Posted by: Habib Ahmad | 15 November 2010

Fadhilah Keutamaan Bulan DzulHijjah / Berqurban : Majlis Ta’lim Wad Da’wah Lil Ustadz Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus

Fadhilah Keutamaan Bulan DzulHijjah / Berqurban : Majlis Ta’lim Wad Da’wah Lil Ustadz Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus
Published on November 12, 2010 in Bulan Dzulhijjah. 0 Comments
Sesungguhnya termasuk hikmah dan kesempurnaan Allah SWT Dia mengkhususkan sebagian makhlukNya dengan beberapa keistimewaan. Diantaranya adalah Allah mengkhususkan sebagian bulan dan hari agar menjadi ladang bagi seorang muslim yang ingin menabur benih amal ibadahnya. Menggugah semangat baru dalam beramal, sebagai bekal untuk kampung nan abadi.

Dan para ulama sangat perhatian dalam menulis masalah ini. Diantara mereka ada yang mempunyai karya khusus seperti Fadhailil Auqat oleh Imam Baihaqi, Lathaiful Ma’arif oleh al-Hafidz Ibnu Rajab dan selainnya.
Diantara bulan-bulan tersebut adalah Dzul Hijjah, lebih khusus lagi sepuluh hari pertama dan hari Tasyriqnya.

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzul Hijjah

Umur manusia seluruhnya adalah musim untuk menjalankan ketaatan dan menuai pahala. Beribadah dan menjalankan ketaatan hingga maut menjemput. Allah SWT berfirman:
“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian)”. (QS. al-Hijr 15: 99)
Makna yang diyakini pada ayat diatas adalah kematian. Demikian penafsiran Salim bin Abdillah bin Umar, Mujahid, Hassan, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid dan selain mereka. (Tafsir Ibnu Katsir 4/553)

Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim memanfaatkan umur dan waktunya sebaik mungkin. Memperbanyak dan memperbagus ibadah serta amalan hingga maut menjemput, lebih-lebih pada bulan dan hari yang penuh keutamaan. Diantara bulan yang telah Allah beri banyak keutamaan adalah bulan Dzul Hijjah. Allah SWT berfirman:
“Demi fajr dan malam yang sepuluh”. (QS al-Fajr 89: 1-2)

Imam Ibnu Rajab berkata: “Malam-malam yang sepuluh adalah sepuluh hari Dzul Hijjah. Inilah penafsiran yang benar dari mayoritas ahli tafsir dari kalangan salaf dan selain mereka. Dan penafsiran ini telah shahih pula dari Ibnu Abbas”. (Lathaiful Ma’arif hal 470)
Rasulullah SAW bersabda:

“Tiada hari-hari yang amalan shalih didalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah”. Para shahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah. Kecuali seorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali setelah itu (mati syahid)”. (HR Bukhari 969 dan lain-lain, lafadz diatas oleh Tirmidzi 757).

Dalam riwayat yang lain Nabi SAW bersadba:
“Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah dan tidak ada yang lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang dia kerjakan pada sepuluh hari al-Adha (Dzul Hijjah). (HR Darimi 1/358 dengan sanad yang hasan).
Ibnu Rajab mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa beramal pada sepuluh hari bulan Dzul Hijjah lebih dicintai di sisi Allah daripada beramal pada hari-hari yang lain tanpa pengecualian. Apabila beramal pada hari-hari itu lebih dicintai Allah maka hal itu lebih utama di sisiNya”. (Lathaiful Ma’arif 458)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Keistimewaan sepuluh hari bulan Dzul Hijjah karena pada bulan ini terkumpul ibadah-ibadah inti, seperti shalat, puasa, shadaqah, haji yang mana hal itu tidak didapati pada bulan yang lainnya”. (Fathul Bari 2/593)

Amalan Sunnah di Bulan Dzul Hijjah

Sesungguhnya mendapati sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah adalah nikmat yang besar dari nikmat-nikmat Allah. Manis dan nikmatnya hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang shalih dan bersungguh-sungguh pada hari-hari tersebut. Semestinya setiap muslim menambah kesungguhannya dalam menjalankan ketaatan pada bulan ini.

Abu Utsman al-Hindi ra. berkata: “Para salaf mengagungkan tiga waktu dari sepuluh hari yang utama. Sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama pada bulan Dzul Hijjah, dan sepuluh hari pertama bulan Muharram”. (Lathaiful Maarif 39).
Bahkan Sa’id bin Jubair apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beramal, sampai tidak ada yang dapat menandinginya.

Berikut ini amalan-amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan Dzul Hijjah:
1. Puasa
Disunnahkan puasa sembilan hari pertama pada bulan Dzul Hijjah, karena puasa termasuk amalan shalih yang dianjurkan pada bulan ini. Ummul Mu’minin Hafsah ra menuturkan:
Adalah nabi puasa Asyura (tanggal 10 Muharram), sembilan hari pertama bulan Dzul Hijjah, dan tiga hari pada setiap bulan”. (HR Nasa’i 2372, Ahmad 5/271, Baihaqi 4/284.
2. Takbir.
Termasuk amalan shalih pada hari-hari ini adalah memperbanyak takbir, tahlil, tasbih, istighfar dan do’a. Dzikir sangat dianjurkan pada seluruh waktu dan setiap keadaan, kecuali keadaan yang dilarang. Allah SWT berfirman:
“Ingatlah Allah di waktu berdiri di waktu duduk dan di waktu berbaring”. (QS an-Nisa 4: 103)
Imam Ibnu Katsir berkata: “Yaitu pada seluruh keadaan kalian”.
3. Haji
Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji menurut cara dan tuntunan yang disyariatkan, insya Allah dia termasuk dalam kandungan sabda Nabi yang berbunyi:
“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa diantara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga”. (HR Bukhari 1683, Muslim 1349).
Haji mabrur adalah haji yang sesuai dengan tuntunan syar’i, menyempurnakan hukum-hukumnya, mengerjakan dengan penuh kesempurnaan dan lepas dari dosa serta terhiasi dengan amalan shalih dan kebaikan. (Fathul Bari 3/382)
4. Memperbanyak Amal Shalih
Termasuk hikmah Allah, Dia menjadikan media beramal tidak hanya pada satu amalan saja. Bagi yang tidak mampu haji, jangan bersedih, karena disana masih banyak amalan shalih yang pahalanya tetap ranum dan siap dipetik pada bulan ini.
Diantara contohnya shalat sunnah, dzikir, shadaqah, berbakti pada orang tua, amar ma’ruf nahi mungkar, menyambung tali persaudaraan, dan berbagai macam amalan lainnya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang shalat Shubuh berjama’ah kemudian duduk berdikir hingga terbit matahari, setelah itu dia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah.” Perawi berkata: Rasulullah SAW berkata: “Sempurna, sempurna, sempurna”. (HR Tirmidzi 586. Hadits hasan).

