Posted by: Habib Ahmad | 13 Mei 2011

Pengertian Dzikir

Pengertian Dzikir
Published on May 9, 2011 in Artikel Islam.
Didalam kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa : Dzikir atau mengingat Allah ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah, memuji dan menyanjung-Nya, menyebut kan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat kein dahan dan kesempurnaan yang telah dimiliki-Nya.

Dalam pada itu dipandang juga dzikrullah dengan mengerjakan segala rupa keta’atan. Lantaran itu majelis-majelis yang diadakan untuk mempersoalkan agama bisa juga dinamai Majelis Dzikir. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh ‘Atha :

“Majelis-majelis yang dibentuk untuk memper katakan soal halal dan haram dipandang juga sebagai majelis dzikir (majelis menyebut Allah) karena majelis-majelis itu memindahkan kita dari sikap lalai kepada kesadaran.”

Al-Hafizh berkata pula : “Juga dinamai dzikir mengerjakan segala tugas agama yang diwajibkan Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena itu membaca Al-Qur’an, membaca hadits, mempelajari ilmu-ilmu agama, melaksanakan shalat sunnat dinamakan juga dzikir.”

Ringkasnya, dzikir itu adakalanya mengingat dan mengenangkan nikmat Allah, adakalanya menyebut nama-Nya, menurut kaifiat yang disyari’atkan. Kemudian yang perlu ditegaskan bahwa menyebut Allah (dzikrullah) hendaknya harus diikuti supaya penyebut itu mem perhatikan Tuhan yang disembah, mengagungkan-Nya, mensucikan-Nya, merasa takut kepada-Nya, mengharap dan meyakini bahwa manusia seluruhnya adalah dalam genggaman-Nya serta menurut kehendak-Nya.

Orang yang hidup didunia tanpa mengingat Allah SWT dengan berdzikir kepada-Nya, tidak heran bila hidup menjadi lalai dan terlena. Tanpa mengingat Allah dia akan melupakan kematian yang akan menjemputnya kelak. Ketika itu ia merasa dunia masih terlalu panjang padahal Allah SWT mengingatkan kita bahwa ajal manusia itu lebih dekat dari urat lehernya. Orang yang membiarkan hidupnya terombang ambing di dunia akan menyesali diri sendiri bila ruh telah berpisah dari jasadnya dan menuju ke akhirat. Jiwanya akan kosong dari ma’rifat karena hatinya telah mati sebelum badannya mati.

Hati yang tidak disuburkan dengan dzikrullah lama kelamaan akan mati. Hati yang mati tidak akan dapat menerima cahaya Allah dan dia akan selalu dalam bahaya selama hati itu tidak dipulihkan dan dihidupkan kembali.

Cara yang baik untuk menghidupkan hati yang mati ialah dengan menuntut ilmu kepada guru ruhani (Syekh / Mursyid) yang dapat menghidupkan hati. Dengan berguru kepada mereka akan membawa ketenangan hidup di dunia dan di akhirat.

Sumber disini

About these ads

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 739 other followers

%d bloggers like this: