maqqari, as-Sullam al-Munauraq karya al-Akhdhari, Isadguji karya Imam al-Abhari, Itmam ad-Dirayah li Qurra an-Naqayah karya as-Sayuthi, al-Maqsyur wa al-Mamdud dan Lamiyah al-Af’al karya Ibnu Malik, Mughni Labib karya Ibnu Hisyam, Jauhar al-Maknun dan kitab ilmu shorof. Guru beliau ini memuji al-Habib Zein kerana semangat dan kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu.

Selain daripada melahirkan ramai murid yang menjadi ulama dan da`ie, beliau juga telah menghasilkan beberapa karya yang berbobot, antaranya:-

al-Manhaj as-Sawi syarhu Ushul Thoriiqah as-Saadah Ali Baa’Alawi – karya beliau yang unggul dalam mensyarahkan ushul thariqah aal Ba’Alawi. Pokok utama kitab ini mensyarahkan kata-kata al-Imam al-Muhaqqiq al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi (wafat 1145H, murid dari al-Imam ‘Abdullah al-Haddad) iaitu: “Thariqah Saadah Aal Ba’alawi adalah ilmu, ‘amal, wara`, khauf (takut kepada Allah) dan ikhlas kepadaNya”.
al-Ajwibah al-Ghaliyyah fi ‘Aqidah al-Firqah an-Naajiyyah – kitab ini di dalam bentuk soal-jawab (buku telah al-Fagir dan teman-teman terjemahkan, insyAllah akan berada di pasaran sedikit masa lagi ini). Kitab ini mengulas tentang aqidah ahlussunah wal jamaah, yang berisi tentang jawaban atas amaliyah golongan ahlussunah wal jamaah yang selama ini dianggap oleh sekelompok kecil umat islam (bahasa mudahnya Wahabi) sebagai amalan yang menyimpang dari ajaran Islam, sedangkan amaliyah tersebut telah dilakukan oleh generasi terdahulu, iaitu generasi sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan terus menerus hingga sekarang.
al-Fuyudhat ar-Rabbaniyyah min Anfas as-Sadah al-‘Alawiyyah – kitab ini menghimpunkan tafsir isyari kepada beberapa ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabawi yang beliau himpunkan daripada kalam Saadah ‘Alawiyyin.
al-Futuhat al-‘Aliyyah fi al-Khutbah al-Minbariyyah (5 jilid) – merupakan himpunan khutbah-khutbah beliau.
Hidayah ath-Thalibin fi Bayan Muhimmat ad-Din – kitab ini merupakan syarah kepada hadits Jibril iaitu mengenai pengertian Islam, Iman dan Ihsan.
Hidayah az-Zairin ila Ad’iyyah az-Ziyarah an-Nabawiyyah wa Masyahid ash-Shalihin – merupakan kumpulan doa para salaf (ulama-ulama Saadah ‘Alawiyyin terdahulu) yang diucapkan ketika menziarahi Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dan makam-makam yang terletak di Haramain (Makkah dan Madinah) dan Hadramaut.
an-Nujum az-Zahirah li Saliki Thariqi al-Akhirah – merupakan kumpulan daripada ‘amalan-‘amalan para Saadah Ba’alawi beserta dengan faedahnya.
Kitab Tsabat (Sanad-sanad dan masyaikh beliau) – masih di dalam bentuk manuskrip
dan lain-lain.

Pribadi dan kegiatan harian beliau: Beliau seorang yang sangat ‘alim, faqih dan ‘arifbillah. Menghafal persoalan-persoalan di dalam mazhab Syafie. Oleh kerana itulah ada yang mengelar beliau sebagai syafie shaghir di zaman ini. Ketika di usia mudanya, beliau seorang yang bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu. Guru-guru beliau sering memuji beliau kerana kelebihan beliau berbanding rakan-rakannya, juga kerana adab, suluk dan akhlaq beliau yang baik.

Beliau seorang yang tawadhu. Terkenal khumul yang tidak sukakan kemasyhuran dan tinggi sebutan. Lidahnya sentiasa basah dengan dhikruLlah. Tasbih hampir tidak pernah berpisah daripadanya. Sentiasa berserban putih, memakai kain dan rida’ sepertimana kebiasaan para salaf di Hadramaut.
Beliau mempunyai tertib khusus dalam membaca aurad dan adzkar sepanjang siang dan malam disamping menjalankan tugas sebagai pengajar. Sentiasa berqiyamullail dan kemudiannya beliau keluar menunaikan sholat Shubuh di Masjid Nabawi dan duduk beri’tikaf sehingga terbit matahari. Setelah itu pulang ke rubath untuk mengajar. Selepas ‘ashar beliau mengadakan rohah sehingga menjelang maghrib. Setelah maghrib mengajar sehingga ‘Isya. Kemudian beliau bersholat ‘Isya di Masjid Nabawi dan setelahnya menziarahi datuk beliau yang agong iaitu Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم . Beliau menziarahi Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم setiap pagi dan petang (malam), sejak beliau bermukim di Madinah. Setelah ‘Isya, beliau mengajar dan mengadakan majlis di pelbagai tempat, mengikut hari-hari yang di jadualkan.
Semoga Allah memelihara dan melanjutkan usia Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith, agar kita dan sekalian umat dapat mengambil manfaat dengan keberadaan beliau di atas muka bumi ini. اللهم آمين. al-Fagir memohon ampun maaf andaikata terdapat kesalahan/kesilapan di dalam nukilan ini. Sekian.

Nukilan:
Al-Fagir Abu Zahrah
Taman Seri Gombak,

http://pondokhabib.wordpress.com/2010/09/24/biografi-habib-zein-bin-ibrahim-bin-smith/

993004_431019393682768_286621216_n

Posted by: Habib Ahmad | 21 Ogos 2013

Majlis Ilmu dan Selawat

1175283_642773919066678_266340231_n

1157576_582167498491262_467285720_n1081728_10152142969032589_965107421_n994325_10201117770097846_1705197472_n1174817_416506551793885_903536699_n1176151_475257209237058_129105715_n13556_10200951305757776_1238553992_n (1)1001952_10152439583781091_105604302_n

1148289_10200536989206707_1710250983_n

Posted by: Habib Ahmad | 17 Ogos 2013

Malam Cinta Rasul – Melaka Berselawat

988292_1403728696509127_1870420804_n

Posted by: Habib Ahmad | 19 Julai 2013

Isu Air minum Yang Dicelup Rambut Rasulullah SAW

Isu Air minum Yang Dicelup Rambut Rasulullah SAW

Apabila menjadi artis yang berhijrah untuk mendalami, lebih menyintai agama itu adalah perkara yang amat positif. Namun itu bukan tiket untuk terus menjadi mufti, atau mujtahid jadian, atau bercakap mengenai hukum yang kita jahil mengenainya. Berhati-hati apabila membicarakan sesuatu ‘isu’ berkaitan hukum yang anda bukan ahlinya.

Jawapan berkenaan dengan isu air minum yg dicelup rambut Rasulullah SAW – Oleh Ustaz Muhadir bin Hj Joll

Perbuatan itu dinamakan sebagai tabarruk.

Apakah makna tabarruk?

Tabarruk berasal dari perkataan barakah. Makna tabarruk ialah mengharapkan keberkatan daripada Allah dgn sesuatu yg mulia dlm pandanganNya.

Dipetik dari kitab Mafahim Yajibu an Tushahah oleh Dr. Sayyid Muhammad al Maliki, mafhumnya :

“Sewajarnya kita mengetahui bhw tabarruk itu tidak lain hanya suatu tawassul (jalan) menuju kpd Allah SWT samada ia suatu atsar (peninggalan), tempat atau orang perseorangan. Adapun org yg diberkati Allah hendaklah diyakini bhw dia mempunyai fadilat & taqarrubnya kpd Allah dgn keyakinan bhw dia tetap tidak mampu mendatangkan kebaikan atau menolak kejahatan (bala) kecuali dgn izin Allah SWT. Adapun atsar (peninggalan spt barang-barang dsbnya), maka adalah ia ada hubungan dgn org yg soleh yg diberkati tadi, maka ia adalah mulia kerana kemuliaan yg diberikan kpd org yg menggunakannya tadi. Ia menjadi mulia, diagung, dicintai kerana kemuliaan yg diberikan Allah SWT. Adapun tempat-tempat peninggalan, maka tidaklah ada kelebihan padanya hanya kerana zatnya yg ia semata mata tempat. Keutamaan & kemuliaan disebabkan oleh kebaikan & amal bakti yg selalu dilakukan di tempat itu.”

Dalil yg menunjukkan boleh bertabarruk :

Allah SWT berfirman mengenai ucapan Nabi Yusuf a.s, mafhumnya : “Pergilah dgn membawa bajuku ini, kemudian letakkan pd muka ayahku supaya dia dpt melihat.” (Surah Yusuf : 93)

Selepas bertabarruk dgn baju Nabi Yusuf a.s, maka dgn izin Allah mata ayahnya yakni Nabi Yaaqub a.s pulih semula (dpt melihat)

Disebut dalam Musnad Imam Ahmad, mafhumnya :

“Daripada Abdullah, maula Asma bin Abu Bakar berkata :Asma mengeluarkan (menunjukkan) kepadaku sehelai pakaian ada dua lubang yg berjahit. Lalu Asma berkata : Ini adalah pakaian Rasulullah SAW. Ia dahulu pernah disimpanoleh Aisyah, ketika Aisyah wafat, aku menyimpannya. Kami akan mencelupkannya ke dlm air untuk menjadi ubat kpd org sakit di kalangan kami.”

Juga boleh rujuk dalil lain dalamsurah al Baqarah : 248, surah Hud : 48, surah an Naml : 8, surah as Saffat :113, surah Maryam : 31, surah Ali Imran : 98, surah al Isra’ : 1, surah al Qasas : 30, dan beberapa surah lain.

Kebenaran daripada Rasulullah untuk bertabarruk :

Disebutkan dalam hadith : “Rasulullah SAW membahagi bahagikan rambut Baginda kpd para sahabat supaya mereka bertabarruk dengannya (rambut).” ( HR Bukhari & Muslim)

Hadith daripada Anas r.a : “Ketika Rasulullah SAW melihat Jamrah, Baginda SAW berkorban kemudian Baginda SAW meletakkan pencukur di rambut sebelah kanan lalu mencukurnya, lalu memberikannya (rambut) kpd Abu Talhah. Kemudian Baginda SAW meletakkan pencukur di sebelah kiri lalu mencukurnya, lalu berkata : Bahagi bahagikan kpd org ramai ( Riwayat at Tirmidzi)

Ubaidah r.a berkata. “Kalaulah aku memiliki sehelai rambut Baginda SAW, maka itu lebih berharga bagiku daripada dunia dan segala isinya.” (Riwayat al Bukhari)

Abu Bakar r.a berkata “Aku melihat Khalid al Walid meminta rambut bahagian depan Rasulullah dan dia menerimanya. Dia biasa meletakkannya di atas matanya dan menciumnya.”
Diketahui bhw kemudian dia meletakannya di ‘qalansuwah’ (penutup kepala yg dililit serban) miliknya & selalu menang dlm peperangan (Riwayat al Waqi dlm al Maghazi & Ibn Hajr dlm al Ishabah fi Tamyiz as Sahabah)

Contoh dpd para sahabat bertabarruk dgn atsar Rasulullah SAW :

Para sahabat berebut-rebut mengambil wudhu Rasulullah SAW & mengusap usapkannya ke wajah & kedua dua tgn mereka. Bagi mereka yg tidak sempat mendapatkannya, mereka mengusap daripada basahan tubuh sahabat lain yg terkena bekas wudhu Rasulullah SAW lalu mengusapkan ke wajah & tgn mereka.” (Riwayat al Bukhari)

Ummu Salamah memiliki beberapa helai rambut Nabi SAW dlm sebuah botol perak & org akan pergi & mendapat berkat melalui rambut-rambut itu dan mereka sembuh. (Riwayat al Hafiz al Aini dalam Umdah al Qari)

(Jawapan oleh al Fadhil Ustaz Muhadir bin Haji Joll, Pensyarah UIA di Jabatan Ilmu Wahyu dan Warisan Islam)
Dimasukkan oleh IbnuNafis di 7:59 PTG

https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=EuPNmYmc4OQ

Posted by: Habib Ahmad | 9 Julai 2013

Jadual Waktu Berbuka Puasa 2013

993619_10151560465647685_575904662_n

Posted by: Habib Ahmad | 18 Jun 2013

Hukum Puasa Selepas Nisfu Sya’ban

Penulis : Sidi Abu Muhammad

Masih ramai kalangan awam yang keliru dengan hukum berpuasa selepas hari Nishfu Sya’baan (hari 15 Sya’baan). Ramai yang tidak tahu bahawa menurut qawl yang mu’tamad dalam Mazhab Syafi`i hukum berpuasa selepas Nishfu Sya’baan adalah HARAM DAN TIDAK SAH dengan beberapa pengecualian yang akan datang penjelasannya. Kekeliruan mungkin disebabkan mazhab-mazhab lain mempunyai pendapat yang berbeza dengan Mazhab Syafi`i berdasarkan kepada ijtihad mereka. Ulama Syafi`i mengistinbathkan pengharaman berpuasa tersebut berdasarkan beberapa dalil termasuklah hadits-hadits Junjungan Nabi SAW. Antaranya apa yang diriwayatkan dalam “Sunan at-Tirmidzi”, juzuk 2, halaman 183, bahawa Junjungan Nabi SAW bersabda sebagai berikut:-

“Telah diberitakan kepada kami oleh Qutaibah, telah diberitakan kepada kami oleh ‘Abdul ‘Aziiz bin Muhammad, daripada al-’Alaa` bin ‘Abdur Rahman, daripada ayahnya, daripada Sayyidina Abu Hurairah r.a. yang telah berkata: Telah bersabda Junjungan Rasulullah SAW: “Apabila tinggal baki separuh dari bulan Sya’baan, maka janganlah kamu berpuasa”. Dan telah berkata Abu `Isa (yakni Imam at-Tirmidzi): “Hadits Abu Hurairah ini adalah hadits hasan shohih dan tiada kami ketahui akan dia melainkan dengan wajah (riwayat) ini atas lafaz ini.
Selain daripada hadits di atas, Imam Abu Daud turut meriwayatkan dalam sunannya sebagai berikut:-

Daripada Sayyidina Abu Hurairah r.a. bahawasanya Junjungan Rasulullah SAW bersabda: “Apabila masuk separuh bulan Sya’baan, maka janganlah kamu berpuasa.”
Imam ash-Shan`ani dalam “Subulus Salam” juzuk 2, halaman 345 menyatakan bahawa hadits ini adalah hasan shohih di sisi para muhadditsin selain Imam Ahmad. Imam Ahmad mendhoifkannya kerana bagi Imam Ahmad perawi yang bernama al-’Alaa` bin `Abdur Rahman adalah perawi yang dhoif. Menurut kajian Imam ash-Shan`aani, pendapat Imam Ahmad tersebut adalah tidak tepat kerana al-’Alaa` bin ‘Abdur Rahman adalah seorang perawi yang hadits-hadits yang diriwayatkannya diambil oleh Imam Muslim dan selanjutnya Imam Ibnu Hajar al-`Asqalani dalam “at-Taqrib” menghukumkan al-’Alaa` bin ‘Abdur Rahman ini sebagai seorang perawi yang shaduuq (benar atau kepercayaan).

Sungguhpun dihukumkan haram, tetapi pengharaman berpuasa pada nishfu kedua bulan Sya’baan ini tidaklah mutlak seperti pengharaman berpuasa pada 5 hari yang diharamkan secara mutlak berpuasa, iaitu 2 hari raya dan 3 hari tasyriq. Pengharaman berpuasa pada hari-hari nishfu kedua Sya’baan dan hari Syak tidaklah mutlak kerana ianya mempunyai pengecualian. Maka hukum HARAM DAN TIDAK SAH puasa yang dilakukan selepas nishfu Sya’baan (iaitu selepas tanggal 15 Sya’baan) mempunyai PENGECUALIAN seperti berikut:-

1. puasa sunnat tersebut disambungkan atau dihubungkan dengan hari-hari yang berada di nishfu pertama (separuh pertama) bulan Sya’baan walaupun dengan hanya satu hari sahaja (yakni dihubungkan dengan berpuasa pada hari 15 Sya’baan) dengan syarat ianya hendaklah berterusan sehingga Ramadhan, jika terputus walaupun dengan uzur maka tidaklah boleh disambung lagi puasa tersebut. Contohnya, jika seseorang berpuasa sunnat pada 15 Sya’baan, maka bolehlah dia berpuasa pada 16 Sya’baan dan hari-hari berikutnya. Tetapi katakanlah setelah berpuasa pada 15, 16, 17 dan 18 Sya’baan, dia tidak berpuasa pada 19 Sya’baan, dengan atau tanpa uzur, maka tidaklah boleh lagi dia berpuasa sunnat pada 20 Sya’baan dan hari-hari yang berikutnya sehinggalah Ramadhan.

2. puasa sunnat tersebut telah menjadi amalan biasa seseorang (yakni yang telah dijadikan wirid kebiasaannya). Contohnya, seseorang yang telah mewiridkan puasa pada setiap Isnin, maka tidaklah jadi halangan untuk dia meneruskan wiridnya itu.

3. puasa qadha` samada qadha puasa fardhu atau qadha puasa sunnat yang berwaktu

4. puasa kaffarah atau puasa nazar dengan syarat ianya tidak dilakukan dengan sengaja dan dengan tahu yang hari yang dinazarkan itu adalah hari-hari nishfu kedua bulan Sya’baan. Misalnya, seseorang bernazar hendak berpuasa pada hari Khamis minggu hadapan tanpa menyedari bahawa Khamis hadapannya sudah masuk dalam nishfu kedua Sya’baan, maka bolehlah dia berpuasa pada Khamis tersebut. Maka jika sekiranya dia tahu yang Khamis tersebut adalah dalam nishfu kedua bulan Sya’baan, maka tidaklah boleh dia berpuasa dan tidaklah sah nazarnya itu.

Inilah perincian hukum bagi puasa yang dilaksanakan setelah nishfu Sya’baan menurut Mazhab Syafi`i yang menjadi pegangan kita, sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab fiqhnya. Antaranya dalam “Anwarul Masaalik syarah ‘Umdatis Saalik wa ‘Uddatin Naasik” karya Syaikh Muhammad az-Zuhri al-Ghumrawi rahimahUllah yang menyatakan pada halaman 125 seperti berikut:-

(Dan haram berpuasa [sunnat] pada hari-hari selepas nishfu Sya’baan, jika sekiranya puasa tersebut tidak berbetulan dengan adat kebiasaan seseorang) sebagaimana yang telah disebut terdahulu ketika perbincangan tentang hari Syak, (dan [puasa tersebut] tidak berhubung / bersambung dengan hari yang sebelumnya) iaitu tidak bersambung puasa pada nishfu yang kedua [bulan Sya'baan] dengan berpuasa pada separuh yang pertama bulan tersebut. Maka jika sekiranya puasa tersebut berbetulan dengan adat kebiasaan baginya atau dihubungkan [dengan hari-hari separuh pertama Sya'baan], sahlah puasa tersebut dan hilanglah keharamannya.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahUllah menulis dalam “al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah”, jilid 2 halaman 82, sebagai berikut:-

Dan daripadanya [yakni daripada hadits-hadits berkaitan dengan] puasa dalam bulan Sya’baan, ialah hadits Sayyidatina ‘Aisyah r.`anha yang menyatakan: “Tidak aku melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh, melainkan bulan Ramadhan dan tiada aku melihat baginda berpuasa lebih banyak daripada bulan Sya’baan”, hadits diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, dan keduanya meriwayatkan juga hadits lain dengan kata-kata: “Tiada baginda berpuasa dalam suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’baan, bahawasanya baginda berpuasa pada keseluruhan bulan Sya’baan”, dan bagi Imam Muslim terdapat satu lagi riwayat dengan kata-kata:- “Adalah baginda berpuasa pada bulan Sya’baan keseluruhannya kecuali sedikit.”………. Kemudian hadits-hadits tersebut tidaklah menafikan hadits yang mengharamkan puasa pada hari-hari selepas nishfu bulan Sya’baan, kerana berlakunya pengharaman tersebut ialah kepada sesiapa yang hanya berpuasa selepas nishfu tersebut dan tidak menghubungkan puasanya [dengan berpuasa pada hari Nishfu Sya'baan (yakni hari 15 Sya'baan)]. Manakala berlakunya keharusan (baca: boleh / jaiz) berpuasa, bahkan sunnat berpuasa, ialah kepada sesiapa yang berpuasa sebelum nishfu lagi dan meninggalkan berpuasa selepasnya [yakni dia berpuasa sunnat pada nishfu pertama bulan Sya'baan dan berhenti setelah nishfunya tersebut]; ATAU dia meneruskan puasanya dengan menghubungkan puasanya itu dengan berpuasa pada hari Nishfu Sya’baan [yakni hari 15 Sya'baan]; ATAU dia tidak menghubungkan puasanya, akan tetapi puasanya pada hari-hari nishfu kedua bulan Sya’baan tersebut ialah puasa kerana qadha` atau puasa nazar atau puasa yang menjadi wiridnya (kebiasaannya). Dan hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam at-Tirmidzi, Imam an-Nasai dan Imam Ibnu Majah, iaitu: “Apabila berbaki separuh daripada bulan Sya’baan, maka janganlah kamu berpuasa sehingga menjelang Ramadhan”, adalah jelas pada yang demikan (yakni pada menyatakan haramnya berpuasa pada hari-hari selepas Nishfu Sya’baan).

Murid Imam Ibnu Hajar rahimahUllah, iaitu Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz al-Malibari, rahimahUllah, menulis dalam karya beliau “Fathul Mu`in”pada halaman 60:-

(Tatimmah) Haram puasa pada hari-hari tasyriq ……., dan demikian pula haram puasa selepas Nishfu Sya’baan, selagi mana ianya tidak berhubung / bersambung dengan hari sebelumnya [yakni hari sebelum 16 Sya'baan iaitu hari 15 Sya'baan] atau jika puasa tersebut tidak muwafaqah dengan adatnya (yakni tidak berbetulan dengan kebiasaannya atau wiridnya); atau jika puasa tersebut bukan puasa nazar atau puasa qadha` walaupun hanya qadha` puasa sunnat.

Penjelasan ‘Allaamah Sayyid Muhammad ‘Abdullah al-Jurdani dalam “Fathul ‘Allam” juzuk 4, halaman 152- 153, pula adalah seperti berikut:-

Dan haram puasa pada nishfu kedua bulan Sya’baan, melainkan jika ianya disambung / dihubungkan dengan hari yang sebelumnya [yakni hari sebelum 16 Sya'baan iaitu hari 15 Sya'baan], walaupun hanya satu hari [yakni walaupun dengan hanya berpuasa pada 15 Sya'baan sahaja] dan hendaklah berkekalan puasa tersebut sehingga ke akhirnya. Maka jika tidak berkekalan, bahkan jika berbuka (yakni tidak berpuasa) dengan uzur sekalipun, tertegahlah atasnya untuk berpuasa lagi dengan tanpa sebab.

Inilah khulasah hukum berpuasa pada nishfu kedua bulan Sya’baan. Harap kita sebagai pengamal Mazhab Syafi`i dapat beri perhatian sewajarnya. Allahlah yang Maha Mengetahui.

Sumber : Bahrusshofa

Bacaan Tambahan :

1. Puasa Sunat Bulan Sya’ban (Isu-isu Hukum Mengenainya) Bab 1

2. Puasa Sunat Bulan Sya’ban (Isu-isu Hukum Mengenainya) Bab 2

3. Puasa Sunat Bulan Sya’ban (Isu-isu Hukum Mengenainya) Bab Akhir

Kaum Salafi Wahabi sangat terkenal memiliki yel-yel: “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”. Mereka mengajak umat untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Kita muslimin semua tahu kenapa demikian? Karena, sebagai muslim sangat meyakini 100% tentunya bahwa al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber ajaran Islam yang utama yang diwariskan oleh Rasulullah Saw, sehingga siapa saja yang menjadikan keduanya sebagai pedoman, maka ia telah berpegang kepada ajaran Islam yang murni dan berarti ia selamat dari kesesatan. Bukankah Rasulullah Saw. menyuruh yang sedemikian itu kepada umatnya?

Sampai di sini, anda yang merasa terpelajar mungkin bertanya-tanya dalam hati, “Bagaimana Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahab yang menyerukan ‘kebenaran yang edeal’ berdasar al Qur’an dan al Sunnah masih dianggap sesat oleh para ulama di zamannya? Mengapa pula paham Salafi Wahabi di zaman sekarang yang merujuk semua ajarannya kepada al-Qur’an dan Sunnah juga dianggap menyimpang bahkan divonis sesat oleh para Ulama?

Mari kita perhatikan permasalahan ini secara komprehensif, agar terlihat “sumber masalah” yang ada pada sikap yang terlihat sangat bagus dan ideal tersebut.

1. Prinsip “Kembali kepada al- Qur’an dan Sunnah” adalah benar secara teoritis, dan sangat ideal bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam. Tetapi yang harus diperhatikan adalah, apa yang benar secara teoritis belum tentu benar secara praktis, menimbang kapasitas dan kapabilitas (kemampuan) tiap orang dalam memahami al-Qur’an & Sunnah sangat berbeda-beda. Maka bisa dipastikan, kesimpulan pemahaman terhadap al-Qur’an atau Sunnah yang dihasilkan oleh seorang ‘alim yang menguasai Bahasa Arab dan segala ilmu yang menyangkut perangkat penafsiran atau ijtihad, akan jauh berbeda dengan kesimpulan pemahaman yang dihasilkan oleh orang awam yang mengandalkan buku-buku “terjemah” al-Qur’an atau Sunnah.

Itulah kenapa di zaman ini banyak sekali bermunculan aliran sesat. Jawabnya tentu karena masing- masing mereka berusaha kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, dan mereka berupaya mengkajinya dengan kemampuan dan kapasitasnya sendiri. Bisa dibayangkan dan telah terbukti hasilnya, kesesatan yang dihasilkan oleh Yusman Roy (mantan petinju yang merintis sholatdengan bacaan yang diterjemah), Ahmad Mushadeq (mantan pengurus PBSI yang pernah mengaku nabi), Lia Eden (mantan perangkai bunga kering yang mengaku mendapat wahyu dari Jibril), Agus Imam Sholihin (orang awam yang mengaku tuhan), dan banyak lagi yang lainnya. Dan kesesatan mereka itu lahir dari sebab “Kembali kepada al- Qur’an dan Sunnah”, mereka merasa benar dengan caranya sendiri. Pada kaum Salafi & Wahabi, kesalahpahaman terhadap al- Qur’an dan Sunnah itu pun banyak terjadi, bahkan di kalangan mereka sendiri pun terjadi perbedaan pemahaman terhadap dalil. Dan yang terbesar adalah kesalahpahaman mereka terhadap dalil-dalil tentang bid’ah.

2. Al-Qur’an dan Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh para ulama terdahulu yang memiliki keahlian yang sangat mumpuni untuk melakukan hal itu, sebut saja: Ulama mazhab yang empat, para mufassiriin (ulama tafsir), muhadditsiin (ulama hadis), fuqahaa’ (ulama fiqih), ulama aqidah ahus-sunnah wal- Jama’ah, dan mutashawwifiin (ulama tasawuf/ akhlaq). Hasilnya, telah ditulis beribu-ribu jilid kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Qur’an dan Sunnah secara gamblang dan terperinci, sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap umat yang hidup dikemudian hari. Karya-karya besar itu merupakan pemahaman para ulama yang disebut di dalam al-Qur’an sebagai “ahludz- dzikr”, yang kemudian disampaikan kepada umat Islam secara turun-temurun dari generasi ke generasi secara berantai sampai saat ini.

Adalah sebuah keteledoran besar jika upaya orang belakangan dalam memahami Islam dengan cara “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” dilakukan tanpa merujuk pemahaman para ulama tersebut. Itulah yang dibudayakan oleh sebagian kaum Salafi Wahabi. Dan yang menjadi pangkal penyimpangan paham Salafi Wahabi sesungguhnya, adalah karena mereka memutus mata rantai amanah keilmuan mayoritas ulama dengan membatasi keabsahan sumber rujukan agama hanya sampai pada ulama salaf (yang hidup sampai abad ke-3 Hijriah), hal ini seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah (hidup di abadke-8 H.) dan para pengikutnya. Bayangkan, berapa banyak ulama yang dicampakkan dan berapa banyak kitab-kitab yang dianggap sampahyang ada di antara abad ke-3 hingga abad ke-8 hijriyah.

Lebih parahnya lagi, dengan rantai yang terputus jauh, Ibnu Taimiyah dan kaum Salafi Wahabi pengikutnya seolah memproklamirkan diri sebagai pembawa ajaran ulama salaf yang murni, padahal yang mereka sampaikan hanyalah pemahaman mereka sendiri setelah merujuk langsung pendapat-pendap at ulama salaf. Bukankah yang lebih mengerti tentang pendapat ulama salaf adalah murid-murid mereka? Dan bukankah para murid ulama salaf itu kemudian menyampaikannya kepada murid- murid mereka lagi, dan hal itu terus berlanjut secara turun temurun dari generasi ke generasi baik lisan maupun tulisan? Bijaksanakah Ibnu Taimiyah dan pengikutnya ketika pemahaman agama dari ulama salaf yang sudah terpelihara dari abad ke abad itu tiba di hadapan mereka di abad mana mereka hidup, lalu mereka campakkan sebagai tanda tidak percaya, dan mereka lebih memilih untuk memahaminya langsung dari para ulama salaf tersebut? Sungguh, ini bukan saja tidak bijaksana, tetapi juga keteledoran besar, bila tidakingin disebut kebodohan. Jadi kaum Salafi Wahabibukan Cuma menggaungkan motto “kembali kepada al- Qur’an dan Sunnah” secara langsung, tetapi juga “kembali kepada pendapat para ulama salaf” secara langsung dengan cara dan pemahaman sendiri.

Mereka bagaikan orang yang ingin menghitung buah di atas pohon yang rindang tanpa memanjat, dan bagaikan orang yang mengamati matahari atau bulan dari bayangannya di permukaan air.

3. Para ulama telah menghidangkan penjelasan tentang al-Qur’an dan Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai sebuah “hasiljadi”. Para ulama itu bukan saja telah memberi kemudahan kepada umat untuk dapat memahami agama dengan baik tanpa proses pengkajian atau penelitan yang rumit, tetapi juga telah menyediakan jalan keselamatan bagi umat agar terhindar dari pemahaman yang keliru terhadap al-Qur’an dan Sunnah yang sangat mungkin terjadi jika mereka lakukan pengkajian tanpa bekal yang mumpuni seperti yang dimiliki para ulama tersebut. Boleh dibilang, kemampuan yang dimiliki para ulama itu tak mungkin lagi bisa dicapai oleh orang setelahnya, terlebih di zaman ini, menimbang masa hidup mereka yang masih dekat dengan masa hidup Rasulullah Saw & para Shahabat yang tidak mungkin terulang, belum lagi keunggulan hafalan, penguasaan berbagai bidang ilmu, lingkungan yang shaleh, wara’ (kehati-hatian) , keikhlasan, keberkahan, dan lain sebagainya.

Pendek kata, para ulama seakan- akan telah menghidangkan “makanan siap saji” yang siap disantap oleh umat tanpa repot- repot meracik atau memasaknya terlebih dahulu, sebab para ulama tahu bahwa kemampuan meracik atau memasak itu tidak dimiliki setiap orang. Saat kaum Salafi & Wahabi mengajak umat untuk tidakmenikmati hidangan para ulama, dan mengalihkan mereka untuk langsung merujuk kepada al- Qur’an dan Sunnah dengan dalih pemurnian agama dari pencemaran “pendapat”manusia (ulama) yang tidak memiliki otoritas untuk menetapkan syari’at, berarti sama saja dengan menyuruh orang lapar untuk membuang hidangan yang siap disantapnya, lalu menyuruhnya menanam padi. Seandainya tidak demikian, mereka mengelabui umat dengan cara menyembunyikan figur ulama mayoritas yang mereka anggap telah “mencemarkan agama”, lalu menampilkan dan mempromosikan segelintir sosok ulama Salafi Wahabi beserta karya-karya mereka serta mengarahkan umat agar hanya mengambil pemahaman al-Qur’an dan Sunnah dari mereka saja dengan slogan “pemurnian agama”.

Sesungguhnya, “pencemaran” yang dilakukan para ulama yang shaleh dan ikhlas itu adalah upaya yang luar biasa untuk melindungi umat dari kesesatan, sedangkan “pemurnian” yang dilakukan oleh kaum Salafi Wahabi adalah penodaan terhadap ijtihad para ulama dan pencemaran terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Dan pencemaran terbesar yang dilakukan oleh kaum Salafi Wahabi terhadap al-Qur’an dan Sunnah adalah saat mereka mengharamkan begitu banyak perkara yang tidak diharamkan oleh al-Qur’an dan Sunnah; saat mereka menyebutkan secara terperinci amalan-amalan yang mereka vonis sebagai bid’ah sesat atas nama Allah dan Rasulullah Saw., padahal Allah tidak pernah menyebutkannya di dalam al-Qur’an dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyatakannya di dalam Sunnah (hadis)nya.

Dari uraian di atas, nyatalah bahwa orang yang “kembali kepada al- Qur’an dan Sunnah” itu belum tentu dapat dianggap benar, dan bahwa para ulama yang telah menulis ribuan jilid kitab tidak mengutarakan pendapat menurut hawa nafsu mereka. Amat ironis bila karya-karya para ulama yang jelas-jelas lebih mengerti tentang al-Qur’an dan Sunnah itu dituduh oleh kaum Salafi Wahabi sebagai kumpulan pendapat manusia yang tidak berdasar pada dalil, sementara kaum Salafi Wahabi sendiri yang jelas-jelas hanya memahami dalil secara harfiyah (tekstual) dengan sombongnya menyatakan diri sebagai orang yang paling sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Wallahu a’lam.. Sumber

Posted by: Habib Ahmad | 15 Jun 2013

Majlis-Majlis Ilmu

5985_468694793216705_277494662_n1016646_600533833299846_825894684_n996856_364592216996214_292581173_n

379579_10201562958259020_1485941101_n

Posted by: Habib Ahmad | 3 Jun 2013

Malaysia Mega Mawlid

Posted by: Habib Ahmad | 3 Jun 2013

Sahabat Nabi Yang Masih Hidup

Sahabat Nabi Yang Masih Hidup
580585_181298322030414_1333579995_n
TAHUKAH ANDA APAKAH POHON INI ?

✔ Inilah pohon yang memahami cinta buat Nabinya Muhammad SAW Pohon yang diberkati.

✔ Sehingga sekarang pokok ini masih hidup lagi di Jordan. Sebab itu ianya digelar “the only living sahabi” atau “sahabat Nabi yang masih hidup”.

Sedikit sejarah mengenainya…

✔ Ketika Rasulullah SAW keluar ke Syam bersama Maisarah -pekerja Sayyidatuna Khadijah ra- untuk berniaga, Baginda SAW pernah berteduh di bawah pohon ini sebelum sampai ke sana.

✔ Semasa Baginda SAW berteduh di bawahnya, dahan dan ranting² pohon ini bergerak menaungi Baginda SAW daripada cahaya matahari.

✔ Seorang paderi yang melihat kejadian ini datang bertemu Maisarah & menunjukkan kepadanya pohon tempat teduhan Rasulullah SAW itu dengan berkata: “Hanya seorang Nabi sahaja yang berteduh di bawah pohon ini.”


Pohon ini terletak di tengah padang pasir bernama Buqa’awiyya di negara Jordan. Dari segi geografi, ia berdekatan dengan kota Bosra di Syria. Sebagaimana kita tahu, Rasulullah S.A.W 2 kali tiba di Bosra

1. Ketika bersama bapa saudaranya Abi Talib sewaktu berumur 12 tahun & bertemu dengan Rahib Buhaira dan terserlah tanda kerasulan baginda di belakang bahu sepertimana tercatat dalam kitab injil tentang tanda kerasulan nabi akhir zaman. 2. kali kedua rasulullah ke bosra membawa barang dagangan saidatina khadijah. apa yg menarik..selepas dari tanah Tabuk hingga ke Bosra sejauh lebih 500km..kita tidak akan berjumpa dengan pokok seumpama di atas.

>>> Lihatlah sampai hari ini ia tetap subur walaupun berada di tengah² padang pasir yang kering kontang. Tiada tumbuhan hidup sepertinya. ALLAH menghidupkannya dengan kehendak-NYA jua, ALLAHU ALLAH.

✔ Dan di dalam foto ini juga, Habib Umar Benhafidz seorang daripada keturunan Rasulullah SAW menziarahi pohon di mana Datuknya – Rasulullah SAW pernah berada di situ.

SubhanAllah, Indahnya Ciptaan Allah

Posted by: Habib Ahmad | 24 Mei 2013

Malam Cinta Rasul Shah Alam 2013

292972_10152285919931091_1638380207_n (1)

Posted by: Habib Ahmad | 14 Mei 2013

Jadual Pengajian Syeikh Fahmi Zamzam

941658_10201168209832475_1477295895_n

PRU-13: Rasmi – Keputusan penuh kerusi Parlimen mengikut negeri

KUALA LUMPUR 6 Mei – Berikut keputusan penuh bagi 222 kerusi Parlimen yang dipertandingkan di seluruh negara dalam Pilihan Raya Umum Ke-13 (PRU-13) mengikut pecahan negeri:

PERLIS (3): BN (3)

KEDAH (15): BN (10), PKR (4), Pas (1)

KELANTAN (14): BN (5), Pas (9)

TERENGGANU (8): BN (4), Pas (4)

PULAU PINANG (13): BN (3), DAP (7), PKR (3)

PERAK (24): BN (12), DAP (7), PKR (3), Pas (2)

PAHANG (14): BN (10), PKR (2), DAP (1), Pas (1)

SELANGOR (22): BN (5), PKR (9), DAP (4), Pas (4)

WP KUALA LUMPUR (11): BN (2), DAP (5), PKR (4)

WP PUTRAJAYA (1): BN (1)

WP LABUAN (1): BN (1)

NEGERI SEMBILAN (8): BN (5), DAP (2), PKR (1)

MELAKA (6): BN (4), DAP (1), PKR (1)

JOHOR (26): BN (21), DAP (4), PKR (1)

SABAH (25): BN (22), DAP (2), PKR (1)

SARAWAK (31): BN (25), DAP (5), PKR (1)

* Keputusan ini boleh diikuti di laman web rasmi Suruhanjaya Pilihan Raya (SPR) resultpru13.spr.gov.my/module/keputusan/paparan/5_KerusiDR.php:

Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/utusan/Pilihan_Raya/20130506/px_89/PRU-13-Rasmi—Keputusan-penuh-kerusi-Parlimen-mengikut-negeri#ixzz2SUZH2dwx
© Utusan Melayu (M) Bhd

keutamaan penduduk yaman dan alqur’an dan hadits (Negeri Para Nabi dan Habaib)
Posted on April 11, 2013 by admin
(keutamaan penduduk yaman dan alqur’an dan hadits)

Bumi Nabi-nabi…
Yaman
– keutamaan dan keberkahannya-
Yaman merupakan salah satu negara di jaziroh arab, letaknya berdekatan dengan negeri tauhid Saudi Arabia, Yaman merupakan salah satu tonggak sejarah dalam islam, mempunyai banyak sekali keutamaan, telah masyhur dalam kitab-kitab sejarah islam betapa banyaknya keutamaan serta kebaikan yang Allah subhanau wa ta’ala limpahkan kepada negeri ini, dahulu kala di masa jahiliyah maupun sesudah datangnya islam, berupa kemuliaan akhlak para penduduknya, para rosul dan nabi, keajaiban-keajaiban dunia, kerajaan-kerajaan bersejarah, para ahli sya’ir, para penulis kitab, para ulama, para fuqoha, ahli ibadah, ahli zuhud, dan selain daripada yang demikian.

Keutamaan negeri Yaman dan ahlu Yaman… dalam Al-Qur’an
Allah subhanahu wa ta’ala telah memberkahi negeri yaman, dan berfirman bahwa negeri saba’ (sebuah negeri di yaman) adalah sebuah negeri yang baik, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat Saba’ 15 :
لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٍ۬ فِى مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٌ۬ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ۬ وَشِمَالٍ۬ۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۚ ۥ بَلۡدَةٌ۬ طَيِّبَةٌ۬ وَرَبٌّ غَفُورٌ۬ (١٥)
artinya :
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda [kekuasaan Tuhan] di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. [Kepada mereka dikatakan]: “Makanlah olehmu dari rezki yang [dianugerahkan] Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. [Negerimu] adalah negeri yang baik dan [Tuhanmu] adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (15)” (QS. Saba’ 15)
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِى ٱللَّهُ بِقَوۡمٍ۬ يُحِبُّہُمۡ وَيُحِبُّونَهُ ۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِينَ يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآٮِٕمٍ۬‌ۚ ذَٲلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَٱللَّهُ وَٲسِعٌ عَلِيمٌ)
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas [pemberian-Nya] lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah 54)
kaum yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan di atas, sebagai kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, mereka adalah bangsa yaman, sebagaimana datang penjelasan tafsir ayat di atas dalam hadits di bawah ini,
عن جابر بن عبد الله قال :سئل رسول الله عن قوله تعالى : (فَسَوۡفَ يَأۡتِى ٱللَّهُ بِقَوۡمٍ۬ يُحِبُّہُمۡ وَيُحِبُّونَهُ) قال : هؤلاء قوم من اليمن
Diriwayatkan oleh Imam Ath-tabrani dari sahabat jabir bin abdillah bahwasanya beliau berkata : rosulullah shalallahu alaihi wa sallam telah ditanya tentang firman Allah (“maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya“) beliau berkata : mereka adalah sekelompok kaum dari negeri yaman.

Ahlu Yaman berbondong-bondong memasuki agama Allah
عن أبي هريرة قال : لما نزلت : (إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ (١) وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجً۬ا (٢) ) قال رسول الله : أتاكم أهل اليمن, هم أرقّ قلوبا, الإيمان يمان و الفقه يمان و الحكمة يمانية
Dari abi huroiroh berkata: tatkala diturunkan ayat (” Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (1)Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, (2)” ) rosulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata: penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan Fiqih ada pada Yaman, dan hikmah ada pada yaman [HR. Imam Ahmad]
عن ابن عبّاس قال : بينما النّبيّ بالمدينة إذ قال : الله أكبر ! الله أكبر !, جاء نصر الله و الفتح, و جاء أهل اليمن : قوم نقية قلوبهم ليّنة طباعهم, الإيمان يمان و الفقه يمان و الحكمة يمانية (أخرجه ابن حبّان في موارد الظّمآن و صحّحه الألباني)
Diriwayatkan dari ibnu abbas : suatu ketika nabi berada di madinah tiba-tiba beliau bertakbir : Allahu akbar…. Allahu akbar telah datang pertolongan Allah dan telah datang penduduk yaman, suatu kaum yang bersih hati mereka, lembut tabiat mereka… imam itu ada pada yaman dan fiqih itu ada pada yaman dan hikmah itu ada pada yaman [HR. Ibnu Hibban]
Keutamaan negeri Yaman dan penduduknya dalam lembaran sunnah rosulullah
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله : أتاكم أهل اليمن, هم أرقّ أفئدة و ألين قلوبا, الإيمان يمان و الحكمة يمانية (متفق عليه)
قال الإمام البغويّ في شرح السنّة <>
Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman. [ HR. Bukhari-Muslim]
Berkata Imam Al-Baghowi dalam kitab syarhus sunnah ketika menerangkan hadits di atas “yang demikian itu merupakan pujian kepada penduduk yaman, dikarenakan mereka adalah kaum yang bersegera dalam beriman kepada rosulullah, dan baiknya keimanan mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala”
Ahlu Yaman adalah orang-orang yang pertama minum dari telaga rosulullah
عن ثوبان أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال إني لبعقر حوضي أذود الناس لأهل اليمن أضرب بعصاي حتى يرفض عليهم
Dari sahabat tsauban berkata : rosulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda “sesungguhnya aku (nanti di akhirat) berada di samping telagaku, aku akan menghalangi setiap manusia yang akan minum dari telagaku sehingga penduduk yaman dapat meminum air dari telagaku terlebih dahulu, aku memukul dengan tongkatku sehingga mengalirlah air telaga tersebut sampai pada mereka. [HR. Muslim]
Berkata Imam An-Nawawi menjelaskan kandungan hadits di atas : “hal tersebut merupakan karomah bagi ahlu yaman karena rosulullah shalallahu alaihi wa sallam mendahulukan mereka dalam hal meminum air telaga beliau, sebagai balasan atas kebaikan-kebaikan mereka dan bersegeranya mereka dalam memeluk agama islam” [Syarah Shohih Muslim]
Nabi mendo’akan hidayah dan barokah kepada ahlu yaman
عن أنس عن زيد بن ثابت رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم نظر قبل اليمن فقال اللهم أقبل بقلوبهم
Dari sahabat zaid bin tsabit : bahwasanya nabi mengarahkan pandangannya ke arah negeri yaman, kemudian beliau berkata : Ya Allah… jadikanlah di hati mereka kelapangan dalam menerima islam [HR. Tirmidzi berkata Imam Al-Albani hadits hasan shohih]
عن عبد الله بن عمر أنّ النبي قال : اللهم بارك لنا في يمننا…..
Diriwayatkan dari abdullah bin umar bahwasanya nabi berdo’a : Ya Allah berkahilah kami pada Yaman kami (negeri Yaman) [HR. A-Bukhari]
Rasulullah mendo’akan dengan hidayah dan keberkahan tidaklah yang demikian itu beliau lakukan melainkan karena keutamaan dan kebaikan pada sesuatu yang beliau do’akan, dan pada hadits di atas merupakan penetapan akan keutamaan negeri yaman berupa barokah dari do’a rosulullah.
Bersegeranya ahlu yaman dalam menyambut dakwah islam

عن عمران بن حصين قال عبد الرحمن جاء نفر من بني تميم قال وكيع جاءت بنو تميم إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال أبشروا يا بني تميم قالوا يا رسول الله بشرتنا فأعطنا قال عبد الرحمن فتغير وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فجاء حي من يمن فقال اقبلوا البشرى إذ لم يقبلها بنو تميم قالوا يا رسول الله قبلنا جئنا لنتفقه في الدين
Diriwayatkan dari sahabat ‘Imron bin husein, beliau berkata : suatu hari aku berada di samping rosulullah shalallahu alaihi wa sallam tatkala datang kepada beliau sekelompok kaum dari bani tamim, maka berkata rosulullah shalallahu alaihi wa sallam kepada mereka, “aku sampaikan kepada kalian berita gembira (seruan kepada islam dan balasannya berupa surga), mereka berkata kepada rosulullah shalallahu alaihi wa sallam : engkau telah memberi kami kabar gembira, maka berilah kepada kami sesuatu (sebagai hadiah) –maka berubahlah wajah rosulullah- kemudian datang penduduk yaman menemui rasulullah, maka berkatalah rosulullah shalallahu alaihi wa sallam kepada mereka “ wahai para penduduk yaman aku sampaikan kepada kalian berita gembira (seruan kepada islam dan balasannya berupa surga) yang mana bani tamim tidak menerima kabar gembira tersebut dariku, ahlu yaman berkata kepada rosulullah shalallahu alaihi wa sallam : kami menerima seruan engkau, kami mendatangi engkau dalam rangka mempelajari agama.” [HR. Al-Bukhari]
Penduduk yaman adalah sebaik-baik penduduk bumi
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَرِيقٍ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ ، فَقَالَ : ” يُوشِكُ أَنْ يَطْلُعَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ ، كَأَنَّهَا قِطَعُ السَّحَابِ ، أَوْ قِطْعَةُ سَحَابٍ ، هُمْ خِيَارُ مَنْ فِي الأَرْضِ…
Dari jubair bin muthim berkata : suatu ketika kami bersama rasulullah di suatu jalan antara makkah dan madinah, maka berkata rasulullah : hampir-hampir saja bangsa yaman melebihi kalian, seakan-akan mereka seperti gumpalan awan, mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi. [HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Al-Baihaqi,]
Sebaik-baik lelaki adalah lelaki ahlu yaman
عن عمرو بن عبسة السلميّ…. بل خير الرجال رجال أهل اليمن
Dari sahabat ‘amr bin abasah rasulullah bersabda : sebaik-baik lelaki adalah lelaki penduduk yaman” [HR. Imam Ahmad, Al-Bukhari]

Kegigihan ahlu yaman dalam menjalani ketaatan kepada Allah
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى … «إنه سيأتي قوم تحقرون أعمالكم إلى أعمالهم، قلنا: يا رسول الله، أقريش؟ … قال : لا و لكن هم أهل اليمن
Dari abu sa’id al-khudri berkata : rasulullah berkata : “sesungguhnya akan datang suatu kaum yang kalian akan merasa minder jika membandingkan amalan kalian dengan amalan mereka” sahabat anas bin malik bertanya : wahai rosulullah, apakah mereka kaum dari kaum quraisy ? berkata rosulullah : “Tidak, akan tetapi mereka adalah kaum dari negeri yaman” [HR. Ibnu Abi Ashim,]
Berkata Imam ibnu jarir ath-thabari dalam tafsirnya : “sesungguhnya Allah mendatangkan ahlu yaman pada masa kekhilafan umar bin khotob, kala itu sikap mereka terhadap ajaran agama islam merupakan yang paling baik diantara kaum-kaum yang lain yang memeluk islam [dari luar mekkah dan madinah] dan mereka pada waktu itu adalah kaum yang paling banyak memberi pertolongan kepada kaum muslimin.
Keutamaan ahlu aden (penduduk kota aden)
عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( يخرج من عدن أبين اثنا عشر ألفاً ينصرون الله ورسوله ) …..
Dari Ibnu Abbas berkata : Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata : akan keluar dari antara kota aden dan kota abyan 12.000 orang yang akan menolong agama Allah dan menolong Rasul-Nya.

Posted by: Habib Ahmad | 31 Mac 2013

MALAM CINTA RASUL DATARAN MERDEKA – FULL VIDEO

Posted by: Habib Ahmad | 19 Mac 2013

Keistimewaan Sanad Dan Mengapa Ada Yang Menolaknya ?

Keistimewaan Sanad Dan Mengapa Ada Yang Menolaknya ?
Oleh : Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni

Sanad Keistimewaan Ummah
Menghidupkan pengajian bersanad pada masa ini adalah suatu perkara yang harus diberi pujian dan galakan, dan bukannya satu perkara yang harus dibanteras dan ditentang. Meskipun ia bukan satu kefardhuan ke atas setiap orang dalam menuntut ilmu atau mengajarkannya, namun ketiadaannya langsung samasekali dalam umat Islam mampu menjadi tanda pada dekatnya kehancuran umat ini. Di mana kelak tiada lagi tinggal orang-orang berilmu yang penuh keberkatan tersebut, lalu orang mengambil ahli-ahli ilmu yang jahat, tiada keberkatan dan orang-orang jahil sebagai tempat rujuk dan pemimpin agama mereka. Justeru, mereka ini sesat lagi menyesatkan, dan akhirnya di atas merekalah dibangkitkan kiamat.

Jika tujuan sanad pada awalnya untuk memastikan kesahihan riwayat, namun ilmu sanad kemudiannya berkembang sama seperti ilmu-ilmu Islam yang lain, sehingga ia menjadi suatu seni yang tersendiri. Cuma bezanya syarat yang ketat dan penelitian yang tegas terhadap perawi-perawi pada peringkat awal telah dilonggarkan pada peringkat mutakhir, apabila kebanyakan hadith sudah direkod dan dibukukan oleh ulama hadith. Justeru kemudiannya, ramailah ulama yang membenarkan pengijazahan sanad serta meriwayatkannya berdasarkan ijazah tersebut semata-mata, tanpa perlu bertalaqqi penuh.

Periwayatan secara bersanad diteruskan kerana ia adalah satu kemuliaan dan keistimewaan yang dapat dilihat dari sudut-sudut berikut;

1. merupakan pertalian yang bersambung-sambung sampai kepada Rasulullah SAW (وكفى في الاتصال بالحبيب شرفاً) .

2. merupakan iqtida’ (tauladan) terhadap para salafus-soleh dalam tradisi belajar dan mengajar (إنّ التشبه بالكرام فلاح).

3. merupakan satu jati diri dan ikatan ilmu yang hanya dimiliki oleh umat Islam, maka ia adalah satu kebanggaan buat mereka (الإسناد من الدين).

4. merupakan satu usaha berterusan memelihara persambungan sanad hingga ke hari kiamat (إن الأسانيد أنساب الكتب).

5. merupakan satu rahmat dan barakah (عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة).

Mereka yang mengkritik pengajian bersanad juga seharusnya membezakan pengajian bersanad yang bagaimana yang dikritik, bukan menghentam secara pukul-rata. Perlu dibezakan juga antara ijazah am dan ijazah khas. Jika tidak ia hanya satu kejahilan terhadap sistem sanad dan juga seni-seninya.

Pengajian secara bersanad terbahagi kepada beberapa kategori, iaitu:

talaqqi secara bersanad bagi qiraat (bacaan) al-Quran.
talaqqi secara bersanad bagi kitab-kitab hadith muktamad, seperti Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Muwatta’ Malik dan sebagainya.
talaqqi secara bersanad bagi himpunan hadith-hadith tertentu, seperti al-Awa’il al-Sunbuliyyah, atau hadith-hadith tertentu, seperti hadith musalsal.
talaqqi secara bersanad bagi kitab-kitab karangan ulama dalam berbagai bidang ilmu, seperti fiqh, usul-fiqh, tauhid, tafsir, sirah, hadith, mustalahul-hadith, tasawuf dan sebagainya.
talaqqi secara bersanad bagi amalan tariqat-tariqat sufiyyah.

Seorang yang mempelajari secara mendalam, akan mendapati dalam ilmu ulumul-hadith dibincangkan tentang ilmu al-tahammul wal-ada’ (pembawaan dan penyampaian riwayat), serta dibincangkan tentang adab-adab muhaddith dan juga penuntut hadith. Perkara ini dapat dirujuk dalam kesemua kitab-kitab yang disusun dalam ulumul-hadith. Ini menunjukkan para ulama sejak dahulu mengambil berat mengenai periwayatan sanad. Hanya pengembaraan-pengembaraan getir ahli hadith dalam mencari sanad sahaja yang berakhir, iaitu dalam kurun ke-6 hijrah. Di mana semua riwayat telah dibukukan dalam al-Jawami’, al-Sihah, al-Sunan, al-Masanid, al-Ma’ajim, al-Ajza’, al-Fawa’id, al-Masyyakhat dan lain-lain. Setelah itu para ulama hadith berusaha memelihara sanad ini hinggakan ada sebahagian mereka yang membukukannya di dalam kitab-kitab khusus.

Perhatian terhadap pengumpulan sanad ini kemudian terus bertambah di kalangan ulama hadith sehingga hampir tiada ulama hadith melainkan ia mempunyai kitab sanad yang merekodkan sanad-sanadnya dan juga biografi sebahagian syeikh-syeikhnya. Kitab-kitab ini disebut dengan berbagai istilah seperti barnamij, fihris, thabat dan mu’jam. Riwayat-riwayat mereka juga tidak sekadar pada kitab-kitab hadith, malah pada kitab-kitab tafsir, fiqh, usul, akidah dan lain-lain. (al-Fadani, h. 8-9)

Sanad Kini Sudah Tiada Nilai?

Oleh kerana kejahilan dan kesan penjajahan dalam sistem pendidikan, ada orang yang berkata:

“Kesemua sanad yang wujud di atas muka bumi sekarang sudah tidak dijamin kethiqahan perawi dan persambungan sanadnya. Justeru tidak ada faedah untuk meriwayatkannya”.

Tuduhan ini adalah satu tohmahan kepada seluruh ulama dan ahli ilmu yang memiliki sanad dan meriwayatkannya. Tuduhan tersebut hanya menampakkan kejahilan pengucapnya yang tidak takut kepada Allah SWT terhadap kata-kata yang akan dipertanggungjawabkan kelak. Jika beliau berkata; banyak sanad ulama mutaakhirin yang wujud sekarang mengandungi banyak kecelaruan di dalamnya, tentu itu lebih dapat diterima dan layak untuk diperbincangkan.

Mereka juga berpegang kepada kata-kata Ibn al-Salah (m. 643H) dalam kitabnya (صيانة صحيحِ مسلمِ من الإخلالِ والغلَطِ و حمايتُه من الإسقاطِ والسَّقَط) (h. 117):

“Ketahuilah, bahawa periwayatan dengan isnad-isnad yang bersambung bukanlah maksud daripadanya pada zaman kita ini dan juga zaman-zaman sebelumnya bagi mensabitkan apa yang diriwayatkan, kerana tidak sunyi satu isnad pun daripadanya dari seorang syeikh yang tidak tahu apa yang diriwayatkannya, dan juga tidak menjaga isi kitabnya secara jagaan yang layak untuk diperpegang pada kesabitannya. Akan tetapi maksudnya ialah bagi mengekalkan rantaian isnad yang dikhususkan terhadap umat ini, semoga Allah menambahkannya kemuliaan”.

Kata-kata Ibn al-Salah tersebut juga bukanlah kata-kata yang maksum yang tidak dapat dipertikaikan. Ia tetap menerima perbincangan antara pro-kontra sebagaimana setengah pendapatnya yang lain. Ini kerana realiti membuktikan sanad masih diperlukan walaupun untuk mensabitkan sesuatu riwayat, seperti contoh kes satu juzuk kitab Musannaf ‘Abd al-Razzaq yang hilang yang ditemukan dan diterbitkan oleh Dr. ‘Isa ‘Abdillah Mani‘ al-Himyari dan Dr. Mahmud Sa’id Mamduh. Namun apabila mereka menyedari kepalsuan juzuk kitab tersebut kerana tiada persambungan sanad setelah membuat perbandingan dengan sanad-sanad periwayatan yang ada, mereka menarik balik penerbitannya dan mengisytihar permohonan maaf. (جزاهما الله خيراً). Di kalangan para pentahkik dan penyelidik manuskrip pula, ramai di antara mereka yang dapat mengesan kesalahan kalimah, pertukaran huruf, penentuan titik kalimah, perubahan nama-nama dan sebagainya berdasarkan sanad-sanad periwayatan yang wujud sekarang ini.

Pendapat Ibn al-Salah bahawa tiada lagi sanad yang bersambung dengan perawi-perawi thiqah juga dapat dipertikaikan dengan wujudnya sanad-sanad yang sabit sama ada pada zaman beliau, sebelumnya, mahupun selepasnya. Contohnya, Imam al-Nawawi telah meriwayatkan Sahih Muslim dengan sanad yang bersambung dan menerangkan kedudukan setiap perawi dalam sanad berkenaan. Begitu juga al-Hafiz Ibn Hajar dan lain-lain. Usaha Syeikh al-Yunini menghimpun sanad-sanad Sahih al-Bukhari sehingga menjadikan al-Nuskhah al-Yuniniyyahnya sebagai versi Sahih al-Bukhari yang paling sahih juga merupakan bukti dalam masalah ini.

Mereka yang mendalami ilmu rijal dan ‘ilal juga (cabang-cabang daripada ilmu sanad) akan mendapati bahawa ilmu tersebut tidak terhenti pada kurun-kurun awal hijrah sahaja, bahkan ianya terus berkembang di sepanjang zaman sehinggalah ke zaman kita ini. Apakah ilmu ini harus disempitkan kerana kononnya masalah sanad sudah selesai?

Fatwa Aneh

Berikut saya bawakan fatwa al-Lajnah al-Da’imah lil-Buhuth al-’Ilmiyyah wal-Ifta’ untuk ukuran dan nilaian anda. (Saya terjemahkan soal-jawabnya sahaja):

ورد سؤال للجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء 4/371 رقم الفتوى (3816)، هذا نصه: هل بقي أحد من العلماء الذين يصلون بإسنادهم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلى كتب أئمة الإسلام؟ دلونا على أسمائهم وعناوينهم حتى نستطيع في طلب الحديث والعلم إليهم.

الجواب: يوجد عند بعض العلماء أسانيد تصلهم إلى دواوين السنة لكن ليست لها قيمة؛ لطول السند، وجهالة الكثير من الرواة عدالة وضبطا. وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله، وصحبه وسلم.

- اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء:
عضو: عبد الله بن قعود.
عضو: عبد الله بن غديان.
نائب رئيس: عبد الرزاق عفيفي.
الرئيس: عبد العزيز بن باز.

Terjemahan:

…Soalan: Adakah masih tinggal ulama yang bersambung isnad mereka sampai kepada Rasulullah SAW dan juga kepada kitab-kitab ulama besar Islam? Sebutkanlah kepada kami nama-nama dan alamat-alamat mereka agar kami dapat mempelajari hadith dan ilmu daripada mereka.

Jawapan: Terdapat pada sebahagian ulama sanad-sanad yang menyambungkan mereka kepada kitab-kitab al-sunnah, akan tetapi ianya tidak ada nilai, kerana sanad yang panjang, serta kemajhulan ramai dari kalangan perawinya dari segi sifat adil dan dhabit. Wabillah al-tawfiq…

(ringkas betul!)

Punca Kempen Menjauhi Periwayatan Sanad

Tidak dinafikan, ada setengah masyayikh salafi-wahhabi yang memiliki sanad secara ijazah, namun sebahagian mereka tidak mahu menyebarkannya kerana rantaian sanad periwayatan tersebut mengandungi ramai perawi Asya’irah atau Maturidiyyah, dan juga perawi-perawi sufiyyah.

Bagi menjelaskan perkara ini, di bawah ini akan saya senaraikan antara ulama-ulama yang menghimpunkan sanad-sanad di dalam kitab-kitab khusus:

1. al-Hafiz Ibn al-Najjar (m. 648H): Masyyakhah.

2. al-Hafiz Abu Tahir al-Silafi (m. 576H): al-Wajiz fi Zikr al-Mujaz wa al-Mujiz .

3. Imam ‘Abdul Haq bin Ghalib ibn ‘Atiyyah al-Andalusi (m. 541H): Fihrasah.

4. al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahsubi (m. 544H): al-Ghunyah.

5. al-Hafiz Muhammad bin ’Umar ibn Khayr al-Isybili (m. 575H): Fihrist.

6. al-Hafiz Ibn Hajar al-’Asqalani (m. 852H): al-Majma’ al-Mu’assas dan al-Mu’jam al-Mufahras .

7. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti (m. 911H): Zad al-Masir.

8. Syeikhul-Islam Zakariyya al-Ansari (m. 926H): Thabat.

9. Imam ‘Abdul Wahhab al-Sya‘rani (m. 973H): Fihris.

10. al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali bin Tulun (m. 953H): al-Fihrist al-Awsat.

11. Al-Musnid Abu Mahdi ‘Isa bin Muhammad al-Tha’alibi al-Makki (m: 1080 H): Maqalid al-Asanid, al-Minah al-Badiyyah fi al-Asanid al-’Aliyah, Kanzul Riwayah dan Muntakhab al-Asanid .

12. Syeikh Muhammad bin ‘Ala’uddin al-Babili (m: 1077H):(منتخب الأسانيد)

13. Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Qusyasyi (m: 1070H): al-Simt al-Majid.

14. Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Bakr al-‘Ayyasyi (m: 1090H): (إتحاف الأخلاء)

15. Imam ‘Abdullah bin Salim Al-Basri al-Makki (m: 1134H): Al-Imdad bi Ma’rifati ‘Uluwi al-Isnad .

16. Syeikh Abu Tahir Ibrahim bin Hasan Al-Kurani (m: 1101H): Al-Umam li Iqaz Al-Himam .

17. Syeikh Hasan bin ‘Ali al-‘Ujaimi al-Makki (m. 1113H): Kifayah Al-Mutatalli’ .

18. Syeikh ‘Abdul Baqi al-Ba’li al-Dimasyqi al-Hanbali (m. 1071H): (رياض أهل الجنة بآثار أهل السنة)

19. Syeikh ’Abdur Rahman al-Ba’li al-Hanbali: (منار الإسعاد في طرق الإسناد)

20. Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al-Rudani (1094H): Sillatu Al-Khalaf bi Mausul As-Salaf.

21. Syeikh al-Muhaddith Isma’il bin Muhammad al-’Ajluni : (حلية أهل الفضل والكمال)

22. Syeikh Muhammad bin Ahmad ‘Aqilah al-Makki: (المواهب الجزيلة)

23. Syeikh ‘Abdul Ghani al-Nabulusi: Thabat.

24. Syeikh Muhammad Hasyim al-Sindi (m:1174H): Al-Muqtataf min Ittihaf Al-Akabir bi Asanid Al-Mufti Abdil Qadir .

25. Syeikh Muhammad ‘Abid al-Sindi (m. 1257H): Hasr al-Syarid.

26. Syeikh ‘Ali bin Zahir Al-Watri Al-Madani (m: 1322H): Awa’il Al-Watri wa Musalsalatihi .

27. Syeikh Waliyullah al-Dihlawi (m. 1176H): Al-Irsyad ila Muhimmat ‘Ilm Al-Isnad .

28. al-‘Allamah Abu al-Faydh Muhammad Murtadha al-Zabidi: (لقط اللآلي من الجواهر الغوالي)

29. Syeikh Ahmad al-Dardir al-Maliki: Thabat.

30. Syeikh ‘Abdul Ghani bin ‘Abdul Haq al-Dihlawi (m. 1296H): al-Yani’ al-Jani fi Asanid al-Syaikh ‘Abdul Ghani, susunan Syeikh Muhammad Yahya.

31. Syeikh ‘Abdullah al-Syabrawi (m. 1171H): Thabat.

32. Syeikh Muhammad ibn Himmat Zadah al-Dimasyqi: al-Is’ad.

33. Syeikhul-Islam Syamsuddin Muhammad bin Salim al-Hifni: Thabat.

34. Syeikh Salih bin Muhammad Al-Fullani (1218H): Qatf al-Thamar fi Raf’i Asanid Al-Musannafat fi Al-Funun wa Al-Athar .

35. Syeikh Muhammad Syakir al-’Aqqad (m. 1222H): (عقود اللآلي في الأسانيد العوالي)

36. al-’Allamah Syeikh ’Abdul Rahman bin Muhammad al-Kuzbari: Thabat.

37. Syeikh Muhammad Al-Amir Al-Kabir Al-Misri (m.1232H): Sadd al-Arab min ‘Ulum al-Isnad wal Adab .

38. Syeikh Muhammad bin ‘Ali al-Syanawani (m. 1233H): al-Durar al-Saniyyah li ma ‘ala Min al-Asanid al-Syanawaniyyah .

39. Syeikh ‘Abdullah bin Hijazi Al-Syarqawi (m.1227H): al-Jami’ al-Hawi fi Marwiyyat al-Syarqawi.

40. Syeikh Ahmad ibn ’Ajibah al-Hasani: Fihris.

41. Syeikh ‘Abdul Wasi’ bin Yahya Al-Wasi’i: al-Durr al-Farid al-Jami’ li Mutafarriqat al-Asanid .

42. Syeikh Muhammad Amin Ibn ‘Abidin (m. 1252H): (مجموعة إجازات)

43. Syeikh Hasan Al-Masyat (1306 H): al-Irsyad bi Zikr Ba’dhi ma Li min al-Ijazah wa Al-Isnad .
44. Syeikh Tahir bin Muhammad al-Jaza’iri: (عقود اللآلي في الأسانيد العوالي)

45. Syeikh Abu al-Mahasin al-Qawuqji (m. 1305H): (معدن اللآلي في الأسانيد العوالي)

46. Mawlana Syeikh Fadhl al-Rahman al-Kanja-Murad-Abadi: (إتحاف الإخوان بأسانيد سيدنا ومولانا فضل الرحمن), susunan Syeikh Ahmad bin ‘Uthman.

47. Syeikh Ahmad Dhiya’uddin al-Kumusykhanawi: Thabat.

48. Syeikh Mahmud Muhammad Nasib al-Hamzawi, mufti Syam: (عنوان الأسانيد)

49. Syeikh Muhammad Sa’id Sunbul al-Makki (m. 1175H): al-Awa’il al-Sunbuliyyah.

50. Syeikh Abu al-Yusr Falih bin Muhammad al-Mihnawi al-Zahiri (m. 1328H): (حسن الوفاء) 51. Syeikh Abu al-Nasr Muhammad Nasr Allah al-Khatib: (الكنز الفريد في علم الأسانيد )

52. Syeikh Muhammad ‘Abdul Baqi Al-Ansari (m.1364H): Al-Is’ad bil Isnad dan Nashr Al-Ghawali min Al-Asanid Al-’Awali .

53. Syeikh Muhammad Mahfuz al-Turmasi (m. 1338H): Kifayah Al-Mustafid li ma ‘Ala min Al-Asanid .

54. Syeikh ‘Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali Qudus al-Makki (m. 1334H): (المفاخر السنية في الأسانيد العلية القدسية) dan (إجازة الشيخ أحمد دحلان للشيخ عبد الحميد قدس)

55. Syeikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani (m. 1350H): (هادي المريد إلى طرق الأسانيد)

56. Syeikh Muhammad Zahid al-Kawthari: (التحرير الوجيز)

57. Syeikh Muhammad ’Abdul Rasyid al-Nu’mani: (الكلام المفيد في تحرير الأسانيد)

58. Syeikh ‘Umar Hamdan, muhaddith al-Haramain (m. 1368H): (مطمح الوجدان في أسانيد الشيخ عمر حمدان) dan (إتحاف الإخوان باختصار مطمح الوجدان في أسانيد الشيخ عمر حمدان), susunan al-Fadani.

59. Syeikh Muhammad ‘Ali Al-Maliki: (المسلك الجلي) susunan al-Fadani.

60. Musnid al-Dunia Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad ’Isa Al-Fadani (m. 1410H):

- الأسانيد المكية لكتب الحديث والسير والشمائل المحمدية

- إتحاف المستفيد بغرر الأسانيد

- الفيض الرحماني بإجازة فضيلة الشيخ محمد تقي العثماني

- القول الجميل بإجازة سماحة السيد إبراهيم بن عمر باعقيل

- العجالة في الأحاديث المسلسلة

- قرة العين في أسانيد شيوخي من أعلام الحرمين

- فيض المبدي بإجازة الشيخ محمد عوض الزبيدي

- الأربعون البلدانية: أربعون حديثاً عن أربعين شيخاً من أربعين بلداً

-شرح المسلسل بالعترة الطاهرة

- بغية المريد من علوم الأسانيد – dalam lima jilid!.

61. Al-Habib Syeikh bin Abdillah Al-’Aidarus (m: 990 H): al-Tiraz Al-Mu’allim .

62. al-Sayyid Muhammad al-Syilli: Mu’jam al-Syilli .

63. Al-Habib Syeikh bin Muhammad Al-Jufri: Kanz Al-Barahin Al-Jazbiyyah wa Al-Asrar Al-Ghaibiyyah li Sadah Masyayikh al-Tariqah Al-Haddadiyyah Al-’Alawiyyah.

64. Al-Habib ‘Abdul Rahman bin ‘Abdullah bin Ahmad Bal Faqih: Miftah Al-Asrar fi Tanazzuli Al-Asrar wa Ijazah Al-Akhyar.

65. Al-Habib ‘Abdullah bin Husein Bal Faqih: Syifa’ al-Saqim bi Idhah Al-Isnad , dan Bazl Al-Nahlah .

66. Al-Habib Al-Musnid ‘Aidarus bin ‘Umar Al-Habsyi: ‘Uqud Al-La’ali fi Asanid Ar-Rijal , Minhah Al-Fattah Al-Fathir fi Asanid al-Saadah Al-Akabir dan ‘Aqd Al-Yawaqit Al-Jauhariyyah wa Samt Al-’Ain al-Zahabiyyah .

67. Syeikh Al-Habib ‘Abdul Rahman bin Sulaiman Al-Ahdal (m:1250 H): Al-Nafas Al-Yamani war-Ruh al-Rayhani fi Ijazah al-Qudhah al-Thalathah Bani al-Syawkani.

68. Al-Habib Abu Bakr bin Syihab: Al-’Uqud Al-Lu’lu’iyyah fi Asanid al-Sadah Al-‘Alawiyyah .
69. Al-Habib Al-Musnid Muhammad bin Salim al-Sirri: Thabat.

70. Al-’Allamah Al-Habib ‘Abdullah bin Ahmad Al-Haddar: Thabat .

71. Al-Habib Muhammad bin Hasan ‘Aidid: Tuhfah Al-Mustafid fi man Akhaza ‘anhum Muhammad bin Hasan ‘Aidid .

72. Al-Habib Salim bin Hafiz, Aal Syeikh Abu Bakr bin Salim: Minhah Al-Ilah fi Al-Ittisal bi ba’dhi Awliyah .

73. Al-Habib ‘Alawi bin Tahir Al-Haddad (m:1382 H), bekas Mufti Negeri Johor: al-Khulasah Al-Syafiyyah fi Al-Asanid Al-’Aliyyah .

74. Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan: Mu’jam Al-Khulasah Al-Kafiyyah .

75. Al-Habib Abu Bakr bin Ahmad bin Husain Al-Habsyi: (الدليل المشير إلى فلك أسانيد الاتصال بالحبيب البشير

وعلى آله ذوي الفضل الشهير وصحبه ذوي القدر الكبي)

76. al-Sayyid Husain al-Habsyi: (فتح القوي في أسانيد السيد حسين الحبشي) susunan Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad Ghazi.

77. Al-Habib Uthman bin ‘Abdillah bin ‘Aqil bin Yahya (1333H): Thabat.

78. Al-Habib ‘Alawi bin Saqqaf Al-Jufri: Thabat.

79. Syeikh Sayyid Ahmad bin Sulaiman Al-Arwadi: Al-‘Aqd Al-Farid fi Ma’rifah ‘Uluw Al-Asanid .
80. al-Habib bin Semait: An-Nasj wa Al-Khait li Ba’dhi Asanid Al-Allamah bin Semait

81. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Budairi Al-Husaini al-Syami: Al-Jawahir Al-Ghawali fi Bayan Al-Asanid Al-’Awali .

82. Imam Muhammad ‘Ali al-Sanusi (m: 1276 H): Al-Manhal Al-Rawi al-Ra’if fi Asanid Al-’Ulum wa Usul al-Tara’if dan al-Syumus al-Syariqah.

83. Syeikh Ja’far bin Idris al-Kattani: (إعلام الأئمة الأعلام)

84. Syeikh Muhammad ‘Abdul Hayy Al-Kattani (m. 1382H): Minah Al-Minnah fi Silsilah Ba’dhi Kutubi al-Sunnah dan Fihris Al-Faharis wal-Athbat .

85. al-Hafiz Ahmad al-Ghumari (m. 1380H): (البحر العميق)

86. Syeikh ‘Abdullah al-Ghumari: (ارتشاف الرَّحيق من أسانيد عبد الله بن الصِّدِّيق)

87. Syeikh Salih bin Ahmad al-Arkani (m. 1418H): (فتح العلام في أسانيد الرجال وأثبات الأعلام)

88. al-Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas Al-Maliki: (العقود اللؤلؤية بالأسانيد العلوية )

89. Syeikh al-Sayyid Muhammad bin al-Sayyid ‘Alawi Al-Maliki: al-Tali‘ As-Sa’id dan Al-’Aqd Al-Farid .

90. Syeikhuna al-Muhaddith al-‘Allamah Mahmud Sa’id Mamduh: Fathul Aziz fi Asanid As-Sayyid Abdul Aziz (فتح العزيز بأسانيد السيد عبد العزيز), (إعلام القاصي والداني ببعض ماعلا من أسانيد الفاداني) dan (تشنيف الأسماع بشيوخ الإجازة والسماع).

Ini hanyalah sekelumit daripada sekian banyak kitab-kitab sanad yang disusun oleh ulama-ulama Ahlus-Sunnah. Jika diamati keseluruhan mereka adalah sama ada dari aliran Asya’irah atau Maturidiyyah, serta dari kalangan ahli-ahli sufi. Merekalah sebenarnya penjaga-penjaga sanad ummah ini.

Apabila para “muhaddith jadian” atau golongan salafiyyah-wahhabiyyah melihat pemegang-pemegang sanad tersebut kesemuanya adalah berakidah Asya’irah-Maturidiyyah, ataupun ahli-ahli sufi, mereka tidak mahu berguru kepada mereka. Maka dari sini dapatlah kita fahami rahsia mengapa ramai daripada mereka tidak mahu meriwayatkan sanad-sanad yang dianggap oleh mereka penuh dengan perawi-perawi bidaah, atau dengan alasan banyak perawi-perawi daif atau majhul!.. Mereka khuatir nanti orang akan terpengaruh dengan tokoh-tokoh tersebut. Lalu ada yang menganggap sanad bukan lagi sebagai untuk tabarruk, tetapi hanyalah untuk zikra (kenangan) semata-mata! Turut mendukacitakan, ada setengah mereka yang memandang rendah dan memperlekehkan pengajian-pengajian secara bersanad. Alasan paling kuat mereka kononnya kitab-kitab sekarang sudah dicetak dan tersebar dengan luas yang merupakan satu jaminan terpelihara daripada berlaku penyelewengan terhadap kitab-kitab tersebut. Maka ramailah di kalangan mereka yang hanya bergurukan kitab-kitab sahaja, bukan lagi guru-guru yang menjadi tradisi pengajian dan periwayatan sejak sekian lamanya (لا حول ولا قوة إلا بالله).

Saya berpendapat, inilah kesan negatif paling besar dari sistem pendidikan penjajah, yang berentetan di bawahnya berbagai kesan-kesan lain seperti kebejatan intelektual, kerendahan moral, adab dan juga akhlak (فاقد الشيء لا يعطيه). Sejarah telah membuktikan banyak pemikiran-pemikiran yang batil datang daripada mereka yang hanya mengambil ilmu daripada kitab semata-mata.

Wallahu a’lam.

* Maklumat sanad atau muat-turun kitab sanad di laman forum dan blog (Arab):

1. azahera.net

2. rayaheen.net

3. blog isnaduna

Sumber :Http://Sawanih/Blogspot.Com

Posted by: Habib Ahmad | 10 Mac 2013

Malam Cinta Rasul – Dataran merdeka

33969_10151501537186999_956954694_n

Posted by: Habib Ahmad | 13 Februari 2013

Majlis Ilmu dan Maulidur Rasul

Poster Konsert Kesenian IslamPoster Konsert Kesenian Islam71802_451807098221583_361664916_n

424148_10151274801348515_93465642_n
LAIN-LAIN LINK MENARIK :


1. FACEBOOK :http://www.facebook.com/pondokhabib
2. KITAB DAN MAJALAH : http://kitabhabib.blogspot.com/
3. CERAMAH AGAMA TERKINI : http://ceramahagamabaru.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 13 Februari 2013

Kitab-kitab Mawlid Sepanjang Zaman

Oleh : Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni (Jabatan al Quran dan As Sunnah & Institut Kajian Hadith (INHAD) KUIS

Meneliti kembali sejarah, ditemukan ramai ulama yang begitu mengambil berat berhubung topik mawlid Nabi SAW. Topik mawlid sebenarnya sebahagian daripada ilmu sirah Nabi SAW. Namun, lama-kelamaan ia menjadi satu disiplin penulisan yang mempunyai konsep sedikit berbeza dengan kitab-kitab sirah. Di mana banyak kitab-kitab mawlid ini ditulis dengan gubahan gaya bahasa yang tinggi, puitis dan berima.

Mawlid Nabi SAW merupakan suatu topik yang dapat dianggap evergreen di sepanjang zaman. Ini kerana ia datang pada setiap tahun pada bulan Rabiul Awwal. Soal setuju atau tidak setuju menyambutnya menjadi isu yang masyhur di kalangan ahli ilmu. Bagaimanapun, menceritakan keindahan peribadi dan riwayat hidup Nabi SAW bagi orang yang cinta tidak akan mendatangkan rasa jemu dan bosan. Apatah lagi seseorang itu akan bersama dengan orang yang dikasihi dan dicintai di akhirat kelak.

Berdasarkan kajian, didapati amat banyak kitab-kitab yang telah dikarang oleh para alim ulama berkaitan mawlid Nabi SAW. Berikut adalah sebahagian di antara kitab-kitab berkenaan yang disusun menurut kronologi:

Abad Ketiga Hijrah

Menurut al-‘Allamah Sayyid Ahmad al-Ghumari di dalam kitabnya Ju’nah al-‘Attar (hlm. 12-13):

1- “Orang pertama yang aku tahu telah menyusun mengenai mawlid ialah Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi, pengarang kitab al-Maghazi dan kitab al-Futuh, meninggal dunia tahun 206 H, dan ada yang menyebut 209 H. Beliau mempunyai dua buah kitab tentangnya, iaitu kitab al-Mawlid al-Nabawi dan kitab Intiqal al-Nur al-Nabawi, sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Suhaili di dalam al-Rawdh sebahagian daripadanya.

2- Demikian juga telah menyusun mengenai mawlid dari kalangan ulama terdahulu; al-Hafiz Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘A’id, pengarang al-Sirah yang masyhur, meninggal dunia tahun 233 H.

3- Dan al-Hafiz Abu Bakr ibn Abi ‘Asim, pengarang banyak kitab, meninggal dunia tahun 287 H” – tamat nukilan.

Kitab al-Hafiz Abu Bakr ibn Abi ‘Asim ini pernah diriwayatkan oleh Imam al-Ghazali. Kata muridnya al-Hafiz ‘Abd al-Ghafir al-Farisi (w. 529H) mengenai gurunya itu: “Beliau telah mendengar berbagai-bagai hadis secara formal bersama-sama para fuqaha’. Antara yang saya temukan bukti sama‘nya ialah apa yang beliau dengar daripada kitab Mawlid al-Nabi SAW karangan Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr ibn Abi ‘Asim al-Syaybani, riwayat al-Imam Syeikh Abu Bakr Muhammad bin al-Harith al-Asbahani, dari Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja‘far ibn Hayyan, dari pengarangnya. Imam al-Ghazali telah mendengarnya dari Syeikh Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Khawari – Khawar Tabaran – rahimahullah, bersama-sama dua orang anaknya, Syeikh ‘Abd al-Jabbar dan Syeikh ‘Abd al-Hamid serta sekumpulan para fuqaha’… Kitab tersebut di dalam dua juzuk yang didengar oleh beliau”. (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/212-214)

Abad Keempat dan Kelima Hijrah

Karya-karya mawlid di dalam abad keempat dan abad kelima setakat ini belum lagi ditemukan oleh al-faqir penulis. Jika ada, mohon diberitahu. Namun, penulisan mengenai mawlid ini berterusan di kalangan ramai ulama pada abad-abad kemudiannya.

Abad Keenam Hijrah

4- al-Durr al-Munazzam fi Mawlid al-Nabi al-A‘zam oleh al-‘Allamah Abu al-‘Abbas Ahmad bin Mu‘id bin ‘Isa al-Uqlisyi al-Andalusi (w. 550H).

5- al-‘Arus oleh al-Hafiz Abu al-Faraj ‘Abd al-Rahman bin ‘Ali al-Hanbali, yang terkenal dengan panggilan Ibnu al-Jawzi (w. 597H). Kitab ini telah disyarah oleh Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Jawi (w. 1315H) dengan judul: (بغية العوام في شرح مولد سيد الأنام عليه الصلاة والسلام المنسوبة لابن الجوزي) atau (البلوغ الفوزي لبيان ألفاظ مولد ابن الجوزي).

Abad Ketujuh Hijrah

6- al-Tanwir min Mawlid al-Siraj al-Munir oleh al-Hafiz Abu al-Khattab ibn Dihyah al-Kalbi (w. 633 H). Beliau telah menghadiahkan kitab ini kepada al-Malik al-Muzaffar, raja Arbil yang selalu menyambut malam mawlid Nabi SAW dan siangnya dengan sambutan meriah yang tidak pernah didengar seumpamanya. Baginda telah membalas beliau dengan ganjaran hadiah yang banyak.

7- (المولد النبوي) oleh al-Syeikh al-Akbar Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali ibn al-‘Arabi al-Hatimi (w. 638H).

8- ‘Urfu al-Ta‘rif bi al-Mawlid al-Syarif oleh Imam al-Hafiz Abu al-Khair Syams al-Din Muhammad bin ‘Abd Allah al-Jazari al-Syafi‘i (w. 660H).

9- (الدر النظيم في مولد النبي الكريم) oleh Syeikh Abu Ja‘far ‘Umar bin Ayyub bin ‘Umar ibn Arsalan al-Turkamani al-Dimasyqi al-Hanafi, yang dikenali dengan nama Ibn Taghru Bik (w. 670H).

10- (ظل الغمامة في مولد سيد تهامة) oleh Syeikh Ahmad bin ‘Ali bin Sa‘id al-Gharnati al-Maliki (w. 673H).

11- (الدر المنظم في مولد النبي المعظم) oleh al-‘Allamah Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Husain al-‘Azfi. Ia disempurnakan oleh anaknya, Abu al-Qasim Muhammad (w. 677H).

Abad Kelapan Hijrah

12- (المورد العذب المعين/ الورد العذب المبين في مولد سيد الخلق أجمعين) oleh Syeikh Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-‘Attar al-Jaza’iri (w. 707H).

13- (المنتقى في مولد المصطفى) oleh Syeikh Sa‘d al-Din Muhammad bin Mas‘ud al-Kazaruni (w. 758H). Ia di dalam bahasa Parsi, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh anaknya, Syeikh ‘Afif al-Din.

14- (الدرة السنية في مولد خير البرية) oleh al-Hafiz Salah al-Din Khalil ibn Kaykaldi al-‘Ala’i al-Dimasyqi (w. 761H).

15- Mawlid al-Nabi SAW oleh Imam al-Hafiz ‘Imad al-Din Isma‘il bin ‘Umar ibn Kathir (w. 774H). Ia telah ditahqiq oleh Dr. Solah al-Din al-Munjid. Ia juga telah disyarahkan oleh al-Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafiz, mufti Tarim, dan diberi komentar oleh al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Syria tahun 1387 H.

16- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Sulayman bin ‘Awadh Basya al-Barusawi al-Hanafi (w. sekitar 780H), imam dalam wilayah Sultan Bayazid al-‘Uthmani.

17- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad ibn ‘Abbad al-Randi al-Maliki (w. 792H), pengarang Syarah al-Hikam.

Abad Kesembilan Hijrah

18- al-Mawrid al-Hani fi al-Mawlid al-Sani oleh al-Hafiz ‘Abd al-Rahim bin Husain bin ‘Abd al-Rahman, yang terkenal dengan nama al-Hafiz al-Iraqi (w. 808 H).

19- (النفحة العنبرية في مولد خير البرية صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Majd al-Din Muhammad bin Ya‘qub al-Fairuz abadi (w. 817H).

20- (جامع الآثار في مولد المختار) oleh al-Hafiz Muhammad ibn Nasir al-Din al-Dimasyqi (w. 842H). Ia di dalam 3 juzuk. Beliau juga telah menulis dua buah kitab mawlid lain, iaitu: (المورد الصادي في مولد الهادي) dan (اللفظ الرائق في مولد خير الخلائق).

21- (تحفة الأخبار في مولد المختار) oleh al-Hafiz Ahmad ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852H), dicetak di Dimasyq tahun 1283H.

22- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Afif al-Din Muhammad bin Muhammad bin ‘Abd Allah al-Husayni al-Tibrizi (w. 855H).

23- (الدر المنظم في مولد النبي المعظم) oleh Syeikh Syams al-Din Muhammad bin ‘Uthman bin Ayyub al-Lu’lu’i al-Dimasyqi al-Hanbali (w. 867H). Ia di dalam 2 jilid, dan kemudian telah diringkaskan dengan judul (اللفظ الجميل بمولد النبي الجليل).

24- (درج الدرر في ميلاد سيد البشر) oleh Syeikh Asil al-Din ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Latif al-Husayni al-Syirazi (w. 884H).

25- (المنهل العذب القرير في مولد الهادي البشير النذير صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Abu al-Hasan ‘Ali bin Sulaiman bin Ahmad al-Mardawi al-Maqdisi (w. 885H), syeikh Hanabilah di Dimasyq.

26- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-Sayyid ‘Umar bin ‘Abd al-Rahman bin Muhammad Ba‘alawi al-Hadhrami (w. 889H).

Abad Kesepuluh Hijrah

27- al-Fakhr al-‘Alawi fi al-Mawlid al-Nabawi oleh al-Hafiz Syams al-Din Muhammad bin ‘Abd al-Rahman yang terkenal dengan nama al-Hafiz al-Sakhawi (w. 902H).

28- (درر البحار في مولد المختار) oleh Syeikh Syihab al-Din Ahmad bin ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Karim al-Nabulusi, yang masyhur dengan nama Ibn Makkiyyah (w. 907H).

29- Al-Mawarid al-Haniyyah fi Mawlid Khair al-Bariyyah oleh al-‘Allamah al-Sayyid ‘Ali Zain al-‘Abidin al-Samhudi al-Hasani (w. 911H).

30- (المرود الأهنى في المولد الأسنى) oleh Syeikhah ‘A’isyah bint Yusuf al-Ba‘uniyyah (w. 922H). Barangkali ini satu-satunya kitab mawlid karya seorang syeikhah!

31- (الكواكب الدرية في مولد خير البرية) oleh Syeikh Taqiy al-Din Abu Bakr bin Muhammad bin Abi Bakr al-Hubaisyi al-Halabi al-Syafi`i (w. 930H).

32- Mawlid al-Nabi SAW oleh Mulla ‘Arab al-Wa‘iz (w. 938H).

33- Mawlid al-Nabi SAW atau Mawlid al-Daiba‘i oleh al-Muhaddith Syeikh ‘Abd al-Rahman bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Umar al-Daiba‘i al-Syafi`i (w. 944H), murid al-Hafiz al-Sakhawi. Mawlid al-Daiba‘i ini antara kitab mawlid yang banyak dibaca orang sehingga kini. Ia telah ditahqiq dan ditakhrij hadisnya oleh al-‘Allamah Dr. al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.

34- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh ‘Abd al-Karim al-Adranahwi al-Khalwati (w. 965H).

35- Itmam al-Ni‘mah ‘ala al-‘Alam bi Mawlid Sayyid Walad Adam dan al-Ni‘mah al-Kubra ‘ala al-‘Alam fi Mawlid Sayyid Walad Adam oleh Imam al-‘Allamah Ahmad ibn Hajar al-Haytami al-Makki al-Syafi‘i (w. 974H). Ia telah disyarah oleh beberapa ulama, antaranya oleh:

- Syeikh Muhammad bin ‘Ubadah bin Barri al-‘Adawi al-Maliki (w. 1193H) (حاشية على مولد النبي لابن حجر).

- Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri al-Syafi‘i (w. 1277H), Syeikhul Azhar dengan kitabnya (تحفة البشر على مولد ابن حجر).

- Syeikh Hijjazi bin ‘Abd al-Muttalib al-‘Adawi al-Maliki (w. sesudah 1211H) (حاشية على مولد الهيثمي).

- Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Mansuri al-Syafi‘i al-Khayyat (اقتناص الشوارد من موارد الموارد في شرح مولد ابن حجر الهيتمي), selesai tahun 1166H.

Ibn Hajar al-Haytami juga telah mengarang kitab (تحرير الكلام في القيام عن ذكر مولد سيد الأنام) tentang masalah bangun berdiri ketika bermawlid.

36- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah Muhammad bin Ahmad al-Khatib al-Syirbini al-Syafi‘i (w. 977H).

37- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah Syeikh Najm al-Din Muhammad bin Ahmad bin ‘Ali al-Ghiti al-Syafi‘i (w. 981H). Ia telah disyarahkan oleh Syeikh ‘Ali bin ‘Abd al-Qadir al-Nabtini al-Hanafi (w. 1061H) (شرح على مولد النجم الغيطي).

Abad Kesebelas Hijrah

38- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Syams al-Din Ahmad bin Muhammad bin ‘Arif al-Siwasi al-Hanafi (w. 1006H).

39- al-Mawrid al-Rawi fi al-Mawlid al-Nabawi oleh al-‘Allamah Nur al-Din ‘Ali bin Sultan al-Qari al-Harawi al-Hanafi (w. 1014H). Kitab ini telah ditahqiq oleh al-‘Allamah Dr. al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.

40- (المنتخب المصفي في أخبار مولد المصطفى) oleh al-‘Allamah al-Sayyid ‘Abd al-Qadir bin Syeikh bin ‘Abd Allah bin Syeikh al-‘Aidarusi (w. 1038H).

41- (مورد الصفا في مولد المصطفى صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Muhammad ‘Ali bin Muhammad Ibn ‘Allan al-Bakri al-Siddiqi al-Makki al-Syafi‘i (w. 1057H).

Abad Kedua Belas Hijrah

42- (الجمع الزاهر المنير في ذكر مولد البشير النذير) oleh Syeikh Muhammad bin Nasuh al-Askadari al-Khalwati, yang masyhur dengan nama Nasuhi al-Rumi (w. 1130H).

43- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah Muhammad bin Ahmad bin Sa‘id, yang masyhur dengan nama Ibn ‘Aqilah al-Makki (w. 1150H).

44- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh Sulaiman bin ‘Abd al-Rahman bin Solih al-Rumi (w. 1151H).

45- (المورد الروي في المولد النبوي) oleh Syeikh Qutb al-Din Mustafa bin Kamal al-Din bin ‘Ali al-Siddiqi al-Bakri al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1162H). Beliau turut menyusun kitab (منح المبين القوي في ورد ليلة مولد النبوي).

46- (الكلام السني المصفى في مولد المصطفى) oleh Syeikh al-Qurra’ ‘Abdullah Hilmi bin Muhammad bin Yusuf al-Hanafi al-Muqri al-Rumi, yang masyhur dengan nama Yusuf Zadah (w. 1167H).

47- (رسالة في المولد النبوي) oleh Syeikh Hasan bin ‘Ali bin Ahmad al-Mudabighi al-Syafi‘i (w. 1170H). Kitab ini telah diberi hasyiah oleh:

- Syeikh ‘Umar bin Ramadhan bin Abi Bakr al-Thulathi (w. sesudah 1164H).

- Syeikh ‘Abd al-Rahman bin Muhammad al-Nahrawi al-Muqri (w. 1210H).

48- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Ahmad bin ‘Uthman al-Diyar bakri al-Amidi al-Hanafi (w. 1174H).

49- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad Nida’i al-Kasyghari al-Naqsyabandi al-Zahidi (w. 1174H).

50- Mawlid al-Barzanji atau (عقد الجوهر في مولد النبي الأزهر) oleh al-Sayyid Ja‘far bin Hasan al-Barzanji (w. 1177H), mufti Syafi‘iyyah di Madinah. Kitab ini adalah antara kitab mawlid yang termasyhur. Saudara pengarangnya, al-Sayyid ‘Ali bin Hasan al-Barzanji (w. 11xxH) telah menggubahnya menjadi nazam. Ia juga telah diberi hasyiah oleh beberapa ulama, antaranya:

- Al-‘Allamah Syeikh Muhammad bin Ahmad ‘Illisy (atau ‘Ulaisy) al-Syazili al-Maliki (w. 1299H) dengan judul (القول المنجي حاشية على مولد البرزنجي).

- al-Sayyid Ja‘far bin Isma‘il al-Barzanji (w. 1317H), mufti Syafi‘iyyah di Madinah dengan judul (الكوكب الأنور على عقد الجوهر في مولد النبي الأزهر).

- Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H) dengan judul (مدارج الصعود إلى اكتساء البرود) atau (أساور العسجد على جوهر عقد للبرزنجى) dan juga (ترغيب المشتاقين لبيان منظومة السيد البرزنجي في مولد سيد الأولين والآخرين).

- Syeikh ‘Abd al-Hamid bin Muhammad ‘Ali Kudus yang diberi judul: Mawlid al-Nabi SAW ‘ala Nasij al-Barzanji.

- Syeikh Mustafa bin Muhammad al-‘Afifi al-Syafi‘i yang diberi judul (فتح اللطيف شرح نظم المولد الشريف), dicetak di Mesir tahun 1293H.

Kitab al-Barzanji ini juga telah diterjemahkan ke bahasa Melayu dan berbagai bahasa lain.

51- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-Sayyid Muhammad bin Husain al-Jufri al-Madani al-‘Alawi al-Hanafi (w. 1186H).

52- (المولد الشريف) oleh Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Maghribi al-Tafilati al-Khalwati (w. 1191H), mufti Hanafiyyah di al-Quds.

53- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Mun‘im al-Khayyat (w. 1200H), mufti wilayah Sa‘id, Mesir.

54- (الدر الثمين في مولد سيد الاولين والآخرين) oleh Syeikh Muhammad bin Hasan bin Muhammad al-Samannudi al-Syafi‘i, yang masyhur dengan nama al-Munayyir (w. 1199H).

55- (الدر المنظم شرح الكنز المطلسم في مولد النبي المعظم) oleh Syeikh Abu Syakir ‘Abdullah Syalabi, selesai tahun 1177H.

Abad Ketiga Belas Hijrah

56- (المولد النبوي) oleh Imam Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad al-‘Adawi al-Dardir al-Maliki (w. 1201H). Kitab beliau ini telah diberi hasyiah oleh:

- al-‘Allamah Muhammad al-Amir al-Saghir bin Muhammad al-Amir al-Kabir al-Maliki (w. sesudah 1253H) (حاشية على مولد الدردير).

- al-‘Allamah Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri al-Syafi‘i (w. 1277H).

- Syeikh Yusuf bin ‘Abd al-Rahman al-Maghribi (w. 1279H), bapa Muhaddith al-Syam Syeikh Badr al-Din al-Hasani dengan judul (فتح القدير على ألفاظ مولد الشهاب الدردير).

57- (تذكرة أهل الخير في المولد النبوي) oleh al-Sayyid Muhammad Syakir bin ‘Ali al-‘Umari al-Fayyumi, yang masyhur dengan nama al-‘Aqqad al-Maliki (w. 1202H).

58- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh Najib al-Din ‘Abd al-Qadir bin ‘Izz al-Din Ahmad al-Qadiri al-Hanafi yang masyhur dengan nama Asyraf Zadah al-Barsawi (w. 1202H).

59- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh ‘Ali bin ‘Abd al-Barr al-Husaini al-Wana’i al-Syafi‘i (w. 1212H), murid al-Hafiz Murtadha al-Zabidi.

60- (منظومة في مولد النبي صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Mustafa Salami bin Isma‘il Syarhi al-Azmiri (w. 1228H).

61- (الجواهر السنية في مولد خير البرية صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Syeikh Muhammad bin ‘Ali al-Syanawani al-Syafi‘i (w. 1233H).

62- (مطالع الأنوار في مولد النبي المختار صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh ‘Abdullah bin ‘Ali Suwaydan al-Damliji al-Syazili al-Syafi‘i (w. 1234H).

63- (تأنيس أرباب الصفا في مولد المصطفى) oleh al-Sayyid ‘Ali bin Ibrahim bin Muhammad bin Isma‘il al-Amir al-San‘ani al-Zaydi (w. sekitar 1236H).

64- (تنوير العقول في أحاديث مولد الرسول) oleh Syeikh Muhammad Ma‘ruf bin Mustafa bin Ahmad al-Husaini al-Barzanji al-Qadiri al-Syafi‘i (w. 1254H).

65- (مولد نبوي نظم) oleh Syeikh Muhammad Abu al-Wafa bin Muhammad bin ‘Umar al-Rifa‘i al-Halabi (w. 1264H).

66- (السر الرباني في مولد النبي) oleh Syeikh Muhammad ‘Uthman bin Muhammad al-Mirghani al-Makki al-Husaini al-Hanafi (w. 1268H).

67- (قصة المولد النبوي) oleh Syeikh Muhammad bin ‘Abd Allah Talu al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1282H).

68- Al-Mawrid al-Latif fi al-Mawlid al-Syarif oleh Syeikh ‘Abd al-Salam bin ‘Abd al-Rahman al-Syatti al-Hanbali (w. 1295H). Ia berbentuk gubahan qasidah ringkas.

69- (مطالع الجمال في مولد إنسان الكمال) oleh Syeikh Muhammad bin al-Mukhtar al-Syanqiti al-Tijani (w. 1299H).

70- (سمط جوهر في المولد النبوي) oleh Syeikh Ahmad ‘Ali Hamid al-Din al-Surati al-Hindi (w. 1300H). Beliau mengarang kitab ini dalam sekitar 100 muka surat tanpa menggunakan huruf alif!

71- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Ahmad bin Qasim al-Maliki al-Hariri. Kitab ini telah disyarah oleh:

- Syeikh Abu al-Fawz Ahmad bin Muhammad Ramadhan al-Marzuqi al-Husayni al-Maliki (masih hidup tahun 1281H) dengan judul: (بلوغ المرام لبيان ألفاظ مولد سيد الأنام), cetakan Mesir tahun 1286H.

- Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H) dengan judul: (فتح الصمد العالم على مولد الشيخ أحمد بن قاسم), cetakan Mesir tahun 1292H.

72- Mawlid Nabi SAW oleh al-‘Allamah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani (w. 1263 @ 1297H), diselesaikan pada tahun 1230H. Beliau turut menyusun sebuah lagi kitab mawlid yang hanya diberi tajuk al-Muswaddah, diselesaikan pada tahun 1234H. (Wawasan Pemikiran Islam 4 – Hj. Wan Mohd. Saghir, h. 132)

73- Kanz al-’Ula [fi Mawlid al-Mustafa?] oleh Syed Muhammad bin Syed Zainal Abidin al-‘Aidarus yang terkenal dengan nama Tokku Tuan Besar Terengganu (w. 1295H).

Abad Keempat Belas Hijrah

74- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-‘Allamah al-Muhaddith al-Sufi Abu al-Mahasin Muhammad bin Khalil al-Qawuqji al-Tarabulusi (w. 1305H).

75- (سرور الأبرار في مولد النبي المختار صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh ‘Abd al-Fattah bin ‘Abd al-Qadir al-Khatib al-Dimasyqi al-Syafi‘i (w. 1305H).

76- (العلم الأحمدي في المولد المحمدي) oleh Syeikh Syihab al-Din Ahmad bin Ahmad Isma‘il al-Hilwani al-Khaliji al-Syafi‘i (w. 1308H).

77- (منظومة في مولد النبي صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Ibrahim bin ‘Ali al-Ahdab al-Tarabulusi al-Hanafi (w. 1308H).

78- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad Hibatullah bin ‘Abd al-Qadir al-Khatib al-Dimasyqi al-Syafi‘i (w. 1311H).

79- (الإبريز الداني في مولد سيدنا محمد السيد العدناني صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H). Beliau juga telah mengarang kitab:

- (بغية العوام في شرح مولد سيد الأنام عليه الصلاة والسلام المنسوبة لابن الجوزي),

- (مدارج الصعود إلى اكتساء البرود) atau (أساور العسجد على جوهر عقد للبرزنجى) dan juga

- (ترغيب المشتاقين لبيان منظومة السيد البرزنجي في مولد سيد الأولين والآخرين).

80- (تحفة العاشقين وهدية المعشوقين في شرح تحفة المؤمنين في مولد النبي الأمين – صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh Muhammad Rasim bin ‘Ali Ridha al-Mullatiyah-wi al-Hanafi al-Mawlawi (w. 1316H).

81- (قدسية الأخبار في مولد أحمد المختار) oleh Syeikh Muhammad Fawzi bin ‘Abd Allah al-Rumi (w. 1318H), mufti Adrana. Beliau turut menyusun (إثبات المحسنات في تلاوة مولد سيد السادات).

82- (حصول الفرج وحلول الفرح في مولد من أنزل عليه ألم نشرح) oleh Syeikh Mahmud bin ‘Abd al-Muhsin al-Husaini al-Qadiri al-Asy‘ari al-Syafi‘i al-Dimasyqi, yang masyhur dengan nama Ibn al-Mawqi‘ (w. 1321H).

83- Simt al-Durar fi Akhbar Mawlid Khair al-Basyar min Akhlaq wa Awsaf wa Siyar atau Maulid al-Habsyi oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (w. 1333H).

84- (لسان الرتبة الأحدية) oleh Syeikh Mahmud bin Muhyi al-Din Abu al-Syamat al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1341H). Ia sebuah kitab mawlid menurut lisan ahli sufi.

85- al-Yumnu wa al-Is‘ad bi Mawlid Khair al-‘Ibad oleh al-‘Allamah al-Muhaddith Syeikh Muhammad bin Ja‘far bin Idris al-Kattani al-Hasani (w. 1345H), cetakan Maghribi tahun 1345H.

86- Jawahir al-Nazm al-Badi‘ fi Mawlid al-Syafi‘ oleh al-‘Allamah Syeikh Yusuf bin Isma‘il al-Nabhani (w. 1350H).

87- (المولد النبوي الشريف) oleh Syeikh Muhammad Sa‘id bin ‘Abd al-Rahman al-Bani al-Dimasyqi (w. 1351H).

88- (شفاء الأسقام بمولد خير الأنام صلى الله عليه وسلم) oleh al-‘Allamah Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Hajjuji al-Idrisi al-Hasani al-Tijani (w. 1370H). Ia diringkaskan dengan judul (بلوغ القصد والمرام في قراءة مولد الأنام). Beliau turut menyusun kitab (قصة المولد النبوي الشريف).

89- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad al-‘Azb bin Muhammad al-Dimyati.

90- Mawlid Syaraf al-Anam – belum ditemukan pengarang asalnya.

91- (المولد النبوي الشريف) oleh Syeikh Muhammad Naja, mufti Beirut.

92- (الجمع الزاهر المنير في ذكر مولد البشير النذير) oleh Syeikh Zain al-‘Abidin Muhammad al-‘Abbasi al-Khalifati.

93- (الأنوار ومفتاح السرور والأفكار في مولد النبي المختار) oleh Abu al-Hasan Ahmad bin ‘Abd Allah al-Bakri.

94- (عنوان إحراز المزية في مولد النبي خير البرية صلى الله عليه وسلم) oleh Abu Hasyim Muhammad Syarif al-Nuri.

95- (فتح الله في مولد خير خلق الله) oleh Syeikh Fathullah al-Bunani al-Syazili al-Maghribi.

96- (مولد المصطفى العدناني) oleh Syeikh ‘Atiyyah bin Ibrahim al-Syaybani, dicetak tahun 1311H.

97- (المولد النبوي) oleh Syeikh Hasyim al-Qadiri al-Hasani al-Fasi.

98- (خلاصة الكلام في مولد المصطفى عليه الصلاة والسلام) oleh Syeikh Ridhwan al-‘Adl Baybars, dicetak di Mesir tahun 1313H.

99- (المنظر البهي في مطلع مولد النبي) oleh Syeikh Muhammad al-Hajrisi.

100- (المولد الجليل حسن الشكل الجميل) oleh Syeikh ‘Abdullah bin Muhammad al-Munawi al-Ahmadi al-Syazili, dicetak di Mesir tahun 1300H.

101- (المولد النبوي الشريف) oleh Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Himsi.

102- (الفيض الأحمدي في المولد المحمدي) oleh Syeikh Ibrahim Anyas (w. 1975).

103- (شفاء الآلام بمولد سيد الأنام) oleh al-‘Allamah Syeikh Idris al-‘Iraqi.

104- (شفاء السقيم بمولد النبي الكريم) oleh Syeikh al-Hasan bin ‘Umar Mazur.

105- (تنسم النفس الرحماني في مولد عين الكمال) oleh Syeikh Sa‘id bin ‘Abd al-Wahid Binnis al-Maghribi.

106- al-Sirr al-Rabbani fi Mawlid al-Nabiy al-‘Adnani oleh Syeikh Muhammad al-Bunani al-Tijani.

107- al-Nawafih al-‘Itriyyah fi Zikr Mawlid Khayr al-Bariyyah oleh Syeikh Salah al-Din Hasan Muhammad al-Tijani.

Abad Kelima Belas Hijrah

108- al-Rawa’ih al-Zakiyyah fi Mawlid Khayr al-Bariyyah oleh al-‘Allamah Syeikh ‘Abdullah al-Harari al-Habsyi (w. 1429H).

109- Mawlid al-Hadi SAW oleh Dr. Nuh ‘Ali Salman al-Qudhah, mufti Jordan.

110- al-Dhiya’ al-Lami‘ bi Zikr Mawlid al-Nabi al-Syafi‘ oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Umar bin Hafiz al-Ba‘alawi. Ia antara kitab mawlid yang mula luas tersebar, serta pengarangnya masih hidup.

Imam Muhammad ‘Abd al-Hayy al-Kittani di dalam kitabnya al-Ta’alif al-Mawlidiyyah telah menyenaraikan hampir 130 buah kitab mawlid yang disusun menurut abjad. Manakala Dr. Salah al-Din al-Munjid telah menyenaraikan sekitar 181 buah kitab mawlid di dalam kitabnya (معجم ما أُلف عن النبي محمد صلى الله عليه وسلم). Namun, kedua-duanya belum dapat saya telaah ketika menulis entri ini. Dijangkakan masih ada banyak lagi kita mawlid yang tidak disenaraikan. Sepertimana yang dapat kita lihat, sebahagian besar alim ulama yang disebutkan adalah tokoh-tokoh ulama tersohor di zaman mereka. Tidak dinafikan juga bahawa ada setengah kitab mawlid tersebut yang dipertikaikan nisbahnya kepada pengarangnya. Sekurang-kurangnya jumlah karya-karya mawlid yang besar ini menunjukkan kepada kita bukti keharusan memperingati mawlid Nabi SAW di kalangan ramai para alim ulama.

Juga tidak dinafikan bahawa sesetengah kitab-kitab mawlid ini mengandungi perkara-perkara yang dianggap batil atau palsu oleh sebahagian ahli ilmu. Namun sangka baik kita kepada pengarang-pengarangnya, mereka tidak akan memuatkan di dalam kitab-kitab tersebut perkara-perkara yang mereka yakin akan kepalsuan dan kebatilannya. Maka, setidak-tidaknya mereka hanya mengandaikan perkara-perkara tersebut hanya daif sahaja yang harus diguna pakai dalam bab sirah dan hikayat, selain fadha’il, sepertimana yang masyhur di dalam ilmu mustalah al-hadith. Setengahnya pula adalah masalah yang menjadi khilaf di kalangan para ulama. Justeru, agak keterlaluan jika ada yang melabelkan kebanyakan kitab-kitab tersebut sebagai sesat, munkar dan bidaah secara keseluruhan dengan tujuan untuk menyesat dan membidaahkan para pengarangnya. Sedangkan kritikan tersebut dapat dibuat dengan cara yang lebih berhemah dan beradab. Semoga Allah SWT memberi kita petunjuk.

Penutup

Demikian secara ringkas, alim ulama yang mengarang kitab-kitab mawlid dari abad kedua hijrah hinggalah abad kelima belas hijrah, iaitu dalam tempoh sekitar 1,200 tahun. Ini tidak termasuk kitab-kitab berhubung isu dan hukum bermawlid, serta karya-karya madih nabawi seperti Burdah al-Busiri yang jumlahnya juga cukup banyak untuk dihitung. Penyusunan kitab-kitab mawlid mengandungi tujuan yang sewajarnya disematkan dalam hati-hati para pembacanya, iaitu mengiktiraf nikmat besar yang dibawa oleh Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW kepada umatnya, di samping menanamkan kecintaan yang tidak berbelah bahagi kepada baginda SAW. Hasil daripadanya ialah mengikut dan mengamalkan sunnah-sunnah baginda SAW serta berpegang teguh dengannya di dalam menjalani kehidupan duniawi.

Wallahu a‘lam.

اللهمَّ صلّ وسلّم وبارك على سيّدنا محمّد وعلى آله

LAIN-LAIN LINK MENARIK :


1. FACEBOOK :http://www.facebook.com/pondokhabib
2. KITAB DAN MAJALAH : http://kitabhabib.blogspot.com/
3. CERAMAH AGAMA TERKINI : http://ceramahagamabaru.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 6 Februari 2013

Hukum Sambutan Maulidur Rasul

580476_570340706327353_975067907_nLAIN-LAIN LINK MENARIK :


1. FACEBOOK :http://www.facebook.com/pondokhabib
2. KITAB DAN MAJALAH : http://kitabhabib.blogspot.com/
3. CERAMAH AGAMA TERKINI : http://ceramahagamabaru.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 6 Februari 2013

Malam Cinta Rasul

529686_415403741871067_1191241778_nLAIN-LAIN LINK MENARIK :


1. FACEBOOK :http://www.facebook.com/pondokhabib
2. KITAB DAN MAJALAH : http://kitabhabib.blogspot.com/
3. CERAMAH AGAMA TERKINI : http://ceramahagamabaru.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 4 Februari 2013

Majlis Mahabbah Rasulullah

398030_465128560203426_293847884_nLAIN-LAIN LINK MENARIK :


1. FACEBOOK :http://www.facebook.com/pondokhabib
2. KITAB DAN MAJALAH : http://kitabhabib.blogspot.com/
3. CERAMAH AGAMA TERKINI : http://ceramahagamabaru.blogspot.com

Posted by: Habib Ahmad | 26 Ogos 2011

Bila Lailatul Qadar 1434H ?

Bila Lailatul Qadar 1431H ?

DIkirim oleh epondok di Ogos 31, 2010

Oleh Karim’s Blog

 

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang mendirikan malam lailatul Qadr kerana iman dan mengharapkan pahala Allah maka ia diampuni dosanya yang telah lampau”
Hadith Sahih Bukhari 
 

  

Dari Anas, ia berkata: Ubadah bin Shamit memberi khabar kepadaku bahawasanya pada suatu hari Rasulullah s.a.w. keluar untuk memberitahukan tentang bila berlakunya Lailatul Qadr. Kebetulan Baginda bertemu dua orang muslim yang saling berbantah, maka Rasulullah s.a.w. bersabda “Saya keluar untuk mengkhabarkan tentang terjadinya Lailatul Qadr. Kebetulan saya melihat dua orang sedang berbantahan, maka saya terjadi lupa. Mudah-mudahan kelupaan tersebut berguna untuk anda sekalian. Carilah Lailatul Qadr tersebut pada hari ketujuh, kesembilan dan kelima” (yakni 27, 29, 25 Ramadan).

Hadith Sahih Bukhari

Dalam banyak kitab-kitab terdapat beberapa jangkaan yang dibuat berhubung tarikh bilanya berlaku Lailatul Qadr. Untuk memudahkan para pembaca, berikut disiarkan gambarajah yang boleh digunakan sebagai panduan. Semoga berguna hendaknya.

Jangkaan Lailatul Qadr

Wallahu ‘alam.

nota: gambarajah ini telah dipetik dari pelbagai laman lain dan diubahsuaikan grafiknya sahaja.
Sertailah Facebook kami : http://facebook.com/pages/PONDOK-HABIB/295419981998

Sertailah Facebook kami : http://facebook.com/pages/PONDOK-HABIB/295419981998

Posted by: Habib Ahmad | 22 April 2014

KENAPA SIFAT 20 DAN KENAPA WAJIB BELAJAR SIFAT 20???

MENGAPA SIFAT ALLAH ADA DUA PULUH?

Kadang kala ada pertanyaan, “Mengapa sifat Allah yang wajib diketahui oleh setiap mukallaf hanya dua puluh sifat? Bukankah sifat-sifat Allah yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna ada Sembilan puluh Sembilan?”.

“Perlu diketahui bahawa Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah tidak membataskan sifat-sifat Allah kepada dua puluh kerana sifat dua puluh itu adalah sifat Dzat Allah yang menjadi syarat ketuhanan (syart al-Uluhiyyah). Sedangkan sifat-sifat Allah yang lain adalah sifat af`al (sifat yang berkaitan perbuatan) Allah ta`ala. Dan sifat-sifat af`al Allah itu jumlahnya banyak serta tidak terbatas.”[1]

MENGAPA WAJIB MENGETAHUI SIFAT 20???

Dalam ma`rifatullah, Mazhab Ahl al-Sunah Wa al-Jama`ah telah mengetengahkan pemahaman terhadap konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat masyhur dan wajib diketahui oleh setiap individu muslim yang mukallaf. Akhir-akhir ini terdapat satu golongan yang dikenali sebagai Wahhabi telah mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan mengemukakan beberapa alasan yang antara lainnya adalah; tidak terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Hadis nas yang mewajibkan pengethuan umat Islam terhadap sifat 20. Bahkan termaktub di dalam hadis sendiri bahawa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya sembilan puluh sembilan. Dari premis ini, timbul sebuah pertanyaan; mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya terhad kepada dua puluh sifat sahaja, bukan sembilan puluh sembilan sebagaimana yang terdapat di dalam al-Asma’ al-Husna?

Para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dalam menetapkan sifat dua puluh tersebut sebenarnya bersumberkan daripada kajian dan penelitian yang cermat dan mendalam. Terdapat beberapa alasan ilmiah yang logik serta relevan dengan fakta nas yang sedia ada yang telah dikemukakan oleh para ulama’ berhubung latar belakang wajibnya mengetahui sifat dua puluh yang wajib bagi Allah subhanahu wata`ala, antaranya ialah:

Pertama, setiap orang yang beriman harus meyakini bahawa Allah ta`ala wajib memiliki semua sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. Mereka harus meyakini bahawa mustahil Allah ta`ala memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Mereka juga harus meyakini pula bahawa Allah berkuasa melakukan atau meninggalkan penciptaan segala sesuatu yang bersifat mumkin iaitu seperti menciptakan, mematikan, menghidupkan, memberi rezki, mengurniakan kebahagiaan , menimpakan kecelakaan dan lain-lain lagi. Kesemua ini adalah sekian bentuk keyakinan yang paling dasar yang perlu wujud di dalam hati setiap orang Islam.

Kedua, para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah sebenarnya tidak membataskan sifat-sifat kesempurnaan Allah hanya kepada 20 sifat sahaja. Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah pasti Allah wajib memiliki sekian sifat tersebut, sehingga sifat-sifatkamalat (kesempurnaan dan keagungan) Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada sembilan puluh sembilan sahaja sebagaimana yang telah dikatakan oleh al-Imam al-Hafiz al-Bayhaqi:[2]

“وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنَّ لِلَّهِ تَسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا)) لايَنْفِيْ غَيْرَهَا, وَإِنَّمَا أَرَادَ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ مَنْ أَحْصَى مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ تِسْعَةً وَ تِسْعِيْنَ اِسْمًا دَخَلَ الْجَنَّةَ”.

Maksudnya:
“Sabda Nabi sallallahu`alaihi wasallam : Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama”, tanpa menafikan nama-nama selainnya. Nabi sallallahu`alaihi wasallam hanya bermaksud -wallahu a`lam-, bahawa barangsiapa yang menghitung sembilan puluh sembilan nama tersebut akan dijamin masuk syurga”.

Pernyataan al-Hafiz al-Bayhaqi di atas bahawa nama-nama Allah ta`ala sebenarnya tidak terbatas dalam jumlah sembilan puluh sembilan dengan didasarkan pada hadith shahih: [3]

“عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ… أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ بَصَرِيْ، وَجَلاءَ حَزَنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ “.

Maksudnya:
“Ibn Mas’ud berkata, Rasulallah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:” Ya Allah, sesungguhnya aku Hamba-Mu.. Aku memohon dengan perantara setiap Nama yang Engkau miliki, baik yang Engkau namakan Dhat-Mu dengan-Nya, atau yang Engkau turunkan nama itu dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkannya kepada sesiapa di kalangan makhluk-Mu, atau yang hanya Engkau sahaja yang Mengetahui-Nya dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, jadikanlah al-Quran sebagai taman/pengubat hatiku, cahaya mataku, penghilang kesedihanku dan penghapus rasa gundahku”.

Hadis di atas menjelaskan bahawa di antara nama-nama Allah ta`ala yang telah dijelaskan di dalam al-Qur’an, ada di antaranya yang diketahui oleh sebahagian hamba-Nya dan ada yang hanya diketahui oleh Allah ta`ala sahaja. Sehingga berdasarkan kepada hadis tersebut, nama-nama Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada 99, maka apatah lagi 20 sifat yang telah dirumuskan oleh para ulama’ yang melaut ilmu mereka itu.

Ketiga, para ulama’ telah membahagikan sifat-sifat khabariyyah, iaitu sifat-sifat Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis seperti yang terdapat di dalam al-Asma’ al-Husna, kepada dua bahagian. Pertama, Sifat al-Af`al al-Zat iaitu sifat-sifat yang ada pada Zat Allah ta`ala, yang antara lain adalah sifat 20. Dan kedua, Sifat al-Af`al, iaitu sifat-sifat yang sebenarnya adalah perbuatan Allah ta`ala, seperti sifat al-Razzaq, al-Mu`thi, al-Mani`, al-Muhyi, al-Mumit, al-Khaliqdan lain-lain. Perbezaan antara keduanya adalah, sifat al-Zat merupakan sifat-sifat yang menjadiSyart al-Uluhiyyah, iaitu syarat mutlak ketuhanan Allah ta`ala. Kesemua sifat tersebut telah menyucikan zat Allah ta`ala daripada sebarang sifat yang tidak layak bahkan mustahil untuk disandarkan kepada zat Allah yang Maha Agung. Dari sini para ulama’ telah mentapkan bahawaSifat al-Zat ini adalah azali (tidak ada permulaan), dan baqa’ (tidak ada pengakhiran bagi Allah). Hal tersebut berbeza dengan Sifat al-Af`al, ketika Allah ta`ala memiliki salah satu daripada Sifat al-Af`al, maka lawan kepada sifat tersebut adalah tidak mustahil bagi zat Allah ta`ala, bahkan ia menunjukkan lagi perihal kehebatan dan keagungan Allah kerana mampu menciptakan dua perkara yang berlawanan berdasarkan fungsi yang terkandung di dalam nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah ta`ala kepada zat-Nya yang Maha Agung seperti; sifat al-Muhyi (Maha Menghidupkan), al-Mumit (Maha mematikan), al-Dhar (Maha Memberi Bahaya) dan al-Nafi` (Maha Memberi Manfaat), al-Mu`thi (Maha Pemberi) dan al-Mani` (Maha Pencegah) dan lain-lain. Di samping itu, para ulama’ mengatakan bahawa Sifat al-Af`al itu adalah baqa’.[4]

Keempat, dari sekian banyak Sifat al-Zat yang wujud tersebut, maka sifat dua puluh dianggap cukup dalam memberi kefahaman kepada kita bahawa Allah ta`ala memiliki segala sifat kesempurnaan dan maha suci Allah daripada segala sifat kekurangan. Di samping itu, kesemuaSifat al-Zat yang telah terangkum dalam sifat dua puluh tersebut, dari sudut fakta, telahpun ditetapkan berdasarkan dalil al-Qur’an, al-Sunnah dan dalil-dalil aqli.[5]

Kelima, sifat dua puluh tersebut dianggap cukup kuat untuk menjadi benteng kepada akidah seseorang daripada terpengaruh dengan faham yang keliru atau menyeleweng dalam memahami sifat Allah ta`ala. Sebagaimana yang telah kita maklum aliran-aliran yang menyimpang daripada fahaman Ahl al-Sunah Wa al-Jama`ah seperti Wahhabi, Muktazilah, Musyabbihah, Mujassimah, Karramiyyah dan lain-lain telah menyifatkan Allah ta`ala dengan sifat-sifat makhluk yang kesemua sifat tersebut dilihat dapat meruntuhkan kesempurnaan dan kesucian zat Allah ta`ala. Maka dengan memahami sifat dua puluh tersebut, iman seseorang akan dibentengi daripada keyakinan-keyakinan yang menyongsang fahaman arus perdana umat Islam berhubung zat Allah ta`ala. Misalnya, ketika golongan mujassimah mengatakan bahawa Allah ta`ala itu duduk di atas `Arasy, maka hal ini akan ditolak dengan salah satu daripada sifat Salbiyyah yang wajib bagi zat Allahta`ala iaitu; Qiamuhu Binafsih (Allah ta`ala tidak berhajat kepada sesuatu), ketika musyabbihah mengatakan bahawa Allah ta`ala memiliki anggota tubuh badan seperti mata, tangan, kaki, muka, betis dan lain-lain, maka dakwaan tersebut akan ditolak pula dengan sifat wajib bagi Allah ta`alayang lain iaitu sifat Mukhalaftuhu lilhawadith (Allah tidak menyerupai sesuatupun), ketika golongan Muktazilah menafikan kewujudan sifat ma`ani pada zat Allah ta`ala dengan mengatakan bahawa Allah ta`ala maha kuasa tetapi tidak mempunyai sifat qudrat, maha mengetahui tetapi tidak mempunyai ilmu, maha berkehendak tetapi tidak mempunyai iradat, maka dakwaan songsang tersebut akan ditolak dengan sifat-sifat ma`ani yang jumlahnya adalah tujuh iaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama`, basar dan kalam. Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain.[6]

الْقَائِدَةُ: “الْجَهْلُ بِالصِّفَاتِ يُؤَدِّيْ إِلَى الْجَهْلِ بِالْمَوْصُوْفِ مَنْ لا يَعْرِفُ صِفَاتِ الله لا يَعْرِفُ الله”.

Kaedah: “Jahil tentang sifat (Allah) membawa kepada jahil dengan yang mempunyai sifat (Allah), sesiapa yang tidak mengenal sifat Allah, tidak mengenal Allah ta`ala”.

[1] KH. Muhyiddin Abd al-Somad (2009), Aqidah Ahlussunnah Wal Jama`ah Terjemah dan Syarh Aqidah al-Awam, Jakarta: Khalista Surabaya, h. 25.

[2] Al-Hafiz al-Bayhaqi (1959), al-I`tiqad `ala Mazhab al-Salaf Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah, Abu al-Fadhl Abdullah Muhammad al-Siddiq al-Ghumari (ed.), Kaherah: Dar al-`Abd al-Jadid, , h. 14.

[3] Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (3528), al-Hakim di dalam al-Mustadrak (1830) dan al-Tabarani di dalam al-Mu`jam al-Kabir (10198). Al-Hafiz Ibn Hibban menilainya sahih di dalamSahih-nya (977).

[4] Al-Hafiz al-Bayhaqi(1959), op.cit., h. 15, 21 dan 22; Abu Mansur Abdul Qahir al-Baghdadi (1981), Usul al-Din, Beirut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, h. 122-125. Dari sini dapat kita fahami bahawa pernyataan sebagian kalangan beberapa tahun yang lalu, bahawa untuk saat ini sifat Rahmah Allahta`ala adalah lebih layak ditekankan untuk diketahui daripada sifat-sifat yang lain, adalah tidak ada asasnya. Ini adalah bertitik tolak daripada ketidakfahaman mereka terhadap sifat al-Zat yang menjadi Syart al-Uluhiyyah dan Sifat al-Af`al yang bukan Syart al-Uluhiyyah.

[5] Hasan al-Ayyub (2003), Tabsit al-`Aqaid al-Islamiyyah, Kaherah: Dar al-Salam, h. 17.

[6] Lihat pernyataan Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali tentang tujuan mempelajari ilmu kalam menerusi kitabnya al-Munqidz min al-Dhalal, lihat al-Ghazzali (1998), al-Munqidz min al-Dhalal, Abdul Halim Mahmud (ed.), Kaherah: Dar al-Ma`arif, h. 36.

Posted by: Habib Ahmad | 22 April 2014

Pohon Kurma Abu Dujanah

Sidi Abu Bakar Syatha al-Bakri ad-Dimyathi rahimahullah dalam karya beliau “I`anatuth Tholibin”, jilid 3, halaman 293 menceritakan sebuah kisah mukjizat Junjungan Nabi SAW berkaitan sepohon kurma dan seorang sahabat baginda yang bernama Abu Dujanah RA. Rasanya ese pernah dengar Ustaz Don hafizahullahu ta`ala menceritakan kisah ini dengan sedikit perbezaan. Ese akan terjemahkan kisah tersebut secara ringkas.

Diceritakan bahawa pada zaman baginda Nabi SAW ada seorang sahabat yang dipanggil Abu Dujanah. Setiap hari Abu Dujanah menunaikan sholat Subuhnya berjemaah dengan Junjungan Nabi SAW di masjid, namun seusai sholat beliau akan terus bergegas pulang ke rumahnya tanpa menunggu Junjungan Nabi SAW menyelesaikan doa baginda. Perbuatan Abu Dujanah telah ditegur oleh Junjungan Nabi SAW. Abu Dujanah menceritakan kepada Junjungan Nabi SAW bahawa beliau tinggal berjiran dengan seorang lelaki dan dalam kawasan rumah lelaki tersebut tumbuh sebatang pohon kurma yang besar betul-betul bersebelahan dengan rumahnya. Ketika malam, buah – buah kurma itu akan jatuh ke halaman rumahnya kerana tiupan angin. Pagi – pagi apabila anak-anak Abu Dujanah bangun dalam keadaan lapar mereka akan mengutip buah – buah tersebut untuk dimakan. Pernah satu hari, ketika Abu Dujanah melihat anaknya memasukkan sebutir buah tamar tersebut ke dalam mulut, beliau terus mengeluarkannya semula dengan tangannya agar anak tersebut tidak memakan sesuatu yang bukan milik mereka. Hal ini telah menyebabkan anak tersebut menangis. Sebab itulah, Abu Dujanah terpaksa bergegas balik ke rumah setelah sholat Subuh untuk memungut semua buah tamar jirannya yang jatuh di halamannya dan menyerahkannya semula kepada pemiliknya sebelum anak-anaknya jaga dari tidur. Lalu Junjungan Nabi SAW bertanya tentang pemilik pokok kurma tersebut, Baginda dimaklumkan bahawa ianya dimiliki oleh seorang lelaki munafik. Junjungan Nabi SAW memanggil lelaki tersebut dan baginda menawarkan kepadanya supaya pohon kurmanya itu diberikan kepada Abu Dujanah dengan imbalan 10 pohon kurma di syurga yang batangnya daripada zabarjad yang hijau, daunnya daripada emas merah, buah-buahnya daripada permata putih dan bidadari menurut bilangan buah-buahnya. Namun tawaran Junjungan Nabi SAW tersebut telah ditolak oleh lelaki munafik tersebut. Kemudian, Sayyidina Abu Bakar RA mengusulkan agar si munafik tadi menjual pohon kurmanya tersebut kepadanya dengan imbalan 10 batang pohon kurma terbaik milik beliau yang tumbuh di satu lembah Kota Madinah. Tawaran Sayyidina Abu Bakar RA diterima oleh lelaki munafik tersebut. Sayyidina Abu Bakar RA kemudiannya menghadiahkan pohon kurma tersebut kepada Abu Dujanah. Junjungan Nabi SAW memaklumkan kepada Sayyidina Abu Bakar bahawa imbalan yang tadinya baginda tawarkan kepada si munafik telah dijadikan buat Sayyidina Abu Bakar, maka gembiralah Sayyidina Abu Bakar dan juga Sayyidina Abu Dujanah. Manakala si munafik tersebut juga pulang ke rumahnya dengan perasaan girang. Dia memberitahukan isterinya dan menyatakan bahawa dia telah beroleh keuntungan besar kerana selain daripada memperolehi 10 batang kurma daripada Sayyidina Abu Bakar, pohon kurma yang berada di halaman rumahnya juga akan tetap berada di situ. Maka dia masih dapat mengambil dan menikmati buah-buahnya. Malam tersebut, tidurlah si munafik dengan gembira, namun ketika dia bangun pada paginya didapatinya pohon kurma yang dahulunya tumbuh di halaman rumahnya telah berpindah ke halaman rumah Sayyidina Abu Dujanah, seolah – olah itulah tempat tumbuh asalnya. Maka hairanlah si munafik tadi dengan sehabis-habis hairan.

Posted by: Habib Ahmad | 22 April 2014

Iblis Meraung

Syaikh Mutawalli asy-Sya’raawi rahimahullah pernah menyatakan bahawa:-
Peristiwa mawlid Junjungan Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa yang paling besar sepanjang sejarah. Bahkan lebih besar dari peristiwa diciptanya seluruh alam, kerana baginda datang dengan ajaran Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Tiada keraguan bahawa lahirnya Junjungan Nabi SAW ke dunia ini adalah sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam. Maka sudah pasti dan semestinya segala isi alam ini bergembira dan bersukacita dengan kehadiran Rahmat bagi sekalian alam ini. Hanya golongan yang dilaknat Allah SWT sahaja yang tidak merasa gembira dengan dengan hadirnya Rahmat tersebut kerana mereka telah dijauhkan daripada segala rahmat. Oleh itu, tidak pelik jika Iblis dan konco – konconya daripada kalangan syaitan bersedih dan berduka dengan kelahiran Junjungan Nabi SAW, sehingga diriwayatkan bahawa Iblis terkutuk meraung – raung kesedihan atas lahirnya Junjungan Nabi SAW.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan dalam karya beliau, al-Bidayah wan Nihayah, jilid 2, halaman 166, bahawa Imam as-Suhaili rahimahullah menceritakan yang Iblis telah meraung kesedihan pada 4 ketika: (1) ketika dia dia dilaknat Allah SWT; (2) ketika dia dihalau; (3) ketika Junjungan Nabi SAW dilahirkan dan (4) ketika surah al-Fatihah diturunkan.

Oleh itu, sayogianya kita menjauhi perbuatan Iblis yang benci dan berdukacita dengan kelahiran Junjungan Nabi SAW. Kita hendaklah sentiasa bergembira dan memperingati akan kelahiran Junjungan Nabi SAW sebagai tahadduts bin ni’matillah dalam rangka mensyukuri rahmat dan nikmat Allah yang besar kepada kita. Mudah-mudahan hidup dan mati kita diberkatiNya sentiasa.

Posted by: Habib Ahmad | 22 April 2014

CIRI-CIRI WAHABI YANG WAJIB KITA TENTANG & JAUHI.

CIRI-CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHHABIYYAH

AQIDAH

1.Membahagikan Tauhid kepada 3 Kategori

(i)Tauhid Rububiyyah: Dengan tauhid ini, mereka mengatakan bahawa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tauhid.
(ii)Tauhid Uluhiyyah: Dengan tauhid ini, mereka menafikan tauhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh majoriti ulama’ Islam khasnya ulama’ empat mazhab.
(iii)Tauhid Asma’ dan Sifat: Tauhid versi mereka ini boleh menjerumuskan seseorang ke lembah tashbih dan tajsim

i. Menterjemahkan istawa sebagai bersemayam/bersila/duduk
ii. Merterjemahkan yad sebagai tangan
iii. Menterjemahkan wajh sebagai muka
iv. Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ‘ulya)
v. Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk
vi. Menterjemah nuzul sebagai turun dengan zat
vii. Menterjemah saq sebagai betis
viii. Menterjemah asabi’ sebagai jari-jari, dll
ix. Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai “surah” atau rupa.
x. Menambah bi zatihi haqiqatan [dengan zat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutashabihat, sedangkan penambahan itu tidak ada di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Imam al-Zahabi sendiri mengkritik gurunya, Ibnu Taymiyyah berkenaan masalah ini di dalam Siyar A’lam al-Nubala’ [Rujuk kitab yang ditahqiq oleh bukan Wahhabi kerana Wahhabi membuang kritikan ini dalam terbitan mereka]
xi. Sebahagian golongan Mujassimah menyatakan bahawa Allah (Rujuk Kitab Ibthal al-Ta’wilat oleh Abu Ya’la al-Farra’ yang telah diterbitkan semula oleh “tangan-tangan Tajsim dan Tashbih” – Penulis mempunyai buku seorang alim Al-Azhari yang mengarang kitab menolak kitab tersebut):
mempunyai gusi (اللثة) dan gigi gerham (الأضراس)
akan “duduk” bersama Nabi Muhammad SAW di atas arash
mempunyai mulut (الفم)
2.Tafwidh yang digembar-gemburkan oleh mereka adalah bersalahan dengan tafwidh yang dipegang oleh ulama’ Asha’irah.
3.Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zahir tanpa huraian terperinci dari ulama’ mu’tabar
4.Menolak Asha’irah dan Maturidiyyah yang merupakan majoriti ulama’ Islam dalam perkara Aqidah
5.Sering mengkrititik Asha’irah bahkan sehingga mengkafirkan Asha’irah
6.Menyamakan Ashai’rah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mua’ththilah dalam perkara mutashabihat
7.Menolak dan menganggap pengajian sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkan falsafah Yunani dan Greek
8.Berselindung di sebalik mazhab Salaf
9.Golongan mereka ini dikenali sebagai al-Hashwiyyah, al-Karramiyyah, al-Mushabbihah, al-Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah
10.Sering menjaja kononnya Abu Hasan Al-Ash’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab Asha’irah
11.Mendakwa kononnya ulama’ Asha’irah tidak betul-betul memahami fahaman Abu Hasan al-Asha’ri, bahkan sering mendakwa kononnya mereka adalah pengikut Imam Abu al-Hasan al-’Ash’ari yang sebenar. Sungguh lucu dakwaan sebegini.
12.Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat
13.Sering mendakwa bahawa ramai umat Islam telah jatuh ke kancah syirik
14.Mendakwa bahawa amalan memuliakan Rasulullah SAW boleh membawa kepada syirik
15.Tidak mengambil berat kesan-kesan sejarah para anbiya’, ulama’ dan solihin dengan dakwaan menghindari syirik
16.Kefahaman yang salah berkenaan syirik sehingga mudah menghukum orang sebagai membuat amalan syirik
17.Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta solihin
18.Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai sebagai cabang-cabang syirik
19.Memandang remeh karamah para awliya’
20. Menyatakan bahawa ibu bapa dan datuk Rasulullah SAW tidak terselamat dari azab api neraka.
21. Mengharamkan mengucap “radiallahu anha” bagi ibu Rasulullah SAW, Sayyidatuna Aminah
22. Menamakan Malaikat Maut sebagai ‘Izrail adalah bid’ah – Fatwa Soleh Uthaymin

SIKAP

1.Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan mereka
2.Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak)
3.Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Quran dan hadis (walaupun tidak layak)
4.Sering memperlekehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.
5.Ayat-ayat al-Quran dan Hadis yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.
6.Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu shazz (janggal).
7. Bersikap “taqiyyah” apabila dirasakan perlu. Fatwa mereka berbeza apabila bercakap di hadapan masyarakat umum dengan pengajian khusus bersama mereka.
8. Apabila mereka sedikit dan tidak berkuasa, mereka melaungkan slogan “Berlapang dada”, namun apabila mereka ramai dan berkuasa mereka melaungkan slogan “Meghilangkan Bid’ah” [Sikap ini diambil berdasarkan kata-kata para ulama' Mekah yang memerhatikan sikap Wahhabi di Mekah sewaktu ia mula-mula berkembang sampai kini.]
9. Apabila mereka menerima tentangan daripada majoriti ulama’, mereka menyatakan itu adalah asam garam dalam perjuangan. Sedangkan para ulama’ menyatakan bahawa apabila sesuatu itu ditolak olej majoriti para ulama’, maka itu adalah tanda-tanda kesesatan, kepelikan dan kejanggalan (shazz) atau ketergelinciran (zallah) kerana para ulama’ umat Nabi Muhammad SAW tidak akan bersepakat di dalam kesesatan sepertimana yang disebut di dalam hadis Rasulullah SAW.

ULUM HADIS

1.Menolak beramal dengan hadis dhaif
2.Penilaian hadis yang tidak sama dengan ulama’ hadis yang lain
3.Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak mempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadis. Bahkan umum mengetahui bahawa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadis dan diketahui bahawa beliau belajar hadis secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].
4.Sering menganggap hadis dhaif sebagai hadis mawdhu’ [mereka melonggokkan hadis dhaif dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadis tersebut adalah sama]
5.Perbahasan hanya kepada sanad dan matan hadis, dan bukan pada makna hadis. Oleh kerana itu, perbincangan syawahid tidak diambil berat
6.Perbincangan hanya terhad kepada riwayah dan bukan dirayah.

ULUM QURAN
1.Menganggap tajwid sebagai menyusahkan dan tidak perlu (Sebahagian Wahhabi Malaysia yang jahil) [dan menurut sahabat penulis yang ada membuat penyelidikan di dalam bidang ini, sememangnya terdapat beberapa "ulama' Saudi" yang menyatakan tajwid itu bukanlah sunnah, tetapi bid'ah. Namun majoriti "ulama' Saudi" tidak bersetuju dengan kata-kata mereka].
2. Mendakwa ayat-ayat mutashabihat sebagai ayat muhkamat.

FIQH

1.Menolak fahaman bermazhab kepada imam-imam yang empat; pada hakikatnya mereka bermazhab “TANPA MAZHAB”
2.Mengadunkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq yang haram
3.Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; kononnya mereka berittiba’
4.Sering mengungkit soal-soal khilafiyyah
5.Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6.Sering bercanggah dengan ijma’ ulama’
7.Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah bid’ah
8.Sering mendakwa orang yang bermazhab sebagai taksub mazhab, sedangkan mereka taksub kepada Ibnu Taymiyyah, Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab.
9.Salah faham makna bid’ah yang menyebabkan mereka mudah membid’ahkan orang lain
10.Sering berhujah dengan al-tark, sedangkan al-tark bukanlah satu sumber hukum
11.Mempromosikan mazhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas terkeluar daripada fiqh empat mazhab]
12.Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tunaffiru” sehingga menjadi lebih parah daripada tatabbu’ al-rukhas
13.Sering mengatakan bahawa fiqh empat mazhab telah ketinggalan zaman

Najis
1. Sebahagian daripada mereka sering mempertikaikan dalil bagi kedudukan babi sebagai najis mughallazah
2. Menyatakan bahawa bulu babi itu tidak najis kerana tidak ada darah yang mengalir.

Wudhu’ & Tayammum
1. Tidak menerima konsep air musta’mal
2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’
3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.
4. Kaifiyyat Tayammum yang mereka pilih ialah: Tepuk sekali dan sapu muka serta kedua pergelangan tangan sahaja (tanpa perlu sampai ke siku).

Azan
1. Azan juma’at sekali; azan kedua ditolak

Solat
1. Mempromosi “Sifat Solat Nabi SAW’, dengan alasan kononnya solat berdasarkan fiqh mazhab adalah bukan sifat solat Nabi SAW yang sebenar
2. Menganggap lafaz usolli sebagai bid’ah yang keji
3. Berdiri secara terkangkang ataupun seperti huruf Y terbalik yang menyalahi konsep berdiri secara iktidal (lurus dan sederhana)
4. Tidak membaca ‘Basmalah’ secara jahar
5. Menggangkat tangan sewaktu takbir pada paras bahu
6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam
7. Menganggap perbezaan antara lelaki dan perempuan dalam solat sebagai perkara bid’ah (sebahagian Wahhabiyyah Malaysia yang jahil)
8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah
9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah
10. Menganggap menyapu muka selepas solat sebagai bid’ah – Fatwa Soleh Uthaymin
11. Solat tarawih hanya 8 rakaat; yang lebih teruk lagi, mengatakan solat tarawih itu sebenarnya adalah solat malam (solatul-lail) seperti yang dibuat pada malam-malam biasa.
12. Zikir jahar di antara rakaat-rakaat solat tarawih dianggap bid’ah
13. Tidak ada qadha’ bagi solat yang sengaja ditinggalkan
14. Menganggap amalan bersalaman selepas solat adalah bid’ah – Fatwa Soleh Uthaymin
15. Menggangap lafaz sayyiduna (taswid) dalam solat sebagai bid’ah
16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tahiyyat awal dan akhir
17. Boleh jama’ dan qasar walaupun kurang dari dua marhalah
18. Memakai jubah dengan singkat yang melampau
19. Menolak sembahyang sunat qabliyyah sebelum Jumaat
20. Menolak konsep sembahyang menghormati waktu [li hurmah al-waqt]
21. Menolak konsep fidyah sembahyang walaupun umum mengetahui ia adalah pendapat mazhab Hanafi dan pendapat dhaif di dalam mazhab Shafie.

Doa, Zikir dan Bacaan al-Quran
1. Menggangap doa beramai-ramai selepas solat sebagai bid’ah
2. Menganggap zikir dan wirid beramai-ramai selepas sembahyang atau pada bila-bila masa sebagai bid’ah
3. Mengatakan bahawa membaca “Sodaqallahul-‘azim” selepas bacaan al-Quran adalah bid’ah – Fatwa Ibn Baz
4. Menyatakan bahawa doa, zikir dan selawat yang tidak ada dalam al-Quran dan Hadis sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khayrat, Selawat al-Syifa’, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll, bahkan dikatakan semua itu bertentengan dengan Aqidah Islam
5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jumaat sebagai bid’ah yang haram – dengan alasan “Jangan diiktikadkan wajib”
6. Mengatakan bahawa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat
7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah
8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah, tetapi kalau tidak berzikir atau lalai (al-ghaflah) tak mengapa pulak??!!!
9. Menolak amalan ruqiyyah shar’iyyah dalam perubatan Islam seperti wafa’, azimat, dll
10. Menolak zikir isim mufrad: Allah Allah
11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram
12. Sering menafikan dan mempertikaikan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban
13. Sering mengkritik kelebihan malam Nisfu Sya’ban
14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah
15. Mempertikaikan kedudukan solat sunat tasbih
16. Berusaha mengharamkan wirid-wirid yang terkandung di dalam “Majmu’ Sharif.”
17. Menyatakan bahawa mencium al-Quran adalah bid’ah terkeji – Fatwa Soleh Uthaymin

Pengurusan Jenazah dan Kubur
1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah SAW, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan solihin sebagai bid’ah dan solat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini
2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur
3. Menganggap talqin sebagai bid’ah
4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram
5. Tidak membaca doa’ selepas solat jenazah
6. Sebahagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah SAW dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik
7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram
8. Doa dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah

Munakahat
1. Talak tiga (3) dalam satu majlis adalah talak satu (1)

Majlis Sambutan Beramai-ramai
1. Menolak sambutan Mawlid Nabi; bahkan menolak cuti sempena hari Mawlid Nabi; bahkan yang lebih teruk lagi menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan Kristian bagi nabi Isa a.s.
2. Menolak amalan marhaban
3. Menolak amalan barzanji.
4. Berdiri ketika bacaan mawlid adalah bid’ah
5. Menolak sambutan Ma’al Hijrah, Isra’ Mi’raj, dll.
Haji dan Umrah
1. Cuba mengalihkan “Maqam Ibrahim a.s.” namun usaha tersebut telah dipatahkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha’rawi apabila beliau pergi bertemu dengan Raja Faisal ketika itu.
2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam untuk dielak oleh orang yang bertawaf ketika bertawaf [Dengar khabar, sekarang tanda tersebut hendak dibuat semula]
3. Mengubah tempat sa’ie di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama’ Islam dari seluruh dunia [Terbaru - dan Khilafiyyah di antara para ulama' kontemporari].
4. Nama “Hajar Ismail” bagi bahagian sisi Ka’bah adalah bid’ah dan tidak harus – Fatwa Soleh Uthaymin

PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

1. Ramai para professional menjadi ‘ustaz-ustaz’ mereka (di Malaysia)
2. Ulama’ yang sering menjadi rujukan mereka adalah:
a. Ibnu Taymiyyah
b. Ibnu al-Qayyim
c. Muhammad Abdul Wahhab [Perbezaan yang ketara di antara pendekatan Ibnu Taymiyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab ialah: (i) Ibnu Taymiyyah tidak memaksa orang lain mengikut pendapatnya dengan pedang dan kuasa, ini adalah berbeza dengan pendekatan Muhammad Ibn Abdul Wahhab; (ii) Ibnu Taymiyyah juga tidak bersepakat dengan bukan Muslim untuk menjatuhkan saudara Islamnya]
d. “Sheikh” Abdul Aziz Ibn Bazz
e. Nasiruddin al-Albani
f. “Sheikh” Soleh Ibn Uthaimin
g. “Sheikh” Soleh Fawzan al-Fawzan [Secara peribadi, penulis mendengar dengan telinga dan melihat dengan mata sendiri di Madinah, Dr. Soleh Fawzan al-Fawzan, Rektor, Universiti Islam Madinah pada waktu tersebut menyatakan bahawa ulama' Al-Asha'irah dan al-Maturidiyyah bukanlah daripada "golongan yang terselamat dari api neraka" (al-firqah al-najiyah)."]
3. Sering mewar-warkan untuk kembali kepada al-Quran dan Hadis (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Quran dan Hadis sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ jua yang memelihara al-Quran dan Hadis untuk umat ini)
4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumiddin”
5. Masih lagi menggunakan kitab al-Tawhid oleh Imam Ibnu Khuzaimah walaupun Imam al-Bayhaqi telah menyatakan bahawa Imam Ibnu Khuzaimah telah pun menarik semula dan bertaubat daripada penulisannya itu. Ini dinyatakan oleh Imam al-Bayhaqi di dalam Kitab al-Asma’ dan al-Sifat.

PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM

1. Bersepakat dengan Inggeris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Usmaniyyah
2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab turath yang tidak sehaluan dengan mereka
3. Ramai ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka
4. Memusnahkan sebahagian besar kesan-kesan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah saw, jannat al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah SAW di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakr dll, dengan hujah perkara tersebut boleh membawa kepada syirik.
5. Di Malaysia, sebahagian mereka dahulu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [kerana hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].
6. Antara nama/seruan yang pernah digunakan/dilaungkan oleh mereka di Malaysia dahulu ini ialah Ittiba’ Sunnah. Pihak Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Kali Ke-14 yang bersidang pada 22-23 Oktober 1985 telah pun mengeluarkan fatwa menyatakan kesesatan ajaran Ittiba’ al-Sunnah ini.

TASAWWUF DAN TAREQAT

1. Sering mengkritik aliran Sufi dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar
2. Sufiyyah dianggap sebagai terkesan dengan ajaran Budha dan Nasrani
3. Tidak dapat membezakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat

Perhatian:

Sebahagian daripada ciri-ciri di atas adalah perkara khilafiyyah. Namun sebahagiannya adalah bercanggah dengan ijma’ dan pendapat mu’tamad empat mazhab. Sebahagian yang lain adalah perkara yang sangat kritikal dalam masalah usul (pokok) dan patut dipandang dengan serius.Ini adalah sebahagian daripada ciri-ciri umum golongan Wahhabiyyah yang secara sedar atau tidak diamalkan dalam masyarakat kita. Sebahagian daripada ciri-ciri ini adalah disepakati di antara mereka dan sebahagiannya tidak disepakati oleh mereka. Ini adalah kerana di dalam golongan Wahhabiyyah ada berbagai-bagai pendapat dan mazhab dalam berbagai peringkat. Apatah lagi apabila setiap tokoh Wahhabiyyah cuba berijtihad dan mengenengahkan pendapat masing-masing sehingga sebahagiannya terpesong terlalu jauh dari aliran Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Sumber : Ustaz Mohd Haniff

Posted by: Habib Ahmad | 21 April 2014

Mereka yang mengkhawatirkan muslim lainnya berbuat syirik

September 29, 2013 at 9:37am
Mereka yang mengkhawatirkan muslim lainnya berbuat syirik

Orang-orang yang mengkhawatirkan atau berprasangka buruk atau tepatnya suka menuduh muslim lainnya berbuat syirik pada kenyataannya adalah orang-orang yang menyelishi Rasulullah karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengkhawatirkan umatnya berbuat syirik melainkan khawatir umatnya egois, individualis dan berlomba-lomba dengan kekayaan bumi, harta dunia. kekuasaan dan saling membunuh.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Aku lebih dahulu wafat daripada kalian, dan aku menjadi saksi atas kalian, dan aku demi Allah, sungguh telah melihat telagaku sekarang, dan aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi. Demi Allah, saya tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang justru aku khawatirkan atas kalian adalah kalian bersaing terhadap kekayaan-kekayaan bumi.” (HR Bukhari 5946)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Aku mendahului kalian ke telaga. Lebar telaga itu sejauh antara Ailah ke Juhfah. Aku tidak khawatir bahwa kalian akan kembali musyrik sepeninggalku. Tetapi yang aku takutkan ialah kamu terpengaruh oleh dunia. Kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya kemudian berbunuh-bunuhan, dan akhirnya kalian musnah seperti kemusnahan umat sebelum kalian”. (HR Muslim 4249)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sungguh demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan dari kalian. Akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah bila kalian telah dibukakan (harta) dunia sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-loba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba memperebutkannya sehingga harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR Bukhari 2924)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kaum Anshar, “sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap atsarah (sikap egoism, individualisme, orang yang mementingkan dirinya sendiri dan kelompok). Maka bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku dan tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah telaga al-Haudl (di surga)” . (HR Bukhari 3509)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan kita bahwa akan bermunculan orang-orang yang salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah sehingga menuduh muslim lainnya telah musyrik seperti menuduh menyembah kuburan atau menuduh berhukum dengan selain hukum Allah sehingga menganggap telah halal darahnya sehingga berujung pembunuhan.

Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca al-Qur’an, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’an dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’an, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allah, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad. (HR Muslim 1762)

Sabda Rasululullah di atas yang artinya “mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala” maksudnya mereka memahami Al Qur’an dan As Sunnah dan berkesimpulan atau menuduh kaum muslim lainnya telah musyrik (menyembah selain Allah) seperti menuduh menyembah kuburan atau menuduh berhukum dengan selain hukum Allah, sehingga membunuhnya namun dengan pemahaman mereka tersebut mereka membiarkan para penyembah berhala yang sudah jelas kemusyrikannya.

Yang dimaksud dengan “membiarkan para penyembah berhala” adalah “membiarkan” kaum Yahudi atau yang kita kenal sekarang dengan Zionis Yahudi, sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/06/24/tidak-sekedar-membiarkan/

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda bahwa orang-orang yang membunuh orang-orang Islam karena dituduh musyrik atau dituduh berhukum dengan selain hukum Allah ditetapkan sebagai orang yang telah murtad atau telah keluar dari agama Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/06/28/pembunuh-dan-murtad/

Allah ta’ala telah berfirman bahwa jika bermunculan orang-orang yang murtad atau keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya karena membunuh umat la ilaha illallah yang dituduh musyrik atau dituduh berhukum dengan selain hukum Allah maka Allah Azza wa Jalla akan tetap menjaga adanya kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah seperti ahlul hadramaut (Yaman).

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)

Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah”. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’.

Dari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.

Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’.

Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, ‘Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi’

Dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, ‘Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini’. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman”. Masih dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman‘.

Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencintaiku, siapa yang membenci mereka berarti telah membenciku”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda bahwa jika telah bermunculan fitnah atau perselisihan atau bahkan pembunuhan terhadap umat la ilaha illallah karena perbedaan pendapat maka hijrahlah ke Yaman, bumi para Wali Allah atau ikutilah atau merujuklah kepada pendapat Ahlul Hadramaut, Yaman.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’

Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’

Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’

Dari Ibnu Umar ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda sementara beliau menghadap timur: “Ingat, sesungguhnya fitnah itu disini, sesungguhnya fitnah itu disini dari arah terbitnya tanduk setan.” (HR Muslim 5167)

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami Mahdi bin maimun aku mendengar Muhammad bin Sirin menceritakan dari Ma’bad bin Sirin dari Abu Sa’id Al Khudzri radliyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Akan muncul beberapa orang dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an namun tidak lebih dari kerongkongan mereka (tidak meresap dalam hati), mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busur, dan mereka tidak akan kembali hingga anak panah kembali ke tali busur. Lalu ditanya, Apa tanda mereka? Beliau menjawab: Ciri mereka adalah gundul. (HR Bukhari 7007)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Hasan berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar berkata, Beliau berdoa: Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami. Ibnu ‘Umar berkata, Para sahabat berkata, Juga untuk negeri Najed kami. Beliau kembali berdoa: Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami. Para sahabat berkata lagi, Juga untuk negeri Najed kami. Ibnu ‘Umar berkata, Beliau lalu berdoa: Disanalah akan terjadi bencana dan fitnah, dan di sana akan muncul tanduk setan (HR Bukhari 979)

Negeri Najed berada sebelah timur dari kota Makkah/Madinah oleh karenanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil sesuai arah negeri Najed. Penduduk Iraq miqat di Dzat Irq, sesuai dengan arah negeri Iraq sebelah Timur Laut Makkah/Madinah. Sedangkan penduduk Yaman miqat di Yalamlam, sesuai dengan arah negeri Yaman sebelah tenggara kota Makkah/Madinah.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Amru dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Al Juhfah, bagi penduduk Yaman di Yalamlam dan bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil. Itulah ketentuan masing-masing bagi setiap penduduk negeri-negeri tersebut dan juga bagi yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut bila datang melewati tempat-tempat tersebut dan berniat untuk hajji dan ‘umrah. Sedangkan bagi orang-orang selain itu, maka mereka memulai dari tempat tinggalnya (keluarga) dan begitulah ketentuannya sehingga bagi penduduk Makkah, mereka memulainya (bertalbiyah) dari (rumah mereka) di Makkah. (HR Bukhari 1431)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656]

Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”. Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya. Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”. Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun al Qur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798)

Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sari telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari Abdurrahman bin Abu Nu’m dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Ketika Ali bin Abi Thalib berada di Yaman, dia pernah mengirimkan emas yang masih kotor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu emas itu dibagi-bagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada empat kelompok. Yaitu kepada Aqra` bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badar Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al Amiri, termasuk Bani Kilab dan Zaid Al Khair Ath Thay dan salah satu Bani Nabhan. Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, Kenapa pemimpin-pemimpin Najed yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka. Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata, Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, jika aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku? Abu Sa’id berkata; Setelah orang itu berlaku, maka seorang sahabat (Khalid bin Al Walid) meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuh orang itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad. (HR Muslim 1762)

Dari kedua hadits di atas (HR Ahmad no 19798) dan (HR Muslim 1762) dapat kita ketahui bahwa orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi lebih memperhatikan apa yang tampak secara lahir seperti ada tanda hitam bekas sujud di antara kedua matanya atau berjanggut lebat namun tidak berakhlak baik sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/06/26/tampak-secara-lahir/

Dalam syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 diriwayatkan Khalid bin Walīd ra bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi dengan pertanyaan

“Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat” (namun berakhlak buruk)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”

Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka.”

Indikator atau ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah sehingga menjadi wali Allah (kekasih Allah) adalah sebagaimana yang disampaikan dalam firmanNya dalam (QS Al Maidah [5]:44)

1. Bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim
2. Bersikap keras (tegas / berpendirian) terhadap orang-orang kafir
3. Berjihad di jalan Allah, bergembira dalam menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya
4. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa ahlul Yaman adalah orang-orang yang mudah menerima kebenaran, mudah terbuka mata hatinya (ain bashiroh) dann banyak dikaruniakan hikmah (pemahaman yang dalam terhadap Al Qur’an dan Hadits) sebagaimana Ulil Albab

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib Telah menceritakan kepada kami Abu Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang berperasaan dan hatinya paling lembut, kefaqihan dari Yaman, hikmah ada pada orang Yaman.” (HR Bukhari 4039)

Dan telah menceritakan kepada kami Amru an-Naqid dan Hasan al-Hulwani keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ya’qub -yaitu Ibnu Ibrahim bin Sa’d- telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih dari al-A’raj dia berkata, Abu Hurairah berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah kaum yang paling lembut hatinya. Fiqh ada pada orang Yaman. Hikmah juga ada pada orang Yaman. (HR Muslim 74)

Kita dapat telusuri apa yang telah disampaikan oleh ahlul Yaman melalui apa yang disampaikan oleh Al Imam Al Haddad dan yang setingkat dengannya, sampai ke Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Attos dan yang setingkat dengannya, sampai ke Asy’syeh Abubakar bin Salim, kemudian Al Imam Syihabuddin, kemudian Al Imam Al Aidrus dan Syeh Ali bin Abibakar, kemudian Al Imam Asseggaf dan orang orang yang setingkat mereka dan yang diatas mereka, sampai keguru besar Al Fagih Almuqoddam Muhammad bin Ali Ba’alawi Syaikhutthoriqoh dan orang orang yang setingkat dengannya, sampai ke Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Ash Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain ra

Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Ash Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain ra sejak Abad 7 H di Hadramaut Yaman beliau menganut madzhab Syafi’i dalam fiqih , Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam akidah (i’tiqod) mengikuti Imam Asy’ari (bermazhab Imam Syafi’i) dan Imam Maturidi (bermazhab Imam Hanafi) serta tentang akhlak atau tentang ihsan mengikuti ulama-ulama tasawuf yang muktabaroh dan bermazhab dengan Imam Mazhab yang empat.

Di Hadramaut kini, akidah dan madzhab Imam Al Muhajir yang adalah Sunni Syafi’i, terus berkembang sampai sekarang, dan Hadramaut menjadi kiblat kaum sunni yang “ideal” karena kemutawatiran sanad serta kemurnian agama dan aqidahnya.

Dari Hadramaut (Yaman), anak cucu Imam Al Muhajir menjadi pelopor dakwah Islam sampai ke “ufuk Timur”, seperti di daratan India, kepulauan Melayu dan Indonesia. Mereka rela berdakwah dengan memainkan wayang mengenalkan kalimat syahadah , mereka berjuang dan berdakwah dengan kelembutan tanpa senjata , tanpa kekerasan, tanpa pasukan , tetapi mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan. Juga ada yang ke daerah Afrika seperti Ethopia, sampai kepulauan Madagaskar. Dalam berdakwah, mereka tidak pernah bergeser dari asas keyakinannya yang berdasar Al Qur’an, As Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam majalah tengah bulanan “Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 menjelaskan bahwa pengajaran agama Islam di negeri kita diajarkan langsung oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah seperti Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Berikut kutipan penjelasan Buya Hamka

**** awal kutipan ****
“Rasulallah shallallahu alaihi wasallam mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau shallallahu alaihi wasallam dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, ‘kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’. Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf.

Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.

Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Fagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.

Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadramaut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.
****** akhir kutipan *****

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Posted by: Habib Ahmad | 15 April 2014

Majlis2 Ilmu & Malam Cinta Rasul

10251883_237428949782766_6576775237222761092_n

1900016_627876920617476_3344148987526143657_n

1422529_10200760007283042_3098226139802550741_n

10259737_612653338828534_7429568462791584078_n

10007417_237398979785763_1254109993455681368_n

1374946_1405048606436162_3456272032625451467_n

10151845_703117873061016_6987905764798136170_n

Posted by: Habib Ahmad | 12 April 2014

MALAM CINTA RASUL

10155643_10152274234031999_379760609885976941_n

Posted by: Habib Ahmad | 12 April 2014

MAJALAH HABIB ONLINE

http://majalahalhabib.blogspot.com/?view=magazine

habib2

Posted by: Habib Ahmad | 7 April 2014

Jangan Egois Mempertahankan Kebenaran!

Tinggalkan komentar

Syauqi ‘Allam Mufti MesirSewaktu perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimin menyepakati poin-poin penting dengan kaum musyrikin. Pada awalnya, dalam perjanjian tersebut dibuat atas nama Muhammad bin Abdillah Rasulullah namun orang musyrik waktu itu keberatan jika dipakai nama Rasululllah. Sebab, jikalau mereka percaya bahwa Muhammad adalah Rasulullah (utusan Allah) pasti mereka akan sejalan dengan beliau. Sementara itu, di sinilah letak perbedaan mendasar antara orang Islam dan orang musyrik pada waktu itu. Mereka mengatakan kepada Nabi Muhammad, “Kami tidak beriman bawah Engkau adalah utusan Allah.” Sehingga mereka meminta agar kata Rasulullah itu dihapuskan dalam perjanjian tersebut.

Pada waktu itu, umat Islam keberatan menghapus kata “Rasulullah” tersebut karena kata itu adalah suatu kata yang Haq dan harus diiimani. Namun akhirnya, Rasulullah sendiri yang menghapus kata itu dari perjanjian tersebut.

Selanjutnya, kaum musyrikin meminta agar kata “Ar-Rahman dan Ar-Rahim” juga dihapuskan. Lalu Rasulullah juga menghapus kata tersebut.

Kenapa Rasululllah Saw. menghapusnya sementara itu adalah sebuah kebenaran? Kenapa Rasulullah mengalah dari kebenaran?

Rasulullah mengapus kata tersebut dan mengalah karena beliau ingin agar tidak terjadi pertumpahan darah. Padahal, umat Islam pada waktu itu memiliki tentara yang kuat untuk mempertahankan kebenaran tersebut. Tapi Rasul tidak menginginkan darah tertumpah sehingga menjaga maslahat yang lebih utama pada waktu itu.

Dari sini bisa kita lihat bahwa peperangan bukanlah sesuatu yang disukai Rasulullah. Maka hal apapun yang bisa dilakukan untuk menahan agar tidak terjadi pertumpahan darah maka hal itu adalah tuntutan dalam syariat.

Setelah peristiwa ini, Allah berfirman, “Sungguh, Kami telah memberikan padamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Fath: 1). Seolah-olah dalam hal ini Allah ingin mengatakan bahwa apa yang diperbuat Rasul (menghapus kata Rasulullah, Ar-Rahman, dan Ar-Rahim) merupakan sesuatu yang mengandung kebenaran. Sebab Rasulullah melihat dengan pandangan jauh ke depan dan menjaga agar kelangsungan hidup manusia tetap terjaga.

-Prof. Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam, Grand Mufti Mesir
Perkataan ini beliau sampaikan ketika kunjungan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) ke Darul Ifta’ (Lembaga Fatwa Mesir) pada Sabtu lalu.

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2014

Majlis Ilmu dan Selawat

image

image

image

image

image

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2014

Majlis Ilmu

image

image

image

image

image

Posted by: Habib Ahmad | 5 April 2014

Majlis Ilmu

image

image

image

Posted by: Habib Ahmad | 3 April 2014

BENARKAH KITA MENCINTAI RASULULLAH?

Perjalanan Kita Masih Jauh…

KITA hidup dalam dunia yang penuh dicemari oleh kepentingan dan kebendaan, sehingga segala kecenderungan hati kita sudah tidak lagi berasaskan nilai-nilai yang murni. Sehinggakan, makna “cinta” itu sendiri sudah dicemari pelbagai nilai yang buruk, samada ianya dicemari oleh syahwat, mahupun dicemari oleh nilai-nilai material dan kebendaan.

Kita yang tumbuh dan membesar dalam persekitaran yang dicemari oleh seribu satu nilai keakuan, penting diri dan kebendaan, tugas memupuk sebuah cinta murni dalam jiwa, yang justeru kontra dengan nilai-nilai dominan dalam persekitaran, maka ianya bukanlah satu perkara yang mudah. Sedangkan, dalam syariat Islam, selain ketaatan zahir, tanggungjawab yang lebih besar adalah sebuah perhubungan batin, iaitu mencapai kemuncak kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam.

Kita sebagai umat Islam mempunyai tugas yang sangat besar di sebalik kehambaan kita, iaitulah untuk menjadikan Allah azza wa jallah dan Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai yang paling dicintai oleh diri kita sendiri, dan seluruhnya.

Allah SWT berfirman:
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِ وَٱللَّهُ لاَ يَهْدِي ٱلْقَوْمَ ٱلْفَاسِقِينَ

Maksudnya: Katakanlah (wahai Muhammad): Jika bapa-bapa kamu dan anak-anak kamu dan saudara-saudara kamu dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu dan kaum keluarga kamu dan harta benda yang kamu usahakan dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan RasulNya dan (daripada) berjihad untuk agamaNya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusanNya (azab seksaNya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka). [Surah At-Taubah: 24]

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Maksudnya: Tidak beriman seseorang itu (dengan iman yang sempurna) sehinggalah aku menjadi paling dicintai olehnya lebih daripada anaknya sendiri, ayahnya dan daripada seluruh manusia”. [Hadith riwayat Imam Al-Bukhari (no: 14) dan Imam Muslim]

TANGGUNGJAWAB & TUGAS KEIMANAN

Ia suatu tanggungjawab dan tugas keimanan yang sangat sukar, tambahan kita hidup dalam sebuah lingkungan yang mengutamakan diri sendiri, bahkan segala ‘kecintaan’ kepada orang lain sebenarnya adalah kecintaan kepada diri sendiri.

Bagaimana kita yang terdidik dalam masyarakat yang cintanya berteraskan kebendaan dan kepentingan diri, untuk mencapai cinta yang murni lagi suci ini, bahkan melebihi diri kita sendiri. Kita sendiri hampir tidak mampu menjadikan sesiapa yang terzahir secara nyata dalam kehidupan kita, sebagai lebih kita cintai daripada diri kita sendiri, bagaimana pula terhadap Allah azza wa jalla dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang dinilai sebagai ‘ghaib’ daripada alam musyahadah kita seharian.

Maka, tidak mungkin kecintaan sebegini dapat dicapai melainkan setelah kita benar-benar mengenali Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam dengan sebuah pengenalan yang sangat mendalam lagi penuh penghayatan, sehingga diri kita dapat tenggelam dalam kecintaan yang tulus murni, yang menyebabkan kita tidak lagi mengutamakan selain kedua-duanya (Allah azza wajalla dan Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam), berbanding kedua-duaNya. Namun, dari mana kita nak mulakan langkah menuju cinta ini?

PENDORONG CINTA

Para ulama’, antaranya al-Imam al-Ghazali RA pernah menyebut tentang pendorong kecintaan, iaitu samada kerana keindahan atau kebaikan yang ingin dicintai tersebut. Ataupun, kerana yang ingin dicintai memang layak untuk dicintai. Ini kerana, cinta yang dituntut ini, sebuah cinta suci dan murni, yang bebas daripada keterbatasan kebendaan dan dominasi syahwat nafsu.

Antara jalan pintas menuju cinta ini adalah dengan mencontohi sebuah perhubungan cinta yang murni dan suci ini. Sudah pasti, ianya terzahir dalam cinta antara Allah azza wa jalla dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Kita dapat lihat bagaimana Allah azza wa jalla menzahirkan kecintaan-Nya kepada Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana kita juga dapat melihat bagaimana Saidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam menzahirkan kecintaan Baginda shollallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah azza wa jalla, iaitu melalui kehambaan yang sejati. Inilah isyarat dalam al-Qur’an:
“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Jika benar kamu mencintai Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mencintai kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (Surah Ali Imran: 31)

Dalam ayat ini, dimulakan dengan kalimah “cinta”, iaitu jika seseorang itu benar-benar mencintai Allah azza wa jalla, maka hendaklah dia mengikuti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, Allah azza wa jalla akan mencintai orang tersebut. Ayat ini menunjukkan bahawa, memadai merujuk kepada salah satu untuk mewakili pihak yang kedua. Iaitu, memadai merujuk salah satu, samada Allah azza wa jalla bagi merujuk kepada kedua-duanya, iaitu Allah azza wa jalla dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, begitulah sebaliknya.

JIKA BENAR CINTA ALLAH…

Asasnya, jika benar seseorang itu mencintai Allah azza wa jalla dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, maka hendaklah dia mentaati Allah azza wa jalla dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Maka, orang tersebut akan dicintai oleh Allah azza wa jalla dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini jelas berdasarkan dalil-dalil yang lain. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menggandingkan antara Allah dan Rasul-Nya dalam sebuah hadis, (sebagaimana ayat al-QUr’an surah al-Taubah sebelum ini):
“Tiga perkara di mana sesiapa mempunyainya, maka dengannya (tiga perkara tersebut) dia akan merasai kemanisan iman: Seseorang itu menjadikan Allah dan RasulNya sebagai yang paling dicintainya.. [Hadis Sahih]

Kemudian, Allah SWT juga menggandingkan ketaatan kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai ketaatan kepada Allah SWT. Firman-Nya:
“Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” [Surah al-Nisa': 80]

Isyarat lain daripada ayat ke-31 daripada Surah ali Imran ialah, cinta itu asas kepada ketaatan zahir, kerana kesempurnaan iman adalah pada kecintaan yang agung kepada Allah azza wa jalla dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

CIRI-CIRI MUNAFIK

Jika kita lihat hadis-hadis tentang ciri-ciri Munafiq dan Khawarij, ianya menceritakan tentang ketaatan zahir yang baik, tetapi hati mereka tidak ada cinta, bahkan ada semarak kebencian pula. Ini menunjukkan, jika sudut ketaatan zahir perlu dipertingkatkan, apatah lagi perhubungan hati yang batin, yang menjadi asas kepada kesempurnaan iman.

Dalam bab ketaatan zahir, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahawa, lakukan semampu kita, terutamanya dalam perkara-perkara sunat dan kelebihan. Namun, tiada kompromi dalam bab kecintaaan, sehingga Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan SAidina Umar RA ketika mengatakan dirinya masih lebih dicintai berbanding Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam: “belum lagi wahai Umar…”.

ALLAH MEMULIAKAN RASULULLAH

Bagaimana Allah SWT Memuliakan Kekasih-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam?

Antara jalan untuk menyemarakkan dan menyuburkan kecintaan kita kepada Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, yang mana kecintaan kepada Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam adalah jalan menuju cinta kepada Allah azza wa jalla, adalah: menghayati bagaimana Allah azza wa jalla mencintai dan memposisikan Kekasih-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam. Daripada itulah, kita akan semakin menuju kepada keindahan cinta kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu cinta kepada Allah azza wa jalla.

Terlalu banyak bukti dan penzahiran kecintaan Allah azza wa jalla kepada SAidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, menunjukkan kedudukan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam itu sendiri, di dalam al-Qur’an, selain dalam lipatan Sirah Nabawiyyah. Jika Allah azza wa jalla sendiri telah memuji dan mengagungkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di tempat yang teragung secara maknawi, iaitu dalam al-Qur’an, maka tiada siapa yang dapat mengagungkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam lebih daripada pengagungan Allah azza wa jalla. Bahkan, semua orang yang faham hakikat ini, mengagungkan dan memuliakan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kerana mengikut Allah azza wa jalla.

TUDUHAN SYIRIK

Daripada kefahaman ini, tidak mungkin timbulnya pensyirikan terhadap Allah azza wajalla dengan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, kerana penagungan kita terhadap Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam adalah kerana Allah azza wa jalla, dan kerana kehambaan kita kepada Allah azza wa jalla.

Antara pengagungan terhadap Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan Kami telah meninggikan bagimu: sebutan namamu?” [Surah al-Syarh: 4]

Apakah antara maksud, Kami (iaitu Allah azza wa jalla) ingin meninggikan bagimu sebutan namamu? Antaranya sebagaimana disebut oleh para ulama’ dan salaf.

Dalam satu riwayat, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalllam bersabda;Jibril AS datang kepadaku dan berkata: “Sesungguhnya Tuhanku dan Tuhanmu berfirman: “Kamu tahu bagaimana Aku mengangkat sebutanmu?” Lalu saya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?” Maka, Allah menjawab: “Jika Aku disebut kamu disebut berserta-Ku.” [Kitab Al-Syifa oleh al-Qadhi ‘Iyadh, m/s: 124]

GANDINGAN NAMA ALLAH – RASULULLAH

Di manakah diangkat sebutan nama Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam yang digandingkan dengan nama Allah Azza wa jalla? Sudah tentu, antaranya adalah dalam kalimah syahadah. Bahkan, kalimah Allah Muhammad (shollallahu ‘alaihi wasallam) diletakkan di tempat teragung.

Al-Imam al-Hakim meriwayatkan kisah taubat Nabi Adam AS dalam kitab al-Mustadrak:

لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيئَةَ قَالَ : يَا رَبِّ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لَمَا غَفَرْتَ لِي ، فَقَالَ اللَّهُ : يَا آدَمُ ، وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقْهُ ؟ قَالَ : يَا رَبِّ ، لِأَنَّكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيَدِكَ وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوحِكَ رَفَعْتُ رَأْسِي فَرَأَيْتُ عَلَىَ قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوبًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَعَلِمْتُ أَنَّكَ لَمْ تُضِفْ إِلَى اسْمِكَ إِلَّا أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَيْكَ ، فَقَالَ اللَّهُ : صَدَقْتَ يَا آدَمُ ، إِنَّهُ لَأُحِبُّ الْخَلْقِ إِلَيَّ ادْعُنِي بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ

Maksudnya: Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan maka baginda berkata: “Wahai Tuhan. Saya meminta dengan hak Muhammad, tidakkah Engkau mengampuni daku. Lalu, Allah U berfirman: “Wahai Adam, bagaimana kamu mengetahui Muhammad sedangkan Aku belum menciptakannya?” Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhan. Demikian kerana, ketika kamu menciptakanku dengan yadd kekuasaan-Mu, lalu Engkau meniup padaku daripada roh-Mu, maka aku mengangkat kepalaku dan melihat pada tiang-tiang Arasy tertulis tiada tuhan melainkan Allah, Muhammad ialah pesuruh Allah. Maka saya mengetahui bahawa Engkau tidak menisbahkan kepada nama-Mu melainkan kepada makhluk yang Engkau paling sayang. Maka, Allah berfirman: “Benar wahai Adam. Sesungguhnya baginda ialah makhluk yang paling disayangi di sisi-Ku. Doalah dengan hak baginda, sesungguhnya Aku telah mengampunimu. Maka jika bukan kerana Muhammad, Aku tidak menciptakan engkau.

Bukan sekadar itu, bahkan terus disebut nama Saidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam digandingkan dengan nama-Nya yang Maha Agung pada setiap zaman, maka setiap para rasul diambil janji untuk membela Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, jika Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam hadir dalam kehidupan mereka, maka mereka perlu membela Nabi MUhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Allah azza wa jalla berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian setia dari Nabi-nabi (dengan firmanNya): “Sesungguhnya apa jua Kitab dan hikmah yang Aku berikan kepada kamu, kemudian datang pula kepada kamu seorang Rasul yang mengesahkan apa yang ada pada kamu, hendaklah kamu beriman sungguh-sungguh kepadaNya, dan hendaklah kamu bersungguh-sungguh menolongnya”. Allah berfirman lagi (bertanya kepada mereka): “Sudahkah kamu mengakui dan sudahkah kamu menerima akan ikatan janjiKu secara yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami berikrar (mengakui dan menerimanya)”. Allah berfirman lagi: “Jika demikian, maka saksikanlah kamu, dan Aku juga menjadi saksi bersama-sama kamu.” (Surah Ali Imran: 81)

Al-Imam al-Qusyairi menyebut dalam Latho’if al-Isyarat:
Allah mengambil perjanjian terhadap Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam ke atas seluruh para nabi ‘alaihi salam, sebagaimana Allah azza wa jalla mengambil janji daripada mereka terhadap pengakuan tentang ketuhanan-Nya. Ia merupakan kemuncak penghormatan kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Nama Baginda shollallahu ‘alaihi wasallam telah digandingkan dengan nama diri-Nya, lalu Dia menetapkan keagungan Baginda sebagaimana Allah menetapkan keagungan buat diri-Nya. Maka Baginda shollallahu ‘alaihi wasallam teristimewa dalam martabat ketinggian ini, lalu Allah azza wa jalla mempermudahkan seluruh makhluk untuk mengenal keagungan Baginda shollallahu alaihi wasalladengan menzahirkan mukjizat-mukjizat ke atas Baginda shollallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian adalah sedikit contoh daripada pengagungan Allah azza wa jalla kepada Saidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, masih banyak lagi ayat-ayat dalam al-Qur’an khususnya, mengangkat kedudukan Saidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, yang wajar kita hayati juga, dalam rangka menuju cinta teragung. Dengan mengenal siapakah Saidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, ianya sangat membantu untuk meningkatkan kecintaan kita kepada Saidina Muhammad al-Mustofa shollallahu ‘alaihi wasallam. Masih banyak yang perlu dilakukan untuk memupuk kecintaan tertinggi ini dalam masyarakat akhir zaman ini, saat manusia tenggelam dalam ‘gelora syahwat, cinta berasaskan kebendaan dan pentingkan diri sendiri.

CONTOH CINTA AL-SALAF

Contoh-contoh cinta al-Salaf kepada Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam

1) Abu Sufyan pernah menyebut
ما رأيت من الناس أحدا يحب أحدا كحب أصحاب محمد محمدا

Maksudnya: “Aku tidak pernah melihat dari kalangan manusia seseorang yang mengasihi seseorang lebih daripada kecintaan para sahabat Muhammad (shollallahu ‘alaihi wasallam) kepada Muhammad (shollallahu ‘alahi wasallam).

2) Abdah binti Khalid berkata
ما كان خالد يأوي إلى فراش إلا وهو يذكر من شوقه إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم و إلى أصحابه من المهاجرين و الأنصار يسميهم و يقول : هم أصلي و فصلي و إليهم يحن قلبي طال شوقي إليهم فعجل ربي قبضي إليك حتى يغلبه النوم

Tiadalah Khalid (bapanya) meletakkan kepalanya di atas katilnya melainkan dia akan mengungkapkan kerinduannya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat Baginda dari kalangan Muhajirin dan Ansor. Beliau akan menyebut nama-nama mereka seraya berkata: “Mereka itu adalah sumberku dan pemisahku (rasa kehilangan setelah kematian mereka). Kepada mereka hatiku merintih kerinduan yang sangat lama. Wahai Tuhan, segerakan kematianku agar dapat aku bertemu dengan mereka. Sehinggalah beliau tertidur. [Al-Hilyah oleh Imam Abu Nu'aim (5/210) dan Tarikh Dimasyq (15/199)]

3) Al-Qadhi Iya’ meriwayatkan dalam kitab As-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Mustofa (jilid 2 no: 92):
ولما احتضر بلال – رضي الله عنه – نادت امرأته : واحزناه ! فقال : واطرباه ! غدا ألقى الأحبه ، محمدا ، وحزبه .
Maksudnya: Ketika Saidina Bilal r.a. dalam keadaan nazak, isterinya menyebut: “Alangkah sedihnya”. Lalu, Saidina Bilal r.a. menjawab: “Bahkan alangkah gembiranya. Esok bertemu dengan para kekasih. Muhammad (shollallahu ‘alaihi wasallam) dan para pengikut Baginda (shollallahu ‘alaihi wasalam)

4) Begitu juga para tabi’in dan generasi setelah itu sangat merindui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Mus’ab bin Abdillah berkata:
كان مالك إذا ذكر النبي صلى الله عليه و سلم يتغير لونه و ينحني حتى يصعب ذلك على جلسائه فقيل له يوما في ذلك فقال لو رأيتم ما رأيت لما أنكرتم علي ما ترون و لقد كنت أرى محمد بن المنكدر وكان سيد القراء لا نكاد نسأله عن حديث أبدا إلا يبكي حتى نرحمه

Maksudnya: Apabila disebut tentang Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, maka wajah Imam Malik akan terus berubah dan akan tertunduk lama hingga merisaukan para muridnya yang sedang duduk di sampingnya. Suatu hari apabila ditanyakan hal demikian kepadanya, lalu beliau pun menjawab: Jika kamu dapat lihat seperti mana yang aku telah lihat, nescaya kamu tidak akan menyalahkan perbuatanku. Aku pernah melihat Muhammad bin Al-Munkadir, beliau merupakan penghulu orang-orang soleh di zamannya, apabila kami bertanya tentang suatu hadis, dengan serta merta beliau menangis berterusan hinggalah kami merasa kasihan melihatnya. [Rujuk Siyar A'laam An-Nubala']

5) Diriwayatkan suatu kisah oleh Al-Qadhi Iyad dalam As-Syifa:

ويروى أن امرأة قالت لعائشة – رضي الله عنها – : اكشفي لي قبر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، فكشفته لها ، فبكت حتى ماتت .

Maksudnya: Diriwayatkan pada suatu ketika, seorang perempuan berkata kepada Saidatina ‘Aishah r.a.: “Singkapkan kepadaku kubur Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam”. Lalu, SAidatina ‘Aishah menyingkapnya untuk perempuan tersebut. Lalu, perempuan itu menangis sehingga meninggal dunia.

MULAKAN MELANGKAH…

Demikian adalah contoh kecintaan, bahkan masih banyak lagi contoh-contoh kecintaan salaf soleh, sebuah generasi yang hampir dengan kesan-kesan peninggalan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang hidup, iaitulah para sahabat RA. Sudah tentulah, suasana kehidupan masyarakat yang hampir dengan zaman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mempunyai keistimewaan tersendiri dan kekuatan yang lebih dalam menyemarakkan cinta kepada Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan, memandang kepada salah seorang sahabat yang pernah memandang kepada Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sahaja justeru dapat menambah kerinduan kepada Saidina Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana tidak, jiwa insan yang mempunyai cebisan cinta kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, apabila berada dalam al-Masjid al-Nabawi, mampu mengalirkan air mata kerinduan, hanya memandang ke arah persekitaran masjid yang berkait rapat dengan Saidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, termasuklah memandang Kubbah yang Hijau.

Maka, generasi salaf mempunyai kekuatan tersendiri dalam memupuk kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam, kerana masih hampir dengan zaman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Namun, semakin jauh sesuatu generasi, ditambahi dengan seribu satu kepincangan yang berkembang dalam masyarakat, membuatkan idea mencintai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam melebihi diri sendiri adalah suatu idea yang ‘tidak tahu bagaimana untuk dipraktikkan’ (atau kelihatan idealistik). Ramai orang yang membicarakan mengenainya sendiri hampir-hampir tidak mampu melakukannya dengan baik, bagaimana pula dengan si pendengar dan masyarakat awam?

Ia ialah suatu jalan yang panjang sedang destinasinya masih jauh, perjalanan memartabatkan cinta Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam. Dari mana sahaja dimulakan langkah, ia tidak akan memisahkan antara cinta Allah azza wa jalla yang menjadi usul, dengan cinta Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan cabangnya. Tidak ada ketauhidan yang mempersepsikan dua keserasian cinta ini dengan persepsi serong, sedangkan asalnya sudah jelas iaitu antara usul dan cabangnya, bukan suatu penyekutuan atau kesetaraan.

Semarakkan cinta kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menenggelamkan semarak cinta kepada Allah, melainkan di sisi mereka yang tidak pernah sampai kepada hakikat cinta kepada kedua-duanya sebagai cinta teragung. Ini kerana para sahabat RA tidak pernah mempertikaikan zauq (rasa) para sahabat RA yang lain dalam kecintaan kepada SAidina Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang mendalam.

MUlakan usaha dari apa sahaja sudut, asalkan ianya dapat menyemai benih cinta Allah azza wa jalla dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, agar seterusnya dapat menjadi pohon kecintaan tertinggi, yang mengatasi segala kecenderungan hati. Tidak pernah bertembung antara usaha menyemai cinta dengan usaha menyemai ketaatan zahir, kerana kedua-dunya diperlukan dalam masyarakat. Daripada mengkritik usaha sesetengah pihak yang melakukan sesuatu dari suatu sudut, lebih baik kita sempurnakan usaha mereka dengan melakukan usaha juga dari sudut yang lain.

Majlis-majlis maulid, qasidah, marhaban dan sebagainya, sejak ianya timbul dalam masyarakat, yang mana ianya dipimpin oleh para ulama’ dari serata dunia, sejak beratus-ratus tahun, menunjukkan di samping ianya mempunyai sandaran syarak, ianya juga mempunyai kepentingannya dalam masyarakat Islam.

Ia kalaupun kelihatan baharu di Malaysia, (sedangkan sebenarnya tidak), kerana nampak dilakukan secara besar-besaran, namun ia masih tidak cukup sebenarnya, untuk melawan arus cinta duniawi, kebendaan dan syahwat yang telah lama dikembangkan dalam masyarakat kita.

Namun, perkembangannya sedikit sebanyak sedang menyaingi arus negatif dalam masyarakat, yang mana kita harapkan akhirnya dapat memberi kesan yang lebih besar, terutamanya pada aspek kecintaan kepada Allah azza wa jalla dan Rasulullah shollalalhu ‘alaihi wasallam. Ia sesuai dengan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam:

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

Maksudnya: “Antara orang yang paling mencintaiku dari kalangan umatku yang akan lahir setelahku adalah, salah seorang daripada mereka sangat mengharapkan untuk melihatku (walaupun) dengan keluarganya dan hartanya (sebagai harganya). Hadis riwayat Imam Muslim dan sebagainya dengan lafaz yang berbeza-beza.

Dalam riwayat Al-Hakim, daripada Saidina Abu Hurairah r.a., Rasulullah r bersabda:

إِنَّ أُنَاسًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ بَعْدِي ، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوِ اشْتَرَى رُؤْيَتِي بِأَهْلِهِ ، وَمَالِهِ “

Maksudnya: Sesungguhnya ada golongan manusia dari kalangan umatku yang akan lahir setelahku, yang mana salah seorang daripada mereka sangat inginkan jika dapat membeli “penyaksianku” (melihat Rasulullah r) dengan ahli keluarganya dan hartanya.” [Imam Al-Hakim t mensahihkannya.]

Masa semakin suntuk sedang tanggungjawab masih banyak yang perlu dilaksanakan. Untuk membangunkan sesebuah kebaikan itu sangat susah sedangkan untuk merobohkannya begitu mudah. Binaan dakwah dan islah dalam masyarakat masih di bawah tahap yang sepatutnya, mengapa perlu dirosakkan pula apa yang sudah dibina. Kita boleh bersama-sama dalam sebarang usaha kebaikan samada pada lapangan yang sama mahpun yang berbeza, mengikut kemampuan, keutamaan dan keperluan. Semoga Allah azza wa jalla membantu umat Islam menuju ke arah cinta yang tertinggi, sesuai dengan tanggungjawab murni kehambaan mereka. Amiin.

Menjawab Syubhat Kaedah “ Jika ia perkara baik maka golongan sahabat akan mendahului kita melakukannya “.
30/03/2014605 viewer | Posted by aswj-rg.com
Share Button

Pin It
Slide1

Sering kali kaum anti bid’ah hasanah berhujjah dengan ungkapan :

وأما أهل السنة والجماعة فيقولون قي كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة رضي الله عنهم هو بدعة لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه، لأنهم لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا وقد بادروا إليها

“ Adapun ahli sunnah wal jamaah, mereka berkata pada setiap perbuatan dan perkataan yang tidak sabit dari sahabat (semoga Allah redhai mereka) adalah bidaah kerana jika ia baik sudah pasti mereka mendahului kita dalam melakukannya kerana mereka tidak meninggalkan satu jenis pun dari jenis-jenis perbuatan baik melainkan mereka akan bersegera melakukannya.” (Tafsir Ibn Kathir, jld. 4, hlm. 190)

Mereka berargumentasi bahwa segala perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan ulama salaf, maka perbuatan itu dianggap bid’ah dholalah.[1] Lebih jelas sebelumnya Ibnu Taimiyyah (w 728 H) juga telah mengatakan :

فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضي له ، وعدم المانع فيه لو كان خيراً ، ولو كان خيراً محضاً أو راجحاً لكان السلف – رضي الله عنهم- أحق به منا فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيماً له منا ،وهم على الخير أحرص

“ Perayaan seperti ini seandainya baik belum pernah dilakukan oleh para salaf, meski ada peluang untuk melakukannya dan tidak ada penghalang tertentu bagi mereka untuk melakukannya. Seandainya perayaan itu murni kebabaikan atau unggul, tentu para salaf lebih berhak melakukannya daripada kita, karena mereka adalah orang-orang yang jauh lebih cinta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan lebih mengagungkannya. Mereka lebih tamak kepada kebaikan…”[2]

Jawaban :

Sebenarnya argumentasi mereka telah terbantahkan oleh para ulama besar Ahlus Sunnah sebelumnya di antaranya Imam al-Qurthubi (w 671 H) mengatakan :

كل بدعة صدرت من مخلوق فلا يخلو أن يكون لها أصل في الشرع أولا، فإن كان لها أصل كانت واقعة تحت عموم ما ندب الله إليه وخص رسوله عليه، فهي في حيز المدح وإن لم يكن مثاله موجودا كنوع من الجود والسخاء وفعل المعروف، فهذا فعله من الافعال المحمودة، وإن لم يكن الفاعل قد سبق إليه

“ Setiap bid’ah yang dating dari makhluk, maka tidak terlepas dari dua perkara yakni adakalanya memiliki asal dalam syare’at atau tidak ada asalnya. Jika memiliki asal dalam syare’at, maka masuk dalam keumuman apa yang Allah dan Rasul-Nya anjurkan, perkara ini masuk pujian (baik), walaupun belum ada contoh sebelumnya semisal merk (macam/jenis) dari sifat kedermawanan, kemurahan dan pebuatan ma’ruf, maka ini semua ini jika dilakukan adalah termasuk perbuatan terpuji, meskipun belum ada contoh orang yang melakukannya sebelumnya…”[3]

Imam al-Qurthubi telah membuat rumusan sebagaimana rumusan mayoritas ulama Ahlus sunnah wal Jama’ah yakni :

1. Segala perkara baru (bid’ah) itu ada yang berdasarkan ushul dalam syare’at dan ada yang tidak.

2. Perkara baru yang berlandaskan ushul, maka masuk pada keumuman apa yang telah dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan ini perkara baru yang terpuji, meskipun belum ada contoh orang yang melakukannya sebelumnya.

Jelas hujjah imam al-Qurthubi ini mematahkan argumentasi Ibnu Katsir dan Ibnu Taimiyyah di atas.

Lebih tegas lagi imam asy-Syafi’i mengatakan :

كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف

“ Setiap perkara yang memiliki landasan dari syare’atnya, maka bukanlah bid’ah walaupun tidak dilakukan oleh ulama salaf “.[4]

Kaidah-kaidah mulia yang telah ditetapkan oleh mayoritas ulama ini, telah bersesuaian dengan dalil-dalil al-Quran dan Hadits. Dan sebaliknya kaidah yang diciptakan Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya tidak sesuai dengan al-Quran dan Hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana akan kami jelaskan dan uraikan..

Dalil al-Quran dan Sunnah :

Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman :

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

“ Apa yang Rasulullah bawa kepadamu, maka ambillah dan apa yang Rasulullah larang kepadamu maka berhentilah “.

Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan “ dan apa yang Rasulullah tidak lakukan, maka jangan kamu lakukan “

Maka dalam ayat ini jelas menunjukkan bahwasanya apa yang Nabi tinggalkan dan tidak dilakukan, bukan menjadi dalil pengharaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم وما نهيتكم عنه فاجتنبوه

“ Apa yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah semampumu, dan apa yang aku larang padamu maka jauhilah “ (HR. Bukhari & Muslim )

Nabi tidak mengatakan, “ Apa yang aku tinggalkan atau apa yang aku tidak lakukan, maka jauhilah “, ini jelas menunjukkan bahwasanya semata-mata tidak dilakukan oleh Nabi bukan berfaedah menjadi hukum pelarangan atau pengharaman.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

ما أحل الله في كتابه فهو حلال، وما حرم فهو حرام، وما سكت عنه فهو عفو، فاقبلوا من الله عافيته، فإن الله لم يكن لينسى شيئاً. وتلا: وما كان ربك نسيا

“ Apa yang Allah halalkan di dalam kitab-Nya, maka itu halal, dan apa yang Allah haramkan maka itu haram, dan apa yang Allah tidak jelaskan, maka itu dimaafkan (diringankan), maka terimalah keringan itu dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak melupakan sesuatu pun dan Nabi membaca ayat, “ Dan tidaklah Tuhanmu itu pelupa “. (Hadits ini ditakhrij oleh ad-Daruquthni dan al-Bazzar, dan disahihkan oleh al-Hakim juga oleh adz-Dzahabi. Ibnu Hajar al-Haitsami juga telah menyebutkan di dalam Majma’ az-Zawaid dan berkata , “ Para perawinya tsiqah “)

Disebutkan dalam Sahih al-Bukhari :

أشار سيدنا عمر ابن الخطاب رضي الله عنه على سيدنا أبو بكر الصديق رضي الله عنه بجمع القرآن في صحف حين كثر القتل بين الصحابة في وقعة اليمامة فتوقف أبو بكر وقال:” كيف نفعل شيئا لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم؟” فقال له عمر:” هو والله خير.” فلم يزل عمر يراجعه حتى شرح الله صدره له وبعث إلى زيد ابن ثابت رضي الله عنه فكلفه بتتبع القرآن وجمعه قال زيد:” فوالله لو كلفوني نقل جبل من الجبال ما كان أثقل علي مما كلفني به من جمع القرآن.” قال زيد:” كيف تفعلون شيئا لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم.” قال:” هو والله خير” فلم يزل أبو بكر يراجعني حتى شرح الله صدري للذي شرح له صدر أبي بكر وعمر رضي الله عنهما

“ Umar bin Khaththab memberi isyarat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf ketika melihat banyak sahabat penghafal quran telah gugur dalam perang yamamah. Tapi Abu Bakar diam dan berkata “ Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Maka Umar menjawab “ Demi Allah itu suatu hal yang baik “. Beliau selalu mengulangi hal itu hingga Allah melapangkan dadanya. Kmudian Abu bakar memrintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan Al-Quran, maka Zaid berkata “ Demi Allah aku telah terbebani untuk memindah gunjung ke satu gunung lainnya, bagaimana aku melakukan suatu hal yang Rasul Saw tdiak melakukannya ?” maka Abu bakar menjawab “ Demi Allah itu suatu hal yang baik “. Abu bakar trus mngulangi hal itu hingga Allah melapangkan dadaku sbgaimana Allah telah melapangkan dada Umar dan Abu Bakar “.

Coba perhatikan ucapan Abu Bakar dan Zaid : “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?”, ini menunjukkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan semua hal yang baik, sehingga merka mengatakan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya, namun bukan berarti itu buruk. Perhatikan kembali pengakuan Umar dan Abu Bakar “ Demi Allah ini suatu hal yang baik “, Ini menunjukkan bahwa tidak semua yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lakukan itu buruk.

Para ulama salaf pun mengakui bahwa apa yang tidak pernah dilakukan sahabat, tidaklah selalu bid’ah yang sesat. Imam Malik pernah ditanya tentang qunut witir, dan beliau pun mengatakan bahwa itu tidak pernah dilakukan sahabat akan tetapi itu baik :

روي محمد بن يحيى عن مالك في المدونة انه قال عن قنوت الوتر : انه لحسن وهو محدث لم يكن في زمن ابي بكر وعمر وعثمان

“ Muhammad bin Yahya meriwayatkan dari Malik dalam al-Mudawwanah Sesungguhnya imam Malik mengatakan tentang qunut witir : “ Bahwasanya qunut witir itu baik dan itu adalah muhdats (perkara baru) yang tidak ada pada masa Abu Bakar, Umar dan Utsman “.[5]

Imam asy-Syafi’i melafazkan Niat sholat padahal Nabi dan sahabat tidak pernah melakukannya :

أخبرنا ابن خزيمة ، ثنا الربيع قال : « كان الشافعي إذا أراد أن يدخل في الصلاة قال : بسم الله ، موجها لبيت الله مؤديا لفرض الله عز وجل الله أكبر »

“Mengabarkan kepadaku Ibnu Khuzaimah, mengabarkan kepadaku Ar-Rabi’, ia berkata :” Imam Syafi’i ketika akan masuk dalam Shalat beliau mengucapkan : “Bismillah Aku menghadap ke Baitullah, menunaikkan kewajiban kepada Allah. Allahu Akbar.”[6]

Urwah bin Zubair ketika hendak makan selalu mengucapkan :

سبحانك ما احسن ما تبتلينا سبحانك ما احسن ما تعطينا ربنا ورب آبائنا الاولين

“ Maha suci Engkau, alangkah baiknya apa yang telah Engkau uji pada kami, dan alangkah baiknya apa yang telah Engkau berikan p ada kami wahai Tuhan kami Tuhan para datuk kami yang awal “.[7]

Doa ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Ma’ruf al-Kurkhi melazimkan shalat setiap hari sabtu 100 roka’at, dan di setiap roka’atnya membaca surat al-Ikhlash 10 kali.[8] Penentuan-penentuan hari dan bacaan dalam ibadah semacam ini, tidak pernah dilakukan Nabi dan para sahabatnya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh kasus lainnya.

Para ulama Ushul Fiqih mendefinisikan sunnah Nabi dengan perbuatan, ucapan dan persetujuan Nabi dan tidak memasukkan at-Tark (meninggalkannya Nabi atas suatu perkara), karena at-Tark bukanlah suatu dalil. Dan para ulama Ushul Fiqih pun menjadikan dalil-dalil hukum yang dijadikan sebagai hujjah adalah; al-Quran, as-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qiyas, dan mereka berbeza pendapat tentang Hadits Mursal, Ucapan Sahabat, dan bahkan di Antara mereka ada yang memasukkan al-Istishhab, al-istihsan, ‘amal ahlul Madinah (perbuatan penduduk Madinah) dan Sadd adz-Dzaraa’i (menutup perantara). Dan tak ada satupun ulama memasukkan at-Tark, ini menunjukkan bahwa at-Tark bukanlah sebuah dalil dan sumber di dalam penerapan hukum.

Kemudian at-Tark ini masih mengandung beberapa kemungkinan yang pengharaman tidak masuk di dalamnya, sedangkan kita tahu ada suatu kaidah yang sudah masyhur yaitu :” Sesuatu yang masih ada kemungkinan-kemungkinannya, maka gugur untuk dijadikan sebagai dalil “.

Sayyiduna Umar bin Khaththab pernah melarang sesuatu dengan alasan Nabi tidak pernah melakukannya, namun setelah beliau tahu hal itu salah, maka beliau segera merujuk (menarik kembali) ucapannya itu, perhatikan riwayat berikut ini :

وأخرج سعيد بن منصور وأبو يعلى بسند جيد عن مسروق قال: ركب عمر بن الخطاب المنبر ثم قال: أيها الناس ما إكثاركم في صداق النساء وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه وإنما الصدقات فيما بينهم أربعمائة درهم فما دون ذلك ولو كان الإكثار في ذلك تقوى عند الله أو مكرمة لم تسبقوهم إليها فلا أعرفن ما زاد رجل في صداق امرأة على أربعمائة درهم. ثم نزل فاعترضه امرأة من قريش فقالت له: يا أمير المؤمنين نهيت الناس أن يزيدوا النساء في صدقاتهن على أربعمائة درهم؟ قال: نعم. فقالت: أما سمعت ما أنزل الله يقول {وآتيتم إحداهن قنطاراً}؟ فقال: اللهم غفرانك. كل الناس أفقه من عمر. ثم رجع فركب المنبر فقال: يا أيها الناس إني كنت نهيتكم أن تزيدوا النساء في صدقاتهن على أربعمائة درهم فمن شاء أن يعطي من ماله ما أحب

“ Dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Abu Ya’la dengan sanad yang jayyid dari Masruq, ia berkata, “ Umar bin Khaththab suatu hari menaiki mimbar kemudian berkata, “ Wahai manusia, kenapa kalian memberikan mahar kepada wanita begitu banyak ? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hanya memberikan 400 dirham dan di bawahnya. Kalau seandainya melebihi itu adalah sebuah ketaqwaan atau kemuliaan di sisi Allah, kenapa kalian mendahului mereka atas hal ini ?, aku sungguh tidak mengetahui melebihi mahar wanita dari 400 dirham “. Kemudian beliau turun dan ditegor oleh seorang wanita dari Quraisy dengan berkata, “ Wahai Amirul mukminin, apakah kamu melarang manusia untuk melebihi 400 dirham dari mahar wanita ? beliau menjawab “ Ya “, lalu wanita itu berkata, “ Apakah kamu tidak pernah mendengar firman Allah Ta’aala : “ Dan kalian memberikan salah satu wanita itu dengan sejumlah qinthar (jumlah yang sangat banyak) “. Maka Umar bin Khaththab mengatakan, “ Ya Allah ampunilah aku. Semua manusia lebih paham daripada Umar “. Kemudian beliau kembali dan menaiki mimbar kemudian berkata, “ Wahai manusia, sebelumnya aku telah melarang kalian memberikan kepada wanita tidak lebih dari 400 dirham, maka barangsiapa yang berkehendak memberikan hartanya semaunya kepada wanita, maka lakukanlah “.[9]

Perhatikan kisah sayyidina Umar tersebut, beliau melarang dengan berhujjah bahwa Nabi dan para sahabat lainnya tidak pernah melakukan, akan tetapi ketika beliau diberitahukan bahwa hal itu salah, maka beliau segera merujuk ucapan sekaligus hujjahnya tersebut. Karena jelas, melarang atau mengharamkan sesuatu dengan berdalil atau berhujjah dengan hanya melihat Nabi dan sahabatnya tidak melakukan, tidaklah sah, akan tetapi wajib melihat nash terlebih dahulu, apakah ada nash yang melarangnya atau pun yang membolehkannya. Sepatutnyalah mereka yang menolak eksistensi bid’ah hasanah, merujuk kembali hujjah mereka, karena mereka tidak lebih mulia dari sayyidina Umar bin Khaththab yang dijuluki dengan al-Faruuq yakni seseorang yang mampu memezakan Antara yang Haq dan yang Bathil.

Adapun alasan Ibnu Taimiyyah yang mengatakan bahwa jika itu kebaikan sudah pasti dahulu sahabat akan melakukannya karena mereka paling semengat atas semua kebaikan.

Maka kami jawab, bahwa alasan ini tidak tepat sama sekali, karena tidak semua kebaikan terwujud dengan inovasi lainnya saat itu, dan hal ini bukan suatu kelaziman. Karena terkadang suatu amalan yang tidak dilakukan oleh sahabat pada masa itu lebih afdhal, akan tetapi terkadang pada masa sekarang ini melakukannya lebih afdhal. Berikut bukti-buktinya :

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melarang wanita pergi ke masjid, beliau bersabda :

لا تمنعوا النساء من الخروج إلى المساجد

“ Jangan kalian larang para wanita untuk keluar menuju masjid “. (HR. Muslim). Akan tetapi ternyata pada masa sayyidah Aisyah Radhiallahu ‘anhu keadaannya malah berbalik, sehingga beliau berkata :

لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء لمنعهن المسجد كما منعت نساء بني إسرائيل

“ Seandainya Rasulullallahu ‘alaihi wa sallam melihat apa yang terjadi pada kaum wanita, sungguh beliau akan melarang wanita mendatangi masjid, sebagaimana telah dilarang wanita-wanita Bani Israil “. (HR. Muslim)

Ini membuktikan bahwa kebaikan tidak perginya wanita ke masjid, tidak afdhal di masa Nabi, dan menjadi lebih afdhal di masa sayyidah Aisyah. Demikian juga kasus pengumpulan al-Quran menjadi satu mushaf, di masa Nabi hal ini tidak terpikirkan dan bahkan Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit sempat menolak dengan alasan Nabi tidak pernah melakukannya, akan tetapi setelah Allah melapangkan dada mereka, maka Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit menerima perkara baru yang baik ini. Tidak perginya wanita ke masjid dan pengumpulan al-Quran, merupakan kebaikan yang tidak pernah dilakukan Nabi, akan tetapi hal ini tetap dilakukan karena jelas bahwa tidak melakukannya Nabi atau sahabat bukanlah dalil pelarangan atau pengharaman atas suatu perkara.

Kasus Ibnu Baz :

Ketika Ibn Baz ditanya tentang bagaimana hukum berdoa khatam al-Quran di dalam sholat, oleh Ibn Baz dijawab :

وكان أنس رضي الله عنه إذا أكمل القرآن جمع أهله ودعا رضي الله عنه في خارج الصلاة، أما في الصلاة فلا أحفظ عنه شيئاً في ذلك ولا عن غيره من الصحابة لكن ما دام يفعله في خارج الصلاة، فهكذا في الصلاة، لأن الدعاء مشروع في الصلاة وليس بأمر مستنكر. ولا أعلم عن السلف أن أحداً أنكر دعاء ختم القرآن من داخل الصلاة، كما أنني لا أعلم من أنكره خارج الصلاة، وهذا هو الذي يعتمد عليه أنه معلوم عند السلف وقد درج عليه أولهم وآخرهم، فمن قال: إنه منكر فعليه بالدليل

“ Konon Anas Radhiallahu ‘anhu jika telah menyempurnakan al-Quran beliau mengumpulkan keluarganya dan berdoa di luar sholat. Adapun di dalam sholat, maka aku tidak menghafal (tidak ingat) sedikit pun dari hal itu dan juga aku tidak mengetahui dari para sahabatnya, akan tetapi selama boleh dilakukannya di luar sholat, maka demikian juga boleh dilakukan di luar sholat. Karena doa itu disyare’atkan di dalam sholat dan bukanlah perkara yang diingkari. Dan aku pun tidak mengetahui seorang pun dari ulama salaf yang mengingkari doa khatam al-Quran di dalam sholat, sebagaimana aku tidak mengetahui seorang pun yang mengikarinya jika dilakukan di luar sholat. Inilah yang maklum yang dipegang bagi ulama salaf dan hal ini (berdoa khatam Quran di luar sholat) telah menjadi rutinan sejak awal hingga akhir salaf, maka barangsiapa yang mengingkarinya, wajib ia menampilkan dalilnya “.[10]

Coba perhatikan, Ibn Baz meyakini bahwa amalan berdoa khatam al-Quran di dalam sholat tidak pernah dilakukan oleh sahabat dan bahkan ulama salaf, maka seharusnya (sewajibnya) Ibn Baz mengatakan hal itu adalah bid’ah, karena jika membaca doa khatam al-Quran itu suatu kebaikan, sudah pasti para sahabat dan ulama salaf telah lebih dahulu melakukannya…inilah seharusnya yang mereka katakana, karena ini kaidah mereka. Tapi ternyata Ibn Baz membuat Qiyas dalam suatu ibadah dengan diperbolehkannya doa di luar sholat tanpa dalil satu pun. Bukankah semua ini mementang kaidah mereka sendiri ??

Jika acara Maulid Nabi dituntut dalil dari Nabi, sahabat dan ulama salaf, lalu kenapa perkara bid’ah di atas tidak dituntut dalil dari Nabi, sahabat dan ulama salaf ?? ke mana kaedah mereka ini “Jika ia perkara baik maka golongan sahabat akan mendahului kita melakukannya “?? Fa laa haula wa laa quwwata illaa billah….

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 30-03-2014

[1] Kaidah ini sering mereka lontarkan sama ada di dunia nyata ataupun di dunia maya, semisal di situs wahabi berikut : http://www.saidaforum.com/forums/showthread.php?p=71001 atau di : http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/rasulullah-tidak-pernah-mensunnahkan.html dan lainnya…

[2] Iqtidlaa Ash-Shiraathil-Mustaqiim : hal 619-620

[3] Tafisr al-Qurthubi : 2/84

[4] Dinukil dari kitab Husnu at-Tafahhum wa ad-Dark li mas-alah at-Tark, Abdullah al-Ghumari

[5] Al-Hawadits wa al-Bida’, ath-Thurthusyi : 48

[6] Al-Mu’jam, Ibnu Al-Muqri : 317

[7] Lihat kitab Muhsannaf Ibnu Abi Syaibah : 6/73

[8] Lihat kitab Thabaqat al-Hanabilah : 2/488

[9] Ad-Durr al-Mantsur, as-Suyuthi : 2/238

[10] Silakan cek di situs resminya : http://www.binbaz.org.sa/mat/4522

Posted by: Habib Ahmad | 1 April 2014

Menjawab Tuduhan Bidaah Qasidah Di Masjid

01/04/2014539 viewer | Posted by aswj-rg.com
Share Button

Pin It
Para pecinta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin hari semakin bertambah rasa rindu dan cinta mereka kepada beliau. Mereka semakin mengenal sosok makhluk yang diistimewakan oleh Allah Ta’alaa, mereka semakin mengetahui sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka semakin bersemangat untuk berusaha mengikuti langkah-langkah mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1476762_10201216862329647_2027166840_n

Ini semua tidak ada lain dan bukan adalah hasil perjuangan dakwah para ulama kita yang peduli kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang selalu menyeru umatnya kembali dalam manhaj nubuwwah, jalan yang lurus. Mereka berdakwah di setiap keadaan, di setiap tempat dengan berbagai macam sarana dakwah yang kreatif yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga kini. Salah satunya dengan membacakan sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah banyak terbukukan, baik dalam bentuk prosa maupun syair atau qasidah. Kemudian dibarengi dengan pemukulan rebana yang teratur dan seirama dengan lantunan qasidah-qasdiah yang berisikan pujian kepada Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam. Sehingga membuat hati yang hadir terharu mendengarnya, sedih atau susah mendengar perjuangan berat Nabi, sedih karena tidak mampu membalas jasa perjuangan Nabi, rindu karena ingin sekali berjumpa dengan Nabi walau hanya dalam mimpi.

Di saat kaum muslimin itu sedang penuh semangat dan rindu yang bergelora dalam majlis-majlis mauled mereka, ada sebagian orang kerdil yang mengusik program sarana dakwah tersebut, dengan tuduhan-tuduhan buruk dan tak pantas terlontarkan sebagai umat Islam. Mereka menuduh mauled bid’ah sesat, mereka mengatakan melantunkan qasdiah atau nasyid di dalam masjid itu bid’ah sesat, mereka mengatakan memukul rebana di dalam masjid itu haram dan bid’ah sesat. Berikut kami akan menjawab tuduhan-tuduhan keji mereka tersebut…

Masalah maulid telah kami bahas tuntas di artikel-artikel sebelumnya mulai isu tarikh kelahiran Nabi, sejarah peringatan Maulid, dan bantahan ilmiyyah lainnya yang terkait maulid.

Adapun isu membaca qasidah atau nasyid islami yang berisikan pujian kepada Nabi dan ungkapan rasa syukur kepada Allah di dalam masjid, maka kami jawab sebagai berikut :

Pertama, dari sisi dalil, membaca syair atau qasidah di dalam masjid bukan merupakan sesuatu yang dilarang oleh agama. Pada masa Rasulullah SAW, para sahabat juga membaca syair di masjid. Dalam sebuah hadits:

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانِ بْنِ ثاَبِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِيْ الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أنْشَدْتُ وَفِيْهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إلَى أبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أسَمِعْتَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ أجِبْ عَنِّيْ اَللّهُمَّ أيَّدْهُ بِرُوْحِ اْلقُدُسِ قَالَ اَللّهُمَّ نَعَمْ

“ Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, ‘aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu.’ Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya. ‘Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh al-Qudus.’ Abu Hurairah lalu menjawab, ‘Ya Allah, benar (aku telah medengarnya).’ ” (HR. Abu Dawud [4360] an-Nasa’i [709] dan Ahmad [20928]).

Mengomentari hadits ini, Syaikh Isma’il az-Zain menjelaskan adanya kebolehan melantunkan syair atau qasidah yang berisi puji-pujian, nasihat, pelajaran tata krama dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid.[1]

Kedua, dari sisi syiar dan penanaman akidah umat. Selain menambah syiar agama, sarana dakwah ini merupakan strategi yang sangat jitu untuk menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Karena di dalamnya terkandung beberapa pujian kepada Allah Ta’ala, pujian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dzikir dan nasihat.

Ketiga, dari aspek psikologis, lantunan syair atau qasidah yang indah itu dapat menambah semangat dan mengkondisikan suasana, kadang larut dalam keridnuan dan kecintaan kepada Allah dan Nabi hingga meneteskan air mata. Ini merupakan suatu hal yang baik dan bahkan dianjurkan dalam hal mengingat Allah dan Rasul-Nya.

Manfaat lain adalah, untuk mengobati rasa jemu (bosan) yang kadang muncul ketika duduk lama di dalam majlis. Dengan beberapa alasan inilah maka membaca qasidah pujian, nasehat, atau doa secara dilantunkan bersama-sama di masjid atau di mushalla adalah amaliah yang baik dan dianjurkan. Namun dengan satu catatan, tidak mengganggu orang yang sedang melaksanakan shalat. Tentu hal tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing masjid dan mushalla masing-masing. Faktanya pada saat acara, seluruh maysarakat mulai masyarakat setempat, pengurus dan takmir masjid juga para panitia atau pun masyarakat yang diundang, sudah sepakat dalam mengkondisikan suasana. Maka hal ini tidak akan menimbulkan gangguan kepada masyarakat setempat.

Hukum memukul rebana di dalam masjid:

Imam al-Ghazali mengatakan :

فهذه المقاييس والنصوص تدل على إباحة الغناء والرقص والضرب بالدف واللعب بالدرق والحراب والنظر إلى رقص الحبشة والزنوج في أوقات السرور كلها قياسا على يوم العيد فإنه وقت سرور وفي معناه يوم العرس والوليمة والعقيقة والختان ويوم القدوم من السفر وسائر أسباب الفرح وهو كل ما يجوز به الفرح شرعا ويجوز الفرح بزيارة الإخوان ولقائهم واجتماعهم في موضع واحد على طعام أو كلام فهو أيضا مظنه السماع

“ Segala qias (analogi) dan dalil-dalil tadi, menunjukkan kepada pembolehan menyanyi, menari, memukul genderang, bermain perisai dan lembing dan melihat tarian orang Habsyi dan orang hitam pada waktu-waktu kegembiraah, diqiaskan (di-analogi-kan) kepada hari lebaran. Karena hari lebaran itu adalah hari kegembiraan.

Dan yang searti dengan hari lebaran, ialah : hari perkawinan, hari pesta kawin (walimah), ‘aqiqah,. pengkhitanan, hari kedatangan dari perjalanan jauh (musafir) dan sebab-sebab kegembiraan yang lain. Yaitu : semua yang diperbolehkan kegembiraan pada Agama. Dan boleh bergembira dengan mengunjungi teman-teman, menjumpai dan berkumpul dengan mereka pada suatu tempat, untuk makan-makan atau bercakap-cakap. Maka itupun tempat dugaan boleh mendengarnya juga.”[2]

Beliau juga mengatakan :

العارض الثاني في الآلة بأن تكون من شعار أهل الشرب و المخنثين وهي المزامير والأوتار وطبل الكوبة، فهذه ثلاثة أنواع ممنوعة وما عدا ذلك يبقى على أصل الإباحة كالدف وإن كان فيه الجلاجل. وفي كتاب إتحاف السادة المتقين لمرتضى الزبيدي الفقيه المحدث الحافظ ما نصه: وما عدا ذلك يبقى على أصل الإباحة كالدف وإن كان فيه جلاجل

“ Sisi keadaan kedua dari alat as-Sima’ yang menyebabkan as-Sima’ itu haram yaitu alat atau perkakas itu menjadi simbul peminum khomr atau orang yang menyerupakan dirinya dengan wanita. Yaitu : serunai, rebab, dan genderang yang kecil tengahnya. inilah tiga macam pekakas yang terlarang. Dan selain dari itu, tetap pada hokum aslinya yakni diperbolehkan. Seperti : rebana, walaupun ada padanya genta “.[3]

Imam an-Nawawi dan ar-Rafi’I memperbolehkannya :

قال الشيخان، أي الرافعي والنووي رحمهما الله تعالى: حيث أبحنا الدف فهو فيما إذا لم يكن فيه جلاجل، فإن كانت فيه فالأصح حلّه أيضًا

“ Dua syaikh yakni ar-Rafi’I dan an-Nawawi rahimahumallah mengatakan, “ Sekiranya kami telah memperbolehkan rebana yakni yang tidak ada gentanya, tapi jika ada gentanya maka pendapat yang sahih pun juga membolehkannya “.[4]

وَفِيهِ إيمَاءٌ إلَى جَوَازِ ضَرْبِ الدُّفِّ فِي الْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ ذَلِكَ فَعَلَى تَسْلِيمِهِ يُقَاسُ بِهِ غَيْرُهُ وَأَمَّا نَقْلُ ذَلِكَ عَنْ السَّلَفِ فَقَدْ قَالَ الْوَلِيُّ أَبُو زُرْعَةَ فِي تَحْرِيرِهِ صَحَّ عَنْ الشَّيْخِ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَابْنِ دَقِيقِ الْعِيدِ وَهُمَا سَيِّدَا الْمُتَأَخِّرِينَ عِلْمًا وَوَرَعًا وَنَقَلَهُ بَعْضُهُمْ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَكَفَاكَ بِهِ وَرِعًا مُجْتَهِدًا

“ Hadits tersebut mengisyaratkan kebolehan memainkan rebana di masjid-masjid, dan diqiyaskan pula kebolehan memainkan rebana untuk acara-acara lainnya. Adapun penukilan hal itu dari ulam salaf, maka telah berkata seorang wali Abu Zur’ah dalam Tahrirnya bahwa itu sah dari syaikh Izzuddin bin Abdissalam dan Ibnu Daqiq al’Iid, dan keduanya adalah pemimpin ulama mutakhkhirin dalam segi keilmuan dan kewara’annya, sebagian mereka juga menukilnya dari syaikh Abu Ishaq asy-Syairazi rahimahullah, dan cukup dengannya seorang ulama yang wara’ dan mujtahid “.[5]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إن النبي صلى الله عليه وسلم جاءته امرأة يا رسول الله : إني نذرت إن رد الله ابني من السفر سالما أن أضرب على رأسك بالدف في المسجد وقد قدم ابني من السفر فقال لها أوفي بنذرك وضربت عليه الدف في المسجد

“ Sesungguhnya Nabi SAW didatangi oleh seorang wanita, dan berkata, “Ya Rasulallah.. seungguhnya saya bernadzar, bila Allah mengembalikan putraku dengan selamat dari perjalanan, maka saya akan memukulkan rebana diatas kepala anda didalam masjid, dan putra saya sekarang sudah kembali. Maka Rasulullah berkata padanya, “Laksanakanlah nadzarmu.” Dan perempuan itu lantas memukul rebana diatas Nabi SAW didalam masjid.”

Dari sinilah maka hukum memukul rebana di dalam masjid adalah boleh. Meskipun ada sebagian ulama yang mengharamkannya, maka tidak sedikit ulama lain yang alim dan wara’ yang membolehkannya sebagaimana telah kami sebutkan di atas. Maka silakan yang memilih fatwa haram untuk tidak melakukannya, namun jangan melarang kami yang melakukannya apalagi sampai menuduh kami telah berbuat bid’ah sesat. Karena ini hanyalah masalah fiqhiyyah yang masih ada ruang ijtihad di Antara ulama.

Qasidah syirik dan bid’ah.

Baru-baru ini ada di Antara mereka yang menuduh bacaan qasidah yang biasa dilantunkan jama’ah mauled yaitu “ Ya Hanana “ adalah syirik dan bid’ah. Jelas ini tuduhan yang tidak berdasar sama sekali yang timbul semata-mata dari hawa nafsu mereka saja.

Andai saja mereka bersifat bijak dengan membaca makna-makna bait dari qasidah tersebut, niscaya mereka akan malu dan tahu bahwa makna dari qasidah tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam bahkan sangat sesuai dengan dalil-dalil al-Quran dan Sunnah. Kita simak…

يَا هَنَانَا

“ Betapa Beruntungnya Kami “

ظَهَرَ الدِّينُ المُؤَيَّد بِظُهُورِالنَّبِى اَحمَد

“ Telah muncul agama yang didukung, dengan munculnya sang Nabi Ahmad “

يَا هَنَانَــــــــا بِمُحَمَّد ذَلِكَ الفَضلُ مِنَ الله

“ Betapa beruntungnya kami dengan Muhammad (Saw), itulah anugerah daripada Allah SWT “

يَا هَنَانَا

“ Betapa Beruntungnya Kami “

خُصَّ بِالسَّبعِ المَثَانِى وَحَوى لُطفَ المَعَأنِى

“ Diistimewakan dengan as-Sab’ul Matsany (al-Fatihah), penghimpun rahsia bagi setiap makna “

مَالَهُ فِى الخَلقِ ثَانِى وَعَلَيهِ اَنزَلَ الله

“ Tidak ada yang senilai dengannya, dan Allah mewahyukan kepadanya (Muhammad SAW) “

يَا هَنَانَا

“ Betapa Beruntungnya Kami”

مِن مَكَّةٍ لَمَّا ظَهَر لِاَجلِهِ انشَقَ القَمَر

“ Ketika di Makkah bulan tampak terbelah deminya (Muhammad SAW) “

وَافتخَرَت الُ مُضَر بِهِ عَلى كُلِّ الاَنَام

“ lalu kabilah Mudhar (kabilah Muhammad SAW) dibanggakan oleh seluruh manusia “.

يَاهَانَانَأ

“ Betapa beruntungnya kami “

اَطيَبُ النَّاسِ خَلقًا وَاَجَلُّ النَّاسِ خُلُقُا

“ Beliau adalah manusia yang terbaik ciptaanNya, dan teragung akhlaknya “.

ذِكرُهُ غَربًا وَشَرقًا سَائِرٌ وَالحَمدُ لِله

“ Semua manusia di Barat dan Timur menyebutnya, segala puji hanya bagi Allah SWT “

يَاهَنَانَا

“ Betapa beruntungnya kami “

صَلُّوا عَلى خَيرِ الاَنَام المُصطَفَى بَدرِالتَّمَام

“ Berselawatlah ke atas sebaik-baik manusia (Muhammad SAW) yang terpilih, sang bulan purnama “

صَلُّوا عَلَيهِ وَسَلِّمُوا يَشفَع لَنَأ يَومَ الزِّحَام

“ Sampaikanlah salam kepadanya, moga diberi syafaat di hari kebangkitan “.

يَا هَنَانَا

“ Betapa beruntungnya kami “

Di mana makna yang mengandung kesyirikan atau kesesatan ?? dalam bait qasidah di atas tidak lebih mengandung beberapa hal yaitu :

1. Rasa gembira dengan wujudnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan anugerah dan keutamaan dari Allah untuk umat Manusia khususnya kaum muslimin. Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala :

قل بفضل الله وبرحمته فبذالك فاليفرحوا

” Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus : 57). Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menfasirkannya : “ Karunia Allah adalah ilmu agama, sedangkan rahmat-Nya adalah Muhammad “.[6]

Beliau juga merupakan karunia agung yang Allah berikan untuk kita dan patut kita syukuri, dalam hadits disebutkan :

عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُولَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإِسْلاَمِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَابه، قَالَ: «آ? مَا أَجْلَسَكُمْ إِلاَّ ذَاكَ». قَالُوا: وَالله! مَا أَجْلَسَنَا إِلاَّ ذَاكَ قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ المَلاَئِكَةَ

Dari Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam keluar mendatangi perkumpulan majlis sahabatnya lalu berkata, “ Hal apa gerangan yang membuat kalian berkumpul di majelis ini ? ”. Para sahabat menjawab, “ Kami berkumpul disini tidak lain hanya untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada agama Islam dan atas karunia yang diberikan-Nya dengan sebabnya “.Nabi bertanya kembali : “Demi Allah, apakah tidak ada hal lain lagi yang membuat kalian berkumpul di majelis ini selain hal itu? ” para shahabat menjawab, “ Demi Allah, tidak ada hal lain yang membuat kami berkumpul selain itu semua”. Nabi bersabda kepada mereka : “Sesungguhnya aku tidaklah bersumpah untuk suatu keburukan, akan tetapi sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan mengkhabarkan bahwa para malaikat sangat berbangga dengan kalian semua ”.[7]

Dari hadis ini dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain : dibolehkannya berkumpul untuk berzikir dan berdoa, dibolehkannya membuat majelis tertentu untuk memperingati karunia hidayah dan syukur terhadap nikmat, dibolehkannya berkumpul untuk bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa diutusnya Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam ucapan para sahabat “Kami berkumpul disini tidak lain hanya untuk memanjatkan doa kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada agama kita dan atas karunia yang diberikan-Nya. Bukankah Nabi Muhammad yang menjadi sebab kita mendapat hidayah Islam bahkan menjadi umat yang paling utama dari semua umat lainnya ??

2. Mengungkapkan bahwa beliau makhluk yang paling baik akhlak dan fisiknya. Ini juga sesuai dengan hadits Nabi sendiri :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أحسن الناس وجهاً وأحسنه خلقاً،

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah paling bagusnya manusia dari segi wajah dan akhlaknya “. (HR. Muslim)

3. Mengungkapkan bahwa nama beliau disebut-sebut oleh semua manusia sama ada barat ataupun Timur. Ini sangat banyak sekali dalilnya, bahkan merupakan perintah dari Allah untuk bersholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan setiap waktu bahkan setiap saat di dunia ini selalu disebutkan nama Nabi Muhamamd shallahllahu ‘alaihi wa sallam melalui lantunan adzan sholat lima waktu. Jelas sudah qasidah ini sangat sesuai dengan dalil-dalil al-Quran dan Sunnah, hanya orang bodoh yang menuduhnya syirik atau sesat. Naudzu billahi min dzaalik…

Shofiyyah an-Nuuriyyah
Pasuruan, 1-4-2014

[1] Irsyadul Mu’minin ila Fadha’ili Dzikri Rabbil ‘Alamin, hlm. 16

[2] Ihya Ulumuddin, al-Ghazali : 2/276

[3] Ihya Ulumuddin, al-Ghazali : 2/300-301

[4] Kaff ar-Ria’a ;an Muharramat al-Lahwi wa as-Sima’, Ibn Hajar al-Haitsami : 45

[5] Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra : 10/296

[6] Ad-Durr al-Mantsur, as-Suyuthi : 7/668

[7] Ditakhrij imam Muslim. Disebutkan dalam Tahdzib al-Kamal, al-Mizzi : 3196

Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 686 other followers