Posted by: Habib Ahmad | 3 November 2008

Dimanakah Allah?

Dimanakah Allah?

Dimanakah Allah?


Pertanyaan ini sering sekali muncul dan mendorong kepada perdebatan, serta menjadi salah satu bahan perpecahan. Bahkan ada yang menjadikannya alat untuk mengkafir-kafirkan, dan memecah persatuan umat Islam.

Secara akal waras, sebenarnya jawaban pertanyaan ini sederhana:

Allah SWT adalah Zat yang Maha Mutlak (Absolut), tidak ada yang membatasi-Nya, tidak ada serupa dengan-Nya. Dialah yang mencipta ruang, waktu dan hukum-hukum di alam semesta. Karenanya Dia adalah Zat yang tidak terbatasi oleh ruang, waktu dan hukum-hukum alam. Sehingga pertanyaan di mana, ke mana, dari mana (yang menunjukkan keterikatan tempat), serta kapan (yang menunjukkan keterikatan waktu) tidak berlaku bagi-Nya.

Namun dalam pembicaraan sehari-hari, ungkapan Allah SWT itu ada di mana-mana, sangat dekat, menyertai kita, atau di berada di atas langit, di atas Arsy (Singgasana), adalah hal yang biasa sahaja dan benar serta memiliki dasar dalam Al-Quran dan Sunah. Namun hendaknya hal ini dipahami makna yang bukan ruang, tetapi lebih merupakan kualiti. Bahawa Allah sangat menguasai alam semesta, sehingga tidak ada yang lepas dari-Nya, sekaligus Dia sangat dekat, dan hadir di mana pun kita berada.


Sedang secara Naqli berdasarkan pemahaman para ulama adalah sebagai berikut:

Pemahaman bahwa Allah SWT ada tanpa memerlukan tempat adalah kepercayaan dan aqidah yang benar dari Rasulullah SAW, para Ahlul Bait, Sahabat dan para pengikutnya yang benar hingga Hari Kiamat. Dalil dari pemahaman ini adalah Qur’an, Surat ash-Shura, ayat 11:

 

Yang berarti: “Tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Ayat ini menjelaskan dengan jelas dan pasti bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk. Itu mencakup bahawa Allah SWT berbeza dengan makhluknya dalam sifat dan perbuatan. Itu bererti bahwa Allah SWT ada tanpa memerlukan tempat, karena sesuatu yang ada dalam suatu tempat (ruang), secara alami, terdiri dari atom-atom atau bagian-bagian, yaitu dia merupakan suatu jasad, bentuk tubuh, menempati ruang, dan Allah SWT jelas terlepas dari semua ruang.

Al-Bukhariyy, al-Bayhaqiyy dan Ibn al­Jarud menyatakan bahwa Rasulullah SAW, bersabda:

 

 

yang artinya: “Allah ada abadi dan tidak ada selain-Nya”

Hadis ini membuktikan bahwa Allah adalah sendiri dalam al-‘azal (keadaan tanpa awal), yaitu sebelum penciptaan segala sesuatu. Tidak ada yang lain menyertai-Nya: Tidak ada tempat, tidak ada ruang, tidak ada langit, tiada cahaya, tiada kegelapan. Berdasarkan ketentuan agama dan pemikiran yang sehat adalah bahwa Allah SWT tidak mengalami perubahan. Dengan demikian, tidak mungkin bahwa setelah ada tanpa tempat, Dia menjadi berada dalam suatu tempat. Karena hal ini berarti ada perubahan, dan perubahan ini adalah tanda dari memerlukan yang lain, dan sesuatu yang memerlukan yang lain bukanlah Tuhan.

Imam Abu Mansur al-Baghdadiyy dalam buku, Al-Farqu Bayn al­Firaq, dinyatakan bahwa Imam ^Aliyy ra berkata::

 

Yang berarti bahwa: “Allah ada tanpa tempat, dan Dia sekarang seperti Dia di waktu dulu (yaitu tanpa tempat)”.

Imam Abu Hanifah, salah satu ulama as-Salaf, mengatakan dalam Al-Fiqh al­Absat: “Allah Ta’ala ada abadi tanpa tempat, dan Dia ada sebelum mencipta makhluk. Dia telah ada dan ketika tidak ada tempat, makhluk atau benda-benda. Dia adalah Pencipta segala sesuatu”

Imam al-Hafidh al-Bayhaqiyy mengatakan dalam bukunya, Al-Asma‘u was-Sifat, hal. 400: “…. Apa yang disebut di akhir hadis adalah indikasi penolakan bahwa Allah memiliki tempat dan penolakan bahwa hamba menyerupai Allah, seberapa pun dia, baik dekat maupun jauh. Allah Ta’ala adalah Adh-Dhahir, sehingga benar untuk mengetahui-Nya dengan bukti-bukti. Allah adalah Al-Bathin, sehingga tidak benar jika Dia berada dalam suatu tempat.” Dia juga berkata, ” Beberapa dari sahabat kita menggunakan sebuah bukti untuk membantah adanya tempat bagi Allah dengan hadis Rasululla SAW: “Engkau adalah Adh-Dhahir dan tidak ada di atas-Mu, dan Engkau adalah Al-Batin dan tidak ada yang di bawah-Mu”. Dengan demikian, jika tidak ada yang di atas dan di bawah Dia, Dia tidaklah di suatu tempat.”

Imam Ahmad Ibn Salamah, Abu Ja^far at­Tahawiyy, (lahir 237 H),menulis buku Al-^Aqidah at­Tahawiyyah. Dia menyebut bahwa isi bukunya adalah sebuah penjelasan dari Aqidah Ahl as­Sunnah wal Jama^ah, yaitu Aqidah Imam Abu Hanifah, (meninggalkan 150 H) dan dua sahabatnya, Imam Abu Yusuf al-Qadi and Imam Muhammad Ibn al­Hasan ash-Shaybaniyy serta lainnya. Dia menulis: “Dia di luar dari memiliki batas tempat atas-Nya, atau dibatasi, atau memiliki bagian-bagian atau anggota tubuh. Tidaklah Dia dikenai arah sebagaimana makhluk.” Demikian perkataan Imam Abu Ja^far yang merupakan salah ulama as-Salaf. Dia secara jelas menyatakan bahwa Dia terbebas dari dikenai 6 arah: atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang.

Ahli bahasa dan ulama hadith, Imam Muhammad Murtada az-Zabidiyy, meriwayatkan secara bersanad dari dia sendiri hingga Imam Zayn al-^Abidin ^Aliyy Ibn al-Husayn Ibn ^Aliyy Ibn Abi Talib, (juga di antara as-Salaf, bergelar as-Sajjad, yang banyak bersujur), bahwa Zayn al-^Abidin mengatakan dalam as­Sahifah as-Sajjadiyyah mengenai Allah:

 

artinya: “Mahasuci Engkau Ya Allah, dari segala ketidaksempurnaan, Zat yang tidak ada tempat membatasi-Mu”

Dia juga berkata:

artinya: “Mahasuci Engkau, Ya Allah, dari segala ketidaksempurnaan. Zat yang tidak ada tempat membatasi-Mu”

Ketika menjelaskan Sahih Al-Bukhari bab Al-Jihad Hafidh Ibn Hajar mengatakan,”Kenyataan bahwa kedua arah atas dan bawah adalah mustahil disifatkan kepada Allah, tidak berarti bahwa Allah tidak dapat disifati dengan ketinggian, karena sifat ketinggian dari Allah adalah mengenai kedudukan dan ketidakmungkinan terletak pada sifat fisik”.

Imam Zayn ad-Din Ibn Nujaym, ulama Hanafiah, dalam buku Al-Bahr ar­Ra‘iq, hal 129: “Siapa yang mengatakan bahwa mungkin bagi Allah untuk berbuat tanpa keadilan/kebijaksanaan telah bertindak dosa, dan berdosa juga dia yang memastikan tempat bagi Allah Ta’ala”.

Imam Ahmad ar-Rifa^iyy al-Kabir, (600 H) berkata:

artinya: “Pengetahuan utama mengenai adalah adalah memastikan/meyakini bahwa Allah ada tanpa bagaimana dan tempat”

Imam Muhammad Ibn Hibah al-Makkiyy, dalam buku Hada‘iq al-Fusul wa Jawahir al-^Uqul,–juga disebut Al-^Aqidat-as-Salahiyyah karena dia memberinya sebagai hadiah kepada Sultan Salah-ad-Din al-Ayyubiyy yang telah meminta buku ini untuk di ajarkan pada anak-anak di sekolah-sekolah dan disiarkan dari atas menara – berkata:

artinya: “Allah SWT itu ada abadi dan tidak ada tempat bagi-Nya, dan keputusan bahwa keberadaan-Nya sekarang sebagaimana Dia dahulu, yaitu tanpa tempat”

Imam Ja^far as-Sadiq, salah satu ahlul bait Nabi SAW, berkata: “Orang yang menyatakan bahwa Allah berada dalam sesuatu atau di atas sesuatu atau dari sesuatu, telah berbuat kesyirikan. Karena jika Dia di dalam sesuatu, maka Dia terlingkupi/dibatasi, dan jika Dia di atas sesuatu berati Dia dibawa (sesuatu). Dan jika Dia dari sesuatu, berarti Dia seperti makhluk.”