Ini adalah keutamaan yang besar, kebaikan yang banyak, tidak bisa dikiaskan. Sesungguhnya Allah adalah pemberi nikmat, memberi keutamaan sesuai kehendakNya dan kepada siapa saja yang dikehendaki. Tidak ada yang dapat menentang hukumnya dan tidak ada yang dapat menolak keutamaanNya.
5. Berqurban
Berqurban termasuk amalan yang disunnahkan pada bulan ini. Yaitu pada hari-hari yang telah ditentukan, setelah melakukan shalat Idul Adha sampai akhir hari Tasyriq yaitu 13 Dzul Hijjah.
6. Taubat
Taubat adalah kembali kepada Allah dari perkara yang Dia benci secara lahir dan batin menuju perkara yang Dia senangi, menyesali atas dosa yang telah lalu, meninggalkan seketika itu juga dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.
Maka kewajiban bagi seorang muslim apabila terjatuh dalam dosa dan maksiat untuk segera bertaubat, tidak menunda-nundanya, karena dia tidak tahu kapan kematian akan menjemput. Dan juga perbuatan jelek biasanya akan mendorong untuk mengerjakan perbuatan jelek yang lain. Apabila berbuat maksiat pada hari dan waktu yang penuh
keutamaan, maka dosanya akan besar, sesuai dengan kutamaan waktu dan tempatnya.

Hari Raya Qurban

Hari nahr (menyembelih qurban) adalah hari yang agung, karena dia merupakan hari haji akbar. Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Hari haji akbar adalah hari Nahr”. (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).
Dan juga merupakan hari yang utama dalam setahun. Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr (menyembelih) kemudian hari qarr.” (HR Abu Daud 1765).
Imam Ibnu Atsir berkata: “Hari Qarr adalah besoknya hari nahr, yaitu sebelas Dzul Hijjah, dinamakan demikian karena manusia pada tanggal tersebut menetap di Mina (an-Nihayah 4/37).

Hari raya qurban lebih utama daripada hari raya idul fitri, karena hari raya qurban ada pelaksanaan shalat dan menyembelih (Lathaiful Maarif hal 318). Alasan yang lain bahwa hari raya qurban terkumpul padanya keutamaan waktu dan tempat serta sebelumnya hari Arafah dan setelahnya hari tasyriq.

Amalan apa saja yang dianjurkan pada hari ini? Pertama shalat hari raya (Ied), kedua
menyembelih qurban.

Hari-hari Tasyriq

Hari tasyriq adalah hari ke-11, 12, dan 13 bulan Dzul Hijjah. Dinamakan hari tasyriq karena manusia pada hari itu membagi-bagikan sembelihan dan hadiah. Hari Tasyriq merupakan hari yang mempunyai keutamaan. Allah SWT berfirman:
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang”. (QS. al-Baqarah 2: 203)

Imam al-Qurthubi mengatakan: “Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa hari yang berbilang pada ayat ini adalah hari-hari Mina yaitu hari tasyriq”. (Tafsir al-Qurthubi 3/3)
Mengenai hari tasyriq Rasulullah SAW bersabda:
“Hari tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir”. (HR Muslim 1141)

Hadits ini memberikan penjelasan kita dua perkara:

1. Hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum serta menampakkan kegembiraan. Tidak mengapa mengadakan perkumpulan yang bermanfaat, menghidangkan makanan terutama daging, selama tidak menghamburkan harta.
2. Bahwa hari ini juga merupakan hari untuk memperbanyak dzikir secara mutlak pada hari-hari tasyriq.
Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tasyriq setiap selesai shalat, ditempat tidurnya, tempat duduk dan di jalan. (Fathul Bari 2/461)

Demikian pula dzikir dan bertakbir ketika menyembelih qurban, dzikir, dan berdoa ketika makan dan minum, karena hari tasyriq adalah hari makan dan minum. Dzikir ketika melempar jumrah pada setiap kali lemparan bagi para jamah haji.
Imam Ibnu Rajab berkata: “Sabda Nabi “Sesungguhnya hari tasyriq adalah hari makan, minum dan dzikrullah” terdapat isyarat bahwa makan dan minum pada hari raya hanyalah untuk membantu berdzikir kepada Allah, dan hal itu merupakan kesempurnaan dalam mensyukuri nikmat, yaitu mensyukuri dengan ketaatan.

Barangsiapa yang memohon pertolongan dengan nikmat Allah untuk mengerjakan maksiat, maka berarti dia telah mengingkari nikmat Allah”. (Lathaiful Ma’arif hal 332).

Sumber : Madinatul Ilmi

About these ads

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 725 other followers

%d bloggers like this: