Hidup tenang bila diri dihiasi takwa
Dr Engku Ahmad Zaki Engku Alwi
Pemimpin tawaduk tak khianati amanah, kuasa
Ketika Abu Dzar Al-Ghifari meminta nasihat Rasulullah SAW, kata Rasulullah SAW kepadanya: “Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau kepada Allah kerana takwa itu adalah pokok dari segala perkara.”
Umumnya, ulama mendefinisikan takwa sebagai menjaga diri daripada perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji dan dosa besar, serta berperi laku dengan adab syariah. Takwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
“Barang siapa yang menghiasi dirinya dengan ketakwaan kepada Allah, maka dia akan hidup dengan penuh keyakinan dan kekuatan. Dia pun akan berjalan di muka bumi ini dengan penuh ketenangan dan kedamaian” – Riwayat Abu Nu’aim
Firman Allah SWT: “Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya (akan keadaan dan amalan kamu).” (Surah Al-Hujurat, ayat 13)
Firman-Nya lagi: “Wahai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu (bahan untuk) pakaian menutup aurat kamu, dan pakaian perhiasan; dan pakaian yang berupa takwa itulah yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah dari tanda (limpah kurnia) Allah (dan rahmat-Nya kepada hamba-Nya) supaya mereka mengenangnya (dan bersyukur).” (Surah Al-A’raf, ayat 26)
Tiada niat lakukan kejahatan
Orang yang bertakwa selalu memikirkan apa yang akan diucapkan dan berhati-hati ketika melakukan sesuatu perkara. Tidak ada niat di hati Muslim sama sekali untuk melakukan kejahatan yang boleh merugikan dan memudaratkan orang lain, apatah lagi merugikan masyarakat serta negara.
Orang yang menjadikan takwa sebagai hiasan hidupnya tidak mungkin mengkhianati amanah dan kuasanya untuk kepentingan diri, keluarga atau kroninya. Kuasa kepemimpinan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, bangsa dan terutama kepada Allah SWT.
Islam lahir ramai pemimpin bertakwa
Islam melahirkan ramai pemimpin bertakwa yang memimpin umat Islam dengan penuh keadilan. Contohnya, Saidina Ali bin Abi Talib yang bersifat tawaduk dan patuh terhadap keputusan Kadi, meskipun tuntutannya terhadap baju besi dimiliki seorang Yahudi, dibatalkan di sidang pengadilan.
Saidina Ali membawa saksi iaitu Saidina Hasan, puteranya sendiri dan Qanbar, pembantunya. Namun Kadi Syuraih sebagai seorang kadi yang jujur dan tegas telah menolak saksi dari kaum kerabat kerana dianggap boleh menimbulkan berat sebelah kepada Saidina Ali.
Akhirnya, Kadi telah memberikan keputusan yang adil dengan memberikan kemenangan kepada Yahudi dan Khalifah Ali menerimanya dengan ikhlas.
Sikap tawaduk yang lahir dari takwa ini telah membuka pintu hati Yahudi itu untuk menerima Islam sebagai pegangan hidupnya.
Yahudi berkata: “Wahai Amirul Mukminin, Tuan telah membuat aduan mengenai saya kepada Kadi yang juga orang bawahan tuan, tapi dia telah memberikan kemenangan kepada saya. Maka dengan ini, saya bersaksi bahawa ini adalah kebenaran dan saya bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.”
Peroleh ketenangan di dunia, akhirat
Akhirnya, apabila takwa menjadi perhiasan hidup dalam setiap gerak gerinya, dia akan memperoleh ketenangan dan kedamaian yang hakiki di dunia serta akhirat nanti.
Maka benarlah Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menghiasi dirinya dengan ketakwaan kepada Allah, maka dia akan hidup dengan penuh keyakinan dan kekuatan. Dia pun akan berjalan di muka bumi ini dengan penuh ketenangan dan kedamaian.” (Hadis riwayat Abu Nu’aim)
Takwa adalah bekalan hidup paling berharga dalam diri seorang Muslim. Tanpanya hidup menjadi tidak bermakna dan penuh kegelisahan. Sebaliknya, seseorang akan merasai hakikat kebahagiaan hidup, baik di dunia mahu pun akhirat apabila dia berhasil menjadi seorang yang bertakwa



















17 Habaib Berpengaruh Di Indonesia
Biografi & peranan para Ulama zuriat Rasulullah S.A.W.
RM29.50
Habib Abdullah Al-Haddad mengungkapkan kepiluan hatinya saat para waliyullah pergi meninggalkan dunia fana. Betapa tidak, para waliyullah itulah yang senantiasa menyemarakkan bumi dengan munajatnya kepada Sang Khaliq
Obat Hati - RIngkasan Ihya' Ulumuddin daripada saduran ceramah Habib Umar bin Hafidz
Thariqah 'Alawiyah - ''Thariqah 'Alawiyyah merupakan tarekat sederhana, yang tidak berbunga-bunga, yang lebih menekankan aspek akhlak atau amali dalam praktik kesufian
Al-Allamah Syyid Muhammad bin salim bin Hafidz Al-Alawi Al-Husaini, ayah Habib Umar bin Hafidz, mencoba menguraikan hukum-hukum yang harus diketahui oleh kaum wanita dan adab-adab yang harus mereka terapkan, juga memberikan nasihat-nasihat berharga, yang berguna bagi kaum wanita.
Jalan Nan Lurus Sekilas Pandang Tarekat Bani 'Alawi ialah sebuah buku yang membicarakan tentang asal-usul keturunan Rasululullah SAW dan ulama-ulama yang berasal dari keturunan baginda SAW
Dikarang oleh Habib Novel bin Muhammad al-Idrus. Antara tajuk perbahasan ialah, Makna berkah,Mencari berkah dll
Rasulullah SAW. Mempunyai Keturunan & Allah SWT Memuliakannya
Pengarang: Ir. Sayyid Abdussalam Al-Hinduan, M.B.A.
Penerbit: Cahaya Hati, Cetakan 1 Februari 2008
Terdapat 2 jilid dalam Jilid pertama penulis membahaskan seputar permasalahan Ziarah Kubur, Tawassul dan Tahlil dan jilid kedua seputar Maulidur Rasul-sunnah atau bid'ah
Buku ini ditulis oleh KH Drs. Habib Syarief Muhammad Alaydarus, buku ini lebih baik dari segi isinya, susunan huruf dan baris arabnya dan makna terjemahannya
Bertanya adalah kunci untuk memahami rahasia-rahasia ilmu dan menyingkap kegaiban yang tersimpan dalam hati oleh Oleh Naufal (Novel) Muhammad Al-‘Aidarus
Buku ini ditulis oleh ulama besar berkaliber internasional yang berasal dari Hadhramaut, Yaman, yakni Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz.
Adda’i ilallah Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syaikh Abubakar bin Salim dikenal memiliki kelebihan dalam menyampaikan nasihat-nasihatnya, sehingga menyentuh hati orang yang mendengarkannya
Hidup adalah pengembaraan di atas samudera luas. Tiada hari tanpa digoyang gelombang. Belum lagi tiupan badai, yang tak jarang membuat seseorang berputus asa. Penuntun itu adalah petunjuk Allah SWT melalui Rasul-Nya, Muhammad SAW. Ajaran beliau adalah kompas hidup terbaik. Dan inilah yang disajikan oleh Husein Anis Habsyi, cicit pengarang Maulid Simthud Durar, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi
Shalat adalah ruh segala amal, hakikat tingkat hubungan seorang hamba dengan sang Khalik, rahasia keindahan wujud sejak dahulu kala, dan menjadi perantara munculnya cahaya yang tersembunyi dibalik jasmani karangan Habib Hassan Al Jufri.
Buku ini akan memberikan insight (pemahaman) tentang misteri manusia dan aktivitas abstrak yang memotivasi amal mereka. Buku ini membahas seluk beluk hawa dan nafs karangan Habib Muhammad Abdullah Al-Idrus
Oleh: Al-Allamah al-Habib Ali bin Hasan al-Aththas
Buku ini merupakan terjemahan Al ‘Athiyyatul Haniyah karya Al-Allamah al-Habib Ali bin Hasan al-Aththas, seorang ulama terkenal di abad ke 12 H khususnya di wilayah Hadramaut, Yaman.Buku ini berisi tentang wasiat-wasiat yang sangat penting untuk diketahui dan diamalkan oleh kaum muslimin yang mengharapkan keridhaan Allat SWT serta kebahagian di dunia dan di akhirat.
Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri berusaha mencoba merangkum dan menjabarkan risalah tentang hikmah shalat lima waktu ini dengan bahasa yang simple dan mudah dipahami
Buku ini merupakan pilihan dari 2 kitab karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yakni Nafaisul ‘Uluwiyyah fil Masailis Shufiyyah dan Ithafus Sail Bijawabil Masail, kedua kitab ini memuat kumpulan soal Tanya jawab tasawuf dari persoalan-persoalan yang sangat sederhana sampai yang paling pelik.

Komen Terbaik