Shaykh ^Abdul-Ghaniyy an-Nabulsiyy berkata: “Dia yang percaya bahwa Allah memenuhi langit dan bumi atau bahwa Dia adalah duduk secara fisik di atasal-^arsh (Singgasana) dia telah kafir.”

Imam Abul-Qasim ^Aliyy Ibnul-Hasan Ibn Hibatillah Ibn ^Asakir berkata dalam bukunya Aqidah: “Allah telah ada sebelum penciptaan. Dia tidak memiliki sebelum dan sesudah, atas atau bawah, kanan atau kiri, di depan atau di belakang, sebagian atau seluruh. Tidak bisa dikatakan kapan bagi Dia, di mana bagi Dia, atau bagaimana bagi Dia. Dia ada tanpa tempat”.

Imam Abu Sulayman al-Khattabiyy berkata: “Apa yang menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk diketahui adalah bahwa Tuhan kita tidak memiliki bentuk, karena bentuk memiliki “bagaimana”, dan “bagaimana” tidak berlaku bagi Allah atau disifatkan bagi-Nya. Mengetahui tanpa ragu bahwa pertanyaan “bagaimana” tidak berlaku bagi Allah, karena ini adalah pertanyaan tentang bentuk, tubuh, tempat, kedalaman, dan dimensi, Allah Mahasuci dari segala hal itu.

Imam al-Ghazaliyy berkata: ” Allah, Ta’ala, ada selamanya dan tidak memerlukan tempat. Dia bukan tubuh, jauhar (atom), atau benda, dan Dia tidak di atas suatu tempat atau di dalam suatu tempat.”

Segala pernyataan ini menunjukkan bahwa mensifatkan ketinggian dan tempat yang bersifat fisik adalah bertentangan denganAl-Quran, Hadis, Ijma’ dan dalil akal. Bukti akal bahwa Allah ada tanpa tempat, terletak pada fakta bahwa sesuatu yang berada di dalam suatu area, dan sesuatu yang memiliki suatu tempat adalah memerlukan tempat, dan bahwa sesuatu yang memerlukan yang lain bukanlah Tuhan. Lebih lanjut, sebagaimana akal menyatakan bahwa Allah ada tanpa berada di suatu tempat sebelum tempat diciptakan, dan akal menyatakan bahwa Allah menciptakan tempat-tempat dan tetap ada tanpa suatu tempat.

Ulama seperti Imam Ahmad ar­Rifa^iyy menyatakan bahwa mengangkat tangan dan wajah ketika melakukan doa adalah karena langit adalah kiblatnya doa, sebagaimana Ka’bah adalah kiblatnya salat. Dari langit kasih dan rahmat dari Allah turun.

Dengan demikian, adalah jelas bagi orang yang mencari kebenaran tentang Allah ada tanpa memerlukan tempat adalah sesuai dengan Quran, Hadis, Ijma’ dan pedoman akal yang jelas. Yakinkan bahwa sebelum tempat diciptakan, Allah Yang Menciptakan segala sesuatu (termasuk tempat dan lainnya) ada tanpa tempat, dan sesudah tempat tercipta Allah tetap tidak memerlukan tempat.

Karena kita sebagai Muslim berkeyakinan adalah bahwa Allah ada tanpa berada/memerlukan tempat dan bahwa pertanyaan “bagaimana” tidak berlaku bagi Allah, maka adalah jelas bagi kita bahwa Arsy (singgasana) yang merupakan ciptaan Allah terbesar dan merupakan langit-langit sorga, adalah bukan tempat bagi Allah SWT.

Imam Abu Mansur al-Baghdadiyy menyatakan bahwa Imam ^Aliyy Ibn Abi Talib kw. berkata:

artinya: “Allah menciptakan Arsy sebagai tanda Kekuasaan-Nya dan tidak menjadikan sebagai tempat bagi-Nya.”

Imam Abu Hanifah dalam al­Wasiyyah, berkata: ” … dan Dia adalah Penjaga Arsy dan selain Arsy, tanpa memerlukannya, Dia-lah yang diperlukan… Lagian, Apakah Dia ada di suatu tempat yang diperlukan untuk duduk dan istirahat, sebelum Arsy diciptakan? Dimana Allah ketika itu?”. Jadi, pertanyaan “Di mana Allah” tidak berlaku bagi-Nya, karena tidak mungkin.

Juga, dalam bukunya Al-Fiqh al-Absat, Imam Abu Hanifah berkata: “Allah selalu ada abadi, dan tidak memerlukan tempat, makhluk atau barang, tetapi Dia-lah Pencipta segala sesuatu. Orang yang berkata ‘Saya tidak tahu apakah Tuhanku ada di bumi atau di langit” adalah kafir. Juga kafir orang yang mengatakan ‘Dia ada di atas Arsy tetapi saya tidak tahu apakah Arsy ada di langit atau di bumi.'”

Lebih lanjut, Imam Abu Hanifah menyatakan kafir siapa yang mengatakan kedua frasa di atas karena mereka mengandung penyifatan dengan arah, batasan, dan tempat bagi Allah. Segala sesuatu yang memiliki arah dan batas adalah secara logika memerlukan Pencipta. Jadi, bukan maksud Imam Abu Hanifah untuk membuktikan bahwa Langit dan arsy adalah tempat bagi Allah, sebagaimana mereka yang menyerupakan Allah dengan makhluknya mengklaim. Ini adalah maksud Imam Abu Hanifah mengatakan, “Apakah Dia berada di dalam suatu tempat untuk duduk dan istirahat? Lalu sebelum arsy tercipta, dimana Allah?”, yang menunjukkan dengan jelas penolakan bahwa Allah memiliki arah atau tempat.

Dalam bukunya Ihya‘u ^Ulum ad-Din, Imam al­Ghazaliyy mengatakan: “… tempat tidaklah meliputi Dia, tidak juga arah, bumi maupun langit. Dia disifati istiwa atas arsy sebagaimana dikatakan Quran – dengan arti yang Dia kehendaki – dan tidak juga sebagaimana orang yang mungkin … Itu adalah istiwa yang bebas dari sentuhan, istirahat, pegangan, gerakan, dan pelingkupan. Arsy tidak membawa Dia, tetapi justru arsy dan apa yang membawa arsy seluruhnya dibawa/dijaga oleh Allah dengan Kekuasaan-Nya dan dikuasai-Nya. Dia mengatasi arsy atau langit dan mengatasi segala sesuatu – dalam kedudukannya – suatu ketinggian yang tidak mendekat ke Arsy atau langit, sebagaimana juga tidak menjauh dari bumi. Dia adalah Lebih Tinggi dalam kedudukan daripada segala sesuatu: lebih tinggi dari arsy atau langit, sebagaimana Dia adalah Lebih Tinggi dalam kedudukan daripada langit dan seluruh makhluk.

Shaykh ^Abdul-Ghaniyy an-Nabulsiyy berkata: “Orang yang percaya bahwa Allah mengisi langit dan bumi atau bahwa Dia adalah jasad yang duduk di atas arsy, dia telah kafir. Ayat 93 Surat Maryam:

artinya: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (QS. 19:93)

Dalam Tafsirnya Imam Ar-razy berkata:” … dan karenanya jelas dengan ayat ini bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah seorang hamba bagi Allah, dan karenanya adalah pasti bahwa Allah adalah Mahasuci dari menjadi (memiliki sifat) sebagai hamba, sehingga Dia Mahasuci dari sifat berada di tempat atau arah, atau di atas arsy atau kursi”.

Dengan demikian Surat Taha, ayah 5, dalam Qur’an:

 

dengan jelas tidaklah berarti bahwa Allah duduk di atas singgasana, atau bahwa Allah menetap di atas singgasana. Dalam bahasa Arab, kata istawa memiliki 15 makna yang berbeza, di antaranya duduk (to sit), menguasai (to subjugate), menjaga (to protect), mengalahkan (to conquer) dan memelihara (to preserve). Berdasar apa yang telah kita bahas di atas adalah tidak benar memahami ayat tersebut dengan arti “duduk” bagi Allah. Ada pun makna memelihara dan menjaga bersesuaian dengan pemahaman agama dan bahasa.

Imam Hafidh Ibn Rajab al-Hanbaliyy mengartikan al-istiwa dengan al-istila, yang berarti menguasai tanpa sebuah awal. Yaitu, Allah mensifati Diri-Nya dengan menguasai Arsy sejak al-azal (keadaan tanpa awal, yaitu sebelum penciptaan). Karena al-Arsy adalah ciptaan Allah yang terbesar, dan dia dikuasai oleh Allah, maka segala sesuatu yang lebih kecil dari Al-Arsy juga dibawah kendali Allah.

Dinyatakan mengenai Imam Malik bin Anas oleh Al-baihaqi melalui sanad yang sahih dari jalur Abdullah bin Wahb bahwa, “Kami berada di dalam rumah Imam Malik ketika seorang lelaki masuk dan berkata, ” Wahai Aba Abdillah (Imam Malik), Ar-Rahmanu ‘alal ‘arsy istawa. Bagaimana Dia istawa?”. Imam Malik melihat kebawah dengan terperanjat kemudian dia mengangkat muka dan berkata, “Alal ‘arsy istawa sebagaimana Dia mensifati untuk Dirinya. Tidak benar untuk mengatakan “bagaimana” karena “bagaimana” tidak berlaku bagi-Nya. Saya lihat bahwa kamu seorang ahli bid’ah. Keluarkan dia”. Dengan demikian, perkataan Imam Malik, “Bagaimana tidak berlaku bagi-Nya”, berarti bahwa Istiwa-Nya atas Arsy-Nya tanpa “bagaimana”, yaitu tanpa jasad, tempat, bentuk atau form seperti duduk, persentuhan, meletakan di atas, dan yang semacamnya.

Karenanya, tidak ada dasar perkataan mereka yang menyerupakan Allah dengan makhluk, yang disandarkan kepada Imam Malik, bahwa al-istiwa telah diketahui, dan bagaimana adalah tidak diketahui. Apa yang mereka maksudkan bahwa istiwa adalah duduk, tetapi bagaimana duduk-Nya adalah tidak diketahui. Perkataan ini tidak benar, karena duduk itu, tidak masalah bagaimana dia, akan dilakukan dengan anggota tubuh dan bagian yang dapat ditekuk. Dengan demikian, perkataan yang disandarkan kepada Imam Malik tidak terbukti dari Dia atau yang lainnya.

Imam al-Lalaka‘iyy meriwayatkan dari Umm Salamah and Rabi^ah Ibn Abi ^Abdar-Rahman:

 

artinya: “Istiwa tidak asing (majhul) – karena disebut dalam Al-Quran – dan “Bagaimana” tidak masuk akal – karena tidak mungkin berlaku bagi Allah”. Sehingga, Hadis dan Ayat Quran yang mensifati ketinggian kepada ALlah, merujuk kepada ketinggian kedudukan dan bukan ketinggian tempat, arah, sentuhan atau perletakan.

Dalam Surat al-An^am ayat 61, Allah berfirman:

 

artinya: “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya”. Dengan demikian “fauqa” (ketinggian) dalam ayat ini adalah dalam kekuasaan bukan dalam arti tempat atau arah.

Hati-hati dengan apa seperti dikatakan Translation of the Qur’an oleh Yusuf Ali dan dikatakan sebagai versi revisi (dari Yusuf Ali) dan dicetak olehKing Fahd Holy Qur’an Printing Complex di al-Madinah al-Munawwarah, di halaman 879, dalam menterjemahkan ayah 5 Surat Taha:

 

mereka katakan: “The Most Gracious is firmly established on the throne,” (Yang Maha Penyayang bersemayam di atas singgasana). Dan di catatan kaki mereka katakan dengan jelas:”Who encompasses all creation and sits on the throne.” (Yang meliputi segala ciptaan dan duduk di atas singgasana)

Begitu juga, hati-hati dengan bagian lain yang menyerupakan Allah dengan makhluk seperti pada halaman 1799 dalam ayah 42 Surat al-Qalam:

mereka mensifati “betis” kepada Allah.

Pada halaman 1015 dalam mentafsirkan Surat An-Nur ayat 35:

mereka mengatakan: “Allah adalah cahaya” dan dalam catatan kaki mereka dengan jelas mengatakan:”We can only think of Allah in terms of our phenomenal experience.”(Kita hanya memikirkan dalam arti pengalaman keseharian kita)

Al-Mushabbihah adalah mereka yang menserupakan Allah dengan makhluk; mereka percaya bahwa Allah menyerupai makhluk. Mereka mensifati Allah dengan tempat, arah, bentuk dan badan, dan mereka mencoba menutupinya dengan mengatakan; “Bagaimana pun, kita tidak tahu bagaimana tempat-Nya, atau bagaimana Dia duduk, atau bagaimana Wajah-Nya, atau bagaimana betis-Nya, bagaimana Cahaya-Nya”. Semua hal itu jelas menunjukkan kesalahan mereka.

Puji syukur kepada Allah Tuhan Semesta alam, Zat yang suci dari penyerupaan dengan dengan makhuk, segala sifat yang tidak layak, dan segala yang tidak benar tentang Dia.

About these ads

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 761 other followers

%d bloggers like this: